i
ii
SUARA PENA Alvino Mahendra Y, Naufal Ivano W,
Penulis : Vanessa Putri A, dkk
Gambar dan Eko Bagus
ilustrasi :
Penyunting : Erfiani S Wardani, Eko Bagus, dan
Febri Aditya
Penyunting Faradila Elifin, Vivi Sulviana,
Ameilia Rizky C, Rici Alric K,
Akhir : Vegasari Yuniati
Diterbitkan pada tahun 2022 oleh Dinas
perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Jalan Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi
yang telah diberikan dalam melahirkan 1000 Penulis
dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji selalu Kami panjatkan
kepada Allah SWT atas ridho-Nya sehingga penulis
mampu menyelesaikan buku ini sebagai bentuk
apresiasi kepada para bibit penulis SDN Ketabang 1
mengikuti gerakan melahirkan 1000 penulis dan
1000 pendongeng (Gendis Sewu) dengan baik dan
lancar.
Dalam penyusunan buku ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
terkait yang ikut andil mensukseskan, membantu,
mengarahkan, dan membimbing kami.
Kami menghaturkan terima kasih kepada:
1. Mia Santi Dewi, SH, M.Si selaku Kepala
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya
2. Sutina, S.Pd.M.MPd selaku Kepala Sekolah
SDN Ketabang 1 Surabaya
3. Bu Friska selaku petugas Perpustakaan SDN
Ketabang 1 Surabaya
iv
4. Para bibit penulis Gendis Sewu SDN
Ketabang 1 Surabaya
5. Kapten Tim Penulis
6. Editor Tim Penulis
a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan
b. Editor Area Wilayah pusat
7. Segenap petugas Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya
8. Siswa-siswi SDN Ketabang 1 Surabaya
9. Ilustrator
Buku ini tidak luput dari kekurangan dan
kesalahan. Jika pembaca menemukan kesalahan
apapun, penulis mohon maaf setulusnya. Selalu ada
kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan,
karena itu, dukungan berupa kritik & saran akan
selalu penulis terima dengan tangan terbuka.
Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna dan
masih ada kekurangan maka kami mengharap kritik
dan saran yang bisa membangun dari pembaca
buku ini.
v
Semoga buku ini menjadi manfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya
di kota Surabaya dan seluruh Indonesia umumnya.
Surabaya, 2022
Tim Penulis Kecamatan Genteng
vi
KATA SAMBUTAN
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam
membangun Kota Surabaya yang kita cintai.
Kita patut bangga dan memberi apresiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota
Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya
tulis yang berjudul Suara Pena.
Buku para bibit penulis Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.
vii
Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi
untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai
kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata,
semoga buku berkarya Gendis Sewu berkarya
dengan judul Suara Pena bermanfaat bagi semua
pihak dan perkembangan para bibit Gendis Sewu.
Surabaya, 2022
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya,
Mia Santi Dewi, SH, M.Si
viii
SEKAPUR SIRIH
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas kehadirat-Nya, hanya dengan
kemurahan Allah SWT, kami dapat menghimpun
berbagai karya tulis para bibit penulis Gendis Sewu
dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi
cerpen dengan judul Suara Pena.
Buku ini merupakan antologi cerpen
kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Ketabang 1
Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan 12 karya
tulis cerpen pendampingan Petugas se-Kecamatan
Genteng yang diselenggarakan oleh Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas.
ix
Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat
memberikan layanan literasi yang di dalamnya
terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan
Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas
Karya dan Taman Kalimas Publikasi.
Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas berjenjang
dari mulai kelas reguler Taman Kalimas di tingkat
kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan mendapat
reward naik ke kelas khusus minat dan bakat setelah
itu karyanya akan dibuat dan dipublikasikan.
Saya mengapresiasi bangga kepada para
bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat
literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain
membaca juga mampu menulis.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada
Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip yang
terdiri dari dari para tutor kelas reguler di tingkat
kecamatan, para editor area (Dira), dan para
x
penyunting akhir hingga buku ini terselesaikan
secara baik.
Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para Tim Inti Penulis Dispusip yang berkolaborasi
dengan SDN Ketabang 1 Surabaya.
Membangun kota maka perlu disertai
‘membangun’ manusia di dalamnya. Tentu tidaklah
mudah, karena awal membangun seringkali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus ‘membangun’ karena
‘membangun’ manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.
Surabaya, 2022
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Dani Arijanti, SE, M.Si
xi
DAFTAR ISI
1. LEA SI KOWAL ................................................. 1
2. IMPIANKU MENTERI PERTAHANAN......... 3
3. IMPIANKU SEORANG ARSITEK .................. 6
4. DOKTER ADALAH MIMPIKU ..................... 11
5. ORANG BERMANFAAT................................. 18
6. CITA – CITAKU POLISI................................. 21
7. RIKO SI PERENANG ...................................... 24
8. JESSICA KOKI CILIK .................................... 27
9. KAKAK KU INSPIRASIKU............................ 32
10. NANTI, AKU JADI DOKTER......................... 35
11. CITA-CITAKU.................................................. 38
12. PENGENDALI KERETA................................. 41
xii
LEA SI KOWAL
Oleh Vanessa Putri N.
