Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com
JATUH BANGUNNYA PERADABAN
Ditulis oleh Adian Husaini
Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah
kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, maka akan
diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam
pandangan Allah.”
“Hampir tiba suatu masa dimana berbagai bangsa/kelompok mengeroyok kamu, bagaikan orang-orang
yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah
kami yang sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab: “(Tidak) Bahkan jumlah kamu pada hari itu
sangat banyak (mayoritas), tetapi (kualitas) kamu adalah buih, laksana buih di waktu banjir, dan Allah
mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan menanamkan
penyakit “al wahnu”. Seorang bertanya, “Apakah al wahnu itu Ya Rasulallah?” Rasulullah menjawab:
“Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).
Al-Quran dan Kehancuran Peradaban
Beberapa ayat al-Quran memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Quran
ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin, agar mereka tidak
mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang dapat menghancurkan
peradaban mereka.
Allah SWT berfirman:
“Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu
barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab
mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf:96)
Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira
dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-
konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa. (QS al-An’am:44).
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang
hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri
itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan
negeri itu sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’:16)
Ayat-ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu bercerita, bahwa
kehancuran suatu kaum berhubungan dengan hal-hal: (1) sikap kaum yang melupakan peringatan Allah
SWT, sehingga mereka lupa diri dan hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi
kesenangan (hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 24. (2) tindakan
elite-elite atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan membuat kerusakan di muka
bumi. Apabila di dalam suatu peradaban sudah tampak dominan adanya para pembesar, tokoh
masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup mewah, atau sesiapa saja yang bermewah-mewah
dalam hidupnya, maka itu pertanda kehancuran peradaban itu sudah dekat.
Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran peradaban atau bangsa, adalah kehancuran
iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula
akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT. Rasulullah saw berkata:
“Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah
menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri.” (HR Thabrani dan al-Hakim).
Dalam sejarah manusia, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan
Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa
sejarah tersebut. “Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS an-Nahl:36)
Sebagai misal, Kaum ‘Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling
berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan mereka, sehingga
mereka berkata: “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (QS Fusshhilat:15). Begitu juga
kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasuullah saw, kaum Muslim
yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam
Perang Hunain (QS at-Taubah:25).
Sejarah juga mencatat, bagaimana Peradaban Islam di Spanyol yang sangat agung dan sudah bertahan
selama 800 tahun (711-1492) dapat dihancurkan dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi
Spanyol. S.M. Imamuddin menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran peradaban Islam di
Spanyol. Yang terpenting adalah adanya perpecahan dan kecemburuan antar suku. Bahkan ada
beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma’mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan
kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.1 Sejarah
jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin.
Bagaimana suatu kaum Yahudi yang minoritas dari segi jumlah tetapi dapat mengalahkan kaum Muslim
yang sangat besar.
Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan peradaban, inilah yang sepatutnya
direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin, khususnya para ulama dan
cendekiawan Muslim di wilayah Peradaban Melayu. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau
peradaban seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah
ditemukan dalam wilayah peradaban Melayu? Kalau gejala-gejala itu sudah ada, bagaimana cara
menghindarkannya?
Yang jelas, jatuh bangunnya suatu peradaban, pada dasarnya tergantung pada kondisi manusia-manusia
dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban adalah disebabkan oleh
tindakan mereka sendiri, yang menciptakan ”kondisi layak kalah” (al-qabiliyyah lil-hazimah). Allah SWT
menegaskan:
”Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya
kepada suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS al-Anfal:53).
Kebangkitan Islam: Belajar dari Kasus Perang Salib
Belum lama ini buku Hakadza Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hakadza ’Ādat al-Quds karya Dr. Majid Irsan
al-Kilani diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.2 Buku ini menarik, terutama dari sudut pandang
kebangkitan sebuah peradaban. Penerjemah buku ini, yang merupakan alumni Universitas Islam
Madinah, menceritakan, bahwa dosen pembimbing mereka, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, adalah yang
mengenalkan dan meminta mereka membaca buku ini.
Buku ini menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50
tahun. Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di
bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun sesudah itu, Zanki wafat, tahun
1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan
Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia
sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang
sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada
569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim
dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan
Jerusalem pada tahun 1187. 3
Tahun 1095 Perang Salib dimulai. Tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Meskipun
memiliki negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam kondisi yang sangat terpuruk.
Sekitar 88 tahun kemudian tampillah pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin al-Ayyubi, yang berhasil
membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pasukan Salib, pada tahun 1187. Buku ini memaparkan
data-data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang ”turun dari langit”. Tetapi, dia adalah
produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar
yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu adalah Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir
al-Jilani.
Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali
lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di
sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya,
ketimbang menuding-nuding musuh. Menurut al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya
pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan. Al-Ghazali tidak
menolak perubahan pada aspek politik dan militer, tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang
lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu,
al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang
lain. Kata penulis buku ini:
”Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari berbagai
penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu
mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-
pilar iman dan kedamaian dapat tegak dengan kokoh.” 4
Melalui kitab-kitab yang ditulisnya setelah merenungkan kondisi umat secara mendalam, al-Ghazali
sampai pada kesimpulan bahwa yang harus dibenahi pertama dari umat adalah masalah keilmuan dan
keulamaan. Oleh sebab itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya’ Ulumuddin. Secara ringkas dapat
dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan
jihad melawan musuh dalam bentuk ’qital’ dengan baik. Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad
menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi
jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam
Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya
Ulumuddin, al-Ghazali juga menekankan pentingnya masalah ilmu dan akhlak. Ia membuka Kitabnya itu
dengan “Kitabul Ilmi” dan sangat menekankan pentingnya aktivitas ’amar ma’ruf nahi munkar’. Aktivitas
“amal ma’ruf dan nahi munkar”, kata al-Ghazali, adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah
sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf
nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan
akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan. 5
Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang
dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan
ulama. Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak
begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi.
Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar. Tentu, tahap
kebangkitan dan pembenahan jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang
benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada
keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman
yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?
Rasulullah saw bersabda: “Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah
tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Quran.” (HR
Thabrani dan Ibn Hibban).
Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehansif terhadap problematika yang
dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan,
moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan
adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali
menulis kitab Ihya’ Ulumuddin, dengan makna “Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”. Ketika itu, dia
seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia
sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan
proporsinya.
Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam
serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang
jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya.
Nabi Muhammad saw memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu
harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah saw
mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil
yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah saw:
Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah
menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang
banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu
ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim).
Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar
Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-
ulama su’, atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan
senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Karena itulah, kerusakan dalam bidang
keilmuan harus mendapatkan perhatian dari umat Islam. Apalagi jika kerusakan ilmu itu terjadi di jajaran
lembaga-lembaga pendidikan Islam yang diharapkan menjadi pusat perkaderan ulama dan pemimpin
umat. 6
Penutup
Dari hasil kajiannya terhadap gerakan kebangkitan umat di era Perang Salib, Dr. al-Kilani menyimpulkan,
bahwa yang pertama kali harus dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri.
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada satu kaum, sehingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra’d:11). Nabi saw juga menyatakan: ”Sesungguhnya
di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh.
Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu adalah qalb.” (HR Muslim).
Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu
unsur keikhlasan dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan perbuatan. 7
Jika strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam Indonesia, maka sudah saatnya umat Islam
Indonesia melakukan introspeksi terhadap kondisi pemikiran dan moralitas internal mereka, terutama
para elite dan lembaga-lembaga perjuangannya. Harus dilakukan evaluasi total terhadap kondisi internal
umat Islam, khususnya mendiagnosa penyakit yang sangat membahayakan umat dan telah
menghancurkan umat terdahulu, yaitu sikap hubbud dunya, fanatisme kelompok, dan kerusakan ilmu.
Introspeksi dan koreksi internal ini jauh lebih penting dilakukan dibandingkan meneliti kondisi faktor
eksternal, sehingga ’kondisi layak terbelakang dan kalah’ (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa
dihilangkan.
Kita bisa melakukan evaluasi internal, apakah para elite dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah
menerapkan profesionalitas dalam pendidikan mereka? 8 Apakah tradisi ilmu dalam Islam sudah
berkembang di kalangan para profesor, dosen-dosen, dan guru-guru bidang keislaman? Apakah konsep
ilmu dalam Islam sudah diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam? 9 Apakah para pelajar
mencari ilmu untuk mencari dunia atau untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah? Apakah budaya
kerja keras dan sikap ’zuhud’ terhadap dunia sudah diterapkan para elite umat? Apakah ashabiyah
(fanatisme kelompok) masih mewarnai aktivitas umat? Pada tataran keilmuan, bisa diteliti, apakah
sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan Islam secara benar dan bermutu tinggi pada setiap bidang
keilmuan?
Semua ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras, kesabaran, ketekunan, kerjasama berbagai
potensi umat, dan waktu yang panjang. Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana
membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dilakukan adalah bagaimana membenahi
kondisi internal umat Islam dan lembaga-lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga
yang bisa diteladani oleh umat manusia.
Jadi, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari
keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru
yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas ’Salahuddin al-Ayyubi’. Dan ini tidak mungkin
terwujud, kecuali jika umat Islam Indonesia – terutama lembaga-lembaga dakwah dan pendidikannya –
amat sangat serius untuk membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya. Dari sinilah
diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh (khaira ummah): berilmu tinggi dan beraklak mulia,
yang mampu membawa panji-panji Islam ke seluruh penjuru dunia.
Jika generasi baru itu telah lahir, maka akan lahirlah sebuah peradaban baru, sebagaimana pernah
terjadi di masa-masa lalu. Wallahu a’lam. (Depok, 16 November 2007)
1 S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, (Pakistan: S.M. Shahabuddin,1969), 321-323.
2 Judul dalam bahasa Indonesia adalah Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib:
Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina
(diterjemahkan oleh Asep Sobari Lc dan Amaluddin, Lc, MA). (Bekasi: Kalam Aulia Mediatama, 2007).
3 Lihat juga Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives, (Edinburg:Edinburg University Press,
Ltd., 1999), 112-131. Hillenbrand mencatat tentang diskursus “the greater jihad” (jihad al-nafs) di masa
Perang Salib: “The concept of the spiritual struggle, the greater jihad, was well developed by the time of
the Crusade and any discussion of jihad in this period should always take into account the spiritual
dimension without which the military struggle, the smaller jihad, is rendered hollow and without
foundation.” The twelfth-century mystic ’Ammar al-Bidlisi (d. between 590 and 604/1194 and 1207)
analyzed the greater jihad, declaring that man’s lower soul (nafs) is the greatest enemy to be fought.”
Abu Shama speaks of Nur al-Din in just these terms: “He conducts a double jihad against enemy and
against his own soul.” (hal. 161).
4 Al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, hal. 78-79. Dalam bukunya, al-Kilani
mengutip Ibn Katsir dalam Bidayah wal-Nihayah, yang menggambarkan parahnya kondisi umat Islam
saat itu. Umat dicekam penyakit ashabiyah (fanatisme mazhab) yang parah, kerusakan pemikiran, dan
gaya hidup mewah pada kalangan elite. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur
ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam setiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516
Hijriah, saat Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, bertepatan dengan saat istrinya keluar dari rumah
dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas. Padahal, pada saat yang sama,
banyak rakyat yang menderita kelaparan. Ketika pasukan Salib membantai puluhan ribu kaum Muslim,
sebagian ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslim, tetapi gagal. Ada cerita yang
menyebutkan, sebagian pengungsi membawa tumpukan tulang manusia, rambut wanita, dan anak-
anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, Khalifah justru
berkata: ”Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa’, sudah tiga hari
menghilang dan aku belum melihatnya.” (hal. 49-65).
5 Allah SWT berfirman, yang artinya: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud
dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya
amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Maidah: 78-79). Jadi, karena tidak melarang
tindakan munkar diantara mereka, maka kaum Bani Israel itu dikutuk oleh Allah. Rasulullah saw juga
memperingatkan: “Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang
mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan
mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah). Juga, sabda beliau
saw: “Hendaklah kamu menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan
kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang baik
diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka itu.(HR al-Bazzar dan at-Thabrani).
6 Uraian lebih jauh tentang al-Ghazali dan Perang Salib, lihat Adian Husaini, Hegemoni Kisten-Barat
dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: GIP, 2006), bagian Mukaddimah. Lebih jauh tentang
bahaya kerusakan ilmu bisa dilihat, pada Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and
Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization
(Kuala Lumpur: ISTAC, 1998).
