IGNORANT
Clerent Julia
Chapter 1
Berbeda dari hari kemarin, cuaca di kota Jakarta sore ini terasa cukup
menyejukkan. Terlihat dari angin yang berhembus dengan merdunya, dan
burung-burung yang menari seolah ikut meramaikan taman kota. Sangat
mendukung sepasang anak muda yang sedang duduk di bangku panjang yang
berada di tengah taman.
“Sa..” panggil seorang pemuda tampan berkulit putih yang dibalas
deheman gugup oleh gadis kesayangannya.
“Be mine?” timpal pemuda itu tak kalah gugup. Membelalakan mata,
gadisnya mulai menggerakkan bibir yang seolah terkunci rapat menahan gejolak
aneh, namun…
*Drrrrttt Drrrrttt*
Suara panggilan yang berasal dari handphone membangunkan seorang
gadis yang sedang terlelap di atas kasur king size. Dengan susah payah,
tangannya mulai terulur untuk menggapai handphone yang terus berbunyi di atas
nakas. Setelah mendapat apa yang ia cari, ia segera menerima panggilan itu.
“Halo,” ujarnya sedikit jengkel.
“Sapphire Riley anaknya om Richard dan tante Meisha, mau sampe kapan
lo tidur mulu?! Heran deh gue, lo itu tidur apa simulasi mati sih?? Udah jam
setengah enam nih, cepet bangun hari ini sekolah!” cerocos sahabat Sapphire
yang bernama Casey.
01
“Iyaaaaaa ini gue bangun. Asal lo tau ya, lo itu udah ngerusak momen terindah
dalam hidup gue. Kalo aja lo gak tiba-tiba telfon gue dan marah-marah kayak
tadi, dua puluh detik lagi gue bakal punya pacar!” kesal Sapphire sambil
memikirkan momen indahnya yang telah rusak.
“Dih pacaran sama siapa lo? Kapan juga di tembaknya? Deket sama cowo
aja ga pernah. Udah deh Sasa, gak usah halu kayak gitu. Kelamaan jomblo lo,”
jengah Casey yang sedang melahap sarapannya.
“Ya.. tadi di mimpi.” Sasa yang berucap dengan polos langsung mendapat
hadiah helaan napas dari seseorang di sebrang sana.
“Udah deh, mending sekarang lo mandi, make up yang cantik, trus makan
sarapan lo yang udah disiapin sama tante Meisha. Buruan!”
“Siap kanjeng ratu, jangan marah-marah, keriput lo bertebaran.” Setelah
mengucapkan kalimat yang bisa mengundang perang, Sasa langsung menutup
panggilannya bersama Casey. Lalu ia pun bergegas ke kamar mandi untuk
membersihkan diri dan turun untuk sarapan bersama keluarganya.
Di meja makan telah tersaji roti dengan berbagai varian rasa. Sasa juga
dapat melihat keluarganya yang telah berkumpul dan menunggunya untuk sarapan
bersama, sebuah tradisi keluarga yang telah mereka terapkan sejak dulu.
“Morningg mommy, morning daddy, morning kak Dexter,” sapa Sasa
sambil mendudukkan diri nya di kursi sebelah Dexter, kakak kandungnya yang
tampan.
“Morning kesayangan Daddy”
“Morning sayang, yuk sarapan dulu terus pergi sama kakak supaya gak
telat,” Meisha menjawab dengan nada khasnya yang menyejukkan. Setelah
selesai sarapan, Sasa dan Dexter pun segera pergi ke sekolah dengan mobil yang
Dexter dapatkan dari ayahnya saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
Sebenarnya Sasa juga sudah diberi mobil pribadi, namun saat pergi ke sekolah, ia
lebih suka bersama Dexter. Hemat biaya, katanya.
02
Sesampainya di SMA Lavender, Dexter segera memarkirkan mobilnya
dan melepas sabuk pengamannya, begitu pun Sasa.
“Dek, nanti pulangnya kamu ikut temen aja ya. Kakak harus latihan
basket buat turnamen minggu depan, sorry banget ya,” ujar Dexter yang sedang
mengelus rambut Sasa dengan sayang.
“Iya gak apa-apa kak, lagian sekarang taksi online juga udah banyak. Sasa
bisa pulang sendiri dengan selamat sentosa, santai jangan takut.”
“Ya Udah hati-hati. Tampol aja supir nya kalo macem-macem. Turun gih
udah mau bel, belajar yang bener siapa tau jadi agak pinteran dikit.” Bohong.
Dexter bohong. Sasa merupakan salah satu murid yang sering mengikuti
olimpiade, dan kimia merupakan pelajaran favoritnya.
“Kalo ngomong suka bener ya, gak salah pilih kakak nih gue. Bye kakak,
latihan yang bener biar gak diturunin jadi pemain cadangan,” balas Sasa yang
menjulurkan lidahnya dan segera keluar dari mobil untuk berjalan menuju
kelasnya sambil tersenyum ramah menanggapi sapaan teman-teman, kakak kelas,
serta adik kelas yang berpapasan dengannya.
Kelas 11 ipa 1 terlihat cukup ricuh dengan berbagai aktivitas berbeda yang
sedang dilakukan oleh para siswa nya. Ada yang sedang memainkan handphone
membaca berita yang sedang trending, sebagian dari mereka sedang bergosip ria
mengenai teman-teman lain yang punya kasusnya tersendiri, ada juga yang sedang
bermain gitar dan lari-larian mengitari kelas. Sasa meletakkan tas nya di atas
meja dan duduk di kursinya.
“Sa! gue liat-liat kakak lo alias kak Dexter itu makin hot ya,” sapa Casey
yang langsung dihadiahi jitakan cukup keras di kepalanya. Siapa lagi pelaku nya
kalau bukan Sasa. Ya, mereka duduk bersebelahan.
“Tapi Casey gak salah sih.. Kak Dexter emang hot banget. Apalagi pas
doi main basket, buh… damage nya bisa gue nikmati dengan ikhlas setulus hati,”
timpal sahabat Sasa yang lain yang sayangnya mempunyai sifat sebelas dua belas
dengan Casey, Naomi namanya.
03
“Gue jitak ya kalian kalo sampe beneran suka sama kakak gue, apalagi
jadian. Gak gue restuin, kalian terlalu agresif untuk kakak gue yang cuma pernah
pelukan sama keluarga, 3 temen deketnya dan bola basket kesayangannya yang
udah dia kasih nama.” Kali ini Sasa benar-benar memperingati kedua sahabatnya
itu.
“Siapa nama anak gue sama kakak lo, Sa?” tanya Naomi yang penasaran
dengan nama bola basket milik Dexter.
“Boker,” Sasa menjawabnya dengan nada sedatar triplek.
“Hah? Lo mau boker?” Casey Bingung dengan perkataan Sasa tiga detik
yang lalu.
“Ish bukan, nama bola nya boker. Singkatan dari Bola Basketnya Dexter.”
Sasa yang sudah jengah dengan kelakuan orang-orang di sekitarnya pun
merotasikan bola mata nya.
“Ganteng namanya…” gumam Casey dan Naomi bersamaan. Sudah gila,
pikir Sasa.
Tak lama setelah itu, bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran pertama
yang sudah dimulai. Sang guru pun memasukki kelas 11 ipa 1 yang sekarang
terlihat damai, padahal kurang dari satu menit yang lalu, keadaan kelas itu
sangatlah tak berbentuk.
“Pagi anak-anak,” sapa guru cantik bernama Miss Hera yang akan
mengajar pelajaran matematika. Tentunya dibalas dengan semangat oleh seluruh
murid, khususnya para siswa yang sesekali bergurau dengan memberikan pujian
dan gombalan kepada guru cantik itu.
“Baiklah.. Karena kemarin kita sudah berdiskusi kelompok jadi hari ini
kita akan melanjutkannya dengan presentasi.”
“Oke bu.. siap,” balas salah satu murid pria bernama Marcel. Takkan ada
penolakan untuk guru yang dinilai sempurna di sekolah ini.
04
Tiga mata pelajaran pertama pun telah terlewati dengan baik. Saat ini,
kelas hanya di huni oleh beberapa murid karena sebagian besar dari mereka lebih
memilih untuk menikmati jam istirahatnya di kantin. Hanya mereka yang
membawa bekal saja yang menghabiskan jam istirahat di kelas.
“Kantin yukk,” ajak Casey dengan semangat karena menurutnya,
sekumpulan lelaki tampan akan terlihat di kantin saat istirahat. Setelah di rasa
bahwa itu bukan ide yang buruk, Sasa dan Naomi pun menyetujui ajakan Casey.
Sepanjang koridor, mereka terus berbalas sapa dengan teman yang lain,
Kadang mereka menyempatkan diri untuk sedikit berbincang dengan mereka.
Karena sibuk berbincang, perjalanan dari kelas ke kantin yang seharusnya
memakan waktu 10 menit pun menjadi tidak terasa. Kini mereka bertiga sedang
mengantre di stan bakso Bersama dengan teman yang lain. Setelah mendapat
pesanan mereka, ketiga sahabat itu duduk di bangku kosong yang ada di tengah
kantin.
“Bakso bu Sri emang gak ada tandingannya,” puji Naomi yang terlihat
sangat menikmati hidangan di depannya.
“Gue pengen pesen lagi deh,” ujar Sasa seolah menyetujui ucapan Naomi.
“Gak usah aneh-aneh ya, mending beliin kita minum. Es jeruk boleh deh,
pesen 3 kalo lo mau juga.” Casey mengeluarkan uang dari kantongnya dan
menyerahkannya ke Sasa untuk membayar es jeruk miliknya, begitu juga dengan
Naomi.
“Emang kurang ajar ya Kalian.” Sasa segera menuju stan es jeruk, ia takut
antreannya akan semakin panjang jika ia lama.
Saat tiba gilirannya, Sasa pun menyebutkan jumlah pesanan dan
menyerahkan uang kepada sang penjual guna membayar pesanannya. Namun,
saat ingin kembali menuju bangkunya, ia malah berhenti dengan tetap memegang
nampan seolah terpaku pada apa yang ia lihat. Seorang lelaki berambut coklat
dengan warna bola mata yang senada dengan rambutnya dan berperawakan tinggi
dengan rahang tajam. Sempurna. Setelah di rasa puas mengamati struktur lelaki
itu, ia pun kembali ke teman-temannya.
05
“Casey, Naomi, please kasih tau gue siapa cowo yang lagi ngantri di stan
salad buah.”
“Yang mana Sa? Cowo yang ngantri disana gak cuma satu. Tuh ada si
Joko anak teladan, ada Reval si kapten futsal, ada Gav- HAHH?! GAVIN??”
Casey mendadak kaget karena melihat Gavin di kantin.
“Sumpah, pantesan cewe-cewe pada sok cakep hari ini, ternyata most
wanted kita lagi ngantri di kantin. Sungguh berkah terbesar di hari ini…” cercah
Naomi yang tengah mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
“Most wanted? Berarti banyak dong yang suka sama dia?” Sasa mulai
penasaran dengan lelaki bernama Gavin itu.
“Yaelah Sa, siapa sih yang gak suka sama Gavin?! Gue aja gak bakal
nolak kalo tiba-tiba dia nembak gue, bahkan tanpa pdkt dulu juga gak masalah..”
“Gavin nya yang mikir dua ratus kali sebelum nembak lo, Cas,” ucap
Naomi menyadarkan Casey untuk kembali ke realita.
“Tapi kok gue gak pernah liat dia ya?” Tanya Sasa yang merasa heran. Di
antara mereka bertiga, hanya Sasa yang tidak mengetahui keberadaan Gavin
selama ini.
“Iya soalnya dia gak pernah keluar kelas, dateng ke sekolah 5 detik
sebelum bel bahkan sering telat, pulang sekolah satu jam setelah bel, dia juga gak
ikut mos waktu itu.” Setelah di jelaskan oleh Naomi, baru lah Sasa tau
penyebabnya, namun ia masih penasaran dengan sosok Gavin.
“Alejandro Regavin, cowo blasteran spanyol yang terkenal dingin banget
sama orang apalagi sama cewe, karena pernah ada orang yang liat dia buang dan
injek-injek hadiah dari Syla, fangirl nomor satu nya Gavin. Dia pinter, dia anak
basket yang seharusnya kenal sama kakak lo, dia juga introvert banget. Dia cuma
punya dua temen yang udah akrab dari sd, padahal banyak yang mau temenan
sama dia. Dia sering bolos, tapi gak ada yang tau alesannya. Dia juga tajir,
bokapnya punya usaha batu bara. Gue dapet infonya dari kakel kita dulu dan gue
jelasin panjang lebar gini karena gue tau lo masih gak puas denger omongan gue
sama Naomi barusan,” ucap Casey yang mengerti sifat sahabatnya itu.
