The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmakpenabur, 2022-04-19 21:02:09

SEPIKU - RACHEL YASASHI (12 IPS)-2022

NOVEL

Daftar Isi

Peti, Nyamuk, dan Cinta Pertama ~ 1
Penyetir Handal ~ 12
Kelinci Kesepian ~ 15
Aku Bisa Menemanimu ~ 18
Teman Baru ~ 23
Anak Kecil Bernama Rara ~ 28
Ingin Jadi Guru Saja ~ 33
Seperti Guru ~ 38
Dimana Kau? ~ 42
Aku Pulang Dulu ~ 46
Kumbang, Angin dan Kasur Tua ~ 49

Sepi

Teriring doa ku untuk
guru masa depan, Rara

Peti, Nyamuk, dan Cinta Pertama

Kisah ini berawal dari kepergian nenekku. Aku
memanggil nya “Mbah Putri”, seperti orang Jawa pada
umumnya.

Malam itu senyap. Hanya angin yang berhembus,
menyambar-nyambar pintu, melontarkan kata-kata yang
tak sempat kutangkap, dingin, hembusan angin itu dingin.
Aku duduk dengan meja belajar lipat ku yang selalu aku
gunakan ketika belajar bersama bapak. Bapak selalu
mengajari ku pelajaran yang diajarkan di sekolah. Malam
itu aku berhitung matematika. Bilangan-bilangan yang
kuhitung genap, perasaan ku yang terasa ganjil. Aku tak
pernah mengenal mbah ku itu secara dekat, bahkan
mengobrol pun tidak. Namun malam itu rasanya jiwa
kami berdekatan, ia seperti mengirimkan sinyal yang kuat
kepadaku bahwa ia ingin berpamitan pulang. “Aduh, Pak,
aku sudah gak bisa fokus lagi, nih. Perasaan ku benar-
benar gak enak.” Sambil menggaruk-garuk kepala. Pas

PAGE \* MERGEFORMAT 1

sekali, bak hujan yang turun tiba-tiba, telpon bapak
berdering. Aku tidak ingat siapa nama orang yang ada di
log panggilan, yang menelpon bapak ku malam-malam
seperti itu. “Halo?” Bapak beranjak dari tempat duduk
nya lalu mengobrol. Tak lama, bapak meminta ku untuk
bergegas menyiapkan baju-baju ku. “Untuk apa, Pak?”
Ku pikir sesuatu pasti terjadi. “Kau tahu mbah mu? Dia
meninggal dunia. Ayo cepat siapkan baju-baju untuk
beberapa hari kedepan.”

Aku kaget, perasaan ku bergetar. Aku langsung bergegas
menyiapkan baju-baju dan memasukkan nya kedalam tas
sekolah ku. Baju-baju lusuh ku itu belum aku gosok, aku
lipat sedemikian rupa sehingga dapat masuk kedalam tas
sekolah ku yang kupakai waktu masih di Taman Kanak-
kanak. “Sudah siap semua?, pastikan tidak ada yang
ketinggalan karena kita akan lama disana.” Aku menyahut
“siap, Pak!”

Kami merental mobil dari tetangga, karena bapak pada
saat itu belum mempunyai mobil pribadi. Selama di

PAGE \* MERGEFORMAT 1

mobil, aku hanya berpikir bagaimana bisa mbah ku yang
baru aku temui sekali, begitu cepat meninggalkan kami.

Aku langsung teringat bagaimana pertama kali aku
bertemu dengan nya. Ia sosok yang pendiam, bapak
sesekali bercerita bagaimana kuat dan pekerja keras nya
mbah putri ketika bapak masih kecil. Dibandingkan
dengan mbah kakung, mbah putri jauh lebih tegar, kuat,
pekerja keras dan independen. Tak heran bapak mewarisi
sifat-sifat mbah ku itu. Pertama kali aku melihat mbah
putri, ia terbaring sakit di atas kasur nya. Aku menyalim
tangan nya, ia sudah lemah dan sepuh, ia tersenyum
melihat cucu-cucu nya untuk yang pertama kali. “Halo,
Mbah.” Mbah putri tersenyum, kerutan-kerutan di
wajahnya seolah tergantikan dengan senyuman cantik
nya. Aku yakin sewaktu muda ia cantik dan terlihat
tangguh. Tak ku sangka itulah pertama kali dan terakhir
kami bertemu.

Perjalanan ke kampung pada saat itu belum ada jalan tol,
sehingga kami harus menempuh perjalanan sekitar 4 jam.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Jalan yang kami lalui benar-benar bergejolak sehingga
membuat tubuh kami terguncang.

“Kita sampai.”

bapak membangunkan kami yang sedang tidur pulas di
dalam mobil.

“Kita dimana, Pak?” aku bertanya sembari melihat
sekeliling rumah mbah yang gelap, sedikit pencahayaan,
banyak pepohonan.

“Ini namanya Tulang Bawang.”

Tulang Bawang adalah kampung halaman bapak yang
sering ia ceritakan kepada kami, masa kecil nya, masa-
masa ia berjuang dalam pendidikan. Tulang Bawang
masih sama seperti yang bapak ceritakan. Pepohonan,
listrik belum lancar dan jalanan yang belum semulus di
kota. Namun yang paling kubenci adalah nyamuk-
nyamuk yang selau menggerogoti badan kecil kami. Aku
harus selalu memakai losion nyamuk ketika disana, aroma
yang paling kusukai adalah apel, tidak menyengat tapi

PAGE \* MERGEFORMAT 1

ampuh untuk mengusir nyamuk dari kulitku, tapi bapak
selalu membelikan kami losion aroma jeruk.

Mobil terparkir dengan rapi di halaman rumah yang luas.
Disana sudah ramai orang-orang yang berkunjung dan
sibuk menyiapkan jamuan. Kami turun dari mobil, aku
menyalim tangan saudara-saudara ku untuk pertama kali.
Aku melihat lelaki dengan badan gagah nya, kumis yang
belum sempat dicukur, ia sangat mirip dengan bapak ku,
dia om ku, om Supi yang akrab disapa Upik. Aku
memanggilnya, pakle (nama panggilan om dalam Bahasa
Jawa). Aku bertemu banyak saudara ku malam itu.

“Ayo masuk ke dalam, salam sama saudara-saudara mu.”

