The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tujunya dibuatnya buku referensi adalah mengoptimalkan pembelajaran pemahaman lintas budaya. Melalui kajian terhadap nilai budaya dalam cerita rakyat Tiongkok dan Jepang didapat pencerminan nilai BerAKHLAK yang erat kaitannya dengan nilai moral dan konsep budaya.
Dalam pembelajaran bahasa adakalanya materi secara teoritis saja kurang mengena dan tidak bertahan lama, melalui implementasi cerita rakyat diharapkan nilai pemahaman lintas budaya dapat dimaknai dengan lebih mudah, lebih seru, dan lebih interaktif bagi para pembelajar bahasa Mandarin dan Jepang secara umum.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Destyanisa Tazkiya, 2022-11-04 01:31:14

Budaya Asia Timur dalam Cerita Rakyat Tiongkok dan Jepang

Tujunya dibuatnya buku referensi adalah mengoptimalkan pembelajaran pemahaman lintas budaya. Melalui kajian terhadap nilai budaya dalam cerita rakyat Tiongkok dan Jepang didapat pencerminan nilai BerAKHLAK yang erat kaitannya dengan nilai moral dan konsep budaya.
Dalam pembelajaran bahasa adakalanya materi secara teoritis saja kurang mengena dan tidak bertahan lama, melalui implementasi cerita rakyat diharapkan nilai pemahaman lintas budaya dapat dimaknai dengan lebih mudah, lebih seru, dan lebih interaktif bagi para pembelajar bahasa Mandarin dan Jepang secara umum.

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

在距离山海关不远的地方有不是很壮丽恢宏的庙宇—
—孟姜女庙,但来这里的香客却不少,有人慕名而来,也
有人特别拜访,因为在秦皇岛附近,海景很美、天气也不
错。这个地方是个情侣结伴出游的好去处。孟姜女哭长城
的传说,发生在河北北部的万里长城脚下,千百年来,一
直在民间流传着。

4.2 Terjemahan

Mengjiang Menangis Di Tembok Besar Cina

Legenda mengatakan bahwa lebih dari 2.000 tahun yang
lalu, hiduplah seorang lelaki tua di desa Songjiang di selatan
Sungai Yangtze. Dia setia dengan istrinya dan memiliki keluarga
cukup kaya. Meskipun mereka tidak perlu khawatir soal makanan
dan pakaian, mereka tidak memiliki anak laki-laki atau pun anak
perempuan, pasangan tua itu merasa sangat kesepian. Ada
sepasang burung walet yang tinggal bersama mereka, dua burung
itu datang dan pergi setiap tahun di musim semi dan musim gugur,
membangun sarang di bawah atap, dan menemani pasangan tua
itu untuk menjalani kehidupan yang damai. Pada suatu musim
gugur, Nyonya Meng mengikatkan tali beludru merah di sekitar
kaki burung walet betina, untuk melihat apakah burung walet
yang terbang di musim semi berikutnya masih ada dua. Pada
musim semi tahun kedua, kedua burung walet terbang kembali.

45

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Burung dengan tali beludru merah bahkan melemparkan biji labu
di mulutnya ke tempat tidur keluarga Meng. Pasangan tua Meng
dengan senang hati mengambil biji labu dan mengangguk ke arah
burung walet yang terbang. Pasangan tua itu mendiskusikannya
dan menanam benih labu di bawah dinding di halaman belakang.
Biji labu tumbuh dan berakar, menumbuhkan daun hijau,
merentangkan tanaman merambat yang panjang, dan memanjat
ke rumah keluargga Jiang di sebelahnya.

Keluarga Jiang membuat bingkai untuk tanaman labu
merambat yang ditanam oleh keluarga Meng, dan setelah
beberapa bulan, labu besar, halus dan bulat muncul. Di akhir
musim gugur, ketika labu itu matang, keluarga siapa yang harus
memetiknya? Tanpa diduga, tepat setelah dipetik, labu tiba-tiba
terbuka, dan seorang gadis kecil melompat keluar dari dalamnya,
dia putih dan gemuk, sangat imut. Keluarga Meng dan Jiang sangat
bahagia, sehingga mereka menamai anak itu Meng Jiang. Meng
Jiang tumbuh dewasa, tampak seperti bunga layaknya batu giok,
cerdas, pandai menyulam, dan dapat menulis puisi dan karangan.
Para tetua Meng dan Jiang mencintai mereka seperti mutiara di
telapak tangan mereka. Mereka telah lama ingin mencari menantu
untuk putri mereka. Siapa yang tahu, ternyata Meng Jiang
bersikeras bahwa dia lebih suka menemani orang tuanya menjadi
tua.

Pada saat ini, kaisar Qin Shihuang memerintahkan
pembangunan tembok besar sepanjang sepuluh ribu mil untuk
mengkonsolidasikan negara untuk selama-lamanya. Di mana-

46

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

mana dalam pengumuman, orang direkrut, dari tiga orang dipilih
satu, dan dari lima dipilih dua. Para pejabat mengambil
kesempatan untuk memeras orang, membuat mata pencaharian
masyarakat menjadi sulit. Ratusan ribu orang berhasil direkrut.
Kemudian, ada seorang pengkhianat, Zhao Gao, dia menulis surat
dan mengatakan bahwa ada seseorang Bernama Wan Xiliang di
Suzhou yang sangat kuat sehingga satu orang dapat mencapai
kekuatan sepuluh ribu orang. Kaisar Qin membuat sandiwara, dia
memasang daftar pencarian, dan pergi ke Suzhou untuk
menangkap Wan Xiliang. Wan Xiliang memiliki bakat yang luar
biasa sejak kecil, dia pandai sastra dan seni bela diri, tetapi karena
dia kehilangan ayahnya pada usia dini, keluarganya miskin. Dia
adalah anak tunggal, dia pun harus bergantung pada pekerjaan
paruh waktu. Wan Xiliang harus bekerja untuk menghidupi
ibunya yang janda. Pada hari ini, daftar kaisar dipasang di Suzhou,
prajurit mengaduk-aduk tiga jalan dan enam kota. Seseorang
melaporkan berita itu. Ibu dan sang anak, Wan Xiliang, panik dan
menangis. Tak berdaya, Wan Xiliang, dengan air mata di matanya,
mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya yang janda, dan
melarikan diri ke negeri asing dalam semalam, dan sampailah ke
desa Songjiang.

Panas terik di bulan Juni dan cuaca begitu panas. Setelah
makan malam, Meng Jiang datang ke taman untuk menikmati
keteduhan. Ketika berdiri di samping kolam teratai, dia melihat
bulan di langit, dan bunga teratai di kolam bermekaran. Di bawah
daun teratai, sepasang bebek tidur dengan leher disilangkan.

47

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Meng Jiang melihatnya dan terpesona. Tiba-tiba sepasang kupu-
kupu beterbangan di bunga. Meng Jiang sangat menyukainya, dia
mengambil kipas kecil dan menggerak-gerakannya. Tanpa diduga,
kupu-kupu itu berputar ke kiri dan ke kanan, dan kipas kecil itu
jatuh di daun teratai. Meng Jiang menggulung lengan bajunya dan
meraihnya. Sayangnya, dia jatuh ke dalam air. Tepat ketika itu
Wan Xiliang melihatnya, dia melangkah maju dan menarik Meng
Jiang dari dalam air ke tepian. Pada saat ini, lelaki tua Meng juga
tiba, dan mengundang Wan Xiliang ke rumahnya untuk berterima
kasih padanya. Wan Xiliang memberi tahu Tuan Meng tentang
pengalaman hidupnya, Meng Tuan menyatakan simpatinya atas
pengalamannya, dan melihat bahwa dia tampan dan murah hati.
Tuan Meng berpikir dalam hati, sebaiknya dia menikahkahkan
putrinya kepada lelaki itu, memiliki menantu laki-laki, dan dapat
memberi dirinya masa istirahat di hari tua.

Memikikirkan rencana itu, setelah melihat istri dan
putrinya, Tuan Meng berkata kepada Wan Xiliang: "Orang tua ini
memiliki nasihat, dan saya harap Anda akan mengikuti." Wan
Xiliang dengan cepat menjawab: "Apa yang diajarkan orang tua
kepadamu, maka haus ditaati dan tidak boleh membangkan."
Tuan Meng lalu berkata. "Keluarga Meng Jiang menjaga putri kami
dan belum menikah. Saya beruntung memiliki hubungan yang
baik dan bertemu denganmu di sini. kami ingin menikahkan gadis
ini denganmu. Tidak tahu kedepannya akan bagaimana
menurutmu?"

48

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Setelah mendengar ini, Xiliang menangis dan berkata,
"Saya adalah orang dalam kesulitan yang tidak dapat
menyelamatkan hidupnya, bagaimana saya berani melibatkan
nona muda." Tuan Meng mencoba membujuknya lagi dan lagi, dan
Xiliang akhirnya menyetujui pernikahan itu. Pak tua Meng sangat
gembira dan segera mulai mengatur pernikahan. Pada siang hari
berikutnya, dua keluarga Meng dan Jiang menyiapkan lentera,
genderang dan musik dimainkan secara serempak, Wan Xiliang
dan Meng Jiang pergi ke kuil untuk menikah. Keluarga itu dengan
senang hati merayakannya. Di kamar pengantin, Meng Jiang
memegang dompet bersulam dan menatap Wan Xiliang dengan
malu-malu. Xiliang mengeluarkan liontin giok bundar dari
lengannya dan dengan hati-hati meletakkannya di tangan Meng
Jiang, lalu Meng Jiang diam-diam mengikat dompet itu ke ikat
pinggang Xiliang.

Tanpa diduga, hal-hal baik pergi hal buruk pun datang.
Lilin di kamar pengantin mati, hari seakan segera pecah,
terdengar pula suara "bang bang". Tiba-tiba prajurit menerobos
masuk tanpa toleransi, mereka memegang tali besi, berteriak dan
menyerukan penangkapan buronan Wan Xiliang. Tuan Meng
membela dan berkata, "Para petugas, pada malam pernikahan
putri kami tidak melanggar hukum raja, jadi mengapa kalian
meminta menantu laki-laki kami!" Xiliang mengucapkan selamat
tinggal kepada para tetua keluarga Meng dan Jiang, air mata Meng
Jiang berjatuhan ia menangis tanpa suara, dan seluruh keluarga
langsung pergi ke Paviliun Panjang Shili. Sepasang suami istri

49

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

baru itu sangat bersedih, sangat sulit untuk berpisah. Tidak ada
toleransi, Wan Xiliang pun berangkat dengan sedih. Meng Jiang
menatap perdana menteri, hingga akhirnya melewati gunung Yun
dab tidak terlihat lagi, dia pun hanya bisa membantu para tetua
untuk pulang.

