43 kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398]19 karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al Maidah (5): 3 Dalam ajaran Islam bangkai adalah hewan yang mati dengan cara tidak disembelih secara syar’i. Bangkai hukumnya haram dimakan berdasarkan ayat Qs.Al-Maidah (5): 3. Kecuali hewan yang dikecualikan oleh sabda Nabi Saw., “Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai adalah ikan dan belalang. Dan dua darah adalah hati dan limpa.” (HR. Ahmad 2/97, Ibnu Majah: 3314). Dengan demikian definisi bangkai mencakup: a. Yang mati tanpa disembelih, seperti kambing yang mati sendiri. b. Yang disembelih dengan sembelihan tidak syar’i, seperti kambing yang disembelih orang musyrik. c. Yang tidak menjadi halal dengan disembelih, seperti babi disembelih seorang muslim meskipun sesuai syarat penyembelihan syar’i. Sesuai dengan hal tersebut, maka para ulama berpendapat, bahwa anggota tubuh (daging) yang 19 Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.
44 dipotong dari hewan yang masih hidup, masuk dalam kategori bangkai, dengan dasar sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Semua yang dipotong dari hewan dalam keadaan masih hidup adalah bangkai”. Dengan demikian hukumnya sama dengan hukum bangkai. 2.Najisnya Bangkai. Menilik keadaan hewan bangkai, maka dibagi menjadi tiga bagian: a.Yang ada diluar kulit, seperti bulu dan rambutnya serta sejenisnya. Hukumnya suci tidak najis, hal ini dapat didasarkan pada firman Allah, selengkapnya berbunyi: Artinya : “Dan Allah menjadikan bagimu rumahrumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemahkemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan
45 perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)” Al Nahl (16) : 80. b.Bagian bawah kulitnya seperti daging dan lemak. Hukumnya najis secara ijma’ dan tidak dapat disucikan dengan disamak. Berdasarkan firman Allah Ta’ala. Artinya : “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Al An’am (6) :145. Dikecualikan dalam hal ini, yaitu. a.Bangkai ikan dan belalang, didasarkan pada sabda Rasulullah Saw. yang artinya:
46 “Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa. HR Ibnu Majah. b.Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lalat, lebah, semut dan sejenisnya, didasarkan kepada sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Apabila seekor lalat hinggap di minuman salah seorang kalian, maka hendaknya ia menenggelamkannya kemudian membuangnya, Karena, pada salah satu dari kedua sayapnya terdapat penyakit dan pada (sayap) yang lainnya (terdapat) obatnya (penawar)” HR Al Bukhari. c.Tulang, tanduk dan kuku bangkai. Ini semuanya suci sebagaimana dijelaskan Imam Al Bukhari dari Al Zuhri tentang tulang bangkai, seperti gajah dan lainnya, dengan sanad mu’allaq dalam shahih Al Bukhari. d.Bangkai manusia dengan dasar sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Maha suci Allah Sesungguh-nya seorang muslim itu tidak najis” HR Al-Bukhari. 3. Hukum Memakan Bangkai. Syariat islam telah mengharamkan memakan bangkai. Dasar pengharaman bangkai ini, terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah. Pengharaman bangkai dalam Al Qur’an ada dalam beberapa ayat, salah satu diantaranya adalah:
47 “Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharam kan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]20. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak mengingin-kannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” Qs. Al Baqarah :173 Berdasarkan ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa kaum muslimin sepakat tentang larangan memakan bangkai dalam keadaan tidak darurat. 4. Yang dihalalkan dari Bagkai Semua hukum memakan bangkai diatas berlaku pada semua bangkai kecuali dua jenis. a. Bangkai hewan laut. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442]21 dan makanan (yang berasal) dari 20 Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah 21 Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat dan sebagainya. Termasuk juga dalam pengertian laut disini ialah: sungai, danau, kolam dan sebagainya.
