The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-04-14 00:52:01

adian husaini 2

adian husaini 2

GHAZWUL FIKRI

ADIAN HUSAINI

ARKIB KOLEKSI CHEGU RIDHWAN
mahasiswamengunggat.blogspot.com

HUTANG BARAT TERHADAP ISLAM
Oleh: Adian Husaini

”Hutang Barat terhadap Islam” (The Wes’st Debt to Islam). Itulah tajuk satu bab
dari sebuah buku berjudul “What Islam Did For Us: Understanding Islam’s
Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006), karya
Tim Wallace-Murphy. Di tengah gencarnya berbagai serangan terhadap Islam
melalui berbagai media di Barat saat ini, buku seperti ini sangat patut dibaca.
Selain banyak menyajikan data sejarah hubungan Islam-Barat di masa lalu, buku
ini memberikan arus lain dalam menilai Islam dari kacamata Barat.

Berbeda dengan manusia-manusia Barat yang fobia dan antipati terhadap Islam –
seperti sutradara film Fitna, Geert Wilders – penulis buku ini memberikan
gambaran yang lumayan indah tentang sejarah Islam. Bahkan, dia tidak segan-
segan mengajak Barat untuk mengakui besarnya hutang mereka terhadap Islam.
”Hutang Barat terhadap Islam,” kata, Tim Wallace-Murphy, “adalah hal yang tak
ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun.
Katanya, “We in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully
repaid.’’

Pengakuan Wallace-Murphy sebagai bagian dari komunitas Barat semacam itu,
sangatlah penting, baik bagi Barat maupun bagi Islam. Di mana letak hutang budi
Barat terhadap Islam? Buku ini banyak memaparkan data tentang bagaimana
transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal di
Barat sebagai Zaman Pertengahan (the Middle Ages). Sejak beberapa bulan lalu,
setiap hari, Harian Republika, juga memuat rubrik khusus tentang khazanah
peradaban Islam di masa lalu, yang memberikan pengaruh besar terhadap para
ilmuwan di Barat.

Di Zaman Pertengahan itulah, tulis Wallace-Murphy, Andalusia yang dipimpin
kaum Muslim menjadi pusat kebudayaan terbesar, bukan hanya di daratan Eropa
tetapi juga di seluruh kawasan Laut Tengah. Pada zaman itu, situasi kehidupan
dunia Islam dan dunia Barat sangatlah kontras. Bagi mayoritas masyarakat di
dunia Kristen Eropa, zaman itu, kehidupan adalah singkat, brutal dan barbar,
dibandingkan dengan kehidupan yang canggih, terpelajar, dan pemerintahan yang
toleran di Spanyol-Islam.

Saat itu, Barat banyak sekali belajar pada dunia Islam. Para tokoh agama dan
ilmuwan mereka berlomba-lomba mempelajari dan menerjemahkan karya-karya
kaum Muslim dan Yahudi yang hidup nyaman dalam perlindungan masyarakat
Muslim. Barat dapat menguasai ilmu pengetahuan modern seperti sekarang ini,
karena mereka berhasil mentransfer dan mengembangkan sains dari para
ilmuwan Muslim.

Tim Wallace-Murphy menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka
mewarisi sains Yunani dan lain-lain, adalah atas`jasa para ilmuwan dan penguasa
Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas
menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab – tanpa perlu membayar Hak Cipta.
Sejarawan Louis Cochran menjelaskan, bahwa Adelard of Bath (c.1080-c.1150),
yang dijuluki sebagai “the first English scientist”, berkeliling ke Syria dan Sicilia
selama tujuh tahun, pada awal abad ke-12. Ia belajar bahasa Arab dan
mendapatkan banyak sekali buku-buku para sarjana. Ia menerjemahkan
“Elements” karya Euclidus, dan dengan demikian mengenalkan Eropa pada buku
tentang geometri yang paling berpengaruh di sana. Buku ini menjadi standar
pengajaran geometri selama 800 tahun kemudian. Adelard dengan
menerjemahkan buku table asronomi, Zijj, karya al-Khawarizmi (d. 840) yang
direvisi oleh Maslama al-Majriti of Madrid (d.1007). Buku itu merupakan
pengatahuan astronomi termodern pada zamannya.

Seorang penerjemah yang sangat fenomenal bernama Gerard of Cremona.
Selama hampir 50 tahun tinggal di Toledo (1140-1187), dia menerjemahkan
sekitar 90 buku dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Separoh lebih berkaitan dengan
matematika, astronomi, dan bidang sains lainnya; sepertiga berkaitan dengan
kedokteran dan sisanya tentang filsafat dan logika. Bidang-bidang keilmuan inilah
yang memberikan fondasi bagi munculnya renaissance (kelahiran kembali
peradaban Barat) di Eropa pada abad ke-12 dan ke-13 M.

Bukan hanya dalam bidang penerjemahan Barat sangat aktif. Dalam Pendidikan
Tinggi, Oxford University yang berdiri tahun 1263 dan Cambridge University tak
lama sesudah itu, juga menjiplak model kampus-kampus ternama di Andalusia.

Dengan bukti-bukti sejarah tentang kejayaan Islam dan karakter Islam itu sendiri,
Wallace-Murphy mengajak koleganya di dunia Barat untuk mengakui jasa-jasa

besar Islam terhadap Barat. Lebih dari itu, dia mengimbau, agar Barat mampu
melihat Islam dengan lebih jernih dan jangan bernafsu untuk mengintervensi
urusan dunia Islam. Termasuk dalam soal toleransi dan penghormatan terhadap
budaya dan pemeluk agama lain. Terhadap pertanyaan, “Can the world of Islam
solve its own problems?”, apakah dunia Islam mampu menyelesaikan masalahnya
sendiri, Wallace-Murphy menjawab tegas: Itu telah terbukti di masa lalu, dan
berkat prinsip-prinsip ajaran Islam yang penuh toleransi terhadap budaya dan
agama lain, maka Islam akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Bahkan, ditambahkannya, karena keyakinan kaum Muslim yang tidak tergoyahkan
dan hasrat besar akan kemerdekaan, maka ”Siapa atau apa yang akan mampu
menghentikan mereka?” Agama Islam, katanya, telah memberikan inspirasi yang
begitu besar di masa lalu, dan mereka akan meraih kejayaan kembali di masa
depan di berbagai bidang yang mereka telah memiliki pengalaman hebat di
banding yang lain, dalam soal toleransi, kreativitas, dan penghormatan. Lalu, ia
menutup bukunya dengan sebuah imbauan kepada masyarakat Barat: “Berikanlah
penghormatan kepada kaum Muslim, sebagaimana mereka telah memperlihatkan
kepada kita, saat mereka – tanpa syarat – membagi buah kebudayaan mereka
kepada kita.” Kata Wallace-Murphy, “Grant them the same respect that they have
shown to us when they, unconditionally, shared the fruits of their culture with
us”.

Sains Islam
Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang dari masa ke masa. Dan dunia Islam
ketika itu berhasil mentransfer dan mengembangkan ilmu pengatahuan yang
dikembangkan oleh peradaban lain, seperti Yunani, India, Cina, Persia, Babilonia,
dan sebagainya. Tetapi, para ilmuwan Muslim tidak begitu saja menjiplak karya-
karya ilmuwan Yunani atau yang lain. Bahkan, menurut pakar sains Islam, Prof.
Cemil Akdogan, ilmuwan Muslim berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan
yang ”khas Islam”, yang berbeda dengan tradisi ilmu pengetahuan Yunani atau
peradaban lain.

Dalam bukunya, Science in Islam and the West, (ISTAC-IIUM, 2008), Cemil
Akdogan menjelaskan, bahwa sains Islam adalah produk dari pendekatan
tauhidik, sedangkan sains Barat modern adalah produk dari pendekatan dualistik.
Dalam Islam, sains tidak terpisahkan dari Islam. Sedangkan di Barat, sains bersifat
”bebas Tuhan” (godless).

Ironisnya, ketika Barat modern mengambil sains dari dunia Islam, mereka
mensekularkan sains tersebut dan membebaskan sains dari campur tangan
agama. Ini adalah salah satu produk sekulerisme yang memandang alam sebagai
hal yang semata-mata ”profane” dan tidak terkait dengan unsur ketuhanan.
Karena itulah, mereka memandang bahwa manusia boleh memperlakukan alam
sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Prof. Naquib al-Attas menilai, sains
sekular Barat inilah sumber kerusakan terhadap dunia saat ini, bukan hanya
kerusakan manusia tetapi juga dunia binatang, tumbuhan, dan alam mineral.

Prestasi-prestasi besar kaum Muslim di bidang kehidupan dan keilmuan tidaklah
terpisah dari dorongan besar yang diberikan Kitab Suci al-Quran dalam
pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah Kitab yang begitu besar
perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini, misalnya, tergambar
dari penyebutan kata “al-‘ilm” dan derivasinya yang mencapai 823 kali.
Ditegaskan dalam QS 3:18-19, orang-orang yang berilmu harus mampu
menemukan dua kesimpulan: (1) Tidak ada Tuhan selain Allah, (2) ad-Din (agama)
dalam pandangan Allah hanyalah Islam.

Dengan semangat inilah, kaum Muslim mampu menaklukkan dunia ilmu.
Sepenggal sejarah peradaban Islam yang digambarkan oleh Tim Wallace-Murphy
dalam bukunya, memperlihatkan bagaimana “rahmatan lil-alamin” memang
pernah terwujudkan ketika umat Islam mengikuti dan menerapkan perintah al-
Quran untuk belajar dan bekerja keras. Umat Islam menjadi umat yang disegani
dan dicontoh oleh peradaban lain.

Satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari buku Tim Wallace-Murphy itu
adalah kesadaran akan hakekat ajaran Islam itu sendiri, yang berhasil diserap dan
diaplikasikan oleh kaum Muslim, sehingga menghasilkan sebuah peradaban yang
tinggi. Umat Islam tidak pernah menutup diri dari peradaban lain. Unsur-unsur
positif dari mana pun bisa diambil. Tetapi, bukan pandangan hidup syirik yang
bertentangan dengan ajaran Tauhid.

Dalam kaitan inilah, kita tidak habis pikir dengan banyaknya cendekiawan yang
”silau” dengan peradaban Barat; yang bangga dan rajin melantunkan lagu-lagu
sekularisme, liberalisme, feminisme, pluralisme agama, dan isme-isme lain yang
hanya menyeret kaum Muslim menjadi ”satelit Barat”. Karena itulah, sangatlah

ajaib, bahwa banyak perguruan Tinggi Islam saat ini, misalnya, lebih bangga
menerapkan metode hermeneutika Barat dalam menafsirkan al-Quran ketimbang
menggunakan Ilmu Tafsir al-Quran itu sendiri. (Depok, 2 Rabiulakhir 1429 H/9
April 2008).

Banyak Orang Tua Tak Paham Mendidik Anak Beradab, Tahunya Mengirim ke
Sekolah

Hidayatullah.com—Semua orang, terutama orang tua pada hakekatnya adalah
seorang guru. Sebab orang tua berkewajiban mendidik anak dan keluarga agar
selamat dari api neraka.

“Kita semua adalah guru. Guru dalam arti umum bahwa kita berkewajiban
menjadi pendidik, minimal pendidik di keluarga kita,” demikian disampaikan
Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun
BogorDr Adian Husaini saat membuka materi di Hari Guru Nasional yang dikemas
dalam Tabligh Akbar “Guruku Pahlawanku” di Masjid Istiqlal, Jakarta Sabtu
(21/11/15) lalu.

Adian yang membawakan materi “Peran Seorang Guru dalam Pendidikan Islam”
menjelaskan kepada para jamaah tentang penyakit yang cukup berbahaya yang
menimpa kita umat Islam, bahkan menurutnya telah menimpa bangsa ini. Yaitu
penyakit sekolahisme.

Menurutnya, sekolahisme, penyakit yang menyamakan mencari ilmu dengan
sekolah. Padahal Rasulullah mengatakan kewajiban mencari ilmu bagi setiap
Muslim dan menjelaskan tidak sedikit yang menerjemahkan hadits ini dengan
mencari sekolah itu wajib, sehingga orang tua sibuk mencari sekolah untuk
anaknya, sibuk mencari pesantren untuk anaknya, sibuk mencari kampus untuk
anaknya.

Padahal yang diwajibkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam itu mencari
ilmunya, bukan sekolahnya. Sementara ilmu yang dicari itu mungkin ada di
sekolah mungkin juga tidak ada.

“Kalau dia cari sekolah, belum tentu dia dapat ilmu yang diwajibkan,” jelasnya di
Masjid Istiqlal.

“Kita semua adalah guru, kita semua adalah orang orang yang mendapatkan
amanah, karena tugas kita yang paling berat adalah menjaga diri dan kelurga dari
api Neraka,” demikian kutipnya.

Adian mengutip Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a yang pernah mengunkapkan,
“Didiklah keluargamu itu dengan adab dan didiklah keluarga kita itu menjadi
orang-orang berilmu.”

Karena itu, kewajiban kita semua menjadi guru. Sebab kita semua wajib mendidik
keluarga kita, anak-anak kita menjadi manusia-manusia yang beradab dan
menjadi orang-orang berilmu.

Ia mengaku menyaksikan betapa banyaknya orang tua yang tidak tau bagaimana
harus mendidik anaknya agar beradab dan berilmu, taunya hanya mengirim ke
sekolah, ke pesantren kemudian menganggap dengan itu sudah cukup. Akibatnya
banyak orang tua yang dia tidak mau ngaji, tidak mau belajar. Karena merasa yang
harus mendidik anaknya itu guru. Sementara dia menganggap tidak berprofesi
sebagai guru.

“Ini keliru besar, ini salah besar,” terangnya masih menjelaskan masalah penyakit
sekolahisme.

Tak lupa Adian mengingatkan pemerintah yang mencanangkan pendidikan
karakter untuk merujuk agama. Bukan membuat konsep sesuka hati.

“Kalau kita mau mendidik karakter, serahkanlah pendidikan karakter itu pada
agama, “ ujarnya.

Di sisi lain, ia banyak memperhatikan bagaimana banyak guru di Indonesia
menjadikan tugas mengajar (guru) sebagaimana tukang. Padahal, guru itu kerja
intelektual bukan tukang ngajar. Karenanya, dengan menjadi guru itu seorang
harus cerdas dan terus mencari ilmu.*/M Rifa’I Fadhli

ISLAM, KOMUNIS DAN PANCASILA
Oleh: Dr. Adian Husaini

Sejarah perjalanan kehidupan bernegara di Indonesia mencatat satu babak
tentang perebutan memaknai Pancasila antar berbagai kelompok ideologi di
Indonesia. Pergulatan pemikiran itu secara intensif pernah terjadi dalam Majlis
Konstituante, dimana kekuatan Islam dan sekulerisme kembali terlibat dalam
perdebatan tentang Dasar Negara Indonesia. Kekuatan komunis pernah
menggunakan Pancasila untuk memuluskan penerapan ideologi komunisme di
Indonesia.

