The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-08-16 02:09:21

adian husaini 6

adian husaini 6

GHAZWUL FIKRI

ADIAN HUSAINI

ARKIB KOLEKSI CHEGU RIDHWAN
mahasiswamengunggat.blogspot.com

UPAYA MELIBERALKAN GURU AGAMA

Ditulis Oleh Adian Husaini

sumber insistnet.com

Pada 25 November 2008, situs berita Detik.com menurunkan sebuah berita berjudul ”Guru Agama Islam
di Jawa Masih Konservatif”. Berdasarkan hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas
Islam Negeri (PPIM-UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ditemukan bahwa ”Guru-guru agama Islam sekolah
umum di Jawa masih bersikap konservatif. Bahkan, para guru tersebut sangat rendah dalam
mengajarkan semangat kebangsaan.”

Direktur PPIM-UIN Jakarta Dr. Jajat Burhanudin mengatakan, bahwa survei dilakukan terhadap 500 guru
di 500 SMA/SMK di Jawa selama kurun Oktober 2008. Responden dipilih dengan menggunakam metode
random acak sederhana. Selain itu juga dilakukan wawancara terstruktur terhadap 200 siswa. “Dari 500
responden, 67,4% mengaku merasa sebagai orang Islam dan hanya 30,4% yang merasa sebagai orang
Indonesia,” tambah dosen Fakultas Adab UIN Jakarta tersebut.

Lokasi survei dilakukan di kota-kota besar dan menengah di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Yogya,
Surabaya, Malang, Solo dan Cirebon. Berdasarkan hasil survei tersebut, Jajat merasa khawatir terhadap
keberlangsungan berkebangsaan ke depan. Pemahaman kebangsaan yang sempit bisa mempengaruhi
wawasan kebesangaaan. “Banyak faktor kenapa guru agama berperilaku seperti itu, bisa karena
pemahaman individu guru,kurikulum atau rendahnya dialog antar agama. Padahal itu di SMA/SMK
umum, bukan disekolah agama,” pungkasnya. Begitulah berita dari Detik.com.

Koran The Jakarta Post melalui situsnya, http://www.thejakartapost.com, juga menurunkan berita hasil
survei PPIM-UIN Jakarta, dengan menulis bahwa ”Sebagian besar guru-guru agama Islam di sekolah
negeri dan swasta di Jawa menentang Pluralism, cenderung ke arah radikalisme dan konservatisme.
(Most Islamic studies teachers in public and private schools in Java oppose pluralism, tending toward
radicalism and conservatism, according to a survey released in Jakarta on Tuesday).

Menurut survei ini, sebanyak 62,4 persen guru agama – termasuk dari kalangan NU dan
Muhammadiyah, misalnya, menolak untuk mengangkat pemimpin non-Muslim. Survei juga
menunjukkan, 68.6 persen guru agama menentang diangkatnya orang non-Muslim sebagai kepala
sekolah mereka; dan sebanyak 33,8 persen menolak kehadiran guru non-Muslim di sekolah mereka.
Persentase guru agama yang menolak kehadiran rumah ibadah non-Muslim di lingkungan mereka juga

cukup besar, yakni 73,1 persen. Sementara itu, ada 85,6 persen guru agama yang melarang murid
mereka untuk ikut merayakan apa yang dipersepsikan sebagai “Tradisi Barat”. Begitu juga ada 87 persen
yang menganjurkan muridnya untuk tidak mempelajari agama-agama lain; dan 48 persennya lebih
menyukai pemisahan murid laki-laki dan wanita dalam kelas yang berbeda.

Menurut Jajat Burhanuddin, pandangan anti-pluralis para guru agama tersebut terefleksikan dalam
pelajaran mereka dan memberikan kontribusi tumbuhnya konservatisme dan radikalisme di kalangan
Muslim Indonesia.

Survei PPIM-UIN Jakarta itu juga menunjukkan ada 75,4 persen dari responden yang meminta agar
murid-murid mereka mengajak guru-guru non-Muslim untuk masuk Islam, sementara 61,1 persen
menolak sekte baru dalam Islam. Sebanyak 67,4 persen responden yang lebih merasa sebagai muslim
ketimbang sebagai orang Indonesia. Lebih dari itu, mayoritas responden juga mendukung penerapan
syariah Islam untuk mengurangi angka kriminalitas: 58,9 persen mendukung hukum rajam dan 47,5
persen mendukung hukum potong tangan untuk pencuri serta 21,3 persen setuju hukuman mati bagi
orang murtad dari agama Islam.

Sebanyak 44,9 responden mengaku sebagai anggota NU dan 23,8 persennya mengaku pendukung
Muhammadiyah. Menurut Jajat, itu menunjukkan kedua organisasi tersebut gagal menanamkan nilai-
nilai moderat ke kalangan akar rumput. Menurutnya, moderatisme dan pluralisme hanya dipeluk oleh
kalangan elite mereka. Ia juga mengaku takut bahwa fenomena semacam ini telah memberikan
kontribusi dalam meningkatkan radikalisme dan bahkan terorisme di negeri kita.

Bahkan, katanya, para guru agama itu telah memainkan peran kunci dalam mempromosikan
konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim saat ini. Konservatisme dan radikalisme bukan hanya
dikembangkan di jalan-jalan sebagaimana dikampanyekan oleh FPI, tetapi telah berakar dalam sistem
pendidikan agama. Bahkan, lebih jauh ia katakan, bahwa sikap intoleran yang dikembangkan dalam
pendidikan agama Islam selama ini akan mengancam hak-hak sipil dan politik dari kaum non-Muslim.

Begitulah hasil survei PPIM-UIN Jakarta. Secara jelas, penelitian PPIM-UIN Jakarta membawa misi besar
untuk merombak pola pikir para guru agama di masa depan. Mereka diharapkan agar menjadi pluralis,
tidak konservatif, tidak radikal. Mereka nantinya harus mau menerima pemimpin non-Muslim,
menerima guru non-Muslim, menolak penerapan syariah, mendukung hak murtad, mendukung
perayaan-perayaan model Barat, dan sebagainya. Itulah yang disebut oleh Direktur PPIM-UIN Jakarta itu
sebagai jenis Islam moderat, Islam pluralis, atau entah jenis Islam apa lagi. Yang penting jenis Islam yang
baru nanti harus mendapat ridho dari nagar-negara Barat yang menjadi donatur penting dari lembaga-
lembaga sejenis PPIM-UIN Jakarta tersebut.

Misi inilah yang sebenarnya sedang diemban oleh lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan Islam
yang sadar atau tidak menyediakan dirinya menjadi agen dari pemikiran dan kepentingan Barat. Dalam
website PPIM-UIN Jakarta (www.ppim.or.id) dapat dilihat daftar mitra kerja dari lembaga ini,
diantaranya: AUSAID, US embassy, The Asia Foundation, The Ford Foundation, dan sebagainya.

Karena itu, yang kini sedang dikerjakan oleh sejumlah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia adalah
menyiapkan guru-guru agama yang pluralis. Inilah sesuai dengan isi memo Menhan AS Donald
Rusmsfeld, pada 16 Oktober 2003: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum
pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat
menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau
membunuh mereka. (Harian Republika, 3/12/2005).

AS dkk memang sangat serius dalam menggarap pendidikan Islam di Indonesia. Disebutkan dalam
”Laporan Kebebasan Beragama Internasional 2007” yang dikeluarkan oleh Deplu AS, bahwa: ”Misi
diplomatik AS terus mendanai Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) di Universitas Gajah Mada
Yogyakarta.” CRCS adalah program pasca sarjana lintas budaya dan lintas agama yang ditempatkan di
UGM yang misinya mencetak sarjana-sarjana agama yang pluralis. Namun, sebagai bagian dari program
politik luar negeri AS, CRCS bukan sekedar program pasca sarjana biasa. Lembaga ini sangat aktif dalam
menyebarkan pemikiran-pemikirannya ke tengah masyarakat, melalui berbagai program siaran di radio
dan televisi. Hasil dialog itu pun kemudian dibukukan dan disebarkan ke tengah masyarakat.

Menyimak materi-materi yang disebarkan, terlihat dengan jelas, bahwa misi yang diemban oleh CRCS
adalah misi penghancuran keyakinan dan fanatisme umat beragama terhadap agamanya sendiri. CRCS
juga mengembangkan misi agar pelajaran agama nantinya dihapuskan dari sekolah-sekolah, digantikan
dengan ”pelajaran keagamaan”. Dalam buku berjudul Resonansi: Dialog Agama dan Budaya, (Yogya:
CRCS, 2008), dikutip ucapan nara sumber diskusi (Prof. Djohar MS) yang menyatakan:

”Kalau pendidikan agama itu berarti mempelajari satu pemahaman keagamaan tertentu sedangkan
pendidikan keagamaan itu mempelajari agama-agama. Kalau di madrasah misalkan itu adalah
pendidikan agama yang mempelajari hanya agama Islam, tetapi kalau di sekolah-sekolah umum adalah
pendidikan keagamaan, yang mencari common-ground dari semua agama… Nah, kalau common ground
ini dipelajari di sekolah, maka persatuan dan kesatuan bangsa ini akan bisa tercapai. Sedangkan
pelajaran agama sesuai dengan agama masing-masing siswa dipelajari di sekolah akan bisa
memunculkan bibit-bibit perpecahan yang akan berbahaya di kemudian hari.”

Dalam buku terbitan CRCS Yogya ini juga dipromosikan bagaimana satu sekolah di Yogyakarta telah
menerapkan pendidikan Pluralisme, dan tidak lagi mengajarkan pendidikan agama berdasarkan agama
masing-masing. Seorang guru di sekolah itu menyatakan: ”…kami memang tidak bisa menggolong-
golong anak melihat dari sisi agamanya apa. Tetapi yang lebih penting menurut kami adalah meskipun
dia tidak beragama tetapi kami yakin bahwa dia beriman.”

Jadi, jelaslah bahwa CRCS mengemban misi penggantian pelajaran agama dengan pelajaran keagamaan
yang lintas-agama. Pendidikan Religiositas sudah pernah diajukan oleh Komisi Pendidikan Keuskupan
Agung Semarang, dan disefinisikan sebagai: ”komunikasi iman antar-siswa yang seagama maupun
berlainan agama mengenai pengalaman hidup mereka yang digali/diungkapkan maknanya, sehingga
mereka terbantu untuk menjadi manusia utuh (religius, bermoral, terbuka) dan diharapkan mampu
menjadi pelaku perubahan sosial, demi terwujudnya kesejahteraan bersama lahir dan batin.”

Di kalangan Katolik sendiri, banyak yang mempertanyakan model pendidikan agama semacam ini,
khususnya mempertanyakan dimana posisi gereja sebagai lembaga yang mewartakan Kristus. Yang
mengapresiasi gagasan ini diantaranya adalah Keuskupan Palembang yang bekerjasama dengan
Departemen Pendidikan Provinsi menyelenggarakan pelatihan untuk mempersiapkan para guru
pendidikan Religiositas. Gagasan ini juga pernah dipresentasikan di Jakarta oleh Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas pada 1 April 2006, dalam sebuah seminar bertema
”Pelayanan Keagamaan yang Inklusif bagi Para Siswa.” (Lebih jauh tentang Pendidikan Religiositas, lihat
buku Problematika Pendidikan Agama di Sekolah: Hasil Penelitian tentang Pendidikan Agama di Kota
Jogjakarta 2004-2006, terbitan Interfidei, 2007).

Meskipun masih merupakan hal yang kontroversial, model pendidikan agama yang baru inilah yang
sedang dipromosikan oleh CRCS. Misi CRCS yang diakui sebagai bagian dari misi diplomatik AS juga bisa
dibaca melalui jurnal terbitannya, RELIEF (Journal of Religous Issues). Pada Vol. 1, No. 2, Mei 2003,
editorial jurnal ini sudah mengritik pendidikan agama di Indonesia. Ditulis dalam jurnal ini:

”Dalam realitasnya, pendidikan agama kita cenderung dogmatis, eksklusif, rigid, dan mengabaikan
kebenaran-kebenaran di luar agamanya. Padahal, seperti ditulis oleh Paul F. Knitter dalam No Other
Name, bahwa kita tidak bisa mengatakan agama yang satu lebih baik dari agama yang lain. Semua
agama, kata Fritjof Schuon dalam The Trancendent Unity of Religion, pada dasarnya (secara esoteris)
adalah sama dan hanya berbeda dalam bentuk (secara eksoteris). Kebenaran dengan demikian tidak lagi
eksklusif ada pada hanya agama tertentu, tapi pada semua agama. Kebenaran dalam agama, dengan
demikian, adalah plural.”

Pemikiran yang disebarkan CRCS UGM ini tentu sangat naif. Aspek eksoteris (aspek luar, aspek syariat)
dalam agama-agama adalah hal yang prinsip. Bagi kaum Muslim, ada tata cara shalat yang wajib diikuti,
sebab cara ibadah itu diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, utusan-Allah yang terakhir. Kaum Muslim
yakin, hanya itulah cara shalat yang benar kepada Allah. Kaum Muslim tidak dapat menerima teori,
bahwa Allah akan menerima ibadah semua manusia, dengan cara apa pun ibadah itu dilakukan. Ada pun
teori Kesatuan Transendensi Agama-agama pada level esoteris hanyalah khayalan Fritjof Schuon dan
kawan-kawannya, yang anehnya juga dijadikan dogma dan diterima kebenarannya oleh banyak orang
tanpa berpikir.

Dalam sampul belakang Jurnal RELIEF edisi ini juga ditonjolkan kutipan wawancara Prof. DR. Machasin,
guru besar UIN Yogya, yang menyatakan: ”… kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis
adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan.”

Pasca Perang Dingin, AS dan negara-negara Barat lainnya, memang sangat serius dalam
mengembangkan pemikiran Islam seperti yang mereka kehendaki. Pada tahun 2007, menyusul
berdirinya CRCS, di UGM juga didirikan program doktor lintas agama yang didukung oleh tiga kampus:
UGM, UIN Yogya, dan Universitas Kristen Duta Wacana. Melalui lembaga-lembaga pendidikan tinggi
lintas agama inilah diharapkan akan lahir pakar-pakar agama yang pluralis.

Ke depan, kemungkinan mereka akan mengisi pos-pos sebagai dosen atau guru agama di sekolah-
sekolah. Dengan cara seperti inilah, maka secara otomatis pendidikan agama di sekolah-sekolah akan
berubah. Tidak lagi bersifat konservatif seperti yang dicap oleh PPIM-UIN Jakarta, tetapi sudah bersifat
pluralis. Cara ini tentunya sangat efektif, dibandingkan dengan cara mengubah kurikulum dan materi
pendidikan agamanya, seperti mensosialiasikan buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural,
sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP-239.

