The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan pedoman untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif terkhusus kepada jenjang pra-sekolah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mediotepum, 2022-11-26 11:32:56

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF JENJANG PRASEKOLAH

Buku ini berisikan pedoman untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif terkhusus kepada jenjang pra-sekolah

Keywords: Inklusif,prasekolah,pendoman pendidikan inklusif

visual dan auditori), atensi, memori, perilaku adaptif, bahasa dan
komunikasi, motorik, sosial dan emosi yang sangat bermanfaat
dalam mempertimbangkan penggunaan metode, strategi maupun
pemilihan alat bantu yang tepat baik dalam penyusunan
perencanaan pembelajaran (akademik) maupun dalam
penyusunan program kebutuhan khusus. Pada anak jenjang
prasekolah assesmen dilakuan pada lingkup perkembangan.

Teknik

Asesmen

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan
assesmen (A. Favely, 1986 dalam Tjutju Soendari, 2011):

a. Kapan Asesmen Dilakukan?

Asesmen seyogyanya dilakukan secara terus menerus
(kontinue dan berkesinambungan) agar dapat ditentukan
program pembelajaran yang sesuai kebutuhan belajar ABK.
Oleh karena itu asesmen dilakuna sebelum, saat, dan setelah
intervensi/pembelajaran dilakukan sehingga terjadi asesmen
dinamis (Dynamic Assesment). dengan demikian asseement
dapat memfasilitasi belajar anak dan keterampilan yang
diperoleh dari hasil belajara anak menjadi fungsional karena

94

sesuai dnegan kemampuan, kebutuhan dan kesulitan yang
dihadapi.

b. Dimana asesmen dilakukan?

Assesmen hendaknya dilakukan dalam situasi alamiah.
Proses assesmen dalam situasi alamiah sangat penting untuk
mendapatkan data yang sebenar-benarnya mengenai ABK
yang bersangkutan.

c. Bagaimana Asesmen Dilakukan?

Beberapa teknik dapat dilakukan dalam melakukan assesmen
baik dengan teknik tes dan non tes (obervasi, wawancara,
Riwayat kasus, Analisis sampel kerja, inventori dll). Tes
merupakan serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain
yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu
atau kelompok (Webster’s Collegiate dalam Tjutju Soendari,
2011). 43

95

Observasi

Observation

Observasi merupakan pengamatan terhadap suatu
objek, gejala, peristiwa, atau proses yang terjadi pada manusia
atau pada lingkunganya. Observasi merupakan suatu proses
yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses
biologis dna psikologis (Sutrisno Hadi 1986 dalam Sugiyono,
2018).

96

1. Observasi Partisipatif

Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati
apa yang dilakukan peserta didik, mendengarkan apa yang
mereka ucapkan dan berpartisipasi dalma aktivitas mereka
(Susan Stainback dalam Sugiyono, 2018). Observasi
partisipasi digolongkan menjadi empat; 1) observasi partisipasi
pasif artinya peneliti datang di di tempat kegiatan orang yang
diamati, tetapi tidak ikut terlibat dlaam kegiatan; 2) observasi
partisipasi moderat yaitu dalam observasi ini terdapat
keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan
orang luar. Peneliti dalam mengumpulakn data ikut observasi
partisipasif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya; 3)
observasi partisipasi aktif yaitu dalam observasi ini peneliti ikut
melakukan apa yang dilakukan oleh narasumber tetapi belum
sepenihnya lengkap; 4) Observasi partisipasi lengkap yaitu
dalam melakukan pengumpulan data peneliti terlibat
sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data.

2. Observasi Terus Terang atau Tersamar

Peneliti dalam mengumpulkan data menyatakan
terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang
melakukan penelitian. Jadi mereka yang sedang diteliti
mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti.
Namun demikian, dalam suatu saat peneliti tidak terus terang
atau tersamar dalam penelitian. Hal ini dilakukan untuk
menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data
yang masih dirahasiakan. Kemungkinan jika dilakukan secara

97

terus terang, maka peneliti tidak akan diizinkan untuk
melakukan observasi.

3. Observasi tak berstruktur

Observasi tidak berstruktur dilakukan jika fokus yang
diteliti belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama
kegiatan observasi . dalam melakukan pengamatan tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, gtetapi hanya
berupa rambu-rambu pengamatan.

Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk

bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat
dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Esterberg,
2002 dalam Sugiyono 2018).

1. Wawancara Terstruktur

Digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila telah
mengetahui dengan pasti tenatang informasi apa yang akan
diperoleh. Dalam melakukan wawancara pengumpul data

98

telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-
pertayaan tertulis.

2. Wawancara Semiterstruktur

Dalam pelaksanaanya lebih bebas dibandingkan dengan
wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara ini untuk
menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana
pihak informan dimintai pendapat, dan ide-idenya.

3. Wawancara Tak Berstruktur

Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas
dimana tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah
tersusun secara sistematis dan lengkap. Pedoman wawancara
yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan
yang akan ditanyakan.

Riwayat

Kasus

Riwayat Kasus adalah kumpulan data mengenai perkembangan
anak, faktor-faktor yang berpengaruh, serta statusnya saat ini.
Data riwayat kasus meliputi; Riwayat Kelahiran, Perkembangan
Motorik, Bahasa, Keluarga, Hubungan Interpersonal dan riwayat
medis. Riwayat kelahiran berkenaan dengan dokumen mengenai
anak (Tjutju Soendari, 2011).

99

Dokumen.

Dokumen merupakan barang-barang tertulis, yaitu setiap bahan
tertulis maupun film yang sering digunakan untuk keperluan
assesmen. Dokumen merupakan cacatan peristiwa yang sudah
berlalu. Ada yang berbentuk primer, skunder, pribadi maupun
resmi/formal (Tjutju Soendari, 2011).

Analisis

Sampel Kerja

Merupakan jenis pengukuran dengan menggunakan sampel
pekerjaan siswa. Misalnya hasil tes, karangan, karya seni, respon
lisan. Tipe atau jenis analisis sampel kerja meliputi; analisis
kesalahan dari suatu pekerjaan atau tugas dan analisis respon
siswa (Tjutju Soendari, 2011).

Angket

Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dnegan
cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis
kepada responden untuk dijawabnya. Kuisioner cocok digunakan
jika responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas
Sugiyono, (2018). Angket dapat dilakukansecara langsung
maupun tidak langsungdengan menggunakan pedoman angket
baik terbuka maupun tertutup.

100

Inventori

Merupakan alat pengumpul data yang sifatnya mengukur
kecenderungan karakteristik perilaku individu. Biasanya
dimaksudkan untuk mengukur sifat, kepribadian, minat, motof
emosi, dll. Inventori memiliki sekala interval sehingga bentuk data
yang diperoleh adalah skor. Beberapa jenis inventori antara
lainskala likert, Thurston dan tipe Edward (Tjutju Soendari, 2011).

d. Bagaimana langkah-langkah
penyusunan instrumen assesmen

Terdapat dua jenis assesmen dilihat dari alat yang
digunakannya, yaitu; Assesmen formal dan Assesment

informal. Assesmen formal memerlukan keahlian tinggi, waktu
yang lama dan biaya yang sangat besar. Instrumen asesmen ini
memiliki validitas dan relaibilitas yang tinggi. Namun demikian
para ahli pendiidkan berkebutuhan khsuus mempercayai bahwa
Assesmen informal merupakan cara yang terbaik untuk
memperoleh informasi tentang Anak Berkebutuhan Khusus.

