The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

IDENTITAS HIBRIDA KEPULAUAN REMPAH-REMPAH
Berisikan tentang sejarah dan kebudayaan materi di Pulau Maluku Utara, Ambon dan Banda

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by afwanmufti66, 2022-11-02 01:44:31

IDENTITAS HIBRIDA KEPULAUAN REMPAH-REMPAH

IDENTITAS HIBRIDA KEPULAUAN REMPAH-REMPAH
Berisikan tentang sejarah dan kebudayaan materi di Pulau Maluku Utara, Ambon dan Banda

Keywords: Kepulauan Rempah,Kebudayaan,Banda,Ambon,Maluku

i

DAFTAR ISI

IDENTITAS HIBRIDA KEPULAUDAN REMPAH-REMPAH

DAFTAR ISI ........................................................................................................ii
PENDAHULUAN................................................................................................ 1
BAB I................................................................................................................... 6
IDENTITAS HIBRIDA MASYARAKAT AMBON............................................. 6

A. Menciptakan Kemajemukan Ambon ............................................ 6
B. Kebudayaan Materi........................................................................ 21
BAB II ............................................................................................................... 39
IDENTITAS HIBRIDA MASYARAKAT MALUKU......................................... 39
A. Pluralisme Sosial Maluku ............................................................. 39
B. Kebudayaan Materi Maluku ......................................................... 48
BAB III.............................................................................................................. 60
IDENTITAS HIBRIDA MASYARAKAT BANDA............................................ 60
A. Menciptakan Kemajemukan Banda............................................ 60
B. Kebudayaan Materi Banda ........................................................... 63
PENUTUP......................................................................................................... 71
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 73

ii

PENDAHULUAN

Multikulturalisme Indonesia telah menjadi rahasia umum dan terbentuk
sejak lama. Pertemuan antar budaya itu setidaknya dimulai ketika setiap bangsa
berlomba melakukan perdagangan global. Pada fase inilah, Nusantara menempati
posisi yang sangat penting. Antara 1400 hingga 1800, Nusantara menjadi tempat
pertemuan berbagai jaringan global yang meliputi jaringan Asia, Portugis, Belanda,
dan Inggris. Menariknya, jaringan itu bersifat kompleks yang meliputi jaringan
politik, ekonomi, religi, dan budaya.

Dalam ruang lingkup mikro, pertemuan jaringan global itu dapat terlihat
secara jelas. Salah satu wilayah di Nusantara yang memiliki keanekaragaman
budaya adalah Kepulauan Rempah-Rempah (Ambon, Maluku, dan Banda)1.
Kepulauan Rempah-Rempah memiliki kepusparagaman budaya. Begitu banyak
keunikan kultural yang dimiliki dan menjadi identitas disana. Warisan budaya
benda2, warisan budaya tak benda3, dan bahasa daerah4 seolah menjadi penegas
keanekaragaman budaya itu. Selain terbayang potensi disintegrasi sosial, toleransi
antar masyarakat menjadi “buah manis” dari multikulturalisme disana. Eksistensi
tradisi pela dan gandong5 seolah menjadi pembersih duri-duri multikulturalisme.

Kerusuhan 1999-2002 di Ambon menjadi salah satu episode mencekam
sekaligus menjadi luka mendalam bagi Masyarakat Maluku. Perbedaan agama
selalu dijadikan kendaraan untuk memicu terjadinya kerusuhan6. Pada

1 Ambon adalah salah satu pulau yang terletak di Provinsi Maluku. Pulau ini berbatasan dengan
Jazirah Hoamoal yakni Kabupaten Seram Barat di sebelah utara, berbatasan dengan Laut Banda di
sebalah selatan, berbatasan dengan Kabupaten Buru Selatan di sebelah barat, dan berbatasan
dengan Pulau Haruku yakni Kabupaten Maluku Tengah di sebelah timur. Pulau ini terbagi dalam
dua jazirah yakni Jazirah Leihitu di bagian utara dan Jazirah Leitimor di bagian selatan. Secara
administratif, pulau ini terbagi menjadi dua yakni Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah.
Menariknya, Kabupaten Maluku Tengah juga mencakup Kepulauan Lease yang meliputi Haruku,
Saparua, Nusa Laut, dan Seram Barat.
2 Warisan budaya benda yang terdapat di Pulau Ambon antara lain adalah Benteng Nieuw Victoria,
Situs Gunung Sirimau, Kubu Pertahanan Air Salobar, Kubu Pertahanan Latulahat, Masjid Tua Djami,
Gereja Maranatha, gereja Tua Menara Imam, Makam Josep Cham, dan Museum Siwalima (Syam,
2019)
3 Warisan budaya tak benda di Ambon meliputi Cuci Negeri Soya, Tari Lenso, Dansa Tali, dan Tahuri
(Syam, 2019). Mungkin juga dapat ditambahkan disini Tari Katreji, Tari Cakalele, dan Tradisi Bambu
Gila.
4 Orang Ambon berkomunikasi dengan Bahasa Melayu Ambon. Adapun Bahasa Hitu juga masih
digunakan di Negeri-Negeri di Jazirah Leihitu.
5 Menurut John Rehatta, konsep pela dan gandong merupakan dua hal yang berbeda. Pertama
merujuk pada ikatan perdamaian karena pernah bertikai di masa lampau, seperti Negeri Soya dan
Negeri Urimessing. Yang disebut kedua merujuk pada dua desa yang memiliki asal usul yang sama.
Oleh karena itu, tidak boleh ada pasangan yang menikah dari kedua desa yang bergandong tersebut.
Soya sendiri bergandong dengan desa-desa di Seram seperti Sawai dan Salema serta Desa Morella di
Jazirah Leihitu (wawancara dengan John Rehatta, Raja Soya, 2 September 2020). Sedangkan tradisi
pela sendiri, sebagaimana dilukiskan oleh Castro (2019:104-5), merupakan suatu tradisi saling
tolong-menolong. Sistem hubungan ini menjamin kehidupan dalam kerukunan antaragama dan
kerjasama antardesa, contohnya Orang Kristen membantu komunitas Islam dalam membangun
masjid dan sebaliknya komunitas Islam membantu mereka yang kristen membangun gereja.
6 Menurut Castro (2019:104), kerusuhan Ambon disebabkan oleh provokasi dari tentara yang
masih setia pada Suharto dan tuntutan otonomi dari zaman dahulu yang berpangkal dari pendirian
Republik Maluku Selatan (RMS) yang fana itu. Saat itu, RMS langsung dihabisi oleh Indonesia yang

1

Kenyataannya, Orang Passo yang beragama Kristen malah membantu sekaligus
menyelamatkan Orang Batumerah yang beragama Islam dan demikian pula
sebaliknya. Kedua desa telah berpela sebelum kehadiran orang Eropa walaupun
kini Orang Passo beragama Kristen dan Batumerah beragama Islam7.

Multikulturalisme Kepulauan Rempah-Rempah terbentuk dari
persentuhan berbagai budaya yang berintegrasi dan berdampingan dalam jangka
waktu yang lama. Sejak abad XIII, pelancong dan pedagang dari Cina telah
mengunjungi Maluku. Bukan tidak mungkin, mereka juga singgah di Ambon dan
Banda. Jika Maluku dan Banda menarik perhatian para pedaganga karena peran
mereka sebagai penghasil cengkeh dan pala, Ambon telah menjadi pelabuhan
transit bagi para saudagar yang ingin bepergian ke Maluku dan Banda. Semakin
ramainya Ambon telah mendorong terbentuknya institusi politik disana, seperti
Kerajaan Tanah Hitu. Lambat laun akibat perdagangan dengan pedagang dari Jawa
(Tuban, Gresik, dan Jepara) pada paruh kedua abad ke-15, berbagai kerajaan
disana menjadi kerajaan Islam dan beraliansi dengan beberapa kerajaan Islam di
Nusantara. Belum habis proses Islamisasi di Kepulauan Rempah-Rempah, Portugis
datang pada awal abad ke-16. Kedatangan Portugis pada awalnya memang
diterima oleh orang lokal tetapi, lambat laun karena perbedaan kepentingan,
masyarakat Kepulauan Rempah-Rempah bersatu padu untuk mengusir Portugis.
Kehadiran mereka kemudian disusul oleh Belanda pada akhir abad ke-16 yang
menggantikan posisi Portugis sejak tahun 16058.

Kehadiran ketiga nebula global (Asia, Portugis, dan Belanda) itu tidak
membuat budaya asli luntur tetapi seolah memperkaya kebudayaan Kepulauan
Rempah-Rempah. Dalam Nebula Asia, orang Ambon bersentuhan dengan budaya
luhur Asia seperti Budaya Cina dan Budaya Islam. Sedangkan dalam Nebula
Portugis dan Belanda, mereka berkenalan dengan Budaya Eropa seperti Budaya
Katolik dan Kristen. Ketiga nebula ini terbentuk karena perdagangan rempah-
rempah9. Perdagangan rempah-rempah pada abad modern masih bergantung pada
jalur pelayaran maritim dan dilakukan antar pulau10. Oleh karena itu, jual beli

tengah mempertahankan kedaulatannya. Pertempuran yang terjadi menelan ribuan korban jiwa.
Setiap tahun terjadi pertumpahan darah dan banyak pengungsi, akibat pertempuran antaragama.
Pertikaian ini bisa jadi diciptakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. John Rehatta
(Raja Soya) mengungkapkan bahwa seluruh negeri dibakar padahal rakyat Soya bukanlah anggota
maupun simpatisan dari RMS. Wajar kemudian bergulir suatu teori yang mengungkapkan konflik
itu memang sengaja diciptakan oleh Kaum Militer pendukung Suharto. Kaum Militer beranggapan
itu adalah kondisi yang tepat (bersamaan pula dengan krisis ekonomi yang melanda dunia) untuk
mengambilalih sekaligus membentuk kediktatoran militer.
7 LPKB. 2000. Lembaga Budaya Pela dan Gandong, hal.109
8 Cooley. 1973 Persentuhan Kebudayaan di Maluku Tengah…, hal.116-129; Sahusilawane, dkk. 2002.
Ambon di Masa Portugis dan Belanda… hal.35-46
9 Rempah dapat dipahami sebagai salah satu dari sekian banyak variasi substansi nabati yang
bercita rasa kuat atau berbahan aromatis dan diperoleh dari tanaman tropis, umumnya digunakan
sebagai pelengkap makanan atau untuk kepentingan lainnya yang terkait dengan wangi dan kualitas
pengawetannya. Rempah-rempah yang langka dan berkualitas berasal dari Asia. Pada abad ke-14,
Francesco Balducci Pegolotti mengidentifikasikan rempah-rempah memiliki 188 jenis. Akan tetapi,
banyak bahan yang dahulu diklasifikasikan sebagai rempah tetapi kini tidak lagi. Pada umunya,
rempah memiliki ciri berbentuk kecil, tahan lama, bernilai tinggi, dan sulit didapatkan. Rempah-
rempah yang dimaksud adalah lada, cengkih, pala,dan jahe (Turner, 2011:xxiii-xxvii)
10 Pelayaran di Nusantara sangat bergantung pada adanya angin muson. Angin barat terjadi dalam
bulan Desember hingga bulan Februari yang memungkinkan kapal-kapal dapat berlayar ke timur.

2

antara satu orang di suatu pulau dengan orang lain di pulau lain telah menciptakan
konektivitas11, yang selanjutnya dapat disebut sebagai jaringan atau nebula.

Sejak paruh kedua abad ke-15, perdagangan rempah-rempah antara
Ternate, Hitu, Banda, Demak, Gresik, Tuban dan Melaka mulai terbentuk. Hitu
tergabung dalam Jaringan Islam Nusantara setelah Pati Tuban dikirim untuk
memperdalam Islam di Gresik. Dia membuat kesepakatan dengan Sultan Zainal
Abidin untuk menjadi mitra dagang dan politik. Hitu sendiri kemudian sering
mengirimkan duta besarnya ke beberapa kerajaan Islam lainnya seperti Tuban dan
Jepara12. Sayangnya, peta politik dan jalur perdagangan rempah-rempah di
Nusantara mulai berubah pada awal abad ke-16. Setelah Portugis menguasai
Malaka pada tahun 1511, pusat perdagangan di Selat Melaka menjadi terpecah
antara Malaka, Aceh, dan Johor. Portugis bukan hanya merebut hegemoni di Selat
Melaka tetapi juga menarik minat para pedagang rempah untuk berlabuh ke
Malaka13. Disisi yang lain, Aceh dengan jaringan Islamnya berhasil mempererat
hubungan dagangnya dengan para pedagang dari Pesisir Utara Jawa14. Keadaan ini
mendorong Portugis untuk mencari darimana rempah-rempah berasal. Dengan
bantuan seorang Keling, Nina Chatu, armada-armada Portugis berlayar dengan
dibekali dengan berbagai komoditas yang laku dan barang berharga bagi
masyarakat di Kepulauan Rempah-Rempah15.

Berbagai literatur terkait tentang sejarah ekonomi politik dan budaya di
Kepulauan Rempah-Rempah telah banyak dikaji. Timme16, Hanna dan Alwi17,
Alwi18, dan Clulow19 berupaya menjelaskan konsekuensi logis peta kontestasi
politik lokal dan global dari perseteruan Ternate dan Tidore; pertikaian berdarah
Ternate dan Portugis; hingga pembantaian Ambon. Semakin ramainya
perdagangan rempah juga berpengaruh pada perkembangan kota-kota pelabuhan
di kepulauan rempah-rempah. Adanya interaksi antara penduduk lokal dan
pedagang asing telah memperkaya khasanah budaya setempat. Abdurachman20,
Franca21, dan Castro22 secara cermat dan teliti melihat persilangan budaya antara
Portugis dan Nusantara, yang tercermin dari fakta sosial yang tertinggal. Benturan
budaya dan agama akibat pluralitas sosial dan kepentingan ekonomi di Ambon juga
menjadi kajian unik tersendiri, sebagaimana dikaji oleh Gerrit Knaap23 dan De

Namun, pada bulan September hingga November berhembus angin timur dan memungkinkan
kapal-kapal dari timur dapat berlayar ke barat (Usmany, Loupatty, & Wakim, 2006:27).
11 Terdapat tiga hal utama yang mendorong adanya konektivitas yakni migrasi, perdagangan, dan
kolonisasi. Bahkan, ketiga hal ini menjadi kunci untuk memahami proses globalisasi di abad modern
(Pearson. 2013:3)
12 Mustakim & Jarwanto. 2019. Gresik Kajian Sejarah Sosial Ekonomi… hal.113; Mu’jizah. 2008
Pertemuan Antarbangsa dalam Hikayat Tanah Hitu. Hal.18.
13 Pinto. 2012. The Portuguese and the Straits of Melaka… hal.129; Wahyudi. 2019. Berebut Kuasa
Malaka…hal.65-71; Meilink-Roelofsz. 2016. Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara… hal.137
14 Lombard. 1991. Kerajaan Aceh… hal.154
15 Thomaz, 1991. Nina Chatu and the Portuguese Trade in Malacca… hal.32
16 Timme. 1998. A Presenca Portuguesa Nas Ilhas das Moluccas
17 Hanna & Alwi. 1996. Ternate dan Tidore Masa Lalu Penuh Gejolak
18 Alwi. 2005. Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon.
19 Clulow. 2019. Amboina 1623: Fear and Conspiracy on th Edge of Empire
20 Abdurachman. 2008. Bunga Angin Portugis di Nusantara
21 Franca, A.P. 2000. Pengaruh Portugis di Indonesia
22 Castro. 2019. Lautan Rempah Peninggalan Portugis
23 Knaap. 1987. Kruidnagelen en Christenen de Verenigde Oost-Indische Compagnie…

3

Graaf24. Selain itu, Amal25, Villiers26, Raman & Bau27, Van Hoevell28, Thalib &
Raman29, Thalib30, Hanna31, Alwi32, Loupatty33, Basman34, Keuning35,
Sahusilawane36, Usmany37, Utomo38, dan Raman39 telah mengkaji pelabuhan dan
perdagangan di Maluku, Ambon, dan Banda dengan baik. Nampaknya, banyak
sejarawan yang belum menaruh perhatian pada persilangan budaya di Kepulauan
Rempah-Rempah.

Kajian sejarah budaya menempati posisi yang vital dalam membangun
bangsa secara umum dan menyemai nilai-nilai keterbukaan, kolaborasi, dan
toleransi pada khususnya. Pada kajian ini, penulis menyadari bahwa pertemuan
antar budaya mencerminkan adanya pertukaran budaya. Oleh karena itu,
pertemuan budaya itu menghasilkan budaya yang kosmopolit yang
termanifestasikan dalam bahasa, kuliner, pakaian, dan budaya materi40. Karya ini
akan berfokus pada persilangan budaya dan budaya materi di Kepulauan Rempah-
Rempah abad XV-XVII.

24 De Graaf. 1977. De Geschiedenis van Ambon en de Zuid-Molukken
25 Amal. 2007. Kepulauan Rempah Rempah; Amal. 2010. Portugis dan Spanyol di Maluku
26 Villiers. 1985. East of Malacca: Three Essays on the Portuguese in the Indonesian Archipelago
27 Raman & Bau. 2020. Monopoli Rempah di Maluku Utara
28 Van Hoevell. 2014. Sejarah Kepulauan Maluku
29 Thalib & Raman. 2015. Banda dalam Sejarah Perbudakan di Nusantara
30 Thalib. 2015. Islam di Banda Naira
31 Hanna. 1983. Kepulauan Banda
32 Alwi. 2006. Sejarah Banda Naira
33 Loupatty, Wakim, Raman, Palijama, Rahajaan, & Tiwery. 2020. Kajian Historiografi Jaringan Niaga
Masa Lalu di Maluku Utara
34 Basman, Toisuta, Rajab, Wakano, & Baharudin 2012. Sejarah Sosial Kerajaan Hitu Ambon
35 Keuning. 2016. Sejarah Ambon
36 Sahusilawane, Pattipeilohy, & Pattinama. 2002. Ambon di Masa Portugis dan Belanda
37 Usmany, Loupatty, & Wakim. 2006. Sejarah Terbentuknya Kota-Kota Dagang di Maluku Tengah
dan Pulau Ambon
38 Utomo. 2017. Pola Perdagangan dan Jaringan Pelayaran dari Hitu ke Ambon.
39 Raman, Tiwery, & Tiwery. 2019. Sejarah Kota Pelabuhan Ambon.
40 Reid. 2006. Hybrid Identities in the Fifteenth-Century Straits of Malacca, hal.4.