Dulu, di tahun 1980-an, rencana program pengajaran Panca Agama di sekolah-skeolah pernah gagal,
karena ditolak keras oleh tokoh-tokoh Islam dan tidak mendapat dukungan dari kalangan akademisi dari
Perguruan Tinggi Islam. Kini, situasi sudah berubah. Kini, justru lembaga seperti PPIM-UIN yang ingin
merombak Pendidikan Agama, sesuai dengan pesanan Barat. Pemikiran-pemikiran keagamaan yang
tidak sesuai dengan selera kaum liberal dicap sebagai konservatif, radikal, dan berpengaruh atas
terjadinya terorisme di Indonesia.

Betapa naif dan konyolnya cara berpikir model PPIM-UIN Jakarta tersebut. Guru agama yang meyakini
kebenaran aqidah dan syariah Islam dicap sebagai konservatif, radikal, dan sebagainya. Jika para guru
agama menyarankan murid-muridnya agar tidak mengikuti perayaan-perayaan ala Barat, tentunya itu
harus dihormati. Di sinilah kita melihat bagaimana otoriternya kaum liberal dalam memaksakan
pandangan dan konsep-konsep Barat terhadap kaum Muslim.

Dalam masalah aqidah, sejak dulu, kaum Muslim sudah bersikap tegas. Berkaitan dengan kekufuran,
para pimpinan NU, misalnya, telah bersikap tegas. Dalam Muktamar NU ke-14 di Magelang, 1 Juli 1939,
ditetapkan bahwa kitab Taurat, Injil, dan Zabur yang ada di tangan kaum Kristen, Katolik, dan Yahudi
sekarang ini bukanlah kitab samawiyah yang wajib diimani kaum Muslim. Dalam Muktamar NU ke-13 di
Menes Banten, 12 Juli 1938, diputuskan, bahwa seorang yang mengatakan kepada anaknya yang
beragama Kristen, ”Kamu harus tetap dalam agamamu”, yang diucapkan dengan sengaja dan ridha atas
kekristenan si anak, maka orang tua tersebut telah menjadi kufur dan terlepas dari agama Islam. (Lihat,
Solusi Problematika Aktual Hukum Islam; Keputusan Muktamar, Munas, Konbes Nahdlatul Ulama (1926-
2004), terbutan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN-NU) Jawa Timur).

Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh
Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah
Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI. Adapun soal ”Mengucapkan
Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada
haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan. Terhadap orang
yang mengakui adanya nabi lagi setelah nabi Muhammad saw, Majlis Tarjih PP Muhammadiyah tanpa
ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa orang tersebut kafir.

Pandangan dan sikap kaum Muslim yang tegas dalam urusan aqidah tersebut harusnya dihormati oleh
para dosen dan peneliti di PPIM-UIN Jakarta. Keyakinan terhadap kebenaran agamanya juga ditunjukkan
oleh Gereja Katolik. Melalui Dokumen Dominus Iesus yang dikeluarkan Vatikan pada 6 Agustus 2000,
Gereja Katolik menegaskan: ”Jelas sangat bertentangan dengan iman Katolik, bila berpendapat bahwa
Gereja seperti salah satu alternatif jalan keselamatan bersama-sama dengan yang ditawarkan oleh
agama-agama lain, yang dipandang sebagai pelengkap bagi Gereja, atau secara substansial sederajat
dengan Gereja… ”. (Lihat perdebatan seputar Dominus Iesus pada buku Stefanus Suryanto berjudul Paus
Benediktus XVI (Jakarta: Obor, 2008)).

Sebagai salah satu lembaga yang menyandang nama Islam, sebaiknya PPIM-UIN menghentikan aktivitas-
aktivitasnya yang menyudutkan umat Islam dan mengajak umat Islam ragu dengan kebenaran aqidah

dan syariah Islam. Kita mengimbau agar mereka mau belajar dan bersikap kritis – sedikit saja – terhadap
pemikiran dan politik imperialistik negara-negara Barat.

Kita berharap, lembaga-lembaga seperti PPIM-UIN mau menyadari kekeliruannya dan memiliki rasa
malu untuk merusak agama dengan dalih membuat kemaslahatan untuk umat manusia. Masih banyak
jenis penelitian lain yang bermanfaat bagi umat Islam, meskipun mungkin kurang diminati para
”cukong”. Betapa pun, kita sebenarnya salut dengan kesungguhan PPIM-UIN Jakarta dalam melakukan
suatu penelitian. Satu pelajaran berharga bisa kita petik: untuk merusak Islam pun perlu strategi dan
kesungguhan.

Akhirul kalam, kita renungkan satu peringatan dari Allah SWT: ”Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya
janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat
Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS ar-Rum: 60). (Depok, 7 Dzulhijjah 1429 H/5 Desember 2008)

Merombak Kurikulum Demi Kesetaraan Gender

Ditulis Oleh Adian Husaini

sumber insistnet.com

Salah satu proyek favorit dalam liberalisasi Islam adalah penyebarluasan paham kesetaraan gender di
tengah masyarakat Muslim. Proyek ini banyak sekali mendapatkan bantuan dari negara-negara Barat.
Biasanya, proyek ini berlindung di balik jargon ”meningkatkan martabat wanita”. Sebagai contoh,
simaklah salah satu program politik luar negeri AS di Indonesia: ”Amerika Serikat juga memberikan
pendanaan kepada berbagai organisasi Muslim dan pesantren untuk mengangkat persamaan jender dan
anak perempuan dengan memperkuat pengertian tentang nilai-nilai tersebut di antara para pemimpin
perempuan masyarakat dan membantu demokratisasi serta kesadaran jender di pesantren melalui
pemberdayaan pemimpin pesantren laki-laki dan perempuan.”
(lihat:http://www.usembassyjakarta.org/bhs/Laporan/indonesia_Laporan_deplu-AS.html

Disamping AS, negara-negara Barat lainnya, seperti Kanada, Australia, dan sebagainya, juga aktif
membantu pendanaan proyek-proyek gender di Indonesia. Dengan proyek gender itulah, katanya,
mereka bermaksud memajukan kaum wanita di Indonesia. Karena dananya begitu melimpah, maka
tidak mengherankan, jika proyek gender ini banyak mendapatkan peminat. Ada gula ada semut. Ada
uang ada proyek. Jika mau dapat uang cepat, ambil saja proyek kesetaraan gender.

Tidak dapat dipungkiri, memang banyak kaum wanita yang tertinggal. Banyak wanita yang menderita.
Banyak wanita yang tertindas. Banyak wanita yang kurang berpendidikan. Maka, wajar jika kita
menduga, tuan-tuan dari negara-negara Barat yang katanya terhormat dan menghormati tradisi umat
lain, akan menghormati ajaran dan tradisi keagamaan umat Islam. Kita mengandaikan, mereka
mengenal konsep amal jariyah. Uang ratusan milyar rupiah mereka kucurkan untuk proyek-proyek
gender, dengan tujuan mengangkat derajat kaum wanita Indonesia. Wanita yang tidak mampu sekolah,
berikanlah beasiswa kepada mereka, tanpa harus mengubah pandangan hidup dan keyakinan mereka
terhadap agamanya.

Ternyata, apa yang kita bayangkan tentang Tuan-tuan dari negara Barat itu tidak berbeda dengan kaum
misionaris yang membagi-bagi makanan kepada kaum Muslim dengan misi perubahan agama. Dalam
soal gender, hal yang serupa juga terjadi. Sebagian kaum Muslim, terutama yang kebagian jatah proyek
gender, mengeruk keuntungan duniawi, meskipun jelas-jelas disertai dengan misi mengubah keyakinan
dan persepsi wanita muslimah terhadap ajaran agamanya sendiri.

Yang dilakukan oleh para penyebar proyek gender ini adalah perusakan pemikiran, satu bentuk
orientalisme modern dan penjajahan pemikiran. Bahkan, bisa dikatakan, misi ini jauh lebih kotor
ketimbang kaum misionaris yang secara terang-terangan membawa misi perubahan agama. Misi gender
ini juga lebih mengerikan, karena dilakukan oleh sarjana-sarjana agama, bahkan terkadang membawa
bendera organisasi atau lembaga pendidikan Islam tertentu.

Salah satu lembaga yang aktif menyebarkan misi gender ini adalah UIN Yogya, melalui lembaga Pusat
Studi Wanita (PSW) UIN Yogya. Dengan dukungan dari proyek ”IAIN Indonesia Social Equity Project”
(IISEP), yang didanai oleh pemerintah Kanada, PSW UIN Yogya menerbitkan sejumlah buku tentang
proyek kesetaraan gender. Sasaran dari proyek ini bukan hanya pada tingkat Perguruan Tinggi, tetapi
juga pendidikan dasar dan menengah. Salah satu program lembaga ini adalah menyusun kurikulum
pendidikan yang berwawasan gender. Karena itulaah, lembaga ini sibuk meneliti buku-buku di sekolah-
sekolah dasar dan menengah yang dinilai masih bias gender dan perlu digantikan dengan kurikulum
yang tidak bias gender.

Tahun 2004, PSW UIN Yogya menerbitkan sebuah buku berjudul Isu-Isu Gender dalam Kurikulum
Pendidikan Dasar dan Menengah. Melalui buku ini, kita bisa melihat dengan jelas, apa sebenarnya isi
kepala para dosen dan peneliti di UIN Yogya, sehingga mereka begitu menggebu-gebu untuk merombak
kurikulum pendidikan yang dinilai masih bias gender.

Sebagaimana biasa, sebelum melakukan perombakan konsep-konsep dan hukum-hukum Islam, kaum
liberal mendahuluinya dengan menempatkan posisi nash al-Quran sebagai teks sejarah dan produk
budaya. Karena itulah, tafsir yang digunakan pun adalah hermeneutika yang berujung pada relativisme
nilai. Mengawali pembahasan tentang isu-isu gender, buku ini memaparkan konsep relativisme Tafsir:

”Teks-teks keagamaan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan terlepas dari konteksnya. Oleh karena
itu, ia juga tidak bisa dipahami, kecuali dalam relasinya dengan entitas lainnya. Pada tataran inilah
pentingnya kita melihat kembali teks dan pemahaman serta penafsirannya secara epistemologis dan
hermeneutis. Bila ini sudah dilakukan, maka penafsiran dan pemahaman ulang terhadap al-Quran dan
hadis, terasa bukan sebagai sesuatu yang tidak normal, tapi malah sebagai keniscayaan. Mengapa
menjadi niscaya, karena pola pemahaman keagamaan itu melibatkan dimensi kreatif manusia, maka
tidak ada yang ”tabu” dalam pemahaman keagamaan untuk ditelaah ulang, karena siapa tahu jika yang
selama ini kita anggap sebagai kebenaran dogma agama itu – dalam istilah Peter L. Berger dan
Luckmann – adalah sesuatu yang bersifat socially constructed belaka.” (hal. 2)

Karena percaya pada relativitas pemahaman manusia, maka bagi dosen-dosen dan peneliti di PSW-UIN
Yogya, tidak ada konsep atau hukum Islam yang bersifat tetap. Semua bisa berubah. Mereka berprinsip
bahwa pemahaman hukum-hukum Islam adalah produk pemikiran para ulama yang berlatarbelakang
kondisi sosial tertentu, sehingga hukum atau pemikiran itu hanyalah suatu ”konstruk sosial” tertentu.
Mereka menolak universalitas hukum Islam. Hukum-hukum Islam yang memberikan perbedaan antara
laki-laki dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan mereka pandang sebagai produk budaya tertentu.

Di sinilah letak kelucuan pola pikir kaum gender ini. Mereka menolak universalitas hukum Islam, tetapi
pada saat yang sama, mereka menjadikan konsep ”kesetaraan gender” ala Barat sebagai pemahaman
yang universal, abadi, dan tidak berubah. Padahal, konsep kesetaraan gender itu juga merupakan
produk sosial dan budaya masyarakat Barat. Karena itu, logisnya, konsep ini juga bersifat lokal, dan tidak
bisa dipaksakan kepada semua umat manusia.

Masyarakat Barat di masa Yunani Kuno dan menurut ajaran Kristen tidak menerima konsep ”kesetaraan
gender” ala Barat modern sekarang ini. Sesuai dengan prinsip relativisme dan evolusi nilai, maka konsep
wanita di Barat juga mengalami dinamika sepanjang sejarahnya. Di zaman Yunani Kuno – cikal bakal
peradaban Barat — misalnya, wanita terhormat justru tidak keluar rumah, kecuali karena alasan yang
sangat penting. Nikolaos A. Vrissimtzis, dalam bukunya, Love, Sex, and Marriage in Ancient Greece,
menulis: “Sebuah kehormatan jika wanita selalu berada di dalam rumah. Berada di jalan adalah sesuatu
yang tidak berguna.” Pada abad ke-6 SM, perkawinan dianggap sah jika memenuhi sejumlah syarat:

engyesis (mahar), perjanjian antara calon suami dengan ayah mempelai wanita, serta ekdosis
(penyerahan mempelai wanita kepada keluarga mempelai laki-laki). (Lihat, Nikolaos A. Vrissimtzis,
Erotisme Yunani (Terj. oleh Shofa Ihsan), (Bekasi: Menara, 2006)).

Tapi, para pengusung dan pengasong paham kesetaraan gender ini seperti tidak mau tahu. Mereka
memandang hukum-hukum Islam yang membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita perlu ditinjau
kembali, karena hal itu termasuk dalam kategori ”bias gender”. Seperti kaum sedang ”kerasukan” setan,
buku Isu-Isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah ini membongkar ajaran-ajaran
Islam yang sudah final dan selama ini sudah diterima oleh kaum Muslimin sebagai satu Ijma’ dari
generasi ke generasi.

Hampir tidak ada aspek hukum yang luput dari gugatan kaum aktivis gender dari UIN Yogya. Dalam
aspek ibadah misalnya, dipersoalkan: mengapa azan harus dilakukan oleh laki-laki; mengapa wanita
tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki; mengapa dibedakan cara mengingatkan imam yang salah
bagi makmum laki-laki dan makmum wanita; mengapa shaf wanita harus di belakang; mengapa imam
dan khatib shalat Jumat harus laki-laki.

Masih dalam aspek ibadah, digugat juga persoalan pembedaan jumlah kambing aqidah bagi anak laki-
laki dan wanita. Dalam masalah haji, digugat keharusan wanita ditemani oleh mahramnya, sedangkan
laki-laki tidak. Juga, dipersoalkan pembedaan pakaian ihram bagi jamaah haji laki-laki dan wanita. Dalam
urusan rumah tangga, digugat keharusan istri untuk meminta izin suami jika hendak keluar rumah.
Dalam masalah pernikahan, misalnya, digugat juga ketiadaan hak talak bagi wanita. ”Talak seharusnya
merupakan hak suami dan istri, artinya kalau memang suami berbuat salah (selingkuh), istri punya hak
mentalak suami.” (hal. 175). Tak hanya itu, buku ini juga menggugat tugas seorang Ibu untuk menyusui
dan mengasuh anak-anaknya. Ditulis dalam buku ini:

”Seorang Ibu hanya wajib melakukan hal-hal yang sifatnya kodrati seperti mengandung dan melahirkan.
Sedangkan hal-hal yang bersifat diluar qodrati itu dapat dilakukan oleh seorang Bapak. Seperti
mengasuh, menyusui (dapat diganti dengan botol), membimbing, merawat dan membesarkan, memberi
makan dan minum dan menjaga keselamatan keluarga.” (hal. 42-43).

