Dalam pembelajaran inquiry, guru harus terampil dalam mengemukakan
masalah-masalah actual yang dapat merangsang peseta diidk untuk berpikir.
Maslaah yang disajika guru hendaklah masalah yang actual bagi peserta didik.
Masalah-masalah tersebut harus berkaitan dengan pengelaman peserta didik saat
ini, dan meupakan kapasistas mereka untuk dicarikan solusinya, sehingga dapat
memotivasi mereka untuk mempelajarinya dan menciptakan ide-ide baru yang
relevan. Guru dapat bertanya kepeada peserta didik tentang masalah-masalah yang
mereka hadapi yang dapat ditetapkan sebagai masalah utuk dibahasa dalam
kegiatan pembelajaran.
Penerapan pendekatan pembelajaran inquiry ini akan efektif apabila guru
mampu merencanakan, menyajikan, serta melakukan evaluasi pembelajaran
dengan baik. Brunner (1996) menyarankan, bahwa hendaknya dalam menerapkan
pembelajaran inquiry , hendaknya memiliki peran-peran sebagai berikut :
1. Merencanakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga pembelajaran tersebut
dapat berpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para
peserta didik
2. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebgaai dasar bagi para peseta
didik untuk memecahkan masalah. Dalam penyajan materi, guru sudah mulai
seharusnya mulai dari apa yang diketahui oleh peserta didik. Kemudian guru
mengembangkan sesuatu yang berlawanan. Dengan demikian akan terjadi
konflik dengan pengalaman peserta didik. Dalam keadaan yang ideal, hal yang
berlawanan itu menumbuhkan suatu kesangsian yang meransang peserta didik
untuk menyelidiki masalah tersebut, menyusun hipotesis-hipotesis dan
mencoba menemukan konsep- konsep atau prinsip-prinsip yang mendasari
masalah itu
3. Untuk menjamin keberhasilan belajar, guru hendaknya menggunakan cara
penyajian yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Guru perlu menjalankan peran-peran sebgaai berikut : yaitu sebgaai
pemandu yang demokratis, penasehat, penegak wibawa guru, pemberi inspirasi
masa depan, pelaksana lapangan, pemersatu berbagai kelompok, pencerita yang
andal dan menarik, perencana, pemelihara, penilai dan penyimpul. Strategi belajar
yang digunakan guru harus mampu menghidupkan kelas yang memotivasi dan
- 96 -
memfasilitasi peserta didik untuk berperan aktif dalm proses pembelajaran. Peserta
didik harus dimotivasi untuk berpikir kritis, analitis, kompherensif, dan mampu
memecahkan problema yang dihadapinya. Mutu pembelajaran akan lebih
berkembang jika guru sebagai pengembang program berani dan memiliki motivasi
yang kuat untuk menggunakan strategi belajar yang bervariasi agar dapat
mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran inquiry harus berlangsung dalam suasana yang
menyenangkan. Kuncinya yaitu, guru harus berupaya untuk membangun ikatan
emosional dengan peserta didik. Dengan demikian, maka tidak ada jurang antar
peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran. Peserta didik dengan leluasa dan
nyaman melaksankana kegiatan belajar atau melaksanakan tugas-tugas yang
diberikan.
Keberhasilan peserta didik dalam belajar ditentukan oleh kemampuan guru
dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. DePorter (2007:23-24)
mengatakan bahwa salah satu keberhasilan belajar peserta didik tergantung pula
bagaimana gru mampu mengembangkan ikatan emosional dengan peserta didik,
yaitu dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan dan
menyingkirkan segala ancamandari suasana belajar. Studi- studi menunjukkan
bahwa peserta didik lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang,
ramah, serta mereka mempunyai suara dalam pembuatan keputusan. Dengan
kondidi seperti ini, peserta didik lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela
yang berhubungan dengan materi pelajaran. Selain itu, ikatan emosional juga sangat
mempengaruhi memori dan ingatan peserta didik akan bahan atau materi yang
dipelajari.
Peran guru dalam pembelajaran IPS sangat penting, yaitu sebagai penyaji
pengetahuan atau informasi, motivator, fasilitator, dinamisator, dan pembimbing
yang mengaktifkan siswa untuk berupaya mencari, menemukan dan mengolah,
sendiri informasi atau pengetahuan utnuk kepentingan dirinya sendiri. Guru
diharapkan dapat menciptakan kondisi kelas yang dpaat membangun rasa percaya
diri, dan rasa aman, serta kebebasan mental pada peserta didik untuk belajar dan
berpikir tanpa merasa akan disalahkan atau tanpa merasa tertekan.
- 97 -
Adapun peran atau tanggungjawab peserta didik dalam pembelajan yang
menggunakan pendekatan inquiry adalah bahwa mereka sebagai pencari informasi
yang aktif dalam kegiatan belajar. peserta didik yang merencanakan dan
memutuskan tentang pengalaman belajar mereka, dan mereka harus belajar lebih
banyak untuk berinteraksi dengan guru-guru dan sumber lainnya.
Selain itu, dalam pembelajaran inquiry ini, pendekatan pembelajaran
berpusat pada peserta didik (student centered approach). Peserat didik adalah
pemikir aktif (active thinker), mencari informasi (seeking information),
menyelidiki ( probing) dan memproses data serta aktif bertanya dariapada selalu
ditanya. Peserta didik seringakali menyikapi sebuah masalah dan berupaya untuk
menyelesaikannya, merumuskan hipotesis untuk diuji, mencari atau menyelidiki
informasi atau data yang kontradiksi, menerima atau menolak hipotesis, dan
mengambil kesimpulan-kesimpulan. Mereka berpartisipasi utnuk menemukan
sendiri konsep-konsep dasar tertentu, dan prinsip-prinsip ketika mereka
mengobservasi, klarifikasi, interpretasi, dan menerapkannya untuk merumuskan
kesimpulan. Peserta didik akan dapat memungkinkan mereka untuk menerapkan
generalisasi-generalisasi pada kehidupan mereka sendiri. Mereka juga akan belajar
untuk menyatakan diri mereka sendiri sehingga orang lain dapat memahai
pendanganmereka, metika mereka belajar untuk brsikap terbuka dan berkeinginan
untuk menerima pendapat orang lain.
Dari semua pernayataan diatas dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran IPS
dengan menggunakan pendekatan inquiry , memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk aktif bertanya, mencari informasi atau data yang dibutuhkan agar dapat
mencari solusi –solusi bagi masalah yang mereka temukan. Peserta didik dapat
berpikir kritis tentang masalah yang dihadapi, merumuskan hipotesis atau jawaban
sementara, merumuskan kesimpulan sesuai dengan analisis mereka terhadap
permasalahan, berdasarkan informasi-informasi yang tersedia.
Peserta didik akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Mereka tidak
akan hanya menerima jawaban, informasi, dan pengetahuan yang diberikan, namun
mereka belajar mempertimbangkan kemungkian alternative yang tersedia. Peserta
didik berusaha untuk menggunakan pengalaman merek asendiri dan perspektif-
perspektif untuk membuat suatu kesimpulan yang logis dan benar. Kemudian
- 98 -
peserta didik menerapkan hasil penemuannya sendiri dalam bentuk kesimpulan-
kesimpulan dalam kehidupan mereka. Peserta didik belajar untuk melihat hubungan
antara apa yang dipelajarinya secara teoritis disekolah dan apa yang terjadi dalam
kehidupan nyata mereka.
Dalam implementasinya, pembelajaran inquiry bagi peserta didk dapat
menjadikan mereka lebih aktif, kreatif, analitik, dalam belajar. peserta didik dapat
belajar bekerja sama dengan kelompok, belajar menerima pendapat orang lain
dalam diskusi kelompok serta belajar memecahkan masalah-masalah sederhana
sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik pada usia
sekolah dasar.
H. JENIS PENDEKATAN PEMBELAJARAN INQUIRY
Clark dalam Sanjaya (1998:71-73) mengidentifikasi jenis-jenis pendekatan
inquiry dalam tiga macam , yaitu : metode, Socratic, diskusi terbimbing, dan
pemecahan masalah. Ketiga macam pendekatan pembelajarn inquiry tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Metode Socratic (The Socratic Teaching Method) adalah model inquiry yang
digunakan untuk merangsang siswa berpikir melalui pengajuan pertanyaan-
pertanyaan agar siswa memperoleh konsep atau kesimpulan tertentu. Prosedur
pelaksanaannya dilakukan dengan : pertama, siswa mengajukan pertanyaan
yang mengandung nilai, atau pertanyaan controversial; kedua, guru bertanya
sesuai dengan konsep yang terkadung dalam pertanyaan siswa dengan
pertanyaan-pertanyaan yang melacak atau menyelidik, sampai siswa dapat
menjawab sendiri kesimpulan dari pertanyaan yang dikontroversialkan itu.
2. Diskusi Terbimbing (The Controled Guided Discussion) adalah model inquiry
yang menggunakan dialog atau diskusi yang mengajukan serangkaian
pertanyaan yang akan dijawab siswa. Prosedur penggunaanya dilakukan
dengan langkah-langkah: pertama, menyajikan kepada siswa informasi
mengenai topic yang dapat diambil dari buku bacaan, film, gambar, lingkungan
masyarakat sekitar, atau apa saja. Kedua, mendorong siswa untuk
menggambarkan atau menangkap prinsip-prinsip dan kesimpulan dari topic
yang disajikan itu melalui pertanyaan.
- 99 -
Sejalan dengan Clark, Sund dan Trowbigde (1973:65) mengungkapkan
macam-macam model inquiry , yaitu : 1. Guide inquiry (inquiry termbimbing), 2 .
modified inquiry ( inquiry yang dimodifikasi) 3. Free inquiry ( inquiry bebas), 4.
Inquiry role approach, 5 invitation into inquiry, 6. Pictorial riddle, 7. Synectic
lesson, 8. Value clarification.
Adapun jenis inquiry yang tepat dan lebih cocok diterapkan pada jenjang
sekolah dasar adalah dengan menggunakan model pembelajaran inquiry terbimbing
(guide inquiry) dan modifikasi (modificafied inquiry) dan dalam batas-batas
tertentu dapat pula digunakan jenis inquiry bebas (free inquiry) .pertama dalam
penerapan jenis pembelajaran inquiry terbimbing, siswa tidak diharuskan untuk
dapat merumuskan masalah sendiri untuk dipecahkan, akan tetapi masalah
disajikan guru melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan tersebut siswa dibimbing utnuk memperoleh jawabannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sesuai dengan tahap perkembangan siswa,
yaitu pertanyaan-pertanyaan sederhana yang jawabannya didasarkan pada
pengalaman atau hasil pengamatan langsung.
Kedua, dalam penerapan jenis inquiry yang dimodifikasi, walaupun masalah
ditentukan oleh guru, akan tetapi untuk menentukan jawabannya siswa dituntut
dapat memecahkannya melalui prosedur penelitian. Oleh karena itu, jawaban yang
dikemukakan oleh siswa tidak hanya didasarkan pada pengalaman saja , akan tetapi
didasarkan kepada data hasil pengamatan dan analisisnya.
Adapun, untuk penerapan inquiry bebas, prosedur inquiry yang sudah mulai
ditetapkan secara utuh. Artinya siswa sudah dituntut untuk merumuskan masalah
sendiri kemudian memecahkannya dengan menggunakan langkah yang sistematis
seperti yang telah dikemukakan diatas.
RANGKUMAN
Pendekatan inqury adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki
secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri
penemuannya dengan penuh percaya diri.
Mengajar tidak lagi sebagai proses menyampaikan meteri pembelajaran
sebanyak-banyaknya kepada siswa. Akan tetapi lebih dipandang sebagai proses
- 100 -
merancang, mengatur lingkungan belajar, memotivasi, agar peserta didik dapat
terlibat aktif dalam belajar dengan mencari dan menemukan sendiri serta
mengkonstruksi sendiri pengetahuan bagi dirinya.