Hai, aku Azalea Yatalana aku adalah Angkatan Laut
yang dulunya dirundung dan sekarang aku sudah
menjadi orang yang sangat sukses.
“Ayah, Lea punya cita-cita,” ucap Lea.
“Cita-cita apa itu Nak?” ucap sang Ayah.
“Lea mau jadi angkatan laut boleh nggak
Yah?”
“Boleh Nak” ucap sang Ayah.
Namun saat dia di sekolah sering dirundung
oleh Azahra Kirana dan teman-teman genknya. Lea
selalu menjadi bahan ejekan oleh mereka.
“Woy, sok pinter kamu mau jadi dokter kanker
otak segala,” ucap Zahra sambil tertawa.
“Kalian itu bisa nggak sih, sehari aja tidak
menghina aku?” ucapnya sambil menatap tajam
mata Zahra.
1
Saat Lea sedang di kamar mandi, lampu
kamar mandi dimatikan oleh Zahra. Perbuatan
Zahra itu membuat Lea kesal.
“Awas ya Lea tunggu balasanku,” ucap
Zahra.
Keesokan harinya Lea melaporkan
perundungan yang dilakukan Zahra kepada guru
BK. Saat itu juga Zara dipanggil oleh guru BK dan
diberikan sangsi dikeluarkan dari sekolah. Sejak
saat itu tidak ada yang mengganggu Lea.
Suatu hari Lea mengikuti ujian menjadi
Angkatan Laut, ia lulus dari ujian tersebut betapa
senangnya Lea untuk memberi tahu kepada Ayah
dan Bundanya.
2
IMPIANKU MENTERI PERTAHANAN
Oleh Ahmad Rafif
Aku hanya manusia biasa dengan cita cita setinggi
angkasa. Namaku adalah Ahmad Rafif Abiyan. Di
suatu pagi yang cerah aku bertemu dengan Ayah
dan Ibuku.
“Pagi Bu,” Sapaku pada Ibu.
“Pagi Rafif,” sapa Ibu balik.
Saat akan pagi Ibu bertanya kepadaku tentang
cita-citaku
“Fif cita-citamu nanti mau jadi apa?.” Tanya
ibuku kepadaku
“Eeh .., rahasia Bu.” Jawabku .
“Kok, rahasia?” Tanya Ibuku lagi.
Sebenarnya aku ingin menjadi Menteri
Pertahanan, karena ingin memperkuat militer
Indonesia dengan membuat kendaraan tempur
buatan bangsa yang dapat bersaing di Internasional.
Untuk menjadi menteri pertahanan harus
menjadi militer terlebih dahulu, untuk itu aku
mengawalinya dengan belatih secara fisik maupun
3
mental mulai dari olahraga tiap hari makan-makanan
yang sehat.
Tapi aku mempunyai masalah dengan tubuhku
yang tak terlalu besar akan menjadi penghalang
yang membuatku khawatir tidak bisa diterima
menjadi Angkatan Militer.
Haduh, bagaimana aku bisa bergabung
dengan militer jika badanku seperti ini? Kataku
dalam hati.
Tapi aku akan melupakan semua itu dan terus
bergerak maju, suatu hari saat aku sedang
bersekolah aku ditanya oleh guruku tentang cita
citaku aku pun menjawab aku ingin sekali menjadi
menteri pertahanan.
Meskipun dulu aku ingin jadi pilot pesawat
terbang tapi setiap tahun cita-citaku berubah. Saat
pulang sekolah aku melihat salah satu anggota DPR
ditangkap karena melakukan tindak pidana korupsi,
hal ini membuatku geram.
Sempat membuatku ingin menjadi Presiden,
membuat pasukan khusus untuk menangkap
anggota DPR yang melakukan korupsi.
4
Huft … kenapa selalu ada korupsi mengapa
pemrintah tak membat pasukan untuk menangkap
koruptor, menyebalkan. Kataku dalam hati
Namun, tetap aku hanya ingin menjadi menteri
pertahanan aku mau meningkatkan teknologi
persenjataan yang digunakan oleh militer Indonesia,
sekaligus memperkuat armada laut Indonesia
mengingat Indonesia adalah Negara Maritim.
Untuk menjadi menteri aku harus terus belajar
dan berdoa apapun kendalanya. Aku akan tetap
menggapai cita-citaku dan berusaha malayani
negara dengan sepenuh hati.
Sebagai manusia aku tahu apapun dapat
terjadi, besar badanku tidak akan pernah
menghalangiku untuk terus maju untuk berjuang.
5
IMPIANKU SEORANG ARSITEK
Oleh Reyhan Jayengrono
Namaku Reyhan Jayengrono Pramudya. Saat ini
aku duduk di kelas lima. Semenjak aku duduk
dibangku TK hingga kelas dua sekolah dasar, cita-
citaku adalah menjadi tentara. Dibenakku saat itu
seorang tentara adalah laki-laki yang tangguh
dengan porsi latihan yang sangat keras. Bahkan aku
pernah melihat demonstrasi yang menarik truk
dengan giginya, membenturkan kepalanya ke
sebuah batu paving keras, berjalan tiarap dengan
lilitan kawat tajam diatas kepala, dan lain-lain.
