The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-08-16 02:11:07

ADIAN HUSAINI 7

ADIAN HUSAINI 7

GHAZWUL FIKRI

ADIAN HUSAINI

ARKIB KOLEKSI CHEGU RIDHWAN
mahasiswamenggugat.blogspot.com

Virus Liberal di UIN Malang
sumber dari http://www.hidayatullah.com
Banyak mahasiwa di kampus-kampus IAIN/UIN begitu “resah” melihat perkembangan pemikiran dosen-
dosennya. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-231

Oleh: Adian Husaini
Pada hari Ahad, 6 April 2008, dalam sebuah acara Lembaga Dakwah Kampus di Malang, Jawa Timur,
sejumlah mahasiswa UIN dan STAIN dari beberapa kampus mengajukan pertanyaan kepada saya,
bagaimana cara menghadapi dosen-dosen yang mengajarkan paham liberalisme. Ada yang menyatakan,
bahwa di kampusnya, posisinya terjepit, karena tidak mudah untuk mengkritik dosen-dosen yang dalam
mengajar jutsru menanamkan keragu-raguan terhadap Islam.

Pertanyaan semacam itu sudah berulangkali dilontarkan para mahasiswa dalam berbagai kesempatan.
Dan itu tidaklah aneh. Sebab, kampus-kampus saat ini memegang prinsip kebebasan berpendapat. Di
kampus itu dijamin kebebasan berpendapat. Dosen berpikiran sesat atau tidak, itu bukan urusan
pimpinan kampus. Tapi, dianggap urusan individu masing-masing. Ada yang beralasan, bahwa
keragaman pemikiran dalam kampus adalah bagian dari kekayaan dan kebebasan akademis.

Dalam pandangan Islam, tentu saja, pola pikir semacam itu tidak benar. Sebab, dalam Islam ada
kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kemunkaran yang berat dalam Islam adalah
kemunkaran ilmu. Dosen yang mengajarkan paham Pluralisme Agama, misalnya, jelas-jelas telah
melakukan tindakan munkar, yang tidak kalah destruktifnya dibandingkan dengan dosen yang menilep
uang kampus.

Akibat diterapkannya asas kebebasan itulah, maka banyak mahasiswa menjadi korban. Mereka harus
berjuang sendiri menyaring, mana pemikiran dosen yang keliru dan mana pemikiran yang benar.
Biasanya, karena kebingungan dan tidak dapat menemukan jawaban, yang terjadi adalah sikap bingung
dan apatis. Setiap hari belajar Islam, tetapi dirinya tidak kunjung mendapatkan ilmu yang meyakinkan
dan menenangkan hati. Yang seringkali terjadi justru keragu-raguan, skeptis, kebingungan, dan
keresahan.

Kebingunan dan skeptisisme adalah buah dari penanaman paham relativisme kebenaran yang diajarkan
kepada para mahasiswa. Virus ini sudah begitu luas menyebar. Seringkali orang yang mengidapnya tidak

sadar. Bahkan, banyak yang bangga mengidapnya; bangga karena tidak lagi meyakini Islam sebagai
suatu kebenaran. Virus ini memang tidak menyerang tubuh manusia, yang diserang adalah pikiran.

Pengidap virus liberal ini biasanya sangat membanggakan akalnya dan mengecam orang Islam yang
menjadikan wahyu sebagai pegangan kebenaran. Akal, kata mereka, lebih penting daripada wahyu.
Mereka berpikir secara dikotomis, bahwa akal dan wahyu adalah dua entitas yang bertentangan. Jika
akal bertentangan dengan wahyu, kata mereka, maka tinggalkan wahyu, dan gunakan akal. Karena
mereka merelatifkan semua pemikiran yang merupakan produk akal manusia, maka jadilah mereka
manusia-manusia relativis, yang tidak mengakui bahwa manusia bisa mencapai kebenaran yang hakiki
yang meyakinkan (’ilm).

Paham yang mendewakan akal semacam ini sudah lama ditanamkan di Perguruan Tinggi Islam.
Pelopornya adalah Prof. Harun Nasution. Seperti dikatakan sendiri oleh Harun Nasution, bahwa misi dia
dalam melakukan pembaruan pemikiran dan kurikulum di IAIN adalah mengembangkan paham
Mu’tazilah di IAIN. Dalam buku ”Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution”,
Harun Nasution mengatakan:

”Sejak awal di McGill, aku sudah melihat pemikiran Muktazilah maju sekali. Kaum Muktazilah-lah yang
bisa mengadakan satu gerakan pemikiran dan peradaban Islam. Selanjutnya malah mendirikan
universitas di Eropa. Ini yang membuatku berfikir: kalau Islam zaman dulu begitu, mengapa Islam
sekarang tidak. Sebaiknya Islam zaman sekarang lebih didorong lagi ke sana.

Sejak itu harapanku cuma satu: pemikiran Asy’ariyah mesti diganti dengan pemikiran-pemikiran
Muktazilah, pemikiran para filosof atau pemikiran rasional. Atau dalam istilah sekarang, metodologi
rasional Muktazilah. Sebaliknya, metodologi tradisional Asy’ariyah harus diganti.”

Sejak awal tahun 1970-an sebenarnya sudah banyak yang memberikan kritik terhadap pemikiran Harun
Nasution. Salah satu kritik yang serius diberikan oleh senior Harun Nasution di McGill, yaitu Prof. Dr. HM
Rasjidi. Tetapi, kritik Rasjidi dianggap angin lalu. Proyek ’Muktazilahisasi’ IAIN pun sebenarnya hanya
batu pijakan untuk melakukan Westernisasi IAIN, sebab pemikiran yang dikembangkan kemudian,
bukanlah benar-benar pemikiran Muktazilah, tetapi pemikiran Islam ala Barat.

Karena itulah, kini, dengan mudah kita bisa mengamati, luasnya peredaran virus lieral ini. Virus! Sekecil
apa pun dia, tetaplah virus. Dia mempunyai daya yang merusak seluruh jasad. Virus pemikiran ini pun

tidak berbeda hakekatnya dengan virus penyakit yang mempunyai daya rusak yang tinggi terhadap
jasad. Jika pikiran seseorang sudah dirusak oleh virus liberal, maka dia pun otomatis akan menjadi
penyebar virus yang sama ke pada orang lain.

Saat berada di Kota Malang, 6 April 2008 itu, saya menemukan sebuah buku berjudul ”Intelektualisme
Islam: Melacak Akar-akar Integrasi Ilmu dan Agama– Seri Ensiklopedia Islam dan Sains,” terbitan
Lembaga Kajian Al-Qur’an dan Sains (LKQS) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 2006. Inilah salah
satu lembaga yang diandalkan oleh UIN Malang untuk mengeluarkan konsep-konsep yang Qur’ani.

Kita berharap, mudah-mudahan UIN Malang benar-benar menjadi kampus Islam yang serius dalam
menegakkan konsep keilmuan Islam dan menerapkannya dalam kehidupa akademis di kampusnya. Kita
berharap, dari kampus-kampus Islam akan lahir cendekiawan-cendekiawan Muslim yang mumpuni
keilmuannya dan memiliki keyakinan dan komitmen yang kuat dalam perjuangan menegakkan
kebenaran.

Untuk meraih cita-cita itu, maka para dosen dan khususnya pimpinan kampus Islam perlu sangat serius
dalam merumuskan konsep keilmuan Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di
kampusnya. Sebagai layaknya seorang yang menanam padi, maka petani bukan hanya harus rajin
memupuk dan merawat tanamannya, tetapi pada saat yang sama, juga harus menjaga tanamannya dari
serangan hama yang merusak tanaman. Adalah aneh, jika ada petani yang rajin memupuk padinya,
tetapi membiarkan saja tanamannya dimangsa tikus, ulat tanaman, atau jenis-jenis hama lainnya. Virus-
virus liberal yang bergentayangan di dunia kampus dan masyarakat saat ini tak ubahnya seperti hama
yang menggerogoti tanaman.

Jika kita telaah buku ”Intelektualisme Islam” terbitan UIN Malang ini, kita mendapati pemikiran yang
kontradiktif. Banyak pemikiran yang baik, tetapi sekaligus juga pemikiran yang merusak. Antara obat dan
racun dipadukan menjadi satu. Salah satu artikel yang berisi racun pemikiran berjudul, ”Pengembangan
Ilmu Agama Islam Berbasis Integrasi”, ditulis oleh seorang dosen UIN Malang yang menyelesaikan
pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Yogyakarta.

Mengikuti garis pemikiran Harun Nasution, dosen UIN Malang ini juga memuji habis-habisan paham
Muktazilah dan mencaci maki paham Ahlu Sunnah dan para tokohnya. Simaklah kutipan dari artikel
tersebut:

“Matinya filsafat di dalam tradisi pemikiran Islam menunjukkan, secara implisit, hilangnya otoritas
kelompok muktazilah dalam mengendalikan pemerintahan, karena ia satu-satunya aliran yang
mengagungkan akal. Mereka digantikan oleh kelompok sunni yang lebih menjunjung tinggi wahyu dari
pada akal. Watak pemikiran sunni yang anti akal, pada giliran selanjutnya, menjelma ke dalam bentuk
propaganda “anti-filsafat” dan “filsafat bertentangan dengan agama. Maka tidak heran jika kemudian
muncul tokoh semisal sang hujjah al-Islam, Imam al-Ghazali, seorang tokoh besar dari kalangan sunni,
sangat anti filsafat, meskipun sebelumnya ia termasuk pecinta filsafat. Bukunya Tahafut al-Falasifah”
merupakan bukti sejarah atas ketidaksenangannya terhadap filsafat

Propaganda seperti itu semakin mendapat justifikasi di tangan seorang ahli fiqih yang juga tokoh sunni,
Imam Syafi’i, dengan kitabnya “ar-Risalah”. Sejak saat itu, terjadi penyeragaman pemikiran keagamaan.
Lewat karya itu, nalar agama diresmikan. Ketika kita bicara tentang Islam dan bagaimana cara untuk
menyelesaikan persoalan yang muncul di muka bumi, maka semua jawabannya ada di dalam Al-Qur’an,
sebuah ortodoksi keagamaan yang dipaksakan.” (hal. 279-280).

Begitulah pendapat seorang dosen UIN Malang tentang Muktazilah dan Ahlu Sunnah. Kita mungkin
bertanya, virus apa yang menjangkiti dosen UIN Malang itu, sampai begitu rupa menjadi pemuja
Muktazilah dan menistakan Ahlu Sunnah? Padahal, dia adalah alumnus pesantren Ihyaul Ulum Dukun
Gresik, — satu pesantren NU yang tentunya berpaham Ahlu Sunnah, dan bukan Muktazilah. Kita bisa
menebak, si dosen ini terjangkit virus liberal semacam ini di tempat dia menimba ilmu, yaitu di UIN
Yogya.

Jika kita mau menggunakan akal kita sedikit saja, maka kita dengan mudah dapat menemukan bahwa
pemikiran dosen UIN Malang tersebut tentang Muktazilah dan Ahlu Sunnah adalah ”asbun”. Menyebut
bahwa watak pemikiran sunni adalah ”anti akal” adalah sangat keterlaluan. Jawaban-jawaban kaum
Sunni terhadap pemikiran-pemikiran Muktazilah adalah jawaban-jawaban yang menggunakan akal, dan
bukan menggunakan ”dengkul”.

Peneliti INSISTS, Henri Shalahuddin MA — yang menulis skripsi (di ISID Gontor) tentang Muktazilah dan
tesis Masternya (di IIUM) tentang al-Ghazali — telah menerbitkan sejumlah makalahnya tentang
kekeliruan pemikiran Harun Nasution dalam soal Muktazilah dan Ahlu Sunnah. Misalnya, dalam
permasalahan tentang rasionalitas baik dan buruk (al-Husnu wa l-qubhu aqliyani) yang menjadi
perdebatan antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H) menyatakan, bahwa
perbedaan antara Muktazilah dan Ahlu Sunnah bukan pada soal “kemampuan akal”, apakah ia dapat
mengetahui baik atau buruknya suatu perbuatan. Sebab keduanya sepakat bahwa akal manusia dapat

mengetahuinya. Namun yang menjadi perdebatan adalah apakah suatu perbuatan yang berhak
mendapatkan pahala atau siksa kelak di Akhirat, ditetapkan oleh akal atau wahyu?

Tokoh-tokoh Mu’tazilah, seperti Abu l-Hudzail al-‘Allaf, Ibrahim al-Nazhzham dan al-Qadhi ‘Abd al-Jabbar
berpendapat bahwa sebelum datangnya wahyu, manusia tetap wajib mengerjakan perbuatan baik dan
menjauhi hal-hal buruk, sesuai dengan kemampuan akalnya. Sedangkan menurut Imam Asy’ari, pahala
dan siksa hanya bisa ditetapkan dengan wahyu. Beliau mengutip ayat Al-Quran, antara lain: “…dan Kami
tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (QS. Isra’: 15).

