The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-08-16 10:58:27

ADIAN HUSAINI 8

ADIAN HUSAINI 8

GHAZWUL FIKRI

ADIAN HUSAINI

ARKIB KOLEKSI CHEGU RIDHWAN
mahasiswamenggugat.blogspot.com

SELAMAT DATANG, PENDEKAR-PENDEKAR AL-AZHAR!

Ditulis oleh Adian Husaini

sumber http://www.insistnet.com

Pada hari Sabtu (15 Desember 2007), INSISTS mengadakan acara tasyakkur atas kelulusan peneliti
INSISTS, Fahmi Salim Zubair MA, sebagai master dalam bidang tafsir di Universitas al-Azhar Kairo. Pada 4
Desember 2007 lalu, Fahmi Salim dinyatakan lulus dengan predikat Summa Cum Laude (Penghargaan
Tingkat Pertama), setelah berhasil mempertahankan Tesis-nya yang berjudul “KHITHABAT DA’WA
FALSAFAT AL-TA’WIL AL-HERMENUTHIQI LI AL-QURAN; ‘ARDL WA NAQD” (Studi analitis-kritis diskursus
filsafat Hermeneutika Al-Quran).

Fahmi menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan dua guru besar Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran, yaitu
Prof. Dr. Abdul Hayyi Husein Al-Farmawi dan Prof. Dr. Abdul Badi’ Abu Hasyim. Adapun para penguji
tesis Fahmi Salim adalah: Prof. Dr. Salim Abdul Kholik Abdul Hamid (Guru besar Tafsir dan ilmu-ilmu Al-
Quran) dan Prof. Dr. Ali Hasan Sulaiman (Guru besar dan Ketua Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran,
Fakultas Dirasat Islamiyah, Univ. Al-Azhar).

Tentu saja, prestasi akademik Fahmi Salim ini bukan hal yang biasa. Ini termasuk luar biasa. Selain
meraih penghargaan tertinggi, diakui oleh para penguji, bahwa tesis Fahmi Salim adalah tesis pertama di
Universitas Al-Azhar yang mengupas tuntas tentang Hermeneutika Al-Quran. Karena itulah, tesis ini
direkomendasikan agar dicetak atas biaya universitas dan didistribusikan ke universitas-universitas lain.

Di tengah ’kegandrungan’ kalangan akademisi di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia untuk menggusur
Ilmu Tafsir dan menggantikannya dengan hemeneutika, tesis Fahmi Salim ini menjadi sangat bermakna.
Melalui tesisnya, Fahmi Salim berhasil mengupas hakekat hermeneutika sebagai ilmu atau seni
memahami teks yang sudah lama berkembang dan mengakar dalam teologi, filsafat dan sastra barat.
Perspektif hermeneutika filosofis atas pemahaman eksistensial secara umum dan pemahaman teks
secara khusus merupakan terobosan mutakhir dan tidak pernah dikenal sebelumnya. Diskusi dan
perdebatan seputar sah tidaknya aplikasi hermeneutika untuk Al-Quran juga betul-betul tidak ada
presedennya dalam benak para ulama muslim yang masih meyakini keampuhan metode tafsir dan
takwil klasik dalam memecahkan isu-isu kontemporer.

Upaya aplikasi hermenuetika untuk menafsirkan Al-Quran memang telah menggugat teori penafsiran
klasik sebagaimana dalam pembahasan Ushul Fiqh dan Ulumul Quran. Tesis ini memaparkan beberapa

hal penting, yakni: perbandingan konsep takwil dalam tradisi keilmuan Islam dan hermeneutika di Barat
dan akar-akar historis bagi upaya penerapan hermeneutika dalam kajian Al-Quran. Bab ketiga
mendiskusikan secara kritis-analitis berbagai isu utama dan mendasar dari teori tafsir model
hermeneutika semisal (1) klaim historisitas wahyu/teks Al-Quran dan pengaruhnya terhadap konsep I’jaz
Al-Quran, sejarah kodifikasi Al-Quran dan pentakwilan Al-Quran, (2) klaim kritik literatur/sastra dan
kritik sejarah atas wahyu Al-Quran dan biasnya terhadap konsep kisah-kisah Al-Quran dan prinsip-prinsip
semiotika Al-Quran, (3) klaim hubungan dialektis-materialis antara wahyu Allah yang absolut dan realitas
manusia yang nisbi dan biasnya terhadap konsep ‘Sababun Nuzul’ dan serta mengubah hukum yang
pasti (Qath’iyyat) di dalam Al-Quran.

Dengan tesisnya tersebut, kita patut bersyukur, karena baru pertama kalinya, ada seorang sarjana tafsir
dari al-Azhar yang sekaligus mendalami masalah hermeneutika. Lebih penting lagi, selama ini Fami Salim
juga dikenal cukup aktif dalam menulis dan mengajar. Harapan kita semua, ilmunya bermanfaat untuk
menjernihkan masalah hermeneutika dan selama ini dianggap sebagai alternatif tafsir untuk menggusur
metode tafsir klasik yang telah digunakan umat Islam selama lebih dari 1400 tahun.

Sebagaimana telah kita uraikan pada banyak tulisan, masalah hermeneutika ini sangat penting untuk
dikaji dan ditelaah, karena inilah salah satu pintu masuk yang sangat stretegis untuk meliberalkan ajaran
Islam, sebagaimana telah dilakukan oleh kaum Kristen liberal. Berulangkali kita mengimbau dan
menjelaskan, tidak seyogyanya para cendekiawan Muslim mudah terlena dan terpukau dengan hal-hal
baru yang kelihatan gemerlap, yang datang dari Barat, padahal tidak berkhasiat, bahkan membawa
mafsadat bagi umat.

Namun, pada sisi yang lain, kita juga mengakui, bahwa para Sarjana Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran di
Indonesia perlu bekerja keras untuk mewujudkan literatur-literatur dalam Studi Al-Quran yang tidak
keluar dari konsep keilmuan Islam, tetapi sekaligus juga mampu menjawab tantangan zaman. Kita patut
bersedih, bahwa selama ini, banyak sarjana Tafsir dan Ulumul Quran yang mumpuni keilmuannya, tetapi
tidak sanggup menulis atau tidak ada waktu untuk menulis buku-buku yang berkualitas ilmiah yang
tinggi karena ada kesibukan lain. Karena itu, sekali lagi, kita patut bersyukur atas prestasi luar biasa yang
diraih oleh Fahmi Salim dan berharap dia mampu merintis jalan baru dalam menggairahkan studi Al-
Quran di Indonesia.

Sebenarnya, disamping Fahmi Salim, kita juga sedang menunggu kepulangan seorang doktor dalam
bidang syariah yang berhasil meraih gelar doktornya pada 21 Oktober 2007 dari Universitas al-Azhar.
Namanya Dr. Ahmad Zain An-Najah. Pria asal Klaten ini berhasil mempertahankan disertasi doktornya
dengan judul “Al-Qadhi Husain wa Atsaruhu Al-Fiqhiyah”. Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

perwakilan Mesir ini juga lulus dengan predikat Summa Cum Laude, setelah berhasil mempertahankan
disertasinya di bawah bimbingan pakar fikih perbandingan (fiqh muqarin) Prof. Abdullah Said serta Prof.
Ahmad Karima dan diuji di hadapan sidang penguji yang terdiri atas Prof. Sa’duddin Hilaly dan Prof.
Ibrahim Badawi.

Zain an-Najah meraih gelar S-1 nya di Universitas Islam Madinah. Selama ini, Zain an-Najah juga menjadi
ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah Kairo. Dengan prestasi yang
sangat tinggi itu, tentu kita berharap, Dr. Zain an-Najah akan segera kembali ke Indonesia dan
mengaktifkan diri dalam perjuangan penegakan aqidah dan syariah Islam di Indonesia, yang tak henti-
hentinya menghadapi tantangan hebat dari berbagai kalangan, baik dalam maupun luar negeri.

Sebab, kadang kita banyak menerima pertanyaan, mengapa yang aktif dalam perjuangan penegakan
syariah justru bukan sarjana syariah? Sebaliknya, mengapa semakin banyak bermunculan sarjana-
sarjana syariah yang justru aktif menolak syariah. Bukan rahasia lagi, sekarang ini banyak dosen syariah
yang aktif berjuang merombak hukum Islam yang dianggap tidak sesuai dengan konsep HAM dan
kesetaraan gender. Seorang mahasiswa S-2 bidang syariah di Bandung bercerita bahwa pada sesi-sesi
kuliah yang dia ikuti, jarang sekali ada dosen yang menekankan perlunya syariah Islam ditegakkan.
Bahkan, banyak yang mengajarkan perlunya Dekonstruksi Syariah. Karena itu, dalam situasi yang seperti
ini, kita memang berharap banyak pada para pakar syariah seperti Dr. Zain an-Najah ini.

Tetapi, kita sadar bahwa iklim Indonesia saat ini tidaklah kondusif bagi para sarjana agama yang
berkualitas. Begitu mereka balik ke negerinya sendiri, maka mereka akan dihadapkan pada situasi yang
serba sulit. Tidak banyak kalangan umat yang antusias menyambut kedatangan mereka. Banyak yang
tidak peduli. Jangan ditanya lagi sikap pemerintah, termasuk yang bergerak di bidang pendidikan. Nyaris
mustahil untuk berharap, orang-orang seperti Fahmi Salim atau Zain an-Najah akan disambut dan
dijamu oleh Presiden di kediamannya, sebagaimana peserta Asian Idols. Jangan berharap juga, para
menteri akan berlomba-lomba memberi penghargaan ratusan juta rupiah, seperti penghargaan yang
diterima oleh peraih medali emas di Sea Games.

Juga, kita tidak mudah berharap, orang-orang kaya di negeri kita berbondong-bondong menginfakkan
hartanya untuk mendukung perjuangan para intelektual berbakat seperti Fahmi Salim dan Zain an-
Najah. Jangan pula berharap, para pejabat atau pimpinan partai Islam berebut mengucapkan selamat
dan menyambut kedatangan para sarjana Muslim ini bandara. Kita maklum, dalam era kejayaan para
selebritis ini, hanya para penghibur yang akan mendapat penghargaan tinggi. Media massa kita rata-rata
belum tertarik mengangkat berita-berita seperti ini, sebab dinilai bukan berita yang “bisa dijual”. Hingga

kini, hanya mereka yang berjaya dalam dunia olah raga dan hiburan yang akan mendapat tempat
tehormat di media massa.

Inilah kondisi negara dan masyarakat yang sakit, masyarakat yang jauh dari tradisi ilmu. Masyarakat
yang tidak menghargai ilmu dan para ilmuwan. Pada saat bersamaan dengan Sea Games di Thailand, di
negara yang sama, sejumlah pelajar Indonesia juga berhasil meraih prestasi yang menggembIraqan
dalam Olimpiade Astronomi dan Astro-Fisika. Tapi, berita itu pun tidak seheboh berita kemenangan
beberapa atlit Indonesia di Sea Games.

Kita maklum akan kondisi negara dan masyarakat seperti itu. Kondisi ini bukan untuk diratapi. Justru,
inilah tantangan besar dan menarik yang harus diatasi oleh para intelektual seperti Fahmi Salim atau
Zain an-Najah. Tidak sepatutnya para intelektual itu menyerah pada keadaan. Mereka sudah dikaruniai
ilmu yang tinggi oleh Allah SWT. Amat sedikit orang Muslim yang berhasil meraih prestasi akademik
yang tinggi di Universitas al-Azhar. Ilmu dan prestasi yang mereka raih adalah amanah dari Allah, yang
harus digunakan untuk perjuangan Islam.

Pada CAP-213 yang lalu, kita menelaah riwayat hidup Mohamamd Natsir, tokoh yang berani mengambil
pilihan terjun ke kancah perjuangan umat, meskipun mendapat kesempatan kuliah di Batavia untuk
menjadi Meester in de Rechten. Ketika itu, terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri
dengan gaji tinggi. Tapi, Natsir memilih jalan yang jarang dipikirkan oleh orang banyak ketika itu. Dia
memilih terjun langsung dalam kancah perjuangan umat; mengamalkan ilmunya untuk aktif sebagai
guru di sekolah Islam dan berdakwah di tengah masyarakat. Ia lebih memilih hidup di tengah umat dan
merasakan langsung detak nadi jantung kehidupan umat Islam.

Natsir adalah orang yang haus ilmu. Disamping terus menimba ilmu kepada para ulama, terutama A.
Hassan, di Kota Bandung, Natsir mulai aktif dalam organisasi Jong Islamiten Bond (JIB). Di sini dia sempat
berinteraksi dengan para cendekiawan dan aktivis Islam terkemuka seperti Prawoto Mangkusasmito,
Haji Agus Salim, dan lain-lain. Sejak duduk di bangku sekolah AMS (setingkat SMA), Natsir sudah mulai
terlibat dalam polemik tentang pemikiran Islam. Pengalaman pertama terjadi ketika seluruh kelasnya
diundang oleh guru gambar untuk menghadiri pidato seorang pendeta Kristen bernama Ds. Christoffels,
tahun 1929. Pidatonya berjudul ”Quran en Evangelie” dan ”Muhammad als Profeet”. Meskipun
disampaikan dengan gaya yang lembut, Natsir melihat pidato si pendeta itu sesungguhnya menyerang
Islam secara halus. Esoknya, pidato itu dimuat di surat kabar ”A.I.D.” (Algemeen Indish Dagblad). Natsir
kemudian menulis artikel yang menjawab opini sang pendeta, melalui koran yang sama.

Natsir bukan orang yang menumpuk-numpuk ilmu di kepalanya untuk sekedar dihafal atau disimpan
dalam benaknya sendiri. Pengalamannya dalam perjuangan Islam telah membawanya kepada cakrawala
baru. Natsir memimpin Jong Islameten Bond cabang Bandung tahun 1928-1932. Ia sudah biasa menulis
dan berceramah dalam bahasa Belanda – bahasa kaum terpelajar saat itu. Ketika duduk di kelas akhir
AMS, Natsir sudah menulis kitab Pengajaran Shalat dalam bahasa Belanda dengan judul ”Komt tot het
gebed”.

Berkaca pada pengalaman Nastir itu, kita berharap, para sarjana dan cendekiawan Muslim bersedia
menimba pelajaran dan pengalaman langsung dalam kancah perjuangan umat. Dalam arena perjuangan
inilah, akan dirasakan nikmatnya ilmu dan perjuangan.

