Gambar 2.2.1. Masjid Kesultanan Bacan
Masjid Kesultanan bacan menjadi salah satu peninggalan masa Islamd di
Maluku utara tepatnya di desa Labuha. Letak masjid ini berada di tengah-tengah
pemukiman desa yang berbatasan langsung dengan SD Islamiah Labuha di Utara.
Masjid ini dinamakan kesultanan bacan karena memang secara historis
merupakan peninggalan dari kesultanan bacan. Masjid Kesultanan bacan
memiliki atap limas bersusun dua yang jika dilihat bentuk arsitektur ini seperti
dengan arsitektur masjid di Jawa. Di setiap sisi limas pada atap masjid ini
memiliki lukisan arab. Serta disekitar bangunan masjid terdapat makam-makam
keturunan dari kesultanan Bacan. Sedangkan, pola bangunan masjid dengan atap
limas merupakan lagam arsitektur yang tersebar pada masjid-masjid yang ada di
Jawa akibat pengaruh dari lagam arsitektur Hindu-Buddha199. Dari deskripsi
tersebut dapat disimpulkan bahwa pada masa itu di pelabuhan kesultanan bacan
terdapat interaksi dengan budaya jawa yang dibuktikan dengan bentuk arsitektur
masjid yang hampir sama dengan arsitektur jawa. Pada masa kesultanan Bacan
masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah serta tempat pemakaman bagi kerabat
kesultanan dengan tujuan supaya mendapatkan doa dari orang yang berkunjung
di masjid pada waktu mendatang200.
Peninggalan lain yang terdapat di Desa Labuha ini adalah Benteng
Barneveld. Awal dibangunya benteng ini pada tahun 1558 oleh bangsa portugis
adalah untuk mengawasi aktivitas dagang pada pelabuhan dan melegitimasi
kekuasaan terhadap Desa Labuha201. Namun, ketika ternate ditaklukan oleh
Spanyol pada tahun 1609 benteng ini diambil alih meskipun tidak lama.
Kemudian, benteng ini jatuh di tangan Belanda pada saat Laksamana Belanda
bernama Simon Hoen, bersama dengan utusan dari Kesultanan Ternate meminta
puhak Spanyol untuk keluar dari Bacan sehingga benteng ini dikuasai oleh
Belanda.
199 Ashadi. 2021. Perkembangan Peradaban dan Arsitektur di Jawa… Hal. 385-387
200 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku… Hal. 26
201 Adrisijanti. 2014. Benteng Dulu, Kini, dan Esok… Hal. 100-107
49
Gambar 2.2.2. Benteng Barneveld.
Pasalnya benteng ini baru dinamai Benteng Barneveld pada saat dikuasai
oleh Belanda. Sehingga, tidak heran jika nama benteng ini tidak ada hubunganya
dengan bangsa Portugis. Menariknya, benteng ini mengalami renovasi pada saat
kepemimpinan Pieter Both dengan menambahkan lapisan kapur pada benteng
ini. Kondisi bangunan Barneveld masih ada pada saat ini dengan bentuk segi
empat memiliki 4 buah bastion dan terdapat meriam disetiap bilik bidiknya.
Masjid Tua Jailolo menjadi salah satu peninggalan Kesultanan Jalailo yang
terdapat di Desa Gamlamo, Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat sehingga ada
yang menyebut masjid ini adalah Masjid Gamalamo. Masjid ini mengalami
renovasi pada tahun 2006. Hal ini dapat dilihat dari tekstur dinding dari masjid
ini yang terbuat dari beton. Menariknya, di halaman masjid ini terdapat meriam
kolonial yang dibawa dari reruntuhan benteng Belanda yang dirusak oleh Jepang
pada masa kedudukan Jepang202. Hingga saat ini Masjid Tua Jailolo masih
digunakan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat Gamlamo. Sama seperti
masjid-masjid kuno pada umumnya, di sekitar masjid ini terdapat makam kerabat
dan sesepuh kesultanan jailolo203.
202 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku… Hal. 9
203 Ashadi. 2021. Perkembangan Peradaban dan Arsitektur di Jawa… Hal. 398
50
Gambar 2.2.3. Masjid Tua Jailolo (Gamalamo)
Kota Ternate atau yang biasa di sebut kota Gamlamo merupakan salah
satu kota yang terdapat di Pulau Ternate. Nama Gamlamo diambil dari nama
Gunung besar yang terdapat pada desa tersebut yaitu Gunung Gamalama.
Gamalama berasal dari kata Kie Gam Lamo yang berarti Negeri yang besar. Hal ini
karena Gunung Gamalama menjadi satu-satunya gunung yang terdapat di pulau
Ternate dan memiliki letak geografis sebagai pusat pulau. Di Gamlamo terdapat
peninggalan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut mulai dari masa kesultanan
hingga kolonialisme.
Pada masa Kolonial, terdapat berbagai macam benteng di Gamlamo. Desa
Kastela terletak di Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate. Nama kastela berasal
dari kosakata Iberia yakni “castelo” (Portugis) atau “castilla” (Spanyol). Baik
“castelo” maupun “castilla” merujuk pada istana kerajaan atau kerajaan. Secara
historis, kedua bangsa Iberia baik Portugis dan Spanyol pernah bermukim di
Ternate. Portugis bermukim di Ternate sejak Francisco Serrao berhasil
mendapatkan pos dagang disana pada tahun 1513204. Mereka mendapatkan
banyak keuntungan dari monopoli perdagangan cengkeh. Kemakmuran Portugis
tidak bertahan lama, karena Sultan Hairun tidak lagi menjual cengkeh secara
eksklusif pada Portugis. Keadaan ini merupakan ancaman besar bagi Portugis.
Mereka mulai mengatur siasat untuk menurunkan Sultan Hairun. Portugis
ternyata bukan hanya menurunkan tetapi juga menghabisi nyawa sang sultan di
Benteng Kastela pada 1570. Pangeran Baabullah yang tidak bisa menerima
akhirnya berupaya mennyingkirkan Portugis dari Ternate. Baru pada 1575,
Ternate berhasil mengusir Portugis ke selatan. Penyatuan Iberia pada 1580
membuat Portugis mendapat bantuan dari orang-orang Kastilia (Spanyol) di
Manila. Pasukan gabungan mereka memang gagal merebut Kembali Ternate pada
1582. Akan tetapi, mereka berhasil merebut Ternate pada 1603 sebelum Belanda
204 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku…
51
datang dan mengusir mereka pada 1605. Wajar apabila kemudian Desa Kastela
memiliki tinggalan budaya kolonial bernuansa Iberia, yakni Benteng Kastela.
Gambar 2.2.4. Benteng Kastela.
Ketika masih berdiri dengan megah, Benteng Kastela dibangun dengan
ukuran besar. Terdapat tembok keliling yang melindungi keberadaan Benteng
Kastela. Selain itu, tembok keliling juga mencakup kantor dagang, rumah-rumah
pejabat, gereja, dan menara. Tidak banyak yang tersisa kini, hanya puing-puing
tembok dan reruntuhan Menara yang dapat dinikmati205. Jika melihat kebesaran
benteng-nya, ada kemungkinan benteng itu memiliki tiga fungsi utama yakni
pemukiman, pertahanan, dan Gudang.
Di Kota Gamlamo tepatnya di Kelurahan Ngade, Kecamatan Ternate
Selatan juga terdapat Benteng Kota Janji yang awalnya diberi nama San Jao oleh
bangsa Portugis dibangun pada tahun 1532. Namun, ketika pembangunan
Benteng San Jao belum diselesaikan, bangsa portugis lebih dulu diusir dari
ternate pada tahun 1575. Kemudian bangunan Benteng ini disempurnakan oleh
Bangsa Spanyol pada tahun 1606 dengan nama Benteng Santo Pedro atau
masyarakat Ternate biasa menyebut Benteng Kota Janji206. Secara Historis
dinamakan kota janji karena pada saat dikuasai oleh bangsa Portugis, terdapat
kesepakatan antara Sultan Babullah dengan Portugis di benteng ini. Pada saat
portugis telah diusir dari ternate dan Sultan Ternate diteruskan oleh Sultan Said.
Melihat peluang demikian Spanyool berniat menguasai Ternate sehingga
menjadikan Benteng Kota Janji menjadi tempat singgah bagi kapal-kapal Spanyol
yang mengangkut tentara maupun Logistik.
205 Suwindiatrini, dkk. 2017. Arsitektur Benteng Kolonial di Pulau Ternate…
206 Idm.
52
Gambar 2.2.5. Benteng Kota Janji.
Setelah kekuasaan Spanyol terhadap ternate pada tahun 1606, pada tahun
1607 Kesultanan Ternate meminta bantuan terhadap Banten yang saat itu
dikuasai oleh Belanda. Berkat keberhasilan Belanda mengusir Spanyol, Belanda
diizinkan oleh KesultananTernate untuk membangun Benteng di bekas bangunan
Benteng Malayo milik Portugis. Selain mendapatkan izin untuk membangun
benteng di Ternate Belanda juga berhasil memonopoli perdagangan yang ada di
Ternate. Peninggalan Belanda yang terdapat di Ternate adalah Benteng Oranje.
Benteng ini terletak di Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate dengan bentuk
bangunan memiliki bentuk trapesium disertai 4 bastion pada setiap sudutnya.
Fungsi utama benteng ini dibangun Belanda untuk mengawasu jalanya monopoli
perdagangan yang dilakukan oleh Belanda207.
Gambar 2.2.6. Benteng Oranje.