7 al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, 6-7. (Sebagai perbandingan, tidak
kalah pentingnya jika kita mengkaji kesuksesan penyebaran dakwah Islam di wilayah Nusantara,
khususnya di Tanah Jawa. Para juru dakwah adalah para wali atau ulama yang bekerja keras dalam
mengubah kondisi masyarakat Indonesia, meskipun rakyat ketika itu dipimpin oleh penguasa non-
Muslim. Pada akhirnya, rakyat di wilayah itu sendiri yang melahirkan pemimpin-pemimpin muslim,
sehingga berdirilah berbagai kerajaan Islam di wilayah ini. Maulana Malik Ibrahim, misalnya,
diperkirakan tiba di Jawa tahun 1399 M. Kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak) baru berdiri tahun
1478 M. Raja Demak pertama, Raden Patah, adalah santri dari Sunan Ampel, yang tak lain adalah putra
dari Maulana Malik Irahim. Lihat, Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di
Indonesia, (Bandung: al-Maarif, 1981).
8 Secara umum, kondisi buku-buku Pelajaran Agama di sekolah saat ini masih banyak mengandung
kelemahan dan kekeliruan. Sekedar contoh, sebuah buku Pendidikan Agama Islam untuk kelas 2 SMA
keluaran sebuah penerbit di Bandung, justru merendahkan prestasi keilmuan para ulama di wilayah
Nusantara: ”Dapat dikatakan, bahwa ilmu-ilmu Islam yang berkembang pada masa itu, hanyalah ilmu
tasawuf dan tarekat, disamping ilmu fiqih dan tauhid sebagai sekedar pelengkap ibadah semata. Para
tokoh dan ulama yang muncul pada masa itu juga hanya ulama-ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat.
Hampir tidak ditemukan nama-nama ulama fiqih, hadits, tafsir, dan yang lainnya. Di Aceh dan Sumatera
misalnya, muncul beberapa ulama nusantara kenamaan, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh
Abdurrauf Singkel, Syaikh Nuruddin ar-Raniri, Syaikh Syamsuddin As-Sumatrani, Abdusshamad Al-
Falimbani yang nota bene semua adalah ulama tasawuf dan tokoh tarekat tertentu. Di Jawa juga muncul
beberapa ulama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Siti Jenar dengan kelompok wali songonya,
yang juga dapat dikatakan sebagai tokoh tasawuf dan penganut tarekat tertentu. Begitu juga di Sulawesi
dan Kalimantan, terdapat nama-nama besar ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Misalnya, Syaikh
Yusuf al-Makassari, Syaikh Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Ahmad Khatib Syambas. Mereka telah belajar
cukup lama di kawasan dunia Islam, dan pulang ke tanah air sebagai tokoh tasawuf dan tarekat.”
9 Salah satu masalah dan tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah terjadinya
hegemoni konsep keilmuan Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi. Lebih jauh tentang fenomena
ini lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal
(Jakarta: GIP, 2005) dan Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi,
(Jakarta: GIP, 2006).
ABRAHAMIC FAITHS?
Ditulis oleh Adian Husaini
Bagi peminat pemikiran keagamaan, istilah “Abrahamic Faith” atau “agama Ibrahim” tidaklah asing.
Istilah ini sudah lama dipopulerkan oleh banyak kalangan dan dianggap sebagai sesuatu yang sudah
lazim dalam istilah studi-studi agama, seperti halnya pembagian agama menjadi “agama samawi”
(agama langit) dan “agama ardhi” (agama bumi). Istilah ini mulai popular di dunia Islam, setelah pada
tahun 1986, The International Institute of islamic Thought (IIIT), menerbitkan sebuah buku berjudul
Trialogue of the Abrahamic Faiths (ed. Ismail Raji al-Faruqi). Secara harfiah, judul buku itu adalah
“Trialog antar Agama-agama Ibrahim”. Buku ini merupakan kompilasi makalah hasil konvensi tahun
1979 di New York yang diselenggarakan oleh American Academy of Religion (AAR).
Pada 8 November 2007, Republika menurunkan sebuah kolom Azyumardi Azra berjudul ”Trialog
Peradaban”. Azra menceritakan, bahwa pada 21-24 Oktober 2007, Harvard University
menyelenggarakan sebuah konferensi bertema ”Children of Abraham: A Trialogue of Civilization”. Kata
Azra, ’Anak-anak Ibrahim’, tak lain adalah para pengikut tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam.
Pembicaraan antara ketiga agama (trialog) diharapkan dapat menumbuhkan saling pengertian dan
toleransi yang pada gilirannya mendatangkan perdamaian.
Lebih jauh Azra menulis:
Dalam makalah berjudul ‘Trialogue of Abrahamic Faiths: Towards the Alliance of Civilizations”, saya
melihat ‘Abrahamic Faiths’ yang dalam Al-Quran disebut sebagai ‘millah Ibrahim’ memiliki banyak
kesamaan dan afinitas; lebih dari itu ketiganya juga berbagi sejarah yang sama. Tetapi, tentu saja,
masing-masing agama Nabi Ibrahim tersebt unik dalam dirinya sendiri. Lagi pula, para penganut ketiga
agama itu ibarat kakak-adik, juga terlibat dalam persaingan, kecemburuan, konflik, dan bahkan perang.”
Begitulah, sebagian isi tulisan Azyumardi Azra, yang mengaku beruntung hadir dalam konferensi di
Harvard tersebut. Ia merupakan satu-satunya ilmuwan dari Asia yang hadir di situ.
Kita tentu menyambut baik setiap usaha untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, kita
perlu mengkaji dengan cermat, cara-cara yang digunakan untuk menciptakan perdamaian tersebut,
khususnya dalam hal yang berkenaan dengan ajaran Islam itu sendiri. Soal dialog antar-agama, dalam
sejarah, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak awal kemunculannya, umat Islam sudah terbiasa
berdialog dengan siapa saja. Di Mekah, sebelum hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat sudah berdialog
dengan kaum musyrik Arab dan pengikut Kristen. Saat hijrah ke Habsyah, Ja’far bin Abdul Muthalib
sudah berdialog keras dengan pengikut Kristen dan juga Raja Najasyi yang ketika itu masih memeluk
agama Kristen. Di Madinah, Rasulullah saw melayani perdebatan dengan delegasi Kristen Najran.
Bahkan, jika kita renungkan, banyak ayat Al-Quran yang senantiasa mengajak kaum Yahudi dan Kristen
untuk berdialog. Tetapi, jika kita baca ayat-ayat Al-Quran, tentang masalah ini, kita akan menemukan,
bahwa posisi Al-Quran senantiasa jelas, yaitu posisi menyeru kaum Yahudi-Kristen agar kembali kepada
kalimah tauhid, kembali kepada ajaran inti yang dibawa oleh para nabi, yaitu ajaran Tauhid. Misalnya,
QS Ali Imran: 64 menyebutkan:
”Katakanlah, wahai Ahlul Kitab, marilah kita kembali kepada ’kalimah yang sama’ (kalimatin sawa’)
antara kami dan kalian semua, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak menserikatkan Allah
dengan sesuatu pun dan kita tidak menjadikan sebagian diantara kita sebagai tuhan selain Allah. Jika
mereka ingkar, maka katakan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”
Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang menegaskan kembali
ajaran tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Kita yakin, bahwa semua Nabi, termasuk Nabi Ibrahim
juga membawa ajaran tauhid. Karena itu, ’millah Ibrahim’, dalam pandangan Islam, adalah agama
tauhid. Dan saat ini, satu-satunya agama Tauhid – dalam pandangan Islam – adalah agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw. Maka, dalam perspektif Islam ini, istilah ”Abrahamic Faiths” (agama-agama
Ibrahim), dalam bentuk jamak yang memasukkan agama Yahudi dan Kristen sebagai ’millah Ibrahim’,
adalah aneh dan keliru. Seolah-olah, ada banyak agama Ibrahim.
Jika kita telusuri lebih jauh lagi, akan tampak kerancuan penggunaan istilah ”Abrahamic Faiths” ini.
Misalnya, dalam agama Yahudi (Judaism) dan Kristen (Christianity), terdapat begitu banyak sekte dan
bahkan agama-agama yang berbeda-beda. Apakah semuanya juga ’millah Ibrahim’? Tentu tidak
mungkin seperti itu. Sebab, agama Ibrahim adalah satu, dan yang satu itu adalah agama Tauhid.
Dalam hal inilah, kita biasa melihat, banyaknya cendekiawan yang kurang hati-hati dalam mengadopsi
istilah-istilah tertentu. Dalam perspektif netral agama, secara historis-fenomenologis, bisa saja Islam,
Kristen, dan Yahudi dimasukkan ke dalam kategori Abrahamic Faiths, karena ketiganya memiliki klaim
sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Tetapi, Al-Quran sudah menjelaskan apa yang dimaksud dengan millah
Ibrahim yang hanif. “Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan
dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang
hanif.” (QS 4:125). “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan
Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).
Dengan penegasan Al-Quran itu, tidaklah tepat jika ada cendekiawan yang mengakui bahwa agama
Kristen dan Yahudi saat ini termasuk ke dalam kategori “millah Ibrahim” yang hanif. Jika kaum Yahudi
dan Kristen mengklaim mereka sebagai pelanjut agama Ibrahim, itu adalah urusan mereka. Tetapi,
sebagai Muslim, seyogyanya pandangan kita bersandar kepada konsep-konsep yang diajarkan dalam Al-
Quran.
Dalam konferensi tahun 1979, melalui makalahnya yang berjudul “Islam and Christianity in the
Perspective of Judaism”, Michel Wyschogrod, profesor filsafat di Baruch College, City University, New
York, memaparkan persoalan mendasar dalam pemahaman keagamaan antara Yahudi, Kristen, dan
Islam. Yahudi dan Kristen bersekutu dalam Bibel (Perjanjian Lama). Tetapi berbeda secara mendasar
dalam soal trinitas. Dengan Islam, Yahudi tidak bermasalah dalam soal pengakuan Tuhan yang satu
(monotheism). Tetapi, Muslim memandang bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada
Kitab Yahudi (juga Kristen).
Gambaran Prof. Michel Wyschogrod tentang Islam tersebut tidak sepenuhnya benar. Monoteisme
memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme tidak sama dengan Tauhid. Istilah ini juga
sering disalahpahami, seolah-olah monoteisme sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, tauhid adalah
mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan ada unsur ikhlas, rela diatur oleh Allah SWT. Karena itu,
jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak
bertauhid. Iblis pun tidak bertauhid, tetapi kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia
mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Dalam perspektif Islam inilah, memasukkan agama Yahudi (Judaism), sebagai ‘millah Ibrahim’ juga patut
dipertanyakan. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih
berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi,
dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions
menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By
orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” Jadi,
hingga kini, belum jelas, siapa nama Tuhan Yahudi.
Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi kehilangan jejak
kenabian dan Tauhid, karena kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Th.C.Vriezen, dalam buku
”Agama Israel Kuno” (Jakarta: BPK, 2001), menulis, bahwa “Ada beberapa kesulitan yang harus kita
hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang
utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi
(diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan
perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk
menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang
merupakan sisipan.”
Dalam sejumlah buku studi Islam di Perguruan Tinggi, masih ada yang menulis bahwa agama Yahudi
adalah agamanya Nabi Musa a.s. Bahkan, Prof. Harun Nasution, dalam buku Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya, menyebut agama Yahudi sebagai agama yang memelihara kemurnian Tauhid. Padahal, agama
nabi Musa adalah agama Tauhid yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw. Jika Yahudi
memeluk agama Nabi Musa, pasti mereka akan menerima kenabian Muhammad saw. Al-Quran banyak
menyebutkan tindakan kaum Yahudi yang mengubah-ubah kitab mereka, sehingga mereka keluar dari
jalan kebenaran. (QS 2:59, 75, 79, dll).
Senada dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status
Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep
ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, Al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa
a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan
kedatangan Nabi Muhammad saw. Karena itulah, Islam memandang, kaum Kristen telah melakukan
penyimpangan aqidah, karena mengangkat Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan, bukan sebagai utusan Allah.
Dengan konsep itu, mereka menolak untuk beriman kepada kenabian Muhammad saw. Segaimana
kaum Yahudi, kaum Kristen di Barat tidak mengenal nama Tuhan mereka. Mereka hanya menyebut
Tuhannya sebagai “God” atau “Lord”. Soal nama Tuhan, masih diperselisihkan, dalam agama Kristen.
Karena itu, dalam pandangan Islam, yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sebagai ‘millah Ibrahim’
saat ini, hanyalah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kaum Muslim begitu
dekat dengan nabi Ibrahim a.s.. Setiap shalat, kaum Muslim membaca doa untuk Nabi Ibrahim. Begitu
juga, salah satu hari raya umat Islam adalah hari raya Idul Adha yang terkait erat dengan kisah
perjuangan dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s..
