The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

e-book ini dibuat sebagaimana untuk memenuhi Tugas Akhir Semester dengan tujuan mempermudah para calon guru untuk mempelajari tentang pembelajaran Tematik di SD/Mi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niarahma89915, 2021-12-14 02:14:18

E-book Pembelajaran Tematik SD/MI

e-book ini dibuat sebagaimana untuk memenuhi Tugas Akhir Semester dengan tujuan mempermudah para calon guru untuk mempelajari tentang pembelajaran Tematik di SD/Mi

Keywords: ebook,tematik,sd/mi

MODUL
PEMBELAJARAN TEMATIK
Disusun Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pembelajaran Tematik SD/MI
Dosen Pengampu Bapak Muhammad Suwignyo Prayogo, M. Pd. I

DISUSUN OLEH:

Thania Rahmawati (T20194086)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KH. ACHMAD SIDDIQ JEMBER

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
karunianya penulis dapat menyelesaikan Modul Pembelajaran Tematik. Modul ini disusun
untuk:

1. Memenuhi Tugas Pembuatan Modul Pembelajaran Tematik Semester V di jenjang
Pendidikan S1

2. Guna dapat membantu para guru dalam mempelajari materi Pembelajaran Tematik
Dan tidak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada:
1) Bapak Rektor UIN KH Achmad Siddiq Jember Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E.,
M.M.
2) Ibu Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Dr. Hj. Mukni'ah, M.Pd.I.
3) Bapak Dosen Pengampu Mata Kuliah Pembelajaran Tematik MI/SD Muhammad
Suwignyo Prayogo, M.Pd.I yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk
menyelesaikan Modul ini.

Modul ini merupakan rancangan dari buku Pembelajaran Tematik yang ada di
Sekolah dasar. Dengan penuh rasa syukur alhamdulillah kami dapat menyelesaikan modul
dengan baik. Oleh karena Itu, penulis menyadari bahwa dalam penulisan modul ini jauh dari
sempurna dan masih banyak kekurangan. Sehingga penulis harapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun apapun bentuknya sangat diharapkan

BAB I

PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI SINGKAT
Pendekatan pembelajaran kurikulum tematik terpadu (integrated thematic

instruction) muncul sebagai “penetrasi” dari model kurikulum yang terpecah-pecah
(separated subject matter) atau pragmented model yang menitik beratkan kepada
pengembangan kemampuan akademik (intelektual) semata, sehingga mengakibatkan
para ilmuan semakin tersepesialisasi pada bidang keilmuannya masing-masing.
Misalnya, fenomena kekejian Perang Dunia I yang menelan korban jutaan umat
manusia, kerusakan infrastruktur yang tak terhingga, termasuk kebiadaaban terhadap
umat manusia yang mengerikan membuat merinding bulu kuduk kita. Perang Dunia II,
pasukan perang sekutu Amerika Serikat (AS) mengempur Jepang dan melakukan
pengeboman Kota Hirosima dan Nagasaki dengan menggunakan bom “atom”.
Tindakan ini sebagai sebuah sejarah dunia yang sangat menakutkan dan tidak akan
terlupakan sepanjang masa oleh anak didik kita.

Kasus di atas, apabila diselusuri akar permaslahannya adalah teletak sekitar
pengembangan dan implementasi kurikulum bersifat “pragmented”. Model konsep
kurikulum pragmented lebih menekakan kurikulum (mata pelajaran) terpecah-pecah.
Artinya, antara pelajaran yang satu dengan pelajaran lainnya sama sekali tidak ada
hubungannya atau tidak saling terkait sehingga pelajaran yang diajarkan oleh masing-
masing guru (pendidik) tidak saling menyapa. Terjadinya, pengkotakkotakan atau
terkapling-kapling ilmu pengetahuan, menyebabkan para ilmuan acuh (tidak peduli)
terhadap ilmu-ilmu yang lainnya. Sebagai onalog keadaan ini ibarat “kacamata kuda”.
Kuda berjalan lurus tidak melirik ke kana dan ke kiri. Nah, begitu pula para ilmuan
tidak mau menghubungan keilmuannya terhadap berbagai kasus yang terjadi saat ini,
seakan-akan kompleksitas permaslahan umat manusia dan lingkungan dipecahkan
hanya oleh bidang keilmuan tertentu. Pada akhirnya apa yang terjadi dehumanisasi
mengemparkan dunia. Gamabaran fenomena ini muncullah berbagai model integrasi
bidang studi sebagai kepedulian reformasi pendidikan. Berkenaan dengan ini, Ozman
dan Craver (1990: 142) dan bukunya “Philsophical Foundations of Education”.
Menjelaskan bahwa “… education … xii specialed …This is to narrow specialization
… It does not appose breaking knowledge down into its constituent element, but it
encourages us to put them back into a reconstructed whole that gives new direction and

insight. It is in achieving this new wholeness that pragmatism becomes humanistic and
holistic.” Singkatnya ungkapan ini menunjukkan, menyuarakan pentingnya pendidikan
(kurikulum) bukan yang bersifat spesialis, melainkan pendidikan yang bersifat utuh
(wholeness) yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan. John Dewey seorang filosof
berkebangsaan Amerika, ia adalah orang yang mendukung pentingnya model konsep
kurikulum terpadu (kurikulum interdisipliner).

Model konsep kurikulum ini menekankan bahwa pelajaran yang satu dengan
pelajaran yang lainnya memiliki keterkaitan yang erat, dan tidak dapat dipisahkan
sehingga membentuk satu kesantuan yang utuh (wholeness). Kesalingketerkaitan
keilmuan tersebut memberi nilai-nilai (values) kesadaran yang tinggi kepada anak-anak
termasuk peserta didik yang lebih tinggi levelnya, agar di masa yang akan datang
mereka memiliki rasa tanggung jawab yang besar menjaga dan melestarikan
lingkungan sebagai tempat ibadah kepada Tuhan-Nya dan komunikasi dengan sesama
manusia.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN MODUL

Materi pada modul ini menjelaskan tentang Pembelajaran tematik Dengan
mempelajari modul ini diharapkan calon guru dapat memahami materi pembelajaran
tematik dan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam kehidupan seharihari.
C. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup materi pada modul belajar mandiri calon guru P3K ini disusun
dalam dua bagian besar, bagian pertama adalah pendahuluan dan bagian berikutnya
adalah pembelajaran – pembelajaran.

Bagian Pendahuluan berisi deskripsi singkat, Peta Kompetensi yang
diharapkan dicapai setelah pembelajaran, Ruang Lingkup, dan Tujuan Belajar. Bagian
Pembelajaran terdiri dari materi. Modul belajar mandiri diakhiri dengan Penutup, dan
Daftar Pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN

I. KONSEP DASAR DAN LANDASAN DASAR PEMBELAJARAN TEMATIK
TERPADU

KONSEP DASAR DAN LANDASAN DASAR
PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

• Landasan Pendidikan Sejarah Landasan Teori
Pembelajaran filosofis pembelajaran
• Landasan psikologi Tematik pembelajaran yang mendasari
pembelajaran Kurikulum Terpadu terpadu pembelajaran
Tematik Terpadu tematik terpadu

Landasan Yuridis Konsep, • Filosofi progresivisme • Teori
Pendidikan dan prinsip, dan • Filosofi pendidikan perkembangan jean
pembelajaran ciri piaget
Kurikulum Tematik pembelajaran humanistik
Terpadu Terpadu • Filosofi kontruktivisme • Teori pembelajaran
kontruktivisme

• Teori vigotsky
• Teori brunner

RESUME

A. Sejarah Pembelajaran Tematik Terpadu
Model pembelajaran tematik terpadu (PTP) atau Integrated Thematic Instruction (ITI)

dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1970-an. Pendekatan pembelajaran ini
awalnya dikembangkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented),
anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang belajar cepat.
Premis utama PTP bahwa peserta didik memerlukan peluangpeluang tambahan (additional
opportunities) untuk menggunakan talentanya, menyediakan waktu bersama yang lain
untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis. Pembelajaran tematik merupakan
satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap
pembelajaran, serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dari pernyataan
tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai
upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama ntuk
mengimbangi padatnya materi kurikulum.

