The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tbmgabwiltim, 2022-08-01 21:18:06

WUJUDKAN IMAJINASI

WUJUDKAN IMAJINASI

GENDIS SEWU BERKARYA

WUJUDKAN IMAJINASI

Antologi Cerita Pendek
Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan

dan Kearsipan Kota Surabaya
Bekerja Sama dengan SDN Kendangsari IV/279 Surabaya

WUJUDKAN IMAJINASI

Penulis : Izzam Irsyad Al-Hafizh,

Azzam Rasyad Al-Hafizh,

Raisha Shakeela Aaleyah,

dkk

Ilustrator : Aticaa

Penyunting : Pramita Febri I, Moch

Wildan F, Anas Listiyono

Penyunting Akhir : FaradilaElifin,

ViviSulviana, AmeiliaRizky

C, Rici Alric K,

VegasariYuniati

Diterbitkan pada tahun 2022 oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Jl. Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi
yang telah diberikan dalam Gerakan Melahirkan
1000 Penulis dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillahsegala puji bagi Allah SWT,
atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang begitu
besar, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan
buku ini sebagai bentuk apresiasi kepada para bibit
penulis yang mengikuti Gerakan Melahirkan 1000
Penulis dan 1000 Pendongeng (Gendis Sewu)
dengan baik dan lancar.

Antologi merupakan kumpulan karya dari para
penulis. Buku ini mengangkat tema tentang
Wujudkan Imajinasi dari para penulis yang
merupakan bibit Gendis Sewu Berkarya SDN
Kendangsari IV/279 Surabaya. Kisah yang ditulis
adalah ungkapan perasaan akan gambaran cita-cita
dan impian terhadap hidup. Penulis yang
merupakan siswa dan siswi usia remaja dengan
gejolak rasa dan pikiran, membuat buku ini memiliki
banyak pesan yang penuh makna dari tiap cerita.
Kami menyadari bahwa sebuah karya memiliki
ketidaksempurnaan. Apabila dalam penyusunan

buku ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih

ada kekurangan kami mengharap kritik dan saran

yang bisa membangun dari segenap pembaca buku

ini.

Surabaya, 2022

Petugas TBM se-Kecamatan Rungkut

KATA SAMBUTAN

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam ikut
serta membangun Kota Surabaya yang kita cintai.

Kita patut bangga dan memberi apreasiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota
Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya
tulis yang berjudul Wujudkan Imajinasi.

Buku para bibit Gendis Sewu menghasilkan
karya tulis dari anak-anak cerdas yang telah
melalui proses panjang dan berjenjang dan
merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.

Semoga kedepannya akan menjadi inspirasi

untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai

kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata,

semoga buku Gendis Sewu Berkarya dengan judul

Wujudkan Imajinasi bermanfaat bagi semua pihak

dan perkembangan para bibit Gendis Sewu.

Surabaya, 2022

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

Kota Surabaya,

Mia Santi Dewi, SH, M.Si

SEKAPUR SIRIH

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas kehadirat-Nya, hanya
dengan kemurahan Allah SWT, kami dapat
menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis
Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah
buku antologi cerpen dengan judul Wujudkan
Imajinasi.

Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama Taman
Kalimas.Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat
memberikan layanan literasi yang di dalamnya
terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan
Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas
Karya dan Taman Kalimas PublikasI.

Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para Tim Inti Penulis Dispusip yang berkolaborasi
dengan SDN Kendangsari IV/279 Surabaya.

Membangun kota maka perlu disertai
'membangun' manusia di dalamnya. Tentu tidak lah
mudah, karena awal membangun seringkali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus 'membangun' karena
'membangun' manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Dani Arijanti, SE, M.S

DAFTAR ISI 1
6
Hari Kemerdekaan 10
Ucil ke Tanah Suci 14
Coco yang Malang 18
Bakery dan Mina 22
Sahabatku 27
Sahabat Inspirasiku 32
Tidak Bisa Berenang
Petualangan Tiga Sahabat

HARI KEMERDEKAAN

Oleh Izzam Irsyad Al-Hafizh

Reyhan dengan penuh semangat merayakan Hari
Kemerdekaan Republik Indonesia. Reyhan dan
teman-temannya bergotong-royong untuk
menyambut hari yang penuh dengan kegembiraan.
Ada yang mengecat rumah, memberikan hiasan
lampu tumbler warna-warni, dan lain sebagainya.
Mereka bersukacita menyambut hari kemerdekaan.

Sebelum malam tasyakuran HUT
Kemerdekaan Indonesia, Pak RW dan Pak RT
dengan beberapa stafnya mengumumkan kepada
semua warga untuk melaksanakan kerja bakti
bersama. Semua warga baik dari kalangan
masyarakat berekonomi rendah sampai yang tinggi
ikut bersama-sama melaksanakan kegiatan kerja
bakti di hari Minggu pagi.