Dari sinilah, kita memahami, bahwa sebaiknya istilah “Abrahamic Faiths” tidak digunakan. Apalagi,
dalam bentuk jamak (plural) yang menunjukkan bahwa ada banyak agama Ibrahim. Padahal, agama Nabi
Ibrahim hanya satu, yaitu agama Tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh para Nabi sesudahnya, sampai
nabi terakhir, Muhammad saw. Nabiyullah Ibrahim a.s. begitu gigih dalam memperjuangkan Tauhid,
sampai harus berhadapan dengan keluarganya sendiri dan diusir dari tanah kelahirannya.
Sebagaimana yang lalu-lalu, kita berulangkali mengimbau, kiranya para cendekiawan berhati-hati dalam
menggunakan istilah. Tanpa menggunakan istilah-istilah yang aneh-aneh, kita bisa melakukan dialog
dengan kaum Yahudi, Kristen, dan sebagainya. Tidak perlu menjustifikasi hal-hal yang bertentangan
secara tegas dengan konsep-konsep dasar Islam. Dalam pandangan Islam, perdamaian adalah penting.
Tetapi, Tauhid lebih penting. Karena itulah, Rasulullah saw memilih tidak berdamai dengan paman-
pamannya yang menolak Tauhid dan lebih mengutamakan syirik. Kita menghormati perbedaan. Kita
ingin perdamaian. Kita siap berdialog. Tetapi, dalam dialog itu, perspektif dan posisi kita sebagai Muslim
harusnya dinyatakan secara tegas. Justru, dialog itu akan terjadi, jika masing-masing pihak memiliki
posisi yang jelas. Jika tidak, maka dapat muncul sikap kepura-puraan dan kemunafikan. Wallahu a’lam.
[Jakarta, 9 November 2007/www.hidayatullah.com]
Tentang iklan-iklan ini
AL-QIYADAH ISLAMIYAH DAN KAUM LIBERAL
Ditulis oleh Adian Husaini
Artikel ini dari http://www.insistnet.com
Akhir-akhir ini kita disibukkan oleh berita tentang kasus kelompok ”Al-Qiyadah Islamiyah”. MUI, NU,
Muhammadiyah, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, dan berbagai organisasi Islam lainnya, dengan
tegas menyatakan bahwa ajaran kelompok al-Qiyadah Islamiyah adalah sesat dan menyesatkan.
Kelompok ini mempunyai syahadat yang berbeda dengan umat Islam. Setelah bersemedi selama 40 hari
di sebuah goa di Bogor, pemimpinnya mengaku sebagai nabi dan menerima wahyu dari Tuhan.
Melihat ajaran semacam itu, sebagai Muslim, dengan mudah kita bisa menilai bahwa kelompok itu sesat
dan menyesatkan. Tidak perlu terlalu cerdas dan terlalu serius berpikir untuk membuat penilaian
semacam itu. Sepanjang sejarah Islam, sudah banyak yang mengaku sebagai nabi, dan selama itu pula,
umat Islam dengan mudah menyatakan bahwa mereka semua – yang mengaku sebagai nabi – adalah
pendusta.
Dalam keputusannya, Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah lama mengingatkan, bahwa orang yang
mengimani adanya nabi lagi, sesudah Nabi Muhammad saw, maka kafirlah dia.
Rasulullah saw sudah bersabda: “Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku
dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).
Juga sabda Rasulullah saw: “Perumpamaanku dengan para nabi lainnya sebelumku adalah laksana
seorang yang sedang mendirikan bangunan. Maka dibaguskan dan dibuat indah bangunan itu, kecuali
satu batu bata (yang belum dipasang) pada salah satu penjurunya. Maka orang-orang mengelilinginya
dan merasa heran serta bertanya:
“Mengapakah batu bata ini belum dipasang?” Rasulullah saw bersabda: ”Aku inilah bata itu dan aku
adalah penutup para nabi.” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Dari dua hadits tersebut dan banyak hadits
Rasulullah saw lainnya, sangatlah jelas dimana posisi Nabi
Muhammad saw. Beliau adalah penutup para nabi. Sesudah beliau tidak ada nabi lagi. Karena itu, dunia
Islam, misalnya, secara tegas menolak penafsiran kelompok Ahmadiyah yang mengimani Mirza Ghulam
Ahmad sebagai nabi. Ketika menjelaskan QS as-Shaf ayat 7, buku Terjemah dan Tafsir Singkat al-Quran
yang diterbitkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia tahun 1987 menyebutkan: ”Jadi, nubuatan yang disebut
dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah s.a.w., tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan
kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan
nama Ahmad dalam wahyu (Brahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan
kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah s.a.w.
Ayat ketiga Surah Jumu’ah tegas mengisyaratkan kepada kedatangan kedua Rasulullah s.a.w. telah pula
dinyatakan dengan tegas dalam Injil Barnabas, yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada
pihak lain mereka menganggapnya otentik (dapat dipercaya) seotentik setiap dari keempat Injil.” (hal.
1914).
Seperti pernah kita bahas, Ahmadiyah mewajibkan umat Islam untuk mengimani Mirza Ghulam Ahmad
sebagai nabi. Karena itulah, dunia Islam tidak berbeda pendapat dalam masalah ini, bahwa Ahmadiyah
adalah aliran sesat. Demikian juga dengan kelompok al-Qiyadah Islamiyah. Kesesatannya sangat jelas
dan gamblang. Tidak perlu banyak diskusi tentang masalah ini.
Di tengah situasi seperti ini, sejumlah televise menampilkan sosok-sosok liberal untuk menjadi pembela
kelompok Qiyadah Islamiyah. Beberapa kali saya mendapat telepon dan SMS agar menonton tayangan
debat antara orang liberal dengan tokoh-tokoh Islam.
Saya sebenarnya sudah agak malas mendengar argumentasi kaum liberal dalam soal seperti ini, karena
tidak ada yang baru. Bisa dengan mudah ditebak, mereka akan berbicara tentang relativisme tafsir dan
posisi negara yang harus netral terhadap agama.
Orang-orang liberal itu tak bosan-bosannya mengulang-ulang lagu ’relativisme tafsir’.
Mereka selalu menyatakan, tafsir mana yang mau diikuti. Kata mereka, semua orang berhak memiliki
pendapat dan tafsir sendiri. Kalau suatu ajaran atau kelompok dinyatakan sesat, maka mereka akan
menyatakan, itu sesat menurut siapa? Kelompok Qiyadah Islamiyah memang sesat menurut MUI, tetapi
tidak sesat menurut lainnya, kata mereka. Bahkan ada yang menyatakan, yang sesat adalah MUI bukan
Qiyadah Islamiyah.
Kita sudah berulangkali membahas dan mengkritik paham relativisme tafsir kaum liberal ini. Tapi, kita
sudah paham, bahwa selama ini mereka tidak mau mendengar argumentasi pihak lain. Mereka juga
merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Sejauh ini, hampir tidak ada gunanya berargumen dengan
mereka. Sebab, mereka memang tidak mau mendengar kebenaran dan tidak tidak mengakui adanya
satu kebenaran untuk semua manusia.
Jadi, bagaimana bisa sampai kepada kebenaran, jika adanya kebenaran itu sendiri sudah mereka tolak?
Pada akhirnya, mereka menjadikan diri mereka sebagai tuhan yang dengan semaunya menafsirkan ayat-
ayat Allah sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Saat menonton sebuah debat di TV yang menampilkan seorang pentolan kaum liberal dan ketua Komisi
Fatwa MUI pusat, saya berpikir, apakah orang yang mengaku liberal ini tidak takut lagi untuk
berhadapan dengan Allah SWT di akhirat nanti? Ataukah dia masih percaya bahwa nanti dirinya akan
dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya? Setelah perdebatan itu, saya
menerima telepon dan sejumlah SMS yang menyayangkan penampilan tokoh MUI yang terlalu lunak
dalam menghadapi orang liberal tersebut.
Dari sinilah kita paham, bahwa liberalisasi Islam memang sudah menjadi tantangan yang sangat serius
bagi umat Islam. Sebab, mereka bukan hanya salah, tetapi juga aktif membela yang salah. Karena itu,
tidak salah, jika ada yang berujar, bahwa kaum liberal memang spesialis dalam membela yang salah-
salah.
Ketika umat Islam menyatakan bahwa Ahmadiyah, agama Salamullah, Qiyadah Islamiyah, pornografi,
dan sebagainya adalah paham sesat dan tindakan salah, maka kaum liberal berdiri pada garis depan
untuk membela mereka. Begitu juga ketika umat Islam menolak shalat dalam dua bahasa, maka kaum
liberal pun membelanya.
Seperti kita ketahui, paham relativisme tafsir adalah pemikiran yang absurd dan konyol. Dengan
pemikiran ini, mereka telah menghilangkan otoritas dalam penafsiran. Padahal, ini jelas tidak mungkin.
Dalam kehidupan ini, selalu ada otoritas dan standar dalam penilaian sesuatu. Standar itu tentu
didasarkan pada penilaian yang umum dan normal. Pada umumnya, manusia akan menilai bahwa
Presiden SBY lebih tampan dibandingkan Thukul Arwana. Pada umumnya manusia akan menilai bahwa
Inneke Koesherawati lebih cantik jika dibandingkan dengan pelawak Omas atau Rini Bonbon.
Karena manusia adalah makhluk yang satu, maka manusia bisa mempunyai standar yang satu. Kita bisa
melihat, biasanya yang terpilih sebagai Miss Universe adalah wanita yang memang cantik menurut
ukuran rata-rata manusia normal. Pada umumnya, kaum laki-laki memang lebih kuat secara fisik
ketimbang kaum wanita, sehingga dibuat kategorisasi olah raga antara laki-laki dan wanita.
Dalam logika relativisme ala post-modernist, memang segalanya bisa menjadi relatif. Di rumah sakit
jiwa, seorang yang sakit jiwa bisa menuduh dokternya yang gila, bukan dia yang gila. Standar siapa yang
digunakan untuk menentukan seseorang itu sakit jiwa atau tidak? Tentulah yang dipakai standar dokter
jiwa. Bukan standar orang sakit jiwa.
Pada umumnya dan normalnya orang Islam akan mengatakan bahwa kelompok Qiyadah Islamiyah
adalah salah, karena memang sudah keluar dari batas-batas ajaran pokok dalam Islam. Itu umumnya
dan normalnya. Tentu kita tidak perlu terlalu mendengar ucapan miring dan ganjil yang menyatakan
bahwa Qiyadah Islamiyah adalah juga benar. Pendapat seperti ini adalah pendapat aneh dan syadz.
Sepanjang sejarah ada saja pendapat nyeleneh seperti itu.
Islam adalah agama wahyu yang memiliki batas-batas yang jelas. Ada rukun iman dan rukun Islam.
Orang yang menolak kenabian Muhammad saw, pastilah sudah berdiri di luar Islam. Agama lain juga
memiliki batas-batas atau definisi sendiri. Kaum Kristen yang tidak mengakui otoritas Gereja Katolik
dalam penafsiran Bibel, maka dia sudah berdiri di luar agama Katolik, meskipun dia juga mengakui Yesus
sebagai Tuhannya.
Karena itu, sangatlah aneh dan absurd dan keliru jika kaum liberal menyatakan, penafsiran apapun
terhadap Al-Quran bisa dibenarkan.
Kita menyatakan, ada tafsir yang benar dan ada tafsir yang salah. Tidak semua tafsir bisa dibenarkan?
Kalau mereka bertanya, benar menurut siapa? Tentu benar menurut ahli tafsir, orang yang mempunyai
otoritas di bidang tafsir. Di sinilah, kita saat ini menghadapi persoalan. Sebab, kaum liberal juga
berusaha keras merebut otoritas dalam penafsiran agama. Banyak diantara mereka yang merupakan
profesor atau doctor dalam bidang studi Islam.
Dengan otoritas keagamaan yang mereka miliki, kemudian mereka melakukan penyesatan kepada
manusia. Dalam hal ini, mereka masuk kategori ulama su’, ulama yang jahat. Ulama yang dengan
ilmunya justru menyesatkan manusia. Di tengah heboh kasus Qiyadah Islamiyah, terbetik berita, Sabtu
(27/10/2007), di sebuah vila di Anyer, dilangsungkan sebuah perkawinan antara seorang Muslimah
berinisial DA dengan seorang pria Kristen berinisial BM. Menurut saksi mata, prosesi perkawinan itu
diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, dilanjutkan dengan Ijab qabul yang dilakukan oleh Dr.
Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta. Acara berikutnya adalah votum dan salam oleh Pdt Samuel B.
Hananto, pembacaan ayat-ayat Bibel, khutbah pendeta dan nyanyian jemaat.
Perkawinan semacam ini tentulah sangat ganjil, baik bagi Islam maupun bagi Kristen. Dalam Islam,
perkawinan itu jelas tidak sah. Kalau ditanya, tidak sah menurut siapa? Tentu menurut Al-Quran, hadits,
dan pendapat ulama-ulama yang mu’tabarah, yang punya otoritas. Bukan menurut pendapat yang ganjil
seperti Dr. Zainun Kamal tersebut. Meskipun dia doktor dan dosen di Faktultas Ushuluddin Universitas
Islam, pendapat dan tindakannya tetap salah dan merusak.
Kita tahu, aktivitas Zainun Kamal dan kawan-kawannya dalam mengawinkan pasangan beda agama,
sudah sangat keterlaluan. Mereka sudah secara terbuka dalam mengadakan berbagai aktivitas
perkawinan beda agama.
Dan anehnya lagi, tidak ada tindakan apa-apa dari pimpinan kampusnya dan juga pemerintah. MUI juga
diam saja. Padahal, perilaku dan tindakan Dr. Zainun Kamal dan kawan-kawannya dalam merusak Islam
tidak kalah jahatnya dibandingkan dengan kelompok Qiyadah Islamiyah. Sebab, dia menyandang
otoritas sebagai doktor dan dosen bidang agama Islam. Wallahu a’lam. [Depok, 2 November
2007/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com
Perang Salib dan Kebangkitan Islam
oleh Adian Husaini
Peradaban Barat sudah sampai pada penghujung senja usianya. Kini, peradaban Islam siap
menggantikannya.
Saat Presiden George W. Bush menggelorakan Perang Salib (Crusade) melawan teroris, pasca Tragedi 11
September 2001, sejatinya Bush tidak sedang terpeleset lidah. Bush sedang mengungkap alam sadarnya,
bahwa semangat Crusade kini diperlukan menggalang kekuatan Barat. Berakhirnya Perang Dingin yang
ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, telah mengubah peta dunia. Barat, dengan serangkaian
ideologinya, tidak lagi legitimate untuk eksis. Padahal, menurut penasihat kawakan politik luar negeri
AS, Samuel P. Huntington (1996), untuk self-definition dan membangun motivasi, manusia perlu rival
dan musuh. Maka, konsekuensinya, Barat perlu musuh dan semangat baru, selepas komunisme.
Semangat Crusade itulah yang ingin digelorakan oleh Bush.
Namun, tidak terlalu sukses. Citra AS di Eropa justru jeblok. Dalam jajak pendapat di Eropa, awal
November 2003, AS menduduki posisi keenam sebagai negara yang mengancam perdamaian dunia,
setelah sekutu utamanya, Israel.
Eksistensi Barat memang sedang banyak dipertanyakan, apalagi selepas serangan AS ke Irak. Apakah
Barat telah berakhir? Thomas L. Friedman, menulis satu kolom di International Herald Tribune (3
November 2003), berjudul “Is this the end of the West?” Barat memang telah pecah. AS dan Eropa,
khususnya Jerman dan Perancis, telah berbeda dalam banyak hal prinsip. Carld Bildt, mantan PM
Swedia, menyatakan, bahwa selama satu generasi, Amerika dan Eropa bersepakat dalam hal (tahun
1945): Aliansi Atlantik Utara membangun komitmen bersama untuk menciptakan pemerintahan
demokratis, pasar bebas, dan menangkal pengaruh komunisme Uni Soviet. Kesepakatan ini berjalan
hingga 10 tahun.
Namun kini, semua itu sudah berubah. Bagi Eropa, tahun penting adalah 1989 (keruntuhan Soviet),
sedang bagi AS adalah 2001 (Tragedi WTC). Eropa dan AS juga gagal untuk membangun visi bersama
dalam menghadapi isu-isu global. “We have also failed to develop a common vision for where we want
to go on global issues confronting us,” kata Bildt.
Maka, dalam situasi seperti itu, Barat membutuhkan ‘faktor pemersatu’ (uniting factor). Dan orang
seperti Bush berpikir, Crusade adalah jawabannya. Bush berpikir logis, dan tidak kalap. Perang Salib
telah menorehkan bekas yang sangat mendalam pada Barat dan Islam, hingga kini. Buku Karen
Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World,(1991), memberikan gambaran
jelas, bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap dunia, kini.
Di tengah merosotnya pengaruh Gereja dan konflik antar kekuatan Kristen, pada 25 November 1095,
Paus Urbanus II, menyerukan Perang Salib. Para ksatria Kristen diminta menghentikan konflik antar
mereka dan bersatu padu menghadapi musuh Tuhan, yang mereka sebut “Turks”. “The Turks adalah
bangsa terkutuk, dan membunuh monster seperti mereka adalah suci. Maka, wajib bagi kaum Kristen
memusnahkan mereka,” kata Paus
Seruan Paus Urbanus mendapat sambutan luar biasa. Ratusan ribu pasukan Kristen bergabung, dengan
semangat tinggi merebut Jerusalem. Dalam buku klasiknya, Islam and the West (terbit pertama tahun
1960), Norman Daniel menyebut ‘semangat Crusade adalah melakukan pembantaian demi Kasih Tuhan’.
Maka, tidak heran, jika tentara Salib kemudian melakukan pembantaian yang luar biasa sadisnya
terhadap Muslim, Yahudi, dan berbagai kelompok masyarakat lain.
Tahun 1099, saat menaklukkan Jerusalem, mereka membantai sekitar 30.000 warganya. Puluhan ribu
kaum Muslim yang mengungsi di atap al-Aqsa dibantai dengan sadis, tanpa pandang bulu, wanita, anak-
anak, atau orang tua. Setahun sebelumnya, 1098, pasukan Salib (Franks/Crusaders) membantai ratusan
ribu kaum Muslim di Marra’t un-Noman, Syria. Paus menjanjikan pengampunan dosa bagi siapa pun
yang bergabung dalam pasukan Salib dan jaminan surga bagi yang mati dalam perang suci itu.
Karena itu, menurut Armstrong, Crusade adalah proyek kerjasama besar-besaran Eropa di masa
kegelapan mereka. Mereka dicengkeram dengan semangat Kristen yang tinggi. Jelas, Crusade
merupakan jawaban terhadap kebutuhan Kristen Eropa ketika itu.
Dunia Islam ketika itu ‘superior’ dalam peradaban dibanding semua peradaban yang ada. Islam sedang
di puncak keemasan. Sementara Eropa berada dalam kegelapan. Islam, sebagai entitas politik, masih
eksis. Khilafah masih tegak, meskipun terbagi menjadi tiga kekuatan besar (Mesir, Andalusia, dan
Baghdad). Fragmentasi politik cukup parah. Pada medio abad 11 M, Syria dan Palestina menjadi ajang
rebutan antara Fathimiyah dan Abbasiyah. Fathimi mendominasi Jerusalem antara 869-1073. Sedangkan
Abbasiyah menguasai Jerusalem antara 1073-1098.
Di tengah kehebatan peradaban Islam dan eksistensi entitas politik Islam itulah, justru pasukan Salib
berhasil merebut Jerusalem. Upaya penguasa Fathimiyah, Afdal bin Badr al-Jamali, untuk negosiasi dan
berdamai dengan Salib ditolak. Semangat pasukan Salib sedang begitu tinggi untuk merebut Jerusalem.
Mereka sangat percaya diri, meskipun lebih rendah tingkat peradabannya (hal yang sama terjadi saat
Baghdad diduduki pasukan Mongol).
Friksi politik di kalangan Muslim menjadi salah satu faktor utama kekalahan Islam pada tahap awal
Perang Salib. Respons Muslim sangat tidak memadai. Dalam buku The Crusades: Islamic Perspective
(1999), Carole Hillenbrand, menggambarkan repons kaum Muslim yang didominasi sikap apatis, terbelit
problem internal, dan kompromistis.
Penguasa Muslim di Syria, bukannya melakukan perlawanan terhadap pasukan Salib, tetapi malah
berkompromi dengan musuh. Sebaliknya, The Franks justru menunjukkan semangat tinggi, fanatik, dan
memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuannya. Pada situasi seperti itulah, tampil Syekh Ali al-Sulami
(1039-1106), seorang ulama bermazhab Syafii. Ia menulis kitab berjudul Kitab al-Jihad. Tampaknya,
banyak ulama dan cendekiawan Muslim belum mengkaji Kitab ini. Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya,
Al-Imam al-Ghazali Bayna Madihihi wa Naqidihi, sama sekali tidak merujuk karya al-Sulami, saat
membahas posisi al-Ghazali dalam Perang Salib. Padahal, kitab ini sangat penting untuk memahami
kisah sukses kaum Muslim dalam merebut kembali Jerusalem dari tangan Pasukan Salib– termasuk
peran al-Ghazali di dalamnya.
Ali al-Sulami melihat, kelemahan Muslim bukan hanya di bidang politik, tetapi menyangkut soal sikap
keagamaan. Melihat kondisi Muslim yang parah, al-Sulami merumuskan strategi jihad dalam dua tahap:
(1) Melakukan perbaikan moral untuk mengakhiri kemunduran spiritual kaum Muslim. Ia melihat,
kekalahan Muslim adalah pelajaran dan hukuman dari Allah, sebab mereka meninggalkan kewajiban
kepada Allah dan mengabaikan kewajiban jihad. (2) Melakukan penggalangan potensi kekuatan umat
melawan Crusaders.
Dalam tahap perbaikan moral itulah, al-Sulami banyak mengutip pendapat al-Ghazali, termasuk dalam
soal jihad. Tampaknya, al-Sulami bertemu al-Ghazali di Masjid Ummayah Damascus, saat al-Ghazali
melakukan perenungan di Masjid ini pada periode awal Perang Salib. Saat-saat itulah al-Ghazali menulis
karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitabnya, al-Sulami mendeskripsikan secara jelas
kondisi, situasi dan strategi mengalahkan pasukan Salib. Jihad ke dalam, memerangi hawa nafsu, dan
jihad ke luar memerangi musuh, dipadukan menjadi satu kekuatan yang dahsyat.
Selama puluhan tahun, dakwah al-Sulami tidak mendapat sambutan berarti. Titik terang mulai muncul
saat pasukan Muslim di bawah pimpinan Imamuddin Zengi, merebut Edessa pada 1144. Sukses
Imamuddin dilanjutkan putranya, Nuruddin Zengi, yang mengalahkan pasukan Salib pada 1149. Para
penulis menggambarkan Nuruddin merupakan sosok religius dan pahlawan jihad.
Sepeninggal Nuruddin (1174), tampil keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan
Muslim. Tokoh inilah yang berhasil membebaskan Jerusalem dari pasukan Salib pada 1187.
Refleksi dalam berbagai hal, kondisi kaum Muslim kini, serupa dengan kondisi saat Perang Salib
berlangsung. Perang ini sendiri memakan waktu yang panjang (1096-1204). Pasukan Salib hanya berhasil
menduduki Jerusalem sekitar 87 tahun (1099-1187). Kelemahan akidah, moral, dan politik umat Islam
dipandang sebagai satu problem. Solusi al-Sulami yang melihat problem umat secara komprehensif dan
mengajukan solusi secara integral, perlu dipelajari. Problem politik, ekonomi, dan militer umat, tidak
dipisahkan dari problem pendidikan dan dakwah. Bahkan, ia menempatkan aspek ini pada tahap awal,
sebelum menyelesaikan problem politik dan militer.
Namun, kondisi kaum Muslim kini tentu jauh lebih rumit. Ibarat penyakit, saat Perang Salib, umat Islam
hanya terserang semacam “infeksi batu ginjal”. Kini, umat Islam terserang penyakit kompleks, sejenis
kanker ganas yang menghancurkan sel-sel tubuh. Bukan hanya secara ekonomi, politik, dan militer
(untuk kawasan tertentu, seperti Palestina), kaum Muslim terhegemoni.
Tapi, secara moral, konsep keilmuan, dan semangat pun, banyak yang tidak percaya diri pada konsep
Islam. Bahkan, lebih jauh, tak sedikit cendekiawan, ulama, dan tokoh Islam sendiri, yang meyakini bahwa
peradaban Barat – dengan nilai-nilai sekular dan liberalnya – adalah jalan kebangkitan umat Islam.