Jadi, dalam menjawab argumementasi Muktazilah, Asy’ari juga menggunakan akal. Tetapi, akal yang
tidak lepas begitu saja dari wahyu. Dalam kajiannya terhadap pemikiran Harun tentang Muktazilah,
Henri Shalahuddin menyimpulkan:

“Klaim Prof. Dr. Harun Nasution tentang rasionalisme Mu’tazilah dengan menafikan sisi rasionalitas
paham Asy’ariyah, tidaklah tepat. Golongan Mu’tazilah yang diklaim paham yang paling rasional oleh
Harun, sejatinya tidaklah demikian. Bahkan, Mu’tazilah seringkali membebani akal melebihi
kapasitasnya, sehingga berlaku arogan di depan Sang Khalik. Seperti mewajibkan Tuhan mengutus Rasul,
memberikan pahala atau siksa sesuai amal perbuatan manusia, membuat “kebijakan sendiri” kategori
masuk surga atau neraka dan sebagainya.”

Tentang kedudukan akal dan wahyu, dalam kitabnya, “al-Iqtishad fi l-I’tiqad”, al-Ghazali membuat
gambaran yang indah:

“Perumpamaan akal adalah laksana penglihatan yang sehat dan tidak cacat. Sedangkan perumpamaan
Al-Qur’an adalah seperti matahari yang cahayanya tersebar merata, hingga memberi kemudahan bagi
para pencari petunjuk. Amatlah bodoh jika seseorang mengabaikan salah satunya. Orang yang menolak
akal dan merasa cukup dengan petunjuk Al-Qur’an, seperti orang yang mencari cahaya matahari tapi
memejamkan matanya. Maka orang ini tidak ada bedanya dengan orang buta. Akal bersama wahyu
adalah cahaya di atas cahaya. Sedangkan orang yang memperhatikan pada salah satunya saja dengan
mata sebelah (picak, red), niscaya akan terperdaya”.

Menistakan kemampuan dan peran kaum sunni dalam membangun peradaban Islam juga sangat a-
historis. Kaum sunni telah terbukti dalam sejarah mampu mewujudkan peradaban Islam yang hebat.
Yang membawa Islam ke berbagai pelosok dunia, termasuk ke wilayah Nusantara adalah kaum Sunni,

bukan kaum Muktazilah. Karena itu, adalah berlebihan dan tidak beradab terlalu mudah mencaci maki
kaum Sunni dan tokoh-tokohnya seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Syafii, dan sebagainya. Sebagai
gantinya, seperti kita baca dalam artikelnya, dosen UIN Malang ini pun akhirnya taklid buta pada tokoh-
tokoh liberal seperti Nasr Hamid Abu Zayd dan Mohammed Arkoun.

Sebagai pengidap virus liberal, dosen semacam ini juga aktif menyebarkan virusnya, baik melalui
pengajaran maupun tulisan. Sebagai salah satu kampus yang membawa nama Islam, seyogyanya UIN
Malang juga peduli dengan virus-virus liberal yang merusak pemikiran mahasiswanya. Kita sebenarnya
kasihan dengan dosen muda semacam ini. Pintar tapi keliru. Tapi, kita tahu, dia pun sebenarnya juga
merupakan korban virus, yang mungkin tidak dia sadari. Kita juga kasihan kepada mahasiswanya. Belum
jadi apa-apa nanti sudah rajin memaki-maki para ulama yang alim, shalih, begitu besar jasanya terhadap
Islam.

Sebagai bagian dari umat Islam, kita wajib mengingatkan mereka. Mudah-mudahan pimpinan kampus
UIN Malang mau peduli dengan masalah pemikiran semacam ini. Kita semua akan bertanggung jawab di
hadapan Allah, kelak di Hari Kiamat. [Depok, 4 Rabiulakhir 1429 H/11 April 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

“Prof UIN Jakarta Halalkan Homoseksual”
sumber dari http://www.hidayatullah.com
Professor UIN berpendapat, katanya Islam mengakui homoseksualitas. Dulu ia pernah mendapat “puja-
puji” Amerika. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-230

Oleh: Adian Husaini

ImageHarian The Jakarta Post, edisi Jumat (28/3/2008) pada halaman mukanya menerbitkan sebuah
berita berjudul Islam ‘recognizes homosexuality’ (Islam mengakui homoseksualitas). Mengutip pendapat
dari Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, guru besar di UIN Jakarta, koran berbahasa Inggris itu menulis bahwa
homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam
Islam. (Homosexuals and homosexuality are natural and created by God, thus permissible within Islam).

Menurut Musdah, para sarjana Muslim moderat berpendapat, bahwa tidak ada alasan untuk menolak
homoseksual. Dan bahwasanya pengecaman terhadap homoseksual atau homoseksualitas oleh
kalangan ulama aurus utama dan kalangan Muslim lainnya hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit
terhadap ajaran Islam. Tepatnya, ditulis oleh Koran ini: “Moderate Muslim scholars said there were no
reasons to reject homosexuals under Islam, and that the condemnation of homosexuals and
homosexuality by mainstream ulema and many other Muslims was based on narrow-minded
interpretations of Islamic teachings.”

Mengutip QS 49 ayat 3, Musdah menyatakan, salah satu berkah Tuhan adalah bahwasanya semua
manusia, baik laki-laki atau wanita, adalah sederajat, tanpa memandang etnis, kekayaan, posisi social
atau pun orientasi seksual. Karena itu, aktivis liberal dan kebebasan beragama dari ICRP (Indonesia
Conference of Religions and Peace) ini, “Tidak ada perbedaan antara lesbian dengan non-lesbian. Dalam
pandangan Tuhan, manusia dihargai hanya berdasarkan ketaatannya.” (There is no difference between
lesbians and nonlesbians. In the eyes of God, people are valued based on their piety).

Demikian pendapat guru besar UIN Jakarta ini dalam diskusi yang diselenggarakan suatu organisasi
bernama “Arus Pelangi”, di Jakarta, Kamis (27/3/2008).

Menurut Musdah Mulia, intisari ajaran Islam adalah memanusiakan manusia dan menghormati
kedaulatannya. Lebih jauh ia katakan, bahwa homoseksualitas adalah berasal dari Tuhan, dan karena itu
harus diakui sebagai hal yang alamiah.

The Jakarta Post juga mengutip pendapat seorang pembicara bernama Nurofiah, yang menyatakan,
bahwa pandangan dominan dalam masyarakat Islam tentang heterogenitas adalah sebuah “konstruksi
sosial”, sehingga berakibat pada pelarangan homoseksualitas oleh kaum mayoritas. Ini sama dengan
kasus ”bias gender” akibat dominasi budaya patriarki. Karena itu, katanya, akan berbeda jika yang
berkuasa adalah kaum homoseks. Lebih tepatnya, dikutip ucapan aktivis gender ini: “Like gender bias or
patriarchy, heterogeneity bias is socially constructed. It would be totally different if the ruling group was
homosexuals.”

Diskusi tentang homoseksual itu pun menghadirkan pembicara dari Majelis Ulama Indonesia dan Hizbut
Tahrir Indonesia. Kedua organisasi ini, oleh The Jakarta Post, sudah dicap sebagai “kelompok Muslim
konservatif”. Ditulis oleh Koran ini: Condemnation of homosexuality was voiced by two conservative
Muslim groups, the Indonesian Ulema Council (MUI) and Hizbut Thahir Indonesia (HTI).”

Amir Syarifuddin, pengurus MUI, menyatakan bahwa praktik homoseksual adalah dosa. “Kami tidak
akan menganggap homoseksualitas sebagai musuh, tetapi kami akan membuat mereka sadar bahwa apa
yang mereka lakukan adalah salah,” kata Amir Syarifudin.

Demikianlah berita tentang penghalalan homoseksual oleh sejumlah aktivis liberal, sebagaimana dikutip
oleh The Jakarta Post.

Jika kita rajin menyimak perkembangan pemikiran liberal, baik di kalangan Yahudi, Kristen, maupun
Islam, maka kita tidak akan heran dengan berita yang dimuat di Harian The Jakarta Post ini. Kaum Yahudi
Liberal, juga Kristen Liberal, sudah lama menghalalkan perkawinan sesama jenis. Bahkan, banyak
cendekiawan dan tokoh agama mereka yang sudah secara terbuka mendeklarasikan sebagai orang-
orang homoseks dan lesbian. Banyak diantara mereka yang bahkan sudah menyelenggarakan
perkawinan sesama jenis di dalam tempat ibadah mereka masing-masing.

Bagi kaum Yahudi dan Kristen liberal, hal seperti itu sudah dianggap biasa. Mereka juga menyatakan,
bahwa apa yang mereka lakukan adalah sejalan dengan ajaran Bibel. Mereka pun menuduh kaum
Yahudi dan Kristen lain sebagai ”ortodoks”, ”konservatif” dan sejenisnya, karena tidak mau mengakui
dan mengesahkan praktik homoseksual. Gereja Katolik, misalnya, tetap mempertahankan doktrinnya
yang menolak praktik homoseksual. Tahun 1975, Vatikan mengeluarkan keputusan bertajuk ”The
Vatican Declaration on Sexual Ethics.” Isinya, antara lain menegaskan: ”It (Scripture) does attest to the
fact that homosexual acts are intrinsically disordered and can in no case be approved of.” Dalam
Pidatonya pada malam Tahun Baru 2006, Paus Benediktus XVI juga menegaskan kembali tentang
terkutuknya perilaku homoseksual.

Dalam Islam, soal homoseksual ini sudah jelas hukumnya. Meskipun sudah sejak dulu ada orang-orang
yang orientasi seksualnya homoseks, ajaran Islam tetap tidak berubah, dan tidak mengikuti hawa nafsu
kaum homo atau pendukungnya. Tidak ada ulama atau dosen agama yang berani menghalalkan
tindakan homoseksual, seperti yang dilakukan oleh Prof. Siti Musdah Mulia dari UIN Jakarta tersebut.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah
pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam
Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa
membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah.

Sejak terbitnya Jurnal Justisia dari Fakultas Syariah IAIN Semarang (edisi 25, Th XI, 2004), yang
menghalalkan homoseksual, kita sudah mengingatkan para pimpinan kampus Islam agar lebih serius
dalam menangani penyebaran paham liberal di kampus mereka. Sebab, virus liberal ini semakin
menampakkan daya rusaknya terhadap aqidah dan pemikiran Islam. Ironisnya, fenomena ini justru
digerakkan dari sejumlah akademisi di kampus-kampus berlabel Islam.

Kita ingat kembali, bahwa dalam Jurnal Justisia tersebut, dilakukan kampanye besar-besaran untuk
mengesahkan perkawinan homoseksual. Jurnal itu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul
Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual,
(Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005).

Dalam buku tersebut dijelaskan strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan
homoseksual di Indonesia, yaitu (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang
merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat
bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga

masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap
gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir
keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4)
menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-
laki dan wanita.” (hal. 15)

Sebagaimana Prof. Musdah Mulia, para penulis dalam buku itu pun mengecam keras pihak-pihak yang
masih mengharamkan homoseksual. Seorang penulis dalam buku ini, misalnya, menyatakan, bahwa
pengharaman nikah sejenis adalah bentuk kebodohan umat Islam generasi sekarang karena ia hanya
memahami doktrin agamanya secara given, taken for granted, tanpa ada pembacaan ulang secara kritis
atas doktrin tersebut. Si penulis kemudian mengaku bersikap kritis dan curiga terhadap motif Nabi Luth
dalam mengharamkan homoseksual, sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran surat al-A’raf :80-84 dan
Hud :77-82). Semua itu, katanya, tidak lepas dari faktor kepentingan Luth itu sendiri, yang gagal
menikahkan anaknya dengan dua laki-laki, yang kebetulan homoseks.

Ditulis dalam buku ini sebagai berikut:

‘’Karena keinginan untuk menikahkan putrinya tidak kesampaian, tentu Luth amat kecewa. Luth
kemudian menganggap kedua laki-laki tadi tidak normal. Istri Luth bisa memahami keadaan laki-laki
tersebut dan berusaha menyadarkan Luth. Tapi, oleh Luth, malah dianggap istri yang melawan suami
dan dianggap mendukung kedua laki-laki yang dinilai Luth tidak normal. Kenapa Luth menilai buruk
terhadap kedua laki-laki yang kebetulan homo tersebut? Sejauh yang saya tahu, Al-Quran tidak memberi
jawaban yang jelas. Tetapi kebencian Luth terhadap kaum homo disamping karena faktor kecewa karena
tidak berhasil menikahkan kedua putrinya juga karena anggapan Luth yang salah terhadap kaum homo.”
(hal. 39)

Padahal, tentang Kisah Nabi Luth a.s. Al-Quran sudah memberikan gambaran jelas bagaimana
terkutuknya kaum Nabi Luth yang merupakan pelaku homoseksual ini:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada
kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh
seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat,
bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya
mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-
pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia

termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu);
maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).

