VERSI BAKRIE “Bakrie, pencari kesempurnaanku, hanya di tahun itu.”
Daftar Buku : ➢ Prolog i. Pramuka Indonesia ii. Kamu Bakrie iii. Halal (Bihalal) iv. Bersenang-senang Tapi Serius v. Hari Ibu vi. Halo, “Jangan Gembira di Tahun Baru!” vii. Haus! ➢ Epilog *** Satu cerita indah, ditulis oleh Putriku Neza Mutia Sari, Putriku Neza. *** Berkisah bersama versi Bakrie. Pada saat itu, yang ‘pernah ada’ untuk terjadi, bukan lagi ada. ➢Prolog ..... Bakrie yang kupunya di tahun itu. Inilah sisi gelapmu. Mencintai orang baik sepertiku, kemudian mengubahku menjadi jahat. Aku ingin merusak takdirku jika bukan bersama kamu. Hanya ingin, tidak kesampaian. Sebab kamu tidak mengizinkanku. Tapi aku terima laranganmu, jika benar kamu masih mengingat segala macam sifat Allah, sebagaimana janjimu, masih akan mengingatku dengan persentase sedikit besar. Tidak lebih besar dari selalu mengingat Tuhan kita. “Bakrie, ingatlah aku, sedikit lebih besar daripada ingatanmu yang lain. Tidak perlu diingat selalu, karena itu cuma hak manusia kepada Tuhannya.” — Wahai Komala Maniska *** i. Pramuka Indonesia
PADA pagi hari itu, lebih ramai ternyata, lebih dari biasanya. Tanggal 14 Agustus, upacara Pramuka resmi digelar di hari Jumat, dengan lapangan sekolah kami sebagai alasnya. Itu terjadi di tahun 2018, sewaktu aku masih diberi julukan ‘Ibu Kos’, karena jabatanku sebagai bendahara kelas. Aku merangkap dari segala aspek kehidupan. Aku memutuskan untuk menyalin segala sesuatu secara lugas. Inilah dampak dari benakku yang tidak bisa berbohong. Aku masih ingat betul sepanjang peristiwa itu terjadi. Aku seperti merakit utuh tentang dirinya yang menyisip sempurna di sebagian hidupku. Maka kamu boleh mengetahui tentang dirinya, bentuk keindahannya yang bersifat seperti dunia, ‘hanya sementara’. Aku bilang lebih ramai ketimbang lain hari, ini karena pemberitahuan yang beredar dari anggota OSIS, jika tidak datang untuk melakukan upacara, akan diberi sanksi!! Kejam, tapi aku suka. Aku juga gak ikhlas sebagai manusia berbahan dasar tanah. Mereka juga harus rasain panasnya di lapangan! Jadilah hari ini ramai, tidak ada siswa-siswi yang bolos. Aku juga tidak perlu repotrepot mencatat di laporan keuangan kelas, siapa-siapa saja yang tidak hadir, dan berakhir tidak bisa bayar kas hari ini. Itu bikin repot, pita suaraku mahal, capek meneriaki hutanghutang temanku di buku kas. Tapi kupilih insiden upacara besar di hari Jumat ini, sebagai salah satu bagian terbaik yang perlu dunia tahu, upacara itu akan menjadi upacara terkenang untuk beberapa menit ke depan. Saat dimana kepala sekolah kami, Pak Kasghani, beliau berdiri di atas balok kayu, berdiri tinggi, dan memulai pidatonya. Menarik, bagus, selalu aja begitu. Aku dengerin pake serius. Penyampaian dari Pak Kasghani itu, gak bikin bosen. Tapi aku diberi batas oleh Tuhan, cuma bisa dengerin sampai setengah dari pidato yang dibawakan Pak Kasghani. Semua itu disebabkan oleh satu kekacauan. Aku dan segala kekesalan yang menyertai, mencoba ikut ke satu titik pusat. Aku lihat saksama di barisan paling belakang, letaknya di luar rerumputan, jadi sepatu sudah dapat menapak tanah liat, dan debu-debu menguap di sekelilingnya. Gila! Di barisan itu, justru ada perkelahian hebat, satu lawan satu, keduanya laki-laki bertubuh tinggi. Dan lihat! Ya Allah, satu teman baikku, sampai memegangi dadanya. Pernapasannya itu sedang melarat! Debu tanah seperti asap yang mengepul. Aku mendekati temanku itu, Ya Tuhanku dia gadis baik, dia sering ambilkan aku sedotan di saat kantin seperti stasiun Train To Busan! (drama Korea horor yang terkenal itu).
Aku membantunya, aku mengajaknya keluar dari sekeliling barisan laknat itu. Kenapa juga teman baikku harus ada di barisan yang sekarang terjadi perkelahian. Gila memang. Parah! “Uhuk! UHUKKK!!” Tuh, kan, temanku jadi sekarat. Tanggung jawab, deh! “TOLONG DIKENDALIKAN!!” Salah satu guru kami yang lain, berbicara di depan mikrofon. Pak Kasghani sudah turun tangan, terjun langsung di keributan. Jadilah aku gak bisa menangkap keberadaan guru hebatku itu. Aku menatap lamat-lamat ke arah guru yang kini koar-koar di mikrofon—alat yang justru membuat kupingku makin rusak. Dan suaranya, boleh jadi makin membuat suasana jadi genting! 45 detik kemudian, aku terjatuh! Aku sungguh bisa menghitungnya, karena aku menunggu petugas UKS datang, kebetulan aku pakai jam tangan bagus di tahun itu. Aku jatuh, aku terdorong ke belakang, terjungkal-jungkal. Rok SMA ku yang panjang, sedikit tersingkap, aku jatuh gak estetik. Tapi aku selalu pakai celana panjang sebagai rangkepan. Demi Rasulullah, aku merasa aman. Pasalnya, banyak pasang mata yang lihat ke arahku. Cowok-cowok juga kepo, sialan lah saat itu! Aku memegangi pinggangku, sakit, ngilu, apalagi kakiku keselo. Semua syok, justru kerumunan bertambah, dan itu karena aku yang jatuh. Mereka mengerumuniku. “UKS!!” Temanku yang tadi napasnya sesak, dia sudah membaik, dan berteriak nyaring. Aku senyum sedikit, syukurlah dia tidak jadi sekarat. Lalu benar, dua petugas UKS datang setelah itu. Aku bersyukur, aku juga sadar, aku enggak bisa bangun. Aku dipapah oleh satu petugas—sisanya yang satu itu, dia nyiapin obat di kotak putih. Aku tau namanya, P3K. Cuma, kulihat saat itu isinya tidak lengkap. Ah, apalah petugas UKS ini. Mentok-mentok juga minyak kayu putih, aku gak suka wanginya, bikin mual. Kuharap, kakiku juga menolak jika diberi minyak berbotol hijau itu. Gak berguna, apalagi fresh care! Tolak aja udah, bisa lah foot! Cuma, aku lebih sedih lagi, harusnya dua petugas itu perempuan aja. Bukan laki-laki!! Masa, aku dipapah sama cowok, dan dia... kakak kelasku?! Ya Allah, engga banget! Sumpah, aku normal, aku juga bisa deg-degan dengan jarak setipis itu. “Nanti jangan nolak buat minum obat,” Itu adalah kalimat pertamanya yang kudengar. Kami sedang berjalan, aku tertatih-tatih, dan dia menuntunku. Ya, meski agak canggung. Apalagi, kami tidak saling kenal. Tapi aku tahu namanya. Dia itu Abel, Kak Abel. Kakak baik. Aku senang mengingatnya.
“Kalau kakimu diperban, tutup mata,” Kalimat keduanya. Aku sungguhan ingat, tanpa dipaksa, tidak seperti saat hafalan 99 Asmaul Husnah di depan Pak Ahmad—guru agamaku yang paling gaul dibanding guru TU, yang dimana perlu sholat hajat supaya aku bisa lolos dari tes itu. Lalu aku membalas cepat. “Harus?” “Waspada aja,” Bahkan ekspresiku sudah berubah drastis. Panik. “Separah itu kakiku?” “Se-pasrah itu kamu?” Dia balik tanya. Aku nyengir lebar. Tapi aku lekas menggeleng. “Ha ha ha! Aku percaya, aku cuma lebay. Ini gak terlalu sakit,” Dia mengangguk, dua kali anggukannya, dan berhasil membuat satu bulir keringatnya di ujung poni jatuh di kerah seragam pramuka. Aku sadar, aku memperhatikannya. Kalau boleh kuingat lebih jelas lagi, bismillahirrahmanirrahim, aku pejamin mata untuk mengingat. Di saat itu Kak Abel tidak mengancing seragam coklatnya sampai atas, ada satu kancing tersisa, dan lehernya yang penuh keringat itu kelihatan. Kasihan. Lagian, punya cita-cita apa, sih, dia? Aktif sekali di organisasi. Ah, lagian juga, aku harus buka mata! Segitunya buat mengingat Kak Abel! *** Biar kulanjutkan detail peristiwa di 14 Agustus tahun 2018 itu. Kamu harus catat baik-baik, Kak Abel itu lebih dari cukup. Aku memulainya dengan nama itu, namanya, Abel, karena aku terpesona! Dia tampan, sungguh! Dia punya darah Jakarta dan Jerman. Dia itu juga pintar, loh! Dia calon duta, nanti kalau pengumuman kedutaan seprovinsi itu sudah ada, akan kukabari. Saat ini, fokus dulu menatap Kak Abel. Kakiku sedang diberi salep sama dia, di brankar UKS. Baiknya putra ini. Aku menahan senyum, bibirku sudah berdenyut. Dia menyentuh kakiku hati-hati sekali. Tapi suasana berakhir paksa. Lagi-lagi secara paksa! Itu kembali dibuat oleh keonaran di lapangan! Sekarang kudengar suara pintu UKS dibuka paksa, sampai membentur dinding kencang. Bingkai pintu menjepret sosok laki-laki yang berdiri di sana, ada beberapa luka di tubuhnya. Aku meringis ngilu, seperti membayangkan itu di posisiku. Pasti sakit.
Dan yang aku bicarakan itu, kini berjalan tertatih menuju brankar kosong di sebelahku. Dia duduk, sambil masih meniupi lengannya yang luka. “Tunggu sebentar,” Abel berucap. Dan aku bergegas menoleh kepadanya—setelah tadi memandangi laki-laki penuh luka itu. “Iya, Kak.” jawabku sambil mengangguk. Kak Abel kemudian melanjutkan kegiatannya, di tengah itu, dia berucap lagi. “Sebentar, Arie.” Maksudnya... Kak Abel gak bicara sama aku gitu? Cuih! Aku mengumpat tanpa diminta. Sabar! Sumpah sabar! “Kepalamu tadi kebentok tiang. Pusing?” Aku diam ketika Kak Abel bertanya. Takut salah lagi. Lagian, dia nanya, dengan kepala tertunduk, sibuk mengobatiku. Tidak tahu, bicara sama siapa dia! Sekarang dia sibuk mengotak-atik kotak obat, baru mengangkat kepalanya ke arahku. “Pusing, gak?” Oh, jadi dia tanya ke aku? Aku tersenyum biasa. Menjaga harga diri. “Dikira-kira aja. Bunyi kenceng, nggak, waktu kepalaku kebentok tiang?” “Nggak denger tadi,” Ya, udah. Aku mengangkat bahu acuh. “Gak pakai alat bantu dengar, ya, gitu,” Setelah itu Kak Abel berdeham. Aduh, medeni yo! Maksudku, ternyata dia dingin, cuek, dan seolah hidup bila ada perlunya aja. Kaget waktu dia menatapku, agak tajam. “He he he. Gak pusing, sih...,” “Istirahat dulu kamu,” Aku mengangguk lagi. Sedangkan dia sudah pindah brankar, dan menemui laki-laki yang sedari tadi diam—karena masih berkutat memeriksa lukanya. Tapi, tunggu. Dia luka-luka? Oh! Berarti dia, dong, biang kerok cilik episode hari ini?!?! Iya?! Astagfirullah haladzim. “Kamu yang tadi berkelahi?” Aku bertanya cepat. “Istirahat,” peringat Kak Abel tanpa kuduga. “Cuma nanya doang,” “Bertanya juga butuh energi.”