Sekali lagi, kita ucapkan selamat kepada Fahmi Salim MA dan Dr. Zain an-Najah. Kita tunggu kiprah
mereka dalam kancah perjuangan umat Islam di Indonesia yang tak henti-hentinya dirongrong paham-
paham yang merusak aqidah dan pemikiran Islam. Semoga, kehadiran mereka di Indonesia, menambah
daftar para ’Pendekar al-Azhar’ yang mengajarkan ”ilmu putih” yang ampuh dalam pembinaan aqidah
umat dan sekaligus ’membereskan’ beberapa rekan seperguruan mereka yang kini aktif menyebarkan
’ilmu hitam’ ke tengah masyarakat. [Depok, 21 Desember 2007/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

HERMENEUTIKA DAN FUNDAMENTALISME
Ditulis oleh Adian Husaini
sumber http://www.insistnet.com

Ahad (9/12/2007) lalu, di Solo, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
memberi saya sebuah buku berjudul “Is Religion Killing Us? (Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel
dan al-Qur’an)”. Sudah cukup lama saya memiliki edisi bahasa Inggris buku karya Jack Nelson-Pallmeyer
tersebut. Banyak hal bisa dikritisi dari isi buku ini, karena penulisnya sudah menggugat kesucian teks Al-
Quran. Misalnya, penulis berkesimpulan, bahwa ”Masalah Islam yang identik dengan kekerasan tidak
hanya sebatas adanya ketidaksesuaian teks-teks, tetapi berakar pada banyaknya ayat-ayat dalam Qur’an
yang melegitimasi kekerasan, peperangan dan intoleransi.” (hal. 165).

Penulis buku ini juga dengan semena-mena membuat kesimpulan, bahwa ”Kekerasan religius yang lazim
diantara tradisi kepercayaan penganut monoteisme tidak semata-mata sebagai masalah distorsi
penafsiran kaum beriman terhadap teks-teks suci mereka. Hal itu lebih pada masalah yang berakar
dalam tradisi kekerasan Tuhan yang terletak pada inti teks-teks suci tersebut.” (hal. 180).

Tapi, Nelson-Pallmeyer menulis buku tersebut, berangkat dari pengalaman dan pemahamannya sebagai
seorang Kristen di Barat. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan Islam tampak dangkal. Maka, yang
lebih menarik, adalah membaca kata pengantar edisi bahasa Indonesia buku ini yang ditulis oleh tokoh
Katolik Dr. Haryatmoko S.J. dan khususnya oleh Dr. Hamim Ilyas, seorang dosen UIN Yogya yang juga
anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Karena cukup menarik, kita perlu menyimak kata pengantar Dr. Hamim Ilyas yang berjudul ”Akar
Fundamentalisme Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Berikut ini paparan Hamim Ilyas tentang
fundamentalisme:

”Fundamentalisme adalah satu tradisi interpretasi sosio-religius (mazhab) yang menjadikan Islam
sebagai agama dan ideologi, sehingga yang dikembangkan di dalamnya tidak hanya doktrin teologis, taoi
juga doktrin-doktrin ideologis. Doktrin-doktrin itu dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendiri
fundamentalisme modern, yakni Hasan al-Banna, Abu A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, Ruhullah
Khumaini, Muhammad Baqir al-Shadr, Abd as-Salam Faraq, Sa’id Hawa dan Juhaiman al-Utaibi.”

Menurut Hamim Ilyas, ”Karakteristik fundamentalisme adalah skripturalisme, yakni keyakinan harfiah
terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan yang dianggap tanpa kesalahan. Dengan keyakinan
itu dikembangkan gagasan dasar bahwa suatu agama tertentu dipegang kokoh dalam bentuk literal dan
bulat, tanpa kompromi, pelunakan, reinterpretasi dan pengurangan.”

Lalu, Hamim melanjutkan tulisannya tentang fundamentalisme dengan mengutip pendapat Azyumardi
Azra dan Martin E. Marty, dengan menjelaskan sebagai berikut:

Pertama, oposionalisme. Fundamentalisme dalam agama mana pun mengambil bentuk perlawanan –
yang bukannya tak sering bersifat radikal – terhadap ancaman yang dipandang akan membahayakan
eksistensi agama, baik yang berbentuk modernitas, sekularisasi maupun tata nilai Barat. Acuan atau

tolok ukur untuk menilai tingkat ancaman itu tentu saja adalah kitab suci, yang dalam fundamentalisme
Islam adalah Al-Quran dan pada batas-batas tertentu juga hadits Nabi.

Kedua, penolakan terhadap hermeneutika. Kaum fundamentalis menolak sikap kritis terhadap teks. Teks
al-Qur’an harus dipahami secara literal sebagaimana bunyinya, karena nalar dipandang tidak mampu
memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Meski bagian-bagian tertentu dari teks kitab suci
boleh jadi kelihatan bertentangan satu sama lain, nalar tidak dibenarkan melakukan semacam
”kompromi” dan menginterpretasikan ayat-ayat tersebut.

Ketiga, penolakan terhadap pluralisme dan relativisme. Bagi kaum fundamentalis, pluralisme merupakan
pemahaman yang keliru terhadap teks kitab suci.

Keempat, penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis. Kaum fundamentalis
berpandangan bahwa perkembangan historis dan sosiologis telah membawa manusia semakin jauh dari
doktrin literal kitab suci… Karena itulah, kaum fundamentalis bersifat a-historis dan a-sosiologis; dan
tanpa peduli bertujuan kembali kepada bentuk masyarakat ”ideal” – seperti pada zaman kaum salaf –
yang dipandang mengejawantahkan kitab suci secara sempurna.

”Karakteristik fundamentalisme yang telah mengakar membawa konskuensi logis munculnya doktrin-
doktrin yang justru mengekang, menyiksa diri dan membatasi ruang gerak, bukannya membebaskan.
Doktrin sentral fundamentalisme adalah Islam kaffah. Dalam doktrin ini Islam tidak hanya diajarkan
sebagai sistem agama, tetapi sebagai sistem yang secara total mencakup seluruh aspek kehidupan
manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial,” tulis sang dosen tafsir UIN Yogya ini.

Ditambahkan lagi, bahwa ”Akar fundamentalisme yang berasal dari kesalahan menafsirkan teks suci al-
Qur’an ternyata benar-benar mencoreng nama Tuhan (Allah Swt) dan al-Qur’an itu sendiri. Menjadikan
Islam sebagai idoelogi yang mendorong timbulnya ekstrimisme dan radikalisme dapat diyakini sebagai
perilaku berlebih-lebihan dalam beragama yang jelas-jelas dilarang.”

Demikianlah kutipan paparan Dr. Hamim Ilyas tentang fundamentalisme.

Ringkasnya, menurut Hamim Ilyas, fundamentalis adalah orang-orang yang skripturalis atau literalis
dalam memahami Al-Quran, menolak hermeneutika, menolak pluralisme, menolak relativisme dan

sebagainya. Paparan dosen tafsir UIN Yogya tentang ”fundamentalisme Islam” ini – sebagaimana banyak
cendekiawan lainnya – masih sebatas membeo definisi fundamentalisme yang aplikasikan oleh para
ilmuwan Barat yang merujuk kepada pengalaman sosial-keagamaan kaum Yahudi dan Kristen. Jika
dicermati, tulisan ini sebenarnya serampangan dan asal-asalan.

Kita tentu sudah maklum, bahwa istilah dan wacana fundamentalisme keagamaan dikembangkan oleh
Barat menyusul berakhirnya Perang Dingin. Seperti ditulis Huntington dalam bukunya, The Clash of
Civilization and the Remaking of World Order, bahwa adalah manusiawi untuk membenci karena untuk
penentuan jati diri dan membangun motivasi, masyarakat perlu musuh. (It is human to hate. For self
definition and motivation people need enemies: competitors in business, rivals in achievement,
opponents in politics).

Sejak itu, wacana ”fundamentalisme keagamaan”, khususnya ”fundamentalis Islam” dikembangkan.
Banyak sarjana dibayar untuk meneliti dan menulis tentang masalah ini. Seminar-seminar tentang
fundamentalisme digelar. Media massa memainkan peran yang dominan dalam pembentukan opini
negatif tentang kaum yang dicap sebagai fundamentalis.

Istilah-istilah “Islam fundamentalis”, “Islam eksklusif”, “Islam militan”,

Islam radikal”, “Islam konservatif”, dan sejenisnya memang sering digunakan untuk memberikan stigma
negatif terhadap kelompok-kelompok Islam yang pemikirannya tidak sejalan dan tidak disukai oleh
Barat. Ilmuwan Yahudi, Prof. Bernard Lewis, dalam bukunya The Crisis of Islam menyatakan, bahwa
fundamentalis Islam adalah jahat dan berbahaya, dan menyebutkan bahwa fundamentalis adalah anti-
Barat. (Fundamentalists are anti-Western in the sense that they regard the West as the source of the
evil that is corroding Muslim society).

Dalam “Catatan Pinggirnya” di Majalah Tempo, 27 Januari 2002, Gunawan Muhammad menutup
tulisannya dengan kalimat: “Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia
mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.” Lalu, pada pidatonya
di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 21 Oktober 1992, Nurcholish Madjid mengatakan: “Kultus dan
fundamentalisme adalah sama berbahayanya dengan narkotika.”

Genderang perang yang ditabuh oleh Barat dan sekutu-sekutunya dalam melawan fundamentalisme
agama tentu saja dibuat dalam perspektif Barat dan untuk kepentingan Barat. Karena itulah, proyek ini
mendapatkan kucuran dana yang sangat besar. Salah satu yang menonjol adalah proyek liberalisasi

Islam. Karena itu, kita tentu maklum dengan munculnya orang-orang seperti Hamim Ilyas ini, yang entah
karena ketidaktahuannya atau karena hawa nafsunya membuat opini-opini yang menyudutkan kaum
Muslim dan cendekiawan Muslim tertentu seperti al-Maududi, dengan memberi stigma negatif
semacam “fundamentalis” dan sebagainya.

Kita bisa saja tidak setuju dengan sebagian pemikiran Hasan al-Banna atau Abul A’la al-Maududi. Tetapi,
untuk apa memberi cap bahwa mereka adalah fundamentalis, literalis, anti-pluralis, dan sebagainya?
Tuduhan-tuduhan seperti ini sebenarnya sangat naif dan bodoh, apalagi dilakukan oleh seorang doktor
dan dosen tafsir. Abul A’la al-Maududi, misalnya, adalah pemikir besar yang karya-karyanya telah
memberi inspirasi dan manfaat bagi jutaan kaum Muslim di seluruh dunia.

Lalu, dikatakan oleh Hamim Ilyas, bahwa salah satu ciri fundamentalis adalah menolak hermeneutika.
Pada muktamarnya di Boyolali tahun 2004, NU juga menolak penggunaan hermeneutika untuk Al-
Quran. Apa NU juga fundamentalis? Di Muhammadiyah sendiri, banyak tokohnya yang telah menulis
secara kritis bahaya penggunaan hermeneutika untuk Al-Quran. Apa mereka semua itu adalah kaum
fundamentalis?

Jika dikatakan Hamim Ilyas, bahwa “doktrin sentral fundamentalisme adalah Islam kaffah” maka, pada
Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, juga telah ditetapkan tujuan jangka panjang Persyarikatan
Muhammadiyah, yakni “tumbuhnya kondisi dan faktor-faktor pendukung bagi terwujudnya masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya.” Bukankah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang mau
diwujudkan oleh Muhammadiyah juga sesuai dengan konsep “Islam kaffah”? Apa Muhammadiyah juga
dicap fundamentalis karena mencita-citakan terbentuknya masyarakat Islam yang kaffah?

Kita pun patut bertanya kepada doktor tafsir UIN Yogya ini, apa salahnya jika kaum Muslim ingin
menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupannya? Apa salahnya jika kaum Muslim
menolak paham Pluralisme Agama, sebagaimana telah difatwakan oleh MUI dan banyak ulama lainnya?
Sebelum MUI menolak paham ini tahun 2005, pada tahun 2000, Vatikan juga telah terlebih dahulu
menolak paham tersebut. Juga, apa salahnya jika kaum Muslim menolak paham relativisme, yang
memang merupakan paham yang merusak pikiran dan keimanan?

Sebenarnya, jika dicermati, sang dosen UIN Yogya ini pun tidak konsisten dengan paham relativisme
yang diagungkannya sendiri. Lihat saja, gaya tulisannya yang menghujat dan menyalah-nyalahkan apa
yang disebutnya paham fundamentalisme! Artinya, dalam hal ini, dia juga telah menjadi fundamentalis,
karena merasa sok benar sendiri, dan tidak menerima pandangan lain, selain pandangannya sendiri.

Di akhir tulisannya, Dr. Hamim Ilyas mengkaitkan aksi terorisme dengan tafsir fundamentalis. Katanya:
“Akhirnya, terorisme yang dilakukan oleh sebagian umat Islam, dalam kenyataannya merupakan fakta
yang direkayasa, mungkin oleh Barat dan mungkin juga oleh Al-Qaidah pimpinan Usama bin Ladin.
Perbuatan mereka yang merusak itu sedikit banyak berhubungan dengan tafsir fundamentalisme ini
sebagai basis ideologis.”

Kesimpulan yang mengaitkan terorisme dengan tafsir keagamaan sebenarnya terlalu jauh. Ada yang
menarik kesimpulan sederhana, karena pelaku aksi pengeboman membaca buku-buku Ibn Taimiyah,
kemudian dikatakan, bahwa buku Ibn Taimiyah adalah sumber terorisme. Padahal, ratusan juta orang
telah membaca karya-karya Ibn Taimiyah, dan mereka tidak melakukan pengeboman. Karena itulah, ada
sebagian politisi Barat yang meminta agar Al-Quran dilarang, hanya karena dia melihat para pelaku
pengeboman juga membaca Al-Quran.

Dengan menggunakan sedikit saja kecerdasan, kita bisa membuktikan, bahwa aksi-aksi terorisme yang
terjadi di berbagai penjuru dunia bukanlah dipicu oleh paham keagamaan, tetapi lebih banyak dipicu
oleh faktor eksternal, terutama faktor ketidakadilan. Para pengikut Hasan al-Banna di Palestina
melakukan aksi jihad – yang oleh Zionis Israel dikatakan sebagai “terorisme” — karena mereka terjajah
dan terzalimi di negerinya. Di zaman penjajahan Belanda, kita juga membanggakan pahlawan-pahlawan
kita yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk meraih kemerdekaan, meskipun oleh penjajah
dilabeli dengan kaum ekstrimis, dan sebagainya. Di Indonesia, para pengkit Hasan al-Banna atau
pengagum Abul A’la al-Maududi tidak melakukan aksi-aksi pengeboman.