Kami menyalami tangan-tangan yang belum pernah kami
sentuh, bahkan mengenal pun tidak, namun malam itu
adalah pertama kali kami berkumpul dengan keluarga
besar, namun berkumpul karena duka.

Malam yang dingin menyelimuti duka kami, mbah putri
tertidur pulas di dalam peti nya, seolah siap untuk diantar
pulang besok pagi.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

“Bapak gak tidur? Ini sudah larut” ucap ku kepada bapak
yang masih mengobrol dengan saudara kami.

“Nanti.” jawab nya singkat.

“Oke deh, kalau gitu aku tidur ya.” Aku mengambil bantal
dan guling serta selimut dan bersiap untuk tidur. Aku tidur
diatas lantai beralaskan tikar zaman dulu yang masih
menggunakan anyaman, yang menjiplak ketika kita tidur
di atasnya. Seringkali aku bangun dari tikar itu, badan ku
sudah terukir jiplakan serat serat tikar. Badan ku pegal
karena tidur di atas lantai tanpa kasur yang empuk. Hanya
tubuhku lah sasaran empuk bagi nyamuk.

Aku tertidur pulas dan berharap dapat bertemu dengan
mbah ku di dalam mimpi, ternyata tidak. Aku bangun dari
tidur ku dan langit sudah cerah. Aku melihat keramaian
orang-orang yang sibuk menyiapkan pemakaman mbah
ku. “Rachel, segera mandi, lalu siap-siap untuk
pemakaman mbah ya, kita ada ibadah sebelum itu.” aku
bergegas mengambil handuk, peralatan mandi dan baju
ganti yang akan kupakai di pemakaman mbah ku.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Melihat kamar mandi mbah, aku sangat tidak ingin mandi.
Kamar mandi itu kamar mandi terburuk nomor ke sekian
yang pernah ku lihat. Yang pertama adalah kamar mandi
sekolah ku waktu di sekolah dasar. Bau pesing nya
semerbak dan kotor nya, minta ampun! Banyak tulisan-
tulisan yang tak senonoh di dinding kamar mandi, jika
kamar mandi SD diibaratkan tempat bersejarah, berarti
mereka telah melakukan vandalisme. Kamar mandi kedua
adalah toilet di sekolah ku sewaktu aku duduk di sekolah
menengah pertama. Tak habis pikir mengapa sekolah
negeri favorit di kota ku itu bertoilet seperti itu. Dan
kamar mandi yang kesekian adalah kamar mandi mbah
ku. Pemandangan yang tidak enak adalah bahwa lantai
kamar mandi itu belum dikeramik, masih beralaskan
semen yang tidak rata. Lumut yang menempel di lantai
semen, akibat proses pelapukan kimiawi. Ditambah
sumur di depan pintu kamar mandi, yang menambah poin
horror di rumah itu. Aku membuka pintu kamar mandi
yang masih terbuat dari kayu, aku yakin pintu itu sudah
berpuluh tahun tidak diganti. Aku menggantung handuk
dan baju ganti ku serta meletakkan peralatan mandi di
pinggir bak mandi.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Aku keluar kamar mandi dan menuju ruang tamu dimana
saudara-saudara dan tetangga berkumpul. Pak pendeta
sudah datang dan siap untuk memimpin ibadah sebelum
pemakaman. Kami duduk di belakang sofa di samping
peti. Aku tidak sampai melihat mbah ku tertidur di dalam
sana, namun aku yakin ia tetap cantik dan sabar meski
menunggu 24 jam untuk dipulangkan.

Ditengah ibadah, orang-orang menangis dan hanya aku,
kakak perempuan ku dan adik ku yang tidak mengerti
mengapa mereka harus menangis. Ketika aku mencari
bapak, aku menemukan nya dengan mata yang merah, air
sudah tak tahan ingin luruh dari mata bapak. Ia menangis,
dan itulah pertama kali aku melihat orang terkuat di
hidupku menangis setelah hidup bertahun-tahun dengan
nya. Bapak bisa serapuh itu karena ibu tercinta nya pergi
kepangkuan Tuhan. Ketika bapak menyuruh ku dan kakak
ku untuk mengolesi minyak terakhir ke dalam peti mbah,
aku hanya bersembunyi di balik sofa. Itu penyesalan ku.

Peti mbah sudah siap dan kami menggiring ke
pemakaman nya. Ia dimakamkan tidak jauh dari rumah, di

PAGE \* MERGEFORMAT 1

ujung ladang karet. Ia bilang ia ingin dimakamakan
berdua dengan mbah kakung jika kelak mbah ku juga
meninggal dunia. Kami sampai di pemakaman dan aku
melihat galian kubur yang begitu dalam, membayangkan
bagaimana sepi nya jika aku di dalam liang itu sendirian.
Nisan pun ditancapkan dengan bertuliskan nama
“Kardinah”.

Mbah sudah dimakamkan dan langit terasa mendung,
kami masing-masing pulang dan berdiam diri di rumah.
Orang-orang berduka atas kepergian mbah ku. Memori itu
masih terasa jika aku pergi kesana. Ruangan kamarnya
yang kecil, dengan kasur oranye nya, dan lemari tua nya
yang ia pakai untuk menyimpan baju-baju nya. Aku
melihat foto mbah yang memakai seragam suster yang
terpajang di depan kamar nya. “jadi mbah putri itu
dulunya suster, Pak?” aku bertanya kepada bapak. “iya
dulunya.”

Orang-orang masih berkabung, begitu juga bapak. Aku
melihat mbah kakung yang juga masih bersedih atas
kepergian isteri nya yang sudah lama menemani nya

PAGE \* MERGEFORMAT 1

sampai detik-detik terakhirnya. Dia berkabung, itu cinta
pertamanya.

Sepulang nya kami dari Tulang Bawang, bapak bercerita
tentang penyebab kematian mbah putri.

“Mbah itu sakit ya, Pak?” aku bertanya.

“Iya sakit, sakit nya sudah komplikasi.”

“Komplikasi?”

“Ya, komplikasi itu kalau sakitnya sudah macam-
macam”.

Bapak bilang orang tua tidak boleh banyak makan
makanan yang mengandung kolesterol karena saat tua,
tubuh manusia tidak begitu aktif memproses lemak dan
gula. Karena minimnya pengetahuan akan kesehatan,
mbah tidak begitu aware dengan pentingnya makan
makanan yang sehat. Juga saat itu di kampung, mereka
tidak makan makanan yang cukup gizi.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Selain karena sakitnya, Tuhan sayang mbah ku, sehingga
dia memanggil nya untuk berpulang.