Karena itu, para mufassir Al-Quran selama ratusan tahun tidak ada yang berpendapat seperti anak-anak
syariah dari IAIN Semarang itu atau seperti Prof. Musdah Mulia yang berani menghalalkan homoseksual.
Gerakan legalisasi homoseksual yang dilakukan oleh kaum liberal di Indonesia sebenarnya sudah
melampaui batas. Bagi umat Islam, hal seperti ini merupakan sesuatu yang tidak terpikirkan
(“unthought”). Bagaimana mungkin, dari kampus berlabel Islam justru muncul dosen dan mahasiswa
yang berani menghalalkan homoseksual, suatu tindakan bejat yang selama ribuan tahun dikutuk oleh
agama. Gerakan legalisasi homoseksual dari lingkungan kampus Islam tidak bisa dipandang sebelah
mata. Tindakan ini merupakan kemungkaran yang jauh lebih bahaya dari gerakan legalisasi homoseks
yang selama ini sudah gencar dilakukan kaum homoseksual sendiri.

Dalam catatan penutup buku karya anak-anak Fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut, dimuat tulisan
berjudul “Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN”. Penulisnya, mengaku bernama Mumu,
mencatat, “Ya, kita tentu menyambut gembira upaya yang dilakukan oleh Fakultas Syariah IAIN
Walisongo tersebut.”

Juga dikatakan dalam buku tersebut: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai
sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun,
untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan
manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

Logika ini sejalan dengan jalan pemikiran Musdah Mulia yang menyatakan bahwa pelarangan
homoseksual hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit terhadap ajaran Islam. Barangkali, seperti
dikatakan Nurofiah, jika suatu ketika nanti kaum homoseksual sudah menjadi dominan, maka mereka
akan memandang bahwa kaum heteroseksual adalah suatu kelainan. Inilah pandangan yang ‘keblinger’,
yang lahir dari kekeliruan berpikir.

Sebagaimana kasus perkawinan antara muslimah dan laki-laki non-Muslim yang didukung dan
dipenghului oleh sejumlah dosen UIN Jakarta, kita patut khawatir, bahwa para akademisi liberal itu
semakin menjadi-jadi tindakannya, dengan menjadi penghulu bagi perkawinan sesama jenis. Kita
berharap hal itu tidak terjadi, meskipun Prof. Dr. Musdah Mulia sudah melontarkan pendapatnya
tentang homoseksual secara terbuka di media massa. Memang, jika orang sudah hilang rasa malunya,
maka dia akan berbuat semaunya sendiri. Mungkin dia merasa sudah hebat, sudah jadi guru besar

pemikiran Islam di suatu kampus Islam terkenal. Selama ini pun, orang-orang terdekatnya pun tidak
mampu menghentikan kegiatannya.

Namun, jika kita ikuti kisah perjalanan intelektual Prof. Musdah Mulia, kita sebenarnya tidak terlalu
heran. Sejak awal, cara berpikirnya sudah kacau. Dia seenaknya sendiri mengubah-ubah hukum Islam,
untuk disesuaikan dengan cara pandang dan cara hidup Barat. Tidak aneh, jika karena sepak terjangnya
yang seperti itu, tahun lalu, pada Hari Perempuan Dunia tanggal 8 Maret 2007, Musdah Mulia menerima
penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor
kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington. Ia dianggap sukses menyuarakan, membela
dan mengembalikan hak perempuan di mata agama dengan cara melakukan ‘pembaruan hukum Islam’
– termasuk– undang-undang perkawinan.

Mungkin, setelah mendukung praktik homoseksual ini, dia akan mendapatkan pujian dan penghargaan
jauh lebih tinggi lagi dari “kalangan tertentu.” Kita tunggu saja! [Depok, 30 Maret
2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Kritik Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab

sumber dari http://www.insistnet.com

Ditulis oleh Adian Husaini

Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri,
Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: ”Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban
atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)” Penulisnya adalah
Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda
bernama Ahmad Qusyairi Ismail.

Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari
sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu
tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh
buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya. Cetakan pertamanya keluar
pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007.
Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk
para penulis dari Pesantren tersebut.

Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab
yang berbeda. ”Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan
dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun
ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-
prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).

Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip
sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: ”Mungkin saja,
Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah.
Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan
kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran
sesat semacam Syiah.”

Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya
Quraish Shihab disingkat ”QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat ”PPS”). Kutipan dan pendapat QS
dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.

1. Tentang Abdullah bin Saba’.

QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang
tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang
yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.”
(hal. 65).

PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah
yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-
Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah
bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-
Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai
Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar,
Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati
dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah
orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah
wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah
Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).

2. Tentang hadits Nabi saw dan Abu Hurairah r.a.:

QS: ”Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin
besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu
Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan
dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di
bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak
meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun

dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan
oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu
Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi
dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para
pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu
Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku
yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi
saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh
Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih,
Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dengan bukunya
Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”

Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat
yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan,
“Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits
pada masanya.” (hal. 320-322).

Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka
keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena
itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru
kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui
bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan
karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.”
(hal. 322).

“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari
asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau
telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data
sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah).
Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan
buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya
menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan
status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).

Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian,
bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang
substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang
diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah
tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas
dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari
mu’jizat kenabian?” (hal. 324).

Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh
Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS:
“Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara
hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin
Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai
nyamuk sekalipun.” (hal. 313).

PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits
dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari
penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah.
Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan,
terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan
karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan
Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).

3. Tentang pengkafiran Ahlusunnah:

QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan
Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib
yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi
Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja
shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).

PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang
seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa
mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung
pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak

mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang
mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur
Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni
tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah
terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah
kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan
memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?”
Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).

Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali
shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan
shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).

Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena
itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah
hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam
menerima wacana ”Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan,
ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim,
sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.

Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun
kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu
‘ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak
langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng,
seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).

Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi
momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di
Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260
tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah
diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah
berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.

Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat
kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka

selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa
menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.

PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran
paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: ”Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia
maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di
website http://www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik ”Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini
digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah
yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme,
sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang
terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”

Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu
juga dari berbagai pesantren lainnya. [Depok, 13 Rabiulawwal 1429 H/21 Maret
2008/www.hidayatullah.com]

Ilmu dan Kebahagiaan
sumber dari http://www.insistnet.com
Ditulis oleh Adian Husaini

Dalam bukunya, Tasauf Modern, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai
berjudul ”Kun Sa’idan”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!”

Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih.
Dalam kondisi apa pun.

”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk
mengerjakan yang sulit-sulit….”

”Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu
penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak
ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu…”

”Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!

Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu…”

”Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan
perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan
melepaskan diri dari belenggu.”

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah, yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia
ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Tapi, apakah yang dimaksud
bahagia? Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia

menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Maka, setelah dia dapat, dia
menjadi pecinta harta. Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung
menyinggahinya. Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah. Hidupnya
penuh porblema. Masalah demi masalah membelitnya. Tak jarang, harta justru membawa bencana.
Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara.

Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik. Dia menyangka setelah mengawini
seorang wanita cantik, maka dia akan bahagia. Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya
kandas. Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik. Namun,
kecantikan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana. Pujian yang bertabur dari umat
manusia tak membuatnya bahagia.

Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut
kekuasaan. Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan
seseorang dapat berbuat banyak. Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam
kegemilangan kekuasaan. Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan.
Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya. Namun, setelah kuasa di dalam
genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti.

Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!

Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!

Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!

Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!

Dan sangkaan-sangkaan lain…

Tapi, sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak pada itu semua. Semua kenikmatan duniawi bisa
menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu

sendiri. Lihatlah, betapa banyak pejabat yang hidupnya dibelit dengan penderitaan. Lihat pula, betapa
banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat
penenang!

Jika demikian, apakah yang disebut”bahagia” (sa’adah/happiness).

Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus The Oxford
English Dictionary (1963) mendefinisikan ”happiness” sebagai: ”Good fortune or luck in life or in
particular affair; success, prosperity.” Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada
di luar manusia, dan bersifat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya,
maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut
pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu
sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia.

Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa
dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu
keadaan.” Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus, yang selalu berusaha mendorong batu ke atas bukit.
Tapi, ketika batu sudah sampai di atas bukit, digelindingkannya kembali batu itu ke bawah. Kemudian,
dia dorong lagi, batu itu ke atas. Begitu seterusnya. Tiada pernah berhenti.

Itulah perumpamaan tentang kondisi batin masyarakat Barat yang menganut paham relativisme dan
tidak mengenal kebenaran pada satu titik tertentu. Ketika sampai pada satu tahap tertentu, dia kembali
menghancurkan dan mencari lagi. Mereka selalu dalam pencarian. Tidak akan pernah puas. Laksana
meminum air laut. Jika sudah mendapatkan satu gunung emas, mereka akan mencari lagi gunung emas
yang kedua.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Prof. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan
(sa’adah/happiness) sebagai berikut:

”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan,
bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya
dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk
kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang
yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu

dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam,
(Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai
dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya,
meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke
penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi,
rela meninggalkan kampong halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan
keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam Tasaud Modern, mengungkapkan: ”Bahagia dan kelezatan
yang sejati, ialah bilamana dapat mengingat Allah.” Hutai’ah, seorang ahli syair, menggubah sebuah
syair:

‫السعيد لهي التقى ولكن * مال جمع السعادة آرى ولست‬

(Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada pengumpul harta benda;

Tetapi, taqwa akan Allah itulah bahagia).

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai
”ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

”Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan
kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa
yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain
dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah, karena hati itu dijadikan
ialah buat mengingat Tuhan…. Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan
dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu
saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat
dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah… Oleh
sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”

Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan,
bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan
yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ”ayat-ayat-Nya”, baik ayat
kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia
memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Alam semesta ini adalah ”ayat”, tanda-tanda, untuk mengenal Sang Khaliq. Maka, celakalah orang yang
tidak mau berpikir tentang alam semesta.

Disamping ayat-ayat kauniyah, Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal
kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19,
disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa ”Tiada tuhan
selain Allah”, dan bersaksi bahwa ”Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.”
Risalah kenabian Muhammad saw telah menyempurnakan risalah para nabi sebelumnya.

Inilah yang disebut sebagai ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap
lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus mampu mengantarkan sivitas
akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati,
yang terkait antara dunia dan akhirat. Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah
suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan
diukur dari berapa mahalnya uang bayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi
Negeri, dan sebagainya. Tetapi, apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang
beradab yang mengenal dan bahagia beribadah kepada Sang Pencipta.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan;
yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan. Dalam kondisi apa pun, hidupnya bahagia,
karena dia sudah mengenal Allah, ridha dengan keputusan Allah, dan berusaha menyelaraskan hidupnya
dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Dalam kondisi apa pun, dalam posisi apa pun, manusia semacam ini akan hidup dalam kebahagiaan. Fa
laa khaufun ’alaihim wa laa hum yahzanuun. Hidupnya hanya mengacu kepada Allah, dan tidak terlalu
peduli dengan reaksi manusia terhadapnya. Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu; bahagia
dunia dan akhirat.

Karena itu, kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum
liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan adalah harta yang
sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Iqbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan
dirinya ke dalam api. Karena itu, kata penyair besar Pakistan ini, hilangnya keyakinan dalam diri
seseorang, lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacam itu; hidup dalam keyakinan;
mulai dengan mengenal Allah dan ridha menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan
aturan-aturan-Nya. Kita ingin, bahwa kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia
menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia
menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Mudah-mudahan, Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah sebuah keyakinan
dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin. [Depok, 6 Rabi’ulawwal 1429 H/14 Maret
2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir pekan adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Bulletin Jumat pun Jadi Sasaran”

sumber dari http://www.hidayatullah.com

Tak hanya ‘meracuni’ kampus. Virus Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberal) bahkan memasuki
bulletin Jumat. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-227

Oleh: Adian Husaini

Beberapa waktu lalu, saat menghadiri satu acara di Kota Semarang, Jawa Tengah, seorang dosen
Universitas Diponegoro Semarang, menghadiahi saya sebuah “bulletin dakwah” bernama AL-WAASIT”.
Menurut dia, bulletin itu dibagi-bagikan secara gratis di masjid-masjid di Semarang. Melihat isinya,
dosen itu khawatir, jangan-jangan bulletin dakwah tersebut adalah merupakan salah satu jurus
liberalisasi Islam di Indonesia.

Sekilas bulletin ini menampilkan citra Islam yang kuat. Setidaknya namanya yang berbahasa Arab
menunjukan hal itu, yaitu Al Waasit. Di pojok kiri atas halaman pertama terdapat sebuah simbol
timbangan berwarna hitam di dalam lingkaran dan berlatar hijau, dengan tulisan melingkar: Buletin Al
Waasit “Pemikiran Islam Moderat”.

Dalam lembar buletin dicantumkan alamat redaksi yaitu: Gd Albana Center Jl Palikali Raya No 16 Rt
03/04, Kel. Kukusan, Kec. Beji, Kota Depok. Selain itu terdapat alamat web yaitu
http://www.alwaasit.com. Dicantumkan juga susunan pengasuh bulletin. Pembina: H M Tareeq
Ramadhan Lc. Pemimpin Umum : Agung Suprianto. Redaktur : Muhayat Rusma Ady Lc; M. Rofik Lc;
Muchtar Mawardi MA. Desain Layout: Ichal. Wilayah sirkulasi meliputi: Wilayah JABODETABEK,
BANDUNG, SEMARANG, PEMALANG, SOLO, YOGYAKARTA, SURABAYA.

