The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul ini disusun oleh Mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Medan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by luthfiqrnabillah, 2023-05-29 06:57:37

MODUL KONSEP DASAR IKATAN KELOMPOK 2 KIMIA ORGANIK FISIK

Modul ini disusun oleh Mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Medan

E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 101 Dibuat KI 15% sebanyak 100 mL aquadest Ditimbang 0,5 gram minnyak ke dalam erlenmeyer Ditambahkan 15mL larutan Wijs Disimpan KI 15% dan 85mL aquadest Dititrasi dengan Na2S2O3 yang telah distandarisasi hingga kuning pudar kemudian ditambahkan amilum dan dititrasi kembali hingga jernih Ditambahkan amilum dan dititrasi kembali hingga larutan jernih 3.6. Gambar Alat Sampel Minyak Sawit Hasil


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 102 3.7 Pengamatan No Perlakuan Hasil Pengamatan A) Standarisasi larutan Na2S2O3 0,1 1. Ditimbang larutan KIO3 lalu ditambahkan 50ml air Menghasilkan larutan homogen tak berwarna 2 Ditambahkan 0,2gr Kalium Iodida dan 1ml HCl 2M kemudian di titrasi dengan larutan standarisasi Natrium tiosulfat 0,1N hingga intensitas berwarna kuning pada larutan Menghasilkan intensitas larutan berwarna kuning pada volume 2,7 ml larutan standardisasi Na2S2O3 yang digunakan pada titrasi


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 103 3 Larutan berwarna kuning di tambahkan amilum 2% kemudian di titrasi kembali Pada saat di tambahkan amilum larutan berubah menjadi warna biru kemudian Jernih ketika di titrasi kembali pada volume 3ml B)Penetapan Bilangan Iodium lemak a)Larutan Blangko 1 Dibuat KI 15% dalam 100ml aquades lalu di tambahkan 15ml larutan wijs kemudian di simpan dalam tempat gelap selama ± 30 menit Menghasilkan larutan berwarna coklat pekat yang homogen sebelum di simpan selama ± 30menit.setelah ± 30menit larutan teroksidasi sehingga larutan berawarna coklat pekat lagi 6 Larutan yang teroksidasi berwarna coklat tidak terlalu pekat lagi di tambagkan KI 15% dan 85ml aquades kemudian di titrasi dengan larutan standardisasi Na2S2O3 Menghasilkan larutan berwarna coklat pekat kembali.kemudian setelah di titrasi membentuk larutan berwarna kuning b)Larutan pada sampel Minyak sawit 8 Dibuat KI 15% dalam 100 ml aquades lalu di tambahkan 0,5 ml Sampel minyak sawit ke dalam erlemeyer I dan II Pada erlemeyer I dan II menghasilkan larutan yang heterogen(tidak homogen) 9 Larutan yang tidak homogen di tambahkan 15 ml larutan wijs kemudian di simpan salam tempat gelap ±30 menit Menghasilkan larutan berwarna coklat pekat dan homogen. Setelah ± 30menit larutan tersebit teroksidasi sehingga berwarna coklat pekat 10 Larutan yang teroksidasi berwarna coklat tidak terlalu pekat lagi di tambahkan Kalium Iodida 15% dan 85ml aquades kemudian di titrasi Larutan menjadi coklat pekat kembali.setelah di titrasi Erlemeyer I dan II berubah warna menjadi warna kuning


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 104 dengan larutan standarisasi Na2S2O3 pada erlemeyer I dan II 11 Larutan berwarna kuning pada erlemeyerI dan II di (+)amilum 6 tetes lalu di titrasi kembali dengan larutan Na2S2O3 Pada saat di (+) kan amilum larutan berwarna biru,kemudian dititrasi kembali larutan berubah warna menjadi jernih pada V1 = 16,6ml V2 = 16,9ml. 3.8. Pembahasan Pada percobaan ini, praktikan melakukan percobaan Reaksi Adisi dengan dua sub judul percobaan, yaitu standarisasi larutan Na2S2O3 0,1 N dan penetapan bilangan iod lemak. A. Standarisasi Larutan NaS2O3 0,1 N Pada percobaan ini, larutan standar Na2S2O3 0,1 N yang telah distandarisasi kembali akan menghasilkan konsentrasi yang sama yaitu 0,1 N KIO3 dan KI akan menjadi oksidator dalam pembuatan larutan ini sedangkan HCl akan menjadi reagen yang berperan sebagai katalisator dalam proses reaksi pembuatan larutan ini. lalu amilum akan berfungsi sebagai indikator dalam penentuan titik akhir pada titrasi yang menggunakan larutan standar Na2S2O3 sebagai pentitran dan oksidator KI dan KIO3 serta air ( aquades) berperan sebagai pentitrat. Padatan KIO3 ditimbang 1,5 gram dan dilarutkan dengan aquades pada wadah lalu. diukur 250 ml sebanyak 20 ml larutan KIO3 dimasukkan ke Erlenmeyer 250 ml dan ditambahkan 2 gram KI dan 5 ml H2SO4 kemudian ditutup dan dikocok ke dalam Erlenmeyer hingga larutan menjadi kuning pekat. larutan didiamkan dalam ruang gelap selama 5 menit, selanjutnya ditambahkan 100 ml aquades, dititrasi kembali sampai membentuk Sampai membentuk kuning pucat lalu ditambahkan 1 ml larutan kanji dan larutan akan berubah menjadi biru. campuran larutan KIO3 - KI – H2SO4 Dititrasi Dengan larutan natrium tio-sulfat hingga warna berubah menjadi bening (Maruni dkk., 2022). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan standarisasi larutan Na2S2O3 dilakukan dengan menggunakan KIO3 sebanyak 10 mg atau sama dengan 0.010 gram yang ditimbang


