The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pandemi covid yang terjadi Di Indonesia menyebabkan adanya penurunan omzet UMKM yang berdampak pada pelaku usaha yang harus inovasi dalam bidang teknologi. Pemerintah menganjurkan bahwa UMKM perlu melakukan digitalisasi untuk tetap bertahan ketika pandemi berlangsung. Terdapat banyak cara dalam melakukan digitalisasi salah satunya adalah mengadopsi media sosial. Penggunaan media sosial sendiri dapat meningkatkan kinerja dari pelaku usaha, sehingga peneliti melakukan analisis terkait dengan penggunaan media sosial terhadap kinerja dari UMKM dengan menggunakan Technology-Organization-Environment (TOE) yang telah dikembangkan oleh Ahmad et al., (2019) dan didukung oleh Diffusion of Innovation (DOI) Theory. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi media sosial terhadap kinerja UMKM. Penyebaran kuesioner dilakukan secara online dan offline dengan teknik purposive sampling. Setelah dilakukan pengumpulan data dilakukan analisis menggunakan Ms. Excel 2010 dan pendekatan SEM-PLS menggunakan aplikasi SmartPLS 3.0. Hasil dari penelitian ini dari keempat hipotesis yang diajukan seluruhnya diterima yaitu Technology, Organization, Environment, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Social Media Adoption, dan Social Media Adoption terhadap SMEs performance memiliki pengaruh yang signifikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by asahibandung, 2022-06-21 09:02:15

ANALISIS PENGARUH SOCIAL MEDIA ADOPTION TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) MENGGUNAKAN TECHNOLOGY-ORGANIZATION-ENVIRONMENT (TOE)

Pandemi covid yang terjadi Di Indonesia menyebabkan adanya penurunan omzet UMKM yang berdampak pada pelaku usaha yang harus inovasi dalam bidang teknologi. Pemerintah menganjurkan bahwa UMKM perlu melakukan digitalisasi untuk tetap bertahan ketika pandemi berlangsung. Terdapat banyak cara dalam melakukan digitalisasi salah satunya adalah mengadopsi media sosial. Penggunaan media sosial sendiri dapat meningkatkan kinerja dari pelaku usaha, sehingga peneliti melakukan analisis terkait dengan penggunaan media sosial terhadap kinerja dari UMKM dengan menggunakan Technology-Organization-Environment (TOE) yang telah dikembangkan oleh Ahmad et al., (2019) dan didukung oleh Diffusion of Innovation (DOI) Theory. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi media sosial terhadap kinerja UMKM. Penyebaran kuesioner dilakukan secara online dan offline dengan teknik purposive sampling. Setelah dilakukan pengumpulan data dilakukan analisis menggunakan Ms. Excel 2010 dan pendekatan SEM-PLS menggunakan aplikasi SmartPLS 3.0. Hasil dari penelitian ini dari keempat hipotesis yang diajukan seluruhnya diterima yaitu Technology, Organization, Environment, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Social Media Adoption, dan Social Media Adoption terhadap SMEs performance memiliki pengaruh yang signifikan.

Keywords: Adopsi media sosial, UMKM, TOE

2.9.1 Teknik sampling
Menurut Abdillah (2015) teknik sampling dibagi kedalam 2 kelompok

yaitu teknik sampel probabilitas dan non probabilitas. Berikut adalah jenis
dari teknik dalam proses pengambilan sampel probabilitas:

A. Probability Sampling yaitu teknik pengamnilan sampel yang
memberika peluang yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi
yang dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini disebut dengan
random sampling dan terdapat beberapa teknik dalam probability
sampling yang diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Simple Random Sampling adalah proses pengambilan sampel
yang dilakukan acak dan tanpa diperhatikan tingkatan pada
suatu populasi, sehingga proses ini sebut sederhana. Teknik ini
dilakukan untuk mendapatkan secara langsung di unit sampling
sehingga disetiap popilasinya memiliki peluang yang sama
untuk menjadi sampel. Cara dalam pengambilan sampel ini
dapat digunakan dengan undian, bilangan ordinal ataupun tabel
bilangan acak.
2) Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik yang dilakukan saat populasi dengan anggota memiliki
strata secara proposional dan homogen. Seperti organisasi yang

34

memiliki pegawai dari latar belakang pendidikan yang
berstrata.
3) Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik yang dilakukan apabila populasi memilih strata tetapi
kurang proposional.
4) Cluster Sampling
Teknik ini digunakan saat penentuan sampel dengan data objek
yang memiliki data atau sumber yang luas. Terdapat dua tahap
dalam proses ini pertama menentukan wilayah sampel, dan
tahap kedua dilakukan dengan menentukan orang-orang yang
berpartisipasi didalamnya pada wilayah tersebut dengan cara
sampling.
B. Nonprobability Sampling merupakan teknik dalam pengambilan
sampel yang tidak dapat memberikan kesempatan atau peluang yang
sama untuk setiap unsur atau anggota populasinya yang dipilih sebagai
sampel.
1) Convenience Sampling
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan
kemudahan secara langsung langsung menghubungi
pengambilan unit-unit yang mudah ditemukan. Convenience
sampling ini cocok untuk penelitian yang bersifat tidak

