1 B. I. PENDAHULUAN A Produksi Subsisten dan Komersial Pemasaran pertanian terjadi amat ditentukan oleh tujuan petani berproduksi. Apabila tujuan berproduksi subsisten tidak akan terjadi pemasaran, tetapi bila tujuan berproduksi untuk komersial, maka akan terjadi pemasaran. Tabel 1. : Perbedaan Produsen Subsisten dengan Produsen Komersial Produksi Subsisten No Produksi Komersial Tujuan berproduksi hanya untuk dikonsumsi sendiri. Statis, sehingga perkembangan ekonomi lambat 1. Tujuan berproduksi untuk dijual. Dinamis, sehingga perkembangan ekonomi cepat Tidak mengikuti perkembangan pasar 2. Mengikuti perkembangan pasar Berproduksi tidak memakai prinsip ekonomi 3. Berproduksi memakain prinsip ekonomi Sulit menentukan input/output ratio 4. Mudah menentukan input/output ratio Tidak terjadi pemasaran 5. Terjadi pemasaran Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa pemasaran terjadi pada produksi komersial bukan pada produksi subsisten B. Fase Perkembangan Ekonomi Aktifitas ekonomi dimulai pada fase kegiatan di sektor pertanian, pertambangan, kehutanan dan perikanan. Fase ini dinamakan tahap pertama proses industri (primary industries). Kemudian meningkat pada fase ke dua (secondary industries), yaitu industri fabrik, dimana pengolahan bahan baku menjadi barang jadi/barang konsumsi. Setelah itu fase ke tiga (tertiary industries), yatu fase perdagangan, pengangkutan, komunikasi dan jasa-jasa.Terjadinya proses ekonomi yang cepat sangat ditentukan oleh proses industri yang semakin berkembang Sejarah Perkembangan Ekonomi, manusia dapat dibagi atas 4 fase perkembangan : 1. Fase Liar (Fase Savegery). dimana kegiatan manusia ditandai dengan a) berburu binatang liar, b) tempat tinggal belum menetap, c) tidak mengenal bercocok tanam sehingga hanya memanfaatkan produksi alam yang ada, d) sumber dan tujuan penghidupan manusia belum menentu. 2. Fase Pertanian (Fase Agriculture). a) Sudah mampu memenuhi kebutuhan makanan dengan bercocok tanam, menjinakan binatang liar, b) tempat tinggal sudah menetap, c) apa yang dibutuhkan diusahakan sendiri. 3. Fase Pertanian dan Perusahaan (Fase agriculture and manufacture). a) telah mengenal bercocok tanam lebih baik, b) kebutuhan manusia meningkat, c) hasil pertanian diperdagangkan, d) sudah ada sistem komunikasi. 4. Fase Pertanian, Perusahaan dan Perdagangan (Fase agriculture, manufacture and trade). a) perdagangan sudah maju, b) pertanian diusahakan secara besar- besaran dan modern, d) sistem komunikasi sudah lancar. Dari keempat fase perkembangan ekonomi manusia ini, pemasaran baru muncul pada fase ke tiga.
2 C. Spesialisasi. Kebutuhan manusia makin lama makin meningkat, sehingga sangat sulit untuk menghasilkan sendiri semua kebutuhannya. Maka timbulah spesialisasi dalam usaha menghasilkan barang kebutuhan manusia.Petani mengusahakan barang makanan dari tumbuhan, peternak menghasilkan daging susu dan telur dari ternak, nelayan mengusahakan ikan, buruh fabrik mengusahakan hasil industri, pegawai pemerintah menyediakan jasa dll. Karena barang dan jasa yang dihasilkan para spesialis saling dibutuhkan semua manusia maka terjadilah pergerakan barang/jasa dari satu spesialis ke spesialis lain. Pergerakan barang/jasa dari tempat dihasilkan ke tempat membutuhkan, sehingga terjadi pertukaran barang dan jasa yang dalam ekonomi dinamakan dengan “pemasaran”. Keadaan pemasaran pertanian tidak sama pada berbagai tempat. Ada suatu tempat masalah pemasaran masih sederhana, tapi di lain tempat masalahnya sangat komplek. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan tingkat perkembangan spesialisasi produksi dan tingkat perkembangan ekonomi. Semakin tinggi tingkat perkembangannya maka semakin komplek masalah yang dijumpai dalam pemasaran pertanian tersebut. D. Pemasaran Dalam Sistem Agribisnis Sistem agribisnis terdiri dari 4 subsistem : 1. Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan dan memperdagangkan sarana produksi pertanian primer (seperti industri pupuk, obat-obatan tanaman, bibit/benih alat dan mesin pertanian dll) 2. Subsistem agribisnis usahatani (on-farm agribusiness) merupakan kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sumber daya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian yang dimasa lalu dikenal dengan sektor pertanian primer. 3. Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan baik merupakan produk antara atau siap pakai (agroindustri) dan kegiatan perdagangannya di pasar domestik dan internasional. 4. Subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (supporting institution), yaitu kegiatan kegiatan ekonomi di bidang keuangan dan pembiayaan, transportasi, penyuluhan dan layanan informasi agribisnis, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, asuransi agribisnis dll. Dari sini terlihat bahwa pemasaran/pemasaran berada pada subsistem agribisnis hulu yaitu memperdagangkan sarana produksi pertanian primer dan pada subsistem agribisnis hilir, yaitu memperdagangkan produk hasil pertanian, baik yang produk pertanian segar maupun produk pertanian olahan. Terlihat pentingnya pemasaran agrisbisnis dalam penyediaan sarana produksi dan penyaluran hasil produksi.
3 II. PENGERTIAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN A. Pengertian dan Definisi Di daerah sentra produksi pertanian ditemukan bermacam-macam hasil pertanian dan barang-barang kebutuhan petani baik untuk usahataninya maupun untuk konsumsi. Ditemui pedagang pengumpul yang mengumpulkan hasil pertanian dari petani. Sebagian disimpannya di gudang menunggu harga baik. Ada yang diolah menjadi bentuk lain seperti gabah jadi beras. Kemudian diangkut ke kota dengan menyewa alat pengangkutan. Di kota dijualnya ke pedagang besar atau pedagang pengecer atau juga ke konsumen. Di kota ditemukan berbagai macam konsumen dengan berbagai macam tingkah lakunya dalam membeli. Itulah gambaran pemasaran pertanian yang tidak bisa diartikan secara sempit, yaitu hanya lokasi pasar dimana ada penjual dan pembeli dan barang yang diperjualbelikan. Tidak juga sekedar distribusi yang hanya menyampaikan barang dari produsen ke konsumen sehingga dia jadi statis. Ini hanya bagian dari pemasaran. Kegiatan pemasaran jauh lebih banyak dari itu sehingga pemasaran itu dinamis karena mencakup segala aspek yang berhubungan dalam usaha pengaliran barang mulai dari fase produksi sampai ke fase konsumsi. Kegiatan itu antara lain, pembelian, penjualan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, penetapan harga, pembiayaan, mempelajari keadaan permintaan dan penawaran, penanggungan resiko, mempelajari gejala-gejala ekonomi dll. Tetapi tidak keluar dari ruang lingkup pemasaran itu sendiri. Pemasaran dimulai dari saat ada produksi dan berakhir pada saat produksi sampai ke konsumen. Untuk itu pemasaran dapat didefinisikan : “ Pelaksanaan kegiatan dan usaha yang bertujuan untuk mengalirkan barang dan jasa dari titik produksi ke titik konsumsi”. B. Pemasaran adalah Produktif Produktif dari segi ekonomi adalah sesuatu usaha yang bersifat menimbulkan, menambah, dan membagikan guna sehingga guna tersebut dapat dinikmati. Kegunaan dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu : 1. Kegunaan bentuk (form utility). Petani menumbuk padi menjadi beras telah menambah kegunaan bentuk, karena konsumen tidak membeli padi untuk dimasak, melainkan beras. 2. Kegunaan Tempat (place utility). Para pedagang perantara memindahkan beras dari desa ke kota yang menambah kegunaan tempat karena beras yang ada desa dapat mudah dibeli oleh konsumen di kota. 3. Kegunaan Waktu (time utility). Pemilik gudang menyimpan beras karena jumlah beras di pasar sangat banyak dan dikeluarkannya nanti setelah jumlah beras berkurang di pasaran sehingga pemilik gudang menambah kegunaan waktu. 4. Kegunaan Pemilikan (posession utility). Pedagang pengecer di kota menjual beras ke konsumen, telah melakukan pekerjaan menciptakan kegunaan pemilikan karena memindahkan hak miliknya kepada konsumen sedangkan konsumen memindahkan uangnya ke pedagang pengecer. C. Tujuan Pemasaran Pertanian. 1. Untuk Petani Produsen.
4 Bertujuan untuk mengarahkan keputusan petani dalam hal : a. Apa yang akan dihasilkan dan bagaimana menjualnya, sebab keinginan konsumen berbeda-beda. b. Kapan dan dimana membeli barang-barang kebutuhan produksi dan konsumsi. c. Kapan dan dimana menjual hasil yang telah diperoleh sehingga menguntungkan d. Berapa banyak pekerjaan yang harus disumbangkan terhadap pemasaran, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. 2. Untuk Pedagang Perantara. Bertujuan untuk mengarahkan keputusan : a. Apa yang akan dilakukan untuk meperluas pasar. b. Bagaimana memperoleh keuntungan dan balas jasa tanpa mengurangi kepuasan produsen terhadap harga yang diterimanya dan tanpa mengurangi kepuasan konsumen atas harga yang dibayarnya terhadap barang yang diterimanya. 3. Terhadap Pemerintah. Bertujuan untuk mengarahkan keputusan pemerintah, agar pemerintah menciptakan iklim dan kebijaksaksanaan, peraturan-peraturan, undang-undang yang menjamin terlaksananya operasional pemasaran. 4. Terhadap Konsumen. Bertujuan untuk menciptakan dan mempertahankan tingkat kepuasan konsumen dan kesediaannya membayar barang yang diingininya. D. Proses Pemasaran Hasil Pertanian Proses pemasaran terdapat 2 ciri utama : 1. Merupakan suatu pergerakan yang terdiri dari sekumpulan kegiatan dan peristiwa yang berlangsung dalam beberapa rentetan. 2. Berbagai bentuk koordinasi yang diperlukan terhadap sekumpulan kegiatan dan peristiwa itu dalam menggerakkan barang dan jasa dengan cara yang teratur dari tangan produsen ke tangan konsumen. Kumpulan peristiwa dalam pemasaran pertanian dapat dibagi 3 proses kegiatan yaitu : 1. Proses Pengumpulan (concentration process). Hasil pertanian dikumpulkan oleh pedagang pengumpul menjadi suatu jumlah yang besar pada tempat yang mudah untuk menyalurkan kepada pedagang besar secara efisien. Kegiatan ditujukan pada pengumpulan hasil pertanian yang tersebar dan dalam jumlah yang kecil. Berarti perpindahan barang dari petani yang banyak jumlahnya kepada pedagang pengumpul. 2. Proses Pengimbangan (equalization process). Dimaksud untuk menjaga keseimbangan penawaran dan permintaan berdasarkan waktu, jumlah dan kualitas. Sangat penting untuk hasil pertanian musiman supaya terjaga keseimbangan jumlah permintaan dengan penawaran. 3. Proses Penyebaran (dispersion process). Untuk menyebarkan barang dalam unit yang kecil kepada bermacam konsumen. Merupakan tandingan proses pengumpulan. Makin banyak barang disebarkan makin banyak pula yang harus dikumpulkan.
5 Proses Pengumpulan Proses Pengimbangan Proses Penyebaran Gambar : Proses Pemasaran Pada Hasil-hasil Pertanian E. Ciri-ciri Pemasaran Hasil Pertanian. 1. Sebagian besar hasil pertanian berupa bahan makanan yang dipasarkan, diserap oleh konsumen akhir secara relatif stabil sepanjang tahun. Sedangkan penawarannya sangat tergantung pada produksi yang sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan panen. 2. Saluran pemasaran hasil pertanian pada umumnya terdiri dari produsen, pedagang perantara (padagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer) dan konsumen (industri pengolahan dan konsumen akhir). 3. Pergerakan hasil pertanian berupa bahan makanan dari produsen sampai ke konsumen pada umumnya meliputi proses pengumpulan, pengimbangan dan penyebaran, dimana proses pengumpulan yang terpenting. 4. Kedudukan terpenting dalam pemasaran hasil pertanian terletak pada pedagang pengumpul, karena dari produksi terpencar-pencar, skala produksi kecil-kecil dan produksi berlangsung musiman. 5. Pemasaran hasil pertanian tertentu pada umumnya bersifat musiman, karena pada umumnya produksi bersifat musiman. F. Pendekatan Untuk Mempelajari Pemasaran Terdiri atas 4 pendekatan, yaitu : 1. Pendekatan serba fungsi (the functional approach) Fungsi pemasaran diklasifikasikan atas 1) fungsi pertukaran yang terdiri dari fungsi pembelian dan penjualan, 2) fungsi fisik yang terdiri dari fungsi pengangkutan dan penyimpanan, 3) fungsi fasilitas yang terdiri dari fungsi standardisasi dan grading, pembiayaan, penanggungan resiko dan keterangan pasar. Dalam mempelajari pemasaran serba fungsi berarti fungsi-fungsi pemasaran itu yang diteliti, dipelajari dan dianalisa dalam proses pemasaran. Misalnya mempelajari fungsi-fungsi yang diperlukan pada proses pengumpulan hasil pertanian di desa, pada proses pengimbangan dan proses penyebaran barang sampai ke konsumen. Pedagang pengumpul yang membeli padi dari banyak petani, kadang-kadang kesulitan dalam pengangkutan dan penyimpanan. Untuk mengatasinya harus diketahui seberapa jauh Petani Petani Petani Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Konsumen Konsumen Konsumen Konsumen
6 kapasitas angkut dari semua jenis alat angkut yang ada di tempat itu, berapa kapasitas maksimal gudang yang tersedia, alat angkut dan gudang yang mana yang paling efisien. Untuk memperluas sumber penawaran dan permintaan agar diperoleh keuntungan yang besar diperlukan pengetahuan dan keterangan yang dapat digunakan untuk mencari cara pembelian yang lebih baik. Misalnya mencari tempat dimana barang mudah diperoleh, harga murah dan jumlah sesuai kebutuhan. Juga mencari tempat permintaan, dipelajari apakah tempat itu disenangi atau dibutuhkan barang yang akan ditawarkan. Bagaimana kemungkinan diadakannya iklan, grade mana yang paling banyak permintaannya. Dalam pengangkutan barang, resiko apa saja yang mungkin terjadi, bagaimana cara mengatasinya, atau resiko mana yang dapat dikurangi dan dihilangkan. Apa yang harus dilakukan untuk hal tersebut dan berapa biaya yang akan digunakan. 2. Pendekatan serba lembaga (the institustional approach) Antara produsen dan konsumen terdapat perantara (middleman) yang terlibat dalam arus pengaliran barang. Para perantara inilah yang memberi jasa sehingga produsen dapat menjual barangnya dengan mudah dan konsumen membeli pula dengan mudah. Dalam pengaliran barang hasil pertanian terdapat lembaga-lembaga yang terlibat yang dapat diklasifikasikan 1) pedagang perantara (merchant middleman), yaitu pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer, 2) Agen perantara yang terdiri dari makelar, komisioner, pelelang dll, 3) perantara spekulatif dan 4) lembagalembaga fasilitas. Pendekatan ini mempelajari secara rinci kegiatan lembaga-lembaga pemasaran, seperti pedagang pengumpul di desa dalam cara pembelian, cara pengangkutan, cara memperoleh modal, jumlah keuntungan, resiko, dan kesulitan dalam kegiatan yang dilakukan. Demikian juga pada pedagang besar, pedagang pengecer dan lembaga fasilitas, seperti perusahaan pengangkutan, pergudangan, asuransi dll. Dengan mempelajari semua jenis lembaga pemasaran yang ada maka bisa ditarik kesimpulan lembaga mana yang bekerja secara efisien dan tidak, lembaga mana yang lemah posisinya dan memerlukan bantuan pemerintah dll.Bagi produsen dan konsumen dapat dihadapkan pada alternatif lembaga mana yang telah menawarkan jasa paling baik. 3. Pendekatan serba barang (the commodity approach) Di sini dipelajari segala aspek suatu barang mulai dari titik produksi sampai ke titik konsumsi dengan mengumpulkan data. Data ini meliputi sifat khas produk hasil pertanian seperti bulky, volumnious, perishable dan musiman, lembaga yang mentransfer, sumber penawaran, sumber permintaan, biaya yang diperlukan untuk memasarkan, fasilitas yang diperlukan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan pemasaran produk yang bersangkutan. Contohnya mempelajari serba barang pada komoditi padi, maka pertama dipilih tempat potensial penghasil padi. Di tempat ini dipelajari cara penyimpanan, pengolahan, penjualan dan pembelian. Kemudian cara pengangkutan, lembaga yang terlibat, tingkat harga. Dalam pergerakan barang ke daerah konsumen dipelajari resiko yang terjadi, pajak, sifat permintaan konsumen, grade yang disukai, cara pengeceran yang efisien dan efektif, tingkat harga yang menguntungkan pedagang dan tidak merugikan konsumen, cara pembungkusan yang baik, serta dipelajari peraturan pemerintah yang berlaku dan kebijaksanaan dalam pemasaran beras.