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 105 kemudian dimasukkan ke dalam beker gelas dan di homogenkan larutan KIO3 dengan aquades 50 ml. kemudian larutan KIO3 dipindahkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 0,2 gram KI serta 1 ml HCl 2 M dan di homogenkan kembali. Setelah itu larutan ini dititrasi dengan larutan Standar natrium tiosulfat 0,1 m hingga larutan berwarna kuning pudar pada erlenmeyer setelah itu titrann dihentikan dan ditambahkan indikator amilum 2% sebanyak 3 tetes larutan berubah menjadi biru tua, hal ini menunjukkan bahwa adanya ion-ion Kompleks yaitu iodium yang terkandung dalam larutan. Kemudian setelah ditetesi amilum, larutan denitrasi kembali dengan larutan standar natrium tiosulfat 0,1 N Hingga larutan berubah menjadi bening tak berwarna dan kembali jernih. Sehingga volume yang digunakan larutan pentitran yaitu KIO3 dan KI untuk menstandarisasi Larutan natrium sulfat sebanyak 3 ml untuk menjernihkan kembali penitran agar memperoleh konsentrasi larutan standar natrium Tio sulfat 0,1 N yang telah distandarisasi sehingga konsentrasi larutan standarisasi natrium tiosulfat yang dihasilkan adalah 0,0934 N dengan perthitungan yang telah dituliskan sebelumnya. B. Penetepan Bilangan Iodium Lemak Pada penetepan bilangan iodium lemak ini menggunakan sampel minyak goreng dan penambah nilai kalori bahan pangan. Semua minyak goreng tersusun atas unit-unit asam- asam lemak dimana jumlah asam lemak alami yang telah diketahui ada dua puluh jenis asam lemak yang berbeda. Tidak satupun minyak goreng yang tersusun atas satu jenis asam lemak karena selalu dalam bentuk campuran dari berbagai asam lemak. Proporsi campuran ini menyebabkan kesehatan, bersifat netral, tahan simpan atau mudah tengik ( Fitri dan Fitriana, 2019). Minyak goreng ditimbang sebanyak 5 gram kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer tertutup. Selanjutnya ditambahkan 10 ml kloroform 25 ml pereaksi wiji lalu disimpan dalam ruang gelap selama 30 menit dan sesekali di kocok. Kemudian ditambahkan 10 ml larutan KI 15% dan 50 ml aquades dan 2 ml karutan warna biru hilang ( Sinurat dan Silaban, 2021). Bilangan iod menunjukkan tingkat ketidakjenuhan atau banyaknya ikatan rangkap asam asam lemak penyusun biodesel. Turunnya kadar iod menunjukkan ketidakjenuhan minyak. Nilai bilanngan iod yang rendah menunjukkan bahwa sampel yang dihasilkan memiliki tingkat kemudahan oksidasi dan polimerisasi yang rendah. Semakin tak jenuh komponen asam lemak maka semakin rentan terhadap oksidasi. Ikatan rangkap yang terdapat dalam asam lemak tak jenuh mudah berekasi dengan oksigen sehingga lebih rentan teroksidasi. Ikatan rangkap yang terdapat dalam asam lemak juga lebih rentan terhadap reaksi polimerisasi ( Mardawati, dkk., 2019).