4

5

BAB I
IDENTITAS HIBRIDA MASYARAKAT AMBON

A. Menciptakan Kemajemukan Ambon41
Bukan perkara mudah untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya Orang

Ambon. Sebagai rumah dari berbagai bangsa, Orang Ambon tiada ubahnya
sebagai bangsa yang majemuk. Mereka berasal dari berbagai tempat dan
bermukim di Ambon dengan beragam alasan seperti desakan penguasa di tempat
asal mereka, mencari suaka politik di Ambon, hingga perdagangan rempah-
rempah. Sejak abad modern awal, kemajemukan Ambon tercipta. Secara bertahap
komunitas Asia mulai mendiami Ambon. Orang Seram, Jawa, Jailolo, dan Gorom
mulai bermukim dan membangun sebuah negeri di Ambon. Mereka kemudian
melakukan diplomasi untuk membangun aliansi politik dan mitra dagang.
Terhitung beberapa diplomat dikirimkan ke Ternate, Gresik, Jepara, Makasar, dan
Banda. Akibat adanya perdagangan rempah-rempah, Ambon juga menjadi
pertemuan global dimana orang China, Arab Hadrami, Portugis, Belanda, Inggris,
dan Jepang mencari keuntungan perdagangan disana. Wajar jika dimasa kini
Ambon dilabeli sebagai daerah migran dimana banyak orang yang berpindah dan
menetap disana.

Asal-usul orang Ambon dipercaya berasal dari Pulau Seram. Setidaknya
pendapat itu dilandaskan pada hasil kajian arkeologi dan mitologi. Handoko42
dengan hati-hati mengaji kembali apakah benar nenek moyang Orang Maluku
berasal dari Seram. Dia berhasil melacak asal-usul dan proses migrasi melalui
lukisan cadas dari masa pra-sejarah. Pulau Seram merupakan pulau tertua dari
struktur geologinya. Jika benar demikian maka manusia tertua di Maluku bisa jadi
berasal dari Pulau Seram. Orang Seram atau Orang Alifuru43 kemudian berpindah
ke beberapa pulau sekitarnya, termasuk Ambon. Mereka diperkirakan berpindah
dari Seram ke pulau lainnya dengan menggunakan perahu. Moda transportasi ini
diduga biasa digunakan jika melihat tinggalan lukisan cadas dengan motif perahu
di dinding-dinding gua. Lukisan-lukisan cadas ini ditemukan di Pulau Seram,
Kepulauan Kei Kecil, dan Pulau Buru. Sayangnya, tinggalan lukisan cadas belum
ditemukan di Ambon44.

Berdasarkan cerita rakyat lokal setempat, Orang Ambon percaya bahwa
asal-usul nenek moyang mereka berasal dari Pulau Seram. Cerita rakyat itu
dikenal dengan nama Nunusaku45. Nunusaku adalah sebuah tempat keramat yang

41 Dikembangkan dari paper berjudul “Nusa Ambon Silang Budaya” yang dipublikasikan pada
website jalurrempah.kemdikbud.go.id.
42 Handoko. 2007. Asal-Usul Masyarakat Maluku, Budaya, dan Persebarannya… hal.23-4
43 Alifuru dapat diartikan sebagai manusia awal (Sahusilawane, 2005:45)
44 Wattimena & Handoko (2012) telah meneliti hunian prasejarah di Jazirah Leihitu
tepatnya di situs Morela. Dari sekian hunian yang dikaji, mereka tidak menemukan
lukisan cadas dengan motif perahu atau petunjuk lainnya darimana mereka berasal.
45 Nunusaku berasal kata Nunue yang berarti beringin dan saku yang berarti air. Oleh
karena itu, Nunusaku berarti pohon beringin yang mengeluarkan air. Dari pohon itu
keluarlah tiga dahan pohon dimana dari dahan-dahan pohon tersebut mengalirlah air
yang sampai ke Sungai Tala, Eti, dan Sapalewa. Ada pula versi lain yang mengatakan

6

menjadi tempat kediaman awal orang-orang asli Pulau Seram yang dikenal
dengan nama Orang Alifuru46. orang-orang Alifuru inilah yang dalam
perkembangannya secara bertahap akan berpindah ke pulau-pulau sekitarnya.
Hal ini dapat dilihat dari adanya kesamaan budaya yang dimiliki oleh penduduk
yang tinggal di Pulau Ambon, Kepulauan Lease (Pulau Haruku, Saparua, dan
Nusalaut), Kepulauan Banda, dan Pulau Buru47.

Dengan berpijak pada Cerita Rakyat Gunung Nona, Pattikayhatu48 melihat
penduduk awal Jazirah Leitimor adalah orang-orang Seram. Menurut cerita itu,
Seorang kapten dari Seram bersama pengikutnya tiba di Jazirah Leitimor. Sang
kapten kemudian menjadi penguasa dan digelari Latu Silimau atau Sirimau. Di
Jazirah Leihitu, Thalib49 memberi penjelasan tentang asal-usul Orang Hitu dengan
berlandaskan pada Kapata Morela dan Kronik Ulapoko. Pada awalnya, terdapat
tiga kelompok masyarakat yang dikenal dengan sebutan “Hatu Manu Wai Telu”
(Batu Tiga Tuan Tanah) yakni Meten, Tuhe, dan Hitia. Ketiga kelompok ini
kemudian bersepakat mengangkat orang asing yang bernama Maulana Saidina
Zainal Abidin Baina Yasirullah sebagai pimpinan mereka dengan gelar Upu Latu
Sitania (Raja Penguasa Tunggal). peristiwa itu kemungkinan besar terjadi pada
abad ke-10.

Hadirnya Islam di Jazirah Leihitu kiranya dapat dijadikan tanda bahwa
Ambon telah dikenal dalam jalur pelayaran Nusantara. Ambon berada dalam
posisi yang strategis baik dalam jalur utara maupun jalur selatan pelayaran dan
perdagangan rempah-rempah. Jika jalur utara, Ambon berada dalam salah satu
titik pelabuhan yang menghubungkan antara China, Luzon, Cebu, Maluku
(Ternate, Tidore, Makian, dan Bacan), dan Banda; maka jalur selatan, Ambon
menghubungkan Kepulauan Rempah-Rempah (Maluku dan Banda) dengan
pelabuhan-pelabuhan di Utara Jawa (Tuban, Gresik, atau Sedayu) hingga
Sumatera atau Semenanjung Melayu dan India50.

Posisi strategis itu tidak sedikit membuat orang untuk singgah dan
bermukim di Ambon. Dengan memanfaatkan Zona Sulu, Bangsa China memang
telah mengunjungi sekaligus berdagang di Maluku51. Namun, jejak-jejak
kehadiran mereka sedikit sekali ditemukan di Ambon52. Hal ini ditambah dengan

bahwa di Nunusaku ada sebuah bangunan dari batu yang menyerupai bahtera. Bahtera itu
oleh penduduk dinamakan Bahtera Noh (Sahusilawane, 2005:24)
46 Sahusilawane. 2005. Cerita-Cerita Berlatar Belakang Sejarah dari Pulau Seram… Hal.9
47 Sahusilawane. 2005. Cerita-Cerita Berlatar Belakang Sejarah dari Pulau Seram… Hal.47
48 Pattikayhatu. 1994. Kawasan Gunung Nona Lampau, Kini, dan Nanti… hal.2-3
49 Thalib, Pattiasina, Wakim, & Tupan. 2015. Sejarah Agama dan Pembangunan Gereja
Negeri Sila dan Hila Maluku Tengah…Hal.33
50 Xu. 2018. Junks to Mare Clausum; Ptak. 1992. The Northern Trade Route to the Spice
Islands; Ptak. 1993. China and the Trade in Cloves
51 Xu. 2018. Junks to Mare Clausum
52 Ketika bangsa Portugis atau Belanda datang, etnis Cina beserta kebudayaannya sudah
diterima di Maluku dan bebas berdagang serta menetap di wilayah ini. Saat VOC
merampas Kota Ambon dari tangan Portugis pada tahun 1605, orang Cina telah menjadi
bagian dari kota ini sejak catatan paling awal mulai dibuat Keberadaan etnis Cina sangat
vital untuk mendukung aktivitas kota. Sebagai pedagang antarpulau mereka menyediakan
barang penting yang tidak bisa disediakan kapal-kapal VOC seperti beras, pakaian, dan
beberapa jenis makanan lain. Salah satu hasil kebudayaan etnis Cina di masa lalu yang

7

kemunculan Melaka sebagai salah satu pusat perdagangan di Selat Melaka.
Melaka menjalin aliansi politik sekaligus mitra dagang dengan Majapahit,
penguasa pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa pada abad ke-14 dan awal
abad ke-1553. Kedua poros maritim itu menjelma menjadi pemasok rempah-
rempah utama bagi para pedagang China. Setidaknya jejak-jejak kehadiran
Majapahit di Ambon masih terlihat kini. Tradisi lisan terkait kedatangan utusan
Majapahit hingga kini masih dituturkan di Negeri Ema. Hal itu didukung pula
dengan tinggalan artefaktual yang mendukung narasi tradisi lisan itu, seperti Alor
Kora-kora, Gunung Tersili, Batu Minum Air, Lembah Losaru, dan Sumber Air
Majapahit54. Selain itu, Raja Soya masih dipercayai sebagai keturunan dari Putri
Majapahit. Raja Soya menikah dengan salah satu putri dari Majapahit. Kemudian,
sang raja mendapatkan gelar dari Majapahit. Raja Soya dengan legitimasi dari
Majapahit bergelar Raden Sultan Prabu Piring Mojopahit diperkirakan hidup di
awal abad ke-1555.

Pada abad ke-14 hingga ke-15, datang berbagai kelompok dari Seram,
Jawa (Tuban), Jailolo (Maluku Utara), dan Gorom (Seram Timur). Keempat
kelompok ini yang kemudian bersepakat membentuk pemerintahan kolegial yang
disebut Empat Perdana56. Berpijak dari cerita Raja Hitulama, Sahusilawane57
menjelaskan orang-orang yang pertama tiba di Ambon berasal dari Seram. Orang
Seram itu bertemu dengan orang Jawa, Jailolo (Halmahera), dan Negeri Gorom
(Seram). Mereka kemudian membangun sebuah pemerintahan disana. Para
keturunan orang Jawa itulah yang kemudian menjadi raja di Hitulama secara
turun temurun. Seperti halnya cerita Raja Hitulama, kisah Raja Hila tidak berbeda
jauh. Dia percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Tuban, Jailolo, dan
Gorom (Seram Timur). Kehadiran nenek moyang orang Ambon didorong oleh
tekanan-tekanan tertentu atau peperangan. Beruntung informasi itu dapat
ditemukan dalam Hikayat Tanah Hitu.

Dalam Hikayat Tanah Hitu, beberapa bangsa yang datang lebih awal
adalah Bangsa Seram, Jawa, Jailolo, dan Gorom. Dikisahkan Pati Selan Binaur atau
Zamanjadi tiba di Tanah Hitu. Terkait dengan mengapa dan bagaimana Perdana
Zamanjadi tiba di Hitu tidak terlalu dijelaskan dalam Hikayat Tanah Hitu58.

sampai saat ini masih dapat diamati di Kota Ambon adalah makam tradisional Cina
(Alputila, 2014:56). Selain itu, di Kubu Pertahanan Wawane juga ditemukan fragmen
keramik China. Jika bukan Orang China sendiri yang menjual keramik dan membeli
rempah-rempah maka bisa jadi pedagang perantara seperti pedagang Jawa dan pedagang
Luzon yang membawa keramik ke Hitu dan menukarkannya dengan rempah-rempah.
Berdasarkan penelitian lapangan penulus, fragmen keramik itu berukuran rata-rata
pecahan 3-5 cm dengan tebal 3-5 inci, dan fragmen gerabah dengan ukuran rata-rata
pecahan 3-7 cm dan tebal antara 3-7 inci, yang menumpuk dan bercampur dengan tanah,
fragmen keramik tersebut diduga fragmen keramik Cina khususnya fragmen keramik dari
Dinasti Ming.
53 Shellabear. 2016. Sejarah Melayu… Hal.109-112
54 Mujabuddawat. 2018. Jejak Kedatangan Utusan Majapahit
55 Transkrip Wawancara dengan John Rehatta, 2 September 2020
56 Thalib, Pattiasina, Wakim, & Tupan. 2015. Sejarah Agama dan Pembangunan Gereja
Negeri Sila dan Hila Maluku Tengah…Hal.33
57 Sahusilawane. 2003. Sejarah Perang Hitu di Pulau Ambon
58 Lihat Lampiran 4.

8

Bangsa Jawa kemudian hadir di Hitu setelah mereka berselisih dengan Raja
Tuban. Kyai Tuli, Kyai Dau, dan Nyai Mas yang dipercaya sebagai tiga orang awal
yang singgah dan bermukim di Ambon. Kedatangan mereka kemudian disusul
dengan kehadiran orang Jawa lainnya. Bandar Ambon kemudian menjadi ramai
dengan riuhnya perdagangan antara Orang Ambon dan Orang Jawa59.

Kehadiran Orang Jawa ternyata bukan hanya mewarnai Hitu tetapi juga
Kerajaan Jailolo60. Raja Jailolo kemungkinan besar menikah dengan dua wanita,
satu berasal dari Jailolo dan satu lainnya dari Jawa. Kedua anak raja inilah yang
kemudian bertikai. Pangeran yang lahir dari rahim wanita Jailolo harus rela
terdepak dari istana-nya. Dia dengan segenap prajuritnya kemudian melarikan
diri dan berlabuh di Hitu dimana dia kemudian membangun Kampung Lating di
Hila. Pangeran Jailolo ini kemudian dikenal dengan nama Perdana Jamilu. Bangsa
Jailolo bertahan hidup dengan menjadi nelayan. Suatu ketika mereka sedang
mencari ikan, mereka bertemu dengan Bangsa Gorom. Mereka kemudian cepat
bersahabat dan pemimpin mereka (Kyai Pati) diangkat sebagai menantu oleh
Perdana Jamilu61.

Keempat bangsa itu kemudian bersepakat untuk mendirikan sebuah
negeri dengan empat kampung. Masing-masing kampung dipimpin oleh
Zamanjadi dengan gelar Totohatu; Perdana Mulai bergelar Tanahitumesen;
Perdana Jamilu dengan gelar Nustapi; dan Kyai Pati yang diberi gelar Kyai Tuban.
Kemudian, datang lagi tiga bangsa dan mendirikan tiga kampung. Tiga kampung
itu kemudian bergabung pada Negeri Hitu. Negeri Hitu kemudian berdiri dengan
ditopang oleh tujuh kampung62.

Keempat perdana memimpin Negeri Hitu dengan arif dan bijaksana.
Apabila terdapat pertikaian diantara mereka, selalu ada penengah diantara
mereka. Ketika Perdana Zamanjadi dan Perdana Mulai berselisih paham terkait
siapa yang paling berhak akan Negeri Hitu, Perdana Jamilu muncul untuk
menengahi. Perdana Jamilu mengajak mereka berdialog satu sama lain. Dia
mengajak saudaranya itu untuk bermusyawarah sebelum mengambil suatu
kebijakan. Mereka kemudian bisa menerima alasan itu dan Negeri Hitu dipimpin
tanpa raja tetapi dikendalikan oleh Empat Perdana itu63.

Negeri Hitu kemudian menjelma menjadi salah satu entitas politik yang
penting di Perairan Maluku. Mereka mendapatkan berhasil mendapatkan
kekuasaan itu setelah banyak berdiplomasi dengan kerajaan-kerajaan penting di
Nusantara. Pati Tuban dikirim untuk belajar Agama Islam di Gresik. Di saat yang
bersamaan, Sultan Ternate yang bernama Zainal Abidin juga sedang mendalami
Islam di sana. Sultan Zainal Abidin dan Pati Tuban segera akrab dan saling
mengangkat diri mereka sebagai saudara seiman sekaligus sebagai mitra politik.
Walaupun kemudian Sultan Zainal Abidin meninggal dalam perjalanan pulang ke
Ternate, tetapi Pati Tuban telah menceritakan segala perjanjiannya dengan Sultan
Ternate. Hitu kemudian berhubungan baik dengan negeri bawahan Ternate yang
berada di Jazirah Leitimor maupun di Seram Barat. Tanda hubungan baik itu

59 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.156-7
60 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.157
61 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.158-9
62 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.160
63 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.161-3

9

dikuatkan dengan kehadiran utusan dari Ternate ke Hitu yakni Kiayaicili
Darwis64.

Selain mengirimkan Pati Tuban ke Gresik, Perdana Jamilu juga mengirim
duta Hitu ke Jepara. Disana mereka bertemu dengan Pangeran Jepara dan Nyai
Bawang. Oleh Nyai Bawang, Perdana Jamilu diberi gelar Patinggi. Mereka
mencapai kesepakatan untuk saling bermitra dalam perdagangan. Sejak itu,
Pelabuhan Hitu menjadi ramai. Bukan hanya pedagang dan pelancong dari
Kepulauan Rempah-Rempah atau Gresik saja yang mengadu peruntungan di Hitu.
Akan tetapi, banyak pedagang dari Jepara yang pergi berdagang ke Hitu65.
Pelabuhan Hitu kemudian dikenal sebagai pelabuhan transit bagi Pedagang jawa
yang hendak ke Maluku atau ke Banda. Para pedagang Jawa yang datang ke
Ambon bukan hanya singgah tetapi ada pula yang bermukin. Wajar jika kemudian
di Kota Ambon dewasa ini, masih dapat dijumpai Kampung Jawa66.

Pada akhir abad ke-15 dan ke-16, Hitu menjadi salah satu titik penting
dalam jalur pelayaran dan perdagangan Islam Nusantara. Hal ini terjadi sebagai
akibat kebijakan strategis yang dijalankan oleh Empat Perdana untuk melakukan
diplomasi dengan beberapa mitra penting di Nusantara. Selain tetap menjadi
pelabuhan transit serta penyedia makanan dan air minum, Ambon menjelma
menjadi bandar dagang yang ramai. Para pedagang tidak perlu lagi mencari pala
ke Kepulauan Banda atau cengkeh ke Maluku. Mereka dapat memperoleh
rempah-rempah itu di Ambon. Bahkan, pada paruh kedua abad ke-16, Ambon
Hitu berani mengekspor cengkeh. Cengkeh itu diambil dari tanah koloni Hitu di
Hoamoal (Seram Barat).