Isshh! Aku mendesis kecil, bercampur kesal. Saat itu, Kak Abel sedang membantu laki-laki itu untuk membersihkan darah di kulitnya. Aku ingat sekali, Kak Abel bawa botol alkohol juga, warna putih, tanggal expirednya 7 Januari 2022. “Hmm tadi kayak ada yang tanya sama aku?” Laki-laki itu bersuara tiba-tiba. Aku langsung menoleh kepadanya. “Iya, gak, Bel? Ada, kan?” Kak Abel cuma menanggapinya dengan ekspresi datar. Dia kemudian memutar kepalanya, sampai menatapku. Lalu bertanya padaku. “Oh? Berkelahi di mana?” “Di lapangan.” jawabku. “Oohh, tapi janji jangan bilang siapa-siapa. Mau, gak?” Aku langsung memasang ekspresi aneh. Maksudnya apa, sih? “Orang-orang juga pada tahu, kamu yang bikin masalah!” Aku menjawab ketus. Dia tetap berbicara. “Jangan bilang siapa-siapa, aku udah nyelesaiin tugas fisika dari Bu Win.” Pakai bawa-bawa nama guru Seni Budaya lagi. “Nggak ada kelanjutan dari tugas fisikamu. Kecuali kamu mendetail tentang kejadian di lapangan tadi.” “Ada lanjutannya,” Dia menjawab tenang. Tersenyum sebisa mungkin, di era rasa sakit di bibirnya, yang sedikit robek. “Itu sebabnya aku berantem sama kawanku,” “Rebutin jawaban fisika punyaku yang indah... karena belajar pakai buku seni budaya.” tambahnya. Dan dia semakin mengusahakan untuk lekukan di bibirnya, biar tambah nampak. “Jangan lupa kerjain PR, nanti kalau udah kerja, nggak bisa lagi.” “Mumpung kadaluwarsa masih lama.” 68% bahwa aku tertarik dengan topiknya. Maka dari itu, aku mulai membalas kalimatnya, yang harusnya bisa diabaikan. “Kadaluwarsa sebagai siswi?” Aku berani bertanya. “Sebagai manusia paling bahagia pada masanya.” jawabnya dengan mantap. Pagi di hari Jumat itu, masih dengan hari memperingati Pramuka Indonesia, aku mungkin tidak sebegitu paham dari percakapannya. Makna itu masih belum bisa kudapati. Karena belum bisa kurasakan saat itu.
Dia mengajarkanku, semua perlu dirasa, untuk mendapat pemahaman maksimal. Tapi hari ini aku mengerti banyak tentang itu. Dia benar, orang itu benar, manusia pemilik dari tugas fisika bercampur seni budaya itu sangatlah benar. Tahun itu aku bahagia dengan beragam sebab. Status pelajar adalah situasi paling aman untuk dunia yang keras ini. Aku mengerti, dia mengajariku tentang kondisi dunia secara realistis. Apa pun bentuk yang terjadi saat itu, hanyalah tetap menjadi milik tahun itu. Sekarang aku cuma bisa menyempatkan untuk mengingat, selebihnya sudah kadaluwarsa. Sudah tidak bisa diulang, hanya mengulas kembali ketika rindu. Sekarang aku sudah merasakan bagaimana kehilangan kamu. Pemahaman itu maksimal kupelajari. Mencintai kamu itu menyenangkan. Bagian selanjutnya yang udah gak seru lagi. Tinggal menata kenangan. Dan aku juga baru sadar sesuatu. Tadi, di awal kedatangannya, belasan menit lalu, Kak Abel mengulang kalimatnya. “Sebentar, Arie.” Yang kupikir itu ditujukan untukku, ternyata kepada laki-laki penuh luka itu. Jadi, namanya Arie? Kelak aku akan secepatnya tahu, itu hanyalah nama kecil miliknya. *** Kondisiku lekas membaik, tidak separah saat tadi di UKS. Pulang sekolah, aku sudah bisa kembali seperti tupai, aktif dengan pergerakan kakiku. Ini juga menjadi bagian spesial, yang kupilih untuk diketahui oleh banyak manusia. Aku ingin mereka tahu, bahwa ini adalah masa pertamaku berbicara banyak dengannya—dia, yang sudah berdiri di sampingku, ikut menunggu di depan bangku halte sekolah. Aku sengaja enggak mau duduk, nanti dia bisa duduk di sampingku! Gak enak dilihat orang. Masih kupikir sampai sekarang, di kala itu, hadirnya bisa sampai di halte sekolah, termasuk inisiatif untuk bisa ngobrol denganku. Aku tersenyum saat-saat mengingatnya. “Nggak tarawih?” Aku langsung menoleh selesai mendengar pertanyaannya. Tatapanku tersirat aneh, dan tersurat ingin menyampaikan lampiran rumah sakit. Dia harus periksa jiwanya! “Belum waktunya,” kujawab dengan normal, ala kadarnya. “Terus kapan bisanya?” Aku sadar, tatapannya tak putus memandangku dari samping. Aku pura-pura gak sadar aja, meski ekor mataku bekerja sempurna. “Tanya Kak Abel aja,”
Lepas itu dia tertawa kecil. “Abel besok harus ke gereja, Sabtu Minggu.” Tenang dulu, aku udah tahu, kok, kalau Kak Abelius itu Protestan. Pembaca harap jangan ledek dulu. “Aku mau tanya ke umat Islam,” Dia berucap lagi. Kini aku menoleh ke samping, membalas tatapannya. Hanya kepalaku yang berputar, bukan tubuhku. “Ke ustadz aja lah!” “Mau temenin?” Aku jelas menggeleng, lalu kembali menatap ke depan. “Ada urusan lain.” Dia angguk-angguk kecil. “Kalau gitu aku pulang. Biar urusanmu cepet selesai.” Emang bisa gitu, ya? Ah, ada-ada aja. Pusing kepalaku. Setelah kepergiannya, aku terkejut bukan main. Dari kejauhan sudah bisa kudengar suara motor ayahku. Aku dijemput tepat setelah dia pergi!! Selain bisa berkelahi di tengah berlangsungnya upacara Pramuka, dia juga bisa menjadi sutradara, ya? Aku tersenyum kecil tanpa sadar, sebagai tanda itu adalah hal lucu. Aku naik ke atas jok motor belakang, lalu memeluk ayah dari belakang karena permintaannya. Aku tetaplah menjadi putri kecilnya yang dicemaskan. Aku sayang ayah, kuselipkan ungkapan ini, biar abadi juga bersama versi dia. Dan dia adalah seseorang yang tadi bersamaku di UKS. Saat bertemu denganku dua kali di hari itu, kondisinya tidak seberantakan tadi di UKS. Mungkin, perselisihannya dengan lawan sudah reda. *** ii. Kamu Bakrie “Assalamualaikum!” Di malam harinya, di pinggir trotoar jalan, aku terkejut sekilas. “Waalaikumussalam...,” Setelah menjawab salam, aku lebih banyak tercengang. Aku sedang antre membeli martabak pun, ketemu dia? Si pengacau upacara Pramuka! Sebenarnya, dunia sedang eror apa gimana, sih? Kenapa itu-itu terus yang aku jumpai?! “Kamu bisa di sini juga?” Aku bertanya. Dia mengangguk senang. Aku merinding seketika. “Pesan banyak?” kutanya lagi.
“Pesan dua box aja.” “Oohh...,” Aku angguk-angguk paham. “Sama pesan satu lagi,” Dia berkata lagi, dan itu tiba-tiba. “Bilang aja ke masnya,” Aku menunjuk dengan pupil mataku, mengarah kepada sang pedagang. “Tapi bukan pesan martabak.” “Terus?” “Aku kasih pesan ke kamu, biar langsung diterima kalau ada yang ngasih sesuatu,” Kemudian dia mengeluarkan satu buah amplop putih, bersih, suci, polos, tanpa noda. Aku diam membeku. Tanganku makin dingin. Sungguh, tatapannya sangat dalam. Dia ini kenapa? “Buat aku?” Dia tersenyum. “Dari Bakrie.” Itu lah harinya. Dimana aku tahu namanya. Senang bila masih mengingat, aku salah satu orang yang ingin kamu kenal saat itu. Terima kasih. Aku tersenyum sambil mengetik semua masa lalu ini. “Kamu Bakrie?” Aku bertanya memastikan. “Iya, dan kamu pasti bukan Bakrie,” Dia menunjukku dengan pergerakan dagunya yang terangkat sekilas. Aku tertawa spontan. “Pastilah bukan!” “Lalu?” “Komala.” Dan dia kali ini menciptakan senyuman yang lebih tulus, melebihi tingkatan sebelumnya di pertemuan kami. “Iya. Komala, Wahai Komala Maniska.” Dan dia juga tahu nama lengkapku di hari itu juga. Di malam itu. Perkenalkan sekali lagi, aku yang memaksa untuk menulis kembali semua takdir kemarin yang sudah tuntas dilewati. Akulah orangnya, Wahai Komala Maniska. “Lebih senang bertemu kamu, Mala.” Itu kalimat yang masih kuingat. Selebihnya di malam itu, percakapan kami sedikit pudar di ingatan.
Aku kurang jelas mengingatnya. Tapi bagian lain, sempurna untuk diulas. Tunggu saja. *** Dan ini, menjadi satu bagian yang perlu untuk ditulis. Aku menyerahkan segalanya kepada kamu, biar bisa kamu baca sendiri. Aku memegangi pinggangku dengan satu tangan, lalu satu tangan lagi, memegang kenop pintu kamar. Selepas masuk ke dalam kamarku yang minim pencahayaan, amat redup, aku menarik napas panjang. Perutku kenyang, habis makan martabak banyak. Oh! Omong-omong soal martabak, aku ingat sesuatu yang sekiranya sekarang kuanggap penting. Amplop putih dari Bakrie. Aku membukanya sekarang. Aku ingin tahu, apa isi di dalamnya? Meskipun, pastilah surat dengan banyak coretan huruf. Tapi aku punya penasaran lebih! Aku buka, ya. Aku ingin baca bersama-sama dengan kamu! MALA! AKU BENAR, KAN? Kamu bisa langsung terima pesanku ini! Tapi jangan lupa sama pesan bapak ibu guru. - SYARAT UTS ADALAH LUNAS BIAYA UJIAN DAN SPP!! - Buat hari ini, kamu cukup baca dulu pesan itu. Nanti, kamu bakal dengerin langsung pesannya. Dengerin lewat pidato upacara Senin mendekati ujian. Aku serius. Jangan ketawa, isi pidatonya pasti begitu. Gagal, Bakrie! Laranganmu gagal! Aku ketawa! Ha ha ha ha! Ya Tuhanku! Kamu ini memang gila! Kamu itu aneh! Ah, udahlah! Aku terus mempertahankan senyumanku, lebar sekali, sampai surat itu kembali kumasukkan ke dalam amplop, bayanganku masih tentang wajahnya yang tengil!! Nakal sekali! Aku mau tidur aja. Dan kamu, jangan ngebut baca ceritaku terus. Kamu juga harus lakukan aktivitas lain. Besok aku bangun, akan kulanjut bagaimana selanjutnya. Besok hari Sabtu, aku mau ketemu Bakrie! *** Sebentar lagi, 17 Agustus akan tiba. Aku ingin mengingatkan kepada ketua kelasku, dia Hansa. Sekaligus mantan pacarku. Tidak akan kusebut banyak tentang dia di ceritaku ini.
Aku tidak mau. Tapi jika sudah berhadapan dengannya seperti saat ini, aku harus menulis namanya lebih banyak lagi. Hansa bilang, dekorasi kelas terlalu berlebihan, dia mengeluh kepadaku, bukan pada pimpinan (pendekor). Mentang-mentang karena dana dikendalikan olehku. Lalu kujawab, “Tapi wali kelas kita suka, gak bermasalah, kok,” “Bu Endah ngadunya ke aku, mana tahu kamu.” “Ya aku jelas gak tahu, kamu ngasih tahunya selalu di akhir, pas semua udah selesai. Sengaja, mau mojokin aku,” Hansa mengubah ekspresi, kelihatan enggak terima. “Kamu bendahara, Mala. Yang profesional!” “Kamu ngerasa aku lagi nyinggung masa lalu? Bawa-bawa keprofesionalan lagi,” Dan dia diam. Iya, Hansa diam. Manusia satu ini selalu menjebak dirinya sendiri. Jangan salah, aku ini suka banget sama pelajaran bahasa Indonesia, gurunya wali kelasku sendiri, aku tahu betul cara mendebat orang dengan tepat. “Berarti kamu yang gak profesional, Han.” Aku mengakhiri kalimatku. Tiba-tiba, percayalah, keajaiban datang! Aku bukan sembarang memasukkan skene. Ini kutulis, sebab ada Bakrie yang datang kepadaku. Bakrie tiba di kelasku, di tengah perbincanganku bersama Hansa. “Assalamualaikum!” Bakrie mengucap salam, riang suaranya, dan tenang ekspresinya. “Waalaikumussalam.” Hanya aku yang menjawab. Tidak dengan Hansa. Mengakibatkan Bakrie menoleh kepada Hansa. “Shalom, om swastyastu, namo buddhaya, salam kebajikan.” “Waalaikumussalam!” jawab Hansa pada akhirnya. “Kenapa gak jawab dari tadi? Kirain non muslim,” Hansa memasang wajah datar. Sangat. “Udah di dalam hati.” “Yaa... saya mah gak ada telepati sama kamu. Mana bisa dengerin jawaban salam kamu,” “Ribet banget. Cowok bukan, sih?” sengit Hansa. Aduh, mulai, nih. Malesin, nih. Udahlah, Hansa itu gampang banget ke pancing emosi. Aku segera menarik Bakrie untuk pergi dari hadapan Hansa.
