L Sebutkan masalai-' dasar dalam kehidupan manusia?
a. Flakekai hidup
b. Hakekat kary3
c. Semua benar
9. Sebutkar-r akar kebudayaan Australia?
a. Eropa
b" Amerika
c. Semuanya benai
10. Karakteristik kebudavaan di lt itrayah Afrikar Utara iranvak
dipengaruhi olel-r kebudayaar-r?
a. Arai:a
b. Islam
c. Semuanya benar
Budaya - 99
DAFTAR PUSTAKA
Daeng, Hans J, 2000. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan
Ankopologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keesing, Roger M, 2008. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif
Kontemporer, Alih bahsa Samuel A, Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat, 2008. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan,
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mujianto, Yan, Elmubaro, Z dan Sunahrowi, 2010. Pengantar Ilmu
Budaya, Yogyakarta: Pelangi Publishing.
Suparlan, P, 1986. Penelitian Bagi Menunjang Pembinaan dan
Pengembangan Kebudayaan Nasional, dalam A.W. Widjaja
(ed), Manusia Indonesia: Individu, Keluarga dan Masyarakat,
]akarta: Akademika Pressindo.
100 - Budi suryadi
I
KEKERABA TAN
Deskripsi Singkat:
Dalam perkuliahan ini anda akan mempelajari pengertian dan
definisi kekerabatan, fungsi-fungsi kekerabatary aspek-aspek kekera-
batan, unsur kekerabatary dan golongan kelompok kekerabatan
Tuiuan Inskuksional Khusus:
Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1,. Menjelaskan pengertian dan definisi kekerabatan
2. Menjelaskan fungsi-fungsi dalam kekerabatan
3. Menyebutkan aspek,aspek dalam kekerabatan
4. Menyebutkan unsur-unsur dalam kekerabatan
5. Menyebutkan golongan-golongan dalam kelompok kekerabatan
Masalah asal mula perkembangan keluarga daram masyarakat
telah lama menjadi perhatian para ahli ilmu-ilmu sosial, vang dalam
upalza itu telah mencari bahan perbandingannya dalam kawanan-
kawanan hewan yang hidup berkelompok. para ahri antropologi juga
melakukan hal yang sama dalam pertengahan abad ke-19, seperti j
Lubbock, JJ Bachofen, ]F Mclennan, GA Wilken dan sebagainya, pada
tingkat pertama dalam proses perkembangan masyarakat dan kebu-
davaan, manusia mula-mula hidup mirip sekawanan hewan berkelom-
pok, dan pria dan r.t a*ita hidup bebas ianpa ikatan. Kelompok
Kekerabatan - 101
keluarga inti sebagai inti rnasyarakat, yang juga belunl ada. Lama-
lama manusia sadar akan hubungan antara seorang ibu dan anak-
anaknya, yang menjadi satu kelompok keluarga inti, karena anak-anak
hanya mengenal ibunva, tetapi tidak mengenal ayahnya. Dalam
kelompok seperti ini ibu lah yang menjacli kepala keluarga
(Koentjar:aningrat, 2005).
Di sini konsepsi keluarga memiliki kaitan yang sangat erat
dengan kekerabatan, bahkan seringkali penyebutan istilahnya secara
bergantian sesuai dengan pokok bahasannva. Misalnya ada yang
n'renggunakan konsepsi kekerabatan untuk menggambarkan keluarga
atau menggunakan konsepsi keluarga untuk menggambarkan keke-
rabatan. Ibaratnya konsepsi keluarga dan kekerabatan seperti mata
uang logam yang sama tetapi berbeda simbolnya.
Kelompok keluarga yang mulai meluas karena garis keturunan
diperhitungkan melalui garis ibu, dengan ini telah mencapai tingkat
kedua dalam proses perkembangan kebudayaan manusia, yang oleh
Wilken disebut nmtriarklutt Tingkat berikutnya terjadi karena para pria
menjadi tidak puas dengan keadaan, lalu mengambil isteri dari
kelompok-kelompok lain, yang mereka bawa ke dalam kelompok
mereka sendiri. Keturunan yang lahir dari hubungan itu dengan
demikian tetap tinggal dalam kelompok si pria, sehingga lambat laun
timbul kelompok keluarga dengan ayah sebagai kepala, yang disebut
patriarkhat. Tingkat terakhir, terjadi waktu berbagai sebab perkawinan
di luar kelompok (eksogarui) berubah menjadi perkawinan dalam batas-
batas kelompok (endogarui). Endogami menyebabkan bahwa anak-anak
selanjutnya dapat berhubungan secara leluasa dengan anggota kerabat
ayah rnaupun ibu, sehingga patriarkhat makin lama makin hilang dan
berubah menjadi susunan kekerabatan yang oieh Wilken disebut
susunan parental (Koentjaraningrat, 2005).
Perkembangan kekerabatan dari jumlahnya kecil sampai
jumlahnya besar, awalnya diasumsikan bermula dari pola matrelineal
yang lama kelamaan menjadi pola patrilineal. Namun bisa juga awal-
nya berpola patrilineal yang lama kelamaan menjadi pola matrilineal,
dimana hal ini terjadi karena adanya pertemuan dua keluarga atau
102 - Budi suryadi
lebih yang sama-salna patrilineal, vang kemudian mengadakan perka-
w.inan silang yang akhirnya tetap membentuk pola patrilineal.
Seorang dianggap sebagai kerabat oleh seseorang yang lain
karena seseorang tersebut dianggap masih seketurunan atau mem-
punyai hubungan darah dengan ego. Walaupun orang tersebut
tinggalnya amat jauh dari tempat tinggal ego, dan bahkan juga belum
pernah bertemu muka dengan ego, orang tersebut adaiah tetap
kerabatnya ego. Ketentuan megenai siapa-siapa yang tergolong sebagai
kerabat dari ego dibuat berdasarkan atas sistem kekerabatan yang
berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, di mana ego adalah
salah seorang warganya (Suparlan, 1986).
