EMI SUY uy, waktu, cermin uy, di hatimu peta usang terbentang rebas-rebas merah menyibak skala garis-garis lintang kenangan menyala di gelap perlintasan luka lara berulangkali kaki-kaki puisimu terpancang dalam genangan banjir dan kemacetan kota deras repitisi tak kunjung berkesudahan mengoyak peta dengan runcing tuduhan ke baduy kau panjati pohon-pohon kesunyian diksi-diksi serancung duri mengoyak kegelapan kesedihan dan kebahagiaan berembun menetes dari kelopak zikir daun-daun biar pun langkahmu gontai pesanmu diterbangkan pikiran Bersejuklah dalam mujahadah, uy agar tak gusar batin. katamu, perempuan mesti bisa menjahit setidaknya menjahit lukanya sendiri buktikan, uy. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 51
EMI SUY di kedai kopi sepotong gambar tersenyum di bingkai lukisan hitam kopi ia seperti terjebak kesunyian seusai menyesai ampas-ampas dari cangkir getir masa lalu hari-hari adalah api menyala di atas menja berlapis tangis sampai pembeli ditelan gerimis di kedai cerita, di balik bar kata biji-biji hitam perjalanan jadi ampas S A J A K Lukisan Karya: Liana Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Kampus: Universitas Pelita Haparan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 52
EMI SUY narasi suy di segala lini satu dua tiga beberapa di antaranya sibuk meruncingkan kata-kata menjadi anak panah meluncur dari busur wuss… melesat jleb! lalu memantul ke arah dadanya sendiri tepat kena jantungnya sendiri tapi tidak bikin mati dan ia terus menggali lubang untuk menjebak mengubur dirinya sendiri percayalah, suy setiap luka punya peta mencari jalan pulang menuju kesembuhan menghapus segala bimbang lupakan hari-hari getir, suy menempuh jalan sunyi sembunyi dari nyeri bertemu nyaring bunyi tiba di tubuh puisi baringkanlah seluruh sepi barang kali secangkir kopi mengajarkan pada hati cara menyeduh keadaan mengaduk perasaan S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 53
menyesapi inti : saripati kehidupan ada yang bertanya? apakah rindu itu luka? bukan! ia serupa api nyala kecil di gelap malam yang lelap begitu sunyi sepi di luar riuh di dalam Emi Suy lahir di Magetan, Jawa Timur, 2 Februari 1979 dengan nama Emi Suyanti. Emi adalah seorang penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai Sekretaris Redaksi merangkap Redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Di antara buku puisinya: Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020), Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), serta sebuah buku kumpulan esai sastra Internal (2023). Buku Ayat Sunyi terpilih menjadi Juara Harapan III Buku Terbaik Perpustakaan Nasional RI Kategori Buku Puisi tahun 2019, sedangkan buku Api Sunyi masuk nominasi 25 besar Sayembara Buku Puisi, Yayasan Hari Puisi Indonesia tahun 2020. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 54
NUNUNG NOOR EL NIEL Hari yang Tumpah hari menua di pelupuk matamu merabunkan seluruh kenangan di sana kita pernah duduk bersama menghirup kemesraan pada secangkir kopi kini tersisa hanya ampasnya di ceruk gelas tanpa uap impian yang mengepul karena semua telah tumpah di pangkuanku menjadi malam dan kita tak tahu lagi kapan dapat bersulang : bersama Megamendung 11 5 23 S A J A K Lukisan Karya: Liana Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Kampus: Universitas Pelita Haparan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 55
NUNUNG NOOR EL NIEL Choice aku tetap memilih di sini hingga sepenuh aku mempercayai tentang kisah yang berulang-ulang apakah sebuah kebenaran, atau rekayasa meskipun aku lupa mengecat seluruh waktu hingga runtuh sebab kau hafal bau napasku sebelum atau sesudah menyikat gigi hingga akhirnya aku pulang meninggalkan tempat di mana kita selalu bertemu S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 56
NUNUNG NOOR EL NIEL Rest Area tak ada lagi ruang, jika kau menggulung setiap persoalan hingga tiap percakapan tak pernah selesai lihatlah di cermin tak kau temukan lagi wajahku juga wajahmu ini bukanlah tempat, di mana kau hanya berteduh dan sekadar mampir jika kau hanya memahami hitam atau putih yang tak berkiblat pada keyakinan maka tak ubahnya seperti musafir yang : terkilir S A J A K Lukisan Karya: Audy Berlian Queenaya Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Sekolah: SDIT Permata Hati Merangin elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 57
NUNUNG NOOR EL NIEL Makna doa bukan sekadar kata yang dirapalkan waktu bukan sekadar gema dari kesunyian prasangka tak akan terucap dan terurai hanya dalam kata dan makna menjadi penyangkalan rasa semata seperti air yang bening jangan dikeruhkan hanya oleh pemujaan rasa keelokan makna simaklah hakikatnya sebagai : sabda-Nya Nunung Noor El Niel (Noor El Niel) lahir di Jakarta 26 September dan saat ini berdomisili di Denpasar, Bali. Nunung salah seorang pendiri dan wakil ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) dan JKP (Jatijagat Kampung Puisi Bali). Buku puisi tunggalnya Solitude (2012), Perempuan Gerhana (2013), Kisas (2014), Perempuan dari Tujuh Musim (2016), dan Sumur Umur (JSM Press & Tare Books). Karya karyanya dimuat di berbagai media dan lebih dari 90 antologi bersama. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 58
DENNI MEILIZON kupukupu sayap patah dan tiba-tiba tersentak aku keluar dari garis mimpi di langit ada awan hari ini kuhitung jarak aku darinya, kudapat sepi yang sempurna datanglah temaram membasahi cuaca, sayap seekor kupukupu terkulai patah membasuh bulu mata suatu pagi, ketika aku tiba-tiba tersentak dan keluar dari garis mimpi warna warni berubah ubah kaukah itu yang mengigaukan revolusi dari bilik suara? simpang empat, 25 juni 2023 S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 59
DENNI MEILIZON Sirine Sore di depan toko perlengkapan anak-anak Sebuah kota yang riuh Kau menunggu Pertanyaan Sedang apa, Nak? "Aku sedang menjual Seribu macam ketabahan," jawabmu. Dua mobil patwal lewat Sirinenya cepat menjaring semua yang dimiliki sore hari Menyisakan kau dan aku Ketabahan ini Siapa beli? Padang, 15 April 2023 S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 60 Lukisan Karya: Liana Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Kampus: Universitas Pelita Haparan
DENNI MEILIZON Sayap Cahaya Malam telah berlompatan dari mata yang tertutup rapat oleh tidur lalu oleh penglihatanku yang terjaga angka - angka bergerak gempita di atas loteng membentuk kota - kota, api percintaan, tabrakan bintang, pelabuhan - pelabuhan, dan dirimu Dari punggungmu mengepak sayap cahaya seluas pandanganku Dari urai rambutmu menetes air manis dan dingin yang begitu banyak memenuhi ruang pandanganku Angin sibuk mencari pintu yang terbuka dan suara jutaan denging menguar menetak tiap jendela. Malam ini aduh ganjil Sekali. Padang, 15 April 2023 S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 61 Lukisan Karya: Liana Komunitas: Rumah Kreativ Merangin Kampus: Universitas Pelita Haparan
DENNI MEILIZON Patung Bunga Senja telah menyalin retakan siluet matahari ke dalam tatakan gelas minum, tetapi ia telah menyarukan gambar bunga di dasarnya yang terekspos oleh kaca gelas dengan tepat memantulkan ke jendela kaca rumah tua di bundaran jalan yang memijarkannya tepat ke sebentuk wadah raksasa air mancur di tengah jalan itu yang setiap pukul enam sore menjadi hidup oleh serangkaian kabel rumit pengantar listrik. Ketika matahari melampaui horizon dalam warna merah saga, orang - orang bisa melihat dengan mata telanjang kini, di bundaran jalan sebentuk patung bunga berbentuk cahaya berpendar warna warni tumbuh di derai tarian air mancur yang dipuji belakangan sebagai satu-satunya jejak pembangunan kota yang adi luhung. Sepasang kekasih di sudut sebuah warung makan menatap ke tengah jalan itu dengan heran. "Ada apa dengan sepasang patung tikus di bundaran jalan itu sehingga nampak seperti mawar yang merekah ranum seperti bibirmu itu sayangku?" bisik si lelaki kepada wanitanya yang sedang asyik mengulum lolipop murahan. Simpang Empat, 10 April 2023. Denni Meilizon, lahir 6 Mei 1983 di Silaping. Buku puisinya Hidangan Pembuka terbit 2021. Ketua komunitas Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat. Tinggal di Simpang Empat Pasaman Barat, Sumatra Barat. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 62
SULAIMAN JUNED Lelaki yang Mengarungi Hujan Banda Aceh: gerimis mengantar malam. Sementara hujan membasuh rindu tumpah ke samudera hati. Saree: mengantar gigil pada mimpi tak berujung perjalanan ini mestikah dihentikan. Sigli: segumpal Kalbu jatuh kadang meruncing menikam-nikam hingga beranak duri dalam daging. Beureunuen: melewati tanah kelahiran. Hilang rasa di pekat malam segala petuah dan cinta Terkuburkan. Biruen: tak ada lagi yang melantunkan syair seperti awan di tiup angin terburai entah ke mana. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 63
Takengon: sepucuk rindu menggelegak. Ingin cepat bertemu Emak melepaskan galau yang sesak. Padangpanjang: menghabiskan malam dalam senyum beku waktu. Aku belajar mengeja cinta pada selembar daun jadi cerita di ruang senja. Jakarta: terkurung keramaian, seperti menghirup asap di hati terkadang jadi api. Aku ingat kampung, masa kecil yang indah selepas ngaji membaca Hikayat Prang Sabi memaknai penyerahan diri. Merindui Allah masa remaja penuh gairah, memilih rumah tempat berteduh membawa pulang mawar membagi keluh kesah. Bercermin pada kesetiaan Adam Hawa. Solo: tempat menjaring mimpi bawa pulang buat anak istri aku gantung setiap cahaya S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 64
