The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan pedoman untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif terkhusus kepada jenjang pra-sekolah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mediotepum, 2022-11-26 11:32:56

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF JENJANG PRASEKOLAH

Buku ini berisikan pedoman untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif terkhusus kepada jenjang pra-sekolah

Keywords: Inklusif,prasekolah,pendoman pendidikan inklusif

Kondisi Yang Dialami Saat Ini

Peraturan perundang-undangan menjamin terpenuhinya hak atas
pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Berawal dari hal
tersebut, pemerintah dan masyarakat menyiapkan satuan
pendidikan khusus untuk ABK. Namun satuan pendidikan khusus
tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan Anak
Berkebutuhan Khusus karena jumlahnya terbatas dan terletak di
ibukota kabupaten/kota, sedangkan ABK tersebar di kecamatan
dan desa. Oleh karena itu, diperlukan terobosan yang inovatif,
yaitu menerapkan pendidikan inklusi di sekolah umum yang
diharapkan dapat memberikan pemenuhan hak pendidikan bagi
Anak Berkebutuhan Khusus secara lebih merata dan berkualitas.
Penyelenggaraan pendidikan inklusi di sekolah umum bukan
tanpa hambatan dan tantangan. Secara garis besar, ada tiga
masalah yang dihadapi dalam penerapan pendidikan inklusif,
yaitu: masalah sosial budaya yang meliputi sistem kepercayaan
masyarakat dan orang tua; masalah regulasi, kebijakan teknis,
dan operasional pendidikan Znklusif; serta sistem pendukung
(Suhendri, 2020).

44

Akibatnya, penelitian ini menunjukkan bahwa guru
kontrak secara profesional tidak memadai. Untuk mengatasi
masalah ini, guru kontrak mendapatkan dukungan dari guru tetap,
membaca buku, dan mencari di internet. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa pemerintah harus mendukung guru kontrak
yang mengajar individu berkebutuhan khusus melalui pelatihan
in-service teoritis dan praktis tentang pendidikan khusus. Selain
itu, guru kontrak mengeluhkan perlakuan buruk oleh administrator
sekolah dan orang tua siswa, kelelahan, melakukan pekerjaan ini
karena kebutuhan, dan gaji yang rendah.

Dapat disarankan bahwa pengaturan hukum diperlukan
untuk mengatasi hal-hal negatif tersebut. Terakhir, mengajar
kontrak karena kurangnya jumlah guru yang merupakan lulusan
bidang tersebut. Pemerintah menerapkan praktik ini karena
kurangnya guru yang lulus dari pendidikan khusus. Oleh karena
itu, diperkirakan pengajaran berbayar akan terus berlanjut sampai
ada cukup guru lapangan. Namun, upaya harus dilakukan
mengenai bagaimana memperbaiki situasi yang ada dari para
guru ini (Kasap & Gönüldaş, 2022)

45

46

A. Keberagaman

Peserta DIdik

Keberagaman (diversity) memiliki makna sebagai suatu

kondisi yang menggambarkan adanya perbedaan-perbedaan
dalam berbagai aspek seperti ras, agama, gender, bahasa atau
lainnya. Makna keberagaman juga diartikan sebagai perbedaan
yang terjadi sebagai karakter atau ciri khusus individu.
Keberagaman ini difungsikan untuk membedakan individu
sebagai makhluk hidup dari makhluk hidup lainnya dan
membedakan individu sebagai manusia dari manusia lainnya
(Joko Yuwono, 2021). Peserta didik berkebutuhan khusus
merupakan bagian dari keberagaman peserta didik yang ada di
kelas. Istilah peserta didik berkebutuhan khusus memiliki
cakupan yang sangat luas. Konsep peserta didik berkebutuhan
khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan
pengertian anak luar biasa.Peserta didik berkebutuhan khusus
adalah pesrta didik yang dalam pendidikan memerlukan

47

pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya.
Peserta didik berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan
dalam belajar dan perkembangan.

Oleh sebab itu

Mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan belajar masing-masing anak. Peserta didik
berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai peserta didik yang
memerlukan pendidikan yang disesuiakan dengan kebutuhan
masing-masing peserta didik secara individual (Gunawan.
2016);Munawir dkk, 2017. Cakupan konsep peserta didik
berkebutuhan khusus dapat dikategorikan menjadi dua kelompok
besar yaitu peserta didik berkebutuhan khusus yang bersifat
sementara (temporer) dan peserta didik berkebutuhan khusus
yang bersifat menetap (permanen). Setiap Anak Berkebutuhan
Khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer,
memiliki perkembangan hambatan belajar dan kebutuhan belajar
yang berbeda-beda. Hambatan Belajar yang dialami setiap anak
disebabkan oleh tiga hal yaitu :1) Faktor Lingkungan, 2) Faktor
dalam diri anak sendiri, dan3) Kombinasi antara faktor lingkungan
dan faktor dalam diri anak.

48

T

1. Peserta didik
Berkebutuhan
Khusus
Temporer

Peserta didik berkebutuhan khusus temporer (sementara)
adalah peserta didik yang mengalami hambatan belajar dan
hambatan perkembangan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal.
Misalnya peserta didik yang yang mengalami tekanan
ekonomi/kemiskinan, korban kekerasan seksual, korban bencana
alam, anak yang tinggal di daerah 3T, suku terasing, korban
bencana alam/sosial, anak terlantar, anak jalanan, anak terbuang,
korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),anak yang
terlibat dalam hukum, anak di daerah konflik senjata/perang, dan
anak karena kondisi ekternal lainnya (Joko Yuwono, 2021).