35

eksploratif atau pilot study dan proses pengambilan sampel ini
tidak mewakili populasi.
2) Quota Sampling
Teknik ini adalah pengambilan sampel yang didasarkan pada
kriteria tertentu seperti pemikiran atau pengetahuan pengambil
sampel (Nursiyono, 2014). Pengambilan sampel ini sering
dilakukan dengan survey dari opini publik.
3) Purposive Sampling
Pengambilan sampel yang didasari pada kriteria tertentu,
pengentahuan atau pemikiran pengambil adalah pengertian dari
purposive sampling. Teknik ini adalah pemilihan sekelompok
objek yang didasarkan suatu pada ciri-ciri maupun sifat-sifat
tertentu yang dianggap memiliki hubungan yang erat mengenai
sifat atau ciri dari populasi yang telah ditentukan sebelumnya.
4) Snowball Sampling
Teknik pengambilan sampel yang yang dilakukan dengan cara
menunjuk responden yang terlibat untuk menyebarkan survei
secara berantai. Snowball sampling ini dilakukan pada saat
peneliti yang tidak begitu mengerti kondisi dan data populasi
yang menjadi sasaran penelitian.

36

5) Insindental Sampling
Teknik pengambilan sampel ini secara kebetulan peneliti dan
partisipan bertemu yang dapat digunakan sebagai sampel
apabila orang tersebut cocok sebagai sumber data.

6) Sampling jenuh
Teknik pengambilan sampel jika semua anggotan populasi
yang digunakan sebagai sampel. Biasanya teknik digunaka
ketika jumlah populaisnya relative kecil.

2.9.2 Ukuran sampel
Jumlah sampel yang biasa digunakan untuk menyatakan ukuran

sampel, sampel yang diharapkan dapat 100% mendekati jumlah dari
populasi sehingga tidak terjadi kesalahan (P D Sugiyono, 2013). Menurut
champion yang disampaikan oleh Indrawan and Yaniawati (2014)
menjelaskan bahwa dalam uji statistik sampel efektif yang digunakan adalah
120 hingga 250 responden. Menurut (Roscoe, 1975) dalam (P. Sugiyono,
2011) Ukuran sampel dikatakan layak dalam suatu penelitian yaitu dengan
responden antara 30 hingga 500. Wong (2013) menjelaskan dalam
penelitiannya bahwa (Structural Equation Model) membutuhkan sampel
dalam penelitian sekitar 100-200 sampel.

37

2.10 Structural Equation modeling
Structural Equation modeling (SEM) merupakan suatu teknik modeling yang

statistik dan memiliki sifat linear, cross sectional,dan yang umumnya masuk
didalamnya yaitu faktor analisis, regression, dan path analysis yang digunakan guna
menguji sttaistik pada model tersebut dengan bentuk penyebab dan akibatnya (Bahri
& Zamzam, 2014). SEM adalah suatu teknik dalam statistik dengan kemampuan
untuk menganilisis suatu pola yang berhubungan antara variabel laten dan
indikatornya, variabel laten dengan variabel laten lainnya dan kesalahan pengukuran
secara langsung. SEM marketer yang digunakan dapat dilakukan dengan visual untuk
memeriksa adakah hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya yang
diminati guna dijadikan prioritas oleh sumber daya sehingga dapat melayani penggan
dengan baik.

2.10.1 Partial Least Squares (PLS)
PLS didefinisikan sebagai analisis SEM yang menjadi metode

alternatif ketika data yang digunakan tidak berdistribusi normal multivariate
(Alfa et al., 2017). Fungsi dari PLS adalah untuk diterapkan pada penelitian
yang jumlah populasinya terbatas pada model persamaan struktural (K. K.-K.
Wong, 2013).

Adapun PLS yang digunakan di berbagai bidang seperti sistem
informasi manajemen, strategi bisnis, dan ilmu organisasi. PLS memiliki
tujuan untuk membantu reaearcher untuk mendapatkan nilai variabel dengan

38

tujuan memprediksi dan dapat digunakan sebagai cara untuk mengkonfirmasi
teori (Ghozali & Latan, 2015).

Menurut Vinzi (2010), PLS merupakan pendekatan dari pemodelan
lunak yang digunakan oleh SEM tanpa asumsi tentang distribusi data.
Sehingga dengan adanya SEM PLS dapat dijadikan suatu metode alternatif
yang baik untuk beberapa situasi yang diantaranya adalah ukuran sampel yang
kecil, keakuratan prediksi, aplikasi memiliki sedikit teori yang tersedia, dan
spesifikasi model yang benar tidak dapat dipastikan.

