The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Banyak buku parasitologi telah ditulis namun belum ada buku yang menulis cara mengenal dan mengidentifikasi parasit khususnya tentang cacing secara detail hingga ke bagian-bagian spesifiknya. Padahal keberhasilan dalam mengidentifikasi spesies cacing dari berbagai stadium diawali dengan mengenal dengan baik seluruh bagian dan organ cacing tersebut. <br><br>Buku ini ditulis dengan menayangkan gambar pilihan terbaik dengan keterangan setiap bagian secara detail dan dilengkapi dengan uraian lengkap setiap stadium perkembangan parasit cacing sehingga diharapkan akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi setiap pembaca yang ingin belajar helminthologi.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by didik.24272, 2021-12-12 09:58:56

Teknik Identifikasi dan Pemeriksaan Laboratorium Infeksi Kecacingan

Banyak buku parasitologi telah ditulis namun belum ada buku yang menulis cara mengenal dan mengidentifikasi parasit khususnya tentang cacing secara detail hingga ke bagian-bagian spesifiknya. Padahal keberhasilan dalam mengidentifikasi spesies cacing dari berbagai stadium diawali dengan mengenal dengan baik seluruh bagian dan organ cacing tersebut. <br><br>Buku ini ditulis dengan menayangkan gambar pilihan terbaik dengan keterangan setiap bagian secara detail dan dilengkapi dengan uraian lengkap setiap stadium perkembangan parasit cacing sehingga diharapkan akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi setiap pembaca yang ingin belajar helminthologi.

Keywords: Identifikasi parasit,Pemeriksaan laboratorium,Kecacingan

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 45

SCHISTOSOMA 1

Schistosoma merupakan salah satu genus cacing daun yang termasuk
dalam kelompok trematoda darah. Cacing ini menyebabkan penyakit yang
disebut schistosomiasis. Ada beberapa jenis spesies dari cacing ini yang biasa
di temukan dalam tubuh manusia yaitu, Schistosoma mansoni, Schistosoma
japonicum dan Schistosoma haematobium. Stadium perkembangan yang
mungkin ditemukan dalam spesimen pemeriksaan dari tubuh manusia
adalah telur dan cacing dewasa.

1. Stadium Telur
Stadium telur dari ketiga spesies cacing daun ini memiliki ciri

khas yang berbeda satu sama lainnya. Telur matang berisi mirasidium
yang siap dilepas dan akan hidup dalam air. Secara morfologik telur
ketiganya sangat mudah dibedakan. Schistosoma haematobium memiliki
bentuk telur yang relative oval dengan kedua ujung mengecil dimana
pada salah satu ujung terdapat spina tepat pada bagian sentralnya.
Senada dengan spesies ini adalah Schistosoma mansoni, namun letak
spinanya pada bagian lateral. Sementara telur Schistosoma japonicum
bentuknya relative bulat dibandingkan 2 spesies lainnya, dengan sebuah
tombol di bagian lateral.

Tombol
lateral

Spina Spina
terminal lateral

Gambar 73. Skematik morfologi telur Schistosoma spp

1 Naskah kontribusi oleh Abdul Ghofur, SKM, M.Kes (Epid) : Dosen Parasitologi Akademi
Analis Kesehatan (AAK) Pekalongan

46 | Identifikasi Helminthes
Sesuai dengan khasnya, bentuk telur Schistosoma haematobium

memiliki spina terminal, yaitu tepat di bagian ujung salah satu kutub
telur. Mirasidium mengisi bagian dalam telur dan siap mencari hospes
perantara saat menetas untuk melangsungkan siklus hidupnya.

Mirasidium

Spina
terminal

Gambar 74. Telur Schistosoma haematobium

(Sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/gallery.html)

Spina lateral pada telur Schistosoma mansoni juga tampak sangat jelas
pada gambaran asli telur cacing spesies ini. Sebuah duri yang runcing
secara nyata melekat pada dinding telur bagian samping dekat salah satu
kutub telur.

Mirasidium

Spina
lateral

Gambar 75. Telur Schistosoma mansoni

(Sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/gallery.html)

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 47

Gambaran yang berbeda dengan kedua telur di atas diperlihatkan oleh
telur Schistosoma japonicum. Bentuk telurnya yang relative lebih bulat
juga merupakan pembeda. Apabila kedua spesies sebelumnya memiliki
spina yang runcing, pada spesies ini tidak ditemukan spina sama sekali
namun hanya memiliki sebuah tombol yang bentuknya juga relative
bulat. Tombol ini terletak pada bagian lateral telur.

Tombol
lateral

Gambar 76. Telur Schistosoma japonicum

(Sumber gambar : http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/gallery.html)

2. Stadium Dewasa
Genus Schistosoma merupakan satu-satunya trematoda yang tidak

bersifat hermaprodit. Pengelompokan cacing ini kedalam kelas
trematoda sebenarnya melihat morfologi cacing dewasa jantan yang
berbentuk pipih seperti cacing daun lainnya. Sementara apabila dilihat
dari morfologi cacing betina justru berbentuk relative gilig.

Betina

Jantan

Gambar 77. Schistosoma dewasa

(Sumber gambar : http://www.nature.com/nm/journal/v14/n4/fig_tab/nm0408-
365_F1.html dan http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/gallery.html)

48 | Identifikasi Helminthes
Bentuk cacing jantan yang seperti daun pada genus ini tidak tampak
seperti halnya cacing daun lainnya yang melebar benar-benar
menyerupai daun. Schistosoma jantan seringkali terlihat dengan posisi
badan yang menggulung ke arah ventral sehingga terlihat seolah seperti
gilig namun tampak berlubang pada bagian ventral yang menjadi tempat
cacing betina saat kopulasi. Gambaran ini tampak pada gambar di atas.
Dalam hal ukuran, jenis kelamin jantan lebih besar ukurannya
sedangkan betina lebih panjang dari yang jantan. Seperti pada cacing
daun lainnya, genus ini juga memiliki 2 buah batil isap dimana satu buah
terletak pada ujung anterior sebagai mulut dan sebuah lagi adalah batil
isap perut yang terletak agak lebih ke posterior walaupun masih di area
anterior badan cacing.

Gambar 78. Skematik Schistosoma haematobium dewasa
Spesies Schistosoma haematobium betina memiliki ovarium yang
letaknya berada di ¼ posterior badannya atau ada di pertengahan
posterior badan. Pada jenis kelamin jantan kulit badannya agak kasar
dan memiliki 4 – 5 buah testis yang letaknya berdekatan dengan batil
isap perut. Apabila batil isap perut di bagian ventral, testis terletak di
bagian dorsal.

Gambar 79. Skematik Schistosoma mansoni dewasa

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 49
Pada Schistosoma mansoni betina letak ovarium pada setengah anterior
badan, sedangkan kulit badan cacing jantan lebih kasar lagi. Jumlah
testisnya berkisar antara 8 – 9 buah.

Gambar 80. Skematik Schistosoma japonicum dewasa
Sementara itu Schistosoma japonicum betina letak ovariumnya berada di
pertengahan panjang badannya. Kulit badan yang halus dimiliki oleh
cacing jantan dengan 6 – 8 buah testis.

50 | Identifikasi Helminthes

PARAGONIMUS WESTERMANI

Cacing ini merupakan cacing daun yang dapat melakukan invasi
ke paru hingga termasuk dalam kelompok lung migration. Adanya
parasit ini dalam organ paru akan membentuk gumpalan jaringan ikat
yang melingkupi parasit menyerupai kapsul yang dapat menyebabkan
gangguan pernafasan. Sebagian daerah di pulau Sumatera termasuk
habitat jenis cacing daun ini ditemukan. Seperti cacing daun lainnya,
stadium yang dapat dijumpai pada manusia adalah stadium telur dan
mungkin dewasanya.

1. Stadium Telur
Telur Paragonimus westermani berbentuk oval dengan kedua

ujung mengecil membentuk kutub. Bentuk oval dari telur ini relative
kurang beraturan dan sulit menemukan bentuk simetris antara kedua
sisinya. Telur yang berukuran 80 -120 x 50 – 60 m ini memiliki
operculum yang relative besar pada salah satu kutubnya sementara
pada sisi ujug lainnya tampak adanya penebalan dinding telur.

Operkulum

Penebalan
dinding

Dinding tak
simetris

Paragonimus westermani
 2004 Crhis P. Alipio

Gambar 81. Telur Paragonimus westermani

(Sumber gambar : https://www.flickr.com/photos/lordzagato/3615838623)

2. Stadium Dewasa
Cacing dewasa berukuran antara 7 – 12 x 4 – 6 mm. Berbentuk

seperti daun yang pendek lebar. Organ yang dimiliki sama seperti
pada trematoda lainnya hanya letaknya yang memberikan ciri

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 51
khusus. Dua buah batil isap berada di mulut dan perutnya. Sebuah
ovarium dan dua buah testis dengan posisi yang unik dimana
ovarium berada di atas testis yang terletak sejajar bersebelahan
kanan kiri hingga seolah membentuk formasi segitiga.

