elips MAJA i LAH s KITA E DISI 0 2 6 | T A H U N III | JU LI— A G U S T U S 2 0 2 3 Cerita Sampul Rektor ISI Padang Panjang Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum. Denni Meilizon Dian Sarmita Dody Widianto Emi Suy Fanny J. Poyk Hudan Nur Jenny Seputro Latif Nunung Noor El Niel Rezi Ilfi Rahmi Sulaiman Juned SAJAK-SAJAK HLM. 26-41 CAKAP LITERASI
Libur kenaikan kelas sudah usai. Tahun ajaran baru tiba. Anak-anak kembali sekolah. Di sekolah baru. Guru dan temanteman baru, meski beberapa teman di sekolah sebelumnya bertemu lagi di sekolah yang sama. Sekolah baru identik dengan segala yang baru. Mulai dari pakaian baru hingga buku baru. Namun, buku paling dominan adalah buku tulis, lengkap dengan alat tulis-menulis, juga tas dan sepatu baru. Buku bacaan nyaris tidak ada keharusan membeli. Karena barangkali belum berguna, atau di perpustakaan sekolah sudah ada. Nanti kalau sudah masuk sekolah, guru menyuruh siswa membaca buku. Menulis dan membaca dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Membaca (iqra') juga perintah Tuhan dalam AlQur'an. Namun, kenyataannya, membaca sering dinomorsekiankan. Di sekolah, buku bacaan literasi masih minim. Datanglah ke perpustakaan sekolah, masih didominasi buku pelajaran. Buku di luar pelajaran, sedikit sekolah yang mampu memenuhinya. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sedang/sudah dimulai. Program ini penting, agar siswa kenal lingkungan sekolahnya, gurunya, temannya, dan seluruh warga sekolah. Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah sayang, belajar akan nyaman, tempat bermainnya mau di sekolah saja. Beruntunglah sekolah yang menguatkan MPLS dengan program-program literasi. Karena literasi sekolah bukan sekadar slogan, harus benar-benar dipraktikkan, agar warga sekolah literat, terutama anak didik. Leader-nya adalah guru. Guru harus lebih dulu literat. Guru adalah teladan. Selalu digugu. Majalah digital elipsis hadir kembali. Kali ini edisi 026, di tahun ketiga. Banyak tulisan menarik untuk Anda, pembaca tercinta. Jangan lupa bagikan majalah ini kepada siapa saja, agar banyak yang membaca. Yang suka membaca, susah tentu literat. Salam literasi dari tim redaksi majalah digital elipsis. REDAKSI TAHUN AJARAN BARU Salam Redaksi Redaksi menerima tulisan berupa esai, cerpen, puisi, resensi buku, reportase kegiatan seni, sastra, wisata, dan lain-lain. Naskah dikirim ke surel: [email protected]. ISSN 2797-2135 elipsis Media Komunitas Diterbitkan oleh Kelas Menulis Daring (KMD) elipsis bekerja sama dengan Penerbit Egypt van Andalas Padang Panjang, Sumatra Barat Redaksi: Jl. Soekarno-Hatta, No. 02 Kota Padang Panjang Sumatera Barat Penasihat Redaksi Sulaiman Juned Riri Satria Bachtiar Adnan Kusuma Dasman Djamaluddin Pemimpin Umum Muhammad Subhan Pemimpin Redaksi Ayu K. Ardi Sekretaris Redaksi Tiara Nursyita Syariza Bendahara Redaksi Asna Rofiqoh Redaktur Bahasa Anita Aisyah Dian Sarmita Redaktur Rilen Dicki Agustin Dona Susanti Fataty Maulidiyah Husnul Khatimah Maghdalena Nurhayati Neneng J.K. Sholikin Zainal Arif Tata Letak Muhammad Ilham
6 SOROTAN Menggugu Literasi Hatta 13 SOROTAN SMAFEST, Barometer Festival Film Intern Nusantara 17 SOROTAN Cakap Literasi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 22 SOROTAN Meningkatkan Minat Baca Siswa dengan Mengidentifikasi Kemampuan Dasar Membaca 28 SAMPUL Rektor ISI Padang Panjang, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., Percepatan Guru Besar, Sukseskan Tata Kelola BLU, dan Prioritaskan Pembangunan Kampus II ISI di Tarok City Daftar Isi Juli—Agustus 2023 elipsis edisi 026 Foto Sampul: Rektor ISI Padang Panjang Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum. Foto: Dok. Humas ISI Padang Panjang elipsis | Edisi 025 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 3 Kontributor Lukisan: Rezi Ilfi Rahmi Liana Nadhiva Fadillah Putri Audy Berlian Queenaya Salsabila Azzahra Siregar
34 GELANGGANG Cinta yang Telah Terkikis 38 GELANGGANG Sesosok Mayat dan Tiga Ledakan di Kepalanya 43 GELANGGANG Hashirama 47 SAJAK 67 APRESIASI 70 OPINI Konten Psikologi Positif dalam Layanan BK 74 OPINI Moderasi Beragama sebagai Upaya Menjaga Kerukunan Masyarakat Multikultural 77 KOLOM In Memoriam Mursal Esten, Seorang Ayah, Guru, dan Teman Diskusi yang Baik 82 OASE Menundukkan Pandangan 84 SUDUT PANDANG Menyigi Rekomendasi Tujuh Paguyuban Perpustakaan dalam RDPU Komisi X DPR RI 90 TEMPAYAN Jam untuk Farel 97 OTA LEPAU Syukur Daftar Isi Juli-Agustus 2023 elipsis edisi 026 elipsis | Edisi 025 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 3
Lukisan Karya: Liana Rumah Kreativ Merangin, Jambi
Oleh DIAN SARMITA Guru SMAN 1 Solok Selatan, dosen di STKIP Widyaswara Indonesia, dan Tim Redaksi Majalah Digital elipsis. Lahir di Solok Selatan, 15 Januari 1988. Tulisannya terbit di majalah dan koran, serta telah memiliki lebih dari 15 buku antologi, 2 di antaranya antologi yang diterbitkan Perpusnas Press. Berdomisili di Kabupaten Solok Selatan. Begitu banyak keteladanan yang bisa kita temukan dari sosok sang kutu buku itu. Bung Hatta patut dijadikan motivator. Bung Hatta adalah pemikir andal yang berakar dari literasi. Menggugu Literasi Hatta aban dalam bukunya menuliskan, seorang penyair dari Padang pernah berkata kepada kanak-kanak yang datang kepadanya untuk belajar menulis puisi, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca." Tidak ada yang tidak mengenal Bung Hatta, tokoh yang berasal dari Bukittinggi itu. Beliau bukan hanya dikenal sebagai wakil presiden pertama Indonesia , tetapi juga merupakan seorang tokoh koperasi dan literasi. Hal ini dibuktikan dengan meskipun Bung Hatta 42 tahun kepergiannya, namun sampai FOTO: MUHAMMAD SUBHAN G S O R O T A N elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 6 LUKISAN Bung Hatta di museum rumah kelahiran Bung Hatta di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. GENERASI Z
detik ini Bung Hatta tetap hidup dengan literasinya, di Perpustakaan Proklamator Bukittinggi. Tentu saja Bung Hatta layak dikatakan tokoh yang berhasil menembus ruang dan waktu. Hatta menjadi kebanggaan Minangkabau, terutama Bukittinggi. Bung Hatta menjadi kebanggan kita karena karakter dan kebiasaannya yang luar biasa, dan jauh dari generasi muda saat ini. Merekam jejak sang Proklamator, begitu banyak keteladanan yang bisa kita temukan dari sosok sang kutu buku itu. Bung Hatta patut dijadikan motivator. Bung Hatta adalah pemikir andal yang berakar dari literasi. Hal ini dibuktikan dengan ketekunan Hatta dalam membaca dan menulis. Hatta terbukti seorang tokoh literasi yang hidupnya tidak terlepas dari buku, yang hobi membaca dan menulisnya patut ditiru, meskipun beliau dikenal dengan sosok yang sangat serius. Watak serius Hatta terlihat dari tindakannya semasa beliau hidup. Dari usia remaja, keseriusan Hatta terlihat dengan jelas. Hatta bukanlah tipe yang suka mencari kesenangan diri. Bahkan ia dikenal jarang sekali tersenyum yang menjadiakan Hatta merupakan sosok yang unik. Hatta memiliki prinsip yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Bahkan, beliau tak segan untuk mengundurkan diri menjadi wakil presiden RI saat masa jabatannya masih berlangsung. Hatta dengan optimistik mengambil keputusan itu dan melanjutkan menjadi seorang ilmuwan dengan melakukan temuan-temuan baru di berbagai bidang. Selanjutnya, Hatta juga mengabadikan diri menjadi dosen di beberapa universitas dan menjalankan rutinitasnya sebagai penulis. Apakah saat ini jiwa Hatta masih ada pada generasi Z? Sungguh miris jika kita membicarakan literasi. Apalagi membandingkannya dengan sang Proklamator. Generasi Z yang saat ini mungkin tidak seberapa mencintai buku, dan sangat enggan dalam menulis. Keberhasilan Hatta menjadi contoh yang harusnya patut ditiru. Jika satu orang Hatta saja bisa membuat perubahan yang luar biasa, bagaimana jika ada Hatta-Hatta lainnya? Generasi saat ini adalah generasi yang sangat dimudahkan oleh dunia digital. Bahkan sangat efektif dan efisien untuk memperlajari segala sesuatunya. Kita tidak perlu lagi kesulitan untuk menemukan buku-buku yang dibutuhkan. Bahkan kecanggihan teknologi membuat kita cukup menggunakan telepon elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 7 S O R O T A N
genggam saja untuk mengakses berbagai referensi. Hanya saja, kecintaan terhadap literasi yang saat ini masih sangat minim. Minimnya literasi membuat beberapa kalangan, seperti pemerintah dan berbagai komunitas terlihat berupaya mengembangkan literasi. Hal ini dibuktikan dengan literasi saat sekarang sudah mulai digalakkan, meskipun belum semuanya dapat terpengaruh dan merasakan dahsyatnya literasi tersebut. Berbagai perlombaan pun diadakan oleh berbagai instansi untuk meningkatkan minat dari berbagai kalangan dengan hadiah yang sangat menakjubkan. Sayangnya, tidak banyak yang mengikuti, terutama para pelajar, seperti sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA. Membaca adalah akar dari literasi. Sejalan dengan bagusnya kemampuan membaca seseorang akan memengaruhi keterampilan menulisnya. Jadi, sangatlah penting untuk saat ini meningkatkan minat untuk membaca. Minat baca ini seharusnya bisa ditumbuhkan sejak usia dini. Hal ini sama persis dengan yang dahulu pernah dilakukan Bung Hatta terhadap anak-anaknya. Hatta mengajarkan anakanaknya mencintai buku semenjak usia kanak-kanak. Hal ini dibuktikan dari kecenderungan Hatta yang selalu mengenalkan buku kepada putri-putrinya. Hatta sangatlah berbeda dengan orang tua lain, yang jika menyenangkan atau membawa anak untuk bertamasya ke tempattempat permainan. Hatta selalu membawa putriputrinya ke toko buku. Sehingga, ketiga putri Hatta pun mewarisi tabiat ayahnya tersebut, mencintai buku sejak kecil. Literasi adalah akar dari kesuksesan Hatta dan tidak menutup kemungkinan untuk siapa pun. Ketiga putri Hatta pun membuktikan kebiasaan ayahnya itu patut untuk ditiru. Kecintaan Hatta terhadap buku karena keinginan Hatta untuk selalu mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang luas. Pun ia dapat dikenal sampai saat ini dari tulisan-tulisannya. Hatta mengubah pandangan dunia kepada Indonesia melalui tulisannya. Meutia Farida Hatta menyebutkan bahwa jika buku karyanya ditumpuk maka tingginya akan melebihi tingginya. Bung Hatta memiliki kebiasaan yang tak kalah hebatnya, yaitu hobi mengoleksi buku yang jumlahnya melebihi 12.000 buku, baik buku modern, klasik, dan sebagainya. Seseorang yang ingin mengenal Hatta secara elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 8 S O R O T A N
mendalam akan menemukan kunci dari kesuksesan sang Proklamator tersebut. Sudah sepatutnya kita mencontoh kebiasaan Hatta untuk menyelamatkan generasi yang makin hari makin tidak terarah. Literasi diketahui banyak orang manfaatnya yang bahkan sudah dibuktikan oleh tokoh besar Ranah Minang tersebut. Meskipun literasi makin terasa kehadirannya, namun belum menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Tentu masih menjadi tantangan untuk semua pihak yang peduli menemukan cara yang lebih menarik agar dapat dirasakan dampaknya oleh berbagai kalangan, terutama pelajar. Menarik pelajar untuk mencintai buku tentulah bukan hal yang sangat mudah. Meskipun demikian, tetap perlu untuk berbagai pihak memberikan perhatian lebih, sehingga para pelajar bisa merasakan dampak dari literasi tersebut, sehingga literasi tidak perlu lagi dipaksakan, namun bisa menjadi sebuah tradisi atau kebutuhan yang datang dari diri pelajar itu sendiri. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan berbagai event yang nantinya menarik siswa untuk mengenal literasi secara mendalam. Selain itu, juga dengan membuat perpustakaan menjadi tempat nyaman yang dirasakan oleh pelajar. Di sini tentunya peran pustakawan sangat diharapkan. Pustakawan akan memberikan promosipromosi agar menarik untuk siswa. Di berbagai sekolah masih sering terjadi ada siswa yang bahkan tidak pernah mengunjungi perpustakaan. Hal ini membuat para pelajar perlu untuk diarahkan. Mungkin juga dengan sedikit pemaksaan terlebih dahulu, seperti ada target melaporkan bacaan setiap tingkatnya. Pelajar yang awalnya mungkin terpaksa, nantinya akan merasakan sendiri kenyamanan dan mutiara apa yang ia temukan pada saat membaca tersebut. Generasi Z adalah generasi yang dibanggakan oleh sang Proklamator. Bahkan, Bung Hatta sangat dirasakan keberadaannya sampai saat sekarang ini. kunci-kunci keberhasilan Hatta sampai saat ini menjadi peninggalan yang tidak diragukan lagi. Hatta sudah memperlihatkan literasi adalah hobi yang merupakan akar dari kecemerlangannya. Sudah sepatutnya kita menggugu literasinya sang Proklamator. Tidak hanya untuk pelajar, tetapi juga dari berbagai kalangan, guru, dosen, tenaga kesehatan, dan lainnya. Membaca adalah memperbaharui pengetahuan, menambah wawasan, dan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 9 S O R O T A N