Benteng Kalamata atau yang biasa disebut Benteng Kayu Merah terletak
di Kelurahan Kayu Merah, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate merupakan
salah satu peninggalan pada Bangsa Belanda. Secara historis, peninggalan ini
tidak terlalu beda dengan Benteng Oranje karena secara geografis letak benteng
207 Suwindiatrini, dkk. 2017. Arsitektur Benteng Kolonial di Pulau Ternate…
53
ini tidak jauh dari Benteng Oranje. Tidak hanya geografis, secara temporal
dibangunnya benteng ini juga di tahun yang sama. Benteng ini dulunya dibangun
oleh bangsa Portugis pada tahun 1640 dengan nama Santa Lucia. Pada saa
Portugis telah diusir dari Ternate pada tahun 1957 Benteng ini diambil alih oleh
Spanyol sebagai pos perdagangan. Kemudian, pada tahun 1607 Belanda datang
mengusir Spanyol dan mengambil alih bentengpeninggalan prtugis yang bernama
Santa Lucia dan merenovasi ulang pada tahun 1624. Namun, pada tahun 1627
Spanyol berusaha mengambil alih benteng ini kembali dari Belanda. Sehingga,
pada tahun 1648 kedua belah pihak menyetujui perjanjian damai yaitu Spanyol
kembali ke Filipina dan Belanda melanjutkan melakukan perbaikan terhadap
Benteng Santa Lucia yang kemudian berganti nama menjadi Benteng Kalamata
yang diambil dari nama pangeran Ternate yaitu Kaicil Kalamata208. Susunan
arsitektur Benteng Kalamata tidak jauh beda dari benteng-benteng yang ada di
Ternate Lainya dengan bentuk segi 4 memiliki 4 bastion disetiap sudutnya dan
terdapat ceruk bidik sebagai letak meriam. Bahan yang digunakan pada bangunan
ini juga menggunakan batuan andesit dan batu karang yang notabenya banyak
terdapat di Ternate209.
Gambar 2.2.7. Benteng Kalamata.
Selanjutnya adalah Benteng Tolucco (Tolukko), Benteng ini terletak masih
di Kota Ternate namun beda kecamatan dari benteng-benteng yang telah dikaji
di atas. Benteng Tolucco terletak di Kelurahan Dufa-dufa, Kecamatan Ternate
Utara dibangun oleh Portugis pada tahun 1540 kemudian diberi nama Benteng
Santo Lucas. Secara geografis, letak benteng ini berada di batuan karang yang
paling tinggi di tepi pantai. Sehingga, jika dilihat dari letak geografisnya benteng
ini dirancang untuk menjadi pos maritim di Ternate. Dampak dari diusirnya
Portugis oleh Sultan Babullah pada tahun 1575 menjadikan enteng ini dikuasai
oleh Spanyol. Namun, penguasaan Spanyol pada benteng ini tidaklah lama. Pada
208 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku…
209 Suwindiatrini, dkk. 2017. Arsitektur Benteng Kolonial di Pulau Ternate…
54
saat Belanda berhasil mengusir Spanyol dari Ternate, benteng ini direnovasi pada
tahun 1612 dan diberi nama Benteng Hoallandia. Pada akhir abad 18, Tidore di
bawah pimpinan Sultan Kaici Nuku berusaha menguasai Ternate dan mengusir
Belanda dari Ternate namun tersebut gagal. Hingga saat ini peninggalan benteng
ini masih ditemukan berupa bangunan benteng berbentuk segi tiga dengan
memiliki 3 bastion dan terbuat dari batuan andesit dan karang. Pada saat ini
masyarakat sekitar menyebut benteng ini dengan nama Benteng Tolucco
(Tolukko).
Gambar 2.2.8. Benteng Tolucco (Tolukko).
Tidore menjadi daerah besar yang menjadi tempat singgah bangsa
portugis yang diusir dari Ternate pada tahun 1575. Dengan singgahnya bangsa
Portugis di Tidore, kemudian melakukan negosiasi terhadap Kesultanan Tidore
untuk mendapatkan izin membangun benteng di beberapa wilayah di Tidore.
Pada tahun 1578 portugis membangun Benteng Torre di Kelurahan Sai sio,
Kecamatan Pulau Tidore, Kota Tidore. Nama Torre pada benteng ini karena
berhubungan dengan orang portugis yang bernama Hernando De La Torre210.
Dinding benteng ini terbuat dari batuan andesit dan batuan kapur karena
letaknya di daerah dekat pantai. Bangunan awal benteng ini memiliki menara di
sebelah depan namun pada tahun 2011 pemerintah merawat menara tersebut
dengan tujuan untuk pemeliharaan.
210 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku…
55
Gambar 2.2.9. Benteng Tore.
Tepat di desa yang sama, Spanyo juga membangun benteng pada tahun
1607. Setelah berhasil menaklukan Ternate, Gubernur Spanyol memerintahkan
untuk membangun benteng di Tidore dengan nama Santiago de los Caballeros de
Tidore yang kemudian pada saat ini dikenal dengan nama Benteng Tahula.
Benteng ini digunakan sebagai basis militer Spanyol yang terletak di bukit batu
daerah pesisir barat Tidore. Namun, berdasrakan sumber yang tersedia, benteng
ini dibongkar oleh Belanda pada tahun 1707 saat Spanyol diusir dari Tidoe.
Pembongkaran ini dilakukan sebagai upaya pencegan terhadap perlawanan
Kesultanan Tidore dengan menggunakan benteng ini. Pada saat ini, peninggalan
Benteng Tahula masih terlihat meskipun berbentuk runtuhan dengan 3 bastion.
Gambar 2.2.10. Benteng De Varwacthing.
Peninggalan masa kolonialisme juga terdapat di Pulau Sula tepatnya di
Desa Mangon, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula. Peninggalan
56
tersebut berbentuk benteng kolonialisme dan diperbaiki oleh bangsa belanda
pada tahun 1736 dinamai Benteng De Varwacthing. Jika dilihat dari penamaanya,
benteng ini difungsikan sebagai pengawas bahkan bentuk arsitektur benteng ini
terdapat ruang patrol keliliang di bagian atas yang menghubungkan setip bastion.
Benteng De Varwacthing memiliki tinggi kurang lebih 4 meter berbentuk segi 4
dan memiliki 2 bastion. Uniknya, terdapat sebuah pelakat di salah satu pintu
benteng ini yang berisikan tulisan arab pegon bahasa melayu.
57
58
59
BAB III
IDENTITAS HIBRIDA MASYARAKAT BANDA
A. Menciptakan Kemajemukan Banda
Pulau Banda merupakan gugusan pulau di sebelah selatan Pulau Seram
dan Pulau Buru. Pulau-pulau tersebut meliputi Pulau Neira, Banda Besar (Lontor),
Ai, Rosengain (Pulau Hatta), Run, Gunung Api, Pisang (Pulau Sjahrir), Nailaka,
Manukang, Suanggi, dan Karaka. Namun, baru lima pulau penghasil pala dan fuli,
yaitu Neira, Banda Besar (Lontor), Ai, Rosengain, dan Run. Rempah-rempah
Banda telah menarik berbagai pedagang untuk datang. Salah satunya adalah
orang Portugis. Setelah Malaka ditaklukkan pada tahun 1511, Afonso de
Albuquerque mengirim armada yang dikomandani Antonio de Abreu ke
Kepulauan Rempah-Rempah pada tahun 1512. Armada Portugis mengikuti rute
yang biasa digunakan oleh orang Jawa. Nahkoda Ismail mengarahkan Portugis
untuk berlayar ke selatan dari Malaka. Armada Portugis melewati pantai barat
Kalimantan dan memasuki Laut Jawa. Mereka berlabuh di Gresik di Jawa Timur
sebelum mencapai Banda melalui Kepulauan Sunda Kecil211.
Orang Portugis tahu bahwa Kepulauan Banda tidak menghasilkan barang
lain kecuali fuli dan pala. Orang Banda sering mengimpor cengkeh dari Ambon-
Lease dan Maluku. Orang Banda juga melakukan barter fuli dan pala dengan
bahan pangan berupa sagu dan beras yang dibawa oleh para pedagang dari
Seram, Kai, Aru, Bima, Makasar, dan Jawa. Orang Banda juga menyambut para
saudagar India. Mereka menukar rempah-rempah dan emas dengan tekstil India.
Bendahara Nina Chatu, administrator lokal di Malaka, menyarankan Portugis
untuk membawa tekstil India untuk ditukar dengan rempah-rempah Banda.
Setelah mendarat di Kepulauan Banda212, Abreu menempatkan padrão
penemuannya di Pulau Banda Besar (Lontor). Dia membeli sekarung pala, fuli,
dan cengkeh. Dia juga membeli rongsokan Cina untuk Serrão. Setelah melakukan
perdagangan, Abreu memerintahkan armada Portugis untuk melanjutkan
perjalanan ke Malaka. Portugis membutuhkan kapal raksasa untuk memuat
rempah-rempah. Abreu ingin meminta raja muda Portugis untuk segera
mengirim armada lain. Dalam perjalanan pulang, kapal yang dikomandani
Francisco Serrão karam di Laut Banda. Pada saat yang sama, kapal-kapal yang
211 Thalib. 2015. Islam di Banda Naira, pp.35-6; Kanumoyoso. 2020. Banda Islands and the Treaty of
Breda, pp.49-50; Villiers. 1985. East of Malacca, p.4; Burnet. 2013. East Indies, pp.34-5; Hikayat Banda
Lonthoir, satu-satunya sumber lokal yang ada, tidak akurat untuk menginformasikan bahwa Portugis
datang ke Banda pada tahun 1509 setelah Raja Timor mengarahkan mereka ke Banda (Neirabatij, 1922,
fl.67). Bahkan, Portugis mencapai Banda pada tahun 1512.