7 4. Pendekatan secara teori ekonomi (the economic theoritical approach). Cara ini menggunakan teori-teori ekonomi mikro dan makro. Di sini dapat diketahui bentuk-bentuk pasar suatu produk, kurva dan fungsi permintaan dan penawaran, elastisitas permintaan dan penawaran dll. Tanpa menguasai teori ekonomi maka sulit dalam mempelajari pemasaran, baik menggunakan pendekatan serba fungsi, serba barang atau serba lembaga. Bagaimanapun ahlinya seseorang dalam menguasai salah satu cara pendekatan ini namun masih dibutuhkan teori-teori ekonomi untuk melengkapi pembahasan masalah pemasaran yang dijumpai. Dalam mempelajari pemasaran, kadang-kadang digunakan hanya satu macam cara pendekatan, dan kadang-kadang semua pendekatan tergantung tujuan dan ruang lingkup dari penelitian dan pembahasan yang diingini.
8 III. PERMASALAHAN PEMASARAN PERTANIAN Barang-barang hasil pertanian mempunyai masalah yang dapat mempengaruhi pemasarannya antara lain : A. Masalah Sifat-sifat Produksi Pertanian 1. Produksi diperoleh dari usaha kecil-kecilan (small scale production). Produksi hasil pertanian di Indonesia adalah kecil-kecilan akibat dari usaha yang dilakukan petani kecil-kecilan pula. Contoh usahatani padi, sayur-sayuran seperti cabe, tomat, bawang dan lain-lain, buah-buahan, seperti rambutan, mangga, salak dan lain-lain dan tanaman perkebunan seperti coklat, karet, kelapa sawit dan lain-lain. Padi atau beras misalnya dihasilkan oleh berejuta-juta petani. Dengan demikian petani tidak dapat mempengaruhi permintaan atas jenis komoditi yang dihasilkannya. Mereka sulit untuk saling berkomunikasi dan diorganisir dalam hal penjualan, penyimpanan dan sebagainya. Misalnya dalam penjualan, petani kesulitan dalam menyepakati harga jual secara bersama karena jumlah mereka sangat banyak dan berjauhan sehingga sulit untuk diorganisir, sehingga mereka terpaksa menyepakati harga dengan pedagang secara sendiri-sendiri. Pedagang perantara (pedagang pengumpul) yang jumlahnya sedikit dan bahkan hanya satu orang untuk satu wilayah hamparan sawah yang luas berhadapan dengan banyak petani yang ingin menjual hasil padinya. Tentulah si pedagang pengumpul akan kuat dalam menentukan harga jual petani, sehingga terjadi pasar monopsoni atau oligopsoni. Si monopsoni atau oligopsoni adalah si penentu harga (price maker) dan itu adalah si pedagang pengumpul. Akibatnya petani mendapatkan harga jual yang rendah dan pendapatan serta keuntungan yang rendah. Berbeda dengan perusahaan industri, karena jumlahnya sedikit, sehingga mudah untuk diorganisir, seperti membatasi jumlah produksi apabila sewaktu-waktu permintaan turun. Untuk itu dia dapat mengendalikan harga dan tidak mengalami kesulitan dalam penjualan. 2. Produksi bersifat musiman. Karena bersifat musiman, maka hasil yang akan diperoleh pada waktu-waktu tertentu, sesuai dengan sifat produksi tanamannya. Petani tidak dapat memaksakan tanaman padinya berbuah pada umur satu bulan, karena pada saat itu persediaan beras di pasar menipis. Jadi jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran dan harga melonjak naik. Sifat produksi inilah yang sering menimbulkan kesulitan dalam proses pengimbangan. Pada saat panen sering dijumpai kesulitan dalam hal penyimpanan dan pengangkutan. Biasanya biaya ini akan meningkat pada saat panen. Pedagang pengumpul harus menyediakan modal yang cukup besar dalam mengatasi ini. Berbeda dengan barang industri, di mana hasil produksinya tidak tergantung pada musim, sehingga bisa diproduksi sesuai dengan permintaan. 3. Produksi terpencar. Tempat produksi pertanian umumnya terpencar. Hal ini disebabkan petani selalu mencari tempat yang keadaan tanah dan iklimnya cocok untuk jenis tanamannya, tanpa
9 memperhitungkan apakah dekat atau jauh dari tempat pemasaran. Tanaman tidak dapat dipaksakan tumbuh di tempat yang tandus, kurus, berbukit-bukit, meskipun secara ekonomis mudah dijangkau atau dekat dengan tempat penjualan. Karena tempat yang cocok itu terpencar-pencar, maka terpaksa produksi terpencar pula. Hal ini menyulitkan dalam hal pengumpulan, pengangkutan dan penyimpanan. Berbeda halnya dengan perusahaan industri, karena tidak dipengaruhi oleh keadaan alam dan sebagainya, dengan mudah dapat ditempatkan pada pusat-pusat pemasaran. Hal ini berarti dalam pengangkutan, barang industri tidaklah serumit produk pertanian sehingga mudah dapat sampai pada konsumen. 4. Lokasi produksi jauh dari tempat pemasaran. Lokasi usahatani menghendaki tempat yang luas. Tanah yang luas biasanya terdapat di desa-desa di luar perkotaan. Sedangkan tempat pemasaran atau konsumennya kebanyakan berada di dalam kota. Untuk itu lokasi produksi berjauhan dengan lokasi pemasaran. Hal ini akan menyulitkan dalam pengangkutan dan penyimpanan. Berbeda dengan perusahaan industri, karena tidak menghendaki tempat yang luas, sehingga lokasi industri bisa didirikan di dalam kota di dekat tempat pemasarannya. Hal ini berarti pengangkutan barang pertanian lebih rumit dari barang industri. B. Masalah Ciri Khas Produk Pertanian. Ciri khas produk pertanian adalah : a. Bersifat berat (bulky) b. Mengambil banyak tempat (volumnious) c. Cepat atau mudah rusak dan busuk (perishable). Kebanyakan produk pertanian timbangannya adalah berat dan memerlukan banyak tempat. Ini berarti nilai persatuan berat dan volumenya lebih kecil dibandingkan dengan barang industri. Misalkan sebungkus rokok kretek yang beratnya hanya beberapa gram, nilainya dalam rupiah kira-kira sama dengan 5 – 10 kg ubi kayu. Di sini terjadi perbedaan dalam pengangkutan dan penyimpanan. Dapat dibayangkan betapa besarnya perbedaan nilai jika diangkut 1 ton rokok kretek dengan 1 ton ubi kayu pada tarif dan jarak yang sama. Selain itu produk pertanian mudah rusak dan busuk, sehingga diperlukan perawatan dan penyimpanan yang baik dan pengangkutan yang cepat ke tempat konsumen. Sering dijumpai di desa-desa, karena sifat musiman pada saat-saat tertentu produksi buah-buahan seperti mangga, rambutan dan sayur-sayuran seperti tomat, cabe dan lain-lain melimpah. Karena kapasitas penyimpanan yang belum cukup dan belum memenuhi syarat serta kapasitas pengangkutan yang terbatas, maka produk pertanian mengalami rusak dan busuk. Di samping itu dalam proses pengangkutannya barang tersebut sering mengalami kerusakan, karena keadaan jalan dan pengepakan yang kurang baik dan pengawasan yang tidak teliti, yang sudah pasti merugikan pedagang yang bersangkutan. Resiko lain dari produk pertanian yang mudah rusak dan busuk ini adalah turunnya kualitas dan kuantitasnya. Contohnya pengangkutan buah pisang, pepaya, tomat
10 durian dan lain-lain yang jarak tempat produksi dengan tempat pemasaran yang jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama akan berakibat buah-buahan ini mengalami proses pemasakan melebihi dari keadaan masak normal yang diinginkan konsumen. Hal ini baru bisa diatasi dengan cara mengatur waktu pemanenan yang tepat dan pengemasan yang baik. Tetapi pengemasan ini memerlukan biaya tambahan sehingga harga buah-buahan terpaksa lebih mahal. C. Masalah Pemasaran yang Berhubungan dengan Pembangunan dan Perkembangan Teknologi Pertanian. Pembangunan pertanian meliputi tiga aspek, yaitu aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek kultural. Apabila perkembangan dan pembangunan ketiga aspek tersebut tidak seimbang atau tidak sejalan maka akan timbul masalah-masalah yang rumit. Penemuan baru di bidang teknologi pertanian padi seperti pupuk, obat-obatan dan bibit unggul sering mengalami kesulitan dalam pembangunannya pada petani karena kurang respon dari petani yang bersangkutan. Jika penyuluhan tidak intensif maka sudah tentu penggunaan teknologi itu akan sangat lambat penyebarannya. Masalah ekonomi sering lebih rumit lagi akibat penggunaan teknologi baru di bidang pertanian. Misalnya dalam pengadaan pupuk dan obat-obatan tidak jarang dijumpai kesulitan seperti a) bagaimana petani mendapatkannya dengan mudah dan b). bagaimana petani dapat membayar harga pupuk dan obat-obatan itu sesuai dengan kemampuannya. Kenaikan produksi padi akibat penggunaan bibit unggul dapat pula menimbulkan masalah, seperti timbulnya produksi yang berlebihan, dimana produksi petani lebih besar dibandingkan dengan jumlah konsumsi. Jika jumlah barang sudah melampaui jumlah permintaan potensial atau surplus maka tentu harga akan turun. Karena letak usahatani yang terpencar dan daerah yang luas maka akan menimbulkan kesulitan dalam mengumpulkan hasil surplus tersebut. Lebih-lebih apabila sarana yang akan digunakan sangat terbatas. Dengan demikian para pedagang pengumpul di desa-desa pada keadaan yang surplus tidak sanggup lagi membeli dan mengumpulkan hasil-hasil pertanian tersebut dengan kata lain hasil-hasil yang dikumpulkan sudah berlebih dibandingkan dengan kapasitas kumpul (collectable surplus). D. Masalah Permodalan Petani dan Perkreditan. Sebagian besar petani di Indonesia keuangannya sangat terbatas dan karenanya lemah dalam hal modal usaha. Untuk melanjutkan usahanya, banyak diantara petani mencari modal pinjaman (kredit) dari pihak pedagang pengumpul atau dari pembunga uang walaupun dengan tingkat bunga yang tinggi. Mereka banyak yang belum menggunakan kesempatan untuk mendapatkan kredit dari lembaga perkreditan pemerintah. Hal ini disebabkan : a. Belum tahu tentang prosedur peminjaman. b. Lembaga perkreditan jauh dari tempat tinggal, sehingga membutuhkan banyak waktu untuk ke sana. c. Tidak punya jaminan, atau jaminan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh lembaga perkreditan
11 d. Biaya pengurusan dipandang tinggi. Sebaliknya petani lebih senang meminjam dari pihak pedagang pengumpul atau pembunga uang karena dipandang lebih mudah, cepat didapat dan tanpa jaminan. Sumber kredit yang banyak bagi petani adalah pedagang pengumpul. Pedagang ini tidak hanya memberi kredit dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk alat produksi dan alat keperluan rumah tangga, dimana jaminannya adalah barang yang dihasilkan. Sistem ini dikenal dengan sistem ijon. Petani harus membayar kredit tersebut dengan hasil produksinya kalau hutang tidak dibayar, atau harus menjual hasil produksinya kepada pedagang yang bersangkutan dengan harga yang disepakati waktu penerimaan kredit. Harga yang disepakati itu selalu lebih rendah dari harga pasar setempat yang berlaku dan merugikan petani. Praktek perkreditan seperti ini melemahkan petani dalam menentukan harga karena petani sangat membutuhkan modal untuk melanjutkan usahanya, sehingga pedagang tersebutlah yang menentukan harga hasil produksi petani. Keadaan seperti inilah yang sering menjerat petani dalam hutang yang berkepanjangan karena hasil produksinya tidak mampu untuk melunasi kredit tersebut, sehingga tidak jarang petani terpaksa menjual lahan pertaniannya tempatnya berusaha, rumah dan lainlain untuk melunasi hutang tersebut. E. Masalah Pola Saluran Pemasaran. Panjang pendeknya saluran pemasaran suatu barang ditandai oleh berapa banyaknya pedagang perantara yang dilalui oleh barang niaga tersebut sejak dari produsen hingga ke konsumen akhir. Bila pedagang perantara yang dilalui banyak, maka dikatakan saluran pemasarannya panjang. Saluran pemasaran yang panjang bisanya memperbesar margin pemasaran dan ini menjadi beban bagi konsumen. Tetapi tidak jarang ditemukan pada saluran pemasaran yang pendek terdapat margin pemasaran yang besar. Pedagang perantara mempunyai posisi yang kuat dalam pemasaran, karena punya modal yang besar dan mampu menentukan harga pembelian dan penjualan sehingga dia menguasai pasar. Keadaan ini banyak merugikan produsen dan konsumen. Praktek-praktek perdagangan seperti ini sangat dicela. Margin pemasaran terdiri dari komponen biaya pemasaran dan laba yang diterima oleh pedagang. Artinya besarnya margin pemasaran bukan hanya disebabkan oleh laba yang diambil pedagang, tetapi disebabkan pula oleh biaya yang dikeluarkan oleh pedagang yang bersangkutan. Biasanya pedagang menetapkan harga penjualan yang dapat memberikan sejumlah laba tertentu baginya atas dasar harga pokok penjualan. Masalah saluran pemasaran tidak hanya terletak pada panjangnya, juga terletak pada ikatan antara petani produsen dengan pedagang pengumpul dan antara pedagang besar dengan pedagang pengecer. Di daerah produksi para petani produsen telah terikat hutang dengan pedagang pengumpul tertentu. Petani produsen ini tidak boleh menjual hasil produksinya kepada pedagang pengumpul lain dan harus menjual kepada pedagang pengumpul yang telah memberi dia kredit dengan harga yang telah ditetapkan oleh pedagang pengumpul tersebut. Di daerah konsumsi (pasar eceran), pedagang pengecer telah pula terikat hutang dengan pedagang besar tertentu. Pedagang pengecer ini tidak
12 boleh menerima atau membeli barang dari pedagang besar lain. Sebaliknya pedagang pengecer selalu mendapat supply barang dari pedagang besar langganannya. Saluran pemasaran yang sudah membudaya ini sangat mempersulit usaha-usaha perbaikan efisiensi pemasaran oleh pemerintah.
13 IV. FUNGSI-FUNGSI PEMASARAN Pemasaran pertanian merupakan suatu proses pertukaran yang mencakup serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memindahkan barang-barang atau jasa-jasa dari petani ke konsumen. Kegiatan-kegiatan ini disebut dengan fungsi pemasaran. Fungsi pemasaran bekerja melalui lembaga pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran ini dilaksanakan oleh petani produsen dan mata rantai saluran barang-barangnya, lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam proses pemasaran, misalnya usaha pengangkutan, perbankan, asuransi dan sebagainya, maupun konsumen. A. Definisi Fungsi Pemasaran Fungsi pemasaran adalah semua kegiatan dan tindakan serta jasa yang dilakukan dalam proses pengaliran barang dari tangan produsen ke tangan konsumen. Atau fungsi pemasaran adalah suatu proses pertukaran yang mencakup serangkaian kegiatan yang tertuju untuk memindahkan barang-barang atau jasa-jasa dari sektor produksi ke sektor konsumsi. Fungsi pemasaran ini bekerja melalui lembaga pemasaran. Fungsi pemasaran ditampung dan dipecahkan oleh produsen, saluran pemasaran dan lembaga pemasaran lain (lembaga fasilitas) yang terlibat dalam proses pemasaran B. Klasifikasi Fungsi-Fungsi Pemasaran 1. Fungsi pertukaran a. Fungsi Penjualan b. Fungsi Pembelian 2. Fungsi Pengadaan fisik a. Fungsi Pengangkutan b. Fungsi Penyimpanan 3. Fungsi pelancar a. Fungsi Permodalan b. Fungsi Penanggungan Resiko c. Fungsi Standardisasi dan Grading d. Fungsi Informasi Pasar 1. Fungsi Pertukaran Gunanya untuk memperlancar jalannya pemindahan hak milik atas barang dan jasa dari penjual kepada pembeli. Fungsi ini menciptakan kegunaan hak milik (posession utility) a. Fungsi Penjualan Fungsi ini bertujuan untuk mencari pembeli (konsumen) suatu barang dengan motif mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk itu seorang penjual harus mencari tempat, waktu dan harga yang tepat pada jumlah yang diinginkan konsumen. Sasaran penjualan adalah mengalihkan barang kepada fihak pembeli dengan harga yang memuaskan. Kegiatan penjualan dapat dilaksanakan dengan cara : 1). Penjualan melalui inspeksi (pengawasan, pemeriksaan), yaitu dengan memberi izin oleh penjual kepada pembeli untuk memeriksa, meneliti semua persediaan
14 penjual sebelum pembeli memilih apa yang akan dibelinya. Ini karena sifat-sifat tertentu dari barang dan situasi pemasaran seperti 1) tidak adanya standardisasi barang, 2) sifat cepat rusak dari barang, 3) tingkat pembelian yang sangat cepat, 4) cara memamerkan barang, 5) pelayanan diri sendiri oleh pembeli. 2). Penjualan Melalui Sampel (contoh). Ini berdasarkan prinsip standardisasi, sehingga contoh dari barang merupakan wakil dari semua barang yang akan dijual 3). Penjualan Melalui Penggambaran (description). Terjadi karena anggapan bahwa barang-barang akan dapat digunakan oleh pembeli melalui katalog, sehingga tidak satupun barang ada saat penjualan. Contoh penjualan barang lewat pos, penjualan barang untuk masa datang (future trading). Penjualan melalui penggambaran ini dengan syarat adanya standardisasi dari barang dan garansi. 4). Penjualan melalui kombinasi. Yaitu menggabungkan cara-cara penjualan di atas. Cara ini banyak dilakukan dalam pemasaran modern sekarang ini. b. Fungsi Pembelian Fungsi ini bertujuan untuk mencari sumber-sumber penawaran atau tempat penjual barang guna menjamin kuntinuitas persediaan barang baik bagi konsumen maupun pedagang. Kegiatan fungsi pembelian diperlukan untuk menentukan jenis barang yang akan dibeli yang sesuai dengan kebutuhan, baik untuk konsumsi maupun untuk produksi. Fungsi pembelian mempunyai sejumlah kegiatan 1. Penentuan macam, jumlah dan kualitas barang yang akan dibeli. 2. Mencari sumber penawaran dan pengumpulan barang. 3. Penentuan tempat sumber penawaran 4. Mengetahui keadaan pasar, seperti persediaan barang, harga barang, dan barang subsitusi. 5. Merundingkan syarat-syarat pembelian (macam, jumlah dan kualitas barang dan tanggal penyerahan) 6. Pemindahan hak milik, yaitu pembeli menerima barang dari pihak penjual. Menurut tujuannya, pembelian dapat dibedakan : a. Pembelian untuk konsumsi. b. Pembelian untuk bahan dasar c. Pembelian untuk dijual lagi. 2. Fungsi Fisik Fungsi ini bertujuan untuk mengadakan barang secara fisik, sehingga fungsi ini menimbulkan kegunaan tempat, dan kegunaan waktu. Fungsi ini terdiri dari : a. Fungsi Pengangkutan Fungsi ini meliputi kegiatan yang ditujukan untuk menggerakkan barang dari tempat produksi ke tempat barang itu dibutuhkan. Fungsi pengangkutan dapat menimbulkan kegunaan : 1). Membawa hasil produksi dengan cepat ke tangan konsumen. Hasil pertanian yang perishable cepat sampai ke tangan konsumen sebelum barang itu busuk.