Aroma rempah-rempah itu juga mengundang Bangsa Eropa untuk datang.
Bangsa Portugis adalah Bangsa Eropa pertama yang berhasil berlabuh di
Kepulauan Rempah-Rempah. Setelah mereka menduduki Melaka pada tahun
1511, Afonso de Albuquerque, komandan militer penaklukan Melaka, segera
mengirim suatu ekspedisi untuk mencari darimana rempah-rempah berasal.
Pikiran Albuquerque tertuju pada keuntungan yang dapat dia peroleh jika dapat
berdagang ke tempat asal rempah-rempah. Mengingat perbedaan harga yang
sangat mencolok di Melaka dan di Maluku menambah spirit para petualang
Portugis untuk bergegas berlayar ke Kepulauan Rempah-Rempah67.

Albuquerque mengirim tiga kapal dibawah komando Antonio de Abreu.
Dua kapal lain dikomandani oleh Francisco Serrao dan Simao Alfonso Bisigudo.
Tiga kapal itu berangkat dari Melaka68 dan dipandu oleh Nahkoda Ismail. Ismail
berlayar paling depan dengan kapal pemandu untuk menuntun tiga kapal
Portugis menuju kepulauan rempah-rempah. Mereka singgah di Gresik sebelum
berlayar ke Perairan Maluku. Mereka memulai petualangan mereka dengan

64 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.163-4
65 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.165
66 Kini Kampung Jawa terletak di Kelurahan Pandang Kasturi, Kecamatan Sirimau, Kota
Ambon.
67 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol di Maluku…Hal.20
68 Terdapat beberapa pendapat terkait keberangkatan ekspedisi ke kepulauan rempah-
rempah. Menurut Andaya (2015:143), ekspedisi ini dilakukan di suatu waktu antara
November 1511 hingga Januari 1512 sedangkan menurut Galvao (1971:1975), ekpedisi
itu dilakukan pada 1512.

10

transit di Ambon69. Dua kapal Portugis bersama Junk Nahkoda Ismail berlayar ke
Banda untuk membeli dan menukar pakaian yang mereka bawa dengan pala dan
bunga fuli. Abreau kemudian juga membeli Junk China di Banda70. Abreu
memutuskan kembali ke Melaka setelah berlayar via Hitu dan Gresik. Sedangkan,
Nahkoda Ismail memilih untuk tinggal di Hitu dan Kapal Serrao berlayar
belakangan. Meskipun sempat merekrut beberapa anak buah kapal di Banda,
tetapi kapal Serrao tidak sanggup menepis terjangan badai ketika berusaha
melewati bagian barat Pulau Banda. Kapal Serrao kemudian terhempas di Pulau
Nusa Penyu71.

Di pulau yang tidak berpenghuni itu, Serrao dan awak kapalnya
termenung melihat kapalnya tidak lagi bisa berlayar. Hal ini diperparah dengan
terbatasnya air dan makanan. Mereka tidak ada pilihan selain merompak kapal
yang sedang berlabuh di pulau itu. Serrao beruntung ketika dia dan anak buahnya
berhasil merompak kawanan perompak yang hendak ingin merampas harta-
benda mereka. Para kawanan perompak ini kemudian dipaksa untuk
mengantarkan Serrao ke Nusa Tello atau Pulau Tiga, yang terletak di sebelah
barat Pulau Ambon. Penduduk Nusa Tello kemudian memberi tahu kehadiran
orang-orang Portugis pada Perdana Jamilu, salah satu dari penguasa Tanah Hitu.
Keberadaan Nahkoda Ismail di Hitu tentu memudahkan Perdana Jamilu dalam
mengidentifikasikan siapa orang Asing ini. Orang Portugis itu, Serrao dan
sembilan anak buah kapalnya kemudian diterima dengan baik oleh orang Hitu72.

Orang Portugis kemudian membantu penduduk Nusa Tello dalam
menumpas musuh mereka di Hoamoal (Seram Barat)73. Kabar keperkasaan orang
Portugis ini sampai juga pada Sultan Ternate dan Tidore yang tengah berkonflik.
Baik Sultan Bayan Sirullah dari Ternate maupun Sultan Almansur dari Tidore
bergegas menjemput dan merangkul Serrao sebagai mitra mereka dalam
berpolitik dan berdagang. Sultan Ternate beruntung datang terlebih dahulu.
Gayung bersambut, Serrao menerima ajakan baik dari Sultan Ternate. Sultan dan

69 Ada dua pendapat terkait rute pelayaran Portugis ke Kepulauan Rempah-Rempah.
Pertama, dari Melaka mereka singgah ke Gresik sebelum berlabuh di Ambon dan Banda.
Kedua, mereka berlayar dari Gresik menuju Pulau Buru, Ambon, dan Seram sebelum
berlabuh ke Banda (Amal, 2010:21)
70 Terdapat perbedaan pendapat mengapa Kapal Serrao tidak ada. Pertama, kapalnya
dibakar sendiri karena sudah terlalu tua dan tidak layak untuk berlayar. Kedua, dalam
perjalanan kapal Serrao diamuk badai dan tenggelam. Semua anak kapalnya dinaikkan ke
kapal Abreau. Abreau kemudian membeli Junk China di Banda untuk dipakai Serrao dan
anak buahnya (Amal, 2010:21-22).
71 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol di Maluku…Hal.21-2; Rumphius. 1910. De Ambonsche
Historie… hal.4
72 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol di Maluku…Hal.22-3; Rumphius. 1910. De Ambonsche
Historie… hal.5
73 Nusa Tello adalah tiga pulau kecil yang berada di sebelah barat Ambon. Penduduk di
ketiga pulau itu adalah nenek moyang dari penduduk Asilulu dewasa ini. Merekalah yang
kemudian mengantarkan orang Portugis untuk bertemu Perdana Jamilu. Orang Portugis
disambut baik oleh Orang Nusa Tello setelah mereka membantu mereka untuk
menumpas musuh mereka dari Hoamoal atau Seram Kecil dengan kampung-kampung
yang terkenal seperti Luhu dan Kambelo (Rumphius, 1910:5-6).

11

Serrao kemudian menjadi sahabat karib74. Berpijak dari hubungan baik inilah,
Serrao dapat membangun benteng di Ternate. Dia juga diberi jabatan sebagai
penasehat kerajaan dan komandan militer Ternate. Selain itu, hak monopoli atas
perdagangan cengkeh juga diberikan. Hari-hari berikutnya, orang-orang Portugis
mulai menguasai perdagangan rempah-rempah dengan memusatkan aktivitas
perdagangannya di Ternate75.

Hadirnya Portugis memang membuat perdagangan di Perairan Maluku
semakin ramai. Keuntungan yang menggiurkan dari pelayaran dan perdagangan
rempah-rempah juga dinikmati orang-orang Hitu76, walaupun Hitu atau Ambon
tidak memiliki pelabuhan yang bagus77. Akan tetapi, keuntungan yang didapatkan
oleh penguasa Hitu harus dibayar mahal. Orang Portugis bertindak semaunya
ketika mereka bermukim di Hitu78. Mereka lebih suka menghabiskan waktu
mereka untuk menenggak minuman keras dan merampas barang dagangan di
pasar. Khalayak kemudian melaporkan segala tingkah laku buruk dari Orang
Portugis pada Hakim dan Penghulu Agama Negeri Hitu. Mereka sadar bahwa
mereka tidak sanggup untuk mengusir Portugis tetapi mereka lebih memilih
untuk meminta orang Portugis untuk pindah dari Mamala79.

Selain itu, praktek monopoli Portugis juga membuat orang Hitu menjadi
geram. Ketika Antonio Galvao berkuasa di Ternate, dia melihat kedatangan
bangsa lain di Perairan Maluku sangat mengganggu perdagangan cengkeh. Dia
kemudian memerintahkan Kapten Azevedo dengan 25 armada untuk mengusir
para pedagang asing yang bermukim di Ambon. Armada ini tiba pada tahun 1538
dan segera memulai aksinya. Mereka mulai merebut Mamala dan mengusai
seluruh pesisir Hitu baik dengan senjata maupun perundingan80. Mereka
kemudian membangun perkubuan sederhana di hilir sungai di Batu Merah, di

74 Bagi Kerajaan Ternate, kedatangan Serrao memiliki arti yang sangat penting. Sultan
Ternate percaya bahwa Ternate akan menang dari Tidore dan masyarakat akan makmur
ketika seseorang dari belahan bumi lainnya serta orang-orang besi datang dan menjadi
penduduk Ternate (Amal, 2010:23)
75 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol di Maluku…Hal.24
76 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.168
77 Orang Ambon tidak memiliki komoditas dagang dan pelabuhannya pun tidak begitu
bagus sehingga mereka tidak menjalankan perdagangan. Wilayah ini penuh dengan orang
berbahaya. Jika dalam perjalanan menuju Maluku dari Banda, lebih baik jika singgah
disana (Pires. 2014:295)
78 Hubungan Hitu dan Portugis menjadi tidak baik pada 1523. Orang Hitu memang
meminta Antonio de Brito untuk membantu mereka melawan para perompak dari Seram.
Walaupun mereka berhasil menghancurkan para perompak itu, namun ketika mereka
sedang mengadakan jamuan kemenangan, orang Portugis lepas kendali akibat minum
minuman keras. Salah satu orang Portugis ingin untuk memeluk putri dari Jamilu yang
membuat Orang Hitu naik pitam. Perdana Jamilu sudah berusaha menegurnya namun
malah ditampar oleh prajurit tersebut. Orang-orang Hitu hendak membunuh prajurit
kurang ajar itu, tapi dicegah oleh Jamilu. Akhirnya orang-orang Portugis dikirim balik ke
Ternate dengan sepucuk surat yang berisikan pemutusan hubungan baik antara Hitu dan
Portugis (Kantor Waligreja Indonesia, 1974:81)
79 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.168-9
80 Rumphius. 1910. De Ambonsche Historie… hal.6-7

12

Jazirah Leitimor81. Ketamakan Portugis inilah yang membuat konflik dengan Hitu
tidak dapat lagi dibendung82.

Hitu berkoalisi dengan Ternate dan Luhu untuk mengusir Portugis dari
Ambon pada tahun 1558. Mereka berhasil menduduki sebagian besar kawasan
itu. Sebagian desa-desa Kristen di pesisir dapat mereka kuasai. Hanya Hatiwe
yang tidak dapat mereka kuasai karena sangat berdekatan dengan benteng
Portugis. Pada tahun 1561, Henricus Sa memimpin armada dari Goa untuk
membantu orang-orang Kristen di Ambon. Armada dari Goa itu bukan hanya
mengusir pasukan gabungan tetapi juga merehabilitasi Ambon. Hitu sekali lagi
melakukan ekspansi setelah bantuan dari Jawa datang pada tahun 156583. Mereka
berlabuh di Hitu dan kemudian melalui jalur darat menyerbu Portugis dan para
sekutunya di Teluk Ambon. Mereka hanya membakar desa-desa Kristen namun
tidak berani menyerang Benteng Kayu Portugis yang terletak diantara Mamala
dan Hitulama84. Setelah menunggu berapa lama tidak ada lagi bantuan datang
dari Jawa. Pasukan itu kemudian kembali pulang ke Jawa. Kematian Sultan Hairun
telah membuat orang-orang Ternate geram. Mereka mengusir orang-orang
Portugis dari Ternate. Bahkan, pasukan besar Ternate yang dikomandani oleh
Rubohongi datang ke Ambon pada 157085.

Portugis segera menyadari bahwa mereka tidak bisa bercokol di benteng
kayu kecil di Galala, di Batu Merah, dan di Hukunalu86. Mereka ingin membangun

81 Penduduk lokal, misalnya penduduk Soya atau Amantelo sadar diri mereka tidak
mungkin mampu melawan Portugis. Mereka terpaksa memilih bersahabat dengan
Portugis. Di samping benteng Portugis di Batu Merah, mereka juga membangun
pemukiman untuk tujuh keluarga Mardikers yang dibawa dari Ternate dan Tidore
(Rumphius, 1910:7)
82 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.169; dalam Hikayat Tanah Hitu, Rijali
memang menjelaskan pertikaian antara Hitu dan Portugis. Akan tetapi, dia tidak secara
spesifik menjelaskan peperangan itu beserta dengan angka tahun kejadiannya.
83 Menurut Rumphius (1910:8), pasukan Jawa itu berasal dari Gresik. Rijali dalam Hikayat
Tanah Hitu juga merekam bala bantuan dari Jawa tersebut. Akan tetapi dia tidak
menjelaskan bala bantuan dari Jawa bagian mana armada itu datang. Rijali hanya berujar
“Hatta ia (Kiyai Mas) datang ke tanah Hitu dan orang Hitupun keluar angkatan serta ia
mendatangi negeri kafir itu, lalu masuk ke dalam negeri. maka negeri ke dalam kotanya
dan orang itupun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. maka
panglimanya yang gagah itu syahid maka patah perang Islam itu” (Manusama (Ed),
1977:176). Akan tetapi, dalam sebuah kronik berjudul A Capitania de Amboina yang
tersimpan di BNL, Fundo Geral Numero 474, menjelaskan bahwa armada dari Jawa
dikirim oleh Ratu Jepara (De Sa, 1956:199-200). Jika melihat keragaman versi darimana
bala bantuan itu berasal maka ada kemungkinan besar pasukan Jawa yang dimaksud
adalah pasukan gabungan antara Gresik dan Jepara.
84 Benteng itu bukan untuk berperang tetapi digunakan sebagai tempat pemukiman
sementara bagi awak kapal-kapal Portugis yang berlayar dari Melaka ke Ternate (Leirissa,
Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa 2004:19)
85 Rumphius. 1910. De Ambonsche Historie… hal.8
86 Setelah mendirikan benteng kayu di Galala, mereka merasa benteng ini tidak cukup
aman dan kemudian membakarnya. Mereka kemudian mendirikan Benteng Kayu di Batu
Merah atas bantuan Hatiwe dan Tawiri. Atas bantuan mereka juga, orang Portugis juga
mendirikan sebuah benteng kayu di sekitar Hukunalu atau Rumah Tiga (Leirissa,
Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa 2004:19)

13

benteng baru untuk menjamin keselamatan mereka. Benteng baru itu terletak di
Dusun Honipopu. Benteng itu selesai dibangun pada tahun 1588 dan diberi nama
Nossa Senhora de Anunciada. Benteng itu berbentuk segiempat yang disetiap
sudutnya dibangun empat menara bersegi tiga untuk menempatkan meriam.
Meriam ini diarahkan ke laut dan ke darat untuk menembaki lawan yang datang
mengancam. Didalam benteng, terdapat sebuah gedung yang dikelilingi rumah-
rumah sederhana tempat pegawai dan prajurit Portugis bermukim; sebuah
tempat perbekalan; gereja; rumah untuk Kapten Portugis; dan sebuah gedung
untuk rapat87.

Gambar 1.1.1. Benteng Portugis di Ambon Gambar 1.1.2. Benteng Portugis di
dilihat dari Laut (De Graff, 1977:49) Ambon dilihat dari sisi darat (De

Graff, 1977:50)

Selain berfungsi untuk menangkis beberapa serangan dari Hitu dan para
koalisinya88, benteng itu juga menjadi tempat Portugis bermukim. Kehidupan
sosial Kota Ambon89 terbagi dalam beberapa kelompok yakni (1) orang Portugis

87 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.19-20
88 Pada tahun 1599, Hitu bersekutu dengan Jawa, Inggris, Luhu dan Buru untuk
menyerang Portugis di Kota Ambon. Mereka menyerang benteng Portugis pada tahun
1600. Pertempuran laut dilancarkan dan tragisnya kapal muslim tenggelam setelah bahan
mesiu mereka terbakar. Pasukan gabungan itu kemudian memilih untuk mundur. Steven
Verhagen memang berhasil menduduki benteng tapi tak berselang lama dia-pun kembali
berlayar ke Jawa. Pada tahun 1601, Portugis memutuskan untuk menyerang Kaitetu,
tempat dimana benteng Belanda berada. Namun, pasukan Hitu memukul balik dan
membuat Portugis melarikan diri. Cobaan Hitu tidak berhenti disini. Kehadiran Andre
Furtado membuat Hitu semakin merana. Hitu kemudianmeminta tolong pada Belanda
untuk mengusir Portugis. Di kemudian hari, bantuan yang diberikan Belanda membuat
Hitu kehilangan segalanya di kemudian hari (Rumphius, 1910:9-14)
89 Orang Portugis menyadari bahwa Ambon adalah nama pulau yang mereka sebut
sebagai Ilhas de Amboyno (Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa, 2004:21)

14

sendiri termasuk orang-orang Casados90; (2) orang-orang Mahardika atau
Mardika91; (3) orang-orang lokal (terutama Hatiwe dan Tawiri) dari berbagai
negeri di Pulau Ambon; dan (4) para misionaris yang jumlahnya tidak banyak92.

Dalam mengelola masyarakat Ambon, Portugis membangun suatu
pemerintahan. Pemerintahan ini dipimpin oleh seorang kapten. Dalam
mengerjakan tugas sehari-hari, sang kapten dibantu oleh para pejabat sipil yakni
seorang sekretaris dan seorang kepala pos dagang (feitor), yang bertugas
mengurusi segala aktivitas perdagangan. Para pegawai pemerintah selain
mengurusi penduduk kota juga bertugas mengendalikan penduduk Leitimor di
masing-masing negeri. Walaupun mereka terlihat sangat mendukung Portugis,
namun pada kenyataannya mereka juga resisten pada Portugis sepanjang tahun
1580 hingga 1590. Orang Portugis berhasil mengendalikan para pemberontak
dengan membuat sebuah dewan yang anggotanya terdiri dari sejumlah penguasa
uli. Para penguasa uli inilah yang menjadi perantara antara penduduk lokal dan
pemerintah kolonial Portugis. Selain itu, penguasa uli juga berkewajiban
menyediakan kora-kora93 sebagai armada perang; kapal pemandu bagi Portugis
untuk memasuki Teluk Ambon; dan alat transportasi bagi pejabat Portugis untuk
mengunjungi berbagai tempat misalnya Pulau Haruku, Saparua, Buru, dan
Seram94.