membuka jendela dunia. Dengan membaca kita dapat mengelilingi dunia. Oleh sebab itu, budayakan membaca sejak usia dini karena membaca akan membuat seseorang bisa membajadi baik dalam keterampilan menulisnya. Keterampilan menulis ini akan membuat seseorang mudah dalam menyelesaikan studi bahkan dapat mandiri secara ekonomi. Seperti penulis yang namanya sedang di atas saat sekarang ini, yang juga berasal dari Minangkabau. Penulis itu namanya melambung dengan novel yang berjudul Negeri 5 Menara itu sudah berhasil menembus ruang dan waktu. Karya-karyanya sudah meroket dengan berbagai jenis tulisan, di antaranya karya yang dihasilkannya, yaitu fiksi, nonfiksi, dan buku anak. Ahmad Fuadi bukanlah orang kaya raya dulunya. Bahkan ia sempat harus putus kuliah karena keterbatasan dana dan menekuni dunia tulis-menulis mulai dari penulis koran biasa, tetapi sekarang Ahmad Fuadi menjadi penulis populer yang bahkan di tahun 2022 salah satu dari novelnya kembali dibuatkan film layar lebar, yaitu Ranah 3 Warna. Ahmad Fuadi tentu sudah memperlihatkan dengan jelas bahwa ia telah mengikuti jejak sang Proklamator yang sukses menjadi orang besar dengan literasi. Ada beberapa kebiasaan Hatta yang bisa kita catat untuk kita praktikkan juga. Pertama, jadikan buku sebagai barang mewah dan penting. Kedua, membacalah setiap ada waktu luang, setiap hari. Ketiga, jadikan buku sebagai barang bawaan yang wajib untuk dibawa ke mana pun kita pergi. Keempat, yakin membaca adalah kunci emas untuk menaklukkan dunia. Kelima, menulis. Lima hal yang dipaparkan di atas merupakan kebiasaan Hatta yang bisa kita jadikan pedoman di bidang literasi. Literasi akan membuatmu mudah dalam berbagai urusan. Literasi merupakan kunci dari sebuah keberhasilan. Jangan menunda literasimu, karena ketika kamu tidak sukses nanti, maka Hatta menjadi saksi bahwa beliau sudah meninggalkan nilai-nilai baik, tetapi tidak juga diindahkan oleh generasi yang ditinggalkannya itu. Mari kita hidup di dalam jiwa sang Proklamator, dengan membaca kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga bangsa, dan dunia. Selamatkan literasimu, buktikan kepada sang Proklamator bahwa jerih payahnya pada zaman dulu itu menjadi penerang untuk generasi saat ini. Budayakan literasi mulai elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 10 S O R O T A N
saat sekarang. Rangkul rekan, teman, adik, keluarga dan lainnya agar mencintai buku. Mencintai buku, seperti kita mencintai ibu. Mencintai buku, seperti mencintai anak sendiri. Bukuku, jiwaku yang akan mengantarkanku untuk sebuah kesuksesan besar. (*) Referensi: Alfarizi, Salman. 2020. Mohammad Hatta (Biografi Singkat 1902-1980). Yogyakarta: Garasi. Gaban, Farid, dkk. 2022. Hatta Jejak yang Melampaui Zaman. Bogor. PT Grafika Mardi Yuana. Hatta, Meutia Farida, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. 2016. Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya. Bogor: Grafika Mardi Yuana. Hatta, Mohammad. 2018. Demokrasi Kita: Pikiranpikiran Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Bandung: Sega Arsy. Kahar, Joko S., dan Adib Susila. 2012. Pokok-pokok Pemikiran Bung Hatta. Jakarta: Suka Buka. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 11 S O R O T A N
K A N V A S elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 12 Lukisan Karya: Nadhiva Fadillah Putri | Judul: Untitled | Ukuran: 40 x 50 cm | Media: Acrylic on Kanvas | Tahun: 2023 Lukisan Karya: Rezi Ilfi Rahmi | Judul: Pergerakan Merdeka | Media: Akrilik pada Kanvas | Ukuran: 100 x 200 cm | Tahun 2022 Lukisan Karya: Rezi Ilfi Rahmi Judul: Tangga Bahagia Media: Akrilik pada Kanvas Ukuran: 80 x 120 cm Tahun 2022
Oleh HUDAN NUR Penulis Dewan Juri SMAFEST Banjarbaru 2023 Bagaimana atmosfer sebuah ekosistem, subsektor ekonomi kreatif dari industri perfilman di kalangan muda hari ini bergegas mengikuti arus zaman yang intimidasi teknologi? Semua akses serba gawai, serba tinggal pencet lewat saluran internet. SMAFEST,Barometer Festival Film Intern Nusantara ebih dari 70% di atas generasi milenial memilih media sosial yang berbasis audiovisual sebagai menu pilihan bersosial. Terlebih mereka yang berstatus pelajar saat tsunami covid-19 menyerang dunia. Olehnya, mendekatkan generasi Z dengan literasi digital tak cukup dengan mem-pdf-kan teks-teks cetak saja, ada media pembelajaran lain yang hari ini kontekstual dan kerap DOK. PANITIA SMAFEST L S O R O T A N elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 13 PEMENANG SMAFEST 2023 berfoto bersama dewan juri dan panitia. Festival film pelajar Banjarbaru ini diminati pelajar dan diapresiasi masyarakat film di kota yang sedang bertumbuh itu. DOK. PANITIA SMAFEST
S O R O T A N berterima–disukai semua kalangan, yaitu audio-visual. Saluran-saluran medsos mutakhir juga dibanjiri postingan bergambar dan gambar–bersuara. Medsos semakin dewasa, semakin menunjukkan usia dan kualitas kesukaan penggunanya. Postingan yang isinya teks menunjukkan kecakapan dan kematangan usia dari kalangan X (baby boomer) dan Y (millennial). Ujung-ujungnya bak cendawan, story di medsos banyak memunculkan cerita audio-visual bak potongan drama manusia dalam mengarungi rutinitas hidup tak berkesudahan. Rasanya, tanpa unggah–posting sejenggal apa yang dilewati satu hari belum lengkap menjalani tarikan napas, titimangsa kegiatan harian. Berangkat dari pesiar informasi yang tak penyap, dunia seperti menggelinding di putaran pelajaran yang didapat lewat tontonan. Dan tak ayal, film memberikan jawaban atas dahaga keingintahuan manusia sekaligus representasi hiburan yang paling digandrungi kawula muda. Sekadar menyebut, bioskop-bioskop, saluran film mana suka, dan banyak lagi digandrungi penonton generasi Z. Artinya menyusupi perihal pengetahuan yang paling instan dan klop, yaitu lewat film. Bayangkan kalau semua pelajaran dijadikan film, betapa menyenangkannya? Lempar Bola Film Pelajar Jamak kita mafhumi, perfilman semakin berkecambah dan terus berkembang. Dibuktikan dengan banyaknya komunitas maupun sekolah-sekolah yang aktif dalam dunia perfilman. Sebagian membuat film berdurasi panjang dan sisanya film berdurasi pendek. Namun, pelajar biasanya lebih memilih membuat film berdurasi pendek karena alasan low budget. Namun, tetap saja, film-film pendek ini pun tidak kalah populer dengan film berdurasi lama. Premis inilah yang melatari Rory Aksara, guru Bahasa Indonesia yang dalam subbab bahasa Indonesia SMA ada pelajaran drama. Sejak tahun lalu, Rory yang juga seorang penulis sudah melihat potensi siswa dalam penggarapan film. Saat itu ada 27 film dan setelah kurasi hanya 10 film yang dinilai layak go public. Kemudian awal 2023 yang lalu, Rory melihat potensi yang bergegas membuat sebuah treatment bagaimana caranya di akhir semester harus jadi banyak film dan seperti dijamah malaikat, Rory menginisiasi festival film pelajar intern di sekolahnya. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 14 DOK. PANITIA SMAFEST
S O R O T A N SMAFEST Pertama di Kalimantan Walhasil, berbulan-bulan berjalan, selesailah 24 film. Jadi, total film yang dimiliki SMANSA 2 tahun ini 52 film. Fantastis, festival itu ditasmiyahi SMANSA Movie Award Festival (SMAFEST) 2023 yang digelar selama sepekan (1-8 Juli 2023) di Bioskop Misbar Banjarbaru pada pukul 20.00-21.00 setiap malamnya. Bioskop Misbar menjadi media distribusi perfilman dinamis di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan yang dikelola oleh Akademi Bangku Panjang Mingguraya dengan sistem tiketing. SMAFEST perdana sukses dilaksanakan dengan swadaya murni lewat penjualan tiket. SMAFEST pun menjadi festival film intern sekolah satu-satunya di Kalimantan yang menjadi tonggak historis perfilman sekolah sekaligus role model sekolah lain untuk unjuk karya lewat sinema. 24 film tersebut yaitu Bersyukur (Indigenous Production), Pananggal (Ivaliost), Infinite (Geost), Parastra (K2 Entertainment), Dendam (Airevenge), Tamak (Anargya), Pilihan Panggeh (Amazure Production), Inaudible; Tak Terdengar (Akoustos), Hampa (DNA Production), Kelakar (Son Production), dan Memori (Fincoropus Production). Kemudian, Renung (Gorgenais), Mimpi (Chaca Pictures), Belenggu Bhama (Amazure Production), Pamit (Worlkes), 3 (Tiga Pictures), Kenopsia (IV Production), Pali (Trinity Production), Pantangan (FD Pictures), Gamers (Catalist), 13 (Geost), Akum; Sebuah Rasa yang Terpendam (Amazure Production), Semu (Nawasena Production), dan Mengagumi (Cygrion). Dari semua film mengambil tema lokalitas dan giat keseharian yang tampaknya diabaikan. Di sinilah sisi muatan literasinya. Rata-rata film pendek yang dibuat berdurasi 8 menit sampai dengan 22 menit dengan genre yang berbedabeda. Dan hasilnya sungguh di luar dugaan, film-film yang mereka buat sangat layak untuk ditonton masyarakat. Dewan juri SMAFEST; Hudan Nur, Kin Muhammad, dan Yulian Manan bersepakat memilih dan menetapkan nomine dan pemenang masing-masing kategori dengan impian bergelantungan; berharap sekolah lain lewat swadaya dan keinginan kuat bisa elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 15 DOK. PANITIA SMAFEST
mengikuti jejak yang rupawan ini. Nomine Aktor: 1. M. Nur Irfansyah (Pilihan Panggeh) 2. Daffa Rizqianarta Wibowo (Bersyukur) 3. Fauzan Alie Ghifari (Tamak) 4. Bagas Yafiizahur Sutanto (Semu) 5. Adyatama Putra Fausta H.S (Mimpi) Aktor Terbaik: M. Nur Irfansyah (Pilihan Panggeh) Nomine Aktris: 1. Siti Aizzani sebagai Utsa (Hampa) 2. Salsabila sebagai Kayla (Inaudible) 3. Diva (Mengagumi) 4. Shifa Medina (Pananggal) 5. Riri (Infinite) 6. Harus sebagai Alin (Memori) Aktris Terbaik: Salsabila/Kayla (Inaudible) Pemeran Pendukung Terbaik: Rizka (Pananggal) Nominee Film: 1. Mengagumi 2. Belenggu Bhama 3. Kelakar 4. Inaudible 5. Hampa 6. Pilihan Panggeh 7. Tamak 8. Pananggal 9. Infinite Terbaik 1: Pananggal Terbaik 2 Pilihan Panggeh Terbaik 3 Belenggu Bhama Film Terfavorit Tamak (*) PANITIA dan dewan juri SMAFEST Banjarbaru 2023. Festival film pelajar ini digagas Rory Aksara, penulis dan guru SMANSA Banjarbaru. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 16 DOK. PANITIA SMAFEST DOK. PANITIA SMAFEST