Karena itulah, sangatlah tidak tepat jika masalah fundamentalisme dan terorisme dikaitkan dengan
penolakan terhadap hermeneutika dan relativisme. Ini sudah sangat berlebihan dan keterlaluan dalam
membebek dan membeo saja pada pendapat ilmuwan Barat. Orang yang menolak penggunaan metode
hermeneutika dan menggunakan ilmu Tafsir untuk memahami Al-Quran sudah dimasukkan “kotak
maut” bernama fundamentalis. Bahkan, kaum Muslim yang meyakini kebenaran agamanya sendiri, yang
berjuang untuk menjadi Muslim yang kaffah juga divonis sebagai “fundamentalis”, yang dikonotasikan
sudah dekat dengan “teroris”.

Di era reformasi dan penjajahan modern ini, sudah begitu banyak aset-aset umat dan bangsa yang
sudah hilang. BUMN sudah banyak yang dijual. Kekayasan alam telah punah. Ekonomi, politik, teknologi,
budaya, dan sebagainya juga telah “dikuasai”. Yang masih tersisa dalam diri kita saat ini adalah
kemerdekaan iman dan pemikiran; kemerdekaan untuk meyakini kebenaran agama kita sendiri,

kemerdekaan untuk memahami Al-Quran dengan cara kita sendiri, bukan dengan cara agama atau
budaya lain.

Kini, sisa-sisa milik kita yang paling pribadi dan vital itu pun mau dirampas pula. Kita tidak boleh
meyakini agama kita sendiri yang benar, dan harus memeluk paham pluralisme dan relativisme. Kita
tidak boleh lagi menggunakan Ilmu Tafsir kita sendiri dalam memahami Al-Quran, karena sudah ada ilmu
baru yang disodorkan Barat yang bernama hermeneutika. Intinya, kita disuruh beragama, sebagaimana
orang-orang Barat beragama.

Sayang sekali, saat ini, kemerdekaan iman dan pikiran kita itulah yang hendak mereka rampas, baik
dengan cara halus maupun kasar. Kita bisa paham, jika yang berniat merampas kemerdekaan iman dan
pikiran kita adalah orang-orang sejenis Snouck Hurgronje dan kawan-kawannya. Tapi, alangkah sedih
dan prihatinnya kita, jika yang melakukan perampasan iman dan pikiran kita itu adalah oknum-oknum
bergelar doktor dalam bidang agama, yang sedang berkuasa di lembaga-lembaga agama. Mudah-
mudahan Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk mempertahankan iman dan pemikiran
keislaman kita di tengah zaman yang penuh dengan fitnah ini. Amin. [Depok, 14 Desember
2007/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

AL-QUR’AN EDISI KRITIS
Ditulis oleh Adian Husaini
sumber http://www.insistnet.com

Seperti kita bahas dalam dua kali catatan sebelumnya, dalam acara Konferensi Tahunan tentang Studi
Islam (ACIS) VII di Riau, 21-24 November 2007, kepada para peserta dibagikan buku murid Nasr Hamid
Abu Zaid, yaitu Dr. Nur Kholish Setiawan, yang berjudul Orientalisme, Al-Quran, dan Hadis. Buku ini
sebenarnya merupakan kumpulan karangan sejumlah akademisi di UIN Yogya, antara lain Dr. Sahiron
Syamsuddin, yang juga alumnus salah satu studi Islam di Jerman.

Dalam buku ini, dimuat artikel pembuka oleh Dr. Nur Kolish yang berjudul “Orientalisme Al-Quran: Dulu,
Kini, dan Masa Datang.” Dalam tulisan inilah, kita bisa menikmati pandangan berbagai orientalis

terhadap Al-Quran. Dengan sangat bagus dan artikulatif, Nur Kholish menguraikan pemikiran-pemikiran
para orientalis Al-Quran, seperti Abraham Geiger, Theodore Nöldeke, Christoph Luxenberg, Reiner
Brunner, dan sebagainya. Tapi, sayang sekali, hampir tidak ada kritik yang diberikan terhadap pemikiran
para orientalis tersebut. Bahkan, pada beberapa bagian, dia menekankan gagasannya, bahwa Al-Quran
yang sekarang dipegang oleh kaum Muslimin masih bermasalah dan perlu dikritisi.

Karena itulah, Nur Kholish mempromosikan gagasan perlunya diterbitkan Edisi Kritis Al-Quran yang telah
digagas oleh para orientalis Jerman. Ia menulis:

”Apparatus criticus zum Koran, rencana penerbitan edisi kritis Al-Quran yang digagas oleh Gotthelf
Bergsträsser serta dilanjutkan oleh Otto Pretzl merupakan indikator akan perhatian terhadap edisi kritis
teks Al-Quran, meski upaya tersebut belum bisa terwujud. Munculnya gagasan riset Bergsträsser
dilandasi oleh terbitnya cetakan mushaf al-imam edisi Cairo pada tahun 1923 yang menjadi panduan
baku umat Islam di seluruh dunia. Sementara, menurut Bergsträsser, penyeragaman baik cara baca,
qira’ah, maupun ortografi Al-Quran meniadakan keragamannya, tanpa disertai dengan alasan-alasan
akademis yang jelas. Dengan demikian, riset yang belum tuntas tersebut berkeinginan memberikan
rekonstruksi terhadap keragaman cara baca dan ortografi Al-Quran yang ”dihilangkan” dalam mushaf
edisi Cairo 1923.” (hal. 9).

Sebagaimana dalam tradisi orientalis, dalam tulisannya ini, murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zaid ini
juga rajin mengungkap data-data pinggiran yang seolah-olah menunjukkan bahwa masih ada masalah
dalam Al-Quran. Dia menulis panjang lebar pendapat Brunner yang mengutip sebagian penulis Syiah,
bahwa Utsman bin Affan telah melakukan perubahan (tahrif) terhadap Al-Quran. Nur Kholish menulis
dengan nada bersemangat untuk menggugat otoritas Al-Quran:

“Data-data yang ditampilkan Brunner mengenai wacana tahrif dalam Syi’ah semenjak abad ke-16 sampai
dengan 19 menunjukkan bahwa “perlawanan” kaum Syi’ah terhadap dominasi mushaf Utsman seakan
tidak pernah henti. Karya-karya kesarjanaan yang dilahirkan, baik dalam wilayah tafsir, hadits, maupun
disiplin keislaman lainnya menjadi pengokoh, bahwa ada something wrong dalam penyusunan, unifikasi
dan kodifikasi mushaf yang dilakukan pada kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan.”

Karena itulah, pada bagian berikutnya, dosen UIN Yogya ini kemudian menekankan, bahwa proyek untuk
mewujudkan Edisi Kritis Al-Quran tersebut masih tetap berjalan hingga kini. Dia menulis:

”Meski demikian, tidaklah berarti bahwa proyek riset mengenai sejarah teks dan ortografinya telah
selesai. Sejak tahun 2006, telah muncul proyek penelitian baru yang disponsori oleh Berlin
Brandenburgische Akademic der Wissinchaft , sebuah lembaga riset milik pemerintah negara bagian
Berlin-Brandenburg, mengenai edisi kritis teks Al-Quran. Proyek ini dilandasi kenyataan bahwa Al-Quran
edisi kritis sampai saat ini belum ada. Sedangkan tujuan dari proyek ini bukanlah untuk menggantikan
teks Al-Quran edisi cairo 1923 yang sampai sekarang menjadi satu-satunya mushaf yang beredar di
seluruh penjuru Muslim. Sebaliknya, proyek dimaksudkan untuk menampilkan dokumentasi teks yang
dijadikan sebagai pijakan dimungkinkannya melakukan kritik teks. Disamping itu, ia juga dimaksudkan
dijadikan pijakan telaah sejarah teks, khususnya dalam kaitannya dengan keragaman tradisi lisan dan
tulisan. Sedangkan tujuan yang ketiga adalah menjadikan dokumentasi teks tersebut sebagai pijakan
melakukan sesuatu yang “belum lazim” dalam kesarjanaan Muslim, yakni proses kesejarahan dan proses
perkembangan teks Al-Quran itu sendiri.” (hal. 38-39).

Lebih jauh dijelaskan oleh Nur Kholish, bahwa pijakan riset yang digunakan oleh proyek ini adalah upaya
yang telah dilakukan oleh Otto Pretzel, Bergsträsser dan Arthur Jeffery yang telah mengumpulkan
qira’ah syadz dalam pembacaan Al-Quran serta jenis tulisan yang beragam dalam manuskrip Al-Quran.

“Uraian di atas menunjukkan bahwa kajian Al-Quran dalam kesarjanaan non-Muslim cukup dinamis dan
berkesinambungan. Temuan-temuan sarjana pendahulu semisal Geiger, Noldeke, dan beberapa nama
lain terus-menerus dielaborasi oleh para sarjana berikutnya. Terlepas dari motif yang melatarbelakangi,
nuansa akademik yang bisa ditangkap adalah penggunaan pelbagai metode dan pendekatan dalam
melakukan pengkajian terhadap Al-Quran. Dalam wilayah ini, Al-Quran tidak ditempatkan pada wilayah
yang “sakral” dan sarat dengan pelbagai nilai keutamaan religius, seperti yang diyakini oleh umat
Muslim, melainkan ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa disentuh dengan pendekatan sosial-
humaniora, sejarah pada khususnya. (hal. 38-40).

Begitulah uraian Dr. Nur Kholish Setiawan tentang gagasan Al-Quran Edisi Kritis, atau Edisi Kritis Al-
Quran. Seperti kita ketahui, ide membuat Edisi Kritis Al-Quran di Indonesia, pernah dilontarkan oleh
Taufik Adnan Amal, dosen UIN Makasar yang juga pernah kuliah di Jerman. Di dalam buku Wajah Liberal
Islam di Indonesia terbitan Jaringan Islam Liberal (2002:78) dimuat sebuah tulisan berjudul “Edisi Kritis
Alquran”, karya Taufik Adnan Amal. Tulisan itu memberikan gambaran bahwa masih ada persoalan
dengan “validitas” teks Alquran yang oleh kaum Muslim telah dianggap tuntas.

Rencana penulisan Al-Quran Edisi Kritis itulah yang kemudian dikritik oleh Dr. Ugi Suharto, melalui dialog
langsung dengan saudara Taufik Adnan Amal. Dalam soal qiraat, misalnya, Taufik mengajukan pemikiran
tentang perlunya digunakan qiraat pra-Utsmani. Dalam emailnya kepada Dr. Ugi, Taufik menulis:

“Kenapa qiraat di luar tradisi utsmani digunakan? Alasannya sederhana sekali: kiraat pra-utsmani
terkadang memberikan makna yang lebih masuk akal dibanding Idalam tradisi teks utsmani. Saya ingin
mengulang kembali contoh yang pernah dikemukakan Luthfi dalam postingnya yang terdahulu: Bacaan
“ibil” (unta, 88:17) dalam konteks 88:17-20, sangat tidak koheren dengan ungkapan “al-sama'” (langit),
“al-jibal” (gunung-2), dan “al-ardl” (bumi). Dalam bacaan Ibn Mas’ud, Aisyah, Ubay, kerangka grafis yang
sama dibaca dengan mendobel “lam”, yakni “ibill” (awan). Bacaan pra-utsmani ini, jelas lebih koheren
dan memberikan makna yang lebih logis ketimbang bacaan mutawatir ibil. Demikian pula, bacaan Ubay
dan Ibn Mas’ud “min dzahabin” untuk 17:93, memiliki makna yang lebih tegas dibanding bacaan “min
zukhrufin” dalam teks utsmani. Masih banyak contoh lainnya yang bisa dielaborasi untuk butir ini.”

Lalu, terhadap gagasan ini, Dr. Ugi menjelaskan kepada Taufik Adnan Amal:

”Contoh-contoh qira’ah yang Anda kemukakan untuk dijadikan Quran Edisi Kritis itu sudah diketahui
oleh para sarjana. Mereka tidak keliru seperti Anda, dengan mencampur-adukkan antara qira’ah dan Al-
Quran. Contoh “ibil” dengan “ibill” yang Anda pilih juga sudah diketahui lama oleh mereka. Lihat saja
dalam tafsir al-Qurtubi yang bagi Anda menterjemahkannya itu sama dengan status quo alias mandeg.
Saya akan buktikan bahwa Anda belum melampaui apa-apa dari Imam al-Qurtubi itu dan Anda mungkin
belum membacanya juga mengenai “ibil” (takhfif) dan “ibill” (tatsqil) disitu. Dalam tafsir itu dikatakan
oleh imam al-Mawardi bahwa perkataan “ibil” (takhfif) mempunyai dua makna: pertama unta, dan yang
kedua awan yang membawa hujan. Dari sini kita berkesimpulan bahwa rasm “ibil” itu bisa memuat
makna unta dan awan sekaligus, sedangkan apabila ditulis “ibill” (tatsqil) ia hanya memuat makna awan
semata-mata. Jadi mana yang lebih komprehensif menurut “akal” Anda? Satu lagi, menurut al-Qurtubi
perkataan “ibil” itu mu’annats (feminin) oleh itu sesuai dengan ayatnya “khuliqot”. Bagaimana dengan
“ibill”?”

Demikianlah, kita bisa melihat, bahwa gagasan untuk membuat Al-Quran Edisi Kritis yang dimunculkan
oleh para orientalis Jerman dan murid-muridnya di Indonesia ternyata masih terus disebarkan. Jika dulu
gagasan seperti ini hanya tersimpan di buku-buku orientalis Yahudi-Kristen di pusat-pusat studi Al-Quran
Barat, kini gagasan itu mulai diusung secara resmi dalam ruang kuliah di kampus Islam dan forum
Konferensi Tahunan Studi Islam di Indonesia. Kita patut kagum terhadap para orientalis yang telah
berhasil mendidik kader-kadernya dengan baik, sehingga menjadi penyambung lidah mereka.

Sebenarnya, kita yakin, para murid orientalis Yahudi-Kristen ini tidak akan mampu mewujudkan Al-
Quran Edisi Kritis. Barangkali, mereka juga sadar akan hal itu, karena untuk ini mereka sangat tergantung

kepada ”tuan-tuan” mereka di Barat. Hanya saja, sepak terjang mereka sepertinya lebih ditujukan untuk
menebar virus keraguan (tasykik) terhadap otentisitas Al-Quran.

Kepada penggagas Al-Quran Edisi Kritis, Dr. Ugi Suharto juga mengingatkan nasehat Abu ‘Ubayd yang
pernah berkata: “Usaha Utsman (r.a.) mengkodifikasi Al-Quran akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi,
karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang di kalangan orang-orang yang
menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan kelemahan
merekalah yang terbongkar.”

Mushaf Utsmani adalah satu-satunya Mushaf Al-Quran yang telah disepakati seluruh kaum Muslim,
sejak awal, hingga kini, dan sampai akhir zaman. Para sahabat, termasuk Ali r.a. pun semua menyepakati
otoritas Mushaf Utsmani. Dalam bukunya, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran: Kajian Kritis (2006),
Adnin Armas, telah banyak mengklarifikasi pemikiran-pemikiran para orientalis yang meragukan
otentisitas Al-Quran. Sayyidina Ali sendiri menyatakan: ”Seandainya Utsman belum melakukannya, maka
aku yang melakukannya.”

