The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by REKAYASA LINGKUNGAN- BAG. 2 (MATERI 9 - 15), 2021-06-24 10:13:08

BUKU REKAYASA LINGKUNGAN - DWI ANOVA - 18640167

BUKU REKAYASA LINGKUNGAN

Dosen Pengampuh :
ADHI SURYA, ST., MT

NIDN. 1126058001
Disusun Oleh :
DWI ANOVA
NPM. 18640167

KELAS REGULER SIANG 6A BANJARMASIN

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI
BANJARMASIN
2021

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan rasa syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan
karunianya saya dapat menyelesaikan tugas membuat buku “Rekayasa Lingkungan”
Penyusunan tugas ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan di bidang lingkungan
maupun di pelajaran Rekayasa Lingkungan. Dan saya mengucapkan terima kasih sebesar –
besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Abd. Malik, S.Pt., M.Si., Ph.D, Selaku Rektor Universitas Islam
Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari

2. Bapak Dr.Ir. M. Marsudi, M.Sc., Selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Islam
Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari

3. Ibu Eka Purnamasari, S.T., M.T. Selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari

4. Bapak Hendra Cahyadi, S.T., M.T. Selaku Sekertaris Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari

5. Bapak Adhi Surya, S.T., M.T. Selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Rekayasa
Lingkungan yang telah bersedia membimbing dan mengarahkan penulis selama
menyusun buku dan memberikan banyak ilmu serta solusi pada setiap
permasalahan atau kesulitan dalam penulisan buku ini

6. Kedua Orang Tua, Ayahanda dan ibunda tercinta yang telah memberikan
dukungan baik moril maupun materil serta doa yang tiada henti-hentinya kepada
penulis

7. Seluruh teman-teman seangkatan, Terutama teman sekelas Reguler Siang 6A
Banjarmasin Angkatan 2018

Penulis sadar buku ini masih jauh dari kata sempurna dikarenakan terbatasnya
pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki, oleh karena itu penulis memohon saran dan
kritik yang membangun dari berbagai pihak. Dengan selesainya penyusunan tugas ini
kiranya bermanfaat khususnya bagi penyusun atau bagi saudara saudari yang
berkepentingan dalam hal ini.

Penulis

Dwi Anova

iii

DAFTAR ISI

COVER SAMPUL BUKU ................................................................... ......... ........ ................. i
COVER MAKALAH .............................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ iv
BAB I.X TEMPAT PEMBUANGAN SEMENTARA........................................................... 1

9.1 Latar Belakang ...................................................................... ................................... 1
9.2 Tinjauan Pustaka ....................................................................................................... 1
9.3 Kondisi TPS Di Berbagai Negara ............................................................................... 8
9.4 Syarat Penentuan Lokasi TPS ................................................................................... 10
9.5 Pemanfaatan Teknologi SIG Untuk Membantu Penentuan Lokasi TPS................... 12
BAB X. TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR .................................................................... 14
10.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 14
10.2 Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 14
10.3 Tahapan Pengamanan Pencemaran Lingkungan TPA ............................................ 20
BAB XI. SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DOMESTIK ............................ 26
11.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 26
11.2 Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 26
11.3 Limbah Padat Domestik Dan Penangananya .......................................................... 31
BAB XII. SISTEM PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA ........................... 34
12.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 34
12.2 Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 34
BAB XIII. UKL DAN UPL ................................................................................................... 44
13.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 44
13.2 Tinjauan Pustaka ................................................................................................... 44
BAB XIV. AMDAL................................................................................................................. 49
14.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 49
14.2 Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 50
BAB XV. HUKUM DAN UU LINGKUNGAN HIDUP ...................................................... 57
15.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 57
15.2 Perkembangan Hukum Lingkungan Di Indonesia ................................................. 58
15.3 Isi Aturan Tentang Lingkungan Hidup, Uu No 32 Tahun 2009 ............................. 61

iv

KESIMPULAN .................................................................................................................... 64
DAFTAR PUSTAKA ............................. .. ......................................................................... 65
BIODATA MAHASISWA .................... ........................................................................... 67

v

BAB IX
TPS ( TEMPAT PEMBUANGAN SEMENTARA)

9.1 LATAR BELAKANG
Sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk

padat. sarnya sampah yang dihasilkan dalam suatu daerah tertentu sebanding dengan jumlah
penduduk, jenis aktivitas, dan tingkat konsumsi penduduk tersebut terhadap barang atau material.
Semakin besar jumlah penduduk atau tingkat konsumsi terhadap barang maka semakin besar pula
volume sampah yang dihasilkan.

Sampah biasanya dibuang ke tempat yang jauh dari permukiman atau tempat tinggal
manusia. Jika Tempat Pembuangan Sementara (TPS) berada dekat dengan tempat tinggal
manusia, risikonya sangat besar. Tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola secara
baik dapat menjadi tempat sarang tikus dan serangga seperti nyamuk, lalat, kecoa dan lain-
lain. Selain itu, sampah yang dibiarkan menggunung dan tidak diproses bisa menjadi sumber
penyakit. Terdapat banyak penyakit yang ditularkan secara tidak langsung dari TPS. Lebih
dari 25 jenis penyakit yang disebabkan oleh buruknya pengelolaan sampah, salah satunya
diare. Pengelolaan sampah yang buruk juga menimbulkan pencemaran terhadap air, udara
dan tanah.

Pemilahan sampah merupakan hal pertama dalam penanganan sampah yang berarti
menjadi hal pokok yang perlu diperhatikan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis
Sampah Rumah Tangga menyebutkan bahwa pemilahan sampah dilakukan melalui kegiatan
pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri dari
sampah yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), sampah yang mudah terurai,
sampah yang dapat digunakan kembali, sampah yang dapat didaur ulang, dan sampah
lainnya. Sedangkan menurut Sucipto (2012), dalam pemilahan sampah dibagi menjadi tiga
jenis, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3.

9.2 TINJAUAN PUSTAKA
9.2.1 Deinisi Tempat Pembuangan Sementara
TPS merupakan fasilitas yang terletak dekat dengan daerah perumahan atau
komersial. TPS digunakan untuk menerima dan menampung sampah dari kendaraan

1

pengumpul hingga dapat dipindahkan ke kendaraan transfer yang lebih besar untuk
dibuang kembali ke TPA, pusat pengolahan (seperti limbah untuk tanaman energi)
atau fasilitas pengomposan. Terkadang TPS juga menyediakan fasilitas pemilahan
sampah dan recycle

9.2.2 Jenis-Jenis TPS/Fasilitas Pengumpul Sampah Sementara
Terdapat lima Jenis TPS atau fasilitas pengumpul sampah sementara dalam

publikasi yaitu :
1. Bak beton,
2. Dipo,
3. Pool gerobak,
4. Pool konteiner
5. TPS/TPS 3R (tempat penampungan yang difasilitasi Reduce, Reuse & Recycle)

9.2.3 Keunggulan TPS Terhadap Lingkungan
TPS memiliki beberapa keunggulan lingkungan karena penggunaan TPS

memungkinkan pengurangan jumlah kendaraan pengangkut sampah yang
menghasilkan pengurangan pengguna lalu lintas dan polusi udara. Selain itu, TPS
memungkinkan mengurangi tempat pembuangan sampah illegal dan memfasilitasi
penentuan tempat pembuangan sampah di lokasi terpencil sehingga mampu
menghindari dampak lingkungan yang dihasilkan dari pembuangan sampah. Oleh
karena itu, TPS memiliki peran penting dalam sistem pengelolaan sampah.

9.2.4 Kreteria TPS
Berikut ini kriteria TPS menurut beberapa sumber yang ada :

1. Berdasarkan Materi Bidang Sampah 1 Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan
Bidang PLP Kementrian PU tahun 2013 pemindahan/transfer mempunyai beberapa
kriteria yaitu:
a. Pengosongan dilakukan setiap hari dengan frekuensi minimal 1 kali
b. Perlu adanya penjadwalan pengisian dan pengosongan untuk memaksimalkan
kebersihan lokasi
c. Mudah dijangkau dan tidak mengganggu arus lalu lintas
d. Perlu adanya penjadwalan saat pembongkaran titik pemindahan agar tidak
mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat
2

e. Tempat pemindahan sampah dapat berupa :
- Pelataran berdinding
Ukuran pelataran dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan keluar,
masuk, dan pemuatan truk. Bila pemuatan tidak langsung dilakukan dari
gerobak maka harus tersedia tempat penimbunan sementara. Dinding dibuat
cukup tinggi agar dapat berfungsi sebagai isolator terhadap daerah sekitarnya.

- Container
Ukuran kontainer umumnya berkapasitas 8 – 10 m3 , muatan kontainer tersebut
berasal dari gerobak yang langsung menumpahkan muatannya ke dalam
kontainer ini. setelah kontainer penuh, kontainer dibawa ke lokasi pembuangan
akhir.

2. Berdasarkan SNI 19-2454-2002 kriteria pemindahan dibagi menjadi 3 tipe. Tipe
pemindahan (transfer) dapat dilihat pada Tabel 9.1 berikut.
Tabel 9.1 Kreteria Pemindahan (Transfer)

3

3. Berdasarkan SNI 3242-2008 kriteria TPS terbagi menjadi 3 tipe.
a. TPS tipe I
Tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah yang
dilengkapi dengan :
- ruang pemilahan
- gudang
- tempat pemindahan sampah yang dilengkapi dengan landasan container
- luas lahan ± 10 - 50 m2
b. TPS tipe II
Tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah yang
dilengkapi dengan :
- ruang pemilahan ( 10 m2 )
- pengomposan sampah organik ( 200 m2 )
- gudang ( 50 m2 )
- tempat pemindah sampah yang dilengkapi dengan landasan container 60 m2
- luas lahan ± 60 – 200 m2.
C. TPS tipe III
Tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah yang
dilengkapi dengan :
- Ruang pemilahan ( 30 m2 )
- Pengomposan sampah organik ( 800 m2 )
- Gudang ( 100 m2 ) d.
- Tempat pemindah sampah yang dilengkapi dengan landasan container ( 60
m2 )
- luas lahan > 200 m2

9.2.5 Sistem Pengangkutan Di TPS
Pengangkutan sampah adalah sub-sistem persampahan yang bersasaran

membawa sampah dari lokasi pemindahan atau dari sumber sampah secara langsung
menuju TPA. Menurut Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah 2 Surabaya,
sistem pengangkutan sampah di TPS terbagi menjadi dua yaitu sistem pengangkutan
SCS (Stationary Container System) dan HCS (Hauled Container System). Sistem SCS
ini akan mengangkut seluruh sampah di tiap TPS pada rutenya masing-masing. Pada
TPS pertama seluruh sampah dimasukan ke dump truck, lalu berlanjut pada TPS kedua

4

dan TPS-TPS berikutnya sampai dump truck penuh. Jika dump truck sudah penuh,
dump truck akan langsung membuang sampah ke TPA meskipun belum semua
sampah di rutenya terangkut. Sistem ini biasanya digunakan untuk kontainer kecil
serta alat angkut berupa truk pemadat atau dump truck baik secara mekanis atau
manual.