asa pengenalan lingkungan sekolah merupakan waktu yang tepat untuk mendorong literasi dan kemampuan berbicara (cakap) siswa. Melalui pendekatan literasi yang baik, siswa dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sekolah, memperluas kosakata, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Salah satu cara untuk mengembangkan literasi di masa pengenalan lingkungan sekolah adalah melalui kegiatan membaca. Membaca buku-buku cerita atau materi yang terkait dengan sekolah, seperti buku tentang persahabatan, Pengenalan lingkungan sekolah merupakan tahap awal yang penting dalam proses pendidikan anak-anak. Selama masa ini, siswa baru diperkenalkan dengan berbagai aspek sekolah, termasuk gedung, fasilitas, aturan, dan komunitas yang ada di dalamnya. Cakap Literasi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah FATATY MAULIDIYAH FOTO: DOK. SMKN 1 PADANG PANJANG PENULIS dan pegiat literasi Sumatra Barat Muhammad Subhan mendampingi siswa baru SMK Negeri 1 Padang Panjang dalam kegiatan literasi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah itu, Selasa, 11 Juli 2023 lalu. Tim Redaksi Majalah Digital elipsis (Mojokerto) M elipsis | Edisi 025 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 17
aturan sekolah, atau kegiatan ekstrakurikuler, dapat membantu siswa memahami lingkungan sekolah dengan lebih baik. Membaca juga dapat memperluas kosakata mereka, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan membangun pemahaman tentang dunia di sekitar mereka. Selain membaca, kegiatan menulis juga dapat menjadi bagian penting dari cakap literasi di masa pengenalan lingkungan sekolah. Siswa dapat diminta untuk menulis cerita pendek tentang pengalaman mereka dalam mengenal sekolah baru, atau membuat jurnal harian untuk merekam perasaan dan pengamatan mereka selama masa tersebut. Menulis secara teratur dapat membantu siswa mengungkapkan diri dengan lebih baik, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan mengasah kemampuan pemikiran kritis mereka. Membangun habituasi membaca dan menulis di sekolah dapat diawali pada masa pengenalan lingkungan sekolah, terutama pada siswa baru. Dampak yang didapat nantinya adalah sekolah dapat memulai usaha membangun lingkungan sekolah yang literat tidak hanya di kalangan siswa, tetapi juga guru sebagai sosok yang paling berperan dalam kegiatan literasi. Selain itu, penting bagi guru dan staf sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung literasi di masa pengenalan lingkungan sekolah. Mereka dapat melibatkan siswa dalam diskusi kelompok, membacakan cerita, atau mengadakan kegiatan menulis bersama. Guru juga dapat mengintegrasikan materi literasi ke dalam pelajaran sehari-hari, seperti memberikan tugas menulis esai tentang kegiatan di sekolah atau membaca buku teks yang terkait dengan pelajaran yang sedang dipelajari. Selain kegiatan membaca dan menulis, penting juga untuk mendorong siswa berbicara secara aktif dalam proses pengenalan lingkungan sekolah. Guru dan staf sekolah dapat mengatur diskusi kelompok kecil atau forum yang melibatkan siswa baru untuk berbagi pengalaman mereka, bertanya, atau berdebat tentang topik terkait sekolah. Hal ini akan membantu siswa membangun keterampilan berbicara mereka, memperluas wawasan mereka, dan memperkuat hubungan sosial dalam lingkungan sekolah. Jika upaya membangun kecakapan literasi ini selalu dilakukan dalam masa pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik, pada tahap berikutnya program-program literasi FOTO: DOK. MAN 2 MOJOKERTO MAN 2 Mojokerto, Jawa Timur, di antara madrasah yang aktif menggerakkan program-program literasi. S O R O T A N elipsis | Edisi 025 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 18
sebagai tindak lanjut akan semakin menguatkan juga mempercepat proses realisasi lingkungan pendidikan yang cakap literasi. Penguatan Enam Literasi Dasar Masa pengenalan lingkungan sekolah merupakan momen penting bagi peserta didik baru untuk mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah mereka. Selain orientasi akademik dan sosial, penting juga untuk memperkenalkan kepada mereka konsep literasi dasar yang akan membantu mereka menjadi pembelajar yang efektif dan berdaya saing di era digital ini. Setidaknya terdapat enam literasi dasar yang perlu dikenalkan kepada peserta didik baru, yaitu literasi membaca, literasi menulis, literasi numerasi, literasi digital, literasi visual, dan literasi informasi. 1. Literasi Membaca Literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami dan menafsirkan teks secara efektif. Peserta didik baru perlu diajak untuk menjelajahi berbagai jenis bacaan, seperti buku, artikel, dan cerita. Mereka harus belajar tentang teknik membaca yang baik, seperti pemahaman kalimat, mencari informasi utama, dan mengidentifikasi gagasan pokok. Selain itu, penting juga untuk membimbing mereka dalam memahami konteks bacaan, seperti menafsirkan kata kunci dan menyusun pemahaman mereka secara menyeluruh. 2. Literasi Menulis Literasi menulis melibatkan kemampuan anak untuk mengungkapkan ide dan gagasan secara efektif melalui tulisan. Peserta didik baru perlu belajar tentang struktur tulisan yang baik, seperti penggunaan kalimat yang jelas dan koheren, serta pengaturan paragraf yang tepat. Mereka juga harus diberi kesempatan untuk berlatih menulis dalam berbagai genre, seperti esai, cerita pendek, dan surat. Guru perlu memberikan umpan balik konstruktif untuk membantu mereka mengembangkan keterampilan menulis mereka. 3. Literasi Numerasi Literasi numerasi adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan menginterpretasikan angka dan informasi berbasis matematika. Peserta didik baru harus diajak untuk memahami konsep dasar matematika, seperti operasi hitung, pengukuran, dan pemecahan masalah matematika. Mereka juga perlu belajar tentang penggunaan angka dalam konteks sehari-hari, seperti membaca grafik dan diagram, mengelola uang, dan menginterpretasikan data statistik. 4. Literasi Digital Literasi digital melibatkan kemampuan untuk menggunakan teknologi digital dengan efektif dan bertanggung jawab. Peserta didik baru perlu diperkenalkan dengan konsep dasar teknologi, seperti penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak, serta navigasi online yang aman dan etis. Mereka harus diajarkan tentang keamanan digital, perlindungan privasi, dan pengelolaan informasi S O R O T A N elipsis | Edisi 025 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 19
secara online. Selain itu, peserta didik baru perlu dilatih dalam penggunaan alat-alat produktivitas digital, seperti pengolah kata, spreadsheet, dan presentasi. 5. Literasi Visual Literasi visual melibatkan kemampuan untuk memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan melalui gambar, grafik, dan representasi visual lainnya. Peserta didik baru perlu diperkenalkan dengan pemahaman dasar tentang elemen desain, seperti warna, garis, bentuk, dan tekstur. Mereka harus diajak untuk menganalisis gambar, memahami pesan yang ingin disampaikan, dan mengekspresikan pemahaman mereka melalui gambar atau karya visual lainnya. 6. Literasi Informasi Literasi informasi melibatkan kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Peserta didik baru perlu diberi pemahaman tentang sumber informasi yang dapat dipercaya dan kredibel. Mereka harus belajar bagaimana melakukan pencarian informasi yang efektif, mengevaluasi keandalan sumber, dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu pemahaman dan pemecahan masalah mereka. Dalam masa pengenalan lingkungan sekolah, penting bagi pihak sekolah untuk menyediakan kegiatan dan pembelajaran yang mendukung pengembangan keenam literasi dasar ini. Melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi, peserta didik baru akan dapat mengembangkan keterampilan dan pemahaman yang mendalam dalam literasi yang diperlukan untuk sukses di era informasi dan digital ini. Dengan memahami dan menguasai keenam literasi dasar ini, peserta didik baru akan memiliki landasan yang kuat untuk meraih prestasi akademik dan menghadapi tantangan di masa depan. (*) Asyiknya Jadi Siswa Baru ibur panjang sudah usai. Hayo, kalian sudah menyiapkan apa saja nih, untuk persiapan masuk sekolah dalam rangka menyambut tahun ajaran baru? Biasanya, di awal tahun ajaran baru setiap sekolah dari jenjang sekolah dasar sampai menengah atas akan mengadakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ada dua istilah yang digunakan untuk program sekolah ini, yaitu Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS dan Masa Ta'aruf Santri Madrasah atau biasa disebut MATSAMA. MPLS sendiri di tahun 2000-an bernama Masa Orientasi Sekolah atau MOS. Setelah itu istilah MOS dihapus dan berubah menjadi MPLS. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau MATSAMA, umumnya diselenggarakan selama tiga hari, tergantung kebijakan masing-masing sekolah. Melalui kegiatan MPLS atau MATSAMA ini para peserta didik baru akan dikenalkan dengan metode pembelajaran, ciri khas, karakter, dan budaya yang ada di lingkungan sekolah. Sehingga hasil dari kegiatan ini akan turut menentukan berhasil tidaknya seluruh pembelajaran di sekolah, pada masa yang akan datang. Seluruh rangkaian kegiatan ini harus dibuat semenarik mungkin, lebih bersifat edukatif, harus bisa menumbuhkan kreativitas terhadap peserta didik sehingga kegiatan ini bisa memberikan pengalaman yang menyenangkan, membahagiakan, dan tidak menegangkan buat mereka. Nah. Bagaimana? Tentu sangat menyenangkan bukan kegiatan yang akan kalian ikuti di awal masuk sekolah itu. Kalian akan mendapatkan banyak sekali pengalaman baru, di mana semua itu bisa menambah wawasan kalian tentang bagaimana cara beradaptasi dan menyikapi pelbagai problematika sekolah ke depannya. Mulai sekarang, persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Biasakan tidur cepat dan bangun subuh agar tidak terlambat saat hari MPLS tiba. (Asna Rofiqoh, Tim Redaksi Majalah Digital elipsis) L S O R O T A N elipsis | Edisi 025 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 20
Lukisan Karya: Audy Berlian Queenaya Rumah Kreativ Merangin
inat dalam KBBI adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Sedangkan minat baca adalah tingkat kesenangan yang kuat pada seseorang untuk membaca (Mansyur, 2018). Seseorang yang tidak ada minat baca tentu jauh dari membaca. Memaksakan seseorang membaca yang tidak diminatinya tentu informasi tidak dapat dipahami. Oleh karena itu, perlu identifikasi minat baca seseorang sehingga sajian bacaan dapat dibaca. Membaca bukanlah sekadar kemampuan mengenal kata dan kalimat, tetapi juga bagaimana memahami isi bacaan dan mampu menceritakan ulang kepada yang lain. Membaca pada hakikatnya adalah suatu aktivitas untuk menangkap informasi bacaan baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam bentuk pemahaman bacaan secara literal, inferensial, evaluatif, kreatif, dan apresiasi (Abbas, Meningkatkan Minat Baca Siswa dengan Mengidentifikasi Kemampuan Dasar Membaca Oleh LATIF, M.Pd. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 22 2006). Melalui membaca banyak manfaat dan tujuan yang kita dapatkan. Manfaat membaca terbagi tiga (Susanti, 2022), yaitu: (1) merangsang sel-sel otak, (2) menumbuhkan daya cipta, (3) meningkatkan pembendaharaan kata. Adapun tujuan membaca menurut Tarigan (2008) adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna arti erat sekali hubungannya dengan maksud tujuan atau insentif kita dalam membaca. Kemampuan Dasar Membaca Kemampuan membaca bukan bawaan dari lahir, tetapi suatu keterampilan yang mesti diasah. (Nurhadi, 2018). Kemampuan membaca setiap orang berbeda-beda. Semakin sering membaca, maka akan mengasah keterampilan dalam memahami isi bacaan. Hal dasar yang harus dimiliki pembaca dalam memahami M Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Islam Riau (UIR) Kota Pekanbaru. Saat ini sedang melanjutkan S-3 di Universitas Negeri Padang. Pembaca yang fasih memiliki pengetahuan yang baik tentang kosakata dan terampil mengidentifikasi kata secara tepat. Selain itu, pembaca yang fasih dapat membuat hubungan antara teks dan latar belakang pengetahuan mereka sendiri. S O R O T A N