Terdapat alasan yang membuat PLS SEM populer diantara para
peneliti yaitu algoritma yang tidak dibatasi hanya untuk hubungan antara
indikator dengan kontrak latennya yang bersifat reflektif tetapi juga algoritma
PLS yang digunakan untuk hubungan yang bersifat formatif. Alasan
berikutnya adalah PLS digunakan untuk memprediksi model path dengan
ukuran sampel yang kecil. PLS SEM ini bisa digunakan pada model yang
terdiri atas variabel manfes dan laten dengan tidak adanya masalah dalam
estimasi data dan PLS digunakan saat sangat miring distribusi datanya (Yamin
& Kurniawan, 2011).

2.10.2 Evaluasi model SEM
Evaluasi model SEM terdiri atas dua tahap dalam evaluasi model PLS

diantaranya adalah sebagai berikut:

39

a. Outer model (Model Pengukuran)
Blumberg (2014) mengungkapkan bahwa outer model adalah suatu

model pengukuran yang digunakan guna mengetahui kemampuan dari
instrument penelitian yang mengukur apa yang diukur seharusnya. Evaluasi
pengukuran terbagi dalam dua tahap yaitu convergent validity dan
Discriminant validity.

Tahap pertama yaitu convergent validity, tahap ini dilakukan dengan
melihat Individual item reliability, Internal consistency reliability, dan
Average variance extracted. Individual item reliability dilakukan dengan
melihat hasil dari penghitungan nilai outer loading. Terdapat syarat nilai yang
dikatakan ideal untu outer loading adalah diatas 0,7, hal ini dikatakan valid
sebagai indikator dalam mengukur konstruknya. Sementara nilai outer loading
yang dibawah syarat ideal atau lemah tersebut maka biasanya akan dihapus.
Tetapi, ketika nilai outer loading diatas 0,5 dapat digunakan dan
dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum dihapus jika nilai dari composite
reliability dari variable tersebut diatas 0,7 (Yamin & Kurniawan, 2011).
Kemudian, dilihat dari internal consistency reliability dapat dilihat dengan
nilai composite reliability, dengan nilai batas yang digunakan yaitu 0,8 yang
berarti dapat diterima, sementara apabila diatas 0,9 memiliki arti hasil yang
memuaskan.

40

Rumus dari CR adalah sebagai berikut:

menyatakan loading factor dari variabel = 1-

Selanjutnya diukur Average Variance ExtractedI (AVE), yang dalam

hal ini menggambarkan besaran varian variabel yang dikandung oleh konstrak

laten. Sementara itu, nilai batasan untuk AVE yaitu 0,5, dengan nilai AVE

yang diatas batas yang telah ditentukan convergent validity dikatakan baik.

Dalam hal ini variable laten dapat menjelaskan rata-rata lebih dari setengah

variance dari indikator-indikatornya. AVE dapat diketahui dengan menghitung

menggunakan rumus berikut ini :

menyatakan loading factor (convergent validty) dari variabel
= 1-
Tahap kedua yaitu pengukuran dengan menggunakan cross loading
dan kriteria fornell-Larcker. Cross loading dilakukan dengan membandingkan
nilai outer loading indikator dengan variabel satu dan variabel lainnya. Apabila
nilai antara indikator dengan variabel memiliki korelasi yang lebih tinggi
dengan variabelnya, dibandingkan dengan variabel pada blok lainnya. Kriteria

41

Fornell-Larcker membandingkan nilai AVE dengan dengan kuadrat dengan
kuadrat nilai korelasi antar variabel. Nilai akar dari AVE ini harus lebih tinggi
apabila dibandingkan dengan nilai AVE yang lebih tinggi antara korelasi
konstruk lainnya dari kuadrat korelasi antar konstruk.
b. Inner model (Model Struktural)

Inner model atau structural model pada PLS terdiri atas beberapa tahap
pemeriksaan. Tahap pertama dilihat signifikansi hubungan antara konstruknya.
path coefficient (β) dilakukan dengan menguji nilai ambang batas yang harus
diatas 0,1 untuk menyatakan bahwa jalur yang dimaksud memiliki pengaruh
terhadap model.

Tahap kedua dilakukan dengan cara melihat nilai coefficient of
determination R2 untuk mengukur tingkat variasi dari perubahan variabel
dependen dan independen. Klasifikasi nilai dari R2 dibagi menjadi tiga
diantaranya adalah dengan 0,19 sebagai tingkat varian yang lemah, 0,33
sebagai moderat, dan 0,67 sebagai substansial (Yamin & Kurniawan, 2011).

Tahap berikutnya yaitu nilai t-test yang dilihat menggunakan
bootstrapping method melalui uji two tailed dengan tingkat signifikansi
sebesar 0,05 untuk menguji hipotesis model penelitian. Nilai t-test yang
diterima apabila lebih besar dari 1,96.

42

Kemudian dilakukan pengujian terhadap f2 yang dilakukan dengan tujuan
memprediksi pengaruh dari variabel tertentu terhadap variabel lainnya pada
suatu struktur model. Adapun nilai ambang batas untuk f2adalah 0,02 untuk
pengaruh kecil 0,15 untuk pengaruh menengah dan 0,35 untuk pengaruh besar
yang besar.