15 2). Meningkatkan nilai harga barang. Hasil pertanian di tempat produksi yang jauh, nilainya rendah, dengan diangkut ke tempat yang membutuhkan maka nilai harganya akan meningkat. 3). Menciptakan kegunaan tempat. Dengan diangkutnya hasil pertanian dari tempat produksinya ke tempat konsumsi, dimana di tempat produksi kegunaannya rendah kalau diangkut ketempat konsumsi kegunaannya akan tinggi. 4). Menciptakan kegunaan waktu. Pengangkutan memindahkan barang ke tempat lain saat konsumen membutuhkan. Misalnya pupuk diangkut ke lokasi petani saat petani memupuk. 5). Menciptakan perkembangan pasar.. Dengan pengangkutan dapat disebarkan barang ke tempat-pemasaran yang baru. 6). Merangsang peningkatan produksi. Diangkutnya hasil produksi ke tempat membutuhkan, dapat meningkatkan sumber permintaan dan penawaran sehingga akan merangsang peningkatan produksi. Pengangkutan dengan bantuan komunikasi akan memperluas daerah pasar. Biaya pengangkutan adalah aspek terpenting dari pengangkutan. Biaya pengangkutan dipengaruhi tarif pengangkutan. Tarif angkutan tinggi berarti biaya pengangkutan akan tinggi dan sebaliknya. Jarak daerah produksi dengan daerah konsumsi yang berjauhan dimana tarif angkutan tinggi akan menyulitkan pengangkutan. Hal ini akan mempersempit daerah pemasaran dan usaha produksi cenderung tidak menguntungkan bila biaya pengangkutan melebihi harga pasar dikurangi biaya produksi. Hasil pertanian yang perishable memerlukan kecepatan dan perawatan dan handling tambahan selama di perjalanan. Pengangkutan yang lambat menimbulkan resiko merosotnya kualitas barang dan turunnya harga di pasar yang dituju. b. Fungsi Penyimpanan Penyimpanan adalah menahan barang selama jangka waktu antara dihasilkan atau diterima sampai dengan dijual. Dengan demikian penyimpanan menciptakan kegunaan waktu, di samping bertendensi menstabilkan harga. Penyimpanan dilakukan karena beberapa alasan : 1). Sifat musiman dari barang. 2). Permintaan produk berlangsung sepanjang tahun. 3). Alasan-alasan yang terdapat dalam waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan berbagai pelayanan pemasaran seperti menunggu pengangkutan, pengolahan dan selama pembelian dan penjualan. 4). Untuk mendapatkan harga yang lebih baik (Brunk dan Darrah, 1955). Macam-macam biaya pada penyimpanan : 1). Sewa gudang, termasuk handling dan perlengkapan ruangan dengan temperatur yang sesuai dengan kondisi barang. 2). Bunga untuk kapital yang ditanam pada barang simpanan. 3). Biaya penutup penurunan nilai barang dalam penyimpanan (susut berat, kerusakan). Penyimpanan mengandung resiko : 1). Resiko perubahan harga. 2). Merosotnya kualitas 3). Berkurangnya jumlah barang atau susut.
16 Cara-cara menghindari resiko penyimpanan : 1). Asuransi. Berguna atas resiko kebakaran. 2). Peraturan dan perundang-undangan oleh pemerintah. 3). Kontrak. 4). Hedging. Resiko dibebankan kepada badan niaga lainnya. 3. Fungsi Fasilitas a. Fungsi Pembiayaan Pembiayaan adalah mencari dan mengurus modal uang yang berkaitan dengan transaksi dalam arus barang dari sektor produksi sampai sektor konsumsi. Pembiayaan mempunyai aplikasi penting dalam pemasaran. Barang-barang tidak dapat melalui semua sistem pemasaran tanpa didukung oleh pembiayaan. Pembiayaan merupakan fungsi umum karena terdapat pada semua bagian kegiatan pemasaran. b. Fungsi Penanggulangan Resiko Resiko dapat diartikan sebagai ketidak pastian dalam hubungannya dengan ongkos, kerugian atau kerusakan. Fungsi penanggulangan resiko mengandung usaha bagaimana mengelakan atau mengurangi kemungkinan rugi karena barang rusak, hilang, turun harga dan tingginya biaya. Fungsi resiko merupakan fungsi umum karena terdapat pada semua bagian kegiatan pemasaran. Ada 2 cara untuk menghindari atau memperkecil resiko, yaitu : 1) Usaha pencegahan 2) Mengalihkan dan membagi resiko kepada fihak lain. 1). Resiko berdasarkan penyebabnya : 1). Resiko karena sifat produk 2). Resiko karena perubahan kondisi pasar 3). Resiko karena sebab-sebab alamiah 4). Resiko karena unsur manusia dan pemerintah. a). Resiko karena sifat produk Hasil pertanian mudah rusak dan busuk (perishable). Kalau tidak terjual sesuai dengan daya tahannya akan rusak dan busuk, harganya turun atau tidak berharga sama sekali. Kalau tidak ditangani secara baik dan benar akan memberikan kerugian. b). Resiko karena perubahan kondisi pasar (1). Resiko karena fluktuasi harga. Penyebabnya ketidak seimbangan permintaan dan penawaran. Hal ini menimbulkan kerugian bagi produsen, pedagang dan konsumen. (2). Resiko karena tempat. Resiko ini terjadi apabila barang yang sama tidak punya harga yang sama pada pasar yang berbeda. Penyebabnya pedagang tidak punya pengetahuan tentang harga-harga pada berbagai pasar. (3). Resiko karena unsur waktu. Ini terjadi bila waktu panen pada petani atau saat menjual pada pedagang harga turun. Atau pada pembeli, sewaktu membeli harga naik. (4). Resiko persaingan. Ini disebabkan tindakan pesaing yang memperbaiki metode penjualan, sehingga dia bisa menjual dengan harga yang rendah.
17 (5). Resiko perubahan harga barang subsitusi. Penurunan harga barang subsitusi atau kenaikan harga barang akan mengalihkan perhatian konsumen kepada barang subsitusi tersebut. c). Resiko karena sebab-sebab alamiah. Contohnya resiko karena kedaan alam. Resiko ini karena perubahan alam yang sukar diatasi, berupa hujan lebat, banjir, angin topan, kebakaran, gempa bumi dll sehingga hasil pertanian terhalang untuk sampai ke konsumen. d). Resiko karena unsur manusia dan Pemerintah a). Resiko ini karena kelalaian manusia, seperti kecelakaan, kebakaran dll. Hal lain seperti kekurangan tenaga kerja, debitur yang tidak membayar kredit, b). Resiko karena unsur pemerintah. Jenis resiko ini makin penting. Misalnya penarikan pajak oleh pemerintah sehingga harga jual naik dan penetapan harga maksimum dan minimum. 2). Usaha menghindari atau memperkecil resiko a). Usaha pencegahan dan pengurangan resiko (1). Usaha penjualan efektif. Caranya dengan mempromosikan barang, mempertahankan dan meningkat kualitas, meningkatkan pelayanan. Hal ini bisa mencegah resiko kehilangan konsumen. (2). Pengetahuan menganai pasar. Resiko pasar timbul karena perubahan kondisi permintaan dan penawaran. Informasi pasar yang tepat dapat mengatasi resiko perubahan kondisi pasar. (3). Pengaturan dan bantuan pemerintah. Tindakan pemerintah untuk melindungi produksi dalam negeri, jaminan harga minimum, pemberian kredit pada produsen. (4). Usaha manajemen individuil. Misalnya membuat bangunan yang tahan api, pemberian kredit secara hati-hati b). Usaha mengalihkan dan membagi resiko. (1). Asuransi. Di sini kerugian dapat diperkecil dengan mengalihkan ke badan asuransi. (2). Kontrak pembelian dan penjualan. Ini terjadi pada hasil pertanian yang bermusim. Pada musim panen harga sering merosot. Untuk itu produk dijual secara perdagangan berjangka. (3). Hedging pada perdagangan berjangka. Untuk memperkecil resiko karena perubahan harga pada pasar berjangka. c. Fungsi Standardisasi dan Grading Standardisasi adalah proses penentuan standard untuk barang-barang. Standard adalah ukuran mutu yang diterima oleh umum sebagai suatu yang mempunyai nilai tetap. Standard ditentukan atas ciri-ciri produk seperti ukuran, bentuk, warna, kadar kimia, kematangan, kandungan air, rasa, aroma, kebersihan atau kombinasi dari ciri-ciri tersebut. Standardisasi dimaksudkan untuk menciptakan keseragaman suatu barang dalam proses pertukaran dari suatu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. Standard dalam hasil pertanian : 1. Standard berdasarkan jumlah dan berat
18 2. Standard berdasarkan ukuran dan pengukuran 3. Standard berdasarkan kualitas. 4. Standard berdasarkan warna Grading adalah proses pemakaian suatu standard dengan jalan mensortir barang menjadi beberapa golongan. Atau memilih barang untuk dimasukan ke dalam kelas yang telah ditetapkan dengan standardisasi. Grading bermanfaat untuk memperlancar perdagangan antara lain : 1. Menghilangkan keperluan untuk menyelidiki (inspection) dan memisahkan barang menurut penggunaan akhir oleh pembeli sehingga menghemat waktu bagi pembeli dan penjual. 2. Menghemat tenaga dan biaya 3. Mempermudah dalam perbandingan harga di antara pasar-pasar. 4. Mengurangi praktek kecurangan. 5. Mempermudah produsen dalam pengelompokan barang sehingga perdagangan bisa terjadi dengan segera. 6. Mempermudah kontrak pada future trading 7. Bisa melakukan penjualan melalui sampel/contoh kepada pembeli Standardisasi dan grading sulit dilakukan pada hasil-hasil pertanian karena kesulitan dalam pengontrolan mutu produk selama proses produksi di samping aneka ragam varietas, kualitas dan ukuran. Sifat perishable mempersulit pelaksanaan fungsi standardisasi. Kesulitan pokok dalam menggunakan grading dari hasil pertanian yang perishable adalah : 1. Selama proses pemasaran, mutu produk yang tadinya baik mungkin berubah setelah samapi di tempat lain. 2. Produk munghkin rusak atau berkurang berat selama pengangkutan, handling dan penyimpanan 3. Suatu produk di suatu tempat memenuhi syarat-syarat tertentu, tetapi setelah sampai di tempat lain mungkin telah berubah. d. Fungsi Informasi Pasar (Market Information) Fungsi ini adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan fakta-fakta, pendapat- pendapat dan gejala-gejala dalam pengaliran barang dari produsen ke konsumen kemudian menganalisa dan menilainya dengan tujuan agar dapat diambil suatu keputusan yang bermanfaat terhadap pelaksanaan kegiatan pemasaran untuk disebarkan kepada yang berkepentingan. Keterangan atau data yang diperlukan berupa laporan cuaca, keadaan harga (pada produsen, pedagang perantara dan konsumen), laporan dan analisa ramalan kondisi dunia usaha, studi selera dan preferensi, motivasi dan tingkah laku konsumen serta keadaan permintaan dan penawaran. Sasaran untuk memperoleh informasi pasar untuk menarik keputusan dalam perbaikan pemasaran adalah produk yang diperdagangkan, harga-harga, bentuk-bentuk pasar, pedagang-pedagang perantara, metode-metode penjualan dan unsur-unsur lain (pemerintah, perusahaan pengangkutan dsb). Petugas-petugas yang terkait dengan ini adalah mantri pasar, aparat pertanian dan bagian dari pemerintah yang tugasnya terkait dengan ini. Penilaian data, fakta dan keterangan haruslah dengan hati-hati, penuh
19 perhitungan dan punya keahlian agar keputusan yang diambil karena ini menyangkut kepentingan produsen, pedagang perantara dan konsumen. Sumber data informasi pasar ini adalah : a. Perusahaan atau pedagang perantara, eksportir, importir yang disebut data interen. b. Sumber-sumber ekstern seperti pasar, konsumen dan produsen. Materi yang dianalisa dari data dan keterangan yang dikumpulkan meliputi : 1. Analisa produk. Petani yang merencanakan menanam suatu tanaman diberi tahu bagaimana sifat permintaan produk yang akan dihasilkan dan sifat produk sehingga petani dapat menentukan cara pengangkutan dan penjualan yang menguntungkan. Bagi pengusaha, jenis mana dari produk yang banyak permintaannya dan mana yang kurang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, mengikuti jumlah penjualan dari waktu ke waktu sehingga bisa menghitung fluktuasi permintaan. Bagi pedagang perantara dan pemerintah dalam mengumpulkan keterangan pasar harus mengetahui seluruh jenis barang yang diperjualbelikan, harga-harga barang dan perkembangan jumlah permintaan dan persediaan. Jika terjadi kegoncangan harga pedagang dan pemerintah dapat bertindak membimbing harga. 2. Analisa wilayah. Tingkat harga penjualan yang berbeda-beda bisa disebabkan perbedaan wilayah dari barang. Perbedaan wilayah bisa disebabkan keadaan alam dan kegiatan pemasaran yang berbeda.Perbedaan alam bagi hasil pertanian menimbulkan variasi waktu panen, sehingga terjadi variasi harga dari tempat ke suatu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. 3. Analisa pembeli. Penting sekali untuk produk yang konsumennya sedikit. Analisa meliputi frekuensi pembelian dan pesanan dari konsumen, jumlah produk yang dijual, jenis produk yang diminta dan jumlah golongan konsumen dan pendapatannya.
20 V. LEMBAGA PEMASARAN A. Definisi Dalam proses pergerakan barang dari tangan produsen ke tangan konsumen terdapat banyak kegiatan yang saling bekerja sama. Ada kegiatan yang membeli dan mengumpulkan hasil-hasil pertanian, ada yang mengangkutnya ke daerah konsumen, ada yang mengecernya dan ada pula yang mencari-cari sumber penawaran dan permintaan. Dari sini dapat diambil definisi dari lembaga pemasaran adalah individu atau badan yang terlibat dalam pengaliran barang dari produsen ke konsumen. Yang termasuk ke dalam lembaga pemasaran ini adalah : 1. Golongan produsen, yaitu orang atau badan di samping menghasilkan barang- barang juga aktif melaksanakan beberapa fungsi pemasaran tertentu untuk menyalurkan hasil produksinya ke konsumen. Contohnya petani produsen atau individu dan badan yang menghasilkan produk olahan hasil pertanian 2. Pedagang perantara, yaitu individu atau badan yang yang membeli barang dari produsen dan menyalurkannya kepada konsumen. Disebut juga middleman atau intermediary. Contohnya pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer dan lain-lain. 3. Lembaga pemberi jasa, yaitu individu atau badan yang memberi jasa atau fasilitas untuk meperlancar fungsi pemasaran yang dilakukan produsen atau pedagang perantara. Contohnya perusahaan pengangkutan, biro iklan, bank dan lain-lain. B. Pembagian Lembaga Pemasaran Menurut Penguasaan Barang. 1. Lembaga Pemasaran yang Memiliki dan Menguasai Barang a. Pedagang Pengumpul (Local Assembler) Yaitu pedagang perantara yang membeli hasil pertanian dari sejumlah petani produsen, kemudian dikumpulkannya dan dan dijualnya lagi ke pedagang lain seperti pedagang besar, pedagang pengecer atau ke konsumen. Pedagang ini hanya ada pada pemasaran hasil pertanian. Disebut juga tengkulak. Biasanya punya tempat usaha di sentra produksi pertanian, atau tempat petani produsen menjual hasil pertaniannya. b. Pedagang Besar (Wholesaler). Yaitu pedagang perantara yang membeli barang dalam jumlah besar dari pedagang pengumpul atau langsung dari petani produsen, kemudian dijual lagi ke pedagang lain, yang biasanya ke pedagang pengecer. Pedagang besar yang menerima/membeli barang dari sejumlah pedagang pengumpul, kemudian dijualnya lagi ke pedagang besar di luar daerah dinamakan dengan Pedagang Besar Penerima (Wholesaler receiver). Pedagang besar yang membeli barang dari pedagang besar penerima kemudian dijualnya lagi ke sejumlah pedagang pengecer dinamakan Pedagang Besar Penyebar (Wholesaler distributor). c. Pedagang Pengecer (Retailer). Yaitu pedagang perantara yang menjual langsung barang ke konsumen secara eceran. Biasanya menerima barang dari pedagang besar atau pedagang pengumpul, bahkan dari produsen.