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 106 Bilangan iod sealin untuk menyatakan derajat ketidakjenuhan dari minyak atau lemak juuga dapat dipergunakan untuk menggolongkan minyak pengering dan minyak bukan pengering. Jenis minyak mengering ( drying oil) adalah minyak yang mempunyai sifat dapat mengeringi jika terkena oksidasi dan akan berubah menjadi lapisan tebal, bersifat kental dan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan di udara terbuka. Istilah minyak setengah mengering berupa minyak yang mempunyai daya yang lebih lambat dalam pengeringan ( Dewita., dkk 2020). Pada pervcobaan ini menggunakan metode hanus dengan Na2S2O3 sebagai larutan standarisasinya. Penambahan KI 15% bertujuan untuk membebaskan iodin yang ditandai dengan terbentuknya warna kuning pada sampel, saat ditirasi dengan larutan natrium tiosulfat. Keudian penambahan reagent wijs yang terbuat dari Icl (Iodine monoklorida) yang terlarut dalam asam setat glasial merupakan pelarut organik yang bersifat nonpolar sehingga dapat melarutkan minyak dalam sampel, karena mimiliki sifat kelarutan yang sejenis. Larutan ini disimpan ditempat gelap karena disebabkan oleh terjadinya oksidasi dengan udara jika terkena cahaya dan 02 jika dibiarkan pada ruang terbua. Sehingga penyimpanan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya oksidasi radikal asam lemak akibat faktor percepatan seperti cahaya yang dapat merusak asam lemak akibat faktor percepatan seperti cahaya yang dapat merusak asam lemak. Proses penyimpanan ini harus dilakukan ± 30 menit agar tidak adanya zat pengotor atau munculnya ini. Larutan dititrasi dengan Na2S2O3 karena kestabilan larutan di pengaruhi oleh ph rendah, sinar matahari, dan adanya daya bakteri yang memanfaatkan sulfur. Setelah terdapat larutan berwarna kuning ditambahkan amilum sebagai indikator yang tergolong dalam polisakarida yang mengandung pati. Indikator ini mengubah warna kuning pada larutan menjadi warna biru tua kemudain dilanjutkan proses titrasi sampai warna biru tua hilang. Amilum sebagai indikator digunakan karena pati yang terkandung dalam amilum ini sensitif terhadap iod sehingga berfungsi untuk mengetahui adanya I2 ketika sampel berubah menjadi biru tua. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan sebanyak 100 ml aquades digunakan untuk ditambahkan dalam KI 15% kemudian ditambahkan sampel minyak goreng kelapa sawit sebanyak 0,5 gram yang di letakkan ke dalam erlenmeyer I dan II kemudian diaduk dan tidak menghasilkan larutan yang homogen ketika ditambahkan sebanyak 15 ml larutan wijs kedalam masing- masing erlenmeyer menjadi homogen karena larutan wijs dan minyak mempunyai sifat yang sama yaitu nonpolar. Kemudian ditutup dengan aluminium foil dan disimpan di dalam tempat gelap kedua erlenmeyer untuk mencegahnya oksidasi yang terjadi dengan cepat selama ± 30 menit. Setelah 30 menit kedua erlenmeyer diambil dan larutan didalamnya ditambahkan


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 107 KI 15% dan aquadest sebanyak 85 ml kemudian di aduk dan dititrasi dengan larutan standarisasi Na2S2O3 pada kedua erlenmeyer hingga berubah menjadi kuning pada larutan. Ketika larutan berubah menjadi warna kuning pada larutan di kedua erlenmeyer yang telah dititrasi, kedua erlenmeyer tersebut ditambahkan indikator amilum sebanyak 3 tetes pada masing-masing erlenmeyer lalu memunculkan larutan berwarna biru tua sehingga dapat diketahui adanya I2 yang terkandung dalam sampel. Kemudian setelah diaduk, larutan dititrasi kembali hingga warna biru hilang dan larutan berubah menjadi jernih tak berwarna pada erlenmeyer I didapatkan volume Na2S2O3 yang diperlukan adalah 16,6 ml sedangkan pada erlenmeyer II sebanyak 16,9 ml. Maka bilangan iod pada pada percobaan yang telah dilakukan menggunakan sampel minyak kelapa sawit adalah pada percobaan pertama: 47,41 gram. Kemudian pada percobaan kedua adalah 40,13 gram sehingga berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan sebelumnnya dapat diketahui bilangan iod yang diujikan pada sampel memperoleh hasil yang sesuai dengan ketentuan bilangan iod minyak sawit yaitu sebanyak 37- 54 gram berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang mutu kualitas pangan/minyak goreng pada minyak sawit. Sehingga baik berdasarkan praktikum maupun berdasarkan teori percobaan yang telah dilakukan oleh praktikan memperoleh hasil yang sesuaidengan ketentuan bilangan iod pada sampel minyak sawit. Hasi bilangan iod yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan menggunakan sampel minya sawit diperoleh dari praktikum yang dilakukan mennggunakan sampel minyak sawit diperoleh dari perhitungan sebagai berikut: Bilangan Iod = Keterangan: Vs : Volume Na2S2O3 yang digunakan untuk menitrasi sampel (ml) Vb : Volume Na2S2O3 yang digunakan untuk menittrasi bilanko (ml) N : Konsentrasi Na2S2O3 hasil standarisasi (N) W : Berat Sampel (g) 126,91 : Berat atom bilangan iod 12,691 : Berat setara dari bilangan Iod (Taufik dan Seftiono, 2018). Larutan blanko adalah larutan berbeda dengan sampel tetapi dibuat dengan cara yang sama yang bertujuan sebagai pembanding. Larutan blanko laboratoriun ( laboratory blank) ( Vb – Vs ) x N x 126,9 ) W


