Aku tetap Mengelak tidak mau kalah "Aku mau sepeda hari ini juga pak,aku
pengen seperti teman temanku" ujarku keras.
Akhirnya setelah mengeras kepada bapak
Selang beberapa hari aku dibelikan sepeda dan aku sangat senang.
Ketika umurku 7 tahun, berbarengan dengan teman", saya masuk sekolah dasar di
SDN BEBUAK. Seperti anak" Lainnya ketika masuk sekolah dasar pastinya
menangis, keadaan tersebut merupakan suatu hal yg wajar,di karenakan kita sudah
tidak ditunggu lagi seperti waktu masih TK.
Tapi dengan saya sangat beruntung sekali ketika baru masuk sekolah saya
bertemu dengan ibu guru yg mengerti dengan keadaan saya, yg semulanya
ditunggu akhirnya tidak ditunggu lagi.
Ketika naik kls 3 saya mendapatkan hal baru yakni menghafal perkalian. Pada
saat itu saya disuruh bu guru untuk menghafal perkalian 1-10, karena baru
mendapatkan pelajaran baru tentunya saya semangat banget mempelajarinya.
Ketika sudah tiba hari dimana aku maju untuk menghafal perkalian, awalnya sih
lancar perkalian 1 2 3 4 5 6 tapi ketika perkalian 7 saya kebingungan karena saya
lupa lanjutannya kemana sampai di suruh ulangi lagi, berkali-kali aku coba ulangi
tapi tetap saja tidak bisa sampai akhirnya disuruh berdiri di depan, sama halnya
dengan anak-anak yg lain yg gak bisa menghapal perkalian dihukum juga buat
berdiri di depan.
SERBA SERBI NOVEL SEJARAH DALAM BALUTAN
BINGKAI KELAS XI IPA-1
Diniarti Dachlan
—-------------------------------------------------------------------------------------
INI YANG TERBAIK
Oleh, Kelompok 7 : Indah, cempaka, naora, Yuda
Hai aku Indah sulastri, satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Aku lahir
pada tanggal 6 Oktober 2004. Indah kecil yang lucu dibesarkan dengan penuh
kasih sayang. Ibuku menyusuiku selama 2 tahun dan karna keadaan ekonomi
keluarga ia harus membantu mencari nafkah untukku dengan berjualan di pasar
sementara ayahku menjadi TKI di Malaysia, bahkan saat aku lahir-pun ayahku
tidak ada di samping ibuku, sungguh perempuan yang kuat nan tangguh.Begitu
juga dengan ayahku,ia rela hidup jauh untuk menafkahi keluarganya. Selama
ibuku pergi ke pasar aku berada dalam pengasuhan kakek dan nenekku, mereka
yang merawatku dan menjagaku dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua
menggantikan peran kedua orang tuaku dengan sangat baik hingga aku sedikitpun
tidak merasa kekurangan kasih sayang.
Ketika usiaku menginjak 5 tahun aku bersekolah di Taman kanak-kanak yang
tidak jauh dari rumahku, setiap pagi sebelum ibuku pergi ke pasar untuk
berjualan,ia mengantarku ke sekolah terlebih dahulu. Hal yang paling ku ingat
ketika aku bersekolah di TK adalah, kaos kaki bermotif bunga dan sepatu pink
kesukaanku yang selalu ku kenakan menambah semangatku untuk bersekolah.
2 tahun kemudian, aku menginjak pendidikan yang lebih tinggi. Yaitu Sekolah
Dasar. Setelah masuk Sekolah Dasar aku tidak lagi diantar oleh ibuku, aku
berangkat sekolah dengan teman-teman, disana aku mengenal banyak teman baru,
aku tidak tahu pasti bagaimana prosesnya tapi aku merasa bisa langsung akrab
dengan teman yang baru ku kenal dan bermain dengan mereka. Hal yang paling
konyol saat di sekolah dasar adalah ketika membuat grup bermain sendiri dan
memisahkan diri dari teman yang lain, kalau sekarang sih namanya circle circle
an. Aku kebanyakan bermain dengan teman yang rumahnya tidak jauh dari
rumahku, kita tidak hanya main bareng tapi kita juga menghafal beberapa lagu
girlband beserta dance-nya, tanpa merasa malu kami akan menampilkannya di
depan kelas saat jam istirahat, hahaha mengingatnya saja membuatku merasa
sangat malu. Anak SD mana tahu malu, yang dipikirkan hanyalah bagaimana
bersenang senang dengan teman. Tugas? kalau itu sih tidak usah dipikirkan,
ibuku tidak membiarkanku pergi bermain tanpa mengerjakan tugas terlebih
dahulu. Oleh sebab itu aku selalu rajin mengerjakan tugas supaya waktu
bermainku tidak terganggu.
