The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rudy tisna, 2024-06-19 23:01:29

SCM PP Awards 2024

Importation Insight PTPP

STRATEGIC HANDBOOK: BLUEPRINT FOR CONSTRUCTION IMPORT PENGGAGAS Niekke Kusuma Wardani TIM PENULIS Muchamad Rudy Tisna F. K. Yudhistira Bawa Yusha Rizky Julian Saputra Wahyu Budi Utomo dan Tim TATA LETAK Dept. SCM PT PP DESAIN SAMPUL Dept. SCM PT PP 2


Buku ini menguraikan pendekatan holistik terhadap manajemen rantai pasok yang terintegrasi (Integrated Supply Chain Management - ISCM) di PT PP (Persero) Tbk, dengan fokus pada optimalisasi operasi dan peningkatan efisiensi proyek konstruksi. Melalui analisis kasus PT PP, buku ini menyoroti bagaimana sinergi antara faktor eksternal dan internal dapat mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan dalam konteks global yang kompetitif. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi tulang punggung strategi SCM di PT PP, khususnya melalui implementasi sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang memfasilitasi integrasi fungsi lintas departemen. ERP memungkinkan pengelolaan sumber daya secara real-time, memastikan alokasi sumber daya yang efisien, dan mempercepat proses pengambilan keputusan. Buku ini juga mengulas penerapan teknologi canggih lainnya seperti e-procurement dan blockchain yang meningkatkan koordinasi, transparansi, dan efisiensi pengambilan keputusan dalam proyek-proyek seperti Proyek Jetty Smelter Nickel PT. Mitra Murni Perkasa (MMP). Selain itu, buku ini menyoroti pentingnya inovasi dalam interaksi manusia-teknologi melalui pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan, memastikan staf memiliki kompetensi yang relevan untuk mendukung operasi yang semakin kompleks dan berteknologi tinggi. Pendekatan ini mencerminkan dedikasi PT PP terhadap peningkatan kualitas, keberlanjutan, dan keunggulan operasional dalam menghadapi tantangan global dan kebutuhan pasar yang berubah-ubah. Melalui berbagai studi kasus dan penerapan praktik terbaik, buku ini menjadi panduan strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung pengambilan keputusan strategis berbasis data, yang pada akhirnya memperkuat posisi PT PP sebagai pemain kunci dalam industri konstruksi global. 3 Abstract


4 BAB 3. FAKTOR INTERNAL SCM IMPOR KONSTRUKSI SCM TERPUSAT DALAM IMPOR KONSTRUKSI INOVASI E-PROCUREMENT DALAM SCM KONSTRUKSI HARMONI MANUSIA DAN TEKNOLOGI INTEGRASI DAN INOVASI DALAM SCM BAB 1. FOUNDATIONS AND MONUMENTS MENGENAL PT PP SECARA KOMPREHENSIF NAVIGASI INOVASI PENGADAAN PT PP VANGUARD LOGISTIK: REVOLUSI SCM DI PT PP PRINSIP PREDIKTIF DAN EFISIENSI TEKNO-TRANSFORMASI ERA BARU SCMBAB 2. FAKTOR EKSTERNAL SCM IMPOR KONSTRUKSI MENYUSURI ARUS IMPOR DALAM KONSTRUKSI MEMBANGUN JEMBATAN SCM GLOBAL MENYUSUN STRATEGI IMPOR YANG EFEKTIF WORKFLOW IMPORTASI PT PP 67811131520202427304041434446 Index of Content


5 Kesimpulan Daftar Pustaka BAB 5. SHORTCUT HANDBOOK ISCM SHORTCUT HANDBOOK ISCM BAB 4. INTEGRATED SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (ISCM) INTEGRATED SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (ISCM) ANALISIS DATA DALAM SCM IMPOR KONSTRUKSI INTEGRATED SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (ISCM) PENERAPAN ISCM IMPLEMENTASI ISCM PROYEK TOD STASIUN PONDOK CINA ANALISIS ISCM: TOD STASIUN PONDOK CINA INSIGHT IMPORTASI TOD STASIUN PONDOK CINA TANTANGAN YANG DIHADAPI PROYEK MANDALIKA INTERNATIONAL CIRCUIT ANALISIS ISCM: PROYEK MANDALIKA INTERNATIONAL CIRCUIT INSIGHT PROYEK MANDALIKA PROYEK JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (MMP) ANALISIS ISCM: JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (MMP) INSIGHT IMPORTASI JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (M M P) 48495050535454565962687072788082949598100


BAB 1 Foundations and Monuments “POWER COMES NOT FROM KNOWLEDGE KEPT BUT FROM KNOWLEDGE SHARED” (BILL GATES) Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


7 MENGENAL PT PP SECARA KOMPREHENSIF PT Pembangunan Perumahan (PP) (Persero) Tbk telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sejak didirikan pada tahun 1953, yang mencerminkan adaptasi strategis dan pengelolaan risiko yang efektif dalam menghadapi dinamika pasar dan perubahan regulasi. Melalui evolusi dari pembangunan perumahan hingga terlibat dalam proyek-proyek besar, perusahaan telah menunjukkan kemampuannya untuk mengelola risiko proyek yang kompleks dan beragam. Pengelolaan risiko yang cermat juga tercermin dalam langkah transformasional perusahaan, seperti perluasan ke sektor properti pada tahun 1991 dan penawaran saham perdana pada tahun 2009, yang mengindikasikan keberanian perusahaan untuk mengeksplorasi peluang baru sambil meminimalkan risiko yang terkait. Dalam konteks manajemen risiko, PT PP juga telah menunjukkan keberhasilannya dalam membangun fondasi hukum yang kuat. Transformasi korporasi perusahaan, termasuk perubahan status dari NV Pembangunan Perumahan menjadi PT Bab 1. Foundations and Monuments


8 PP (Persero) pada tahun 1971, mencerminkan kepatuhan terhadap peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, dalam ekspansi bisnisnya ke sektor properti dan real estate, PT PP telah memperhatikan dan mematuhi regulasi yang berkaitan dengan perizinan dan landasan hukum properti. Pendekatan ini telah memberikan landasan yang stabil bagi pertumbuhan bisnis perusahaan. Dalam menghadapi tantangan global dan dinamika pasar yang terus berubah, PT PP juga telah mengintegrasikan manajemen risiko dan aspek hukum dalam praktik bisnisnya. Dengan memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan membangun strategi bisnis yang responsif terhadap perubahSejarah pengadaan di PT PP memiliki akar yang panjang, dimulai sebelum tahun 2016, ketika struktur organisasi perusaan lingkungan bisnis, perusahaan ini telah menunjukkan komitmen terhadap per- tumbuhan yang berkelanjutan dan pen- gelolaan risiko yang efektif. Dalam konteks manajemen rantai pasokan, pendekatan ini juga memungkinkan PT PP untuk memiti- gasi risiko yang terkait dengan penyediaan bahan dan teknologi, serta memastikan integritas dan keberlanjutan dalam operasi perusahaan secara keseluruhan. NAVIGASI INOVASI PENGADAAN PT PP Dalam konteks manajemen rantai pasokan, PT PP mampu untuk memitigasi risiko yang terkait dengan penyediaan bahan dan teknologi, serta memastikan integritas dan keberlanjutan dalam operasi perusahaan secara keseluruhan. Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


9 haan dikenal sebagai Biro Pengendali Op- erasi & Bisnis (POB). Selama periode ini, setiap Kantor Divisi Operasi (DVO) yang berlokasi di Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar, memiliki wewenang penuh da- lam mengelola pengadaan barang dan jasa secara independen. Struktur ini memungkinkan setiap DVO untuk memiliki kontrol langsung atas kegiatan pengadaan, yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan karakteristik spesifik dari masing-masing proyek. Dalam struktur awal tersebut, Biro POB berperan sebagai koordinator, namun pengadaan dilakukan secara mandiri oleh setiap kantor DVO. Hal ini mencerminkan adopsi pendekatan desentralisasi dalam pengadaan, di mana pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tersebar di berbagai lokasi. Pendekatan ini memungkinkan adaptasi yang lebih efektif terhadap kondisi dan tantangan lokal, meskipun terdapat potensi kurangnya efisiensi dalam aspek konsistensi dan skalabilitas. Namun, sebuah perubahan signifikan terjadi pada tahun 2017, yang menjadi momen transformatif bagi PT PP. Pada tahun tersebut, seluruh kantor DVO bdeitsuetrutpa, cabang- cabangnya dan semua operasi pengadaan terpusat di kantor utama di Jakarta. Perubahan strategis ini menandai peralihan dari pendekatan desentralisasi ke model pengadaan yang lebih terpusat. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan standarisasi dalam pengadaan barang dan jasa di seluruh perusahaan, menegaskan komitmen PT PP terhadap peningkatan tata kelola korporat yang efektif dan terintegrasi. Integrasi sistem Enterprise Resource Planning (ERP) SAP pada tahun 2017 merupakan langkah krusial dalam evolusi manajemen pengadaan di PT PP. Meskipun sistem SAP pada awalnya dirancang untuk industri manufaktur, PT PP berinovasi dengan menerapkannya di lingkungan BUMN Karya. Ini menandai sebuah terobosan, menunjukkan komitmen PT PP dalam mengadopsi teknologi canggih untuk memperbaiki dan memodernisasi proses bisnisnya, termasuk dalam aspek pengadaan. Kemajuan signifikan selanjutnya terjadi pada tahun 2020, saat evolusi struktural ini berlanjut dengan transformasi Biro POB menjadi Divisi Operation Control & Supply Chain Management (OC & SCM). Perubahan ini menandai babak baru dalam pengelolaan pengadaan di PT PP, dimana pengadaan tidak lagi hanya dianggap sebagai fungsi operasional, tetapi sebagai elemen kunci dari manajemen rantai pasokan yang strategis dan efisien. Saat ini, Divisi Pengendalian Operasi & Manajemen Rantai Pasokan di PT PP merupakan komponen vital yang menyatukan pengendalian operasional dan manajemen rantai pasokan. Transformasi ini mencerminkan penyesuaian PT PP terhadap perkembangan industri dan kebutuhan pasar yang dinamis, memperkuat posisinya sebagai perusahaan yang progresif dan Bab 1. Foundations and Monuments