Jika guru berperan sebagai motivator dalam proses pembelajaran maka akan
dapat mengembangkan aktivitas belajar peserta didiknya. Proses pembelajaran
harus dipandang sebagai stimulus yang dapat menantang peserta didik untuk
berpikir, bebas untuk berpendapat, dan berinisiatif dalam proses pembelajaran
Dengan penggunaan pendekatan inquiry dalam pembelajaan IPS, peserta
didik dibiasakan untuk mencari pemecahan atas masalah yang mereka alami.
Peranan guru dalam pelaksanaan pembelajaran inquiry adalah sebagai: fasilitator,
mediator, director, motivator, dan evaluator. Disamping itu , guru berperan dalam
menyediakan sarana pembelajaran agar suasana belajar tidak monoton dan
membosankan. Dengan kreatifitasnya, guru dapat mengatasi keterbatasan sarana
sehingga tidak menghambat suasana pembelajran, maka dalam hal ini guru harus
memberikan ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan
gagasan dalam upaya pemecahan masalah. Melalui berbagai teknik bertanya, guru
harus dapat menjelaskan, mengungkapkan fakta sesuai dengan pengalamannya
memberikan argument yang meyakinkan, mengembangkan gagasan, dan lain
sebagainya.
I. LATIHAN
Bentuk kelompok diskusi maksimal 5 orang satu kelompok, kemudian
diskusikan :
1. Konsep dasar pembelajaran inqury dalam pembelajaran IPS Berbasis Kearifan
Lokal SUMUT!
2. Diskusikan dalam kelompok anda peran guru dalam pembelajaran inquiry
pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal SUMUT!
3. Diskusikan dalam kelompok masing-masing implementasi pembelajaran
inquiry dalam pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal SUMUT!
4. Diskusikan dalam kelompok Anda cara mengatasi kelemahan-kelemahan
dalam pembelajaran inquri pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal
SUMUT
- 101 -
BAB VI
PEMBELAJARAN TERPADU
BERBASIS BUDAYA LOKAL
A. PENDAHULUAN
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi antara guru
(pendidik) dan murid (peserta didik). Kualitas hubungan antara pendidik dan
peserta didik dalam proses pembelajaran sebagian besar di tentukan oleh pribadi
pendidik dan peserta didik dalam kegiatan mengajarnya dan peserta didik dalam
mengajar. Hubungan tersebut memengaruhi ketersediaan peserta didik untuk
melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, bila terjadi hubungan yang
positif antara pendidik dan peserta didik, hal ini akan berdampak pada peserta didik
untuk secara bersungguh-sungguh berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran
tersebut.
Interaksi akan terjadi karena disamping peserta didik memiliki insting
peniruan, juga karena peserta didik merasa senang untuk berinteraksi pada kagiatan
pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik. Semakin besar keterlibatan peserta
didik dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan pendidik, akan semakin
besar pula kemungkinan peserta didik dapat menangkap bahan atau materi ajar yang
diberikan oleh pendidik. Dengan kata lain hubungan antara peserta didik dan
pendidik akan sangat memengaruhi dan menentukan keberhasilan proses belajar
mengajar tersebut.
Melalui rencana pembelajaran yang disusun berdasar tema tertentu sebagai
perekat integrasi dari bidang-bidang pengembangan atau mata pelajaran yang
disesuaikan dengan ruang lingkup bahan ajar atau materi pembelajaran yang ada
dikurikulum akan menciptakan suasana semakin kuatnya hubungan pendidik
peserta didik, dengan demikian keterlibatan peserta didik akan semakin tinggi pula.
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang mempunyai tugas untuk
membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi yang dimiliki melalui
proses pembelajaran. Prasarana, sarana , media, dan sumber belajar merupakan
fasilitas yang membantu dan mendorong peserta didik dalam pembelajaran guna
memperoleh hasil belajar yang maksimal.
- 102 -
Belajar adalah proses yang harus dilakukan oleh peserta didik dan ditandai
oleh adanya perubahan pada aspek kognitif, efektif, dan psikomotor. Jadi, indikasi
seseorang melakukan kegiatan belajar, pada diri seseorang pelajar akan terjadi
adanya perubahan pada ketiga ranah tersebut. Tingkat ketercapaian pada ketiga
ranah tersebut sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antara pendidik dan peserta
didik. Dalam hal hubungan proses pembelajaran ini, peran pendidik sangat penting
yakni, sebagai:
1. Manajer/pengelola. Peran sebagai manajer/pengelola, pendidik harus bisa
menciptakan strategi pembelajaran yang memungkinkan terjadinya hubungan
yang baik antara pendidik dan peserta didik.
2. Fasilitator. Sebagai moderator, pendidik harus memfasilitasi peserta didik
dalam bentuk alat, media, dan sumber belajar yang diperlukan untuk balajar.
3. Moderator. Sebagai moderator, pendidik harus bisa mngatur jalannya proses
pembelajaran secara baik, sehingga diharapkan hasil belajar peserta didik akan
maksimal.
4. Motivator. Sebagai motivator, pendidik harus bisa memberikan
motivasi/rangsangan kepada peserta didik, baik melalui pendekatan
pembelajaran yang menarik, penggunaan media dan sumber belajar yang
sesuai, penampilan atau sasmita yang profesional.
5. Evaluator. Sebagai evaluator, pendidik harus mampu melakukan kegiatan
penilaian terhadap hasil belajar peserta didik secara objektif, valid, dan reliable.
B. PENGERTIAN PEMBELAJARAN TERPADU
Arends, 1997 (dalam Trianto, 2011:51), menyebutkan bahwa model
pembelajaran mngacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,
lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Pembelajaran terpadu sebagai salah satu model pembelajaran sudah
dirancang dengan cermat mulai dari merumuskan tujuan, menyusun rencana
pembelajaran, mempersiapkan fasilitas, lingkungan belajar yang edukatif, serta
melakukan pengelolaan belajar secara baik dan benar. Model pembelajaran terpadu
sebagai salah satu model pembelajaran yang saat ini sedang dikembangkan pada
jenjang pendidikan anak usia dini termasuk taman kanak-kanak dan sekolah dasar
dan bahkan sekolah menengah. Pembelajaran terpadu perlu dipahami oleh guru dari
- 103 -
jenjang pendidikan TK sampai sekolah menengah. Pengembangan model
pembelajaran terpadu pada taman kanak-kanak dan SD tingkat awal mengacu pada
kurikulum yang sekarang berlaku yakni kurikulum Tahun 2013 untuk TK dan SD,
SMP dan SMA. Sejak digulirkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah dengan peraturan pelaksanaannya, Peraturan
Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tenteng Kewenangan Pemerintah dan Provinsi
sebagai Daerah Otonom, salah satu programnya adalah menyempurnakan sistem
pendidikan nasional melalui pembaruan kurikulum.
Digulirkannya kurikulum tahun 2013 (K-13 PAUD) melalui permendikbud
Nomor 146 Tahun 2014 bagi pendidikan taman kanak-kanak maupun Kurikulum
2013 (K-13) bagi SD, SMP, dan SMA yang berorientasi pada pendekatan
pembelajaran terpadu, maka semua pihak yang terkait harus merespon terhadap
program pemerintah ini. Model pembelajaran terpadu ini perlu mendapat perhatian
dari kalangan akademisi khususnya para pengampu matakuliah pembelajaran
terpadu sebagai salah satu matakuliah pada program studi pendidikan guru
Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) dan program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD).
Istilah pembelajaran terpadu berasal dari kata integrated teaching and
learning atau integrated curriculum approach. Istilah ini sebenarnya telah lama
dikemukakan oleh John Dewey ( dalam H. Udin Syaefuddin Saud, dkk., 2006: 4)
yakni sebagai usaha untuk mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan
siswa serta kemampuan pengetahuan nya. Piagiet ( dalam H Udin Syaefuddin Saud,
dkk., 2006: 4) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu merupakan proses
pembelajaran yang membantu anak untuk belajar menghubungkan apa yang telah
mereka pelajari dan apa yang baru mereka pelajari. Adapun Bean, 1993 (dalam H.
Udin Syaefuddin Saud, dkk., 2006: 4), menjelaskan lebih lanjut bahwa
pembelajaran terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan kemampuan anak
dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan
pengalaman dan kehidupannya. Jacobs, 1989 (dalam H. Udin Syaefuddin Saud,
dkk., 2006: 4), dalam memandang pembelajaran terpadu sebagai pendekatan
kurikulum Interdisipliner. Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
pembelajaran terpadu adalah pendekatan dalam proses pembelajaran yang
- 104 -
didalamnya guru mengaitkan dan memadukan materi ajar pada suatu tema atau
topik tertentu.
Pembelajaran terpadu juga sering disebut” pembelajaran koheren”, yang
mengandung pengertian bahwa pembelajaran terpadu merupakan pendekatan untuk
mengembangkan program pembelajaran yang menyatukan dan menghubungkan
berbagai program pendidikan. Kurikulum tidak harus terdiri dari bagian-bagian
yang mengakumulasikan pengalaman belajar siswa, hal ini dapat diumpamakan
antara “ wilayah / atau daerah dan isinya’’. Wilayah / adalah integrasi dari sebidang
tanah, yang didalamnya terdapat pemerintahan, penduduk, areal
perkebunan/pertanian, hutan,binatang ,pendidikan, industri, dan yang lain yang ada
di wilayah atau daerah tersebut. Pembelajaran terpadu ibarat wilayah atau daerah
yang mengintegrasikan sebidang tanah dengan isinya demikian halnya dengan
pembelajaran terpadu yang menekankan pada usaha menciptakan hubungan antara
suatu tema tertentu dan bahan ajar atau materi pembelajaran dengan segala
bagiannya yang dipadukan sebagai program pembelajaran yang disesuaikan dengan
kehidupan siswa serta lingkungan sosialnya. Pngalaman belajar yang lebih
menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih
efektif.
Williyem, 1976 (dalam H. Udin Syaefuddin Saud, dkk., 2006: 5),
menjelaskan bahwa perolehan keutuhan belajar tentang kehidupan dan dunia hanya
dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu. Joni , 1996 (dalam H. Udin
Syaefuddin Saud, dkk., 2006: 5), menyebutkan bahwa pembelajaran terpadu sangat
diperlukan terutama untuk taman kanak-kanak dan sekolah dasar tingkat awal,
karena pada jenjang ini siswa menghayati pengalamannya masih secara totalitas
serta masih sulit menghadapi pemilahan yang bersifat ekstrim. John Dwey (dalam
Triyono, 2005: 97), yang terkenal dengan semboyannya learning by doing:
belajarmelalui bekerja. Dari semboyan tersebut, maka berkembanglah pendekatan
yang dinamai contextual teaching and learning (CTL). Beberapa penemuan yang
mengilhami pendekatan CTL, antara lain: penemuan dari John Dwey ( 1900), piaget
(1929), Bruner (1966), dan Resnick dan Hall (1998) (dalam Triyono, 2005: 95).
Mereka mengemukakan penemuannya yang dapat disimpulkan bahwa pendidikan
dewasa ini hendaknya dirancang dengan pendekatan model konstruktivisme,
- 105 -
mengacu pada teori inteligensi mutakkhir, belajar menyesuaikan dengan
lingkungan di mana TK dan SD berada, serta belajar dengan berbagai fasilitas yang
menunjang.