Karena alamat bulletin itu di Depok, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia kemudian berinisiatif
meneliti hal ihwal buletin Al-WAASIT tersebut. Berdasarkan penelusuran mereka, ada sejumlah
keganjilan. Alamat di web-nya berbeda dengan alamat yang tertulis, yakni Gd Albana Center Lt.2 JL
Palikali Raya No 3. Halaman lain situs ini ialah dokumentasi beberapa edisi Al Waasit. Tidak semua edisi
tersedia dalam halaman ini. Hanya ada edisi 209-217.

Menurut penelusuran para mahasiswa UI ke alamat yang tertera dalam bulletin Al-Waasit, ternyata
alamat yang tertera di lembar edisi 213 (Jl Palikali Raya No 16) tidak ditemukan gedung Albana Center
dan juga Yayasan Azhary. Begitu pun di alamat yang ada di web mereka (Jl Palikali Raya No 3). Alamat

tersebut hanya berupa rumah kontrakan beberapa petak, tidak ada lantai 2 dan tidak ditemukan
Yayasan Azahry maupun Gedung Albana Center. Beberapa warga yang ditanya tentang keberadaan
Yayasan Azahry, Bulletin Al Waasit serta beberapa nama pengurusnya, semuanya menjawab tidak tahu.

Entah mengapa bulletin yang terbit tiap Jumat ini menggunakan nama Gedung Albana Center sebagai
markasnya. Begitu juga nama Tareeq Ramadhan Lc, yang merupakan cucu Hasan al-Banna. Mungkin
pengelolanya ingin membuat kesan bahwa bulletin ini ada hubungannya dengan gerakan Ikhwanul
Muslimin. Yang jelas, tampak bulletin ini dikelola cukup profesional, khususnya dari segi teknik
penulisan. Dalam situsnya, bulletin ini mencantumkan nama-nama masjid yang menjadi sasaran
penyebarannya.

Nama “al-Banna” memang banyak dikutip oleh kaum liberal untuk menjustifikasi pendapatnya. Untuk
menceri justifikasi paham Pluralisme Agama, dalam bukunya, Islam dan Pluralisme, Jalaluddin Rakhmat
juga mengutip pendapat Gamal al-Banna, dengan menekankan, “Gamal al-Banna adalah aktivis Muslim,
anggota al-Ikhwan al-Muslimun. Kita mungkin menyebutnya fundamentalis dan anti-Barat.” Ia kutip
pendapat Gamal al-Banna, yang menyatakan: “Saya berkata kepada mereka bahwa Thomas Alfa Edison
akan masuk surga karena telah menemukan lampu yang kemudian digunakan oleh manusia sebagai
penerang.” Lalu, Jalaluddin Rakhmat membuat komentar, “Gamal al-Banna berubah dari seorang
eksklusif menjadi seorang pluralis.”

Tidak heran, jika di Indonesia, sejumlah buku Gamal al-Banna juga sudah diterjemahkan. Meskipun
bersaudara dengan Hasan al-Banna, tetapi pikiran Gamal al-Banna memang banyak berbeda dengan
saudaranya tersebut. Sebuah pendapat Gamal al-Banna yang agak aneh, misalnya, tentang negara
Madinah dikatakannya: “Negara Madinah belum bisa dikatakan sebuah negara dalam artian negara yang
menganut sistem politik kebanyakan, karena Negara Madinah belum mempunyai militer yang
profesional, belum punya penjara yang permanen, dan belum punya lembaga kepolisian, dan juga
belum mewajibkan pajak.” (Lihat, Jamal al-Banna, Runtuhnya Negara Madinah (terj.), Yogyakarta: Pilar
Media, 2005:48).

Tampaknya, strategi untuk “mengasosiasikan diri” dengan al-Banna itulah, maka nama Gedung Albana
center dimunculkan. Begitu juga nama HM Thariq Ramadhan. Meskipun tidak terlalu vulgar, sejumlah
edisi bulletin al Waasit sudah menyebar aroma Pluralisme Agama. Pada edisi 213, Al Waasit muncul
dengan judul Toleransi Merupakan Makna Lain Idul Qurban. Kepala tulisan ialah Surat Al Baqarah Ayat
62 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian

dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Tampaknya, pengelola bulletin ini sadar, bahwa bulletin ini disasarkan pada jemaah shalat Jumat,
sehingga ide-idenya dikemas secara halus. Pada edisi 210, diturunkan artikel berjudul “Membangun
Sinergi Keberagaman dalam Multikulturalitas.” Berikut kutipan dari edisi 210:

“Pendekatan multikulturalisme ini sangat penting dikembangkan agar kita tidak mengalami kehilangan
orientasi dan kebingunan eksistensial dalam menata kembali pluralitas budaya dan agama. Inti dari
multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa
mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Multikulturalisme
memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang
publik. Multikulturalisme menjadi semacam respons kebijakan baru terhadap keragaman, dan
komunitas-komunitas yang berbeda itu diperlakukan sama oleh negara.”

Juga dikatakan: “Multikulturalisme memberikan nilai positif terhadap keragaman kultural. Konsekuensi
lebih lanjut adalah kesediaan untuk memberikan apresiasi konstruktif terhadap segala bentuk tradisi
budaya, termasuk agama. Berbagai kultur yang beragam justru memperkaya kehidupan sosial, tentu
sebaliknya agama juga menganggap keragaman tradisi kultural memperkaya pemahaman keagamaan.”

Lebih jauh lagi, kita simak paparan dalam bulletin Jumat ini:

“Dalam upaya membangun hubungan sinergi antara agama dan multikulturalisme, minimal diperlukan
dua hal. Pertama, adalah mengembangkan keberagamaan humanis-posdogmatik. Keberagamaan yang
menembus sampai pada dimensi hakekat atau esensi beragama. Secara individual beragama tujuannya
untuk mencerahkan diri sehingga kedamaian sejati terus bersemayam. Secara sosial bergama bertujuan
untuk mewujudkan kesejukan, ketentraman dan keharmonisan bersama.

Untuk ini diperlukan reinterpretasi atas doktrin-doktrin keagamaan ortodoks yang sementara ini
dijadikan dalih untuk bersikap eksklusif dan opresif. Reinterpretasi itu dilakukan sedemikian rupa
sehingga agama bukan saja bersikap reseptif terhadap kearifan tradisi lokal, melainkan juga memandu di
garda depan untuk mengantarkan demokrasi terbangun dalam masyarakat beragama.

Dalam masyarakat multikultural yang memprasyaratkan adanya kesalingpahaman satu bentuk budaya
dengan budaya yang lain, keberagamaan humanis-posdogmatis lebih menguntungkan ketimbang sikap
keberagamaan yang menekankan pada simbol-simbol kekerasan, kebencian, hujat-menghujat dan kafir-
mengkafirkan…

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal yang sangat patut disayangkan itu, yang di antaranya
adalah faktor teologi. Diharapkan melalui tulisan singkat ini dapat ‘menggugah’ kita untuk
mengembangkan pendidikan tersebut di kalangan umat yang mau tidak mau harus melakukan
transformasi menjadi masyarakat demokratis.”

Itulah sebagian isi bulletin al Waasit edisi 210 yang mempromosikan paham multikulturalisme. Kita
sudah pernah membahas paham ini, dan bagaimana paham ini memang sedang dijejalkan kepada umat
Islam, melalui berbagai cara. Bagi kita yang terbiasa membaca sejumlah bulletin yang diedarkan di
masjid-masjid saat shalat Jumat, barangkali akan merasa tidak terlalu akrab dengan isi dan istilah-istilah
yang digunakan dalam bulletin Al-Waasit tersebut. Tapi, kita perlu paham, bahwa ini adalah langkah
awal. Meskipun sudah mendapat dukungan media massa yang sangat kuat, tampaknya kaum liberal
masih belum merasa puas sebelum merambah arena shalat Jumat. Sejumlah tulisan menyebutkan,
bahwa khutbah-khutbah Jumat masih belum berhasil dimasuki oleh kaum liberal. Karena itulah, tidak
heran, jika bulletin Jumat pun dijadikan sasaran liberalisasi.

Jika kita lihat pada edisi 217 yang juga beredar sampai ke Semarang, maka akan tampak kiat halus dalam
upaya pengubah persepsi kaum Muslim tentang kesesatan Ahmadiyah. Edisi ini diberi judul “MENYIKAPI
‘Kesesatan’ AHMADIYAH”. Sengaja kata ‘Kesesatan’ diberi tanda petik, untuk membuat kesan, bahwa
soal sesat atau tidaknya Ahmadiyah, masih merupakan wilayah yang debatable.

Ditulis oleh bulletin ini: “Perkembangan terakhir Jamaah Ahmadiyah mengeluarkan klarifikasi dalam
bentuk ‘Press Release’ yang berisi 12 butir penjelasan terkait dengan hal-hal yang selama ini
dipersoalkan oleh sebagian umat Islam, hingga dinyatakan sesat oleh MUI.”

Juga ada ungkapan: “Terlepas dari kontroversi sesat atau tidaknya ajaran Jamaah Ahmadiyah, serahkan
persoalan ini kepada pihak-pihak yang berwenang dan mempunyai kompetensi.”

Perhatikanlah ungkapan “yang selama ini dipersoalkan oleh sebagian umat Islam”! Ungkapan itu sengaja
ditulis untuk memberi kesan, bahwa soal kesesatan Ahmadiyah adalah masalah “sebagian umat Islam”,

bukan masalah seluruh umat Islam. Padahal, dalam soal Ahmadiyah ini, tidak ada perbedaan pendapat
diantara umat Islam.

Perhatikan juga ungkapan: “Terlepas dari kontroversi sesat atau tidaknya ajaran Jamaah Ahmadiyah dan
seterusnya…!

Inilah cara yang sangat halus untuk menggiring pembaca bulletin, bahwa soal kesesatan Ahmadiyah
adalah masalah kontroversi, soal perbedaan pendapat. Padahal, kita tahu, soal kesesatan Ahmadiyah
bukanlah soal kontroversi. Semua lembaga Islam yang kredibel menyatakan bahwa Ahmadiyah memang
sesat, karena mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad.

Jika dicari-cari perbedaan pada setiap masalah agama, pasti akan selalu ditemukan. Saat ini saja, sudah
banyak cendekiawan yang menyatakan, bahwa perkawinan sejenis adalah halal, wanita boleh menjadi
Imam dan khatib shalat Jumat, Muslimah boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, dan sebagainya.
Bahkan, ada yang menyatakan, bahwa menjadi pelacur adalah tindakan mulia. Kaum liberal juga
menyatakan, bahwa wilayah seni jangan dimasuki oleh nilai-nilai agama, karena itu mereka memiliki
nilai sendiri. Jadi, boleh saja, orang mengumbar auratnya, asal merupakan tuntutan skenario.

Apakah karena ada sebagian pendapat yang nyeleneh seperti itu, lalu setiap masalah dikatakan
kontroversial, dan tidak ada kesepakatan? Tentu saja tidak. Zina tetap haram, meskipun sebagian
pelacur sudah menggunakan dalil agama untuk melegalkannya. Judi tetap haram, meskipun ada
sebagian orang yang menghalalkannya. Bahkan ada juga kaum Muslim yang telibat bisnis perjudian. Jika
ada orang Islam yang menghalalkan perjudian, maka bukan berarti haramnya judi adalah soal khilafiah.
Maka, meskipun ada yang menghalalkan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim, bukan
berarti soal tersebut adalah masalah khilafiah. Meskipun ada kelompok tertentu yang menyatakan
shalat lima waktu belum wajib, maka bukan berarti kewajiban shalat adalah masalah khilafiah. Jadi,
tidak setiap ada yang ‘nyeleneh’, lalu bisa dijadikan justifikasi, bahwa suatu masalah adalah masalah
khilafiah.

Apapun motif dan tujuannya, kasus bulletin Al-Waasit ini hendaknya menyadarkan kita, bahwa kaum
liberal dan semua pendukungnya tidak pernah ridha sebelum kaum Muslim mengikuti jalan pikiran dan
jalan hidup mereka. Segala cara dan media mereka gunakan. Sampai Bulletin Jumat pun diurusi. Wallahu
A’lam. [Depok, 22 Shafar 1429 H/29 Februari 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjamasa antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

“Mencari Tafsir Versi Indonesia?”

sumber dari http://www.hidayatullah.com

Banyak intelektual dengan gagahnya memaki-maki Imam Syafii, ujungnya pemuja Nasr Hamid Abu Zaid.
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-226

Oleh: Adian Husaini

Acara Muktamar Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung 11-13
Februari 2008 akhirnya diganti namanya menjadi ”Kolokium Nasional Pemikiran Islam”. Sejumlah
pembicara tidak bisa hadir. Salah satu pemakalah baru yang dimasukkan namanya adalah Dr. Phil. Nur
Kholish Setiawan, dosen mata kuliah Kajian Al-Quran dan Pemikiran Hukum Islam di Pasca Sarjana UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta. Murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zayd ini menggantikan posisi Prof. Dr.
Amin Abdullah, rektor UIN Yogya, dalam sesi pembahasan ”Manhaj Baru Muhammadiyah:
Mengembangkan Metode Tafsir”. Pada sesi ini tampil juga pembicara Ust. Muammal Hamidy, Lc. dan Dr.
Saad Ibrahim.