Memasuki abad ke-17, Ambon kehadiran tamu asing lainnya. Bangsa
Belanda datang ke Ambon dengan misi utama mendapatkan keuntungan atas
perdagangan rempah-rempah. Dengan menerima pelukan hangat dari Orang Hitu,
Belanda berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah. Mereka
mempekerjakan orang-orang China, Portugis, dan Mestizo. Para pekerja itu yang
kemudian mewarnai kemajemukan Ambon. Sayangnya, akibat ketamakan
mereka, hubungan harmonis mereka dengan Hitu mejadi buruk. Orang Hitu
dengan segera meminta bantuan kepada orang Banda dan Makasar. Penduduk
Hitu kemudian terlibat dalam episode pemberontakan, pengusiran, dan
pemindahan penduduk secara paksa95.

Pada akhir abad ke-16, Orang-Orang Belanda melakukan ekspedisi untuk
berdagang ke Kepulauan Rempah-Rempah. Kehadiran mereka disambut hangat
oleh para penduduk lokal (warga Hitu) yang saat itu sedang bertikai dengan
Portugis. Orang Hitu itu meminta bantuan Belanda untuk mengusir Portugis96.
Permintaan bantuan itu disampaikan langsung pada Raja Belanda. Para pedagang
tidak mungkin melakukan perang. Mereka harus dibantu oleh bala tentara

90 Casados adalah sebutan bagi orang Portugis yang memutuskan untuk menikah dengan
perempuan lokal dan bermukim di Ambon (Jacobs, 1977:606).
91 orang Mardika dapat dipahami sebagai orang-orang Kristen yang dibawa Portugis dari
Ternate dan Tidore. Mereka menikmati beberapa hak istimewa diantaranya mereka tidak
lagi diwajibkan untuk bekerja. Mereka juga ada yang kemudian menjadi tentara yang baik
(Jacobs, 1977:606)
92 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.22-4
93 Pada masa Portugis, terdapat beberapa uli yang menyediakan kora-kora bagi Portugis,
yakni Kilang, Soya, Halong, Ema, Hutumuri, Baguala, dan Mardika (Leirissa, Pattikayhatu,
Luhukay, Thalib, & Maelissa, 2004:27)
94 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.26-7
95 Muhammad. 2018. Kodifikasi Bahasa Melayu Ambon… hal.53
96 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.179

15

kerajaan. Gayung bersambut, permintaan Hitu disetujui oleh Raja Belanda.
Admiral Cornelis Sebastianszoon dan Steven van der Hagen kemudian
diperintahkan untuk merealisasikan sebuah perjanjian kerja97. Perjanjian itu
berisi upah yang diterima Belanda dan bantuan yang diberikan Belanda pada
Hitu98. Perjanjian antara Hitu dan Belanda diperkirakan pada tahun 160399.

Setelah perjanjian disepakati, Admiral Matelief, Steven van der Hagen,
dan Mihirjiguna memimpin pengepungan Kota Ambon pada Tahun 1605. Ketika
Portugis terkepung, mereka tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada orang lokal
yang memasok bahan pangan bagi mereka walaupun mereka masih memiliki
cukup persenjataan. Kapten Portugis di Ambon, Gaspar de Melo, menyerah
dengan syarat100 dan memberikan Kota Laha pada Belanda. Pada awalnya, Empat
Perdana ingin menghancurkan benteng itu. Namun, orang Belanda kemudian
mencegah dan meminta benteng itu sebagai benteng mereka101. Belanda
kemudian menamai kembali benteng yang baru mereka duduki dengan nama
Benteng Victoria. Mereka juga menempatkan Frederik Houtman sebagai
Gubernur Ambon102.

Gambar 1.1.3. Pendudukan Portugis oleh VOC di Ambon (De Graff, 1977:48)
Belanda dengan kongsi dagang-nya memakai politik imperialis, yang

tentu berbeda dengan politik kolonial Portugis. Mereka siap membantu kerajaan-
kerajaan lokal dengan syarat mereka diberikan tanah yang dapat mereka jadikan

97 Mu’jizah. 2012. Pertemuan Antarbangsa dalam Hikayat Tanah Hitu… Hal.23
98 Hitu dan Belanda bersepakat terkait pembagian hasil yang akan mereka terima jika
mereka berhasil mengalahkan Portugis. Apabila Kota Ambon berhasil diduduki, orang
Hitu harus membayar 400 bahar kepada Belanda. Adapun orang-orang yang berkulit
hitam akan diperbudak oleh orang Hitu dan kulit putih diserahkan pada Belanda. Apabila
kapal Portugis berhasil ditenggelamkan maka Orang Hitu harus membayar Belanda dan
menyerahkan kapal dan senjata orang Portugis pada Belanda (Manusama, 1977:180)
99 Kartodirdjo. 2014. Pengantar Sejarah Indonesia… hal.206
100 Orang-orang Portugis ingin difasilitasi untuk meninggalkan Ambon dengan selamat.
Selain itu, ada beberapa Keluarga Mestizo yang diizinkan tetap bermukim di Ambon
dengan beberapa syarat.
101 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.182
102 Mu’jizah. 2012. Pertemuan Antarbangsa dalam Hikayat Tanah Hitu… Hal.25

16

sebagai koloni baru. Setelah kemenangan Belanda atas Portugis, banyak dari
kerajaan tetangga yang ingin mengusir Portugis juga. Ternate, misalnya, meminta
bantuan pada Belanda untuk mengusir Portugis. Belanda kemudian meminta
Luhu, Lasidi, dan Kambelo sebagai imbalan. Menariknya, Ternate malah
menawarkan Tanah Hitu karena tiga wilayah yang Belanda minta sedang
diduduki oleh Inggris. Namun, setelah Portugis berhasil diusir, Ternate malah
dikuasai Belanda. Setali tiga uang, Banda pada awalnya meminta bantuan Belanda
untuk mengusir Inggris. Akan tetapi, setelah Inggris terusir dari Banda. Banda
malah dikuasai Belanda103.

Inggris, dan orang Jepang, kemudian menjadi korban pembantaian
Belanda. Kisah tragis pembantaian mereka kini dikenal dengan Peristiwa
Amboina 1623. Inggris dan Jepang dianggap sebagai pengganggu bagi monopoli
rempah-rempah Belanda. Belanda mengganggap Inggris dan Jepang dapat
merusak harga rempah-rempah yang telah mereka tetapkan. Inggris dan Jepang
menawar dengan harga yang tinggi pada para pedagang lokal. Hal ini membuat
orang Belanda seperti kebakaran jenggot hingga akhirnya menyiksa dan
membunuh mereka semua104.

Gambar 1.1.4. Pembantaian di Ambon, menurut karikatur anti-Belanda (De Graff,
1977:70)

103 Mu’jizah. 2012. Pertemuan Antarbangsa dalam Hikayat Tanah Hitu… Hal.25-6
104 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu… Hal.185-6

17

Bangsa Belanda walaupun memiliki jumlah populasi yang kecil di Ambon
berada pada tingkat paling atas dalam stratifikasi sosial di Ambon. Sebagai kelas
penguasa, warga Belanda di Ambon terdiri dari warga sipil, pegawai kolonial, dan
tentara. Para pegawai kolonial itu yang meliputi Gubernur, Pedagang Senior
(Opperkoopman), dan Kapten menempati posisi yang tinggi dalam hirarki sosial
disana. Mereka memang mendapatkan gaji yang kecil dari kongsi dagang. Akan
tetapi, mereka memperoleh berbagai imbalan (yang sah maupun tidak sah) dari
produksi, pengangkutan komoditas terutama cengkeh, dan pengkapalan105.

Warga Sipil Belanda biasanya bekerja sebagai pedagang, baik pedagang
kecil maupun besar. Kepemilikan kapal layar menjadi kriteria tersendiri bagi
pengategorian para pedagang. Para pedagang kaya biasanya memiliki jumlah
kapal layar berkisar antara 30 hingga 50 kapal. Kapal layar itu dikenai pajak
sebagai pembayaran surat izin berlayar. Bagi kapal-kapal yang berlayar tanpa
membawa surat izin, Belanda pasti menyerang dan mengambilalih atau
menenggelamkan kapal-kapal itu. Kapal-kapal liar itu biasanya berasal dari
Makasar. Keberadaan mereka merupakan ancaman nyata bagi monopoli
perdagangan cengkeh kompeni106.

Bangsa asing lainnya yang bermukim di Ambon adalah Bangsa China.
Mereka hadir bukan sebagai pesaing Belanda. Akan tetapi, mereka datang sebagai
pegawai Kongsi Dagang Belanda. Pemukiman China yang dikenal sebagai
Kampung China dapat ditelusuri hingga kini. Selain itu, bukti eksistensi mereka
juga terlihat ketika gempa besar menghantam Ambon pada 1673. Ballintijn107
menjelaskan banyak orang dari semua kalangan ikut meramaikan pawai malam
Tahun Baru China. Pawai itu sangat meriah dengan ratusan lampion dan layang-
layang yang ditempeli kertas emas dan perak. Ketika semua orang sedang
menikmati pawai, tiba-tiba bumi berguncang dan gempa besar menghancurkan
Ambon.

Bangsa China di Ambon pada umumnya adalah pedagang. Mereka dapat
dibagi dalam dua kategori yakni pedagang kelontong dan pedagang besar. Para
pedagang besar biasanya menjadi tangan kanan dari Belanda dalam urusan
perdagangan. Belanda juga mengangkat Kapten China dari kalangan ini. Mereka
hidup dengan cara yang sangat eksklusif dalam Kampung China. Para Pedagang
China yang berkeliling mendapat modal dari rekan senegaranya. Mereka sering
menjajakan barang dagangannya dengan berjalan kaki. Selain itu, mereka juga
sering mendatangi negeri-negeri di Pulau Ambon dengan menggunakan perahu.
Mereka menjual barang-barang dari Batavia dan membeli sagu untuk dijual
kembali ke Kota Ambon108.

Selain Bangsa Eropa dan Bangsa China, Ambon juga menjadi rumah bagi
bangsa-bangsa Nusantara di Ambon. Mereka berjumlah setengah dari seluruh
populasi Ambon. Mayoritas penduduk inlander (sebutan orang Belanda pada
orang-orang Nusantara) adalah budak belian yang berasal dari berbagai tempat
di Nusantara. Mereka dijual di Batavia dan dibawa ke Ambon. Pada saat itu,
tenaga budak menjadi sumber daya yang penting bagi penduduk kota. Kalangan

105 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.65
106 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.66
107 Ballintijn. 2003. Rumphius de Blinde Ziener van Ambon…hal.23
108 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.65

18

elit di Kota Ambon rata-rata memiliki sekitar 10 hingga 20 budak. Mereka dapat
dipekerjakan dalam rumah atau di pekarangan. Mereka juga bisa disuruh untuk
menangkap ikan, berburu, dan mencari kayu bakar109.

Setingkat diatas para budak, para warga kota pribumi non budak
menikmati posisinya di Ambon. Sebagian kecil dari mereka memiliki modal yang
cukup besar. Pemerintah Belanda mengangkat pemimpin warga pribumi dari
kalangan mereka. Keberadaan pedagang Makasar yang kaya raya membuat
mereka diberi gelar Kapten Makasar di Ambon. Mereka hanya diizinkan untuk
tinggal di Ambon. Belanda takut mereka akan menyelundupkan cengkeh atau
menjalankan perdagangan gelap110.

Elit lokal bahkan juga ada yang bekerja sebagai pegawai Kompeni111.
Sayangnya, politik ekspansif Belanda telah membuat penduduk Hitu dan Ambon
pada umunya menderita. Hal ini diperparah dengan adanya praktek monopoli
perdagangan, pengambilalihan wilayah secara paksa, pelayaran hongi, dan
perubahan struktur sosial dan pemerintahan. Pertikaian antara Hitu dan Belanda
tidak dapat dicegah lagi. Setidaknya terdapat dua perang yang berlangsung antara
Hitu dan Belanda. Perang Hitu I berlangsung antara tahun 1634 hingga 1643.
Sedangkan, Perang Hitu II pecah dari tahun 1643 hingga 1646.

Perang Hitu I dipicu oleh ketidakadilan yang diberlakukan oleh
pemerintah kolonial. Hitu merasa diri mereka sebaga bangsa yang merdeka.
Dengan menjadikan Gunung Wawane sebagai benteng alami, mereka bergerilya
menghadapi Belanda. Dengan dibantu oleh Orang Jawa, Ternate, Seram, dan
beberapa orang Kristen, mereka bahu-membahu menyerang Belanda. Belanda
berhasil meredam serangan koalisi itu ketika mereka berhasil menangkap
pimpinan mereka, Kakiali. Dia kemudian diasingkan ke Batavia112.

Orang Hitu kemudian mundur dan menghimpun kekuatan secara diam-
diam. Kembalinya Kakiali tidak merubah sikap dan perilaku Belanda. Mereka
tetap bersikap semena-mena. Penderitaan rakyat akibat migrasi paksaan dan
monopoli semakin menjadi-jadi. Telukabessy kemudian mengangkat senjata dan
memimpin perjuangan melawan Belanda. Mereka dibantu oleh sekutunya yakni
prajurit dari Hoamoal, Makasar, dan Ternate. Mereka menjadikan Benteng
Kapahaha sebagai pusat pertahanan mereka. Perang berlangsung dengan sengit
dan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Dengan memanfaatkan
pengkhianatan anak buah Telukabessy, Belanda dapat menembus Benteng
Kapahaha. Walaupun Telukabessy berhasil meloloskan diri tetapi kemudian dia
menyerahkan diri akibat tidak tahan melihat rakyatnya disiksa. Telukabessy

109 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.64
110 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelissa. 2004. Ambonku…hal.65
111 Pada tanggai 25 februari 1689 Ambonsche Raad memutuskan untuk mengangkat
seorang anggota Ambonsche Raad dari kalangan Orang Kaya dari Hitu. Maka Hasan
Soleimanlah yang terpilih untuk menduduki jabatan tersebut. Dan ia menyetujui
pengangkatan ini, walaupun untuk itu ia harus rela melepaskan jabatannya sebagai imam.
Kedudukannya sebagai imam diganti oleh keponakanya yang bernama “Moawia” (De
Graaf 1977:96)
112 Sahusilawane. 2003. Sejarah Perang Hitu…Hal.111

19

kemudian dijatuhi hukuman mati. Perang Hitu memang dapat dipadamkan tetapi
menginspirasi perlawanan di tempat lain, terutama di Hoamoal113.

Baik Perang Hitu I maupun Perang Hitu II berakhir dengan hasil yang
sama yakni mereka mengalami kegagalan. Bala bantuan dari Batavia telah
membuat armada Belanda di Ambon semakin kuat dan menguasai Hitu. Belanda
kemudian turut campur dalam pemerintahan daerah dengan mengangkat
gubernur yang mengawasi kinerja penguasa lokal. Banyak penduduk Hitu yang
mengungsi ke Makasar termasuk penulis Hikayat Tanah Hitu, Rijali114.

Setelah menguasai Hitu sepenuhnya, Belanda berhasil mengeruk
keuntungan yang besar dari bumi Maluku. Mereka bercokol hingga Vereenigde
Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Kompeni menemui keruntuhannya dan
dibubarkan pada tahun 1799115. Kekuasaan VOC di Ambon, dan di Nusantara
pada umumnya, diakuisisi oleh Kerajaan Belanda. Kerajaan Belanda kemudian
membentuk Pemerintah Kolonial Belanda. Akan tetapi, perubahan konstelasi
politik di Eropa juga mempengaruhi politik kolonial di Nusantara. Dengan
ditaklukannya Belanda oleh Napoleon Bonaparte maka Belanda menjadi taklukan
Prancis termasuk semuah daerah jajahan Belanda. Prancis menempatkan
Daendels untuk mengamankan Nusantara dari ancaman Inggris. Akan tetapi,
usahanya sia-sia.

Pasukan Inggris kemudian berhasil menguasai Nusantara. Ambon sendiri
ditaklukkan oleh Inggris pada 1810. Pada penyerbuan ini, Inggris berhasil
menguasai seluruh Ambon baik Jazirah Leitimor maupun Leihitu. Dalam periode
singkat Pendudukan Inggris di Ambon, penguasa pribumi diberi keleluasaan
untuk membuat suatu kebijakan terutama kebijakan perdagangan. Selain itu,
sistem pelabuhan terbuka juga iterapkan untuk memperoleh keuntungan. Pada
masa Inggris, penduduk Ambon diperkirakan berjumlah 50.000 jiwa yang terdiri
atas orang Belanda, orang Portugis, Orang China, Orang Melayu, dan Orang lokal.
Tidak berselang lama dengan adanya Traktat London 1814, Ambon dikembalikan
Inggris lagi pada Belanda. Belanda kemudian mulai berkuasa sejak 1816 hingga
kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945116.

Kemajemukan Ambon menyajikan keberagaman dalam berinteraksi.
Apabila ada salah satu pihak yang menyeragamkan cara mereka bergaul dan
bersikap maka bukan tidak mungkin pertikaian dan konflik akan hadir jika pihak
lain belum bisa menerima apa yang diidealkan oleh pihak pertama. Bangsa asing
seperti Portugis dan Belanda belum bisa menerima konsepsi kesejahteraan
bersama. Mereka cenderung melakukan segala sesuatu jika hal itu
menguntungkan bagi mereka. Terlihat jika ada pihak lain yang berusaha
mengganggu atau merusak monopoli mereka atas rempah-rempah. Mereka tidak

113 Sahusilawane. 2003. Sejarah Perang Hitu… Hal.112-3
114 Mu’jizah. 2012. Pertemuan Antarbangsa dalam Hikayat Tanah Hitu… Hal.19-20
115 Alasan kuat kejatuhan Kompeni tidak lain karena merebaknya korupsi yang banyak
dilakukan oleh para pegawai. Mereka bukan hanya melakukan penggelapan uang tetapi
juga sering menyalahgunakan kekuasaan. Seringkali, para pedagang dengan pangkat
tinggi melakukan perdagangan ilegal dan keutungannya menjadi milik pribadi (Boxer,
1985:106-8)
116 Raman. 2019. Sejarah Kota Pelabuhan Ambon… hal.48-9; Thorn. 2004. Penaklukan
Pulau Jawa…hal.326-330

20

segan-segan untuk melakukan aksi polisionil. Benar jika Rijali117 berujar bahwa
nafsu dunialah yang membuat segala pertikaian itu ada. Portugis dan Belanda
berpijak pada pemerolehan keuntungan dalam tempo waktu singkat dengan
menghalalkan segala cara termasuk membantai pihak-pihak yang mengganggu
aktivitas perdagangan mereka.