Saat itu Reyhan diajak Ayahnya ikut serta
melaksanakan kerja bakti di kampungnya. Di sana

1

semua warga tidak memandang status. Semua
warga ikut serta dalam kegiatan itu.

“Yah, bolehkah aku mengajak teman-
temanku untuk ikut kerja bakti?” tanya Reyhan.

“Boleh saja, tapi asal jangan berbuat yang
mengganggu orang lain,” jawab Ayah.

Akhirnya Reyhan mengajak teman-
temannya untuk ikut kerja bakti. Masing-masing
mereka membawa alat kebersihan. Ada yang
membawa sapu jalan untuk menyapu jalan, ada
yang bawa serokan sampah untuk membersihkan
selokan, ada yang membawa kuas, dan cat untuk
mengecat bagian tepi jalan, serta ada yang
membawa gayung dan ember untuk menyiram
tanaman.

Saat Reyhan dan teman-temannya
membersihkan pinggiran selokan, ada teman
Reyhan yang bernama Wawan mengagetkan Rifki
yang berbadan besar. Hingga Rifki tercebur ke
dalam selokan. Badan Rifki menjadi kotor dan
lututnya terluka. Rifki menjadi naik pitam.

2

“Wawan, kamu keterlaluan sehingga aku
tercebur selokan!” teriak Rifki.

“Maaf Rif, tadi aku hanya bercanda. Tidak
bermaksud mencelakaimu,” kata Wawan dengan
nada ketakutan.

Seketika Rifki dengan sengaja
menyiramkan cat yang ada di dekatnya ke tubuh
Wawan.

“Rifki, apa-apaan kamu!” teriak Wawan
kaget.

“Rasakan itu. Kita impas sekarang. Badan
kita sama kotornya,” ejek Rifki.

“Aku ‘kan sudah minta maaf ke kamu tadi,”
jawab Wawan.

Keadaan menjadi semakin gaduh. Pak RT
yang melihat dari kejauhan datang menghampiri
Reyhan dan teman-temannya.

“Ada apa ini ramai-ramai?” tanya Pak RT.
“Begini Pak, Wawan tadi mengagetkan
Rifki hingga terjatuh ke selokan. Kemudian Wawan
meminta maaf ke Rifki, tetapi Rifki malahan
sengaja menyiram cat ke Wawan,” jelas Reyhan.

3

Pak RT mendengarkan cerita dengan. Tak
lama kemudian Ayah Reyhan datang.

“Maaf Pak RT atas kegaduhan mereka,”
kata Ayah Reyhan.

“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Pak RT.
“Kalian itu sahabat baik, mengapa kalian
bertengkar? Padahal kita mengadakan kegiatan
kerja bakti ini demi merayakan Hari Kemerdekaan
Indonesia dan mengenang perjuangan-perjuangan
pahlawan-pahlawan terdahulu yang rela berkorban
demi membela negeri ini dari penjajahan dan
menjaga keutuhan NKRI. Ayolah, kalian harus
saling memaafkan, jangan terjadi perpecahan di
antara kalian. Kalian adalah calon penerus bangsa
yang meneruskan perjuangan membangun negeri
ini agar Indonesia tetap jaya,” tegas Ayah Reyhan.
“Rifki, aku minta maaf ya. Aku sudah
keterlaluan padamu,” kata Wawan.
“Aku juga minta maaf karena sudah
menyiram cat ke tubuhmu,” jawab Rifki.
Kemudian Reyhan dan teman-temannya
beserta semua warga melanjutkan kegiatan kerja

4

bakti hingga siang hari. Saat malam hari, semua
warga mengadakan tasyakuran bersama. Malam
itu bertepatan dengan tanggal HUT Kemerdekaan
Indonesia.

5

UCIL KE TANAH SUCI

Oleh Azzam Rasyad Al-Hafizh

Ada tiga sahabat yang sedang berkumpul bersama-
sama di kebun milik Pak Somad. Mereka terdiri dari
seekor kutu kecil yang bernama Ucil, seekor
kumbang bernama Boim, dan seekor belalang yang
bernama Togi. Mereka saling bersenda gurau dan
saling menceritakan pengalaman masing-masing.

“Cil, kamu tahu tidak kalau aku ini hewan
yang kuat. Kekuatanku bisa melubangi kayu yang
kuat. Tubuhku juga besar sehingga tidak ada
hewan yang berani padaku. Melihat saja takut
apalagi berpapasan denganku,” ucap Boim
sombong.

“Boim, kamu jangan begitu. Semua makhluk
Tuhan itu sama derajatnya, tetapi berbeda
kelebihan dan kekurangannya. Kamu kok sombong
gitu sih, belum tentu kamu bisa melakukan apa
yang dikerjakan oleh Ucil,” kata Togi menasihati
Boim.

6

Mendengar nasihat dari Togi, Boim melihat
ekspresi wajah Ucil yang berbeda. Seketika Boim
teringat peristiwa yang belum sempat diceritakan
kepadanya sebelumnya. Pengalaman Ucil selama
menghilang.