B. Landasan Yuridis Pendidikan dan Pembelajaran Kurikulum Tematik Terpadu
1.Landasan Pendidikan
Landasan Pendidikan Undang-undang dasar adalah merupakan hukum tertinggi di
Indonesia, Pasal-pasal yang bertalian dengan pendidikan dalam undangundang dasar 1945
hanya dua pasal, yaitu pasal 31 dan pasal 32, yang satu menceritakan tentang pendidikan
dan yang satu menceritakan kebuadayaan. Pasala 31 ayat satu berbunyi “Tiap-tiap warga
negara berhak mendapat pengajaran”. Ayat dua pasal ini berbunyi “Setiap warga negara
wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiyayainya”, ayat tiga pasal
ini berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan mnyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional”. Ayat ini mengharuskan pemerintah mengadakan satu sistem pendidikan
nasional, untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga negara mendapatkan
pendidikan.
2.Landasan Psikologi Pembelajaran Kurikulum Tematik Terpadu
• Psikologi Kognitif Menurut Neisser (1976) istilah cognitive berasal dari kata
cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas,
cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan.
Dalam

perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu
domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku
mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan
informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang
berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi
(perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
• Psikologi Gestalt Gestalt adalah keseluruhan dalam satu kesatuan dan kebulatan
atau totalitas yang mempunyai arti penuh dimana tiap-tiap bagian mendukung
bagian-bagian yang lain, serta, mendapat arti dalam keseluruhan. Kofka don
Kohlerberkesimpulan bahwa belajar bukanlah suatu perbuatan yang mekanistik.
Melainkan suatu perbuatan yang mengandung pengertian (insignt) dan maksud
yang penuh. Belajar yang sebenarnya adalah “insightfull learning. Pemecahan
masalah bukan melalui “trial and error “, melainkan dengan menggunakan akal
danpengertian inilah yang dinamakan perbuatan yang intelijen.

C. Landasan Filosofis Pembelajaran Tematik Terpadu
1. Landasan Filosofi Progresivisme
Progresivisme secara bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan
kemajuan-kemajuan secara cepat. Dalam konteks filsafat pendidikan, progresivisme
merupakan syuatu aliran yang menekankan bahwa pendidikan bukanlah sekedar
pemberian sekumpulan pengetahuan kepada subjek didik, tetapi hendaklah berisi
beragam aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir secara
menyeluruh, sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah
seperti penyediaan ragam data empiris dan informasi teoritis, memberikan analisis,
pertimbangan, dan pembuatan kesimpulan menuju pemilihan alternatif yang paling
memungkinkan untuk pemecahan masalah yang tengah dihadapi. Dengan pemilikan
kemampuan berpikir yang baik, subjeksubjek didik akan terampil membuat keputusan-
keputusan terbaik pula untuk dirinya dan masyarakatnya serta dengan mudah pula dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

2. Landasan Filosofi Humanisme
Filosofi pendidikan humanistik dibangun oleh aliran filsafat Eksistensialissme.

Filsaafat ini mengutamakan nilai-nilai pembentukan kepribadian manusia. Bagi penganut
filosofi ini, bahwa proses belajar harus berhuluan dan bermuara pada manusia itu sendiri.
Dari teori belajar Humanistik bersifat abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat
daripada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya “isi” dari
proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan
proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik
pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya,
yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektik.
Teori apa pun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia” dapat
tercapai.
3. Landasan Filosofi Konstruktivisme

Banyak ahli yang telah berkecimpung dalam aliran konstruktivisme ini, dan boleh
dikatakan aliran atau pandangan ini banyak mewarnai pandangan tentang pembelajaran,
metode-metodenya, filsafat-filsafatnya, dan konsep lainnya yang berkembang pesat sejak
tahun 1980-an sampai saat ini. Konstruksivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang
dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kita membangun,
mengkonstruksi pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup. Setiap
kita akan menciptakan hukum dan model kita sendiri, yang kita pergunakan untuk
menafsirkan dan menerjemahkan pengalaman. Belajar, dengan demikian semata-mata
sebagai suatu proses pengaturan model mental seseorang untuk mengakomodasi
pengalamanpengalaman baru.

D. Konsep, Prinsip dan Ciri Pembelajaran Tematik Terpadu
1.Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan
pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali
tatap muka, untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Karena
peserta didik dalam memahami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui
pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah

dikuasainya. Pelaksanaan pembelajaran Tematik Terpadu berawal dari tema yang telah
dipilih/dikembangkan oleh guru yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Jika
dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pembelajaran tematik ini tampak
lebih menekankan pada tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran yang lebih
diutamakan pada makna belajar, dan keterkaitan berbagai konsep mata pelajaran.
Keterlibatan peserta didik dalam belajar lebih diprioritaskan dan pembelajaran yang
bertujuan mengaktifkan peserta didik, memberikan pengalaman langsung serta tidak
tampak adanya pemisahan antar mata pelajaran satu dengan lainnya.
2.Prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu

• Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu
• Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui

tema yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik
• Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang

berkaitan dengan berbagai konsep, keterampilan, dan sikap
• Sumber belajar tidak terbatas pada buku
• Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan

karakteristik kegiatan yang dilakukan
• Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat

mengakomodasi siswa yang memiliki perbedaan tingkat kecerdasan,
pengalaman, dan ketertarikan terhadap suatu topik
• Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat
diajarkan tersendiri
• Memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences) dari
halhal yang konkret menuju ke abstrak
• Pembelajaran tematik yang dirancang dalam silabus bukan merupakan
urutan pembelajaran, melainkan bentuk pembelajaran untuk mencapai
kompetensi Dasar guru dapat melakukan penyesuaian.
3.Ciri Pembelajaran Tematik Terpadu
1) Berpusat pada anak
2) Pengalaman langsung
3) Pemisahan mata pelajaran tidak jelas

4) Penyajian beberapa matapelajaran dalam satu proses pembelajaran
5) Fleksibel
6) Bermakna dan utuh
7) Mempertimbangkan waktu dan ketersediaan sumber
8) Tema terdekat dengan anak
9) Pencapaian kompetensi dasar bukan tema

E. Teori Pembelajaran Yang mendasari Pembelajaran Tematik Terpadu
1.Teori Jean Piaget
Menurut Jean Piaget, seorang anak maju melalui empat tahap perkembangan
kognitif, antara lain yaitu tahap sensorimotor, pra operasional, operasi konkrit, dan
operasi formal. Kecepatan perkembangan tiap individu melalui tahapan ini berbeda dan
tidak ada individu yang melompati salah satu dari tahap tersebut. Tiap tahap ditandai
dengan munculnya kemampuan-kemampuan intelektual baru yang memungkinkan
orang memahami dunia dengan cara yang semakin kompleks.
2.Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut teori ini, suatu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah
bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa.Siswa
harus membangun sendiri pengetahuan yang ada di benaknya. Guru dapat memberikan
kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan kesempatan siswa untuk menemukan
dan menerapkan ide ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa dengan secara sadar
menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak
tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa
sendiri yang harus memanjatnya.
3.Teori Vigotsky
Teory vigotsky menekankan pada hakekat sosialkultural dari pembelajaran.
Menurut vygotsky bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar
menangani tugas tugas yang belum di pelajari namun tugas itu masih berada dalam
jangkauanya, Contoh dalam pembelajaran , yaitu ketika akan mengajarkan materi
hukum pembiasan cahaya, siswa harus memiliki prasyarat pengetahuan yang berkaitan
dengan cahaya, seperti siswa mudah memahami bahwa lintasan cahaya pada medium

homogen adalah lurus, siswa memberikan contoh pembiasan dan pemantulan
cahaya dalam kehidupan sehari hari. Dengan memiliki prasyarat pengetahuan seperti
itu, makadalam menyampaikan materi hukum pembiasan cahaya akan lebih mudah
dipahami siswa, disamping pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa tersebut.
4.Teori Bandura

Pemodelan merupakan konsep dasar dari teori belajar sosial yang dikembangkan
oleh Albert bandura. Menurut Bandura sebagian besar manusia belajar melalui
pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain.Seseorang
belajar menurut teori ini dilakukan dengan mengamati tingkah laku orang lain
(model), hasil pengamatan itu kemudian dimantapkan dengan cara menghubungkan
pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya atau mengulang ulang kembali.
Dengan jalan ini memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk
mengekspresikan tingkah laku yangdi pelajarinya.

5. Teori Brunner

Dari teori Bruner ini, bahwa siswa melakukan pembelajaran inkuiri tentang
pemahaman struktur materi atau ide kunci dari suatu ilmu yang dipelajari.
Pembelajaran inkuiri melibatkan penggunaan model ilmiah. Siswa dituntut untuk
berfikir secara induktif dalam belajar dengan melakukan pembelajaran melalui
penemuan pribadi. Disini siswa diberikan suatu masalah oleh guru agar siswa
melakukan sesuatu dengan cara mencari sesuatu jawban dan pertanyaan atas
masalah tersebut. Pmbelajaran akan lebih bermakna jika siswa fokus pada proses
pembelajaran.