06
“Sempurna banget tuh hidup, tapi kenapa dia anti banget sama cewe ya?
Jadi penasaran deh gue,” balas Sasa sembari mengetuk-ngetukkan jemari nya di
meja.
Di pojok kantin, cowo yang bernama Gavin itu merasa ada yang
menatapnya tanpa lepas. Walaupun itu adalah hal yang wajar dan sering ia
dapatkan, namun tak ada yang pernah menatapnya se-intense ini. Ia pun
mengedarkan pandangannya mencari sang pelaku. Tatapannya pun berhenti pada
sekelompok gadis yang sedang makan bakso, salah satu dari mereka menatapnya
tak henti. Cantik, batinnya.
Seolah tersadar kembali, ia pun memutus kontak mata dengan gadis itu
dan kembali menyantap salad buahnya tanpa memikirkan tatapan memuja dari
para gadis yang berada di kantin. Ini memang pertama kali nya ia pergi ke kantin,
alasannya adalah karena ia yang tak tahu harus bolos kemana. Jadi teman-
temannya, Lucas dan Melvin, memaksanya untuk menghabiskan waktu
istirahatnya di kantin. Hitung-hitung suasana baru.
Koridor tampak mulai sepi mengingat bel jam pelajaran yang akan
berbunyi. Sasa dan teman-temannya masih asik berbincang sambil berjalan
menuju kelas mereka. Namun, pikiran Sasa masih tertuju kepada Gavin, lelaki
cuek yang sayangnya tampan.
“Gue penasaran sama Gavin. Se-penasaran itu sampe rasanya gue mau
deketin dia.” sontak Casey dan Naomi langsung membulatkan mata mereka.
“Lo yakin mau deketin Gavin? Lo ga lupa cerita kita di kantin tadi kan?
Bagian Gavin nolak mentah-mentah hadiahnya Syla?” tanya Casey yang masih
membulatkan matanya.
“Kayaknya belom nyampe 10 menit deh lo denger cerita nya. Gue tau
Gavin ganteng, pinter, kaya, sempurna deh pokoknya. Lo boleh ngefans sama
dia, tapi gak ngedeketin juga Sa. Lo mau jadi korban selanjutnya?” cecar Naomi
dengan ekspresi frustasinya.
07
“Apalagi dengan sifat lo yang bisa dibilang gak kalem. Gue gak yakin
Gavin bakal mau dideketin sama lo, cantik dan pinter doang ga cukup. Dia
sesusah itu untuk dideketin, pikir-pikir lagi deh mendingan.”
“Ish, belom juga dicoba. Kayaknya gue suka deh sama Gavin, kalian tau
kan gue ga pernah suka sama cowo? Harusnya kalian seneng dong,” ucap Sasa
menerawang.
“Seneng gue, seneng banget. Akhirnya lo bisa suka juga sama lawan
jenis. TAPI GAK GAVIN JUGA, BODOH.” Casey terlihat sangat frustasi
dengan ucapan Sasa.
“Sa, dia terlalu bahaya. Kalo lo suka sama orang kayak Gavin, lo harus
siap-siap ngerasain patah hati. Belom pernah kan lo? Percaya deh, patah hati itu
gak enak,” timpal Naomi.
Sasa mengerutkan dahi nya dan berkata, “Gue tau lo pakarnya patah hati,
tapi gue udah terlanjur suka Nao, gimana dong?”
“Yaudah deh, terserah lo. Yang penting gue sama Casey udah ingetin lo.
Mending sekarang kita lari ke kelas, gue rasa 3 detik lagi bunyi tuh bel laknat.”
Dan benar saja, tepat di detik ketiga setelah Naomi berucap, bel tanda
mulainya jam pelajaran pun terdengar sangat nyaring di sepanjang koridor
sekolah. Mau tidak mau, ketiga sahabat itu berlari menuju kelasnya tak peduli
tentang makanan mereka yang belum turun dengan sempurna ke perut.
Setelah melewati beberapa jam untuk menyelesaikan seluruh pelajaran, bel
tanda pulang sekolah pun akhirnya berbunyi. Mereka pun segera membersihkan
kelas dan berdoa. Ketika keadaan kelas sudah rapi, murid-murid kelas 11 ipa 1
pun berhamburan keluar kelas. Sasa teringat akan kakaknya yang tidak bisa
pulang bersama karena harus latihan basket untuk turnamen. Tiba-tiba Gavin
terlintas di pikirannya. Ia ingat ucapan sahabatnya yang mengatakan bahwa
Gavin adalah anggota basket yang seharusnya sedang latihan bersama kakaknya
sekarang. Merasa mempunyai kesempatan, Sasa pun berpamitan kepada Casey
dan Naomi untuk menuju ke lapangan basket. Alasannya tentu saja untuk
08
menemui kakaknya. Namun, sebelum menuju lapangan, ia melangkahkan kaki
nya ke kantin terlebih dahulu untuk membeli 2 botol air mineral. Kemudian Sasa
segera berjalan ke lapangan dengan senyum yang merekah.
Kedatangan sasa yang tiba-tiba tentu saja membuat Dexter heran. Tak
biasanya adiknya yang cantik itu menemuinya di lapangan basket, Sasa selalu
menolak Jika ia meminta Sasa untuk menemaninya berlatih basket. Dexter pun
menghampiri adiknya.
“Loh dek? Tumben banget kesini, kenapa gak langsung pulang aja kayak
biasanya?” tanya Dexter kepada adiknya yang tampak sedang mencari-
keberadaan seseorang.
“Emang gak boleh? Sasa cuma mau liat kakak latihan aja sebelum
turnamen, itung-itung nyemangatin,” ujar Sasa yang sedikit berbohong.
“Kayaknya bakal hujan nih hari ini.”
“Ih apaan sih kak, lebay deh. Nih, Sasa bawain minum buat kakak, Sasa
tau kakak pasti capek.” Sasa memberikan satu botol air mineral kepada Dexter,
satunya lagi sudah ia masukkan ke dalam tas nya agar tidak ketahuan.
“Makasih loh dek, peka banget sih. Sayang jomblo,” ucap Dexter yang
langsung dihadiahi pelototan oleh Sasa.
Tak lama kemudian, orang yang dicari Sasa sejak awal ia menginjakkan
kaki di lapangan pun muncul. Gavin tampak menawan dengan kaos basket yang
melekat di tubuhnya, sangat pas. Tak sengaja, Gavin juga melihatnya sehingga
menyebabkan mata mereka bertubrukkan. Sasa segera mengalihkan
pandangannya dari Gavin karena jantung nya yang tiba-tiba berpacu dua kali lebih
cepat daripada biasanya. Saat ia kembali melihat Gavin, ternyata pemuda
bertubuh semampai itu sudah ikut bergabung dalam permainan. Tentu saja Sasa
sangat menikmati pemandangan ini.
Sasa terus memandangi Gavin hingga permainan selesai. Lalu ia melihat
Gavin duduk di kursi panjang tempat para anggota tim basket meletakkan tas dan
barang-barang mereka. Melihat cowo itu yang tampaknya kehausan, Sasa pun
09
dengan cepat mendatanginya.
“Nih, buat lo.” Sasa menyodorkan sebotol air mineral yang tadi ia simpan
di dalam tas nya kepada Gavin. Gavin yang melihat itu pun mengernyitkan dahi
nya, tentu saja karena mereka tidak saling kenal. Aneh jika tiba-tiba ada
seseorang yang tidak dikenal memberikan sebotol air mineral kepadanya.
“Itu.. tadi eum.. tadi gue kelebihan beli nya. Kak Gavin cuma minum satu
botol. Gue liat lo kehausan, jadi gue kasih aja,” ujar Sasa terbata-bata karena
memikirkan alasan yang jelas tanpa ada persiapan sebelumnya.
Gavin memandangnya datar lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Sasa
yang masih memegang botol pun menjatuhkan rahangnya.
“Ini sih bukan cuek lagi, tapi beku,” gumam Sasa sambil melihat
punggung Gavin yang menjauh.
Sasa kembali menghampiri kakak nya yang sedang istirahat bersama
teman-temannya. Semua anak basket SMA Lavender selalu menghabiskan waktu
untuk sekedar bertukar cerita singkat atau bermain games. Jika ada yang
membawa atau mengusulkan untuk membeli makanan, maka mereka akan makan
bersama.
“Ehh ada Sasa, tumben banget,” sapa Melvin yang Sasa ketahui
merupakan sahabat Gavin.
“Makin cantik aja Sa, gue jadi semangat nih gara-gara liat lo,” timpal
Lucas, sahabat Gavin yang menyandang status playboy.
“Gausah godain adek gue, lo pada gak bakal gue kasih restu.” Dexter
menunjuk anak-anak basket yang sejak tadi tak berhenti menatap adiknya, kecuali
Gavin tentunya. Cowo itu sama sekali tidak mengatakan apa pun, hanya melihat
sekilas ke arah Sasa yang tadi sedang digoda oleh sahabatnya.
“Hehe iya nih.. mau nyamperin kak Dexter sekalian kasih minum.” Sasa
membalas mereka dengan sedikit bumbu kebohongan. Karena niat awalnya
adalah untuk melihat Gavin, bukan kakaknya.
“Sa, ayok pulang. Udah sore, nanti mama khawatir,” ajak Dexter sambil
10
menggandeng lembut tangan adiknya. Setelah Sasa menyetujui ucapan Dexter,
mereka pun berpamitan kepada yang lainnya dan menuju ke parkiran, tepatnya ke
mobil mereka.
“Kak, kakak keliatannya deket ya sama anak-anak basket tadi.”
“Iyalah Sa.. kita sering ketemu, sering pergi bareng juga, kenapa
emangnya?” Dexter penasaran dengan pertanyaan adiknya. Saat ini mereka
sedang dalam perjalanan pulang.
“Gak kenapa-kenapa sih, nanya aja. Kalo sama Gavin deket juga gak?”
Sasa menanyakan pertanyaan yang ada di benaknya.
“Gak terlalu sih, soalnya dia pendiem banget. Tapi ya.. kalo hangout
kadang dia ikut juga. Dia sopan anaknya, baik juga bahkan ke orang-orang yang
gak dia kenal. Caranya aja yang agak beda, dia keliatannya kasar, liar juga.
Padahal engga se-parah itu,” jelas Dexter.
“Ah.. iyasih keliatannya baik.” Baik banget sampe kayak orang bisu,
lanjut Sasa dalam hati.
11
Chapter 2
Hari Sabtu adalah hari yang paling ditunggu oleh Sasa, karena hanya di
hari Sabtu dan Minggu lah ia bisa tidur lebih lama. Seperti apa yang sedang ia
lakukan sekarang. Perempuan berambut coklat panjang itu sedang tidur dengan
nyenyaknya di kasur kesayangannya. Ia berencana untuk Bangun jam delapan,
dua jam lebih siang daripada biasanya. Saat jam menunjukkan angka delapan,
alarm pun berbunyi. Sasa segera mematikan alarmnya dan bergegas untuk mandi
karena ia ingin pergi ke toko buku untuk membeli beberapa novel. Ya, ia
menggemari novel dengan genre percintaan remaja yang bisa membuatnya
senyum-senyum sendiri bahkan berteriak.
Ketika Sasa turun, mommy nya sedikit kaget karena penampilan Sasa
sudah rapi di pagi Hari. Tak seperti biasanya.
“Mau kemana Sa? Ini baru jam setengah sembilan loh..” Tanya Meisha,
mommy nya.
“Aku mau ke toko buku mom, mau beli novel. Novel yang aku beli tiga
hari lalu udah selesai aku baca semuanya.”
“Tiga novel dalam tiga hari? Pantesan tiga hari yang lalu kamu sedih-sedih
sampe nangis terus kemarin kamu senyum-senyum gak jelas. Ternyata emang
beda cerita.”
“Hehehe abisnya kalo Sasa gak buru-buru selesain bacanya, Sasa greget
sendiri. Sasa penasaran sama ceritanya. Yaudah mom, Sasa pergi dulu ya. Oh
iya, sandwich nya enak, Sasa suka.”
“Hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut!” teriak Meisha pada anaknya
yang sudah berjalan keluar rumah.