212 Portugis mungkin saja mendarat di Pulau Banda Besar (Lontor), mengingat Banda Besar merupakan
satu-satunya pulau yang memiliki pelabuhan Celamme, Orantatta, Lontor, dan Combir. Namun, Neira
juga merupakan pulau yang penting dan sering dikunjungi oleh orang Jawa, tetapi Neira, bersama
dengan pulau-pulau lain, tidak memiliki pelabuhan dan mengangkut hasil produksinya ke Lontor, yang
memiliki tempat berlabuh terbaik dan teraman (Villiers, 1985, hlm.13; Barros, 1563, III, 6, fls.136-8).
60
dikomandani oleh Antonio de Abreu dan Simão Afonso tiba dengan selamat di
Malaka pada akhir tahun 1512213.
Setelah kedatangan Antonio de Abreu di Malaka, kapten Portugis Malaka,
Ruy de Brito, mengirim Antonio de Miranda de Azevedo dengan tiga kapal ke
Banda sebelum berlayar ke Maluku melalui Ambon. Armada Portugis berangkat
dari Malaka pada tanggal 28 Desember 1513. Armada tersebut mengikuti rute
reguler selatan menuju Kepulauan Banda. Mereka membeli rempah-rempah di
Banda sebelum melanjutkan ke Maluku. Antonio de Miranda kembali dan tiba di
Malaka pada tahun 1514. Pada tahun 1515, Jorge de Albuquerque, kapten
Portugis Malaka, mengirim Antonio de Miranda ke Banda. Kapten tidak hanya
memintanya untuk memuat rempah-rempah tetapi juga mengirim Jorge
Mesurado untuk membuat perjanjian dengan Raja Maluku. Ternate menyambut
baik dan mengizinkan Portugis mendirikan benteng Portugis di Ternate. Ternate
juga meminta Portugis mengirimkan kapal besar untuk memuat cengkeh214. Pada
tahun yang sama, Alvaro do Cocho dikirim ke Banda, di mana ia memuat pala dan
kembali ke Malaka215.
Pada tahun 1516, Portugis tetap mengirim kapal di bawah Francisco
Pereira dan Jorge de Lancðes. Sayangnya, kapal mereka karam di Laut Banda
dalam perjalanan kembali ke Malaka216. Pada tahun 1517, Manuel Falco dikirim
ke Banda. Kapal-kapal Portugis memuat rempah-rempah dan kembali ke Malaka.
Falcão berhasil membuat perjanjian damai dan perdagangan. Namun,
perdagangan damai Luso-Banda berbahaya bagi perdagangan Portugis di masa
depan. Harga rempah-rempah di Banda naik dari dua atau dua setengah cruzado
menjadi delapan atau sepuluh cruzado. Pada tahun berikutnya, Nuno Vaz Pereira
mengirim Simão Vaz ke Banda. Dia mencoba menegosiasikan harga rempah-
rempah yang lebih murah dengan orang Banda217. Pada tahun 1520, Kapten
Portugis Malaka, Garcia de Sa, mengirim Diogo Brandão ke Banda. Brandão tidak
melanjutkan perjalanan ke Maluku dan hanya memuat rempah-rempah di Banda
dan kembali ke Malaka218.
213 Barros. 1563. Decada Terceira da Asia, V, 6, fl.136; Depoimento de Diogo Brandão em o processo das
Molucas, Tomar, 25 August 1523, ANTT Gaveta 13-6-1, Published in DPHMPPOI, I, p.176; Smith. 1968.
The First Age, p.41; Kanumoyoso. 2020. Banda Islands and the Treaty of Breda, pp.51-2; Pires. 1944.
Suma Oriental, I, p.268; Villiers. 1985. The East of Malacca, pp.15-18; Meilink-Roelofsz. 1962. Asian
Trade and European Influence, p.95; Neirabatij. 1922. Hikayat Banda Lonthoir, fls.67-8
214 Papéis pelos quais constava que em 1508 (sic) se descobrira Malaca e ilhas de Maluco, published in
AGTT, IV, 3241, XV, 10-8, p.257; Smith. 1968. The First Age, p.48
215 Carta de Alvaro do Cocho Escrita em Malaca a El-Rei, Malacca, 2 Janeiro 1516, ANTT, CC: Parte III
Maço 6, Doc.3; Smith. 1968. The First Age, p.49
216 Carta de Pedro de Faria a el-rei, na qual lhe falava a respeito da Fortaleza de Malaca e dos seus
negocios que iam de mal a piro, Malaca 5 Janeiro 1517 (alias 1518), Published in AGTT, IV, p.348 & p.355;
Depoimento de Diogo Brandão, ANTT, CC, Gav.13, Maço 6, Doc.1; Published in CAA, IV, p.173; Smith.
1968. The First Age, pp.50-51
217 Carta de Pedro de Faria a el-rei, na qual lhe falava a respeito da Fortaleza de Malaca e dos seus
negocios que iam de mal a piro, Malaca 5 Janeiro 1517 (alias 1518), Published in AGTT, IV, p.349 & p.354;
Depoimento de Diogo Brandão, ANTT, CC, Gav.13, Maço 6, Doc.1; Published in CAA, IV, p.173; Smith.
1968. The First Age, pp.51-2
218 Depoimento de Diogo Brandão, ANTT, CC, Gav.13, Maço 6, Doc.1; Published in CAA, IV, pp.171-2;
Smith. 1968. The First Age, pp.55-6
61
Orang Banda masih menyambut Portugis untuk berdagang, tetapi mereka
tidak mengizinkan mereka untuk mendapatkan pos dagang di Banda. Para
saudagar swasta Portugis juga bergabung dengan perdagangan yang
menguntungkan di Banda. Mereka bisa menjual tekstil India dan membeli
rempah-rempah dari penduduk setempat. Para saudagar swasta Portugis di
Maluku dan Ambon sering menggunakan perahu lokal untuk berdagang219.
Mereka memiliki bisnis yang bagus dan menghancurkan harga pasar rempah-
rempah. Orang Banda menaikkan harga rempah-rempah dan memaksa Kapten
Portugis, Antonio de Brito, untuk merundingkan perjanjian perdagangan dan
menyimpulkannya pada tahun 1522220.
Kerajaan Portugis mendapat sedikit keuntungan dari perdagangan
rempah-rempah di Banda. Selain itu, orang Banda sering tidak mampu membayar
komoditas Portugis221; serta biaya perjalanan yang lebih tinggi karena Portugis
menggunakan kapal paling luas yang tersedia. Oleh karena itu, Kerajaan Portugis
setiap tahun mengirim kapal besar ke Kepulauan Banda selama abad ke-16.
Portugis hanya berlayar ke Banda dengan kapal milik pribadi. Sebelumnya,
pelayaran ini diselenggarakan di Malaka. Tapi, perjalanan reguler dikirim dari
Goa setelah pertengahan abad ke-16. Keputusan kerajaan di Goa menunjuk
kapten kapal, yang memimpin armada ke Banda222.
Portugis gagal memonopoli rempah-rempah Banda. Orang Banda adalah
pedagang yang aktif mengimpor dan mengekspor cengkeh Maluku. Selain orang
Banda membangun kapal dagang besar-besaran untuk mengangkut rempah-
rempah ke Kepulauan Indonesia Barat, sebagian besar pedagang dari Jawa dan
Malaka lebih suka membeli cengkeh di Banda daripada di Maluku dan Ambon223.
Orang Banda menikmati perdagangan mereka yang menguntungkan dan
memperoleh tekstil India, emas, gading, dan barang-barang lainnya224.
Orang Portugis di Malaka secara teratur mengunjungi Banda dalam satu angin
muson. Mereka menjalankan bisnis mereka dan kembali ke Malaka tanpa
menunggu angin muson berikutnya. Portugis tidak mengetahui kemitraan Banda-
219 Carta de Gaspar Nilio a el-rei D. João III, Malacca 10 de Agosto de 1545, DPHMPPOI, I, p.458; Villiers.
1985. East of Malacca, p.22
220 Barros. 1563. Decada Terceira Da Asia, V, 7, fl.142; Meilink-Roelofsz. 1962. Asian Trade and European
Influence, p.161; Diffie & Winius. 1978. Foundation of Portuguese Empire, p.370; Villiers. 1985. East of
Malacca, p.8.
221 Carta de Francisco Palha a el-rei, Goa, 26 de Dezembro de 1553, DPHMPPOI, II, pp.102-129; Villiers.
1985. East of Malacca, pp.104-5.
222 Thomaz. 1975. Maluco e Malacca, p.43
223 Perjalanan dari Malaka ke Maluku dan kembali memakan waktu hampir dua kali lebih lama dari
perjalanan pulang ke Banda. Mereka akan meninggalkan Malaka pada bulan Januari atau Februari setiap
tahun dan, setelah menyelesaikan bisnis mereka dan memuat kapal mereka di Banda pada awal Juli,
akan berlayar ke Malaka, yang akan mereka capai pada bulan Agustus. Untuk pergi ke Maluku, mereka
harus meninggalkan Banda sebelum akhir Mei dan, karena musim timur laut, mereka harus tetap berada
di Maluku sampai Januari berikutnya, ketika angin yang mendukung memungkinkan mereka untuk
kembali ke Malaka. Perjalanan keliling dengan demikian akan memakan waktu hampir satu tahun,
dibandingkan dengan hanya enam bulan untuk pelayaran Banda (Villiers, 1985, hlm.10-11).