Definisi
Kekerabatan yang sudah mapan biasanva membentuk sistem
kekerabatan tertentu. suparian (1986), mendefinsikan sistem kekera-
batan adalah serangkaian aturan-aturan yang mengatur penggolongan
orang-orangyang sekerabat, yang melibatkan adanya berbagai tingkat
hak dan kewajiban di antara orangJ-orang yang sekerabat, yang
mernbedakannya dengan hubungan-hubungan mereka dengan orang-
orang yang tidak tergolong sebagai sekerai:at.
Kadang kala kekerabatan menunjukkan pada hubungan darah.
Jadi kerabat diartikan mereka yang bertalian berdasarkan ikatan
dengan darah, sedangkhn kerabat perkawinan merupakan kerabat
karena perkawinan, bukan dari hubungan darah, seperti paman dan
bibi. Tetapi hubungan keturunan antara orang tua dan anaklah yang
merupakan ikatan pokok kekerabatan (Keesing, 2008).
Apakah kekerabatan jenis ini berlaku di masyarakat lainnya? ini
contoh kasus masyarakat Nuer, mas\rarakat pengembala dari sudan
yang diteliti oleh Evans-Pritchard (Keesing, 200g): 'dari dua macam
perkarn inan yang tidak lazim tetapi sangat legitim di kalangan suku
Nuer, avah seorang anak yang dikenal secara sosial (pater dalam istilah
Latin) bukan lah lelaki yang akibat persanggamaannya dengan si ibu
diperkirakan telah menyebabkan kehamilan (genitor). seorang wanita
Kekerabatan - 103
Nuer yang suaminya telah meninggal, tetap terikat pada kontrak
hukum n1elalui mana hak atas anak yang dilahirkannva dialihkan
kepada kelompok suaminya. Dengan menghadiahkan ternak kepada
kelompok avah avah si istri, kelompk suaminya, urltuk selamanYa,
mendapatkan hak atas kemampuan reploduksi sang istri. Idealnya,
bila sang suami meninggal, kontrak akan diteruskan dengan cara
mengawinkan sang janda dengan saudara lelaki almarhum suaminya
atau anggota kelompok suami ,rzang lain. Tetapi anak-anak yang
dilahirkan oleh si $,anita dari perkawinannya dengan suaminya yang
kedua secara sosial ditetapkan sebagai keturunan dari almarhum
suami pertamanya (karena itu dinamakan perkawinan roh). si janda,
bisa juga tidak kawin lagi, tetapi mempunyai beberapa kekasih; anak-
anak yang dilahirkan dari hubungan seksual dengan kekasihnya juga
ditetapkan sebagai keturunan dari almarhum suaminya'.
Contoh kekerabatan di Indonesia, yakni semua orang Batak
Toba membubuhkan naftla rnarga bapanva di belakang nama kecilnya.
Marga adalah kelompok kekerabatan yang meliputi orang-orang yang
mempunyai kakek bersama, atau yang percaya bahwa mereka adaiah
keturunan dari seorang kakek bersama menurut perhitungan garis
patrilineal (kebapaan). Anggota dari satu marga dilarang kawin;
marga adalah kelompk yang eksogam. ]adi semua orang yang semarga
dalah orang yang berkerabat, dan dengan orang Yang lain marganya
dapat jrgu dicari kaitan kekerabatan, karena n"rungkin saja ia
mempunyai hubungan kekerabatan dengan bibi, paman atau saudara
lainnva, melalui hubungan perkawinar-r (Ihromi, 2006)"
Fungsi & Aspek
Kernudian Schneider dan Grouch mengemukakan fungsi
hubungan kekerabatan ini dibentuk bagi keluarga, yaitu sebagai
berikut: 1) Membuat garis pemisal-r antara kaum kerabat dan yang
bukan kaum kerabat; 2) Menentukan hubungan kekerabatan seseolang
dengan yang lain secara tepat; 3) mengukur jauh dekatnya hubungan
kekerabatan seseorang dengan yang lain; 4) menentukan aturan
perilaku kekerabatan antara yang satu dengan,vang lainnya.
1-04 - Budi suryadi
Kemudian Raal (1987) mengemukakan beberapa pandangannya
mengenai aspek-aspek pokok dan penting dalam kekerabatan, yaitu
sebagai berikut:
,Pertama, ikatan kekerabatan. Yang merupakan ikatan kelompok
kerabat patrilineal,lebih kuat dan lebih tua daripada ikatan yang terjadi
karena tempat pemukiman dalam satu wilayah. Kelompok ini bersifat
geneologis, yakni keluarga dengan anak yang tertua sebagai penguasa
-yang; berdaulat dalam kesatuan hukum tertentu. Kesatuan ini
gabungan dari kesatuan lainnya seperti suku dan negara yang
menghormati prinsip keturunan bersama;
Kedua, pelestarian keluarga. Adanya penggunaan fiksi adopsi
yang sah menurut hukum, dan dengan cara ini. keluarga dapat
diteruskan. Yang diadopsi sekaligus menerima kewajiban-kewajiban
dari pemimpin keluarga; ia mewakili keluarga dan memikui tanggung
jawab atas perilaku para anggotanya. Hal ini berlaku bagi semua
pemimpin keluarga;
Ketiga, testamen merupakan penemuan kernudiary pada saat
diberinya kebebasan emansipasi kepada para anak lelaki oleh hukum
privat, yaitu hak untuk sampai pada tingkat tertentu melepaskan diri
dari kekuasaan avah. Dengan demikian para anak lelaki itu dihi-
langkan hak warisnya dan ini bukan lah yang dimaksud. Hak waris
yang lama tidak rnengenal testamen, sebab pemimpin baru dari
keluarga yang bersangkutan, langsung memasuki fungsi pemimpin
lama. Yang penting dalam hukum waris bukan lah hak rniliknya, akan
tetapi berkelanjutan fungsi vang menjadi pembalt aan penguasaan atas
hak miiik itu. Prinngenitur (hak anak suli"rng) ticlak ada hubungannya
dengan hak milik vang pada prinsipnva dibagi rata antara para anak
lelaki tetapi hubungannnya berkaitan dengan fungsi yang harus
dipenuhi oleh anak tertua;
Keempat, hak milik atas tanah mula-mula adalah hak milik
keluarga, dalam bentuknya yang lama gen atau kelompok yang
bertindak seperti itu, yang menyatakan sebagai pemilik tanah. Hal ini
juga terjadi di desa India dan desa Rusia, walaupun desa itu mengenal
pembagian tanah berkala.