di bilik hati. Indonesia: berpuluh tahun kuukir nama itu dengan cinta dan laut senantiasa menghapusnya. Ah! Indonesia, 2017—2023 (Dari buku antologi puisi Rembulan dan Matahari karya Sulaiman Juned) Sulaiman Juned, sastrawan, kolumnis, esais, sutradara teater, ketua pendirian ISBI Aceh, pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, pendiri UKM-Teater NOL USK, pendiri/penasihat Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, dosen Jurusan Seni Teater dan Pascasarjana (S-2) ISI Padang Panjang, Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatra Barat. S A J A K elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 65
ZAB BRANSAH Zulia IX Awal perjalanan diri bertepi di kaki langit Tanah leluhur menyambut kehadiran dirimu kita pinjam.dia bukan dirimu anugerah Tuhan keberadaan di sini beri makna cinta kasih hati permata bunda begitu bersih seperti kapas Tiada salah pengembaraan di atas bumi Mencari makna kehidupan Tuhan izinkan kucinta dia pemberi makna kehidupan untuk keabadian di surga. Langsa, 19 juni 23 S A J A K Zab Bransah. Lahir di Pidie, Aceh, 6 Juli 1964. Alumnus FKIP Unsyiah. Berdomisili di Langsa, Aceh. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 66
DONI ARMANDO Sabda Hatiku Tentangmu aku ingin tunjukkan kepada semilir pagi tentang rasaku dulu yang kini masih menetap abadi tentang tiadanya nama lain yang bisa menandingi hingga terukir menggema dalam hati aku ingin tunjukkan pada pekatnya senja di ufuk langit merona tentang keistimewaan dia penuh pesona tentang kelembutan tuturan kata menggoda hinggaku dibuatnya luluh rasa cinta aku ingin tunjukkan kepada rembulan di sandaran malamku tentang kisah kulewati waktu dulu tentang sebuah keindahan wanita yang kujaga selalu melewati waktu indah bersama naungan restu kusimpan dan kucatat semuanya pada buku telah berdebu kuceritakan kepada Tuhan di hamparan sajadahku tentang inginku tuk bersama selalu dengannya, sampai nanti menghadap Rabb-ku Muara Enim, 2020 elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 67 DONI ARMANDO Kelahiran Perjito, Muara Enim, Sumatra Selatan. Pernah belajar dan lulus di SMAN 1 Gunung Megang, Sumatra Selatan. Beberapa buku karyanya antara lain: Jangan Haramkan tapi Halalkan, Kaca yang Berdebu, Jomlo sebagai Personal Branding, Semua karena Cinta, Benang-Benang Cinta Rasulullah, Heart Nest, Illusion of the Bloody Flowers, dll. A P R E S I A S I
ANJAR PUSVITASARI Aroma Ibu Sepenggalah umur, hanya kedipan mata Menjalar aneh kala singgung kerinduan Ah, lelah Betapa butiran kecil dandelion yang riang, hapus muram, kendalikan kesahajaan Namun, aku tersadar, empat tahun berlalu, Dalam kehampaan Hongkong, 9 Mei 2023 elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 68 ANJAR PUSVITASARI Kelahiran Tulungagung, 16 Mei 1992. Mulai menulis aktif sejak 2022. Ia seorang BMI di Taiwan dari tahun 2012-2018 dan di Hongkong dari tahun 2019- sekarang. Ia sudah mempunyai dua novel solo, Novelnya terpilih sebagai juara 1 dan juara favorit. Ia juga telah menulis puluhan antologi cerpen. Baginya, ilmu tidak sebatas di sekolah, meskipun sering muncul rasa insecure dengan status pekerjaan dan tingkat pendidikannya. Belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). A P R E S I A S I
RISKI DIANNITA Bidadari Fana Helai rambut berkibar dibelai lembut sang bayu Kain tipis tersingkap tanpa sadar lupakan tabir nan ayu Perintah Maha Pencipta terabai demi pujian dusta manusia Akankah terlena nafsu dunia jatah usia terbengkalai Ingat, alam keabadian menanti ke mana jiwa kembali Jangan tersesat rayuan nista sejatinya berlian surga Mojokerto, 2 Agustus 2022 elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 69 RISKI DIANNITA Ibu rumah tangga asal Mojokerto yang gemar membaca, menulis, dan menggiatkan literasi. Ia lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta menjadi anggota FLP Cabang Mojokerto. Beberapa tulisannya telah diterbitkan dalam buku antologi dan solo secara indie sejak 2016. Puisinya pernah dimuat di media cetak Radar Mojokerto dan berbagai media daring. Novel terbarunya Naladhipa terbit pada Desember 2022. Selain itu, ia seorang freelancer editor di penerbit indie. A P R E S I A S I
ila mengingat kejadian beberapa tahun silam, hampir setiap siswa dan siswi yang dipanggil ke ruang BK menampakkan kecemasannya. Mereka juga menanyakan kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga harus dipanggil ke ruang BK. Dari sini bisa dikatakan masih melekat di benak peserta didik pandangan negatif bahwa bila siswa yang dipanggil guru BK adalah siswa yang memiliki permasalahan dan pelanggaran saja. Agar dapat mengantisipasi pandangan negatif peserta didik tersebut, guru BK di awal tahun ajaran melakukan sosialisasi dalam layanan klasikal dan layanan informasi baik melalui offline maupun online bahwa ketika peserta didik dipanggil ke ruang BK bukan berarti ia memiliki permasalahan atau telah berbuat salah. Konten Psikologi Positif dalam Layanan BK Oleh UMMU ATHIYAH, S.PSI. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 70 Kita memberikan pemahaman bahwa guru BK dan ruang BK adalah sarana bagi peserta didik berkonsultasi dan mendapatkan layanan berupa konten-konten materi yang positif agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam hal ini, guru BK menjadi guru pendamping bagi perkembangan karakter dan psikologis mereka agar menjadi lebih baik dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan pada tujuan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum Merdeka. Stigma masyarakat dan peserta didik tentang bimbingan dan konseling masih berfokus hanya pada pengentasan masalah perilaku pelanggaran peserta didik di sekolah, padahal lebih dari itu. Permendikbud nomor 111 tahun 2014 menjelaskan bahwa bimbingan dan konseling merupakan upaya B Guru Bimbingan dan Konseling. Menulis beberapa buku antologi dan satu buku solo. Berkecimpung membina peserta didik di sebuah madrasah yang berada dalam naungan Kementerian Agama. Tujuh tahun terakhir ia mengabdi di MAN 1 Kota Tangerang Selatan. Memanggil peserta didik secara individual dirasakan dapat meningkatkan value seorang guru BK. Eksistensinya di sekolah sebagai sahabat siswa akan sangat dapat dirasakan oleh seluruh peserta didik tanpa terkecuali. O P I N I
sistematis, obyektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik dalam mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Kemandirian di sini di antaranya adalah kemandirian mengambil keputusan dan dalam menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidupnya dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, namun dengan tidak mengesampingkan keunikannya sebagai individu dengan segala ragam dinamikanya. Upaya memahami dan menghargai setiap keunikan individu yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka diharapkan dapat menjadikan guru BK memiliki peran dan sikap adil pada semua peserta didik tanpa terkecuali. Dengan demikian, kesejahteraan psikologis peserta didik atau student wellbeing peserta didik dapat terwujud dan peserta didik mampu mengaktualisasikan diri sesuai potensi positif yang ada dalam dirinya demi mencapai perkembangan yang optimal. Mengacu pada peran tersebut, maka sebagai seorang guru BK perlu kiranya berfokus kepada semua siswa tanpa terkecuali baik pembinaan secara klasikal maupun individual agar lebih memahami diferensiasi karakter siswa asuhnya. Agar mencapai itu semua, dalam melakukan layanan sebaiknya guru Bimbingan dan Konseling dalam menghadapi generasi Z, tidak hanya berfokus pada siswa bermasalah saja. Siswa yang tampak normal dan baik-baik saja dalam keseharian di sekolah dan siswa yang berprestasi berhak mendapatkan layanan juga. Meski di lapangan tidak semua sekolah memiliki guru BK yang memadai sesuai dengan jumlah siswanya, tetapi sebagai guru BK yang profesional bisa menjalankan tugas ini sebisa mungkin, meski tak sesempurna yang diharapkan sekalipun, namun sudah ada gerakan yang menunjukkan ke arah pencapaian program dan pelaksanaannya, Kita ketahui bersama, Generasi Z adalah generasi yang kebanjiran informasi. Hal ini menyebabkan remaja yang dijuluki Gen Z yang ketika hidup sudah langsung mengenal teknologi informasi dan media sosial, seringkali sudah mengetahui terlebih dahulu materi yang ditanyakan oleh guru BKnya. Oleh karena itu, ada baiknya pemberian layanan guru BK wajib melakukan brainstroming dengan menanyakan lebih dahulu pada peserta didik yang elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 71 O P I N I
menjadi sasarannya mengenai pengetahuan apa saja yang ia pahami akan suatu istilah yang ada dalam materi yang akan diberikan, lalu membahasnya bersama dan mengaitkan dengan kondisi sekitar serta kondisi psikologis individu itu sendiri. Tidak jarang dari obrolan ini akan membuat individu menjadi lebih terbuka dan tanpa sadar mengungkap sisi lain dari kepribadiannya kepada guru BK. Dalam teknik pelaksanaan yang dilakukan guru BK, selain pendekatan klasikal perlu juga melakukan pendekatan personal dengan menjemput bola dan target melakukan pelayanan dengan memanggil peserta didik sehari minimal tiga atau mencoba membuat appointment melalui WAPri yang nomornya bisa dilihat di WAG BK yang telah dibuat. Seorang guru BK harus terlatih untuk bisa menciptakan rapport yang baik. Di awal pertemuan individual mencoba mendalami identitas peserta didik. Jika peserta didik tersebut tidak memberikan pertanyaan atau merasa dalam keadaan baik-baik saja, sebagai guru Bimbingan dan Konseling harus mampu memberikan konten psikologi positif. Salah satu contohnya, guru BK memberikan materi yang sedang ter-update tentang bagaimana menjadi remaja yang memiliki resiliensi, atau konten-konten yang terkait dengan kisah-kisah nyata inspratif yang dapat lebih membangun rasa optimis dan percaya diri dalam diri siswa. Ini adalah kesempatan untuk mengenal siswa secara personal dan lebih dalam lagi. Lalu ada pertanyaan bagaimana dengan waktunya? Nah, inilah yang selama ini menjadi permasalahan para guru BK karena keterbatasan waktu mengenal siswa secara personal, mengingat waktu belajar yang terlalu padat. Untuk itu, agar tetap memberikan jadwal berkala kepada peserta didik secara individual untuk memahami perkembangan unik kepribadian yang dimiliki, guru BK akan melanjutkan secara online di waktuwaktu yang telah disepakati. Apabila peserta didik yang terlihat tak bermasalah mengungkapkan pertanyaan dan meminta sebuah pendapat kepada guru BK, maka guru BK akan berusaha memberikan jawaban yang diinginkan peserta didik. Siswa yang tampak tidak bersemangat bisa tidak melanjutkan terlalu banyak materinya atau perbincangannya, disebabkan mood siswa saat konseling online dan offline secara personal akan tampak dan terasa dengan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 72 O P I N I