II. KERANGKA DASAR KURIKULUM TEMATIK, KONSEP SKL, KI, KD, DAN
TAKSINOMI BLOOM BESERTA PENILAIAN

KERANGKA DASAR KURIKULUM TEMATIK, KONSEP SKI, KI,
KD, DAN TAKSINOMI BLOOM BESERTA PENILAIAN DAN

Mengidentifikasi struktur Menganalisis beban
kurikulum tematik belajarkurikulum
terpadu
Membandingkan
Menganalisis konsep SKL, KI, KD,
beberapaperilaku hasil dan, Taksinomi
belajar

Kalender pendidikan Menganalisis contoh perilaku
kurikulum terpadu hasil belajar sesuai level
(kaklik)
Menganalisis hubungan
beserta skema SKL, KI, KD
Penilaian dan hasil belajar

Struktur Kurikulum MI yang diharapkan, yaitu:

❖ Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat memuat Bahasa Daerah.
Kegiatan Ekstrakurikuler, yaitu:
1) Pramuka (utama).
2) Unit Kesehatan Madrasah.
3) Palang Merah Remaja.
4) Kegiatan Rohani Islam (Rohis)
5) Olahraga.
6) Kesenian.
7) Karya Ilmiah Remaja.
8) Olimpiade

Kegiatan-kegiatan diatas dalam rangka mendukung pembentukannya kepribadian,
kepemimpinan dan sikap sosial peserta didik, terutama sikap peduli.

o Mata pelajaran kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya
dikembangkan oleh pusat.

o Mata pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya serta
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan kelompok mata pelajaran
yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang
dikembangkan oleh pemerintah daerah.

o Mata pelajaran Bahasa Daerah sebagai muatan lokal dapat diajarkan secara terintegrasi
dengan mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya. Satuan pendidikan dapat menambah
jam pelajaran per-minggu sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan tersebut.

Angka jumlah pelajaran per-minggu untuk tiap mata pelajaran adalah relatif. Guru dapat
menyesuaikan sesuai kebutuhan peserta didik dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.
Jumlah alokasi waktu jam pembelajaran setiap kelas merupakan jam minimal yang dapat ditambah
sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu
minggu, satu semester dan satu tahun pembelajaran. Rincian mengenai beban belajar sebagai
berikut:

➢ Beban belajar di Madrasah Ibtidaiyah dinyatakan dalam jam pembelajaran
per-minggu.

➢ Beban belajar satu minggu Kelas I adalah 34 jam pembelajaran.

➢ Beban belajar satu minggu Kelas II adalah 36 jam pembelajaran.

➢ Beban belajar satu minggu Kelas III adalah 40 jam pembelajaran.
➢ Beban belajar satu minggu Kelas IV, V dan VI adalah 43 jam pembelajaran,

durasi setiap satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
➢ Beban belajar di Kelas I, II, III, IV dan V dalam satu semester paling sedikit 18

Minggu dan paling banyak 20 Minggu.
➢ Beban belajar di kelas VI pada semester ganjil paling sedikit 18 Minggu dan

paling banyak 20 Minggu.
➢ Beban belajar di kelas VI pada semester genap paling

sedikit 14 Minggu dan paling banyak 16 Minggu.
➢ Beban belajar dalam satu tahun pelajaran sedikit 36 Minggu dan paling

banyak40 Minggu.

Kalender Tematik dibuat setelah matrik Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang
diikat dalam tema, kalender ini dibuat sebagai panduan guru dalam pelaksanaan pembelajaran
tematik sebagai jadwal. Melihat kalender pendidikan nasional yang telah dikeluarkan oleh
pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional atau Kementrian Agama sebagai
acuanuntuk menentukan kalender pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan.

❖ Rumusan SKL tertuang dalam:

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia (Permendikbud RI) Nomor 20 Tahun 2016 Tentang
Standar Komepenti Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah.
❖ Rumusan KI dan KD tertuang dalam:

Permendikbud RI Nomer 24 Tahun 2016 Tentang

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada
Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik menyangkut aspek
kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. belajar memiliki tujuan yang
hendak dicapai, berikut beberapa tujuan belajar :
➢ Untuk mendapatkan pengetahuan.

➢ Pemahaman konsep dan keterampilan.

➢ Pembentukan sikap guru harus bertindak bijak dalam menumbuhkan
sikapmental, perilaku dan pribadi siswa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar ada 2, yaitu:
1. Faktor Internal

Faktor psikologis ini meliputi hal berikut:
➢ Intelegensi

➢ Perhatian

➢ Kemauan Bakat
2. Faktor Eksternal

➢ Motif

➢ Kematangan

➢ Kesiapan
Faktor eksternal adalah lingkungan keluarga, cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang
kebudayaan akan mempengaruhi keberhasilan belajarnya.

Contoh Perilaku Hasil Belajar Sesuai Level Taksinomi

❖ Aspek-aspek kawasan kognitif, yaitu :

1. Pengetahuan (Knowledge)
2. Pemahaman (Comprehension)
3. Penerapan (Application)
4. Penguraian (Analysis)
5. Memadukan (Synthetis)
6. Penilaian (Evaluation)
❖ Aspek-aspek kawasan afektif, yaitu :
7. Penerimaan (receiving/attending)
8. Sambutan (responding)
9. Penilaian (valuing)
10. Pengorganisasian (organization)
11. Karakterisasi (characterization)

❖ Aspek-aspek kawasan psikomotor, yaitu :
Kawasan psikomotor berkaitan dengan aspek keterampilan yang
melibatkan sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi
psikis, terdiri dari :
1. Kesiapan
2. Peniruan (Imitation)
3. Membiasakan (Habitual)

4. Menyesuaikan (Adaptation)

5. Menciptakan (Origination)

Analisis SKL, KI, KD adalah kegiatan menguraikan kterkaitan SKL, KI, KD atas
berbagai bagiannya, menelaah bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk
memperoleh berbagai informasi pedagogig yang bermanfaat untuk membuat perencanaan
pembelajaran yang benar, analisis SKL, KI, KD menjabarkan komponen SKL, KI dan KD
baik KD pengetahuan maupun KD keterampilan. Hasil analisis SKL, KI, KD penting antara
lain, yaitu :

➢ Kompetensi dasar KD yang sudah dilinierisasi atau disesuaikan sehingga KD
pengetahuan dan KD keterampilan cocok berpasangan. Ini berarti kita sudah
mantap pada titik tolak yang benar untuk menjabarkan pasangan KD ke dalam
indikator pencapaian kompetensi.

➢ Ditemukan pula tingkat dimensi kognitif apakah berada pada C1 mengingat, C2
memahami, C3 menerapkan, C4 menganalisis, C5 mengevaluasi atau C6
mengkreasi. Hal ini memastikan kita mencari dan menggunakan kata kerja
Operasional (KKO) yang tepat untuk digunakan dalam indikator pencapaian
kompetensi dan tujuan pembelajaran.

➢ Analisis SKL KI KD menemukan bentuk pengetahuan faktual, konseptual, prosedual,
ataupun meta kognitif dan jenis keterampilan kongkrit maupunabstrak dan dengan
itu memudahkan kita memilih model pembelajaran yang tepat untuk digunakan.

➢ Pada tahap ini pula bisa kita bayangkan pemerolehan hasil belajar apakah padaLow
Order Thinking Skills (LOTS) ataukah sudah berada pada Higher Order Thinking Skills
(HOTS)

III. MODEL PENGEMBANGAN TEMATIK TERPADU

Model Pengembangan TematikTerpadu

Konsep Memadukan sintak Outcome Model pembelajaran
Pengembangan dan metode suatu pendidikan model terpadu fogarty
Penerapan Model model fogarty
Pembelajaran pembelajaran

a). model Terpisah-pisah (The Pragmented), b.) model Terhubung (The
Connected), c.) model Tersarang (The Nested model), d.) model Terurut (The
Sequenced model), e). model Terbagi, f). model jarring laba-laba (The Webed
model), g.) model Pasang benang (The Threaded model), h). model Integrasi
(The integrated model), i). model Jaringan (The Netwoekrd model), j).
menentukan metode dan model pembelajaran tematik berbasis Problem

A. Konsep Pengembangan dan Penerapan model pembelajaran

Konsep Pembelajaran Tematik
Pada dasarnya pembelajaran tematik merupakan terapan dari pembelajaran

terpadu. Pendekatan terpadu berawal dari konsep interdisipliner dalam kurikulum
terpadu yang dikemukakan oleh Jacob (1989). Kurikulum terpadu cenderung lebih
memandang bahwa suatu pokok bahasan harus terpadu (integrated) secara menyeluruh.

Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu
masalah tertentu dengan alternatif pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata
pelajaran yang diperlukan. Sehingga batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan.
Kurikulum terpadu memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara
kelompok maupun individu dengan lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber
belajar,memungkinkan pembelajaran bersifat individu terpenuhi.

❖ Penerapan Model Pembelajaran Tematik

1. Hakikat Model Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan
tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;

4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;

5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
disajikan dalam konteks tema yang jelas;

6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi
nyata;

7. Guru dapat menghemat waktu.

Pembelajaran tematik memiliki karakteristik tersendiri, yakni:

• Berpusat pada anak.

