The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-08-16 02:09:21

adian husaini 6

adian husaini 6

akan ada gunanya, jika ada metodologi yang jelas. Sementara metode yang dipakai kaum liberal dalam
pengambilan hukum memang sangat sesuka hatinya, alias amburadul.

Yang jelas, selama 1400 tahun, tidak ada ulama yang berpikir seperti Musdah Mulia, padahal selama itu
pula kaum homo dan lesbi selalu ada. Karena itu, kita bisa memahami, betapa ”hebatnya” Musdah
Mulia ini, sehingga bisa menyalahkan ijtihad ribuan ulama dari seluruh dunia Islam. Jika pemahaman
Musdah ini benar, berarti selama ini ulama-ulama Islam tolol semua, tidak paham makna Al-Quran
tentang kisah kaum Luth. Padahal, dalam Al-Quran dan hadits begitu jelas gambaran tentang kisah Luth.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada
kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang
pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan
kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya
mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-
pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia
termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu);
maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).

Di dalam surat Hud ayat 82 dikisahkan (artinya):

”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami
balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”

Kebejatan perilaku seksual kaum Luth ini juga ditegaskan oleh Rasulullah saw:

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-
Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan, bagaimana sangat merusaknya penyakit ’kaum Luth’,
sehingga mereka diazab dengan sangat keras oleh Allah SWT. Hamka sampai menyebut bahwa perilaku
seksual antar sesama jenis ini lebih rendah martabatnya dibandingkan binatang. Binatang saja, kata
Hamka, masih tahu mana lawan jenisnya. Hamka mengutip sebuah hadits Rasulullah saw:

“… dan apabila telah banyak kejadian laki-laki ’mendatangi’ laki-laki, maka Allah akan mencabut tangan-
Nya dari makhluk, sehingga Allah tidak mempedulikan di lembah mana mereka akan binasa.” (HR at-
Tirmidzi, al-Hakim, dan at-Tabhrani).

Hamka menulis dalam Tafsirnya tentang pasangan homoseksual yang tertangkap tangan: “Sahabat-
sahabat Rasulullah saw yang diminta pertimbangannya oleh Sayyidina Abu Bakar seketika beliau jadi
Khalifah, apa hukuman bagi kedua orang yang mendatangi dan didatangi itu, karena pernah ada yang
tertangkap basah, semuanya memutuskan wajib kedua orang itu dibunuh.” (Lihat, Tafsir al-Azhar, Juzu’
8).

Tapi, berbeda dengan pemahaman umat Islam yang normal, justru di akhir wawancaranya, Prof.
Musdah pun menegaskan:

”Islam mengajarkan bahwa seorang lesbian sebagaimana manusia lainnya sangat berpotensi menjadi
orang yang salah atau taqwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan
Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia
tidak menyakiti pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, baik kepada sesama makhluk
dan peduli pada lingkungannya. Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.”

Camkanlah pendirian Ibu Professor AKKBB ini. ”Saya yakin ini!” katanya. Itulah pendiriannya. Demi
kebebasan, orang bisa berbuat apa saja, dan berpendapat apa saja. Ketika seorang sudah merasa pintar
dan berhak mengatur dirinya sendiri, akhirnya dia bisa juga berpikir: ”Tuhan pun bisa diatur”. Kita pun
tidak perlu merasa aneh dengan pendirian dan sikap aktivis AKKBB seperti Mudah Mulia. Jika yang bathil
dalam soal aqidah – seperti kelompok Ahmadiyah – saja didukung, apalagi soal lesbian. Meskipun sering
mengecam pihak lain yang memutlakkan pendapatnya, Ibu Profesor yang satu ini mengaku yakin dengan
pendapatnya, bahwa praktik perkawinan homo dan lesbi adalah halalan thayyiban.

Jika sudah begitu, apa yang bisa kita perbuat? Kita hanya bisa ’mengelus dada’, sembari mengingatkan,
agar Ibu Profesor memperbaiki berpikirnya. Profesor tidak jaminan benar. Banyak profesor yang
keblinger. Jika tidak paham syariat, baiknya mengakui kadar keilmuannya, dan tidak perlu memposisikan
dirinya sebagai ”mujtahid agung”. Pujian dan penghargaan dari Amerika tidak akan berarti sama sekali di
hadapan Allah SWT. Kasihan dirinya, kasihan suaminya, kasihan mahasiswa yang diajarnya, dan kasihan

juga institusi yang menaunginya. Tapi, terutama kasihan guru-guru yang mendidiknya sejak kecil, yang
berharap akan mewariskan ilmu yang bermanfaat, ilmu jariyah.

Mudah-mudahan, Ibu Profesor aktivis AKKBB ini tidak ketularan watak kaum Luth, yang ketika
diingatkan, justru membangkang, dan malah balik mengancam. “Mengapa kalian mendatangi kaum laki-
laki di antara manusia, dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu; bahkan
kalian adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab: ”Hai Luth, sesungguhnya jika
kamu tidak berhenti, maka pasti kamu akan termasuk orang-orang yang diusir.” (QS asy-Syu’ara: 165-
167). [Depok, 6 Juni 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

”Islam Menjawab Ahmadiyah”
Oleh: Adian Husaini

Harian Republika (23 Mei 2008) menurunkan artikel berjudul ”Ahmadiyah Menjawab”, karya MB
Shamsir Ali SH SHD, Plt. Sekretaris Media dan Informasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Isinya berupa
penegasan bahwa Ahmadiyah adalah satu Jamaah Islam. Sejak keluarnya artikel tersebut, saya
menerima sejumlah SMS yang meminta agar artikel tersebut dijawab.

Syukurlah, pada 26 Mei 2008, Republika menurunkan artikel Dr. Syamsuddin Arif yang berjudul ”Solusi
Masalah Ahmadiyah”. Artikel ini dengan sangat gamblang menjelaskan apa dan bagaimana Ahmadiyah
dan mengapa para cendekiawan dan ulama besar di dunia Islam sudah menegaskan bahwa Ahmadiyah
adalah aliran di luar Islam. Catatan berikut ini akan lebih memperjelas bagaimana sebenarnya posisi
Ahmadiyah dan Islam, khsusunya dari sisi pandang Ahmadiyah sendiri.

Dalam berbagai artikel dan dialog di media massa Indonesia, para tokoh Ahmadiyah dan pendukungnya
– yang biasanya mengaku bukan pengikut Ahmadiyah – sering mengangkat ”logika persamaan”. Bahwa,
Ahmadiyah adalah bagian dari Islam, karena banyak persamaannya. Al-Quran-nya sama, syahadatnya

sama, shalatnya sama, dan hal-hal yang sama lainnya. Maka, kata mereka, demi keharmonisan hidup
dan kerukunan masyarakat, mengapa Ahmadiyah tidak diakui saja sebagai bagian dari Islam.

Benarkah logika semacam ini?

Penyair dan cendekiawan Muslim terkenal asal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal (1873-1938), pernah
menulis sebuah buku berjudul ”Islam and Ahmadism” (Tahun 1991 di-Indonesiakan oleh Makhnun
Husein dengan judul ”Islam dan Ahmadiyah”. Terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad bahwa dia adalah
nabi dan penerima wahyu, Iqbal mencatat: ”Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu
adalah orang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani mempercayai pendiri gerakan
Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia
Islam adalah kafir.”

Lebih jauh Iqbal menyatakan: ”Setiap kelompok masyarakat keagamaan yang secara historik timbul dari
Islam, yang mengakui kenabian baru sebagai landasannya dan menyatakan semua ummat Muslim yang
tidak mengakui kebenaran wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya dianggap oleh
setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. Hal itu memang sudah semestinya,
karena integritas ummat Islam dijamin oleh Gagasan Kenabian Terakhir (Khatamun Nabiyyin) itu
sendiri.”

Dalam menilai Ahmadiyah, Iqbal tidak terjebak kepada retorika logika persamaan. Iqbal mengacu pada
inti persoalan, bahwa Ahmadiyah berbeda dengan Islam, sehingga dengan tegas ia menulis judul
bukunya, Islam and Ahmadism. Titik pokok perbedaan utama antara Islam dan Ahmadiyah adalah pada
status kenabian Mirza Ghulam Ahmad; apakah dia nabi atau bukan? Itulah pokok persoalannya.

Umat Islam yakin, setelah nabi Muhammad saw, tidak ada lagi manusia yang diangkat oleh Allah sebagai
nabi dan mendapatkan wahyu. Tidak ada! Secara tegas, utusan Allah itu sendiri (Muhamamd saw) yang
menegaskan: ”Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing
mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku.” (HR Abu
Dawud).

Jadi, umat Islam yakin, siapa pun yang mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu setelah nabi
Muhammad saw – apakah Musailamah al-Kazzab, Lia Eden, atau Mirza Ghulam Ahmad – pasti bohong.
Itu pasti! Inilah keyakinan Islam. Karena itu, pada 7 September 1974, Majelis Nasional Pakistan

menetapkan dalam Konstitusi Pakistan, bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Nabi Terakhir
Muhammad secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok umat Islam.

Sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah sebenarnya juga dilakukan berbagai agama lain. Protestan harus
menjadi agama baru karena menolak otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, meskipun antara
kedua agama ini banyak sekali persamaannya. Tahun 2007, sebagian umat Hindu di Bali membentuk
agama baru bernama agama Hindu Bali, yang berbeda dengan Hindu lainnya. Agama Kristen dan Yahudi
mempunyai banyak persamaan. Bibel Yahudi juga dipakai oleh kaum Kristen sebagai kitab suci mereka
(Perjanjian Lama). Tapi, karena Yahudi menolak posisi Yesus sebagai juru selamat, maka keduanya
menjadi agama yang berbeda.

Logika persamaan harus diikuti dengan logika perbedaan, sebab ”sesuatu” menjadi ”dirinya” justru
karena adanya perbedaan dengan yang lain. Meskipun banyak persamaannya, manusia dan monyet
tetap dua spesies yang berbeda. Akal-lah yang menjadi pembeda utama antara manusia dengan
monyet. Setampan apa pun seekor monyet, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang manusia.

Jika umat Islam bersikap tegas dalam soal kenabian Mirza Ghulam Ahmad, pihak Ahmadiyah juga
bersikap senada. Siapa pun yang tidak beriman kepada kenabian Ghulam Ahmad, dicap sebagai sesat,
kafir, atau belum beriman. Itu bisa dilihat dalam berbagai literatur yang diterbitkan Ahmadiyah.

Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai – sebuah penerbit buku Ahmadiyah – menerjemahkan buku
berjudul Da’watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a.
Oleh pengikut Ahmadiyah, penulis buku ini diimani sebagai Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah
(1914-1965). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu, dan pada tahun 1961, terbit edisi Inggrisnya
dengan judul ”Invitation to Ahmadiyyat”.

Para pendukung Ahmadiyah – dari kalangan non-Ahmadiyah – baiknya membaca buku ini, sebelum
bicara kepada masyarakat tentang Ahmadiyah. Ditegaskan di sini: ”Kami dengan bersungguh-sungguh
mengatakan bahwa orang tidak dapat menjumpai Allah Ta’ala di luar Ahmadiyah.” (hal. 377).

Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih al-Mau’ud mewajibkan umat Islam untuk
mengimaninya. Kata Bashiruddin Mahmud Ahmad: ”Kami sungguh mengharapkan kepada Anda agar
tidak menangguh-nangguh waktu lagi untuk menyongsong dengan baik utusan Allah Ta’ala yang datang
guna menzahirkan kebenaran Rasulullah saw. Sebab, menyambut baik kehendak Allah Taala dan

beramal sesuai dengan rencana-Nya merupakan wahana untuk memperoleh banyak keberkatan.
Kebalikannya, menentang kehendak-Nya sekali-kali tidak akan mendatangkan keberkatan.” (hal. 372).

Menurut Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad – yang oleh kaum Ahmadiyah juga diberi gelar r.a.
(radhiyallahu ’anhu), setingkat para nabi — bukti-bukti kenabian Mirza Ghulam Ahmad lebih kuat
daripada dalil-dalil kenabian semua nabi selain Nabi Muhammad saw. Sehingga, kata dia: ”Apabila iman
bukan semata-mata karena mengikuti dengaran dari tuturan ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan
dan pengamatan, niscaya kita mengambil salah satu dari kedua hal yaitu mengingkari semua nabi atau
menerima pengakuan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.” (hal. 372).

Jadi, oleh kaum Ahmadiyah, umat Islam diultimatum: iman kepada Ghulam Ahmad atau ingkar kepada
semua nabi? Bandingkan logika kaum Ahmadiyah ini dengan ultimatum Presiden George W. Bush: ”You
are with us or with the terrorists”. Oleh Ahmadiyah, umat Islam dipojokkan pada posisi yang tidak ada
pilihan lain kecuali memilih beriman kepada para nabi dan menolak klaim kenabian Mirza Ghulam
Ahmad.

Masih belum puas! Umat Islam diultimatum lagi oleh pemimpin Ahmadiyah ini: ”Jadi, sesudah Masih
Mau’ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau akan berada di luar pengayoman Allah Taala.
Barangsiapa yang menjadi penghalang di jalan Masih Mau’ud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia
tidak menginginkan adanya Islam.” (hal. 374).

Jadi, begitulah pandangan dan sikap resmi Ahmadiyah terhadap Islam dan umat Islam. Dan itu tidak
aneh, sebab Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengaku pernah mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun
mubaarakun, la’natullahi ‘alalladzii kafara (Kamu – Mirza Ghulam Ahmad – adalah imam yang diberkahi
dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu versi dia: “Anta minniy
bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa ya’lamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan
seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua
makhluk/Tadzkirah, hal. 236).

Itulah Ahmadiyah, yang katanya bersemboyan: ”Love for all. Hatred for None”. Namanya juga slogan!
Zionis Israel pun juga mengusung slogan ”menebar perdamaian, memerangi terorisme”. Kaum
Ahmadiyah pun terus-menerus menteror kaum Muslim dengan penyebaran pahamnya.

Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83,
perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama’ah, dinyatakan:

“Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan
jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa
menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan
dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.”

Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam tentunya lebih cinta kepada kebenaran. Demi
cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, maka Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya,
“Aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata!”

Nabi Ibrahim a.s. dan semua Nabi adalah para pecinta perdamaian. Rasulullah saw juga pecinta damai.
Tetapi, dalam masalah aqidah, kebenaran lebih diutamakan. Nabi Ibrahim harus mengorbankan
kehidupannya yang harmonis dengan keluarga dan kaumnya, karena beliau menegakkan kalimah tauhid.
Beliau menentang praktik penyembahan berhala oleh kaumnya, meskipun beliau harus dihukum dan
diusir dari negerinya.

Dalam kasus Nabi palsu, misalnya, Nabi Muhammad saw dan juga sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq lebih
memilih mengambil sikap yang tegas, sebab ini sudah menyangkut soal aqidah, soal keimanan.
Jangankan dalam soal kenabian. Dalam masalah kenegaraan saja, orang yang membuat gerakan
separatis atau merusak dasar negara juga dikenai tuntutan hukum. Kaum separatis, meskipun
melakukan aksi damai, berkampanye secara damai untuk mendukung aksi separatisme, tetap tidak
dapat dibenarkan. Jadi, kalau orang berkampanye merusak Islam, seperti yang dilakukan oleh
Ahmadiyah dan para pendukungnya, tetap tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.

Masalah aqidah, masalah iman, inilah yang jarang dipahami, atau sengaja diketepikan dalam berbagai
diskusi tentang Ahmadiyah. Padahal, Ahmadiyah eksis adalah karena iman. Berbagai kelompok yang
mendukung Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya sudah sangat keterlaluan, karena mencoba untuk
menafikan masalah iman ini. Bahkan tindakan-tindakan mereka – apalagi yang mengatasnamakan Islam
dan menggunakan dalil-dalil Al-Quran — lebih merusak Islam ketimbang Ahmadiyah itu sendiri.

Umat Islam Indonesia memang sedang menghadapi ujian berat. Hal-hal yang jelas-jelas bathil malah
dipromosikan. Lihatlah TV-TV kita saat ini, begitu gencarnya menyiarkan aksi-aksi kaum homo dan lesbi,

seolah-olah mereka tidak takut pada azab Allah yang telah ditimpakan kepada kaum Luth. Bahkan, para
aktivis Liberal seperti Guntur Romli, pada salah satu tulisannya di Jurnal Perempuan, dengan sangat
beraninya memutarbalikkan penafsiran ayat-ayat Al-Quran, sehingga akhirnya menghalalkan
perkawinan sesama jenis.

Aktivis liberal yang satu ini juga sudah sangat keterlaluan dalam menghina Al-Quran. Dia menulis dalam
salah satu artikelnya (Koran Tempo, 4 Mei 2007), yang berjudul “Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya
dan Sejarah” bahwa:

“Al-Quran adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan
penyuntingnya”. Al-Quran tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu”
budaya dan sejarah.”

Kita juga tidak mudah memahami pemikiran dan kiprah tokoh liberal lain seperti Prof. Dr. Siti Musdah
Mulia, dosen UIN Jakarta, yang begitu beraninya membuat-buat hukum baru yang menghalalkan
perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim dan perkawinan manusia sesama jenis. Meskipun
sudah mendapat kritikan dari berbagai pihak, tetap saja dia tidak peduli. Bahkan, di Jurnal Perempuan
edisi khusus tentang Seksualitas Lesbian, dia memberikan wawancara yang sangat panjang. Judul
wawancara itu pun sangat provokatif: “Allah Hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia.”

Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, karena permainan media yang yang sangat canggih,
berbagai fitnah dapat menimpa umat Islam. Orang-orang yang jelas-jelas merusak Islam ditampilkan
sebagai pahlawan kemanusiaan. Sedangkan yang membela Islam tidak jarang justru dicitrakan sebagai
“penjahat” kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, disamping terus-menerus berusaha menjelaskan,
mana yang haq dan mana yang bathil, kita juga diwajibkan untuk berserah diri kepada Allah SWT. Kita
yakin, dan tidak pernah berputus asa, bahwa Allah adalah hakim Yang Maha Adil. [Depok, 25 Mei
2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Utang Barat terhadap Islam

sumber alislamu.com

Utang Barat terhadap Islam” (The West’s Debt to Islam). Itulah tajuk satu bab dari sebuah buku berjudul
What Islam Did for Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization (London: Watkins
Publishing, 2006), karya Tim Wallace-Murphy. Di tengah gencarnya berbagai serangan terhadap Islam
melalui berbagi media di Barat saat ini, buku seperti ini sangat patut dibaca. Selain banyak menyajikan
data sejarah hubungan Islam-Barat di masa lalu, buku ini memberikan arus lain dalam menilai Islam dari
kacamata Barat. Berbeda dengan manusia-manusia Barat yang fobia dan antipati terhadap Islam—
seperti sutradara film “Fitna”, Geert Wilders—penulis buku ini memberikan gambaran yang lumayan
indah tentang sejarah Islam. Bahkan, dia tidak segan-segan mengajak Barat untuk mengakui besarnya
utang mereka terhadap Islam. “Utang Barat terhadap Islam,” kata, Tim Wallace-Murphy, “adalah hal
yang tak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun. Katanya, “We in
the West owe a debt to the muslim world that can be never fully repaid.”

Pengakuan Wallace-Murphy sebagai bagian dari komunitas Barat semacam itu sangatlah penting, baik
bagi Barat maupun Islam. Di mana letak utang budi Barat terhadap Islam? Buku ini banyak memaparkan
data tentang bagaimana transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal
di Barat sebagai Zaman Pertengahan (The Middle Ages). Sejak beberapa bulan lalu, setiap hari, harian
Republika, juga memuat rubrik khusus tentang khazanah peradaban Islam di masa lalu, yang memberi
pengaruh besar terhadap para ilmuwan Barat.

Di zaman pertengahan itulah, tulis Wallace-Murphy, Andalusia yang dipimpin kaum muslimin menjadi
pusat kebudayan terbesar, bukan hanya di daratan Eropa tetapi juga di seluruh kawasan Laut Tengah.
Pada zaman itu, situasi kehidupan dunia Islam dan dunia Barat sangat kontras. Bagi mayoritas masyarat
di dunia kristen Eropa, zaman itu, kehidupan adalah singkat, brutar, dan barbar, dibandingkan dengan
kehidupan yang canggih, terpelajar, dan pemerintahan yang toleran di Spanyol-Islam.

Saat itu, Barat banyak sekali belajar pada dunia Islam. Para tokoh agama dan ilmuwan mereka
berlomba-lomba memepelajari dan menerjemahkan karya-karya kaum muslim dan Yahudi yang hidup
nyaman dalam perlindungan masyarakat muslim. Barat dapat menguasai ilmu pengetahuan modern
seperti sekarang ini, karena mereka berhasil mentransfer dan mengembangkan sains dari para ilmuwan
muslim.

Tenggelam oleh Kebencian

Faktanya, pandangan yang positif terhadap Islam—seperti yang disuarakan oleh Tim Wallace-Murphy—
tenggelam oleh permainan opini dan politik kalangan Barat yang memiliki pandangan yang salah atau

yang menyimpan dendam terhadap Islam. Dalam bukunya, Muhammad, a Biography of the Prophet
(1996), Karen Amstrong menggambarkan keresahannya, bahwa di Eropa pada tahun-tahun belakangan
ini, kebencian lama terhadap Islam mulai terus dibangkitkan. “Orang-orang Eropa mudah menyerang
Islam, walaupun mereka hanya tahu tentang Islam,” tulis Amstrong, mantan biarawati yang banyak
menulis buku tentang Islam, Yahudi, dan Kristen.

Tiga Skenario

Wacana untuk membangkitkan kewaspadaan khusus orang-orang Barat terhadap Islam tampak jelas
dalam bukunya The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror (2004). Sebagai bagian dari skenario
kelompok neo-konservatif , yang antara lain terdiri atas kelompok Kristen fundamentalis dan kelompok
Yahudi sayap kanan. Upaya membangkitkan kebencian lama Barat terhadap Islam bisa memiliki
sejumlah tujuan.

1. Sebagai bagian dari upaya Eropa (juga masyarakat Barat) kembali sebagai satu kekuatan Kristen
sebagaimana terjadi dalam Perang Salib yang dimulai tahun 1095.