Penyetir Handal

Hari-hari berlalu, sepulang nya kami dari Tulang Bawang,
bapak tidak banyak bicara. Dia butuh waktu untuk move

PAGE \* MERGEFORMAT 1

on dari kesedihan hari itu. Pagi-pagi sekali bapak seperti
biasa menyiapkan sarapan untuk kami. Aku yang kala itu
masih di bangku sekolah dasar, selalu diantar jemput oleh
abudemen ku yang bernama Om Gono. Sampai sekarang
kami tidak tahu nama aslinya, karena dia selalu melarang
kami untuk melihat KTP nya, jadilah kami panggil dia
Om Gono. Om Gono mengantar ku jika bapak sedang
dinas ke luar kota. Biar ku jelaskan sedikit tentang Om
Gono, dia laki-laki yang bertanggungjawab atas keluarga
nya, pekerja keras dan bisa diandalkan. Ia terkenal
pembawa motor seleboran sekelas abudemen, biasa
membonceng 3 sampai 4 anak sd di atas motornya. Selain
itu, Om Gono juga berkeinginan keras terhadap cita-cita
nya. Pernah suatu kali, ia berencana membeli mobil pick
up dan peralatan pesta. Kakak ku bercerita saat ia
menabung untuk membeli mobil pick up, ia sering hanya
makan nasi dengan telur. Telur dengan varian apapun,
diceplok, didadar, direbus hingga disambal. Tak
terbayang bisul yang bisa muncul akibat keseringan
makan telur. Tak heran, gaji yang didapat nya, tidak akan
cukup untuk membeli mobil jika ia tetap makan makanan
yang mahal. Jadilah telur itu pilihan yang terbaik.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Begitupun dengan setelan yang ia pakai jika menjemput
kami. Celana jeans, kaos oblong, dan jaket kulit
kebanggannya. Ia jarang terlihat bergaya berlebihan dan
selalu menghemat pengeluaran nya. Tak hanya makanan
dan pakaian, Om Gono juga memakai furniture bekas
yang pernah bapak berikan, meja belajar contoh nya.
Namun ia selalu bersyukur atas apa yang ia punya dan
dapat. Ia selalu dapat menyetir kapal kehidupan keluarga
nya dengan bijaksana dan sabar. Om Gono bilang bahwa
rezeki sudah ada yang mengatur, jadi tidak usah risau.
“Soal gaya, gak usah berlebihan, om kan sudah ganteng.”
Ujar nya.

“Tin-tin” suara motor nya khas, motor gigi yang selalu
mengantar kami pergi dan pulang sekolah. “Ayo cepat,
Om Gono sudah nunggu di depan, hari ini bapak gak bisa
antar ya. Nanti pulang dengan Om Gono.”

Aku cepat-cepat pergi dan menghampiri Om Gono. Tas
kami digantungkan di stang motor nya. “siap gak?” Om
Gono bertanya sambil tersenyum. Wajahnya mirip
vokalis Peterpan yang berinisial AN itu. Satu yang bisa

PAGE \* MERGEFORMAT 1

dibanggakan dari Om Gono selain kepiawaian nya
mengemudi motor adalah, wajah nya yang lumayan
tampan. Ia selalu bangga dengan wajah nya yang mirip
AN. “gimana, om ganteng kan?” pedenya manusia satu ini
mengakui dirinya sendiri. “yaelah om, iya deh om paling
ganteng. Ayo cepet keburu telat.”
Ia memasukkan gigi satu, lalu menarik gas nya. Gigi dua
lalu gigi tiga. Motornya melaju kencang dengan gaya zig-
zag nya, kadang juga ia lepas tangan dua. “om pelan pelan
dong.” Ia menyebut dirinya rosi kw tapi kami
menyebutnya Penyetir Handal!.

Kelinci Kesepian

Dua hal konyol yang pernah kuminta kepada Bapak.
Salah satunya kelinci. “Pak, aku mau pelihara kelinci.”

PAGE \* MERGEFORMAT 1

bapak tidak begitu meresponi permintaan ku karena ia
tahu bahwa aku belum bisa bertanggung jawab untuk
mengurus hewan peliharaan. Namun aku memaksa bapak
untuk membelikan nya. Suatu siang yang panas, bapak
pergi bersama adik laki-laki ku yang dipanggil baco
(panggilan untuk anak bugis laki-laki). Bapak dan baco
pergi menumpangi angkot. Aneh sekali ku pikir, mereka
pergi namun motor masih ada di rumah. Bapak mengetuk
pintu dan membawakan kelinci sekaligus dengan kandang
nya. Kelinci itu kelinci yang bapak belikan di pinggir
jalan, kelinci murah. Tidak apa, bulu nya tetap lembut dan
setidaknya aku tidak begitu merasa bersalah karena harga
kelinci itu murah. Aku senang bukan main. “Bapak
beneran beli ini buat aku?” aku bertanya. “Iya, tapi harus
rajin belajar ya dan jangan lupa kelinci nya dirawat,
seperti kamu merawat barang kesayangan mu.”

“Makasih ya, Pak! Pokoknya aku janji bakal rawat ini
seperti rumah-rumahan Barbie aku.”

Bapak cerita sulitnya membawa kelinci itu sewaktu di
angkot. Orang-orang pada melihat kearah bapak dengan

PAGE \* MERGEFORMAT 1

dua kelinci kecil di dalam kandang. Baunya yang pesing,
panas yang terik dan adik ku hanya minum es jeruk karena
tak tahan lagi. Namun minimnya pengetahuan,
membuatku tidak tahu perawatan apa yang penting untuk
kelinci ku itu. Aku hanya sering memberikan nya wortel,
jagung dan kangkung. Aku terlalu malas untuk
membersihkan kotoran kelinci ku itu yang sudah
menumpuk di bawah kandang. Ternyata tidak mudah
untuk memelihara kelinci. Pagi hari, aku melihat kelinci
ku terbaring dingin tak bernapas di dalam kandang nya.
“Bapak! Coba lihat ke sini, kok dia gak bergerak ya.”
sambil menunjuk kelinci ku. “Waduh, dia sudah mati.”
aku sedih dan bertanya-tanya mengapa ia bisa mati begitu
cepat. “Kelinci nya kedinginan.” aku baru ingat kalau aku
lupa memasukannya kedalam rumah atau setidaknya
memberikan ia penutup kain di kandang nya agar angin
tidak masuk.