Pola pengangkutan dengan cara mekanis ini adalah kendaraan dari pool
menuju kontainer pertama dan menuangkan sampah ke dalam truk kemudian
meletakkan kembali kontainer yang kosong. Sedangkan pada pola pengakutan dengan
manual, kendaraan dari pool menuju TPS pertama kemudian sampah dimuat ke dalam
truk. Sistem mekanis menggunakan truk pemadat dan kontainer yang kompatibel
dengan jenis truknya, sedangkan sistem manual menggunakan tenaga kerja dan
kontainer dapat berupa bak sampah atau jenis penampung lainnya. Gambaran sistem
pengangkutan SCS mekanis dan manual dapat dilihat pada Gambar 9.1 dan 9.2

Gambar 9.1 Sistem Pengangkutan Sampah dengan SCS Mekanis

Gambar 9.2 Sistem Pengangkutan Sampah dengan SCS Manual

5

Pengumpulan sampah dengan sistem HCS terbagi menjadi 3 pola pengangkutan
yaitu:
1. Sistem pengosongan kontainer cara 1 dapat dilihat pada Gambar 9.3

Gambar 9.3 Pola Pengosongan Kontainer Cara 1

Proses pengangkutan :
- Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut

sampah ke TPA
- Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula
- Menuju kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke TPA
- Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula
- Demikian seterusnya sampai rit akhir.

2. Sistem pengosongan kontainer cara 2 dapat dilihat pada Gambar 9.4

Gambar 9.4 Pola Pengosongan Kontainer Cara 2

6

Proses pengangkutan :
- Kendaraan dari poll menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut

sampah ke TPA–
- Dari TPA kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju lokasi

kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa kontainer isi
untuk diangkut ke TPA
- Demikian seterusnya sampai rit akhir
- Pada rit terakhir dengan kontainer kosong dari TPA menuju lokasi kontainer
pertama, kemudian kendaraan tanpa kontainer menuju pool.
3. . Sistem pengosongan kontainer cara 3 dapat dilihat pada Gambar 9.5

Gambar 9.5 Pola Pengosongan Kontainer Cara 3
Proses pengangkutan :
- Kendaraan dari poll dengan membawa kontainer kosong menuju lokasi

kontainer isi untuk mengganti atau mengambil dan langsung dibawa ke
TPA
- Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju kontainer
isi berikutnya
- Demikian seterusnya sampai rit terakhir.

7

9.3 KONDISI TPS DI BEBERAPA NEGARA
Manajemen dan pembuangan sampah padat merupakan tantangan utama di seluruh

dunia terutama di kawasan perkotaan dan negara-negara berkembang. Masalah sampah
berkaitan erat dengan kebersihan, keindahan,, dan kesehatan lingkungan. Pembahasan dan
pengembangan TPS pun masih menjadi perhatian khusus di beberapa negara maju maupun
berkembang . Negara tersebut seperti Amerika Serikat, Israel, Turki, dan Nepal. Berikut ini
beberapa kondisi TPS di berbagai negara :
1. Kondisi TPS di Amerika Serikat

Luas area TPS berkisar 235-9700 m2 dengan timbulan sampah berkisar 40-1600 ton/hari.
Terdapat lima variasi bangunan TPS yaitu completely open, 3-sided open, 3-sided bays,
semi enclosed, dan fully enclosed.
Completely open TPS yang tidak memiliki dinding atau hanya dikeliling oleh pagar
kawat. Three-sided open merupakan TPS yang tiga sisi berdinding dan satu sisi terbuka.
Three-sided bays memiliki tiga dinding dan 1 pintu teluk yang dibiarkan terbuka. Semi
enclosed adalah TPS yang memiliki empat sisi berdinding dengan bukaan besar pada dua
sisi bangunan. Fully enclosed sepenuhnya tertutup, memiliki empat sisi berdinding dan
pintu kecil untuk masuk atau keluarnya kendaraan pengangkut sampah (Washburn,
2012). Kondisi ke lima kategori TPS dapat dilihat pada Gambar 9.6

(a) (b)

(c) (d)
8

(e)

Gambar 9.6 Tipe Bangunan TPS di Amerika (a) completely open, (b) 3-sided open, (c) 3-
sided bays, (d) semi enclosed, dan (e) fully enclosed

2. Kondisi TPS di Israel
TPS di Israel biasanya terletak jauh dari permukiman atau keramaian kota. Sebagian
besar TPS dioperasikan di tempat terbuka namun apabila terdapat fasilitas daur ulang
maka dioperasikan di tempat tertutup Pendaur ulangan sampah masih terbatas pada
kertas, kaca, plastik, dan logam yang berjumlah < 30% dari total timbulan sampah kota.
Timbulan sampah yang dihasilkan sekitar 1,32-2,32 kg/orang.hari, sehingga total
timbulan sampah nasional sekitar 5,5 juta ton/tahun

3. Kondisi TPS di Turki
Turki memiliki lebih dari 6.000.000 orang penduduk. Ratarata timbulan sampah yang
dihasilkan sebesar 6.000 ton/hari. Namun, tidak ada TPS yang beroperasi sehingga
kendaraan pengangkut sampah harus mengankut ke TPA yang letaknya mencapai 30
km dari kota atau pusat perkotaan. Sehingga disarankan untuk membangun sejumlah
TPS untuk memperkecil anggaran biaya yang digunakan.

4. Kondisi TPS di Kota Kathmandu, Nepal
Kota Kathmandu hanya memiliki satu TPS di Teku dengan luas area sebesar 100 x150
m dan menerima 150 ton sampah per hari. Terdapat delapan petugas di TPS ini yaitu 2
orang operator, 4 orang penjaga, dan 2 orang petugas administrasi. TPS tersebut
memiliki tujuh kompaktor dengan kapasitas 14m3 yang rata-rata beroperasi 2 kali/hari.
Hingga tahun 2008, telah diusulkan TPS baru yang berada di seberang lapangan golf
dekat bandara
9

9.4 SYARAT PENENTUAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH
SEMENTARA

Lingkungan yang sehat merupakan lingkungan yang memiliki manajemen sampah
yang baik. Tidak dapat dipungkiri sampah sangat erat kaitannya dengan lingkungan.
Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya membuat lingkungan menjadi kotor, dan
tidak teratur. Selain itu sampah yang dibuang tidak pada tempatnya dapat menimbulkan
pencemaran lingkungan dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Polusi akibat
sampah pun tidak dapat dihindari seperti polusi udara akibat pembakaran sampah,
pencemaran air tanah dan permukaan, merusak keindahan pemandangan kota, dan
menimbulkan aroma/bau yang tidak enak. Untuk itu adanya tempat pembuangan sampah
(TPS) sementara yang memadai akan meminimalisir dampak-dampak lingkungan tersebut.
Tempat pembuangan sampah (TPS) sementara juga sangat penting jikalau ditempatkan pada
lokasi yang sesuai untuk tempat pembuangan sampah yang memenuhi persyaratan tertentu
dan berwawasan lingkungan.

Daving dan Cornwell (1985), mengemukakan bahwa dalam memilih lokasi tempat
penampungan sampah (TPS) sementara sebaiknya meliputi evaluasi terhadap beberapa
variabel berikut: jarak terhadap jalan utama, jarak terhadap sungai, dan buffering di
sekeliling tempat penampungan sampah (TPS) sementara (Danuarti, 2003). Adapun secara
lebih spesifik syarat-syaratnya adalah :
- Minimal 30 meter dari sungai
- Minimal berjarak 50 meter dari permukiman, sekolah, dan taman
- Minimal berjarak 160 meter dari sumur
- Minimal berjarak 1500 meter dari airport

Untuk mencegah sampah di TPSS berserakan dan memberikan kesan kotor, Dinas
Kebersihan menerapkan beberapa standar TPSS guna mempermudah dalam proses kegiatan
pengumpulan dan pengangkutan sampah ke TPA tanpa mempengaruhi kerusakan
lingkungan, sumber penyakit, dan keindahan kota. Mengacu pada standar operasional
kebersihan tentang persyaratan kesehatan dalam pengelolaan limbah dan penampungan
sampah sementara dengan mempertimbangkan beberapa hal yang terkait dalam proses
kegiatan dalam penanganan, standar TPSS tersebut antara lain:
a. Kemudahan akses dalam proses pengumpulan
b. Hygenis untuk penghasil sampah maupun petugas pengumpul

10

c. Kuat dan relatif tahan lama dari faktor eksternal (banjir, wilayah pasang surut air dan
sebagainya

d. Mempertimbangkan segi estetika
Segi estetika dalam hal ini mengacu pada keputusan standar operasional kebersihan

dari Dinas Kebersihan tentang persyaratan kesehatan pengelolaan limbah dan penampungan
sampah sementara, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Tidak terlihat jorok, kotor, bau dan jauh dari sumber penyakit bagi permukiman

sekitarnya
b. Lokasi harus strategis untuk pengangkutan sampah dan tidak merusak keindahan kota,

dan lokasi tidak menganggu pengguna jalan.
c. memperhatikan kondisi lingkungan sekitar