• Memberikan pengalaman langsung pada anak.

• Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.

• Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam
suatu proses.

• Bersifat fleksibel. pembelajaran tematik memiliki
B. Memadukan sintak metode suatu model pembelajaran

Menurut Trianto (2007:15) model

tiga langkah atau tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap

evaluasi. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Puskur (2007:10)

yang menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran tematik di SD

meliputi tiga tahap, yaitu tahap persiapan pelaksanaan/perencanaan,

tahap pelaksanaan dan tahap penilaian atau evaluasi.

Tahap Perencanaan
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap perencanaan, yaitu

pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan
silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Model-model Pembelajaran HOTS (High Order Thinking Skill)

Implementasi Kurikulum 2013 menurut Permendikbud No. 22
Tahun 2016 tentang Standar Proses menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran
yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, sosial serta
mengembangkan rasa keingintahuan. Model ketiga tersebut adalah

1. Model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan
(Discovery/Inquiry Learning),

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem- based
Learning/PBL),

3. Model Pembelajaran Berbasis Projek (Project-based
Learning/PJBL).

Selain 3 model yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun
2016, guru juga diperbolehkan mengembangkan pembelajaran di kelas dengan
menggunakan model pembelajaran yang lain, seperti Cooperative Learning yang
memiliki berbagai metode seperti: Jigsaw, Numbered Head Together (NHT),
Make a Match, Think- Pair-Share (TPS), Contoh NotExample, Picture and
Picture, dan lainnya.

Tahap Pelaksanaan

Dalam tahap pelaksanaan model pembelajaran tematik secara umum
terbagi dalam tiga tahapan, yaitu pembukaan atau pendahuluan/eksplorasi,
kegiatan intivelaborasi, dan kegiatan penutup/konfirmasi.

Tahap pelaksanaan dalam pembelajaran tematik harus sesuai dengan
standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator serta keterampilan lain yang
ingin dipadukan.

Tahap evaluasi

Menurut Tim Puskur (2007:14) evaluasi dalam pembelajaran tematik
adalah usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala,
berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan
dan perkembangan yang telah dicapai oleh siswa melalui pembelajaran. Tujuan
dari tahap evaluasi ini adalah untuk mengetahui pencapaian indikator yang telah
ditetapkan, memperoleh umpan balik bagi guru untuk mengetahui hambatan
yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran, memperoleh
gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan
sikap siswa, sebagian acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut.
C. Outcome pendidikan fogarty

Model pembelajaran terpadu fogarty memberi pendidikan kepada siswa
yang meliputi keterampilan : (1) kognitif, (2) afektif.
D. Model pembelajaran terpadu fogarty

Robin fogarty mengungkapkan sepuluh model pembelajaran terpadu,
model pembelajaran terpadu ini sebagai upaya guru untuk menolong dan
mempermuda belajar siswa. Berikut model pembelajaran fogarty diantaranya:
1. Model Terpisah-pisah (The pragmented model)

Model pembelajaran fragmented memberikan penjelasan bahwa model
pembelajaran pragmented adalah kurikulum tradisional yang diajarkan secara
terpisah-pisah.
2. Model Terhubung (The Connected model)

Model ini berkaitan antara topic dengan topic, dan konsep dengan
konsep dalam suatu mata pelajaran. Model ini menekan terletak pada perlu
adanya integrasi bidang studi itu sendiri.

3. Model Tersarang (The Nested model)

Model nested merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep
keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran.
4. Model Terurut (The sequenced model)

Berdasarkan asal kata “sequenced” adalah rangkaian, urutan, atau
ntingkatan. Sequenced adalah susunan bahan ajar yang terdiri atas
topik/subtopik,dan di dalam tiap topik/subtopik terkandung ide pokok yang
relevan dengan tujuan.
5. Model Terbagi

Model pembelajaran terpadu tipe shared merupakan bentuk pemaduan
pembelajaran akibat adanya tumpang tindih ide-ide atau konsep dua mata
pelajaran atau lebih.
6. Model Jaring laba-laba (The Webed model)

Model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang
menggunakan pendekatan tematik sebagai pusat pembelajaran yang dijabarkan
dalam beberapa kegiatan dan/ bidang pengembangan.
7. Mode Pasang Benang (The Threaded Model)

Model pembelajaran yang memfokuskan pada metakurikulum
(merupakan jantung/inti dari semua pokok bahasan) yang menggantikan atau
yang berpotongan dengan inti materi pelajaran.
8. Model integrasi (The integrated Model)

Pembelajaran terpadu tipe integrated (keterpaduan) adalah tipe
pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi,
menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan
menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih dalam
beberapa bidang studi.
9. Model Jaringan (The Networked Model)

Model pembelajaran yang berupa kerja sama antara peserta didik dengan
seorang ahli (expert) dalam mencari data, keterangan, atau lainnya sehubungan
dengan mata pelajaran yang disukainya atau yang diminatinya sehingga peserta
didik secara tidak langsung mencari tahu dari berbagai sumber.

10. Menentukan Metode dan Model Pembelajaran Tematik berbasis Problem
Based Learning (PBL), konstruktivistik dan model Kooperatif Lerning
dengan berbagai Type seperti STAD, Jigsaw, TPS, TAI, dll.
1. Metode dan Model Pembelajaran Tematik berbasis Problem Based Learning

(PBL)

Model Problem Based Learning dapat membantu siswa meningkatkan
kemampuan memahami materi karena pembelajaran yang diberikan
bermakna.
2. Metode dan Model Pembelajaran Tematik berbasis Kontruktivistik

Pendekatan konstruktivistik dan pembelajaran tematik, keduanya
menyajikan proses belajar yang nyata dan menjadikan peserta didik lebih aktif,
serta membuat peserta didik dapat membangun atau membentuk pengetahuan
baru berdasarkan pengalaman belajarnya.
3. Metode dan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)

Model Kooperatif tipe STAD dapat kemampuan berpikir kritis siswa
karena siswa aktif terlibat ikut serta dalam diskusi dengan menggunakan bahasa
mereka sendiri, sehingga lebih mudah dipahami oleh teman bicaranya.

➢ Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah
salah satu strategi dalam pembelajaran kooperatif yang memberikan
siswa waktu untuk lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling
membantu satu sama lain.

➢ Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok
yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan
mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam
kelompoknya.

➢ Model pembelajaran TAI (Team-Assisted Individualized) menjadi
model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran kooperatif
dengan pengajaran yang individual.

IV. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJAN

KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN

KEDUDUKAN DAN FUNGSI
MEDIA PEMBELAJARAN

JENIS JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
TEMATIK

PROSEDUR PEMILIHAN MEDIA
PEMBELAJARAN

STRATEGI DALAM MEMBUAT MEDIA
PEMBELAJARAN INTERAKTIF AUDIOVISUAL

BESERTA CONTOHNYA

MERUMUSKAN DAN MENGEMBANGKANMEDIA
DAN SUMBER BELAJAR YANG BERBASIS TPACK

(ICT) DAN MEDIA VIDIO VISUAL INTERAKTIF

A. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam

kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara
guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Media pembelajaran
yang potensial (berpengaruh terhadap perilaku peserta didik) adalah guru. Guru sebagai
mediator membelajaran peserta didik secara langsung. Artinya, seluruh pribadi guru
(ucapan, tindakan, gaya hidup dan/atau moralitasnya hubungan dengan Tuhan-Nya,
hubungan dengan rekan seinstsansi dan hubungan dengan sesama siswa) semuanya sebagai
media yang ampuh mewarnai tingkah laku siswa.

Media sangatlah dibutuhkan bagi seorang anak peserta didik, karena dengan
adanya media anak dapat cepat menangkap apa yang dijelaskan oleh guru dan dapat mereka
lebih cepat membacanya dengan mudah. Guru yang efektif dalam menggunakan media
dapat meningkatkan minat siswa dalam proses belajar mengajar dan siswa akan lebih cepat
dan mudah memahami dan mengerti terhadap materi pelajaran yang akan disampaikan oleh
guru. Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, dimana guru
berperan sebagai pengantar pesan dan siswa sebagai penerima pesan. Pesan yang
dikirimkan oleh guru berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol
komunikasi baik verbal maupun non verbal,proses ini dinamakan encoding. Penafsiran
simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding

B. KEDUDUKAN DAN FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Dalam proses pembelajaran terdapat tingkatan proses aktivitas yang melibatkan

keberadaan media pembelajaran, yaitu:
a) Tingkat pengolahan informasi
b) Tingkat penyampaian informasi
c) Tingkat penerimaan informasi

d) Tingkat pengolahan informasi
e) Tingkat respons dari siswa.
f) Tingkat diagnosis dari guru.
g) Tingkat penilaian
h) Dan tingkat penyampaian hasil.