Toko buku terlihat lebih ramai pengunjung pada hari libur daripada hari
12
biasa. Itu sebabnya, Sasa memilih Sabtu sebagai hari yang dijadwalkan untuk
membeli buku. Ia tidak suka kesepian dan keheningan, menurutnya, keramaian
akan membuat hatinya lebih bahagia. Ia bisa bertemu dengan banyak orang
dengan berbagai macam karakter dan ia menyukainya. Memang sudah menjadi
cita-citanya untuk berprofesi sebagai psikolog, ia menyukai segala macam
karakter manusia dan segala jenis cerita mereka. Naomi dan Casey pun sering
bercerita kepadanya karena Sasa selalu menjadi pendengar yang Baik. Tak jarang
juga, Sasa memberikan pendapatnya dan dukungan penuh kepada sahabat-
sahabatnya itu. Tempat yang paling pas untuk berkeluh Kesah.
Sasa mengitari rak novel sambil membawa dua novel bergenre romantis di
tangannya. Sasa berniat untuk membeli lima novel agar ia tidak sering-sering ke
toko buku, ia tak tahu akankah ia mempunyai niat untuk bangun sedikit pagi lagi
pada hari libur atau tidak. Saat telah selesai memilih novel, matanya menangkap
rak buku yang dikunjungi banyak anak-anak yang bisa menghabiskan waktu
seharian untuk belajar. Rak buku panduan ujian.
“Beli buku buat ujian kali ya. Dua bulan lagi udah ujian, kayaknya gue
udah harus mulai belajar.”
Namun ketika Sasa menapakkan kakinya di lorong buku panduan ujian itu,
ia disuguhkan oleh pemandangan yang sangat jarang terlihat. Gavin sedang
memilih buku paket bimbingan ujian sekolah. Tak lama dari itu, kakinya sudah
berada di sebelah Gavin yang terlihat masih sibuk membaca dan memilih.
“Hai Gavin, lo lagi cari buku buat ujian juga? Gak nyangka deh, lo rajin
juga hehe,” sapa Sasa dengan senyum manisnya. Dua menit menunggu, tak ada
tanggapan dari cowo beku itu. Sasa yang mulai geram memilih untuk kembali
membuka topik.
“Menurut gue bagusan yang ini sih. Buku yang lo pegang kimia nya gak
terlalu lengkap.” Sasa menunjuk salah satu buku yang menurutnya paling pas. Ia
sudah pernah membaca buku yang dipegang oleh Gavin, dan menurutnya, buku
itu tidak menyediakan pembahasan yang lengkap di pelajaran favoritnya, kimia.
Gavin memang menukar buku di genggamannya dengan buku yang ditunjuk oleh
13
Sasa, namun, tak ada kata yang terucap darinya. Bahkan, ia langsung
melangkahkan kakinya ke kasir, meninggalkan Sasa yang sedetik kemudian
berlari mengikuti Gavin. Sebelumnya, Sasa sudah mengambil buku yang sama
dengan Gavin.
“Maaf kak, saat ini kami tidak bisa melakukan transaksi dengan cashless.
Ada kendala di mesin dan akun kita, bisa pake cash aja gak kak?” ucap seorang
kasir wanita kepada Sasa.
“Yah.. beneran gak bisa mbak? Saya gak bawa cash.”
“Iya kak, gak bisa. Maaf ya kak..”
Gavin yang berada di belakang Sasa pun meletakkan bukunya di meja
kasir dan mengeluarkan dompetnya.
“Gabung aja,” Gavin berucap sambil menunjuk buku-buku milik Sasa,
membuat Sasa menahan senyum.
“Baik kak, barangnya saya gabung ya. Totalnya delapan ratus dua belas
ribu.”
Kasir itu sempat terperangah dengan wajah tampan milik Gavin, namun
dengan cepat ia menyebutkan total belanjaan kedua remaja ini. Setelah
membayar, Gavin berniat untuk melangkah keluar. Namun, langkahnya tertahan
oleh panggilan dari Sasa.
“Makasih ya udah tolongin gue. Karena gue gak bawa cash dan gue mau
ganti uang yang tadi gue pake, gue tau cafe yang enak dan bisa dibayar cashless,”
cecar Sasa dengan semangat yang mendapat balasan wajah bingung dari lawan
bicaranya.
“Makan siang bareng yuk.” Sasa memutuskan untuk mengajak Gavin
makan siang bersamanya. Selain karena ingin mengganti uang yang ia pakai, ia
juga berniat untuk memanfaatkan momen.
“Gak laper,” ucap Gavin dengan singkat. Sedetik setelah mengucapkan
dua kata itu, suara dari perut Gavin sampai ke telinga Sasa.
“Udah deh gausah sok jual mahal, kalo laper ya bilang aja gak usah
ditutup-tutupin gitu.” Sasa melihat ke arah Gavin yang menampakkan wajah sok
14
datarnya sambil cekikikan.
“Yaudah,” jawab Gavin yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari
toko buku dengan cepat. Sasa yang melihat itu pun segera mengejar Gavin sambil
berteriak.
“GAVIN TUNGGU DONG! EMANG LO TAU TEMPATNYA?!”
Disinilah mereka. Di sebuah cafe bernuansa modern industrial yang
dikunjungi banyak remaja. Kebanyakan dari mereka memilih untuk berfoto
karena cafe ini memiliki banyak spot foto yang bagus. Cafe Lotus namanya.
Cafe ini sudah menjadi cafe langganan Sasa sejak dua tahun lalu karena
makanannya yang sangat enak meski harganya tergolong cukup mahal. Pelayan
yang melihat Sasa pun segera menghampirinya.
“Hai Sa, pesanannya sama kayak biasa?” tanya Sita, pelayan yang sudah
kenal dengan Sasa karena gadis itu sering mengunjungi cafe nya. Terlebih,
mereka seumuran.
“Kalo Sasa sih iya, gatau kalo cowo ini,” jawab Sasa sambil menunjuk
Gavin yang sama sekali tidak membuka buku menu nya.
“Temennya Sasa mau pesen apa? Menu nya bisa diliat di buku, lengkap
kok.”
“Samain aja,” ujar Gavin menjawab pertanyaan Sita.
“Okei, ditunggu ya.” Sita pun kembali ke dapur untuk menyerahkan
pesanan kepada sang koki.
“Lo se-percaya itu ya sama gue?” Tanya Sasa dengan senyumnya yang
masih tercetak jelas sejak awal bertemu Gavin.
“Males buka menu.” Jawaban Gavin membuat Sasa melebarkan matanya.
Ia sudah beranggapan jika Gavin ingin menikmati makanan yang sama
dengannya. Nyatanya, Gavin hanya malas untuk membuka buku menu.
Setelah makanan tersaji di hadapan mereka, Sasa menyerahkan sendok dan
garpu nya kepada Gavin. Cowo itu pun menerimanya dengan wajah datar.
“Aglio olio disini enak banget. Nanti selesai makan, lo harus minum
15
ocean lime nya. Seger banget.”
Mereka pun makan dengan Sasa yang sesekali mencuri pandang ke arah
Gavin. Cowo itu terlihat sangat tampan dengan hoodie hitamnya yang ia padukan
dengan jeans, Sasa baru menyadari penampilan Gavin sekarang. Sejak awal di
toko buku, ia terlalu senang dan gugup sampai tidak memperhatikan yang lainnya.
Gavin yang merasa dipandangi pun menolehkan wajahnya kepada Sasa dengan
raut wajah yang seolah berkata “kenapa?”
“Lo ganteng.” Perkataan singkat yang keluar dari mulut Sasa pun
ditanggapi dengan mata yang memicing oleh Gavin.
“Makan,” ucap Gavin dengan suaranya yang berat.
Sasa pun segera melanjutkan kegiatan makannya dengan tak
mengeluarkan suara sedikit pun. Sepertinya ia sedang menikmati momen yang
entah akan terulang lagi atau tidak ini. Lima belas menit kemudian, mereka
selesai dengan acara makan siang yang hanya dinikmati oleh salah satu pihak.
Namun, saat sampai di pintu cafe, terlihat hujan yang membasahi jalan dengan
derasnya. Mau tidak mau, mereka harus berteduh dulu di bangku cafe bagian
depan.
Gavin melihat hujan yang tak kunjung reda, ia merasa bahwa hujan ini
akan terus berlanjut hingga malam. Ia menyesal membawa motor hari ini, bahkan
tadi di toko buku pun ia menolak ajakan gadis di sebelahnya untuk berangkat
bersama menggunakan mobilnya. Namun setelah ia pikir-pikir, lebih baik seperti
ini daripada ia harus menaiki mobil yang sama dengan gadis yang terus saja
mengganggunya walaupun mereka baru bertemu. Meskipun begitu, Gavin tidak
bisa menampik jika Sasa adalah seorang gadis yang cantik dan cukup
menggemaskan. Gavin pun melepas hoodie yang ia kenakan dan segera
memberikannya kepada Sasa. Sang penerima pun mengernyitkan dahi walau
sebenarnya ia sudah cukup deg-degan.
“Pake ini.” Gavin masih memegang hoodie nya di hadapan Sasa.
“Buat apa? Gue gak kedinginan kok Vin.”
“Pulang.”
16
“Hah? Apasih? Coba ngomongnya jangan disingkat-singkat deh, gue ga
paham,” cecar Sasa yang merasa gemas pada Gavin.
“Hujannya lama, ke mobil pake ini. Pulang.”
“Terus lo gimana? Lo kan pake motor Gavin… bisa kena hujan. Pulang
naik mobil gue aja ya, motor lo titip sini dulu aja.”
“Gue pulang nanti,” balas Gavin singkat.
“Gak. Nanti lo kehujanan, lo bisa sakit. Udah deh jangan jual mahal gini.
Ikut gue ya?”
Gavin termenung. Baru kali ini ada yang mengkhawatirkannya. Orang
tuanya terlalu sibuk bekerja sehingga ia hanya diurus oleh pengasuhnya, Bi Ratih.
Namun, Bi Ratih sudah dianggap ibu oleh Gavin. Ia sangat menyayangi pengasuh
yang telah merawatnya dengan tulus itu.
“Ayok ke mobil, lari!” Ajak Sasa yang menarik tangan Gavin dengan
cepat sambil meletakkan hoodie di atas kepalanya. Gavin yang melihat itu pun
langsung mengambil alih hoodienya untuk menutupi kepala mereka dari hujan.
Sesampainya di mobil, mereka pun langsung membersihkan air hujan yang
menempel di tubuh mereka dengan tissue. Sasa sangat menyukai segala yang
terjadi dengannya dan Gavin hari ini. Meskipun lelaki itu tidak banyak bicara,
setidaknya ia sudah mulai menerima bahwa Sasa akan terus mengganggu dan
mencari perhatiannya. Sasa melihat Gavin yang sedang menyetir dengan seksama
seolah sedang menghafal setiap detail lekuk wajahnya. Ia juga tak lupa untuk
menghafal jalan yang mereka tempuh untuk sampai ke rumah Gavin. Namun
sayang, ia harus segera pulang dan tak bisa mampir ke rumah lelaki tampan itu.
Padahal, ia sangat mengharapkan hal itu terjadi.
“Gapapa deh ga mampir. Besok-besok kalo gue ke rumah Gavin lagi, gue
bawa keluarga kalo perlu sama tetangga sekampung.”
Sesampainya Sasa di rumah, ia langsung mendapat sambutan hangat dan
teriakan yang menggema dari kedua orang tuanya. Daddy nya yang sedang
menonton siaran televisi di ruang tamu pun lantas menolehkan kepalanya
17
menghadap anak gadis kesayangannya. Di hari Sabtu seperti ini ia memang
sengaja tidak pergi ke kantor, lelaki yang sudah cukup berumur itu lebih memilih
untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Menurutnya, sepenting apapun
suatu pekerjaan, keluarga tetap harus lebih didahulukan.
“Kamu habis darimana, Sa?” tanya daddy nya Sasa setelah mata mereka
bertemu.
“Sasa tadi pergi ke toko buku, dad. Novel-novel Sasa udah diselesain
semua, terus Sasa juga beli buku untuk ujian.”
“Tapi tadi hujan, kamu gak kehujanan?”
“Dikit sih.. waktu Sasa naik ke mobil. Tapi tadi ada temen Sasa yang
pinjemin hoodie nya untuk tutupin kepala. Sasa naik ke kamar dulu deh, mau
ganti baju,” ucap Sasa dengan semangat Sambil membayangkan adegan di cafe
tadi.
“Sekalian mandi, takut virus!” teriak mommy nya Sasa yang tiba-tiba
datang dari arah dapur.
“Siap, mom!”
Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Sasa pun merebahkan
dirinya di kasur kesayangannya. Ia menatap langit-langit kamar dengan memori
yang terputar di kepalanya. Apalagi kalau bukan memorinya dengan Gavin.
Senyuman yang lebar terlihat jelas di wajah cantik Sasa, seolah menandakan
bahwa ia adalah orang yang paling bahagia.