Selanjutnya melihat Q2 (predictive relevance) dengan cara blindfolfing
method untuk membuktikan apabila variabel yang digunakan memiliki
ketertarikan dengan variabel lainnya. Pada nilai Q2 yang lebih besar dari 0
menunjukkan hasil bahwa model tersebut mempunyai predictive relevance,
sementara itu apabila nilainya kurang dari 0 maka menunjukkan bahwa model
tersebut kurang memiliki predictive relevance.

Tahap berikutnya adalah pengujian dengan q2 juga digunakan metode
blindfolding. Tujuan dari q2 adalah mengukur pengaruh relatif dari sebuah
keterkaitan yang bersifat variabel prediktif dengan variabel lainnya. Nilai
ambang batas dari pengujian q2berasal dari blindfolding dengan 0,02 memiliki
pengaruh yang kecil, 0,15 memiliki pengaruh sedang, serta 0,35 memiliki
pengaruh yang besar. Rumus q2 include adalah predictive relevance dan q2
exclude adalah nilai yang ada di luar Q.

43

44

45

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif untuk menguji teori

Technology Organization Environment Framework yang didukung dengan teori
Diffusion of Innovation yang meneliti hubungan antara social media dan kinerja
UMKM. Sejalan dengan penelitian ini, tujuannya adalah untuk mengetahui faktor apa
saja yang mempengaruhi penggunaan media sosial terhadap kinerja UMKM.
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang akan disebarkan
kepada pelaku UMKM pengguna media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram,
dan Whats App, dan media sosial lainnya yang dijadikan sebagai saluran berjualan.

Secara statistik dilakukan analisis data menggunakan Microsoft excel 2010
untuk membantu pengolahan data demografi dan pengolahan kuesioner menggunakan
aplikasi pengolah data Smart PLS. Adapun aplikasi yang digunakan untuk membuat
gambar pendukung penelitian ini adalah Diagrams.net.

46

3.2 Populasi dan sampel penelitian
Penelitian ini menggunakan populasi dari pelaku UMKM Di Jabodetabek yang

menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, dan
media sosial lainnya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive
sampling. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan
dengan kriteria pelaku UMKM yang menggunakan media sosial. Untuk sampel
penelitian didukung oleh beberapa penelitian terdahulu seperti, disebutkan oleh
Wong (2013) bahwa kisaran sampel untuk PLS-SEM adalah 100-200 sampel.
Menurut champion dalam Indrawan and Yaniawati (2014) menjelaskan bahwa dalam
uji statistik sampel efektif yang digunakan adalah 120 hingga 250 responden.

Sehingga, dengan mempertimbangkan banyaknya populasi, waktu, dan biaya,
peneliti mengumpulkan sampel sejumlah 162 UMKM yang ada di Jabodetabek yang
sudah cukup mewakili populasi yang ada.

3.3 Model dan hipotesis penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja dari penggunaan

teknologi. Pada penelitian ini, teknologi yang dimaksud adalah media sosial yang
dijadikan sebagai tempat untuk berjualan oleh UMKM. Oleh karena itu dilakukan
pengukuran adopsi media sosial terhadap kinerja UMKM. Berdasarkan hasil
penelitian sejenis dan kajian pustaka yang telah dijelaskan, maka peneliti
menggunakan Technology-Organization-Environment (TOE) sebagai dasar penelitian

47

yang dikembangkan oleh Ahmad (2019). TOE Framework yang menunjukan bahwa
adanya adopsi TI dipengaruhi oleh beberapa variabel yang diantaranya adalah
Technology, Organization dan Environment. Technology menggambarkan tentang
teknologi apa yang dikembangkan, tingkat kesulitan, dan keefektifan dan efisiensi
dari adopsi yang digunakan. Adapun Organization menunjukan sikap dari organisasi
terkait dengan TI, dan Environment menjelaskan tentang lingkungan yang
mempengaruhi digunakannya teknologi yang dalam hal ini adalah media sosial.

Dalam model penelitian yang dikembangkan oleh Ahmad, Abu Bakar, and
Ahmad (2019) meliputi konteks teknologi yang terdiri atas Compatibility, relative
advantage, complexity, triability, dan observability. Dan pada konteks organisasi
meliputi management support. Untuk konteks lingkungan meliputi competitive
intencity, bandwagon effect, dam competitive pressure. Serta terdapat Social Media
Adoption dan SMEs Performance.

Gambar 3. 1 Model Penelitian Ahmad, Abu Bakar, and Ahmad (2019)

48

Selanjutnya, peneliti menggunakan konteks teknologi dar Sikander Ali Qalati et
al (2021) dan organisasi yang terdapat dalam model penelitian (Tajudeen et al.,
2018). Dalam konteks teknologi meliputi Compatibility, Visibility, Interactivity, Cost
Effectiveness, dan Relative Advantage. Untuk konteks organisasi dengan peneliti
menambahkan entrepreneurial orientation yang terdapat dalam model penelitian
(Tajudeen Et Al., 2018). Sehingga Untuk Konteks Organisasi Ini Meliputi Antara Top
management support dan Entrepreneurial Orientation. Hasil dari penelitian yang
menggunakan teknologi Sikander Ali Qalati et al (2021) dan menunjukan pengaruh
yang positif terhadap social media adoption. Dan untuk konteks organisasi juga
menunjukan pengaruh yang positif terhadap social media adoption. Berikutnya,
untuk konteks lingkungan pada penelitian meliputi bandwagon effect, compeititve
intensity, dan competitive pressure. Berikut ini adalah penjelasan terkait dengan
variabel yang digunakan dalam model penelitian ini.

