“Lo tau, Vin? Lo Bodoh,” ucap Lucas setelah mereka duduk.
“Maksud lo?” tanya Gavin.
“Lo tau lo juga suka sama Sasa, lo bahkan udah sayang sama dia. Jangan
ngelak, semua perlakuan lo ke dia udah jadi bukti. Harusnya, lo percaya sama
Sasa. Bukan malah percaya sama uler kayak Syla dan nampar Sasa. Lo gak
mikirin perasaan dia?”
“Playboy kayak lo gak cocok nasehatin gue,” balas Gavin.
“Gue tau gue playboy. Tapi gue juga tau cara bedain yang mana yang
gatel sama yang mana yang tulus. Dalam hal ini, lo lebih bodoh dari gue,” lanjut
Lucas.
“Bahkan Sasa nangis parah di UKS. Lo dengan santai nya ngebela Syla
kayak gitu,” timpal Melvin.
“Gue gak bela dia,” elak Gavin.
“Gak bela? Lo bahkan nampar Sasa. Kurang?”
“Itu karena dia udah nusuk orang, Melvin.”
“Lo bener-bener bodoh,” ucap Melvin.
“Udah lah, makan. Percuma ngomong sama manusia bodoh satu ini.”
Tak lama setelah Lucas mengatakan itu, datanglah Syla bersama teman-
temannya. Ia mendekati Gavin dan duduk di sebelahnya. Gavin tak merespon,
jadi Syla membuka suaranya.
“Gavin, kamu gak mau nanya keadaan aku?” tanya Syla.
“Najis,” ucap Lucas.
“Apasih lo, gue gak ngomong sama lo ya. Lo sama aja kayak Sasa, udik.
Sasa nusuk gue tanpa alasan tapi lo malah kasar sama gue. Kamu belain Aku kan,
Vin?”
“Gak,” ucap Gavin singkat.
“Loh tapi kemaren kamu belain aku kok. Kamu suka kan sama aku?”
tanya Syla pada Gavin.
“Gue kecewa sama Sasa, bukan berarti gue belain apalagi suka sama lo.”
49
“Gavin, mending lo tanya ke cewek di sebelah lo. Kemaren siapa yang
salah,” ucap Lucas.
“Loh? Kok lo ngomongnya gitu? Jelas-jelas Sasa yang salah,” elak Syla.
“Lo lupa? Area wastafel kantin ada cctv nya,” sambung Melvin yang
membuat Syla gugup.
Kegugupan Syla itu membuat Gavin curiga, kenapa Syla harus gugup
kalau ia lah yang menjadi korban?
“Cerita,” perintah Gavin pada Syla.
Syla yang di tatap tajam pun akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya
tanpa ditambah ataupun dikurangi karena Lucas dan Melvin mempelototinya.
Setelah mendengar cerita Syla, Gavin segera berlari mencari Sasa dengan rasa
penyesalan yang amat mendalam. Akhirnya, ia menemukan gadis itu di kelasnya,
sedang makan bersama sahabat-sahabatnya. Gavin pun segera memasuki kelas
Sasa dan memeluk Sasa dengan erat. Sasa yang kaget pun segera melihat
pelakunya. Setelah ia mengetahui kalau pelakunya adalah Gavin, ia melepas
dengan kasar pelukan Gavin.
“Lo apa-apaan sih?! Gila ya?!” bentak Sasa tak terima.
“Maaf maaf maaf,” ucap Gavin puluhan kali sambil berusaha memeluk
Sasa kembali.
“Jangan peluk gue! Lo gak puas udah nampar gue kemarin?”
“Sa, Syla udah cerita semuanya. Please maafin aku,” ucap Gavin dengan
mata yang berlinang.
‘Aku? Dia gak lagi mabok kan?’ Ucap Sasa dalam hati.
“Keluar, gue gak mau liat lo lagi.”
“Sa.. please. Maaf.”
“Keluar!”
“Pulang bareng aku ya?” tawar Gavin.
“Gak, ada kak Dexter. Sekarang keluar, jangan temuin gue lagi.”