Waktu berlalu seperti anak panah yang melesat. Sejak
Meng Jiang mengucapkan selamat tinggal pada Wan Xiliang, tiga
tahun telah berlalu. Tidak ada berita setelah perpisahan itu, hidup
dan matinya pun tidak pasti. Suatu hari, setelah makan siang,
Meng Jiang sedang membaringkan kepalanya di atas meja dan
bermimpi bahwa Wan Xiliang sakit parah dan dipukuli serta
dimarahi oleh pengawasnya. Setelah Meng Jiang terbangun, dia
tidak bisa menahan tangisnya, hal ini membuat para tetua kedua
khawatir, mereka bergegas untuk mengajukan pertanyaan. Meng
Jiang menceritakan mimpinya itu lagi dan berkata, "Aku bertekad
untuk pergi ke Tembok Besar mengunjungi Wan Xiliang. Pertama,
aku akan mengirim pakaian dingin, dan kedua, akan datang untuk
melihat keadaanya baik atau buruk." Meng Jiang kembali ke
kamar, dia membungkus pakaian berlapis kapas yang dibuat
untuk suaminya, dia pun bersiap untuk mengenakan rok biru
polos. Dengan membawa sebuah payung, dia mengucapkan
selamat tinggal pada kedua orang tuanya. Meng Jiang berjalan
kembali ke kota dengan air mata berlinang.

Ketika itu adalah akhir musim gugur dan awal musim
dingin. Meng Jiang pergi berjalan sendirian, dan tidur ketika
malam, dia menahan rasa lapar dan kedinginan, tak lepas dari

50

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

kelelahan. Pada hari itu, langit sudah gelap ketika Meng Jiang
berjalan, angin membawa debu pasir menerjang , terdapat
persimpangan jalan di depan Meng Jiang. Tiba-tiba, seekor burung
gagak lewat di atas kepalanya, burung itu pergi dan kembali lagi,
lalu berteriak tiga kali, dan akhirnya terbang ke arah utara. Meng
Jiang berpikir dalam hati, mungkinkah gagak datang untuk
memimpin jalannya? Jadi Meng Jiang pun berjalan ke depan
mengikuti arah gagak pergi. Pada saat itu, hari sudah sangat gelap,
dan dia masih dalam perjalanan, dia melihat gunung-gunung di
kejauhan, ia pun naik turun melaluinya dengan menyalakan obor,
langit malam itu penuh bintang, semburan teriakan dan suara
hewan hutan menyeruak, naik dan jatuh dalam angin dingin yang
menggigit. Meng Jiang berpikir dalam hati, kali ini sepertinya akan
sampai. Tetapi dengan dari begitu banyak orang, di mana ia dapat
menemukan suaminya?

Tidak sampai fajar Meng Jiang telah datang di desa
Shanhaiguan. Dia melihat Tembok Besar membentang, yang
bahkan sekilas tidak bisa terlihat ujungnya. Ketika Meng Jiang
melihat seseorang, dia pun langsung bertanya, dia bercerita
setelah dua hari mencari tetapi tidak dapat menemukan sang
suami. Dia sedih dan menangis, lalu terduduk di kaki Tembok
Besar. Meng Jiang menangis tak bersuara, dia berpikir dalam-
dalam, lalu tiba-tiba melihat beberapa warga lokal, berpakaian
compang-camping dan terlihat kuyu, mereka memegang uang
kertas dan langsung datang ke depan gerbang.

51

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Meng Jiang buru-buru melangkah maju untuk memberi
hormat dan berkata, "Teman-teman, apakah ada Wan Xiliang di
sini?"

Ketika semua orang mendengar pertanyaan itu, mereka
menangis dan berkata dengan sedih, " Kakak Xiliang, dia
meninggal tahun lalu di hari ini!"

Ketika Meng Jiang mendengar hal itu, dia seperti
disambar petir, dia hanya berteriak, "Suamiku!," dan jatuh ke
tanah. Semua orang buru-buru memanggil-manggilnya, dan
membantunya untuk bangun perlahan.

Dengan enahan kesedihan, Meng Jiang membungkuk
dalam-dalam sambal berkata: "Saya meminta petunjuk, di mana
kah makam suami saya?"

Semua orang berkata dengan getir: "Kakak ipar! Ketika
Kakak Wan meninggal, mayatnya diisi di tembok kota oleh para
pengawas yang seperti serigala itu. Kami harus diam-diam
mengubur batu putih setinggi tiga kaki sebagai monumen."

Meng Jiang merasa sangat sedih di dalam hatinya, dia
pun mengikuti orang-orang menuju ke monumen batu. Ketika dia
melihat monumen batu, seolah-olah dia melihat orang
terdekatnya. Meng Jiang bergegas ke bawah monumen dan
menangis. Meng Jiang menangis begitu keras, hari telah gelap,
langit pun berubah gelap, angin utara menderu, dan awan gelap
menyelimuti Tembok Besar. Semakin Meng Jiang menangis,
semakin sedih hatinya. Dia tiba-tiba berdiri, menyingkap lengan
bajunya, dan menabrakan diri ke tembok kota. Yang terdengar

52

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

kemudian hanyalah suara ledakan, seolah-olah langit terkoyak.
Tembok Besar runtuh sejauh 800 mil. Meng Jiang melihat tubuh
Wan Xiliang terekspos di mana tembok kota runtuh. Dia membuka
matanya sedikit dan memegang dompet bersulam miliknya erat-
erat. Meng Jiang melemparkan dirinya ke atas mayat dan
menangis. Dengan air mata di matanya, dia membuka paying lalu
membentangkan pakaian barunya. Meng Jiang perlahan-lahan
mengambil tulang belulang mendiang suaminya dan
mengemasnya. Setelah merapihkannya, dengan menahan air
mata di matanya dia pun mengucapkan selamat tinggal kepada
semua orang di sana. Tepat ketika dia akan bangun, penjaga kota
tiba-tiba datang dan berteriak: "Wanita tidak ada takutnya!
Menangis di Tembok Besar, ini keterlaluan! " Penjaga dengan
keras memerintahkan para prajurit untuk menahan Meng Jiang.

Segera setelah itu, pengadilan pun membuat putusan.
Beberapa hari kemudian, menteri pengkhianat Zhao Gao datang
ke Shanhaiguan di bawah perintah untuk menginterogasi Meng
Jiang: "Kamu menangisi Tembok Besar, apa kejahatannya!" Meng
Jiang marah: "Pengkhianat! Permusuhan apa yang dimiliki
suamiku denganmu, dan kamu benar-benar membunuhnya!”
Zhao Gao sangat marah dan hampir meledak ketika tiba-tiba dia
memiliki rencana tipuan di dalam hatinya: Jika kamu
mempersembahkan kecantikan ini kepada kaisar, dia pasti akan
senang dan menghargainya. Dia pun berkata sambil tersenyum:
"Meng Jiang! Bagaimana!

53

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Meng Jiang gemetar karena marah dan ingin menggigit
Zhao Gao sampai mati, tetapi dia berpikir lagi: suaminya belum
dimakamkan, jadi lebih baik dia membuat rencana. Dia berkata
kepada Zhao Gao: "Jika Anda ingin saya memasuki istana, maka
harus mengabulkan tiga hal penting berikut: "Pertama, saya ingin
membangun kuburan untuk suami saya di sepanjang sepuluh mil;
kedua, saya ingin untuk membangun jembatan setinggi sepuluh
kaki, dan jembatan itu panjangnya sepuluh mil untuk terhubung
dengan kuburan; ketiga kaisar dan menteri memakai pakaian
berkabung, dan pergi ke Tembok Besar untuk memberi
penghormatan kepada yang sudah meninggal. "Zhao Gao setuju
dengan semua permintaan itu, dia pun segera kembali ke kaisar
Qin Shihuang.

Kaisar pertama segera mengeluarkan dekrit dan segera
memulai konstruksi. Selang beberapa hari, jembatan Panjang
untuk makam selesai. Kaisar Pertama segera memimpin menteri
urusan sipil dan militer ke kaki Kota Shanhaiguan, dan tanpa
menarik napas, pergi ke gudang roh untuk berganti pakaian.
Semua pria dan wanita berpakaian putih dan menunjukkan bakti
mereka, mereka berdiri di kedua sisi tembok dengan wajah
berkabung. Sebuah jam dan drum berbunyi serempak, dan kedua
belah pihak memainkan musik. Pengkhianat Zhao Gao
menggantikan Qin Shihuang dengan sebatang dupa di depan altar,
dan menawarkan tiga gelas anggur secara langsung. Meng Jiangnu
berlutut di sampingnya, menangis begitu keras. Setelah upacara
peringatan selesai, Qin Shihuang memerintahkan untuk

54

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

memanggil Meng Jiangnv dan berteriak, "Meng Jiang! Sekarang
setelah ketiga hal itu terpenuhi, kamu juga harus menanggalkan
pakaian berkabungmu dan berganti dengan pakaian
keberuntungan, kemudian pergilah bersamaku untuk menikmati
kehidupan di Istana Epang." Meng Jiang melotot marah dan
berbalik, dia pergi ke jembatan panjang. Qin Shi Huang mengikuti
dengan para menterinya. Meng Jiang berjalan ke jembatan, lalu
berdiri diam, dan menoleh untuk mengutuk: "Kamu telah
membunuh banyak orang termasuk suamiku, dan aku tidak bisa
mengampunimu, kaisar kejam!" Kemudian, Meng Jiangnu
mengangkat kepalanya ke langit. dan berteriak: “Suamiku,
Wanlang! Tunggu sebentar, aku akan ikut denganmu!” Setelah
berbicara, dia menutupi lengan bajunya dan melompat ke laut.
Tiba-tiba, ombak di laut bergolak, ombak setinggi beberapa kaki
menyembur ke pantai. Kaisar dan semua orang buru-buru
mundur ketakutan. Beberapa yang tak sempat menyelamatkan
diri tersapu ke laut oleh ombak besar. Tiba-tiba ada suara keras
terdengar lagi, dua karang menyembur keluar dari laut, tinggi
karang seperti monumen, dan terlihat rendah seperti kuburan.
Karang ini menjadi makam Jiangnu yang legendaris. Berdiri di
Batu Wangfu Kuil Jiangnu, semua orang dapat melihat dengan
jelas.

Tidak jauh dari Shanhaiguan, ada kuil sederhana
bernama Kuil Meng Jiang, ada banyak peziarah yang berkunjung
ke sini. Beberapa orang datang ke sini karena legenda kisah Meng
Jiang, dan beberapa orang melakukan kunjungan khusus menuju

55

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

pulau Qinhuang. Pemandangan lautnya indah dan cuacanya
bagus. . Tempat ini adalah tempat yang bagus bagi pasangan untuk
bepergian bersama. Legenda Meng Jiang menangis di Tembok
Besar terjadi di kaki Tembok Besar daerah Hebei utara, kisah ini
telah beredar di antara masyarakat selama ribuan tahun.