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 108 merupakan air bebas analit ( analit free water) yang digunakan untuk kontrol kontaminasi di lingkungan laboratorium. Ketika larutan blanko laboratorium diperlukan sebagaimana sampel diuji sesuai dengan tahapan metode dan digunakan untuk kontrol kontaminasi awal perlakuan ( pretreatment), preparasi atau pengujian sampel disebut metode blank. Larutan blanko kalibrasi diperlukan sebagaimana deret larutan kerja untuk pembuatan kurva kalibrasi (Warsyidah, dkk., 2018). Berdasarkan praktikum, larutan blanko dibuat dengan aquades dan larutan wijs sebanyak 85 ml dan 15 ml. kemudian di perlukan sama dengan larutan sampel yaitu di diamkan selama ± 30 menit di tempat gelap. Keudian setelah itu larutan blanko dititrasi dengan larutan standarisasi Na2S2O3 sampai berwarna kuning pudar, setelah itu ditambahkan amilum sebanyak 3 tetes dan larutan kuning berubah menjadi biru dikarenkan adanya teridentifikasi iodium yang terkandung dalam larutan tersebut akibat amilum yang mengandung pati dan bereaksi dengan iod. Kemudian setelah itu larutan yang telas ditambahkan amilum kembali dilanjutkan titrasinya dengan larutan standarisasi Na2S2O3 sampai berwarna jernih atau tak berwaarna. Maka larutan standarisasi Na2S2O3 yang digunakan untuk membuat larutan blanko adalah 18,6 ml. Hal inisesuai dengan teori karena pembuatan larutan blanko dan hasil dari pembuatan larutan blanko ini menunjukkan kesamaan hasil pada percobaan yang telah dilakukan. 3.9. Kesimpulan Dari hasil percobaan dapat di simpulkan; 1. Konsentrasi Na2S2O3 yang telah di standardisasi dari pembuatan Na2S2O3(standart) adalah 0,0934N yang di peroleh dari larutan Na2S2O3 yang di gunakan untuk titrasi adalah 3 ml 2. Bilangan Iodium pada sampel Minyak sawit dalam penetapan bilangan Iodium lemak/minyak pada percobaan ini adalah Pada percobaan I = 47,41gram,Pada percobaan II = 40,13gram 3.10. Saran Saran pada percobaan yang telah dilakukan ialah , pada percobaan selanjutnya mungkin bisa dibuat suatu praktikum dengan jenis minyak minyak yang lain seperti minya kelapa atau minyak zaitun.


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 109 TUGAS PROYEK Secara kelompok, rancang desain dan buatlah sebuah video flip pembelajaran lengkap dengan web/linknya materi pokok bahasan Ikatan dan Struktur Reaktivasi Intermediet pada e-Modul ini. Kemudian secara bergantian semua anggota kelompok mempresentasikan materi e-Modul inj dalam bentuk PPT lewat video pembelajaran yang di buat dan di upload via YouTube kemudian link video pembelajarannya di buat ks flip dalam pembelajaran yang ditampilkan dalam e-Modul ini.


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 110 SOAL UJI KOMPETENSI 1. Diantara pernyataan berikut tentukan mana yang benar untuk reaksi substitusi nukleofilik pada senyawa aromatik akan berlangsung melalui pembentukan zat antara karbanion: A. pada inti aromatik mengikat gugus CF3 B. senyawa aromatiknya berupa garam diazonium C. senyawa aromatiknya memiliki proton orto D. inti aromatiknya mengikat gugus NO2 pada posisi orto atau para 2. Untuk reaksi: (CH3)3C–OH + CN- (CH3)3 C–CN + OH - , berlaku pernyataan: 1. berlangsung dengan mudah dalam larutan basa 2. berlangsung melaui mekanisme reaksi SN1 3. OHdan CNadalah nukleofil yang sama kereaktifannya 4. Laju reaksinya tergantung pada konsentrasi (CH3)3COH 5. Pernyataan yang benar untuk reaksi terebut adalah........ A. I dan II B. II dan IV C. III dan IV D. I dan III 3. Untuk reaksi: CH3CH2–I + CH3-O - CH3CH2–O–CH3 + I- pernyataan yang benar dalah: A. Reaksi menjadi dua kali lebih cepat jika konsentrasi CH3 CH2 – I dan CH3-O - dinaikkan dua kali lipat. B. Reaksi akan berlangsung dengan mekanisme SN1 C. Reaksi berlangsung dengan mekanisme SN2 D. Berlangsung melalui mekanisme SN1 dan SN2 4. Pernyataan yang benar untuk reaksi substitusi nukleofilik pada senyawa aromatik adalah: untuk senyawa aromatik yang mengikat gugus penarik elektron pada posisi orto diperlukan temperatur yang lebih tinggi daru pada posisi meta. A. Senyawa garam diazonium reaksinya melalui mekanisme SNAr B. Bila senyawa aromatiknya mengikat substituen penarik elektron pada posisi orto dan para C. maka mekanisme reaksinya melalui pembentukan kompleks Meisenheimer D. Bila reaksinya dilangsungkan dibawah pengaruh basa kuat maka reaksi berlangsung melalui pembentukan hasil antara karbokation.


