i
ii BUKU PANDUAN PENYEMBELIHAN AYAM POTONG LENGKAP MENURUT AJARAN AGAMA ISLAM OLEH MUH.IHSAN APTAREC BONTANG INDONESIA PENERBIT SEGALA JENIS BUKU
iii BUKU PANDUAN LENGKAP PENYMBELIHAN AYAM POTONG LENGKAP MENURUT AJARAN AGAMA ISLAM Penulis: Muh. Ihsan ISBN: 978-602-61449-2-8 Editor : Ibrahim S, BA. dan Sabrina, S.Ag Penyunting: Siti Raodah, S.Pd.. Disain Sampul dan Tata letak: Nurdin Lira. Penerbit: APTAREC Bontang Indonesia REDAKSI: KOMPLEK MASJID BAITUR RAHAMAN Jl. Pangandaran RT 12 No. 49 Kelurahan Berbas Pantai Kecamatan Bontang Selatan Kota Bontang Kalimantan Timur Indonesia 75323 Hp.085387785323 E-Mail: [email protected] DISTRIBUTOR: APTAREC Bontang Indonesia Jl. Pangandaran RT 12 No. 49 Kelurahan Berbas Pantai Kecamatan Bontang Selatan Kota Bontang Kalimantan Timur Indonesia 75323 Hp.085387785323 E-mail: [email protected] Cetakan Pertama, Januari 2018 Hak Cipta dilindungi Undang-undang Dilarang memperbanyak karya ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
iv KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji senantiasa kita sampaikan kepada Allah Swt. atas berkat, rahmat dan perkenan-Nya, maka segala aktivitas keseharian yang kita lakukan dapat tereselesaikan dengan baik. Demikian pula selawat dan salam senantiasa kita kirimkan kepada panutan semua makhluk, Nabi dan Rasulullah Saw. Semoga dengan selawat dan salam tersebut Allah Swt. menempatkan kita semua pada tempat yang layak sesuai dengan amal bakti masing-masing orang. Amiin. Bahwa tujuan disusunnya buku ini adalah untuk menunjukkan bahwa betapa kegiatan penyembelihan ayam potong tersebut harus merupakan bagian perhatian dan kepedulian penting dari semua umat islam sekaligus menjadi tak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan lain. Bahwa hasil yang telah dicapai mengharuskan sementara kalangan untuk selalu meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan sekaligus melaksanakan konsep syarat sahnya penyembelihan yang benar sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Bahwa pada kenyataannya dan terjadi dilapangan seperti di pasar tradisional Bontang menunjukkan bahwa pelaksanaan penyembelihan ayam potong tersebut di sana-sini masih banyak mengandung kekurangan terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan penyembelihan dan kepemilikan Sertifikat Jaminal Halal bagi penyembelih. Hal ini perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dan ditindaklanjuti oleh berbagai pihak terutama kepada mereka yang berwewenang. Terima kasih kita ucapkan kepada pemerintah Kota Bontang melalui Wakil Walikota Bontang, Para Kepala-
v kepala Dinas pemerintahan Kota Bontang, MUI Bontang yang telah memberikan masukan dan arahan yang bijak pada saat pelaksanaan seminar di kampus STIT Syamsul Ma’arif Bontang dimana diharapkan agar pemateri seminar dapat menyusun buku panduan yang dapat dipergunakan oleh semua kalangan terutama oleh mereka yang melaksanakan penyembelihan ayam potong di pasar tradisional Kota Bontang. Kemudian ucapan terima kasih kita haturkan kepada Ketua Yayasan Pendidikan Islam Syamsul Ma’arif Bapak Hasanuddin Hakam, MM. yang telah banyak memberikan masukan, bahkan ide penulisan buku panduan ini pada mulanya berasal dari beliau, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya untuk beliau dan senantiasa sehat wal-afiat agar kegiatan seperti ini selalu berkelanjutan pada masa-masa yang akan datang. Demikian pula dengan Ibu Murni, M.Pd. selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syamsul Ma’arif Bontang juga telah memberikan arahan, petunjuknya yang bijak dalam pelaksanaan penyusunan buku ini. Terakhir ucapan terima kasih saya dan kita sampaikan kepada kedua orang tua masing-masing bahwa dengan pemeliharaan yang tulus dari mereka berdua, kita semua dapat memehami secuil hal yang bersifat baik juga benar. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu di sini. Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan taupik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin yaa rabbanaa. Bontang, 14 Mei 2018 Penyusun, Muh. Ihsan, S.Ag.,M.Pd.