Mantan Wakil Kepala BIN, As'ad Said Ali, menulis dalam bukunya, Negara
Pancasila, (hlm. 170-171), bahwa munculnya semangat para tokoh Islam untuk
memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, dalam Majelis Konstituante, antara
lain juga didorong oleh masuknya kekuatan komunis (melalui Partai Komunis
Indonesia/PKI) ke dalam blok pendukung Pancasila.

"Kalangan Islam langsung curiga. Muncul kekhawatiran Pancasila akan dipolitisasi
oleh kelompok-kelompok komunis untuk selanjutnya diminimalisasi dimensi
religiusitasnya. Kekhawatiran tersebut semakin mengkristal karena adanya
peluang perubahan konstitusi sehubungan UUDS mengamanatkan perlunya
dibentuk Majelis Konstituante yang bertugas merumuskan UUD yang definitif,"
tulis As'ad dalam bukunya tersebut.

Dalam pidatonya di Majelis Konstituante tanggal 13 November 1957, tokoh Islam
Kasman Singodimedjo banyak mengkritisi pandangan dan sikap PKI terhadap
Pancasila. Kasman menilai PKI hanya membonceng Pancasila untuk kemudian
diubah sesuai paham dan ideologi komunisme. Ketika itu PKI bermaksud
mengubah sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi "kebebasan beragama".
Termasuk dalam cakupan "kebebasan beragama" adalah "kebebasan untuk tidak
beragama."

Mr. Kasman Singodimedjo adalah Jaksa Agung RI 1945-1946 dan Ketua Komite
Nasional Indonesia Pusat (1945-1950). Ia juga dikenal sebagai tokoh
Muhammadiyah. Dalam Sidang Konstituante itu mengingatkan: "Saudara ketua,
sama-sama tokh kita mengetahui bahwa soko guru dari Pancasila itu adalah

Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sama-sama kita mengetahui bahwa Tuhan Yang
Maha Esa itu justru telah mempunyai peraturan-peraturan yang tentu-tentu bagi
umat manusia yang lazimnya dinamakan agama. Saudara ketua, sama-sama kita
tahu, bahwa PKI dan komunis pada umum nya dan pada dasarnya justru anti
Tuhan dan anti-Agama!." (Lihat buku Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo
75 Tahun, hlm. 480-481).

Masuknya kaum komunis ke dalam blok pembela Pancasila kemudian dipandang
oleh kubu Islam sebagai upaya membelokkan Pancasila dari prinsip dasar
Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai contoh, pada 20 Mei 1957, tokoh Partai
Komunis Indonesia (PKI) Ir. Sakirman mendukung pandangan Fraksi Katolik yang
menyatakan, bahwa "Rakyat Indonesia terdiri dari berbagai-bagai golongan
dengan berbagai-bagai kepercayaan atau keyakinan masing-masing bersifat
universal."

Karena itu Sakirman menyeru kepada golongan Islam: "Betapa pun universal,
praktis dan objektifnya Islam, tetapi karena Islam hanya merupakan salah satu
dari sekian banyak kepercayaan dan keyakinan, yang hidup dalam masyarakat
Indonesia, maka Pancasila sebagai apa yang dinamakan oleh Partai Kristen
Indonesia (Parkindo) suatu "grootste gemene deler" yang mempertemukan
keyakinan dan kepercayaan kita semua, akan tetapi lebih praktis lebih objektif
dan lebih universal dari pada Islam."

Dalam Sidang Konstituante tanggal 2 Desember 1957, Kasman mengkritik ucapan
Nyoto dari PKI pada Sidang Konstituante 28 November 1957 yang menyatakan:
"Pancasila itu bersegi banyak dan berpihak ke mana-mana." Kasman
berkomentar: "Itu artinya, dan menurut kehendak dan tafsiran PKI, bahwa
Pancasila itu dapat dan boleh saja bersegi ateis dan politeis, pun dapat/ boleh saja
berpihak ke syaitan dan neraka." Begitulah sikap para tokoh Islam dalam sidang
Konstituante yang memang merupakan forum untuk merumuskan dasar negara
yang baru. Tapi, ketika forum itu di bubarkan dan dikeluarkan Dekrit pada 5 Juli
1959, Kasman dan para tokoh Islam lain nya, menerimanya karena telah sah
secara konstitusional. (Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun, hlm.
536-540).

Dalam bukunya, Renungan dari Tahanan, Kasman menulis: "… seluruh rakyat
Indonesia, termasuk seluruh umat Islam yang meliputi mayoritas mutlak dari

rakyat Indonesia itu kini harus mengindahkan Dekrit Presiden itu sepenuh-
penuhnya." (Lihat, Kasman Singodimedjo, Renungan dari Tahanan, (Jakarta:
Tintamas, 1967), hlm. 34).

Memang, Ir. Sakirman pernah berpidato dalam Majlis Kontituante dengan
menyebutkan adanya rumusan sila kelima yang diajukan Bung Karno pada 1 Juni
1945, yang berbeda dengan rumusan risalah sidang BPUPK, yaitu (5) "Ke-Tuhanan
yang berkebudayaan atau Ke-Tuhanan yang berbudi luhur atau Ke-Tuhanan yang
hormat menghormati satu sama lain." Sakirman juga mengakui, bahwa PKI
memang menginginkan agar sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan sila
"Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan Hidup." (Pidato Ir. Sakirman dikutip
dari buku Pancasila dan Islam: Perdebatan antar Parpol dalam Penyusunan Dasar
Negara di Dewan Konstituante, editor: Erwien Kusuma dan Khairul (Jakarta: BAUR
Publishing, 2008), hlm. 275.

Fakta komunisme
Tajamnya perbedaan antara Islam dan Komunisme, tidak menyurutkan usaha
untuk menyatukan kekuatan agama dan komunisme. Tapi, sejarah kemudian
mencatat, upaya penyatuan antara kelompok Nasionalis, Agama, dan Komunis, di
bawah payung Pancasila mengalami kegagalan.

Golongan Islam melakukan perlawanan habis-habisan melawan komunisme.
Dalam Muktamar Ulama se-Indonesia tanggal 8- 11 September 1957 di
Palembang, para ulama memutuskan: (1) Ideologi/ajaran Komunisme adalah
kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya, (2)

Bagi orang yang menganut ideologi/ajaran Komunisme dengan keyakinan dan
kesadaran, maka kafirlah dia dan tiada sah menikah dan menikahkan orang Islam,
tiada pusaka-mempusakai dan haram hukumnya jenazahnya diselenggarakan
secara Islam, (3) Bagi orang yang memasuki organisasi/Partai yang berideologi
komunisme (PKI, Sobsi, Pemuda Rakyat dll; tidak dengan keyakinan dan
kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan
organisasi dan partai tersebut, (4) Walaupun Republik Indonesia belum menjadi
negara Islam, namun haram hukumnya bagi umat Islam mengangkat/ memilih
kepala negara yang berideologi Komunisme, (5) Memperingatkan kepada
pemerintah RI agar bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif asing yang
membantu perjuangan kaum Komunis/ Atheis Indonesia, (6) Mendesak kepada

Presiden RI untuk mengeluarkan dekrit menyatakan PKI dan mantel organisasinya
sebagai partai terlarang di Indonesia. (Lihat buku Muktamar Ulama se-Indonesia
di Palembang tanggal 8-11 September 1957, yang disusun oleh H. Husin Abdul
Mu'in, (Palembang: Panitia Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia, 1957).

Dalam sambutannya untuk Muktamar tersebut, mantan wakil Presiden RI
Mohammad Hatta mengingatkan kepada para ulama, bahwa perkembangan
Komunisme di Indonesia, terutama dihasilkan melalui kerja keras mereka dan
kondisi kemiskinan rakyat. "Kemajuan PKI tidak disebabkan oleh kegiatan orang-
orang komunis mengembangkan ideologi yang belum di mengerti oleh rakyat,
melainkan dengan kegiatannya bekerja dalam kalangan rakyat serta janji-janjinya
akan membagikan tanah dan memperbaiki hidup rakyat yang miskin… Apabila
kaum Ulama kita tidak menilai masalah kemasyarakatan ini dengan ukuran yang
tepat, Muktamar tidak akan dapat menyusun rencana yang tepat terhadap
gerakan Atheisme," kata Hatta dalam sambutannya. Hatta mengajak agar Ulama
berusaha menegakkan keadilan Islam. Kata Hatta lagi, "Apabila berlaku keadilan
Islam di Indonesia, maka dengan sendirinya Komunisme akan lenyap dari bumi
Indonesia.

Apabila berlaku keadilan Islam di bumi kita ini, tidak ada yang akan dituntut oleh
Komunisme. Keadilan Islam adalah keadilan yang setinggi-tingginya, keadilan Ilahi.
Keadilan Islam menumbuhkan rasa damai, rasa bahagia dan sejahtera."

Perjuangan melawan komunisme, dalam sejarah perjuangan umat Islam, bisa
dikatakan sudah mendarah daging di berbagai penjuru dunia. Sebab, kekejaman
komunisme di berbagai belahan dunia sudah terbukti. Di Indonesia, salah seorang
sastrawan terkemuka yang aktif melawan komunisme, sejak zaman Orde Lama
sampai zaman kini adalah Taufik Ismail. Berbagai buku yang menjelaskan bahaya
dan kegagalan komunisme ditulis oleh Taufik Ismail, termasuk buku-buku saku
yang disebarluaskan secara gratis kepada masyarakat luas.

Taufiq mengaku risau dengan generasi muda yang tidak lagi mengenal hakekat
dan kekejaman kaum komunis. Dalam sebuah buku saku berjudul Tiga Dusta
Raksasa Palu Arit Indonesia: Jejak Sebuah Ideologi Bangkrut di Pentas Jagad Raya,
(Jakarta: Titik Infinitum, 2007), Taufiq menyajikan data yang menarik: Komunisme
adalah ideologi penindas dan penggali kuburan massal terbesar di dunia. Dalam

mengeliminasi lawan politik, kaum komunis telah membantai 120 juta manusia,
dari tahun 1917 sampai 1991. Itu sama dengan pembunuhan terhadap 187 nyawa
per jam, atau satu nyawa setiap 20 detik. Itu dilakukan selama ¾ abad (sekitar 75
tahun) di 76 negara. Karl marx (1818-1883) pernah berkata: "Bila waktu kita tiba,
kita tak akan menutup-nutupi terorisme kita."

Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924) juga menyatakan: "Saya suka
mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi sekarang ini, yang perlu
adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan
darah." Satu lagi tulisannya: "Tidak jadi soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal
yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kita tidak gentar
berjalan di atas mayat 30 juta orang."

Lenin bukan menggertak sambal. Semasa berkuasa (1917-1923) ia membantai
setengah juta bangsanya sendiri. Dilanjut kan Joseph Stalin (1925-1953) yang
menjagal 46 juta orang; ditiru Mao Tse Tung (RRC) 50 juta (1947-1976); Pol Pot
(Kamboja) 2,5 juta jiwa (1975-1979) dan Najibullah (Afghanistan) 1,5 juta nyawa
(1978-1987). Buku saku lain tentang komunis me yang ditulis oleh Taufiq Ismail
adalah Komunisme=Narkoba dan Komunis Bakubunuh Komunis, serta Karl Marx,
Tukang Ramal Sial yang Gagal (Jakarta: Infinitum, 2007).

Sepatutnya, bangsa Indonesia mau belajar dari sejarah. Ketika agama dibuang;
Tuhan disingkirkan, jadilah manusia laksana binatang. Anehnya, kini ada yang
mulai berkampanye tentang perlunya "kebebasan beragama" harus mencakup
juga "kebebasan untuk tidak beragama". Dalam kondisi seperti ini, Islam dan
kekuatan anti-komunisme lainnya, diharapkan memainkan perannya yang
signifikan. Jangan sampai elite-elite muslim lupa diri; sibuk memikirkan
kepentingan diri dan kelompoknya; sibuk saling caci; tanpa sadar komunisme
dalam kemasan baru semakin mendapat simpati masyarakat. Na'udzubillahi min
dzalika.

KORUPSI DAN KEBAHAGIAAN
Oleh: Dr. Adian Husaini

Pada tahun 2006, BBC pernah mempublikasikan sebuah hasil survei bertajuk A
Global Projection of Subjective Well-Being. Berdasarkan survei tersebut, 81%

rakyat Inggris setuju bahwa tujuan utama pemerintahan adalah mewujudkan
kebahagiaan rakyat, bukan kekayaan. Maka, PM Inggris David Cameron yang saat
itu masih mejadi pimpinan oposisi meletakkan kebahagiaan sebagai agenda
politik utama. Ia katakan: Its time we admitted that there is more to life than
money, and its time we focus not just on GDP, but GWB General Well Being.

Sejumlah sarjana di Inggris kemudian meluncurkan hasil survei berupa Peta
Kebahagiaan Global (A Map of Global Happiness 2006). Dalam peta itu, Indonesia
menduduki peringkat ke-64. Berturut-turut menempati urutan teratas adalah
Denmark, Swiss, Austria, Iceland, Bahamas, Finlandia, Swedia, Bhutan, Brunei,
Kanada, dan seterusnya. Jepang menduduki peringkat ke-89 dan India peringkat
ke-125. (Dikutip dari buku Budaya Ilmu dan Gagasan 1 Malaysia, karya Prof Wan
Mohd Nor Wan Daud, (Kuala Lumpur: BTN, 2011).

Tentu, bisa diperdebatkan kriteria yang digunakan dalam survei semacam itu.
Namun, setidaknya, hasil survei itu bisa dijadikan sebuah perbandingan. Apalagi,
dalam perspektif Islam. Kebahagiaan (saadah/happiness) oleh banyak
cendekiawan dan ulama didefinisikan sebagai kondisi batiniah saat manusia
berada di maqam taqwa. Imam al-Ghazali, seperti dikutip Buya Hamka dalam
bukunya, Tasauf Modern, mengungkapkan: Bahagia dan kelezatan yang sejati,
ialah bilamana dapat mengingat Allah. Hutaiah, seorang ahli syair, menggubah
sebuah syair: wa-lastu araa al-saadata jamu maalin wa-laakin al-tuqaa lahiya al-
saiidu (Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada pengumpul harta
benda; Tetapi, taqwa akan Allah itulah bahagia).

