B. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Model pembelajaran dapat dikategorikan pada pendekatan model
pembelajaran konstruktivisme apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah
ada sebelumnya.
2. Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
3. Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna yang dikembangkan
berdasarkan pengalaman.
4. Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (organisasi) makna melalui
berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau
bekerja sama dengan orang lain.
5. Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistic, penilaian harus
terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan kegiatan yang terpisah.
Adapun menurut Siroj (http://www.depdiknas.go.id/jurnal/43) ciri-ciri
pembelajaran yang konstruktivis adalah meliputi :
1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan
pengetahuan.
2. Menyediakan berbagai alternative pengalaman belajar, tidak semua
mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan
dengan berbagai cara.
3. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan
dengan melibatkan pengalaman konkret, misalnya untuk memahami suatu
konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
4. Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi
social yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain
atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa,
guru dan siswa-siswa.
5. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tulisan sehingga
pembelajaran menjadi lebih efektif.
6. Melibatkan siswa secara emosional dan social sehingga menjadi menarik dan
siswa mau belajar.
- 46 -
Kenyataan menunjukkan bahwa seorang guru yang mengajar di kelas sering
mendapatkan siswa-siswanya mempunyai pemahaman yang berbeda tentang
pengetahuan yang dipeeroleh dan dipelajarinya, padahal siswa – siswa belajar
dalam lingkungan sekolah yang sama, guru yang sama, dan bahnkan buku teks yang
sama. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak begitu saja ditransfer dari
guru ke guru siswa dalam bentuk tertentu, melainkan siswa membentuk sendiri
pengetahuan tentang sesuaitu dipahami secara berbeda – beda oleh siswa.
Pengetahuan tumbuh dan berkembang dari buah pikiran manusia melalui
kontruksi berpikir,bukaan melalui transfer dari guru kepada siswa. Oleh karena itu
siswa tidak dianggap sebagai tabula rasa atau berotak kosong ketika berada dikelas.
Ia telah membawa berbagai pengalaman,pengetahuan yang dapat digunakan untuk
mengonstruksikan pengetahuan yang baru atas dasar perpaduan pengetahuan
sebelumnya.
Esensi dari kontruktivisme adalah bahwa peserta didik harus menemukan
dan mentransformasikan suatu informasi. Dalam pandangan
kontruktivisme,strategi untuk memperoleh pengetahuan lebih penting daripada
seberapa banyak peserta didik mengingat atau mengahafal pengetahuan. Dalam
teori kontruktivistik tugas-tugas guru menurut Sagala(2006:88), yaitu memfasilitasi
proses tersebut dengan :
1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik
2. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memenukan dan menerapkan
idenya sendiri
3. Menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam
belajar
Ada lima gambaran umum kaum kontruktivistik yang memiliki pengaruh
terhadap kegiatan pembelajaran yaitu :
1. Peserta didik tidak dipandang sebagai objek dalam pembelajaran yang pasif
2. Aktivitas pembelajaran dipandang sebagai suatu sarana untuk mengaktifkan
peserta didik dalam belajar (active learning)
3. Guru membawa serta pengetahuan dan pemahamannya kedalam kelas yang
sudah tentu akan memengaruhi proses pembelajaran.
4. Pembelajaran bukan pengalihan pengetahuan (transfer of knowledge)
- 47 -
5. Kurikulum adalah program yang terdiri dari tugas belajar,materi dan sumber
belajar.
C. JENIS-JENIS KONSTRUKTIVISME
Menurut Suparno (1997:43) kontruktivisme dapat dibedakan menjadi
kontruktivisme psikologis dan kontruktivisme sosiologis. Konstruktivisme
psikologis bertitik tolak dari perkembangan psikologis anak dalam membangun
pengetahuannya. Adapun kontruktivisme sosiologis lebih menekankan pada
masyarakat yang membangun pengetahuan. Kontruktivisme psikologis bercabang
dua yaitu kontruktivisme yang lebih personal berkembang atas ide Piaget dan yang
lebih sosial berkembang atas ide Vygotsky. Adapun kontruktivisme sosiologis
berdiri sendiri.
1. Kontruktivisme Psikologis Personal
Kontruktivisme psokologis personal sering disebut kontruktivisme kognitif
piaget. Menurut paham ini kontruktivisme pengetahuan terjadi melalui proses
organisasi dan adaptasi. Organisasi merupakan kemampuan organisme
mensistematiskan dan mengorganisasikan proses fisik atau psikologis menjadi
struktur-struktur. Struktur merupakan sistem yang teratur dan berhubungan yang
memuat konsep-konsep yang saling terkait satu sama lain.
Adaptasi merupakan kemampuan individu menyesuaikan diri dengan
lingkungan. Adaptasi dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dalam
proses asimilasi,seseorang menggunakan struktur kognitif atau sesuatu yang
dimilikinya untuk menanggapi masalah lingkungan. Dalam proses akomodasi
seseorang memerlukan modifikasi struktur kognitif yang ada dalam mengadakan
respon terhadap tantangan lingkungan.
Selanjutnya Surya (2003 : 59) mengatakan implikasi teori perkembangan
kognitif Piaget dalam pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. oleh karena itu,
dalam mengajar guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara
berpikir anak.
b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan yang
baik.
c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
- 48 -
d. Beri peluang agar anak belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.
e. Didalam kelas, anak – anak hendaknya banyak diberi peluang untuk saling
berbicara dengan teman – temannya.
2. Konstruktivisme Psikologi Sosial
Vigotsky mengatakan bahwa bahasa merupakan aspek sosial. Pembicaraan
yang bersifat ego sentrik dari anak merupakan pemulaan dari pembentukan
kemampuan berbicara yang pokok (inner speech) yang akan menjadi alat dalam
berpikir. inner speech berperan dalam pembentukan pengertian spontan. Pengertian
spontan mempunyai dua segi yaitu pengertian dalam diri sendiri dan pengertian
untuk orang lain.
Konstruksi Vigotsky menjelaskan bahwa ada hubungan langsung antara
domain kognitif dengan sosial budaya. Kualitas berpikir siswa dibangun dari
aktivitas sosial didalam kelas, sedangkan aktivitas sosial siswa dikembangkan
dalam bentuk kerjasama antara siswa dengan siswa lainnya yang lebih mampu
dibawah bimbingan orang dewasa dalam hal ini guru.
Gagasan penting lain dalam pembelajaran yang diangkat dari Vigotsky
adalah sacffolding yaitu memberikan sejumlah bantuan kepada anak (siswa) pada
tahap – tahap awal pembelajaran, kemudian menguranginya sedikit demi sedikit,
dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab
tersebut saat mereka dinilai telah mampu. Bantuan dimaksud dapat berupa
petunjuk, peringatan, dorongan, mengaitkan masalah dengan langkah – langkah
penyelesaian masalah, memberi contoh.
Dalam pembelajaran IPS, sosiokulturisme Vigotsky ini sangat relevan,
karena disamping peran dan keaktifan individu dalam membentuk pengetahuannya,
juga adanya peran masyarakat, orang lain dan lingkungan dalam proses
pembentukan pengetahuan.
3. Konstruktivisme Sosiologis
Konstruktivisme sosiologis menekankan pengetahuan ilmiah sebagai
bentuk konstruk sosial, bukan konstruksi individual. Dalam arti kata bahwa
pengetahuan merupakan penemuan sosial dan sekaligus faktor dalam perubahan
sosial. Berger dalam Suparno (1997 : 47) mengatakan bahwa kenyataan hidup
sehari - hari merupakan dunia yang dialami bersama dengan orang lain. Dunia ini
- 49 -
nyata bagi “saya” dan bagi orang lain. Sementara itu Matthews (Suparno, 1997 :
48) menyatakan bahwa konstruktivisme sosiologis menekankan bahwa
pengetahuan ilmiah merupakan konstruksi sosial, bukan konstruksi individual.
Pada pemikiran kelompok konstruktivisme sosiologis ini sejalan dengan
pemikiran Wittig (dalam Mubbin, 2003 : 66) yang memberikan pandangan tentang
belajar sebagai ; “...any relatively permanent change in an organism’s behavioral
repertoire that accurs as a result experience”. Maksudnya bahwa belajar
merupakan perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam aspek tingkah laku
organisme, sebagai hasil pengalaman.
Kegiatan pembelajaran yang baik dapat mengaktifkan peserta didik, karena
ini dari proses pembelajaran adalah menyusun lingkungan dimana peserta didik
dapat berinteraksi dan mempelajari bagaimana seharusnya belajar. Menurut Dewey
dalam Hamalik (2007 : 60)”...the care of the process is the arrangements within
which the students can interact and study how to learn”.
Pembelajaran pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap. Pembelajaran kognitif mencakup pemerolehan informasi,
konsep. Pembelajaran keterampilan mencakup pengembangan kompetensi peserta
didik dalam mengerjakan tugas memecahkan masalah, dan mengungkapkan
pendapat. Adapun pembelajaran sikap mencakup pengkajian dan penjelasan
tentang perasaan dan preferensi.
Pembelajaran aktif atas informasi, keterampilan, dan sikap berlangsung
melalui proses penyelidikan atau proses bertanya. Peserta didik dikondisikan dalam
proses proses mencari (aktif) bukan sekadar menerima (pasif). Dengan kata lain,
peserta didik harus mencari jawaban sendiri atas pertanyaan – pertanyaan yang
mereka ajukan sendiri. Semua ini dapat tercapai apabila peserta didik dilibatkan
dalam kegiatan tugas dan kegiatan yang secara halus mendesak mereka untuk
berpikir, bekerja, dan merasa.
Berdasarkan pandangan diatas, berarti pembelajaran bukan sekedar proses
penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) sebanyak – banyaknya kepada
peserta didik, tetapi lebih dari itu peserta didik harus dibiasakan untuk
menggunakan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya untuk
- 50 -
memperoleh pengetahuan atau Informasi baru berguna bagi dirinya sekarang dan
untuk masa yang akan datang.
D. TEORI BELAJAR MENDUKUNG PENDEKATAN
KONSTRUKTIVISME
Perlu ditegaskan kembali disini, sebelum membahas tentang teori-teori
belajar yang mendukung teori konstruktivisme, agar lebih dapat menjelaskan
kembali tentang paham konstruktivisme ini. Sebagaimana telah disinggung
dibagian depan, bahwa menurut paham konstruktivisme pengetahuan merupakan
hasil bentuk sendiri. Oleh karenanya tidak ada tranfer pengetahuan dari seorang ke
orang lain, sebab setiap orang membangun pengetahuannya sendiri. Bahkan bila
guru ingin memberikan pengetahuan kepada siswa sendiri melalui pengalamannya.
Untuk terjadinya konstruksi pengetahuan ada beberapa kemampuan yang
harus dimiliki siswa antara lain: kemampuan mengingat dan mengungkapkan
kembali pengalaman, kemampuan membandingkan, mengambil keputusan
mengenai persamaan dan perbedaan, dan kemampuan untuk lebih menyukai
pengalaman yang satu daripada yang lainnya.
Inti dari konstruktivisme diatas berkaitan erat dengan beberapa teori belajar,
yaitu teori perubahan konsep, teori belajar bermakna Ausubel, teori belajar
Brunner, dan teori Skemata. Penjelasan dari masing-masing teori tersebut adalah
sebagai berikut.
1. Teori Belajar Perubahan Konsep
Teori belajar perubahan konsep merupakan suatu teori belajar yang
menjelaskan adanya proses evolusi pemahaman konsep siswa dari siswa yang
sedang belajar. Pada mulanya siswa memahami sesuatu melalui konsep secara
spontan. Pengertian spontan merupakan pengertian yang tidak sempurna, bahkan
belum sesuai dengan konsep ilmiah, dan harus mengalami perubahan menuju
pengertian yang logis dan sistematis, yaitu pengertian ilmiah. Proses
penyempurnaan itu berlangsung melalui dua bentuk, yaitu tanpa melalui perubahan
yang besar dari pengertian spontan tadi (asimilasi), atau sangat perlu adanya
perubahan yang radikal dari pengertian yang spontan menuju pengertian yang
ilmiah (akomodasi).
- 51 -
Menurut Suparno (1997:50-51), agar terjadi perubahan radikal (akomodasi)
dibutuhkan beberapa keadaan dan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Harus ada ketidak puasan terhadap konsep yang telah ada. Siswa mengubah
konsepnya jika mereka yakin bahwa konsep mereka yang lama tidak dapat
digunakan lagi untuk menelaah situasi, pengalaman, dan gejala yang baru.
b. Konsep yang baru harus dapat dimengerti, rasional dan dapat memecahkan
persoalan atau fenomena yang baru.
c. Konsep yang baru harus masuk akal, dapat memecahkan dan menjawab
persoalan yang terdahulu dan juga konsisten dengan teori-teori atau
pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
d. Konsep baru harus berdayaguna bagi perkembangan penelitian dan penemuan
yang baru.
