The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Banyak buku parasitologi telah ditulis namun belum ada buku yang menulis cara mengenal dan mengidentifikasi parasit khususnya tentang cacing secara detail hingga ke bagian-bagian spesifiknya. Padahal keberhasilan dalam mengidentifikasi spesies cacing dari berbagai stadium diawali dengan mengenal dengan baik seluruh bagian dan organ cacing tersebut. <br><br>Buku ini ditulis dengan menayangkan gambar pilihan terbaik dengan keterangan setiap bagian secara detail dan dilengkapi dengan uraian lengkap setiap stadium perkembangan parasit cacing sehingga diharapkan akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi setiap pembaca yang ingin belajar helminthologi.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by didik.24272, 2021-12-12 09:58:56

Teknik Identifikasi dan Pemeriksaan Laboratorium Infeksi Kecacingan

Banyak buku parasitologi telah ditulis namun belum ada buku yang menulis cara mengenal dan mengidentifikasi parasit khususnya tentang cacing secara detail hingga ke bagian-bagian spesifiknya. Padahal keberhasilan dalam mengidentifikasi spesies cacing dari berbagai stadium diawali dengan mengenal dengan baik seluruh bagian dan organ cacing tersebut. <br><br>Buku ini ditulis dengan menayangkan gambar pilihan terbaik dengan keterangan setiap bagian secara detail dan dilengkapi dengan uraian lengkap setiap stadium perkembangan parasit cacing sehingga diharapkan akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi setiap pembaca yang ingin belajar helminthologi.

Keywords: Identifikasi parasit,Pemeriksaan laboratorium,Kecacingan

TEKNIK IDENTIFIKASI DAN
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

INFEKSI KECACINGAN

Didik Sumanto
Abdul Ghofur

Ikatan Analis Kesehatan Indonesia Semarang

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Didik Sumanto, SKM, M.Kes (Epid)
Abdul Ghofur, SKM, M.Kes (Epid)

v, 79 halaman, 155 x 230 mm
ISBN 978-602-71588-2-5

Teknik Identifikasi dan Pemeriksaan Laboratorium
Infeksi Kecacingan

Layout : Didik S
Desain Sampul : Didik S
Desain isi : Didik S

Edisi Maret 2016, cetakan pertama

Penerbit :
Ikatan Analis Kesehatan Indonesia Semarang (IAKIS)
E-mail : [email protected]

Hak cipta dilindungi undang-undang No. 19 Tahun 2002.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini dalam bentuk apapun tanpa ijin
tertulis dari penulis dan penerbit.

Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

Pasal 2 :
(1) Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk

mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu
ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 72 :
(1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00
(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling
banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau
denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur hanya untuk Allah SWT atas segala
nikmatNya hingga pada akhirnya gagasan-gagasan kecil yang sebelumnya
hanya ada dalam angan ini dapat dituangkan dalam sebuah tulisan berupa
buku.

Banyak buku parasitologi telah ditulis namun belum ada buku yang
menulis cara mengenal dan mengidentifikasi parasit khususnya tentang
cacing secara detail hingga ke bagian-bagian spesifiknya. Padahal
keberhasilan dalam mengidentifikasi spesies cacing dari berbagai stadium
diawali dengan mengenal dengan baik seluruh bagian dan organ cacing
tersebut.

Buku ini ditulis dengan menayangkan gambar pilihan terbaik dengan
keterangan setiap bagian secara detail dan dilengkapi dengan uraian
lengkap setiap stadium perkembangan parasit cacing sehingga diharapkan
akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi setiap pembaca
yang ingin belajar helminthologi.

Namun demikian segala daya upaya penulis untuk memberikan karya
terbaik bagi segenap pembaca tentunya tetap ada kekurangan yang tak
dapat dihindari karena hanya Allah SWT yang memiliki kesempurnaan.
Untuk itu penulis berharap adanya kritik dan saran untuk penyempurnaan
tulisan ini.

Semoga Allah SWT, Tuhan sekalian alam meridhoi tulisan ini sebagai
satu amalan baik dan memberikan manfaat bagi sesama khususnya dalam
pengembangan ilmu di bidang parasitologi.

Semarang, Pebruari 2016
Penulis
DS

iii

DAFTAR ISI

BAGIAN I. IDENTIFIKASI BERBAGAI HELMINTHES
A. NEMATODA KELOMPOK SOIL TRANSMITTED HELMINTH

1. Ascaris lumbricoides ……………………………………………………………….. 3
2. Trichuris trichiura …………………………………………………………………... 6
3. Cacing tambang ……………………………………………………………................ 8
4. Strongyloides stercoralis …………………………………………………………. 13
B. NEMATODA NON STH
1. Enterobius vermicularis ………………………………………………………….. 17
C. NEMATODA JARINGAN
1. Wuchereria bancrofti ………………………………………………………………. 20
2. Brugia malayi ………………………………………………………………................ 21
3. Brugia timori …………………………………………………………………………... 23
D. CESTODA
1. Taenia saginata ………………………………......................................................... 24
2. Taenia solium …………………………………………………………………………. 27
3. Hymenolepis nana dan Hymenolepis diminuta ………………………… 29
4. Diphylidium caninum ……………………………………………………………… 34
5. Diphylobotrhium latum ……………………………………………….................. 37
E. TREMATODA
1. Fasciola hepatica …………………………………………………………………….. 41
2. Fasciolopsis buski …………………………………………………………………… 43
3. Schistosoma sp ……………………………………………………………………….. 45
4. Paragonimus westermani ………………………………………………………... 50
5. Clonorchis sinensis …………………………………………………………………. 52

BAGIAN II. PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI KECACINGAN
A. Pemeriksaan Spesimen Faeses ……………………………………………………… 55

a. Pemeriksaan cara langsung ……………………………………………………… 56
b. Pemeriksaan cara tak langsung ………………………………………………... 57
B. Pemeriksaan Spesimen Apus Perianal …………………………………………… 61
C. Pemeriksaan Spesimen Darah ………………………………………………………. 64
D. Pemeriksaan Spesimen Urine ……………………………………………………….. 67

BAGIAN III. TEKNIK PEMERIKSAAN LAINNYA
A. Pemeriksaan Derajat Infeksi Kecacingan ……………………………………….. 71
B. Pemeriksaan Telur Cacing Pada Tanah ………………………………………….. 74
C. Pemeriksaan Telur Cacing Pada Jemari dan Kuku Tangan ……………… 76
D. Teknik Pembiakan Larva Cacing …………………………………………………… 78

iv

UCAPAN TERIMAKASIH
Tersusunnya buku ini tak lepas dari bantuan banyak pihak, untuk itu
penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada : Bapak Abdul
Ghofur, SKM, M.Kes (Epid) yang telah berkenan menjadi kontributor naskah
tulisan dalam buku ini. Juga kepada Bapak Dr. Sayono, SKM, M.Kes (Epid)
yang senantiasa memberikan dorongan moril dalam menulis. Pun tak lupa
kepada Bapak Dr. Purnomo, ST, M.Eng yang turut memotivasi dalam
berkarya ilmiah. Selanjutnya ucapan terimakasih juga untuk seluruh rekan
senasib seperjuangan di program Doktoral Ilmu Kedokteran/Kesehatan
Universitas Diponegoro Semarang angkatan tahun 2015 yang selalu
bersama dalam belajar. Terlebih adalah untuk istri dan anak-anakku yang

selalu mendampingi menjadi obor semangat dalam berkarya.

PERSEMBAHAN
Karya kecil ini kupersembahkan untuk adik-adik mahasiswa dan para
alumni serta keluarga besar Universitas Muhammadiyah Semarang yang

membanggakan, semoga jaya selalu dalam ridho Illahi Robbi.

v

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 1

BAGIAN I
IDENTIFIKASI

BERBAGAI
HELMINTHES

2 | Identifikasi Helminthes

IDENTIFIKASI NEMATODA USUS KELOMPOK

SOIL TRANSMITTED HELMINTH

Nematoda usus merupakan cacing berbentuk gilig yang memiliki
habitat hidup di dalam usus manusia. Dalam siklus hidupnya kelompok
cacing usus ada yang membutuhkan media tanah untuk salah satu tahapan
perkembangbiakannya, namun ada pula yang tidak. Cacing nematoda yang
sebagian perkembangannya dalam tanah ini disebut dengan cacing yang
siklus hidupnya melalui tanah. Dalam bahasa ilmiah sering disebut dengan
soil transmitted helminth.