vi DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................................. iii Daftar Isi ...................................................................... v Bab I Pendahuluan .................................................... 1 A.Agama Islam ................................................ 1 B.Islam ............................................................. 4 1. Pengertian Islam ...................................... 4 2. Rukun Islam ............................................. 5 C.Iman ............................................................. 8 1. Pengertian Iman ....................................... 8 2. Rukun Iman ............................................. 9 D.Muslim, Mukmin, Mukhlis dan Muttaqin ... 14 1. Pengertian Muslim ................................... 14 2. Pengertian Mukmin ................................. 16 3. Pengertian Mukhsin ................................. 17 4. Pengertian Mukhlis .................................. 19 5. Pengertian Muttaqin ................................ 20 Bab II Hukum-Hukum Islam ..................................... 21 A.Wajib (fardhu) .............................................. 21 B.Sunnat (mandub) .......................................... 22 C.Makruh ......................................................... 22 D.Mubah (jais) ................................................. 22 E. Haram ........................................................... 23 F. Syubhat ........................................................ 23 G.Mukallaf ....................................................... 23 H.Syarat ........................................................... 23 I. Rukun ........................................................... 24 J. Sah ................................................................ 24 K.Batal ............................................................. 24
vii Bab III Bersuci (Thaharah) .......................................... 25 A.Macam-macam Air ...................................... 25 B.Macam-macam najis dan Cara Mensucikannya ............................................ 27 C.Tatacara Buang Air ...................................... 29 D.Wudhu .......................................................... 30 1. Pengertian Wudhu ................................... 30 2. Syarat-syarat Wudhu ............................... 32 3. Fardhu-fardhu Wudhu ............................. 32 4. Sunnat-sunnat Wudhu ............................. 33 5. Tatacara Berwudhu .................................. 33 6. Niat Wudhu .............................................. 34 7. Do’a Sesuadah Berwudhu ....................... 34 8. Hal-hal yang bembatalkan wudhu’ ......... 35 E. Tayammum .................................................. 35 1. Pengertian Tayammum ............................ 35 2. Syarat-syarat Tayammum ........................ 35 3. Fardhu-fardhu Tayammum ...................... 36 4. Sunnat-sunnat Tayammum ...................... 36 5. Hal-hal yang Membatalkan Tayammum . 36 6. Tatacara Tayammum ............................... 37 F. Mandi ........................................................... 37 1. Pengertian Mandi ..................................... 37 2. Hal-hal yang Mengharuskan Mandi ........ 38 3. Fardhu-fardhu Mandi ............................... 39 4. Sunnat-sunnat Mandi ............................... 39 5. Tatacara mandi ........................................ 39 Bab IV Bangkai dan Penyembelihan Hewan .............. 41 A.Bangkai ........................................................ 41 1. Pengertian Bangkai .................................. 41 2. Najisnya Bangkai ..................................... 44 3. Hukum Memakan Bangkai ...................... 46
viii 4. Yang dihalalkan dari Bagkai ................... 47 5. Hukum Menjual Bangkai ........................ 49 6. Hikmah Pengharaman Bangkai ............... 49 B.Penyembelihan Hewan ................................ 50 1. Pengertian Penyembelihan Hewan .............. 50 2. Lafas Niat Penyembelihan Hewan ............. 51 3. Syarat-syarat Sahnya Penyembelihan Hewan ...................................................... 51 4. Rukun-rukun Penyembelihan .................. 52 5. Sunnat-sunnat Penyembelihan Hewan .... 53 6. Tatacara Penyembelihan Ayam Potong .. 54 Bab V Do’a .................................................................. 56 A.Pentingnya Do’a .......................................... 56 B.Dasar Hukum Do’a ...................................... 59 C.Adab Berdo’a ............................................... 60 D.Larangan Ketika Berdo’a ............................. 63 E. Tertolaknya Do’a ......................................... 64 F. Syarat Dikabulkannya Do’a ......................... 67 G.Waktu-waktu Makbulnya Do’a ................... 71 H.Beberapa Lafas Do’a ................................... 74 1. Do’a dikala menghadapi kesusahan ........ 74 2. Do’a dikala kesulitan membayar hutang . 74 3. Do’a Mohon Ketetapan nikmat Allah ..... 75 4. Do’a Perlindungan dari Sifat Buruk ........ 75 5. Do’a mohon ketetapan Iman ................... 76 DAFTAR PUSTAKAN ............................................... 77
1 BAB I PENDAHULUAN A. Agama Islam Agama satu-satunya yang diridhai oleh Allah dan diturunkan kepada Rasul-Nya adalah Islam. Dari itu tidak ada agama selain Islam yang diakui oleh-Nya, kecuali hanya agama Islam itu sendiri. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an sebagaimana Surat al-Imran ayat 19, selengkapnya berbunyi: Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189]1 kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. 1 Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran
2 Ditegaskan pula dalam firman Allah Swt. pada surat alImran ayat 85, selengkapnya berbunyi: Artinya: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Sementara dalam surat al-Maidah ayat 3, Allah Swt mempertegas bahwa agama yang diridhai-Nya hanya Islam satu-satunya, selengkapnya berbunyi: Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394]2 , daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, 2 Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145
3 yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395]3 , dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396]4 , (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[397]5 orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398]6 karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sekarang dapat dipahami bahwa berdasarkan beberapa firman Allah Swt. di atas, maka jelaslah bahwa agama yang disampaikan oleh Allah Swt. kepada para Nabi dan Rasul-Nya, sejak Nabi Adam as sampai kepada Nabi Muhammad Saw. tiada lain hanyalah agama tauhid yang disebut dengan agama Islam. Akan tetapi nama dan penggunaan bahasa saja yang berbeda-beda. Hal ini terjadi oleh karena di antara para Nabi dan Rasul itu menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Seperti Nabi 3 Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati. 4 Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi 5 Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. 6 Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa
4 Musa as. menggunakan bahasa Ibrani, Nabi Daud as. menggunakan bahasa Qibthi, Nabi Isa menggunakan bahasa Suryani, sementara Nabi Muhammad Saw. menggunakan bahasa Arab. Selanjutnya perlu pembaca ketahui bahwa semenjak agama Islam diturunkan kepada Nabi Adam as., Nabi Idris as, dan kepada Nabi-nabi selanjutnya, agama tauhid ini telah mengalami beberapa perubahan yang bertujuan untuk penyesuaian dengan situasi dan kondisi masyarakat masing-masing zaman. Sampai akhirnya pada masa Nabi Muhammad Saw. telah mencapai kesempurnaan yang tidak mungkin lagi diadakan perubahan-perubahan. Oleh karena itu, semua ajaran-ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. tersebut telah mencukupi kebutuhan segala bentuk kehidupan, dapat mengatur segala macam bentuk dan jenis perilaku, serta dapat diterima dan diamalkan oleh semua jenis bangsa-bangsa yang ada dipenjuru dunia ini sampai kepada akhir zaman kelak. B. Islam 1. Pengertian Islam Islam berasal dari kata “Aslama Yuslimu” yang jatuh pada isim masdar “Islaaman” dimana berarti penyerahan. Yakni menyerahkan diri secara penuh kepada Allah Swt saja untuk berbakti kepada-Nya agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia ini terutama kebahagiaan hidup di akhirat kelak.
