The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN PUSPANEGARA, 2022-10-26 00:34:29

Pengantar Antropologi

antropologi

psikologi, yang pada waktu itu sangat terkenal, yaitu W. Wundt, di

Leipzig, Jerman (Koentjaraningrat, 2007).

Malinowski diakui sebagai tokoh besar pendiri profesi

antropologi sosial di Inggris, karena dia lah yang menjadikan ilmu itu

merniliki ciri disiplin yang jeias - peneiitian lapangan yang intensif

mengenai suatu masvarakat komuniti yang eksotik. Selama lima belas

tahun mengajar di London School of Economics, sekembalinya dari

kepulauan Trobiand, dia lah satu-satunya ahli etnografi di negeri itu,
dan sesungguhnya setiap orang izang ingin melakukan penelitian
lapangan harus mengikuti metode yang dikembangkannya (Kuper,

204q.

Malinowski mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan
fungsionalisme, yang berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan
bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur itu terdapat. Dengan kata
lain, pandangan fu:r gsii;natisme terlradap kebudayaan mempertahan-
kan bahwa setiap pola Leiaku;rn yang sudah menjadi kebiasaan. Setiap

kepercayaan dan sikap ,1i:rng merupakan bagian dari kebudayaan

daiam suatu n-lasyarailal.

Menurut Malinows'tr'i, fungsi dari satu unsur adalah kemarn-
puannya untuk nremenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa

kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan

sekunder dari para warga suatu masyarakat. Kebutuhan pokok adalah
seperti makanan, reprclduksi (melahirkan keturunan), merasa enak

badan, keamanan, kesantaian, gerak dan pertumbuhan. Beberapa
aspek dari kebue{i:ryaarl memenuhi kebutuhan-kebutuharr dasar itu.

dalam pemenuhan kebutuhan dasar itu muncul kebutuhan jenis kedua
{derizted needs), kebutuhan sekunder yang juga harus dipenuhi oleh
kebudayasn. Contoh: unsur kebudavaan yang memenuhi kebutuhan
akan makanan menimbulkan kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan
untuk kerjasama dalam pengumpulan makanan atau untuk produksi,
sehingga masyarakat mengadakan bentuk-bentuk organisasi politik
dan pengawasan sosial vang akan menjamin kelangsungan kewajiban
kerja sama tersebut di atas (Ember & Ember dalam Irhomi, 20Aq.

44 - uuai suryaci


Radcliff e-Brown (1881-1955)

Alfred Reginald Brown lahir di Sparkbrook, Birmingham

(Inggris) pada tahun 1881. ketika berusia 5 tahun ayahnya meninggal,

sehingga tinggal lah ia bersama ibunya dalam keadaan miskin. Ia

berlaku sebagai seorang teman tatkala ibunva membanting tulang

memelihara anak-anaknya. Brown bersekolah di King Edward's

school di Birmingham, tetapi ia terpaksa meninggalkan sekolah sebe-
lurn ia berusia delapan belas karena harus bekerja di perpustakaan

Birmingham (Kuper, 2A06).

Karya penting Radcliffe-Brown adalah Structure and Function in
Primitioe Society (1952), dengan sasaran pengkajiannya pada sistem
sosial. Di sistem sosial ini mengenai hubungan nvata dari connectedness

di antara individu, atau antar individu yang menduduki peranan

sosial. ]alinan hubungan ini menjadi struktur sosial, yang terdiri dari
semua hubungan sosial dan individu.

Radcliffe-Brown menandaskan bahr.t a meskipun struktur sosial

berubah terus-menerus, bentuk sosial secara komparatif stabil.
Anggota baru masyarakat lahir, pemimpin lama meninggal dan

digantikan, manusia bercerai dan kawin lagi, tetapi penggunaan sosial
yang sama terus bertahan. stabilitas bentuk struktur tergantung pada

integrasi bagian-bagiannya, dan perwujudan bagian-bagian tugas

khusus ini yang diperlukan untuk mempertahankan bentuk tersebut.

Kebutuhan dasar'semua masyarakat adalah apa yang clisebut
Radciiffe-Brown'coaptation', penyesuaiarr mutualistik kepentingan
para anggota masyarakat. Kebutuhan dasar ini rnenuntut standarisasi

tertentu dari perilaku, dan disinilah kebudayaan berperan karena
kebudayaan merupakan cara berpikir, bertindak, merasakan yang
diperoleh dari proses belajar. 'CoaTttntion' juga menuntut standarisasi
kepercayaan dan sintimen, yang dipelihara agar tetap hidup melalui

ritual dan simbol (Kuper, 1996).

satu corrtoh konkret dari pendekatan yang bersifat struktural

fungsional dari Radcliffe-Brown adalah analisanya tentang cara
penanggulangan mengenai ketegangan )rang cenderung timbul cli

Teoritisasi Antropologi - 45


antara orang-orang yang terikat karena perkarvinan, yang terdapat
dalam masyarakat-masyarakat berbeda. Untuk mengurangi kemung-
kinan ketegangan antara orang-orang yang mempunyai hubungan
kekerabatan karena perkawinary misalnya orang beipar atau besanan,
Cia mengemukakan bahr,t a masyarakat dapat melakukan satu dari ciua
cara sebagai berikut: Pertama, dibuat peraturan yang ketat Yang tidak
membuka kesempatan bertemu muka di antara orang yang mempu-
nyai hubungan ipar/mertua seperti halnya pada suku Indian Navazo
di Amerika Serikat, yang meiarang seorang menantu laki-laki bertemu

muka dengan mertua perempuan; Kedua, hubungan itu dianggap

sebagai irubungan berkeiakar seperti yang terdapat pada orang-orang
Amerika kulit putih yang mengenal banyak lelucon ibu mertua (Enlber
& Ember dalam Ihromi, 2A0q.

Margaret Mead (1928!

Ia murid dar i ir;vtz- Lroas, atas saran gurunya tersebut
melakukan penelitian }.ip;,r'rgan di Kepulauan Samoa. Penelitiannva

tentang para remaja dalarn kebudayaan Samoa, terutirma w'anita
dalam masalah keteg;rngan akil balig. Hal ini disebabkan karena pada
masyarakar Ero-Amerika, ada kecenderungan para remajanya untuk

menentang kekuasaan dan otoritas orang tuanya, dalarn keadaan ragu-

ragu dan ketidakmantapan akil balig terhadap tujuar-r hidupnr.a
sendiri, namun selalu ingin mencari kebebasan dari otoritas pada
umumnya. Pada maszr itu kecenderurlgan semacasl itu dianggap

universal, dan ia ingin meiihat apakah keceuderungan semacam itu

ada jrgo paCa masyarakat di iuar kebudavaan Ero-Amerixa

(Danandjaja,l9BB)

Di dalanr karyanva yang populer Comfutg of Age in Samoa t1923),

sebagai hasil penelitiannya di Samoa, Mead berkesimpuian bahwa

para gadis Sarnoa tidak mengalami gejala gejolak akil balig tersebut.
sebabnya, keluarga orang Samoa bukan bersifat keluarga irrti, yang
hanya terdiri clari avah-ibu dan kakak serta adik, melainkan bersifat
keluarga luas. Akibatnya seorang anak tidak selalu harus berhu-
bungan terus-menerus dengan kedua orang tunva saja, tetapi juga

46 - suai Suryadi


mendapat kesempatan untuk berhubungan secara bebas dan emosio-
nal dengan anggota kerabatnva yang lain. Selain itu pergaulan secara
seksual antara remaja dari lain jenis kelamin, juga lebih bebas jika
dibandingkan dengan para remaja Ero-Amerika itu pada tahun dua
puluhan. Karena tidak adanya pengekangan mengenai seks, gejolak
akil balig tidak ada pada remaja Samoa (Danandjaja, 19BB).

Kemudian dalam karya Sex and Temperatnent in Three Primitiae

Societies (1934), Mead meneruskan penelitiannya di komunitas tiga

suku bangsa Papua, yakni suku bangsa Arafesh, Mundugumor dan
Tchambuli. Penelitiannya fokus pada perbedaan psikologis antara pria
dan wanita itu bersifat biologis universal, karena telah diprogramkan
oleh alam di dalam sistem genetiknya. Hasilnya perbedaan sifat-sifat
kepribadian antara laki-laki dan wanita tidak bersifat universal di
suku bangsa Arapesh maupun Mundugumor, karena di kebuciayaan
Arapesh dan Mundugumor tidak ada perbedaan temperamen antara

iaki-laki dan n anita, sedangkan di Tchambuli te{adi perbedaan

temperamen antara laki-laki dan wani.ta.

RANGKUMAN

Ada 5 karakteristik dalam teori-teori antropologi, yakni: 1)

memahami lingkupnya dan mengenalkan konsep-konsep dasar; 2)
kajian yang dipandu oleh konsep kebudayaan, atau oleh konsep
struktur sosial; 3) memperhatikan masalah eksplanasi; 4) antropologi
sangat memperhatikan metode penelitian; 5) memperhatikar-r teori-

teori yang telah menonjolkan peranan antropologi di dunia ilmu

pengetahuan sosial dan humaniora.

Beberapa teoritisi yang mengembangkan teori-teori antropologi
dari dulu sarnpai sekarang, yakni: teori Edward B Tylor tentang religi,
teori J.C Frazer tentang magic, teori Marcel Mauss tentang morfoiogi
sosial masyarakat Eskimo, teori Bronislaw Malinowski tentang mitos,
dan teori Radcliffe-Brown tentang coaptntiott, dan teori Margaret Mead
tentang geolak akil balig dan perbedaan psikologis.

Teoritisasi Ankopologi - 47


a.5
b.4

c^a.J

3. Apa istilah lain dari religi menurut Tylor?

a.' Animisme

b. Dinamisme
c. Semua benar

4. Apa karya ilmu yang dikembangkan oleh Fraze*
a. Ilmu gaib
b. Ilmu religi
c. Semua benar

5. semua tindakan manusia untuk mencapai suatu maksud rnelalui

kekuatan-kekuatan yang ada di dalam alan-r, serta seluruh kom-

pleks anggapan yang ada dibelakangnya merupakan pengertian
dari?

a. Magic
b. Religi
c. Gaib

6. Apa perbedaan ilmu gaib dan religi?
a. Penggunaan kekuatan gaib
b. Penyandaran pada kekuatan mahluk halus
c. Semua benar

7. Apa hubungan Mauss dengan Durkheim?
a. Murid
b. Kolega
c. Semuanya benar

B. Siapa tokoh pelopor teori struktural-fungsionalisme?
a. Malinowski
b. Radcliffe-Bro\4in
c. Semua benar

9. Apa yang dimaksud dengan deriaedneeds menurut Malinowski?
a. Kebutuhankedua

Teoritisasi Antropologi - 49


b. Kebutuhan sekuncler
c. Semuanya benar

10. Apa yang dimaksucl dengan coaptatiort?

a. Kebutuhan clasar semua masyarakat
b. Kepentingan umum
c. Semuanya benar

50 - suai Suryadi


DAFTAR PUSTAKA

Danandjaja,I, 1988. Antropologi Psikologi: Teori, Metode dan Sejarah
Perkembangannya, Jakarta: Rajai.r,,ali Pers

Ember, CR & Ember, M. 2006. Cultural Antropologi dalam lhromi, TO
(ed), Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.