Kekerabatan - 105
Kernudian menurut Koentjaraningrat (2005) uns'rr-unsur rkaian
kesatuan dalam kelompok kekerabatan, Yaitu sebagai berikut: X)
sistem norma-norma -vang mengatur tingkah laku warga kelompok; 21
rasa kepribadian keiompok yang disadari semua warganya; 3)
interaksi yang intensif antar warga kelompok; ztr) sistem hak dan
kervaiiban yang mengatur interaksi antar warga kelompok; 5)
pemimpin yang mengatur kegiatan-kegiatan kelompok, dan; 6) sistem
hak dan kewajiban terhadap harta produktlf, harta konsumtii atau
harta pusaka tertentu. Dengan demikian hubungan kekerabatan melu-
pakan u;1sux penqikat bagi suatu kelompok kekeral:atan.
Biasanya tidak ser]1ua kelor,npok n-remiiiki ire-o uftsur tersebut ai
atas. Karena itu, seiain wujudnya berbeda-becla, ada puia Vailg
berbeciti nilainya. Demikian pula nilai dari kelompok-kelompok
kekerabatan berbeda-beda, karena adanya satu atau dua di altara ke-5
unsur tersebut.
Kategori
Murdock dalarn Koentjaraningrat (2005) membedakan 3 kate-
gori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi sosialnya, Vattu
sebagai berikut:
Fertama, kelompok kekerabatan ber:korporasi, yang sifatnya
eksklusif dn biasanya memiliki semua ke 6 unsur-unsur tersebut.
isiilah berkorporasi umumnya menyangkut unsur 5 tersebut- yaitu
adanya ha1," bersarna atas sejumlah harta. ji-inllah warge daiam
kelornpok seperri ini biasan3ra terbatas;
Keelua, kt'lornpr:k kekerabatan r.t'aktu tertet'tu, yang s{,:ringkali
tidak memiliki unsur-unsur tersebut kelornpok jenis ini biasanya
terdiri dari banyak anggota, sehingga irrteraksi yang terus-menerus
dan intensif tidak mungkin lagi, ietapi hanya berkumpul di waktu
tertentu saja;
Ketiga, kelompok kekerabatan menurut adat, yang biasanva
tidak memiliki unsur-unsur 4,5, dan 6, dan kadang-kadang bahkan
unsur 3. kelompok-kelompok ini bentuknya sudah demikian besar,
1-06 - Budi suryadi
sehingga n arganya sering;kali sudah tidak saling mengenal. Mereka
umumnya hanya mengetahui tentang keberadaan seseorang berda-
sarkan tanda-tanda yang ditentukan adat. Rasa kepribadian kelompok
seringkali juga ditentukan oleh tanda-tanda adat tersebut.
Selain keluarga inti (yang tentu tergolong kategori kelompok
kekerabatan berkorporasi) yang ada dalam hampir semua masyarakat
di dunia, ada beberapa bentuk kelompok kekerabatan yang tidak
universal sifatnya. Kelompok-kelompok kekerabatan yang tidak
universal ini dapat dibagi. ke dalam 2 golongan, iaitu:
Pertama, kelompok kekerabatan dengan seorang tokoh yang
masih hidup sebagai pusat kelompok (sering disebut ego-oriented
kingroups. Kelompok kekerabatan yang termasuk golongan ini adalah
kondred dan keluarga luas;
Kedua, kelompok kekerabatan berdasarkan hubungan kekera-
batan (sering disebut ancestar-oriented kingroups). Kelompok kekera-
batan golongan kedua ini termasuk deme, keluarga antbilineal kecll,
keluarga ambilineal besar, klen kecil, klen besar, fratri dan paroh
masyarakat.
Kemudian Koentjaraningrat (2005) memberikan penjelasan
terhadap masing-masing bentuk kelompok kekerabatan golongan satu
dan golongan dua tersebut, yaitu sebagai berikut:
Kindred. Dalam berbagai masyarakat di dunia, orang sering
bergaul bantu-membantu serta melakukan kegiatan-kegiatan bersama
saudara-saudara kandungnya, dengan para sepupunya dari fihak ayah
maupun ibu, dan dengan kerabat-kerabat istrinya. Dalam kegiatan-
kegiatan seperti itu seringkali diundang juga kaum kerabat dari
generasi yang lebih tua, yaitu orang tua suami dan istri, serta saudara
kandung orang tua suami dan isteri, tetapi juga kaum kerabat dari
generasi yang lebih muda, yaitu para kemenakan. Kesatuan kekera-
batan yang disebut kindred ini dimulai dari seorang warga yang
memprakarsai suatu kegiatan, rnisalnya pertemuan upacara, atau
pesta daur hidup, tetapi juga pada saat seorang tertimpa suatu
musibah (misalnya kematian).