10 adaptif dalam manajemen pengadaan dan rantai pasokan. Divisi ini mencakup empat departemen utama yang berfungsi mengintegrasikan dan mengoptimalkan berbagai aspek bisnis perusahaan: 1. Departemen Supply Chain Management (Dept. SCM) di PT PP berperan sebagai tulang punggung dalam manajemen rantai pasokan. Dept. SCM menangani fungsi-fungsi kritikal seperti pengadaan, logistik, dan operasi terkait pengadaan. Tanggung jawab utamanya adalah mengelola aliran barang dan jasa, mulai dari pemasok hingga ke konsumen. Departemen ini memainkan peran sentral dalam pengelolaan hubungan dengan pemasok, negosiasi kontrak, dan optimisasi aliran material, memastikan ketersediaan barang dan layanan yang tepat waktu dan efisien untuk mendukung kebutuhan proyek. 2. Departemen Operation Control (Dept. OC) fokus pada pengawasan dan koordinasi operasional keseluruhan perusahaan. Departemen ini memiliki peran penting dalam mengendalikan berbagai aspek operasional, termasuk pemantau- an dan evaluasi kinerja. Kepatuhan terh- adap standar dan prosedur operasional merupakan prioritas utama Dept. OC, yang esensial untuk memastikan efisien- si dan efektivitas dalam eksekusi proyek. 3. Departemen Strategic Marketing memiliki peranan strategis dalam menentukan arah pemasaran dan pengembangan bisnis PT PP. Fokus utama departemen ini adalah pada identifikasi peluangpasar, pengembangan produkdan layanan, serta penentuan strategi pemasaran yang efektif. Kegiatan ini krusial untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan PT PP dan memperkuat Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


11 Supply Chain Management (SCM) di dalam PT PP didefinisikan sebagai proses terintegrasi yang bertujuan untuk mengelola aliran barang, jasa, dan informasi dari pemasok hingga ke konsumen akhir. Proses ini mencakup fungsi-fungsi penting seperti pengadaan strategis, logistik, dan administrasi pengadaan, yang semuanya vital untuk kelancaran dan efisiensi operasional perusahaan. Fungsi SCM di PT posisinya dalam persaingan di industri konstruksi. 4. Departemen Enterprise Resource Planning (ERP) Busines Operation memegang peran kunci dalam mengelola implementasi dan operasional sistem ERP, seperti SAP, yang menjadi inti dari integrasi proses bisnis PT PP. Departemen ini berfokus pada integrasi dan otomatisasi proses bisnis lintas fungsi, termasuk keuangan, pengadaan, manajemen proyek, dan operasional. Perannya esensial dalam memastikan aliran informasi yang efisien dan terintegrasi di seluruh organisasi, meningkatkan transparansi, efisiensi operasional, serta kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik. Transformasi ini mencerminkan komitmen PTPP terhadap penerapan solusi teknologi canggih untuk mencapai efisiensi dan efektivitas operasional yang optimal. PP memainkan peran kunci dalam memastikan efisiensi dan efektivitas dalam pengadaan barang dan jasa. Dalam men- jalankan fungsinya, SCM bertanggung jawab atas identifikasi kebutuhan, pemi- lihan pemasok, negosiasi kontrak, serta manajemen hubungan dengan pemasok. Selain itu, bagian penting dari SCM ada- lah evaluasi dan pengelolaan risiko yang terkait dengan rantai pasokan, memasti- kan kestabilan dan keberlanjutan dalam operasional perusahaan. Adopsi sistem ERP SAP pada tahun 2017 menjadi tonggak penting dalam evolusi SCM di PT PP. Langkah strategis ini diambil untuk menyinkronkan proses pengadaan perusahaan dengan standar industri global. Meskipun SAP awalnya dirancang untuk industri manufaktur, adaptasinya ke dalam konteks PT PP menandakan komitmen perusahaan dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan. Walaupun tantangan dalam adaptasi sistem ini tidak dapat diabaikan, upaya tersebut secara signifikan telah membantu dalam mengoptimalkan proses pengadaan di PT PP, menunjukkan komitmen perusahaan dalam mengimplementasikan solusi teknologi terdepan untuk mencapai efisiensi dan akurasi yang lebih tinggi dalam operasionalnya. Fungsi Supply Chain Management (SCM) di PT PP meliputi aspek penting dari pengelolaan logistik, yang mencakup perencanaan, penyimpanan, dan penVANGUARD LOGISTIK: REVOLUSI SCM DI PT PP Bab 1. Foundations and Monuments


12 gangkutan barang. Aspek ini krusial untuk memastikan ketersediaan bahan dan peralatan yang diperlukan di lokasi proyek tepat waktu dan dalam kondisi optimal. Hal ini esensial dalam mendukung kelan- caran dan efisiensi proyek konstruksi yang dijalankan oleh PT PP. Secara keseluruhan, SCM di PT PP telah mengalami evolusi signifikan, berkembang dari sekadar fungsi pengadaan menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Fungsi ini kini memainkan peran vital dalam memastikan aliran lancar barang dan jasa, yang tidak hanya mendukung operasi sehari-hari, tetapi juga berkontribusi dalam pencapaian tujuan strategis perusahaan. Transformasi ini menegaskan pergeseran SCM dari sebuah fungsi yang bersifat operasional menjadi komponen strategis dalam struktur perusahaan. Dalam struktur organisasi Departemen SCM di PT PP, terdapat berbagai peran yang terintegrasi dengan baik untuk memastikan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan rantai pasokan. Integrasi ini mencerminkan komitmen PTPP dalam menerapkan praktik-praktik terbaik dalam manajemen rantai pasokan, yang tidak hanya mendukung keberhasilan operasional, tetapi juga menguatkan posisi strategis perusahaan dalam industri konstruksi. Setiap peran dalam departemen ini memiliki tanggung jawab khusus, namun semuanya saling terkait dan berkontribusi dalam menciptakan sistem pengelolaan rantai pasokan yang komprehensif dan efektif: 1. Manager Strategic Procurement, yakni berfokus pada pengembangan dan implementasi strategi pengadaan. Tugasnya adalah mengoptimalkan pembelian barang dan jasa, melalui analisis pasar, pemilihan pemasok, dan negosiasi kontrak. Strategi yang dikembangkan bertujuan untuk mengurangi biaya, meningkatkan kualitas, dan memastikan keberlanjutan pasokan. 2. Manager Procurement Administration, posisi ini bertanggung jawab atas administrasi proses pengadaan. Fungsi ini meliputi pengelolaan dokumentasi, pelaporan, dan manajemen data yang berkaitan dengan pengadaan. Peran ini sangat vital dalam memastikan bahwa seluruh aktivitas pengadaan dijalankan sesuai dengan peraturan dan standar yang berlaku, serta mencatat semua transaksi dan kontrak dengan pemasok. 3. Dalam struktur organisasi Departemen Supply Chain Management di PT PP, posisi Manager Logistik memiliki peran yang sangat krusial dalam mengelola aspek logistik perusahaan. Tugas utamanya mencakup perencanaan, penyimpanan, dan pengangkutan barang, yang sangat penting untuk memastikan ketersediaan bahan dan peralatan di lokasi proyek secara tepat waktu dan kondisi yang sesuai. Hal ini berperan kunci dalam mengurangi keterlambatan dan meningkatkan efisiensi proyek. 4. Manager Procurement Operations, yang terdiri dari Infrastruktur, Gedung, dan EPC (Engineering, Procurement, and Construction), masing-masing memiliki tanggung jawab pengadaan spesifik dalam bidangnya. Tugas mereka meliputi Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