“Gue rasa tahap sayangnya udah mulai naik deh. Gavin itu lucu, dia
dingin tapi care. Rasanya gue pengen hapus rasa gengsinya yang ketinggian itu!”
Di lain sisi, terlihat seorang remaja yang sedang menonton film bergenre
action di laptopnya. Sekejab terlintas nama gadis yang seharian ini bersama
dengannya. Beberapa pertanyaan terlintas di otaknya, seperti ‘apa alasan gadis itu
terus mengikuti dan mengganggunya?’. Namun memorinya dengan sahabat
kecilnya seketika menggantikan gadis itu.
18
“Gue udah janji sama Raya, gue gak boleh deket sama Sasa.”
Raya adalah sahabatnya sejak ia masih berumur dua tahun. Mereka selalu
bersama dan tak bisa dipisahkan. Bahkan, orang tua mereka pun saling mengenal
karena urusan bisnis. Gavin yang selalu merasa kesepian di rumahnya akan
terhibur dengan celotehan gadis kecil itu. Raya merupakan gadis yang lucu dan
ceria, ia juga sangat peduli kepada Gavin. Sikapnya ini membuat Gavin ingin
terus menjaganya, ia juga sudah diberi amanat oleh orang tuanya Raya untuk terus
menjaga anak semata wayang mereka. Waktu terus berlalu, tak ada sehari pun
yang mereka lewati tanda ada komunikasi. Namun ketika mereka berumur
sepuluh tahun, Raya mulai menunjukkan sikap yang berbeda kepada Gavin. Ia
sering memberikan bekal yang ia buat sendiri kepada Gavin, ia selalu memandang
lelaki itu dengan pandangan yang dalam dan berbeda. Bahkan, ia juga akan
marah ketika Gavin berbicara kepada gadis lain. Awalnya Gavin menganggap
sikap itu adalah hal yang normal. Namun ketika Raya melabrak gadis yang
sedang makan bersama Gavin di kantin sambil mengerjakan tugas kelompok
mereka, akhirnya Gavin sadar bahwa sahabatnya itu menyukainya lebih dari
seorang teman atau pun seorang kakak. Namun tak lama setelah itu, Raya divonis
mengidap kanker otak stadium akhir. Gavin selalu menemaninya di rumah sakit,
ia tak ingin melihat sahabatnya itu sedih. Akhir yang mereka terima pun tidak
menyenangkan. Sasa meninggal setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit dengan
penanganan intensif. Sebelum ia meninggal, ia sempat berpesan pada Gavin
untuk tidak mendekati gadis manapun. Gavin yang sedang kalut pun segera
menyetujui ucapan Raya tanpa berpikir panjang lagi. Ia berjanji untuk selalu setia
pada Raya walaupun ia tak memiliki rasa yang lebih dari sahabat terhadap Raya.
19
Chapter 3
Hari Minggu dilewati Sasa dengan menonton drama kesukaannya.
Sekarang adalah hari Senin, Hari dimana semua orang kembali pada realita hidup.
Semua murid pun dengan hikmad menjalankan upacara walau ada beberapa siswa
yang terus mengeluh karena matahari terlalu terik. Setelah upacara selesai, Sasa
dan kedua temannya memutuskan untuk segera beralih ke kelas mereka. Ruangan
yang ber-ac selalu menjadi andalan para siswa setelah upacara.
“Hari Sabtu lo kemana, Sa? Lama banget bales chatnya,” tanya Naomi
begitu mereka mendudukkan diri di bangku masing-masing.
“Jalan bareng Gavin!”
“Buset semangat banget lo jawabnya. Saran gue sih mending lo stop halu
deh, gak mungkin banget Gavin yang super dingin mau jalan sama yang petakilan
macam lo,” sambung Casey dengan nada becandanya yang khas.
“Ih gue serius. Gue ketemu dia di toko buku, terus gue ajak ngobrol deh.
Walaupun responnya cuek banget tapi dia mau gue ajak makan siang bareng.”
Sasa meyakinkan kedua temannya dengan pandangan seolah ia adalah manusia
terpolos di muka bumi.
“Dia yang mau atau lo yang paksa?”
“Hehe… gue yang paksa sih. Tapi tetep aja ujung-ujungnya dia mau
juga.”
“Lo masih mau ngejer-ngejer Gavin ya?” tanya Casey dengan serius.
“Iya dong! Gak ada kata menyerah di kamus Sasa.”
“Tapi Sa… Gavin itu susah banget untuk ditaklukin. Gue takut lo sakit
hati nantinya, secara kan ini doi pertama lo,” ujar Naomi yang terlihat kalut
menghadapi sahabatnya. Ia tak mau Sasa merasakan sakit yang mendalam di
20
pengalaman pertamanya.
“Gini deh. Kita kasih lo waktu satu minggu buat ngedeketin Gavin. Kalo
Gavin nunjukin respon baik, lo boleh tetep sama dia. Tapi kalo nyatanya Gavin
malah bikin lo sedih.. lo harus tinggalin dia. Gimana?” sambung Naomi setelah
memikirkan segala kemungkinan yang ada.
“Satu minggu itu cepet banget Nomnom,” bantah Sasa yang tidak setuju
dengan usul Naomi.
“Emang lo maunya berapa hari, Sa?” kini Casey terlihat semakin tertarik
dengan penawaran Naomi.
“Sebulan aja gimana?”
“Gue lempar ya hape lo. Itu kelamaan, sepuluh hari aja deh. Deal. Gak
ada penolakan, dimulai dari.. em.. kapan ya?”
“Besok Nom. Besok gue mau liat Sasa ngejer-ngejer kulkas berjalan.”
“Ish iya oke sepuluh hari dimulai dari besok. Dan ini bukan taruhan, gue
pure suka sama dia,” final Sasa pada akhirnya.
Diam-diam, Sasa sedang memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sejujurnya, ia juga ragu dengan keputusan yang ia dan sahabat-sahabatnya buat
satu menit yang lalu. Gavin adalah orang teririt bicara yang pernah Sasa temui,
mana mungkin ia bisa menaklukan lelaki itu. Hanya mukjizat yang bisa
mengabulkan doa nya.
Kini, ketiga sahabat itu sedang menikmati waktu istirahat mereka di
kantin. Seperti biasa, salah satu diantara mereka akan memesankan makanan dan
minuman untuk mereka bertiga. Sasa pun mengedarkan pandangannya, berharap
menemukan lelaki yang telah mengisi pikirannya selama beberapa hari ini.
“Nyari siapa? Gavin ya?” cecar Naomi yang sedari tadi memperhatikan
gerak-gerik Sasa.
“Kok dia gak ke kantin lagi sih? Emang dia gak laper ya?”
“Dih? Justru kalo dia ke kantin baru lo cemas. Biasanya juga gak pernah
nongol tuh manusia tampan. Ngeliat batang hidungnya aja perlu perjuangan dan
21
keterampilan, apalagi satu badan.”
“Udah makan aja deh, mie ayam lo berdua bakalan dingin ketularan orang
yang lagi dibahas,” lerai Casey yang telah lelah dengan perdebatan kedua
sahabatnya.
Namun entah dewi mana yang mendengar kalimat Sasa tadi, seseorang
yang sejak tadi dibicarakan sedang membuat kegaduhan para siswi di kantin
sekarang. Ya, Gavin dan teman-temannya sedang memasuki kantin. Naomi dan
Casey yang sedang melahap mie ayam mereka pun tercengang. Pasalnya, jarang
sekali lelaki itu melangkahkan kakinya untuk memasuki kantin yang ramai akan
para siswi. Berbeda dengan mereka berdua, Sasa yang melihat Gavin pun
langsung tersenyum menang kearah sahabat-sahabatnya. “Doa anak baik akan
selalu dijabah,” pikir Sasa.
Sesaat, mata Sasa dan Gavin beradu pandang. Sasa bisa merasakan aura
dingin yang terpancar dari Gavin. Namun itulah yang membuat daya pikat Gavin
bertambah sepuluh kali lipat. Dia terlihat sangat tampan. Gavin pun segera
memutuskan kontak matanya dengan Sasa setelah bayang-bayang Raya
menghantui pikirannya. Sejujurnya, ia ingin melihat binar mata itu lagi, mata
Sasa sangat cantik. Namun janji tetaplah janji. Ia juga takut jika akhirnya ia akan
jatuh pada Sasa, ia takut ditinggalkan lagi. Akhirnya ia pun melangkahkan
kakinya ke meja kantin yang berada di paling pojok, berjarak sekitar tiga meja
dari posisi Sasa dan teman-temannya.
“Sepuluh hari gak akan cukup kalo orang yang mau dideketin itu lebih
dingin daripada beruang kutub kayak lo, Gavin,” batin Sasa.
“Gue mau samperin Gavin.” tiba-tiba Sasa bersuara dengan keyakinan
yang teguh.
“Eits… kesepakatannya kan besok. Sabar deh ah, abis ini kita pulang trus
tidur bentar juga pas bangun udah besok,” sanggah Naomi yang sudah
menyelesaikan urusannya dengan mie ayam di depannya.
“Pandangin aja dulu sampe puas, besok lo udah harus bergerak macam
22
cewe kurang kasih sayang.”
“Ish, gue gak se-agresif itu kali, Cas.”
“Yaelah siapa yang udah bilang suka padahal baru pertama kali ngeliat?
Siapa yang langsung sat set sat set pas ketemu di toko buku? Siapa yang tiba-tiba
ngajakin makan siang trus modus nganterin pulang karena hujan? Amnesia lo?”
tanya Casey bertubi-tubi yang hanya mampu dibalas tatapan iba oleh Sasa.
“Lo gak tau aja yang bagian gue ke lapangan basket.”
Ya. Itu hanya bisa diucapkan oleh Sasa di dalam hati.
Tak terasa sudah terhitung tiga jam setelah percakapan mereka di kantin.
Kini seluruh siswa-siswi SMA Lavender sedang sibuk keluar kelas masing-
masing karena bel pulang sekolah telah berbunyi. Sasa masih tampak lesu karena
memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan sepuluh hari itu
dengan baik. Ia sangat mengharapkan hasil yang manis di akhirnya, namun ia
sangat takut untuk bergerak. Ia takut jika hasil yang ia terima akan
mengecewakannya. Sepanjang jalan, ia hanya fokus pada hal ini. Dexter yang
melihatnya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Kakaknya itu berpikir bahwa
beban kelas sebelas yang adiknya jalani sangatlah berat, nyatanya, sesosok
manusia tampan bernama Gavin lah yang menciptakan raut seperti itu di wajah
adik tercintanya.
“Dek, turun. Udah sampe nih.”
“Hah? Kapan jalannya kak?”
“Buset, daritadi ada kali sepuluh mobil yang kakak klakson karena
nyetirnya gak bener. Udah, turun yuk.”
“Iya ayok turun, Sasa lagi gak bisa fokus.”
“Kakak tau beban kelas sebelas emang berat, tapi kamu pasti bisa kok.
Kakak aja bisa, apalagi kamu yang anak olim, you’ll make it. Semangat!” ucap
Dexter dengan matanya yang berbinar, berniat untuk menyemangati adiknya.
“Siapa yang mikirin beban kelas sebelas kak? Aku pusing bukan karena
itu kali.”
23
“Loh? Terus karena apa?”
“Ada deh pokoknya. Kakak gak boleh tau dulu sekarang. Udah ah, aku
mau turun, bye,” jawab Sasa yang menyembunyikan rencana sepuluh harinya.
“Padahal gue udah kasian sama dia,” ucap Dexter setelah Sasa masuk ke
rumah mereka.
Di kamarnya, Sasa masih memikirkan strategi untuk sepuluh hari ke
depan. Ada beberapa rencana yang ia ganti karena menurutnya itu kurang efektif.
Namun setelah berjam-jam berkutik dengan semua itu, akhirnya ia tidur tanpa
membawa hasil satu pun. Setelah ia pikirkan dengan matang-matang, semua
strategi yang telah ia susun akan sia-sia jika Gavin tidak menyukainya. Jadi, ia
akan melakukannya dengan natural, mengikuti alur apa yang akan di jalaninya
sepuluh hari ke depan. Ia berharap, besok ia mempunyai muka yang tebal untuk
berurusan dengan Gavin. Pasalnya, ini adalah kali pertama baginya untuk
menyukai seorang pria. Ia terlalu tertutup selama ini, tidak pernah terpikir akan
hal-hal yang berhubungan dengan pacaran. Namun sekalinya suka dengan
seseorang, kulkas berjalan lah yang menjadi pilihannya.