Kita bisa memahami jika para orientalis Yahudi-Kristen berusaha meruntuhkan otoritas Al-Quran, karena
Al-Quran adalah satu-satunya Kitab yang memberikan kritik secara mendasar terhadap Kitab mereka.
Karena itu, meskipun mereka bertahun-tahun mendalami Al-Quran, tetap saja mereka tidak beriman
kepada Al-Quran. Tetapi, kita tidak mudah memahami, mengapa ada orang dari kalangan Muslim yang
berhasil dicuci otaknya sehingga menjadi penyambung lidah para orientalis untuk menyerang Al-Quran.
Kita patut kasihan, jauh-jauh belajar Al-Quran ke luar negeri akhirnya pulang ke Indonesia justru menjadi
ragu dan menyebarkan keraguan tentang Al-Quran. Mudah-mudahan kita semua terhindar dari ilmu
yang tidak bermanfaat; yakni ilmu yang tidak membawa kepada keyakinan dan ketaqwaan. Amin.
[Jakarta, 7 Desember 2007/www.hidayatullah.com]

ABU ZAYD PUN GAGAL KE MALANG

Ditulis oleh Adian Husaini

sumber http://www.insistnet.com

Setelah ditolak umat Islam Riau, Nasr Hamid Abu Zayd akhirnya gagal juga hadir dalam Konferensi
Internasional di Unisma (Unversitas Islam Malang), 27-29 November 2007. Padahal, seperti disebutkan
dalam siaran pers MUI Riau, kehadiran Abu Zayd di Malang sudah diinformasikan oleh Direktur
Perguruan Tinggi Departemen Agama, Prof. Dr. Abdurrahman Masud saat acara pembukaan Konferensi

Studi Islam Tahunan (Annual Conference on Islamic Studies/ACIS) VII di Pekanbaru, 21 November 2007
lalu.

Media massa kemudian memberitakan bahwa Abu Zayd gagal datang ke Malang setelah Menteri Agama
turun tangan meminta agar kehadirannya dibatalkan. Menurut informasi yang diungkap di media,
Abdurrahman Masud menyatakan, Menag melakukan tindakan tersebut karena mendapat tekanan dari
berbagai kalangan umat Islam. Kabarnya Abu Zayd mendapatkan pemberitahuan pembatalan itu setelah
dia sampai di Surabaya, sehingga kembali lagi ke Jakarta. Setelah itu, muncul berbagai protes atas
peristiwa yang menimpa Abu Zayd tersebut. Seolah-olah Abu Zayd telah mendapatkan perlakuan yang
tidak semestinya.

Melihat kasus ini, kita perlu mendudukkannya secara jernih dan tidak hanya melihat peristiwa ini
diujungnya semata, dengan menuduh Menteri Agama dan kaum Muslimin berlaku otoriter. Pertama,
sejak semula, bisa dilihat, rencana kehadiran Abu Zayd – baik disadari atau tidak — adalah sebuah
konspirasi untuk merusak pemikiran Islam di Indonesia dengan menyebarkan paham-paham liberal.
Kehadirannya bukan untuk mendiskusikan sebuah wacana pemikiran Islam yang sehat. Dalam acara
yang dibiayai oleh uang umat, seperti ACIS, Abu Zayd sengaja diundang, tanpa ada pembanding lain
yang diundang juga, semisal Prof. Shabur Sahin, Prof. Rifaat Fauzi, Dr. Muhammad Imarah, dan Prof.
Baltaji.

Jauh sebelum kasus Abu Zayd ini mencuat, tahun 2004, INSISTS telah menerbitkan majalah ISLAMIA
yang edisi perdananya mengupas masalah hermeneutika. Pada edisi kedua pun, pemikiran Abu Zayd
telah dikupas secara khusus. Tahun 2006, saat tim INSISTS ke Kairo, menyempatkan membeli banyak
buku Abu Zayd. Peneliti INSISTS, Henri Shalahudin, kemudian menerbitkan buku berjudul ”Al-Quran
Dihujat” yang mengritik secara tajam pemikiran-pemikiran Abu Zayd.

Karena itu, jika ingin melakukan diskusi yang sehat dan serius dan berniat sungguh-sungguh untuk
mengembangkan studi Al-Quran di Indonesia, sebaiknya Abu Zayd diundang dalam forum terbatas yang
dihadapi para ulama dan ahli-ahli Al-Quran di Indonesia. Sebelumnya, buku-buku Abu Zayd dibagikan
kepada para ahli bersama buku-buku para pengkritiknya. Inilah bentuk diskusi yang sehat. Tetapi,
sayangnya, pihak panitia ACIS tidak melakukan hal semacam itu. Mereka hanya menyediakan panggung
untuk sosialisasi pemikiran dan legitimasi Abu Zayd.

Apalagi, murid kesayangan Abu Zayd, Dr. Nurcholish Setiawan juga sudah mendapatkan posisi terhormat
sebagai anggota Tim Tafsir Tematik Departemen Agama RI. Seperti dalam siaran pers MUI Riau, buku

Nurcholish Setiawan pun dibagi-bagikan secara gratis kepada seluruh peserta ACIS VII di Riau. Dari
proses ini kita melihat, gerakan Abu Zayd dan pengikut-pengikutnya di Indonesia memang bukan
sekedar gerakan pemikiran, tetapi sudah merupakan konspirasi untuk menanamkan pengaruhnya di
bumi Indonesia. Ironisnya, gerakan perusakan pemikiran Islam ini justru dilakukan oleh orang-orang
yang semestinya bertanggung jawab dalam pengembangan studi Islam di Indonesia, baik sejumlah
dosen UIN/IAIN maupun oknum-oknum pejabat Departemen Agama.

Kedua, dalam kasus Abu Zayd ini, tampak jelas sikap inkonsisten kaum liberal di Indonesia yang
menggunakan kekuasaan untuk menanamkan dan menyebarkan pemikiran liberal. Perlu kita catat,
bahwa salah satu ide favorit kaum liberal adalah gagasan tentang negara sekular. Yakni, agar negara
tidak turut campur tangan dalam urusan agama. Kata mereka, negara harus netral dari campur tangan
terhadap agama. Karena itulah, mereka sangat getol menolak penerapan syariat Islam oleh negara.
Mereka juga rajin menyuarakan agar MUI dan Pakem Kejaksaan Agung dibubarkan, karena – kata
mereka — negara tidak berhak mencampuri urusan keyakinan masyarakatnya. Belum lama ini, UIN
Jakarta dan Direktur Pasca Sarjananya, Prof. Azyumardi Azra, juga aktif menyebarkan pemikiran
Abdullahi Ahmed an-Naim yang mempromosikan gagasan negara sekular.

Tetapi, lihatlah dalam kasus ACIS dan kedatangan Abu Zayd. Kita melihat justru kaum liberal
memanfaatkan peran negara – dalam hal ini birokrasi Departemen Agama – untuk menyebarkan paham
mereka. Jadi, ketika mereka memegang kekuasaan, maka ternyata kekuasaan itu mereka gunakan
semaksimal mungkin untuk misi dan kepentingan mereka. Padahal, dalam konsep negara sekular,
keberadaan Departemen Agama itu sendiri sebenarnya mereka anggap sebagai sebuah anomali. Di
sinilah kita melihat betapa paradoksnya cara berpikir kaum liberal. Pada satu sisi mereka gencar
mempromosikan negara sekular, tetapi ketika ada peluang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan
dan misi mereka, maka mereka gunakan hal itu sebaik-baiknya. Kasus semacam ini juga terjadi pada
kelompok feminis ketika menggulirkan Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam yang dimotori
Musdah Mulia dan kawan-kawan. Mereka pun menggunakan kendaraan Departemen Agama untuk
memuluskan misinya.

Logika seperti ini tak beda dengan logika pemerintah AS yang aktif mencegah negara-negara tertentu
untuk mempunyai senjata nuklir dan senjata pemusnah massal, sementara AS dan negara-negara
sekutunya justru menimbun senjata nuklir. Logika meraka sederhana. Karena AS dan sekutunya
menganggap merekalah jenis makhluk yang baik sehingga mereka yang berhak memiliki senjata itu.
Sedangkan negara-negara lain yang tidak sejalan, dicap sebagai poros jahat (axis of evil) yang tidak
berhak memiliki senjata seperti itu.

Ketiga, pemikiran yang dibawakan oleh Abu Zayd juga bukan ”pemikiran biasa”, karena sudah
menyentuh aspek yang sangat mendasar dalam Al-Quran, yaitu masalah sifat dan karakter Al-Quran
sebagai wahyu suci dari Allah beserta metode penafsirannya. Dengan pendapatnya, bahwa Al-Quran
adalah produk budaya Arab, maka Abu Zayd pun mengunci makna Al-Quran dalam konteks sejarah
tertentu. Ini berakibat, ajaran-ajaran Islam juga dipandang sebagai bagian dari produk sejarah dan
budaya Arab, pada waktu tertentu sehingga tidak mengikat manusia-manusia di tempat dan zaman yang
lain.

Dalam bukunya, Voice of an Exile, Abu Zayd menulis: “When we take the historical aspect of that
communication as divine, we lock God’s Word in time and space. We limit the meaning of the Qur’an to
a specific time in history.” (Jika kita memandang aspek sejarah dalam proses komunikasi itu sebagai hal
yang suci, maka kita telah mengunci kata-kata Tuhan dalam waktu dan ruang. Kita membatasi makna Al-
Quran pada kurun eaktu tertentu dalam sejarah).

Bagi Abu Zayd, teks Al-Quran harus didekati secara historis-ilmiah, menurut pemahaman si penafsirnya.
Maka bagi Abu Zayd, teks bukan lagi milik pengarangnya, tapi sudah menjadi milik pembacanya. Sebagai
pembaca yang menjadi hakim dalam memaknai teks, Abu Zayd menganjurkan untuk mengunci firman
Tuhan dalam ruang dan waktu. Kemudian membatasi makna Al-Quran menurut zaman tertentu dalam
sejarah

Dengan menggunakan metode kritik sejarah itu, maka menurut Abu Zayd dan kawan-kawan, pembaca
dapat memahami teks secara ilmiah dan tidak terpasung oleh pandangan dogmatis-sektarian (madzhab
minded), atau pandangan ideologis (iman-kufur). Karya-karya Abu Zayd memang aktif mendekonstruksi
konsep-konsep dasar tentang Al-Quran dan penafsirannya. Karena itu ia rajin mencerca para ulama
seperti Imam Syafii dan sebagainya. Kini, dia terlibat dalam proyek riset tentang hermeneutika Yahudi
dan Islam sebagai kritik budaya dan bekerja pada tim “Islam dan Modernitas” di Institute of Advanced
Studies of Berlin (Wissenschaftskolleg zu Berlin).

Abu Zayd bisa dikatakan sebagai salah satu korban dari paham rasionalisme Barat yang menjadikan
indera dan akal sebagai penentu segala sesuatu, dan bukan wahyu. Jika kita mengikuti perkembangan
empirisisme dan rasionalisme di Barat, maka kita akan memahami bagaimana para pemikir Barat mulai
meninggalkan ajaran-ajaran Bibel dengan cara mendesakralisasikan Bibel dan meletakkan interpretasi
Bibel dalam konteks sejarah tertentu.

Dalam buku barunya, The Bible, (New York: Atlantic Monthly Press, 2007) Karen Armstrong
memaparkan kronologis muncul dan berkembangnya penggunaan ”metode kritik sejarah” (historical-
critical method) dalam interpretasi Bibel. Tokoh yang pertama menggunakan metode ini adalah seorang
cendekiawan Yahudi bernama Baruch Spinoza (1632-1677). Kata Armstrong: ”He had become the
pioneer of the historical-critical method that would later be called the Higher Criticism of the Bible.”

Perkembangan metode ini di Barat tidak lepas dari tren empirisisme dan rasionalisme di Barat yang
secara tegas meminggirkan Bibel. Francis Bacon (1561-1626), misalnya, menyatakan, bahwa doktrin suci
harus tunduk kepada metode sains empiris. Jika kepercayaan-kepercayaan itu bertentangan dengan
panca indera, maka harus ditinggalkan. (Even the most sacred doctrines must be subjected to the
stringent methods of empirical sciences. If these beliefs contradicted the evidence of our senses, they
had to go.).

Rene Descartes (1596-1650) secara tegas menolak Bibel dan mengajak manusia untuk percaya kepada
akal semata. Kata dia: “There was no need for revealed scripture, since reason provided us with ample
infomation about God.” Upaya menundukkan agama dalam nilai-nilai modernitas Barat kemudian juga
dilakukan oleh cendekiawan Yahudi bernama Moses Mendelssohn (1729-86) yang membentuk
‘Haskalah’, suatu gerakan pencerahan Yahudi yang berupaya menundukkan agama Yahudi ke dalam
konteks modernitas Barat. Menurut Armstrong, semangat gerakan pencerahan (Enlightenment) di Barat
telah mendorong semakin banyak sarjana untuk mengkaji Bibel secara kritis. Selanjutnya, kata
Armstrong, pada akhir abad ke-18, sarjana-sarjana Jerman mulai mengembangkan metode kritik-sejarah
dalam studi Bibel.

Gerakan rasionalisme ini kemudian melahirkan aliran Kristen Liberal yang dimotori oleh Bapak
hermeneutika Modern, Friedrich Schleirmacher (1768-1834). Karen Armstrong meresume pandangan
Schleirmacher terhadap Bibel sebagai berikut: Bahwa Bibel adalah sangat penting bagi kehidupan kaum
Kristen, karena ia adalah satu-satunya sumber informasi tentang Yesus. Tapi, karena penulis-penulis
Bibel terkondisi dalam lingkungan sejarah dimana mereka hidup, maka adalah sah-sah saja untuk
mengkritisi dengan cermat karya mereka.

Schleirmacher mengakui bahwa kehidupan Yesus adalah wahyu suci, tetapi para penulis Bibel adalah
manusia biasa yang bisa salah dan bisa terjebak dalam dosa. Karena itulah, mereka mungkin saja
berbuat kesalahan. Karena itulah, menurut Schleirmacher, tugas para sarjana Bibel adalah membuang
aspek-aspek kultural dari Bibel dan menemukan intisarinya yang bersifat abadi. Tidak setiap kata dalam
Bibel adalah otoritatif, karena itu, kata Schleirmacher, seorang penafsir harus mampu membedakan
mana ide-ide yang marginal dan ide inti dalam Bibel.

