VARIASI MODEL PEMBELAJARAN
BERBASIS DIGITAL
Nurbadriyah, M.Pd.
malik sembilanbelas
Variasi Model Pembelajaran Berbasis Digital
© Nurbadriyah
Editor: Nurbadriyah
Perancang sampul:
Penata letak: Nurbadriyah
Diterbitkan oleh:
malik sembilanbelas
Kp. Jambatan No.63 RT 02 RW 07
Kel. Sulaiman Kec. Margahayu
Kab. Bandung Prov. Jawa Barat
Surel: [email protected]
Kontak: 0852-6996-0006
Cetakan pertama,
...... halaman.; 14,8 x 21 cm
ISBN:
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit
KATA PENGANTAR
Implikasi dari Industrial Revolution 4.0 adalah Education 4.0.
Inovasi dalam dunia pendidikan di era Industrial ini dapat dilihat
sebagai sebuah respons kreatif. Dalam hal ini manusia
diharapkan dapat memanfaatkan teknologi digital, open sources
contents, dan global classroom dalam penerapan pembelajaran
sepanjang hayat (lifelong learning), flexible education system,
dan personalized learning. Sementara, sumber daya yang ada
belum mampu mendampingi era digitalisasi. Dibutuhkan upaya
yang keras untuk mengejar ketertinggalan dalam dunia
Pendidikan agar dapat sejajar dengan negara maju lainnya.
Pembelajaran tatap muka yang sekarang sedang berlangsung,
memaksa kita sebagai pendidik untuk selalu berbenah. Pendidik
bukan hanya harus mampu mentransfer ilmu, tetapi juga harus
terampil merancang model pembelajaran. Sebagai pendidik, kita
juga harus menjadi seorang yang inovatif guna menemukan
strategi atau metode yang efektif. Yang terpenting adalah setiap
proses atau produk inovatif yang dilakukan harus mengacu
kepada kebutuhan siswa. Hingga akhirnya wellbeing student
akan tercipta.
Sebagai pendidik, guru adalah model yang berhadapan dan
berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Suasana belajar sangat memengaruhi hasil
pembelajaran. Karenanya guru harus pandai mengelola kelas
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 1
terutama dalam merancang variasi model pembelajaran.
Keterampilan merancang variasi ini diperlukan guna
meningkatkan hasil belajar mengajar secara maksimal, sesuai
dengan kriteria ketuntasan pembelajaran dan standar kompetensi
lulusan di setiap satuan pendidikan.
Variasi model pembelajaran juga salah satu upaya untuk
mengakomodir tingkat kemampuan berpikir dan karakter siswa
yang beragam. Dari perbedaan itu guru harus memiliki cara jitu
agar mampu memberikan proses pembelajaran yang bermakna
dan tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai harapan.
Di era digitalisasi ini, variasi model pembelajaran pun akan lebih
efektif, menarik, dan menyenangkan jika dibarengi dengan
penguasaan teknologi. Sebagai sumber daya manusia yang
hidup di era serba otomatis, kita tak bisa tutup mata dan antipati
terhadap itu semua. Merancang model pembelajaran berbasis
digital membantu meningkatkan kualitas Pendidikan. Selain
penggunaannya yang praktis, juga dapat diakses dimana pun dan
kapan pun. Sebagai filter, peran guru dapat mengarahkan siswa
menjadi adaptif, kreatif, tidak gaptek, dan mulai berdamai
dengan perkembangan zaman. Variasi model pembelajaran
berbasis digital diharapkan dapat mencipta Sekolah berkelas
dengan lulusan yang berkualitas.
Daftar Isi
Kata Pengantar .................. Error! Bookmark not defined.
Daftar Isi .............................................................................. 1
Literasi Selamatkan Masa Depan Negeri Error! Bookmark
not defined.
Guru Anti Teknologi, Siswa Lari Tunjangan Pun Terhenti
Pemanfaatan Website sebagai Media Pembelajaran .......... 29
Pemanfaatan Google Classroom sebagai Media Pembelajara52
Pemanfaatan Whats App sebagai Media Pembelajaran ..... 75
Pemanfaatan Tellagami sebagai Media Pembelajaran....... 76
Pemanfaatan Google Drive sebagai Media Pembelajaran . 99
Pemanfaatan Quizizz sebagai Media Pembelajaran
Pemanfaatan Google Meet sebagai Kelas Virtual
Pemanfaatan Zoom sebagai Media Pembelajaran
Pemanfaatan Kinemaster sebagai Media Video Pembelajaran
Tentang Penulis................................................................ 101
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 3
DIFERENSIASI DAN SOLUSI
Dalam proses pembelajaran, masih banyak guru yang hanya
melakukan tugas sebatas mentransfer ilmu tanpa tahu
bagaimana mengemas pembelajaran menjadi menarik perhatian
siswa, sehingga banyak ditemui siswa yang kurang memiliki
motivasi untuk lebih giat belajar di sekolah. Salah satu realita
yang kita temukan pada saat pembelajaran di kelas adalah
penggunaan sumber belajar yang kurang maksimal. Mpun
pembelajaran dilakukan secara klasikal, guru lebih sering
menggunakan ceramah tanpa memperhatikan minat lain yang
dimiliki oleh siswa seperti penggunaan media (alat peraga)
untuk siswa yang visual, adanya diskusi, eksperimen,
demonstrasi, dan praktik untuk siswa yang kinestetik.