Kekerabatan -107
Keluarga Luas. Kelompok kekerabatan )'ang merupakan
kesatuan sosial yang sangat erat ini selalu terdiri dari lebih dari satu
keluarga inti. Terutarna di daerah pedesaan, walga keluarga luas
umumnya masih tinggal berdekatan, dan seringkali bahkan masih
tinggal bersama-sama dalam satu rumah. Kedua fungsi utama dari
keluarga inti, yaitu memberikan bantuan kepada sesama anggota
keluarga luas, dan pengasuhan anak oleh semua anggota keluarga
luas, menyebabkan bahwa keluarga inti dalam masyarakat seperti itu
sudah hilang dan terlebur dalam keluarga luas. Kelompok kekerabatan
berupa keluarga luas biasanva dikepalai oleh anggota pria tertua,
bahkan juga dalam keluarga luas uxorilokat.
Keluarga Arnbilineal Kecil. Kelompok kekerabatan ini terjadi
apabila suatu keluarga luas utrolokal membentuk suatu kepribadian
)rang khas, yang disadari oleh para warganya. Kepribadian khas itu
tidak hanya ada pada saat mereka hidup saja, tetapi sudah ada selama
beberapa angkatar-r sebelurnnyii. Nenek movang yang menurunkan
kelompok tersebut ada kaianya masih hidup, sebagai warga senior
dari kelompok. Karena itu kelompok kekerabatan ambilineal kecil
biasanya terdiri dari sekitar 25 - 30 jiwa, sehingga mereka masih saling
mengenal dan mengetahui hubungan kekerabatan masing-masing.
Kelompok keluarga ambilineal kecil jrrgu menumbuhkan rasa
kepribadian, karena adanya harta produktif milik bersama, berupa
tanah, koiam ikan atau.pohon buah-buahan, yang dapat dinikmati
olelr semua warga kelompok. Karena itu kelompok keluarga ambilinettl
adalah kelompok |qgftglnbatan Yang berkorporasi.
Keluarga Ambilineal Besar. Apabila suatu keluarga sntbilineal
tidak hanya terbatas pada 3 - 4 generasi saja, tetapi juga rnencakup
lebih banyak generasi yang diturunkan seorallg nenek-moyang
tertentu (yur-tg biasanya sudah tidak saling mengenal bahkan menge-
tahui hubungan masing-masing), maka kelompok kekerabatan seperti
itu disebut'keluarga rtntbilineal besar'. Jumlah warganva bukan hanya
25 - 30 orang lain, tetapi telah membengkak menjadi beberapa ratus
orang.
108 - Budi suryadi
Klen Kecil. Kien kecil adalah kelompok kekerabatan yang
terdiri dari beberapa keluarga luas keturunan dari satu leluhur. Ikatan
kekerabatan berdasarkan hubungan melalui garis keturunan pria
(pntrilineal) atau melalui garis keturunan r,r,anita (ruatrilineal). Sehingga
ada klen kecil parilineal dan klen kecil matrelineal. Warga-r,t arga dari
klen kecil (jumlahnya sekitar 50-70 orang) biasanya masih mengetahui
hubungan kekerabatan mereka masing-masing, dan mereka masih
saling mengenal dan saling bergaul, karena mereka umumnya masih
tinggal bersama dalam satu desa.
Klen Besar. Klen besar adalah kelompok kekerabatan vang
terdiri dari semua keturunan dari seorang leluhur, yang diperhi-
tungkan melalui garis keturunan pria atau wanita, sehingga ada klen
besar patrilineal dan klen besar matrilineal. Sosok leluhur yang
menurunkan para warga klen besar berpuluh-puluh generasi yang
lampau itu sudah tidak jelas lagi, dan seringkali sudah menjadi tokoh
yang dianggap keramat yang rr.emiliki sejumlah ciri yang luar biasa.
]umlah warga yang sangat besar, menyebabkan bahwa mereka
umumnya sudah tidak mengenal kerabat-kerabat yang hubungan
kekerabatannya jauh.
Fratri. Kata ini merujuk pada kelompok-kelompok kekerabatan
patrilineal maupun matrilineal yang sifatnya lokal, dan merupakan
gabungan dari kelompok-kelalam suatu masyarakat kelompok
keompok klen setempat (bisa klen kecil, tetapi bisa juga bagian dari
klen besar). Penggabungan ini tidak selalu merata dan menyangkut
seluruh klen besar, seperti ,vang tampak dalam contoh di bawah ini,
misalnya daerah I n arga klen A bergabung dengan warga klen B, dan
warga klen C L-,ergabung dengan \ /arga klen D.
Paroh Masyarakat. Istilair yang dalam bahasa Inggris adalah
moiety adalah kelompok kekerabatan gabungan klen yang mirip fratri.
Namun ciri khas dari paroh masyarakat ialah bahr.va dalam suatu
rnasyarakat kelompok kekerabatan ini merupakan setengah bagiandari
seluruh masyarakat. Maka tergantung dari struktur suatu masyaraka!
moeity dapat merupakan gabungan klen-klen kecil, tetapi dapat pula
merupakan gabungan dari bagian-bagian lokal dari suatu klen besar.
Kekerabatan - 109
Misaln,va dalam suatu daerah tertenfu terdapat 5 buah desa tempat
tinggal 10 buah klen kecil. Di antara ke 10 klen itu, 4 bergabung
menjadi satu, dan sisanya (6 klen kecil) juga bergabung menjadi satu.
Dengan adanya penggabungan-penggabungan itu, seluruh daerah
dengan demikian seakan-akan terbagi dua dalam du paroh yang
masing-masing terikat hubungan kekerabatan.
RANGKUMAN
Konsepsi keluarga memiliki kaitan yang sangat erat dengan
kekerabatan, bahkan seringkali penyebutan istilahnya secar:a
bergantian sesuai dengan pokok bahasannya. Misalnya ada yang
menggunakan konsepsi kekerabatan untuk menggambarkan keluarga
atau menggunakan konsepsi keluarga untuk menggambarkan
kekerabatan. Ibaratnya konsepsi keluarga dan kekerabatan seperti
mata uang logam yang sama tetapi berbeda simbolnya.