Muammal Hamidy yang juga pimpinan Ma’had Aly Persis Bangil, dalam makalahnya, mengungkap
peringatan Rasulullah saw, bahwa ”Siapa yang menafsiri Al-Quran dengan ra’yunya, maka siap-siaplah
untuk menempati tempat duduknya di neraka.” Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur ini pun menyitir
hadits lain: ”Akan datang suatu masa menimpa umatku, yaitu banyak orang yang ahli baca Al-Quran
tetapi sedikit sekali yang memahami hukum, dicabutnya ilmu dan banyak kekacauan. Menyusul akan
datang suatu masa, ada sejumlah orang yang membaca Al-Quran tetapi Al-Quran itu tidak melampaui
tenggorokannya. Kemudian menyusul satu masa ada orang musyrik membantah orang mukmin tentang
Allah (untuk mempertahankan kesyirikannya) dengan bahasa yang sama (HR Thabrani).

Ustadz Muammal Hamidy kemudian menyimpulkan: (1) Al-Quran jangan ditafsiri sesuai selera, (2)
Pemahaman terhadap Al-Quran hendaknya didasari dengan ilmu, (3) Ilmu untuk memahami hukum-
hukum Al-Quran harus dikuasai dengan baik, (4) Membaca Al-Quran minimal hendaknya disertai dengan
pengertiannya, dan (5) Ummat Islam harus mewaspadai orang-orang yang mempergunakan dalil Al-
Quran dan Sunnah untuk kepentingan yang tidak Islami.

Peringatan tokoh senior di Muhammadiyah Jawa Timur ini kiranya perlu kita perhatikan. Sebab, umat
Islam di Indonesia saat ini banyak dijejali dengan beragam model penafsiran yang ditawarkan oleh
sebagian kalangan cendekiawan yang isinya justru mengacak-acak Al-Quran, seperti penafsiran yang
menghalalkan perkawinan homoseksual dan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim.
Beberapa waktu lalu, kita membahas disertasi doktor Tafsir Al-Quran dari UIN Jakarta yang secara
terang-terangan merombak dasar-dasar keimanan Islam dan menafsirkan Al-Quran sesuai seleranya
sendiri.

Dengan mengutip ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran, doktor Tafsir lulusan UIN Jakarta itu
menyimpulkan: “Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan
hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih, yang diduga jatuh pada tanggal 25
Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga diperbolehkan untuk
merayakan hari kelahiran Isa dan kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW.” (hal. 209).

Pada bagian lain, dia membuat definisi tentang “Ahli Kitab”, yaitu: “Intinya siapa saja yang berpegangan
kepada sebuah kitab suci yang mengandung nilai-nilai ketuhanan dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang
luhur yang dibawa oleh para nabi, maka mereka itu adalah Ahli Kitab.” (hal. 216). Sementara, pada
bagian lain dia tulis: “Dilihat dari sisi ini, maka ahl kitab merupakan kelompok yang memang menganut
monoteisme (tawhid).” (hal. 219-220).

Dengan definisi “Ahlul Kitab” versi Doktor Tafsir tersebut, maka disimpulkan, bahwa semua agama yang
mempunyai kitab suci adalah agama tauhid. Inilah salah satu contoh tafsir aliran “ngawuriyah” – alias
tafsir asal-asalan — yang dibangga-banggakan sebagian orang sebagai tafsir yang “toleran”, “progresif”,
“modern”, dan “maju”. Padahal, sudah banyak kitab Tafsir, Fikih, dan disertasi doktor yang dengan
sangat serius dan komprehensif membahas masalah Ahlul Kitab ini. Tetapi, semua ini tidak dirujuk oleh
penulis disertasi tersebut. Ia lebih suka membuat definisi sendiri berdasarkan hawa nafsunya. Allah SWT
sudah mengingatkan dalam Al-Quran:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah
membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya
dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? “ (QS 45:23).

Masalah penafsiran Al-Quran adalah masalah yang sangat mendasar dalam Islam. Sebab, melalui ilmu
inilah, umat Islam memahami firman Allah SWT. Karena itu, dalam Mukaddimah Tafsirnya, Ibn Katsir
memaparkan, bagaimana hati-hatinya para sahabat Nabi saw dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.
Jika mereka tidak paham terhadap makna suatu ayat, maka mereka bertanya kepada sahabat lain yang
dipandang lebih ahli dalam masalah tersebut. Ibn Katsir menasehatkan, jika tidak ditemukan penafsiran
Al-Quran dalam Al-Quran, as-Sunnah, dan pendapat sahabat, maka carilah penafsiran itu dalam
pendapat para tabi’in.

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu’nya pernah menyatakan: “Bumi manakah yang akan
menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku
ketahui tentang Kitabullah?” Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang
mengucapkan (sesuatu) tentang Al-Quran berdasarkan ra’yunya atau berdasarkan apa yang tidak
dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i). Abu
Ubaid pernah juga memperingatkan: “Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan
tentang Allah.”

Sikap hati-hati inilah yang mendorong lahirnya para ulama Tafsir yang serius. Para mufassir Al-Quran
harus sangat berhati-hati, sebab tanggung jawab mereka di hadapan Allah SWT sangatlah berat. Bagi
yang bukan mufassir pun wajib memperhatikan masalah ini, dan berhati-hati dalam memilih tafsir.
Jangan sampai memilih tafsir Al-Quran yang dibuat sesuai dengan selera dan hawa nafsu.

Sebagai satu organisasi Islam yang besar, tentu Muhammadiyah wajib memiliki banyak Ahli Tafsir Al-
Quran. Kita menyambut baik setiap upaya ijtihad yang dilakukan oleh para ulama atau pemikir Muslim
mana pun. Namun, kita juga perlu berhati-hati dalam soal penafsiran. Tidak setiap ”kilasan pemikiran”
bisa dikatakan ijtihad. Setiap lontaran pemikiran yang baru tentang Tafsir Al-Quran, sebaiknya dikaji
dengan seksama terlebih dahulu secara terbatas di kalangan pakar Tafsir.

Di dalam Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh Malang tersebut umat Islam disuguhi ide Tafsir
Baru oleh Dr. Nur Kholish Setiawan. Ia membawakan makalah berjudul ”Tafsir Sebagai Resepsi Al-
Qur’an: Ke Arah Pemahaman Kitab Suci dalam Konteks Keindonesiaan”. Dalam makalahnya, Nur Kholish
mengkritik dominasi nalar Arab dalam bangunan tafsir sebagai metode memahami Al-Quran. Tafsir Al-
Quran, menurutnya, masih terbuka untuk dikembangkan dengan memanfaatkan khazanah keilmuan
kemanusiaan (humaniora) yang bersifat teritorial. Dalam beberapa karya kesarjanaan Nusantara,
pemikir Indonesia telah banyak melakukan enkulturasi budaya lokal dalam memahami Al-Quran. Tafsir
al-Huda, misalnya, sebuah karya tafsir berbahasa Jawa menunjukkan kentalnya warna budaya Jawa
dalam proses pemahaman ayat-ayat Al-Quran.

Contoh lain yang dipaparkan Nur Kholish adalah penolakan Mangkunegara IV dari Kasunanan Surakarta
terhadap Arabisasi fikih. Baginya, fikih (pekih) tidak seharusnya dipraktikkan secara utuh seperti yang
tertulis dalam literatur Arab, melainkan disesuaikan dengan tingkat kelayakan Jawa. ”Dengan kata lain,
ada nilai-nilai luhur Jawa yang tidak boleh begitu saja ditinggalkan.”

Sayangnya, kita tidak mendapat penjelasan, bagaimana contoh budaya Jawa yang luhur dan tidak boleh
ditinggalkan, sehingga harus menjadi dasar pertimbangan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Kita
tunggu saja upaya dosen Al-Quran dari UIN Yogya itu untuk menerbitkan Kitab Tafsir atau Fikih yang
mengakomodasi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Setelah terbit, baru kita bisa menilainya.

Sebenarnya, selama ini umat Islam sudah paham, bahwa Muslim Jawa boleh shalat dengan kain saung
dan blangkon, tetapi tidak boleh shalat dengan menggunakan bahasa Jawa. Tidak ada orang Muslim
Jawa berpikir, bahwa azan bisa dilantunkan dalam bahasa Jawa. Kita paham, mana yang termasuk ajaran
ad-Dinul Islam, dan mana aspek budaya yang boleh diambil.

Para penyebar Islam di Jawa dulu pun berusaha mengubah tradisi yang tidak sesuai dengan Islam
dengan tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, diubahnya tradisi ”sesajen” menjadi
”selametan”. Proses perubahan tradisi tentu memakan waktu yang panjang, sehingga kadang-kadang
ada yang masih belum berjalan dengan sempurna. Islam tidak menolak adat pakaian suatu daerah yang
memang sudah menutup aurat. Tetapi, Islam tentu akan berusaha mengubah tradisi ”koteka” atau
”telanjang” yang ada di suatu daerah tertentu. Kaum Muslim yang ”normal” tentu akan menyatakan,
bahwa budaya makan babi adalah tidak sesuai dengan Islam.

Jadi, bukan tradisi suatu daerah yang jadi pedoman. Tapi, Islamlah yang harusnya menjadi pedoman
dalam menilai sesuatu. Kaum Liberal harusnya membuka wawasannya, bahwa Islam juga hadir di tanah
Arab untuk mengubah sejumlah tradisi jahiliyah. Misalnya, tradisi perkawinan jahiliyah, tradisi
penindasan wanita, tradisi telanjang, tradisi mabuk-mabukan, dan sebagainya. Meskipun diturunkan di
negeri yang tandus, syariat Islam justru mengandung banyak ajaran yang mewajibkan umatnya
menggunakan air untuk bersuci. Sebab, Islam memang diturunkan untuk seluruh umat manusia tanpa
memandang budaya. Karena itu, tidak ada istilah ”Islam Jawa”, ”Islam Arab”, ”Islam Cina”, dan
sebagainya.

Dalam upaya untuk menghadirkan hukum Islam bercorak Indonesia, Nur Kholish Setiawan mengajak
untuk mengkritisi sejumlah metode istinbath hukum dalam konsep ushul fikih klasik. Misalnya, konsep
ijma’. Katanya, ”Ketetapan hukum yang dilahirkan melalui proses istintabh tidak mungkin memiliki corak
keindonesiaan, apabila tidak dibarengi dengan rumusan kritis metodologisnya.”

Di sejumlah IAIN/UIN, metode penafsiran Al-Quran “berbasis budaya” ini tampaknya mulai digencarkan.
Misalnya, dalam soal mahar dalam perkawinan. Seorang dosen Fakultas Syariah IAIN Semarang,
Rokhmadi, M.Ag., ditanya tentang kasus perkawinan seorang laki-laki dengan wanita Minang, yang

menurut si penanya, maharnya justru diberikan oleh pihak wanita, bukan pihak laki-laki. Inilah jawabab
dosen itu:

“Wajarlah mahar menjadi kewajiban pihak perempuan karena posisinya di atas laki-laki dalam bersikap
dan martabat keluarga. Maka saudara MH Tidak perlu risau, susah, dan gelisah. Justru saudara
beruntung tidak dibebani Mahar. Terimalah, sebab ketentuan al-Quran (al-Nisa ayat 4) tidak bersifat
mutlak karena semata-mata dipengaruhi budaya di mana Islam diturunkan. (Lihat, Jurnal Justisia
Fakultas Syariah IAIN Semarang, Edisi 28 Th.XIII/2005).

Kita bisa bayangkan, apa yang terjadi dengan Islam, jika setiap suku bangsa di Indonesia membuat Tafsir
Al-Quran model dosen syariat seperti ini? Nanti ada tafsir berbasis budaya Jawa, Tafsir Betawi, Tafsir
Sunda, Tafsir Minang, Tafsir Batak, dan sebagainya.

Dalam soal hukum pidana ala Indonesia, misalnya, Nur Kholish mengajukan proposal dari Mohammad
Syahrur tentang ”Teori Batas”. Dalam kasus pencurian, ketentuan hukum potong tangan dalam QS 5:38,
dipandang sebagai ”batas maksimal” (al-had al-a’la). Menurut Syahrur, hukum potong tangan bagi
pencuri adalah ”hukuman maksimal”. Jadi, tidak setiap pencurian harus dikenai hukum potong tangan.
Dan menurut Nur Kholish, masih ada ruang untuk berijtihad menentukan jenis hukuman bagi pencuri
yang di bawah hukum potong tangan.