(Scipture was essential to the Christian life because it provided us with our only access to Jesus. But
because its authors were conditioned by the historical circumstances in which they lived, it was
legitimate to subject their testimony to critical scrutiny. The life of Jesus had been a divine revelation,
but the writers who recorded it were ordinary human beings, subject to sin and error. It was quite
possible that thay had mistakes… The scholar’s task was to peel away its cultural shell to reveal the
timeless kernel within. Not every word of scripture was authoritative, so the exegete must distinguish
marginal ideas from the gospel’s main thrust).

Jika kita menyimak ide-ide dan metodologi penafsiran kaum liberal Yahudi dan Kristen, tidaklah sulit
untuk menemukan bentuk keterpengaruhan Abu Zayd dan para hermeneut lainnya oleh pemikir Yahudi-
Kristen tersebut. Kekeliruan yang mendasar dari orang-orang ini adalah mereka menyamakan kondisi
dan karakter teks Al-Quran dengan Bibel. Padahal, Al-Quran tidak ada pengarangnya. Al-Quran bukanlah
teks sejarah (nasshun tarikhiyyun) atau teks manusia (nasshun insaniyyun), tetapi teks wahyu (nasshun
ilahiyyun). Karena itu, teks Al-Quran bersifat final dan universal.

Dengan sifatnya seperti itu, hukum-hukum Al-Quran bersifat abadi, melintasi zaman, tempat, dan
budaya. Dalam Islam, babi hukumnya haram. Di mana pun, kapan pun, dan dalam budaya apa pun, babi
tetap haram. Begitu juga hukum zina, riba, khamr, pornografi, kawin sesama jenis, dan sebagainya. Islam
tidak tunduk kepada sejarah dan budaya, karena sifat teks Al-Quran adalah final dan universal. Islam
juga agama fithri, yang ajaran-ajarannya sesuai dengan fitrah manusia, di mana pun dan kapan pun.

Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi orang-orang Barat yang memeluk agama Yahudi dan Kristen. Mereka
akan sangat kesulitan jika harus menerapkan hukum-hukum Bibel. Karena itulah, mereka kemudian
menolak hukum Bibel soal babi, riba, zina, homoseksual, dan sebagainya. Salah satu cara untuk
membuang hukum-hukum itu – agar tampak elegan dan ilmiah – adalah dengan membuat-buat metode
interpretasi ’historical-critical method’. Dengan cara itu, mereka beralasan, bahwa hukum-hukum itu
hanya berlaku untuk zaman dan masyarakat tertentu, bukan untuk zaman modern.

Itulah cara kaum Liberal Yahudi dan Kristen untuk memahami dan menyesuaikan agama mereka dengan
modernitas. Itu pula yang dilakukan oleh Abu Zayd dan pengikut-pengikutnya dalam meliberalkan Islam.
Bisa dipahami mengapa mereka mendapat sokongan dana dan publikasi besar dari negara-negara dan
LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation dan sebagainya. Segala daya upaya dan tipu daya telah
mereka kerahkan untuk merusak Islam. Selain melalui pemikiran-pemikiran yang menggelincirkan,
mereka juga membagi-bagi dana besar kepada orang-orang atau lembaga-lembaga yang mau mengikuti
’millah’ mereka.

Kita tak bosan-bosannya mengimbau agar para sarjana agama — khususnya yang sedang dididik di
pusat-pusat studi Islam di Barat — agar berhati-hati dalam mengambil pemikiran yang dijejalkan oleh
dosen-dosen mereka. Kekeliruan bisa terjadi karena dua hal: kebodohan dan hawa nafsu. Jika karena
kebodohan semata, tidaklah sulit untuk menyadarkan. Cukup diberitahu, biasanya mereka sudah sadar
kembali. Tetapi, jika kekeliruan atau kesesatan itu sudah terkait dengan hawa nafsu – gila harta, tahta,
wanita – maka semua informasi dan nasehat tidak akan akan gunanya. Sebab, mata, hati, dan telinga
mereka sudah tertutup untuk kebenaran. (QS 45:23).

Terakhir, kita renungkan sabda Rasulullah saw: ”Jaahidul musyrikiina bi-amwalikum wa anfusikum wa
alsinatikum. (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lidahmu). Wallahu
a’lam. [Kuala Lumpur, 30 November 2007/www.hidayatullah.com]

Liberalisasi Islam di Indonesia

Adian Husaini, M.A

sumber http://www.alislamu.com

Ide sekularisasi Islam di Indonesia pertama kali digulirkan oleh Nurcholish Madjid pada 3 Januari 1970.
Idenya itu diadopsi dari pemikiran Harvey Cox dengan bukunya yang terkenal berjudul The Secular City.
Nurcholish mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah bagaikan membuka sebuah
kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul
dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini. Harvey Cox menyebutkan bahwa
sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah. Menurut Cox, ada tiga
komponen penting dalam Bible yang menjadi kerangka asas sekularisasi, yaitu ‘disenchantment of
nature’ yang dikaitkan dengan penciptaan (creation), ‘desacralization of politics’ dengan migrasi besar-
besaran (exodus) kaum Yahudi dari Mesir, dan ‘deconsecration of values’ dengan Perjanjian Sinai.
(Harvey Cox, The Secular: Secularization and Urbanization in Theological Perspective [New York: The
Macmillan Company, 1967], hlm. 19-32).

Jadi, kata Cox, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan
perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju ke ‘dunia kini’. Karena sudah menjadi suatu keharusan, kata Cox,
kaum Kristen tidak seyogyanya menolak sekularisasi. Sebab, sekularisasi merupakan konsekuensi
autentik dari kepercayaan Bible. Maka, tugas kaum Kristen adalah menyokong dan memelihara

sekularisasi. (Harvey Cox, The Secular: Secularization and Urbanization in Theological Perspective [New
York: The Macmillan Company, 1967], hlm. 15).

Edisi pertama Buku The Secular City dicetak pada tahun 1965. Buku Cox ini mencetuskan cause celebre
agama di luar jangkauan pengarang dan penerbitnya sendiri. Buku ini merupakan best seller di Amerika
dengan lebih 200 ribu naskah terjual dalam masa kurang dari setahun. Buku ini juga adalah karya utama
yang menarik perhatian masyarakat kepada isu sekularisasi.

Pengaruh buku ini ternyata juga melintasi batas negara dan agama. Di Yogyakarta, sekelompok aktivis
yang tergabung dalam Lingkaran Diskusi Limited Group di bawah bimbingan Mukti Ali sangat
terpengaruh oleh buku tersebut. Di antara sejumlah aktivis dalam diskusi itu adalah Dawam Rahardjo,
Djohan Effedi, dan Ahmad Wahib. (Lihat Karel Steenbrink, “Patterns of Muslim-Christian Dialogue in
Indonesia 1965-1998”, dalam Jacques Waardenburg, Muslim-Christian Perceptions of Dialogue Today
[Leuven: Peeters, 2000], hlm. 85). Tetapi, gagasan Cox ketika itu belum terlalu berkembang. Ahmad
Wahib hanya menulis catatan harian, yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku selepas
meninggalnya. Djohan Effendi pun tidak terlalu kuat pengaruhnya.

Pengaruh Cox baru tampak jelas di Indonesia pada pemikiran Nurcholish Madjid, yang ketika itu menjadi
ketua umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Dan pada tanggal 12 Januari 1970
Nurcholish Madjid secara resmi meluncurkan gagasan sekularisasinya dalam diskusi di Markas PB Pelajar
Islam Indonesia (PII) di Jalan Menteng Raya 58. Ketika itu Nurcholish meluncurkan makalah berjudul
“Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Dua puluh tahun kemudian,
gagasan itu kemudian diperkuat lagi dengan pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 21
Oktober 1992 dengan judul “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”.

Kini setelah 30 tahun berlangsung, arus sekularisasi dan liberalisasi itu semakin sulit dikendalikan, dan
berjalan semakin liar. Arus itu merambah ke berbagai sisi kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan
bahkan pemikiran keagamaan. Penyebaran paham “pluralisme agama”, “dekonstruksi agama”,
“dekonstruksi kitab suci”, dan sebagainya kini justru berpusat di kampus-kampus dan organisasi-
organisasi Islam–sebuah fenomena yang ‘khas Indonesia’. Paham-paham ini menusuk jantung Islam dan
berusaha merobohkan Islam dari pondasinya yang paling dasar.

Dari Tradisi Yahudi dan Kristen

Agama Yahudi telah lama mengalami liberalisasi, sehingga saat ini Liberal Judaism (Yahudi Liberal)
secara resmi masuk dalam salah satu aliran dalam agama Yahudi. Perkembangan liberalisasi dalam
agama Kristen juga sangat jauh. Bahkan, agama Kristen bisa dikatakan sebagai salah satu “korban”
liberalisasi dari peradaban Barat.

Agama Kristen mulai bersinar di Eropa ketika pada tahun 313, Kaisar Konstantin mengeluarkan surat
perintah (Edik) yang isinya memberi kebebasan warga Romawi untuk memeluk agama Kristen. Tahun
380 Kristen dijadikan sebagai agama negara oleh Kaisar Theodosius. Menurut Edik Theodosius, semua
warga negara Romawi diwajibkan menjadi anggota gereja Katolik. Agama-agama di luar itu dilarang.
Bahkan, sekte-sekte Kristen di luar “gereja resmi” pun dilarang. Dengan berbagai keistimewaan yang
dinikmatinya, Kristen kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Akan tetapi, Kristen tergerus arus yang tak dapat dihindarinya, yaitu sekularisasi dan liberalisasi. Jika
dicermati lebih jauh, perekembangan gereja-gereja di Eropa kini sudah memprihatinkan. Seorang aktivis
Kristen asal Bandung memaparkan dengan jelas kehancuran gereja-gereja di Eropa dalam bukunya yang
berjudul Gereja Modern, Mau ke Mana? (1995). Kristen benar-benar kelabakan dihantam nilai-nilai
sekularisme, modernisme, liberalisme, dan ‘klenikisme’.

Di Amsterdam, misalnya, 200 tahun lalu 99% penduduknya beragama Kristen. Kini tinggal 10% saja yang
dibaptis dan ke gereja. Mayoritas dmereka sudah sekuler. Di Perancis yang 95% penduduknya tercatat
beragama Katolik, hanya 13%-nya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Di Jerman
pata tahun 1987, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya
mengatakan bahwa agama sudah tidak diperlukan lagi. Di Finlandia, yang 97% Kristen, hanya 3% yang
pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90% Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada
dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3% yang rutin ke gereja tiap minggu.

Masyarakat Kristen Eropa juga tergila-gila pada paranormal, mengalahkan kepercayaan mereka pada
pendeta atau imam Katolik. Di Jerman Barat–sebelum bersatu dengan Jerman Timur–terdapat 30.000
pendeta. Tetapi, jumlah paranormal (witchcraft) mencapai 90.000 orang. Di Perancis terdapat 26.000
imam Katolik, tetapi jumlah peramal bintang (astrolog) yang terdaftar mencapai 40.000 orang.

Di sejumlah gereja, arus liberalisasi mulai melanda. Misalnya, gereja mulai menerima praktik-praktik
homoseksualitas. Eric James, seorang pejabat gereja Inggris, dalam bukunya berjudul Homosexuality and
a Pastoral Church, mengimbau agar gereja memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan
mengizinkan perkawinan homoseksual antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita.

Sejumlah negara Barat telah melakukan “revolusi jingga”, karena secara resmi telah mengesahkan
perkawinan sejenis. Di berbagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai
kejahatan, begitu juga praktik-praktik perzinaan, minuman keras, pornografi, dan sebagainya. Barat
tidak mengenal sistem dan standar nilai (baik-buruk) yang pasti. Semua serba relatif: diserahkan kepada
“kesepakatan” dan “kepantasan” umum yang berlaku.

Maka, orang berzina, menenggak alkohol, mempertontonkan aurat, dan sejenisnya bukanlah dipandang
sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat menganggapnya jahat. Homoseksual dianggap baik dan
disahkan oleh negara. Bahkan, para pastor gereja Anglikan di New Hampshire AS telah sepakat
mengangkat seorang uskup homoseks bernama Gene Robinson pada November 2003. Kaum Kristen
yang homo itu merombak ajaran Kristen, terutama mengubah tafsir lama yang masih melarang tindakan
homoseksual.

Progam Liberalisasi Islam

Secara sistematis, liberalisasi Islam di Indonesia sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an. Secara
umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi: (1) liberalisasi
bidang aqidah, dengan penyebaran pluralisme agama, (2) liberalisasi bidang syariah, dengan melakukan
perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu, dengan melakukan dekonstruksi
terhadap Al-Qur’an.

Dr. Greg Barton, dalam disertasinya di Monash University, Australia, memberikan sejumlah program
Islam Liberal di Indonesia, yaitu (1) pentingnya konstektualisasi ijtihad, (2) komitmen terhadap
rasionalitas dan pembaruan, (3) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama,
(4) pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara. (Tahun 1999 disertasi
Greg Barton diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Paramadina dengan judul Gagasan
Islam Liberal di Indonesia [1999: xxi]).

Dari disertasi Barton tersebut dapat diketahui bahwa memang ada strategi dan program yang sistematis
dan metodologis dalam liberalisasi Islam di Indonesia. Penyebaran paham Pluralisme Agama–yang jelas-
jelas merupakan paham syirik modern–dilakukan dengan cara yang sangat masif, melalui berbagai
saluran, dan dukungan dana yang luar biasa. Dari program tersebut, ada tiga aspek liberalisasi Islam
yang sedang gencar-gencarnya dilakukan di Indonesia.

1. Liberalisasi Aqidah Islam Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham Pluralisme
Agama. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan
yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju
Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang
mutlak, sehingga karena kerelatifannya, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini
bahwa agamanya sendiri yang lebih benar dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya
sendiri yang benar.

Di Indonesia, penyebaran paham ini sudah sangat meluas, dilakukan oleh para tokoh, cendekiawan, dan
para pengasong ide-ide liberal. Berikut ini pernyataan-pernyataan mereka.

1. Ulil Abshar Abdalla

Ia mengatakan, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling
benar.” (Majalah Gatra, 21 Desember 2002). Ia juga mengatakan, “Larangan beda agama, dalam hal ini
antara perempuan Islam denan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” (Kompas, 18/11/2002).

2. Budhy Munawar Rahman

Ia mempromosikan teologi pluralis sebagai berikut. “Konsep teologi semacam ini memberikan legitimasi
kepada kebenaran semua agama, bahwa pemeluk agama apa pun layak disebut sebagai ‘orang yang
beriman’, dengan makna ‘orang yang percaya dan menrauh percaya kepada Tuhan’. Karena itu, sesuai
QS 49: 10-12, mereka semua adalah bersaudara dalam iman.” Budhy menyimpulkan, “Karenanya, yang
diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antar-agama yakni pandangan bahwa
siapa pun yang beriman–tanpa harus melihat agamanya apa–adalah sama di hadapan Allah. Karenanya,
Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.” (Lihat artikel Budhy Munawar Rahman berjudul “Basis
Teologi Persaudaraan antar-Agama”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia [Jakarta: JIL, 2002],
hlm. 51-53).

3. Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan (dosen UIN Yogyakarta)

Ia berpendapat, “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang
satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki
kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan,
penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua

agama. Dari sini kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan,
Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar [Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002], hlm. 44).

4. Prof. Dr. Nurcholish Madjid

Ia menulis, “Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan
merentangkan tafsirnya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan
banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan
mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang
sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama.” (Lihat
buku Tiga Agama Satu Tuhan [Bandung: Mizan, 1999], hlm. xix).

5. Dr. Alwi Shihab

Ia menulis, “Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang
berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, denan begitu, layak memperoleh pahala dari
Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai Pluralisme keAgamanaan dan menolak
eksklusivisme. Dalam pengertian lain, eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-
Qur’an. Sebab, Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya.” (Alwi
Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama [Bandung: Mizan, 1997], hlm. 108-109).

6. Sukidi (alumnus Fakultas Syariah IAIN Ciputat yang sangat aktif menyebarkan paham Pluralisme
Agama)

Ia menulis di koran Jawa Pos (11/1/2004), “Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths)
dalam tradisi dan agama-agama. Nietzche menegasikan adanya kebenaran tunggal dan justru bersikap
afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa
semua agama–entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya–adalah
benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama.”

7. Dr. Luthfi Assyaukanie (dosen Universitas Paramadina)

Ia menulis, “Seorang fideis Muslim, misalnya, bisa merasa dekat kepada Allah tanpa melewati jalur
shalat karena ia bisa melakukannya lewat meditasi atau ritus-ritus lain yang biasa dilakukan dalam
persemedian spiritual. Dengan demikian, pengalaman keagamaan hampir sepenuhnya independen dari
aturan-aturan formal agama. Pada gilirannya, perangkap dan konsep-konsep agama seperti kitab suci,
nabi, malaikat, dan lain-lain tak terlalu penting lagi karena yang lebih penting adalah bagaimana

seseorang bisa menikmati spiritualitas dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa
batas itu.” (Kompas, 3/9/2005).

8. Nuryamin Aini (dosen Fak. Syariah UIN Jakarta)

Ia menulis, “Tapi ketika saya mengatakan agama saya benar, saya tidak punya hak untuk mengatakan
bahwa agama orang lain salah, apalagi kemudian menyalah-nyalahkan atau memaki-maki.” (Lihat buku
Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 223).

Yang perlu diperhatikan oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam, adalah bahwa
hampir seluruh LSM dan proyek yang dibiayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford
Fondation, adalah mereka-mereka yang bergerak dalam penyebaran paham Pluralisme Agama. Itu
misalnya bisa dilihat dalam artikel-artikel yang diterbitkan oleh Jurnal Tashwirul Afkar (diterbitkan oleh
Lakpesdam NU dan The Asia Foundation), dan Jurnal Tanwir (diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan
Peradaban Muhammadiyah dan The Asia Foundation). Mereka bukan saja menyebarkan paham ini
secara asongan, tetapi memiliki program yang sistematis untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam
yang saat ini masih mereka anggap belum inklusif-pluralis.

Sebagai contoh, Jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 11, tahun 2001, menampilkan laporan utama berjudul
“Menuju Pendidikan Islam Pluralis”. Ditulis dalam jurnal ini sebagai berikut.

“Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima
kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir,
muslim-nonmuslim, dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpenaruh terhadap cara pandang Islam
terhadap agama lain mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama
yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Jika cara pandangnya bersifat eksklusif dan intoleran, maka
teologi yang diterima adalah teologi eksklusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merusak
harmonisasi agama-agama, dan sikap tidak menghargai kebenaran agama lain. Kegagalan dalam
mengembangkan semangat toleransi dan pluralisme agama dalam pendidikan Islam akan
membangkitkan sayap radikal Islam.” (Khamami Zada, Membebaskan Pendidikan Islam: Dari
Eksklusivisme Menuju Inklusivisme dan Pluralisme, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi no. 11, tahun 2001).

Di jurnal ini juga, Rektor UIN Yogyakarta, Prof. Dr. Amin Abdullah menulis, “Pendidikan agama semata-
mata menekankan keselamatan individu dan kelompoknya sendiri menjadikan anak didik kurang begitu
sensitif atau kurang begitu peka terhadap nasib, penderitaan, kesulitan yang dialami oleh sesama, yang

kebetulan memeluk agama lain. Hal demikian bisa saja terjadi oleh karena adanya keyakinan yang
tertanam kuat bahwa orang atau kelompok yang tidak seiman atau tidak seagama adalah “lawan”
secara aqidah.” (M. Amin Abdullah, “Pengajaran Kalam dan Teknologi di Era Kemajemukan: Sebuah
Tinjauan Materi dan Metode Pendidikan Agama”, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi no. 11, tahun 2001).

Relativisme Kebenaran

Paham Pluralisme Agama berakar pada paham relativisme akal dan relativisme iman. Banyak
cendekiawan yang sudah termakan paham ini dan ikut-ikutan menjadi agen penyebar paham relativisme
ini, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam. Paham relativisme akal dan relativisme iman
merupakan virus ganas yang berpotensi menggerogoti daya tahan keimanan seseorang. Dengan paham
ini, seseorang menjadi tidak yakin dengan kebenaran agamanya sendiri. Dari paham ini, lahirlah sikap
keragu-raguan dalam meyakini kebenaran. Jika seseorang sudah kehilangan keyakinan dalam hidupnya,
hidupnya akan terus diombang-ambingkan dengan berbagai ketidakpastian.

Akar dari nilai-nilai ini adalah paham Sofisme pada zaman Yunani kuno, yang kemudian dikembangkan
dalam sistem pendidikan di Barat. Itu bisa dimengerti karena peradaban Barat adalah peradaban tanpa
wahyu. Sehingga, berbagai peraturan yang mereka hasilkan tidak berlandaskan pada wahyu Allah, tetapi
pada kesepakatan akal manusia. Karena itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif, dan fleksibel. Bisa berubah
setiap saat, tergantung kesepakatan dan kemauan manusia.

Mereka yang hidup dalam alam pikiran liberal dan kenisbian nilai akan senantiasa mengalami
kegelisahan hidup dan ketidaktenangan jiwa. Mereka pada hakikatnya berada dalam kegelapan, jauh
dari cahaya kebenaran. Karena itu, mereka akan senantiasa mengejar bayangan kebahagiaan,
fatamorgana, melalui berbagai bentuk kepuasan fisik dan jasmaniah, ibarat meminum air laut yang tidak
pernah menghilangkan rasa haus.

Lihatlah kehidupan manusia-manusia jenis ini. Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga
mereka; cermatilah teman-teman dekat mereka; (tambahan: perhatikan akhir hayat mereka). Tidak ada
kebahagiaan yang abadi yang dapat mereka reguk, karena mereka sudah membuang jauh-jauh
keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki. Mereka tidak percaya lagi
kepada wahyu Tuhan, dan menjadikan akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Qur’an sudah
menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu ini: “Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang
telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan
ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan

Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka,
siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(Al-Jaatsiyah: 23).

Dalam pandangan Islam, paham Pluralisme Agama jelas-jelas merupakan paham syirik modern, karena
menganggap semua agama adalah benar. Padahal Allah SWT telah menegaskan bahwa hanya Islam
agama yang benar dan diterima Allah SWT. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah
Islam.” (Ali Imran: 19). “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).

Keyakinan akan kebenaran dinul Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah adalah
konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Karena itu, para cendekiawan dan ulama perlu menjadikan
penanggulangan paham syirik modern ini sebagai perjuangan utama, agar jangan sampai 10 tahun lagi
paham ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga akan lahir dosen-
dosen, guru-guru agama, khatib, atau kiyai yang mengajarkan paham persamaan agama ini kepada anak
didik dan masyarakat.

2. Liberalisasi Al-Qur’an

Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah
tema “dekonstruksi kitab suci”. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat.
Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni bidang ini
dan menulis satu buku berjudul Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testament.

Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” Al-Qur’an dan
mengarahkan hal yang sama terhadap Al-Qur’an. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen
asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan, “Sudah tiba saatnya
sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab
suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi Al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan
bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bible. Mereka berusaha keras untuk
meruntuhkan keyakinan kaum muslimin bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bahwa Al-Qur’an adalah
satu-satunya kitab suci yang bebas dari kesalahan.

Beratus-ratus tahun wacana itu hanya berkembang di lingkungan orientalis Yahudi dan Kristen. Tetapi,
saat ini suara-suara yang menghujat Al-Qur’an justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam.
Mereka menjiplak dan mengulang-ulang apa yang dahulu pernah disuarakan para orientalis.

Ulil Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal, menulis, “Tapi, bagi saya, all scriptures
are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.” (Jawa Pos, 11 Januari 2004).

Taufik Adnan Amal, dosen Ulumul Quran di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul “Edisi Kritis al-
Quran”, yang isinya menyatakan, “Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan
secara ringkas pemantapan teks dan bacaan Alquran, sembari menegaskan bahwa proses tersebut
masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan
bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan
menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan Edisi Kritis Alquran.” (Lihat
makalah Taufik Adnan Amal berjudul “Edisi Kritis al-Quran”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia
[Jakarta: JIL, 2002], hlm. 78).

Di dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu, hasil tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta
(Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang ditulis oleh Aksin Wijaya, ditulis secara terang-terangan
hujatan terhadap kitab suci Al-Qur’an. “Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya
dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian
pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru
yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani
dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dahulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara
dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan sbsolue, melainkan profan dan
fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam
proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada
beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Aksi Wijaya, Menggugat
Otentisitas Wahyu Tuhan [Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004], hlm. 123).

Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie, juga berusaha membongkar konsep Islam tentang Al-
Qur’an. Ia menulis: “Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa AlQuran dari halaman pertama
hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim,
baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran
yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu
empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-

angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formasilasi doktrin-
doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan AlQuran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai
nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan
rekayasa.” (Luthfi Assyaukani, “Merenungkan Sejarah Alquran”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad
Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 1).

Pada bagian lain buku terbitan JIL tersebut, ada juga yang menulis, bahwa ‘Al-Qur’an adalah perangkap
bangsa Quraisy’, seperti dinyatakan oleh Sumanta Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN
Semarang. Ia menulis: “Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan ‘perangkap
bangsa Arab’, dan Alquran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi ‘perangkap’ bangsa
Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring
kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku
Arab lain.” (Sumanto Al-Qurtubhy, “Membongkar Teks Ambigu”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed) Ijtihad
Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 17).

Jadi, di berbagai penerbitan mereka, kalangan liberal dan sejenisnya memang sangat aktif dalam
menyerang Al-Qur’an secara terang-terangan. Mereka sedang tidak sekadar berwacana, tetapi aktif
menyebarkan pemikiran yang destruktif terhadap Al-Qur’an. Itu bisa dilihat dalam buku-buku, artikel,
dan jurnal yang mereka terbitkan.

Cara yang lebih halus dan tampak akademis dalam meyerang Al-Qur’an juga dilakukan dengan
mengembangkan studi kritik Al-Qur’an dan studi hermeneutika di perguruan tinggi Islam. Di antara
tokoh-tokoh terkenal dalam studi ini adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd dan Mohammad Arkoun.
Buku-buku kedua tokoh ini sudah banyak diterjemahkan di Indonesia. Sekarang Kajian hermeneutika
sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di Program Studi
Tafsir Hadits UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal, metode ini jelas-jelas
berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap Al-Qur’an dan syariat Islam.

Kaum muslim perlu merenungkan masalah ini dengan serius. Jika Al-Qur’an dan ilmu tafsir Al-Qur’an
dirusak dan dihancurkan, apa lagi yang tersisa dari Islam?

3. Liberalisasi Syariat Islam

Inilah aspek yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam.
Hukum-hukum Islam yang sudah pasti dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan
perkembangan zaman. Seperti dijelaskan Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di
Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad”. Salah satu hukum yang banyak dijadikan objek liberalisasi
adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya
antara muslimah dengan laki-laki non-muslim.

Dalam sebuah tulisannya, Azyumardi Azra menjelaskan metode kontekstualisasi yang dilakukan oleh
gerakan pembaruan Islam di Indonesia, yang dipelopori Nurcholish Madjid: “Bila didekati secara
mendalam, dapat ditemui bahwa gerakan pembaruan yang terjadi sejak tahun tujuh puluhan memiliki
komitmen yang cukup kuat untuk melestarikan ‘tradisi’ (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis
dan sistematis …. Pemikiran para tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan
formulasi metodologi yang konsisten dan universal terhadap penafsiran Al-Qur’an; suatu penafsiran
yang rasional yang peka terhadap konteks kultural dan historis dari teks Kitab Suci dan konteks
masyarakat modern yang memerlukan bimbingannya.” (Lihat, Pengantar Azyumardi Azra untuk buku Dr.
Abd. A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal [Jakarta: Paramadina, 2003], hlm. xi).

Menjelaskan pendapat Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra menulis, ” Al-Qur’an menunjukkan bahwa
risalah Islam–disebabkan universalitasnya–adalah selalu sesuai dengan lingkungan kultural apa pun,
sebagaimana (pada saat turunnya) hal itu telah disesuaikan dengan kepentingan lingkungan
semenanjung Arab. Karna itu, Al-Qur’an harus selalu dikontekstualisasikan dengan lingkungan budaya
penganutnya, di mana dan kapan saja.”

Kontekstualisasi para pembaru agama Islam ala Nurcholish Madjid ini tidaklah sama dengan teori
asbabun nuzul yang dipahami oleh kaum muslimin selama ini dalam bidang ushul fiqih. Tetapi,
Azyumardi Azra memberikan legitimasi dan pujian berlebihan terhadap metode Nurcholish Madjid: “Cak
Nur berpegang kuat kepada Islam tradisi hampir secara keseluruhan, pada tingkat esoteris dan eksoteris.
Dengan sangat bagus dan distingtif, ia bukan sekadar berpijak pada aspek itu, namun ia juga
memberikan sejumlah pendekatan dan penafsiran baru terhadap tradisi Islam itu. Maka, hasilnya adalah
apresiasi yang cukup mendalam terhadap syariah atau fiqih dengan cara melakukan kontekstualisasi
fiqih dalam perkembangan zaman.” (Lihat, Pengantar Azyumardi Azra untuk buku Dr. Abd. A’la, Dari
Neomodernisme ke Islam Liberal [Jakarta: Paramadina, 2003], hlm. xii).