Mereka menyerang habis-habisan pandangan tentang “keunikan Islam”. Bahwa, Islam dan juga al-
Qur’an sama saja dengan agama dan kitab lain. Konsep inna al-diina ‘indallahi al-islam dan al-islaamu
ya’luu wa yu’laa ‘alaihi diputar balik dan ditentang jauh-jauh. Padahal, Barat masih percaya dan
memaksakan konsep sekuler-liberalnya sebagai pandangan hidup dunia. Pada saat yang sama, justru
langka ulama-ulama yang mumpuni dalam konsep keilmuan Islam dan sekaligus mumpuni mengkounter
konsep destruktif terhadap Islam.
Jalan kebangkitan adalah satu sunnatullah. Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang jatuh bangunnya satu
kaum atau peradaban (Mis. QS 6:44, 17:16). Jika umat Islam gagal belajar dari sejarah – sebagaimana
diperintahkan al-Quran – dan gagal merumuskan masalahnya secara komprehensif, serta hanya melihat
dan menangani masalahnya secara parsial dan superfisial, sulit dibayangkan, kebangkitan Islam akan
terjadi dalam waktu dekat. Jangan-jangan, kebangkitan nanti menunggu munculnya generasi baru yang
dijanjikan Allah (QS 5:54). Sebab, generasi yang ada didominasi oleh pangabaian terhadap problem
keilmuan, akidah, syariah, ukhuwah, dan terlalu sibuk untuk mengejar kepentingan dan kemenangan
komunal, parsial, dan sesaat. (Sabili)
Juga Perlu Diberantas, Korupsi aqidah, iman, etika, hukum Islam dan konsep al-Quran
Filed under: Adian Husaini,MA, Seputar pemikiran islam — iaaj @ 8:19 am
Jika korupsi harta dijadikan masalah besa sekarang inir, maka seyogyanya, korupsi aqidah, korupsi iman,
korupsi konsep al-Quran, korupsi konsep etika dan hukum Islam, seharusnya juga menjadi agenda
serius. Upaya sebagian kalangan untuk melepaskan etika dari agama dan membangun “ethic without
religion” adalah upaya yang salah dan rapuh. Etika tanpa agama akan berakhir dengan kekacauan.
Ketika itulah akan muncul anggapan umum, bahwa korupsi bahaya buat masyarakat, tetapi zina – dan
semua yang mendorong ke arah perzinaan, seperti pornografi – dianggap bukan hal yang bahaya.
Wartawan, Farid Gaban, pernah menulis di Harian Republika berjudul “Negeri Vampire” untuk korupsi
dalam semua sektor kehidupan di Indonesia.
Kamis, (15 Januari 2004), dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah
mendeklarasikan Gerakan Nasional Anti-korupsi. Menurut Din Syamsuddin, wakil ketua PP
Muhammadiyah, gerakan tersebut merupakan gerakan moral untuk memberikan rasa berani kepada
masyarakat dan penegak hukum supaya berani mengungkapkan dan menangani kasus-kasus korupsi.
Dalam jangka panjang, gerakan itu bertujuan menguatkan basis budaya dan pendidikan antikorupsi
dengan memberdayakan masyarakat. Peristiwa ini sungguh hal yang menggembirakan dalam
perkembangan sosial-politik di Indonesia di awal tahun 2004.
Menjelang pemilu 2004, gerakan antikorupsi semakin meningkat. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (KPTPK), yang memiliki kewenangan besar dalam upaya pemberantasan kasus korupsi, pun
sudah dibentuk.
Sepertinya, seluruh bangsa Indonesia sudah sepakat, bahwa korupsi memang harus diberantas.
Keterlibatan organisasi dan tokoh-tokoh agama semakin menambah kuatnya gaung gerakan antikorupsi.
Banyak konglomerat dan juga mantan pejabat yang sudah dijebloskan ke penjara, gara-gara kasus
korupsi. Namun, mungkin, lebih banyak lagi yang belum disentuh hukum. Bahkan ada yang mungkin tak
tersentuh hukum atau kebal hukum.
Yang hebat lagi, jika ada yang melakukan korupsi sambil terus berkampanye melawan korupsi dan rajin
berceramah tentang perlunya menegakkan hukum. Semua orang Indonesia tahu, korupsi sudah menjadi
bagian dan gaya hidup kita. Kata Ketua Muhammadiyah, M. Syafii Maarif, korupsi sudah menggerogoti
sendi-sendi kehidupan bangsa. Di sekolah, universitas, kantor pemerintah, pelabuhan, dan sebagainya,
ada korupsi. Datanglah ke bandara Soekarno Hatta untuk bepergian ke luar negeri. Biasanya, tak lama,
akan ada yang datang menawarkan jasa untuk mengurus fiskal senilai Rp 800.000. Hemat Rp 200.000
dari tarif resmi.
“Kita juga tidak tahu Pak, uang itu larinya kemana?” kata seorang petugas, mempertanyakan kemana
larinya uang fiskal yang Rp 1 jt. Di mana-mana! Sekolah dikatakan gratis, tidak ada pungutan. Itu
omongan pejabat. “Tanya saja ke Pak Menteri,” kata seorang guru sekolah dasar ketika dikonfirmasi,
bahwa tidak ada uang pungutan untuk siswa baru. Mau mengurus dokumen jalur cepat, ada tarifnya
sendiri. Mau agak lambat, ada tarifnya. Belum lama, saya mengurus satu dokumen. Biasanya selesai 5-6
hari. Orang yang antri di depan saya minta selesai hari itu juga. Petugas dengan cepat menyetujui, tapi
bayarnya naik hampir dua kali lipat. Begitu mau masuk kantor pemerintah itu, sejumlah orang sudah
mendekati saya, dan menawarkan jasa, kalau dokumen mau selesai hari ini, bisa dia uruskan. Padahal, di
beberapa bagian dinding di kantor itu banyak ditempeli pengumuman yang melarang berurusan dengan
calo. Di berbagai kantor itu pun sudah disediakan berbagai keperluan pengunjung, yang harganya bisa
dua, tiga, atau empat kali harga di toko-toko umum. Tidak ada pilihan, harus beli.
Seorang wartawan, Farid Gaban, pernah menulis sebuah essay indah di Harian Republika berjudul
“Negeri Vampire”. Di negara itu, semua elemen terlibat proses saling menghisap dan saling melukai. Jika
dia di peras dalam satu sektor kehidupan, maka dia akan membalas memeras pada sektor yang dia
kuasai. Dari bawah ke atas. Dari atas ke bawah, terjadi lingkaran vampire, saling menghisap dan
menindas.
Korupsi di Indonesia memang mengerikan. Namun, karena sudah menjadi bagian dan gaya hidup,
banyak yang merasa biasa-biasa saja. Tengoklah prestasi korupsi negara kita. Meskipun laporan
Transparansi Internasional tidak dapat dibenarkan 100 persen, tetapi inilah yang diekspose di dunia
internasional.
Tahun 1996 Indonesia masuk peringkat keenam negara terkorup dari 85 negara yang disurvei, setelah
Nigeria, Tanzania, Honduras, Paraguay, dan Kamerun. Kemudian tahun 1999 Indonesia naik ke peringkat
tiga dari 99 negara yang disurvei setelah Nigeria dan Kamerun. Tahun 2000 Indonesia menempati
peringkat kelima sebagai negera terkorup dari 90 negara yang disurvei, setelah Azebaijan, Ukraina,
Yugoslavia, dan Nigeria. Tahun 2001 peringkat Indonesia naik ke posisi keempat dari 96 negara yang
disurvei. Juga tahun 2002 Indonesia tetap bertahan di peringkat keempat negara terkorupsi dari 102
negara yang disurvei, setelah Bangladesh, Negeria, dan Paraguay.
Begitu dahsyatnya korupsi, sehingga turun tangannya NU-Muhammadiyah, tentu diharapkan dapat
mengurangi kadarnya yang terlalu tinggi. Dari mana mulainya? Ya sebaiknya dari tubuh NU dan
Muhammadiyah sendiri. Setelah itu dari para ulama dan tokoh-tokoh agama, lalu para pejabat tinggi,
mulai Presiden, menteri, dan seterusnya. Ibda’ binafsika. Mulai dari diri sendiri.
Tokoh-tokoh organisasi keagamaan yang terindikasi korupsi, segera dinonaktifkan, dan jika terbukti,
tidak diakui sebagai warga organisasi tersebut. Begitulah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw
dalam membangun satu masyarakat Islam teladan. Beliau saw sudah mengingatkan, bahwa hancurnya
satu bangsa akan terjadi jika bangsa itu memberikan kelonggaran kepada para elite-nya untuk
melakukan pelanggaran hukum, sementara rakyat jelata, diberikan sanksi hukum yang tegas jika
melanggar.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya hancurlah orang-orang sebelum kamu. Sebab, jika ada orang-
orang besar (elite) mencuri, maka mereka dibiarkan saja. Tetapi jika yang mencuri adalah kaum yang
lemah (rakyat jelata), maka dijatuhi hukuman potong tangan. Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-
Nya, andaikan Fatimah binti Muhammad (SAW) mencuri, maka pasti akan aku potong tangannya.” (HR
Ahmad, Muslim, dan Nasai).
Sumpah semacam itu perlu dibudayakan oleh para elite negara. Almarhum Hartono Mardjono pernah
mengajukan gagasan “sumpah laknat” untuk para hakim, sebelum memutuskan perkara, yang bunyinya
kira-kira: “Demi Allah, jika saya bersikap tidak adil dalam memutuskan perkara ini, maka Ya Allah,
kutuklah aku!” Para calon Presiden, seyogyanya diminta bersumpah semacam itu, “Demi Allah, kalau
aku korupsi, maka Ya Allah kutuklah aku dan keluargaku.” Jika para tokoh NU dan Muhammadiyah
bersumpah: “Demi Allah, jika ada warga Muhammadiyah yang korupsi, maka akan kami keluarkan dari
organisasi, lalu disambung doa: Ya Allah, kutuklah, laknatlah, para pimpinan dan warga organisasi kami
yang korupsi!” maka pengaruhnya Insyaallah akan sangat hebat untuk pemberantasan korupsi.
Sebenarnya, ada banyak jenis korupsi yang perlu diberantas. Bukan hanya korupsi harta. Kata korupsi,
berasal dari bahasa Latin “corruptus–corrumpere”, yang diartikan dengan “break to pieces, destroy”.
Jadi, dari kata asalnya, semua yang menimbulkan kehancuran, bisa disebut dengan istilah “korupsi”.
Secara maknawi, istilah in kemudian berkembang dan memiliki makna khusus, terutama yang berkaitan
dengan istilah hukum. Hal in sudah banyak dimaklumi.
Ada satu jenis korupsi yang jarang disinggung dan diungkapkan, yaitu korupsi ilmu, atau korupsi
kebenaran. Prof. Syed Muhammad Nuquib al-Attas dalam karya monumentalnya, berjudul
“Prolegomena to The Metaphysics of Islam”, menggunakan istilah “curruption of knowledge” untuk
korupsi jenis ini. Ia menulis, bahwa “Our real challenge is the problem of the corruption of knowledge”.
Tantangan utama kita adalah problem korupsi ilmu pengetahuan. Problema ini datang dari kerancuan
dari dalam maupun yang datang dari pengaruh filsafat, sains, dan ideologi budaya dan peradaban Barat
modern. Alatas menekankan faktor penyebaran sekularisasi sebagai penyebab penting kerancuan yang
ujungnya adalah krisis kebenaran dan krisis identitas.
Kerancuan ilmu memang jauh lebih serius dampaknya dibandingkan “kejahilan”. Ulama atau
cendekiawan yang menyebarkan ilmu yang salah akan berdampak buruk kepada masyarakat. Besarnya
pengaruh budaya dan peradaban Barat – termasuk dalam tradisi keilmuan–telah menyeret dunia ke
jurang kehancuran yang luar biasa seriusnya. Secara ekonomi, politik, budaya, lingkungan, pertahanan-
keamanan, dunia sekarang berada di jurang kehancuran. Semua in berawal dari kerancuan ilmu. Barat
yang mewarisi tradisi Yunani, Kristen, dan juga peradaban Islam, telah melakukan proses sekularisasi
dalam seluruh apek kehidupan, memisahkan ilmu pengetahuan dari Tuhan. Ini akibat trauma yang
mendalam mereka terhadap warisan sejarah mereka sendiri, terutama ketika agama Kristen
mendominasi kehidupan dan berlaku sewenang-wenang. Sampai-sampai pada abad ke-18, di Eropa
muncul fenomena yang dinamakan “anticlericalism” (anti-pendeta).