56

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Bab 5
Lelaki Penggembala Sapi dan Gadis Penenun

5.1Cerita Dalam Bahasa Sumber

牛郎织女

古时候有个男孩,长到七八岁的时候,父母亲都不
在了,哥哥对他说:“弟弟,我们以后要自食其力了。我
到田里干活,你去放牛吧!”

从此男孩天天去放牛,他放的是一头大水牛,长得很
威武,有一把镰刀弯角,但它性情特别温和,从来不打
架。男孩喜欢吹放牛笛,笛子一响,牛就会竖起耳朵。

过了几年,哥哥要娶媳妇了,哥哥对弟弟:“家里只
有一间屋,我要用这间屋娶媳妇,你住到牛棚去吧!”

从此男孩住到牛棚去,跟牛睡在一起。
那头牛跟男孩亲,见他住进来,摆头摆尾好欢喜。男
孩白天与牛在一起,夜晚也与牛在一起,因为他与牛形影
不离,大伙儿都叫他“牛郎”。
哥哥娶了媳妇,牛郎就有了嫂子。
有一天,嫂子把牛郎叫进屋,对牛郎说:“牛郎,你
活干得少,饭又吃得多,我们要跟你分家了,以后你自食

57

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

其力吧!这头牛跟你亲,这头牛归你。你到对面山坡盖个
茅屋,开几块田,自己过日子去。”

牛郎的眼泪“叭嗒,叭嗒”流下来。
他自个儿牵了水牛,自个儿到对面山坡去,自个儿盖
了间茅屋,自个儿开了几块薄田种庄稼,自个儿把家安下
来了。
虽然只有几块薄田,但是牛郎很勤劳,牛也很能帮他
的忙,一人一牛相伴过日子,牛能吃饱草,人也能吃饱
饭。就这样一年又一年,春种秋收,牛渐渐老了,牛郎也
长高长壮,到了要娶妻成家的年纪。
七月初七的傍晚,晚霞灿烂绚丽,牛郎跟老牛一道从
田地回家,走到家门口,老牛忽然站定,它抬起头,嘴巴
一张一合,对牛郎说:“牛郎啊,你长大了,该娶老婆
了。”
牛郎笑起来:“牛啊,你平日里不说话,一说话就开
玩笑——我这么穷,谁会看上我呢?”
老牛说:“我可不是开玩笑,我原本是天上的金牛
星,因为吃了玉皇大帝的牡丹花,被贬下凡间,要当一辈
子耕牛赎罪。我告诉你一个秘密,你一定得听我的话——
你今晚不要回家睡觉,你要到山那边的碧莲湖边,在树林
里等着。等到半夜时分,就会有七个仙女从天上飞下来,

58

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

她们会在碧莲湖洗澡。等她们脱下仙衣,放在湖边草地
上,你要趁悄悄拿走红色那件,回来藏在自家屋梁上。你
记着,那个丢了衣裳的仙女就是你的妻子。这可是个好机
会,你千万别错过了。”

“知道了。”牛郎高兴地答应下来,“我一定按你说
的做。”

当天晚上,吃过晚饭,安顿好老牛,牛郎借着星光和
月光,去到山那边碧莲湖,在树林里等着。果然,到了半
夜,七个仙女从天上飞下来,她们飞到湖边,脱下身上的
羽衣,一个接一个跳进湖里洗澡。

“湖水好清凉啊——”
“碧莲花都开了呢——”
仙女们说说笑笑,泼水游泳,玩得好不痛快。
牛郎悄悄走出树林,来到草地,草地上散放着七件羽
衣,红黄橙绿青蓝紫,件件鲜艳漂亮。牛郎偷偷拿走了红
色的仙衣。那件仙衣就像鸟的毛羽,十分轻盈,美丽极
了。牛郎紧紧抱住羽衣,拿回家去,藏到屋梁上。
藏好羽衣他又回到湖边,躲在大树后观望。
这时,天边露出曙光,一个仙女说:“天快亮了,我
们该回去了。”

59

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

仙女们恋恋不舍走上岸,一个个找到自己的仙衣穿
上,然后像飞鸟一样,飞到碧莲湖上空。

“哎,我的仙衣不见了。”被偷走羽衣的仙女焦急地
说,“你们先别走,等等我啊!”

“你快找呀,回去晚了,可要受重罚的。”一个仙女
说。

“会不会被风吹进芦苇丛去了?”另一个仙女说。
六个仙女飞入芦苇丛寻找,可是芦苇丛一片青绿,她
们什么也没找着。
“我们先回去了——你找到仙衣,要马上回来啊!”
穿上羽衣的仙女飞走了,越飞越高,越飞越远,飞回到天
宫去了。
湖边只剩下那个失了仙衣的仙女,她又羞又急,又怕
人看见,只好躲进芦苇丛,让高高的芦苇遮挡住身子。
牛郎从大树后走出来,走到湖边,看见芦苇丛里的仙
女,假装出很吃惊的样子:“姑娘,你是谁?”
织女低下头:“我不是人间姑娘,是天宫王母娘娘的
女儿,人人叫我织女。”
“哦,为什么叫织女呢?”
“因为我织得一手好锦缎,被王母娘娘召去织云锦。
你每日在天边看到的朝霞和晚霞,都是我亲手织的呢!”

60

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

“原来你是织云霞的仙女——你,你为什么独个儿来
到这里呢?”

织女伸手抹去眼泪:“王母娘娘爱排场爱面子,她要
的彩锦太多了,我只能没日没夜地织,没有一点儿空闲。
昨夜七月初七,王母娘娘设仙宴饮仙酒,没天空守卫管我
们,我和六个姐妹偷偷溜出天宫,到这碧莲湖游玩。没想
到丢了仙衣,现在回不去了。”

“天上不快活,你干脆别回去了,先跟我回家吧!”
牛郎让织女穿上自己的衣裳,带她回到自己的茅屋,把她
带到老牛面前。

老牛见到织女,眉开眼笑,又点头,又摆尾。
“我只有一间茅屋和几块薄田,还有这头老牛。如果
你不嫌我穷,以后我耕田,你织布,咱俩一起过生活
吧!”
牛郎和织女结了婚,从此,牛郎耕田,织女织布,两
人过得殷实快活。夫妻两个都是勤快人,牛郎是耕田好
手,种下的稻米都能得丰收。织女的手艺不寻常,她一日
能织九十九匹布,刺绣的手艺更是高超,绣锦鲤,锦鲤会
游;绣黄鹂,黄鹂会唱。
两人男耕女织,一转眼就过去了几年,他们生了一个
男孩,一个女孩。孩子活泼可爱,一到晚上有空闲,织女

61

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

就会带孩子坐在门前,指着天上的星星,给孩子讲天上人
间的事。天宫金碧辉煌,可是没有自由,她不喜欢。她喜
欢人间,跟牛郎一起干活,她喜欢;给孩子烧菜煮饭,她
喜欢;给人们织布做衣裳,她也喜欢。

两个孩子会跑会跳的时候,那头牛老得走不动路了。
有一天,牛郎走进牛棚,老牛眨眨眼,落下泪来。

“牛,你为什么哭呢?”
“牛郎,我要死了。”老牛说,“我死后,你不要立
刻埋我,你要把我的皮剥下来,晾干了,挂在墙上。以后
如果有什么要紧事,你披上我的牛皮,就可以飞上天
宫。”
说完,牛就死了。
牛郎哭了一场,把牛埋在自家的田头,只留下一张牛
皮,挂在自家的墙头。
再说天上,仙女们溜到人间的事到底还是让王母娘娘知道
了,尤其是得知织女下嫁人间,王母娘娘更是气得暴跳如
雷,发誓要把织女抓回天庭,严厉惩罚。
王母娘娘趁牛郎到地里干活,便带领天兵天将,闯进
牛郎家里,来抓织女。两个孩子跑过来,死死地抓住妈妈
的衣裳。王母娘娘狠狠一推,两个孩子跌倒在地。王母娘

62

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

娘拽着织女,飞向天宫。织女一边挣扎,一边望着两个孩
子大声喊:“快去找爸爸!”

牛郎得知织女被王母娘娘抓走,心急如焚。可是怎么
上天搭救呢?忽然,他想起老牛临死前说的话,便赶紧找
出牛皮,披在身上。然后将一儿一女放在两个竹筐里,挑
起来就往外跑。一出屋门,他就飞了起来。他越飞越快,
眼看就要追上织女了。王母娘娘拔下头上的玉簪往背后一
划,霎时间,牛郎的面前出现了一条天河。天河很宽,波
涛汹涌,牛郎飞不过去了。

从此,牛郎在天河的这边,织女在天河的那边,两人
只能隔河相望。日子久了,他们就成了天河两边的牵牛星
和织女星。

以后,每年七月初七的夜晚,一群群喜鹊会飞来,在
天河上搭起一座“鹊桥”,让牛郎织女在桥上会面。据
说,这一天地上的喜鹊也确实少了许多,因为它们都到天
河那儿搭桥去了。

5.2 Terjemahan
Lelaki Penggembala Sapi dan Gadis Penenun
Pada zaman dahulu kala ada seorang anak laki-laki. Ketika

dia berusia tujuh atau delapan tahun, kedua orang tuanya
meninggal. Kakak laki-lakinya berkata kepadanya, "Saudaraku,

63

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

kita akan dapat menghidupi diri kita sendiri di masa depan. Saya
akan bekerja di ladang, dan kamu bisa pergi menggembalakan
sapi!"

Sejak saat itu, anak laki-laki itu pergi menggembalakan
ternak setiap hari. Hewan yang dia pelihara adalah seekor sapi
besar. Sapi itu sangat kuat, memiliki tanduk melengkung seperti
bulan sabit, tetapi memiliki temperamen yang sangat lembut dan
tidak pernah berkelahi. Anak laki-laki ini suka bermain suling
bersama sapinya, ketika suling dimainkan sapi akan menajamkan
telinganya

Beberapa tahun kemudian, kakak laki-laki anak itu akan
menikahi seorang perempuan. Kakak laki-laki berkata kepada
sang adik, “Hanya ada satu kamar di rumah. Saya akan
menggunakan kamar ini setelah menikah. Kamu bisa tinggal di
kandang sapi!"