Hari-hari berlalu dan sepertinya kelinci ku yang masih
hidup, tak tahu caranya menjalani hidup sendirian tanpa
teman. Keesokan harinya, aku melihat bangkai kelinci
sudah tergeletak di dalam kandang. Ya, mati satu, mati

PAGE \* MERGEFORMAT 1

satu lagi. Aku melihat kelinci bungsu ku itu terbujur kaku.
Aku sadar bahwa kelinci tidak dapat hidup sendirian di
dalam kandang, bila teman sekandang nya mati, itulah
kiamat bagi dia. Seperti halnya kelinci, manusia juga tidak
dapat hidup sendiri. Begitu yang dialami mbah kakung,
seperti kelinci yang kesepian tanpa teman di rumah tua
nya. Usia nya sama dengan rumah yang ia tinggali, sama-
sama tua. Ia perlu pendamping hidup.

Aku Bisa Menemani Mu

Liburan sekolah tiba, teman sekelas ku bercerita sebelum
liburan bahwa mereka bersiap-siap akan pergi ke
Bandung dan Jakarta. Kota besar itu terbesit dipikiran ku
betapa tinggi nya gedung pencakar langit yang cantik

PAGE \* MERGEFORMAT 1

ketika malam hari, bisa bermain di mall yang besar atau
ke tempat wisata keren. Bapak mengajak kami berlibur,
tetapi tidak ada opsi lain selain Tulang Bawang. Ya, kami
tidak ditawari untuk berlibur melihat gajah di Way
Kambas (nama tempat budidaya gajah di Lampung),
ataupun pergi ke kebun binatang. Ku pikir liburan kali ini
akan menyenangkan, rekreasi ke pantai bersama keluarga
atau sekadar bermain di wahana anak.

“Tulang Bawang lagi, Pak?” tanya ku.

“Iya, kita mau tengok mbah kakung, sudah lama gak
main kesana”.

Satu hal yang pertama kali terbesit dipikiran ku, kamar
mandi nya. Amboi! Bagaimana bisa aku akan
menghabiskan liburan kami di rumah tua itu, sarang
nyamuk dan kamar mandi yang tak sedap dipandang
mata. Namun aku tetap bersiap. Malam itu kami pergi ke
supermarket untuk membeli bahan makanan selama di
kampung. Empat kantong plastik cukup untuk kami bawa
ke rumah mbah. Sesudah membeli bahan makanan, kami
bersiap untuk tidur agar besok pagi bangun dengan energi

PAGE \* MERGEFORMAT 1

baru. Anak-anak seperti kami jarang tidur lewat jam 12
malam.

Paginya kami bangun dengan tas yang sudah siap di atas
sofa untuk diangkut ke dalam mobil. Mobil pick up tua
yang bapak pinjam dari kantor. Kami memasukkan tas
dan kantong plastik yang berisikan bahan makanan. Mobil
itu sempit sekali, bayangkan saja, hanya ada satu kursi
yang ukuran nya agak panjang di samping pengemudi,
dan kami duduk disitu bertiga. Kakak ku, aku, dan adik
ku. Kami duduk dengan jarak hanya satu milimeter. Yang
membuat mobil itu terasa sumpek adalah dua boneka
beruang yang kami bawa masuk. Boneka itu adalah
boneka pemberian bapak yang sudah kami minta dari
lama. Selain itu, ac mobil yang tidak berfungsi
sedemikian rupa, membuat panas nya dunia menjadi
terasa perfect seperti lagu Ed Sheeran. “Aduh aduh, kalian
yakin membawa 2 boneka seperti ini? Memangnya gak
sempit?” ujar bapak yang melihat betapa penuh nya mobil
tua itu. “Gak apa apa kan, Pak? Aku sih lebih nyaman
begini hehe.” bapak tidak ambil pusing dan langsung
menancapkan gas nya.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Mobil melaju dengan kecepatan stabil dan kami banyak
mengobrol di dalam mobil.

“Kenapa harus pergi ke Tulang Bawang, Pak?” tanya ku.

“Kamu harus tau kampung halaman mu sendiri, lho.”
jawab bapak. Ku pikir tanpa harus dibawa ke sana aku
tahu jika ditanya oleh orang, dimana kampung halaman
ku, aku bisa menjawab “Tulang Bawang”. Aku pasrah
saja toh, kami sudah diperjalanan menuju kampung
halaman.

Perjalanan ke Tulang Bawang masih sama seperti
beberapa tahun yang lalu. Jalanan masih berlubang
dengan pemandangan hutan di kanan kirinya. Orang-
orang disana lebih banyak menghabiskan waktu nya
untuk bekerja sebagai pengarit getah karet, sehingga
pohon karet menjadi salah satu pohon pengharapan
mereka untuk mencari nafkah atau sesuap nasi.

Sedikit lagi kami sampai, namun jalanan dari depan ke
dalam begitu rusaknya sehingga memakan waktu yang
cukup lama untuk sampai ke rumah mbah. Bunyi mobil

PAGE \* MERGEFORMAT 1

tua itu sudah tidak enak lagi didengar, mobil pengangkut
barang- barang dari kantor bapak. Sekitar 10 menit kami
sampai. Rumah mbah di sebelah kiri. Rumah paling ujung
dengan desain rumah sederhana. Mobil berbelok ke
sebelah kiri dan tampak rumah tua yang sudah mbah
tinggali bertahun-tahun. “Akhirnya sampai!, huh gak
tahan banget di dalam mobil ini.”

Kami bertiga turun dan menggendong tas kami masing-
masing dan boneka beruang yang kami peluk. Kami
masuk dan meletakkan barang-barang ke dalam rumah
mbah. Kami melihat sudah ada seorang perempuan tua,
tinggi, dengan rambut diikat.

“Siapa itu, Pak?” aku bertanya penasaran tetapi bapak
tidak menjawab dan langsung menyuruh ku untuk masuk
ke dalam rumah. Aku langsung menyalami tangan mbah
ku itu dan perempuan tua itu. Ternyata mbah ku sudah
menikah dengan nya. Mbah bercerita bahwa mereka
sudah melangsungkan pemberkatan pernikahan di gereja.
Dia menjadi mbah tiri ku dan aku memanggilnya, Mbah

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Putri. Mbah putri berasal dari daerah yang tidak jauh dari
Tulang Bawang.
Aku bertanya mengapa mbah menikah dengan perempuan
yang terlihat judes itu. Dia hanya menjawab “dia bisa
menemani ku.”