2. Teori Belajar Bermakna Aussubel
David ausubel terkenal dengan teori belajarnya yang disebut dengan teori
belajar teori belajar bermakna ( meaning ful learning ). Belajar bermakna daalah
suatu proses dimana imformasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang
sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar
mencoba menghubungkan fenomena baru kedalam struktur pengetahuan mereka.
Ini terjadi melalui belajar konsep , dan perubuhan konsep, dan perubahn konsep
yang telah ada , yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur
konsep yang telah dipunyai si pelajar.
Kedekatan teori belajar bermakna Ausubel dengan konstruktivisme adalah
keduanya menekankan pentingnya pengasosiasian pengalaman, fenomena, dan
fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dimiliki, keduanya
menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep atau
pengertian yang sudah dimiliki siswa, dan keduanya mengasumsikan adanya
keaktifan siswa dalam belajar.
3. Teori Belajar Bunner
Menurut Brunner pembelajaran adalah proses yang aktif dimana pelajar
membina ide baru berdasarkan pengetahuan yang lampau. Selanjutnya Brunner
dalam Nur ( 2000; 10) menyatakan bahwa mengajar suatu bahan kajian kepada
siswa adalah untuk membuat siswa berpikir untuk diri mereka sendiri, dan turut
- 52 -
mengambil bagian proses dalam mendapatkan pengetahuan. Mengetahui adalah
suatu proses bukan hasil.kalau hasil harus berupa analisis atau pemikiran yang telah
diolah oleh otak dan menjadi sebuah teori.
Dalam pandangan teori brunner berkeyakinan bahwa proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh –
contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
4. Teori Skemata
Skema adalah abstraksi mental seseorang yang digunakan untuk mengerti
sesuatu hal, menemukan jalan keluar, atau memecahkan persoalan. Menurut teori
skema, pengetahuan itu disimpan dalam suatu paket informasi atau sekema yang
terdiri atas sesuatu set atribut yang menjelaskan objek tersebut, maka dari itu
membantu kita untuk mengenal objek atau kejadian itu. Hubungan skema yang satu
dengan yang lain memberikan makna dan arti kepada gagasan kita.
Belajar menurut teori skema adalah mengubah skema. Orang dapat
membentuk skema baru dari suatu pengalaman baru. Orang dapat menambah
atribut baru dalam skemanya yang lama. Orang dapat melengkapi dan memperluas
skema yang telah dimilikinya dalam berhadapan dengan pengalaman, persoalan dan
juga pemikiran yang baru. Biasanya seseorang bila menghadapi pengalaman baru
yang tidak cocok dengan skema yang dimilikinya, ia akan mengubah skema yang
lamanya. Dalam proses belajar siswa mengadakan perubahan skemanya, baik
dengan menambah atribut, memperluas ataupun mengubah sama sekali skema
lama.
E. IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME PADA
PEMBELAJARAN IPS
Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru
tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses
ini dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan
menerapkan ide-ide mereka untuk belajar. Paradigma konstruktivisme memandang
siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal tersebut akan menjadi
dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru.
- 53 -
Pendekatan konstruktivisme menghendaki siswa harus membangun
pengetahuan didalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses ini dengan
cara mengajar yang membuat informasi lebih bermakna dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide
mereka. Guru dapat memberi siswa tangga yang dapat membantu siswa mencapai
tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri
yang memanjat tangga tersebut.
Oleh karena itu, agar pembelajaran lebih bermakna bagi siswa dan pendidik
maka pendekatan kontruktivisme merupakan solusi yang baik untuk dapat
diterapkan. Sebagai gambaran, berikut akan dipaparkan perbedaan pembelajaran
tradisional (behavioristik) dengan model pembelajaran yang konstruktivistik, yaitu
sebagai berikut:
Tabel 2.
Perbedaan Model Pembelajaran Behaviorisme Dengan Konstruktivisme
No Pembelajaran Behaviorisme Pembelajaran Konstruktivisme
1. Kurikulum disajikan dari Kurikulum disajikan mulai dari
bagian-bagian menuju keseluruhan menuju kebagian-bagian
keseluruhan dengan dan lebih mendekatkan kepada konsep-
menekankan pada keterampilan konsep yang lebih luas.
dasar.
2. Pembelajaran sangat taat pada Pembelajaran lebih menghargai pada
kurikulum yang telah pemunculan pertanyaan dan ide-ide
ditetapkan. siswa.
3. Kegiatan kurikuler lebih Kegiatan kurikuler lebih banyak
banyak mengandalkan pada mengandalkan pada sumber-sumber data
buku teks dan buku kerja. primer dan manipulasi bahan.
4. Siswa dipandang sebagai Siswa dipandang sebagai pemikir-
‘kertas kosong’ (tabula rasa) pemikir yang dapat memunculkan teori-
yang dapat digoresi informasi teori tentang dirinya.
oleh guru, dan guru
menggunakan cara didaktik
dalam menyampaikan
informasi kepada siswa.
5. Penilaian hasil belajar atau Pengukuran proses dan hasil belajar
pengetahuan siswa dipandang siswa terjalin didalam kesatuan kegiatan
sebagai bagian dari pembelajaran, dengan cara guru
pembelajaran dan biasanya mengamati hal-hal yang sedang
dilakukan pada akhir pelajaran dilakukan siswa, serta melalui tugas-
dengan cara testing. tugas pekerjaan.
- 54 -
6. Siswa-siswa biasanya bekerja Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja
sendiri-sendiri, tanpa ada grup dalam grup.
proses dalam belajar.
7. Memendang pengetahuan Memendang pengetahuan adalah non
adalah objektif, pasti, tetap objektif, bersifat temporer, selalu
dantidak berubah. berubah, dan tidak menentu.
Penengetahuan telah terstruktur
dengan rapi.
8. Belajar adalah perolehan Belajar adalah penyusunan pengetahuan,
pengetahuan, adapun mengajar adapun mengajar adalah menata
adalah memindahkan lingkungan agar siswa termotivasi dalam
pengetahuan. menggali makna.
9. Kegagalan dalam menambah Kegagalan merupakan interpretasi yang
pengetahuan dikategorikan berbeda yang perlu dihargai
sebagai kesalahan yang perlu
dihukum
10. Evaluasi menuntut satu Evaluasi menggali munculnya berpikir
jawaban benar. Jawaban benar divergent, pemecahan ganda,dan bukan
menunjukkan bawah siswa hanya satu jawaban benar.
telah menyelesikan tugas
belajar
11. Evaluasi dipandang sebagai Evaluasi merupakan bagian utuh dari
bagian terpisah dan kegiatan pembelajaran dengan cara memberikan
pembelajaran, biasanya tugas-tugas yang bermakna serta
dilakukansetelah selesai menerapkan apa yang dipelajari yang
kegiatan belajar dengan menekankan pada keterampilan proses.
menekankan pada evaluasi
individu.
Sumber : Agib (2002 : 120) dan Budiningsih (2005 : 63)
Alasan lain perlunya pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran
adalah pengetahuan yang akan dimiliki siswa bermula dari keaktifan siswa untuk
mencari dan menemukan. Pengetahuan tidak akan diperoleh dari siswa yang
pasif.Untuk memperoleh suatu pengetahuan yang baru, siswa akan menyesuaikan
suatu pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya melalui
berinteraksi dengan siswa lain.
Hal ini berbeda dengan siswa yang lain. Hal ini berbeda dengan paham
behavioristik yang menekankan pada pola perilaku yang diulang-ulang menjadi
otomatis. Perilaku seseorang dapat dikuatkan atau dihentikan melalui ganjaran atau
hukuman.Begitu pula dengan kognitivistik yang menyatakan bahwa pengetahuan
akan diwakili oleh skema, jika imformasi sesuai dengan skema akan diterima , jika
tidak akan disesuaikan atau skema yang akan disesuaikan. Jadi kognitivistik
- 55 -
menekankan penataan kembali struktur kognitif dimana seseorang menyimpan
imformasi.
Kostruktivisme berawal dari pandangan kognitivisme . kognitivisme lebih
mementingkan proses belajar daripada hasil belajar . kognitivisme mengatakan
bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh pemahamannya tentang situasi yang
berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan
pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang
nampak.pandangan kognitivisme menyatakan bahwa belajar merupakan proses
internal yang mencakup ingatan, pengolahan imformasi , emosi, aspek kejiwaan
lainnya dimana pengetahuan yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif
yang sudah dimiliki seseorang berdasarkan pengetahuan yang sudah ada
sebelumnya.Untuk lebih memperjelas pemahaman ketiga teori belajar
behavioristik, kognitif, dan konstruktivis, berikut penulis sajikan tabel komparasi
ketiga teori tersebut, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.
Komparasi Teori Behavioristik, Kognitif, Dan Konstruktivis
BEHAVIORISTIK KOGNITIVISTIK KOSTRUKTIVISTIK
Belajar
Belajar Belajar merupakan
merupakan perubahan merupakan perlibatan pembangunan
tingkah laku yang dapat pengetahuan
diamati dari perubahan penguasaan atau berdasarkan
tingkah laku tersebut penataan kembali pengetahuan yang lebih
dapat dikuatkan atau ada sebelumnya.
dihentikan melalui struktur kognitif dimana
ganjaranatau hukuman seseorang memproses Belajar
merupakan penafsiran
dan menyimpan seseorang tentang Dunia
imformasi.
Belajar
Pengajaan Semua gagasan merupakan proses aktif
dan citraan (image) melalui interakasi atau
direncanakan dengan kerja sama dengan orang
lain.
menyusun tujuan diwakili skema.
Belajar perlu
instruksional yang disituasikan dalam latar
(setting) yang nyata.
dapat diukur dan
diamati
Guru tidak perlu Jika imformasi
sesuai dengan skema
pengetahuan apa yang akan diterima, jika tidak
akan disesuaikan atau
telah diketahui dan apa skema yang disesuaikan.
yang terjadi pada
proses berpikir
seseorang
- 56 -
Sumber : Yuleilawati (2004 : 52 – 54 )
Paradigma konstruktivisme bertolak belakang dengan pola belajar mengajar
konvensional yang pada umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Guru yang banyak berbicara didalam kelas
2. Pembelajaran banyak ditekankan pada penggunaan buku teks
3. Meskipun mengaku menggunakan strategi belajar kooperatif , guru jarang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama menyelesaikan
tugas-tugas yang mestinya dapat diselesikan bersama oleh siwa
4. Menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas mandiri padahal tugasnya
tergolong low level skill yang tidak menuntut kemampuan berpikir rumit, dan
guru kurang menghargai kemampuan berpikir peserta didik.
5. Pada umumnya guru tidak membuat siswa mampu berfikir dengan
membiasakan mereka berhadapan dengan isu yang menantang dan acapkali
meminta siswa hanya memberikan satu jawaban yang benar.
6. Pendidikan disekolah dirumuskan sebagai dunia yang pasti. Peserta didik
datang ke sekolah untuk tahu hal yang pasti tersebut, dan inipun sepenuhnya
disediakan oleh guru. Tidak ada kemungkinan bagi siswa memperoleh sesuatu
yang lain yang ini diketahuinya.
Pandangan konstruktivisme menempatkan siswa sebagai pusat atau pelaku
utama dalam pembelajaran, hal ini selaras dengan pemikiran Budiningsih (2005:58)
bahwa belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan yang dilakukan oleh
peserta didik. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep
dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Siswa dianggap sudah
mempunyai kemampuan awal yang akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi
pengetahuan yang baru. Oleh karena itu, kontruktivisme mempunyai beberapa
konsep umum, seperti di bawah ini :
1. Siswa aktif membina pengetahuan berasakan pengalaman yang sudah ada.
2. Dalam konsteks pembelajaran, siswa seharusnya membina sendiri pengetahuan
mereka.
3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh siswa sendiri melalui
proses saling memengaruhi antara pembelajaran terlebih dahulu dengan
pembelajaran terbaru.
- 57 -
4. Unsur penting dalam teori ini adalah seorang membina pengetahuan dirinya
secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan
pemahamannya yang sudah ada.
5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama.
Faktor ini berlaku apabila seorang siswa menyadari gagasan-gagasannya tidak
konsistean atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan
pengalaman siswa untuk menarik minat siswa.
Peran guru dalam belajar konstruktivisme adalah membantu agar proses
pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak berkedudukan
sebagai sumber belajar yang mentransferkan pengetahuan pada siswa, tetapi
membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru harus lebih
memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Oleh karena itu,
peranan guru dalam pembelajaran menurut pandangan kontruktivisme adalah :
1. Berusaha menciptakan kelas yang dapat membuat siswa berinteraksi.
2. Mendorong para siswa untuk selalu bekerja sama dan munculnya inisiatif
bekerjasama tersebut mendapatkan penghargaan.