Sebutan soil transmitted helminth umumnya lebih sering
diterjemahkan menjadi “cacing yang ditularkan melalui tanah”. Apabila kita
mencermati lebih lanjut cacing kelompok ini sebenarnya bukan hanya
melalui tanah proses penularan terjadi, namun juga melalui makanan,
minuman bahkan tangan kita yang terkontaminasi oleh telur cacing. Semua
bahan makanan yang telah terkontaminasi oleh telur cacing dengan cara
apapun dan masuk ke dalam tubuh kita akan menjadi media penularan
infeksi kecacingan dari nematoda kelompok ini. Artinya proses penularan
telur cacing tidak selalu semata-mata akibat masuknya tanah atau debu
yang telah terkontaminasi oleh telur cacing. Sangat bijaksana apabila kita
mendefinisikan sebutan soil transmitted helminth menjadi “cacing yang
siklus hidupnya melalui tanah”.

Terdapat 5 spesies cacing yang termasuk dalam kelompok nematoda
usus yang siklus hidupnya melalui tanah, yaitu cacing gelang (Ascaris
lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator
americanus, Ancylostoma duodenale) dan cacing benang (Strongyloides
stercoralis). Kelima spesies memiliki tahapan stadium perkembangan yang
sama mulai dari telur, larva hingga dewasa namun tidak semua stadium
memberikan makna klinis yang sama.

Pada stadium telur ada kesulitan membedakan telur cacing tambang
dari dua genus yang berbeda. Demikian pula untuk membedakan telur
cacing tambang dengan telur Strongyloides stercoralis, hanya didasarkan
rasionalitas dari siklus hidup yang terjadi. Pada stadium larva, Ascaris
lumbricoides dan Trichuris trichiura jarang diidentifikasi stadium larvanya,
sementara cacing tambang dan Strongyloides stercoralis harus dibedakan
secara detail morfologi stadium larvanya. Mengenal ciri-ciri morfologi
dengan baik menjadi kunci keberhasilan dan ketepatan dalam melakukan
identifikasi spesies cacing yang diperiksa.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 3

ASCARIS LUMBRICOIDES

Nama lain dari Ascaris lumbricoides adalah cacing gelang. Siklus
perkembangan hidupnya dimulai dari stadium telur yang menetas menjadi
larva lalu berkembang menjadi dewasa. Stadium larva memiliki kemampuan
menembus jaringan organ dalam manusia, relatif sulit ditemukan pada
spesimen faeses yang menjadi spesimen pemeriksaan rutin infeksi
kecacingan sehingga relatif jarang dikaji morfologinya. Dalam keseharian
pemeriksaan laboratorium cacing ini lebih difokuskan pada stadium telur
dan dewasa yang sering ditemukan pada tersangka penderita.
1. Stadium Telur

Morfologi dasar dari telur cacing gelang adalah berbentuk bulat
oval dengan ukuranberkisar antara 45 – 75 mikron x 35 – 50 mikron.
Pada bagian dinding telur memiliki 3 lapisan yaitu lapisan luar yang
tebal dari bahan albuminoid yang bersifat impermiabel, lapisan tengah
dari bahan hialin bersifat impermiabel (lapisan ini yang memberi bentuk
telur) dan lapisan paling dalam dari bahan vitelline bersifat sangat
impermiabel sebagai pelapis sel telurnya. Morfologi detail telur cacing
ini tampak pada gambar 1. Perhatikan dengan seksama setiap ciri khas
setiap bagian telur agar memudahkan dalam melakukan identifikasi.

Lapisan albuminoid
Lapisan hialin
Lapisan vitellin

Sel telur
Rongga udara

www.cdc.gov

Gambar 1. Morfologi telur Ascaris lumbricoides fertil

Telur fertil yang belum berkembang biasanya tidak memiliki
rongga udara, tetapi yang telah mengalami perkembangan akan
didapatkan rongga udara. Rongga udara yang tampak merupakan akibat
dari adanya perkembangan telur itu sendiri menuju kematangannya.
Pada stadium akhir telur akan berisi larva (gambar 2.c) yang pada tahap
awal pembentukan larva hanya akan tampak seperti garis yang memiliki
alur hingga pada akhirnya akan tampak badan larva yang tegas.

4 | Identifikasi Helminthes

(a) (b) (c)
Gambar 2. Telur Ascaris lumbricoides berbagai fase perkembangan

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/ascariasis)

Telur yang telah mengalami dekortikasi akan tampak lapisan
albuminoidnya sudah hilang, sehingga lapisan terluar yang seharusnya
tampak kasar menjadi tampak halus. Pada telur ini lapisan hialin
menjadi lapisan terluar.

Lapisan hialin
Lapisan vitellin
Sel telur yang berkembang

www.cdc.gov

Gambar 3. Telur fertil mengalami dekortikasi

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/ascariasis)

Hal penting yang menjadi ciri khas telur Ascaris lumbricoides yang
mengalami dekortikasi terletak pada ketebalan lapisan hialin. Walaupun
lapisan terluar sudah tampak halus tanpa benjolan kasar namun masih
tampak jelas ketebalan lapisan hialin yang menjadi ciri khasnya. Lapisan
hialin pada telur cacing spesies ini relatif tebal. Apabila kurang jeli dalam
mengidentifikasi telur dekortikasi ini sangat mungkin akan dideteksi
sebagai telus cacing tambang karena sangat mirip bentuknya.

Telur infertil bentuknya lebih lonjong, ukuran lebih besar, kadang
membentuk sudut sehingga terkesan berbentuk agak kotak, berisi
protoplasma yang mati sehingga biasanya akan tampak relatif lebih
transparan walaupun tidak ditemui pada semua telur infertil.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 5

Lapisan albuminoid

Protoplasma
yang mati

(a) (b)
Gambar 4. Morfologi telur infertil Ascaris lumbricoides

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/ascariasis)

2. Stadium Dewasa
Cacing dewasa jantan berukuran antara 10 – 30 cm, dengan

diameter badannya antara 2 – 4 mm. Ekornya melingkar ke arah ventral
dan memiliki 2 buah spikula. Cacing dewasa betina berukuran relatif
lebih besar antara 20 – 35 cm, diameter badan antara 3 – 6 mm. Ciri
lainnya relatif sama dengan yang jantan, hanya bagian ekornya lurus dan
runcing.

Kepala

Ekor

Gambar 5. Cacing dewasa betina Ascaris lumbricoides

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/ascariasis)

Pada sediaan potongan melintang kepala cacing ini akan tampak
bagian mulut Ascaris lumbricoides yang terbentuk dari 3 buah bibir
seperti pada gambar 6.

6 | Identifikasi Helminthes

Bibir atas (mediodorsal)

Bucal cavity
Bibir bawah (ventrolateral)

Gambar 6. Potongan melintang mulut Ascaris lumbricoides

Bagian mulut cacing ini tersusun atas 3 buah bibir, yaitu satu buah
pada bagian mediodorsal dan 2 buah pada bagian ventrolateral. Memiliki
sensor papillae pada mulutnya. Adanya 3 buah bibir membentuk bucal
cavity yang berbentuk trianguler diantara ketiga bibir tersebut.

TRICHURIS TRICHIURA

Nama lain dari Trichuris trichiura adalah cacing cambuk. Sebutan ini
sesuai dengan bentuk badan cacing ini dimana dari bagian posterior ke
bagian anterior semakin ujung semakin mengecil diameternya sehingga
menyerupai cambuk. Stadium perkembangan penting untuk identifikasi
rutin adalah stadium telur dan dewasa.

