The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sdslahat, 2023-03-12 03:25:25

Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial

Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26

Keywords: DUPAK 2022

DINAS SOSIAL KABUPATEN LAHAT-PROVINSI SUMATERA SELATAN MERENCANAKAN PROGRAM PENYULUHAN SOSIAL INDIVIDU & KELUARGA DI DAERAH RAWAN SOSIAL ( AK: 0,300 ) Total AK : 0,300 x 25 = 7,500 Kode : II.A.4.c.1) OLEH : SAIFUDIN, SE. PENYULUH SOSIAL MADYA (TMT : 01-09-2020) BULAN : JANUARI-DESEMBER 2022


Laporan : 1 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Topik 1 : ANAK BALITA TERLANTAR/TANPA ASUHAN YANG LAYAK A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS yang pertama adalah Anak Balita Terlantar yang terlantar/tanpa asuhan yang layak. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksplotasi untuk tujuan tertentu. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh terlantar/tanpa asuhan yang layak. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Balita Terlantar/Tanpa Asuhan Yang Layak menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, anak balita terlantar yang tanpa memiliki asuhan yang layak dari orangtuanya. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh pengasuhan yang tidak layak. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial anak terlantar tanpa asuhan yang layak dari orang tuanya, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal.


C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Terlantar yang tanpa asuhan yang layak oleh orangtuanya di Kabupaten Lahat. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Terlantar yang tanpa asuhan yang layak oleh orangtuanya di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Senin 3 Januari 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, anak terlantar yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah anak terlantar yang seperti ini tidak semakin berambah dan mampu menyadarkan setiap orangtua, keluarga dan masyarakat. 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Kamis tanggal 20 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Materi penyuluhan ini akan ditujukan kepada kaum ibu/orangtua anak, kader-kader PKK maupun masyarakat lainnya, oleh karena akibat menjadi anak terlantar yang diakibatkan oleh pengasuhan yang diberikan oleh orangtuanya atau keluarga tidak sepenuhnya dan yang sebenarnya mereka membutuhkan informasi bagaimana agar anak-anaknya tidak menjadi anak yang terlantar dan pada usia anak selalu mendapatkan pengasuhan yang layak oleh orangtua maupun keluarganya. Upaya agar anak tidak menjadi anak terlantar : Kita sering melihat secara kasat mata baik langsung maupun tidak langsung adanya anak menjadi terlantar. Usia anak telah ditentukan dalam Undang-Undang yaitu sejak anak dalam kandungan hingga usia 18 tahun. Keterlantaran anak yang ada adalah anak ketika dalam usia tumbuh kembang. Keterlantaran anak memerlukan pendampingan kepada keluarganya, orangtuanya atau keluarga ada yang belum mengetahui seperti apa pola asuh yang benar dan baik. Kemudian kondisi ekonomi keluarga karena dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tuntutan ekonomi yang harus dipenuhi sehingga korbanya adalah anak. Anak tidak terurus, lebih baik mengurus kebutuhan hidup untuk anak dan keluarga. Yang lebih tidak manusiawi, anak dijadikan alat untuk ikut membantu dalam mengkais rezeki, memperalat anak untuk mencari uang. Dengan kondisi tersbut, bagaimana anak akan tumbuh


kembang secara normal, pengasuhan yang tidak dipedulikan oleh orangtua dan keluarga. Kondisi tersebut melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. Upaya agar terhadap semua orangtua dan keluarga adalah diberikan pendampingan, penyuluhan dan pemberdayaan ekonomi. Jika ada program bantuan modal usaha dan pemberdayaan hingga tuntas dan sudah ada perubahan ekonomi serta tidak mempekerjakan anak dan benar-benar mapan berarti keluarga tersebut telah siap memperbaiki dirinya dan kemandirian ekonomi telah ada sehingga tidak mengganggu tumbuh kembang anaknya dengan pola asuh yang layak. Hal ini membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan dengan pendamping yang penuh hati dan bertanggung jawab serta terlatih. Pengasuhan anak yang layak : Dalam pola asuh anak dan remaja telah diberikan petunjuk pelaksanaannya, dimana dalamnya terdapat 4 (enam) bentuk pendekatan pola asuh anak dan remaja, yaitu : 1) Pendekatan dengan sikap perilaku “MENANG”. 2) Pendekatan dengan sikap perilaku “MENANG” dan “KALAH”. 3) Pendekatan dengan sikap perilaku “MENGALAH”. 4) Pendekatan dengan sikap perilaku “TIDAK MENANG” dan “TIDAK KALAH”. Pendekatan dengan sikap perilaku “MENANG” : Dalam Pola Asuh dengan sikap “MENANG” pihak pengasuh (ayah dan ibu) bersikap ingin selalu menang dan benar. Setiap kata dan tindakannya harus dituruti atau diikuti. Pola asuh yang demikian adalah bersifat otoriter. Dengan pola asuh ini berakibat terhadap pada anak akan menjadi takut, serba salah, dan tidak mempunyai inisiatif dan kreatif yang dapat menimbulkan rasa rendah diri. Sikap ini selalu menggunakan kata-kata engkau, kau, kamu, yang dapat menyinggung perasaan anak, pada saat tertentu mencapai puncaknya anak akan menjadi anak yang acuh dan tertekan. Pendekatan dengan sikap perilaku “MENANG” dan “KALAH”: Dalam pola asuh ini orang tua sering dihadapkan kepada kebingunan dan kebimbangan dalam menghadapi anak. Suatu waktu bersikap keras/otoriter, dilain waktu bersikap lemah lembut dan mengalah terhadap kemauan anak. Sikap yang demikian dapat dilakukan oleh seorang saja (ayah atau ibu), tetapi juga dapat dilakukan oleh keduanya (ayah dan ibu). Bila ayah bersikap keras/otoriter terhadap anaknya, dilain pihak ibu bersikap lemah lembut dan melindungi anaknya atau sebaliknya. Akibat dari sikap tersebut akan menjadikan anak dalam keadaan bimbang dan ragu, dalam memilih dan sulit membedakan mana yang salah, mana yang benar. Siapa yang harus dianut atau diturut, dan siapa yang harus dijauhi. Hal ini membahayakan pertumbuhan jiwa anak yang berakibat jiwanya terombang-ambing. Pola asuh ini sangat berbahaya. Pendekatan dengan sikap perilaku “MENGALAH”: Dalam pola asuh dengan pendekatan sikap perilaku “MENGALAH” disini para orangtua maupun Pembina selalu bersikap mengalah dan menuruti apa yang menjadi kemauan atau kehendak anak. Anak cenderung menjadi manja dan berlebihan, secara tidak sadar perbuatan yang demikian dilakukan. Pendekatan dengan sikap perilaku “TIDAK MENANG” dan “TIDAK KALAH”: Orangtua dalam melaksanakan pola asuh ini harus jelas dan memiliki sikap yang tegas serta dilandasi kesadaran bahwa anak adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu tidak “mengecilkan” anak, tetapi selalu menghargai dan menghormati anak yakni dengan kalimat komunikasi yang simpatik dengan menggunakan kata saya, aku, kita, kami, anda dan sebagainya. Orangtua tidak memaksakan kehendaknya sendiri, tetapi mau mendengarkan pendapat anak serta mengakui dan memuji kebaikannya. Bila terjadi akan, sedang atau sesudah menyinggung perasaan