1. Technology

Technology memiliki hasil yang postitif terhadap adopsi media sosial.
Hal ini dikarenakan media sosial memiliki keuntungan yang dapat dirasakan
oleh pelaku UMKM. Penggunaan media sosial oleh UMKM karena adanya
compatibility atau kesesuaian dimana media sosial sesuai dengan kebiasaan,
kesamaan dengan pelaku UMKM. Penggunaan media sosial digunakan juga
karena biaya yang digunakan pun dinilai rendah dibandingkan dengan media
lainnya. Relative advantage menggambarkan sebagai sejauh mana dampak dari

49

penggunaan media sosial yang semakin cepat diadopsi. Media sosial juga
memiliki interaktivitas yang tinggi sehingga pelaku UMKM dan dapat dengan
leluasa berkomunikasi dengan mudah tanpa batasan waktu dan lokasi geografis.
Serta adanya media sosial dapat meningkatkan visibilitas pada pelaku UMKM.
Sehingga, dalam konteks teknologi ini mengambil hipotesa sebagai berikut :

H1 : Technology memiliki pengaruh yang positif terhadap Social
Media Adoption

2. Organization

Variabel yang digunakan dalam hal ini organisasi adalah
Entrepreneurship Orientation, dan Top Management Support. Adanya Top
Management Support dan Entrepreneurial Orientation sebagai dimensi untuk
mengembangkan faktor penyebab organisasi menggunakan media sosial.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa organization adalah bagaimana
perusahaan memutuskan suatu tindakan atau strategi oleh Top Management
Support dan dengan entrepreneurial orientation adalah bagaimana
meningkatkan suatu nilai dari produk atau perusahaan dengan memanfaatkan
teknologi yang dapat meningkatkan kinerjanya. Sehingga, peneliti
menggunakan hipotesis berikut :

H2 : Organization memiliki pengaruh yang positif terhadap Social
Media Adoption

50

3. Environment
Pada environment ini terdiri atas Bandwagon Effect, Competitive Interactivity,

dan Competitive Pressure. Bandwagon effect merupakan suatu fenomena dimana
individu atau organsasi dapat membuat suatu tindakan tertentu seperti
menggunakan teknologi baru yang disebabkan oleh pesaingnya yang
menggunakan inovasi dengan strategi mereka.

Competitive intensity merupakan suatu kondisi dimana kompetititor sangat
banyak tetapi peluang yang muncul untuk tumbuh tersebut sedikit. Adapun
Competitive pressure didefinisikan ketika pesaing merasakan tekanan yang
memaksa mengadopsi teknologi baru untuk bertahan. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa dari konteks lingkungan pelaku bisnis yang menggunakan
teknologi baru atau media sosial dipengaruhi oleh kompetisi karena banyaknya
kompetitor yang membuat peluang menjadi sedikit dan kompetitor yang membuat
strategi baru, sehingga timbul keadaan dimana pelaku bisnis dipaksa untuk
mengadopsi teknologi baru yang dalam hal ini adalah media sosial. Sehingga
peneliti membuat hipotesis sebagai berikut:

H3 : Environment memiliki pengaruh yang positif terhadap Social Media
Adoption
4. Social Media Adoption

Social media adoption diketahui memiliki kemudahan dalam mengakses
informasi dan menggunakan fasilitas sharing untuk mempromosikan suatu

51

produk, organisasi, atau perusahaan. Penggunaan media sosial oleh UMKM
seperti Facebook, WhatsApp, Twitter dan media sosial lainnya memiliki efek
terhadap kinerja UMKM karena dapat membantu dalam individu ataupun
organisasi dalam menjangkau pelanggan yang lebih luas sehingga dapat
meningkatkan penjualan, pendapatan, dan pangsa pasar. Oleh karena itu peneliti
membuat hipotesis sebagai berikut:

H4 : Social Media Adoption memiliki pengaruh yang positif terhadap
SME Performance.