Triyono (2005: 176) memberi penjelasan bahwa pembelajaran terpadu di
TK yang dilakukan oleh guru ada yang tepat dan ada yang tidak tepat. Pembelajaran
yang tidak tepat bila guru telah menyediakan dan memfasilitasi semua kebutuhan
belajar siswa dalam bentuk yang sudah jadi, misalnya menganyam guru sudah
menggunting kertas untuk menganyam, untuk menggambar gurulah yang meraut
krayon. Tidak ada kesempatan bagi siswa untuk membuat rencana sendiri, guru
melakukan aktivitas-aktifitas untuk anak, bukan anak yang melakukan aktivitas
belajar. Pembelajaran terpadu mestinya mengarahkan anak untuk mengembangkan
sosial emosionalnya, estetiknya, perkembangan bahasanya, kognisinya fisik
motoriknya, nilai-nilai agamanya, yang semuannya dirancang dan dikerjakan
sendiri oleh anak. Dijelaskan lebih lanjut oleh Trianto (2010:147), bahwa
pembelajaran terpadu dimaknai sebagai pembelajaran tematik, yakni model
pembelajaran yang dirancang berdasar tema-tema tertentu. Penggunaan istilah
pembelajaran tematik pada dasarnya implementasi dari pembelajaran terpadu yang
menggunakan tema tertentu untuk memadukan beberapa aspek perkembangan yang
akan dikembangkan pada peserta didik pada pendidikan anak usia dini, dengan
demikian kegiatan akan bisa lebih memberikan pengalaman yang bermakna dan
integral bagi pembentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan anak.
Pembelajaran terpadu sebagai konsep membelajarkan bagi anak usia dini
sering disama artikan dengan integreted teaching and learning, integreted
curriculum approach.dengan demikian, lahirnya istilah pembelajaran terpadu
didasari oleh pendekatan pembelajaran yang beriorientasi pada kurikulum terpadu
atau integrated curriculum. Pemahaman tentang kurikulum terpadu didasari oleh
pandangan Humphreys et al., 1981 (dalam Trianto, 2011:148), bahwa studi terpadu
adalah studi dimana para siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan mereka dalam
berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari
lingkungan meraka. Siswa melihat pertautan antara kemanusiaan, seni komunikasi,
ilmu pengetahuan alam, matematika, studi sosial, musik, dan seni.
- 106 -
Adapun Shoemaker, 1991 (dalam Trianto, 2011:148), memberikan
pengertian kurikulum terpadu sebagai, pendidikan yang diorganisasikan
sedemikian rupa sehingga melintasi batas-batas mata pelajaran, menggabungkan
berbagai aspek kurikulum menjadi asosiasi yang bermakna untuk memfokuskan
diri pada wilayah studi yang lebih luas. Kurikulum ini memandang pembelajaran
dan pengeajran merupakan satu satuan yang holistik (menyeluruh) dan
merefleksikan dunia nyata yang bersifat integrated.
Mukhtar Latif, dkk. (2013:47), memberi penjelasan bahwa pada pendidikan
anak usia dini kurikulum yang digunakan adalah berbentuk “tema” dimana guru
menentukan tema yang cocok untuk disesuaikan dengan lembaga. Sebagaian besar
pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah menggunakan tema dalam
pembelajaran dikelas, namun sering dengan perkembanaganya ilmu pengetahuan
tentang pemebelajaran pada pendidikan anak usia dini, kini ditawarkan dengan
model baru dengan nama TEP, yakni term, fact, and prinsiple (istilah fakta-fakta
dan prinsip-prinsip). Melalui model pembelajaran TEP ini semua informasi tentang
tema dialirkan melalui fakta-fakta yang ada dalam lingkungan. Mukhtar Latif, dkk.
(2013: 48), memberi penjelasan lebih lanjut bahwa TEP merupakan serangkaian
atau kumpulan materi yang akan disampaikan kepada anak untuk merangsang
tumbuh kembang anak sesuai dengan tujuan yang direncanakan.
C. LANDASAN DAN PRINSIP PEMBELAJARAN TERPADU
Landasan dan prinsip pembelajaran terpadu tentunya berkaitan dengan
kebutuhan dari setiap apa yang menjadi cita-cita dalam membangun pendidikan.
Prinsip ini berkaitan dengan sosial kehidupan masyarakat atau berkaitan dengan
budaya yang terdapat di suatu daerah. Kehidupan sosial berkaitan dengan ekonomi,
politik, dan pendidikan. Sedangkan budaya berkaitan dengan agama, adat istiadat,
tradisi, dan kearifan lokal. Sebelum pada ranah prinsip pembelajaran terpadu, ada
baiknya penulis menjabarkan terlebih landasan pembelajaran terpadu.
Isjoni (2007:132) menyatakan bahwa landasan pembelajaran terpadu adalah:
1. Progresifisme
Aliran ini menyatakan bahwa pembelajaran seharusnya berlangsung secara
alami, tidak artifisal. Pembelajaran di sekolah seperti keadaan dalam dunia
nyata sehingga memberikan makna pada banyak siswa.
- 107 -
2. Konstruksivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan
pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna
tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah- ceramah atau
membaca buku tentang pengalaman orang lain yang sudah diabstraksikan.
Mengalami sendiri merupakan kunci kebermaknaan.
3. Development Appriorate Practice (DAP)
Prinsip dalam DAP menyatakan balwa pembelajaran harus disesuaikan dengan
perkembangan usia dan individu yang meliputi perkembangan kognitif, emosi,
minat, dan bakat siswa.
4. Landasan Normatif
Landasan ini dilaksanakan dengan memperhatikan situasi dan kondisi praktis
yang berpengaruh terhadap kemungkinan pelaksanaannya mencari hasil yang
optimal.
5. Landasan Praktis
Landasan ini dilaksanakan dengan memperhatikan situasi dan kondisi praktis
yang berpengaruh terhadap kemungkinan pelaksanaannya mencapai hasil yang
optimal.
Penulis memiliki pandangan bahwa landasan pembelajaran terpadu, dapat 5
dijabarkan sebagai berikut:
1. Sosial Ekonomi
Pembelajaran terpadu harus berkaitan dengan sosial ekonomi yang
berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Tingkat ekonomi masyarakat
mempengaruhi bagaimana pembelajaran terpadu menjadi acuan dasar yang harus
menjadi daya dobrak dalam menciptakan wawasan ekonomi yang terjadi di dalam
kehidupan masyarakat setempat. Tema yang dikembangkan berbasis kesadaran
masyarakat dengan mempertimbangkan status ekonomi yang terjadi di dalam
masyarakat setempat. Pembelajaran terpadu ini jangan dipaksakan untuk sesuai
dengan pembelajaran yang memberatkan dengan kondisi ekonomi sosial setempat,
diupayakan agar pembelajaran terpadu selalu mempertimbangkan sosial ekonomi
agar apa yang menjadi harapannya menjadi standar minimal yang dapat
dijangkaunya. Sosial ekonomi ini apabila berkaitan dengan kehidupan masyarakat
- 108 -
yang ekonominya mapan tentunya dapat dengan mudah apa yang menjadi
kebutuhan dan cita-citanya dapat dengan mudah diperolehnya. Pembelajaran
terpadu harus melibatkan semua komponen agar apa yang kurang dan apa yang
menjadi kebutuhan dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan
pembelajaran terpadu.
Gunakan sarana yang ada, jangan menggunakan sarana yang sulit untuk
dijangkau apalagi pembelajaran terpadu ini menggunakan prinsip dengan sarana
yang terbatas dapat mengembangkan pembelajaran secara maksimal. Meskipun
sangat sulit dalam menjangkaunya, tetapi paling tidak ada kesempatan agar setiap
peserta didik dapat mengembangkan materinya secara mandiri dengan apa yang
menjadi pengetahuannya tersebut. Kebermaknaan dalam pembelajaran mengetahui
kesadaran ekonomi yang menjadi sosial kehidupan setiap individu.
2. Sosial Politik
Masyarakat politik, bukan berarti masyarakat yang memiliki politik tertentu
apalagi partai politik, tetapi yang dimaksud dengan sosial politik adalah masyarakat
yang memiliki cita-cita bersama dengan kemajuan pembelajaran terpadu.
Pendidikan yang berbasis pembelajaran terpadu dapat menjadi sebuah wahana
untuk meyakini bahwa apa yang harus diberikan kepada anak didik pada dasarnya
menjadi keinginan dan cita-cita dari semua pihak. Landasan ini memberikan sebuah
pemahaman bahwa pembelajaran terpadu mendapatkan porsinya di tengah-tengah
kehidupan masyarakat yang membutuhkan sebuah pendidikan yang ideal demi
masa depan generasi yang akan datang, praktik-praktik pembelajaran diarahkan
untuk kepentingan masyarakatnya terlebih lagi kepentingan bangsa dan negaranya.
Pembelajaran terpadu merupakan wahana yang mempermudah pendidik untuk
memberikan pengajaran secara komprehensif, bukan lagi parsial yang hanya
memiliki satu bagian tertentu yang untuk kemudian diberikan bagian yang lainnya
pada waktu yang berbeda.
Keinginan masyarakat ini menjadi sebuah pendukung dalam pelaksanaan
pendidikan yang ideal, pembelajaran yang terpadu memberikan warnanya sebagai
pembelajaran yang memiliki cita-cita bersama, ada yang menginginkan pada
keahlian tertentu ada yang menginginkan pada keterampilan yang bermakna
sehingga peserta didik memiliki nilai- nilai moral dalam kehidupannya, ada yang
- 109 -
menginginkan sebagai ahli komunikasi yang dapat menjadi pembicara-pembicara
atau narasumber yang mahir. Pendidikan dengan konsep pembelajaran terpadu
memberikan sebuah pemahaman yang menyeluruh menjadi hal yang penting
sebagai pengembangan pembelajaran terpadu.
3. Sosial Pendidikan
Pembelajaran terpadu tentu berkaitan dengan tingkat pendidikan yang
berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Tingkat pendidikan mempengaruhi
bagaimana pembelajaran terpadu menjadi sebuah peranan penting dalam
kehidupan. Pembelajaran terpadu mengarahkan sosial pendidikan menjadi agenda
penting dalam mewacanakan sistem yang harus diberikan kepada setiap peserta
didik. Pembelajaran terpadu ibarat sumber mata air yang tidak pernah habis, namun
kenyataannya bahwa sumber mata air itu pasti akan habis. Pendidikan menjadi
trending topic manakala setiap pejabat memahami apa yang harus dikembangkan
dalam sosial pendidikan. Mengapa pejabat karena sampai saat ini pejabat selalu
menyalahkan kegagalan pendidikan menjadi biang dari semua permasalahan
pendidikan, pembelajaran terpadu tidak pernah melihat akar permasalahan yang
terjadi, pendidikan menjadi kambing hitam dari anak-anak yang kebanyakan tidak
mau sekolah, mereka cenderung bekerja untuk mencari sesuap nas. Pendidikan
merupakan investasi masa depan hanyalah isapan jempol, buktinya banyak orang
yang kaya raya justru bukan terlahir dari orang-orang yang memiliki pendidikan
tinggi.
Pembelajaran terpadu memberikan solusi dengan berbagai metode yang
diterapkan agar keberhasilan pendidikan menjadi sebuah cita-cita yang ideal, tetapi
memang bisa dibayangkan banyak yang mengatasnamakan pendidikan tetapi
kegagalan telah melahirkan anak-anak yang masuk ke dalam organisasi geng motor,
atau banyak yang masuk sebagai pengedar pengedar narkoba. Miris memang,
pendidikan telah gagal menghantarkan anak didiknya ke dalam arah kesejahteraan
hidup.
Pembelajaran terpadu mempertimbangkan sosial pendidikan sebagai jalan
untuk menempuh kegagalan, apa yang salah dari sebuah bangunan pendidikan
tersebut, karena banyak pejabat dan orang awam pada umumnya melihat
pendidikan menjadi kata kunci yang harus diberikan porsinya dalam menciptakan
- 110 -
karakter bangsanya. Karakter yang selama ini menjadi sebuah momok yang
mengherankan telah kehilangan identitasnya sebagai anak-anak yang mau belajar.