Trauma terhadap agama begitu mendalam. Terutama dengan alat kekuasaan (institusi) Gereja yang
bernama Inquisisi. Sampai-sampai mantan biarawati, bernama Karen Armstrong menulis, bahwa salah
satu institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi. (Most of us would agree that one of the most evil
of all Christian institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in the Catholic Church
until the end of seventeenth century. Its methods were also used by Protestants to persecute and
control the Catholics in their countries. (Lihat, Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their
Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).
Owen Chadwick, dalam bukunya, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century,
(New York: Cambridge University Press, 1975), mengungkap sebuah ungkapan populer ketika itu, yang
menunjukkan fenomena anti-clericalism di kalangan masyarakat Eropa: “Beware of a women if you are
in front of her, a mule if you are behind it, and a priest wether you are in front or behind.” (Hati-hatilah
terhadap wanita, jika berada di depannya; hati-hatilah terhadap bagal jika berada dibelakangnya; dan
hati-hatilah terhadap pendeta baik kamu di depan atau di belakangnya).
Peter de Rosa, dalam bukunya, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, membuka bukunya itu
dengan petikan surat Lord Acton, tahun 1887, yang ditujukan kepada seorang penguasa Gereja, Bishop
Mandell Creighton. Isinya antara lain: “All power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.”
Robert Held, dalam bukunya, “Inquisition”, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat
mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh Gereja ketika itu. Dia paparkan lebih
dari 50 jenis dan model alat-alat siksaan yang sangat brutal, seperti pembakaran hidup-hidup,
pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, dan
berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban
penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita.
Antara tahun 1450-1800, diperkirakan antara dua-empat juta wanita dibakar hidup-hidup di dataran
Katolik maupun Protestan Eropa. Fenomena Barat modern inilah yang memunculkan orang-orang yang
terang-terangan anti-Kristen. Jika sebelumnya, para cendekiawan yang dipandang mengancam Gereja,
maka pada abad-abad ke-19 dan seterusnya, bermunculan cendekiawan yang sekuler, agnostik, atau
atheis. Ide liberalisasi, yang arti asalnya, adalah bebas dari segala batasan (free from restraint),
mendominasi Eropa abad ke-19. Sampai-sampai mereka benar-benar tidak ingin melibatkan agama
dalam kehidupan mereka sehari-hari, selain Sebago masalah individual. Dalam dunia sains pun
diusahakan sekuat mungkin terlepas dari unsur-unsur agama. Sampai-sampai Teori Darwin, yang
sebenarnya bukan teori ilmiah, terus dipertahankan sebagai mitos dalam dunia ilmiah dan diajarkan di
sekolah-sekolah melalui mata ajaran Biologi, termasuk di negeri-negeri Muslim.
Korupsi besar-besaran dalam dunia ilmu pengetahuan, melalui proses sekularisasi inilah yang kemudian
ditularkan dan diajarkan kepada kaum Muslim. Dalam sejarah peradaban Islam, fenomena seperti in
tidak ditemukan. Para ulama dan cendekiawan Muslim di masa lalu adalah orang-orang yang tidak
memisahkan berbagai jenis ilmu pengetahuan. Meskipun al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan,
menjadi ilmu dunia dan ilmu-ilmu syariat, tetapi beliau menekankan aspek fardhu ain dan fardhu kifayah
dalam penelaahan ilmu. Seorang Muslim wajib menguasai ilmu-ilmu fardhu ain dan sekaligus bagi
orang-orang tertentu yang dikaruniai Allah kemampuan akal yang tinggi, berkewajiban mengembangkan
jenis-jenis ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Maka, tidak heran, jika para
ilmuwan Muslim terdahulu, yang memiliki kepakaran tinggi di bidang sains, adalah para ulama yang
mendalam pemahaman mereka tentang al-Quran, hadith, fiqih, dan sebagainya. Tradisi Islam tidak
menginginkan manusia terkotak-kotak menjadi “spesialis” yang hanya tahu bidangnya saja, dan tidak
tahu ilmu-ilmu lainnya. Prof. Dr. Wan Moh Nor Wan Daud, guru besar di ISTAC-IIUM, menulis buku yang
komporehensif berjudul “Budaya Ilmu”, yang isinya antara lain membandingkan perbedaan konsep
budaya ilmu antar berbagai peradaban, seperti budaya ilmu dalam masyarakat Yunani, Cina, India,
Yahudi, Barat, dan Islam. Dalam tradisi Yunani, misalnya, seperti dikatakan Robert M. Huchins, bekas
Presiden dan conselor University of Chicago, bahwa di Athens: “pendidikan merupakan matlamat
(tujuan.pen.) utama masyarakat. Kota raya me ndidik manusia. Manusia di Athens dididik oleh budaya,
oleh paideia.” Namun, meskipun berbudaya ilmu, masyarakat Yunani mengabaikan akhlak – satu ciri
budaya ilmu yang berbeda dengan budaya llmu dalam Islam.
Demonsthenes, seorang filosof Yunani, mengungkap pandangan kaum cerdik pandai tetapi pintar
menjustifikasi amalan tidak berakhlak: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans)
untuk keseronokan (keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk
melahirkan zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”
Satu konsep menarik yang diajukan penulis buku in adalah konsep “integratif” – disamping konsep
“Islamisasi”. Penulis mengkritik keras konsep “spesialisasi sempit” yang membutakan ilmuwan dari
khazanah keilmuan bidang-bidang lain. Ia menekankan perlunya menjelmakan sifat keilmuan yang multi-
disciplinary dan inter-disciplinary. Spesialiasi yang membutakan terhadap bidang lain, menurut Jose
Ortega Y, filosof Spanyol yang berpengaruh besar selepas Nietszche, telah melahirkan “manusia biadab
baru” (a new barbarian). Tradisi keilmuan yang menghasilkan “manusia barbar” inilah yang tidak dikenal
dalam tradisi Islam.
Inilah jenis korupsi yang sangat serius dan perlu juga diberi perhatian besar oleh para tokoh dan
organisasi keagamaan. Kerancuan, kekacauan, dan kekeliruan dalam memahami ilmu, menjadi pangkal
kerancuan dan kehancuran satu peradaban. Jika korupsi harta dijadikan masalah besar, maka
seyogyanya, korupsi aqidah, korupsi iman, korupsi konsep al-Quran, korupsi konsep etika dan hukum
Islam, seharusnya juga menjadi agenda serius. Upaya sebagian kalangan untuk melepaskan etika dari
agama dan membangun “ethic without religion” adalah upaya yang salah dan rapuh.
Etika tanpa agama akan berakhir dengan kekacauan. Ketika itulah akan muncul anggapan umum, bahwa
korupsi bahaya buat masyarakat, tetapi zina – dan semua yang mendorong ke arah perzinaan, seperti
pornografi – dianggap bukan hal yang bahaya. Malah dikatakan, bahwa zina adalah “hak hiduk dan hak
untuk bekerja”, karena tidak merugikan orang lain. Inilah tradisi keilmuan Yunani yang diwarisi Barat
sekuler dan kemudian ditularkan ke dunia Islam. Bahkan, dalam legenda Yunani, para Dewa pun
berseingkuh dengan manusia. Cupid, anak Dewa Venus, terpikat oleh kecantikan seorang gadis bernama
Psyche dan akhirnya memboyongnya ke istana dewa. (Hidayatullah)
Kita berikan dukungan besar kepada NU dan Muhammadiyah untuk melakukan pemberantasan korupsi.
Tahniah. Semoga sukses.
Takkan Pernah Berhasil Upaya Meruntuhkan Orisinalitas Al Quran
Adian Husaini,MA,
Buku Christoph Luxenberg (nama samaran) yang berjudul “Die syro-aramaeische Lesart des Koran” telah
menarik banyak perhatian mayarakat Muslim, menyusul publikasinya oleh beberapa media massa.
Mulanya, Newsweek edisi 28 Juli 2003, melansir tulisan berjudul “Challenging the Qur’an”. Artikel yang
ditulis Stefan Theil itu kemudian memicu kontroversi dan akhirnya majalah itu dilarang beredar di
Pakistan. Di Indonesia, masalah ini menjadi ramai, setelah Majalah GATRA menampilkan masalah ini
sebagai cover story-nya pada No 37 edisi 4 Agustus 2003.
eramuslim – Bagi kaum Muslim, tentu, upaya untuk meruntuhkan orisinalitas al-Quran sebagai wahyu
Allah, bukan barang baru. Sepeninggal Rasulullah saw, Musailamah al-Kazhab sudah melakukan upaya
itu. Di setiap zaman, upaya itu selalu dijawab secara elegan dan saintifik oleh ulama dan cendekiawan
Muslim. Bagi sebagian kalangan, terutama kalangan orientalis Barat, karya Luxenberg (nama samaran)
ini dipandang sebagai ancaman terhadap kajian al-Quran. Dalam analisisnya terhadap buku Luxenburg di
Jurnal HUGOYE, Journal of Syriac Studies, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn, dari University of St.
Thomas, Summit Avenue St. Paul, mencatat implikasi metode kajian filologi yang dilakukan Luxenberg
terhadap al-Quran. Menurut mereka, “Any future scientific study of the Qur’an will necessarily have to
take this method into consideration. Even if scholars disagree with the conclusions, the philological
method is robust.”
Apa pun metodenya, kesimpulan kajian Luxenberg sebenarnya tidak terlalu beda dengan para orientalis
dan misionaris Kristen yang melakukan kajian serupa terhadap al-Qur’an. Intinya, mereka menggugat al-
Qur’an sebagai “wahyu” yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahwa al-Qur’an
adalah “tanzil”, “suci”, bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an (QS 15:9).
Menurut Luxenberg – dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlah kata dalam al-Qur’an Arab
yang diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac — Al Qur’an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah
salah salin (mistranscribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Al Qur’an, simpulnya, lebih mirip
bahasa Aramaic, ketimbang Arab. Dan naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan.
Dengan kata lain, al-Quran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT,
melainkan akal-akalan Utsman bin Affan r.a. Lunxenberg – seperti banyak orientalis lainnya –
mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi al-Qur’an. Ia menduga, teks al-Qur’an
yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini. Lebih
jauh, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn menyatakan, jika analisis Luxenberg benar, maka isi al-
Quran Mushaf Utsmani secara substansi berbeda dengan al-Qur’an di masa Nabi Muhammad saw.
Tuduhan semacam ini salah sama sekali, sebab proses kodifikasi al-Qur’an di zaman Utsman bin Affan
sangat terbuka kerjanya, dan al-Qur’an selalu diingat oleh ratusan, ribuan – bahkan kini jutaan kaum
Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim. Memang, dalam pendahuluan
bukunya, Luxenberg memaparkan signifikansi dari bahasa dan budaya Syriac bagi bangsa Arab dan al-
Quran. Di masa Nabi Muhammad saw, bahasa Arab bukanlah bahasa tulis. Bahasa Syro-Aramaic atau
Syriac adalah bahasa komunikasi tulis di Timur Dekat mulai abad ke-2 sampai 7 Masehi.
Bahasa Syriac dialek Aramaic merupakan bahasa di kawasan Edessa, satu negara kota di Mesopotamia
atas. Bahasa ini menjadi wahana bagi penyebaran agama Kristen dan budaya Syriac ke wilayah Asia,
Malabar dan bagian Timur Cina. Sampai munculnya al-Quran, bahasa Syriac adalah media komunikasi
yang luas dan penyebaran budaya Arameans, Arab, dan sebagian Persia. Budaya ini telah memproduksi
literatur yang sansat kaya di Timur Dekat sejak abad ke-4, sampai digantikan oleh bahasa Arab pada
abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Satu hal yang penting, menurut Luxenberg, literatur the Syriac-Aramaic dan
matrik budaya ketika itu, praktis merupakan literature dan budaya Kristen. Sebagian studi Luxenberg
menyatakan, literature Syriac yang kemudian menciptakan tradisi “Arab tulis” adalah ditransmisikan
melalui media Kristen.
Pada akhirnya, Luxenberg menyimpulkan, transmisi teks al-Quran dari Nabi Muhammad saw bukanlah
secara oral, sebagaimana keyakinan kaum Muslim. Al-Quran tak lebih dari turunan Bible dan liturgi
Kristen Syria. Bahasa asli al-Quran bukanlah “Arab”. Sebagai contoh, nama surat al-fatiha, berasal dari
bahasa Syriac ptaxa, yang artinya pembukaan. Dalam tradisi Kristen Syria, ptaxa harus dibaca sebagai
panggilan untuk berpartisipasi dalam sembahyang. Belakangan, dalam Islam, surat ini wajib dibaca
dalam salat. Kata-kata lain dalam al-Quran, seperti quran, jaw, hur, dan sebagainya, juga berasal dari
bahasa Syriac dan disalahartikan dalam al-Quran sekarang ini.