Gambar 82. Paragonimus westermani dewasa

(Sumber gambar : https://www.ncsu.edu/project/bio402_315/platyhelminthes)

Tampak khas dalam pewarnaan khusus pada gambar di atas adalah
intestinum yang memanjang dari percabangan saekum hingga ke
bagian posterior badan cacing. Kelenjar vitelaria tersebar sepanjang
badan di sisi kanan kiri namun sayang pada gambar di atas tidak
tampak jelas dalam pewarnaan.

52 | Identifikasi Helminthes
CLONORCHIS SINENSIS

Clonorchis adalah cacing daun yang dapat menginfeksi hati, kandung
empedu dan saluran empedu pada manusia. Ditemukan di sebagian Asia,
juga dikenal sebagai cacing hati Cina. Manusia terinfeksi saat makan parasit
yang mengandung kista dalam ikan mentah atau kurang matang, kepiting,
atau udang karang yang terinfeksi. Spesies Clonorchis sinensis merupakan
trematoda dengan ukuran relative kecil diantara spesies lainnya.

1. Stadium Telur
Spesies ini memiliki telur dengan operculated kecil. Ukuran 27-35

m X 11-20 m. Operculum, pada ujung telur berukuran lebih kecil,
cembung dan bersandar pada daerah yang terlihat seperti "bahu." Pada
bagian ujung yang lebih besar (abopercular), terdapat sebuah tombol
kecil. Mirasidium terlihat mengisi di dalam telur.

Gambar 83. Telur Clonorchis sinensis

(sumber gambar : www.studyblue.com dan http://emedicine.medscape.com)

2. Stadium Dewasa
Gambar ini menunjukkan model dari cacing hati Oriental

(Clonorchis sinensis), parasit trematoda penting dari manusia di banyak
daerah di Asia. Manusia terinfeksi dengan memakan ikan dimasak
mentah atau bawah yang berisi metaserkaria encysted. Setelah tertelan,
kista ini larut dalam usus, melepaskan cacing muda yang kemudian
bermigrasi ke saluran empedu dan hati.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 53
Cacing dewasa berbentuk mirip lancet klasik dengan bagian
anterior relative lebih kecil dan bagian posterior lebih besar ukurannya.
Bagian anterior dimulai dengan batil isap mulut yang menjadi pintu
masuk makanan lalu.

Gambar 84. Cacing dewasa Clonorchis sinensis

(sumber gambar : www.k-state.edu dan
http://www.phsource.us/PH/HELM/PH_Parasites/Clonorchiasis.html)

54 | Identifikasi Helminthes

BAGIAN II
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
INFEKSI KECACINGAN

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 55

PEMERIKSAAN SPESIMEN FAESES

Spesimen faeses merupakan salah satu spesimen penting dalam
penegakan diagnosis infeksi kecacingan khususnya kelompok cacing yang
memiliki habitat di dalam organ pencernaan (usus). Hampir sebagian besar
cacing usus dapat diperiksa keberadaannya dengan spesimen faeses.

Berbagai metode dan teknik pemeriksaan dapat dipilih untuk
mendapatkan hasil terbaik dalam diagnosis penyebab infeksi kecacingan.
Pemeriksaan rutin dilakukan dengan teknik yang relatif sederhana sehingga
dapat dilakukan dengan peralatan yang minimal. Prinsip utama dalam
pemeriksaan ini adalah pengamatan secara mikroskopis untuk menemukan
parasit cacing yang dicurigai. Teknik pengamatan mikroskopis ini
mensyaratkan ketrampilan bagi setiap pemeriksanya.

Beberapa teknik pemeriksaan keberadaan telur cacing yang paling
sering dilakukan diantaranya adalah pemeriksaan cara langsung dan cara
tak langsung. Pada pemeriksaan cara langsung dapat dibedakan lagi apakah
menggunakan kaca penutup ataukah tidak. Bagi pemula akan mengalami
sedikit hambatan apabila tidak menggunakan kaca penutup karena harus
dilakukan pembacaan sediaan lebih cepat agar sediaan tidak mengalami
kekeringan. Keringnya sediaan harus dihindari karena dapat menyebabkan
lisisnya telur sehingga sangat mungkin terjadi hasil negative palsu.
Sementara itu pemeriksaan cara tak langsung sering pula disebut sebagai
teknik konsentrasi karena telur yang berada dalam spesimen pemeriksaan
diupayakan dikonsentrasikan lebih dahulu sebelum dibuat sediaan dengan
tujuan agar memperbesar peluang dalam menemukan telur cacing yang
dicurigai. Pada pemeriksaan teknik konsentrasi ini dikenal 2 macam teknik
yaitu teknik pengendapan (sedimentasi) dan teknik pengapungan (flotasi).
Teknik pengendapan dapat dilakukan secara sederhana maupun dengan
bantuan alat sentrifuge. Pengendapan sederhana membutuhkan waktu yang
relative lebih lama karena proses pengendapan berlangsung secara alami
sehingga biasanya lebih disukai teknik pengendapan dengan sentrifugasi.
Sedangkan teknik pengapungan yang paling sering dilakukan umumnya
menggunakan larutan garam jenuh. Teknik pengapungan dengan garam
jenuh merupakan pilihan karena garam jenuh dapat dibuat dari garam
dapur yang mudah didapatkan dan murah harganya.

56 | Identifikasi Helminthes

PEMERIKSAAN CARA LANGSUNG

1. Prinsip pemeriksaan
Pewarnaan latar belakang sediaan akan menyebabkan telur dan

cacing dewasa dalam ukuran tertentu tampak lebih kontras sehingga
memudahkan dalam pengamatan secara mikroskopis.

2. Alat dan Bahan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan praktikum ini

adalah mikroskup, kaca obyek, kaca penutup, aplikator/lidi, pipet tetes,
larutan pewarna (lugol, eosin, sudan III), buku kerja dan pensil warna.
Sedangkan bahan praktikum berupa faeces.

3. Cara Kerja
a. Pemeriksaan cara langsung tanpa kaca penutup
Siapkan lebih dahulu seluruh alat, bahan dan specimen yang
akan digunakan dalam pemeriksaan. Setelah semua siap, ambillah
kaca obyek dan letakkan dalam posisi mendatar di meja kerja,
kemudian ambil faeces halus kurang lebih sebanyak 1 gram (kira-kira
sebesar penthol korek api). Selanjutnya ambillah larutan pewarna
dan teteskan kurang lebih 2 – 3 tetes tepat disebelah faeses. Gunakan
aplikator untuk mencampurkan faeces dengan larutan pewarna,
buanglah bagian faeces yang keras. Setelah semua tercampur merata,
lebarkanlah campuran faeses tersebut secukupnya. Usahakan tidak
terlalu tebal karena dapat mengganggu kenyamanan saat pembacaan
mikroskopis. Langkah berikutnya adalah memasang sediaan basah
tersebut pada mikroskup. Lakukan pembacaan pada seluruh area
lapangan pandang menggunakan perbesaran lemah ( 5 x atau 10 x).
Bila diperlukan dapat dinaikkan menjadi perbesaran sedang (40 x).
Pelaporan hasil pemeriksaan secara kualitatif dengan kategori positif
bila ditemukan telur cacing atau larvanya. Bila diperlukan dapat
ditambahkan informasi spesies yang ditemukan.

b. Pemeriksaan cara langsung dengan kaca penutup
Lakukanlah langkah-langkah yang sama seperti pada

pemeriksaan tanpa kaca penutup hingga terbentuk campuran faeses
dan larutan pewarna yang homogeny. Karena pada teknik ini
digunakan kaca penutup maka suspensi faeses tidak perlu dilebarkan

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 57

untuk mendapatkan sediaan yang tipis. Ambillah kaca penutup,
dengan hati-hati tutupkan pada suspensi faeses tersebut. Upayakan
suspensi faeses mengisi seluruh area kaca penutup dan tidak
terbentuk gelembung udara di dalamnya. Untuk pembacaan, sediaan
basah dipasang pada mikroskup dan dilakukan pembacaan pada
seluruh area lapangan pandang selebar kaca penutup menggunakan
perbesaran lemah ( 5 x atau 10 x). Bila diperlukan dapat dinaikkan
pada perbesaran sedang untuk mempertegas identifikasi parasitnya.
Pelaporan hasil secara kualitatif.

PEMERIKSAAN CARA TAK LANGSUNG
(TEKNIK KONSENTRASI)

1. Prinsip Pemeriksaan
Telur cacing yang bercampur dengan sisa makanan dalam

spesimen faeses dikumpulkan atau dikonsentrasikan dengan cara
tertentu sehingga memperbesar peluang untuk terambil menjadi sediaan
dan memberikan hasil positif dalam pemeriksaan.