“Sa…”
“KELUAR, GAVIN!”
50
Akhirnya Gavin pun keluar dari kelas Sasa karena ia berpikir bahwa Sasa
memang butuh ruang. Namun, ia tak akan menyerah begitu saja. Mulai detik ini,
ia lah yang akan mengejar Sasa.
Saat Sasa sedang berjalan ke arah parkiran, Gavin buru-buru mencekal
tangan Sasa. Sasa pun menghembuskan nafasnya kesal saat melihat Gavin.
“Mau apa lagi sih?!” ketus Sasa.
“Pulang bareng aku ya? Aku belum sempet traktir kan? Please..” bujuk
Gavin.
“Gak, gue gak mau.”
“Sa.. kamu harus tau ini. Mulai sekarang, jangan ngejer aku.”
“Gue emang udah gak minat.”
“Karena aku yang bakal ngejer kamu, i love you, you should know it,”
ucap Gavin sambil menatap Sasa dalam.
Mendengar itu, Sasa sempat terdiam gugup. Namun, ia segera
melangkahkan kakinya ke mobil Dexter tanpa memperdulikan Gavin yang saat ini
masih menatap ke arah punggungnya.
51
Chapter 6
Malam hari nya, Sasa dikejutkan dengan timpukkan batu pada jendela nya.
Ia pun melihat ke bawah melalui jendela balkonnya. Sasa kaget saat melihat
Gavin berdiri sambil membawa buket bunga dan poster bertuliskan ‘Sorry Sasa’.
Ia pun segera membuka jendela balkonnya dan melihat ke arah Gavin.
“LO NGAPAIN?!” teriak Sasa karena jarak balkon dengan lantai bawah
cukup jauh.
“SA, PLEASE MAAFIN AKU. I KNOW I WAS STUPID BUT NOW
I’M NOT. PLEASE…” ujar Gavin yang ikut berteriak.
“PULANG!”
“GAK, MAAFIN DULU BARU MAU PULANG.”
“BODOAMAT, SANA UJAN-UJANAN!”
Ya. Cuaca memang sedang mendung sekarang. Tak lama setelah itu,
hujan pun mengguyur dengan berombongan. Sasa kembali melihat ke bawah dari
jendela balkon dan ia tersentak saat melihat Gavin yang masih berada di bawah
sana. Ia sudah menyuruhnya pulang, lalu mengapa lelaki itu sangat keras kepala?
Ia pun meminta tolong bibi nya untuk membawakan payung untuk Gavin dan
menyuruhnya pulang. Terlihat Gavin yang sedang menolak perintah sang bibi
agar bisa tetap menunggu Sasa. Setelah melewati waktu yang cukup lama,
akhirnya Gavin pun pulang. Entah apa yang di katakan oleh bibi nya, namun ia
harus berterima kasih untuk itu.
Keesokkan hari nya, Gavin pun masih tak menyerah. Pagi-pagi sekali ia Sudah
ada di rumah Sasa untuk menjemputnya. Ini hari Sabtu, namun Gavin sudah siap
dengan pakaian casual nya di jam delapan pagi. Kedatangan Gavin pun di sambut
baik oleh keluarga Sasa.
52
“Sasa sayang, ada yang cariin tuh di bawah,” ucap ibu nya saat membuka
pintu kamar Sasa.
Sasa yang memang sudah bangun dan sudah mandi pun turun ke bawah
untuk melihat siapa yang mencarinya. Tadi nya, ia berencana untuk pergi ke
wahana bermain hari ini, namun seperti nya ia harus mengurungkan niatnya ketika
melihat Gavin.
“Lo ngapain disini?” tanya Sasa to the point.
“Sa… jangan galak gitu dong sama temen nya,” peringat Mommy nya.
“Gapapa tante. Jalan yuk, mumpung weekend.”
“Lo ngajak gue?”
“Iyalah Sasa…”
“Gak mau, gue mau ke wahana bermain.”
“Kalo gitu kita bisa pergi bareng.”