Ketika menginjak kelas tiga SD, cita-citaku
sudah berubah lagi. Aku ingin sekali menjadi polisi.
Saat itu aku menganggap, tugas polisi adalah
menangkap pencuri, penculik, dan penjahat-
penjahat lainnya. Sungguh, suatu tugas yang keren
bagiku.
6
Lalu cita-citaku berubah lagi. Aku ingin sekali
menjadi pilot. Suatu ketika, aku mengutarakan
keinginanku untuk menjadi pilot, ke Bundaku.
“Bunda, bolehkah aku bercita-cita menjadi
pilot?”
“Selama cita-citamu baik, Bunda tentu tidak
keberatan. Tapi, resiko menjadi pilot, sangatlah
besar. Jumlah penumpang yang dibawa, bisa
ratusan orang.”
Raut khawatir, jelas-jelas tergambar di wajah
Bundaku. Sebagai anak tunggal, aku tak ingin
membuat hati Bundaku khawatir.
Semakin lama, aku mengenal dunia medsos.
Khususnya aplikasi Youtube. Mereka dijuluki
Youtuber.
Sepertinya menyenangkan, menghibur melalui
lawakan-lawakan lucu, bercerita tentang hal-hal unik
yang jarang diketahui orang, atau mungkin sekedar
menjelaskan alur permainan yang ada di game-
game populer.
7
Semakin banyak yang menyaksikan mereka,
maka pundi-pundi uang akan mengalir ke saku
mereka.
Kapan lagi, bisa melakukan hal yang
menyenangkan dan juga menghasilkan uang.
Sungguh, perkembangan jaman seperti ini, tak
mungkin bisa diduga, bahkan oleh orang-orang yang
paham teknologi, seperti Bundaku.
Namun, di dunia ini tidak semua orang bisa
memahami dunia teknologi seperti Bundaku.
Menghadapi mereka, aku tentu kesulitan untuk
menerangkan, apa itu Youtuber.
Sehingga, terkadang jika ditanya tentang cita-
cita oleh orang-orang yang tidak memahami dunia
teknologi, aku jawab saja cita-citaku menjadi polisi.
Tentu aku tidak bermaksud berbohong. Tapi
sungguh, aku masih kesulitan untuk menjelaskan
dengan detil kepada orang-orang yang tidak
memahami teknologi, tentang apa itu Youtuber.
Seperti ketika aku ditanya oleh guru ngajiku.
“Nak, kalau kamu sudah besar kelak, mau jadi apa?”
“Mau jadi polisi,” jawabku.
8
“Wah … bagus,” sahut ulang Pak Ustadz.
Teruslah mengaji, apapun cita-citamu kamu harus
memiliki ilmu agama yang tinggi.
Kalau jadi polisi, jadilah polisi yang amanah.
Kalau jadi tentara, jadilah tentara yang amanah dan
seterusnya.”
“Siap, Pak Ustadz.”
Suatu ketika, aku diajak Bundaku untuk jalan-
jalan ke mal. Sampai di sana sudah menunggu
teman Bundaku yang bernama Tante Lusi. Kami
bertiga pun berjalan-jalan sambil mengobrol. Aku
bukanlah tipe anak yang suka menguping ataupun
ikut campur dalam pembicaraan orang dewasa.
Sekilas aku mendengar percakapan antara
Bundaku dengan temannya itu.
“Lusi, akhir-akhir ini, aku kok jarang lihat dia,
ya,” ujar Bunda.
“Wah, dia lagi sibuk,” jawab Tante Lusi
“Sibuk apa?” sahut Bunda
“Ndesain gedung perkantoran, lumayan,
Seratus dua puluh juta untuk satu Gedung.”
Haa? Dalam hatiku berteriak.
9
“Tante, aku kok ingin jadi Arsitek ya,” kataku
kepada Tante Lusi.
“Iya, Rey. Satu gedung bisa dapat seratus
duapuluh juta, Itu baru satu gedung. Kalau dua
Gedung otomatis dapat duaratus empat puluh juta,”
jelas Tante Lusi.
Namun syarat yang harus ku hadapi adalah
pandai Matematika. Sementara nilai Matematikaku
pas-pasan.
Jadi, sampai sekarang aku masih bingung, apa
cita-citaku. Masing-masing profesi, sepertinya
memiliki keasyikan dan resikonya sendiri-sendiri.
Yang jelas, nasihat Bunda dan Guru mengajiku
apapun cita-citaku kelak, aku harus tetap menjadi
orang yang amanah serta memiliki ilmu agama yang
tinggi. aku tidak boleh menjadi sombong, tetap
berbakti kepada Bundaku, berguna bagi nusa dan
bangsa. Aamiin Allahumma Aamiin.
10
DOKTER ADALAH MIMPIKU
Oleh Kresna Akmal Wahyudi
Aku hanyalah manusia biasa dengan cita-cita
setinggi angkasa. Namaku adalah Kresna Akmal
Wahyudi. Nama panggilanku adalah Kresna,
umurku sebelas tahun, aku lahir dan tinggal di
Surabaya bersama kedua orangtuaku.