sendirinya. Memanggil peserta didik secara individual dirasakan dapat meningkatkan value seorang guru BK. Eksistensinya di sekolah sebagai sahabat siswa akan sangat dapat dirasakan oleh seluruh peserta didik tanpa terkecuali, karena strategi layanannya bisa memberikan manfaat yang besar dengan materi-materi yang mengarah kepada psikologi positif. Psikologi yang kita tahu selama ini berkonsentrasi pada hal-hal negatif seperti fobia, trauma, dan penyakitpenyakit psikologis dan perilaku pelanggaran tata tertib di sekolah. Lalu bagaimana dengan orangorang atau peserta didik yang sudah sehat secara mental? Di sinilah peran psikologi positif, di mana psikologi positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat individu atau sekelompok orang menjadi berhasil dalam meraih tujuan hidupnya, sehingga ia menjadi bahagia. Salah satu pusat perhatian utama dari cabang psikologi ini adalah pengenalan dan pengembangan kemampuan, bakat individu yang posisitf yang ada dalam diri individu itu sendiri, agar dapat membantu tercapainya kualitas hidup dari normal menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih bahagia. Psikologi positif merupakan kajian ilmiah tentang memahami apa yang benar dalam hidup, ilmu yang berusaha memahami emosi positif, membangun kekuatan dan kebajikan, serta menyedikan panduan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik. Bidang kajian psikologi positif lebih menekankan perhatiannya pada kelebihan dan kekuatan manusia dan mencoba untuk membangun hidup manusia di atas apa yang terbaik dalam dirinya. Domain kajian psikologi positif di antaranya adalah: pengalaman individu berupa kebahagiaan dan kepuasan hidup, sifat-sifat individu yang positif, dan kelompok-kelompok yang positif. Dengan berstrategi memasukkan konten psikologi positif dalam layanan BK, diharapkan citra profesi guru Bimbingan dan Konseling semakin terangkat. Tidak hanya berfungsi sebagai pengentasan, juga pada pencegahan dan pengembangan yang berlaku untuk semua siswa tanpa terkecuali. Pada akhirnya, program-program bimbingan dan konseling di sekolah dapat diarahkan pada terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan psikologis peserta didik yang penuh makna tanpa terkecuali di era merdeka belajar. (*) elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 73 O P I N I
ndonesia merupakan negara yang memiliki beragam ras, suku, etnis, bahasa, budaya, dan agama. Adanya multikulturalisme menjadi kekayaan dan keunikan bagi bangsa Indonesia. Namun, multikulturalisme yang tidak sesuai akan memunculkan potensi terjadinya konflik di masyarakat. Terutama dalam hal perbedaan agama. Selain agama dan aliran kepercayaan yang beragam, juga terdapat keragaman penafsiran yang berkaitan dengan agama masingmasing. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tahun 2020 mengungkapkan tentang adanya peningkatan kasus intoleransi di Indonesia. Salah satu yang paling dominan adalah adanya kasus penolakan pendirian rumah ibadah umat minoritas. Hal ini Moderasi Beragama sebagai Upaya Menjaga Kerukunan Masyarakat Multikultural Oleh INTAN NUR FAUZIAH SAPUTRI elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 74 diperkuat oleh riset SETARA Institute pada tahun 2020 yang menyebutkan bahwa terdapat 422 tindakan pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia. (BPIP, Pusdatin, Desember 2020) Berdasarkan data tersebut, dapat dipahami bahwa perbedaan agama bisa memicu terjadinya konflik dan perpecahan di dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sudut pandang dalam memahami dan memaknai teks-teks agama yang berbeda. Cara pandang ini kemudian menjadi penyebab munculnya implikasi pada sikap dan praktik beragama seseorang dalam tindakan sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan peran penting tokoh agama, pemimpin negara dan tokoh masyarakat dalam mewujudkan I Seorang pelajar yang berdomisili di Dusun Babat Randupitu Pasuruan Jawa Timur. Instagram @intan_nfs. Moderasi beragama saat ini sangat diperlukan, terutama dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Moderasi beragama adalah sebuah cara pandang atau suatu sikap dan perilaku untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak berlebih-lebihan atau ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. O P I N I
moderasi beragama sebagai upaya menjaga kerukunan, khususnya bagi masyarakat yang kaya akan budaya multikultural. Di wilayah Kabupaten Pasuruan terdapat berbagai macam jenis agama, yaitu Islam, Hindu, dan Kristen. Tidak hanya itu, suku di Kabupaten Pasuruan yang paling terkenal, yakni suku Tengger. Suku Tengger ini terdapat pada empat kabupaten. Di antaranya Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Dengan adanya berbagai macam suku, agama dan budaya tersebut, wilayah mereka terkenal akan multikultural. Secara umum, pengertian dari multikultural adalah suatu sikap yang menghargai atau menghormati perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat. Baik dalam suatu kelompok maupun individu, makna lainnya adalah sikap menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab itu, dengan adanya keragaman budaya, multikulturalisme harus menjadi benteng guna untuk mewujudkan persatuan, kerukunan, keharmonisan dalam suatu wilayah ataupun negara. Dengan adanya pengukuhan terhadap moderasi beragama menjadikan seseorang mampu bertanggung jawab dalam mengupayakan adanya kerukunan. Pengukuhan moderasi beragama saat ini di Indonesia sangat diperlukan, terutama dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Moderasi beragama adalah sebuah cara pandang atau suatu sikap dan perilaku untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak berlebihlebihan atau ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Hal itu dikarenakan fakta Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk dengan berbagai macam agama, suku, bahasa, dan budaya. Kemajemukan tersebut dapat dibuktikan di berbagai daerah yang memiliki berbagai macam kepercayaan. Salah satunya di Kabupaten Pasuruan. Moderasi beragama amat dibutuhkan di tengah perbedaan keberagamaan masyarakat Indonesia. Terlebih lagi di Kabupaten Pasuruan yang terkenal akan keragaman ras, agama, dan budaya. Karena seiring berjalannya waktu, mereka pasti memiliki perbedaan sudut pandang. Sehingga dengan adanya moderasi beragama ini bertujuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan dengan sikap toleran dan moderat, serta mewujudkan kehidupan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 75 O P I N I
masyarakat yang harmonis dan melahirkan kesatuan dari berbagai sudut pandang. Dalam mengimplementasikan moderasi beragama, masyarakat perlu melakukan berbagai cara, yaitu sebagai berikut: (1) Mengedepankan kepentingan golongan daripada kepentingan pribadi, (2) Mengukuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas, (3) Belajar menerima dan menghargai pendapat orang lain, meskipun terdapat beberapa perbedaan mengenai pendapat tersebut, dan (4) Mengendalikan emosi diri dan berusaha menjadi pribadi yang selalu menghargai setiap orang. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah multikultural harus berusaha untuk memberikan kontribusi besar dalam upaya menjaga kerukunan. Kita juga harus mengukuhkan moderasi beragama guna mewujudkan kesatuan dan persatuan bagi nusa, bangsa, agama, dan negara. (*) elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 76 O P I N I
rof. Dr. Mursal Esten seorang akademisi, sastrawan, penulis, dan budayawan Indonesia. Lahir dari pasangan Sutan Nurdin (ayah) dan Chuzaimah (ibu) di Solok, 5 September 1941. Meninggal di Rumah Sakit Umum M. Djamil Padang dalam usia 62 tahun pada 17 Agustus 2003 karena penyakit diabetes, dan dikebumikan di kampung halamannya di Nagari Kacang, Kabupaten Solok. Almarhum semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat (1988-2001), Direktur ASKI Padang Panjang (1993-1999), dan Ketua STSI Padang Panjang (1999-2003). Saya berteman akrab dengan Mursal Esten sejak tahun 1988. Masa itu, saya masih menjadi mahasiswa di FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Seorang Ayah, Guru, dan Teman Diskusi yang Baik Oleh SULAIMAN JUNED elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 77 Syiah Kuala, Banda Aceh. Pertemanan itu terjadi karena acapkali bersua dalam event-event sastra dan teater, baik seminar sastra, dialog sastra, temu sastrawan, Temu Teater Sumatra, dan Temu Teater Indonesia yang ditaja untuk tingkat Sumatra maupun nasional bahkan internasional. Di samping itu, Mursal Esten sering mengirimkan tulisan sastra ketika saya dipercayakan menjadi redaktur budaya di tabloid Warta Unsyiah yang diterbitkan secara berkala oleh Humas UNSYIAH (kini USK—pen.). Juga ketika menjabat redaktur budaya di surat kabar mingguan Peristiwa Aceh. Tulisan-tulisan beliau sering terpublikasikan di ruang budaya. Sebagai budayawan sejak itu memberikan kritik dan saran terhadap kemajuan ruang sastra dan budaya di media P Sastrawan, kolumnis, esais, sutradara teater, ketua pendirian ISBI Aceh, pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, pendiri UKM-Teater NOL USK, pendiri/penasihat Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, dosen Jurusan Seni Teater dan Pascasarjana (S-2) ISI Padang Panjang, Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatra Barat. Akhirnya, di tahun 1998 saya resmi menjadi dosen honorer dengan menerima honor Rp100 ribu sebulan. Alhamdulillah. Sembari menjadi mahasiswa, juga dipercayakan menjadi dosen, sebuah pengalaman yang paling berharga karena diberi kepercayaan oleh guru dan mahaguru saya yang luar biasa di ASKI Padang Panjang. IN MEMORIAM MURSAL ESTEN K O L O M