Sejak saat itu, dia pun tinggal di kandang sapi dan tidur
dengan sapi itu. Sapi mencium anak itu, dan ketika dia melihatnya
tinggal bersamanya, dia sangat senang dengan menggerak-
gerakkan kepala dan ekornya. Anak laki-laki ini bersama sapi di
siang hari, dan bersama sapi di malam hari pula. Karena dia tidak
dapat dipisahkan dari sapi, semua orang memanggilnya "Niulang"
atau si penggembala sapi.

Ketika kakak laki-laki menikah dengan istrinya,
Penggembala Sapi pun memiliki saudara ipar. Suatu hari, kakak
ipar memanggil Penggembala Sapi ke dalam rumah dan berkata
kepada Penggembala Sapi, "Niulang, kamu bekerja lebih sedikit

64

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

dan makan lebih banyak. Kami akan berpisah denganmu, dan
kamu dapat menghidupi dirimu sendiri di masa depan! Ini
bawalah sapi bersamamu. Sapi ini menjadi milikmu. Pergi ke sisi
bukit yang berlawanan dan bangunlah gubuk, buka beberapa
ladang, dan hiduplah sendiri."

Air mata penggembala sapi itu mengalir. Dia memimpin
sapi itu sendiri, pergi ke lereng bukit, membangun gubuk jerami,
membuka sepetak ladang tipis untuk bercocok tanam, dan
menetap di sana seorang sendiri.

Meskipun hanya ada sepetak ladang tipis, penggembala
sapi sangat rajin, dan sapi juga sangat suka membantu. Satu orang
dan satu sapi hidup bersama. Sapi bisa makan rumput dan Niulang
bisa memakan hasil tani. Dengan cara ini, tahun demi tahun, masa
tanam di musim semi dan masa panen musim gugur, sapi secara
perlahan pun menjadi tua, dan penggembala sapi tumbuh lebih
tinggi dan lebih kuat, hingga mencapai usia untuk menikah
memiliki seorang istri dan memulai sebuah keluarga.

Pada malam hari ketujuh bulan ketujuh kalender lunar,
matahari terbenam sangat indah. Penggembala sapi dan sapi tua
pulang dari ladang dan berjalan ke pintu rumah. Sapi tua itu tiba-
tiba berdiri diam, mengangkat kepalanya, membuka mulutnya,
dan berkata kepada penggembala sapi itu, "Wahai Penggembala
Sapi, kamu telah dewasa, saatnya untuk menikahi seorang
perempuan."

65

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Penggembala Sapi tertawa: "Sapi, kamu tidak pernah
bicara, tetapi begitu berbicara, kamu malah bercanda - aku sangat
miskin, siapa yang akan menyukaiku?"

Sapi tua berkata: "Aku tidak bercanda. Aku awalnya
adalah dewa rasi bintang Taurus di langit. lalu dibuang ke dunia
fana ini karena akumemakan bunga peony Kaisar Giok. ——Aku
akan memberitahu mu rahasia, kau harus dengar baik-baik
perkataanku. Malam ini kamu jangan pulang dan tidur. Kamu
harus pergi ke Danau teratai di sisi lain gunung ini dan menunggu
di dalam hutan. Di tengah malam, tujuh peri akan terbang turun
dari langit dan mereka akan mandi di Danau teratai. Mereka akan
melepas pakaian peri mereka dan meletakkannya di
rerumputantepi danau, kamu harus mengambil yang merah diam-
diam dan menyembunyikannya di balok rangka atap rumah. Ingat,
peri yang kehilangan pakaiannya akan menjadi istrimu. Ini adalah
kesempatan besar , jangan sampai kamu melewatkannya."

"Aku paham." Penggembala sapi dengan senang hati
setuju, "Aku akan melakukan apa yang kamu katakan."

Malam itu, setelah makan malam dan meletakkan sapi tua
itu, si penggembala sapi memanfaatkan cahaya bintang dan
cahaya bulan untuk pergi ke Danau Teratai di sisi lain gunung dan
menunggu di hutan. Benar saja, di tengah malam, tujuh peri
terbang turun dari langit, mereka terbang ke danau, melepas
mantel bulu mereka, dan melompat ke danau satu per satu untuk
mandi.

"Danaunya sangat indah—"
66

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

"Bunga teratai biru semuanya terbuka—"
Para peri berbicara dan tertawa, memercikkan air dan
berenang dengan riang gembira.
Niulang si pnggembala sapi diam-diam berjalan keluar
dari semak-semak menuju ke rerumputan. Ada tujuh mantel bulu
yang tersebar di rumput, merah, kuning, oren, hijau, putih, biru,
dan ungu, semuanya cerah dan indah. Niulang diam-diam
mengambil pakaian peri merah. Gaun peri itu seperti bulu burung,
sangat ringan dan indah. Penggembala Sapi itu memeluk mantel
bulu itu dengan erat, membawanya pulang, dan
menyembunyikannya di balok atap rumah.
Setelah menyembunyikan mantel bulu, dia kembali ke
danau dan bersembunyi di balik pohon besar untuk mengamati.
Ketika itu, langit mulai terang matahari mulai menyingsing, dan
seorang peri berkata, "Sudah hampir fajar, kita harus kembali."
Para peri dengan enggan berjalan ke darat, mengambil
pakaian peri mereka satu per satu dan mengenakannya, lalu
terbang ke atas Danau Teratai seperti burung.
"Hei, pakaian periku hilang." Peri yang pakaian bulunya
dicuri berkata dengan cemas, "Jangan pergi dulu, tunggu aku!"
"Cepat dan temukan, kamu akan dihukum jika kamu
kembali terlambat," kata peri lainya.
"Apakah itu tertiup oleh angin ke semak-semak?" kata peri
lain.

67

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Keenam peri terbang ke semak-semak untuk mencari,
semak-semak semuanya berwarna hijau dan mereka tidak
menemukan apa pun.

“Kami kembali dulu – setelah menemukan pakaian peri,
kamu harus segera kembali!” Peri-peri yang mengenakan pakaian
bulu terbang menjauh, terbang lebih tinggi dan lebih jauh, dan
terbang kembali ke kayangan.

Hanya ada peri yang kehilangan pakaian perinya di tepi
danau, dia malu, cemas, dan terlihat ketakutan. Dia pun harus
bersembunyi di semak-semak dan membiarkan semak-semak
yang tinggi menutupi tubuhnya.

Penggembala Sapi keluar dari balik pohon besar, berjalan
ke danau, melihat peri di semak-semak, dan berpura-pura
terkejut: "Gadis, siapa kah kamu?"

Zhi Nu menundukkan kepalanya: "Saya bukan gadis dari
dunia ini, tetapi anak dari Ibu Suri Kayangan. Semua orang
memanggil saya Zhi Nu si gadis penenun."

"Oh, kenapa disebut Gadis Penenun?"
"Karena saya pandai menenun kain, saya dipanggil oleh
Ibu Suri untuk menenun awan di langit. Awan-awan pagi dan
petang yang kamu lihat di langit setiap hari semuanya ditenun
oleh ku!"
"Jadi kamu adalah peri penenun awan, lalu mengapa kamu
datang ke sini sendirian?"
Zhinu mengulurkan tangannya untuk menghapus air
mata: "Ibu Suri menyukai kemegahan dan citra yang baik. Dia

68

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

menginginkan banyak tenunan awan. Saya hanya bisa terus
menenun siang dan malam tanpa waktu luang. Tadi malam pada
hari ketujuh bulan ketujuh kalender lunar, Ibu Suri mengadakan
pesta peri untuk minum anggur. Tidak ada penjaga langit yang
mengawasi kami, enam saudara perempuan dan saya menyelinap
keluar dari kayangan untuk bermain di Danau Teratai ini. Saya
tidak menyangka akan kehilangan pakaian peri, dan sekarang
saya tidak bisa kembali."

“Kayangan berkehendak lain, kamu hanya tidak bisa
kembali, pulanglah bersamaku dulu!” Niulang menyuruh zhinu
mengenakan pakaiannya, lalu membawanya kembali ke gubuk
jeraminya, dan membawanya bertemu sapi tua. Ketika sapi tua
melihat zhinu, dia tersenyum, mengangguk dan melambaikan
ekornya.

"Aku hanya punya gubuk jerami, setapak ladang tipis, dan
sapi tua ini. Jika kamu tidak keberatan, aku akan membajak ladang
dan kamu menenun kain kedepannya. Mari kita hidup bersama!"

Penggembala Sapi dan Gadis Penenun akhirnya menikah.
Sejak saat itu, Niulang mengolah ladang dan Zhinu menenun kain.
Keduanya menjalani kehidupan yang makmur dan bahagia. Baik
suami maupun istri adalah orang yang rajin, Niulang adalah petani
yang baik, dan padi yang ditanamnya bisa dipanen dengan baik
pula. Keahlian Gadis Penenun tidak biasa. Dia bisa menenun
sembilan puluh sembilan potong kain sehari, dan keterampilan
menyulamnya bahkan lebih hebat lagi.

69

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Sepasang suami istri itu bertani dan menenun, dan
beberapa tahun berlalu dalam sekejap mata, dan mereka memiliki
seorang anak laki-laki dan perempuan. Anak-anak ceria dan
cantik, ketika ada waktu luang di malam hari, Zhinu akan
membawa anak itu duduk di depan pintu, menunjuk bintang-
bintang di langit, dan memberi tahu anak itu tentang hal-hal di
langit dan dunia. Kayangan itu luar biasa, tetapi tidak ada
kebebasan, dia tidak menyukainya. Dia menyukai dunia, dia suka
bekerja dengan si penggembala sapi; dia suka memasak untuk
anak-anak; dia suka menenun kain dan membuat pakaian untuk
orang.

Ketika kedua anak itu bisa berlari dan melompat, sapi
Ajaib itu sudah terlalu tua untuk berjalan. Suatu hari, Niulang
masuk ke kandang sapi, dan sapi tua itu berkedip dan menangis.

"Sapi, kenapa kamu menangis?"
“Niulang, aku akan mati.” Sapi tua itu berkata, “Setelah aku
mati, jangan langsung kubur aku. Kamu harus mengupas kulitku,
mengeringkannya, dan menggantungnya di dinding. Kalau ada
sesuatu terjadi di masa depan, Anda dapat mengenakan kulit sapi
saya, dan Anda dapat terbang ke Istana Kayangan."
Setelah berbicara begitu, sapi itu akhirnya meninggal.
Penggembala Sapi menangis sedih dan mengubur sapi di
ladangnya sendiri. Sapi Ajaib menyisakan sepotong kulit sapi
untuk digantung di dinding rumahnya.
Sementara itu di kayangan, masalah peri yang menyelinap
ke dunia akhirnya diketahui oleh Ibu Suri, terutama ketika dia

70

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

mengetahui bahwa Gadis Penenun telah menikah dengan manusia
di dunia. Ibu Suri semakin marah, dan bersumpah untuk
mengambil Gadis Penenun kembali ke surga dan menghukumnya
dengan keras.