Tapi Bakrie menolak, dia lalu menatap Hansa lagi. Bakrie menjawab, “Buktinya saya sholat Jumat setiap hari Jumat. Pakai sarung, kopiah, wudhu di tempat laki-laki.” Bakrie tersenyum kemudian. “Kalau kamu hari apa sholat Jumatnya?” tanyanya. “Tapi seringnya kulihat kamu bertengkar dimana-mana, tuh. Malu sama sarung!” Dan, Hansa pergi setelah tuntas mengatakannya. Aku sedikit lega. Paling gak, ini semua gak tambah kacau. Tapi kulihat, Bakrie menatapku dengan bingung saat itu. “Ketua kelas?” Aku mengangguk kaku. “Justru kulihat, dia mengetuai sholat Jumat di hari Sabtu!” kata Bakrie begitu. “Sholat Jumat hari Sabtu? Sesat, dong?” Bakrie mengangguk sambil tertawa kecil. “Dia cocok jadi ketua kesesatan. Pengecut!” “Hisshh!!” Aku refleks melototinya. Jangan sampai bikin masalah! Aku yang kena! “Ya, udah,” Bakrie mengalah untuk mengakhiri topik itu, dan dia membuka satu topik utama, yang membawanya datang kemari, ke kelasku. Aku menyimak apa yang dia katakan. “Subuh kemarin, mamanya Hisyam wafat. Habis ini informasinya pasti disiarkan, kamu mau ikut takziah?” Hisyam teman kelasku! Astagfirullah. Aku betul-betul terkejut hebat. Mendadak menarik napas berat, itu musibah luar biasa untuk kehidupan Hisyam dan keluarga. Aku turut berdukacita, Hisyam. Maafkan aku, aku tidak bisa ikut takziah ke rumahmu. Aku sudah janji ke ayah, akan ikut dengannya ke pasar besar, membantunya di sana. “Kalau dibatalkan, berapa persen ayahmu akan kecewa?” Aku diam mendengar pertanyaan Bakrie. “Ayah sendiri pasti suruh aku buat ikut takziah,” “Jadi, kenapa, enggak?” Masalahnya bukan di situ. “Tapi aku gak ada barengan, semenjak aku pu...,” Aku mendadak bungkam, mengunci bibir rapat-rapat. Aku tidak perlu sampai membeberkan persoalan cintaku dengan Hansa!
Tapi itu benar. Semenjak aku putus dengan Hansa, teman-teman kelasku sedikit banyak yang menjauhiku. Mereka seperti kecewa dengan berakhirnya hubungan kami. Pastilah, tidak ada couple kebanggaan di kelas ini lagi. Tidak peduli. Aku gak peduli. Yang menjalani ini semua aku. Bukan kamu, bukan kalian semua. Terserah aku saja. “Aku bisa barengin kamu,” Itu balasan Bakrie. “Gak usah!” “Usah!” “Kok, maksa?” Aku bertanya sambil menautkan pangkal alis. “Kok, gak percaya? Aku bisa barengin kamu, bismillah selamat sampai rumah Hisyam.” Ya, aku gak meragukan caranya mengendarai motor matic itu. Tapi aku ragu dengan banyak perspektif orang yang akan tahu nanti. Termasuk kamu. Menurutmu, aku harus bagaimana? Tolak... atau terima...? Atau kamu bingung? Aku juga. Tapi, ya, sudahlah. Kalian lihat saja gimana akhirnya. Ini bagian spesial juga, semua versinya adalah hal menarik, aku akan tulis di bab selanjutnya. Tapi nanti dulu, aku mau ambil minum. Akhir-akhir ini aku suka jus berlebihan. Kerap minum. Sambil itu, kalian istirahat dulu, jangan membaca jika capek. Aku tinggal ke dapur dulu, ya! *** iii. Halal (Bihalal) BAKRIE tersenyum dibalik slayernya. Di sibuknya aku mendengarkan berbagai klakson kendaraan, sampai peluit tukang seberang jalan, Bakrie tiba-tiba berbicara kepadaku. Sedikit kencang suaranya. Dia juga sedang melajukan motor yang menerobos habis angin di sepanjang jalan. Kami pergi berdua ke rumah Hisyam. Itu keputusanku akhirnya. Aku enggak perlu memikirkan bagaimana perspektif orang secara berlebihan. Aku cuma akan dengerin teguran mereka, nasihat mereka, bukan asumsi mereka yang tanpa landasan itu. “Kamu malu?”
Aku mengerutkan kening. Kemudian sedikit mendekat ke pundaknya, supaya suaraku bisa didengar. “Kenapa harus?” Lebih dulu dia menurunkan slayer yang dipakai. Lalu akses suaranya lebih jelas kudengar. “Naik motor bersamaku, biang masalah,” Dia menjelaskan alasannya. Aku tersenyum kecil. Lalu menggeleng heran. Pemikiran macam apa itu? “Justru motormu yang bakal malu, dinaikin sama kamu yang pesimis!” Dia tertawa, aku pun demikian. “Pegangan! Aku mau tambah kecepatan!” Aku mendadak tegang. Aduh, bahaya sekali! Apalagi, siang begini, jalan raya sepi, memungkinkan Bakrie untuk beneran ngebut. “Jangan ngebut lah!” “Biar kamu bisa takut, dan percaya kalau aku jadi pelindungmu, ha ha ha ha!” Anehnya, aku ikut tertawa. Padahal, wajib buat aku risih. Tapi kali ini enggak. “Serius, jangan ngebut!” Dia mengangguk pelan, tidak kesusahan dengan gerak kepalanya, karena kami tidak memakai helm. Untuk sampai ke rumah Hisyam, kami tidak sampai melewati polisi, atau jalanan besar yang diisi truk-truk pabrik. “Iyaa! Jangan panik,” katanya, terdengar dalam sekali, menyentuh hatiku. Sampai sekarang, hatiku seperti hangat jika membayangkan mendengar lagi suaramu, kembali memenuhi dinding imajinasiku. Kamu harus percaya itu. Aku merindukanmu. “Tapi aku udah keburu panik tadi.” “Jangan panik, ini bukan hari Jumat.” “Apa hubungannya sama hari Jumat?” Aku bertanya bingung. Kepalaku bahkan sudah kumiringkan sedikit, sampai bisa melihat Bakrie dari sisi kanan, meski tidak sempurna saat kupandangi. Tapi itu cukup untuk melihat gaya bicaranya yang menjadi hal favoritku sejak saat itu. “Jalanan yang ada bangunan masjid gak akan ditutup, gak perlu panik, soalnya bukan hari Jumat, gak akan seramai kemarin waktu sholat Jumat.” Ia menjawab panjang. Aku tertawa seketika itu, sekilas memukul pundaknya yang dibalut jaket.
“Jadi gak perlu panik, Sabtu ini gak ada yang sholat Jumat. Tapi kamu jangan lupa sholat.” Bakrie menambahkan kalimatnya, disela aku meredakan tawa. Aku akan selalu mengingatnya, Bakrie. Bahkan sampai saat ini. Jika tidak, pagi ini aku tak akan duduk di depan laptop, ditemani tumpukan buku diary, dan menjabarkan segala sesuatu yang ringan untuk dibilang ‘sia-sia’. Tapi mengingatmu kembali sesuatu yang menyenangkan. Bila benar itu sia-sia, paling tidak aku sudah bahagia sebelumnya. Itu prinsipku untukmu, Bakrie. “Mala...,” Bakrie memanggilku, aku bersiap mendekat ke pundaknya lagi. “Iya, Bakrie?” “Jangan malu kalau sedang bersamaku,” Kalimatnya dari hati, aku memahami itu. Jadi aku mengangguk. “Gak kepikiran sampai situ juga. Gak pernah malu.” “Iya, jangan malu. Aku ini manusia halal,” Aku ketawa lepas! Dia juga, setelah menyelesaikan kalimatnya. Kami jadi menikmati perjalanan singkat itu, seperti terasa panjang dan menyenangkan. Terima kasih, Bakrie. “Halal, ya?” kutanya seperti itu. “Iya,” “Bihalalnya besok?” ledekku. Lalu dia ketawa sampai kepalanya menengadah ke atas, hanya sebentar, setelah itu memandang jalan depan. “Lusa! Ayo ikut!” Dan aku mau-mau aja! “Ha ha ha! Ayo, aku mau, Bakrie!” Kami terus melakukan perjalanan, yang hampir tiba di kediaman keluarga Hisyam. *** Di bulan September, aku senang. Bukan karena Bakrie. Tapi hari itu, UTS berjalan dengan baik. Aku mengikuti ujian dengan nomor 176 di ruang 6. Hari itu juga, aku tahu, Bakrie di ruang yang berbeda. Dan tentang aku dan Bakrie, kami berbeda angkatan! Dia kakak kelasku. Aku baru tahu, ketika aku menanyakan tentang Kak Abel. Itu kejadian di hari lalu-lalu, aku lupa memakai seragam apa saat itu. Tapi yang kutahu dengan pasti, hari itu terik menyengat, musim panas datang.
Siang bagaikan cuaca yang dibenci, terutama bagi pedagang di pinggir jalan, kecuali penjual es dan yang segar-segarlah pastinya. “Kemarin aku ketemu Kak Abel,” Itu peristiwa yang kuceritain kepada Bakrie. “Di mana?” “Di gereja.” “Kamu ditarik sama dia? Sudah log in?” Aku menatapnya tajam. “Gak mungkin!” jawabku sambil tertawa. Dia tersenyum. Lalu aku menjelaskan. “Maksudku, di depan gereja. Kemarin aku ke alun-alun, lewatin gereja biasa dia ibadah,” “Oohh! Begitu...,” Bakrie angguk-angguk bagaikan seorang profesional. “Abel itu—” Maaf, Bakrie, aku memutus kalimatmu. “Kenapa gak pakai ‘Kak’? Kurang sopan kalau kudengar,” pendapatku. Lalu Bakrie tertawa. Dia itu banyak tawanya, ya. “Dianya gak mau, takut jadi tua!” Aku spontan membayangkan wajah datar Kak Abel. “Terus, kenapa kamu dipanggil ‘Arie’?” “Itu nama kesayangan,” Aku terkejut. “Oh, ya? Ha ha ha!” Sekarang, aku yang tertawa puas. “Iya, percaya?” Dengan antusias, aku mengangguk. “Tapi jangan keseringan, nanti Allah cemburu,” Maksud Bakrie, jangan keseringan percaya dengannya. Tuhan kami bisa aja cemburu. Tanganku terangkat untuk membentuk salam hormat. Sambil dengan sisa-sisa tawa, aku menjawab, “Aku percaya sama Allah. Aku juga ingat dakwa Rasulullah.” “Pak Ahmad bangga!” Kami tertawa bersama. Aku menyetujui ucapannya, sembari kuberi acungan jempol. “Mala,” Aku tersenyum. “Iya, Bakrie?” “Arie nama kesayangan,”
“Iyaa, aku percaya.” “Kamu juga harus percaya, kamu boleh pakai nama itu buat panggil aku.” Itu terdengar tulus sekali, aku masih ingat intonasi bicaranya saat itu. “Nanti aku panggil kayak gitu,” putusku. “Besok juga boleh,” guraunya. “Dua menit kedepan juga bisa,” Aku membuat canda tawa konyol. Bakrie langsung saja ketawa, agak malu jika kuingat. Tapi aku sungguhan cuma bercanda! Tiba-tiba, ada satu siswi yang berjalan di depan kami. Dia sedikit membungkuk sekilas, kemudian tersenyum kepadaku, dan lebih banyak kepada Bakrie. Aku terus memperhatikan. Penasaran dengan adegan selanjutnya. “Siang, Kak Bakrie.” LOH!! Tuh, kan! Aku langsung menatap Bakrie saat siswi tadi hilang dari pandangan. “Kak Bakrie?!” Aku mengulang dengan pasti. Bakrie hanya memasang tampang biasa saja. “Tahun depan aku lulus. Jangan sedih,” ucapnya. Aku memang benar-benar tidak tahu kalau dia itu kakak kelasku. Pantesan dia manggil Kak Abel tanpa embel-embel ‘kakak’. “Jangan juga panggil aku ‘Kak’.” “Kenapa jangan?” “Aku mau kita sama-sama muda.” Aku ketawa sedikit, sempat kutahan. Sejak mengenal Bakrie, aku tidak pernah mendapatinya untuk membicarakan soal ujian. Tentang bagaimana suasananya, atau bagaimana susahnya menjawab. Dia pernah bilang, “Ujian itu bikin otak mikir keras, dan selesai ujian di hari ini, aku gak mau bahas yang bikin otak capek.” “Kamu gak belajar?” Aku penasaran banget. Ingin tahu. “Enggak,” Aku menghentikan langkahku, begitu juga dia. Kami berhenti di depan kelas sepuluh IPS. Dia memandangku dengan ekspresi paling tenang. Itu ketika kami selesai dengan UTS di hari Kamis, kamu bersiap pulang, dan Bakrie akan menemaniku di halte sekolah, sampai kulihat ayah atau ibu menjemputku.