tersebut. Kemudian, pertemuan yang membuat kami semakin akrab ketika mengikuti event Temu Teater Indonesia tahun 1997 di Pekanbaru. Teater Aceh waktu itu diwakili Teater Alam menggarap pertunjukan "Pemburu Perkasa" terjemahan W.S. Rendra yang disutradarai Din Saja, dan saya bersama Adek Lataikam menjadi aktornya. Penata artistik Syahrul Siddiq (kini sudah almarhum), pimpinan produksi Said Adli. Kami tampil di Teater Arena Dang Merdu Pekanbaru dan yang menjadi pengamatnya Mursal Esten. Seusai pertunjukan dan diskusi, saya dipanggil khusus sama beliau. Mulailah dialog panjang itu. Intinya, mengajak untuk menjadi dosen di Jurusan Seni Teater Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang yang tahun 1997 akan menerima mahasiswa baru. "Tolong ajak juga rekan-rekan seniman teater Aceh untuk menjadi mahasiswa di ASKI Padang Panjang". Saya menyanggupinya, jika saya diizinkan ibu dan istri untuk mengabdi di Padang Panjang. Sekembali dari Temu Teater Indonesia itu, tentu dengan senang hati menyampaikan kabar itu kepada rekan-rekan seniman teater di Banda Aceh. Awalnya sangat ramai yang berniat turut serta menjadi mahasiswa. Namun, karena terkendala dana, maka yang jadi berangkat waktu itu hanya berenam, yakni saya, Dharminta Soeryana (kini dosen di Jurusan Seni Teater ISI Padang Panjang), Zulfikar, Syahrul siddiq, Djamal Sharief (berlima memilih teater), dan Marlina Machmud (memilih tari). Saya waktu itu sedang menjadi honorer di Kanwil Depdikbud Aceh (Kini Dinas Pendidikan Aceh) di bagian Penerangan, dan kala itu menjadi pengelola khusus majalah KIPRAH. Saya mendapat bantuan dan suntikan dana dari Kakanwil, juga dari Kepala Taman Budaya Aceh, Sujiman Musa (alm.). Jasa baik orang-orang ini selalu saya kenang dan membuat kami berenam FOTO: DOK. SULAIMAN JUNED ALMARHUM Prof. Dr. Mursal Esten, mantan Ketua STSI Padang Panjang, saat prosesi wisuda sarjana Sulaiman Juned di kampus STSI Padang Panjang. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 78 K O L O M
sampai ke Padang Panjang. Setibanya di Padang Panjang, Subuh berkabut dalam gigil kami duduk di pelataran gedung auditorium Boestanul Arifin Adam. Lalu kami dijemput oleh uda kami, Arzul Jamaan (salah seorang pendiri Jurusan Seni Teater). Semua barang kami titip di Kantor Humas ASKI Padang Panjang yang waktu itu kepala humasnya Drs. Hanefi, M.Pd. “Nanti kalau kantor sudah dibuka, kami diberi penginapan oleh Pak Mursal Esten di rumah dinas beliau,” tutur Uda Arzul Jamaan. Sementara adik kami, Dedek (Marlina), diberikan penginapan (kos) di rumah Uda Arzul Jamaan. Pagi itu, saya dan temanteman menuju rektorat ASKI Padang Panjang. Pak Mursal Esten ternyata tidak masuk hari itu. Dari sekretarisnya kami tahu Direktur ASKI itu masuk besok pagi karena sedang dinas ke Jakarta. Saya menemani rekan-rekan mendaftar jadi mahasiswa. Namun, akhirnya saya tertarik juga untuk menjadi mahasiswa dan langsung mendaftarkan diri. Jadilah saya dan rekan-rekan sebagai mahasiswa angkatan pertama Jurusan Seni Teater (1997). Keesokan harinya, pagipagi benar terdengar klakson mobil di halaman rumah dinas. Saya bukakan pintu, ternyata Prof. Dr. Mursal Esten telah sampai dari Padang. Pak Mursal tidak berdomisili di Padang Panjang, makanya rumah dinasnya diberikan untuk penginapan kami. Beliau setiap hari menyetir sendiri mobilnya. Luar biasa beliau ini. Lalu, beliau mengajak saya membawa seluruh dokumen untuk mendaftarkan diri sebagai dosen. Namun, saya sampaikan kepadanya saya sudah mendaftar sebagai mahasiswa. Beliau sangat marah saat itu, sembari berucap, "Baik kalau begitu, saya harap tahun depan, Soel harus dan mesti mau jadi dosen honorer di Jurusan Teater. “Jadi mahasiswa sekaligus dosen,” ucapnya. Saya tatap matanya yang penuh harap, lalu saya jawab, "Siap, jika saya diperlukan." Akhirnya, di tahun 1998 saya resmi menjadi dosen honorer dengan menerima honor seratus ribu sebulan. Alhamdulillah. Sembari menjadi mahasiswa, juga dipercayakan menjadi dosen, sebuah pengalaman yang paling berharga karena diberi kepercayaan oleh guru dan mahaguru saya yang luar biasa di ASKI Padang Panjang. Tanpa mereka saya tentu tak ada artinya. Selanjutnya, dalam proses perkuliahan diminta pula oleh ayahanda Mursal Esten untuk mendirikan Komunitas Seni Kuflet. Maka, pada elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 79 K O L O M
12 Mei 1997, berdirilah komunitas seni itu di Padang Panjang yang seluruh biaya latihan, pertunjukan, dan segalanya dibiayai oleh beliau. Sejak Kuflet berdiri, Prof. Dr. Mursal Esten benarbenar menjadi ayah, guru, dan teman diskusi buat saya. Selain di sekretariat Kuflet, setiap seminggu sekali ia mampir memberikan suntikan semangat dan ilmu juga membawa tokoh sastrawan dan teaterawan yang mampir ke ASKI Padang Panjang sekaligus mampir ke Kuflet. Sementara itu, setiap hari minimal dua jam saya selalu dipanggil ke ruangan beliau untuk diskusi perihal sastra, teater, dan literasi, serta manajemen kepemimpinan. Mursal Esten telah menjadi ayah, guru dan teman diskusi yang baik. Tentu saya banyak belajar dari beliau. Alhamdulillah, saya syukuri mendapat ilmu dari beliau dan semoga berkah sampai akhir hayat. Tahun 2002 saya menyelesaikan pendidikan di Prodi Seni Teater STSI Padang Panjang. Pada tahun itu pula ada penerimaan dosen minat penyutradaraan. Pak Mursal memanggil saya, meminta agar saya megikuti tes CPNS tersebut. Saya minta maaf tidak bisa ikut karena usia saya sudah 37 tahun masa itu. Lalu, Mursal Esten mengatakan, "Ayo, ikut saja. Soel kan sudah mengabdi menjadi tenaga honorer sejak 1998, ikut saja testing CPNS, dan masalah yang lainnya, itu urusan Ayah,” ujarnya. Saya ikuti keinginannya, mendaftar, dan ikut testing dengan gembira. Alhamdulillah lulus, selanjutnya beliau menguruskan SK CPNS sampai selesai. Terima kasih ayahandaku, guruku, dan sahabatku yang meruangkan diskusi tak pernah putus juga ini menjadi ladang amalmu untuk menghadap Rabb-mu, dirimu tetap berada di hatiku. Atas jasamu pula saya dapat menuntaskan pendidikan Pascasarjana (S2) di ISI Surakarta, Jawa Tengah, dan menyelesaikan Program Doktoral Pascasarjana (S-3) ISI Surakarta, Jawa Tengah. Kini, hanya pesan Prof. Dr. Mursal Esten yang senantiasa terekam dalam visual ingatan, yang melekat dipikir dan jiwa saya. Pertama, katanya, jangan pernah meremehkan orang lain. Jika Tuhan berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, semuanya bisa terjadi. Kedua, teruslah membantu orang lain (siapa pun), karena kita bisa hebat disebabkan adanya orang lain. Ketiga, setia dan berlaku baiklah kepada setiap orang yang pernah membantumu elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 80 K O L O M
dengan ikhlas, jangan pernah kausakiti apalagi kau khianati.” Al-Fatihah untuk ayahandaku, guruku, dan teman diskusiku almarhum Prof. Dr. Mursal Esten. Tiga hal itu yang engkau pesankan selalu melekat dalam jiwa dan batinku juga pikirku. Terima kasih ajaranajaranmu yang sangat berharga buatku. Damailah engkau di sana wahai mahaguruku. Aamiin ya Rabbal 'alamin. (*) elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 80 PASAR BUKU Rumah di Tengah Sawah Ramaikan patjarmerah “Denyut” Solo dang terimpit masalah. Kehidupan di tengah sawah juga mengharuskan anak-anak rumah di tengah sawah berakrab-akrab dengan alam, seperti siap bertemu ular, lintah, kelelawar, dan hewan sawah lainnya. SOLO—Buku-buku terbitan Balai Pustaka ikut meramaikan Festival Literasi patjarmerah “Denyut” Solo, pada tanggal 1-9 Juli 2023, di Nda-lem Djojokoesoeman, Jl. Gajahan, Pa-sar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah. Balai Pustaka merekomendasikan beberapa buku baru, di antaranya novel Rumah di Tengah Sawah karya Muhammad Subhan dan novel Bila Sedih Agni Bernyanyi karya Annisa Setya & Afni Milan. Pencinta buku sastra di Solo dan sekitarnya meramaikan spot pasar buku patjarmerah “Denyut” Solo khususnya yang memajang bukubuku terbitan Balai Pustaka, di antaranya novel Rumah di Tengah Sawah. Novel Rumah di Tengah Sawah berkisah tentang petualangan tiga anak bernama Agam, Bondan, dan Anton yang bersahabat dan tinggal di pemukiman rumah di tengah sawah dengan segala suka duka mereka. Kematangan sikap hidup membuat ketiga anak yang berlatar keluarga kurang mampu itu mengharuskan mereka bahu-membahu membantu orang tua Agam dan Anton yang seBeberapa permainan tradisional yang dimainkan anak-anak rumah di tengah sawah, seperti adu layangan, patok lele, kelereng, dan lainnya mengingatkan keasyikan pembaca pada kehidupan generasi era ’80 dan ’90-an. Kebahagiaan anak-anak rumah di tengah sawah bersama keluarga mereka akhirnya tercederai oleh peristiwa penggusuran yang mengharuskan mereka mengubur mimpi dan meninggalkan kenangan masa kecil di lahan rumah di tengah sawah. Redaksi Balai Pustaka memberikan catatannya pada pembukaan novel ini, bahwa kegembiraan datang silih berganti dengan kesedihan, seolah saling bertukar tempat, seperti halnya situasi serius dan tegang yang saling berselang-seling dengan canda maupun senda gurau yang mengendurkan urat-urat syaraf. “Melalui novel ini kiranya para pembaca dapat melihat betapa semua hal di dalam kehidupan bergerak dinamis dan tidak satu pun yang diam. Semua hal bergerak menuju kondisi seimbang,” tulis Balai Pustaka. (tiara/elipsis) FOTO: ISTIMEWA K O L O M