4. Budaya Agama
Pendidikan harus melihat budaya dan agama yang berkembang di dalam
kehidupan masyarakat, budaya menjadi pilar yang penting dalam menciptakan
keharmonisan kehidupan masyarakat, sementara agama menjadi tameng kebenaran
yang selalu dijadikan garda terdepan dalam pembangunan moral. Budaya dan
agama tidak mungkin terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Maka
pembelajaran terpadu memberikan jalan dalam membangun generasi yang paham
dengan agama dan budaya setempat.
Pembelajaran terpadu hanyalah sebuah jalan dalam menempuh pemahaman
generasi yang memiliki budaya dan agama yang ada di daerahnya, bahkan setiap
individu membawa budaya dan agamanya tersebut sebagai sebuah keyakinan yang
kuat yang harus diberikan porsinya sesuai dengan kadar yang ada. Tidak bisa
dipaksakan sebab pemaksaan akan melahirkan perlawanan. Jalan terbaiknya adalah
membangun pembelajaran terpadu dengan penghargaan dan menghormati satu
sama lainnya.
5. Budaya Tradisi
Pembelajaran terpadu harus menghargai tradisi yang terjadi di dalam
kehidupan masyarakat, tetapi budaya tradisi tentunya akan menjadi pudar dengan
sendirinya apabila sudah tidak relevan dengan perkembangarn zaman, penghargaan
dan penghormatan menjadi mutlak diperlukan tetpi keilmuan jangan sampai
tergadaikan oleh sebuah tradisi yang berlawanan dengan tradisi.
Perkembangan modern kehidupan umat manusia, semakin mengalami
kepesatannya, hanya saja di tengah-tengah kehidupan yang masih saja ada
sekelompok manusia yang mempertahankan tradisinya dengan tidak
memperbolehkan masyarakat setempat untuk menggunakan listrik apalagi televisi,
lalu apakah pembelajaran terpadu harus mengikuti cara berpikir masyarakat
setempat. Penghargaan terhadap setiap manusia dengan caranya memang sangat
penting untuk diberlakukan, tetapi pengetahuan lebih penting untuk diberikan
kedudukannya dalam porsinya yang besar.
- 111 -
Pemahaman kesadaran untuk membangun peradaban yang lebih terhormat
dengan memberikan pengetahuan yang lebih terhadap modernisasi, tetapi tidak
boleh melupakan kearifan lokal yang ada di daerah setempat menjadi hal yang harus
dipertahankan. Pengetahuan akan menghantarkan penggunanya dengan maksimal
dapat memberdayakan setiap potensi yang ada, dengan tidak mengabaikan kearifan
yang ada di daerah setempart
6. Budaya ldelogi
Pembelajaran terpadu mengembangkan apa yang menjadi ideologi
masyarakat setempat, ideologi ini berkaitan dengan apa yang harus dilakukan dan
apa yang harus dibuang jauh-jauh. Berbicara ideologi tentunya akan adanya
keyakinan yang besar terhadap segala sesuatu yang memberikan jalan sampai
kepada relung hati yang paling dalam.
Pembelajaran terpadu dapat memberikan keseimbangan dalam materi yang
dikehendaki oleh negara dan ideologi yang berkembang, tentunya ideologi ini
berupaya beriringan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan tanpa adanya
ideologi tidak akan memiliki ruhnya, bahkan tidak akan terwujud apa yang menjadi
cita-cita dari pendidikan itu. Maka pendidikan sebagai sarana untuk
mempertahankan ideologi yang sehaluan dengan ideologi negara, bahkan berupaya
menjadi bagian dari ideologi negara itu sendiri.
Penulis memiliki pandangan bahwa prinsip pembelajaran terpadu, yaitu
sebagai berikut:
1. Fleksibilitas
Pembelajaran terpadu tidak boleh kaku, harusnya memiliki prinsip
kelenturan (fleksibel), agar pembelajaran terpadu tidak terjebak dalam kebakuan
aturan tetapi pembelajaran terpadu tentunya dengan melihat kesiapan peserta didik,
pembelajaran terpadu memberikan jalan yang sangat baik dalam situasi apapun dan
dalam kondisi yang bagaimana pun. Pembelajaran terpadu tidak seenaknya saja
diterapkan dalam kondisi yang serampangan, tetapi harus memberikan sebuah jalan
yang mengarah pada hasil dari pembelajaran itu, namun dengan cara-cara yang
fleksibel.
Fleksibilitas ini dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik, dan
berupaya menjadi pembelajaran yang mampu dengan tanggap setiap tuntutan yang
- 112 -
berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Perubahan yang terjadi dapat dengan
fleksibel digunakan, berbeda dengan kekakuan yang memungkinkan dengan
kemungkinan yang sangat besar mengalami kegagalan dalam pembelajaran terpadu
tersebut.
Prinsip fleksibilitas memberikan keleluasaan kepada setiap pendidik agar
tidak kaku seperti robot, menjadikan murid sebagai bagian dari proses yang penuh
dengan keluwesan berbuat sehingga siswa merasakan nyaman dalam pembelajaran
terpadu yang mengedepankan prinsip fleksibilitas ini, bahkan setiap apapun yang
dikembangkan dalam proses pembelajaran menjadikan setiap keadaan bukan lagi
hal yang harus disesuaikan dengan prosedur yang kaku dan saklek.
2. Berkesinambungan
Pembelajaran terpadu hendaknya mempertimbangkan keberlangsungannya
sehingga memperoleh pembelajaran yang berkesinambungan. Pembelajaran
terpadu merupakan alat yang seharusnya diberikan kepada peserta didik dengan
terus-menerus dan tidak menjenuhkan, apalagi siswa tidak ada keinginan untuk
belajar. Peserta didik sudah selayaknya diberikan materi yang dapat membuat
gambaran besar agar memahami apa yang harus dilakukannya.
Berkesinambungan, seorang guru agar tidak bosan-bosannya memberikan
materi yang menerapkan pendekatan pembelajaran terpadu. Di mana setisp materi
yang berbasis tema, tentunya lebih melibatkan peserta didik dan lingkungan yang
ada di sekitanya. Peserta didik mendapatkan porsi sebagai pembelajar yang dapat
dilakukan setiap waktu, bahkan peserta didik ketika mulai bangun tidur sampai
ketika hendak tidur menjadi bagian dari proses pembelajaran terpadu.
Prinsip berkesinambungan ini memiliki makna pembelajaran bukan hanya
terjadi ketika di dalam ruangan kelas, melainkan ketika siswa bermain dengan
teman-temannya di lingkungan sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya
mengalami proses pembelajaran tersebut, adanya berkesinambungan yang betul-
betul terjalin antara guru dengan muridnya dalam setiap aspek kehidupan seoran
murid.
- 113 -
3. Efektivitas
Efektivitas (hasil guna) adalah tingkat keberhasilan yang dilakukan dengan
baik (do the right things). Efektivitas lebih memfokuskan pada hasil yang sesuai
dengan kesepatakan, hasil yang sesuai dengan kesepakatan inilah yang harus
dilakukan oleh pendidik. Pembelajaran terpadu seharusnya mengedepankan prinsip
efektivitas dengan mempertimbangkan hasil pembelajaran yang sesuai dengan
harapan semua pihak.
Pembelajaran terpadu memberikan jalan yang seharusnya menjadi dambaan
dari setiap peserta didik. Pembelajaran terpadu diarahkan bagaimana hasil yang
didapatkan betul-betul dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak, terutama oleh
peserta didik itu sendiri. Pembelajaran terpadu tentunya, mempertimbangkan
bagaimana kebutuhan dari peserta didik yang memerlukan pembelajaran yang
nantinya dapat mengandung kebermaknaan yang mendalam. Pembelajaran terpadu
harus diarahkan pada tujuan pembelajaran.
4. Efisiensi
Efisiensi (daya guna) merupakan proses yang berlangsung di dalam
pembelajaran atau melakukan pekerjaan dengan benar (do things right).
Pembelajaran terpadu mempertimbangkan ketersediaan waktu, ketersediaan konten
kurikulum, ketersediaan konten materi, ketersediaan sarana penunjang,
ketersediaan perangkat pembelajaran, dan kemampuan peserta didik sendiri dalam
menerima materi yang diajarkan oleh gurunya.
Pembelajaran terpadu melakukan pembelajaran yang betul-betul sesuai
dengan kegiatan pembelajaran, namun bukan berarti harus beruntutan sesuai
dengan kerangka kerja, boleh saja yang pertama didahulukan dan yang pertama
diakhirkan, yang terpenting adalah bagaimana memberdayakan potensi sehingga
terjadi proses pembelajaran yang efisien. Proses pembelajaran yang terjadi tidak
mengalami pemborosan waktu dan pemborosan konten yang terbuang sia-sia.
Dengan memberdayakan setiap kekuatan dan menggali potensi yang dikembangkan
termasuk pemberdayaan kurikkulum peserta didik dan guru membuat pembelajaran
terpadu menjadi efisien dan tidak mengalami pemborosan dalam pelaksanaannya.
- 114 -
5. Konsistensi
Pembelajaran terpadu harus dilakukan dengan konsisten karena
pembelajaran ini memerlukan dukungan semua pihak, maka semua pihak
hendaknya melakukan pendekatan yang serius dan konsisten sehingga tidak ragu
dengan apa yang sedang dilakukannya. Konsistensi dari awal hingga selesainya
pembelajaran seorang guru, hendaknya betul-betul merasakan bagaimana
pembelajaran itu tidak ngawur dan sesuai dengan koridornya.
Pembelajaran terpadu agar dilakukan dengan penuh keseriusan dan
tanggung jawab, bukan lagi sekadar pemenuhan tugas, melainkan menjadi inspirasi
yang mendongkrak semangat belajar siswa. Konsistensi dalam pembelajaran
terpadu menjadi awal dari keberhasilan dalam melakukan kegiatan tersebut. Setiap
kegiatan apapun bentuknya tentunya memerlukan prinsip yang konsisten, sehingga
bisa mengetahui berbagai perkembangan dan perubahan yang terjadi dari waktu ke
waktu. Pembelajaran yang memberikan jalan dengan keseriusannya dengan terus
menerus dan penuh tanggung jawab.
Trianto (2014:58) menyatakan bahwa prinsip pembelajaran terpadu dapat
diklarifikasikan dalam empat bagian, yaitu : 1) prinsip penggalian tema; 2) prinsip
pengelolaan pembelajaran; 3) prinsip evaluasi; dan 4) prinsip reaksi.
1. Prinsip Penggalian Tema
Prinsip penggalian tema hendaknya memerhatikan beberapa persyaratan,
yaitu :
a. Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan
untuk memadukan banyak mata pelajaran.
b. Tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih untuk dikaji harus
memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
c. Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.
d. Tema yang dikembangkan harus mewadahi sebagian besar minat anak.
e. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa autentik
yang terjadi di dalam rentang waktu belajar.
f. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku
serta harapan masyarakat.
- 115 -
g. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersediaan sumber
belajar.
2. Prinsip Pengelolaan Pembelajaran
Prinsip pembelajaran, hendaknya seorang guru dapat melakukan tindakan
sebagai berikut :
a. Guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan
dalam proses pembelajaran.
b. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap
tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok.
c. Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang tidak terpikirkan
sama sekali dalam perencanaan.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau kelemahan proses
pembelajaran diperlukan evaluasi. Pada prinsipnya, evaluasi berfungsi untuk
mengetahui keberhasilan peserta didik. Di sisi lain, evaluasi juga berfungsi untuk
merefleksikan guru dalam melaksanakan proses pengajaran. Dengan demikian,
tidak hanya siswa yang menjadi subjek evaluasi, tetapi guru juga dapat menyadari
kelemahannya.
1. Prinsip Evaluasi
Beberapa langkah positif yang diperlukan dalam prinsip evaluasi, antara lain
sebagai berikut :
a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping
bentuk evaluasi lainnya.
b. Guru mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai
berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang dicapainya.