“Cil, coba terangkan pengalaman selama
kamu menghilang tak tahu rimbanya hingga bisa
kembali lagi ke sini. Aku ingin tahu ke mana kamu
selama ini,” tanya Boim.

Lalu Ucil menceritakan pada temannya
tentang pengalaman selama menghilang. Ucil
bercerita kepada kedua temannya bahwa satu
bulan yang lalu ia pergi ke Tanah Suci. Tempatnya
sangat jauh sekali dan suasananya juga berbeda
dengan di tempat Ucil tinggal. Di sana hawanya
panas, sedangkan di sini kadang hujan kadang
kemarau. Namun, ia sangat senang bisa pergi ke
sana. Melihat Ucil menceritakan pengalamannya,
Boim tidak percaya.

“Cil, kamu jangan bohong, tidak mungkin
kamu bisa pergi ke Tanah Suci. Dilihat dari
posturmu saja tidak masuk akal. Kamu berjalan dari

7

taman sini sampai ke sarangmu saja butuh waktu
berminggu-minggu. Apalagi di sana sangat jauh
sekali, apa kamu berbohong, Cil?” ucap Boim tidak
percaya.

“Cil, coba ceritakan lebih lengkap lagi kok
bisa kamu sampai pergi ke sana padahal Tanah
Suci itu sangat jauh sekali. Kalaupun bisa, itu suatu
mukjizat dari Tuhan,” kata Togi penasaran.

Akhirnya Ucil menceritakan pengalamannya
pergi ke Tanah Suci.

“Begini teman-teman, suatu hari aku
berjalan-jalan di antara pakaian Pak Somad. Saat
sampai di peci yang akan dipakainya pergi, aku
langsung saja masuk. Ternyata pada saat itu Pak
Somad akan pergi ke Tanah Suci. Akhirnya aku ikut
Pak Somad untuk menunaikan ibadah umrah,” kata
Ucil.

“Cil, mengapa kamu tidak keluar saja pada
saat peci itu dipakai Pak Somad?” tanya Togi.

“Tidak bisa Togi, karena saat akan
berangkat peci dimasukkan ke dalam tas dan
terkunci,” jawab Ucil.

8

“Terus apa saja yang kamu lihat di sana saat
tiba di Tanah Suci?” imbuh Togi.

“Di sana banyak orang-orang yang memakai
baju ihram dan menunaikan ibadah. Namun, di saat
Pak Somad beribadah, dia tidak memakai peci
sehingga aku tinggal sendirian di penginapan.
Setelah selesai dari ibadah, Pak Somad kembali
memakai peci dan akhirnya aku bisa berjalan-jalan
keliling Tanah Suci sampai tiba kembali di sini,”
jawab Ucil

“Oh, begitu ceritanya kamu bisa pergi ke
Tanah Suci,” ucap Boim.

“Tuh ‘kan Boim, kamu jangan berburuk
sangka atau meremehkan sahabatmu, itu tidak
baik,” tegur Togi.

Akhirnya Boim meminta maaf kepada Ucil
karena meremehkan dan menuduh Ucil berbohong.
Mereka melanjutkan bercerita hingga waktu sore
tiba.

9

COCO YANG MALANG

Oleh Raisha Shakeela Aaleyah

Di suatu hutan yang rindang hiduplah keluarga
beruang yang terdiri dari Ayah Beruang, Ibu
Beruang, dan anak beruang yang bernama Coco.
Mereka keluarga yang sangat bahagia.

Hingga pada suatu malam datanglah seekor
Harimau. Harimau itu menyerang Ayah Beruang
hingga kehilangan nyawa. Ibu Beruang sudah
berusaha menolong Ayah Beruang, tetapi tidak
berhasil. Ibu Beruang melawan Harimau untuk
melindungi Coco yang saat itu sedang tertidur.

Keesokan paginya Coco terbangun. Namun,
ia tidak menemukan Ayah dan Ibunya di rumah. Ia
hanya menemukan jejak kaki Ibunya. Ia
memberanikan diri mengikuti sampai ke dalam
hutan. Saat sampai di dalam hutan, ada Harimau
yang berlari menuju arahnya dengan cepat. Coco
lari ketakutan hingga masuk ke dalam goa. Coco
merasa terpojok.

10

“Jangan takut, Nak, ikutlah bersamaku,”

bujuk Harimau.

Mereka berdua menuju ke rumah Harimau.

Sesampai di sana, Harimau menyuruh Coco

masuk. Harimau
“Siapa namamu?” tanya Harimau.
“Namaku Coco,” jawab Coco.
“Namaku Tommy,” kata

memperkenalkan dirinya ke Coco.
“Coco, kamu pasti mencari Ibu dan Ayahmu

hingga sampai ke dalam hutan, ya?” tanya Tommy.
“Betul sekali Paman Tom, aku mencari

mereka dan aku bingung harus mencarinya ke
mana lagi,” kata Coco.