48 laut[443]22 sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” Qs. Al-Maidah (5): 96. Dan sabda Rasulullah Saw dalam hadits Abu Hurairah ra. yang Artinya: Seseorang bertanya kepada Rasulullah seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air. Apabila kami berwudhu dengannya (air itu), maka kami kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?” Rasulullah Saw: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”. HR Sunan Al Arba’ah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. b. Belalang Berdasarkan pada hadits Nabi Saw. yang artinya: “Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa. Hal ini dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah Saw dan para sahabatnya yang memakan bangkai ikan yang ditemukan dipantai. Demikian juga para ulama sepakat membolehkan memakan belalang. 22 Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, karena telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya
49 5. Hukum Menjual Bangkai Syari’at Islam melarang menjual bangkai, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamr (minuman keras), bangkai, babi dan patung berhala. Lalu ada yang berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai, karena ia dapat digunakan untuk mengecat (mendempul) perahu, meminyaki kulit dan untuk bahan bakar lampu”. Maka beliau menjawab: Tidak boleh! Itu haram”. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda ketika itu: “Semoga Alah mencelakakan orang Yahudi, Sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya, lalu mereka meleburnya (menjadi minyak) kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya”. HR Al Jama’ah. Larangan ini bersifat umum pada semua bangkai, termasuk manusia, kecuali hewan laut dan belalang. Larangan menjual bangkai manusia mencakup muslim dan kafir. 6. Hikmah Pengharaman Bangkai. Sebagian ulama menyampaikan beberapa hikmah pengharaman bangkai, diantaranya: a. Pada umumnya, bangkai itu berbahaya karena mati, sakit, lemah atau karena mikroba, bakteri dan virus serta sejenisnya yang mengeluarkan
50 racun. Terkadang mikroba penyakit bertahan hidup dalam bangkai tersebut cukup lama. b. Tabiat manusia menolaknya dan menganggapnya jijik dan kotor. c. Adanya darah jelek yang tertahan tidak keluar yang tidak keluar dan tidak hilang kecuali dengan sembelihan syar’i. Demikian, berkaitan dengan hukum bangkai, mudah-mudahan membuat kita semakin berhatihati dalam memilih makanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjak”. Qs. Al-Mu’minun (23): 51. B. Penyembelihan Hewan 1.Pengertian Penyembelihan Hewan Yang dimaksud dengan penyembelihan hewan adalah melaksanakan dengan sengaja pemotongan terhadap hewan yang masih hidup sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam. Penyembelihan hewan sesuai yang disyariatkan Islam mengandung unsur-unsur seperti niat, mengikuti syarat-syarat sahnya penyembelihan, rukun-rukun penyembelihan
51 dan termasuk sunnah-sunnah penyembelihan, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini. 2.Lafas Niat Penyembelihan Hewan بسم هللا الر حمن الرحيم هللا اكبر Bismillahir Rahmanir Rahiim Allahu Akbar Artinya: Dengan menyebut Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah Maha Besar. 3.Syarat-syarat Sahnya Penyembelihan Hewan Ada empat syarat penyembelihan yang syar’i: a.Menyembelih dengan menggunakan alat tajam dari bahan apapun kecuali gigi dan kuku. Sesuai sabda Nabi Saw. yang artinya: “Hewan yang disembelih dan dibacakan nama Allah maka makanlah, kecuali (yang disembelih) dengan gigi dan kuku.” (HR Bukhari dan Muslim) b.Orang yang menyembelih harus berakal walaupun seorang mumayyiz-, seorang muslim atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Sebagaimana firman Allah, “Makanan orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu.” QS. Al Maidah (5): 5. c.Memutus saluran pencernaan (al mariy), saluran pernapasan (al hulqum) dan dua urat saluran darah yang terletak di kedua sisi leher. Sesuai sabda Nabi Saw, yang artinya: “Hewan yang disembelih dan dibacakan nama Allah maka makanlah.”
52 Semua yang harus diputus itu disebut al halq dan disebut al lubbah untuk unta. Keduanya disebut al nahru. d.Membaca basmalah ketika tangan mulai bergerak untuk menyembelih. Hal ini sesuai firman Allah, “Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” Sampai firman Allah, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” Qs. Al An’am (6): 118-121. Jika seseorang tidak membaca basmalah secara sengaja, maka hewannya tidak halal. Karena salah satu syaratnya hilang. Namun jika ia lupa, maka ia halal. Berdasarkan sabda Nabi Saw, yang artinya: “Sembelihan seorang muslim hukumnya halal, walaupun tidak diucapkan basmalah, kecuali jika sengaja (tidak mengucapkannya).” (HR. Said bin Manshur dalam sunannya) 4.Rukun-rukun Penyembelihan Ayam Potong (hewan) Adapun rukun-rukun penyembelihan yaitu: a. Harus beragama Islam. b.Menyebut nama Allah yaitu dengan membaca Bismillahir-rahmanirraahiim Allahu Akbar. c. Hewan yang disembelih halal dimakan. d. Menggunakan alat (pisau, parang, dsb).