Teman Baru

Kami membereskan bahan makanan dan memasukkannya
ke dalam kulkas tua. Kulkas itu masih berfungsi dengan
baik. Kulkas satu pintu berwarna silver dengan pemakaian
watt yang rendah dari biasanya, dingin nya tidak terasa.
Setelah kami memasukkan makanan ke dalam kulkas, aku

PAGE \* MERGEFORMAT 1

melihat dua kakak beradik datang ke arahku. Aku mundur
dan menutup kulkas setelah mengambil makanan dari
dalamnya. Kulihat dua kakak beradik itu membuka kulkas
dan mengambil makanan-makanan milik ku. Aku
bergumam dalam hati mengapa mereka mengambil
makanan-makanan itu tanpa izin atau setidaknya bertanya
kepadaku. Aku langsung mencari bapak, “Pak, ada dua
anak di dapur yang ngambil makanan kita, Pak.” aku
mengadu. Tidak lama, dua kakak beradik itu keluar dari
dapur dan menghampiri orang tua nya yang sedari tadi
mengobrol dengan mbah ku. “Ayo, Maya kita pulang.”
Ibu nya memanggil kakak beradik itu. “Mari, Mbah.
Matur nuwun nggih, Mbah.” Ibu nya berpamitan kepada
mbah. “Sami-sami.” mbah kakung menjawab.

Aku langsung menghampiri kakak ku dan berkata kepada
nya “Oh, jadi nama dia Maya, ya tis?” Tis adalah
panggilan untuk kakak perempuan ku, namanya Tiesta.
Aku jarang memanggilnya kakak karena sudah terbiasa
dengan sapaan “Tis”. Kakakku menjawab “Iya namanya
Maya, tadi ibu nya kesini ngobrol sama Mbah. Aku sih

PAGE \* MERGEFORMAT 1

dengar Ibu nya ngobrolin tentang Maya, tapi gak tau
ngobrolin apa.”

Dia Maya, anak perempuan berambut pendek hampir
seperti potongan rambut laki-laki, tinggi nya 10 senti
lebih dariku. Aku memanggilnya Mbak Maya karena
lebih tua tiga tahun dariku. Esok harinya ia datang
kembali ke rumah mbah dan mengajak ku main. Dia
mengetuk pintu dan mengobrol dengan mbah kakung. Dia
menjulurkan tangan nya kepada ku. “Halo, nama nya
siapa?” ia tersenyum. “Aweng.” Aku tersenyum sambil
menjulurkan tangan. Hanya nama itu yang dapat aku
sebut ketika bertemu dengan orang-orang disana. Mereka
pun akan sulit menyebut nama Rachel dengan aksen
Amerika. Aku tersenyum kepada Maya dan setelah itu
kami menjadi akrab. Kami bermain dari pagi hingga sore
hari. Mainan yang paling sering kami mainkan adalah
tapak gunung. Teman ku yang paling jago bermain sudah
tentu Maya. Yang kedua, Rohimin dan yang ketiga Mbak
Ruli. Rohimin adalah adik dari Maya dan Mba Ruli adalah
teman dekat Maya.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Hari itu kami membuat vlog berkeliling ladang karet
menuju pemakaman almarhum mbah putri. Teman-teman
ku itu selalu mau menemani kami bepergian ke ladang dan
ziarah ke pemakaman. “Hai semua, jadi kita lagi mau ke
ladang nih.” Aku memegang kamera Kodak tua milik
bapak. “Wohoo! Halo ghais! Jadi nama ku Maya dan kita
di hutan belanatara nih gais.” Maya menyahut dari
belakang ku. Maya memang heboh dan melebih-lebihkan
sesuatu. Kadang ia bilang rumah mbah ini rumah yang
“buesarrrr sekali” dan ladang karet ia sebut hutan
belantara. Wajah mereka sangat senang di depan kamera,
kalau kata orang Jawa, sumengringah.

Sepulangnyaa kami dari ladang, kami berkumpul dan
berunding untuk membuat video dance menirukan
boyband cilik Coboy Junior yang saat itu sedang hits. Aku
berperan menjadi Bastian tetapi Maya lah yang lebih
mahir menirukan Bastian dengan gaya salto nya. Aku
menyebutnya SUPER!. Kami merekam dan menirukan
gaya Coboy Junior dengan lagu nya Kamu.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Maya pernah bercerita cerita horror nya. Kami berkumpul
dan membuat sebuah lingkaran. Maya mulai bercerita.
“Aku punya cerita seram. Waktu itu mati lampu dan aku
mencari ibu ku. Pas aku liat, aku langsung peluk tapi
malah nembus. Itu hantu”.

Kejadian itu membuat aku sedikit takut karena saat malam
hari, rumah-rumah disana sangat gelap. Jika melihat
pohon, aku hanya membayangkan rupa-rupa hantu yang
ada dikepala ku. Karna cerita seram dari Maya, aku jadi
takut pergi ke kamar mandi.

Aku pernah berjanji untuk membawakan mereka kertas
binder bergambar yang kala itu trend dikalangan anak-
anak.

Sehari sebelum pulang, kami menanam botol berisikan
surat perjanjian kami. Aku menyebutnya botol
persahabatan. Botol itu kami kubur di bawah pohon yang
tanah nya kami gali manual.

Hari libur selesai, kami harus kembali pulang untuk
melanjutkan aktivitas produktif kami. Awalnya kupikir

PAGE \* MERGEFORMAT 1

liburan ini takkan menyenangkan, tapi justru sebaliknya.
Aku malah rindu kampung halaman ku itu sebelum
kembali ke Bandarlampung. Aku rindu kenangan dengan
teman-teman ku. Aku pergi dengan perasaan berat hati
dan berpamitan kepada mereka. Ah kawan, ternyata jika
kita hanya mengeluh dan menghindari sesuatu yang tidak
kita sukai, kita melewatkan hal-hal berharga yang tak
pernah terpikirkan.