idup di era sosial media yang semua serba online sekarang ini, sangatlah besar godaannya. Bila tak kuat menahan diri, maka apa pun bisa saja terjadi. Godaan terberat makhluk Tuhan yang bernama manusia itu, berasal dari mata serta telinga. Wanita ada pada telinga, sedangkan lelaki ada pada matanya, khususnya ketika seorang lelaki melancarkan aksinya dengan memberikan pujian serta rayuan maut. Terkadang, mendengar kata-kata manis, wanita bisa mabuk kepayang, terbuai akan kegombalan lelaki yang penuh dengan racun berbisa ini. Awalnya, sang ikhwan hanya mengagumi makhluk Tuhan paling indah bernama perempuan, selanjutnya akan berani iseng bilang, kamu cantik, bodymu aduhai, tubuhmu seksi, dan lain-lain. Maka, hati sang akhwat pun jadi melesat terbang melayang-layang entah pergi ke mana. Menundukkan Pandangan Oleh ASNA ROFIQOH elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 82 Nah, di sinilah kita para wanita harus waspada. Jangan gampang terbuai dan terlena.Tutup telinga rapatrapat, tidak usah dengarkan rayuan gombal mereka. Adapun seorang lelaki, godaan terbesarnya berasal dari mata. Yang namanya lelaki, di mana-mana sama saja, kalau melihat wanita cantik, pasti suka. Sudah sunnatullah. Sudah hukum alam, laki-laki suka kepada perempuan. Apalagi kalua wanita itu wajahnya cantik jelita. Itulah kenapa agama mewajibkan para lelaki agar mau serta ikhlas menundukkan pandangannya. "Tapi ghadul bashor itu berat, Maaak!" keluh mereka. "Ya, emang berat, Leee, apalagi kalau kamu hobinya add Facebook cewek-cewek cantik, follow IG gadis-gadis nan ayu penuh pesona. Bagaimana jakunmu tidak naik-turun coba, bila yang kamu pelototin saban hari akun-akun akhwat bening menggoda selera? H Guru, Tim Redaksi Majalah Digital elipsis, berdomisili Ponorogo. Seandainya saja, semua pria yang ada di muka bumi ini mau taat, mau ghadul bashar, tak akan ada istilah kalkulator, pelakor, maupun pebinor. MUHASABAH O A S E
"Itu semua akan membuat gadhul bashar-mu hanya jadi pepesan kosong semata, Le Tole!" Hmm. Kalau saja boleh berandai-andai, maka saya akan berandai. Seandainya saja, semua pria yang ada di muka bumi ini mau taat, mau ghadul bashar, tak akan ada istilah kalkulator, pelakor, maupun pebinor. Dan, sungguh! Zaman now, mencari ikhwan yang benar-benar ikhlas menundukkan pandangan itu, laksana mencari sebiji jarum yang jatuh di atas tumpukan suket (rumput) yang masih basah. Uangel pakek buanget, Cah (susah sekali)! Maka, ingatlah selalu firman Allah dalam Al-Qur’an surah An Nur ayat 30 yang berbunyi: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Wahai para wanita yang kadar kecantikannya di atas rata-rata, bantulah para lelaki agar mereka bisa menundukkan pandangan dengan cara, tidak bermudah-mudahan menguploud foto maupun video di sosial media. Sehebat apa pun seorang lelaki, sekuat apa pun imannya, tetap kelemahan mereka ada pada kecantikan wanita. Saya jadi ingat nasihat seorang ustaz. Pada dasarnya semua perempuan itu cantik. Tidak ada yang jelek. Tapi kecantikan wanita itu bertingkat-tingkat. Ada yang ijma’ atau disepakati. Artinya, ijma’ di sini adalah semua orang yang melihat dia (perempuan) sepakat bahwa dia cantik di atas rata-rata atau sangat cantik. Yang kedua, yaitu dikhilafkan, atau masih diperdebatkan kecantikannya. Artinya, belum ada kesepakatan bahwa perempuan ini cantik, masih ada satu-dua orang yang bilang biasa saja. Pada intinya nasihat ustaz itu begini, bagi wanita yang kecantikannya di atas ratarata, pakailah cadar supaya para lelaki tidak tergoda. Kalau menurut saya, wanita yang cantiknya di atas rata-rata, janganlah suka memamerkan foto atau video mereka di sosial media supaya para lelaki tidak mudah tergoda. Wallahu a'lam bish-shawab. (*) elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 83 "Pahlawan yang setia itu berkorban bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita." (Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan RI) O A S E
ada tanggal 4 Juli 2023 yang lalu telah dilaksanakan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dengan 7 organisasi Perpustakaan di Indonesia. RDPU dipimpin Abdul Fikri Faqih, anggota DPRRI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Komisi X membidangi pendidikan, olahraga, dan sejarah. Para ketua organisasi perpustakaan didaulat menjadi narasumber. Anggota Panitia Kerja (Panja) Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) Komisi X DPR RI yang hadir berjumlah 16 orang dari 31 orang. Agenda acara dalam RDPU ini meliputi tentang peluang dan tantangan literasi dan tenaga perpustakaan di Indonesia; dukungan organisasi profesi terhadap peningkatan Menyigi Rekomendasi Tujuh Paguyuban Perpustakaan dalam RDPU Komisi X DPR RI Oleh ISWADI SYAHRIAL NUPIN literasi; prioritas pemenuhan kebutuhan tenaga perpustakaan, serta masukan dan rekomendasi kebijakan peningkatan literasi dan tenaga perpustakaan. Acara RDPU ini ditaja TV Parlemen dan dapat diakses melalui kanal YouTube. Masing-masing organisasi perpustakaan memberikan rekomendasi kepada DPR RI agar dapat disampaikan sebagai masukan bagi Pemerintah RI. RDPU berlangsung dengan aman dan tertib. Ada beberapa rekomendasi yang diusulkan oleh tujuh organisasi perpustakaan kepada Komisi X DPR. Berikut ini beberapa rekomendasi yang diusulkan oleh 7 organisasi perpustakaan. Pertama, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) merekomendasikan perlunya apresiasi terhadap keberadaan pustakawan karena merupakan SDM P Pustakawan Muda Universitas Andalas, berdomisili di Padang. Gerakan literasi nasional untuk menciptakan masyarakat literat mustahil diperjuangankan dengan sendiri-sendiri. Diperlukan adanya kolaborasi dan blue print yang dituliskan melalui road map. S U D U T P A N D A N G elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 84
utama perpustakaan; dukungan moril dan materil kepada Perpustakaan Nasional sebagai instansi pembina, mitra utama, koordinator dan fasilitator Asosiasi Kepustakawanan Indonesia; Komisi X DPR RI agar mendorong berbagai instansi terkait baik di pusat dan daerah untuk membuka formasi, melakukan pengangkatan dan pembinaan pustakawan melalui berbagai mekanisme rekrutmen dan perlunya anggaran bagi Perpustakaan Nasional dalam meningkatkan literasi masyarakat, meningkatkan jumlah tenaga pengelola perpustakaan dan peningkatan kompetensi Pustakawan dan Tenaga Pengelola Perpustakaan. Kedua, Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) merekomendasikan upaya masyarakat menjadi masyarakat yang literat melalui perpustakaan; revisi UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan; perpustakaan desa/kecamatan dikembangkan sebagai sumber belajar yang terintegrasi dengan SDN/SMPN melalui teacher librarian; keterlibatan aktif masyarakat dalam penguatan perpustakaan publik, dan keterlibatan perpustakaan dalam tata kelola data. Ketiga, Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) merekomendasikan pentingnya perpustakaan menjadi pusat gerakan literasi dan pustakawan menjadi motor penggerak program kegiatan literasi; pembukaan formasi ASN/PPPK untuk pemenuhan ketercukupan pustakawan sekolah; peningkatan kualifikasi pendidikan tenaga perpustakaan sekolah melalui program S-1 Perpustakaan; perlunya kolaborasi intens antara Kemendikbudristek RI dengan Perpustakaan Nasional RI dalam pembinaan perpustakaan sekolah; perlunya terjalin kemitraan yang kuat antara Kemendikbudristek RI, Perpustakaan RI, dan asosiasi profesi tenaga perpustakaan sekolah. Keempat, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) merekomendasikan pemanfaatan peluang peningkatan literasi di perguruan tinggi antara lain mendorong dan menyusun progran-program literasi pada seluruh anggota FPPTI di semua wilayah; upaya peningkatan kualitas perguruan tinggi sebagai perguruan tinggi research; peningkatan kualitas lulusan; peningkatan jumlah elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 85 S U D U T P A N D A N G
publikasi dan hilirisasi riset pada masyarakat industri. Kelima, Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI) merekomendasikan penguatan perpustakaan khusus antara lain ketersediaan peraturan perundang-undangan tentang perpustakaan; ketersediaan jumlah pustakawan; penguatan repositori lembaga (konten lokal); mengalokasikan ketersediaan ruang yang nyaman dengan segala peralatannya yang memungkinkan setiap pengguna menikmati keberadaannya di perpustakaan dengan tenang; kebijakan penguatan literasi masyarakat; perpustakaan sebagai leading sektor literasi; promosi literasi berkelanjutan, kolaborasi dan kemitraan; penguatan peran profesi pustakawan dan penelitian dan evaluasi berkelanjutan. Keenam, Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI) merekomendasikan perlunya dirumuskan kebijakan pemerintah pusat mengenai pengadaan / informasi penerimaan CPNS atau PPPK yang akan ditempatkan baik di Perpustakaan Nasional RI maupun di unit-unit perpustakaan di daerah; perlu intervensi kebijakan Pemerintah Pusat yang jelas dan tegas untuk pembangunan perpustakaan desa/kelurahan melalui Kementerian Desa RI dan dukungan anggaran untuk pengembangan literasi di daerah pedesaan dan perlunya kebijakan nasional oleh Kementerian Dalam Negeri khususnya Dirjen Bina Pembangunan Daerah (Bangda) guna memperkuat peran Bapak/Bunda atau Duta Literasi sehingga diharapkan regulasi ini menjadi pemantik lahirnya regulasi di daerah. Ketujuh, Forum Perpustakaan Sekolah dan Madrasah Indonesia (FPSMI) merekomendasikan perlu adanya peninjauan kembali menyamakan tujuan dalam kebijakan yang ditentukan antara Standar Nasional Pendidikan dengan Standar Nasional Perpustakaan. Berdasarkan narasi di atas ada persamaan tuntutan atau rekomendasi beberapa organisasi perpustakaan, yaitu perlunya rekruitmen pustakawan dan teknis perpustakaan, peningkatan kompetensi dan sertifikasi serta pendidikan bagi pustakawan dan pengelola perpustakaan, peningkatan indeks literasi masyarakat untuk menuju masyarakat literat, peningkatan anggaran Perpustakaan Nasional RI dan perpustakaan desa/kelurahan serta perlunya penyamaan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 86 S U D U T P A N D A N G