isi bacaan yaitu kemampuan dasar membaca. Kemampuan dasar membaca yang tinggi menjadi syarat bagi setiap orang untuk menjadikan diri lebih baik lagi. Semua orang dituntut memilik daya baca yang tinggi, agar mampu memahami segala informasi yang tersaji. Kemampuan dasar membaca menurut Damaianti (2021) ada enam yaitu (1) kesiapan/kesadaran fonemik, (2) fonik dan decoding, (3) kosakata dan pengenalan kata, (4) kefasihan, (5) pemahaman, dan (6) pemikiran tingkat tinggi. Apabila pembaca memiliki kemampuan dasar membaca ini maka dikatakan pembaca yang terampil. Kesiapan/Kesadaran Fonemik Kesadaran fonemik memegang peranan yang begitu penting dalam membentuk dasar kemampuan membaca. Kesadaran fonemik adalah kemampuan untuk mendengar dan menjalin suara-suara dalam satu kesatuan kata dan makna. Pembaca belajar bahwa katakata terdiri atas fonemfonem yang tersusun menjadi satu kata yang dapat dibedakan dari kata lain. Misalnya, kata saku, paku, daku, laku, yang dari keempatnya hanya fonem awal yang berbeda tetapi pendengar memberi makna yang berbeda untuk katakata tersebut. Menurut National Reading Panel Report (NRP) US (2000), tingkat kesadaran fonemik yang dimiliki anakanak ketika pertama kali mulai membaca instruksi dan pengetahuan mereka tentang huruf adalah dua prediktor untuk belajar membaca yang baik. Pemahaman yang baik tentang konsep fonemik harus benar-benar dikuasai sebelum intruksi formal diberikan dalam membaca. Anak-anak membentuk konsep tentang literasi dengan mengamati orangorang dewasa di lingkungan mereka dan dengan berinteraksi dengan bahan bacaan pada upaya awal proses membaca dan menulis. Fonik dan Decoding Fonik adalah kemampuan mengidentifikasi hubungan suara (fonem) dari bahasa lisan dengan huruf (grafem) dari bahasa tertulis. Decoding adalah kemampuan menggunakan isyarat visual, sintaksis, atau semantik untuk membuat makna dari kata dan kalimat. Isyarat visual adalah bagaimana kata dan huruf terlihat, dan kaitan pengelompokkan huruf dan suara. Isyarat sintaksis adalah bagaimana kalimat elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 23 S O R O T A N
disusun dan bagaimana katakata disusun. Isyarat semantik adalah bagaimana kata itu cocok dengan konteks kalimat seperti dalam bagian pidato, asosiasi, dengan gambar, atau isyarat makna dalam kalimat (Tankersley, K, 2003). Setelah keterampilan fonik dikuasai, siswa akan dapat menguraikan kata-kata yang ditemui dalam membaca dan mengeja berbagai kata yang ingin mereka tulis. Ketika siswa kurang fokus pada decoding mereka dapat menghabiskan lebih banyak perhatiaan untuk membuat makna dari cetakan yang mereka baca. Penguasaan fonik harus sangat ditekankan di kelas awal untuk mengembangkan dasar keterampilan decoding yang lebih baik. Pembaca harus belajar menggunakan huruf fonem dan kombinasi suara untuk secara langsung memanipulasi kata dan kalimat. Kombinasi fonem tidak boleh disajikan secara terpisah tetapi harus langsung ditekankan pada bacaan anak. Kekayaan Kosakata Setiap kata memiliki makna dan pengucapan yang digunakan dalam komunikasi. Kosakata untuk membaca memiliki volume lebih tinggi, kosakata membaca bahkan bisa menjadi gudang pengenalan kata-kata terbesar. Ada dua cara untuk memperluas kumpulan kosakata, yaitu secara langsung melalui pengalaman sehari-hari atau kita dapat meminta seseorang secara langsung mengajarkan atau menjelaskan arti sebuah kata kepada kita. Makna kata juga dapat diajarkan secara eksplisit ketika kita diberi tahu arti kata baru, ketika kita mencari kata tersebut di sumber referensi, atau ketika kita menggunakan metode langsung lainnya untuk mengetahui lebih banyak tentang kata tertentu. Pengetahuan kosakata memiliki hubungan langsung dengan latar belakang pengetahuan dan pemahaman dan pemrosesan tingkat tinggi (Nagy, dkk., 2000). Mengembangkan dan memperluas tingkat kosakata siswa yang berbeda adalah proses kompleks yang membutuhkan banyak paparan kata-kata dan artinya. Mempelajari kosakata memiliki dampak yang kuat pada pemahaman siswa tentang apa yang mereka baca. Siswa harus diajari membaca, menulis, dan mengeja kata-kata berfrekuensi tinggi ini sesegera mungkin dalam proses belajar di sekolah. Untuk memaksimalkan pengembangan kosakata, guru memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk membaca dan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 24 S O R O T A N
mendengar berbagai macam kata di lingkungan mereka sehari-hari. Kefasihan Kefasihan adalah kemampuan membaca teks secara akurat, lancar, cepat, dan berekspresi. Seorang pembaca yang fasih akan dapat membaca dengan mudah, menggunakan ekspresi, dan dapat membaca serta mengenali kata-kata dengan cepat. Siswa yang lancar membaca dapat secara otomatis memahami bagaimana mengelompokkan kata dengan cepat untuk mendapatkan makna dari teks. Pembaca yang fasih menggunakan keterampilan decoding untuk membaca cepat sehingga mencapai pemahaman. Pembaca yang fasih memiliki pengetahuan yang baik tentang kosakata dan terampil mengidentifikasi kata secara tepat. Selain itu, pembaca yang fasih dapat membuat hubungan antara teks dan latar belakang pengetahuan mereka sendiri. Ada dua jenis kefasihan, yaitu kefasihan lisan dan kefasihan membaca dalam hati atau membaca senyap (Damaianti, 2021). Pembaca yang fasih dapat berkonsentrasi dalam menghasilkan makna dari apa yang mereka baca. Kefasihan membaca dapat berkembang bergantung pada pemahaman kosakata, latar belakang pengetahuan, keakraban dengan konten yang dibaca, tujuan membaca, dan jenis teks yang dibaca. Kefasihan seseorang dapat berubah seiring dengan tingkat kesulitan materi dan tingkat latar belakang pengetahuan semata pembaca. Individu yang memiliki pengetahuan luas tentang topik sebelum membaca dapat mengingat lebih banyak informasi penting dari sebuah teks daripada individu dengan tingkat pengetahuan awal lebih rendah dalam topik tersebut. Pemahaman Pemahaman adalah inti dari tujuan membaca. Pemahaman membaca tergantung pada tiga faktor. Faktor pertama adalah pembaca telah menguasai struktur linguistik teks. Faktor kedua adalah pembaca mampu melakukan kontrol metakognitif atas konten yang dibaca. Ini berarti pembaca mampu memantau dan merefleksikan tingkat pemahamannya sendiri saat membaca materi. Faktor ketiga yang paling memengaruhi pemahaman adalah bahwa pembaca memiliki latar belakang yang memadai dalam isi dan kosakata yang disajikan teks. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 25 S O R O T A N
Pembaca dengan pemahaman yang baik mampu menyaring informasi yang relevan dari yang tidak relevan. Pembaca yang efektif mampu mengidentifikasi teks yang tidak dipahami atau tidak masuk akal dan memperbaiki pemahaman yang salah. Agar seseorang dapat menjadi pembaca dengan pemahaman yang baik maka beberapa hal berikut perlu dipelajari. Pada saat pembaca berada di tingkat pembaca pemula dia dapat diingatkan untuk selalu “mendengarkan” kata-kata di pikiran mereka saat mereka membaca. Cara ini dapat mempertahankan pemahaman. Menurut Snow (2002) pemahaman membaca merupakan hasil gabungan dari tiga dimensi yang saling berpengaruh, yaitu (1) pembaca, (2) teks dengan aktivitas membaca, dan (3) tugas atau tujuan membaca. PISA mengadopsi pandangan yang sama tentang tiga dimensi literasi membaca (economiques, O. de cooperation et de development., 2019) yaitu (1) seorang pembaca, (2) aktivitas membaca merupakan aktivitas memfungsikan teks, (3) aktivitas pembaca juga merupakan fungsi dari dimensi tugas. Berpikir Tingkat Tinggi Pembaca yang berada pada tahap pemahaman bacaan yang mendalam dia harus melakukan proses pemahaman pada tingkat berpikir lebih tinggi. Jenjang berpikir ini meliputi analisis, sintesis, dan evaluasi (Roe, Smith, Kolodzie, 2018). Berpikir tingkat tinggi dalam membaca perlu kemampuan yang melampaui cara membaca dasar. Seseorang perlu melampaui pembaca dasar untuk melibatkannya dalam berpikir dan memproses teks pada tingkat tertinggi. Untuk bersiap menghadapi dunia masa depan yang berteknologi tinggi dan serbacepat, para pembaca dan siswa khususnya harus mampu memahami ide-ide sulit, menganalisis sumber untuk keandalan, dan memproses banyak sumber informasi. Siswa haru mampu menganalisis, menyintesis, menafsirkan, dan menerapkan informasi pada kegiatan bacanya. Berpikir keras sebagai suatu proses memahami teks adalah salah satu elemen paling penting untuk membangun keterampilan membaca yang kuat dan pemahaman tingkat yang lebih tinggi. Pembaca yang efektif memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang penting dalam teks. Pembaca yang memahami tujuan membaca mereka lebih mampu membedakan informasi yang relevan dari elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 26 S O R O T A N
informasi yang tidak relevan dalam teks. Pembaca yang efektif mampu mensintesis dan meringkas teks dipikiran merea saat mereka membaca. Pembaca yang mahir dapat mengajukan pertanyaan sebelum, selama, dan setelah membaca. (*) KMD elipsis Bertransformasi Menjadi Sekolah Menulis elipsis memanfaatkan grup WhatsApp. Kemudian, di tahun kedua, belajar mulai tatap muka memanfaatkan Zoom sehingga interaksi lebih mudah antara instruktur pendamping, narasumber tamu, dan peserta. Alumni-alumni KMD elipsis sebagian besar di antaranya telah menulis di berbagai media massa, menerbitkan buku, hingga menjadi instruktur literasi di kota masingmasing. "Saya ikut berbahagia atas capaian-capaian peserta dan alumni KMD elipsis tiga tahun terakhir," ujar Muhammad Subhan yang juga penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Setelah bertransformasi menjadi Sekolah Menulis elipsis, ungkap Muhammad Subhan, peserta yang mengikuti sekolah ini akan lebih selektif dan diperketat. Selain itu, peserta disuguhkan kurikulum baru dengan konsep berbeda dari kelaskelas sebelumnya. Targetnya setiap enam bulan atau setahun dua kali dari sekolah ini menghasilkan minimal dua judul buku, di samping kelas akan lebih interaktif. "Buku karya peserta dikurasi ketat dan setelah terbit akan diluncurkan sekaligus didiskusikan kembali," jelasnya. Salah seorang peserta dari Kota Malang, Riami, menyampaikan syukurnya dapat mengikuti materimateri di KMD elipsis. "Senang belajar di sini. Terima kasih semangatnya yang terus memancar untuk kami," kata Riami yang juga seorang penulis dan guru. Senada dengan Riami, peserta lainnya, Fadilla, dari Limapuluh Kota juga mengaku mendapat banyak manfaat setelah mengikuti KMD elipsis. "Terima kasih sudah memberikan wadah belajar untuk kami. Semoga setelah ini kami semakin produktif berkarya," katanya. Salah satu produk KMD elipsis adalah Majalah Digital elipsis yang telah memasuki edisi 026 di tahun ketiga. Majalah ini terbit bulanan dengan 100 halaman (pada edisi tertentu lebih 100 halaman—red.). Selain memuat karya peserta KMD elipsis, majalah ini juga menerima banyak naskah dari penulis-penulis di luar KMD elipsis. “Sejak pertama kali kehadiran majalah digital elipsis, sambutan publik luar biasa. Kami mengurasi banyak naskah yang berpeluang dimuat di majalah ini,” timpal Ayu K. Ardi, Pemimpin Redaksi Majalah Digital elipsis. Saat ini, ada 15 tim redaksi yang mengelola Majalah Digital elipsis. Di antara rubrik dikelola adalah Sorotan (liputan khusus), cerita pendek (Gelanggang dan Tempayan), Sajak dan Apresiasi (puisi), Opini, Reportase Seni/Budaya, Kolom, Cerita Anak, dan sebagainya. (aan/elipsis) emasuki tahun keempat pascapandemi, Kelas Menulis Daring (KMD) elipsis bertransformasi menjadi Sekolah Menulis elipsis. Meski menyematkan kata "sekolah" kelas ini tetap berbasis daring (online). Pendiri sekaligus founder KMD elipsis, Muhammad Subhan, mengumumkan brand baru kelas asuhannya itu melalui Zoom Meetings yang diikuti peserta KMD elipsis, Selasa (4/7/2023), malam. “Sepanjang tiga tahun terakhir, KMD elipsis telah menghadirkan lebih 100 narasumber tamu dengan 165 kelas," ujar Muhammad Subhan yang juga penulis novel Rumah di Tengah Sawah terbitan Balai Pustaka. Dia menyebutkan, para narasumber tamu yang diundang berasal dari berbagai latar belakang, seperti profesor sastra, doktor linguistik, jurnalis, editor penerbit, redaktur media massa, sastrawan, seniman, budayawan, praktisi literasi, dan lainnya. "Materinya beragam, mulai dari kiat menulis puisi, cerpen, novel, cerita anak, drama, hingga baca puisi," jelasnya. Dia juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber tamu yang telah berkenan hadir berbagi ilmu dan pengalaman di KMD elipsis. Dirunut ke belakang, ungkap Muhammad Subhan, di awal kelas ini dibuka peminatnya lebih seribu orang yang berdomisili di berbagai kota di Indonesia, Malaysia, bahkan Jerman. Sampai hari ini peserta KMD elipsis bertahan di angka 200- an peserta. Sebelum marak penggunaan teknologi Zoom, di tahun pertama materi dan diskusi hanya M S O R O T A N