Aku bertemu Ayah di depan rumah sambil
minum kopi yang disediakan oleh Ibu.
“Halo Ayah,” sapaku pada Ayah.
“Ya, ada apa?” jawab Ayah.
“Apa cita-cita yang dulu Ayah impikan?” ujarku
pada Ayah.
“Dahulu Ayah bercita-cita menjadi seorang
Tentara” jawab Ayah.
“Lalu apa cita-cita yang kamu inginkan Nak?”
tanya Ayah.
“Aku ingin menjadi seorang dokter Yah,”
jawabku singkat.
“Bagus Nak, cita-citamu sungguh mulia. Jika
kamu ingin menjadi seorang dokter, kamu harus
11
senantiasa rajin belajar dan berdoa kepada Allah
agar cita-citamu dapat terwujud,” nasehat Ayah
kepadaku.
“Iya Yah, aku janji untuk selalu rajin belajar dan
berdoa,” ujarku.
“Kakekmu dulu memiliki cita-cita yang sama
sepertimu Nak, menjadi seorang dokter. Semoga
Engkau dapat mewujudkan keinginan beliau,” ujar
Ayah.
“Apakah menjadi serang dokter itu sulit
Ayah?,” tanyaku kembali kepada Ayah.
“Semua orang pasti akan bertanya sepertimu
Nak.” Jawab Ayah.
“Lalu apakah Kakek juga rajin belajar setiap
hari Yah?” tanyaku lagi.
“Rajin belajar, membaca dan berdoa, itu
semua Kakek lakukan agar dapat terwujud sesuai
angan-angan dan harapannya,” jawab Ayah.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan mulai saat
ini Ayah?” tanyaku kepada Ayah.
“Kalau kamu ingin semua cita-cita, harapan
dan imajinasimu dapat tercapai, maka lakukanlah
12
apa yang Kakekmu kerjakan Nak. Dimana ada
kemauan, disitu pasti ada jalan. Tidak ada yang tidak
mungkin, selama kita masih mau berusaha. Usaha
tidak akan pernah mengkhianati hasilnya.” nasehat
Ayah kepadaku.
“Baik Ayah,” jawabku.
“Tidak ada suatu hal yang sulit jika kamu mau
berusaha dan berdoa Nak,” jelas Ayah.
Inilah yang membuat aku menjadi semangat
dan giat belajar. Agar apa yang aku impikan, kelak
akan terwujud. Kakek dan Ayahku adalah sosok
yang aku sayangi selain Ibu dan seluruh keluargaku.
Aku sangat beruntung menjadi bagian dalam
keluargaku ini. Semoga dengan semangat belajar
yang tinggi ini, semua impian dan harapanku akan
tercapai. Amin Amin ya Robbal Alamin. Tak lupa aku
selalu berdoa memohon kepada Allah.
Setiap hari, aku selalu melakukan seperti
nasehat yang Ayah berikan kepadaku. Disiplin
dalam setiap hal, juga sudah menjadi bagian dalam
keseharianku.
13
Pagi hari setelah salat subuh, aku tidak lupa
membersihkan tempat tidurku dan menyiapkan
buku-buku pelajaran Sekolah.
Di sekolah, aku selalu mendengarkan dan
memperhatikan semua pelajaran dan nasehat yang
diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Mereka adalah
orangtuaku selama di Sekolah.
Setelah pulang sekolah, aku segera mengganti
pakaian sekolah dengan pakaian rumah. Tidak lupa
aku makan siang. Setelah itu ku ulang kembali
pelajaran yang sudah diajarkan oleh Bapak dan Ibu
Guru selama di Sekolah.
Hal itu aku lakukan agar pelajaran yang sudah
diberikan dapat kupahami dan kuingat selalu.
Kemudian, baru aku salat zuhur dan tidur siang.
Sore harinya setelah bangun tidur, aku
melaksanakan kewajibanku sebagai seorang
muslim, yaitu melaksanakan salat asar. Aku
melakukan kegiatanku seperti ini setiap hari, agar
aku menjadi terbiasa disipilin.
Ayah dan Ibu selalu memberikan motivasi dan
ajakan agar tidak bermalas-malasan. Belajar
14
disipilin sedari dini, itulah yang mereka ajarkan
kepada kami, anak-anaknya. Agar waktuku setiap
hari tidak ada yang terbuang sia-sia. Jika aku tidak
bisa memanfaatkan waktuku dengan baik, maka aku
sendiri yang merugi.
Pernah dan sering aku bercanda dan
bertengkar dengan Adikku sampai menangis.
“Dik, sana kamu buruan mandi,” perintahku.
“Nanti kakak!” jawabnya.
Karena Adikku baru bangun dari tidur. Karena
kesal aku ambil boneka kesayangan adik. “Kakak
“mandi apa nggak?” pintaku.
Dia menangis sambil tersedu-sedu
kembalikan bonekaku!”
Sampai Nenekku memarahiku karena adikku
menangis semakin kencang.
“Kresna jangan diganggu Adikknya!” teriak
Nenek kepadaku.
“Ini loh Nek. Adik gak mau mandi!”