Beginilah cara berpikir kaum gender di lingkungan UIN Yogya. Kita bisa bertanya kepada kaum gender
itu, jika menyusui anak bukan tugas wanita, lalu untuk apa Allah mengaruniai wanita dengan sepasang
payudara? Bukankah sudah begitu banyak penelitian yang menyebutkan manfaat Air Susu Ibu (ASI) bagi
si bayi, bagi si ibu, dan juga bagi hubungan psikologis antara bayi dan ibunya. Tapi, dengan alasan

’kesetaraan gender’, tugas menyusui bagi wanita itu ditolak dan dinyatakan sebagai kewajiban bersama
antara bapak dan ibu.

Dengan pola pikir semacam itulah, kaum gender ini menolak syariat Islam dalam bidang pembagian
peran antara laki-laki dan wanita. Memang, dalam konsep gender, pembagian peran mereka anggap
bukan sesuatu yang kodrati atau hal yang fithri, tetapi mereka pandang sebagai hasil konstruk budaya.
Karena itu, mereka menolak kedudukan kaum laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan imam shalat,
hanya karena kelelakiannya. Di dalam buku berjudul Pengantar Kajian Gender terbitan PSW-UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta (2003) dikutip sejumlah definisi gender:

”Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang
berupaya membuat perbedaan (distinctition) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik
emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di dalam masyarakat. Ini senada dengan
apa yang diungkapkan oleh Hillary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex and Gender: An
Introduction sebagaimana dikutip Nasaruddin Umar (1999), gender adalah harapan-harapan budaya
terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men).” (hal. 54).

Para pegiat gender ini biasanya menggugat apa yang mereka sebut sebagai budaya patriarki dalam
masyarakat, sebagaimana ditulis dalam buku terbitan PSW-UIN Jakarta: ”Di dalam budaya patriarki ini,
bidang-bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, agama, dan juga di ranah domestik senantiasa
dikuasai laki-laki. Sebaliknya, pada waktu yang sama, perempuan terpinggirkan karena perempuan
dianggap atau diputuskan tidak layak dan tidak mampu untuk bergelut di bidang-bidang tersebut.” (hal.
60).

Tidaklah berlebihan jika ada yang menelaah, bahwa paham kesetaraan gender sering menggunakan pola
pendekatan Marxisme yang menempatkan laki-laki sebagai kaum penindas dan wanita sebagai kaum
yang tertindas. Buku terbitan PSW-UIN Yogya secara tegas berusaha memprovokasi kaum wanita agar
memiliki kebencian terhadap kaum laki-laki, sebagaimana tertulis pada sampul belakangnya:

”Sudah menjadi keprihatinan bersama bahwa kedudukan kaum perempuan dalam sejarah peradaban
dunia, secara umum, dan peradaban Islam, secara khusus, telah dan sedang mengalami penindasan.
Mereka tertindas oleh sebuah rezim laki-laki: sebuah rezim yang memproduksi pandangan dan praktik
patriarkhisme dunia hingga saat ini. Rezim ini masih terus bertahan hingga kini lantaran ia seakan-akan
didukung oleh ayat-ayat suci. Sebab itu, sebuah pembacaan yang mampu mendobrak kemapanan rezim
laki-laki ini merupakan kebutuhan yang sangat mendesak saat ini untuk dilakukan.”

Benarkah ada rezim laki-laki yang kini menindas kaum wanita? Ungkapan itu sangatlah berlebihan. Itu
adalah fantasi kaum gender yang terasuki perasaan kebencian. Jika ada sejumlah kasus, dimana laki-laki
menindas wanita, itu dilakukan bukan karena kelelakiannya, tapi karena kebejatan akhlaknya. Tidak
semua laki-laki menindas wanita. Bahkan, banyak kaum laki-laki yang sangat menghormati dan
menyayangi wanita. Bahkan, banyak pula wanita yang menindas suaminya. Banyak pula suami yang
takut pada istrinya. Banyak juga wanita yang juga kini menjalani hidup bahagia dalam sistem keagamaan
yang mereka anut.

Kini, banyak wanita bahagia dapat menyusui anaknya selama dua tahun, karena yakin itu bagian dari
ibadahnya kepada Allah. Banyak wanita yang ikhlas menjalankan kewajiban untuk meminta izin dari
suaminya ketika keluar rumah. Toh, itu perbuatan yang baik dan menentramkan jiwa. Banyak wanita
yang ridho menyediakan minuman bagi suaminya, menjaga dan mendidik anak-anaknya di rumah.
Banyak wanita yang ridho dan tidak merasa terzalimi karena shalat di belakang kaum laki-laki. Banyak
wanita yang ikhlas tidak diwajibkan shalat Jumat.

Kini, atas nama paham kesetaraan gender, semua konsep itu hendak dibongkar. Wanita muslimah
diprovokasi, bahwa wanita tidak harus menyusui anaknya, sebab itu bukan hal yang kodrati. Wanita
diminta menuntut hak talak, menuntut persamaan status dalam rumah tangga, dengan menolak
kepemimpinan suami. Wanita diajak untuk memberontak kepada laki-laki. Atas nama gender, wanita
menolak kewajibannya untuk mengurus rumah tangga. Sebab, laki-laki juga punya kewajiban yang sama.

Selama 1400 tahun lebih, umat Islam memahami, bahwa kaum laki-laki memang diberi amanah oleh
Allah untuk menjadi pemimpin rumah tangga. Suami yang baik tentu akan menjalankan amanahnya
dengan baik, sebab mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di Hari Kiamat. Semakin
banyak amanah yang diemban, semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat. Perspektif akhirat
inilah yang sering dilupakan oleh kaum gender.

Pada akhirnya, kita melihat, paham kesetaraan gender yang kini disebarkan secara masif oleh agen-agen
feminis di lingkungan Perguruan Tinggi Islam tampak lebih merupakan bentuk ’cultural schock’ (gegar
budaya) orang-orang kampung yang silau dengan peradaban Barat modern. Mereka tidak berpikir
panjang akan akibatnya bagi keluarga dan masyarakat Muslim. Pada buku-buku mereka, terlihat jelas,
mereka begitu rakus menelan konsep-konsep pemikir Barat tanpa sikap kritis. Lebih ironis, jika paham
ini disebarkan hanya untuk menjalankan proyek-proyek Barat untuk merusak masyarakat Muslim,
melalui kaum wanitanya.

Yang kita heran: Mengapa tidak malu melakukan itu semua? [Depok, 24 November
2008/www.hidayatullah.com]

Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda
sumber insistnet.com
Ditulis Oleh Adian Husaini
Tampaknya, ada sifat yang khas dari kaum liberal di Indonesia. Mereka senang dengan hal-hal yang
nyeleneh dan asal beda dengan umat Islam pada umumnya. Orang Jawa bilang: yang penting Waton
suloyo alias WTS atau asal beda. Jika umat Islam menolak Ahmadiyah, mereka malah mendukung
Ahmadiyah. Umat Islam mendukung RUU Anti-pornografi, mereka justru menolaknya. Jika umat Islam
mengecam perkawinan sesama jenis, mereka justru mendukungnya. Umat Islam menolak perkawinaan
antar-agama, tapi mereka malah mempromosikannya.

Umumnya umat Islam membanggakan sejarahnya yang gemilang. Tapi, kaum liberal senang tampil
beda. Mereka senang jika umat Islam malu dengan sejarahnya sendiri. Yang penting beda! Jika ada hal
yang dianggap baru, dan datang dari kaum liberal di luar, lalu ditelan begitu saja. Yang penting liberal,
dan sok kritis terhadap Islam. Ketika muncul seorang lesbian seperti Irshad Manji, maka mereka sambut
dengan gegap gempita. Nong Darol Mahmada, aktivis liberal alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta
menulis artikel di Jurnal Perempuan (nomor 58) berjudul: “Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih
Menyerukan Ijtihad.”

Kita pernah membahas, bagaimana naifnya pujian yang berlebihan terhadap Irshad Manji. Tapi, mereka
tidak peduli. Setelah mempromosikan Irshad Manji, kini kaum liberal di Indonesia sedang gandrung
dengan idola baru bernama Farag Fouda. Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua karya
Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah
Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah al-Haqidah al-Ghaibah.

Tampaknya, buku Fouda sedang digandrungi oleh kaum liberal. Di berbagai forum mereka
mempromosikan buku ini. Katanya, ini buku yang hebat, yang menunjukkan “kebenaran” yang selama
ini disembunyikan oleh para sejarawan Muslim. Di negara asalnya, Fouda memang sempat membuat

berita besar, saat ia mati terbunuh pada 8 Juni 1992. Lima hari sebelumnya, 3 Juni 1992, sejumlah ulama
al-Azhar menyatakan Fouda telah murtad karena banyak menghujat Islam.

Menyambut kampanye penyebaran buku Fouda tersebut, Jumat (17 Oktober 2008) lalu, bertempat di
Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menggelar Tabligh Akbar. Tampil sebagai
pembicara utama adalah Asep Sobari Lc, peneliti bidang sejarah di INSISTS. Sebelumnya, Asep Sobari
sudah meluncurkan analisis kritisnya terhadap karya Fouda ini di situs http://www.hidayatullah.com.
Tapi, dalam acara Tabligh Akbar, alumnus Universitas Madinah itu mengupas lebih tajam lagi berbagai
kecurangan dan kesalahan Fouda dalam mengutip kitab-kitab rujukan dari Thabari dan Ibn Saád.
Sejumlah bagian dari naskah edisi Indonesia, dibandingkan langsung dengan naskah asli karya Fouda
serta kitab-kitab rujukan Fouda. Dengan cara seperti itu, tampak jelas dimana letak kecurangan dan
kelemahan buku Fouda tersebut.

Karena itu, kita kemudian memang cukup keheranan dengan berbagai pujian terhadap buku ini.
Khususnya yang dilakukan oleh orang yang bergelar guru besar bidang sejarah. Prof. Dr. Azyumardi Azra,
Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini, memuji-muji buku
Fouda:

“Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam
klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan
dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk
melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan masa depan”.

Lebih “hebat” lagi pujian dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, Guru Besar Filsafat Sejarah, Universitas Nasional
Yogyakarta (UNY):

”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda
menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang
keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali
meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan
komprehensif”.

Dengan gamblang, Asep menunjukkan bagaimana Fouda telah sengaja mengambil sejumlah riwayat
yang lemah dan tidak jelas sumbernya untuk mendukung opininya. Lalu, dia katakan itu sebagai fakta

sejarah. Padahal, faktanya tidak begitu. Kecurangan yang sangat jelas, misalnya, dalam kasus sahabat
Utsman bin Affan r.a. Dengan mengutip riwayat-riwayat yang lemah, Fouda telah membangun citra yang
sangat buruk terhadap menantu Rasulullah saw tersebut.

Karena isinya semacam itu, tidak heran jika tokoh liberal, Goenawan Mohamad pun bersorak gembira
dengan terbitnya buku ini. Catatan Goenawan di Majalah TEMPO dijadikan epilog buku ini. Ketajaman
pena wartawan kawakan ini digunakan untuk mempertajam lagi gambaran hitam fitnah Fouda terhadap
sahabat Rasulullah saw yang mulia ini. Simaklah uraian Goenawan tentang Sayyidina Usman bin Affan
r.a. dalam kolomnya:

“Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan
dua malam karena tidak dapat dikuburkan.” Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang
menyalatinya. Jasad orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya
dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy
Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi
kepada seorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-
Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data menarik: khalifah itu agaknya
bukan seorang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat
30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.”

Tampaknya Goenawan tidak mengecek sendiri pada kitab al-Thabari dan Ibn Saád. Dia taklid buta pada
Fouda. Dengan penggambaran Goenawan Mohamad seperti itu terhadap Usman r.a., kita dapat
menangkap pesan, bahwa Khalifah ketiga dari Khulafaurrasyidin itu adalah seorang yang hina, sial, dan
serakah. Goenawan seperti sedang mengejek umat Islam yang senantiasa berdoa untuk Rasulullah saw
dan para sahabatnya: “Wahai umat Islam, orang yang kalian puja dan doakan itu adalah manusia
brengsek. Kalian selama ini telah tertipu. Ada kebenaran yang hilang; ada fakta sejarah yang selama ini
disembunyikan!” Maka, judul yang ditulis untuk buku Fouda ini adalah “Kebenaran yang hilang”.

Kita paham, kaum liberal seperti Goenawan Mohamad ini sedang menertawai umat Islam melalui buku
Fouda. Seolah-olah, selama ribuan tahun, umat Islam tolol semua. Para ulama Islam telah melakukan
kecurangan, menyembunyikan fakta sejarah tentang sahabat nabi. Seolah-olah, para orang tua Muslim
telah salah mengajar anak-anaknya untuk mencintai Rasulullah saw dan para sahabatnya. Padahal, kata
mereka, sahabat Nabi yang diagung-agungkan dan senantiasa didoakan umat Islam itu ternyata juga
manusia serakah, manusia busuk!

Pesan penting lain yang disampaikan Goenawan melalui kolomnya adalah pembelaan terhadap Fouda.
Ia memuji Fouda. Ia menyesali kematian Fouda. Sebab, Fouda termasuk jajaran kaum sekular-liberal. “Ia
mempersoalkan keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan,” tulis Goenawan tentang Fouda.
Tapi, penyesalan itu bukan untuk Usman r.a.. Goenawan termakan cerita Fouda, bahwa Usman r.a.
adalah manusia brengsek, serakah, dan haus kekuasaan. Karena menolak turun dari jabatannya, maka
Usman terbunuh. “Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman – lalu membunuhnya, lalu
menistanya,” tulis Goenawan.

Usman bin Affan adalah manusia hina. Itu fakta, kata mereka Sumber berita untuk mencaci maki
sahabat Nabi itu hanya satu: Farag Fouda. “Kaum “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu,
tentu,” ejek Goenawan. Syafii Maarif juga cukup rajin mempromosikan buku Fouda ini. Seperti yang
ditulisnya di sampul belakang buku ini: Fouda telah memahami sejarah Islam secara lebih autentik,
obyektif dan komprehensif. Azyumardi Azra juga menyebut apa yang disajikan oleh Fouda sebagai
“realitas sejarah”.

Sebagai Muslim yang beriman akan kejujuran Nabi Muhammad saw, tentu iman kita tertantang dengan
pemaparan tentang Sayyidina Usman versi kaum liberal ini. Benarkah Usman r.a. memang manusia hina
dan bejat seperti digambarkan Fouda dan Goenawan Mohamad? Padahal, begitu banyak hadits Nabi
yang menyebutkan tentang keutamaan Usman bin Affan. Maka, kita ditantang: percaya pada Nabi
Muhammad saw atau percaya pada Farag Fouda?