224 Descrição Sumária das Molucas e de Banda, Dezembro de 1529, Published in DPHMPPOI, IV, p.17;
Pires. 1944. Suma Oriental, II, 207
62
Hitu. Orang-orang Hitu secara teratur berdagang dan tinggal di Banda225. Ketika
Portugis berselisih dengan orang Hitu, orang Banda juga mengirim empat belas
jung yang dilengkapi dengan prajurit dan meriam untuk membantu Talele dari
Hitu menyerang Portugis di Ambon226. Orang Banda melihat Portugis sebagai
saingan mereka dalam perdagangan cengkeh. Orang Banda berhenti untuk
mengimpor cengkeh dari Ternate, tempat tinggal Portugis. Mereka memutuskan
untuk mengumpulkan cengkeh dari Tidore di bawah pengaruh Spanyol. Setelah
Ternate mengusir Portugis, orang Banda kembali dan berdagang di Ternate dan
dependensinya227.
Kegagalan Portugis untuk mengontrol perdagangan rempah-rempah Banda
menyebabkan mereka kesulitan membangun benteng di Banda. Pada akhir abad
ke-16, Portugis mulai meninggalkan perdagangan rempah-rempah di Banda.
Orang Portugis bisa membeli rempah-rempah di tempat lain seperti di Makasar.
Selama abad ke-17, Portugis tidak memiliki kontak langsung dengan orang Banda.
Selain itu, orang Banda bersekutu dengan Belanda untuk menguasai perdagangan
rempah-rempah. Belanda berjanji untuk melindungi Banda dari Portugis, dan
sebagai imbalannya, orang Banda mengizinkan Belanda untuk mendirikan
benteng mereka di Pulau Lontor. Sayangnya, Belanda menodai kesetiaan orang
Banda. Mereka dengan kejam membunuh pemberontak Banda dan memaksa
monopoli Belanda di Banda. Orang Banda mulai berpindah dan menetap di
Makasar228.
B. Kebudayaan Materi Banda
Desa nusantara adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Banda
,pulau neira, kabupaten Maluku tengah atau disebelah selatan dari pesisir pulau.
Desa nusantara menjadi satu dari sekian banyak desa utama dan merupakan desa
penting penghasil rempah utama yang dikuasai belanda pada masa penjajahan229.
Di desa ini setidaknya terdapat dua benteng tua peninggalan kolonialisme
belanda dan juga sebuah Gereja Tua sebagai sarana penyebaran agama Kristen
kala itu. Benteng Nassau menjadi benteng tertua yang di bangun diatas desa ini.
Pada tahun 1607 sebuah benteng megah berdiri diatas pondasi bangunan
benteng portugis yang tidak terselesaikan pembangunannya sekitar satu abad
sebelumnya. Benteng ini terletak disebelah selatan pulau neira yang berbatasan
langsung dengan bibir pantai sehingga memiliki nama lain yaitu benteng air.
225 Carta do Irmão Fernão do Souro aos Confrades do Colégio de Santo Antão, em Lisboa. Molucas, 15 de
Fevereiro de 1563, BAL 49-IV-50, Published in DPHMPPOI, III, pp.24-5; Villiers. 1985. East of Malacca,
p.20
226 A Capitania de Amboino, BNL, Fundo Geral No.474, cap.91 & cap.99. Published in DPHMPPOI, IV,
pp.435-6 & p.451; Villiers. 1985. East of Malacca, p.20
227 Meilink-Roelofsz. 1962. Asian Trade and European Influence, p.162
228 Villiers. 1985. East of Malacca, p.8 & p.23; Thalib. 2015. Islam di Banda, p.72
229 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku…
63
Gambar 3.2.1 gerbang Benteng Nassau
Benteng Nassau ini selain terbuat dari batu pondasi peninggalan portugis
juga berbentuk persegi dengan tiap-tiap ujung sisi berbentuk mengerucut seperti
hati dan dikelilingi oleh parit disekitarnya. Hal ini berfungsi selain sebagai
perlindungan dari benteng juga bentuknya yang memiliki kerucut di setiap
sisinya memudahkan dalam pengawasan wilayah karena selain menjadi benteng
juga sebagai kantor Gubernur VOC tepatnya pada 8 mei 1622. Setelah dibangunya
benteng Belgica yang tidak jauh dari benteng Nassau maka benteng ini beralih
fungsi sebagai penjara tawanan belanda dan seluruh kegiatan VOC berpindah ke
Benteng Benfiica yang letaknya lebih strategis Ditengah-tengah pulau Neira230
Selain benteng Nassau terdapat pula sebuah benteng peninggalan belanda
yang juga terletak di Desa nusantara,pulau neira kurang lebih 600m sebelah utara
dari benteng Nassau. Terletak di desa nusantara benteng bellgica ini
menggantikan Nassau sebagai pusat kantor Gubernur VOC pada saat itu. Benteng
ini dibangun sedikit lebih tinggi dari benteng Nassau untuk menghindari
serangan langsung dari bibir pantai. Benteng ini dibangun pada kurun waktu
1672-1673
Gambar 3.2.2 Tampak Atas Benteng Belgica
Benteng yang berada di ketinggian 30m diatas permukaan laut ini
menyempurnakan pertahanan belanda yang awalnya dari Benteng Nassau yang
kurang strategis. Benteng belgica berbentuk pentagon dengan lima bastion di sisi
230 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku…
64
luarnya. Benteng ini menampung 400 orang dengan senjata lengkap seperti
meriam. benteng ini berfungsi sebagai menghalau serangan lansgung dari bibir
pantai dan juga gerilya masyarakat neira yang berasal dari perbukitan di pulau
neira. Benteng ini sangat strategis karena dapat memantau kesuluruhan pulau
neira dari atasnya231.
Gereja Tua Neira merupakan sebuah peninggalan arkeologis zaman
Belanda yang tereltak di desa Nusantara, kecamatan Banda, pulau Neira
Kabupaten Maluku Tengah, yang berada di titik koordinat geografis (Zona UTM
52 S) x: 0599490; dan y: 9499563. Gereja tua neira ini berdiri diatas makam dari
prajurit asli belanda yang gugur dalam usaha penaklukan belanda dan menjadi
gereja yang digunakan sampai sekarang dalam pelayanan umat nasrani232. Selain
itu peninggalan yang menjadi bukti otentik sejaman dengan dibangunya gereja ini
adalah nisan nisan dengan bahasa belanda yang menunjukan bahwasanya Gereja
ini dibangun oleh orang belanda dalam usahanya menyebarkan agama Kristen di
Banda Neira. Selain Bangunan Gereja Tua neira ini terdepat juga sebuah Benteng
pertahanan Belanda yang juga terletak di Desa Nusantara ini, Benteng Ini
bernama Benteng Belgica menunjukan bahwa dominasi Belanda di Pulau neira ini
sangat Kuat
Gambar 3.2.3 Tampak Depan Gereja Tua Neira
Gereja Ini berbentuk Persegi panjang dan dibangun dengan bahan batu
kapur serta batu bata dengan lantai yang terbuat dari batu andesit. Atap dari
gereja ini menggunakan seng serta memiliki gaya khas bangunan belanda dengan
Pilar pilar besar dihalamnyaa. Gereja ini dulunya berfungsi sebagai pusat
persebaran agama Kristen protestan di Pulau Neira da sekitarnya hal ini
diperkuat dengan beberapa nisan pemuka agama atau tokoh Kristen protestan
yang dimakamkan di sekitar Gereja.
Desa dwiwarna merupakan sebuah desa dengan gaya arsitektur kuno
khas zaman belanda yang terletak di kecamatan banda pulau neira kabupaten
Maluku tengah. desa dwiwarna secara geografis terletak tepat ditengah tengah
pulau neira sehingga pada zaman dulu desa ini menjadi tempat favorit bagi
orang-orang belnda untuk mendirikan tempat tinggal. Desa ini juga disebut
sebagai eropa kecil pada zaman dahulu karena hamper keseluruhan artsitektur
bangunanya bergaya eropa belanda. Desa dwiwarna juga merupakan desa dengan
231 Adrisijanti. 2014. Benteng Dulu, Kini, dan Esok… Hal. 100-107
232 Edward, dkk. 2020. Sekilas Jejak Peninggalan Sejarah Purbakala di Kepulauan Maluku…
65
fasilitas terlengkap pada zaman dahulu karena menjadi desa dengan penduduk
belanda terbanyak saat itu
Peninggalan yang ada di desa dwiwarna salah satunya adalah Istana Mini.
Bangunan dengan corak khas belanda ini merupakan kompleks rumah gubenur
dan kantor gubenur saat itu. Sebelum dibangunya kompleks istana mini ini
gubernur tinggal didalam benteng baik nusseau maupun bellgica, akan tetapi
akibat dari gempa dan merasa kurang aman maka pada tahun1683 dibangunlah
kantor dan rumah bagi gubernur saat itu. Kompleks bangunan ini terletak
ditengah perkampungan dan menghadap ke selatan sehingga berhadapan dengan
pantai,
Gambar 3.2.4 Halaman Istana Mini
Kompleks Istana ini berfungsi sebagai tempat tinggal gubernur VOC dan juga
sebagai Kantor dalam menjalankan monopoli dagangnya. Selain itu di kompleks
istana ini juga terdapat beberapa rumah dari pertkenier atau sebuah sebutan
untuk pemilik lahan pala
Gambar 3.2.5 Tampak Societ Harmony
Disebelah barat dari Bangunan Istana Mini ini terdapat bangunan
kompleks perumahan bagi kaum elite dan bangsawan belanda bernama socitet
harmonie. Bangunan yang masih berada dalam wilayah desa dwiwarna ini
merupakan Bangunan paling mewah di banda saat itu. Bangunan ini berbentuk
66
persegi panjang dengan pilar pilar besar sebagai teras khas gaya belanda saat itu
berfungsi sebagai tempat berkumpul dan bersantai para bangsawan baik dari
para pertkenir maupun pejabat pemerintahan serta orang orang belanda. Mereka
sering mengadakan pesta di tempat yang disebut socitet harmonie ini. Selain itu
di dalam kompleks istana mini ini juga terdapat rumah dari eks deputy governor
saat itu tepatnya di sebelah barat dari Istana Mini yang menjadi tempat tinggal
dari Gubernur VOC pada saat itu.