B. Kebudayaan Materi118
Budaya materi atau artefak merupakan wujud fisik dari kebudayaan.

Wujud itu dihasilkan dari ide-ide kompleks dan perilaku berpola. Pada umumnya,
semua benda dan hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan
merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Tinggalan budaya berupa
bangunan juga menjadi karya budaya manusia. Manusia dengan segala ide
kreatifnya merancang dan membangun struktur suatu bangunan. Oleh karena itu,
suatu bangunan dapat dijelaskan secara komprehensif ketika bukan hanya
mengulas bentuk fisik bangunan tetapi juga cara membangun bangunan itu
(sekaligus ritual adat yang menyertainya); makna filosofis dari tiap bagian
bangunan dan ornamen bangunan; dan fungsi bangunan itu sendiri.

Setelah masyarakat hidup menetap, mereka mulai membangun berbagai
bangunan seperti rumah adat dan masjid. Kedua bangunan itu dapat
diklasifikasikan sebagai arsitektur tradisional. Dalam khasanah arsitektur,
bangunan-bangunan tradisional dikenal dengan sebutan arsitektur tradisional
atau vernakular. Arsitektur vernakular adalah gaya arsitektur yang dirancang
berdasarkan kebutuhan lokal, ketersediaan bahan bangunan, dan
mencerminkan tradisi lokal. Struktur bangunan biasanya dibuat oleh
masyarakat lokal tanpa adanya intervensi dari arsitek profesional. Arsitektur
vernakular bergantung pada kemampuan desain dan tradisi pembangunan
lokal. Arsitektur vernakular dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti iklim,
perilaku manusia (budaya), dan kondisi lingkungan. Beberapa faktor itu
mempengaruhi keanekaragaman bentuk bangunan119.

Baileo adalah rumah adat di Ambon-Lease yang jamak dijumpai. Baileo
merupakan bangunan berbentuk rumah panggung atau rumah berkolong, dan
berdenah persegi. Pondasi bangunan terbuat dari kayu, papan dan daun sagu
sebagai atapnya. Baileo memiliki ukuran yang sangat luas dan besar120. Baileo
tidak difungsikan sebagai rumah tinggal. Baileo hanya digunakan sebagai tempat
pelaksanaan acara adat atau keagamaan. Selain itu, baileo juga berfungsi sebagai
tempat berkumpulnya warga untuk membahas berbagai masalah121.

Baileo Saparua dianggap sebagai salah satu baileo tertua. Baileo ini
diperkirakan dibangun oleh empat marga asli (marga Titaley, Anakotta, Ririnama
dan Simatauw). Pada tahun 1436, mereka secara bersamaan hijrah ke daerah
Saparua dari Souhuku di Pulau Seram. Keberadaan baileo dianggap sebagai tanda
keterikatan mereka. Baileo ini diperkirakan dibangun pada tahun 1514 dimasa

117 Manusama. 1977. Hikayat Tanah Hitu…. hal.200
118 Dikembangkan dari paper berjudul “The Toponymy of the villages in Ambon“ yang
dipublikasikan pada jurnal Berkala Arkeologi pada tahun 2021.
119 Salhuteru. 2015. Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, hal.13
120 Salhuteru. 2015. Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, hal.11
121 Salhuteru. 2015. Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, hal.12

21

pemerintahan raja Melyanus Titaley122. Baileo lain yang terletak di Saparua
adalah baileo Nolloth. Baileo Nolloth didirikan pada tahun 1769 oleh Raja Izac
Niklas Huliselan dengan nama “Simalua Pelamahu” yang berarti rumah tangga
negeri123.

Secara arsitektur, bagian-bagian baileo dapat dibagi menjadi tiga bagian,
yakni bagian bawah, tengah, dan atap. Pertama, bagian bawah didirikan di atas
tumpukan tanah yang agak tinggi, dibatasi dengan tumpukan batu atau beton
sebagai penahan tanah. Terdapat tiang-tiang yang ditancapkan pada tanah.
Jumlah tiang pada masing-masing baileo bervariasi.Selain tiang-tiang induk,
terdapat pula tiang tambahan yang diikatkan berimpit pada tiang induk, gunanya
untuk memperkuat tiang induk sebagai penopang seluruh bagian bangunan.
Kedua,bagian tengah bangunan adalah lantai dan dinding. Lantai baileo umumnya
terbuat dari papan yang diletakan di atas tiang-tiang kayu dengan menggunakan
pasak kayu atau paku. Baileo yang tidak berkolong memiliki pondasi kedua
bangunan ini dibuat tinggi. Lantai dan tanah sekitarnya dihubungkan dengan
tangga yang diletakkan pada pintu masuk.Ketiga, bagian Atas Bagian atas atau
atap biasanya berbentuk tumpal atau segitiga sama kaki. Atap baileo umumnya
terbuat dari daun sagu atau daun rumbia. Konstruksi atap mempergunakan
bahan kayu dan bambu dengan pasak kayu, pasak besi, paku, ataupun juga
dengan cara ikat tali ijuk124.

Gambar 1.2.1. Baileo Saparua (Sumber:
kebudayaan.kemdikbud.go.id)

122 Ayu. 2020. Baileo Saparua, dipublikasikan pada laman
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/baileo-saparua/
123 Salhuteru. 2015. Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, hal.14;
Ayu. 2019. Baileo Nolloth, dipublikasikan pada laman
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/baileo-nolloth/
124 Salhuteru. 2015. Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, hal.19

22

Gambar 1.2.2. Baileo Nolloth (Sumber
kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Selain baileo, rumah raja juga dapat dikategorikan sebagai bagian dari
arsitektur vernakular. Salah satu rumah raja yang masih eksis adalah Rumah Raja
Negeri Hitu Lama di Desa Hitulama. Bangunan ini berbahan kayu yang bercat
putih. Atap rumah ini terbuat dari rumbia. Rumah ini terdiri dari 6 kamar, 2
kamar di depan, 2 kamar di tengah dan 2 kamar di belakang. Dua kamar di depan
adalah Kamar Raja dan kamar pusaka. Rumah ini luasnya hingga ke belakang dan
tembus ke Jalan Raya Hitu. Ruang depan terdapat singgasana raja dan tempat
penerima tamu, sedangkan ruang belakang difungsikan sebagai ruang pertemuan
dengan duduk bersila. Bangunan ini mempunyai lebar 13 meter di bagian depan
dan 16 meter dibagian belakang. Rumah Raja Negeri Hitu dibangun sekitar tahun
1512. Awal mula dibangun difungsikan sebagai rumah raja untuk memerintah di
wilayah Hitu Lama dan sampai sekarang masih difungsikan sama seperti waktu
dulu125.

Gambar 1.2.3. Rumah Raja Negeri Hitu Lama (Sumber:
cagarbudaya.kemdikbud.go.id).

125 cagarbudaya.kemdikbud.go.id

23

Rumah Tua Soya juga menarik untuk diulas. Rumah ini ditinggali oleh Raja-
Raja Soya secara turun temurun. Rumah ini mengadaptasi arsitektur indis dimana
terdapat empat buah pilar di teras rumah dan terdapat tiga buah meriam kecil
buatan orang Eropa. Meriam tersebut merupakan hadiah dari VOC ketika masih
menguasai Ambon yang diberikan kepada Raja Soya. Di dalam rumah ini terdapat
beberapa benda peninggalan Negeri Soya yang masih tersimpan dengan baik,
diantaranya adalah Panji Lambang Negeri Soya, foto-foto keluarga Rehatta, Gong,
dan Surat Penetapan Cuci Negeri126.

Gambar 1.2.4. Tampak depan Rumah Raja Soya
(Sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id).

Gambar 1.2.5. Meriam di Rumah Raja Soya
(Sumber: Laporan Kegiatan Kajian Pelestarian
Kawasan Cagar Budaya Negeri Soya Kota Ambon

tahun 2019)
Di Hila, terdapat Rumah Tua Lating Nustapi. Rumah Raja itu menghadap ke
utara (laut) dengan bahan bangunan terbuat dari kayu dengan pondasi dari batu
campur semen dan beratap daun rumbiah (ijuk), dengan plafon rumah terbuat
dari batang atau tangkai daun rumbiah (bahasa lokal: gaba- baga) walaupun kini
sebagian telah diganti dengan bahan kayu terutama palfon bagian dalam rumah
(bagian tengah). Rumah Raja tersebut memiliki empat ruangan kamar, berlantai
batu merah (bata) dengan luas 900 cm2. Bagian depan rumah terdapat empat

126 Laporan Kegiatan Kajian Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Negeri Soya Kota Ambon, 2019

24

jendela dengan masing-masing ukuran panjang: 3,6 m, lebar 1,1 m dan ukuran
daun jendela yaitu panjang: 1,80 m dan lebar : 55 cm. Kepemilikan rumah raja
tersebut hingga kini masih ditempati oleh keturunan raja Lating Nustapi127.

Gambar 1.2.6. Tampak depan Rumah Tua
Lating Nustapi (Sumber:

cagarbudaya.kemdikbud.go.id).

Gambar 1.2.7. Masjid Besar Hila (Sumber:
cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Selain rumah adat, pengaruh Islam juga berpengaruh pada keberadaan
bangunan di Ambon-Lease. Mereka banyak membangun masjid. Masjid sendiri
dapat dikategorikan sebagai arsitektur vernakular. Di Ambon-Hila, terdapat
Masjid Besar Hila yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-17. Masjid ini
berbahan kayu untuk dindingnya dan di cat warna kuning dan krem. Masjid ini
kaya akan ornament-ornamen dibagian pilar-pilarnya. Pembagian ruangannya
terdiri dari ruang untuk shalat, ruang imam dan mimbar. Di langit-langit masjid
ini terdapat lambang 4 perdana yang pernah memimpin di wilayah ini. Bangunan
masjid ini sudah mengalami renovasi sebanyak 3 kali. Masjid ini mengambil nama
Hasan Sulaiman yang merupakan seorang raja (kepala desa) pertama Negeri Hila
dan seorang imam besar128.

127 cagarbudaya.kemdikbud.go.id
128 cagarbudaya.kemdikbud.go.id; Masjid ini mengambil nama Hasan Sulaiman karena masyarakat
begitu menghormatinya. Selama hidupnya Hasan berhasil membuktikan bahwa dia dapat menjadi
mitra Orang Belanda sekaligus menjadi pemeluk dan pemuka agama Islam yang saleh dan
terpandang. Pada tahun 1875, orang sudah melupakan Kakiali maupunTelukabessy. Akan tetapi,
orang belum melupakan Hasan Soleiman. Selain mendirikan sebuah mesjid di desa Hila, dia juga
yang merancang dan membiayai pembangunan mesjid di Batu Merah (De Graaf, 1977:97)

25

Bersebelahan dengan Hila, terdapat Masjid Tua Wapauwe di Kaitetu.
Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10m, sedangkan
bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 m. Tipologi
bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat
pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid
ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya yaitu
konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada
setiap sambungan kayu. Pada setiap sudut atap terdapat tulisan Allah dan
Muhammad dari bahan kayu.

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu tahun 1464,
tanpa mengubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan,
bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali
pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur
masjid. Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa
kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan
semen yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi
besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan penggantian 12
buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap.

Di dalam masjid, Mushaf Al-Quran yang konon termasuk tertua di
Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang
selesai ditulis tangan pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir),
sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada
tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis di atas kertas produk Eropa.
Selain Al-Quran terdapat pula benda pusaka lainnya seperti timbangan zakat129.

Gambar 1.2.8. Masjid Tua Wapauwe (Sumber:
cagarbudaya.kemdikbud.go.id).

Di Haruku-Rohomoni, terdapat Masjid Hatuhaha. Masjid itu didirikan ketika
pengaruh Belanda meluas di Haruku. Mesjid ini menjadi tempat shalat bagi
keempat negeri (Pelauw, Kailolo, Kabauw, Hulaliu dan Rohomoni) di Haruku.
Selang beberapa waktu,terjadilah perubahan. Yakni setiap negeri kembali ke
negerinya masing-masing dan membuat mesjid di negeri mereka. Hal ini
disebabkan karena masjid bukan sekedar menjadi tempat ibadah. Akan tetapi,

129 cagarbudaya.kemdikbud.go.id

26

sebagai simbol eksistensi sebuah masyarakat. Hal ini terbukti dengan
ditemukannya sebuah masjid pada tiap-tiap negeri Islam di pulau Haruku. Dari
lima persekutuan negeri yaitu Pelauw, Kailolo, Kabauw, Hulaliu dan Rohomoni,
kecuali Hulaliu, semuanya memiliki masjid sendiri sendiri130.

Bahan bagunan yang digunakan dalam membangun masjid Hatuhaha tidak
bisa dicampur-campur, misalnya tidak bisa kayu dicampur besi. Yang ada
hanyalah kayu saja tanpa tambahan paku. Kayu-kayu tiang di masjid ini dibuat
dengan cara dikaitkan antara satu dengan lainnya. Bangunan masjid sudah tiga
kali direnovasi sejak tahun 1670-an. Yang direnovasi biasanya pada atap dan
beberapa bagian tengah masjid. Meskipun sudah tidak menggunakan material
asli, namun bentuk bangunan masih tetap dipertahankan seperti sediakala131.

Dari segi arsitektur, terlihat adanya pengaruh arsitektur masjid para Wali di
Jawa. Atapnya yang berbentuk tumpang susun tiga mengingatkan kita pada
masjid agung Demak di Jawa Tengah. Terkait dengan pengaruh Jawa, salah satu
dari sembilan wali (wali sanga) yang berasal dari pulau Jawa, yang paling dikenal
pengaruhnya di Hatuhaha adalah Sunan Kalijaga. Selain itu juga ada pengaruh
dari raja Ternate yang berasal dari Baghdad yang sempat singgah di Hatuhaha
sebelum ke Ternate. Ini membuktikan bahwa Hatuhaha memiliki ikatan batin
dengan beberapa kerajaan Islam lainnya132.

Ambon-Lease memang menjadi daerah migran. Bukan hanya bangsa Asia
yang menyapa Ambon-Lease tetapi juga bangsa Eropa. Tidak salah jika kemudian
masyarakat Ambon-Lease juga mengenal arsitektur kolonial. Bangunan kolonial
biasanya dapat terlihat dari benteng dan gereja. Di Ambon-Hila, terdapat Benteng
Amsterdam. Secara historis, persekutuan antara Hitu dan Belanda untuk
mengusir Portugis dari Ambon memberikan peluang bagi Belanda untuk
membangun bentengnya di Hila, yang dikenal dengan Benteng Amsterdam.
Bangunan utama dari benteng ini pertama kali dibangun oleh Portugis yang
dipimpin oleh Fransisco Serrao Tahun 1512 dan dijadikan sebagai Loji
perdagangan. Wajar jika kemudian disebut sebagai loji karena kata loji berasal
dari kata portugis yakni “loja” yang berarti toko133. Kemudian setelah bangsa
Belanda menguasai pulau Ambon pada tahun 1605 mereka mengambil alih
bangunan Loji tersebut dan mengubahnya menjadi kubu pertahanan. Benteng
Amsterdam berbentuk seperti kura-kura, dengan memiliki dua kubu pertahanan
yang masing-masing mengarah ke arah Utara-Timur dan ke arah Selatan-Barat.
Diantara dua kubu pertahanan tersebut terdapat jalur penghubung (Rampat)
yang letaknya berada pada daerah Utara ke Barat (mengarah ke arah pantai).

Kontruksi bangunan benteng ini seperti sebuah bangunan rumah, maka
oleh bangsa Belanda mereka menyebutnya Blok Huis. Bangunan ini berbentuk
bujur sangkar dengan luasan bawahnya lebih besar (256 m²) daripada luasan
atasnya (234 m²) sehingga pada tampak bangunan berbentuk trapesium134.

Blokhuis terdiri dari 3 lantai, pada lantai satu berlantai bata merah
berfungsi sebagai tempat tidur para serdadu, gudang senjata, dan gudang
makanan; lantai dua berlantai kayu besi berfungsi sebagai tempat pertemuan

130 Firmanto. 2016. Masjid Kuno di Pulau Haruku, hal.12
131 Firmanto. 2016. Masjid Kuno di Pulau Haruku, hal.13
132 Firmanto. 2016. Masjid Kuno di Pulau Haruku, hal.14
133 De Castro. 2019. Lautan Rempah… hal.158)
134 Laporan Zonasi BPCB Maluku Utara 2014

27

para perwira; Lantai tiga berlantai kayu besi berfungsi sebagai pos pemantau dan
pada ujung bangunan terdapat sebuah menara pengintai. Atap dari bangunan
blokhuis menggunakan bentuk atap tajuk lambang gantung yang menyerupai
atap limasan, yang berfungsi sebagai sirkulasi cahaya matahari dan angin135.

Selain itu, dinding dan atap bangunan didesain terpisah untuk
memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami. Gagang pintu pada
bangunan Blokhuis berbentuk setengah lingkaran, sedangkan jendelanya terdiri
dari dua bentuk diantaranya bentuk setengah lingkaran dan persegi136.

Gambar 1.2.9. Gerbang masuk Benteng Amsterdam (Sumber:
Laporan Zonasi BPCB Maluku Utara tahun 2014).

Di Ambon-Hitulama, terdapat Benteng Enkkhuizen atau Benteng Leiden.
Pada awalnya, benteng ini merupakan perkubuan yang dibangun oleh Wybrand
van Waerwyck pada 1599. Perkubuan ini sangat berguna bukan hanya sebagai
posisi awal penyerangan pada Portugis dan penghalauan pemberontakan orang
lokal. Pembangunan benteng dapat diwujudkan ketika Waerwijck membangun
benteng sederhana pada tahun 1656. Walaupun pada awalnya benteng ini
dinamakan Benteng Enkhuisen namun oleh De Vlaming van Oudshoorn diubah
menjadi Benteng Leiden dengan luas 13 m2. Seorang sersan dengan 20 prajurit
menjaga benteng ini. Benteng ini pernah dijaga oleh seorang letnan pada tahun
1817 ketika keadaan darurat mendera. Namun, sang letnan kemudian ditarik
kembali setelah kondisi aman. Benteng ini diberikan rubuh pada tahun 1824 dan
hanya tersisa pondasi bentengnya yang dipergunakan sebagai pondasi rumah
penduduk137.