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 111 5. Manakah urutan yang paling tepat tentang kreaktifan senyawa-senyawa berikut terhadap substitusi elektrofilik A. fenol > toluena > benzena > benzaldehida B. toluena > fenol > benzena > benzaldehida C. benzaldehida > fenol > toluena > benzena D. fenol > benzaldehida > toluena > benzena 6. Ion karbonium adalah suatu ion yang terdiri dari atom karbon yang membentuk ikatan dengan: A. Hidrogen B. Oksigen C. Fluorin D. Ion logam 7. Ion karbonium memiliki muatan formal positif pada atom karbon karena: A. Atom karbon menerima elektron tambahan B. Atom karbon kehilangan elektron C. Atom karbon berbagi pasangan elektron dengan atom hidrogen D. Atom karbon mendapatkan ikatan rangkap dengan atom hidrogen 8. Ion karbonium umumnya terbentuk melalui: A. Transfer elektron dari atom karbon ke atom hidrogen B. Donasi pasangan elektron dari atom hidrogen ke atom karbon C. Reaksi antara alkana dan alkohol D. Reaksi substitusi elektrofilik 9. Apa yang membedakan karbena dengan alkana biasa? A. Karbena memiliki ikatan rangkap ganda B. Karbena memiliki atom karbon tambahan yang terikat pada gugus alkil C. Karbena merupakan senyawa aromatik D. Karbena tidak memiliki ikatan karbon 10. Karbena sering digunakan sebagai: A. Katalis dalam reaksi substitusi nukleofilik B. Bahan peledak C. Senyawa pembersih D. Pigmen warna


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 112 KUNCI JAWABAN UJI KOMPETENSI No. Kunci jawaban 1. C 2. 3. C 4. C 5. A 6. A 7. C 8. D 9. B 10. A


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 113 Essay 1. Jelaskan berlangsung secara apakah mekanisme reaksi dari p-klorotoluena jika dipanaskan bersama larutan NaOH pada temperatur 3400 C dan diperoleh hasil p-kresol dan m-kresol dengan jumlah yang sama. 2. Jelaskan apa sebabnya substituen penarik elektron pada posisi orto atau para terhadap gugus pergi, dapat mempercepat laju reaksi substitusi nukleofilik pada senyawa aromatik. 3. Apakah yang mempengaruhi laju reaksi pada reaksi SN1 pada garam diazonium. 4. Berlangsung melalui pembentukan apakah reaksi antara bromobenzena dan NaNH2 dlam pelarut NH3 cair akan menghasilkan anilin. 5. Bagaimanakah produk reaksi bila substrat alilik mengalami reaksi substitusi elektrofilik ? Jawaban Essay 1. Mekanisme reaksi dari p-klorotoluena jika dipanaskan bersama larutan NaOH pada suhu 340°C dan menghasilkan p-kresol dan m-kresol dengan jumlah yang sama adalah sebagai berikut: a. Pertama, p-klorotoluena akan mengalami reaksi substitusi nukleofilik aromatik (SNAr) dengan NaOH. Ion hidroksida (OH-) dari larutan NaOH bertindak sebagai nukleofil dan menyerang cincin aromatik p-klorotoluena. Hal ini menghasilkan intermediet ariloksida yang kemudian mengalami tautomerisasi menjadi senyawa fenol, yaitu p-kresol. b. Selanjutnya, p-kresol akan mengalami reaksi isomerisasi, yaitu perubahan posisi substituen dalam cincin aromatik. Proses ini melibatkan migrasi gugus metil dari posisi para (p) menjadi meta (m) pada cincin aromatik. Akibatnya, terbentuklah mkresol dengan jumlah yang sama dengan p-kresol. 2. Substituen penarik elektron pada posisi orto atau para pada senyawa aromatik dapat mempercepat laju reaksi substitusi nukleofilik karena mereka meningkatkan kekerabatan elektron pada cincin aromatik. Substituen penarik elektron, seperti gugus nitro (NO2) atau gugus halogen seperti klor (Cl) atau brom (Br), menarik elektron dari cincin aromatik, sehingga menciptakan muatan parsial positif pada posisi orto atau para. Muatan parsial positif ini meningkatkan kelarutan senyawa aromatik dalam pelarut polar dan mempercepat interaksi dengan nukleofil. Oleh karena itu, reaksi substitusi nukleofilik pada senyawa aromatik dengan substituen penarik elektron pada posisi orto atau para dapat berlangsung lebih cepat. 3. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju reaksi pada reaksi SN1 (Substitusi Nukleofilik Unimolekuler) pada garam diazonium adalah: a. Stabilitas garam diazonium: Garam diazonium yang lebih stabil akan memiliki laju reaksi yang lebih lambat. Stabilitas dapat dipengaruhi oleh jumlah substituen pada