49

2.

Peserta didik
Berkebutuhan Khusus
Permanen

P eserta didik berkebutuhan
khusus yang bersifat
permanen adalah peserta
didik yang mengalami hambatan
belajar dan hambatan
perkembangan yang bersifat
internal , terjadi sejak lahir dan
akibat langsung dari kondisi disabilitas, yaitu seperti peserta didik
dengan hambatan penglihatan, pendengaran, intelektual,
hambatan fisik, ADHD, Autistic syndrome, dsb (Gunawan, D &
Rosyani E, 2016; Munawir dkk, 2017) . Peserta didik
berkebutuhan khusus yang sifatnya permanen, memerlukan
layanan pendidikan khusus atau intervensi yang sesuai agar
mereka dapat berkembang optimal. Anak Berkebutuhan Khusus
dikelompokkan menjadi anak berkebutuhan khusus temporer

50

danpermanen (Gunawan, D & Rosyani E, 2016). Anak
Berkebutuhan Khusus permanen meliputi :

a. Anak dengan gangguan Penglihatan (Tunanetra)

Anak dengan gangguan penglihatan (Tunanetra)

adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatan
sedemikian rupa, sehingga membutuhkan layanan khusus dalam
pendidikan maupun kehidupannya (Gunawan, D & Rosyani E,
2016). Seseorang disebut tunanetra apaila setekah diukur
ketajaman pengelihatannya menghasilkan 20/200 feet atau
kurang dari itu, dan atau memiliki lapang pandang kurang dari 20
derajat.Munawir dkk, 2017). Berdasarkan ketajaman
pengelihatannya tunanetra dapat dibedakan menjadi dua yaitu
anak yang buta total (totally blind) dan anak kurang lihat

51

keduanya memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda serta
membutuhkan layanan belajar yang berbeda pula. Layanan
khusus dalam pendidikan bagi mereka, yaitu dalam membaca
menulis dan berhitung diperlukan huruf BRAILLE bagi yang buta,
dan bagi yang sedikit penglihatan diperlukan kaca pembesar atau
huruf cetak yang besar, media yang dapat diraba dan didengar
atau diperbesar.

Untuk
mengenali mereka

kita dapat melihat ciri-ciri sebagai berikut:

>>

52

Berdasarkan ukuran ketajaman

(Direktorat PSLB, 2006) menyatakan ahwa gangguan penglihatan,
tunanetra dapat dikelompokkan:

1) Berdasarkan ukuran ketajaman penglihatan, anak

tunanetra dapat dibagi menjadi:

a) Mampu melihat dengan ketajaman penglihatan (acuity)

20/70 artinya anak tunanetra melihat dari jarak 20 feet
sedangkan orang normal dari jarak 70 feet. Mereka
digolongkan ke dalam low vision (keterbatasan
penglihatan)

b) Mampu membaca hurup E paling besar di Snellen

Chart dari jarak 20 feet [acuity 20/200 – legal blind]
dikategorikan Buta.

53

a) Mengenal bentuk atau objek dari berbagai
jarak.

b) Menghitung jari dari berbagai jarak.
c) Tidak mengenal tangan yang

digerakan.

a) Mempunyai persepsi cahaya (light perception)
b) Tidak memiliki persepsi cahaya (no light perception)

2) Dalam perspektif Pendidikan,

tunanetra dikelompokan menjadi :
a) Mereka yang mampu membaca

huruf cetak standar.
b) Mampu membaca huruf cetak

standar, tetapi dengan bantuan
kaca pembesar.

54

c) Mampu membaca huruf cetak dalam ukuran besar (ukuran
hurup no. 18).

d) Mampu membaca huruf cetak secara kombinasi, cetakan
reguler, dan cetakan besar.

e) Menggunakan Braille tetapi masih bisa melihat cahaya.

Keterbatasan Anak Tunanetra

1) Keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru
2) Keterbatasan dalam berinteraksi dalam lingkungan
3) Keterbatasan dalam mobilitas
4) Kebutuhan pembelajaran anak tunanetra

55

Karena keterbatasan anak tunanetra seperti tersebut di atas
maka pembelajaran bagi mereka mengacu pada prinsip-prinsip
sebagai berikut:

Media belajar anak tunanetra

dikelompokkan menjadi dua yaitu :

56

b. Anak dengan

Gangguan Pendengaran (Tunarungu)

Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau
sebagian daya pendengarannya sehingga mengalami
gangguan berkomunikasi secara verbal. Walaupun telah
diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar, mereka
masih tetap memerlukan layanan pendidikan khusus. Ciri – ciri
anak tunarungu adalah sebagai berikut :

>>

57

Kebutuhan Pembelajaran

anak tunarungu

Kebutuhan pembelajaran anak tunarungu secara umum tidak
berbeda dengan anak pada umumnya. Tetapi mereka
memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran antara lain:

1) Tidak mengajak anak untuk berbicara dengan cara

membelakanginya.