“Ga-“
Perkataan Sasa terpotong oleh mommy nya yang sudah memaksa nya
untuk pergi bersama Gavin. Katanya agar Sasa tak bosan berada di wahana
bermain sendirian. Di dalam mobil, hanya terdengar suara musik dan beberapa
pertanyaan Gavin yang tak di jawab oleh Sasa. Gavin terus menyolong lirikan
pada Sasa yang menurutnya terlihat sangat cantik hari ini. Sesampainya di
wahana, Gavin segera menggandeng tangan Sasa.
“Le-“
“Gini aja, Sa. Biar kamu gak hilang, cantik gini banyak yang mau
nyulik.”
Sasa pun bungkam dan memilih untuk menaiki wahana pertama nya.
Roller Coaster. Gavin yang melihat wahana itu pun menelan ludahnya dengan
susah payah. Ia merasa sedikit takut sekarang. Sasa yang melihat kepucatan
Gavin pun segera menarik tangan Gavin untuk mengantre dan menaiki wahana
tersebut.
“Lo takut?”
“Gak kok, aku gak takut,” bohong Gavin.
53
Selama mereka menaiki roller coaster, Gavin merasa mual dan pusing.
Hingga saat turun, ia langsung memuntahkan isi perutnya. Gelak tawa pun
muncul di bibir Sasa. ‘Seenggaknya ketawa deh’ pikir Gavin.
“Katanya gak takut?”
“Mual, Sa..”
“HAHAHAHAHA, nih minum,” ucap Sasa sambil menyerahkan botol
mineral yang baru saja ia beli kepada Gavin.
“Udah-udah, pulang aja deh yuk,” ajak Sasa.
“Gak, jangan pulang. Kamu kan mau kesini tadi.”
“Lo aja udah pucet gitu, pulang. Nanti tambah parah.”
“Kamu khawatir ya?” tanya Gavin sambil tersenyum.
Sasa yang mendengar dan melihat senyum Gavin pun seketika menjadi
kikuk dan tak tahu harus menjawab apa. Karena memang benar, ia khawatir.
“A-apasih, enggak. Pulang atau gue pulang sendiri?”
“Jangann, iya iya ayuk pulang.”
Sasa tersenyum miring. Setidaknya sekarang ia sudah mempunyai
ancaman untuk Gavin.
Di dalam mobil, Gavin kembali membuka topik untuk di bicarakan dengan
Sasa. Sasa memang ogah-ogahan untuk membalas, namun setidaknya sudah ada
perkembangan yang terlihat.
“Makan dulu ya?” tawar Gavin.
“Hmm”
Gavin pun menepikan mobilnya di cafe Lotus, cafe kesukaan Sasa. Sasa
kaget karena Gavin mengingat cafe ini, ia kira Gavin akan melupakan makan
siang mereka saat itu. Gavin pun memesankan aglio olio dan ocean lime untuk
mereka, persis seperti saat itu. Ketika sedang menunggu makanan datang, Sasa
mendengar bunyi jepretan camera yang berasal dari ponsel Gavin. Gavin
memotretnya.
“Gavin apus gak?!”
54
“Gak mau.”
“Apus Gavin! Gue pasti aib banget.”
“Cantik kok, gemes juga.”
Blush. Pipi Sasa memerah seperti tomat dan Gavin tersenyum melihatnya.
Tak lama, terdengar bunyi notifikasi di handphone Sasa.
‘@alejandroregavinn mentioned you in their story’
Ya. Gavin memposting foto nya di story social medianya dengan caption
“mine’s too cute”. Hal itu sangat berefek pada kesehatan jantung Sasa. Sasa pun
menjadi salah tingkah sampai ketika ia menjatuhkan dirinya di kasur
kesayangannya.
Hari Minggu ini, Gavin kembali ke kediaman Sasa. Ia berniat untuk
mengajak Sasa bertemu ayahnya yang super sibuk. Sasa yang tak mengetahui niat
Gavin pun hanya menganggukkan kepalanya, yang ia tahu, mereka akan makan
bersama. Setelah meminta ijin pada mommy, daddy, dan kakaknya, mereka pun
pergi ke salah satu resto bintang lima di Jakarta.