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 114 garam diazonium dan efek pengaruh substituen tersebut pada muatan positif pada karbon diazonium. b. Kelarutan: Pelarut yang digunakan dalam reaksi SN1 pada garam diazonium akan mempengaruhi laju reaksi. Kelarutan garam diazonium dalam pelarut yang digunakan dapat mempengaruhi kecepatan reaksi. c. Konsentrasi reaktan: Konsentrasi garam diazonium dan nukleofil yang digunakan dalam reaksi SN1 akan mempengaruhi laju reaksi. Semakin tinggi konsentrasi reaktan, semakin cepat laju reaksi. 4. Reaksi antara bromobenzena dan NaNH2 dalam pelarut NH3 cair akan menghasilkan anilin melalui pembentukan mekanisme reaksi yang disebut reaksi reaksi Wurtz-Fittig. Dalam reaksi ini, natrium amida (NaNH2) bertindak sebagai basa kuat dan menyerang bromobenzena. Interaksi antara natrium amida dan bromobenzena menghasilkan fenil natrium dan natrium bromida. Kemudian, fenil natrium bereaksi dengan air (yang hadir dalam NH3 cair) dan menghasilkan anilin. 5. Produk reaksi saat substrat alilik mengalami reaksi substitusi elektrofilik akan tergantung pada jenis elektrofil yang digunakan. Substitusi elektrofilik pada substrat alilik dapat menghasilkan berbagai produk, seperti alkilasi atau akrilasi, tergantung pada elektrofil yang digunakan.


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 115 GLOSARIUM Aromatik : struktur dari beberapa rangkaian atom berbentuk cincin kadang-kadang memiliki stabilitas lebih besar dari yang diduga. Asam Lewis : suatu spesi kimia yang mengandung orbital kosong yang mampu menerima pasangan elektron dari suatu basa Lewis untuk membentuk aduk Lewis. AIBN : Azobisisobutironitril adalah senyawa beracun yang sering digunakan sebagai pembusa dalam plastik dan karet, dan sebagai inisiator radikal. Efek Induktif : Pengaruh elektronik yang ditimbulkan oleh atom atau gugus fungsional yang terikat pada atom karbon yang membawa muatan positif dalam karbokation. Efek induktif dapat mempengaruhi stabilitas dan reaktivitas karbokation. Efek Hiperkonjugasi : Merujuk pada efek stabilisasi karbokation yang terjadi akibat delokalisasi elektron dari ikatan sigma C-H atau ikatan pi yang tidak terikat pada orbital orbital terdekat pada karbokation tersebut. Elektrofil : Spesies kimia yang dapat menerima pasangan elektron untuk membentuk ikatan polar. Grup fungsional : Bagian dari molekul yang memberikan sifat-sifat kimiawi khusus dan menentukan reaktivitasnya. Hidrida Karbokation : Merujuk pada jenis karbokation yang memiliki atom hidrogen sebagai gugus terikat yang terdekat dengan karbon yang membawa muatan positif. Hukum kekekalan massa : Prinsip yang menyatakan bahwa massa total reaktan harus sama dengan massa total produk dalam suatu reaksi kimia.


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 116 Ikatan kovalen : Ikatan yang terbentuk melalui pembagian pasangan elektron antara dua atom. Ikatan ionic : Ikatan yang terbentuk melalui transfer elektron dari satu atom ke atom lain, sehingga membentuk ion positif dan ion negatif. Ikatan koordinasi : Ikatan di mana satu atom menyumbangkan sepasang elektron untuk membentuk ikatan dengan atom lain. Ikatan pi : Ikatan yang terbentuk oleh tumpukan orbital p atau d, menghasilkan ikatan yang lemah. Intermediat reaksi : Spesies kimia yang terbentuk selama suatu reaksi kimia tetapi tidak ada dalam keadaan awal maupun akhir. Ikatan hydrogen : Ikatan lemah antara atom hidrogen dengan atom oksigen, nitrogen, atau fluorin pada molekul yang berbeda Ion Karbanion : Ion karbanion adalah ion yang memiliki muatan negatif (anion) dan terdiri dari karbon yang membentuk ikatan tiga dengan atom-atom lain, serta memiliki satu atau lebih pasangan elektron yang tidak berikatan. Induktif : Efek induktif adalah pengaruh elektronik yang ditransmisikan melalui ikatan kimia. Dalam konteks karbanion, substituen elektron-donating (menarik elektron) yang terikat pada karbon terdekat akan mengurangi kecenderungan karbanion untuk melepaskan elektron, sehingga meningkatkan stabilitasnya. Katalis : Zat yang meningkatkan laju reaksi kimia tanpa dikonsumsi dalam reaksi tersebut. Karben : Karben merujuk pada molekul organik yang mengandung atom karbon pusat yang terikat dengan dua gugus substituen atau ikatan rangkap ganda.