Carna, Judistira K, 1996. Ilmu-Ilmu Sosial Dasar-Konsep-Posisi,

Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Koentjaraningrat, 2A07. Sejarah Teori Antropologi l, Jakarta:

Universitas Indonesia Press.

Kuper, Adam. 1996. Pokok dan Tokoh Antropologi, Penerjemah

Ahmad Fedynni S, Jakarta: Bhratara
Suparlan, P,1986. Pendekatan Antropologi dan Sosiologi, dalam A.W

Widjaja ("d), Manusia Indonesia: Individu, Keluarga dan

Masyarakat, Jakarta: Akademika Pressindo.

Teoritisasi Anhopologi - 51


r

b

MASYARAKAT

Deskripsi Singkat:
Dalam perkuliahan ini anda akan mempelajari pengertian dan

definisi masyarakat, karakteristik masyarakat, dan klasifikasi masya-
rakat.

Tuiuan Inshuksional Khusus:

Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu:

1. Menjelaskan pengertian dan definisi masyarakat
2. Menyebutkan karakteristik dalam masyarakat
3. Menyebutkan klasifikasi dalam masyarakat

Dalarn bahasa Inggris masyarakat adalah 'society' , yang berasal
dari kata 'saciLts' , artinya kawan. Sementara dalam bahasa Arab, yaitu

'syirk' , artinya belgaul. Kawan maupun bergaul identik dengan ada-
nya interaksi dan bentuk-bentuk aturan hidup, yang disebabkan oleh

beberapa manusia dalam sebuah lingkungan sosial.

Istilah bergaul maupull berkan an ini dapat diartikan bahwa
dalam masvarakat itu terdapat individu-individu yang tidak sendiri,

kalau diangkakan dengan jumlah maka harus lebih dar:i satu atau dua

ke atas. selain itu individu-individu ini saling mengenal dan saling

bekerjasarna dalam membangun kehidupan sosial dan buday anya,
tanpa saling kenal dan bekerjasama ini individu akan dianggap tidak

ada dalam masyarakat.

Masyarakat - 53


Istilah masyarakat (society) jarang dirumuskan dalarn batasan
yang tegas oleh para ahli sosial. Artinya, tidak diberikan ciri-ciri atau

ruang lingkup tertentu yang dapat dijadikan pegangan, untuk
mengadakan suatu analisa secara ilmiah. Kadang-kadang istilah

masvarakat mencakup n-ms-varakat sederhana vang buta huruf, sampai
pada masvarakat-masyarakat industrial modern yang merupakan
suatu negara. Tidak jarang pula, bahwa istilah masyarakat dipergu-
nakan untuk menggambarkan kelompok manusia yang besar, sampai

pada lielornpol:-kelompok kecii,vang terorganisasikan (Soekanto,

1QQ?'I

Berbeda dengan di atas, para ahli antropologi sosial biasanl,a

mengartikan masvarakat sebagai wadah dari orang-orang yarrg buta
huruf, mengadakan reproduksi sendiri, mempunyai adat-istiadat,
mempertahankan ketertiban dengan menerapkan sanksi-sanki sebagai
sarana pengendalian sosial, darr yang mempunyai wilayah tempat
tinggal 1,ang khusus

Definisi

Mac lver' (1955), mendefinisikan society tlenn a system of ordered
relations (masyarakat sebagai suatu sistem hubungan vang ditertib-

kan). Ralp Linton (1936), mendefinisikan masyarakat sebagai setiap
keiompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama
dalam mengorganisasikan dan mengatur individu sebagai suatu
kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. Gillin and Gillin (1948),
mendefinisikar-r masyarakat sebagai sekelompok manusia yang terse-
bar, vang mempunyai tradisi/kebiasaan, sikap dan perasaan persa-
tuan yang sama. Davis (1959), mendefinisikan rnasyarakat sebagai
kelompok sosial terkecil vang bertempat tinggal di daerah tertentu,
yang di dalamnya mengandung seluruh aspek kehidupan sosial.

Masvarakat semacam simbol bagi keberadaan individu maupun
kelompok yang berinteraksi secara sadar secara terus-menerus dan
teratur dalam jangka waktu tertentu dan berada dalam ruang atau

54 - nuai Suryadi


wilayah tertentu. Tanpa adanya ketentuan-ketentuan ini individu dan
kelompok itu tidak dapat dikatakan sebuah masyarakat.

Kemudian Durkheim menyebut masyarakai sebagai suatu
kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari individu-individu
yang merupakan anggota-anggotanya. Masyarakat bukanlah hanya
sekedar suatu penjumlahan individu semata-mata, melainkan suatu
sistem yang dibentuk dari hubungan antar mereka, sehingga menim-
bulkan suatu realita tertentu yang mempun,vai ciri-cirinya sendiri

(Berry, 2004).

Radarn (1,992), mendefinisikan masyarakat adalah the changing
pattern of social relationship, arti.nya suatu sistem kebiasaan, adat dan

aturan-aturan, sistem kekuasaan dan kerjasama, sistem pengelom-

pokkan orang-orang dan golongan-golongannya, sistem tentang

pengawasan terhadap tingkah laku manusia serta segala kebebasan-

nya. Reiasi-relasi itu bisa jadi bersifat ekonomi atau politik atau

personal (pribadi) atau impersonal (tak pribadi) atau relasi perte-

manan dan sebagainya.

Setiap masvarakat memiliki kebiasaan-kebiasaaru adat dan
aturan-aturan serta pengelompokkan. Kesemuanya ini terbentuk kare-
na adanya interaksi individu-individu. Interaksi individu-individu ini

terjacii karena didasari adanya persamaan dan perbedaan, yang lama

kelamaan membentuk kelompok-kelompok kecil sampai kelompok
besar, vang seringkali diistilahkan dengan keluarga, suku, bangsa dan

negara.

Semua definisi di atas secara garis besarnva menunjukkan bah-
wa masyarakat itu sesuatu yang nyata dan ada, Lrukan sesuatu yang
abstrak. Masyarakat bukan benda mati yang tidak memiliki ger.ak,
tetapi masyarakat sebagai sebuah kedinamisafl,1rlng didalamnya para
indirridu menjadi aktor-aktor vang saling bertautan antara satu dengan
yang lainnya merajut makna-makna kehidupan.

Masyarakat - 55


Karakteristik

Soekanto (1993), mengemukakan suatu masyarakat merupakan
suatu bentuk kehidupan bersama manusia, yang mempunyai ciri-ciri
pokok (karakteristik), sebagai berikut, yaitu:

Pertama, manusia vang hidup bersama secala teoritis, maka
jumlah manusia yang hidup bersama ada dua orang. Di dalam ilmu-
ilmu sosial khususnya sosiologi, tidak ada ukuran suatu yang mutlak
ataupun angka yang pasti untuk menentukkan berapa jurrJah manusia

yang harus ada;

Kedua, bergaul selama jangka r.t aktu yang cukup lama; ketiga,
adanya kesadaran, bahwa setiap manusia merupakan bagian dari
suatu kesatuan;

Keempat, adanya nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi
patokan bagi perilaku yang dianggap pantas; Keiima, menghasilkan

kebudayaan dan mengemtrangka n kebudayaan tersebut.

Namun menurut Radam {1992), masyarakat hanya ada apabila
memenuhi pilar-pilar yang essensial mendukung. Keempat pilar-piiat
tersebut, yaitu: Pertama, kelompok sosial (social alignment). Kecende-

rungannya kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat terdiri

dari aneka ragam; dari yang lemah ikatan hingga yang amat kuat; ada
kelonrpok korporasi yang tetap (permanent) yang berdasarkar-r pada

jenis keiamin-usia-kekerabatan; ada pula asosiasi (perkurnpulan)

orang-orang atas dasar tujuan umum bersarna seperti asosiasi serikat

kerja d11. Kemudian anggota kelompok sosial itu terbagi-bagi atas

dasar kedudukan, hirarkhis tertentu, peran sosial dan status sosial.

Menurut Suparlan (1986), dalam setiap masyarakat, jumlah
kelompok dan kesatuan sosiai itu tidak hanya satu; sehingga seorang
warga masyarakat bisa termasuk dalam dan menjadi sebagian dari
berbagai kelompok dan kesatuan sosial vang ada dalarn masyarakat
tersebut. Di satu fihak dia termasuk dalam suatu kesatuan sosial yang
terorganisasi menurut aturan-aturan kekerabatan, seperti keluarga
(kelompok orang-orang yang seketurunan, atau kelornpok orang-

orang yang digolongkan sebagai kerabat) dan sebagainya; dia juga bisa

56 - n.rai Suryadi


menjadi anggota atau warga organisasi yang ada dalam wilayah
ternpat tinggalnya, seperti rukun tetangga, rukun warga, pemuda
kampung atau desa dan sebagainva; dia juga bisa menjadi anggota

berbagai perkumpuian dan organisasi di tempat kerjanva; ataupun

menjadi anggota berbagai perkumpulan , yang dimasukinya karena

dia merasa sebagai satu golongan dengan perkumpulan tersebut (yang

terwujud berdasarkan atas persamaan ulrur, jenis kelamin, perhatian
ekonomi, perhatian dan ide politik, asal suku bangsa dan daerah yang
sama, dan sebagainya; dan juga karena persamaan kesenangan atau

hobi dengan sejumlah orang lainnya.

Kedua, kendali-kendali sosial (social controls). Sistem kendali

sosial ini meliputi sistem teknis dan empiris. Individu-individu

mengembangkan lingkungan mereka untuk kepentingan bersama

melalui sejumlah aturan yang berkenaan penyempaian perasaan dan
perilaku vang bercorak religius maupun magis. Sistem itu terdiri juga
atas faktor-faktor regulatif etiket, moralitas, hukum, upacara dan

mitologi vang ikut serta memvalidasikan perilaku sosial tersebut.
sehingga sistem kendali ini adalah segala faktor regulatif dalam

kehidupan masyarakat.

Ketiga, media sosial (social media). Media sosial meliputi barang-
barang dan bahasa. Melalui bahasa orang-orang berinteraksi, menyata-
kan buah pikiran dan perasaan serta mengekspresikan diri.bahasa

dapat menunjukkan pula pada derajat sosial yang bersangkutan.
sehingga melalui barang-6x1ang clan bahasa individu-individu dapat

saling berkomunikasi.

Keempat, sistem tolak ukur sosial (social standard). sistem torak
ukur sosial adalah representasi sistem nilai sosial. Nilai sosial adalah
derajat kualitas tertentu yang digunakan dalam tindakan sosial. Nilai-

nilai itu secara operasional terlihat dalam kualitas-kualitas positif,

seperti teknologis, ekonomik, moral, ritual-keagamaan, estetik dan
asosiasional yang disalurkan melalui cita-cita yang diinginkan atau
yang berharga. setiap nilai mengandung aspek yang emosional dan

ideasional. sistem nilai tidak saja menyalurkan ekspresi perasaan

tetapi juga merangsang dan membimbing tingkah laku.

Masyarakat - 57


Kemudian berdasarkan perkembangan atau pertumbuhan

masyarakat yang bersangkutan, mula-mula ada masyarakat pengum-
pul, dilanjutkan dengan tipe masyarakat berburu, masyarakat pela-
dang berpindah, peladang menetap dan bersawah disebut masyarakat

agraris dan diakhiri dengan masyarakat industri atau masyarakat

modern (Radam,1992).