Fungsi Media Pembelajaran

a) Fungsi media sebagai sumber belajar
Yakni komponen sistem instruksional yang meliputi pesan, alat, bahan, teknik, dan
lingkungan yang berpengaruh terhadap proses belajar. Dan sumber belajar adalah segala sesuatu
yang berasal dari luar seseorang yang menyebabkan seseorang mengalami proses belajar.

b) Fungsi semantik
Yakni media dapat menambah perbendaharaan kata (simbol verbal) yang makna/maksud
dapat dipahami oleh individu belajar. Di mana pesan tersebut dapat berupa lambang atau gagasan

c) Fungsi manipulatif
Fungsi ini didasarkan pada ciri atau karakteristik yang dimiliki. Sehingga media dapat
mengatasi keterbatasan waktu, ruang , dan inderawi manusia.

d) Fungsi psikologis i.
• Fungsi Atensi : meningkatkan perhatian
• Fungsi afektif : menggugah perasaan, emosi, dan tingkat
penerimaan/penolakansiswa terhadap sesuatu
• Fungsi kognitif : media mempresentasikan ide/gagasan/objek/peristiwa
• fungsi Imajinatif : dapat meningkatkan dan mengembangkan imajinasi
• fungsi motivasi : dapat menumbuhkan imajinasi

e) Fungsi sosio-kultural
Yakni dapat mengatasi hambatan komunikasi sosio-kultural antar peserta.

Misalkan ketika kapasitas siswa yang besar, keterbatasan waktu, banyaknya materi,dan
kemampuan siswa yang heterogen.

C. JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN TEMATIK
Ada lima jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran yaitu:

1) Media visual, yaitu media yang ditunjukan untuk indra penglihatan yang terdiri atas
media yang dapat diproyeksikan dan media yang tidak dapat diproyeksikan yang
biasanya berupa gambar diam atau gambar bergerak.

2) Media audio, yaitu media yang mengandung pesan dalam bentuk audiotif yang
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para peserta didik
untuk mempelajari bahan ajar. Contoh dari media audio ini adalah program kaset
suara dan radio.

3) Media audio-visual, yaitu media kombinasi antara audio dan visual atau biasa
disebut media pandang-dengar. Contohnya adalah program video atau televisi
pendidikan, video atau televise instruksional, dan program slide suara.

4) Kelompok media penyaji, media kelompok penyaji ini sebagaimana ungkapan Donald
T. Tosti dan John R. Ball dikelompokan ke dalam tujuh jenis, yaitu: (a) kelompok kesatu; grafis,
bahan cetak, dan gambar diam, (b) kelompok kedua; media proyeksi diam, (c) kelompok ketiga;
media audio, (d) kelompok keempat; media visual, (e) kelompok kelima; media gambar, (f)
kelompok keenam; media televisi, dan (g)kelompok ketujuh; multimedia.

5) Media objek dan media interaktif berbasis komputer, merupakan media tiga dimensi
yang menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri
fisiknya sendiri, seperti ukurannya, bentuknya, beratnya dan susunannya, warnanya,
fungsinya, dan lain sebagainya. Media ini dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu media
objek sebenarnya dan media objek pengganti. Sedang media interaktif berbasis
komputer adalah media yang menuntut peserta didik untuk berinteraksi selain
melihatmaupun mendengarkan.

D. PROSEDUR PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
➢ Pertama, kompetensi dasar dan indikator apa yang akan dicapai dalam suatu
kegiatan pembelajaran ataupun diklat. Dari kajian kompetensi dasar dan
indikator tersebut bisa dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan
tersebut.
➢ Kedua, materi pembelajaran (instructional content), yaitu bahan atau kajian apa
yang akan diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan
lainnya, dari bahan atau pokok bahasan tersebut sampai sejauh mana kedalaman
yang harus dicapai, dengan demikian kita bisa mempertimbang-kan media apa
yang sesuai untuk penyampaian bahan tersebut.
➢ Ketiga, familiaritas media dan karakteristik siswa/guru, yaitu mengkaji sifat-sifat
dan ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara
kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri, dan kebiasa-an lain) dari siswa
terhadap media yang akan digunakan.
➢ Keempat, adanya sejumlah media yang bisa diperbandingkan karena pemilihan
media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan dari sejumlah
media yang ada ataupun yang akan dikembangkan.

E. STRATEGI DALAM MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF
AUDIO-VISUAL BESERTA CONTOHNYA
• Karakteristik Peserta Didik
• Merumuskan tujuan pembelajaran.
• Mendesain materi dan media yang tepat.
• Tahap percobaan media.

F. MERUMUSKAN DAN MENGEMBANGKAN MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
YANG BERBASIS TPACK (ICT) DAN MEDIA VIDIO VISUAL INTERAKTIF
1) Kumpulkan sumber-sumber yang memuat materi sesuai topik-topik yang akan
diajarkan berdasarkan kurikulum atau kompetensi yang ingin dicapai.

2) Buat rancangan struktur isi (outline) media dan urutan penyajian materi serta bentuk
interaksi sesuai dengan alur pembelajaran yang diharapkan.

3) Pilih materi-materi yang sesuai dari sumber-sumber yang sudah terkumpul dan sajikan isi
setiap topik secara singkat dengan bahasa yang sederhana dan komunikatif, dilengkapi
dengan ilustrasi/visualisasi dalam bentuk gambar, grafik, diagram, foto, animasi, atau audio-
video

V. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
KONSEP LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK LKPD

PROSEDUR PENYUSUNAN LKPD:

• Syarat didaktik
• Syarat konstruksi
• Syarat teknis

KLASIFIKASI MACAM-MACAM LKPD

a. LKPD penemuan
b. LKPD Aplikatif-Integratif
c. LKPD penuntun
d. LKPD penguatan
e. LKPD praktikum
FUNGSI DAN MANFAAT LKPD

DIAGRAM PROSEDUR PENYUSUNAN LKPD

• Analis kurikulum
• Menyusun peta kebutuhan LKPD
• Menentukan judul-judul LKPD
• Penulisan LKPD

STRATEGI MEMBUAT LKPD UNTUK MATERI TEMATIK

MERUMUSKAN DAN MENGEMBANGKAN LKPD YANGBERBASIS
TPACK (ICT) SOAL-SOAL YANG DIBUAT MENGGUNAKAN
APLIKASI GOOGLE FORM, GOOGLESITES, QUIZZES, DAN
APLIKASI WORDWALL

A. KONSEP LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Prosedur Penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) menurut [3] ada 3 macam

antara lain:
1) Syarat didaktik

Lembar kerja peserta didik (LKPD) sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya
proses belajar mengajar haruslah memenuhi persyaratan didaktik artinya suatu LKPD harus
mengikuti asas belajar mengajar yang efektif, yaitu memperhatikan adanya perbedaan
individual ,sehingga LKPD yang baik itu adalah yang dapat digunakan baik oleh peserta didik
yang lamban, yang sedang maupun yang pandai, menekankan pada proses untuk menemukan
konsep-konsep sehingga LKPD dapat berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi peserta didik
untuk mencari tahu, memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan peserta
didik, dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika
pada diri peserta didik, pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi
peserta didik )intelektual, emosional, dan sebagainya), bukan ditentukan oleh materi bahan
pelajaran.
2) Syarat Konstruksi

Syarat konstruksi adalah syarat-syarat berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan
kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada hakikatnya haruslah tepat guna
dalam arti dapat dimengerti oleh peserta didik. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan
tingkat kedewasaan peserta didik, menggunakan struktur kalimat yang jelas, memiliki taat
urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik, menghindari
pertanyaan yang terlalu terbuka, tidak mengacu pada buku sumber yang di luar kemampuan
keterbacaan peserta didik, menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaan pada
peserta didik untuk menulis maupun menggambarkan pada LKPD, menggunakan kalimat
yang sederhana dan pendek, lebih banyak menggunakan ilustrasi daripada kata-kata, sehingga
akan mempermudah peserta didik dalam menangkap apa yang diisyaratkan LKPD, memiliki
tujuan belajar yang jelas serta manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber motivasi, mempunyai
identitas untuk memudahkan administrasinya.

3) Syarat Teknis
Dari segi teknis memiliki beberapa pembahasan yaitu:
a. Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi,
menggunakanhuruf tebal yang agak besar, bukan huruf biasa yang diberi garis bawah,
menggunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris, menggunakan bingkai untuk
membedakan kalimat perintah dengan jawaban peserta didik, mengusahakan agar
perbandingan besarnya huruf dengan besarnya gambar serasi.
b. Gambar yang baik untuk LKPD adalah yang dapat menyampaikan pesan/isi dari gambar
tersebut secara efektif kepada pengguna LKPD. Yang lebih penting adalah kejelasan isi
atau pesan dari gambar itu secara keseluruhan.
Penampilan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah LKPD. Apabila suatu LKPD

ditampilkan dengan penuh kata-kata, kemudian ada sederetan pertanyaan yang harus dijawab oleh
peserta didik, hal ini akan menimbulkan kesan jenuh sehingga membosankan atau tidak menarik.
Apabila ditampilkan dengan gambarnya saja, itu tidak mungkin karena pesannya atau isinya tidak
akan sampai. Jadi yang baik adalah LKPD yang memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.