Ternyata anak SD juga tidak luput dari masalah. Tapi bukan masalah
percintaan, melainkan masalah pertemanan. Itu karena aku dan teman temanku
tidak bermain dengan teman yang lain. Mereka bilang kami sombong, padahal
kenyataannya tidak seperti itu. Entahlah, pikiran anak SD masih terlalu dangkal
pada saat itu, hanya bermain dan berteman dengan anak yang menurutnya
memang sudah lama dikenal. Tapi bukan berarti aku tidak mau berteman dengan
orang baru, aku hanya merasa mereka terlalu kalem untuk aku yang aktif jadi aku
lebih memilih teman yang memang sefrekuensi denganku. Tapi karena hal itulah
aku malah bermasalah dengan teman yang lain. Huh jadikan pelajaran saja untuk
kedepannya tidak memilih milih teman bermain lagi, karena pada dasarnya setiap
orang BERBEDA.
Terlepas dari kehidupan sekolahku, saat aku baru saja naik kelas 3 SD, ayahku
yang sudah bertahun tahun bekerja di luar negri akhirnya pulang. Rasanya sangat
canggung karena aku tidak terbiasa bersama ayahku,namun itu tidak berlangsung
lama, karena ayahku sering mengajakku ke pasar setiap hari minggu dan
membelikan bakso untukku dia juga berusaha untuk selalu memenuhi
keinginanku, jadi aku mulai terbiasa dan menjadi semakin dekat dengannya.
Waktu terasa begitu cepat berlalu akhirnya aku naik ke kelas 5, Setelah naik
ke kelas 5 kami berhenti saling bertengkar, seketika kami menjadi akrab dan
kompak. semakin lama, pertemanan kami semakin dekat, begitu seterusnya
hingga kami kelas 6. Kami sering bermain bersama, bolos pelajaran bersama dan
pergi jalan-jalan ke sawah atau kebun orang untuk mencari buah-buahan atau
sekedar duduk santai di pematang sawah. Disekolah, kami tidak hanya diajarkan
materi materi pelajaran yang memusingkan. Ibu guru mengajak kami untuk
melakukan kegiatan yang mengasyikkan. Seperti membuat bolu contohnya , saat
hari guru hampir tiba aku dan teman sekelasku berinisiatif untuk membuat bolu
yang sama seperti yang telah diajarkan lalu memberikannya kepada guru kami di
sekolah.Tak disangka semua teman sekelasku setuju, kami mulai mengumpulkan
uang iuran dari masing masing murid. Jumlah uang yang terkumpul lumayan
banyak sehingga kami berhasil membuat 2 kue bolu, tentu saja dalam pengawasan
orang dewasa. Hari guru pun tiba, kue bolu yang sudah kami buat kami berikan
kepada wali kelas kami, pak Zain. Masih teringat jelas wajah senang dan terkejut
pak Zain, kue bolu itu kami nikmati bersama sama. Terukir senyum dan tawa
lepas dari semua orang pada waktu itu.
Dulu kami dikenal nakal karena tingkah kami yang selalu di luar nalar, merasa
menjadi penguasa sekolah ya namanya juga kakak kelas tidak lepas dari
senioritas. Saat pulang sekolah jam 12 siang aku biasanya langsung makan dan
sholat lalu tidur siang. Teman-temanku bilang aku manja, yang selalu tidur siang.
Karena biasanya di waktu siang teman-temanku bermain bersama. Padahal itu
sudah menjadi kebiasaan yang diajarkan orang tuaku. Selain tidur siang, aku
mengerjakan pekerjaan yang lain seperti menghidangkan makanan untuk ibuku
yang baru pulang setelah berjualan di pasar. Aku merasa kasihan ketika
melihatnya pulang dalam keadaan lelah dan letih. Setelah ibuku selesai makan,
aku akan membereskan nya kembali.
Suatu hari seperti biasa aku pergi sekolah, saat sampai di sekolah hingga
hampir pulang aku merasa sangat senang,lebih senang dari hari hari sebelumnya,
padahal kata orang tua zaman dulu, “terlalu senang akan mendatangkan musibah
“. Nah karena aku tidak mengindahkan hal itu aku bersenang-senang dengan
temanku, hingga perjalanan pulang sekolah pun aku masih bercanda dan tertawa
dengan mereka, tanpa memikirkan suatu hal buruk yang akan menimpaku .
Sesampainya di rumah aku mendapati ibuku terbaring lemas di kamar dengan
ayahku mendampingi di sampingnya, aku panik dan langsung menghampirinya
"ibu kenapa? " Tanyaku, ayah memberitahu kalau ibuku sakit karena sedang
datang bulan itu memang wajar terjadi pada perempuan ujar ayahku. Melihat
ibuku sakit aku jadi merasa takut untuk datang bulan, ku pikir aku juga akan
merasakan sakit yang sama. Aku tidak bisa membantu apapun untuk meredakan
sakit ibuku jadi aku hanya duduk di sampingnya hingga dia merasa baikan dan
tertidur dan aku ikut tidur di sampingnya.