Menurut Mulyansyah (2008), mengemukakan bahwa dalam memilih lokasi tempat
penampungan sampah (TPS) sementara sebaiknya meliputi ketersediaan tanah, jalan menuju
lokasi, jaringan jalan, penggunaan tanah dan jarak dari sungai. Adapun penjelasan untuk
penentuan lokasi tempat penampungan sampah (TPS) sementara adalah sebagai berikut :
1. Ketersediaan Tanah

Dalam menentukan tanah potensial sebagai TPSS, sangatlah penting untuk mengetahui
area mana yang cocok dan tersedia di perkotaan, karena terdapat aturan tetap yang
mengatur fungsi dan bentuk TPSS yang dibutuhkan, dengan kata lain TPSS tersebut harus
memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Ketersediaan tanah sangatlah diharapkan
agar didapatkan area yang cocok untuk lokasi TPSS agar secara operasional TPSS
tersebut harus dapat bertahan selama 5 tahun dan dapat menjangkau wilayah sekitarnya.
2. Jalan Menuju Lokasi
Penentuan lokasi TPSS tidak akan lepas dari jalan, karena jalan merupakan salah satu
faktor pendukung operasional pengangkutan sampah oleh truk dan alat transportasi
pengangkut sampah lainnya. Jalan menuju lokasi TPSS haruslah mempunyai aksesibilitas
yang tinggi agar mempermudah proses pengangkutan sampah.
3. Jaringan Jalan
Jaringan jalan merupakan prasarana perhubungan darat yang merupakan salah satu
penunjang pergerakan. Pola jaringan jalan yang baik adalah jaringan jalan yang
menghubungkan antar tempat kegiatan, sehingga jaringan jalan mempunyai fungsi yang
tepat untuk :
- Kelancaran hubungan dalam proses pengumpulan interaksi kegiatan
- Kelancaran hubungan dalam proses sebaran kebutuhan masyarakat

11

- Kelancaran hubungan dalam proses pelayanan kebutuhan
4. Penggunaan Tanah

Penggunaan tanah merupakan wujud dari kegiatan manusia pada suatu ruang atau tanah.
Tanah, bila digunakan untuk membangun sesuatu harus dapat bermanfaat bagi
pelaksanaan pembangunan, termasuk di dalamnya pembangunan perumahan,
permukiman dan tempat penampungan sampah sementara. Penggunaan tanah harus
sesuai dengan peruntukannya agar tercipta kelestarian dan keseimbangan lingkungan
hidup yang berkelanjutan.
5. Jarak TPS Terhadap Sungai
Tingkat pencemaran lingkungan khususnya dari sungai terhadap masyarakat yang berada
di sekitar sungai, terkait dan berhubungan pula terhadap jarak tempat pembuangan
sampah (TPS) sementara. Perlu diperhatikan aspek pencemaran dikarenakan pentingnya
perhatian terhadap kesehatan dan keindahan bagi masyarakat yang bermukim di sekitar
sungai tersebut. Dikwatirkan sampah-sampah tersebut akan menimbulkan polusi
terhadap sungai jika keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) tersebut terlalu dekat
dengan sungai. Oleh sebab itu, lokasi tempat pembuangan sampah (TPS) sementara yang
direncanakan tidak berada terlalu dekat dengan sungai, semakin jauh jaraknya dari sungai
dinilai semakin baik

9.5 PEMANFAATAN TEKNOLOGI SIG UNTUK MEMBANTU PENENTUAN
LOKASI TEMPAT PENAMPUNGAN SAMPAH (TPS) SEMENTARA

Pada saat ini peranan data spasial dalam berbagai kegiatan perencanaan cukup
penting, dalam hal penentuan lokasi tempat penampungan sampah (TPS) sementara,
teknologi pengolah data spasial telah memberi kontribusi luar biasa dengan hadirnya
teknologi Sistem Informasi Geografis. Menurut Wikipedia, Sistem Informasi Geografis
adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial
(bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang
memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola, dan menampilkan
informasi bereferensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam
sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan
mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. Teknologi Sistem Informasi
Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan

12

pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana
untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam.

SIG merupakan sistem informasi kebumian berbasis sistem komputer. Dalam
berbagai perencanaan SIG merupakan suatu model alternatif dari kegiatan dan proses dalam
lingkungan dimana dapat dilakukan aktivitas pengukuran (measurement), pemetaan
(mapping), monitoring (monitoring) dan pemodelan (modeling). Penggunaan SIG
mendukung untuk perencanaan manajemen lahan secara potensial. Secara spesifik input
data, output, dan kemampuan analisis, struktur perencanaan dan analisis pengambil putusan,
dieksekusi dalam SIG dan dievaluasi hasilnya

Sistem Informasi Geografi memiliki kelebihan yang membedakan dengan sistem
informasi lainnya. SIG mampu menangani data atribut (kualitatif dan kuantitatif) sekaligus
mampu menangani data spasial (keruangan) yang berupa titik, garis, dan poligon. Kelebihan
yang dimiliki SIG inilah yang menjadikannya suatu sistem yang memiliki prospek
pengembangan dan pemakaian yang sangat potensial sebagai sistem pengambilan keputusan
untuk berbagai aplikasi. Secara umum SIG berfungsi melakukan perhitungan terhadap
sejumlah operasi, display (layer peta-warna, ukuran, bentuk, dan lain-lain), kompilasi data
base non-spasial, overlay, buffering, memperbaiki dan memperbaharui data atau tayangan
tabel (SQL), membuat hubungan-hubungan keruangan dan membuat peta tematik dan peta
arahan yang berguna untuk perencanaan pembangunan wilayah dan daerah.

13

BAB X
TPA (TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR)

10.1 LATAR BELAKANG
Sampah dapat diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah

berakhirnya suatu proses. Sampah adalah zat kimia, energi atau makhluk hidup yang tidak
mempunyai nilai guna dan cenderung merusak. Sampah merupakan konsep buatan manusia,
dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak
bergerak.

Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan
berbagai permasalahan baik langsung mau pun tidak langsung bagi penduduk kota apalagi
daerah di sekitar tempat penumumpukan. Dampak langsung dari penanganan sampah yang
kurang bijaksana diantaranya adalah timbulnya berbagai penyakit menular maupun penyakit
kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsung diantaranya adalah
bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang
timbunan sampah yang dibuang ke sungai.

10.2 TINJAUAN PUSTAKA
10.2.1 Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
TPA (Tempat Pembuangan Akhir) adalah sarana fisik untuk berlangsungnya
kegiatan pembuangan akhir sampah. TPA merupakan mata rantai terakhir dari
pengolahan sampah perkotaan sebagai sarana lahan untuk menimbun atau mengolah
sampah.
Proses sampah itu sendiri mulai dari timbulnya di sumber - pengumpulan –
pemindahan/pengangkutan -pengolahan - pembuangan. Di TPA, sampah masih
mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu panjang. Beberapa
jenis sampah dapat terurai secara cepat, sementara yang lain lebih lambat sampai
puluhan dan ratusan tahun seperti plastik. Hal ini memberi gambaran bahwa di TPA
masih terdapat proses-proses yang menghasilkan beberapa zat yang dapat -
mempengaruhi lingkungan. Zat-zat tersebut yang mempengaruhi lingkungan
itulah yang menyebabkan adanya bentuk-bentuk pencemaran

14

Gambar 2.1 Diagram Teknis Operasioal Pembuangan Sampah

Dalam gambar diagram diatas dapat dijelaskan bahwa pada Tempat
Pembuangan Sampah (TPA) pertama kali untuk tempat mengumpulkan berbagai
sampah dari rumah tangga maupun nonrumah tangga. Tempat tersebut yang disebut
sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan bentuk wadah penampungan atas
pengumpulan sampah. Pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), ada sampah yang
tidak langsung dibuang dan ada yang langsung dibuang serta ada yang diolah secara
fisik, kimia, dan biologi.

Sampah yang tidak langsung dibuang biasanya dilakukan pemindahan dan
pengangkutan. Pemindahan sampah tersebut diangkut pada Tempat Pembuangan
Akhir, sedangkan sampah yang langsung dibuang akan ditampung pada Tempat
Pembuangan Akhir. Untuk pengolahan sampah yang dibagi secara fisik, kimia, dan
biologi, sampah-sampah tersebut diuraikan terlebih dahulu sesuai bahan sampahnya.

Pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terdapat syarat sebagai tempat tersebut,
syarat-syarat tersebut yang menjadi lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu :
1. Bukan daerah rawan geologi (daerah patahan, rawan longsor, rawan gempa, dll)
2. Bukan daerah rawan geologis yaitu daerah dengan kondisi kedalaman air tanah

kurang dari 3 meter, jenis tanah mudah meresapkan air, dekat dengan sumber
air, dll
3. Bukan daerah rawan topografis (kemiringan lahan >20%)
4. Bukan daerah rawan terhadap kegiatan seperti bandara, pusat perdagangan

15

5. Bukan daerah/kawasan yang dilindungi.

Table 2.1 Dampak Potensial Kegiatan Pembuangan Akhir

Tahap Kegiatan Perkiraan Dampak
Pembangunan
- Pemilihan lokasi TPA - Lokasi yang tidak memenuhi
- Perencanaan persyaratan akan mencemari
- Pembebasan Lahan lingkungan dan mengganggu
kesehatan masyarakat
Prakonstruksi
- Perencanaan yang tidak didukung
oleh data yang akurat akan
menghasilkan konsntruksi yang tidak
memadai

- Ganti rugi yang tidak memadai akan
menimbulkan keresahan masyarakat

Konstruksi - Mobilisasi alat berat - Pengurangan Tanamanan
Operasi dan tenaga
- Pembuatan konstruksi yang tidak
- Pembersihan Lahan memenuhi persyaratan akan
- Pekerjaan Sipil menyebabkan kebocoran lindi, gas
dan lain-lain
- Pengangkutan
- Penimbunan dan - Pengangkutan sampah dalam
keadaan terbuka dapat menyebabkan
Pemadatan bau dan sampah berceceran di
- Penutupan Tanah sepanjang jalan yang dilalui truk
- Ventilasi Gas
- Pengumpulan lindi - Penimbunan sampah yang tidak
beraturan dan pemadatan yang
dan pengolahan lindi kurang baik menyebabkan masa
pakai TPA lebih singkat

- Penutupan tanah yang tidak memadai
dapat menyebabkan bau, populasi
lalat tinggi dan pencemaran udara

16

- Ventilasi gas yang tidak memadai
menyebabkan pencemaran udara,
kebakaran dan bahaya asap

- Lindi yang tidak terkumpul dan
terolah dengan baik dapat
menggenangi jalan dan mencemari
badan air dan air tanah.