Perkembangan kek-erabatan dari jumlahniza kecil sampai
jumlahnya besar, awalnya diasumsikan berrnula dari pola matrelineal
yang lama kelamaan menjadi pola patrilineal. Namun bisa juga awal-
nya berpola patrilineal yang lama kelamaan menjadi pola matrilineal,
dimana hal ini terjadi karena adanya pertemuan dua keluarga atau
lebih yang sama-sama patrilineal, yang kemudian rnengadakan
perkawinan silang yang akhirnya tetap membentuk pola 'ysatrilineal.
3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi
sosialnya, yaitu sebagai berikut: 1) kelompok kekerabatan berkor-
porasi; 2) kelornpok kekerabatan r,r'aktu tertentu, yang seringkali tidak
memiliki unsur-unsur tersebut; 3) kelon'rpok kekerabatan menurut
adat, yang biasanya tidak memiliki unsur-unsur 4,5, dan 6, 'dan
kadang-kadang bahkan unsur 3.
Kelompok-kelompok kekerabatan .vang tidak universal ini
dapat dibagi ke dalam 2 golongan, yaitu: 1) kelompok kekerabatan
dengan seorang tokoh yang masih hidup sebagai pusat kelompok; 2)
Kelompok kekerabatan golongan kedua ini termasuk deme, keluarga
L10 - Budi suryadi
ambilineal kecil, keluarga ambilineal besar, klen kecil, klenbesar, fratri
dan paroh rnasyarakat.
LAT.I}NAN SOA{,
Petunjuk I
Jawablah dengan singkat pertanyann berikut di bawah ini, jika
anda dapat menjawab secara terperinci anda ielah menguasai 907"
bahan dari bab 9
PERTANY,4"AN:
1. Jelaskan pengertian dan definisi kekerabatan?
2. Jelaskan perbedaan keluarga dengan kekerabatan?
3. Jeiaskan vang dimaksud denganmatriarkhat?
4. Jelaskan yang dimaksud denganpatriarklmt?
5. Jelaskan fungsi hubungan kekerabatan?
6. Jelaskan unsur-unsur dasar ikatan kesatuan dalam hubungan
kekerabatan?
7. Jelaskan 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi
sosialnya?
8. Jelaskan kelompok kekerabatan yang tidak universal?
9. Jelaskan kelompok kekerabatan kindred?
10. Jelaskan kelompok kekerabatan fatri?
TES FORMATIF
Petunjuk Il
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda silang
(x) pada salah satu pilihan jawaban (a,b,c) yang saudara anggap benar.
1". Apa sebutan dari garis keturunan ibu?
n. Matriarklnt
b. Patriarkhat
c. Semua benar
Kekerabatan - 111
Apa sebutan dari garis keturunan bapak?
a. Patria*hat
b. Matriarkhat
c. .Semua benar
Sebutkan fungsi hubungan kekerabatan?
a. Garis pemisah keturunan
b. Menentukan hubungan kekerabatan
c. Semua benar
4. Sebutkan yang dimaksud dengan kelompok kekerabatan berkor-
porasi?
a. Eksklusif
b. Meliputi 5 unsur
c. Semua benar
tr Apu yang dirnaksud dengan kelompok kekerabatan waktu
tertentu?
a. Anggotanya banlra;,'
b. Tidak intensif
c. Semua benar
6. Apa yang dirnaksud dengan ego-oriented kingroup?
a. Kelompok kekerabatan dengan satu tokoh yang masih hidup
b. Kelompok kekerabatan dengan satu tokoh yang sudair mening-
gal
c. Semua benar
7" Kelompok kekerabatan yang termasuk dalam ego-orientecl lcingroup
adalah?
a. Koudrcd
b. Keluarga luas
c. Semuanya benar
8. Sebutkan kelompok kekerabatan yang termasuk dalam ancestor-
oriented kingroup?
a. Keluarga ambilineal kecil
b. Keluarga ambilineal besar
112 - Budi suryadi
c" Sernua bt nar
9. Sebutkan bentuk ke,lor-npok kekerabatan golongan satu?
a. Kandred
b. Keluarga luas
c. Semuanlra benar
10" Sebutkan bentuk keiompok kekerabatan golongan dua?
a" Klen kecitr
b. Klen besar
c. Semuan\ra benar
Kekerabatan - 113
DAFTAR PUSTAKA
Baal, J van,1987. Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya
(Hingga Dekade 1970), Jakarta: Gramedia.
Ihromi, T.O, 2006. Kerabat dan Bukan Kerabat, dalam Ihromi, T.O (ed),
Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Keesing, Roger M, 2008. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif
Kontemporer, alih bahasa Samuel G, Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi: Pokok-Pokok
Etnografi, Jakarta: Rineka Cipta.
Suparlan, P, 1,986. Masvarakat 9truktur Sosial, dalam Widjaja (ed),
Manusia Indonesia-individu, Keluarga dan Masyarakat, Jakarta:
Akademika Pressindo.
Suparlan, P, L986. Keluarga dan Kekerabatan, dalam Widjaja (ed),
Manusia Indonesia-Individu, Keluarga dan Masyarakat, Jakarta:
Akadernika Pressindo"
114 - Budi Suryadi
10
RELIGI
Deskripsi Singkat:
Dalam perkuliahan ini anda akan rnempelajari pengertian dan
definisi religi, karakteristik data religi, dan unsur dasar religi.
Tujuan Instruksional Khusus:
Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Menjelaskan pengertian dan definisi religi
2. Menyebutkan karakteristik data religi
3. Menyebutkan unsur dasar religi
Sejak lama, ketika ilmu antropologi belum ada dan hanya
merupakan suatu himpunan tulisan mengenai adat-istiadat yang aneh-
aneh dari suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah nrenjacli suatu
pokok penting dalam buku-buku para pengarang tulisan etnografi
mengenai suku-suku bangsa. Kemudian, ketika bahan etnografi terse-
but digunakan secara luas oleh dunia ilmiah, perhatian terhadap
bahan mengenai upacara keagamaan itu sangat besar (Koentjaraning-
rat,2005).