Teori batas lain dari Syahrur yang diajukan Nur Kholish adalah batas dalam soal waris. Pola 2:1 bagi laki-
laki dan wanita, menurut Syahrur, adalah formula batas atas dan batas bawah. Jadi, menurut formula
itu, batas atas bagi laki-laki adalah 66,6 persen dan batas bawah bagi wanita adalah 33,33 persen. Jadi,
bisa dilakukan ijtihad baru, seorang laki-laki mendapatkan warisan 60 persen dan seorang wanita
mendapatkan 40 persen. Aspek lokalitas turut memberikan warna dalam pergeseran 66,6 banding 33,3
persen.

Itulah yang dikatakan sebagai tawaran ijtihad atau tafsir baru yang lebih menghargai unsur lokalitas atau
budaya lokal. Pendapat Syahrur soal ”Teori Batas” itu sudah sangat banyak menuai kritik di negerinya
sendiri, Suria. Teori ini memang ”aneh”. Coba bayangkan, bolehkah seorang berijtihad, bahwa yang
termasuk hukuman yang berada di bawah derajat hukum ”potong tangan” adalah, misalnya, ”potong
rambut” atau ”potong jari” atau ”potong telinga?”

Kekacauan Teori Batas ini bisa dilihat dalam kasus pakaian laki-laki. Syahrur berpendapat bahwa batas
bawah (batas minimal) aurat laki-laki yang harus ditutup hanyalah kemaluannya. ”Karena keadaan cuaca
berbeda-beda pada tiap penduduk bumi dari panas yang terik sampai dingin yang menggigit. Maka batas
minimal pakaian yang diberikan bagi laki-laki adalah menutup kemaluan.” Karena itu, kata Syahrur, laki-
laki boleh berenang hanya dengan mengenakan celana renang saja. Yang dilarang adalah melihat laki-
laki dalam keadaan telanjang bulat. (Lihat, Muhammad Syahrur, Islam dan Iman: Aturan-sturan Pokok,
(Terj.) (Yogya: Jendela, 2002), hal. 71.

Kita bisa bayangkan, bagaimana jika dosen tafsir di UIN Yogya menerapkan teori Syahrur dalam soal
pakaian laki-laki ini?

Pada 6 September 2004, situs JIL pernah menurunkan sebuah artikel yang membahas tentang Teori
Batas Syahrur, ditulis oleh seorang dosen di Jurusan Tafsir-Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ditulis
di situ, bahwa dalam soal pakaian wanita (libâs al-mar’ah), Syahrur berpendapat bahwa batas minimum
pakaian perempuan adalah satr al-juyûb (Q.S al-Nur: 31) atau menutup bagian dada (payudara),
kemaluan, dan tidak bertelanjang bulat. Batas maksimumnya adalah menutup sekujur anggota tubuh,
kecuali dua telapak tangan dan wajah.

Kita bisa melihat, betapa absurdnya teori semacam ini. Dengan ”Teori Batas” ala Syahrur ini, maka boleh
saja wanita mengenakan bikini di depan umum, yang penting dia sudah menutupi batas minimal, yakni
kemaluan, payudara, dan tidak telanjang bulat.

Dengan model penafsiran yang sangat ”fleksibel” seperti itu, kita paham, mengapa sebagian kalangan
sangat menyukai metode tafsir al-Quran yang disebut ”Teori Batas” ala Syahrur ini. Meskipun model
tafsir al-Quran semacam ini yang ditawarkan dalam acara Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh
Malang, kita berharap, Majelis Tarjih Muhammadiyah, tidak tergoda untuk memungutnya.

Kita tidak bosan-bosannya mengimbau para intelektual, meskipun sudah bergelar doktor atau profesor,
untuk bersikap tawadhu’ dan tahu diri. Jika maqamnya memang ”muqallid” jadilah ”muqallid” yang baik.
Tidak patut memposisikan diri sebagai mujtahid, yang dengan gagahnya memaki-maki Imam Syafii,
tetapi ujung-ujungnya menjadi pemuja Nasr Hamid Abu Zaid. [Depok, 22 Februari
2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

“Menyambut Buku Dr. Syamsuddin Arif”

sumber http://www.hidayatullah.com

Tepat saat acara ”5 Tahun INSISTS”, juga diluncurkan buku berjudul “Orientalis dan Diabolisme
Pemikiran.” Baca catatan akhir pekan [CAP] Adian ke-225

Oleh: Adian Husaini

ImagePada 9 Februari 2008, tepat saat acara ”5 Tahun INSISTS” (Institute for the Study of Islamic
Thought and Civilization), terbitlah buku berjudul Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, karya Dr.
Syamsuddin Arif. Di tengah semakin kokohnya cengkeraman studi Islam gaya orientalis di Indonesia,
buku Syamsuddin ini menjadi sangat berarti kehadirannya. Selain menyuguhkan data yang melimpah
tentang studi dan pemikiran Islam gaya orientalis dalam berbagai bidang studi, buku ini ditulis dalam
perspektif jelas dan tajam.

Buku ini memang merupakan kumpulan tulisan di berbagai media dan kesempatan. Namun, semuanya
dibingkai dalam cara pandang yang kokoh dan padu. Dalam komentarnya atas buku ini, cendekiawan
Gontor Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menulis: ”Suatu karya yang tidak dapat lahir kecuali dari seseorang
yang memiliki framework yang jelas. Pendekatannya mengesankan seperti anti-Barat dan anti-
kemapanan, padahal ini adalah upaya riil untuk berubah dan mengubah diri dari kondisi yang selama ini
terhegemoni oleh framework dan worldview orientalis dan Barat.”

Penulis buku ini sudah cukup kita kenal. Dia adalah peneliti INSISTS. Cendekiawan muda Betawi ini
menyelesaikan doktornya di ISTAC-Kuala Lumpur. Kini, selain mengajar di Universitas Islam Internasional
Malaysia, dia masih menyelesaikan disertasi untuk doktor keduanya di Orientalisches Seminar,
Universitas Frankfurt, Jerman. Buku ini menjadi indikator bahwa penulisnya ”bukan orang
sembarangan”.

Dalam kaitan dengan ”Diabolisme Pemikiran”, penulisnya mencatat, bahwa ”Diabolos adalah Iblis dalam
bahasa Yunani Kuno… maka istilah ”diabolisme” berarti pemikiran, watak, dan perilaku ala Iblis ataupun
pengabdian kepadanya.” Iblis bukan bodoh, bukan ateis. Iblis kenal Tuhan. Tapi, Iblis ingkar, kafir,
menolak tunduk kepada Allah. Kesalahan Iblis bukan tidak berilmu, tetapi membangkang, merasa hebat,
dan melawan perintah Allah. ”Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil
direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berperilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah
’prototype’ intelektual ’keblinger’.” (hal. 143-144).

Membaca buku ini, kita seperti dibawa hanyut oleh penulisnya dalam menelusuri relung-relung
pemikiran orientalis yang penuh dengan jebakan dan penyesatan pemikiran. Satu persatu logika-logika
orientalis, baik yang tersirat maupun yang tersurat, dikupas dan dikritisinya. Tak jarang, penulisnya
menggunakan kata-kata yang lugas dan tajam dalam memberikan kritiknya.

Pada bagian tulisan ”Orientalis dan Al-Quran”, Syamsuddin mencatat: ”Dinyatakan dalam Al-Quran
bahwasanya orang Yahudi dan Kristen memang tidak pernah berhenti, dengan segala macam cara,
mempengaruhi umat Islam agar mengikuti agama mereka. Mereka ingin umat Islam melakukan seperti
apa yang mereka lakukan, menggugat, dan mempersoalkan yang sudah jelas dan mapan, sehingga
timbul keraguan terhadap yang sahih dan benar. Untuk memberi kesan seolah-olah objektif dan
otoritatif, orientalis-misionaris ini biasanya berkedok sebagai pakar (expert scholars) mengenai bahasa,
sejarah, agama, dan tamadun Timur, baik yang ’Jauh’ (Far Eastern, seperti Jepang, China dan India)
maupun yang ’Dekat’ (Near Eastern, seperti Persia, Mesir dan Arabia).” (hal. 2-3).

Dalam kajian Al-Quran, misalnya, satu persatu orientalis yang berusaha meragu-ragukan Al-Quran
dikritisi pemikirannya. Banyak orientalis memang menyerang al-Quran dengan motif dan perspektif
agama mereka. Gagasan pembuatan ”Edisi Kritis al-Quran” dari Arthur Jeffery, misalnya, jelas
dilatarbelakangi pola pikir kondisi Bibel. Ia bermaksud merestorasi teks Al-Quran berdasarkan Kitab al-
Mashahif karya Ibn Abi Dawud as-Sijistani yang ditengarai merekam bacaan-bacaan dalam beberapa
’Mushaf Tandingan’ (rival codices). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergtrasser dan Otto
Pretzl, dua orientalis Jerman yang berjibaku mengumpulkan foto lembaran-lembaran naskah
(manuskrip) Al-Quran dengan tujuan membuat Edisi Kritis Al-Quran. Namun, upaya ini gagal karena
arsip-arsip di Munich hancur musnah tertimpa bom saat Perang Dunia Kedua. (hal. 5).

Dalam sejumlah CAP, kita pernah membahas, bagaimana gagasan Edisi Kritis Al-Quran kemudian
dikembangkan oleh kaum liberal di Indonesia. Sejumlah dosen UIN alumni dan jebolan Jerman kini
menyokong upaya pembuatan Al-Quran Edisi Kritis. Sadar atau tidak, para dosen ini sudah terjebak
dalam metode pikir orientalis. Dan ironisnya, mereka bangga menjadi pelanjut pemikiran orientalis.

Sepertinya, tidak ada rasa malu lagi untuk menjadi penerus pikiran dan sikap orientalis. Bahkan, banyak
yang bangga! Bangga menjadi pengkritik Islam. Umur dan waktunya dihabiskan untuk menyerang Islam.
Kepandaiannya dikerahkan untuk menyerang Islam. Bahkan tidak ragu-ragu lagi untuk menyatakan
bahwa banyak konsep dasar Islam yang harus dibongkar. Persis seperti apa yang digambarkan Dr.
Syamsuddin Arif dalam buku ini. Jika orientalis sudah ragu dengan agama mereka, ragu dengan Kitab
Suci mereka, maka mereka pun ingin agar umat Islam mengikuti jejak mereka pula.

Pada bagian ”Orientalis dan Teologi Islam”, Syamsuddin Arif mengungkap deretan karya-karya orientalis
dalam bidang ini, baik yang berbahasa Inggris, Jerman, maupun Perancis. Salah satu tujuan mereka
melakukan kajian yang sangat serius dalam bidang ini adalah: ”untuk menciptakan konflik dan
melestarikan perpecahan di kalangan umat Islam, agar mudah untuk dikuasai berdasarkan prinsip
devide et impera. Maka tidak mengherankan kalau objek kajian yang paling diminati oleh para orientalis
adalah soal munculnya sekte-sekte sempalan dalam Islam.” (hal. 48).

Lebih jauh Syamsuddin menulis:

”Dengan terbitnya karya-karya tersebut, para orientalis itu bermaksud dan berhasil mengedepankan
aliran-aliran sempalan yang sudah diabaikan dan dilupakan orang, mengetengahkan pemikiran-
pemikiran sesat yang semula tersisih dan terpinggirkan, dan mengangkat ke permukaan sekte-sekte
menyimpang yang selama ini tertekan. Ada satu pesan yang ingin mereka sampaikan, bahwasanya
ajaran Islam itu tidak monolitik. Banyak terdapat perbedaan dan perselisihan di kalangan umat Islam,
sehingga sejak awal sejarahnya memang sudah terpecah belah. Para orientalis tidak hanya menyoroti
hal ini, tetapi juga membesar-besarkan persoalan yang tidak prinsipil.” (50).

Membaca analisis Dr. Syamsuddin tersebut kita dibuat terperangah. Inilah yang selama ini memang
terjadi dan sudah puluhan tahun menjadi penyakit kronis dalam dunia Pendidikan Tinggi Islam di
Indonesia. Lihatlah buku-buku sejarah dan peradaban Islam yang dijadikan buku rujukan dan diajarkan
kepada para mahasiswa kita. Begitu banyak paparan tentang sejarah konflik, perang, dan kucuran darah.
Seolah-olah, Islam adalah agama konflik, dan tidak ada yang patut dibanggakan dari sejarah Islam.

Sebuah buku berjudul Sejarah Peradaban Islam yang ditulis seorang guru besar di UIN Jakarta menulis
tentang Sayyidina Utsman r.a. dalam gambaran yang sangat buruk, sebagai berikut:

” Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah
kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting adalah Marwan bin
Hakam. Dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang
gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman
laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap
keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahannya. Harta kekayaan negara, oleh
kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri.” (hal. 38-39).

