The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-04-14 00:52:01

adian husaini 2

adian husaini 2

dan orientalis sekarang sudah tidak berminat lagi untuk membentuk Quran Edisi
Kritis. Encyclopaedia of the Qur'an, Leiden 2001, 1: 420b. menulis:

"Hence, the battle for a critical edition of the text of the Qur'an including most
notably a chronological ranking of the suras (SEE CHRONOLOGY AND THE
QUR'AN), is not as persistent as it was in the period between T. Noldeke and R.
Blachere." 33

Misionari Kristian

Umat Islam yang berada di wilayah Tamadun Melayu seharusnya boleh belajar
dari sejarah umat-umat terdahulu, utamanya sejarah agama Kristian di Eropa.
Agama Kristian boleh dikatakan sebagai salah satu “korban” Westernisasi dan
hegemoni peradaban Barat. Akibat liberalisasi dan sekularisasi di Barat, agama
Kristian telah menjadi mangsa yang teruk. Anehnya, setelah tidak berkembang di
Barat, agama Kristian ini diekspot ke negara-negara Islam. Padahal, di negara-
negara Barat, agama Kristian sudah tinggal nama, tidak menjadi pedoman hidup
masyarakat di sana. Bahkan masyarakat Barat sudah banyak yang secara terbuka
menyatakan dirinya tidak beragama atau atheis atau agnostis.

Di Amsterdam, Belanda, sebagai misal, 200 tahun lalu, 99% penduduknya
beragama Kristian. Sekarang, hanya tersisa 10% saja yang dibaptis dan ke gereja.
Sebahagian besar mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah
menjadi sekular. Di Perancis, yang 95% penduduknya tercatat beragama Katholik,
hanya 13%nya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Pada
1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinion Research, 46%
penduduknya mengatakan, bahawa “agama sudah tidak diperlukan lagi.” Di
Finland, yang 97% Kristian, hanya 3% saja yang pergi ke gereja tiap minggu.

Di Norway, yang 90% Kristian, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-
dasar kepercayaan Kristian. Juga, hanya sekitar 3% saja yang rutin ke gereja tiap
minggu.

Masyarakat Kristian Eropa juga tergila-gila pada aktiviti mistis, mengalahkan
kepercayaan mereka pada pendeta atau imam Katholik. Di Jerman Barat –
sebelum bersatu dengan Jerman Timur -- terdapat 30,000 pendeta. Tetapi jumlah
peramal (dukun klnik/witchcraft) mencapai 90,000 orang.

Di Perancis terdapat 26,000 imam Katholik, tetapi jumlah peramal bintang
(astrologi) yang terdaftar mencapai 40,000 orang. Fenomena Kristian Eropa
menunjukkan, agama Kristian kalah dalam menghadapi serbuan arus budaya
Barat yang didominasi nilai-nilai liberalisme, sekularisme, dan hedonisme.
Serbuan praktik mistis juga tidak mampu dibendung.

Di beberapa gereja, arus liberalisasi mulai datang dengan kuat. Misalnya, gereja
mulai menerima praktik-praktik homoseksualiti. Eric James, seorang pejabat
gereja Inggeris, dalam bukunya berjudul “Homosexuality and a Pastoral Church”
mengimbau agar gereja memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan
mengizinkan perkahwinan homoseksual antara pria dengan pria atau wanita
dengan wanita.34

Negara Belanda sekarang sudah menjadi satu-satunya negara yang melakukan
“revolusi jingga”, Kerana secara resmi telah mengesahkan perkahwinan sejenis.
Parlimen Jerman masih terus memperdebatkan undang-undang serupa. Di
berbagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai
kejahatan. Begitu juga praktik-praktik perzinaan, minuman keras, pornografi, dan
sebagainya. Barat tidak mengenal sistem dan standard nilai (baik-buruk) yang
pasti. Semua serba relatif; diserahkan kepada “kesepakatan” dan “kepantasan”
umum yang berlaku.

Maka, orang berzina, minum alkohol, mempertontonkan aurat, dan sejenisnya
bukanlah dipandang sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat
menganggapnya jahat. Itulah yang kini melanda masyarakat Muslim. Masyarakat
lebih hormat kepada selebriti daripada kepada ulama. Negara sangat
menghormati selebriti dan pemain olah raga (sukan) dibandingkan kaum
intelektual. (Di Indonesia, Presiden mau menerima pemenang ratu kecantikan
sedunia, tetapi tidak menerima pemenang olimpiade fisika internasional). Kondisi
seperti ini, serupa dengan apa yang digambarkan Rasulullah saw, dalam sebuah
haditsnya:

Akan datang suatu zaman di mana tidak tersisa dari Islam, kecuali tinggal
namanya saja; tidak tersisa dari al-Quran kecuali tinggal tulisannya saja; masjid-
masjid mereka megah, tetapi jauh dari petunjuk Allah; ulama-ulama mereka

menjadi manusia-manusia yang paling jahat yang hidup di bawah kolong langit;
dari mulut mereka keluar fitnah dan akan kembali kepada mereka. (HR Baihaqi)

Kerosakan-kerosakan yang terjadi pada masyarakat Kristian Barat itu telah dan
sedang diekspot berterusan kepada masyarakat Muslim. Di wilayah Tamadun
Melayu boleh disaksikan kerosakan akhlak masyarakat yang semakin teruk.
Perjudian, pornografi, prostitusi, minuman keras, dan aktiviti free sex dianggap
hal biasa oleh masyarakat, bahkan didukung oleh tokoh-tokoh masyarakat. Di
Indonesia, pada tahun 2003, terjadi kes Inul Daratista, seorang penyanyi dan
penari lucah.