anak, hendaknya orang tua meminta maaf kepada anak. Orangtua berkewajiban mengingatkan anak bila menyimpang dari peraturan, adat hukum dan agama yakni dengan cara yang bijak dan jangan sampai menegur anak dimuka orang lain, atau membela salah satu anak kandung yang sedang berselisih. Oleh karena itu anak wajib diberikan kebebasan dalam mengungkapkan pendapat dan keinginan dengan santun. Orangtua wajib memberikan pengertian-pengertian sebagai contoh dan teladan terutama dalam kehidupan yang tidak konsutif. Orangtua seyogyanya dapat membawa anak berkunjung ketempat orang-orang/anak yang kurang beruntung (antara lain ke Panti Asuhan, ketempat penampungan anak, sehingga membuat anak merasa bersyukur dengan apa adanya yang diterima dalam kehidupan keluarga. Pola Asuh dengan sikap perilaku “TIDAK MENANG DAN TIDAK KALAH” ini merupakan pola asuh timbal balik (dua arah), dan merupakan pengasuhan yang terbaik diantara pola asuh yang ada. Upaya menerapkan Pola Asuh Anak dan Remaja dalam keluarga, orangtua berkewajiban memperhatikan kondisi dan sifat serta dampak bagi anak dikemudian hari. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang Digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Kamis tanggal 20 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Olehkarena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2. Pembagian tugas. 3. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 20 Januari 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh anak, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. F. LAMPIRAN : Rekapitulasi PMKS/PPKS Kabupaten Lahat Sd. Tahun 2021 NO JENIS PMKS/PPKS JUMLAH 1 Anak Balita Terlantar 42 2 Anak Terlantar 125 3 Anak Berhadapan Dengan Hukum 4 4 Anak Jalanan 2 5 Anak Dengan Kedisabilitasan (ADK) 104 6 Anak yang menjadi korban tindak kekerasan/diperlakukan salah 0 7 Anak yang memrlukan perlindungan khusus 5 8 Lanjut Usia Terlantar 4.085 9 Penyandang Disabilitas 733 10 Tunasusila 8


11 Gelandangan 3 12 Pengemis 8 13 Pemulung 49 14 Kelompok Minoritas 0 15 Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWPLP) 32 16 Orang Dengan HIV/AIDS 0 17 Korban Penyalahgunaan NAPZA 12 18 Korban Trafficking 0 19 Korban tindak kekerasan. 3 20 Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS) 47 21 Korban Bencana Alam 559 22 Korban Bencana Sosial 7 23 Perempuan Bermasalah Sosial Ekonomi 977 24 Fakir Miskin 39.304 25 Keluarga bermasalah sosial psikologis 0 26 Komunitas Adat Terpencil (KAT) 0 Jumlah 46.109 Sumber Data : Rekapitulasi PMK/PPKS Dinas Sosial.Kabupaten Lahat. Lahat, 3 Januari 2022 (pukul:08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


DINAS SOSIAL KABUPATEN LAHAT Pola Asuh Anak & Remaja ( PAAR ) Oleh : SAIFUDIN, SE. Penyuluh Sosial Madya Tahun 2022 Pendekatan Pola Remaja (PAAR) Pendekatan dengan “TIDAK MENANG” d KALAH”.


a Asuh Anak & n sikap perilaku dan “TIDAK 4 (enam) bentuk pendekatan pola asuh anak dan remaja, yaitu : Pendekatan dengan sikap perilaku “MENANG”. Pendekatan dengan sikap perilaku “MENANG” dan “KALAH”. Pendekatan dengan sikap perilaku “MENGALAH”. Pendekatan dengan sikap perilaku “TIDAK MENANG” dan “TIDAK KALAH”.


Laporan : 2 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Topik 2 : ANAK BALITA TERLANTAR BERASAL DARI KELUARGA SANGAT MISKIN/MISKIN A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS yang pertama adalah Anak Balita Terlantar yang terlantar/tanpa asuhan yang layak. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksplotasi untuk tujuan tertentu. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Balita Terlantar berasal dari keluarga sangat miskin/miskin menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, anak balita terlantar dari keluarga sangat miskin/miskin. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial anak terlantar akibat keluarganya sangat miskin/miskin, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal.


C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Terlantar akibat keluarganya sangat miskin/miskin di Kabupaten Lahat. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Terlantar yang berasal dari keluarganya sangat miskin/miskin di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Selasa 4 Januari 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, anak terlantar yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah anak terlantar yang seperti ini tidak semakin berambah dan mampu menyadarkan setiap orangtua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Jumat tanggal 21 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Materi penyuluhan ini akan ditujukan kepada kaum ibu/orangtua anak, kader-kader PKK maupun masyarakat lainnya, oleh karena akibat menjadi anak terlantar yang diakibatkan oleh keluargnya sangat miskin/miskin yang sebenarnya mereka membutuhkan informasi bagaimana agar anak-anaknya tidak menjadi anak yang terlantar dan pada usia anak selalu mendapatkan pengasuhan yang layak oleh orangtua maupun keluarganya dan pemberdayaan apa yang harus diberikan pada keluarganya agar ada perubahan dari miskin menjadi keluarga berekonomi normal dan sejahtera. Pemberdayaan adalah memberikan suatu pembinaan yang terarah kepada keluarga yang masing-masing keluarga memiliki potensi yang bisa dikembangkan sehingga menjadi modal dasar usaha ekonomi produktif. Potensi yang dimiliki kita tawarkan untuk usaha jenis apa dan materi akan mengarah pada produksi baik kwantitas dan kualitas selanjutnya pemasaran hasilnya. Apakah disini memerlukan bantuan modal/bantuan sosial? Jawabannya adalah ya, akan tetapi bantuan modal/bansos tidak diberikan sebelum mereka memiliki skill/keahlian dan kemauan sehingga kita menghindari dari bantuan modal/bansos tersebut salah pemanfaatannya. Setelah mereka benar-benar dengan bimbingan pemberdayaan telah berhasil dan memiliki kemampuan sesuai potensinya silahkan bantuan modal maupun bansos diberikan. Diawali dengan pemberdayaan hingga pada peningkatan keahlian, tanggung jawab, dan prospek pasar dan bantuan modal/bansos, selanjutnya pendampingan kepada keluarga miskin ini hingga paripurna.