Ibu Suri memanfaatkan waktu ketika Penggembala Sapi
sedang bekerja di ladang, beliau memimpin para prajurit langit
untuk masuk ke rumah Penggembala Sapi dan menangkap Gadis
Penenun. Kedua anak kecil berlari dan mencengkeram pakaian
ibu mereka dengan erat. Ibu Suri mendorong dengan keras hingga
kedua anak itu jatuh ke tanah. Lalu Ibu Suri menyeret Zhinu untuk
terbang ke Istana Kayangan. Sambil berjuang, Zhi Nu menatap
kedua anak itu dan berteriak, "Pergilah cari Ayah!"

Niulang mengetahui bahwa Zhinu dibawa pergi oleh Ibu
Suri, dia pun sangat cemas. Tapi bagaimana Dewa langit bisa
menyelamatkannya? Tiba-tiba, dia ingat apa yang dikatakan sapi
tua itu sebelum meninggal. Dengan cepat dia menemukan kulit
sapi itu dan meletakkannya di tubuhnya. Kemudian Niulang
memasukkan anak laki-laki dan anak perempuan ke dalam dua
keranjang bambu dan mengangkatnya. Begitu dia keluar dari
rumah, dia pun terbang. Dia terbang lebih cepat dan lebih cepat,
hingga mampu mengejar Zhinu. Ibu Suri mengeluarkan hiasan
batu giok di kepalanya dan mengusap ke belakang punggungnya
lalu melemparnya ke arah Niulang, dalam sekejap, sungai gugusan
bintang muncul di depan Penggembala Sapi. Sungai gugusan
bintang sangat lebar dan bergejolak, Penggembala Sapi pun tidak
dapat terbang melewatinya.

71

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Sejak saat itu, Penggembala Sapi berada di sisi Sungai
gugusan bintang, dan Gadis Penenun berada di sisi lainnya,
keduanya hanya bisa melihat satu sama lain dari seberang sungai.
Seiring waktu, dikatakan mereka menjelma menjadi gugusan
bintang Altair dan Vega di kedua sisi sunga bintang langit.

Setiap tahun pada malam ketujuh bulan lunar ketujuh,
sekelompok burung magpie akan terbang di atas dan membangun
Jembatan di sungai gugusan. Jembatan ini memungkinkan
Penggembala Sapi dan Gadis Penenun bertemu di jembatan.
Legenda mengatakan bahwa memang ada lebih sedikit burung
magpie pada hari ini, karena mereka semua pergi ke sungai
gugusan bintang untuk membangun jembatan.

72

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Bagian 3
CERITA RAKYAT JEPANG

73

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Bab 1
Urashima Taro

1.1 Cerita Rakyat Dalam Bahasa Sumber

うらしま太郎

むかし、うらしま太郎という、まずしくも、 親切
でよい青年 のりょう師がいました。

ある日、うらしま太郎は、 つりざおをかたに、 小
ぜにを小ぶくろに入れて魚つりに海へと向かいました。
波がよせる小舟の近くで、 村の子どもたちに出会いまし
た。

子どもたちは、 かめをつかまえて、 なわでしばっ
て連れ回したり、 石を投げて笑ったり、 どなったりして
いました。かわいそうなかめは、逃げようと必死です。
やさしい心を持ったうらしま太郎は、 「おい、子どもた
ち、かわいそうに、いじめちゃだめじゃないか。 逃がし
てやりなさい」 と、言いました。

でも、子どもたちは笑いながら、 「なんだと、 魚つ
り! おれたちがこの化け物をつかまえたんだ、 おれたち
のものなんだよ。 お前こそあっちへ行け!」

うらしま太郎は、持っていた少ない小ぜにを小ぶく
ろから出して、かめと引きかえに、物ほしそうな顔をし
た子どもたちにわたしました。

いじめっ子たちは、そのお金を引ったくり、 しば
ったかめをおきざりにして、 走って行きました。 うらし
ま太郎は、その汚いなわをかめの足からほどいて、 かた
いこうらをなでながら、やさしく言いました。 「もうつ
かまるんじゃないよ。 お家へお帰り」

かめは、大きくうるんだ目で、あちこち見てから、
喜ぶようにうなずいて、 岩の方に去って行きました。

74

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

数日後、うらしま太郎は、海の沖合いで釣りをしている
と、 舟に向かって小さい茶色い頭がひょっこり出ている
のを見つけました。 あの、 助けたかめです。

「うらしまさん、うらしまさん! この前はご親切に
ありがとう」 と、 かめは言いました。

うらしま太郎が、「どういたしまして」 と言う
と、かめが、だんだん大きくなって、 ついには舟と同じ
くらいの大きさになるのを見てびっくりしました。
「ほら、大きくなったでしょう! 私の背中に乗って下さ
い、うらしまさん。 私が、ご案内いたします」

うらしま太郎は、りゅう宮城に行くことにおそれを
感じながらも、 とてもわくわくししました。 そして、
かめの背中に乗りました。

りゅう宮城は、「りゅうのお城」という意味で、
海の底にある美しい所でした。

うらしま太郎はうわさに聞いたことはありました
が、だれも行ったことのない所でした。 ですので、 うら
しま太郎はどんなにうれしかったでしょう。それに、 年
をとらない、 美しいおとひめさまが住んでいるというこ
とも聞いたことがありました。
かめは、どんどん泳いで、深い深い海の底へと進んで行
きました。

海の中では、へんな形の草があちこちにゆれていた
り、 見たことのない魚が見えかくれしていました。 お城
の近くまで来ると、 ほかの魚たちがうらしま太郎にあい
さつに来ました。

お城は、夢に出て来るような、 美しいたてもので
した。 あまりの美しさに、 うらしま太郎は息をのみまし
た。

かめは、 ちょうちんがならぶ道をぬけて、大きな
門の開いた入り口へと進みました。 うらしま太郎の目

75

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

は、そこで迎えに立っている美しいおと姫様にくぎづけ
でした。

おと姫様は、細くスラっとしていて、 深くかがや
く黒髪は、きれいにまとめ上げられており、 まとった着
物は、うらしま太郎が初めて見る布で出来ていて、とて
もやわらかそうに、きらきらとして、 おと姫様のまわり
をゆうがに舞っていました。

おと姫様は、やさしく手を取り、 ほほえみなが
ら、 甘い声で言いました。
「うらしま太郎さん、 私のかめにとてもやさしくして下
さって。 ありがとうございます。 私のお城に お入りに
なって、 時間を過ごしませんか?」

うらしま太郎は、とてもうれしくて、 心がはずみ
ました。 たくさんの魚の召使いたちが、 うらしま太郎を
待っています。 部屋には、 美しい着物が用意されていま
した。 まずしい釣り人は、たちまちハンサムな若者に変
わりました。

おと姫様は、うらしま太郎を待っていました。大き
なえん会場に連れて行って、 すばらしい海の世界を案内
しました。 うらしま太郎には、 ほしいものが全てあたえ
られました。一おいしい食べ物や、服、金めだいの召使
いたちなど一海の仲間たちがとても楽しくもてなしたの
で、うらしま太郎は、どれくらい時がたったのかを忘れ
るほどでした。

次の日もまた次の日も、おと姫様の美しさにうっ
とりして過ごしました。 そして、一か月、二か月、一
年、 また一年が過ぎて行きました。
でも、うらしま太郎は、自分の家族や、 友だち、ふるさ
とを忘れることはありませんでした。ふと思い出すと、
うらしま太郎は、もの悲しげな顔をするようになりまし

76

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

た。 それを見たおと姫様は、「何か悲しいことがあった
のですか?」 と、 たずねました。

「おと姫様。 私の古い友だちや、 家族のことを思
い出していたのです」 うらしま太郎は、低い声で言いま
した。 「私はどうしても忘れることが出来ないのです。
そろそろ、さようならを言う時が来たのだと思います」
うらしま太郎にとって、 美しいおと姫様と別れるのはつ
らいことでしたが、おと姫は、やさしいえみをうかべて
言いました。

「わかりました。 うらしまさん。 あなたは、 陸の
上の家族やお友だちが恋しいのですね。 帰られた方がい
いのかもしれません」

うらしま太郎は、感謝を込めておじぎをして、 部
屋に行き、古いつり人の服を引っ張り出しました。 その
服のようす、においは、 陸の上の世界をもっとなつかし
く思い出させました。 うらしま太郎は、すばやく着替え
て、おと姫様の所へ行ってお礼を言い、 お別れしまし
た。

おと姫様は、それをこころよく受け入れて、うらし
ま太郎に、黒いうるしぬりの箱を手わたしました。 箱に
は、「うらしまさん、 この箱を差し上げます。 大切な宝
のあかしとして、 どこに行くにもこの箱をはなさず持っ
て行って下さい。 でも、決してふたを開けてはいけませ
ん。 決して決して開けてはいけません」

うらしま太郎は、おと姫様を見上げると、 そのう
るわしい顔が悲しさにみちているのが分かりました。う
らしま太郎の心は、おと姫様と別れるのが悲しくてつら
く感じました。 でも、別れるしかなかったのでした。

うらしま太郎は、静かにおじぎをして、家まで送る
のに待っているかめの方に向かって歩きました。

77

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

こうして、うらしま太郎は、りゅう宮城をはなれま
した。 海の中をはてしなく遠く行くと、やっとふるさと
へと戻りました。 見なれた風景にうれしくなって、かめ
の背中を飛びおりました。 かめはだまって去って行きま
した。 あの美しいうるしぬりの箱をわきにかかえ、うら
しま太郎は自分の家に向って走りました。 どんなにたま
らなくうれしかったことでしょう!