3. Memberikan kesadaran kepada siswa bahwa pelajaran yang dipelajarinya itu
bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, guru memberikan tugas-tugas dan materi
yang interdisiplin. Untuk itu, guru lain dari belakang studi dapat hadir di suatu
kelas untuk menyaksikan dan memberikan penilaian terhadap kemajuan belajar
siswa.
4. Memberikan ruang kepada peserta didik yang suka melakukan sesuatu yang
beresiko, misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang penuh tantangan.
5. Menciptakan suasana yang kolaboratif di dalam kelas. Karena itu guru perlu
mengindari munculnya kebiasaan peserta didik yang acap kali bertindak
“mengang” sendiri dan tidak mau menerima dan menghargai pendapat
temannya.
Jadi, menurut pandangan kontruktivisme, belajar adalah proses membangun
makna atau pemahaman oleh si pembelajar terhadap pengalaman informasi yang di
saring dengan persepsi pikiran (pengetahuan yang dimiliki) dan perasaan, sehingga
- 58 -
belajar adalah memproduksi gagasan bukan mengonsumsi gagasan. Adapun
mengajar adalah menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan
tanggungjawab si pembelajar sehingga mengantarkan si pembelajar ke arah belajar
seumur hidup.
Dengan kata lain, pandangan konstruktivisme tidak memandang peserta
didik sebagai gelas kosong, dan tugas gurulah yang harus mengisi gelas itu. Tetapi
tugas guru lebih ditekankan sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai
pentransfer pengetahuan kepada peserta didik. selain itu gurupun dituntut sebagai
inovator di bidang pendidikan. Pembelajaran yang efektif akan terjadi jika guru dan
siswa melakukan beberapa upaya (Hamalik, 2008:69), antara lain :
1. Sikap guru terhadap pembelajaran, guru di harapkan bersikap menunjang,
membantu, adil dan terbuka dalam kelas, sehingga dapat menciptakan suasana
yang memberikan kenyamanan dan kegairahan serta menciptakan antusiasme
terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.
2. Kesadaran yang tinggi pada diri siswa untuk membina disiplin dan tata tertib
yang baik dalam kelas.
3. Guru dan siswa menciptakan hubungan dan kerjasama yang serasi, selaras, dan
seimbang dalam kelas, yang dijiwai oleh rasa kekeluargaan dan kebersamaan.
4. Bahan pembelajaran disesuaikan dengan bakat dan kemampuan siswa,
sehingga guru secara khusus harus mengenal dang mengetahui dengan seksama
semua kondisi subjek belajar.
Dalam pembelajaran IPS, pendekatan kontruktivisme dapat dilakukan pada
semua topik dan pokok bahasan. Pada saat guru menggunakan pendekatan ini,
mereka dapat membahas dan mengkaji topik yang di munculkan oleh guru dan
siswa saat ke, pendekatan kontruktivisme dapat dilakukan pada semua topik dan
pokok bahasan. Pada saat guru menggunakan pendekatan ini, mereka dapat
membahas dan mengkaji topik yang di munculkan oleh guru dan siswa saat ke,
pendekatan kontruktivisme dapat dilakukan pada semua topik dan pokok bahasan.
Pada saat guru menggunakan pendekatan ini, mereka dapat membahas dan
mengkaji topik yang di munculkan oleh guru dan siswa saat kegiatan berlangsung.
Fungsi guru dalam pembelajaran kontruktivisme ini adalah sebagai fasilitator
dengan memberikan peluang kepada siswa untuk membangun pengetahuan yang
- 59 -
telah mereka miliki sebelumnya. Kemudian guru dapat menghubungkan materi
pelajaran dengan kondisi ssiswa.
Suatu hal yang sangat penting dalam pembelajaran kontruktivisme adalah
menghubungkan materi dengan kehidupan nyata siswa. Ketika pokok guru
membahas materi tertentu, maka guru dapat menghubungka manfaat materi
tersebut yang dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di lingkungnan siswa pada
waktu itu, seperti bahasa, agama, kebebasan berbicara dan kebudayaan. Siswa dapat
mencari dan menyelidiki informasi tentang itu.
Selain itu guru dapat membangkitkan semangat belajar dengan
menghubungkan materi tersebut. Selain itu, apabila guru mengajar mata pelajaran
sejarah,guru dapat membangkitkan semangat belajar dengan menghubungkan
semangat para pahlawan kemerdekaan di daerah dalam memperjuangkan
proklamasi. Seperti di daerah-daerah tertentu banyak pejuang proklamasi yang
dapat dijadikan contoh seperti Pangeran Diponegoro, Teungku Umar, Teungku Cik
Ditiro, HM. Thamrin, Jendral Sudirman, dan lain-lain. Nama-nama tersebut telah
diabadikan oleh masyarakat pada nama jalan, rumah sakit, lapangan sepak bola, dan
gedung pertemuan. Nama-nama tersebut juga dapat dijadikan nama-nama
kelompok siswa di kelas. Hal ini lebih memupuk kecintaan mereka kepada para
pahlawan yang pernah dimiliki daerahnya pada masa lalu.
F. METODE MENGAJAR PADA PENDEKATAN KONTRUKTIVISME
Model dan metode pembelajaran merupakan hal yang penting dalam proses
pembelajaran di kelas, karena dengan model pembelajaran tersebut guru dapat
menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.
Selain itu, model pembelajaran yang dipilih dan digunakan oleh pendidik dapat
mendorong peserta didik untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.
Pemilihan model pembelajaran harus dilandaskan pada pertimbangan
menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar yang tidak hanya menerima
secara pasif apa yang disampaikan oleh pendidik. Pendidik harus menempatkan
peserta didik sebagai insan yang secara alami memiliki pengalaman, pengetahuan,
keinginan, dan pikiran yang dimanfaatkan untuk belajar, baik secara individu
maupun kelompok. Model yang dipilih oleh pendidik adalah model yang dapat
membantu peserta didik mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.
- 60 -
Selain itu, model pembelajaran yang dapat memanfaartkan potensi peserta didik
seluas-luasnya.
Pada hakikatnya pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar peserta didik belajar. Dalam
menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami
bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya.
Jika guru dapat memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarannya. Jika guru
dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan
strategi atau metode-metode pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya.
Terjadinya proses belajar pada murid yang sedang belajar memang sulit untuk
diketahui secara kasatmata, karena proses belajar berlangsung secara mental.
Namun dari berbagai hasil penelitian atau percobaan, para ahli psikologi dapat
menggambarkan bagaimana proses tersebut berlangsung. Ahli psikologi
kontruktivis berpendapat bahwa proses pemerolehan pengetahuan adalah melalui
penstrukturan kembali struktur kognitif yang telah dimiliki agar berkesesuaian
dengan pengetahuan yang akan diperoleh sehingga pengetahuan itu dapat
diadaptasi.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan suatu cara atau metode untuk
mencapai tujuan belajar. Menurut Hamalik (2003:2) metode mengajar adalah suatu
cara, teknik atau langkah-langkah yang akan ditempuh dalam proses belajar
mengajar. Adapun Roestiyah (2001:1) metode mengajar adalah teknik pengajian
yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa
di dalam kelas agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami, dan digunakan
oleh siswa dengan baik.
Ada berbagai metode yang dapat digunakan guru dalam kegiatan
pembelajaran, diantaranya : ceramah bervariasi, tanya jawab, diskusi, pemberian
tugas, bermain peran, karyawisata, inquiri, kerja kelompok, demonstrasi. Dari
sekian banyak metode itu tidak akan mungkin metode dapat digunakan. Namun
yang terpenting adalah penggunaan metode harus dikaitan dengan situasi dan tujuan
belajar yang hendak dicapai dan ditekankan kepada keaktifan siswa dalam
membangun pengetahuan.
- 61 -
Metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran yang
menggunakan pendekatan kontraktivisme adalah metode inquiry. Metode inquiry
ditandai dengan kegiatan-kegiatan tanya jawab, penyelidikan, dan komunitas
belajar. Dalam pembelajaran yang berbasis inquiry, kegiatan bertanya merupakan
bagian yang sangat penting untuk menggali informasi, menginformasikan hal-hal
yang sudah diketahui, serta mengarahkan hal-hal yang belum diketahuinya.
Adapun penyelidikan diperlukan untuk menggali informasi, pengetahuan,
keterampilan yang akan diperoleh siswa dengan cara menemukan sendiri bukan
hasil mengingat seperangkat fakta, guru harus selalu berusaha merancang kegiatan
yang berujuk pada kegiatan menemukan untuk berbagai materi yang diajarkan.
Metode inquiry dalam proses pembelajaran lebih bersifat student centered. Dalam
pembelajaran seorang guru hendaknya dapat mengajarkan bagaimana siswa dapat
membelajarkan dirinya, karena siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan
pembelajaran. Belajar dengan menggunakan metode inquiry pada dasarnya adalah
cara siswa untuk menemukan sendiri pengetahuannya.
RANGKUMAN
Pendekatan Kontuktivisme adalah pembelajaran yang memandang dimana
setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri
melalui skema yang ada dalam struktur kognitif. Skema ini terus menerus
diperbaharui dan diubah melalui proses assimilasi dan akomodasi tersebut.
Peran guru dalam pembelajaran konstruktivis sangat menuntut penguasaan
bahan yang luas dan mendalam tentang bahan yang diajarkan. Pengetahuan yang
dalam dan luas memungkinkan seorang guru menerima pandangan yang berbeda
dari siswa dan juga memunngkinkan untuk menunjukkan seorang guru mengerti
macam- macam jalan dan model untuk sampai pada suatu pemecahan persoalan
tanpa terpaku pada satu model. Dan guru juga berperan untuk memotivasi siswa
untuk mengembangkan skema yang terbentuk melalui proses assimilasi dan
akomodasi tersebut.
Penilaian yang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme adalah
penilaian autentik yang beorientasi pada proses pembelajaran seperti melalui
observasi dan fortofolio.
- 62 -
G. LATIHAN :
1. Bentuk kelompok diskusi maksimal 5 orang satu kelompok, kemudian
diskusikan Deskripsikan dengan jelas konsep dasar pembelajaran
kontruktivisme dalam pembelajaran IPS Berbasis Budaya Lokal!
2. Buatlah satu contoh desain pembelajaran Konstruktivisme dalam pembelajaran
IPS Berbasis Budaya Lokal SUMUT!
3. Diskusikan dalam kelompok masing-masing implementasi pembelajaran
Konstruktivisme dalam pembelajaran IPS Berbasis Budaya Lokal SUMUT!
4. Diskusikan dalam kelompok Anda cara mengatasi kelemahan-kelemahan
dalam pembelajaran Konsrtuktivisme dalam pembelajaran IPS Berbasis
Budaya Lokal SUMUT!
- 63 -
BAB V
PENDEKATAN INQUIRY PADA PEMBELAJARAN
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL BERBASIS BUDAYA LOKAL
A. PENTINGNYA PENERAPAN PENDEKATAN INQUIRY
Pendidikan dasar (sekolah dasar) merupakan sebuah institusi pendidikan
yang memegang peranan penting dan strategis, karena kualitas jenjang pendidikan
berikutnya sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikan dasar. Dengan kata lain,
semakin baik kualitas pendidikan dasar, maka akan semakin baik pula kualitas
pendidikan pada jenjang berikutnya. Untuk itu, agar tujuan pembelajaran disekolah
dapat tercapai dengan baik, maka pembelajaran disekolah dasar ini hendaknya
bersifat mendidik, mencerdaskan,membangkitkan aktivitas dan kreativitasnanak,
efektif, demokratis, menantang, menyenangkan, dan mengasyikkan. Terlebih pada
mata pelajaran IPS, yang apabila guru tidak mampu menyajikannya dengan baik
dan benar, akan menjadikan siswa jenuh dan membosankan.
Untuk mengantisipasi agar pembelajaran IPS ini tidak membuat jenuh dan
membosankan bagi siswa, maka diharapkan guru mampu menciptakan kondisi
belajar yang dapat menghasilkan tujuan pembelajaran yang berkualitas dan
berbobot. Salah satu upaya untuk menciptakan kondisi belajar yang berkualitas dan
berbobot tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran inquiry.
Melalui model pembelajaran inquiry, siswa dilatih untuk berfikir kritis, terutama
dalam pembelajaran IPS, yang salah satunya menuntut siswa untuk kritis terhadap
sumber dalam mengungkapkan fakta yang benar.