“Kamu gak khawatir sama nilaimu?” Bakrie menggeleng. “Aku lebih butuh belajar setiap hari, cuma bentaran, di saat santai, tapi konsisten. Daripada belajar sehari sebelum ujian tiba.” Jawabannya itu membuatku terdiam sejenak. Senyumku terbit setelah itu. “Kamu pintar, dong?” Sambil itu, dia melanjutkan langkahnya, aku mengekori hingga beriringan di sampingnya. Bakrie membenarkan tas di punggungnya sebelum menjawab. “Nggak ada orang pintar. Adanya orang rajin sama orang malas.” Aku tersenyum makin lebar. “Seperti kamu?” “Apa?” “Rajin.” Dia berpikir sejenak. “Kadang-kadang malas juga,” Tapi aku nyengir. “Seringnya rajin.” Aku mengatakan seperti itu, karena aku tahu beberapa informasi tentang Bakrie. Dia itu satu-satunya laki-laki bandel di kelas, nakal jika sudah di luar sekolah, dan paling tidak tertarik dengan kegiatan sekolah. Tapi Bakrie adalah juara bertahan di sekolah. Dia peringkat pertama di kelasnya, dia juga selalu memenangkan tanding bahasa Inggris di sekolah SMP-nya. Aku tahu, dia rajin. Dia tidak pernah lupa untuk membuatku tersenyum. Dia rajin mencintaiku. Aku lebih rajin merindukanmu, Bakrie. “Kalau kamu mau tahu siapa orang rajin, cari yang lain, jangan aku,” Bakrie selalu saja merendah. Tapi aku suka dengan caranya. “Kalau aku cari orang yang hebat?” “Juga bukan aku,” jawabnya yakin. “Kalau cari orang yang suka aku?” Dia tertawa kemudian, sontak saja, itu juga mengundang tawaku. Kami terus berjalan bersama, menyusuri gedung sekolah sampai ke halaman. “Gak perlu dicari,” katanya. “semua orang udah pada suka sama kamu.” “Ha ha ha!” “Kecuali hatersmu!”
Aku makin ketawa mendengar suaranya itu. “Tapi benci bisa jadi cinta, kan?” tanyaku. “Amiiin! Kudoakan, Mala.” Terima kasih, Bakrie. Sampai sekarang saja, aku masih tersenyum. *** Di hari terakhir Ujian Tengah Semester, di jam istirahat, tiba-tiba Hansa datang. Ruangan kami berbeda, dan dia menemuiku di ruang 6. Hansa ingin bicara, ada perlu, katanya begitu. Aku menolak, karena dia ingin bicara di lain tempat. Aku gak bisa, aku harus belajar. Setiap hari ujian, aku akan selalu datang sekitar kurang lebih 1 jam lebih 20 menit. Dan menggunakan jam istirahatku full untuk belajar mapel (mata pelajaran) selanjutnya. Apakah dia amnesia dengan rutinitas wajibku itu? “Bentar aja, Mal.” “Sebentar juga waktu.” Hansa hampir menyerah membujukku. “Kalau kita negosiasi terus kayak gini, kita lebih banyak buang waktu.” Kali ini saja. Sungguh. Kali ini aku menerima permintaannya. Ayo, Hansa. Kemana kamu akan bawa aku pergi? *** Biasanya, aku bakal jadi orang paling lega di hari terakhir ujian. Meskipun, di hari ujian, aku banyak untungnya. Contoh, uang saku gak ke pakai sama sekali di jam istirahat. Atau biasanya, aku sering jajan di jam pulang, jika hari ujian aku akan buru-buru pulang. Aku gunakan semua waktu itu untuk belajar. Aku anggap 6 hari, dengan 144 jam, itu sangat berharga! Akan kuberitahu. Hansa mengajakku ke tempat parkir sekolah. Itu jauh banget! Aku mengeluh sejak tahu itu adalah tempat tujuannya. “Jangan marah,” ucapnya, terdengar seperti memohon. Kuberitahu lagi, kami berdiri berhadapan di bawah galvalum, yang biasa dibuat tempat teduh anak-anak, jika sedang menunggu temannya mengeluarkan kendaraan roda dua. “Gak akan, kalau kamu serius bicaranya.” “Pasti serius, pasti juga penting.”
“Tentang apa, sih?” “Berkaitan sama cowok yang deketin kamu,” Aku diam sambil mengingat sebentar. Lalu kutanya, “Pak Alex?” Dia adalah mantan tentara yang kini menjadi semacam pimpinan keamanan di Lippo. Hansa pasti tahu soal Pak Alex itu. “Bukan lah!” “Terus, siapa?” “Yang ngakunya sholat Jumat tapi cowok nakal!” Aku langsung mengubah raut wajahku, menjadi datar dan mencekam. “Dia kakak kelasmu.” “Oke. Ini tentang Kak Bakrie.” “Kenapa?” “Kamu jangan deketan lagi sama dia. Percaya sama aku, Mal.” “Kenapa harus?” “Dia itu playboy! Dia fake!” Sok tahu banget Si Hansa itu. Benci aku jadinya saat itu. “Dia tahu agama,” Hansa mengerutkan keningnya. “Aku juga tahu agama?” Lantas aku mengangguk. “Kamu cuma tahu. Sejarahnya kamu kurang tahu.” Kulihat, saat itu, Hansa refleks memasang wajah sinis. Dia bahkan mendesis kesal. Apa kau tidak terima, Han? Hmm itu urusanmu. Aku tidak peduli! “Emang Si Kak Bakrie itu mau jadi guru agama, ha ha ha...,” “Sok tahu,” kubalas begitu, sambil bersedekap dada. “Tapi aku serius, Mal,” “Apa? Jauhin Bakrie?” Hansa mengangguk cepat. “Iyaaa!” Dih, nyebelin! Siapa dia? Tukang ngatur! “Kamu tahu, alasan dia deketin kamu?” tanya Hansa. “Aku mau tahu dari pandangamu dulu,” kujawab seperti itu.
“Ini faktanya,” yakin Hansa. “dia deketin kamu, cuma karena ngerasa bersalah, udah bikin kamu celaka di hari upacara Pramuka!” “Kamu jatuh sampai kakimu membiru, itu ulah dia, Kak Bakrie ngerasa bersalah lah.” Masih kudengarkan kalimat Hansa, tanpa kubantahi sedikit pun di dalam hati. Tidak seperti tadi, ketika dia menjelekkan Bakrie. Aku merasa, saat itu, aku tidak sedang membuat asumsi tentang Bakrie. Aku tidak merasa harus menghakiminya dari satu sudut panjang saja. Untuk lebih meyakinkanku, Hansa juga bilang, “Kalau kamu mau tahu lagi, Kak Bakrie bentar lagi mau jadian sama cewek yang dia suka, sekelas sama dia.” “Gak ada urusannya sama aku,” jawabku tegas. Harusnya begitu. Gak ada urusan denganku. Tapi itu mulutku, bukan hatiku, yang merasa sedikit marah. Mungkin karena Bakrie tidak berbagi cerita denganku, mungkin karena aku sudah menganggapnya teman dekat. Jadi, harusnya banyak cerita yang bisa kudengar darinya. Termasuk cerita ini. Begitu, harusnya itu yang kurasakan. Iya, kan, teman-teman? “Jelas ada urusan sama kamu, Mala.” “Apa?” “Kamu sebagai cewek yang dibikin baper sama Kak Bakrie, pasti sakit hati!” “Mala, harusnya kamu curiga, kenapa Kak Bakrie cuma deketin kamu? Bukan malah ngajak pacaran?” Stop, Hansa. Stop. Ini melewati batas mood-ku. Aku mau belajar, aku mau seleraku bagus! Jangan dihancurkan! Aku manusia baik kepadamu, Hansa! Jangan dibuat sedih. Kumohon! “Mala,” Itu kalimat pencegahan darinya, saat aku bergegas meninggalkannya. Aku balas menatap Hansa. “Aku terima informasimu, Han. Makasih,” Hansa mengangguk. “Lepas,” perintahku. Kemudian pergelanganku tidak lagi ditahan olehnya. Aku lega, tapi kalimat yang keluar dari mulutnya, tidak membuatku lega. Hansa berpesan, “Kak Bakrie itu pintar, prestasinya aku cukup tahu. Jadi permainannya pasti buat logika kamu tenggelam.”
*** iv. Bersenang-senang Tapi Serius AKU kembali. Setelah berbicara dengan Hansa, waktu belajarku tersisa 10 menit. Kuharap itu cukup untuk menyempurnakan kemampuan otakku. Kuharap juga, aku bisa mempertahankan peringkat pertamaku. Amin. Mari, doakan aku bersama. Tuhanmu pasti senang, hamba-Nya berbuat baik. Tapi aku tidak bisa fokus penuh ketika mengerjakan soal-soal ujian. Aku sedih. Kemana keseriusanku? Apa semua gara-gara topik obrolanku dengan Hansa? Aku tidak tahu. Aku hanya susah konsentrasi. Jawabanku di soal ujian juga kurasa tidak maksimal. Maafkan Mala, Tuhan. Persis ketika bel sekolah berdentang, aku mengucap syukur, semua ini berakhir juga. Aku gak sabar buat pulang, aku ingin tidur! Tapi seseorang memanggilku dari belakang. Aku terpaksa memelankan langkahku, kemudian dia menyamainya, dan berjalan di sampingku. “Shalom!” salamnya. Aku meliriknya sekilas. “Waalaikumussalam.” Dan dia tersenyum. “Lancar?” “Lumayan,” “Puji Tuhan.” ucap Bakrie. Aku kembali meliriknya, tapi tidak sekilas. Aku terus meliriknya. “Kamu udah ditarik sama Kak Abel? Udah log in kamu?” Bakrie tertawa, dia ingat, dia pernah bertanya seperti itu kepadaku. Dan kini, aku membalik pertanyaannya, untuk dirinya. “Emang, Puji Tuhan itu apa?” tanya Bakrie. “Ucapan rasa syukur yang dipercayai oleh umat Kristiani?” Aku menjawab, sambil bertanya juga, apakah benar? Bakrie kemudian mengajukan pertanyaan lagi. “Kalau alhamdulillah pakai bahasa apa?” “Arab, kan?” Aku menjawab sambil memastikan. “Kalau Puji Tuhan?” Aku diam sebentar. “Bahasa Indonesia?”
Bakrie tersenyum. “Aku tadi mengucap syukur pakai bahasa Indonesia,” jawabnya. Ishh!! Aku mendesis kesal, itu mengundang untuk dia terkekeh. “Besok dan seterusnya, aku pakai bahasa Arab,” ucapnya. “Mau ikut aku?” “Kemana, Bakrie?” kutanya dengan bingung. Kalau boleh kudefinisikan, Bakrie... lakilaki yang sepertinya menjadi penyebab aku gagal konsentrasi sewaktu ujian tadi. “Hmm...,” Bakrie bergumam sambil berpikir. “cari cara biar kamu bisa berubah jadi bidadari! Mau?” Kedua sudut bibirku tak dapat ditahan, sontak terangkat hingga aku tersenyum simpul ke arahnya. Dan kami, masih saja terus berjalan, dengan tempo lambat. Aku mengimbangi bicaranya, tidak ingin buru-buru melangkah. Kupikir, itu tidak sopan, dan aku tidak tega juga melakukannya. “Bisa emang?” tanyaku sengaja meremehkan. Maksudku, mau pakai cara apa biar aku jadi bidadari? “Subhanallah,” Aku ketawa sedikit. “Kok, subhanallah?” Lantas dia mengoreksi cepat, “In shaa Allah.” “Biasanya kalau live gak ada siaran ulang, ya?” Aku mengangguk mendengar pertanyaannya. “Tapi aku mau ulang bertanya. Kamu mau ikut, tidak, Komala?” Lagi-lagi aku kelepasan tersenyum. Harusnya, nih, ya. Harusnyaaaa! Harusnya aku gak usah segampang itu untuk kelihatan senang, atau bahagia, sampai-sampai mudah tersenyum, mudah tertawa. Aku harus ingat! Bakrie ada perempuan di hatinya. Dan perempuan itu kakak kelasku juga. “Mala?” Dia menyadarkanku. Aku langsung menjawab. “Jauh emang?” “Nggak akan sampai ke makam Rasulullah juga,” Ya ampun, aku ketawa sedikit. Ah, terserah! Biarlah! “Tapi kalau kamu mau ke sana, aku antar.” Maksud Bakrie, dia akan mengantarku ke makam Rasulullah, jika aku mau.
“Naik?” “Sepeda ontelnya Pak Muklis!” jawab Bakrie penuh semangat. “Ha ha ha!” Ish, aku gak sopan, ngetawain Pak Mukhlis. Gak boleh harusnya. Jadi kutegur Bakrie. “Hussh! Awas nanti beliau dengar!” “Ampun, Pak!” balas Bakrie. “Ha ha ha!” “Ayo ikut, Mala,” Bakrie kembali mengajakku. Aku tersenyum sembari menarik napas dalam-dalam. Baiklah, ini terakhir, lepas aku tahu bahwa Bakrie punya pacar, aku akan jauh-jauh darinya. Tidak sedekat sekarang. “Boleh.” kujawab sambil mengangguk singkat. Dan kami terus berjalan, tapi Bakrie lagi-lagi buka suara. Aku mendengarkan dengan saksama. Bakrie menunjuk satu lorong yang jauh di depan kami, nanti kami akan melewatinya. Lorong itu dilalui oleh beberapa murid, tapi tidak banyak, kebanyakan memilih lewat jalan keluar lain. “Di lorong itu, kita pasti menemukan cahaya kegelapan,” kata Bakrie sangat serius. Kemudian dia menurunkan telunjuknya yang tadi mengarah kepada lorong tersebut. Aku hanya mengerutkan kening. “Ya pasti, dong? Semua juga tahu?” “Tapi itu bakal terjadi kalau yang masuk ke sana orang biasa,” “orang luar biasa pasti bisa bikin lorong itu ada cahaya terang!” sambungnya. Hingga, Bakrie menoleh kepadaku, karena aku tidak memberi respons apa pun. Dia bertanya. “Gak percaya?” “Kalau gak ada buktinya.” Kujawab. Aku masih ingat, dia tersenyum, hanya sebelah sudut bibirnya saja yang terangkat. Jadi, seolah, dia tersenyum remeh. “Aku kasih lihat bukti.” Tapi kami terus berjalan. Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Dan pada saat kami memasuki lorong, bersama sebagian murid lain, dari situlah mataku mulai menyipit. Aku menatap sekeliling. “Bakrie?!” Aku terkejut.