Dalam perkembangan masYarakat di atas, awalnrra masih

sangat tradisional, dimana pemenuhan kebutuhan atau keinginan

untuk hidup berdasarkan pada kesepakatan-kesepakatan antara

individu dan kelompok-kelompok sosial yang ada, yang melahirkan
bentuk-bentuk adat istiadat, aturan dan norma-norma. Yang lama

kelamaan kebutuhan individu itu beubah meniadi keinginan rasa

amarl dan perlindungan, sehingga dimulailah munculnya pengaturan-
pengaturan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial, yang
secara oromatis melahirkan stratifikasi di masyarakat tersebut.

Kemudian dikarenakan pertambahan penduduk atau individu

di masyarakat, yang berimbas pada membesarnyapengelompokkan

sehingga dimulailah pengaturan dan pengelolaan serta pengendalian
masyarakat dilakukan secara formal melalui sarana dan prasarana
serta aparat-aparat yang bersimbolkan kemodernan, seperti penggu-
naan sarana teknologi, pembagian kerja, d11.

Klasifikasi

Suriasumantri (1985), mensinvalir hal-hal yang menyebabkan
perubahan dan hal-hal yang membedakan pada masyarakat tradi-
sional untuk menjadi masvarakat modern, yaitu antara lain: Pertama,
unsur pengalaman diubah dan dimasukkan dalam pendidikan. Kedua,
masyarakat generalis diubah menjadi masyarakat spesialis. Ketiga,
dunia status diubah menjadi dunia prestasi. Keempat, masyarakat
kekerabatan makin rnemudar untuk digantikkan dengan masyarakat
individualistik. Kelima, pengambilan keputusan yang makin otono-
mis. Keenam, orientasi stabilitas diubah menjadi orientasi kemajuan.
Ketujuh, masyarakat terbiasa dengan perubahan. Kedelapan, nilai
keagamaan yang makin pluralistik.

58 - nuai suryadi


Berdasarkan bentuknva yang lain, ada tipe masyarakat vang
coraknya umum yakni masyarakat sederhana atau sering pula disebut
rnasvarakat bersahaja. Istilah lainnya adalah self-sufficient society.
Berhadapar-r dengan luasnya masy313ft2t yang sederhana ini adalah
masyarakat komplek atau sering puia disebut modern-industrial society.
Perbedaan kedua masyarakat ini berdasarkan pada ada tidaknya dan
luas tidaknya pembagian kerja yang ada di dalan'r masyarakat yang

bersangkutan tersebut (Radam, 1992).

Scherrnerhorn (1987), menvebut komuniti yang mencakup
beberapa keluarga sebagai prototype masyarakat vang bersahaja,
telutama masyarakat pengumpul makanan, berburu atau nelayan.
Oleh karena itu masyarakat tersebut bersifat non-pastoral dan non-

agraris, yang surplus ekonomi agak terbatas, sehingga tolong-meno-
long dan gotong royong harus dilaksanakan.

Kemudian menurutn\za paiing sedikit 2 (dua) ciri muncul

sebagai akibat terjadinya masyarakat yang lebih kompleks, yakni
bertambahnva \^/arga dan peralihan ke ekonomi pasoral dan agraris

(atau carnpuran). Kedua jenis perekonomian itu sebetulnya saling

mengisi atau mendukung. Dengan demikian, ada kegiatan untuk
rnengadakan xrrplus, yang disebabkan karena n-reningkatnya jumlah
warga masyarakat. Pertambahar-r penduduk mungkin terjadi secara
alamiah atau karena kemenangan dalam peperangan; pertambahan
jumlah warga dalam masyarakat menyebababkan sulitnya komunikasi

langsung dan terjadinya kesepakatan. Pada masyarakat ini tekanan

untuk mengadakan pemerataan berkurang dan keinginan individual
berlangsung secara agak lebih longgar.

Nottingham (1996), mengemukakan 3 (tiga) tipe-tipe masyara-
kat vang ada di dunia dewasa ini, sebagai berikut, yaitu:

Pertama, tipe masyarakat yang terbelakang. Masyarakat-
masyarakat yang mewakili tipe ini adalah masyarakat vang kecil,

terisolasi dan terbelakang. Tingkat perkembangan teknik rendah dan
pembagian kerja atau pembidangan kelas-kelas sosial relatif masih
kecil. Keluarga adalah lembaga yang paling penting dan spesialisasi

Masyarakat - 59


pengorganisasian kehidufran pemerintahan dan ekonomi masih amat
sederhana. Laju perubahan sosial lambat.

Kedua, tipe masvarakat pra-induski yang sedang berkembang.
Tipe masyarakat ini tidak begitu terisolasi, berubah lebih cepat, lebih

luas daerah-daerah dan lebih besar jumlah penduduknya, serta
ditandai dengan tingkat t:erkembangan teknologi vang tinggi dar:i-
pada masr,rarakat tipe pertama tadi. Ciri-ciri urlulrrnva adalah pemba-

gian kerja yang. iuas, kelas-kelas sosiai vang beraneka ragam, serta
adanya kemampuan tulis baca sarnpai tingkat tertentu. Pertanian dan
industri tangan adaiakr sarana-sarana utama untuk menopang ekonomi
pedesaan, dengn beberapa pusat perdagangan kota. Lembaga-lembaga
pemerintahan dan kehidutrran ekonomi berkembang menuju spesia-
lisasi dan jelas dapat dibedakan.

Ketiga, tipe masyarakat industri-sekuler. MasYarakat ini sangat
dinamik. Teknologi semakin herpengaruh terhadap semua aspek
kehidupan, sebagian kresar penyesuaian-penyesuaian terhadap alam
fisik, tetapi yang terpenting adalah adanya penvesuian-penyesuian

dalam hubungan-hubungan kemanusiaan itu sencliri. Masyarakat

menjadi modern dan komplek.

RANGKUMAN

Setiap masvarakat rnerniliki kebiasaan-kebiasaan, adat dan

aturan-aturar-r serta pengelompokkan. Kesemuanya ini terbentuk

karena adan,va interaksi individu-individu. Interaksi individu-individu

ini terjadi karena cliclasari adanya persamaan dan perbedaan, yang
lama kelamaan memlrentuk kelompok-kelompok kecil sampai

kelompok besar, yanq seringkali diistilahkan den5;an keluarga, suku,
bangsa dan negara.

Ciri-ciri i:okok (karakteristik) masyarakat adalah 1) manusia

yang hidup bersama secara teoritis, maka jumla}r rnanusia lzang hidup
bersama ada dua orang; 2) bergaul selama jangka waktu yang cukup
lama; 3) adanrra kesadaran, bahwa setiap manusia merupakan bagian

dari suatu kesatuan; 4) adan,va nilai-nilai dan norma-norrna yang

60 - nuai Suryadi


menjadi patokan bagi perilaku yang dianggap pantas; 5) menghasilkan
kebudarraan dan mengembangkan kebudayaan tersebut.

Hal-hal yang menyebabkan perubahan dan membedakan pada
masyarakat tradisional menjadi masyarakat moderry yaitu antara lain:
1) unsur pengalarnan diubah dan dimasukkan dalam pendidikan; 2)
masyarakat generalis diubah menjadi masyarakat spesialis; 3) dunia
status diubah menjadi dunia prestasi; 4) masyarakat kekerabatan ma-
kin memudar untuk digantikkan dengan masyarakat individualistik;
5) pengambilan keputusan yang makin otonomis; 6) orientasi stabilitas
diubah menjadi orientasi kemajuan; 7) masyarakat terbiasa dengan
perubahan; B) nilai keagamaan yang makin pluralistik. Kemudian ada

3 (tiga) tipe-tipe masvarakat yang ada di dunia dewasa ini, yakni 1)
tipe masyarakat yang terbelakang; 2) tipe masyarakat pra-industri

yang sedang berkembang; 3) tipe masyarakat industri-sekuler.

LATIHAN SOAL

Petunjuk I

Jawablah dengan sir-rgkat peltanyaan berikut di bawah ini, jika
anda dapat menjawab secara terperinci anda telah menguasai 90%

bahan dari bab 5

PERTANYAAN:

1,. Jelaskan pengertian masyarakat dari Mac Iver?

2. Jelaskan pengertian masyarakat dari Durkheim?
3. Jelaskan yang dimaksud dengan setiap masvarakat memiliki

kebiasaan dan adat?

4. Jelaskan yang dimaksud dengan media sosial?
5. Jelaskan yang dimaksud dengan sistem tolak ukur?
6. Jelaskan ciri-ciri pokok karakteristik masyarakat?
7. Jelaskan perbedaan komuniti dan masyarakat?

B. Jeiaskan tipe masyarakat pra-ir-rdustri?

9. ]elaskan tipe masyarakat industri-sekuler?

Masyarakat - 61-


10. Jelaskan faktor yang menyebabkan perubahan dari masyarakat

tradisional ke masyarakat modern?

TES FORMATIF

Petunjuk II

]awablah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda silang

(x) pada salah satu pilihan jawaban (a,b,c) yang saudara anggap benar.

1,. Apa asal kata dari masyarakat?

tl. Socius
b. Syirk
c. Semua benar

2. Apa pemikiran Durkheim dalam menyebut masyarakat?
a. Kenyataan objektif
b. Kenyataan subyektif
c. Semua benar

3. Sebutkan istilah lain dari masyarakat bersahaja?
a. Self-sufficient society
b. Self-sufficient

c. Self society

4. Sebutkan istilah lain dari masvarakat kompleks?
a. Modent-industrial
b. Masyarakattradisional
c. Masyarakat maju

5. Siapa tokoh yang mendefinisikan masyarakat sebagai sistem

hubungan yang ditertibkan?

a. Mac Iver
b. Linton
c. Darris

6. Siapa tokoh yang mendefinisikan masyarakat sebagai sekelompok
' manusian yang tersebar?

a. Linton
b. Gillin dan Gillin

62 - noaiSuryadi


c. Davis
7. Sebutkan ciri-ciri pokok karakteristik masyarakat?

a. .Manusia yang hidup bersama

b. Bergaul dalam jangka waktu yang lama
c. Semuanya benar
8. Sebutkan sistem-sistem dalam kendali sosial?
a. Sistem teknis
b. Sistem empiris
c. Semua benar
9. Sebutkan lingkup media sosial?
a. Barang-barang
b. Bahasa
c. Semuanya benar

10. Sebutkan ciri-ciri umum dari masyarakat pra-industri?

a. Pembagian kerja yang luas
b. Kelas sosial yang beragam
c. Semuanya benar

Masyarakat - 53


DAFTAR PUSTAKA

Beer, David, 20A3. Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi,

diterjemahkan Paulus W, Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Davis, K,1959.Human Saciety, New York: The Macmillan Company.
Gilllin, J and Gillin 1.P,1.948. Culture Sociology, New York: l\'Iacmillan

Company.
Linton, Ralp, 1936. The Std.y of Man, New York: Appleton Century'

Nottingham, Elizabeth K, 1996. Agama dan Masyarakat: Suatu
Pengantar Sosiologi Agama, penerjemah A Muis N, Jakarta:

RajaGrapindo Persada.