Prof. S.M. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (saadah/happiness)
sebagai: Kesejahteraan dan kebahagiaan itu bukan dianya merujuk kepada sifat
badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan
pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam
fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada
keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu yakni:
keadaan diri yang yakin akan Hak Taala dan penuaian amalan yang dikerjakan
oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya. (SMN al-
Attas, Mana Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, (Kuala Lumpur:
ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman),
dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia
dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu
Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk
setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara.

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil
mencapai marifatullah, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali
menyatakan: Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat
kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian
masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan
telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dari
tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh marifat kepada Allah, karena
hati itu dijadikan ialah buat mengingat Tuhan.... Seorang hamba rakyat akan
sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik
berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja
berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih
dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini
yang lebih dari kemuliaan Allah... Oleh sebab itu tidak ada marifat yang lebih lezat
daripada marifatullah.

Allah SWT sudah mengingatkan: Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman
dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan
bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka,
karena perbuatan mereka sendiri (QS al-Araf: 96) Dan Allah telah membuat suatu
perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram,
rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan
kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu
mereka perbuat. (QS an-Nahl: 112).

Nabi Muhammad saw memberikan teladan yang tinggi dalam upaya meraih
kebahagiaan hakiki. Beliau sendiri menjadi teladan dalam sikap zuhud terhadap
dunia. Beliau pun sangat tegas dalam menghadapi berbagai tindak kecurangan,
semacam suap atau korupsi di tengah masyarakat. Dalam soal suap, misalnya, kita
ingat Nabi SAW sudah menegaskan, bahwa al-rasyi wal-murtasyi fin-nar (penyuap

dan yang disuap tempatnya di neraka). Bahkan, Rasulullah saw tidak memberikan
toleransi terhadap praktik penerimaan hadiah kepada para pejabat negara.

Rasulullah saw juga bersabda bahwa Allah melaknat penyuap dan penerima suap
(HR. Abu Dawud). Tentang hadiah untuk pejabat pemerintah, Nabi bersabda,
Hadiah yang diberikan kepada para pejabat adalah haram dan hakim yang
menerima suap adalah kufur (HR. Imam Ahmad). Nabi saw pun sangat konsisten
dalam penerapan hokum. Beliau tidak membeda-bedakan anggota keluarga
beliau dengan masyarakat lainnya, sehingga terkenallah ucapan beliau: Demi
Allah jika Fatimah, putriku, mencuri, pasti aku potong tangannya.

Dalam kasus kecurangan harta Negara, Nabi Muhammad saw bersikap tegas,
sampai-sampai beliau menerapkan sanksi tasyhir terhadap orang yang curang,
meskipun dia sudah gugur di medan jihad. Imam Malik, dalam al-Muwaththa,
meriwayatkan bahwa Rasululllah saw pernah mengumumkan kecurangan seorang
tentara Islam yang diketahui menyembunyikan beberapa buah permata milik
orang Yahudi. Sanksi tasyhir ini berupa pengumuman aib orang tersebut. Umar
bin Khatab juga menerapkan sanksi tasyhir terhadap saksi palsu. Qadhi Syuraikh,
hakim di zaman Umar dan Ali r.a. menerapkan sanksi tasyhir dengan cara
membawa pelaku kejahatan ke tengah-tengah pasar dan dimumkan kejahatannya
kepada masyarakat.

Sanksi lain yang terkenal adalah berupa penyitaan harta hasil korupsi. Umar bin
Khatab dikenal sangat tegas jika mendapatkan laporan ada pejabat yang memiliki
kekayaan tidak wajar. Jika terbukti harta itu diperoleh dengan cara tidak sah,
maka segera disita. Bahkan, Umar pernah menyita onta milik anaknya sendiri
yang dia dapati tumbuh besar karena memakan rumput milik Baitul Mal. Dia
perintahkan agar onta itu dijual dan keuntungannya diserahkan ke BaitulMal.

Pemberantasan korupsi yang begitu nyaring diteriakkan di negeri kita hanya akan
berhasil jika para elite khususnya ulama dan penguasa memberikan keteladanan
hidup dan tidak salah dalam memaknai kebahagiaan. Imam al-Ghazali
mengingatkan: Sesungguhnya rusaknya rakyat terjadi karena rusaknya penguasa;
dan rusaknya penguasa terjadi karena rusaknya ulama.

Maka, renungkan: Jika penguasa saat ini rusak, jangan-jangan, memang bermula
dari kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan, diawali oleh kerusakan ulama
dan cendekiawan! Wallahu alam bil-shawab. (***)

Adian Husaini
pada 19hb April jam 11.08 pagi ·

PRESTASI DAN TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Dr. Adian Husaini

Pada hari Jumat (1/3/2013), saya mendapatkan kesempatan menyampaikan
pidato pembukaan (Keynote Speech) pada acara Munas III Jaringan Sekolah Islam
Terpadu (JSIT), di Palembang. Sumatera Selatan. Sekitar 1200 hadir dalam acara
itu. Anggota JSIT sendiri sekarang mencapai lebih dari 1600 sekolah. Acara
pembukaan di Arena Olah Raga Jakabaring Palembang itu sangat semarak.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin dan Wakil Mendikbud bidang
Kebudayaan hadir memberikan sambutan dan membuka acara yang dihadiri para
guru dan pengelola sekolah Islam dari Sabang sampai Merauke.

Hadir pula, pada perhelatan ini, sejumlah cendekiawan dan praktisi pendidikan
dari Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Yang patut diapresiasi, menurut
pengurus JSIT, para hadirin hadir atas biaya sendiri. Semangat dan antusiasme
para hadirin antara lain ditandai dengan terdengarnya pekik takbir berulang kali
saat acara berlangsung. Ini benar-benar sebuah momentum yang penting dalam
dunia pendidikan Islam.

Pada kesempatan itulah, saya berkesempatan berbagi pikiran dan perasaan
dengan para pakar dan praktisi pendidikan Islam itu. Kepada mereka saya
sampaikan, bahwa saat ini, -- tanpa menafikan setor-sektor lainnya -- bisa
dikatakan, pendidikan adalah satu-satunya sektor dakwah yang bisa dengan
mudah ditunjukkan berbagai keberhasilannya. Dalam kurun sekitar 20 tahun
terakhir, berbagai prestasi pendidikan Islam tampak menonjol, khususnya di
tingkat taman kanak-kanak, tingkat dasar, dan menengah. Prestasi yang sangat
menonjol adalah tertanamnya rasa kepercayaan dan bahkan rasa bangga kaum
Muslim terhadap sekolah-sekolah Islam di berbagai daerah apakah yang
menggunakan label terpadu atau tidak.

Kini, dengan mudah kita menjumpai elite-elite muslim yang tanpa malu-malu dan
bahkan merasa bangga mengirimkan anaknya ke sekolah Islam atau pondok-
pondok pesantren. Prestasi-prestasi akademik sekolah Islam pun banyak yang
membanggakan. Kini dengan begitu mudahnya kita menunjukkan sekolah-sekolah
Islam unggulan di kota-kota di Indonesia yang nilai ujian nasionalnya melampaui
prestasi sekolah-sekolah non-muslim atau sekolah umum.

Kebanggaan (pride/izzah) dalam diri seorang Muslim merupakan aspek penting
dan mendasar untuk meraih prestasi-prestasi besar berikutnya. Jika kaum Muslim
tidak bangga, tidak percaya, dan tidak memiliki izzah terhadap lembaga-lembaga
Islamnya sendiri, sulit diharapkan lembaga Islam itu akan berkembang. Kita ingat
sebuah ungkapan terkenal dari cendekiawan Muslim Muhammad Asad yang
beberapa kali kita kutip dalam CAP: no civilization can prosper or even exist after
having lost this pride and the connection with its own past. Tidak ada satu
peradaban yang akan berjaya atau bahkan akan eksis jika sudah hilang
kebanggaannya terhadap dirinya atau terputus dari sejarahnya.

Jadi, kebanggan dan kepercayaan kaum Muslim terhadap lembaga-lembaga
pendidikan Islam adalah modal dasar yang sangat penting bagi kemajuan
pendidikan Islam di masa depan. Jangan sampai kepercayaan (trust) itu disia-
siakan. Perlu disadari bahwa prestasi ini tidak dicapai dengan mudah. Sejumlah
pengelola lembaga pendidikan Islam bercerita suka-dukanya merintis pendidikan
Islam di era 1980 dan 1990-an. Banyak di antara mereka yang datang dari rumah
ke rumah untuk meyakinkan para orang tua muslim, bahwa sekolah yang akan
mereka dirikan adalah sekolah yang serius dan bermutu tinggi. Tidak jarang
mereka menjadikan anak-anak mereka sebagai singa percobaan. Dengan cara itu
orang lain mau percaya. Uniknya, banyak perintis lembaga-lembaga pendidikan
Islam terpadu ini adalah para professional muslim; apakah dokter, insinyur,
pengusaha, dan sebagainya.

Dalam kaitan inilah, di Jakabaring Palembang itu, saya mengajak para guru untuk
bangga sebagai guru. Pengelola pendidikan seyogyanya benar-benar
menempatkan guru sebagai posisi terhormat, tidak kalah terhormatnya dengan
pejabat. Guru dalam pandangan saya bukanlah sebuah profesi yang dihargai
karena bayaran. Guru dalam Islam adalah mujahid. Menyampaikan ilmu adalah
jihad fi-sabilillah. Kata Nabi SAW: Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari
ilmu maka dia sedang berjihad di jalan Allah.

Karena itu, sungguh rugi jika guru tidak serius dalam mengajar dan hanya mau
mengajar karena dibayar. Dibayar atau tidak dibayar, orang yang punya ilmu wajib
mengajarkan ilmunya. Tapi, sebagai mujahid, guru berhak mendapatkan honor
(kehormatan) yang layak. Mujahid harus dimulyakan. Patut kita sampaikan: Anda,
para guru derajatnya sangat mulia, tidak kalah mulia dengan anggota DPR!
Memang, kadangkala masih ada kesalahpahaman. Masih ada guru termasuk
dosen, rektor, dekan, dan sebagainya merasa lebih rendah martabatnya
dibandingkan dengan para pejabat negara. Lembaga Pendidikan Islam harus
benar-benar sangat serius untuk meningkatkan kualitas guru, sehingga mereka
dapat menjadi mujahid di bidang keilmuan dan pendidikan. Keliru, jika masih ada
lembaga pendidikan Islam yang lebih mengutamakan membangun gedung
ketimbang meningkatkan kualitas guru.

Tantangan
Pada kesempatan itu saya juga menyampaikan bahwa di tengah-tengah
pencapaian penting yang dicapai, ada dua tantangan besar yang sedang dihadapi
oleh dunia pendidikan Islam. Pertama, godaan materialisme; godaan penyakit
hubbud-dunya, cinta dunia. Kedua, jebakan kurikulum sekuler.

Tentang tantangan pertama, Rasulullah SAW sudah bersabda: Hampir tiba suatu
zaman dimana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni
kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka.
Maka salah seorang sahabat bertanya: Apakah karena jumlah kami yang sedikit
pada hari itu? Nabi SAW menjawab: Bahkan, pada hari itu jumlah kamu banyak
sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa
gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan
melemparkan ke dalam hati kamu penyakit al wahnu. Seorang sahabat bertanya:
Apakah al wahnu itu Ya Rasulallah? Rasulullah SAW menjawab: Cinta dunia dan
takut mati. (HR Abu Daud)

Hadits Rasulullah SAW ini menjelaskan kondisi umat yang sangat lemah, tidak
berdaya, tiada arti, meskipun jumlahnya sangat besar. Tanpa perlu melakukan
riset yang rumit, dengan mudah dapat dilihat, bahwa kondisi umat Islam saat ini
sangat mirip dengan apa yang digambarkan Rasulullah saw tersebut. Di berbagai
belahan dunia, umat menghadapi ujian dan cobaan yang berat. Di Palestina,
Moro, Xin Jiang, India, Kashmir, Moro, Patani, dan di berbagai belahan dunia,

umat Islam menghadapi penindasan dalam berbagai bidang kehidupan. Umat
Islam, yang jumlahnya sekarang sekitar 1,4 milyar jiwa, bernasib seperti buih,
kehilangan kepercayaan diri, diombang-ambingkan situasi dan kondisi.

Dalam sejarah kita bisa menyaksikan, bagaimana kehancuran kekuatan Muslim di
Andalusia, Baghdad, juga Palestina, akibat meruyaknya budaya hubbud-dunya.
Imam al-Ghazali, dalam Kitabnya, Ihya Ulumiddin, sudah menggariskan sebuah
teori: Rakyat rusak gara-gara rusaknya penguasa; penguasa rusak gara-gara ulama
rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit gila jabatan dan gila harta
(hubbul jaah wal maal).

Peringatan Rasulullah SAW ini dapat kita refleksikan dalam skala kecil pada
lembaga-lembaga Islam. Jika penyakit “gila dunia” sudah merejalela di sekolah-
sekolah Islam, maka sekolah Islam itu tinggal menunggu waktu kehancurannya.
Mungkin bangunan sekolah itu tampak megah, bayarannya mahal, tetapi ruh
pendidikan Islamnya sejatinya sudah hilang. Sekolah Islam itu tidak lagi menjadi
tempat ideal untuk menanamkan aqidah dan akhlak yang mulia, sebab yang
mereka saksikan, sekolahnya sendiri tidak memberikan teladan. Apalagi, jika para
orang tua dan siswa mendapati praktik-praktik korup dan keserakahan di
sekolahnya.

Di tengah meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga
pendidikan Islam, godaan materi ini bisa jadi begitu menggiurkan. Sekolah Islam
menjadi lahan bisnis yang menjanjikan keuntungan besar, sejalan dengan
meningkatnya kesadaran ber-Islam di kalangan elite-elite muslim. Jika niat
mendirikan sekolah Islam bukan lagi karena semangat jihad dalam bidang
keilmuan, tetapi dimotivasi untuk mengeruk keuntungan duniawi semata, maka
niat yang salah itu akan merusak seluruh aspek pendidikan Islam.

Perlu dicatat dengan baik, JSIT sudah menetapkan bahwa Karakteristik JSIT
Indonesia diantaranya adalah: (1) Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis dan
operasional sekolah, (2) Mengintegrasikan ilmu dan nilai kauniyah dan qauliyah
dalam bangunan kurikulum, (3) Menerapkan dan mengembangkan metode
pembelajaran efektif untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar, (4)
Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik, (5)
Menumbuhkan biah sholihah dalam iklim dan lingkungan sekolah

Mudah-mudahan karakteristik ideal sekolah Islam seperti itu bisa benar-benar
terwujud. Karakteristik ideal itu akan berantakan jika penyakit al-wahnu sudah
membudaya dalam kehidupan para guru dan pengalola sekolah.