Pulau Ay atau juga disebut desa ay merupakan sebuah pulau yang berada
di barat dari pulau banda neira. desa ay ini merupakan satu dari beberapa desa
dengan penduduk paling banyak yang berada di kepualuan banda ini. Pulau ay
memiliki peranan peting dalam kependudukan belanda di banda karena juga
memiliki produksi rempah terbaik. Desa ini memiliki sebuah benteng pertahanan
peninggalan belanda yang dinamakan Benteng Revenge. Hal ini merujuk pada
peristiwa dimana ketika belanda mencoba melebarkan sayap monopoli
perdagangan rempah di Pulau ay ini masyarakatnya menyerang dan membunuh
orang orang belanda. Masyarakat local ini dibantu oleh Inggris untuk
mempertahankan wilayahnya serta menghapus monopoli dagang yang dilakukan
belanda kala itu sehingga menghimpun kekuatan untuk melawan. Sebanyak 200
prajurit belanda tewas dalam perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat pulau
ay saat itu. Setahun kemudian belanda melakukan balas dendam ke pulau ay
dengan membawa 243 prajurit dan dapat mengalahkan perlawanan dari
masyarakat pulau ay. Pasukann belanda juga membantai seluruh masyrakat
pulau ay yang melawan dan juga memaksa para bangsawan pulau ay untuk
menanda tangani surat perjanjian untuk patuh dan menjual hasil rempah ke VOC.
Beberapa masyarakat yang melarikan diri dari pulau ay ini juga tenggelam.
Setelah belanda dapat menguasai pulau ay ini VOC membuat sebuah benteng
pertahanan yang berada di Perbukitan Pulau Ay dan dinamakan dengan Benteng
Revenge atau benteng Balas dendam. Benteng ini menjadi satu satunya
peninggalan masa kolonialisme belanda di pulau ay yang masih dapat dilihat
sampai sekarang
Gambar 3.2.6 Gerbang Depan Benteng Revenge
67
Benteng revenge ini didirikan pasca terjadinya pembantaian oleh belanda
terhadap masyarakat pulau ay dan berfungsi sebagai benteng pertahanan belanda
di pulau ay. Setelah terjadi gempa pada tahun 1683 benteng ini mengalami
beberapa kerusakan sehingga akhirnya pada tahun 1743 benteng ini
dialihfungsikan sebagai penjara bagi para pejabat VOC yang melakukan tindakan
kriminal.
Pulau lonthor yang merupakan satu pulau terbesar dari gugusan banda
neira yang berpenghuni cukup banyak ini terletak di sisi selatan dari pulau Neira.
Pulau lonthor menjadi salah satu desa paling penting dan paling banyak
menghasilkan pala dan fuli. Bahkan diceritakan pulau ini menghasilkan pala dan
rempah yang membuat kota kota besar belanda seperti Amsterdam menjadi
semewah sekarang.maka dari itu Pulau Ini ditaklukan oleh J.P coen pada tahun
1921 dengan melakukan invasi secara kejam atas dasar upaya makar yang
dilakukan bangsawan pulau Lonthor. Para penduduk asli pulau lontrhor dikejar
sampai melarikan diri ke gunung-gunung dan pulau kecil di sekitar sebagian
masyarakat yang tidak bisa melarikan diri ditawan dan dibuang ke Batavia
menjadi budak, sebagian lagi memilih untuk melompat ke tebing-tebing tinggi
dari pualu ini. Pulau lonthor atau banda besar ini menjadi satu basis pertahanan
belanda dengan dibangunya benteng pertahanan. Benteng hollandia menjadi satu
benteng peninggalan Belanda yang berada di desa lonthor pulau banda besar,
kabupaten Maluku tengah. Benteng ini terletak di ketinggian 100m diatas
permukaan laut. Letaknya yang berada diperbukitan membuat benteng ini dapat
mengawasi seluruh pulau lonthor bahkan dapat juga pulau-pulau sekitar
Gambar 3.2.7 Salah Satu sisi yang masih berdiri dari benteng Hollandia
Benteng ini dibangun pada tahun 1624 oleh jan pieterzoon coen sebagai
upaya mempertahankan lonthoir dalam gengganman belanda karena pada masa
sebelumnya lonthoir adalah basis kekuataan dari masyarakat banda besar
sehingga ketika belanda dapat menaklukan lonthor maka mereka beranggapan
bahwa dipastikan seluruh pulau banda besar dapat dikuasai oleh belanda233.
Benteng ini berfungsi sebagai pengawasan terhadap masyarakat lonthor dan juga
lalu lintas perdagangan di pulau sekitar.
233 Nur Siswo Dipurnomo, dkk.: Representasi Kekejaman Kolonial Terhadap Pribumi dalam Kumpulan
Cerpen Teh dan Pengkhianat Karya Iksaka Banu
68
69
70
PENUTUP
Posisi Ambon, Maluku, dan Banda dalam jalur rempah Nusantara
membuat mereka menjadi rumah bagi para migran. Setidaknya sejak abad ke-15,
ketiganya telah menjadi tempat bermukim bagi para pedagang dan pelancong
Nusantara. Keberadaan para pedagang membuat Kepulauan Rempah-Rempah
memiliki populasi yang majemuk dan kosmpolit. Pada sisi yang lain,
kemajemukan itu juga menjadi ancaman disintegrasi. Apabila ada salah satu
pihak yang menyeragamkan cara mereka bersikap maka pertikaian dan konflik
pasti hadir terutama jika pihak lain belum bisa menerima. Bangsa asing seperti
Portugis dan Belanda belum bisa menerima konsepsi kesejahteraan bersama.
Mereka berupaya beraktivitas sesuai dengan apa yang menguntungkan bagi
mereka. Terlihat jika ada pihak lain yang mengganggu atau merusak monopoli
mereka atas perdagangan rempah-rempah. Mereka tidak segan-segan untuk
melakukan aksi polisionil.
Selain nuansa disintegratif itu, pertemuan antar budaya justru
memperkaya keanekaragaman budaya setempat. Persilangan itu terwujud dari
keberadaan seni arsitektur Ambon. Arsitektur vernakular dapat dijumpai dengan
keberadaan beberapa rumah adat seperti baileo dan rumah para raja. Selain itu,
beberapa masjid kuno juga masih eksis hingga kini. Dinding bangunan yang
berasal dari pohon sagu dengan beratapkan daun rumbia menjadi ciri khas dari
tersendiri dari seni arsitektur di Ambon. Arsitektur vernakular juga
menampakkan gejala transkulturalisme. Rumah Tua Soya memperlihatkan
adanya sentuhan ornamen-ornamen Barat. Ornamen itu terlihat dengan
keberadaan tiga meriam di teras rumah. Keberadaan penguasa kolonial seperti
Portugis dan Belanda juga memperkaya keberagaman arsitektur di Ambon.
Lazimnya berbagai bangunan yang dipengaruhi Eropa disebut arsitektur kolonial.
Benteng dan gereja menjadi contoh nyata keberadaan arsitektur kolonial di
Ambon.
Tidak berbeda jauh kondisinya, terdapat tinggalan vernakular dan
kolonial di Maluku. Berbagai bangunan lokal seperti masjid dan keraton
kesultanan berdiri berdampingan dengan bangunan kolonial. Di Kelurahan
Labuha, terdapat Masjid Kesultanan Bacan dan Benteng Barneveld. Dua budaya
materi ini menyiratkan adanya perjumpaan antara budaya Islam dan Belanda di
suatu lokal yang sama. Bacan memeluk Islam dan mendirikan masjid kerajaan
untuk beribadah. Masa berganti, Bangsa Eropa datang dan mulai mendirikan pos
dagang di Maluku. Di Kota Gamlamo, bangsa Portugis datang pertama kali dan
mendirikan benteng Sao Joao. Kematian Sultan Hairun membakar amarah rakyat
dan mengusir Portugis dari Ternate. Ternate menguasai benteng tersebut
(kemudian dikenal sebagai Benteng Kota Janji) hingga pasukan gabungan
Spanyol-Portugis berhasil menduduki kembali benteng itu pada 1606. Selain itu,
ada pula Masjid Tua Gamlamo atau Jailolo disana. Adanya dua budaya materi itu
menyiratkan adanya persilangan global di Maluku.
Episode sejarah yang berbeda dapat kita temui di Kepulauan Banda. Para
Orangkaya begitu mendominasi ekonomi politik disana. Mereka berhasil
melakukan proteksi sekaligus menghalau usaha Portugis untuk membangun pos
71
dagang. Sayangnya usaha mereka sia-sia setelah konflik internal membuat salah
satu dari mereka mengundang kedatangan Bangsa Belanda. Sebagai imbalannya
kemudian Bangsa Belanda mendapat pos dagang dan mulai melakukan intervensi
politik di Banda. Wajar jika kemudian di Banda bukan hanya ditemui tinggalan
bernafaskan Islam tetapi juga bangunan kolonial seperti Benteng Nasseu, Benteng
Belgica, Gereja Tua Naira, Benteng Hollandia, dan Benteng Revengie.
72
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer
Adam, A (Ed). (2019). Hikayat Raja Pasai. Petaling Jaya: SIRD.
Albuquerque, B.A.D (Ed). (1557). Comentarios do Grande Afonso de Albuquerque
Capitão Geral Que Foi das Indias Orientais em Tempo do Muito Poderoso
Rey D. Manuel, o Primeiro Deste Nome (diterbitkan kembali dan disunting
oleh Antonio Baiao pada 1922-3). Coimbra: Imprensa da Universidade.