ですが......、 あらまあ、どうしたことでしょう?
そこには何も残ってません。 わらぶき屋根もこわれて、
たおれています。 まわりの草は、ぼうぼう生えていて、
くものすやほこりがあちこちにたまっていました。 うら
しま太郎は、ぼうぜんとしていました。ほかの人の家を
たずねようとしても、見たことのない道や、家、人たち
ばかりです。 親せきや友だちは、みんないなくなってい
ました。 人々は、うらしま太郎をじろじろ見て、流行お
くれの苦いつり人の服を笑いました。

「うらしまといいますが、 知りませんか? つり人の
うらしまです。誰か私を覚えている人はいませんか?」泣
きそうになりながら言いました。

「ああ」 年を取ったおじいさんがゆっくり近づい
て来て、「昔ここに、そんな名前の若者がいたと聞いた
ことがあるわい。 うらしまという人が、かめの背中に乗
って、海の中へ行ったという、夢物語があるんじゃよ」
かわいそうなうらしま太郎は、 のぞみをすて、 行くあて
もなく、 海岸をとぼとぼ歩いていました。すると、まだ
手に持っていた、おと姫様にもらったうるしの箱のこと
を思い出しました。

「この私には、もうこの箱しか残っていないんだ」
がっかりして泣きました。 「開けないように言われたけ
れど開けるとしよう」

78

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

海岸にこしをおろし、うらしま太郎はふたを開けま
した。 箱からはけむりが出て、うらしま太郎をすっかり
おおいました。 たちまち、うらしま太郎は元気な若者か
ら、しらがのおじいさんになってしまいました。

うらしま太郎のその後は、めでたいものではありま
せんでした。 おと姫様との約束を守らなかったので、り
ゅう宮城に連れて戻ってくれるかめは、いなくなってし
まいました。 残りの人生をひとりぼっちですごし、とて
も淋しいおじいさんになりました。

1.2 Terjemahan

Urashima Taro

Pada zaman dahulu, hiduplah pemuda nelayan baik yang
miskin bernama Urashima Taro.

Suatu hari, Urashima Taro dengan pancingan di bahunya
memasukkan uang recehan ke dalam kantong kecilnya pergi ke
laut untuk memancing ikan. Di tempat dekat perahunya
bersandar, ia bertemu dengan anak-anak dari desa.

Anak-anak itu menangkap seekor kura-kura, mengikatnya
dengan tali, lalu membawanya berkeliling, melemparinya dengan
batu sambil tertawa-tawa, serta meneriakinya.

Kura-kura yang malang itu nampak berusaha untuk
melarikan diri.

Urashima Taro yang berhati baik itupun berkata, “Oi,
Anak-anak. Jangan jahili kura-kura itu, kasihan. Lepaskan dia
pergi.”

Namun, sambil tertawa anak-anak itu berkata, “Apa
katamu, Pemancing? Kamilah yang menangkap monster ini. Ini
adalah milik kami, justru kaulah yang harus pergi!”

Urashima Taro mengeluarkan sedikit uang recehan dari
kantong kecilnya. Sebagai ganti untuk melepaskan kura-kura itu,
Ia menyerahkan uang recehan itu kepada anak-anak yang terlihat
menginginkannya para anak-anak jahil itu kemudian merenggut
uang recehan tersebut dan pergi meninggalkan kura-kura yang

79

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

terikat tersebut. Urashima Taro segera melepaskan tali yang kotor
itu dari kaki sang kura-kura, kemudian sambil mengelus
cangkangnya ia berkata , “Jangan sampai kau tertangkap lagi ya.
Sekarang pulanglah.” dengan lemah lembut.

Kura-kura melihat ke sana-sini dengan mata lebarnya
yang basah. Ia mengangguk kesenangan dan pergi ke arah
bebatuan.

Beberapa hari setelahnya, Urashima Taro sedang berada
di tengah laut untuk memancing. Tiba-tiba ia menemukan kepala
kecil berwarna cokelat sedang menuju ke arah perahunya.
Rupanya, sesuatu yang mendekatinya adalah kura-kura yang
pernah ia selamatkan.

“Urashima, Urashima, terima kasih atas kebaikanmu
tempo hari.”, ucap sang kura-kura.

Begitu Urashima taro mengucapkan “sama-sama”, ia
terkejut melihat kura-kura yang secara perlahan membesar,
sehingga menjadi sebesar perahu.

“Bagaimana? Aku bisa membesar, kan? Ayo naik ke
punggungku, Urashima, akan kuantar kau.”

Urashima Taro begitu mendengar ia akan pergi ke
Ryugujou ia merasa cemas, tetapi juga merasa tidak sabar.
Kemudian, ia pun menaiki cangkang kura-kura itu.

Ryugujou yang memiliki arti “istana naga” merupakan
tempat indah yang berada di dasar laut.

Urashima Taro hanya pernah mendengar tentang tempat
ini melalui kabar burung, belum pernah ada seorang pun yang
pergi ke sana. Oleh karena itu, bisa dibayangkan bagaimana
senangnya Urashima Taro saat itu. Selain itu, ia juga pernah
mendengar bahwa di sana tinggal seorang putri cantik bernama
Otohime yang tidak pernah menua.

Kura-kura itu terus menyelam, menjauhi permukaan
menuju dasar laut yang dalam.

Di dasar laut banyak terdapat rumput aneh yang
melambai ke sana-sini, dan jenis ikan yang belum pernah ia lihat
sebelumnya bersembunyi di depan mata. Begitu ia sampai ke
dekat istana, ikan-ikan lainnya menyapa Urashima Taro.

80

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Istana itu sangat cantik seperti apa yang ia lihat dalam
mimpi. Urashima Taro menghela napas melihat betapa cantiknya
istana itu.

Kura-kura itu berenang melewati jalan yang banyak
berjejerl lampion menuju gerbang masuk yang terbuka lebar.
Urashima Taro terpaku kepada sosok cantik Putri Otohime yang
berdiri di sana menyambutnya.

Otohime memiliki badan yang langsing, rambut hitam
berkilauan yang terikat rapi. Kimono yang Otohime kenakan
terbuat dari kain yang Urashima Taro baru pertama kali
melihatnya, begitu lembut dan berkilauan, semuanya bagai
menari di sekitar Otohime dengan elegan.

Otohime meraih tangannya dengan lembut, sambil
tersenyum, dengan suara manisnya ia berkata,

“Urashima Taro, terima kasih sudah berbuat baik kepada
kura-kuraku. Maukah kamu mampir ke istanaku dan
menghabiskan waktu?”

Urashima Taro merasa sangat senang, sampai jantungnya
berdebar-debar. Sudah banyak pelayan ikan yang menunggu
Urashima Taro. Di dalam kamar sudah disiapkan kimono yang
cantik. Pemancing yang miskin itu sekejap berubah menjadi
pemuda yang tampan. Otohime telah menunggu Urashima Taro.
Ia dibawa menuju aula dan diperkenalkan kepada dunia bawah
laut yang luar biasa. Apapun keinginan Urashima Taro semuanya
dikabulkan. Mulai dari makanan enak, pakaian, para pelayan, dan
lain-lain. Para teman lautnya selalu menghiburnya dengan asyik,
sehingga Urashima Taro lupa terhadap waktu yang telah berlalu.

Besok dan lusa, ia pun terlarut-larut pada kecantikan Putri
Otohime. Lalu, sebulan, dua bulan, setahun, kemudian setahun
lagi telah berlalu.

Walaupun demikian, Urashima Taro sama sekali tidak bisa
melupakan keluarganya, teman-temannya, dan kampung
halamannya. Ketika ia mengingatnya, Urashima Taro selalu
memasang wajah sedih di mukanya. Otohime yang melihatnya
bertanya, “Apa ada yang membuatmu sedih?”

“Aku hanya sedang teringat tentang teman lama dan
keluargaku, Putri.”, jawab Urashima Taro dengan suara lirih.

81

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

“Bagaimanapun aku tak bisa melupakannya. Mungkin sudah
datang saatnya aku mengucapkan selamat tinggal.”

Bagi Urashima Taro, sulit rasanya berpisah dengan Putri
Otohime yang cantik. Putri Otohime, dengan senyum lembutnya
berkata,

“Aku mengerti, Urashima. Kamu merasa rindu dengan
keluarga dan teman-temanmu di permukaan, ya. Mungkin
sebaiknya kau pulang.”

Urashima Taro membungkuk berterima kasih, pergi ke
kamarnya, dan mengambil pakaian pemancing lamanya. Ia
dibuatnya semakin rindu dengan permukaan setelah melihat
kondisi dan bau pakaiannya tersebut. Urashima Taro segera
berganti pakaian dengan cepat, pergi ke tempat Otohime
mengucapkan terima kasih, dan berpisah dengannya.

Putri Otohime menerimanya dengan lapang dada dan
menyerahkan kotak tembikar hitam kepada Urashima Taro. Pada
kotak itu tertulis “Urashima, aku serahkan kotak ini padamu.
Namun, jangan pernah buka segelnya. Jangan sampai kau
membukanya.”

Urashima Taro melihat Putri Otohime, ia tahu kalau pada
muka Putri Otohime yang cantik itu terkandung perasaan sedih.
Hati Urashima Taro pun merasa sedih dan sengsara untuk
berpisah dengan Putri Otohime. Namun, mereka tetap harus
berpisah.

Urashima Taro membungkuk dengan tenang, lalu berjalan
menuju arah kura-kura yang telah menunggu untuk
mengantarnya pulang.

Dengan ini, Urashima Taro pergi meninggalkan Ryugujou.
Setelah sekian lama ia berada di dasar laut yang jauh, akhirnya ia
bisa kembali ke kampung halamannya. Ia merasa senang dapat
bisa melihat kembali pemandangan yang ia kenali, kemudian ia
pun turun dari cangkang sang kura-kura. Kura-kura itu pergi
tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dengan membawa kotak
tembikar cantiknya itu di ketiak, Urashima Taro berlari menuju
rumahnya. Betapa tak sabarnya ia pulang.

Namun…, alamak, apa yang terjadi?
Di sana tidak tersisa apa pun. Atap jeraminya rusak,
rumahnya telah roboh. Sekelilingnya ditumbuhi rerumputan yang

82

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

panjang, sarang laba-laba dan debu di mana-mana. Urashima Taro
tercengang dibuatnya. Ia berusaha untuk mengunjungi rumah
orang, tetapi ia hanya menemui jalan, rumah, dan orang-orang
yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kerabat dan temannya
semua menghilang. Semua orang melihat Urashima Taro, lalu
mereka menertawai pakaian pemancing muda itu yang
ketinggalan zaman.

“Namaku Urashima, apakah kau mengenaliku? Aku
Urashima si Pemancing. Adakah seseorang yang mengingatku?”,
kata Urashima sambil ingin menangis.

Lalu, ada seorang kakek tua yang perlahan mendekatinya.
“Ah, aku pernah mendengar kalau dulu ada seorang anak muda
yang memiliki nama tersebut pernah tinggal di sini. Ada cerita
kalau orang bernama Urashima itu pergi ke laut menaiki kura-
kura.”

Urashima Taro yang malang itu kehilangan harapannya. Ia
berjalan menyusuri pantai tanpa arah dan tujuan. Kemudian ia
teringat tentang kotak tembikar pemberian Putri Otohime yang
masih ia pegang di tangannya.

“Yang tersisa dariku hanyalah kotak ini.”, ucapnya dengan
kecewa sambil menangis. “Aku disuruh untuk tidak membukanya,
tetapi akan aku buka ini sekarang.”