Penggunaan model yang kurang bervariasi atau inovatif, hal itu
dibuktikan dengan guru tidak mau keluar dari zona nyaman.
Tidak mau meng-upgrade diri dengan mengikuti pelatihan
peningkatan kompetensi. Ini tentu saja akan berdampak pada
proses pembelajaran yang konvensional dan terkesan tanpa ada
persiapan. Apabila tidak ada variasi dalam kegiatan
pembelajaran maka siswa akan mengalami kebosanan dan
kejenuhan karena pembelajaran yang monoton akan
mengakibatkan siswa tidak antusias dan kurang partisipatif
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kejenuhan ini akan berdampak buruk bagi daya tangkap siswa
terhadap materi yang akan disampaikan oleh guru, karena
apabila siswa sudah merasa bosan atau jenuh maka mereka
tentunya tidak akan semangat dalam menyimak pelajaran dan
cenderung akan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain
seperti ngobrol, membuat gaduh, atau tidak menutup
kemungkinan tidur. Tak ada asap jika tidak ada api. Semua yang
dilakukan siswa sebagai akibat dari suasana pembelajaran yang
tidak teroganisir.
Jika masih ada guru yang mengajar beracuan hanya pada
ketercapaian nilai ketuntasan, artinya guru masih egois dalam
melaksanakan dan mencapai tujuan pembelajaran. Ada lagi guru
yang mengukur ketuntasan belajar mengajar dari
terselesaikannya materi pelajaran yang harus disampaikan. Nah,
kalau kedua acuan pembelajaran tersebut masih diterapkan,
berhentilah bermimpi menyetarakan Pendidikan Indonesia
dengan negara maju lainnya.
Di satu sisi, guru dihadapkan pada permasalahan pembelajaran
yang klasik. Siswa tidak aktif, malas, atau kerap mengalihkan
perhatian saat guru menerangkan pelajaran. Kondisi seperti ini
sering dijumpai. Akibatnya guru mengeluhkan kondisi siswa
yang kurang responsif. Di sisi lain, siswa jenuh dengan
pembelajaran yang monoton, ceramah, ditambah lagi dengan
tumpukan tugas dari setiap guru yang harus segera diselesaikan.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 5
Saling menyalahkan tentu tidak akan memecahkan persoalan.
Dari beragam permasalahan, latar belakang, dan karakter peserta
didik, kita banyak belajar. Pembelajaran berdiferensiasi dapat
jadi solusi alternatif ketika guru terhambat masalah tersebut.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang
memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi
dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar
siswa.
Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk
pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Di
sini siswa diberi keleluasaan untuk mengembangkan konten
pelajaran sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.
Siswa juga diberikan kebebasan berkreasi dalam menggali dan
berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Konsep diferensiasi
adalah belajar menyesuaikan karakter, bakat, dan minat
individu. Guru harus multitalenta membaca kegemaran atau
kecenderungan minat dan sumber belajar dari masing-masing
siswa. Visual, audio, atau kinestetik. Jadikan keberagaman itu
menjadi suasana belajar yang kondusif, menyenangkan, dan
berkualitas.
Meski guru tak selalu tahu, tapi guru dapat melihat dan
mengamati gaya belajar, aktivitas, dan cara mereka berinteraksi
dengan lingkungan. Dari perbedaan itu guru harus mampu
memilih dan merancang model pembelajaran yang bervariasi.
Pada prinsipnya, pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang berpihak pada anak, yaitu pembelajaran yang
menyesuaikan kebutuhan, kapasitas serta gaya belajar setiap
anak yang berbeda-beda. Penentuan model pembelajaran tidak
lepas dari diferensi dengan tetap mempertimbangkan tujuan
pembelajaran. Kesinambungan model pembelajaran dengan
tujuan pembelajaran cenderung akan mempermudah dalam
penyusunan model pembelajaran secara menyeluruh. Ketika
keduanya sinkron dan penggambaran keseluruhannya sudah
jelas, penyusunan strategi dan metode pembelajaran bisa
menjadi lebih mudah.
Dalam buku ini semua uraian tentang variasi model
pembelajaran berbasis digital secara gamblang dijabarkan,
lengkap dengan video pembelajaran guru dalam mengelola
kelas. Pembaca bukan hanya membaca deskripsi penjelasan
tentang variasi model pembelajaran berbasis digital, tetapi juga
dapat melihat kegiatan nyata hasil demonstrasi guru. Para guru
mempraktikkan penggunaan variasi model pembelajaran
berbasis digital untuk kemudian disesuiakan dengan keragaman
gaya, karakter, dan kemampuan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran. Sehingga pembelajaran menyenangkan dapat
dirasakan oleh guru dan siswa. Pembentukan karakter akan
terwujud dalam dinamika kelompok yang dihadirkan selama
pembelajaran. Hingga akhirnya wellbeing student akan tercipta
sesuai dengan harapan Pendidikan Indonesia.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 7
KOOPERATIF
(CL, COOPERATIVE LEARNING)
Model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran
dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu
mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, dan
memahami materi secara mendalam.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan keadaan yang terjadi secara
nyata di lingkungan siswa. Pada konteks ini mengarahkan siswa
mengaitkan antara pengetahuan yang dimilikinya dan cara
menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan mereka,
baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembelajaran kontekstual dapat dimulai dengan sajian atau
tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait
dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling).