“Biar dulu sebentar, nanti Nenek yang suruh
Adik mandi,” jawab Nenek.
15
Setiap sore hari setelah selesai salat magrib
aku selalu mencari handphone Ayahku. Karena di
situ aku senang bermain game yang telah aku
download. Sangking senangnya aku bermain game
terkadang Ayah dan Ibu selalu memarahiku.
Waktu yang kubuang percuma untuk bermain
game.
“Kresna, kamu itu … Ini hari apa kamu gak
belajar malah main ponsel,” ucapnya.
Dengan rasa takut, aku mengembalikan ponsel
Ayahku kembali kemeja makan.
“Maaf Ayah,” ucapku sambil tertegun.
“Kamu kan harusnya belajar! besok kamu
harus sekolah,” ujar Ayah.
“Iya Ayah,” jawabku
“Mulai besok kamu harus menata ulang jadwal
sekolahmu jangan main saja!” terang Ayah dengan
tegas.
Terima kasih Ayah, Ibu atas kasih sayang yang
diberikan kepadaku. Aku janji, aku akan selalu
berdoa dan berusaha untuk mengejar semua mimpi
16
dan cita-citaku, agar bisa membuat Ayah, Ibu dan
semua keluarga bahagia dan bangga kepadaku.
17
ORANG BERMANFAAT
Oleh Alvino Mahendra Yudhistira
Dexter adalah murid salah satu sekolah yang
berlokasi di Surabaya. Sepulang sekolah, Ia
bertemu dengan Ibunya di teras rumah.
“Halo Bu,” sapanya.
“Iya Nak kamu dari mana?” jawab Ibu sambil
bertanya.
“Dari sekolah Bu,” jawabnya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian saat aku duduk, Ibu
menanyakan sesuatu kepadaku.
“Apa yang kamu ambil di bawah meja?” tanya
Ibu.
“Koran Bu,” jawabnya.
Ternyata di bawah meja tersebut ada koran
milik Ayah yang bertuliskan jadilah orang
bermanfaat agar disukai dan dihargai orang lain. Ia
tertarik dengan salah satu judul tulisan di dalam
koran dan mulai membaca isi tulisan tersebut. Lalu
saya bertanya kepada Ibu
18
“Bu apakah aku bisa menjadi orang yang
berguna dan bermanfaat seperti menjadi Menteri
dan Presiden?” tanyaku kepada Ibu.
“Bisa saja, asalkan kamu rajin belajar dan terus
berusaha meraih cita – cita,” jawab Ibu.
“Aku akan lebih semangat belajar untuk
menjadi orang yang bermanfaaat,” ujarnya dengan
penuh semangat.
Lalu ia masuk ke rumah dan mulai
mengerjakan tugas sekolah untuk besok
dikumpulkan.
Esok paginya di sekolah, Ia bertemu dengan
beberapa temannya dan ternyata pelajaran hari ini
membahas mengenai cita-cita. Beberapa temannya
mengungkapkan masing – masing mimpinya untuk
berjuang menggapai impiannya.
Dexter mulai belajar dengan sungguh –
sungguh setiap harinya. Namun, saat menjelang
ujian, Ia terserang penyakit demam berdarah yang
mengharuskan rawat inap di Rumah Sakit.
Dexter mulai putus asa dan takut
mendapatkan nilai yang buruk saat ujian.
19
“Jangan sedih dan putus asa, kamu pasti bisa
cepat sembuh. Terus semangat untuk sembuh agar
kamu dapat mengikuti ujian dengan kondisi sehat
dan prima,” tutur Ibu kepada Dexter.
“Iya Bu, aku harus tetap semangat dan ingat
semua impianku,” jawab Dexter.
Dan Ia pun sembuh sehari sebelum ujian
dimulai.
Esoknya Ia mengikuti Ujian Nasional dengan
semangat dan optimis. Hingga tak sabar menunggu
hari pengumuman hasil Ujian Nasional.
Hari pengumuman yang ditunggu telah tiba,
Dexter mendapatkan nilai yang sangat memuaskan.
Semua teman, Guru dan Keluarga senang sekaligus
bangga dengannya.
Dexter mendapatkan tawaran pekerjaan di
Kementrian, tanpa berpikir panjang ia menerima
tawaran tersebut.
20
CITA – CITAKU POLISI
Oleh Alvito Hayza Pramuditya
Perkenalkan nama saya Alvito Hayza Pramuditya
dari kelas lima SDN Ketabang 1 Surabaya.
Sebenarnya cita-cita saya cukup banyak seperti
tentara, guru, pemain bola dan pembalap sepeda,
tapi cita-cita yang sangat saya inginkan adalah
menjadi seorang Polisi.
Polisi merupakan pekerjaan yang mulia
karena bertugas untuk membantu orang lain dimana
pun polisi berada, seperti mengatur lalu lintas,
menyeberangkan pejalan kaki membantu orang
yang kecelakaan, dan membantu orang lain yang
membutukan.
Aku bertanya kepada Ayah yang kebetulan
memiliki teman seorang polisi.
“Yah, bagaimana caranya menjadi polisi?”,
tanyaku.