Meskipun Majelis Ulama Indonesia menentang show Inul, tetapi KH Abdurrahman
Wahid, penasihat Pengurus Besar NU, mendukung Inul. Hampir semua mass
media juga mendukung Inul sehingga show Inul tetap berjalan dan Inul semakin
terkenal. Kekalahan ulama dalam kes Inul ini menunjukkan, bahawa sebagian
besar masyarakat sudah semakin tidak peduli dengan nasihat ulama, sehingga
mereka lebih menurutkan hawa nafsunya. Ini juga tidak lepas dari peranan
seorang ulama juga, iaitu KH Abdurrahman Wahid. 35

Berkembangnya sekularisasi-liberalisasi di dunia Islam seharusnya disikapi sebagai
“ancaman” bagi umat Islam. Sebab, sejatinya, inilah cara efektif menghancurkan
Islam. Di saat sekularisasi-liberalisasi Islam terjadi, misi Kristian di dunia Islam
terus berjalan. Misi Kristian di dunia Islam sudah belajar dari sejarah Perang Salib,
bahawa umat Islam tidak dapat dikalahkan, sebelum pemikiran mereka
dihancurkan. Henry Martyin, seorang missionari Kristian terkenal menyatakan, “I
come to meet the Moslems, not with arms but with words, not by force but by
reason, not in hatred but in love.” 36

Kristianisasi di Indonesia juga sering dilakukan dengan cara-cara jahat dengan
menggunakan ayat-ayat al-Quran untuk memurtadkan kaum Muslim. Sebagai
contoh, ditemukan sejumlah buku dan brosur missionari Kristian yang
menggunakan judul-judul Islam, untuk menipu umat Islam. Misalnya, buku-buku
karangan Pendeta R. Mohammad Nurdin yang berjudul:

Kebenaran Yang Benar (Asshodiqul Mashduq),

Keselamatan Di dalam Islam,

Juga buku Upacara Ibadah Haji karya H. Amos, dan buku-buku karya Pendeta A.
Poernama Winangun yang berjudul seperti Riwayat Singkat Dan Pusaka
Peninggalan Nabi Muhammad, Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Menyelamatkan.

Misi Kristian juga menggunakan brosur-brosur yang menggunakan nama-nama
Islam, seperti Brosur: Membina Kerukunan Hidup Antara Umat Beragama, Yang
dikeluarkan oleh Dakwah Ukhuwah (P.O. BOX 1272/JAT Jakarta 13012). Cara-cara
merosak Islam seperti ini lebih vulgar dari apa yang dilakukan Zwemmer,
meskipun sejenis. Zwemmer menulis buku berjudul “Islam: A Challenge to Faith”
(terbit pertama tahun 1907). Ia menyebut bukunya sebagai “studies on the
Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan
World From the standpoint of Christian Missions”.

Ada indikasi kuat, misi Kristen juga menggunakan penyebaran faham
“pluralisme”. Indikasi ini bisa dilihat pada kes Ahmad Wahib yang diasuh oleh dua
orang Pastor Katholik, iaitu H.C. Stolk dan Willenborg selama beberapa tahun,
yang menjadikan Ahmad Wahib seorang pluralis. Ahmad Wahib berkata:

“Dalam Gereja mereka, Tuhan adalah pengasih dan sumber segala kasih. Sedang
di masjid atau langgar-langgar, dalam ucapan da’i-da’i kita, Tuhan tidak lebih
mulia dari hantu yang menakutkan dengan neraka di tangan kanannya dan pecut
api di tangan kirinya… Kami saling menghormati dalam dialog kerana sama-sama
penganut pluralisme… Aku tak tahu, apakah Tuhan sampai hati memasukkan dua
orang bapakku itu ke dalam api neraka. Semoga Tidak” 37

Bagi para missionari Kristian, mengKristiankan kaum Muslim adalah satu
kewajiban. Dalam laporan tentang “Centenary Conference on the Protestant
Missions of the World” di London tahun 1888, tercatat ucapan Dr. George F. Post:

“We must meet Pan-Islamism with pan-Evangelism. It is a fight for life… we must
go into Arabia; we must go into the Soudan; we must go into central Asia; and we
must Christianize these people or they will march over their deserts, and they will
sweep like a fire that shall devour our Christianity and destroy it.” 38