2. Upaya mengalihkan dukungan masyarakat Eropa terhadap perjuangan Palestina.

3. Kepentingan dukungan politik dalam negeri negara tertentu.

Hingga kini, di kalangan Kristen fundamentalis, istilah “Crusade” masih sering digunakan. Peristiwa
Perang Salib menunjukkan bahwa Eropa belum pernah bersatu, kecuali saat menghadapi Islam. Pada
tahun 1095 Paus Urbanus II berhasil menggalang kekuatan Kristen, melupakan perbedaan antara
mereka, dan bersatu padu melawan kekuatan Islam. Dalam pidatonya, Paus menyatakan bahwa bangsa
Turki (muslim) adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, Paus menyerukan: “Membunuh
monster tak ber-Tuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci; adalah suatu kewajiban Kristiani untuk
memusnahkan bangsa jahat itu dari wilayah kita.” (Killing these godless monster was a holy act: it was a
Christian duty to exterminate this vile race from our lands). Karen Amstrong menggambarkan pengaruh
Perang Salib terhadap masyarat Barat dalam bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on to
Today’s Wordl, (London: McMilan London Limite, 1991).

Skenario pengalihan dukungan masyarakat Barat terhadap Palestina juga sangat masuk akal, mengingat
semakin menguatnya simpati dunia terhadap Palestina. Citra Israel dalam perang di Lebanon sangat
babak belur. Israel dan Amerika gagal menempatkan Hizbullah dan Hamas sebagai musuh dunia,
khususnya dunia Islam. Dengan membangkitkan sentimen lama tentang Islam di kalangan masyarakat
Eropa, maka upaya pembentukan negara Palestina meredeka bisa digagalkan, setidaknya terus diundur.

Jatuhnya Konstantinapel merupakan pukulan berat bagi Eropa waktu itu. Meskipun Gereja Timur sudah
mengalami konflik dengan Gereja Barat, tetapi untuk menghadapi Islam, Paus Nicholas V di Roma,
mengirimkan tiga kapal perang untuk membantu melawan pasukan Sultan Muhammad al-Fatih. Hanya
saja, di kalangan pemuka agama Romawi Timur sendiri muncul perpecahan. Mereka ada yang lebih suka
bergabung dengan Turki Utsmani ketimbang bersatu dengan Paus. “I would prefer seeing the Trukish
turban in Byzantium rather than the Crdinal’s hat,” kata Granduke Notaras, seorang tokoh Kristen
Byzantine.

Karena begitu mudahnya sentimen anti-Islam dibangkitkan–terutama melalui media massa di Barat yang
banyak dikuasai kelompok tertentu–maka para politisi di Barat juga tidak jarang menggunakan isu
‘sentimen anti-Islam’ untuk meraih dukungan politik. Bukan hal itu yang sulit dibaca, bahwa dukungan
rakyat AS terhadap George W. Bush sangatlah kecil. Tetapi, setelah peristiwa 11 september itu,
dukungan terhadap Bush melonjak tajam.

Bukti Kebenaran Al-Qur’an!

Munculnya kasus film “Fitna” garapan Geert Wilders semakin membuka mata kita akan latennya
kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan dari kalangan Yahudi-Nasrani terhadap Islam. Film ini
muncul tidak lama sesudah hebohnya pemuatan sejumlah kartun yang melecehkan Nabi Muhammad
saw. Kaum muslim juga masih mengingat dengan baik ucapan Paus Benediktus XVI yang juga
melecehkan Nabi Muhammad saw. Bagi kaum musimin, peristiwa ini tentu saja sangat menyakitkan.
Kaum muslim tidaklah sama dengan kaum Kristen Leberal di Barat yang dengan mudahnya membiarkan
saja pelecehan-pelecehan terhadap Tuhan mereka. Atas nama kebebasan (liberalisme), mereka
membiarkan saja Jesus dilecehkan, melalui berbagai film.

The Times, edisi 28 Juli 1967, pernah mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi
tokoh-tokoh Gereja di Oxford tahun 1967, yang mempersolkan mengapa Jesus tidak menikah. Ada tiga
kemungkinan untuk itu. Mungkin Jesus tidak mampu menikah, mungkin tidak ada perempuan, atau
mungkin dia seorang homoseksual.

Semua ‘kekurangajaran’ kepada Jesus itu biasa berlaku bagi mereka. Tetapi, Islam tidak sama dengan
mereka. Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang paling banyak disebut namanya di dunia ini.
Selama 24 jama penuh, umat Islam di seluruh dunia tidak pernah berhenti menyebut namanya.
Sepanjang zaman, kaum muslimin siap-siap mengorbankan nyawanya demi kehormatan Nabi yang
mulia. Ibnu Taimiyah rhm. menulis satu kitab khusus tentang pelecehan terhadap Nabi, yaitu Ash-
Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. (Pedang Yang Terhunus untuk Penghujat Sang Rasul).

Peristiwa pelecehan Nabi Muhamamd saw. dan kepada Islam yang datang bertubi-tubi memang begitu
menyakitkan hati kita sebagai kaum muslim. Tetapi, di samping itu, kita mengambil hikmah dari kasus
ini. Kasus ini membuktikan bahwa Barat tidak tahu berterima kasih terhadap Islam. Kasus ini sekaligus
juga membuktikan kebenara Al-Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang
yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.
Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa
yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh Telah kami terangkan kepadamu
ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118).

Oleh: Adian Husaini, M.A. (Disampaikan pada acara Semalam Bersama Dewan Dakwah Islamiyah Bekasi,
di masjid Nurul Islam Islamic Center Bekasi, Sabtu (12/04).

“Sekali Lagi, Tentang Perkakwinan Antar Agama”
sumber http://www.swaramuslim.com
Oleh : Adian Husaini.
Beberapa hari lalu, saya mendapat hadiah buku kecil yang menarik dari seorang tokoh Islam di Bekasi.
Judulnya, ”Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda”. Penulisnya seorang guru besar Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Daud Ali (alm.). Buku setebal 32 halaman ini ditulis
tahun 1992.

Setelah menguraikan pandangannya berdasarkan hukum Islam dan sejumlah peraturan hukum di
Indonesia, Prof. Daud Ali menarik beberapa kesimpulan, diantaranya:

(1) Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama dengan berbagai cara pengungkapannya,
sesungguhnya tidaklah sah menurut agama yang diakui keberadaannya dalam Negara Republik
Indonesia.

Dan, karena sahnya perkawinan didasarkan pada hukum agama, maka perkawinan yang tidak sah
menurut hukum agama, tidak sah pula menurut Undang-undang Perkawinan Indonesia.

(2) Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama adalah penyimpangan dari pola umum
perkawinan yang benar menurut hukum agama dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di tanah
air kita. Untuk penyimpangan ini, kendatipun merupakan kenyataan dalam masyarakat, tidak perlu
dibuat peraturan tersendiri, tidak perlu dilindungi oleh negara. Memberi perlindungan hukum pada
warga negara yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila sebagai cita hukum
bangsa dan kaidah fundamental negara serta hukum agama yang berlaku di Indonesia, pada pendapat
saya selain tidak konstitusional, juga tidak legal.

Demikianlah kesimpulan Prof. Daud Ali tentang perkawinan antar agama di Indonesia. Penegasan guru
besar UI itu perlu kita renungkan, mengingat saat ini sejumlah guru besar liberal yang mengajar di
sejumlah kampus Islam, seperti Prof. Musdah Mulia dan Prof. Zainun Kamal, justru aktif membongkar
dasar-dasar hukum Islam dalam soal perkawinan, dan menciptakan hukum baru. Buku Fiqih Lintas
Agama yang ditulis oleh sejumlah profesor di UIN Jakarta dan aktivis liberal juga terus-menerus
disebarkan di tengah masyarakat Indonesia. Seperti kita tulis dalam CAP-234 lalu, buku Fiqih Lintas
Agama ini bukan hanya membolehkan perkawinan antar agama, tetapi melangkah lebih jauh lagi dengan
menganjurkan masyarakat Indonesia agar melakukan perkawinan antaragama.

Kata buku terbitan Paramadina dan (edisi Inggrisnya oleh) International Center for Islam and Pluralism
(ICIP) ini:

“Di tengah rentannya hubungan antar agama saat ini, pernikahan beda agama justru dapat dijadikan
wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman antara masing-masing pemeluk agama. Bermula
dari ikatan tali kasih dan tali sayang, kita rajut kerukunan dan kedamaian.”

Sebagai umat beragama, kita tentu sulit memahami logika macam apakah yang bercokol di otak para
guru besar bidang agama ini, sampai tega-teganya menganjurkan umat Islam melakukan perkawinan
antar-agama, demi membangun kerukunan umat beragama. Lagi pula apakah mereka juga melakukan
hal itu pada keluarga mereka sendiri; pada anak-anak mereka sendiri?

Lihatlah, apakah nama-nama yang tercantum sebagai penulis Buku Fiqih Lintas Agama dan penyebar
buku ini — seperti Zainun Kamal, Nurcholish Madjid, Kautsar Azhary Noer, Syafii Anwar, dan sebagainya
— juga bersedia menikahkan anak-anaknya sendiri dengan orang yang beragama lain?

Kita patut bertanya-tanya, mengapa sebagian mereka aktif menikahkan orang lain dengan pasangan
beda agama, tetapi justru mereka sendiri tidak menerapkannya. Ketika putrinya, Nadia Madjid, akan
menikah dengan seorang Yahudi Amerika, Nurcholish Madjid mengirimkan surat keberatannya. Diantara
isinya ialah mensyaratkan calon mantunya itu harus masuk Islam. ”Kalau memang jadi, dia mutlak harus
masuk agama kita,” tulis Nurcholish Madjid dalam surat bertanggal 13 Agustus 2001.

Bahkan, lebih jauh lagi, Nurcholish memberi syarat yang lebih berat untuk calon mantunya waktu itu:
”Dan yang lebih penting, bahwa pengislaman itu tercatat, dengan surat keterangan/tanda bukti yang
mencantumkan nama-nama para saksi resmi (biasanya dua orang, lebih banyak lebih baik) dan tanda
tangan mereka. Karena itu, acara pengislaman tersebut harus dilaksanakan di sebuah lembaga yang
diakui, seperti Islamic Center setempat, dan dibimbing oleh yang berwenang di situ.”

Kita tahu, apa yang kemudian terjadi pada kasus perkawinan antara Nadia Madjid dengan David,
seorang Yahudi Amerika. Kita tidak pernah tahu, bagaimana sebenarnya sikap Nurcholish Madjid
terhadap buku Fiqih Lintas Agama ini. Yang jelas buku ini diterbitkan sebelum dia meninggal dunia.
Namanya tercantum sebagai salah satu Tim Penulis di buku ini. Yang kita tahu kemudian, tahun 2006,
ICIP yang dipimpin Dr. Syafii Anwar – sahabat dekat dan pengikut setia Nurcholish Madjid – malah
menerbitkan edisi bahasa Inggris dari buku yang jelas-jelas merusak aqidah dan syariat Islam ini. Dalam
edisi bahasa Inggris yang diberi judul ”Interfaith Theology” ini, nama Nurcholish Madjid tetap
dicantumkan dalam jajaran penulis, setelah nama Zainun Kamal, seorang guru besar UIN Jakarta yang
juga berprofesi sebagai ’penghulu swasta’ dalam perkawinan antar-agama.

Kita perlu benar-benar memperhatikan pemikiran dan perilaku para penganjur perkawinan antar-agama
dari kalangan dosen-dosen UIN dan aktivis liberal ini. Sebab, sadar atau tidak, melalui pemikiran dan
tindakan tersebut, mereka sebenarnya sudah melakukan sebuah tindakan yang merobohkan bangunan
masyarakat Islam dari dasarnya, yaitu merusak institusi keluarga Muslim. Padahal, dari keluarga inilah

diharapkan akan lahir generasi masa depan yang tangguh, yang tentu saja harus didasari dengan
keimanan yang kokoh. Jika di tengah keluarga ini kedua orang tuanya berbeda keimanan, bagaimana
mungkin akan terbangun generasi anak yang shalih menurut Islam?