2. Alat dan Bahan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan praktikum ini

adalah mikroskup, sentrifuge, tabung sentrifuge, kaca obyek, kaca
penutup, aplikator/lidi, pipet tetes, larutan NaCl jenuh, NaCl fisiologis.
Sedangkan spesimen pemeriksaan berupa faeces.

3. Teknik Pengendapan
a. Prinsip pemeriksaan
Berat jenis yang lebih besar dari larutan akan menyebabkan
mengendapnya telur cacing pada bagian dasar wadah larutan NaCl
fisiologis atau aquadestilata baik secara alami maupun dengan
adanya gaya sentrifugal akibat sentrifugasi. Telur yang telah
terkonsentrasi bersama dengan endapan dibuat sediaan dan diamati
secara mikroskopis.
b. Prosedur kerja
1) Pengendapan sederhana
Teknik pengendapan sederhana ini membutuhkan waktu
yang relative lama karena benar-benar dikerjakan secara manual
alami. Langkah awal specimen faeces dihomogenkan lebih dahulu

58 | Identifikasi Helminthes

dengan cara diaduk menggunakan aplikator atau batang lidi
hingga benar-benar homogen. Selanjutnya ambil faeces homogen
tersebut kurang lebih sebanyak 2 – 3 gram lalu masukkan ke
dalam tabung sentrifuge atau tabung reaksi. Tambahkan larutan
NaCl fisiologis sampai sepertiga volume tabung, lalu aduklah
perlahan. Apabila didapatkan kotoran dari sisa makanan yang
mengapung di permukaan larutan, hendaknya diambil dan
dibuang. Setelah bersih, tambahkan larutan NaCl fisiologis ke
dalam tabung sampai mencapai duapertiga volume tabung dan
aduklah kembali supaya lebih homogen. Taruhlah suspensi faeses
tersebut pada rak tabung reaksi, diamkan hingga tampak adanya
endapan yang sempurna yang ditandai dengan supernatan yang
jernih. Buanglah supernatan dengan cepat dan benar, lalu
campurkan endapan dengan sisa larutan supernatan tersebut.
Gunakan pipet tetes untuk mengambil suspensi endapan tersebut
lalu teteskan pada kaca obyek. Boleh ditambahkan dengan larutan
pewarna ataupun tidak. Tutuplah dengan kaca penutup untuk
menjadi sediaan baca yang baik. Tahap akhir adalah melakukan
pembacaan dengan mikroskup menggunakan perbesaran lemah
atau sedang jika diperlukan untuk penegasan hasil. Pelaporan
hasil pembacaan secara kualitatif.

2) Pengendapan dengan sentrifugasi.
Teknik pengendapan dengan sentrifugasi ini merupakan

pengembangan dari teknik pengendapan sederhana. Kelemahan
dari teknik pegendapan sederhana pada lamanya waktu tunggu
pengendapan diatasi dengan alat sentrifuge. Sentrifuge yang
bekerja dengan prinsip gaya sentrifugal akan memisahkan
suspensi faeses berdasarkan berat partikelnya. Partikel paling
berat akan berada pada bagian bawah tabung berupa endapan,
termasuk telur cacing.

Langkah awal yang penting adalah homogenisasi specimen
faeces dengan cara diaduk menggunakan aplikator atau batang
lidi. Setelah dirasa homogen, ambillah faeces kurang lebih 2 – 3
gram lalu dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge. Tambahkan
larutan NaCl fisiologis sampai sepertiga volume tabung, lalu
aduklah pelan-pelan. Apabila terdapat kotoran dari sisa makanan
yang mengapung di permukaan larutan, hendaknya diambil dan
dibuang. Setelah bersih, tambahkan larutan NaCl fisiologis ke

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 59

dalam tabung sampai duapertiga volume tabung dan aduklah
kembali supaya homogen. Masukkan tabung ke dalam sentrifuge,
pusingkan dengan kecepatan 2500 rpm selama kurang lebih 10
menit. Setelah pemusingan berakhir, ambil tabung lalu buanglah
supernatannya dengan cepat. Selanjutnya campurkan kembali
endapan dengan sisa larutan supernatan tersebut lalu gunakan
untuk membuat sediaan secara langsung baik menggunakan
pewarna ataupun tanpa pewarna. Pembacaan mikroskopis
sediaan dilakukan dengan perbesaran lemah hingga sedang.
Pelaporan hasil secara kualitatif.

4. Teknik Pengapungan NaCl jenuh (Cara Willis)
a. Prinsip pemeriksaan
Berat jenis telur cacing yang relatif lebih ringan dari berat jenis
larutan NaCl jenuh akan menyebabkan telur cacing mengapung pada
permukaan larutan. Telur yang terkumpul pada permukaan larutan
akan menempel pada kaca penutup yang selanjutnya dibuat sediaan
dan diamati secara mikroskopis.

b. Prosedur kerja
Buatlah larutan NaCl jenuh dengan cara melarutkan garam

dapur pada sejumlah volume aqua hingga terdapat butiran garam
yang sudah tidak terlarut lagi saat pengadukan. Setelah semua
peralatan dan bahan siap, jangan pernah lupakan untuk melakukan
homogenisasi faeces. Selanjutnya ambillah faeces kurang lebih 2 – 3
gram lalu masukkan ke dalam tabung reaksi ukuran 16 x 150 mm.
Tambahkan larutan NaCl jenuh hingga sepertiga volume tabung, lalu
aduklah pelan-pelan. Apabila didapatkan kotoran dari sisa makanan
yang mengapung di permukaan larutan hendaknya diambil dan
dibuang. Setelah bersih, tambahkan lagi larutan NaCl jenuh ke dalam
tabung hingga duapertiga volume tabung dan aduklah kembali
supaya homogen. Taruhlah tabung reaksi tersebut pada rak tabung,
tambahkan larutan NaCl jenuh sampai penuh. Penuhnya larutan
ditandai dengan permukaan larutan mencembung di bibir tabung
namun tidak sampai tumpah. Ambillah kaca penutup dan letakkan
sedemikian rupa sehingga menutup mulut tabung dengan tepat.
Diamkanlah selama 45 menit tanpa mengintervensi posisi tabung.
Setelah cukup waktu, angkatlah kaca penutup secara hati-hati lalu
tempelkan pada kaca obyek sebagaimana membuat sediaan secara

60 | Identifikasi Helminthes

langsung. Usahakan tidak terdapat gelembung udara. Untuk sediaan
ini tidak perlu ditambahkan larutan pewarna. Pembacaan hasil secara
mikroskopis dilakukan menggunakan perbesaran lemah hingga
sedang. Laporkan hasil pembacaan secara kualitatif.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 61

PEMERIKSAAN SPESIMEN APUS PERIANAL

Pemeriksaan infeksi kecacingan yang menggunakan spesimen dari
apusan perianal adalah pemeriksaan untuk menegakkan kejadian infeksi
cacing kremi (Enterobiasis). Pemilihan penggunaan spesimen ini mutlak
agar diperoleh hasil yang terpercaya. Sebagian lain berpendapat boleh
menggunakan spesimen faeses, namun mencermati perilaku bertelur cacing
betina di sekitar anus maka dapat dipastikan telur cacing kremi akan sangat
sulit ditemukan apabila menggunakan spesimen faeses. Tentu hal ini akan
berpeluang memberikan hasil negatif palsu yang relatif besar.

Metode pemeriksaan Graham Scotch Tape masih dianggap sebagai
metode yang cukup baik untuk pemeriksaan enterobiasis. Prinsip kerja
metode ini memang banyak diadopsi oleh banyak pihak dengan berbagai
teknik pengambilan spesimen dari penderita, namun prinsip utamanya
tetap sama yaitu mengambil telur cacing kremi menggunakan alat
berperekat dan melakukan pembacaan secara mikroskopis.

Deteksi kejadian enterobiasis menggunakan teknik manual dengan
mengandalkan ketrampilan dan kemampuan seorang teknisi laboratorium
ini masih menjadi pilihan utama mengingat biayanya yang relatif murah dan
mudah dikerjakan. Deteksi enterobiasis dengan teknik yang lebih modern
dan canggih dapat saja dilakukan, bahkan dengan deteksi molekuler
sekalipun. Namun kita harus mempertimbangkan apakah biaya yang
dibutuhkan untuk pemeriksaan yang modern tersebut sepadan dengan
temuan yang hanya untuk melakukan deteksi kejadian enterobiasis ? Selain
itu apakah waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari teknik pemeriksaan
manual secara mikroskopis ? Dan yang lebih penting lagi, apakah hasil
pemeriksaan manual mikroskopis tidak memberikan hasil yang terpercaya ?