Raclam, Noerid H, \992. Marrusia, Masyarakat dan Kebudayaan,

Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press.

Soekanto, S, 1993. Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur

Masyaraka t, Jakarta'. RajaGrapindo Persada.

Suparlan, P, 1986. Masyarakat Struktur Sosial, dalam Widjaia (ed),

Manusia Indonesia-Individu, Keluarga dan Masyarakat, lakarta:
Akademika Pressindo.

64 - ruai Suryadi


MANUSIA

Deskripsi Singkat:
Dalam perkuliahan ini anda akan mempeiajari pengertiar-r dan

definisi manusia, karakteristik individu, karakteristik keluarga dan

fungsi keluarga.

Tuiuan Instruksional Khusus:
Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu:

1. Menjelaskan pengertian dan definisi manusia
2. Menjelaskanpengertianindividu
3. Menjelaskan pengertiankeluarga
4. Menyebutkan fungsi-fungsi keluarga

Arendt dalam Suifraai., (2006), menunjukkan bahr,r,a spesies
manusia bukan lah sui generis dan juga tidak sepenuhnya murni dika-
langan bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi: 'manusia meniru cara

dunia memisahkan keberadaan manusia dari lingkungan hewan
semata-mata, tetapi kehidupan itu sendiri berada di luar dari dunia

tiruan ini, dan melalui kehidupan manusia tetap berhubungan dengan
semua organisme hidup yang lain'.

Definisi manusia ini selaras dengan yang diungkapkan oleh

Aristoteles, bahwa manusia sebagai zoon politicon, artinya mahluk
sosial yang memiliki kemampuan untuk mensiasati hidupnya, melalui

Manusia - 65


hubungan-hubungan dengan mahluk manusia lainnva atau pun
mahluk hewan dan tumbuhan yang ada di sekelilingnva.

Pandangan zaman pencerahan tentang manusia, tentu, adalal-r

pandangan bahwa manusia merupakan keseluruhan dari sebagian

kecil alam dan ambil bagian dalam keseragaman umum dari kompo-
sisi yang telah ditemukan di sana oleh ilmu alam, di bar,r,ah dorongan

Bacon dan bimbingan Newton. Ada sebuah kodrat manusia yang

tersusun secara teratur, tetap tak berubah dan luar biasa sesederhana

alam semesta Newton (Geertz, 1992).

Kemudian Cassirer menvebut manusia sebagai aninml sym-
bolicum. Pandangan ini bertolak dari hasil penelitian J. von Eexkuell
mengenai binatang. Bahwa setiap organisme mutlak dicocokkan
dengan lingkungan ataa lfmruelf-nya. sesuai dengan struktur anato-
minya, setiap organisme mempunyai sistem reseptor (merkn.etz) yang
berfungsi sebagai penerirna rangsangan dari luar. Terdapat pada
organisme tersebut sistem efektor (wirknets) sebagai pereaksi terl'radap
rangsangan dari luar itu. terjalin suatu kerjasama antara kedua sistem

ini sebagai prasyarat bagi kehidupan setiap organisma. Keterjalinan

kedua sistem tersebut pada suatu ikatan Yang sama disebut lingkaran
fungsional ffunktionskrels). Pada manusia, kata Cassirer, lingkungan

fungsional itu lebih luas, baik kuantitatif maupun kualitatif, setelah

mengalami perubahar-r. Antara sistem reseptor dan sistem efektor yang

dimiliki manusia, ada s.istem simbolik yang membedakan manusia

dari binatang (Daeng, 2000).

Manusia menjadi sebuah simbol vang bersifat mutidimensional.
Dalam kenyataannya menjadi tampak suatu dunia yang tak kelihatan.
Bahasa simbol sangat khusus berperan dalam bahasa cinta dan bahasa

religius mahluk manusia (Snijders, 2004). Geertz {1992) lebih detil
dalam mendefinisikan manusia sebagai hewan yang melakukan

simbolisasi, konseptualisasi, dan mencari makna.

Manusia dengan huruf besar 'M' dapat dicari dibelakang, di
bawah atau di seberang adat kebiasaannva dan menggantikannva

dengan pandangan bahwa manusia, tanpa huruf besar dapat dicari di
dalam adat kebiasan itu, atau ia larut, tanpa bekas ke dalam waktu dan

55 - nuai Suryadi


ruangnya sendiri, seperti seorang anak dan seorang tawanan penuh
dari zamannya, atau ia menjadi seorang tentara wajib n-riliter dalam

sebuah pasukan gaya Tolstoi ysnt sangat banyak ditelan ke dalam

salalr satu dari determinisme-determinisme sejarah (Geertz, 1997).

Spesies manusia menghadapi dua tugas yang berbeda, tetapi
berkaitan satu sama lainnya, yaitu mempertahankan kehidupan manu-
sia dan mempertahankan identitas manusia (Arendt, 1958). Memper-
tahankan identitas berarti aktivitas-aktivitas \rang fungsi primernya
adalah rnendefinisikan dan membatasi status tnanusia, atau aktivitas-
aktivitas yang ekspresi asal usulnva terletak pada kecenderungan
manusia untuk melt ujudkan makna-makna mengenai simbol-simbol

melalui dunia. dipertahankannya identitas manusia melibatkan
aktivitas-aktivitas, seperti seni, musik dan ritual dan meliputi isu-isu
seperti pembentukan kepribadian dan formulasi pandangan dunia-

(Saifuddin, 2006).

Dari definisi rnanusia sebagai simboiisasi makna ini, kecende-

rungan dieksistensikannya ke berbagai bentuk hubungan sosiatr

lainnya, seperti dieksistensikan melalui manusia sebagai individu dan
manusia sebagai keluarga dan manusia sebagai masyarakat. Simboli-

sasi eksistensi ini menjadikan manusia sebagai mahluk yang berakal

dan berkawan.

Menurut Widjaja (1986) Individu, tanpa masyarakat tidak
berarti sama sekaii, n-radyarakat tanpa individu akan kosong-melom-
pong, tidak memiliki peranan. Individu adalah inti dari keluarga dan
keluarga adalah inti daripada masyarakat. Masyarakat tanpa keluarga
tidak akan berarti, sedang keluarga tanpa individu juga tidak menjadi

berarti (Widjaja, 1985).

Individu dikonotasikan perorangan, sedangkan keluarga dan
masyarakaf dikonotasikan banyak (bukan perseorangan). Seringkali
keluarga dikonotasikan sama dengan masyarakat, dengan kata lain
keluarga adalah sebuah masyarakat, karena jumlahnya lebih dari satu

dan adanya jalinan hubungan-hubungan yang bermakna.

Manusia - 67


Individu

Individu berasal dari kata Latin, yakni indiaiduum, artinva yang
tak terbagi. Berarti sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan
suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Dalam ilmu sosial
pairam individu rnenyangkuat tindakannya dengar-r kehidupamya
yang majemuk dan penuh rnakna. Selain itu individu memfokuskan
pada realitas kehidupan vang unik dan nyata.

Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan
yarrg tak dapat dibiagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas,

yaitu sebagai manusia perseorangan. Dengan demikian sering diguna-

kan sebutan orang-seorang atau manusia perseorangan. Sifat dan

fungsi orang-orang di sekitar kita adalah mahluk-mahluk yang berdiri
sendiri. Dalam berbagai hal bersama-sama satu sama lain, tetapi dalam
banyak i-ral pula perbedaannya. Sejenis tapi tak sama, makin tua makin
maju dan semakin banyak pula perbedaannya. Pada setiap anggota
suatu bangsa yang bermacanl-macam tir-rgkat peradabannya, terjadi
diferensiasi dengan corak sifat dan tabiat beraneka macam (Soelaeman,

2001).

Arti berdiri sendiri tidak sama untuk batu, pohon, hewan dan
manusia. Jika sebuah batu dipecah, terdapat dua batu dan masing-

masing potongan tetap batu. Jika seekor anjing dipotong, maka anjing

itu akan mati. Maka, pengertian substansi bersifat analog, terdapat
persamaan sekaligus perbedaan. Persamaan ada karena masing-

masing mempunyai indirridualitas. Mereka masing-masing merupa-
kan suatu kesatuan kodrati tersendiri dalam keseluruhan dunia alam
(Snijders, 2004).

Hilomorfisnze Aristoteles, mengatakan tiap individu tersusun
dari dua unsur, yakni materia prima tidak mernpunyai bentuk dari
dirinya sendiri. Bentuknya berasal dafi formn substantialis. Materi

bagaikan semacam substrat yang mendapat individualitasnya tertentu
berkat kesatuan dengan formn. Forrua menentukan jenisnya, sedangkan
rnateri merupakan potensi yang memungkinkan jenis vang san-ra
menjadi banyak. Materi membatasi forma atau jenis menjadi indivi-

68 - ruai Suryadi


dualitas tertentu. Perbedaan kuantitatif berasal dari materi, sedangkan
perbedaan kualitatif berasal dari forma. Sebagai contoh botoi-botol
dari jenis vang sama hanya berbeda karena yang satu sekarang di sini
dan yang lain di sana.

Keluarga

Worsley (1991), r,r,alaupun mengemukakan banyak pertim-

bangan tentang definisi ini, keluarga didefinisikan mengacu pada

hubungan-hubungan vang dibentuk melalui atau didasarkan pada
perkawinan dan keorangtuaan. Definisi ini mengarah pada pengertian
keluarga inti yang berlaku umumnya.

Asumsinya sejak semula sudah dinyatakan bahwa didasarkan
pada perbandingan-perbandingan silang-kultural yang terinci, keluar-
ga nyatanya adalah suatu lembaga universal. Murdock, misaln-1ra
menyin-rpulkan, setelah meneliti data 250 masyarakat, bahwa keluarga

inti merupakan suatu pasangan kawin laki-laki dan wanita dengan

anak-anak mereka, yang akhirnya menjadi pengelompokkan manusia
universal.

Asumsi berikutnya keluarga inti adalah hasil alami dari kebu-

tuhan-kebutuhan biologis dasar tertentu, yang hal ini berkaitan

dengan keberadaan manusia, seperti kebutuhan melanjutkan keturun-
an sebagai ekspresi individual melalui dorongan seksual; kebutuhan-

kebutuhan dasar manusia atas makanan dan perlindungan dari

bahaya-bahaya alam dan sosial; kenyataan bahr.t a bayi manusia tidak

bisa mencari makan sendiri atau melindungi diri sendiri, dan

memerlukan orang-orang lain untuk melakukan pekerjaan itu baginya.

Kemudian para ahli a*tropologi melihat keluarga sebagai suatu
satuan sosial terkecil yang dipunyai oleh manusia sebagai mahluk
sosial. Pendapat ini didasarkan atas kenyataan bahwa sebuah keluarga
adalah satu kesatuan kekerabatan yang juga merupakan satuan tempat
tinggal yang ditandai oleh adanya kerjasama ekonomi dan mempu-
nvai fungsi untuk berkembang biak, mensosialisasi atau mendidik
anak dan rnenolong serta melindungi yang lemah khususnya merawat

Manusia - 69


orang-orang tua mereka yang telah jompo (Suparlan dalam Widjaja,

1e86).