Karena itulah, perkawinan antar-agama bukan hanya menjadi masalah bagi Islam, tetapi juga bagi
agama-agama lain. Dalam bukunya, Prof. Daud Ali mengutip ketentuan perkawinan antar-agama pada
sejumlah agama di Indonesia. Agama Katolik dengan tegas menyatakan bahwa ”Perkawinan antara
seorang Katolik dengan penganut agama lain tidak sah” (Kanon 1086). Namun demikian, bagi mereka
yang sudah tidak mungkin dipisahkan lagi karena cintanya sudah terlanjur mendalam, pejabat gereja
yang berwenang, yakni uskup, dapat memberi dispensasi (pengacualian dari aturan umum untuk suatu
keadaan yang khusus) dengan jalan mengawinkan pemeluk agama Katolik dengan pemeluk agama lain
itu, asal saja kedua-duanya memenuhi syarat yang ditentukan dalam kanon 1125 yakni:

1. yang beragama Katolik berjanji (a) akan tetap setia pada iman Katolik, dan (b) bersedia
mempermandikan dan mendidik semua anak-anak mereka secara Katolik.

2. Sedangkan yang tidak beragama Katolik berjanji antara lain (a) menerima perkawinan secara Katolik
(b) tidak akan menceraikan pihak yang beragama Katolik, (c) tidak akan menghalangi pihak yang Katolik
melaksanakannya imannya dan (d) bersedia mendidik anak-anaknya secara Katolik.

Karena akan menimbulkan berbagai konflik dalam keluarga, maka menurut agama Katolik, perkawinan
antara orang-orang yang berbeda agama hendaklah dihindari. Demikian kutipan dari buku Prof. Daud
Ali.

Dr. Al. Purwohadiwardoyo MSF, dalam bukunya yang berjudul ”Perkawinan Menurut Islam dan Katolik,
Implikasinya dalam Kawin Campur”, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), menulis sebagai berikut:

“Menurut hukum gereja katolik, perkawinan mereka (kawin campur.pen) itu bukanlah sebuah
sakramen, sebab salah satu tidak beriman kristen. Hukum gereja katolik memang dapat mengakui
sahnya perkawinan mereka, asal diteguhkan secara sah, namun tidak mengakui perkawinan mereka
sebagai sebuah sakramen (sebuah perayaan iman gereja yang membuahkan rahmat berlimpah. Pen).
(hal. 18-19).

Lebih jauh dikatakan dalam buku ini:

“Kesulitan lain muncul dalam hal memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Pihak Katolik
mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak dalam semangat katolik, bahkan ia harus berusaha
sekuat tenaga untuk membaptis mereka secara katolik. Padahal kewajiban yang sama juga ada pada
pihak yang beragama Islam.”(hal. 77).

Karena memandang penting dan strategisnya soal perkawinan ini, maka pada awal tahun 1970-an, umat
Islam Indonesia telah mengerahkan segala daya upaya untuk menggagalkan RUU Perkawinan sekular
yang diajukan pemerintah ke DPR ketika itu. Prof. HM Rasjidi, menteri agama pertama RI, dalam
artikelnya di Harian Abadi edisi 20 Agustus 1973, menyorot secara tajam RUU Perkawinan yang dalam
pasal 10 ayat (2) disebutkan:

”Perbedaan karena kebangsaan, suku, bangsa, negara asal, tempat asal, agama, kepercayaan dan
keturunan, tidak merupakan penghalang perkawinan.”

Pasal dalam RUU tersebut jelas ingin mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang
menyatakan:

”Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama,
mempunyai hak untuk kawin dan membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan
hubungan dengan perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian.”

Dalam tulisannya tentang Perbandingan Hak-hak Asasi Manusia Deklarasi PBB dengan Islam, khusus
tentang pasal 16 tersebut, Hamka menulis kesimpulan yang sangat tajam:

”Oleh sebab itu dianggap kafir, fasiq, dan zalim, orang-orang Islam yang meninggalkan hukum syariat
Islam yang jelas nyata itu, lalu pindah bergantung kepada ”Hak-hak Asasi Manusia” yang disahkan di
Muktamar San Francisco, oleh sebagian anggota yang membuat ”Hak-hak Asasi” sendiri karena jaminan
itu tidak ada dalam agama yang mereka peluk.” (Hamka, Studi Islam, (1985:233).

Jika kaum sekular di awal 1970-an berusaha meluluskan sebuah RUU Perkawinan sekular yang
meninggalkan agama, maka kini sejumlah dosen UIN Jakarta, seperti Prof. Zainun Kamal dan Musdah
Mulia, justru berusaha membuat hukum syariat baru, bahwa perkawinan antar agama adalah halal.
Lebih jauh, Prof. Zainun Kamal bahkan sering bertindak sebagai penghulu swasta dalam perkawinan
antar-agama.

Dengan sokongan lembaga-lembaga donor Barat seperti The Asia Foundation, apa yang dikerjakan oleh
para ilmuwan agama dalam merusak hukum Islam ini adalah jauh lebih besar kadar kejahatan dan daya
rusaknya. Sebab, yang mereka lakukan adalah merusak konsep kebenaran itu sendiri. Mereka berusaha
menciptakan kebingungan dan ketidakpastian dalam hukum Islam.

Seperti kita ketahui, pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan tahun 1974 menyatakan: ”Perkawinan adalah sah,
apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.” Dalam
penjelasan pasal demi pasal menyatakan dengan tegas, bahwa: ”Dengan perumusan pada pasal 2 ayat
(1) ini, tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.”

Dengan legitimasinya sebagai guru besar bidang keagamaan di kampus berlabel Islam, maka para dosen
penganjur perkawinan antar-agama itu berusaha meruntuhkan bangunan hukum Islam dalam soal
perkawinan. Dengan posisinya itu, seolah-olah mereka memiliki otoritas di bidang hukum Islam,
sehingga pendapatnya juga dianggap mewakili Islam. Toh selama ini, pimpinan kampus dan pihak
pemerintah juga membiarkan saja perilaku para dosen tersebut. Sesuai dengan doktrin liberal, tidak ada
penafsiran yang tunggal dalam soal hukum Islam. Mereka menyebarkan paham, perbedaan pendapat
dalam soal apa saja adalah sah dan harus dihormati.

Tidak heran, setelah dikawinkan dengan Kalina (Muslimah) oleh Prof. Zainun Kamal, pesulap nyentrik
Deddy Corbuzier (Katolik) merasa perkawinannya telah sah menurut agama. Ia berujar, ”Yang penting,
kami sah dulu secara agama.” (Tabloid C&R edisi 28 Februari-06 Maret 2005).

Memang, banyak cara merusak Islam. Tapi, kita tidak pernah risau dengan semua tindakan mereka
tersebut. Toh, Islam adalah milik Allah. Masing-masing tindakan sudah disediakan balasan yang
setimpal. Tindakan merusak Islam pasti akan berdampak kepada pelakunya sendiri. Jika tidak di dunia,
pasti di akhirat. Wallahu A’lam. [Depok, 10 Jumadilawwal 1429 H/16 Mei 2008/www.hidayatullah.com

Pluralisme Agama Model ICIP

sumber http://www.insistnet.com

Pada Kamis (8/5/2008), seseorang datang ke rumah saya membawa sejumlah buku dan majalah terbitan
International Center for Islam and Pluralism (ICIP). Majalah terbitan ICIP adalah AL-WASATHIYYAH. Pada
edisi No 11/2008, majalah ini masih membawa moto: “Meneguhkan Persaudaraan, Menghormati
Keragaman.” AL-WASATHIYYAH menyatakan dirinya sebagai ”media yang diterbitkan untuk pencerahan
dan peningkatan wawasan mengenai agama, budaya, dan sosial di kalangan pesantren.”

ICIP memang salah satu LSM yang sangat aktif menyebarkan paham Pluralisme Agama di pondok-
pondok pesantren. Selain paham Pluralisme Agama, sebagaimana LSM-LSM pengecer paham liberal di
Indonesia, ICIP juga aktif menyebarkan paham kesetaraan gender. Pada edisi No.02/2006, AL-
WASATHIYYAH membantah bahwa pihaknya menyebarkan paham Pluralisme Agama, seperti yang
diharamkan MUI. Katanya, yang disebarkan ICIP adalah “Pluralisme mu’amalah”, yakni pluralisme yang
mengakui keragaman agama, yang berhubungan dengan tata pergaulan kemasyarakatan.

Di majalah ini juga dikutip ucapan seorang Kyai di Jawa Barat yang diwawancara AL-WASATHIYYAH dan
menyatakan: ”Makanya, ICIP di sini ada Islam dan pluralisme, saya yakin pluralisme di sini adalah
pluralisme yang mu’amalah atau mengakui keragaman agama.” Bahkan, sang kyai menasehati Direktur
ICIP, Dr. Syafii Anwar, agar tidak menanggapi tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada ICIP. Dalam
artikelnya di majalah ini, Dr. Syafii Anwar menulis: ”Karenanya, saya berpendapat bahwa pluralisme
agama bukan sinkretisme agama yang punya tendensi ke arah relativisme yang mengarah pada
penyamaan dan pembenaran semua agama.” Juga dikatakannya, “Mereka yang concern dengan
pluralisme yang benar tidak pernah merelatifkan ajaran agama masing-masing. Mereka tentu
mempercayai kebenaran agamanya sendiri.”

Dari definisi Pluralisme Agama versi Syafii Anwar tersebut, tampak tidak ada masalah dengan urusan
aqidah. Tetapi, benarkah ICIP konsisten menganut paham pluralisme versi tersebut? Jika kita telaah
sejumlah artikel di AL-WASATHIYYAH dan buku-buku terbitan ICIP, tampak bahwa definisi Pluralisme
Agama versi Syafii Anwar tersebut merupakan klaim yang tidak berdasar. Bahkan, di dalam artikel itu
sendiri, sejumlah argumentasi yang disajikan juga tidak benar. Misalnya, disebutkan bahwa: ”Dalam Al-
Quran tidak ada satu ayat pun yang menyatakan akan menghapuskan kitab-kitab umat lain yang pernah
diwahyukan sebelumnya, tetapi hanya mengafirmasi validitasnya.”

Tentu saja, pernyataan itu sangat tidak berdasar. Begitu banyak ayat Al-Quran yang menyebutkan
bahwa kaum Yahudi sudah mengubah-ubah kitab mereka. (mis: QS 2:59, 75, 79, dsb.). Jadi, Al-Quran

bukan hanya mengafirmasi (menegaskan) keabsahan kitab-kitab terdahulu, tetapi Al-Quran juga
menjelaskan bahwa kitab-kitab sebelum Al-Quran sudah diubah-ubah oleh para pemuka agama mereka,
sehingga tidak jelas lagi mana yang asli dan mana yang tambahan.

Gagasan Pluralisme ala ICIP juga bisa dilihat dalam salah satu buku terbitannya yang berjudul ”Modul
Islam dan Multikulturalisme” (cetakan I, Maret 2008). Ditulis dalam buku ini: ”Sebagai sebuah gagasan,
multikulturalisme dan juga pluralisme bukan hanya toleransi moral ataupun kebersamaan yang pasif
semata, melainkan sebuah kesediaan untuk melindungi dan mengakui kesetaraan dan rasa
persaudaraan di antara sesama manusia, terlepas dari adanya perbedaan asal usul etnis, keyakinan,
kepercayaan dan agama yang dianut.”