Dexter perlahan masuk ke kamar adiknya tanpa menyalakan lampu. Ia
bergerak mendekat ke arah Sasa dan mengusap rambutnya pelan. Tanpa Sasa
sadari, kakaknya itu sudah mengetahui perasaannya pada Gavin. Dexter
mendengar monolog Sasa di kamar beberapa hari yang lalu. Sebenarnya, ia juga
sudah menaruh curiga saat Sasa tiba-tiba mendatanginya di lapangan basket.
Kecurigaan itu bertambah saat ia tak sengaja melihat Sasa berjalan ke arah Gavin
dan memberinya sebotol air mineral. Namun ia juga melihat bahwa Dexter
menolak botol minum itu tanpa sepatah kata. Bisa ia simpulkan, adiknya lah yang
mengejar Gavin.
“Semangat dek, kakak tau kamu lagi berjuang. Bahkan ini lebih berat dari
ujian sekolah atau turnamen basket kakak yang tiga hari lagi bakal kakak ikutin.
Tenang aja, kakak support kamu kok, kakak bantu. Si Gavin emang beku banget
anaknya, tapi dia baik kok. Dia sering kepergok nolongin orang gak di kenal, dia
24
yang beku cocok sama kamu yang rame hehe,” ucap Dexter setengah berbisik
agar tak membangunkan adiknya yang sedang tertidur pulas. Setelahnya, ia pun
meninggalkan kamar adiknya dan menuju kamarnya sendiri.
Hari pertama dalam misi sepuluh hari pun tiba. Secara penampilan, Sasa
sudah sangat siap dengan seragam ala SMA Lavender. Namun secara mental?
Tentu tidak. Beruntung Sasa adalah orang yang suka tidur sehingga seberat
apapun masalahnya, tidurnya tak akan terganggu. Bayangkan jika ia Adalah
manusia yang susah tidur. Akan jadi seperti apa kantung matanya?
“Ah, gue perlu sarapan yang banyak nih,” monolog pertama Sasa di hari
ini.
Di meja makan sudah tersedia nasi goreng buatan mommy kesayangannya.
Bi Ijah selaku ART di rumahnya tidak pernah ditugaskan untuk memasak, kecuali
di saat yang tak terduga seperti saat mommy nya pergi karena ada urusan.
“Morning anak perawan mommy, sarapan yuk,” sapa mommy Meisha.
“Nasi goreng mommy kamu emang paling enak, daddy udah nambah nih,”
timpal daddy Richard sembari memperlihatkan piringnya.
“Itu sih rakus dad, Dexter yang masih perlu banyak asupan aja gak
segitunya.”
“Ini bukan rakus dong Dexter, ini tuh bentuk apresiasi daddy ke mommy.
Makin cinta deh sama mommy kalian.”
“Ih daddy udah tua masih aja gombal. Mana muka mommy merah gitu
lagi, bener-bener aneh,” ucap Sasa pada akhirnya.
“Udah ah, ayuk cepetan sarapannya. Nanti kalian telat loh.”
“Iya mom,” jawab Richard, Sasa dan Dexter bersamaan.
Sasa dan Dexter pun segera melaju menuju sekolah kesayangannya. Lagu
yang berputar di mobil menjadi teman mereka yang sedang melempar canda tawa
seperti biasa. Sesekali mereka juga ikut menyanyikan lagu yang sedang diputar.
25
Gambaran sibling goals. Saat mereka sampai di sekolah pun, mereka masih
melempar canda tawa. Hitung-hitung mengurangi kegugupan Sasa di hari
pertama perjalanan misinya.
“Semangat dek!”
“Semangat buat apaan kak?” jawab Sasa yang mengernyitkan dahi.
“Ya… semangat aja. Siapa tau kamu lagi butuh disemangatin.”
“Kakak aneh, udah ah aku mau ke kelas. Bye kak..”
“Bye dek, belajar yang bener. Fokus,” ujar Dexter dengan kecupan kecil
di dahi adiknya. Semua orang tau bahwa mereka adalah sepasang kakak adik.
Namun melihat adegan tadi, banyak siswa yang terpekik gemas.
“Oke Sa, hari pertama. Semangat,”“ monolog Sasa dalam hati sambil
mengepalkan tangannya.
Casey dan Naomi menyambutnya dengan senyuman yang mengembang.
Sudah jelas itu karena misi sepuluh hari yang kemarin mereka sepakati, namun
Sasa tidak berpikir bahwa kedua sahabatnya ini akan mempunyai semangat yang
besar.
“Semangat ya, gue sebenernya gak yakin lo bakal berhasil. Tapi gapapa,
coba aja dulu,” ujar Naomi yang sedang memperhatikan raut gugup di wajah
Sasa.
“Gue juga deh, kontribusi dikit lah… semangat ya!” sambung Casey.
“Ish kalo gak niat gak usah semangatin gue gitu deh, makasih loh,” jawab
Sasa sambil merengutkan bibirnya.
Di lapangan yang mereka lewati saat bel pulang sekolah telah terdengar,
terlihat Gavin yang sedang berlatih untuk turnamen bersama teman-teman
basketnya termasuk Dexter. Sasa sudah cukup menahan diri untuk tetap fokus
selama pelajaran tadi, sekarang ia akan memanfaatkan momen ini untuk
mendekati Gavin, modus lewat Dexter tentunya. Ia melangkahkan kakinya ke
arah lapangan menuju bangku panjang. Sasa, Casey dan Naomi sangat menikmati
pemandangan di depannya, karena banyak yang tampan di club basket.
26
“Aduh, Sa. Kakak lo buat gue aja boleh gak sih? Keren banget mainnya,”
Tawar Naomi dengan mata yang berbinar.
“Gak. Kakak gue juga gak mau sama lo.”
“Kalo buat gue aja boleh gak? Siapa tau kakak lo mau sama gue,” timpal
Casey dengan mata yang tak kalah berbinar pula.
“Lo pinter sih, tapi kakak gue juga kayaknya gak mau sama lo. Lagian
kenapa pada bahas kak Dexter sih?! Gue kan kesini mau liat Gavin.”
“Yaelah, sambil menyelam minum air lah..” jawab Naomi dengan
lantang.
Lama mereka memandang, rupanya anak basket sudah selesai latihan.
Mereka pun berpencar dan segera menyerbu air mineral karena haus, namun
sayang, Sasa tak membawa air mineral sekarang. Untungnya, ia melihat bahwa
Gavin sudah mengambil botol minumnya, jadi ia tak akan merasa kehausan. Tak
seperti waktu itu. Sasa jadi teringat, bahkan ketika Gavin butuh bantuan pun ia
masih menolak pemberian Sasa. Lantas bagaimana jika ia tak membutuhkan
bantuan? Sasa rasa ia tak akan diacuhkan melainkan langsung ditendang.
“Lo beneran yakin nih?” cecar Naomi yang tampak ragu.
“Gue gak mau ada epilog sebelum prolog, mending lo semangatin gue
deh. Hari pertama nih, samperin ah,” jawab Sasa yang segera menghampiri Gavin
di pojok lapangan.
“Eh.. Sasa cantik. Mau cari siapa? Gue ya?”
Baru saja sampai di pojok lapangan, Sasa sudah mendapat kalimat buaya
dari sang empu, panggil saja Lucas.
“Sasa gak mungkin mau sama peringkat terakhir di kelas bro,” timpal
Melvin yang mempunyai otak lebih waras daripada Lucas.
“Yeee bro, yang nama nya jodoh itu gak ada yang tau. Kalo jodohnya
Sasa itu gue, lo mau apa? Ya gak kak?”
Pertanyaan itu ditujukan kepada Dexter yang sedang menikmati jus
mangga buatan Meisha, mommy nya. Dexter yang daritadi sudah mengamati
27
pergerakan Lucas pun segera melemparkan botol mineral yang sudah kosong ke
arah Lucas. Sepertinya playboy cap kakap satu itu sedang tak beruntung. Sebab,
botol itu tepat mengenai keningnya.
“Yaallah… calon kakak ipar gak boleh gitu tau.”
“Calon kakak ipar gundulmu, kalo pun adek gue suka sama salah satu dari
kalian yang ada disini, gue dukungnya dia sama Gavin.”
Sasa yang mendengar kalimat Dexter pun segera membulatkan matanya.
‘Darimana kak Dexter tau?’ Pikirnya. Pasalnya, ia tak pernah menceritakan
apapun yang berkaitan dengan Gavin kepada kakaknya. Apakah ini hanya asumsi
Dexter? Sasa pun tak tahu jawabannya.
“Gavin terlalu dingin, Sa. Mending sama gue, lo akan merasa aman,
nyaman, dan terlindungi,” cecar Lucas berusaha meyakinkan Sasa.
“Ga dulu,” jawab Sasa singkat.
“HAHAHAHAHA DI TOLAKK.”
“Puas banget lo, Mel.”
“Heh Lucas, jangan panggil gue Mel. Kayak nama cewe.”
“Iya maaf Melvinku sayang..”
“Najis.”
Gavin yang sedaritadi mengamati perbincangan teman-temannya pun
Hanya menggelengkan kepala. Lalu ia bangkit dan bersiap untuk pulang.
“Eh, Gavin. Lo mau kemana?” tanya Sasa yang membuat semua orang
menatapnya.
“Pulang,” jawab Gavin singkat.
Namun tetap saja itu menjadi fokus kedua sahabatnya. Yang mereka
ketahui, selama ini Gavin tak pernah merespon ucapan apapun yang keluar dari
bibir seorang wanita. Lalu kini ia menjawab pertanyaan Sasa? Walaupun
jawaban yang diberikan adalah jawaban yang super singkat, padat dan jelas,
namun tetap saja itu mengganjal. Lama mereka berpandangan, akhirnya mereka
mengalihkan perhatiannya kepada Gavin dan Sasa.
“Gue boleh ikut gak? Gue gak bawa mobil,” sambung Sasa berharap.
28
“Kakak lo?”
“Em.. kak Dexter mau ke toko kue dulu katanya. Iya kan kak?” jawab
Sasa gugup sambil memberikan kode kepada kakaknya.
“Eh? Iya gue disuruh mommy beli kue,” jawab Dexter yang telah
mengerti kode Sasa.
“Cepet,” ucap Gavin yang langsung mendapat senyuman dari Sasa.
Setelah Sasa dan Gavin berjalan ke arah tempat parkir, Dexter, Lucas dan
Melvin pun saling berpandangan seolah mereka mempunyai pikiran yang sama.
“Gue curiga sama Gavin,” ucap Lucas yang membuka suara terlebih
dahulu.
“Gue sih curiga nya sama Sasa,” timpal Melvin ikut berpendapat.
“Emang kenapa sama Gavin?”
“Gavin gak pernah ngerespon omongan cewek sebelumnya. Tapi
sekarang dia malah pulang bareng sama Sasa, aneh kan kak?”
“Sebelumnya nih ya, cewek yang satu kelompok sama dia aja gak pernah
di lirik. Bayangin harus satu kelompok sama kulkas berjalan kayak Gavin,”
timpal Melvin yang setuju dengan ucapan Lucas.
‘bagus deh kalo Gavin juga punya perasaan yang sama kayak adek gue.
Walaupun belom keliatan tapi seenggaknya ada progres’ batin Dexter setelah
mendengar ucapan Lucas dan Melvin.
Di sisi lain, sepasang remaja ini sedang berada di dalam mobil yang sama
tanpa ada yang membuka ucapan. Karena Sasa mulai geram, ia pun segera
membuka mulutnya untuk memulai topik.
“Gavin, lo udah makan?”
Tak ada jawaban dari bibir tipis Gavin. Sasa yang tak mudah menyerah
pun kembali membuka bibirnya.
“Kalo belum makan, kita bisa mampir dulu loh ke cafe atau resto. Nanti lo
maag kalo gak makan mulu.”
“Udah,” jawab Gavin setelah mendengar ajakan Sasa.
29
“Jangan lupa makan tau, lusa kan lo mau turnamen. Lo itu harus makan
yang banyak biar tetep fit. Kak Dexter aja sekarang makannya sebakul. Makanan
yang baru gue beli aja tiba-tiba habis di makan dia, padahal belum ada dua puluh
empat jam gue beli. Nyebelin kan?”
“Hmm.”
“Ish, lo irit banget sih ngomongnya. Untung ganteng,” ucap Sasa dengan
mengecilkan volume suaranya pada dua kata terakhir.
Tanpa diketahui siapa pun, Gavin mendengarnya dan tersenyum sangat
kecil. Jika dilihat dari posisi Sasa, senyuman itu tak bisa terlihat oleh indera
penglihatan. Sangat tipis.