135 Laporan Zonasi BPCB Maluku Utara 2014
136 Laporan Zonasi BPCB Maluku Utara 2014
137 benteng.architecture heritage.or.id

28

Gambar 1.2.10. Sisa dinding Fort Leiden
(Sumber:benteng.architectureheritage.or.id)

Di Ambon-Passo, terdapat Rumah Bongkah atau Blokhuis Middelburg.
Nama rumah bongkah ini diambil dari ibu kota provinsi Zeeland, yakni
Middelburg. Bangunan didirikan dalam dua tahap yakni Middelburg I pada
periode 1626–1674, dan Middelburg II pada tahun 1686. Bentuk rumah bongkah
segi empat dengan ukuran 10 x 10 m. Untuk menaiki lantai dua digunakan tangga
yang berada pada dinding sisi barat. Lantai ini digunakan untuk tinggal dan
memiliki enam jendela. Blokhuis Midddelburg diduduki oleh 20 orang tentara
Belanda dibawah pimpinan seorang sersan dan berfungsi sebagai tempat menarik
pajak dari masyarakat atas hasil perkebunan, perdagangan, serta hasil
penangkapan ikan138.

138 cagarbudaya.kemdikbud.go.id

29

Gambar 1.2.11. Blokhuis Middelburg tampak samping
(Sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id).

Di Ambon-Larike, terdapat Benteng Rotterdam. Menurut Mansyur139,
Benteng Rotterdam menjadi tinggalan Belanda yang menguatkan posisi Larike
sebagai pusat perdagangan dan pertahanan VOC di Ambon. Faktanya, Benteng
Rotterdam didirikan oleh Gubernur Aert Gijsels pada tahun 1633. Benteng ini
dapat diperkuat dengan penjagaan seorang sersan dan 30 orang. Menariknya, De
Vlaming Van Oudshoorn, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1691-
1704), lahir di benteng ini pada tahun 1656. Benteng ini hampir jatuh pada medio
1817. beruntungnya Mayor Meyer dengan pasukannya dapat menghalau para
pemberontak. Saat ini, Benteng Rotterdam hanya menyisakan tiga sisi dinding
benteng dan sepenggal tembok keliling140.

Gambar 1.2.12. Sisa dinding Benteng Gambar 1.2.13. Sisa dinding

Rotterdam Benteng Rotterdam (Sumber:
(Sumber:benteng.architectureheritage.or. benteng.architectureheritage.or.i

id). d).

Di Ambon-Uring, terdapat Benteng Uring. Benteng Uring ini pada awalnya
bernama Benteng Vlissingen. Benteng ini dibangun oleh Gubernur Ottens untuk
melindungi para nelayan dari serangan perompak dan mengontrol jalur

139 Mansyur. 2012. Peran Wilayah Negeri Larike pada Masa Kolonial… hal.67
140 benteng.architectureheritage.or.id

30

pelayaran. Benteng ini memiliki tiga baluarti yang dilengkapi dengan tiga meriam
kecil dan dijaga oleh 40 prajurit. Benteng ini hancur ketika terjadi peperangan
antara Belanda dan Ternate pada 1651. Benteng ini kemudian diambil alih oleh
orang Wai Putih (Seram). benteng ini kemudian dapat direbut kembali oleh orang
Belanda di bawah pimpinan De Vlaming. Benteng ini mulai ditinggalkan oleh
orang Belanda selama abad ke-18 dan kemudian dibakar oleh orang Papua pada
1762141.

Gambar 1.2.14. Sisa dinding Fort Ureng
(Sumber:benteng.architectureheritage.or.id)
Di Ambon-Seith, terdapat Benteng Seith. Benteng ini pada awalnya
didirikan oleh orang Hitu yang dibantu pasukan dari Makassar. Orang Belanda
kemudian mengambil alih benteng itu dan menjadikannya sebagai pusat operasi
VOC pada tahun 1643. Mereka kemudian membangun kembali benteng dengan
batu. Benteng dan Desa Seith luluh lantak ketika gempa hebat menghantam pada
medio 1674. Paska 1697, orang Belanda kemudian berkonsentrasi pada Kota
Ambon sebagai pusat aktivitas mereka dan menarik pasukan mereka di luar
Ambon. Bentuk maupun denah benteng tidak dapat digambarkan lagi. Hal ini
disebabkan oleh kondisi benteng yang sudah hancur. Saat ini hanya dapat
dijumpai sisa pondasi dan beberapa material benteng yang berada di pekarangan
rumah penduduk142.

Gambar 1.2.15. Sisa pondasi Fort Seith
(Sumber:benteng.architectureheritage.or.id).

141 benteng.architecture heritage.or.id
142 benteng.architectureheritage.or.id

31

Di Ambon-Lima, terdapat Benteng Haarlem atau Benteng Van Der Capellen.
Benteng ini berada dalam kondisi rusak dan didalam benteng terdapat tanaman
sayur mayur dan tanaman jahe. Berdasarkan sisa-sisa bangunan yang ada
benteng Van Harlem terdiri dari tiga lantai, namun sisa lantai tersebut tidak lagi
ditemukan kecuali sisa yang melekat pada dinding, begitupun atap benteng
tersebut telah runtuh namun pembagian ruangan-ruangannya masih jelas
terlihat.

Dalam benteng ini terdiri dari empat ruangan, dua ruangan bagian Barat
dengan masing – masing ukuran Panjang : 2,5 m dan Lebar 3,65 m serta ukuran
pintu keduanya yang menghubungkan keruang tengah yaitu Lebar : 1,50 m dan
Tinggi : 1,50 m. Ruang tengah atau ruangan ketiga dengan ukuran Panjang : 10 m,
Lebar 7,30 m. Pada ruang tengan ini terdapat pintu utama keluar-masuk benteng
dengan ukuran Lebar : 2 m dan Tinggi : 2,50 m. Ruangan terakhir atau ruangan
keempat terdapat pada bagian Timur dalam benteng dengan ukuran Panjang :
2,50 m dan Lebar : 7,30 m dan pintu yang menghubungkan keruang tengah
terdapat pada dinding bagian Barat dengan ukuran Lebar : 2,5 m dan Tinggi : 1,50
m. jadi ukuran benteng Van Harlem secara keseluruhan yaitu Panjang : 15 meter,
Lebar : 7,30 Meter serta Tinggi bangunan kurang lebih 5- 7 meter.

Benteng Van Harlem berbentuk persegi panjang dengan arsitektur gaya
gothik yang dibangun pada tahun 1655 oleh Van der Capellen. Berdasarkan
bentuk atau ruang-ruang yang ada khususnya lubang-lubang kecil yang ada di
setiap dinding benteng mengindikasikan jika benteng Van Harlem digunakan
sebagai tempat pengintaian musuh pada masa itu143.

Gambar 1.2.16. Bagian Luar Benteng Harleem (Sumber:
Laporan Inventarisasi Cagar Budaya Kabupaten Maluku

Tengah dan Kota Ambon tahun 2011)
Di Ambon-Honipopu, terdapat Benteng Victoria. Pada awalnya, benteng itu
adalah benteng yang dibangun oleh Portugis. Mereka mulai membangun Benteng
Nossa Senhora de Anunciada pada tahun 1575. Penduduk lokal kemudian
menyebutnya sebagai Kota Laha atau Kota “di dalam teluk”144. Benteng ini kini

143 Laporan Inventarisasi Cagar Budaya Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon, 2011
144 De Graaf. 1977. De Geschiedenis van Ambon… hal.125-6

32

sudah hancur dan hanya tersisa bekas pembakaran batu. Setelah Kota Laha jatuh
ke tangan Belanda, Belanda segera mengganti namanya. Benteng itu diberi nama
Benteng Victoria. Benteng Victoria kini berada di Kelurahan Honipopu, sebelah
barat dari Pasar Mardika, di Kota Ambon145.

Gambar 1.2.17. Foto salah satu pintu gerbang
Benteng Nieuw Victoria yang diambil pada

1890 (Sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id).
Benteng Nieuw Victoria dibangun dengan menggunakan perpaduan batu
bata, kapur, dan batu alam. Ada dua pintu sebagai akses keluar dan masuk ke
benteng, satu pintu menghadap ke laut dan satu pintu lainnya menghadap ke
darat. Pada peta lama, pintu yang menghadap ke laut tersebut tegak lurus dengan
dermaga. Keberadaan dermaga sangat penting kala itu karena berfungsi sebagai
tempat bongkar dan muat rempah-rempah yang akan diekspor hingga ke pasar
Eropa.
Benteng Nieuw Victoria telah mengalami perbaikan dan pelebaran di
beberapa bagian. Ada sumber yang menyatakan bahwa benteng Nieuw Victoria
awalnya berbentuk pentagonal. Dalam perkembangannya, benteng berubah
menjadi struktur poligonal tidak beraturan dengan bastion disetiap sisinya. Pada
gambar denah rencana pembangunan Benteng Nieuw Victoria berangka tahun
1750, benteng itu berbentuk poligonal dengan tujuh bastion, yaitu Bastion
Geldria, Hollandia, Zeelandia, Utregt, Westvriesland, Overysel, dan Groningen.
Pemberian nama bastion tersebut memakai nama kota-kota besar di Belanda.
Berdasarkan dokumentasi foto lama, terlihat bahwa nama masing-masing bastion
dicetak dan ditempelkan pada bastion yang dimaksud.
VOC membangun beberapa bangunan di dalam benteng yang dimanfaatkan
untuk kepentingan militer dan sebagai tempat bermukim. Bangunan-bangunan
tersebut diantaranya adalah barak, gudang senjata, gudang peluru, dan lainnya.
Diantara bangunan-bangunan tersebut ada yang masih berdiri meski banyak
diantaranya telah roboh. Bangunan yang masih ada hingga kini misalnya adalah
pos prajurit penjaga dan gudang senjata. Selain bangunan, dinding benteng juga
masih berdiri kokoh, termasuk salah satu pintu gerbangnya.
Pintu gerbang utama Benteng Nieuw Victoria hingga saat ini masih berdiri
kokoh dan terlihat menempel pada dinding benteng. Pada bagian atas gerbang
terdapat pedimen yang ditopang oleh empat pilar polos tanpa ornamen hiasan.

145 cagarbudaya.kemdikbud.go.id

33

Pada bagian pedimen, terdapat gambar kapal bertuliskan Ita Relinquenda Ut
Accepta yang membingkai sebuah kapal. Gambar kapal dengan tulisan tersebut
mengingatkan pada gambar salah satu koin uang dari Belanda yang beredar
sekitar tahun 1792. Pada bagian bawah kapal terdapat tulisan Nieuw Victoria
yang merupakan nama dari benteng tersebut. Selain tulisan, juga ada gambar
singa ditengah gerbang yang dibawahnya terdapat lambang VOC. Singa dan
lambang VOC tersebut diapit oleh tulisan anno.c yang berarti “sejak”dan
MDCCLXXV yang merupakan angka tahun 1775 yang ditulis dalam huruf Romawi.
Angka tersebut menunjukkan tahun benteng diperbaiki dan diperbesar yang
mengubah bentuk awal benteng. Tahun tersebut juga menandakan pergantian
nama dari “Victoria” ke “Nieuw Victoria”.

Gudang peluru dibangun oleh seorang insinyur bernama Hans Erns von
Wagner ketika Joan Abraham van der Voort menjadi Gubernur di Ambon,
sedangkan yang menjadi Gubernur Jenderal di Batavia kala itu adalah Petrus
Albertus van der Parra. Keterangan itu dipahatkan pada sebuah prasasti batu
yang ditempelkan pada gudang dimaksud. Pada abad ke-17 M, Benteng Nieuw
Victoria diperkuat dengan pembuatan parit di sekelilingnya. Adanya parit keliling
dapat dilihat pada peta berangka tahun 1617 M yang memperlihatkan keadaan di
wilayah Ambon kala itu, termasuk keberadaan Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw
Victoria. Terdapat pemukiman disekeliling benteng dengan jumlah pemukim
yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 1683 M, ada
sekitar 770 warga Eropa yang bermukim dan meningkat menjadi sekitar 1070
orang pada tahun 1726-1730 M146.

Selain berbagai benteng kolonial baik yang dibangun Portugis dan
kemudian direbut dan diperbaiki oleh Belanda, di Ambon juga terdapat tinggalan
kolonial lain yakni gereja. Di Ambon-Hila, terdapat Gereja Tua Imanuel Hila.
Gereja ini memiliki keunikan pada lonceng gereja yang terbuat dari perunggu
dengan tulisan 1675 dan sebuah prasasti batu yang menandakan tahun
pembuatan gereja. Batu ini terletak di bawah mimbar gereja yang konon katanya
terdapat sebuah perkuburan orang Belanda pada awal abad ke 19. Di Gereja ini
dulunya terdapat beberapa buah meriam dan lambang monogram Amsterdam147.

Gambar 1.2.18. Gereja Tua Imanuel Hila
(Sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

146 cagarbudaya.kemdikbud.go.id
147 cagarbudaya.kemdikbud.go.id

34

Gambar 1.2.19. Bagian depan Gereja Tua
Hutumuri (Sumber:cagarbudaya.
kemdikbud.go.id)

Di Ambon-Hutumuri, terdapat Gereja Tua Hutumuri. Gereja ini dibangun
sekitar tahun 1832 oleh misionaris Belanda. Gereja Tua Hutumuri memiliki
konstruksi bangunan yang unik dan masih terawat dengan baik. Hingga kini
gereja ini masih dipakai oleh penduduk sekitar untuk kebaktian. Hanya
sayangnya gereja ini telah dipugar dan beberapa bagian telah diganti dengan
bahan baru tanpa mempertimbangkan prinsip pemugaran yang baik148. Selain itu,
disana juga terdapat tiga makam orang Belanda. Salah satu nisannya memiliki
inskripsi yang dapat menjelaskan bahwa yang dikubur tersebut adalah Orang
Belanda. Dua makam yang lain tidak diketahui karena inskripsi sudah hilang149.

Di Ambon-Soya, terdapat Gereja Tua Soya. Gereja ini merupakan bangunan
berbentuk segilima berbahan bata yang diplester. Jendela dan pintu memiliki
bentuk yang sama berbahan kayu dan kaca. di dalam gereja terdapat kursi khusus
untuk Raja Soya dan jejeran kursi untuk para jemaat150.

Gambar 1.2.20. Tampak depan Gereja Tua Soya
(Sumber: Laporan Kegiatan Kajian Pelestarian
Kawasan Cagar Budaya Negeri Soya Kota Ambon

tahun 2019).

148 cagarbudaya.kemdikbud.go.id
149 cagarbudaya.kemdikbud.go.id
150 Laporan Kegiatan Kajian Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Negeri Soya Kota Ambon, 2019

35

Gambar 1.2.21. Interior Gereja Tua Soya (Sumber:
Laporan Kegiatan Kajian Pelestarian Kawasan Cagar

Budaya Negeri Soya Kota Ambon tahun 2019)

36

37

38

BAB II
IDENTITAS HIBRIDA MASYARAKAT MALUKU

A. Pluralisme Sosial Maluku
Portugis menyadari bahwa rempah-rempah tidak dibudidayakan di

Malaka. Rempah-rempah yang terdiri dari cengkeh, pala, dan fuli tumbuh di
Kepulauan Indonesia Timur. Beberapa pulau di Maluku menghasilkan cengkeh,
sedangkan fuli dan pala151 ditemukan di Kepulauan Banda. Maluku adalah
penghasil cengkeh sebelum benihnya diangkut secara ilegal ke Maluku Tengah
(Hoamoal dan Hitu) pada akhir abad ke-15. Mengetahui bahwa cengkeh adalah
komoditas yang paling dicari selama periode modern awal, Portugis berusaha
untuk memonopoli perdagangan cengkeh Asia. Setelah Malaka diduduki, Portugis
mengirim duta besar mereka ke Maluku.

Afonso de Albuquerque mengatur ekspedisi ke Kepulauan Rempah-
rempah. Tiga kapal disiapkan untuk berangkat ke Maluku. Albuquerque
menunjuk Antonio de Abreu sebagai kapten mayor menuju Indonesia Timur.
Abreu memang pantas mendapatkan hak istimewa dari Albuquerque, mengingat
jasanya menyerang jembatan Malaka selama invasi Portugis ke Malaka. Antonio
de Abreu di kapal bernama Sabaia ditemani oleh Francisco Serrão dan Simao
Afonso di kapal-kapal Santa Catherina dan Latina. Albuquerque juga mengirim
tiga pilot Luis Botim, Goncalo de Oliveira, dan Francisco Rodrigues152; dua pilot
pribumi (salah satunya adalah Nahkoda Ismael); akuntan João Freire; sekretaris
Diogo Borges; 20 budak tawanan; 120 Portugis. Abreu diminta untuk menjalin
hubungan persahabatan dan mengamati adat istiadat setempat. Dia juga
diperintahkan untuk memberi raja-raja setempat beberapa hadiah. Kapal-kapal
itu sarat dengan berbagai komoditas, misalnya pakaian India milik Nina Chatu
dan Khoja Kirmani. Kapal berangkat dari Malaka pada November 1511153.

Kapal pribumi yang dikemudikan Nahkoda Ismael itu berangkat lebih dulu.
Ismail diminta untuk menyebarkan berita penaklukan Malaka oleh Portugis.
Albuquerque berharap raja-raja setempat takut dan menyambut kapal-kapal
Abreu saat berlabuh di pelabuhan mereka. Kapal layar Abreu mengikuti rute
Ismael ke Kepulauan Rempah. Mereka berlayar, melewati pantai timur laut
Sumatera dan mendarat di Gresik. Mereka terus berlayar dan melewati Buru,
Ambon, dan Seram sebelum tiba di Banda. Orang Portugis menukar barang
dagangan mereka dengan fuli dan pala. Setelah memuat fuli dan pala, Abreu dan
Afonso kembali dan tiba di Malaka pada akhir tahun 1512. Namun, kapal Serrão
karam ketika meninggalkan Kepulauan Banda. Untungnya, Serrão dan anak
buahnya diselamatkan oleh orang-orang Asilulu di Nusatelo. Sebagai imbalannya,
Portugis membantu orang Asilulu untuk menyerang musuh mereka di Hoamoal.

151 Pala adalah pohon cemara berdaun gelap yang dibudidayakan untuk dua jenis rempah yang berasal
dari buahnya. Jika pala berasal dari bijinya, fuli berasal dari penutup bijinya.
152 Dia adalah kartografer Portugis. Dia mulai menggambar bahan kartografi pertama daerah tersebut
dengan pengamatan pribadi dan menyalin peta asli (Timme, 1998, p.4).
153 Albuquerque. 1557. Comentarios do Grande Afonso de Albuquerque, pp.162-3; Smith. 1968. The First
Age, p.39; Matos. 1995. On the Seaway, p.69

39

Setelah kemenangan mereka, rakyat Asilulu mengakui Portugis kepada Perdana
Jamilu dari Hitu. Mitos manusia besi154 dan kekuasaan Portugis disebarkan dan
didengar oleh dua sultan Ternate dan Tidore, yang saling berkonflik. Duta
Ternate datang lebih dulu di Hitu dan membawa Portugis ke Ternate. Serrão
menjadi sahabat Sultan Ternate155 dan diberi hak monopoli perdagangan cengkeh
dengan syarat dan ketentuan tertentu156.