Dengan perubahan ekonomi dari potensi yang diperdayakan, diharapkan kesejahteraan ada perubahan yang semakin baik dan sehingga anak-anaknya akan terurus dengan baik dan akan menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan lingkungannya. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambargambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Jumat tanggal 21 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Olehkarena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2. Pembagian tugas. 3. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 21 Januari 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh anak akibat dalam keluarga sangat miskin/miskin, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 4 Januari 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 3 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Topik 3 : ANAK BALITA YANG KEHILANGAN POLA ASUH DARI ORANG TUA/KELUARGA A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS yang pertama adalah Anak Balita, yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga. Anak Balita adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksplotasi untuk tujuan tertentu. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Balita yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilainilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarganya. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1) Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, anak balita yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak balita yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2) Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial anak balita yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa


pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUKPPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Balita balita yang kehilangan pola asuh dari orang tua/keluarga di Kabupaten Lahat. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Balita yang kehilangan pola asuh anak orang tua/keluarga di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Kamis 6 Januari 2022 pukul 08.00- 12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : o Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; o Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, anak balita yang kehilangan pola asuh anak dari orang tua/keluarga membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami tentang pola asuh anak adalah pemenuhan hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak balita tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, kehilangan pola asuh adalah wajib diberikan secara rutin. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak balita yang kehilangan pola asuhnya akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah anak balita yang seperti ini tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orangtua, keluarga dan masyarakat. 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Senin tanggal 24 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Materi penyuluhan ini akan ditujukan kepada kaum ibu/orangtua anak, kader-kader PKK maupun masyarakat lainnya, oleh karena akibat menjadi anak balita yang kehilangan pola asuh anak orang tua/keluarga yang sebenarnya mereka membutuhkan informasi bagaimana agar anakanaknya tidak menjadi anak korban akibat hilangnya pola asuh dan pada usia anak selalu mendapatkan pengasuhan yang layak oleh orangtua maupun keluarganya dan bimbingan apa yang harus diberikan pada keluarganya agar ada perubahan dari meninggalka pola asuh menjadi keluarga yang berketahanan sosial. Pola Asuh Anak adalah cara pengasuhan Anak Remaja yang merupakan kegiatan dalam upaya memelihara, membimbing, membina dan melindungi Anak Remaja untuk kelangsungan hidup, perkembangan dan pertumbuhan yang serasi, selaras dan seimbang baik fisik maupun mentalnya. Mengetahui perjalanan keluarga balita dalam memberikan pola asuh sehingga tidak ada kesan dan


terjadi balita menjadi korban akibat kehilangan haknya untuk mendapatkan pola asuh anak dari orang tua maupun dari keluarganya. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selebaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang Digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Senin tanggal 24 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Olehkarena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAP KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak balita di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2. Pembagian tugas. 3. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 24 Januari 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak balita yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh anak akibat kehilangan pengasuhan, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 6 Januari 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 4 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Topik 4 : ANAK BALITA YANG MENGALAMI PERLAKUAN SALAH DAN DITERLANTARKAN OLEH ORANG TUA/KELUARGA A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS yang pertama adalah Anak Balita, yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga. Anak Balita adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diperlakukan salah oleh orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksplotasi untuk tujuan tertentu. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Balita yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tuan/keluarga menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilainilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1) Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, anak balita yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak balita yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan.


2) Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial anak balita yang diperlakukan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUKPPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan: Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Balita yang diperlakukan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga di Kabupaten Lahat. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Balita yang diperlakukan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Jumat 7 Januari 2022 pukul 13.00-16.30 wib. 4. Sasaran Kegiatan : o Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; o Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, anak balita yang diperlakukan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami tentang pola asuh anak adalah pemenuhan hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak balita tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, perlakuan salah dan diterlantarkan merekan wajib mendapatkan perlindungan sosial dan hak-hak anak. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak balita yang diperlakukan salah dan diterlantarkan akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah anak balita yang seperti ini tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orangtua, keluarga dan masyarakat. 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Selasa tanggal 25 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Materi penyuluhan ini akan ditujukan kepada kaum ibu/orangtua anak, kader-kader PKK maupun masyarakat lainnya, oleh karena akibat menjadi anak balita yang diperlakukan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga yang sebenarnya mereka membutuhkan informasi bagaimana agar anak-anaknya tidak menjadi anak korban akibat perlakuan salah dan diterlantarkan dan pada usia anak selalu mendapatkan pengasuhan yang layak oleh orangtua maupun keluarganya dan bimbingan apa yang harus diberikan pada keluarganya agar ada


perubahan dari memperlakuan salah dan menterlantarkan menjadi keluarga yang berketahanan sosial. Pola Asuh Anak adalah cara pengasuhan Anak Remaja yang merupakan kegiatan dalam upaya memelihara, membimbing, membina dan melindungi Anak Remaja untuk kelangsungan hidup, perkembangan dan pertumbuhan yang serasi, selaras dan seimbang baik fisik maupun mentalnya. Mengetahui perjalanan keluarga balita dalam memberikan pola asuh sehingga tidak ada kesan dan terjadi balita menjadi korban akibat perlakuan salah dan anak diterlantarkan untuk mendapatkan pola asuh anak dari orang tua maupun dari keluarganya. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang Digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Selasa tanggal 25 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Olehkarena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAP KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak balita di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2. Pembagian tugas. 3. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 25 Januari 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak balita yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh anak akibat diperlakukan salah dan diterlantarkan, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 7 Januari 2022 (Pukul: 13.00-16.30) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 5 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Topik 5 : ANAK BALITA YANG DIEKSPLOTASI SECARA EKONOMI SEPERTI ANAK BALITA YANG DISALAHGUNAKAN ORANGTUA MENJADI PENGEMIS DIJALANAN A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki kriteria yang berbeda-beda. PMKS diantaranya adalah Anak Balita, yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan. Anak Balita adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang disalahgunakan oleh orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksplotasi untuk menjadi pengemis. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilainilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak balita yang mengalami


perlakuan salah dan dieksplotasi/disalahgunakan oleh orang tua/keluarga. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUKPPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan: Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan di Kabupaten Lahat. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Selasa 11 Januari 2022 pukul 08.00-16.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : o Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; o Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, anak balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami tentang pola asuh anak adalah pemenuhan hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak balita tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan mereka wajib mendapatkan perlindungan sosial dan hak-hak anak. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah anak balita yang seperti ini tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orangtua, keluarga dan masyarakat. 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Rabu tanggal 26 Januari 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Materi penyuluhan ini akan ditujukan kepada kaum ibu/orangtua anak, kader-kader PKK maupun masyarakat lainnya, oleh karena akibat menjadi anak balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan yang