101

Beberapa langkah yang harus dilakukan guru dalam
menyususn instrumen assesmen informal Macer & Mercer, (1989)
dalam Tjutju Soendari, (2011) yaitu;

1) Memahami dan menentukan
lingkup/urutan keterampilan-keterampilan
yang akan diasseskan.

Merujuk kepada ruang lingkup assesmen dalam
pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, guru seyogyanya
memiliki pemahaman yang komperhensif tentang bidang
yang akan diassesmen. Assesmen akan bermakna jika
guru memahami organisasi materi, jenis keterampilan yang
akan dikembagkan serta tahap-tahap perkembangan anak.
Untuk dapat memahami ruang lingkup ayng akan
diassesmen guru harus mengetahui dasar teor ebagai
landasan. Untuk menetukan ruang lingkup dan juga urutan
keterampilan yang akan diassesmen pada bidang akademik,
guru/ assesor dapat menggunakan kurikulum yang berlaku.

2) Menetapkan aspek apa yang akan diassesmen

Pada tahap ini guru/assesor memilih salah satu
komponen yang diprioritaskan dari semua
komponen/bidang/aspek yang akan diasseskan. Beberapa
langkah yang dapat dilakukan dalam memilih dna
menetapkan perilaku yang akan diassesmen.

102

a. Pilihkah komponen yang diprioritaskan dari semua
komponen/bidang/aspek yang akan diassesmen.
Buatlah batasan secara konseptual tentang wilayah
yang akan diasses dan urutkan komponen. Sub
komponen yang berada pada wilayah tersebut

b. Tentukan subyek yang akan diassesmen.

c. Tetapkan tujuan dilakukanya assesmen.

d. Tentukan teknik yang akan digunakan untuk mencapai
tujuan asessmen yang akan dilakukan.

3) Mengadministrasikan alat/instrumen assesmen

Pada langkah ini, guru/asesseor mennetukan kisi-
kisi instrumen assesmen dari bidang yang dipilih. Yang
terpenting dalam penyusunan kisi-kisi instrumen assesmen
adalah pemahaman secara komperhensif tentang
keterampilan/sub keterampilan yang telah dipilih/ditetapkan
untuk diassesmen, baik konsep/pengertianya maupun
ruang lingkupnya. Komponen yang ada dalm kisi-kisi yaitu;
komponen ketrampilan, sub komponen keterampilan dan
indikator. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan kisi-
kisi yaitu (1) menentukan materi/keterampilan yang akan
diassesmen; (2) mennetukan bentuk soal/tugas dan atau
butir soal yang digunakan; (3) menentukan jumlah
keseluryhan soal/tugas keterampilan dari setiap indikator.
Pegembangan Butir-butir Instrumen Assesmen dilakukan
setelah menyusun kisi-kisi instrumen. Butir soal
dikembangkan berdasarkan indikator yang telah dijabarkan

103

pada kisi-kisi instrumen assesmen. Dalam hal ini
guru/assesor dituntut untuk terampil dalam
mengembangkan instrunen assesmen berupa pertanyaan
atau tugas-tugas yang relevan dengan informasi-informasi
yang akan digali dari peserta didik.

Pertanyaan atau tugas hendaknya diberikan
dalam kalimat yang sederhana, jelas, tidak berbelit-belit
sehingga tidak membingungkan peserta didik yang sedang
diassesmen. Faktor kejelasan sangat penting dan sangat
mempengaruhi cara kerja serta hasil yang diperoleh. Jika
terjadi ketidakjelasan dalam tugas, maka pesertadidik tidak
dapat menampilkan kemampuan ataupun hambatan yang
dimiliki. Ini artinya informasi yang diperoleh tidak relevan,
yang selanjutnya, potensi, hambatan dan kebutuhan
peserta didik tidak dapat diketahui. Beberapa kriteria yang
dapat digunakan yang dapat digunakan dalam
mengembangkan acuan dalam mengembangkan skala
pengukuran (Yusuf, M, 2005 dalam Tjutju Soendari, 2011 )
yaitu; (1) menentukan aspek yang akan diukur; (2)
merumuskan definisi konsep dna definisi oprasional (3)
menetukan indikator dari aspek yang akan diassesmen; (4)
menyusun daftar pertanyaan; (5) mennetukan
teknik/strategi yang akan digunakan.

4) Mencatat hasil assesmen

5) Menetukan tujuan pembelajaran
jangka pendek maupun jangka panjang

104

Prosedur
Asesmen

Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalma melakukan
asesmen yaitu:

a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini guru/ assesor mempersiapkan segala
sesuaitu yang diperlukan dalam melaksanakan assesmen
seperti; instrumen assesmen, media/alat yang digunakan
dalam assesmen, lembar kerja siswa, dan buku catatan.

b. Tahap Pelaksanaan

 Guru/assesor melaksanakan assesmen berdasarkan
instrumen yang sudah dikembangkan

 Guru/assesor melaksanakan assesmen dengan
menggunakan teknik tes maupun non tes.

 Guru/assesor menciptakan lingkungan yang kondusif
sehingga peserta diidk benar-benar siap dan dapat
menampilkan potensi, hambatan dan kebutuhan
belajaranya

105

 Guru/assesor memberikan lembar kerja siswa (jika
menggunakan teknik tes)

 Peserta didik diminta untuk mengisi kolom identitas
terlebihdahulu (jika memungkinkan)

 Peserta diidk diminta untuk menyeleaikan soal. Amati
bagaimana peserta didik menyelsaikan soal. Jika cara
yang dilakukan salah maka assesor dapat menayakan
“mengapa mengerjakan dengan cara demikian” catat
strategi pemecahan masalah yang dilakukan peserta
didik. Jika hasi yang diselesaikan salah, peserta didik
diberikan kesempatan untuk mengerjakan kembali
dengan tahapan semikonkrit yang diawali dengan
penjelasan assesor. Amati apakah peserta diidk dapat
menyelesaikan dengan baik. Lakukan hal demikian
pada setiap soal.

 Catat dan deskripsikan cara kerja peserta didik dalam
menyelsaikan masalah, ada tahap belajar mana ia
dapat menyelesaikan soal dengan baik, catat pula
bentuk kesalahan yang dilakukan serta strategi
penyelesaian masalah dalam menyelesaikan soal.

c. Tahap Analisis

Analisis hasil assesmen merupakan artinya membuat
deskripsi dari hasil jawaban pesrta didik tentang
keterampilan yang diassesmen, menginterpretasikan, dan
membuat kesimpulan. Kesimpulan yang dilakukan berupa
penemuan kemampuan yang dimiliki dan kelemahan yang

106

dimiliki peserta didik. Berdasarkan pada potensi dan
hambatan assesor/guru dapat menentukan kebutuhan
belajar peserta didik. Apakah pesertadidik siap untuk
mengikuti pelajaran atau memerlukan program latihan
keterampilan tertentu. Berdasarkan kesimpulan yang
disusun, guru/assesor membuat rekomendasi.
Rekomendasi disusun dalam rangka penyusunan program
bagi peserta diidk yang bersangkutan. Rekomendasi dapat
ditujukan kepada guru kelas atau guru bidang studi dan
orangtua sebagai tim dalam penyusuna PPI. Selanjutnya
ditentukan tujuan Pembelajaran, Materi keterampilan
tertentu atau pokok bahasan tertentu dalam rangka
menyususn program pembelajaran bagi peserta didik yang
bersangkutan. Adapun langkah- langkah dalam
pelaksanaan assesmen yaitu; (1) mengidentifikasi hasil
kerja peserta didik; (2) mendeskripsikan hasil kerja peerta
didik; (3) membuat kesimpulan hasil analisis; (4) membuat
rekomendasi; (5) merumuskan tujuan pembelajaran.

