i
ii
BARA DAN KARYA
Penulis : Shafira Kyftalia Abadi,
Janeta Qausquza
Shaka, Arjuna, Nararya W, dkk
Ilustrator : Novia Anggraini
Penyunting : Erfiani S Wardani, Eko Bagus, dan
Febri Aditya
Penyunting Faradila Elifin, Vivi Sulviana,
Akhir : Ameilia Rizky C, Rici Alric K, dan
Vegasari Yuniati
Diterbitkan pada tahun 2022 oleh Dinas
perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Jalan Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi
yang telah diberikan dalam melahirkan 1000 Penulis
dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji selalu Kami panjatkan
kepada Allah SWT atas ridho-Nya sehingga penulis
mampu menyelesaikan buku ini sebagai bentuk
apresiasi kepada para bibit penulis SDN Kaliasin 1
mengikuti gerakan melahirkan 1000 penulis dan
1000 pendongeng (Gendis Sewu) dengan baik dan
lancar.
Dalam penyusunan buku ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
terkait yang ikut andil mensukseskan, membantu,
mengarahkan, dan membimbing kami.
Kami menghaturkan terima kasih kepada:
1. Mia Santi Dewi, SH, M.Si selaku Kepala
Dinas dan Perpustakaan Kota Surabaya
2. Sastro, M.Pd selaku Kepala Sekolah SDN
Kaliasin 1 Surabaya
3. Pak Ali dan Bu Catur selaku petugas
Perpustakaan SDN Kaliasin 1 Surabaya
iv
4. Para bibit penulis Gendis Sewu SDN Kaliasin
1 Surabaya
5. Kapten Tim Penulis
6. Editor Tim Penulis
a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan
b. Editor Area Wilayah pusat
7. Segenap petugas Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya
8. Siswa-siswi SDN Kaliasin 1 Surabaya
9. Ilustrator
Buku ini tidak luput dari kekurangan dan
kesalahan. Jika pembaca menemukan kesalahan
apapun, penulis mohon maaf setulusnya. Selalu ada
kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan,
karena itu, dukungan berupa kritik & saran akan
selalu penulis terima dengan tangan terbuka.
Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna dan
masih ada kekurangan maka kami mengharap kritik
dan saran yang bisa membangun dari pembaca
buku ini.
v
Semoga buku ini menjadi manfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya
di kota Surabaya dan seluruh Indonesia umumnya.
Surabaya, 2022
Tim Penulis Kecamatan Genteng
vi
KATA SAMBUTAN
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam
membangun Kota Surabaya yang kita cintai.
Kita patut bangga dan memberi apresiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota
Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya
tulis yang berjudul Bara dan Karya.
Buku para bibit penulis Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.
vii
Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi
untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai
kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata,
semoga buku berkarya Gendis Sewu berkarya
dengan judul Bara dan Karya bermanfaat bagi
semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis
Sewu.
Surabaya, 2022
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya,
Mia Santi Dewi, SH, M.Si
viii
SEKAPUR SIRIH
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas kehadirat-Nya, hanya dengan
kemurahan Allah SWT, kami dapat menghimpun
berbagai karya tulis para bibit penulis Gendis Sewu
dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi
cerpen dengan judul Bara dan Karya.
Buku ini merupakan antologi cerpen
kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Kaliasin 1
Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan 16 karya
tulis cerpen pendampingan Petugas se-Kecamatan
Genteng yang diselenggarakan oleh Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas.
ix
Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat
memberikan layanan literasi yang di dalamnya
terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan
Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas
Karya dan Taman Kalimas Publikasi.
Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas berjenjang
dari mulai kelas reguler Taman Kalimas di tingkat
kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan mendapat
reward naik ke kelas khusus minat dan bakat setelah
itu karyanya akan dibuat dan dipublikasikan.
Saya mengapresiasi bangga kepada para
bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat
literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain
membaca juga mampu menulis.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada
Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip yang
terdiri dari dari para tutor kelas reguler di tingkat
kecamatan, para editor area (Dira), dan para
x
penyunting akhir hingga buku ini terselesaikan
secara baik.
Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para Tim Inti Penulis Dispusip yang berkolaborasi
dengan SDN Kaliasin 1 Surabaya.
Membangun kota maka perlu disertai
‘membangun’ manusia di dalamnya. Tentu tidaklah
mudah, karena awal membangun seringkali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus ‘membangun’ karena
‘membangun’ manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.
Surabaya, 2022
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Dani Arijanti, SE, M.Si
xi
DAFTAR ISI 1
1. Mimpiku Jauh di Awan 5
2. Bercita-Cita Jadi Tentara 8
3. Ingin Menang Lomba Gambar 11
4. Jas Putih Reyya 16
5. Penulis atau arsitek? 22
6. Dokter Kecil Mama 25
7. Jadi Kebanggaan 28
8. Layla dan Impian yang Berharga 33
9. Aku Ingin Jadi Dokter 36
10. Pilot Cita-Citaku 39
11. Cita- citaku 42
12. Kiasku dalam Meraih Cita 45
13. Pramugari Cita-Citaku 49
14. Aku Ingin Jadi Ahli Farmasi 53
15. Impianku Jadi Seorang Dokter 57
16. Jadi Dokter
xii
MIMPIKU JAUH DI AWAN
Oleh Almira Tsabita Kirana
Aku hanyalah manusia biasa dengan cita-cita
setinggi angkasa. Oh iya … kenalkan namaku
Almira Tsabita Kirana, panggil saja Tsabita agar
mudah untuk diingat. Inilah sepenggal ceritaku.