13 penilaian kebutuhan, pengelolaan kontrak, dan koordinasi dengan pemasok, memastikan proses pengadaan berjalan lancar dan sesuai dengan spesifikasi proyek. Pada tingkat yang lebih luas, Supply Chain Management (SCM) merupakan pendekatan terintegrasi yang bertujuan untuk mengelola aliran barang, informasi, dan keuangan dari pemasok awal hingga ke konsumen akhir. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam memenuhi permintaan pelanggan. SCM melibatkan koordinasi dan kolaborasi antar berbagai entitas, termasuk pemasok, perantara, penyedia layanan logistik, dan pelanggan. Aspek kunci dari SCM meliputi manajemen persediaan, pengadaan, produksi, distribusi, serta integrasi informasi. Pendekatan ini esensial dalam membantu perusahaan untuk mengurangi biaya, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki respons terhadap dinamika pasar dan permintaan pelanggan. Konsep SCM ini juga berkaitan erat dengan Demand Chain Management (DCM), sebagaimana dijelaskan oleh Luciano Klein da Luz dan R. A. Cassel dalam artikel mereka “Demand chain management & supply chain management” menyoroti hubungan antara DCM dan SCM dalam konteks peningkatan layanan kepada pelanggan di lingkungan yang ditandai dengan variasi permintaan yang PRINSIP PREDIKTIF DAN EFISIENSI Bab 1. Foundations and Monuments


14 konstan, kemudahan global dalam memperoleh produk, dan pengenalan produk baru yang cepat melalui teknologi baru. Hubungan ini menekankan pada pentingnya agilitas dan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, sebuah aspek kritikal dalam strategi bisnis modern (Klein da Luz, 2022). Selanjutnya, evolusi konsep SCM sejak pertengahan abad ke-20 telah mengalami perubahan signifikan, berawal dari kebutuhan logistik militer selama Perang Dunia II. Awalnya difokuskan pada pengiriman, penyimpanan, dan penanganan bahan, konsep ini berkembang menjadi “Logistics Management” pada era 1950- an dan 1960-an. Dengan kemajuan teknologi informasi pada 1970-an, SCM mengalami transformasi lebih lanjut, memungkinkan integrasi dan koordinasi yang lebih efisien di seluruh rantai pasokan. Di era yang sama, konsep “Total Quality Management” (TQM) juga mulai berkembang, memberikan perhatian lebih pada kualitas dan efisiensi. Sebuah studi oleh Pratiwi menunjukkan bahwa praktik SCM, TQM, dan Just-In-Time (JIT) memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja kualitas di perusahaan manufaktur di Jawa Barat, Indonesia. Hal Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


15 ini menegaskan pentingnya penerapan praktik efektif dalam SCM, TQM, dan JIT untuk meningkatkan kinerja kualitas di sektor manufaktur (Pratiwi, Susilowati, Syukriah, Pianda, & Susanti, 2023). Pada dekade 1980-an, konsep “Just-InTime” (JIT) manufacturing yang dipopulerkan oleh Toyota, membawa terobosan penting dalam evolusi SCM. Konsep ini menekankan pentingnya mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi operasional. Sebuah studi yang dilakukan oleh Khoza et al. (2022) dalam industri baja di Afrika Selatan menunjukkan bahwa penerapan praktik lean seperti JIT, Total Quality Management (TQM), kemitraan strategis, dan penghapusan limbah berkontribusi terhadap pembentukan budaya lean. Hal ini secara signifikan mempengaruhi daya saing dalam rantai pasokan, menegaskan bahwa pengurangan pemborosan dan peningkatan efisiensi adalah kunci untuk mencapai keunggulan kompetitif (Khoza, Mafini, & Oko, 2022). Memasuki era 1990-an dan seterusnya, SCM berkembang menjadi pendekatan yang lebih holistik dan strategis. Munculnya konsep-konsep seperti “Lean Manufacturing” dan “Agile Manufacturing” telah memperluas fokus SCM. Kpoadnasep-konsep ini berorientasi terhadap perubahan permintaan, dan eliminasi pemborosan, menandai babak baru dalam sejarah manajemen rantai pasokan. Penelitian oleh Oteng et al. (2022) menemukan bahwa faktor eksternal seperfleksibilitas, respons cepat Perkembangan Supply Chain Management (SCM) telah mengalami transformasi yang signifikan sejak asal usulnya pada era Perang Dunia II. Dalam artikel “Sustainable Supply Chain Management and Green Technologies: A Bibliometric Review of Literature” transisi ke Sustainable Supply Chain Management (SSCM) dibahas, menekankan pentingnya inovasi teknologi dan manajemen limbah padat dalam konteks ini. Analisis bibliometrik dalam studi ini memperlihatkan lima tema utama dalam SSCM, termasuk transisi ke teknologi informasi dan SSCM dalam rantai pasokan tertutup. Evolusi ini menandai pergeseran SCM dari sekedar fokus pada efisiensi logistik menjadi pendekatan yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan keberlanjutan (Yu, et al., 2022). Pada era modern, teknologi informasi telah mengubah wajah SCM secara drasti lalu lintas jalan berdampak signifikan pada kinerja rantai pasokan di Ghana. Temuan ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan faktor eksternal dalam strategi SCM, menegaskan bahwa lingkungan operasional dan kondisi ek- sternal dapat mempengaruhi efektivitas manajemen rantai pasokan. Pendekatan holistik ini dalam SCM tidak hanya mengoptimalkan operasi internal, tetapi juga menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar dan lingkungan eksternal untuk mencapai efisiensi maksimal (Oteng , Opoku, & Gyam, 2022). TEKNO-TRANSFORMASI ERA BARU SCM Bab 1. Foundations and Monuments


tis. Dalam konteks ini, penelitian “Indian Agriculture Supply Chain Management using Blockchain Technology and CNN” menggarisbawahi bagaimana teknologi blockchain dapat meningkatkan transparansi dan komunikasi dalam rantai pasokan pertanian di India. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya teknologi dalam mengatasi berbagai tantangan logistik dan manajemen rantai pasokan, khususnya dalam konteks pertanian di negara berkembang. Inovasi teknolo- gi seperti blockchain tidak hanya memperkuat aspek teknis dari SCM tetapi juga membantu dalam mengatasi tantangan so- sial dan ekonomi (D. N. V. S. L. S. Indira, 2022). Lebih lanjut, Lei Ren dan rekan-rekan memperkenalkan sebuah model pembelajaran penguatan multi-agen untuk optimasi rute kendaraan dalam SCM. Penelitian ini menyoroti bagaimana teknikteknik canggih dalam pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas manajemen rantai pasokan, terutama dalam konteks perencanaan rute kendaraan. Pendekatan ini merepresentasikan pergeseran paradigma dalam SCM, dari metode heuristik tradisional menuju solusi yang didorong oleh data dan otomatisasi (Ren, et al., 2022). Artikel “Enhancing Transparency and Traceability in Supply Chain Management Through Santhosh Kumar, yang dimuat di International Journal of Automobile Engineering, mengungkapkan manfaat integrasi blockchain dalam SCM. Penerapan teknologi ini meningkatkan transparansi dan pelaBlockchain Integration” oleh cakan, mengurangi risiko penipuan dan pemalsuan. Meski dihadapkan pada tantangan seperti kompleksitas teknis dan masalah skalabilitas, integrasi blockchain dilihat sebagai langkah besar menuju ma- najemen yang lebih transparan, terlacak, dan efisien (Kumar, 2024). Dalam studi yang dipublikasikan di Engineering Science & Technology Journal, melakukan analisis mendalam tentang implementasi, tantangan, dan prospek masa depan teknologi blockchain dalam SCM. Studi ini menunjukkan dampak signifikan dari blockchain dalam meningkatkan transparansi dan efisiensi rantai pasokan. Tantangan utama termasuk hambatan teknologi, ketidakpastian regulasi, dan perlunya kolaborasi antar pemangku kepentingan. Kesimpulan mereka menegaskan bahwa blockchain menawarkan keuntungan strategis dalam rantai pasokan, khususnya dalam hal pengurangan biaya, efektivitas operasional, dan keberlanjutan lingkungan (Oriekhoe, et al., 2024). Dalam artikel “Machine Learning for Supply Chain Management in Industrial 4.0 Era: A Bibliometric Analytics” yang diterbitkan di Taylor & Francis Online, dilakukan analisis bibliometrik untuk mengidentifikasi tren penelitian terkini dalam penerapan pembelajaran mesin dalam SCM di era industri 4.0. Hasil analisis mengungkapkan pentingnya teknologi seperti pembelajaran mesin dalam meningkatkan kompetensi operasional perusahaan dan rantai pasokan. Penelitian ini juga menyoroti kebutuhan untuk penjelasan metodis lebih lanjut mengenai penerapan pembelajaran mesin dalam SCM dan in16 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


dustri 4.0, menandai era baru dalam inovasi teknologi dan manajemen rantai pasokan (Pattnaik, Mishra, & Pattnai, 2024). Keseluruhan perkembangan dalam Supply Chain Management (SCM) menggambarkan sebuah transformasi mendalam yang menyesuaikan diri dengan tantangan dan kebutuhan kontemporer. Mulai dari awal mula di era Perang Dunia II hingga era modern, SCM telah meluas dari fokusnya pada efisiensi logistik menjadi pendekatan yang menggabungkan keberlanjutan, teknologi, dan inovasi. Integrasi teknologi seperti blockchain telah membuka jalan bagi peningkatan transparansi dan keandalan, sementara penerapan teknologi canggih seperti pembelajaran mesin menjanjikan efisiensi operasional yang lebih tinggi. Studi-studi ini menunjukkan bagaimana SCM terus beradaptasi dan berevolusi, tidak hanya dalam mengatasi tantangan logistik tetapi juga dalam mengintegrasikan keberlanjutan dan kemajuan teknologi. Dengan demikian, SCM saat ini tidak hanya vital dalam operasi bisnis tetapi juga dalam membentuk masa depan rantai pasokan yang lebih cerdas, berkelanjutan, dan responsif terhadap perubahan dinamis dalam lingkungan global. 17 Bab 1. Foundations and Monuments