Dalam rangka pengembanga. keilmiahan pada waktu itu, adat-
istiadat dan upacara keagamaan tersebut dimaknai sebagai religi, vang
menurut Ball (1987) ada dua makna pengertian mengenai religi
tersebut, yakni: 1) bahwa religi adalah bagian hidup kesusilaan
Relisi - 115
manusia dan memiliki nilai susila yang tinggi. Religi mewakili nilai
nilai vang penting tersebut; 2) bahr.t'a religi adalah masalah yang
tergolong dalam alam manusia. Pada waktu itu kepercayaan manusia
terhadap alam sangat lah kuat.
Adat-istiadat dan upacara keagamaan vang dilakukan suku-
suku bangsa itu berbeda-beda dengan tujuan-tujuan tertentu. Adat-
istiadat dan upacara keagamaan itu terus dilakukan di setiap waktu
dari batasan hari, minggu, bulan sampai tahunan. Masyarakat mela-
kukan semua itu dengan penuh keyakinan dan tanpa ada rasa
keraguan sedikit pun. Adat-istiadat dan upacara keagamaan tersebut
seperti menjadi penyeimbang jiwa raga manusia, dan sampai sekarang
terus dipercaya dan dilakukan.
Koentjaraningrat (2005) mengatakan mengapa manusia percaya
kepada suatu kekuatan yang dianggapnya lebih tinggi dari dirinya,
dan mengapa manusia melakukan berbagai macam cara untuk men-
cari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi, telah menjadi objek
perhatian para ahli antropoiogi sejak lama. Kesimpulan vang diberi-
kan para ahli antropologi tersebut bahwa perilaku manusia yang
bersifat r:eligi terjadi karena:
1. Manusia mulai sadar akan adanya konsep ruh;
2. Manusia mengakui adanya berbagai gejala yang tak dapat dijelas-
kan dengan akal;
3. Keingir-ran manusia untuk menghadapi berbagai krisis yang
senantiasa dialami manusia dalam daur hidupnya;
4. Kejadian-kejadian luar biasa yang dialami manusia di alam seke-
Iilingnva;
5. Adanya getaran (emosi) berupa rasa kesatuan yang timbul dalam
jiwa rnanusia sebagai warga dari rnasyarakatnva;
6. Manusia menerima suatu firman dari tuhan.
116 - Budi Suryadi
Definisi
Menurut Tylor, asal mula dari religi adalah kesadaran manusia
akan konsep ruh, yang sebaliknva disebabkan oleh dua hal, yaitu
sebagai berikut:
Pertama, perbedaan yang tampak antara benda-benda yang
hidup dan benda-benda yang mati. Mahluk yang masih dapat berge-
rak adalah mahluk hidup, tetapi apabila pada suatu ketika mahluk
tersebut tidak bergerak lagi, maka itu berarti bahn a mahluk itu mati.
Dengan demikian manusia lama-kelamaan rnulai menyadari bahwa
gerak dalam alam (hidup) disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang
berada di samping tubuh jasmaninva, )rakni jir,r,a (lebih khusus disebut
ruh);
Kedua, pengalaman bermimpi. Dalam mimpinya manusia meli-
hat dirinya berada di tempat-tempat lain selain tempat ia tertidur.
Maka ia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang berada di
tempat tidur, dan bagian lain dari dirinya, ).aitu jiwa (ruh), vang pergi
ke tempat lain.
sifat abstrak dari ruh menimbulkan keyakinan pada diri
manusia bahwa ruh dapat hidup terpisah dari tut-ruh jasmaninya. pada
waktu urang hidup, ruhnya masih terikat pada tubuh jasmaninya, dan
hanya dapat meninggalkan tubuh ketika orang itu sedang tidur atau
pingsan. Karena pada saat seperti itu kekuatan hidup tidak berada di
dalam tubuhnya, maka tubuh yar-rg bersangkutan berada dalarn
keadaan yang lemah. Namun Tylor menyatakan bahr,va walaupun
ruhnya n-reninggalkan tubuhnya, hulrungannya dengan jasmaninya
pada saat orang yang bersangkutan sedang tidur atau pingsan tetap
ada. Hanya pada waktu ia mati, ruhnya rneninggalkan tubuhirya
untuk selama-lamanva, dan putus lah hubugan antara keduanya. Ruh
yang telah merdeka itu oleh Tylor tidak disebut soul (ruh) lagi,
melainkan spirit (mahluk halus). Dengan demikian pikiran manusia
telah telah mengalihkan kesadarannya akan adanya ruh menjadi
kepercayaan pada mahluk halus.
Relisi - 1L7
] van Baal daiam Radam (2001), mendefinisikan religi sebagai.
suatu sistem sirnbol yang dengan sarana tersebut manusia berkomu-
nikasi dengan iagad rayanya. Simbol-simbol itu adalah sesuatu yang
serupa dengan model-model yang menjembatani berbagai kebutuhan
yang saling bertentangan untuk pernyataan diri dengan penguasaan
diri. Bila tujuan (yakni objek yang dikomunikasikan itu) menyerupai
sesuatu yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata lisary maka
simbol-simbol itu berfungsi sebagai perisai yang melindungi (mengha-
langi) seseorang dari kecenderungannya yang amat sangat untuk
memperagakannya secara langsurrg'
Betapapun kompleksnya pengertian tentang religi, namun ia
harus memuat data tentang keyakinan, ritus dan upacara, sikap dan
pola tingkah laku, serta alam pikiran dan perasaan PaIa penganutnya.
Hal yang terakhir ini cukup penting karena suatu upacara atau
tindakan simbolis tertentu, seperti berdoa, menadahkan tangan ke atas
bukan sekedar gerakan kenetik tanpa arti. Gerakan tangan tersebut
seringkali merupakan gerakan simbolis yang sarat dengan makna
(Radam,2001).