“Wah kamu ingin menjadi Polisi ya? Caranya
cukup susah, namun bisa dicapai dengan belajar
21
bersungguh sungguh, fisik yang kuat dan mental
yang kuat,” jawab Ayah.
“Baik Yah akan kulakukan semua nasehat
Ayah agar menjadi seorang Polisi,” sahutku.
Aku pun selalu belajar dengan sungguh-
sungguh dan melatih fisikku setiap sore dengan lari
sore di sekitaran rumah. Ayah dan Ibu sangat
mendukung impianku dengan membelikan peralatan
olahraga yang dibutuhkan dan buku-buku pelajaran
yang baik bagiku.
Rutinitas ini aku lakukan hingga aku remaja
dan cukup umur untuk mengikuti tes penerimaan
masuk Polisi. Saat mengikuti tes, banyak yang
memiliki kualitas sama denganku.
Kondisi fisikku ternyata cukup tahan
meskipun banyak bagian tubuhku yang nyeri. Saat
ujian tes terakhir aku mengalami kram otot saat lari.
Aku tidak menyerah dengan rasa sakit itu.
Meskipun terkendala dengan rasa sakit, aku
dinyatakan lulus meskipun dengan hasil yang minim
di ujian terakhir.
22
Keluargaku bangga dengan pencapaianku.
Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada
kedua orang tua ku. Dan aku berjanji akan menjadi
polisi yang membanggakan bagi Nusa dan Bangsa.
23
RIKO SI PERENANG
Oleh Devano Aezar Sandjaja
Di daerah pesisir Pantai Papuma di Jember ada
seorang anak bernama Riko, umurnya 9 tahun, dia
duduk di kelas 4. Beberapa keluarga Riko bekerja
sebagai nelayan, Ayah Riko membuka usaha
restoran sea food hasil tangkapan nelayan di sekitar
pantai Papuma.
Sedari kecil Riko sangat akrab dengan laut, Ia
sering kali berenang di pantai bersama teman-
temannya, kemampuan berenang Riko sangat baik,
Ia mahir dalam berenang dengan berbagai gaya.
Suatu ketika ada sebuah keluarga berlibur
dipantai Papuma, beberapa anak kecil berenang di
pantai, ada seorang anak terseret arus pantai, Riko
yang sedang bermain bersama temannya melihat
kejadian tersebut.
“lihat ada yang terseret arus pantai. Ayo kita
segera menolongnya,” teriak Riko.
24
Kabar Riko menolong anak terseret arus
terdengar sampai ke guru di sekolahnya. Semua
guru memuji tindakan Riko yang saling tolong-
menolong dan menjadi contoh bagi teman-
temannya.
Melihat bakat Riko, guru olah raga yang
bernama Pak Rudi menyarankan untuk les renang
profesional. Sesampai rumah, Riko menyampaikan
kepada orang tuanya untuk mengikuti les renang
secara profesional, orang tua Riko sangat
mendukung bakat dan keinginannya untuk berlatih
renang secara profesional.
Sejak saat itu Riko rutin mengikuti latihan
renang bersama Pak Rudi. Riko selalu bersemangat
dan tidak pernah mengeluh dalam berlatih, dia
selalu menjalankan arahan yang diberikan Pak Rudi.
Suatu hari ada Pekan Olahraga Pelajar yang
salah satu cabang olahraga yang dilombakan
adalah renang.
“Riko, apakah kamu siap dengan perlombaan
renang tahun ini?” tanya Pak Rudi.
25
“Siap pak! Aku berusaha dengan semua
kemampuanku”, jawab Riko.
Pada hari yang sudah ditentukan Riko
mengikuti lomba tersebut dia bertanding melawan
peserta dari sekolah lain. Saat pengumuman juara
Riko sangat tegang dan berharap dia bisa menjadi
pemenang.
Setelah diumumkan ternyata Riko meraih
juara ke tiga, ia cukup senang meskipun harapannya
untuk menjadi juara satu belum bisa tercapai.
Setelah selesai lomba, Pak Rudi mengajak Riko
berdiskusi mengenai penampilanya saat bertanding.
Ada beberapa teknik berenang yang harus
diperbaiki.
Riko berjanji akan terus berlatih dengan
sungguh- sungguh untuk menjadi perenang
professional. Riko mendapat dukunggan dari Pak
Rudi dan orang tuanya. Riko yakin dengan
semangat, usaha, doa dan dukungan orang tua dan
guru kelak dia akan bisa menjadi juara dan atlet
renang profesional.
26
JESSICA KOKI CILIK
Oleh Nadda Putri Aretha
“Wow ... Benar-benar hebat, aku ingin bisa
memasak seperti Koki itu!” gumam Jessica kagum
saat melihat siaran memasak di Televisi.
"Jessica … Ayo mandi ini sudah waktunya
berangkat ngaji!" teriak Ibu dari sudut ruangan.
Aku yang sedang asyik menonton tv dibuat
kaget oleh suara menggelegar milik Ibu. Sembari
menoleh padanya aku berucap.
"Siap Bu, nanggung nih … setelah ini iklan,"
jawab Jessica menunjukkan giginya yang sedikit
kuning.
"Ya sudah ... Nanti kalau iklan langsung mandi
ya,” Pasrah Ibu melirihkan suaranya.