21 Pedagang pengecer ini ada yang memiliki toko seperti pedagang yang umumnya di pusat pertokoan atau supermarket. Kemudian ada yang tidak memiliki toko, seperti pedagang keliling, pedagang di kaki lima, pedagang pinggir jalan dan lain-lain. 2. Lembaga pemasaran yang Tidak Memiliki, tetapi Menguasai Barang. Yang dimaksud dengan menguasai barang adalah lembaga pemasaran yang tidak berhak atas barang, tetapi boleh meyimpan, sortasi, membagi-bagi serta mengepak barang. a. Makelar (broker) Yaitu lembaga pemasaran yang berfungsi menjualkan barang orang lain dimana dia berhak menentukan harga jual berdasarkan harga yang ditetapkan pemilik barang . Makelar akan mendapatkan untung dari selisih harga jual yang ditetapkan pemilik barang dengan harga yang dia tetapkan yang dinamakan dengan brokerage). b. Komisioner. Yaitu lembaga pemasaran yang diberi kepercayaan untuk menjualkan barang dengan harga jual ditetapkan oleh pemilik barang. Dari hasil penjualan maka komisioner akan mendapatkan komisi (upah) yang dinamakan dengan factorage. Komisi yang diterima komisioner biasanya berdasarkan presentase dari harga jual barang. c. Pelelang. Yaitu lembaga pemasaran yang menyediakan tempat, fasiltas dan kesempatan bagi penjual dan pembeli barang. Fungsinya hampir sama dengan komisioner. Dalam penjualan barang, pelelang menentukan harga secara terbuka. Prosesnya, pelelang menawarkan barang penjual kepada sejumlah pembeli dengan menetapkan pembelinya berdasarkan harga tawaran yang paling tinggi. Pelelang mendapatkan upah berdasarkan persentase yang telah ditetapkan pelelang terhadap harga jual. 3. Lembaga Pemasaran yang Tidak Memiliki dan Tidak Menguasai Barang. Lembaga pemasaran ini hanya memberikan jasa terhadap kelancaran pengaliran barang dari produsen ke konsumen. Dalam pemasaran modern, fungsi lembaga ini makin besar. a. Perbankan. Lembaga ini berfungsi menyediakan kredit atau pengiriman uang bagi pelaku pemasaran. b. Perusahaan Pengangkutan. Berfungsi membawa barang dari prosusen ke konsumen. c. Perusahaan Pergudangan. Berfungsi menyimpan barang sebelum dijual ke pasar berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. d. Perusahaan Asuransi. Berfungsi menjamin barang dari resiko kerusakan, kehilangan selama barang diperjual belikan. e. Biro iklan. Berfungsi mengenalkan barang kepada konsumen.
22 VI. SALURAN PEMASARAN A. Definisi Pergerakan barang dari produsen ke konsumen merupakan jasa dari lembagalembaga pemasaran yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian lembaga pemasaran yang merupakan badan perantara adalah merupakan saluran-saluran arus pergerakan dari barang yang diperdagangkan. Saluran pemasaran adalah individu atau badan yang mengambil alih hak atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa selama barang atau jasa tersebut berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen. Saluran pemasaran hasil pertanian dan olahannya bervariasi. Produk hasil pertanian yang mudah rusak, maka panjang saluran pemasarannya biasanya pendek, sedangkan yang tahan lama, cenderung panjang. Begitu juga hasil olahan produk pertanian, saluran pemasarannya cenderung panjang. B. Tingkatan Saluran Pemasaran Panjang pendeknya saluran pemasaran ditentukan oleh banyak sedikitnya lembaga pemasaran yang ikut serta dalam penyampaian barang dari produsen ke konsumen. Makin banyak lembaga pemasaran yang ikut serta, maka makin panjang saluran pemasarannya dan sebaliknya. 1. Saluran pemasaran nol tingkat. Dinamakan juga saluran pemasaran langsung. Petani Konsumen Pada saluran ini produsen secara langsung menjual hasil pertaniannya ke konsumen. Contohnya petani sayur yang berusdahatani dekat jalan raya, langsung mengecerkan sayurannya ke konsumen yang mendatanginya. Atau petani langsung mendatangi konsumen ke komplek-komplek perumahan di mana konsumen tinggal. Di sini petani produsen bisa mendapatkan keuntungan yang tinggi, karena harga yang berlaku adalah harga pasar. Pedagang perantara lain tidak digunakan sehingga biaya pemasaran jadi rendah. Akibatnya petani mendapatkan keuntungan yang tinggi. Tetapi bisanya persentase volume yang diperdagangkan secara langsung ini kecil, karena kemampuan petani menjualkan hasil produksinya terbatas. 2. Saluran pemasaran 1 tingkat. Petani Pedagang Pengecer Konsumen Sering terjadi pada sayuran, dimana petani menjual hasil produksinya dengan mengantarkan ke pedagang pengecer di pasar, atau pedagang pengecer sendiri yang langsung mendatangi petani. Volume penjualan dengan cara ini cukup besar, karena biasanya petani menjualkan hasil produksinya untuk satu kali panen. 3. Saluran Pemasaran 2 tingkat. Petani Pdgg pengumpul Pdgg Pengecer Konsumen Cara ini menggunakan dua macam lembaga pemasaran. Juga sering terjadi pada produk sayuran, dimana pedagang pengumpul mendatangai petani-petani untuk membeli hasil produksinya. Pedagang pengumpul mengumpulkannya terlebih dahulu dari sekian banyak petani. Kemudian diantarkan ke beberapa pedagang pengecwer di pasar.
23 4. Saluran Pemasaran 3 tingkat Petani Pdgg Pengumpul Pdgg Besar Pdgg Pengecer Konsumen. Cara ini biasanya terjadi dalam perdagangan hasil pertanian antar daerah, seperti antar kabupaten atau antar provinsi. Caranya pedagang pengumpul mengumpulkan hasil pertanian dari beberapa petani. Kemudian dijual ke pedagang besar yang berada di pasar induk hasil pertanian. Sesudfah itu pedagang besar mengangkutnya ke luar daerah. Di daerah yang dituju pedagang beasar menjualnya ke beberapa pedagang pengecer dan dari pedagang pengecer barang sampai ke konsumen.Pedagang besar ini biasanya bermodal besar, seperti biaya yang cukup, fasilitas yang memadai seperti alat angkut berpa truk dan pegudangan serta menggunakan beberapa pekerja. Dari beberapa saluran pemasaran di atas bisa dibuat skema saluran pemasarannya. 4 3 2 1 Gasmbar 2. Skema Saluran Pemasaran C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Panjang Pendeknya Saluran Pemasaran 1. Jarak antara produsen dengan konsumen. Makin jauh jarak produsen ke konsumen, biasanya makin panjang saluran pemasarannya dan sebaliknya makin dekat maka saluran pemasarannya makin pendek. 2. Cepat tidaknya produk rusak atau busuk. Produk yang cepat rusak atau busuk, tidak tahan lama harus secepatnya sampai ke konsumen. Untuk itu saluran pemasarannya harus pendek 3. Skala produksi usaha. Bila produksi dalam jumlah kecil, maka tidak akan menguntungkan bila produsen langsung menjualnya ke pasar. Untuk itu peranan pedagang perantara amat dibutuhkan. Dengan demikian saluran pemasaran cenderung panjang. 4. Posisi keuangan pengusaha. Pengusaha yang posisi keuangannya kuat, cenderung untuk memperpendek saluran pemasaran. Hal ini disebabkan dia lebih mampu untuk melakukan fungsi pemasaran lebih banyak dari pengusaha yang keuangannya lemah, sehingga keadaan ini cenderung memperpendek saluran pemasaran. Petani Pedagang Pengumpul Pedaganag Besar Pedagang Pengecer Konsumen
24 VII. BIAYA PEMASARAN A. Definisi Biaya Pemasaran Biaya pemasaran adalah semua biaya yang didapatkan selama proses penyampaian barang dari tangan produsen sampai ke tangan konsumen. Dalam definisi di atas dapat dikatakan bahwa istilah biaya pemasaran hasil pertanian mancakup jumlah pengeluaran yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan penyampaian hasil produksi pertanian dan jumlah pengeluaran oleh lembaga pemasaran. Besar kecilnya biaya pemasaran tergantung dari 1) banyaknya kegiatan pemasaran yang dilakukan, 2) banyaknya jumlah lembaga pemasaran yang ikut serta, 3) jumlah fasilitas yang diperlukan dalam proses pergerakan barang itu, 4) cepat tidaknya produk itu rusak. Makin banyak kegiatan pemasaran dan fasilitas pemasaran digunakan serta cepat tidaknya produk itu rusak, maka makin besar biaya pemasaran. Untuk itu biaya pemasaran pada setiap macam hasil pertanian akan berbeda satu sama lain. Misalnya biaya pemasaran beras akan berbeda dengan biaya pemasaran sayur kangkung. Hal ini disebabkan lebih banyaknya proses pemasaran yang dilakukan pada beras dalam penyalurannya dari tangan produsen ke tangan konsumen dibandingkan sayur kangkung. Beras sebelum sampai ke tangan konsumen akan mengalami proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, packing dan lain-lain. Sedangkan sayur kangkung biasanya hanya akan mengalami proses pengumpulan dan pengangkutan sehingga bisa langsung sampai ke tangan konsumen. Semakin banyak proses pemasaran yang dilakukan pada suatu hasil produksi akan semakin besar pula biaya pemasarannya. Di samping itu lembaga pemasaran yang dilewati beras lebih banyak dari sayur kangkung. Pada pemasaran beras akan bekerja lembaga pemasaran seperti pedagang pengumpul, lembaga pengolah (rice milling), lembaga penyimpanan, pedagang besar penerima, pedagang besar penyebar, perusahaan pengangkutan, serta pedagang pengecer. Sedangkan sayur kangkung hanya akan bekerja pedagang pengumpul dan pedagang pengecer saja. Semakin banyak lembaga pemasaran yang dilewati oleh suatu produk, akan semakin besar pula biaya pemasarannya. Jumlah fasilitas yang digunakan dalam penyampaian barang dari produsen ke konsumen akan mempengaruhi beasar kecilnya biaya pemasaran. Beras membutuhkan alat angkut, alat pengolah (rice milling), alat penjemur, gudang dan lain-lain dalam proses pemasaran, sedangkan sayur kangkung mungkin hanya memerlukan fasiltas pengangkutan saja dalam proses pemasarannya. Cepat tidaknya produk tersebut rusak atau busuk akan mempengaruhi biaya pemasaran. Makin tahan lama suatu produk pertanian dari kerusakan, maka makin besar pula biaya pemasarannya. Hal ini disebabkan produk yang tahan lama, waktu penjualannya bisa lebih lama dan lokasi penjualan semakin luas. Hal ini akan mengakibatkan saluran pemasarannya bisa jadi panjang dan lembaga pemasaran yang ikut serta dalam proses pemasaran bisa lebih banyak. Makin lama daya tahan produk dan makin banyak lembaga pemasaran yang ikut serta akan memperbesar biaya pemasaran. Secara umum biaya pemasaran yang terdapat ;pada hasil pertanian adalah biaya pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, penyimpanan, pengepakan), biaya pembelian,
25 penjualan, penyimpanan, pengepakan (packing), pengangkutan, pengolahan, sortasi, grading, sewa, penyusutan alat pemasaran, biaya tenaga kerja, biaya resiko dan lain-lain. Contohnya biaya pemasaran nenas pada pedagang pengumpul di Kota Pekanbaru adalah biaya pengakutan, biaya muat dan bongkar. Pada pedagang pengecer adalah biaya tali pengikat, sewa tempat berjualan, dan biaya keamanan kebersihan. Kegiatan pemasaran terjadi setelah produk hasil pertanian siap untuk dijual sampai produk tersebut sampai ke konsumen. Jadi biaya pemasaran baru dimulai semenjak barang siap untuk dijual sampai komoditi tersebut sampai ke konsumen. Petani yang menjual hasil produksinya adalah bagian dari lembaga pemasaran. Untuk petani biaya pemasaran dimulai semenjak hasil pertaniannya siap untuk dijual. Misalnya kalau petani siap menjualkan hasil produksinya setelah panen, maka batas biaya usahataninya dengan biaya pemasaran adalah setelah panen tersebut. Tetapi kalau petani baru siap menjualkan hasil produksinya setelah ada kegiatan pasca panen, seperti pada komoditi kakao dimana produk baru siap dijual setelah produk kakao difermentasi, maka kegiatan pemasaran terhitung setelah produk kakao difermentasi dan berakhir saat produk tersebut sampai ke konsumen. Pada pedagang perantara (pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer), kegiatan pemasaran bermula semenjak komoditi sampai kepadanya dan berakhir sampai komoditi tersebut diserahkan ke pihak berikutnya (pedagang perantara berikutnya, fabrik atau konsumen) B. Jenis Biaya Pemasaran 1. Biaya Dibayarkan. Yaitu biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam kegiatan pemasaran. Contohnya biaya pengangkutan, biaya bongkar muat, sewa gudang, sewa toko, pembungkusan/ pengepakan, tenaga kerja luar keluarga dan lain-lain. 2. Biaya Diperhitungkan. Yaitu biaya yang sebenarnya ada, tetapi tidak dibayarkan. Contohnya biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) pedagang sendiri. 3. Biaya Tunai Yaitu biaya pemasaran yang langsung dibayar lunas sewaktu kegiatan pemasaran dilakukan. 4. Biaya angsuran Yaitu biaya yang dicicil pembayarannya. C. Penggolongan Biaya Pemasaran 1. Biaya untuk mendapatkan pesanan (order getting cost). Yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam usaha untuk memperoleh pesanan. Contoh biaya angkut, bongkar muat, tansportasi dan lain-lain. 2. Biaya untuk memenuhi pesanan (order filling cost). Yaitu semua biaya yang dikeluarkan untuk mengusahakan agar produk sampai ke tangan konsumen dan biaya- biaya untuk mengumpulkan piutang dari pembeli. D. Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pemasaran. Yaitu biaya-biaya yang timbul karena fungsi pemasaran, antara lain :
26 1. Biaya Fungsi Pertukaran. Yaitu biaya pembelian pada pedagang perantara yang terjadi dalam kegiatan pengadaan barang atau biaya pembelian pada konsumen dan biaya penjualan, yaitu biaya yang terjadi dalam kegiatan memenuhi pesanan dari konsumen. 2. Biaya Fungsi Fisik, yaitu biaya pengolahan, pengangkutan dan penyimpanan. 3. Biaya Fungsi Fasilitas, yaitu biaya sortasi, biaya iklan, biaya resiko, bunga modal, penagihan hutang/kredit, biaya akuntansi dan biaya informasi pasar. E. Analisis Biaya Pemasaran 1. Biaya alat. Biaya alat kalau alat itu dalam pemakaiannya habis dalam 1 kali periode pemasaran, maka dihitung dengan cara : harga alat/unit x jumlah alat yang digunakan. Kalau alat itu dapat digunakan lebih dari 1 kali periode pemasaran, atau tahan lama, maka biayanya dihitung dengan teori biaya penyusutan alat. Penyusutan alat atau depresiasi alat adalah penurunan nilai barang tersebab dipakai. Peralatan yang biasa dihitung biaya penyusutannya adalah kendaraan, gerobak, gudang n, bangunan dan lain-lain. Rumus biaya penyusutan ada berapa macam. Tetapi yang sering digunakan dalam analisa usahatani adalah dengan metoda garis lurus (straight line method). Rumusnya : Biaya penyusutan alat (Rp/tahun) = Harga awal – harga akhir Umur ekonomis Keterangan : Harga awal = harga yang dibayarkan waktu pembelian alat Harga akhir = harga penjualan sewaktu menjual alat tersebut setelah tidak lagi bisa digunakan atau tidak lagi ekonomis. Kalau harga itu tidak ada, maka dihitung sebesar 10% dari harga awal. Umur ekonomis = adalah umur alat yang digunakan selama bisa digunakan dengan baik. Lamanya umur ekonomis alat tergantung kepada jenis alatnya dan juga belum ada angka yang pasti. Biasanya alat buatan fabric sudah ada ketentuan umur ekonomisnya dari fabriknya. Kalau tidak ada, bisa ditanyakan kepada penggunanya. Kalau pengguna alat tidak dapat memperkirakannya maka bisa digunakan ketentuan umum yang berkembang dari masing-masing alat tersebut. Misalnya, gerobak sorong buatan fabric dihitung menurut pendapat pengguna alat bersangkutan atau kalau penggunanya tidak tahu dihitung selama 5 tahun, gudang permanen 20 tahun. Contoh : Harga beli gerobak sorong Rp 500.000/buah. Harga akhir Rp 50.000. Umur ekonomis gerobak 5 tahun. Maka nilai penyusutan gerobak adalah : Biaya penyusutan = Rp 500.000 – Rp. 50.000 x 1 tahun = Rp 90.000/tahun 5 Kalau dalam satu periode pemasaran alat itu digunakan selama 10 hari maka biaya penyusutan gerobak ini adalah per periode pemasaran adalah : Biaya penyusutan/periode pemasaran = Rp 90.000 x 10 hari = Rp 2.465,75 365 hari 2. Bunga modal. Biaya bunga modal adalah biaya yang dibayarkan sebagai pembayar bunga pinjaman kalau lembaga pemasaran meminjam uang ke lembaga keuangan yang resmi