Tantangan kedua yang sangat penting untuk kita pahami benar-benar adalah
jebakan kurikulum sekuler. Saat ini, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang
belum benar-benar menata kurikulumnya berdasarkan konsep keilmuan Islam.
Mereka masih menggunakan kurikulum-kurikulum yang bercampur aduk antara
yang benar dan yang salah. Kurikulum sains, misalnya, belum diarahkan untuk
mencetak manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi hanya diarahkan
semata-mata untuk memberikan kemampuan siswa menjawab soal-soal ujian.
Tentu saja itu tidak keliru, tetapi masih sangat belum memadai jika dilihat dalam
perspektif keilmuan dalam Islam.

Masih banyak siswa-siswa sekolah Islam yang belum mengenal ilmuwan-ilmuwan
Muslim sejati, yang bukan hanya pakar di bidang sains, tetapi mereka juga ulama-
ulama yang sangat hebat, seperti Abu rayhan al-Biruni, Fakhruddin al-Razi, Ibn
Khaldun, Imam al-Ghazali, dan sebagainya. Mereka tidak mengenal sejarah sains.
Bahwa, peradaban Barat mewarisi sains bukan langsung dari khazanah peradaban
Yunani. Tetapi, mereka banyak mewarisi sains dari para ilmuwan muslim.

Karena itu, dalam bukunya yang berjudul “What Islam Did For Us: Understanding
Islams Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006),
Tim Wallace-Murphy meletakkan satu sub-bab khusus berjudul The West Debt to
Islam (Hutang Barat terhadap Islam). Menurut penulis buku ini, hutang Barat
terhadap Islam adalah hal yang tak ternilai harganya. Even the brief study of
history revealed in these pages demonstrates that European culture owes an
immense and immeasurable debt to the world of Islam, tulisnya. Juga ia tegaskan:
Kita di Barat menanggung hutang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah
lunas terbayarkan. (We in the West owe a debt to the Muslim world that can be
never fully repaid).

Fakta sejarah seperti ini sangat perlu dipahami oleh siswa-siswa sekolah Islam,
agar mereka tidak memandang kemajuan Barat secara membabi-buta. Mereka
perlu dibekali dengan sikap kritis dan apresiatif terhadap peradaban lain. Tidak
menolak dan menerima secara membabi-buta apa pun yang datang dari
peradaban lain. Apalagi, dalam kaitan pandangan hidup dan nilai-nilai kebenaran.

Juga, agar tidak tertanam rasa minder, rendah diri, dalam berhadapan dengan
dunia modern yang menghegemoni seluruh aspek kehidupan manusia dewasa ini.
Contoh jebakan kurikulum sekuler lainnya. Misalnya, dalam kurikulum sejarah
masih banyak yang mengajarkan sejarah manusia secara sekuler dan meterialis,
semata-mata hanya merujuk kepada fosil-fosil manusia. Cara belajar sejarah
semacam ini jauh dari konsep ilmu dalam Islam yang menggunakan pendekatan
epistemologis Islami, yang memadukan tiga sumber ilmu: panca indera, akal, dan
khabar shadiq; bukan mengandalkan panca indera dan akal semata.

Tahun 1988, pakar filsafat Islam, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas
memberikan perhatian khusus terhadap kitab akidah Islam tertua yang beredar di
wilayah Melayu, yaitu kitab Aqaid al-Nasafiah. Tahun 1988, Prof. al-Attas
menerbitkan salah satu karya monumentalnya: The Oldest Known Malay
Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the Aqaid of al-Nasafi (Kuala
Lumpur: University Malaya, 1988).

Kitab Aqidah al-Nasafi ini unik. Baris-baris awal diawali dengan bimbingan cara
berpikir dan cara meraih ilmu dalam Islam. Imam al-Nasafi menulis kalimat awal
pada kitabnya: haqaiq al-asyya tsaaibitatun, wal- ilmu biha mutahaqqiqun,
khilafan li-sifasthaiyyah. (Hakekat segala sesuatu adalah tetap; dan memahaminya
adalah kenyataan; berbeda dengan pandangan kaum sofis). Kaum sofir adalah
kaum yang tidak percaya bahwa manusia bisa meraih ilmu. Mereka selalu ragu
dengan pengatahuan yang diraihnya.

Lalu, Imam al-Nasafi melanjutkan uraiannya dengan mengunkapkan tiga sebab
manusia meraih ilmu, yaitu melalui panca indera, akal, dan khabar shadiq (true
report). Konsep epistemology al-Nasafi ini sangatlah penting untuk dipahami para
pengkaji ilmu, khususnya para akademisi, dan juga setiap muslim. Kekeliruan
dalam memahami konsep ilmu dapat menjauhkan manusia dari kebahagiaan
sebab tidak pernah mengenal Tuhan Sang Pencipta.

Faktanya, di berbagai sekolah Islam, kini masih diajarkan buku-buku pelajaran
yang sekular yang hanya mengandalkan ilmu empiris dan rasional. Bahkan,
banyak yang terjebak oleh cara berpikir, bahwa agama adalah bukan ilmu; al-
Quran bukan sebagai sumber ilmu, sehingga pelajaran sains, sejarah, sosiologi,
filsafat, dan sebagainya, dijauhkan dari sumber-sumber al-Quran. Cara berpikir

dikotomis dan sekuler semacam ini adalah keliru dan seyogyanya tidak
mendapatkan tempat di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Apapun kondisinya, kita patut mensyukuri segala macam anugerah Allah dalam
bidang pendidikan Islam. Kita tidak boleh sombong. Apalagi merasa bahwa
keberhasilan saat ini adalah semata-mata hasil kerja keras manusia, dan bukan
anugerah Allah SWT. Pada saat yang sama, kita wajib mengevaluasi segala macam
kelebihan dan kelemahan yang ada, sehingga lembaga-lembaga pendidikan Islam
akan semakin baik kedepan dan mampu menjalankan fungsinya sebagaimana
sepatutnya.

Kita camkan bersama perintah Allah SWT: Wahai orang-orang beriman,
bersabarlah, perkuatlah kesabaranmu, bersiapsiagalah selalu, dan bertakwalah
kepada Allah, semoga kamu akan menang. (QS Ali Imran:200).(***)

PRESTASI DAN TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Dr. Adian Husaini

Pada hari Jumat (1/3/2013), saya mendapatkan kesempatan menyampaikan
pidato pembukaan (Keynote Speech) pada acara Munas III Jaringan Sekolah Islam
Terpadu (JSIT), di Palembang. Sumatera Selatan. Sekitar 1200 hadir dalam acara
itu. Anggota JSIT sendiri sekarang mencapai lebih dari 1600 sekolah. Acara
pembukaan di Arena Olah Raga Jakabaring Palembang itu sangat semarak.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin dan Wakil Mendikbud bidang
Kebudayaan hadir memberikan sambutan dan membuka acara yang dihadiri para
guru dan pengelola sekolah Islam dari Sabang sampai Merauke.

Hadir pula, pada perhelatan ini, sejumlah cendekiawan dan praktisi pendidikan
dari Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Yang patut diapresiasi, menurut
pengurus JSIT, para hadirin hadir atas biaya sendiri. Semangat dan antusiasme
para hadirin antara lain ditandai dengan terdengarnya pekik takbir berulang kali
saat acara berlangsung. Ini benar-benar sebuah momentum yang penting dalam
dunia pendidikan Islam.
Pada kesempatan itulah, saya berkesempatan berbagi pikiran dan perasaan
dengan para pakar dan praktisi pendidikan Islam itu. Kepada mereka saya

sampaikan, bahwa saat ini, -- tanpa menafikan setor-sektor lainnya -- bisa
dikatakan, pendidikan adalah satu-satunya sektor dakwah yang bisa dengan
mudah ditunjukkan berbagai keberhasilannya. Dalam kurun sekitar 20 tahun
terakhir, berbagai prestasi pendidikan Islam tampak menonjol, khususnya di
tingkat taman kanak-kanak, tingkat dasar, dan menengah. Prestasi yang sangat
menonjol adalah tertanamnya rasa kepercayaan dan bahkan rasa bangga kaum
Muslim terhadap sekolah-sekolah Islam di berbagai daerah apakah yang
menggunakan label terpadu atau tidak.

Kini, dengan mudah kita menjumpai elite-elite muslim yang tanpa malu-malu dan
bahkan merasa bangga mengirimkan anaknya ke sekolah Islam atau pondok-
pondok pesantren. Prestasi-prestasi akademik sekolah Islam pun banyak yang
membanggakan. Kini dengan begitu mudahnya kita menunjukkan sekolah-sekolah
Islam unggulan di kota-kota di Indonesia yang nilai ujian nasionalnya melampaui
prestasi sekolah-sekolah non-muslim atau sekolah umum.
Kebanggaan (pride/izzah) dalam diri seorang Muslim merupakan aspek penting
dan mendasar untuk meraih prestasi-prestasi besar berikutnya. Jika kaum Muslim
tidak bangga, tidak percaya, dan tidak memiliki izzah terhadap lembaga-lembaga
Islamnya sendiri, sulit diharapkan lembaga Islam itu akan berkembang. Kita ingat
sebuah ungkapan terkenal dari cendekiawan Muslim Muhammad Asad yang
beberapa kali kita kutip dalam CAP: no civilization can prosper or even exist after
having lost this pride and the connection with its own past. Tidak ada satu
peradaban yang akan berjaya atau bahkan akan eksis jika sudah hilang
kebanggaannya terhadap dirinya atau terputus dari sejarahnya.
Jadi, kebanggan dan kepercayaan kaum Muslim terhadap lembaga-lembaga
pendidikan Islam adalah modal dasar yang sangat penting bagi kemajuan
pendidikan Islam di masa depan. Jangan sampai kepercayaan (trust) itu disia-
siakan. Perlu disadari bahwa prestasi ini tidak dicapai dengan mudah. Sejumlah
pengelola lembaga pendidikan Islam bercerita suka-dukanya merintis pendidikan
Islam di era 1980 dan 1990-an. Banyak di antara mereka yang datang dari rumah
ke rumah untuk meyakinkan para orang tua muslim, bahwa sekolah yang akan
mereka dirikan adalah sekolah yang serius dan bermutu tinggi. Tidak jarang
mereka menjadikan anak-anak mereka sebagai singa percobaan. Dengan cara itu
orang lain mau percaya. Uniknya, banyak perintis lembaga-lembaga pendidikan
Islam terpadu ini adalah para professional muslim; apakah dokter, insinyur,
pengusaha, dan sebagainya.

Dalam kaitan inilah, di Jakabaring Palembang itu, saya mengajak para guru untuk
bangga sebagai guru. Pengelola pendidikan seyogyanya benar-benar
menempatkan guru sebagai posisi terhormat, tidak kalah terhormatnya dengan
pejabat. Guru dalam pandangan saya bukanlah sebuah profesi yang dihargai
karena bayaran. Guru dalam Islam adalah mujahid. Menyampaikan ilmu adalah
jihad fi-sabilillah. Kata Nabi SAW: Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari
ilmu maka dia sedang berjihad di jalan Allah.

Karena itu, sungguh rugi jika guru tidak serius dalam mengajar dan hanya mau
mengajar karena dibayar. Dibayar atau tidak dibayar, orang yang punya ilmu wajib
mengajarkan ilmunya. Tapi, sebagai mujahid, guru berhak mendapatkan honor
(kehormatan) yang layak. Mujahid harus dimulyakan. Patut kita sampaikan: Anda,
para guru derajatnya sangat mulia, tidak kalah mulia dengan anggota DPR!
Memang, kadangkala masih ada kesalahpahaman. Masih ada guru termasuk
dosen, rektor, dekan, dan sebagainya merasa lebih rendah martabatnya
dibandingkan dengan para pejabat negara. Lembaga Pendidikan Islam harus
benar-benar sangat serius untuk meningkatkan kualitas guru, sehingga mereka
dapat menjadi mujahid di bidang keilmuan dan pendidikan. Keliru, jika masih ada
lembaga pendidikan Islam yang lebih mengutamakan membangun gedung
ketimbang meningkatkan kualitas guru.

Tantangan
Pada kesempatan itu saya juga menyampaikan bahwa di tengah-tengah
pencapaian penting yang dicapai, ada dua tantangan besar yang sedang dihadapi
oleh dunia pendidikan Islam. Pertama, godaan materialisme; godaan penyakit
hubbud-dunya, cinta dunia. Kedua, jebakan kurikulum sekuler.

Tentang tantangan pertama, Rasulullah SAW sudah bersabda: Hampir tiba suatu
zaman dimana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni
kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka.
Maka salah seorang sahabat bertanya: Apakah karena jumlah kami yang sedikit
pada hari itu? Nabi SAW menjawab: Bahkan, pada hari itu jumlah kamu banyak
sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa
gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan
melemparkan ke dalam hati kamu penyakit al wahnu. Seorang sahabat bertanya:
Apakah al wahnu itu Ya Rasulallah? Rasulullah SAW menjawab: Cinta dunia dan
takut mati. (HR Abu Daud)

Hadits Rasulullah SAW ini menjelaskan kondisi umat yang sangat lemah, tidak
berdaya, tiada arti, meskipun jumlahnya sangat besar. Tanpa perlu melakukan
riset yang rumit, dengan mudah dapat dilihat, bahwa kondisi umat Islam saat ini
sangat mirip dengan apa yang digambarkan Rasulullah saw tersebut. Di berbagai
belahan dunia, umat menghadapi ujian dan cobaan yang berat. Di Palestina,
Moro, Xin Jiang, India, Kashmir, Moro, Patani, dan di berbagai belahan dunia,
umat Islam menghadapi penindasan dalam berbagai bidang kehidupan. Umat
Islam, yang jumlahnya sekarang sekitar 1,4 milyar jiwa, bernasib seperti buih,
kehilangan kepercayaan diri, diombang-ambingkan situasi dan kondisi.

Dalam sejarah kita bisa menyaksikan, bagaimana kehancuran kekuatan Muslim di
Andalusia, Baghdad, juga Palestina, akibat meruyaknya budaya hubbud-dunya.
Imam al-Ghazali, dalam Kitabnya, Ihya Ulumiddin, sudah menggariskan sebuah
teori: Rakyat rusak gara-gara rusaknya penguasa; penguasa rusak gara-gara ulama
rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit gila jabatan dan gila harta
(hubbul jaah wal maal).