5 Adapun pengertian Islam secara luas, telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits riwayat Muslim dikala beliau menjawab pertanayaan Malaikat Jibril as. tentang Islam. Beliau menjawab: “Islam yaitu engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali hanya Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa pada bulan ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu dalam perjalanan. (HR. Muslim) ِن ُع َمَر رضي هللا عنهما قَا َل: قَا َل َر ُسو ُل هللاِ حديث اْب ْن َ ِإل ْسالُم َعلى َخ ْم ٍس: َشهادَةِ أ َي ا صلى هللا عليه وسلم: بُنِ َء ِيتا َوإ صالةِ ِم ال َّ ِقا َوإ َر ُسو ُل هللاِ مدًا َّ ن ُم َح َّ َ َوأ َّ هللاُ ِال لهَ إ ِ الَ إ ِ َو َصْوِم َر َح ج ْ زكاةِ َضا َن َوال َم ال َّ Artinya: Ibn Umar r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Islam didirikan di atas lima: 1. Percaya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. 2. Mendirikan shalat. 3. Mengeluarkan zakat. 4. Haji ke baitullah jika kuat perjalanannya. 5. Puasa bulan Ramadhan. (Bukhari, Muslim) 2. Rukun Islam Islam dikenal memiliki rukun sebanyak lima (5), yaitu: a. Mengucapkan dua kalimat syahadat b. Mendirikan Shalat c. Menunaikan Zakat
6 d. Berpuasa pada bulan ramadhan e. Naik haji ke baitullah bagi yang mampu Penjelasan a. Mengucapkan dua kalimat syahadat, ialah: اشهد ان ال اله ا ال هللا واشهد ان سيدنا محمدارسول هللا “Asyhadu an Laa Ilaaha Illal Laahu wa Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi” Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. b. Mendirikan Shalat Yang dimaksud dengan mendirikan shalat di sini adalah mendirikan shalat lima kali sehari semalam, yang tiap shalat memiliki waktu yang telah ditentukan. Siapapun orangnya, jika ia mengaku beragama Islam maka baginya berkewajiban mendirikan shalat. Karena dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat”. c. Menunaikan Zakat Dalam agama Islam tidak semua pemeluknya diwajibkan menunaikan zakat, melainkan yang diwajibkan itu ialah orang yang memiliki harat
7 yang cukup dan sampai pada nishab untuk diberikan kepada orang yang telah ditentukan. d. Berpuasa pada Bulan Ramadhan Siapapun yang beragama Islam dan tidak berhalangan menurut syara’, maka baginya berkewajiban berpuasa pada bulan ramadhan. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, selengkapnya berbunyi: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa e. Pergi Haji Ke Baitullah bagi yang mampu Kewajiban pergi haji ke Baitullah hanya berlaku bagi orang yang benar-benar mampu. Baik dari segi biaya, keamanan perjalanan ataupun kesiapan fisik dan mentalnya dalam melaksanakan semua amalan-amalan haji. Selain itu kewajiban tersebut hanya sekali seumur hidup. Yaitu, jika ia sudah pernah melaksanakan ibadah haji, maka tidak berkewajiban menunaikan ibadah haji lagi, walaupun ia sangat mampu untuk melaksanakannya. Tetapi apabila
8 ia melaksanakannya juga maka itu hukumnya adalah sunnat. Ini sesuai dengan firman Allah: Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122]7 , barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats[123]8 , berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124]9 dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS: Al-Baqarah: 197). C. Iman 1. Pengertian Iman Mengenai pengertian iman ini telah dijelaskan lebih lanjut oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadits riwayat Muslim, bahwa yang dimaksud dengan iman ialah: اال يمان عقد بالقلب واقرارباللسان وعمل باالركان 7 Ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah 8 Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh. 9 Maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.
9 Al Imaanu ‘Aqdun Bil Qalbi wa Iqraarun Bil Lisaani wa ‘amalun bil Arkaani Artinya: Iman ialah pengakuan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. 2. Rukun Iman Rukun Iman itu ada enam (6) perkara, yaitu: a. Iamn kepada Allah b. Iman kepada malaikat Allah c. Iman Kepada Kitab Allah d. Iman kepada Rasul Allah e. Iman kepada hari kiamat f. Iman kepada Qadha dan Qadar Allah Penjelasan a. Iman kepada Allah Iman kepada Allah ialah mempercayai bahwa Allah itu ada dan Dialah yang menciptakan seluruh isi alam ini. Dia Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Esa, Maha Mendahului dan Maha Sempurna serta Maha Suci dari segala macam sifat tercelah. Oleh sebab itu, apabila seseorang benar-benar beriman kepada Allah, maka ia harus membuktikan keimanan dirinya kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-perintah-Nya dan mejauhi semua larangan-larangan-Nya.
10 b. Iman kepada Malaikat Allah Iman kepada malaikan Allah ialah, mempercayai bahwa Allah telah menciptakan makhluk bernama malaikat. Dimana Allah menciptakan malaikat ini dari cahaya yang tidak mempunyai jenis kelamin, tidak makan dan tidak minum, dan tidak tidur. Malaikat ini termasuk jenis makhluk ghaib, yaitu tidak dapat dilihat dalam bentuknya yang asli oleh mata manusia. Dan satu-satunya makhluk yang paling patuh kepada Allah. Kemudian mengenai jumlah malaikat tersebut ialah banyak sekali sehingga tak seorang pun yang mengetahui jumlah persisnya, kecuali hanya Allah saja yang Maha Mengetahui akan hal itu. Namun demikian dalam al-Qur’an Allah menegaskan bahwa jumlah malaikat yang seharusnya diketahui adalah berjumlah 10, antara lain: 1. Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah 2. Malaikat Mikail, bertugas mengatur hujan dan membagi rezeki 3. Malaikat Israfil, bertugas meniup sangkakala 4. Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa dari semua makhluk hidup 5. Malaikat Munkar dan 6. Malaikat Nakir bertugas memeriksa dan menanyai orang mati dalam kubur 7. Malaikat Rakib bertugas mencatat amal baik manusia semasa hidupnya di dunia
11 8. Malaikat Atit bertugas mencatat amal buruk manusia semasa hidupnya di dunia 9. Malaikat Malik bertugas menjaga neraka 10. Malaikat Ridwan bertuga menjaga syurga c. Iman kepada Kitab Allah Iman kepada Kitab-kitab Allah ialah, mempercayai bahwa Allah Swt. telah menurunkan kitab Suci kepada para Nabi dan Rasul-Nya, yang berisikan berbagai macam aturan hidup dan kehidupan manusia di muka bumi ini. Adapun kitab yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya itu banyak sekali jumlahnya sehingga tak seorangpun yang dapat mengetahui jumlah persisnya, melainkan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Dalam al-Qur’an kitab yang diturunkan tersebut ada 4 macam kitab yang wajib diimani dan diketahui, yaitu: 1. Kitab Taurat, diturunkan kepada Nabi Musa as. dengan menggunakan bahasa Ibrani. 2. Kitab Zabur, diturunkan kepada Nabi Daud as. dengan menggunakan bahasa Qibthi. 3. Kitab injil, diturunkan kepada Nabi Isa as. dengan menggunakan bahasa Suryani. 4. Kitab Al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan menggunakan bahasa Arab. d. Iman kepada Rasul Allah Iman kepada rasul Allah ialah, mempercayai bahwa Allah telah mempunyai Rasul atau utusan