2) Anak hendaknya ditempatkankan paling depan, sehingga

memiliki peluang untuk mudah membaca bibir guru.

3) Perhatikan postur anak yang sering memiringkan kepala

untuk mendengarkan

58

4) Dorong anak untuk selalu memperhatikan wajah guru,

bicaralah dengan anak dengan posisi berhadapan dan bila
memungkinkan kepala guru sejajar dengan kepala anak.

5) Guru bicara dengan volume biasa tetapi dengan gerakan

bibirnya yang harus jelas.

c. Anak dengan

Gangguan Intelektual (Tunagrahita)

Intelectual Disability adalah ketidakmampuan yg ditandai dg
keterbatasan yg signifikan dalam fungsi intelektual dan prilaku
adaptif, yang mencakup keterampilan sosial dan kegiatan praktis
sehari2 yang muncul sebelum usia 18 tahun AAIDD (American
Association on Intelectual and Development Disability, 2010).
Dengan demikian mereka memerlukan layanan pendidikan
khusus.Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 3
indikator yaitu :

59

1) Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di
bawah rata-rata,

2) Ketidakmampuan dalam prilaku sosial/adaptif, dan
3) Hambatan prilaku sosial/adaptif terjadi pada usia

perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun.
Tingkat kecerdasan tersebut biasa dikelompokkan ke dalam
beberapa tingkatan sebagai berikut:

Ciri-ciri fisik dan penampilan

Anak tunagrahita

1) Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepal terlalu

kecil/besar

2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia
3) Tidak ada/ kurang sekali perhatiannya terhadap

lingkungan

4) Koordinasi gerak kurang (gerakan sering tidak terkendali)

60

Kebutuhan
Pembelajaran

Anak Tungrahita

Perbedaan tunagrahita dengan anak normal
dalam proses belajar adalah terletak pada
hambatan dan masalah atau karakteristik
belajarnya.

Perbedaan karakteristik belajar anak

tunagrahita dengan anak sebayanya,
anak tunagrahita mengalami masalah
dalam hal yaitu :
a. Tingkat kemahirannya dalam

memecahkan masalah
b. Melakukan generlisasi dan

mentransfer sesuatu yang
baru
c. Minat dan perhatian terhadap
penyelesaian tugas

61

Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat

yang menetap pada anggota gerak (tulang,sendi,otot). Mereka
mengalami gangguan gerak karena kelayuhan otot, atau
gangguan fungsi syaraf otak (cerebral palsy) (Munawir, 2017).

Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:

1) Jari tangan kaku dan tidak dapat mengenggam

2) Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak

sempurna/lebih kecil dari biasa.

3) Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak

lentur/tidak terkendali, bergetar)

4) Terdapat cacat pada anggota gerak

5) Anggota gerak layu, kaku, lemah/lumpuh

62

Kebutuhan Pembelajaran

Anak tunadaksa
Guru sebelum memberikan pelayanan dan pembelajaran bagi
anak tunadaksa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Segi Kesehatan Anak

Apakah ia memiliki kelainan khusus seperti kencing manis atau
pernah di operasi, kalau digerakkan sakit sendinya, dan masalah
lain seperti harus meminum obat dan sebagainya.

2) Kemampuan Gerak dan Mobilitas

Apakah anak ke sekolah menggunakan transportasi khusus, alat
bantu gerak, dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan
lingkungan yang harus dipersiapkan.

63

3) Kemampuan Komunikasi

Apakah ada kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi
yang akan digunakan (lisan,tulisan,isyarat) dan sebagainya.
4) Kemampuan dalam Merawat Diri

Apakah anak dapat melakukan perawatan diri dalam aktivitas
sehari-hari atau tidak. Misalnya: dalam berpakaian, makan,
mandi,dan sebagainya.
5) Posisi

Bagaimana posisi anak tersebut pada waktu menggunakan alat
bantu, duduk pada saat menerima pelajaran, waktu istirahat, di
kamar kecil (toilet), saat makan dan sebagainya. Sehingga
caliphs terapis sangat diperlukan

64

e. Anak dengan

Gangguan
Prilaku dan
Emosi

(Tunalaras)

Anak dengan gangguan prilaku (Tunalaras) adalah anak yang
berperilaku menyimpang baik pada taraf sedang, berat, dan
sangat berat, terjadi pada usia dan anak dan remaja, sebagai
akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau
keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun
lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya
memerlukan pelayanan dan pendidikan secara khusus (Gunawan,
D & Rosyani E, 2016). Smith (2004) menyatakan bahwa
gangguan emosi dan prilaku adalah diasabilitas yang dicirikan
sebagai respon prilaku maupun emosi berbeda yang ditunjukkan
dalam manifestasi yang berbeda berdasarkan usia, budaya,
standar norma, dan etika yang berdampak buruk pada masalah
akademis di sekolah.

65

Maslaah akademis termasuk didalamnya adalah masalah sosial,
vokasional dan keterampilan;
1) Permasalahan tersebut tidak bersifat temporer dan

memberikan dampak tekanan pada lingkungan
2) Permasalahan tersebut secara konsisten terjadi minimal

pada dua setting lingkungan yang berbeda (rumah dan
sekolah).
3) Permasalahan tersebut tidak hilang dengan intervensi
pendidikan secara umum.