Peringatan Rasulullah SAW ini dapat kita refleksikan dalam skala kecil pada
lembaga-lembaga Islam. Jika penyakit “gila dunia” sudah merejalela di sekolah-
sekolah Islam, maka sekolah Islam itu tinggal menunggu waktu kehancurannya.
Mungkin bangunan sekolah itu tampak megah, bayarannya mahal, tetapi ruh
pendidikan Islamnya sejatinya sudah hilang. Sekolah Islam itu tidak lagi menjadi
tempat ideal untuk menanamkan aqidah dan akhlak yang mulia, sebab yang
mereka saksikan, sekolahnya sendiri tidak memberikan teladan. Apalagi, jika para
orang tua dan siswa mendapati praktik-praktik korup dan keserakahan di
sekolahnya.

Di tengah meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga
pendidikan Islam, godaan materi ini bisa jadi begitu menggiurkan. Sekolah Islam
menjadi lahan bisnis yang menjanjikan keuntungan besar, sejalan dengan
meningkatnya kesadaran ber-Islam di kalangan elite-elite muslim. Jika niat
mendirikan sekolah Islam bukan lagi karena semangat jihad dalam bidang
keilmuan, tetapi dimotivasi untuk mengeruk keuntungan duniawi semata, maka
niat yang salah itu akan merusak seluruh aspek pendidikan Islam.

Perlu dicatat dengan baik, JSIT sudah menetapkan bahwa Karakteristik JSIT
Indonesia diantaranya adalah: (1) Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis dan

operasional sekolah, (2) Mengintegrasikan ilmu dan nilai kauniyah dan qauliyah
dalam bangunan kurikulum, (3) Menerapkan dan mengembangkan metode
pembelajaran efektif untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar, (4)
Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik, (5)
Menumbuhkan biah sholihah dalam iklim dan lingkungan sekolah
Mudah-mudahan karakteristik ideal sekolah Islam seperti itu bisa benar-benar
terwujud. Karakteristik ideal itu akan berantakan jika penyakit al-wahnu sudah
membudaya dalam kehidupan para guru dan pengalola sekolah.

Tantangan kedua yang sangat penting untuk kita pahami benar-benar adalah
jebakan kurikulum sekuler. Saat ini, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang
belum benar-benar menata kurikulumnya berdasarkan konsep keilmuan Islam.
Mereka masih menggunakan kurikulum-kurikulum yang bercampur aduk antara
yang benar dan yang salah. Kurikulum sains, misalnya, belum diarahkan untuk
mencetak manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi hanya diarahkan
semata-mata untuk memberikan kemampuan siswa menjawab soal-soal ujian.
Tentu saja itu tidak keliru, tetapi masih sangat belum memadai jika dilihat dalam
perspektif keilmuan dalam Islam.

Masih banyak siswa-siswa sekolah Islam yang belum mengenal ilmuwan-ilmuwan
Muslim sejati, yang bukan hanya pakar di bidang sains, tetapi mereka juga ulama-
ulama yang sangat hebat, seperti Abu rayhan al-Biruni, Fakhruddin al-Razi, Ibn
Khaldun, Imam al-Ghazali, dan sebagainya. Mereka tidak mengenal sejarah sains.
Bahwa, peradaban Barat mewarisi sains bukan langsung dari khazanah peradaban
Yunani. Tetapi, mereka banyak mewarisi sains dari para ilmuwan muslim.

Karena itu, dalam bukunya yang berjudul “What Islam Did For Us: Understanding
Islams Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006),
Tim Wallace-Murphy meletakkan satu sub-bab khusus berjudul The West Debt to
Islam (Hutang Barat terhadap Islam). Menurut penulis buku ini, hutang Barat
terhadap Islam adalah hal yang tak ternilai harganya. Even the brief study of
history revealed in these pages demonstrates that European culture owes an
immense and immeasurable debt to the world of Islam, tulisnya. Juga ia tegaskan:
Kita di Barat menanggung hutang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah
lunas terbayarkan. (We in the West owe a debt to the Muslim world that can be
never fully repaid).

Fakta sejarah seperti ini sangat perlu dipahami oleh siswa-siswa sekolah Islam,
agar mereka tidak memandang kemajuan Barat secara membabi-buta. Mereka
perlu dibekali dengan sikap kritis dan apresiatif terhadap peradaban lain. Tidak
menolak dan menerima secara membabi-buta apa pun yang datang dari
peradaban lain. Apalagi, dalam kaitan pandangan hidup dan nilai-nilai kebenaran.
Juga, agar tidak tertanam rasa minder, rendah diri, dalam berhadapan dengan
dunia modern yang menghegemoni seluruh aspek kehidupan manusia dewasa ini.
Contoh jebakan kurikulum sekuler lainnya. Misalnya, dalam kurikulum sejarah
masih banyak yang mengajarkan sejarah manusia secara sekuler dan meterialis,
semata-mata hanya merujuk kepada fosil-fosil manusia. Cara belajar sejarah
semacam ini jauh dari konsep ilmu dalam Islam yang menggunakan pendekatan
epistemologis Islami, yang memadukan tiga sumber ilmu: panca indera, akal, dan
khabar shadiq; bukan mengandalkan panca indera dan akal semata.

Tahun 1988, pakar filsafat Islam, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas
memberikan perhatian khusus terhadap kitab akidah Islam tertua yang beredar di
wilayah Melayu, yaitu kitab Aqaid al-Nasafiah. Tahun 1988, Prof. al-Attas
menerbitkan salah satu karya monumentalnya: The Oldest Known Malay
Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the Aqaid of al-Nasafi (Kuala
Lumpur: University Malaya, 1988).

Kitab Aqidah al-Nasafi ini unik. Baris-baris awal diawali dengan bimbingan cara
berpikir dan cara meraih ilmu dalam Islam. Imam al-Nasafi menulis kalimat awal
pada kitabnya: haqaiq al-asyya tsaaibitatun, wal- ilmu biha mutahaqqiqun,
khilafan li-sifasthaiyyah. (Hakekat segala sesuatu adalah tetap; dan memahaminya
adalah kenyataan; berbeda dengan pandangan kaum sofis). Kaum sofir adalah
kaum yang tidak percaya bahwa manusia bisa meraih ilmu. Mereka selalu ragu
dengan pengatahuan yang diraihnya.

Lalu, Imam al-Nasafi melanjutkan uraiannya dengan mengunkapkan tiga sebab
manusia meraih ilmu, yaitu melalui panca indera, akal, dan khabar shadiq (true
report). Konsep epistemology al-Nasafi ini sangatlah penting untuk dipahami para
pengkaji ilmu, khususnya para akademisi, dan juga setiap muslim. Kekeliruan
dalam memahami konsep ilmu dapat menjauhkan manusia dari kebahagiaan
sebab tidak pernah mengenal Tuhan Sang Pencipta.

Faktanya, di berbagai sekolah Islam, kini masih diajarkan buku-buku pelajaran
yang sekular yang hanya mengandalkan ilmu empiris dan rasional. Bahkan,
banyak yang terjebak oleh cara berpikir, bahwa agama adalah bukan ilmu; al-
Quran bukan sebagai sumber ilmu, sehingga pelajaran sains, sejarah, sosiologi,
filsafat, dan sebagainya, dijauhkan dari sumber-sumber al-Quran. Cara berpikir
dikotomis dan sekuler semacam ini adalah keliru dan seyogyanya tidak
mendapatkan tempat di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Apapun kondisinya, kita patut mensyukuri segala macam anugerah Allah dalam
bidang pendidikan Islam. Kita tidak boleh sombong. Apalagi merasa bahwa
keberhasilan saat ini adalah semata-mata hasil kerja keras manusia, dan bukan
anugerah Allah SWT. Pada saat yang sama, kita wajib mengevaluasi segala macam
kelebihan dan kelemahan yang ada, sehingga lembaga-lembaga pendidikan Islam
akan semakin baik kedepan dan mampu menjalankan fungsinya sebagaimana
sepatutnya.

Kita camkan bersama perintah Allah SWT: Wahai orang-orang beriman,
bersabarlah, perkuatlah kesabaranmu, bersiapsiagalah selalu, dan bertakwalah
kepada Allah, semoga kamu akan menang. (QS Ali Imran:200).(***)

SIAPA MENYATUKAN NUSANTARA?
Oleh: Dr. Adian Husaini

Sejumlah pemikir dan tokoh di Indonesia pernah mengungkap teori “lapis-
budaya”. Bahwa, kata mereka, Pancasila sebenarnya digali dari bumi Indonesia
asli. Bahkan, seorang tokoh ternama, mengaku, ia menggali Pancasila dari bumi
Indonesia yang paling dalam, yakni zaman pra-Hindu.

Teori “lapis budaya”, misalnya, pernah diungkap oleh Pendeta Dr. Eka
Darmaputera, dalam disertasi doktornya yang berjudul Pancasila and the Search
for Identity and Modernity, di Ph.D. Joint Graduate Program Boston and Andover
Newton Theological School, tahun 1982. Eka menyebutkan adanya tiga lapisan
budaya di Indonesia, yaitu Indonesia asli, India, dan Islam. Tentang lapisan asli
Indoenesia, Eka menyimpulkan:
“Lapisan asli Indonesia merupakan sesuatu yang amat sulit, bila tidak dapat
dikatakan mustahil, untuk dijabarkan dengan lengkap dan pasti. Kesepakatan
yang ada ialah, bahwa sebelum datangnya peradaban India ke Indonesia, ia telah

mencapai tingkat kebudayaan yang relatif tinggi dan berakar cukup dalam. Secara
umum, lapisan ini dapat digambarkan sebagai berikut: dasar peradabannya
adalah pertanian (sawah dan ladang); struktur sosialnya adalah desa; kepercayaan
agamaniahnya adalah animisme; …” (Eka Darmaputera, Pancasila: Identitas dan
Modernitas (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1997).

Upaya untuk mengaitkan Indonesia dengan budaya asli pernah ditentang keras
oleh Prof. Sutan Takdir Alisyahbana. Tapi, tokoh Pujangga Baru ini justru
mengajak bangsa Indonesia untuk menengok ke Barat: “Dan sekarang ini tiba
waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat.” Namun, Takdir menepis tuduhan
bahwa ia mengarahkan Indonesia agar membebek pada Barat. Katanya: “Saya
tidak pernah berkata, bahwa generasi baru tidak usah tahu kebudayaan lama.
Saya hanya berkata, bahwa generasi baru harus bebas, jangan terikat kepada
kebudayaan lama.” (Lihat, buku Polemik Kebudayaan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977,
cet.ke-3).

Upaya untuk membangun citra bahwa Indonesia mengalami zaman kejayaan saat
berada di zaman pra-Islam, secara sistematis dikembangkan oleh para orientalis.
T. Ceyler Young, seorang orientalis membuat pengakuan: “Di setiap negara yang
kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban
sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada
akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka
terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama
tersebut”. (Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam, (Jakarta:
Gema Insani Press, 1995).

Mohammad Natsir, seorang pahlawan nasional, menyebut upaya mengecilkan
peran Islam dalam sejarah Indonesia sebagai sebuah bentuk ”nativisasi”. Sejak
usia dini, anak-anak Muslim Indonesia sudah dicekoki dengan ajaran sejarah,
bahwa Indonesia pernah jaya di bawah Kerajaan Majapahit. Lalu, datanglah
kerajaan Islam, bernama Kerajaan Demak, menghancurkan kejayaan Hindu
tersebut. Jadi, seolah-olah hendak ditanamkan pada para siswa, bahwa
kedatangan Islam tidak membangun kejayaan Indonesia, tetapi justru
menghancurkan kejayaannya. Islam tidak pernah menjadi pemersatu bangsa.
Majapahitlah yang menyatukan Indonesia. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang
kuat, Majapahit pernah menyatukan seluruh wilayah Nusantara.

Prof. Dr. C.C. Berg melalui tulisan-tulisannya telah mengungkapkan, bahwa
wilayah Majapahit hanya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Madura.
Masuknya wilayah-wilayah lain di Nusantara, hanya merupakan cita-cita, dan
tidak pernah masuk ke dalam wilayah Majapahit. (Lihat, Hasan Djafar, Masa Akhir
Majapahit (Depok: Komunitas Bambu, 2009).

Ada juga cerita yang memposisikan Majapahit sebagai “penjajah”, sehingga
muncul perlawanan dari wilayah yang ditaklukkan. Babad Soengenep, misalnya,
menceritakan bagaimana proses penaklukan Majapahit atas Soengenep yang
berdarah-darah dan bangkitnya pahlawan setempat yang bernama Jaran Panole
dalam melawan agresi militer Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada. Juga
cerita yang mendasari Perang Bubat yang merupakan kesalahan besar dalam
diplomasi Majapahit. Dimana terjadi kesepakatan antara Maharaja Pajajaran
untuk menikahkan putrinya dengan sang Prabu Hayamwuruk. Sang Maharaja
Pajajaran kemudian mengantarkan putrinya hingga ke sebuah gelanggang yang
bernama Bubat. Sesuai kebiasaan kuno, raja Sunda tersebut hendak menantikan
kedatangan sang menantu untuk menjemput mempelainya.

Padahal, sejarah membuktikan, para ulama dan pendakwah Islam-lah yang
menyatukan wilayah Nusantara dalam satu agama, satu bahasa, dan satu
pandangan alam (worldview). Bahkan, penyatuan itu sampai meliputi wilayah
Thailan Selatan, Filipina Selatan, dan Malaka. Bahasa Melayu yang telah di-
Islamkan menjadi alat pemersatu bangsa yang efektif.

Keberadaan dan penyebaran bahasa Melayu pernah dianggap sebagai ancaman
bagi misi Kristen oleh tokoh Jesuit, Frans van Lith (m. 1926). Dalam bukunya,
Orang-Orang Katolik di Indonesia, Karel A. Steenbrink, mengutip ucapan van Lith:
“Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-
sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi
bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa
pertama di Nusantara.”

Kiprah Pater van Lith dalam gerakan misi di Jawa digambarkan oleh Fl. Hasto
Rosariyanto, SJ dalam bukunya, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa,
Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009). Dalam buku ini diceritakan,
bahwa dalam suatu Kongres bahasa Jawa, secara provokatif van Lith
memperingatkan orang-orang Jawa untuk berbangga akan budaya mereka dan

karena itu mereka harus menghapus bahasa Melayu dari sekolah. Van Lith lebih
suka mempromosikan bahasa Belanda, karena dianggapnya sebagai bahasa
kemajuan.

Misi ini kemudian gagal. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia
mengikrarkan sumpah: Berbahasa satu, bahasa Indonesia. (***)

SIAPA MENYATUKAN NUSANTARA?
Oleh: Dr. Adian Husaini

Sejumlah pemikir dan tokoh di Indonesia pernah mengungkap teori “lapis-
budaya”. Bahwa, kata mereka, Pancasila sebenarnya digali dari bumi Indonesia
asli. Bahkan, seorang tokoh ternama, mengaku, ia menggali Pancasila dari bumi
Indonesia yang paling dalam, yakni zaman pra-Hindu.