Urashima taro duduk di pantai, lalu membuka segelnya.
Kemudian, dari kotak itu keluar asap yang mengerubungi
Urashima Taro dengan cepat. Tiba-tiba, Urashima Taro berubah
dari yang sebelumnya pemuda yang sehat menjadi kakek-kakek
yang beruban.

Apa yang terjadi setelahnya, bukanlah akhir yang bahagia

untuk Urashima Taro. Karena ia tidak bisa menepati janjinya

dengan Putri Otohime, kura-kura yang bisa membawanya kembali

ke Ryugujou pun menghilang. Ia menghabiskan sisa hidupnya

dalam kesendirian dan menjadi seorang kakek-kakek yang

kesepian.

1.3 Konsep Budaya

83

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

1.3.1 Bahasa
Secara umum bahasa Jepang sendiri terdiri atas dua jenis

berdasarkan tingkat kesopanannya yakni bahasa kasar dan
bahasa halus atau sopan (keigo). Bahasa sopan atau halus
digolongkan lagi menjadi tiga jenis yaitu: 1) teineigo, ragam
bahasa sopan standar bisa digunakan baik untuk diri sendiri
maupun orang lain; 2) sonkeigo, ragam bahasa sopan yang
digunakan dengan menunjukkan rasa hormat terhadap lawan
bicara sehingga penggunannya terbatas hanya untuk orang lain,
dengan demikian tidak dapat digunakan untuk membicarakan
diri sendiri; serta 3) kenjougo, ragam bahasa sopan yang
digunakan untuk menunjukkan kerendahan hati sehingga
penggunaannya terbatas ketika membicarakan diri sendiri.

Terdapat dua jenis ragam bahasa Jepang berdasarkan
tingkat kesopanannya yang digunakan dalam dongeng Urashima
Tarou yakni: 1) ragam bahasa kasar dan 2) keigo (ragam bahasa
sopan), terdiri dari tiga bentuk yaitu teineigo (ragam bahasa
hormat), sonkeigo (ragam bahasa sopan dengan meninggikan
posisi lawan bicara), serta kenjougo (ragam bahasa sopan untuk
merendah).

Ragam bahasa kasar digunakan oleh anak-anak yang
ditemui oleh Urashima di pantai ketika mereka tengah menyiksa
kura-kura sebagaimana kutipan berikut:

「なんだと、 魚つり! おれたちがこの化け物をつか

まえたんだ、 おれたちのものなんだよ。 お前こそ

あっちへ行け!」

(Yasuda, 2010:49)
Pada kutipan di atas terdapat kata おれたち (oretachi)

yang berarti “kami”, お前 (omae) yang berarti “kamu”, serta

kalimat perintah 行け! (ike!) yang berarti “pergi!” Ketiga kata

tersebut merupakan ciri khas dari ragam bahasa pria atau
84

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

danseigo. Ragam bahasa jenis ini umumnya memang terkesan
lebih keras dibanding ragam bahasa wanita (joseigo), namun
nuansanya dapat berubah menjadi bahasa kasar atau tidak sopan
ketika digunakan terhadap orang yang lebih tua.

Selanjutnya, Teineigo dan songkeigo digunakan oleh
Urashima kepada Otohime seperti yang terlihat pada kutipan
berikut:

「おと姫様。 私の古い友だちや、 家族のことを思

い出していたのです」

(Yasuda, 2010:53)
Ragam bahasa hormat atau teineigo pada kutipan tersebut
terletak pada penggunaan akhiran -のです (-no desu). Sementara

itu, penggunaan panggilan -様 (-sama) terhadap Otohime menjadi
ciri dari ragam bahasa songkeigo. Ragam bahasa sopan ini
digunakan oleh Urashima sebab status Otohime dalam cerita lebih
tinggi yakni sebagai penguasa istana bawah laut (Ryugujou).

Songkeigo juga digunakan oleh Otohime terhadap Urashima
karena dalam cerita dikisahkan bahwa Urashima adalah tamu di
Ryugujou sehingga posisinya patut untuk dihormati. Terlebih,
Urashima juga berperan sebagai penyelamat kura-kura milik
Otohime. Penggunaan sonkeigo oleh Otohime terhadap Urashima
terlihat pada penggunaan bentuk ~ し て 下 さ っ て (~shite
kudasatte) dalam kalimat 私のかめにとてもやさしくして下さ
って(watashi no kame ini totemo yasashiku shite kudasatte) yang
berarti “kau telah memperlakukan kura-kuraku dengan sangat
baik” dan penggunaan bentuk お~になって pada kalimat 私の
お城にお入りになって (watashi no oshiro ni o hairi ini natte)
yang berarti “ maukah kau masuk ke dalam istanaku? ”
sebagaimana kutipan berikut:

85

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

「うらしま太郎さん、 私のかめにとてもやさしく

して下さって。 ありがとうございます。 私のお城

に お入りになって、 時間を過ごしませんか?」
(Yasuda, 2010:51)

Awalan お (o) pada kata お 城 (oshiro) juga merupakan
karakteristik dari sonkeigo. Sementara itu, penggunaan kenjougo
juga digunakan oleh Otohime terhadap Urashima seperti yang
tampak pada kutipan berikut:

「うらしまさん、 この箱を差し上げます…」
(Yasuda, 2010:53)

Pada kutipan tersebut terdapat kata 差 し 上 げ ま す
(sashiagemasu) yang berarti “ menyerahkan ” sebagai salah
satu kata yang digunakan dalam kenjougo.

1.3.2 Sitem Pengetahuan
Sistem pengetahuan yang tergambar dalam cerita Urashima

Tarou masih terkait dengan mata pencaharian dari Urashima itu
sendiri yakni sebagai seorang nelayan. Meskipun hal ini tidak
dijelaskan secara rinci dalam cerita, pengetahuan terkait teknik
menangkap ikan, perkiraan cuaca, navigasi, serta pengetahuan
sejenis seputar profesi nelayan sudah barang tentu diketahui oleh
Urashima begitu pula masyarakat sekitar sebab biasanya para
nelayan tinggal di satu desa yang sama.

1.3.3 Organisasi Sosial
Representasi organisasi sosial dalam dongeng Urashima

Tarou direfleksikan melalui organisasi sosial terkecil yakni
keluarga beserta nilai-nilai sosial budaya yang menjadi standar
nilai hidup bagi masyarakat Jepang. Keluarga atau kazoku dalam
sistem organisasi masyarakat di Jepang termasuk ke dalam ranah
ie (dalam atau domestik). Keluarga sendiri dapat disandingkan
dengan istilah serupa dalam sistem masyarakat tradisional Jepang

86

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

yang disebut dengan setai. Setai berarti kesatuan rumah tangga
yang di antara anggota keluarganya tidak selalu harus
mempunyai hubungan darah, namun semuanya terlibat dalam
kehidupan sosial ekonomi keluarga inti. Namun sifatnya tidak
langgeng seperti ie, ketika kepala keluarga meninggal dan para
anak telah berkeluarga maka sistem ini dianggap sudah selesai
(Rahmah, 2018:5). Pada cerita Urashima Tarou, kazoku secara
eksplisit ditunjukkan mengarah kepada keluarga dari Urashima
sendiri sebagaimana kutipan berikut:

「おと姫様。 私の古い友だちや、 家族のことを思い出

していたのです」 うらしま太郎は、低い声で言いまし

た。
(Yasuda, 2010:54)

“Aku hanya sedang teringat tentang teman lama dan
keluargaku, Putri”, jawab Urashima Tarou dengan suara lirih.

Sementara itu, nilai hidup masyarakat Jepang merujuk
kepada implementasi bushido atau kode etik samurai serta on
atau ongaeshi. Secara umum, Bushido diartikan sebagai cara
hidup atau ajaran hidup yang dilakukan oleh para samurai demi
menjaga kehormatan (Siswantara, 2021:13). Meskipun bushido
adalah kode etik yang digunakan oleh samurai, namun
implementasinya tidak hanya terbatas bagi kaum samurai saja
tetapi juga bagi masyarakat Jepang pada umumnya. Nilai-nilai
moralitas Bushido merupakan kombinasi dari ajaran
Konfusianisme, Ajaran Zen, dan Shinto (Mulyadi, 2014 dalam
Siswantara, 2021:33).

Bushido terdiri atas tujuh nilai yaitu: 1) Integritas (Gi 義), 2)
Keberanian (Yu 勇), 3) Welas Asih (Jin 仁), 4) Penghormatan (Rei
礼), 5) Kejujuran (Makoto 信), 6) Kehormatan (Meiyo 名誉), dan
7) Loyalitas / Kesetiaan (Chuugi 忠義) (Rahmah, 2018:5-6). On
sendiri menurut Benedict (1982) (dalam (Abdurrahman &
Wardani, 2020:79), diartikan sebagai “utang”, “utang budi”,

87

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

“kewajiban”, atau “kemurahan hati”. On atau ongaeshi merupakan
nilai hidup masyarakat Jepang yang bersumber dari ajaran
Konfusianisme. Menurut ajaran tersebut seseorang wajib
membalas hutang budi yang telah ia terima dari orang lain.

Nilai bushido yang tercermin pada dongeng Urashima
Tarou yakni penghormatan atau rei serta loyalitas atau chuugi.
Penghormatan ini ditunjukkan oleh Urashima terhadap Otohime
melalui penggunaan ragam bahasa sopan (sonkeigo) serta sikap
hormat yang ia tunjukkan kepada Otohime atas kebaikannya
mengizinkan Urashima tinggal di istana Ryugu. Berikut
kutipannya:

うらしま太郎は、...おと姫様の所へ行ってお礼を言い、
お別れしました。

(Yasuda, 2010:54)
Urashima Tarou pergi ke tempat Otohime untuk

mengucapkan terima kasih, dan berpisah dengannya.
Kepergian Urashima dari Ryugujou menuju daratan
merupakan wujud kesetiaan atau chuugi Urashima terhadap
keluarganya. Ia lebih memilih untuk pulang ke kampung
halamannya meskipun harus berpisah dengan Otohime. Di sisi
lain, nilai sosial on (hutang budi) ditunjukkan melalui pembalasan
budi kura-kura dan Otohime kepada Urashima yang sudah
menolong kura-kura dari anak-anak nakal. Pembalasan budi ini
diwujudkan dengan cara mengajak Urashima untuk tinggal di
Istana Ryugu.