1. Stadium Telur
Telur cacing cambuk berukuran antara 50 x 25 mikrometer.

Bentuknya khas seperti tempayan kayu atau biji melon. Ada pula yang
mencandranya seperti bentuk penampan kayu kuno. Pada bagian ujung
atau kutub telur memiliki bentuk tonjolan. Penonjolan ini tampak jernih
pada kedua kutub telur yang juga disebut mucoid plug. Dinding bagian
luar berwarna kuning tengguli sementara bagian dalammya relatif
jernih.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 7

Mucoid plug

Dinding telur Sel telur

(a) (b)
Gambar 7. Telur Trichuris trichiura tanpa pewarnaan (a) dan

pewarnaan lugol (b).

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/trichuriasis)

2. Stadium Dewasa
Cacing desawa berbentuk seperti cambuk sehingga disebut cacing

cambuk. Pada bagian anterior tubuhnya berbentuk langsing seperti
ujung cambuk, sedangkan bagian posterior lebih tebal. Cacing dewasa
jantan berukuran antara ukuran 3 – 5 cm, bagian ekor yang ukurannya
lebih besar bentuknya membulat tumpul dan melengkung ke arah
ventral hingga seperti koma dan mempunyai sepasang spikulum yang
refraktil. Sedangkan cacing cambuk betina ukuran panjangnya antara 4 –
5 cm dengan bagian ekor membulat dan tumpul tetapi tidak melengkung,
hanya lurus saja.

Kepala

Ekor
melingkar

Gambar 8. Cacing dewasa Trichuris trichiura jantan

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/trichuriasis)

8 | Identifikasi Helminthes

Pada gambar di atas tampak cacing cambuk dewasa berjenis
kelamin jantan. Bagian ekor cacing memiliki ukuran diameter badan
yang lebih besar dari bagian kepala. Hal ini merupakan ciri khas cacing
cambuk karena lazimnya spesies lain semakin ke bagian ekor
ukurannya akan relatif semakin kecil. Ekor yang melingkar ke arah
ventral merupakan ciri jenis kelamin jantan.

CACING TAMBANG

Cacing tambang yang menginfeksi sekaligus menjadikan manusia
sebagai hospes definitifnya ada 2 spesies, yaitu Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale. Cacing ini juga sering disebut cacing kait
(hookworm) karena memiliki kait berupa gigi pada Ancylostoma atau
lempeng pemotong pada Necator di mulut untuk melekatkan diri pada
dinding usus manusia.
1. Stadium Telur

Stadium telur cacing tambang tidak dapat dibedakan apakah dari
genus Ancylostoma ataukah Necator sehingga cukup dengan
menyebutnya sebagai telur cacing tambang.

Dinding
hialin selapis

Sel
telur

Gambar 9. Telur cacing tambang

(sumber gambar : koleksi pribadi dan OSPHL doc.)

Telur cacing tambang memiliki ukuran antara 55 x 35
mikrometer. Bentuknya bulat oval kadang agak lebih lonjong lagi. Pada
bagian dinding telur tampak hanya selapis dinding yang transparan.
Dinding telur ini berbahan dasar hialin. Pada bagian dalam akan tampak
sel telur. Sel telur yang belum berkembang biasanya tampak seperti

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 9

kelopak bunga dengan kisaran sel telur antara 4 – 8 sel. Pada stadium
perkembangan sel telur akan menjadi morula, tidak lagi tampak seperti
kelopak bunga namun sudah tampak lebih kompak. Dalam
perkembangan lebih lanjut morula berkembang menjadi larva. Telur
yang sudah berisi larva ini merupakan telur yang siap untuk menetas.

2. Stadium Larva
Stadium larva cacing tambang memiliki 2 bentuk yaitu larva

rhabditiform dan larva filariform. Larva rhabditiform merupakan larva
muda yang baru menetas dari telur.
a. Larva rhabditiform

Larva ini belum memiliki kemampuan menembus kulit manusia
sehingga belum bersifat infektif. Larva stadium ini memiliki mulut
yang sempit namun panjang. Esophagusnya terletak pada 1/3
panjang badan terletak pada bagian anterior.

Ekor

Esofagus

Mulut

Gambar 10. Larva rhabditiform cacing tambang

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hookworm)

b. Larva filariform
Larva ini bersifat infektif, yaitu memiliki kemampuan menembus

kulit apabila bersinggungan dengan kulit manusia. Bentuk badan
larva ini halus panjang kurang lebih berukuran 600 mikrometer.
Esophagusnya terletak pada ¼ anterior dari panjang badannya.
Mulut larva ini tertutup sedangkan ekornya lancip sampai ke ujung.

10 | Identifikasi Helminthes

Bentuk badan sepintas larva stadium ini memiliki lekukan yang
sangat luwes. Kesan agak kaku pada larva sebelumnya tidak lagi
tampak. Ukuran panjang yang bertambah membuat larva filariform
tampak lebih langsing bila dibandingkan dengan larva rhabditiform.

Organ Ekor
pencernaan runcing

Ekor

Mulut

Gambar 11. Larva filariform cacing tambang.

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hookworm)

Lekukan luwes yang indah tampak pada gambar di atas, mulai
dari kepala hingga ekor tampak begitu luwes badannya. Pada bagian
ekor memiliki ujung yang khas berbentuk runcing tanpa takik (inzet).

Organ
pencernaan

Mulut

Esofagus

Gambar 12. Mulut larva filariform cacing tambang

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 11

Sayangnya gambar 11 di atas tidak menampakkan kejelasan
letak esofagus. Hal ini harus dimaklumi bahwa dalam memproses
seekor cacing menjadi sebuah sediaan permanen memang tidak
selalu memberikan hasil berupa gambaran yang sempurna pada
sebuah sediaan saja. Untuk memperjelas gambaran mulut yang
tertutup dan letak esophagus yang sangat jelas dapat diperhatikan
pada gambar 12.

3. Stadium Dewasa
Cacing tambang dewasa berukuran relatif kecil. Cacing dewasa

betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, sedangkan cacing jantan
relatif lebih kecil kurang lebih 0,8 cm panjang badannya. Spesies
Ancylostoma duodenale stadium dewasa memiliki bentuk badan yang
menyerupai huruf C. Bagian mulutnya memiliki dua pasang gigi yang
runcing, dua buah di sisi kiri dan 2 buah lagi di sisi kanan.

2 pasang
gigi

www.cdc.gov

(a) (b)
Gambar 13. Mulut Ancylostoma duodenale dan skematiknya (a)

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hookworm)

sepasang
lempeng
pemotong

(a) (b)
Gambar 14. Mulut Necator americanus dan skematiknya (a)

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hookworm)

12 | Identifikasi Helminthes

Spesies Necator americanus pada stadium dewasa memiliki bentuk
badan yang menyerupai huruf S. Bagian mulut hanya mempunyai
sepasang benda kitin sebagai lempeng pemotong pada kedua sisi
mulutnya. Spesies ini tidak memiliki gigi.

Ciri khas lain cacing tambang dewasa ditunjukkan pada jenis
kelamin jantan. Apabila nematoda usus lainnya hanya menunjukkan
bentuk ekor yang melingkar ke ventral namun untuk cacing tambang
jantan memiliki sepasang bursa kopulatrik dan sepasang spikula. Bursa
kopulatrik berbentuk mirip ekor ikan. Dari namanya fungsi organ ini
adalah untuk membantu cacing saat melakukan kopulasi dengan lawan
jenisnya.

A. duodenale N. americanus

Celah

Takik

Gambar 15. Bursa kopulatrik cacing tambang jantan

Bursa kopulatrik kedua spesies cacing tambang jantan diatas
sepintas tampak sama namun sebenarnya memiliki perbedaan yang
nyata. Pada Ancylostoma duodenale celahnya dangkal dan memiliki ujung
bertakik tiga, sedangkan pada spesies Necator americanus memiliki celah
yang relatif dalam dengan kedua ujung bertakik dua.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 13

STRONGYLOIDES STERCORALIS

Spesies cacing ini secara visual pada stadium dewasa relatif kecil
panjang dan apabila jumlahnya relatif banyak tampak seperti benang maka
diberikan sebutan sebagai cacing benang. Tahapan stadium perkembangan
hidupnya memiliki kesamaan dengan cacing tambang namun kemampuan
hidup spesies cacing ini lebih bagus karena dapat bertahan hidup di alam
bebas pada stadium dewasa.