Tapi Bakrie justru tertawa, katanya reaksiku lucu. Ya ampun, aku kaget! Bakrie itu tiba-tiba menyalakan senter di ponselnya, kemudian cahaya itu diarahkan ke langit-langit atap lorong yang tinggi. Namun aku juga ketawa setelah itu. Benar, ini lucu! “Ha ha ha! Kamu, tuh!” Aku masih tertawa terbahak-bahak. “Kita termasuk orang luar biasa, ya, Bakrie! Ha ha ha!” Yang makin buat aku senang lagi, Bakrie menyalakan lagu! Dia memutar lagu berjudul Bukti dengan penyanyinya Virgoun. Aku tahu lagi itu, aku suka. “Lagi konser! Mau ikutan?” Itu kalimat Bakrie kepada teman-teman kami yang lain, yang juga terkejut dengan kelakuannya. Mereka yang ada di lorong, bersama kami, juga melepas tawa. Sepanjang itu, aku tersenyum lebar, memandangi wajah Bakrie yang di mana tangannya menggoyanggoyangkan ponselnya, dan lampu senter makin meluas. Kamu selalu sederhana, Bakrie. Kamu selalu punya trik langka, yang pada akhirnya itu makin menguatkan ingatanku tentangmu. “Kamu tahu lagunya?” Aku mengangguk saat Bakrie mematikan senter di ponsel, persis ketika kami keluar dari lorong sekolah. “Itu bukti, yang aku mau kasih lihat ke kamu, bonusnya bisa kamu dengerin juga buktinya.” kata dia begitu. Aku menampakkan deretan gigiku yang rapi, dua gigi kelinciku kelihatan, kata Bakrie itu membuatku terlihat semakin manis! Allahuakbar! Gak mampu aku mah! Terserah Bakrie ajalah! “Aku senang, Bakrie!” Bakrie mengangguk sambil memandangiku dari samping. Kami sudah sampai di halaman sekolah yang ramai, penuh oleh murid-murid. “Sekarang kamu udah jadi bidadari, Mala.” katanya. Aku menghentikan tawa, berusaha menatapnya serius, jangan ketawa-ketawa lagi, Komala! “Kok bisa?” Bakrie mengangguk lagi. “Ke halte langsung, yuk!” ajaknya, dan aku menyetujuinya.
Sampai di halte sekolah, ada beberapa murid lain, yang duduk dengan jarak jauh dari kami. Masing-masing dari mereka sudah aktif di dunianya sendiri. Berkutat dengan seasyiknya. “Kok bisa, Bakrie?” Aku menagih penjelasannya. Tentang diriku yang sudah menjadi bidadari, katanya. “Bisa.” “Kamu udah ketawa tadi,” perjelas Bakrie. “kalau kamu udah ketawa, kamu bahagia. Bidadari harus bahagia, cocok sama wajah cantiknya,” “Semudah itu kamu jadi bidadari.” “Asal aku bahagia?” tanyaku. “Iyaa.” Aku nyengir, memukul bahunya pelan. “Dari tadi juga udah bahagia kali!” “Kamu sedih tadi.” sanggah Bakrie. Aku langsung terdiam. Bakrie... kamu memang tahu segalanya, ya? Tentangku kamu pasti paham. Aku senang kamu peka. Tapi aku sedih, saat kamu juga jadi ikutan sedih, memikirkanku yang tadi sedih. Tapi aku sekarang bahagia, Bakrie! Percayalah! “Aku tahu ciri-cirimu kalau lagi sedih,” ungkap Bakrie. Aku menjawab. “Apa?” “Sayapmu bakal hilang.” Aku sempat tersenyum. Bakrie juga. “Jadi aku akan cari cara biar kamu jadi bidadari.” “Dengan buat aku bahagia?” perjelasku. “Iya. Di lorong, kamu kelihatan senang.” Aku ketawa kecil. “Emang!” “Jangan sedih. Kalau aku boleh minta, aku minta maaf sama kamu.” Bakrie mengatakannya, dia tidak pandai meminta maaf, aku tahu itu. Tapi sewaktu aku mendengar untuk pertama kalinya, aku senang dengan ketulusannya. Bisa kurasakan. “Kalau aku udah gak sedih?” Aku bertanya iseng. “Kamu bisa terbang sekarang. Kamu udah bahagia, sayapmu kembali. Kamu bisa tinggalin aku di sini, jauh, kalau itu doamu.”
“Kalau itu yang buat kamu sedih, Mala. Jauhi.” Demi Tuhan, aku tidak pernah berdoa untuk itu, Bakrie! Aku gak mau jauh dari kamu! Bodoh kalau aku sampai mengatakan itu! “Kalau itu fungsi sayapku, aku gak mau jadi bidadari.” balasku acuh. “Sedih kenapa?” Bakrie bertanya serius. Mengalihkan topik ‘bidadari’. “Tadi?” “iya. Kamu sedih kenapa?” “Kamu tahu dari mana kalau aku sedih?” “Aku punya perasaan,” jawab Bakrie enteng. “Ha ha ha!” “Aku gak melawak, Mala.” protes Bakrie, seperti ngambek. “Tadi di lorong sekolah?” Dia menyipitkan mata. Kelihatan kesal. “Aku bukan melawak di lorong tadi. Aku mau buat kamu senang.” “Ha ha ha!” Berhasil, Bakrie. Berhasil!! Terima kasih! Sungguh! Dan aku tahu, kamu bukan ingin cari cara biar aku jadi bidadari. Tapi kamu cari cara supaya bidadari ini kembali senang. Aku suka dengan apa pun caramu, asal kamu adalah Bakrie. *** Hari Minggu, hari libur untukku! Mungkin kamu juga. Hari Minggu ini, spesial. Aku katakan begitu, karena Bakrie mengajakku menjelajahi dunia lain! Kayanya, sih, begitu. Aku antusias besar! Melebihi ketika hasil ujian keluar nanti. Pukul sembilan pagi, aku sudah siap. Aku memakai celana kain, warnanya hijau army. Aku juga memakai kaos hitam, lalu kubalut kemeja kotak-kotak berbahan tebal. Aku hanya tinggal menunggu Bakrie datang. Di depan gerbang rumah, aku menunggunya sambil berdiri. Laju motornya, bisa kudengar dari tempat. Dia datang. Bakrie dari kejauhan sudah memasang senyum tak membosankan itu. Kusapa duluan. Aku angkat tangan kanan. “Kita bertemu di hari Minggu, Kak!” Dia menghentikan motornya, mesin menderu di tempat, lalu dimatikan. Aku masih melambai kecil padanya.
Tapi dia berdecak. “Jangan bersaing, ah! Kita sama-sama muda aja,” “Ha ha ha!” “Ibumu ada?” Aku mengangkat kedua alisku sebentar. “Di dalam. Ada perlu?” “Sedikit.” Kalian harus tahu! Kalian harus tahu... ha ha ha ha! Bakrie ingin ketemu ibuku, tadinya aku was-was, takut dia ngomong macam-macam! Saat Bakrie masuk ke ruang tamu, ibuku datang menghampirinya. Penampilan ibuku tidak rapi-rapi amat, dia baru saja selesai buat pastel. Ibuku memproduksi sendiri, pesanannya banyak. Alhamdulillah. Aku sekalian promosi, kalian kalau mau beli, beritahu aku, ya! Kalau ayahku, nanti kalian akan tahu, di bab-bab yang akan datang, kalian akan kukenalkan dengan ayah. Seperti bagaimana aku memperkenalkan Bakrie kepada ayah saat itu. Di awal jumpa antara ibu dan Bakrie, mereka langsung menyapa dengan hangat. Bakrie mengucap salam. Dari tutur bicara Bakrie, tidak ada yang membuatku khawatir. Syukurlah. Aku bernapas lega. Dalam hati, gak berhenti merapal doa. “Ibu, boleh aku memanggilmu ibu?” Bakrie bertanya setelah menyalami ibu. Aku terkejut! Sangat! Gila dia! Ya Tuhanku, bantu aku, wajahku merah sekali. Bakrie ini apa-apaan, sih. Justru ibu langsung mengangguk mendengar permintaan Bakrie. “Kalau mau, ajak temanmu sekalian, panggil saya ‘ibu’ aja, ibu senang.” Ya Allah, Bu. Jangan gitu juga lah! Dan reaksi Bakrie tertawa kecil. Aku ikut senyum melihatnya bahagia seperti itu. Meskipun, aku hampir kehabisan napas di ruang tamu ini. Kumohon, nyalakan kipasnya! “Ibu, suka bunga?” Pertanyaan macam apa itu, Bakrie? “Ibu lebih suka coklat.” Malah request begitu! Ya ampun. Kalau ngobrol, tolong jangan bawa-bawa namaku, ya. “Karena?” Bakrie meminta alasan. “Kalau coklat bisa dimakan,” Ibu menjawab. “Kalau bunga?” “Tinggal metik,”
“Ha ha ha!” Tahan aku, Tuhan. Tahan aku! Jangan sampai aku ikut ketawa. Aku gak boleh lengah! Harus jaga-jaga buat doa, berdzikir, takut Bakrie macam-macam dengan pertanyaannya. Bakrie itu ajaib, susah ditebak, dan terlalu unik. Dia bisa di luar nalar. Seperti sekarang ini. “Besok kubawakan coklat, ibu harus terima,” kata Bakrie. “Pasti diterima!” “Ha ha ha!” “Sekarang Bakrie bawanya apa?” Ibu bertanya, tersenyum. Seperti terhipnotis, Bakrie juga ikut tersenyum hangat. Aku juga, sedikit menyunggingkan senyum di kala jantung berdegup kencang. “Bakrie bawa surat,” Ibu memberi reaksi bingung, tetapi tetap menerima amplop putih, bersih, yang seperti kuterima di saat dulu membeli martabak. Itu juga dari Bakrie, tidak akan kulupakan. “Surat apa ini?” “Lamaran,” jawab Bakrie. “Lamaran?” “Iya. Aku suka anak ibu, apa boleh? Mau melamar jadi pacarnya sepanjang Tuhan mengizinkan.” BAKRIE!! BAKRIE APA-APAAN?! Itulah yang kunanti. Bakrie mengungkapkan perasaannya. Bakrie mengakui apa yang mendasari dari segala sifat spesialnya kepadaku. Tapi tak terbayang begini cara yang dia berikan. Aku bangga atas keberanianmu. Aku senang dengan segala usahamu. Kamu pernah bilang, apa yang sempat kamu lakukan untukku, itu tidaklah mudah. Dibalik layar dari seluruh usahamu, ada bagian di mana kamu harus mati-matian berdamai dengan pikiranmu. Sebegitu kacau saat itu. Kamu bingung, haruskah mendekatiku? Haruskah percaya bahwa ini akan berhasil? Kamu belum percaya, tapi aku sudah percaya, Bakrie. Aku percaya kita sudah diizinkan Tuhan. Aku juga sudah lihat, ada agenda untuk kita di hari nanti. Ada saat perayaan bagaimana aku bisa bersamamu. Ini doaku yang benar, Bakrie. Ini harapanku yang sesungguhnya. Inilah mimpi dari bidadari yang kamu buat senang sewaktu di lorong sekolah.
Ibu langsung membuka amplop putih di malam itu. Aku juga membacanya, kami berdua serempak tertawa kecil. Kamu juga harus, akan kuperlihatkan tulisan Bakrie di kertas yang diberi nama ‘lamaran’ itu. Tanah Air Indonesia, 19 September 2018. Assalamualaikum, biar gak formal-formal sekali, saya buat ini seperti ‘surat izin tidak hadir sekolah.’ Saya ingin melamar kerja. Nama target : Wahai Komala Maniska. Usia : 17 tahun. Jenis kelamin : bidadari yang tidak cantik (kalau dia tidak bahagia). Ibu, jangan salah paham. Mala cantik, Mala perempuan. Yang ganteng itu aku (pelamar kerja). Semoga ibu menerimaku, bekerja untuk Mala. Menjadi pacarnya misal. Aku senang jika diizinkan. Suatu ketika, aku izin juga ke ayahanda Mala. TTD, ..... (mengetahui, ibu yang dihormati Bakrie.) Sudah, sudah! Sudah! Di ruang tengah, aku tertawa terbahak bersama ibu dan ayahku. Malam-malam diisi hujan, kami sibuk membahas Bakrie. Kebetulan, adik semata wayangku, namanya Bai, dia lagi ada bimbel. Memang gak usah bergabung membahas Bakrie. Bai cuma akan mengacau, membuat wajahku semakin panas! “Ayah mau pelukan sama Bakrie,” Kalimat ayah setelah menutup surat buatan Bakrie. Aku ketawa. “Kenapa harus pelukan? Bukan kenalan?” “Kalau kenalan aja mah gak asik! Terlalu klasik! Langsung aja meluk, biar bisa rasain, apa alasan Mala suka Bakrie.” Ah, ayah! Apa lagi, deh. Gak lucu, itu membuat aku susah tidur! Aku tambah kepikiran Bakrie. “Tadi, Mala diajak ke salon. Cerita, Mala, biar ayah makin pengin peluk Bakrie!” Ibuku menyahut. Aku tergelak seketika.