Oleh SULAIMAN JUNED Dewan Redaksi Majalah Digital elipsis ISI Padang Panjang siap menjadi sentra utama pengembangan industri kreatif di Indonesia. Selain itu juga melakukan percepatan guru besar bagi doktor yang telah memungkinkan secara angka kredit, di samping merealisasikan tata kelola ISI sebagai kampus yang telah menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Percepatan Guru Besar, Sukseskan Tata KelolaBLU, danPriotaskan Pembangunan Kampus IIISI diTarokCity ektor ISI Padang Panjang periode 2022-2026 yang dilantik pada 21 Desember 2022, Febri Yulika, dilahirkan di Kota Padang, 2 Februari 1974. Dosen tetap pada Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padang Panjang ini memiliki empat orang putra-putri, yakni Maisarah Maulida Hasanah, Melisa Siti Fauziah, Mufidah Salma Putri, dan Muhammad Syamil Saputra dari hasil pernikahannya dengan Susi Fitria FOTO. DOK. HUMAS ISI PADANG PANJANG elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 28 Rektor ISI Padang Panjang Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum: R S A M P U L
Dewi, S.Sos., M.Si., Ph.D., dosen di Universitas Negeri Padang. Febri Yulika pada tahun 1997 menyelesaikan sarjana (S-1) di IAIN Walisongo Surakarta, Jawa Tengah, Pascasarjana (S-2) di UGM Yogyakarta (2001), dan Pascasarjana (S-3) di UGM Yogyakarta (2011). Febri Yulika menyatakan kesiapannya untuk berkomitmen melakukan peningkatan kualitas pada aspek pembelajaran asal didukung secara bersama-sama oleh civitas academica ISI Padang Panjang. Tentu fokus untuk menindaklanjuti pekerjaan rumah yang belum rampung oleh pimpinan terdahulu, seperti akreditasi internasional yang harus di-submit dan untuk itu butuh biaya administrasi serta kontribusi mendatangkan tim akreditasi yang bermarkas di Jerman. Begitu juga dengan persiapan akreditasi beberapa program studi S-1. Belum lagi akreditasi Program Studi Pendidikan Seni Pascasarjana (S-2) yang proses akreditasinya bukan di BAN-PT, tetapi akunnya harus didaftarkan pada Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan (LAMDIK), dan itu berbiaya. Percepatan guru besar juga menjadi prioritas utamanya. “Kami mulai memetanya sekarang. Kami petakan bagaimana bentuk untuk melaksanakan persiapanpersiapan melalui pelatihan penulisan jurnal internasional bereputasi. Melakukan pendampingan secara bergelombang dan bertahap bagi dosen yang secara angka kredit telah memungkinkan untuk meraih guru besar. Upaya-upaya terhadap peningkatan guru besar harus dibarengi dengan program yang kongkrie. Hal ini, tentu kolega kami (dosen) harus memenuhi syarat khusus, yaitu menulis di jurnal internasional bereputasi (Scopus),” kata Febri Yulika saat berbincangbincang dengan Tim Redaksi Majalah Digital elipsis beberapa waktu lalu di kampus ISI Padang Panjang. Selanjutnya, menurut Febri, menjalankan tata kelola sebuah perguruan tinggi haruslah mengikuti perkembangan dan aturan-aturan terbaru, baik itu oleh Kementerian Pendidikan maupun klaster tertentu. Terkait tata kelola ISI Padang Panjang yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU), pihaknya masih melengkapi dokumendokumennya. “Semoga saja dapat menjalankannya secara optimal dalam waktu yang dekat. Mohon dukungan dan doa. Kami masih menunggu surat keputusan (SK) tarif yang sekarang sedang dalam tahap revisi. Apabila SK tarif ISI Padang Panjang sudah diputuskan yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Keuangan RI barulah dapat menjalankan optimalisasi aset,” FOTO. DOK. HUMAS ISI PADANG PANJANG elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 29 S A M P U L
ujarnya. Ketika SK tarif telah sah, lanjut Febri, maka berbagai pelayanan akan dilakukan dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh BLU. ISI Padang Panjang disetujui BLU tidak terlepas dari kekuatan potensi kampus ini, hanya saja tinggal mengoptimalkan potensi tersebut untuk dimaksimalkan. Jika berbicara masalah ini, tentu tidak hanya tugas rektor semata, namun seluruh civitas akademika memarketkan potensi jualannya. Hal ini tentu akan berakibat pada kesejahteraan masing-masing program studi. Prodi sudah pasti akan berlomba-lomba untuk mengoptimalisasikan pendapatan melalui aset yang dimilikinya. “Jadi, dalam konteks BLU, semuanya harus dipacu sama halnya kami dipacu untuk meraih danadana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). SBSN itu keputusannya di Kementerian, banyak perguruan tinggi kini sedang bersaing, di Sumatra Barat tinggal dua perguruang tinggi lagi, yakni ISI Padang Panjang dan Politeknik Negeri Padang. Untuk kampus seni terdapat ISI Padang Panjang, ISI Surakarta, dan ISI Denpasar. Sementara, untuk tahun 2023 ini, saya menjalani Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKAKL) yang sudah dirancang pimpinan sebelumnya. Saya tidak ingin melakukan revisi terlalu banyak, hanya kegiatan-kegiatan yang semestinya ada, seperti penelitian, penerbitan buku yang harus diakomodir,” papar Febri. Selain itu, dijelaskan Febri, Tarok City masih membutuhkan dana untuk terlaksananya pembangunan kampus II ISI Padang Panjang di sana. Ada beberapa hal yang belum dilakukan secara maksimal. Memang benar, tanah tersebut telah menjadi milik Kemendikbudristek yang hak pakainya milik ISI Padang Panjang. Namun, seluruh tanaman milik masyarakat ada dalam tanah itu. Peraturan Presiden Nomor 52 tahun 2022 menyebutkan, “Penanganan dampak sosial kemasyarakatan atas tanah yang diidentifikasikan sebagai tanah musnah dalam rangka pembangunan untuk kepentingan umum.” Jadi, ISI Padang Panjang sebagai penerima manfaat harus FOTO. DOK. HUMAS ISI PADANG PANJANG elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 30 S A M P U L
melakukan dampak sosial kemasyarakatan tersebut lewat dana kerohiman. Memerlukan dana yang sangat besar tentunya. Belum lagi kelengkapan-kelengkapan lainnya dalam mengusulkan dana (SBSN) untuk menyiapkan pembangunan kampus tersebut yang dimulai dengan masterplan, begitu juga aspek-aspek administratif lainnya yang membutuhkan dana besar. “Jadi, ke sanalah arah revisi RKAKL yang saya lakukan. Hal ini tentu tidak dapat ditunda-tunda lagi karena SBSN itu keputusannya pertengahan tahun ini,” ungkap Febri. Berdasarkan itulah, dokumendokumen yang menyertai agar SBSN dapat lolos adalah tanah tersebut tidak clear and claim. Salah satu yang menyebabkan clear and claim sudah dilakukan sosial kemasyarakatannya. “Kita tidak hanya menggantikannya saja, tetapi harus membentuk tim yang terdiri dari berbagai unsur stakeholder, termasuk BPN dan Pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman. Juga tim ahli yang mengukur tanaman masyarakat tersebut layak diganti dengan harga berapa. Seluruh biaya teknis dari tim terpadu ini ditanggung oleh ISI Padang Panjang. Inilah yang harus segera diselesaikan agar mendapatkan dokumen dalam menambah kekuatan agar dipertimbangkan lolos dana SBSN tersebut,” ujar Febri. Selain itu, ISI Padang Panjang juga sedang melengkapi pertumbuhan mahasiswanya. Sarana dan prasarana, misalnya, menjadi hal yang prinsip dalam menunjang pendidikan termasuk gedunggedung yang tidak bertambah sebagai bangunan. Namun, gedunggedung itu harus disulap sesuai kebutuhan program studi yang kini berjumlah dua puluh satu. Mahasiswa bertambah secara signifikan, maka harus juga dipikirkan untuk memperbaiki sarana dan prasarana. Sedangkan untuk dana Kerohiman Rektor sudah melakukan revisi dalam RKAKL yang sekarang. Dana menggantikan tanaman masyarakat jadi skala prioritas untuk mendapatkan SBSN. “Jika kita kehilangan untuk mendapatkan SBSN, tentu kita tidak dapat melakukan pembangunan di Tarok City. Apabila ISI Padang Panjang tidak melakukan pembangunan, tanah tersebut dapat ditarik kembali oleh Pemkab Pariaman sesuai dengan perjanjian yang tertera, jika dua tahun semenjak SK diterima kita harus melakukan FOTO. DOK. HUMAS ISI PADANG PANJANG elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 31 S A M P U L
pembangunan. Pembangunan itu boleh berupa pagar, itu kan juga pembangunan. Namun, bagaimana kita hendak memagarinya, di dalam tanah tersebut warga masih bercocok tanam?” kata Febri mempertanyakan. Ikon Akademik dan Pembukaan Program Doktoral Kampus ISI Padang Panjang memang benar telah melahirkan seniman-seniman besar dan berkualitas. Namun, ISI Padang Panjang dinilai belum memiliki sebuah ikon akademik. “Kita harus menciptakan ciri khas akademik yang bertaraf internasional agar menjadi kampus seni yang bermartabat dan berkualitas. Idealnya, seperti di tempat-tempat lain, setiap program studi ada international conference. Ajang pertemuan akademisi dalam sebuah forum yang diikuti peserta dari berbagai negara di dunia. Rencana ideal ini harus kita ciptakan, paling tidak per fakultas dapat memilikinya. Jika pun tidak, minimal untuk institusi kita wajib terbentuk, untuk ini pendanaannya dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kita memang tidak sebesar perguruan tinggi lain. Namun, ini harus dibentuk untuk dilaksanakan setahun sekali, lalu dapat membuat tagline per prodi sehingga dapat melahirkan konsep kreatif dan branding yang merangkum semua prodi dari dua fakultas yang ada,” katanya. International Conference dirancang terindeks internasional, dilakukan oleh lembaga pengindeks. Kemudian diharapkan seluruh dosen yang menerbitkan kumpulan makalah akademik yang diterbitkan dari seminar atau konferensi akademik (prosiding internasional) bereputasi dapat terwadahi dengan kegiatan setahun sekali. Sebenarnya, dengan menjadi BLU seluruh prodi di kampus ini dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam segala bidang. Sedangkan pascasarjana ingin membuka Program Doktoral (S-3), ini dapat dibuka jika rencana dan target percepatan guru besar pada tahun 2024 terlaksana dengan baik. “Kini saya sedang berusaha menjajaki apakah mungkin membuka Program Doktoral (S-3) melalui program kerja sama dengan perguruan tinggi yang telah memenuhi syarat untuk melakukannya di ISI Padang Panjang. Penjajakan itu kami lakukan dengan ISI Surakarta, Jawa Tengah. Semoga saja mitra kita itu berkenan bekerja sama,” harapnya. FOTO. DOK. HUMAS ISI PADANG PANJANG elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 32 S A M P U L