Untuk itu, cara terbaik adalah mengecek langsung sumber-sumber asli yang dikutip Fouda. Hasil
penelitian Asep Sobari menunjukkan, ada kelemahan metodologis dan kecurangan yang sangat serius
dari Fouda dalam mengutip sumber-sumber aslinya. Misalnya, tentang riwayat keterlambatan
penguburan jenazah Usman bin Affan, Fouda hanya mengambil satu riwayat yang lemah dalam karya al-
Thabari. Padahal, ada delapan versi lain yang juga disebutkan dalam kitab itu. Tapi, Fouda sama sekali
tidak menyinggungnya.

Bahkan, dalam al-Thabaqat al-Kubra, karya Ibn Sa’ad, disebutkan beberapa riwayat dari `Amr bin
Abdullah dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan Usman dimakamkan langsung pada malam harinya
di Baqi` (al-Thabaqat, 3/77-78). Jadi, dengan hanya menyebut satu riwayat yang lemah, Fouda jelas-jelas
melakukan upaya menipulasi data sejarah dengan membuat kesan seolah-olah hanya ada riwayat itu
saja.

Cara penulisan sejarah seperti ini tentu tidak komprehensif. Maka, ajaib, jika Profesor sejarah justru
memuji-muji buku ini. Sama ajaibnya dengan wartawan senior yang malas melakukan cek dan ricek
terhadap sumber-sumber referensi yang dipakai Fouda. Mungkin hanya karena cerita picisan Fouda itu
sesuai dengan seleranya, maka dia langsung menelan begitu saja cerita tentang kebejatan Usman r.a..

Dalam paparan slide-nya saat Tabligh Akbar di Masjid Dewan Da’wah, Asep Sobari menampilkan naskah
asli dari al-Thabari yang sama sekali tidak menyebutkan areal pemakaman Hasy Kaukab sebagai areal
pemakaman Yahudi. Tapi, dalam naskah asli buku Fouda, ada tambahan bahwa Hasy Kaukab (bukan Hisy
Kaukab) adalah areal pemakaman Yahudi. Ini juga merupakan tindakan yang tidak etis dalam penulisan
ilmiah. Apalagi ini menyangkut martabat seorang sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh Nabi
Muhammad saw dan juga umat Islam secara keseluruhan.

Apakah Usman bin Affan seorang yang serakah karena meninggalkan banyak uang seperti dikatakan
Goenawan Mohamad? Asep Sobari menunjukkan data yang menarik tentang kesuksesan bisnis Usman
r.a. dan kedermawanannya. Sejumlah riwayat yang dituturkan Ibn Hajar memberi gambaran kekayaan
Usman. Di antaranya, pada permulaan masa hijrah, kaum muslim di Madinah kesulitan mendapat air
bersih. Saat itu, hanya ada mata air Rumah yang tersedia dan itupun harus dibeli. Usman r.a. akhirnya
membeli sumur itu dan mewakafkannya untuk umat Islam. Ketika ada rencana perluasan masjid Nabawi
di masa Nabi saw dan dana kas negara tidak mencukupi, Rasulullah saw mengumumkan pengumpulan
dana. Maka Usman r.a. segera membeli tanah untuk perluasan tersebut seharga 25.000 dirham. Ketika
Nabi saw menghimpun dana guna membiayai perang Tabuk yang terjadi di masa paceklik, Usman r.a.
mendermakan 1000 dinar, 940 ekor unta dan 40 ekor kuda (al-Khilafah al-Rasyidah min Fath al-Bari,
hlm. 453-458).

Seiring dengan geliat kemajuan ekonomi di masa Umar, bisnis Usman bin Affan pun semakin
berkembang dan asetnya bertambah besar, jauh di atas rata-rata kaum muslimin lainnya. Imam Bukhari
(hadits no. 3059) menggambarkan, ketika kekayaan negara berupa hewan ternak semakin banyak, Umar
terpaksa membuat lahan konservasi eksklusif (al-Hima), dan berkata kepada pegawainya, “Izinkan para
pemilik ternak untuk menggembala di al-Hima, tapi jangan sekali-kali mengizinkan [Abdurrahman] bin
Auf dan [Usman] bin Affan. Karena jika seluruh ternak mereka berdua binasa, mereka masih punya
kebun dan ladang”.

Jadi, Usman r.a. memang seorang pengusaha sukses, kaya raya dan sangat dermawan. Jangankan
hartanya, nyawanya pun telah dipertaruhkan untuk Islam. Ia terjun langsung dalam berbagai
peperangan. Tidak masuk akal, manusia mulia seperti ini lalu menjadi orang yang serakah terhadap
dunia. Tidaklah sepatutnya pribadi mulia seperti Usman bin Affan itu disejajarkan dengan seorang Farag

Fouda. Jika ada sebagian sisi lemah Usman r.a. dalam kebijakan politiknya, maka Usman memang
seorang manusia. Tapi, tidaklah komprehensif melihat kepemimpinan Usman hanya dari sebagian sisi
lemahnya saja. Berbagai prestasi besar – dalam politik, ekonomi, dan pendidikan – telah dicapai dalam
masa 12 tahun kepemimpinan Usman bin Affan r.a.

Selama ratusan tahun, para sejarawan Muslim telah mencurahkan segenap tenaga untuk menulis
sejarah tentang para sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak ada kebenaran yang disembunyikan, seperti
tuduhan Fouda yang diamini begitu saja oleh sejumlah tokoh liberal di Indonesia. Sebab, sumber-
sumber sejarah itu tetap terbuka untuk diteliti, oleh siapa saja. Silakan Goenawan Mohammad,
Azyumardi Azra, dan Syafii Maarif menelitinya sendiri. Jangan bertaklid begitu saja kepada Fouda.
Jangan mengerdilkan keilmuan Anda sendiri! Aneh, jika kematian Fouda disesali, tetapi kematian Usman
bin Affan justru dianggap wajar. Sebab, Fouda adalah pejuang HAM, sedangkan Usman r.a. adalah
manusia hina dan serakah!

Semestinya, para ilmuwan dan cendekiawan ini membaca juga banyak buku lainnya tentang cerita
seputar konflik diantara sahabat Nabi. Thaha Jabir Ulwani, misalnya, dalam bukunya Adabul Ikhtilaf fil
Islam, memaparkan data-data perbedaan bahkan konflik diantara sahabat Nabi. Mereka adalah
manusia. Tapi, yang sangat indah adalah bagaimana cara mereka menghadapi dan menyelesaikan
konflik. Umat Islam justru bisa belajar dari sejarah semacam itu. Sebab, dalam kehidupan manusia, ada
saja orang-orang yang berbuat jahat dan mengeruhkan suasana. Terjadinya kekacauan dan
pembunuhan terhadap Usman bin Affan r.a. tidak bisa begitu saja ditimpakan kesalahannya kepada
Usman r.a. Begitu juga, martabat Ali bin Abi Thalib r.a. tidak kemudian menjadi rendah karena di
masanya terjadi pergolakan.

Sebagai Muslim, kita tentu tidak sudi mengikuti jejak orang-orang yang mudah menghina sahabat Nabi
saw. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang sangat disayangi oleh Nabi kita, Muhammad saw.
Kita pun tak suka sahabat kita dicaci maki. Kaum liberal juga tidak suka jika idolanya diungkapkan
keburukannya setelah kematiannya. Mereka katakan, itu tidak etis. Tapi, jika penghinaan dan pelecehan
itu dilakukan terhadap sahabat Nabi, seperti Usman bin Affan r.a., mereka justru bertepuk tangan.

Maka, kita tak akan bosan-bosan mengimbau kepada semua pihak yang telah semena-mena mencaci
maki sahabat Nabi yang mulia: beristighfarlah dan bertobatlah sebelum terlambat! [Yogyakarta, 18
Oktober 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan (CAP) adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Keikhlasan dan Kepedulian dalam Dakwah

sumber insistnet.com

Ditulis Oleh Adian Husaini

Masih dalam rangkaian peringatan seabad Mohammad Natsir, pada 21 Agustus 2008 lalu
diselenggarakan seminar tentang pemikiran Mohammad Natsir di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari
Banjarmasin. Saya diminta menyampaikan makalah tentang Peran Mohammad Natsir dalam Integrasi
Ilmu dan Agama. Seminar dibuka oleh Rektor IAIN Antasari, dan dihadiri kalangan sivitas akademika
IAIN, khususnya dosen-dosen Fakultas Tarbiyah.

Mohammad Natsir lahir di Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Ia wafat di Jakarta 6 Februari
1993. Pendidikan Islam sejak kecil dengan orang tua dan lingkungannya. Pendidikan formal di HIS Solok,
MULO (1923-1927), AMS di Bandung (1930). Ketika di Bandung itulah ia berkenalan dan menjadi murid
sekaligus sahabat dari ulama pergerakan Islam, A Hassan. Orang sering mengenal Natsir sebagai tokoh
dakwah dan politik. Tetapi, tidak banyak yang mengenal Natsir sebagai seorang tokoh Pendidikan Islam.
Padahal, kiprahnya di bidang ini sangat fenomenal.

Sebelum menelaah kiprah Natsir di dunia pendidikan, adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan
Mohammad Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School ) di Solok. Sore
harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah
MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah
lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School ) di Bandung.

Natsir lahir dari pasangan suami-istri Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Dia dibesarkan pada keluarga
muslim yang taat. Sejak kecil, dia sudah dibesarkan dalam tradisi keislaman yang kuat. Kemauannya
yang kuat dalam mempelajari ilmu-ilmu agama menjadikan Natsir cepat mengusai bahasa Arab dan
ilmu-ilmu lain. Dalam waktu singkat, dia pun sudah bisa membaca kitab kuning. Menurut Natsir, sejak
kecil memang dia ingin menjadi seorang ”Meester in de Rechten” (Mr.), satu gelar yang dipandang
hebat kala itu. Tapi, cita-cita itu ditinggalkannya setelah Natsir terjun langsung dalam perjuangan Islam
di Bandung sejak duduk di bangku AMS.

Menilik sejarah hidupnya, Natsir bisa dikatakan sebagai seorang yang haus ilmu. Di AMS Bandung, dia
segera mengejar ketertinggalannya dalam penguasaan Bahasa Belanda – bahasa kaum elite terpelajar
waktu itu. Bahkan, dia juga mendapatkan angka tinggi untuk pelajaran bahasa Latin yang sulit. Di Kota
Kembang ini pun Natsir terus mendalami agama, disamping belajar sungguh-sungguh di sekolah umum.
Kegemarannya dalam membaca buku, mendorongnya menjadi anggota perpustakaan dengan bayaran
tiga rupiah sebulan. Setiap buku baru yang datang, Natsir selalu mendapat kiriman dari perpustakaan.
Ada tiga guru yang mempengaruhi alam pikirannya, yaitu pemimpin Persis A. Hassan, Haji Agus Salim,
dan pendiri al-Irsyad Islamiyah Syech Akhmad Syoerkati. Natsir tertarik kepada kesederhanaan A.
Hassan, juga kerapian kerja dan kealimannya. Selain itu A. Hassan juga dikenal seorang ahli perusahaan
dan ahli debat.

Di Kota Bandung ini pula, Natsir aktif dalam organisasi Jong Islamiten Bond (JIB). Di sini dia sempat
berinteraksi dengan para cendekiawan dan aktivis Islam terkemuka seperti Prawoto Mangkusasmito,
Haji Agus Salim, dan lain-lain. Natsir juga sempat mengikuti organisasi Partai Syarikat Islam dan
Muhammadiyah. Selain dalam bidang keilmuan, Natsir juga mulai terlibat masalah politik.

Sejak duduk di bangku sekolah AMS tersebut, Natsir sudah mulai terlibat dalam polemik tentang
pemikiran Islam. Dia sangat peduli dengan pemikiran-pemikiran yang dinilainya merusak ajaran Islam.
Polemik Natsir dengan Soekarno tentang Islam dan sekularisme juga menunjukkan bagaimana
ketajaman dan kepedulian Natsir tentang dakwah dan pemikiran Islam. Ibarat pisau yang terasah
dengan baik, pandangan dan analisis Natsir yang tajam, terlihat dalam berbagai tulisannya yang
mengkritik paham sekularisme.

Lulus dari AMS pada tahun 1930 dengan nilai tinggi, Natsir sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di
Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de
Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri
dengan gaji tinggi. Namun, Natsir tidak mengambil peluang kuliah dan menjadi pegawai pemerintah
tersebut. Dia lebih suka terlibat langsung dalam perjuangan di tengah masyarakat. Pengalamannya
dalam perjuangan Islam telah membawanya kepada cakrawala baru. Natsir memimpin Jong Islameten
Bond cabang Bandung tahun 1928-1932. Ia sudah biasa menulis dan berceramah dalam bahasa Belanda
– bahasa kaum terpelajar saat itu. Ketika duduk di kelas akhir AMS, Natsir sudah menulis kitab
Pengajaran Shalat dalam bahasa Belanda dengan judul ”Komt tot het gebed”.

Ajip Rosidi menulis dalam buku biografi Natsir:

”Lalu, dimulainyalah hidup sebagai seorang bebas yang bermaksud membaktikan dirinya buat Islam.
Setiap hari dia pergi ke rumah Tuan Hassan di Gang Belakang Pakgade dengan sepeda untuk mengurus
penerbitan majalah Pembela Islam dan pada malam hari ditelaahnya Tafsir Al Qur’an dan kitab-kitab
lainnya yang dianggap perlu, termasuk yang ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Eropa lainnya.
Dibacanya majalah-majalah tentang Islam dalam berbagai bahasa, seperti Islamic Review dalam bahasa
Inggris, Moslemische Revue dalam bahasa Jerman, dan juga majalah al Manar dalam bahasa Arab yang
terbit di Kairo. Penguasaannya atas bahasa Arab sebenarnya belum sebaik terhadap bahasa Inggris,
Perancis atau Jerman-jangan dikata lagi bahasa Belanda- tetapi Tuan Hassan selalu mendesaknya agar
dia membaca kitab-kitab atau majalah-majalah dalam bahasa Arab. Hal-hal yang menarik hati dari
majalah yang dibacanya itu, disarikannya untuk dimuat dalam Pembela Islam, dengan demikian
dibukanya semacam jendela sehingga para pembacanya dapat mengetahui juga keadaan dan pendapat
sesama Muslim di bagian dunia yang lain. Pikiran-pikiran Amir Syakieb Arsalan misalnya mendapat
tempat yang luas dalam halaman-halaman Pembela Islam, karyanya yang terkenal menelaah mengapa
umat Islam mundur, dimuat bersambung di dalamnya.” (Ajip Rosidi, Natsir Sebuah Biografi, Girimukti
Pasaka, 1990, hal. 76)

Pilihan Natsir untuk tidak melanjutkan studi ke universitas-universitas terkemuka sama sekali tidak
menyurutkan dan menghentikan langkahnya untuk mengkaji ilmu. Pilihannya untuk menerjuni bidang
keilmuan dan pendidikan Islam membuktikan kesungguhannya dalam bidang ini. Inilah sebuah pilihan
berani dari seorang pemuda cerdas dan berani seperti Natsir. Ia kemudian memasuki studi Islam di
‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hassan. Siang hari, bersama A. Hassan, Natsir bekerja
menerbitkan majalah ”Pembela Islam”. Malamnya, dia mengaji al-Quran dan membaca kitab-kitab
berbahasa Arab dan Inggris. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager
Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis)
Bandung .