Teori “lapis budaya”, misalnya, pernah diungkap oleh Pendeta Dr. Eka
Darmaputera, dalam disertasi doktornya yang berjudul Pancasila and the Search
for Identity and Modernity, di Ph.D. Joint Graduate Program Boston and Andover
Newton Theological School, tahun 1982. Eka menyebutkan adanya tiga lapisan
budaya di Indonesia, yaitu Indonesia asli, India, dan Islam. Tentang lapisan asli
Indoenesia, Eka menyimpulkan:
“Lapisan asli Indonesia merupakan sesuatu yang amat sulit, bila tidak dapat
dikatakan mustahil, untuk dijabarkan dengan lengkap dan pasti. Kesepakatan
yang ada ialah, bahwa sebelum datangnya peradaban India ke Indonesia, ia telah
mencapai tingkat kebudayaan yang relatif tinggi dan berakar cukup dalam. Secara
umum, lapisan ini dapat digambarkan sebagai berikut: dasar peradabannya
adalah pertanian (sawah dan ladang); struktur sosialnya adalah desa; kepercayaan
agamaniahnya adalah animisme; …” (Eka Darmaputera, Pancasila: Identitas dan
Modernitas (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1997).

Upaya untuk mengaitkan Indonesia dengan budaya asli pernah ditentang keras
oleh Prof. Sutan Takdir Alisyahbana. Tapi, tokoh Pujangga Baru ini justru
mengajak bangsa Indonesia untuk menengok ke Barat: “Dan sekarang ini tiba
waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat.” Namun, Takdir menepis tuduhan
bahwa ia mengarahkan Indonesia agar membebek pada Barat. Katanya: “Saya
tidak pernah berkata, bahwa generasi baru tidak usah tahu kebudayaan lama.
Saya hanya berkata, bahwa generasi baru harus bebas, jangan terikat kepada

kebudayaan lama.” (Lihat, buku Polemik Kebudayaan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977,
cet.ke-3).

Upaya untuk membangun citra bahwa Indonesia mengalami zaman kejayaan saat
berada di zaman pra-Islam, secara sistematis dikembangkan oleh para orientalis.
T. Ceyler Young, seorang orientalis membuat pengakuan: “Di setiap negara yang
kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban
sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada
akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka
terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama
tersebut”. (Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam, (Jakarta:
Gema Insani Press, 1995).

Mohammad Natsir, seorang pahlawan nasional, menyebut upaya mengecilkan
peran Islam dalam sejarah Indonesia sebagai sebuah bentuk ”nativisasi”. Sejak
usia dini, anak-anak Muslim Indonesia sudah dicekoki dengan ajaran sejarah,
bahwa Indonesia pernah jaya di bawah Kerajaan Majapahit. Lalu, datanglah
kerajaan Islam, bernama Kerajaan Demak, menghancurkan kejayaan Hindu
tersebut. Jadi, seolah-olah hendak ditanamkan pada para siswa, bahwa
kedatangan Islam tidak membangun kejayaan Indonesia, tetapi justru
menghancurkan kejayaannya. Islam tidak pernah menjadi pemersatu bangsa.
Majapahitlah yang menyatukan Indonesia. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang
kuat, Majapahit pernah menyatukan seluruh wilayah Nusantara.

Prof. Dr. C.C. Berg melalui tulisan-tulisannya telah mengungkapkan, bahwa
wilayah Majapahit hanya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Madura.
Masuknya wilayah-wilayah lain di Nusantara, hanya merupakan cita-cita, dan
tidak pernah masuk ke dalam wilayah Majapahit. (Lihat, Hasan Djafar, Masa Akhir
Majapahit (Depok: Komunitas Bambu, 2009).

Ada juga cerita yang memposisikan Majapahit sebagai “penjajah”, sehingga
muncul perlawanan dari wilayah yang ditaklukkan. Babad Soengenep, misalnya,
menceritakan bagaimana proses penaklukan Majapahit atas Soengenep yang
berdarah-darah dan bangkitnya pahlawan setempat yang bernama Jaran Panole
dalam melawan agresi militer Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada. Juga
cerita yang mendasari Perang Bubat yang merupakan kesalahan besar dalam
diplomasi Majapahit. Dimana terjadi kesepakatan antara Maharaja Pajajaran

untuk menikahkan putrinya dengan sang Prabu Hayamwuruk. Sang Maharaja
Pajajaran kemudian mengantarkan putrinya hingga ke sebuah gelanggang yang
bernama Bubat. Sesuai kebiasaan kuno, raja Sunda tersebut hendak menantikan
kedatangan sang menantu untuk menjemput mempelainya.

Padahal, sejarah membuktikan, para ulama dan pendakwah Islam-lah yang
menyatukan wilayah Nusantara dalam satu agama, satu bahasa, dan satu
pandangan alam (worldview). Bahkan, penyatuan itu sampai meliputi wilayah
Thailan Selatan, Filipina Selatan, dan Malaka. Bahasa Melayu yang telah di-
Islamkan menjadi alat pemersatu bangsa yang efektif.

Keberadaan dan penyebaran bahasa Melayu pernah dianggap sebagai ancaman
bagi misi Kristen oleh tokoh Jesuit, Frans van Lith (m. 1926). Dalam bukunya,
Orang-Orang Katolik di Indonesia, Karel A. Steenbrink, mengutip ucapan van Lith:
“Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-
sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi
bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa
pertama di Nusantara.”

Kiprah Pater van Lith dalam gerakan misi di Jawa digambarkan oleh Fl. Hasto
Rosariyanto, SJ dalam bukunya, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa,
Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009). Dalam buku ini diceritakan,
bahwa dalam suatu Kongres bahasa Jawa, secara provokatif van Lith
memperingatkan orang-orang Jawa untuk berbangga akan budaya mereka dan
karena itu mereka harus menghapus bahasa Melayu dari sekolah. Van Lith lebih
suka mempromosikan bahasa Belanda, karena dianggapnya sebagai bahasa
kemajuan.

Misi ini kemudian gagal. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia
mengikrarkan sumpah: Berbahasa satu, bahasa Indonesia. (***)

SEKULARISASI DAN LIBERALISASI ISLAM- CABARAN TAMADUN MELAYU

Oleh: Adian Husaini, MA
(Ahli Majlis Ulama Indonesia)

Islam dan Tamadun Melayu

Ramai para cendekiawan merumuskan, bahawa unsur pokok suatu tamadun atau
peradaban (civilization) adalah agama. Agama, kata mereka, adalah faktor
terpenting yang menentukan karakteristik suatu tamadun. Sebab itu, Bernard
Lewis, menyebut peradaban Barat dengan sebutan “Christian Civilization”,
dengan unsur utama agama Kristian. Samuel P. Huntington juga menulis:
“Religion is a central defining characteristic of civilizations.” Menurut Christopher
Dawson, “The great religions are the foundations of which the great civilizations
rest.” Di antara empat peradaban besar yang masih eksis – Islam, Barat, India,
dan Cina, menurut Huntington, terkait dengan agama Islam, Kristian, Hindu, dan
Konghucu. 1

Peradaban-peradaban kuno, seperti Mesopotamia dan Mesir Kuno juga
menempatkan agama sebagai unsur utama peradaban mereka. Marvin Perry
mencatat:

“Religion lay at the center of Mesopotamian life. Every human activity - political,
military, social, legal, literary, artistic - was generally subordinated to an
overriding religious purpose. Religion was the Mesopotamians' frame of reference
for understanding nature, society, and themselves; it dominated and inspired all
other cultural expressions and human activities.” 2

Begitu juga dalam tradisi peradaban Mesir Kuno, agama menempati peranan yang
sangat penting:

“Religion was omnipresent in Egyptian life and accounted for the outstanding
achievements of Egyptian civilization. Religious beliefs were the basis of Egyptian
art, medicine, astronomy, literature, and government.” 3

Pakar sejarah Melayu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebutkan,
bahawa dalam perjalanan sejarah ketamadunan Melayu, kedatangan Islam di
wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam
sejarah kepulauan tersebut. (the coming of Islam seen from the perspective of
modern times … was the most momentous event in the history of the
Archipelago). Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa pengantar di

kepulauan Melayu-Indonesia (the Malay-Indonesian archipelago) merupakan
“bahasa Muslim” kedua terbesar yang digunakan oleh lebih dari 100 juta jiwa. 4
Sebab itu, Melayu kemudian menjadi identik dengan Islam. Sebab, agama Islam
merupakan unsur terpenting dalam tamadun Melayu. Islam dan bahasa Melayu
kemudian berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. Al-
Attas mencatat masalah ini:

“Together with the historical factor, the religious and language factors began
setting in motion the process towards a national consciousness. It is the logical
conclusion of this process that created the evolution of the greater part of the
Archipelago into the modern Indonesian nation with Malay as its national
language… The coming of Islam constituted the inauguration of a new period in
the history of the Malay-Indonesian Archipalego” 5

Kamus Dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian
Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan keidentikan antara
Islam dengan Melayu. Disebutkan, bahawa istilah “masuk Melayu” mempunyai
dua erti, yaitu (1) mengikut cara hidup orang-orang Melayu dan (2) masuk Islam.

Berangkat dari pentingnya peranan agama dalam suatu tamadun, maka dapat
dijelaskan, bahwa tanda-tanda kehancuran suatu tamadun dapat dilihat sejauh
mana unsur utama (agama) dalam tamadun tersebut tetap terpelihara dengan
baik. Jika agama yang menjadi pondasi utama tamadun itu sudah rosak, maka
dapat diartikan, tamadun itu telah mengalami satu perubahan yang signifikan.
Mungkin tamadun itu tinggal hanya namanya sahaja. Tetapi, hakikatnya, tamadun
tersebut sudah rosak atau sudah hancur.

Al-Quran dan Kehancuran Tamadun

Beberapa ayat al-Quran al-Karim memberikan penjelasan tentang kehancuran
suatu bangsa. Penjelasan al-Quran ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran,
khususnya bagi kaum Muslimin, agar mereka tidak mengulang kembali tindakan-
tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang boleh menjejaskan dan
menghancurkan tamadun mereka.

Allah SWT berfirman:

Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka,
Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga
apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka,
Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka
terdiam dan berputus asa. (QS al-An’am: 44).

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah),
tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya
berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’: 16)

Dua ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu
bercerita, bahwa kehancuran suatu kaum berhubungan dengan hal-hal:

sikap kaum yang melupakan peringatan Allah SWT, sehingga mereka lupa diri dan
hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi kesenangan
(hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 24.
tindakan elite-elite atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan
membuat kerosakan di muka bumi.

Apabila di dalam suatu tamadun sudah tampak dominan adanya para pembesar,
tokoh masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup ranggi, atau sesiapa saja
yang bermewah-mewah dalam hidupnya, maka itu pertanda kehancuran
tamadun itu sudah dekat.

Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran tamadun atau bangsa,
adalah kehancuran iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT
sudah rosak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap
aturan-aturan Allah SWT. Rasulullah saw berkata:

“Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri
itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri.” (HR Thabrani
dan al-Hakim).

Dalam sejarah manusia, berbagai kehancuran tamadun di muka bumi sudah
begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar

mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. “Maka
berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS an-Nahl: 36)

Sebagai misal, Kaum ‘Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT Kerana berlaku
takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tiada siapa
saja yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: “Siapa yang
lebih hebat kekuatannya dari kami?” (QS Fusshhilat:15). Begitu juga kehancuran
yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasuullah saw, kaum
Muslim yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar,
hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS at-Taubah:25).

Sejarah juga mencatat, bagaimana Tamadun Islam di Sepanyol yang sangat agung
dan sudah bertahan selama 800 tahun dapat dihancurkan oleh kaum Kristian dan
akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Sepanyol. S.M. Imamuddin
menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran tamadun Islam di Sepanyol.
Yang terpenting adalah adanya perpecahan dan kecemburuan antara suku.
Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Sepanyol, seperti Ma’mun dari Toledo
dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristian
untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.6

Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran
bagi kaum Muslimin. Bagaimana suatu kaum yang minoriti dari segi jumlah dapat
mengalahkan kaum Muslim yang sangat besar. Pada tahun 1917, ketika Deklarasi
Balfour diumumkan, jumlah orang Yahudi di Palestin adalah 56,000 orang,
sedangkan jumlah orang Arab Palestina sekitar 644,000 orang. Tahun 1922,
terdapat 83,794 orang Yahudi dan 633,000 orang Arab di Palestin. Pada tahun
1931, terdapat 174,616 orang Yahudi dan 750,000 orang Arab. Tahun 1947,
menjelang pembagian wilayah Palestina oleh PBB, jumlah orang Yahudi sudah
mencapai 608,225 orang. Sedangkan orang Arab Palestin mencapai 1.237.332
orang. Pada tahun 1917, kaum Zionis baru menguasai 2.5% dari tanah Palestin.

Tahun 1947 – setahun menjelang berdirinya negara Israel 14 Mei 1948 -- kaum
Zionis baru menguasai 6.5% tanah Palestin.7 Mengapa kaum Muslimin kalah di
Palestin, dan sampai sekarang kaum Muslimin yang jumlahnya sekitar 1.2 billion
jiwa belum boleh merebut kembali Kota Suci Jerusalem dan Masjid al-Aqsha dari
tangan Zionis Israel? Padahal, jumlah kaum Yahudi seluruh dunia, sampai

sekarang tidak lebih dari 16 juta jiwa. Bahkan, hampir setiap hari ada berita
tentang pembunuhan kaum Muslimin di Palestin oleh kaum Zionis. Mulai 28
September 2000 sampai 18 Mei 2003 sudah 3,238 orang Palestin yang menjadi
korban keganasan Zionis Israel. 8

Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan tamadun, inilah
yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum
Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim di wilayah Tamadun
Melayu. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau tamadun seperti yang
disebutkan dalam al-Quran dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah
ditemukan dalam wilayah tamadun Melayu? Kalau gejala-gejala itu sudah ada,
bagaimana cara menghindarkannya?

Tulisan pada bagian berikutnya akan menfokuskan pada fakta-fakta tentang
tanda-tanda kehancuran keimanan (Tauhid/aqidah Islam) yang terjadi di wilayah
tamadun Melayu, khususnya yang terjadi di Indonesia. Di kalangan kaum
Muslimin, tidak ada ikhtilaf sedikit pun, bahwa Tauhid atau aqidah Islamiyah
adalah asas tegaknya agama Islam. Jika asas Tauhid ini runtuh atau rosak, maka
akan runtuhlah bangunan agama Islam. Mungkin Kerana menyedari pentingnya
akidah Islam untuk menjaga ketahanan masyarakat, JAKIM menyatakan:

"Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan
akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu
dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-
undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi
Malaysia". 9

Kalimat itu boleh diertikan bahawa Kerajaan Malaysia akan bersikap sungguh-
sungguh untuk menghalangi masuknya fahaman-fahaman yang merosak akidah
Islam. Kalimat setegas itu untuk menjaga akidah Islam belum pernah secara resmi
disampaikan oleh Kerajaan Indonesia. Dalam Konstitusi Indonesia, Undang-
undang Dasar 1945 pasal 29, disebutkan:

Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.

