“Ya aku udah jarang main.”
Lalu aku menanyakan hal yang tak pernah kupikirkan dia
akan menjawab seperti ini
“Ra, kalau teman mu itu gak temenan lagi dengan mu, apa
yang kamu lakukan?”
“Yasudah, Mbak. Gak apa-apa.”
“Kamu gak takut kalau gak punya teman?”
“Nggak, Mbak. Aku bisa sendiri.”
Itu fantastis! Fantastis jika dia benar-benar tidak peduli
dengan kesendirian nya. Dia tidak bergantung pada teman
nya.
“Rara, aku pulang dulu ya. Kamu harus belajar yang
pintar supaya jadi guru nantinya. Oke?”
Rara menahan tangis nya. Aku melihat mata nya berkaca-
kaca melihat ku yang hendak pulang. Mbah putri
PAGE \* MERGEFORMAT 1
merangkul Rara, lagi lagi meminta doa agar Rara menjadi
guru saat besar nanti.
“Iya, Mbak.”
“Hati-hati ya, Ndok. Jadi anak pintar, sekolah yang rajin.”
Ujar mbah putri.
Mobil kami berangkat, berjalan pulang. Kami
meninggalkan Tulang Bawang untuk sementara. Pasti
kami pulang kesana lagi, namun entah kapan.
Kumbang, Angin, dan Kasur Tua
Seperti hal nya angin, akan berhembus pergi. Seperti hal
nya kasur, pasti berumur. Begitu juga kumbang yang
terbang bebas dan tidak tahu kapan pastinya ia akan
tumbang.
PAGE \* MERGEFORMAT 1
Aku duduk di kursi tua milik mbah kakung dan membaca
buku karangan Andrea Hirata Buku Besar Peminum Kopi.
Aku menyelesaikan bacaan ku itu tepat siang hari. Tepat
bersamaan dengan angin yang berhembus lembut, manis,
yang membisikkan kesepian.
Kemarin bapak banyak bercerita perihal mengapa mbah
ku itu sendiri lagi, tak ada yang mendampingi. Mbah putri
sering pulang pergi, dari rumah mbah kakung ke tempat
asalnya. Susah untuk dihubungi, ditelpon pun hanya
sesekali menjawab. Ia menghindar. Aku tahu ia lelah
dengan kehidupan yang ia jalani bersama mbah kakung.
Pernikahan itu hanyalah formalitas saja. Mereka berdua
adalah dua insan yang sama-sama ditinggalkan oleh
kekasih nya yang meninggal dunia. Yang kutahu, orang
yang sudah tua memang membutuhkan orang yang untuk
membantu kehidupan tua nya. Itu terlihat seperti bukan
pernikahan, lebih seperti pembantu. Aku merasa bersalah
dalam hidupku karena kisah cinta mbah ku itu. Jujur saja,
itu menyakitkan jika aku menjadi seorang perempuan
yang menikah hanya untuk menemani dan mengurusi
laki-laki yang kunikahi.
PAGE \* MERGEFORMAT 1
Mbah putri jarang dimanja, seperti dibelikan barang-
barang mewah, jadi mbah lebih sering bergurau kepada ku
untuk dibelikan sesuatu. Aku berharap aku punya uang
yang banyak untuk membelanjakan mbah ku itu. Dulu aku
berpikiran untuk membelikannya tas. Namun, uang dari
mana gerangan aku bisa membelikannya? Aku hanya
banyak berdoa untuknya, berdoa untuk kekuatan jiwa nya.
Aku sudah tidak melihat Rara lagi, Rara sudah kembali
pada ibunya. Tempat-tempat yang biasa Rara pijak,
duduki, tiduri, sudah terasa sepi. Dapur pun sudah terasa
tidak wangi daun pisang yang ia pakai untuk membuat
makanan tradisional. Kursi yang biasa ia tiduri, sudah
dibuang. Hal-hal yang membuat aku rindu padanya, sudah
tidak ada. Namun doa ku ini tetap teriring untuk nya, yang
suatu saat kelak akan menjadi guru.
Aku banyak tahu fakta tentang mbah putri lambat laun.
Satu persatu orang memberitahu ku tentang nya. Tentang
ia adalah mantan isteri kyai. Ia menikah dengan mbah ku
lalu murtad yang menjadi perbincangan banyak orang di
kampung asalnya. Lalu fakta juga bahwa ia juga menuntut
PAGE \* MERGEFORMAT 1
harta gono gini setelah berpisah. Fakta bahwa sebenarnya
keluarga nya tidak rela jika ia harus menikahi lelaki tua
beragama Kristen itu. Maka dari itu ia harus pergi.
Mbah kakung masih merindukannya, ia bercerita
bagaimana dirinya bertemu dengan mbah putri di sebuah
pesta pernikahan dan langsung jatuh cinta. Jatuh cinta di
usia tua. Aku juga sebenarnya merindukan mbah ku itu,
walaupun aku tahu fakta pahit nya. Dia adalah orang
pertama yang memperkenalkan ku dengan lagu Gereja
Tua.
Mbah kakung banyak menghabiskan waktunya menyapu
halaman, jika siang ia sering melamun di kursi atau tidur
di kasur tua di kamarnya. Dia juga sering menelpon
saudara-saudara kami yang di Jogja. Sepeninggalan mbah
putri, ia banyak belajar menggunakan handphone. Dalam
relung hatinya, ia menunggu kekasih terakhir nya itu
pulang.
Aku beranjak dari kursi dan menutup buku bacaan ku.
PAGE \* MERGEFORMAT 1
Pada akhirnya aku sadar, apakah yang abadi di dunia ini?
Tidak ada. Satu persatu orang yang kita kasihi dan sayangi
akan pergi meninggalkan kita dengan alasan yang
berbeda. Entah karena pengkhianatan, waktu dan jarak,
atau bahkan kematian. Satu-satu akan pergi seperti
kumbang, angin, dan kasur tua.
PAGE \* MERGEFORMAT 1
Di ujung jalan, teman terbaik untuk kita adalah diri kita
sendiri
Teriring terima kasih ku kepada Ibunda guru
Yunianti Dwi Rinukti
Cerita ini menjadi perjalanan ku bertemu Rara dan pula
menjadi saksi bagaimana aku bisa bercerita tentang kisah
cinta seorang tua di usia tua nya, berusaha mencari sosok
abadi dalam hidupnya.