Ciri - Ciri

Anak Tunalaras

Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan
prilaku) memiliki ciri-ciri:
1) Cenderung membangkang
2) Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah
3) Sering melakukan tindakan agresif, merusak,

mengganggu
4) Sering bertindak melanggar norma sosial/norma

susila/hukum
5) Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering

bolos, jarang masuk sekolah.

66

Kebutuhan Pembelajaran

bagi anak tunalaras yang harus diperhatikan guru antara lain:

1) Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif

(menyenangkan) bagi setiap anak

2) Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan

masalah yang dihadapi oleh setiap anak

3) Perlu adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris

sesuai dengan bakat dan minat anak

4) Perlu adanya pengembangan akhlak atau mental melalui

kegiatan sehari hari, dan contoh dari lingkungan.

67

\

f. Anak

(gifted dan talented)

Anak yang memiliki potensi kecerdasan istimewa (gifted) dan
anak yang memiliki bakat istimewa (talented) adalah anak yang
memilik potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan
tanggung jawab terhadap tugas di atas anak-anak seusianya
(anak normal), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya,
diperlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak cerdas dan
berbakat istimewa disebut sebagai “gifted & talented
children“ Anak cerdas istimewa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1) Membaca pada usia lebih muda, lebih cepat, dan memiliki

perbendaharaan kata yang luas

2) Memiliki rasa ingin tahu yang kuat, minat yang cukup tinggi
3) Mempunyai inisiatif, kreatif, dan original dalam

menunjukkan gagasan

68

4) Mampu memberikan jawaban-jawaban atau alasan yang

logisi, sistematis, dan kritik.

5) Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari

lingkungan

6) Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu yang panjang,

terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati

7) Senang mencoba hal-hal baru

8) Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis

yang tinggi

9) Mempunyai daya dan imajinasi yang kuat

10) Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan

masalah

11) Cepat menangkap hubungan sebab-akibat

12) Tidak cepat puas atas prestasi yang dicapainya

13) Lebih senang bergaul dengan anak yang lebih tua

usianya

14) Dapat menguasai dengan cepat materi pelajaran

15) nak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan

yang tinggi dalam bidang tertentu, misalnya hanya dalam
bidang matematik, ilmu pengetahuan alam, bahasa,
kepemimpinan, kemampuan psikomotor, penampilan seni.

69

g. Anak

Lamban

Belajar
(Slow Learner)

Lamban Belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki
potensi intelektual sedikit dibawah anak normal, tetapi tidak
termasuk anak tunagrahita. Dalam beberapa hal anak ini
mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon
rangsangan dan kemampuan untuk beradaptasi, tetapi lebih baik
disbanding dengan sebayanya. Sehingga mereka memerlukan
layanan pendidikan khusus.

Ciri-ciri

yang dapat diamati pada anak lamban belajar :
1) Rata-rata prestasi belajarnya rendah (kurang dari 6)
2) Menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat

dibandingkan teman-teman seusianya
3) Daya tangkap terhadap pelajaran lambat
4) Pernah tidak naik kelas

70

Anak
Lamban
Belajar

membutuhkan pembelajaran khusus antara lain:

1) Waktu yang lebih lama dibanding anak pada umumnya
2) Ketalentaan dan kesabaran guru untuk tidak terlalu

cepat dalam memberikan penjelasan

3) Memperbanyak latihan dari pada hapalan dan

pemahaman

4) Menuntut digunakannya media pembelajaran yang

variatif oleh guru

5) Diperlukan adanya pengajaran remedial

71

h. Anak

Berkesulitan
Belajar Spesifik

Dalam pelayanan pendidikan di sekolah reguler, sering kali guru
dihadapkan pada siswa yang mengalami problem belajar atau
kesulitan belajar. Salah satu kelompok kecil siswa yang termasuk
dalam klasifikasi tersebut adalah kelompok anak yang
berkesulitan belajar spesifik atau disebut Specific learning
disabilitis. Anak berkesulitan belajar adalah individu yang
mengalami gangguan dalam suatu proses psikologis dasar,
disfungsi sistem syaraf pusat, atau gangguan neurologis yang
dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan nyata dalam ;
pemahaman, gangguan mendengarkan, berbicara, membaca,
mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial.
Kesulitan tersebut bukan bersumber pada sebab-sebab
keterbelakangan mental, gangguan emosi, gangguan
pendengaran, gangguan penglihatan, atau karena kemiskinan,
lingkungan, budaya, ekonomi, ataupun kesalahan mengajar yang
dilakukan guru. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa
kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis
(disgrafia), atau kesulitan belajar

72

Ciri-ciri

anak berkesulitan
belajar spesifik

1) Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia )

a) Kesulitan membedakan bentuk
b) Kemampuan memahami isi bacaan rendah
c) Sering melakukan kesalahan alam membaca

2) Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)

a) Sangat lamban dalam menyalin tulisan
b) Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan

q,
v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan
sebagainya.
c) Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca Sulit
menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris
d) Menulis huruf dengan posisi terbalik (p ditulis q
atau b)

73

3) Anak yang mengalami kesulitan berhitung

(diskalkulia)
 Sulit membedakan tanda-tanda : +, -, x, :, >, <, =

a) Sulit mengoperasikan hitungan atau bilangan
b) Sering salah membilang secara berurutan
c) Sering salah membedakan angka 9 dengan 6;