Selama Serrão tinggal di Ternate, beberapa kapal disiapkan untuk dikirim
oleh Kapten Malaka, Ruy de Brito Patalim. Kapten mengangkat Antonio Miranda
de Azevedo sebagai kapten mayor dengan beberapa misi utama: mengirim surat
kepada raja-raja Jawa; mengamankan jaringan perdagangan ke Banda; mencoba
menemukan Francisco Serrão, dan memuat pala dan fuli untuk orang Pegu dan
Gujarat di Malaka. Antonio de Miranda ditemani Francisco de Melo di Kapal Sao
Christavao; Martim Guedes di Kapal Santo Andre; dan Diogo Borges sebagai
akuntan. Kapal Miranda berangkat dari Malaka ke Banda melalui pantai utara
Jawa pada tanggal 28 Desember 1513157.

Mengetahui Miranda berada di Banda dan berlayar ke Ambon, Serrão
berangkat dari Ternate dengan beberapa perahu dayung. Serrão membawa
suratnya kepada Fernao de Magalhaes158, surat sultan kepada Raja Portugal159,
dan muatan cengkehnya. Dia memberikan semuanya kepada Antonio de Miranda.
Setelah Antonio de Miranda kembali, kapten baru Malaka Jorge de Albuquerque
mengirim Jorge Mesurado dengan surat-surat kerajaan dan hadiah kepada Sultan
Ternate pada tahun 1515. Orang Portugis disambut dengan sangat baik di
Ternate dan kembali ke Malaka dengan catatan ramah menanyakan kapten
Malaka untuk mengirimkan kapal secara teratur ke Ternate dan mendirikan
pabrik dan benteng di Ternate160. Setelah Alvaro de Cocho tiba di Malaka dari
Banda, Cocho sebagai duta besar, dikirim oleh Jorge de Brito ke Maluku pada
tahun 1516. Dia ditempatkan sebagai kapten dan faktor dan ditemani oleh Alvaro
Pesoa untuk ahli menulis; dan Luis Leity untuk pilotnya. Cocho dan anak buahnya
diterima dengan baik oleh Raja. Bukannya mematok harga barang dagangan dan
sarat dengan cengkeh, Choco juga membawa pesan dari Sultan Ternate dan

154 Ada sebuah ramalan, yang diyakini oleh para Sultan Maluku, bahwa orang-orang yang berjubah besi
akan datang dan mendiami Maluku. Mereka akan memberikan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat
Maluku (Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.23; Smith. 1968. The First Age, p.42)
155 Sultan Bayan Sirullah or Boleif or Abu Lais
156 Timme. 1998. A Presenca Portuguesa, p.4; Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.21-3; Sultan Bayan
dari Ternate memberikan hak untuk memonopoli perdagangan cengkeh kepada Portugis karena ingin
meningkatkan kesejahteraan rakyat Ternate dan membangun kekuatan politik dan militer untuk bersaing
dengan kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Sebagai imbalannya, Portugis harus membeli cengkeh dengan
harga yang lebih mahal dari yang ditawarkan pedagang Jawa, Arab, Cina, dan Melayu. Portugis harus
membantu Ternate ketika mereka berperang dengan saingan mereka. Perjanjian persahabatan mereka
hanya bertahan selama sepuluh tahun (Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.25).
157 Smith. 1968. The First Age, pp.44-5
158 Francisco Serrão dan Fernao de Magalhaes berteman ketika mereka berada di India dan di Malaka.
Magalhaes pernah berada di Malaka bersama Diogo Lopes Sequeira pada tahun 1509 dan ikut serta
dalam penaklukan Malaka pada tahun 1511. Ia tinggal di Malaka setelah menerima informasi dari surat
Serrão (Matos, 1995, p.72)
159 Surat tersebut menginformasikan bahwa Sultan ingin tunduk kepada Raja Portugal dan Kesultanan
Ternate menjadi vasal Portugis.
160 Smith. 1968. The First Age, pp.46-8; Pires. 2014. Suma Oriental, p.215

40

Serrão, yang menegaskan bahwa perdagangan damai antara Portugis-Malaka dan
Kesultanan Ternate telah diselesaikan161.

Portugis kehilangan kapalnya ketika kapal Gonsalo Alvares dan Bastyam
Barbudo karam dalam perjalanan ke Maluku pada tahun 1517. Pada tahun 1518,
Dom Tristao de Meneses terus berlayar setelah tinggal di Malaka. Dia berangkat
dari Portugal pada tahun 1517 dengan kapal Santiago dan dua jung dengan
barang dagangan dan surat kerajaan kepada Raja Maluku. Meneses berlayar
dengan rute khas melalui Jawa dan Banda sebelum pergi ke utara ke Ternate. Di
Maluku, ia mendapat beberapa petisi dari raja Ternate, Tidore, dan Bacan untuk
mendirikan benteng Portugis di tanah mereka. Dom Tristao tidak dapat
mendirikan benteng di tanah manapun (tetapi ia meninggalkan pabrik Portugis di
Ternate), mengingat ia hanya membawa surat kepada Raja Ternate. Raja Bayan
menawarkan perbekalan dan barang dagangan, dan Dom Tristao menerima
persyaratannya. Raja juga meminta Dom Tristao untuk melepaskan artilerinya,
tetapi Dom Tristao tidak dapat memenuhi keinginan Raja. Dom Tristao memberi
tahu Raja bahwa dia bisa bertanya kepada Raja Portugal apakah dia ingin
memiliki artileri Portugis. Raja Ternate mengatur untuk mengirim putranya
dengan beberapa surat kepada Kapten Malaka, Gubernur Goa, dan Dom Manuel,
Raja Portugal. Dom Tristao meninggalkan Maluku dengan lima kapal menuju
Banda. Selama perjalanan, dua kapal menghadapi badai dan karam. Sisanya
melanjutkan pelayaran dan tiba di Banda pada April 1520. Di Banda, Dom Tristao
mengirim pangeran Ternate dengan kapal ke Malaka. Sebelum kembali ke Malaka,
ia berusaha mencari dan menemukan kapten yang hilang, Francisco Serrao dan
Simao Correa. Dom Tristao, dengan muatannya, berlayar dan melewati pantai
utara Jawa sebelum tiba di Malaka pada tahun 1521162.

Pada Oktober 1521, Antonio de Brito dikirim dari Malaka ke Banda dan
Maluku. Dia menjadi kapten lima kapal dan 300 tentara. Sebelum memasuki Laut
Jawa, Brito menyerang Johor di Bintan pada tanggal 28 Oktober 1521. Kapal-
kapalnya berlabuh di Tuban dan Gresik untuk memuat beberapa logistik sambil
menunggu angin muson barat ke timur. Pada Januari 1522, ketika Brito siap
berlayar, ia bertemu Garcia Henriquez dengan tiga jungnya dan para saudagar
Jawa di Gresik. Dari orang Jawa, mereka mendapat izin dagang angkatan laut dari
Raja Portugal ketika mereka berada di Maluku. Brito dan Henriquez memutuskan
untuk berangkat bersama dari Gresik. Namun, badai memisahkan kapal mereka
selama perjalanan dan membuat Brito tiba lebih awal di Ambon. Brito
melanjutkan pelayarannya ke Banda pada Februari 1522. Ia membawa dua misi
utama: pertama, menjalin persahabatan perdagangan rempah-rempah dengan
kepala desa di Kepulauan Banda; kedua, mendirikan benteng di Ternate. Setelah
menandatangani dengan kepala Banda, ia berlayar ke utara dan membuat
panggilan di Bacan. Di Bacan, Brito dan pasukannya melakukan pembantaian
terhadap penduduk Bacan. Brito ingin membalas dendam atas kematian awak
Portugis Simao Correia pada tahun 1521163. Setibanya di Ternate, Brito

161 Smith. 1968. The First Age, pp.49-50
162 Smith. 1968. The First Age, pp.52-3; Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.38
163 Beberapa awak Muslim di kapal Portugis melarikan diri dan mendiami Bacan. Simao Correia mencari
kru yang melarikan diri dan meminta Kesultanan Bacan untuk mengembalikan krunya. Tuduhannya tidak
ditanggapi oleh penduduk setempat. Portugis menduduki masjid suci dengan beberapa senjata. Melihat

41

dikejutkan dengan kabar duka meninggalnya Sultan Bayan dan Francisco Serro.
Kematian mereka membuat Portugis merundingkan kembali perjanjian
persahabatan mereka dengan Nyai Cili Boki Raja Nukila, Ratu Ternate164 dan
Taruwese, Perdana Menteri Ternate165.

Brito dan Taruwese sepakat untuk mendirikan benteng Portugis di
Ternate. Benteng ini berfungsi sebagai pusat administrasi politik, operasi militer,
dan perdagangan Portugis. Dengan menggunakan 300 tenaga kerja lokal dan 200
tentara Portugis, pembangunan benteng ini dapat diselesaikan dalam waktu
sekitar delapan bulan. Saat pertahanan mulai dibangun, mereka menamakannya
Sao Joao Baptista de Ternate. Namun, Portugis mengubah dan menamakannya
Nostra Senhora del Rosario ketika benteng tersebut dibuka secara resmi pada
tanggal 25 Februari 1523. Penduduk setempat menyebut benteng Portugis
dengan Benteng Gamlamo, terutama setelah mereka mengusir Portugis pada
tahun 1575166. Raja Portugis memberikan Antonio de Brito sebagai gubernur
pertama di Ternate dan kapten benteng. Jika Brito dapat mengeluarkan
keputusan politik dan mengambil bagian dalam perdagangan rempah-rempah,
kapten benteng bertanggung jawab atas keamanan dan perang Portugis di
Maluku167.

Setelah benteng dan administrasi politik di Ternate berdiri, Portugis dapat
mengirim kapal secara teratur ke Maluku168. Dari zaman Abreu hingga De Brito,
Portugis berangkat dari Malaka ke Maluku melalui jalur selatan melewati pantai
timur Sumatera, pantai utara Jawa, Kepulauan Sunda Kecil dan Kepulauan Banda
atau Ambon-Lease. Sebagai gubernur pertama di Ternate, Antonio de Brito
menyadari rute pelayaran lain dari Malaka ke Maluku setelah Spanyol juga tiba di
Tidore pada tahun 1521. Spanyol mencapai Tidore melalui Kalimantan dan Zona
Sulu. Brito mencoba melakukan survei. Dia mengirim Dom Garcia Henriques ke
Kalimantan dan Malaka pada tahun 1522. Sayangnya, Henriquez gagal mencapai
Laut Cina Selatan dan kembali ke Ternate. Pada tahun 1524, jalur pelayaran
Malaka dan Brunei ditemukan setelah Antonio de Pina mencapai Brunei. Pada
tahun 1526, Dom Jorge de Menezes mengambil jalur utara dari Malaka ke Maluku.

masjid suci mereka diduduki, orang-orang Bacan marah dan menyerbu masjid. Hampir semua orang
Portugis tewas, hanya seorang pria yang selamat dan melarikan diri ke kapalnya (Amal, 2010, p.37)
164 Raja Bayan Sirullah meninggalkan dua orang putra (Deyalo dan Boheyat atau Abu Hayat) dan istrinya,
Nyai Cili Boki Raja Nukila, putri Raja Almansur. Janda raja diangkat oleh dewan kerajaan untuk menjadi
seorang ratu. Dia didampingi oleh Pangeran Taruwese (saudara Raja Bayan) sebagai perdana menteri
untuk mewakili anaknya sultan Deyalo. Keduanya menjalankan pemerintahan Kesultanan Ternate (Amal,
2010, 40)
165 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.38-40
166 Sultan Baabullah dari Ternate berhasil mengusir Portugis dari Ternate pada tahun 1575. Baabullah
kemudian menginstruksikan rakyatnya untuk memperkuat benteng sebagai benteng pertahanan
mereka. Dia menambahkan dinding 100 meter yang mengarah ke laut untuk membuat pertahanan dari
invasi saingan dari laut. Ternate menduduki benteng ini dari tahun 1578 hingga 1606 sebelum Spanyol
menaklukkan benteng ini pada tahun 1606 (Amal, 2010, hal.44). Pada masa pemerintahan Belanda di
Ternate, Belanda menamakannya kembali dengan benteng Gamalama dan penduduk setempat
menyebutnya dengan Benteng Kastela.
167 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.41-3
168 Sebelum kedatangan Portugis, perdagangan cengkeh didominasi oleh dua pedagang utama. Seorang
Keling India Malaka, Nina Suria Deva dan Seorang Jawa, Pate Yusuf mengirim jung ke Maluku setiap
tahun. Nina mengirim delapan jung untuk memuat cengkeh dan pala di Maluku dan Kepulauan Banda.
Yusuf berlayar dengan tiga atau empat jung ke pulau rempah-rempah (Matos, 1995, p.67)

42

Dia berhasil mendapatkan Ternate dengan bantuan pilot lokal. Dari Malaka, ia
berlayar ke timur laut Kalimantan dan melewati pulau San Miguel (Cayagan Sulu),
Mindanao, dan Basilan. Untuk memastikan keamanan jalur utara, Dom Menezes
mengirim kora-kora (kapal lokal) ke Malaka melalui Brunei. Setelah armada
mencapai Malaka, pelayaran melalui Zona Sulu telah ditemukan169.

Portugis bisa mempersingkat durasi pelayaran Malaka-Maluku melalui
Brunei, dibandingkan jalur selatan lewat Laut Jawa. Mereka bisa berangkat dari
Malaka pada bulan Agustus dan mencapai Ternate pada bulan Oktober. Dalam
pelayaran kembali, mereka dapat melewati Ambon dan Laut Jawa sebelum
mencapai Malaka pada bulan Juni. Rute pelayaran ini menguntungkan Portugis
untuk memonopoli perdagangan cengkeh Asia. Pertama, kapal bersenjata China
tidak akan masuk dan berpatroli di Laut China Selatan karena kekuatan angkatan
laut Portugis di Zona Sulu. Kedua, Portugis dapat mengontrol kepala daerah di
pelabuhan-pelabuhan panggilan dan membatasi petani cengkeh lokal untuk
menjual produknya kepada pedagang lain terutama pedagang Jawa dan Gujarat.
Ketiga, Portugis dapat mengurangi biaya yang lebih tinggi untuk menjaga
stabilitas perdagangan Malaka-Maluku. Pelabuhan-pelabuhan transit di rute
selatan mungkin memberikan lebih banyak gesekan antara Portugis dan pesaing
mereka daripada rute utara. Namun, dunia Islam di Filipina bisa menjadi
ancaman bagi mereka, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan mendirikan pos
perdagangan di Brunei. Tidak hanya berfungsi untuk memfasilitasi perdagangan
Malaka-Brunei tetapi juga untuk memantau pergerakan orang-orang Luzon170.

Kerajaan Portugis berusaha menarik Warga Negara Portugis di India171
untuk mendiami dan berdagang di Maluku. Kerajaan mengizinkan warga untuk
memuat cengkeh, tetapi mereka harus menjual sepertiga dari kargo mereka ke
kerajaan. Dari Goa172, mereka memuat pakaian India dari Cambay, Chaul,
Coromandel, dan Bengal sebelum berlayar ke Maluku. Mereka harus membayar
pajak 8% untuk setiap produk pada saat keberangkatan, di pelabuhan transit
Portugis (Jika mereka menurunkan muatannya), dan pada saat kedatangan di
Maluku. Para pejabat di Ternate mengenakan pajak sebesar 1.500 reis per bahar
untuk sepertiga cengkeh. Dua pertiga lainnya dikenakan biaya bea cukai sebesar
30%. Pada pelayaran kembali, para saudagar membayar 8% lagi jika mereka
menurunkan muatan mereka di pelabuhan transit Malaka dan tujuan akhir

169 Ptak. 1992. The Northen Trade Route, p.45
170 Ptak. 1992. The Northen Trade Route, p.46
171 Kebebasan untuk berdagang cengkeh tidak diberikan kepada orang-orang Malaka yang sudah
menikah, meskipun mereka telah meminta hak istimewa ini dari raja pada tahun 1546 (Matos, 1995,
p.90)
172 Selama paruh pertama abad ke-16, pelayaran ke Maluku dan Banda umumnya diselenggarakan dari
Malaka, tetapi pada paruh kedua abad itu, pada tanggal yang tidak diketahui, pelayaran reguler dimulai
dari Goa ke Maluku dan Amboina dengan pelabuhan panggilan di Malaka baik dalam perjalanan keluar
maupun pulang. Orang Portugis biasanya mengambil rute pelayaran sebagai berikut: mereka berangkat
dari Goa pada bulan April, berlabuh di Malaka pada bulan Mei dan berangkat pada bulan Agustus, dan
mencapai Maluku pada bulan Oktober. Mereka tinggal di Maluku sekitar 3 bulan sebelum kembali pada
bulan Februari. Jika berlayar melalui jalur selatan, mereka singgah di Ambon dan tiba di Malaka pada
bulan Mei. Karena menunggu musim hujan, mereka berangkat dari Malaka pada November dan tiba di
Cochin pada Januari. Kapal berakhir di Goa pada bulan Maret (Matos, 1995, pp.90-1; Jacobs, 1979, pp.8-
9)

43

mereka, misalnya, di Goa atau Cochin173. Separuh cengkeh Maluku yang dimuat
oleh kapal Portugis dikomersialkan di Malaka, mengingat terutama dikonsumsi di
Timur Jauh. Di Malaka, sebagian besar cengkeh diekspor ke Cina, Jepang, dan
Pegu. Cengkih juga dibawa ke Bengal dan Coromandel. Sisa cengkeh dikirim ke
India dan Portugal174.