standarisasi antara Standar Nasional Pendidikan dengan Standar Nasional Perpustakaan. Setiap tahun peserta didik baik yang memasuki sekolah dasar menengah maupun pendidikan tinggi meningkat pesat. Dengan demikian pengguna atau pemustaka pun bertambah, sehingga rasio pustakawan dengan pemustaka seyogianya mencapai taraf yang ideal. Jumlah pustakawan yang bertugas di perpustakaan baik umum, khusus, sekolah, perguruan tinggi negeri atau swasta relatif tidak seimbang dengan jumlah pemustaka yang dilayani. Hal ini disampaikan oleh Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional RI, dalam RDPU Komisi X DPR RI yang dilaksanakan 4 April 2023 lalu. Beliau menyebutkan bahwa Indonesia masih kekurangan 439.680 pustakawan (Kompas.com, diakses 11 Juli 2021). Jumlah tersebut meliputi semua jenis perpustakaan di Indonesia, baik perpustakaan umum, khusus, sekolah, perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Untuk mendukung kegiatan pelayanan di perpustakaan, maka tenaga teknis perpustakaan yang dibutuhkan berjumlah 87.936 orang. Pemerintah seyogianya perlu melakukan rekrutmen pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan sehingga tercapai taraf ideal perbandingan pustakawan, tenaga teknis, dan pemustaka. Kompetensi, sertifikasi dan pendidikan pustakawan dan Tenaga Teknis Perpustakaan perlu ditingkatkan. Kegiatan uji kompetensi dan sertifikasi yang berlangsung setiap tahun yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional RI secara daring dan luring layak untuk diapresiasi. Diharapkan kegiatan ini juga mencakup bagi tenaga teknis perpustakaan, baik PNS maupun non-PNS. Hal ini bertujuan agar wawasannya meningkat mengenai aktivitas kepustakawanan. Pemerintah seyogianya berkesinambungan memberikan beasiswa strata satu, dua, dan tiga bagi Pustakawan dan Tenaga Teknis Perpustakaan. Dengan meningkatnya pendidikan staf perpustakaan secara otomatis meningkat pula kesejahteraannya melalui tunjangan jabatan dan kenaikan pangkatnya. Untuk mencapai masyarakat literat, maka dipandang perlu membentuk forum sinergitas. Forum sinergitas terdiri dari berbagai paguyuban perpustakaan, Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 87 S U D U T P A N D A N G
komunitas literasi, perusahaan yang memiliki minat mendukung program literasi dan inklusi sosial, baik milik pemerintah atau swasta serta decision maker, yakni Kemendikbudristek RI dan Perpustakaan Nasional RI. Gerakan literasi nasional untuk menciptakan masyarakat literat mustahil diperjuangankan dengan sendiri-sendiri. Diperlukan adanya kolaborasi dan blue print yang dituliskan melalui road map. Tak hanya pustakawan dan Tenaga Perpustakaan yang diapresiasi, akan tetapi juga aktivis penggerak literasi. Dalam acara RDPU beberapa hari yang lalu, penulis menyayangkan FTBM tidak diundang dalam kegiatan tersebut. Padahal rekomendasi FTBM sangat perlu didengarkan terkait dengan perkembangan literasi masyarakat grass root. Peningkatan anggaran Perpustakaan Nasional RI dan Perpustakaan Desa/Kelurahan perlu dilakukan. Anggaran Perpustakaan Nasional RI yang meningkat secara langsung meningkatkan wawasan pustakawan dan Tenaga Teknis Perpustakaan. Perpustakaan Nasional RI dapat melaksanakan bimbingan teknis, workshop, seminar, dan diklat secara daring dan luring atau blended (baca: gabungan metode daring dan luring). Di samping itu, pustakawan Perpustakaan Nasional RI juga dapat memberikan penyuluhan kepada pustakawan dan Tenaga Teknis Perpustakaan di daerah agar dapat memahami kegiatan kepustakawanan. Perpustakaan desa/kelurahan yang anggarannya meningkat dapat mempekerjakan staf perpustakaan desa/kelurahan untuk mengelola perpustakaan dengan baik. Kegiatan lain yang dapat dilaksanakan perpustakaan desa/kelurahan adalah mengadakan pelatihan menulis opini atau cerpen bagi pelajar di desa/kelurahan. Pelatihan ini tentu mengharuskan pengelola perpustakaan desa/kelurahan berkolaborasi dengan guru atau aktivis penggerak literasi. Output-nya, pelajar akan mahir menulis opini dan cerpen. Bila perlu karya para pelajar tersebut dibukukan. Penyamaan standarisasi pendidikan nasional dengan standar nasional perpustakaan sangat perlu dilakukan. Akan tetapi dalam PP No.57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak ada pasal atau ayat yang membahas tentang Perpustakaan elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 88 S U D U T P A N D A N G
Sekolah/Madrasah. Diharapkan akreditasi sekolah/madrasah seyogianya berbanding lurus dengan dengan sarana dan prasarana serta pengelola perpustakaan sekolah/madrasah yang berkualitas. Kolaborasi sangat penting dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang literat. When you need to innovate, you need collaboration. Ketika kamu perlu berinovasi, kamu membutuhkan kolaborasi. Demikian quote Marissa Meyer, novelis kondang asal Amerika Serikat. (*) elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 89 S U D U T P A N D A N G
arel berhenti, Bu,” ucap salah satu santri kepada Amel. Wanita yang bernama Amalia Geraline itu terkejut kemudian memandangi wajah santrinya satu per satu. Seakan tidak percaya, santri yang bernama Muhammad Farel telah berhenti. Baru saja kemarin dia bertemu dan meminta jam tangan Amel. Jam yang melingkar di pergelangan tangan wanita cantik itu. “Boleh, jam itu untukku, Bu?” tanya Farel yang lebih tepatnya memaksa Amel untuk menjawab, boleh. Santri yang satu itu memang sangat unik. Sejak pertama kali Amel mengenalnya. Amel memandangi jam tangan yang berwarna hitam, jamitu sangat disukai Amel, tapi membuat siswanya kecewa bukanlah tipe Amel. Dia langsung membukanya dan memberikannya kepada Farel. Jam untuk Farel Amel hanya terdiam. Kedua tangannya beberapa kali menyeka air mata. Dia sangat senang melihat salah satu siswanya sedang berdiri di hadapannya dengan membawa kabar kesuksesan. Oleh Heza Hara C E R P E N Sudah seminggu mengajar, Amel hanya mengetahui namanya, dia tidak pernah masuk. Hal tersebut membuatnya merasa penasaran. Di hari kesepuluh barulah Farel datang. Pagi itu Amel terkejut, karena ada yang mengangkat tangan ketika dia membacakan urutan absen ke-20 sambil berkata, “Hadir, Bu!” “Hai, ternyata kamu yang bernama Farel,“ ucap Amel sembari memberikan senyum kepada seisi kelas yang disambut tawa oleh semua santri. “Akhirnya dia datang, Bu,” jawab Ahmad sambil menjulurkan lidah kepada Farel. “Ehhh, pada rindu, ya,” balas Farel yang membuat teman-teman berlari ke arahnya dengan berbagai aksi, ada yang menjewer telinga, memukul lembut, elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 90 "F T E M P A Y A N Lukisan Karya: Rezi Ilfi Rahmi Judul: Makan Bersama (2022) Media: Akrilik pada kanvas Ukuran: 100 x 160 cm
dan ada juga yang mencubitnya. Suasana kelas pagi itu begitu ceria. Kegiatan holoqoh yang diadakan setiap pagi kerap kali membuat santri terlihat bosan. Namun, tidak untuk hari itu. Amel merupakan seorang guru baru di Pondok Pesantren Nahdatul Islam. Sebelumnya dia mengajar di SMK. Mengajar di sebuah pondok pesantren telah membuatnya hijrah menjadi lebih baik, mulai dari cara bersikap dan kerudung yang mulai dipanjangkan. Dia seperti memberikan warna baru di pondok pesantren itu. Terkadang Amel merasa kasihan, banyak santri yang masih butuh perhatian orang tua. Butuh kasih sayang, tetapi harus belajar mandiri di sini. Banyak yang belum siap dengan kehidupan barunya. Namun, yang menjadi persoalan tidak hanya itu, bahkan tenaga pendidik pun berlaku masa bodoh. Seharusnya bisa menebarkan kasih sayang sebagai pengganti orang tua di rumah. Belajar itu memang butuh disiplin namun belajar dengan cinta akan membuat disiplin itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksa. Menjadi guru itu adalah perihal cinta bukan memaksakan kehendak kepada siswa. *** AMEL berjalan gontai di koridor. Di kiri-kanan terlihat para santri menghafal bacaan Al-Qur’an. Suaranya terdengar merdu. Cara mereka menghafal pun terkadang unik. Bahkan terkadang mengundang tawa. Mereka menghafal dengan berbagai cara. ada yang sambil mondar-mandir, ada yang dengan mendekatkan badan ke dinding dan menempelkan kepalanya di dinding itu, ada yang tiduran dengan Al-Qur’an menutupi wajah tetapi suaranya terdengar nyaring. Melantunkanayatayat suci itu. Sungguhpemandangan yang tidak pernah ditemukan Amel ketika dulu mengajar di tempat yang lama. “Farel berhenti, Bu?” Tanya Amel sambil menarik sebuah kursi mendekat ke seorang wanita cantik yang usianya jauh lebih muda dari Amel. Zira namanya. Penjelasan Ibu Zira membuat Amel lemas. Ingatannya kembali ke ruang kelas X1.Wajah manis yang ternyata menyimpan banyak masalah tidak terlihat dari Farel. Dia selalu ceria. Sekarang Amel mengerti, mungkin sikap itu untuk menutupi segala duka yang dirasakannya. Seorang anak laki-laki yang sudah harus memikul beban. Seharusnya belum saatnya. Ayahnya sudah lama meninggal dan Ibunya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Kehidupannya sangat sulit. Bahkan selama mondok, hanya beberapa kali ia dikunjungi keluarga, itu pun hanya paman yang datang. Dia tidak pernah mendapatkan kiriman uang jajan. Teman-temanlah yang sering berbagi makanan dengannya. Amel tidak bisa membayangkan bagaimana anak sekecil itu bisa menahan begitu banyak elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 91 T E M P A Y A N
