The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-BOOK SDN KETABANG 1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by irma, 2022-06-19 22:54:14

SUARA PENA

E-BOOK SDN KETABANG 1

Keywords: CERPEN

berdarah dengan keluhan panas tinggi dan mimisan
yang akhirnya harus masuk rumah sakit.

Oleh karena berbagai alasan itulah saya ingin
menjadi seorang dokter. Apalagi Bundaku juga
seorang dokter, sehingga aku tahu apa yang
dilakukan oleh Bundaku sebagai seorang dokter.

Suatu hari di sekolah ada lomba menjadi
seorang dokter cilik. Aku senang sekali dan aku
cepat-cepat mendaftar. Dan alhamdulillah saat itu
aku terpilih menjadi peserta dokter cilik. Aku senang
sekali karena dapat merasakan menjadi dokter, aku
berharap impianku akan menjadi kenyataan.

Apakah aku nantinya bisa menjadi orang
sukses? tanyaku dalam hati.

Aku ingin membahagiakan orang tua dengan
kerja kerasku sendiri. Bundaku datang dan bertanya
kepadaku

‘’Kenapa Dek?’’ tanya Bundaku.
Dan akupun menjawab, “Iya Bun”.
“Kenapa adek termenung, ada apa?” tanya
Bunda.
“Tidak apa-apa Bun,” jawabku.

39

“Kalau begitu kamu bisa bantu Bunda ya?”
tanya Bunda.

“Baik Bunda,” jawabku singkat.
Setelah selesai membantu Bunda, aku
kembali memikirkan cita - citaku untuk kedua kalinya
Pokoknya aku harus menjadi orang yang
sukses kataku dalam hati.
Untuk meraih cita - cita tersebut, aku harus
belajar dengan rajin dan tekun. Aku ingin senantiasa
membahagiakan kedua orang tuaku, karena dengan
menjadi sukses, mereka akan bahagia.

40

PENGENDALI KERETA

Oleh Naufal Ivano Wicaksana

Namaku Naufal Ivano Wicaksana, seorang anak
laki-laki berusia sebelas tahun yang berstatus
sebagai murid kelas 5 SD. Ayah, Ibu dan saudaraku
biasa memanggilku Ipang jika di rumah. Lucu ya …
Ayah terinspirasi dari nama tengahku, Ivano.

Namun, sebenarnya aku lebih suka dipanggil
Naufal …

terdengar lebih keren gitu, batinku.
Pernah aku protes tetapi, mereka kompak
menjawab “Nggak apa-apa lah itu loh juga bagus
lebih familier.”
Usut punya usut sejak kecil panggilanku
seperti itu, konon katanya agar lebih mudah saja dari
pada mengeja nama tengahku Ivano …
“Huhh...ada-ada saja mereka,” gerutuku.
Mereka semua malas memanggil dengan
nama tengahku yang keren jadi terbiasa sampai
sekarang. Walau begitu mereka sangat

41

menyayangiku karena aku adalah anak laki satu-
satunya diantara kedua kakakku.

Kedua kakakku sering mengajak bergurau
ataupun bertengkar. Umur kami yang terpaut jauh
dan mentang-mentang aku paling kecil, kadang
mereka semaunya sendiri memperlakukanku.

Jika bercanda, mereka menganggapku masih
kecil. Tak jarang aku menangis karena di bully dan
diganggu ketika asyik bermain dengan mainanku.

Dengan santai mereka kompak berkata, “Loh!
sudah besar kok nangis Pang!”
Aku semakin menangis karena malu dan jengkel.

Oh iya … Sebenarnya aku ingin bercerita
tentang cita-citaku yang dulu ingin menjadi masinis.
Seorang masinis yang tampan, gagah dan mahir
mengemudikan kereta api.

Kegemaranku adalah bermain kereta api.
Aku senang jika diajak naik kereta api. Biasanya
Eyang kakung menuruti permintaanku untuk naik
kereta api komuter dari stasiun Gubeng sampai
Porong setelah itu langsung pulang ....

42

Aku senang walau hanya duduk menikmati
perjalanan dan membayangkan mengemudikan
kereta api.
JESSS ... JESSS ... TUITT ... TUITT kereta api
berjalan dari satu Kota ke Kota lain.

Koleksi mainanku yang bertema kereta api
banyak sekali, dari mulai yang ada relnya, bisa
berjalan sendiri hingga thomas and friends.

Ketika ada waktu senggang aku selalu
bermain dengan koleksi mainan keretaku. Ku jajar
dengan rapi, kujalankan kereta seperti seorang
masinis beneran … TUITT … TUITT sambil ku
tirukan suara kereta api yang sedang berjalan.

Pada suatu hari cita-citaku berubah lagi, aku
ingin menjadi seorang tentara. Aku melihat di televisi
dan cerita dari Ayah tentang seorang kawannya
yang banyak menjadi TNI AL.

Bayanganku, seorang tentara adalah orang
yang pemberani, gagah, dan berwibawa apalagi
kalau melihat mereka berjalan atau bertugas dengan
baju dinasnya.

43

wahhh keren banget Tetapi, aku kok takut perang ya
ha...ha... batinku.

Hari-hari berlalu, tetapi masih ada kegalauan
dihatiku. Ku beranikan untuk bertanya pada kakak
yang sedang bersantai di depan televisi.

“Kak ... kira-kira Naufal pingin jadi apa ya
kalau besar nanti?” tanyaku pada kakak sambil
meringis.

“Lah … kamu ingin jadi apa loh Ipang?” jawab
kakak tertua.

“Kakak ini gimana ditanya kok malah
bertanya lagi capek dech!” sahutku.

Terjadilah perdebatan sengit diantara kami.
Ibu yang ada didekatku merespon dengan tawanya
sambil berkata,

“Ipang ... cita-cita itu kalau dari kecil memang
berubah-ubah, kadang masih khayalan saja, masih
bingung juga. Tapi tidak perlu takut nanti seiring
berjalannya waktu sambil belajar yang sungguh-
sungguh, kemudian sudah terlihat bakat yang Ipang
miliki pasti nanti akan bisa memilih mana cita-cita
yang cocok untuk kamu,” tutur Ibu panjang lebar.

44

“Nah sekarang, coba kamu suka atau senang
dalam hal apa?” tanya Ayah dari seberang meja
kami.

“Masih bingung yah he he... “ Jawabku sambil
menggaruk tengkuk yang tak gatal.

Ah peduli amat ... .mau jadi masinis, tentara
... yang penting terlihat gagah, perkasa, dan
berwibawa, batinku.

Semua sama hebatnya, yang terpenting
adalah kesungguhanku dalam belajar dan tidak
aneh-aneh.

Semoga cita-citaku dapat terwujud dan tidak
berubah lagi! masinis atau tentara?

Apa mungkin tentara yang bertugas
mengemudikan kereta perang?

Sayangnya di Indonesia belum ada kereta
tempur hehe, khayalku dalam hati.

45

46


Click to View FlipBook Version