Langkah-langkah

Asesmen:

1) Menetapkan jenis asesmen yang akan dilakukan (akademik,

non akademik/kekhususan atau perkembangan)

2) Memilih/mengembangkan instrumen asesmen yang tepat

(contoh instrumen terlampir)

107

3) Melakukan asesmen sesuai dengan panduan yang

dipersyaratkan.

4) Melakukan tabulasi, klasifikasi dan analisis hasil asesmen.
5) Melakukan case conference terhadap temuan dan hasil

analisis tersebut, untuk menentukan baseline dan
penetapan Program Pendidikan/Pembelajaran Individual
(PPI) dan perencanaan pembelajaran.

6) Mendokumentasikan semua data hasil asesmen dan

kesepakatan hasil case conference.

Strategi
Pelaksanaan Asesmen

Dibawah ini adalah rangkaian strategi dari pelaksanaan asesmen
pembelajaran kepada anak berkebutuhan khusus (ABK)

108

D. KURIKULUM

Implementasi pembelajaran di Sekolah Penyelenggara
Pendidikan Inklusif (SPPI) tentu harus mempertimbangkan
karakteristik, kemampuan dan hambatan yang dimiliki PDBK
serta kebutuhannya. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran
dibutuhkan adanya akomodasi kurikulum agar proses
pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.

Kurikulum di satuan pendidikan penyelenggara
pendidikan inklusif (SPPPI) adalah kurikulum satuan pendidikan
yang berlaku di satuan pendidikan tersebut. Akomodasi kurikulum
(Lerner & Kline, 2006) adalah adaptasi/penyesuaian dan
modifikasi kurikulum/program pendidikan untuk memenuhi
kebutuhan anak dengan kebutuhan khusus. Torey, (2004) dalam
Yuwono, J (2021) memaknai akomodasi sebagai perubahan yang
dilakukan supaya peserta didik berkebutuhan khusus agar dapat
belajar di ruang kelas reguler/inklusif. Jadi akomodasi dapat
diartikan sebagai perubahan berupa penyesuaian dan modifikasi
yang diberikan untuk peserta didik berkebutuhan khusus sesuai
dengan kondisi dan kebutuhannya. Merujuk pada PP No. 13
tahun 2020, konsep akomodasi kurikulum memuat sub-konsep
penyesuaian dan modifikasi.

109

Penyesuaian atau adaptasi dipahami sebagai
perubahan lingkungan pembelajaran dengan tetap menggunakan
standard isi sebagai mana berlaku secara nasional. Sebagai
contoh, bagi peserta didik disabilitas pendengaran ketika belajar
aspek perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial emosi mereka
tetap menggunakan KD sebagaimana peserta didik regular
lainnya, dengan penyesuaian pada sumber belajar yang dapat
diakses peserta didik dengan hambatan pendengaran, dan media
pembelajaran yang dapat membantu proses pembelajaran.

Ruang lingkup dalam akomodasi kurikulum di antara
lain pada tujuan Isi/materi, proses/metode dan penilaian. Ruang
lingkup akomodasi kurikulum ini termasuk di dalamnya adalah
pembuatan silabus, program tahunan, program semesteran dan
juga program kebutuhan khusus. Beberapa prinsip-prinsip dalam
akomodasi pembelajaran antara lain memberi peluang untuk
berpotensi pada bidangnya, mengembangkan kecerdasan
majemuk, mempertimbangkan multisensori, multimedia dan
multisumber, adanya motivasi dan penerimaan guru dan antar
peserta didik, mengajar untuk seluruh peserta didik, mengajarkan
cara belajar dan mempertimbangkan ketahanan belajar peserta
didik.

Beberapa contoh akomodasi materi bagi peserta didik
berkebutuhan khusus seperti; bagi peserta didik Tunanetra materi
dapat disajikan dalam format auditif, gambar tiga dimensi dapat
disajikan dengan gambar timbul dan lain sebagainya. Akomodasi
materi bagi peserta didik Tunarungu dapat disajikan visual,
hindarkan kata-kata yang belum dikenal peserta didik, materi

110

disajikan dalam kalimat yang ringkas dan representatif.
Akomodasi materi peserta didik Tunagrahita dapat disajikan
secara konkrit, bermakna, fungsional dan kontektual dan
seterusnya. Sedang untuk peserta didik Autis materi dapat
disajikan dalam bentuk visual, jelas, bermakna, fungsional,
memecah materi dalam unit kecil dan akomodasi materi peserta
didik cerdas istimewa dan bakat istimewa seperti pengemasan
materi dengan menarik, panduan yang jelas untuk semua
aktivitas belajar, terintegrasi dengan konteks keterampilan sosial,
mempertimbangkan kemampuan dan minat belajarnya dan
seterusnya.

Akomodasi proses pembelajaran merupakan
penyesuaian yang dilakukan dalam rangka memberikan
kesempatan agar peserta didik dengan kebutuhan khusus dapat
berpartisipasi dalam kegiatan belajar di kelas bersama dengan
teman temannya. Akomodasi metode pembelajaran dapat berupa
pendekatan di bawah ini:

a. Kolaborasi dan kooperatif. Pendekatan kolaborasi dan

kooperatif merupakan strategi yang digunakan oleh guru
dalam mengembangkan pemahaman peserta didik
menghubungkan konsep yang sedang dipelajari dengan
kondisi nyata dalam kehidupan. Bagi beberapa peserta
didik berkebutuhan khusus mempunyai tantangan dalam
melakukan generalisasi. Pendekatan ini memberikan
kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus
untuk memahami konsep yang dipelajarinya.

111

b. Pendekatan guru secara tim. Salah satu elemen dari

pendidikan inklusif adalah guru bekerja di dalam tim.
Keberagaman tantangan belajar yang dialami oleh peserta
didik berkebutuhan khusus memberikan kesempatan
kepada guru kelas untuk bekerja bersama dengan guru

Kurikulum Akademik

Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang
mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai
dengan kecerdasan, bakat, minat dan potensinya. Alternatif
jenis/model kurikulum sekolah inklusif diantaranya

a. Kurikulum Standar Nasional

Yaitu Peserta didik umum dan berkebutuhan khusus yang
memiliki potensi kecerdasan rerata dan diatas rerata.

b. Kurikulum Akomodatif
Dibawah Standar Nasional

Peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki potensi
kecerdasan dibawah rerata.

c. Kurikulum Akomodatif
Diatas Standar Nasional

Peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa.

112

Kurikulum Akomodatif

Kurikulum akomodatif adalah kurikulum standar nasional yang
disesuaikan dengan bakat, minat dan potensi peserta didik
berkebutuhan khusus . Pengembangan kurikulum akomodatif ini
dilakukan oleh masing-masing satuan pendidikan penyelenggara
pendidikan inklusif. Sasaran pengembangan kurikulum
akomodatif difokuskan pada aspek tujuan, (Standar Kompetensi
(SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator, materi, proses maupun
evaluasinya. Di indonesia, kebijakan Penerapan kurikulum
akomodatif dapat memanfaatkan model penyelarasan kurikulum
yang dilakukan dalam bentuk eskalasi, duplikasi, modifikasi,
substitusi, dan omisi, seperti tertuang pada gambar
berikut(PKPLK, 2011; Munawir Y, 2017).