Umat Islam harusnya belajar dari sejarah. Kristianisasi bukan hanya dilakukan
dengan cara konversi agama, tetapi juga menjauhkan umat Islam dari ajaran
Islam. Penyebaran faham pluralisme teologis oleh kelompok-kelompok dan

universiti-universiti Kristian/Katholik, dapat dilihat dalam kerangka untuk
menjauhkan umat Islam dari agamanya. Wilayah Tamadun Melayu, sebagaimana
bagian dunia Islam lainnya, sejatinya belum terlepas dari cengkeraman
imperialisme Barat, yang sekarang berbentuk imperialisme pemikiran, ekonomi,
politik, dan budaya. Sebab itu, seperti di zaman kolonial fisikal dahulu, misi
Kristian masih diperlukan untuk mempertahankan hegemoni kaum Imperialis. Di
masa penjajahan, penjajah Kristian selalu bekerjasama dengan missionari Kristian
untuk mempertahankan kekuasaannya. Dua tokoh Kristian Belanda yaitu Alb C.
Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum
mengatakan:

“Bagaimanapun juga Islam harus dihadapi, kerana semua yang menguntungkan
Islam di Kepulauan ini akan merugikan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Dalam hal ini diakui bahwa kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses
penjajahan dan zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah
kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang
menghambat perluasan zending.” 39

Di wilayah Indonesia, Kristenisasi telah berjalan sukses sehingga banyak
mendapatkan pengikut, sebab sejak dulu, Indonesia dianggap sebagai lahan subur
untuk Kristenisasi. Berkhof menyatakan, “Indonesia adalah suatu daerah
Pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas
penaburan bibit Firman Tuhan.” 40 Tahun 1999, Persekutuan Gereja-gereja
Indonesia (PGI) menyebutkan, bahawa jumlah orang Kristian (Protestan) di
Indonesia sudah lebih dari 20%. Dan itu adalah akibat “terjadinya pembaptisan-
pembaptisan massa di berbagai tempat”. 41 Data resmi umat Protestan di
Indonesia tahun 1990 adalah 6%. Data bahawa umat Kristen sudah lebih dari 20
persen juga dikeluarkan Global Evangelization Movement Database, yang
menyatakan, jumlah orang Kristian di Indonesia sudah lebih dari 40 juta. Secara
internasional, jumlah umat Kristen setiap tahun meningkat 6.9%, sehingga
sekarang jumlahnya sudah mencapai 2 billion jiwa lebih.42

Penutup

Sebagaimana dijelaskan terdahulu, gerakan sekularisasi dan liberalisasi Islam di
wilayah tamadun Melayu, khususnya di Indonesia, telah berjalan dengan sangat
serius dan mengkhuatirkan, Kerana gerakan itu telah mendapat sokongan dari

tokoh-tokoh dan para cendekiwan Muslim. Negara-negara Barat juga sangat
bersetuju dengan gerakan sekular-liberal tersebut, dengan memberikan sokongan
dana melalui yayasan-yayasan seperti Ford Foundation, Asia Foundation, Sorosh
Foundation, dan sebagainya. Umat Islam yang tidak bersetuju dengan gerakan
Islam Liberal, dimasukkan ke dalam golongan Islam Radikal, yang dibuat imej
seakan-akan golongan ini adalah kelompok fundamentalis, militan, yang dekat
dengan teroris (pengganas).

Tokoh Muhammadiyah Prof. Dawam Rahardjo, sebagai misal, menulis sebuah
artikel di Majalah TEMPO (edisi 12 Januari 2003, yang diberi judul “Islam Radikal
Vs Islam Liberal”, yang membela Koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar
Abdalla. Dawam mengatakan: “… menurut hemat saya, Ulil justeru mengangkat
wahyu Tuhan di atas syariat.” Padahal, seperti disebutkan sebelumnya, Ulil
menulis: “Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar
kepantasan umum (public decency) … Larangan kawin beda agama, dalam hal ini
antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.”
Apabila ucapan yang jelas-jelas salah dibela dan dikatakan meninggikan wahyu
Tuhan, bagaimanakah kesan yang akan terjadi kepada orang-orang awam?

Inilah musibah besar yang sedang melanda wilayah Tamadun Melayu, khususnya
di wilayah Indonesia. Mungkin, peristiwa-peristiwa seperti itu belum terjadi di
wilayah Tamadun Melayu yang lain, tetapi dengan kedudukan Indonesia sebagai
negeri Muslim terbesar di dunia, dan perkembangan pemikiran Islam serta
kebebasan pers yang luas, bukan mustahil, peristiwa sejenis akan menimpa
wilayah Tamadun yang lain. Sebab itu, adalah sangat strategis dan baik jika
wilayah Tamadun Melayu lainnya, seperti Malaysia, bersiap-siap dan berjaga-jaga,
agar peristiwa serupa yang terjadi di Indonesia tidak masuk ke negeri ini. Apalagi,
kerajaan Malaysia sudah mempuyai sikap yang tegas untuk melindungi akidah
umat Islam agar senantiasa terpelihara di bumi Malaysia:

Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan
akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu
dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-
undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi
Malaysia. (JAKIM)

Allah SWT juga sudah memperingatkan, supaya kaum Muslimin senantiasa
berwaspada terhadap segala serangan, dari mana juga datangnya.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan perkuatkanlah kesabaranmu, dan
bersiapsiagalah senantiasa, agar kamu mendapatkan kemenangan. (QS Ali Imran:
200)

Wallahu a’lam.