27 atau tidak resmi. Menghitungnya adalah dengan mengalikan besarnya pinjaman dengan besarnya bunga. Kalau modal berasal dari milik sendiri maka biaya modal ini termasuk kepada biaya diperhitungkan. Menghitungnya dengan rumus : Bunga Modal = (Biaya dibayarkan + biaya diperhitungkan) x tingkat suku bunga Per tahun pinjaman per tahun 3. Biaya Bersama Adakalanya seorang pedagang pengecer menjual bermacam-macam komoditi hasil pertanian di tokonya. Misalnya yang dijual ada 4 macam komoditi yaitu kangkung, bayam, buncis dan terung. Kita memerlukan nilai biaya bersama hanya untuk 1 macam komoditi saja, misalnya untuk terung saja. Untuk itu menghitung biaya sewa toko untuk terung diperlukan rumus biaya bersama. Biaya bersama adalah biaya yang dibayarkan untuk semua komoditi yang dibeli dan dijual dalam waktu yang sama. Cara menghitung biaya bersama untuk terung saja : Biaya Bersama (thn) Biaya Bersama (Terung) = x % komoditi x Lama penjualan 365 hari Contoh sewa toko Rp 1.000.000/tahun. Jumlah jenis komoditi yang dijual 4 macam (kangkung, bayam, buncis dan terung). Untuk terung saja adalah 1/4 bagian. Persentase komoditinya yaitu 1/4 x 100% = 25%. Lama penjualan terung sampai habis untuk 1 periode beli dan jual 3 hari. Biaya bersama sewa toko (terung) = 1.000.000 x 25% x 3 hari 365 = 2.054,79 Jadi biaya sewa toko untuk terung saja adalah Rp 2.054,79 /periode Biaya bersama ini terjadi pada pedagang perantara antara lain pada biaya sewa toko, sewa kendaraan, sewa gudang, upah karyawan, upah TKDK, biaya listrik, retribusi pasar, penyusutan alat pemasaran, pajak toko dan lain-lain. C. Macam-macam Biaya Pemasaran 1). Biaya pengeringan Baya pengeringan adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembayar jasa pengeringan. Biaya ini bisa berbentuk biaya dibayarkan kalau pengeringan diupahkan kepada tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Juga bisa menjadikan biaya diperhitungkan karena dikerjakan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dimana penghitungannya mengikuti teori biaya HKP. Biaya pengeringan ini biasanya terjadi pada komoditi padi, bawang, cassiavera atau kulit manis, cengkeh, tembakau dan lain-lain. Biaya pengeringan ini terjadi pada petani, pedagang pengumpul, pedagang besar dan eksportir. 2). Biaya pengolahan Pengolahan adalah merubah barang menjadi bentuk lain sehingga menambah kegunaannya. Biaya pengolahan adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembayar jasa pengolahan produk pertanian. Pengolahan biasanya terjadi pada komoditi padi yang dijadikan beras, beras dijadikan tepung beras, tomat dijadikan saus tomat dan lain-lain. Biaya pengolahan ini terjadi pada petani dan pedagang perantara seperti pedagang pengumpul (mengubah padi jadi beras, beras jadi tepung beras dan lain-lain), pedagang
28 besar (mengubah padi jadi beras, beras jadi tepung beras dan lain-lain), eksportir (mengubah bahan baku menjadi bahan setengah jadi) dan lain-lain. 3. Biaya Transportasi lembaga pemasaran Biaya transportasi adalah biaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran untuk sewa kendaraan atau beli bahan bakar untuk ongkos transportasi lembaga pemasaran tersebut dalam kegiatan pemasaran. Petani dan pedagang perantara yang tidak punya kendaraan maka dia menyewa angkutan transportasi untuk kegiatan pemasaran, seperti sewa angkutan kota, angkutan pedesaan, ojek dan lain-lain. Untuk petani dan pedagang perantara yang punya kendaraan maka biaya transportasi ini adalah biaya untuk membeli bahan bakar. Penghitungan biaya transportasi adalah besarnya sewa angkutan yang dikeluarkan. Sedangkan biaya untuk beli bahan bakar adalah berapa jumlah bahan bakar terpakai dikali dengan harga/unitnya. Pada pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer biaya transportasi ini ada pada saat pembelian produk dan saat penjualan produk. 4). Biaya pengangkutan produk Pengangkutan adalah memindahkan suatu komoditi pertanian ke tempat lain sehingga bertambah kegunaannya. Pengangkutan dapat berupa memindahkan komoditi dari lahan ke gudang, dari gudang ke pasar atau pemindahan produk ke konsumen dan lain-lain. Biaya pengangkutan adalah ongkos yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran untuk mengangkut produknya ke pedagang berikutnya atau konsumen (petani ke pedagang pengumpul, pedagang pengumpul ke pedagang besar, pedagang besar ke pedagang pengecer atau pedagang pengecer ke konsumen dan lain-lain). Biaya pengangkutan ini dapat berupa biaya dibayarkan, yaitu apabila lembaga pemasaran menyewa alat angkut, atau ongkos angkut kendaraan. Kalau lembaga pemasaran punya kendaraan sendiri maka biayanya adalah berapa penggunaan bahan bakar yang digunakan dikalikan dengan harga bahan bakar/unit. Pada pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer biaya pengankutan produk ini ada pada saat pembelian produk dan saat penjualan produk. 5). Biaya pembersihan produk. Pembersihan adalah memisahkan hasil produksi dari benda lain. Biaya pembersihan adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembayar proses pembersihan. Misalnya pembersihan beras dari sisa gabah yang tidak tergiling, memisahkan kentang, wortel, ubi kayu, ubi jalar dari sisa tanah yang masih melekat pada produk itu dan lainlain. Biaya pembersihan ini dapat berupa biaya dibayarkan, yaitu apabila petani mengupahkannya kepada orang lain dengan penghitungannya berapa biaya yang dibayarkan kepada buruh tersebut. Dapat berupa biaya diperhitungkan apabila petani dan pedagang perantara melakukan sendiri atau beserta anggota keluarganya yang biayanya tidak pernah dibayarkan. Penghitungan biaya diperhitungkan ini mengikuti cara penghitungan biaya Hari Kerja Pria (HKP). Biaya pembersihan produk ini terjadi pada petani dan pedagang pengumpul. 6). Biaya sortasi produk Sortasi adalah memisah-misahkan komoditi berdasarkan kualitas. Contohnya memisahkan jeruk yang besar dengan yang menengah atau kecil. Memisahkan ini tujuannya untuk membedakan produk atas kualitasnya sehingga membentuk harga yang
29 berbeda. Jeruk yang besar kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan jeruk yang menengah dan kecil sehingga harganya bisa lebih tinggi dari jeruk yang menengah atau kecil. Atau cassiavera yang dipisahkan produk berdasakan grade-nya. Biaya sortasi ini adalah biaya untuk membayar ongkos sortasi. Biaya sortasi ini dapat berupa biaya dibayarkan, yaitu apabila petani mengupahkannya kepada orang lain dengan penghitungannya berapa biaya yang dibayarkan kepada buruh tersebut. Dapat berupa biaya diperhitungkan apabila petani sendiri dengan anggota keluarganya yang melakukannya yang biayanya tidak pernah dibayarkan. Penghitungan biaya diperhitungkan ini mengikuti cara penghitungan Hari Kerja Pria (HKP). 7). Biaya penyimpanan produk Penyimpanan adalah waktu yang dibutuhkan menunggu sampai produk terjual. Penyimpanan ini biasanya menggunakan gudang atau sejenisnya. Pada petani kecil penyimpanan biasanya dilakukan di rumah dengan mengambil bagian dari rumah. Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar sewa gudang, biaya penggunaan bahan pemeliharaan produk, biaya listrik upah buruh dan lainlain. Pada petani biaya penyimpanan ini jarang ada, dikarenakan produksi sedikit dan bisa dilakukan di rumah petani. Tapi ada juga petani yang punya gudang sendiri. Penghitungan sewa gudang adalah berapa biaya yang dibayarkan untuk sewa gudang berdasarkan lama dan luas tempat yang dipakai. Penghitungan sewa listrik adalah berapa biaya sewa listrik yang terpakai ke PLN. Biaya penggunaan bahan pemeliharaan produk adalah berapa banyak bahan pemeliharaan itu terpakai dikalikan dengan harga per unitnya. Upah buruh, berapa upah buruh yang dibayarkan. Biaya penyimpanan produk ini terjadi pada petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer, eksportir dan lain-lain. 8) Biaya muat dan bongkar. Muat dan bongkar adalah aktifitas yang dilakukan pada komoditi pertanian untuk menaikan produk ke atas alat angkut dan bongkar adalah aktifitas yang dilakukan untuk menurunkan produk dari alat angkut. Proses muat dan bongkar ini cukup besar dalam produk pertanian, karena produk pertanian berat, memakan banyak tempat dan mudah rusak. Biaya muat dan bongkar ini adalah biaya yang dikeluarkan untuk melakukan aktifitas muat dan bongkar. Contohnya pada komoditi beras, muat adalah aktifitas menaikan beras ke atas alat angkut dan bongkar adalah menurunkan beras dari alat angkut sesampainya di lokasi yang dituju. Penghitungan biaya ini adalah berapa biaya yang dibayarkan kepada buruh angkat dalam rangka memuat dan menurunkan produk. Biaya muat dan bongkar ini terjadi pada petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer, eksportir dan lain-lain. Pada pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer biaya muat/bongkar ini ada pada saat pembelian produk dan saat penjualan produk. 9) Biaya bunga pembelian produk. Biaya bunga pembelian produk adalah biaya bunga dari uang yang dikeluarkan untuk pembayar produk yang dibeli dari petani atau pedagang sebelumnya. Biaya ini dihitung dalam bentuk besarnya bunga kredit yang berlaku dikalikan dengan jumlah biaya pembelian dan lamanya waktu penggunaan. Contoh, apabila biaya pembelian
30 produk Rp 1.000.000 dan bunga kredit sebesar 12%/tahun dan lama penggunaan modal itu selama 7 hari, maka biaya bunganya adalah : Jumlah pembelian x bunga kredit/tahun = Rp 1.000.000 x 12% = Rp 120.000/tahun. Karena hanya digunakan selama 7 hari (1 kali periode beli/jual), maka nilai bunganya adalah Rp. 120.000 = Rp 2.301,37 365 x 7 hari Biaya bunga pembelian produk ini ada pada pedagang perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer dan konsumen antara yaitu konsumen yang membeli produk untuk diolahnya dan dijual kembali dalam bentuk produk lain untuk dikonsumsi seperti fabrik barang makanan (fabrik kue, roti dan lain-lain), rumah makan (mengubah beras jadi nasi, buah-buahan menjadi minuman dan lain-lain), pengusaha makanan kecil (mengubah tepung beras jadi kue dan makanan lain). Biaya bunga pembelian produk ini biasa berbentuk biaya dibayarkan apabila biaya pembelian produk berasal dari pinjaman ke lembaga kredit atau bank. Juga bisa sebagai biaya yang diperhitungkan apabila biaya pembelian produk berasal dari uang milik pedagang perantara sendiri. Dalam analisa pemasaran, biaya bunga pembelian produk ini dihitung sekaligus bersama biaya dibayarkan dan biaya diperhitungkan di dalam biaya bunga modal. 10). Upah/gaji Lembaga Pemasaran dan karyawan Adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembayar upah/gaji lembaga pemasaran dan karyawan pemasaran yang digunakan untuk pembelian dan penjualan. Petani dan pedagang perantara ada yang menggunakan tenaga orang lain untuk membantu dia dalam pemasaran hasil pertanian yang diperdagangkannya. Pada petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer adalah upah/gaji TKLK yang digunakan kalau berasal dari luar keluarga dan biaya TKDK bila berasal dari dalam keluarga yang membantu dalam pemasaran produknya. Upah/gaji TKLK adalah upah/gaji yang dibayarkan untuk membantu lembaga pemasaran dalam memasarkan produknya dan upah TKDK adalah upah/gaji lembaga pemasaran dan keluarganya yang membantu pelaksanaan pemasaran yang mana gaji/upahnya tidak pernah dibayarkan yang merupakan biaya yang diperhitungkan dalam pemasaran produk. Penghitungan biaya TKLK dengan cara berapa biaya yang dibayarkan untuk upah.gaji karyawan dalam 1 periode pembelian/penjualan. Penghitungan biaya upah/gaji TKDK dengan memakai teori HKP dalam 1 periode pembelian/penjualan. Biaya upah/gaji tenaga kerja karyawan ini biasa terjadi pada pedagang pengecer, yaitu tenaga kerja yang dipekerjakan di toko atau tempat pedagang pengecer berjualan 11). Biaya bunga modal Bunga modal adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembayar bunga kredit ke lembaga pemberi kredit atau lembaga keuangan tempat meminjam. Biaya ini dibayarkan pedagang perantara apabila meminjam ke lembaga kredit untuk biaya pemasaran. Besarnya biaya bunga modal adalah sebesar bunga atas pinjaman yang terpakai. Namun ada juga biaya bunga modal ini merupakan biaya diperhitungkan, apabila pedagang perantara menggunakan uang milik sendiri dalam pemasaran. Biaya bunga modal ini adalah biaya dari bunga modal biaya dibayarkan ditambah biaya diperhitungkan.
31 12). Sewa toko/lapak Tempat berjualan pedagang pengecer ada yang di toko atau lapak. Toko atau lapak ini ada milik sendiri dan ada yang disewa. Bagi toko atau lapak yang disewa perlu dibayar sewanya. Biaya sewa toko atau lapak adalah biaya yang dibayarkan untuk sewa took atau lapak. Sewa toko biasanya dibayarkan oleh pedagang untuk 1 tahun. Biaya yang dihitung untuk praktikum adalah biaya per 1 periode beli dan jual. Satu periode beli dan jual ini adalah lamanya sejumlah komoditi yang dibeli oleh pedagang dalam 1 kali membeli sampai habis dijual. Kalau 1 kali periode beli dan jual ini misalnya selama 3 hari, maka biaya sewa toko atau gudang adalah untuk 1 kali periode beli dan jual ini adalah : Biaya sewa toko (Rp/periode) = Sewa toko (tahun) x 3 hari 365 hari Kalau toko milik pedagang sendiri maka biaya sewanya diperhitungkan sama dengan biaya sewa toko terdekat yang berlaku. Sewa toko ini umumnya adalah biaya bersama, sebab pedagang pengecer jarang yang menjual produk pertanian 1 macam saja tetapi banyak macam dari produk pertanian. Maka sewa toko yang didapat di atas adalah sewa toko untuk semua produk pertanian yang dijual di toko/lapak tersebut. Misalkan pedagang pengecer menjual 10 macam produk pertanian di tokonya, maka biaya sewa toko untuk satu macam produk dibagi 10. 13). Iuran keamanan dan kebersihan Adalah biaya yang dibayarkan untuk keamanan berjualan dan kebersihan tempat berjualan. Biaya ini biasanya ada pada pedagang pengecer untuk keamanan dan kebersihan toko atau lapak tempat dia berjualan. Besarnya biaya untuk iuran keamanan dan kebersihan tempat berjualan ini dibayarkan ke pihak keamanan dan kebersihan pasar. Iuran keamanan dan kebersihan ini umumnya adalah biaya bersama, sebab pedagang pengecer jarang yang menjual produk pertanian 1 macam saja tetapi banyak macam dari produk pertanian. Misalkan pedagang pengecer menjual 10 macam produk pertanian di tokonya, maka biaya iuran keamanan dan kebersihan untuk satu macam produk dibagi 10. 14). Retribusi pasar Adalah iuran atau pajak pasar yang dibayarkan pedagang pengecer ke pihak pemerintah yaitu Dinas Pasar sebagai iuran untuk pemerintah. Besarnya biaya untuk retribusi pasar ini adalah biaya yang dibayarkan ke pihak pemerintah. Retribusi pasar ini adalah biaya bersama untuk semua produk yang dijual dalam waktu bersamaan, sebab pedagang pengecer jarang yang menjual produk pertanian 1 macam saja tetapi banyak macam dari produk pertanian. Misalkan pedagang pengecer menjual 10 macam produk pertanian di tokonya, maka biaya retribusi pasar untuk satu macam produk dibagi 10. 15). Biaya Pajak Toko Biaya pajak Toko adalah adalah pajak dibayar selama 1 tahun. Pajak toko ini adalah termasuk biaya bersama dan penghitungannya menurut analisa biaya bersama. Tugas mahasiswa : Hitunglah biaya pajak toko untuk produk yang dipraktikumkan.untuk 1 kali periode pembelian/penjualan.