1.3.4 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Peralatan hidup dan teknologi yang digambarkan dalam

cerita merupakan peralatan dan teknologi sederhana, sebab
Urashima sendiri hanyalah seorang pemancing miskin di masa
lampau. Peralatan dan teknologi tersebut berwujud kimono, alat
pancing, dan perahu yang biasa Urashima pakai ketika berburu

88

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

ikan di laut. Namun, ketika Urashima tiba di istana bawah laut
(Ryugujou) ia menerima pakaian bagus dan mewah sehingga
penampilannya pun berubah. Berikut kutipannya:

…部屋には、 美しい着物が用意されていました。 まず

しい釣り人は、たちまちハンサムな若者に変わりました。
(Yasuda, 2010:52)

Di dalam kamar sudah disiapkan kimono yang cantik.
Pemancing yang miskin itu sekejap berubah menjadi
pemuda yang tampan.
Meskipun demikian, Urashima memutuskan untuk
memakai kembali kimononya yang biasa ia gunakan untuk
memancing ketika pulang ke daratan sebagaimana kutipan
berikut:
うらしま太郎は、…部屋に行き、古いつり人の服を引っ

張り出しました。。 うらしま太郎は、すばやく着替えて
(Yasuda, 2010:54)

Urashima Tarou. . .pergi ke kamarnya, dan mengambil
pakaian pemancing lamanya. . . Urashima Tarou segera
berganti pakaian dengan cepat,. . .

1.3.5 Sistem Mata Pencaharian
Sistem mata pencaharian bangsa Jepang berdasarkan

sejarahnya dahulu berpusat pada sektor agraris, tak jauh berbeda
dengan bangsa lain di zaman kuno. Padi diperkenalkan pada
masyarakat Jepang sejak permulaan periode Yayoi (3 abad SM)
(Rahmah, 2013:5). Kehidupan pertanian ini biasanya berfokus
pada daerah dataran tinggi atau pegunungan. Selain itu, sumber
daya alam yang dimanfaatkan oleh bangsa Jepang yakni hasil
hutan. Kisah terkait profesi yang memanfaatkan sumber daya
hutan seperti pencari kayu atau bambu beberapa di antaranya
diangkat dalam dongeng Jepang misalnya melalui tokoh kakek
pada cerita Momotarou dan Putri Kaguya.

89

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Pada dongeng Urashima Tarou, tokoh utama dalam cerita
tersebut yakni Urashima Tarou diceritakan berprofesi sebagai
seorang nelayan atau ryoushi sebagaimana yang tergambar dari
kutipan berikut:

むかし、うらしま太郎という、まずしくも、 親切でよい

青年 のりょう師がいました。
(Yasuda, 2010:48)

Pada zaman dahulu, hiduplah pemuda nelayan baik yang
miskin bernama Urashima Tarou.

Berdasarkan kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa
mata pencaharian hidup masyarakat di sana pada waktu dan
tempat dalam kisah Urashima Tarou adalah sebagai nelayan. Hal
ini disebabkan oleh keberadaan nelayan biasanya akan
berkelompok dengan nelayan lainnya dan mereka akan tinggal
pada satu desa atau kampung yang sama. Kampung nelayan
semacam ini berada di daerah pesisir seperti yang terlihat pada
kutipan berikut:

ある日、うらしま太郎は、 つりざおをかたに、 小ぜにを

小ぶくろに入れて魚つりに海へと向かいました。 波がよ

せる小舟の近くで、 村の子どもたちに出会いました。
(Yasuda, 2010:48)

Suatu hari, Urashima Tarou dengan pancingan di bahunya
memasukkan uang recehan ke dalam kantong kecilnya pergi
ke laut untuk memancing ikan. Di tempat dekat perahunya
bersandar, ia bertemu dengan anak-anak dari desa.

1.3.6 Sistem Religi
Sistem religi dapat berupa ide-ide abstrak maupun benda-

benda yang sifatnya konkret. Hal ini sejalan dengan argumen
Koentjaraningrat (1985:204) yang menyatakan bahwa wujud dari
sistem religi tidak hanya terbatas pada keyakinan manusia akan
kehdarian Tuan, dewa-dewi, roh, surga dan neraka, tetapi juga

90

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

dapat pula berupa upacara atau ritual, termasuk benda-benda
suci atau religius. Sistem religi yang terdapat di Jepang terfokus
pada dua agama besar yakni Shinto, dan Buddha. Meskipun
demikian, unsur-unsur religi dalam masyarakat Jepang tidak
hanya dipengaruhi oleh dua agama tersebut, tetapi juga mendapat
pengaruh dari ajaran Konfusianis dan Taois. Perpaduan dari
pelbagai unsur religius tersebut membentuk Jepang sebagai
bangsa yang kaya akan tradisi keagamaan mulai dari nilai dan
prinsip hidup seperti bushido, festival dan upacara, mitos, cerita
rakyat, dongeng, kesenian, dan sebagainya.

Sistem religi yang terdapat dalam dongeng Urashima Tarou
merujuk pada agama Shinto dan Taoisme. Representasi agama
Shinto dan Taoisme dalam kisah Urashima Tarou terletak pada
tokoh Otohime, istana bawah laut, dan perjalanan supranatural
yang dilakukan oleh Urashima. Menurut McKeon (1996:50-59),
versi yang lebih tua dari dongeng Urashima Tarou ditemukan
pada teks fudouki. Berdasarkan teks tersebut dapat diketahui
bahwa sebenarnya Otohime adalah seorang dewi yang bernama
Kamehime (putri kura-kura). Istana bawah laut tempat Otohime
tinggal merupakan alam keabadian tempat para dewi dan dewa.
Oleh sebab itulah, waktu yang dilalui oleh Urashima di istana
bawah laut berbeda dengan waktu di tempat tinggalnya atau di
alam fana, sehingga ketika Urashima pulang ke daratan ia tak lagi
mendapati keluarga serta temannya.

Hal ini juga diperkuat dengan berubahnya Urashima
menjadi seorang kakek tua setelah membuka kotak pemberian
Otohime. Pada teks tersebut pula diceritakan bahwa sebenarnya
Urashima telah menikah dengan Otohime. Otohime meminta
Urashima datang ke istananya sebab ia memang memilih
Urashima sebagai suaminya. Kepercayaan terhadap dewa-dewi
dan diperbolehkannya seseorang untuk memilih pasangan hidup
secara mandiri serta mengajaknya tinggal bersama merupakan
wujud dari ajaran Shinto. Sementara itu, keyakinan akan adanya

91

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

alam keabadian merupakan pandangan dalam ajaran shinsen
shiso yang dikemudian hari disatukan dalam Taoisme (Mckeon,
1996:55).

1.3.7 Kesenian
Kesenian secara umum dimaknai sebagai pelbagai benda,

ide, pertunjukan, dan hal-hal lain yang dianggap memiliki
keindahan atau bersifat estetis. Kesenian merujuk keapa segala
jenis hasil ciptaan manusia yang dipandang mempunyai nilai
estetis. Keindahan sendiri bagi masyarakat Jepang dikenal dengan
sebutan bigaku yang berarti sense of beauty. Keindahan dalam
kesenian Jepang secara garis besar mewakili rasa kesedihan
(monoaware) dan kefanaan atau ketidaksempurnaan (wabi-sabi).
Nilai estetika tersebut terkandung di dalam beragam karya seni
seperti puisi, kerajinan tembikar, atau bahkan berupa kebiasaan
seperti hanami (tradisi melihat dan mengaggumi keindahan
bunga sakura) dan tsukimi (tradisi melihat dan mengaggumi
keindahan bulan).

Pada dongeng Urashima Tarou wujud kesenian yang dapat
ditemukan yakni berupa barang-barang atau artefak Jepang kuno.
Barang-barang itu adalah kimono sebagai pakaian tradisional
Jepang yang digunakan oleh Otohime. Kimono tersebut dikatakan
sangat indah, lembut, dan tampak seakan-akan menari di
sekeliling Otohime bahkan Urashima sendiri tidak tahu kain apa
yang digunakan untuk membuat kimono itu. Berikut kutipannya:

…まとった着物は、うらしま太郎が初めて見る布で出来

ていて、とてもやわらかそうに、きらきらとして、 おと

姫様のまわりをゆうがに舞っていました。
(Yasuda, 2010:52)

Kimono yang Otohime kenakan terbuat dari kain yang
Urashima Tarou baru pertama kali melihatnya, begitu
lembut dan berkilauan, semuanya bagai menari di sekitar
Otohime dengan elegan.

92

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Selain dipandang sebagai karya seni, kimono pada zaman
modern di Jepang juga dihargai sebagai lambang formalitas,
status, dan kebanggan (Davies & Ikeno, 2002:36). Selain itu,
terdapat pula seni tembikar dalam bentuk kotak berwarna hitam
yang dikenal sebagai tamatebako pemberian Otohime kepada
Urashima. Kotak inilah yang sebenarnya tidak boleh dibuka oleh
Urashima, namun sayangnya ia melanggar peringatan Otohime
dan berubah menjadi laki-laki tua. Berikut kutipannya:

おと姫様は、…うらしま太郎に、黒いうるしぬりの箱を
手わたしました。 箱には、「うらしまさん、 この箱を
差し上げます。 大切な宝のあかしとして、 どこに行く
にもこの箱をはなさず持って行って下さい。 でも、決し
てふたを開けてはいけません。 決して決して開けてはい
けません」

(Yasuda, 2010:54)
Putri Otohime. . .menyerahkan kotak tembikar hitam
kepada Urashima Tarou. Pada kotak itu tertulis “Urashima,
aku serahkan kotak ini padamu. Bawalah kotak ini kemana
pun kau pergi, dengan begitu kotak ini akan menjadi harta
yang sangat berharga untukmu. Namun, jangan pernah
buka segelnya. Jangan sampai kau membukanya.”

93

Budaya Asia Timur Dalam Cerita Rakyat Tiongkok Dan Jepang

Bab 2
Lidah Pipit Yang Terpotong

2.1 Cerita Rakyat Dalam Bahasa Sumber
したきりすずめ

ある日、小さなすずめが、木からおちて羽をけが
しました。 とても痛がって、飛べなくなったすずめは、
地面の上をはって、「だれか助けて下さい! どうか助け
て下さい!」と泣いていました。

そのとき、その近くを、あごに白いひげをはやし
た、やさしそうなおじいさんが通りかかりました。 おじ
いさんは、さんぽのとちゅうで、その小さなすずめを見
つけて、立ち止まり、ひろい上げました。 小さいすずめ
は、「チュー、チュー、チュン、チュン」 とすすり泣き
ました。 「かわいそうな、小鳥さん」やさしいおじいさ
んは、「わしが、お前の世話をしてやろう」と、言 いま
した。

おじいさんは、すずめを家に連れて帰り、おばあ
さんと、大事にかんびょうしました。 けがをした羽に、
布を当ててほうたいをしてあげました。毎日とりかえて、
薬をぬってあげました。

やがて、すずめは、部屋の中を飛べるようになり
ました。 おじいさんは、その小鳥を「すずめさん」と、

94


Click to View FlipBook Version