Status infeksi seseorang hanya ditentukan dari ditemukan telur
cacing kremi atau tidak pada spesimen yang diambil. Pemeriksaan manual
mikroskopis jelas memberikan hasil yang sangat terpercaya. Telur cacing
akan terlihat nyata pada pengamatan mikroskopis bahkan dengan
perbesaran lemah sekalipun. Artinya, pemeriksaan manual mikroskopis
sudah sangat terpercaya untuk menegakkan diagnosa pasti kejadian
enterobiasis sehingga tidak perlu menggunakan pemeriksaan yang super
canggih.

Kunci keberhasilan pemeriksaan kejadian enterobiasis adalah pada
saat pengambilan spesimen apusan perianal. Apusan perianal harus berhasil
menangkap telur cacing yang terdapat di daerah sekitar anus. Telur cacing
kremi dapat terambil dengan baik apabila daerah sekitar anus belum

62 | Identifikasi Helminthes

mendapatkan intervensi berupa pembasuhan dengan air baik oleh aktifitas
cebok atau mandi. Mencermati perilaku cacing betina dewasa yang mulai
bertelur pada malam hari, maka waktu optimal pengambilan apusan
perianal adalah pada malam hari hingga pagi hari sebelum tersangka
penderita mandi atau aktifitas lain yang dapat menghilangkan keberadaan
telur cacing pada daerah sekitar anus.

PEMERIKSAAN ENTEROBIASIS
DENGAN PERIPLASWAB

1. Prinsip Pemeriksaan
Telur cacing kremi yang terdapat pada daerah perianal ditangkap

menggunakan media berperekat dan diidentifikasi secara mikroskopis
tanpa pewarnaan.

2. Alat dan Bahan
Perlengkapan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan ini hanya

sebuah periplaswab beserta alat bacanya dan mikroskup. Periplaswab
merupakan alat pengambil specimen apusan perianal yang dibuat dari
plastik mika dan selotif berperekat.

3. Cara Kerja
a. Pengambilan spesimen apus perianal.
Langkah paling awal sebelum pengambilan apusan perianal
adalah mengkondisikan probandus yang dalam hal ini adalah anak
atau balita agar benar-benar merasa nyaman sehingga memudahkan
dalam pengambilan spesimen. Setelah probandus terkondisikan
dengan baik, posisikan probandus tidur telungkup di pangkuan atau
bila dengan sukarela mintalah berposisi menungging dengan celana
dalam dibuka hingga pantat hingga area anus terbuka. Bukalah
perlahan penutup selotif pada kedua sisi berperekat dari alat
sampling “Periplaswab”. Gunakan tangan kiri untuk membuka bibir
pantat lalu letakkan “Periplaswab” pada pangkal anus dalam posisi
tegak dan kedua sisi perekat menghadap ke kedua sisi pantat.
Lepaskan regangan bibir pantat dari tangan kiri dan tekanlah 3 – 5
kali pantat anak dengan arah penekanan kanan kiri agar telur cacing
yang ada menempel pada bagian selotif. Bibir pantat dibuka lalu
“Periplaswab” diangkat dan dipasang kembali dengan posisi terbalik

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 63

(bagian atas menjadi bagian bawah), ulangi langkah menekan pantat.
Buka pantat lalu angkat periplaswab, dengan hati-hati lipatlah
periplaswab terbalik dengan cara merekatkan 2 sisi berperekat.
Ratakan perekatan 2 sisi selotif tersebut dengan tangan saja hingga
sempurna. Masukkan “Periplaswab” berisi telur cacing kremi
tersebut ke dalam amplop tertutup, untuk pemeriksaan tertunda
disarankan disimpan dalam almari pendingin.

b. Pembacaan sediaan mikroskopis.
Dilakukan lebih dahulu persiapan periplaswab yang telah

berisi apusan hasil sampling dan alat bacanya. Masukkan
periplaswab melalui lubang pada alat baca dari samping secara hati-
hati, lalu pasanglah pada meja mikroskup. Lakukan pembacaan
secara mikroskopis dengan perbesaran lemah, catat setiap temuan
telur cacing pada seluruh lapangan pandang.

c. Interpretasi hasil.
Pelaporan hasil hanyalah secara kualitatif, khusus untuk

pemeriksaan enterobiasis secara kualitatif ini pembacaan dapat
dihentikan setelah ditemukan beberapa telur cacing. Tersangka
penderita dapat dinyatakan telah mengalami enterobiasis apabila
dalam apusan perianal ditemukan telur cacing kremi atau cacing
dewasanya. Dalam hal untuk melihat derajat infeksi atau melakukan
estimasi jumlah cacing dapat dilakukan dengan penghitungan jumlah
telur cacing yang ditemukan dari seluruh lapang pandang yang
diperiksa, namun hal ini hampir tidak pernah dilakukan mengingat
pengambilan apusan perianal juga tidak dapat dilakukan secara
kuantitatif.

64 | Identifikasi Helminthes

PEMERIKSAAN SPESIMEN DARAH UNTUK

IDENTIFIKASI MIKROFILARIA

Spesimen darah dalam pemeriksaan laboratorium infeksi kecacingan
sering dilakukan untuk tujuan identifikasi terhadap adanya mikrofilaria
dalam darah. Mikrofilaria merupakan salah satu stadium perkembangan
cacing filaria di dalam tubuh manusia sebagai hospes definitif. Cacing filaria
yang menjadi penyebab terjadinya penyakit kaki gajah ini pada stadium
dewasa memiliki habitat hidup pada kelenjar limfe. Mikrofilaria dihasilkan
oleh cacing dewasa yang telah dibuahi.

Cacing filaria dari genus Wuchereria dan Brugia memiliki periodisitas
nokturnal, artinya akan aktif pada waktu malam hari. Sesuai periodisitas
nokturnal tersebut, pada malam hari stadium mikrofilaria akan bergerak
menuju pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh mengikuti aliran
darah. Perilaku ini yang menjadi dasar waktu pengambilan spesimen darah
dilakukan pada malam hari agar dapat menemukan mikrofilaria pada
tersangka penderita penyakit kaki gajah. Dalam hal pengambilan spesimen
darah untuk deteksi penyakit kaki gajah, biasanya dilakukan sebuah Survei
Darah Jari (SDJ) pada masyarakat.

1. Prinsip Pemeriksaan
Prinsip pemeriksaan darah jari ini adalah menemukan adanya

mikrofilaria dari spesimen darah dalam sediaan yang diamati secara
mikroskopis.

2. Alat dan Bahan
Peralatan yang dibutuhkan antara lain berupa kaca obyek, kaca

penggeser, tabung kapiler, blood lancet dan staining jar sedangkan
bahan yang dibutuhkan adalah pewarna giemsa, buffer pH 7,
aquadestilata dan spesimen darah. Apabila tidak tersedia staining jar
dapat digantikan dengan gelas piala kimia.

3. Cara Kerja
Siapkan semua peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam

pengambilan spesimen darah. Ujung jari yang akan diambil darahnya,
hendaknya diremas/diurut lebih dahulu untuk mengumpulkan darah ke
ujung jari. Usaplah ujung jari yang akan ditusuk menggunakan kapas
alkohol 70 % dan biarkan kering angin, jangan ditiup. Tusuklah ujung

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 65

jari tersebut menggunakan blood lancet steril. Saat darah keluar dari
bekas tusukan, lakukan pembuatan sediaan darah dengan cara berikut :
1) Cara 1 :

Teteskan darah sebanyak satu tetes saja pada salah satu sisi
kaca benda. Buatlah apusan darah dengan bantuan kaca penutup atau
kaca obyek lainnya, penggeseran darah tidak perlu setipis pembuatan
sediaan darah tipis. Keringkan apusan di suhu ruang, hindari
pemanasan atau pengeringan dengan sinar matahari langsung.
Setelah sediaan darah kering, fixasi sediaan apusan darah kering
tersebut ke dalam larutan methanol selama 1 – 2 menit. Angkatlah
sediaan dari larutan methanol, lalu rendamlah sediaan dalam larutan
pewarna Giemsa (1 : 9) selama 15 – 20 menit. Angkat sediaan dari
larutan pewarna, bilas dengan air mengalir hingga bersih lalu kering
anginkan. Sediaan siap dibaca secara mikroskopis dengan perbesaran
sedang dan kuat sesuai kebutuhan.

2) Cara 2 :
Isaplah darah yang keluar dengan tabung kapiler hingga

penuh. Sentuhkan ujung tabung kapiler berisi darah pada salah satu
sisi kaca obyek hingga darah tertarik keluar lalu tariklah tabung
kapiler ke sisi yang lain hingga terbentuk sediaan darah berbentuk 3
garis. Keringkan apusan darah di suhu kamar tanpa pemanasan.
Setelah sediaan darah mongering, fixasi sediaan apusan darah kering
ke dalam larutan methanol selama 1 – 2 menit. Angkat dari larutan
methanol, lalu rendamlah sediaan dalam larutan pewarna Giemsa (1
: 9) selama 15 – 20 menit. Angkat sediaan dari larutan pewarna, bilas
dengan air mengalir hingga bersih lalu kering anginkan. Sediaan siap
dibaca secara mikroskopis dengan perbesaran sedang dan kuat
sesuai kebutuhan.