1. Stadium Telur
Telur cacing bentuk parasitik memiliki ukuran kurang lebih 54 x 32

mikrometer. Bentuknya bulat hingga oval memiliki selapis dinding yang
transparan. Bentuknya sangat mirip dengan telur cacing tambang
sehingga sangat susah dibedakan. Namun telur cacing ini jarang
ditemukan di dalam tinja kecuali sesudah penderita diberikan obat
pencahar yang kuat. Dalam siklus perkembangannya telur cacing ini
menetas di dalam usus manusia. Hal inilah yang menyebabkan telur
cacing spesies ini secara teoritik tidak akan pernah ditemukan dalam
tinja penderita, namun temuan larva sangat mungkin.

2. Stadium Larva
Seperti halnya pada larva cacing tambang, cacing spesies ini juga

memiliki 2 tahapan perkembangan larva, yaitu larva rhabditiform dan
larva filariform. Sepintas morfologinya seolah tampak mirip namun ada
beberapa perbedaan dengan larva cacing tambang. Dari sisi ukuran,
larva cacing ini relatif lebih kecil dibandingkan larva cacing tambang.
Ukuran diameter badan yang lebih kecil memberikan kesan lebih
ramping pada spesies ini. Agar tidak terjadi kemungkinan kesalahan
identifikasi sebaiknya dalam belajar kedua materi ini disandingkan agar
dapat dibandingkan secara langsung sehingga diketahui benar letak
perbedaannya.

a. Larva rhabditiform
Larva tahap perkembangan awal ini memiliki bentuk badan

yang halus dan relatif pendek. Ukuran pendeknya menyebabkan
tampilan keseluruhan tampak agak gemuk dibandingkan larva
filariform dari spesies yang sama.

14 | Identifikasi Helminthes

Mulut
Esofagus

Ekor

Gambar 16. Larva rhabditiform Strongyloides stercoralis

(sumber gambar : www.wadsworth.org)

Esophagusnya terletak di 1/3 anterior dari panjang badan.
Larva stadium ini memiliki mulut yang lebar namun pendek. Mulut
yang lebar ini mengesankan seolah seperti terbuka. Gunakan
perbesaran sedang untuk melihatnya.

b. Larva filariform
Larva yang telah berkembang ini tetap memiliki bentuk badan

yang halus namun ukurannya relatif panjang sehingga tampak
langsing. Esophagusnya jauh ke tengah hampir mencapai ½ panjang
badannya.

Ekor

Esofagus

Mulut

Gambar 17. Larva filariform Strongyloides stercoralis

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/strongyloidiasis)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 15

Ciri khas pada larva filariform spesies ini terletak pada bagian
ekornya. Apabila pada cacing tambang ekornya lurus dan runcing,
namun pada spesies cacing benang ini bagian ekornya berakhir
dengan ujung yang bercabang (bertakik).

Bentuk ekor yang bertakik akan tampak pada pengamatan
mikroskopis dengan perbesaran sedang atau kuat menggunakan
mikroskup yang berkualitas. Sediaan larva cacing yang baru saja
dimatikan dari hasil pembiakan tentu akan lebih memberikan
gambaran yang lebih jelas dibandingkan sediaan awetan yang sudah
berumur.

Larva rhabditiform Ekor
(250 x 20 µm) bertakik

Larva filariform
(600 x 20 µm)

Gambar 18. Skematik larva Strongyloides stercoralis

3. Stadium Dewasa
Cacing dewasa betina bentuk parasit memiliki ukuran antara 2,20 x

0,04 mm. Warna badannya semi transparan dengan kutikulum yang
bergaris halus. Ruang mulut memiliki esophagus yang relatif panjang.
Badannya tampak langsing berbentuk silindris. Pada bagian dalam
badannya terdapat uterus. Sepanjang uterus berisi sebaris telur yang
berdinding tipis, jernih dan bersegmen. Bagian ekor cacing dewasa
betina relatif lurus.

Gambar di bawah adalah cacing dewasa betina bentuk bebas yang
hidup di alam. Tampak sederetan telur cacing di dalam tubuh cacing
tersebut. Bagian yang tampak lebih besar dan melingkar adalah kepala
cacing. Cacing dewasa jantan memiliki ciri yang sama dengan organ
kelamin yang berbeda. Ukuran cacing jantan relatif lebih kecil
dibandingkan dengan cacing betina. Bagian ekor cacing jantan
melengkung ke arah ventral.

16 | Identifikasi Helminthes

Telur Ekor
dalam
uterus Larva
rhabditiform

Kepala

Gambar 19. Strongyloides stercoralis betina bentuk bebas

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/strongyloidiasis)

Cacing betina dewasa bentuk bebas ini ditemukan di alam. Dalam
salah satu siklusnya cacing spesies ini akan dewasa di tanah dan dapat
hidup dan berkembangbiak di tanah. Kemampuan hidup hingga stadium
dewasa di luar tubuh hospes ini merupakan kelebihan spesies ini.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 17

IDENTIFIKASI NEMATODA USUS
NON SOIL TRANSMITTED HELMINTH

Cacing yang termasuk dalam kelas nematoda usus namun tidak
memiliki siklus hidup melalui tanah hanya satu spesies, yaitu Enterobius
vermicularis atau sering disebut cacing kremi. Infeksi cacing kremi ini
memiliki kekhususan dalam pemeriksaan. Spesimen pemeriksaan rutin
paling ideal hanyalah apusan dari daerah perianal. Spesimen berupa faeses
sangat tidak dianjurkan karena dapat memberikan hasil negatif palsu yang
tinggi.

ENTEROBIUS VERMICULARIS

1. Stadium telur
Stadium telur cacing kremi memiliki ukuran berkisar antara 50 x 25

mikrometer. Bentuknya sangat khas yaitu lonjong asimetris (oval
asimetris) . Bentuk asimetris tersebut diakibatkan oleh salah satu sisi
dinding telur yang mendatar sementara sisi yang satu melengkung.
Namun perlu dipahami apabila posisi telur terletak miring baru akan
tampak asimetris. Sebaliknya bila bagian datar terletak pada bagian
dasar kaca benda pembaca, maka telur akan tampak simetris. Dinding
telur cacing ini tersusun atas 2 lapisan, berwarna bening. Telur biasanya
berisi sel telur, embrio atau larva tergantung fase perkembangannya.

Telur cacing bentuk
oval asimetris

Larva cacing

Gelembung
udara

Didik S, 2011
Gambar 20. Telur Enterobius vermicularis pada apus perianal

18 | Identifikasi Helminthes

Ciri khas lapisan dinding 2 lapis akan tampak jelas pada
pengamatan dengan perbesaran sedang dengan memainkan mikrometer
pada mikroskup. Gambaran dinding telur cacing yang tersusun 2 lapis
tersebut akan tampak jelas pada pengaturan fokus yang tepat. Namun
perlu diperhatikan bilamana sediaan merupakan hasil langsung dari
apusan perianal, sediaan tidak akan bisa tampak merata pada seluruh
lapangan pandang sediaan (gambar 20). Hal ini karena relatif sulit
menghindarkan adanya gelembung udara di bawah selofan pada apusan
perianal. Diperlukan ketrampilan yang memadai agar dapat melakukan
identifikasi dengan hasil optimal.

Dinding 2 lapis

Sisi lengkung

Sel telur

Sisi mendatar

www.cdc.gov
Gambar 21. Morfologi telur Enterobius vermicularis

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/enterobiasis)

2. Stadium dewasa
Cacing kremi dewasa berukuran antara 2 – 10 mm. Cacing jantan

lebih kecil ukurannya berkisar antara 2 – 5 mm, sedangkan jenis kelamin
betina bisa mencapai 10 mm. Pada bagian kepala cacing dewasa
memiliki memiliki sayap leher (cervical alae/cephalic alae). Pada bagian
ekor cacing betina bentuknya runcing dan lurus. Cacing dewasa jantan
ekornya melingkar ke arah ventral dan dilengkapi dengan sepasang
spikulum. Bulbus esophagus pada cacing ini tampak relatif bulat
membesar yang khas.