Avrial, A. (Ed). (1899). Monumenta Xaveriana. Roma: Monumenta Historica
Societatis Iesu
Barbosa, D. (1918). The Book of Duarte Barbosa (2 Vols). London: Hakluyt Society.
Barros, J.D. (1552). Decada Da Asia dos feitos que os Portugueses fizeram no
descobrimento dos mares e terras do Oriente. Lisbon: Germão Galherde.
Byzondere Kaart van het Eyland Amboina 1753. diadaptasi dari
commons.wikimedia.org.
Castanheda, F.L.D. (1552-1561). Historia do Descobrimento e Conquista da India
pelos Portugueses. Lisboa: Typographia Rollandiana.
Coolhaas, W. Ph. (Ed) (1923). ”Kroniek van het Rijk Batjan”, Overgedrukt uit Het
Tijdschrijft van Het Koning Batjan. Genootschap van Kunsten en
Wetenschap, deel LXIII, afl.2.
Crab, P. van der (Ed). (1878). ”Geschiedenis van Ternate, in Ternataanschen en
Maleischen tekst beschreven door den Ternataan Naidah met vertaling en
aanteekeningen”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 4: 381-493.
De Sa, A.B. (Ed). (1954-8). Documentacao Para a Historia das Missoes do Padroado
Portugues do Oriente: Insulindia, 6 Vols. Lisboa: Agencia Geral do Ultramar.
Gezicht op Amboina in vogelperspectief met in cartouche het portret van Frederik
Houtman, Gouverneur van Amboina, anonymous, c. 1617. diadaptasi dari
rijkmuseum.nl.
Jacobs, H. (Ed). (1979-1984). Documenta Malucensia 3 Vols. Roma: Institutum
Historicum Societatis Iesu.
Kaart van Amboina. Met loodingen 1665. diadaptasi dari commons.wikimedia.org.
Manusama, Z.J. (1977). Hikayat Tanah Hitu: Historie en sociale structuur van de
Ambonse eilanden in het algemeen en van Uli Hitu in het bijzonder tot het
midden der zeventiende eeuw. Disertasi Doktoral di Universitas Leiden.
Pigeaud, T.G.Th. (1963). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History:
The Nāgara-Kěrtāgama by Rakawi Prapañca of Majapahit, 1365 A.D.
Leiden: KITLV.
Pires, T. (1944). The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco
Rodrigues (2 Vols). London: Hakluyt Society.
Pires, T. (2004). Suma Oriental. Yogyakarta: Ombak
Rego (Ed). (1947-58). Documentacao Para a Historia das Missoes do Padroado
Portugues do Oriente.
Rego, A.D.S (Ed). (1947-58). Documentacao Para a Historia das Missoes do
Padroado Portugues do Oriente, 12 Vols. Lisboa: Agencia Geral do
Ultramar.
Robson, S. (1995). Desawarnana. Leiden: KITLV.
73
Riana, IK (Ed). (2009). Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama.
Jakarta: Kompas.
Rumphius, G. (1910). “De Ambonsche Historie”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en
Volkenkunde 64(1, 2). The Hague: Nijhoff.
Rumphius, G. (1983). Ambonsche Landbeschrijving. Jakarta: ANRI.
Thorn, W. (2004). Penaklukan Pulau Jawa: Pulau Jawa di Abad Kesembilan Belas
dari Amatan seorang Serdadu Kerajaan Inggris. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Transkrip Wawancara dengan John Rehatta, Raja Soya, 2 September 2020.
Wicki, J. (Ed) (1948). Monumenta Indica, 14 Vols. Roma: Monumenta Historica
Societatis Iesu.
Sumber Sekunder
Abdurachman, P. (2008). Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-Jejak
Kebudayaan Portugis di Indonesia. Jakarta: LIPI Press .
Ajawaila, J.W. (2000). Orang Ambon dan Perubahan Kebudayaan. Antropologi
Indonesia, 61, 16-25.
Alputila, C. (2014). “Makam Tradisional Etnis Cina di Kota Ambon”. Kapata
Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014. 55-66.
Alwi, D. (2005). Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon.
Yogyakarta: Dian Rakyat.
Alwi, D. (2006). Sejarah Banda Naira. Yogyakarta: Pustaka Bayan.
Amal, M.A. (2007). Kepulauan Rempah Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara
1250-1950. Jakarta: KPG.
Amal, M.A. (2010). Portugis dan Spanyol di Maluku. Depok: Komunitas Bambu.
Andaya, L. (2015). Dunia Maluku: Indonesia Timur pada Zaman Modern Awal.
Yogyakarta: Ombak .
Andaya, L. (2019). Selat Malaka: Sejarah Perdagangan dan Etnisitas. Depok:
Komunitas Bambu.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara (2011). Laporan Inventarisasi Cagar
Budaya Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara (2014). Laporan Zonasi Balai
Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara.
Balash, A. (2008). How Maps Tell the Truth by Lying: An Analysis of Delisle’s 1718
Carte de Las Lousiane. Unpublished MA Thesis. Arlington: University of
Texas.
Ballard, C., R. Bradley, L.N.Myhre, & M. Wilson. (2003). “The Ship as Symbol in the
Prehistory of Scandinavia and Southeast Asia”. World Archaeology. Vol. 35,
No. 3, Seascapes (Dec., 2003), pp. 385-403.
Ballard, C.H. (1988). “Dudumahan: A rock art site on Kai Kecil, Southeast
Moluccas”. Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association. January 1988.
Ballintijn, G. (2003). Rumphius de Blinde Ziener van Ambon.Ambon: Perpustakaan
Rumphius.
Basman, H. Toisuta, H. Rajab, A. Wakano, & A. Baharudin. (2012). Sejarah Sosial
Kerajaan Hitu Ambon. Jakarta: Kementrian Agama.
benteng.architectureheritage.or.id.
Boxer, C. (1985). Jan Kompeni Sejarah VOC dalam Perang dan Damai 1602-1799.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
74
Burnet, I. (2013). East Indies: The 200 Year Struggle between the Portuguese
Crown, the Dutch East India Company and the English East India Company
for Supremacy in the Eastern Seas. Rosenberg.
Butar-Butar, A.J.R. (2020). Etno-Arkeo Astronomi: Menguak Sisi Astronomi
Bangunan-Bangunan Kuno dan Tradisi Masyarakat Silam. Medan: UMSU.
cagarbudaya.kemdikbud.go.id.
Castro, J.M. (2019). Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara. Jakarta:
Kompas Gramedia.
Clulow, A. (2019). Amboina 1623: Fear and Conspiracy on th Edge of Empire.
Columbia: Columbia University Press.
Collins, J.T. (1975). The Ambon Malay and Theory of Creolization. Kuala Lumpur:
DBP.
Collins, J.T. (2005). Bahasa Melayu Bahasa Dunia Sejarah Singkat. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor.
Cooley, F.L. (1973). “Persentuhan Kebudayaan di Maluku Tengah 1475-1675”.
P.R. Abdurachman, R.Z. Leirissa, & C.P.F Luhulima (Eds). 1973. Bunga
Rampai Sejarah Maluku. Jakarta: Lembaga Penelitian Sejarah Maluku.
De Graaf, H.J. (1977). Geschiedenis van Ambon en De Zuid Molukken. Franeker:
Uitgeveritj T. Wever.
De Graff, H.J. & T.H. Pigeaud. (1974). Kerajaan Islam Pertama di Jawa : Tinjauan
Sejarah Politik Abad XI dan XVI. Jakarta: Grafiti.
Deane, S. (1979). Ambon: Island of Spices.J. Murray.
Depdikbud. (1998). Diskusi Ilmiah Bandar Jalur Sutra: Kumpulan Makalah Diskusi.
Jakarta: Depdikbud.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (n.d). Sistem Registrasi Cagar Budaya Nasional.
cagarbudaya.kemdikbud.go.id.
Direktorat Jendral Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.
(2007). Data Kependudukan Provinsi Maluku Per Semester 1 Bulan Juni
Tahun 2017.
Earle, T.F. & J. Villiers. (1990). Albuquerque Caesar of the East. Warminster: Aris &
Philips.
Effendi, Z. (1987). Hukum Adat Ambon-Lease. Jakarta: Pradnya Paramita.
Erniati, Wahidah, & Harlin. (2017). Kamus Dwibahasa Hitu Indonesia. Ambon:
Kantor Bahasa Maluku.
Fang, L.Y. (2011). Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Firmanto, A. (2016). “Masjid Kuno di Pulau Haruku Propinsi Maluku (Kajian
Sejarah, Bentuk dan Fungsi)”. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14, No. 1,
2016: 1-28.
Franca, A.P. (2000). Pengaruh Portugis di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.
Francoise, J. (2016). Peace and Conflict Resolution Theory for the Process of
Toponymy. Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Toponimi
yang diselenggarakan di FIB UI, 3 November 2016.
Gusnelly. (2014). “Dinamika Konstruksi dan Perubahan Identitas Kultural Orang
Maluku di Belanda”. D. Riskianingrum (Ed). Studi Dinamika Identitas di
Asia dan Eropa. Yogyakarta: Ombak.
Handoko, W. (2007). “Asal-Usul Masyarakat Maluku, Budaya dan Persebarannya”.
Kapata Arkeologi Vol. 3 Nomor 5 / November 2007: 1-27.
75
Handoko, W. (2009). Laporan Penelitian Arkeologi Prasejarah di Kepulauan Kei
Maluku Tenggara. Maluku-Ambon. Balai Arkeologi Ambon.
Handoko, W. (2014). “Tradisi Nisan Menhir pada Makam Kuno Raja-Raja di
Wilayah Kerajaan Hitu”. Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014. 33-46.