“Emang lo tau rumah gue?” tanya Sasa, lagi.
“Gak.”
“Kalo gak tau tanya dong Gavin… atau lo mau bawa gue jalan dulu? Ke
mall gitu? Gak mau? Padahal jadwal gue kosong loh hari ini..”
“Gak minat.”
“Gapapa hari ini gak minat, tapi besok kumpulin ya minatnya.”
“Kalo inget.”
“Ish jahat. By the way.. lusa gue dateng loh ke turnamen basket. Kak
Dexter maksa gue soalnya,” ujar Sasa setengah berbohong karena Dexter tak
pernah memaksanya.
Tak ada jawaban yang terdengar dari bibir Gavin. Sampai akhirnya
mereka sampai ke rumah Sasa dengan arahannya. Baru kali ini Sasa menyesal
karena letak rumahnya dekat dengan sekolah. Ia jadi tak bisa berlama-lama
dengan Gavin.
“Makasih ya Gavin, besok gue traktir deh di kantin. Jangan nolak, anggep
aja ucapan terima kasih.”
“Gak usah,” jawab Gavin yang langsung meninggalkan pekarangan
rumah Sasa.
“Hari pertama aja begini ya, gimana hari selanjutnya? Beku banget deh
doi gue. Untung ganteng,” monolog Sasa sambil berjalan masuk ke rumahnya.
30
Chapter 4
Hari kedua pun tiba. Sasa yang sedang sarapan dengan keluarga tercinta
nya pun sudah memutuskan kalau ia harus lebih berani untuk mendekati Gavin.
Karena itu, ia akan mengajak Gavin untuk makan di kantin seperti apa yang ia
katakan kepada Gavin kemarin. Ia tau itu pasti akan sulit, namun bukan Sasa jika
cepat menyerah. Ia pun segera menghabiskan sarapannya lalu pergi ke sekolah
bersama kakaknya.
Sesampainya di sekolah, ia langsung di hampiri oleh kedua sahabatnya
yang ternyata lupa mengerjakan tugas fisika. Padahal, tugas itu sudah diberikan
oleh guru mereka sejak seminggu yang lalu. Namun yang namanya Naomi dan
Casey tak ingat sedikit pun dengan tugas itu.
“Makasih cantikk, gue doain lancar sama Gavin,” ucap Naomi setelah
Sasa memberikan tugasnya.
“Amin, amin banget. Lo doain juga dong Cas.”
“Iye dah, karena lo udah bagi-bagi jawaban tugas jadi gue aminin.”
Setelah selesai menyalin tugas, mereka pun memulai pelajaran karena bel
telah berbunyi dan guru yang mengajar juga telah datang. Berjam-jam mereka
habiskan untuk bergelut dengan angka dan rumus, akhirnya jam istirahat pun tiba.
Sasa yang mendengar bel itu segera pergi ke kelas Gavin, sebelas ipa dua. Ia
berniat untuk mengajak lelaki itu ke kantin. Namun ketika ia tiba di kelas Gavin,
ia melihat Gavin yang sedang duduk berdua dengan seorang gadis. Meskipun tak
terlihat adanya kata yang keluar dari mulut lelaki tampan itu, namun tetap saja
jarak mereka terlalu dekat. Sasa pun segera menghampiri mereka.
“Syla jangan deket-deket dong sama Gavin!” ujar Sasa setelah ia sampai
31
ke kursi Gavin.
“Loh? Emang kenapa? Orang kita sekelompok kok,” jawab Syla dengan
tegas sambil merapatkan tubuhnya kepada Gavin yang sudah terlihat risih.
“Ih Syla harus liat muka Gavin, dia risih sama lo.”
“Lo juga harusnya liat muka Gavin pas dia sama lo Sasa, risih juga.”
“Gavin gak risih kok sama gue, Syla aja yang salah liat. Iya kan Vin?”
Gavin tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sasa. Syla yang melihat
itu pun menyunggingkan senyuman meremehkan ke arah Sasa. Namun saat Syla
ingin membuka mulutnya untuk berbicara, tangan Gavin sudah menghentikannya.
Gavin menarik Sasa keluar kelas.
“Loh?! Gavin! Lo mau kemana bawa-bawa Sasa gitu? Kita masih harus
kerja kelompok lohh. Ih kok gue ditinggal sih?!” Teriak Syla yang tampak
frustasi.
Setelah keluar kelas, Gavin segera melepas genggamannya pada Sasa.
Sasa yang sudah menikmati nyamannya genggaman Gavin pun segera
melontarkan kalimat protesannya.
“Loh Gavin kok di lepas tangannya?”
“Gavin ish, kok gak jawab sih? Lo mau gak kalo gue ajak ke kantin?
Kemaren kan gue udah bilang mau traktir.”
“Cuma temen,” ucap Gavin yang sedang menatap mata Sasa.
“Hah? Siapa yang cuma temen? Kita? Sekarang sih Iya, tapi gue gak janji
bakalan tetep jadi temen setelah ini,” jawab Sasa sambil merengutkan bibirnya.
“Syla.”
“Hah? Syla kenapa? Gavin lo ngomong apa sih? Gue gak mudeng.”
“Nevermind,” putus Gavin pada akhirnya.
“Ih Gavin aneh deh. Yaudah mau ke kantin gak? Ayuk dong bilang mau
biar gue seneng.”
“Gak.”
“Kok enggak? Ah tapi gue gak mau di tolak. Pleaseee ayuukk ke
32
kantinnn,” bujuk Sasa dengan puppy eyesnya.
Terdengar helaan napas dari Gavin. Namun setelah itu, ia
menganggukkan kepala nya tanda setuju. Sasa yang melihat anggukan dari Gavin
pun tersenyum senang dan segera menarik tangan Gavin ke arah kantin. Hal itu
pun tak luput dari pandangan seluruh siswa yang berpapasan dengan mereka.
Sesampainya di kantin, mereka segera memesan makanan. Kali ini Sasa
memesan makanan yang sehat, yaitu salad buah. Ia hanya ingin memakan
makanan yang sama dengan Gavin.
“Lo selalu makan salad buah? Suka ya?” tanya Sasa setelah ia memakan
suapan pertamanya.
Gavin pun hanya membalasnya dengan deheman, kemudian ia
melanjutkan acara makannya kembali.
“Gak mau coba menu lain? Bakso nya enak loh.”
“Gak.”
“Ih kenapa? Lo belom coba aja. Kalo udah coba juga pasti ketagihan deh,
gue jamin seratus persen.”
“Diem. Makan.” ujar Gavin yang tak mau di bantah.
Sasa pun melanjutkan makannya dengan hening seperti perintah Gavin. Ia
terlihat seperti anjing penurut peliharaan Gavin sekarang. Walaupun mulutnya
sudah gatal karena tak mau hanya makan sambil diem-dieman, namun ia lebih
takut jika ia membuat Gavin risih kepada nya seperti apa yang dikatakan oleh
Syla tadi. Setelah makanan mereka habis, mereka pun segera menyeruput jus
buah naga yang terlihat sangat menyegarkan lalu dilanjutkan dengan air mineral.
Sungguh perpaduan yang sangat sehat, bukan? Itulah kebiasaan Gavin yang baru
diketahui oleh Sasa. Walaupun Gavin tak menyebutkan alasan ia selalu memesan
salad buah, namun dari yang bisa Sasa simpulkan, Gavin memang menyukai
buah-buahan. Terbesit di otak Sasa untuk membawakan jus buah untuk Gavin di
turnamen besok.
“Gavin, besok lo turnamen kan?”
33
“Hmm,”
“Mau gue bawain jus buah gak?”
“Gak,” tolak Gavin lagi dan lagi.
“Dari berbagai pengalaman yang udah gue dapet, ‘gak’ yang keluar dari
mulut lo itu artinya ‘iya’, jadi gue bakal tetep bawain jus besok. Lo mau jus apa?
Sebut aja deh, tapi pulsek kita beli dulu ya buahnya.”
“Gak usah.”
“Ih Gavin.. ayok lah gue tau lo suka buah.”
“Kata siapa?” tanya Gavin sambil mengernyitkan dahi.
“Em.. gue liatnya gitu. Lo selalu pesen salad buah sama jus.”
Gavin pun dibuat bingung oleh Sasa. Sebab ia tak tahu jika pada kali
pertama ia menginjakkan kaki di kantin, Sasa sudah memperhatikannya.
“Jadi gimana? Mau ya?” tanya Sasa kembali memastikan.
“Terserah.” putus Gavin pada akhirnya.
“YES! Mampir ke supermarket dulu ya nanti..”
“Siapa?”
“Ya kita berdua lah… pulsek nanti kita ke supermarket beli buah. Gue
pulang bareng lo hehe,” ujar Sasa cengengesan.
“Nyusahin.”
“Ih kok nyusahin sih? Biar kayak couple goals gitu.. kan lucu kalo kita
belanja bareng. Lagian juga jus nya buat lo, bukan cowok lain,” cecar Sasa
Sambil menatap Gavin lekat.
Gavin yang di tatap pun terlihat sedikit gugup, apalagi setelah mendengar
kalimat terakhir yang di lontarkan oleh Sasa. Namun dengan cepat ia menetralkan
ekspresinya. Sayangnya, Gavin kalah cepat dengan Sasa. Sasa yang sejak tadi
menatap Gavin dalam pun tentunya melihat kegugupan Gavin.
“Waahh Gavin lo gugup yaaa? Salting ya sama gue? Cieee Gavinnn. Ih
seneng deh gue liatnya, lo gemes bangett,” cecar Sasa yang sedang tersenyum
lebar.
“Apasih enggak,” elak Gavin sambil memalingkan wajahnya.
34
“Aaaaaa gemes banget sih.. suka deh gue.”
“Balik.”
“Ish baru juga makan bareng, salting-saltingan. Masa udah harus balik ke
kelas sih? Bel juga masih la-“
Perkataan Sasa terpotong oleh bel tanda masuk. Mereka berdua pun
segera berlari ke kelas masing-masing dengan Sasa yang tertawa puas dan Gavin
yang tersenyum kecil. Tentu saja tak dapat disadari oleh semua orang.
Saat ini Sasa sedang menunggu Gavin di parkiran tempat Gavin
memarkirkan mobil kesayangannya. Ia sudah berpamitan pada Naomi dan Casey
tadi yang tentunya dibalas dengan kalimat penyemangat oleh mereka. Jika
diperhatikan, Gavin memang selalu menggunakan mobil nya selama beberapa hari
ini. Sasa tak tahu apa alasannya, namun ia senang akan hal itu. Karena ia bisa
menumpang pada Gavin dan ia pun bisa terus mengajak Gavin berkomunikasi di
dalam mobil tanpa ada gangguan dari suara kendaraan lain.
Tak lama kemudian, Gavin pun datang bersama teman-temannya. Sasa
bisa melihat adanya Dexter, Raphael, Sandy dan Felix juga disana. Raphael,
Sandy dan Felix merupakan sahabat-sahabat dari kakaknya, Dexter. Sasa
memang tak terlalu akrab dengan mereka, ia jarang menemani kakaknya berlatih
basket. Kakaknya pun jarang mengajak sahabatnya bermain di rumahnya.
“Masuk,” ujar Gavin yang langsung menarik Sasa menjauh dari Lucas.
“Loh Vin, Adek gue mau lo bawa kemana?” cecar Dexter yang melihat
Gavin menarik tangan Sasa untuk masuk ke samping kemudi.
“Belanja.”
“Yaallah kesambet apa lo paketu? Kenapa sekarang jadi hobi shopping?”
tanya Lucas heboh.
“Bucin lo sama Sasa, tapi gapapa. Lo lucu kalo lagi bucin gitu. Kapan
lagi gue denger seorang Gavin si kulkas berjalan belanja,” timpal Melvin.
“Gak bucin,” elak Gavin.
“Yaelah Vin.. kalo bucin juga gapapa kali. Sasa kan emang cantik, gue aja
35
mau sama Sasa,” ujar Felix.
Tanpa sadar, Gavin melihat Felix dengan tatapan yang tajam. Tapi karena
Felix pikir bahwa Gavin memang selalu tajam jika menatap orang lain, ia pun tak
berpikir yang macam-macam. Berbeda dengan Dexter, Lucas dan Melvin yang
sudah menahan senyum nya. Mereka bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya
Gavin juga suka dengan Sasa, namun lelaki itu lebih mementingkan gengsinya.
Gavin pun segera masuk ke mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan
sedang menuju supermarket.
Sesampainya di supermarket, Sasa segera mengambil keranjang untuk
meletakkan buah-buahan yang ingin mereka beli. Lalu ia pun menarik tangan
Gavin ke tempat buah.