12 dari kalangan manusia yang diberi wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia sesuai zamannya. Adapun perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah, Nabi diberi wahyu hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan Rasul diberi wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Selanjutnya perlu diketahui bahwa Rasul itu mempunyai 4 (empat) sifat wajib, yaitu: 1. Shiddiq (benar) 2. Amanah (jujur/tanggungjawab) 3. Tabliq (penyampai) 4. Fathanah (cerdas/pandai) Demikian halnya jumlah malaikat, jumlah Nabi dan Rasul pun banyak sekali sehingga tak seoerang pun yang mengetahui jumlah persisnya, kecuali Allah saja Yang Maha Mengetahui. Akan tetapi dalam al-Qur’an terdapat 25 Nabi dan Rasul yang wajib diimani dan diketahui, antara lain: 1 Nabi Adam as. 10 Nabi Ya’kub as. 19 Nabi Ilyas as. 2 Nabi Idris as. 11 Nabi Yusuf as. 20 Nabi Ilyasa as. 3 Nabi Nuh as. 12 Nabi Ayyub as. 21 Nabi Yunus as. 4 Nabi Hud as. 13 Nabi Syuaib as. 22 Nabi Zakaria as 5 Nabi Shaleh as. 14 Nabi Musa as. 23 Nabi Yahya as 6 Nabi Ibrahim as. 15 Nabi Harun as. 24 Nabi Isa as 7 Nabi Luth as. 16 Nabi Dzulkifli as. 25 Nabi Muhammad Saw 8 Nabi Ismail as. 17 Nabi Daud as. 9 Nabi Ishaq as. 18 Nabi Sulaiman as
13 e. Iman kepada Hari Kiamat Iman kepada hari kiamat ialah, mempercayai bahwa alam semesta berserta isinya ini akan hancur binasa dan berganti dengan kehidupan baru yang lebih kekal dan tidak berkesudahan. Dalam kehidupan baru itulah manusia akan menerima balasan dari setiap amal perbuatannya selama hidupnya di dunia. Dimana yang jahat akan disiksa dengan siksaan yang sangat pedih dan yang baik akan mendapat tempat sesuai amal kebaikannya itu dan tidak dirugikan sedikitpun walau sebesar biji zarra. f. Iman kepada Qadha dan Qadar Allah Iman kepada Qadha dan Qadar Allah ialah, mempercayai bahwa segala yang terjadi, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan dalam masa berlakunya yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu ialah sudah menjadi ketentuan dari Allah Swt. Kendatipun demikian, kita tidak boleh menyerah begitu saja terhadap ketentuan Allah Swt tersebut. Sebab kita masih diwajibkan untuk berusaha dan berikhtiar. Sedangkan hasil dari usaha tersebut akan kita serahkan kepada Allah Swt. Nah, hal yang demikian itulah yang disebut dengan tawakkal.
14 D. Muslim, Mukmin, Mukhlis dan Muttaqin 1. Pengertian Muslim Muslim, (akar katanya, Islam/salima artinya damai, selamat, sejahtera) adalah orang baru menyerahkan diri saja kepada Allah, seperti anak yang baru saja mengenal huruf atau angka, walaupun diberi pelajaran, tetapi masih tetap berbuat yang tidak baik, misalnya: kita andaikan dan perhatikan saja anak-anak yang ada di sekolah TK, karena belum mengerti tujuan hidupnya, maka pengetahuannya itu yah sekedar pengakuan saja. Hal ini sejalan dengan al-Qur’an surat : al-A’raf (7) ;172 ; alHujuraat (49) :14, selengkapnya berbunyi: Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
15 Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan muslim adalah orang yang beragama Islam. Menunjukkan orang yang menyerah diri/tunduk kepada Allah swt. Seorang manusia yang telah menerima dan mengikrarakan Islam sebagai agamanya dengan mengucapkan kalimah syahadah. Artinya, orang ini percaya sudah menerima segala kewajiban-kewajiban dan hakhak yang telah digariskan oleh Islam. Hal ini terlihat dalam surat al-Baqarah ayat 128, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami
16 berdua: Orang-orang Islam (yang berserah diri) kepadaMu dan jadikanlah daripada keturunan kami: Umat Islam (yang berserah diri) kepadamu dan tunjukkanlah kepada kami syariat dan caracara ibadat kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” 2. Pengertian Mukmin Mukmin (berasal dari akar kata Iman artinya percaya, Amanah artinya orang dapat diberi kepercayaan), adalah orang mengatakan keimanan dengan lidah, diyakini dengan hati dan dikerjakan dengan perbuatan (mengamalkan rukun Iman 6). Ini adalah tingkatan di atas muslim. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an surat Al-Anfal (8) ayat : 2, selengkapnya berbunyi: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman [594]10 ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595]11 gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. 10 Maksudnya: orang yang sempurna imannya 11 Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya
17 Sehingga dengan demikian, maka yang dimaksud dengan mukmin ialah orang Islam yang beriman. Hal ini sesuai dengan Firman Allah swt yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Bayyinah (98) ayat 7, selengkapnya berbunyi: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” Seorang Muslim tidaklah cukup dengan pengakuan itu saja, tetapi harus diiringi dengan amal/perbuatan/tindakan yang diperintahkan oleh agamanya. Dengan melaksanakan hal itu, maka dia meningkat derajatnya menjadi seorang Mukmin. 3.Pengertian Mukhsin Mukhsin (berasal dari kata, Ikhsan artinya : baik) adalah orang yang tingkatannya berada pada Muslim plus Mukmin, artinya orang tersebut tidak beriman saja, tapi sebagaimana Hadits Nabi Saw., yaitu: “Dia beribadah kepada Allah seakan akan melihat-Nya, tapi apabila dia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat dia.” Ini adalah tingkatan di atas mukmin. Hal ini sesuai dengan alQur’an surat al-Imran (3) : 134, selengkapnya berbunyi:
18 Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan mukhsin ialah orang mukmin yang mencapai tahap Ikhsan sebagai yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. di dalam sebuah hadits yang panjang, namun secara singkat dikutip maknanya kurang lebih demikian bahwa “seorang mukmin haruslah mengerjakan perbuatan kebajikan yang disebut ikhsan. Ikhsan itu meliputi segala perbuatan yang baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain”. Dari seorang mukmin meningkat lagi menjadi seorang mukhsin. Ini sesuai dengan sabda Rasul Saw, yang berbunyi: ما اإلحسان قال أن تعبد هللا كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك Apa itu Ikhsan, Dia menjawab : Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatnya, dan jika kamu tidak melihatnya, ketahuilah bahawa Dia (Allah) melihat kamu. HR. Bukhari.