2. Prinsip Reaksi
Dampak pengiring (nurturant effect) yang penting bagi perilaku secara
sadar belum tersentuh oleh guru dalam pembelajaran. Karena itu, guru dituntut agar
mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara
tuntas tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua
peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit, tetapi ke suatu kesatuan yang
utuh dan bermakna. Pembelajaran terpadu memungkinkan hal ini dan hendaknya
- 116 -
guru menemukan kiat-kiat untuk memunculkan ke permukaan hal-hal yang dicapai
melalui dampak pengiring.
Permendikbud No. 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SD/MI
memiliki prinsip-prinsip pembelajaran tematik terpadu sebagai berikut :
1. Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
2. Pemisah antar mata pelajaran menjadi tidak begitu tampak. Fokus
pembelajaran diarahkan pada pembahasan kompetensi melalui tema-tema yang
paling dekat dengan kehidupan peserta didik.
3. Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang
berkaitan dengan berbagai konsep, keterampilan, dan sikap.
4. Sumber belajar tidak terbatas pada buku.
5. Peserta didik dapat bekerja secara mandiri ataupun berkelompok sesuai dengan
karakteristik kegiatan yang dilakukan.
6. Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat
mengakomodasi peserta didik yang memiliki perbedaan tingkat kecerdasan,
pengalaman, dan ketertarikan terhadap suatu topik.
7. Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan
sendiri.
8. Memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences)
dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.
D. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TERPADU
Pembelajaran terpadu memungkinkan anak mencapai pemahaman yang
lebih tinggi, holistik, dan autentik sebagai ciri belajar aktif serta mampu
meningkatkan berbagai keterampilan personal skillsebagai bentuk dari life skills,
(Isjoni, 2007:134).
Trianto (2014:62) menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran terpadu
yang dimaksud meliputi :
1. Holistik , suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam
pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari berbagai bidang studi seklaigus,
tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Pembelajaran memungkinkan
siswa untuk memahami suatu fenomena darisegala sisi yang pada gilirannya
- 117 -
siswa menjadi lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian
yang menghadapinya.
2. Bermakna, pengkajian fenomena dari berbagai aspek tersebut memungkinkan
terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki siswa sehingga
hasil belajar akan lebih bermakna dan nyata dari berbagai konsep yang
dipelajari. Kegiatan belajar mengajar yang lebih fungsional memungkinkan
siswa dapat menerapkan hasil belajarnya untuk menyelesaikan masalah-
masalah nyata di dalam kehidupannya.
3. Autentik, kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara langsung
memungkinkan anak memahami hasil belajarnya sendiri dari interelasinya
pengetahuan dengan fakta dan peristiwa, bukan hasil pemberitahuan guru,
informasi pengetahuan yang diperoleh sifatnya menjadi lebih autentik.
4. Aktif, pembelajaran terpadu pada dasarnya dikembangkan pada pendekatan
discovery-inquiry. Siswa perlu terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya.
Pembelajaran terpadu yang dilaksanakan dalam Kurikulum 2013 SD/MI
disebut dengan pembelajaran tematik terpadu merupakan pembelajaran yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam
berbagai tema, dengan penekanan pada keterkaitan, dan keterpaduan antara
kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian. Mengakomodasi pembelajaran tematik terpadu, keterpaduan lintas
mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
Pembelajaran tematik memiliki ciri khas, antara lain :
1. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan da
kebutuhan anak usia sekolah dasar;
2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik
bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik;
3. Kegiatan belajar dipilih yang bermakna dan berkesan bagi peserta didik
sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama;
4. Memberi penekanan pada keterampilan berpikir peserta didik;
5. Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan
permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya; dan
- 118 -
6. Mengembangkan keterampilan sosial sosial peserta didik, seperti kerja sama,
toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pendekatan ini digunakan untuk seluruh kelas pada sekolah dasar.
Pendekatan ini bermanfaat agar peserta didik tidak belajar secara parsial sehingga
pembelajaran memberikan makna yang utuh kepada peserta didik seperti yang
tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Peserta didik memahami apa yang
harus dipelajarinya secara utuh/holistik. Pembelajaran ini mempermudah peserta
didik untuk mengetahui gambaran besar materi yang diajarkannya.
Pembelajaran terpadu merupakan model terbaru yang memerlukan
pengelolaan dengan baik, namun pelaksanaan model ini tampaknya masih setengah
hati, bahkan mungkin tidak berjalan sama sekali, yang lebih parah lagi banyak guru
tidak memahami bagaimana perlakuan pembelajaran tematik tersebut. Asumsinya
masih menjadikan mata pelajaran tolok ukur keberhasilan pembelajaran padahal
dalam Kurikulum 2013 seharusnya beralih dengan berbasis tematik integratif,
model yang menjadikan maa pelajaran membentuk sebuah tema.
Penulis memiliki pandangan bahwa karakteristik pembelajaran terpadu
yang berdasarkan tematik terpadu antara lain sebagai berikut :
1. Tema dibentuk dari integrasi kompetensi mata pelajaran. Kompetensi yang
dimaksud adalah mata pelajaran PKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS,
Matematika, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Seni Budaya dan
Prakarya bukan mata pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti.
2. Pembelajaran ini dimaksudkan agar peserta didik tidak belajar secara parsial,
tetapi pembelajaran yang dapat memberikan makna secara utuh.
3. Pembelajaran ini dibangun berdasarkan filsafat konstruktivisme yang
berpandangan bahwa pengetahuan dimiliki peserta didik merupakan hasil
bentukan peserta didik sendiri.
4. Pembelajaran ini memerlukan keterlibatan peserta didik secara aktif, bahkan
memperoleh pengalaman langsung dan terlatih umtuk menemukan sendiri
pengetahuan yang dipelajarinya
5. Pembelajaran ini lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil
melakukan sesuatu (learning by doing).
- 119 -
E. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
Ditinjau dari dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit
tematisnya, menurut seorang ahli yang bernama Fogarty(1991) mengemukakan
bahwa terdapat sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran
terpadu. Kesepuluh cara atau model tersebut adalah:(1)fragmented model, (2)
connected model, (3)nested model, (4)squenced model, (5)shared model,
,(6)webbed model,(7) threaded model,(8) integrated model,(9) immersed model,
(10) networked model. Dari kesepuluh model tersebut, ada tiga model yang mulai
digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia, yaitu: model terkait (connected model),
model jaring laba-laba(webbed model), dan model terpadu(integrated model).
F. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PEMBELAJARAN TERPADU
Pembelajaran Terpadu memiliki kelebihan dibandingkan dengan
pendekatan Konvensional, yaitu sebagai berikut:
1. Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan
tingkat perkembangan anak.
2. Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta
didik.
3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peerta didik sehingga hasil
belajar akan dapat bertahan lebih lama .
4. Pembelajaran Terpadu menumbuhkembangkan kerampilan berpikir dan sosial
peserta didik.
5. Pembelajaran Terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis dengan
permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan /lingkungan yang rill
peserta didik.
6. Jika Pembelajaran Terpadu dirancang bersama, dapat meningkatkan kerja sama
antar guru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik
dengan peserta didik, pesrta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar
lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam kontks lebih
bermakna.
- 120 -
Disamping ada kelebihan di atas, pembelajaran terpadu memiliki
kelemahan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan
pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi
proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja.
RANGKUMAN
Pembelajaran Terpadu adalah model pembelajaran dengan cara
menggabungkan materi menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Pembelajaran
terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik
dalam satu displin ilmu maupun antar displin ilmu dengan kehidupan dan
kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang
bermakna dan menyenangkan anak. Dalam pembelajaran terpadu terdapat sepuluh
model cara tau model dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Dari kesepuluh
model tersebut , ada tiga model yang mulai digunakan disekolah –sekolah di
indonesia.
G. LATIHAN
Diskusikanlah dengan kelompok Anda:
1. Konsep dasar Pembelajaran terpadu pada pengembangan materi RPP IPS
Kelas Tinggi berbasis Budaya Lokal!
2. Landasan-landasan pembelajaran terpadu pada pengembangan materi RPP IPS
Kelas Tinggi berbasis Budaya Lokal!
3. Model model pembelajaran terpadu pada pengembangan materi RPP IPS Kelas
Tinggi berbasis Budaya Lokal!
4. Cara mengatasi kelemahan pembelajaran terpadu pada pengembangan materi
RPP IPS Kelas Tinggi berbasis Budaya Lokal!
- 121 -
BAB VII
PEMANFAATAN MEDIA PADA PEMBELAJARAN IPS
BERBASIS BUDAYA LOKAL
A. PENDAHULUAN
Sebagaimana dimaklumi bersama, bahwa proses pembelajaran saat ini harus
berorientasi kepada kepentingan belajar siswa (student centered). Guru dalam hal
ini hendaknya berperan lebih aktif dalam mengelola kelas dan mampu memberi
motivasi pada siswa agar mau belajar dan dapat menguasai bahan ajar dan berhasil
dalam belajar.
Dalam kaitannya itu, Danim (2002 :184) dengan mengutip hasil laporan
Emes L.Boyer, Presiden Yayasan Carnige Foundation For The Advancement of
Teaching, memyampaikan hasil penelitiannya bahwa ada tiga area isu krusial dari
profesi guru yang perlu di miliki dan ditingkatkan , yaitu : 1) pengetahuan tentang
cara mengelola kelas, 2) pengetahuan dalam bidang mata pelajaran atau penguasaan
bahan ajar , 3) pembelajaran tentang latar belakang sosiologikal siswa. Ketiga isu
tersebut dipandang perlu dikuasai oleh guru, mengingat perkembangan zaman yang
begitu cepat dan mengglobal ini tidak dapat dihindari lagi dan harus disikapi
dengan selalu meningkatkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki guru.
Aspek pertama, tentang pengetahuan, pengetahuan disini bukan hanya sekedar tahu
tentang apa (know what) mengenai pengelolaan kelas, melainkan lebih utama
adalah atau bagaimana (know how) mengenai pengelolaan kelas (classroom
management in action).
Aspek kedua , pengetahuan dalam bidang mata pelajaran atau penguasaan
bahan ajar. Pengetahuan yang dimaksud disini tidak hanya berkaitan dengan subject
matter semata melainkan juga pngetahuan dan penguasaan bidang metodologi
pembelajaran, seperti strategi pembelajaran, evaluasi pendidikan, pengembangan
- 122 -
dan inovasi kurikulum, dasar-dasar pendidikan, etika profesi keguruan dan lain-
lain.
Ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan tentang latar
belakang sosiologikal siswa. Latar belakang sosial siswa itu sangat penting,
terutama yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi, agama, budaya, pekerjaan
orangtua, perjalanan hidup anak didik, dan sebagainya.
Kemampuan dalam bidang manajemen ini penting, terutama manajemen
kelas, memang sangat esensial bagi guru. Menurut Segars dkk dalam Danim (2002
:184), guru yang efektif adalah guru yang mampu menciptakan wahana bagi siswa
untuk mendemonstrasikan secara konsisten prestasi level tinggi (high level of
achievement). Untuk sampai pada penguasaan dan kemampuan guru yang memiliki
kategori guru efektif, itu diperlukan 3 area keahlian, yakni : perencanaan,
manajemen,dan penagajaran. Pertama, perencanaan yaitu penciptaan kondosi
kesiapan bagi aktivitas kelas yang meliputi Renaca Persiapan Pembelajaran (RPP),
media dan sumber pembelajaran, pengorganisasian lingkungan belajar. kedua,
manajemen berupa kemampuan guru dalam mengendalikan perilaku siswa.