Pluralisme ala ICIP seperti itu jelas tidak benar. Sebab, seorang Muslim tidak mungkin membangun
persaudaraan dengan manusia lain tanpa memandang faktor agama. Kerancuan pemikiran keagamaan
ICIP bisa dilihat juga dalam mendefinisikan sejumlah istilah kunci dalam Islam, seperti ”Islam”, ”kafir”,
dan ”musyrik”. Ditulis dalam buku ini, misalnya:

”Tradisi Yahudi, Nasrani, dan ahli kitab yang lain, seluruhnya memiliki kelompok kafir dan musyrik
tersendiri. Sering terjadi kesalahpahaman di antara kita bahwa kekafiran dan kemusyrikan hanya terjadi
pada umat Muhammad saja. Sebenarnya kekafiran dan kemusyrikan ada dalam seluruh tradisi Ibrahim
dan agama-agama yang merupakan derivasi dari tradisi tersebut. Hal ini perlu ditandaskan di sini agar
tidak terjadi penyempitan makna atas kedua istilah tersebut yang selama ini disempitkan untuk konteks
Islam saja. Dari gambaran di atas, maka kesimpulan yang bisa diambil di sini adalah Islam merupakan
sistem keyakinan yang terbuka.” (hal. 8).

Dalam sejumlah diskusi, pemahaman Islam seperti ICIP ini beberapa kali terungkap. Menurut mereka,
Yahudi dan Nasrani bukanlah kafir, tetapi pada masing-masing agama ada yang beriman dan ada yang
kafir. Jadi, di kalangan Muslim, ada yang beriman dan ada yang kafir. Begitu juga dalam Yahudi dan
Kristen, ada yang beriman dan ada yang kafir. Logika seperti ini tentu menggelikan, sebab begitu banyak
ayat-ayat Al-Quran yang secara tegas menyebut, bahwa kaum Ahlul Kitab adalah termasuk kategori
kafir. (QS 98).

Sebagaimana berbagai kelompok liberal lainnya, ICIP juga menyebarkan gagasan untuk membongkar
ajaran-ajaran Islam, termasuk hal-hal yang sudah qath’iy. Ditulis dalam buku ini: ”Terkesan dari sini
bahwa semua ajaran Islam pada dasarnya adalah bisa dijtihadkan kembali tak terkecuali ajaran-ajaran
yang bersifat qath’iy tersebut di atas.” (hal. 24).

Pandangan dan sikap ICIP terhadap Pluralisme Agama bisa dilihat jelas pada buku yang diterbitkannya,
yaitu ”Interfaith Theology: Responses of Progressive Indonesian Muslims” (Diterbitkan atas dukungan
dari The Asia Foundation, 2006). Tim penulis buku ini adalah: Zainun Kamal, Nurcholish Madjid, Masdar
F. Mas’udi, Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar Rachman, Kautsar Azhary Noer, Zuhairy Misrawi, dan
Ahmad Gaus AF. Buku ini merupakan edisi Bahasa Inggris dari buku Fiqih Lintas Agama, (Jakarta:
Paramadina, 2004).

Melihat isinya, buku Fiqih Lintas Agama adalah buku yang secara mendasar membongkar konsep Islam
di bidang aqidah dan syariah, khususnya yang berkaitan dengan hubungan Islam dengan pemeluk agama
lain. Membaca buku ini, kita menemukan banyak kesalahan, kerancuan epistemologis, dan logika-logika
yang rancu. Bisa jadi, itu tidak disengaja (karena ketidaktahuan) atau mungkin karena memang disengaja
untuk menutupi jalan kebenaran. Misalnya, ditulis: “Segi persamaan yang sangat asasi antara semua
kitab suci adalah ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.” (hal. 55).

Kita bertanya, benarkah semua kitab suci mengandung ajaran seperti itu? Berapa kitab suci yang sudah
diteliti? Lebih kacau lagi, pernyataan berikut ini: “Sekalipun kaum Ahli Kitab – kecuali yang berbahasa
Arab – tidak menggunakan perkataan “Allah: untuk objek sesembahan mereka, Al-Quran menyebutkan
bahwa konsep Ketuhanan dalam kitab suci mereka sama dengan yang ada dalam Al-Quran. Hal itu
menunjukkan bahwa dalam pengertian yang benar tentang Tuhan, masalah nama bukanlah hal yang
asasi; yang asasi ialah pengertiannya.” (Edisi Bahasa Indonesia, hal. 56).

Tentu saja pernyataan dalam buku tersebut ”asbun”, alias tidak berdasar sama sekali. Konsep ketuhanan
dalam Al-Quran jelas berbeda dengan konsep ketuhanan dalam Bibel Yahudi atau Kristen. Juga berbeda
dengan konsep ketuhanan dalam kitab agama-agama lain. Al-Quran banyak mengritik konsep ketuhanan
kaum Kristen (Lihat, misalnya, QS 5:72-75, 19:88-91). Di sinilah, kita melihat kacaunya logika ICIP yang
terlalu memaksakan diri untuk “menyama-nyamakan” konsep ketuhanan agama-agama, yang jelas-jelas
berbeda.

Buku ini juga menulis: “Bagi orang-orang Muslim pluralis sejati, (yang percaya bahwa semua agama,
meskipun dengan jalan masing-masing yang berbeda, menuju satu tujuan yang sama, Yang Absolut,
Yang Terakhir, Yang Riil), meminta doa kepada orang-orang non-Muslim adalah mungkin dan, karena itu,
tidak terlarang.” (Ibid, hal. 103).

Jadi, tampaknya, itulah definisi Pluralis sejati, seperti disebarkan ICIP. Yakni, semua agama, agama apa
pun – tentunya dengan konsep Tuhannya yang sangat beragam dan tata cara ibadah yang beragam pula
– adalah menuju Tuhan yang sama. Inilah sebuah konsep Pluralisme yang disebut sebagai “Kesatuan
Transenden Agama-agama”. Dalam konsep ini tidak ada agama yang dianggap sesat atau salah. Mau
shalat cara Islam, atau sembahyang gaya Lia Eden atau agama Gatholoco, semuanya dipandang sama-
sama akan menuju kepada Tuhan yang sama.

Karena itulah, kaum Pluralis ini tidak mempersoalkan nama Tuhan (Ibid, hal. 56). Padahal, nama Tuhan,
bagi kaum Muslim adalah berdasarkan wahyu, bukan berdasar konsensus, tradisi budaya, atau spekulasi
akal. Hingga kini, umat Islam tidak berselisih paham soal nama Tuhan. Di mana pun juga dan kapan pun
juga, umat Islam mengucapkan nama Tuhan mereka, dengan lafaz yang sama.

Walhasil, jika kita telaah buku-buku terbitan ICIP, kita akan melihat konsep keimanan, keislaman, dan
juga konsep ketuhanan yang amburadul. Dalam hal ini, jelas konsep Pluralisme yang disebarkan oleh
ICIP tidak berbeda dengan para pengecer ide liberal lainnya di Indonesia. Jadi, jelas tidak benar, jika
konsep Pluralisme ICIP adalah sekedar ”Pluralisme mu’amalah”. Bacalan buku-buku penerbitan ICIP,
akan tampak bagaimana konsep lembaga ini tentang Pluralisme.

Melalui buku Fiqih Lintas Agama (Interfaith Theology) ini pula, kita bisa melihat semangat ICIP untuk
membongkar bangunan konsep ushul fiqih yang dibangun oleh Imam Syafii. Seperti beberapa kali kita
kutip dalam CAP, buku ini menulis:

“Kaum Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat imam
Syafi’i. Kita lupa, Imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah
pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad.” (Ibid, hal. 5).

Tentu saja, Imam Syafii dan kaum Muslim pada umumnya, tidak ingin membongkar ajaran Islam, seperti
yang dilakukan ICIP dan kaum liberal lainnya. Kelompok-kelompok ini sama sekali tidak memiliki
bangunan epistemologi keilmuan yang kokoh dalam bidang fiqih, tetapi dengan angkuhnya sudah
melecehkan ulama besar seperti Imam Syafii. Jika konsep dasar Ilmu Fiqih dibongkar, maka langkah
berikutnya adalah membongkar hukum-hukum Islam dalam masalah hubungan antar-agama. Misalnya,
hukum tentang perkawinan wanita Muslimah dengan lelaki non-Muslim. Ditulis dalam buku ini:

“Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila
dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau
pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran
kepercayaannya.” (Ibid, hal. 164).

Lebih jauh, soal nikah beda agama dikatakan dalam buku ini: ”Dan pernikahan beda agama dapat
dijadikan salah satu ruang, yang mana antara penganut agama dapat saling berkenalan secara lebih
dekat. Kedua, bahwa tujuan dari diberlangsungkannya pernikahan adalah untuk membangun tali kasih
(al-mawaddah) dan tali sayang (al-rahmah). Di tengah rentannya hubungan antar agama saat ini,
pernikahan beda agama justru dapat dijadikan wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman
antara masing-masing pemeluk agama. Bermula dari ikatan tali kasih dan tali sayang, kita rajut
kerukunan dan kedamaian.” (Ibid, hal. 164).

Setiap muslim yang masih memegang nilai-nilai tauhid, tentu dengan mudah menolak ide-ide jahat dari
buku Fiqih Lintas Agama yang kemudian diterbitkan oleh ICIP dalam versi bahasa Inggrisnya dengan
judul menawan: ”Interfaith Theology”. Kita bertanya, inikah yang dimaksud sebagai ”pluralisme
mu’amalah” oleh ICIP? Selama ini, sudah banyak yang mengingatkan, bahwa buku Fiqih Lintas Agama
adalah buku yang sangat merusak Islam. Tetapi, mereka bukannya mau mendengar semua nasehat dan
kritik. Justru kemudian, ICIP menyebarluaskan buku ini dalam edisi bahasa Inggrisnya.

Penerbitan buku Fiqih Lintas Agama edisi bahasa Inggris – kabarnya juga sedang dipersiapkan edisi
bahasa Arabnya – oleh ICIP, perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius bagi umat Islam.
Mengapa? Sebab, ICIP adalah lembaga yang aktif memasukkan ajaran-ajaran Pluralisme Agama ke
pondok-pondok pesantren. Dengan sokongan dana puluhan milyar rupiah dari lembaga-lembaga asing
seperti Ford Foundation, The Asia Foundation, dan sebagainya, ICIP sering membuat acara-acara dan
program ”pembinaan” Pondok Pesantren.

Selama ini, ICIP aktif berkampanye di pesantren-pesantren, bahwa paham Pluralisme Agama yang
mereka sebarkan adalah berbeda dengan yang diharamkan oleh MUI. Bahkan, kata mereka, MUI telah
keliru mendefinisikan Pluralisme. Menurut klaim majalah AL-WASATHIYYAH, sebagian besar pengasuh
pesantren yang menjadi peserta pelatihan-pelatihan ICIP justru mendukung program ICIP dan tidak
mempersoalkan paham Pluralisme Agama gaya ICIP.