Anak Kecil Bernama Rara

Tahun-tahun berlalu, kami merindukan kampung halaman
itu dengan pelbagai kehangatan orang-orang nya. Tiga

PAGE \* MERGEFORMAT 1

hari lagi liburan lebaran Idul Fitri, kami bersiap akan
pulang ke Tulang Bawang. Bedanya, kali ini aku yang
lebih antusias dibanding bapak. Aku membawa barang-
barang yang sudah kusiapkan sedari malam. Pagi itu
udaranya segar dan kami sudah siap untuk berangkat.
“Sudah siap?” bapak bertanya kepada kami yang sudah
bersemangat di kursi penumpang. “Siap, Pak!” ujar ku
yang paling semangat.

“Puji Tuhan ya, Pak, kita udah gak naik mobil tua itu
lagi.”

Kami menaiki mobil Rush berwarna silver yang bapak
beli sekitar satu tahun yang lalu. Mobil segera melaju,
bapak melepaskan kopling nya dan menginjak gas. Satu
hal yang masih sama, jalanan di Tulang Bawang masih
berlubang. Satu hal yang memang menjadi perjuangan
kami ketika ingin pergi kesana.

Satu hal yang kusuka, tidur di dalam mobil dengan ac
yang dingin. Aku hanya tidur sepanjang perjalanan,
sesekali terbangun untuk memakan camilan. Aku tidur
sampai mobil terparkir di halaman rumah. Kami sampai.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Aku berjalan keluar mobil hendak mencari mbah kakung.
Tapi yang kulihat justru seorang perempuan yang berbeda
dari yang sebelumnya. Aku melihat nya sedang
membersihkan daging ayam di dapur luar. Aku masuk dan
membereskan barang-barang dan kue lebaran yang segera
kuletakkan di atas meja. Aku melihat dua mesin jahit dan
peralatan menjahit lainnya. “Ini punya siapa ya, Pak?” aku
bertanya kepada bapak. Pohon natal tua yang sudah
sedikit gundul itu diletakkan di atas meja berkururan
sedang. Aneh, itu hari raya Idul Fitri bukan Natal. Aku
segera masuk dan menghampiri wanita tua itu lewat
dalam dan menyapa nya. “Halo, Mbah.” Aku heran
siapakah gerangan wanita tua ini? Aku banyak mengobrol
dengan nya dan kami benar-benar langsung akrab. Dia
adalah mbah tiri ku, pengganti mbah ku yang sebelumnya.
Bedanya, ia lemah lembut dan tidak judes. Ia berpakaian
seadanya dan tidak banyak protes. Aku melihat sertifikat
di dinding yang bertuliskan nama mbah perempuan ini.
Sertifikat itu adalah sertifikat sekolah menjahit yang
bertuliskan nama Umi Daryani. Tahu mengapa mbah
kakung menikah lagi? mbah putri bercerita bahwa
perceraian mbah kakung dikarenakan ia diperas oleh

PAGE \* MERGEFORMAT 1

mantan isterinya. Ya, aku memang sudah berfirasat tidak
enak kepadanya. Melihat dari wajahnya saja aku sudah
tidak yakin dia orang yang tulus.

Mbah putri tidak sendiri, dia membawa cucu perempuan
nya yang manis, berbadan cukup besar untuk seusia nya.
Cocok disebut anak singkong. Kakinya seperti singkong
kecil yang keras. Rambutnya pendek kriwil. Bukan hanya
kakinya yang keras seperti singkong, ternyata memang
hidupnya pun keras. Dia menghampiri ku dan menyalam
tangan ku.

Akupun bertanya “siapa nama kamu?”

“Rara, Mbak. Namaku aslinya Mutiara.” ia tersenyum
malu.

Aku segera memberikan kue-kue ku kepada Rara. Aku
menyukai Rara dengan kesopanan nya sebagai anak kecil
kepada orang yang lebih tua.

Mbah kakung tidak pernah memberi perhatian kepada
Rara sebagai mbah. Jika kulihat, Rara memang

PAGE \* MERGEFORMAT 1

dicucutirikan oleh mbah kakung. Sungguh aku kaget
ketika pertama kali melihat mbah kakung memarahi Rara.
Masalahnya sepele, Rara hanya tidak sengaja memainkan
kunci motor yang diletakkan di atas meja tamu, yang
ternyata adalah milik tamu. Mbah kakung merasa tidak
enak dengan tamu, lalu memarahi Rara. “Kamu ini nakal
ya. Cepat kasih kunci nya.” Kira-kira begitu ia memarahi
Rara pakai bahasa Jawa. Rara yang tidak mengerti hanya
menangis dan kami mencoba untuk menghentikan mbah
kakung yang marah kepadanya. Aneh, anak kecil seperti
dia mana pantas untuk diperlakukan seperti itu apalagi
sampai mau dikuncikan di dalam kamar.

Bapak pernah bercerita bahwa perbuatan mbah kakung
kepada Rara adalah sebagai wujud disiplin nya, yang
padahal tidak perlu. Orang tua tidak perlu marah-marah
sebegitunya. Mereka hanya perlu mengingatkan dan
menegur dengan lembut.

“Kasihan dong ya si Rara, Pak.” aku berkata kepada
bapak.

“Ya begitulah mbah mu, dari dulu juga begitu.”

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Bapak bercerita bahwa mbah kakung jarang memberikan
perhatian nya kepada bapak yang dulu masih di sekolah
dasar. Perhatian itu terbagi dengan adik laki-laki nya yaitu
Om Upik. Bapak lebih sering ditinggal sendirian di rumah
ketika masih jam 3 subuh. Mbah kakung dan mbah putri
pergi ke ladang bersama Om Upik yang masih digendong.

Ingin Jadi Guru Saja

Aku menyetel lagu Rindu dari Banda Neira. Seakan
mengekspresikan betapa rindu nya aku dengan kampung
halaman ini. Begini liriknya,

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Rumah kosong. Sudah lama ingin dihuni. Adalah teman
bicara, siapa saja atau apa, siapa saja atau apa. Jendela,
kursi, atau bunga dimeja, sunyi. Menyayat seperti belati.
Meminta darah yang mengalir dari mimpi.

Rara menghampiri ku, “lagu apa itu, Mbak?”

“Oh ini lagu Banda Neira, Ra. Kamu ndak tau ya.”