53 e. Pelaksanaan penyembelihan memutuskan kerongkongan dan tenggorokan dan memutuskan urat tempat saluran makan dan minum. 5.Sunnat-sunnat Penyembelihan Hewan a.Menajamkan alat untuk menyembelih dan membuat nyaman hewan. Sesuai sabda Nabi Saw. yang artinya: “Sesungguhnya Allah menetapkan tindakan ihsan (baik) dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka membunuhlah dengan ihsan, dan jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Dan hendaknya kalian menajamkan alat sembelihannya serta membuatnya nyaman.” HR Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai. b.Menyembelih dengan kuat. Sesuai sabda Nabi Saw. yang artinya: “Dan hendaknya kalian membuat nyaman hewan sembelihannya.” c.Menajamkan atau mengasah alat sembelihan sebab hewan yang akan disembelih melihatnya. Karena Nabi Saw. memerintahkan untuk mengasah alat sembelihan dan menghindar dari hewan. HR Abdurrazaq. d.Menghindarkan hewan sembelihan dari hewanhewan yang lain ketika menyembelih, agar hewan-hewan yang lain tidak tersakiti karenanya. HR Ahmad. e.Mengarahkannya ke arah kiblat. Karena Nabi Saw. menyembelih sembelihan untuk kurban atau hadyu dan menghadapkannya ke arah kiblat. Adapun unta disembelih dalam keadaan berdiri dengan tangan kiri terikat. Firman Allah, “Maka
54 sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat)”. Qs. Al Hajj (22): 36. f. Menunda untuk memotong lehernya dan menguliti sampai hewan itu dingin; yaitu setelah ruhnya keluar. Sesuai hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Saw. mengutus Budail bin Warqa` al Khuza’i sambil menunggang unta berwarna abu-abu di jalan-jalan Mina seraya berteriak dengan kata-kata, “Ingatlah, jangan kalian tergesa-gesa menghilangkan nyawanya.” (HR Ad-Daraquthni) 6.Tata cara Penyembelihan Ayam Potong Adapun tatacara atau proses/prosedur menyembelih dapat dilakukan dengan: a. Niat Bismillahi rahmani rahiim Allahu Akbar b. Memutuskan jalan nafas, jalan makanan, jalan darah dengan sekali gerakan, tanpa mengangkat pisau dari leher dan tidak langsung memisahkan kepala. c. Pisau dibersihkan setiap lima menit atau saat pisau kotor. d. Celupkan ke dalam air panas khusus ayam atau unggas) pada suhu 70-80 derajat setelah mati sempurna. Biarkan 1-2 menit. Ini merupakan proses memanaskan kulit agar bulu ayam mudah dicabut. e. Setelah cabut bulu, potong kepala, leher, ceker dan keluarkan jeroan.