Jessica mematikan televisinya saat iklan
muncul dilayar, ia harus tetap pergi mengaji walau
harus mengesampingkan nontonan favoritnya yaitu
Master Koki.
27
Sepulang dari mengaji nanti, Ia akan
bergegas melanjutkan acara kesayangannya
kembali.
Untung Master Chef durasinya panjang, jadi
bisa nonton lagi pulang ngaji. Batin Jessica.
"Assalamualaikum, Ibu … aku pulang," Ucap
Jessica sambil berlari menuju televisi.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ibu sambil
tersenyum melihat kelakuan putri kesayangannya
itu.
Waktu berjalan begitu cepat hingga waktu
makan malam bersama tiba. Di sela-sela makan,
Jessica mengutarakan keinginannya untuk menjadi
Chef yang hebat.
“Bu, aku ingin sekali jadi koki seperti Chef
Arnold,” ucap Jessica.
“Memangnya Jessica bisa masak?” tanya
Ibu.
“Nggak sih Bu, tapi kan aku bisa belajar
memasak dengan Ibu,” jawab Jessica sambil
meringis.
28
Dari siaran memasak yang Jessica tonton di
televisi dan dari media internet Jessica terinspirasi
ingin jadi koki. Tanpa pikir panjang Jessica pun
memulai memasak keesokan hari, kebetulan besok
hari adalah Minggu.
“Ibu bisa bantu apa untuk memasak perdana
mu besok, sayang …?” lontar Ibu sambil tersenyum.
“Untuk besok, Ibu cukup jadi jurinya saja,”
jawab Jessica sambil tersenyum.
***
Keesokan harinya, Jessica mulai menyiapkan
bahan apa saja yang diperlukan untuk percobaan
memasak cupcake. Setelah semua siap, Jessica
mencampurkan semua bahan yang dibutuhkan
hingga menjadi adonan.
Adonan tersebut diletakkan di cup untuk
dimasukkan kedalam oven selama beberapa menit.
Setelah matang, Jessica menambahkan krim dan
meses sebagai topping cupcakenya.
Kemudian, dihidangkan cupcake yang
Jessica buat kepada Ibu untuk diberi kritik dan
saran.
29
“Ini cupcakenya enak, tetapi adonannya
masih belum tercampur dengan sempurna dan
kurang baking powder jadi, saat dioven tidak bisa
mengembang dan rasanya terlalu manis,” komentar
Ibu sambil mengunyah cupcake buatan Jessica.
“Haaah? Iya kah Bu?” tanya Jessica dengan
wajah tertekuk.
“Iya sayang, tepung ini harusnya dicampur
dengan air secara perlahan agar tidak ada yang
menggumpal dan takaran untuk baking powdernya
kurang jadinya bantat deeh …” jelas Ibu panjang
lebar.
“Baik, siap salah … nanti Jessica perbaiki
Hehehe … Maaf ya Bu, Jessica masih belum bisa
memasak, tetapi Jessica akan terus berlatih,”
terangnya pada Ibu yang setia menemani membuat
cupcake.
“Iya Nak, Semangat terus untuk mencoba,
semoga kelak kau jadi koki hebat seperti Chef
Arnold,” Ucap Ibu sambil mengelus kepala Jessica.
Berulang-ulang mencoba untuk membuat
cupcake dari yang awalnya kurang baking powder,
30
terlalu manis, hingga terjadilah drama cupcake
gosong. Kini Jessica bisa membuat cupcake dengan
sempurna. Tak hanya itu Jessica juga bisa
memasak makanan yang lain.
Kali ini Jessica mencoba peruntungan
dengan membuka usaha kecil kedai makanan di
samping rumahnya dan ia dijuluki dengan ‘Koki
Cilik’. Semoga usaha ini terus berkembang hingga
memiliki cabang di Kota lain, batin Jessica dalam
hati.
31
KAKAK KU INSPIRASIKU
Oleh Queen Anneysa Kabeer Lukito
Hai … Namaku Queen Anneysa Kabeer Lukito,
biasa dipanggil Queen. Aku lahir sebagai anak
kedua yang mempunyai Kakak perempuan bernama
Cindy Abelia Lukito, Ia biasa disapa Abel.
Sekarang, Kakakku itu sedang berkesibukan
meraih cita-citanya untuk menjadi dokter. Ia sedang
menjalani masa kuliahnya yang memasuki semester
tengah.
Waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi
dokter tetapi, tidak berfikir bagaimana sulitnya
menjadi dokter. Sering sekali aku menimbang,
galau, dan ragu pada cita-citaku.
Melihat Kakak asyik belajar, aku
memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“Kak bagaimana kuliahmu? Berat tidak?
Susah tidak?” rentetan pertanyaan yang keluar dari
bibirku membuat kakak diam sejenak untuk menelan
ludahnya.
32
“Kuliah Kakak seru Queen, masih belum
berat karena Kakak masih semester tengah.
Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?”
jawab Kakak sembari tersenyum.
Kini kedua mata Kakak mengarah lurus
padaku yang semula fokus pada buku-buku di
depannya. Aku yang gelagapan ditanya olehnya
hanya bisa meringis tanpa menjawab sepatah kata.