“Asal kamu tahu Coco, Ayahmu telah mati

karena diserang oleh seekor harimau yang

bernama Jacky. Sedangkan Ibumu berlari ke

dalam hutan untuk mengecohnya dan
menyelamatkanmu,” jelas Tommy.

“Apa yang kau katakan Paman Tom? Aku
tidak percaya,” kata Coco kaget sambil menangis

tersedu-sedu.

11

“Sabar Coco. Jacky harimau yang sangat
jahat. Sudah banyak yang menjadi korbannya. Aku
menyarankan jika kamu bertemu dengannya
panjatlah pohon yang tinggi. Untuk sementara ini
kamu tinggal bersamaku dulu,” kata Tommy.

Coco sangat senang tinggal bersama
Tommy, setiap hari Tommy mencarikan ikan di
sungai. Mereka bermain bersama sepanjang hari.
Coco pun merasa keadaannya sudah membaik.
Akhirnya Coco berniat akan melanjutkan mencari
Ibunya.

Suatu hari saat sepulang dari mencari ikan,
Tommy dan Coco diserang oleh sekelompok singa.
Tommy menyuruh Coco untuk melarikan diri. Saat
di perjalanan, ia bertemu dengan seekor serigala,
serigala itu bernama Wolfy. Wolfy melihat Coco
sangat lelah dan ketakutan. Ia merasa iba, lalu
Coco diajak ke rumahnya. Sesampai di rumah
Wolfy, Coco dipersilakan membersihkan diri dan
makan. Mereka pun beristirahat karena hari sudah
larut malam.

12

Keesokan harinya, mereka berdua makan
bersama sambil Coco menceritakan kisahnya.

“Apakah kamu ingin kubantu mencari
Ibumu?” tanya Wolfy.

“Iya Wolfy, aku sangat merindukan Ibuku,”
kata Coco dengan wajah yang sangat sedih.

Wolfy pun akhirnya membantu Coco mencari
Ibu Beruang. Setelah berhari-hari mengelilingi
hutan, mereka akhirnya menemukan Ibu Beruang.
Ibu Beruang berterima kasih kepada Wolfy karena
telah membantu Coco menemukan dirinya. Coco
bahagia bisa berkumpul lagi bersama Ibunya.

13

BAKERI DAN MINA

Oleh Salsabila Angel Merlyana

Di sebuah kota, ada bakeri yang sangat besar di
pinggir jalan. Seorang gadis kecil bernama Mina
yang sedang mengagumi kelezatan sepotong kue
stroberi dari balik kaca meminta ke Ibunya.

“Bu, aku mau sepotong kue itu,” kata Mina.
“Tidak sayang, kamu tidak boleh makan
yang manis-manis. Nanti sakit gigi,” jawab Ibu.
Mina pun kecewa karena tidak dibelikan kue
yang ia mau. Lalu Mina menangis hingga Ibunya
merasa kasihan pada Mina. Akhirnya Mina pun
dibelikan kue stroberi yang ada di bakeri tersebut.
Mina pun sangat senang, tetapi Ibunya
memberikan satu syarat yaitu Mina harus
menggosok gigi setelah selesai makan kue.
“Iya Ibu, Mina janji sehabis makan tidak
langsung tidur, melainkan menggosok gigi dulu,“
jawab Mina tersenyum sambil memakan kue

14

stroberi. Namun, sesampai di rumah, Mina lupa
dengan janjinya. Ia tertidur pulas hingga pagi.

Keesokan harinya Mina terbangun. Dia
merasa giginya sangat sakit karena semalam Mina
lupa tidak menggosok gigi. Mina pun berteriak
memanggil Ibu.

“Ibu ... Ibu, gigi Mina terasa sakit,” teriak
Mina.

“Tuh ‘kan pasti semalam lupa tidak
menggosok gigi sehabis makan kue,” terka Ibu.

Mina pun menangis kesakitan karena
giginya sakit. Kemudian Ibu mengantarnya ke
dokter gigi. Sesampai di klinik dokter gigi, ada dua
dokter yang sedang praktik. Dokter yang pertama
sangat jahat, sedangkan dokter yang kedua sangat
baik. Saat Mina dan Ibunya mengambil nomor
antrian, dia mendapat nomor antrean kesebelas.

“Ibu, apakah ketika gigi kita dicabut tidak
terasa sakit?“ tanya Mina.

“Tidak sayang, tidak akan terasa sakit,“
jawab Ibu Mina menenangkannya.

15

Tiba giliran nomor antrean Mina. Dia

diperiksa oleh dokter yang jahat, yang bernama

Dokter Faiz.
“Kenapa gigi kamu berlubang?“ tanya Dokter

Faiz dengan nada yang tegas.
“Gigi Mina sakit karena dia lupa menggosok

gigi sehabis makan kue,” jawab Ibu.
“Kan bisa Ibu memperingatkannya!“ kata

Dokter Faiz ketus.