Malam ini persiapanku belajar ulangan
tengah semester demi meraih nilai yang terbaik.
Malam semakin mendekati pagi aku tetap belajar
dan Mama selalu mengingatkanku tentang membagi
waktu belajar.
Saat ulangan harian ataupun tengah
semester, aku tidak diperbolehkan bermain. Jika aku
melanggar, Papa dan Mama akan menegurku.
Kakak juga pernah cerita, waktu ia masih kecil sering
dimarahi Mama dan Papa karena tidak belajar.
Siang ini cukup terik untuk belajar, Mama
telepon dari tempat kerjanya.
“Adek belajar atau main HP?” tanya Mama.
“Aku belajar Matematika, Ma!” jawabku.
1
“Ingat ya … jika masih main HP dan tidak mau
belajar sungguh–sungguh, yang rugi kamu sendiri,”
jelas Mama.
“Ya Ma, aku akan belajar sungguh–sungguh
lagi,” jawabku sambil minum air putih.
Aku terus belajar apa saja yang diajarkan
dalam pelajaran dan selalu minta bantuan Mama,
Papa, dan Kakak jika tidak bisa mengerjakan.
Mereka memberikan cara awal, lalu kuteruskan
hingga selesai.
Jika besar nanti, aku ingin sukses dan
membahagikan keluarga agar bisa membelikan
mobil, rumah, dan umrah. Aku yakin bisa
mewujudkan mimpi jika belajar giat, tekun, dan
selalu menuruti orang tua serta Bapak dan Ibu Guru.
Sekolah terkadang mempercayaiku untuk
turut serta mewakili beberapa lomba.
“Ini kesempatan kamu untuk belajar lebih
sukses dan meraih prestasi, tunjukkan
kemampuanmu,” kata Mama.
“Iya Ma, siapa tahu nanti aku bisa juara,”
jawabku senang.
2
“Menang atau kalah tidak masalah, yang
terpenting kamu bisa melaksanakan tugas ini
dengan baik dan sungguh-sungguh,” timpal Mama
kembali.
Alhamdulillah bersama temanku Nessa, aku
bisa juara dua lomba Palang Merah Remaja tingkat
SD. Aku bersyukur orang-orang terdekat selalu
mendukung perjuanganku. Aku berusaha untuk
lomba-lomba berikutnya akan belajar lebih giat lagi.
Karena kadang lomba yang bermacam jenisnya, aku
semakin senang karena banyak pengalaman dan
punya banyak teman selain di sekolah.
Hobiku adalah bersepeda. Melihat teman-
teman komplek bermain di depan rumah, Mama
memberiku kesempatan untuk pergi bermain
dengan syarat tidak terlalu jauh berkeliling.
“Sana pergi … bermainlah dengan temanmu,
Mama lihat dari sini,” ujar Mama.
“Terima kasih, Ma,” jawabku
Hal mengejutkan yang Mama lakukan untuk
membuatku semangat belajar selalu beragam, mulai
3
dari memesankan makanan kesukaanku hingga
membelikanku es krim, rasanya nikmat.
Jika capek belajar, aku selalu melihat awan
dari balik jendela.
Tunggulah … cita-citaku akan tercapai nanti,
batinku.
4
CITA-CITA JADI TENTARA
Oleh Dyah Ayu Larasati
Adi, seorang anak yang bercita-cita menjadi seorang
tentara bersiap untuk berangkat sekolah dari
rumahnya yang sederhana. Sesampai di kelas, ia
bertemu dengan sahabatnya yang bernama Beni
dan Lani. Mereka berbincang hingga waktu
pelajaran dimulai.
“Anak-anak mari pelajaran dimulai … hari ini
materinya adalah tentang Cita-cita,” teriak Ibu Guru
di depan kelas memecah suasana.
Bu Guru berkata, “Adi apa cita-citamu, Nak?”
“Tentara Bu …,” jawab Adi percaya diri.
Bu Guru yang mendengarnya pun tersenyum
dan melihat murid lain dalam kelas.
“Mengapa kamu ingin menjadi tentara, Nak?”
tanya Bu Guru lagi.
“Karena ingin menjadi seperti Ayah saya, Bu
… Saya ingin membela Negara Indonesia,” Adi
menjawab.
5
Ayah dulu adalah seorang tentara yang
sangat kuat dan sangat pemberani karena itu aku
ingin menjadi tentara. Waktu pun berlalu pelajaran
sudah selesai dan teman-teman juga sudah pulang
kecuali Adi, Leni, dan Beni mereka pulang bersama.
”Adi kenapa kau ingin menjadi tentara? ‘Kan
kalau menjadi tentara harus berani berkorban demi
Negara Indonesia kenapa tidak menjadi yang
lainnya?” tanya Beni disela perjalanan.