Jika menengok jajaran Board of Directors ICIP, memang terpampang nama-nama yang sudah dikenal
sebagai penyebar paham liberal dan Pluralisme Agama, seperti Moeslim Abdurrahman, PhD (Director

Syafii Maarif Institute), Prof. Dr. Musdah Mulia (Prof. of Islamic Studies, Post-Graduate of Syarif
Hidayatullah State Islamic University), dan Ulil Abshar Abdalla.

Fenomena ICIP dan pondok pesantren ini menunjukkan bahwa setelah 3 tahun Fatwa MUI tentang
Pluralisme Agama dikeluarkan (2005), ternyata penyebaran paham Pluralisme Agama masih terus
dilakukan dengan gencar di kalangan umat Islam. Bahkan, paham ini secara sistematis terus disebarkan
ke jantung-jantung pertahanan umat Islam, seperti Pondok Pesantren.

Sebagai penutup catatan ini, marilah kita renungkan firman Allah yang maknanya:

”Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia
dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS 6:112). (Depok, 2
Jumadilawwal 1429 H/8 Mei 2008/www.hidayatullah.com]

“Catatan dari 11 Kota”
sumber http://www.hidayatullah.com
Catatan perjalanan 11 hari Dr. Syamsuddin Arif di seluruh Jawa menunjukkan, paham liberal menjadi
masalah terbesar yang dihadapi umat Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-233
Oleh: Adian Husaini
Mulai hari Sabtu, 19 April 2008 lalu, saya menemani Dr. Syamsuddin Arif untuk sebuah perjalanan
panjang mengunjungi sejumlah kota di Pulau Jawa. Program utama kami ialah rangkaian acara bedah
buku Dr. Syamsuddin Arif yang berjudul ”Orientalis dan Diabolisme Pemikiran”. Acara dimulai dari
Gedung Gema Insani Press di Depok. Hadir juga sebagai pembicara di sini Adnin Armas MA, direktur
eksekutif INSISTS.

Esoknya, Ahad, 20 April, acara bedah buku digelar di Masjid Salman ITB. Berturut-turut, selama 9 hari
berikutnya, acara bedah buku dan diskusi seputar tantangan pemikiran Islam diadakan di Masjid Agung
Cirebon, Al-Irsyad Tegal, Al-Irsyad Pekalongan, Universitas Diponegoro Semarang, Masjid Kampus UGM

Yogya, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Institut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo, Masjid
Kampus Universitas Brawijaya Malang, FISIP Universitas Airlangga, dan Masjid Kampus ITS Surabaya.

Banyak yang menarik dan tak terduga dalam perjalanan di 11 kota ini. Di Cirebon, misalnya, kami diberi
kabar, bahwa kaum Muslim di sana sedang menghadapi serbuan secara masif ide-ide liberal dari
sejumlah agen penyebar liberalisme. Dengan dukungan dana yang sangat besar dari negara dan LSM-
LSM Barat, para pengecer ide liberal di kota ini terus-menerus menjejali umat Islam dengan gagasan-
gagasan yang merusak aqidah dan syariah Islam. Berbagai media, seperti radio, buku, bulletin Jumat,
dan sebagainya, digunakan sebagai sarana. Alhamdulillah, di kota ini ada sebagian kalangan umat Islam
yang aktif menghadang penyebaran paham liberal.

Di kota Tegal, kami diminta menjelaskan tentang paham sekularisme, Pluralisme, dan Pluralisme Agama.
Sekitar 300 orang memenuhi aula SMP al-Irsyad Tegal. Di Pekalongan, sekitar 400 kaum Muslim juga
hadir dalam acara dengan tema yang sama. Sejalan dengan pesatnya perkembangan media informasi,
isu liberalisasi Islam memang bukan lagi merupakan konsumen masyarakat Jakarta dan kota besar
lainnya. Kaum Muslimin di pelosok-pelosok pun kini harus bersentuhan langsung dengan ide-ide liberal
yang dijajakan melalui berbagai kemasan.

Kita sudah paham, bahwa liberalisasi agama adalah masalah terbesar yang dihadapi umat beragama di
era modern ini. Bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat-umat agama lain mendapatkan pekerjaan
rumah yang sama. Apalagi, proyek penghancuran Islam ini telah menjadi program politik global yang
mendapat prioritas dalam pengucuran anggaran sejumlah negara Barat. Tak heran, jika berbagai
lembaga Islam menjadi target serangan paham ini. Banyak agen-agen liberalisasi Islam yang terus
menjajakan dan menjejalkan idenya kepada umat Islam, dengan berbagai motif yang melatarinya.

Dalam sejumlah forum, beberapa kali muncul pertanyaan bernada pesimis: apakah kita mampu
menghadapi penyebaran paham yang didukung oleh kekuatan global yang sedang berkuasa saat ini.
Kami menjawab, ”Di sinilah menariknya pergulatan pemikiran ini. Kita yang miskin, kecil, harus
berhadapan dengan kekuatan-kekuatan besar. Jika yang kita hadapi singa, maka kita dipaksa untuk
berpikir dan bekerja keras. Beda halnya jika yang kita hadapi hanya tikus.”

Memang, perjuangan melawan liberalisme ini menjadi menarik, karena tidak sedikit diantara penyebar
paham liberal adalah para profesor dan cendekiawan yang memiliki kemampuan intelektual lumayan.
Banyak diantara mereka yang menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan baik. Banyak yang pintar
bicara dan menulis. Kita maklum, mengapa terget utama liberalisasi Islam adalah lembaga-lembaga

pendidikan Tinggi Islam. Mereka tentu paham, bahwa lembaga Pendidikan Tinggi Islam akan
menghasilkan orang-orang yang memiliki otoritas dalam bidang keagamaan. Otoritas itulah yang
dirusak. Gelar resminya, misalnya, adalah doktor bidang Al-Quran, tetapi ia justru aktif merusak Al-
Quran dan tafsirnya.

Lama-lama, umat Islam dibuat bingung, sebab yang memiliki otoritas mengajar Al-Quran justru berusaha
merusak Al-Quran. Tentu aneh, jika yang belajar ilmu ushuluddin, justru menjadi pembela aliran sesat.
Padahal, harusnya merekalah yang berada dalam garis terdepan dalam penegakan aqidah Islam dan
pemberantasan paham syirik. Kita berpikir, normalnya, para pakar dan sarjana syariah-lah yang berada
di garis terdepan dalam upaya penegakan aqidah dan syariah Islam. Kata Dr. Syamsuddin, jika ada
sarjana agama Islam yang menyebarkan paham-paham yang merusak Islam, tentu hal itu sangat
”memalukan” dan ”memilukan”.

Namun, di tengah-tengah merebaknya paham liberalisme di berbagai Perguruan Tinggi Islam, kami
merasa sangat bersyukur, bahwa ternyata masih ada sejumlah cendekiawan dan lembaga Islam yang
kokoh bertahan dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam yang benar. Di sejumlah kota, kami bertemu
dengan para para ustad dan cendekiawan yang juga gigih membela ajaran Islam dari serangan paham-
paham yang destruktif. Kadangkala kami terharu, saat berjumpa dengan tokoh-tokoh yang hebat dalam
membela Islam, meskipun mereka harus bertahan dengan kondisi seadanya.

Salah satu tokoh hebat yang kami jumpai adalah Ibu Aisyah al-Kalali. Di usianya yang ke-84 tahun, beliau
masih gigih memimpin Pondok Tahfidz Al-Quran di Kota Pekalongan. Pondok ini dikhususkan untuk
putri. Sejak berdirinya, tahun 1989, selama 19 tahun, Pondok pesantren ini sudah meluluskan hafidzah
sebanyak 150 orang. Sementara sepanjang usianya itu, sudah lebih dari 700 mahasiswi yang Droup Out.
Pendidikan di pesantren ini sangat ketat dan berdisiplin tinggi. Untuk mendapat ijazah kelulusan sebagai
’hafizhah’, para mahasiswi harus melalui serangkaian ujian yang sangat ketat. Terakhir, mereka harus
mampu menghafal Al-Quran, 30 Juz, dalam waktu satu hari, disaksikan oleh penguji dan masyarakat.

Ironisnya, di tengah serbuan gelombang materialisme di dunia pendidikan, Lembaga Pendidikan Tahfidz
seperti ini justru tidak mudah mendapatkan murid. Padahal, biaya pendidikan total dalam satu bulan
dibawah Rp 400.000 (empat ratus ribu rupiah). Lebih dari itu, pimpinan lembaga pendidikan ini harus
berkeliling mencari murid, dan menawarkan beasiswa bagi banyak murid-muridnya. Kita sangat salut
dengan perjuangan para pengasuh Pondok Tahfidz Al-Quran di Pekalongan ini, dan berharap dari sini
akan lahir para hafizhah yang menjadi palang pintu dalam menjaga kemurnian Al-Quran.

Acara bedah buku yang cukup menarik terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Acara
dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi Undip, Dr. H. Muhammad Chabachib dan dihadiri sejumlah dosen.
Ruang seminar FE-Undip dipenuhi peserta. Banyak yang terpaksa berdiri. Fenomena ini menunjukkan,
problem pemikiran Islam di Indonesia telah menjadi perhatian banyak kalangan akademisi, bukan hanya
yang berlatarbelakang studi Islam, tetapi juga yang berlatarbelakang studi umum. Disamping
menjelaskan metodologi dan dampak studi Islam ala orientalis, Dr. Syamsuddin juga secara khusus
memaparkan dampak penggunaan metode hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran.

Di Yogyakarta, acara bedah buku digelar di Masjid Kampus UGM. Di luar acara utama, ada sejumlah
diskusi dengan para mahasiswa dan aktivis Islam di Yogya yang kami hadiri. Meskipun tema pokok
diskusi adalah seputar tantangan orientalisme dan pemikiran liberal, tetapi ada tujuan yang lebih
penting yang perlu diwujudkan, yaitu upaya membangun tradisi pemikiran Islam yang sehat. Pemikiran
Islam bukanlah monopoli kampus-kampus agama atau sarjana agama. Sebab, memahami pemikiran
Islam yang benar adalah hal yang fardhu ’ain, yang wajib dimiliki oleh setiap Muslim.

Bisa dikatakan, di era globalisasi, tantangan utama dalam pemikiran Islam adalah dekonstruksi
pemikiran Islam melalui penyebaran paham liberalisme agama. Lagipula, para akademisi Muslim UGM
kini menghadapi tantangan serius dalam bidang studi dan pemikiran Islam dengan hadirnya program
studi Lintas Agama oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) dan Center for Religious and
Cross-cultural Studies (CRCS). Karena itu, kita berharap, para cendekiawan Muslim UGM mampu
menjawab tantangan intelektual ini secara ilmiah. Jika ditelaah dari mata kuliah yang ditawarkan dan
dosen-dosen yang mengajar di program ini, maka bisa dikatakan studi agama di UGM ini telah
menggunakan ‘perspektif netral’ dalam studi agama; bukan dari perspektif Islam.

Di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kami berkesempatan mengisi diskusi dengan tema
“Islam ‘Mazhab’ Orientalis”. Selain para dosen dan mahasiswa pasca sarjana Studi Islam UMS, hadir juga
sejumlah akademisi Muslim dan tokoh Muslim di kota Solo. Acara dibuka oleh Ketua Magister Studi
Islam UMS, Dr. Muinuddin. Di sini, Syamsuddin Arif menekankan sifat-sifat studi Islam gaya orientalis
yang biasanya “berawal dari keraguan dan berakhir dengan keraguan”. Orang belajar Islam bukan untuk
menambah keyakinan terhadap Islam, tetapi untuk menanamkan sikap kritis dan skeptis terhadap Islam.

