The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kali ini karya tulis Putriku Neza. Sebagai Putriku Neza, dia menjadi perantara dari perasaan Komala Maniska, yang di mana gadis itu akan mencoba mencintai rindu pedihnya, terhadap versi lama. Bukan menyedihkan, tapi Komala hanya perlu menerima garis takdir hidupnya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Maniska Hune, 2023-04-23 12:24:02

Versi Bakrie

Kali ini karya tulis Putriku Neza. Sebagai Putriku Neza, dia menjadi perantara dari perasaan Komala Maniska, yang di mana gadis itu akan mencoba mencintai rindu pedihnya, terhadap versi lama. Bukan menyedihkan, tapi Komala hanya perlu menerima garis takdir hidupnya.

Keywords: Ebook pertama karya Putriku Neza

“Apa, Mala? Nggak tahu?” desak Bakrie. “PCR...? Pacar?” Aku ragu-ragu memastikan. Lalu Bakrie membalas. “Mau jadi pacarku?” Aku nge-blank total! “Apa, Bakrie?” “Mau jadi pacarku, Mala?” Suara Bakrie saat itu, barengan sama kencangnya sepeda motor melaju, dan klakson mobil di kejauhan. Jadi, aku tambah blank! Aku seperti budek mendadak. “Gimana, Bakrie?” “Kang! Beres, nih!” Tiba-tiba, suara dari pedagang batagor itu terdengar. Pria tua— yang sudah seumuran kakek-kakek bersuara lagi, sambil menunjukkan kresek merah besar yang berisi bungkusan batagor. “Mau diangkut sekarang?” Bakrie lalu mengangguk. “Hatur nuhun pisan!” “Kamu bisa bahasan Sunda?” Aku bertanya cepat kepada Bakrie. Tapi Bakrie menggeleng. “Batagor Bandung.” jawabnya. Aku terkekeh sejenak. “Ngikut aja aku,” jelasnya. “Abah, naon hartina batagor?” Bakrie bertanya kepada kakek pedagang batagor itu, ‘apa artinya batagor?’. Dan aku menyimak saja. “Bakso tahu goreng, Kang!” Omong-omong, kakek itu adalah orang yang menjadi pengisi suara saat telepon di TU, yang kata Bakrie adalah leluhurku. Aku menjadi kenal dengannya, karena sepanjang kami berpacaran, Bakrie selalu membawaku kemari. Katanya, batagor itu makanan kesukaannya. Dia suka, karena batagor cuma satu, tapi ternyata dia bisa mendapatkan bakso, dan tahu goreng. Ha ha ha, bisa-bisanya! Lalu Bakrie sedikit mendekatkan kepalanya pada telingaku. Dia berbisik. “Kamu tahu, kenapa abahnya tahu arti batagor?” “Karena dia penjual batagor?” tebakku. Ternyata Bakrie kembali bertanya. “Kamu tahu, kenapa kamu tahu artinya PCR?” Aku mendadak diam. Malu! Kemudian Bakrie berucap lagi. “Karena kamu takdirnya jadi pacarku.”


“Hukuman karena kamu gak bisa jawab kuis pertama tadi, kamu harus temenin aku,” final Bakrie. “Hukuman?” Aku terkejut. “Iya. Kamu harus temenin aku keliling bagiin batagor.” “Loh?” Aku bingung. “Aku mau sedekah, karena udah punya pacar. Ayo, temenin, nanti kamu dapet batagor juga.” Saat itu, di depan gerobak batagor abah, di sore hari, kami resmi menjalin hubungan spesial. Aku dan Bakrie berpacaran, aku dan Bakrie bahagia dalam satu garis takdir saat itu. *** Malam-malam, masih di tanggal 31 Desember, Bakrie mengajakku ke peternakan sapi. Itu sangat aneh! Tapi ternyata dia hanya membawaku ke penjual balon bentuk sapi, yang sebenarnya punya macam-macam bentuk lain. Paling banyak, bentuk sapi. Itu alasan kenapa Bakrie menamainya peternakan sapi. Agak susah masuk di akal, tapi dialah pacarku. “Kamu mau beli yang warna apa sapinya?” Bakrie menawariku. “Putih?” Dia bertanya lagi. “mungkin mau samaan sama warna gaunmu yang disetrika?” Aku ketawa sedikit. “Buat apa beli balon?” “Nanti bisa dijual, sapi lagi naik harga.” “Ha ha ha!” “Mala,” “Iyaa?” “Nanti aku telepon,” katanya. “Kapan?” “Kalau udah mau ganti tahun.” “Mau ngucapin happy new year?” kutebak, itu klasik sekali. Tapi Bakrie menggeleng. “Mau kasih kamu peringatan.” “Peringatan apa?” tanyaku serius. Lalu dia mengangkat kedua bahunya sekilas. “Apa aja. Aku udah telanjur termotivasi sama kertas peringatan di pintu karyawan. Selain karyawan, dilarang masuk!”