Sebelum mencabut gigi Mina, Dokter Faiz

membersihkan giginya. Namun, Dokter Faiz

memperlakukan sangat kasar. Dokter Dina yang

melihat kejadian tersebut langsung menghampiri

Dokter Faiz.
“Hey, Dokter Faiz! Jika kamu

memperlakukan pasien sebaiknya dengan sopan,”

tegur Dokter Dina yang baik hati. yang
“Iya, maaf Dok,” jawab Dokter Faiz.
“Ya sudah, biar aku saja

menanganinya,“ kata Dokter Dina.

Lalu Dokter Dina pun membersihkan gigi

Mina dengan perlahan. Dokter Dina mencabut gigi

16

Mina dengan sangat hati-hati. Pemeriksaan gigi
Mina pun selesai dengan cepat.

“Terima kasih ya Dokter Dina. Anda sangat
baik hati mau menangani anak saya dengan baik,“
kata Ibu.

“Iya sama sama, Bu. Lagi pula pasien
sebaiknya diperlakukan dengan sopan,” jawab
Dokter Dina dengan nada yang lembut.

Lalu Mina diberi nasihat oleh Dokter Dina
agar sehabis makan makanan yang mengandung
gula harus menggosok gigi. Jika tidak, gigi Mina
nanti akan berlubang.

“Baik, Dokter. Aku berjanji akan rajin
menggosok gigi,” kata Mina.

“Wah, pintar sekali Mina,” puji Dokter Dina
sambil tersenyum.

Sejak kejadian itu, Mina berjanji kepada Ibu
untuk rajin menggosok gigi agar tidak sakit lagi.

17

SAHABATKU

Oleh Tifanny Dwi Isna Septyaningsih

Aku Vani, aku mempunyai sahabat bernama Isna.
Aku dan Isna sekarang duduk dikelas lima. Kami
suka bermain dan belajar bersama. Meskipun kami
bersahabat, tak jarang juga kami bertengkar
karena masalah sepele.

Suatu hari, aku mengajak Isna pergi ke
toko buku. Di toko buku, kita terlalu sibuk mencari
buku hingga sore hari. Ternyata buku yang kita cari
sama. Kita berdebat hingga terdengar oleh Penjual.

“Kalian sedang apa?” tanya Penjual.
“Saya mau membeli buku ini. Namun,
temanku juga menginginkan buku yang sama,”
jelasku.
“Aku juga menginginkan buku ini. Aku
sudah menabung cukup lama,” kata Isna.
“Karena kalian berteman, ada baiknya
nanti saling pinjam saja. Jadi tidak perlu
memperebutkan buku ini,” imbuh Penjual.

18

“Benar juga. Kenapa kita harus bertengkar,
ya?” sesalku.

Di sepanjang jalan kita berjalan sambil
bercanda hingga tenggorokan terasa kehausan.

“Kamu haus enggak?” tanya Isna
“Haus sih mulai kering tenggorokanku,”
jawabku.
“Ayo kita cari minuman, aku yang traktir.
Aku juga haus,” kata Isna sambil menatapku
dengan lemas.
“Hem, ya sudah ayo,” jawabku.
Sampailah kami di sebuah warung
minuman.
“Kamu mau pesan minum apa, Van?”
tanya Isna.
“Aku ngikut kamu deh,” jawabku.
“Hem, oke deh,” kata Isna.
Beberapa menit kemudian kami selesai
minum dan langsung pulang.
“Eh kayaknya ada yang ketinggalan, tapi
apa ya?” tanya Isna dengan muka yang heran.
“Apa ya? Oh iya belanjaan bukuku mana,”

19

celetukku.
“Ya ampun. Oh iya aku lupa, ketinggalan di

warung tempat kita minum tadi,” jawab Isna.
“Apa? Ketinggalan? Kita ‘kan sudah jauh

dari warung tempat kita minum tadi,” jawabku
dengan kesal.

“Duh, maaf banget ya, Van. Aku benar-
benar lupa. Kamu tunggu di sini dulu ya, Van. Aku
kembali ke warung tadi dulu,” jawabnya dengan
berkeringat.

Lalu Isna bergegas pergi ke warung untuk
mengambil buku yang tertinggal. Sesampai di
warung, dia menanyakan kepada Ibu pemilik
warung.

“Maaf Bu, apakah ada kantong plastik
yang isinya buku di sini?” tanya Isna

“Maaf Nak, Ibu tidak melihatnya. Namun
tadi setelah kamu pergi, ada seorang bapak-bapak
ke sini membeli es. Coba tanyakan bapak itu.
Bapak itu rumahnya di gang Melati pagar warna
coklat,” kata Ibu penjual minuman.

“Oh baik Bu, terima kasih. Saya pamit

20

dulu,” kata Isna.
“Silakan Nak, hati-hati di jalan,” jawab Ibu

penjual minuman
Kemudian Isna kembali ke tempat di mana

aku sudah menunggunya. Isna meminta maaf
karena belum menemukan bukuku. Saat itu, aku
kesal dan langsung pulang.