Sehingga manfaat dari materi yang disajikan akan terasa dan
motivasi belajar siswa muncul dengan sendirinya. Proses dalam
CTL akan menstimulus daya ingat siswa terkait peristiwa yang
dialaminya dalam kehidupan nyata. Bukan hanya itu, dunia
pikiran siswa pun menjadi konkret, sehingga suasana belajar
menjadi kondusif, nyaman, dan menyenangkan.
Pada prinsipnya, pembelajaran kontekstual akan
mengembangkan kemampuan sosial siswa. Selama
pembelajaran, mereka tidak hanya mendengarkan, menerima
materi, menonton tayangan, atau mencatat. Melainkan juga
mereka menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata sehari-
hari. Pembelajaran yang dilakukan atas dasar pengalaman
adalah sesuatu hal yang tak kan pernah mereka lupakan.
Indikator model pembelajaran kontekstual yang membedakan
dengan model pembelajaran lainnya adalah:
1. Siswa sebagai subjek belajar
2. Siswa belajar melalui kegiatan kelompok
3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata
4. Kemampuan didasarkan atas pengalaman
5. Tujuan akhir adalah kepiasan diri
6. Prilaku dibangunatas kesadaran
7. Pengetahuan yang dimiliki individu berkembang sesuai
dengan pengalaman yang dialaminya
8. Siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan
mengembangkan pembelajaran
9. Pembelajaran bisa terjadi dimana saja
10. Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dengan
berbagai cara (bukan hanya melalui tes)
Model pembelajaran CTL akan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka
sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 9
memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke
permasalahan/konteks lainnya. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan
siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari
guru ke siswa.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa
mencapai tujuannya. Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam
menyusun strategi daripada memberi informasi. Tugas guru
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk
menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari
apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola
dengan pendekatan kontekstual.
CTL sebagi suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas atau
komponen. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL
1. Konstruktivisme Adalah proses pembangunan baru dalam
struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri Adalah proses pembelajaran didasarkan pada
pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara
sistematis.
Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa langkah:
▪ Merumuskan masalah
▪ Mengajukan hipotesis
▪ Mengumpulkan data
▪ Menguji hipnotis berdasarkan data yang
ditemukan
▪ Membuat kesimpulan
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan
menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai
refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan
menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan
seseorang dalam berfikir. Dalam suatu pembelajaran yang
produktif.
kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
1) menggali informasi dan kemampuan siswa dalam
penguasaan materi pelajaran
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 11
2) membangkitkan motvasi siswa untuk belajar
3) merangsang keingintahuan siswa terhadap
sesuai
4) memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan
5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan
sesuatu
4. Komunitas Belajar (Learning Community)
Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) dalam CTL
menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui
kerjasama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat
dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok
belajar.
5. Pemodelan (Modeling)
Merupakan proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh
setiap siswa.
6. Refleksi (Reflection) Merupakan proses pengendapan
pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara
mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa
pembelajaran yang telah dilalui.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain:
1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
bermakna
dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan
mengkonstruksi
sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua
topik
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Menciptakan masyarakat belajar
5. Menghadirkan model sebagia contoh belajar
6. Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
7. Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Ciri kelas yang menggunakan pendekatan konstektual
1. Pengalaman nyata
2. Kerja sama, saling menunjang
3. Gembira, belajar dengan bergairah
4. Pembelajaran terintegrasi
5. Menggunakan berbagai sumber
6. Siswa aktif dan kritis
7. Menyenangkan, tidak membosankan
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 13
8. Sharing dengan teman
9. Guru kreatif
Kelebihan dari model pembelajaran CTL
a. Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus
sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa
terlibat aktif dalam PBM.
b. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan
data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru
dapat lebih kreatif
c. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
d. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak
ditentukan oleh guru.
e. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
f. Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
g. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun
kelompok.
Kelemahan dari model pembelajarab CTL
a. Dalam pemilihan informasi atau materi di kelas didasarkan
pada kebutuhan siswa padahal, dalam kelas itu tingkat
kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan
kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat
pencapaianya siswa tadi tidak sama
b. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama
dalam PBM
c. Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak
jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa
yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian
menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang
kemampuannya
d. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran
dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar
ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini
kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri
jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap
pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman
yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
e. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri
dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan
penggunaan model CTL ini.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 15
f. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang
memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk
mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami
kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan
ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan
intelektualnya.
g. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-
beda dan tidak merata.
h. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam
CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing,
karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri
mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan
PROBLEM BASED LEARNING
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Dalam pengimplementasian model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) ada sejumlah kegiatan yang harus
dilakukan siswa, siswa tidak hanya mendengar, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi melalui model
Problem Based Learning (PBL) siswa menjadi aktif berpikir,
berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya
membuat kesimpulan.