17 dengan 71; 2 dengan 5; 3 dengan 8 dan
d) sebagainya
e) Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

Kebutuhan Pembelajaran
Anak Berkesulitan belajar khusus

Anak berkesulitan belajar khusus memiliki dimensi kelainan
dalam beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam
merancang dan melaksanakan pembelajaran, diantaranya:
1) Materi pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan

hambatan dan masalah yang dihadapi anak
2) Memerlukan urutan belajar yang sistimatis yaitu dari

pemahaman yang konkrit ke yang abstrak
3) Menggunakan berbagai media pembelajaran yang

sesuai dengan hambatannya
4) Pembelajaran sesuai dengan urutan dan tingkatan

pemahaman anak
5) Pembelajaran remedial

74

i. Anak

Autis

Autis dari kata auto, yang berarti sendiri, dengan demikian
dapat diartikan seorang anak yang hidup dalam dunianya.
Autisme merupakan sebuah hambatan perkembangan yang
dialami seseorang dalam masa pertumbuhan dan
perkembanganya dimana penyandangnya memiliki kekhasan
utama yaitu cenderung mengalami hambatan dalam interaksi,
komunikasi, perilaku sosial (Munawir, 2017). Anak autis memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :

1) Mengalami hambatan di dalam bahasa
2) Kesulitan dalam mengenal dan merespon emosi dengan

isyarat sosial

3) Kelakuan dan miskin dalam mengekspresikan perasaan
4) Kurang memiliki perasaan dan empati
5) Sering berprilaku di luar kontrol dan meledak-ledak
6) Secara menyeluruh mengalami masalah dalam prilaku
7) Kurang memahami akan keberadaan dirinya sendiri
8) Keterbatasan dalam mengekspresikan diri

75

9) Berprilaku monoton dan mengalami kesulitan untuk

beradaptasi dengan lingkungan

Kebutuhan Pembelajaran

bagi anak autis :

1) Diperlukan adanya pengembangan

strategi untuk belajar dalam setting
kelompok

2) Guru perlu mengembangkan

ekspresi dirinya secara verbal
dengan berbagai bantuan

3) Guru terampil mengubah lingkungan

belajar nyaman dan menyenangkan
bagi anak,

Sehingga tingkah laku anak dapat dikendalikan pada hal yang
diharapkan. Hasil penelitian McKinney & Swartz (2022)
menyatakan terdapat perbedaan mencolok antara peserta didik
yang memiliki cacat bawaan dan mereka yang memperoleh
cacat di kemudian hari. Dalam penelitian tersebut, peserta didik
yang terlahir dengan disabilitas tampak telah menerima
disabilitasnya, merasa nyaman dengan pengungkapan
disabilitas kepada staf, pengajar dan sesama teman sebaya,
memahami disabilitasnya, dan secara umum lebih mampu
meminta akomodasi yang mereka butuhkan.

76

B. PENERIMAAN
PESERTA DIDIK

Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merujuk
pada Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan
Teknologi Republik Indonesia nomor 1 tahun 2021 tentang
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Pada Taman Kanak
Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah
Menengah Atas, Dan Sekolah Menengah Kejuruan. Penerimaan
peserta didik baru bertujuan untuk memberi kesempatan yang
seluas-luasnya bagi warga negara usia sekolah agar memperoleh
layanan pendidikan yang sebaik-baiknya. Asas pelaksanaan

PPDB adalah objektif, transparan (terbuka) dan
akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). PPDB dilakukan
tanpa diskriminasi kecuali bagi sekolah yang secara khusus di
rancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau
agama tertentu.Persyaratan untuk Usia Anak Usia Dini
berdasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. Persyaratan
usia dikecualikan untuk calon peserta didik baru penyandang
disabilitas. Jalur pendaftaran PPDB bagi PDBK atau penyandang
disabilitas melalui jalur afirmasi (15% daya tampung sekolah)
termasuk di dalamnya peserta didik dari keluarga tidak mampu.

77

Calon peserta didik yang berdomisili di dalam dan di
luar wilayah zonasi sekolah yang bersangkutan. Seleksi pada
PPDB Jalur Afirmasi dapat dilakukan melalui jalur penerimaan
khusus dan tenggang waktu yang berbeda. Jika penerimaan
PDBK di suatu sekolah sudah terpenuhi (ada sekolah
menggunakan kuota), maka penempatan peserta didik di sekolah
yang35 lain merupakan kewenangan dari daerah yang
bersangkutan. Informasi lebih lanjut mengikuti peraturan daerah
bersangkutan. Mekanisme Pendaftaran dilaksanakan mdengan
melampirkan fotokopi dokumen yang dibutuhkan sesuai dengan
persyaratan dan tetap memperhatikan protokol kesehatan di
masa Pademi Covid-19. Tahapan pelaksanaan PPDB adalah:

1. Pengumuman Pendaftaran
2. Pendaftaran
3. Seleksi sesuai dengan jalur pendaftaran
4. Pengumuman penetapan peserta didik baru
5. Dafter ulang

78

C. IDENTIFIKASI
DAN ASESMEN

1. Identifikasi

Identifikasi merupakan kegiatan awal untuk mengetahui dan
mendikteksi anak berkebutuhan khusus, mengenal atau
menandai sesuatu, yang dimaknai sebagai proses penjaringan
atau proses menemukan anak berkebutuhan khusus apakah
mempunyai kelainan/masalah, atau proses pendektesian dini
terhadap anak berkebutuhan khusus. Pengertian cara/proses
pengamatan, penilaian, pencatatan dan pendokumentasian
secara cermat terus menerus dan sistematis untuk mendapatkan
kesimpulan yang tepat tentang apakah seorang anak mengalami
kelainan/penyimpangan dalam pertumbuhan/perkembangannya
(phisik, intelektual, social, emosional/tingkah laku) dan
perkembangan akademik dibandingkan dengan anak-anak lain
seusianya (anak-anak normal) (Gunawan, 2016).