18 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


19 Bab 1. Foundations and Monuments


20 MENYUSURI ARUS IMPOR DALAM KONSTRUKSI Dalam ekosistem global yang terus berkembang, manajemen rantai pasokan (SCM) memegang peranan penting, terutama dalam industri konstruksi dan fabrikasi. Impor fabrikasi, yang mengacu pada pengadaan produk jadi atau BAB 2 Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


21 semi-jadi dari luar negeri untuk perakitan atau proses produksi lebih lanjut, berbeda secara mendasar dengan impor konstruksi. Impor konstruksi berkaitan dengan pengadaan bahan baku, mesin, dan komponen untuk proyek infrastruk- tur atau bangunan, menuntut koordinasi yang ketat dan sinkronisasi waktu yang presisi antara berbagai entitas dalam rantai pasokan untuk memenuhi jadwal proyek yang ketat (Basuki & Mahendra, 2021). Ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan SCM yang disesuaikan untuk mengatasi tantangan unik yang dihadapi oleh proyek konstruksi dibandingkan dengan fabrikasi. Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti Internet of Things (IoT), platform manajemen rantai pasokan berbasis cloud, dan sistem Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi “GREAT THINGS IN BUSINESS ARE NEVER DONE BY ONE PERSON, THEY’RE DONE BY A TEAM OF PEOPLE” (STEVE JOBS)


22 perencanaan sumber daya perusahaan (ERP) menjadi kunci dalam mengoptimalkan SCM. Teknologi ini memungkinkan peningkatan transparansi, percepatan aliran informasi, dan peningkatan akur- asi dalam pelacakan inventaris (Wang, 2015). Khususnya, IoT memfasilitasi pe- mantauan waktu nyata atas pergerakan material, memungkinkan identifikasi dan penanganan proaktif atas potensi hambatan dalam rantai pasokan sebelum mereka mempengaruhi jadwal proyek. Analitik data memainkan peran penting dalam memprediksi permintaan material dan komponen serta mengoptimalkan rute logistik. Dengan menggabungkan analisis tren data historis dengan kondisi pasar saat ini, perusahaan dapat membuat keputusan pembelian yang lebih tepat, mengurangi kelebihan inventaris, dan meminimalkan risiko keterlambatan pengiriman. Teknologi prediktif dan alat kolaboratif online meningkatkan kerjasama antar kontraktor, pemasok, dan produsen, memastikan bahwa semua pihak memiliki akses ke informasi terkini (Nawi, 2018). Dalam skala global, zona perdagangan bebas (FTZ) dan kerjasama geopolitik (FTA) Free Trade Agreement menawarkan peluang untuk memfasilitasi impor konstruksi dengan menawarkan keuntungan seperti penundaan, pengurangan, atau penghapusan bea masuk dan pajak, yang dapat secara signifikan menurunkan biaya material dan komponen impor. Kerjasama internasional membuka akses ke pasar baru dan memperkuat hubungan dagang, memperluas jaringan pemasok dan memperkaya diversifikasi sumber material konstruksi (Amade, 2017). Efisiensi dalam manajemen rantai pasokan (SCM) merupakan faktor kritis yang berkontribusi tidak hanya pada pengurangan biaya dan waktu pengiriman tetapi juga pada peningkatan keberlanjutan lingkungan. Penerapan praktik SCM yang efisien, seperti pengoptimalan rute pengiriman, dapat menghasilkan penghematan signifikan dalam biaya logistik. Misalnya, dengan menganalisis dan memilih rute pengiriman yang paling efisien, perusahaan dapat mengurangi jarak tempuh, yang secara langsung mengurangi konsumsi bahan bakar dan biaya operasional. Selain itu, penggunaan teknologi canggih untuk pemantauan dan pengelolaan armada dapat mengidentifikasi kendaraan yang beroperasi di bawah kapasitas optimal, memungkPendekatan holistik terhadap SCM dalam impor konstruksi yang mengintegrasikan teknologi canggih, kerjasama internasional, dan keberlanjutan, menjanjikan eyafinsigensileobpiherasbioensaalr dan keberhasilan proyek. Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


23 inkan penyesuaian dalam waktu nyata yang mengurangi perjalanan yang tidak perlu dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Pengurangan biaya juga dapat dicapai melalui pemilihan bahan yang ramah lingkungan dan efisien dari segi biaya. Misalnya, penggunaan material daur ulang atau lokal dapat mengurangi biaya transportasi dan mendukung ekonomi lokal, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari pengiriman material jarak jauh. Praktik ini tidak hanya menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan tetapi juga memperkuat reputasi perusahaan sebagai entitas yang berkomitmen terhadap keberlanjutan. Keberlanjutan dalam SCM, seperti yang dijelaskan oleh Hemakumar, mencakup upaya untuk mengurangi emisi karbon dan memilih bahan yang ramah lingkungan. Ini berkontribusi pada pengurangan jejak karbon industri konstruksi secara keseluruhan. Keberlanjutan ini tidak hanya membantu perusahaan memenuhi regulasi dan standar lingkungan yang lebih ketat tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi risiko terkait perubahan iklim. Dari perspektif kerugian, ketidakefisienan dalam SCM dapat mengakibatkan biaya yang signifikan bagi perusahaan. Misalnya, keterlambatan dalam pengiriman bahan dapat menyebabkan penundaan proyek, yang tidak hanya meningkatkan biaya tenaga kerja dan penggunaan peralatan tetapi juga berpotensi mengakibatkan denda atau kerugian pendapatan karena penundaan penyelesaian proyek. Oleh karena itu, penerapan praktik SCM yang efisien dan berkelanjutan merupakan investasi strategis yang dapat mengurangi risiko finansial dan meningkatkan ketahanan perusahaan terhadap volatilitas pasar dan gangguan rantai pasokan. Dalam konteks ini, studi oleh Nawi et al. (2018) menunjukkan pentingnya integrasi dan koordinasi yang efektif dalam SCM untuk mengatasi keterlambatan dan pemborosan dalam proyek konstruksi. Lebih lanjut, penelitian oleh Basuki (2021) menggarisbawahi pentingnya manajemen risiko proaktif dalam SCM untuk memastikan keberlanjutan pasokan material dan menghindari gangguan dalam jadwal konstruksi. Kedua studi ini memberikan bukti empiris tentang bagaimana efisiensi dalam SCM dapat mengurangi biaya dan meminimalkan risiko kerugian, sambil mendukung tujuan keberlanjutan lingkungan. Pendekatan holistik terhadap SCM dalam impor konstruksi yang mengintegrasikan teknologi canggih, kerjasama internasional, dan keberlanjutan, menjanjikan efisiensi operasional yang lebih besar dan keberhasilan proyek. Dengan inovasi dan kolaborasi, sektor konstruksi dapat mengatasi tantangan logistik yang kompleks, mencapai efisiensi yang lebih besar, keberlanjutan, dan keberhasilan proyek dalam lingkungan yang kompetitif dan dinamis (Kim, Zhang, & Park, 2020) manajemen rantai pasokan (SCM) yang efisien dalam industri konstruksi merupakan kunci untuk mengatasi berbagai Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