“Lo mau buah apa?” tanya Sasa yang sedang asyik memilih buah.
“Terserah,” jawab Gavin yang tak mengetahui perbedaan buah yang
masih segar dan yang Sudah tak segar. Selama ini, bi Ratih lah yang membelinya.
“Gavin kayak cewek deh jawabnya terserah mulu. Suka pisang gak?”
“Suka.”
“Eh tapi kalo turnamen minum jus pisang kayaknya gak cocok deh, kalo
semangka aja gimana?” tanya Sasa sambil berpikir.
“Boleh.”
“Ah gak deh, nanti Gavin pipis terus pas turnamen. Semangka kan banyak
kandungan airnya, apel aja mau gak?”
“Ya.”
“Ehm.. tap-“
Gavin yang sudah lelah pun segera mengambil melon lalu menarik tangan
Sasa ke arah kasir untuk membayar melon yang ia pegang.
“Oh Gavin mau melon? Tapi mel-“
“Diem. Gue suka,” potong Gavin dengan cepat.
Setelah membayar melon itu, mereka pun pulang ke rumah masing-masing
karena Gavin harus istirahat yang cukup untuk turnamen besok. Sasa pun
36
memasuki rumahnya dengan riang sambil membawa melon.
Di malam hari, Sasa berinisiatif untuk mengirim pesan pada Gavin. Ia
sudah mendapatkan nomor handphone dan id Gavin dari kakaknya, Dexter sudah
mengetahui perasaan Sasa pada Gavin. Sasa menceritakannya kemarin saat
mereka sedang belajar Bersama. Tak Sasa sangka, respon yang diberikan dexter
pun terlihat tak kaget. Dexter bahkan sangat mendukung dan mengatakan bahwa
ia akan membantunya. Tentu saja Sasa senang akan hal itu.
Di sisi lain, terlihat seorang lelaki tampan bernama Gavin yang sedang
berbaring di kasurnya sambil memikirkan perkataan Sasa di kantin tadi siang.
Sasa tak tahu bahwa kalimatnya akan terngiang di otak Gavin hingga saat ini.
“Suka?” gumamnya.
“Kenapa jadi mikirin terus ya? Gue kan udah janji sama Raya.”
Senyuman mendarat di wajahnya ketika ia memikirkan Sasa. Kali ini
sebuah senyuman tulus yang terlihat. Saat ia sedang berusaha untuk menghapus
pemikirannya, tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone nya.
‘Hai Gavin, ini Sasa. Semangat ya turnamen nya, jangan gugup. Gue tau
lo pasti bisa hehe. Istirahat yang cukup, night Gavin. Sleep tight<3’
Seperti itu isi pesan yang terlihat di aplikasi berwarna hijau milik Gavin.
Gavin pun kembali tersenyum saat membaca pesannya. Kemudian ia berniat
untuk membalas pesan dari Sasa, namun ia mengurungkan niatnya. Pasalnya, ia
tak tahu harus membalas apa. Ini adalah yang pertama kalinya bagi Gavin untuk
mengirim pesan pada seorang gadis. Dulu, ia tak pernah bertukar pesan dengan
Raya karena ayahnya belum mengizinkannya untuk memiliki handphone. Lalu
sekarang ketika ada gadis yang mengiriminya pesan berisikan tulisan
penyemangat, apa yang sebaiknya ia katakan? Ia terlalu malu dan bingung untuk
menjawabnya. Lama berpikir, akhirnya ia pun terlelap dengan layar handphone
yang masih memperlihatkan pesan dari Sasa.
37
Pagi hari telah tiba. Terlihat seorang gadis yang sedang berkutat dengan
buah-buahan di dapurnya. Ia memotong buah, kemudian mencucinya lalu
merubah buah itu menjadi jus. Dengan menambahkan susu, ia kemudian
mencicipi jus melon buatannya, memastikan bahwa jus itu sudah pas di lidah.
Setelah memastikan semuanya, ia pun pergi ke sekolah karena
turnamennya akan di adakan di sekolahnya, SMA Lavender. Lapangan terasa
penuh dengan siswa-siswi yang siap menonton pertandingan, baik pendukung dari
SMA Lavender, maupun SMA Bakti Jaya. Sasa, Naomi dan Casey sudah duduk
di bangku sebelah kiri, tempat para pendukung SMA Lavender. Tempat mereka
cukup dekat dengan lapangan, sehingga memudahkan mereka untuk melihat
pertandingan dengan jelas. Seketika para penonton heboh berteriak sebagai
bentuk support mereka kepada tim yang mereka dukung ketika para pemain
memasuki area lapangan.
“Astagaaaaa Gavin ganteng bangett, aura nya keluar banget yaampun mau
pingsan di tempat tapi sayang nanti gue gak bisa nonton sampe akhir,” ucap Sasa
setengah berteriak agar kedua sahabatnya dapat mendengar.
“Gavin mulu lo. Tuh kakak lo yang ganteng juga ikut maen, semangatin
kek. Ini malah sibuk sama aura orang,” celetuk Casey yang disambut anggukan
oleh Naomi.
“Kakak gue mah gak usah di semangatin juga pasti udah semangat, kan
emang agak gak tau malu orangnya.”
“Ish buruan semangatin biar sekolah kita menang.”
“Iya Casey iya. KAK DEXTER SEMANGAT YA!” teriak Sasa.
Dexter yang mendengar teriakan adiknya pun segera mencari bangku di
tribun yang di duduki Sasa. Ketika berhasil menemukannya, Dexter pun
mengedipkan mata nya ke arah Sasa sambil mengepalkan tangan nya membentuk
lambang semangat. Gavin yang melihat itu pun mendengus kecil.
‘Katanya mau semangatin,’ batinnya.
Namun kekesalan yang tidak di sadari oleh Gavin pun tak berlangsung
lama. Pasalnya, suara teriakan dari Sasa terdengar kembali. Kali ini ia yakin
38
teriakan itu ditujukan kepadanya.
“SEMANGAT GAVIN! JUS NYA UDAH JADI.”
Terciptalah senyuman tipis di bibir Indah Gavin kala mendengar teriakan
itu. Namun seperti julukannya, ia hanya menatap Sasa tanpa ekspresi, berbeda
jauh dengan keadaan hati nya.
“Di semangatin tuh, gak mau say thanks?” tanya Dexter.
“Pake dibawain jus lagi, enak banget jadi paketu. Gue juga mau cobain
jus buatan Sasa dong,” timpal Lucas yang di balas delikan tajam oleh Gavin.
“Iya maap paketu bucin, gue cuma becanda elah.”
“Gue gak bucin.”
“Heh! Opah nya upin ipin yang suka tidur pun tau lo udah mulai bucin
sama Sasa. Ngelak aja lo ganteng,” cecar Lucas.
“Udah keliatan juga, masih aja ngelak,” timpal Melvin cekikikan.
“Gapapa kalo mau bucin sama adek gue, tapi minta restu dulu sini ke
gue,” ucap Dexter kepada Gavin.
“Gak, udah fokus.”
“Biasa kak, Gavin suka ngalihin topik,” balas Melvin yang disetujui oleh
Lucas.
“Heh ayok fokus cepetan, kalo mau apelin Sasa nanti aja pas break,” ujar
Raphael yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Tau nih, gak liat muka lawan kita udah asem gitu?” timpal Sandy.
“Gue rasa emang gitu bentukannya.”
“HAHAHAHA PARAH LO LIX.”
“Giliran julid aja seneng lo Lucas,” ucap Melvin yang terlihat jengah.
“Bodo, udah ayok. Udah mau mulai.”
Mereka pun berkumpul untuk berdoa dan menyemangati sesama. Lalu
pertandingan pun di mulai. Baru lima menit berlalu, SMA Lavender sudah
berhasil memasukkan bola ke dalam ring lawan. Sasa dan sahabat-sahabatnya
pun refleks teriak saat score kembali di cetak oleh sekolahnya melalui Gavin.
Lelaki itu terlihat sangat bersemangat saat ini. Permainan pun berlanjut hingga
39
score yang di peroleh adalah 4-2 dipimpin oleh SMA Lavender. Kini, team dance
sedang tampil, sedangkan tim basket sedang beristirahat. Sasa pun mendekati
Gavin sambil membawa jus melon pesanannya.
“Haii! Keren banget sih mainnya. Nih rewardnya jus melon hehe, kalo
menang nanti gue traktir makan deh,” ujar Sasa ketika sampai di tempat Gavin.
“Makasih,” balas Gavin yang segera menyambar jus melon nya.
“Enak gak?” tanya Sasa cemas.
“Lumayan,” ucap Gavin yang berbohong, karena menurutnya jus buatan
Sasa sangatlah enak dan menyegarkan tenggorokannya.
“Semangat ya mainnya, gue yakin tim sekolah kita pasti menang. Sini
deketan, lo keringetan.”
“Jangan, bau.”
“Gak kok, lo gak bau Gavin. Sini gue lap dulu keringetnya.”
Gavin pun mendekatkan tubuhnya ke arah Sasa dengan ragu. Setelah
dirasa cukup dekat, Sasa segera membersihkan keringat Gavin dengan handuk
kecil yang ia bawa. Dengan jarak sedekat ini, Sasa bisa merasakan kegugupan
yang mendalam. Gavin terlihat jauh lebih tampan pada jarak sedekat ini, apalagi
dengan bulir-bulir keringat yang menambah kesan maskulin. Sasa merasa bahwa
tatapan Gavin cukup dalam kepada nya, namun ia tak mau terlalu percaya diri.
Karena tak tahan, ia pun mempercepat kegiatannya lalu menjauhkan tubuhnya
dari Gavin.
“Selesai. Gue ke kak Dexter dulu ya, mau kasih minum,” ujar Sasa.
“Ya.”
Dexter pun melihat Sasa yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyum
dan binar yang tercetak jelas.
“Inget juga ya sama kakaknya,” ujar Dexter begitu Sasa sampai.
“Ish, inget lah. Nih minum dulu, Sasa tau kakak pasti haus.”
“Wuih.. makasih sayang.”
40
“Nanti Sasa pulang sama siapa? Sasa gak bawa mobil kesini. Tadi di
anter sama daddy.”
“Yaudah nanti sama kakak aja ya, tunggu di lobby jangan kemana-mana.”
“Siap kakak!”
Setelah dua jam berlalu, Sasa pun kini sedang menunggu kakaknya di
lobby. Pertandingan sudah berlalu dan kini kakaknya sedang membersihkan diri
bersama tim nya. SMA Lavender memenangkan pertandingan hari ini dengan
score 6-2 di babak terakhir. Tak lama menunggu, ia pun melihat kakaknya dan
tim nya sedang berjalan ke arahnya. Ia juga bisa melihat Gavin di antara para
anggota tim basket.
“Aduh mampus kak Dexter dateng. Mana gue udah lepek banget lagi,”
ucap Naomi melihat Dexter.
“Gak bawa sisir lagi,” sambung Casey.
“Ih menel,” ejek Sasa.
“Dek ayok pulang, udah sore,” ajak Dexter begitu mereka sampai di
tempat Sasa.
“Iya kak. Naomi Casey gue balik duluan ya.. semangat nunggu supirnya!”
Namun sebelum itu, Gavin sudah mencekal tangan Sasa. Ia berniat untuk
mengajak Sasa pulang namun ia mengurungkan niatnya.
“Kenapa Gavin?” tanya Sasa.
“Gak jadi.”
“Lah? Jangan kangen ah, besok kita makan di kantin. Gue traktir soalnya
lo menang hehe.”
“Gue aja,” balas Gavin ambigu.
“Hm? Lo aja? Lo mau ngapain?”
“Traktir.”
“Lo mau traktir gue? Asyyiiikk! Oke gue tunggu. Gue pulang dulu ya,
inget! Sampe rumah langsung istirahat,” pamit Sasa kepada Gavin yang hanya
dibalas anggukan.
41
Setelahnya, Sasa pun pulang bersama Dexter. Casey dan Naomi yang
melihat kejadian tadi pun dibuat terperangah. Pasalnya, ini kali pertama mereka
melihat Gavin meladeni ucapan Sasa. Bahkan tadi Gavin lah yang terlebih dahulu
melakukan kontak fisik.
42
Chapter 5
Hari ke empat pun tiba. Rencana nya, Sasa akan meminta traktiran dari
Gavin hari ini. Ia sangat bersemangat untuk ke sekolah dan bertemu Gavin. Saat
sarapan pun daddy dan mommy nya dibuat geleng-geleng kepala karena Sasa
selalu tersenyum.