Aku menahan tawa. “Jadi?” “Jadi mau ikutan juga.” “Ha ha ha!” *** Bakrie, aku akan mengingat saat itu. Saat-saat di mana kamu memenuhi janjimu. Aku langsung terburu-buru masuk kamar, menerima telepon yang berdering di ponselku. Aku melihat namanya di sana. Langsung kuangkat. Sambil itu, aku melirik jam dinding di kamar. Pukul 23:40. 20 menit lagi, kami manusia di saat itu akan menyambut tahun 2019. Tahun yang lebih spesial lagi, karena nantinya akan diisi oleh kisahku yang berstatus bersama Bakrie, pacarku. “Assalamualaikum, “ Aku tersenyum. “Waalaikumussalam.” “Kamu lagi senyum sekarang?” Aku ingin ngumpat saat itu juga. Gimana dia tahu?! “Gak boleh, ya?” “Boleh kalau senyum aja. Tapi jangan bahagia,” Aku sedikit mengerutkan kening. “Jangan bahagia?” “Jangan bahagia di tahun baru, Mala.” katanya. “Kenapa jangan?” “Dunia makin tua. Kamu harusnya takut.” “Ha ha ha!” “Aku bahagia, karena jadi pacarmu, Arie.” Itulah saat-saat di mana aku menyebutnya Arie untuk pertama kalinya. Aku bisa menebak, 100% pasti Bakrie tersenyum lebar. Pasti Bakrie bahagia. Dia ketawa soalnya, aku dengar sendiri lewat telepon. “Besok, aku lebih sayang sama kamu.” Ya Allah! Aku gak bisa mendeskripsikan perasaan ini. Sungguh! Detak jantungku berpacu cepat sekali. Tanganku berkeringat. “Besok-besoknya lagi?”


“Aku sayang kamu seratus persen!” “Ha ha ha!” Aku bertanya setelah itu. “Jadi, sekarang enggak seratus persen?” “Sekarang yang seratus persen itu rindu.” “Rindu siapa?” “Kamu.” Aku sontak senyum. Ya Tuhanku, aku bahagia. “Aku juga rindu kamu.” “Kita gak ketemu setahun, tahun 2019 kita baru ketemu.” “Ha ha ha!” *** vii. Haus! KAMI kembali masuk sekolah. Hari itu, basa Jawa menjadi salah satu mata pelajaran yang kami ikuti di kelas. Jadwal baru di semester 2 ini. Guru kami tetap sama seperti semester lalu, namanya Bu Ika. Beliau terkenal galak, tapi sangat disiplin. Hanya kepadanyalah kami seluruh murid SMA Duri Negeri menjadikan suasana kelas seperti ujian, tak mengenal hari, hanya ketika ada Bu Ika saja. Bu Ika memakai jilbab, yang selalu membuatku berpikir, dia hanyalah orang tua, yang juga memilik anak, ingin mendidik dengan tegas. Aku melihat jiwa keibuannya yang lembut dibalik jilbab itu. Tapi kalau predikat paling galak di sekolah, paling ditakuti, itu benar 100%. Oleh Bu Ika, kami disuruh menuliskan satu surat kepada siapa pun, sebagai penyambutan hari pertama masuk. Jadi tidak langsung menuju bab pembelajaran. Aku senang dengan metodenya saat itu. Dan aku menuliskan surat untuk pacarku, namun namanya kusamarkan, jadi ‘Cendana’. Itu nama kayu, aku tahu. Aku ingin aja. “Kenapa gak sekalian kayu jati aja?” Saat itu, Bakrie bertanya setelah kuceritakan tentang surat yang kubuat. “Kamu bukan lelaki sejati, sih,” “Kenapa bukan?” “Biar gak banyak yang suka kamu.”