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 117 Lipid peroksida : Produk oksidasi lemak yang dihasilkan oleh radikal bebas. Lipid peroksida dapat merusak membran sel dan menyebabkan kerusakan seluler. Oksidatif : Merujuk pada proses oksidasi dalam tubuh yang melibatkan radikal bebas. Oksidasi adalah reaksi kimia di mana atom atau molekul kehilangan electron Peroksidasi lipid : Proses di mana radikal bebas merusak lemak dalam membran sel. Peroksidasi lipid dapat menyebabkan kerusakan pada membran sel dan berkontribusi pada perkembangan penyakit. Reaksi migrasi karbena : Reaksi migrasi karbena adalah jenis reaksi di mana gugus fungsional atau ikatan terdapat pada karbena berpindah dari satu atom ke atom yang lain dalam molekul. Reaksi sikloadisi karbena : Reaksi sikloadisi karbena adalah jenis reaksi di mana karbena bereaksi dengan senyawa alkena atau alkuna untuk membentuk cincin karbon. Spektroskopi : Metode analisis yang menggunakan interaksi antara cahaya dan materi untuk mengidentifikasi dan mempelajari struktur zat kimia. Transisi karbokation : Transisi karbokation merujuk pada proses di mana satu jenis karbenium berubah menjadi jenis karbenium yang berbeda melalui migrasi perpindahan gugus fungsi Unsur kimia : suatu spesies atom yang memiliki jumlah proton yang sama dalam inti atomnya. Sebanyak 118 unsur telah diidentifikasi, yang 94 di antaranya terjadi secara alami di bumi. Zat :Sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang (memilikivolume).


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 118 INDEKS A AIBN · 81, 82, 113 Aromatik · 33, 48, 113 Asam Lewis · 36, 37, 113 E Efek Hiperkonjugasi · 113 Efek Induktif · 62, 63, 113 Elektrofil · 4, 21, 22, 27, 57, 65, 113 G Grup fungsional · 113 I Ikatan hydrogen · 114 Ikatan ionic · 114 Ikatan koordinasi · 114 Ikatan kovalen · 114 Ikatan pi · 114 Induktif · 114 Intermediat reaksi · 114 Ion Karbanion · 5, 7, 9, 73, 114 K Karben · 87, 88, 89, 90, 114 Katalis · 114 L Lipid peroksida · 115 O Oksidatif · 115 P Peroksidasi lipid · 115 R Reaksi migrasi karbena · 115 Reaksi sikloadisi karbena · 115 S Spektroskopi · 115 T Transisi karbokation · 115 U Unsur kimia · 115 Z Zat · 92, 97, 98, 114, 115


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 119 TABEL PERIODIK UNSUR


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 120 DAFTAR PUSTAKA Allinger, N. L. et. al, 1976., Organic Chemistry, 2nd edition, Worth Printing, Inc., New York Carey, F.A., Sundberg, R.J. 2007.Advanced Organic Chemistry, Part A: Structure and Mechanisms. Springer,. Clayden, J., Greeves, N., Warren, S., Wothers, P. 2012.Organic Chemistry. Oxford UniversityPress. Eliel, E. I., 1981., Stereochemistry of Carbon Compounds, Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Ltd., New Delhi. Hamid S. 1999.A Simple and Convenient Method for Generation and NMR Observation of Stable Carbanions. Kasmai Journal of Chemical Education.Vol. 76 No. 6 H. Hart/Suminar Achmad; (1987), Kimia Organik, Suatu Kuliah Singkat. Jakatra: Penerbit Erlangga. Isaacs, N. S., 1975, Reactive Intermediates in Organic Chemistry, Jihn Woley & Sons, London. Isaacs, N. S., 1995, Physical Organic Chemistry, 2nd Edition, Prentice Hall, London. March, J., 1985, Advanced Organic Chemistry – Reactions, Mechanisms, and Structure, 3rd Edition, New York. McMurry, J. 2015.Organic Chemistry. Cengage Learning, . Morrison & Boyd, 1970., Organic Chemistry, 2nd. Ed., Worth Publishers, Inc. R. J. Fessenden, J. S. Fessenden/A. Hadyana Pudjaatmaka (1986). Kimia Organik, (terjemahan dari Organic Chemistry, 3rd Edition), Erlangga, Jakarta Solomons, T.W., 1982., Fundamentals of Organic Chemistry., John Willey & Sons. Inc., Canada. Wahyudi/Ismono; (2000)., Kimia Organik 3, Depdikbud, Jakarta