Kuala Lumpur, 19 Rabi’ul-awwal 1424 H/21 Mei 2003

(telah disunting – webmaster)

RUJUKAN

Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Kreasi Wacana,
Yogyakarta, 2002.

Adian Husaini, Gus Dur Kau Mau Kemana: Telaah Kritis Atas Pemikiran dan Politik
Keagamaan Presiden Abdurrahman Wahid, DEA Press, Jakarta, 2000.

Adian Husaini, Penyesatan Opini, Gema Insani Press, Jakarta, 2002.

Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES,
2003.

Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, 1997.

Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1985.

Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam, Yayasan Andi,
Yogyakarta, 2001.

Banawiratma SJ (ed), Gereja dan Masyarakat, Kanisius, Yogyakarta, 1994.

Bernard Lewis, Islam and the West, Oxford University Press, New York, 1993.

Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Paramadina, Jakarta, 1999.

Herlianto, Gereja Modern, Mau Kemana? Yabina, Bandung, 1995.

H. Berkhof, Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990.

Lukman Hakiem (ed), Fakta dan Data, Media Dakwah, Jakarta, 1991.

Luthfie Assyaukani (ed), Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jaringan Islam Liberal,
Jakarta, 2002.

Marvin Perry, Western Civilization A Brief History, Houghton Mifflin Company,
Boston-New York, 1997

M. Sukru Hanioglu, The Young Turks In Position, Oxford University Press, 1995.

Mark Jurgensmayer, Menentang Negara Sekular, Mizan, Bandung, 1998.

M. Thalib dan Haris Fajar, Dialog Bung Karno-A. Hassan, Sumber Ilmu, Yogyakarta,
1985.

Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum, Bulan Bintang, Jakarta.

Paul Findley, Deliberate Deceptions-Facing the Facts about the US-Israeli
Relationship, Lawraence Hill Books, New York, 1993.

S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, S.M. Shahabuddin, Pakistan,
1969.

Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, Kompas, 2001.

Samuel M. Zwemmer, Islam: A Challenge to Faith, Darf Publisher Limited,
London, 1985.

Samuel P. Huntington, Clash of Civilizations and the Remaking of World Order,
Touchtone Books, New York, 1996.

Sekretariat Negara RI, Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI, 1995.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ISTAC, Kuala Lumpur,
1993.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, Kuala
Lumpur, 2001.

Victor Silaen (ed), Gereja dan Reformasi, Yakoma-PGI, Jakarta, 1999.

horizontal rule

Notakaki:

1 Samuel P. Huntington, Clash of Civilizations and the Remaking of World Order,
Touchtone Books, New York, 1996, hal. 47; Bernard Lewis, Islam and the West,
Oxford University Press, New York, 1993.
2 Marvin Perry, Western Civilization A Brief History, Houghton Mifflin Company,
Boston-New York, 1997, hal. 9.
3 Ibid, hal. 15
4 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ISTAC, Kuala Lumpur,
1993, hal. 169-179. Angka 100 juta itu disebut al-Attas pada tahun 1969, saat ia
menerbitkan bukunya Preliminary Statement on a General Theory of Islamizatin
of the Malay-Indonesian Archipelago. Tahun 2003, jumlah Muslim di kepulauan
itu sudah lebih dari 200 juta jiwa. Penduduk Muslim Indonesia sahaja, ada sekitar
180 juta jiwa.

5 Ibid, hal. 178. Di Indonesia, sampai sekarang, beberapa suku bangsa masih tetap
identik dengan Islam, seperti suku bangsa Aceh, Betawi, Minangkabau, Bugis,
Makasar, Sunda, Madura, Palembang, dan sebagainya. Keidentikan inilah yang
diusahakan untuk dipisahkan oleh gerakan misionaris Kristian di Indonesia, sejak
zaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Sebagai contoh, di Indonesia ada
Yayasan Doulos yang secara aktif berusaha mengKristiankan suku Sunda. Pada
tanggal 16 Agustus 1999, Komplek Yayasan ini diserang kaum Muslimin, dan tidak
diizinkan dibuka kembali oleh pemerintah, kerana melanggar berbagai peraturan
kerajaan Indonesia. (Majalah Media Dakwah, edisi Desember 1999). Namun,

usaha misionari Kristian ini cukup berhasil. Di Sumatera Barat, misalnya, usaha
Kristianisasi dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh Yanuka (Yayasan
Nurkalimatullah dan Perkantas), dan hingga sekarang sudah ada sekitar 80
pendeta dari suku Minang, yang aktif menyebarkan Kristian ke masyarakat
Minang).