32 16). Biaya Listrik Biaya listrik adalah biaya yang dibayarkan untuk membayar KWH listrik yang terpakai selama waktu pemasaran. Biaya listrik ini dapat berupa biaya listrik toko dan gudang milik sendiri. Biaya listrik ini adalah termasuk biaya bersama dan penghitungannya menurut analisa biaya bersama. 17). Biaya Penyusutan produk Penyusutan produk adalah berkurangnya produk berdasarkan berat, volume dan kualitas sehingga nilai produk jadi berkurang. Misalnya penyusutan beras, cabe, bawang karena menyusut beratnya karena terjadi pengeringan atau hilang selama pemasaran. Biaya penyusutan nilai tomat, buah-buahan, sayur-sayuran karena terjadi pembusukan atau kerusakan selama waktu masaran dan lain-lain. Penghitungan biaya penyusutan produk ini pada berat dan volume adalah berapa nilai berat atau volume produk yang hilang selama waktu pemasaran dikalikan dengan harga per unitnya. Sedangkan biaya penyusutan kualitas adalah besarnya penurunan harga produk akibat pembusukan, kerusakan selama waktu pemasaran. 18). Biaya Pengemasaan Biaya pengemasan produk adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengemas produk waktu pembelian dan penjualan. Penghitungannya adalah berapa banyaknya kemasan terpakai selama pembelian dan penjualan dikalikan harga kemasan perunit. Biaya pengemasan pada produk pertanian adalah biaya untuk pembelian kemasan seperti karung, kantong plastik, kotak, tali dan lain-lain. Biaya pengemasan ini terjadi pada semua lembaga pemasaran. Pada pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer biaya pengemasan ini ada pada saat pembelian produk dan saat penjualan produk. 19). Biaya Pengepakan Adalah biaya yang dikeluarkan untuk pengepakan produk sewaktu dipasarkan. Bahan pengepakan dapat berupa peti, kotak kardus dan lain-lain. Biayanya dihitung dengan cara berapa jumlah alatatau bahan pengepakan terpakai dikalikan dengan harga per unitnya. Pada pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer biaya pengepakan ini ada pada saat pembelian produk dan saat penjualan produk.
33 VIII. MARGIN PEMASARAN A. Definisi. Margin pemasaran adalah selisih antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Di samping itu margin pemasaran adalah juga merupakan jumlah dari biaya-biaya pemasaran dengan laba yang diambil oleh lembaga pemasaran. Jadi dalam margin pemasaran terdapat biaya pemasaran dan laba yang diambil oleh lembaga pemasaran. Misalnya jika harga beras yang diterima oleh petani produsen Rp. 4000/kg dan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir adalah Rp. 5000/kg maka margin pemasarannya adalah Rp. 1000. Jika penyaluran hasil pertanian melalui banyak lembaga pemasaran, maka margin pemasarannya adalah merupakan penjumlahan dari margin-margin diantara lembaga pemasaran yang terlibat. Misalnya dalam penyaluran hasil pertanian terlibat pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer, maka margin pemasarannya adalah penjumlahan dari margin pada pedagang pengumpul, margin pada pedagang besar dan margin pada pedagang pengecer. B. Sifat-sifat Margin Pemasaran. Sifat-sifat dari margin pemasaran adalah : 1. Margin pemasaran berbeda antara satu komoditi pertanian dengan komoditi pertanian lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan biaya dan jasa yang diberikan pada berbagai komoditi hasil pertanian mulai dari tangan petani produsen sampai ke tangan konsumen akhir. 2. Margin pemasaran cenderung naik dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan efek dari naiknya biaya-biaya pemasaran, keuntungan yang diambil oleh masing-masing lembaga pemasaran dan naiknya pendapatan konsumen. 3. Margin pemasaran relatif stabil dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan konstannya faktor-faktor biaya yang dominan seperti upah buruh, dan keuntungan lembaga pemasaran. C. Rumus-rumus Margin Pemasaran. Margin pemasaran dinyatakan sebagai selisih dari harga yang dibayarkan konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh produsen. M = He – Hp ...................................................... (1) Dimana : M = Margin pemasaran
34 He = Harga yang dibayarkan konsumen akhir/harga eceran pada pedagang pengecer. Hp = Harga pada petani produsen. Contoh 1. Harga beras yang diterima petani adalah Rp 5000/kg dan harga yang dibayarkan konsumen akhir adalah Rp 5000/kg, maka margin pemasarannya adalah Diketahui : He = Rp. 5000 Hp = Rp. 4000 Tanya : M = ? Jawab : M = He – Hp = Rp 5000 – Rp 4000 = Rp 1000 Jadi margin pemasarannya adalah Rp 1000 Contoh 2. Seperti soal nomor 1, tetapi beras sebelum sampai ke konsumen akhir disalurkan dulu ke pedagang pengumpul dengan harga Rp 4000/kg, kemudian dari pedagang pengumpul menjual ke padagang besar dengan harga Rp 4300/kg. Pedagang besar menjual pula ke pedagang pengecer dengan harga Rp 4600/kg dan pedagang pengecer menjual ke konsumen akhir dengan harga Rp 5000/kg. Berapakah margin pada masing- masing lembaga pemasaran dan margin total ? Diketahui : Harga jual petani (Hp) = Rp 4000/kg Harga jual pedagang pengumpul (Hk) = Rp 4300/kg Harga jual pedagang besar (Hb) = Rp 4600/kg Harga jual pedagang pengecer (He) = Rp 5000/kg Ditanya : Margin antar lembaga pemasaran dan margin total Jawab : Margin pada pedagang pengumpul (Mk) Mk = Hk - Hp .................................................... (2) = Rp 4300 – Rp 4000 = Rp 300 Margin pada pedagang besar (Mb) Mb = Hb - Hk ...................................................... (3) = Rp 4600 – Rp 4300 = Rp 300 Margin pada pedagang pengecer (Me) Me = He - Hb ...................................................... (4) = Rp 5000 – Rp 4600 = Rp 400 Mt = Mk + Mb + Me ............................................ (5) = Rp 300 + Rp 300 + Rp 400 = Rp 1000 D. Keuntungan Pemasaran Dalam proses pengaliran barang dari tangan produsen ke tangan konsumen, para lembaga pemasaran akan menarik keuntungan, maka rumusnya : M = B – μ ....................................................................... (6)
35 Dimana : M = Margin pemasaran B = Biaya pemasaran μ = Keuntungan pemasaran E. Bagian yang Diterima Petani Hp Lp = x 100% ................................................. (7) He Dimana : Lp = Bagian/persentase yang diterima oleh petani Hp = Harga pada petani He = Harga pada konsumen F. Mark Up Mark up adalah persentase dari margin pemasaran. M Mark Up = x 100 % . ....................................... (8) He G. Persentase Biaya Pemasaran Biaya Pemasaran Persentase Biaya Pemasaran = x 100% ... (9) Harga konsumen H. Persentase Keuntungan Lembaga Pemasaran Persentase Keuntungan Keuntungan Lembaga Pemasaran Lembaga Pemasaran = x 100% ..(10) Harga Konsumen I. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perhitungan Margin Pemasaran 1. Faktor Waktu Makin jauh letak pusat produksi dengan pusat konsumsi maka makin panjang waktu yang dibutuhkan dalam usaha pengadaan barang di tempat konsumen. Dengan demikian margin pemasaran yang dihitung karena adanya pertambahan waktu ini atau margin pemasaran yang sebenarnya akan lebih besar dari margin pemasaran yang dihitung. Pedagang beras di pusat produksi akan memerlukan selang waktu untuk pengadaan beras di tempat konsumsi, seperti mencari alat angkut, melakukan pengarungan, menyimpan barang sebelum diangkut untuk mengimbangkan permintaan dan penawaran di daerah konsumsi dll. Jika harga eceran naik dalam waktu 5 hari maka margin pemasaran yang sebenarnya lebih besar dari margin pemasaran yang dihitung. Sebaliknya bila dalam 5 hari harga eceran turun maka margin pemasaran yang sebenarnya lebih kecil dari margin pemasaran yang dihitung. 2. Faktor Kerusakan, Kehilangan dan Penyusutan Barang Kerusakan barang bisa terjadi saat pengumpulan, pengangkutan dan penyimpanan dll. Kerusakan ini akan menurunkan kualitas barang sehingga harganya bisa jadi turun. Turunnya harga akan mengakibatkan margin pemasaran akan turun. Contohnya pada komoditi mangga, bisa terjadi kerusakan dalam penanganannya untuk disampaikan ke
36 konsumen, sehingga berakibat rusak sehingga mutunya jadi turun mengakibatkan harga akan turun. Turunnya harga akan menurunkan margin pemasaran. Dalam pengangkutan beras dari daerah produksi ke daerah konsumsi bisa terjadi kehilangan produk, seperti tercecer akan penganannya yang kurang hati-hati, karung beras yang bocor dll sehingga sesampainya di daerah konsumsi beratnya akan berkurang. Berkurangnya berat beras akan mengurangi jumlah beras yang akan dijual pedagang mengakibatkan keuntungan pedagang juga akan turun. Turunnya keuntungan maka margin pemasaran juga akan turun. Penyusutan berat barang sewaktu diangkut akan mengurangi berat barang setelah sampai di tempat konsumsi. Penyusutan berat barang akan menurunkan keuntungan sehingga margin pemasaran juga akan turun. J. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Margin Pemasaran 1. Perubahan biaya pemasaran, keuntungan pemasaran dan harga yang dibayarkan konsumen. Makin besar biaya pemasaran, keuntungan pemasaran dan harga yang dibayarkan konsumen maka akan makin besar margin pemasaran. Sebaliknya makin kecil biaya pemasaran, keuntungan pemasaran dan harga yang dibayarkan konsumen maka akan makin kecil margin pemasaran. 2. Sifat barang yang diperdagangkan. Barang yang mudah rusak atau busuk (perishable) akan memperbesar margin pemasaran karena akan meanambah biaya untuk penanganannya seperti biaya pengepakan, pengalengan, pengawetan dll. Juga pada barang yang bersifat bera, kaku dan mengambil banyak tempat (bulky dan volumnious) akan memperbesar margin pemasaran karena membutuhkan banyak biaya angkut, dan peyimpanan. 3. Tingkat pengolahan barang. Barang yang mengalami pengolahan untuk dapat dikonsumsi margin pemasarannya akan lebih besar dibandingkan barang yang tidak mengalami pengolahan. Contohnya margin pemasaran kopi akan lebih besar dari margin pemasaran manggis, durian dan mangga, sebab kopi sebelum bisa dikonsumsi konsumen harus diolah dulu menjadi bubuk kopi, sedangkan manggis, durian dan mangga bisa langsung dikonsumsi konsumen. K. Margin Pemasaran dengan Efisiensi Pemasaran Umumnya bila margin pemasaran besar maka saluran pemasaran atau pemasaran itu bisa dikatakan tidak efisien dan sebaliknya makin kecil margin pemasaran maka pemasaran makin efisien pula. Tetapi hal ini tidak selalu benar, sebab bila margin pemasaran turun tetapi menurunkan kepuasan produsen atau pedagang dimana keuntungan produsen/pedagang akan turun sehingga pemasaran tidak efisien. Juga jika margin pemasaran turun mengakibatkan kepuasan konsumen juga turun akan mengakibatkan pemasaran juga tidak efisien. Contohnya dengan turunnya margin pemasaran manurunkan keuntungan pedagang/produsen juga turun mengakibatkan pelayanan kepada konsumen turun seperti turunnya pelayanan, mutu barang dll sehingga konsumen mendapatkan layanan yang kurang baik dan barang yang bermutu rendah, sehingga pemasaran tidak efisien.
37 IX. EFISIENSI PEMASARAN Konsep efisiensi pemasaran sangat luas dengan definisi yang bermacam-macam sesuai dengan latar belakang dan kepentingan bagi para ahli yang membuatnya. Tetapi secara garis besar efisiensi pemasaran dapat dibagi atas 3 bagian yaitu, efisiensi teknis, efisiensi ekonomis dan efisiensi sosial. A. Efisiensi Teknis (operasional) Efisiensi teknis dalam kegiatan pemasaran adalah berkaitan dengan efektivitas dalam hubungan dengan aspek fisik dalam kegiatan tata niaga. Usaha untuk menaikan efisiensi teknis dimaksudkan suatu usaha kegiatan yang bertujuan mengurangi biaya dari input dengan anggapan bahwa output pada saat itu tetap tidak berubah. Efisiensi teknis berarti pengendalian fisik dari produk dan mencakup prosedur, teknis, skala operasi dengan tujuan pengehematan fisik seperti mengurangi kerusakan (waste), mencegah merosotnya mutu produk dan menghemat tenaga kerja. Penghematan fisik mengakibatkan pengurangan biaya (money cost) yang tergantung pada lingkungan ekonomi (economic environtment) dimana pemasaran berlangsung Cara itu antara lain : a. Penemuan-penemuan baru yang dapat mengurangi biaya dengan untuk mengangkat barang dari gudang ke kapal. b. Perbaikan jalanan dan jembatan serta pembukaan jaringan-jaringan jalan sampai ke desa, karena usaha ini akan mengurangi biaya pengangkutan akibat meningkatnya frekuensi angkut, efektivitas dalam hubungan dengan aspek fisik dalam kegiatan tata niaga, c. Melakukan grading yang dilakukan secara mekanis adalah lebih efisien bila hal tersebut dilakukan secara manual. d. Pengurangan jumlah tenaga kerja yang diperlukan dll. B. Efisiensi Ekonomis Efisiensi ekonomis berkaitan dengan efektivitas dalam kegiatan fungsi pemasaran dilihat dari segi keuntungan. Usaha untuk menaikan efisiensi ekonomis dimaksudkan untuk perbaikan yang ditujukan kepada tatacara pembelian-penjualan dan aspek penetapan harga dalam proses pemasaran, sehingga konsumen tetap bersedia membayar dengan harga pasar. Konsep ini didasarkan pada konsep economic efficiency sebagaimana yang ada pada ekonomi produksi atau ekonomi mikro. Berarti perusahaan dengan teknik, skill dan pengetahuan yang ada dapat bekerja pada biaya yang rendah dan memperoleh keuntungan. Ukuran-ukuran yang dapat dipakai untuk menentukan kesediaan konsumen itu adalah tergantung atas tiga syarat : a. Konsumen yang harus diberikan alternatif-alternatif dari apa yang akan mereka pilih.