Diharapkan, dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran Inquiry, siswa dapat menunjukkan antusias dalam mengikuti
pembelajaran IPS, baik dilihat dari tingkat partisipasi aktif dalam setiap langkah
pembelajaran maupun kesediaan mereka dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibiarkan. Selain itu, diharapkan pula dapat meningkatkan minat dan perhatian
dalam mempelajari IPS, yang sebelumnya menurut mereka mungkin hanya sekadar
untuk melaksanakan kewajiban saja. Setelah melalui pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran inquiry, belajar IPS dirasakan menjadi suatu
- 64 -
kebutuhan. Lebih jauh lagi, siswa akan merasa nyaman, tidak bosan, dan tidak
mengantuk waktu belajar. Mempunyai minat dan mencapai hasil pembelajaran
yang tinggi. Bila ini terjadi, maka yang menjadi tujuan dari pembelajaran IPS pun
akan tercapai.
Peraturan pemerintah No. 19 Tahun 2005 maupun Permen diknas No.41
Tahun 2007 menegaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan
secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil
dalam bentuk ulangan harian, ulangan tegah semester, ulangan kenaikan kelas.
Penilaian ini digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi siswa, bahwa
penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Selain sesuai dengan karakteristik mata pelajaran IPS yang sekaligus
keterampilan berfikir kritis pada siswa, model pembelajaran memberikan
pengalaman atau kegiatan belajar menagndung unsur eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi bagi siswa. Melalui langakah-langkah inquiry, ketiga unsur yang
dimaksud oleh Permen Diknas No.41 Tahun 2007 dapat terpenuhi. Hal ini
dikuatkan oleh beberapa penelitian yang menemukan bahwa pelaksanaan
pembelajaran inquiry dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran pada hampir
semua mata pelajaran dan hampir semua jenjang pendidikan. Diharapkan melalui
proses pembelajaran yang bermutu dapat meningkatkan capaian kompetensi siswa.
Dengan kata lain, diharapkan pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran
yang efektif untuk meningkatkan capaian kompetensi siswa dalam mata pelajaran
IPS.
Dengan beberapa alasan diatas diketahui bahwa penggunaan pendekatan
pembelajaran inquiry sangat penting dan mendesak. Untuk itu sebagai bahan
pertimbangan dalam memilih metode pembelajaran inquiry ini adalah penggunaan
pendekatan inquiry ini lebih diutamakan pada kemampuan kognitif anak.
Sebagaimana yang disinyalir oleh Piaget (1971), bahwa tahapan perkembangan
kognitif dikategorikan kedalam empat tahap, yakni :
1. Tahap sensorimotor (sensorimotor Period ; yang dimulai sejak lahir hingga
kurang lebih usia 2 tahun. Pada tahap ini bayi memahami dunia melalui
tindakan fisik dan nyata terhadap rangsangan dari luasr. Perilaku berkembang
- 65 -
melalui refleks-refleks sederhana melalui beberapa tahap melalui seperangkat
skema yang terorganisasi (perilaku yang terorganisasi).
2. Tahap pra-operasional (preoperational period) ; tahap ini dimulai saat usia 2
tahun hingga kurang lebih 6 tahun atau 7 tahun. Pada tahap ini berfikir simbolik
dan bahasa mulai jelas terlihat untuk menggambarkan objek dan kejadian,
namun cara berpikir yang menyerupain orang.
3. Tahap operasi konkret (concrete operational period) ; tahap ini dimulai sejak
usia 6 atau 7 tahun hingga kurang lebih usia 11 atau 12 tahun. Dewasa mulai
muncul, namun masih dibatasi oleh kemampuan penalaran yang sifatnya masih
berdasarkan realitas konkret.
4. Tahap operasi formal (formal operatio period) ; tahap ini dimulai sejak usia 11
atau 12 tahun hingga dewasa. Pada tahap ini proses berpikir logis sudah ada,
meliputi ide-ide abstrak, tidak lagi terbatas pada objek-objek yang bersifat
konkret.
Sementara menurut Bruner (1966) ada tiga tahapan berpikir yang dialami
seseorang, yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Enactive terjadi pada masa kanak-
kanak. Apa yang dipelajari, dikenal, ataupun diketahui masih terbatas dalam
ingatan. Kemampuan memproses informasi belum terjadi. Belum mampu berpikir
yang lebih jauh dari informasi yang ada. Cara berfikir mereka masih terbatas pada
ruang, waktu, dan informasi yang diterima sebagaimana adanya. Karenanya, guru
perlu membantu proses berpikir peserta didik dengan mendemonstrasikan konsep
yang sedang dibahas dengan cara gerak/olah tubuh.
Pada tahap iconic, anak sudah dapat mengembangkan kemampuan berpikir
yang lebih jauh. Kemampuan berpikir mereka tidak hanya terbatas pada ruang,
waktu, dan apa yang tersaji secara eksplisit dalam informasi yang diterima. Mereka
sudah dapat mencerna dan memahami apa-apa yang tidak ada di lingkungan
geografis disekitar mereka ataupun pada waktu sekarang. Kemampuan berpikir
yang lebih abstrak sudah mulai berkembang. Mereka sudah dapat menggali
informasi yang lebih jauh dari apa yang tertera dalam tulisan atau informasi yang
diberikan. Kemampuan berikir logis sudah dapat mereka lakukan walaupun harus
dikatakan bahawa tingkah abstraksi konsep masih sangat rendah. Pada tahap ini
- 66 -
guru dapat membantu peserta didik dengan menampilkan peta, gambar, bagan, atau
tabel untuk lebih menjelaskan materi yang sedang dibahas.
Pada tahap symbolic adalah tingkat operasi formal pada jenjang
perkembangan Piaget. Pada tahap ini peserta didik sudah mampu berpikir abstrak.
Simbol-simbol bahasa, matematika, ataupun disiplin ilmu lainnya sudah dapat
mereka pahami sebagaimana mestinya. Pada tingkat ini mereka sudah dapat diajak
berpikir analitis, sintesis, maupun evaluatif pada tingkat abstrak sebagaimana yang
dikemukakan Piaget dalam jenjang operasi formal. Bantuan guru pada tahap ini
adalah menjelaskan konsep yang dibahas dengan ungkapan bahasa yang dapat
dimengerti.
Dengan mengacu pada landasan berpikir kognitif dan tahap-tahap
perkembangan kognitif Piaget dan tahapan berpikir manusia sebagaimana yang
dikemukakan oleh Bruner diatas, maka dapat dipahami bahwa pendekatan
pembelajaran inquiry ini sudah dapat diterapkan pada peserta didik mulai dari
sekolah dasar, minimal kelas IV, karena mereka sudah mampu berpikir logis, kritis,
analitis, sintensis dan evaluatif, sesuai tahap operasi formal Piaget dan tahap
berpikir symbolic Bruner.
Menurut Banks (1985:81) pembelajaran melalui model inquiry ini dapat
dilakukan sejaak siswa berada pada jenjang sekolah dasar, hanya saja penekannya
tidak pada langkah-langkah inquiry melainkan kepada memperkenalkan fakta,
konsep, dan generalisasi. Ketiga itu dikembangkan melalui strategi bertanya,
artinya dalam proses pembelajaran siswa dikondisikan untuk bertanya sehingga
kemampuan berpikir kritis sudah mulai dikembangkan sejak pendidikan dasar dan
kemampuan social inquiry dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pedidikan yang
lebih tinggi.
Berkaitan dengan pertanyaan di atas, Muhibbin (2007:73-74) mengatakan
bahwa dalam perkembangan tahap akhir ini peserta didik telah memiliki
kemampuan mengoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan
dua ragam kemampuan kognitif, yaitu 1) kapasitas menggunakan hipotesis; 2)
kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunkan
hipotesis (anggapan dasar) peserta didik akan mampu berpikir hipotetsis.
- 67 -
Agar kegiatan pembelajaran inquiry ini dapat mencapai tujuan yang
ditentukan, penelitian bersama guru mitra diharapkan memperhatikan hal-hal
berikut :
1. Peserta didik diarahkan ke pokok permasalahan yang akan dicari jawabannya
atau yang akan dipecahkan. Untuk itu guru hendakya menjelaskan pokok
permasalahanya dan tujuan yang ingin dicapai.
2. Guru hendaknya memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk berdiskusi,
mengemukakan kemungkinan pilihan jawaban ataupun bertanya. Guru hanya
membatasi agar jangan keluar dari pokok permasalahan yang sedang
didiskusikan.
3. Guru diharapkan mampu untuk memberikan pertanyaan yang merangsang,
apabila peserta didik kurang mampu menganalisis permasalahan.
4. Guru mengawasi, membatasi agar kegiatan peserta didik tidak menyimpang
dari nilai-nilai.
5. Guru tidak diperbolehkan memberikan jawaban langsung atas masalah yang
dihadapi.
Pendekatan inquiry dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat
berikut ini, yaitu:
1. Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada
kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang peserta didik
atau problematik) dan sesuai dengan daya nalar peserta didik.
2. Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar peserta didik dan
menciptakan situasi belajar yang menyenangkan.
3. Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup.
4. Adanya kebebasan peserta didik berpendapat, berkarya, berdiskusi.
5. Partisipasi setiap peserta didik dalam setip proses pembelajaran.
6. Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan peserta
didik.
Aspek lain yang harus diperhatikan oleh guru adalah kondisi pembelajaran
yang fleksibel, bebas untuk berinteraksi, lingkungan yang responsif, dan bebas dari
tekanan. Disamping itu ada hal-hal lain yang harus di stimulasi, misalnya otonomi
- 68 -
peserta didik, kebebasan dan dukungan kepada peserta didik, sikap terbuka, percaya
kepada diri sendiri, dan kesadaran akan konsep diri (self-concept).
B. PENGERTIAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN INQUIRY
Inkuiri (inquiry), berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan.
Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau
memahami informasi. Pendekatan inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar
yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari
dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Savage dan Amstrong (1996:237) mengembangkan pendekatan inquiry
sebagai salah satu bagian dari upaya guru dalam membantu para siswa sekolah
dasar untuk meningkatkan keterampilan berpikir. Pendekatan pembelajaran inquiry
merupakan model pembelajaran yang berorientasi kepada pengalaman siswa.
Melalui pembelajaran inquiry, maka guru akan mudah membantu mengembangkan
diri siswa sebagai tanggung jawabnya. Selain itu, dengan pembelajaran inquiry,
akan memotivasi siswa untuk aktif mencari dan mendapatkan pengetahuan.
Adapun menurut Jarolink (1977 : 72) pendekatan pembelajaran
inquiryadalah “the majar goal of inquiry teaching is to develop in pupils those
attitudes and skills that will enable them to be independent problem solver. This
involves more than simply knowing where to go to get needed information. It
requires an attitude of curiosity, the ability to analyze a problem, the ability to make
and test hunches and the ability to use information in validiting conclusions. Jadi,
menurut Jarolimek inquiry tidak hanya terbatas kepada pertanyaan atau
pemeriksaan, melainkan meliputi proses penelitian, keingintahuan, analisis sampai
kepada penarikan kesimpulan tentang hal-hal yang diperiksa atau diteliti.
Barth dan Shermis (1978:99) mengemukakan penjelasan inquiry sebagai
berikut :”inquiry as a method means that a teacher and his students will identify a
problem that is of condiderable concern ti them-and to ur society-and that relevant
facts and value will be examined in the light of criteria.” Selanjutnya pendektan
pembelajaran inquiry di defenisikan oleh Piaget dalam Wartono (1996:29) sebagai
pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen
- 69 -
sendiri dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu,
ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri.
Menurut Gulo dalam Trianto (2007 : 135) sasaran utama pembelajaran
inquiry adalah : 1) keterlibatan peserta didik secara maksimal dalamproses kegiatan
belajar; 2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan
pembelajaran; 3) mengembangkan sikap percaya pada diri peserta didik tentang apa
yang ditentukan dalam proses inquiry.
Selanjutnya, Tritanto (2007:135) menjelaskan kondisi umum yang
merupakan syarat timbulnya kegiatan inquiry bagi peserta didik adalah sebagai
berikut : 1) apek sosial dikelas dan suasan terbuka yang mengundang peserta didik
berdiskusi, 2) inquiry berfokus pada hipotesis dan 3) penggunaan fakta sebagai
evidensi (informasi, fakta).
Defenisi lain tentang inquiry adalah seperti yng ditemukan oleh Hasan
(1996:235) yang mengatakan bahwa pembelajaran inquiry merupakan suatu proses
pembelajaran yang lebih menekankan pada pengembangan kemampuan pemecahan
masalah yang terbatas pada disiplin ilmu. Jadi, menurut hasan, pendekatan inquiry
lebih menekankan pada kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang
dihadapi atau yang diberikan padanya. Filosofi dasar dari pendekatan masalah
menurut Skeel (1995:170), adalah sebagai berikut :
The basic philosophy of yhe problem-solving approach is one of
develelopng thinking skills in children that anable to formulate ganeralization
about given station. These generalization should be one that can be applied in new
situationsp, specifically in the problem in the everyday lives of the children, as well
as the problem of our global world. If teachers are to help children develop thinking
skills, they must know to ask the right question.