Menurutnya dalam bentuknya yang paling mendasar, sebuah
keluarga terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan
ditambah dengan anak-anak mereka yang biasanya tinggal dalam satu
rumah yang sama. Satuan atau kelompok seperti ini dalam antropologi
dinamakan sebagai keluarga inti. walaupun suatu keluarga inti secara
resminya selalu terbentuk oleh adanya suatu hubungan perkawinan
yang berdasarkan atas peraturan perkawinan yang sah, tetapi tidak
selamanya keluarga inti terwujud hanya karena telah disahkan oleh
suatu peraturan perkawinan.

Goode (1983), mengemukakan secara umum fungsi-fungsi

keluarga, yaitu sebagai berikut:

Pertama, pengaturan seksual. Pada setiap masyarakat dijumpai

nilai-nilai dasar perilaku dan nilai-nilai dasar ini mengatur perilaku
masyarakatnya yang salah satunya mengatur perihal larangan

hubungan seks bebas, larangan kelahiran di luar nikah, larangan

menikah dengan saudara kandung dan sebagainya. Misalnya, incest
tabo berupa larangan hubungan kawin dengan kerabat dekat, yang
tujuannya untuk mencegah berkembangnya persaingan seksual dan
mengembangkan silang hubungan antara keluarga yang lain;

Kedua, reproduksi. Pandangan individu terhadap jumlah anak
bermacam-macam, ada yang mengharapkan untuk jaminan bagi orang

tua di masa depan, ada yang bermotivasi agarrra, ada yang alasan
kesehatan dan sebagainya. Di suatu negara apabila alat kontrasepsi

mudah diperoleh dan banyak digunakan, maka ada keengganan untuk
mempunyai anak;

Ketiga, sosialisasi. Masyarakat biasanya membentuk atau
rnenuntut unit yang meneruskan nilai-nilai tertentu kepada generasi

berikutnlra. Pembentukkan ini seringkali dilakukan oleh keluarga

dengan cara melakukan sosialisasi mengenai nilai-nilai, sikap-sikap
dan tingkah laku terhadap anak-anaknya;

70 - nuai Suryadi


Keernpat, pemeliharaan. Manusia tidak berdaya n aktu diahir-

kan, jadi memerlukan pemeliharaan sarnpai usia tertentu. Sebagai

contoh ibu yang harnil mernerlukan pemeliharaan sampai melahirkan.

Di sini suaminya atau keluarga lair-rnya menanam kasih sayang dan
persaudaraan; atau anak yang baru dilahir-kan sampai jangka waktu
tertentu, rnenuntut terpenuhinya segala kebutuhan hidupnya. Di sini
kedua orangtuanva menanamkan hubungan kasih savang dengan

anak-anaknya tersebut;

Kelima, penempatan anak dalam masyarakat. Anak rnerupakan

simbol berbagai macarr hubungan peran yang penting di antara

orang-orang dewasa. Adanya pemesraan antara orang tua dan keha-
dirann\ra terus-menerus, menimbulkan tuntutan-tuntutan kepada

orang dewasa. Orang-orang der,r.asa ini pun mengadakan tuntutan

satu dengan yang lairurya karena anak. Penempatan sosial ditetapkan
oleh masyarakat atas dasar keanggotaan keluarga memlalui pemberian
orientasi hubungan, seperti orang tua, saudara kandung dan kerabat.

Selain itu penempatan sosial melalui orientasi individu pada

kelompok lain vang secara sosial telah mal'rary seperti hubungan etnik,
agama/ organisasi masyarakat, partai politik, kelas dan sebagainya;

Keenarn, pemuas kebutuhan perseorangan. Hubungan suami-
istri dibentuk oleh jaringan teman-teman dan anak ditempat mereka
hidup, tetapi ternan tidak dapat menggantikan kepuasan hubungan

suami-istri dengan anaknya. Setiap orang tua menjalin hubungan
emosional vang erat setelah kelahiran bayi. Anak yang dilahirkan
rnerupakan manifestasi cinta kasih kedua orang tuanya. Dengan
terbentuknya keluarga dan memperoleh anak, suami-istri dapat

menutupi kekurangan-kekurangan alamiah masing-masing. perkawin-

an yang sah dan terhormat dapat memuaskan keinginan sesual

perseorangan;

Ketujuh, kontrol sosial. Fungsi ini berkaitan denga, memper-

tahankan dan rnelestarikan nilai-nilai masyarakat melalui peran sosial
anggota keluarga, seperti larangan anggota keluarga bergaul dengan
orang-orang yang melakukan penyimpangan. Bentuk iainnya berupa

tekanan mental vang bersifat psikologis dan non fisik orang tua

Manusia - 71


terhadap anaknya, sehingga anggota keluarga bersikap dan bertindak
sesuai dengan penilaian masyarakat.

RANGKUMAN

Definisi manusia sangat beragam dari definisi manusia sebagai
zoon paliticon, artinya mahluk sosial yang memiliki kemampuan untuk
mensiasati hidupnya, rnanusia merupakan keseluruhan dari sebagian

kecil alarn dan ambil bagian dalam keseragaman umum sampai

manusia sebagai a syrnbolic animal.

Dari definisi manusia sebagai simbolisasi makna ini, kecende-

rungan dieksistensikannya ke berbagai bentuk hubungan sosial

lainnya, seperti dieksistensikan melalui manusia sebagai individu dan
manusia sebagai keluarga dan manusia sebagai masyarakat. simbo-
lisasi eksistensi ini menjadikan manusia sebagai mahluk yang berakal

dan berkawan.

Individu dikonotasikan perorangan, sedangkan keluarga dan
masyarakat dikonotasikan banyak (bukan perseorangan). seringkali
keluarga dikonotasikan sama dengan masyarakat, dengan kata lain
keluarga adalah sebuah masyarakat, karena jumlahnya lebih dari satu

dan adanya jalinan hubungan-hubungan yang bermakna.

LATIHAN SOAL

Petunjuk I

Jawablah dengan singkat pertanvaan berikut di bawah ini, jika
anda dapat menjawab secara terperinci anda telah menguasai 9076

bahan dari bab 6

PERTANYAAN:

1. Jelaskan pengertian dan definisi manusia?
2. Jelaskan manusia sebagai zoon politicon?
J, Jelaskan manusia sebagai a symbolic animal?

72 - v,aai Suryadi


4. Jelaskan yang dimaksud dengan individu tanpa masyarakat tidak

berararti sama sekali?

5. Jelaskan arti individu yang tak terbagi?
6. Jelaskan hilomorfisme Aristoteles?
7. Jelaskan perbedaan keluarga dan keluarga inti?
8. Jelaskan yang dimaksud dengan keluarga inti?
9. Jelaskan fungsi keluarga dalam pemeliharaan?

10. Jelaskan fungsi keluarga dalam kontrol sosial?

TES FORMATIF

Petunjuk II

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda silang

(x) pada salah satu pilihan jawaban (a,b,c) yang saudara anggap benar.

1. Apa kata Latin dari individu?
a. lndiaiduum
b. Indiaidual
c. Semua benar

2. Apa arti dari indirsiduum?
a. Tak terbagi
b. Terbagi
c. Satuan

3. Sebutkan unsur hilomorfisme Aristoteles?
a. Materia prima
b. Forma
c. Semua benar

4. Apa asal bentuk dari materia prima?
a. Forma substansial
b. Forma
c. Subtrat

5. Apa yang membatasi forma?
a. Materi

Manusia - 73


b. Substrat
c. Semua benar

6. Sebutkan dasar pembentuk keluarga?

a. 'Perkawinan

b. Keorangtuaan
c. Semua benar

Apu sebutan dari larangan hubungan kawin dengan kerabat

dekat?

a. Incest tabo
b. Pantangan
c. Sernuanya benar

B. Sebutkan contoh fungsi keiuarga dalam pengaturan seksual?

a. Larangan seks bebas
b. Larangan hamitr di h-rar nikah
c. Semua benar

9. Apa pandangan individu terl"radap jumlah anak?

a. Kesehatan
b. Masa depan
c. Semuanya benar

10. Apa bentuk kontrol sosial keluarga?

a. Larangan bergaul.
b. Laranganpenyirnpangan
c. Semuanya benar

74 - e,rai Suryadi


DAFTAR PUSTAKA

Daeng, Hans J, 2000. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan
Antropologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Geertz, C,1992. Tafsir Kebudayaan, diterjemahkan F Budi Hardiman,
Yogyakarta: Kanisius.

Saifuddin, A Fedyani, 2006. Antropologi Kontemporer: Suatu
Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, Jakarta: Kencana

Prenada Media Group.
Snijders, A, 2004. Antropoiogi Filsafat: manusia, paradoks dan seruan,

Yogyakarta: Kanisius.

soelaeman, M Munandar, 2aal.Ilmu sosial Dasar: Teori dan Konsep

Ilmu Sosial, Bandung: Refika Aditama.
Suparlan, P, 1986. Masyarakat Struktur Sosial, dalam Widjaja (ed),

Manusia Indonesia-Individu, Keluarga dan Masya rakat, Jakarta:
Akademika Pressindo.
Suparlan, P, 1986. Keluarga dan Kekerabatan, dalam Widjaja (ed),
Manusia Indonesia-Individu, Keluarga dan Masyarakat, Jakarta:
Akademika Pressindo.

Widjaia, A.W 1985. Manusia Indonesia: Individu, Keluarga dan

Masyarakat, Jakarta: Akademika pressindo.
Worsley, P, 1991. Pengantar Sosiologi: Sebuah pembanding, pener-

jemal-r Hartono H, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Manusia - 75


STRUKTUR SOS AL

Deskripsi Singkat:
Dalam perkuliahan ini anda akan mempelajari pengertian dan

definisi struktur sosial, dan corak struktur sosial

Tuiuan Inskuksional Khusus:

Pada akhir perternuan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1.. Menjelaskan pengertian dan definisi skuktur sosial

2. Menyebutkan corak struktur sosial

Dalam kamus-kamus ilmu sosial maupun pemikiran sosial

barat konsepsi struktur sosial bukan merupakan hal baru, konsepsi ini
sangat banyak dijelaskai'r. Awalnya konsepsi struktur sosial lebih
banyak dikembangkan oleh para antropolog sosial Inggris. sementara
antropolog Amerika serikat lebih mengembangkan konsep struktur
sosial dalam kaitannva dengan kebudayaan.

Josselin de ]ong dalarn Daeng (2000), mengatakan bahwa dalam

mempelajari struktur sosial, orang harus mempelajari perumusan-
perumusan dan susunan-susunan hubungan antara individu-individu
dalam masyarakat. Struktur sosial yang acla dalam masyarakat terda-
pat dibalik aktivitas-aktivitas individu tersebut.

Struktur Sosial - 77


Keesing (2008), menyebut hubungan individu ini sebagai

hubungan sosial, yang diumpamakan dua orang, A dan B, yang dapat
dilihat dari cara mereka interaksi, hal-hal vang mereka katakan dan
lakukan dalam hubungan satu dengan yang lainnya' Selain itu juga
gagasan mereka tentang hubungan, konsepsi-konsepsi mereka,

pemahaman serta pengharapan.