Tahun ajaran 2017-2018 setelah aku lulus dari SD, aku melanjutkan
pendidikanku di sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Sekolah
yang berada di desa Jelojok yang memang masih satu kecamatan dengan
rumahku , yaitu SMPN 1 kopang. Bagiku SMPN 1 kopang dulu sangat keren
hingga aku mau bersekolah di sana. Saat masuk sekolah di sana aku bertemu
dengan teman-teman baru dan untuk beradaptasi di sana itu sangat sulit
menurutku. Wajah-wajah baru yang ku temui terlihat asing bagiku, bahkan aku
tidak berani menatap teman sekelasku, untung saja aku sekelas dengan Dina,
temanku dari rumah yang memang sudah lama ku kenal. Dikelas, aku hanya
berbicara dengan Dina, karena aku masih malu untuk menyapa teman yang lain.
Hingga beberapa hari berlalu, aku sudah mulai mengenal teman sekelas satu
persatu. Sebut saja Cempaka, perempuan yang ku perhatikan selalu terlihat tidak
bersahabat, wajahnya selalu jutek dan cuek. Sampai aku ragu untuk berteman
dengannya, karena dia juga tidak pernah menyapaku. Pikirku dia sombong, tak
ingin berteman dengan orang sepertiku.
Yuda, seseorang yang kuingat pernah menolongku saat aku hampir tersesat
karena tidak tahu dimana kelasku berada .Saat itu ketika sedang pembagian kelas
aku terlambat mengambil tas hingga aku tidak tahu di kelas mana aku di
tempatkan, kemudian seorang lelaki yang juga merupakan siswa baru sepertiku
datang menyapaku "kamu di kelas apa?" terlihat dari penampilannya, dia orang
baik jadi aku jawab saja " kelas 7A tapi aku gak tau yang mana", ucapku. " Oh
aku juga di kelas 7A bareng aja yuk" ucap lelaki tersebut yang kini kukenal
bernama Yuda. Huh aku langsung menyetujuinya dan merasa lega, untung saja
ada Yuda jadi aku tidak salah masuk kelas.
Seminggu berlalu dengan perkenalan antara siswa dan guru,kami disuruh maju
satu per satu dan memperkenalkan diri, aku merasa sangat takut,canggung,panik
semuanya bercampur dalam pikiranku. Terlebih lagi saat pelajaran bahasa Inggris,
kami diharuskan untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa
Inggris, aku panik karena untuk pertama kalinya aku belajar bahasa Inggris, di SD
tidak ada pelajaran bahasa Inggris, tapi untungnya guru yang mengajarkan
bahasa Inggris itu mau mengajariku cara pengucapan bahasa Inggris yang benar,
ya itu seharusnya bukan menjadi sesuatu yang ditakutkan.
Tanggal 15 Oktober merupakan hari jadi Lombok Tengah. Untuk
memperingatinya, semua sekolah di Lombok Tengah mengadakan upacara
bendera tidak terkecuali SMPN 1 KOPANG. Kami dihimbau untuk menggunakan
pakaian adat sasak, Lambung untuk perempuan dan Tampet untuk laki laki.
Upacara berlangsung dengan khidmat, hingga upacara selesai kami langsung
dipulangkan. Karena aku merasa hari itu masih sangat pagi, jadi aku mengajak
teman-temanku yang se alumni SD denganku untuk berkunjung ke SD untuk
sekedar bersalaman dengan guru-guru kami di sana, teman-temanku setuju dengan
usulku dan kami langsung berangkat ke sana, setelah sampai di SD aku langsung
teringat akan kenangan semasa aku sekolah di sini, aku tersenyum sejenak
memperhatikan setiap sudut sekolah yang dulunya merupakan tempat bermainku.
Aku kemudian pergi ke ruang guru untuk bersalaman dengan semua guru di sana.
Setelah bersalaman dan saling menyapa dengan semua guru, kami menyempatkan
diri untuk berkunjung ke kantin tempat kami belanja dulu. Sesampainya di sana
aku terkejut karena disana sudah duduk dengan manis teman temanku yang sudah
lama tidak aku temui. Disana ada Mila, Gita, Mela, dan Alpa, sejak lulus dari SD
aku tidak pernah berjumpa dengan mereka karena mereka melanjutkan sekolah di
tempat yang berbeda denganku, yaitu sebuat MTS di desa bebuak. Aku sangat
terkejut, begitu juga dengan teman temanku yang lain. Kami berpelukan dengan
perasaan haru bercampur bahagia, tak lupa kami bercanda dan bertukar cerita.
Tanpa kusadari, ternyata ada seorang perempuan yang dari tadi hanya
menyimak drama kami, wajahnya asing. Aku berinisiatif mengajaknya kenalan,
ku ulurkan tanganku ke depannya. “Indah” ucapku mengawali perkenalan, ia pun
menjabat tanganku sambil menyebutkan namanya “Naora” jawabnya singkat
padat dan jelas. Setelah berbincang bincang ternyata Naora ke SD kami karena
mengikuti ajakan si Mila dan ternyata mereka berteman. Setelah pertemuan itu,
kami pun pulang karena hari sudah semakin siang.
Tiga bulan berlalu dengan cepat aku sudah mulai bermain dengan teman
sekelas dan bahkan teman yang di kelas lain juga seperti Rezaldi yang selalu
menggangguku saat keluar main. Oh iya saat masih kelas 7 aku bersekolah
dengan kakak sepupu laki-laki bernama Uma, yang pada saat itu berada di kelas 9.