Ukuran cacing dewasa yang relative besar ini memungkinkan kita
mendeteksinya dengan mata telanjang. Saat daerah perianal terbuka
pada malam hari, dengan bantuan pencahayaan yang cukup akan tampak
badan cacing dewasa seolah seperti kelapa parut. Secara mikroskopis
morfologi lengkap cacing kremi dewasa seperti pada gambar 22 berikut.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 19

Esofagus

Ekor Sayap
melengkung leher

www.cdc.gov

Gambar 22. Morfologi Enterobius vermicularis jantan

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/enterobiasis)

Tampak dalam gambar diatas pada bagian ekor cacing melengkung
ke arah ventral. Ciri ini menunjukkan jenis kelamin jantan. Esophagus
yang berbentuk bulbus juga tampak nyata. Sayap leher yang terbuat dari
bahan protein tipis transparan akan tampak lebih nyata pada sediaan
segar namun pada sediaan awetan organ ini dapat tidak terlihat karena
sangat mungkin mengalami kerusakan atau larut dalam bahan kimia
tertentu dalam pemrosesan. Pada gambar di atas masih tampak jelas
sayap leher yang utuh di kedua sisi kepala cacing.

20 | Identifikasi Helminthes

IDENTIFIKASI NEMATODA JARINGAN

Cacing dari kelas nematoda jaringan memiliki habitat hidup di dalam
berbagai jaringan tubuh manusia. Cacing ini sering juga dikategorikan
sebagai kelompok cacing filaria. Jenis cacing filaria yang dapat menginfeksi
manusia jumlahnya relatif banyak, namun di negara kita jenis cacing filaria
yang pernah ditemukan dan hingga kini masih menjadi masalah kesehatan
di berbagai daerah endemik adalah dari genus Wuchereria dan Brugia.
Spesies yang pernah ditemukan adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi
dan Brugia timori.

Cacing filaria jenis ini memiliki 2 siklus perkembangan yaitu di dalam
tubuh manusia dan di dalam tubuh serangga vektornya. Stadium
perkembangan cacing ini di dalam tubuh manusia dapat ditemukan dalam 2
bentuk, yaitu bentuk dewasa (makrofilaria) dan bentuk larva (mikrofilaria).

WUCHERERIA BANCROFTI

1. Stadium Mikrofilaria
Spesies ini stadium mikrofilarianya berukuran antara 250 – 300

mikrometer x 7 – 8 mikrometer. Memiliki lekuk badan yang halus atau
luwes. Susunan intinya tampak teratur.

Sarung Ruang
Inti kosong
kepala

Lekosit

Gambar 22. Mikrofilaria Wuchereria bancrofti

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/lymphaticFilariasis)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 21

Spesies ini termasuk cacing filaria yang memiliki sarung pada
mikrofilaria-nya. Sarung badan mikrofilaria ini tampak pucat pada
pewarnaan Giemsa karena tidak menyerap zat warna. Ciri lain adalah
ukuran ruang kosong di kepala dimana ukuran panjangnya relatif sama
dengan lebarnya. Sedangkan pada bagian ujung ekor tidak tampak
adanya inti tambahan.

2. Stadium Makrofilaria
Cacing dewasa bentuknya halus seperti benang berwarna putih

susu. Jenis kelamin betina memiliki panjang badan lebih kurang antara
6,5 – 10 cm dan diameternya lebih kurang 0,25 mm, ekornya lurus.
Cacing dewasa jantan berukuran relatif lebih kecil dengan panjang badan
lebih kurang 4,0 cm dan diameter 0,1 mm, bagian ekornya melingkar.

Gambar 23. Cacing filaria dewasa (makrofilaria)

(sumber gambar : www.animogen.com)

BRUGIA MALAYI

1. Stadium Mikrofilaria
Ukuran mikrofilaria spesies ini relatif lebih kecil dari Wuchereria

bancrofti, yaitu sekitar 200 – 260 µm x 8 µm. Bentuk umum badannya
tampak berlekuk kaku. Intinya tersusun secara tidak teratur. Termasuk
mikrofilaria yang bersarung juga, namun sifat sarungnya terhadap
pewarnaan Giemsa mengikat kuat sehingga sarungnya terwarnai merah.
Sarung yang ada di anterior menyisakan ruang kosong yang berukuran
panjangnya kurang lebih 2 kali lebarnya. Tampak pada bagian ujung
ekor terdapat satu – dua inti tambahan.

22 | Identifikasi Helminthes

Ruang kosong kepala

Sarung
Inti

Lekosit

Gambar 24. Mikrofilaria Brugia malayi

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/lymphaticFilariasis)

2. Stadium Makrofilaria
Cacing dewasa spesies ini sepintas memiliki ciri yang relatif sama

dengan spesies Wuchereria bancrofti. Bentuk dan warna badannya
secara visual dari pengamatan fisik dari luar hampir tidak berbeda yaitu
badan halus berwarna putih susu, hanya ukurannya yang relatif lebih
kecil, untuk cacing betina memiliki panjang sekitar 5,5 mm dan diameter
badan 0,16 mm, ekornya lurus. Cacing dewasa jantan berukuran panjang
2,2 – 2,3 mm dengan diameter 0,09 mm, ekornya melingkar.

Gambar 25. Makrofilaria

(sumber gambar : http://www.filariasis.org)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 23
BRUGIA TIMORI

1. Stadium Mikrofilaria
Spesies Brugia timori merupakan jenis cacing filaria yang

ditemukan di Pulau Timor, Kepulauan Alor dan sekitarnya. Ciri khas
cacing filaria ini memiliki kemiripan dengan Brugia malayi.

Lekosit

Inti Ruang
Sarung kosong
kepala

Gambar 25. Mikrofilaria Brugia timori

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/lymphaticFilariasis/
gallery.html#microbtimori)

Mikrofilaria spesies ini berukuran panjang badan antara 310 –
340 mikrometer. Lekuk badannya relatif kaku dengan susunan inti yang
tidak teratur. Jumlah inti tambahan pada bagian ekornya relatif lebih
banyak ditemukan. Sarung badannya tidak akan terwarnai dalam
pewarnaan Giemsa. Yang membedakan dengan Brugia malayi adalah
ukuran panjang ruang kosong di bagian kepala. Apabila estimasi ruang
kosong di kepala pada Brugia malayi berkisar dua kali lebarnya maka
pada Brugia timori memiliki panjang berkisar tiga kali lebarnya atau
lebih.

2. Stadium Makrofilaria
Stadium dewasa kedua jenis kelamin memiliki ujung anterior yang

melebar pada kepala yang membulat. Ekornya juga relatif membulat.
Cacing jantan, ekornya melengkung dengan spikula. Pada cacing betina,
vulva terletak sebelah anterior dari dasar esophagus.

24 | Identifikasi Helminthes

IDENTIFIKASI CESTODA

Termasuk dalam kelas cestoda adalah kelompok cacing pita. Cacing
pita dewasa secara utuh tersusun atas skolek pada bagian anterior yang
bersambung dengan segmen immature, segmen matur dan segmen gravid.
Jumlah segmen tiap tahap perkembangan tidak hanya satu namun terdapat
beberapa yang jumlahnya tak dapat dipastikan. Bagian paling ujung ekor
dari cacing ini adalah segmen gravid.

Segmen immature merupakan segmen yang langsung tumbuh dari
leher yang menyatu dengan skolek. Segmen ini merupakan segmen paling
muda hingga belum terbentuk organ-organ reproduksinya. Pada tahap
berikutnya segmen ini akan mengalami pematangan dan menjadi segmen
mature. Organ reproduksi mengalami pematangan, siap menghasilkan sel
telur dan sperma pada segmen mature ini. Setelah terjadi pembuahan maka
akan terbentuklah telur yang disimpang dalam uterus. Saat uterus sudah
berisi telur inilah sebuah segmen cacing pita sudah dikategorikan sebagai
segmen gravid.