Gagasan struktur sosial bisa dikaji apabila n'rerniliki atribut-
atribut formal tanpa mengacu pada para agen pelaku, telah telah
memberikan pengaru besar pada pemikiran sosial. sampai dewasa ini,
gagasan ini dianggap sebagai konsep vang essensial, meski penyeba-

rannya sangat dipengaruhi oleh fokus stratgis si teoritis. Dengan

demikian bagi sebagian praktisi, struktur sosial hanva sebuah asumsi
latar belakang yang timbul akibat dijalankannya penlrslidikan inves-
tigasi teoritis atau empiris, sementara bagi sebagain praktisi )iang lain,
struktur sosial merupakan titik fokus dari komitmen teoritis mereka

((Kuper & Kuper,2000).

Penyelidikan struktur sosial bertujuan memahami relasi-relasi
sosial dengan menggunakan model tertentu. Hal ini dikarenakan tidak

mungkin orang dapat membayangkan relasi-relasi sosial di luar

kerangka umum, )rakni kerangka waktu dan ruang t yar.g digunakan
untuk menempatkan relasi-relasi sosial. Dimenasi ruang dan waktu
terdiri atas ruang sosial dan waktu sosial, artinya dimensi ruang dan
waktu tidak mempunyai sifat-sifat vang terdapat di luar ruang sosial
dan waktu sosial. Sifat-sifat ini diambil dari sifat-sifat fenomena sosial

(Saebani, 2012).

Soekanto (1993), mengemukakan bahwa dalam antropologi
konsep struktur sosial berkembang dalam pendekatan struktural-

fungsional dari ankopologi sosial di Inggris. Di dalam antropologi

sosial, konsep struktur sosial seringkali dipergunakan sebagai sinonim
dari organisasi sosial, dan terutama dipergunakan dalam analisa terha-
dap masalah kekerabatary lembaga politik dan lembaga hrrkum dari

masyarakat sederhana.

Khusus dalarn organisasi sosial, setiap kehidupan masyarakat
diorganisasi atau diatur oleh adat-istiadat dan aturan-aturan mengenai

78 - ruai Suryadi


berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan tenpat ir"rdividu hidup
dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan

mesra adalah kesatuan kekerabatan, yaitu keluarga inti yang dekat

dan kaum kerabat lain. Kemudian ada kesatuan-kesatuan di luar kaum
kerabat, tetapi masih dalam iingkungan komunitas. Tiap masyarakat
manusia dan masyarakat desa, terbagi ke dalam iapisan-lapisan, maka

tiap orang di luar kaurn kerabatnva menghadapi lingkungan orang-
orang yang lebih tinggi daripadanya dan yang sama tingkatnya

(Koen tj aran ingr at, 2009)

Burke (2001), rnengemukakan berbagai pendekatan terhadap
masyarakat menggunakan konsepsi struktur yang tidak sama, paling
tidak tiga diantaranya yang berbeda, vakni:

Pertama, pendekatan Marxian, dimana terminologi arsitektur,
yakni dasar dan suprastruktur adalah intinya, dan dasar atau infra-
struktur itu dipahami menurut konteks ekonomi;

Kedua, pendekatan struktural-fungsional, dimana konsep
struktur secara lebih umum digunakan untuk merujuk pada suatu

kompleks pranata: keluarga, negara, sistem hukum dan sebagainya;

Ketiga, yang sering disebut sebagai pendekatan strukturalis,
mulai dari Claude Levi strauss sampai Roland Barthes dan Michel
Foucault, lebih mengutamakan perhatiar-r pada struktur pemikiran
atau sistern pola pikir atau kebudayaan. Model mendasar atau metafor
yang menjadi landasan' pemikiran mereka adalah model tentang

balrasa atau kebud ayaan sebagai bahasa.

Definisi

Radcliffe-Brown mengemukakan bahw,a struktur sosial ada.lah
suatu rangkaian kompleks dari relasi-relasi sosial yang berwujud

dalam suatu masyarakat. Karena definisi ini terlalu luas para antro-

polog lainnva mencoba membatasinya, Evans-pritchard, mengernu-
kakan bahwa struktur sosial ialah relasi-rerasi yang tetap yang
menyatukan kelornpok-kelompok sosial pada satuan yang lebih luas

(Garna,1996).

Struktur Sosid - 79


Majoir Folak t1987), mengemukakan struktur masyarakat

sebagai susunan intern yang agak stabii dar-r yang terdiri atas segala
unsur-unsur dengan fungsi-fungsinva masing-masing yang sekalian-

nya berantar-hubunqan secara tertentu. Antar-hubungan-antar-
hubungan itu dapat mempunyai aspek sebagai struktur pasaran

dan/atau sebagai struktur organisasi. Dengan struktur pasaran dimak-
sudkan adanya pertukaran barang-barang dan jasa-jasa sedangkan
dengan strr.rktr:r organisasi dimaksudkan adanya koordinasi fungsi-
fungsi.

Soerrrardjari dan Soerlarcli (1954), mengemukakan struktur
sosiai adalah jalinan huburrgan satu sama lainnya dari keseiuruhan

urlsur-unsur sosial. n"reiiputi llorma-norma atau kaidah-kaidah sosiai,
lembaga-len-rbaga sosiai, kei*nrpolt-kelompok serta iapisan sosiai.

Menurut Supailan (1986), secara singkat struktur sosial dapat di
definisikan sebagai iroiar dari hak dan kewajiban para pelaku dalam

suatu sisterninteraksi yai':g trrwujud dari rar-rgkaian-rangkaian

hubungan sosial yang relaiii stai:il daiam suatu jangka waktu tertentu.
Pengertian hak dan ker,vajiban para pelaku dikaitkan dengan masing-

masing status c{an peranan para pelaku.

Struktur sosial merupakan jaringan daripada unsur-unsur sosial

yang pokok dalam masyarakat, yang meliputi kelompok sosial,

kebudayaary lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan dan kewe-
nangan (Soekanto, 1993),

Struktur sosial merupakan konsep yang paling penting dalam
ilmu sosial, namun karena hainpir semua ilmu sosial tidak mendefi-
nisikannya sccara persis, maka sulit membedakannya dalam penggu-
naannya Cari istilah train, seperti organisasi sosial dan sistem sosial.
Penggunaan pertama yang eksplisit istilah struktur sosial kemung-
kinan oleh Flerbert Spencer (1858). Akan tetapi juga konsep struktur
sosial sudah ada sejak periode sebelumn,rza dan merupakan aspek
sentral dari pandangan lbnu Khaldun dalam bukunya vang berjudul
Mugadimntah v ang clitulis pada akhir abad ke-14 (Outhwaite, 2008).

80 - nuai Suryadi


Corak

Menurut Suparlan (1986), corak dari struktur sosial rnasyarakat
manusia beraneka ragam. Ada yang sederhana dan ada yang kom-
pleks; ada struktur sosialnya bersumber pada dan ditentukan corak-
nya oleh sistem kekerabatannva, sistem ekonominya, sistem pelapisan
sosial dan sebagainya; dan ada yang merupakan suatu kombinasi dari
berbagai pranata tersebut.

Kemudian menurulnya, dalam masyarakat yang kebudaya-
annya primitif, struktur sosialnya dengan mudah diketahui coraknya

karena seorang pengamat dengan mudah dapat membuat rekonstruksi

dari struktur sosial tersebut berdasarkan atas kesederhanaan pola

status dan peranan yang bersumber pada jumlah dan keanekaragaman
pranata yang terbatas sedangkan dalam masyarakat yang kompleks

kebudayaannya, struktur sosial masyarakat tersebut tidak dengan

mudah direkonstruksi karena dalam kenyataannya di masyarakat

tersebut terdapat beraneka ragam kelompok-kelornpok sosial yang
masing-masing mempunyai struktur sosial yang juga secara keselu-
ruhan menunjukkan keanekara gaman.

Mc Guire mengemukakan dimensi-dimensi struktur sosial dari
masyarakat, sebagai berikut, yaitu: Dimensi pertama, yang merupakan
kedudukan sosial (social status) yang didasarkan pada usia dalam
keluarga, kekayaan, derajat pengaruh atau tradisi;

Dimensi yang kedua, yang mencakup lembaga-lembaga (sosial).

Di daiam lembaga (sosial) tadi tercakup pola perilaku yang teror-
ganisasikan ke daiam lembaga-lembaga politik, ekonomi, agama,
pendidikan, keluarga dan jugu kelompok-kelompok formal dan

inJormal;

Dimensi ketiga, yang mencakup derajat konformitas terhadap
perilaku yang pantas atau yang dikehendaki oieh masyarakat. Konfor-

mitas tersebut mencakup titik paling patut sampai pada penyim-

pangan serta penyelewengan;

Struktur Sosial - 81


Dimensi keempat, mencakup kelompok-kelompok sosial.

Pen-rbedaan golongan atau kelompok tersebut lebih banyak didasarkan
pada ciri atau pola perilaku yang nyata (Soekanto, 1993).

RANGKUMAN

Dalam terminologi antropologi, struktur sosial seringkali

dikonotasikan ganda dengan konsepsi organisasi sosial, sehingga
penggunaan konsepsi ini saling bergantian antara struktur sosial dan
organisasi sosial. Ada beberapa pendekatan dalam mempelajari struk-

tur sosial, vakni pendekatan Marxian, pendekatan struktural-fung-

sional dan pendekatan strukturalis.
Struktur sosial masvarakat manusia beraneka tagafii, yakni ada

yang sederhana dan ada yang kompleks; ada struktur sosialnya

bersumber pada dan ditentukan coraknya oleh sistem kekerabatannya,

sistem ekonominya, sistem pelarpisan sosial dan sebagainya. Pada
masyarakat yang sederhana (prirnitif) strukturnya mudah diketahui,

tetapi pada masyarakat kompleks, strukturnya sangat beragam.

Ada beberapa dimensi struktur sosial dari masvarakat, yakni: 1)
kedudukan sosial (social status);2) lembaga-lembaga sosial; 3) derajat
konformitas; 4) pembedaan golongan atau kelompok tersebut lebih
barryak didasarkan pada ciri atau pola perilaku yang nyata.

LATIHAN SOAL

Petunjuk I

Jawablah dengan singkat pertanyaan berikut di bar,t ah ini, jika
anda dapat menjalvab secara terperinci anda telah menguasai 90%
balran dali bab 7

PERTANYAAN:

1. Jelaskan pengertian dan definisi struktur sosial?
2. Jelaskan perbedaan struktur sosial dan organisasi sosial?
3. Jelaskar-r tujuan penyelidikan struktur sosial?

82 - suai Suryadi


4. Jelaskan pendekatan Marxian dalam rnemandang struktur sosial?
5. ]elaskan pendekatan struktural-fungsional dalam memandang

struktur sosial?

5. Jelaskan pendekatan strukturaiis dalam memandang struktur

sosial?

7. Jeiaskan corak struktur sosial masvarakat?

B. Jelaskan dirnensi pertama struktur sosial dari Mac Guire?

9. Jelaskan dimensi kedua struktur sosial dari Mac Guire?

10. Jelaskan dimensi ketiga sh'uktur sosial dari Mac Guire?

TES FORMATIF

Petuniuk II

Jar,r,ablah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda silang

(x) pada salah satu pilihan jawaban (a,b,c) vang saudara anggap ber-rar.