- Reklamasi Lahan - Reklamasi yang tidak sesuai dengan

- Pemantauan kualitas peruntukan lahan apalagi digunakan
lindi dan gas
untuk perumahan dapat

membahayakan konstruksi bangunan

Pasca Operasi dan kesehatan masyarakat

- Tanpa upaya pemantauan yang
memadai, maka akan menyulitkan
upaya perbaikan kualitas lingkungan

10.2.2 Fungsi TPA
TPA yakni Tempat Pembuangan Akhir memiliki fungsi sebagai akhir dari

pembuangan sampah yang telah dikumpulkan oleh petugas kebersihan sehingga
dibawa pada satu tempat sebagai penampungan sampah.Dalam TPA (Tempat
Pembuangan Akhir) memiliki berbagai fasilitas yang berfunsi antara lain :
1) Prasarana jalan yang terdiri dari jalan masuk/akses, jalan penghubung, dan jalan

operasi/kerja. Semakin baik kondisi jalan ke TPA akan semakin lancar kegiatan
pengangkutan sehingga efisiensi keduanya makin tinggi
2) Prasarana drainase, berfungsi untuk mengendalikan aliran limpasan air hujan
dengan tujuan untuk memperkecil aliran yang masuk ke timbunan sampah.
Drainase ini umumnya dibangun di sekeliling blok atau zona penimbunan
3) Fasilitas penerimaan, yaitu tempat pemeriksaan sampah yang datang, pencatatan
data, dan pengaturan kedatangan truk sampah. Biasanya berupa pos pengendali di
pintu masuk TPA
4) Lapisan kedap air, berfungsi mencegah rembesan air lindi yang terbentuk di dasar
TPA ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Biasanya lapisan tanah lempung setebal
50 cm atau lapisan sintesis lainnya.

17

5) Fasilitas pengamanan gas, yaitu pengendalian gas agar tidak lepas ke atmosfer.
Gas yang dimaksud berupa karbon dioksida atau gas metan

6) Fasilitas pengamanan lindi, berupa perpipaan lubang-lubang, saluran pengumpul,
dan pengaturan kemiringan dasar TPA sehingga lindi begitu mencapai dasar TPA
akanbergerak sesuai kemiringan yang ada mengarah pada titik pengumpul.

7) Fasilitas penunjang, seperti pemadam kebakaran, mesin pengasap (mist blower),
kesehatan/keselamatan kerja, toilet, dan lain-lain

10.2.3 Dampak Sampah Di Sekitar TPA
Dampak adanya keberadaan Tempat pembuangan Akhir (TPA) terhadap

kondisi sosial masyarakat dapat diketahui dengan pendekatan beberapa aspek.
1) Dampak Terhadap Kesehatan

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah
tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan
menarik bagi berbagai macam binatang seperti lalat dan anjing yang dapat
menjangkit penyakit. Potensi bahaya kesehatan penyakit yang dapat ditimbulkan
adalah sebagai berikut :
- Penyakit diare, kolera, dan tifus menyebar dengan cepat karena virus yang

berasal dari sampah yang dikelola dengan pengelolaan tidak tepat dapat
bercampur air minum.
- Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
- Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya
adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini
sebelumnya masuk ke dalam pencernaan binatang ternak melalui makanan
yang berupa sisa makanan/sampah.
- sampah beracun: telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang
meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa
(Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang
memproduksi baterai dan akumulator.
2) Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan
mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa
spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan
biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilakan

18

asam organik dan gas cair organik seperti gas metana. Selain berbau kurang sedap,
gasi ini dalam konsentarsi tinggi dapat meledak.
3) Dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi
- Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat

kesehatan masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya pembiayaan
secaralangsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak
langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
- Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan
memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan
drainase, dan lain-lain.
- Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang
tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengelolaan
air. Jika sarana penampungan sampah yang kurang atau tidak efisien, orang
akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan
perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

10.2.4 Cara Pengelolaan Sampah
Pengolahan sampah adalah suatu upaya untuk mengurangi volume sampah

atau merubah bentuk menjadi lebih bermanfaat, antara lain dengan cara
pembakaran, pengomposan, penghancuran, pengeringan dan pendaur ulangan. (SNI
T-13-1990-F). Adapun teknik pengolahan sampah adalah sebagai berikut :
1) Pengomposan (Composting),

Pengomposan adalah suatu cara pengolahan sampah organic dengan
memanfaatkan aktifitas bakteri untuk mengubah sampah menjadi kompos
(proses pematangan). Pengomposan dilakukan terhadap sampah organik.
2) Pembakaran sampah,
Pembakaran sampah dapat dilakukan pada suatu tempat, misalnya lapangan yang
jauh dari segala kegiatan agar tidak mengganggu. Namun demikian pembakaran
ini sulit dikendalikan bila terdapat angin kencang, sampah, arang sampah, abu,
debu, dan asap akan terbawa ketempat-tempat sekitarnya yang akhirnya akan
menimbulkan gangguan. Pembakaran yang paling baik dilakukan disuatu
instalasi pembakaran, yaitu dengan menggunakan insinerator, namun
pembakaran menggunakan incinerator memerlukan biaya yang mahal

19

3) Recycling,
Merupakan salah satu teknik pengolahan sampah, dimana dilakukan pemisahan
atas benda-benda bernilai ekonomi seperti: kertas, plastik, karet, dan lain-lain
dari sampah yang kemudian diolah sehingga dapat digunakan kembali baik
dalam bentuk yang sama atau berbeda dari bentuk semula

4) Reuse,
Merupakan teknik pengolahan sampah yang hampir sama dengan recycling,
bedanya reuse langsung digunakan tanpa ada pengolahan terlebih dahulu.

5) Reduce,
Adalah usaha untuk mengurangi potensi timbulan sampah, misalnya tidak
menggunakan bungkus kantong plastik yang berlebihan

10.3 TAHAPAN PENGAMANAN PENCEMARAN LINGKUNGAN TPA
10.3.1 Tahapan Pra Konstrksi
1. Pemilihan Lahan TPA
Untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut yang diakibatkan oleh metode
pembuangan akhir sampah yang tidak memadai seperti yang selalu terjadi di
berbagai kota di Indonesia, maka langkah terpenting adalah memilih lokasi yang
sesuai dengan persyaratan.
Sesuai dengan SNI No. 03-3241-1997 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA,
bahwa lokasi yang memenuhi persyaratan sebagai tempat pembuangan akhir
sampah adalah :
- Jarak dari perumahan terdekat 500 m
- Jarak dari badan air 100 m
- Jarak dari airport 1500 m (pesawat baling-baling) dan 3000 m (pesawat jet)
- Muka air tanah > 3 m
- Jenis tanah lempung dengan konduktivitas hidrolik < 10 -6 cm / det
- Merupakan tanah tidak produktif
- Bebas banjir minimal periode 25 tahun
Pemilihan lokasi TPA sebagai langkah awal dalam peningkatan metode
pembuangan akhir sampah, perlu dilakukan secara teliti melalui tahapan studi yang
komprehensif (feasibility study dan studi amdal). Sulitnya mendapatkan lahan yang
memadai didalam kota, maka disarankan untuk memilih lokasi TPA yang dapat

20

digunakan secara regional. Untuk lokasi TPA yang terlalu jauh (>25 km) dapat
menggunakan sistem transfer station.

2. Survey dan pengukuran Lapangan
Data untuk pembuatan DED TPA harus meliputi :
- Jumlah sampah yang akan dibuang ke TPA
- Komposisi dan karakteristik sampah
- Data jaringan jalan ke lokasi TPA
- Jumlah alat angkut (truk)
Pengumpulan data tersebut dapat dilakukan secara langsung (primer) maupun tidak
langsung (sekunder).
Pengukuran lapangan dilakukan untuk mengetahui data kondisi lingkungan TPA
seperti :
- Topografi
- Karakteristik tanah, meliputi karakteristik fisik (komposisi tanah,
konduktivitas hidrolik, pH, KTK dan lain-lain) dan karakteristik kimia
(komposisi mineral tanah, anion dan kation)
- Sondir dan geophysic
- Kondisi air tanah, meliputi kedalaman muka air tanah, arah aliran air tanah,
kualitas air tanah (COD, BOD, Chlorida, Fe, Organik dan lain-lain)
- Kondisi air permukaan, meliputi jarak dari TPA, level air, fluktuasi level air
musim hujan dan kemarau, kualitas air sungai (BOD, COD, logam berat,
chlorida, sulfat, pestisida dan lain-lain)
- Lokasi mata air ( jika ada) termasuk debit.
- Kualitas lindi, meliputi BOD, COD, Chlorida, Logam berat, Organik dan lain-
lain.
- Kualitas udara, meliputi kadar CH4, COx, SOx, NOx dan lain-lain.
- Jumlah penduduk yang tinggal disekitar TPA (radius < 500 m)

3. Perencanaan
Perencanaan TPA berupa Detail Engineering Design (DED), harus dapat Mengant
isipasi terjadinya pencemaran lingkungan . Dengan demikian maka perencanaan
TPA tersebut harus meliputi :
- Disain site plan disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia

21

- Disain fasilitas yang meliputi fasilitas umum (jalan masuk dan jalan operasi,
Saluran drainase, kantor TPA, pagar), fasilitas perlindungan lingkungan
(tanggul, lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul dan pengolah lindi,
ventilasi gas, barrier, tanah penutup, sumur uji, alat berat dan lain-lain) dan
fasilitas pendukung (air bersih, bengkel, jembatan timbang dan lain-lain)

- Tahapan pembangunan disesuaikan dengan kemampuan pendanaan daerah untuk
membangun suatu TPA sehingga dengan kondisi yang paling minimal TPA
tersebut dapat berfungsi tanpa mencemari lingkungan.