sebenarnya mereka membutuhkan informasi bagaimana agar anak-anaknya tidak menjadi anak korban akibat dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan dan pada usia anak selalu mendapatkan pengasuhan yang layak oleh orangtua maupun keluarganya dan bimbingan apa yang harus diberikan pada keluarganya agar ada perubahan dari mengeksplotasi dan menyalahgunakan anaknya, menjadi keluarga yang berketahanan sosial. Pola Asuh Anak adalah cara pengasuhan Anak Remaja yang merupakan kegiatan dalam upaya memelihara, membimbing, membina dan melindungi Anak Remaja untuk kelangsungan hidup, perkembangan dan pertumbuhan yang serasi, selaras dan seimbang baik fisik maupun mentalnya. Mengetahui perjalanan keluarga balita dalam memberikan pola asuh sehingga tidak ada kesan dan terjadi balita menjadi korban akibat dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan untuk mendapatkan pola asuh anak dari orang tua maupun dari keluarganya. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAP KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak balita di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2. Pembagian tugas. 3. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 26 Januari 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak balita yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh anak akibat Anak Balita yang dieksplotasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis dijalannan, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 11 Januari 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 6 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : April 2022 Topik 12 : ANAK JALANAN YANG MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR WAKTUNYA DIJALANAN MAUPUN DI TEMPAT-TEMPAT UMUM A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti adalah Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dengan kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum, agar mayarakat


mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Jumat 1 April 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 8. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 9. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 10. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempattempat umum yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum tidak semakin berambah dan mampu menyadarkan setiap orangtua, keluarga dan masyarakat 11. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Selasa tanggal 5 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Materi penyuluhan ini akan ditujukan kepada kaum ibu/orangtua anak, kader-kader PKK maupun masyarakat lainnya, oleh karena akibat menjadi anak terlantar yang diakibatkan oleh keluargnya sangat miskin/miskin yang sebenarnya mereka membutuhkan informasi bagaimana agar anak-anaknya tidak menjadi anak yang terlantar dan pada usia anak selalu mendapatkan pengasuhan yang layak oleh orangtua maupun keluarganya dan pemberdayaan apa yang harus diberikan pada keluarganya agar ada perubahan dari miskin menjadi keluarga berekonomi normal dan sejahtera. Terjadinya anak menjadi anak jalanan dan waktunya dihabiskan ditempat-tempat umum, karena tidak ada perlindungan yang diberikan kepadanya. Lantas siapa yang memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan? Namun sebelum rancangan materi penyuluhan sosial ini di sampaikan sebaiknya kita memahami terlebih dahulu tentang anak dan perlindungan anak.


Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartispasi secara optimal, sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Jika anak selalu aktivitasnya dijalanan dan ditempat-tempat umum bagaimana bisa merasakan hidup secara normal dan sempurna. Hidup sempurna dan sempurna adalah hidup dengan terpenuhi kesehatannya baik kesehatan secara badaniah menu makan makanan atau sehat lahir dan batin. Hidup seperti ini jika secara terus menerus apa jadinya di masa-masa beriukutnya dan masa tuanya. Selalu dan hari-hari ditempat umum dengan pergaulan yang tidak ada yang bermanfaat dan bebas apakah tumbuh kembang anak akan terpantau dan apakah tumbuh kembang dalam rasa yang benar namun yang ada adalah rasa yang negatif dan pasti menghasilkan pertumbuhan yang diakhiri dengan kebejatan moral/ tanpa menikmati hidup sesuai dengan ajaran positif dan religius. Secara kemanusiaan ini telah melanggar tatanan hukum dasar negara kita yaitu Pancasila. Ditempat yang bebas akan mendapatkan jiwa yang terasa tidak ada keadilan/ walau hidup bebas dan menumbuhkan jiwa yang keras yang ada adalah kekerasan dalam jiwa dan lingkungan sehingga memiliki hati yang berontak jika akan dibawa pada alam dan lingkungan yang lebih baik. Rasa berontak ini jika dibiarkan akan menjadi orang dan lingkungan yang tidak berperikemanusiaan. Dari kondisi terjadi adanya anak jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupun di tempat umum sesuai dengan pasal 20 UU Nomor 35 Tahun 2014/ adalah menjadi tanggung jawab : Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua atau Wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraann Perlindungan Anak. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambargambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Selasa tanggal 5 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2. Pembagian tugas. 3. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 5 April 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak Jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupundi tempat-tempat umum, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 1 April 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 7 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : April 2022 Topik 13 : ANAK JALANAN YANG MENCARI NAFKAH DAN/ATAU BERKELIARAN DI JALANAN MAUPUN DI TEMPAT-TEMPAT UMUM A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti adalah Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dengan kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum, agar mayarakat mengetahui dan mengerti


betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. B. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Kamis 7 April 2022 pukul 08.00- 12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orangtua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum tidak semakin betrambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Senin tanggal 11 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Apa yang terbayang dibenak kita jika anak kita menjadi anak jalanan. Sebagai orang yang memiliki kemampuan baik kemampuan secara fisik maupun ekonomi jika melihat di jalanan dan di tempat umum ada anak mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Mencari nafkah adalah bukan menjadi kewajiban seorang anak akan tetapi kewajiban orang tuanya. Namun demikian itu terjadi karena beberapa hal. Sebelum mengapa anak-anak jalanan melakukan peran sebagai pencari nafka berikut ini mari kita ketahui lebih dulu tentang pengertian KELUARGA: Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami istri atau suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya atau keluarga sedarah dalam garis lurus keatas atau ke bawah sampai derajat ketiga. Dari pengertian keluarga tersebut berarti dalam keluarga bisa lengkap ada ibu ayah dan anak, dan ada yang tidak lengkap. Namun demikian keluarga menjadi penting, oleh karena keluarga menjadi awal memberikan pemahaman terhadap peran anggota keluarga. Sebagai orang tua memiliki peran yang


berbeda dengan peran anak. Pencari nafkah adalah peran dan tanggung jawab orang tua dan usia anak, anak bukan justru dibebani untuk bertanggung jawab sebagai pencari nafkah. Mengapa ada orang tua yang memberikan beban kepada anaknya mencari nafkah/ bahkan di jalan umum mereka memerankannya. Atau memang ada anak yang memiliki rasa ingin membantu/ meringankan beban orang tuanya. Kondisi ini biasanya karena tuntutan ekonomi, dimungkinkan jumlah anak yang tidak sedikit (masih terlalu kecil, bayi, balita) atau tidak ada ayah, dan atau ayah ibu sedang sakit. Terhimpitnya ekonomi untuk memnuhi kebutuhan dasar setiap harinya menjadi tuntutan mereka si anak harus mencari nafkah sekalipun perbuatan dan tindakan ini bukan untuknya dan tidak layak. Upaya yang diberikan adalah keluarga diberikan pemberdayaan eknomi keluarga agar ada upaya perubahan ekonomi keluarga. Kemudian anak-anaknya diberikan hak-hak anak sesuai usia dan perkembangannya Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Senin tanggal 11 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. C. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 11 April 2022. F. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak Jalanan yang mencari nafkah dan/atau berkeliaran di tempat-tempat umum, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 7 April 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 8 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : Mei 2022 Topik 14 : ANAK DENGAN KEDISABILITASAN FISIK : TUBUH, NETRA, RUNGU WICARA A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti adalah Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dengan kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal.