“Kok mine?” Sasa segera bertanya sesaat setelah ia memasuki mobil
Gavin.
“Hm? Belum sih.. tapi bentar lagi juga mine” ujar Gavin.
“Gak mau.”
“Yang tadi bukan pertanyaan, itu pernyataan.”
“Lah? Maksa dong?”
“Iya hehe.”
“Ngeselin banget sih lo Vin.”
“Jangan cemberut gitu, u do look more cute.” ucap Gavin sambil sesekali
menatap Sasa.
“Apasih, gak jelas.”
“Turun.”
“Lo ngusir gue?” tanya Sasa yang tak percaya.
“We’re here, babe.”
55
“Jangan babe-babe gitu, pacaran aja enggak.”
“Kan nanti iya.”
Sasa tak menanggapi ucapan Gavin. Ia segera turun dari mobil Gavin
yang langsung di susul oleh pemilik mobil itu. Namun ketika Gavin
membawanya ke salah satu meja, ia terperangah karena ada seorang pria bule
yang sudah terlihat berumur disana.
“Hai pa,” sapa Gavin pada pria itu.
‘Pa? Papa nya?’ batin Sasa.
“Hai son! Maafin papa yang sibuk, papa jadi jarang ketemu kamu. And?
Who’s this pretty girl?”
“My girlfriend”
Sasa pun memberikan pelototan gratisnya ke arah Gavin setelah
mendengar ucapannya.
“To be..” sambung Gavin.
“Hai uncle, aku Sasa,” sapa Sasa sambil tersenyum.
“Hahahaha, you’ve grown up son. Sasa, kamu cantik sekali. Tak heran
Gavin suka sekali dengan kamu.”
“Ah? Thank you uncle.”
Makan siang mereka pun berlangsung hangat berkat adanya Sasa yang
seolah menjadi pencetak senyuman. Akhirnya, Sasa dan Gavin pun pamit.
Namun, Gavin tak membawa Sasa pulang melainkan membawa nya ke taman
yang Indah.
“Vin? Ngapain ke taman?”
“Ke bangku itu yuk,” ajak Gavin sambil menggandeng tangan Sasa
lembut.
Sesampainya di bangku tengah taman, mereka berdua saling bertatapan
dengan pandangan yang berbeda. Yang satu menatap dengan heran, yang satu
lagi memberikan tatapan memuja.
“Sa..”
56
“Ya? Kenapa deh?”
“Aku mau minta maaf karena aku sempet gak percaya sama kamu, bahkan
aku tampar kamu. Sakit ya?” ucap Gavin membelai pipi Sasa dengan lembut.
“Gue udah maafin kok, jangan mellow gini ah.”
“Boleh jujur gak?”
“Tentang apa?”
“Kita. Waktu aku pertama kali masuk kantin, aku terpanah sama tatapan
satu cewek yang lagi makan bakso sama temen-temennya. Matanya berbinar,
cantik. Gak lama setelahnya, dia terus gangguin aku. Di lapangan, dia kasih aku
botol mineral yang aku gak tanggepin sama sekali. Kamu tau kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena aku gak pernah berinteraksi sama cewek. Dan saat itu, yang
kasih minum ke aku adalah cewek yang aku puji cantik di kantin. Dari situ, dia
selalu ikutin aku. Kita ketemu di toko buku dan aku harus bayarin buku dia
karena dia gak bawa cash. Lucunya, dia traktir aku makan buat nebus bukunya.
Dia khawatir waktu hujan turun, dia takut aku sakit. Baru kali itu ada yang tulus
perhatian ke aku. Dia juga minta tolong aku untuk nebengin dia pulang sekolah,
beli buah yang lama banget dipilihnya buat dijadiin jus persiapan turnamen
basket. Tapi aku kecewain dia. Aku gak percaya sama dia bahkan nyakitin dia.