24 Dalam menghadapi kompleksitas yang semakin meningkat dalam lingk- up pengadaan global, Dept. SCM PT PP telah mengambil langkah strategis yang signifikan melalui pengembangan dan implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang efektif dan berketantangan logistik dan memenuhi jadwal proyek yang ketat, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti Internet of Things (IoT), analitik data besar, dan platform manaje- men berbasis cloud untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi. Implementasi strategi SCM yang berkelanjutan tidak hanya membawa penghematan biaya dan waktu yang signifikan melalui optimasi rute pengiriman dan pemilihan material yang ramah lingkungan tetapi juga mengurangi dampak lingkungan, menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Kerjasama geopolitik (FTA) dan pemanfaatan zona perdagangan bebas (FTZ) membuka peluang untuk mengurangi biaya impor dan memperkuat hubungan dagang. Efisiensi operasional dan keberlanjutan yang dicapai melalui praktik SCM yang cermat membantu perusahaan mengurangi risiko finansial, meningkatkan ketahanan terhadap volatilitas pasar, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan, memposisikan sektor konstruksi untuk sukses dalam ekosistem global yang dinamis dan kompetitif lanjutan. Langkah ini diwujudkan dalam formulasi Work Instruction (WI) impor, sebuah dokumen krusial yang berfung- si sebagai panduan dalam manajemen impor barang dengan efisiensi tinggi, sekaligus menjamin kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Inisiatif ini merupakan manifestasi dari penerapan prinsip-prinsip best practice dalam SCM, yang menekankan pentingnya efisien- si operasional dan kepatuhan terhadap standar hukum serta etika. Perumusan WI impor pada Juli 2023 menjadi tonggak penting bagi Dept. SCM PT PP, merespons secara langsung terhadap eskalasi volume impor dan kebutuhan akan prosedur yang lebih terstruktur. Dept. SCM PT PP, dengan akumulasi keahlian dan wawasan bertahun-tahun, telah mengidentifikasi dan merinci peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi inisiatif ini. Salah satu tujuan utama dari perumusan WI adalah untuk mengatasi insiden ketidaksesuaian antara pemesanan impor dengan laporan, sebuah kondisi yang sebelumnya telah menimbulkan disrupsi operasional yang signifikan. Sebelum implementasi WI impor, Dept. SCM menghadapi tantangan-tantangan berupa seringnya terabaikannya aspek perizinan, ambiguitas dalam hierarki komando, dan koordinasi antardepartemen yang suboptimal. SCM PT PP menegaskan pentingnya pengendalian proses impor yang lebih rigoris, melibatkan tidak hanya Dept. Keuangan PT PP namun juga Direksi PT PP, untuk mencipMEMBANGUN GLOBAL JEMBATAN SCM Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


25 takan sistem yang transparan dan terorganisir. Pendekatan ini menunjukkan kesadaran mendalam terhadap kebutuhan integrasi dan komunikasi yang lebih baik antara berbagai elemen organisasi. Analisis pada proyek Jetty MMP 2024 memperlihatkan aplikasi praktis dari WI impor yang telah dirancang, menunjukkan perubahan metodologi yang signifikan dalam pengelolaan impor dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi sebelumnya. Dept. SCM PT PP membagikan wawasan berharga yang diperoleh dari pengalaman proyek Grand Stand Mandalika tahun 2019, yang telah meletakkan fondasi bagi pemahaman yang lebih komprehensif mengenai intricacies of importation dalam konteks SCM. Implementasi WI impor pada proyek Jetty MMP telah terbukti meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional secara signifikan. Analisis mendalam mengenai perbedaan intrinsik antara impor untuk fabrikasi dan konstruksi. Berbekal pengalaman ekstensif sebagai ahli expediting, beliau menyoroti dampak regulasi dan praktik impor di Indonesia pada kedua proses tersebut, terutama dalam konteks penggunaan surveyor independen untuk komoditas yang dikategorikan sebagai Lartas. Ini menunjukkan pentingnya pemahaman mendalam terhadap kerangka kerja hukum yang mengatur impor dan adaptasi terhadap regulasi yang berubah-ubah. WI impor yang kini diterapkan telah memicu transformasi substantif dalam proses pengelolaan impor di Dept. SCM PT PP. Juga menekankan pentingnya WI Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


26 yang dinamis, yang adaptif terhadap perubahan regulasi. Hal ini menunjukkan pengakuan terhadap dinamika lingkungan bisnis dan regulasi, serta kebutuhan untuk terus memperbarui dan menyesuaikan prosedur internal agar tetap relevan dan efektif. Pentingnya integrasi WI dalam proses tender dan ekspedisi merupakan sebuah strategi yang memastikan Dept. SCM PT PP memiliki keluwesan dan responsivitas terhadap dinamika pasar dan regulasi yang berfluktuasi. Hal ini mencerminkan pendekatan proaktif dalam menghadapi ketidakpastian, dengan memastikan bahwa standar operasional dapat mendukung kebutuhan bisnis yang terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan eksternal. Pengembangan WI impor menandai era baru dalam pengelolaan impor di PT PP, dengan fokus pada peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi dalam semua aspek operasional. Implementasi WI ini telah mendorong kultur kerja yang lebih kolaboratif dan terpadu, dimana pengeta- huan dan informasi dibagi secara luas untuk meningkatkan pemahaman bersama ten- tang kebijakan dan prosedur yang berlaku. Adopsi teknologi informasi dalam proses impor juga menjadi aspek penting dalam peningkatan efisiensi dan efektivitas operasional. Pemanfaatan sistem informasi yang terintegrasi memungkinkan pemantauan dan pengelolaan proses impor secara real-time, memastikan aliran komunikasi yang lancar dan pengambilan keputusan yang cepat berdasarkan data yang akurat dan terkini. Kesimpulannya, pengembangan dan implementasi Work Instruction (WI) impor, WI No.PP/DIVOC&SCM/W/027 oleh Dept. SCM PT PP merupakan langkah strategis yang mendalam dalam Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


27 meningkatkan efisiensi dan kepatuhan operasional. Inisiatif ini tidak hanya menunjukkan komitmen terhadap penerapan best practice dalam management supply chain, tetapi juga terhadap adaptasi dan inovasi dalam menghadapi tantangan pengadaan global. Melalui kolaborasi, integrasi, dan adaptasi yang berkelanjutan, Dept. SCM PT PP berhasil menavigasi kompleksitas pengadaan global dengan strategi yang berkelanjutan dan responsif, sekaligus menegaskan posisinya sebagai pemimpin dalam praktik management supply chain yang efektif dan berkelanjutan. ● Konsep Dasar Impor dan Custom Clearance dalam SCM Konstruksi Impor dalam konteks Supply Chain Management (SCM) konstruksi merupakan sebuah proses multidimensional yang melibatkan berbagai aspek, termasuk kepatuhan terhadap regulasi, pengurusan dokumen secara akurat, serta pengelolaan logistik dan keuangan yang efisien. Custom clearance, sebagai tahapan krusial dalam proses impor, memerlukan pemahaman yang luas mengenai sistem kepabeanan di Indonesia. Hal ini mencakup pengetahuan mengenai prosedur pengajuan Pemberitahuan Impor Barang (PIB), mekanisme pembayaran pajak dan bea masuk, serta prosedur untuk inspeksi fisik barang. Proses ini menuntut akurasi dan ketepatan waktu untuk memastikan barang dapat diimpor tanpa hambatan yang signifikan. ● Kerangka Regulasi Impor di Indonesia Regulasi impor di Indonesia dibentuk oleh rangkaian undang-undang, peraturan pemerintah, dan kebijakan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Perusahaan yang bergerak di bidang impor wajib mematuhi Undang-Undang Kepabeanan dan memahami setiap perubahan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) serta Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berkaitan dengan impor. Contohnya, Undang-Undang Kepabeanan No. 17 Tahun 2016 dan Permendag No. 44 Tahun 2021 yang mengatur tentang impor barang modal tidak baru, sangat penting untuk dimengerti oleh pelaku usaha di sektor konstruksi. ● Alur Proses Impor Proses impor melibatkan serangkaian tahapan yang dimulai dari identifikasi kebutuhan barang impor, pemilihan supplier yang tepat, hingga pengurusan dokumen impor dan proses pengeluaran barang dari kawasan pabean. Koordinasi yang efektif antara tim SCM, agen pengurusan jasa kepabeanan (PPJK), dan instansi terkait menjadi sangat krusial. Aspek teknis seperti pengecekan kode Harmonized System (HS) dan pemahaman tentang International Commercial Terms (Incoterms) merupakan komponen penting yang menunjang kepatuhan terhadap regulasi dan efisiensi biaya. Menyusun Strategi Impor Yang Efektif Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


28 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports Dept. SCM PT PP (sebagai consignee) telah berhasil melaksanakan Importasi Portal Crane di proyek Jetty MMP (2024)


29 ● Manajemen dan Tanggung Jawab dalam Impor Dalam proses impor, pemahaman mendalam tentang distribusi peran dan tanggung jawab antar divisi menjadi sangat penting. Divisi SCM memiliki tanggung jawab dalam sosialisasi prosedur impor, koordinasi dengan pihak eksternal, dan pemantauan kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah. Divisi Operasi mengaplikasikan prosedur di lapangan dan mengelola hubungan dengan vendor. Sementara itu, Project Manager (PM) dan Tim Proyek memastikan seluruh proses impor berjalan sesuai dengan rencana proyek dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. ● Dokumen dan Perizinan yang Diperlukan Dokumen-dokumen kunci dalam proses impor seperti Pemberitahuan Impor Barang (PIB), Bill of Lading (B/L), dan Certificate of Origin (COO) memegang peranan vital dalam memastikan barang dapat diimpor dan dikeluarkan dari kawasan pabean secara lancar. Proses perizinan, termasuk pengajuan Surat Keputusan Menteri Keuangan (SKMK) untuk fasilitas pembebasan bea masuk, membutuhkan pemahaman rinci mengenai prosedur dan syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan. ● Prosedur Impor dalam Proyek Konstruksi Implementasi prosedur impor dalam proyek konstruksi memerlukan pemahaman yang komprehensif tentang proses pengadaan barang dan jasa, yang meliputi seleksi vendor, negosiasi, dan pembuatan kontrak. Pengajuan PIB dan interaksi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilakukan melalui sistem elektronik, menuntut kemampuan teknis dan pemahaman regulasi yang terkini. ● Implementasi dan Tantangan Pembahasan mengenai studi kasus nyata memberikan wawasan mendalam tentang tantangan yang dihadapi di lapangan, seperti keterlambatan pengiriman, kesulitan dalam proses custom clearance, dan kebutuhan adaptasi terhadap perubahan regulasi. Solusi yang diterapkan, termasuk pemanfaatan teknologi informasi untuk pemantauan dokumen dan barang serta strategi komunikasi yang efektif dengan semua stakeholder, menawarkan pelajaran berharga bagi pelaku industri. Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