Handoko, W., Peseletehaha, G. A., Huwae, A., & Rumaf, T. G. (2018). Kaimear Island
Rock Art Site at Kur Island in West Kei Islands Region, A New Discovery in
Eastern Indonesia. Kapata Arkeologi, 14(2), 123-134.
Hanna, W.A. & D. Alwi. (1996). Ternate dan Tidore Masa Lalu Penuh Gejolak.
Jakarta: Pustaka Harapan.
Hanna, W.A. (1983). Kepulauan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan
Pala. Jakarta: Yayasan Obor.
Harkantiningsih, N., Prasetyo, B., Eriawati, Y., Novita, A., Laili, N., & Simanjuntak, T.
(1999). Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional.
Harley, J. B. (1989). ”Deconstructing the Map”. Cartographica: The International
Journal for Geographic Information and Geovisualization, 26(2), 1–20.
Hermanus, K. (2016). Balikpapan: Hanyalah Sebuah Nama. Makalah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional Toponimi yang diselenggarakan
di FIB UI, 3 November 2016.
Heuken, A (2008). Catholic Converts in The Moluccas, Minahasa and Sangihe
Talaud, 1512-1680. In J. S. Aritonang & K. Steenbrink (Eds.), A History of
Christianity in Indonesia (pp. 23–71). Brill.
Hoenigman, J.J. (1959). The World of Man. New York: Harper & Brothers.
ICOMOS. (2008). The Icomos Charter on Cultural Routes.
Jacobs, H. (1985). “The Portuguese Town of Ambon, 1567-1605”. II Seminario
Internacional de Historia Indo-Portuguesa pp.601-614. Lisbon: IICT &
CEHCA.
Jones, R. (2017). Loan-Words in Indonesian and Malay. Jakarta: Yayasan Obor.
Juwono, H., H. Priyatmoko, & A. Widiatmoko. (2018). Toponimi Kota Magelang.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kantor Wali Greja Indonesia. (1974). Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Flores:
Arnoldus.
Kartodirdjo, S. (2014). Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 Dari
Emporium sampai Imperium. Yogyakarta: Ombak.
Keuning, J. (2016). Sejarah Ambon sampai Akhir Abad ke-17. Yogyakarta: Ombak.
Kim, T.W. (1975). “On the Present Status of Portuguese Loanwords in Japanese”.
Romance Notes. Vol. 16, No. 3 (Spring, 1975), pp. 723-727.
Knaap, G. (1991). “A City of Migrants: Kota Ambon at the End of the Seventeenth
Century”. Indonesia. No. 51 (Apr., 1991), pp. 105-128.
Knaap, G.J. (1987). Kruidnagelen en Christenen de Verenigde Oost-Indische
Compagnie en de bevolking van Ambon 1656-1696. Dordrecht: Foris
Publications.
Koentjaraningrat (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kroeber, A & C. Kluckhohn (1952). Culture: A Critical Review of Concepts and
Definitions. Massachussets:Kraus Reprint Company.
Krygier, J. (2015). “Reflections on J.B. Harley’s ‘‘Deconstructing the Map’’ .
Cartographica 50:1, 2015, pp. 24–27.
76
Kustiyanti, M. (2014). Kata Serapan dari Bahasa Belanda pada Bidang Kuliner
dalam Bahasa Indonesia Analisis Fonologi. Makalah Tidak Diterbitkan.
Depok: FIB-UI.
Laksmi, N.K.P.A.L. (2016). Identifikasi Tempat Suci pada Masa Bali Kuno. Makalah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional Toponimi yang diselenggarakan
di FIB UI, 3 November 2016.
Laporan Inventarisasi Cagar Budaya Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon.
(2011). Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara.
Laporan Kegiatan Kajian Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Negeri Soya Kota
Ambon. (2019). Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara.
Laporan Zonasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara. (2014). Balai
Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara.
Latukau, A. W. & P. Latukau (2004). Perang Kapahaha. Morela: Laporan Tidak
Diterbitkan.
Latupapua, F.E., M. Maspaitella, E.M. Solissa, G. Somelok, & H.L. Lelapary (2012).
Kapata Sastra Lisan di Maluku Tengah. Ambon: Balai Pengkajian Nilai
Budaya.
Leirissa, R. (2012). “Peace and War in Ambon: The Role of the Jesuits”. J.S. Alves
(Ed). 2012. Portugal e Indonesia: Historia do Relacionamento Politico e
Diplomatico 1509-1974, Vol.2. Macao: IIM.
Leirissa, R. ., Pattikayhatu, J. A., Luhukay, H., Talib, U., & Maelissa, S. (2004).
Ambonku Dulu, Kini, dan Esok. Pemerintah Kota Ambon.
Leirissa, R.Z., G.A. Ohorella, & D. Latuconsina. (1999). Sejarah Kebudayaan Maluku.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Lembaga Pendidikan Kemasyarakatan dan Budaya. (2000). Lembaga Budaya Pela
dan Gandong di Maluku Latar Sejarah, Peranan dan Fungsinya. Jakarta:
Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Lembaga Pendidikan Kemasyarakatan dan kebudayaan Universitas Indonesia.
(2000). Lembaga Budaya Pela dan Gandong di Maluku:Latar Sejarah,
Peranan, dan Fungsinya. Jakarta: Proyek Pengembangan Media
Kebudayaan.
Lobato, M. (1999). Politica e Comercio dos Portugueses na Insulindia: Malaca e as
Molucas de 1575 a 1605. Lisboa: Instituto Portuguese do Oriente.
Lombard, D. (1990). Nusa Jawa Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Lombard, D. (1991). Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636.
Jakarta: Balai Pustaka.
Loupatty, S., M. Wakim, L. Raman, Z. Palijama, R. Rahajaan, & D. Tiwery. (2020).
Kajian Historiografi Jaringan Niaga Masa Lalu di Maluku Utara. Ambon:
BPNB Maluku.
Mansyur, S. (2006). “Sistem Pertahanan di Maluku Abad XVII-XIX (Kajian
Terhadap Pola Sebaran Benteng)”. Kapata Arkeologi, 2(3), 47–63.
Mansyur, S. (2011). “Jejak Tata Niaga Rempah-Rempah Dalam Jaringan
Perdagangan Masa Kolonial“. Kapata Arkeologi Vol 7 Nomor 13 /
November 2011, 20-39.
Mansyur, S. (2012). “Peran Wilayah Negeri Larike pada Masa Kolonial”. Kapata
Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 65-72.
77
Mansyur, S. (2015). “Benteng Amsterdam di Pesisir Utara Pulau Ambon: Tinjauan
Atas Aspek Kronologi dan Fungsi”. Kapata Arkeologi, 11(1), 33–52.
Matos, A.T.D. (1995). On the Seaway to Spices from Malacca to Australia. Lisboa:
INCM.
Meilink-Roelofsz, M.A.P. (1962). Asian Trade and European Influence in the
Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630. The Hague:
Martinus Nijhoff.
Meilink-Roelofsz, M.A.P. (2016). Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara: Sejarah
Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu.
Mu’jizah. (2008). “Pertemuan Antarbangsa dalam Hikayat Tanah Hitu”. Dari Hitu
Ke Barus. Jakarta: Pusat Bahasa.
Muhammad, H. (2018). Kodifikasi Bahasa Melayu Ambon: Studi Diversitas Historis
Linguistik. Ambon: LP2M IAIN Ambon.
Muhatta, Z & N. Soesanti. (2018). “The Toponymy of the Ancient Port City of
Gresik in the Northern Coastal Area of Java”. M. Budianta, M. Budiman, A.
Kusno, & M. Moriyama (Eds). (2018). Cultural Dynamics in a Globalised
World. London: Taylor & Francis Group.
Muhyidin, A. (2018). “Kearifan Lokal dalam Toponimi di Kabupaten Pandeglang
Provinsi Banten: Sebuah Penelitian Antropolinguistik”.Jurnal Pendidikan
Bahasa dan Sastra, Volume 17, Nomor 2, Oktober 2017, hlm. 232-240.
Mujabuddawat, M.A. (2018). “Jejak Kedatangan Utusan Majapahit di Pulau
Ambon”. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi
Vol. 7(1), Juni 2018, pp 53 – 70.
Munandar, A.A. (2013). “Artefak di Ruang Geografi: Kajian Artefak dalam Geografi
Sejarah”. Jurnal Sejarah dan Budaya 7 (2), 8-15.
Munandar, A.A. (2016). Toponimi dalam Kajian Arkeologi. Makalah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional Toponimi yang diselenggarakan
di FIB UI, 3 November 2016.
Mustakim & E. Jarwanto. (2019). Gresik Kajian Sejarah Sosial dan Ekonomi
Maritim Abad ke-14 sampai Abad ke-18. Lamongan: Pagan Press.
Nasution, I.P. (2016). Nama-nama Masjid Kuno di Nusantara dan Aspek yang
Melatarbelakangi: Tinjauan Toponimi dan Arkeologis. Makalah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional Toponimi yang diselenggarakan
di FIB UI, 3 November 2016.
Nugroho, I.D. (2010). Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi
Pengendali Pelabuhan Dunia. Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti.
Oktaviana, A. A., Lape, P. V., & Ririmasse, M. N. (2018). Recent Rock Art Research
on East Seram, Maluku: A key site in the rock art of West Papua and South
East Maluku. Kapata Arkeologi, 14(2), 135-144.
Pamungkas, M.F. (2019). 9 Orang Indonesia yang Menjadi Nama Jalan di Belanda.
Historia 6 Agustus 2019.
Pattikayhatu, J.A. (1994). Gunung Nona Lampau Kini dan Nanti. Ambon: Panitia
Puncak Penghijauan dan Konservasi Gunung Nona.