Lani pun menyahut, “Ya terserah Adi lah,
yang menjadi tentara ‘kan Adi bukan kamu! Apa
kamu tidak dengar tadi, kalau ia ingin menjadi
tentara untuk mempertahankan Indonesia berarti
Adi akan melindungi kita semua.
Adi yang mendengar pertengkaran kedua
sahabatnya itu hanya berkata, “Aku akan berjuang
untuk meraih cita-citaku.”
“Oke aku akan mendukungmu, tetapi bila
kamu nanti sudah besar jangan lupakan kami ya ...,”
sahut Beni menimpali.
Beberapa tahun kemudian Adi berhasil
menjadi tentara karena ia terus berusaha untuk
6
menggapai cita-citanya. Adi, Lani, dan Beni
berencana untuk bertemu untuk melepas rindu.
“Hei Beni lihatlah Adi yang sekarang menjadi
Tentara, bagaimana keren ‘kan?” oceh Lani pada
Beni.
“Adi bagaimana kau bisa menjadi tentara?”
Beni bertanya heran.
“Karena aku berusaha dan tidak pernah putus
asa, dan dibantu oleh Ibuku, beliau selalu
menyemangatiku dan selalu berkata bahwa kita
tidak boleh putus asa. Namun, kita harus tetap
berjuang karena itu aku bisa menjadi tentara.
7
INGIN MENANG LOMBA GAMBAR
Oleh Janeeta Qausquza Sakha
Melly adalah seorang gadis cantik dan juga pintar.
Dalam waktu senggangnya dia suka sekali membuat
coretan-coretan berupa sketsa. Melly mempunyai
seorang sahabat cantik bernama Manda. Mereka
berdua memiliki hobi yang sama dan dikenal sangat
ramah dan baik pada semua orang.
Hingga suatu hari mereka melihat ada
pengumuman lomba menggambar di majalah
dinding sekolah. Lomba itu akan diadakan pada
tanggal 15 April. Mereka berdua segera menemui
panitia lomba untuk mendaftar karena hadiah yang
disediakan sangat menarik. Melly membayangakan
apabila memenangkan lomba tersebut, dia dapat
memberikan hadiah berupa uang tunai untuk
Ibunya. Mekipun Melly dan Manda sama-sama
mendaftar, mereka akan bersaing secara sportif.
Kelly yang mengetahui bahwa dua
sahabatnya mendaftar lomba menggambar
8
merencanakan sesuatu yang licik agar Melly dan
Manda gagal dalam lomba tersebut. Kelly juga
mendatangi panitia lomba dan mendaftarkan diri.
Merasa masih cukup waktu, Melly dan Manda
berlatih setiap hari agar mereka dapat menggambar
dengan baik saat lomba. Sedang Kelly tidak pernah
berlatih sama sekali, Ia yakin bahwa dirinya yang
akan memenangkan lamba tersebut.
Tiba saat lomba, mereka bertiga sudah siap
di depan meja masing-masing dengan alat gambar
yang diperlukan. Saat panitia meniup peluit tanda
lomba dimulai Melly dan Manda segera memulai
menggambar sedang Kelly masih santai karena
diberi waktu sembilan puluh menit untuk
menggambar. Kelly melihat Melly dan Manda sudah
mulai mewarna menggunakan cat air. Dalam
benaknya dia merencanakan akan menyenggol air
yang digunakan untuk cat air agar mengenai
gambaran Melly dan Manda. Dia berpikir itu akan
merusak hasil gambar mereka.
Pelan-pelan Kelly berdiri untuk berpura-pura
berjalan di depan meja gambar Melly dan Manda.
9
Namun, tanpa disengaja tanggannya menyenggol
tempat airnya sendiri sehingga mengenai gambar
yang telah dibuatnya. Kelly sangat terkejut hingga
lemas menyesali perbuatannya. Melly dan Manda
yang mengetahui kejadian itu merasa iba. Setelah
menyelesaikan hasil gambar, mereka menyerahkan
pada panitia, kemudian mendatangi Kelly untuk
menghiburnya.
“Kelly apa kau baik-baik saja?” tanya Melly.
“Aku sedih karena tidak bisa mengumpulkan
hasil gambarku,” jawab Kelly.
Manda segera memeluk Kelly dan berkata,
“Jangan sedih, kita bisa ikut lomba menggambar di
lain waktu.”
Kelly merasa malu karena Melly dan Manda
sangat baik kepadanya. Dia berjanji tidak akan
mengulangi perbuatannya lagi dan akan menjadi
anak yang jujur.
Saat panitia lomba mengumumkan bahwa
Melly menjadi juara pertama dan Manda menjadi
juara kedua, mereka bertiga berpelukan bahagia.
10
JAS PUTIH REYYA
Oleh Nadhin Najwa Almadina
“Anak-anak, Ibu ingin bertanya sesuatu.
Tolong dengarkan,” teriak Ibu Guru.
Ricuh ruang kelas dengan obrolan para
siswa-siswi kini berubah sepi. Ibu guru memberi
tugas kelompok secara mendadak membuat horor
suasana siang itu.
“Ya, Bu …,” sahut mereka langsung
membenarkan posisi duduk masing-masing. Bu
Guru tersenyum sekilas.
“Ibu ingin bertanya, apa cita-cita kalian?”
lanjutnya.