3.4 Instrumen penelitian
Instrumen penelitian ini akan terdiri atas surat permohonan untuk pengisian

kuseioner dan terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat. Pilihan jawaban
dalam setiap pertanyaan kuesioner disusun ke dalam, 5 skala likert yang memiliki
beberapa alternatif jawaban, yang diantaranya adalah sebagai berikut :

(1) Sangat tidak setuju
(2) Tidak setuju
(3) Netral
(4) Setuju
(5) Sangat setuju

52

Tabel 3. 1

Konteks Variabel Kode

TE 1 media sosial da

Media sosial m

Relative TE 2

yang lebih baik

Advantage

Media sosial m

TE 3

produktivitas

Teknologi TE 4 Saya menggun
Cost biaya pemasara
effectiveness Media sosial m
dibandingkan m
TE 5 Media sosial se
diterapkan pad
TE 6 Saya merasa m
Compatibility

TE 7

butir pertanyaan

Pertanyaan Referensi

apat meningkatkan image usaha saya (Chong and
memungkinkan iklan dan promosi Chan 2012;
k
memungkinkan untuk meningkatkan Odoom,
Anning-

nakan media sosial untuk memotong Dorson, and
an Acheampong
memiliki biaya yang lebih efektif 2017; Qalati
media tradisional (brosur) et al. 2020;
esuai dengan operasi bisnis yang
da usaha saya Tajudeen,
media sosial konsisten dengan usaha Jaafar, and
Ainin 2018)

53

yang saya mili

TE 8 Media sosial m
interactivity untuk mencipta
Media sosial m

TE 9 pelanggan mel

(replies) denga

TE 10 Media sosial m
produk terbaru

Visibility

Media sosial m
TE 11

meningkatkan

Top OR 1 saya tertarik un

Organization Management OR 2 Saya merasa m
support

Entrepreneurial OR 3 Saya menekan

iki

menawarkan komunikasi interaktif

akan nilai bersama customer

memungkinkan untuk melibatkan

lalui sebutan (mention) dan balasan

an konten pesan yang terkontrol

memungkinkan untuk mempromosikan

u kami

memungkinkan kami untuk

visibilitas usaha saya

ntuk menggunakan media sosial (Ahmad, Abu

media sosial penting Bakar, and
Ahmad 2019;

nkan untuk mengambil risiko Tajudeen,

54

orientation OR 4 Saya ingin pro

OR 5 Saya ingin usa
kompetisi dimu

Sangat mudah

Competitive ENV 1 tempat lain den
intensity banyak kesulit
Pelanggan kam

Environment ENV 2 beberapa produ
berbeda dari ka

Competitive Media sosial m
ENV 3

keuntungan

pressure Media sosial m
ENV 4

unggul dalam p

Bandwagon ENV 5 Saya menggun

oduk usaha saya menjadi yang 1 Jaafar, and
aha saya terjun ke pasar sebelum Ainin 2018)
ulai (curi start)

bagi pelanggan kami untuk beralih ke
ngan layanan/produk serupa tanpa
tan

mi dapat dengan mudah mengakses (Ahmad et

uk / layanan yang ada di pasar yang al., 2019;

ami tetapi memiliki fungsi yang sama Sikandar Ali

memungkinkan lebih meningkatkan Qalati et al.,

2020)

memungkinkan perusahaan untuk

persaingan

nakan media sosial karena mengikuti

55

effect orang lain

Saya memilih m
ENV 6

pengusaha lain

Media sosial m
SMA 1

produk atau jas

Social media Social media dengan media
adoption adoption SMA 2 balik (feedback

yang ada

SMA 3 Media sosial m
informasi tenta

SMA 4 dengan media
baru

SMEsP Saya merasa de

SMeS SMeS 1 dapat meningk

Performance Performanc SMEsP Saya merasa de

2 dapat meningk

media sosial karena beberapa (Tajudeen,
nnya menggunakan itu Jaafar, and
membantu saya mempromosikan Ainin 2018)
sa usaha saya
sosial saya dapat menerima umpan
k) pelanggan tentang produk/layanan

membantu saya untuk mengetahui
ang pelanggan
sosial dapat menjangkau pelangga

engan menggunakan media sosial (Ahmad, Abu
katkan penjualan Bakar, and
engan menggunakan media sosial
katkan feedback (umpan balik) usaha Ahmad 2019)

56

produk saya

SMEsP Saya merasa de
3 berinteraksi de
SMEsP Saya merasa de
4 dapat meningk

engan menggunakan media sosial
engan pelanggan jauh lebih cepat
engan menggunakan media sosial
katkan pelayanan kepada pelanggan

57

3.4.1 Survei
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan

kuesioner secara tidak langsung dan langsung kepada responden. Peneliti
menyebarkan link kuesioner kepada pelaku UMKM yang mnggunakan media
sosial secara online menggunakan media sosial seperti whatsApp, Instagram,
dan twitter atau juga dengan tatap muka secara langsung.

Survei merupakan metode kuantitatif yang paling sering digunakan.
Adanya metode survei ini dengan menggunakan bentuk pengumpulan data
yang dianalisis menjadi informasi. Penelitian ini menggunakan 5 pilihan
respon yaitu Sangat Setuju, Setuju, Netral, Tidak Setuju dan Sangat Tidak
Setuju. Dilakukan penyebaran kuesioner dengan offline dan online. Hasil dari
kuesioner yang dikumpulkan akan diproses, dan dikelompokkan dengan
Microsoft excel 2010.
3.4.2 Studi pustaka

Metode ini adalah suatu teknik pengumpulan data dengan membaca dan
memahami teori dari buku-buku, dan situs-situs penyedia layanan objek
penelitian yang akan dibahas.