Dari situ dia berubah, dia cuek sama aku dan aku sadar kalo aku udah sayang
sama dia. Seiring berjalannya waktu, kita sering pergi bareng, aku yang minta sih
hehe. Dan yang aku paling senengin adalah, dia bisa maafin aku. I fall too deep
for her,” lanjut Gavin yang menatap dalam ke arah mata Sasa.
Sasa? Ia mulai menitikan air mata haru. Ternyata Gavin juga merasakan
hal yang sama kepada nya. Namun, untuk menggerakan bibirnya, rasanya terlalu
kelu. Sampai akhirnya Gavin kembali membuka mulutnya.
“Kamu tunggu disini dulu ya, aku mau ambil sesuatu. Tapi mata nya
harus di tutup dulu,” ucap Gavin sambil menutup mata Sasa.
“Tunggu ya, Sa. Sebentar.”
57
Tak lama, Gavin datang kembali ke bangku yang tadi ia duduki Bersama
Sasa. Ia pun memerintahkan Sasa untuk membuka penutup mata nya. Sasa
terperangah setelah melihat Gavin dengan bunga dan kotak kecil yang ia yakini
berisi perhiasan.
“This stupid man loves a perfect girl like you. Kamu nya gimana?” tanya
Gavin pada Sasa.
“A-aku..”
“Sa..” panggil Gavin yang hanya di balas dengan deheman oleh Sasa.
Dengan cuaca yang sejuk seperti ini di sebuah bangku yang berada di
tengah taman yang Indah, Sasa seperti merasakan deja vu. Namun ia masih
mengingat.. dimana ia mendapatkan perlakuan seperti ini?
“Be mine?” ucap Gavin sambil menyerahkan buket bunga kepada Sasa.
Oh tidak… kejadian ini persis seperti mimpi nya di hari ia melihat Gavin
untuk yang pertama kali. Hanya saja, kali ini Gavin membawa buket bunga dan
kotak kecil. Sasa pun merasa sangat kelu untuk menjawab. Namun, sorakan dari
arah belakang membuatnya segera berbalik badan. Dapat ia lihat mommy, daddy,
kakak, semua teman-teman dekatnya dan papa serta teman-teman dekat Gavin
yang sedang menyorakkan kata yang sama.
“TERIMA TERIMA TERIMA!” teriak mereka semua bersamaan.
Sasa pun kembali menghadap ke arah Gavin yang sedang melihatnya
dengan tatapan memuja. Lalu…
“Yes Gavin, I want,” jawab Sasa yang membuat semua orang disitu
bersorak kegirangan.
Gavin pun segera memeluk erat tubuh Sasa yang sedang memegang bunga
pemberiannya. Lalu ia membuka kotak kecil yang berisi sebuah kalung yang
cantik dan memakaikannya di leher jenjang milik Sasa.
“Ini sapphire stone namanya,” ucap Gavin sambil memakaikan kalungnya.
“Sapphire?” tanya Sasa.
58
“Yes. Sapphire necklace for Sapphire, A bouquet of lilies for Riley. I
love you, Sapphire Riley,” ujar Gavin tulus yang dihadiahi pelukan hangat oleh
Sasa.
“I love you too, kulkas berjalan.”
Semua yang ada di taman itu pun ikut berbahagia melihat Sasa dan Gavin.
Gavin lah yang menyuruh mereka untuk datang ke taman. Sebelumnya, Gavin
sudah menceritakan kesalahannya pada mommy dan daddy Sasa Serta Papa nya
dan ia juga sudah meminta maaf kepada mereka semua. Memang tak mudah.
Namun, karena ketulusannya yang terpancar, akhirnya mereka pun memaafkan
Gavin dan mendukungnya dalam acara ini.
Semua cerita punya rintangannya masing-masing. Kisah Sasa dan Gavin
menjadi guru bagi kita bahwa hanya ketulusan lah yang dapat mencairkan
kerasnya batu. Teruslah berjuang hingga ‘dia’ yang kamu sayangi bisa menyadari
ketulusanmu.
59