keinginan, ketika di hadapannya terlihat semua yang diinginkan? Apa yang dirasakannya, ketika para orang tua mengantarkan bukaan saat puasa SeninKamis kepada teman-temannya? Apa yang dirasakannya, ketika melihat teman-temanya bisa jajan di kantin dengan laneka makanan? Sungguh semua penjelasan dari wali kelas Farel tadi membuat air mata Amel mengalir tanpa disadari, dan Farel berhenti sekolah karena ingin mencari ibunya ke Malaysia. Dia kabur dari asrama. “Ya Allah, lindungi Farel," gumam Amel dalam hati ketika air matanya serasa berhamburan ke luar. Kerudung berwana mocca yang ia kenakan sudah basah oleh air mata. Hal ini membuat hati Amel sangat miris. Akankah kemiskinan selalu membuat masa depan anak-anak hancur? Amel melihat pergelangan tangannya. Ia teringat ketika Farel meminta jam tangannya. Sebuah kesimpulan ia temukan, berarti Farel sengaja meminta jamnya sebagai kenang-kenangan. Andai saja ia mau lebih terbuka dengan menceritakan persoalannya. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Farel, seorang anak yang baru berumur empat belas tahun, masih terlalu kecil untuk mengambil sebuah keputusan yang besar dengan memilih berhenti sekolah dan mencari ibunya. Dia bahkan tidak mempertimbangkan akibat ketika dia memilih berhenti dari sekolah. *** EMPAT belas tahun kemudian. “Assalamualaikum, Bu.” Terdengar suara seorang laki-laki berwajah tampan memakai kemeja biru polos. Amel menjawab salam sambil meletakkan barang yang sedang dipilihnya di sebuah mini market. “Saya Farel, Bu,” ucap lelaki yang berada beberapa langkah di depan Amel. Hanya berjarak sebuah troli yang dipakai Amel sebagai tempat belanjaannya. “Farel???” hanya itu kata yang bisa terucap dari bibir wanita itu. “Kamu ke mana saja, Nak?” tanya Amel ketika air matanya tidak bisa lagi tertahan. Bulir bening itu terus saja mengalir. Amel memperhatikan wajah tampan yang sedang berada di depannya. Tidak kurang sedikit pun, tidak ada yang terluka seperti yang dikhawatirkannya dulu ketika anak kecil ini kabur dari asrama. “Alhamdulillah, Bu aku sudah bertemu dengan Ibu. Aku sekarang sudah bekerja di Malaysia. Ada seorang lelaki yang baik hati yang kukenal ketika aku kabur. Diamengangkatku sebagai anaknya, Bu. Dia menyekolahkanku. Cita-citaku adalah bisa bertemu dengan Ibu. Satu-satunya cara dengan rajin belajar agar bisa mendapatkan beasiswa. Aku berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Aku berangkat dan kuliah ke Malaysia.Aku yakin semua ini berkat doa-doa orang yang baik kepadaku dan termasuk doamu, Bu. Jam yang pernah aku minta selalu mengingatkan aku akan waktu-waktu salat. Di saat itulah aku merasa tidak sendiri, aku bisa berdoa dan berserah diri kepada Allah. Semoga Allah mewujudkan cita-citaku untuk bisa menjadi orang sukses dan bertemu dengan ibuku.” Cerita Farel kepada Amel dengan linangan air mata. Amel hanya terdiam. Kedua tangannya beberapa kali menyeka air mata. Dia sangat senang melihat salah satu siswanya sedang elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 92 T E M P A Y A N
T E M P A Y A N berdiri di hadapannya dengan membawa kabar kesuksesan. Seorang anak yang begitu unik yang mungkin tidak ada yangmenyangka dia akan kembali dengan membawa kabar baik. Cita-cita berawal dari hal abstrak, di dalamnya terdapat rahasia Allah. Orang lain tidak akan bisa meramalkannya, kecuali diri sendiri. Dengan keinginan yang kuat semua yang diimpikan pasti bisa tercapai. (*) Duri, 31 Maret 2023 HEZA HARA Lahir di Duri, 31 Oktober 1986. Telah menerbitkan tiga buku solo, yaitu: Antologi Puisi Karena Kucinta Kau (2021), novel Bulan di Hati Luna (2021), dan kumpulan cerpen Ombak Penyesalan di Lautan Hati (2022). PASAR BUKU Rumah di Tengah Sawah Ramaikan patjarmerah “Denyut” Solo Kehidupan di tengah sawah juga mengharuskan anak-anak rumah di tengah sawah berakrab-akrab dengan alam, seperti siap bertemu ular, lintah, kelelawar, dan hewan sawah lainnya. Beberapa permainan tradisional yang dimainkan anak-anak rumah SOLO—Buku-buku terbitan Balai Pustaka ikut meramaikan Festival Literasi patjarmerah “Denyut” Solo, mulai tanggal 1-9 Juli 2023, di Ndalem Djojokoesoeman, Jl. Gajahan, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah. Balai Pustaka merekomendasikan beberapa buku baru, di antaranya novel Rumah di Tengah Sawah karya Muhammad Subhan dan novel Bila Sedih Agni Bernyanyi karya Annisa Setya & Afni Milan. Pencinta buku sastra di Solo dan sekitarnya dapat menyinggahi spot pasar buku patjarmerah “Denyut” Solo yang memajang buku-buku terbitan Balai Pustaka, khususnya novel Rumah di Tengah Sawah. Novel Rumah di Tengah Sawah berkisah tentang petualangan tiga anak bernama Agam, Bondan, dan Anton yang bersahabat dan tinggal di pemukiman rumah di tengah sawah dengan segala suka duka mereka. Kematangan sikap hidup membuat ketiga anak yang berlatar keluarga kurang mampu itu mengharuskan mereka bahu-membahu membantu orang tua Agam dan Anton yang sedang terimpit masalah. di tengah sawah seperti adu layangan, patok lele, kelereng, dan lainnya mengingatkan keasyikan pembaca pada kehidupan generasi era ’80 dan ’90-an. Kebahagiaan anak-anak rumah di tengah sawah bersama keluarga mereka akhirnya tercederai oleh peristiwa penggusuran yang mengharuskan mereka mengubur mimpi dan meninggalkan kenangan masa kecil di lahan rumah di tengah sawah. Redaksi Balai Pustaka memberikan catatannya pada pembukaan novel ini, bahwa kegembiraan datang silih berganti dengan kesedihan, seolah saling bertukar tempat, seperti halnya situasi serius dan tegang yang saling berselang-seling dengan canda maupun senda gurau yang mengendurkan urat-urat syaraf. “Melalui novel ini kiranya para pembaca dapat melihat betapa semua hal di dalam kehidupan bergerak dinamis dan tidak satu pun yang diam. Semua hal bergerak menuju kondisi seimbang,” tulis Balai Pustaka. (*/tiara/elipsis) FOTO: ISTIMEWA
enam bulan itu hibernasi,” cibir tombol spasi tanpa simpati. “Lihat aku. Meski aku kosong– karena aku memang sebuah spasi– tetapi kekosonganku diperlukan untuk memenuhi sebuah tulisan yang hakiki. Semua penulis membutuhkanku, tanpa kecuali. Sedangkan kau? Betul-betul kosong, penyair tanpa bunyi.” “Enam bulan itu mati suri,” paduan suara tombol-tombol menjadi serbuan hina bergerombol. “Enam bulan itu kehidupan seorang zombie,” cela monitor dengan raut datar, memberi rasa nelangsa pada orang yang dicelanya. “Enam bulan itu kebangetan,” omel tetikus yang dengan gagah meliukkan ekornya yang panjang berbelit-belit. Tetikus itu pasti akan membuat setiap penulis lekas jengkel dan sakit. Tak hanya ekornya yang kelewat panjang Writer’s Block Lembar kosong Microsoft Word itu seakan mengejeknya dengan lidah terjulur dan mata melotot. Kursor berkedip dengan konstan, membawanya pada pikiran yang melantur pada waktu yang lembur. Setiap tuts keyboard seakan terkekeh pelan menggosipkan kebekuan. Oleh Grace Christine C E R P E N dan tubuhnya yang membuat pegal tangan, celotehnya pun selalu nyelekit. “Sabar, teman-teman, sabar,” tombol on/off mendadak bersuara. “Kita tidak bisa melakukan perundungan kepada seseorang hanya karena terlalu lama ia menghilang. Seseorang tak mungkin begitu saja-- tanpa alasan--menarik diri. Dan menurutku, tak semua alasan juga harus kita mengerti.” Tombol caps lock tampak ingin cepat mengolok-olok. Segera begitu tombol on/off selesai bicara, caps lock angkat suara. “Aku, sih tidak percaya. Memang ada alasan orang menarik diri, tapi alasannya pasti sesuatu yang buruk, yang tidak mengenakkan hati. Kita tidak boleh menyalahkan orang lain. Kita elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 94 E T E M P A Y A N " Lukisan Karya: Nadhiva Fadillah Putri | Judul: Untitled | Ukuran: 40 x 50 cm | Media: Acrylic on Kanvas | Tahun 2023