Maksud pertanyaan diatas adalah bahwa filosofi dasar dari pendekatan
penyelesaian masalah merupakan salah satu dari upaya untuk mengembangkan
keterampilan berpikir pada peserta didik yang memungkinkan mereka untuk
mampu merumuskan kesimpulan tentang sesuatu yang diberikan. Kesimpulan
tersebut seharusnya adalah sesuatu yang dapat diterapkan dalam situasi yang baru,
secara spesifik dalam kaitan dengan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari
peserta didik.
- 70 -
Adapun menurut Hamalik (2007:220) pembelajaran inquiry merupakan
suatu strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dimana kelompok
peserta didik inquiry masuk kedalam suatu persoalan atau mencari jawaban-
jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur dan struktur kelompok
yang digariskan secara jelas. Sementara Sanjaya (2007:194).
Inkuiri adalah stimulus melalui onfrontasi dengan suatu masalah dan
pengetahuan bersumber dari pengamatan. Menurut Joyce (2000), inkuiri
merupakan pengamatan berbagai proses dan memberikan perhatian terhadap
sesuatu, interaksi dengan berbagai stimulus melalui hubungan dengan orang lain.
Dasar pertama inkuiri adalah individu dapat bereaksi pada suatu masalah, dan
mencari bagaimana cara pemecahannya.
Dasar pertama inquiry adalah individu dapat bereaksi pada suatu masalah,
dan mencari cara bagaimana pemecahannya. Adapun guru memilih isi atau materi
dan meberikan penafsiran istilah-istilah dalam lingkup permasalahan yang ada.
Contoh bagaimana kelompok dapat menghasilkan cara yang terbaik untuk
memecahkan suatu masalah. Berkenaan dengan hal ini peserta didik harus
memahami makna kemudian memberi asumsi dan berpartisipasi pada simulasi
permasalahan.
Dari semua konsep tentang pendekatan inquiry diatas, maka yang dimaksud
dengan pendekatan pembelajaran inquiry adalah serangkaian proses pembelajaran
yang berpusat pada peserta didik (student centered) dengan penekanan
kemampuannya berpikir kritis, analitik, mencari, menemukan dan mengolah
informasi-informasi dan pengetahuan-pengetahuan sendiri oleh peserta didik.
Jadi jelas, bahwa dalam pendekatan pembelajaran inquiry ini, siswa terlibat
secara mental maupun fisik untuk memecahkan permasalahan yang diberikan guru.
Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti sikap para ilmuwan IPS
yang teliti, tekun, ulet, objektif, jujur, menghormati pendapat orang lain, dan kritis
serta analitis.
C. CIRI-CIRI PENDEKATAN PEMBELAJARAN INQUIRY
Dari definisi yang dikemukakan diatas, dapat dipahami bahwa pembelajaran
inquiry lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan pemecahan masalah
- 71 -
yang terbatas pada disiplin ilmu, serta berlandaskan pada masalah yang ada pada
disiplin ilmu. Lebih lanjut, model pembelajaran inquiry ini mempunyai cirri-ciri
sebagai berikut :
1. Sangat memperhatikan proses pengumpulan data dan pengujian hipotesis.
2. Proses pengumpulan data dilakukan secara sistematis dan berdasarkan tradisi
keilmuan disiplin tertentu (walaupun perlu adanya penyederhanan proses
sehingga sesuai dengan kemampuan peserta didik).
3. Adanya proses pengolahan data dan pengujian hipotesis (yang merupakan
suatu keharusan dalam inquiry dan bukan alternatif seperti pemecahan
masalah).
4. Pembelajaran inquiry maupun pemecahan masalah mempunyai keunggulan
yang sama yaitu kemampuan berfikir aplikasi, analisis, sistematis, dan
evaluasi.
5. Langkah yang dilakukan dalam inquiry terdiri atas : perumusan masalah,
pengembangan hipotesis, pengumpulan data, pengolahan data, pengujian hipotesis,
dan penarikan kesipulan.
Dahlan (1990 : 169) menyatakan bahwa ada tiga cirri pokok dalam
pendekatan inquiry, yaitu : 1. Adanya aspek-aspek sosial dalam kelas yang dapat
menumbuhkan tercipta nya suasana diskusi kelas. 2. Adanya penetapan hipotesis
sebagai arah dalam pemecahan masalah.3. Menggunakan fakta sebagai pengujian
hipotesis.
Menurut Sanjaya (2007 : 194-195) ada beberapa hal yang menjadi ciri utama
dari pembelajaran inquiry, yaitu :1) Menekankan pada aktivitas peserta didik secara
secara maksimal untuk mencari dan menemukan;2) Seluruh aktivitas yang
dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari
suatu yang dipertanyakan;3) Bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Ketika proses pembelajaran yang menggunakan pendekati inquiry
berlangsung guru hendaknya dapat berperan sebagai pembimbing. Dalam
membimbing siswa, guru bukanlah sebagai perintah, akan tetapi guru sebagai
motivator, fasilitator, dan reflektor.
- 72 -
D. TUJUAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN INQUIRY
Tujuan utama pendekatan inquiry adalah menyediakan peralatan atau cara
bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan intelektualnya yang berkaitan
dengan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Perhatian utama pada inquiry
adalah pengembangan proses seperti mengidentifikasi dan menganalisis masalah,
menyusun hipotesis, mengumpulkan dan mengklasifikasikan data yang relevan,
menafsirkan dan memverifikasi data, menguji hipotesa dan sampai pada suatu
kesimpulan. Menurut Sunaryo (1989 : 97) melalui pembelajaran inquiry siswa akan
“belajar bagaimana belajar” (learning how to learn).
Melalui pendekatan inquiry anak didik mampu mengembangkan sikap
positif seperti memiliki sikap jujur. Tujuan pendidikan IPS di sekolah dasar yang
tertuang dalam GBPP kurikulum Seolah Dasar Suplemen 1999 dan KBK IPS
Sekolah Dasar tahun 2003, bahwa tujuan dari penggunaan pendekatan
pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan sikap, keterampilan, kepercayaan siswa dalam memecahkan
masalah atau memutuskan sesuatu secara cepat.
2. Mengembangkan kemampuan berfikir siswa agar lebih tanggap, cermat, dan
nalar (kritis, analitis, dan logis).
3. Membina dan mengambangkan sikap ingin tahu lebih jauh.
4. Mengungkapkan aspek pengetahuan maupun sikap.
Melalui implementasi model pembelajaran inquiry diharapkan siswa
mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta memahami konsep-
konsep IPS dengan baik dan sekaligus menanamkan sikap ilmiah pada siswa.
Penelitian keterampilan berpikir secara teratur dan kontiniu yang disesuaikan
dengan tingkat perkembangan intelektual anak akan mampu memberikan bekal
kemampuan yang memadai bagi anak, baik untuk bekal hidupnya kelak di
masyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi.
Massialas dan cox dalam Dahlan (1990:176) menggambarkan tujuan yang
berkenaan dengan proses berpikir sebagai dampak instruksional dalam inquiry ialah
:
a) dapat melakukan penelitian masalah-masalah sosial;
b) dapat mengembangkan tanggungjawab dalam perbaikan masyarakat.
- 73 -
Adapun dampak penyerta yang dapat dicapai adalah :
1) akan timbul rasa hormat pada para siswa terhadap martabat semua orang;
2) siswa akan memiliki sikap toleran terhadap orang lain; dan
3) siswa akan membiasakan berperilaku yang diharapkan oleh masyarakat.
Adapun dampak instruksional dan dampak penyerta tersebut di atas apabila
digambarkan dapat terlihat seperti pada Gambar 1.
Gambar 1.
Dampak Instruksional dan Penyerta Pembelajaran Inquiry
Exploration of Social Issues
Comitment to Civic Improvement
SOCIAL Respect for Dignity
INQUIRY
MODEL Social action
Tolerance in Dialogue
Sumber: Joyce (1980:322).
Keterangan :
Dampak Instruksional
Dampak Penyerta.
Joyce dan Weil (1972:74) merumuskan tujuan inquiry adalah
pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu dengan suatu cara khusus, seperti
mengaplikasikan secara umum dan prinsip penggambaran pengalaman masa lalu
untuk menghasilkan pengalaman baru. Adapun menurut Sanjaya (2006:194-195)
ciri utama pembelajaran dengan inquiry ini adalah : 1) menekankan pada aktivitas
siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan; 2) seluruh aktivitas yang
dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawabn sendiri dari
suatu yang dipertanyakan; 3) bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
berpikir intelektual sebagai bagian dari proses mental. Sunal dan Hasan (2006)
merumuskan pembelajaran inquiry ke dalam lima komponen, yaitu; bermakna,
integratif, berbasis nilai, menentang, dan aktif. Hal ini bertujuan menciptakan
pembelajaran bermakna yang memfokuskan siswa pada gagasan-gagasan yang
paling penting pada sesuatu yang sedang mereka pelajari.
- 74 -
Lebih lengkap, Skeel (1995:179) mengemukakan tujuan pembelajaran
dengan menggunakan model atau pendekatan inquiry adalah sebagai berikut :
The goals/outcomes for the method of problem solving through inquiry are basic
on the processes orvsteps in which children are involves (identifying a problem
stating and testing hypotheses, and generalizig). The broad goals/outcomes are
outlined as follows: develop the student's abilityto :
1. Identify and define a problem situation;
2. Use a variety of materiels to scure information relative to thr problem;
3. Formulate hypotheses of tentative problem solution utilizing the information
presented and previously acquired knowledge.
4. Use relation thought processes by constructing hypotheses and testing,
revising, and refining those hypothese.
5. Discover the relationships between proviously and newly aquires information
to acquire new insight into solution of a problem;
6. Compare and evaluate varios theories, data and generalization in testing
tentatif hypotheses.
7. Select relevant facts necasarry for testing hypotheses.
8. Express opinions on issues after an analysis of available information;
9. State generalizations from results and apply them to new situations.
Maksud pernyataan diatas adalah bahwa tujuan dari metode penyelesaian
masalah melalui pendekatan inquiry didasarkan pada proses atau langkah dimana
peserta didik diikutsertakan untuk mengidentifikasi suatu pernyataan yang
mengandung masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, dan merumuskan
kesimpulan. Tujuan-tujuan tersebut secara garis besarnya dimaksudkan untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik dalam hal sebagai berikut : 1)
mengidentifikasi dan mendefenisikan sebuah perntanyaan yang mengandung
masalah; 2) menggunakan beragam data untuk mendukung informasi dan yang
berkaitan dengan masalah di atas; 3) merumuskan hipotesis untuk merumuskan
masalah tersebut yang bersifat sementara, dengan memanfaatkan informasi yang
ada dan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya; 4) menggunakan proses-
proses pemikiran yang logis untuk merumuskan hipotesis, menguji hipotesis,
meninjau ulang, dan menyeleksi hipotesis tersebut; 5) menemukan antara informasi
- 75 -
yang diperoleh sebelumnya dan untuk memperoleh pengertian yang lebih
mendalam dan baru, untuk mencari solusi atau masalah; 6) membandingkan dan
mengevaluasi berbagai teori, data, dan generalisasi dalam menguji hipotesis atau
jawaban sementara; 7) memilih fakta atau data yang relevan yang diperlukan untuk
menguji hipotesis; 8) menyatakan pendapat sendiri setelah menganalisis informasi-
informasi yang tersedia; dan 9) merumuskan kesimpulan-kesimpulan dan
menerapkannya dalam situasi-situasi yang baru dalam kehidupan nyata.
E. IMPLEMENTASI PENDEKATAN INQUIRY DALAM
PEMBELAJARAN IPS
Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, guru perlu
memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk belajar memecahkan masalah.
Masalah perlu dicarikan jalan keluarnya, bukan dihindari. Menghindari masalah
sama halnya dengan kehilangan kesempatan untuk membina diri agar terbiasa
dengan memecahkan masalah. Untuk itu dalam pembelajaran yang menggunakan
pendekatan inkuiri ini, peran guru sangat penting untuk merancang pembelajaran
dalam bentuk problem atau masalah.
Pada umumnya pendekatan pembelajaran inquiry dilaksanakan dengan
mengikuti langkah-langkah sebagai bsrikut : 1) orientasi; 2) perumusan masalah; 3)
mengajukan hipotesis; 4) mengumpulkan data; 5) menguji hipotesis; 6)
merumuskan kesimpulan. Keenam langkah ini dapat dijabarkan sebai berikut.
1. Orientasi
Langkah orientasi merupakan langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif. Guru berusaha untuk mengondisikan peserta didik
agar siap melaksanakan proses pembelajaran. Langkah ini sangat penting, sebab
keberhasilan pendekatan pembelanaran sangat tergantung pada kemauan peserta
didik untuk beraktivitas menggunkan kemampuan memecahkan masalah.