Uma diperintahkah oleh ibuku untuk menjagaku saat di sekolah, layaknya seorang
kakak kadang dia datang ke kelasku dan memberiku uang jajan, kadang juga
hanya lewat untuk memastikan ku baik baik saja. Dia mengikuti ekskul pramuka
dan sudah menjadi senior, karena ekskul pramuka itu wajib diikuti jadi aku dan
teman temanku berinisiatif untuk ikut. Karena tidak punya kendaraan, aku dan 3
orang temanku berjalan kaki dari rumah melewati sawah untuk sampai di sekolah.
Sesampainya di sekolah kami sholat ashar dan mulai mengikuti latihan, latihan
dimulai dengan berdoa kemudian dilanjutkan dengan baris berbaris. Latihan
selesai saat hari sudah semakin sore. Tidak mungkin kami pulang lewat sawah
karena besar kemungkinan sebelum kami tiba di rumah malam akan datang. Sore
itu aku merasa kurang sehat, badanku panas dan aku merasa pusing.
Teman-temanku menelpon ibu atau ayah mereka untuk menjemput, sementara
aku diantar pulang oleh kakak sepupuku, Uma. Saat di perjalanan pulang aku
memberitahunya kalau aku sedang tidak enak badan sejak siang tadi, tapi aku
memaksakan diri untuk ikut latihan, kakakku yang khawatir langsung
menyuruhku untuk berhenti ikut latihan, dari hari itu aku sakit dan tidak bisa
masuk sekolah selama 3 hari.
Bulan berganti bulan, tak terasa sudah hampir setahun aku di kelas 7. Rasanya
baru kemarin aku bertemu dengan teman teman baru ku, lalu tiba tiba saja
sekarang aku harus menyiapkan diri untuk berteman dengan orang baru lagi,
karena kenaikan kelas pastilah mendapat kelas baru, serta teman baru pula.
Hari yang ditunggu tiba, dimana pembagian kelas dibacakan,saat itu aku
sangat gugup dan takut dipindahkan ke kelas lain. Aku tidak menyangka akan
tetap berada di kelas pilihan yaitu 8A, aku sangat senang dan lagi Dina juga
berada di kelas yang sama denganku begitu juga Cempaka dkk, namun Yuda
dipindahkan ke kelas lain. Saat di kelas 8 aku mengenal teman baru lagi karena
memang kebanyakan yang berada di kelasku sekarang adalah perempuan, 26 putri
dan 3 orang putra. Perbedaan jumlah yang sangat kontras. Di kelas baruku, Aku
mengenal Selvi, Astrid, Dea, dan Thea, aku berteman dengan mereka. Cempaka?
dia juga punya teman ternyata, bahkan dia terlihat dekat dengan teman temannya
yang kukenal bernama Gheyzna, Meza, Cindy, Whafiq dan masih ada lagi.
Aku jarang sekali bermain dengan Cempaka karna lagi-lagi ku pikir dia
sombong. Cempaka dkk seperti tidak sefrekuensi dengan ku dan teman temanku.
Malah kami pernah bertengkar dan yaa lagi lagi aku semakin yakin kalau
Cempaka dkk itu sombong. Kelas 8 ini dipenuhi dengan perdebatan pertengkaran
dan drama, tidak ada kekompakan sama sekali di dalam kelas. Apa karena dikelas
kebanyakan ceweknya? Bisa jadi. Ditambah lagi Selvy, temanku yang punya
penyakit sesak nafas membuatku merasa kewalahan menghadapi masalah yang
datang.
Di kelas 8 ini aku mulai mencoba nakal dengan mengenal laki-laki, aku
berpacaran dengan kakak kelasku yang terkenal playboy pada saat itu bernama
Rian, aku memacari-nya hanya karena ingin merasakan bagaimana rasanya punya
pacar. Setiap hari kami bertemu, tentu saja aku sangat senang, "wah ternyata gini
ya rasanya pacaran sama kakak kelas, banyak yang iri hehe" pikirku. Setelah
seminggu pacaran dia minta putus dariku, astaga aku terkejut dan sakit?,
sepertinya aku memang merasakan sakitnya ditinggal .Ternyata kesenangan itu
tidak berlangsung lama.Setelah putus dari Rian aku merasa sedih dan tak jarang
melamun sendiri. Namun aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan ini, aku
pun mencoba move on darinya dengan merespon setiap laki-laki yang
mengirimiku pesan di whatsapp. Beberapa hari berlalu ada seorang laki-laki
bernama Ari yang mengirimiku pesan ingin berkenalan yah seperti kataku tadi
aku meresponnya kami tidak terlalu akrab di chat dia begitu tertutup dan selalu
canggung ketika berbalas pesan denganku. Akhirnya aku memberanikan diri
bertanya pada temannya, Jaya yang aku kenal lebih dahulu sebelum aku mengenal
ari, "ari ini kenapa sih? kok setiap chat dia selalu canggung dan candaanya juga
garing?" tanyaku . Jaya menjawab "ooo ari, dia itu pemalu dan jarang ngomong
sama orang". Setelah aku tau tentang hal itu, aku merasa ini seperti tantangan
membuat orang yang pemalu ini menjadi lebih percaya diri dan berani terbuka.