Aktivitas pembelajaran dalam PBL diarahkan untuk
menyelesaikan masalah. Problem based learning ini
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses
pembelajaran. Artinya tanpa masalah pembelajaran tidak akan
mungkin bisa berlangsung.
Pemecahan masalah menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu
persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya.
Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara
penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma).
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model
pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan
untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 17
otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang
kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif,
terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan
menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah:
• metakognitif
• elaborasi (analisis)
• interpretasi
• induksi
• identifikasi
• investigasi
• eksplorasi
• sintesis
• generalisasi,
• inkuiri.
Langkah-langkah model Problem Based Learning (PBL)
1. Fase 1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan
tujuan pembelajaran, menjelaskan perlengkapan penting
yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
2. Fase 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru
membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut.
PBL memiliki prinsip sebagai berikut:
Konsep Dasar (Basic Concept)
Pendefinisian Masalaah (DefiningtheProblem)
Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)
Penilaian (Assessment)
Tujuan Model Problem Based Learning
Tujuan dari pembelajaran Problem Based Learning, yaitu:
1. Untuk mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar
siswa.
2. Memiliki elemen-elemen belajar mengajar sehingga
mendorong tingkah laku pengamatan siswa dan dialog
dengan lainnya.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 19
3. Melibatkan siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang
memungkinkan mereka memahami dan menjelaskan
fenomena dunia nyata.
4. Melibatkan ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik)
pada siswa secara seimbang sehingga hasilnya bisa lebih
lama diingat oleh siswa.
5. Dapat membangun optimisme siswa bahwa masalah
adalah sesuatu yang menarik untuk dipecahkan bukan
suatu yang harus dihindari.
Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)
Kelebihan dari model Problem Based Learning ini, yaitu:
1. Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab
mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.
2. Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan
menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.
3. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang
dimiliki oleh siswa sehingga pembelajaran lebih
bermakna.
4. Siswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab
masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan
dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan
motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang
dipelajari.
5. Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu
memberi aspirasi dan menerima pendapat dari orang
lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara
siswa.
6. Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang
saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya
sehingga pencapaian ketuntasan siswa dapat diharapkan.
Selain itu, Problem Based Learning (PBL) diyakini pula
dapat menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas
siswa, baik secara individual maupun secara
berkelompok.
Kekurangan model Problem Based Learning (PBL)
Selain memiliki kelebihan, Problem Based Learning (PBL) juga
memiliki kekurangan diantaranya persiapan pembelajaran (alat,
problem, dan konsep) yang kompleks, sulitnya mencari
permasalahan yang relevan, sering terjadi mis konsepsi, dan
memerlukan waktu yang cukup Panjang.
Model pembelajaran ini mengajarkan pada siswa cara
memecahkan masalah dan memerlukan pengetahuan baru yang
harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang ada.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 21
PAIKEM
Sebuah model pembelajaran terpadu yang sangat trend di era 90-
an ini memfokuskan diri pada pelaksanaan KBM yang aktif,
inovatif dan menyenangan. PAIKEM Sesuai dengan
kepanjangannya: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan.
Pembelajaran
Proses bertemunya antara guru dan siswa, siswa dan siswa,
untuk menambah ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup di masa
depan.
Aktif
Dalam hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran
guru harus menciptakan suasana yang asyik dan menarik,
sehingga siswa aktif untuk bertanya, mempertanyakan dan
mengemukakan pendapatnya. Dalam prosess belajar tersebut,
siswa harus aktif membangun pengetahuannya.
Inovatif
Yang dimaksud ialah dalam proses pembelajaran diharapkan
muncul ide-ide, gagasan atau inovasi baru yang positif dan lebih
baik.
Kreatif
Dalam setiap proses pembelajaran, guru harus mampu
menciptakan kegiatan yang bergam, tidak monoton serta mampu
membuat alat bantu atau media belajar yang sederhana yang
dapat memudahkan pemahaman siswa.
Efektif
Yakni selama proses pembelajaran berlangsung dalam
mewujudkan ketercapaian tujuan pembelajaran, siswa dapat
menguasai kompetensi serta keterampilan yang diharapkan.
Menyenangkan
Suasana belajar mengajar yang nyaman dan menyenangkan.
Siswa selaku subjek belajar tidak merasa takut, canggung dan
tertekan serta berani untuk mencoba.
Inti dari PAIKEM ini adalah menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai. Kini, konsep
PAIKEM diterapkan pada model-model pembelajaran lainnya,
seperti jigsaw, gallery walk, card sort, dll.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 23
PROBLEM POSING
Problem Posing adalah salah satu model pembelajaran yang
unik. Di sini siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah
suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana
sehingga mengacu pada penyelesaian soal.
Problem posing sangat tepat digunakan dalam berlatih soal atau
latihan soal menjelang ujian sekolah. Problem posing di
dalamnya terdapat aktivitas pemecahan masalah melalui
elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-
bagian yang lebih simpel sehingga mudah dipahami.