Inilah contoh cara penggambaran seorang sahabat Nabi Muhamamd saw yang sangat tidak etis dan
tidak proporsional. Buku seperti inilah yang selama puluhan tahun diajarkan kepada para mahasiswa di
berbagai kampus Islam. Jangan heran, jika akibatnya, banyak muncul sarjana agama yang kemudian
tidak mencintai sahabat Nabi saw dan bahkan beberapa diantaranya secara terang-terangan mencaci
maki mereka. Seorang mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang, menulis artikel berjudul ”Pembukuan
Quran oleh Usman: Sebuah Fakta Kecelakaan Sejarah”. Temannya yang lain menulis ”Kritik
Ortodoksisme: Mempertanyakan Ketidakkreatifan Generasi Pasca Muhammad.” (Lihat, Jurnal Justisia
Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 23 Tahun XI/2003). Di pengantar Redaksinya, Jurnal ini juga
menulis: ”Dari sekian tumpuk daftar ketidakkreatifan generasi pasca-Muhammad, yang paling
mencelakakan adalah pembukuan Quran dengan dialek Quraisy, oleh Khalifah Utsman Ibn Affan…”

Peneliti INSISTS bidang sejarah, Asep Sobari, mengritik cara-cara pengajaran sejarah semacam itu.
Dalam hasil risetnya terhadap pemerintahan Utsman r.a., Asep menunjukkan bahwa gambaran buruk
para sejarawan tentang Sayyidina Utsman adalah keliru. Misalnya soal pengangkatan kerabatnya dalam
jabatan kenegaraan. Berdasarkan riwayat Khalifah ibn Khayyath dan al-Thabari, Dr. Akram al-Umari
mencatat, selama pemerintahannya yang berlangsung selama 12 tahun, Utsman r.a. mengangkat 34
pejabat, dan hanya 7 orang saja yang merupakan kerabatnya, yaitu Mu`awiyah ibn Abu Sufyan, Abdullah
ibn Abu Sarh, Walid ibn `Uqbah, Sa`id ibn `Ash, Abdullah ibn `Amir ibn Kurayiz, Ali ibn Rabi`ah dan
Marwan ibn Hakam.

Mu`awiyah ibn Sufyan, Abdullah ibn Abu Sarh dan Walid ibn `Uqbah sudah menjabat sejak masa
pemerintahan Umar ibn Khaththab. Selain itu, dari empat kerabat yang diangkat langsung oleh Utsman
r.a., dua diantaranya kemudian dicopot dari jabatannya, yaitu Sa`id ibn `Ash dan Walid ibn `Uqbah,
setelah yang terakhir ini terbukti minum khamr dan menerima hukuman. Fakta ini menunjukkan Utsman
r.a. sangat berhati-hati dan selektif dalam memilih kerabatnya yang diangkat menjadi pejabat tinggi.

Jasa-jasa Utsman r.a. terhadap Islam sangatlah luar biasa. Dia pengusaha kaya raya yang telah
mewakafkan harta dan jiwanya untuk dakwah Islam. Jasa besarnya menghimpun Mushaf Al-Quran
diterima oleh semua sahabat dan diakui jasanya oleh semua ulama (kecuali ulama jahat). Maka, aneh,
jika ada dosen dan mahasiswa kampus berlabel Islam yang memperhinakan sahabat Nabi saw yang
mulia.

Karena itulah, dengan terbitnya buku Dr. Syamsuddin Arif, maka kita perlu melakukan kerja keras untuk
meneliti kembali satu persatu buku-buku teks studi Islam khususnya di Perguruan Tinggi. Dalam buku
Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (2006), saya mengungkap peringatan
Prof. HM Rasjidi terhadap masuknya pola kajian orientalis di IAIN melalui buku Prof. Harun Nasution,

Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya – satu buku wajib dalam studi Islam sejak tahun 1973. Padahal,
tahun 1975, Prof. Rasjidi sudah mengingatkan: buku ini ”sangat berbahaya”.

Ironisnya, banyak dosen dan cendekiawan Muslim lebih suka diam dan cuek terhadap peringatan Prof.
Rasjidi tersebut. Banyak yang memilih menjadi penonton yang baik. Jangan heran, ”api yang dulu kecil,
sekarang sudah menjadi besar”. Banyak yang belajar Al-Quran, tetapi kemudian bangga menjadi
pengkritik al-Quran. Banyak yang belajar sejarah Islam, tetapi kemudian alergi dengan sejarah Islam.
Banyak yang belajar syariah, tetapi membenci syariah. Sebab, cara belajar dan buku yang dipelajarinya
memang sudah mengikuti pola kajian orientalis.

Karena itu, kita patut bersyukur dengan terbitnya buku Syamsuddin Arif ini. Sebuah buku yang
berkualitas ilmiah tinggi. Melalui bukunya, cendekiawan Muslim asal Bewati ini telah menjebol satu
mitos yang dibangun oleh kaum orientalis, bahwa sesorang tidak dapat menjadi cendekiawan yang baik
(good scholar) dan muslim yang baik (good Muslim) pada saat yang sama. Syamsuddin menjebol mitos
itu. Ia membuktikan, seorang bisa menjadi cendekiawan dan sekaligus Muslim yang baik, yang
berpegang teguh kepada keyakinan agamanya.

Mengutip satu pepetah Jerman, dalam pengantar bukunya, Syamsuddin Arif menulis: ”Siapa membaca
akan mengetahui, dan siapa menulis tak akan mati.” Umat Islam tentu bersyukur dengan terbitnya buku
ini. Umat bisa berdialog dan mengenal Doktor Syamsuddin Arif melalui tulisannya, Tetapi, bisa diduga,
setelah membaca buku ini, akan banyak pembaca yang penasaran ingin mengenal lebih jauh sosok
penulis dan cendekiawan belia kelahiran Jakarta tahun 1971 ini. Dalam tradisi keilmuan Islam, interaksi
guru dan murid memang menjadi faktor penting dalam transfer keilmuan.

Pembaca mungkin akan merindukan kucuran ilmu dari penulisnya lebih jauh. Setelah satu persatu ulama
Betawi yang berwibawa meninggalkan kita, bumi Jakarta kini terasa semakin gersang dicekam
kemaksiatan dan kesemrawutan pemikiran. Banyak umat kini merindukan kedatangan ulama-ulama
Betawi yang kokoh dalam ilmu, keyakinan, dan amal. Maka, alangkah indahnya jika suatu ketika nanti di
Jakarta berdiri sebuah pusat kajian Islam bernama: ”Majlis Ta’lim Dr. Syamsuddin Arif”.

Yang jelas, terbitnya buku Dr. Syamsuddin Arif ini telah membuktikan, bahwa masyarakat Betawi bukan
hanya telah melahirkan FBR, Forkabi, dan Lenong Betawi, tetapi juga melahirkan cendekiawan dan
ulama yang bermutu tinggi. Mudah-mudahan ilmunya bermanfaat dan akan terbit lagi buku-buku yang
lebih berkualitas. Amin. Wallahu A’lam. [Depok, 15 Februari 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

TRADISI ILMU KE PERADABAN ISLAM
sumber http://www.insistnet.com
Ditulis oleh Adian Husaini
Tanggal 9 Februari 2008, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) menggelar
acara tasyakkur lima tahun kiprahnya dalam dunia pemikiran Islam di Indonesia. INSISTS adalah sebuah
lembaga yang selama beberapa tahun gencar mempromosikan gagasan dan gerakan membangun tradisi
ilmu menuju peradaban Islam melalui berbagai aktivitas workshop dan penerbitan.

Mengapa tradisi ilmu? Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi
ilmu. Tanpa kecuali peradaban Islam.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliyah
gurun pasir, Rasulullah mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat
Nabi dikenal sebagai orang-orang yang gila ilmu.

Dasar membangun peradaban Islam adalah Al-Qur’an. Dari Al-Qur’an inilah menurut Hamid, lahir
konsep-konsep tentang ilmu, konsep penciptaan, konsep etika, konsep manusia, konsep kehidupan dan
lain-lain. “Konsep-konsep itusemuanya menyatu kepada konsep tauhid.” Dan inilah yang membedakan
konsepperadaban Islam dan Barat. (lihat Al-Qur’an surah Ibrahim 24-27).

Hamid kemudian mengutip pendapat ilmuwan Barat, George F Kneller: “Balatentara Islam…tidak
berbekalkan apa-apa secara kultural selain dari Kitab Suci dan Sunnah Nabi. Tapi karena *inner-
dynamic* -nya, maka ajaran Islam itu telah menjadi landasan pandangan hidup yang dinamis yang
kelak…memberimanfaat untuk seluruh umat manusia.” (George F Kneller, Science as a Human Endeavor,
New York: Columbia University Press, 1978, hal. 3-4).

Dalam sejarah, Rasulullah saw membentuk madrasah as Shuffah untuk membentuk ulama atau
intelektual- intelektual Islam. Diantaranya: Abu Hurayrah (Hadith), Abu Dharr al-Ghiffari (Hadith),
Salman al-Farisi (Hadith), ‘AbdAllah ibn Mas’ud (Hadith) dan Ibn Abbas (Tafsir). Juga lahir :
· Qadi Surayh (d.80/ 699),
· Muhammad ibn al-Hanafiyyah (d.81/700),

· Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz ( d.102/720) (Ulama & Umara)

· Wahb ibn Munabbih (d.110,114/719, 723), (Tasawuf)

· Hasan al-Basri (d.110/728), (Fiqih dan Aqidah)

· Ghaylan al-Dimashqi (d.c.123/740) , (Aqidah)

· Ja’far al-Sadiq (d.148/765), (Aqidah dan Fiqih)

· Abu Hanifah (d.150/767), (Fiqih)

· Malik ibn Anas (179/796), (Fiqih)

· Abu Yusuf (d.182/799), (Fiqih)

· al-Shafi’i (204/819) (Fiqih)

*Di masa Bani Umayyah lahir *Pakar Bahasa Arab & Ilmu baru filologi (*philolog**y* ) dan leksikografi
(*lexicography* ).

a. Abu al-Aswad al-Dua’li (w.688)

b. al-Khalil ibn Ahmad (w.786), ulama Bashrah yang terkenal dengan kamus bahasa Arab *Kitab al-Ayn*.

c. Sibawayh (w.793), penulis buku *al-Kitab. ***

Di Spanyol umat Islam telah memprakarsai gerakan intelektual yang membuat Spanyol-Islam dari abad 9
sampai 11 menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam. Kemajuan dalam bidang seni, sastra, ilmu agama,
sains, filsafat, tata kota dan lain-lain telah mempesona orang-orang Kristen yang akhirnya mereka
terdorong untuk meniru gaya hidup orang Islam. Karena jumlah mereka cukup banyak dan membentuk
kelas sosial tersendiri maka akhirnya orang-orang peniru itu diberi julukan *Mozarab* (arabnya
*Musta’rib*) . (Lihat Philip K Hitti, *History of The Arab).*

Di abad ke-19 lahirlah ilmuwan-ilmuwan Muslim:

1. Yaqub Ibn Ishaq al-Kindi (Alkindus)(800- 873), pakar filsafat, fisika, optik, kedokteran, matematika,
metalurgi

2. Jabir Ibn Haiyan (Geber)(Died 803)

3. Ali Ibn Rabban al-Tabari(838- 870), pakar kedokteran, matematika, kaligrafi, sastra.

4. Abu Abdullah al-Battani (Albategnius) (858-929) , pakar astronomi, mathematika, trigonometri

5. Abul-Abbas Ahmad al-Farghani (al-Fraganus) (C. 860), pakar Astronomi, tehnik sipil

6. Muhammad Ibn Zakariya al-Razi (Rhazes)(864- 930), pakar kedokteran, optalmologi, cacar, kimia,
astronomi

7. Abu al-Nasr al-Farabi (al-Pharabius) (870-950) , pakar Sosiologi, logika, filsafat, ilmu politik dan musik

8. ‘Abbas Ibn Firnas (w. 888), pakar mekanik pesawat, planetarium, kristal buatan, dikenal sebagai orang
pertama yang terbang.

Begitulah tradisi ilmu dalam Islam melahirkan ulama-ulama yang sekaligus juga ilmuwan, Sedangkan
mengenai kemunduran umat Islam sekarang, Hamid kemudian mengutip pendapat Prof. Al Attas: “Akar
masalah yang sedang kita hadapi ini sesungguhnya terletak pada masalah di sekitar pengertian ilmu.

Akal pikiran kita telah diliputi oleh masalah sifat dan tujuan ilmu yang salah…orang Islam telah
terpedaya dan secara tidak sadar telah menerima pengertian ilmu yang dianggap sama dengan
pengertian kebudayaan Barat.”

*ISTAC Dibubarkan*

Sebelumnya anggota dewan direksi Insists Adian Husaini memaparkan perjalanan Insists selama lima
tahun. Mulai dari pengalaman belajar di ISTAC Kuala Lumpur, kekayaan perpustakaan ISTAC, tradisi ilmu
di ISTAC, sampai ISTAC dibubarkan. “Kita punya impian memindahkan kampus ISTAC ke Indonesia… kita
wujudkan apa yang kata orang tidak mungkin terwujud,”kata Adian. Ia memaparkan juga sejarah
terbitnya Islamia, dari buletin 10 halaman sampai menjadi majalah ilmiah yang berpengaruh saat ini.
“Waktu itu Mas Hamid sampai “nyeteples” sendiri,”terangnya. Lebih dari seratus workshop juga telah
diadakan Insists untuk mengikis liberalisasi Islam dan mengembalikan umat kembali memegang teguh
dan bangga dengan pemikiran dan peradabannya.