79

Identifikasi adalah kegiatan permulaan dari rangkaian
pembelajaran untuk menemukenali keberagaman peserta didik.
Identifkasi dilakukan melalui berbagai cara seperti observasi,
wawancara, tes informal dan pemeriksaan dokumen. Secara
umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi
apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (pisik,
intelektual, sosial, emosional). Disebut mengalami
kelainan/penyimpangan tentunya jika dibandingkan dengan anak
lain yang sebaya dengannya. Hasil dari identifkasi akan
dilanjutkan dengan asesment, yang hasilnya akan dijadikan dasar
untuk penyusunan progam pembelajaran sesuai dengan
kemampuan dan ketidakmampuannya. (Direktorat Pendidikan
Sekolah Luar Biasa, 2006)

Identifikasi anak berkebutuhan khusus diperlukan agar
keberadaan mereka dapat diketahui sedini mungkin. Selanjutnya,
program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dapat
diberikan. Pelayanan tersebut dapat berupa penanganan medis,
terapi, dan pelayanan pendidikan dengan tujuan menghimpun
informasi yang lengkap mengenai kondisi dalam rangka
penyusunan program pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhannya sehingga bisa mengembangkan sesuai dengan
potensinya. Secara umum identifikasi adalah untuk menghimpun
data apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan
(phisik, intelektual, social, emosional, dan/atau sensoris
neurologis) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan
dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal), yang
hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program
pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.

80

Dalam rangka mengidentifikasi (menemukan) anak
berkebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai
jenis dan tingkat kelainan anak, diantaranya adalah kelainan fisik,
mental, intelektual, sosial dan emosi. Selain jenis kelainan
tersebut terdapat anak yang memiliki potensi kecerdasan dan
bakat istimewa atau sering disebut sebagai anak yang memiliki
kecerdasan dan bakat luar biasa.

Identifikasi penting dilakukan karena hasilnya
menentukan proses selanjutnya yaitu kegiatan Asesmen.
Identifikasi adalah proses menemukenali apakah di kelas/sekolah
terdapat peserta didik yang memiliki perkembangan,
pertumbuhan atau prestasi akademik (phisik, intelektual, sosial,
emosional, dan/atau sensoris neurologis) yang berbeda secara
mencolok dibanding anak-anak pada umumnya. Guru dapat
mengumpulkan data (screening) dan bersama Dokter dan
Psikolog melakukan evaluasi diagnosis. Hasil identifikasi dapat
digunakan untuk memutuskan apakah seorang anak mungkin
memiliki disabilitas atau berkebutuhan khusus. Selanjutnya, Tim
sekolah memutuskan bahwa seorang anak mungkin memiliki
disabilitas dan membutuhkan pendidikan khusus, tim tersebut
merekomendasikan asesmen untuk menentukan kelayakan dan
mengidentifikasi kebutuhan pendidikan anak tersebut. (Yuwono,
2021).

81

Tujian
Identifikasi

Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk
Menghimpun informasi secara lengkap mengenai kondisi anak
berkebutuhan khusus dalam rangka penyususnn program
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya. Untuk
menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami
kelainan/penyimpangan (fisik, intelektual, sosial, emosional).
Disebut mengalami kelainan/penyimpangan tentunya jika
dibandingkan dengan anak lain yang sebaya dengannya. Hasil
dari identifkasi akan dilanjutkan dengan asesmen, yang hasilnya
akan dijadikan dasar untuk penyusunan progam pembelajaran
sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya Gunawan,
(2016).

82

Dalam rangka pendidikan inklusi, Direktorat Pendidikan
Luar Biasa (2006); Gunawan, (2016) menyatakan bahwa
kegiatan identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus dilakukan untuk
lima keperluan,yaitu:

a. Penjaringan (screning)

Penjaringan dilakukan terhadap semua anak di kelas
dengan alat identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Contoh alat
identifikasi terlampir. Pada tahap ini identifikasi berfungsi
menandai anak-anak mana yang menunjukan gejala-gejala
tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang
mengalami kelainan/penyimpangan tertentu (phisik, intelektual,
social, emosional, dan/atau sensoris neurologis), sehingga
tergolong Anak Berkebutuhan Khusus. Dengan alat identifikasi ini
guru, orangtua, maupun tenaga profesional terkait, dapat
melakukan kegiatan penjaringan secara baik dan hasilnya dapat
digunakan untuk bahan penanganan lebih lanjut.Penjaringan
dilakukan terhadap semua anak pada awal anak mulai masuk
sekolah (kecuali bagi anak yang sudah teridentifikasi sebagai
ABK dan melampirkan hasil identifikasi dari ahli terkait) dengan
alat identifikasi anak berkebutuhan khusus.