seharusnya introspeksi. Seorang penulis yang tidak lagi menulis, tidak boleh menyalahkan orang atau lingkungan di sekitarnya, tapi harus mawas diri. Pasti dirinya sendirilah yang salah.” Urai Sang caps lock mengenai tidak boleh menyalahkan, sambil jelas-jelas menyalahkan. Tombol on/off masih ingin membela manusia yang selama ini membuatnya bisa hidup dari mati dan bisa mendadak mati meski masih ingin hidup. Namun, ada suara menyela. "Aku mau berhenti jadi penulis." Lirih. “Tidak tidak tidak, itu kalimat tabu, tidak boleh diucapkan,” jerit tombol backspace yang diam sedari tadi. “Mengucapkan kalimat seperti itu sama saja kematian bagi seorang penulis,” lanjutnya. Pemilik suara lirih tadi, yang tidak lain Si Penyair itu sendiri, mendesah lelah. "Semua tema, semua kata, semua diksi sudah diambil penyair dan cerpenis lain." “Betapa cepatnya berputus asa!” sambar si caps lock. Ia gembira menemukan kesempatan angkat suara lagi. Baginya, kebenaran memang harus bersuara, jangan ditimbun saja tanpa gempita. Caps lock sangat menyukai kehebohan, meskipun kalau kehebohan itu berangkat dari keputusasaan seseorang. Lagipula bukankah banyak penyair bilang, bahwa duka dan kesedihan itu harus dirayakan? Dengan nada sabar tombol on/off berkata perlahan, “Teman-teman, jangan memperparah keterpurukan seseorang. Tidak ada yang menginginkan dirinya stagnan. Hei, Penyair, aku tetap akan mendukungmu, meski tombol-tombol lain meremehkan dan menyepelekan engkau. Jangan mundur, jangan menyerah, apa yang kau alami hanya sementara, Dunia memang kumpulan jeda, tak heran bila kita kadang tidak ke mana-mana.” “Itu hanya berlaku untuk kura-kura,” cibir tombol spasi yang memutuskan untuk berpihak kepada si caps lock. “Kura-kura mahkluk penyuka aman, gerak selalu perlahan, pencinta zona nyaman.” “Cukup!!!” bentak tombol huruf A tiba-tiba, membuat kaget semua peserta. Sedari tadi tombol huruf hanya sebagai pendengar, bukan pembicara. Kemunculan satu tombol yang tidak biasa lalu buka suara, nampak seperti keberanian yang berbahaya. Buktinya, belum apa-apa dia sudah main bentak saja. “Berhentilah bertengkar, kalian membuatku sakit kepala!” lanjutnya. “Kau tidak punya kepala,” ejek tombol Z yang ada di bawahnya. “Kau cuma merasa gerah karena selama Sang Penyair tidak membuat syair, engkau tidak berguna.” “Engkau yang tidak berguna!” tombol A naik pitam. “Aku ada di hampir setiap kata, tetapi engkau cuma pecundang selamalamanya!” “Berhenti sok berguna, huruf paling pasaran sedunia!” cetus huruf Q, yang sedari tadi menahan diri. “Akui sajalah bahwa sekarang engkau tak ada bedanya dengan kami, rakyat jelata yang tunduk pada tepukan jarijari.” “Teman-teman,” suara lirih terdengar kembali. Tentu suara Si Penyair lagi, yang tidak pernah terdengar semenarik penyiar. elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 95 T E M P A Y A N
“Aku seorang saja yang betul-betul pecundang di sini, dan kalian tidak perlu memperdebatkan. Terlalu buang-buang waktu. Sedangkan waktu adalah harta paling mahal. Bayangkan, aku sudah enam bulan tidak berkarya, maka enam bulan kesempatanku sirna. Aku tak bisa meminta satu menit pun untuk kembali. Tetapi juga sia-sia kalau sekadar menyesali. Aku cuma harus bangkit dan berani. Teman-teman, aku membutuhkan kalian.” Tombol caps lock tersipu-sipu malu mendengar suara Si Penyair yang mendayu. Memang ia pun sebetulnya tidak membenci Si Penyair, justru sesungguhnya ia rindu. Kerinduan kadang muncul dalam bentuk sikap agul, kerinduan karena lubang hampa pada jiwa memang tidak mampu didempul. Tombol caps lock rindu masa-masa lalu, saat ia bersama si penyair membuat huruf-huruf biasa menjadi Huruf-Huruf Luar Biasa dan kata-kata tertentu menjadi KATA-KATA PALING PERLU. Semua itu tidak bisa ia lakukan sendirian, ia memerlukan jari-jari sesosok insan. Tanpa si Penyair, ia merasa tidak berguna dan tidak berdaya. Itulah yang menjadikannya penuh emosi berkata-kata. Tombol spasi yang di awal tadi berkata-kata penuh dengki, kini mulai sadar diri. Ia pun selama ini hanya memikirkan dirinya sendiri, dingin dan sepi tanpa bunyi, sungguh amat sesuai dengan namanya: spasi. Sedangkan spasi yang kosong sekali pun, ternyata membutuhkan pengakuan dan eksistensi. Selama orang yang biasa memakainya hibernasi, ia tidak berarti. Ia betul-betul hanya sebuah jeda, sebuah spasi. Monitor mulai basah, menitikkan air mata. Tetikus dan para tombol lainnya ikut-ikutan terharu, juga sedikit malu. Mereka tidak memikirkan perasaan Si Penyair yang tentunya lebih perih dari rindu. Menimba inspirasi tanpa menemukan tema atau pun diksi yang pasti. Bagi seorang penulis, mungkin itu seperti tersesat dan tidak bisa menemukan diri sendiri. Kalau mereka yang mengalami, mungkin mereka pun menjadi depresi. Masih untung si Penyair mau bangkit, bahkan sikapnya pun kepada mereka tidak memusuhi. Satu per satu para tombol, lalu monitor dan tetikus menyatakan kesediaan mereka untuk bahu membahu mendukung Si Penyair dengan sepenuh hati. Si Penyair, yang sekali-sekali membuat cerpen, menyeringai geli. Jarijarinya mulai menari di atas tomboltombol huruf dan tanpa setahu mereka, ia mulai mengetikkan nama-nama mereka pada cerpen barunya ini dan menjadikan mereka sebagai kisahnya. (*) elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 96 T E M P A Y A N GRACE CHRISTINE Kelahiran tahun 1979, berdomisili di Bandung. Salah satu cerpennya termuat dalam buku Kumpulan Kisah Kehidupan di Tengah Pandemi Covid-19 (2020).
egitulah, kata Engku Siak, di Surau Simpang Lapan, ada juga orang yang hidupnya selalu mengeluh saja. Katanya, zaman sedang susah, penghasilan sedikit, hasil parak sedikit, kebutuhan di dapur dan kebutuhan lain-lain tak sedikit. Namun, walau katanya yang serbasedikit itu, pasar ramai juga, pakaian rancak terbeli juga, rumah bercat juga, orang berhelat juga, raun-raun ke sebalik kampung jalan juga, teh telur terminum juga. Demikianlah, ujar Engku Siak lagi, susah senang itu tipis batasnya. Kadang, melihat senang di kepala orang, tetapi orang yang dilihat malah menganggap kita yang senang. Seperti lagu, hidup ini harus di sini senang di sana senang; disenang-senangkan saja. Kalau tidak begitu, senang sekalipun susah juga tampaknya. “Engku, agar selamat dunia dan akhirat, hidup ini kuncinya dua saja: pertama, syukur ketika ada, kedua, sabar ketika tak ada. Kalau tak berkunci itu, yang senang merasa susah, yang susah bertambah kesusahannya,” kata Engku Siak lagi. "Yang lebih parah, kalau-kalau sampai terkena penyakit SMOS." "Ha, penyakit apa itu, Engku?" tanya Engku Sut penasaran. Engku Kari juga. "Susah Melihat Orang Senang, Senang Melihat Orang Susah. Kalau kena penyakit SMOS ini, susah mendapatkan obatnya," tutup Engku Siak sebelum ia turun dari mimbar, subuh itu. Engku Kari, Engku Lah, Engku Sut, Engku Raoh, Engku Brahim, dan engku-engku lainnya yang menjadi jemaah Engku Siak, mengangguk-anggukkan kepala. Hari mulai tinggi. Ayam jantan berkokok berkali-kali, hendak berlomba mencari rezeki. Modalnya paruh dan ceker saja. Tak berhonda, tak beroto ayam itu. Engku Kari teringat sawahnya, sudah tersumbat tali bandar, ranting dan rumput kering menghalang jalannya air. Sementara di bibir pematang, induk-induk belut Syukur elipsis | Edisi 026 / Tahun III / Juli—Agustus 2023 | 97 B O T A L E P A U
sudah bersarang di sana. Mau dia pancing. Goreng belut kesukaannya. Sedap dihidu saat dihidang, apalagi di meja ada teh telur. Muhammad Subhan BukuPuisiTungkuApi Ibukarya Muhammad SubhanDibincangkandiPasamanBarat "Siapa saja boleh menafsirkan. Tafsir itu berkemungkinan bisa terus berkembang," kata Subhan yang juga penulis novel Rumah di Tengah Sawah terbitan Balai Pustaka. Ia menyampaikan terima kasih atas apresiasi Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat yang secara khusus mengundangnya ke Pasaman Barat untuk membincangkan bukunya itu. “Senang dapat pulang kampung namun membawa buku untuk didiskusikan,” ujarnya. Selain memberikan ragam tafsir atas temuan-temuan bacaan pada buku puisi Tungku Api Ibu, keempat narasumber juga memberikan beberapa saran dan masukan. Salah seorang peserta diskusi, Tina, mengaku gembira dapat hadir dan mengikuti diskusi buku itu. Ia berharap pada diskusi buku lainnya dapat ia ikuti kembali. “Banyak ilmu dan informasi yang saya dapatkan dari acara ini,” katanya. Di ranah kepenulisan, Muhammad Subhan dikenal sebagai penulis, editor, motivator kepenulisan, content creator, dan pegiat literasi. Ia menggeluti dunia jurnalistik sepanjang tahun 2000-2010 dan dipercaya penyair Taufiq Ismail mengurus Rumah Puisi sekaligus menjadi instruktur Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi pada 2009-2012. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, novel, esai, dan artikel di sejumlah media massa lokal dan nasional. Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Puisinya terpilih tiga terbaik Banjarbaru Rainy Day Literary Festival 2019. Esainya terpilih sebagai tiga terbaik Festival Sastra Bengkulu 2019. Ia juga penerima Anugerah Literasi dari Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (2017) dan penerima Pin Emas sebagai pegiat literasi dari Wali Kota Padang Panjang (2018). (*/denni/tiara/elipsis) PASAMAN BARAT—Buku kumpulan puisi Tungku Api Ibu karya Muhammad Subhan didiskusikan di Pasaman Barat, Sabtu (24/06/2023) lalu. “Ini bincang buku ke-10 yang digelar Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat dan kebetulan penulisnya berasal dari Pasaman Barat,” kata Denni Meilizon, Ketua Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat. Buku itu dibicarakan di sebuah kafe di Simpang Empat, Pasaman Barat. Hadir peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dan pegiat komunitas literasi. Denni Meilizon juga tampil sebagai pembicara bersama narasumber lainnya, yaitu Imawan Azhari (pegiat buku), Joel Pasbar (novelis), dan Rungo Ashta (penyiar radio). Diskusi dipandu Lina Sy (guru). Menurut Denni Meilizon, kegiatan itu salah satu upaya Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat mengenalkan pentingnya membaca buku dan menulis kepada masyarakat. Di samping itu, bincang buku sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang dilahirkan penulis. Peserta antusias mengikuti jalannya diskusi. Pertanyaan-pertanyaan kerap dilontarkan kepada pembicara dan penulis. Saat menjelaskan proses kreatifnya, Muhammad Subhan mengatakan, ragam tafsir dari para pembicara dan peserta ia hargai. Ia meyakini bahwa tidak ada tafsir tunggal dalam memahami teks karya sastra. FOTO: EKO DARMAWAN | ELIPSIS BINCANG BUKU PUISI Tungku Api Ibu karya Muhammad Subhan di sebuah kafe di Simpang Empat, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (24/06/2023) O T A L E P A U
30k 60k MAJALAH KITA MARI DUKUNG MAJALAH KITA Anda dapat mendukung majalah digital elipsis dengan cara berlangganan per tiga edisi. Hubungi kami di WhatsApp 0856-3029-582 (Asna) 3 EDISI HARGA PELANGGAN Majalah digital elipsis dalam format PDF resolusi tinggi akan dikirim ke email pemesan/pelanggan. Edisi 023 Edisi 024 Edisi 025
C A L L C E N T R E : + 6 2 8 2 2 - 8 1 0 6 - 4 3 5 8 BUKU BARU P E N E R B I T E G Y P T V A N A N D A L A S