Rara hanya tersenyum dan aku menawari nya kue. Aku
banyak mengobrol dengan Rara dan dia adalah anak yang
pandai. Pandai memasak, pandai berhitung, dan yang tak
disangka adalah dia bisa menjahit menggunakan mesin.
Sewaktu ada tamu pun ia yang membuatkan wedang.
Pernah suatu kali aku melihat ia membuat makanan
tradisional, lambang sari. Dia membuat adonan nya
sendiri dan membawa buku yang bertuliskan “Resep
Makanan Nusantara.” Aku lekas bertanya kepadanya
darimana ia bisa membuat lambang sari itu. Ia menjawab,
“dari sini mbak, dari buku ini.” sambil mengangkat buku
resep itu. Buku itu buku tua, cetakan 2015.

“Darimana kamu dapat buku ini, Ra?”.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

“Dari.., gak tau, Mbak, eyang yang kasih ke aku”.

Dia memanggil mbah putri dengan sebutan eyang. Aku
mengagumi Rara yang begitu pandai dalam segala hal
yang ia coba. “Rara pinter deh.” aku tersenyum melihat
nya. Rara memasukkan satu persatu adonan yang sudah ia
bungkus dengan daun pisang ke dalam panci.

“Ini dikukus, Mbak, namanya.” ujar Rara mengajariku.
Aduh, Tuhan, kenapa anak seperti dia harus tinggal di
tempat seperti ini. Aku bergumam dalam hati. Seharusnya
jika ia tinggal di kota, atau setidaknya sekolah di tempat
yang bagus, pasti dia lebih bisa berkembang.

Malam hari dingin, angin bertiup sejuk dan suara-suara
jangkrik yang selalu menemani kami saat malam hari.
Kami jarang menonton televisi karena tidak ada acara
yang menyenangkan. Aku melihat Rara yang sedang
membaca buku di atas sofa yang akan ia tiduri. Itu sofa
tua yang sudah tidak layak diduduki, apalagi ditiduri. Dia
mengalasi sofa tua itu dengan sarung nya. Aku duduk
disamping nya.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

“Rara, lagi ngapain?” aku bertanya.
“Lagi mbaca, Mbak.”
aku melihatnya membaca buku resep-resep nusantara itu.
Hatiku tersentuh, terlebih ketika ia bilang bahwa ia sudah
membaca nya berulang kali.
“Aku baca ini sudah berapa kali, tebak, Mbak.” dia
menyodorkan pertanyaan tebakan.
“Hmmm, dua kali pasti.”
“Aku udah baca ini puluhan kali, Mbak.”
“Kenapa cuma buku itu, gak yang lain?”.
Dia menjawab sambil membolak-balikkan lembar buku
itu.
“Aku cuma punya buku ini, Mbak. Buku yang ku bawa
dari rumah ku, ya cuma ini”.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Aku lekas bertanya kepada Rara perihal cita-cita nya.
“Kamu mau jadi apa, Ra, kalau sudah besar nanti? Mau
jadi dokter ya?”.

“Mau jadi guru, Mbak.” jawabnya.

“Kenapa gak dokter? Atau pilot?” pungkas ku.

“Enggak, Mbak, aku mau jadi guru saja”.

Hati ku benar-benar tersentuh saat ia bilang ingin jadi
guru saja. Pasalnya, pekerjaan menjadi guru adalah
pekerjaan paling mulia yang bergaji tidak seberapa jika
dibandingkan dengan dokter. Guru-guru di sana lebih
banyak mengabdi daripada hanya sekadar mencari gaji.
Cita-cita teman seangkatan ku jika ditanya ingin menjadi
apa, mereka kebanyakan menjawab ingin menjadi polisi,
dokter, pilot, pengusaha kaya dan pekerjaan-pekerjaan
lain yang menghasilkan banyak uang. Rara memang
berbeda, ia tulus dan bersahaja.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Seperti Guru

Kenyataan nya adalah bahwa Rara sering putus sekolah
karena pindah-pindah mengikut mbah putri. Ia jarang
sekali menetap di rumah ibu nya untuk bersekolah. Mbah
putri bercerita bahwa Rara sudah tiga kali pindah sekolah.
Mbah tidak punya banyak uang untuk menyekolahkan
Rara. Rara pernah bersekolah di dekat rumah mbah

PAGE \* MERGEFORMAT 1

kakung, jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 800 meter dari
rumah. Rara sering berjalan kaki dan jarang mendapat
uang saku. Mbah putri lebih sering memberinya diam-
diam, itupun tidak banyak, hanya dua ribu rupiah. Mbah
Putri tidak memiliki banyak uang, hanya penghasilan dari
menjahit saja. Pernah suatu kali mbah mendapat pesanan
borongan dari salah satu TK yang menjahit seragam.
Mbah sangat senang karna dari sanalah uang yang ia
peroleh untuk membeli kebutuhan nya sebatas bedak,
parfum, atau memberi Rara uang jajan. Mbah masih
berjiwa muda, ia bilang ia tetap ingin memakai parfum
agar wangi dan bedak untuk pergi saja. Memanglah
terkadang ia memakai bedak walau di rumah saja, dia
bilang biar cantik. Ia memakai bedak tabur yang dibeli di
warung dekat rumah.

Rara bilang bahwa ia ingin menjadi seperti guru di
sekolah nya. Aku tidak begitu ingat siapa nama ibu guru
itu, namun Rara terinspirasi oleh nya. “Aku mau jadi
kayak bu guru itu, Mbak.”

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Mbah bercerita suatu pagi, hari pertama Rara bersekolah,
ia mengendong tas nya dan siap untuk pergi ke sekolah.

“Sudah siap, Ndok?”

“Sudah, Mbah.” jawab Rara

“Mbah cuma punya dua ribu, dijajani sebisanya ya,
Ndok.”

“Iya, Mbah.”

Rara melewati tapak jalan berbatu, dengan sejuknya udara
pagi. Dia tidak banyak bicara selama jalan kaki menuju
sekolah. Burung-burung yang berkicau, dedaunan yang
gugur dan angin yang menyambar-nyambar uang dua ribu
rupiah yang ia pegang dengan sematan ibu jari dan
telunjuk nya, itu pegangan tipis, menemani perjalanan
kecil nya ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, ia langsung meletakkan tas nya
di atas kursi. Ruang kelas yang ia ceritakan, tidak begitu
bagus, tidak sebagus di kota. Kursi-kursi tua, meja tua,
dan lemari tua. Hanya merekalah yang masih belia.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Rara selalu duduk di barisan depan untuk memperhatikan
penjelasan guru.