Di Pesantren Gontor, kami sempat mengisi diskusi dan bedah buku di kampus Institut Studi Islam
Darussalam (ISID) Gontor. ISID merupakan salah satu Perguruan Tinggi Islam yang baik yang berada di
bawah naungan Pondok Gontor Ponorogo. Kajian-kajian tentang Islam dan Barat di kampus ini semakin
berkembang setelah dibentuknya Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) yang dipimpin Dr.
Hamid Fahmy Zarkasyi. Karena itu, kajian tentang orientalisme bukan hal yang asing di kampus ini.

Tentunya kehadiran Dr. Syamsuddin Arif, yang juga alumnus Pesantren Gontor, diharapkan semakin
menambah tajamnya kajian-kajian tentang Islam dan Barat di pesantren Gontor ini.

Dari kota Ponorogo, perjalanan kami lanjutkan ke Kota Malang. Ada sejumlah acara yang sudah
terjadwal di kota ini: dialog dengan guru-guru pesantren Hidayatullah, diskusi terbatas dengan satu
komunitas dosen-dosen di Malang, jumpa penulis di Gedung Gema Insani Press Malang, dan acara
puncaknya adalah bedah buku di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya Malang. Acara dibuka oleh
Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya dan dimoderatori Dr. Suryadi, dosen di kampus yang sama.

Rangkaian acara bedah buku Dr. Syamsuddin Arif berakhir di kota Surabaya pada 26 April 2008. Di kota
Pahlawan ini, acara digelar di dua kampus utama, yaitu di Universitas Airlangga (Unair) dan Institut 10
November Surabaya (ITS). Esoknya, pada 27 April, setelah mengisi kuliah di program Magister Studi
Islam UMS, Dr. Syamsuddin Arif kembali ke Kuala Lumpur, melanjutkan tugas rutinnya sebagai dosen di
Universitas Islam Internasional Malaysia.

Perjalanan panjang selama 10 hari mengunjungi berbagai kota di Jawa kali ini membawa kesan yang
cukup mendalam bagi kami. Satu pemikiran yang banyak disebarkan kaum liberal adalah paham
“relativisme kebenaran”. Di berbagai kota, kami berusaha “mengobati” korban-korban penyakit
“relativisme” ini. Tidak mudah memang, karena yang terkena penyakit ini adalah para sarjana. Padahal,
dampak penyakit ini sungguh nyata. Korbannya tidak lagi meyakini adanya satu kebenaran yang mutlak.
Jika orang tidak tahu kebenaran, bagaimana dia akan memperjuangkan kebenaran?

Ada fenomena menarik yang bisa kita lihat di masyarakat kampus saat ini. Sebagian kalangan sudah
meyakini dan aktif memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Sementara sebagian lainnya, masih
terus mendiskusikan dan mempertanyakan, di mana letaknya kebenaran, dan apakah manusia bisa
memahami kebenaran. Terhadap orang-orang yang masih bingung dalam soal kebenaran ini, kita
persilakan saja mereka terus mencari dan tidak banyak bicara dulu. Sebab, kata mereka, mereka belum
tahu yang benar. Kita, yang sudah tahu dan sudah menemukan kebenaran, tentu merasa berkewajiban
memperjuangkannya.

Di samping banyaknya masalah yang dihadapi, di berbagai kota, kami menjumpai potensi-potensi umat
yang sangat besar, yang memiliki ghirah yang tinggi untuk memperjuangkan Islam. Besarnya tantangan
orientalisme dan liberalisme pada satu sisi telah menyadarkan kita, bahwa Islam dan umatnya kini
menjadi sasaran utama dalam proyek westernisasi. Islam adalah potensi besar yang menggiurkan dan

mungkin menakutkan bagi banyak kalangan. Karena itu, wajar, jika berbagai upaya untuk ‘melemahkan’
potensi Islam akan selalu dilakukan.

Sepanjang zaman, Islam selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kini saatnya umat Islam
menyadari potensinya sendiri dan kemudian membangun dirinya sendiri, dengan keyakinan, dengan
jalan, dan dengan metodenya sendiri. Insyaallah, jika disertai dengan kerja keras dan istiqamah, di
tengah berbagai kesulitan, jalan kebangkitan Islam justru terbentang di hadapan kita. (Depok, 25
Rabiul’akhir 1429 H/2 Mei 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com

Pemikiran Modern Ala Barat: Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia
sumber dari http://www.insistnet.com
Ditulis oleh Adian Husaini
Harian Suara Karya, Jumat 11 Oktober 1985, memuat tulisan Prof. Dr. Harun Nasution yang menekankan
perlunya umat Islam mengubah pola pikirnya mengikuti pola pikir Barat modern. Artikel itu berjudul
”Ajaran Islam tentang Akal dan Akhlak”. Harun menulis, bahwa ia pernah mendapat pertanyaan dari
Madame Haydar, istri seorang koleganya dari Kedubes Libanon di Brussel, Belgia:
”Mengapa orang-orang Nasrani umumnya berkelakuan baik, berpengetahuan tinggi dan menghargai
kebersihan, sedang kita orang Islam umumnya kurang dapat dipercayai bodoh-bodoh dan tidak tahu
kebersihan?”

Harun bertanya kepada Madame Haidar:

”Yang Anda maksud barangkali orang-orang Eropa dan bukan orang-orang Nasrani. Eropa memang
sedang berada dalam zaman kemajuannya, sedang Timur masih dalam zaman kemunduran. Ekonomi
Eropa yang maju mmebuat orang-orangnya mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan
baik lebih tinggi sedang Timur yang miskin, orang-orangnya kebanyakan tinggal dalam ketidaktahuan.”

Lalu, Madame Haidar melanjutkan lagi:

”Yang saya maksud bukan orang Eropa, tapi orang Nasrani. Apa yang saya sebut adalah kenyataan di
negeri saya sendiri, Libanon. Kalau kita perhatikan orang Islam yang pergi ke mesjid, kita lihat wajah
mereka tidak berseri dan pakaiannya kotor-kotor. Tetapi sebaliknya orang-orang Nasrani yang pergi ke
gereja bersih wajah dan pakaiannya. Ekonomi mereka lebih baik dari ekonomi orang Islam. Demikian
juga pendidikan mereka lebih tinggi. Orang –orang Islam ketinggalan.”

Terhadap pernyataan Madame Haidar itu, Harun Nasution menyatakan persetujuannya. Dia menulis
dalam artikelnya tersebut:

”Keadaan umat Islam sebagai digambarkan Madame Haidar itu bukan hanya terbatas bagi umat Islam di
Libanon. Hal serupa juga kita alami di Indonesia. Umat Islam di negeri kita lebih rendah ekonomi dan
pendidikannya dari umat lain. Masalah kita di Indonesia ialah umat Islam yang berjumlah besar, tetapi
ekonominya lemah dan pendidikannya tidak tinggi. Sedang umat lain sungguhpun minoritas mempunyai
kekuatan ekonomi dan pendidikan yang baik. Di pusat lahirnya Islam, di Mekah dan Medinah, kita
jumpai juga umat Islam tidak mempunyai kemajuan dan dari segi budi pekerti juga tidak
menggembirakan. Di Mesir hal yang sama kita jumpai. Umatnya diperbandingkan dengan umat lain yang
ada di sana, yaitu sebelum orang-orang Yahudi, Yunani dan lain-lain meninggalkan negeri itu, jauh
ketinggalan dalam soal ekonomi, pendidikan dan budi pekerti. Di Turki, Suria, Yordan, Aljazair, India dan
Pakistan hal yang sama dijumpai. Maka pengamatan Madame Haidar dalam pertanyaan yang
dimajukannya adalah benar untuk dunia Islam pada umumnya. Dialog itu menyadarkan saya bahwa
persoalannya bukanlah semata-mata persoalan kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama.”

Demikianlah dialog Harun Nasution dan Madame Haidar yang diungkapkan Harun Nasution dalam
artikelnya di Harian Suara Karya.

Setelah menunggu selama tiga minggu dan tidak ada seorang pun yang mengkritik artikel Prof. Harun
tersebut, Prof. HM Rasjidi akhirnya memaksakan diri mengangkat pena dan memberikan kritiknya. Saat
menjadi Associate Professor di McGill University, Rasjidi adalah orang yang mengusahakan agar Harun
dapat melanjutkan studinya di McGill. Tapi, seperti pernah kita bahas dalam beberapa tulisan,
belakangan, Rasjidi banyak mengkritik pemikiran Harun Nasution yang dinilainya terlalu berorientasi ke
Barat.

Dalam tanggapannya, Prof. Rasjidi menulis:

”Membaca tulisan Prof. Harun tersebut, saya menjadi sesak nafas, dan bertanya-tanya: Mengapa
dengan mudah menerima segala cacian dan penghinaan kepada umat Islam. Kalau dari permulaan kita
sudah bersikap: menyerah, tidak percaya diri sendiri, maka tak mungkin kita dapat mempertahankan diri
kita. Kalau seorang petinju, sebelum memasuki gelanggang pertarungan, sudah menggambarkan bahwa
musuhnya kuat, tak dapat dikalahkan, bahwa pukulannya sangat jitu dan berbahaya, maka mustahillah
ia akan memenangkan pertandingan. Rasa kesal saya bertambah ketika membaca paragraf selanjutnya,
karena paragraf itu berbunyi: Dialog itu menyadarkan bahwa ”persoalan bukan semata-mata persoalan
kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama.”

Rasjidi yang menyelesikan disertasi doktornya dalam studi Islam di Sorbone University, Paris, lalu
memaparkan bahwa soal kebodohan dan kekotoran adalah masalah yang dihadapi oleh tiap-tiap umat
beragama, bukan hanya persoalan umat Islam. Tapi, kata Rasjidi, ”… hal pertama yang sangat penting
adalah: Kita harus mempunyai harga diri.” Dialog antara Harun dengan Madame Haidar, kata Rasjidi,
”Adalah dialog antara dua jiwa yang banyak persamaannya, ya’ni jiwa yang kena cekokan dari Barat
bahwa Kristen itu bersih, pandai dan mempunyai sifat-sifat yang baik, sedang Islam adalah kotor, bodoh,
perangai jahat dan seterusnya.”

Kritik Prof. Rasjidi terhadap artikel Harun Nasution tersebut sangat penting kita telaah, sebab membuka
mata kita, bahwa dalam soal pemikiran Islam, persoalannya bukan semata-mata logika, tetapi ada faktor
lain yang juga perlu ditelaah, yaitu soal mental, ”aspek kejiwaan”. Mental minder, mental rendah diri
dalam melihat peradaban Barat itulah yang menjadi faktor penting, sehingga seringkali menutup seluruh
logika yang sehat.

Dengan posisinya sebagai Rektor IAIN Jakarta dan kemudian sebagai Direktur Program Pasca Sarjana
IAIN Jakarta, Harun senantiasa dianggap sebagai peletak dasar pembaruan pendidikan Islam di
Indonesia, yang dilakukan melalui IAIN Jakarta. Tahun 1973, bukunya ”Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya” dijadikan sebagai buku rujukan wajib di seluruh Perguruan Tinggi Islam. Dengan dukungan
Menteri Agama Mukti Ali – yang juga alumnus McGill University — proyek pembaratan (Westernisasi)
IAIN kemudian dilakukan secara sistematis. Pelan tapi pasti, sejak 35 tahun lalu (tahun 1973), kiblat studi
Islam di IAIN diarahkan ke Barat.