Beda dengan model-model pembelajaran yang lain, Problem
posing menjadikan siswa belajar mandiri melalui pengajuan soal
dan pengerjaan soal tanpa bantuan guru.
Alurnya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi
kekeliruan, cari alternatif, menyusun soal-pertanyaan
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Problem Posing dapat
dipraktikkan melalui dua cara, secara individu dan kelompok.
Cara pertama
1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa.
2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
3. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 soal yang menantang
beserta penyelesaiannya.
4. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru meminta siswa
untuk menyajikan soal dan penyelesaiannnya di depan kelas.
Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif
untuk mengerjakan soal dari temannya.
5. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
Berdasarkan uraian di atas, langkah-langkah pembelajaran
matematika dengan model problem posing yang digunakan
dalam penelitian ini dapat dijabarkan dalam tabel di bawah
ini.
Cara kedua
1. Menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran serta model
pembe- lajaran yang akan digunakan. Memperhatikan dan
memahami penjelasan guru.
2. Menyampaikan materi pelajaran. Memperhatikan penjelasan
guru dan terlibat aktif dalam pembelajaran.
3. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok heterogen yang
masing- masing beranggotakan 4-5 orang. Menempatkan diri
pada kelompok masig-masing.
4. Memberikan latihan soal secukup- nya yang dikerjakan
secara ber- kelompok. Berdiskusi untuk mengerjakan soal
yang diberikan oleh guru secara berkelompok.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 25
5. Memberikan kesempatan kepada beberapa kelompok secara
selektif untuk mengerjakan soal di depan kelas. Perwakilan
kelompok mengerjakan soal di depan kelas dan siswa lain
memperhatikan.
6. Memberikan contoh cara membuat soal. Memperhatikan
contoh soal yang diberikan guru.
7. Memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok
untuk menyusun soal yang menantang beserta
penyelesaiaannya dari situasi yang diberikan. Menyusun soal
beserta penyele- saiaannya dari situasi yang diberikan
8. Memberi kesempatan kepada perwa- kilan kelompok untuk
mempresen- tasikan soal beserta penyelesaiannya yang telah
dibuat di depan kelas. Perwakilan kelompok mempresen-
tasikan hasil kerjanya di depan kelas dan siswa lain
memperhatikan.
9. Memberi kesempatan kepada kelompok menanggapi hasil
presentasi kelompok lain untuk menanggapi hasil presentasi.
kelompok lain.
10. Mengajak siswa membuat kesim- pulan tentang materi yang
telah dipelajari. Menarik kesimpulan tentang materi yang
telah dipelajari.
EVERYONE IS TEACHER
Model pembelajaran yang satu ini lebih mengarah pada strategi
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi
pembelajaran everyone is a teacher here yaitu:
1. Pembelajaran berpusat pada siswa
2. Siswa menemukan bukan menerima pembelajaran
3. Sangat menyenangkan dan mengoptimalkan potensi siswa.
Everyone is a teacher here memberikan kesempatan kepada
siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya, yang
dimaksud disini sebagai pengajar siswa akan diminta oleh guru
untuk membuat pertanyaan pada sebuah kertas kemudian kertas
ditukar kepada temannya, kemudian temannya akan menjawab
pertanyaan dalam kertas tersebut.
Langkah-langkah penerapannya sebagai berikut:
• Bagikan kertas, mintalah siswa untuk menuliskan
pertanyaannya tentang materi yang dipelajari.
• Kumpulkan kertas tersebut, dikocok dan dibagikan kembali
secara acak kepada masing-masing siswa dan usahakan
pertanyaan tidak kembali kepada yang menulisnya.
• Undang salah satu dari mereka untuk membacakan
pertanyaan dan jawabannya, kemudian mintalah kepada
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 27
teman sekelasnya untuk berkomentar dan melengkapi
jawabannya.
• Kembangkan diskusi secara lebih lanjut dengan cara siswa
bergantian membacakan pertanyaan di tangan masing-
masing sesuai waktu yang tersedia.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak lanjut.
manfaat penerapan strategi pembelajaran aktif everyone is a
teacher here adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan partisipasi kelas baik keseluruhan dan
individu
2. Mengaktifkan peserta didik.
3. Membangkitkan respon siswa.
Kelebihan dan Kelemahan Strategi Everyone Is A Teacher Here
1. Materi dapat diingat lebih lama.
2. Mendukung dan meningkatkan proses pembelajaran.
3. Dapat mengetahui mana siswa yang belajar dan tidak
belajar.
Terdapat Kelemahan-kelemahan pada penerapan strategi
pembelajaran everyone is a teacher here dalam meliputi yaitu:
1. Pertanyaan yang diajukan siswa tidak sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan
semua pertayaan untuk kelas besar.
3. Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan
Terdapat Kelemahan-kelemahan pada penerapan strategi
pembelajaran everyone is a teacher here dalam meliputi yaitu:
1. Pertanyaan yang diajukan siswa tidak sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan
semua pertayaan untuk kelas besar.
3. Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan
Namun kelemahan tersebut bukanlah masalah yang berarti
dalam penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher
here sebab permasalahan tersebut dapat diatasi melalui:
1. Untuk pertanyaan yang tidak sesuai dengan tujuan
pembelajaran maka guru perlu memberikan penjelasan
materi di awal agar soal yang dibuat siswa tidak
menyimpang dari tujuan pembelajaran.
2. Untuk kelas besar, maka guru dapat membentuknya jadi
beberapa kelompok disesuaikan dengan jumlah siswa
dalam kelas tersebut. sehingga dalam menjawab
pertanyaan guru dapat melalui perwakilan kelompok
yang ditunjuk guru, namun setiap siswa tetap
bertanggung jawab dalam membuat soal.
3. Siswa diperbolehkan mendiskusikan jawaban bersama
kelompoknya.
Melalui penerapan strategi ini siswa akan lebih mudah
menguasai materi pembelajaran yang disampaikan. Karena
dalam strategi ini, siswa bertindak sebagai sumber informasi,
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 29
pengolah informasi dan pemberi saran. Dengan kata lain melalui
penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher
here mampu yaitu:
1. Melatih siswa berpikir kritis melalui kegiatan membuat
pertanyaan
2. Berani mengemukakan pendapat kegiatan menambah
jawaban teman.
3. Dan juga mampu menumbuhkan karakter siswa untuk
bertanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai seorang
pelajar.
Dengan bermain peran, siswa sebagai guru untuk siswa lainnya,
menjadikan siswa belajar dengan aktif, siswa membuat satu
pertanyaan pada kartu soal terkait materi yang baru saja dibahas
siswa bersama guru. Disinilah terjadi tanya jawab antara
pembuat pertanyaan dengan siswa yang bertugas menjawab
pertanyaan, kemudian dilakukan secara bergilir dengan arahan
guru.
THE POWER OF TWO AND FOUR
The Power of Two and Four (Menggabung 2 dan 4 kekuatan)
adalah model active learning yang kegiatannya untuk
meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan
dari keuntungan sinergi itu, karenanya dua kepala lebih baik dari
pada satu. Implementasi model the power of two terdapat
prosedur untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
• Berikan permasalahan yang berkaitan dengan materi,
mintalah kepada siswa untuk mengerjakan secara
perorangan.
• Siswa diminta berpasangan-pasangan untuk
mendiskusikan jawabannya kembali, dan sepakati
bersama hasilnya yang baru.
• Siswa diminta bergabung setiap dua pasang menjadi satu
kelompok, diskusikan kembali dan sepakati bersama
hasilnya yang baru.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak
lanjut.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 31
INDEX CARD MATCH
Index Card Match (Mencari pasangan kartu yang sesuai)
Model pembelajaran aktif tipe index card match (ICM) adalah
metode atau cara belajar siswa yang dikembangkan untuk
menjadikan siswa aktif mempertanyakan gagasan diri sendiri
atau gagasan orang lain dengan cara mengulangi materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya melalui teknik
mencari pasangan kartu yang merupakan soal atau jawaban.
Ini merupakan model pembelajaran berkelompok (Learning
Community) dengan tujuan untuk membangkitkan semangat
siswa dengan mengikutsertakan peserta didik ikut berpartisipasi
dalam proses pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif tipe index card match
berhubungan dengan cara–cara untuk mengingat kembali materi
yang sudah diajarkan sebelumnya, menguji pengetahuan serta
kemampuan mereka saat ini dengan teknik mencari pasangan
kartu yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar
mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana
menyenangkan.
Beberapa aktivitas belajar siswa pada model pembelajaran aktif
tipe index card match seperti, bertanya, menjawab pertanyaan,
memperhatikan, mendengarkan uraian, bergerak mencari
pasangan kartu, memecahkan soal dan bersemangat yang akan
dilakukan oleh siswa. Konsep bermain sambil belajar yang
terdapat dalam metode ini membuat pembelajaran tidak
membosankan.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam model pembelajaran aktif
tipe index card match adalah sebagai berikut:
1. Memahami sifat peserta didik. Pada dasarnya peserta didik
memiliki sifat rasa ingin tahu atau berimajinasi. Kedua sifat
ini merupakan dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir
krisis dan kreatif. Untuk itu kegiatan pembelajaran harus
dirancang menjadi lahan yang subur bagi berkembangan
kedua sifat tersebut.
2. Mengenal peserta didik secara perorangan. Peserta didik
berasal dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda.
Perbedaan individu harus diperhatikan dan garis tercermin
dalam pembelajaran. Semua peserta didik dalam kelas tidak
harus selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan
berbeda dengan kecepatan belajarnya. Peserta didik yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk
membantu temannya yang lemah (tutor sebaya).
3. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam berorganisasi
belajar. Peserta didik selain alami bermain secara
berpasangan atau kelompok. Perilaku yang demikian dapat
dimanfaatkan oleh guru dalam pengorganisasian kelas.