58

Tabel 3. 2 Penelitian Sej

Nama (Tahun Judul Penelitian Variabel
Penelitian)
Compability
Sulaiman Ainin, Factors Cost effectiveness D
Trust y
Farzana Parveen, Influencing The Interactivity b
Facebook use p
Sedigheh Use Of Social Non financial c
performance e
Moghavvemi Media By SMEs Financial i
performance f
And Noor And Its S
t
Ismawati Jaafar Performance y
t
(2014) Outcomes o
F
Rita Rahayu Determinant Perceived benefit m
,John t
(2015) Daya Factors Of E- Perceived

Commerce compability

jenis dan literature pendukung

Hasil Penelitian Kelebihan kekurangan

Diektahui bahwa faktor Variabel dan Referensi terkait
yang paling
berpengaruh dari referensi dengan setiap
penelitian ini adalah
compability, cost dijelaskan dengan item
effectiveness,
interactivity, dan lengkap pengukurannya
facebook usage.
Sementara trust belum tidak dilampirkan
terbtukti memiliki hasil
yang signifikan Variabel yang Detail variabel
terhadap Perfomance
outcomes SMEs. digunakan kuesioner tidak
Faktor- faktor dari
model penelitian dijelaskan dengan
tersebut yang terbukti

59

Adoption By Smes Cost m

In Developing Technology readiness d

Country: Firm size p

Evidence From Customer/supplier t

Indonesia pressure o

Competitor pressure o

External support d

Owner inovatiness S

Owner IT ability i

Owner IT experience y

e-commerce by the a

SME c

Syed Zamberi Social Media Relative advantage P
Adoption And Its Compatibility m
Ahmad, Abdul Impact On Firm Complexity S
Performance: Trialability t
Rahim Abu The Case Of The Observability t
UAE Management support t
Bakar, Norita Bandwagon pressure A

Ahmad (2017)

memiliki pengaruh lengkap dan dilampirkan

diantaranya adalah pembuktian

perceive benefits, setiap hipotesis

technology readiness, dilakukan dengan

owner inovatiness, jelas

owners IT experience

dan owner It ability.

Sementara itu faktor

individu memiliki peran

yang paling dalam

adopsi teknologi e-

commerce.

Penelitian ini hasil penjabaran Tidak

membuktikan bahwa hipotesis menjelaskan

SMEs dalam konteks dijelaskan dengan variabel yang

teknologi belum lengkap, referensi digunakan

terbukti signifikan yang digunakan dengan jelas dan

terhadap Social Media dilampirkan lengkap

Adoption, sementara dengan lengkap

60

Competitive pressure s

SMEs Social Media t

Adoption p

Business performance h

b

s

k

l

m

s

s

Relative Advantage H

Farzana Parveen Understanding Compability a
Tajudeen, Noor The Impact Of Cost h
Ismawati Jaafar, Social Media Structural assurance a
Sulaiman Ainin Usage Among Interactivity a
(2018) Organizations Top management a
support m

Entrepenurial p

social media adoption Penelitian ini Hasil perhitungan
terhadap business menjelaskan setiap indikator
performance memiliki secara detail tidak ditampilkan
hasil yang sama yaitu terkait dengan
belum terbukti variabelnya, item
signifikan. Adapun pengukuran,
konteks organisasi dan pembuktian
lingkungan terbukti hipotesis pun
memiliki hasil yang
signifikan terhadap
social media adoption.
Hasil dari penelitian ini
adalah bahwa terdapat
hasil yang signifikan
antara relative
advantage, structural
assurance pada social
media, institutional
pressures dan

61

orientation e
Institutional pressure o
Use for marketing s
Use for customer s
relations y
Use for information s
search i
Impact on cost T
reduction b
Impact on s
customerrelations t
Impact on d
information c
accessibility e
m
i
m
y
y

entrepreneurial dijelaskan dengan

orientation terhadap baik.

social media usage

serta adanya hubungan

yang signifikan dengan

social media usage dan

impact on organization.

Tetapi ada juga variabel

belum terbukti

signifikan pada model

tersebut yang

dianataranya adalah

compatability, cost

effectiveness, dan social

media usage serta

interactivity dan top

management support

yang memiliki hasil

yang signifikan dengan

62

Interaktivitas s
p
Efektivitas biaya H
d
Kepercayaan U
v
kompatibilitas e
k
Penggunaan media t
d
Anissa Hakim Analisis sosial m
Purwantini, Pemanfaatan Kinerja pelayanan u
Friztina Anisa Social Commerce pelanggan b
(2018) Bagi UMKM: Kinerja penjualan s
Anteseden Dan Kinerja pemasaran p
Konsekuen Kinerja operasi s
internal A
m
Kinerja inovasi s

social media usage

pada organisasi.

Hasil dari penelitian ini Pembuktian dan Tidak ada model
penelitian yang
diketahui bahwa penjabaran dalam bentuk
gambar, dan tidak
UMKM memiliki hipotesis melampirkan
kuesioner
variabel interaktivitas, dilakukan

efektivitas biaya dan dengaan jelas.

kepercayaan yang Penelitian ini

terbukti signifikan juga

dengan penggunaan melampirkan

media sosial. Sementara referensi yang

untuk compability lengkap

belum terbukti

signifikan dengan

penggunaan media

sosial padaUMKM.