19 4. Mukhlis Mukhlis (berasal dari kata ikhlas ) yang artinya adalah orang beribadah kepada Allah, hanya mengaharapkan ridha-Nya, seperti orang besedekah dengan tangan kanannya, maka tangan kirinyapun tidak mengetahuinya. Ini adalah tingkatan derajat yang berada diatas mukhsin. Hal ini sesuai dengan Surat al-Bayyinah (98) ayat 5, selengkapnya berbunyi: Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595]12, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan mukhlis adalah seorang mukhsin yang berperilaku ikhsan itu semata-mata karena berbakti kepada Allah Swt. bukan karena mengharapkan pujian, sanjungan, pangkat dan lain-lain, akan tetapi sungguh-sungguh ikhlas, maka kondisi ini menunjukkan manusia meningkat derajatnya menjadi seorang mukhlis. 12 Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
20 5. Pengertian Muttaqin Muttaqin (berasal dari akar kata taqwa: takut), secara istilah adalah orang melaksanakan perintah Allah secara sempurna, dan menjauhkan perintah Allah. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan sifat orang bertaqwa, antara lain Surat Al-Imran (3) ayat 135, selengkapnya berbunyi: Artinya: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri [229]13, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Muttaqin adalah orang mukmin yang bertaqwa. Dan banyak sifat-sifat lainnya yang paling Istimewa, pantas kalau Allah SWT menyebutnya sebagai orang yang paripurna”( orang beriman yang melaksanakan ajaran islam secara kaffah). 13 Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil
21 BAB II HUKUM-HUKUM ISLAM Dalam agama Islam terdapat beberapa ketentuan yang disebut dengan hukum Islam. Dan orang yang dikenai hukum Islam adalah orang mukallaf yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan kata lain bahwa orang tersebut telah memeluk agama Islam. Dengan demikian, ia berkewajiban menjalani syri’atsyari’at Islam. Dan bila ia menolak atau melanggar syari’at tersebut, maka berarti ia terkena sangsi hukum Islam itu sendiri. Adapun jenis-jenis hukum Islam tersebut adalah sebagai berikut: A. Wajib (fardhu) Yang dimaksud dengan hukum wajib atau fardhu yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan akan mendapatkan dosa atau siksa. Wajib atau fardhu tersebut terdiri dari dua bagian penting, yaitu: 1. Wajib ‘Ain yang artinya adalah suatu perkara yang harus dilakukan oleh setiap orang mukallaf (orang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat), seperti shalat lima waktu sehari semalam, puasa pada bulan ramadhan. dan sebagainya. 2. Wajib Kifayah yang artinya adalah suatu perkara yang harus dilakukan oleh setiap orang mukallaf, tetapi apabila dilakukan oleh salah seorang diantara mereka, maka gugurlah kewajiban mukallaf yang lain. Seperti memandikan, mengkafani jenazah sampai menguburkannya.
22 B. Sunnat (mandub) Sunnat atau mandub adalah suatu perkara yang apabila dilakukan akan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa atau siksa. Dan hukum sunnat tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1. Sunnat Mu’akkad adalah suatu perkara yang sangat ditekankan untuk dikerjakan, seperti shalat tarawih, shalat hari raya. dan lain-lain. 2. Sunnat ghairu mu’akkad adalah suatu perkara yang tidak ditekankan untuk dikerjakan. Seperti shalat dua rakaat sebelum maghrib, puasa pada hari senin dan kamis. dan sebagainya. C. Makruh Makruh mengandung makna yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan tidak akan mendapatkan dosa atau siksa, dan apabila ditinggalkan akan mendapatkan pahala, seperti merokok. dan sebagainya. D. Mubah (jais) Mubah atau jaiz mengandung pengertian yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan atau tidak dilakukan, maka baginya tidak akan mendapatkan dosa atau siksa, seperti berpakaian bagus, makan makanan yang enak. dan lain-lain.
23 E. Haram Hukum haram mengandung makna yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan akan mendapatkan dosa atau siksa. Dan bila ditinggalkan akan mendapatkan pahala. Seperti, berzina, minum khamar. dan sebagainya. Demikian hukum-hukum Islam, dan kita yang mengaku sebagai orang Islam dalam hidup ini tidak akan luput dari hukum-hukum tersebut. Baik dari yang wajib atau fardhu, sunnat, makruh, mubah dan haram. Selain dari hukum-hukum Islam, terdapat beberapa hal yang berkaitan dengannya, antara lain sebagai berikut: F. Syubhat Syubhat adalah suatu perkara yang tidak jelas pemilik, sumber dan asal usulnya. Seperti buah jatuh dan hanyut terbawa arus sungai yang tidak jelas pemilik sumber dan asal usulnya. G. Mukallaf Mukallaf adalah orang yang dibebani untuk melaksanakan ajaran Islam karena telah dewasa, berakal sehat dan telah sampai ajaran Islam kepadanya sekaligus memeluknya, merdeka dan bukan budak. H. Syarat Syarat mengandung makna yaitu suatu perkara diluar pekerjaan dan perkara itu harus dipenuhi karena dapat
24 menyebabkan sahnya perkerjaan itu sendiri. Seperti berwudhu dapat menyebabkan sah shalat. I. Rukun Rukun yaitu suatu perkara dalam pekerjaan dan perkara itu harus dipenuhi karena dapat menyebabkan sahnya pekerjaan itu. Seperti membaca surat alFatihah dalam shalat. J. Sah Sah bermakna yaitu suatu perkara yang terpenuhi syarat dan rukunnya. Seperti shalat dengan berwudhu (sebagai syarat) dan membaca Fatihah (sebagai rukun). K. Batal Batal yaitu suatu perkara yang tidak terpenuhi syarat dan rukunnya. Seperti shalat tetapi tidak berwudhu (sebagai syarat) dan tidak membaca al-Fatihah (sebagai rukun).
25 BAB III BERSUCI (THAHARAH) A. Macam-macam Air Air sebagai alat untuk bersuci adalah air yang sifatnya suci mensucikan. Hal ini sesuai dengan Qs. 8:11, berbunyi: Artinya: (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)[598]14 . 14 Memperteguh telapak kaki disini dapat juga diartikan dengan keteguhan hati dan keteguhan pendirian.