- Dokumen DED dilengkapi juga dengan gambar detail, SOP, dokumen tender,
spesifikasi teknis, disain note dan lain-lain

4. Pembebasan Lahan
Pembebasan lahan TPA perlu memperhatikan dampak sosial yang mungkin timbul
seperti kurang memadainya ganti rugi bagi masyarakat yang tanahnya terkena
proyek. Luas lahan yang dibebaskan minimal dapat digunakan untuk menampung
sampah selama 5 tahun

5. Pemberian Izin
Pemberian izin lokasi TPA harus diikuti dengan berbagai konsekuensi seperti
dilarangnya pembangunan kawasan perumahan atau industri pada radius < 500 m
dari lokasi TPA, untuk menghindari terjadinya dampak negatif yang mungkin
timbul dari berbagai kegiatan TPA

6. Sosialisasi
Untuk menghindari terjadinya protes sosial atas keberadaan suatu TPA, perlu
diadakan sosialisasi dan advokasi publik mengenai apa itu TPA, bagaimana
mengoperasikan suatu TPA dan kemungkinan dampak negatif yang dapat terjadi
namun disertai dengan rencana atau upaya pihak pengelola untuk menanggulangi
masalah yang mungkin timbul dan tanggapan masyarakat terhadap rencana
pembangunan TPA. Sosialisasi dilakukan secara bertahap dan jauh sebelum
dilakukan perencanaan

22

10.3.2 Tahap Konstruksi
1. Mobilisasi Tenaga Dan Alat

a. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga kerja yang akan melaksanakan
pekerjaan konstruksi TPA. Untuk tenaga profesional seperti tenaga supervisi,
ahli struktur dan mandor harus direkrut sesuai dengan persyaratan kualifikasi,
sedangkan untuk tenaga buruh atau tenaga keamanan dapat direkrut dari tenaga
setempat (jika ada). Rekrutmen tenaga setempat adalah untuk menghindari
terjadinya konflik atau kecemburuan social

b. Alat
Mobilisasi peralatan konstruksi mungkin akan menimbulkan dampak
kebisingan dan debu, namun sifatnya hanya sementara. Untuk itu agar dapat
diusahakan mobilisasi atau demobilisasi alat berat dilakukan pada saat lalu
lintas dalam keadaan sepi serta tidak melalui permukiman yang padat

2. Pembersihan lahan (land clearing)
Pembersihan lahan akan menimbulkan dampak pengurangan jumlah tanaman dan
debu sehingga perlu dilakukan penanaman pohon sebagai pengganti atau membuat
green barrier yang memadai

3. Pembangunan fasilitas umum
a. Jalan Masuk TPA
Jalan masuk TPA akan digunakan oleh kendaraan pengangkut sampah dengan
kapasitas yang cukup besar, sehingga kelas jalan dan lebar jalan perlu
memperhatikan beban yang akan lewat serta antrian yang mungkin terjadi.
Pengaturan lalu lintas untuk kendaraan yang akan masuk dan keluar TPA
sedemikian rupa sehingga dapat menghindari antrian yang panjang karena
dapat mengurangi efisiensi pengangkutan
b. Kantor TPA
Kantor TPA berfungsi sebagai kantor pengendali kegiatan pembuangan akhir
mulai dari penimbangan/ pencatatan sampah yang masuk (sumber,
volume/berat, komposisi dan lain-lain), pengendalian operasi, pengaturan
menajemen TPA dan lain-lain. Luas dan konstruksi bangunan kantor TPA
perlu memperhatikan fungsi tersebut. Selain itu juga dapat dilengkapi dengan

23

ruang laboratorium sederhana untuk analisis kualitas lindi maupun efluen lindi
yang akan dibuang kebadan air penerima
c. Drainase
Drainase keliling TPA diperlukan untuk menampung air hujan agar tidak
masuk ke area timbunan TPA, selain untuk mencegah tergenangnya area
timbunan sampah juga untuk mengurangi timbulan lindi.
d. Pagar TPA
Pagar TPA selain berfungsi sebagai batas TPA dan keamanan TPA juga dapat
berfungsi sebagai green barrier. Untuk itu maka pagar TPA sebaiknya dibuat
dengan menggunakan tanaman hidup dengan jenis pohon yang rimbun dan
cepat tumbuh seperti pohon angsana.

10.3.3 Tahap Pasca Konstruksi
1. Operasi dan Pemeliharaan TPA

Operasi dan pemeliharaan TPA merupakan hal yang paling sulit dilaksanakan dari
seluruh tahapan pengelolaan TPA. Meskipun fasilitas TPA yang ada sudah cukup
memadai, apabila operasi dan pemeliharaan TPA tidak dilakukan dengan baik
maka tetap akan terjadi pencemaran lingkungan.
Untuk menghindari terjadinya dampak negatif yang mungkin timbul , maka
pengoperasian pembuangan akhir sampah dilakukan dengan memperhatikan hal-
hal sebagai berikut. Penerapan sistem sel memerlukan pengaturan lokasi
pembuangan sampah yang jelas termasuk pemasangan rambu-rambu lalu lintas truk
sampah , kedisiplinan sopir truk untuk membuang sampah pada sel yang telah
ditentukan dan lain-lain
- Pemadatan sampah sedemikian rupa agar dapat mencapai kepadatan 700

kg/m3, yaitu dengan lintasan alat berat 5 x. Untuk proses pemadatan pada lapis
pertama perlu dilakukan secara hati-hati agar alat berat tidak sampai merusak
jaringan pipa leachate yang dapat menyebabkan kebocoran leachate
- Penutupan tanah dilakukan secara harian ( 20 cm), intermediate ( 30 cm) dan
penutupan tanah akhir (50 cm ). Pemilihan jenis tanah penutup perlu
mempertimbangkan tingkat kekedapannya, diusahakan merupakan jenis yang
tidak kedap. Dalam kondisi penutupan tanah tidak dilakukan secara harian,
maka untuk mengurangi populasi lalat dilakukan penyemprotan insektisida

24

- Pengolahan lindi dikondisikan untuk mengoptimalkan proses pengolahan baik
melalui proses anaerob, aerob, fakultatif, maturasi dan resirkulasi lindi,
sehingga dicapai efluen yang memenuhi standar baku mutu (BOD 30 – 150
ppm

- Pipa ventilasi gas berupa pipa berlubang yang dilindungi oleh kerikil dan
casing dipasang secara bertahap sesuai dengan ketinggian lapisan timbunan
sampah

2. Reklamasi Lahan Bekas TPA
Untuk menghindari terjadinya dampak negatif, karena proses dekomposisi sampah
menjadilindi dan gas berlangsung dalam waktu yang sangat lama 30 tahun
(Thobanoglous, 1993), maka lahan bekas TPA direkomendasikan untuk lahan
terbuka hijau atau sesuai dengan rencana tata guna lahannya. Apabila lahan bekas
TPA akan digunakan sebagai daerah perumahan atau bangunan lain, maka perlu
memperhitungkan faktor keamanan bangunan secara maksimal
Reklamasi lahan bekas TPA disesuaikan dengan rencana peruntukannya terutama
yang berkaitan dengan konstruksi tanah penutup akhir. Untuk lahan terbuka hijau,
ketebalan tanah penutup yang dipersyaratkan adalah 1 m (tergantung jenis tanaman
yang akan ditanam), ditambah lapisan top soil. Sedangkan untuk peruntukan
bangunan, persyaratan penutupan tanah akhir serupa dengan konstruksi jalan dan
faktor keamanan sesuai dengan peraturan konstruksi yang berlaku.

3. Monitoring TPA Pasca Operasi
Monitoring kualitas lingkungan pasca operasi TPA diperlukan untuk mengetahui
ada tidaknya pencemaran baik karena kebocoran dasar TPA, jaringan pengumpul
lindi, proses pengolahan lindi yang tidak memadai maupun kebocoran pipa
ventilasi gas. Fasilitas yang diperlukan untuk monitoring ini adalah sumur uji dan
pipa ventilasi gas yang terlindung. Sumur uji yang harus ada minimal 3 unit, yaitu
yang terletak sebelum area peninmbunan, dekat lokasi penimbunan dan sesudah
area penimbunan

25

BAB XI
SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH PADAT DOMESTIK

11.1 LATAR BELAKANG
Limbah padat atau sampah padat merupakan salah satu bentuk limbah yang terdapat

di lingkungan. Masyarakat awam biasanya hanya menyebutnya sampah saja. Bentuk, jenis,
dan komposisi sampah padat sangat dipengaruhi oleh tingkat budaya masyarakat dan kondisi
alamnya. Sampah itu sendiri merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap
aktifitas itu pastinya menghasilkan buangan atau sampah.

Besarnya sampah yang dihasilkan suatu daerah tertentu sebanding dengan jumlah
penduduk, jenis aktivitas, dan tingkat konsumsi penduduk tersebut terhadap
barang/material. Semakin besar jumlah penduduk atau tingkat konsumsi terhadap barang
maka semakin besar pula volume sampah yang dihasilkan. Demikian halnya dengan jenis
sampah, sangat tergantung dari jenis barang yang dikonsumsi oleh manusia itu sendiri.

Meskipun kedengarannya sederhana, namun jenis dan volume sampah menimbulkan
permasalahan kompleks pada setiap negara-negara dunia. Banyak upaya yang telah
dilakukan untuk mengelola sampah tersebut, namun pada kenyataannya tidak ada satupun
negara yang berhasil mengelola sampahnya tanpa melalui pendekatan regional
(kewilayahan), meskipun manajemen negara tersebut telah modern.

Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan
sumbernya, sehingga permasalahan sampah yang dihadapi selama ini dapat teratasi dengan
baik tanpa harus mengeluarkan banyak waktu, tempat dan biaya. Permasalahan pengelolaan
sampah erat kaitannya dengan pengaturan terhadap penimbunan, penyimpanan,
pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pembuangan atau pemusnahan dan pemanfaatan
sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan masyarakat (human health principle), ekonomi
(economi), keindahan (esthetic) dan pertimbangan-pertimbangan lingkungan lainnya serta
disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.