2. Perumusan Masalah
Kemampuan untuk menanyakan pertanyaan yang baik adalah ahlian yang
harus dikembangkan, dapat diajarkan secara sistematis, dan dapat dimulai dari
taman kanak-kanak. Pada tahap ini, siswa dilatih untuk merumuskan pertanyaan
dalam kajian IPS. Mereka bisa merumuskan permasalahan antara lain : latar
- 76 -
belakang suatu peristiwa terjadi, faktor-faktor penyebab tumbuh atau hancurnya
suatu peradaban, dan lain-lain.
Langkah perumusan masalah membawa peserta didik pada suatu persoalan
yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan haruslah yang menantang
peserta didik untuk memecahkan teka-teki itu, proses mencari jawaban itulah yang
paling penting dalam strategi belajar karena melalui proses inquiry tersebut peserta
didik akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir. Beberapa hal penting yang harus
diperhatikan dalam merumuskan masalah.
a. Masalah hendaknya di rumuskan sendiri oleh peserta didik,dengan demikian
mereka akan memiliki motivasi belajar yang tinggi, karena mereka dilibatkan
dalam merumuskan masalah yang akan dikaji.Guru hanya memberikan topic
yang akan dipelajari. Adapun bagaimana merumuskan masalah sesuai dengan
topic tersebut diserahkan kepada peserta didik.
b. Masalah yang dikaji berupa yang mengandung teka-teki yang jawaban
pastinya.
c. Sebelum masalah dikaji lebih jauh dalam proses inquiry,guru harus
yakin,bahwa peserta didik sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep
yang ada dalam rumusan masalah
3. Mengajukan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
sedang dikaji. Karena itu, hipotesis perlu diuji kebenarannya.Untuk iitu guru harus
mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong peserta didik untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atas permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai
hipotesis harus memiliki landasan berpikir yang kukuh, sehingga hipotesis yang di
kemukakan bersifat rasional dan logis.
Perumusan hipotesis akan efektif dilakukan peserta didik ,jika permasalahan
yang diajukan berdasarkan pengetahuan masa lampau dan teori-teori yang ada.
Hipotesis yang baik bukan merupakan rumusan kosong dan terkaan-terkaan yang
bodoh,tetapi merupakan jawaban melalui proses berpikir dari pengetahuan yang
sudah mereka miliki.Contohnya jika seorang inquier tidak memiliki pengetahuan
tentang orang Baduy, para penduduk baduy atau bagaimana satu budaya
- 77 -
memengaruhi yang lainnya,dia tidak akan mampu menanyakan suatu pertanyaan
cerdas tentang pengaruh dan gaya hidup para penduduk Baduy,dan tidak mampu
merumuskan hopotesis yang bermanfaat untuk memenuhi inquiry-nya seorang
inquirer yang memiliki pengetahuan tentang budaya orang baduy para penduduk
baduy dan teori-teori yang terkait dengan penyerapan budaya dan pengaruh akan
mampu untuk mengidetifikasi elemen-elemen di dalam suku baduy.
Dengan begitu seorang interior yang banyak mengetahui dapat merumuskan
hipotesis yang produktif lebih baik daripada seseorang yang kekurangan
pengetahuan yang umum dan spesifik yang terkait dengan masalah yang
selidikinya.
4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data berarti aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan
untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dengan strategi belajar ini, pengumpulan
data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan
intlektual. Proses ini membutuhkan motivasi kuat untuk belajar, ketekunan, dan
kemampuan untuk menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu tugas dan
peran guru dalam tahap ini harus mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong
peserta didik untuk mencari informasi yang dibutuhkan.Bila peserta didiknya tidak
apresiasif terhadap permasalahan yang ada, guru harus memberikan motivasi
kepada peserta didk untuk belajar melalui penyunguhan berbagai jenis pertanyaan
secara merata ke seluruh peserta didik sehingga mereka terdorong untuk berpikir.
Tahap ini merupakan pertanyaan pada rumusan masalah dijawab dan
hipotesisi diuji oleh data dan informasi yang dikumpulkan oleh analisis,Ahli social
menggunakan banyak metode pengumpulan data untuk menguji hipotesis dan
menyampaikan generalisasi dan teori.Eksperimen sampel survey,dan studi kasus
adalah tiga metode utama yang digunakan oleh ahli social,Dalam prakteknya,
pengumpulan data ini dapat diperoleh melalui cara-cara sebagai berikut:
a. Mengundang seorang ahli sejarah dari universitas untuk menjelaskan
bagaimana mereka memperoleh informasi untuk menulis buku sejarah
b. Melihat buku harian atau jurnal yang ditulis diwaktu lampau yang dapat
memberi tahu seperti apa kehidupan pada zaman itu.
c. Pergi ke perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum
- 78 -
d. Mencari film dan potongan film atau gambar yang berhubungan dengan
permasalahan.
Melalui pengumpulan data, siswa akan belajar bagaimana menemukan dan
menentukan sumber yang valid. Pada tahap ini siswa akan belajar bagaimana
mengkritik berbagai sumber,baik berupa buku teks,film documenter,ataupun
mengakses internet. Kegiatan pengumpulan data dan penyelidikan sumber-sumber
dan informasi yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang dibahas,
merupakan bagian dari prosesdur penelitian dalam pembelajaran inquiry.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menemukan jawaban yang dianggap
diterima susuai dengan data atau informasi yang diperoleh. Dalam menguji
hipotesis, yang penting adalah mencari tingkat keyakinan peserta dididk atas
jawaban yang diberikan. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional dan logis. Artinya kebenaran jawaban yang akan
diberikan buka hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang akan ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Saat peserta didik mengevaluasi informasi, mereka harus memeriksa dengan
teliti sumbernya, metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut,
dan mencoba mengidentifikasi kelemahan dan keterbatasan informasi, peserta didik
dapat menemukan document, Artefak, karya seni, dan jenis bukti lainnya yang
asalnya tidak diketahui. Mereka harus mencoba untuk merumuskan hipotesis yang
berguna mengenai asal informasi tersebut, menghubungkannya dengan data yang
ada dan menentukan apakah data ini penting untuk pengujian hipotsis mereka.
Banyak informasi yang diringkas periset tidak berguna untuk kepentingan
ini. Oleh sebab itu, rumusan hipotesis sangat dibutuhkan untuk membantu
mengindetifikasi informasi yang relevan dan signifikan.
Dokumen bersejarah bisa mengidentifikasikan masalah tertentu bagi analis.
Peserta didik tidak hanya diharuskan untuk menentukan sumber dan asal document
tersebut, tapi juga harus menentukan apakah pernyataan pengarang tersebut akurat
atau tidak. Surat, laporan, dan document lainnya harus diperiksa dengan seksama
oleh analis. Data yang telah terkumpul,kemudian dicoba untuk
diinterpresentasikan.
- 79 -
Pengujian hipotesis menempatkan peserta didik sebagai pariset ilmuwan
social memulai siklus riset dengan pertanyaan,yang biasanya berhubungan dengan
teori yang sudah ada atau bagian pengetahuannya lainnya.Namun pertanyaannya
itu sendiri tidak dapat diuji secara langsung hipotesisi yang berhubungan dengan
pertanyaan dirumuskan saat data dikumpulakn dan diselidiki, periset mencoba
untuk menentukan apakah hipotesis mereka dapat diverifikasi dengan informasi
yang telah dikumpulkan. Pada tahap ini peserta didik dapat menguji kebenaran
hipotesis yang telah dirumuskannya dengan informasi yang berhasil dikumpulkan
dan diolahnya.
6. Merumuskan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan ketika hipotesis telah dissaji kebenarannya. Peserta
didik dapat mengungkapkan apakah hipotesisinya benar atau tidak, setelah itu, baru
merumuskan generalisasi terhadap permasalahan yang dibahas.
Merumuskan kesimpulan berupa proses pendeskripsian temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil temuan hipotesis. Agar kesimpulan yang akan
dirumuskan terfokus pada masalah yang hendak dipecahan, maka sebaiknya guru
menunjukan kepada peserta didik data yang relevan.
Selanjutnya, berkenan dengan tahap atau prosedur pelaksanaan inquiry
menurut Muhibbin (2007:244) adalah meliputi, sebagai berikut:
a. Stimulation (stimulasi/memebrikan rangsangan) dengan mengajukan
pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan
b. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), yakni memberikan
kesempaan kepada peserta didik untuk menidentifikasi sebanyak mungkin
agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis
c. Data collection ( pengumpulan data) yakni memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya yang
relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
d. Data processing (pengelolhan data) yakni mengolah data dan informasi yang
telah diperoleh para peserta didik baik melalaui wawancara, observasi,
documentasi dan sebagainya lalu ditafsirkan.
- 80 -
e. Verification (pengujian) yakni melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
memebuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan.
f. Generalization (Generalisasi), yakni menarik sebuah kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Adapun menurut Joyce (2000) langkah-langkah yang harus dilakukan siswa
dalam pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut: 1)mengoreksi data; 2)
menghubungkan dan mengklasifikasi ide; 3)mengenang pengalaman-pengalaman
masa lalu; 4) membuat bentuk formulasi bentuk tes hipotesis; 5) memperbanyak
kajian literatur, dan 6) memodifikasi perencanaan.
Selanjutnya, Joyce (2000) menyarankan beberapa kegiatan dalam
pembelajaran inquiry yang dapat dilakukan agar proses pembelajaran dapat berjalan
baik, yaitu:
1. Melakukan eksperimen untuk membangun gagasan dan mengujinya.
2. Menghadapkan siswa pada sejumlah kasus yang dianalisis.
3. Memberikan banyak pertanyaan kepada siswa.
4. Memberikan tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa.
5. Menghadapkan siswa pada sejumlah isu yang berkembang pada masyarakat
melalui tayangan film.
6. Memecahkan masalah secara berkelompok.
Sementara Hasan (1996: 236) mengurutkan langkah-langkah kegiatan
pembelajaran inquiry ini sebagai berikut: 1) perumusan masalah; 2) pengembangan
hipotesis; 3) pengumpulan data; 4) pengolahan data; 5) pengujian hipotesis, dan 6)
penarikan kesimpulan.
Adapun menurut Banks (1985: 69-78) mengemukakan langkah-langkah
pembelajaran dengan pendekatan inquiry, secara ringkas dapat dikemukakan
sebagai berikut: 1) merumuskan masalah yang akan dipecahkan; 2) merumuskan
hipotesis sebagai jawaban sementara yang akan diuji kebenarannya; 3)
mendefinisikan istilah (konseptualisasi) yang terkandung dalam hipotesis; 4)
mengumpulkan data yag diperlukan untuk pengujisn hipotesis; 5) evaluasi analisis
data; 6) menguji hipotesis; dan 7) mulai inquiry baru.
- 81 -
Langkah-langkah yang dikemukakan Banks tersebut, dapat digambarkan
dalam bentuk bagan berikut:
Gambar 2.
Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri
Doub-Concem
Problem Formulation
Formulation of Hypotheses Theory-Values
Definition of Team-Contectualization
Collection of Data
Evaluation and Analysis of Data
Testing Hypotheses: Devining
Generalization and Theory
Begining Inquiry A New
Sumber: Banks (1985:75)
Massialas dalam sudjana (1996: 74-76) mengemukakan langkah-langkah
pembelajaran inquiry yaitu: 1) merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa;
2) menetapkan jawaban sementara (hipotesis); 3) siswa mencari informasi, data,
fakta yang diperlukan untuk menjawab masalah atau hipotesis; 4) menarik
kesimpulan jawaban (generalisasi); dan 5) mengaplikasikan kesimpulan atau
generalisasi dalam situasi baru. Secara skematis model pembelajran tersebut dapat
dilukiskan dalam gambar 3.
- 82 -
Gambar 3.
Skema Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Inkuiri
Guru memilih tujuan atau Tingkah Laku
Guru mengajukan pertanyaan yangdapat
menumbuhkan siswa menemukan
pendapatanya
Siswa mendapatkan hipotesis/praduga
jawaban untuk dikaji lebih lanjiut
(alternatif jawaban)
Secara spontan siswa menjelajahi Siswa tidak banyak berusaha mencari
informasi/data untuk menguji praduga, informasi untuk membuktikan praduga
baik secara individu ataupun kelompok
Siswa menarik kesimpulan Guru membantu siswa, mendorong
Inkuiri melakukan kegiatan belajar untuk
mencari informasi yang diperoleh
Siswa mengidentifikasi beberapa
kemungkinan jawaban/menarik
Sumber: Sudjana (1996:76)
Sebagai komparasi mengenai langkah-langkah pembelajaran yang
menggunakan inquiry, Hebert dan Murphy (1971:80-81) menjelaskan tahap-tahap
pelaksanaan inquiry meliputi hal-hal berikut:
1. Recognizing a problem from data (pemahaman masalah data).
2. Fomulating hypotheses (perumusan hipotesis); yang didalamnya meliputi: 1)
merumuskan pertanyaan analitik; 2) merumuskan hipotesis; 3) mengetahui
sifat tentatif dari hipotesis.