Kelas kembali ricuh, tetapi kali ini berbeda
karena semua siswa dengan semangat
menyebutkan cita-cita mereka satu persatu. Ada
yang menginginkan menjadi polwan, polisi,
pengusaha, dan lain sebagainya. Bu Guru terlihat
senang mendengarnya. Namun, sepertinya ada satu
anak yang belum menyebutkan cita-citanya.
11
“Reyya, kau belum menyebutkan cita-citamu,
Nak. Coba sebutkan cita-citamu, Reyya!” ujar Bu
Guru menunjuk Reyya.
Reyya terdiam sejenak, “Saya ingin menjadi
dokter, Bu …,” ujarnya.
Bukannya menyemangati, Reyya
ditertawakan oleh teman sekelasnya.
“Sudah-sudah, mengapa kalian
menertawakan Reyya? Oh iya, semangat mengejar
cita-citamu setinggi langit ya, Reyya,” kata Bu Guru
menyemangati.
“Iya, Bu,” Reyya menjawab sambil tersenyum
tipis.
Jam pelajaran selesai, itulah yang ditunggu-
tunggu. Semua siswa berhamburan keluar dari
kelas, kecuali Reyya dan dua orang temannya. Bu
Guru sudah keluar dari kelas sejak tadi, yang
menyisakan tiga orang muridnya.
“Rey, apakah kau benar-benar ingin menjadi
dokter?” ujar Freya kepada Reyya.
Reyya hanya mengangguk, tetapi Freya
tertawa.
12
“Bukankah kau berasal dari keluarga tidak
mampu? Lalu berharap menjadi dokter?” ucap Freya
meledek Reyya.
Reyya sudah bisa menebak bahwa Freya
akan bersikap seperti ini padanya. Ia hanya
menghembuskan nafasnya
Salahkah memiliki impian sebagai seorang
dokter? batinnya.
Salah satu teman yang mendengar itu pun
langsung menghampirinya.
“Jangan bersikap seperti itu, Freya!” tegur
Yesha.
“Ucapanku itu benar, Yesha. Reyya berasal
dari orang yang tidak mampu. Apakah
memungkinkan untuknya menjadi dokter?” ujar
Freya lantang.
Yesha yang semakin geram dengan perilaku
Freya membalas singkat, “Mungkin saja, jika ia
berusaha. Tidak seperti kamu yang mengandalkan
harta orang tuamu.”
Freya hanya terdiam dengan ucapan Yesha,
ia buru-buru pergi meninggalkan kelas itu.
13
***
20 tahun kemudian terlihat seorang wanita
mengenakan jas dokter berjalan di lorong rumah
sakit. Saat sedang berjalan, tanpa sengaja melihat
sesosok wanita yang seumuran dengannya. Wanita
itu hampir terpeleset, dengan cepat ia menghampiri.
“Nyonya, kau tak apa?” tanya dokter.
Wanita yang terjatuh itu mengangguk, “Saya
tidak apa-apa,” jawabnya pelan.
Reyya tersenyum. Namun, “Freya! Kau
Freya?” ujar Reyya antusias. Wanita itu terkejut.
“Ya, saya Freya. Tunggu, apakah kamu
adalah Reyya?” ujar wanita itu terkejut saat melihat
wajah Reyya.
Reyya mengangguk semangat, “Ya, aku
Reyya.”
Freya menangis seketika, mengingat
bagaimana dulu ia mengejek Reyya yang sekarang
menjadi lebih sukses darinya.
“Reyya, maafkan aku … Aku menyesali
perbuatanku dahulu. Aku benar-benar menyesal,”
ujar Freya meneteskan air matanya.
14
Reyya tidak sanggup melihatnya, dengan
cepat ia langsung duduk di samping Freya.
“Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Aku
tidak pernah membencimu, bahkan sampai
sekarang aku tetap menganggapmu sahabatku,”
kata Reyya sambil memeluk Freya.
Freya tersenyum simpul.
“Terima kasih, Reyya,” ujarnya pelan.
Reyya hanya tersenyum mendengarnya.
15
PENULIS ATAU ARSITEK?
Oleh Vanilla Zahra Alifna Agzan
Siang ini benar-benar terik. Sekar berjalan dengan
langkah pelan. Semangatnya melemah untuk
sampai rumah. Tas punggung sekolahnya berat
seperti perasaannya hari ini. Perbincangan ketika
sarapan pagi bersama Ayah dan Ibu begitu melukai
perasaan Sekar.
”Kenapa nilai Matematikamu hanya 72,
Sekar?” ucap Ayah mengawali perbincangan.
“Aku sudah belajar dengan giat, Ayah ...
Tetapi kadang aku juga masih bingung dengan
rumus-rumusnya," jawab Sekar pelan.
“Ayah tidak mau tahu bagaimana cara
belajarmu! Ayah hanya ingin kamu ahli dalam
Matematika. Ayah ingin kelak kamu menjadi
seorang arsitek yang nantinya akan meneruskan
Ayah,” ucap Ayah tegas.
16
“Baiklah, Sekar. Ibu akan mencoba
memanggilkan guru les Matematika untukmu, ya?”
sambung Ibu.
Sekar hanya diam. Kemudian, berpamitan
berangkat ke sekolah.