4. Pembacaan Sediaan
Pembacaan sediaan darah jari secara mikroskopis dilakukan

mulai dengan perbesaran lemah ke seluruh area lapangan pandang
sediaan. Setiap mikrofilaria yang ditemukan dilaporkan spesies dan
jumlahnya. Untuk sediaan darah yang dibuat dengan tabung kapiler,
volume darah dapat diestimasikan sehingga dapat dilakukan estimasi
penghitungan jumlah mikrofilaria per mililiter darah. Hal ini dapat
digunakan untuk menggambarkan tingkat keparahan penderita penyakit
kaki gajah tersebut. Walau tidak kuantitatif namun pelaporan dengan

66 | Identifikasi Helminthes

cara ini dapat memberikan tambahan informasi atas keparahan infeksi
cacing filaria yang terjadi pada pasien.

5. Interpretasi Hasil
Hasil pembacaan sediaan darah jari secara mikroskopis biasanya

dilaporkan secara kualitatif sebagai hasil positif dan negatif saja. Dengan
teknik pembuatan sediaan darah dalam 3 apusan sejajar pada kaca
obyek menggunakan tabung kapiler, kita dapat melakukan estimasi
volume darah dalam tabung kapiler. Volume darah dalam tabung kapiler
akan sama dengan volume darah pada sediaan sehingga sangat mungkin
hasil pemeriksaan dilaporkan secara semi kuantitatif.

Pada populasi masyarakat berisiko filariasis, hasil ini akan
menjadi dasar untuk menghitung besarnya Mikrofilaria Rate (Mf Rate).
Besarnya angka Mf Rate akan menjadi dasar perlu tidaknya dilakukan
pengobatan masal terhadap kelompok masyarakat yang dimaksud.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 67

PEMERIKSAAN SPESIMEN URINE UNTUK

DETEKSI GENITAL ENTEROBIASIS

Gangguan kesehatan yang disebut genital enterobiasis memang
masih jarang menjadi perbincangan, bahkan laporan kasus yang pernah ada
juga belum banyak orang yang memperhatikan. Dalam bidang laboratorium,
upaya deteksi enterobiasis pada organ genital inipun jarang dan mungkin
tak terdiskripsikan dalam referensi teknik pemeriksaan infeksi kecacingan.
Pemaparan beberapa contoh kasus genital enterobiasis di awal pembahasan
diharapkan dapat menjadi bahan kajian betapa pentingnya melakukan
pemeriksaan kejadian enterobiasis pada organ genital.

Sung-Tae Hong, Min-Ho Choi, Jong-Yil Chai, Young Tak Kim, Mi Kyung
Kim, Kyu Rae Kim pada tahun 2002 melaporkan : Seorang wanita Korea
berusia 36 tahun yang dilakukan pemeriksaan tranvaginal ultrasonography
dipastikan adanya masa benjolan berdiameter lebih kurang 10 cm. Pasien
tersebut mendapatkan perlakuan pengangkatan uterus secara total beserta
ke-2 tuba fallopi. Dari hasil pemeriksaan histopatologi ditemukan adanya
neoplasma pada ovarium kiri dan kanan. Ditambahkan pula adanya temuan
potongan cacing nematoda dengan telur yang banyak pada jaringan ovarium
sebelah kiri. Telur cacing tampak nyata dan teridentifikasi sebagai
Enterobius vermicularis. Pasien ditetapkan telah mengalami ovarian
enterobiasis.

Jyothi B Shetty, Dhanashri V Kulkarni, and VL Prabhu pada tahun
2012 melaporkan sebuah kasus dimana pasien datang dengan tanda dan
gejala vulvovaginitis. Dari spesimen apusan vagina ditemukan adanya telur
Enterobius vermicularis yang telah berisi larva. Latar belakang sediaan
smear menggambarkan adanya sel radang akut yang banyak. Selanjutnya
dilakukan pengobatan dengan antihelminthik. Pemeriksaan spesimen
ulangan setelah pengobatan ternyata tidak lagi ditemukan tanda dan
gambaran sediaan seperti pada sebelum pengobatan. Temuan ini telah
memastikan bahwa pasien telah mengalami kasus vaginal enterobiasis.
Temuan ini menjadi sebuah catatan penting yang tidak akan dapat
diabaikan begitu saja.

Kedua contoh kasus genital enterobiasis tersebut kiranya dapat
menjadikan pemikiran untuk lebih memberikan perhatian atas
kemungkinan adanya kejadian enterobiasis pada organ-organ genital
khususnya bagi para wanita.

68 | Identifikasi Helminthes

Pemeriksaan Spesimen Urine
a. Prinsip Pemeriksaan

Telur cacing yang terdapat dalam urine dikonsentrasikan dengan
cara pemusingan dan endapannya dibuat sediaan agar dapat diamati
secara mikroskopis.

b. Alat dan Bahan
Peralatan yang dibutuhkan diantaranya adalah corong pemisah,

statif, sentrifuge, tabung sentrifuge, kaca obyek, kaca penutup, pipet
tetes dan mikroskup. Bahan yang dibutuhkan adalah spesimen urine dan
larutan pewarna bila dikehendaki karena tanpa pewarnaan telur cacing
sudah cukup jelas terlihat. Spesimen urine yang digunakan disarankan
menggunakan urine tampung 24 jam agar memberikan lebih banyak
peluang ditemukannya telur cacing.

c. Cara Kerja
Urine tampung 24 jam dimasukkan ke dalam corong pemisah

yang terpasang pada statif, lepaskan corong pemisah lalu lakukan
penggoyangan perlahan beberapa kali dalam posisi tegak lurus,
selanjutnya pasang kembali pada statif, diamkan lebih kurang 1-2 jam.

(Catatan : Semakin besar ukuran volume corong pemisah akan semakin baik karena
dapat menampung lebih banyak urine hingga sedimen akan semakin banyak pula
yang terkumpul. Apabila volume spesimen tersisa, dapat dimasukkan pada corong
pisah kedua, ketiga dan seterusnya).

Endapan yang tampak pada bagian bawah corong pemisah
dikeluarkan secara perlahan dengan membuka kran, ditampung dalam
tabung sentrifuge.

(Catatan : Apabila satu spesimen menggunakan corong pemisah lebih dari satu,
endapan dari semua corong pemisah dijadikan satu dalam sebuah tabung
sentrifuge).

Lakukanlah pemusingan dengan sentrifuge pada kecepatan 2500
rpm selama 10 menit. Setelah selesai pemusingan, ambil tabung
sentrifuge lalu buanglah cairan bening pada bagian atas secara cepat dan
hati-hati. Campurkan endapan dan sisa cairan urine yang ada hingga
homogen dengan menggoyangkan tabung sentrifuge secara perlahan.
Selanjutnya ambillah suspensi endapan tersebut dengan pipet tetes,
taruhlah 2-3 tetes di tengah area kaca obyek. Tambahkan larutan

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 69

pewarna bila perlu. Tutuplah suspensi dengan kaca penutup secara hati-
hati. Lakukan pembacaan sediaan dengan mikroskup untuk menemukan
parasit yang ada.

d. Pembacaan Sediaan dan Interpretasi Hasil
Pembacaan sediaan urine secara mikroskopis dimulai dengan

perbesaran lemah, apabila dicurigai adanya telur cacing dapat dipastikan
dengan menggunakan perbesaran sedang dalam pengamatannya. Tidak
pernah direkomendasikan menggunakan perbesaran kuat untuk sediaan
basah. Temuan adanya telur cacing kremi hanya dilaporkan secara
kualitatif. Interpretasi hasil pembacaan sediaan dinyatakan sebagai
positif apabila ditemukan telur cacing berapapun jumlahnya dan
dinyatakan negatif apabila tidak ditemukan telur cacing.

70 | Identifikasi Helminthes

BAGIAN III
TEKNIK

PEMERIKSAAN
LAINNYA

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 71

PEMERIKSAAN DERAJAT INFEKSI KECACINGAN

KATO DAN KATO-KATZ

Pemeriksaan infeksi kecacingan yang telah dibahas pada bagian
sebelumnya hanya memberikan hasil kualitatif dengan kategori hasil positif
atau negatif saja. Kita tidak bisa memprediksikan tingkat keparahan infeksi
yang terjadi. Biasanya begitu ditemukan telur atau cacing dewasanya dalam
sediaan periksa, secara otomatis petugas laboratorium akan menghentikan
pembacaan mikroskopis karena sudah dapat melaporkan hasilnya.
Kelemahan dari beberapa teknik pemeriksaan tersebut adalah tidak dapat
diketahui seberapa tinggi derajat infeksi kecacingan dari seorang penderita.