30 WORKFLOW IMPORTASI PT PP Tabel 1 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


31 Tabel 2 Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


32 Alur Proses Mendapatkan SKMK Masterlist Tabel 3 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


33 Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi KETENTUAN IMPORTASI DI PTPP Dalam kegiatan transaksi perdagangan internasional (expor-impor) di proyek dapat berupa jual beli produk atau yang membutuhkan suatu kesepakatan kedua pihak sebagai pedoman. Untuk mence- gah adanya perbedaan pendapat, maka diterbitkan Incoterm dan HS code. • Incoterm : Istilah-istilah (seperang- kat kode tiga huruf) yang digunakan da- lam perdagangan internasional untuk mengatur agar tidak terjadi kesalahan interpretasi dalam pembuatan kontrak, dalam Incoterms ini diatur syarat-syarat yang giriman harus dipenuhi dalam penatau penyerahan barang • HS Code : Harmonized System atau biasa disebut HS Code adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan mempermudah penarifan, transaksi perdagangan, pengangkutan dan statistik yang telah diperbaiki dari sistem klasifikasi sebelumnya. Saat ini pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan kepada Harmonized System dan dituangkan ke dalam suatu daftar tarif yang disebut Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). HS Code adalah yang paling menentukan regulasi tiap barang impor maupun ekspor, mencakup dokumen apa saja yang harus dipenuhi oleh importir/eksportir dan menentukan besarnya duty & tax yang harus dibayarkan kepada negara. Pengklasifikasian produk secara international ini bertujuan agar semua negara memiliki persepsi yang sama mengenai jenis barang yang diimpor/ekspor. Dalam pelaksanaan importasi di proyek konstruksi, PTPP akan memulai identifikasi pekerjaan impor dari masa tahapan tender. Tim Tender harus aware dan teliti dengan item-item pekerjaan dalam BOQ yang memungkinkan potensi pekerjaan impor barang. Identifikasi ini mulai dari jenis barang apa yang diimpor, Impor dilakukan oleh owner,vendor atau PTPP sendiri (consignee), adakah peluang mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk hingga perencanaan biaya-biaya custom clearance yang akan ditanggung proyek seperti Bea Masuk, PPN impor, PPh impor. Sebelum memulai kegiatan Import dan Custom Clearance perlu dilaksanakan identifikasi yang menjadi perhatian diantaranya: ✔ Pemilik proyek (owner) apakah dari instansi pemerintah atau dari swasta. Apabila owner proyek adalah instansi pemerintah (Republik Indonesia) biasanya memiliki peluang untuk mengajukan fasilitas pembebasan bea masuk (SKMK/Masterlist) apalagi jika proyek-proyek yang berkaitan dengan pelayanan negara kepada rakyat seperti PLN, kementrian ESDM, BNPB, PAM. ✔ Pemilik proyek (owner) apakah memiliki fasilitas pembebasan importasi atau tidak. Biasanya owner swasta tidak memiliki fasilitas pembebasan SKMK, sehingga bisa lewat jalur fasilitas FTA (Free Trade Agreement). ✔ Legalitas perusahaan (dahulu NIK, API/ sekarang cukup NIB) ✔ Pengecekan HS-code rencana barang import di platform INSW (Indonesia National Single Window) https://insw.go.id/


✔ Memastikan ke calon vendor importir (barang lartas) bahwa mereka memiliki Perijinan Impor (PI) yang masih berlaku dan kuota masih tersedia ✔ Siapa yang bertindak sebagai Pengimpor (Consignee) apakah pemilik proyek (owner) atau PTPP Dengan pengetahuan identifikasi impor barang ini, Tim tender PTPP memiliki nilai tambah dalam strategi pemenangan tender proyek. Tim Tender selain memperhitungkan biaya custom juga melihat lokasi penerimaan barang di proyek tersebut. Pekerjaan impor barang dari luar negeri ke dalam negeri bisa dibedakan berdasarkan wilayah atau daerah penerimaan di dalam negeri diantaranya: - Daerah Pabean - Free Trade Zone (FTZ) - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) - Kawasan Berikat/Tempat Penimbunan Berikat (TPB) - Pusat Logistik Berikat (PLB) luar Pendatangan barang dari negeri (impor barang) oleh vendor yang berkontrak dengan PT PP, dimungkinkan dalam dua kondisi berdasarkan pihak yang melaksanakan import: ✔ Vendor yang berkontrak dengan PT PP merupakan vendor luar negeri, dimana barang import langsung dikirim vendor tersebut dari luar negeri. Contoh: PT PP berkontrak dengan Vendor A (Perusahaan Luar Negeri). ✔ Vendor yang berkontrak dengan PT PP merupakan vendor dalam negeri, dimana vendor melakukan pembelian ke luar negeri (pihak lain di luar negeri). Contoh: PT PP berkontrak dengan 34 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


PT B (Perusahaan Dalam Negeri), Lalu PT B mengimpor barang dari China. Kegiatan Import dan Custom Clearance dilakukan saat mendapat informasi bahwa tender menang dan terdapat material import. kemudian menentukan beberapa calon vendor impor beserta vendor listn- ya yang dituliskan dalam aplikasi MSCS. Jika dalam pengecekan HS Code di Sistem INSW ditemukan bahwa ba- rang impor memiliki lartas (larangan dan pembatasan) maka sesuai regulasi diperlukan 2 pengurusan dokumen ke: • Permohonan Perijinan Impor (PI) ke Kementerian Perdagangan • Penunjukkan Lembaga Surveyor (misal: Surveyor Indonesia/Sucofindo/ lainnya) untuk pembuatan Laporan surveyor (LS) Pelaksanaan proses pengadaan barang dan jasa meliputi seleksi, klarifikasi dan negosasi calon vendor oleh Buy- ingTeam PT PP. Setelah vendor impor terpilih, PT PP membuat kontrak dengan vendor tersebut sesuai dengan ketentuan pada Prosedur Pengadaan Barang dan Jasa No. PP/DIVOC&SCM/P/001. Pengajuan PIB ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tidak dilaksanakan sendiri oleh PT PP, maka dilakukan penunjukkan Pengusaha Pengurusan Peraturan Jasa Kepabeanan Direktorat (PPJK), sesuai Bea PER-10/BC/2022. Jenderal dan Cukai (DJBC) Surat Kuasa yang dibutuhkan masing-masing proyek, dikeluarkan oleh Divisi OC&SCM melalui memo permintaan dari Divisi Operasi untuk selanjutnya diajukan proses tandatangan ke pihak yang memi- liki wewenang import yang tercantum da- lam NIB PT PP. Bilamana pemilik proyek (Owner) memiliki fasilitas pembebasan bea masuk (biasanya owner pemerintah) maka perlu mengurus Fasilitas Master List atau Surat Keputusan Menteri Keuangan (SKMK). Dokumen SKMK ini menjadikan barang impor mendapatkan fasilitas dari negara untuk pembebasan/pengurangan Bea masuk. Flowchart pengurusan SKMK diuraikan tersendiri (Alur Proses Mendapatkan SKMK Masterlist). Notifikasi saat barang/material yang di cargo/vessel sudah mendekati destinasi berupa statement letter yang isinya menyatakan barang-barang dalam list su- dah siap untuk dikirim. Statement letter dikeluarkan oleh exportir/pabrikan neg- ara asal. Setelah Importir mendapatkan notifikasi tersebut, dilakukan persiapan dokumen Shipping yang akan dipergu- nakan dalam proses custom clearance. Dokumennya antara lain: Copy B/L, Copy Invoice, Copy Packing List, HS Code, Legal Dokumen, MSDS, COO (jika ada) dan lain- lain. Jika menggunakan FTA (Free Trade Agreement), COO (Certificate of Origin) harus dikeluarkan oleh Chamber of Commerce, sebagai berikut: Form D dari negara Asean Form E dari negara China Form AK dari negara Korea - - - FTA : Perjanjian Perdagangan Bebas / Free Trade Agreement merupakan perjanjian perdagangan internasional yang melibatkan dua atau lebih pihak-pihak 35 Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