26

11.2 TINJAUAN PUSTAKA
11.2.1 Pengertian Limbah Padat
Limbah padat adalah sisa hasil kegiatan industry ataupun aktivitas domestik
yang berbentuk padat. Contoh dari limbah padat diantaranya yaitu: kertas, plastik,
serbuk besi, serbuk kayu, kain, dll. Sedangkan limbah padat domestic adalah limbah
sisa buangan rumah tangga. Limbah padat dapat diklasifikasikan menjadi enam
kelompok sebagai berikut :
a. Sampah organik mudah busuk (garbage), yaitu limbah padat semi basah, berupa
bahan-bahan organik yang mudah membusuk atau terurai mikroorganisme.
Contohnya yaitu: sisa makanan, sisa dapur, sampah sayuran, kulit buahbuahan
b. Sampah anorganik dan organik tak membusuk (rubbish), yaitu limbah padat
anorganik atau organik cukup kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme,
sehingga sulit membusuk. Contohnya yaitu: selulosa, kertas, plastik, kaca,logam
c. Sampah bangkai binatang (dead animal), yaitu semua limbah yang berupa
bangkai binatang, seperti tikus, ikan dan binatang ternak yang mati
d. Sampah abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu, biasanya hasil
pembakaran. Sampah ini mudah terbawa angin karena ringan dan tidak mudah
membusuk.
e. Sampah sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil sapuan jalanan yang
berisi berbagai sampah yang tersebar di jalanan, sperti dedaunan, kertas dan
plastik.

11.2.2 Sifat-Sifat Limbah Padat
1. Sifat Kimia Limbah Padat

Informasi mengenai komposisi kimia yang terkandung di dalam limbah limbap
padat domestik adalah penting untuk mengevaluasi proses alternatif dan pilihan
pemulihan. Sebagai contoh, kelayakan dalam pembakaran limbah padat/ limbah
padat bergantung pada komposisi kimia dari limbah padat tersebut. Jika limbah
padat akan digunakan sebagai bahan bakar, maka karakteristik penting yang harus
diketahui adalah :
a. Analisi Proksimat (Proximate Analysis)

Analisis proksimat meliputi 4 uji, yaitu kehilangan kelembapan ketika
dipanaskan pada suhu 105oC selama 1 jam, bahan volatile, senyawa karbon,
dan abu (berat residu setelah pembakaran)

27

b. Titik Pengabuan (Pushing Point of Ash)
Titik pengabuan adalah suhu dimana abu dihasilkan dari pembakaran limbah
padat dengan suhu 1100oC -1200oC

c. Analisis Unsur (Ultimate Analysis of Solid Waste Components)
Analisis unsure dari komponen limbah padat mencakup determinasi persentasi
dari C (karbon), H (hidrogen), S (sulfur), O (oksigen), N (nitrogen), dan abu.
Hasil analisis ini digunakan untuk karakteristik komposisi bahan organik
limbah.Hal ini penting untuk menentukan nilai C/N berkaitan dengan
dekomposisi biologis

28

d. Kandungan Energi (Energy Content of Sokid Waste Components)
Kandungan energi komponen limbah (kJ/kg) dapat dideterminasi
menggunakan boiler system, laboratory bomb calorimeter, atau dengan
menghitung komposisi elemen. Kandungan energy oenting jika akan
dilakukan proses pembakaran limbah.

e. Nutrien Esensial (Essential Nutrients and Other Elements)
Analisa ini penting jika kandungan organic limbah digunakan untuk konversi
biologi seperti kompos, produksi metana atau etanol.Nutrien utama yang
paling penting adalah bentuk nitrogen (nitrat, ammonium), fosfor dan
potassium

2. Sifat Biologis Limbah
Fraksi organik limbah (tidak termasuk karet dan kulit), dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Bahan yang larut terhadap air, seperti gula, pati, asam amino dan asam organic
2. Hemiselulosa
3. Selulosa
4. Lemak, minyak dan lilin, seperti ester dari alcohol dan asam lemak rantai
panjang.
5. Lignin dan lignoselulosa
6. Protein, seperti rantai asam amino

11.2.3 Sumber-Sumber Limbah padat
1. Limbah Padat Rumah Tangga

Umumnya limbah padat rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan,
perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, limbah padat
kebun/halaman, dan lain-lain

2. Limbah Padat Dari Industri
Limbah padat ini berasal dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan-bahan
kimia serpihan/potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas, kayu,
plastik, kain/lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan). Limbah padat
industri berupa bahan kimia yang seringkali beracun memerlukan perlakuan khusus
sebelum dibuang

29

3. Limbah padat dari sisa bangunan dan konstruksi gedung
Limbah padat yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung ini
dapat berupa bahan organic maupun anorganik. Limbah padat organik, misalnya :
kayu, bamboo, triplek. Limbah padat anorganik, misalnya : semen, pasir, spesi, batu
bata, ubin, besi, baja, kaca, dan kaleng.

4. Limbah padat yang berasal dari pertambangan
Limbah padat ini berasal dari daerah pertambangan tergantung dari jenis usaha
pertambangan itu sendiri misalnya batu-batuan, tanah cadas, pasir, sisa-sisa
pembakaran, dsb.

11.2.3 Contoh Limbah Padat Domestik
Limbah domestik harus menjadi perhatian kita bersama mengingat

prosentase volume limbah yang bisa semakin bertambah besar. Perusahaan atau
individu yang tidak bertanggung jawab kerap membuang limbah cair ke sungai dan
mencemari lingkungan. Selain limbah cair, ada pula limbah domestik yang berbentuk
padat.
1. Limbah Cair Domestik

Sesuai namanya, limbah cair domestik berbentuk berupa cairan yang dihasilkan
dari aktivitas rumah tangga dan industri. Misalnya, air cucian pakaian, air bekas
mandi, serta kotoran manusia. Limbah cair domestik ini bisa mengandung bahan
kimiawi yang berbahaya seperti sabun mandi, deterjen cuci, minyak, kuman dan
sebagainya. Meski dalam volume sedikit tidak berbahaya, tetapi jika terakumulasi
dalam jumlah besar, tentu bisa mencemari lingkungan. Terutama sungai atau
danau di sekitar masyarakat.

2. Limbah Padat Domestik
Jenis limbah domestik yang kedua adalah limbah padat. Dihasilkan oleh aktivitas
rumah tangga dengan contoh yang mudah dijumpai di sekitar kita. Misalnya saja
seperti kertas, pakaian, botol plastik, perabotan rumah tangga, peralatan
elektronik, dan lain – lain.
Limbah padat domestik ini sulit diurai oleh tanah dan terkadang hanya dibiarkan
menumpuk bertahun – tahun di gudang atau di tempat pembuangan sampah akhir.
Sudah seharusnya, berbagai kalangan memikirkan tentang pengelolaan limbah

30

padat domestik agar dapat dimanfaatkan lebih baik lagi agar tidak mencemari
planet bumi.

11.3 LIMBAH PADAT DOMESTIK DAN PENANGANANNYA
Sampah merupakan permasalah utama dalam lingkungan kita, karena sampah

diproduksi oleh semua kalangan hingga rumah tangga yang merupakan penghasil sampah
terbanyak perharinya. Dengan pengolahan yang tanpa dipilah terlebih dahulu, sampah
rumah tangga langsung dibuang ke tempat sampah kemudian dibawa oleh petugas ke TPS
untuk dimusnahkan

Dengan cara tersebut masih kurang efektif, karena hanya akan menimbun di TPS dan
menjadikan lingkungan di sekitar TPS menjadi rusak dan tidak nyaman. Maka dari itu kita
harus belajar untuk memilah dan memanfaatkan sampah yang ada. Ada dua macam sampah,
yaitu sampah organik (daun-daunan, sisa sayuran, kulit buah, dll) dan sampah Unorganik
(plastik, botol / kaca, kertas, dll) yang mana bisa dimanfaatkan untuk meminimalisir sampah
yang dibuang ke TPS dan bahkan bisa menjadi tambahan penghasilan bagi yang mengolah.

Untuk sampah-sampah organik bisa diolah menjadi kompos yang berguna untuk
pupuk tanaman atau mungkin bisa dijual. Dan sampah unorganik bisa kita buat menjadi
kerajinan yang bisa menjadi hiasan dirumah atau dijual sebagai tambahan penghasilan. Jadi
pada intinya sampah yang kita hasilkan bisa kita manfaatkan untuk tambahan penghasilan
dan segaligus membantu pemerintah dalam menanggulangi penumpukan sampah di TPS

11.3.1 Pemasyarakatan Teknik Pengolahan Limbah Padat Domestik/Limbah
Rumah Tangga
Menurut Undang-undang No 18 tahun 2008 definisi sampah adalah sisa

kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat. Menurut ilmu
kesehatan lingkungan sampah hanya sebagian dari benda atau hal-hal lain yang
dipandang tidak dapat digunakan lagi, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus
dibuang sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kelangsungan hidup (Riyaldi,
1986), menurut widyatmoko (2002) sampah rumah tangga adalah sampah yang
berasal dari kegiatan rumah tangga yang terdiri dari berbagai macam jenis sampah

Sedangkan menurut Undang-undang No 18 tahun 2008 sampah rumah tangga
adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tetapi tidak
termasuk tinja dan sampah spesifik (sampah yang mengandung bahan beracun). Oleh

31

karena dalam rumah tangga limbah tersebut biasa disebut dengan sampah maka
biasanya setelah tidak dipakai akan dibuang. Ada berbagai macam cara mebuang
sampah di tempat pembuangan akhir diantaranya :
1. Open dumping, yaitu membuang sampah secara terbuka diatas permukaan tanah
2. Dumping in water, yaitu membuang sampah secara terbuaka diatas air seperti dikali

atau dilaut
3. Burning in premise, yaitu pembakaran sampah di rumah-rumah
4. Sanitary landfill,yaitu suatu cara pembuangan sampah ke tempat-tempat rendah

dam ditutupi

11.3.2 Pengolahan Limbah Padat
Limbah padat merupakan limbah yang paling banyak diproduksi oleh

manusia. hal ini karena sebagian besar barang yang digunakan olah manusia adalah
berbentuk fisik, sehingga ketika barang tersebut sudah dihabiskan nilai gunanya, yang
tertinggal hanyalah suatu bentuk fisik pula. Limbah padat ini juga sering dikenal
sebagai sampah. Keberadaan limbah padat ini dapat diolah dengan berbagai cara.
Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai bentuk pengolahan limbah padat
antara lain sebagai berikut :
1. Penimbunan Terbuka

Solusi atau pengolahan pertama yang bisa dilakukan pada limbah padat adalah
penimbunan terbuka. Limbah padat dibagi menjadi organik dan juga non organik.
Limbah padat organik akan lebih baik ditimbun, karena akan diuraikan oleh
organisme- organisme pengurai sehingga akan membuat tanah menjadi lebih
subur.