Pelaporan hasil pemeriksaan dengan hasil yang lebih teliti
semestinya akan lebih dapat memberikan gambaran yang tepat perihal
kondisi penderita atas infeksi kecacingannya. Lebih lanjut informasi
tersebut tentu akan dipertimbangkan dalam pemberian dosis obat yang
sesuai agar masalah infeksi segera dapat ditangani. Teknik Kato-Katz
merupakan sebuah teknik pemeriksaan infeksi kecacingan yang
memberikan hasil semi kuantitatif. Teknik Kato-Katz ini juga familier
disebut dengan teknik penghitungan jumlah telur. Teknik penghitungan
telur ini dilakukan untuk melihat derajat infeksi kecacingan pada penderita.
Karena dalam pembuatan sediaan bacanya menghasilkan jenis sediaan yang
relative lebih tebal, maka teknik ini juga sering disebut pemeriksaan telur
cacing teknik tebal.

Teknik hitung telur Kato-Katz ini merupakan modifikasi dari teknik
Kato yang pada awalnya juga untuk pemeriksaan kualitatif saja.
Perbedaannya hanyalah pada peneraan berat spesimen faeses yang dibuat
menjadi sediaan baca mikroskopis. Teknik Kato dibuat tanpa menimbang
berat faeses sedangkan teknik Kato-Katz diawali dengan menimbang berat
spesimen faeses. Dengan mengetahui berat faeses dan menghitung seluruh
telur yang ditemukan dalam sediaan maka dapat dihitung jumlah telur per
berat faeses. Dengan demikian dapat diketahui derajat infeksi atau tingkat
keparahan seorang penderita terhadap infeksi kecacingan yang dideritanya.

1. Alat dan Bahan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan praktikum ini

adalah mikroskup, neraca analitik, aplikator, cetakan Kato, dan kaca
obyek sedangkan bahan yang harus tersedia adalah transparan
cellopane tape, larutan pewarna Kato (100 ml aquadestilata, 100 ml
gliserin, 1 ml melacheet green 3 %). Spesimen pemeriksaan berupa

72 | Identifikasi Helminthes

faeces minimal dalam konsistensi lembek, tidak boleh faeces dengan
konsistensi cair.

2. Prosedur Kerja
a. Persiapan
Lakukan perendaman cellopane tape dalam larutan Kato
selambatnya 24 jam sebelum digunakan agar pewarna dapat melekat
dengan baik pada permukaan cellopane. Cellopane yang telah siap
digunakan akan berwarna kehijauan. Apabila warna cellopane belum
tampak kehijauan atau masih tampak jernih sebaiknya perendaman
dilanjutkan lebih dahulu dan dilakukan pengecekan komposisi
larutan Kato yang dibuat.
Faeses terlebih dahulu disaring menggunakan kawat kassa
halus untuk memisahkan dari berbagai kotoran sisa makanan yang
berukuran besar. Faeses halus yang dihasilkan dari penyaringan
selanjutnya dihomogenkan dengan aplikator hingga benar-benar
merata. Faeses yang telah homogen siap untuk dilakukan
pemeriksaan.

b. Pemeriksaan teknik Kato
Ambil sampel faeces yang telah dihomogenkan dengan

aplikator lebih kurang sebanyak satu gram, letakkan di atas kaca
obyek. Tutuplah dengan cellopane tape, ratakan faeces di bawah
cellopane menggunakan karet tutup botol hingga merata ke semua
area cellopane tape. Bersihkan larutan sisa yang berlebihan diluar
cellopane tape dengan kertas saring atau kertas tissue. Inkubasikan
sediaan selama 1 jam pada suhu kamar (atau 20 – 30 menit dalam
inkubator suhu 40 oC). Lakukan pembacaan sediaan dengan
mikroskup menggunakan perbesaran lemah.

c. Pemeriksaan teknik Kato-Katz
Timbanglah kaca obyek dengan teliti, lalu ambil faeces halus

hasil penyaringan dengan aplikator lebih kurang sebesar penthol
korek api, letakkan di atas kaca obyek. Dengan cara langsung lakukan
penimbangan teliti untuk mengetahui berat feses (cara lain
mengetahui perkiraan berat faeses adalah menggunakan cetakan
berlubang bulat yang sudah ditera volume lubangnya). Tutuplah
faeses dengan cellopane tape, ratakan faeces di bawah cellopane
menggunakan karet tutup botol hingga merata ke semua area

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 73

cellopane tape. Bersihkan larutan sisa yang berlebihan dengan kertas
saring. Diamkan sediaan selama 1 jam pada suhu kamar (atau 20 – 30
menit dalam inkubator suhu 40 oC). Lakukan pembacaan sediaan
pada seluruh lapangan pandang yang ada dengan metode benteng
menggunakan mikroskup perbesaran lemah, seluruh telur yang
ditemukan dihitung jumlah dan jenisnya.

3. Pelaporan Hasil
Pelaporan hasil pemeriksaan untuk teknik Kato hanya berupa

hasil kualitatif dengan laporan hasil positif atau negative saja karena
pada teknik ini tidak diketahui berapa berat specimen faeses yang
diperiksa. Sebaliknya pada teknik Kato-Katz dapat dilaporkan secara
kuantitatif apabila specimen faeses ditimbang dalam pemeriksaan
sehingga dapat diketahui dengan pasti berapa jumlah telur cacing yang
ditemukan dalam setiap gram faeses. Apabila pengukuran specimen
faeses tidak dengan penimbangan atau hanya menggunakan cetakan
yang ditera, sebaiknya hasil pemeriksaan dipahami hanya sebagai hasil
semi kuantitatif saja karena bagaimanapun juga menera berat faeses
dengan cetakan hanyalah merupakan upaya melakukan estimasi berat
faeses saja.

Hasil pemeriksaan teknik ini juga dapat dilaporkan sebagai
derajat infeksi kecacingan dengan sebutan infeksi sangat ringan, ringan,
sedang hingga berat dengan melihat jumlah telur cacing yang ditemukan.

Table 1. Kriteria derajat infeksi kecacingan

Derajat Jumlah telur (butir) per gram faeses
infeksi Cacing gelang Cacing cambuk Cacing tambang

Sangat ringan < 500 - < 2.100

Ringan 500 – 2.000 < 1.000 2.100 – 5.000

Sedang 2.001 – 10.000 1.001 – 5.000 5.001 – 11.000

Berat > 10.000 > 5.000 > 11.000

Pembagian kriteria diatas didasarkan atas pertimbangan sifat
patogenitas tiap-tiap spesies cacing dan dampak klinis yang terjadi pada
penderitanya.

74 | Identifikasi Helminthes

PEMERIKSAAN TELUR CACING PADA TANAH

Beberapa cacing mengalami siklus perkembangan di dalam tanah.
Dalam hal tertentu diperlukan pemeriksaan tanah untuk dilihat keberadaan
telur cacing sebagai bagian dari upaya preventif dalam pengendalian
penularan infeksi kecacingan. Tentu saja perlakuan spesimen pemeriksaan
yang telah bercampur dengan tanah akan berbeda dengan spesimen dari
faeses. Tanah yang lebih kompak dan relative lebih padat harus dapat
dipisahkan dari telur yang mungkin bercampur di dalamnya. Teknik Suzuki
untuk pemeriksaan telur cacing pada tanah mulai dikenalkan pada tahun
1977.

1. Prinsip Pemeriksaan
Telur cacing dipisahkan dari specimen tanah dengan melakukan

proses konsentrasi menggunakan teknik perpaduan antara teknik
sentrifugasi dan teknik flotasi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan
secara mikroskopis.

2. Alat dan Bahan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pemeriksaan ini adalah

mikroskup, sentrifuge, tabung sentrifuge, kaca obyek, kaca penutup,
aplikator/lidi, pipet tetes, dan saringan kawat kasa. Sedangkan bahan
yang dibutuhkan diantaranya adalah larutan hipoklorit 30 %, MgSO4
berat jenis 1,26 (dibuat dengan resep 282 g/l). Spesimen pemeriksaan
berupa tanah yang dicurigai mengandung telur cacing.

3. Prosedur Kerja
Komposisi tanah yang tidak selalu sama dengan campuran pasir

dan berbagai bahan lain maka pada tahap awal kita lakukan penyaringan
tanah dengan saringan kawat halus. Caranya dengan mengambil sampel
lebih kurang 100 gram sampel tanah lalu menyaringnya. Selanjutnya
masukkan 5 gram tanah hasil saringan ke dalam tabung sentrifuge.
Tambahkan 20 ml larutan hipoklorit, aduk dan diamkan selama 1 jam.
Setelah cukup waktu, pusingkan suspensi sampel tersebut pada
kecepatan 2000 rpm selama 2 menit, lalu buanglah supernatannya
dengan cepat. Tambahkan air ke dalam tabung tersebut lalu pusing
kembali selama 2 menit dengan kecepatan yang sama (lakukan
penggantian air dua kali). Buang supernatan lalu tambahkan larutan
MgSO4, aduk dengan aplikator. Pusingkan kembali pada kecepatan 2500

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 75

rpm selama 5 menit. Selesai pemusingan lalu letakkan tabung pada rak
tabung reaksi dalam posisi datar lalu tambahkan larutan MgSO4 hingga
penuh, diamkan beberapa menit.