Keterangan: eskalasi (escalation) = kenaikan,
duplikasi (duplicating) = peniruan,
modifikasi (modification) = perubahan,
subtitusi (substitution) = penggantian, dan
omisi (omission) = penghapusan.

113

a. Model Eskalasi

Eskalasii (escalation) berarti kurikulum standar
nasional dinaikkan tingkat kualifikasi materinya baik secara
horizontal maupun vertikal sesuai dengan tuntutan potensi
siswa cerdas istimewa dan/atau bakat istimewa. Penaikan
tuntutan kurikulum standar nasional secara fertikal berarti
materi kurikulum bagi siswa cerdas istimewa dan atau bakat
istimewa tingkat kesukarannya dinaikkan. Sedangkan
Penaikan tuntutan kurikulum standar nasional secara
horizontal berarti materi kurikulum bagi siswa cerdas istimewa
dan atau bakat istimewa diperluas.Tujuan eskalasi kurikulum
standar nasional adalah agar siswa yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berkembang
secara optimal. Implikasi dari eskalasi kurikulum standar
nasional ini memungkinkan siswa cerdas istimewa dan/atau
bakat istimewa secara kronologis waktu belajarnya sama
dengan siswa lain, tetapi perolehan hasil belajarnya lebih luas
dan lebih dalam, sehingga dimensi sosial psikologisnya tetap
dapat tumbuh dan berkembang secara natural.

b. Model Duplikasi

Duplikasi artinya meniru atau menggandakan.
Duplikasi kurikulum adalah cara pengembangan kurikulum
bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan menggunakan
kurikulum standar nasional yang berlaku bagi peserta didik
reguler pada umumnya. Model duplikasi dapat diterapkan pada
empat komponen utama kurikulum, yaitu tujuan, isi,

114

proses,dan evaluasi.Duplikasi tujuan berarti tujuan-tujuan
pembelajaran yang diberlakukan kepada peserta didik regular
juga diberlakukan kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
Dengan kata lain, standar kompetensi lulusan (SKL), Standar
Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator
keberhasilan yang berlaku bagi peserta didik regular juga
berlaku bagi peserta didik berkebutuhan khusus.Duplikasi
isi/materi berarti materi-materi pembelajaran yang
diberlakukan kepada peserta didik regular, juga diberlakukan
secara sama kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
Peserta didik berkebutuhan khusus memperoleh informasi,
materi, pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang sama
seperti yang disajikan kepada peserta regular. Duplikasi
proses berarti peserta didik berkebutuhan khusus menjalani
kegiatan atau pengalaman belajar mengajar yang sama
dengan peserta didik regular, mencakup kesamaan dalam
metode mengajar, lingkungan/seting belajar, waktu belajar,
media belajar, atau sumber belajar. Duplikasi evaluasi berarti
peserta didik berkebutuhan khusus menjalani proses
evaluasi/penilaian yang sama seperti yang diberlakukan
kepada peserta didik regular, mencakup kesamaan dalam
soal-soal ujian, waktu evaluasi, teknik/cara evaluasi, atau
kesamaan dalam tempat/lingkungan evaluasi dilaksanakan.

c. Model Modifikasi

Modifikasi artinya merubah untuk disesuaikan.
Modifikasi kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus
dikembangkan dengan cara merubah kurikulum standar

115

nasional yang berlaku bagi peserta didik regular untuk
disesuaikan dengan kemampuan peserta didik berkebutuhan
khusus. Dengan demikian, peserta didik berkebutuhan khusus
menjalani kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuannya.

Modifikasi terjadi pada empat komponen utama
pembelajaran, yaitu: tujuan, materi,proses, dan evaluasi.
Modifikasi tujuan berarti tujuan pembelajaran kurikulum
standar nasional dirubah untuk disesuaikan dengan kondisi
peserta didik berkebutuhan khusus. Konsekuensinya peserta
didik berkebutuhan khususakan memiliki rumusan kompetensi
sendiri yang berbeda dengan peserta didik regular, baik yang
berkaitan dengan SKL, SK, KD, maupun indikator.

Modifikasi isi materi berarti merubah materi
pembelajaran peserta didik regular untuk disesuaikan dengan
kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan
demikian peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan
sajian materi sesuai dengan kemampuannya. Modifikasi
materi meliputi keluasan, kedalaman, dan/atau tingkat
kesulitan. Artinya peserta didik berkebutuhan khusus
mendapatkan materi pembelajaran yang tingkat kedalaman,
keluasan, dan kesulitannya berbeda (lebih rendah) dari materi
yang diberikan kepada peserta didik regular.

Modifikasi proses berarti kegiatan pembelajaran bagi
peserta didik berkebutuhan khusus berbeda dengan kegiatan
pembelajaran peserta didik reguler. Metode atau strategi
pembelajaran yang diterapkan pada peserta didik regular tidak

116

diterapkan kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Jadi,
mereka memperoleh strategi pembelajaran khusus yang
sesuai dengan kemampuannya. Modifikasi proses dalam
kegiatan pembelajaran,meliputi penggunaan metode mengajar,
lingkungan/seting belajar, waktu, media, sumber belajar, dll.

Modifikasi evaluasi berarti merubah sistem
evaluasi/penilaian untuk disesuaikan dengan kondisi peserta
didik berkebutuhan khusus. Dengan kata lain peserta didik
berkebutuhan khusus menjalani sistem evaluasi/penilaian
yang berbeda dengan peserta didik regular lainnya.
Perubahan bisa berkaitan dengan perubahan dalam soal soal
ujian, perubahan dalam waktu evaluasi, teknik/cara evaluasi
atau tempat evaluasi dll. Perubahan kriteria kelulusan, sistem
kenaikan kelas, bentuk raport, ijazah termasuk bagian-bagian
modifikasi evaluasi.

d. Model Substitusi

Substitusi berarti mengganti. Substitusi kurikulum
bagi peserta didik berkebutuhan khusus berarti mengganti isi
kurikulum standar nasional dengan materi yang lain.
Penggantian dilakukan karena isi kurikulum nasional tidak
memungkinkan diberlakukan kepada Anak Berkebutuhan
Khusus , tetapi masih bisa diganti dengan hal lain yang kurang
lebih sepadan ( memiliki nilai sama ). Substitusi bisa terjadi
pada tujuan pembelajaran, materi, proses, atau evaluasi.

117

e. Model Omisi

Omisi artinya menghilangkan. Model kurikulum omisi
berarti menghilangkan sebagian/keseluruhan isi kurikulum
standar nasional karena tidak mungkin diberikan kepada
peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan kata lain omisi
berarti isi sebagian/keseluruhan kurikulum standar nasional
tidak diberikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus
karena terlalu sulit/tidak sesuai. Penerapan model-model
kurikulum akomodatif, hendaknya mempertimbangkan
keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus berdasarkan
kemampuan intelektualnya (di atas rerata, rerata, di bawah
rerata). Contoh peserta didik diatas rerata mengalami
hambatan belajar disebabkan kelainan (ATN, ATR, ATD, Autis,
ADHD, gangguan perilaku dan sosial, dsb.) menerapkan
model Duplikasi/Modifikasi + pendampingan GPK +
pengayaan. Peserta didik yang memiliki kemampuan rerata
dan mengalami kesulitan

Kurikulum Kekhususan

Layanan kekhususan adalah interfensi khusus

berdasarkan kelainan atau kebutuhan khusus peserta didik untuk
mengatasi kelainan yang disandangnya atau mengoptimalkan
potensi khusus yang perlu dikembangkan. Bentuk layanan
kekhususan diantaranya adalah sebagai berikut (Direktorat
PKPLK, 2011).