Ucapan Ayah membuat Sekar sedih karena
ia dituntut untuk pandai dalam Matematika,
sedangkan Sekar gemar sekali membaca dan
menulis. Sekar sangat suka membaca komik, novel,
dan cerita rakyat. Sekar tidak menyukai pelajaran
numerik apalagi hafalan. Namun, Ayah dengan
sangat tegas mengatakan bahwa nilai Matematika
Sekar harus bagus dan sempurna.
Sekar bercita-cita menjadi seorang penulis.
Dari kecil, Ayah dan Ibu sering sekali membawanya
dan Adiknya bepergian ke banyak kota, bahkan ke
negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.
Setiap perjalanan wisatanya, Sekar selalu
menuliskan pengalamannya dan hal-hal baru apa
saja yang ditemuinya di sana. Dengan detail, Sekar
menceritakan dalam tulisan. Sekar memimpikan ia
akan menerbitkan buku yang berisi tentang
17
perjalanan dari satu kota ke kota yang lain di
berbagai belahan dunia. Namun, mimpi itu seakan-
akan sirna karena Ayah ingin Sekar ahli Matematika.
Bel istirahat telah berbunyi. Sekar masih
duduk di bangku kelas, sedangkan teman-temannya
sudah asyik berhamburan menuju kantin sekolah.
Bu Ami menghampiri Sekar seraya bertanya,
“Kenapa kamu masih di kelas, Sekar? Apa kamu
tidak ingin pergi ke kantin bersama teman-
temanmu?”
Sekar bercerita ke Bu Ami bahwa dirinya
ingin menjadi penulis, tetapi Ayahnya
menginginkannya menjadi arsitek. Dia tidak ingin
mengecewakan Ayah, tetapi dia juga tidak ingin
memupus mimpinya. Bu Ami menyarankan Sekar
untuk bersemangat dalam belajar ilmu apapun
karena semua ilmu yang didapatkan di sekolah
semuanya baik dan bermanfaat.
Bu Ami ada ide, karena minggu depan ada
lomba menulis cerpen. Beliau mengatakan kepada
Sekar bahwa saat ini waktunya ia menunjukan
18
kemampuannya agar Ayah tidak merasa kecewa
dan nantinya bangga dengan prestasinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Ami,
wajah Sekar yang sebelumnya layu, kini berbinar.
Sudah saatnya, Sekar menunjukan kemampuannya
dalam menulis.
Tidak menyia-nyiakan waktu, Sekar bergegas
menyiapkan materi lomba. dengan bersemangat,
perlombaan kali ini diikuti oleh seratus peserta yang
mempunyai latar belakang pernah menjuarai lomba
menulis sebelumnya.
Untungnya lomba berjalan dengan lancar dan
Sekar mendapat pengalaman serta teman baru di
sana.
Waktu pengumuman telah tiba. Perasaan
Sekar bercampur aduk. Ada sedikit keraguan
dihatinya. Bu Ami membawa selembar kertas dan
memberikannya pada Sekar. Dengan tangan
gemetar, Sekar menerimanya. Tanpa berlama-lama,
Sekar membacanya. Sungguh benar-benar sesuai
harapan. Kertas pengumuman hasil lomba
menuliskan nama Sekar terpilih sebagai juara satu.
19
Juara ini yang nantinya akan menjadi
perwakilan ke tingkat provinsi mewakili sekolahnya.
Sekar bersorak dan memeluk Bu Ami dengan
gembira. Tak sabar rasanya, ia segera berjumpa
Ayah dan Ibu untuk mengabarkan berita bahagia ini.
Suara salam terdengar dari balik pintu. Itu
suara Ayah. Sekar menyambutnya dengan
senyuman.
“Ayah, ada sesuatu yang ingin aku
sampaikan,” kata Sekar lirih.
“Apakah nilai Matematikamu sudah ada
perbaikan?” tanya Ayah penuh harapan.
“Ayah, bolehkah aku mempunyai cita-cita
sendiri? Aku ingin menjadi penulis karena aku
merasa bahagia jika menuliskan apapun. Hari ini
aku sudah menjadi juara satu di sekolah. Nantinya
aku menjadi perwakilan ke tingkat provinsi, Yah,”
tutur Sekar dengan menangis karena takut akan
dimarahi.
Ayah langsung memeluknya dan berkata,
“Maafkan Ayah yang telah memaksamu dalam
menentukan cita-cita, dan memaksamu pula untuk
20
menjadi ahli Matematika. Maafkan Ayah, ya, Nak.
Raihlah cita-citamu, belajarlah dengan sungguh-
sungguh. Ayah pasti mendukungmu," tutur Ayah
lembut.
Sekar memeluk Ibu pula dengan bahagia.
Kini, Sekar sudah tidak sedih lagi karena cita-citanya
mendapatkan dukungan dari Ayah dan Ibu.
21
DOKTER KECIL MAMA
Oleh Vera Zahirah Maulana Putri
Sapaan para perawat di lorong rumah sakit adalah
impianku untuk menjadi dokter. Melanjutkan cita-cita
Mama dan Daddy yang tidak tersampaikan.
Merekalah semangatku belajar.
Mamalah guru terbaikku di rumah setelah Ibu
Guru. Mereka selalu disampingku untuk mengajari
saat belajar. Aku sangat terbantu dengan hal itu.