1. Pada awalnya konsepsi struktur sosial dikembangkan oleh antro-

polog yang berasal dari negara?

a. Inggris
b. Amerika Serikat
c. Semua benar

2. Apa pengertian sederhana dari struktur sosial?
a. Hubungan individu
b. Relasi sosial
c. Senrua benar

3. Sebutkan cara mempelajari struktur sosial menurut Josselin de

Jong?

a. Perumusan hubungan individu
b. Susunan hubungan individu
c. Semua benar

4. Sebutkan tujuan penyelidikan struktur sosial?
a. Memahami relasi sosial
b. Memahami proses sosial
c. Semua benar

Struktur Sosial - 83


5. Sebutkan pendekatan dalam memahami struktur sosial?

a. Marxian
b. Struktur-fungsional

c. . Semua benar
6. Sebutkan tokoh pemikir dalam pendekatan Marxian?

a. Karl Marx
b. Radcliffe-Brown
c. Semua benar

7. sebutkan tokoh pemikir dalam pendekatan struktural-fungsional?

a. Karl-Marx
b. Radcliffe-Browr-I
c. Semuanya benar

a Sebutkan tokoh pemikir daiam pendekatan strukturalis?

a. C Levi Strauss
b. Rolanda Barnes
c. Semua benar

9. Siapa tokoh pemikir yang secara eksplisit menggunakan pertama
kali konsep struktur sosial?

a. Herbert Spencer
b. Emile Durkheim
c. Marcel Mauss

10. sebutkan corak strukiur sosial dalm masyarakat primitif?

a. Sederhana
b. Kompleks
c. Quasi kompleks

84 - suai Suryadi


DAFTAR I'USTAKA

Burke, P, 2001. Sejarah dan Teori Sosial, alih bahasa Mestika z &

Zulfatn| Jakarta: Yayasan Obor.
Daeng, Hans J, 2000. Manusia, Kebudayaan dan I-ingkungan Tinjauan

Antropologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Keesing, Roger M, 2008. Ar-rtropoiogi Eudaya: Suatu Perspektif

Kontemporer, alih bahasa Samuel C, Jakarta: Erlangga.

Koentjaraningrat, 2009. Pengantar Ilmu Antropologi, ]akarta: Rineka

Cipta.

Maijor Polak, J.B.A.F, 1987. Sosiologi: Suatu Pengantar Ringkas,

Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve.

Outhwaite, William. 2008. Pemikiran Sosial Modern, Alih bahas Tri

Wibowo, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Saebani, Beni A, 2012. Pengantar Antropologi, Bandung: Pustaka Setia.

Soekanto, S, 1993. Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur

Masyarakat, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Soemardjan, S dan Soemardi, S, 1964. Setangkai Bunga Sosiologi,

. Iakarta: Fakultas Ekonomi UI.
', Srparlan, P, \986. Masyarakat: Struktur Sosial, dalam A.W Widlaja

(ed), Manusia Indonesia: Individu, Keluarga dan Masvarakat.

Struktur Sosial - 85


I

BUDAYA

Deskripsi Singkat:
Dalam perkuliahan ini anda akan mempelajari pengertian dan

definisi budaya, wujud kebudayaan, pranata budaya, sistem nilai

budaya dan karakteristik kebudayaan di dunia.

Tujuan Instruksional Khusus:
Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu:

1.. Menjelaskan pengertian dan definisi budaya

2. Menyebutkan wujud kebudayaan
3. Menyebutkan pranata-pranata budaya
4. Menjelaskan sistem nilai budaya
5. Menyebutkan karakteristik kebudayaan vang ada di dunia

Konsepsi antropologis tentang budaya merupakan salah satu
gagasan paling penling dan berpengaruh dalarn pemikiran abad ke-20.
Pemakaian istilah budaya sebagaimana digunakan oleh para pakar

antropologi abad ke-19 telah berkembang ke berbagai bidang

pernikiran lainnya dengan pengaruh yang dalam. pada waktu itu
budaya diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari.
Misalnya budaya Jepang, mengacu pada pola-pola perilaku yang
ditularkan secara sosial, yang merupakan kekhususan kelompok sosial

tertentu (Keesing, 2008).

Budaya - 87


Definisi

Budaya secara harfiah berasal dari bahasa Latin, yaitu Colere
yang memiliki arti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah
atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culhtre, sebagai segala daya
dan usaha manusia untuk merubah alam. Kemudian Koentjaraningrat
(2008) mengemukakan budaya adalah keseluruhan sistem gagasan
kebudayaan, tindakan dan hasil karya manusia dengan cara belajar.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu

btrdLllmqnh, yang merupakan bentuk jamak dafi buddhi yang diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Menurutnya definisi dari kebudayaan tercantum di atas hany3
saiah satu antara lebih dari 179 buah definisi lain yang pernah
dirumuskan di atas kertas. Kebudayaan merupakan keseluruhan total

dari apa yang pernah dihasilkan oleh mahluk manusia yang

menguasai planet ini seiak zaman ia muncul di muka bumi kira-kira

empat juta tahun yang lalu, sampai sekarang. Dengan demikian dapat

dimengerti mengapa konsep kebudayaan itu sedemikian luas ruang-

lingkupnva.

Menurut Daeng (2000), kebudayaan tidak hanya luas dari segi
definisi-definisinya tetapi kebudayaan juga luas dalam penggolongan
azas-azas pemikirannya, sehingga mengikuti pandangan Kroeber dan
Kluckhohn (1952), kebudayaan sebagai sebagai suatu konsep vang luas
akan menjadi lebih jelas bila dirinci ke dalam wujud kebudayaan dan
isi kebudavaan

Dari 179 definisi budava tersebut, Keesing (2008), mengkompi-

lasi beberapa definisi-definisi budaya dari ahli antropologi, yaitu

sebagai berikut:

Pertama, budaya adalah suatu keseluruhan kon-rplek yang
meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaary hukum, adat-

istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh
manusia sebagai anggota masyarakat (Tylor 1871);

88 - nuai Suryadi


Kedua, budaya adalah keseluruhan dari pengetahuan, sikap
dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan

dirvariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu (Linton 1940);

Ketiga, budaya adalah semua rancangan hidup yang tercipta
secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional
dan nonrasional, yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang
potensial untuk perilaku manusia (Kluckhohn dan Kellv 1945);

Keempat, budaya adalah keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan,
tata cara, gagasan dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan, dan
perilaku yang ditimbulkannva (Kroeber 1948); Kelima, budaya adalah

bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh rnanusia

(Herskovits 1955);

Keenarn, budaya adalah pola, eksplisit dan implisit tentang dan
untuk periiaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol,
vang lnerupakan prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya
dalam benda-benda budava (Kroeber dan Kluckhohn 1952).

Definisi-definisi di atas mengandung dua hal, yaitu Pertama,
budaya digunakan untuk mengacu pada pola kehidupan suatu
masyarakat, kegiatan dan pengaturan material dan sosial yang

berulang secara teratur vang merupakan kekhususan suatu kelompok
manusia tertentu. Istilah budaya mengacu pada kedalaman fenomena
benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang bisa di amati;

Kedua, istilah budaya dipakai untuk mengacu pada sistem

pengetahuan dan kepercayaan vang disusun sebagai pedoman manu-
sia dalam mengatur pengalaman dan persepsi mereka, menentukan
tindakan dan memilih di antara alternatif yang ada. pengertian budaya
yang ada mengacu pada dunia gagasan (Goodenough dalam Keesing,

2008).

secara sedehana, kebudayaan itu ibarat selembar kain yang oleh
penjahit akan dijadikan baju. Kemudian dari segi iainnlra kebudayaan
adalah pola yang menjadi contoh dan pedoman bagi penjahit dalam
bekerja. Atas dasar pola yang sudah dibuat bagi seseorang, penjahit
dapat menciptakan berbagai model pakaian. Jadi dua sisi kebudayaan,

Budaya - 89


dapat diraba, dilihat, dan difoto. Ada benda-benda yang sangat besar
seperti pabrik baja, ada benda-benda amat kompleks dan canggih,
seperti komputer berkapasitas tinggi, atau benda-benda yang besar
dan belgerak, seperti kapal tangki minyak, ada bangunan hasil seni
arsitek seperti suatu candi yang indah, atau ada pula benda-benda
kecil seperti kain batik, atau vang lebih kecit lagi seperti kancing baju.

Pranata

Dari tiga urujud kebudayaan di atas melahirkan pola, yang

sering disebut sebagai pranata budaya. Dalam hal pranata budaya ini,

Koentjaraningrat (2008) mengklasifikasikannya ke dalam delapan

pembagian, yaitu sebagai berikut:

Pertama, pranata yang bertujuan memenul"ri kebutuhan kehi-
dupan kekerabatan, ialah yang sering disebut kinship atau domestic
irtstittLtions. Contoh: pelamaran, perkawinan, poligami, pengasuhan
kanak-kanak, perceraian dan sebagainya;

Kedua, pranata-pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan

manusia untuk pencarian hidup, memproduksi, menimbun dan

rnendistribusikan harta dan benda, ialah ecottorttic institutions. Contoh:

pertanian, peternakary perburuary feodalisme, industri, barter,

koperasi, penjualan dan sebagainya;

Ketiga, pranata-pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan
penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masya-
rakat yang berguna, ialah educational institutions. Contoh: pengasuhan
kanak-kanak, pendidikan rakyat, pendidikan menengah, pendiclikan

tinggi, pemberantasan buta huruf, pendidikan keagamaan, pers,

perpustakaan umum dan sebagainya;

Keempat, pranata-pranata yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan ilmiah manusia, menyelarni alam semesta sekelilin gnya,
ialah scientific institutions. Contoh: metodik ilmiah, penelitian,

pendidikan ilmiah dan sebagainya;

Kelima, pranata-pranata ya,g bertujuan memenuhi kebutuhan
manusia menyatakan rasa keindahannya, dan untuk rekreasi ialah

Budaya - 91


aestlxetic and recrentional institufiotts. Contoh: seni rupa, seni suara, seni
gerak, seni drama, kesusastraan, sport dan sebagainya;

Keenam, pranata-pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan
manusia untuk berhubungan dengan tuhan atau dengan alam gaib,
ialah religiaus instittttlozs. Contoh: mesjid, gereja, doa, kenduri, upa-
cara, penyiaran agama, pantangan, ilmu gaib dan sebagainya;

Ketujuh, pranata-pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan

manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok secara besar-

besaran atau kehidupan bernegara, ialah political institutiorzs. Contoh:
pemerintahan, demokrasi, kehakiman, kepartaian, kepolisian, ketenta-
raan dan sebagainya;

Kedelapan, pranata-pranata yang mengurus kebutuhan jasma-

niah dari ntanusia, ial,alt soruatic intitutioizs. Contoh: pemeliharaan

kecantikan, pemeliharaan kesehatan, kedokteran dan sebagainya.
Pranata-pranata budaya ir;i sebagai pengatur kehidupan manu-

sia, yang secara urlum bertujuan pencapaian kehidupan yang bahagia

dan sejahtera. Pranata-pranata budaya ini dalam prosesnya bisa

melahirkan sistem nilai budaya dari setiap individu dalam masyarakat
tersebut. Setiap individu memiliki sistem nilai budaya tertentu, hasil
dari proses pengalaman kehidupan manusia.