- 83 -
3. Recognizing the logical implications of hypotheses (pemehaman implikasi
logis dari hipotesis).
4. Gathering data (pengumpulan data), yang dilakukan dengan menentukan data
apa yang diperlukan, dan menyeleksi atau menolak sumber data.
5. Analyzyng, evaluating, and interpretating data (analisis, evaluasi, dan
interpretasi data), yang terdiri dari: 1) memilih dat yang sesuai atau relevan; 2)
mengevaluasi sumber data, yang didalamnya dilakukan dengan menentukan
kerangka pedoman penulisan, dan menentukan keakuratan pernyataan dari
fakta; 3) interpretasi data.
6. Evaluataing the hypotheses in light of the data (menguji hipotesis berdasarkan
data yang ada) dengan cara: a) mengubah atau memodifikasi hipotesis jika
diperlukan dengan ketentuan menolak hipotesis yang tidak didukung oleh data,
dan menyusun kembali hipotesis; b) merumuskan kesimpulan.
Dari beberapa langkah atau tahapan pelaksanaan pembelajaran yang
menggunakan pendekatan inquiry ini, maka di akhir kegiatan selalu ditekankan
untuk merumuskan kesimpulan. Berarti kesimpulan ini sangat penting untuk
dilakukan dalam setiap pelaksanan pembelajaran inquiry ini. Namun yang
terpenting adalah bahwa kesimpulan-kesimpulan tersebut harus dikembangkan
berdasarkan hasil uji hipotesis. Selain itu, kesimpulan-kesimpulan itu tidak
berhubungan dengan tindakan/kegiatan apa yang harus dilakukan tetapi berkaitan
dengan suatu teori tertentu yang sedang dipelajari. Atas dasar kesimpulan inilah
peserta didik dapat melihat apakah teori yang dipelajarinya mendapat dukungan
dari data lapangan. Jika `ya` lantas bagaimana kelanjutannya, dan jika `tidak`
peserta didik diminta untuk memberikan penjelasan mengapa teori tersebut tidak
mendapat dukungan data lapangan dan apa kesimpulan yang dapat dikembangkan.
Langkah-langakah pembelajaran inquiry tersebut diatas pada intinya hampir
sama, bahwa pendekatan inquiry merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). Pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat kata, fakta,
tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang
merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Langkah-
langkah (siklus) pembelajaran inquiry meliputi: 1) obsevasi (observation); 2)
- 84 -
bertanya (questioning); 3) mengajukan dugaan (hypotheses); 4) pengumpulan data
(data gathering); 5) penyimpulan (conclusion).
Dengan melalui unsur-unsur yang terdapat dalam pembelajaran inquiry,
diharapkan siswa dapat mengembangkan berpikir juga keterampilan sosialnya.
Namun dalam pelaksanaannya, model pembelajaran inquiry ini sering kali
dikacaukan dengan model pembelajaran pemecahan masalah (problem-based
learning), yang memang sepintas lalu dari langkah-langkahnya terdapat kemiripan.
Tetapi menurut Hasan (1996:235) dari kedua model pembelajaran tersebut
ada pembedanya yang cukup mencolok antara keduanya, yaitu dalam pembelajaran
inquiry lebih tepat diterapkan dalam bidang kajian keilmuan (disiplin ilmu), adapun
pada pembelajaran pemecahan masalah lebih ditekankan pada masalah kehidupan
sehari-hari.
Adapun menurut Sanjaya (2007:214) perbedaan antara pembelajaran
berbasis masalah dengan model pembelajaran inquiry terletak pada sifat atau jenis
permasalahan yang diajukan. Permasalahan dalam pembelajaran inquiry adalah
masalah yang bersifat tertutup, yaitu jawaban dari masalah itu sudah pasti, karena
jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan
memahaminya, namun guru secara tidak langsung menyampaikan kepada siswa.
Guru hanya menggiring siswa melalui proses tanya jawab pada jawaban yang
sebenarnya sudah pasti. Tujuannya adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri
siswa tentang jawaban dari suatu masalah, atau dengan kata lain agar siswa terbiasa
untuk membuktikan sesuatu materi pelajaran yang sudah dipelajari.
Sementara permasalahan dalam pembelajaran berbasis masalah lebih bersifat
terbuka, yaitu jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa dapat
mengembangkan berbagai kemungkinan jawaban.
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran berbasis masalah lebih
menekankan pada kemampuan siswa untuk menemukan alternatif pemecahan
masalah.
Oleh karena itu, agar pembelajaran inquiry ini dapat berjalan efektif dan
berdaya guna perlu memperhatikan hal-hal berikut, yaitu: 1) adanya otonomi siswa;
2) kebebasan dan dukungan kepada siswa; 3) sikap keterbukaan; 4) percaya kepada
- 85 -
diri sendiri dan kesadaran akan harga diri; 5) selfconcept; dan 6) pengalaman
inquiry dan terlibat dalam masalah-masalah (Roestiyah,2008:80).
Menurut Sanjaya (2008) pembelajaran inquiry akan efektif jika
terpenuhinya beberapa hal dibawah ini:
1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawabannya dari suatu
permasalahan yang ingin dipecahkan.
2. Bahan pelajaran yang akan disajikan tidak berbentuk fakta atau konsep yang
sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang telah jadi.
3. Proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4. Kelompok siswa yang akan belajar memiliki kemampuan berpikir.
5. Jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak, sehingga mudah untuk
dekendalikan guru.
6. Guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang
berpusat pada siswa.
Berbeda dengan Sanjaya, maka menurut Hamalik (2007:221) pembelajaran
inquiry ini akan berhasil dengan baik bila guru memperhatikan kriteria sebagai
berikut:
1. Mendefinisikan secara jelas topik inquiry yang dianggap bermanfaat bagi
siswa.
2. Pembentukan kelompok didasarkan pada keseimbangan aspek akademik dan
aspek sosial.
3. Menjelaskan tugas dan memberikan umpan balik kepada kelompok dengan
cara yang responsif dan tepat waktu.
4. Intervensi untuk meyakinkan terjadinya interaksi antara pribadi secara sehat
dan terdapat dalam kemajuan pelaksanaan tugas.
5. Melakukan evaluasi dengan berbagai cara untuk menilai kemajuan kelompok
dan hasil yang dicapai.
Lain halnya dengan Hamalik, menurut Skeel (1995:176) untuk menciptakan
pembelajran inquiry yang efektif perlu menciptakan kondisi kelas yang mendukung
pembelajaran inquiry tersebut. Menurutnya; agar peserta didik dapat memperoleh
manfaat maksimal dari strategi tanya jawab dan pengembangan berpikir kritis,
- 86 -
maka atmosfer dari kelas harus mendukung untuk mengembangkan rasa percaya
diri dan aman (a feeling of trust and security) pada peserta didik.
Mereka yakin bahwa mereka dapat mengajukan pertanyaan dan menjawab
pertanyaan tanpa perlu merasa takut salah. Peserta didik yakin bahwa ide-ide
mereka akan di hargai dengan baik, seperti juga mereka belajar untuk menghargai
gagasan teman lain. Lingkungan ruang kelas harus menyenangkan dan merangsang
untuk belajar. Sumber-sumber harus tersedia yang memudahkan peserta didik
untuk mencari data dan informasi. Guru perlu menciptakan sebuah atmosfer yang
memberikan kebebasan mental yang memungkinkan peserta didik untuk berpikir
tanpa batasan-batasan yang ditetapkan.
Demikian beberapa prasyarat yang harus terpenuhi dalam pembelajaran
yang menggunakan pendekatan inquiry di dalam kelas. Jika hal-hal tersebut di atas
tidak terpenuhi, maka kemungkinan proses pembelajaran inquiry ini tidak akan
berjalan dengan baik.
Hal lain yang tidak kalah penting bagi kelancaran proses pembelajaran
inquiry adalah daya dukung pembelajaran seperti sumber belajar yang berbentuk
berbagai literatur atau film. Keterbatasan sumber belajar, akan menghambat proses
pengumpulan dan pengolahan data yang harus dilakukan oleh siswa pada tahapan
pelaksanaan inquiry.
Selain itu, untuk keberhasilan pembelajaran yang menggunakan pendekatan
inquiry ini, guru dituntut untuk dapat bertindak sebagai fasilitator, menjadi nara
sumber, dan sekaligus berperan sebagai penyuluh kelompok. Peran guru bukan
sebagai penceramah yang memberikan informasi atau ceramah kepada siswa.
Tetapi peran guru adalah dapat memfokuskan pada tujuan pembelajaran, yaitu
mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis
siswa. Setiap pertanyaan yang di ajukan siswa sebaiknya tidak langsung dijawab
oleh guru, namun siswa diarahkan untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan
tersebut. Oleh karena itu, agar pembelajaran di atas terlaksana dengan baik, maka
guru harus mampu untuk mengubah pandangannya tentang mengajar dan belajar.
Disadari, memang mengubah pandangan guru dalam mengajar bukanlah hal
yang mudah, apalagi guru-guru senior, yang secara psikologis menganggap lebih
memahami dan lebih menguasai materi. Sehingga pembaruan pembelajaran acap
- 87 -
kali hampir tidak terjadi, karena guru sendiri yang diharapkan sebagai inovator
dalam pembelajaran tidak melakukan pembaharuan dalam melaksanakan tugasnya.
Kadang-kadang guru ingin mempertahankan sistem atau metode tersebut yang
sudah mereka lakukan bertahun-tahun dan tidak ingin di ubah. Di samping itu,
sistem yang mereka miliki di anggap memberikan rasa aman atau kepuasan serta
sudah baik dan sesuai dengan pikiran mereka. Akhirnya, guru tetap
mempertahankan sistem yang ada.
Hambatan lainnya adalah terletak pada orientasi yang berlebihan terhadap
evaluasi sebagai dampak pendekatan sistem tujuan dan evaluasi yang tidak dapat
dipisahkan. Hal ini terlihat dengan berlakunya mekanisme ujian nasional (UN)
sebagai salah satu penentu keberhasilan dan kelulusan siswa dalam belajar. Adanya
UN ini semakin menambah enggannya guru untuk mengubah paradigmanya dalam
mengajar.khusus untuk materi IPS yang lebih banyak memuat aspek kognitif pada
tingkat rendah dan terpusat pada hafalan, semakin menyulitkan guru untuk
berinovasi dalam pembelajaran.
Hal lain yang juga sering menjadi penghambat adalah dilema yang dialami
oleh para guru itu sendiri. Pertama,guru dituntut untuk mengutamakan
keterampilan proses dalam pembelajaran, namun di sisi lain ia juga dituntut dapat
menyelesaikan materi pelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan,
harus diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan karena menjadi
bahan ujian nasional. Kedua, guru dituntut untuk melakukan perubahan tingkah
laku efktif, tetapi dalam evaluasi hasil belajar yang dipakai untuk menentukan siswa
pada saat ini hanya mengutamakan aspek kognitif. Hal inilah yang pada umumnya
membingungkan para guru, apa yang harus mereka pilih dan apa yang harus
diutamakan?
Dipandang dari segi siswa sendiri, inovasi pembelajaran pun akan semakin
sulit dilakukan. Sudah sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa yang
menganggap belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru.
Bagi mereka, guru adalah sumber belajar yang utama. Budaya belajar seperti itu
sudah terbentuk dan menjadi kebiasaan, sehingga sulit mengubah pola belajar
mereka dengan menjadikan belajar sebagai proses berpikir. Mereka akan merasa
kesulitan jika dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari mereka yang seriring
- 88 -
atau biasa lakukan. Oleh karena itu, perlu suatu langkah awal untuk mengubah
budaya belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran yang lain dari
biasanya.
F. KELEBIHAN DAN KETERBATASAN PENDEKATAN INQUIRY
Sebagai model pembelajaran, tentunya model pembelajran inquiry
mempunyai beberapa keunggulan dan keterbatasan. Menurut Sanjaya (2007:206)
keunggulan model pembelajaran inquiry ini adalah, anatara lain:
1. Merupakan model pembelajaran yang menekan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran lebih bermakna.
2. Memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
3. Sesuai dengan perkembangan psikologis belajar modern yang memandang
bealajar adalah proses perubah
4. an tingkah laku berkat adanya pengalaman.
5. Memfasilitasi berbagai karakter peserta didik.
Bruner dalam Wartono (1996:50) menyatakan beberapa keuntungan dari
penggunaan pendekatan pembelajaran inquiry, yaitu sebagai berikut:
1. Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2. Meningkatkan potensi intlektual siswa, hal ini disebabkan oleh karena siswa
diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban
permasalahan yang disodorkan, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan
pengamatan dan pengalaman sendiri.