Jadi, tidak secara tegas negara Indonesia menyatakan untuk melindungi akidah
Islam. Sebab itu, di Indonesia berbagai fahaman yang merosak akidah Islam
berkembang dengan bebasnya, termasuk yang disebarkan oleh tokoh-tokoh dan
cendekiawan Muslim; bahkan ada yang disebarkan oleh orang-orang yang disebut
sebagai ulama dan kiyai. Tentunya hal ini sangat merugikan dan boleh membawa
kesan yang serius terhadap akidah umat Islam yang awam, Kerana para tokoh,
cendekiawan dan ulama itu dijadikan sebagai contoh dan teladan bagi umatnya.

Sekularisasi dan hadiah Kristian

Sebenarnya, sejak Tamadun Barat menguasai dunia, kaum Muslimin di seluruh
dunia Islam sudah menghadapi masalah sekularisasi, dan kemudian juga
liberalisasi Islam. Dua tamadun itu – Barat dan Islam – memiliki perbedaan yang
asasi dari segi pandangan hidup. Peradaban Barat yang merupakan ramuan dari
ajaran Kristian, filsafat Yunani, dan tradisi Romawi memang bertentangan secara
mendasar dengan pandangan hidup Islam. Kerana itu, akan selalu terjadi
“konfrontasi” antara Islam dengan Barat (permanent confrontation). Barat akan
selalu melihat Islam sebagai tentangan terhadap pandangan hidup mereka.
Tentang konflik abadi Islam-Barat ini, Naquib al-Attas mencatat:

“The confrontation between Western culture and civilization and Islam, from the
historical religious and military levels, has now moved on to the intellectual level;
and we must realize, then, that this confrontation is by nature a historically
permanent one. Islam is seen by the West as posing a challenge to its very way of
life; a challenge not only to Western Christianity, but also to Aristotelianism and
the epistemological and philosophical principles deriving from Graeco-Roman
thought which forms the dominant component integrating the key elements in
dimensions of the Western worldview.” 10

Al-Attas juga menekankan, bahawa dalam melihat ancaman Islam, Barat tidak
bersikap pasif, tetapi sangat aktif memerangi Islam dalam berbagai bidang. Dalam
sebuah risalahnya kepada kaum Muslimin, al-Attas mengingatkan:

“Shahadan, maka sesungguhnya tiada hairan bagi kita jikalau agama Kristian Barat
dan orang Barat yang menjelmakan Kebudayaan Barat itu, dalam serangbalasnya
terhadap agama dan orang Islam, akan senantiasa menganggap Islam sebagai
bandingnya, sebagai tandingnya, sebagai taranya dan seterunya yang tunggal

dalam usaha mereka untuk mencapai kedaulatan duniawi. Dan kita pun tahu
bahawa tiadalah dapat Islam itu bertolak-ansur dalam menghadapi serangan
Kebudayaan Barat, justeru sehingga Kebudayaan Barat itu tentulah menganggap
Islam sebagai seterunya yang mutlak; dan kesejahteraannya hanya akan dapat
terjamin dengan kemenangannya dalam pertandingan mati-matian dengan Islam,
sebab selagi Islam belum dapat ditewaskan olehnya maka akan terus ada tanding
dan seteru yang tiada akan berganjak daripada mencabar dan menggugat
kedaulatan serta faham dasar-dasar hidup yang dida’yahkan olehnya itu.” 11

Agama Kristian, yang merupakan agama majoriti daripada Tamadun Barat, telah
lama tersekularkan atau ter-Barat-kan (Westernized Christian) E.L. Mascall, dalam
bukunya, The Secularization of Christianity, menyatakan, “… that instead of
converting the world to Christianity they are converting Christianity to the
World.” 12

Kerana itu, tidaklah menghairankan jika kaum Kristian tidak memandang
sekularisme sebagai ancaman bagi agama mereka. Gereja tidak memandang
sekularisme atau sekularisasi sebagai hal yang selalu negatif. Menurut seorang
tokoh Kristian di Indonesia, Tom Jacobs SJ, "Revolusi Perancis bererti didirikannya
negara sekular. Seluruh proses ini, khususnya sekitar revolusi Perancis, tidak
hanya terang bersifat anti-Gereja, tetapi anti-agama, bahkan menjadi ateis.
Namun perkembangan ke arah sekularisme atau sekularisasi sebetulnya belum
berarti sesuatu yang negatif." Tom Jacobs menjelaskan, sekularisasi dapat dilihat
sebagai usaha pemurnian agama dan reaksi terhadap "sakralisasi" yang
melampaui batas. Pada dasarnya, sekularisasi sebagai usaha "desakralisasi"
adalah suatu reaksi melawan kuasa pimpinan Gereja, yang mau menguasai
seluruh dunia. Maka akhirnya permasalahan itu kembali kepada soal yang
dirumuskan oleh Pope Gelasius I: Kerana Gereja mengidentifikasikan diri dengan
kuasa dunia, maka reaksi terhadap kuasa gereja ini menjadi suatu proses
melawan Gereja dan agama. 13

Arend Theodore van Leeuwen mengatakan, bahawa penyebaran agama Kristian
ke seluruh dunia membawa pesan sekularisasi. Oleh kaum sekular Kristian,
hubungan erat antara gereja dan negara di abad pertengahan adalah kesalahan
dan “pencerahan” (renaissance) berhasil membawa misi sekularisasi Kristian ini
kembali ke rel-nya. Secara umum, sejarah revolusioner Barat sampai sekarang
adalah melanjutkan proses sekularisasi dan hal itu merupakan proses yang tak

bisa dihentikan dan terus berputar. Sebab itu, kata Leeuwen, budaya sekular
merupakan hadiah Kristian kepada dunia.14

Sekularisasi dan Liberalisasi Islam di Indonesia

Sebagaimana di bagian dunia Islam lainnya, wilayah Tamadun Melayu, juga tidak
terlepas dari usaha sekularisasi oleh Barat. Di Indonesia, usaha sekularisasi sudah
dilakukan sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1930-an, Soekarno yang ketika
itu belum menjadi Presiden sudah menulis beberapa artikel yang mendukung
sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk di Turki. Dalam Majalah
Pandji Islam nombor 12 dan 13 tahun 1940, Soekarno menulis sebuah artikel
berjudul “Memudakan Islam”. Menurut Soekarno langkah-langkah sekularisasi
yang dijalankan kemal Attaturk adalah tindakan “paling modern” dan “paling
radikal”. Katanya: “Agama dijadikan urusan perorangan. Bukan Islam itu
dihapuskan oleh Turki, tetapi Islam itu diserahkan kepada manusia-manusia Turki
sendiri, dan tidak kepada negara. Maka oleh Kerana itu, salahlah kita kalau kita
mengatakan bahwa Turki adalah anti-agama, anti-Islam. Salahlah kita, kalau kita
samakan Turki itu dengan, misalnya, Rusia.”

Mengutip Frances Woodsmall, Soekarno mencatat:

“The attitude of modern Turkey towards Islam has been anti-orthodox, or anti-
ecclesiatical, rather than anti-religious… The validity of Islam as a personal belief
has not been denied. There has been no cessation of the services in the mosque,
or rather religious observances.”

Jadi, kata Soekarno, apa yang dilakukan Turki sama dengan yang dilakukan
negara-negara Barat. Di negara-negara seperti Inggris, Perancis, Belanda, Belgia,
Jerman, dan lain-lain, urusan agama diserahkan kepada individu pemeluknya,
agama menjadi urusan pribadi, dan tidak dijadikan sebagai urusan negara, tidak
dijadikan sebagai agama resmi negara.

Pemikiran Soekarno itu ditentang oleh tokoh-tokoh Islam seperti A. Hassan dan
Mohammad Natsir. A. Hassan mengritik keras pandangan Soekarno tentang
sekularisme. Di Majalah yang sama ia menulis artikel berjudul “Membudakkan
Pengertian Islam”. Hassan menyebut logika Soekarno sebagai “logika otak
lumpur”. Sebagian besar pejabat pemerintah Turki di masa Attaturk, menurut A.

Hassan, adalah pemabok, hobi dansa, dan pelaku berbagai kegiatan maksiat
lainnya. Tetapi, itulah yang justeru dipuji Soekarno sebagai tindakan paling
modern dan radikal. Mereka juga yang menghapus hukum-hukum Allah dari
masyarakat Turki. Tulisan Arab diganti dengan Latin. A. Hassan mencontohkan, di
negara Rusia saja, orang Islam bebas salat di masjid dan boleh berazan dalam
bahasa Arab. Sedangkan di Turki, oleh Kemal Attaturk, azan pun harus dilakukan
dengan bahasa Turki. A. Hassan juga membantah logika Soekarno bahwa
pengaruh Islam di Turki hilang Kerana diurus oleh pemerintah. Faktanya,
penguasa Islam waktu itu tidak menjalankan dan mengurus Islam sebagaimana
semestinya diajarkan oleh Islam. Bahkan, tak jarang, agama hanya dijadikan alat
untuk mempertahankan kekuasaan. Akan tetapi, kata A. Hassan, ini bukan berarti
Islam tidak sanggup mengurus negara.15

Usaha kelompok sekular di Indonesia berhasil menggagalkan berdirinya negara
Indonesia yang berdasarkan Islam. Dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945, kelompok
nasionalis sekular terus berhadapan dengan kelompok nasionalis Islam. Kedua
kelompok ini akhirnya bersepakat membentuk Panitia Sembilan yang dipimpin
oleh Soekarno dan pada tanggal 9 Juli 1945 berhasil menyusun Piagam Jakarta.
Piagam ini memuat kata-kata: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluknya (yang kemudian dikenal dengan istilah “tujuh
kata”. Soekarno mengatakan, bahawa "tujuh kata" itu adalah "kompromi untuk
menyudahi kesulitan antara kita bersama." 16

Dalam sejarah perjalanan politik Indonesia, kelompok sekular tetap berhasil
mempertahankan dominasinya dalam politik Indonesia, sejak kemerdekaan
sampai zaman reformasi. Usaha-usaha untuk menetapkan Islam sebagai agama
resmi negara atau menerapkan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara senantiasa mengalami kegagalan. Bahkan, setelah reformasi, tokoh-
tokoh Islam turut menolak dimasukkannya “tujuh kata” dari Piagam Jakarta ke
dalam konstitusi. Sebagai contoh, pada tanggal 10 Agustus 2000, tiga tokoh Islam
Indonesia, yaitu Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Prof. Dr. Syafii Ma’arif, dan Prof. Dr. Nurcholish Madjid membuat
pernyataan bersama. Isinya: menolak masuknya Piagam Jakarta dalam pasal UUD
1945.

Ada tiga alasan yang dikemukakan:

pencantuman Piagam Jakarta akan membuka kemungkinan campur tangan
negara dalam wilayah agama yang akan mengakibatkan kemudharatan, baik bagi
agama maupun pada negara sebagai wilayah publik,
dimasukkannya Piagam Jakarta akan membangkitkan kembali prasangka-
prasangka lama dari kalangan luar Islam mengenai “negara Islam” di Indonesia,
Dimasukkannya Piagam Jakarta bertentangan dengan visi negara nasional yang
memperlakukan semua kelompok di negeri iji secara sederajat.17

Perubahan besar yang terjadi di kalangan tokoh-tokoh Islam ini menunjukkan
suksesnya gerakan sekularisasi di Indonesia. Usaha ini dimulai oleh Nurcholish
Madjid, yang ketika itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi mahasiswa Islam terbesar. Pada
tanggal 2 Januari 1970, dalam diskusi yang diadakan oleh HMI, PII, GPI, dan
Persami, di Menteng Raya 58, Nurcholish Madjid membacakan makalah berjudul
“Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”.
Nurcholish Madjid menulis dalam makalah itu: “… dengan sekularisasi tidaklah
dimaksudkan penerapan sekularisme dan merobah kaum muslimin menjadi kaum
sekularis. Tapi dimaksudkan untuk menduniakan nilai-nilai yang sudah semestinya
bersifat duniawi dan melepaskan ummat Islam dari kecenderungan untuk
mengukhrowikannya.”

Dalam wawancara dengan Harian Kompas tanggal 1 April 1970, Nurcholish
mengatakan: “Orang yang menolak sekularisasi lebih baik mati saja. Kerana
sekularisasi adalah inherent dengan kehidupan manusia sekarang di dunia ini
(saeculum berarti jaman atau keadaan sekarang, juga berarti dunia ini). Dalam
makalahnya yang lain, “Sekali Lagi tentang Sekularisasi”, ia juga memaparkan
pengertian sekularisasi. Agama Islam, katanya, bila diteliti benar-benar dimulai
dari proses sekularisasi terlebih dahulu. Justeru ajaran Tauhid itu merupakan
pangkal tolak proses sekularisasi secara besar-besaran.

Nurcholish juga mengatakan: “Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep 'Negara
Islam' adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara.
Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional
dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya spiritual
dan peribadi."

Terhadap fikiran Nurcholish tersebut, cendekiawan Muslim Indonesia, Prof.
Rasjidi berkomentar "kata-kata tersebut bukan kata-kata orang yang percaya
kepada Quran, akan tetapi merupakan kata orang yang pernah membaca Injil.
Dalam Matheus 22-21 disebutkan: Render unto Caesar the things which are
caesar' and unto God the thing which are God's. Prof. Tahir Azhary, pensyarah di
Faulti Hukum Universiti Indonesia, juga menilai gagasan pembaharuan Nurcholish
mengarah kepada sekularisasi Islam, selain mengecewakan umat Islam, menurut
Azhary, Nurcholish juga tidak berhasil memahami bagaimana sesungguhnya
hubungan antara Agama Islam dan kehidupan kenegaraan dan masyarakat.18

Meskipun mendapatkan tentangan keras dari tokoh-tokoh Islam di Indonesia,
fahaman sekularisasi Nurcholish Madjid tetap berjalan dan membawa kesan yang
besar terhadap para intelektual Muslim, disebabkan kuatnya dukungan kerajaan
Orde Baru dan mass media di Indonesia. Nurcholish Madjid membungkus
fahaman sekularisasinya dengan kata “pembaruan”. Ia diberi sebutan oleh
Majalah Tempo sebagai "Penarik Gerbong Kaum Pembaharu".