Apa yang dikatakan Azra sebagai bentuk apresiasi syariat atau fiqih yang mendalam oleh nurcholish
Madjid adalah sebuah pujian yang sama sekali tidak berdasar. Nurcholsih sama sekali tidak pernah
menulis tentang metodologi fiqih dan hanya melakukan dekonstruksi terhadap beberapa hukum Islam

yang tidak disetujuinya. Ia pun hanya mengikuti jejak gurunya, Fazlur Rahman, yang menggunakan
metode hermeneutika untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Karya kaum liberal di Paramadina dalam merombak hukum Islam lebih jelas lagi dengan keluarnya buku
Fiqih Lintas Agama, yang sama sekali tidak apresiatif terhadap syariat, bahkan merusak dan
menghancurkannya. Misalnya, dalam soal perkawinan antar-agama, buku Fiqih Lintas Agama tertulis:
“Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihad dan terikat
dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat
Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antara agama merupakan sesuatu yang terlarang.
Karena keududukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila
dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau
pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran
kepercayaannya.” (Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama [Jakarta: Paramadina & The Asia Foundation,
2004], hlm. 164).

Jadi, pendapat Azyumardi Azra tentang hebatnya kaum pembaru Islam yang dimotori Nurcholish Madjid
adalah sama sekali tidak terbukti. Sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat populer, Azra telah
melakukan kekeliruan besar dengan cara memberikan legitimasi berlebihan terhadap gerakan
pembaruan yang terbukti sangat destruktif terhadap khazanah pemikiran Islam. Dengan alasan
melakukan kontekstualisasi, maka kaum liberal melakukan penghancuran dan perombakan terhadap
hukum-hukum Islam yang sudah pasti (qath’iy), seperti hukum perkawinan muslimah dengan laki-laki
non-muslim.

Prof. Musdah Mulia, tokoh feminis, juga melakukan perombakan terhadap hukum perkawinan dengan
alasan kontekstualisasi. Ia menulis: “Jika kita memahami konteks waktu turunnya ayat itu (QS 60: 10,
pen), larangan ini sangat wajar mengingat kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya.
Waktu itu konteksnya adalah peperangan antara kaum Mukmin dan kaum kafir. Larangan
melanggengkan hubungan dimaksudkan agar dapat diidentifikasi secara jelas mana musuh dan mana
kawan. Karena itu, ayat ini harus dipahami secara kontekstual. Jika kondisi peperangan itu tidak ada lagi,
maka larangan dimaksud tercabut dengan sendirinya.” (Musdah Mulia, Muslimah Reformis [Bandung:
Mizan, 2005], hlm. 63).

Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat
hukum perkawinan antar-agama. Ia menulis: “Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fikih yang
mendasari larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim …. Isu yang
paling mendasar dari larangan PBA (Perkawinan Beda Agama, red) adalah masalah sosial politik. Hanya

saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya
larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.” (Lihat buku Ijtihad Islam
Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 220-221).

Entah kenapa, di Indonesia, yang mayoritas muslim, kaum liberal berusaha keras untuk menghancurkan
hukum perkawinan antar-agama ini, seolah-olah ada kebutuhan mendesak kaum muslim harus kawin
dengan non-muslim. Ulil Abshar Abdalla, di harian Kompas edisi 18 November 2002, juga menulis:
“Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah
tidak relevan lagi.” Bahkan, lebih maju lagi, Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, kini tercatat sebagai
‘penghulu swasta’ yang menikahkan puluhan–mungkin sekarang sudah ratusan–pasangan beda agama.

Padahal, perlu dicatat, larangan muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim sudah menjadi ijma’
(kesepakatan) para ulama dengan dalil-dalil yang sangat meyakinkan (seperti QS 60: 10). Memorandum
Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyatakan, “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua
belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah bagi setiap muslim, dan
kesatuan agama bagi setiap muslimat.”

Ketika hukum-hukum yang pasti dirombak, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem
nilai dan hukum Islam. Dari IAIN Yogyakarta muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku
memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut: “Pernikahan yang
dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong
sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim
yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang
melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat
hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan
perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki.
Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan
adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.” (Buku: Tuhan Izinkan Aku
Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7).

Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan homoseksual.
Mereka menerbitkan buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-
hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN
Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk
melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. “Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah (1)
mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas

oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum
homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya
bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam
menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan
konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU
Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (Lihat buku
Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual [Semarang:
Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005], hlm. 15).

Pada bagian penutup buku tersebut, anak-anak fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut menulis kata-
kata yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seorang muslim pun: “Hanya orang primitif saja
yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan
kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah
maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

Faktor Asing

Setelah Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap Islam. Pada
masa Perang Dingin, Komunisme dianggap sebagai musuh utama, sehingga Barat bersama-sama dengan
Islam menghadapi komunisme, seperti yang terjadi di Afghanistan. Tetapi, setelah komunis runtuh,
musuh bagi Barat berikutnya adalah Islam.

Karena Islam dipandang sebagai musuh atau ancaman potensial bagi Barat, maka berbagai daya upaya
dilakukan untuk ‘menjinakkan’ dan melemahkan Islam. Salah satu program yang kini dilakukan adalah
dengan melakukan proyek liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proyek
liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari ‘tiga cara’ pengokohan hegemoni Barat di
dunia Islam, yaitu melalui program kristenisasi, imperialisme modern, dan orientalisme.

David E. Kaplan menulis bahwa sekarang AS menggelontorkan dana puluhan juta dollar dalam rangka
kampanye untuk–bukan hanya mengubah masyarakat muslim–tetapi juga untuk mengubah Islam itu
sendiri. Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS
memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24
negara muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di
sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan

Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars,
http://www.usnews.com, 4-25-2005).

Salah satu LSM asing yang sangat aktif dalam menyebarkan paham liberalisme dan pluralisme agama di
Indonesia adalah The Asia Foundation. Untuk menanamkan paham dan nilai-nilai inklusif dan pluralis di
kalangan muslim Indonesia, TAF telah mendukung berbagai kelompok berbasis muslim sejak tahun
1970-an. The Asia Foundation saat ini mendukung lebih dari 30 LSM yang mempromosikan nilai-nilai
Islam yang dapat menjadi basis bagi sistem politik demokratis, nonkekerasan, dan toleransi beragama.
Dalam bidang pendidikan kewarganegaraan, HAM, rekonsiliasi antar-komunitas, kesetaraan gender, dan
dialog antar-agama, The Asia Foundation juga bekerja sama dengan LSM-LSM tersebut untuk
mempromosikan Islam sebagai katalisator demokratisasi di Indonesia. Program-program itu mencakup
training bagi pemuka agama, studi tentang isu-isu gender dan HAM dalam Islam, pusat-pusat advokasi
wanita, dan sebagainya. (http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html. Website The Asia
Foundation sampai dengan 24 Maret 2006, masih menulis tajuk pembukanya dengan kata-kata:
“REFORMASI PENDIDIKAN DAN ISLAM DI INDONESIA”).

Organisasi-organisasi di Indonesia yang diberikan pendanaan oleh The Asia Foundation di antaranya: 1.
Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit majalah Syir’ah). 2. Lembaga Studi Agama dan
Demokrasi (Elsad) (Pluralisme agama dan demokrasi). 3. Fahmina Institute (Pluralisme gender equality).
4. Indonesia Center for Civic Education (Demokrasi). 5. International Center for Islam Pluralism (ICIP)
(Pluralisme agama). 6. Indonesia Conference on Religion and Peace (Pluralisme agama). 7. Institut Arus
Informasi (ISAI) (Pluralisme dan jurnalisme). 8. Jaringan Islam Liberal (JIL) (Liberalisasi pemikiran). 9.
Paramadina (Pluralisme agama). 10. Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka) Padang (Demokrasi) 11. Pusat
Studi Wanita-UIN- (Gender equality). 12. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) (Gender equality).
13. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) (Penerbitan buku-buku pluralisme). 14. Lembaga
Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme agama, dekonstruksi syariah). 15.
Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme agama). 16. Dan puluhan LSM serta
organisasi sejenis lainnya.

Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam juga pernah diungkapkan oleh Menhan AS,
Donald Rumsfeld. “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam
yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru,
lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka.” (Harian
Republika, 3/12/2005).

Maka, dengan dukungan dana yang besar-besaran, AS dan sekutunya, serta kaki tangannya di Indonesia,
berupa LSM-LSM asing, kemudian melakukan program perubahan dan penghancuran pemikiran Islam
secara besar-besaran. Tetapi, sayangnya ada saja sebagian kalangan umat dan lembaga Islam yang
terpengaruh oleh iming-iming duniawi dari lembaga-lembaga asing yang sedang bergentayangan
mencari mangsa bersama para kaki tangannya di Indonesia.

Liberalisasi di Perguruan Tinggi Islam

Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan yang lainnya adalah pelopor liberalisasi Islam di organisasi
Islam dan masyarakat. Adapun Harun Nasution adalah pelopor liberalisasi Islam di kampus-kampus
Islam. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Jakarta, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan
sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. Ia mulai dari mengubah kurikulum IAIN.

Pada Agustus 1973 rektor IAIN se-Indonesia mengadakan rapat di Ciumbuluit Bandung. Hasil dari rapat
itu adalah Departemen Agama RI memutuskan buku karya Harun Nasution sebagai buku wajib rujukan
mata kuliah Pengantar Agama Islam. Buku kontroversial yang ditulis Harun itu berjudul Islam Ditinjau
dari Berbagai Aspeknya. Harun Nasution ketika itu mengakui tidak semua rektor menyetujuinya.
Sejumlah rektor senior menentang keputusan tersebut. Tetapi, entah mengapa keputusan itu tetap
dijalankan oleh pemerintah.

Pada tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan
rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi
terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’, Prof. Rasjidi menceritakan
isi suratnya: “Laporan Rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul
Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan
bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar
Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan
Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.” (HM Rasjidi,
Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’ [Jakarta: Bulan
Bintang, 1977], hlm. 13).

Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain
untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasihatnya tidak

diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka, tahun 1977 lahirlah buku
Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.

Nasihat Prof. Rasjidi sangat penting untuk direnungkan saat ini, mengingat buku Harun itu memang
penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara ilmiah maupun kebenaran Islam. Salah satu contoh
kesalahan fatal itu seperti berikut. Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama
dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam adalah
satu-satunya agama wahyu, yang berbeda dengan agama-agama lain. Agama-agama lain, selain Islam,
merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical and cultural religion). Harun menyebut agama-
agama monoteis–yang dia istilahkan juga sebagai ‘agama tauhid’–ada empat: Islam, Yahudi, Kristen, dan
Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam
rumpun ini. Harun menambahkan bahwa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi.
Adapun kemurnian tauhid agama Kristen dengan adanya paham Trinitas, sebagaimana diakui oleh ahli-
ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi. (Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau dari
Berbagai Aspeknya [Jakarta: UI Press, cet ke-6, 1986], Jilid I, hlm. 15-22).

Kesimpulan Harun bahwa agama Yahudi itu sebagai agama tauhid murni, seperti halnya agama Islam,
adalah kesimpulan yang ngawur dan tidak berdasar. Kalau Yahudi merupakan agama tauhid murni,
mengapa di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Yahudi itu kafir ahlul kitab? Kesimpulan Harun itu jelas
mengada-ada. Sejak lama Prof. Rasjidi sudah memberikan kritik keras bahwa uraian Dr. Harun yang
terselubung uraian ilmiah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam. Bahayanya
adalah memudarkan keimanan atau kayakinan seseorang terhadap kebenaran agama yang dipeluknya.

Namun anehnya, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN.
Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak
proporsional. Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis: “Karena itu, beliau diteladani oleh
para intelektual maupun generasi berikutnya. Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh
pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk tokoh sentral dalam menyemaikan ide
pembaruan bersama tokoh lainnya di Indonesia.Tokoh-tokoh elitis kaum pembaru dimaksud
diantaranya; Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Usep Fathudin, Djohan Effendi, Ahmad Wahid, M.
Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Syafii Ma’arif,
Muhammad Amien Rais dan Kuntowijoyo …. Harun sangat tepat disebut pemancang perubahan dalam
tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia.” (Abdul Halim (ed), Teologi Islam
Rasional [Ciputat Press, 2005], hlm. xvi-xvii).

Meskipun bukan bidangnya, Prof. Malik Fadjar juga ikut-ikutan memberikan pujian berlebihan dan tanpa
sikap kritis terhadap Harun Nasution: “Usaha dan kerja keras Harun Nasution dalam pengembangan
Islamic Studies di Indonesia patut dihargai. Harun seyogyanya dianugerahi sebagai tokoh Islamic Studies
di Inonesia.” (Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional [Ciputat Press, 2005], back cover).

Secara kualitas dan teknik penulisan ilmiah, buku Harun itu sebenarnya juga sudah perlu direvisi total.
Tetapi, sekali lagi, kesalahan yang fatal itu dibiarkan saja selama 30 tahun lebih. Jika buku yang
mengandung ‘virus pemikiran’ itu diajarkan secara terus-menerus, bisa dipahami, jika kerusakan yang
sudah semakin parah itu telah menular ke mana-mana. Entah mengapa, masalah yang serius dan
separah ini sekian lama dibiarkan oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Hingga kini belum ada
lembaga Islam, khususnya perguruan tinggi Islam, yang secara resmi meminta pemerintah menarik
kembali buku Harun Nasution tersebut.

Kini telah kita ketahui bahwa ternyata umat Islam Indonesia benar-benar sedang menghadapi ujian
keimanan yang sangat berat. Di tengah berbagai krisis dan keterpurukan, umat Islam direkayasa,
dirusak, dan diserbu besar-besaran dengan paham-paham syirik modern dan berbagai pemikiran liberal.
Sendi-sendi ajaran dan keyakinan umat Islam sedang dibongkar habis-habisan.

Ironisnya, ujung tombak dari penyebaran paham ini justru berasal dari individu, tokoh, cendekiawan,
ulama, dan lembaga yang secara formal menyandang nama Islam. Tentu saja ini tantangan yang sangat
berat. Para ulama yang seharusnya menjaga agama justru malah merusak agama. Inilah zaman fitnah,
zaman yang tidak jelas lagi mana yang haq dan mana yang bathil.

Rasulullah saw. sudah pernah mengingatkan: “Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka
dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk, dan sebaik-
baik manusia yang baik adalah ulama yang baik.” (HR Ad-Darimy).

Juga, sabdanya, “Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya
orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Qur’an.” (HR Thabarani dan
Ibn Hibban).

Di tengah ujian berat proyek liberalisasi Islam secara besar-besaran ini, kita berdoa, mudah-mudahan
tidak banyak orang yang tergoda oleh berbagai bujukan dan tipuan duniawi yang ditujukan untuk
menghancurkan kekuatan Islam dari dalam.

Bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tantangan yang terbesar yang dihadapi
semua komponen umat Islam, baik pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas Islam, lembaga
ekonomi Islam, maupun partai politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang
sangat jelas dalam menghancurkan Islam dari asasnya, baik aqidah Islam, Al-Qur’an, maupun syariat
Islam.

Kita harus membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita dengan meningkatkan ilmu-ilmu
keislaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

“Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk
mengikutinya; dan tunjukkanlah yang bathil itu bathil, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk
menghindarinya. Allahumma amin.”

Sumber: Diringkas dari Liberalisasi Islam di Indonesia: Fakta dan Data, Adian Husaini, M.A. (Jakarta:
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 2007), hlm. 1-72.

ABU ZAYD DITOLAK UMAT ISLAM RIAU
Ditulis oleh Adian Husaini

Pada hari Jumat, 23 November 2007, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menerima pernyataan sikap
dari MUI Riau tentang penyelenggaraan acara Konferensi Tahunan Studi Islam ke-7 (Annual Conference
on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia VII) yang tahun ini diselenggarakan di UIN Riau. Pernyataan ini
ditandatangani oleh Ketua MUI Riau H. Ridwan Syarif dan sekretaris Umum H. Fajeriansyah Lc.

Judul pernyataan MUI Riau ialah: ”Umat Islam Riau Tolak Kehadiran Nasr Hamid Abu Zayd”. MUI Riau
mempersoalkan mengapa dalam acara tersebut akan diundang Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd, ilmuwan
Mesir yang divonis murtad oleh Mahkamah di Mesir karena tulisan-tulisannya dinilai melecehkan Al-
Quran.

Pihak penyelenggara ACIS, yaitu Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Depag, jauh-jauh hari memang sudah
menjadwalkan bahwa Abu Zayd akan datang pada acara tersebut. Harian Berita Kota (20/11/2007), hal
10, mengutip kantor berita Antara, juga memuat sebuah berita berjudul: ”4 Pakar Asing Bahas Islam”.

Disebutkan dalam berita tersebut, bahwa Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama memastikan
empat pakar asing bidang keislaman akan menghadiri pertemuan tahunan masalah keislaman atau
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-7 di Pekanbaru, Riau, 21-24 November 2007.

“Pembicara internasional yang sudah bersedia hadir adalah Mark Woodward dari Arizona State
University, Ronald Lukens Bull dari University of North Florida, Peter Suwarno dari Arizona State
University, dan Nasr Hamid Abu Zayd dari Leiden University of Netherlands,” kata Direktur Pendidikan
Tinggi Islam Departemen Agama Abdurrahman Mas’ud di Jakarta, Senin (19/11).

Demikian berita di koran yang terbit di Jakarta tersebut. Acara itu sendiri telah dibuka secara resmi oleh
Menteri Agama, H. Maftuh Basuni pada Rabu (21/11/2007) malam di Hotel Sahid Pekan Baru.

Dalam siaran persnya, MUI Riau menyatakan, bahwa Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual Mesir yang
divonis murtad di negerinya, telah ditolak kehadirannya oleh umat Islam Riau. Penolakan itu dilakukan
oleh MUI Riau bersama sejumlah Ormas Islam lainnya. Abu Zayd sendiri akhirnya batal datang ke acara
tersebut. Akan tetapi, dalam pidato sambutan pembukaan ACIS VII, Direktur Pendidikan Tinggi Islam
Depag RI, Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud, MA, menjelaskan bahwa Abu Zayd berjanji akan hadir pada
acara International Seminar di UNISMA Malang, 26 November 2007.

Karena isinya sangat penting untuk kita cermati, berikut ini kita simak secara lengkap siaran pers MUI
Riau tentang Abu Zayd dan penyelenggaran Konferensi Tahunan Studi Islam di Indonesia:

Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia
divonis murtad oleh Mahkamah Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, dengan
dukungan negara-negara Barat, dia mulai mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya
sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN/IAIN.

Di Indonesia, para penghujat Al-Quran di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd
sebagai rujukan. Dalam hasil penelitiannya terhadap perkembangan paham-paham keagamaan Liberal
di sekitar kampus UIN Yogyakarta, Litbang Departemen Agama menulis:

“Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan
merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid.
Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah
tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang
diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melenggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam
secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN
seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam dinusantara ini hermeneutika makin digemari.”
(Lebih lengkap tentang kekeliruan pemikiran Abu Zayd bisa dilihat dalam buku “Al-Qur’an Dihujat”,
karya Henri Shalahuddin, MA (GIP, Jakarta: Mei 2007).

MUI Riau bersama MUI pusat saat ini telah menghimpun data-data pelecehan dan penghujatan Al-
Quran di lingkungan UIN/IAIN. Bahkan, di IAIN Surabaya, gugatan terhadap Al-Quran sebagai Kitab Suci
pernah menghebohkan, ketika seorang dosen di sana, secara sengaja menginjak lafaz Allah yang
ditulisnya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa Al-Quran bukanlah kitab suci, tetapi merupakan hasil
budaya manusia. Kata dosen tersebut: “Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput.”
(Majalah GATRA, 7 Juni 2006).

Karena itulah, MUI Riau sangat berkeberatan dengan kehadiran orang-orang seperti Abu Zayd dan
antek-anteknya yang secara jelas-jelas telah begitu melecehkan Kitab Suci Al-Quran. Pola pikir orientalis
Yahudi-Kristen sangat mewarnai tulisan-tulisan di berbagai jurnal, tesis, buku, dan artikel-artikel para
penghujat Al-Quran tersebut.

Dalam acara ACIS VII ini pun, sekali pun Abu Zayd tidak datang, tetapi buku karya murid keakungannya,
yaitu Dr. M. Nur Kholis Setiawan (dosen UIN Yogyakarta, yang disertasinya diterbitkan dengan judul ”Al-
Quran Kitab Sastra Terbesar”) yang berjudul “Orientalisme, Al-Qur’an dan Hadis”, telah diproyekkan
untuk dibagikan kepada semua peserta ACIS VII. Yang menjadi pertanyaan kemudian, “Apakah
relevansinya bagi kemajuan studi Al-Quran di Indonesia sehingga buku Nur Kholish itu dijadikan proyek
untuk dimiliki semua peserta?”

Adalah aneh, jika sosok Abu Zayd yang jelas-jelas menghina dan menghujat Al-Quran dan Imam Syafii
dalam berbagai karyanya justru dipromosikan pemikirannya oleh Departemen Agama RI. Lebih aneh

lagi, pihak panitia ACIS sama sekali tidak menghadirkan pembicara yang mampu mengkritik pemikiran
Abu Zayd. Padahal, dalam semboyannya ditulis: ”ACIS: Barometer Perkembangan Studi Keislaman di
Indonesia”.

MUI Riau memandang aneh dengan semboyan ACIS tersebut, mengingat, selain Abu Zayd, pembicara
dari luar negeri yang diundang oleh panitia, tidak ada satu pun yang dikenal oleh umat Islam sebagai
ulama-ulama terkemuka, tetapi justru para orientalis Barat dan orang non-Muslim. Mereka adalah: Prof.
Mark Woodward, Ph.D., Prof. Ron Lukens Bull, Ph.D., dan Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang diundang
untuk berbicara tentang Islam.

Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang saat ini menjabat sebagai associate director of the School of
International Letter and Cultures at Arizona State University USA, di awal presentasinya mengatakan
bahwa dia bukan ahli agama dan tidak tahu banyak tentang Islam. Dia memang dikenal kedekatannya
dengan Prof. Abdurrahman Mas’ud yang sering berkunjung ke Arizona., Peter menamatkan S1-nya di
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Para pembicara seperti itukah yang dikatakan akan dijadikan sebagai ”BAROMETER STUDI ISLAM DI
INDONESIA?”

Disamping itu, diantara tema-tema yang dibincangkan adalah isu utama dalam paham liberalisme di
bidang keagamaan, baik yang dipaparkan secara halus maupun kasar. Di antara tema-tema yang
disetujui untuk dilombakan dalam debat di acara pekan ilmiah mahasiswa dalam rangkaian kegiatan
ACIS VII adalah sebagai berikut:

Formalization of Syariah as the Real Enemy of Democracy (=Formalisasi Syariah sebagai Musuh Nyata
Demokrasi)

Ranjau Formalisasi Syariat

Mendamaikan Syariat Islam dengan demokrasi Pancasila

Pancasila dalam kepungan formalisasi Syari’ah Islam.

Menolak Poligami: ditinjau dari berbagai pendekatan

Pembaharuan Hukum Islam dalam konteks keindonesiaan merupakan suatu keharusan

Benarkah poligami sebagai sunah nabi?

Ditilik dari tujuannya, sebenarnya ACIS merupakan acara yang bertujuan mulia. ACIS VII ini mengusung
tema utama: “Konstribusi ilmu-ilmu keislaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan
pada millenium ketiga”. Dalam pelaksanaannya, tema utama tersebut dirinci dalam lima bidang yang
mencakup: a) Islam, politik dan ekonomi global. b) Islam dan masalah hak asasi manusia (HAM). c) Islam
dan masalah pendidikan global. d) Islam dan hegemoni budaya global. e) Islam dan masalah kesehatan,
lingkungan, dan perkembangan IPTEK.

Oleh sebab itu, harusnya, pihak Depag dan panitia berembuk dengan ulama-ulama Islam lainnya untuk
menyusun acara. Bukan malah menghadirkan para pembicara yang sudah dikenal sebagai tokoh-tokoh
Liberal, baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Sebagai lembaga pemerintah, harusnya Depag berpikir lebih serius dalam mengembangkan studi Islam
di Indonesia, demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia. Dalam hal pengembangan pemikiran
liberal, sikap MUI sudah jelas melalui fatwanya no. 7/MUNAS/MUI/II/2005 yang mengharamkan
penyebaran paham liberal di Indonesia. Juga, pemikiran yang meragu-ragukan keotentikan Al-Quran,
oleh MUI dimasukkan ke dalam salah satu kriteria ajaran/aliran sesat.

Demikianlah pernyataan sikap MUI Riau.

Membaca pernyataan MUI Riau tersebut, kita tentu bertanya-tanya, akan dibawa kemanakah studi
Islam di Indonesia? Akan dibawa kemanakah institusi-institusi pendidikan tinggi Islam? Jika ingin
meningkatkan studi Islam, mengapa yang diundang orang-orang seperti Nasr Hamid Abu Zayd? Sama

dengan MUI Riau, kita juga patut heran, mengapa panitia mengedarkan buku murid keakungan Abu
Zayd di Indonesia, yaitu Dr. Nur Kholish Setiawan?

Sekedar mengingatkan kita, bahwa Nur Kholish Setiawan adalah alumnus Bonn University yang memberi
kata pengantar untuk buku ”Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan” karya Aksin Wijaya, alumnus UIN
Yogya yang kini menjadi dosen di STAIN Ponorogo. Di dalam kata pengantarnya untuk buku yang
menggugat keotentikan Al-Quran tersebut, Dr. Nur Kholish menulis:

“Buku yang diberi judul “Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan: Kritik Atas Nalar Tafsir Gender” karya
Aksin Wijaya yang ada di tangan pembaca ini merupakan model kegelisahan “baru” akan dominasi nalar
Arab dalam teks keagamaan, dalam hal ini Al-Quran. Dikatakan “kegelisahan baru” mengingat pikiran-
pikiran yang dilontarkan turut “mempermasalahkan” mushaf Utsman yang oleh sebagian besar pengkaji
Al-Quran justru tidak lagi dipermasalahkan. Sederet pemikir kontemporer seperti Amin al-Khuli, Fazlur
Rahman, Hassan Hanafi, Nasr Abu Zayd, Abdul Karim Shooush, dan Muhammad Syahrur, misalnya,
degan seabrek tawaran metodologis serta pemikiran kritis lainnya tentang Al-Quran, justru tidak
menyinggung mushaf Utsman sebagai korpus yang pantas “digugat”, meski sebenarnya mereka
menggakui proses kodifikasi masa Utsman tersebut sejatinya bisa menimbulkan pertanyaan.”

Dengan tulisan tersebut sebenarnya telah jelas dimana posisi Nur Kholish Setiawan. Kita tentu tidak
apriori dengan semua pemikiran yang datangnya dari luar. Hanya saja, sebagaimana MUI Riau, jika yang
kita inginkan adalah mengembangkan wacana keislaman yang sehat, mengapa yang diundang adalah
pembicara-pembicara dari Barat? Kita berharap, pihak Departemen Agama lebih berhati-hati dalam
menyelenggarakan acara penting seperti ini. Departemen Agama harusnya bertugas mengawal dan
mengembangkan pendidikan dan pemikiran Islam yang benar. Begitu juga kampus-kampus Islam yang di
bawah tanggung jawabnya.

Betapa memilukan, jika Departemen Agama ikut-ikutan mengembangkan dan menyebarkan pemikiran-
pemikiran yang menghujat keotentikan Al-Quran. Mudah-mudahan para pejebat Departemen Agama
segera menyadari kekeliruan yang mendasar ini. Kita bersyukur dengan langkah-langkah pembenahan
haji dan pemberantasan korupsi yang dilakukan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Mudah-mudahan
masalah pemikiran Islam ini juga mendapat perhatian serius, sebab hal ini terkait dengan masalah iman,
masalah yang paling mendasar dalam Islam, masalah yang jauh lebih penting dibandingkan dengan
masalah manajemen haji. Wallahu a’lam.[Depok, 23 November 2007/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

MENGENANG SEABAD MOHAMMAD NATSIR

Ditulis oleh Adian Husaini

Kamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran
panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat
tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada
Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri
Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam
seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.

Moh. Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad
Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia.
Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai,
politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi
juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan
Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir,
visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan
pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang
menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951,
setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal
terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan
mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi
Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua
Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini,
sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga
berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.

Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah
mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari
Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan
mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia
akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan
faktor utama terganjalnya usulan tersebut.

Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu.
Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan
yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand
Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan
kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-
izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun
1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-
Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir
hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan
anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands
Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927,
Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-
1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung.
Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai
dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di
Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada
masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan
memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir
mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai
Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan
pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu
mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir,
dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah
universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya,
seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara,
Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat
sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran,
tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi
yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang
berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh
hati orang yang membacanya.

Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul
”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).

Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:

”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh
zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan
zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober
1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi
umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan
kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian
Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan
asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih
juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi
banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya
netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika
itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang
belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat
menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah
menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van
het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari
genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam
menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah
dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan
yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh
dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini,
suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan
barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari
buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh
Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi
Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi
muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah
universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam
yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-
paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.

Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk
memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam.
[Depok, 16 November 2007/www.hidayatullah.com]


Click to View FlipBook Version