Terima kasih Ma…, batinku.
Pendidikan bagi Mama adalah nomor satu
selain salat dan mengaji. Tanpa mengikuti les privat,
Mama mendampingiku selama sekolah, baik saat
daring ataupun tatap muka.
Mama menjadi contoh teladan untuk mengejar
mimpi dan cita-citaku. Semangat belajar yang
ditanamkan kepadaku hingga kini terus berkobar
karena Mama tidak pernah lelah mengajariku
Matematika dan pelajaran yang menurutku sulit.
22
Mama pernah bercerita padaku bahwa ia ingin
terus sekolah dan belajar karena Mama selalu ingin
terus menimba ilmu. Terbukti saat hamil Kakak,
Mama masih sibuk menjalani kuliah.
***
Suatu ketika aku mengikuti lomba mewakili
sekolah dengan tema lingkungan. Aku merasa tidak
mampu, banyak halangan serta perasaan bahwa
aku hanya sebagai peserta cadangan saja. tetapi
mama berbisik padaku.
"Tidak ada kerja keras yang sia-sia sayang,
semakin banyak rintangan, halangan yang dihadapi
dan semakin banyak usaha yang kamu lakukan
maka hasil yang akan kamu dapatkan juga akan
bagus,” bisik Mama menguatkanku.
Benar kata Mama, akhirnya tim perwakilan
sekolahku yang berhasil menjadi juara dan
mendapatkan piala Walikota.
Tidak berhenti di sana, aku terpilih kembali
menjadi salah satu peserta untuk mengikuti lomba
PMR (Palang Merah Remaja) mewakili sekolah.
Sayangnya, untuk kali ini kemenangan tidak
23
berpihak pada tim kami karena salah dalam
pembuatan video. Semangatku melemah, rasanya
aku sudah malas mengikuti lomba lagi.
"Ga usah ikut kali ini lah Ma, nanti aku kalah
lagi," ucapku pada Mama dengan nada lemah.
"Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda
nak.." ucap Mama sembari mengusap punggungku.
Ternyata, Mama juga pernah merasakan hal
yang sama seperti yang aku rasakan ini. Di mana
Mama pernah gagal, tetapi Mama berjuang lagi
untuk hal yang lebih baik.
"Ma, terimakasih untuk semangatnya,
dukunganya dan perhatian Mama,” ucapku dalam
pelukannya.
"Iya nak …, terus semangat ya, jangan
pantang menyerah, teruslah bermimpi dan mengejar
cita-citamu," ucapnya.
Mulai saat ini aku akan terus bersemangat
untuk mengasah kemampuanku karena
perjuanganku masih panjang untuk menjadi seorang
Dokter hebat. Suatu saat Mama dan Daddyku akan
bangga memiliki anak sepertiku.
24
JADI KEBANGGAAN
Oleh Arjuna Naraya W
Jevi adalah temanku, ia kelas 5 SD yang bercita-cita
ingin menjadi pemain anggar profesional agar dapat
membanggakan orang tuanya. Namun, Bagas
temannya iri dengan Jevi.
Bagas berniat mencederai kaki Jevi agar
tidak bisa mengikuti turnamen. Saat latihan Bagas
sengaja mencederai kaki Jevi yang berujung ke
rumah sakit.
Setelah kejadian tersebut, Bagas bergegas
pulang. Sesampainya di rumah, ia diselimuti rasa
bersalah dan ketakutan. Ia pun berinisiatif untuk ke
rumah sakit tempat Jevi dirawat.
Setibanya Bagas di kamar pasien yang
bertuliskan nama Jevi, ia meminta maaf pada Jevi
atas seluruh perbuatannya.
“Maafkan aku Jev, perbuatanku tadi
membuatmu cedera separah ini,” lirih Bagas di
samping kasur pasien Jevi.
25
“Tidak masalah Bagas, jangan bersedih.
Kakiku sudah ditangani oleh para dokter,” jawab
Jevi.
Jevi memaafkan Bagas dan mereka menjadi
teman baik.
***
Hari Turnamen Nasional pun tiba. Jevi adalah
salah satu peserta turnamen yang digadang-gadang
akan menjadi juara Turnamen Nasional dan Bagas
mendukung Jevi untuk menjadi juara. Akhirnya Jevi
berhasil masuk ke babak final. Saat Jevi masuk ke
ruang ganti, ia bertemu dengan Ilham
“Halo siapa namamu?” sapa Ilham.
“Aku Jevi dari Badrul Fencing Club,” jawab
Jevi.
“Oh namamu Jevi, kamu akan menjadi
lawanku di pertandingan final,” kata Ilham.
“Kalau begitu ayo kita keluarkan semua
kemampuan yang kita punya,” kata Jevi.
“Ayo, siapa takut,” jawab llham.
Babak final pun dimulai, Ilham pun langsung
menyerang Jevi dan permainan menjadi saling
26
serang. Dengan pertarungan yang sengit, akhirnya
Jevi memenangkan pertandingan itu dan Ilham
menerimanya dengan lapang dada.
Sesampainya di rumah, Jevi disambut
dengan gembira oleh anggota keluarganya. Jevi
diajak makan malam di restoran oleh Ayahnya untuk
merayakan kemenangannya di Turnamen Tingkat
Nasional.