38 b. Harga-harga yang berbeda atas pemilihan ini haruslah mencerminkan biaya yang diberikan karena adanya pemilihan yang berbeda itu. c. Harga-harga yang berbeda karena perbedaan keinginan konsumen haruslah tercerminkan kembali melalui sistem pemasaran. Beberapa faktor yang dapat dipakai sebagai ukuran efisiensi pemasaran, yaitu : 1. Keuntungan pemasaran. Keuntungan yang diterima oleh produsen dan pedagang haruslah memadai dan adil atau merata. 2. Harga yang diterima konsumen. Harga jual ke konsumen tidak tinggi dan terjangkau oleh daya beli konsumen 3. Tersedianya fasilitas fisik pemasaran. Antara lain pasar, sarana pengangkutan barang, jalan yang menghubungkan daerah produksi dengan daerah konsumsi yang baik dan lancar serta banyaknya pedagang yang ikut serta dalam proses pemasaran. 4. Kompetisi pasar. Banyaknya pedagang yang ikut serta dalam proses pemasaran sehingga tidak terjadinya pasar monopsoni, monopoli, oligopsoni atau oligopoli Laporan-laporan tentang keadaan pasar yang cukup dan cara grading terhadap barang-barang yang lebih tepat akan dapat menambah efisiensi harga atau efisiensi ekonomis. Dalam beberapa keadaan sering terlihat bahwa penambahan efisiensi operasional akan berakibat penurunan efisiensi harga dan pula sebaliknya. Misalnya usaha penyeragaman grade atau pengepakan suatu barang dengan tujuan menambah efisiensi harga akan berakibat teknis perusahaan bersangkutan. Di sinilah timbul konflik diantara lembaga atau perusahaan dalam mencapai tingkat efisiensi karena kondisi dan kemampuan perusahaan itu saling berbeda. Cara-cara untuk mencapai efisiensi ekonomis dapat dibagi. 1. Efisiensi Berdasarkan biaya pemasaran. Cara ini dikemukakan oleh Mubyarto (1989) dalam pendapatnya yang pertama tentang efisiensi pemasaran, yaitu mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani kepada konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya. Pernyataan Mubyarto yang pertama ini menyatakan bagaimana biaya pemasaran bisa ditekan semurah-murahnya pada suatu saluran pemasaran hasil pertanian. Hal ini bisa dihitung secara kuantitatif karena menyangkut biaya pemasaran yang jelas besarannya seperti biaya pemasaran yang dibayarkan dan diperhitungkan pada petani dan pedagang untuk menyampaikan hasil pertanian dari petani ke konsumen. Efisiensi pemasaran ini dapat dihitung dengan memakai rumus yang ditulis oleh Sheperd (1962) dalam Soekartawi (1987), yaitu : TB EP = x 100% TNP Dimana : EP = Efisiensi tata niaga TB = Total biaya tata niaga TNP = Total nilai produk (harga pada konsumen akhir) Dari rumus ini bisa dijelaskan makin kecil nilai EP maka makin efisien suatu saluran pemasaran dan sebaliknya semakin besar nilai EP maka semakin tidak efisien saluran pemasaran itu. Dengan bertambahnya nilai biaya (TB) dengan nilai produk yang tetap maka semakin tidak efisien saluran pemasaran dan sebaliknya. Kalau pada suatu komoditi pertanian dalam penyalurannya dari petani sampai ke konsumen terdapat
39 beberapa macam saluran pemasaran kemudian dianalisa dengan memakai rumus ini untuk mencari nilai EP, maka dapat dipilih saluran yang paling efisien, yaitu nilai EP yang paling kecil. Di samping itu rumus ini juga menggambarkan bahwa setiap ada penambahan biaya pemasaran memberi arti bahwa hal tersebut menyebabkan adanya pemasaran yang tidak efisien dan sebaliknya. Juga digambarkan semakin kecil nilai produk yang dijual berarti pula terjadinya pemasaran yang tidak efisien. Hal ini tidak selalu benar sehingga menjadi kelemahan rumus ini. c. Efisiensi Berdasarkan Keuntungan Ada pendapat yang mengatakan petani mendapatkan keuntungan yang kecil sedangkan pedagang mendapatkan keuntungan yang besar dalam pemasaran hasil pertanian. Seharusnya petani mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pada pedagang karena petani mengalami proses yang banyak dan panjang dalam menghasilkan hasil usahataninya, seperti mengolah tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, sampai kepada panen sedangkan proses pada pedagang dalam memasarkan cenderung sedikit seperti membeli dari petani, mengangkut dan kemudian menjual kepada konsumen. Di samping itu petani mempunyai resiko yang lebih besar dari pedagang. Petani dalam berusahataninya menghadapi resiko pada setiap proses usahatani komoditi yang diusahakannya, seperti resiko kegagalan panen, produksi menurun, hama dan penyakit, tingginya harga sarana produksi, kesulitan dalam mendapatkan sarana produksi dan lainlain. Juga resiko dalam penjualan hasil produksinya seperti harga jual produksi yang rendah, sulitnya menjualkan hasil, kalah dalam penentuan harga dengan pedagang tersebab petani berhutang dengan pedagang, jumlah pedagang jauh lebih sedikit dari petani (pasar monopsoni atau oligopsoni) dan lain-lain. Hal ini akan mengakibatkan keuntungan petani cenderung lebih kecil dari pedagang, atau bahkan petani malah merugi. Untuk itu perlu adanya keuntungan yang adil, yaitu keuntungan yang diterima oleh setiap lembaga pemasaran sesuai dengan sumbangan yang diberikannya dalam mengalirkan barang sampai ke konsumen. Ini dinamakan dengan efisiensi pemasaran berdasarkan keuntungan. Mubyarto (1989) mengatakan bahwa efisiensi pemasaran adalah mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen akhir kepada semua fihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang tersebut. Yang dimaksud adil adalah pemberian balas jasa dari fungsi-fungsi produksi dan pemasaran sesuai dengan sumbangan masing-masing. Balas jasa adalah berupa keuntungan yang diterima oleh petani dan pedagang yang ikut serta dalam memasarkan barang itu. Sedangkan fungsi produksi dan fungsi pemasaran adalah korbanan atau input yang dikorbankan oleh petani dan pedagang dalam memproduksi dan menyampaikan barang itu ke konsumen akhir. Untuk itu efisiensi akan tercapai apabila keuntungan yang diterima seimbang dengan pemberian input dari kegiatan produksi dan pemasaran yang dilaksanakan oleh petani dan lembaga
40 pemasaran yang ikut serta dalam pemasaran tersebut. Pemberian input adalah biaya yang dikeluarkan petani dalam berusahatani dan menjual produksinya atau biaya pemasaran pada pedagang yang ikut serta dalam pengaliran barang dari produsen ke konsumen. Pemberian balas jasa dari biaya kegiatan produksi dan pemasaran adalah merupakan keuntungan yang seharusnya diterima oleh petani dan pedagang. Jadi makin besar biaya yang dikeluarkan maka makin besar pulah keuntungan yang harus diterima dan sebaliknya makin kecil biaya yang dikeluarkan maka makin kecilnya pulalah keuntungan yang harus diterima. Untuk itu efisien pemasaran ini dapat dirumuskan : Ep ≡ Ka = Kb Dimana : Ep = Efisiensi pemasaran Ka = Keuntungan yang diterima Kb = Keuntungan yang seharusnya diterima Keuntungan yang diterima petani dan pedagang yang ikut serta adalah keuntungan yang diperdapatkan petani dan pedagang dalam menjual hasil produksinya atau barangnya. Keuntungan yang diterima petani adalah selisih dari penerimaan dengan biaya usahatani dan biaya pemasaran yang dikeluarkannya. Keuntungan yang diterima pedagang adalah selisih dari penerimaan dengan biaya-biaya pemasaran yang dikeluarkan ditambah harga belinya. Sedangkan keuntungan yang seharusnya diterima adalah keuntungan yang dihitung berdasarkan besarnya persentase biaya yang dikeluarkan dari keuntungan total. Persentase biaya yang dikeluarkan petani adalah persentase biaya usahatani dan pemasaran pada petani berdasarkan biaya total. Biaya total adalah penjumlahan biaya usahatani dan pemasaran pada petani dengan biaya-biaya pemasaran pada seluruh pedagang yang ikut serta. Keuntungan total adalah penjumlahan dari keuntungan petani dengan keuntungan pedagang yang ikut serta dalam pemasaran produk itu. Untuk itu efisiensi pemasaran pada petani dan pedagang adalah apabila terdapat kesamaan antara keuntungan yang diterimanya dengan keuntungan yang seharusnya diterimanya. Rumus-rumus yang digunakan untuk menganalisa efisiensi pemasaran berdasarkan keuntungan dipaparkan di bawah ini. Dalam perhitungan semua biaya, penerimaan dan keuntungan dihitung dalam per unit produk supaya sebanding keuntungan yang diterima petani dengan keuntungan pedagang. Per unit produk adalah dalam satuan per kilogram (kg), per ton, per liter (l), per gallon dll. 1. Menghitung Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Petani. a. Menghitung Biaya Usahatani per unit produksi pada Petani. Biaya total usahatani per unit (BTU/unit) adalah penjumlahan dari biaya tunai/unit ditambah dengan biaya tidak tunai/unit. Biaya usahatani tunai per unit adalah biaya tunai per musim tanam (MT) untuk tanaman semusim dibagi dengan jumlah produksi/MT. Atau per tahun bagi tanaman tahunan adalah biaya tunai per tahun kemudian dibagi dengan jumlah produksi/tahun. Contohnya biaya tunai adalah biaya pembelian pupuk, bibit, pestisida, upah tenaga kerja luar keluarga dll. Biaya usahatani tidak tunai per unit adalah biaya usahatani tidak tunai/MT dibagi dengan jumlah produksi/MT atau biaya usahatani tidak tunai/tahun dibagi dengan jumlah produksi/tahun. Contoh biaya tidak tunai adalah sewa lahan
41 sendiri, tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), bunga modal milik sendiri, penyusutan alat dll. b. Biaya Pemasaran/unit pada Petani (Bpt/unit). Adalah penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran/unit yang dikeluarkan petani dalam menjualkan hasil produksinya. Biaya-biaya pemasaran per unit adalah biaya pemasaran/MT atau per tahun dibagi dengan jumlah produksi. Contoh biaya tata niaga pada petani adalah biaya angkut dari lokasi usahatani ke pedagang atau konsumen, biaya penyimpanan, biaya pengolahan, pengeringan, pengemasan, sortasi, biaya tenaga kerja selama dipasarkan, biaya resiko dll. c. Biaya Total Petani/unit (BTt/unit). Adalah penjumlahan dari biaya total usahatani per unit (BTU/unit) dengan biaya pemasaran pada petani per unit (Bpt/unit) BTt/unit= BTU/unit + Bpt/unit Atau : BTt = BTU + Bpt Dimana : BTt = Biaya Total Petani (Rp/kg) BTU = Biaya total usahatani (Rp/kg) Bpt = Biaya tata niaga pada petani (Rp/kg) a. Penerimaan Petani/unit (Pt/unit) merupakan harga jual per unit barang pada petani. b. Keuntungan diterima Petani/unit (Kta/unit) adalah keuntungan yang diterima petani yang merupakan selisih dari penerimaan petani/unit yang dikurangi dengan biaya total petani/unit (BTt/unit). Kta/unit = Pt/unit – BTt/unit Atau : Kta = Pt– BTt Dimana : Kta = Keuntungan yang diterima petani (Rp/kg) Pt = Penerimaan petani (Rp/kg) 2. Menghitung Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Pedagang /unit Biaya pemasaran, penerimaan dan keuntungan pada pedagang berdasarkan per periode pembelian/penjualan. Satu periode pembelian/penjualan adalah satu kali pedagang membeli dan menjual. Kemudian biaya, penerimaan dan keuntungan ini masing-masingnya dihitung per unit barang, yaitu biaya, penerimaan dan keuntungan per periode pembelian/penjualan di bagi jumlah barang yang dibeli/dijual. a. Biaya Pemasaran pada Pedagang/unit (Bpd/unit) adalah penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran/unit yang dikeluarkan pedagang baik itu biaya tunai/unit atau biaya tidak tunai/unit. Biaya tunai per unit adalah biaya tunai pembelian/penjualan per periode pembelian/penjualan dibagi dengan jumlah barang yang dibeli/dijual. Contoh biaya tunai pada pedagang adalah biaya transportasi, biaya angkat, angkut, bongkar, sewa toko, retribusi pasar, biaya kebersihan dan keamanan, upah buruh, gaji pegawai dan lain-lain. Biaya tidak tunai adalah gaji pedagang bersangkutan, sewa toko sendiri, penyusutan alat, tenaga kerja dalam keluarga dll. Contoh perhitungannya seperti biaya
42 transportasi/unit barang adalah biaya transportasi per periode pembelian/penjualan dibagi dengan jumlah barang yang dibeli/dijual. b. Penerimaan Pedagang/unit (Pd/unit) adalah harga jual barang per unit pada pedagang. c. Keuntungan diterima Pedagang/unit (Kda/unit). Adalah keuntungan yang diterima pedagang yang merupakan selisih dari penerimaan pedagang/unit (Pd/unit) dengan biaya-biaya pemasaran/unit yang dikeluarkannya (Bpd/unit) ditambah dengan harga beli barang (Hbd). Kda/unit = Pd/unit – (Bpd/unit + Hbd/unit) Atau : Kda = Pd – (Bpd + Hbd) Dimana : Kda = Keuntungan yang diterima pedagang yang ikut serta (Rp/kg) Pd = Penerimaan pedagang yang ikut serta (Rp/kg) Bpd = Biaya tata niaga pada pedagang yang ikut serta (Rp/kg) Hbd = Harga beli pedagang yang ikut serta (Rp/kg) 3. Menghitung Keuntungan yang seharusnya a. Biaya Total/unit (BT/unit) adalah penjumlahan biaya pada Petani/unit (BTt/unit) dengan biaya pemasaran pada seluruh pedagang (BTd1……BTdn). BT/unit = BTt/unit + BTd1/unit+ ……. + BTdn/unit BT = BTt + BTd1+ ……. + BTdn Dimana : BT = Biaya total (Rp/kg) BTt = Biaya Total Petani (Rp/kg) BTd1 ….BTdn = Biaya Tata niaga pada Pedagang yang ikut serta (Rp/kg) b. Keuntungan Total/unit (KT/unit) adalah penjumlahan dari keuntungan yang diterima petani/unit (Kta/unit) dengan keuntungan yang diterima oleh seluruh pedagang/unit (Kd/unit) KT/unit = Kta/unit + Kda-1/unit + …… + Kda-n/unit Atau KT = Kta + Kda-1 + …… + Kda-n Dimana : KT = Keuntungan total (Rp/kg) Kta = Keuntungan yang diterima petani (Rp/kg) Kda-1… Kda-n = Keuntungan yang diterima pedagang yang ikut serta (Rp/kg) c. Persentase biaya total petani/unit (%BTt/unit), adalah persentase dari biaya total petani/unit (BTt/unit) dari biaya total/unit (BT/unit). BTt/unit %BTt/unit = x 100% BT/unit Atau : BTt
43 %BTt = x 100% BT Dimana : %BTt = Persentase biaya total petani (Rp/kg) d. Keuntungan seharusnya diterima petani/unit (Ktb/unit) adalah persentase dari biaya total petani (%BTt) dikalikan dengan keuntungan total/unit (KT/unit) Ktb/unit = %BTt/unit x KT/unit Atau : Ktb = %BTt x KT Dimana : Ktb = Keuntungan seharusnya diterima petani (Rp/kg) e. Persentase biaya total pedagang/unit (%BTd/unit), adalah persentase dari biaya biaya total pedagang/unit (BTd/unit) dari biaya total/unit (BT/unit). BTd/unit %BTd/unit = x 100% BT/unit Atau : BTd %BTd = x 100% BT Dimana : %BTd = Persentase biaya total pedagang (Rp/kg) f. Keuntungan seharusnya diterima pedagang/unit (Kdb/unit) adalah persentase dari biaya total pedagang/unit (%BTd/unit) dikalikan dengan keuntungan total/unit (KT/unit) Kd2/unit = %BTd x KT atau Kdb = %BTd x KT Dimana : Kdb = Keuntungan seharusnya diterima pedagang (Rp/kg) 4. Efisiensi Pemasaran a. Efisiensi pemasaran Pada Petani adalah apabila keuntungan yang diterima petani/unit (Kta/unit) sama dengan keuntungan yang seharus diterima petani/unit (Ktb/unit) Ept ≡ Kta/unit = Ktb/unit Atau : Ept ≡ Kta = Ktb Dimana : Ept = Efisiensi Tata niaga Pada Petani Kta = Keuntungan yang diterima petani (Rp/kg) Ktb = Keuntungan yang seharusnya diterima petani (Rp/kg) b. Efisiensi Pemasaran pada Pedagang adalah apabila keuntungan yang diterima pedagang/unit (Kda/unit) sama dengan keuntungan yang seharus diterima pedagang/unit (Kdb/unit) Epd ≡ Kda/unit = Kdb/unit Atau :
44 Epd ≡ Kda = Kdb Dimana : Epd = Efisiensi Tata niaga Pada Pedagang Kta = Keuntungan yang diterima pedagang (Rp/kg) Ktb = Keuntungan yang seharusnya diterima pedagang (Rp/kg) 3. Efisiensi Berdasarkan Integrasi Saluran Pemasaran Yaitu penggabungan atau kombinasi dari kegiatan pemasaran ke dalam atau di bawah satu manajemen. Hal ini bisa membuat saluran pemasaran menjadi efisien. Cara ini antara lain : a. Integrasi Vertikal Yaitu lembaga pemasaran yang melkasanakan fungsi yang berbeda digabungkan satu dengan yang lain menurut saluran barang tersebut. Integrasi vertikal ini untuk mengurangi jumlah tipe pedagang atau jumlah lembaga pemasaran yang sama secara berturut-turut yang ditemukan dalam pergerakan barang dalam saluran pemasaran. Dengan menghilangkan sebagian pedagang yang banyak, tentunya akan memperpendek saluran pemasaran sehingga bisa mengakibatkan harga penjualan ke konsumen akan jadi rendah dan harga pada petani jadi tinggi. Tindakan ini bukan berarti menghambat arus pengaliran barang, tetapi pengurangan jumlah tipe pedagang, sehingga menghilangkan fungsi yang tidak efisien atau yang tidak perlu dari pedagang yang bekerja di dalam di dalam saluran pemasaran tersebut. Misalnya seorang pedagang pengumpul mungkin karena fasilitas yang dimilikinya langsung dapat menjual barangnya kepada pedagang pengecer, sehingga peranan pedagang besar tidak diperlukan. Atau koperasi yang didirikan petani bisa mengantikan peranan pedagang pengumpul dan pedagang besar dimana koperasi bisa langsung menjual ke pedagang pengecer yang mengakibatkan saluran pemasaran menjadi pendek. Contoh lain PT. Pupuk Pusri yang langsung mempunyai agen dan toko di setiap daerah, sehingga tidak membutuhkan lagi pedagang antar daerah dan pedagang pengecer sehingga saluran pemasaran jadi pendek. Sebelum Integrasi vertikal Sesudah Integrasi Vertikal Petani Rp 1.000/unit Petani Rp 1.100/unit Pedagang Pengumpul Rp 1.250/unit Pedagang Pengumpul Rp 1.500/unit Pedagang besar 1 Pedagang besar 2 Pedagang besar 1 Rp 1.500/unit Pedagang besar 2 Rp 1.750/unit Pedagang pengecer Rp 2.000/unit Pedagang pengecer Rp 1.900/unit