Adapun penggunaan

media sosial terbukti

signifikan dengan

63

Relative Advantage k
p
Social Media Complexity p
p
Adoption As A Compatibility o
u
Tripopsakul S Business Trialability m
(2018) Platform: An Observability k
t
Integrated TAM- Academic support y
D
TOE Framework Entrepreneur f
u
innovativeness m
d
IT experience s
p
p
d

kinerja pelayanan Penelitian ini Tidak
pengguna, kinerja
penjualan, kinerja melampirkan menjelaskan
pemasaran, dan kinerja
operasi internal. Dan hasil perhitungan dengan lengkap
untuk penggunaan
media sosial terhadap setiap indikator terkait teori setiap
kinerja inovasi belum
terbukti memiliki hasil penelitian dengan variabel yang
yang signifikan.
Dalam penelitian ini jelas digunakan dan
faktor yang paling
utama dalam tidak
memainkan peran
dalam adopsi media melampirkan
sosial pada business
platform adalah referensi setiap
perceived ease of use
dan perceived of

64

Environmental u

context t

Competitive pressure

Customer pressure

Social pressure

Perceived usefulness

Perceived ease of use

Social media as a

business paltofrm

Perceived usefulness F

Salma S. Abed Social Commerce Security concern b
(2019) Adoption Using Top management t
TOE Framework: support p
An Empirical Organization e
Investigation Of readiness p
Saudi Arabian Consumer pressure p
SMEs Trading partner c
pressure b

Behavior intention u

usefulness pada konteks variabel dalam
teknologi dalam. penelitian
sebelumnya

Faktor yang paling Penelitian ini Penjelasan
berpengaruh yaitu
trading partner menjelaskan hipotesis kurang
pressure pada
environment context , dengan lengkap mendetail, dan
perceived usefulness
pada technological setiap terlalu banyak
context terhadap
behavioral intention variabelnya, dan tabel
untuk menggunakan
pembahasan hasil

cukup jelas

65

Perceived relative s

advantage H
m
Perceived complexity m
d
Perceived m
p
compability v
v
Mohamad Irhas Social Media Employee skills a
Effendi, Dyah Adoption In Smes Cost perception p
Sugandini, Yuni Impacted By Top management d
Istanto (2020) COVID-19: The support C
TOE Model Competitive
K
advantage p

Government support

Environment

uncertainty.

Social media

awareness.

Adamantia Organizational Relative advantage

Pateli, Naoum Adoption Of Presence

social commerce. Penelitian ini Tidak
menjelaskan dilampirkan item
Hasil dari penelitian ini setiap pengukuran dan
menunjukan bahwa variabelnya tidak
model dari TOE yang dengan jelas dan melampirkan
dikembangkan terbukti menjabarkan setiap hasil
memiliki hasil yang hipotesis yang perhitungan dari
positif antar satu mudah indikator
variabel dengan dimengerti
variabel lainnya dalam
adopsi sosial media
pada SMEs yang
disebabkan oleh
COVID-19.

Kesimpulan dari Menjelaskan Penelitian ini
tidak terstruktur
penelitian ini diketahui setiap variabel

66

Mylonas And Social Media In Interconnection d
Aggeliki Spyrou d
(2020) The Topmanagement m
y
Hospitality Innovativeness s
v
Industry: An External pressure f
b
Integrated Uncertainty t
t
Approach Based Social media a
F
On DIT And TOE adoption p
p
Frameworks t
m
Sikandar Ali Examining The Compability I
Qalati Wenyuan Factors Affecting Interactivity R
Li, Naveed SME Visibility C
Ahmed, Manzoor Performance: Relative advantage
Ali Mirani And The Mediating Cost effectiveness
Asadullah Khan Role Of Social Top management
(2021) Media Adoption support
Entrepreneurial

dari 9 hipotesis yang dengan jelas dan dalam
menyelesaikan
dibuat semuanya mudah masalahnya

memiliki hubungan dimengerti Penelitian ini
kurang jelas
yang signifikan antara dalam
menjelaskan
satu variabel dengan setiap variabel
yang digunakan,
variabel lainnya. Dan tidak
melampirkan
faktor yang paling

berpengaruh adalah

technology feature

terhadap social media

adoption.

Faktor-faktor yang Penelitian ini

paling dominan dalam menjelaskan

penelitian ini adalah dengan jelas

technology factor yang terkait dengan

meliputi Compability, pembuktian dan

Interactivity, Visibility, penjabaran

Relative advantage, dan hipotesis

Cost effectiveness.

67

orientation
Competitive intensity
Competitive pressure
Bandwagon effect
Social media
marketing
Customer
relationship
Information
accessibility

SME performance

referensi terkait
dengan item
pengukuran, dan
tidak
menjelaskan
dengan lengkap
pembuktian
hipotesis

68


Click to View FlipBook Version