“Rara, coba kerjakan soal nomor 5 ya.”

“Baik, Bu.”

Bu guru terkesan dengan semangat belajar Rara. Ia selalu
mau belajar dengan keterbatasan nya.

Aku jadi ingat kutipan dari Andrea Hirata yang bilang
begini, Bermimpilah sampai Tuhan memeluk mimpi-
mimpi kita. Atau dialog di film Laskar Pelangi ketika
Lintang bilang kita semua harus punya cita-cita, dan dari
sekolah inilah perjalanan itu kita mulai.

Sepulang sekolah, Rara selalu membantu Mbah untuk
memasak ataupun menjahit. Jika tidak ada kerjaan, ia
mengambil waktu nya untuk tidur siang. Namun ia lebih
sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku
ataupun mengerjakan tugas.

Ia mengajari ku cara menjahit menggunakan mesin jahit
tua milik mbah putri.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

“Begini, Mbak, masukkan ke lubang yang ini.” Ia
mengamati lubang yang sempit itu, yang sulit dimasuki
benang jahit.

“Lalu?” tanyaku.

“Ikatkan kesini, kalau sudah siap, jangan lupa kita putar
yang ini, sambil diinjak pedal nya.”

Aku terkagum dengan cara ia menjelaskan, walaupun
masih seusia itu, dia bisa mengajarkan ku seperti itu. Dia
benar-benar seperti guru!

Dimana Kau?

Bapak pernah bercerita bahwa dulu waktu sekolah,
jalanan memang masih belum bagus. Bapak juga tidak
memakai tas ke sekolah, bahkan alas kaki pun seadanya.
Kalau hujan, ya sudah pasti basah-basahan. Bapak
membawa peralatan sekolah menggunakan kantong
plastik, mereka menyebutnya asoy. Ruangan kelas yang

PAGE \* MERGEFORMAT 1

berdinding kayu, beratap panas yang menyengat jika
siang hari karena atap nya ada yang berlubang.

Ternyata hal ini hanya berubah sedikit. Hal serupa masih
terjadi, dimana warga masih kesulitan dalam ekonomi,
apalagi dalam hal pendidikan. Putus sekolah dimana-
mana. Semua memang karena kemiskinan. Hitungan jari
yang bisa bertahan sampai jadi sarjana. Kau tahu
temanku, Maya itu? Ya, aku sangat sedih Ketika
mendengar kabar bahwa ia putus sekolah sejak kelas 6
SD. Hari itu Bapak nya Maya datang ke rumah mbah dan
mengobrol. Aku memulai percakapan dengan
menanyakan kabar Maya.

“Maya kabare piye, Pakde?”

“Mbak Maya sudah di Tanjung Karang.”

“Sekolah atau gimana, Pakde?”

“Kerja.”

Aku diam. Diam saja. Kaget. Lalu bapak nya bercerita
bahwa memang dari kelas 6 SD dia sudah memutuskan

PAGE \* MERGEFORMAT 1

untuk berhenti sekolah. Ia bilang dia hanya akan
membantu orang tua nya untuk mengarit ladang,
mengumpulkan getah karet. Aku pernah melihat proses
nya sekali bagaimana ia mengarit pohon karet itu.
Menyayatnya hingga keluar getah. Begitu hal yang ia
lakukan selama hampir satu tahun. Kira-kira begini
percakapan Maya, seperti yang diceritakan Pakde Man
(bapak dari Maya).

“Pak, aku sudah gak sekolah lagi. Aku mau bantu Bapak
dan ibu saja mengarit.”

“Kenapa gitu, Ndok? Kamu yo harus sekolah, harus jadi
orang sukses.”

“Aku sudah memutuskan, Pak. Mau bantu Bapak dan ibu
saja. Lagian adik-adik banyak yang harus dibiayai. Aku
ikhlas, Pak.”

Aku tak sampai hati mendengar cerita percakapan itu.
Bagaimana bisa, kami sudah berjanji akan sukses
bersama-sama, namun ia malah putus sekolah?

PAGE \* MERGEFORMAT 1

“Lalu sekarang Maya sudah di Karang, Pakde?”

“Iya.”

Maya bekerja sebagai penjaga counter pulsa. Pakde man
bercerita bahwa bos nya tidak begitu baik. Maya jarang
diberi kesempatan santai-santai walau sedang sepi.

Hal serupa terjadi dengan Rara yang harus pindah-pindah
sekolah yang mengakibatkan ia harus mengulang kelas.
Namun cita-cita nya menjadi guru tak pernah pudar.
Mbah putri pernah meminta doa kepada ku supaya Rara
bisa jadi guru kelak. Ternyata mbah putri pernah menjadi
kepala sekolah di salah satu sekolah TK di kampung.

Begini ucapnya, “tolong doakan Rara ya, Ndok. Supaya
bisa jadi orang sukses nanti ketemu kamu kalau sudah
besar.” Mbah menangis.

“Iya, Mbah. Itu pasti ku doakan. Kami pasti bertemu jika
sudah sukses nanti. Rara pasti akan menjadi guru.”

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Aku Pulang Dulu

Kami harus bersiap pulang karena liburan akan segera
berakhir. Aku tak sampai hati meninggalkan Rara,
meninggalkan kampung halaman ku itu untuk yang
kesekian kali. Jika hujan, bau tanah basah merasuk ke jiwa
dan menetap baunya di ingatan.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

“Ayo siap-siap, bereskan baju dan perlengkapan. Jam 11
kita berangkat.” Ujar bapak.

“Oke pak.”

Aku menghampiri Rara dan mengajak nya berfoto. Rara
terlihat sedih, dia tahu dia akan kesepian sepanjang hari-
hari nya. Lagipula juga ia tidak bergaul dengan siapapun
dan hanya main dengan mbah nya. Atau sesekali bermain
di halaman rumah, namun Rara lebih banyak dimarahi
oleh mbah kakung. Aku pernah bertanya kepadanya

“Kamu punya teman, nggak, Ra?”

“Punya, Mbak.”

“Dimana tinggal nya?”

“Disitu. Gak jauh dari sini, Mbak.”

“Satu orang?”

“Sebenarnya ada empat, tapi akrabnya dengan dia.”

“Sekarang kok gak main?”

PAGE \* MERGEFORMAT 1


Click to View FlipBook Version