Penjajakannya tentu harus sampai pada persoalan teknis agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ada hal-hal yang harus dikaji terutama bagi lembaga penyelenggara agar dalam proses studi nantinya tidak ada yang dirugikan, khususnya mahasiswa. Ada hak dan kewajiban yang harus dibicarakan, jika hal ini sudah clear barulah disosialisasikan, baik kepada dosen-dosen ISI Padang Panjang khususnya, dan pada masyarakat luas, umumnya agar dapat memilih studi S-3 di ISI Padang Panjang. Selain itu, setelah kerja sama ini terjadi diharapkan kepada dosendosen muda dapat segera melanjutkan studinya sekaligus bersaing untuk meraih dana beasiswa BPI atau dana-dana di Kementerian yang tidak mengikat. “Saya mendorong seluruh dosen untuk melanjutkan studi doktoral dengan catatan mereka sekolah bukan untuk kepentingan pribadinya, tetapi untuk kepentingan memajukan lembaga. Kalau studi untuk lembaga, artinya lembaga berhak untuk mengarahkan ke mana dia harus melanjutkan studi. Lembaga mengarahkan agar melanjutkan studi sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya. Jadi, linearitas itu bukan hanya kepentingan dirinya, tetapi juga menjadi kepentingan lembaga. Marilah kita berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan ISI Padang Panjang. Saya mohon doa dan dukungan yang maksimal selama mengemban amanah sebagai rektor,” tambah Febri Yulika. (*) FOTO. DOK. HUMAS ISI PADANG PANJANG FOTO. DOK. ISTIMEWA elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 33 S A M P U L
Cinta yang Telah Terkikis Kata-kata yang dilontarkan tidak lagi mengejutkannya. Itu sudah sering terjadi. Dan ia hanya bisa menahan beragam rasa yang berbaur dengan naluri untuk berbuat sesuatu. Salah satu dari naluri itu adalah memusnahkannya dari muka bumi dengan penuh rahasia tanpa meninggalkan jejak. Ia sudah terlalu muak dengan tuduhan itu. Rasa amarahnya serasa hendak meledak dari dalam kepalanya. Ketika tindakannya hampir menjadi nyata, lagi-lagi ragam pertanyaan muncul dari relung batinnya, bahwa bakal ada hukum sebab akibat yang dapat terjadi apabila ia melakukan hal itu. Oleh Fanny J. Poyk C E R P E N kesalahannya juga. Kenyamanan dari ragam peristiwa yang ia terima setelah lima belas tahun pernikahan telah melenakan dirinya. Dia merasa nyaman dengan profesinya sebagai ibu rumah tangga. Mengelola perekonomian keluarga pemberian sang suami dengan kepasrahan yang total. Tanpa protes juga pemberontakan, meski itu hanya cukup untuk biaya hidup sebulan. Kini ia mulai merasakan bahwa cinta yang dipupuknya selama lima belas tahun, telah terkikis perlahan-lahan. Maka ketika segala rancangan untuk melakukan pembalasan dari tuduhan tak berdasar itu hendak ia laksanakan, pikiran jernihnya kembali menyelinap. Apabila ia pergi bersama anak-anaknya Lukisan Karya: Rezi Ilfi Rahmi | Judul: The Doll | Media Akrilik pada kanvas | Ukuran: 100 x 100 cm | Tahun 2022 al ini berkaitan erat dengan ketakutan dan rasa cemas yang standar, yang biasa terjadi dalam sebuah kompilasi dari gabungan hati; nanti siapa yang akan menanggung kehidupan anak-anaknya termasuk biaya sekolah, beragam kursus, makanan bergizi, bayar air, listrik, BPJS maupun IndiHome bila prahara itu terjadi. Pertimbangan itu membuat hatinya resah serta gelisah. Sesungguhnya ini H G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 34
sama seperti keluarga mainstream pada umumnya. Rotasi kehidupan berjalan dengan opini yang umum terjadi bahwa menikah lalu memiliki anak adalah sebuah syarat secara tak tertulis untuk manusia dewasa di dalam mengembangkan jejak keturunannya. Mereka akan memasuki sebuah ritual pernikahan yang telah terbentuk berdasarkan suku, ras, dan agama. Sebuah ritual yang memang telah terjadi berabad-abad lalu. Lima belas tahun cinta itu tertata dengan baik. Pasangan ini terdengar dan terlihat aman, tenteram, serta bahagia. Sang suami dengan segala atribut penyerta di mana ia kerap berperan sebagai artis panggung juga layar lebar, memiliki kepopuleran nama yang menyebar hingga ke berbagai strata kemasyarakatan. Waktu yang berjalan selama lima belas tahun di pernikahan mereka itu, memang berlalu tanpa riak-riak yang menyengat untuk diperhatikan. Namun, tetiba sebuah kabar mengejutkan muncul di laman-laman berita online. Sebuah magnet yang demikian kuat menarik mata untuk memperhatikan tulisantulisan dengan judul yang bombastis tentang keretakan rumah tangga mereka. Alasan yang tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa untuk satu kata, yaitu "bercerai" adalah perselingkuhan. Namun, sang istri membantahnya. “Itu hanya pemutarbalikkan fakta saja, saya tidak melakukannya!” bantahnya. “Dia telah mengkhianati saya!” ucap si suami tampan dengan wajah datar. meninggalkan lelaki yang masih menjadi suaminya, maka konsekuensi yang bakal terjadi harus ia terima. Kekuatan finansial yang menjadi senjata utama tak dimilikinya. Lima belas tahun pernikahan, ia hanya bergantung secara ekonomi kepada lelaki itu. Bahkan perjanjian pembagian harta gono-gini saat menikah dulu pun tidak ada. Sekarang ia tersentak dan berkata pada dirinya sendiri, “Betapa tololnya aku.” *** KEELOKAN ragawi dengan pesona dari sebuah perpaduan ras antara Kaukasoid dan Asia, telah menghasilkan sesosok wujud yang berada di atas standar rata-rata. Mata biru, tinggi 182 cm, postur tubuh dengan perut rata, dada dengan istilah six pack, rambut kecokelatan tebal tidak botak, lesung di kedua pipi dengan deretan gigi yang rata bila tertawa, semua itu menjadi kesempurnaan ragawi bak dongeng di era pangeran-pangeran dari zaman kerajaan Romawi. Perempuan itu terkapar dalam pesona nyata yang bukan sekadar imaji. Otaknya buntu, gelar strata dua dari jurusan ilmu sains dalam hal ini Matematika yang diraihnya dari sebuah universitas di luar negeri, pupus oleh panah amor dari sebuah kisah dengan paduan libido dan cinta nan membara. Binar cahaya yang memancar di wajah, membuat bibirnya langsung terucap, "Ya, aku bersedia." Tatkala lelaki itu melamarnya. Sekejap cinta menguasai dan memanipulasi fakta. Kehidupan berkeluarga bergulir secara normal, G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 35
"Penampilan Ibu biasa-biasa saja, dia tidak ber-makeup tebal dan glamor seperti kebanyakan teman Ayah, jadi mana mungkin dia selingkuh, bela si Sulung kepada sang Ibu. “Atau, mungkin untuk mengalihkan isu, yang terjadi malah sebaliknya," lanjutnya dengan kalem. Sepasang suami istri itu berpaling, memandang si Sulung. Entah apa yang ada di benak keduanya, apakah ada kesadaran untuk introspeksi diri, atau malah sebaliknya. Dan kenyataan yang ada menjadi kian runyam. Masingmasing semakin dalam berada di lubang rasa yang bermain dengan dugaan demi dugaan. Sang istri tenggelam dalam politisasi pikiran, menduga ini semua hanya rekayasa dari suaminya. Apabila nanti perceraian terjadi, maka ia tak akan memperoleh harta gono-gini sedikit pun. Dan sang suami semakin merasa pasti kalau perselingkuhan itu bukan hanya dugaan semata, dia nyata. Beberapa waktu kemudian, gejolak perang dingin kian bertambah dingin. Rumah yang seharusnya hangat dan penuh canda itu, turut bisu, senyap suara. Masing-masing penghuni bermain dengan kata dan perasaan yang bersemayam dalam diri mereka. Sementara di luar sana, segala sikap dan gerak-gerik dari gestur tubuh di rumah itu, menjadi intaian para pengumpul like, subscribe, dan share. Jurang pemisah dengan ragam dugaan yang membentuk opini sepihak yang subjektif, kian meruncing. Kesalahan yang tadinya tak tampak, mulai dicari-cari. Hentakan cinta yang dulu pernah menggebu, dengan sajian foto penuh kemesraan yang terpampang merdeka di media sosial, mulai hilang secara signifikan. Dan selanjutnya, cerita mereka bergulir di tangan pelahap gosip yang menelan kisah mereka tanpa penyaringan terlebih dahulu. Alur cerita yang dibuat bagai dibubuhi bumbu penyedap yang terdapat di setiap masakan. “Lihat, semua kisah yang kau katakan, telah menjadi konsumsi umum. Kau sudah mengarang cerita bohong tentang aku. Betapa jahatnya kau. Lima belas tahun pengabdianku dengan melahirkan dua anakmu, itu sama sekali tak ada artinya bagimu. Apa yang sesungguhnya terjadi di balik ini? Mengapa kau tiba-tiba hendak menceraikanku?” tanya sang istri. Dua anak yang beranjak remaja, mendengarkan pertengkaran demi pertengkaran dengan sikap yang datar. Mereka terlihat hidup di dunianya sendiri-sendiri. Bagi mereka, dunia orang dewasa tak seirama dengan dunia mereka. Debat yang dibarengi dengan kata perceraian telah menjadi santapan yang dijejalkan ke telinga mereka setiap harinya. Barangkali di dasar batin yang terdalam, mereka merasakan kepedihan, namun sikap yang terkesan tak peduli, terlihat di wajah muda mereka. “Jika kalian pada akhirnya memutuskan bercerai, mengapa dulu memilih menikah?” tanya si Bungsu dengan wajah tanpa ekspresi sembari memainkan handphone-nya. G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 36
seorang perempuan cantik, menyadarkan dia bahwa cinta lelaki itu padanya memang benar-benar telah pupus. Rasa putus asa yang muncul berbaur bersama tingkat emosional yang memuncak, membuatnya sempat mengambil tindakan di luar nalar. Perempuan itu berniat untuk memusnahkannya. Sebelum tindakannya terlaksana, dia sadar bahwa dirinya tak bisa memaksakan kehendak, karena di hatinya ada kalimat bergaung yang berbunyi demikian: aku ibu dari dua anak lakilaki yang menjelang remaja. Aku mencintai suamiku, meski cinta yang pernah ia berikan untukku telah lenyap. Aku beruntung memiliki kesadaran untuk tidak egois, khususnya saat berniat untuk menguasai seluruh raga dan jiwanya dengan menaruh racun sarin di makanannya secara diam-diam. Ya, bersyukur itu tidak kulakukan, sebab aku bersama sekumpulan rasa kasih yang kumiliki, membuatku tersadar bahwa aku manusia dengan kenangan cinta yang telah terkikis. Cinta yang tak bisa dipaksakan untuk pulih seperti sediakala. (*) Ketampanan sang Suami mendominasi sikap untuk melontarkan ejekan pada si Istri yang memang standar kecantikkannya berbanding terbalik dengan si Suami. Sang Istri yang sederhana dengan kecerdasan di atas rata-rata yang dahulu pernah dipuja si Suami, kini kekaguman itu lenyap tak berbekas. Cinta yang terpupuk selama lima belas tahun itu raib entah ke mana. Lima belas tahun pernikahan, perlahan larut pada kebosanan yang berpadu rutinitas yang tak pernah berubah. Lika-liku pernikahan telah menggiring tanya yang pastinya dulu tak pernah tebersit untuk diucapkan. Apa yang terjadi sebenarnya? Ketertarikan dalam segala hal dari wujud perempuan yang dulu selalu berada di sisi si Suami, mulai membuatnya jenuh dan bosan. Tak ada pertengkaran dengan teriakan suara yang keras memang, namun kediaman dan saling tak berbicara adalah serangan psikologis yang sangat menyakitkan. Sang Istri memendam tanya dari sikap dan perilaku si Suami. Isu perselingkuhan yang ditujukan kepadanya, membuat ia berontak dan tak bisa terima akan tuduhan itu. Ucapan, belaian, dan kasih sayang yang dulu gencar ia terima, pudar bersama sikap belahan jiwanya yang kian hambar. Dan keputusan yang semula ia rancang dengan sempurna, akhirnya ia gugurkan. Ia menyadari, rasa cinta tidak bisa dipaksa. Gambar sang suami tampannya ketika disorot media sosial tengah bergandengan mesra dengan G E L A N G G A N G FANNY JONATHANS POYK (FANNY J. POYK) Lahir di Bima, Sumbawa. Menulis cerita anak dan puisi sejak tahun 1973. Selain itu, menulis cerita dewasa/remaja di majalah dan surat kabar nasional. Fanny tinggal di Depok dan masih terus menulis. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 37