Aku pun mencoba mengirimkan pesan setiap hari dan malam agar dia menjadi
lebih terbuka padaku, tanpa kusangka usahaku membuahkan hasil, aku berhasil
membuatnya terbuka, ia jadi sering bercerita padaku tentang kesehariannya.
ternyata Ari satu sekolah dengan Mila, Gita dan temanku yang lain dan ternyata
Ari adalah kakak kelas mereka, aku jadi sering bertanya tentang Ari ke Gita Mela
Mila dan mereka memberi tahu ku semua yang mereka tau.
Karena aku dan Ari sering berbalas pesan, ternyata Jaya mengawasi kami dia
berpikir kami berpacaran dan memberi tahu teman-temannya yang lain, aku dan
Ari mencoba menjelaskan kalau kami tidak pacaran tapi Jaya tetap tidak mau
percaya. Akhirnya aku lelah menjelaskan kepada Jaya tentang itu jadi aku dan Ari
membuat kesepakatan untuk bersandiwara, berpura-pura pacaran, kami menyusun
cerita yang lucu untuk membohongi Jaya dan teman lainnya.Tak ku sangka
ternyata Ari benar-benar suka padaku, padahal aku hanya bersandiwara. Akhirnya
karena kami berbalas pesan hampir setiap waktu aku jadi terbiasa dan mulai
menerima Ari. Menurutku ini lucu karena awalnya kita cuma bercanda eh kok
malah pacaran beneran dan hubungan ini berlanjut sampai sekarang.
Hari itu tanggal 1 Januari 2019 bertepatan dengan hari ulang tahun Ari aku
memberikan kejutan untuknya dengan pergi ke rumahnya membawa kue, itu
pertemuan pertama kami setelah 3 bulan pacaran. Ku pikir setelah dia bertemu
denganku dia akan menjauhiku, kupikir dia akan berkata kalau aku tidak seperti
yang dia pikirkan. namun ternyata di sisi lain ari juga memikirkan hal yang sama
denganku, dia khawatir aku akan kecewa setelah bertemu dengannya.
Sesampainya di rumah ari aku hanya memberikan kue untuknya dan
mengucapkan "Happy birthday" Dan berfoto bersama untuk pertama kalinya,
setelah itu aku langsung pulang karena aku merasa sangat gugup dan masih
malu-malu. Sesampainya di rumah aku memeriksa HP dan ternyata ari
mengirimiku pesan, aku begitu takut membukanya aku pikir dia akan langsung
memutuskan hubungan denganku. Ternyata dia mengirimiku pesan untuk
berterima kasih kepadaku dan memberitahuku kalau dia merasa sangat bahagia
setelah bertemu denganku. Aku jadi merasa lega karena dia menerimaku dengan
baik. Tak kusangka ternyata beberapa bulan lagi Ari akan lulus SMP, dan aku
akan naik ke kelas 9. Ari membuat keputusan untuk melanjutkan sekolahnya di
Pondok Pesantren. Mendengar hal tersebut aku merasa terkejut, ku pikir kami
akan putus karena kupikir anak pondok tidak boleh pacaran. Karena terus merasa
bingung aku memberanikan diri untuk bertanya pada ari, dengan nada suara yang
sedih aku bertanya"apa kita sampai sini aja? , kan kamu bakalan jadi anak pondok
dan gak boleh pacaran". Ari menjawab dengan nada bicara yang santai "nggak
gitu lah, kita bakal tetep pacaran kok",
"Tapi kan gak anak pondok gak boleh pacaran" Kataku keukeuh. Dia tertawa
lalu bilang "kan gak ada yang tau kalau aku punya pacar, dan juga HP ku tetep di
rumah gak di bawa ke pondok jadi aman dong". Dia mencoba meyakiniku untuk
tidak menyudahi hubungan ini, dan ya aku setuju kami masih berpacaran namun
secara diam-diam tanpa diketahui ustadnya. Dasar nakal.
Ujian sekolah dan ujian lainnya telah tiba, aku tidak berani mengganggu ari
saat malam karna aku yakin dia sedang belajar dan mempersiapkan ujian, aku
hanya sekedar memberi semangat untuknya. Setelah proses yang panjang
akhirnya dia lulus dan langsung mendaftar di Pondok Pesantren Yatofa Bodak,
aku merasa sedih karena tidak akan bisa bertemu atau saling berbalas pesan
dengannya lagi. Aku hanya bisa berbalas pesan dengannya sekali seminggu hanya
di hari senin, karna di hari senin wali murid akan datang untuk menjenguk dan
mengantarkan uang untuk anak-anak mereka. Jadi ari akan membalas pesanku
setiap hari senin dan aku akan membalasnya setelah pulang sekolah jam setengah
3. Setelah membalasnya dia akan membalas lagi setelah hari senin tiba. Itu aku
lakukan hampir setahun, rasanya sangat sepi, sedih, dan membosankan harus
menunggu pesan yang tak kunjung datang. Aku tidak tahu bagaimana
keadaannya, bagaimana kesehariannya, bagaimana dia bisa berinteraksi dan
lainnya. Aku sempat ingin menyerah dan memutuskan hubungan dengannya tapi
dia tidak ingin itu terjadi. Jadi aku harus menahan keinginanku untuk menyerah.