26 Qs. 25: 48, berbunyi: Artinya: Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. Sesuai dengan penjelasan tersebut di atas, maka ada beberapa macam air yang dapat dipergunakan untuk bersuci, antara lain: 1. Air hujan 2. Air sumur 3. Air laut 4. Air sungai 5. Air salju 6. Air embun 7. Air telaga Dilihat dari segi hukumnya air tersebut dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1. Air mutlaq Yang dimaksud dengan ait mutlaq adalah air suci lagi dapat dipergunakan untuk bersuci. Seperti air hujan, air sumur, dan lainnya yang semisal selama tidak terkena najis.
27 2. Air musyammas Yang dimaksud dengan air musyammas adalah air suci yang terkena sinar matahari. Dan air tersebut hukumnya makruh bila dipergunakan untuk bersuci karena dapat menimbulkan penyakit baros. 3. Air musta’mal Yang dimaksud dengan air musta’mal adalah air yang sudah dipergunakan untuk bersuci. Dan air ini walaupun suci, namun tidak dapat dipergunakan untuk bersuci. Contoh air musta’mal adalah air kelapa, air teh, air kopi dan lain sebagainya. 4. Air mutanajjis Yang dimaksud dengan air mutanajjis adalah air suci yang terkena benda-benda najis sehingga berubah warna, rasa dan baunya. Dan air ini tidak dapat dipergunakan untuk bersuci. B. Macam-macam najis dan Cara Mensucikannya Selanjutnya ada beberapa hal yang harus pula diperhatikan dalam kaitannya dengan bersuci, yaitu najis. Najis adalah sesuatu yang dapat membatalkan wudhu. Najis ini terdiri dari tiga macam bagian yaitu:
28 1. Najis mukhaffafah Yang dimaksud dengan najis mukhaffafah adalah najis yang ringan cara mensucikannya. Najis seperti ini adalah dari air kencing bayi laki-laki yang berumur kurang dari dua tahun dan belum makan apapun kecuali air susu ibunya. Cara mensucikan najis seperti ini adalah cukup dengan memercikkan air ketempat yang terkena najis. 2. Najis mughalladah Yang dimaksud dengan najis mughalladah adalah najis yang berat cara mensucikannya. Najis seperti ini adalah jilatan anjing dan babi pada suatu benda. Cara mensucikan najis semacam ini adalah dengan cara membasuh tujuh kali benda yang terkena najis dan salah satunya dicampur dengan debu yang suci. 3. Najis mutawassithah Yang dimaksud dengan najis mutawassithah adalah najis yang cara mensucikannya tidak ringan dan juga tidak berat. Najis semacam ini berupa kotoran manusia atau binatang, air kencing, darah, nanah, bangkai (selain bangkai manusia, ikan dan belalang). Cara mensucikan najis seperti ini adalah dibasuh dengan air suci mensucikan sampai hilang sifat-sifat najisnya.
29 C. Tatacara Buang Air Tatacara buang air di sini ada dua macam, yaitu tatacara buang kecil dan tatacara buang besar. Adapun tatacaranya adalah sebagai berikut: 1. Tidak membawa sesuatu bertuliskan nama Allah atau ayat al-Qur’an juga tidak mengucapkannya. 2. Tidak melakukan di tempat terbuka. 3. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya. 4. Tidak dilakukan pada tempat-tempat yang sering dilalui orang atau pada tempat berteduh. 5. Tidak dilakukan pada lubang atau liang binatang, sebab disamping bisa membahayakan diri sendiri juga dapat menyakiti binatang yang ada di dalam lubang itu. 6. Tidak dilalukan dengan bercakap-cakap, keuali dalam keadaan terpaksa. 7. Ketika masuk ke tempat buang air hendaknya mendahulukan kaki kiri seraya membaca do’a: اللهم اني اعوزبك من الخبث والخباءث Allaahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaaitsi Artinya: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan syetah lakilaki dan syetah perempuan, 8. Ketika keluar dari tempat buang air, hendaknya mendahulukan kaki kanan seraya membaca do’a: الحمد هلل اللزي ازهب عني اال زي وعافاني
30 Al-Hamdu lillahil Ladzii Azdhaba ‘Anil Adzaa wa Afaanii Artinya: Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menghilangkan dariku rasa sakit dan mengafiatkan aku. D. Wudhu 1. Pengertian Wudhu’ Wudhu menurut bahasa berarti bersih dan indah. Sedangkan menurut istilah syara’ adalah membasuh atau mengusap pada bagian anggota wudhu menurut tuntunan syara’ dengan tujuan menghilangkan hadats kecil. Sumber rujukan mengenai wudhu’ diambil dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi Muhammad Saw. sebagai berikut: ٍر ْي ِه ثَالَ َث ِمَرا َّ َر َغ َعلَى َكف فْ َ ِنَا ٍء فَأ ِإ ا َن دَ َعا ب َّ ِن َعف َما َن ْب ْ حديث ُعث م َّ َم ْض َم َض َوا ْستَْن َش َق، ثُ ِإلنَا ِء، فَ دْ َخ َل يَ ِمينَهُ فِي ا َ م أ َّ ُهَما، ثُ َسلَ فَغَ ا، م َم َس َح َغ َس َل َو ْج َههُ ثَالَثً َّ ٍر، ثُ ِن ثَالَ َث ِمَرا ِمْرفَقَ ْي ْ لَى ال ِ َويَدَْي ِه إ م قَا َل: قَا َل َّ ِن، ثُ َك ْعبَ ْي ْ لَى ال ِ ٍر إ ْي ِه ثَالَ َث ِمَرا م َغ َس َل ِر ْجلَ َّ ِس ِه، ثُ ْ ِ َرأ ب نَ ْحَو ُو ُضوئِي هذَا َ َّضأ َو َم ْن تَ َر ُسو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم: ِن الَ يُ ى َر ْكعَتَْي َّ م َصل َّ ِ ث ِه ُ ِم ْن ذَْنب َ م َّ َما تَقَد َر لَهُ ِهَما َنْف َسهُ ُغِف َحِد ُث ِفي Artinya: Usman bin Affan r.a. minta bejana air untuk wudhu', lalu menuangkan air membasuh kedua tapak tangannya tiga kali, kemudian memasukkan tangan ke dalam tempat air, lalu kumur dan menghirup dan mengeluarkan dari hidung, lalu membasuh muka tiga kali, dan kedua tangan sampai siku tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh
31 kedua kaki hingga mata kaki tiga kali, kemudian berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang wudhu' seperti wudhu'ku ini, lalu shalat dua raka'at dengan khusyu' tidak berkata apa-apa dalam hatinya, maka akan diampunkan dosanya yang telah lalu. (Bukhari, Muslim). Dalam al-Qur’an disampaikan juga mengenai wudhu’ ini, yaitu terdapat pada surat al-Maa-idah ayat 6, berbunyi: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
32 sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. 2. Syarat-syarat Wudhu’ Syarat-syarat pelaksanaan wudhu’ adalah sebagai berikut: a. Beragama islam b.Tamyis, yaitu dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk c.Harus menggunakan air suci lagi mensucikan d.Tidak berhadats besar e.Mengetahui mana yang fardhu dan mana yang sunnat f. Tidak ada sesuatu yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu’. Seperti cat, getah, minyak, dan sebagainya. 3. Fardhu-fardhu Wudhu Selanjutnya fardhu-fardhu wudhu’ adalah a. Niat dalam hati ketika membasuh muka b.Membasuh muka sebatas tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu sampai batas telinga kanan dan kiri. c.Membasuh kedua tangan sampai pada siku d.Membasuh kedua kaki sampai pada mata kaki e.Tertib yaitu berurutan
33 4. Sunnat-sunnat Wudhu’ Sunnat-sunnat wudhu’ adalah 1. Membaca basmalah ketika hendak memulai berwudhu’. 2. Menghadap ke kiblat 3. Bersiwak atau menggosok gigi 4. Membersihkan kedua telapak tangan terlebih dahulu 5. Berkumur sampai tiga kali 6. Menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali 7. Membasuh kedua telinga pada bagian luar dan dalam 8. Mendahulukan anggota wudhu’ yang kanan atas yang kiri 9. Menyela-nyela jari tangan dan kaki serta jenggot 10.Mengulang basuhan atau usapan sebanyak tiga kali 11.Membaca do’a sesudah wudhu’. Dalam kaitannya dengan menggosok gigi, Nabi senantiasa melakukannya, bahkan ketika ajal beliau sudah dekat, kegiatan menggosok gigi ini masih dilakukan. 5. Tatacara Berwudhu’ Tata cara berwudhu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw., yaitu: 1.Niat dalam hati ketika akan berwudhu’ 2.Membaca basmalah 3.Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali 4.Berkumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali
34 5.Membasuh muka sebanyak tiga kali 6.Membasuk kedua tangan mulai dari ujung jari sampai pada siku masing-masing sebanyak tiga kali 7.Mengusap kepala sebanyak tiga kali 8.Mengusap kedua telinga pada bagian luar dan dalam sebanyak tiga kali 9.Membasuh kedua kaki mulai dari ujung jari kaki sampai pada mata kaki masing-masing sebanyak tiga kali. Nabi Saw. menunjukkan betapa perhatian Beliau mengenai wudhu’ yang benar ini. Bahkan sampai pada hal-hal yang dianggap ringan pun tetap Beliau perhatikan seperti tumit, Beliau bahkan berseru agar benar-benar memperhatikan basuhan wudhu’ mengenai tumit. 6. Niat Wudhu’ Niat wudhu’ ى ٰ ِ تَعَال ْر ًضاِّلِله ِرفَ ْصغَ ْالَ َحدَ ِث ا ْ ال ِ َرفْع ُو ُضْو َءِل ْ َوْي ُت ال نَ Artinya: “"Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah." 7. Do’a Sesudah berwudhu’ Do’a sesudah wudhu’ yaitu: اللهم اجعلنى من التوابين واجعلنى من المتطهرين Artinya: Wahai Tuhanku, jadikanlah aku tergolong orang yang bertaubat dan jadikanlah aku tergolong orang yang suci.
35 8. Hal-hal yang membatalkan wudhu’ Selanjutnya perlu pula seseorang memperhatikan mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu’. Hal ini bertujuan agar wudhu’ tetap terpelihara. Adapun halhal yang dapat membatalkan wudhu’ antara lain: 1.Keluarnya sesuatu dari kulub dan dubur: seperti kencing, keluar mani, kentut, berak dan sebagainya yang semisal. 2.Menyentuh kulub dan dubur dengan telapak tangan tanpa halangan sesuatu, baik disengaja maupun tidak. 3.Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mukhrim 4.Hilang akal. Seperti gila, pingsang, mabuk, dan sebagainya 5.Tidur atau dalam keadaan duduk tidak tetap. E. Tayammum 1. Pengertian tayammum Dalil tayammum dapat dirujuk kepada al-Qur’an pada surat al-Maa-idah ayat 6, sebagaimana telah disampaikan melalui wudhu’ dimuka. Tayammum adalah mengusap muka dan kedua tangan dengan demu yang suci pada saat-saat tertentu, sebagai penganti wudhu’ dan mandi dengan syarat rukun tertentu. 2. Syarat tayammum. Orang boleh bertayammum sebagai pengganti wudhu’ dan mandi jika:
36 a. Tidak mendapatkan air walau sudah berusaha untuk mendapatkannya. b.Berada dalam kondisi yang jika menggunakan air akan membahayakan kesehatannya c.Menggunakan debu atau pasir yang suci d.Telah masuk waktu shalat yang akan dikerjakannya 3. Fardhu-fardhu tayammum, antara lain: a. Niat bertayammum untuk mengerjakan shalat b.Mengusap muka sebanyak dua kali c.Mengusap kedua tangan sampai siku d.Tertib yaitu berurutan 4. Sunnat-sunnat tayammum, antara lain: a. Membaca basmalah b.Menghadap ke kiblat c.Mendahulukan anggota tayammum yang kanan atas yang kiri d.Menepiskan debu yang melekat ditelapak tangan 5. Hal-hal yang dapat membatalkan tayammum Selanjutnya perlu pula diperhatikan akan hal-hal yang dapat membatalkan tayammum. Hal ini bertujuan agar tayammum yang sudah dikerjakan dapat terpelihara sampai shalat dilaksanakan. adapun hal-hal yang dapat membatalkan tayammum adalah: a. Murtad, yaitu keluar dari agama islam b.Meminum air sebelum mengerjakan shalat