Akan kuceritakan juga kepada kalian. Ini skene penting juga, membahagiakan. Hari itu, di Minggu pagi, janji Bakrie yang akan membawaku menjelajahi dunia lain, ditepati olehnya. Di jam 10 kurang 15 menit, aku dan Bakrie pergi meninggalkan pekarangan rumahku. Kami melaju bersama di atas motornya. Jalanan kota yang asri itu dibelah dengan kecepatan sedang. Bakrie mengajakku ke satu tempat. Itu adalah salon. Di depan gedung besar itu, aku menahannya untuk masuk. Aku menuntut penjelasan. “Kenapa ke sini?” “Mau ngajak kamu ke dunia lain.” “Salon?” tanyaku memastikan. “Iya, dunia perempuan.” “Ha ha ha!” Bakrie ikut tersenyum. “Aku serius. Kita akan menjelajah di sana.” “Jadi pengamen?” “Mau?” Dia menawariku dengan serius. “Lumayan, suaraku ada harganya,” “Ha ha ha! Ha ha...,” Bakrie tertawa puas. Kayaknya, aku berhasil meledek diriku sendiri. Hmm, kesalahan besar! “Mala, ayo masuk, kita ke dalam,” ajak Bakrie setelah kami cukup serius. “Mau ngapain?” “Aku mau kenalin kamu sama manicure!” “HAH?! HA HA HA!!” Aku sontak memukul lengannya. Dia ini, ya! Ada aja! “Kamu tahu istilah itu?!” kutanya penuh selidik. “Mau ngeledek, ya?” Aku menggeleng sambil ttertawa “Dosa kamu, udah ledekin orang, sekarang bohong lagi.” ucapnya. “Ayo, kamu di manicure.” Dan dia kembali mengajak. Aku menetralkan suara lebih dulu. “Biar apa?” “Biar pernah! He he he,”
Senyumku mengembang, lalu dia berucap lagi. “Di sana juga ada massage tangan, di manicure.” “Biar apa lagi?” “Kali ini biar tangan kamu bersih,” katanya, yang tidak kumengerti. Sungguh, saat itu, dari ekspresi dan cara bicaranya, penuh teka-teki. Aku ingin tahu! Tapi kamu susah ditebak, Bakrie. Tapi aku juga suka dengan versimu ini. Aku rindu, Bakrie. Aku ingin lagi. Aku ketagihan setelah diperkenalkan cara bahagia lewat usahamu. “Sebelumnya tanganku kotor?” Bakrie mengangguk. “Kapan lalu pernah dipegang sama Hansa, ada kuman tak kasat mata.” “HA HA HA!!! HAAAAA!! HA HA!” “Puas banget ketawanya?” Bakrie bertanya, sambil kudengar tawanya juga menyertai. Pastilah Bakrie masih ingat saat aku menjelaskan kejadian di parkiran sekolah. Nanti di bab berikutnya, akan kujabarkan penyelesaian tentang parkiran sekolah itu. Aku jadi tidak salah paham lagi dengan Bakrie. Aku jadi makin yakin, lamaranmu pasti akan diterima oleh banyak gadis di luar sana—jika mereka yang kamu suka saat itu. “Kenapa gak pakai hand sanitizer aja?” kutanya asal-asalan. “Kuno. Belinya di minimarket, ada biaya parkir. Kalau di sini, gratis parkir. Udah, ayo!” “Ha ha ha!” Hari Minggu itu spesial. Bukan cuma karena Bakrie menyatakan ingin jadi pacarku, tapi karena ibuku sangat senang bertemu dengannya. Tapi, di hari itu, aku dan Bakrie belum resmi berpacaran. Bakrie sendiri yang tidak ingin sekarang. Dia ingin menjadi pacarku ketika di tanggal 31 Desember. Katanya, begini, “Buat sekarang, aku izin ke ibu dan ayahmu dulu, biar gak keduluan yang lain.” “Dan kalau mau nembak kamu, harus ada modal,” “Modal kayak apa?” Aku bertanya.
Bakrie berpikir serius. “Boneka misal, yang teddy bear itu, teman hidupnya Mr. Bean, tahu?” Aku ketawa lepas! “Susah itu, mah! Gak akan ketemu sama boneka setia kayak gitu,” ujar Bakrie, dari nada bicaranya, seolah-olah dia habis keliling dunia. “Misal lagi, harus bawa bunga!” “Kenapa, enggak?” Aku bertanya sambil menahan tawa. “Kelamaan, nunggu bunganya tumbuh,” “Ha ha ha!” Lepas meredakan tawa, aku bertanya. “Kenapa nggak beli aja?” Bakrie tersenyum kecil. “Enakan tinggal metik, seperti kata ibumu,” “Ha ha ha!” “Contoh lain, harus modal bawa hadiah!” “Gak harus,” jawabku. “Iya, gak harus. Tapi harus kalau itu hari ulang tahunmu!” “Ha ha ha!” “Tapi sayangnya udah lewat,” Bakrie memasang ekspresi dibuat-buat sedih. Aku kenal dia jauh setelah hari lahirku. “Gak apa-apa, bisa putar balik.” saranku bijak. “Nanti aku putar balik, tapi nunggu ganti kalender tahun depan, ya.” “Ha ha ha!” Bakrie tersenyum tulus. “Kalau aku jadi pacarmu nanti di tanggal 31 Desember, kita bisa pacaran sambil lihat petasan di langit.” “Bayangin, aku nembak kamu mewah banget! Seluruh dunia merayakan, kamu wajib senang!” Aku ketawa di akhir kalimatnya. Tapi tak lupa untuk mengangguk. Aku akan menunggu itu, sesuai janjimu. Aku suka dengan caramu, Bakrie. Dan sebelum aku menutup bab ini, akan aku beritahu kamu satu hal lagi. Ini masih di hari Minggu, di mana Bakrie duduk di kursi tunggu, menungguku selesai manicure. Saat itu, aku memang tidak tahu. Tapi karena sekarang ini bukanlah tahun itu, aku sudah mengerti.
Kuceritain. Sepanjang menungguku selesai perawatan di dalam salon, Bakrie berdiri dan mendatangi meja kasir. Dia berbicara dengan seorang perempuan yang berjaga di sana. “Mbak, boleh bantu saya?” “Boleh, Mas. Ada apa?” “Bilangin ke perempuan yang lagi manicure, ciri-cirinya... dia pakai kemeja kotakkotak, celana warna hijau, rambutnya panjang se-ketiak.” “Bilang kalau ada paket promo khusus hari weekend. Perawatan manicure bisa gratis creambath. Mau, berbohong, dan bantu saya?” Saat itu mungkin aku percaya langsung, ketika ada promo, dan aku di creambath. Itu sebuah keajaiban, keberuntungan, dan kebahagiaan. Aku senang. Tapi dibalik itu, selalu ada usaha yang Bakrie lakukan untukku. Aku semakin percaya, bergantung kepadamu itu gak bagus untuk hidupku, yang ditakdirkan tidak denganmu. “Besok, kalau mau, kuajak menjelajah dunia lain!” Itu ucapannya setelah kami sampai di depan gerbang rumahku. Aku turun dan melepaskan kaitan helm. Sembari itu, aku membalas ucapannya. “Kali ini dunia apa lagi? Dunia cowok?” “Ha ha ha... iyaa!” Aku ikut ketawa. Lalu aku menyerahkan helm kepadanya, dan diterima dengan baik. “Apa? Barbershop maksudmu?” “Seratus!” Dia menjawab sambil berbinar-binar matanya. “Ha ha ha!” Aku lalu menyentuh poni rambutnya. Berantakan. Lagian, Bakrie ikut melepas helm, meski katanya tidak mampir untuk masuk ke dalam rumah. Jadi aku bisa lihat, rambutnya berantakan, tapi tetap mempertahankan karismatiknya. Tampannya, matanya, bibirnya, semua itu candu jika lama kutatap. “Rambutmu berantakan, emang harus dirapiin ke barber.” Bakrie mengangguk, tanpa memudarkan senyumannya. “Mau temenin? Nanti sambil makan es krim.” “Ha ha ha!” Tanganku berganti memukul lengannya pelan. “Aku temani, Bakrie!” “Bakrie?” Dia memastikan ulang. Aku tersenyum remeh. “Nanti kupanggil ‘Arie’ di 31 Desember.”
Dan Bakrie tersenyum miring. “Sepertiga malam aku akan sholat hajat. Biar berjodoh sama kamu. Sekarang doa biar jadi pacar kamu dulu.” AMIN, BAKRIE! AAMIIN!! *** v. Hari Ibu SELAMAT Hari Ibu! Bagi ibu-ibu di dunia ini, engkau wanita dengan segala perjuangan. 9 bulan 10 hari dibebani oleh kami, dan seumur hidupmu telah dipasrahkan menjadi surga untuk anak-anakmu. Terima kasih, Ibu. Aku sayang ibu. Tapi aku tidak mungkin berucap panjang lebar di depan ibu. Malu sama perbuatanku setahun ini. Gengsi, tapi aku sungguh cinta ibu. Kupikir, itu akan menjadi hari bagi para ibu-ibu saja. Kupikir, aku akan dimintai saran oleh Bakrie, tentang bagaimana kalimat yang indah buat ibunya. Tapi dia itu Bakrie! Laki-laki penuh kejutan! Penuh teka-teki. Aku saja menyerah untuk mengisi buku TTS-nya, jika dia berhasil menerbitkan satu untukku. Tidak kuberi penghargaan, yang ada otakku makin panas! Aku hanya akan menulis tentang versi Bakrie. Versinya, yang hanya berpusat padanya, selebih itu, aku tidak perlu mengutipnya. Maka, aku hanya akan ambil sepotong kisah di hari itu, di Hari Ibu. Bakrie mendatangi rumahku, sore-sore. Untung aja, aku ada di rumah, biasanya jemput adikku mengaji. Kalau ayahku, masih di tempat kerja, dan ibuku pergi mengantar pesanan. Aku sudah menyuruhnya masuk, tapi Bakrie menolak. “Cuma mau kasih balon buatmu,” Itu jawabannya setelah kutanya, apa tujuannya kemari. Tapi, balon? Dan itu, berwarna biru? “Putar baliknya tahun depan, Bakrie.” “Bukan buat ulang tahunmu,” jelasnya. “Terus? Buat apa?” “Buat perempuan. Aku pilih dua aja, mamaku dan kamu.” “Karena?” Bakrie senyum. Dia tak pernah lupa untuk itu. Aku jadi rajin senyum, karena dia selalu mengajarkan begitu.
“Karena ini Hari Ibu.” Aku mendesis, dan ketawa. “Aku bukan ibu-ibu!” balasku sambil melotot lucu. Dia jadi ikut ketawa, tapi cuma sebentar. “Belum aja. Tapi suatu hari kamu pasti jadi ibu. Siapapun anakmu nanti, pastilah manusia,” “Kalau vampire?” Aku bercanda. “Kamu jadi pemain GGS.” “HA HA HA!” “Selamat Hari Ibu.” Ungkap Bakrie. Terdengar lembut sekali, memanjakan telinga. “Terima kasih.” “Buat ibumu juga,” Ucapan itu, juga berlaku untuk ibuku, dan aku tersenyum. Lalu Bakrie memberiku sebatang coklat. Aku makin terperangah tak bercaya! “Ini buat ibumu.” “Coklat segala?!” Bakrie tersenyum kecil. “Aku udah janji.” Iya, benar, aku ingat, Bakrie pernah bilang akan bawakan ibu coklat, setelah tahu itu kesukaan ibu. Tapi, kenapa hanya ibu? Kenapa aku cuma dapat satu balon? Biru juga bukan warna kesukaanku. “Mala,” Secepat mungkin, Bakrie memanggilku. “Kenapa?” “Bawa handphone?” “Bawa,” “Boleh buka WhatsApp?” Aku mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel. “Punya nomor ayahmu?” Dia bertanya lagi. “Itu kewajibanku,” Dan Bakrie terkekeh pelan. “Masuk ke room chat ayahmu,” perintah Bakrie, aku menurut.