Semakin besar jumlah rombongan belajar siswa, semakin banyak sumber daya yang
digunakan. Semakin berat materi atau sumber bahan ajar, semakin dituntut pula
kemampuan manajemen kelas dari kalangan guru. Ketiga pengajaran, yaitu
kemampuan guru dalam menciptakan kondisi dan membimbing siswa dalam
belajar.
Berdasarkan uraian diatas, dipahami bahwa guru mempunyai tugas yang
lebih berat, guru harus memberi motivasi terhadap cara belajar sehingga siswa
mampu menguasai bahan ajar dan sukses dalam belajar. guru harus mampu menarik
simpati sehingga ia akan menjadi idola dan dapat menjadi motivasi bagi para
siswanya. Apapun pelajaran yang diberikannya.
Sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan tersebut , diperlukan
alat bantu pembelajaran yakni diantaraya media pembelajaran yang tepat dan
efektif yang dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan mendorong
keberhasilan proses belajar-mengajar. Media belajar merupakan salah satu faktor
yang dapat meningkatkan pemahaman siswa. Dengan menggunakan media belajar,
proses belajar mengajar akan lebih efektif karena suasana belajar akan
- 123 -
menyenangkan dan dapat meningkatkan pemahaman siswa. Menurut Bahri
(2002:137) media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu
kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena memang gurulah yang
mengkehendakinya untuk membantu pesan-pesan dari bahan pelajaran yang
diberikan oleh guru kepada siswa. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media , maka
bahan pelajaran sukar untuk diterima dan dipahami oleh setiap peserta didik,
terutama bahan pelajaran yang rumit dan kompleks. Dengan pemanfaatan media,
maka ada balikan dari guru dan siswa untuk berinteraksi, dimana didalam proses
belajar mengajar guru dan siswa sudah dapat berkomunikasi begitu pula dengan
siswa dan siswa.
Berkenaan dengan asumsi diatas, maka guru memiliki peranan dan
tanggung jawab sangat besar dan penting untuk belajar membantu siswa dalam
mengaktualisasikan komponen belajarnya dnegan baik dari segi kognitif, afektif,
dan psikomotor. Karena kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi,
proses penyampaian pesan, sehingga harus diciptakan atau diwujudkan melalui
kegiatan penyampaian tukar menukar pesan atau informasi oleh guru dan peserta
didik. Agar tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi, maka perlu digunakan
sarana yang membantu proses komunikasi yang disebut media.
Media adalah segala sesuatu yang dapat diindra dan berfungsi sebagai
perantara atau sarana/alat untuk proses komunikasi dalam proses pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, media yang digunakan untuk memperlancar
komunikasi belajar mengajar disebut media pembelajaran media pembelajaran
adalah alat bantu yang akan membantu kemudahan, kelacaran serta keberhasilan
proses belajar sebagaimana yang diharapkan. Media yang dibuat oleh guru, dapat
berupa media elektronik, media cetak, bagan (chart), peta/globa, slide atau
transparan yang diproyeksikan dengan LCD, penampilan, demonstrasi, permainan,
cerita, LKS, dan masih banyak lagi.
Semakin tinggi tingkat kesadaran orang akan pentingnya media yang
membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu
pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual.
Metaformosis dari perpustakaan yang menekan pada penyediaan media cetak,
menjadi penyediaan permintaan dan pemberian layanan secara multi sensori dari
- 124 -
beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan
pelayanan yang diberilkan mutlak wajib bervariatif. Selain itu, dengan semakin
meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya
dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran
semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas
pula.
B. PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN
Kata media secara etimologi berasal dari kata latin, yaitu medium,, yang
artinya antara, dalam arti umum dipakai untuk melanjutkan alat komunikasi. Secara
istilah, kata media menunjukkan segala sesuatu yang membawa atau menyalurkan
informasi anatara sumber dan penerima, seperti film, televisi, radio, alat visual yang
diproyeksi, barang cetakan, dan lain-lain sejenis itu adalah media komunikasi untuk
menyampaikan suatu pesan atau gagasan.
Komunikasi yang efektif tergantung pada partisipasi si penerima.Orang
akan bereaksi dengan jawaban, pertanyaan, atau tindakan.Dengan bantuan sistem
saraf pesan dapat diterima dan dimengerti. Akhirnya si penerima mengirim
kembalipesan yang telah diolah sebagai feedback. Dari feedback ini sipengirim
dapat mengetahui apakah komunikasi berlangsung efektif atau tidak.
Agar proses komunikasi ini berjalan dengan lancar, maka digunakanlah
media pembelajaran. Rumampak(1998:5) mengartikan media sebagai setiap bentuk
peralatan yang biasanya dapat dipakai untuk memindahkan informasi antara orang-
orang. Adapun Rohani (1997:3) menjelaskan media sebagai sesuatu yang dapat
diindra yang berfungsi sebagai perantara atau sarana dalam proses belajar mengajar.
Menurut Sudjana (2000:6) pembelajaran adalah upaya pendidik untuk
membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah
terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegaiatan belajar yang dilakukan peserta
didik. Pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran adalah pendidik, serta peserta
didik yang berinteraksi edukatif antara satu dan lainnya. Isi kegiatan adalah bahan
belajar yang bersumber dari kurikulum suatu program pendidikan. Proses kegiatan
adalah langkah-langkah atau tahapan yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam
pembelajaran. Sumber pendukung kegiatan pembelajaran mencakup fasilitas dan
alat-alat bantu pembelajaran.
- 125 -
Dalam proses mengajar, media yang digunakan untuk memperlancar
komunikasi tersebut dinamakan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat
dikatakan karena dapat menyalurkan atau menyampaikan pesan dengan tujuan-
tujuan pendidikan dan pembelajaran serta disebabkan karena adanya komunikasi
dalam kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran menempati posisi yang penting
sebagai salah satu komponen dalam system pembelajaran. Sentralisasi peran guru
sebagai penyampai informasi atau pesan dapat menimbulkan berbagai
permasalahan terutama dalam upaya memusatkan perhatian siswa dan ketepatan
pesan yang semula ingin disampaikan, sehingga sering kali terjadi salah penafsiran
oleh siswa terhadap apa yang ingin disampaikan oleh guru. Tentu saja pada
akhirnya hal ini juga berdampak terhadap hasil belajar siswa menjadi tidak seperti
yang diharapkan oleh guru itu sendiri.
Peran media sebagai penyalur pesan yang mampu menarik keterlibatan
peserta didik tentunya menjadi penting dikarenakan guru tidak bisa berdiri sendiri
dalam upaya menciptakan komunikasi yang efektif bagi sebuah proses
pembelajaran. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran terjadi manakala peserta
didik mampu mengoptimalkan penggunaan seluruh alat indranya dalam kegiatan
belajarnya. Kemampuan guru untuk melakukan ini sangat terbatas, karenanya peran
media sebagai sebuah stimulus dapat menjadi penopang tambahan untuk membuat
peserta didik mampu melakukan proses belajar dengan baik.
Peran media ini sejalan dengan pendapatnya Levie dalam Arsyad (2007: 9)
yang mengungkapkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih
baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan
menghubungkan fakta dengan konsep. Hal ini juga sejalan dengan konsep teori
belajar yang dikemukakan oleh Gagne dalam Dahar(1996:147), bahwa tindakan
belajar terbagi dalam berbagai fase yang berkesinambungan meliputi fase motivasi,
pengenalan, perolehan, retensi, pemanggilan, generalisasi, penampilan, dan umpan
balik. Keberadaan media pembelajaran dipilh dan digunakan dengan tepat oleh guru
tentunya akan mebantu peserta didik dalam fase-fase belajar tersebut.
C. KLASIFIKASI MEDIA PEMEBLAJARAN
Pada saat ini dunia pendidikan dihadapkan pada pilihan media yang banyak
sekali, walaupun belum semua lembaga pendidikan menerapkan media
- 126 -
pembelajaran yang banyak tersebut. Jika diklasifikasikan dalam kategori atau
golongan tertentu, yang didasarkan pada kemampuannya, bentuk, biaya, dan
sebagainya, maka media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi: 1) media
yang mampu menyajikan informasi, 2) media yang mengandung informasi, 3)
media yang memungkinkan untuk berinteraksi.
Pertama, yang termasuk dalam media penyaji yaitu grafis, bahan cetak dan
gambar diam, media proyeksi, media audio, gambar hidup, kelompok enam televisi,
dan kelompok tujuh yaitu multimedia.
Kedua, yang termasuk pada media objek adalah benda tiga dimensi yang
mengandung informasi, tidak dalam bentuk penyajian tetapi melalui ciri fisiknya
seperti ukurannya. beratnya, bentuknya, susunanya, warnanya, fungsinya dan
sebagainya.
Ketiga, yang termasuk pada media interaktif yaitu yang mempunyai
karakteristik terpenting dalam penyajian objek, tetapi dipaksa untuk berinteraksi
selama mengikuti pembelajaran.
Selanjutnya, beberapa penulis, seperti Hamalik(1986), Djamarah (2002) dan
Sadiman (1986), mengelompokkan media ini berdasarkan jenisnya ke dalam
beberapa jenis :
a. Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara
saja,seperti tape recorder
b. Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan dalam
wujud visual.
c. Media audiovisual,yaitu media yang mempunyai unsur suara dan gambar.
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, dan media ini dibagi
ke dalam dua jenis, yaitu:1) audiovisual diam, yang menampilkan suara dan
visual diam, seperti flim sound slide, 2) audiovisual gerak, yaitu media yang
dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak, seperti flim, video
cassete, dan VCD.
Adapun menurut Jerold Kemp dan Diane K. Dayton dalam pribaddi, (2004:
1-5), mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut:
a. Media cetak
b. Media yang dipamerkan
- 127 -
c. Overhead Transparancy
d. Rekaman suara
e. Slide suara dan film strip
f. Presntasi multi gambar
g. Video film
h. Pembelajaran berbasis computer.
Hunkins dalam Marsh(1987:263) membagi media pmbelajaran dalam dua
bentuk yakni: 1)materil- materil yang dicetak seperti buku teks, gambar, dan komik,
2) materil-materil yang tidak dicetak seperti televisi,flim,video, kaset dan
komputer.
Dari beberapa pendapat para ahli yang telah dikemukakan di atas , maka
secara umum dapat dikelompokkan media empat jenis, yaitu:
1. Media audio, yang mengandalkan kemampuan suara seperti radio, kaset, dan
sebagainya
2. Media visual yaitu media yang menampilkan gambar diam seperti, foto,
lukisan, dan sebagainya.
3. Media audiovideo yaitu mdeia yang menampilkan suara dan gambar seperti
flim, video, dan sebagainya
4. Media bebasis komputer yaitu media pembelajaran berbasis komputer.
Adapun klasifikasi dan jenis media seperti yang telah dikemukakn di atas
apabila ditampilkan dalam table sebagai berikut:
Tabel 4.
Klasifikasi Media Pembelajaran
Klasifikasi Jenis Media
Media yang tdiak diproyeksikan
Media yang diproyeksikan Realita, model, bahan grafis, display
Media Audio OHT, Slide, Opaque
Audio Cassette, Audio Vission, Active
Media Video Audio Vission
Media Video
Berbasis Komputer Computer Assited Instructional
Multimedia KIT (Pembelajaran berbaasis computer)
Perangkat Praktikum
- 128 -
D. TUJUAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang
baru, membangkitkan motivasi dan rancangan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh psikologis pada siswa.
Levie dan Letz (1982) yang dikutip oleh Kustandi dan Sucipto (2011)
mengemukakan bahwa empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual
yaitu,:
1. Fungsi Atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentarsi kepada isi pembelajaran yang berkaitan dengan makna visual
yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2. Fungsi afektif, media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika
belajar teks yang bergambar.
3. Fungsi kognitif, media visual dapat terlihat dari temuan-temuan penelitian
yang mengungkapkan lambang visual atau gambar.