Greg Barton juga menyebut perang Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid
sangat sentral dalam gerakan kaum neo-modernis pada akhir tahun 1960-an dan
awal tahun 1970-an. Gerakan ini mendapat sebutan berbagai nama, seperti
"Pembaruan Pemikiran Islam", "akomodasionis", "substansialis", "progresif", dan
"liberal". Mass media Barat, kadangkala menyebut Nurcholish Madjid sebagai
"voice of reason" (suara kebenaran) atau "heart of his nation" (hati nurani
bangsanya).

Greg Barton menjelaskan beberapa prinsip gagasan Islam Liberal:

(a) Pentingnya konstekstualisasi ijtihad,
(b) Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan,
(c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama,
(d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.

Menurut Barton, ada empat tokoh Islam Liberal di Indonesia, iaitu Abdurrahman
Wahid, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Djohan Efendi. 19

Tokoh-tokoh Islam Liberal di Indonesia kemudiannya menjadikan sekularisasi
sebagai program penting gerakan liberalisasi Islam. Koordinator Jaringan Islam
Liberal, Ulil Abshar Abdalla mengatakan:

Islam liberal bisa menerima bentuk negara sekuler... sebab, negara sekuler bisa
menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus. 20

Aktivis Islam Liberal lainnya, Dr. Denny JA, juga menulis:

Sudah saatnya komunitas Islam Liberal di Indonesia mengembangkan sebuah
teologi tersendiri yang sah secara substansi dan metodologi, yaitu Teologi Islam
Liberal. Ini sebuah filsafat keagamaan yang bersandar kepada teks dan tradisi
Islam sendiri, yang memberi pembenaran kepada sebuah kultur liberal. Dalam
politik, teologi itu menjadi Teologi Negara Sekular (TNS), yaitu sebuah filsafat
keagamaan, yang menggali dari teks dantradisi Islam, yang parallel atau
membenarkan perlunya sebuah negara yang sekular sekaligus demokratis.21

Jadi, perjuangan kelompok Islam Liberal di Indonesia secara jelas mahu
membentuk negara sekular. Mereka sudah menyatakan secara terbuka dan
mendapat dukungan yang kuat dari tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Hal inilah
yang belum pernah terjadi dalam sejarah Islam di Indonesia. Sebab, dulunya yang
mengembangkan fahaman sekular bukanlah dari kelompok-kelompok dan
organisasi Islam, tetapi dari kelompok sekular atau kebangsaan.

Mencanggah aqidah, syariah, dan al-Quran

Fahaman gerakan Islam Liberal bukan hanya memperjuangkan negara sekular dan
menolak syariat Islam, tetapi mereka juga sudah mencanggah aqidah Islam.
Sebagai contoh, kelompok liberal Islam sering mengatakan, bahawa Islam
bukanlah satu-satunya agama yang benar. Semua agama adalah sama. Semuanya
boleh masuk syurga Allah SWT. Koordinator Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar
Abdalla mengatakan:

Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang
paling benar. 22

Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan
umum (public decency).” … “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara
perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. 23

Prof. Dawam Rahardjo, seorang tokoh Muhammadiyah Indonesia, membela
keberadaan fahaman kelompok Ahmadiyah di Indonesia. Dia mengatakan:

Ahmadiyah sama dengan kita .... Jadi kita tidak bisa menyalahkan atau
membantah akidah mereka, apapun akidah mereka itu. Kita menyangka, akidah
mereka menyimpang. Misalnya, mereka percaya kalau Mirza Ghulam Ahmad
adalah Nabi. Tapi kalau sudah menjadi kepercayaan mereka, mau apa? Itu 'kan
soal kerpercayaan. Itu 'kan sama saja dengan kita percaya pada Nabi Muhammad
saw. 24

Prof. Dr. Said Aqiel Siradj, ketua Syuriah Pengurus Besar NU, mengatakan:

"Agama yang membawa misi Tauhid adalah Yahudi, Nasrani (Kristian) dan Islam.
Ketiga agama tersebut datang dari Tuhan melalui seorang rasul dan nabi pilihan.
Agama Yahudi diturunkan melalui Musa, Nasrani diturunkan melalui 'Isa (Yesus),
dan Islam melalui Muhammad. Kedekatan ketiga agama samawi yang sampai saat
ini masih dianut oleh umat manusia itu semakin tampak jika dilihat dari genealogi
ketiga utusan (Musa, 'Isa, dan Muhammad) yang bertemu pada Ibrahim
(Abraham). Ketiga agama tersebut mengakui Ibrahim sebagai "the foundation
father's" bagi agama taukhid. Singkatnya, ketiga agama tersebut sama-sama
memiliki komitmen untuk menegakkan kalimah Tauhid... Dari ketiga macam
Tauhid di atas, tauhid Kanisah Ortodoks Syria tidak memiliki perbedaan yang
berarti dengan Islam. 25

Cendekiawan Muslim terkenal yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa,
Dr. Alwi Shihab mengatakan:

Prinsip lain yang digariskan oleh Al Quran, adalah pengakuan eksistensi orang-
orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu,
layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide
mengenai pluralisme keagamaan dan menolak eksklusivisme. Dalam pengertian
lain, eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al Quran. Sebab Al
Quran tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya. 26

Dr. Abdul Munir Mulkhan, wakil sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah,
mengatakan:

Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan
yang satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan
pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah
keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan
ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua
agama. Dari sini kerjasama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.27

Ucapan-ucapan itu disampaikan oleh tokoh-tokoh dan cendekiawan Islam
terkenal di Indonesia yang juga pengurus organisasi-organisasi Islam yang
penting, dan bukan oleh orang awam, atau masyarakat umum, atau pendeta
Kristian. Sebab itu, boleh dikatakan, telah terjadi suatu perkembangan besar
dalam pemikiran Islam di Indonesia. Ulil Abshar Abdalla adalah Koordinator
Jaringan Islam Liberal (Islib) Indonesia, dan juga Ketua Lakpesdam NU (Lembaga
Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul ‘Ulama). NU adalah
Organisasi Islam terbesar di Indonesia. Prof. Dawam Rahardjo adalah wakil ketua
Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Presiden International Institute of
Islamic Thought/IIIT Indonesia. Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj adalah Ketua Syuriah
NU yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Malang (Jawa Timur). Dr.
Alwi Shihab adalah cendekiawan Muslim terkenal lulusan al-Azhar University dan
Temple University, yang sekarang juga Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan
Bangsa. Sedangkan Dr. Abdul Munir Mulkhan, selain tokoh Muhammadiyah juga
dosen agama dan penulis artikel di serta buku di beberapa mass media di
Indonesia. Di samping mereka, masih ada lagi ratusan aktivis organisasi Islam dan
penulis-penulis yang aktif menyebarkan fahaman liberal Islam di Indonesia.

Sebelum tokoh-tokoh itu berbicara tentang fahaman “persamaan agama” (yang
mereka sebut dengan pluralisme agama), sudah ada tokoh-tokoh lain yang
berbicara hal yang sama. Kiyai Haji Abdurrahman Wahid, apabila menjadi
Presiden Indonesia, pernah berpidato dalam malam Perayaan Natal Bersama,
tanggal 27 Desember 1999:

Bagi saya, peringatan Natal adalah peringatan kaum Muslimin juga. Kalau kita
konsekuen sebagai seorang Muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad
saw, maka adalah harus konsekuen merayakan malam Natal. 28

Tokoh gerakan sekularisasi di Indonesia, Nurcholish Madjid, juga tidak hanya
berpendapat dalam bidang sosial-politik, tetapi juga mempromosikan Teologi
Inklusif. Pendapatnya ditulis oleh Sukidi dalam sebuah buku berjudul “Teologi
Inklusif Cak Nur”. Cak Nur adalah sebutan untuk Nurcholish Madjid. Ditulis dalam
buku tersebut:

"Bangunan epistemologis teologi inklusif Cak Nur diawali dengan tafsiran al-islam
sebagai sikap pasrah ke hadirat Tuhan. Kepasrahan ini, kata Cak Nur, menjadi
karakteristik pokok semua agama yang benar. Inilah world view Al Quran, bahwa
semua agama yang benar adalah al-islam, yakni sikap berserah diri kehadirat
Tuhan (QS 29:46)_ "Dalam konteks inilah, sikap pasrah menjadi kualifikasi
signifikan pemikiran teologi inklusif Cak Nur. Bukan saja kualifikasi seorang yang
beragama Islam, tetapi "muslim" itu sendiri (secara generik) juga dapat menjadi
kualifikasi bagi penganut agama lain, khususnya para penganut kitab suci, baik
Yahudi maupun Kristian. Maka konsekuensi secara teologis bahwa siapa pun di
antara kita - baik sebagai orang Islam, Yahudi, Kristian, maupun shabi'in --, yang
benar-benar beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, serta berbuat kebaikan,
maka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan ... (QS 2:62, 5:69). Dengan kata lain,
sesuai firman Tuhan ini, terdapat jaminan teologis bagi umat beragama, apa pun
"agama"-nya, untuk menerima pahala (surga) dari Tuhan. Bayangkan betapa
inklusifnya pemikiran teologi Cak Nur ini." 29

Lebih jauh, konsep inklusivisme dan pluralisme Nurcholish Madjid itu bukan
semata wacana, tetapi sudah dieksperimenkan di sekolah-sekolah Paramadina
(Madania School), mulai SD-SMU. Secara sederhana, kata Budhi Munawar
Rachman, tokoh Paramadina, wawasan aplikasi konsep pluralisme di sekolah-
sekolah Paramadina, dimulai dengan menghormati orang yang berbeda agama
dan tidak menghina mereka. Orang yang berbeda agama lantas tidak diklaim
"kafir". Juga tidak menyebut agama lain itu sesat dan menyesatkan. Dari situlah
dimulai langkah pertama untuk bisa menerima friendship dan partnership dalam
suatu kenyataan bernama sekolah. 30

Konsep Teologi Inklusif atau Pluralis yang mengakui kebenaran semua agama –
seperti yang disampaikan para tokoh Islam di Indonesia itu jelas-jelas bercanggah
dengan konsep Tauhid Islam, yang secara tegas disebutkan dalam al-Quran:

"Sesungguhnya agama (yang diredhai) di sisi Allah hanyalah Islam" (QS Ali Imran:
19).

"Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah
akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang
yang rugi. (QS Ali Imran: 85).

Mencermati fenomena sekularisasi-liberalisasi di Indonesia seperti itu, boleh
dikatakan bahawa negara Muslim terbesar di dunia itu sedang mengalami proses
penghancuran aqidah secara besar-besaran. Cuba bayangkan, sebagai contoh,
pada tahun 1981, diterbitkan sebuah buku berjudul Pergolakan Pemikiran Islam:
Catatan Harian Ahmad Wahib. Di antara isinya ada kata-kata Ahmad Wahib:

Wah, andaikata hanya tangan kiri Muhammad yang memegang kitab, yaitu al-
Hadits, sedang dalam tangan kanannya tidak ada Wahyu Allah (Alquran), maka
dengan tegas aku akan berkata bahwa Karl Marx dan Frederich Engels lebih hebat
dari utusan Tuhan itu. Otak kedua orang itu yang luar biasa dan pengabdiannya
yang luar biasa pula, akan meyakinkan setiap orang bahwa kedua orang besar itu
adalah penghuni sorga tingkat pertama, berkumpul dengan para nabi dan
syuhada.31

Apa yang terjadi seketika itu? Majelis Ulama Indonesia meminta pemerintah
melarang buku Ahmad Wahib itu. Tetapi, penerbitan buku tersebut dibela oleh
Prof. Dr. Mu’thi Ali, bekas Menteri Agama Indonesia, yang waktu itu juga rektor
IAIN Yogyakarta.

Prof. Dr. Rasjidi menyatakan, terbitnya buku itu merupakan tragedi bagi umat
Islam. Sekarang, tahun 2003, buku itu dicetak kembali, kerjasama antara LP3ES
dengan Freedom Institute. Buku itu dipromosikan secara besar-besaran, begitu
juga dengan fahaman Ahmad Wahib yang sangat bertentangan dengan aqidah
Islam:

Tanggal 7 Maret 2003, Harian Kompas menulis berita:

Freedom Institute - sebuah lembaga kajian independen yang bergerak dalam
pengembangan kebebasan berpikir - dan HMI Cabang Ciputat menyelenggarakan
sayembara penulisan esai tentang pemikiran keislaman Ahmad Wahib. Ahmad
Wahib (1943-1971) adalah aktivis HMI dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di
akhir tahun 1960-an. Dia dikenal luas setelah buku catatan hariannya diterbitkan
oleh LP3ES pada tahun 1981, dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam. Dalam
buku tersebut, terakam sosok Wahib sebagai aktivis Islam yang bergulat dengan
tema Islam, modernitas, dan keindonesiaan, dengan perspektif yang liberal,
progresif, dan terbuka._ Pemenang penulisan itu akan mendapati hadiah Rp 30
juta.

Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang. Fahaman-fahaman yang salah dan
bertentangan dengan aqidah Islam, malahan dipromosikan dan disebar-luaskan
ke tengah masyarakat secara bebas, melalui buku, jurnal, TV, radio, akhbar, dan
sebagainya. Akan tetapi, yang diserang oleh kelompok Islam Liberal bukan hanya
aqidah dan syariat Islam, melainkan juga al-Quran. Kelompok ini memiliki
program untuk menerbitkan al-Quran Edisi Kritis, Kerana al-Quran yang sekarang,
yaitu Mushaf Utsmani, mereka anggap masih perlu diragukan validitasnya. Taufik
Adnan Amal, pensyarah mata kuliah ulumul Quran di IAIN Alauddin Makassar,
menulis satu paper berjudul Edisi Kritis al-Quran, yang isinya menyatakan:

Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas
proses pemantapan teks dan bacaan Alquran, sembari menegaskan bahwa proses
tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi
teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak
dewasa ini. Kerana itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan
itu lewat suatu upaya penyuntingan edisi kritis Alquran. 32

Istilah Quran Edisi Kritis adalah istilah yang sudah mapan di kalangan orientalis
yang menekuni bidang al-Qur'an dan merujuk kepada usaha mereka untuk
membongkar Mushaf Uthmani, baik dari segi susunan surah-surahnya,
kronologinya, qiraahnya, jumlah surah dan ayat-ayatnya dan lain-lain. Mereka
ingin melakukan dekonstruksi terhadap Mushaf Uthmani.

Dr. Ugi Suharto, pensyarah di ISTAC-IIUM telah menyanggah rencana kelompok
Islam Liberal ini. Menurut Dr. Ugi Suharto, upaya para orientalis itu sudah gagal


Click to View FlipBook Version