Keesokan harinya, aku dan Isna tidak
seperti biasanya. Kita sama-sama terdiam tidak
banyak bicara. Hingga bel pulang sekolah, kita
masih terdiam satu sama lain.

Sesampai di rumah, setengah jam
kemudian ada yang mencariku. Ternyata itu Isna.
Isna membawa sekantong plastik yang aku sudah
tebak itu adalah buku yang kemarin tertinggal di
warung. Isna meminta maaf kepadaku atas
kecerobohannya. Lalu aku juga minta maaf karena
sudah kesal dengannya.

21

SAHABAT INSPIRASIKU

Oleh Asyifa Eka Rahmaliyah

Reta adalah anak yang pintar dan mempunyai
percaya diri yang tinggi. Dia sering sekali menjuarai
lomba, seperti lomba mendongeng. Reta
mempunyai sahabat bernama Fina. Fina berbeda
dengan Reta. Fina anak yang pemalu. Namun,
mereka terkenal sebagai anak yang pintar di
kelasnya.

Suatu hari sekolah mengadakan lomba
mendongeng untuk memperingati Hari
Kemerdekaan Indonesia. Semua siswa antusias
untuk mengikutinya.

“Fina, ayo daftar ikut lomba mendongeng,”
ajak Reta.

“Tidak ah Reta, aku tidak percaya diri.
Kamu sajalah Reta yang daftar,” jawab Fina.

“Oke, antarkan aku ke Bu Luluk untuk
daftar lomba mendongeng ya, Fin,” kata Reta.

Mereka pergi ke ruang guru menemui Bu

22

Luluk. Reta ingin daftar lomba
“Bu,

mendongeng,” kata Reta.
“Iya, Nak. Isi dulu formulir pendaftarannya

ya,” jawab Bu Luluk.
“Baik, Bu,” kata Reta.

“Fina, tidak ikut lomba juga?” tanya Bu

Luluk.
“Tidak, Bu. Saya tidak percaya diri,” jawab

Fina.
“Dicoba dulu Fina. Siapa tahu dengan

kamu mengikuti lomba mendongeng, percaya
dirimu muncul,” kata Bu Luluk meyakinkan Fina.

“Ini Bu, sudah saya isi semua formulirnya.

Terima kasih, Bu Luluk,” kata Reta.

Reta dan Fina kembali di kelas. Di kelas,

Fina berpikir tentang perkataan Bu Luluk di ruang

guru tadi. Fina menjadi gelisah.

Keesokan harinya, Fina pergi ke ruang

guru menemui Bu Luluk untuk mendaftar lomba

mendongeng. Namun, dia malu untuk mengatakan

ke Reta, bahwa dia ikut lomba mendongeng.

23

Setiap malam, Fina berlatih mendongeng sendiri di
kamar. Dia juga belajar mendongeng melalui
youtube. Dia sangat antusias karena pertama kali
mengikuti lomba mendongeng.

Hari lomba mendongeng pun tiba, satu per
satu peserta menampilkan aksinya termasuk Reta.
Reta sangat percaya diri dengan penampilannya.
Tidak lama kemudian, Fina pun dipanggil untuk
maju menampilkan dongengnya. Fina yang
awalnya gugup menjadi percaya diri di panggung.
Dia sangat tenang mendongeng di depan juri
dengan media boneka tangan yang dibawanya.
Reta terkaget melihat penampilan Fina.

Hingga pengumuman pemenang tiba. Reta
dengan percaya dirinya yakin menang. Namun
saat juri mengumumkan, Reta mendapatkan juara
kedua. Juara pertama diraih oleh Fina. Reta kesal
atas hasil yang dia dapatkan. Bahkan dia tidak
mengucapkan selamat pada Fina.

Keesokan harinya, Fina menghampiri
Reta.

“Reta, aku tahu kamu kesal denganku,”

24

kata Fina.
Namun, Reta tetap diam dan tidak

menghiraukan.
“Reta maafkan aku. Bukannya aku tidak

mau cerita ke kamu saat aku mendaftar lomba
mendongeng. Namun, aku malu untuk
menceritakannya. Aku tidak percaya diri saat
melihatmu berlatih mendongeng. Aku tiap malam
berlatih sendiri di kamar. Kamu menjadi contoh
saat aku berlatih. Kamu itu inspirasiku Ret, hingga
aku bisa seperti kemarin percaya diri di depan
orang-orang,” kata Fina.

Reta yang mendengar semua perkataan
Fina merasa tersentuh. Dia tidak menyangka
bahwa sahabatnya itu menjadikan dia sebagai
inspirasi.

` “Maafkan aku juga Fina. Jujur saja
kemarin saat pengumuman pemenang, aku kesal
kepadamu,” jawab Reta.

“Tidak apa-apa, Reta. Memang ini semua
salahku,” kata Fina.