Bakrie ketawa. Aku juga. “Ayo ke kantin!” Itu memang jam istirahat, kami baru aja dari TU bayar SPP. “Aku puasa.” “Ah, bohong!” ledekku. “Iya, emang bohong.” Dia mengangguk membenarkan ucapannnya. “ha ha ha!” Aku ketawa lepas. “Mala, kapan kita bisa tarawih?” Ah, pertanyaan itu lagi. Dulu Bakrie tanya seperti itu saat dia ikut menunggu di halte. Ingat, tidak? Semoga ingat. Kalau aku jelas ingat. “Belum waktunya, Arie.” “Nanti kalau udah, kasih tahu, ya.” “Iyaa, Tuan!” “Beneran jadi tuanmu aku?” Bakrie bertanya serius. “Tuan hatiku!” “Ha ha ha!” *** “Tante! Es tehnya dong, lima!” Aku menunduk sambil masih memilih bakpao di hadapanku. Di sampingku, ada Kak Hima, dia yang tadi berseru nyaring kepada penjaga kantin. “Banyak amat! Buat siapa aja?” “Buat diri sendiri.” “Bisa habisin emang?” Kulirik sebentar, Kak Hima mengangguk sambil wajahnya yang angkuh. “Bisa. Hari ini panas! Aku haus!” Mungkin aku tidak peduli apa kalimatnya. Tapi setelah urusanku selesai dengan bakpao-bakpao yang ada, dan akan kubagikan kepada teman dekatku sebagai pajak jadian, tiba-tiba Kak Hima mengajakku bicara. Aku masih menunggu uang kembalian, dan Kak Hima menunggu pesanan esnya siap. “Anda pacaran sama Bakrie?” Pertanyaan tanpa saringan. Tapi aku tetap membalasnya.


“Iya.” “Bakrie seleranya tinggi.” “Tahu dari mana?” kutanya begitu. “Level seperti aku aja ditolak sama dia. Apalagi Anda?” Maksudnya apa, sih? Aku gak suka bermasalah sama siapa pun! “Silahkan bahagia. Tapi lawanmu ini Hima,” “Maksud kakak apa?” “Bakrie manusia menarik,” Aku memutuskan untuk melawan, hanya dengan kalimat. Tidak dengan wajahku yang kubuat menantang. “Dan Bakrie tahu, kepada siapa dia harus tertarik.” Aku menutup perbincangan itu. Dan, sudah. Aku langsung kembali ke kelas, setelah mengatakan bahwa uang kembalian buat Tante Kantin saja. Saat itu, aku takut menjadi pacar dari Bakrie. Aku merasa hidup seperti punya lawan. Aku tidak tenang seperti dulu. *** Teman-temanku, aku akan menunjukkan satu bagian yang membuatku tak bisa lupa. Ini terlihat konyol, tapi aku senang dan menikmatinya. Ini bagian yang akan kuberikan di akhir sebelum bab ini selesai. Pacarku berpidato teman-temanku sekalian. Saat itu, hari Kamis, ada gerakan stop bullying yang dikerahkan satu organisasi terkenal di kabupaten kami. Dan sekolah kami menjadi daftar yang dikunjungi mereka. Di acara itu juga, ada permainan menarik. Isinya kuis, penjawab akan dapat hadiah dan naik ke atas panggung! Kalau pun aku bisa jawab, sepertinya akan malu. Seluruh siswa hadir saat itu. Tapi Bakrie dengan percaya dirinya, naik ke atas panggung, dan memberikan jawaban terkait soal yang diberikan. “Kalau saya benar, saya gak mau hadiah, Pak, Bu.” Ucap Bakrie kepada tim organisasi. Salah satu wanita muda, bertanya. “Lalu mau dapat apa?” “Dapat kesempatan buat pidato.”