Di sekolah Pendidikan Islam inilah, para siswa digembleng ilmu-ilmu agama dan sikap perjuangan.
Alumninya kemudian mendirikan sekolah-sekolah sejenis di berbagai daerah. Pilihan Natsir terkadang
menghadapkannya pada situasi sulit. Untuk menghidupi sekolah ini, menurut Natsir, kadang dia harus
menggadaikan gelang istrinya. Para siswanya juga diajar hidup mandiri agar tidak bergantung kepada
pemeritah.

Disamping bergelut dengan persoalan-persoalan nyata dalam dunia pendidikan dan keumatan, Natsir
juga terus menerus menggali dan mengembangkan keilmuannya. Ia memang seorang yang haus ilmu
dan tidak pernah berhenti belajar. Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Syuhada Bahri,
menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir
hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang biasa dibacanya, yaitu Tafsir Fii
Dzilalil Quran karya Sayyid Quthb, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hassan.

Kecintaan Natsir di bidang keilmuan dan pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan
sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam
pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam
Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Setelah disisihkan dari
dunia politik di masa Orde Baru, Natsir kemudian benar-benar mengoptimalkan peran dakwah dalam
masyarakat melalui lembaga dakwah yang didirikannya bersama berbagai tokoh Islam, yakni Dewan
Da’wah Islamiyah Indonesia.

Natsir merupakan sosok ideal konsep aplikasi integrasi ilmu. Meskipun berpendidikan formal sekolah
Belanda, dia menguasai ilmu-ilmu keislaman dengan baik. Sejumlah tulisan dan kiprahnya menunjukkan,
bahwa Natsir memegang prinsip integral, tidak dualistik, dalam pendidikan. Natsir tidak menginginkan
umat Islam hanya menguasai ilmu-ilmu agama sehingga tertinggal dalam persaingan global. Demikian
juga sebaliknya. Dia tidak mau umat Islam hanya mempelajari ilmu-ilmu “umum” dan buta terhadap
agamanya yang akan menyebabkan mereka tidak mengetahui misi hidup yang sesungguhnya
berdasarkan petunjuk Islam.

Pikirannya itu muncul setelah ia melihat kenyataan di lapangan pada masanya bahwa praktik pendidikan
yang dihadapi umat satu sama lain saling menegasikan dan berseberangan. Di satu sisi, pendidikan
klasikal a la Belanda yang baru diperkenalkan kepada masyarakat Muslim Indonesia pada akhir abad ke-
19 dan awal abad ke-20, terutama melalui kebijakan Politik Etis Belanda, sama sekali tidak mengajarkan
dan menyentuh aspek-aspek agama. Lebih dari itu, Natsir adalah contoh. Dia adalah guru sejati. Dalam
berbagai bidang yang digelutinya, dia menjadi guru bagi banyak orang. Imam Syafii pernah menyatakan,
bahwa hanya air yang diam yang akan membusuk. Maka, kisah perjuangan Natsir, memang laksana air
yang tak pernah berhenti mengalir.

Tulisan-tulisan Natsir mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Dalam
buku-buku dan artikel-artikel yang ditulisnya tentang berbagai masalah dalam Islam, kita bisa
menemukan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi dari seoang Natsir yang sama sekali tidak
’minder’ atau rendah diri menghadapi serbuan paham sekularisme Barat. Prestasinya di sekolah-sekolah
Belanda telah menjadikan Natsir seorang yang ’percaya diri’ dan tidak silau dengan kehebatan Barat,
yang waktu itu begitu banyak menyihir otak kaum terpelajar dan elite bangsa.

Setidaknya ada dua hikmah yang dapat kita petik dari kisah Natsir dan kiprahnya dalam dunia
pendidikan. Pertama, Natsir mempelajari ilmu agama dengan semangat yang tinggi dan niat yang ikhlas.
Niat yang lurus dalam mencari ilmu adalah sangat mendasar dan menentukan sikapnya terhadap ilmu

agama yang dipelajarinya. Dia belajar agama pada para ulama dan pejuang Islam, bukan kepada
penjajah. Dengan posisi seperti itulah, Natsir menjadi orang yang merdeka. Dia tidak silau dengan
materi, bahkan rela meninggalkan peluang pekerjaan pada pemerintah penjajah meskipun diiming-
imingi gaji yang menggiurkan. Natsir memilih untuk membina umat secara langsung. Dia menawarkan
diri untuk mengajar di beberapa sekolah umum yang ketika itu kosong dari pelajaran agama. Natsir
mengajar secara sukarela, tidak meminta gaji.

Dalam seminar itu, saya juga mengimbau kepada sivitas akademika IAIN Antasari agar menata niat
dalam mencari ilmu, jika ingin menjadikan Natsir sebagai teladan. Kembali saya ingatkan peringatan
Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, jika seseorang mencari ilmu ditujukan untuk kepentingan-
kepentingan duniawi, maka dia sudah berjalan untuk menghancurkan agamanya sendiri. Dari Fakultas
Tarbiyah, kita berharap lahir guru-guru agama yang cerdas, mukhlis, dan mencintai ilmu pengetahuan;
bukan orang-orang yang cinta dunia, haus harta, dan gila jabatan.

Kedua, kita dapat mengambil hikmah dari kisah kepedulian Natsir terhadap masalah umat. Sejak muda,
bahkan sejak usia anak-anak, Natsir sudah terlatih memahami masalah umat. Saat duduk di bangku
AMS, Natsir sudah aktif menjawab pemikiran yang dinilainya keliru. Itu terjadi ketika seluruh kelasnya
diundang oleh guru gambar untuk menghadiri pidato seorang pendeta Kristen bernama Ds. Christoffels,
tahun 1929. Pidatonya berjudul ”Quran en Evangelie” dan ”Muhammad als Profeet”. Meskipun
disampaikan dengan gaya yang lembut, Natsir melihat pidato si pendeta itu sesungguhnya menyerang
Islam secara halus. Esoknya, pidato itu dimuat di surat kabar ”A.I.D.” (Algemeen Indish Dagblad). Natsir
kemudian menulis artikel yang menjawab opini sang pendeta, melalui koran yang sama.

Ada cerita menarik dari M. Amin Jamaluddin, ketua LPPI. Pada bulan Oktober 1983, Amin menulis artikel
yang mengkritik pemikiran Dr. Harun Nasution. Dalam artikelnya, Amin memaparkan dampak yang
sangat serius dari pemikiran Harun Nasution terhadap mahasiswa IAIN. Tanpa diduga, papar Amin, gara-
gara artikel itu, dia diundang oleh Pak Natsir. “Sebagai anak daerah, saya sangat bangga dipanggil Pak
Natsir,” ujar Amin, pemuda asal NTB, yang ketika itu aktif di Pemuda Persis.

Amin lebih terkejut lagi, ketika Pak Natsir menyampaikan padanya, bahwa Dr. Harun Nasution adalah
bagian dari tokoh orientalis internasional dan apa yang dilakukan Amin merupakan pekerjaaan bertaraf
internasional. “Saya masih ingat benar ucapan Pak Natsir itu,” kata Amin Jamaluddin kepada saya.

Itulah dua pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan Moh. Natsir. Ikhlas dalam mencai ilmu untuk
berjuang menegakkan agama Allah dan sangat peduli dengan hal-hal yang merusak umat. [Depok, 5
Ramadhan 1429 H/5 September 2008/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Irshad Manji: Idola Kaum Liberal
sumber insistnet.com
Ditulis Oleh Adian Husaini
Sejumlah orang yang akan berdialog dengan kaum liberal saya beri saran agar jangan pakai dalil ayat-
ayat Al-Quran. Sebab, banyak kaum liberal yang sudah tidak percaya lagi pada keotentikan Al-Quran,
sehingga tidak ada gunanya dalil Al-Quran untuk mereka. Memang ada diantara mereka yang masih
percaya Al-Quran sebagai wahyu Allah, tetapi banyak pula diantara mereka yang memiliki pandangan
dan penafsiran yang berbeda.

Jika tafsirnya kita kritik, mereka pun tak segan-segan menyatakan, ”Itu kan penafsiran anda! Penafsiran
saya tidak begitu!” Mereka banyak yang sudah berpandangan bahwa hanya Tuhan saja yang tahu
penafsiran yang sebenarnya. Manusia boleh menafsirkan Al-Quran semaunya, dan semuanya tidak
dapat disalahkan. Karena itu, ada yang menyatakan, bahwa perbedaan antara Islam dan Ahmadiyah,
hanyalah soal perbedaan tafsir saja, karena itu jangan saling menyalahkan, karena semua penafsiran
adalah relatif. Yang tahu kebenaran yang mutlak, hanya Allah saja.

Memang, soal utama antara Islam dan Ahmadiyah, adalah masalah tafsir. Tapi, ada tafsir yang salah dan
ada tafsir yang benar. Semua manusia yang masih berakal (tidak gila), bisa saja menafsiran Al-Quran.
Tapi, tidak semua tafsir itu benar, sebagaimana klaim kaum liberal. Ada tafsir yang salah. Misalnya, kalau
ada yang menafsirkan ayat ”Wa-aqimish shalaata lidzikri”, bahwa tujuan salat adalah mengingat Allah.
Maka, jika sudah ingat Allah, berarti tujuan sudah tercapai, dan tidak perlu salat lagi. Tafsir semacam ini
tentu saja tafsir yang salah.

Contoh lain, dalam buku Eik Ghalthi ka Izalah (Memperbaiki Suatu Kesalahan) karya Mirza Ghulam
Ahmad (terbitan Ahmadiyah Cabang Bandung tahun 1993), hal. 5, tertulis pengakuan Ghulam Ahmad
yang mendapat wahyu berbunyi: ”Muhammadur Rasulullah wal-ladziina ma’ahu asyiddaa’u ’alal kuffaari

ruhamaa’u baynahum.” Lalu, dia komentari ayat tersebut: ”Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan
namaku ”Muhammad” dan ”Rasul”.”

Ayat tersebut jelas terdapat dalam Al-Quran (QS 48:29). Kaum Miuslim yakin seyakin-yakinnya, bahwa
”Muhammadur Rasulullah” di situ menunjuk kepada Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekah; bukan
merujuk kepada Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India. Jika Ghulam Ahmad membuat tafsir bahwa dia
adalah juga Muhammad sebagaimana ditunjuk dalam ayat tersebut, maka tafsir Ghulam Ahmad
semacam itu jelas tafsir yang salah.

Akan tetapi, kaum liberal akan menyatakan, bahwa Ghulam Ahmad juga berhak membuat tafsir sendiri,
dan tidak boleh disalahkan atau disesatkan. Anehnya, kalau umat Islam punya pandangan dan sikap
yang berbeda dengan kaum liberal, maka akan disalah-salahkan, dicap fundamentalis, radikal, tidak
toleran, dan sebagainya. Jadi, kita dilarang menyalahkan yang salah, tetapi kaum liberal boleh
menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan mereka.

Sebagaimana pernah kita bahas dalam beberapa CAP, aksi kaum liberal dalam menyerang Al-Quran dari
waktu ke waktu semakin brutal. Berlindung di balik wacana kebebasan, mereka tidak segan-segan lagi
menyerang dan menistakan Al-Quran secara terbuka. Apa yang pernah terjadi di IAIN Surabaya tahun
2006, ketika seorang dosen menginjak-injak lazadz Allah yang ditulisnya sendiri, tampaknya hanyalah
fenomena gunung es belaka. Sejumlah buku, jurnal, dan artikel terbitan kaum liberal di Indonesia sudah
secara terbuka menyerang Al-Quran. Kita masih ingat, bagaimana jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN
Semarang secara semena-mena menyerang Al-Quran, dengan menyatakan:

”Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui
Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Hegemoni itu tampak
jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan
Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

Yang kita heran, orang-orang ini adalah bagian dari kalangan akademisi yang seharusnya menjunjung
tinggi tradisi intelektual yang sehat. Tapi, faktanya, mereka sering mengungkapkan pendapat tanpa
didukung oleh data-data yang memadai. Belakangan ini, kaum liberal di Indonesia sedang gandrung-
gandrungnya pada seorang wanita lesbian bernama Irshad Manji. Kedatangannya di Indonesia pada
bulan April 2008 disambut meriah. Dia dipuji-puji sebagai wanita Miuslimah yang hebat. Seorang wanita
alumnus UIN Jakarta bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah artikel di Jurnal Perempuan (edisi

khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Kata si
Nong: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

Hari Kamis (14/8/2008), saya diundang untuk menghadiri satu acara bedah buku tentang FPI di kantor
Majalah Gatra. Tanpa saya tahu, penerbit buku tentang FPI tersebut (Nun Publisher) adalah juga
penerbit buku Irshad Manji yang edisi Indonesianya diberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan
Umat Islam Saat Ini. Di sampul depan buku ini, Manji ditulis sebagai ”Satu dari Tiga Miuslimah Dunia
yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam.” Disebutlah buku ini sebagai sebagai ”International
Best Seller, New York Times Bestseller, dan telah diterbitkan di 30 negara.” Pokoknya, membaca
promosi di sampulnya, sepertinya, buku ini sangat hebat.

Tapi, sebenarnya, isinya kurang memenuhi standar ilmiah. Banyak celotehan Irshad Manji, ke sana
kemari, hantam sana, hantam sini, tanpa ada rujukan yang bisa dilacak kebenarannya. Maka, saya heran,
bagaimana kaum liberal sampai membangga-banggakan buku karya Irshad Manji ini? Seperti inikah
sosok idola kaum liberal, sampai dijuluki ”lesbian mujathidah”? Apa karena Manji sangat liberal dan
secara terbuka menyatakan diri sebagai lesbi, maka sosok ini dijadikan idola?

Buku Manji ini menggugat sejumlah ajaran pokok dalam Islam, termasuk keimanan kepada keotentikan
Al-Quran dan kema’shuman Nabi Muhammad saw. Manji secara terbuka menggugat ini. Ia katakan:

”Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat
kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar
biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang
memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk
Al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab
kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof Miuslim selama berabad-abad telah
mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap
kesempurnaan Al-Quran.” (hal. 96-97).

Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang Al-Quran dan
Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah
dan palsu. Haekal, dalam buku biografi Nabi Muhammad saw, menyebut cerita tersebut tidak punya
dasar, dan merupakan bukinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen
Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam
satu bab khusus.