6 S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, S.M. Shahabuddin,
Pakistan, 1969, hal. 321-323. (Kes penguasa-penguasa Muslim Sepanyol yang
meminta perlindungan dan bantuan kepada kaum Kristian untuk meraih
kekuasaan – dengan mengalahkan kaum Muslim lainnya – perlu untuk
diperhatikan dan dijadikan pelajaran, kerana ada ayat al-Quran yang menjelaskan
tentang hal seperti ini, seperti QS al-Maidah:51-52. Ayat ini melarang kaum
Muslim menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali – teman kepercayaan,
pelindung, penolong, dan sebagainya. Mungkin, dengan menjadikan non-Muslim
sebagai wali, mereka akan mendapatkan kesenangan dan kemenangan duniawi
sementara, tetapi hakikatnya, dalam jangka panjang, tindakan itu justru
menghancurkan mereka sendiri, bahkan umat Islam secara keseluruhan)

7 Paul Findley, Deliberate Deceptions-Facing the Facts about the US-Israeli
Relationship, Lawraence Hill Books, New York, 1993, hal. 5-6.

8 Berita RTM 18 Mei 2003. (Jatuhnya Palestin ke tangan kaum Yahudi tidak
terlepas dari hancurnya aqidah dan pemikiran para tokoh dan cendekiawan
Ottoman Empire, yang waktu itu membawahi wilayah Palestin. Cendekiawan
Ottoman yang tergabung ke dalam Young Turk Movement – yang kemudian
menjadi penguasa Turki setelah jatuhnya Ottoman Empire – adalah orang-orang
yang bekerjasama dengan Zionis Yahudi. Mereka memiliki fahaman materialisme,
positivisme, dan nasionalisme chauvinistik. Kemal Attaturk, misalnya, adalah
penganut fahaman Social Darwinism. Abdullah Cevdet, tokoh the Young Turk
Movement menyatakan, “There is only one civilization, and that is European
civilization. Therefore, we must borrow western civilizaton with both its rose and
its thorn. (Lihat: M. Sukru Hanioglu, The Young Turks In Position, Oxford
University Press, 1995; juga lihat tulisan Prof. Halil Inalcik bertajuk The Caliphate
and Ataturk’s Inkilab, di Jurnal Belleten, XLVI/182, 1982, hal. 353-365)

9 (*http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html)

10 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ISTAC, Kuala Lumpur,
1993, hal. 105.

11 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, Kuala
Lumpur, 2001, h. 16.

12 al-Attas, Islam and Secularism, hal. 5.
13 Tom Jacobs SJ, "Gereja dan Dunia" dalam buku Gereja dan Masyarakat, ed. JB
Banawiratma SJ, 1994, hal. 17-19.

14 Mark Jurgensmayer, Menentang Negara Sekular, Mizan, Bandung, 1998, hal.
29.

15 M. Thalib dan Haris Fajar, Dialog Bung Karno-A. Hassan, Sumber Ilmu,
Yogyakarta, 1985, hal.75-89.

16 Lihat: Risalah Sidang BPUPKI yang diterbitkan Sekretariat Negara RI. Seperti
diketahui, hasil kompromi ini pun kemudian dibatalkan pada tanggal 18 Agustus
1945, kerana kelompok Kristian di Indonesia bagian Timur memberikan
ultimatum, jika Piagam Jakarta tetap dimasukkan ke dalam UUD 1945, maka
mereka akan memisahkan diri dari negara Indonesia. Lihat: Moh. Natsir, "Tanpa
Toleransi Takkan Ada Kerukunan", dalam buku Fakta dan Data, (ed. Lukman
Hakiem), Media Dakwah, Jakarta, 1991, hal. 44-45).

17 Adian Husaini, Penyesatan Opini, Gema Insani Press, Jakarta, 2002, hal. 91-98.

18 Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum, Bulan Bintang, Jakarta, h. 33-37.

19 Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Paramadina, Jakarta, 1999;
New York Times.com, 16 Maret 2002.

20 Majalah Tempo, edisi 19-25 November 2001.

21 Lihat buku Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jaringan Islam Liberal, Jakarta,
2002, hal. 232-233.

22 Majalah GATRA, edisi 21 Desember 2002.

23 Harian Kompas edisi 18 November 2002.
24 (www.Islamlib.com)

25 Lihat buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam, Yayasan Andi, Yogyakarta,
2001, hal. 165-169.

26 Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, 1997,
hal. 108-109.

27 Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Kreasi
Wacana, Yogyakarta, 2002, hal. 44.

28 Adian Husaini, Gus Dur Kau Mau Kemana: Telaah Kritis Atas Pemikiran dan
Politik Keagamaan Presiden Abdurrahman Wahid, DEA Press, Jakarta, 2000, hal.
162.
29 Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, Kompas, 2001, hal. 21-22.

30 Harian Jawa Pos, 11 Mei 2003.

31 Lihat buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES,
2003 (cetakan keenam), hal. 98.

32 Lihat buku Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jaringan Islam Liberal, Jakarta,
2002, hal. 78.

33 Perdebatan antara Taufik Adnan Amal dengan Dr. Ugi Suharto dapat dilihat
dalam bulletin INSIST No1 dan 2 dan website www.insistnet.com, yang diterbitkan
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST).