Saat Ari masuk pondok aku naik ke kelas 9, dan lagi-lagi di kelas unggulan
kelas 9A. Aku merasa senang karena tidak harus berkenalan dengan teman baru
lagi, personil di kelas kami hanya bertambah 2 orang dan mereka adalah
perempuan, jadi sangat mudah untuk akrab dengan mereka. Di kelas 9 ini terjadi
sebuah keajaiban dimana kami yang dulu sering bertengkar menjadi lebih akrab,
lebih solid dan lebih kompak dari sebelumnya. Aku jadi sering bermain dan
bercanda dengan cempaka, tentu saja sekedarnya saja.Drama penguasa sekolah
lagi lagi terulang, kami merasa menjadi pemilik sekolah hingga kami sering
mengabaikan peraturan, kami sering membawa HP diam-diam, nobar film horor
saat jamkos, membuat video dokumentasi, membawa sound system yang kecil
yang kutahu milik Gheyza lalu kami memutar lagu dan berjoget bersama.
huuuuhh kelas kami sangat ribut dan berantakan. Karena kami kelas pilihan jadi
kami tidak pernah masuk ruang BK malah guru BK yang masuk ke kelas kami.
saat jamkos kami sering memanjat pohon yang ada di depan kelas kami, belanja
ke kantin, mencuri buah belimbing wuluh milik orang yang rumahnya
bersebelahan dengan sekolah, bermain di mushola sekolah, bernyanyi di lapangan
dan banyak kenakalan lain yang kami lakukan. Tentu saja kami melakukannya
secara bersama sama kami berprinsip *solidaritas di atas segalanya* jadi setiap
yang kami lakukan harus bersama-sama. Dihukum bersama tidak dihukum juga
bersama.
Suatu hari senin yang cerah di bulan Januari aku berangkat sekolah seperti
biasa dan sesampainya disana suasana sekolah masih sepi, hanya beberapa orang
teman kelasku yang datang, suasana kelas pun masih sangat tenang. Setelah jam
7:15 menit kami melakukan upacara bendera, setelah upacara selesai aku dan
teman-temanku mulai menggila, kami bercanda dan tertawa terbahak-bahak,
perutku sampai sakit karena candaan mereka. Setelah masuk jam pelajaran kami
berhenti bercanda namun saat jam istirahat tiba kami kembali bercanda dan aku
tidak bisa berhenti tertawa, aku tidak ingat dengan pasti apa yang kami tertawakan
namun rasanya aku sangat gembira hari itu aku tertawa sampai wajahku memerah
dan teman yang lain heran melihatku karena aku begitu senang.
Sepulang dari sekolah di hari itu aku mendapati ibuku sakit karena datang
bulan. Karena ibuku merasa kesakitan akhirnya aku dan ayahku membawanya
periksa ke dokter,alangkah terkejutnya kami Saat diberi tahu oleh dokter bahwa
ibuku punya penyakit di dalam rahimnya bernama MIOMA itu semacam tumor
tapi tidak ganas dan ibuku harus di operasi angkat tumor. Ibuku di operasi di RSI
yatofa bodak, ibuku dirawat inap di sana selama 5 hari, dan saat hal itu terjadi aku
harus berada di rumah karena harus sekolah paginya. Karena tumor itu sudah
melekat di di dinding rahimnya jadi rahim ibuku juga harus diangkat bersama
penyakitnya, itu menyebabkan ibuku tidak bisa hamil lagi dan aku menjadi anak
satu-satunya ibuku. Rasanya sangat sedih karena aku tidak akan pernah punya
adik padahal dari dulu aku menginginkan seorang adik.
Di titik ini aku merasa sangat down karena ibuku sakit ayahku menemani
ibuku di sana, aku merasa seperti menjadi anak yatim tidak ada orang di rumahku,
aku tidak bernafsu makan dan tidak berniat melakukan hal apapun aku merasa
sangat sangat hancur Saat itu, rasanya penderitaan keluargaku sangat berat.Di sini
aku belajar bahwa orang tua adalah segalanya terlebih seorang ibu,setiap hari aku
menangis mengingat ibuku yang sedang berjuang melawan penyakitnya aku tidak
tahu harus melakukan apa dan harus bagaimana dalam situasi seperti ini, hampir
setiap hari aku pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibuku karena aku
sangat khawatir. Dikarenakan ibuku dirawat inap, aku menginap di rumah
nenekku Saat malam dan pulang Saat siang. Pelajaran hidup yang ku dapatkan
dari kejadian ini adalah aku harus bersyukur masih punya orang tua dan aku
merasakan bagaimana hidup jika tidak punya orang tua hidup rasanya sangat
berantakan dan tidak terarah. Operasi yang dijalankan ibuku alhamdulillah
berhasil, ibuku kembali sehat dan bisa dipulangkan dari rumah sakit.