Kisah ”ayat-ayat setan” itu kemudian diangkat juga oleh Salma Rushdie menjadi judul novelnya: The
Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab
dalam menghina Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita
dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai
sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak
perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-
manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi
melecehkan Al-Quran.

Karen Armstrong mencatat: ‘’It repeats all the old Western myths about the Prophet and makes him out
to be an impostor, with purely political ambitions, a lecher who used his revelations as a lisence to take
as many women as he wanted, and indicates that his first companions were worthless, inhuman
people.”

Armstrong tidaklah keliru! Dan Umat Islam yang sangat menghormati Nabi Muhammad saw, tentu saja
sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Novel ini
pun – dalam edisi bahasa Inggrisnya — sudah dijual di Jakarta. Rushdie diantaranya menggambarkan
istri-istri Nabi Muhammad saw sebagai penghuni rumah pelacuran bernama ”Hijab”. Rushdie juga
menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya ”Mahound” — sebagai “the most pragmatic of
prophets.”

Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan
oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang “ayat-ayat setan”. Memang, dalam bukunya ini pun
Manji mengungkapkan , bahwa Salman Rushdie-lah yang mendorongnya untuk menulis buku ini. Manji
menceritakan hal ini:

“Apa yang dikatakan Salman Rushdie padaku ketika aku mulai menulis buku ini teringat lagi saat aku
berefleksi terhadap hidupku sejak penerbitan buku ini. Aku ingat ketika bertanya kepadanya kenapa dia
memberikan semangat kepada seorang Miuslim muda sepertiku, untuk menulis sesuatu yang bisa
mengundang malapetaka ke dalam kehidupannya, seperti yang telah menimpa dirinya. Tanpa ragu
sedikit pun, dia menjawab, “Karena sebuah buku lebih penting ketimbang hidup.” (hal. 322).

Dalam bukunya ini pun Irshad Manji menjadikan pendapat Christoph Luxenberg sebagai rujukan untuk
menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah memahami Al-Quran, yang seharusnya dipahami dalam
bahasa Syriac. Tentang surga, dengan nada sinis ia menyatakan, bahwa ada human error yang masuk ke
dalam Al-Quran. Menurut riset yang baru, tulis Manji, yang diperoleh para martir atas pengorbanan
mereka adalah kismis, dan bukan perawan. “Nah, bagaimana bisa Al-Quran begitu tidak akurat?”
tulisnya.

Pendapat Luxenberg bahwa bahasa Al-Quran harus dipahami dalam bahasa Aramaik ditulisnya dalam
buku “Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschluesselung der Koransprache”.
Pendapat ini pun sangat lemah dan sudah banyak artikel ilmiah yang menanggapinya. Dr. Syamsuddin
Arif telah mengupas masalah ini secara tajam dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual.

Menurut Syamsuddin, Professor Hans Daiber, misalnya, memberikan seminar terbuka tentang karya
polemis itu selama satu semester penuh di departemen Orientalistik Universitas Frankfurt, dimana ia
ungkapkan sejumlah kelemahan-kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi. Salah satu
kelemahan Luxenberg, misalnya, untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya, mestinya
Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis pada abad ke-7 atau 8 Masehi
(zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus bahasa Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna
terbitan tahun 1.900!

Namun, meskipun sudah dijelaskan secara ilmiah, orang-orang yang memang berniat jahat terhadap
Islam, tetap tidak mau tahu dan mendengar semua argumentasi ilmiah tersebut. Irshad Manji, dalam
bukunya ini, malah menyandarkan keraguannya terhadap Al-Quran pada pendapat Luxenberg (seorang
pendeta Kristen asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji:

”Jika Al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim bahwa Al-Quran
meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik mungkin telah diterjemahkan oleh
manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu
berapa banyak lagi kata yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah
dipahami?” (hal. 96).

Tampaknya, penerbit buku Irshad Manji dan kaum liberal di Indonesia pun sudah tidak peduli dengan
perasaan umat Islam dan kehormatan Nabi Muhammad saw. Mereka begitu mudahnya menokohkan
wanita lesbian seperti Irshad Manji, yang dengan entengnya melecehkan Nabi Muhammad saw dan Al-
Quran. Mereka mungkin sudah tahu bahwa umat Islam akan marah jika Nabi Muhammad saw dihina.

Mereka akan senang melihat umat Islam bangkit rasa marahnya. Jika umat Islam marah, mereka akan
tertawa sambil menuding, bahwa umat Islam belum dewasa; umat Islam emosional, dan sebagainya!

Kasus Irshad Manji ini semakin memahamkan kita siapa sebenarnya kaum liberal dan apa maunya
mereka. Kita kasihan sekali pada manusia-manusia seperti ini. Apa mereka tidak khawatir, jika anak-anak
mereka nanti ditanya oleh gurunya, siapa wanita idola mereka? Maka anak-anak mereka tidak
menjawab lagi, ”Idola kami adalah Khadijah, Aisyah, Kartini, Cut Nya Dien, dan sebagainya” tetapi akan
menjawab: ”Idola kami Irsyad Manji, sang Miuslimah Lesbian teman baik Salman Rushdie sang
penghujat Nabi.” Na’udzubillahi min dzalika. (Depok, 13 Sya’ban 1429 H/15 Agustus
2008/www.hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Sikap Tidak Peduli
sumber insistnet.com
Ditulis Oleh Adian Husaini
Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold Weiss mengingatkan
umat Islam, bahwa: ”The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is
undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim –baik secara individual maupun sosial – terhadap gaya hidup
Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban
Islam. Buku Asad ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku
kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut oleh Asad,
sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in its very essence).

Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita melalui media hiburan. Film-
film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat
jasadiah, baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan
unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih dihargai karena unsur-unsur
fisiknya. Kontes nyanyi dan loma kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke
seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral.

Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, ditelaah, dan dinilai
untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media
hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu
negara, ada majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka, semua itu
adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni.

Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam kontes-kontes kecantikan. Sudah
beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus
tampil secara vulgar dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia
pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka
aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai ”Ratu Kecantikan”.

Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita Indonesia tidak kalah
cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa? Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang.
Biar diakui, bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?

Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang menginginkan mendapat
berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang
sederhana pun tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras.
Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan besar,
bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama
sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR
diam saja. Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut
dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang,
tetapi tidak perlu didengarkan.

Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur homoseksual dan
lesbian dihentikan. Tetapi, protes itu pun dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan
seperti itu. Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan
terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar tayangan-
tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang
penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu
merusak moral atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak
peduli!

Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan akademisi yang sudah tergila-
gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang
menganggap ini masalah remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus
diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!

Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid, tetap
saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. Tidak peduli! Meskipun paham
multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli!
Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan
kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa
ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama,
tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya
mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”.
Tidak peduli!

Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah
maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan
istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya,
apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah
pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku
umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama?

Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan kemunkaran dalam soal
aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban
yang sangat memuja materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan
urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau kufur,
apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat
menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.

Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, dalam pandangan
Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara –
disamping menyejahterakan kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu,
dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan
Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan
turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar kita senantiasa
menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum Muslim dan terutama kepada para
pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan
Muslim terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau
tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal,
pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.

Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang marah-marah jika
pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais dikritik; ada pula yang tidak terima ketika
Nurcholish Madjid dikritisi pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik.
Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi fanatiknya kepada
Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang
pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya
pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.

Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali tidak mencontohkan sikap
semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat,
meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru
bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri.

Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus Dur.” Dalam kata
pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa ”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu
mengawal, mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian
dan kehidupan yang demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan
yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian
terhadap persoalan-persoalan umat.”

Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh Abdurrahman Wahid sebagai
ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam
pengantarnya untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah.
Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang
”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang
menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus
Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui
oleh diri sendiri dan Allah.”

Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah
maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan
istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya,
apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah
pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku
umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama?

Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan kemunkaran dalam soal
aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban
yang sangat memuja materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan
urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau kufur,
apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat
menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.

Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, dalam pandangan
Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara –
disamping menyejahterakan kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu,
dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan
Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan
turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar kita senantiasa
menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum Muslim dan terutama kepada para
pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan
Muslim terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau
tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal,
pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.

Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang marah-marah jika
pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais dikritik; ada pula yang tidak terima ketika
Nurcholish Madjid dikritisi pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik.
Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi fanatiknya kepada
Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang
pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya
pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.

Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali tidak mencontohkan sikap
semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat,
meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru
bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri.

Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus Dur.” Dalam kata
pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa ”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu
mengawal, mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian
dan kehidupan yang demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan
yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian
terhadap persoalan-persoalan umat.”

Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh Abdurrahman Wahid sebagai
ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam
pengantarnya untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah.
Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang
”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang
menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus
Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui
oleh diri sendiri dan Allah.”

Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang waliyullah? Wallahu a’lam.
Hanya Allah yang tahu.

Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku ini adalah
kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas yang dibela Abdurrahman Wahid
adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.

Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal tersebut. Benarkah Inul
merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan
sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-
anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral? Mereka tertidas, dan mereka tidak
berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh kekuatan industri hiburan yang

sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat
Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan Shimon
Peres?

Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan yang
mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan. Banyak keistimewaan
dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para
kyai senior di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul ”9 Alasan Mengapa
Kiai-kiai tidak (lagi) bersama Gus Dur.”

Kita tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah Maha Tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk
masing-masing. Para tokoh itu akan mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT.
Kita pun demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau menanggung dosa-
dosa kita.

Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Mudah-
mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai
persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan
urusan umat, maka dia bukan bagian dari umat Islam. Wallahu a’lam. [Depok, 21 Rajab 1429 H/24 Juli
2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

”Merusak Pendidikan Agama”
Oleh: Adian Husaini

“Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Itulah judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen di
salah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah. Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Direktur
Pasca Sarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, menyatakan, bahwa buku ini memiliki arti penting
bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama. Azra mendefinisikan ‘Pendidikan Multukultural’

sebagai “pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis
dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.”

Buku ini penting untuk kita cermati, karena menyuguhkan satu wacana tentang Pendidikan Agama di
Indonesia. Ajaibnya, buku ini bukan memberikan suatu pemahaman tentang Pendidikan Agama yang
benar, tetapi justru menyuguhkan suatu pemahaman yang merusak aqidah Islam itu sendiri. Maka,
seharusnya, seorang profesor kenamaan tidak sampai terjebak untuk memuji-muji buku seperti ini.
Apalagi, si profesor juga dikenal sebagai pimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).
Mungkin Sang Profesor tidak membaca isinya dengan teliti, atau mungkin memang dia sendiri setuju
dengan isi buku tersebut.

Sebenarnya, istilah yang digunakan, yakni ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”, itu sendiri
sudah bermasalah. Istilah itu mengesankan, seolah-olah selama ini, umat Islam tidak mengembangkan
pendidikan agama yang menghormati keragaman budaya masyarakat. Bahkan, seperti pernah kita bahas
dalam sejumlah CAP, istilah dan makna ”multikulturalisme” itu sendiri – seperti dijelaskan oleh para
pendukungnya — sudah sangat bermasalah.

Tetapi, kita sangat memahami, karena paham ini sedang menjadi proyek global – yang tentu saja ada
kucuran dana yang sangat besar – maka wacana multikulturalisme terus dijejalkan kepada kaum Muslim
Indonesia. Badan Litbang Departemen Agama telah meluncurkan program pembinaan dai-dai
multikultural dan menyebarkan buku-buku tentang multikulturalisme. Para santri dan kyai di berbagai
pesantren, khususnya di Jawa Barat, juga telah dijejali paham ini oleh agen liberal, seperti International
Center for Islam and Pluralism (ICIP).

Berbagai seminar tentang multikulturalisme pun digelar, seolah-olah, inilah agenda penting yang harus
ditelan umat Islam Indonesia saat ini. Seolah-olah, umat Islam selama ini tidak memahami keragaman
budaya dan agama. Seolah-olah umat Islam selama ini tidak toleran dengan agama lain, dan sebagainya.

Kita pernah membahas apa makna ”Multikulturalisme” dalam pandangan Litbang Departemen Agama,
yang merupakan hasil penelitian Litbang Depag tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da’i”.
Dijelaskan, bahwa selain dapat menjadi faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi.
Konflik antar-umat beragama dapat terjadi karena — salah satunya — disebabkan oleh adanya
pemahaman keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif. Pemahaman ini dapat membentuk pribadi
yang antipati terhadap pemeluk agama lain. Pribadi yang selalu merasa hanya agama dan alirannya saja
yang paling benar sedangkan agama dan aliran lainnya adalah salah dan dianggap sesat.

Jadi, dalam wacana multikulturalisme, klaim kebenaran (truth claim) terhadap agamanya sendiri
dipandang sebagai sesuatu yang menjadi sebab terjadinya konflik antar-umat beragama. Logika
selanjutnya adalah, agar umat beragama menghilangkan klaim kebenaran terhadap agamanya sendiri.
Umat beragama diajak untuk mengakui kebenaran semua agama. Minimal, jangan menyalahkan agama
dan kepercayaan di luar agamanya.

Tentu saja kesimpulan semacam ini sangat keliru. Sebab, setiap orang yang beragama – jika masih
berpegang pada keyakinan agamanya – pasti meyakini kebenaran agamanya sendiri. Jika dia meyakini
kebenaran semua agama, maka dia sejatinya sudah tidak beragama. Kita ingat jargon populer kaum
Pluralis Agama, yakni ”All paths lead to the same summit” (semua jalan akan menuju puncak yang
sama). Maksudnya, agama apa pun sebenarnya menuju pada Tuhan yang sama. Tokoh pluralis lain
menggambarkan agama-agama laksana jari-jari sebuah roda yang semua menuju pada poros yang sama.
Poros itulah, menurut dia, adalah Tuhan.

Semangat humanisme sekular tanpa diskriminasi agama inilah yang juga ditekankan dalam buku
”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Misinya adalah membangun persaudaraan universal
tanpa membedakan lagi faktor agama, sebagaimana misi yang digelorakan oleh Free Masonry,
Theosofie, dan sebagainya. Misalnya ditulis dalam buku ini:

”Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka
para pengikut agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind)
tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama… Pesan kesatuan ini secara tegas
disinyalir al-Qur’an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju
dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa’) antara kami dan kami… Dengan demikian,
kalimatun sawa’ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan
yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan
mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan
sama martabatnya (dignity).” (hal. 45-46).

Bagi yang memahami tafsir Al-Quran, pemaknaan terhadap QS 3:64 tentang kalimatun sawa’ semacam
itu tentulah dan ngawur. Sebab, ayat itu sendiri sangat jelas maknanya, yakni perintah kepada Nabi
Muhammad saw agar mengajak kaum Ahlul Kitab untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang dibawa oleh
Nabi Muhammad saw. Disebutkan dalam ayat tersebut (yang artinya):

”Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara
kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuat
upun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah.”