118

a. Baca tulis Braille f. Okupasi

b. Orientasi Mobilitas (OM) g. Bina gerak

c. Bina Komunikasi h. Bina pribadi dan

d. Bina Persepsi Bunyi Irama social

e. Bina Diri i. Modifikasi
perilaku

Prinsip

Pengembangan
Kurikulum

Beberapa prinsip penting yang dapat dijadikan acuan guru dalam
mengembangkan kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan
khusus dalam setting pendiidkan inkluif (Munawir Y, 2017);

a. Kurikulum umum yang diberlakukan untuk peserta didik

reguler perlu dikembangkan untuk disesuaikan dengan
peserta didik berkebutuhan khusus.

b. Penyesuian kurikulum bagai peserta didik berkebutuhan

khusus dapat terjadi pada komponen tujuan, materi, proses
dan atau evaluasi

119

c. Penyesuaian kurikulum tidak harus sama pada masing-

masing komponen. Artinya jika komponen tujuan dan materi
harus dimodifikasi, mungkin tidak demikian halnya pada
proses dst.

d. Proses penyesuaian juga tidak harus sama untuk semua

materi. Untuk materi tertentu perlu dimodifikasi tapi mungkin
tidak untuk materi tertentu

e. Proses penyesuaian juga tidak sama pada masing-masing

jenis hambatan. Peserta didik berkebutuhan khusus yang
tidak mengalami hambatan pada fungsi intelektual mungkin
akan sedikit membutuhkan penyesuaian. Sedangkan
peserta didik yang mengalami hambtan pada fungsi
intelektual mungkin membutuhkan penyesuaian hampir
pada semua komponen pembelajaran (tujuan, isi, proses,
dan evaluasi)

120

Penerapan Model Kurikulum

a. Kurikulum Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Yang Tidak Mengalami Hambatan Kecerdasan

Peserta didik berkebutuhan khusus yang tidak mengalami
hambatan pada fungsi intelektual hanya membutuhkan sedikit
pengembangan dalam pembelajaran. Tujuan dan materi
pembelajaran umumnya tidak mengalami perubahan, demikian
juga dengan evaluasi. Kecenderungan membutuhkan
pengembangan pada proses pembelajaran yaitu berkenaan
dengan cara dan media dalam penyajian informasi.

Tujuan Proses Evaluasi

Alat
Cara
Soal
Media

Metode
Materi
Indikator
KD
KI

Duplikasi
Modifikasi
Subsitusi

Omisi

121

b. Kurikulum Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Yang Mengalami Hambatan Kecerdasan

Peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki hambata pada
fungsi intelektual, umumnya membutuhkan modifikasi hampir
pada semua komponen pembelajaran. Tujuan pembelajaran
harus dikembangkan dan disesuaikan demikian juga dengan
materi, proses dan pelaksanaan evaluasi.

Tujuan Proses Evaluasi

Alat
Cara
Soal
Media

Metode
Materi
Indikator
KD
KI

Duplikasi
Modifikasi
Subsitusi

Omisi

Rencana Pembelajaran Inklusif

Rencana pembelajaran adalah persiapan mengajar yang dibuat
secara tertulis yang disusun oleh guru sebelum melaksanakan
proses pembelajaran (Munawir y, 2017). ada dua jenis rencana
pembelajaran utama yang harus disusun oleh seorang guru
adalah silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

122

a. Silabus

Silabus umumnya dibuat dalam

bentuk matrik (tabel) yang
didalamnya memuat delapan
komponen yaitu; 1) kopetensi
inti; 2) Kopetensi Dasar; 3)
Materi; 4) indikator; 5) kegiatan
pembelajaran; 6) alokasi waktu;
7) sumber dan media
pembelajaran; 8) evaluasi.
Silabus disusun untuk satu mata
pelajaran dalam satu semester disatu kelas. Oleh karena itu,
silabus biasanya didahului oleh identitas mata pelajaran.

Silabus dalam Pembelajaran Inklusif juga terdiri dari
delapan komponen yang harus termuat yaitu; 1) kopetensi inti; 2)
Kopetensi Dasar; 3) Materi; 4) indikator; 5) kegiatan
pembelajaran; 6) alokasi waktu; 7) sumber dan media
pembelajaran; 8) evaluasi. Pada dasarnya semua komponen
tersebut boleh disesuaikan oleh guru agar sesuai dengan kondisi
peserta didik berkebutuhan khusus. Namun karena kopetensi inti
dan kopetensi dasar bersifat umum dan dimungkinkan dapat
mewadahi seluruh kopetensi peserta didik termasuk Peserta diidk
berkebutuhan khusus, maka jika tidak sangat diperlukan tidak
perlu melakukan penyesuaian pada komponen tersebut.

Mata Pelajaran :
Kelas :
Semester :

123

Jumlah Pertemua :

Waktu :

Kopetensi Inti : umum

Evaluasi

Sumber dan
Media

Alokasi
Waktu

Kegiatan
Pembelajaran

Indikator

Materi

Kompetensi
Dasar

Umum Pengem Pengem Pengem Pengem Pengem Pengem
bangan bangan bangan bangan bangan bangan

b. RPP

Rencana pelaksanaan pembelajaran pada

dasarnya sama dengan silabus. Didalamnya tercakup delapan
komponen sebagaimana dalam silabus. Perbedaan Rencana
pelaksanaan pembelakaran dan silabus yaitu silabus dirancang
untuk kurun waktu satu semester. Sedangkan rencana
pelaksanaan pembelajara dirancang hanya untuk beberapa kali
pertemuan. Terdapat dua model RPP dalam pembelajaran
inklusif yaitu;

1) Model RPP Terintegrasi

Model RPP terintegrasi adalah model RPP bagi peserta
didik berkebutuhan khusus yang diintegrasikan atau
disatukan dengan RPP untuk peserta didik lainya dalam
bentuk universal desain learning (UDL). dalam modle ini
guru hanya memiliki satu RPP, tetapi didalamnya memuat
dua rumusan perencanaan, yaitu perencanaan untuk

124

peserta didik reguler dan rumusan (catatan khusus) untuk
peserta didik berkebutuhan khusus. Untuk komponen-
komponen yang tidak mengalami pengembangan maka
hanya tersdiri dari satu rumusan. Sedangkan komponen
yang mengalami pengembangan maka ada dua rumussan
(catatan khusus).