Bakrie itu cerdas. Dia melebihi pintar. Kapasitas otaknya luar biasa. Jadi dia langsung benar menjawab pertanyaan dari tim organisasi. Aku bahkan tak menyangka, karena pertanyaan itu membutuhkan permainan otak dan logika. Akhirnya Bakrie berpidato. Dia tersenyum menatap kami. Sebagian siswi histeris melihat tampannya dia terpancar, dan sangat keren! Aku yang duduk di sebelah temanku, seketika tersenyum penuh arti. Jika banyak yang memuji Bakrie, berarti kalian memuji pacarku. Dialah milikku! Dan Bakrie... memulai pidatonya itu. Isi dari setiap ucapannya akan selalu membekas abadi di setiap jengkal memoriku. *** ➢ Epilog “Selamat pagi, hadirin sekalian yang saya hormati.” “Tadinya saya mau formal, tapi enggak jadi. Terlalu berat, kalian harus buka kamus KBBI nanti,” Serempak kami tertawa. Aku juga turut andil. Suaranya yang candu ketika berbicara, gayanya yang menarik, aku suka semua hal tentang Bakrie. “Tahun depan, saya harus lulus. Saya wajib lulus. SPP saya lunas, administrasi saya lengkap, saya juga udah stres karena ujian.” Kami semua kembali tertawa. Apa yang dikatakan Bakrie tidak sepenuhnya benar. Aku tidak pernah melihat Bakrie stres untuk sebuah mata pelajaran. Bagi Bakrie, pendidikannya sudah 10 tahun lebih di sekolah, dia tidak mau tambah bodoh dengan makin stres! “Adik-adik kelas, nanti kalau saya udah lulus, mohon jadilah kakak kelas. Jangan jadi adik kelas terus, jangan lupa naik kelas.” “Kalau udah lulus, saya mau titipin pacar saya sama kalian semua.” Suasana yang tadi ramai oleh tawa, seketika hening. Keadaan mendadak serius. Aku duduk dengan gelisah. Ekor mataku melirik ke sana kemari dengan tubuh yang tegap. Aku takut, beberapa yang sudah tahu statusku dengan Bakrie, akan langsung menoleh padaku. “Pacar saya itu... anak rumahan. Dia tinggal di rumah. Bukan anak kalengan, kaleng mana bisa dibuat tempat tinggal, kan, ya?” “Ha ha ha!” “Pacar saya cantik. Kalian mau, gak, jagain dia setelah saya lulus?”


Kemudian, salah satu siswi bertanya. “Emang siapa pacarnya, Kak?” Bakrie lalu tersenyum. Aku mendadak gugup. Aku takut jika nanti pandangannya akan mengarah padaku. “Ah, gak jadi, deh. Gak jadi kalian jaga. Saya lupa, pacar saya itu pintar. Saya aja yang jaga dia, sama Allah dan keluarga.” Lalu dia menatapku yang kini makin gugup, tubuhku tegap. “Itu pacar saya, dia Komala. Jangan dibully, buatlah dia nyaman, seperti saya ke dia.” “Ha ha ha!” Sungguh, malunya aku! Tapi aku senang, Bakrie. Terima kasih. Bakrie memang versinya, milikku. Dia untukku. Aku senang ketika bisa menikmati kebersamaan dengannya. Aku senang cara Tuhan mempertemukan kami. “Mala, aku izin mencari kesempurnaanmu. Biar kuhapus sedikit. Yang sempurna, kan, cuma Allah.” “tapi kamu sempurna untuk versiku, Komala.” Versi Bakrie, pencari kesempurnaanku, hanya di tahun itu. Aku mencintaimu, pacarku. Bakrie. Aku hanya ingin beri tahu ke kalian. Bahwa beberapa tahun lalu, ada 2018 dan 2019. Tahun itu keramat, penuh kebahagiaan. Aku ingin mengingatkan, aku pernah bahagia dia tahun-tahun itu. SELESAI


Click to View FlipBook Version