TAENIA SAGINATA

1. Stadium Telur
Stadium telur spesies ini memiliki ciri khas dengan bentuk bulat.

Ukuran telur ini berkisar antara 30 – 40 µm x 20 – 30 µm. Pada bagian
dinding telur ini tampak sangat tebal tebal dan memiliki garis radier di
seluruh keliling dinding telur. Pada bagian dalam terdapat sebuah
embrio yang memiliki 6 buah kait sehingga dinamakan embrio heksakan.

Garis radier

Embrio

www.cdc.go heksakan www.coccidia.icb.us

v p.br

Gambar 25. Telur Taenia sp

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis dan www.coccidia.icb.usp.br)

2. Stadium Dewasa
Pada stadium dewasa cacing ini menyerupai pita panjang.

Bentuknya pipih dengan bagian badan yang bersegmen-segmen atau
beruas-ruas. Panjang badannya secara lengkap dari kepala hingga ekor
dapat mencapai 4 – 12 meter. Badan cacing pita ini terbagi atas kepala

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 25

(skolek), leher dan proglotid-proglotid atau segmen. Rangkaian segmen-
segmen ini kadang kala disebut strobila. Ukuran skolek (kepala) antara
1 – 2 mm, memiliki 4 batil isap tanpa rostelum dan tanpa kait.

Gambar 26. Cacing dewasa Taenia sp

(sumber : www.southampton.ac.uk)

Skolek Taenia saginata tidak memiliki rostelum dan kait, hanya tampak
4 buah batil isap.

Skolek Segmen
immatur

Batil isap

Gambar 27. Skolek Taenia saginata

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis)

Jumlah proglotid antara 1000 – 2000 buah, terdiri atas proglotid
immature – mature – dan gravid. Proglotid mature terlihat struktur
kelamin seperti folikel testis yang berjumlah 300 – 400 buah tersebar di

26 | Identifikasi Helminthes

bidang dorsal. Ovarium terdiri dari 2 lobus letaknya di 1/3 bagian
posterior proglotid. Uterus memanjang terletak agak ke bagian anterior
proglotid.

Testis

Ovarium

Uterus Lubang
genital

Gambar 28. Skematis proglotid mature Taenia saginata

Ukuran panjang proglotid yang lebih panjang dari lebarnya
merupakan salah satu ciri khas spesies ini. Lubang genital letaknya pada
salah satu sisi yang sama pada setiap proglotid. Testis menghasilkan
sperma yang akan membuahi sel telur yang dihasilkan oleh ovarium. Sel
telur yang telah dibuahi akan berada dalam uterus dan semakin lama
semakin banyak sel telur yang dibuahi sehingga uterus akan semakin
penuh.

Lubang
genital

Percabangan
uterus

Gambar 29. Proglotid gravid Taenia saginata

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 27

Adanya kemampuan sel sperma membuahi sel telur dan
menghasilkan telur cacing menunjukkan proglotid sudah menjadi
stadium gravid. Pada proglotid gravid uterus telah berisi banyak telur
yang telah dibuahi sehingga menyebabkan bentuk uterus menjadi padat
isi dan membentuk percabangan. Jumlah percabangan uterus pada
spesies ini berkisar antara 15 – 30 cabang.

TAENIA SOLIUM

1. Stadium Telur
Morfologi stadium telur spesies Taenia solium hampir tidak dapat

dibedakan dari telur Taenia saginata. Informasi perihal asal sampel
pemeriksaan menjadi sangat penting dalam membantu identifikasi.

2. Stadium Dewasa
Cacing dewasa yang utuh dari anterior hingga posterior panjang

badannya dapat mencapai 2 – 8 meter. Badan cacing terbagi atas bagian
kepala (skolek), leher dan proglotid-proglotid. Pada bagian skolek
memiliki 4 batil isap dan memiliki 2 baris kait dimana masing-masing
berisi sebanyak 25 – 30 buah kait.

Leher Skolek

Rostelum
berkait

Segmen
immatur

Batil isap

Gambar 30. Skolek Taenia solium

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis)

Pada proglotid mature terlihat struktur kelamin seperti folikel
testis yang berjumlah 150 – 200 buah tersebar di bidang dorsal. Selain
itu karena cacing ini bersifat hermaprodit, juga dapat terlihat adanya
ovarium. Sedangkan uterus berada pada bagian anterior proglotid.

28 | Identifikasi Helminthes

Genital pore

Gambar 31. Skematis proglotid mature Taenia solium

(sumber gambar : www.studyblue.com)

Proglotid gravid spesies Taenia solium memiliki uterus dengan
percabangan berjumlah antara 7 – 12 cabang. Jumlah ini relatif lebih
sedikit dibandingkan percabangan uterus pada cacing pita sapi.

Persambungan
proglotid

Cabang uterus
Lubang genital

Gambar 32. Proglotid gravid Taenia solium

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis)

Pada gambar diatas tampak jelas ukuran panjang dari segmen
gravid lebih panjang dari lebarnya. Lubang genital yang hanya satu
terletak di sisi lateral yang merupakan saluran tempat keluarnya telur
yang matang. Sementara uterus sudah tampak bercabang dengan warna
lebih gelap karena di dalamnya mengandung telur cacing yang sangat
banyak. Setiap satu segmen dari cacing ini tampak jelas batasnya dengan
segmen yang lain dengan persambungan antar segmen yang menyerupai
ruas batang tebu.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 29

HYMENOLEPIS NANA DAN HYMENOLEPIS DIMINUTA

Cacing pita ini memiliki ukuran relatif kecil sehingga sering disebut
juga cacing pita kerdil. Hospes definitifnya yang berupa binatang tikus juga
sering menjadikan cacing ini disebut cacing pita tikus. Stadium
perkembangan cacing ini dalam tubuh manusia dimulai dari telur, larva atau
embrio lalu menjadi sistiserkoid dan akhirnya menjadi dewasa. Dalam
pemeriksaan rutin, stadium yang seringkali ditemukan adalah stadium telur
dan dewasa. Paska pengobatan penderita, stadium dewasa dapat ditemukan
berupa strobila panjang ataupun mungkin berupa potongan proglotid saja.

1. Stadium Telur
a. Hymenolepis nana
Telur cacing spesies ini berbentuk bulat lonjong dengan ukuran
kurang lebih 30 x 47 mikron. Dinding telurnya relatif tipis, sedangkan
pada bagian kutub telur tampak menebal. Dari kedua kutub telur
yang menebal tersebut tampak keluar 4 – 8 filamen. Filamen ini
biasanya tampak seperti helai rambut atau garis tak beratur
memanjang. Pada bagian dalam telur terdapat onkosfera yang berisi
embrio. Embrio ini di dalamnya mengandung 6 buah kait yang
dinamakan embrio heksakan.

Kait Filamen
embrio

Embrio
heksakan

Dinding telur

Gambar 33. Telur Hymenolepis nana

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hymenolepiasis)

30 | Identifikasi Helminthes

b. Hymenolepis diminuta
Stadium telur memiliki kemiripan bentuk dengan Hymenolepis

nana. Bentuk telur spesies ini relatif bulat dengan ukuran lebih besar
dari telur Hymenolepis nana. Ukuran telurnya mencapai 60 x 79
mikron. Struktur dinding telur relatif tebal dan apabila dicermati
dengan perbesaran sedang akan tampak pula garis radier seperti
pada telur Taenia sp, namun tidak setebal dinding telur Taenia sp.
Kedua kutub telur cacing ini relatif tidak tampak karena bentuk telur
yang cenderung bulat. Tidak tampak pula adanya filamen di dalam
telur. Onkosfera tampak begitu jelas pada telur ini dengan embrio di
dalamnya. Seperti pada spesies lain cacing pita, embrio dalam telur
spesies ini juga memiliki 6 buah kait (embrio heksakan).