“Besok lagi, kamu tidak boleh malu ya, Fin.

25

Kita bisa belajar bersama,” jawab Reta.
“Siap Reta. Yuk pergi ke kantin. Aku traktir

untuk syukuran aku menang nih kemarin,” kata
Fina dengan nada menggoda.

“Oke deh,” jawab Reta.
Kini Fina tidak lagi malu saat tampil di
depan umum. Reta dan Fina semakin sering
mengikuti lomba-lomba untuk mengasah
kemampuan mereka. Mereka juga berlatih
bersama.

26

TIDAK BISA BERENANG

Oleh Qonita Nur Dewantri

Namaku Qonita. Aku adalah anak desa yang
tinggal jauh dari kota. Ayahku seorang petani
miskin. Namun, aku sangatlah senang bermain di
sawah dan menikmati alam sekitar desaku. Aku
adalah anak yang periang dan memiliki banyak
teman. Aku tinggal di Desa Kebak, tepatnya di
pinggiran kaki Gunung Lawu.

Hiburan utama bagi anak desa adalah
bermain dengan teman-teman. Mulai dari bermain
petak umpet, macanan, hujan-hujan, dan berbagai
permainan tradisional mewarnai keceriaan kami.

Musim hujan adalah musim yang
menyenangkan bagiku dan teman-teman. Kami
bermain di sungai, selokan, dan petak-petak sawah
yang penuh dengan air.

Kebetulan di dekat rumah ada galian
cukup dalam dan lebar yang digunakan untuk
meredam tanaman rami (bahan baku membuat

27

karung). Galian itu sudah diisi tanaman rami yang
sudah tua, hingga sudah penuh air. Kami asyik
bermain air di tepi kolam itu. Lalu salah satu
temanku, Pono mengajak untuk berenang di galian
itu.

“Teman-teman, yuk kita berenang di sini.
Bosan hanya main di tepi sini terus,” ajak Pono.

“Ayo-ayo!” sahut semua teman-teman lain
yaitu Ardi, Amin, Gudel dan Dini.

“Loh Qonita, kenapa kamu tidak semangat
gitu? Gak mau ikutan berenang?” tanya Dini.

“Aku mau izin Ayah dulu ya, Din. Aku takut
dimarahi,” jawabku

“Oke izin dulu sana,” balas Dini
Aku bergegas lari ke rumah untuk meminta
izin ikut berenang bersama teman-teman.

“Ayah, bolehkah aku berenang bersama
teman-teman?” tanyaku

“Qonita lupa kejadian tahun lalu saat
tenggelam di kolam berenang? Jangan ya, Nak.
Qonita belum bisa berenang,” jawab Ayah.

“Iya Ayah,” jawabku.

28

Aku kembali ke galian untuk bertemu teman-
teman dan menjelaskannya. Aku sangat ingin
berenang, tetapi Ayah tidak memperbolehkan.

“Ayo teman-teman loncat saja, airnya segar,”
kata Pono.

Aku melihat mereka berenang dengan
meloncat dari ketinggian. Betapa asyiknya mereka
meluncur ke kolam dan muncul lagi dipermukaan
air.

Wah asyik nih. Jika aku menyusul mereka,
kataku dalam batin.

Namun, aku masih ingat nasihat Ayah. Aku
takut terjadi apa-apa jika melanggar.

“Kenapa melamun Qonita?” tanya Dini.
“Oh tidak Din, aku tidak diperbolehkan Ayah
untuk berenang karena tidak bisa berenang,”
jawabku.
“Kalau begitu jangan ikut Nit, Ayahmu pasti
akan marah kalau kamu melanggarnya. Aku temani
di sini saja ya Nit, kita bermain di tepi saja,” imbuh
Dini sambil menyipratkan air ke mukaku

29

“Namun aku ingin sekali berenang Din,
kenapa sih Ayah selalu melarang,” jawabku.

“Ayahmu ‘kan khawatir denganmu, sudah
turuti saja. Kita bermain yang lain saja. Aku akan
ambil mainan di rumah untuk kita bermain,” kata
Dini sembari pergi untuk mengambil mainan.

Ketika Dini pergi sudah tidak ada lagi yang
melarangku, tanpa pikir panjang aku pun meloncat
mengikuti teman-teman.

BYUR …
“Hap … hap ... tolong aku. Aku tidak bisa
berenang,” teriakku sambil berusaha untuk tetap
naik.

Pono yang melihatku langsung membantu
dan menaikkanku ke pinggir kolam.

“Nit, kamu ini gimana sih? Sudah tahu
tidak bisa berenang, malah memaksakan loncat.
Kalau tenggelam gimana?” kata Pono.

“Iya karena aku ingin ikut berenang, Pon,”
jawabku dengan nada yang terbatah-batah karena
sedikit sesak napas.

30

Dini melihat kerumunan dan berlari
menghampiriku.

“Qonita ... gimana keadaanmu? Kamu ‘kan
sudah dilarang Ayahmu, Nit,” kata Dini.