(Catatan : maksud larutan penuh tabung adalah larutan diisikan secara hati-
hati hingga permukaan tabung hingga tetesan terakhir penambahan membuat
permukaan larutan sedikit mencembung ke permukaan namun larutan belum
tumpah)

Letakkan kaca penutup diatas bibir tabung sentrifuge yang penuh
cairan, setelah kaca penutup menyentuh cairan lalu segera angkat
kembali dan letakkan dengan hati-hati pada kaca obyek. Lakukan
pengamatan dengan jumlah lapangan pandang yang cukup secara
mikroskopis dimulai dengan perbesaran lemah.

4. Pelaporan hasil
Hasil pemeriksaan ini dapat dilaporkan secara kualitatif dengan

laporan hasil positif atau negatif saja. Dalam kasus khusus bilamana
pemeriksaan ini merupakan sebuah penegasan atas pemeriksaan
pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya dan jumlah telur yang
ditemukan memberikan makna klinis yang signifikan, dapat
dipertimbangkan untuk dilaporkan hasilnya secara semi kuantitatif
namun ada ada beberapa syarat yang harus terpenuhi, yaitu : 1)
penimbangan spesimen tanah harus dilakukan secara seksama dan 2)
pembacaan sediaan harus dilakukan pada seluruh lapangan pandang
sediaan dengan metode benteng. Dengan diketahui berat tanah yang
sebenarnya dan pembacaan secara menyeluruh pada area sediaan, maka
dapat diketahui berapa banyak jumlah telur cacing yang ditemukan
dalam tanah seberat tersebut dalam penimbangan.

76 | Identifikasi Helminthes

PEMERIKSAAN TELUR CACING

PADA JEMARI DAN KUKU TANGAN

Kelompok cacing yang mekanisme penularannya melalui kontaminasi
tangan ke mulut tentu membutuhkan berbagai teknik pemeriksaan dari
berbagai spesimen pemeriksaan agar benar-benar dapat diketahui cara
penularan mana yang paling berperan dalam jalur infeksi. Tangan dengan
jemarinya yang sangat aktif bergerak dalam berbagai aktifitas menyebabkan
peluang kontaminasi sangat besar. Kontak tangan dengan media
perkembangan telur cacing seperti tanah akan sangat mendukung
penularan dari tangan ke mulut. Apalagi bila jemari tangan kita berkuku
panjang, merupakan tempat persembunyian yang cukup baik bagi telur
cacing. Teknik khusus dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan pada
spesimen dari jemari dan kuku tangan ini.

1. Prinsip pemeriksaan
Telur cacing pada yang menempel pada jemari dan kuku tangan

diambil sedemikian rupa dan dikonsentrasikan untuk dibaca secara
mikroskopis.

2. Alat dan bahan
Beberapa peralatan yang dibutuhkan dalam pemeriksaan teknik

ini diantaranya adalah mikroskup, sentrifuge, cawan petri, kaca obyek,
kaca penutup, pinset, pipet tetes dan kain kasa. Sedangkan bahan yang
dibutuhkan adalah larutan NaOH 0,25 %. Specimen pemeriksaan ini
berupa apusan jemari tangan dan potongan kuku jari tangan.

3. Prosedur kerja
Lakukanlah pengambilan spesimen pemeriksaan dengan cara

sebagai berikut :
 Untuk usapan dari jemari tangan, celupkan kain kasa ke dalam

larutan NaOH dalam cawan petri, lalu bersihkan jari jemari tangan
dengan kain kasa basah tersebut secara hati-hati dan menyeluruh.
Celupkan kain kasa ke dalam larutan NaOH kembali beberapa kali
dengan harapan telur cacing yang terambil pada kasa dapat luruh
semua dan masuk ke dalam cawan petri.
 Untuk spesimen dari kuku tangan, sebaiknya kuku jari tangan
dipotong lebih dahulu sebelum pengambilan usapan jemari tangan.
Kuku yang telah terpotong langsung dimasukkan ke dalam cawan

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 77

petri. Dengan bantuan pinset, kuku dijepit pada salah satu ujung
sedang pinset yang satu membersihkan sisi dalam kuku yang
terdapat kotoran. Ulangi sekali lagi dengan menjepit sisi ujung yang
satunya. Celupkan beberapa kali potongan kuku tersebut ke dalam
larutan NaOH hingga kita yakin sudah bersih betul, lalu kuku tangan
kita keluarkan dari cawan petri. Diharapkan seluruh telur cacing yang
berada dalam kuku tangan telah luruh semua kedalam cawan petri.

Masukkan larutan NaOH dari cawan petri tersebut ke dalam
tabung sentrifuge, putarlah dengan kecepatan 2000 rpm selama 3 menit.
Setelah selesai pemusingan, angkatlah tabung sentrifuge dan buanglah
supernatan cairan dengan cepat dan hati-hati. Ambil sedimen
secukupnya dengan pipet tetes, letakkan pada kaca obyek lalu tutuplah
dengan kaca penutup (dapat dilakukan pewarnaan bila dikehendaki,
ditambahkan sebelum penutupan dengan kaca penutup). Proses
penutupan sediaan hendaknya dilakukan sedemikian rupa sehingga
tidak terbentuk gelembung udara. Pembacaan sediaan secara
mikroskopis dilakukan dengan mikroskup menggunakan perbesaran
lemah ke seluruh lapangan pandang sediaan.

4. Pelaporan hasil
Hasil yang dapat dilaporkan dari pemeriksaan teknik ini hanya

hasil kualitatif saja berupa hasil positif atau negative. Lebih baik dan
dapat memberikan makna klinis bila pelaporan hasil ini disertai dengan
keterangan spesies parasit yang ditemukan beserta stadiumnya.

78 | Identifikasi Helminthes

TEKNIK PEMBIAKAN LARVA CACING

HARADA MORI

Beberapa spesies cacing dapat dilakukan pembiakan larvanya secara
sederhana, diantaranya adalah cacing tambang dan Strongyloides stercoralis.
Membedakan morfologi telur cacing tambang antara Necator dan
Ancylostoma ataupun antara kedua spesies tersebut dengan telur
Strongyloides merupakan sebuah kesulitan tersendiri. Walaupun dalam
teori telur Strongyloides tidak akan mungkin keluar bersama tinja karena
telah menetas di dalam usus, namun siapa yang berani menjamin tak akan
pernah ada telur Strongyloides yang keluar sebelum menetas ? Kesulitan
differensiasi inilah yang mengharuskan kita membiakkan telurnya untuk
melihat lebih detail bagaimana ciri-ciri larvanya sehingga bisa diidentifikasi
spesiesnya.

Teknik pembiakan untuk cacing yang sering dilakukan adalah teknik
pembiakan larva Harada Mori. Dasar pelaksanaan pembiakan larva ini
menggunakan tabung sentrifuge. Dalam perkembangannya teknik ini
dimodifikasi menggunakan alat yang lebih sederhana dan murah yaitu
plastik es mambo dan kertas koran. Sebaiknya faeses yang dibiakkan sudah
melalui pemeriksaan awal dan positif telur cacing yang memiliki makna
penting dalam stadium larva.

Karena tujuannya untuk membiakkan larva maka seyogyanya
specimen yang akan dibiakkan adalah specimen yang telah diyakini positif
mengandung telur cacing tambang atau Strongyloides stercoralis. Hal ini
mengandung maksud bahwa telah dilakukan pemeriksaan awal untuk
identifikasi keberadaan telur cacing pada specimen faeses.

1. Prinsip Pemeriksaan
Telur cacing dalam faeses dikondisikan dalam suasana

kelembaban optimal sehingga dapat menetas menjadi stadium larva.
Larva yang telah terbentuk akan mengumpul pada dasar bejana yang
dapat diamati secara mikroskopis dengan membuat sediaan basah.

2. Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk pembiakan larva teknik Harada

Mori ini diantaranya adalah tabung sentrifuge, rak tabung, pipet tetes
panjang, kaca obyek, kaca penutup, kertas saring kasar, aplikator dan air.
Sedangkan spesimen pemeriksaan yang digunakan adalah tinja
penderita.