C. PELAKSANAAN a. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Rabu 13 April 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara tidak semakin betrambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Senin tanggal 18 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Dalam mensikapi adanya penyandang masalah sosial di masyarakat kita tidak dibolehkan melakukan diskriminasi kepada siapapun termasuk kepada penyandang disabilitas. Dalam pengertiannya bahwa diskriminasi adalah setiap pembedaan pengecualian pembatasan pelecehan atau pengucilan atas dasar disabilitas yang bermaksud atau berdampak pada pembatasan atau peniadaan pengakuan penikmatan atau pelaksanaan hak Penyandang Disabilitas. Oleh karena harus menghormati dan bersikap menghargai kepada Penyandang Disabilitas dengan segala kekurangannya. Undang-undang No. 8 tahun 2016 istilah disabilitas adalah setiap orang yang memiliki keterbatasan fisik intelektual mental dan atau sensorik dalam jangka waktu lama memiliki hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan dan menyebabkan keterbatasan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Bahwa dalam Undang-undang no.8 tahun 2016/ jenis disabilitas antara lain : 1. Disabilitas fisik Disabilitas fisik adalah individu yang mengalami keterbatasan mobilitas atau stamina fisik yang mengganggu system otot pernafasan atau saraf dan gangguan pada fungsi gerak. Biasanya disebabkan oleh faktor cidera/ atau oleh faktor genetik maupun medis. 2. Disabilitas Sensorik


Disabilitas sensorik adalah individu yang mengalami keterbatasan pada fungsi alat indera seperti penglihatan dan pendengaran. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh faktor genetik usia, kecelakaan, cidera, dan kesehatan, penyakit serius. Disabilitas sensorik terbagi dalam 2 jenis yaitu Pendengaran (rungu) dan Penglihatan (netra). 3. Disabilitas Mental Disabilitas mental merupakan individu yang mengalami gangguan pada fungsi pikir, emosi, dan perilaku, sehingga adanya keterbatasan dalam beraktivitas. Disabilitas mental terdiri dari Psikososial (Orang Dengan Gangguan Jiwa/ODGJ) dan Perkembangan (misalnya autisme). 4. Disabilitas Intelektual Disabilitas intelektual adalah individu yang mengalami gangguan pada fungsi kognitif karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata. Disabilitas intelektual terdiri dari Gangguan Kemampuan Belajar, Tuna Graha, dan Down Syndrome (kelainan genetic yang menyebabkan penderitanya memiliki tingkat kecerdasan yang rendah dan kelainan fisik yang khas). d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Senin tanggal 18 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) h. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 18 April 2022. G. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik : Tubuh, Netra, Rungu Wicara, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 13 April 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 9 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : April 2022 Topik 15 : ANAK DENGAN KEDISABILITASAN MENTAL : MENTAL RETARDASI DAN EKS PSIKOTIK A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti adalah Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dengan kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa


pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN a. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Rabu 20 April 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik tidak semakin betrambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : 1) Waktu Pelaksanaan : Hari Jumat tanggal 22 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) 2) Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) 3) Materi Penyuluhan : Kedisabilitasan mental retardasi dan psikotik ternyata tidak dialami hanya oleh orang dewasa, orang tua, akan tetapi anak-anakpun bisa mengalami retardasi dan psikotik. 1. Retardasi mental atau disabilitas intelektual adalah gangguan intelektual yang ditandai dengan kemampuan mental atau intelegensi di bawah rata-rata. Orang dengan retardasi mental mempelajari kemampuan baru namun lebih lambat. Ternyata bahwa retardasi mental biasanya diketahui saat kecil. Terdapat beberapa gejala dan tanda dari retardasi mental pada anak-anak. Gejala ini muncul bergabung dari berat ringannya penyakit. Gejala dan tanda retardasi mental : a. Sering berputar duduk-berdiri merangkak atau terlambat berjalan. b. Memiliki gangguan dalam bicara atau sering telat dalam bicara.


c. Lamban dalam mempelajari sesuatu hal yang sederhana seperti berpakaian membersihkan diri dan makan. d. Kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain. e. Gangguan perilaku seperti tantrum. f. Kesulitan dalam diskusi penyelesaian masalah atau pola pikir logis. Anak dengan retardasi mental berat biasanya akan disertai dengan masalah kesehatan lainnya. Masalah ini terkait kejang gangguan mood (cemas dan autism) kelainan motorik gangguan penglihatan atau gangguan pendengaran. 2. Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk membedakan mana yang nyata dan tidak nyata (sulit membedakan antara khayalan dan realitas). Tanda dan gejala dari gangguan Psikotik : HALUNISASI Gangguan persepsi panca indra mendengar suara bisikan melihat bayangan mencium bau-bauan merasa ada sesuatu di kulit dan di lidah yang semuanya tidak ada sumbernya. DELUSI/WAHAM Keyakinan pikiran persepsi yang salah terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan seperti : merasa ada yang ngejar-ngejar memperhatikan berniat jahat merasa diomongin dan dijauhi oleh temanteman atau merasa punya kekuatan kehebatan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataannya. GANGGUAN PERILAKU Menarik diri dari lingkungan sosial gangguan tidur dan makan sulit mengerjakan hal-hal yang sebelumnya mudah dilakukan gerakan jadi lambat atau sebaliknya terlihat gelisah. PERUBAHAN MOOD Cemas, sedih, khawatir yang berlebihan. PIKIRAN Sering curiga sulit fokus dan berkonsentrasi banyak bengong. PEMBICARAAN Berbicara berulang ulang malas bicara ngomong tidak nyambung. 4) Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. 5) Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. g. Penjadwalan : Hari Jumat tanggal 22 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) i. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN


Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 22 April 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak Dengan Kedisabilitasan Mental : Mental Retardasi dan eks psikotik, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 20 April 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 10 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : April 2022 Topik 16 : ANAK DENGAN KEDISABILITASAN FISIK DAN MENTAL (GANDA) A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti adalah Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda). Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhiserta anak dengan kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda) menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda). Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 8. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda), agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal.