“Iya aku menyesal, Din. Aku melanggar
larangan Ayah dan laranganmu,” jawabku.

“Sudah tidak apa-apa, Nit,” kata Dini.
“Terima kasih ya teman-teman, sudah
membantuku. Maaf merepotkan kalian karena
tingkahku,” ucapku.
“Iya Nit, lain kali jangan diulangi lagi ya,”
jawab Pono dan Dini
Sejak saat itu aku sudah tidak melanggar
larangan dari Ayah. Aku sangat bersyukur, teman-
teman menolongku saat itu.

31

PETUALANGAN TIGA SAHABAT

Oleh Rachmadania Putri Nuranti

Di ujung kutub utara, tinggallah tiga sahabat yaitu
dua beruang kutub kembar yang bernama Bera dan
Beri dan pinguin pemberani bernama Pingki. Bera
dan Beri memiliki sifat yang berbeda, Bera beruang
yang pintar, tetapi pemalu. Beri beruang yang
sangat kuat, tetapi ceroboh. Tiga sahabat ini saling
melengkapi.

Pagi itu Pingki sedang bosan. Ia mengajak
Bera dan Beri untuk pergi berpetualang. Mereka
mencari kolam tersembunyi di balik bukit salju.

“Bera, Beri yuk pergi mencari kolam
tersembunyi,” ajak Pingki.

“Ayo, kita berangkat!” sahut Bera dan Beri.
Akhirnya mereka pun memutuskan
berangkat dan menyiapkan perbekalan serta
peralatan untuk pergi berpetualang. Cuaca hari itu
terlihat cerah, tidak mungkin ada badai salju yang
akan turun. Mereka bertiga sangat senang

32

berpetualang. Perjalanan sudah hampir setengah
jalan, perut Beri terasa lapar.

“Teman-teman berhenti dulu yuk, perutku
lapar nih,” teriak Bera sambil terduduk.

“Masak sudah lapar aja kamu, Bera.
Katanya kamu paling kuat?” ejek Pingki.

“Gimana lagi Ping. Aku ‘kan butuh makan
banyak,” jawab Bera.

“Oke ... oke ayo kita makan,” sahut Beri.
Akhirnya mereka bertiga duduk di dekat
sebuah kolam kecil yang di kelilingi tumpukan salju.
Ketika akan membagi bekal yang dibawa, Beri
melihat seekor anjing laut yang terlihat lemas dan
tergeletak. Beri pun menanyakan kepada Anjing
Laut tersebut.
“Halo kamu kenapa? Kok lemas?” tanya
Beri.
“Aku belum makan dari kemarin. Aku tidak
dapat mencari makan karena ekorku terluka,”
jawab Anjing Laut
Lalu Beri memberi bekalnya untuk Anjing
Laut tersebut.

33

“Ini kamu makan ya,” jawab Beri.
“Terima kasih ya. Akhirnya aku bisa
makan,” jawab Anjing Laut sumringah.
“Beri, kenapa kamu memberikan bekalmu?
Lalu kamu makan apa?” tanya pingki
“Aku kasihan Ping, melihat Anjing Laut itu.
Ya sudah aku tahan saja laparku Ping,” jawab Beri
Pingki merasa kasihan terhadap Beri,
dengan berani langsung menceburkan dirinya ke
kolam untuk mencari makan. Tidak lama, Pingki
kembali dengan membawa makanan untuk Beri.
“Nah ini Beri untukmu.”
“Wah terima kasih, Ping,” jawab Beri.
Mereka pun makan dengan lahap. Setelah
makan, mereka melanjutkan perjalanan. Cuaca
semula terlihat cerah. Namun saat mereka menaiki
bukit. Turunlah badai salju yang sangat besar.
Mereka bertiga bingung mencari tempat berteduh.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan
perjalanan melewati badai itu.

34

Tidak lama mereka berjalan, Pingki
terjatuh. Ternyata Pingki tadi terluka saat mencari
makan untuk Beri.

“Pingki, kamu kenapa?” tanya Bera dan
Beri

“Sepertinya kakiku terluka saat mencari
makan, karena terbentur es tajam di air,” jawab
Pingki

Lalu Bera menggendong Pingki menembus
besarnya badai salju sambil mendaki bukit. Setelah
melewati bukit terlihatlah kolam tersembunyi itu.
Mereka bertiga sangat senang. Namun, kondisi
badai salju, sehingga mereka tidak bisa bermain.
Beri tidak sengaja melihat sebuah gua yang bisa
dijadikan untuk tempat tinggal. Dia bergegas
mengajak Bera untuk mencabuti pohon-pohon yang
sudah mati.

Setelah itu mereka bertiga masuk. Beri
juga mengobati luka Pingki. Keesokan harinya, kaki
Pingki sedikit membaik. Mereka bermain dan
mencari makan di kolam tersembunyi tersebut.

35


Click to View FlipBook Version