Tidak terpikirkan olehku, bahwa Bakrie akan menyuruhku menekan tombol rekam suara, dan... “Selamat sore, Ayah! Aku izin memanggilmu ayah, karena engkau sudah jadi ayah dari Mala. Aku tidak mungkin memanggilmu ‘Mas’.” “Ha ha ha!” Aduh! Aku kelepasan ketawa! Bakrie langsung senyum ke arahku. “Maaf mengganggu hari ayah, di Hari Ibu ini.” Lagi-lagi aku ketawa! Tapi, untung bisa kutahan cepat. Astaga! Ini gak boleh lagi! Nanti, Bakrie enggak serius. Walaupun, dia sendiri santai saja. “Tapi ini juga Hari Ayah buatku. Hari ini aku bicara dengan ayahnya Mala, bukan dengan ibunya Mala. Jadi, ini Hari Ayah untuk kita para lelaki. Suatu hari, kalau aku sudah jadi ayah, jangan lupa beri ucapan Hari Ayah, ya! Nanti akan kubalas.” “Sudah dulu, Ayah. Aku cuma ingin doa, semoga ayah memberiku izin mencintai putrimu. Dia Mala, perempuan. Makanya aku bisa suka.” “Baik, ayah. Aku akhiri. Assalamualaikum, maaf, lupa ucap salam di awal kalimat. Waalaikumssalam, kalau kata Ayah.” Bakrie kemudian menatapku. Dan aku langsung berhenti menekan tombol rekam suara. Bagus! Rekaman itu berhasil kekirim. Aku tersenyum puas ke arahnya. Aku senang dengan caramu ini, Bakrie. Aku bersungguh-sungguh dilanda rasa ini. “Ayah bilang, sudah diizinkan,” ucapku. “Itu kamu yang bilang,” balas Bakrie. “Ha ha ha! Perantara aja!” *** Baiklah pembaca sekalian. Aku libur dulu menulis tentang Bakrie. Aku mau memenuhi janjiku. Sebelumnya, aku pernah bilang, aku akan sedikit bercerita soal ayah. Sederhana saja. Ayahku seorang wiraswasta. Aku anak pertama, punya satu adik lakilaki. Sekarang dia duduk di bangku Sekolah Dasar, di kelas 4, cuma dia lagi menganyam di Madrasah Ibtidaiyah, sekolah swasta khusus Muslim. Beda denganku, waktu SMP dulu, aku menjadi siswi dari SMP Katolik. Nama sekolahnya, tidak usah kusebut, nanti kalian akan makin penasaran dengan cerita yang lain. Aku malas menulisnya. Aku ingin menuntaskan tentang Bakrie, yang tidak seberapa jika kutulis, tidak sebanding dengan seluruhnya. Aku juga tidak mungkin menjabarkan sedetail itu. Tapi aku hanya berusaha untuk mengambil bagian terbaik dari yang kuingat.
Tidak kuketahui banyak tentang keluarga Bakrie. Tapi aku tahu mamanya, aku kerap memanggilnya Mama Theresia. Bakrie terlahir sebagai anak kedua, dia punya kakak laki-laki, dan adiknya satu, juga laki-laki. Aku pernah kenal dengan kakak dan adiknya Bakrie. Mereka bernama Marsel dan Daud. Aku suka ketika bertamu ke rumahnya. Aduh, maafkan aku, justru diriku mendetail informasi pribadi Bakrie. Maafkan! Aku balik ke awal aja, ini tentang ayah. Setelah mendengar pesan suara yang kukirim di sore hari—tapi dengan suara Bakrie, pulangnya ayah langsung berkomentar kepadaku. Ayah bilang, Bakrie menarik. Caranya itu spesial sekali. Tapi ayah juga memberiku peringatan. Sewaktu itu, aku belum bisa mengartikannya dengan luas. Tapi biarkan aku untuk menerjemahkan, maksud dan makna yang terkandung, yang sekarang bisa kupahami lebih luas lagi. Dan bisa isa menyadarkan aku. “Kamu merasa, kamu sudah sangat spesial, Mala?” Sebelum itu, ayah bertanya lebih dulu. Kuberitahu pertanyaan ayah yang ini, biar kamu nyambung di narasi berikutnya. Aku mengangguk ragu-ragu. Tapi ayah kembali tanya. “Apakah spesialmu sebanding dengan Bakrie yang spesial?” Barulah kali ini tanpa ragu, aku menggeleng cepat! Mana mungkin?! Jika bagi Bakrie aku spesial, tak apa, tapi buatku, tidak perlu dibanding antara aku dengannya. “Bakrie itu spesial, setuju?” Aku mengangguk sebagai jawaban. “Dan kamu merasa kurang spesial.” “Lalu, ayah?” Aku bertanya bingung. Ayah tersenyum penuh arti. Itu penuh makna sekali. “Manusia selalu bertemu dengan cerminnya, Mala.” “Spesial akan bertemu dengan spesial.” Aku percaya dengan ayah. Sepenuhnya, dan hari ini aku makin mantap percaya pada ayah. Dia benar, aku bukanlah cerminan dari Bakrie. Ayah benar sekali, Bakrie hanya belum menemukan yang sesungguhnya spesial, bukan aku yang memaksa dispesialkan. Itu hanyalah perbincanganku dengan ayah. Dan jika kamu sudah tahu, kumohon jangan berkata buruk tentang ayahku, tentang obrolan kami. Tidak setujumu dengan pendapatku dan ayah, itu tetaplah menjadi urusanmu. Aku tidak perlu tahu, begitu pun orang lain.
Aku juga gak bisa mengelak, orang berkata bahwa ‘jodoh adalah cerminan diri’ sama halnya dengan nasihat ayah. Pahlawanku itu hanya tidak mau kalau putrinya terluka besar, di waktu yang terlampau jauh untuk dia jangkau. Ayah ingin menunjukkan padaku tentang hal menarik lainnya, di sisi lain. Tidak menjaminnya kebersamaanku dengan Bakrie, termasuk hal menarik buatku. Sampai sini, semoga kamu mengerti maksudku. Aku juga bukan ingin menghindari komentar negatif, tapi aku hanya tidak harus tahu komentar buruk itu. Terima kasih sudah mengerti. Aku senang kamu menghargaiku. Biar kuceritakan sedikit lagi di bab 5 ini. Tentang balon biru yang dikasih Bakrie! Aku tidak sabar memberitahunya ke kamu. He he he. Jadi setelah kupastikan suasana rumah sudah sepi, senyap, mereka terlelap dimakan waktu, aku mulai menangani balon itu. Kondisinya tengah malam, sepertinya pukul setengah dua belas. Aku coba lihat jam beker aja, deh! Ingin kupastikan, pukul berapa saat ini? Dan... 11.28 PM. Itu artinya, 23:28 loh! Ya, sudah, kita fokus ke balon biru. Saat itu aku di kamar, jendela kamar sengaja kubuka, gorden kusingkap tuntas. Biar kulihat, bagaimana keadaan malam di hari itu. Biar aku tahu, sejauh apa diriku dengan bintang, hingga dia terasa kecil dimataku, namun besar di ingatanku. Balon biru, jika aku teliti, ternyata di dalam balon itu diisi oleh satu gulungan kertas. Warnanya putih. Aku melihat saksama. Karena aku gak tega mau meletuskan balon itu, akhirnya aku coba telepon Bakrie, kebetulan, dia online dari 15 menit yang lalu. “Bakrie!” kusapa girang saat sambungan terhubung. “Waalaikumussalam.” Aku terkekeh mendengar suaranya yang sangat candu. “Maaf, Allah. Maaf, Bakrie.” “Ihdinash-shiroothol-mustaqiim.” “Jadi malah baca surat al-fatihah,” kataku. “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Itu artinya,” Hembusan napasku menandakan bahwa aku sontak mengangkat kedua sudut bibirku. Aku senang kamu yang seperti ini, Bakrie. “Aamiin!” balasku. “Kenapa telepon?”
Aku baru ingat dengan tujuanku. “Balonnya itu diletuskan?” “Kenapa ragu?” “Di dalamnya, kan, ada gulungan kertas. Isinya apa?” “Oohh! Ha ha ha!” “Kok, ketawa?” Aku curiga hebat. “Gak apa-apa. Balonnya boleh kamu dor-in, kok!” Jika sudah mendapat persetujuan dari Bakrie, aku benar-benar memutuskan untuk menuruti perintahnya. Aku letuskan balon biru itu, tapi tidak sampai meledak besar! Kalau ayah dan ibu bangun, itu bahaya! Aku menemukan gulungan kertas yang kuincar. Isinya pastilah tulisan Bakrie. Akan kukasih tunjuk padamu! Bismillahirrahmanirrahim. Adikku, Daud, dia kemarin lulus jilid 4. Syukur alhamdulilah. Sebagai kakak yang jarang ngajari dia, aku bangga. Kamu juga kudoakan bisa lulus, Mala. Kamu mau lulus apa? Kalau aku, ingin kamu lulus menjadi perempuan yang kucinta. Setelah cinta, aku akan jatuh cinta sama kamu. Selamat Hari Ibu, yang lebih baik kita beri penghargaan itu setiap hari, bukan cuma di tanggal 22 Desember ini. Kamu akan jadi seorang ibu nanti. Jangan ngeluh kalau perutmu besar, pinggangmu sakit, kamu menangis waktu melahirkan calon anakmu, semua itu ada suamimu kelak yang akan bantu meringankan. Dia akan menemanimu. Dia yang masih menjadi rahasia Allah SWT. Dan kalau boleh jujur, aku banyak sedihnya setelah membaca kertas itu. Ingin kubuang rasanya. Biar terbakar, abunya akan kusapu! Aku benci ucapannya itu, yang seolah tidak percaya akan bersamaku. Kenapa, Bakrie? Kenapa? Kenapa kamu seperti siap akan berpisah, setelah nanti kita puas bahagia bersama!
Jika manusia siap akan tujuan hidup seperti itu, maka aku akan menjadi manusia yang selalu tidak terima. Aku ingin bersama seseorang yang kumau, dengan tempo yang lebih lama. Sampai aku mengenal kata bosan. Tapi sepertinya aku tidak akan bisa bosan denganmu. Semua tentang percakapan dengan ayah, kemudian dilengkapi oleh kertas darimu, itu menciptakan kecemasan besar di hatiku, Bakrie. Aku khawatir, bagaimana kalau bersama kamu adalah jalan tercepat mendapat luka? *** vi. Halo, “Jangan Gembira di Tahun Baru!” TRIIIIING!! Suara telepon sekolah berbunyi. Pagi itu, guru penjaga TU, namanya Bu Nawang, dia langsung menerima panggilan itu. Aku tidak tahu, bagaimana jelasnya perbincangan itu. Tapi yang akan selalu kuingat, Bu Nawang langsung menyiarkan di ruang informasi. Bu Nawang memanggilku pagi itu juga, di hari Senin. Sepertinya, masih jam delapan pagi untukku ketika mendatangi ruang informasi. Aku lupa pakai jam tangan. “Ada telepon buat kamu,” Bu Nawang memberitahu. Aku terkejut sedikit. “Dari siapa, Bu?” “Leluhurmu.” Kedua mataku melotot. “Astagfirullah!” “Bercanda kayaknya, Mal. Itu yang telepon suaranya kakek-kakek, mau bicara sama cucunya, kamu,” “Terus?” Bu Nawang mengedikkan bahunya sekilas. “Tapi tadi ngaku bilang leluhur kamu.” Penjelasan dari Bu Nawang, perlu dicurigai. Sungguh! Itu aneh! Kenapa juga kakek tidak langsung telepon di nomor ponselku? Aku ada pulsa, kok. Kemarin baru isi 15 ribu. Kuotaku juga masih ada. Apa yang salah?
Tapi biarkan saja. Aku langsung masuk ke ruang TU didampingi Bu Nawang. Aku berdiri di depan telepon berwarna putih, yang sering kusebut telepon rumah. Sedangkan Bu Nawang duduk kembali untuk menyelesaikan tugas. Dan aku mulai menyapa kakekku itu. “Ini Mala, kakek kenapa?” “Leluhur lagi kangen sama kamu, katanya gitu.” Seketika aku menjauhkan telepon itu dari daun telinga kananku. Jantungku berdegup cepat. Ya Tuhan, mataku mengerjap untuk sadar. Lalu kutempelkan lagi benda itu di daun telinga. “Bakrie! Kamu apa-apaan?” pekikku dengan berbisik. “Lagi telepon kamu,” Suaranya itu ringan sekali, enak didengar, dan bikin candu. Tapi di situasi saat ini, jangan seperti itu, Bakrie! Jangan! Dan aku mendesis kesal. “Mau apa?” “Mau ajak kamu ke toko baju,” “Ngapain?” “Disuruh mama beli, bentar lagi lebaran,” Aku menahan tawa. “Sekarang aja masih bulan Desember.” “Bulan kita pacaran,” ujarnya terdengar enteng sekali. Aku memejamkan mata erat-erat. Jantungku! Jantungku kambuh lagi. Rasanya sakit kalau jantungku degupannya sekencang ini. “Sekarang tanggal berapa, Mala?” “31 Desember,” “Mau jam berapa kita jadiannya?” Aku berpikir, itu ide yang buruk, bertelepon dengan Bakrie menggunakan telepon sekolah, lalu kami sedang kasmaran di ruang TU. Jika bukan karena Bu Nawang yang sudah sangat fokus di berkasnya, aku mungkin sudah balik ke kelas. Tapi, mumpung Bu Nawang tidak sadar. Ini perbuatan jelek, jangan ditiru. Habis ini aku akan ceramahi Bakrie. Tidak semua percakapan yang kuingat saat bertelepon hari itu, aku akan memetik bagian penting aja, dan mudah diingat. “Itu tadi, katanya ada suara kakek-kakek cari aku?”