B. KLASIFIKASI MACAM-MACAM LKPD
a. LKPD Penemuan
LKPD jenis ini sering disebut dengan LKPD Eksploratif yang memuat serangkaian
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pembelajaran yang di dalamnya terdapat
kegiatan mengamati dan menganalisis konsep dan materi yang disajikan untuk membantu
peserta didik menemukan atau mengonstruksi informasi atau pengetahuan yang relevan
dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
b. LKPD Aplikatif-Integratif
LKPD jenis ini sering disebut dengan LKPD Latihan Psikomotorik yang dilengkapi
dengan laporan kegiatan peserta didik dalam menerapkan dan mengintegrasikan berbagai
pengetahuan baik faktual, konseptual, maupun prosedural yang relevan dengan materi
pembelajaran yang sedang dipelajari.

c. LKPD Penuntun
LKPD ini memuat petunjuk, langkah kerja, dan urutan materi yang harus dikuasai oleh

peserta didik secara bertahap mulai dari konkret ke abstrak, faktual ke konseptual, formal ke
nonformal, dan mudah ke sulit untuk membantu peserta didik dalam memahami materi
pembelajaran yang sedang dipelajari. Secara tidak langsung LKPD jenis ini dapat dijadikan
sebagai sumber belajar bagi peserta didik yang pada umumnya dilengkapi dengan berbagai
pertanyaan untuk bahan remedial dan pengayaan.
d. LKPD Penguatan

LKPD ini memuat petunjuk dan langkah kerja yang dilengkapi dengan materi utama
dan materi tambahan. Materi utama harus dikuasai oleh peserta didik melalui pengalaman
belajarnya yang dipandu dengan LKPD, kemudian peserta didik dapat membandingkan
informasi atau pengetahuan yang didapatkan dengan materi pembelajaran yang terdapat dalam
LKPD.
e. LKPD Praktikum
LKPD jenis ini sering disebut dengan LKPD Eksperimental untuk memandu peserta didik dalam
melaksanakan eksperimen atau percobaan dan praktik tertentu di dalam atau di luar laboratorium yang
dilengkapi dengan langkah-langkah dan petunjuk melakukan eksperimen atau praktikum.

C. FUNGSI DAN MANFAAT LKPD
➢ FUNGSI LKPD
• sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik namun lebih
mengaktifkan peserta didik
• sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi
yangdiberikan.
• sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih
mengembangkanketerampilan peserta didik.
• memudahkan proses pelaksanaan pembelajaran kepada peserta didik
➢ MANFAAT LKPD
• Memberi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh peserta
didik.

• Mengecek tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disajikan.
• Mengembangkan dan menerapkan materi pelajaran yang sulit disampaikan

secaralisan.
• Membantu peserta didik dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari

melaluikegiatan pembelajaran

D. DIAGRAM PROSEDUR PENYUSUNAN LKPD
➢ Analis kurikulum
➢ Menyusun peta kebutuhan LKPD
➢ Menentukan judul-judul LKPD
➢ Penulisan LKPD
• Merumuskan KD
• Menentukan alat penilaian
• Menyusun materi
• Memperhatikan struktur bahan ajar

E. STRATEGI EMMBUAT LKPD UNTUK MATA PELAJARAN TEMATIK
➢ Menganalisis kurikulum tematik
➢ Menyusun peta kebutuhan LKPD
➢ Menentukan judul LKPD
➢ Menentukan KD dan indicator
➢ Menentukan tema sentral dan pokok bahasan
➢ Menentukan alat penilaian
➢ Menyusun materi
➢ Memperhatikan struktur bahan ajar

F. MERUMUSKAN DAN MENGEMBANGKAN LKPD YANG BERBASIS
TPACK (ICT) SOAL-SOAL YANG DIBUAT MENGGUNAKAN APLIKASI
GOOGLE FORM, GOOGLE SITES, QUIZZES, DAN APLIKASI
WORDWALL
a. Google form

Google form merupakan salah satu komponen layanan google docs. Google docs juga dapat
menjadi alternatif bagi orang-orang yang tidak memiliki dana untuk membeli aplikasi berbayar
untuk menggunakan program gratisan dibandingkan membajak program berbayar seperti microsoft
office, karena kita tahu bahwa membajak program itu adalah tidak baik

b. Google sites
Google sites digunakan untuk membuat situs webite untuk pribadi ataupun kelompok, baik
untuk keperluan personal ataupun korporat. Google Sites merupakan caratermudah dalam membuat
informasi yang bisa diakses oleh orang yang membutuhkan secara cepat, dan orang-orang dapat
bekerja sama dalam situs untuk menambahkan berkas file lampiran serta informasi dari aplikasi
google lainnya seperti google docs, sheet, forms,calender, awesome table dan lain sebagainya

c. Quizzes
Pengembangan pembelajaran dengan menggunakan Quizzes ini juga menuntun peserta didik
untuk mengingat kembali materi-materi yang sudah di ajarkan di dalam kelas oleh guru atau lewat
media wattsApp (daring).

d. Aplikasi wordwall
Game ataupun permainan adalah sebuah aktivitas yang dilakukan satu atau lebih pemain
dengan aturan tertentu sehingga ada yang menang dan kalah dengan tujuan bersenang-senang,
mengisi waktu luang, dan refreshing.

VI. JARING TEMA (PEMETAAN) DAN PENGEMBANGAN SILABUS

JARING TEMA (PEMETAAN) DAN PENGEMBANGAN SILABUS
PEMBELAJARAN TEMATIK

KONSEP PENGEMBANGAN PRINSIP-PRINSIP
SILABUS PENGEMBANGAN

KOMPONEN-KOMPONEN SILABUS
SILABUS
Ilmiah
• Identitas mata pelajaran CARA MENGEMBANGKAN Relevan
• Identitas sekolah SILABUS PEMBELAJARAN Fleksibel
• Standar kompetensi Kontinuitas
• Kompetensi dasar TEMATIK Konsisten
• Materi pokok Memadai
• Kegiatan pembelajaran • Perencanaan Actual dan
• Indicator • Pelaksanaan kontekstua
• Penilaian • Evaluasi/ penilaian l
• Alokasi waktu • Revisi Efektif
• Sumber belajar Efisien

A. KONSEP PENGEMBANGAN SILABUS
Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran

dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling
berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar. Silabus bermanfaat sebagai
pedoman dalam pengembangan pembelajaran seperti pembuatan rencana pembelajaran
sebab proses pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam jangka waktu yang sudah
ditentukan, sebagai pengelolaan kegiatan pembelajaran karena memberikan gambaran
mengenai pokok-pokok program yang akan dicapai dalam suatu mata pelajaran misalnya
pembelajaran secara klasikal, kelompok kecil atau pembelajaran individual dan
pengembangan sistem penilaian yang dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis
kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada standar kompetensi, kompetensi dasar
dan pembelajaran yang terdapat di dalam silabus, dengan demikian sebagai ukuran dalam
melakukan penilaian keberhasilan suatu program pembelajaran serta manfaat selanjutnya
sebagai dokumentasi tertulis (written document) sebagai akuntabilitas suatu program
pembelajaran.

B. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS
1) Ilmiah

Pengembangan silabus berbasis KTSP harus dilakukan dengan prinsip ilmiah, yang mengandung arti
bahwa keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar, logis, dan dapat
dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2) Relevan
Relevan dalam silabus mengandung arti bahwa ruang lingkup, kedalaman, tingkatkesukaran, dan urutan
penyajian materi dalam silabus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik yakni tingkat perkembangan
intelektual, sosial, emosional dan spiritual peserta didik. Disamping itu, relevan mengandung arti kesesuaian
atau kerasian antara silabus dengan kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat

pemakai lulusan. dengan demikian lulusan pendidikan harus sesuai dengan kebutuhantenaga kerja di
lapangan baik secara kuantitas maupun kualitas.

3) Fleksibel
Pengembangan silabus KTSP harus dilakukan secara fleksibel fleksibel dalam silabus dapat dikaji dari 2
sudut pandang yang berbeda, yakni fleksibel sebagai suatu pemikiran pendidikan, dan fleksibel sebagai
kaidah dalam penerapan kurikulum.