Sesampainya di kelas, Sasa segera mendekati kedua sahabatnya yang
sedang bermain dengan handphone mereka sambil berbicara. Sasa rasa, mereka
sedang bergosip atau sedang melihat online shop.
“Hari ini gue di traktir Gavin! Yeayyy!” ucap Sasa dengan girang.
“Jujur gue kaget banget pas liat lo dicekal Gavin kayak kemaren. Trus
yang nawarin traktiran dia lagi, sungguh sebuah keajaiban dunia,” balas Naomi
yang masih terkejut.
“Lo gak sendirian Nom, gue juga kaget banget ngeliat mereka.”
“Hehehehe, seneng deh gue. Gavin itu beku, tapi dia gemes banget.
Gengsi nya segede rumahnya.”
“Trus hari ini lo bakal di traktir Gavin beneran?” tanya Casey.
“Beneran lah… lo gak liat muka gue udah kesenengan gini?”
“Iya sih.. bibit-bibit sakit jiwa nya ada banget. Daritadi senyum mulu,”
timpal Naomi yang dibalas pelototan oleh Sasa.
“Hehehehe maaf, Sa. Keceplosan.”
Namun, sepertinya Sasa harus membatalkan rencana nya. Saat ini, ia
sedang berada di toilet seorang diri. Tak lama kemudian, Syla dan geng nya
datang dan langsung mengunci pintu toilet.
“Heh, Sasa! Lo gak usah sok kecakepan deh ngedeketin Gavin segala.
Gavin itu gak cocok kalo harus pacaran sama anak udik kayak lo,” cecar Syla
43
yang seperti menyembunyikan sesuatu di belakang sana bersama gengnya.
“Siapa yang sok kecakepan sih? Kan gue emang cakep,” ujar Sasa
dengan percaya diri.
“Ewh najis banget. Cakepan gue lah.”
“Mau lo apa sih, Syla?”
“Mau gue? Gue mau lo jauhin Gavin. Jangan deket-deket sama dia.
Gavin cuma punya gue.”
“Kalo gue gak mau?”
“Syl, dia berani nantangin lo deh kayak nya,” ucap salah satu anggota
geng Syla yang namanya tak Sasa ketahui.
“Lo jangan sok-sok nantangin gue ya. Kalo lo gak mau jauhin Gavin,
lo…”
Syla mulai memperlihatkan barang yang di sembunyikannya kepada sasa.
Ternyata, itu adalah penyekap mulut.
“Lo mau ngapain?” ujar Sasa yang tengah berantisipasi.
“Lo.. bakal gue bikin gak bernyawa disini. Lo liat gue dan semua temen
gue, mereka juga bawa barangnya masing-masing. Ada yang bawa air got,
gunting, telur busuk, dan…. pisau,” ucap Syla sambil mengeluarkan pisau
lipatnya.
“Lo gila?! Jangan macem-macem Syla, itu bahaya!”
“Gila? Lo yang gila! Seenaknya ngedeketin Gavin. Gue udah suka
duluan sama Gavin, tapi lo tiba-tiba dateng dan gue liat Gavin mulai perhatian
sama lo!” jelas Syla dengan berapi-api.
“Tapi gak gini juga! Jangan mainan pisau kayak gitu!” rancau Sasa
panik.
Ketika Syla sedang menodongkan pisaunya ke arah Sasa, terdengar suara
gedoran pintu. Suara itu merupakan suara Gavin. Syla yang panik pun segera
meraih tangan Sasa dan menuncapkan pisaunya ke lengan bagian atasnya sendiri,
seolah Sasa lah yang menuncapkan pisau ke lengan Syla. Beberapa anggota
gengnya pun Syla perintahkan untuk memasuki bilik toilet agar tak ketahuan.
44
Sasa yang terkejut pun hanya bisa menutup bibirnya yang sudah pucat ketika
Gavin berhasil mendobrak pintu toilet. Gavin yang mendengar rintihan Syla pun
segera masuk ke toilet wanita disusul dengan Dexter, Lucas, Melvin, Casey dan
Naomi.
“Sasa?” Panggil Gavin yang terkejut melihat Sasa sedang menuncapkan
pisaunya ke lengan Syla.
“Gavin.. please tolongin aku. Sakit banget. Aku gak tau kenapa tapi tiba-
tiba Sasa nusuk aku. Aku- Aku gak.. Aku gak kuat Gavin..” ucap Syla sambil
merintih.
Gavin pun melihat lengan Syla yang tertusuk pisau. Tangan Sasa jelas
sedang memegang pisaunya. Tapi apa mungkin Sasa yang melakukannya?
“Sa, bener?” tanya Gavin pada Sasa seolah merasa kecewa.
“Eng-enggak.. gue gak- gue gak ngelakuin itu..” jawab Sasa masih
terkejut.
“Kenapa, Sa?! KENAPA HAH?!” bentak Gavin ke arah Sasa.
Casey dan Naomi yang masih terperangah pun segera berlari ke arah Sasa.
Sahabatnya itu terlihat sangat lemas dan linglung mendengar bentakan Gavin,
cowok yang ia sayangi.
“JAWAB GUE SASA! Kenapa.. kenapa lo jadi jahat kayak gini? Gue
kira lo cewek baik yang tulus sama gue. Kenapa sekarang lo malah kayak gini?
Lo bahkan lebih buruk dari cewek manapun. Lo sakit, Sa! Gue nyesel udah
nanggepin lo.”
Baru kali ini Gavin berbicara panjang lebar. Seharusnya, Sasa senang
akan hal ini. Tapi dengan keadaan seperti sekarang, ucapan Gavin terdengar
sangat menyakitkan. Kedua sahabat Gavin pun berusaha menenangi lelaki itu.
Tak jauh beda, Casey dan Naomi pun sedang memeluk dan mengusap bahu Sasa
yang sedang menangis. Dexter yang curiga dengan Syla pun membuka suaranya.
“Gavin, stop. Lo bahkan denger sendiri kalo Sasa gak ngelakuin ini,”
ucap Dexter.
“Gak ngelakuin? Jelas-jelas dia yang pegang pisau nya.”
45
“Gue kenal adik gue. Gue tau dia gak bakal ngelakuin hal bodoh kayak
gini. Lo harusnya percaya sama Sasa,” lanjut Dexter.
“Setelah liat sendiri perbuatan kejam adik lo, kak?” ujar Gavin.
“G-gue gak ngelakuin itu…” gumam Sasa.
“Diem, gak usah ngomong lagi sama gue.”
“TAPI GUE GAK NGELAKUIN ITU GAVIN!” teriak Sasa.
Tak disangka, Gavin menampar pipi Sasa dengan keras. Terlihat darah
mengalir dari sudut bibir Sasa. Syla yang melihat itu pun tersenyum licik dalam
diam. Namun, pergerakan Syla terlihat oleh Lucas. Gavin pun terlihat sedikit
kaget dengan perbuatannya barusan.
“GAVIN STOP! MAKSUD LO APA TAMPAR ADEK GUE KAYAK
TADI?!” bentak Dexter tak terima.
Gavin tak menjawab bentakan Dexter. Ia segera berlari keluar dari toilet.
Sejujurnya, ada rasa penyesalan ketika ia menampar Sasa sampai berdarah.
Namun rasa itu secepatnya di tepis oleh Gavin, ia terlanjur kecewa dengan Sasa.
Ia sudah mematahkan janji nya pada Raya dan mulai menaruh rasa pada Sasa.
Namun hari ini ia melihat gadis itu menusukkan pisau kepada Syla.
Keadaan di toilet pun sangat kacau. Sasa menangis sesegukkan di Pelukan
Dexter. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan Sasa, mereka tak mau
langsung percaya begitu saja dengan Syla. Mereka pun segera membawa Sasa ke
UKS, meninggalkan Syla sendirian. Tak lama setelah mereka pergi, teman-teman
Syla pun keluar dari persembunyian dan membawa Syla ke rumah sakit.
“Minum dulu, Sa,” ucap Melvin sambil memberikan segelas air hangat
kepada Sasa.
“Sa, kalo lo mau cerita, tunggu keadaan lo udah mulai baik ya. Jangan
dipaksa. Kita semua percaya kok kalo lo gak mungkin ngelakuin itu,” timpal
Casey yang melihat Sasa ingin membuka suara.
“Kita sayang lo, Sa. Kita gak mau lo kenapa-kenapa..” sambung Naomi
khawatir.
46
Setelah keadaan Sasa sudah membaik, ia pun menceritakan kejadian tadi
tanpa ada yang terlewat. Semua yang ada di UKS pun mendengarkan cerita Sasa
dengan baik, sesekali merasa kesal dengan Syla dan Gavin.
“Dari awal kita udah peringatin lo, Sa. Hati-hati sama Gavin, kita takut lo
patah hati. Nyatanya? Lebih buruk dari patah hati,” ucap Naomi setelah Sasa
selesai menceritakan semuanya.
“Mulai sekarang.. lo harus sadar. Jauhin Gavin. Dia terlalu bodoh buat
lo,” timpal Casey.
“Lo tenang aja, Sa. Gue sama Lucas pasti bantuin lo kok. Kita dukung lo.
Casey bener, Gavin terlalu bodoh,” ucap Melvin yang juga merasa kesal dengan
sahabat tampannya itu.
“Sini, kakak peluk,” ucap Dexter sambil merentangkan tangan dan
memeluk Sasa dengan sayang.
“Sabar ya sayang, jangan nangis lagi. Kakak sayang sama Sasa.”
“Makasih ya, kalian udah mau percaya sama gue. Makasih banget,” ujar
Sasa yang kembali menitikan air mata.
“Emang kurang ajar tuh si Syla. Keracunan detergen baru tau rasa dia.”
celetuk Lucas yang mengundang gelak tawa.
Saat ini, Sasa sedang terbaring di kasur nya. Ia senang karena kakaknya
dan teman-temannya percaya pada nya. Namun, orang yang paling ia harapkan
untuk mempercayainya justru malah memberikan tamparan di pipi nya. Ia
memegang pipi yang tadi di tampar oleh Gavin.
“Naomi sama Casey bener, gak seharusnya gue suka sama lo. Bahkan
kalo boleh jujur, gue sayang banget sama lo. Tapi gue sadar, gue harus lupain lo.
Gue gak akan ganggu lo lagi,” monolog Sasa sembari menghela napas.
Tanpa ia ketahui, Dexter mendengar semua ucapannya di balik pintu. Ia
kesal dengan Gavin yang tak mau percaya pada adiknya. Namun, ia tak bisa
benci begitu saja pada Gavin karena ia sadar ini adalah privasi Gavin dan Sasa.
Mereka lah yang akan menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri, tugasnya
47
hanyalah menjaga adiknya.
Keesokkan hari nya, Gavin dan Sasa berpapasan di koridor. Namun
Gavin tersentak, karena Sasa tak menyapa nya. Bahkan gadis itu tak melirik
sedikit pun ke arahnya. Kalau boleh jujur, hatinya berdenyit tak suka. Namun ia
juga masih kecewa pada Sasa.
Selama pelajaran, Sasa terlihat tak begitu fokus. Terkadang ia akan
melamun sendiri dengan tatapan kosong. Casey dan Naomi pun sesekali
mengajaknya mengobrol agar Sasa tak melamun terus menerus. Ketika jam
istirahat, Sasa menolak untuk pergi ke kantin. Ia lebih memilih untuk membaca
buku di kelas. Karena hal itu, Casey dan Naomi berinisiatif untuk membeli
makanan dari kantin kemudian makan bersama Sasa di kelas.
Di lain sisi, Lucas dan Melvin pun sudah bersiap untuk melangkahkan
kaki mereka ke arah kantin. Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar
suara Gavin.
“Gue ikut.”
“Tumben, kalo lo mau ngecek keadaan seseorang mending gak usah. Gue
rasa dia gak butuh itu,” balas Lucas menyindir Gavin.
“Laper.”
“Liatin aja, Cas. Gue yakin Gavin sebenernya nyesel,” bisik Melvin ke
arah Lucas yang di balas dengan anggukan.
Di kantin, Gavin bertemu dengan Casey dan Naomi. Namun ia tak
melihat adanya Sasa, kemana gadis itu? Gavin ingin menanyakan keberadaan
Sasa, namun ia mengurungkan niatnya.
“Sasa gak ada, dia males ketemu manusia bodoh,” ujar Casey.
Gavin yang mendengarnya pun hanya menatap Casey dengan datar.
Sejujurnya, ia merasa terpukul dengan kalimat tadi. Namun semuanya salah Sasa,
kan? Gavin, Lucas dan Melvin pun melangkahkan kakinya ke meja pojok setelah
berpamitan dengan Casey dan Naomi.
48