C. PELAKSANAAN a. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda). 9. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda) di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Selasa 26 April 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 10.Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 11.Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 12.Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda) yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda) tidak semakin betrambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 13.Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : b. Hari Jumat tanggal 22 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) c. Sasaran Kegiatan : d. Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) e. Materi Penyuluhan : Anak diusia 0-18 tahun sudah mengalami sebagai penyandang disabilitas rasanya kita sebagai orang tua dan keluarga terenyuh. Keterbatasan yang mereka lakukan dalam beraktivitas pasti akan terhambat dan terganggu. Menjadikan anak untuk berkativitas normal sebagaimana anak-anak yang lain yang diberikan kenormalan baik secara fisik maupun mentalnya adalah hanya ada pada kesabaran orang tua dan keluarganya. Bagi anak penyandang disabilitas tentunya sudah menyadari dan inilah yang diberikan oleh Tuhannya hanya saja tidak bisa memaksakan aktivitasnya akan sama dengan anak-anak seusianya yang diberikan kesehatan yang sempurna. Semuanya adalah kehendak Tuhan. Saat anak menyandang disabilitas fisik kita telah mengetahui juga bahwa ada disabilitas mental terdiri dua jenis yakni retardasi mental dan psikotik. 1. Retardasi mental atau disabilitas intelektual adalah gangguan intelektual yang ditandai dengan kemampuan mental atau intelegensi di bawah rata-rata. Orang dengan retardasi mental mempelajari kemampuan baru namun lebih lambat. Ternyata bahwa retardasi mental biasanya diketahui saat kecil. Terdapat beberapa gejala dan tanda dari retardasi mental pada anak-anak. Gejala ini muncul bergabung dari berat ringannya penyakit. Kemudian yang kedua akan menjadi jenis retardasi mental. 2. Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk membedakan mana yang nyata dan tidak nyata (sulit membedakan antara khayalan dan realitas).


Tanda dan gejala dari gangguan Psikotik : o Gangguan persepsi panca indra mendengar suara bisikan melihat bayangan mencium bau-bauan merasa ada sesuatu di kulit dan di lidah yang semuanya tidak ada sumbernya (halunisasi). o Keyakinan pikiran/persepsi yang salah terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan seperti : merasa ada yang ngejar-ngejar memperhatikan berniat jahat merasa diomongin dan dijauhi oleh teman-teman atau merasa punya kekuatan/kehebatan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataannya (delusi/waham). o Menarik diri dari lingkungan sosial gangguan tidur dan makan sulit mengerjakan hal-hal yang sebelumnya mudah dilakukan gerakan jadi lambat atau sebaliknya terlihat gelisah (gangguan perilaku). o Cemas, sedih, khawatir yang berlebihan (perubahan mood). o Sering curiga sulit fokus dan berkonsentrasi banyak bengong (pikiran). o Berbicara berulang ulang malas bicara ngomong tidak nyambung (pembicaraan). o Sehingga jika anak sebagai penyandang disabilitas fisik dan disabilitas mental anak akan mengalami kegandaan disabilitas (disabilitas ganda). 6) Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. 7) Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. h. Penjadwalan : Hari Kamis tanggal 28 April 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) j. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 28 April 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak Dengan Kedisabilitasan Fisik dan Mental (ganda), disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 26 April 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 19650714198903100/8


Laporan : 11 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : Mei 2022 Topik 17 : ANAK DENGAN KEDISABILITASAN TIDAK MAMPU MELAKSANAKAN KEHIDUPAN SEHATIHARI A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dengan kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan.


2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Selasa 4 Mei 2022 pukul 08.00- 12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : 1) Waktu Pelaksanaan : 2) Hari Jumat tanggal 6 Mei 2022, pukul 13.00-16.00 wib II.B.1.e.1) 3) Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) 4) Materi Penyuluhan : Ada apa dengan anak ini ada apa dengan anak yang tidak mampu melaksanakan kehidupan seharihari. Ketika kita mengetahui/ melihat dan menemukan pada anak yang memiliki keterbatasan beraktivitas, kita wajib mencari tahu. Tanggap dan peduli pada lingkungan mungkin jika ini terjadi di desa-desa, justru cepat diketahui dan bahkan menjadi perhatian dan sangat dipedulikan dengan kesetiakawanan sosial sebagaimana tradisi di desa. Warga di usia anak apa lagi anak diusia bermain yang nuraninya adalah bermain dengan sebayanya namun tidak bisa melakukannya karena kondisi fisik disabilitas. Namun sebaliknya di kota


besar mereka tidak akan cepat termonitor oleh lingkungannya karena kepedulian lingkungan jauh berbeda dengan di desa. Ketidakmampuannya untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari berarti membutuhkan bantuan membutuhkan toleransi orang lain. Orang sekitar keluarga dan masyarakat dengan kepeduliannya dan rasa kesetiakawanan sosialnya berupaya meringankan bebannya. Demikian kita ajarkan pada anak-anak lainnya yang tidak senasib anak disabilitas untuk belajar memiliki rasa toleransi jiwa membantu bahkan untuk mengajak temannya yang disabilitas ikut bergabung bermain sesuai dengan kemampuan fisiknya. Dengan diberikan kepedulian di lingkungan dan teman-temannya akan memberikan semangat hidup merasa diberikan kesempatan dan perlindungan serta tidak merasa dikucilkan, dan terpisah dari sebaya dan lingkungannya. Masyarakat sekitarnya harus mampu menciptakan suasana senang gembira dan tidak membuat atau menunjukan kesedihan yang membawa pada putus asa. Akan tetapi dorongan yang menciptakan anak disabilitas menjadi memiliki kemampuan yang lebih. Bila dipandang perlu adakan kegiatan atau ikut sertakan pada kegiatan bersama-sama anak-anak disabilitas lainnya. Mengikuti lomba bagi penyandang disabilitas. Dari harapan diatas, adalah merupakan upaya memberikan kesempatan anak disabilitas tetap semangat hidup dan tidak lagi disebut sebagai anak yang tidak meiliki kemampuan hidup sehari-hari akan tetapi anak penyandang disabilitas memiliki semangat tinggi dan kreatif akan membawa nama baik dirinya dan lingkungan serta keluarganya. 5) Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. 6) Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. 7) Penjadwalan : Hari Jumat tanggal 6 Mei 2022, pukul 13.00-16.00 wib II.B.1.e.1) 8) Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : 1) Penyusunan materi program penyuluhan sosial. 2) Pembagian tugas. 3) Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 6 Mei 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak Dengan Kedisabilitasan tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 4 Mei 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 12 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : Mei 2022 Topik 18 : ANAK (LAKI-LAKI/PEREMPUAN) PEREMPUAN DI BAWAH USIA 18 TAHUN, KORBAN TINDAK KEKERASAN DAN DIPERLAKUKAN SALAH A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak (lakilaki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak (lakilaki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan


Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak (lakilaki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Selasa 10 Mei 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : b. Hari Jumat tanggal 12 Mei 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) c. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) d. Materi Penyuluhan : Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemerintah, dan pemerintah daerah. Dari pengertian hak anak bahwa sebenarnya tidak boleh terjadi lagi adanya kekerasan terhadap anak tidak ada lagi pengekangan hak anak tidak ada lagi pembiaran adanya kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak dan atau kekerasan yang dilakukan oleh pihak lain di luar rumah. Mengapa tidak boleh terjadi? Karena hak anak dijamin/ dilindungi dan dipenuhi oleh 6 pemberi yang bertanggung jawab/ yaitu : 1. Orang tuanya, 2. Keluarganya, 3. Masyarakat,


4. Negara, 5. Pemerintah, dan 6. Pemerintah Daerah. Namun pada kenyataannya masih terjadi kekerasan dan pengekangan hak anak. Mengapa demikian? Banyak faktor yang menjadi penyebab masih ada tindak kekerasan dan hak anak yang tidak diberikan antara lain : 1. Sosialisasi UU tentang perlindungan anak dan UU tindak kekerasan dalam rumah tangga yang masih belum merata. 2. Masyarakat dan keluarga belum memahami akibat tindak kekerasan dan tidak memberikan perlindungan terhadap anak. 3. Kola borasi antar pihak berwenang dalam pencegahan terjadinya pelanggaran kedua UU tidak menggaung. 4. Perlu ditingkatkan kemampuan dan keahlian lembaga instansi dalam upaya pencegahan agar tidak terjadi tindakan melanggar hukum. e. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. f. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. g. Penjadwalan : Hari Kamis tanggal 12 Mei 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) h. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 12 Mei 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak (laki-laki/perempuan) Perempuan dibawah usia 18 tahun, korban tindak kekerasan dan diperlakukan salah, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 10 Mei 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 13 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : Mei 2022 Topik 19 : ANAK SERING MENDAPAT PERLAKUAN KASAR DAN KEJAM DAN TINDAKAN YANG BERAKIBAT SECARA FISIK DAN/ATAU PSIKOLOGI A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan


Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal. C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Selasa 17 Mei 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi tidak semakin betrambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Kamis tanggal 19 Meil 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Perlakuan kasar dan kejam merupakan tindakan yang berakibat pada fisik dan atau berakibat pada psikologis adalah tindakan yang kurang etis dan tidak boleh terjadi kepada siapapun termasuk kepada anak. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga telah mengamantkan pada Bab III Larangan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pasal 5 setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara : a. kekerasan fisik. b. kekerasan psikis. c. kekerasan seksual atau d. penelantaran rumah tangga.


Perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat ini adalah kekerasan fisik. Perbuatan yang berakibat pada ketakutan hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat adalah disebutnya dengan kekerasan psikis. Adanya pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu adalah perbuatan kekerasan seksual. Kemudian setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Terjadinya penelantaran juga karena ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. Dari kondisi tersebut diatas pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam upaya pencegahan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. 8. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. 9. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. 10.Penjadwalan : Hari Kamis tanggal 19 Mei 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) 11.Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 28 April 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak sering mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat secara fisik dan/atau psikologi, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 17 Mei 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 14 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : Mei 2022 Topik 20 : ANAK PERNAH DIANIAYA DAN/ATAU DIPERKOSA A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa. Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa. Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa. Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa, agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal.


C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa. 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Senin 23 Mei 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Rabu tanggal 25 Mei 2022, (pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Rasa ketakutan anak yang pernah dianiaya atau diperkosa adalah beban berat disamping ketakutan ada perasaan yang menghantui dirinya. Andai jujur mengatakan kepada orang tua/ atau temannya pasti anak menyimpan suatu resiko misalnya ada ancaman dan lain sebagainya. Beban ini berat yang ada pada anak yang menjadi korban. Pengawasan setiap orang tua menjadi sangat penting pengawasan internal dan pengawasan eksternal. Pengawasan internal yang dilakukan oleh orang tua dan keluarganya mulai dari aktivitas seharihari yang diatur dalam rumahnya. Dengan demikian semua aturan yang ditegakan di rumah akan melatih anak dari kecil hingga anak menjadi anak yang diharapkan orangtua menjadi anak yang taat pada agamanya dan patuh kepada kedua orang tuanya dan keluarga. Kedekatan antara orang tua dengan anak adalah membuktikan bahwa anak merasa terlindungi dan diayomi akan tetapi sebaliknya jika dalam keluarga menunjukan dengan kesibukannya masing-masing dampaknya adalah perhatian pada anak tidak ada dan kebebasan terjadi pada anak. Karena kebebasan anak bisa memiliki pemikiran yang negatif dan akan berbeda dengan anggota keluarga lainnya. Tanpa disadari akan tumbuh bibit-bibit negatif dalam pikiran dan benak hati anak anak bisa menjadi sasaran pemerkosaan atau sasaran penganiayaan atau anak justru menjadi orang yang memiliki pikiran negatif yaitu menjadi pemerkosa atau penganiaya. Alangkah mirisnya jika anak menjadi sedemikian parahnya. Memberikan pola asuhan kepada anak harus dimulai dari sejak dalam kandungan. Gunakan pertemuan dengan anak semaksimal mungkin yang


berdampak menjadi anak yang sesuai harapan orang tua dengan di dasari oleh religius yang kuat. Berpeganglah pada keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhannya. Agama adalah sebagai kendali agar mau melakukan yang diperintah Tuhannya dan agama adalah sebagai kendali untuk meninggalkan semua yang dilarang Tuhannya. Tidak akan terjadi anak dianiaya atau diperkosa dan tidak akan terjadi lagi ada anak yang meniru menjadi penganiaya dan pemerkosa jika setiap orang tua dalam keluarganya menerapkan pola asuh penuh dan lengkap sehingga menjadi anak yang dibanggakan bermanfaat bagi lingkungannya dan taat pada agamanya. d. Media Yang Digunakan : Perncanaan program penyuluhan media yang digunakan adalah dengan LEAFLET yaitu selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat suatu masalah. e. Metode Yang digunakan : Metode yang digunakan adalah Metode Individu atau Perorangan/Keluarga. f. Penjadwalan : Hari Rabu tanggal 25 Mei 2022, (pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) g. Pengorganisasian : Untuk menjalankan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial, memerlukan dukungan orang/pihak lain. Oleh karena kegiatan ini direncanakan secara bersama yang melibatkan pejabat fungsional lainnya dan pihak yang terkait lainnya. D. TAHAPAN KEGIATAN Setelah dilakukan perencanaan program penyuluhan sosial terhadap keluarga anak terlantar di daerah rawan sosial, selanjutnya adalah segera melakukan : a. Penyusunan materi program penyuluhan sosial. b. Pembagian tugas. c. Kesepakatan jadwal yang telah ditentukan, tanggal 25 Mei 2022. E. PENUTUP Laporan Perencanaan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial terhadap keluarga anak terlantar yang tidak mendapatkan kelayakan dalam pola asuh, Anak penah dianiaya dan/atau diperkosa, disusun sebagai salah satu sumber informasi teknis penyelenggaraan kegiatan. Lahat, 23 Mei 2022 (Pukul: 08.00-12.00) Penyuluh Sosial Madya, SAIFUDIN, SE. NIP. 196507141989031008