Beda Konsep
Sebenarnya, soal banyaknya unsur bahasa Syriac dalam al-Quran bukanlah hal yang aneh. Karena setiap
bahasa – apalagi bahasa serumpun, seperti Arab, Hebrew, Syriac — akan saling menyerap, sehingga
banyak mengandung kosakata yang identik. Apalagi, sebagai Nabi penutup, yang – diibaratkan oleh
Rasulullah saw sendiri – beliau adalah laksana “satu batu-bata yang menyempurnakan bangunan batu
bata dari satu bangunan risalah kenabian”. Karena itu, wajar, banyak istilah dan nama dalam al-Qur’an
yang memang terdapat pada Bible atau Taurat. Bahkan, al-Quran mewajibkan kaum Muslim untuk
mengimani Kitab-kitab yang pernah diturunkan Allah SWT kepada para Nabi.
Soal tudingan bahwa al-Quran bukanlah wahyu Allah dan hanyalah jiplakan dari orang non-Muslim,
sudah disebutkan dalam al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata:
“Sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal,
bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, adalah bahasa ‘Ajam.
Sedangkan al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. (‘Arabiyyun mubin).” (QS 16:103).
Jika dicermati, Al-Quran memang banyak menyerap istilah yang sama dengan istilah-istilah yang
digunakan agama-agama sebelumnya, bahkan istilah dalam tradisi Quraish. Shaum (puasa), misalnya,
jelas-jelas ditegaskan dalam al-Quran (QS 2:183) merupakan kewajiban yang dibebankan kepada kaum
Muslim dan umat sebelumnya. Tapi, konsep puasa dalam Islam, lain dengan konsep pada umat nabi
sebelumnya. Begitu juga salat, haji, nikah, dan sebagainya. Bahkan, sebutan “Allah” telah dikenal oleh
kaum Quraish, tetapi, konsep “Allah” dalam al-Quran sangat berbeda dengan konsep kaum jahiliyah
Quraish. Istilah “haji” sudah dikenal sebelum Islam.
Namun, istilah haji dalam Islam berbeda maknanya dengan “haji” sebelum Islam. Begitu juga nama-
nama para Nabi. Ibrahim, Dawud, Isa, dan para Nabi lainnya, a.s., dalam konsep al-Qur’an berbeda
dengan konsep nabi-nabi dalam Bible dan Taurat (yang sekarang). Misal, Al-Quran menggambarkan Nabi
Daud a.s. sebagai sosok yang saleh dan kuat. Berbeda, dengan Bible (2 Samuel 11:2-27) yang
menggambarkan Daud sebagai sosok yang buruk moralnya. Selain merebut dan menzinahi istri
pembantunya sendiri (Batsyeba binti Eliam), Daud juga menjebak suami si perempuan (Uria) agar
terbunuh di medan perang. Sedangkan al-Quran menyatakan: “Bersabarlah atas segala apa yang mereka
katakan, dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia amat taat
kepada Allah.” (QS 38:17)
Konsep Islam tentang “Isa” juga berbeda dengan konsep “Jesus” dalam Kristen, meskipun keduanya
merujuk kepada figur yang sama. Bahkan, jika ada yang menyebut agama Islam, Kristen, dan Yahudi
adalah rumpun “Abrahamic faith”, maka konsep Ibrahim dalam Islam jelas berbeda dengan konsep
Ibrahim dalam Yahudi dan Kristen. Al-Quran dengan tegas menyebut: “Ibrahim bukanlah Yahudi atau
Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).
Bukan Baru
Jadi, jika ditemukan banyak istilah atau terminologi dalam al-Quran yang sama dan identik dengan istilah
dalam Bible atau tradisi sebelum Islam, bukanlah berarti al-Quran menjiplak dari Kitab agama lain.
Sebab, salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai “parameter” dan korektor” terhadap penyimpangan
terhadap Kitab sebelumnya. Al-Quran banyak mengingatkan terjadinya penyimpangan dan perubahan
pada Kitab para Nabi itu (QS 4:46, 2:75, 2:79).
Maka, kesimpulan Luxenberg, bahwa “Al-Quran memuat artikel tertentu dari Bibel (Perjanjian Lama dan
Baru) yang dibacakan dalam kebaktian Kristen”, masih sangat dangkal dan sama sekali tidak
meruntuhkan kewibawaan Mushaf Utsmani yang memiliki kekuatan hujjah yang kuat sebagai wahyu
Allah SWT. Apalagi, kesimpulan seperti ini — meskipun menggunakan metode yang berbeda dengan
para orientalis sebelumnya — bukanlah barang baru dalam tradisi orientalis dan misionaris Kristen.
Itu bisa disimak misalnya, pada buku karya Samuel M. Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur
Tengah, yang berjudul “Islam: A Challenge to Faith” (terbit pertama tahun 1907). Di sini, Zwemmer
memberikan resep untuk “menaklukkan” dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya sebagai “studies on
the Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan World From the
standpoint of Christian Missions”. Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipimjam
oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry,
Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, dan Christianity. Termasuk yang dipinjam dari Christianity, menurut
Zwemmer, adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashabul kahfi, Lukman, Iskandar Zulkarnaen,
dan sebagainya. Tentang al-Quran ini, Zwemmer menyatakan:
(1) penuh dengan kesalahan sejarah
(2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal,
(3) mengajarkan hal yang salah tentang kosmogoni
(4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, intoleransi keberagamaan, pengasingan dan
degradasi wanita. Di akhir penjelasannya tentang al-Quran, Zwemmer mencatat: “In this respect the
Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, though, unlike them, it is
monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament.” (1985:91).
Semangat seperti Samuel Zwemmer dalam melecehkan al-Quran inilah yang tampaknya ada pada kajian
Luxenberg, meskipun dengan cara yang lebih halus dan sedikit canggih. Kaum Muslim, tentu saja, perlu
menelaah karya semacam ini dengan cermat, dan memberikan argumentasi yang tepat dan ilmiah
terhadap setiap upaya penghancuran al-Quran. Wallahu a’lam (Hidayatullah.com)
Adian Husaini
Catatan Akhir Pekan -17 Radio Dakta
DEKONTRUKSI AQIDAH ISLAM
Adian Husaini
Wawancara Ulil Abshar Abdalah dengan Jalaludin Rachmat berjudul “Kafir itu Label Moral, bukan
Aqidah”, mengatakan, istilah “kafir” sudah tidak relevan. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-24
Kamis (25 September 2003) banyak berita menarik yang muncul berbagai website media massa. Hampir
semua media menampilkan berita tentang kerusuhan di Sumbawa Besar yang menewaskan satu orang
dan mencederai 11 lainnya. Koran Berbahasa Inggris The Jakarta Post masih memuat poling calon
presiden oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, yang mengunggulkan Megawati dan
Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden RI 2004-2009. Dari Israel muncul berita menarik: 9
orang pilot Israel terancam dipecat karena menolak menembaki penduduk sipil Palestina. Berita
pembangkangan pilot Israel ini juga dimuat oleh situs Harian Republika dan juga Islamonline.net.
Berita tentang pilot Israel ini cukup menarik. Koran Haaretz, melaporkan peristiwa ini cukup detail.
Pekan lalu, 27 mantan pilot Israel membuat pernyataan menolak melakukan aksi di wilayah Palestina.
Dari 27 orang itu, 9 pilot masih aktif di AU Israel. Ke-9 orang itulah yang kini diskors dan terancam
dipecat, jika mereka menolak mencabut pernyataan yang telah mereka sebarluaskan ke media massa.
Para pilot Israel itu menyatakan, serangan udara di wilayah Palestina merupakan tindakan illegal dan
amoral. Di antara pilot pembangkang itu adalah Brigadir Jenderal (Purn) Yiftah Spector, komandan
squadron dalam Perang tahun 1973.
Mereka menyatakan, mereka akan menolak terlibat dalam serangan udara terhadap penduduk Palestina
di wilayah itu. “We, both veteran and active pilots, who have served and who still serve the state of
Israel, are opposed to carrying out illegal and immoral orders to attack, of the type Israel carries out in
the territories,” begitu pernyataan mereka. Berita-berita seperti ini segera menarik media internasional,
karena merupakan perlawanan dari dalam tubuh zionis Israel sendiri.
Berita-berita itu dari sudut jurnalistik memang menarik – dalam arti, mudah menarik minat pembaca
untuk mengikutinya. Namun, disamping berita-berita seputar perkembangan sosial, politik dalam negeri,
dan politik internasional, ada berita-berita dan tulisan-tulisan yang sebenarnya sangat perlu
mendapatkan perhatian serius dan terus-menerus oleh kaum Muslimin di Indonesia adalah berita-berita
dan artikel-artikel yang muncul si website Jaringan Islam Liberal (JIL). Mengapa?
Sebab: Pertama, berita-berita dan artikel-artikel itu disiarkan secara luas oleh berbagai media massa.
Selain melalui jaringan Koran Jawa Pos di berbagai daerah, berita-berita di website ini juga disiarkan
melalui jaringan radio satelit Kantor Berita Radio 68H, yang kini dipancarteruskan oleh radio Emsa 91,45
FM Bandung; Anisa Tritama 92, 15 FM Garut; FM Merak 93,55 FM Banten; Unisi 104,75 Jogyakarta; TOP
89,7 FM Semarang; PAS 101,2 Pati; Elviktor 94,6 FM Surabaya; Sonya 106,5 FM Medan; Suara Andalas
103 FM Lampung; Gema Hikmah Ternate, 103 FM Maluku Utara; Suara Selebes 100,2 FM Gorontalo;
SPFM 103,7 FM Makassar, Ujung Pandang; Nusantara Antik 105,8 FM Banjarmasin; Mandalika 684 AM
Lombok; DMS 100,9 FM Ambon, Maluku; Volare 103 FM Pontianak; Bulava 100,2 FM Poso; Elbayu 954
AM Gresik, Jawa Timur; Suara Padang 102,3 FM Sumatera Barat. Daftar radio ini terus diusahakan untuk
bertembah lagi.
Kedua, berita dan artikel itu ditulis dan diucapkan oleh orang-orang yang memiliki otoritas, baik secara
kelembagaan Islam maupun kepakaran atau latar belakang pendidikan. Dalam situasi pertarungan opini
secara bebas, maka kedua factor tersebut memegang perenan penting untuk “memenangkan”
pertarungan opini di Indonesia. Opini akan membentuk image, dan jika image itu ditanamkan secara
terus menerus, maka akan membentuk satu persepsi di tengah masyarakat.
Kamis (25-9-2003) itu ada sejumlah artikel yang muncul di website islamlib.com, diantaranya:
“Depolitisasi Syariat Islam”, “Hermeneutika Ayat-ayat Perang”, “Teori Konspirasi selalu Meneror
Kebenaran”, “Kafir itu Label Moral, bukan Aqidah”, dan sebagainya. Yang perlu kita cermati kali ini
adalah tulisan yang berjudul “Kafir itu Label Moral, bukan Aqidah”, yang merupakan wawancara Ulil
Abshar Abdalla dengan Dr. Djalaludin Rachmat dari Bandung. Djalaludin Rahmat ditanya: “Lantas
bagaimana dengan konsepsi tentang orang kafir yang sering diteriakkan juga oleh mereka yang merasa
berjuang di jalan Allah itu; apakah konsep ini sudah tepat penggunaannya?
Jawabnya: “Konsep tentang kafir masih tetap relevan, karena sebagai istilah, dia ada di dalam Alqur’an
dan Sunnah. Hanya saja, mungkin kita harus merekonstruksi maknanya lagi –bukan mendekonstruksi.
Saya berpendapat, kata kafir dan derivasinya di dalam Alqur’an selalu didefinisikan berdasarkan kriteria
akhlak yang buruk. Dalam Alqur’an, kata kafir tidak pernah didefinisikan sebagai kalangan nonmuslim.
Definisi kafir sebagai orang nonmuslim hanya terjadi di Indonesia saja.
Saya ingin mencontohkan makna kafir dalam redaksi Alqur’an. Misalnya disebutkan bahwa orang yang
kafir adalah lawan dari orang yang berterima kasih. Dalam Alqur’an disebutkan, “immâ syâkûran
waimmâ kafûrâ (bersukur ataupun tidak bersukur); lain syakartum la’azîdannakum walain kafartum inna
‘adzâbî lasyadîd (kalau engkau bersukur, Aku akan tambahkan nikmatku, kalau engkau ingkar (nikmat)
sesungguhnya azabku amat pedih). Di sini kata kafir selalu dikaitkan dengan persoalan etika, sikap
seseorang terhadap Tuhan atau terhadap manusia lainnya. Jadi, kata kafir adalah sebuah label moral,
bukan label akidah atau keyakinan, seperti yang kita ketahui.