34 Herlianto, Gereja Modern, Mau Kemana?, Yabina, Bandung, 1995.

35 Dalam masalah Inul, Abdurrahman Wahid mengatakan, bahawa Inul Daratista
tidak boleh dilarang untuk menyanyi dan menari, sebab itu termasuk kebebasan
berekspresi. "Setahu saya kebebasan berekspresi dan berkesenian tidak
bertentangan dengan undang-undang," kata Abdurrahman Wahid, stelah dalam

acara makan siang dengan penyanyi dan penari erotik tersebut di sebuah Hotel di
Jakarta. (Republika Online, 29 April 2003).

36 Samuel M. Zwemmer, Islam: A Challenge to Faith, Darf Publisher Limited,
London, 1985, hal. 190.

37 Lihat buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES
dan Freedom Institute, 2003, hal. 40. Sekarang, pengaruh pluralisme dapat dilihat
pada alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (Katolik) Driyarkara, seperti Budhy Munawar
Rachman (Paramadina) dan Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal).
Penyebaran paham ini dari kalangan Kristen Protestan bisa dijumpai pada
alumnus pasca Sarjana studi agama-agama di Universitas Kristen Satya Wacana
(UKSW) – seperti buku Wahdat al-Adyan:Dialog Pluralisme Agama yang ditulis
Fathimah Usman (lulusan S-2 Studi Agama di UKSW), diterbitkan LKiS Yogyakarta,
2002). Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos dan Institut Teologi Kalimatullah
juga aktif mengembangkan pluralisme.

38 Samuel M. Zwemmer, Islam: A Challenge to Faith, hal. 240.

39 Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1985, hal. 26.

40 H. Berkhof, Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, 1990, hal. 321.
41 Victor Silaen (ed), Gereja dan Reformasi, Yakoma-PGI, 1999, hal. 31-32.
42 Majalah Rohani Populer BAHANA, edisi September 2002.

Buya Yahya: Sunnah Nabi berupa Jenggot Urusan Khilafiah, tapi jangan Hina
Jenggot
Oleh: Dr. Adian Husaini

SEBAGIAN pegiat legalisasi homoseksual dan lesbianisme, tampaknya menjadikan
Nabi Luth a.s. sebagai sasaran kebencian dan umpatan mereka. Al-Quran memang
menggambarkan perjuangan Nabi Luth a.s. yang begitu berat dalam menghadapi
kemunkaran yang dikerjakan kaumnya, sehingga Nabi Luth diusir dari
kampungnya.

Al-Quran menggambarkan perjuangan Nabi Luth sebagai berikut: “Dan (Kami juga
telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada
kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah
dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi
laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum
yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah
mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-
pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya
kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami
turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).

Di dalam Surat Hud ayat 82 dikisahkan: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami
jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami
hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”

Kerusakan perilaku seksual kaum Luth ini juga ditegaskan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan
kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof. Hamka menjelaskan, bagaimana sangat merusaknya
penyakit ’kaum Luth’, sehingga mereka diazab dengan sangat keras oleh Allah
Subhanahu Wata’ala. Hamka sampai menyebut bahwa perilaku seksual antar
sesama jenis ini lebih rendah martabatnya dibandingkan binatang.

Binatang saja, kata Hamka, masih tahu mana lawan jenisnya. Hamka mengutip
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.: “… dan apabila telah
banyak kejadian laki-laki ’mendatangi’ laki-laki, maka Allah akan mencabut
tangan-Nya dari makhluk, sehingga Allah tidak mempedulikan di lembah mana
mereka akan binasa.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, dan at-Tabhrani).

Hamka menulis dalam Tafsirnya tentang pasangan homoseksual yang tertangkap
tangan: “Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. yang diminta
pertimbangannya oleh Sayyidina Abu Bakar seketika beliau jadi Khalifah, apa

hukuman bagi kedua orang yang ’mendatangi’ dan ’didatangi’ itu, karena pernah
ada yang tertangkap basah, semuanya memutuskan kedua orang itu wajib
dijatuhi hukuman mati.” (Lihat, Tafsir al-Azhar, Juzu’ 8).

Bisa digambarkan, betapa gundah dan marahnya kaum homo dan lesbi beserta
para pendukungnya, terhadap sosok Nabi Luth yang mencoba menghentikan
budaya syahwat merdeka pada kaum liberal di masa itu. Sebuah situs
http://www.savethe males.ca, pada 16 Oktober 2004, menulis berita tentang
Irshad Manji dengan judul ”Lesbian Muslim Reformer is a New World Orderly.”
Ditulis: ”Muslim ”reformer” and lesbian activist Irshad Manji, 35, symbolizes the
globalist push to extinguish true religion and enslave humanity.”

Tentang akitivitas Irshad Manji dalam mendukung dan mempromosikan
lesbianisme bisa dilihat dalam situsnya: www.irshadmanji.com. Kaum liberal pun
membanggakannya sebagai sosok ”lesbian” yang – katanya – gigih melakukan
ijtihad. Seorang aktivis liberal membanggakan Irshad Manji dengan menulis judul
artikel dalam Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad
Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Ditulis di jurnal ini:
”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di
Indonesia.”