55 f. Pencucian cepat, air bersih dan tidak terlalu dingin. Pencucian dilakukan dengan menyemprot karkas dengan keras.23 23 Sumber: Majelis Ulama Indonesia Balikpapan
56 BAB V DO’A A. Pentingnya Do’a Penting untuk dipahami bahwa banyak dan sering kita berdo'a memohon sesuatu kepada Allah, akan tetapi kita merasa bahwa do'a-do'a yang dipanjatkan itu tidak dikabulkan. Hal ini sering mendatangkan sikap pesimis bahkan tak jarang kita menghentikan permintaan do'a dimaksud. Sebenarnya selain berdo'a, juga ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar do'a kita di'ijabah Allah. Bahwa terkadang do'a tidak atau belum dikabulkan oleh Allah karena ada alasan dan syarat yang belum terpenuhi, tapi terkadang juga iradah (kehendak Allah) yang memberi jalan lain selain yang kita panjatkan karena Allah Maha Tahu akan hakikat suatu masalah. Dalam sebuah hadist riwayat Imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri berkata bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: Artinya: “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a kepada Allah selama tidak
57 mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: 1. Allah akan segera mengabulkan do’anya, 2. Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan 3. Allah akan menghindarkan darinya kejelekan dan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad). Hadits ini menyimpulkan, bahwa suatu do'a akan diterima oleh Allah dengan 3 cara, yaitu: 1. Allah mengabulkan apa yang kita inginkan. (Diperkenankan Langsung) 2. Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita asalkan kita mau bersabar dan tawakal (Ditunda) a. Ditunda dan dikabulkan di Dunia b. Ditunda dan diabulkan di Akhirat 3. Allah akan memberikan kita sesuatu yang lebih baik dari do'a kita (Diganti Dengan Yang Lain). “Tidak seorangpun yang berdoa, kecuali akan dikabulkan. Pengabulannya itu bisa segera didunia ini, dan bisa juga ditangguhkan dan diterima di akhirat kelak, atau bisa juga digantikan dengan pengampunan dosa sesuai dengan kadar doanya itu, dengan syarat ia tidak
58 berdoa untuk sebuah perbuatan dosa, atau memutus tali silaturahim, atau isti’jal (menuntut segera terkabul)”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan isti’jal itu?” Beliau menjawab, “Seseorang yang berkata, “Aku telah berdoa kepada Robku, namun belum juga dikabulkan” (HR. AthThirmidzi). Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap seorang hamba yang berdo’a Allah pasti kabulkan. Hal ini sebagaimana Firman-Nya, berbunyi: Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Ayat lain berbunyi: Artinya: Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan
59 isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. B. Dasar Hukum Do’a Do’a (دعاء (pada dasarnya berarti memanggil, meminta tolong, atau memohon sesuatu. Do’a dalam arti yang lebih luas adalah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah swt. dengan merendahkan diri dengan tunduk kepada-Nya. Do’a merupakan bagian penting dari ibadah yang mesti dilakukan pada setiap kesempatan dan di setiap tempat, ikhlas karena Allah Swt semata dan hanya mengharapkan ridha-Nya. Dalam kaitan itulah sehingga Allah memerintahkan hamba-Nya agar selalu berdo’a. hal ini sesuai dengan Al-Qur’an Surat Al-Mu’min ayat 60, berbunyi: Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." Keberhasilan seseorang hamba didasari oleh dua hal penting, yaitu usaha sungguh-sungguh dan do’a yang dipanjatkan dengan khusyu’ dan sungguh-sungguh pula.
60 Karena itu do’a penting untuk senantiasa dilakukan. Bahkan Allah Swt. mengikuti sangkaan hamba-Nya sebagaiman Sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah, berbunyi: ي صلى هللا عليه ُّ ِ ب َّ َرةَ رضي هللا عنه، قَا َل: قَا َل الن ِي ُه َرْي ب َ حديث أ ِذَا َمعَهُ إ نَا َ َوأ ِي، َظ نِ َعْبِدي ب نَا ِعْندَ َ وسلم: يَقُو ُل هللاُ تَعَالَى: أ ْف ْن ذَ َكَرنِي فِي نَ ِ ِ ذَ َك ْن ذَ َكَرنِي فِي َرنِي فَإ ْف ِسي َوإ ِس ِه، ذَ َكْرتُهُ فِي نَ ْي ِه لَ ِ رْب ُت إ َّ ٍر، تَقَ ِشْب ِ ي ب َّ لَ ِ ر َب إ َّ ْن تَقَ ِ َوإ ٍر ِمْن ُهْم َم ٍإل، ذَ َكْرتُهُ فِي َم ٍإل َخْي تَانِي يَ ْم ِشي، َ ْن أ ِ َوإ ْي ِه بَا ًعا لَ ِ رْب ُت إ َّ ي ِذ َرا ًعا، تَقَ َّ لَ ِ ر َب إ َّ ْن تَقَ ِ َوإ ِذ َرا ًعا تَْيتُ َ أ هُ َه ْرَولَةً Artinya: Abuhurairah r.a. berkata. Nabi saw. bersabda: Allah ta ala berfirman: Aku selalu mengikuti sangka hamba Ku, dan Aku selalu membantunya selama ia ingat pada-Ku, jika ia ingat pada-Ku dalam hatinya, Aku ingat padanya dalam diriku, dan jika ia ingat padaku di tengahtengah orang banyak. Aku ingat padanya di hadapan Malaikat yang jauh lebih baik dari masyarakatnya. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaku sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan bila ia datang kepadaku berjalan maka Aku datang kepadanya berlari. (Bukhari, Muslim). C. Adab Berdo’a Sama seperti ibadah lainnya, misalnya shalat wajib atau sunnah memiliki adab yang harus dipatuhi ketika hendak dilaksanakan oleh seseorang. Do’a demikian juga adanya. Do’a yang dipanjatkan, pertama-tama diawali dengan memuji kebesaran Allah Swt dan berterima kasih kepada-
61 Nya, kemudian membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah, lalu berdo’a sesuai keinginannya. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah Saw., selengkapnya berbunyi: عن فضالة بن عبيد هللا قال:قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم: اذاصلى احدكم فليبدابتحميدهللا تعالى والثناء عليه ثم يصلى على النبي صلى هللا عليه وسلم ثم يدعوبما شاء Artinya: “Dari Fadhalah bin Ubaidillah ia berkata: Rasulullah telah bersabda: apabila salah seorang diantara kamu berdo’a hendaklah memulainya dengan memuji Allah dan berterima kasih kepada-Nya, kemudian membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw. kemudian berdo’a sesuai dengan keinginannya. Penjelasan pada hadits lain menyampaikan, bahwa apabila selesai berdo’a hendaklah ditutup dengan bacaan shalawat dan salam dan memuji kepada Allah Swt.. Dalam Al-Qur’an, hal ini juga dijelaskan sebagaimana terdapat dalam surah Yunus ayat 10, selengkapnya berbunyi: Artinya: Do'a mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma", dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam". Dan penutup do’a mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin".
62 Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 110, Allah Swt berfirman: Artinya: Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah ArRahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." Selanjutnya dalam QS. Al-A’raaf ayat 55, Allah Swt berfirman: Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Berdasarkan Firman Allah Swt dan Hadits Rasulullah Saw di atas dapat dipahami bahwa memanjatkan do’a harus dengan adab-adab yang memungkinkan do’a itu diijabah. Adab-adab itu antara lain: 1. Niat do’a 2. Membaca basmalah 3. Memuji dan berterima kasih kepada Allah 4. Bershalawat dan berkirim salam kepada Rasulullah Saw.
63 5. Mengangkat kedua tangan 6. Berdo’a dengan sikap lemah lembut 7. Do’a diakhiri dengan shalawat kepada Rasulullah Saw. dan puji-pujian kepada Allah Swt. D. Larangan Ketika Berdo’a Lanrangan-larangan ketika seseorang hendak berdo’a merupakan langkah yang harus diperhatikan. Larangan tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah berbunyi: نَ ٍس رضي هللا عنه، قَا َل: قَا َل َر ُسول هللاِ صلى هللا عليه َ حديث أ َوالَ يَقُ َم ْسئَلَةَ ْ يَ ْعِزِم ال ْ َحدُ ُكْم، فَل َ َت ِذَا دَ َعا أ ْن ِشئْ ِ م إ َّ ُه ن: الل وسلم: إ ولَ َّ ُم ْستَ ْكِرهَ لَهُ هُ الَ َّ ِن ْع ِطنِي فَإ َ فَأ Artinya: Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jika seorang berdo'a harus minta dengan sungguh-sungguh, jangan berkata: Ya Allah, jika Tuhan suka berikan kepadaku. Sebab Allah itu tidak dapat dipaksa. (Bukhari. Muslim). Dilarang berdo’a dengan sikap dan berkata (JIKA). Hal sesuai dengan hadits yang berbunyi: ن َر ُسو َل هللاِ صلى هللا عليه َّ َ َرةَ رضي هللا عنه، أ ِي ُه َرْي ب َ حديث أ ُه َحدُ ُكُم الل َ ن أ ْن َ َّ ِ م ا ْر َح ْمنِي، إ َّ ُه م ا ْغِف ْر ِلي الل َّ وسلم، قَا َل: الَ يَقُول ُم ْكِرهَ لَهُ هُ الَ َّ ِن َم ْسئَلَةَ، فَإ ْ ال َ َت ِليَ ْعِزم ِشئْ Artinya: Abuhurairah r.a. berkala: Rasulullah saw. bersabda: Jangan ada seorang dalam berdoa berkata: Ya Allah, ampunkan aku ya Allah kasihanilah aku jika Tuhan berkehendak, tetapi harus sungguh-sungguh dalam meminta. Sebab Allah itu tidak dapat dipaksa. (Bukhari, Muslim).