b. Pengalihtanganan (referal)

Berdasarkan gejala-gejala yang ditemukan pada tahap
penjaringan, selanjutnya anak – anak dapat dikelompokkan
menjadi 2 kelompok. Pertama, Anak yang melalui proses
identifikasi oleh guru dan ahli terkait (Dokter Mata, Dokter THT,
Psikolog, Dokter Tumbuh Kembang Anak, Dokter Syaraf, Dokter

83

Ortopedi dll) teridentifikasi sebagai Anak Berkebutuhan Khusus.
Kedua, Anak yan perlu dikonsultasikan keahli lain yang terkait
terlebih dulu (referal), kemudian dapatditegakkan sebuah
diagnosis. Proses perujukan anak oleh guru ke tenaga
profesional lain untuk membantu mengatasi masalah anak yang
bersangkutan disebut proses pengalihtanganan (referral).
Bantuan ke tenaga lain yang ada seperti Guru Pembimbing
Khusus (Guru PLB) atau konselor atau ahli terkait lainya.

c. Klasifikasi

Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan
untuk menentukan apakah anak yang telah diidentifikasi oleh
guru dan ahli terkait lainya dapat dikatakan sebagai Anak
Berkebutuhan Khusus dan dapat dilanjutkan ke proses asesmen.
Apabila berdasar hasil identifikasi yang dilakukan oleh guru dan
tenaga profesional lainya ditemukan masalah yang perlu
pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut (misalnya pengobatan,
terapi, latihan latihan khusus, dan sebagainya), maka guru
mengkomunikasikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan.
Jadi guru memfasilitasi dan meneruskan kepada orang tua
tentang kondisi anak yang bersangkutan. Apabila tidak ditemukan
tanda-tanda yang cukup kuat bahwa anak yang bersangkutan
memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan dapat diklasifikasikan
sebagai anak berkebutujan khusus, maka dapat dilanjutkan
proses asesmen.

84

d. Perencanaan pembelajaran

Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk
keperluan penyusunan program pembelajaran. Dasarnya adalah
hasil dari klasifikasi. Setiap jenis dan gradasi (tingkat hambatan )
yang dimiliki Anak Berkebutuhan Khusus memerlukan program
pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Namun demikian
untuk dapat memperoleh informasi yang spesifik terkait potensi
dan hambatan belajar serta program pembelajaran yang
akomodatif pada masing-masing individu berkebutuhan khusus
maka perlu dilakukan proses asesmen.

e. Pemantauan kemajuan belajar

Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui
apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil
atau tidak. Apabila dalam kurun waktu tertentu anak tidak
mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau
kembali. Beberapa hal yang perlu ditelaah apakah diagnosis yang
kita buat tepat atau tidak, begitu pula dengan Program
Pembelajaran Individual (PPI) serta metode pembelajaran yang
digunakan sesuai atau tidak dll. Sebaliknya, apabila intervensi
yang diberikan menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan
maka pemberian layanan atau intervensi diteruskan dan
dikembangkan Dengan lima tujuan khusus diatas, indentifikasi
perlu dilakukan secara terus menerus oleh guru, dan jika perlu
dapat meminta bantuan dan/atau bekerja sama dengan tenaga
professional yang dekat dengan masalah yang dihadapi anak.

85

Sasaran

Indentifikasi

Secara umum sasaran indentifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
adalah seluruh anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar.
Sedangakan secara khusus (operasional), sasaran indentifikasi
Anak Berkebutuhan Khusus adalah:

1. Anak yang sudah bersekolah di Sekolah reguler

2. Anak yang akan masuk ke Sekolah reguler

3. Anak yang belum/tidak bersekolah

Petugas

Indetifikasi

Untuk mengindentifikasi seorang anak apakah tergolong Anak
Berkebutuhan Khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:

1. Guru kelas;

2. Guru Pembimbing Khusus

3. Orang tua anak; dan/atau

4. Tenaga profesional terkait

Jika di sekolah sudah memiliki Guru Pembimbing
Khusus, maka identifikasi dapat dilakukan oleh GPK. Namun,
apabila sekolah belum memiliki GPK, maka identifikasi dapat

86

dilakukan guru yang ditunjuk/diberikan tugas melakukan
identifikasi misalnya guru kelas, guru mata pelajaran atau guru
dari Bimbingan dan Konseling (BK). Dalam proses identifikasi,
petugas yang melakukan identifikasi membutuhkan informasi
tentang peserta didik dari beberapa pihak. Teknik identifikasi
dapat dilakukan dengan melakukan observasi selama kegiatan
belajar, wawancara dengan guru lain atau orang tua dan
melakukan tes informal selama kegiatan belajar serta dokumen
tentang peserta didik yang ada.

Pelaksanaan

Indetifikasi

Untuk anak-anak yang sudah masuk dan menjadi siswa di
sekolah, indentifikasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut :

1. Menghimpun Data Anak
Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi
seluruh siswa di kelas (berdasarkan gejala yang nampak
pada siswa) dengan menggunakan Alat Indentifikasi Anak
Berkebutahan Khusus (AIALB). Lihat Format terlampir.