4. Fungsi kompensantori, media pembelajaran dapat memberikan konteks untuk
memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk
mengorganisasikan informasi dan mengingatnya kembali.
Berdasarkan uraian dari beberapa ahli, dapat disimpulkan tujuan
diiterapkannya dan manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam
proses belajar mengajar, adalah sebagai berikut:
1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi.
2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak
3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indra, ruang, dan waktu.
4. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa
tentang peristiwa dilingkungan mereka.
Setiap media pembelajaran tentu memiliki makna dan tujuan masing-
masing, makna setiap guru diharapkan menentukan pilihannya sesuaai dengan
kebutuhan pada suatu pertemuan. Harapan yang besar tentu saja agar media
menjadi alat bantu yang dapat mempercepat atau mempermudah pencapaian tujuan
pembelajaran.
- 129 -
Efetivitas pemanfaatan media pembelajaran, ada beberapa langkah yang
perlu diperhatikan, yaitu: 1) persiapan guru, persiapan kelas, 3) penyajiaan, dan 4)
langkah lanjutan atau aplikasi. Pemilihan media pembelajaran yang tepat dalam
pembelajaran ilmu social bukan saja terbatas dalam tujuan jangka pendek untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memperoleh hasil belajar yang
maksimal.
E. KEGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
Secara umum media mempunyai kegunaan yang cukup strategis dalam
pelaksanaan pembelajaran di kelas, yaitu:
1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalis
2. Mengatasi keterbatan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra.
3. Menimbulkan gairah belajar, interkasi langsung anatar murid dengan sumber
belajar.
4. Memungkinkan anak belajar mandiri dengan bakat dan kemampauan visual,
auditori, dan kinestetiknya.
5. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan
menimbulkan persepsi yang sama.
F. JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
1. Media Berbasis Visual
Visual pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa
dapat dikembangkan dalam bentuk seperti foto, gambar/ilustrasi, sketsa/gambar,
grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebihi unsur visual yang
harus dipertimbangkan sebagai betikut:
a. Kesederhanaan, yaitu mengacu pada jumlah elemen yang dapat memudahkan
siswa menagkap dan memahami pesan yang disajikan secara visual.
b. Keterpaduan, mengacu pada hubungan yang terdapat antara elemen visual
yang menyatu secara keseluruhan.
c. Penekanan, setiap konsep yang disajikan perlu adanaya penekanan terhadap
salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa.
d. Keseimbangan, bentuk atau pola baiknya dapat menempati ruang penayangan
sehingga memberikan persepsi keseimbangan.
- 130 -
e. Bentuk bentuk yang aneh atau asing bagi siswa dapat membangkitkan minat
dan perhatian siswa.
f. Garis, garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur, sehingga dapat
menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan khusus.
g. Tekstur, tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau
halus.
h. Warna, warna digunakan untuk memberikan kesan pemisahan atau penekanan
utnuk membangun keterpaduan.
2. Media Berbasis Audio Visual
Media audio visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah dan
terjangkau. Sekali kita membeli tape dan peralatan yang murah dan terjangkau,
maka hampir tidak perlu lagi biaya tambahan, karena tape dapat dihapus setelah
digunakan dan pesan baru dapat diterima kembali. Di samping menarik dan
memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak, materi audio dapat
digunakan untuk keperluan sebagai berikut:
a. Mengembangkan keterampilan mendengarkan dan mengevaluasi apa yang
telah didengar
b. Mengatur dan mempersiapkan diskusi dan debat dengan mengungkapkan
pendapat-pendapat para ahli yang berada jauh dari lokasi.
c. Menjadikan model yang akan ditiru oleh siswa.
d. Menyiapkan variasi yang menarik dan perubahan tingkat kecepatan belajar
mengenai suatu pokok bahasan atau suatu masalah.
3. Media Berbasis Komputer
Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan
produksi audiovisual. Pada tahun-tahun belakang komputer mendapat perhatian
besar karena kemampuannya yang dapat dalam bidang kegiatan
pembelajaran.Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan
menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan perkmebangan Teknoloi computer ini, maka metode pendidikan
juga berkembang, seehingga pengajaran berbantuan computer ini majju terus
kesempurnaannya, pewmbelajaran bebrbasis computer dapat dikategorikan
menjadi dua yaitu:
- 131 -
a. Komputer Based Training (CBT), merupakan prose pendidikan berbasis
computer, dengan memanfaatkan media CD ROM (Video klip, animasi, grafik,
suara multimedia, dan program aplikasi lainnya) dan disk Bsaed sebagai media
pendidikan.
b. Web Based Training (WBT), atau disebut juga dengan e-Learning,dalam
metode ini menggunakan computer sebagai sarana pendidikan, juga
memanfaatkan media internet, sehingga seseorang yang akan belajar bisa
mengakses materi pelajarannya dimanapun dan kapanpun selagi terhubung
dengan jaringan internet.
4. Media Berbasis Edutainment
Penggunaan media pembelajaran berbasis Edutainment dalam proses
pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan
rangasangan kegaitan belajar dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap
siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan
sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi
pelajaran. Komputer sebagai media pembelajaran pemanfaatan meliputi penyaji
infromasi, simulasi, latiham dan permaian belajar.
Edutaniment dirancang khusus untuk tujuan pendidikan yang penyajiannya
diramu dengan unsur-unsur hiburan sesuai dengan materinya. Gambar dan suara
yang mencakup didalamnya akan membuat siswa tidak bosan, sebaliknya untuk
mengetahui lebih jauh lagi. Dalam pengembangannya, media tersebut diharapkan
sesuai dengan karakteristik siswa seperti tingkat kepandaian, kematangan, serta
untuk mengauasai kompetensi dasar.
Media berbasis Edutainment yang dibuat diharapkan mampu meningkatkan
kemapuan belajarr siswa dan memcahkan masalah. Di daalm penggunaan media
ini, siswa dapat menemukan sendiri apa yang hendak dilakukan. Dengan demikian,
siswa akan belajar menganalisis, melihat permasalahan, menemukan alternative
dalam pemecahan masalah, sehingga akan membentuk kemampuan siswa untuk
memecahkan masalah akan meningkat.
5. Film Animasi
Film animasi merupakan film yang didefeisnisikan dalam bentuk gambar-
gamabr yang mengashilkan ilusi gerak ketika diproyeksikan. Kelebiihan dalam
- 132 -
menggunakan media pembelajaran Film animasi yaitu dapat menghilangkan
hambatan intelektual untuk belajar, dapat membantu mengatasi hambatan fisik
tertentu pada siswa, menghadirkan berbagai peristiwa dalam kontuinitas untuk
memberi pengalaman visual, memungkinkan siswa untuk menciptakan tindakan
nyata atau membayangkan suatu kejadian atau proses, mengimbangi perbedaan
latar belakang kelas siswa, dan berguna sebagai alat evaluasi pembelajaran materi
tertentu.
Penggunaan media animasi sebagai media relevan dengan model
pemprosesan informasi, yang menuruut Gane dalam Bahar (1996) terbagi atas
beberapa fase, yakni fase motivasi, pengenalan, perolehan, rentensi, pemanggilan,
transfer, pemberi respon, sampai ke reinforsemen. Film animasi memenuhi criteria
sebagai sebuah media yang dari awal dapat membantu memotivasi siswa untuk
belajar hingga sampai ke tahap reinforsemen, yakni terjadinya umpan balik yang
maksimal setelah siswa menonton film.
Hal ini diperkuat oleh perkataan Horrison & Hummell(2010:21-22),yang
menyatakan bahwa film animasi mampu memperkaya pengalaman dan kompetensi
siswa pada beragam ajar. Melalui beragam metode, guru dan siswa dapat
menggunakan animasi dari yang paling sederhana untuk mempersentasikan
sejumlah konsep. Animasi memiliki kelebihan yang bisa membantu membentuk
pemahaman siswa dari berbagai konsep yang abstrak.
Namun demikian, di samping memiliki kelebihan dari penggunaan flim
animasi ini, juga terdapat kelemahan dari pemanfaatan media film animasi,
misalnya memerlukan waktu yang lama dalam pembuatan sebuah fiim animasi dari
proses perancangan hingga selesai dibuat dan digunakan. Selain itu, pembuatan
film animasi membutuhkan penggunaan dana yang tidak sedikit, sehjngga
berdampak pemborosan biaya yang mengakibatkan munculnya sentimen negatif
dalam aplikasinya pada kegiatan pembelajaran. Juga, tidak menutup kemungkinan
kesalahan dalam merancang alur cerita untuk film animasi, sehingga
memungkinkan terjadinya miskonsepsi bagi siswa.
- 133 -
RANGKUMAN
Media adalah segala sesuatu yang membawa atau menyalurkan informasi
antara sumber dan penerima, seperti flim, televisi, radio, alat visual yang
diproyeksikan, barang cetakan, dan lain-lain sejenis itu .
Media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah
satu komponen dalam sistem pembelajaran. Tanpa media, komuniksi tidak akan
terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak bisa
berlangsung secara optimal.Sering kali ditemukan berbagai hambatan dalam proses
pembelajaran dikarenakan kurang tepatnya atau bahkan tidak digunakannya media
dalam pembelajaran.
Keberagaman jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran
menuntut seorang guru untuk bisa merencanakan pemilihn media yang tepat.
Pentingnya dari ketepatan pemilihan media dalam pembelajaran ini bagi
keberhasilan sebuah proses pembelajaran dapat memengaruhi keberhasilan proses
pembelajaran.
G. LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut:
1. Jelaskan pengertian media menurut 3 ahli dan buat kesimpulannya dengan
bahasa sendiri!
2. Jelaskan peran media dalam proses pembelajaran!
3. Coba anda jelaskan apa perbedaan media berbasis komputer dengan media
berbasis edutainment!
- 134 -
BAB VIII
EVALUASI DALAM PROSES BELAJAR IPS KELAS TINGGI
BERBSASIS BUDAYA LOKAL
A. PENGERTIAN EVALUASI
Evaluasi atau penilaian adalah suatu proses sistematik untuk mengetahui
tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu program. Jadi, pada dasarnya yang dinilai
adalah program, yaitu suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya, lengkap
dengan tujuan dari kegiatan tersebut. Aspek yang dinilai dari program itu ada dua
macam, yaitu tingkat keberhasilan dan tingkat efisiensi pelaksanaan program.
Pada program yang berkelanjutan dan berulang - ulang dalam
melaksanakannya, jelas sangat dibutuhkan adanya evaluasi sehingga dapat
diketahui efisien atau tidak program tersebut. Selain itu, adanya evaluasi dapat
diketahui apakah tujuan dapat tercapai atau tidak. Jika tujuan tercapai dengan
sebaik - baiknya sesuai program yang direncanakan maka dikatakan berhasil.
Setiap program mempunyai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu,
kegunaan utama dari evaluasi adalah untuk pengambilan keputusan dan
pertanggungjawaban terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.
Banyak sekali lembaga yang membutuhkan evaluasi. Mulai dari
departemen, kantor, sekolah, kelas, yayasan, dan lain- lain. Mereka semua
memerlukan informasi tentang tingkat keberhasilan dan tingkat efisiensi dalam
mencapai tujuan yang diharapkan.
Evaluasi suatu program dapat dilakukan oleh pihak yang merencanakan dan
melaksanakan, namun dapat pula diserahkan pihak lain yang dianggap ahli dan
tidak terlibat dalam pelaksanaan program
Dalam suatu proses belajar mengajar, yang melaksanakan evaluasi adalah
guru, yaitu orang yang merencakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Guru sebagai figur yang selalu berinteraksi dengan murid memerlukan evaluasi
formulir secara teratur agar dapat memperbaiki atau menyempurnakan proses
belajar mengajar yang dilaksanakan. Selain itu, gurulah yang paling menghayati
permasalahan yang dihadapi oleh murid - muridnya sehingga dapat mencari upaya
cara menanganinya.