Dinding
telur

Onkosfera
marginal

Onkosfera
berisi
embrio

Gambar 34. Telur Hymenolepis diminuta

(sumber gambar : www.parasitologiaclinica.ufsc.br dan
http://www.cdc.gov/dpdx/hymenolepiasis-inzet )

Dalam kenyataan lebih sering ditemukan telur spesies ini dengan
embrio heksakan terletak pada sisi marginal atau agak ke tepi salah
satu sisi dinding telur.

2. Stadium Dewasa
a. Hymenolepis nana
Cacing dewasa memiliki badan yang bersegmen-segmen
memanjang menyerupai pita sebagaimana cacing pita lainnya, namun
dalam ukuran yang relatif kecil. Panjang badan keseluruhan hanya
mencapai ukuran 25 – 40 mm, lebar badan 1 mm. Cacing dewasa
terbagi atas bagian kepala (skolek), leher dan proglotid-proglotid.
Pada bagian skolek memiliki 4 batil isap dengan rostelum yang
memiliki kait.

Batil Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 31
isap
Rostellum
Kait

Gambar 35. Skolek Hymenolepis nana

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hymenolepiasis)

Proglotid mature cacing ini memiliki beberapa ciri khas dari
cacing lainnya. Sifat hermaprodit selalu mengikuti cacing dari kelas
cestoda termasuk spesies ini sehingga dalam proglotid matur akan
tampak adanya organ vital jantan dan betina. Testis yang merupakan
organ vital jantan terdapat 3 buah berbentuk bulat dengan 1 buah di
satu sisi sedang 2 buah lainnya di sisi lain dengan posisi
berdampingan. Ovarium satu buah letaknya di bagian tengah
berbentuk bilobus. Sebuah lubang genital sebagai saluran
pengeluaran telur cacing tampak pada bagian samping.

Ovarium

Proglotid

Testis

Gambar 36. Proglotid mature Hymenolepis nana

(sumber gambar : www.webpages.lincoln.ac.uk)

32 | Identifikasi Helminthes

Telur
dalam
uterus

Gambar 37. Proglotid gravid Hymenolepis nana

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hymenolepiasis)

Pada proglotid gravid, uterus berbentuk kantung tak teratur
berisi banyak telur yang telah dibuahi. Uterus yang berbentuk
kantung ini bahkan melebar selebar proglotid sehingga terkesan
seluruh area proglotid berisi penuh telur.
b. Hymenolepis diminuta

Bentuk dewasa cacing ini seperti pita dengan bagian atas adalah
kepala (skolek) yang berakhir dengan leher dan bersambung dengan
proglotid-proglotid. Panjang total badan cacing dewasa dapat
mencapai 30 – 60 cm, sedangkan lebarnya berkisar antara 3 – 5 mm.
Bagian skolek cacing ini memiliki 4 buah batil isap yang terletak
sejajar melingkar kepala. Pada puncak skolek tidak terdapat tonjolan
rostelum.

Gambar 55. Skolek Hymenolepis diminuta

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 33
Proglotid mature memiliki ukuran lebar yang lebih panjang
daripada panjangnya. Testis pada proglotid mature dapat ditemukan
3 buah berbentuk bulat dengan posisi yang relatif berjauhan, 1 buah
di satu sisi dan 2 buah di sisi yang lain dengan kesan menyebar relatif
jauh. Ovarium satu buah di bagian tengah proglotid berbentuk
bilobus. Sebuah lubang genital yang terhubung dari uterus di tengah
proglotid menuju salah satu sisi proglotid. Dalam rangkaian proglotid
mature, lubang genital ini tampak selalu terdapat pada satu sisi yang
sama.

Gambar 56. Proglotid mature Hymenolepis diminuta

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/hymenolepiasis)

Proglotid gravid spesies ini tidak jauh beda dengan spesies
sebelumnya, hanya ukurannya relatif lebih besar. Ukuran lebar
proglotid jauh lebih panjang dibandingkan ukuran panjangnya.
Uterus berbentuk kantung tak beraturan juga tampak penuh berisi
telur yang bertumpuk pada proglotid gravid spesies ini.

Telur dalam
uterus yang
berkembang

Gambar 57. Proglotid gravid Hymenolepis diminuta

(sumber gambar : aama-a.com)

34 | Identifikasi Helminthes

DIPHYLIDIUM CANINUM

1. Stadium Telur
Telur spesies ini ditemukan berkelompok dalam sebuah kapsul

pembungkus. Derajat infeksi tinggi akan memberikan gambaran pada
sediaan seperti buah salak dalam tangkai yang bergerombol. Dalam
sebuah kapsul dapat ditemukan beberapa hingga puluhan telur cacing.
Dalam pengamatan sedang, sebutir telur memiliki ciri khas dengan
bentuk relatif membulat. Ukuran telur ini berkisar antara Di dalamnya
terdapat sebuah onkosfera dengan embrio heksakan. Kait dalam embrio
akan tampak jelas dengan memainkan fokus mikroskup saat
pengamatan.

Dinding telur Kapsul

Telur

Embrio heksakan

Gambar 58. Telur Diphylidium caninum

(sumber gambar : koleksi pribadi dan cal.vet.upenn.edu)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 35

2. Stadium Dewasa
a. Skolek
Bagian skolek Dipyllidium caninum memiliki batil isap
berjumlah 4 buah. Diantara batil isap terdapat bagian kepala yang
menonjol yang disebut rostellum. Pada rostellum ini akan ditemukan
kait yang tersusun rapi.

Rostellum

Batil isap

Kait

Gambar 59. Skolek D. Caninum

(sumber gambar : www.corbisimages.com)

Skolek berakhir dengan leher yang menyambung langsung dengan
proglotid immature.

b. Segmen immature
Seperti pada spesies cacing pita lainnya, proglotid immature

pada spesies ini belum matang sehingga belum menunjukkan adanya
kesempurnaan organ vital untuk perkembangbiakannya. Memiliki
ukuran yang relatif lebih kecil dibandingkan proglotid mature
maupun proglotid gravid.

c. Segmen mature
Proglotid mature atau juga disebut proglotid matang

menunjukkan tingkat kematangan dari sebuah proglotid dengan telah
terbentuknya seluruh organ reproduksi dan organ pencernaan secara
lengkap di dalamnya.

36 | Identifikasi Helminthes

Lubang genital

Gambar 60. Segmen mature D. Caninum

(sumber gambar : www.studyblue.com)

Spesies ini memiliki ciri khas berupa 2 buah lubang genital yang
terletak di 2 sisi lateralnya.

d. Segmen gravid
Pada segmen gravid spesies ini tampak gambaran penuh telur

di dalam uterus yang memenuhi seluruh bagian dari segmen. Dalam
perbesaran lemah akan tampak telurnya relative besar, namun bila
diamati dengan perbesaran sedang akan tampak bila dalam satu
bulatan yang tadinya tampak sebuah telur ternyata merupakan
kumpulan beberapa butir telur yang berada dalam sebuah kapsul.

Gambar 61. Segmen gravid D. caninum

(sumber gambar : www.studyblue.com)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 37
DIPHYLOBOTRHIUM LATUM
Cacing dewasa dapat mencapai panjang hingga 10 meter atau lebih
dengan jumlah segmen yang mencapai 3.000 segmen dari ketiga jenis
segmen. Kepala menyerupai spatula tanpa rostellum dan kait. Bagian kepala
ini memiliki 2 bibir dengan celah mulut diantaranya, tidak seperti cacing
Taenia yang memiliki 4 batil isap.

1. Stadium Telur
Telur cacing ini biasanya berbentuk oval dan memiliki tombol

kecil pada bagian akhir dari operkulumnya. Ukuran telur berkisar antara
58-75 m x 40-50 m. Telur Diphyllobothrium sp tak berembrio yang
ditemukan pada faeses biasanya berbentuk oval atau elips dengan
operkulum pada salah satu ujung. Ukuran operkulum dibandingkan
ukuran telurnya sendiri relative kecil. Tonjolan berupa knob kecil pada
ujung beroperkulum merupakan ciri khas dari telur ini.