2) Model RPP Individual

Rencana Pelaksanaan pembelajaran individual adalah
model RPP yang dibuat khusus untuk peserta didik
berkebutuhan khsusus, artinya terpisah dengan peserta
didik reguler. Selain berisi komponen sebagai mana RPP
pada umumnya RPP individual memiliki dua komponen
tambahan yaitu identitas peserta didik dan kemampuan
peserta diidk saat ini. Contoh Format RPP Individual

Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Pertemuan :
Waktu :

Identitas PDD :
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Jenis Hambatan :
Tingkat Hambatan :

125

Kemampuan Saat Ini :

Kompetensi Inti : Umum

Evaluasi

Sumber dan
Media

Alokasi
Waktu

Kegiatan
Pembelajaran

Indikator

Materi

Kompetensi
Dasar

Umum Pengem Pengem Pengem Pengem Pengem Pengem
bangan bangan bangan bangan bangan bangan

c. Program
Pendidikan
Individual (PPI)

merupakan program pendidikan individual
yang dibuat berdasarkan hasil asesmen.
Pada hakekatnya setiap individu memiliki
PPI karena setiap individu adalah berbeda.
Namun demikian, bagi peserta didik yang tidak memerlukan PPI,
namun peserta didik pada umumnya cukup menggunakan
program/kurikulum sekolah yang berlaku. PPI dirancang untuk
pesertadiperuntukkan bagi individu yang memang tidak
memungkinkan menggunakan kurikulum reguler maupun
modifikasi. PPI merupakan program yang dinamis artinya sensitif
terhadap berbagai perubahan dan kemajuan peserta didik, dan

126

disusun oleh sebuah tim terdiri dari orang tua/wali murid, guru
kelas, guru mata pelajaran, guru pendidikan khusus/PLB, dan
peserta didik yang bersangkutan yang disusun secara bersama-
sama.

Penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI)
dibuat dengan mempertimbangkan karakteristik, kemampuan dan
ketidakmampuan peserta didik, ketersediaan sumber daya dan
dukungan lingkungan sekolah dan rumah. PPI dikembangkan
berdasarkan hasil asesmen. PPI bagi peserta didik berkebutuhan
khusus berisikan tentang perkembangan, akademik dan program
kebutuhan khususnya. PPI pada aspek pekembangan anak
berisikan kondisi perkembangan seperti perilaku, interaksi sosial,
komunikasi, emosi, sensorik, motorik dan kemandirian. Sedang
PPI pada aspek akademik meliputi membaca, menulis dan
berhitung. Pada aspek akademik, PPI dapat dibuat berdasarkan
Kompetensi Dasar (KD) pada mata pelajaran yang dijabarkan
dalam indikator capaian pembelajaran.

Pembuatan PPI penting untuk memperhatikan
prinsipprinsip dasarnya dan komponen dalam PPI sebagai berikut
(Yuwono, 2021):

a. Dibuat berdasarkan hasil asesmen
b. Berorientasi pada peserta didik
c. Sesuai potensi dan kebutuhan anak
d. Memperhatikan kecepatan belajar masing-masing
e. Mengejar ketertinggalan dan mengoptimalkan kemampuan

127

f. Memperhatikan sumber daya yang ada di sekolah dan

kemampuan keluarga

Adapun beberapa komponen PPI dapat berisikan (Yuwono, 2021):

a. Identitas
b. Jenis kekhususannya (dugaan sementara Autis, Kesulitan

Belajar atau jenis lainnya)

c. Penyesuaian yang diperlukan. Penyesuaian bisa pada

media, materi/isi, proses dan penilaian, dan lain-lainnya.

d. Program Pembelajaran Individual. Program pembelajaran

dapat berisikan tentang kemampuan saat ini, tujuan jangka
panjang, tujuan jangka pendek, metode dan evaluasi. Pada
bagian ini memuat aspek perkembangan peserta didik dan
akademik peserta didik dengan mempertimbangkan
permasalahan setiap peserta didik. (berdasarkan hasil
asesmen)

e. Diketahui oleh asesor atau guru yang ditunjuk (orang yang

melakukan asesmen) dan kepala sekola

E. SISTEM
EVALUASI

Rancangan penilaian sangat dipengaruhi oleh diferensiasi dan
modifikasi kurikulum yang digunakan agar dapat mengakomodasi
kebutuhan belajar setiap peserta didik berkebutuhan khusus yang
beragam. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor

128

53 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan Satuan Penyelenggara
Pendidikan Inklusif (SPPI) menyatakan bahwa sekolah dan guru
harus melakukan penyesuaian pada:

a. Penyesuaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam

menentukan KKM pertimbangkan 3 (tiga) hal berikut
karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran dan
kondisi satuan pendidikan/daya dukung. KKM dan capaian
pembelajaran bagi seluruh peserta didik sama. Namun,
indikator pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan
khusus disesuaikan dengan karakteristik dan/atau
kebutuhan belajarnya.

b. Penyesuaian Waktu Proses Pembelajaran dan Evaluasi.

Penyesuaian waktu adalah penambahan waktu untuk
peserta didik yang membutuhkan dalam mengerjakan
latihan, ulangan, dan tugas lain yang berhubungan dengan
penilaian hasil belajar. Bagi peserta didik tunanetra dan
tunagrahita membutuhkan waktu tambahan saat ujian.

c. Penyesuaian Cara dan Media Pembelajaran. Penyesuaian

cara dan alat pembelajaran dilakukan selama pelaksanaan
pembelajaran, ujian dan tugas lain yang berhubungan
dengan penilaian hasil belajar peserta didik berkebutuhan
khusus. Sebagai contoh untuk peserta didik low vision
membutuhkan media pembesar huruf agar mudah dilihat,
anak autis membutuhkan media visual, bagi peserta didik
yang belum dapat membaca dengan baik maka dapat
dibacakan dan sebagainya. Peserta didik berkebutuhan
khusus dengan kondisi otot tangan yang lemah dan

129

menyebabkan peserta didik berkebutuhan khusus tidak
dapat menulis atau mengetik lebih dari lima menit
membutuhkan penyesuaian cara dan media belajar.

d. Penyesuaian Materi Pembelajaran dan Evaluasi.

Penyesuaian materi pembelajaran dilakukan selama
pelaksanaan pembelajaran, ujian dan tugas lain yang
berhubungan dengan penilaian hasil belajar dan harus
disesuaikan dengan kondisi peserta didik berkebutuhan
khusus dan indikator yang telah ditetapkan.

e. Penetapan Kenaikan Kelas dan Kelulusan. Kenaikan kelas

dan kelulusan peserta didik berkebutuhan khusus
ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan catatan:

1) Capaian minimal ketuntasan pembelajaran dan nilai

sikap/perilaku minimal baik, tidak berlaku pada
peserta didik berkebutuhan khusus;

2) Kehadiran (minimal 75%) dengan prinsip

memberikan kesempatan kepada peserta didik
berkebutuhan khusus agar dapat menyelesaikan
pendidikan dasar.

f. Laporan Hasil Belajar. Laporan hasil belajar merupakan

dokumentasi dari pencapaian hasil belajar peserta didik
dalam setiap akhir semester. Format rapor bagi peserta
didik berkebutuhan khusus menggunakan format rapor
yang berlaku di satuan pendidikan sebagaimana yang
berlaku bagi peserta didik ruguler lainnya. Nilai dan

130

deskripsi dalam rapor bersifat individual, sesuai capaian
masing-masing peserta didik. Artinya guru memberikan nilai
dan deskripsi capaian kompetensi setiap individu peserta
didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus sesuai
dengan kemampuan peserta didik. Guru dapat melakukan
perubahan-perubahan deskripsi yang sesuai dengan
capaian prestasi peserta didik. Dalam proses digitalisasi
rapor atau dikenal dengan e-raport, keragaman atau
gradasi capaian belajar sesuai kondisi individual peserta
didik berkebutuhan khusus dapat dilakukan melalui aplikasi
e-raport dalam Dapodik. Alur berikut menggambarkan cara
kerja guru mata pelajaran dalaam pengisian e-raport dalam
aplikasi Dapodik.

g. Ijazah. Peserta didik berkebutuhan khusus yang dinyatakan

lulus memperoleh ijazah sebagai tanda kelulusan dan tidak
dibedakan antara peserta didik berkebutuhan khusus
dengan peserta didik reguler. Ketentuan ijazah adalah
sebagi berikut:

1) Dikeluarkan oleh kepala satuan pendidikan dimana

peserta didik belajar

2) Blangko ijazah sama dengan peserta didik lainnya.