2. Sanitary landfill
Sanitary landfill ini menggunakan lubang yang sudah dilapisi tanah liat dan juga
plastik untuk mencegah pembesaran di tanah dan gas metana yang terbentuk dapat
digunakan untuk menghasilkan listrik.

3. Insenerasi
Hasil panas digunakan untuk listrik atau pemanas ruangan.

4. Membuat kompos padat
Seperti halnya penimbunan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
bahwasannya limbah padat yang bersifat organik akan lebih bermanfaat apabila

32

dibuat menjadi kompos. Kompos ini bisa dijadikan sebagai usaha masyarakat
yang sangat bermanfaat bagi banyak orang.
5. Dibakar
Pembakaran limbah padat atau sampah juga bisa digunakan sebagai salah satu
alternatif untuk mengatasi adanya limbah padat yang sangat banyak. Biasanya,
sampah- sampah rumah tangga akan dikumpulkan di sebuah bank sampah atau
tempat pembuangan sampah. Apabila sampah yang terkumpul tidak terlalu
banyak, maka pembakaran ini bisa saja dilakukan. Namun perlu kita ingat juga
bahwasannya apabila kita membakar sampah, maka hal itu akan membuat udara
yang ada di sekitar kita menjadi tercemar. Jika udara sudah tercemar maka kita
akan merasakan sesak di bagian nafas dan hidung akan terasa sakit apabila
menghirup udara.
6. Daur ulang
Limbah padat yang bersifat non organik bisa dipilah- pilah kembali. Limbah padat
yang masih bisa diproses kembali bisa di daur ulang menjadi barang yang baru
atau dibuat barang lain yang bermanfaat atau bernilai jual tinggi. Sebagai contoh
adalah kerajinan dari barang- barang bekas.

33

BAB XII
SISTEM PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA

12.1 LATAR BELAKANG
Pencemaran udara merupakan salah satu bagian dari pencemaran lingkungan fisik.

Pencemaran lingkungan fisik yang lain adalah pencemaran air dan tanah. Udara merupakan
kebutuhan yang paling utama untuk kehidupan makhluk di bumi. Metabolisme di dalam
tubuh makhluk hidup tak mungkin berlangsung tanpa oksigen yang berasal dari udara.
Setiap orang dewasa memerlukan pergantian udara paling sedikit 33 m3 /jam1, akan tetapi
kebutuhan oksigen yang diperoleh dari udara perkotaan, sering tercampur dengan berbagai
bahan pencemar. Diantara bahan pencemar udara yang paling banyak dijumpai pada udara
perkotaan, khususnya yang berasal dari sektor transportasi adalah Pb dan CO.

Selain oksigen, didalam udara terdapat beberapa unsur lain. Dalam keadaan normal,
komposisi unsur-unsur yang ada di dalam udara itu tidak menimbulkan gangguan apapun
bagi makhluk hidup atau benda-benda lain. Dalam batas-batas tertentu pencemaran akan
dinetralisir secara alamiah, sehingga tidak sampai menimbulkan gangguan. Tetapi bila
pencemaran tersebut berlebihan, maka proses alamiah tersebut tak mampu lagi menetralisir
bahan pencemar untuk menjadikan udara yang dikonsumsi menjadi bersih kembali

Bumi dan udara sekitarnya seberat 5,5 x 1015 ton dapat disamakan dengan sebuah
bola raksasa yang tertutup lapisan ozon. Sistem penunjang hidup tergantung pada jumlah
penumpangnya, persediaan air, udara, dan makanan serta keadaan lingkungan.
Kenyataannya adalah pollutan gas 13,4 x 109 ton2 per tahun sedang diproduksi dalam bola
raksasa tersebut sebagai akibat kemajuan peradaban manusia itu sendiri. Walaupun manusia
tidak akan segera kehabisan udara bersih tetapi yang pasti adalah manusia akan bernafas
selama puluhan tahun dalam udara yang tercemar, terutama bagi mereka yang hidup di
negara industri maju dan di kota-kota besar.

12.2 TINJAUAN PUSTAKA
12.2.1 Pengertian Pencemaran Udara
Menurut UU No. 32 tahun 2009, pencemaran lingkungan hidup adalah masuk
atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam

34

lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan
hidup yang telah ditetapkan.

Menurut Salim yang dikutip oleh Utami (2005) pencemaran udara diartikan
sebagai keadaan atmosfir, dimana satu atau lebih bahan-bahan polusi yang jumlah dan
konsentrasinya dapat membahayakan kesehatan mahluk hidup, merusak properti,
mengurangi kenyamanan di udara. Berdasarkan definisi ini maka segala bahan padat,
gas dan cair yang ada di udara yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman disebut
polutan udara.

Sedangkan menurut Mukono (2006), yang dimaksud pencemaran udara adalah
bertambahnya bahan atau substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal
yang mencapai sejumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi oleh manusia (atau yang
dapat dihitung dan diukur) serta dapat memberikan efek pada manusia, binatang,
vegetasi dan material karena ulah manusia (man made).

Jadi, pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur
berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan
lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas
lingkungan.

12.2.2 Klasifikasi Bahan Pencemar Udara
Banyak faktor yang dapat menyebabkan pencemaran udara, diantaranya

pencemaran yang ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia
atau kombinasi keduanya. Pencemaran udara dapat mengakibatkan dampak
pencemaran udara bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global atau tidak
langsung dalam kurun waktu lama.

Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder :
1. Polutan Primer

Polutan primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber
pencemaran udara atau polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu,
dan dapat berupa :
a) Polutan Gas terdiri dari :

- Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan karbon
oksida (CO atau CO2) karena ia merupakan hasil dari pembakaran

- Senyawa sulfur, yaitu oksida.

35

- Senyawa halogen, yaitu flour, klorin, hydrogen klorida, hidrokarbon
terklorinasi, dan bromin.

b) Partikel
Partikel yang di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat berupa
zat padat maupun suspense aerosol cair sulfur di atmosfer. Bahan partikel
tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses (misalnya proses
menyemprot/ spraying) maupun proses erosi bahan tertentu.

2. Polutan Sekunder
Polutan sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-
pencemar primer di atmosfer sekunder biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau
lebih bahan kimia di udara, misalnya reaksi foto kimia. Sebagai contoh adalah
disosiasi NO2 yang menghasilkan NO dan O radikal.

12.2.3 Zat-Zat Pencemaran Udara
Ada beberapa polutan yang dapat menyebabkan pencemaran udara, antara lain:

Karbon monoksida, Nitrogen dioksida, Sulfur dioksida, Partikulat, Hidrokarbon, CFC,
Timbal dan Karbondioksida.
1. Karbon monoksida (CO)

Gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun. Dihasilkan dari
pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil, misalnya gas buangan kendaraan
bermotor
2. Nitrogen dioksida (NO2)
Gas yang paling beracun. Dihasilkan dari pembakaran batu bara di pabrik,
pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan bermotor.
3. Sulfur dioksida (SO2)
Gas yang berbau tajam, tidak berwarna dan tidak bersifat korosi. Dihasilkan dari
pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur terutama batubara. Batubara ini
biasanya digunakan sebagai bahan bakar pabrik dan pembangkit tenaga listrik.
4. Partikulat (asap atau jelaga)
Polutan udara yang paling jelas terlihat dan paling berbahaya. Dihasilkan dari
cerobong pabrik berupa asap hitam tebal.

36

12.2.4 Penyebab Pencemaran Udara
Pembangunan yang berkembang pesat dewasa ini, khususnya dalam industri

dan teknologi, serta meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menggunakan
bahan bakar fosil (minyak) menyebabkan udara yang kita hirup di sekitar kita menjadi
tercemar oleh gas-gas buangan hasil pembakaran.
Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu :
1. Karena faktor internal (secara alamiah), contoh :

- Debu yang beterbangan akibat tiupan angin.
- Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gas-gas

vulkanik
- Proses pembusukan sampah organik, dll
2. Karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh:
- Hasil pembakar bahan bakar fosil.
- Debu/serbuk dari kegiatan industry
- Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara

12.2.5 Dampak Pencemaran Udara
1. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Lingkungan

Pencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan alam, antara
lain: hujan asam, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global
- Hujan Asam

Istilah hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia
menulis tentang polusi industri di Inggris. Hujan asam adalah hujan yang
memiliki kandungan pH (derajat keasaman) kurang dari 5,6. Pencemar udara
seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan
menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
- Mempengaruhi kualitas air permukaan
- Merusak tanaman
- Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga

mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
- Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan

37

- Penipisan Lapisan Ozon
Ozon (O3) adalah senyawa kimia yang memiliki 3 ikatan yang tidak stabil. Di
atmosfer, ozon terbentuk secara alami dan terletak di lapisan stratosfer pada
ketinggian 15-60 km di atas permukaan bumi. Fungsi dari lapisan ini adalah
untuk melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang dipancarkan sinar
matahari dan berbahaya bagi kehidupan.
Namun, zat kimia buatan manusia yang disebut sebagai ODS (Ozone Depleting
Substances) atau BPO (Bahan Perusak Ozon) ternyata mampu merusak lapisan
ozon sehingga akhirnya lapisan ozon menipis. Hal ini dapat terjadi karena zat
kimia buatantersebut dapat membebaskan atom klorida (Cl) yang akan
mempercepat lepasnya ikatan O3menjadi O2. Lapisan ozon yang berkurang
disebut sebagai lubang ozon (ozone hole).