Dengan berkelompok akan mempermudah mereka untuk
berinteraksi atau bertukar pikiran.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif
mampu memecahkan masalah. Pada dasarnya hidup adalah
memecahkan masalah, untuk itu peserta didik perlu dibekali
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 33
kemampuan berpikir kritis dan kreatif untuk menganalisis
masalah, dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan
masalah, dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan
masalah. Jenis pemikiran tersebut sudah ada sejak lahir, guru
diharapkan dapat mengembangkannya.
5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang
menarik. Ruangan kelas yang menarik sangat disarankan
dalam index card match. Hasil pekerjaan peserta didik
sebaiknya dipajang di dalam kelas, karena dapat memotivasi
peserta didik untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan
inspirasi bagai peserta didik yang lain. Selain itu pajangan
dapat juga dijadikan bahan ketika membahas materi pelajaran
yang lain.
6. Memanfaatkan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar
yang menarik. Ruangan kelas yang menarik sangat
disarankan dalam kelas, karena dapat memotivasi peserta
didik untuk bekerja lebih dan menimbulkan inspirasi bagi
peserta didik yang lain.
7. Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar.
Lingkungan (fisik, sosial, budaya) merupakan sumber yang
sangat kaya untuk bahan belajar peserta didik. Lingkungan
dapat berfungsi sebagai media belajar serta objek belajar
peserta didik.
8. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan
kegiatan. Pemberian umpan balik dari guru kepada peserta
didik merupakan suatu interaksi antar guru dengan peserta
didik. Umpan balik hendaknya lebih mengungkapkan
kekuatan dan kelebihan peserta didik dari pada
kelemahannya. Umpan balik juga harus dilakukan secara
santun dan elegan sehingga tidak meremehkan dan
menurunkan motivasi.
9. Membedakan antara aktif-fisik dengan aktif mental. Dalam
pembelajaran index card match, aktif secara mental lebih
diinginkan dari pada aktif fisik. Karena itu, aktivitas sering
bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain,
mengemukakan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental
Langkah-langkah penerapannya sebagai berikut:
• Buatlah pertanyaan terkait materi dan jawaban pada potongan
kertas sejumlah siswa yang ada di dalam kelas.
• Kocoklah semua kertas tersebut sehingga akan tercampur
antara soal dan jawaban dan bagikan kepada setiap siswa satu
kertas.
• Mintalah peserta untuk berdiri dan membaca kertas yang
dibawahnya (boleh pertanyaan atau jawaban).
• Mintalah yang menjadi pasangan untuk berdiri membacanya.
Demikian seterusnya.
• Akhiri proses ini dengan klarifikasi dan kesimpulan serta
tindak lanjut.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 35
JIGSAW
Model pembelajaran jigsaw adalah pembelajaran yang
memfokuskan siswa pada grup belajar bersama untuk
berkolaborasi menyelesaikan masalah dalam wadah grup kecil.
Pembelajaran jigsaw dirancang untuk menciptakan dan
menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa pada suatu mata
pelajaran yang ditugaskannya.
Model pembelajaran ini bertujuan agar siswa bisa saling
bergantung satu sama lain untuk meraih tujuan atau
keberhasilan. Jigsaw juga merupakan salah satu model
pembelajaran kooperatif yang menghasilkan responsibilitas
individu dan fokus pencapaian tujuan tim.
Langkah-langkah penerapannya sebagai berikut:
• Pilih materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi
beberapa sub bab (bagian).
• Bagilah peserta menjadi beberapa kelompok sesuai
dengan sub bab yang ada.
• Setiap kelompok mendapat tugas membaca, memahami
dan mendiskusikan serta membuat ringkasan materi
pembelajaran yang berbeda sesuai jatah sub babnya.
• Setiap kelompok mendelegasikan salah satu anggotanya
ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah
mereka pelajari di kelompoknya.
• Kembalikan suasana kelas seperti semula, kemudian
tanyakan jika ada persoalan-persoalan yang tidak
terselesaikan atau terpecahkan dalam kelompok.
• Berilah siswa pertanyaan untuk mengecek pemahaman
mereka terhadap materi yang dipelajari.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak
lanjut.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 37
PEMANFAATAN WEBSITE
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Sahabat literasi Indonesia, teknologi memudahkan kita sebagai
pendidik untuk mengelola administrasi mengajar dan proses
belajar mengajar semakin mudah dan modern. Terlebih lagi
selama pandemic, bukan berarti pendidik kesulitan
menyampaikan materi pelajaran yang seharusnya diterima
peserta didik secara lengkap tanpa terkendala ruang, waktu, dan
kondisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Website dapat kita jadikan salah satu alternatif media
penghubung antara pendidik dan peserta didik dalam
mentransfer ilmu pengetahuan. Selain itu keefektifan waktu
belajar pun dapat terealisasi. Peserta didik dapat membaca
website yang telah disiapkan. Pendidik akan merangkum mater
pelajaran dan dilengkapi dengan soal latihan sesuai kondisi dan
kebutuhan peserta didiknya.
Berikut langkah-langkah membuat Website dengan Google
Sites.
1. Akses Google Sites
Siapkan dulu pengembangan diri akun Google agar dapat
menggunakan Google Sites. Jika sudah punya, segera saja akses
Google Sites dan log in dengan akun kita.