36 yang mengadakan perjanjian yang mengatur pengenaan resiprokal tarif preferensi diantara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian tersebut (WCO, 2018). Sampai dengan September 2023, Indonesia telah mengimplementasikan 18 FTA, baik dalam skema regional, bilateral, maupun multilateral. Contoh FTA yang berlaku di Indonesia seperti: - ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) - ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) - ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) Draf PIB (Pemberitahuan Impor Barang) segera dibuat untuk mensimulasikan nilai Bea masuk, PPN dan PPh sesuai dengan HS Code yang telah disepakati (eksportir dan Importir). Draf PIB yang sudah sesuai dengan Packing list/master list, diajukan ke Bea dan Cukai melalui PDE (Pertukaran Data Elektronik) secara online oleh consignee atau PPJK melalui portal Bea dan Cukai (CEISA). SKP Bea dan Cukai menerima data PIB dan melaksanakan penelitian dan validasi terhadap data-data tersebut. Jika sudah ada kesesuaian akan dikeluarkan E-Billing yang isinya menyatakan keharusan membayar dengan jumlah tertentu ke Kas Negara (Pembayaran Bea Masuk, PPN, PPh). Pemeriksaan barang impor dilakukan secara selektif, salah satunya dengan adanya penetapan penjaluran kepabeanan. Penetapan jalur atas pengeluaran barang impor didasarkan pada profil importir dan komoditas barang impornya. Profil importir disusun oleh bagian pencegahan dan profil komoditas disusun berdasarkan perkembangan importasi jenis barang yang banyak terjadi pelanggaran. Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, ada empat penjaluran kepabeanan meliputi: I. Jalur Merah • Dilakukan kegiatan inspeksi pemeriksaan administrasi dan fisik. Apabila ditemukan tidak ada perbedaan baik secara administrasi maupun fisik maka dokumen dapat disetujui rilis. II. Jalur Hijau • Penjaluran ini dapat merilis dokumen SPPB dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik barang III. Jalur Mitra Utama (MITA) • MITA Prioritas • Dokumen SPPB dirilis oleh Bea dan Cukai tanpa ada pemeriksaan fisik maupun dokumen • MITA Non-Prioritas • Dokumen SPPB akan dirilis dahulu sebelum pemeriksaan fisik barang. IV. Jalur Authorized Economic Operator (AEO) • Dokumen SPPB dirilis oleh Bea dan Cukai tanpa ada pemeriksaan fisik maupun dokumen. Penindakan dan penyidikan dilakukan apabila barang tidak lolos tahapan hasil inspeksi. Tim Proyek wajib menginformasikan ke Divisi Operasi dan Divisi OC-SCM apabila barang atau material tidak lolos pada tahapan inspeksi. Agen yang ditunjuk oleh eksportir akan mengeluarkan Delivery Order (DO) jika ditukar dengan B/L sebagai bukti bahStrategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


37wa Pemilik barang memang benar dan proses administrasi pembayaran sudah sesuai SPPB dan DO merupakan dokumen yang sangat penting sebagai spyeanrgaetluaran Yard Pelabuhan oleh Forwarder/Trans- porter yang ditunjuk PP untuk trans- portasi inland/sea freight menuju site barang dari Container Ketentuan SKMK (Tabel 3) ✔Penyusunan draft RIB bedasarkan Preliminary Packing List yang diterima dari Vendor ✔Consignee atau owner akan merilis Surat Pemberitahuan Penunjukan Lembaga Surveyor. Apabila tidak disetujui oleh Lembaga surveyor maka akan dilakukan revisi terlebih dahulu ✔ Kementerian Perdagangan merilis SK Penunjukan Lembaga Surveyor untuk verifikasi Draft RIB ✔ Hasil dari verifikasi ini berupa laporan RIB yang selanjutnya dipresentasikan ke dirjen terkait dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ✔ RIB yang disetujui oleh Dirjen dan BKPM akan merilis rekomendasi SKMK sebagai lampiran RIB final ✔ SKMK Final akan dirilis oleh Kementerian Keuangan. Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


38 Ijin Timbun Pengajuan ijin timbun bisa dilakukan sewaktu-waktu apabila memiliki satu atau lebih dari kondisi berikut: Saat barang datang atau Cargo/ ✔ vessel sudah bersandar pada pelabuhan namun dokumen pengajuan SKMK/masterlist belum dapat dirilis ✔ Ukuran barang yang terlalu besar sehingga sulit untuk diturunkan dari kapal karena kapasitas pada pelabuhan penerima barang terbatas ✔ Kapal cargo/vessel tidak dapat bersandar pada pelabuhan ✔ Apabila kelengkapan administrasi pengajuan PIB belum terpenuhi Lokasi ijin timbun mengikuti ketentuan sebagai berikut: o Pusat Logistik Berikat (PLB) o Kawasan Berikat/Tempat Penimbunan Berikat (TPB) o Lokasi ijin timbun diajukan bedasarkan kebutuhan proyek PT PP Dokumen impor dan custom clearance wajib diserahkan oleh proyek ke Dept. SCM secara parallel atau setelah proses custom clearance selesai, antara lain namun tidak terbatas pada : ● Copy Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ● Copy Biaya Kepelabuhanan/Dokumen Lain yang Dipersamakan Dengan Faktur Pajak ● Dokumen lainnya yang mencantumkan NPWP PT PP ● B/L, Packing List, COO (jika ada) Dokumen Import yang dilakukan PTPP wajib dilaporkan ke negara oleh Dept. SCM Bersama Divisi Keuangan dalam sistem pelaporan sebagai pencatatan devisa negara yaitu pelaporan : - Laporan Devisa Pembayaran Impor (DPvI) Bank Indonesia - Laporan Kementrian Perdagangan Republik Indonesia Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


39 Bab 2. Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi


40 BAB 3 Faktor Internal SCM Impor Konstruksi Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports MY NUMBER ONE PIECE OF ADVICE IS: YOU SHOULD LEARN HOW TO PROGRAM (MARK ZUCKERBURG)


SCM TERPUSAT DALAM IMPOR KONSTRUKSI Dalam arsitektur organisasi perusahaan konstruksi, integrasi strategis Manajemen Rantai Pasokan (SCM) terpusat memainkan peran krusial, terutama dalam konteks impor bahan dan komponen konstruksi. Ketika SCM diletakkan langsung di bawah pengawasan Direktur Keuangan, seperti yang disarankan oleh (Watermeyer, 2012), ini tidak hanya menciptakan sistem yang terpusat namun juga memfasilitasi kontrol yang lebih efektif dan responsif terhadap dinamika keuangan serta operasional perusahaan. Dalam konteks impor, pendekatan terpusat ini memungkinkan perusahaan untuk lebih efisien dalam mengelola aliran bahan baku dan komponen dari berbagai sumber global, memastikan bahwa proyek dapat diselesaikan tepat waktu dan anggaran. Keuntungan utama dari SCM terpusat dalam impor konstruksi terletak pada pengawasan keuangan dan legalitas kontrak yang lebih ketat. Pendekatan terpusat memberikan visibilitas yang lebih baik atas transaksi dan aliran kas, memungkinkan deteksi dini potensi fraud dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi internasional. Pengelolaan risiko fiskal yang efektif dalam model PPP (Public-Private Partnership) dapat mengurangi risiko fiskal dan meningkatkan peluang sukses proyek. Dalam konteks impor, hal ini menekankan betapa pentingnya memiliki sistem SCM yang dapat mengelola risiko dan memastikan bahwa semua aktivitas impor 41 Bab 3. Faktor Internal SCM Impor Konstruksi


42 mematuhi hukum dan standar yang relevan (Du, 2019). Menggunakan analogi sistem saraf pusat, SCM terpusat dalam impor konstruksi dapat diibaratkan sebagai ‘otak’ dan mengontrol aliran bahan dari yang mengkoordinasikan berbagai belahan dunia ke lokasi proyek. Sistem ini memastikan bahwa semua bahan dan komponen yang diperlukan tersedia pada waktu yang tepat, mengurangi waktu tunggu dan biaya yang tidak perlu. Integrasi yang erat antara keuangan dan operasional memungkinkan perusahaan konstruksi untuk terhadap merespons dengan cepat bahan, fluktuasi kurs, dan tantangan logistik, perubahan harga memaksimalkan efisiensi dan mengurangi kerugian. Namun, pendekatan terpusat ini terutama dalam hal fleksibilitas dan kecepatan respons terhadap kondisi pasar lokal atau perubahan mendadak dalam tidak tanpa tantangan, ketersediaan bahan. Kritik utama terhadap SCM terpusat menyoroti risiko ketergantungan berlebih pada satu pusat keputusan, yang mungkin kurang agil dalam merespons kebutuhan spesifik proyek atau masalah logistik yang muncul. Oleh karena itu, penting buangtui k pemruesnagheamanbankgoknasntrukmsiekanisme umpan balik yang efektif dan memungkinkan tingkat otonomi tertentu di tingkat lokal, untuk memastikan bahwa keputusan dapat diambil cepat dan tepat saat dibutuhkan. Kesimpulannya, SCM terpusat dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas impor dalam industri konstruksi. Melalui kontrol yang lebih baik atas pengawasan keuangan dan legalitas kontrak, serta koordinasi yang efisien dari aliran bahan memainkan peran vital baku dan komponen, perusahaan dapat mencapai penyelesaian proyek yang lebih sukses secara finansial dan operasional. Namun, kunci keberhasilan terletak pada keseimbangan antara kontrol pusat yang kuat dan fleksibilitas lokal, memastikan bahwa perusahaan dapat beradaptasi dengan dinamika pasar global yang cepat berubah sambil SCM terpusat memainkan peran vital dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas impor dalam industri konstruksi. Melalui kontrol yang lebih baik atas pengawasan keuangan dan legalitas kontrak, serta koordinasi yang efisien dari aliran bahan baku dan komponen, perusahaan dapat mencapai penyelesaian proyek yang lebih sukses secara finansial dan operasional. Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