Dalam meraih cita-cita kita harus pantang
menyerah dan terus berusaha sampai apa yang kita
inginkan tercapai.
27
LAYLA DAN IMPIAN YANG BERHARGA
Oleh Janetta Audrey Candrawati
Di suatu sekolah, ada satu siswi yang terlahir dari
keluarga yang kurang mampu. Siswi itu bisa
bersekolah di sana karena prestasinya, Layla
namanya.
Sayangnya, dia sering diejek oleh teman-
temannya karena berasal dari keluarga yang kurang
mampu. Meskipun dia diejek, ia tetap sabar
menghadapinya.
Pada jam pelajaran, Ibu Guru menunjuk Layla
untuk menceritakan tentang impiannya. Ternyata,
impian Layla adalah menjadi seorang guru.
“Aku bermimpi ingin menjadi seorang guru di
sekolah yang terkenal,” kata Layla di depan
kelasnya.
“Mana bisa kau menjadi seorang guru? Kau
saja sudah ditakdirkan untuk dilahirkan dari keluarga
yang miskin,” ejek Delia, salah satu temannya.
28
Pada saat Layla berumur tiga belas tahun,
Ibu terkena penyakit jantung koroner. Ayahnya
sudah meninggal dua tahun lalu. Layla tak memiliki
biaya untuk membayar obat Ibu. ia memutuskan
untuk berhenti sekolah agar pengeluaran tidak
bertambah.
“Layla, kudengar kau memutuskan untuk
berhenti sekolah. Apa itu benar?” tanya Pak Ali
tetangga dekatnya.
“Iya, Pak. Saya berhenti sekolah karena
biaya berobat Ibu saya mahal. Saya tidak ingin
menambah beban ibu dengan biaya sekolah saya,”
jelas Layla.
“Tapi, bukankah kamu seharusnya tetap
melanjutkan sekolah untuk mengejar impianmu?
Memangnya kamu tak punya impian?” tanya Pak Ali.
Layla terdiam sejenak mendengar
pertanyaan pak Ali.
“Bagaimana lagi Pak, sebenarnya saya juga
punya impian. Mimpi saya menjadi seorang guru,”
ujar Layla.
29
“Ya sudah, saya akan membiayaimu untuk
bersekolah, kebetulan juga saya kepala sekolah di
salah satu SMP swasta,” jelas Pak Ali.
“Benarkah? Apakah tidak merepotkan?”
tanya Layla meyakinkan.
“Iya benar. Tentu saja tidak merepotkan.
Besok kau akan saya daftarkan untuk bersekolah di
sekolah saya,” jawab Pak Ali.
Layla senang sekali. Akhirnya, ada peluang
untuk mewujudkan impiannya.
Waktu memang berjalan sangat cepat, tak
disangka sudah sekitar sembilan tahun berjalan. Kini
Layla sudah menggapai impiannya menjadi seorang
guru. Namun, ia bertemu dengan Delia, teman yang
dulu mengejeknya saat masih SD yang juga berkerja
di sekolah yang sama.
Saat Layla berjalan di depan sebuah kelas,
dia berpapasan dengan Delia yang kebetulan juga
lewat. Sifat Delia ternyata tidak berubah, bahkan
Delia masih sempat-sempatnya mengejek Lalya
lagi.
30
“Kamu Layla kan? Kalau tidak salah kau itu
anak miskin di SDku bukan? Tak ku sangka kau
masih berjuang untuk mengejar mimpimu yang tidak
berarti itu,” remeh Delia kepada Layla.
“Ternyata sifatmu masih sama saja ya seperti
dulu. Apakah kau belum menyesal?” ujar Layla.
“Menyesali apa? Menyesal karena
mengejekmu? tentu saja tidak,” jawab Delia dengan
angkuhnya.
“Aku tau orang tuamu telah bangkrut bukan?”
balas Layla.
“Kau … kau tahu dari mana? Aku tak pernah
menceritakannya kepadamu!” tanya Delia sambil
gemetaran.
Layla tak menjawab Delia dan langsung pergi
begitu saja karena tidak ingin memperpanjang
masalah. Lagi pula Layla juga tak ingin membuat
Delia malu dihadapannya. Delia Tertegun
mendengar ucapan Layla, ia pun tersadar.
Keesokan harinya Delia sengaja masuk ke
kelas Layla pada saat jam istirahat.
31
“Layla, maafkan aku telah mengejekmu terus.
yang kamu katakan kemarin kamu benar. Orang
tuaku sedang bangkrut jadi aku juga harus bekerja,”
kata Delia dengan berterus terang.
“Tidak apa, lagian aku juga sudah
memaafkanmu,” kata Layla.
“Sungguh, aku telah menyesal menyia-
nyiakan teman baik sepertimu,” sesal Delia sambil
memeluk Layla.
Akhirnya Delia berteman dengan Layla tanpa
melihat latar belakangnya. Layla juga senang
karena Delia mau berteman dengannya. Dulu Layla
ingin berteman dengan Delia sejak mereka pertama
kali bertemu. Namun, Delia enggan berteman
dengan Layla hanya karena Layla anak miskin.