3) Ijazah dapat digunakan untuk melanjutkan ke satuan

pendidikan dan jenjang yang lebih tinggi.

4) Kepala satuan pendidikan menyertakan surat

keterangan tambahan ijazah yang mencantumkan

131

jenis hambatan peserta didik berkebutuhan khusus.
(Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Nomor:
2951/D.D6/HK/2017 tanggal 2 Mei 2017)

F. PENGELOLAAN KELAS
DAN KEGIATAN
PEMBELAJARAN

Pengelolaan kelas dan kegiatan pembelajaran di sekolah inklusif
dapat dilaksanakan sebagai berikut.

a. Sistem Pengelolaan Kelas

1) Kelas Regular Penuh

Di kelas reguler penuh peserta didik berkebutuhan khusus
belajar bersama-sama peserta didik reguler. Kurikulum
standar nasional yang berlaku bagi peserta didik reguler
juga berlaku bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

a) Kelas Regular dengan
Guru Pembimbing Khusus

Di Kelas reguler dengan Guru pembimbing khusus peserta
didik berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan
peserta didik reguler dengan menggunakan kurikulum
standar nasional, namun peserta berkebutuhan khusus

132

memperoleh layanan khusus dari guru/GPK. Model
pengelolaannya adalah:
 Jika pada saat pembelajaran di kelas terdapat GPK,

maka guru kelas/guru mata pelajaran melaksanakan
pembelajaran klasikal pada umumnya, juga
menerapkan pembelajaran individual untuk materi
tertentu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Contoh: mengajarkan peta Indonesia kepada
tunanetra, maka guru harus menyediakan peta timbul;
 GPK selama pembelajaran berlangsung berperan
sebagai pendamping (mengarahkan dan membimbing)
peserta didik berkebutuhan khusus agar dapat
mengikuti dan berpartisipasi dalam pembelajaran.

b) Kelas Khusus di Sekolah Regular

Kelas khusus merupakan salah satu sistem layanan di sekolah
inklusif dengan cara memisahkan peserta didik berkebutuhan
khusus di kelas tersendiri dari peserta didik regular. Sebagian
besar pelaksanaan pembelajaran merekadi kelas tersendiri
tersebut. Untuk beberapa kegiatan/program pembelajaran
tertentu merekadiikutsertakan di kelas regular.

133

b. Kegiatan
Pembelajaran

Perencanaan Pembelajaran
1) Guru sekolah inklusif mengembangkan perangkat

pembelajaran seperti (Silabus dan RPP) dengan
mempertimbangkan perbedaan individu.

2) Penyusunan perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, LKS,

LP, dan Materi) bagi ABK mempertimbangkan hasil
asesmen dan atau masukan melibatkan pihak-pihak terkait,
seperti; GPK, Psikolog, Dokter, dan orangtua dan lainnya.

3) Peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa dan bakat

istimewa menggunakan kurikulum akomodatif sesuai
karakteristik dan potensinya

Pelaksanaan Pembelajaran
1) Guru mengorganisasi kelas sesuai kebutuhan peserta didik

dalam setting kelas inklusif.

2) Guru menyampaikan pembelajaran mengacu pada standar

proses (elaborasi, eksplorasi, konfirmasi) dengan

134

menerapkan strategi yang variatif dan pakem sesuai
karakteristik dan kebutuhan peserta didik yang beragam.

3) Guru menggunakan media pembelajaran yang bervariasi

sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang beragam.

4) Guru memberikan tugas-tugas dan atau lembar kerja siswa

yang beragam sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhannya.

G. KETENAGAAN

Jenis Ketenagaan, Tugas, dan Wewenang
a. Tenaga Pendidik
1) Guru Kelas

Guru kelas adalah pendidik/pengajar pada kelas tertentu di
sekolah inklusif dengan tugas utama sebagai berikut.

a) Menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga anak-

anak merasa nyaman belajar di kelas/sekolah.

b) Menyusun dan melaksanakan asesmen akademik dan non

akademik pada semua anak untuk mengetahui kemampuan

135

dan kebutuhannya bersama Guru Pembimbing Khusus
(GPK)

c) Menyusun renana pembelajaran/program pebelajaran

indiidual (PPI) bersama-sama dengan GPK.

d) Melaksanakan kegiatan pembelajaran, penilaian, dan

tindak lanjut sesuai dengan rencana pembelajaran yang
telah ditetapkan.

e) Memberikan program pembelajaran remedial (remedial

teaching) pengayaan/percepatan sesuai kebutuhan
pesertadidik.

f) Melaksanakan administrasi kelas sesuai dengan bidang

tugasnya.

g) Menyusun program dan melaksnakan praktik bimbingan

bagi semua siswa

2) Guru Mata Pelajaran

Guru mata pelajaran adalah guru yang mengajar mata pelajaran
tertentu sesuai kualifikasi yang dipersyaratkan. Tugas guru mata
pelajaran antara lain sebagai berikut.
a) Menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga anak-

anak merasa nyaman belajar di kelas/sekolah.
b) Menyusun dan melaksanakan asesmen akademik pada

semua anak untuk mengetahui kemampuan dan
kebutuhannya.

136

c) Menyusun rencana pembelajaran/program pembelajaran
individual (PPI) bersama guru pembimbing khusus (GPK).

d) Melaksanakan kegiatan pembelajaran, penilaian dan tindak
lanjut sesuai dengan rencana pembelajaran/PPI yang telah
ditetapkan

e) Memberikan program remedi pengajaran (remedial
teaching), pengayaan/percepatan bagi peserta didik yang
membutuhkan.

3) Guru Pembimbing Khusus

Guru Pembimbing Khusus (GPK) adalah guru yang memiliki
kompetensi sekurang- kurangnya S-1 Pendidikan Luar Biasa dan
atau kependidikan yang memiliki kompetensi ke PLB-an
pendidikan Khusus kualifikasi pendidikan khusus sesuai dengan
tuntutan profesi yang berfungsi sebagai pendukung guru reguler
dalam memberikan pelayanan pendidikan khusus dan/atau
intervensi kompensatoris, sesuai kebutuhan peserta didik
berkebutuhan khusus di sekolah inklusif. Tugas pokok GPK
antara lain sebagai berikut.

a) Membangun sistem koordinasi dan kolaborasi antar dan

inter tenaga pendidikan dan kependidikan, serta
masyarakat.

b) Membangun jejaring kerja antar lembaga (antar jenjang

pendidikan, layanan kesehatan, dunia usaha, dll.)
Membangun jejaring kerja antar lembaga (antar jenjang
pendidikan, layanan kesehatan, dunia usaha, dll.)