Sebuah contoh gugatan terhadap sosok Nabi Luth a.s. ditunjukkan oleh
sekumpulan mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang yang menerbitkan Jurnal
JUSTISIA. Pada Edisi 25, Th XI, 2004, diturunkan laporan utama berjudul
”Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Dengan gagahnya, redaksi menulis pengantar:
“Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang
abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih
apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum,
bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

Selanjutnya, artikel-artikel di Jurnal itu diterbitkan dalam sebuah buku berjudul
“Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum
Homoseksual”, (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005).

Disebutkanlah strategi ke arah legalisasi perkawinan sesame jenis (homo dan
lesbi), yaitu: (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang
merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman

kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah
sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya
bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum
homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi
tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak
kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang
mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (hal. 15).

Hina Nabi lecehkan al-Quran

Para penyokong gerakan legalisasi homoseksual ini berani membuat tafsir baru
atas ayat-ayat al-Quran, dengan membuat tuduhan-tuduhan keji terhadap Nabi
Luth.

Seorang penulis dalam buku ini, misalnya, menyatakan, bahwa pengharaman
nikah sejenis adalah bentuk kebodohan umat Islam generasi sekarang karena ia
hanya memahami doktrin agamanya secara given, taken for granted, tanpa ada
pembacaan ulang secara kritis atas doktrin tersebut. Si penulis kemudian
mengaku bersikap kritis dan curiga terhadap motif Nabi Luth dalam
mengharamkan homoseksual, sebagaimana diceritakan dalam al-Quran surat al-
A’raf :80-84 dan Hud :77-82). Semua itu, katanya, tidak lepas dari faktor
kepentingan Luth itu sendiri, yang gagal menikahkan anaknya dengan dua laki-
laki, yang kebetulan homoseks.

Ditulis dalam buku ini sebagai berikut: “Karena keinginan untuk menikahkan
putrinya tidak kesampaian, tentu Luth amat kecewa. Luth kemudian menganggap
kedua laki-laki tadi tidak normal. Istri Luth bisa memahami keadaan laki-laki
tersebut dan berusaha menyadarkan Luth. Tapi, oleh Luth, malah dianggap istri
yang melawan suami dan dianggap mendukung kedua laki-laki yang dinilai Luth
tidak normal. Kenapa Luth menilai buruk terhadap kedua laki-laki yang kebetulan
homo tersebut? Sejauh yang saya tahu, al-Quran tidak memberi jawaban yang
jelas. Tetapi kebencian Luth terhadap kaum homo disamping karena faktor
kecewa karena tidak berhasil menikahkan kedua putrinya juga karena anggapan
Luth yang salah terhadap kaum homo.” (hal. 39).

Cercaan terhadap Nabi Luth dan al-Quran terus dilanjutkan berikut ini: “Luth yang
mengecam orientasi seksual sesama jenis mengajak orang-orang di kampungnya

untuk tidak mencintai sesama jenis. Tetapi ajakan Luth ini tak digubris mereka.
Berangkat dari kekecewaan inilah kemudian kisah bencana alam itu direkayasa.
Istri Luth, seperti cerita al-Quran, ikut jadi korban. Dalam al-Quran maupun Injil,
homoseksual dianggap sebagai faktor utama penyebab dihancurkannya kaum
Luth, tapi ini perlu dikritisi… saya menilai bencana alam tersebut ya bencana alam
biasa sebagaimana gempa yang terjadi di beberapa wilayah sekarang. Namun
karena pola pikir masyarakat dulu sangat tradisional dan mistis lantas bencana
alam tadi dihubung-hubungkan dengan kaum Luth…. ini tidak rasional dan
terkesan mengada-ada. Masa’, hanya faktor ada orang yang homo, kemudian
terjadi bencana alam. Sementara kita lihat sekarang, di Belanda dan Belgia
misalnya, banyak orang homo nikah formal… tapi kok tidak ada bencana apa-
apa.” (hal. 41-42).

***

Para mahasiswa tersebut – saat itu – sedang menimba ilmu di sebuah Perguruan
Tinggi yang menyandang nama Islam, juga nama “Walisongo” (IAIN Walisongo
Semarang). Para Wali itu adalah penyebar dan pendakwah Islam yang sangat gigih
di Tanah Jawa. Wali Songo tidak bermain-main dalam masalah agama. Para Wali
Songo bersikap tegas terhadap penyelewengan aqidah yang dilakukan oleh Syekh
Siti Jenar.

Di dalam tradisi keilmuan Islam, sangat ditekankan masalah adab, bukan hanya
kebebasan berpikir dan berbicara. Tiap manusia harus memahami adab bicara.
Pemain bola di Eropa ada yang dihukum karena bicara bernada rasis. Seorang
anak juga tidak bebas bicara kepada orang tuanya dengan – misalnya – bertanya
kepada ayahnya: “Ayah, benarkah saya anak ayah? Tolong buktikan secara
ilmiah!”