64 Larangan meminta mati dengan berdo’a. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Saw. berbunyi: نَ ٍس رضي هللا عنه، قَا َل: قَا َل َر ُسو ُل حديث أ هللاِ صلى هللا عليه َ َّ ْن َكا َن الَ بُد ِ ِ ِه فَإ َمْو َت ِل ُضٍ ر نَ َز َل ب ْ َحدٌ ِمْن ُكُم ال َ ن أ َّ يَ َّ َمن وسلم: الَ يَتَ نِي َّ َوف َحيَاةُ َخْي ًرا ِلي َوتَ ْ ِنِي َما َكانَ ِت ال ْحي َ م أ َّ ُه ِل الل يَقُ ْ َمْو ِت، فَل ْ ِيًا ِلل َمن ُمتَ َوفَاةُ َخْي ًرا ِلي ْ ِذَا َكانَ ِت ال إ Artinya: Alias r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jangan ada seorang pun dari kalian yang menginginkan mati karena ditimpa mushibah, maka jika benar-benar terpaksa akan menginginkan mati maka hendaklah berdo'a: Ya Allah, lanjutkan hidupku jika hidup ini lebih baik bagiku, dan segerakan matiku jika mati itu lebih baik bagiku. (Bukhari, Muslim). E. Tertolaknya Do’a Menghindari kesalahan dalam berdoa Ada beberapa praktek do’a yang pada sebagian umat muslim masih terus berlangsung, padahal itu menjadi penghalang dikabulkannya do’a. Di antaranya adalah: 1. Berdoa untuk keburukan keluarga, harta dan jiwa. Dari Jabir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian berdo’a untuk kemadharatan diri kalian, dan jangan berdo’a untuk keburukan anakanak kalian. Jangan berdo’a bagi keburukan hartaharta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah, padahal do’a kalian membawa keburukan bagi kalian.” Imam Muslim.
65 2. Terlalu keras dalam berdoa. Allah berfirman: “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu) dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” Al-Isra’:110. 3. Melampaui batas. Seperti berdo’a agar disegerakan adzab, do’a dengan dicampuri dosa dan memutus tali silaturahim. 4. Berdo’a dengan pengecualian. Contoh: “Ya Allah, ampuni saya jika Engkau berkenan.” 5. Tergesa-gesa. Hal ini sesuai dengan harits Rasulullah Saw. yang berbunyi: ن َر ُسو َل هللاِ صلى هللا عليه وسلم قَا َل: َّ َ َرةَ، أ ِي ُه َرْي ب َ حديث أ َج ْب ِلي ْم يُ ْستَ ْم يَ ْع َج ْل يَقُو ُل: دَ َعْو ُت فَلَ َحِد ُكْم َما لَ َجا ُب ألَ يُ ْستَ Artinya: Abuhurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Pasti diterima do'a tiap orang, selama ia tidak keburu, yaitu berkata: Aku telah berdo'a dan tidak diterima daripadaku. (Bukhari, Muslim). 6. Makanan, minuman dan pakaiannya berasal dari harta haram. Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah Saw bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah
66 telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' Dan Allah juga berfirman: 'Wahai orangorang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'" Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan tentang seroang lakilaki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do'anya?." (H.R. Muslim). 7. Isi doanya berupa dosa dan pemutusan hubungan silaturahim. 8. Tidak yakin dikabulkan. Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda: "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (H.R. At-Tirmidzi). 9. Hati kosong/lengah. Riwayat Ahmad berbunyi: Dari Abdullah bin 'Amru bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Hati adalah sebuah bejana, dan sebagiannya lebih mampui memuat daripada sebagian yang lain. Wahai manusia, jika
67 kalian memohon kepada Allah 'azza wajalla maka mohonlah kepada-Nya dengan keyakinan bahwa permohonan itu bakal dikabulkan karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak akan mengabulkan do'a seorang hamba yang dipanjatkan dari hati yang lalai." (H.R. Ahmad). 10. Meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar. Dari Hudzaifah bin Al Yaman dari Nabi Saw beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do'a kalian tidak lagi dikabulkan." (H.R.AtTirmidzi). Riwayat Ibnu majah berbunyi; Dari 'Aisyah dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Lakukanlah amar ma'ruf dan nahi munkar sebelum kalian berdoa namun doa kalian tidak dikabulkan." (H.R.Ibnu Majah). F. Syarat Dikabulkannya Do’a Pertama, Memakan makanan dan memakai pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang
68 haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” Imam Muslim Kedua, Hendaknya memilih waktu dan keadaan yang utama. Ketiga, Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat tangan ketika berdo’a. Dari Salman Al-Farisi berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima doanya, nol tanpa hasil.” Keempat, Dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan. Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya tidak tuli dan juga tidak tidak ada / gaib.” Kelima, Tidak melampaui batas dalam berdoa. Allah swt. berfirman: “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut (tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.” Al-A’raf:55. Contoh melampai batas dalam berdoa adalah minta disegerakan adzab, atau doa dalam hal dosa dan memutus silaturahim dll. Keenam, Rendah diri dan khusyu’. Allah swt. berfirman:
69 “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang melampaui batas.” Al-Araf:55. Allah swt. berfirman dalam surat AlAnbiya’:90: “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” Ketujuh, Sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah Saw. yang artinya: Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Imam Ahmad Rasulullah saw. juga bersabda: “Jika salah satu di antara kalian berdoa, maka jangan berkata: “Ya Allah ampuni saya jika Engkau berkenan. Akan tetapi hendaknya bersungguh-sungguh dalam meminta, dan menunjukkan kebutuhan.”
70 Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Janganlah salah seorang dari kalian menahan doa apa yang diketahui oleh hatinya (dikabulkan), karena Allah swt. mengabulkan doa makhluk terkutuk, iblis laknatullah alaih. Allah swt. berfirman: “Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” AlHijr:36-37 Kedelapan, Hendaknya ketika berdoa menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga kali. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah Saw. yang artinya: Ibnu Mas’ud bekata: “Adalah Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika meminta, meminta tiga kali. Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah, karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.” Kesembilan, Hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas nabi saw. Kesepuluh, Taubat dan mengembalikan hak orang yang dizhalimi, menghadap Allah dengan ringan. Dari Umar bin Khattab ra. berkata: “Sesungguhnya saya tidak memikul beban ijabah, akan tetapi memikul doa, maka
71 ketika saya telah berupaya dalam doa, maka ijabah atau dikabulkan akan bersamanya.” Ia melanjutkan: “Dengan sikap hati-hati dari apa yang diharamkan Allah swt. Allah akan mengabulkan doa dan tasbih.” Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan kecuali orang yang sadar dalam berdoa. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan dari orang yang mendengar, melihat, main-main, sendau-gurau, kecuali orang yang berdoa dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.” Dari Abu Darda’ berkata: “Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang. Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah.” Dia juga berkata: “Bersungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang memperbanyak mengetok pintu, ia yang akan masuk.” Dan Dari Hudzaifah berkata: “Akan datang suatu zaman, tidak akan selamat pada zaman itu, kecuali orang yang berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam.” G. Waktu-waktu Makbulnya Do’a Memilih waktu dan keadaan yang utama untuk berdo’a, seperti:
72 1. Tengah malam. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya: “Keadaan yang paling dekan antara Tuhan dan hambanya adalah di waktu tengah malam akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.” Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” Imam Ahmad menambah: “Itu terjadi di setiap malam.” 2. Saat sujud. Rasulullah saw. bersabda: “Dan adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabah doa kalian.” 3. Ketika adzan. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa diijabah.” 4. Antara adzan dan iqamat. Rasulullah saw. bersabda: “Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah.” 5. Ketika bertemu musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi saw. bersabda: “Dua keadaan yang tidak tertolak atau sedikit sekali tertotak; doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang.”