87

2. Menganalisis Data dan Mengklasifikasikan Anak

Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan anak-
anak yang tergolong Anak Berkebutuhan Khusus (yang
memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar
nama anak yang diindikasikan berkelainan sesuai dengan
ciri-ciri. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut
atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut,
maka dimasukan ke dalam daftar nama-nama anak yang
berindikasi kelainan sesuai dengan format khusus yang
disediakan seperti terlampir (Lihat Format ). Sedangkan
untuk anak-anak yang tidak menunjukan gejala atau tanda-
tanda berkelainan, tidak perlu dimasukan kedalam daftar
khusus tersebut.

3. Menginformasikan Hasil Analisis dan Klasifikasi

Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah
dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah, orang tua
siswa, dewan komite sekolah untuk mendapatkan saran-
saran pemecahan atau tindak lanjutnya.

4. Menyelenggarakan Pembahasan Kasus
(case conference)

Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasikan oleh Kepala
Sekolah setelah data Anak Berkebutuhan Khusus
terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat
melibatkan: (1) Kepala Sekolah sendiri; (2) Dewan Guru; (3)
orang tua/wali siswa; (4) tenaga professional terkait, jika
tersedia dan memungkinkan; (5) Guru Pembimbing Khusus
(Guru PLB) jika tersedia dan memungkinkan. Materi

88

pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari
masing-masing guru mengenai hasil indentifikasi untuk
mendapatkan tanggapan dan cara-cara pencegahan serta
penanggulangannya.
5. Menyusun Laporan Hasil Pembahasan Kasus
Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan
masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam
laporan hasil pertemuan kasus.

Tindak
Lanjut

Kegiatan
Indentifikasi

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan indentifikasi anak berkelaian
untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai,
maka dilakukan tindak lanjut sebagia berupa assesment.
Tahapan dari pelaksanaan dapat dilihat seperti pada bagan
tahapan disamping.

89

Gambar 3.1: Tahapan Pelaksanaan Identifikasi

90

2. Assesmen

Identifikasi dan asesmen adalah dua istilah
yang sangat berdekatan dan sulit dipisahkan. Apabila
seseorang akan melaksanakan asesmen, maka terlebih
dahulu ia harus melaksanakan identifikasi. Hal ini merujuk
pada pendapat Lewis dan Doorlag (1989) dalam Gunawan,
(2016) yang menyatakan bahwa identifikasi merupakan
kegiatan awal yang mendahului asesmen.

Tjutju Soendari dan Euis Nani (2011) Asesmen
merupakan proses pengumpulan data/informasi secara
sistematis dan komprehensif tentang potensi individu yang
digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menyusun
program dan memberikan layanan intervensi/pembelajaran
setepat mungkin bagi perkembangan individu yang
bersangkutan secara optimal. Jadi Asesmen Anak
Berkebutuhan Khusus adalah suatu proses pengumpulan
informasi tentang anak secara menyeluruh yang berkenaan
dengan kondisi dan karakteristik peserta didik, kemampuan,
hambatan dan potensi yang dimiliki serta kebutuhannya
sebagai dasar dalam penyusunan program dan pelaksanaan
pembelajaran.

91

Tujuan
Asesmen

Secara umum asesmen bertujuan untuk menganalisis keadaan
siswa atau anak didik dalam rangka mengumpulkan informasi
tentang kelemahan dan keunggulan atau kekuatan yang dimiliki
sisa sebagai upaya untuk mempersiapkan pembuatan program
dan materi pelajaran agar sesuai dengan kebutuhan siswa.
Sesuai dengan tujuan umum tersebut, asesmen mempunyai
tujuan yangspesifik yang dapat diklasifikasi sebagai berikut
( Sunaryo & Sunardi, 2006 dalam Tjutju Soendari dan Euis Nani
(2011):

a. Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dna

komperhensif tentang kondisi anak saat ini.

b. Mengetahui profil anak secara utuh, terutama

permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi,
dan kebutuhan belajar serta dukungan lingkungan yang
dibutuhkan.

c. Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka

memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor
kemajuany

92

Sasaran
Asesmen

Sasaran adalah semua peserta didik yang pada fase identifikasi
telah ditetapkan sebagai peserta didik disabilitas atau
berkebutuhan khusus. Pelaksana Pelaksanaan asesmen dapat
dilakukan oleh guru untuk pembuatan dan penentuan program
layanan yang akan diberikan. Pelaksanaan asesmen kepada
PDBK sangat mungkin melibatkan ahli lain seperti Psikolog,
Dokter, atau terapis jika dibutuhkan dan memungkinkan dilakukan
(ketersediaan sumber daya)

Ruang Lingkup
Asesmen

a. Asesmen Akademik

Asesmen akademik adalah suatu proses untuk mengetahui
kondisi/kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK)
dalam bidang akademik. Bagi PDBK pada jenjang sekolah dasar
kemampuan akademik yang perlu digali terkait dengan
kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau dapat
menggunakan dasar bidang studi/mata pelajaran.

b. Asesmen Perkembangan

Asesmen perkembangan merupakan suatu proses untuk
mengetahui kondisi perkembangan PDBK yang terkait dengan
perkembangan kognitif dasar, perkembangan persepsi (persepsi

93


Click to View FlipBook Version