3. Model inquirymemberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
4. Belajar dengan menggunakan model pembelajaran inquiry dapat membantu
dalam mengembangkan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses
belajar yang baru.
5. Belajar melalui pendekatan pembelajaran inquiry, situasi belajar menjadi lebih
meransang.
Lebih lanjut, dapat dipahami bahwa melalui pembelajaran inquiry
pengajaran menjadi berpusat pada siswa (student centered). Proses belajar melalui
kegiatan pembelajaran inquiry dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri.
Pembelajaran inquiry memungkinkan pengharapan bertambah serta dapat
- 89 -
mengembangkan bakat kemampuan individu. Pembelajran inquiry dapat
menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisonal (menghafal). Pembelajran
inquiry memberikan wakru bagi siswa mengasimilasi dan mengakomodasi
informasi.
Joyce dan Well (Dahlan,1990:177) menyatakan kelebihan pembelajaran
inquiry adalah 1)ditinjau dari segi ilmu pengetahuan, khususnya mengenai prinsip-
prinsip penelitian ilmiah, pendekatan pembelajarean inquiry sangat cocok untuk
penelahan fenomena sosial; 2)suatu kebenaran ilmiah dilakukan dengan pengujian
logis dan pembuktian empiris; 3)siswa terlatih dalam menemukan dan
menggunakan prinsip-prinsip penelitian ilmiah; 4)siswa dapat berpikir dan mencari
sendiri dalam situasi bebas yang terarah, sehingga menimbulkan semangat belajar.
Penggunaan pendekatan pembelajaran inquiry menurut Supriya (2002:44)
didasarkan atas beberapa pemikiran dari para ahli pendidikan dan hasil-hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki keunggulan terutama
untuk mengembangkan kemampuan berpikir maupun pengetahuan, sikap, dan nilai
pada peserta didik dibanding dengan pendekatan klasikal atau tradisional. Selain
itu, salah satu cara untuk mengatasi masalah kebosanan siswa dalam belajar di kelas
karena proses belajar lebih terpusat kepada siswa dari pada kepada guru.
Adapun keterbatasan dari model pembelajaran inquiry adalah sebagai
berikut, antara lain:
1. Sulit dalam mengontrol kegiatan dan keberhasilan pesrta didik.
2. Sulit dalam merencenakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan
kebiasaan peserta didik dalam belajar.
3. Kadang-kadang dalam pelaksanaannya, memerlukan waktu yang lebih lama,
sehingga menyulitkan guru dalam menyesuaikan waktu dengan yang telah
ditentukan.
4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan peserta didik
menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiry akan sulit
diimplementasikan oleh setiap guru.
- 90 -
G. PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN INQUIRY
Dalam pembelajaran inquiry, guru lebih banyak menempatkan dirinya
sebagai pembimbing atau pemimpin belajar, dan fasilitator belajar. Peserta didik
lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok untuk
memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru. Strategfi ini merupakan
metode menegajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara
berpikir ilmiah. Strategi ini menempatkan peserta didik lebih banyak belajar
sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Peserta didik
benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Tugas utama guru, memilih
masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan oleh peserta didik.
Selain itu menyediakan sumber belajar bagi peserta didik dalam rangka pemecahan
masalah. Intervensi guru terhadap kegiatan peserta didik dalam memecahkan
masalah harus di kurangi.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry menghendaki guru
untuk menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final. Atau dengan kata
lain, guru hanya menyajikan sebagian saja. Selebihnya diserahkan kepada peserta
didik untuk mencari dan menemukannya sendiri. Kemudian guru memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mendapatkan apa-apa yang
belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan pembelajaran problem solving.
Tugas dan peran guru dalam pembelajaran inquiry ini berperan sebagai
motivator yang hendaknya mampu memberikan dorongan dan daya tarik yang kuat
kepada peserta didknya untuk melihat dalam kegiatan pembelajaran dengan
menyenangkan. Makin tinggi dan kuat motivasi, makin tinggi dan kuat proses
kegiatan belajar peserta didik, dan makin besar kemungkinan keberhasilan
kuantitas dan kualitas hasil belajarnya.
Secara lebih perinci, Gulo (2002:86-87) menjelaskan peran guru dalam
pembelajaran yang menggunakan pendekatan inquiry, yaitu guru sebagai:
1. Motivator : yang memberi rangsangan supaya siswa aktif dan bergairah
berpikir.
2. Fasilitator : yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses
berpikir siswa.
- 91 -
3. Penanya : untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan
memberi keyakinan pada diri sendiri.
4. Administrator : yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan didalam
kelas .
5. Pengarah : yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang
diharapkan.
6. Manejer : yang mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi kelas;
7. Rewarder : yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam
rangka peningkatan semangat heuiristik pada siswa.
Dalam hal ini, Skeel (1995:177) mengingatkan bahwa dalam kelas yang
berorientasi pada pembelajaran inquiry, konsep dari peran guru yang mengalami
perubahan. Sebelumnya guru mengasumsikan peran utama sebagai pemberi
informasi dan pemegang dsiplin, yang hanya sedikit berperan sebagai motivator,
pemberi referensi, konselor, dan penasihat. Namun dalam pembelajaran inquiry,
guru memiliki peran utama sebagai motivator, selain sebagai pemberi informasi,
apabila diperlukan untuk mengarahkan kembali kegiatan diskusi yang menyimpang
dari tujuan semula. Guru sebagai orang yang disiplin, sebagai konselor, pemberi
referensi, dan penasihat.
Djahiri (1990:24) menyatakan bahwa peran guru dalam pembelajaran
inquiry di antaranya sebagai motivator, guru hendaknya mampu memberikan
rangsangan dan daya tarik yang kuat bagi peserta didiknya untuk terlibat dalam
kegiatan pembelajaran dengan senang hati,sukarela,terbuka,dan terarah oleh minat
dan kebutuhan menuju keberhasilan target. Lebih lanjut dikemukakan makin tinggi
dan kuat motivasi, makin kuat dan tinggi proses kegiatan belajar siswa dan mungkin
pula makin besar kemungkinan keberhasilan kuantitas dan kualitas hasil belajar.
Sebagai motivator, peran guru hendaknya senantiasa berupaya untuk
merangsang dan menantang peserta didik untuk berpikir. Guru membuka pelajaran
dengan mengemukakan hal-hal yang mengandung masalah agar peserta didik dapat
mengidentifikasikan. Pertanyaan yang dikemukakan harus fokus dan mengarahkan
peserta didik mencari informasi untuk menjawab masalah yang dikemukakan. Guru
boleh berperan sebagai pemberi informasi ketika dibutuhkan oleh peserta
didik,serta untuk mengalihkan fokus perhatian ketika mereka mulai menyimpang
- 92 -
dari tujuan yang sebenarnya. Sebagai pemberi referensi, guru harus
membimbing,mengarahkan peserta didik pada bahan-bahan dan sumber informasi
yang dibutuhkan. Kedsiplinan sangat dibutuhkan untuk menghindari
keributan,sebab bagaimanapun juga,hal ini sangat penting bagi peserta didik untuk
belajar disiplin diri, yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran ini.
Menurut Maslow dalam Gewel (1997:1) motivasi timbul karena adanya
sejumlah kebutuhan, yaitu 1) phisiological needs, yaitu kebutuhan fisik; 2) safety
and security needs, yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman; 3)social needs,
yaitu kebutuhan sosial seperti rasa cinta, berafiliasi, dan berintraksi dengan
masyarakat pada umumnya; 4) ego and esteem needs, yaitu kebutuhan untuk
mendapatkan penghargaan seperti status, harga diri, prestise, dan kekuasaan, serta
5) selft-actualization needs, yaitukebutuhan mengaktualisasikan diri seperti
mewujudkan kemampuan diri dan pengembangan potensi diri.
Berikut beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan oleh guru dalam
mengaplikasikan teori kebutuhan Maslow untuk meningkatkan motivasi belajar
siswa, yaitu:
1. Menunjukkan sikap menyenangkan,mampu menunjukkan penerimaan
terhadap siswanya, dan tidak menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi.
2. Lebih banyak memberikan penguatan prilaku (reinforcement) melalui
pujian/ganjaran atas segala perilaku positif siswa dari pada pemberian
hukuman atas perilaku negatif siswa.
3. Menampilkan ciri-ciri kepribadian empatik,peduli dan interes terhadap siswa,
sabar, adil, terbuka serta dapat menjadi pendengar yang baik.
4. Menerapkan pembelajaran individual dan dapat memahami siswanya
(kebutuhan,potensi,minat,karakteristil kepribadian,dan latar belakangnya).
5. Lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari pada
yang negatif.
6. Menghargai dan menghormati segala pemikiran, pendapat,dan keputusan
setiap siswanya.
7. Mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerja sama
mutualistik dan saling percaya di antara siswa.
- 93 -
8. Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar belakang pengetahuan
yang dimiliki siswanya.
9. Mengembangkan sistim pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
10. Mengembangkan strategi pembelajaran yang berparisai.
11. Selalu siap memberikan bantuan apabila siswa mengalami kesulitan.
12. Melibatkan seluruh siswa dikelas untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab.
13. Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif di mana setiap siswa
dapat saling menghormati dan memercayai, tidak saling mencemoohkan.
14. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bidang-
bidang yang ingin diketahuinya.
15. Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui
pendekatan discovery-inquiry.
16. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan yang terbaiknya.
17. Memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah
kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Dari beberapa upaya tersebut memberi gambaran bahwa dalam proses
pembelajaran, guru berperan sebagai motivator yang dapat mengembangkan
aktifitas belajar para siswanya. Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah,
dan penggerak tingkah laku. Menurut Aqib (2002:50) motivasi mempunyai nilai
dalam menentukan keberhasilan, demokratisasi pendidikan, membina kreativitas
dan imajinasi guru, pembinaan disiplin kelas, dan menentukan efektivitas
pembelajaran. Motivasi dianggap penting dalam upaya belajar dan pembelajaran
dilihat dari segi fungsi dan nilainya atau manfaatnya. Peran motivasi dalam belajar
dan pembelajaran menurut Uno (2007:27) meliputi, antara lain:1) menentukan hal-
hal yang dapat dijadikan penguat belajar; 2) memperjelas tujuan belajar yang
hendak dicapai; 3) menentukan rgam kendali terhadap rangsangan belajar, serta 4)
menentukan ketekunan belajar.
Berkaitan dengan peran guru sebagai pengarah dalam pembelajaran inquiry,
Skeel (1995:178) menyimpulkan sebagai berikut:
1. Membantu peserta didik untuk mencari sebuah jawaban dari pada bertindak
sebagai air mancur (as a fauntain) atau sumber pengetahuan.
2. Bertindak sebagai motivator untuk mengarahkan peserta didik.
- 94 -
3. Menciptakan iklim kelas yang efektif di mana peserta didik dapat bertanya dan
mencari jawaban tanpa takut dikenai hukuman atas jawban yang salah.
4. Menyediakan bahan-bahan yang menyatakan poin pandangan yang berbeda.
5. Membantu peserta didik untuk belajar menerima pendapat orang lain.
6. Membentuk peserta didik mengembangkan sebuah metode berpikir yang
sistematis bila berhadapan dengan informasi yang ada sehingga mereka akan
jadi pemikir yang independen (independen thingkers).
7. Menjadi seorang penanya yang efektif, menghantar peserta didik dari hal-hal
yang konkret ketingkat yang abstrak.
Adapun kegiatan yang harus dilakukan guru sebagai pembimbing dalam
pembelajaran inquiry menurut Ischak (1997:7.10) meliputi:
1. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menjelaskan kedudukan siswa
dalam kegiatan belajar mengajar.
2. Memberikan penjelasan tentang cara-cara yang harus dilakukan siswa.
3. Memberikan penjelasan tentang cara-cara menyusun rencana kegiatan yang
akan dilakukan.
4. Membantu siswa dalam merumuskan setiap istilah yang ada pada hipotesis.
5. Membantu siswa dalam memilih dan menyusun asumsi-asumsi yang akan
digunakan serta cara diskusi dan berpikir efektif dan objektif.
Guru harus paham, bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran inquiry
dalam pembelajaran dikelas, memerlukan perencanaan waktu yang baik. Guru
harus tahu bagiamana ketika akan memulai aktivitas belajar, pertanyaan apa yang
akan diajukan kepada peserta didik, bagaimana upaya untuk memfokuskan
perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai hap-hal ini,
maka snagat dibuthkan pengetahuan yang mendalam terhadap masalah danberbagai
pengetahuan lain yang relevan.
Dalam pembelajaran inquiry guru harus berperan untuk menciptakan
susasana kelas yang menyenangkan, suasana kelas terbuka yang mengudang
peserta didikuntuk berdiskusi. Guru harus mampu mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang mengunggah dan menantang peserta didik untuk mencari data atau
informasi-informasi yang relevan agar dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan tersebut.
- 95 -