Kebudayaan diciptakan manusia dan menciptakan manusia.
Kebudayaan melalui wujudnya sebagai hasil dari karya manusia,
tetapi sebaliknya ketika \ rujud kebudayaan menjadi pranata-pranata
kebudayaan maka giliran manusia yang diciptakan oleh kebudayaan
untuk nlenjadi manusia yang berbudaya.

Nilai

Dalam hal ini Kluckhohn dalam Koentjaraningrat (2008), mem-
buat kerangka lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan
orientasi nilai budaya manusia, yaitu sebagai berikut:

92 - n"ai Suryadi


Masalah Dasar Orientasi Nilai Budaya
Dalam Hidu
Hakekat hidup Hidup itu truruk Hidup itu baik Hidup itu buruk,
(MH) tetapi manusia
Karya itu untuk Karya itu untuk wajib berikhtiar
Hakekat karya na{kah hidup kedudukan, supaya hidup itu
(MK) kehormatan dan menjadi baik
sebagainya
Karva itu untuk
rnenambah
karya

Persepsi manusia Orientasi ke masa Orientasi ke masa Orientasi ke
tentang waktu
(MW) depan lalu masa depan

Pandangan Manusia tunduk Manusia Manusia berha-
tnanusia terhadap pada alam yang
alam (MA) dasyat berusaha menjaga srat menguasai

Hakekat Orientasi kolate- keselarasan alam
hubungan antar rai (horisontal),
manusia dengan rasa ketergan- dengan alam
sesamanya (MM) tungan pada
sesamanya (berji- Orientasi vertikal, Individualisme
wa gotong rasa ketergan- menilai tinggi
royong) tungan kepada usahanya atas
tokoh-tokoh kekuatan sendiri
atasan dan
berpangkat

Berdasarkan kerangka di atas, cara berbagai kebudayaan di

dunia itu rnengkonsepsikan masalah-masalah unir.ersal secara berbe-
da-beda. Misal.ya mengenai masalah pertarna, ada kebudayaan-
kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakekatnya

suatu hal yang buruk dan menyedihkan, dan karena itu harus

dihindari. Ada kebudayaan lain yang memandang hidup manusia itu
pada irakekatnya buruk, tetapi manusia dapat mengusahakan untuk
menjadikar-r hidup suatu hal yang baik.

Masalah kedua (MK), ada kebudayaan_kebudayaan yang
memandang bahwa karya manusia itu pada hakekatnya bertujuan

Budaya - 93


untuk memungkinkannya hidup. Kebudavaan iain menganggap

hakekat dari karya manusia itu memberikan suatu kedudukan yang
penuh kehormatan dalam masyarakat, sedangkan kebudayaan lain

lagi menganggap hakekat karya manusia itu sebagai suatu gerak

hidup vang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi.

Kemudian rnengenai masalah ketiga (MW), ada kebudayaan-
kebudayaan yang memandang penting dalam kehidupan manusia itu
masa yang lampau. Dalam kebudayaan-kebudayaan serupa itu, orang
akan lebih sering mengambil pedoman dalam kelakuannya contoh-
contoh dan kejadian-kejadian dalam masa yang lampau. Sebaliknya,
banyak pula kebudayaan yang harrya mempunyai suatu pandangan

waktu vang sempit. Warga dari kebudayaan yang serupa itu tidak
akan memusingkan diri dengan memikirkan zaman yang lampau

maupun masa yyang akan datang. Mereka hidup menurut keadaan
yang ada pada masa sekarang ini. kebudayaan-kebudayaan lain lagi
malahan justru mementingkan pandangan yang berorientasi sejauh
mungkin terhadap masa yang akan datang. Dalam kebudayaan vang
serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang amat penting.

Selanjutnya mengenai masalah yang keempat (MA),ada kebu-

dayaan-kebudayaan )rang memandang alam itu sebagai suatu hal yalg
dahsyat, sehingga manusia pada hakekatnya hanya bisa bersifat

menyerah saja tanpa ada banyak yang dapat diusahakannya. Sebalik-

nya, banyak pula kebudayaan lain yang memandang alam itu sebagai
suatu hal yang bisa dilawan oleh manusia, dan mewajibkan manusia
untuk selalu berusaha menaklukan alam. Kebudayaan lainlagi meng-
anggap bahwa manusia itu hanya bisa berusaha mencari keselarasan

dengan alam.

Akhitnya mengenai rnasalah kelima (MM), ada kebudayaan-
kebudal,a2n yang amat mementingkan hubungan vertikal antara
manusia dengan sesamanya. Dalam pola kelakuannya, manusia vang
hidup dalam suatu kebudayaan serupa itu akan berpedoman kepada
tokoh-tokoh pemimpin, orang-orang senior, atau orang-orang atasan.

Kebudayaan lain lebih mementingkan hubungan horisontal antara

manusia dengan sesamanya. orang dalam suatu kebudayaan serupa

94 - nuai Suryadi


itu akan amat merasa tergantung kepada sesamanya, dan usaha untuk
memelihara irubungan baik dengan tetangga dan sesamanya meru-
pakan suatu hal yang dianggap amat penting dalam hidup. Namun

ada juga kebudayaan yang amat mementingkan individualisme,
menilai tinggi anggapan bahwa manusia itu harus berdiri sendiri

dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan
sedikit mungkin bantuan dari orang lain.

Kemudian Mujianto et.al (2010), mengemukakan semacam
contoh nyata orientasi nilai budaya dalam beberapa karakteristik
kebudayaan berdasarkan wilayah negara tertentu yang ada di dunia,

yaitu sebagai berikut:

Pertama, Afrika. Beberapa kebudayaan di benua Afrika terben-
tuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan sub-sahara. Kemu-
dian wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan
Arab dan Islam

Kedua, Asia. Asia memiliki berbagai kebudavaan yang berbeda

satu sama lainnyanya. Beberapa kebudayaan tersebut memiliki

pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti pengaruh
kebudayaan Tiongkok pada kebudayaan Jepang, Korea dan Vietnam.
Dalam bidang agarr.a, agama Budha dan Taosime banyak mempe-
ngaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain itu norma dan nilai agama

Islam turut mempengaruhi kebudayan di wilayah Asia Selatan dan

Tenggara;

Ketiga, Australia. Kebanyakan budaya di Australia masa kini

berakar dari kebudayaan Eropa dan Amerika. Kebudayaan Eropa dan
Amerika tersebut dikembangkan dan disesuaikan dengan lingkungan
benua Australia, serta disintegrasi dengan kebudayaan penduduk asli
benua Australia (Amborigin);

Keempat, Eropa. Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh

kebudayaan negara-negara yang pernah dijajahnya. Kebudayaan ini
dikenal dengan sebutan kebudayaan barat. Kebudayaan ini. telah
diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyakrrya
pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia.

Budaya - 95


selain itu kebudayaan Eropa juga dipengaruhi oleh kebudayaan

Yunani kuno, Romawi kuno dan agama Kristen.

RANGKUMAN

Budaya secara harfiah berasal dari bahasa Latin, yaitu Colere
yang memiliki arti mengolah, mengerjakan, terutama rnengolah tanah
atau bertani. Dari arti ini berkernbang arti culture, sebagai segala daya
dan usaha manusia untuk merubah alam. berdasarkan catatan yang

ada sekitar 179 buah kebudavaan vang pernah dirumuskan di atas
kertas. Kebudayaan merupakan keseluruhan total dari apa yang

pernah dihasilkan oleh mahluk manusia yang menguasai planet ini
sejak zaman ia muncul di muka bumi kira-kira empat juta tahun yang
lalu, sampai sekarang.

Ada 3 wujud kebudayaan, yakni: 1) wujud ideal kebudayaan.
Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto;2) wujud sistem sosial
alau social system, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri;
3) wujud kebudayaan fisik. Berupa seluruh hasil fisik dan aktivitas,
perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifatnya
paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan difoto.

Kernudian ada delapan pranata budaya, yakni 1) pranata yang
bertujuan memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan, ialah yang

sering disebut kinsltip 'atau tlomestic institutions; 2) pranata-pranata
)rang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk pencarian
hidup, memproduksi, menimbun dan mendistribusikan harta dan
benda, ialah economic ittstittttions; 3) pranata-pranata yang bertujuan

memenuhi kebutuhan penerangan dan pendidikan manusia supaya

menjadi anggota n-rasyarakat yang berguna, ialah educntional
ittstitutians; 4) pranata-pranata yang bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan ilmiah manusia, menyelami alam semesta sekelilingnva,
ialah scientific institutions; 5) pranata-pranata yang bertujuan meme-
nuhi kebutuhan manusia menyatakan rasa keindahannya, dan untuk
rekreasi ialah aestlrctic antl recreational institutions; 6) pranata-pranata
yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan

96 - nrai suryadi


dengan tuhan atau dengan alam gaib, iaiah religious institutiotts; 7)
pranata-pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk
mengatur kehidupan berkelompok secara besar-besaran atau
kehidupan bernegara, ialah political institutiotts; B) pranata-pranata
yang mengurus kebutuhan jasmaniah dari manusia, ialah somatic

irttitutions.

LATIHAN SOAL

Petunjuk I

]awablah dengan singkat pertanynnn berikut di bawah ini, jika
anda dapat menjawab secara terperinci anda telal'r menguasai 90%

bahan dari bab B

PERTANYAAN:

1". Jelaskan pengertian dan definisi budaya?

2. Jelaskan perbedaan budaya dan kebudayaan?
3. ]elaskan pengaruh konsep budaya pada abad ke 20?
4. ]elaskan wujud ideal kebudayaan?
5. Jelaskan pranata budaya economic institution?
6. Jelaskan pranata budaya education institutiott?
7. Jelaskan masalah dasar dalam kehidupan manusia?

B. Jelaskan kerangka lima masalah dasar dalam hidup yang menen-

tukan orientasi nilai budaya manusia?

9. Jelaskan karakteristik kebudayaan Afrika?

10. ]elaskan karakteristik budaya Eropa?

TES FORMATIF

Petuniuk lI

Jawablal-r pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda silang
(x) pada salah satu piliha^ jawaban (a,b,c) yang saudara anggap benar.

1. Apa bahasa Latin dari budaya?

Budaya - 97


a. Calere
b. Culture
c. Semua benar

2. Apa bahasa Sansekerta dari budaya?
a. Buddhayah
h. Culture
c. Semua benar

3. Ada berapa wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat?
a.3
b.2

c.4

4. Tindakan berpola dari manusia merupakan bentuk wujud

kebudayaar-r ?

n. Sistem sosial
b. Media sosial
c. Proses sosial

5. Ada berapa klasifikasi pranata budaya menurut Koentjaraningrat?
a.B
b.7
c.6

6. Sebutkan pranata budaya yang bertujuan memenuhi kebutuhan

rlanusia untuk pencarian hidup, memproduksi, menimbun dan

menclistribusikan harta dan benda?

a. Economic institutiotts
b. Etlucational institutions
c. Semua benar

7. Sebutkan pranata budaya yang bertujuan memenuhi kebutuhan

penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota

masyarakat yang berguna?

a. Educntiorml instittttions
b. Economicinstitutions
c. Semuanya benar

98 - nuai Suryadi


Click to View FlipBook Version