73 6. Ketika hujan turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi saw. bersabda: “Dan ketika hujan turun.” 7. Sepenggal akhir waktu pada hari Jum’at. Rasulullah saw. bersabda: “Hari Jum’at 12 jam tiadalah seorang muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu ba’da shalat Ashar.” 8. Doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda’ berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, kecuali Malaikat berkata, bagimu seperti apa yang kamu doakan untuk saudaramu.” Dalam kesempatan yang lain Rasulullah saw. bersabda: “Doa seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak.” 9. Ketika bulan berpuasa atau ramadhan Sebagaimana sabda Rasulullah berbunyi: ثالثة ال ترد دعوتهم الصاءم حتى يفطر واالمام العادل والمظلوم Artinya: “Ada tiga golongan yang tidak ditolak do’anya, yaitu: orang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka, penguasa yang adil dan orang yang teraniaya. HR. At-Turmudzi. 10. Hendaknya ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin Jabal dari Nabi saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan
74 bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya.Beberapa Do’a H. Beberapa Lafas Do’a 1.Do’a dikala menghadapi kesusahan اللهم اني اعوبك من الهم والحزن واعوز بك من العجز واكسل واعوز بك من الجبن والبخل واعوز بك من غالبت الدين وقهر الرجال Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazani wa auudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatiddaini wa qahrir rijaali. Artinya: Wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kemalasan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan 2.Do’a dikala kesulitan membayar hutang اللهم اكفي بحال لك عن حرامك واغنني بفضلك عمن سواك
75 “Allaahumma ikfinii bi halaalika ‘an haraamika waghninii bi fadhlika amman siwaaka”. Artinya: Wahai Tuhanku, berilah aku kedukupan dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu dan cukupkanlah aku dengan anugerah-Mu hingga aku tidak membutuhkan kepada selain-Mu. 3.Do’a Mohon Ketetapan nikmat Allah اللهم اني اعوبك من زوال نعمتك ومن تهول عافيتك ومن فجاة نقمتك ومن جميع سحتك “Allaahumma innii a’udzu bika min zawaali ni;matika wa min tahawwuli ‘aafiyatika wa min fujati niqmatika wa min jamii’I sakhatika. Artinya: Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya ni’mat-Mu (yang Engkau berikan kepadaku), dan dari perubahan ‘afiat-Mu, dari pembalasan-Mu yang dating mendadak serta dari segala kemurkaan-Mu. 4.Do’a Perlindungan dari Sifat Buruk اللهم اني اعوبك من قلب اليحشع ومن دعاء اليسمع ومن نفس التشبع ومن علم ال بنفع اعوزبك من هؤالء “Allaahumma innii a’udzu bika min qalbin laa yakhsya’u wa min du’aa-in laa yasma’u wa min nafsin laa tasyba’u wa min ilmin laa yanfa’u wa a’uudzu bika min haa ulaai.
76 Artinya: Wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak bisa khusyu’, do’a yang tidak didengar (dikabulkan), nafsu yang tidak kunjung puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat. (Wahai Tuhanku), aku berlindung kepada-Mu dari semua itu. 5.Do’a mohon ketetapan Iman اللهم اعطني ايمانا صادقا ويقينا ليس بعل ه ورحمة انال بها شرف كرامتك في الدنيا واالخرة Allahummaa “thinii iimaanan shadiqan wa yaqiinan laesa ba’dahu kufrun wa rahmatan anaalu bihaa syarafa karaamatika fid dunia wal akhirati. Artinya: Wahai Tuhanku, berilah aku iman yang benar, keyakinan yang tiada berkesudahan dengan kufur, dan kerahmatan yang kuterima dengan kemuliaan kehormatan-Mu di dunia dan di akhirat.
77 DAFTAR PUSTAKAN 1. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 2010, Pustaka Assalam, Jakarta. 2. Amir Abyan, Drs. H. MA, Fiqih, 2004, PT. Karya Toha Putra, Semarang 3. Hussein Bahresi, Hadits Shahih Bukhari-Muslim, 2010 Karya Utama, Surabaya 4. Imam Nawawi, Khasiat Zikir dan Do’a, 2007, Sinar Baru Algensindo, bandung 5. Labib MZ, Kunci Ibadah, 2008, Bintang Usaha Jaya Surabaya 6. Majelis Ulama Indonesia Balikpapan, 2017. 7. Muh. Ihsan, Memahami Pokok-pokok Ajaran Islam, 2017, Aptarek Bontang Indonesia, Bontang. 8. Muh. Ihsan, Pesona Ramadhan, 2017, Aptarek Bontang Indonesia, Bontang. 9. Syaikh Salam Bin ‘Ied-Al-Hilali, Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, 2008, Pustaka Imam Asy-Syafi’I, Surabaya. 10.W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 2006, Balai Pustaka, Jakarta. 11.Yusuf Al-Qaradhawi DR., Fikih Thaharah, 2006, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. 12.
78