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 79

3. Prosedur Kerja
Langkah awal kita menyiapkan kertas saring yang dipotong

dengan salah satu ujung mengerucut. Sesuaikan ukuran kertas saring
dengan tabung sentrifuge. Selanjutnya oleskan faeses pada salah satu sisi
bagian tengah kertas saring secukupnya (bila terlalu tebal bisa lepas dari
kertas saring). Isilah tabung sentrifuge kosong dengan 3 ml air, letakkan
pada rak tabung. Secara hati-hati masukkan kertas saring yang telah
dioles faeses tersebut ke dalamnya dengan ujung yang runcing juga di
bagian bawah tabung dan sisi tanpa faeses menempel pada dinding
tabung. Upayakan ujung runcing kertas saring tercelup air sedalam 1 cm
sedang bagian atas kertas saring melekat melingkar pada dinding
tabung. Inkubasikan tabung dalam rak tersebut pada suhu kamar selama
7 – 10 hari, upayakan dalam ruangan yang agak gelap. Selama inkubasi
selalu dilakukan pengecekan volume air dalam tabung, apabila air habis
dapat ditambahkan lagi menggunakan pipet tetes panjang secara hati-
hati. Setelah cukup waktu inkubasi, pipetlah air dari ujung dasar tabung
lalu teteskan pada kaca obyek dan tutup dengan kaca penutup. Apabila
benar terdapat larva cacing hasil biakan maka akan terambil dan berada
di dalam sediaan tersebut. Langkah akhir adalah pembacaan
mikroskopis. Dengan perbesaran lemah, kita dapat melakukan
pengamatan adanya pergerakan larva di dalam sediaan basah tersebut.

4. Pelaporan Hasil
Hasil akhir dari teknik pembiakan larva cacing ini adalah

teridentifikasinya spesies larva cacing yang ditemukan dari hasil
pemeriksaan. Laporan disebutkan spesies apa saja yang berhasil
ditemukan. Lebih terpercaya apabila disertakan dokumentasi dalam
bentuk gambar parasit yang ditemukan.

Catatan :
 Untuk teknik modifikasi Harada Mori, tabung reaksi dapat digantikan

dengan plastik es mambo yang dibuat meruncing dengan las api atau
mesin pres, sedangkan kertas saring dapat digantikan dengan kertas
koran.
 Cara kerjanya sama dengan teknik aslinya di atas namun karena
menggunakan plastik maka inkubasinya dilakukan dengan cara
digantung, tidak menggunakan rak tabung.

80 | Identifikasi Helminthes

DAFTAR PUSTAKA

Brown Harrold W. Dasar Parasitologi Klinis: Jakarta.PT Gremedia; 1983
Chiodini P.L, Moody A.H, Manser D.W, Medical Helminthology and

Protozoology, 4 th ed. London : Churchill Livingstone : 2003 : 64-66.
Craig and Faust’s. Clinical Parasitology. Eighth Edition.LEA &

FEBIGER.Philadelphia.1970
Hardidjaja Pinardi MPH & TM. Penuntun Laboratorium Parasitologi

Kedokteran. FKUI. Jakarta. Catak ulang 1994.
Jeffry dan Leach. Atlas Helmintologi dan Parasitologi Kedokteran. Edisi 2.

EGC; 1983
Lynnes S Garcia David A Bruckner. Alih Bahasa Dr. Robby Makimian Ms.

Diagnostic Parasitologi Kedokteran: EGC; 1996
Purwaningsih S: Diagnosis Malaria. Dalam : Harijanto P N, (ed). Malaria

Epidemiologi Patogenesis, Manifestasi Klinis, & Penanganan. Jakarta:
EGC;2000:185-93
Service, MW. Medical Entomology for Students. Chapman & Hall. London.
1996
Soedarto. Helmintologi Kedokteran. Cetakan 2 :Jakarta. EGC; 1995
Srisasi Gandahusada, Herry D, Wita Pribadi. Parasitologi Kedokteran. Edisi
ketiga: Jakarta. FKUI; 2004
Sumanto D, Periplaswab-Deteksi cacingan kremi dengan plastik mika dan
selotif, Amanda, Semarang, 2014
Sumanto D, Praktikum Parasitologi Kesehatan Masyarakat, IAKIS, Semarang,
2015
Sumanto D, Wartomo H (editor), Parasitologi Kesehatan Masyarakat, Yoga
Pratama, Semarang, 2014
Viqar Zaman. Ng Mah-Lee, Mary. Atlas of Medical Parasitology. 4th edition.
Elsevier – Graha Ilmu. Singapore-Yogyakarta, 2008
Yamaguchi, Tomio. Alih Bahasa Lesmana Padma sutra, R makimian, Monika
Jukiani Y. Atlas Berwarna Parasitologi Klinik. EGC; 1992

Sumber dari internet :
http://www.cdc.gov/dpdx/ascariasis
http://www.cdc.gov/dpdx/trichuriasis
http://www.cdc.gov/dpdx/hookworm
www.wadsworth.org
http://www.cdc.gov/dpdx/strongyloidiasis
http://www.cdc.gov/dpdx/enterobiasis
http://www.cdc.gov/dpdx/lymphaticFilariasis
www.animogen.com
http://www.filariasis.org
http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis
www.coccidia.icb.usp.br
www.southampton.ac.uk

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 81

http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis
www.studyblue.com
http://www.cdc.gov/dpdx/hymenolepiasis
www.parasitologiaclinica.ufsc.br
www.webpages.lincoln.ac.uk
aama-a.com
www.corbisimages.com
www.k-state.edu/parasitology
www.idimages.org
www.visualphotos.com
www.ym.edu.tw
http://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis
http://cal.vet.upenn.edu
http://www.med-chem.com/para-site
http://www.pathobio.sdu.edu.cn/sdjsc/webteaching/pic/gjt/jpcadul
t.htm
http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/gallery.html
http://www.nature.com/nm/journal/v14/n4/fig_tab/nm0408-
365_F1.html
https://www.flickr.com/photos/lordzagato/3615838623
https://www.ncsu.edu/project/bio402_315/platyhelminthes
http://emedicine.medscape.com
www.k-state.edu
http://www.phsource.us/PH/HELM/PH_Parasites/Clonorchiasis.ht
ml

82 | Identifikasi Helminthes

RIWAYAT PENULIS

Penulis dilahirkan di kota Blora Jawa Tengah pada tahun
1972. Mulai pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah
Menengah Atas ditempuh di kota kelahirannya. Selepas
mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Blora, penulis
melanjutkan pendidikan di Akademi Analis Kesehatan
(AAK) Muhammadiyah Semarang. Lulus dari AAK penulis
menjadi asisten praktikum di almamaternya. Tidak
adanya pendidikan formal lanjutan untuk bidang keahlian, akhirnya pada
tahun 1998 melanjutkan studi kembali pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro Semarang. Setelah lulus program Sarjana Kesehatan
Masyarakat, penulis dipercaya mengampu mata kuliah Praktikum
Parasitologi, Praktikum Histologi, Praktikum Patologi Anatomi dan
Praktikum Kimia Analisa serta mata kuliah Statistik dan Metodologi
Penelitian. Saat ini penulis tetap menggeluti bidang Parasitologi baik
Helminthologi, Protozoologi maupun Entomologi. Setelah lulus dari
program Magister Ilmu Epidemiologi UNDIP tahun 2010, penulis lebih
konsen pada bidang ilmu parasitologi. Dalam bidang entomologi penulis
ikut berupaya mengembangkan mata kuliah Entomologi Kesehatan dan
Teknik Entomologi untuk mahasiswa Kesehatan Masyarakat. Beberapa
buku yang telah berhasil diterbitkan antara lain :
1. Parasitologi Kesehatan Masyarakat
2. Periplaswab, Deteksi Cacingan Kremi Dengan Plastik Mika dan Selotif
3. Teknik Entomologi
4. Belajar Sitohistoteknologi Untuk Pemula
Saat menyelesaikan buku ini penulis sedang aktif studi lanjut pada program
Doktoral Ilmu Kedokteran/Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang.
Sementara buku yang akan diselesaikan berkolaborasi dengan sejawat
keperawatan adalah buku : Parasitologi dan Asuhan Keperawatan Penyakit
Infeksi Parasit.

Kontak e-mail : [email protected], [email protected]

Seri buku Parasitologi : Helminthologi | 83

PENULIS KONTRIBUTOR

Abdul Ghofur, SKM, M.Kes (Epid) yang dilahirkan dan
berdomisili di kota Pemalang adalah alumni program
pendidikan vokasional Diploma 3 Analis Kesehatan di
AAK Muhammadiyah Semarang. Pendidikan sarjana
ditempuh di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro dan melanjutkan studi kembali pada
program Magister Epidemiologi pada alamamater yang
sama. Saat ini aktif mengajar sebagai dosen tetap di
Akademi Analis Kesehatan (AAK) Pekalongan. Salah satu mata kuliah yang
diampu adalah Parasitologi. Dalam kesempatan ini turut serta
menyumbangkan tulisan sebagai kontributor pada buku ini.

Kontak email : [email protected]


Click to View FlipBook Version