Pattikayhatu, J.A. (2008). Negeri Negeri di Jazirah Leihitu Pulau Ambon.
Yogyakarta: PT Citra Aji Parama.
Pattikayhatu, J.A. (2008). Sekilas Kota Ambon dan Provinsi Maluku. Yogyakarta: PT
Citra Aji Parama.
78
Pattikayhatu, J.A. (2012). Bandar Niaga di Perairan Maluku dan Perdagangan
Rempah-Rempah. Kapata Arkeologi, 8(1), 1–7.
Pattikayhatu, J.A., F. Sahusilawane, & Y. Pattipeilohy (1999). Kapata Sebagai
Sumber Lisan. Ambon: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Pattipeilohy, J.J. (2004). Sejarah Hubungan Pela Gandong antara Negeri (Desa)
Hitu, Galala, Wakal, dan Rumahtiga di Pulau Ambon: Suatu Kajian Sejarah
Budaya. Ambon: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Pattiselano, J.th.F. (1999). “Tradisi Uli, Pela, dan Gandong pada Masyarakat Seram,
Ambon, dan Uliase”. Antropologi Indonesia. Vol.58 (1999): 58-70.
Pearson, M. (2013). Indian Ocean. London & New York: Routledge.
Perdana, P.R. (2016). Toponimi Kabupaten Simalungun. Makalah dipresentasikan
dalam Seminar Nasional Toponimi yang diselenggarakan di FIB UI, 3
November 2016.
Pinto, P.J.D.S. (2012). The Portuguese and the Straits of Melaka 1575-1619.
Singapore: NUS Press.
Ptak, R. (1992). The Northern Trade Route to the Spice Islands : South China Sea -
Sulu Zone - North Moluccas (14th to early 16th century). In: Archipel,
volume 43, 1992. pp. 27-56.
Ptak, R. (1993). “China and the Trade in Cloves, Circa 960-1435”. Journal of the
American Oriental Society, Vol. 113, No. 1 (Jan. - Mar., 1993), pp. 1-13.
Puthut, E.A. (2013). Ekspedisi Cengkeh. Makasar: Penerbit Ininnawa dan Layar
Nusa.
Rais, J., M. Lauder, P. Sudjiman, Ayatrohaedi, B. Sulistyo, A. Wiryaningsih, T.
Suparwati, & W. E. Santoso. (2008). Toponimi Indonesia: Sejarah Budaya
yang Panjang dari Permukiman Manusia & Tertib Administrasi. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Raman, L & S.O. Bau. (2020). Monopoli Rempah di Maluku Utara dalam Kurun
Niaga 1511-1799: Runtuhnya Dominasi Asia dan Munculnya Supremasi VOC
dalam Perdagangan Cengkeh. Yogyakarta: Ombak.
Raman, L, S. Tiwery, & D. Tiwery. (2019). Sejarah Kota Pelabuhan Ambon 1500-
1942. Ambon: BPNB Ambon.
Rehatta, J.L. (n.d.). Negeri Soya dan Adat Cuci Negeri: Sebuah Mozaik Budaya
Maluku. Soya: Pemerintah Negeri Soya.
Reid, A. (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jilid 1 Tanah di
Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.
Ririmasse, M.N.R. (2012). “Laut untuk Semua: Materialisasi Budaya Bahari di
Kepulauan Maluku Tenggara”. AMERTA, Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Arkeologi Vol. 30 No. 1, Juni 2012: 56-69.
Sahusilawane, F. (2003). Sejarah Perang Hitu di Pulau Ambon. Ambon: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ambon.
Sahusilawane, F. (2005). Cerita-Cerita Tua Berlatar Belakang Sejarah dari Pulau
Seram. Ambon: Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Sahusilawane, F., J.J. Pattipeilohy, & W. Pattinama. (2002). Ambon di Masa Portugis
dan Belanda. Ambon: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ambon.
Salhuteru, M. (2009). Situs Lukisan Cadas di Desa Wamkana Kabupaten Buru
Selatan. Kapata Arkeologi, 5(8), 69-77.
Salhuteru, M. (2015). “Rumah Adat di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku
Tengah”. Kapata Arkeologi Volume 11 Nomor 1, Juli 2015: 11-20.
79
Shellabear (Ed). (2016). Sejarah Melayu. Kuala Lumpur: DBP.
Smith, R.B. (1969). The First Age of Portuguese Embassies Navigations and
Peregrinations to the Ancient Kindgoms of Cambay and Bengal (1500-
1521). Bethesda, Maryland: Decatur Press, Inc.
Stever, H & J. Van Der Putten (Eds). (2004). Historie van Hitu van Ridjali: een
Ambonse geschiedenis uit de zeventiende eeuw. Hitu: Landelijk Steunpunt
Educatie Molukker.
Suratminto, L. (2011). “Creole Potuguese of the Tugu Village: Colonial Heritage in
Jakarta Based on the Historical and Linguistic Review” in TAWARIKH:
International Journal for Historical Studies, Vol.3(1) October, pp.1-30.
Syam, H. (2019). Profil Budaya dan Bahasa Kota Ambon Provinsi Maluku. Jakarta:
Kemdikbud.
Tarai, S. (2012). “Phonological Nativization of Arabic, Portuguese and English
Loanwords in Odia”. Journal of Portuguese Linguistics, 11(2), 79–81.
Tetelepta, H.B. (Ed). (2004). Negeri Passo Kajian Sejarah, Budaya, dan Agama.
Passo: Panitia HUT Ke-100 Gereja Menara Iman Passo.
Thalib, U. & L. Raman. (2015). Banda dalam Sejarah Perbudakan di Nusantara.
Yogyakarta: Ombak.
Thalib, U. (2012). Sejarah Masuknya Islam di Maluku. Ambon: Balai Pelestarian
Sejarah dan Nilai Tradisional Ambon.
Thalib, U. (2015). Islam di Banda Naira Centra Perdagangan Rempah-Rempah di
Maluku. Ambon: BPNB Ambon.
Thalib, U., J. Pattiasina, M. Wakim, & J. Tupan (2015). Sejarah Agama dan
Pembangunan Gereja Negeri Sila dan Hila Maluku Tengah. Ambon: Balai
Pelestarian Nilai Budaya Ambon.
Thomas, L.F.R. (1991). Nina Chatu and the Portuguese Trade in Malacca. Malacca:
Luso-Malaysian Books.
Timme, E. (1998). A Presenca Portuguesa Nas Ilhas das Moluccas 1511-1605.
Norderstedt: GRIN Verlag GmbH.
Tualeka, Z.N. (2011). “The History of Islam and Its Dissemination in Ambon-lease,
Maluku”. Journal of Indonesian Islam, 05(02), 296–312.
Turner, J. (2011). Sejarah Rempah Dari Erotisme sampai Imperialisme. Depok:
Komunitas Bambu.
Usmany, D.P., S.R. Loupatty, & M. Wakim. (2006). Sejarah Terbentuknya Kota-Kota
Dagang di Maluku Tengah dan Pulau Ambon. Ambon: Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional.
Utomo, B.B. (2009). Majapahit dalam Lintas Pelayaran dan Perdagangan
Nusantara. Berkala Arkeologi, 29(2), 1–14.
Utomo, B.B. (2017). Pola Perdagangan dan Jaringan Pelayaran dari Hitu ke Ambon
Abad XV-XVII. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional.
Van Hoevell W.R. (2014). Sejarah Kepulauan Maluku Kisah Kedatangan Orang
Eropa Hingga Monopoli Perdagangan Rempah. Yogyakarta: Ombak.
Van Minde, D. (2002). “European Loan-words in Ambonese Malay”. K.A. Adelaar &
R. Blust (Eds). (2002). Between Worlds: Linguistic Papers in Memory of
David John Prentice. Canberra: Pacific Linguistics.
Villiers, J. (1985). East of Malacca: Three Essays on the Portuguese in the
Indonesian Archipelago in the 16th and Early 17th Centuries. Bangkok:
Calouste Gulbenkian Foundation.
80
Vlekke, B.H.M. (2008). Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.
Wahyudi, J. (2019). Berebut Kuasa Malaka Relasi Diplomatik Kesultanan Aceh dan
Johor Abad XVI-XVII. Tangerang: Pustaka Compass.
Wakim, M. (2014). Perahu Belang dalam Tradisi Bahari Masyarakat Ambon-Lease.
Laporan Penelitian Tidak Diterbitkan. Ambon: Balai Pelestarian Nilai
Budaya.
Wakim, M. C. Nanlohy, S. Nurlete, & B. E. Borolla (2019). Sejarah Negeri-Negeri
Adat di Leitimur Selatan Kota Ambon. Ambon: Balai Pelestarian Nilai
Budaya Maluku.
Warsito, H.R. (2014). Antropologi Budaya. Yogyakarta: Ombak.
Wattimena, L. & W. Handoko. (2012). “ Hunian Prasejarah di Jazirah Leihitu Pulau
Ambon Maluku” Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012, 51-
58.
Wattimena, L. (2009). “Rumah Adat Baileo: Interpretasi Budaya di Negeri
Hutumuri Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon”. Kapata Arkeologi
Vol.5, No.8 2009: 23-34.
Wattimena, L. (2014). “Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku”. Kapata
Arkeologi, 10(1), 47-54.
Wijaya, D.N. (2019). Bustan Al Salatin as A Counter Narrative: The 1629 Achinese
Invasion of Malacca. Paper dipresentasikan dalam CITCEM Encontro,
2019.
Xu, G. (2020). “Junks to Mare Clausum: China-Maluku Connections in the Spice
Wars, 1607–1622” Itinerario, page 1 of 30.
81
82