Sesosok Mayat dan Tiga Ledakan di Kepalanya Tidak ditemukan sidik jari di kamar selain milik korban sendiri, tetapi dari bekas jendela yang tidak menutup sempurna, anggapan bunuh diri penghuni di dalamnya terlihat janggal. Dari kamar 303, bau anyir mirip bangkai menyeruak lewat celah sempit bawah pintu. Aroma busuk itu berhasil memanggil pihak kepolisian untuk datang lebih cepat. Kondisi pintu terkunci dari dalam. Petugas hotel kemudian membukakan kamar untuk penyelidikan. Oleh Dody Widianto C E R P E N ke belakang menjauhi televisi 42 inci di depan ranjang. Laki-laki itu berdiri dan berjalan ke depan. Membuka gorden di kamar suite room yang dipesannya, melihat langit kota negeri tetangga dari ketinggian. Dari kejauhan, betapa ia melihat bangunan-bangunan bercat biru, putih, dan kuning dengan rona pucat. Beberapa gedung di sebelahnya telah usang dengan warna kelabu, seperti kakek renta yang tidak dirawat anak dan cucunya. Menunggu roboh. Dahulu, kota itu begitu megah dengan gedunggedung pencakar langit dengan segala model dan rupa, sebagai pertanda kemakmuran rakyatnya. Namun, dunia akhirnya tahu itu hanya kota Lukisan karya: Salsabila Azzahra Siregar | Judul: Escape Reality | Acrylic on Canvas | 100 × 75 cm. | Tahun 2023 ku yang telah membunuh Hitler.” Ucapan itu tiba-tiba telah mengambang dalam sebuah ruangan dengan dua jendela samping yang tertutup tirai putih transparan bermotif bunga birkin. Dua orang berpandangan dalam diam. Hening. Lama. Mereka tahu, satu gerakan serampangan bisa saja menimbulkan ledakan yang membuat riuh tetangga kamar. Hanya ada suara kursi yang tiba-tiba tersuruk "A G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 38
Menyenangkan. Aku jadi tahu jika cinta bisa melintasi dan membenam dalam tiga hal inti tadi. Menutup logika yang ada. Seorang polisi menemukan kasus aneh. Satu perempuan dikabarkan hilang. Suaminya pun melapor ke pihak terkait dengan surat orang hilang. Namun, setahun kemudian, polisi menemukan tubuh istrinya yang telah jadi tulang di ranjang rumahnya sendiri. Kau tahu, laki-laki itu mengatakan sangat mencintainya.” “Cinta memang bisa melenyapkan logika yang ada.” Setelah saling tatap, lelaki itu membalikkan badan lagi. Bulir-bulir bening menempel di kaca jendela. Menggelinding turun, lalu lenyap dari pandangan. Hujan di luar tampaknya bukan dalam posisi vertikal. Angin dingin yang genit bisa saja mengacaukan arahnya. Namun, bukan itu yang membuat ia lebih heran. Ia pernah diperintah untuk membunuh satu pemimpin negara di ujung timur selatan sana. Satu negara yang enam puluh persennya adalah laut. Entah terbuat dari apa tubuhnya. Ia susah sekali dibunuh biarpun moncong pistol telah diarahkan ke kepalanya. Ketika itu ia berdiri tepat di hadapan ribuan rakyatnya, di tengah lapangan yang terik. Pidatonya meletup-letup. Mengatakan jika penjajah memang layak diusir. Menodai asas perikemanusiaan. Jika saja bayangan tubuhnya tidak menjadi tujuh dalam pandangan matanya, tentu tubuh presiden itu sudah ambruk dengan luka lubang di kepalanya sekitar tiga atau empat propaganda. Tak satu pun berpenghuni. Aneh. Musuh menyadari, kelicikan tak pernah ada yang abadi. Satu lelaki masih berdiri di belakang punggungnya. Pakaian tuksedo hitam dengan kerah kain satin mengilap. Harum parfum Aigner tetiba mengambang di udara, membuat aroma ruangan serasa kebun lemon. Laki-laki di depannya masih menatap bisu langit kota yang rautnya abu-abu, biru, dan ungu saling tumpang-tindih. Kota ini telah lama kehausan. Musim kering bergerak lambat, enggan pergi. Entah kapan hujan benar-benar akan menghampiri kota ini. “Apa membunuh bagian dari hobimu?” “Separuh tubuh manusia berisikan kemenangan, aku tak ingin separuh kekalahan dalam tubuhku menguasainya.” “Belum tentu mereka salah.” “Benar dan salah hanya ada dalam teks kitab suci.” Hening lagi. Hanya terdengar suara gesekan roda troli pelayan pengantar makanan di depan pintu. Laki-laki di belakangnya melekatkan jemarinya ke tuas, merapatkan pintu. Meninggalkan suara derit yang perlahan, lalu membalikkan badan. Mereka tak ingin satu suara pun menyelinap keluar dari lubang. Laki-laki di depan jendela masih seperti petapa. Mematung. Melihat alam cepat berganti warna. Gerimis tipis mendera. “Kemarin, aku telah menuliskan di jurnal ilmiah tentang paradoks psikologi. Ternyata hal logis-realissurealis sangat asyik untuk ditelusuri. G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 39
“Soviet”. Mereka percaya agama hanyalah candu belaka tanpa memberikan konsekuensi yang layak. Mereka tak mau terus diinjak-injak harga dirinya oleh penjajah dan timbul perlawanan itu. Kuulangi, agama hanyalah candu, mereka terlalu polos dan tidak membalas, menyerahkan semua pada keputusan semesta. Itulah yang menganggap beberapa bagian kelompok lain terkesan lemah, mengikuti keinginan penjajah. Tak pernah melawan, karena kepercayaan mereka, agama selalu mengajarkan kebaikan. Membalas tanpa harus membalasnya. Menunggu tanpa tahu apa yang ditunggu. Seperti menunggu kematian teman-teman mereka sendiri. Di kebun-kebun kelapa sawit, tembakau, dan ganja. Di ribuan kilometer jalan penghubung pelabuhan dan ibu kota, dan di kampkamp pengungsian. Mayat mereka seumpama sampah, dikeruk buldoser, dikubur bersama dalam kubangan tak lebih dari semeter. Mereka percaya, ras mereka tak pernah berharga, dianggap rendah karena bukan turunan bangsa Arya atau dari ras kaukasoid. Harus dilenyapkan. Sekarang, sejarah itu kembali terulang. Aku tak ingin membebani pikiranmu dengan bualanku tadi. Kau hanya perlu membunuhnya sekarang. Ia presiden yang dicintai rakyatnya. Terserah kau mau pakai cara apa.” “Pistolku tak akan pernah mampu menembus tengkoraknya.” “Lantas?” “Laki-laki sangat lemah terhadap goda wanita, bukan?” peluru. Namun, sekali lagi, entah terbuat dari apa tubuhnya. Beberapa orang percaya ia dilindungi sesuatu yang tak kasat mata. Barangkali ia sering bersenandung mantra bijak dari Aristoteles agar bisa memanjangkan umurnya. “Presiden itu hanya akan mati ketika dijauhkan dari rakyatnya.” “Apa rencanamu?” “Asingkan.” “Menangkapnya tak semudah ucapanmu.” “Apa yang kaubunuh itu benar Hitler? Kau tahu Gustav Weller? Hitler punya kembaran di mana-mana.” “Forensik sudah mengabarkan pada dunia itu mayat Hitler, tertera dari susunan giginya. Percayalah padaku. Aku yang mendesain seolaholah ia mati bunuh diri. Bukankah tulisan dalam buku sejarah bisa saja hanya sebuah karangan? Mirip cerpen-cerpenmu di media itu.” “Cerpenku selalu detail mendekati fakta. Jangan samakan. Jujur saja, sejak awal kita bertemu kau belum mengenalkan namamu.” “Apa arti sebuah nama? Kita mati bersama pun, belum tentu ada media yang mau memberitakan kematian kita ke dunia, bukan? Aku diundang. Jika tidak berkenan, aku akan pulang, Tuan.” “Holocaust, Khmer Merah dan beberapa genosida lainnya. Negeri yang sedang kautuju itu juga sedang bernasib sama. Sebuah skandal diagendakan untuk menghilangakan ribuan bahkan jutaan nyawa. Mereka saling menuduh mengikuti aliran G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 40
gagal, kau tahu risikonya, bukan?” “Sudah kukirim telik sandi. Bukankah dalam perang kita harus lebih dulu menguasai medan pertempuran?” “Kukira kau sendiri.” “Hanya seorang teman yang punya loyalitas tinggi, buah dari persahabatan.” “Negeri yang akan kau kunjungi itu penduduknya terkenal ramah, hanya saja mereka benci orang asing. Kau tahu Tragedi Pecinan, itu salah satunya. Beberapa orang menganggap sesuatu harus mengikuti aturan dari yang paling kuat. Kita tercipta berbeda-beda, bukan? Apa kau bisa memesan pada Tuhan kau ingin lahir di negara mana, dengan suku apa, dan agama apa? Semua tentu tak bisa dipesan. Setelah kau tumbuh, baru hal itu bisa berubah satu per satu sesuai apa yang kau yakini. Aku malah mulai ragu dengan cita-cita pesohor yang ingin menyatukan semua negara Eropa dalam satu ideologi. Itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Kita tercipta dengan beragam bahasa, kebudayaan, dan agama.” “Jika Tuan tak ada, aku harus melapor pada siapa atas keberhasilanku membunuh presiden itu?” “Kau lucu. Seperti yang kukatakan kau tak akan pernah berhasil membunuhnya, kau lawan dengan kelicikan, ia akan membalas dengan kebenaran yang diumumkan pada dunia. Kau bilang telah membunuh Hitler?” Dor! Dor! Dor! Laki-laki di depannya manggutmanggut, mengelus dagu perlahan, kumisnya seakan naik turun bersama dengus napasnya. Ia mulai abai dengan diorama gerimis di luar jendela. Membalikkan badan. Pembicaraan itu terlihat mulai hangat. Perlahan ia mulai percaya jika pria yang di depannya bisa saja memang telah membunuh Hitler. “Apa caramu efektif?” “Tentu,” tukasnya antusias. “Aku rasa kita mainkan saja dulu, semacam mata-mata. Mengulur waktu untuk lebih tahu apa kelemahan dia yang sebenarnya.” “Tak adakah deadline?” “Ini bukan menulis. Ini sebuah kejahatan yang kau anggap hobi dan ada kebahagiaan tersendiri setelah kau menyelesaikannya. Ucapan ini yang kudengar minggu lalu dari telepon. Kau tahu risiko di belakangnya. Ia juga laki-laki yang licik. Aku rasa benar katamu, ia hanya bisa dibunuh dengan kelicikan.” “Aku punya teman wanita yang tinggal di Jepang. Kau tahu, gadisgadis di negeri itu tak kalah cantik dengan produksi dalam negeri. Aku bisa menawarkan jasa padanya.” “Aku ragu apa caramu berhasil. Namun, bagaimana aku tahu jika belum dicoba. Menarik.” Laki-laki itu manggut-manggut, mengelus dagunya lagi. “Apa aku harus membawa mayatnya ke sini?” “Tak perlu repot-repot mengotori tanganmu, aku percaya saja dengan semua daftar rencanamu. Jika kau G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 41
ke tangan mayat di depannya. Ia arahkan tangan yang bergeming itu sedemikian rupa mengarah ke kepala mayat yang berdarah. (*) Secepat kilat, tangannya gesit keluar dari lipatan jas, moncong pistol itu melesatkan tiga peluru dan meledakkan dada. Ia tumbang, darah segar mengalir. Masih ada denyut dan rintihan selama tiga detik sebelum akhirnya ia mengakhiri segalanya dengan tiga tembakan di kepala. Kamar yang kedap suara nyaris tak membuat satu orang pun di sekitarnya curiga. Lima detik kemudian hening kembali. Ia benci dengan sebuah negara yang selalu berseteru bersaing ideologi dengan negara-negara lain. Satu yang ia yakini jika kelicikan selalu bisa hidup kembali dan tak bisa benarbenar mati. Ia genggamkan pistol itu DODY WIDIANTO Lahir di Surabaya. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi dan media massa nasional. G E L A N G G A N G PAMERAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL “Glitch” , Kritik Sosial di Ruang Publik PADANG PANJANG– Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) menggelar pameran tugas akhir, Senin (10/7/2023), di Hotel Aulia, Kota Padang Panjang. Pameran dengan tema "Glitch" yang berarti “Kesalahan” itu sebagai respons dari berbagai problem di ruang lingkup sosial selain sebagai bentuk kritik sosial. Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual ISI Padang Panjang, Aryoni Ananta, mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi pameran itu. “Saya berharap lulusan DKV ISI Padang Panjang mampu bersaing di dunia industri, khususnya di Pulau Sumatra,” ujarnya. Wakil II Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padang Panjang, Aninditto, sekaligus membuka kegiatan itu mengharapkan mahasiswa yang mengikuti ujian dapat bertanggung jawab dengan judul yang telah dipilih. “Semoga lulus dengan nilai terbaik," ujarnya. Ketua Pelaksana, Dio Ulhaq Alfarrez, mengatakan, kegiatan ini representasi dari penyelesaian permasalahan ruang lingkup DKV. Pameran karya yang disajikan berbeda-beda, sehingga audiens tidak bosan melihat karya-karya tersebut. Salah seorang mahasiswa Prodi DKV, Nanda Khairansyah, mengatakan, ia mengangkat karya dengan judul “Perancangan Media Informasi tentang Sejarah Makam Mahligai” sebagai upaya memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, merupakan titik awal masuknya agama Islam di Indonesia. “Perancangan ini diharapkan mampu menjadi reminder terhadap masyarakat Barus maupun luar Barus untuk menjaga kelestarian Makam Mahligai tersebut,” paparnya. Seorang pengunjung pameran, Fitria, mengatakan, pameran ini sangat menyenangkan dirinya. “Karya-karya terbaik dari mahasiswa teruji memanjakan mata pengunjung, tidak jenuh dilihat, unik, selain mendapatkan ilmu pengetahuan," tambahnya. (mursidiq/elipsis) FOTO: DOK. ISTIMEWA PAMERAN tugas akhir mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Padang Panjang, Senin (10/7/2023), di Hotel Aulia, Kota Padang Panjang.