Portugis mempertahankan monopoli perdagangan cengkeh dengan banyak
risiko, yang disebabkan oleh mereka sendiri, penduduk setempat (Ternate,
Tidore, dan Jailolo), dan Spanyol. Yang terakhir berhasil di pedalaman Maluku
setelah disambut oleh Sultan Almansur dari Tidore pada November 1521.
Spanyol dan Kesultanan Tidore menyetujui perjanjian persahabatan. Spanyol
berjanji akan mempertahankan Tidore dari invasi Portugis-Ternate. Sebagai
imbalannya, sultan memberikan monopoli perdagangan cengkeh dan
mengizinkan Spanyol memuat cengkeh di Tidore. Pada bulan Desember 1521,
kapal-kapal Spanyol berangkat dan berlayar kembali ke Sevilla. Ekspedisi yang
berhasil ke Maluku telah mengarahkan Spanyol untuk mengirim dua perjalanan
lainnya. Garcia Jafre de Loasia memimpin ekspedisi tersebut pada tahun 1525 dan
Alfaro de Sanedra pada tahun 1527175. Portugis memprotes kehadiran Spanyol di
laut Maluku. Keduanya punya argumen masing-masing. Di pihak Portugis,
Spanyol bisa masuk ke dalam penguasaan Portugis mengingat Portugis sudah
mendirikan benteng di Ternate.

Sebaliknya, Spanyol berpendapat bahwa Portugis telah melanggar
Perjanjian Tordesillas dengan pergi ke barat benua Amerika. Negara-negara
Iberia telah mencoba untuk mendamaikan dan membahas perselisihan secara
ilmiah pada tahun 1522 dan 1524. Namun, mereka menemui jalan buntu dan
membawa masalah tersebut kepada Paus. Didorong oleh pernikahan politik
Iberia Raja Carlos V dan Putri Isabel dari Portugal, resolusi keluar pada tahun
1529, yang dikenal sebagai Perjanjian Zaragoza. Perjanjian ini mengatur bahwa
Spanyol harus menjual hak Maluku ke Portugal untuk 350.000 dukat emas
(500.000 cruzados) dan tidak bergabung dengan perdagangan cengkeh Maluku.
Penyerahan ini menguntungkan kedua belah pihak. Kastilia memperoleh banyak
uang dan menemukan basis perdagangan baru di Manila, di Filipina. Portugis juga
mendapatkan pengembalian ketika Spanyol tidak dapat bergabung dengan
perdagangan yang menguntungkan di Maluku176.

Monopoli perdagangan cengkeh yang dipaksakan oleh Portugis juga
dihalangi oleh penduduk setempat. Akan menjadi rumit ketika monopoli Portugis
bersandingan dengan suksesi mahkota Ternate dan sengketa lokal antara Ternate
dan Tidore177. Setelah Sultan Bayan wafat, Ratu Nyai Cili Boki Raja Nukila dan
Pangeran Taruwese (Dom Darwis) mewakili anak raja Deyalo untuk memerintah
Ternate. Suksesi politik ini merupakan awal dari pergolakan politik Ternate.
Pangeran Taruwese adalah adik dari Sultan Bayan. Dia mengklaim bahwa dia
memenuhi syarat untuk menggantikan saudaranya sebagai sultan. Dia melihat
Nyai Cili dan Deyalo sebagai penghalang untuk mendapatkan mahkota, dan dia

173 Matos. 1995. On a Seaway, p.88
174 Matos. 1995. On a Seaway, pp.92-3

175 Amal. 2007. Kepulauan Rempah-Rempah, p.155

176 Timme. 1995. A Presenca Portuguesa, p.6; Amal. 2007. Kepulauan Rempah-Rempah, p.155
177 Raman & Bau. 2020. Monopoli Rempah, p.111; Hanna & Alwi. 1996. Ternate dan Tidore, p.13

44

mencoba menentukan dan menggunakan tangan Antonio de Brito, kapten
Portugis pertama di Ternate, untuk mengisolasi mereka. Menggunakan fakta
bahwa Nyai Cili adalah putri Sultan Tidore, Brito percaya bahwa Nyai Cili dan
ayahnya (Sultan Almansur dari Tidore) berencana untuk mengusir Portugis dari
Ternate. Brito memutuskan untuk memenjarakan Sultan Deyalo dan Pangeran
Boheyat (Abu Hayat) setelah menyerang Tidore178.

Pergolakan politik di Ternate berlanjut hingga masa Menezes. Portugis
selama dua gubernur, Garcia Henriques dan Jorge de Menezes, hanya khawatir
tentang sengketa Luso-Spanyol. Setelah Perjanjian Zaragoza disepakati, Goncalo
Pereira tampak memperhatikan hak-hak lokal. Nyai Cili menuduh dan memberi
tahu Pangeran Taruwese atas semua perilakunya yang tidak sopan. Namun,
pasukan Pangeran Taruwese ikut serta dalam invasi De Brito ke Tidore, tetapi
pangeran juga memimpin pemberontakan melawan Portugis pada tahun 1530.
Pada tahun 1531, Pereira menurunkan posisi Taruwese dalam birokrasi
Ternate179.

Penduduk setempat meminta Gubernur Portugis, Goncalo Pereira, untuk
membebaskan Sultan Deyalo dari penjara Portugis, tetapi gubernur menolak
tuduhan itu. Penduduk setempat yang marah180 membunuh gubernur pada tahun
1531. gubernur baru, Vicente de Fonseca, datang dan membebaskan sultan.
Gubernur bersekutu dengan Perdana Menteri Ternate, Patisaranga. Perdana
menteri yang ingin memerintah Ternate mendorong gubernur untuk
memenjarakan Deyalo dan menggantikannya dengan saudara tirinya, Tabariji.
Deyalo melarikan diri ke Tidore dan melarikan diri ke Jailolo untuk
menyelamatkan nyawanya. Patisaranga menikah dengan Nyai Cili Boki Raja dan
mengarahkan putra tirinya (Tabariji) di Ternate. Portugis takut dengan
pertumbuhan kekuasaan Tabariji dan Patisaranga. Ketika Laksamana Samarau
memberi tahu gubernur bahwa Tabariji dan Patisaranga merencanakan makar,
Portugis181 memenjarakan dan memindahkan mereka ke Goa pada tahun 1535.
Portugis mengangkat Hairun Jamil sebagai sultan baru. Hairun adalah putra
Sultan Bayan dan istrinya yang Jawa. Samarau dipercaya untuk menemani Hairun
memerintah Ternate. Tinggal di pengasingan, Sultan Deyalo terus melawan
Portugis. Dia menciptakan jaringan politik Islam dengan Bacan, Tidore, dan Jailolo
(Halmahera). Sayangnya, sebagian besar orang Ternate tidak menginginkan
Deyalo dan Hairun serta sultan mereka, tetapi mereka ingin Portugis kembali ke
Tabariji182.

Di Goa, Tabariji telah memeluk Katolik dan mendapat nama baptis Dom
Manuel. Segala gelar dan kekuasaan Dom Manuel Tabariji akan dikembalikan
setibanya di Ternate. Pada saat yang sama, Portugis memenjarakan dan
mengangkut Hairun dan Samarau ke Goa melalui Malaka pada tahun 1545.

178 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.50-3
179 Raman & Bau. 2020. Monopoli Rempah, p.111; Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.64
180 Penduduk setempat juga marah karena kebijakan adat yang dikeluarkan oleh Pereira. Semua orang
biasanya membayar retribusi kecil tetapi Pereira menaikkan tarif pajak (Amal, 2010, p.66)
181 Gubernur Tristao de Atayde menyalahkan Tabariji karena dia meninggalkan invasi Galela ke Malaya di
Moro (Amal, 2010, p.182)
182 Raman & Bau. 2010. Monopoli Rempah, pp.112-3;

45

Sayangnya, Dom Manuel Tabariji meninggal dalam perjalanannya ke Ternate183.
Sultan Hairun akan diangkut kembali ke Ternate pada tahun 1546184. Sultan
Hairun, ditemani oleh Bernadim de Sousa, berlayar kembali ke Ternate. Bernadim
de Sousa menyatakan bahwa dia adalah gubernur resmi Ternate dan
menggantikan Jordao de Freitas pada tahun 1547. Freitas kecewa dan harus
kembali ke India185.

Pada masa Bernadim De Sousa dan Francisco Lopes de Sousa, mereka
dapat mempertahankan monopoli perdagangan cengkeh di satu sisi dan menjaga
hubungan baik dengan Sultan Hairun. Bahkan Francisco Lopes de Sousa bisa
memberlakukan kembali aturan perdagangan cengkeh di Ternate yang disepakati
oleh Sultan Bayan dan Francisco Serrao pada tahun 1513. Sayangnya, mimpi
buruk datang ketika Duarte de Eca terpaksa menaikkan bea masuk186. Sultan
Hairun memprotes kebijakan yang merugikan ini. De Eca mengangkat beban
penjualan cengkeh untuk Ternate. Sultan percaya bahwa rakyatnya akan
menderita, mengingat para pesaing Portugis; pedagang Spanyol, Jawa, dan
Melayu bisa membeli cengkeh dengan harga lebih tinggi. Eca memerintahkan
pasukannya untuk memenjarakan Sultan Hairun dan keluarganya. Baik penduduk
lokal maupun Fidalgos Portugis mengutuk sikap Eca. Mereka tahu bahwa Eca
menyimpan bea cengkeh, yang dibayar oleh para petani dan pedagang cengkeh,
untuk dirinya sendiri. Di penjara Portugis, Hairun meminta anak buahnya
mengirim pesan untuk menyandera pastor Katolik bernama Frater Alfonso de
Castro. Orang-orangnya berhasil memenjarakannya dan meminta Eca untuk
berunding. Eca menolak lamaran mereka dan meninggalkan Castro sampai mati.
Semua orang Portugis marah dan memenjarakan Eca pada tahun 1558. Eca
diangkut ke Goa, tetapi dia meninggal dalam perjalanan. Manuel de Vasconcellos
menggantikan tugas De Eca hingga Henrique de Sa datang dan berperan sebagai
gubernur. Henrique de Sa bisa menjaga hubungan baik dengan Hairun.
Perselisihan itu terjadi ketika Diego Lopez de Mesquita menggantikan Henrique
de Sa pada tahun 1564187.

Mesquita tampaknya menyalahkan Sultan Hairun atas usahanya yang
gagal. Dia melihat Sultan Hairun sebagai aktor utama di balik invasi Islam ke
desa-desa Kristen di Moro. Mesquita mengklaim bahwa Hairun mengirim armada
untuk mengawasi kapal Portugis yang dipimpin oleh Gonsalo Perreira
Marramaque. Di sisi lain, Hairun cemas jika Marramaque datang menyerbu
Ternate. Mesquita percaya jika Marramaque dan armadanya meninggalkan
Maluku, orang-orang Kristen di Moro akan berada dalam bahaya. Mesquita
menyadari bahwa Sultan Hairun adalah penghalang baginya. Mengingat Portugis
bisa menyatakan perang terbuka dengan Ternate, Dia menyiapkan skenario
untuk membunuhnya. Mesquita mengundang Hairun untuk membahas perjanjian
damai. Mereka setuju dan meratifikasi dengan beberapa janji di bawah kitab suci,
Sultan Hairun disumpah di bawah Al-Qur'an, dan Mesquita di bawah Alkitab.

183 Dom Manuel Tabariji bunuh diri. Sultan Hairun percaya bahwa Dom Manuel kehilangan haknya
menjadi Sultan Ternate ketika dia memeluk agama Katolik (Amal, 2010, p.184)
184 Raman & Bau. 2020. Monopoli Rempah, p.113
185 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.184
186 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.97
187 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.187-189

46

Skenario pertama berjalan lancar. Mesquita mengundang Hairun untuk kedua
kalinya. Hairun tidak diundang ke benteng, tetapi diminta untuk datang ke rumah
Mesquita. Di sebuah ruang pertemuan, Sultan Hairun ditikam oleh Antonio
Pimental. Sultan Hairun meninggal pada tahun 1570188.

Diego Lopes de Mesquita menganggap dia bisa menjalankan tugas
utamanya189 tanpa kesulitan jika Sultan Hairun bisa dibunuh. Meninggalnya
Sultan Hairun menjadi titik balik hubungan Portugis-Ternate. Putranya,
Baabullah, menyadari kematian aneh sultan. Dia menuduh Mesquita bahwa dia
harus bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Dia sudah membawa kasus ini
ke pengadilan, tetapi gubernur Portugis di Goa tidak bisa menyalahkan gubernur
jika dia sedang bertugas. Portugis memiliki konvensi untuk mengevaluasi dan
menghukum gubernur mereka setelah mereka menyelesaikan tugas mereka.
Setelah ia dipromosikan sebagai sultan, ia memimpin pengepungan ke benteng
Portugis. Portugis tidak punya pilihan, dan mereka tidak memiliki dukungan
logistik dan memutuskan untuk menyerahkan benteng mereka190.

Setelah menduduki benteng Portugis pada tahun 1575, Sultan Baabullah
seolah-olah mendeklarasikan perdagangan bebas cengkeh di Ternate. Pada tahun
1578, sultan menyambut pedagang Inggris Francis Drake, dan Drake diizinkan
memuat cengkeh dan kembali ke Inggris. Drake juga membawa surat sultan
kepada Ratu Inggris yang memberitahukan bahwa Ternate menyambut para
saudagar Inggris di Ternate191. Bahkan sultan juga mengizinkan Portugis memuat
cengkeh di Ternate. Orang Portugis secara teratur datang antara tahun 1575 dan
1578, tetapi mereka tidak berlayar ke Ternate antara tahun 1579 dan 1581192.

Selama tahun 1570-an, Portugis menderita, tetapi mereka berusaha untuk
tetap berdagang. Portugis memindahkan basis perdagangannya ke Ambon. Di
Ambon, Portugis telah mendirikan pos dagang pada tahun 1572 di Teluk Ambon.
Portugis menyadari bahwa jaringan Islam antara Ternate dan Ambon-Hitu
diperkuat setelah Sultan Hairun. Mereka memiliki misi yang sama untuk
mengusir Portugis dari Maluku. Pasukan gabungan Islam memojokkan dan
mengepung Portugis di Teluk Ambon. Untuk mempertahankan markas mereka di
Teluk Ambon, Portugis mendirikan benteng baru Nossa Senhora de Anunciada
pada tahun 1576193. Kapten Portugis pertama di Ambon, Sancho de Vasconcelos,
juga menjalin hubungan persahabatan dengan Sultan Tidore. Sultan takut akan
invasi Ternate. Sultan Tidore memberikan tanah kepada Portugis. Portugis
mendirikan benteng di Tidore pada tahun 1578 dan menamakannya Fortaleza de
Tidore atau Benteng Magi. Benteng ini terletak di pesisir timur Tidore194.

Persatuan Iberia pada tahun 1580 memungkinkan Portugis untuk dibantu
oleh Kastilia di Manila. Pasukan gabungan ini gagal merebut kembali Ternate
pada tahun 1582, tetapi mereka berhasil menduduki Ternate pada tahun 1603

188 Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.189-193
189 Tugas utamanya adalah memonopoli perdagangan cengkeh dan membuat penduduk setempat
memeluk agama Kristen (Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, p.195)
190 Amal. 2007. Kepulauan Rempah-Rempah, p.151; Amal. 2010. Portugis dan Spanyol, pp.196-7
191 Timme. 1998. A Presenca Portuguesa, p.8
192 Amal. 2007. Kepulauan Rempah-Rempah, p.151
193 Leirissa, Pattikayhatu, Luhukay, Thalib, & Maelisa. 2004. Ambonku, pp.19-20
194 Lobato. 2011. Fort of the Magi

47

sebelum Belanda datang dan mengusir mereka pada tahun 1605195. Pada tahun
yang sama, Belanda juga merebut dua benteng Portugis lainnya di Ambon dan
Tidore. Empat Perdana dari Hitu menyambut kedatangan Belanda di Ambon-Hitu
pada akhir abad ke-16. Hitu meminta Belanda mengusir Portugis dari Ambon.
Setelah perjanjian persahabatan disepakati, pasukan gabungan mengepung
Portugis di Ambon. Portugis menyerahkan benteng setelah penduduk setempat
berhenti memasok bahan makanan ke Portugis. Belanda mengganti nama
benteng tersebut dengan Benteng Victoria196. Di Tidore, Belanda menghancurkan
benteng dan memaksa kapten Portugis, Pedro Alvares de Abreu, menyerah pada
Mei 1605. Belanda juga membakar pemukiman Portugis setelah mengizinkan
mereka keluar dari Tidore. Spanyol mencoba merebut kembali pada tahun 1606,
tetapi Belanda berhasil kembali menduduki Tidore pada tahun 1607197. Selama
abad ke-17, Belanda hanya mendapat tantangan dari penduduk setempat
(Ambon-Hitu), dipukuli pada paruh kedua abad ke-17.

B. Kebudayaan Materi Maluku

Labuha merupakan salah satu desa yang terletak di kabupaten Halmahera
bagian selatan. Kondisi geografis desa ini terletak di wilayah pesisir sehingga di
desa ini terdapat pelabuhan. Jika dicermati, nama Labuha diambil dari pelabuhan
yang menjadi identitas desa ini. Bukti bahwa desa ini dulunya adalah pelabuhan
adalah peninggalan-peninggalan yang terdapat di desa tersebut. Pada masa
kesultanan Bacan agama Islam berkembang sangat kompleks di desa ini.
Berdasarkan Hikayat Hitu jaringan dagang Jawa melalui Selat Malaka juga terseba
sampai wilayah Maluku198. Dugaan ini yang menjadi salah satu hipotesis bahwa
agama Islam dapat menyebar secara kompleks di Desa Labuha. Dugaan tersebut
dibuktikan dengan adanya gaya arsitektur Masjid Kesultanan Bacan yang sama
seperti bangunan masjid di Jawa dengan bentuk atap limas.

195 Timme. 1998. A Presenca Portuguesa, p.8; Ternate lebih suka meminta Belanda, daripada Inggris,
untuk mengusir pasukan Iberia. Belanda mungkin memiliki hubungan baik dengan kepala suku Hitu sejak
akhir abad ke-16. Menurut Naidah dalam Babad Ternate (Hikayat Ternate), Ternate meminta orang kulit
putih Eropa untuk menyembuhkan raja mereka yang sakit. Kedutaan Besar Ternatan bertanya kepada
Belanda dan Inggris di Banten. Namun, mereka lebih percaya diri untuk meminta bantuan kepada
Belanda. Keyakinan itu muncul ketika Belanda selamat setelah meminum racun dari duta Ternate (Crab
(Ed). 1878. Geschiedenis van Ternate, p.399)
196 Manusama (Ed). 1977. Hikayat Tanah Hitu, p.179 & p.182; Mu’jizah. 2008. Pertemuan Antar Bangsa,
p.23 & p.25;
197 Lobato. 2011. Fort of the Magi in Tidore
198Leirissa, dkk. 1999. Sejarah Kebudayaan Maluku… Hal. 17

48


Click to View FlipBook Version