Aku putuskan untuk berbalik badan hendak
meninggalkannya agar ia kembali melanjutkan
belajar.
Kakak saja belajar begitu giat, huft … jangan
jadi dokter kali ya … susah rasanya … batinku dalam
hati sambil berjalan membelakanginya.
***
Pada saat istirahat sekolah, aku terdiam di
kursi sambil melamun. disitu aku tidak sengaja
berpikir tentang cita-citaku kedepannya. aku
menasehati diriku sendiri bahwa semua cita-cita
yang ingin kita gapai memang susah. Namun, kita
bisa menggapai cita-cita itu dengan yang giat.
33
Setelah merenung, dengan pikiran dan hati
yang tenang, aku yang awalnya ingin berganti cita-
cita karena ragu akhirnya tetap memilih untuk
menjadi seorang dokter.
Menjadi dokter itu bisa menolong orang yang
sedang sakit, batinku.
Jika sudah saatnya nanti, setelah wajib
sekolahku tuntas. Aku akan mengambil jurusan
sekolah kedokteran di Universitas Airlangga Unair.
Semoga aku bisa masuk di universitas itu
Amin... doaku dalam hati.
Menjadi seorang dokter memang dambaan
semua orang tetapi, tidak semudah yang kita
bayangkan prosesnya. Butuh perjuangan untuk
mencapainya dan mulai sekarang kita harus benar-
benar fokus untuk belajar.
34
NANTI, AKU JADI DOKTER
Oleh Juliani Putri Ardani
Dipagi yang cerah aku membuka jendela rumah,
melihat burung yang sedang berkicau. Akupun
termenung dan berpikir bagaimana nasibku dimasa
depan nanti.
Apakah nanti bisa menjadi orang yang
sukses? Apa aku bisa membahagikan kedua orang
tua dengan kerja kerasku? Tanyaku dalam hati.
Sebenarnya bayanganku kelak saat dewasa,
aku ingin menjadi dokter. Karena dokter adalah
seseorang yang berjasa untuk semua pasiennya.
Apalagi saat pandemi seperti ini, pasti banyak dokter
yang dibutuhkan di rumah sakit untuk membantu
pasien yang terkena Covid-19.
Di tengah lamunan Mama memanggilku, “Jul
ayo sarapan, Mama sudah masak makanan
kesuakaanmu.”
“Iya Ma ...” jawabku.
Aku bergegas pergi ke dapur untuk melihat,
kali ini apa yang dimasak oleh Mama. Makanan
35
kesukaanku adalah ayam goreng tepung.
Aku memang anak kesayangan Mama karena
anak satu-satunya. Itulah mengapa aku harus bisa
membahagiakan orang tua dan aku ingin membuat
mereka bangga.
"Ma, bisa nggak ya ... aku menjadi seorang
dokter, yang bisa menolong orang yang sakit."
Tanyaku, pada Mama.
"Bisa sayang, kamu harus belajar yang rajin
untuk mewujudkan cita-citamu itu. Mama akan
mendukung apa yang menjadi cita-citamu," Jawab
Mama yang semakin membuat aku bersemangat
untuk meraih cita-cita.
Disaat aku melahap makanan kesukaanku,
Ayah datang sambil mengeluh dadanya sakit dan
terduduk di sofa.
"Ayah kenapa?" Tanya Mama pada Ayah.
"Dada Ayah sakit Ma, Ayah nggak bisa nahan
sakitnya Ma," kata Ayah sambil memegang dada.
"Jul, ayo selesaikan makannya. Mama mau
mengantar Ayah ke rumah sakit," Terang Mama
bergegas menuju kamar mengambil berkas berobat
36
Ayah.
Setibanya di rumah sakit Ayah langsung
masuk ke ruang ICU dan diharuskan untuk
menjalani rawat inap selama tiga hari perawatan,
setelah itu Ayah diperbolehkan pulang ke rumah.
Dari sinilah aku berjanji akan belajar dengan
giat agar aku dapat meraih cita-citaku menjadi
Dokter. Tidak akan aku lupakan jasa Dokter yang
menolong Ayah.
37
CITA-CITAKU
Oleh Naura Zahirah Rahmania
Hallo namaku Naura Zahirah Rahmania, aku biasa
di panggil Ara. Aku lahir sebagai anak kedua
sekaligus anak bungsu dari sebuah keluarga kecil
yang harmonis. Kami tinggal di sebuah kota yang
ramai dan padat penduduknya, kota Metropolitan,
yaitu kota Surabaya.
Saat ini aku duduk di bangku kelas lima SD,
aku mempunyai impian yang besar yaitu menjadi
seorang dokter hebat dan sukses.
Kita semua tahu bahwa dokter adalah
seorang tenaga kesehatan yang bekerja untuk
mengobati dan menyembuhkan pasien. Tanpa
memandang apapun jenis penyakit dari pasiennya,
seorang dokter selalu berusaha untuk
menyembuhkannya.
Jasa seorang dokter sungguh besar, karena
telah berusaha menyelamatkan pasien-pasiennya.
Tidak akan terlupakan saat saya menderita demam
38