Karakteristik
Kemudian Radam (2001) menjelaskan karakteristik data-data
religi, yakni data keyakinan yang dapat berupa pandangan orang-
orang atau masyarakat yang bersangkutan tentang hidup sesudah
mati, hal-hal yang dapat dipandang sebagai nrjukan untuk menjeias-
kan dan menata iingkungan nyata, tentang ilah-iiah atau ilah atau
segala sesuatu yang dipandang orang sebagai objek keramat dan
dihormati atau segala sesuatu yang dipandang maha dahs,vat yang
sekalian orang berlaku tunduk kepadanya. Data religi itu juga berupa
sejumlah atau serangkaian tindakan perbuatan seperti berdoa, bersu-
jud, bersaji, berkorban, makan bersama, menari dan menyanyi, berpro-
sesi, berseni drama suci, berpuasa, bertapa, bersemedi dan intoksinasi.
Berdoa atau bersembahyang yang ditujukan kepada yang adi
kodrati, mernainkan alat dan menperdengarkan musi"k yang diiringi
oleh tarian dan nyanyian tertentu, melakukan perbuatan kinetik
L18 - Budi suryadi
tertentu yang menggambarkan keadaan psikis tertentu, memberikan
peringatan atau khotbah yang ditujukan kepada orang lain, meng-
ucapkan mantra yang menyangkut mite, rnoral dan aspek tertentu
sistem keyakinan, melakukan simulasi, menggunakan atau memakai
benda tertentu yang diyakini mempunyai mana, berpantang tabu
yakni tidak menggunakan atau menyentuh sesuatu, berpesta atau
berselamatan, berkorban yakni menyediakan dan menyerahkan
sesajen, berkongregasi seperti berkumpul bersama, berprosesi, berbai-
at, bersemedi dan bersimbolisasi yakni menggunakan objek-objek atau
peralatan simbolis tertentu (Wallace, 1956).
Menurut Koentjaraningrat (2005), mengemukakan unsur-unsur
dasar religi yang terdapat di ribuan kebudayaan di dunia, dan khusus-
nya di antara suku-suku bangsa Indonesia yang jumlahnya melebihi
600 suku bangsa, iatu sebagai berikut:
Pertama, emosi keagarnaan (getaran jiwa) yang rnenyebabkan
bahwa manusia didorong untuk berperilaku keagamaan. Emosi
keagamaan, yang dalam bahasa Inggris disebut religious emotion,
adalah suatu getaran jiwa yang pada suatu saat dapat rnenghinggapi
seorang manusia. Getaran jiwa seperti itu ada kalanya hanya berlang-
sung beberapa detik saja. Emosi keagamaan itulah yang mendorong
orang berpedlaku serba religi ini, menyebabkan timbulnya sifat
keramat dari perilaku itu, dan sifat itu pada gilirannya memperoleh
nilai keramat (sacred anlue).
Kedua, sistem kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia
tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut dan sebagainya.
Dalam suatu sistem kepercayaary orang membayangkan rvu;'ud dari
dunia yang gaib, termasuk wujud dari dewa-derva (theogoni), mahluk-
mahluk halus, kekuatan sakti, keadaan ruh-ruir manusia yang telah
meninggal, maupun wujud dari bumi dan alam semesta. Dalam
agama-agama besar, seperti Islam, Hindu, Budha, Jaina, Katolik,
Kristen, dan Yahudi, ada kalanya sifat-sifat tuhan tertera dalam kitab-
kitab suci agama-agama tersebut, dan dengan demikian sifat-sifat
tuhan tersebut diserap pula ke dalam sistem kepercayaan dari agama-
agama yang bersangkutan. Sistem kepercayaan itu ada yang berupa
Religi - 119
konsepsi mengenai paham-paham yang terbentuk dalam pikiran para
individu penganut suatu agama, tetapi dapat juga berupa konsepsi-
konsepsi serta paham-paharn vang dilakukan di dalarn dongeng-
dongeng serta aturan-aturan. Dongeng-dongeng dan aturan-aturan ini
biasanya merupakan kesusastraan suci yang dianggap keramat;
Ketiga, sistem ritus dan upaya keagamaan yang bertujuan men-
cari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan
tersebut. hal ini berkaitan dengan indera penglihatan dan pendengar-
an manusia, yar.g dapat menciptakan media-media gambar dan gerak
perilaku lainnya serta bunyi-bunyian yang dapat diolah secara merdu
yang menghidupkan susana keagamaan.
Keempat, kelompok keagamaan atau kesatuan-kesatuan sosial
yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berikut sistem upa-
cara-upacara keagamaannya. Kesatuan sosial ini mempunyai rasa
kesatuan seperti yang dimiliki hampir semua kesatuan sosial lainnya,
tetapi perasaan kesatuan dalamr komunitas itu biasanya sangat tinggi,
sehingga ada rasa kepribadian kelompok, yaitu perasaan bahwa
kelompoknya itu memiliki ciri-ciri kebudayaan atau cara-cara hidup
yang berbeda dari kelompok lainnya.
Kelima, alat-alat fisik yang digunakan dalam ritus dan upacara
keagamaan. Alat-alat fisik vang dihasilkan ini sangat lah sederhana,
rrang diciptakan untuk melaksanakan berbagai keperluan-keperluan.
Apabila alat-alat ini dikeiompok-kelompokkan berdasarkan bahan
mentahnya, maka ada alat-alat yang terbuat dari batu, tulang, kavu,
bambu dan logam. Sebagai contoh senjata yang berupa pisau atau pun
tombak dan wadah yang berupa mangkuk dan sebagainya.