Adian juga menjelaskan tentang nilai strategis studi Islam dan mengingatkan agar umat waspada
terhadap bantuan-bantuan studi di Barat. “Barat mengeluarkan dana yang sangat besar untuk
memberikan beasiswa kepada ribuan sarjana Muslim dan mendirikan studi-studi Islam di kampus-
kampus mereka,”paparnya.

Tradisi ilmu yang didorong oleh ayat-ayat Alquran berhasil mengubah sahabat Nabi dari orang-orang
jahiliyah menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, mengubah
generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia menjadi pemimpin kelas
dunia.

Tradisi baca dan tulis begitu hidup dalam masyarakat yang sebelumnya didominasi tradisi lisan. Tiap
ayat Alquran turun, Rasulullah memerintahkan kepada sahabatnya untuk menulis. Bahkan, tradisi ini
menjadi simbol kemuliaan seseorang.

Rasulullah menjadikan pelajaran baca tulis sebagai tebusan tawanan Badar. Rasulullah menugaskan
Abdullah bin Said bin al Ash untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Beliau juga memberi mandat
Ubadah bin as-Shamit mengajarkan tulis-menulis ketika itu.

Kata Ubadah, ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya setelah mengajarkan tulis-
menulis kepada Ahli Shuffah. Saad bin Jubair berkata: ”Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa
mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di
tanganku. Ayahku sering berkata: ”Hafalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di
rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.”
(Mustafa Azami, 2000).

Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi berkat pemahaman terhadap
Alquran yang mendorong agar Muslim senantiasa menggunakan akalnya. Ibnu Taimiyah mencatat
banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah.

Menurut Ibnu Taimiyyah, orang yang tinggal di dalam suffah (asrama tempat belajar) mencapai 400
orang. Menurut Prof Azami, Rasulullah mempunyai 65 sekretaris yang bertugas menulis berbagai hal
khusus.

Khusus menulis Alquran adalah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan, dan Ubay bin Kaab.
Khusus mencatat harta sedekah Zubair bin Awwam dan Jahm bin al Shalit. Masalah utang dan perjanjian
lain-lain Abdullah bin al Arqam dan al-Ala bin Uqbah.

Bertugas mempelajari dan menerjemahkan bahasa asing adalah Zaid bin Tsabit. Zaid memang
diperintahkan Rasulullah belajar bahasa Ibrani dan Suryani. Sekretaris cadangan dan selalu membawa
stempel Nabi adalah Handhalah.

Generasi selanjutnya, peradaban Islam mencatat para ulama yang sangat tinggi kecintaannya terhadap
ilmu. Jabir ibn Abdullah ra, misalnya, menempuh perjalanan sebulan penuh dari kota Madinah ke kota
Arisy di Mesir hanya untuk mencari satu Hadis. Ibnu al-Jauzi menulis lebih dari seribu judul.

Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mencari satu Hadis, bertani untuk
mencari rezeki, dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun. Imam al-Bukhari menulis
kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu shalat dua rakaat setiap kali menulis satu Hadis, serta
berdoa meminta petunjuk Allah.

Imam Nawawi (w. 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim,
disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar delapan cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.

Manusia beradab
Peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid yang menyatukan unsur dunia dan
akhirat. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat
kepada Tuhan.

Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam
genggamannya, bukan dalam hatinya. Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita
dan tidak menikah selamanya agar bisa fokus kepada ibadah.

Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad justru
mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunahku, dan siapa yang benci pada sunahku, maka dia tidak termasuk
golonganku.”

Meskipun begitu, Rasulullah juga memperingatkan dengan keras: ”Jika umatku sudah mengagungkan
dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”

Inilah peradaban Islam, bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang
meninggalkan materi. Pada titik inilah tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam
masyarakat Barat yang membuang agama dalam kehidupan mereka.

Dalam Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori
fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang
ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ‘anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik,
Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya.

Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan qadhi
negara. Tradisinya berbeda dengan masyarakat Yunani yang merupakan salah satu unsur penting
peradaban Barat.

Dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan, 2003), Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, guru besar
pendidikan dan pemikiran Islam dari Universitas Islam Internasional Malaysia, mencatat kisah
Demonsthenes, seorang filosof Yunani, yang mengungkap pandangan kaum cendekiawan yang pintar
menjustifikasi amalan bejat: ”Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk
keseronokan (keindahan, Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk melahirkan
zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”

Karena itu, tradisi ilmu Islam tidak sama dengan yang dibangun dalam peradaban sekuler. Menurut Prof
Naquib al-Attas, pendiri ISTAC, konsep ilmu sekular Barat adalah sumber kerusakan terbesar bagi umat
manusia. Karena itu, saat menjadi keynote speaker pada Konferensi Pendidikan Islam di Makkah pada
1977, Al-Attas menggulirkan makalah berjudul ‘The Dewesternization of Knowledge’.

Langkah awal diajukannya untuk membangun peradaban Islam adalah Islamisasi ilmu. Menurut al-Attas,
mau tidak mau harus dilakukan melalui proses pendidikan, yang disebutnya sebagai ta’dib, bukan
tarbiyah.

Tujuan utamanya membentuk manusia beradab. Adab adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang
memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya
dengan benar dan wajar sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan
lingkungannya. Hasil tertingginya ialah mengenal Allah SWT dan meletakkan-Nya di tempat-Nya yang
wajar dengan melakukan ibadah dan amal shaleh pada tahap ihsan.

Jika konsep adab ini diterapkan dalam masyarakat, maka akan terbentuk satu peradaban yang dalam
bahasa Melayu disebut tamadun, yang berbasiskan pada ‘ad-din. Madinah adalah kota di mana ‘ad-din
diaplikasikan.

Seorang dapat menjadi manusia beradab jika memiliki ilmu yang benar. Karena itulah, suatu pendidikan
Islam pasti akan gagal mewujudkan tujuannya jika dibangun di atas konsep ilmu yang salah, yakni ilmu
yang tidak mengantarkan seseorang pada ketakwaan dan kebahagiaan.

Untuk itulah INSISTS berusaha turut andil dalam sebuah proses pembangunan peradaban Islam dengan
memulai menghidupkan tradisi ilmu Islam. INSISTS yakin peradaban Islam hanya bisa berdiri tegak di
atas konsep pemikiran Islam dan diwujudkan oleh kaum Muslim sendiri.

Ikhtisar:
– Rasulullah mengajarkan tradisi tulis-menulis.
– Peradaban Islam menyeimbangkan kehidupan dunia dan akherat.
– Hanya ilmu yang benar bisa menjamin kehidupan yang membahagiakan.

MENYAMBUT MUKTAMAR PEMIKIRAN ISLAM DI UNMUH MALANG

sumber http://www.insistnet.com
Ditulis oleh Adian Husaini
Beberapa hari lalu, saya menerima faksimili dari seorang pengurus Muhammadiyah di daerah Jawa
Timur tentang akan diadakannya acara Muktamar Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM). Acara akan berlangsung 11-13 Februari 2008. Penyelenggaranya adalah Pusat Studi
Islam dan Filsafat UMM dan Al-Maun Institute Jakarta, yang dipimpin oleh Dr. Moeslim Abdurrahman.

Karena menyebut acara ini sebagai ”Muktamar Pemikiran Islam” bukan ”Muktamar Pemikiran
Muhammadiyah”, tentu acara ini sangat penting untuk ditelaah oleh umat Islam, bukan hanya bagi

Muhammadiyah. Banyak tema yang dibahas. Para pembicara yang dipasang dalam jadwal acara cukup
banyak. Tapi, yang sangat penting untuk kita telaah adalah pembahasan soal Tafsir Al-Quran.

Dalam sesi pembahasan tentang ”Manhaj Baru Muhammadiyah: Mengembangkan Metode Tafsir”,
dipasang tiga pembicara, yaitu Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Dr. Hamim Ilyas, dan Dr. Saad Ibrahim. Dua
nama pertama sudah cukup kita kenal melalui berbagai tulisannya. Nama yang ketiga belum begitu
banyak kita kenal pemikirannya. Amin Abdullah, rektor UIN Yogya, adalah tokoh penyebar hermeneutika
dan ”fans berat” Prof. Nasr Hamid Abu Zaid.

Berikut ini kita bisa menyimak kembali wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla dengan Amin Abdullah,
sebagaimana dimuat dalam website Jaringan Islam Liberal.

ULIL ABSHAR-ABDALLA (UAA): Pak Amin, Anda tentu mengenal Nasr Hamid Abu Zayd sebagai seorang
pemikir terkemuka di dunia Islam saat ini. Bagaimana kisah perkenalan Anda dengan beliau?

M. AMIN ABDULLAH (MAA): Perkenalan saya dimulai saat mengajar di pascasarjana IAIN Yogyakarta
tahun 1994, melalui bacaan terhadap buku-bukunya. Uniknya, buku Abu Zayd justru saya temukan saat
saya berkunjung ke Paris. Saya hanya bertemu bukunya di sana, bukan orangnya. Ketika itu, saya
menemukan buku dengan judul yang membuat saya tertarik, seperti Naqd al-Khitâb al-Dînî (Kritik
Wacana Agama), Naqd al-Nash (Kritik Teks), dan lain-lain. Buku itu saya bawa ke tanah air, lalu saya
telaah. Ternyata isinya memang bagus dan sesuai dengan perkembangan studi Islam kontemporer. Saya
kira, tema seperti Naqd al-Khitâb al-Dînî merupakan tema yang cocok untuk dibahas di lingkungan IAIN
atau PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam).

UAA: Sebagai Rektor UIN Yogyakarta, apakah Anda telah mengadopsi sejumlah pendekatan yang
digunakan Abu Zayd, khususnya di lingkungan akademik UIN?

MAA: Kalau melihat sebagian corak tesis atau skripsi mahasiswa, kita akan dapat menemukan tema-
tema yang mengarah ke situ. Jadi di UIN Yogya, tema-tema seperti itu sudah dibahas cukup luas. Kalau
IAIN lain di Indonesia saya tidak tahu. Tapi paling tidak, di Yogya ada komunitas yang menekuni karena
memang cocok untuk lingkungan akademik.

Kita sudah berulangkali membahas dan mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid dan Amin Abdullah.
Sama dengan Amin Abdullah, Dr. Hamim Ilyas pun dikenal sebagai pendukung kuat penggunaan metode
hermeneutika untuk Al-Quran. Dia bahkan menyebut penolakan terhadap hermeneutika untuk
penafsiran Al-Quran sebagai salah satu ciri fundamentalisme Islam, sebagaimana kita bahas dalam CAP
ke-216.

Hermeneutika memang sedang sangat gencar diajarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam, dan
selanjutnya dijejalkan ke ormas-ormas Islam agar menerimanya. Orang yang menolak metode
hermeneutika akan dicap sebagai fundamentalis, kolot, tidak progresif dan sejenisnya. Jika pemikiran
Amin Abdullah dan Hamim Ilyas belum berubah, kita bisa menebak, mungkin Muktamar Pemikiran Islam
di UMM ini akan diarahkan untuk menerima metode hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran
sebagai”Manhaj Baru Muhammadiyah”.

Dan dugaan itu tidaklah terlalu mengada-ada, mengingat dalam sejumlah penerbitannya selama ini,
UMM Press sendiri sudah sangat aktif mempromosikan paham Pluralisme Agama dan penggunaan
hermeneutika untuk penafsiran Al-Quran. Misalnya, sebuah buku yang berjudul Islam Dialektis:
Membendung Dogmatisme, Menuju Liberalisme, (UMM Press, 2005), karya Pradana Boy ZTF (dosen
agama Islam di UMM).

Buku ini mengajak umat Islam untuk tidak meyakini kebenaran agamanya sendiri: ”Logika yang
diturunkan oleh Arkoun itu sebenarnya sangat relevan jika dihadirkan di tengah kondisi saat ini, dimana
umat beragama tidak jarang terjebak sikap yang sangat kaku dalam meyakini kebenaran agamanya
sendiri, yang dengan sendirinya menganggap tradisi lain sebagai ”jalan sesat”.” (hal. 168).

Buku ini juga banyak memuat pujian-pujian dan dukungan terhadap pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh
liberal yang sangat ekstrim seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zaid. Dengan berbagai
pemikirannya yang membongkar tradisi Islam, saat ini Arkoun memang merupakan pemikir favorit bagi
kaum liberal. Di dalam buku yang berjudul “Membongkar Wacana Hegemonik” karya Mohammed
Arkoun, bisa ditemukan gagasannya tentang sifat Kitab Suci Al-Quran yang kehilangan kesuciannya
setelah turun di bumi. Menurut Arkoun: “Sebagaimana dia kehilangan sebagian besar sifat
ketuhanannya setelah terjun ke dalam sejarah bumi dan dipergunakan oleh manusia, maka dia
terpengaruh oleh sejarah dan sebaliknya. Singkatnya, kitab suci yang sebenarnya itu adalah Ummul
Kitab menurut ungkapan Al-Quran, dan dia terjaga di sisi Allah di langit dan tidak bercampur dengan
sejarah dan masalah-masalah bumi.” (hal. 141, catatan kaki oleh Dr. Hasyim Shalih).


Click to View FlipBook Version