Operkulum

Gambar 62. Telur Diphyllobothrium latum

(sumber gambar : www.k-state.edu/parasitology)

2. Stadium Dewasa
Seperti cacing pita lainnya, spesies ini pada stadium dewasa

badannya juga berbentuk pipih memanjang seperti pita. Pada bagian
anterior terdapat kepala yang memiliki bentuk mulut sangat khas yang
tidak dimiliki oleh spesies cacing pita lainnya. Kepala cacing dengan

38 | Identifikasi Helminthes
mulut berupa celah (bothria) yang diapit oleh 2 buah bibir merupakan
ciri khasnya.

Bothria

Bibir mulut

Gambar 63. Skolek Diphyllobothrium latum

(sumber gambar : www.cdc.gov)

Rangkaian segmen cacing spesies ini berwarna putih krem.
Panjang badan dewasa utuh dapat mencapai panjang 10 meter lebih.
Segmen cacing dewasa memiliki konsistensi rasio ukuran yaitu lebih
lebar dibandingkan panjangnya. Artinya, ukuran lebar setiap segmen
lebih panjang daripada ukuran panjang segmen itu sendiri. Pada sediaan
strobila awetan baru atau sediaan segar yang baru ditemukan dari tubuh
hospesnya, ciri khas segmen matang spesies ini tampak jelas yaitu
adanya organ berwarna lebih gelap di bagian tengah dari setiap segmen.
Gambaran ini berasal dari mengumpulnya berbagai organ di tengah
segmen. Segmen memiliki ukuran rata-rata berkisar antara 3 x 11 mm.

Gambar 64. Cacing dewasa Diphyllobothrium latum

(sumber gambar : www.idimages.org)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 39

Mengumpulnya organ-organ reproduksi di bagian tengah segmen secara
skematis seperti pada gambar berikut.

Uterus

Lubang
genital

Testis

Gambar 65. Skematik segmen mature Diphyllobothrium latum

Gambaran segmen pada sediaan awetan kering tanpa perlakuan
apapun akan menghilangkan transparansi badan sehingga hanya akan
tampak berwarna putih susu dan tidak tembus pandang. Organ
reproduksi yang semula tampak lebih gelap hanya akan tampak sebagai
bagian yang lebih tebal dan menonjol pada bagian tengah segmen.

Organ-organ
genital

Gambar 66. Segmen gravid Diphyllobothrium latum

(sumber gambar : www.visualphotos.com)

Sediaan awetan permanen dengan pewarnaan pada segmen
matang spesies ini menampakkan uterus yang mengumpul di tengah
berbentuk roset dengan warna yang relative lebih gelap.

40 | Identifikasi Helminthes

Gambar 67. Segmen gravid Diphyllobothrium latum

(sumber gambar : www.ym.edu.tw dan www.cdc.gov)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 41

IDENTIFIKASI TREMATODA

FASCIOLA HEPATICA

1. Stadium Telur
Telur cacing ini memiliki bentuk dasar menyerupai telur unggas

yaitu berbentuk oval dengan salah satu ujung mengecil tumpul. Ukuran
telur ini berkisar antara 130 – 150 µm x 60 – 90 µm. Pada bagian ujung
telur yang mengecil terdapat bentukan menyerupai tutup yang
dinamakan operkulum.

Operkulum

Mirasidium

Sel telur

Gambar 68. Telur Fasciola hepatica

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis)

Telur pada fase awal berisi sel telur, dalam proses
perkembangannya sel telur yang telah dibuahi akan menjadi mirasidium.
Mirasidium yang ada di dalam telur yang matang pada saatnya akan
keluar melalui operkulum yang membuka.

2. Stadium Dewasa
Cacing hati termasuk cacing daun sehingga bentuknya pipih seperti

daun. Cacing dewasa berukuran lebih kurang 50 x 10 mm. Ukuran yang
cukup besar untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada bagian
kepala tampak adanya tonjolan konus. Tonjolan konus yang bentuknya
meyerupai kurva ini membentuk semacam bahu pada cacing dewasa.
Memiliki 2 buah batil isap, yaitu batil isap mulut yang berfungsi sebagai
tempat masuknya makanan dan batil isap perut. Cacing ini termasuk
kelompok cacing yang bersifat hermaprodit sehingga di dalam tubuhnya
akan ditemukan adanya organ kelamin betina dan organ kelamin jantan.
Organ kelamin betina dapat ditemukan adanya ovarium dan uterus,
sedang organ kelamin jantan dapat ditemukan adanya 2 buah testis yang
sangat bercabang. Cacing dewasa ini biasa ditemukan dari jaringan hati
sapi atau mamalia lain.

42 | Identifikasi Helminthes

1
2
3
4
5
6
7

8

8

9

1. Batil isap mulut 10
2. Faring
3. Tonjolan konus 6. Uterus
4. Sekum 7. Ovarium
5. Batil isap perut 8. Testis
9. Vitelaria
10. Anus

Gambar 69. Cacing dewasa Fasciola hepatica tanpa pewarnaan

(sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis dan sketsa)

Cacing hati yang pada saat hidup ditemukan dari organ hati ternak yang
terinfeksi akan tampak transparan hingga organ dalamnya tampak jelas,
namun setelah diawetkan dan disimpan di dalam larutan formalin badan
cacing akan berwarna putih krem dan tidak lagi tembus pandang.

Gambar 70. Awetan cacing dewasa Fasciola hepatica

(Sumber gambar : http://cal.vet.upenn.edu)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 43

FASCIOLOPSIS BUSKI

Cacing daun spesies ini dilaporkan pernah ditemukan di Sumatera
dan Kalimantan. Stadium perkembangan yang dapat ditemukan pada
manusia adalah stadium telur dan dewasa. Keberlangsungan hidup cacing
daun ini tergantung dari keberadaan perairan air tawar yang di dalamnya
terdapat berbagai tumbuhan air dan siput air tawar dari jenis Segmentina
spp.

1. Stadium Telur
Telur cacing ini berukuran 130 – 140 m x 80 – 85 m, lebih besar

dari telur Fasciola hepatica. Berbentuk oval lonjong dengan salah satu
kutub mengerucut lebih kecil dari kutub yang lain. Pada kutub yang
mengerucut tersebut didapatkan sebuah operculum.

Dinding
telur

Sel telur

Operkulum

Gambar 71. Skematik telur Fasciolopsis buski

(Sumber gambar : http://www.med-chem.com/para-site)

2. Stadium Dewasa
Cacing dewasa berukuran antara 2 – 7 cm x 0,5 – 2 cm. Ukuran

yang cukup besar hingga dapat dilihat secara langsung dengan mata
telanjang. Bentuk cacing ini seperti daun dengan ciri hermaprodit yang
nyata yaitu ditunjukkan adanya ovarium, uterus dan testis dalam satu
individu. Dua buah batil isap dimiliki oleh cacing ini seperti pada
trematoda lainnya. Sebuah ovarium di pertengahan panjang badan
dengan posisi agak ke lateral.

Hal lain yang menjadikan ciri khusus spesifik pada cacing dewasa
spesies ini tak jauh berbeda dengan Fasciola hepatica ini yaitu hampir
seluruh organ tubuhnya memiliki bentuk yang sangat bercabang.
Perbedaannya saekumnya tidak bercabang. Sedangkan uterus, ovarium
dan testis juga tampak bercabang. Testis yang dua buah berbentuk
sangat bercabang dengan posisi tandem atas bawah.

44 | Identifikasi Helminthes

Batil isap mulut
Saekum
Batil isap perut

Uterus
Ovarium

Testis
Kelenjar vitelaria

Anus

Gambar 72. Skematik Fasciolopsis buski dewasa

Kelenjar vitelaria dapat ditemukan dari bagian anterior sejajar saekum
hingga ke bagian posterior sepanjang intestinum yang merupakan organ
lanjutan dari saekum berfungsi sebagai alat pencernaannya.

Gambar 73. Fasciolopsis buski dewasa

(Sumber gambar :
http://www.pathobio.sdu.edu.cn/sdjsc/webteaching/pic/gjt/jpcadult.htm)


Click to View FlipBook Version