Beberapa bulan lagi aku lulus SMP. Namun saat ujian sekolah, ujian praktek
dan ujian lainnya hampir tiba, lombok malah di guncang gempa yang
menyebabkan kami sering libur dan jarang belajar. Tidak hanya gempa,
munculnya suatu virus yang dikenal COVID-19 membuat kami harus libur
sekolah dan menghindari kegiatan kegiatan diluar rumah. Hingga ujian kami
ditiadakan dan yang paling parah tidak ada perpisahan sekolah untuk kami,
padahal momen itulah yang paling kami nantikan setelah bersekolah 3 tahun
lamanya. Kami merasa sangat sedih namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saat lulus
SMP aku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMAN 1 kopang
karena letaknya tidak jauh dari SMPN 1 kopang.
Aku daftar sekolah di SMA 1 kopang dengan teman temanku, aku mengikuti
setiap proses yang ditentukan seperti mengisi formulir, memilih jurusan, membeli
baju dan atribut hingga akhirnya pembagian kelas di mulai. Aku merasa gugup
sekali karena aku tidak tau teman baru seperti apa yang akan ku temui di SMA ini,
hingga namaku disebut dan aku masuk di kelas 10 MIPA 1. Tidak lama kemudian,
disebutkan nama yang tidak asing bagiku. Cempaka, Yuda,Rasyid, Nadira,
Whafiq, mereka teman SMP ku, dan sekarang aku sekelas lagi dengan mereka.
Tentu saja aku senang, karena aku sudah mengenal lama mereka. "yey sekelas
lagi", ucapku . Cempaka yang mendengar itu merespon dengan baik perkataanku.
Setelah pembagian kelas selesai, kami pergi ke kelas masing masing untuk
mengecek seperti apa keadaan kelas yang akan kami tempatkan setahun kedepan.
Sesampainya disana kami bertemu dengan wali kelas kami bu Siti Hikmatussani,
dipanggil bu Sani. Beliau merupakan salah satu guru muda yang mengajarkan
matematika wajib pada waktu itu.
Masa pandemi membuat kami terpaksa harus belajar dirumah secara DARING.
Selain itu, pihak sekolah menyuruh kami untuk membuat kelompok belajar yang
beranggotakan teman yang dekat dengan rumah kami. Tapi tidak ada teman
sekelasku yang rumahnya dekat dengan rumahku, jadi aku mencari teman yang
satu desa denganku. Mereka adalah Vina dan Armawan. Karena dirasa masih
kurang, aku pun mencari teman yang memang desanya sama denganku. Lalu
armawan menyarankan untuk mengajak seorang perempuan yang tentunya teman
kelas kami. Karena aku tidak tau dia siapa jadi ku Tanya saja armawan "dia siapa?
" tanyaku. "dia naora, temanku dari MTS" jawab Armawan. Aku merasa tidak
asing dengan nama itu namun aku tidak terlalu memikirkannya dan mengajaknya
bergabung ke kelompok belajar kami, Naora pun setuju, Kami juga mengajak
muhibban yang juga teman Armawan. Setelah kelompok terbentuk kami
memutuskan belajar kelompok dirumah Armawan, setelah berlangsung kurang
lebih seminggu, kami mulai saling mengenal dan aku baru ingat ternyata Naora
adalah orang yang ku ajak bersalaman saat bertemu di SD dulu, aku tidak
menyangka kami akan dipertemukan lagi dan menjadi teman.
Kerja kelompok di rumah Armawan ternyata tidak berlangsung dengan baik
karena disana tidak ada sinyal jadi sulit mendapatkan akses internet,karena
pembelajaran yang memang dilaksanakan secara daring. Kami sering kali
terlambat mengisi daftar hadir dan sesi tanya jawab dengan guru. Setiap kali
dikirimkan tugas kami pasti akan copy-paste jawaban dari internet. Lama
kelamaan kami bosan terus terusan kumpul karena kadang guru tidak
mengerjakan tugas sama sekali. Kami jadi jarang kumpul dan kalau ada tugas
kami langsung mengerjakan secara mandiri dan online pastinya.
Seiring berjalannya waktu sekolah kami mulai memberikan kelonggaran untuk
belajar tatap muka dengan Sistem Balon Tamu jadi seminggu hanya bersekolah 2
hari, waktunya pun tidak tentu, kadang pagi kadang juga siang. Karena sekelas
dan sekelompok dengan Naora aku jadi sering main dengannya. Awalnya dia
terlihat pemalu dan jarang berbicara denganku, kalau ku ajak ngobrol pasti dia
pakai bahasa Indonesia sedangkan aku lebih nyaman pakai bahasa daerah.
Akhirnya ketika ngobrol dengannya, aku pakai bahasa sasak dan dia balas
menggunakan bahasa Indonesia. Kami sering bercerita dan bercanda berdua.
Kami belanja, belajar dan melakukan semua kegiatan bersama, kami menjadi
teman dekat tidak hanya dengan Naora, tidak jarang aku bermain dengan
Cempaka dan Whafiq. Di kelas 11 kami juga mulai akrab dengan teman lainnya.