- Pemanasan Global
Kadar CO2 yang tinggi di lapisan atmosfer dapat menghalangi pantulan panas
dari bumi ke atmosfer sehingga permukaan bumi menjadi lebih panas. Peristiwa
ini disebut dengan efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca ini
mempengaruhi terjadinya kenaikan suhu udara di bumi (pemanasan global).
Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata di seluruh dunia dan
menimbulkan dampak berupa berubahnya pola iklim.
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan
N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang
dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam
lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.
Dampak dari pemanasan global adalah :
- Pencairan es di kutub
- Perubahan iklim regional dan global
- Perubahan siklus hidup flora dan fauna

2. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Manusia
- Karbon Monoksida (CO)
Mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke jaringan tubuh
terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa; rasa sakit
pada dada, nafas pendek, sakit kepala, mual, menurunnya pendengaran dan
penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi

38

lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO),
dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.
- Nitrogen dioksida (SO2)
Dapat menyebabkan timbulnya serangan asma.
- Hidrokarbon (HC)
Menyebabkan kerusakan otak, otot dan jantung.
- Chlorofluorocarbon (CFC)
Menyebabkan melanoma (kanker kulit) khususnya bagi orang-orang berkulit
terang, katarak dan melemahnya sistem daya tahan tubuh
- Timbal (Pb)
Menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental serta
mempengaruhi kecerdasan otak.
- Ozon (O3)
Menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan
memperkecil paru-paru.
- NOx
Menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung.

3. Dampak Pencemaran Udara Bagi Kehidupan Hewan
- Penipisan Lapisan Ozon
Menimbulkan kanker mata pada sapi, terganggunya atau bahkan putusnya
rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena penurunan
jumlah fitoplankton.
- Pemanasan Global
Penurunan hasil panen perikanan. Selain membawa dampak negatif pada
kehidupan hewan, pencemaran udara juga mampu merusakkan bangunan dan
candi-candi. Iklim dunia yang berubah polanya mengakibatkan timbulnya
kemarau panjang, bencana alam dan naiknya permukaan laut. Kemarau panjang
memicu terjadinya kebakaran hutan dan menurunnya produksi panen, bencana
alam (banjir, gempa, tsunami) banyak terjadi dan permukaan laut yang
meninggi akan mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan daerah-
daerah pesisir pantai.

39

- Hujan Asam

Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air terganggu.

4. Dampak Pencemaran Udara Bagi Tumbuhan
- Hujan Asam
Merusak kehidupan ekosistem perairan, menghancurkan jaringan tumbuhan
(karena memindahkan zat hara di daun dan menghalangi pengambilan
Nitrogen) dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
- Penipisan Lapisan Ozon
Merusak tanaman, mengurangi hasil panen (produksi bahan makanan, seperti
beras, jagung dan kedelai), penurunan jumlah fitoplankton yang merupakan
produsen bagi rantai makanan di laut.
- Pemanasan Global
Penurunan hasil panen pertanian dan perubahan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati dapat berubah karena kemampuan setiap jenis
tumbuhan untuk bertahan hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
- Gas CFC
Mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di laut punah, terjadi
mutasi genetik (perubahan sifat organisme).

12.2.6 Pencegahan Pencemaran Udara
Pencegahan yang ditempuh terhadap pencemaran udara tergantung dari sifat

dan sumber polutannya. Pencegahan yang paling sederhana dan mudah dilakukan
yaitu menggunakan masker sebagai pelindung untuk menghindari terjadinya
gangguan kesehatan

Tindakan yang dilakukan untuk mencegah pencemaran udara seperti
mengurangi polutan, bahan yang mengakibatkan polusi dengan peralatan, mengubah
polutan, melarutkan polutan, dan mendispersikan-menguraikan polutan.
1. Mencegah Pencemaran Udara Berbentuk Gas

- Adsorbsi
Adsorbsi merupakan proses melekatnya molekul polutan atau ion pada
permukaan zat padat-adsorben-seperti karbon aktif dan silikat. Adsorben
mempunyai sifat dapat menyerap zat lain sehingga menempel pada

40

permukaannya tanpa reaksi kimia serta memiliki daya kejenuhan yang bersifat
disposal (sekali pakai buang) atau dibersihkan dulu, kemudian digunakan lagi.
- Absorbsi
Absorbsi merupakan proses penyerapan yang memerlukan solven yang baik
untuk memisahkan polutan gas dengan konsentrasinya. Metoe absorbs ini pada
prinsipnya hampir sama dengan metode adsorbsi, hanya bedanya bahwa emisi
hidrokarbon mengalami kontak dengan cairan di mana hidrokarbon akan larut
atau tersuspensi.
- Kondensasi
Kondensasi merupakan proses perubahan uap air atau bendda gas menjadi benda
cair pada suhu udara di bawah titik embun. Polutan gas diarahkan mencapai titik
kondensasi tinggi dan titik penguapan yang rendah, seperti hidrokarbon dan gas
organic lainnya.
- Pembakaran
Pembakaran merupakan proses untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang
terdapat di dalam polutan dengan mempergunakan proses oksidasi panas yang
d isebut inceneration. Iceneration merupakan salah satu metode dalam pengolahan
limbah padat dengan menggunakan pembakaran yang menghasilkan gas dan
residu pembakaran.

2. Mencegah pencemaran udara berbentuk partikel
- Filter
Filter udara dimaksudkan untuk menangkap debu atau polutan partikel yang
ikut keluar pada cerobong atau stack pada permukaan filter, agar tidak ikut
terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih saja yang keluar dari
cerobong. Penggunaan filter udara seharusnya disesuaikan dengan sifat gas
buangan yang keluar seperti berdebu banyak, besifat asam, bersifat alkalis dan
sebagainya. Beberapa contoh jenis filter yang banyak digunakan seperti cotton,
nylon, orlon, dacron, fiberglass, polypropylene, wool, nomex, tefloyn.
- Filter Basah
Cara kerja filter basah atau scrubbers/wat collectors adalah membersihkan
udara kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangakan
udara yang kotor dari bagian bawah alat.

41

- Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik dapat digunakan untuk membersihkan udara
kotor dalam jumlah yang relative besar. Alat ini menggunakan arus searah
(DC) yang mempunyai tegangan antara 25-100 kv, berupa tabung silinder di
mana dindingnya diberi muatan positif sedangkan di tengah ada sebuah kawat
yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding silinder, diberi muatan
negative.

- Program Penghijauan
Tumbuh-tumbuhan menyerap hasil pencemaran udara berupa karbon dioksida
(CO2) dan melepaskan oksigen (O2). Tumbuh-tumbuhan akan menghisap dan
mengurangi polutan, dengan melepaskan gas oksigen maka akan mengurangi
jumlah polutan di udara.

12.2.7 Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara
Upaya penanggulangan dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif)

yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif yang dilakukan
sesudah terjadinya pencemaran.
1. Usaha Preventif (sebelum pencemaran)

- Mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan.
- Mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan

masyarakat.
- Mewajibkan dilakukannya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

bagi industri atau usaha yang menghasilkan limbah.
- Tidak membakar sampah di pekarangan rumah.
- Tidak menggunakan kulkas yang memakai CFC (freon) dan membatasi

penggunaan AC dalam kehidupan sehari-hari.
- Tidak merokok di dalam ruangan.
- Menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot.
- Ikut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan.

2. Usaha kuratif (sesudah pencemaran)
Bila telah terjadi dampak dari pencemaran udara, maka perlu dilakukan beberapa
usahauntuk memperbaiki keadaan lingkungan, dengan cara :

42

- Menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran
lingkungan.

- Kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansiinstansi untuk membersihkan
lingkungan dari polutan.

- Melokalisasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sebagai tempat/pabrik
daur ulang.

- Menggunakan penyaring pada cerobong di kilang minyak atau pabrik yang
menghasilkan asap atau jelaga penyebab pencemaran udara.

- Mengidentifikasi dan menganalisa serta menemukan alat atau teknologi tepat
guna yang berwawasan lingkungan setelah adanya musibah/kejadian akibat
pencemaran udara, misalnya menemukan bahan bakar dengan kandungan
timbal yang rendah (BBG).

-

43

BAB XIII
UKL DAN UPL

13.1 LATAR BELAKANG

Upaya Pengelolaan Lingkungan hidup (UPL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).

Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) wajib melakukan UKL dan UPL, yang
proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (PP Nomor 27 Tahun 1999).

Pemrakarsa kegiatan adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas
suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dimana pemrakarsa bisa
berupa intansi pemerintah, maupun swasta. Sedangkan Instansi yang berwenang adalah
instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan.

Dokumen UKL dan UPL memberikan gambaran tentang jenis rencana atau kegiatan
yang dilaksanakan berikut dengan identitas pemrakarsa kegiatan, kondisi rona lingkungan
hidup awal, dampak-dampak yang akan terjadi, serta bentuk pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup yang sistematis dan implementatif. Dokumen ini dijadikan sebagai dasar
dan acuan bagi pemrakarsa dalam mengantisipasi, menghindari, mencegah, serta
menanggulangi dampak negatif yang mungkin muncul terhadap lingkungan hidup.

13.2 TINJAUAN PUSTAKA
13.2.1 Pengerian UKL dan UPL
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak
wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86
tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup)

44

Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan
upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan. Kewajiban UKL-
UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan
dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia. UKL-UPL
merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan
dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha dan atau kegiatan.

13.2.2 Proses UKL Dan UPL
Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi

dengan menggunakan formulir isian yang berisi :
1) Identitas pemrakarsa
2) Rencana Usaha dan/atau kegiatan
3) Dampak Lingkungan yang akan terjadi
4) Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
5) Tanda tangan dan cap

Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :
1) Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup

Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah kabupaten/kota
2) Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup

Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota
3) Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup

dan pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari
satu propinsi atau lintas batas Negara

13.2.3 Manfaat UKL dan UPL
Tujuan dan kegunaan penyusunan UKL dan UPL Pembangunan Gudang

Furniture adalah sebagai berikut :
a) Tujuan Penyusunan UKL dan UPL

- Untuk mengidentifikasi kegiatan dan dampak yang ditimbulkannya terhadap
lingkungan hidup.

- Untuk mengetahui kondisi lingkungan di sekitar usaha dan atau kegiatan.
- Merumuskan langkah-langkah dalam melakukan pencegahan,

penanggulangan dan pengendalian dampak negatif yang terjadi akibat
kegiatan pergudangan tersebut.

45


Click to View FlipBook Version