- 135 -
Evaluasi atau penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah tindakan
yang telah dikerjakan cukup berhasil atau tidak Jadi, yang dinilai atau dievaluasi
adalah program, yaitu suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya, lengkap
dengan tujuan dan kegiatan tersebut.
Ada tiga istilah yang sering digunakan secara rancu, yaitu berikut ini.
1. Pengukuran
2. Penilaian atau evaluasi
3. Pengambilan keputusan,
Ketiga istilah tersebut mempunyai arti yang berbeda karena tingkat
penggunaannya yang berbeda.
Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi atau data
secara kuantitatif, sedangkan Penilaianadalah kegiatan untuk mengetahui apakah
suatu program telah berhasil dan efisien. Jadi untuk melakukan penilaian diperlukan
data yang baik mutunya dan salah satu sumber datanya adalah hasil pengukuran.
Pengambilan keputusan atau kebijaksanaan adalah tindakan yang diambil
oleh seseorang atau lembaga berdasarkan data atau informasi yang telah diperoleh,
atas dasar pengukuran dan penilaian.
Penilaian pembelajaran merupakan proses pengumpulan dan pengolahan
informasi pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dilakukan secara holistik
meliputi kompetensi sikap, dan keterampilan baik selama proses pembelajaran
berlangsung (penilaian proses) maupun setelah pembelajaran berakhir (penilaian
hasil).
Pelaksanaan penilaian kelas, terdapat berbagai istilah sebagai berikut:
1. Penilaian oleh pendidik
Merupakan bentuk penilaian terhadap hasil belajar peserta didik, selama
proses dan akhir pembelajaran yang meliputi, kompetensi sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis.
2. Penilaian Autentik
Merupakan bentuk penilaian yang menghendaki peserta didik menampilkan
sikap,menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari
pembelajaran dalam situasi yang sesungguhnya (dunia nyata).
- 136 -
3. Penilaian Diri
Merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara
reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah
ditetapkan.
4. Penilaian berbasis portofolio
Merupakan kegiatan yang dilaksanakan pesert didik termasuk penugasan
perorangan atau kelompok di dalam atau di luar kelas dalam kurun waktu tertentu.
5. Ulangan Harian
Merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi
peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi atau sub tema. Ulangan harian
terintegrsi dengan proes pembelajaran.
6. Ulangan tengah semester
Merupakan kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mengukur pencapaian
kompetensi peserta didik tengah semester
7. Ulangan akhir semester
Merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian
kompetensi peserta didk akhir semester.
B. KARAKTERISTIK PENILAIAN
Penilaian dalam kurikulum 2013 di SD memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Belajar Tuntas
Ketuntasan belajar merupakan tingkat minimal pencapaian kompetensi
skap, pengetahuan,dan keterampilan meliputi ketuntasan substansi dan ketuntasan
belajar dalam kurun waktu belajar. Pada kompetensi sikap pemberian umpan balik
dan pembinaan sikap dilakukan secara langsung ketika perilaku peserta didik tidak
mencapai kriteria baik peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar. Pada
kompetensi pengetahuan dan keterampilan dibri kesempatan remedial dan peserta
didik tidak diperkenankan melanjutkan pembelajaran kompetensi selanjutnya
sebelum kompetensi tersebut tuntas.
2. Autentik
Memandang penilaian dan pembelajaran sebagai 2 hal yang berkaitan.
Penilaian autentik harus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah.
- 137 -
Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kopetensi utuh merefleksi,
pengetahuan, keterampilan dan sikap). Penilaian autentik tidak hanya mengukur apa
yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang
dapat dilakukan oleh peserta didik.
3. Berkesinambungan
Penilaian berkesinambungan dimaksudkan sebagai penilaian yang
dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan selama proses pembelajaran
berlangsung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai
perkembangan hasil belajar peserta didik, memantau proses, kemajuan, dan
perbaikan hasil terus menerus dengan menggunakan bentuk penilaian.
4. Menggunakan bentuk penilaian yang bervariasi
Penilaian pada kompetensi sikap,pengetahuan,dan keterampilan berbagai
bentuk yang sesuai dengan dengn karakteristik kompetensi yang mau diukur atau
dinilai .Berbagai bentuk penilaian yang dapat digunakan antara lain: Tes tertulis,
Tes lisan, penilaian produk, penilaian portofplio, kinerja, proyek, dan pengamatan
atau observasi.
5. Berdasarkan Acuan Kriteria
Penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan mendapatkan
acuan kriteria. Kemampuan pesert didik tidak dibandingkan terhadap kelompoknya,
tetapi dibandingkan terhadap ketuntasan yang ditetapkan. Idealnya, kriteria
ketuntasan ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan
karakteristik kompetensi dasar yang akan dicapai, daya dukung (sarana dan guru)
dan peserta didik.
C. BENTUK PENILAIAN PEMBELAJARAN IPS SD
Penilaian pembelajaran IPS di SD dilakukan berbagai bentuk penilaian
untuk semua kopetensi dasar yang dikategorikan dalam 3 kompetensi, yaitu
pengetahuan, sikap dan keterampilan.
1. Penilaian Pengetahuan
Penilaian kompetensi Pengetahuan pada pembelajaran IPS di SD
dilakukan dengan menggunakan berbagai bentuk penilaian. Guru diharapkan
mampu mengidentifikasi setiap KD atau materi pembelajaran IPS untuk
- 138 -
selanjutnya memilih yang sesuai dengan karakteristk kompetetensi yang akan
dinilai. Bentuk penilaian yang digunakan yaitu:Tes tertulis, Tes uraian.
1. Syarat – syarat Tes Yang Baik
Tes yang baik mempunyai beberapa syarat - syarat penting sebagai berikut
ini.
a. Harus valid (sahih) atau hanya mengukur apa yang hendak diukur. Tes untuk
bidang studi IPS, setiap butir soalnya harus mengukur hanya pengetahuan IPS
saja. Namun, kadang - kadang tidak semua soal yang ada hanya mengukur
pengetahuan IPS. Ada beberapa soal yang sebetulnya mengukur pengetahuan
agama atau bahasa. Jika ada tes yang mengukur lebih dari satu aspek (misalnya,
IPS, agama dan bahasa) maka tes yang demikian disebut tes yang kurang valid
(kurang sahih).
b. Harus andal (reliable)
Keandalan, dalam hal ini meliputi kecermatan atau ketepatan (precision) dan
keajegan (consistency) dari hasil pengukuran yang dilakukan. Sebuah tes
dengan jumlah butir soal yang mempunyai tingkat kesukaran sedang tentu akan
memberi informasi yangteliti, dibandingkan tes yang soalnya sedikit dan
tingkat kesukarannnya rendah (musah) atau berat sukar (diluar target). Dengan
kata lain, soal - soal sebuah tes tidak boleh terlalu jauh diatas atau dibawah
kemampuan siswa dan tingkat kesukaran butir - butir soal sebaiknya homogen.
Tidak boleh terlalu mudah atau terlalu sukar.
2. Penilaian Sikap
Sikap merupakan kecenderungan untuk berbuat dan berprilaku kepada suatu
objek. Penilaian sikap dimaksudkan sebagai penilaian terhadap perilaku peserta
didik dalam proses pembelajaran. Penilaian kompetensi sikap dilakukan melalui
observasi, rubrik, wawancara, penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal
selama proses pembeljaran berlangsung, dan tidak hanya dalam kelas. Penilaian
kompetensi sikap menggunakan deskripsi yang menggambarkan perilaku peserta
didik . Penilaian kompetensi sikap meliputi kompetensi sikp spritual, dan
kompetensi sikap sosial.
- 139 -
3. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Penilaian kompetensi keterampilan dilakukan mengidentifikasi
karakteristik kompetensi yang ada untuk menentukan bentuk penilaian yang
sesuai.Tiadak semua kompetensi dasar dapat diukur dengan penilaian kerja, proyek
atau potofolio. Penentuan bentuk penilian didasarkan pada karakteristik kompetensi
keterampilan yang hendak diukur. Penilaian kompetensi keterampilan dimaksud
untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah dikuasai peserta didik dapat
digunakan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan
sesungguhnya (dunia nyata). Bentuk penilaian yang digunakan dalam kompetensi
keterampilan yaitu: a)penilaian kerja, b)penilaian proyek, c) penilaian portofolio.
RANGKUMAN
Penilaian pembelajaran IPS di SD merupakan proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar IPS peerta didik.
Penilaian dilakukan secara holistik meliputi kompetensi pengetahuan, sikap dan
keterampilan baik selama pembelajaran berlangsung (penilaian proses) maupun
setelah proses pembelajaran berakhir (penilaian hasil). Bentuk- bentuk penilain
pembelajarn IPS di SD yaitu: 1) penilaian pengetahuan meliputi Tes tertulis, Tes
lisan, penugasan, UTS, dan UAS, 2) penilaian sikap meliputi observasi guru,
penilaian diri, dan penilaian antar teman, 3) penilaian keterampilan meliputi
penilaian kinerja, penilaian proyek, dan penilaian portofolio.
D. LATIHAN
Untuk memperdalam pehaman Anda mengenai materi di atas, kerjakan
latihan berikut !
1. Coba Anda jelaskan penilaian autentik
2. Jelaskan karakteristik penilaian yang berkesinambungan
3. Coba Anda jelaskan bentuk-bentuk penilaian pembelajaran IPS di SD
4. Coba Anda jelaskan apa perbedaan penilaian proses dan penilaian hasil
- 140 -
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Azis, 2007, Metode dan Model-model Mengajar IPS. Alfabet: Bandung
Ahmad Susanto, 2014, Pengembangan Pembelajaran IPS di SD, Pranada : Ciputat.
Abidin, Zaenal ,1984, Seri Himpunan PelajaranMetodik Ilmu Pengetahuan Sosial,
Depdikbud Dirjen Dikdasmen : Jakarta.
Djahiri, dkk 1980 Somara , Strategi Belajar Mengajar IPS ,Proyek Pengembangan
Pendidikan Guru (P3G),Depdikbud :Jakarta.
Djahiri, dkk 1980, Pendekatan Broadfield Proyek Pengembangan Pendidikan
Guru(P3G), Depdikbud: Jakarta
Etin Solihatin, 2005, Cooperative Learning, Analisis Model Pembelajaran IPS,
Bumi Aksara: Jakarta.
Hamid ,hasan ,1986 , Buku Materi Pokok Evaluasi Hasil Pengajaran IPS dan
Pengajaran Remedial, Karonika : Jakarta UT
Istarani, 2012, Lima delapan (58) Model Pembelajaran Inovatif, Media Persada
CV Iscom ; Medan
Johni Dimyati, 2018, Pembelajaran Terpadu : Prenada Media Group: Jakarta.
Kurikulum, 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial
,Sekolah Dasar Dan Masdrasah Ibtidaiyah, Depdikbud, Jakarta, PT.
Penerbit Erlangga.
UUM Murfiah, 2016, Pembelajaran Terpadu; PT. Reftika Aditama; Bandung
Udin, S.Winata Putra, dkk ,2007, Pendidikan IPS di SD ,UT.
Sardjiyo, dkk, 2007, Pendidikan IPS di SD, UT.
Raka Joni, 1980. Strategi Belajar Suatu Tinjauan Pengantar, Proyek
Pengembangan Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta.
Rochiati ., 2006. Pengembangan Konsep Kesejahteraan Dalam Peningkatan
Pendidikan IPS Disekolah Dasar: Bandung
Sujana, 1991. Media Pembelajaran (Pembuatan dan Penggunaannya),
Rusdakarya: Bandung.
Setyosari dkk , 2005. Media Pembelajaran. Elang Mas : Malang.
Toha, Chalib. 1995. Teknik Evaluasi Pendidikan, Pustaka Pelajar: Jakarta.
- 141 -