Sekarang Delia telah berubah, ia sudah tidak
menjadi orang yang jahat dan angkuh lagi berkat
Layla.
32
AKU INGIN JADI DOKTER
Oleh Kayla Reswara
Aku ingin menjadi dokter, karena aku ingin jika Ayah
dan Mamaku sakit akulah yang akan mengobati
mereka. Mereka tidak terlalu percaya dengan
dokter. Ketika semua anggota keluarga di rumahku
sakit, mereka tidak akan pergi ke rumah sakit.
Ayahku tak pernah percaya dengan dokter.
“Jangan ke rumah sakit ya, karena di sana
tidak akan membuat keadaan membaik malah
semakin memburuk,” ujar Ayah.
“Kenapa Ayah?” tanyaku.
“Karena susternya tidak merawat dengan
baik. Akhirnya pasien dinyatakan meninggal dunia,”
jawab Ayah.
Beberapa hari kemudian Abang, Adik dan
Aku sudah sembuh. Namun, Ayahku tak kunjung
sembuh. Hal itu membuat Mamaku memutuskan
untuk membawa Ayah ke rumah sakit dengan
menggunakan Ojek Online.
33
Ayahku adalah pecandu rokok dan kopi
membuat penyakitnya semakin parah. dokter
meminta agar Ayah di rawat inap. Beberapa hari
kemudian keadaan Ayah tidak semakin membaik.
Saat Ayah dirawat di rumah sakit, hanya
Mamaku yang menunggu di sana. Kami berinteraksi
dengan mereka melalui video call dengan Ayah.
Dokter memanggil Mamaku untuk berdiskusi
mengenai kondisi Ayah yang semakin memburuk.
“Bu, kondisi suami Ibu semakin memburuk
dan perlu penanganan lebih lanjut,” ujar dokter.
Mamaku yang mendengarnya hanya bisa
diam lalu menangis. Satu bulan sudah Ayah berada
di rumah sakit, ayah masuk di ruang ICU sehingga
aku tidak bisa video call lagi. Mama juga tidak
memperbolehkan kami ke rumah sakit untuk
menjenguk Ayah karena banyak orang sakit.
Terakhir, Mama memberi kabar kepada kami
untuk tetap kuat dan terus berdoa untuk Ayah. Tiga
hari kemudian Ayah meninggal. Ayah pernah
berpesan pada kami untuk terus belajar menimba
ilmu tanpa lelah jika ingin meraih cita-cita.
34
Sejak saat itu, aku membulatkan tekad untuk
terus belajar dan berusaha keras untuk menjadi
seorang dokter.
Beberapa tahun telah berlalu, aku berusaha
keras untuk terus belajar dengan giat dan tekun. Aku
berhasil menggapai mimpiku menjadi dokter. Aku
merawat semua pasienku dengan memberikan
dukungan dan motivasi untuk sembuh. Aku juga
menjaga kesehatan keluargaku agar kejadian yang
menimpa Ayahku tidak terulang kembali.
35
PILOT CITA-CITAKU
Oleh M. Fadlan Agung
Pilot ... terbayang dalam impianku. Bisa terbang,
bisa melihat alam semesta dari angkasa. Menikmati
indahnya alam ciptaan Allah.
Naik pesawat adalah hal hebat yang sudah
pernah kurasakan saat masih kecil untuk pergi ke
Bali bersama keluargaku. Ketika aku masih duduk di
bangku TK, Ibu guru mengajak semua siswa untuk
mengikuti karnaval dengan kostum tema profesi.
Tentu saja aku memilih untuk memakai kostum pilot.
Aku bahagia sekali ketika mengenakan kostum pilot.
Ketika aku duduk di bangku kelas satu SD,
Bu Wiwik, guru wali kelasku menanyakan tentang
cita-cita.
“Apa cita-cita kalian?” tanya Bu Wiwik di
depan kelas.
“Pilot, Bu,” jawabku lantang ketika tiba
giliranku menjawab.
36
Bu Wiwik senang karena semua cita-cita
temanku sungguh mulia. Waktu istirahat tiba, Bu
Wiwik mendekatiku.
“Pilot adalah pekerjaan yang luar biasa, bisa
membawa penumpang keliling dunia,” kata Bu
Wiwik.
“Terima kasih, Bu,” jawabku sambil
tersenyum.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung
pulang dijemput oleh Ibuku.
“Bu ... untuk menjadi seorang pilot itu sekolah
dimana?“ tanyaku saat dalam perjalanan pulang.
“Di Penerbangan mas, kenapa mas?” jawab
Ibu.
”Aku ingin jadi Pilot, Bu,” sahutku.
“Harus pintar matematika dulu, supaya tahu
ketinggian pesawat,” Ibu menambahkan.
Lalu aku menjawab, “Ohh … begitu ya, Bu?
baiklah.”
Aku terus belajar dengan tekun sampai cita-
citaku berhasil. Hingga kemudian hari, aku pun
37
berhasil sekolah di sekolah penerbangan dan fokus
pada cita-citaku menjadi Pilot.
Akhirnya aku pun berhasil menjadi Pilot
sesuai dengan cita-citaku meskipun dilalui dengan
belajar tekun dan terus berusaha keras agar cita-
citaku tercapai.
38