45 Konsumen Konsumen Gambar : Saluran Pemasaran Sebelum dan Sesudah adanya Integrasi Vertikal Keuntungan dari integrasi vertikal ini adalah : 1. Mengurangi biaya-biaya pemasaran sehingga harga yang harus dibayar konsumen jadi rendah. 2. Karena harga pada konsumen turun maka permintaan bisa jadi naik, sehingga harga penjualan pada petani jadi naik. 3. Perbedaan harga antara tingkat produsen dengan tingkat konsumen tidak begitu besar. Tetapi Integrasi vertikal ini cukup sulit dilaksanakan, sebab masing-masing lembaga pemasaran punya ciri, kemampuan dan keahlian sendiri-sendiri (spesialisasi), sehingga sulit bila satu lembaga pemasaran menggantikan peran lembaga pemasaran lain yang tidak sejenis dengannya. Contoh sepesialisasi pedagang pengumpul sulit untuk digantikan oleh pedagang besar atau pedagang pengecer, dan sebaliknya spesialisasi pedagang besar juga sulit untuk digantikan pedagang pengumpul dan pedagang pengecer b. Integrasi Horizontal Adalah penggabungan lembaga pemasaran yang fungsinya sama. Lembaga pemasaran yang sama yang banyak saling bersaing sesamanya dijadikan satu. Misalnya ada beberapa pedagang pengumpul di satu daerah tata niaga, maka beberapa pedagang pengumpul itu bersatu menjadi satu pedagang pengumpul yang besar. Atau ada beberapa pedagang besar di satu daerah tata niaga, maka beberapa pedagang besar itu bersatu menjadi satu pedagang besar yang lebih besar. Secara hipotetis dapat digambarkan : Sebelum Integrasi Horizontal Sesudah Integrasi Horizontal Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Pedagang Pengecer Konsumen Gambar : Saluran Pemasaran Sebelum dan Sesudah adanya Integrasi Horizontal Keuntungan Integrasi Horizontal ini adalah : 1. Persaingan yang tidak sehat yang merugikan lembaga pemasaran akan hilang A B C D E F A B C D E F G H I G H I
46 2. Biaya dalam proses pembelian dan penjualan jadi kecil 3. Dapat melayani permintaan dan penawaran dalam jumlah besar 4. Dapat dilakukan operasi pemasaran secara besar-besaran 5. Dapat dimanfaatkan metode-metode untuk memajukan pembelian dan penjualan Tetapi integrasi horizontal ini dapat merugikan konsumen, karena dengan integrasi ini menghindarkankan adanya persaingan dari lembaga pemasaran yang sejenis, yang menyebabkan posisi lembaga pemasaran jadi kuat sehingga lembaga pemasaran ini dapat mengontrol atau mempermainkan harga barang. Contohnya praktek Cartel dalam perdagangan, yaitu terjadi kesepakatan antara beberapa perusahaan-perusahaan yang sejenis yang mulanya membentuk pasar oligopoli menjadi pasar monopoli dalam membentuk harga pasar, sehingga mereka bisa menjadi penentu harga. Keuntungan integrasi vertikal dan horizontal dari lembaga pemasaran ini adalah : 1. Biaya pembelian dan penjualan antar bagian lembaga pemasaran yang tadinya berdiri sendiri dapat digabungkan sehingga bisa lebih efisien. 2. Resiko dapat dikurangi karena pasarnya mendekati pasti, sehingga perencanaan kegiatan dapat dilaksanakan secara lebih teratur dan kontinyu. Tetapi integrasi ini tidak selalu dapat dilaksanakan secara sempurna, karena adanya integrasi maka berbagai macam kegiatan yang telah tergabung dalam unit-unit tersendiri harus dikordinasikan. Oleh karena itu manajemen akan menghadapi persoalan yang lebih rumit. Bahkan ada kemungkinan manajemen tidak mampu melakukan tugas dengan baik. C. Efisien Sosial Dari sudut pandangan sosial pembahasan efisiensi pemasaran terpusat pada pemenuhan keputusan individu-individu secara maksimum dan tidak terikat pada ukuran-ukuran kualitatif saja. Ditujukan untuk melihat apakah sistem pemasaran secara keseluruhan bekerja efektif dalam rangka memaksimumkan kepuasan konsumen. Efisiensi pemasaran yang tertuju pada pemenuhan kepuasan konsumen termasuk efisiensi sosial. Efisiensi sosial berhubungan dengan penetapan hubungan input-output dari sistem pemasaran. Pengertian output adalah jumlah kepuasan konsumen yang diciptakan oleh sistem pemasaran. Sedangkan input terdiri dari usaha-usaha individu untuk menghasilkan kepuasan konsumen sebagai output. Perubahan yang bertujuan memperbaiki pemasaran berarti memperbaiki atau meningkatkan efisiensi pemasaran. Karena sifat dari pemasaran yang komplek dengan terlibatnya 4 golongan (produsen = petani, pedagang , konsumen dan pemerintah) yang kadang-kadang keinginannya bertentangan, maka sulitlah untuk menciptakan efisiensi itu secara menyeluruh. Namun demikian sangat diperlukan suatu pengukuran untuk mencapai efisiensi. Kepuasan konsumen terhadap barang-barang dan jasa-jasa yang diterimanya dengan cepat dan mudah serta harga yang rendah yang merupakan output pemasaran. Kepuasan atas harga yang diterima produsen yang dapat memberikan balas jasa (keuntungan) yang tinggi dan kompetitif, dengan jasa pelayanan yang baik, serta terlaksananya peraturan dengan baik yang ditetapkan oleh pemerintah juga merupakan output pemasaran. Semua pengorbanan yang berupa tenaga kerja, modal dan tatalaksana dalam proses pemasaran merupakan “input” pemasaran. Dengan demikian efisiensi pemasaran dapat diukur dari “input – output ratio”. Jadi untuk mencapai efisiensi
47 setinggi-tingginya haruslah diusahakan memaksimumkan input-output ratio itu (Maximization of input-oupt ratio). Usaha-usaha yang dapat mengurangi biaya-biaya yang termasuk input pemasaran tanpa mengurangi kepuasan konsumen, para pedagang dan produsen yang bersangkutan serta tanpa merugikan pemerintah, adalah merupakan usaha yang menambah efisiensi. Tetapi jika usaha yang mengurangi biaya-biaya input tadi, turut mengurangi kepuasan dari salah satu atau lebih golongan yang telah disebutkan di atas, maka usaha itu dapat mengurangi efisiensi. Sebaliknya meskipun biaya input tinggi, tetapi kepuasan tetap ada, maka itu berarti masih terjadi efisiensi dalam pemasaran. Namun demikian konsep efisiensi di atas penggunaannya sangat sulit karena sulitnya mengukur tingkat kepuasan. Mengukur efisiensi sosial sangat sulit, bahkan sering tidak tercapai pada sasarannya. Kesulitan ini terpusat pada persoalan keinginan individu yang diartikan tindakan yang berbentuk perasaan dan tidak terdapat jawaban yang definitif untuk menyatakan apa yang benar dalam hal pilihan seorang konsumen dan siapa yang harus memutuskan tentang apa yang penting. Tetapi mengukur efisiensi teknis dan ekonomis lebih mudah dibandingkan efisiensi sosial. Selama sasarannya terbatas hingga suatu operasi tertentu, atau suatu perusahaan tertentu, atau hingga segmen tertentu dari perekonomian yang bersangkutan, maka ada kemungkinan untuk mengukur input serta output secara fisik ataupun finansial. Dengan demikian dapat diperoleh indeks efisiensi teknis maupun efisiensi ekonomis. Dalam mengukur efisiensi ini para pengusaha menggunakan ratio dari pendapatan dan biaya dihubungkan dengan output yang dicapai. Pada pengukuran efisiensi ekonomis, margin pemasaran sering dipakai sebagai ukuran. Orang menganalisa margin pemasaran apabila ingin mengetahui efisiensi dari sistem pemasaran yang bersangkutan. Banyak orang beranggapan, bila terdapat banyak pedagang yang bersaing pada setiap tindakan dalam proses pemasaran adalah pemborosan dan tidak ada gunanya. Mereka beranggapan bahwa jumlah pedagang lebih sedikit yang masing-masing melakukan usaha secara lebih luas akan bekerja dengan biaya persatuan lebih rendah, sehingga dengan demikian mengurangi biaya tatniaga dan memperbesar efisiensi. Alasan mereka ini didasarkan atas asumsi bahwa operasi secara besar-besaran sampai batas tertentu bersifat ekonomis. Tetapi perlu disadari bahwa pengurangan pedagang yang bersaing menyebabkan para konsumen makin berkurang pilihannya terhadap pedagang yang bersaing menyebabkan para konsumen makin berkurang pilihannya terhadap pedagang , bahkan konsumen terpaksa menerima layanan (service) yang buruk dan produk bermutu rendah (inferior). Ada pula anggapan bahwa terlampau banyak pedagang yang bekerja pada saluran pemasaran secara vertikal akan menambah biaya pemasaran, dan sebaliknya makin sedikit pedagang makin cepat, makin murah dan makin efisien barang-barang dijual kepada konsumen. Tetapi jangan lupa bahwa keuntungan yang diperoleh dengan adanya pembagian kerja, berlaku pula dalam pemasaran. Pembagian (subdivisi) proses pemasaran antar berbagai pedagang secara berurut pada dasarnya merupakan contoh dari pembagian kerja (spesialisasi). Ini memberi kesempatan untuk pelaksanaan usaha secara lebih ekonomis. Produk pertanian yang dihasilkan di daerah terpencar dan jauh dari daerah konsumen untuk menjualnya kepada konsumen diperlukan banyak pedagang yang dapat bekerja pada tingkat yang berbeda dalam proses pemasaran (hal mana
48 merupakan suatu spesialisasi) dibandingkan dengan produk industri (fabrik). Kehadiran banyak pedagang dalam kasus ini, walaupun meningkatkan biaya pemasaran, merupakan metode paling ekonomis dalam kondisi yang berlaku. Kurangnya pengetahuan konsumen tentang produk yang dibeli merupakan salah satu sebab tidak efisiennya sistem pemasaran. Bila konsumen membeli produk inferior tanpa mengenalnya lebih dahulu atau membelinya secara irasional dengan harga tinggi dibandingkan dengan produk superior dengan harga rendah, maka tindakan mereka membantu bertahannya perusahaan yang kurang efisien dan membuat mundurnya perusahaan yang lebih efisien. Dipandang dari sudut efisiensi, maka konsumen harus mempunyai pengetahuan yang cukup sebagai dasar dalam pengambilan keputusan- keputusan pembelian mereka yang akan mengahasilkan kepuasan yang maksimum. Informasi-informasi misalnya mengenai ciri-ciri khusus dan mutu produk yang akan dibelinya perlu disampaikan kepada konsumen. Banyak orang yang melaksanakan kegiatan dalam pemasaran segera dapat menerima bahwa efisiensi pemasaran dapat ditingkatkan. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan efisiensi pemasaran, tetapi effectiviness dari berbagai cara yang ditempuh untuk mengurangi biaya pemasaran merupakan persoalan yang belum menemukan kata sepakat. Converse and Jones (1968) mengemukakan cara-cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan efisiensi pemasaran sebagai berikut : 1. Menghilangkan perasaingan yang tidak bermanfaat. 2. Mengurangi jumlah pedagang pada saluran vertikal. 3. Memakai metode koperasi. 4. Memberi bantuan kepada konsumen. 5. Standardisasi dan simplifikasi. Tetapi cara-cara tersebut belum tentu memberikan hasil (meningkatkan efisiensi) secara adil dan kadang-kadang dapat terjadi inefisiensi ditinjau dari pihak pengusaha dan sebaliknya ditinjau dari pihak konsumen. Artinya ditinjau dari pihak pengusaha efisiensi pemasaran menurun, tetapi ditinjau dari pihak konsumen efisiensi pemasaran meningkat atau sebaliknya. Melalui penelitian, walaupun lebih banyak biaya yang dikeluarkan, namun banyak masalah analisa biaya pemasaran dan efisiensi pemasaran akan terpecahkan. Penelitian yang efektif akan dapat lebih banyak melahirkan tindakan-tindakan ke arah perbaikan efisiensi pemasaran. Penelitian sangat diperlukan dalam hal menentukan produk-produk apa dan layanan (service) yang bagaimana yang diinginkan konsumen dan metode terbaik untuk menyediakannya. D. Efisiensi Pemasaran Dari penjelasan di atas dari efisiensi teknis, efisiensi ekonomis dan efisiensi sosial dapat disimpulkan, apa itu efisiensi tata niaga, yaitu : 1. Pengananan produk dari segi standardisasi dan grading, pengemasan, pengangkutan serta penyimpanan harus baik. 2. Mutu produk terjaga dengan harga terjangkau oleh konsumen. 3. Fasilitas tata niaga tersedia. 4. Margin pemasaran rendah. 5. Keuntungan produsen dan pedagang perantara harus adil yaitu sesuai dengan sumbangan yang diberikan masing-masing.
49 6. Pedagang perantara secara horizontal harus banyak dan secara vertikal sedikit. 7. Terjadinya kompetisi pasar supaya tidak terjadi pasar monopoli dan monopsoni serta pasar oligopoly dan oligopsoni. 8. Tersedianya informasi pasar yang lengkap. 9. Cukupnya pengetahuan konsumen dan pedagang perantara terhadap barang dan harganya. 10. Konsumen puas terhadap barang yang diterimanya dari harga yang dibayarkannya. 11. Produsen dan pedagang perantara puas terhadap harga yang diterimanya dari sumbangan yang diberikannya. 12. Pemerintah puas atas berjalannya peraturan tata niaga yang dibuatnya. Dari kesimpulan efisiensi tata niaga di atas, sulit sekali mengukur tingkat efisiensi tata niaga itu secara menyeluruh, yaitu efisien dari segi teknis, ekonomis dan sosial, karena ukuran dan standarnya tidak jelas. Kecuali efisiensi tata niaga berdasarkan keuntungan, yang paling memungkinkan untuk diukur, yaitu keuntungan yang adil antara produsen dan pedagang-pedagang yang ikut serta berdasarkan sumbangan yang diberikan masing-masingnya. Contoh Efisiensi Pemasaran Berdasarkan Keuntungan Contoh ini adalah hasil penelitian dari Nila Surya Devi dkk (2006) pada Usahatani Bengkuang di Kecamatan Kuranji Kota Padang. Pada Tabel 1 terlihat pada saluran pemasaran 1 keuntungan perunit bengkuang tidak merata. Petani hanya dapat keuntungan sebesar 7,96%, pedagang pengumpul 28,12% dan pedagang pengecer 18,75% dari harga konsumen. Pada saluran pemasaran 2 keuntungan juga tidak merata. Petani dapat keuntungan yang terkecil juga yaitu hanya 5,86%, sedangkan pedagang pengecer mendapat 19,53% dari harga konsumen. lebih kecil. Nilai efisiensi pemasaran menurut biaya, didapatkan nilai efisensi pemasaran pada saluran 1 (13,09%) lebih kecil dari saluran pemasaran 2 yaitu 14,49% yaitu biaya pemasaran pada saluran pemasaran 1 lebih kecil dari biaya pemasaran saluran pemasaran 2. Dari sini dapat dikatakan saluran pemasaran 1 lebih efisien dari saluran pemasaran 2. Walaupun saluran pemasaran 1 lebih panjang dari saluran pemasaran 2 namun biaya pemasaran saluran 1 lebih kecil dari biaya pemasaran saluran 2. Hal ini disebabkan biaya pemasaran per kilogram produksi pada petani pada saluran pemasaran 1 lebih besar dari biaya pemasaran pada pedagang pengumpul pada saluran 1. Ini disebabkan jumlah hasil produksi yang dipasarkan petani lebih kecil dibandingkan dengan pedagang pengumpul sehingga biaya per kilogram produksi pada petani jadi lebih besar.
50 Tabel 1. Rata-rata Biaya Produksi dan Keuntungan Menurut Saluran Pemasaran pada Komoditi Bengkuang di Kecamatan Kuranji Kota Padang. No. Uraian Saluran Pemasaran 1 Saluran Pemasaran 2 Rp/kg (%) Rp/kg (%) A. Petani 1. Biaya Produksi 2. Biaya Pemasaran a. Transportasi b. Biaya angkat c. Biaya lain-lain 3. Jumlah biaya 4. Harga jual 5. Keuntungan 622,62 - - - - 622,62 750,00 127,38 38,91 - - - - 38,91 46,87 7,96 961,91 131,87 25,00 62,50 44,37 1.093,78 1.187,50 93,72 60,12 8,24 1,56 3,90 2,78 68,36 74,22 5,86 B. Pedagang Pengumpul 1. Harga beli 2. Biaya panen 3. Biaya pemasaran a. Transportasi b. Biaya angkat c. Biaya lain-lain 4. Jumlah biaya 5. Harga jual 6. Margin 7. Keuntungan 750,00 95,50 14,09 12,50 1,55 0,00 109,59 1.200,00 450,00 340,41 46,87 5,97 0,88 0,78 0,10 0,00 6,85 75,00 28,12 28,12 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - C. Pedagang Pengecer 1. Harga beli 2. Biaya pemasaran a. Plastik + tali b. Keamanan c. Retribusi c. Biaya lain-lain 3. Harga jual 4. Margin 5. Keuntungan 1.200,00 100,00 30,00 10,00 10,00 50,00 1.600,00 400,00 300,00 75,00 6,21 1,87 0,63 0,63 3,10 100,00 25,00 18,75 1.187,50 100,00 37,50 12,50 12,50 37,50 1.600,00 412,50 312,50 74,22 6,25 2,34 0,78 0,78 2,34 100,00 25,78 19,53 D. Total Biaya Pemasaran 114,09 9,00 231,87 14,49 E. Total Biaya 832,21 52,01 1.193,78 74,61 F. Total Keuntungan 767,79 47,99 406,22 25,39 F. Efisiensi Pemasaran 13,09 14,49