RANGKUMAN
Kesimpulan yang diberikan para ahli antropologi terhadap
perilaku manusia yar"rg bersifat religi terjadi karena: 1) manusia mulai
sadar akan adanya konsep ruh;2) manusia mengakui adanya berbagai
gejala yang tak dapat dijelaskan dengan akal; 3) keinginan rnanusia
untuk menghadapi berbagai krisis yang senantiasa dialami manusia
120 - Budi Suryadi
dalam daur hidupnya; 4) kejadian-kejadian luar biasa yang diarami
manusia di alam sekelilingrwa; 5) adanya getaran (emosi) berupa rasa
kesatuan yang timbul dalam jiwa manusia sebagai warga dari
masyarakatnya; 6) manusia menerima suatu firman dari tuhan.
Unsur-unsur dasar religi yang terdapat di ribuan kebudayaan
di dunia, yakni: 1) emosi keagamaa, (getaran jiwa) yang menyebabkan
bahwa manusia didorong untuk berperilaku keagamaan; 2) sistem
kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia,
alam, alam gaib, hidup, maut dan sebagainya; 3) sistem ritus dan
upaya keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia
gaib berdasarkan sistem kepercayaan tersebuf 4) kelompok keagama-
an atau kesatuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengak-
tifkan religi berikut sistem upacara-upacara keagamaannya; 5) alat-alat
fisik yang digunakan dalam ritus dan upacara keagamaan. Alat-alat
fisik yang dihasilkan ini sangat lah sederhar'a, yar.g diciptakan untuk
melaksanakan berba gai keperluan-keperluan.
LATIHAN SOAL
Petunjuk I
Jawablah dengan singkat pertanyaan berikut di bawah ini, jika
anda dapat menjawab secara terperinci anda terah menguasai 90%
bahan dari bab 1 0
PERTANYAAN:
1. Jelaskan pengertian dan depinisi religi?
2. Jelaskan perbedaan adat-istiadat dan religi?
3. Jelaskan asal mula religi dari Tylor?
4. Jelaskan yar-rg dimaksud deng an sotLl dan spirit?
5. Jelaskan karakteristik data religi?
6. Jelaskan yang dimaksud dengan gerakan kinetik?
7. Jelaskan perbedaan agama dan religi?
8. Jelaskan emosi keagamaan dalam religi?
Religi - 121
9. Jelaskan sistem ritus dalam religi?
10. Jelaskan alat-alat fisik dalam religi?
TES FORMATIF
Petunjuk II
Jawablah pertanYaan berikut ini dengan memberi tanda silang
(x) pada salah satu pilihan iawaban (a,b,c) yang saudara anggap benar.
1. Apa objek kajian religi dalam antropologi?
a. Kepercayaan manusia
b. Aktivitas manusia
c. Semua benar
2. Sebutkan faktor pendorong terjadinya religi?
a. Kesadaran manusia
b. Keinginan mauusia
c. Semua benar
3. Apa yang din'raksud dengan ruh?
a. Jiwa
b. Raga
c. Semua benar
4. Apa sifat dari ruh?
a. Abstrak
b. Konkret
c. Semua benar
5. Apa sebutan ruh yang merdeka dari Tvlor?
a. Spirit
b. Soul
c. Semua benar
5. Apa yang dimaksud religi menurut J van Baal?
a. Sistem simbol
b. Simbolisasi
c. Semua benar
122 - Budi suryadi
7. Apa yang dimaksud dengan berkongregasi ?
a. Berbaiat
b. Bersemedi
c.. Semuanya benar
8. Apa yang termasuk akti,itas-aktivitas daram data-data rerigi?
a. Bersaji
b. Berkorban
c. Semua benar
9. suatu getaran jiwa yang suatu saat dapat menghinggapi manusia
merupakan definisi dari?
a. Relegiuos emotion
b. Religi
c. Tobat
10. Apa tujuan dari sistem ritus?
a. Mencari hubungan dengan yang gaib
b. Menemukan tuhan
c. Semuanya benar
Relisi - 123
DAFTAR PUSTAKA
Baal, J van,1987. Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya
(Hingga Dekade 1970), Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi: Pokok-Pokok
Etnografi, Jakarta: Rineka Cipta.
Radam, Noerid H, 2001. Religi Orang Bukit, Yogyakarta: Yayasan
Semesta.
Wallace, A, 1966. Religion: An Antrlvopological View, New. York:
Random House.
Worsley, P, 1991,. Pengantar Sosiologi: Sebuah Pembanding,
Penerjemah Hartono H, Yogyakarta: Tiara Wacana.
T24 - Budi Suryadi
:: Tentang Penulis ::
Dr. Budi Suryadi, S.Sos, MSi merupakan staf pengajar Fisip Jurusan Ilmu Pemerintahan
Universitas Lambung Mangkurat, lahir di Kotabaru, 22lan:uari 1 973. pendidikan S 1 tahun 1 99 I
di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unlam, pendidikan 52 tahun 2000 di Ilmu-Ilmu Sosial
Pascasarjana Universitas Airlangga, pendidikan 53 di IImu Sosial Pascasarjana Universitas
Airlangga. Buku yang telah terbit: KerangkaAnalisis Sistem Politik Indonesia (Ircisod, 2005),
Ekonomi Politik Modern: Suatu Pengantar (Ircisod, 2006), Fenomena Pemilu 2004:Di Kalsel
Tinjauan Teoritis dan Empiris (Pustaka Banua, 2006),Sosiologi Politik: Sejarah, Definisi dan
Perkembangan Konsep (Ircisod, 2007),KerangkaAnalisis Sistem Politik Indonesia- edisi revisi
(Scripta Cendekia, 2007), Pergulatan Demokrasi Di Kampus Unlam (SIC, 2009), Sketsa Politik
Pilkada kalsel (SIC, 2O0g),sosiologi Ekonomi & Komunikasi Massa (Scripta Cendekia, 2009),
Ekonomi Politik: Tradisional-Modern (Aura Pustak a, 20 12).
ffi f. ff^fli* [[I[IIuXJilllilI