Tanya Ulil Abshar lagi: Jadi, orang yang perangai sosialnya buruk meskipun seorang muslim bisa juga
disebut orang kafir?
Djalaludin Rahmat: Betul. Saya sudah mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an tentang konsep kafir. Dari situ
ditemukan, kata kafir juga dihubungkan dengan kata pengkhianat, dihubungkan dengan tindak
kemaksiatan yang berulang-ulang, atsîman aw kafûrâ. Kafir juga bermakna orang yang kerjanya hanya
berbuat dosa, maksiat.
Selain itu, orang Islam pun bisa disebut kafir, kalau dia tidak bersyukur pada anugerah Tuhan. Dalam
surat Al-Baqarah misalnya disebutkan, “Innalladzîna kafarû sawâ’un ‘alaihim aandzartahum am lam
tundzirhum lâ yu’minûn.” Artinya, bagi orang kafir, kamu ajari atau tidak kamu ajari, sama saja. Dia tidak
akan percaya. Walaupun agamanya Islam, kalau ndableg nggak bisa diingetin menurut Alqur’an disebut
kafir. Nabi sendiri mendefinisikan kafir (sebagai lawan kata beriman) dengan orang yang berakhlak
buruk. Misalnya, dalam hadis disebutkan, “Tidak beriman orang yang tidur kenyang, sementara
tetangganya lelap dalam kelaparan.”)
Itulah wawancara antara Ulil dengan Djalaluddin Rahmat. Kita bisa melihat, bagaimana aneh dan
ganjilnya penjelasan Djalaluddin Rahmat tentang konsep kafir dalam Islam itu. Memang, secara
etimologis, orang yang tidak bersyukur bisa disebut kafir. Allah berfirman, jika jika seorang bersyukur,
maka Allah akan menambah nikmat-Nya, dan jika dia kufur, maka sesuangguhnya azab Allah sangat
pedih. Tetapi, dalam ayat-ayat lainnya, al-Quran juga menggunakan kata kufur untuk orang-orang non
Muslim dan orang-orang yang menyimpang aqidahnya. Misalnya, surat al-Bayyinah menjelaskan, bahwa
sesungguhnya orang-orang kafir, dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin, mereka akan masuk ke dalam
neraka jahannam. Surat al-Maidah ayat 72-75 juga menjelaskan, sungguh telah kafirlah orang-orang
yang menyatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga; atau yang menyatakan, bahwa Allah
SWT itu sama dengan Isa Ibnu Maryam.
Bahkan, al-Quran juga memuat satu surat khusus, yaitu surat Al-Kafirun, yang dengan tegas
menyatakan, “Hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.” Jadi, ayat ini jelas
berkaitan dengan aqidah, yaitu aspek peribadahan. Oleh sebab itu, sangatlah aneh, jika seorang pakar
yang terkenal, seperti Djalaluddin Rahmat menyatakan: “Jadi, kata kafir adalah sebuah label moral,
bukan label akidah atau keyakinan, seperti yang kita ketahui.” Apalagai, dia katakana: “Dalam Alqur’an,
kata kafir tidak pernah didefinisikan sebagai kalangan nonmuslim. Definisi kafir sebagai orang
nonmuslim hanya terjadi di Indonesia saja.”
Al-Quran yang manakah yang dikaji oleh Djalaluddin Rahmat? Ribuan ulama Islam telah menulis tafsir
dan mereka tidak pernah berbeda pendapat tentang istilah “kafir” untuk sebutan bagi orang non-
muslim. Di dalam al-Quran surat Mumtahanah ayat 10, disebutkan tentang dalil larangan perkawinan
antara wanita muslimah dengan orang-orang kafir. Dalam ayat ini ada redaksi “Falaa tarji’uuhunna ilal
kuffaar”. Janganlah kamu kembalikan wanita-wanita muslimah yang berhijrah itu kepada kuffar. Karena,
wanita-wanita muslimah itu tidak halal bagi kaum kuffar itu dan kaum kuffar itu pun tidak halal bagi
mereka (laa hunna hillun lahum, wa laa hum yahilluuna lahunn). Kata kuffaar dalam ayat itu jelas
menunjuk kepada identitas idelogis, yaitu orang non-muslim. Bukan orang muslim yang perangainya
buruk.
Pendapat Djalaluddin Rahmat tentang “kafir” itu lebih jauh dari pendapat Nurcholish Madjid. Dalam
bukunya, “Islam Agama Peradaban” (2000) Nurcholish Madjid menyatakan, bahwa Ahlul Kitab tidak
tergolong Muslim, karena mereka tidak mengakui, atau bahkan menentang kenabian dan Kerasulan
Nabi Muhammad s.a.w. dan ajaran yang beliau sampaikan. Oleh karena itu dalam terminologi al-Quran
mereka disebut “kafir”, yakni, “yang menentang”, atau “yang menolak”, dalam hal ini menentang atau
menolak Nabi Muhammad s.a.w. dan ajaran beliau, yaitu ajaran agama Islam.
Jika dicermati, tampaknya, kaum Muslim saat ini memang didesak hebat untuk meninggalkan istilah
“kafir” sebagai sebutan bagi orang-orang non-muslim. Di Indonesia masalah itu sudah sering mulai
dilontarkan. Tokoh-tokoh dari kalangan NU seperti Ulil Abshar Abdalla, menyatakan, bahwa: “Semua
agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar. (GATRA, edisi 21
Desember 2002), “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki
non-Islam, sudah tidak relevan lagi. (Kompas, 18 November 2002).” Dari kalangan pimpinan
Muhammadiyah, Dr. Abdul Munir Mulkhan, menyatakan: “Jika semua agama memang benar sendiri,
penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu
adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya.”
Di Malaysia, pernah ramai ungkapan seorang menteri beragama Hindubernama Sammy Vellu, yang
menyatakan keberatan disebut sebagai kafir. Dalam sebuah kuliah umum yang dihadiri kalangan
akademisi dan eksekutif di Gedung Asia Pacific Develompent Center, Kuala Lumpur, tanggal 16 Agustus
2003, Prof. Dr. Syed Muhammad Nuquib al-Attas, ditanya: apakah masih boleh digunakan sebutan kafir
kepada kaum non-Muslim, karena hal itu dianggap mengganggu keharmonisan hubungan antar pemeluk
agama? Ketika itu, Prof. Al-Attas menjawab, bahwa istilah itu adalah istilah dalam al-Quran, dan ia tidak
berani mengubah istilah itu. Namun, dengan catatan, sebutan itu bukan berarti digunakan untuk
menunjuk-nunjuk dan memanggil kaum non-Muslim, “Hai kafir!” Kaum Muslim cukup memahami,
bahwa mereka kafir, mereka bukan muslim.
Sosok pemikir Muslim seperti Al-Attas kini mulai banyak diperbincangkan di dunia internasional. Ia
dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan proses Islamisasi dan menolak sekularisasi Barat. Meskipun
lulusan Islamic Studies di McGill University kanada dan University of London, al-Attas sejak tahun 1970-
an sudah mengingatkan kaum Muslimin, bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah Barat.
Dalam bukunya “Risalah untuk Kaum Muslimin” yang terbit pertama tahun 1973, ia sudah menyatakan,
bahwa antara Islam dan Barat terjadi konfrontasi yang abadi, yang ia sebut sebagai “permanent
confrontation”. Sosok dan kiprah al-Attas bisa disimak dalam Dialog Jumat Republika, Jumat, 27
September 2003.
Apa yang dilakukan kelompok Islam Liberal dengan melakukan dekonstruksi terhadap istilah “kafir” akan
memiliki dampak yang serius terhadap aqidah Islam. Dan ini adalah proyek puluhan tahun dari para
orientalis Barat. Sejumlah orientalis sudah lama menggulirkan gagasan istilah “Islam” dengan I besar dan
“islam” dengan i kecil. Nurcholish Madjid, dalam pidatonya di TIM tahun 1992, juga menggulirkan
gagasan islam sebagai ‘unorganized religion”. Bahwa, Islam lebih tepat dimaknai sebagai agama dalam
pengertian “berserah diri” kepada Tuhan. Dengan makna seperti itu, siapa pun, asal berserah diri
kepada Tuhan dapat dikatakan sebagai “muslim”.
Kini, istilah “kafir” bagi kaum non-Muslim, juga mulai digempur. Mengapa? hal ini tidak lain merupakan
refleksi dari sejarah dan pengalaman kaum Kristen terhadap agama mereka sendiri. Berbeda dengan
Islam, Kristen dan Yahudi adalah agama sejarah. Nama agama ini pun muncul dalam sejarah. Jesus tidak
pernah memberi nama agama yang dibawanya. Istilah Kristen, berasal dari nama Kristus (Yunani:
Kristos), yang artinya Juru Selamat (dalam bahasa Ibarni disebut sebagai Messiah). “Nasrani” menunjuk
pada nama tempat, Nazareth. Yahudi (Judaisme) bahkan baru abad ke-19 muncul sebagai istilah untuk
menyebut satu agama. Dalam bukunya berjudul, Judaism, Pilkington, menceritakan, bahwa pada tahun
1937, rabbi-rabbi di Amerika sepakat untuk mendefinisikan: “Judaism is the historical religious
experience of the Jewish people.” Jadi, agama Yahudi, adalah agama sejarah. Penamaan, tata cara
ritualnya, dibentuk oleh sejarah. Agama Kristen juga begitu, karena Yesus memang tidak meninggalkan
tata cara ritual atau teologi seperti yang dikenal sekarang.
Ini sangat berbeda dengan Islam. Nama agama ini diberikan oleh Allah. Kata “Islam”, selain memiliki
makna berserah diri, adalah nama agama. Surat Ali Imran ayat 19 dan 85 jelas-jelas menunjuk pada
makna Islam sebagai nama agama, sebagai “proper name”. Jadi, bukan nabi Muhammad saw yang
memberi nama agama ini. Maka, pada abad-abad ke-18 dan 19, para orientalis berusaha keras untuk
menyebut Islam dengan “Mohammedanism”. Tetapi, upaya mereka gagal. Selain itu, sejak awal, Islam
sudah merupakan agama yang sempurna. Islam sudah selesai. Allah menegaskan: “Al-yauma akmaltu
lakum diinakum”. Berbeda dengan agama lain, tata cara ritual Islam sudah selesai sejak masa nabi
Muhammad saw. Teologi dan ritualitas islam tidak dibentuk oleh sejarah. Dari contoh sederhana ini saja,
jelas menunjukkan, Islam memang berbeda dengan agama lain. Sebagai insitusi agama, islam adalah
institusi yang sah di mata Allah. Kaum Muslim yakin kan hal ini.
Karena itulah, Islam memang mengenal perbedaan antara Muslim dan non-Muslim; antara Muslim dan
kafir. Dengan itu bukan berarti orang yang lahir sebagai Muslim otomatis selamat, karena orang yang
secara formal menyatakan sebagai Muslim, belum tentu akan selamat di Hari Kiamat, jika ia bodoh,
ingkar terhadap ajaran Allah, atau munafik. Soal sorga dan neraka akan dibuktikan nanti di Akhirat.
Tetapi, bagi seorang Muslim, keyakinan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di mata
Allah, adalah bagian prinsip dari keimanan Islam. Jika orang lain ragu dengan agamanya sendiri,
mengapa keraguan ini diikuti oleh sebagian kaum Muslim?
Selama beratus-ratus tahun menjajah Indonesia secara fisik, Belanda tidak berhasil mengubah atau
meruntuhkan “bangunan” atau “epistemology” Islam. Struktur ajaran Islam yang prinsipal, seperti
bangunan “Islam-kafir” tidak berhasil diusik. Di kawasan Melayu, siapa yang keluar dari Islam, dan
memeluk agama lain, tidak diakui lagi sebagai bagian dari Melalyu. Begitu yang terjadi di Minang, Aceh,
Madura, Betawi, Sunda, dan sebagainya. Kini, di era hegemoni Barat, justru dari kalangan Muslim sendiri
yang bergiat meruntuhkan bangunan pokok Islam.
Hal-hal seperti ini perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari kalangan Muslim. Sebab,
dampaknya akan dapat dilihat pada sekitar 10-20 tahun mendatang. Kita akan melihat, bagaimana akhir
pertarungan pemikiran ini pada masa-masa itu. Apa yang akan terjadi, dan apakah upaya dekonstruksi
bangunan Islam ini akan berhasil? Semoga Allah SWT melindungi kaum Muslim. Amin.