Jadi, QS 3:64 tersebut jelas-jelas seruan kepada tauhid, bukan kepada paham Multikulturalisme.
Meskipun maknanya sudah begitu jelas, tapi para pendukung paham Multikulturalisme ini dengan
sangat berani dan gegabah membuat makna sendiri. Karena menjadikan paham Multikulturalisme
sebagai dasar keimanannya, maka Tauhid pun dimaknai secara keliru dan diselewengkan maknanya.
Padahal, Tauhid jelas berlawanan dengan syirik. Musuh utama Tauhid adalah syirik. Karena itu, Allah
sangat murka dengan tindakan syirik, dan disebut sebagai ”kezaliman yang besar” (zhulmun ’azhimun).
Karena itu, di dalam Al-Quran disebutkan, bahwa Allah SWT sangat murka, karena dituduh mempunyai
anak (QS 19:88-91).

Tetapi, dalam paham Multikulturalisme sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, justru keyakinan akan
kebenaran agamanya sendiri dilarang:

”Klaim berlebihan tentang kebenaran absolut kelompok keagamaan sendiri, dan

klaim kesesatan kelompok-kelompok agama lain, bisa membangkitkan sentimen permusuhan antarumat
beragama dan antarkelompok. Penganjur-penganjur agama yang mempunyai corak pemahaman teologi
dogmatis semacam itu dapat dengan mudah membawa dan memicu konflik dan kekerasan pada level
pengikut. Dan anehnya semua mengatasnamakan Tuhan.” (hal. 48)

Tidak sulit untuk menyimpulkan, bahwa sadar atau tidak, misi buku Pendidikan Agama Berwawasan
Multikultural ini memang jelas-jelas merusak aqidah Islam. Agar memiliki daya rusak yang tinggi, maka
digunakanlah salah satu aspek strategis, yakni ”Pendidikan Agama”. Daya rusak itu tentu saja semakin
tinggi dengan dukungan profesor kenamaan yang memiliki kekuasaan tinggi di Perguruan Tinggi dan
organisasi cendekiawan Muslim.

Buku Pendidikan Agama jenis ini memang jelas-jelas menyebarkan ’paham syirik’ Pluralisme Agama.
Sebab, buku ini membenarkan semua paham syirik yang dengan tegas telah dikecam dalam Al-Quran.
Ditulis, misalnya: ”Jadi, semua agama adalah sebuah totalitas sosio-kultural yang merupakan jalan-jalan
yang berbeda dalam mengalami dan hidup dalam relasi dengan Yang Ilahi. Yang menyebabkan

perbedaan itu adalah bukan sesuatu yang mutlak sifatnya, namun hanya faktor-faktor partikular yang
berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan.” (hal. 50).

Lebih jauh dijabarkan bahwa: ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural mengandaikan suatu
pengajaran efektif (effective teaching) dan belajar aktif (active learning) dengan memperhatikan
keragaman agama-agama siswa. Dalam hal ini, proses mengajar lebih menekankan pada bagaimana
mengajarkan tentang agama (teaching about religion), bukan mengajarkan agama (teaching of religion),
karena yang pertama melibatkan pendekatan kesejarahan (historical approach) dan pendekatan
perbandingan (comparative approach), sedangkan yang kedua melibatkan indoktrinasi dogmatik pada
siswa sehingga secara praktis ia tidak memberikan sarana yang memadai untuk menentukan
palajaran/kuliah mana yang dapat diterima dan mana yang perlu ditolak.” (hal. 102).

Untuk menjalankan misi Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural tersebut, maka juga diperlukan
guru-guru yang memiliki pemahaman yang sama. ”Guru penganut suatu agama yang meyakini hanya
ada satu kebenaran dan satu keselamatan, tertutup kemungkinan untuk menerima validitas
kepercayaan-kepercayaan alternatif dan gagal mengajarkan toleransi dan saling menghargai antar
sesama penganut agama.” (hal. 103).

Jadi, jelaslah, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural memang berusaha menggerus keyakinan
ekslusif tiap agama, khususnya aqidah umat Islam. Untuk itu, penulis buku yang sudah sangat populer
keliberalannya ini memang tidak takut-takut untuk merusak tafsir Al-Quran, sebagaimana contoh
terdahulu. Sejumlah ayat Al-Quran lainnya juga dia tafsirkan dengan semena-mena.

Misalnya, dengan seenak perutnya sendiri, ia mengubah makna ”taqwa” dalam QS 49:13. Kaum Muslim
memahami bahwa makna ’taqwa’ adalah taat kepada perintah Allah dan menjauhi larang-larangan-Nya.
Tapi, oleh penganut paham multikulturalisme, istilah ’taqwa’ diartikan sebagai ”yang paling dapat
memahami dan menghargai perbedaan pendapat.” Buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural
ini menerjemahkan ayat tersebut sebagai berikut:

”Hai manusia, sesungguhnya Kami jadikan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan
kalian berkelompok-kelompok dan berbangsa-bangsa, agar kalian saling memahami dan saling
menghargai. Sesungguhnya orang yang paling bermartabat di sisi Allah adalah mereka yang paling dapat
memahami dan menghargai perbedaan di antara kamu.” (hal. 49).

Sebagai kaum Muslim, kita diperintahkan untuk sangat berhati-hati dalam menafsirkan Al-Quran. Dalam
acara ”Kolokium Nasional Pemikiran Islam” di Universitas Muhammadiyah Malang, 11-13 Februari 2008,
tokoh Muhammadiyah Ustad Muammal Hamidy mengingatkan, bahwa para sahabat Rasulullah saw dan
para ulama ahli tafsir senantiasa sangat berhati-hati menafsirkan Al-Quran.

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu’nya pernah menyatakan: “Bumi manakah yang akan
menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku
ketahui tentang Kitabullah?” Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang
mengucapkan (sesuatu) tentang Al-Quran berdasarkan ra’yunya atau berdasarkan apa yang tidak
dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i). Abu
Ubaid pernah juga memperingatkan: “Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan
tentang Allah.”

Mencermati isi buku ini tidaklah sulit bagi kita untuk menilai, bahwa buku Pendidikan Agama
Berwawasan Multikultural ini memang merusak aqidah Islam dan Tafsir Al-Quran. Namun, Professor
sekaliber Azyumardi Azra justru memberikan pujiannya. Penulis buku ini, menurut sang Professor UIN
Jakarta ini,”telah membuka pintu masa depan kajian pendidikan agama bercorak multikulturalisme di
Indonesia”.

Jadi, pintu untuk merusak Pendidikan Agama di Indonesia sudah resmi dibuka! Lalu, apa tindakan kita?
[Depok, 7 Juli 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

“Demi Kebebasan, Membela Kebathilan!”

sumber insistnet.com

Ditulis Oleh Adian Husaini

Masih ingat Lia Eden? Dia mendakwahkan dirinya sebagai Jibril Ruhul Kudus. Lia, yang mengaku
mendapat wahyu dari Allah, pada 25 November 2007, berkirim surat kepada sejumlah pejabat negara.
Kepada Ketua Mahkamah Agung RI, Bagir Manan, Lia berkirim surat yang bernada amarah. ”Akulah
Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan
dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku,” tulis Lia dalam surat berkop ”God’s
Kingdom: Tahta Suci Kerajaan Eden”.

Jadi, mungkin hanya ada di Indonesia, ”Malaikat Jibril” berkirim surat lengkap dengan kop surat dan
tanda tangannya, serta ”berganti tugas” sebagai ”pencabut nyawa.

Maka, saat ditanya tentang status aliran semacam ini, MUI dengan tegas menyatakan, ”Itu sesat.”
Mengaku dan menyebarkan ajaran yang menyatakan bahwa seseorang telah mendapat wahyu dari
Malaikat Jibril, apalagi menjadi jelmaan Jibril adalah tindakan munkar yang wajib dicegah dan
ditanggulangi. (Kata Nabi saw: ”Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubah
dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itulah
selemah-lemah iman”).

Ada sejumlah fatwa yang telah dikeluarkan MUI tentang aliran sesat ini. Ahmadiyah dinyatakan sesat
sejak tahun 1980. Pada tahun 2005, keluar juga fatwa MUI yang menyatakan bahwa paham Sekularisme,
Pluralisme Agama dan Liberalisme, bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluknya.
Tugas ulama, sejak dulu, memang memberikan fatwa. Tugas ulama adalah menunjukkan mana yang
sesat dan mana yang tidak; mana yang haq dan mana yang bathil.

Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengelarkan fatwa sesat terhadap kelompok-kelompok
seperti Lia Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang MUI tolol. Sebuah
jurnal keagamaan yang terbit di IAIN Semarang menurunkan laporan utama: ”Majelis Ulama Indonesia
Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI bisa dijerat KUHP Provokator.”
Seorang staf dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), dalam
wawancaranya dengan jurnal keagamaan ini menyatakan, bahwa:

”MUI kan hanya semacam menjual nama Tuhan saja. Dia seakan-akan mendapatkan legitimasi Tuhan
untuk menyatakan sesuatu ini mudharat, sesuatu ini sesat. Padahal, dia sendiri tidak mempunyai
kewenangan seperti itu. Kalau persoalan agama, biarkan Tuhan yang menentukan.” Ketika ia ditanya,
”Menurut Anda, Sekarang MUI mau diapakan?” dia jawab: ”Ya paling ideal dibubarkan.” (Jurnal Justisia,
edisi 28 Th.XIII, 2005)

Majalah ADIL (edisi 29/II/24 Januari-20 Februari 2008), memuat wawancara dengan Abdurrahman
Wahid (AW):

Adil: Apa alasan Gus Dur menyatakan MUI harus dibubarkan?

AW: Karena MUI itu melanggar UUD 1945. Padahal, di dalam UUD itu menjamin kebebasan
mengeluarkan pendapat dan kemerdekaan berbicara..

Adil: Mengapa MUI tidak melakukan peninjauan atas konstitusi yang isinya begitu gamblang itu?

AW: Karena mereka itu goblok. Itu saja. Mestinya mereka mengerti. Mereka hanya melihat Islam itu
sebatas institusi saja. Padahal Islam itu adalah ajaran.

Adil: Apa seharusnya sikap MUI terhadap kelompok-kelompok Islam sempalan itu?

AW: Dibiarkan saja. Karena itu sudah jaminan UUD. Harus ingat itu.

Perlu dicatat, bahwa Ketua Umum MUI saat ini adalah K.H. Sahal Mahfudz yang juga Rais Am PBNU.
Wakil Ketua Umumnya adalah Din Syamsuddin, yang juga ketua PP Muhammadiyah. Hingga kini, salah
satu ketua MUI yang sangat vokal dalam menyuarakan kesesatan Ahmadiyah dan sebagainya adalah KH
Ma’ruf Amin yang juga salah satu ulama NU terkemuka.

Sejak keluarnya fatwa MUI tentang Ahmadiyah dan paham Sepilis tahun 2005, berbagai kelompok juga
telah datang ke Komnas HAM, menuntut pembubaran MUI. Salah satunya adalah Kontras, yang kini
dikomandani oleh Asmara Nababan. Kelompok-kelompok ini selalu mengusung paham kebebasan
beragama. Puncak aksi mereka dalam aksi dukungan terhadap Ahmadiyah dilakukan pada 1 Juni 2008 di
kawasan Monas Jakarta, yang kemudian berujung bentrokan dengan massa Islam yang berdemonstrasi
di tempat yang sama.

Dasar kaum pemuja kebebasan untuk menghujat MUI adalah HAM dan paham kebebasan. Bagi kaum
liberal ini, pasal-pasal dalam HAM dipandang sebagai hal yang suci dan harus diimani dan diaplikasikan.
Dalam soal kebebasan beragama, mereka biasanya mengacu pada pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia (DUHAM), yang menyatakan: ”Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpendapat,
keyakinan dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau keyakinan, dan

kebebasan baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan yang lain dan dalam ruang publik atau privat
untuk memanifestasikan agama dan keyakinannya dalam menghargai, memperingati, mempraktekkan
dan mengajarkan.”

Deklarasi ini sudah ditetapkan sejak tahun 1948. Para pendiri negara Indonesia juga paham akan hal ini.
Tetapi, sangatlah naif jika pasal itu kemudian dijadikan dasar pijakan untuk membebaskan
seseorang/sekelompok orang membuat tafsir agama tertentu seenaknya sendiri. Khususnya Islam.
Sebab, Islam adalah agama wahyu (revealed religion) yang telah sempurna sejak awal (QS 5:3). Umat
Islam bersepakat dalam banyak hal, termasuk dalam soal kenabian Muhammad saw sebagai nabi
terakhir. Karena itu, sehebat apa pun seorang Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin
Affan, Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu ’anhum, mereka tidak terpikir sama sekali untuk mengaku
menerima wahyu dari Allah. Bahkan, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq telah bertindak tegas terhadap
para nabi palsu dan para pengikutnya.

Ada batas

Masalah semacam ini sudah sangat jelas, sebagaimana jelasnya ketentuan Islam, bahwa shalat subuh
adalah dua rakaat, zuhur empat rakaat, haji harus dilakukan di Tanah Suci, dan sebagainya. Karena
itulah, dunia Islam tidak pernah berbeda dalam soal kenabian. Begitu juga umat Islam di Indonesia.
Karena itulah, setiap penafsiran yang menyimpang dari ajaran pokok Islam, bisa dikatakan sebagai
bentuk kesesatan. Meskipun bukan negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara dengan mayoritas
pemeluk Islam. Keberadaan dan kehormatan agama Islam dijamin oleh negara. Sejak lama pendiri
negara ini paham akan hal ini. Bahkan, KUHP pun masih memuat pasal-pasal tentang penodaan agama.
UU No 1/PNPS/1965 yang sebelumnya merupakan Penpres No 1/1965 juga ditetapkan untuk menjaga
agama-agama yang diakui di Indonesia.

Bangsa mana pun paham, bahwa kebebasan dalam hal apa pun tidak dapat diterapkan tanpa batas. Ada
peraturan yang harus ditaati dalam menjalankan kebebasan. Seorang pengendara motor – kaum liberal
atau tidak — tidak bisa berkata kepada polisi, ”Bapak melanggar HAM, karena memaksa saya
mengenakan helm. Soal kepala saya mau pecah atau tidak, itu urusan saya. Yang penting saya tidak
mengganggu orang lain.”

Namun, simaklah, betapa ributnya sebagian kalangan ketika Pemda Sumbar mewajibkan siswi-siswi
muslimah mengenakan kerudung di sekolah. Kalangan non-Muslim juga ikut meributkan masalah ini.
Ketika ada pemaksaan untuk mengenakan helm oleh polisi mereka tidak protes. Tapi, ketika ada

pemaksaan oleh pemeritah untuk mengenakan pakaian yang baik, seperti mengenakan kerudung, maka
mereka protes. Padahal, itu sama-sama menyangkut hak pribadinya. Dalam 1 Korintus 11:5-6 dikatakan:

”Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung,
menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan
tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi
perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi
kepalanya.”