Dari seberang sana, bisa kudengar suara tawa Bakrie yang lepas. “Cuma pinjem suara penjual batagor,” “Astagfirullah, Bakrie. Segitunya kamu... kasihan kakeknya,” “Dia senang.” “Gimana bisa?” “Habis kuborong batagornya,” Aku langsung membekap mulut. Astaga, Tuhaaaaaan!! Nyawaku pasti melayang jika Bu Nawang dengar ketawaku! “Kenapa kamu gak masuk sekolah hari ini?” kutanya serius, setelah kami berbicara beberapa hal. “Biar bisa teleponan sama kamu,” “Gak masuk akal, ah. Bolos kamu,” “Ih, tukang fitnah. Coba, kalau hari ini aku di kelas, mana bisa kita bikin ruang TU jadi bersejarah gini,” katanya. “Sejarah apanya?” ledekku. “Sejarah pertemanan kita. Nanti, kan, kita udah bukan teman lagi...,” “Kita pacaran nanti, mah,” Bibirku sepenuhnya terangkat! Aku senyum lebaaaar banget! Aku menggertakkan gigi, kesal karena susah sekali menahan tingkahku yang gak karuan. Tapi aktivitas itu bubar seketika. Aku langsung menutup telepon dengan detak jantung yang lebih cepat berpacu. Aku gugup dan ketakutan. Aku baru aja ditegur sama satu perempuan, kakak kelasku, yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang TU. Dia langsung menuju ke arahku. “Lagi bicara penting?” Kurang lebih, itulah awal kalimat dia berbicara padaku. Aku memanggilnya ‘Kak Hima’. Dia adalah perempuan yang dulu pernah kudengar, akan jadi pacarnya Bakrie, sewaktu diberitahu oleh Hansa di tempat parkir sekolah. Aku sangat tahu, pertanyaannya barusan telah menyindirku. “Gak terlalu, Kak,” kujawab sambil senyum. “Ya jangan sampai beneran penting, orang ketawa-ketawa gitu pas teleponan,” Punya beban apa, sih, dia? Sibuk banget urusin hidupku?? Kalau sampai Bu Nawang dengar, gimana?
“Bu Nawang, tadi telepon dari siapa, sih?” Dan dia mengacau, Kak Hima justru bertanya kepada Bu Nawang yang sedang menulis. Bu Nawang tentu langsung angkat kepala. Menatap kami berdua. “Telepon yang mana?” “Barusan,” Bu Nawang kemudian menatapku. “Kakeknya Mala ingin bicara,” jawabnya. Aku memasang wajah kurang suka pada Kak Hima. Sungguh. Perempuan macam apa dia? Gak mengerti perasaan orang lain. “Kakekmu pandai buat lelucon?” Kak Hima bertanya padaku. Ya ampun, hatiku kesaaal!! “Kemarin baru juara stand up comedi,” kujawab begitu aja sekalian. Biar puas! Biar dia tahu alasanku ketawa! Iri, kan, kamu, Kak Hima? Aku tahu, itu kesalahanku, menurutku memang itu tidak baik dicontoh. Aku gak sopan, Bakrie juga. Tapi caranya Kak Hima juga kurang bagus. Kalau dia emang mau pakai teleponnya buat bertelepon juga, bisa berkata dengan normal. Tidak perlu menguasai ilmu kejahatan, kemudian dipakai, dan membuat aku kesal. Sekarang, pakailah, pakai telepon itu. Bicara bebas sesukamu. Aku ingin balik ke kelas aja. Aku masih ada jadwal lain. Oh, iya, aku berhutang kepada kalian. Aku hampir lupa soal kejadian di parkiran sekolah. Serangkaian peristiwa itu memang aku jabarkan kepada Bakrie, aku beritahu kepada dia. Setelah itu, Bakrie membalas dengan tak terduga. “Aku emang cinta sama Hima,” Tapi ada lanjutan dari kalimatnya. “Aku cinta kepintarannya. Dia jago di bahasa Inggris,” Lalu aku mendelik. “Kamu lupa? Nilaimu bahasa Inggris itu 96!!” Hampir aja aku frustrasi dan gila. Bagaimana bisa aku kenal dengan orang yang ambisius tingkat dewa ini. “Nggak sempurna.” “Bakrie, bersyukur!” “Alhamdulillah.” “Kamu udah di atas rata-rata, Bakrie. Kamu menguasai hampir seluruh akademik. Kurang apa lagi, sih?”
“Kurang buat Hima ada di peringkat ketiga.” Aku terkejut bukan main. “Doamu jelek!” “Harus. Sikapnya juga jelek, sih. Dia kurang sopan,” Kak Hima itu, dia juara bertahan, tapi di peringkat 2 aja. Di peringkat pertama selalu Bakrie, dan peringkat kedua selalu dikuasi Kak Hima. “Tapi katamu dia pintar?” “Iya, dia peringkat kedua,” jawab Bakrie. “Dibawahmu?” “Disebelahku,” “Ha ha ha!” “Ngaku ajalah Bakrie kalau kamu selalu dapat juara satu!” gemasku, hampir ingin mengunyel pipinya. Tapi Bakrie tetaplah Bakrie. Dia tidak suka orang lain tahu kelebihannya. Dia ingin selalu jadi orang sederhana, yang bisa bergaul dengan siapa pun, tanpa memikirkan batas kelebihan dan kekurangan. “Jadi, Hansa benar, dong, ya? Kamu akan jadian sama dia?” “Gak benar. Dia yang deketin aku.” “Kamunya mau?” “Dipaksa sama Allah, katanya suruh pasrah dulu aja, nanti juga ketemu kamu,” “Ha ha ha!” Begitulah, panjang sebenarnya obrolanku dengan Bakrie. Tapi aku capek menulis! Tanganku berkeringat, mataku lelah menatap layar laptop, aku sempat pusing melihat tumpukan buku diary di sebelah laptop. Kalau begitu, ini waktunya aku istirahat. Aku mau rebahan dulu, baring-baring santai. Kamu juga, santailah, jangan terlalu jika membaca. *** Sore di tanggal 31 Desember 2018, apa yang dikatakan Bakrie, itu benar adanya. Dia mengajakku keluar ke toko baju. Ibu dan ayah mengizinkan, asal gak pulang malam. Hari itu, aku tidak sabar menunggu. Detik-detik Bakrie akan menyatakan caranya untuk menjadi kekasihku. Tapi, aku menahan rasa penasaran itu, aku juga menahan untuk bertanya tentang toko baju yang kami datangi.
Maksudku, kenapa harus ke sini? Alasan bahwa Bakrie disuruh beli baju lebaran, pasti itu mengada-ada kan. Jadi, apa motivasi sesungguhnya ke toko baju ini? “Ini milik pamanku,” Bakrie berucap tiba-tiba, saat kami masuk di bagian perlengkapan pakaian pria. Aku langsung menatapnya dari samping. “Toko baju ini?” “Iya,” Ini toko baju besar! Cukup menarik di pusat kota kabupaten. Salah satu yang sering dikunjungi oleh orang kaya raya, chindo, bahkan juragan-juragan. “Wauw... keren banget!” Bakrie ketawa setelah mendengar pujianku itu. “Harusnya bilang langsung ke pamanku,” katanya. “Oh iya, sih,” Aku nyengir. “Ayo, kita ke ruang belakang. Di sana, ada pegawai yang setrika baju biasanya.” “Ngapain ke sana?” tanyaku heran. “Mau kasih lihat orang setrika baju.” Bakrie ini, emang aneh, dan ada aja kelakuannya. Tapi aku tetap tersenyum dan mengikuti maunya. Kami ke bagian yang menjadi tujuan saat ini. Ruang bagian khusus pegawai. Di pintunya, ada semacam keterangan bahwa hanya karyawan yang boleh masuk. Tapi Bakrie justru melambaikan tangannya di hadapan kertas peringatan itu. Aku ketawa sebentar menyaksikan kondisi wajahnya dan tingkahnya itu. Aneh dan lucu. Dia menggemaskan. Lalu akhirnya kami masuk. Dan lepas itu, sebagian pegawai yang ada di sana, langsung menyapa hangat kedatangan Bakrie, disusul menyapaku juga setelah itu. “Ini alasan aku kasih tahu kamu, toko ini milik pamanku.” Aku menatapnya sejenak. “Biar kamu gak makin bertanya-tanya, kenapa karyawan langsung kenal dan akrab sama aku? Biar aku juga hemat penjelasan ke kamu.” “Hemat penjelasan?” Aku terkekeh, dia ini cerdas. Bakrie mengangguk. “Kalau aku kasih tahu kamu, nanti aku gak akan jelasin ke kamu. Dan itu berlaku, sepanjang apa yang aku kasih tau, bisa kamu pahami.” Siapa pun yang akan menjadi pacarnya Bakrie di hari ini, nanti, hingga kelak, pastilah dia akan bangga. Selain unik dan ajaib, Bakrie juga cerdas dalam bertutur kata.
Lalu benar, benar bahwa kami akan datang ke tempat bagian setrika baju. Ada satu pegawai yang saat itu tengah menyetrika kaos hitam, dia berbincang sebentar dengan Bakrie. Aku tidak ingat jelas apa topik mereka, tapi aku ingat betul bagaimana dialog antara aku dan Bakrie kala itu. “Apa perasaan kamu setelah lihat kaos itu disetrika?” Dia bertanya padaku. “Gak ada rasa apa-apa,” “Harusnya kamu kasihan,” Aku berpikir sejenak. Tapi gagal untuk mencari alasan, kenapa harus kasihan? “Kenapa justru kasihan, Bakrie?” Bakrie menjawab dengan gaya bicaranya yang sangat terbaik buatku. “Setrika itu panas, terus kaos itu disiksa sama kepanasannya,” jawabnya. “Kaos bukan makhluk hidup yang bisa merasakan, toh?” kutanya seperti itu. “Kaos bukan makhluk hidup. Tapi kaos adalah kain. Bahan dasar kain salah satunya itu kapas,” “ada juga wol, sutra.” “Kalau bicara soal kapas, kapas dibuat dari tumbuhan, serat alam. Tumbuhan, kan, makhluk hidup?” Aku terbungkam mendengar penjelasannya yang simpel itu. Tanpa banyak kata, aku tersenyum penuh arti kepadanya. “Kamu bawa baju ganti sesuai permintaanku tadi?” Oh, iya, aku baru ingat. Maafkan aku, aku akan jelasin ke kalian. Sebelum Bakrie menjemputku di rumah, dia bilang di telepon, katanya aku harus bawa satu pakaian yang paling bagus menurutku. Jadilah aku bawa dress berwarna putih tulang, elegan sekali. Ada beberapa hiasan pernak pernik di bagian tertentu dress. Itu hadiah dari orang tuaku, saat usiaku 16 tahun. Sekarang aku sudah berumur 17 tahun, dress itu masih sangat muat buat kupakai. Dan tahun depan, aku akan naik kelas 12, beserta umurku 18 tahun. Aku menyerahkan paper bag coklat yang berisikan gaun kesayanganku itu. Oleh Bakrie diterima baik, dan menyerahkan ke pegawai yang sibuk setrika. Aku menyimak baik-baik apa yang mereka bicarakan saat ini.
“Disetrika ya, Mang,” ucap Bakrie. Pegawainya memang laki-laki, sekitaran usia 33 tahun. “Siap! Serahin ke saya aja,” “Kok, disetrika?” Aku berbisik saat Bakrie menoleh padaku, dan tersenyum untukku. “Kan, mau dipakai sama kamu, buat besok. Aku mau ajak kamu jalan-jalan,” Aku sangat terkejut. Tapi Bakrie menjelaskan lagi. “Besok hari pertama kita kencan sebagai pacar. Gaunmu biar disetrika in, jangan setrika sendiri.” OH MY GOD!! BAKRIE AKU SAYANG KAMUUUU!!! “Besok-besok, kalau kencan lagi, aku beliin gaun yang menurutku bagus. Sekarang, setrika gaun yang menurutmu bagus.” *** Masih di sore hari, kami berkeliling di sepanjang jalan yang diisi oleh pedagang kaki lima di trotoar jalanan. Aku dan Bakrie langsung ke satu tempat, gerobak batagor. Sebenarnya, aku cuma ikutin Bakrie aja. “Mau batagor?” Bakrie bertanya saat kami di depan gerobaknya pas. “Mau, yang pedes, pakai timun.” “Ada kuisnya tapi,” Aku mendadak ketawa. Apa lagi ulahnya sekarang? “Kepanjangan dari batagor adalah?” Bakrie mulai memberi pertanyaan tanpa abaaba. “Eh? Emang ada, ya?” “Ada, dong.” Aku berpikir serius. Apa? Apa arti dari batagor?! Bantu aku, Allah! Mata Bakrie yang menatapku intens sambil tersenyum begitu, membuatku gagal fokus! “Nyerah?” tanya Bakrie. “Nanti gak dapet batagor?” Bakrie menggeleng enteng. Idih! “Ganti soal ajalah!” bujukku memelas. “Ya, udah.” Bakrie mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kepanjangannya PCR?” Aku mendadak diam. Aku punya jawaban, tapi takut salah. Nanti malu! Bukan apaapa, masalahnya, jawaban yang akan kuberi itu seperti memalukan!