Hashirama Bukan seperti kebiasaanku pada Senin pagi untuk tidak menyeret kaki setelah dibangunkan paksa oleh tiga buah alarm berjarak sepuluh menit. Aku menyukai pekerjaanku, tetapi lebih menyukai empuknya kasur dan halusnya seprai dan selimut mengapit tubuhku. Namun, pagi itu berbeda. Aku terjaga tanpa alarm setelah sepanjang malam kesulitan memejamkan mata. Bisa jadi aku belum tidur sama sekali. Rasanya semua itu tidak penting. Oleh Jenny Seputro C E R P E N Biasanya aku berangkat kerja sekitar pukul delapan. Hari itu aku sengaja berangkat pagi karena siangnya aku ingin menemui seorang teman. Seseorang yang pernah menjadi segalanya bagiku, tetapi sekarang aku butuh seminggu berperang batin untuk menemuinya. Kuteguk secangkir kopi instan, lalu bergegas memacu mobil menuju kantor. Datang lebih pagi ke kantor tidak membuatku lebih efektif bekerja. Berkas-berkas terbentang di layar monitor, dan tumpukan kertas memenuhi meja, tetapi pikiranku terpaku padanya. Rasa bersalah itu kembali mendera, tidak berkurang Lukisan Karya: Rezi Ilfi Rahmi | Judul: Basecamp | Media Akrilik pada Kanvas | Ukuran: 100 x 100 cm | 2022 upatut bayangan di cermin. Dasi putih bergaris marun terlihat senada dengan kemeja yang kupakai. Sabuk kesayangan yang kubeli saat bulan madu ke Afrika Selatan terkait manis di pinggang. Kusisir rambut dengan jari. Di ranjang, istriku menggeliat di bawah selimut tebal. “Jam berapa ini, Mas? Kenapa pagi sekali?” Suara seraknya membuatku ingin kembali ke tempat tidur. Nikmatnya mengawali pagi dengan permainan cinta yang menggelora. “Baru jam enam lewat, Sayang, tidurlah lagi.” Kukecup lembut keningnya. K G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 43
puas dengan sekolah yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan orang tuanya. Kami tetap berteman baik hingga selesai SMA dan aku dikirim ke Amerika untuk kuliah. Saat kuliah itulah aku berkenalan dengan Yani, gadis kelahiran Bandung yang berniat meniti karier sebagai arsitek di Washington, tetapi akhirnya kuboyong pulang sebagai istriku. Kami pergi berbulan madu ke Afrika Selatan selama tiga minggu. Orang tua Yani menghadiahi kami sebuah rumah dua tingkat yang kami tempati hingga saat ini. Aku kehilangan kontak dengan Rama. Terakhir kudengar dia menikah dengan seorang janda beranak satu asal Wonogiri. Kabarnya wanita itu tidak suka hidup susah dan menuntut Rama untuk bisa menyesuaikan kebutuhan glamornya. Dia tidak peduli kalau pekerjaan suaminya tidak lancar dan terjebak banyak utang. Anak tirinya sebelas dua belas dengan ibunya. Rumah tangga Rama terus dirongrong dari dalam. Saat utang itu sudah menggunung dan tidak terbayar lagi, rumah dan mobil tua yang merupakan satusatunya aset yang masih layak terpaksa disita. Kalau itu belum cukup, Rama juga dijatuhi hukuman tahanan dua tahun. Istrinya mengajukan cerai dan membawa anaknya pergi meninggalkan Rama yang sudah tidak berguna lagi. Menjelang tengah hari, aku meninggalkan kantor. Aku mampir di sebuah toko roti yang sudah ramai sejak zaman aku sekolah dulu, satu ganasnya sejak pertama aku mendengar berita itu. Hashirama bukan hanya seorang teman atau sahabat, dia sudah seperti saudara kandungku sendiri. Laki-laki keturunan Jepang yang lahir dan besar di Indonesia itu dulunya adalah tetangga sebelah rumahku. Sedari kecil kami bermain bersama. Di mana ada Rama, di situ ada aku. Tubuhnya yang tinggi gagah membuatku merasa aman dari perundungan anak-anak yang lebih besar. Rama berasal dari keluarga dengan ekonomi sederhana. Berbeda dengan diriku yang bisa mendapatkan apa pun yang aku mau. Namun begitu, dalam segala hal Rama tidak pernah pelit berbagi denganku. Bahkan bila hanya ada satu yang tersisa, dia rela memberikannya kepadaku. Aku tidak pernah melupakan pisang goreng terenak di dunia buatan ibunya. Ketika aku mampir ke rumahnya sepulang sekolah, hanya tersisa dua potong. Aku yang kelaparan memakan satu dan seketika ketagihan. Rama menyuruhku menghabiskan jatahnya. Kuterima begitu saja. Lama setelah kejadian itu baru aku tersadar. Rama tidak makan siang hari itu karena dua potong pisang goreng itu seharusnya miliknya. Sedangkan di rumahku tersedia bermacam-macam menu yang tidak habis dimakan. Selama sekolah dasar kami selalu bersama-sama. Namun, sejak masuk sekolah menengah, aku pindah ke sekolah swasta dengan mutu yang jauh lebih baik, sedangkan Rama harus G E L A N G G A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 44
sepotong besar roti isi di dalamnya. “Ah!” Matanya berbinar melihat bungkus roti itu. Aku tidak tahu apakah dia begitu kelaparan atau kenangan yang tergali sedikit menghangatkan hatinya. “Terima kasih, aku membutuhkan ini.” “Maafkan aku, Rama,” kataku sambil menahan gejolak di dada. “Jangan minta maaf. Ini bukan salahmu,” jawab Rama. Begitulah sahabatku itu. Walaupun dia tahu hidupku berkelimpahan, dia tidak pernah menuntut apa-apa. “Kuharap ada yang bisa kulakukan untukmu,” lanjutku lagi. Rama tersenyum. “Nanti kalau aku sudah bebas, bantu aku mencari wanita yang mau menerima mantan napi,” katanya sambil memaksakan sebuah tawa. Waktu lima belas menit berlalu sangat cepat. Sebelum pergi aku berjanji untuk mengunjunginya lagi. Aku kembali ke mobil dengan mata panas dan kabur. Bagaimana seandainya Rama tahu bahwa aku bekerja di badan keuangan tempatnya berutang sejumlah besar uang? Bahwa aku duduk di posisi yang memungkinkanku sedikit membantunya bila aku mau? Entahlah. Yang pasti secara tidak langsung aku ikut menjebloskannya ke penjara. (*) dari beberapa penjual makanan favorit tempatku nongkrong sepulang sekolah bersama Rama. Setelah bergelut dengan kemacetan siang ibu kota, kuparkir mobil di pelataran lembaga pemasyarakatan di bilangan Jakarta Timur. Hampir sepuluh menit aku hanya duduk di belakang kemudi sambil melamun. Di sekolah dulu, aku dan Rama duduk sebangku. Mengerjakan soalsoal latihan bersama, sembunyisembunyi makan gorengan di kelas juga bersama. Sekarang aku sudah jadi orang yang sukses, sedangkan dia harus mendekam dalam tahanan. Masihkah dia mau menerimaku sebagai sahabatnya? Setelah meninggalkan identitas dan melewati pemeriksaan, aku diantar ke ruang tunggu. Kami hanya boleh bicara di ruang khusus, itu pun tidak lebih dari lima belas menit. Tak lama kulihat sahabatku itu dibawa masuk oleh seorang petugas. Dia terlihat kurus dan jauh lebih tua. Rambutnya gondrong, mata yang dulu selalu bersinar optimistis menghadapi segala masalah kini menyiratkan keputusasaan. “Rama.” Kugenggam tangannya erat. “Luki,” sahutnya sambil balas menggenggam tanganku, sebelum kemudian memelukku erat. “Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, tak kusangka kita harus bertemu di tempat seperti ini.” “Ini untukmu.” Kuulurkan sebuah kantong kertas cokelat dengan G E L A N G G A N G JENNY SEPUTRO Penulis berdomisili di Wellington, New Zealand. Telah menerbitkan satu novel duet dan tiga novel solo. Karyakaryanya yang lain telah dibukukan dalam lebih dari 35 antologi. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 45
Lukisan Karya: Audy Berlian Queenaya Rumah Kreativ Merangin
HUDAN NUR Idayu akulah sepotong sayap kekasih yang kehabisan rayu kekeringan cumbu di altar genggang, Tholib Sungkar Az-Zubaid kukipas-kipas sampur gamelan menumbuk buana gelora mengendap ragu mengitar pada sehelai daun kembang kau tolak udara pengap menjaga dian yang menggantung ke ruangruang waktu mengecup keindahan Awis Krambil sebatang lilin tergolek lemah disaput laut tersendat desau gegar debur mengutukngutuk sembilu O Idayu… dewi cinta yang didekap luka ke mana Batara Dewa mengajak tamasya? O Idayu… pujaan dewa asmara yang menggelepar dibalik tarbus merah ke mana adipati mengulum kulitmu ya… jahawe aku lupa cundrik terbenam di balik rambut aku lupa dipagut malam aku lunglai ke hadapan kekasih sungsang O… kematian, angin meniup kencang sulingsuling menggerayang hatiku menebas bayang bergulung berpusingpusing dalam mendung S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 47
HUDAN NUR Never Lasting Truth adakah gemuruh dari suara yang paling? pernah kau tuntaskan dalam kobar suci yang semilir menghangatkan? saat aku duduk mengepal harap ke pintu-pintu langit kau mengetuk salam mengantarkan rupa kekalungan oleholeh dari selatan mungkin malam ini tahmid tak lagi lantang menyusur gemetar doa yang menggumam saat rinai sempalai, hujan mengecai ribuan mimpi. siapa yang bertabur cahaya di antara? O... waktu yang terjaga. adakah jarak yang sanggup di tenggak sebuah musim? saat sebait puisi telah diwakafkan untuk menghelat sehimpun bunga :untuk mengenal warna S A J A K Lukisan Karya: Audy Berlian Queenaya Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Sekolah: SDIT Permata Hati Merangin elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 48
HUDAN NUR Beri Aku Hujan akulah penyintas utara yang meninggalkan sunyi dari jiwa yang kebasahan. apakah kau yang menenteng rasa cemburu? menyingkap masa lalu di balik rambutku? saat cahaya purnama bicara pada hujan, pada dahaga kata-kata yang kehilangan segalanya. beri aku hujan dalam iman cahaya. saat diksi jumawa terpendam di selasar mantra hutan semerbak rindu. agar oktober tak lekas habis, aku beri serenada di balik alis. aku tulis sepotong doa dalam jeritan biola. biar senjakala mengekang gemuruh rebana dari puisimu yang terbata-bata. Hudan Nur lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada 23 November 1985. Menyukai sastra sejak di bangku sekolah dasar. Sejumlah puisi, cerpen, dan esainya dimuat di berbagai media massa, baik cetak maupun online. Puisi-puisinya tergabung pada lebih 100 antologi bersama. Nama dan kiprah kepenulisannya dimuat pada buku Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Ed. Kurniawan Junaedhie, Penerbit KKK Jakarta: 2012) dan Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia: 2017). Menerima Anugerah Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan (2012) dan Walikota Banjarbaru (2017). Karyakaryanya: manuskrip antologi Si Lajang (kumpulan puisi: 2002), Tragedi 3 November (kumpulan puisi: 2003), Menuba Laut (kumpulan puisi: 2016), Enigma (kumpulan cerpen: 2019), Jannani, Amsal Banjarbaru di Simpang Waktu (kumpulan puisi: 2019), Galuh Kemuning (cerita anak: 2019), dan Analekta Esaiesai Sastra (2020). Bersama Ali Syamsudin Arsi dan Ariffin Noor Hasby menulis buku 50 Tahun Sastra Banjarbaru (Jejak dan Sejarah Komunitas) diterbitkan Zukzez Express 2019. Berkolaborasi bersama Ananda Perdana Anwar, Gusti Muhammad Setya Aryandi Iman, dan H.E. Benyamine menulis aghh… Nukilan Spektrum Jiwa-jiwa Kembara (2020). Menulis komik serial binatang endemik Kalimantan Selatan IRAI bersama ilustrator Mika August dan Herdi Naya Oktawanna. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 49
EMI SUY kecapi perih sendiri kecapi perih sendiri di tubuh gelap pengap napas doa tak lelap harap Allahu Allahu Allahu di batang pohon kecapi denting kecapi menepi sayat luka larah sendiri di dingin batin senar terpilin di rongga rusuk pilu mendayu Allahu Allahu Allahu S A J A K Lukisan Karya: Liana Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Kampus: Universitas Pelita Haparan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 50