137

c) Menyusun instrumen asesmen akademik dan nonakademik

bersama guru kelas dan guru mata pelajaran.

d) Menyusun program pembelajaran individual bagi peserta

didik berkebutuhan khusus bersama guru kelas dan guru
mata pelajaran.

e) Menyusun program layanan kompesatoris bagi peserta

didik berkebutuhan khusus. Melaksanakan pendampingan
dan/atau pembelajaranakademik bagi peserta didik
berkebutuhan khusus bersama sama dengan guru kelas
dan guru mata pelajaran.

f) Memberikan bantuan layanan khusus bagi peserta didik

berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas umum, berupa
remidi ataupun pengayaan.

g) Melaksanakan pembelajaran khusus di ruang sumber bagi

peserta didik yang membutuhkan.

h) Melaksanakan layanan kompesatoris sesuai dengan

kebutuhan khusus peserta didik.

i) Memberikan bimbingan secara berkesinambungan dan

membuat catatan khusus kepada peserta didik
berkebutuhan khusus selama mengikuti kegiatan
pembelajaran, yang dapat dipahami jika terjadi pergantian
guru.

j) Melaksanakan case conference (bedah kasus) bersama

tenaga ahli, kepala sekolah,guru,orang tua dan pihak-pihak
terkait.

138

b. Tenaga Kependidikan

Tenaga kependidikan adalah tenaga pendukung operasionalisasi
penyelengaraan pendidikan di sekolah. Tenaga kependidikan
dimaksud meliputi tenaga administrasi, pustakawan, laboran, dan
tenaga pusat sumber belajar.

Pengadaan dan Pembinaan

Beberapa hal tentang pengadaan dan peningkatan kompetensi
tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang perlu diperhatikan
sesuai Permendiknas No. 70 th 2009 adalah sebagai berikut.

1) Pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyediakan paling

sedikit satu orang guru pembimbing khusus pada satuan
pendidikan yang ditunjuk untuk menyelenggarakan
pendidikan inklusif.

2) Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang

tidak ditunjuk oleh pemerintah kabupaten/kota wajib
menyediakan paling sedikit satu orang guru pembimbing
khusus

3) Pemerintah Kabupaten/Kota wajib meningkatkan

kompetensi di bidang pendidikan khusus bagi tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusif.

4) Pemerintah dan Provinsi membantu penyediakan tenaga

guru pembimbing khusus bagi satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusif yang memerlukan sesuai
dengan kewenangannya.

139

5) TPemerintah dan Pemerintah Provinsi membantu

meningkatkan kompetensi di bidang pendidikan khusus
bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan
pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif.

H. SARANA DAN
PRASARANA
PENDIDIKAN
INKLUSIF

Aksesibilitas Lingkungan Fisik

a. Sesuai dnegan peraturan mentri pekerjaan umum No.

30/PRT/M2006 setiap penyelenggara layanan publik wajib
menyediakan sarana fisik yang aksesibel bagi lansia dan
penyandang disabilitas. Bangunan umum dan lingkungan
harus dilengkapi dengan prasarana aksesibilitas bagi
semua orang (disabilitas dan lansia). penyelenggaraan
bangunan umum dan lingkungan wajib memenuhi
persyaratan teknis aksesibilitas.

140

b. Peraturan Mendteri Pendidikan dan Kebudayaan republik

indonesia no. 46 Th. 2014. tentang Pendidikan Khusus dan
Layanan Khusus di satuan pendidikan.

c. Aksesibilitas dimaksud mengandung makna bahwa setiap

orang semaksimal mungkin memiliki tingkat kemudahan
untuk dapat menuju, mencapai, memasuki, dan
menggunakan semua fasilitas umum yang ada.

d. Prinsip yang harus diperhatikan dalam menyediakan sarana

prasarana lingkungan kampus yang aksesibel meliputi (1)
kemudahan, semua orang dapat mencapai smeua tempat
dengan mudah, (2) kegunaan, setiao orang dapat
mempergunakan semua tempat, (3) keselamatan, setiap
bangunan harus memperhatikan keselamatan bagi semua
orang, (4) kemandiriaan, setiap orang harus dapat
mencapai, masuk dan mempergunakan semua tempat
tanpa bantuan orang lain. Upaya yang dapat dilakukan
untuk menciptakan lingkungan dan sarana fisik yang
aksesibel (munawir y, 2017) diantaranya sebagai berikut

1) Penggunaan simbol-simbol disabilitas untuk tempat,

ruangan dan sudut-sudut tertentu ynag memerlukan

2) Labelisasi ruangan dengan simbol braille

3) Gedung lebih darinsatu tingkat perlu dilengkapi dnegan lift

atau ramp untuk emudahkan pengguna kursi roda

141

4) Lift dilengkapi informsi audio dan braille agar dapat diakses

oleh tunanetra

5) Ramp (tangga landai) perludisediakan untuk

memungkinkan pengguna kursi roda mengakses gedung
atau ruangan

6) Perlu disedakan guidding Blok. Merupakan pemandu yang

memungkinkan tunanetra berjalan lurus kearah yang
diinginkan. Jalur pemandu biasanya berupa bagian
permukaan jalan/lantai yang warna dan teksturnya berbeda
(lebih kasar).

7) Satuan pendidikan perlu menyediakan toilet khsuus yang

dapat diakes pengguna kursi roda dan kruk yang dirancang
dengan mempertimbangkan gerak kursi roda di dalam
ruang toilet. Spesifikasi toilet yaitu; ruang toilet sekurang-
kurangnya berukuran 2x2 meter, dirancang dalam bentuk
toilet duduk, dengan ketinggian antara 45-50 cm serya
dilengkapi dengan pegangan tangan (handle) disamping
kloset. Lebr pintu diusahakan lebuh dari 80 cm sehingga
pengguna kursi roda atau kruk dapat masuk dengan leluasa

8) Perlu disediakan peta atau denah timbuk sehingga

memungkinkan tunanetra mengorientasi lingkungan
sekolah secara mudah dan baik.

9) Jalur penyebrangan dengan tombil lampu yang bersuara

10) Tersedia jalur pedestrian yang aksesibel bagi diabilitas.

142

11) Bus sekolah hendaknya disediakan untuk pemerintah

dengan penyandang disabilitas.

Penyiapan prasarana pendidikan di lingkungan sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif, pendekatan analisa
kebutuhan prasarana adalah Pembangunan Ruang Pusat
Sumber Belajar dan Pembangunan dan/atau peningkatan mutu
ruang dan mutu aksesibilitas lingkungan sekolah (Yuwono, J,
2021).

a. Pembangunan Ruang Pusat Sumber Belajar (PSB) /

resource room digunakan untuk peserta didik dengan
ketunaan tertentu. Ruang ini berfungsi sebagai ruang belajar
ABK jika terjadi kendala belajar, dan/atau sebagai ruang
konseling dan/atau ruang intervensi khusus ketika terjadi
kondisi tertentu pada peserta didik berkebutuhan khusus
yang mengikuti pendidikan inklusif. Sehingga, dalam zonasi
(penempatan ruang) dalam masterplan sekolah, sebaiknya
berdekatan dan/atau mudah diakses dari ruang UKS, ruang
Bimbingan Konseling, serta ruang guru.

Denah Ruang Pusat Sumber Belajar
Pendidikan Inklusif

143


Click to View FlipBook Version