4) Kontinuitas
Kontinuitas atau kesinambungan mengandung arti bahwa setiap program pembelajaran yang dikemas
dalam silabus memiliki keterkaitan satu sama lain dalam kompetensi dan pribadi peserta didik. kontinuitas
atau kesinambungan tersebut bisa secara vertikal, Yakni dengan jenjang pendidikan yang ada di atasnya dan
bisa juga secara horizontal Yakni dengan programprogram lain atau dengan silabus lain yang sejenis.

5) Konsisten
Pengembangan silabus berbasis KTSP harus dilakukan secara konsisten, Artinya bahwa antara standar
kompetensi, Kompetensi dasar indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem
penilaian memiliki hubungan yang konsisten dalam membentuk kompetensi peserta didik.

6) Memadai
7) Actual dan kontekstual
8) Efektif
9) Efisien

C. KOMPONEN-KOMPONEN SILABUS
a) Identitas Mata Pelajaran, memuat nama mata pelajaran dan tingkat/kelas.
b) Identitas Sekolah, memuat nama satuan pendidikan dan kelas.
c) Standar kompetensi Merupakan seperangkat kompetensi yang dilakukan dan harus
dicapai siswa sebagai hasil belajarnya dalam setiap satuan pendidikan (SKL).
Digunakan untuk memandu penjabaran kompetensi dasar menjadi pengalaman
belajar.

d) Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran yang harus dicapai siswa.
kompetensi dasar dalam silabus berfungsi untuk mengarahkan guru mengenai target yang harus dicapai
dalam pembelajaran.

e) Materi pokok/pembelajaran
Materi pokok adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian
kompetensi dasar dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun
berdasarkan indikator pencapaian belajar.

f) Kegiatan pembelajaran
Kegiatan pembelajaran adalah bentuk atau pola umum kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
strategi pembelajaran meliputi kegiatan tatap muka dan non tatap muka.

g) Indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang
dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. indikator digunakan sebagai dasar untuk
menyusun alat penilaian.

h) Penilaian
Alat penilaian dapat berupa tes dan non tes. pada pembelajaran penilaian dilakukan untuk mengkaji
ketercapaian kompetensi dasar dan indikator pada tiap-tiap mata pelajaran.

i) Alokasi waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan
alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan,
kedalaman, tingkat kesulitan,dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.

j) Sumber belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial,
dan budaya. penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
materipokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi

D. CARA MENGEMBANGKAN SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK
➢ Perencanaan, mengumpulkan informasi dan referensi yang dapat
dilakukan dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi
seperti komputer dan internet. Kemudian mengidentifikasi dan mengkaji
sumber belajar yang diperlukan dalam pengembangn silabus.
➢ Pelaksanaan, merumuskan KD dan tujuan pembelajaran serta materi dan
indicator. Kemudian menentukan strategi, metode, dan teknik
pembelajaran dan yang terakhir menentukan sarana dan prasarana.
➢ Evaluasi / penilaian, tahap ini dilakukan untuk mengetahui apakah silabus
yang telah dikembangkan itu mencapai sasarannya atau sebaliknya. Dari
hasil evaluasi ini dapat diketahui sampai dimana tingkat ketercapaian SK
dan KD yang telah ditetapkan. Dengan demikian, silabus dapat segera
diperbaiki dan disempurnakan.
➢ Revisi, silabus yang dikembangkan perlu diuji kelayakannya melalui analisis
kualitas silabus, penilaian akhir dan uji lapangan

VII. PENILAIAN OTENTIK DALAM KURIKULUM 2013

Penilaian autentik (authentic assesment) merupakan pengukuran yang bermakna
secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan dan
pengetahuan. Assesment merupakan sinonim dari penilaian pengukuran, pengujian dan
evaluasi. Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment ini adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar
siswa. Authentic assesment memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam
pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Karena assesment semacam ini
mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik baik dalam rangka
mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring dan lain-lain. Kata lain assesment
autentik adalahpenilaian kinerja, potofolio dan penilaian proyek.

❖ JENIS-JENIS PENILAIAN AUTENTIK
• Penilaian sikap
- Observasi
- Penilaian diri
- Penilaian antar teman Jurnal catatan guru
• Penilaian pengetahuan
- Tes tulis
- Tes lisan
- Penugasan
• Penilaian keterampilan
- Penilaian kinerja
- Penilaian proyek
- Penilaian portofolio

❖ TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN AUTENTIK
- teknik dan instrumen penilaian sikap spiritual dan sosial
Sikap spiritual (KI-1) meliputi kegiatan beribadah, berperilaku
syukur, berdoa sebelum dansesudah melakukan kegiatan dan toleransi dalam
beribadah. Sikap sosial (KI-2) meliputi sikap jujur, disiplin, tanggung jawab,
santun, peduli dan percaya diri.
- teknik dan instrumen penilaian pengetahuan
Penilaian pengetahuan (KD dari KI-3) dilakukan dengan cara mengukur
penguasaan siswa. Mencakup dimensi pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural dan metakognisi dalam berbagai tingkatan proses berfikir. Teknik
penilaian pengetahuan menggunakan tes tulis, tes lisan dan penugasan.
- penilaian keterampilan
Penilaian keterampilan (KD dari KI-4) dilakukan dengan teknik

penilaian kinerja, penilaian portofolio. Penilaian keterampilan menggunakan
angka dengan rentang skor 0 sampai dengan 100, predikat dan deskripsi.
- pemanfaatan dan tindak lanjut

Hasil analisis penilaian pengetahuan dan keterampilan menjadi dasar
penentuan tindak lanjut program yang dibutuhkan peserta didik. Bagi peserta
didik yang nilainya belum mencapai KKM akan mendapat remidial. Peserta didik
yang telah mencapai nilai KKM atau lebih akan mendapatkan pengayaan.
❖ PENILAIAN AUTENTIK DAN BELAJAR AUTENTIK

Penilaian semacam ini cenderung berfokus pada tugas kompleks
dan kontekstual bagi peserta didik yang memungkinkan mereka secara nyata
menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Contoh penilaian
autentik antara lain, keterampilan kerja, kemampuan mengaplikasikan atau
menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain peran,
potofolio, memilih kegiatan yang strategis serta memamerkan dan menampilkan
sesuatu. Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan
informasi dengan pendekatan saintifik, memahami aneka fenomena atau gejala dan
hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang
dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. Guru dan peserta didik memiliki
tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apayang mereka ingin
pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel dan bertanggungjawab untuk
tetap pada tugas. Penilaian autentik pun mendorong peserta didik mengkontruksi,
mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan, menjelaskan dan
mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
❖ PRINSIP PENILAIAN DAN PENDEKATAN AUTENTIK
-objektif, berarti penilaian berbasis pada standart dan tidak dipengaruhi faktor

subjektivitas.
-terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan dilakukan secara terencana,

menyatudengan kegiatan pembelajaran dan berkesinambungan.
-ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan

pelaksanaan danpelaporannya.
-transparant, berarti prosedur penilaian dan dasar pengambilan keputusan dapat

diaksesoleh semua pihak.
-akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal

sekolahmaupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur dan hasilnya.
-edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
Pendekatan penilaian yang digunakan adalah Penilaian Acuan Kriteria (PAK). PAK

merupakan penilaian pencapaian kompetens yang didasarkan pada Kriteria Ketentuan
Minimal (KKM), KKM merupakan kriteria ketentuan belajar minimal yang ditentukan oleh
satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karateristik Kompetensi Dasar yang akan
dicapai, daya dukung dan karateristik peserta didik.
Rumusan Interval Predikat Lulusan :

a. alur penentuan KKM
b. teknik penetapan KKM
c. perumusan KKM
d. teknik penyusunan KKM
e. teknik menentukan KKM dengan pemberian poin
f. teknik penentuan KKM dengan rentang nilai
Model Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal Ada 2 model penetapan KKM :
1) Lebih dari satu Kriteria Ketuntasan Minimal

Satuan pendidikan dapat memilih setiap mata pelajaran memiliki KKM yang
berbeda. Misalnya, KKM IPA (64), Matematika (60), Bahasa Indonesia (75), dan
seterusnya.
2) Satu Kriteria Ketuntasan Minimal

Satuan pendidikan dapat memilih satu KKM untuk semua mata pelajaran,
setelah KKM setiap mata plejaran ditentukan, KKM satuan pendidikan dapat
ditetapkan dengan memilih KKM yang terendah, rata-rata atau modus dari seluruh
KKM mata pelajaran berdasarkanmodel KKM yang ada, satuan pendidikan dibolehkan
memilih salah satu model sesuai ketetapan yang ada pada panduan penilaian jenjang
SD, SMP, SMA dan SMK.