Dalam kaitan inilah, peran pusat Studi Islam McGill Kanada yang didirikan oleh Prof. Wlfred Cantwell
Smith sangat signifikan. Peran besar McGill dalam pembaratan studi Islam di Indonesia dijelaskan dalam

buku ”Paradigma Baru Pendidikan Islam”, yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam –
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2008. Ditulis dalam buku ini:

”Melalui pengiriman para dosen IAIN ke McGill dalam jumlah yang sangat masif dari seluruh Indonesia,
berarti juga perubahan yang luar biasa dari titik pandang tradisional studi Islam ke arah pemikiran
modern ala Barat. Perubahan yang paling menyolok terjadi pada tingkat elit. Tingkat elit inilah yang
selalu menggerakkan tingkat grass root.” (hal. 6, cetak tebal dan miring dari saya, Adian).

Tentang peran Harun Nasution dalam pembaratan IAIN ditulis dalam buku ini:

”Harun Nasution mengusung pembaruan pemikiran keislaman. Dia mengenalkan multi pendekatan dan
memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan
STAIN seluruh Indonesia dan masih dirasakan sampai sekarang.” (hal. 7)

Ditulis dalam buku ini, bahwa pembaruan Islam perlu dilakukan, karena yang menjadi masalah umat
Islam Indonesia adalah bahwa sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan pluralistik atau
penghargaan atas perbedaan di kalangan umat. Pada zaman Harun, tulis buku ini, pengajaran
keagamaan sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran pemikiran, atau bahkan
kelompok atau pemikiran orang tertentu dan sangat fiqih oriented. Model pendidikan yang seperti itu
dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang mempunyai pemahaman dan pemaknaan agama yang
sempit. ”Dampak negatifnya adalah kemungkinan munculnya pemahaman yang melihat segala hal yang
berbeda dengan paham tersebut sebagai salah, menyimpang dan bahkan sesat.” (hal. 8).

Untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam di IAIN, Harun Nasution mencari akar pembenarannya
dalam teologi rasional ala Mu’tazilah dan mengenalkannya kepada masyarakat lewat buku dan
pengajarannya di IAIN dan program pascasarjana IAIN Jakarta. ”Selama menjadi rektor (1973-1984) dan
setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi lanjutan pertama yang dibuka di
IAIN Jakarta, Nasution mengembangkan pemikiran Islam rasional dan menjadikan program S1 dan pasca
sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian
gagasan-gagasan keislaman yang baru.” (hal. 8).

Membaca buku ”Paradigma Baru Pendidikan Islam” yang diterbitkan Departemen Agama ini kita
menjadi paham, bagaimana proyek pembaratan IAIN ini secara sistematis dijalankan selama lebih dari
30 tahun. Pemuktazilahan IAIN seperti digambarkan dalam pemikiran Harun hanyalah slogan, karena

faktanya adalah pembaratan, seperti yang dibanggakan sebagai bentuk kemajuan dalam pendidikan
Islam. Inilah yang dikatakan sebagai ”Paradigma Baru Pendidikan Islam”.

Jika kita membaca buku yang disusun para alumni Studi Islam McGill ini, yang dikatakan sebagai
”Paradigma Baru” dalam pendekatan studi Islam tidak lain adalah mengikuti pendekatan studi Islam
yang menekankan pada pendekatan sejarah (historis) dan bukan pendekatan normatif. Metode
pendekatan sejarah ini digunakan antara lain karena kekaguman Mukti Ali terhadap gurunya di McGill,
yaitu Prof. Wilfred Cantwell Smith, seperti ditulis dalam buku ini:

”Smith adalah sosok yang kemudian selalu dikagumi Mukti Ali karena sikap ramahnya terhadap Islam
dan metodologi yang dipakainya dalam mempelajari Islam. Menurut Mukti Ali, Smith tidak hanya
menarik dari sisi simpatiknya terhadap Islam tetapi juga dari pendekatan holistik yang digunakannya.
Bahwa Islam tidak semata fenomena normatif, tetapi harus dipandang dari sudut lain, sebagai fakta
sejarah dan sebagaimana agama-agama lain di dunia, Islam muncul dalam peradaban manusia. Maka
pendekatan yang digunakan pun pendekatan kemanusiaan. Empiris kemanusiaan menjadi pendekatan
yang dipilih untuk mendekati ajaran Islam dan fenomena umatnya.” (hal. 10).

Buku ini sebenarnya menceritakan kesuksesan proyek kerjasama McGill dengan UIN Jakarta dan UIN
Yogya. Karenanya proyek ini akan diteruskan. Ada dua hal penting yang dikembangkan dalam kerjasama
ini. Yaitu penyelenggaraan proram Kajian Antar Bidang dalam studi Islam (Interdisciplinary Islamic
Studies/IIS) dan pengembangan kurikulum berbasis gender. Dalam IIS, yang ditekankan adalah kajian
Islam yang menekankan pada konteks sosial dan historis. ”Oleh karena itu, kajian Islam yang
memperhatikan konteks sosial dan historis serta menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu sosial
sangatlah dibutuhkan.” (hal. 168).

Marilah kita simak betapa naifnya alasan dan tujuan penggunaan metode studi Islam model Barat ini:

”Terlebih selama ini pendekatan yang digunakan dalam dunia pendidikan secara dominan masih bersifat
normatif dan kurang historis. Dengan demikian, program ini akan menghasilkan sumber daya manusia
yang memiliki paradigma historis dalam kajian Islam. Pendekatan historis dan empirik dalam kajian
agama akan dipandang penting untuk meningkatkan tradisi keilmuan dan menciptakan model
pemahaman keagamaan yang bijak, demokratis dan toleran.”

Membaca buku ini kita menjadi lebih paham, mengapa buku-buku Studi Islam di Perguruan Tinggi saat
ini semakin banyak dijejali dengan pendekatan historis ala Barat. Ternyata, memang semua ini adalah
proyek pembaratan secara sistematis. Metode ini telah mengubah cara pikir begitu banyak cendekiawan
yang terjebak kepada ”penyamaan” Islam dengan agama-agama lain, dengan menempatkan Islam
sebagai bagian dari produk sejarah. Padahal, Islam adalah agama wahyu yang memiliki karakter yang
khas, yang berbeda dengan agama-agama lain. Al-Quran juga merupakan teks wahyu yang tidak sama
dengan kitab-kitab lain yang merupakan teks manusia dan teks sejarah. Karena itu, metode
pemahamannya juga tidak bisa begitu saja menggunakan pendekatan pemahaman historisitas yang
serba relatif.

Kita sudah beberapa kali disuguhi pemikiran yang menggelikan dari sejumlah dosen UIN/IAIN yang
menggunakan metode pendekatan historis kontekstual dalam studi Islam. Misalnya, mereka
menghalalkan perkawinan antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim dengan alasan hal itu
tergantung konteks sejarah dan budaya Arab yang patriarki. Ada juga dosen syariah IAIN Semarang –
yang menggunakan pendekatan sejarah – yang kemudian berpendapat bahwa mahar dalam perkawinan
bisa juga diberikan oleh mempelai wanita, tergantung situasi sosial dan budayanya. Keharusan
memberikan mahar bagi laki-laki, menurut dia, adalah kaena ayat Al-Quran turun di Arab yang
budayanya patriarki.

Menyimak semua ini tidak sulit bagi kita untuk melihat sebuah bentuk penjajahan intelektual yang
sangat sistematis dalam merusak pemikiran Islam. Dengan pendekatan historis kontekstual ini, tidaklah
sulit bagi kita untuk memahami, kemana arah tujuan studi Islam ala Barat ini dikembangkan. Yaitu,
tirulah cara berpikir Barat yang serba relatif. Kebenaran tergantung pada situasi sosial dan budaya. Tidak
ada kebenaran yang tetap. Dalam kasus ”aurat wanita”, misalnya, akan dikatakan bahwa aurat itu
fleksibel tergantung situasi sosial dan budaya. Begitu juga dalam soal-soal ajaran dan hukum Islam
lainnya. Ujung-ujungnya, para mahasiswa dan sarjana digiring untuk berpikir ala Barat yang bersikap
netral terhadap ”al-Haq dan al-Bathil”; yang tidak bicara lagi soal ”Iman dan kufur”, ”tauhid dan syirik”,
dan sebagainya. Semua itu dianggap sebagai hal normatif.

Kita mengimbau kiranya pejabat dan para cendekiawan kita sadar akan kekeliruan dan bahaya besar
dalam pengembangan studi Islam model Barat di perguruan Tinggi Islam. Sangat memprihatinkan jika
ternyata yang disebut sebagai ”Paradigma Baru Studi Islam” adalah ”Paradigma Pemikiran Modern Ala
Barat” seperti yang dipaparkan dalam buku ini.

Kita melihat hal yang sangat ironis. Begitu mudahnya para cendekiawan itu dicekoki pemahaman yang
sangat naif dan tidak realistis bahwa masalah utama umat Islam Indonesia adalah kurangnya

pemahaman Islam yang pluralis, pemahaman yang historis; bahwa kajian Islam yang normatif adalah
sumber masalah, sumber intoleransi umat beragama, dan sebagainya. Karena itu, perlu digunakan ilmu-
ilmu sosial Barat dalam studi Islam, agar menghasilkan pemahaman yang tidak mutlak, yang toleran, dan
seterusnya!

Bukankah ini logika yang naif! Bukankan Barat sendiri terbukti sangat tidak toleran, karena terus-
menerus memaksakan sekularisme, liberalisme, pluralisme dan paham Barat lain kepada seluruh umat
manusia. Mereka yang ingin menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya, yang menolak pandangan
hidup Barat, secara serampangan lalu diberi cap ”fundamentalis”, ”radikal”, ”konservatif”, dan seabrek
’julukan miring’ lainnya. Yang mau ikut Barat dipuji-puji sebagai kaum intelektual yang toleran, progresif,
dan sebagainya. Jangan heran, jika di antara mereka, lahir orang-orang seperti Geert Wilders, sutradara
film Fitna, yang menyampaikan pesan di akhir film-nya: ”Stop Islamization. Defend our freedom!”.
Peradaban seperti inikah yang disebut toleran?

Dalam artikelnya di Majalah ISLAMIA (edisi 1/2004), Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, guru besar bidang
pendidikan dan pemikiran Islam di Universitas Islam Internasional Malaysia, mengingatkan dampak
besar penggunaan metode Barat dalam pemahaman Islam, seperti hermeneutika: ”Jika kita mengadopsi
satu kaedah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar-belakang sejarahnya, maka kita akan mengalami
kerugian besar. Sebab kita akan meninggalkan metode kita sendiri yang telah begitu sukses membantu
kita memahami sumber-sumber agama kita dan juga telah membantu kita menciptakan peradaban
internasional yang unggul dan lama.”

Seabrek argumentasi bisa kita berikan tentang perlunya umat Islam tidak tunduk kepada metode Barat
dalam memahami Islam. Tapi, seperti disampaikan Prof. HM Rasjidi saat mengkritik Prof. Harun
Nasution, bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada soal logika, tapi ada aspek ”kejiwaan” yang
terlibat di dalamnya.

Ada baiknya kita hayati nasehat Pak Rasjidi, ”Kita harus mempunyai harga diri!” [Jakarta, 11 Rabiulakhir
1429 H/18 April 2008/www.hidayatullah.com].


Click to View FlipBook Version