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 121 karkarAXAXAXAXbBIOGRAFI PENULIS EvaTiara sihotang adalah salah satu penulis dari modul ini.penulis merupakan anak ke 2 dari 2 bersaudara dari pasangan ibu Tiarma Siska Simarmata dan bapak Naik parlindungan Sihotang.Yang lahir pada tanggal 25 Agustus 2003.Penulis Lahir di kota Rantauprapat,Labuhan Batu,Sumatera Utara.Penulis menempuh pendidikan berawal dari Tk di perguruan panglima polem Rantauprapat,melanjutkan ke SDN.112142 Rantau Utara,melanjutkan ke SMPN 1 Rantau utara,melanjutkan ke SMAN 2 Rantau Utara,dan pada tahun 2021 penulis lolos dan berhak memiliki satu bangku kosong di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia tepatnya di Universitas Negeri Medan,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Program Studi Kimia. Julina Indah Gewa Sitompul adalah salah satu penulis dari modul ini. Penulis merupakan anak Pertama dari tiga bersaudara dari pasangan H Sitompul dan P hutasoit yang lahir pada hari sabtu bertepat di tanggal 12 Juli 2003. Penulis ini lahir di Kecamatan Sumbul, Sidikalang, Kab Dairi, Sumatera Utara. Penulis bertempat tinggal bersama dengan orang tua di Sumbul Pegagan , Provinsi Sumatera Utara. Penulis menempuh Pendidikan dimulai dari TK Khatolik (lulus tahun 2009), melanjutkan ke SD Negeri 030332 Sumbul (lulus tahun 2015), melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sumbul (lulus tahun 2018), melanjutkan ke SMA Negeri 1 Sumbul (lulus tahun 2021) dan pada tahun 2021 penulis mulai menempuh masa kuliah di Universitas Negeri Medan (UNIMED) pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan Kimia, Program Studi Kimia. Luthfi, begitulah setiap orang memanggil saya. Nama ini disematkan kepada saya karena ibu saya menginginkan anak laki-laki ketika itu. Luthfi Qori Nabillah nama lengkap saya, sedikit menggelitik perut memang karena jika hanya membaca dengan seksama, nama ini akan sangat terlihat seperti anak laki laki, hanya gugus kata terakhir saja yang bisa membantu saya untuk mempertegas bahwa saya adalah perempuan. Sudah tidak asing lagi bagi saya jika orang orang akan terlihat kaget saat saya memperkenalkan diri. Saya lahir tahun 2002 tepat ketika seluruh dunia merayakan Hari Pohon yaitu tanggal 21 November di Kota Pematangsiantar. Saat ini saya sedang menempuh Pendidikan jenjang S1 di Universitas Negeri Medan Jurusan Kimia BIOGRAFI PENULIS


E-Modul Kimia Organik Fisik Berbasis Case Method Dan Project 122 Nama saya Muhammad Fatra Arganda Saragih saya lahir di Batam pada tanggal 23 November 2002. Saya merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Kedua adik saya benama Firza Nabila Azzahwa Saragih dan Ardha Turanz Saragih. Masa kecil saya lalui di Desa Limbong, Kec. Dolok Merawan bersama keluarga kakek nenek dari sebelah Ayah. Saya memulai pendidikan di SDN 105455 Sibatu-batu (2008-2014), Melanjutkan ke SMP Muhammadiyah-21 Serbelawan (2014-2017), Melanjutkan ke SMA Negeri 1 Dolok Merawan (2017-2020). Pada tahun 2021 saya pernah bekerja di salah satu perusahaan retail di Indonesia yaitu PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk dan kemudian menempuh masa kuliah di Universitas Negeri Medan pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan Kimia. Nama saya Pedro Shane Mangapul Simbolon saya lahir di Medan Sumatera Utara tanggal 25 Februari 2004. Sejak kecil rasa ingin tahu saya sangat tinggi dan menjadi bagian penting dalam diri saya biografi ini akan mengungkapkan perjalanan hidup saya. Saya memulai pendidikan di SDN 064010 (2009- 2015) saat itu saya berminat di bidang olahraga prestasi saya dalam bidang olahraga cukup baik dan saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke SMP METHODIST-8 (2015-2018)saat itu saya mulai mendalami tentang sains. Kemudian saya SMA (2018-2021) tetap di sekolah tersebut minat dan pengetahuan saya tentang sains bertambah dan juga saya memiliki hobi bermain futsal dan sepak bola. Saya pernah ikut berpartisipasi dalam mensukseskan jalannya kegiatan olahraga tersebut dan memiliki prestasi yang cemerlang.


Click to View FlipBook Version