Suatu tugas Prakarya yang mengharuskan semua kelas membuat makanan
internasional untuk dijual pada saat acara sabtu budaya. Seperti namanya sabtu
budaya hanya dilakukan pada hari sabtu, dimana semua siswa akan berbaris di
lapangan dan melakukan senam pagi yang dilanjutkan oleh pertunjukan seni
ataupun bakat. Namun setiap akhir bulan, sabtu budaya selalu ditutup dengan
acara BEGIBUNG, dimana para siswa akan membawa bekal masing masing
untuk dimakan secara bersama sama di tengah lapangan. Acara begibung
merupakan sesuatu yang kami tunggu tunggu karena merupakan suatu keseruan.
Oke lanjut, jadi kelas kami membuat sandwich dan kebab sesuai dengan temanya
yaitu makanan Internasional. Makanan kami laris terjual namun ternyata kami
tidak mendapat untung dari hasil penjualan, hanya uang modal usaha saja yang
kembali. Namun itu merupakan awalan yang baik bagi pelajar kata guru pengajar.
Saat ini aku berada di kelas 12 , minggu lalu kami sudah melakukan PTS.
Hanya tinggal beberapa bulan kami bersama dan lalu kami akan berpisah, rasanya
ingin sekali mengabadikan setiap momen yang terjadi setiap hari bersama mereka.
Bersama mereka memang tidak selalu baik baik saja, namun kita sudah cukup
dewasa untuk menyikapi berbagai masalah yang menimpa. Setiap masalah dan
penyelesaiannya cukup dijadikan pelajaran sebagai tumpuan untuk menghadapi
masalah yang lebih serius kedepannya.
Aku dan teman temanku sering kali membahas masa depan, tentang apa yang
akan kita lakukan setelah lulus, kemana akan melangkah dan bagaimana
menghadapinya. Namun kita hanya bisa merencanakan, untuk seterusnya biarkan
Tuhan yang bertindak. Selain usaha dan tekad yang besar, doa juga menjadi
penentu tentang apa yang akan terjadi kedepannya.
Tentang masa depan, aku masih ragu ingin melanjutkan pendidikan atau
berhenti ditengah jalan. Namun sebuah kenyataan menyadarkanku bahwa aku
adalah seorang anak tunggal, jika bukan aku, lalu siapa lagi yang akan
membanggakan kedua orang tuaku. Menjadi anak tunggal memang banyak
enaknya, seperti selalu diperhatikan dan dipenuhi keinginannya. Tapi dibalik itu
semua, ada pula hal yang tidak enak. Seperti selalu dipandang manja oleh semua
orang padahal aku diajarkan Untuk mandiri. Untuk itu aku sudah membulatkan
tekad, aku akan meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Cempaka
pernah bercerita, setelah lulus ia ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas
impiannya di Jogja, itu bagus karena keluarganya mendukung penuh impiannya
tersebut. Tidak hanya Cempaka, Naora pun memiliki keinginan yang sama, ia
akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun dia sendiri masih
bingung untuk menentukan dimana ia akan kuliah.
Apapun itu, bagaimanapun itu, semoga segala rencana masa depan dapat
terwujud sesuai harapan. Kalaupun tidak, itu berarti memang bukan yang terbaik
untuk kita. Dan tuhan sudah menyiapkan hal baik yang lain.
SERBA SERBI NOVEL SEJARAH DALAM BALUTAN
BINGKAI KELAS XI IPA-1
Diniarti Dachlan
—-------------------------------------------------------------------------------------
Saya dilahirkan dengan nama Diniarti Dachlan di Kopang pada 25 Mei
1977. Nama tersebut diberikan oleh ayah dengan tujuan agar saya bisa
menjadi orang yang selalu melakukan perbuatan yang akan berarti bagi
hidup ku dan melakukan dari awal sesuatu yang baik.Itulah makna nama
yang diberikan oleh ayahku.
Ibu saya adalah seorang pedagang di sebuah pasar di dekat
rumahku.Ibuku adalah seorang yang sangat perhatian kepadaku,aku
selalu dimanja dan pernah bapakku pindah tugas keluar kota tapi mamaku
tidak mau ikut.Aku Pun tidak mau ikut sedangkan kelima kakakku ikut
pindah.kami berdua menjalani hari-hari bersama.
Sejak kecil bapak selalu mendidik saya dengan sangat keras, otoriter dan
disiplin maklum karena bapakku seorang serdadu alias tentara.Aku tahu
tujuan beliau baik agar saya disiplin menghargai waktu dan tidak Voice
note-nya Apa di menyia-nyiakan pengorbanan beliau.
Meskipun pada prosesnya hampir setiap hari saya harus berjuang
membantu mama jualan sepulang sekolah sambil belajar di pasar.Hari
semakin berlalu setiap hari sepulang sekolah aku selalu menemani Ibuku
atau menggantikan beliau untuk beristirahat sebentar.
Tes tes tes tes tuh kan tes tes tuh ya nggak usah pakai