Adab juga menekankan sikap “tahu diri”. Tidak gampang bicara dan menulis
sesuka hati, tanpa merujuk kepada pendapat para ulama yang punya otoritas
tafsir ilmu al-Quran. Di dalam tiap bidang keilmuan, kita mengakui adanya
otoritas. Tidak semua manusia bebas bicara dalam soal keilmuan.

Contohnya, pelawak Tukul dan Prof. Mahfud MD sama-sama manusia. Tetapi,
nilai kata-kata keduanya tidaklah sama saat bicara tentang arti pasal-pasal dalam
UUD 1945. Dalam bidang ekonomi, begitu juga. Kita mengakui ada otoritas

keilmuan dari para pakar ekonomi yang sudah diakui tingkat keilmuannya oleh
komunitas ilmuwan internasional di bidang tersebut. Dalam bidang Fisika, kita
akan tertawa geli jika ada mahasiswa baru belajar rumus-rumus dasar fisika lalu
berterak-teriak, bahwa Newton, Einstein, Stephan Hawking, Habibie, ternyata
bodoh semua!

Adalah suatu kehancuran besar, jika adab keilmuan ini tidak ditegakkan dalam
bidang Ulumuddin. Jika kita mengakui al-Quran adalah Kitab wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, maka
logikanya pasti kita mengakui, bahwa manusia yang paling memahami al-Quran
adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemudian, Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wassalam menunjuk sejumlah sahabatnya yang beliau sebut sangat ahli
dalam Tafsir al-Quran, seperti Ibnu Abbas dan Abdullah bin Mas’ud. Berikutnya,
muncul para ahli tafsir al-Quran dari kalangan Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, dan
seterusnya.

Sebagaimana dalam bidang Ilmu Ekonomi, Ilmu Fisika, dan sebagainya, Ilmu Tafsir
juga merupakan ilmu yang sudah sangat matang perkembangannya dalam tradisi
keilmuan Islam. Begitu juga Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Fiqih, Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf,
Ilmu Kalam. Jika hendak belajar Tafsir al-Quran, seharusnya orang mau merujuk
kepada ilmuwan atau ulama yang memahami Ilmu Tafsir al-Quran.

Jika ditelaah dengan sedikit cermat saja, tampak bahwa Irshad Manji bukanlah
orang yang punya otoritas memadai dalam pemahaman al-Quran. Itu bisa dilihat
dalam bukunya, ”Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”,
yang bisa diunduh di situsnya. Dalam buku ini, Irshad Manji, menyandarkan
keraguannya terhadap al-Quran pada pendapat Christoph Luxenberg (seorang
pendeta Kristen asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji:
”Jika al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim
bahwa al-Quran meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik
mungkin telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah
diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata
yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah
dipahami?” (hal. 96). [baca juga; Irshad Manji Harusnya Diobati di
www.hidayatullah.com]

Pendapat Christoph Luxenberg menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah
memahami al-Quran, yang seharusnya dipahami dalam bahasa Syriac. Tentang
surga, dengan nada sinis Manji menyatakan, bahwa ada human error yang masuk
ke dalam al-Quran. Menurut riset yang baru, tulis Manji, yang diperoleh para
martir atas pengorbanan mereka adalah kismis, dan bukan perawan. “Nah,
bagaimana bisa Al-Quran begitu tidak akurat?” tulisnya.

Pendapat Luxenberg yang dicomot begitu saja oleh Irshad Manji bahwa bahasa al-
Quran harus dipahami dalam bahasa Aramaik telah ditulis dalam buku “Die syro-
aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschluesselung der
Koransprache”. Pendapat Luxenberg pun sangat lemah dan sudah banyak artikel
ilmiah yang menanggapinya. Dr. Syamsuddin Arif telah mengupas masalah ini
secara tajam dalam bukunya, “Orientalis dan Diabolisme Intelektual”.

Menurut Syamsuddin, Professor Hans Daiber, misalnya, memberikan seminar
terbuka tentang karya Luxeberg itu selama satu semester penuh di Departemen
Orientalistik Universitas Frankfurt, dimana ia ungkapkan sejumlah kelemahan-
kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi. Salah satu kelemahan
Luxenberg, misalnya, untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya,
mestinya Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis
pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus
bahasa Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna terbitan tahun 1.900!

Jadi, penghormatan berlebihan terhadap Irshad Manji, merusak dua hal sekaligus:
otoritas keilmuan Islam dan juga asas-asas akhlak Islam. Kita yakin, masih banyak
ulama, cendekiawan, dan kalangan umat Islam yang sadar dan cinta akan
agamanya. Kita cinta negeri kita, sehingga kita berharap, negeri Muslim terbesar
ini tidak menjadi tong sampah pemikiran! Wallaahu a’lam bil-shawab.*/Depok, 5
Mei 2012.

Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana
Universitas Ibn Khaldun Bogor). CAP hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM
dan www.hidayatullah.com


Click to View FlipBook Version