37 c.Semua yang membatalkan wudhu’ juga membatalkan tayammum 6. Tata cara mengerjakan tayammum adalah: a. Niat bertayammum sebagai pengganti wudhu’ dan mandi. b.Meletakkan kedua telapak tangan pada debu atau sesuatu yang berhubungan dengannya. Seperti tembok, dinding, lantai dan lain yang semisal. c.Mengusapkan kedua telapak tangan yang berdebu pada muka sebanyak dua kali. d.Kembali meletakkan kedua telapak tangan pada debu, kemudian diusapkan pada kedua tangan mulai dari ujung jari sampai pada siku. Dalam hal ini telapak tangan kiri diusapkan pada telapak tangan kanan. Demikian juga sebaliknya secara bergantian. e.Kemudian membersihkan debu yang menempel pada anggota tayammum yang diusap. f. Hal tersebut hendaknya dilakukan dengan tertib. F. Mandi 1. Pengertian Mandi Mandi secara umum berarti membersihkan sekujur tubuh. Mandi dalam islam juga memiliki adab-adab yang seyogyanya dilakukan oleh setiap orang islam. Salah satu adab tersebut adalah adanya pelindung dari barang sesuatu ketika mandi. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Saw. berbunyi:
38 لَى َر ُسو ِل هللاِ ِ َهْب ُت إ ِي َطاِل ِب، قَالَ ْت: ذَ ب َ ْن ِت أ ِ ِ م َهانِىٍء ب ُ حديث أ اْبنَتُهُ َوفَا ِطَمةُ ْغتَ ِس ُل، َو َجدْتُهُ يَ فَ ِ فَتْح ْ ال َ صلى هللا عليه وسلم َعام َهانِىٍء ُرهُ، قَالَ م تَ ْستُ ُّ ُ نَا أ َ ُت: أ ْ ل َم ْن هِذِه فَقُ ْي ِه؛ فَقَا َل: ْم ُت َعلَ َّ َسل ْت، فَ َر َغ ِم ْن ُغ ْسِل ِه، ما فَ َّ ِ م َهانِىٍء فَلَ ُ ِأ َمْر َحبًا ب بي َطاِل ٍب؛ فَقَا َل: َ ْن ُت أ ِ ب ما َّ ْو ٍب َوا ِحٍد، فَلَ ِحفًا فِي ثَ تَ ْ َي َر َكعَا ٍت، ُمل َمانِ ى ثَ َّ َصل فَ َ قَام ْ ل َص َر َف قُ اْن قَدْ هُ قَاتِ ٌل َر ُجالً َّ ن َ ِ مي أ ُ اْب ُن أ َ َر ُسو َل هللاِ َز َعم ُت يَا َرةَ؛ فَقَا َل َر ُسو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم: َن ْب َن ُهبَ ْي َج ْرتُهُ، فُالَ َ أ َوذَا َك م َهانِىٍء: ُّ ُ م َهانِىٍء، قَالَ ْت أ َّ ُ َج ْر ِت يَا أ َ َم ْن أ َج ْرنَا َ قَدْ أ ُض ًحى ------- Artinya: Um Hani' binti Abu Thalib r.a. berkata: Ketika Fathu Makkah saya pergi kepada Rasulullah Saw. maka aku mendapatinya sedang mandi ditutup kain oleh Fatimah r.a. (putrinya), maka aku memberi salam, dan ditanya oleh Nabi Saw., Siapakah itu? Jawabku: Um Hani' binti Abi Thalib, langsung disambut dengan: Marhaban bi Um Hani', kemudian setelah selesai mandi, berdiri shalat delapan raka'at berkemul dengan satu baju (kemul), kemudian setelah selesai saya bertanya: Ya Rasulullah, saudaraku sekandung (yakni Ali bin Abi Thalib) akan membunuh seorang yang telah aku lindungi yaitu Ibn Wubairah. Maka sabda Nabi saw.: Kami telah melindungi orang yang anda lindungi hai Um Hani'. Um Hani' berkata: Dan itu tepat waktu . (Bukhari, Muslim). 2. Hal-hal yang mengharuskan mandi Adapun hal-hal yang mengharuskan seseorang mandi, yaitu:
39 a.Bersetubuh walau tidak keluar mani. b.Keluar mani karena onani, karena mimpi atau sebab lain. c.Mengalami haid atau nifas bagi perempuan. d.Wiladah atau bersalin. 3. fardhu-fardhu mandi Mandi ini memiliki kegiatan fardhu yang harus diperhatikan, antara lain: a. Niat mandi untuk menghilangkan hadats besar. b.Menghilangkan najis atau kotoran dari tubuh. c. Meratakan air keseluruh tubuh. 4. Sunnat-sunnat mandi Sedangkan sunnat-sunnat mandi antara lain: a. Membaca basmalah ketika akan mandi. b.Berwudhu’ dahulu sebelum mandi. c. Menghadap ke kiblat. d.Menggosok sekujur tubuh. e. Mengulangi basuhan sebanyak tiga kali. f. Mendahulukan bagian tubuh yang kanan atas yang kiri. 5. Tata cara Mandi Adapun tatacara mandi adalah: a. Niat mandi untuk menghilangkan hadats besar.
40 b.Membaca basmalah. c.Berwudhu’ dengan sempurna. d.Menyiram air sampai rata ke sekujur tubuh. e. Menggosok tubuh sampai rata.
41 BAB IV BANGKAI DAN PENYEMBELIHAN HEWAN A. Bangkai 1.Pengertian Bangkai Secara umum pengertian bangkai adalah tubuh hewan yang telah mati dan membusuk. Bangkai merupakan makanan penting bagi berbagai karnivora dan omnivora di sebagian besar ekosistem yang ada di bumi ini. Burung pemakan bangkai, elang, hyena, Setan Tasmania, coyote, komodo, oposum virginia, serangga yang tergolong familia Silphidae dan Sarcophagidae, serta belatung diketahui memakan bangkai. Bangkai mulai membusuk segera setelah kematian hewan dan mengundang serangga serta bakteri untuk melakukan pembusukan. Tidak lama setelah itu, senyawa cadaverine dan putrescine keluar dari bangkai sebagai hasil dari aktivitas bakteri dan menyebabkan bau tidak sedap. Binatang yang disembelih hukumnya mubah. Sementara bangkai hukumnya haram. Allah berfirman, selengkapnya berbunyi:
42 Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394]15, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395]16, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396]17 , (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[397]18 orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah 15 Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145 16 Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati 17 Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi 18 Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.