Orang-orang Barat, meskipun beragama Kristen, tidak mau mewajibkan kerudung. Bahkan, karena
pengaruh paham sekularisme, banyak sekolah di Barat – termasuk di Turki – yang melarang siswanya
mengenakan kerudung. Untuk itulah mereka kemudian membuat berbagai penafsiran yang ujung-
ujungnya menghilangkan kewajiban megenakan kerudung bagi wanita.

Jadi, karena ingin menerapkan paham kebebasan, maka mereka menolak aturan-aturan agama. Konsep
kebebasan antara Barat dan Islam sangatlah berbeda. Islam memiliki konsep ”ikhtiyar” yakni, memilih
diantara yang baik. Umat Islam tidak bebas memilih yang jahat. Sedangkan Barat tidak punya batasan
yang pasti untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua diserahkan kepada
dinamika sosial. Perbedaan yang mendasar ini akan terus menyebabkan terjadinya ”clash of worldview”
dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dua konsep yang kontradiktif ini tidak bisa dipertemukan.
Maka seorang harus menentukan, ia memilih konsep yang mana.

Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The Satanic
Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sangat biadab; misalnya menggambarkan sebuah komplek
pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi Muhammad saw.
Bagi Islam, ini penghinaan. Bagi kaum liberal, itu kebebasan berekspresi. Bagi Islam, pemretelan ayat-
ayat al-Quran dalam Tadzkirah-nya kaum Ahmadiyah, adalah penghinaan, tapi bagi kaum liberal, itu
kebebasan beragama. Berbagai ucapan Mirza Ghulam Ahmad juga bisa dikategorikan sebagai
penghinaan dan penodaan terhadap Islam. Sebaliknya, bagi kaum liberal, Ahmadiyah adalah bagian dari
”kebebasan beragama dan berkeyakinan.” Bagi Islam, beraksi porno dalam dunia seni adalah tercela dan
dosa. Bagi kaum liberal, itu bagian dari seni dan kebebasan berekspresi, yang harus bebas dari campur
tangan agama.

Kaum liberal, sebagaimana orang Barat pada umumnya, menjadikan faktor ”mengganggu orang lain”
sebagai batas kebebasan. Seseorang beragama apa pun, berkeyakinan apa pun, berperilaku dan

berorientasi seksual apa pun, selama tidak mengganggu orang lain, maka perilaku itu harus dibiarkan,
dan negara tidak boleh campur tangan. Bagi kaum liberal, tidak ada bedanya seorang menjadi ateis atau
beriman, orang boleh menjadi pelacur, pemabok, menikahi kaum sejenis (homo/lesbi), kawin dengan
binatang, dan sebagainya. Yang penting tidak mengganggu orang lain. Maka, dalam sistem politik
mereka, suara ulama dengan penjahat sama nilainya.

Bagi kaum pemuja paham kebebasan, pelacur yang taat hukum (tidak berkeliaran di jalan dan ada ijin
praktik) bisa dikatakan berjasa bagi kemanusiaan, karena tidak mengganggu orang lain. Bahkan ada yang
menganggap berjasa karena menyenangkan orang lain. Tidak heran, jika sejumlah aktivis AKKBB, kini
sibuk berkampanye perlunya perkawinan sesama jenis dilegalkan di Indonesia. Dalihnya, juga kebebasan
melaksanakan perkawinan tanpa memandang orientasi seksual. Mereka sering merujuk pada Resolusi
Majelis Umum 2200A (XXI) tentang Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Maka, tidak
heran, jika seorang aktivis liberal seperti Musdah Mulia membuat pernyataan: ”Seorang lesbian yang
bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.” Juga, ia katakan, bahwa ”Esensi ajaran agama adalah
memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku,
warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun
agamanya.” (Jurnal Perempuan, Maret 2008).

Apakah kaum liberal juga memberi kebebasan kepada orang lain? Tentu tidak! Mereka juga memaksa
orang lain untuk menjadi liberal, sekular. Mereka marah ketika ada daerah yang menerapkan syariah.
Mungkin, mereka akan sangat tersinggung jika lagu Indonesia Raya dicampur aduk dengan lagu
Gundhul-gundhul Pacul. Mereka juga akan marah jika lambang negara RI burung garuda diganti dengan
burung emprit. Tapi, anehnya, mereka tidak mau terima jika umat Islam tersinggung karena Nabinya
diperhinakan, Al-Quran diacak-acak, dan ajaran Islam dipalsukan. Untuk semua itu, mereka menuntut
umat Islam agar toleran,”dewasa”, dan tidak emosi. ”Demi kebebasan!”, kata mereka.

Logika kelompok liberal seperti Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB) dalam membela habis-habisan kelompok Ahmadiyah dengan alasan kebebasan beragama dan
berkeyakinan sangatlah absurd dan naif. Mereka tidak mau memahami, bahwa soal Ahmadiyah adalah
persoalan aqidah. Sebab, Ahmadiyah sendiri juga berdiri atas dasar aqidah Ahmadiyah yang bertumpu
pada soal klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Karena memandang semua agama sama posisinya,
maka mereka tidak bisa atau tidak mau membedakan mana yang sesat dan mana yang benar.
Semuanya, menurut mereka, harus diperlakukan sama.

Cara pandang kaum ”pemuja kebebasan” semacam itulah yang secara diametral bertentangan dengan
cara pandang Islam. Islam jelas membedakan antara Mu’min dan kafir, antara yang adil dan fasiq.

Masing-masing ada tempatnya sendiri-sendiri. Orang kafir kuburannya dibedakan dari orang Islam.
Kaum Muslim diperintahkan, jangan mudah percaya pada berita yang dibawa orang fasiq, seperti orang
yang kacau shalat lima waktunya, para pemabok, pezina, pendusta, dan sebagainya. Jadi, dalam
pandangan Islam, manusia memang dibedakan berdasarkan takwa nya.

Jadi, itulah cara pandang para pemuja kebebasan. Jika ditelaah, misi mereka sebenarnya adalah ingin
mengecilkan arti agama dan menghapus agama dari kehidupan manusia. Mereka maunya manusia
bebas dari agama dalam kehidupan. Untuk memahami misi kelompok semacam AKKBB ini, cobalah
simak misi dan tujuan kelompok-kelompok persaudaraan lintas-agama seperti Free Mason yang
berslogan ”liberty, fraternity, dan egality”, atau kaum Theosofie yang bersemboyan: “There is no
religion higher than Truth.” Jadi, kaum seperti ini punya sandar ”kebenaran sendiri” yang mereka klaim
berada di atas agama-agama yang ada. [Depok, 13 Juni 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

”Kampanye Lesbi Profesor AKKBB”
sumber hidayatullah.com
Profesor tidak jaminan pasti bener (benar, red). Banyak banyak pula profesor yang keblinger. Contohnya
profesor dari kelompok AKKBB ini. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-237

Oleh: Adian Husaini
ImageNamanya sudah sangat masyhur. Media massa juga rajin menyiarkan pendapat-pendapatnya.
Wajahnya sering muncul di layar kaca. Biasanya menyuarakan aspirasi tentang kebebasan beragama dan
berkeyakinan. Dia memang salah satu aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa buku sudah ditulisnya. Gelar doktor diraihnya dari UIN (dulu IAIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta. Gelar Profesor pun diraihnya.

Biasanya, dia dikenal sebagai feminis pejuang paham kesetaraan gender. Umat Islam sempat
dihebohkan ketika Prof. Musdah dan tim-nya meluncurkan Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum
Islam. Banyak ide-ide ”aneh” yang tercantum dalam CLD-KHI tersebut. Misalnya, ide untuk
mengharamkan poligami, memberi masa iddah bagi laki-laki; menghilangkan peran wali nikah bagi
mempelai wanita, dan sebagainya. Sejumlah Profesor syariah di UIN Jakarta sudah menjawab secara

tuntas gagasan Musdah dan kawan-kawan. Puluhan – bahkan mungkin ratusan — diskusi, debat,
seminar, dan sebagainya sudah digelar di berbagai tempat.

Toh, semua itu dianggap bagai angin lalu. Prof. Musdah tetap bertahan dengan pendapatnya. Biar orang
ngomong apa saja, tak perlu dipedulikan. Jalan terus! Bahkan, makin banyak ide-ide barunya yang
membuat orang terbengong-bengong. Pendapatnya terakhir yang menyengat telinga banyak orang
adalah dukungannya secara terbuka terhadap perkawinan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Pada
CAP-230 lalu, kita sudah membahas masalah ini. Ketika itu, banyak yang bereaksi negatif, seolah-olah
kita membuat fitnah terhadap Prof. Musdah. Ada yang menuduh saya salah paham terhadap pemikiran
Musdah.

Untuk memperjelas pandangan Musdah Mulia tentang hubungan/perkawinan sejenis (homoseksual dan
lesbian), ada baiknya kita simak beb erapa tulisan dan wawancaranya di sejumlah media massa. Dalam
sebuah makalah ringkasnya yang berjudul ”Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta”, dosen pasca
sarjana UIN Jakarta ini menulis:

“Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku
seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual
(gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut
sunnatullah. Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia… Jika hubungan sejenis atau homo,
baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi maka
hubungan demikian dapat diterima.” (Uraian lebih jauh, lihat, Majalah Tabligh MTDK PP
Muhammadiyah, Mei 2008)

Musdah memang sangat berani dalam menyuarakan pendapatnya, meskipun sangat kontroversial dan
mengejutkan banyak orang. Dia tentu paham bahwa isu homoseksual dan lesbian adalah hal yang
sangat kontroversial, bahkan di lingkungan aktivis lieral sendiri. Banyak yang berpendapat agenda
pengesahan perkawinan sejenis ini ditunda dulu, karena waktunya masih belum tepat. Tapi, Musdah
tampaknya berpendapat lain. Dia maju tak gentar, bersuara tentang kehalalan dan keabsahan
perkawinan sesama jenis. Tidak heran jika pada 7 Maret 2007 pemerintah Amerika Serikat
menganugerahinya sebuah penghargaan ”International Women of Courage Award”.

Sebenarnya, sudah sejak cukup lama Musdah memiliki pandangan tersendiri tentang homoseks dan
lesbi. Pandangannya bisa disimak di Jurnal Perempuan edisi Maret 2008 yang menurunkan edisi khusus
tentang seksualitas lesbian. Di sini, Prof. Musdah mendapat julukan sebagai ”tokoh feminis muslimah

yang progresif”. Dalam wawancaranya, ia secara jelas dan gamblang menyetujui perkawinan sesama
jenis. Judul wawancaranya pun sangat provokatif: ”Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual
Manusia”.

Menurut Profesor Musdah, definisi perkawinan adalah: ”Akad yang sangat kuat (mitsaaqan ghaliidzan)
yang dilakukan secara sadar oleh dua orang untuk membentuk keluarga yang pelaksanaannya
didasarkan pada kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak.” Definisi semacam ini biasa kita dengar.
Tetapi, bedanya, menurut Musdah Mulia, pasangan dalam perkawinan tidak harus berlainan jenis
kelaminnya. Boleh saja sesama jenis.

Simaklah kata-kata dia berikutnya, setelah mendefinisikan makna perkawinan menurut Aal-Quran:

”Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat
49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis
kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan
bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

Selanjutnya, dia katakan:

”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak
peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak
peduli apa pun agamanya.”

Prof. Dr. Siti Musdah Mulia pun merasa geram dengan masyarakat yang hanya mengakui perkawinan
berlainan jenis kelamin (heteroseksual). Menurutnya, agama yang hidup di masyarakat sama sekali tidak
memberikan pilihan kepada manusia.

”Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian,
biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun
hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan
jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang
perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan,” gerutu sang

Profesor yang (menurut Jurnal Perempuan) pernah dinobatkan oleh UIN Jakarta sebagai Doktor Terbaik
IAIN Syarif Hidayatullah 1996/1997.

Kita tidak tahu, apakah yang dimaksud dengan ”orientasi seksual lainnya” termasuk juga ”orientasi
seksual dengan binatang”. Yang jelas, bagi kaum lesbian, dukungan dan legalisasi perkawinan sesama
jenis dari seorang Profesor dan dosen di sebuah perguruan Tinggi Islam tekenal ini tentu merupakan
sebuah dukungan yang sangat berarti. Karena itulah, Jurnal Perempuan secara khusus memampang
biodata Prof. Musdah. Wanita kelahiran 3 Maret 1958 ini lulus pendidikan S-1 dari IAIN Alaudin
Makasar. S-2 ditempuhnya di bidang Sejarah Pemikiran Islam di IAIN Jakarta. Begitu juga dengan jenjang
S-3 diselesaikan di IAIN Jakarta dalam bidang pemikiran politik Islam. Aktivitasnya sangat banyak. Sejak
tahun 1997-sekarang masih menjadi dosen Pasca Sarjana UIN Jakarta. Tahun 1999-2000 menjabat
sebagai Kepala Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Depag RI. Masih menurut birodata di Jurnal
Perempuan, sejak tahun 2001-sekarang, Musdah Mulia juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Agama
bidang Hubungan Organisasi Keagamaan Internasional. Tapi, data ini ternyata tidak benar. Saya sempat
mengkonirmasi ke seorang pejabat di Departemen Agama tentang posisi Musdah Mulia ini, dijawab,
bahwa dia sudah dikembalikan posisinya sebagai peneliti di Litbang Depag.

Banyak yang bertanya, apa yang salah dengan pendidikan Prof. Musdah? Mengapa dia menjadi
pendukung lesbian? Jawabnya: Wallahu A’lam.

Yang jelas, Musdah Mulia memang seorang ’pemberani’. Amerika tidak keliru memberi gelar itu. Dia
berani mengubah-ubah hukum Islam dengan semena-mena. Dia memposisikan dirinya sebagai
’mujtahid’. Dia berani menyatakan dalam wawancaranya bahwa:

”Sepanjang bacaan saya terhadap kisah Nabi Luth yang dikisahkan dalam Al-Qur’an (al-A’raf 80-84 dan
Hud 77-82) ini, tidak ada larangan secara eksplisit baik untuk homo maupun lesbian. Yang dilarang
adalah perilaku seksual dalam bentuk sodomi atau liwath.”

Para pakar syariah tentu akan geli membaca ”hasil ijtihad” Musdah ini. Seorang Profesor – yang juga
dosen UIN Jakarta – pernah berargumen, di dalam Al-Quran tidak ada larangan secara eksplisit bahwa
Muslimah haram menikah dengan laki-laki non-Muslim. Ketika itu, saya jawab, bahwa di dalam Al-Quran
juga tidak ada larangan secara eksplisit manusia kawin dengan anjing. Tidak ada larangan kencing di
masjid, dan sebagainya. Apakah seperti ini cara menetapkan hukum di dalam Islam? Tentu saja tidak.
Melihat logika-logika seperti itu, memang tidak mudah untuk mengajak dialog, karena dialog dan debat


Click to View FlipBook Version