2. Buat Draft Website
Setelah masuk ke Dashboard Google Sites, Kita akan
menemukan beberapa pilihan template di bagian atas halaman.
Dengan adanya template yang siap pakai, Kita dapat
mendapatkan desain secara instan.
Jika Kita ingin membuat desain website yang unik juga bias.
Caranya, dengan memilih opsi Blank untuk memulai draft
website Kita, seperti ditunjukkan di bawah ini:
3. Halaman Editor Google Sites
Setelah mengklik opsi Blank tadi, akan tampil halaman editor
Google Sites. Tampilannya seperti ini:
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 39
Pada gambar tersebut, Google Sites memiliki editor yang cukup
mudah diterapkan. Namun, mari pelajari dulu bagian-bagian di
halaman ini.
Halaman editor Google Sites ada tiga bagian:
Tengah
Atas
Kanan
Bagian Tengah
Bagian tengah di halaman editor Google Sites ini
menunjukkan preview website Kita. Hasil semua kustomisasi
yang dilakukan akan terlihat di bagian ini.
Bagian Atas
Di bagian atas, Kita dapat menemukan beberapa tombol, yaitu:
Undo — Membatalkan perubahan yang dilakukan.
Redo — Menggunakan kembali perubahan yang baru saja
dilakukan.
Preview — Melihat versi live website Kita.
Copy website link — Mengkopi link draft website Anda untuk
diberikan ke orang lain.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 41
Share with other people — Berfungsi untuk menunjukkan draft
website atau mengajak orang lain berkolaborasi di draft website
yang dikerjakan.
Setting — Berisi beberapa pengaturan terkait desain website. Di
sini Kita juga dapat menghubungkan website dengan
akun Google Analytics.
More — Menu untuk menampilkan fungsi tambahan.
Contohnya, version history untuk melihat catatan perubahan
draft dan duplicate site untuk menggandakan draft website yang
sedang dibuat.
Publish — Tombol untuk mempublikasikan website setelah
draft selesai dibuat.
Bagian Kanan
Pada bagian kanan, terdapat berbagai menu untuk melakukan
kustomisasi website tiga kategori utama yang ditampilkan
yaitu: Insert, Pages, dan Themes.
Tab Insert berisi jenis-jenis konten yang dapat Kita masukkan
ke halaman website. Misalnya, teks, gambar, tombol, divider,
dan daftar isi. Selain itu, Kita juga dapat menyisipkan widget
kalender, Google Maps, Youtube, dan dokumen-
dokumen Google Docs.
Tidak hanya itu, ada enam pilihan layout section yang dapat
Kita pilih di tab ini sesuai kebutuhan website Kita.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 43
Fungsi tab Pages cukup jelas, yaitu menampilkan berapa
banyak halaman website yang Kita miliki beserta strukturnya. Di
tab ini juga Kita dapat menambahkan halaman ke website.
Tab terakhir adalah Themes yang memungkinkan Kita untuk
memilih tema dari website yang Kita buat. Sebuah tema meliputi
font tulisan, aksen warna website, dan pilihan latar belakang
untuk bagian banner.
Google Sites menawarkan enam pilihan tema untuk membuat
sebuah website yang menarik dan unik.
Meskipun sudah menentukan satu tema, Kita masih bisa
menentukan ukuran font dan latar belakang yang digunakan.
Cukup klik saja elemen yang digunakan.
4. Membuat Desain Website
Setelah mengenal bagian-bagian di editor Google Sites,
Sekarang, kita mencoba membuat desain website.
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 45
Pertama akan kita mulai dengan langkah-langkah membuat
homepage atau halaman utama website. Klik teks judul di
header dan ganti dengan nama website Kita.
Kemudian, klik Text Box di tab Insert untuk memasukkan
kolom teks di bawah header. Kita dapat mengisinya dengan
deskripsi singkat tentang tujuan website yang Kita buat.
Ketika kolom teks diklik, Kita dapat mengubah format teks agar
sesuai tampilan yang diinginkan. Opsi formatting yang
ditawarkan mirip dengan yang ada di Microsoft Word atau
Google Docs, termasuk adanya pilihan bold, italic, numbering,
dan bullets.
Selanjutnya,Kita bisa mulai membuat draft halaman website
tersebut. Caranya, klik dan tarik template layout dari tab Insert.
Di dalam template ini, Kita juga dapat menyisipkan gambar dan
teks.
Jika ada elemen yang tidak dibutuhkan atau kurang sesuai, Kita
dapat menghapusnya dengan mudah. Caranya, letakkan kursor
VARIASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL| 47
di atasnya. Lalu, klik ikon tempat sampah di sebelah kiri elemen
tersebut.
Jika letak sebuah elemen tidak sesuai keinginan, cukup geser
saja sesuai lokasi yang Kita kehendaki. Jadi, kita dapat
menyimpan sebelum dihapus.
Caranya, letakkan kursor di atas elemen dan klik ikon titik-titik
yang ada di sebelah kanan ikon tempat sampah tadi. Tahan
tombol mouse Kita ketika memindahkan elemen tersebut.
5. Memublikasikan Website