Laporan : 15 II. PENYULUHAN SOSIAL (UNSUR UTAMA) A. Persiapan (Sub Unsur) Nama : SAIFUDIN, SE. Jabatan : Penyuluh Sosial Madya Satker : Dinas Sosial Kabupaten Lahat Prov. Sumsel Butir Kegiatan : Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu dan Keluarga, di Daerah Rawan Sosial Kode : II.A.4.c.1) Angka Kredit : 0,300 Satuan Hasil : Data Bulan : Mei 2022 Topik 21 : ANAK DIPAKSA BEKERJA (TIDAK ATAS KEMAUANNYA) A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berjumlah 26. Dari 26 PMKS tersebut masing-masing memiliki krieria yang berbeda-beda. PMKS seperti Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya). Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang diterlantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya). Anak Balita Terlantar di Kabupaten Lahat berdasarkan data tahun 2021 di Dinas Sosial berjumlah 42 orang. Dari jumlah 42 tersebut disebabkan oleh karena keluarganya sangat miskin/miskin. Dalam rangka membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah penanganan masalah kesejahteraan sosial, oleh karena Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya) menjadi pilihan topik dalam merencanakan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial. Daerah rawan sosial adalah daerah itu termasuk situasi tidak kondusif, hubungan antar masyarakat kurang harmonis terjadi tekanan psikologis, daerah tersebut sulit diakses baik dari segi transportasi maupun dari segi komunikasi, masyarakat kurang menerima perubahan atau para pendatang atau nilai-nilai baru, permasalahan sosial kompleks, termasuk kategori daerah rawan bencana, terilsolir, terpencil, termasuk kategori gugus pulau, dan atau terbelakang. Di daerah rawan sosial tidak selalu ada masalah sosial anak balita terlantar, akan tetapi di daerah non rawan sosialnyapun juga bisa terjadi walapun dengan jumlah yang berbeda, akan tetapi kedua daerah adalah menjadi tempat masalah sosial yang wajib ditangani agar berubah menjadi baik atau tidak menjadi anak terlantar kembali. C. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Merencanakan Program Penyuluhan Sosial Individu & Keluarga di Daerah Rawan Sosial dalam rangka memberikan solusi melalui formula apa yang akan diberikan dalam penanganan masalah sosial anak, Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya). Melalui perencanaan program penyuluhan sosial, sangat diharapkan ada umpan balik dari semua kalangan (masyarakat), pengambil kebijakan, teman sejawat sehingga bisa lebih menjadi sebuah perencanaan penyuluhan sosial yang merupakan formula dan inovasi pencegahan terjadinya anak terlantar yang diakibatkan oleh keluarganya miskin. Sehingga program penyuluhan sosial ini menjadi semakin bermanfaat dan berkesinambungan. 2. Tujuan Rencana program penyuluhan sosial terhadap individu dan keluarga pada masalah sosial Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya), agar mayarakat mengetahui dan mengerti betapa pentingnya bahwa anak pada usia tumbuh kembang membutuhkan perhatian dan pengasuhan yang benar dan baik sehingga perlindungan dan hak anak bisa diberikan dengan maksimal.


C. PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan Berdasarkan : a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. b. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 41/HUK-PPS/2008, Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya. 2. Nama Kegiatan : Merencanakan program penyuluhan sosial dengan topik Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya). 3. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan Merencanakan program penyuluhan sosial berupa Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya) di Kabupaten Lahat dilaksanakan pada hari Senin 30 Mei 2022 pukul 08.00-12.00 wib. 4. Sasaran Kegiatan : - Para Jafung di Dinas Sosial Kabupaten Lahat; - Staf. 5. Metode : Metode yang digunakan adalah diskusi dalam rapat. 6. Deskripsi : Dalam perencanaan program penyuluhan sosial individu dan keluarga di daerah rawan sosial dapat digambarkan bahwa, Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya) yang keberadaannya membutuhkan uluran tangan dari kita yang memahami dalam kesejahteraan sosial adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang termasuk anak. Oleh karena dimanapun anak terlantar tersebut bertempat tinggal baik di daerah non rawan sosial maupun di daerah rawan sosial tanpa melihat dimana mereka berada, keterlantaran adalah wajib diberikan penanganannya. Dengan perencanaan ini akan memberikan paling tidak ada perhatian melalui pelaksanaan penyuluhan sosial, sehingga akan bermanfaat bagi yang telah terjadi sebagai anak terlantar akan terbantu melalui peran orang tua dan keluarganya dalam memberikan pengasuhan yang layak, dan perencanaan program penyuluhan sosial ini merupakan upaya pencegahan agar jumlah Anak dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya) tidak semakin bertambah dan mampu menyadarkan setiap orang tua, keluarga dan masyarakat 7. Rencana Penyuluhan Sosial : a. Waktu Pelaksanaan : Hari Selasa tanggal 31 Mei 2022, pukul 08.00-12.00 wib II.B.1.e.1) b. Sasaran Kegiatan : Keluarga, individu, kaum ibu (PKK, Kader Posyandu, Kader Pola Asuh, masyarakat) c. Materi Penyuluhan : Memaksa anak untuk bekerja yang tidak sesuai kemauannya apakah ini menjadi tranding keturunan dari orang tuanya atau ada bentuk atau sikap gengsi dan jaga imit. Tentu berbeda orang/keluarga akan berbeda yang menjadi dasar kejadian ini. Apakah dengan memaksa anak untuk bekerja itu merupakan pengasuhan dan pendidikan yang benar dan baik? Tentunya pengasuhan ada tahapannya sejak dari anak dalam kandungan hingga usia anak 18 tahun. Jika ini dipaksakan bagi anak kemana jaminan untuk melindungi anak dan hak-hak anak sesuai dengan anak yang sedang tumbuh kembang menuju dewasa. Anak berhak memperoleh pendidikan sehingga ada pengembangan terhadap pribadinya dan kecerdasan akan sesuai dengan minat dan bakatnya. Oleh karena anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari : a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik. Usia anak belum layak dan belum saatnya ikut dalam kegiatan politik apa lagi kegiatan ini paksaan dari orang tuanya. b. pelibatan dalam sengketa bersenjata. c. pelibatan dalam kerusuhan sosial. Tidak boleh membawa anak-anak dalam kerusuhan sosial usia anak tidak boleh dipertunjukan pada kerusuhan atau kekerasan ini berdampak pada psikologi anak. d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan. Unsur yang mengandung kekerasan juga sama tidak boleh diperkenalkan kepada anak.


Click to View FlipBook Version