❖ MANFAAT HASIL PENILAIAN
- Hasil dari penilaian juga dapat membangkitkan minat an motivasi
belajar siswa.Dengan adanya persaingan yang terjadi dikelas maka
motivasi belajar siswa akan naik dan tujuan dari sebuah penilaian akan
tercapai.
- Hasil dari penilaian autentik juga dimanfaatkan oleh guru dalam
mengelompokkan peserta didik berdasarkan prestasi masing-masing.
Setelah dikelompokkan berdasarkan prestasi yang sama dalam satu
kelas guru akan lebih mudah memilih metode pembelajaran yang sesuai
dengan kemampuan pemahaman siswa.
- Guru menggunakan hasil penilaian autentik sebagai sarana perbaikan
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Sebab, hasil dari sebuah

penilaian yang dilakukan oleh guru dipengaruhi oleh beberapa faktor
dan salah satu diantaranya adalah perencanaan pembelajaran, selain itu
rencana pembelajaran juga merupakan bagian penting dari tugas guru
selaku pengelola pembelajaran.

VIII. DIMENSI PENILAIAN SIKAP PADA PEMBELAJARAN TEMATIK
DIMENSI PENILAIAN SIKAP PADA PEMBELAJARAN TEMATIK

MENJELASKAN KONSEP MACAM-MACAM TEKNIK FORMAT PENILAIAN SIKAP
PENILAIANSIKAP PENILAIAN SIKAP DENGAN TEKNIKOBSERVASI

FORMAT PENILAIAN • Observasi • Observasi sikap
SIKAPDENGAN • Penilaian diri spiritual
• Penilaian antar teman
TEKNIK PENILAIAN • Observasi sikap
DIRI FORMAT PENILAIAN SIKAP sosial
DENGAN TEKNIK PENILAIAN
• Penilaian diri • Observasi sikap
spiritual ANTAR TEMAN tanggung jawab

• Penilaian diri KATA KERJA OPERASIONAL (KKO)AFEKTIF
sosial (A1, A2, A3, A4, A5)

• Penilaian diri CONTOH FORMAT PENILAIANSIKAP
tanggung DENGAN KKO AFEKTIF
jawab

A. Menjelaskan Konsep Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur tingkat

pencapaian kompetensi sikap dari peserta didik yang meliputi aspek menerima atau
memerhatikan (receiving atau attending), merespons atau menanggapi (responding),
menilai atau menghargai (valuing), mengorganisasi atau mengelola (organization),
dan berkarakter (characterization). Dalam kurikulum 2013 sikap dibagi menjadi dua,
yakni sikap spiritual dan sikap sosial. Bahkan kompetensi sikap masuk menjadi
kompetensi inti 1(KI 1) untuk sikap spiritual dan kompetensi inti 2 (KI 2) untuk sikap
sosial.

Penilaian sikap merupakan bagian dari pembinaan dan
penanaman/pembentukan sikap spiritual dan sikap sosial peserta didik yang menjadi
tugas dari setiap pendidik. Penanaman sikap diintegrasikan pada setiap pembelajaran
KD. dari KI-3 dan KI-4. Selain itu, dapat dilakukan penilaian diri (self assessment)
dan penilaian antar sesama teman (peer assessment) dalam rangka pembinaan dan
pembentukan karakter peserta didik, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu
data untuk konfirmasi hasil penilaian sikap oleh pendidik.

B. Macam-macam Teknik Penilaian Sikap
Penilaian sikap spiritual dan sosial harus mengacu pada indikator yang dirinci

dari Kompetensi Dasar (KD) dari kompetensi inti spiritual dan sosial yang ada di
kerangka dasar dan struktur kurikulum untuk setiap jenjang dari dasar sampai
menengah. Adapun teknik penilaian sikap dibagi menjadi dua macam yaitu penilaian
sikap utama dan penilaian sikap penunjang. Adapun penilaian sikap utama dilakukan
dengan cara observasi yang dilakukan oleh guru baik dilaksanakan pada saat proses
pembelajaran maupun diluar pembelajaran.
a) Observasi

Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indra, baik secara langsung maupun
tidak langsung dengan menggunakan pedoman atau lembar observasi yang berisi
sejumlah indikator perilaku atau aspek yang diamati.

b) Penilaian diri
Dalam melakukan penilaian diri terhadap kompetensi sikap, baik sikap

spiritual maupun sikap sosial harus mengacu pada indikator pencapaian
kompetensi yang sudah dibuat oleh guru sesuai dengan kompetensi dasar dari
kompetensi inti sikap spiritual dan sikap sosial.
c) Penilaian antar teman

Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi sikap, baik sikap
spiritual maupun sosial dengan cara meminta peserta didik untuk menilai satu
sama lain.

C. Format Penilaian Sikap dengan Teknik Observasi
Dalam format penilaian sikap dengan teknik Observasi guru hendaknya

mengamati sikap peserta didik dengan menggunakan lembar observasi.
1) Observasi sikap spiritual
2) Observasi sikap sosial
3) Observasi Sikap Tanggung Jawab

D. Format Penilaian Sikap dengan Teknik Penilaian Diri
Pada penilaian diri siswa diminta untuk mengumumkan kekurangan dan

kelebihan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Adapun format yang
digunakan dalam penilaian diri berupa lembar penilaian diri yang dilengkapi dengan
identitas siswa
1) Penilaian Diri Spiritual
2) Penilaian Diri Sosial (Sikap Jujur)
3) Penilaian Diri Tanggung Jawab

E. Format Penilaian Sikap dengan Teknik Penilaian antar Peserta Didik
Penilaian antar teman merupakan suatu penilaian yang dilakukan oleh peserta

didik untuk menilai dua orang temannya. Adapun format penilaian ini sama dengan
teknik penilaian sikap secara observasi, perbedaannya hanya terletak pada
perbandingan dua subjek yang diamati. Dalam hal ini pernyataan atau indikator
pengamatan yang disusun oleh guru disesuaikan dengan karakteristik peserta didik

F. Kata Kerja Oprasional (KKO) Afektif (A1, A2, A3, A4, dan A5)
Ranah Afektif berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek

perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian
diri.Indikator afektif merupakan sikap yang diharapkan saat dan setelah
siswa melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran. Indicator afektif
disusun dengan menggunakan kata kerjaoperasional dengan objek sikap
ilmiah. Beberapa contoh sikap ilmiah adalah: berlaku jujur, peduli,
tanggungjawab, dan lain sebagainya. Pada bagian ini Bloom
membuatnya dengan David Krathwohl. Diantaranya adalah
a) Level Penerimaan
b) Level Tanggapan
c) Level Penghargaan
d) Level Pengorganisasian
e) Level Karakterisasi Berlandaskan Nilai

IX. DIMENSI PENILAIAN PENGETAHUAN PADA PEMBALAJARAN TEMATIK

DIMENSI KONSEP PENILAIAN PENGETAHUAN
PENILAIAN • Pengetahuan faktual
• Pengetahuan konseptual
PENGETAHUAN • Pengetahuan prosedural
PADA • Pengetahuan metakogniitf

PEMBELAJARAN TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN PENGETAHUAN
TEMATIK • Tes tulis
• Tes lisan
• Penugasan

KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) ASPEK
PENGETAHUAN

FORMAT PENELITIAN PENGETAHUAN BERBASIS
HOTS DENGAN MENGGUNAKANKKO C4, C5, C6

A. KONSEP PENGETAHUAN PENILAIAN
Dimensi proses berpikir untuk mendapat pengetahuan terdiri mengingat,

memahami, menerapkan, menganalisa, mengevaluasi dan mencipta.
a) Pengetahuan Faktual

Merupakan Elemen-elemen dasar yang harus diketahui peserta didik untuk
mempelajarisuatu ilmu atau menyelesaikan masalah di dalamnya.
b) Pengetahuan konseptual

Merupakan Hubungan-hubungan antar elemen dalam sruktur besar yang
mermungkinkan elemennya berfungsi secara bersama-sama.
c) Pengetahuam Prosedural

Merupakan pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang
terkait dengan pengetahuan teknis, spesifik, algoritma, metode dari tingkat
sederhana sampai tingkat tinggi dan kriteria untuk menentukan prosedur.
d) Pengetahuan Metakognitif

Metakognitif merupakan kesadaran seseorang tentang bagaimana ia
belajar,kemampuan untuk menilai kesukaran sesuatu masalah, kemampuan
untukmengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan menggunakan
berbagaiinformasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan
belajar sendiri.

B. TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN PENGETAHUAN
1) Tes Tulis
Tes tertulis adalah tes yang soal dan jawabannya secara tertulis, antara lain
berupa pilihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.Penggunaan
bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis, sangat tergantung pada kompetensi
pengetahuanyang akan diukur.
Instrumen tes tertulis yang biasa dipakai antara lain tes pilihan ganda,
isian,benar salah, menjodohkan dan uraian. Setiap butir soal yang ditulis harus
berdasarkan rumusan indikator yang sudah disusun dalam RPP maupun dalam kisi-
kisi


Click to View FlipBook Version