43 Inovasi dalam e-procurement dan pengelolaan rantai pasokan (SCM) dalam konteks impor konstruksi merepresentasikan sebuah pergeseran paradigma yang signifikan, menuju efisiensi operasional yang lebih tinggi dan integritas proses pengadaan yang lebih kuat. Implementasi sistem e-procurement dalam industri konstruksi, khususnya yang berkaitan dengan impor bahan dan komponen, menjanjikan pengurangan dramatis dalam waktu dan biaya yang terkait dengan pengadaan. Ini sangat relevan dalam konteks global dimana efisiensi pengadaan langsung mempengaruhi kecepatan dan biaya keseluruhan proyek konstruksi. Sebagai contoh spesifik, keberhasilan sistem e-procurement yang diterapkan oleh pemerintah Singapura, GeBIZ, dalam konteks pengadaan publik, dapat diadaptasi dan diterapkan dalam industri konstruksi untuk mempercepat proses impor bahan dan komponen, dengan menjamin keadilan dan transparansi bagi semua pihak terlibat (Huang, 2015). Analisis lebih lanjut mengenai mekanisme kerja e-procurement dalam industri konstruksi mengungkapkan potensi untuk meningkatkan transparansi mempertahankan standar tinggi dalam pengelolaan proyek konstruksi. dan mengurangi risiko korupsi melalui teknologi canggih seperti blockchain. Dalam konteks impor konstruksi, penerapan teknologi blockchain memungkinkan dokumentasi yang tidak dapat diubah dari asal-usul bahan dan komponen, serta memverifikasi setiap tahapan pengiriman dari pemasok ke lokasi proyek. Ini tidak hanya memperkuat integritas proses pengadaan tetapi juga memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan dan etika, yang semakin menjadi fokus dalam proyek konstruksi global (Imamoglu & Rehan, 2011). Pentingnya sistem e-procurement dan SCM yang efisien dalam impor konstruksi menjadi jelas ketika mempertimbangkan dampak langsungnya terhadap daya saing global perusahaan konstruksi. Dengan mengoptimalkan proses impor, perusahaan dapat merespons dengan lebih cepat terhadap kebutuhan proyek, mengurangi downtime yang terkait dengan menunggu pengiriman bahan, dan secara signifikan mengurangi biaya overhead. Efisiensi ini bukan hanya meningkatkan margin keuntungan tetapi juga memposisikan perusahaan konstruksi sebagai pemimpin pasar yang bertanggung jawab dan transparan, memperkuat reputasi mereka di mata pemangku kepentingan dan klien. Kesimpulan dari diskusi ini menegaskan bahwa adopsi inovasi dalam e-procurement dan pengelolaan SCM dalam impor konstruksi bukan hanya strategi INOVASI E-PROCUREMENT DALAM SCM KONSTRUKSI Bab 3. Faktor Internal SCM Impor Konstruksi


untuk mencapai efisiensi operasional dan pengurangan biaya; ini merupakan landasan untuk membangun praktik bisnis yang bertanggung jawab, berkelanjutan, dan etis. Dengan menekankan pada pengembangan dan implementa- si sistem e-procurement dan teknologi SCM yang canggih, industri konstruksi dapat menghadapi tantangan global dengan lebih efektif, memastikan integritas dan transparansi proses pengadaan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan keunggulan kompetitif dalam ekonomi global yang saling terhubung. Melalui peningkatan fokus pada inovasi teknologi dan praktek pengelolaan yang baik, industri Dalam era digital saat ini, adaptasi dan integrasi teknologi seperti Building Information Modeling (BIM) dan Enterprise Resource Planning (ERP) dalam Supply Chain Management (SCM) impor konstruksi tidak hanya mengubah lanskap operasional tetapi juga menuntut evolusi dalam hubungan manusia dengan teknologi. Studi Smith dan Tatum (2022) menggarisbawahi betapa konstruksi dapat memastikan bahwa proses impor mereka tidak hanya efisien tetapi juga memenuhi standar etis dan lingkungan global yang tertinggi. HARMONI MANUSIA DAN TEKNOLOGI 44 “inovasi teknologi membuka peluang untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi potensi korupsi, dengan teknologi seperti blockchain yang memungkinkan dokumentasi yang aman dari asal- usul bahan” Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


45 BIM telah merevolusi perencanaan dan koordinasi proyek dengan menguran- gi kesalahan dan meningkatkan akurasi dalam pengiriman material. Hal ini tidak hanya menunjukkan kemajuan teknis tetapi juga menggambarkan bagaimana teknologi dapat menjadi perpanjangan tangan manusia, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih informasi dan strategis dalam SCM yang kompleks Dalam “The Essentials Of Logistics And Management” mengemukakan bahwa ERP memberikan sebuah jembatan antara berbagai aspek operasional perusahaan konstruksi, dari logistik hingga keuangan, menawarkan sebuah sistem saraf pusat digital yang memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi antar departemen. Ini menekankan pentingnya sinergi antara manusia dan teknologi, di mana sistem digital tidak menggantikan, tetapi memperkuat kapasitas manusia untuk mengelola kompleksitas dengan lebih efektif (Perret, Wieser, & Jaffe, 2012). Dalam konteks global, interaksi dengan vendor dan mitra menjadi lebih dari sekadar transaksi; ini tentang membangun jembatan kepercayaan dan kerjasama. Penelitian oleh Rehan, M. (2013) menunjukkan bahwa hubungan jangka panjang yang kuat dapat mengurangi risiko dan memastikan kelancaran pasokan. Ini mencerminkan bagaimana teknologi, ketika dipadukan dengan relasi manusia yang kuat, dapat menciptakan ekosistem SCM yang lebih tangguh dan responsif (Rehan, 2013). Zhang, Li, dan Kim (2020) Menyoroti tantangan dan peluang yang muncul dari implementasi teknologi ini terhadap tenaga kerja, pelatihan komprehensif menjadi kunci, bukan hanya dalam mengoperasikan teknologi tetapi juga dalam mengadaptasi ke budaya kerja yang baru. Ini menggambarkan transisi dari sekadar penggunaan alat menjadi pembentukan kemitraan antara karyawan dan teknologi, di mana keduanya saling melengkapi untuk mencapai efisiensi dan inovasi Oleh karena itu, dalam menghadapi kompleksitas dan dinamika pasar global, penting untuk mengakui bahwa teknologi tidak berdiri sendiri. Keberhasilannya dalam SCM, khususnya dalam impor konstruksi, tergantung pada harmonisasi antara inovasi digital dan kemampuan manusia. Integrasi BIM dan ERP, bersama dengan manajemen hubungan vendor yang efektif, menawarkan jalan menuju peningkatan kinerja. Namun, esensi sejati dari kemajuan ini terletak pada bagaimana manusia dan teknologi berkolaborasi, menavigasi tantangan bersama dalam lingkungan yang semakin terhubung dan digital. Pendekatan holistik ini, yang merangkul baik aspek manusia maupun teknologi, adalah kunci untuk memanfaatkan potensi penuh dari inovasi dalam SCM impor konstruksi. Bab 3. Faktor Internal SCM Impor Konstruksi


46 INTEGRASI DAN INOVASI DALAM SCM Dalam lingkup konstruksi global, integrasi Manajemen Rantai Pasokan (SCM) terpusat dan adopsi teknologi inovatif blockchain, Modeling seperti e-procurement, Information Enterprise Resource Planning (ERP) menjadi kunci Building (BIM), dan untuk meningkatkan efisiensi dan memastikan integritas dalam proses pengadaan. Pendekatan SCM terpusat, dengan Direktur pengawasan langsung dari memungkinkan kontrol yang lebih baik atas impor bahan dan komponen, dengan tujuan utama penyelesaian proyek tepat waktu dan sesuai anggaran. Kelebihan pendekatan ini termasuk peningkatan pengawasan keuangan, legalitas kontrak, pengelolaan risiko fiskal yang lebih baik, dan koordinasi aliran bahan yang efisien. Meski begitu, kebutuhan untuk mengatasi tantangan Keuangan, sresppeortnisivflietakssibtielirthaasdadpandinamika pasar tetap relevan, memerlukan pengembangan mekanisme umpan balik dan memberikan otonomi pada tingkat lokal untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Di sisi lain, inovasi teknologi membuka peluang untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi potensi korupsi, dengan teknologi seperti blockchain yang memungkinkan dokumentasi yang aman dari asal-usul bahan. Teknologi seperti BIM dan ERP memperkuat kemampuan perencanaan dan koordinasi, dengan memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat. Sinergi antara manusia dan teknologi menjadi esensial, menyoroti pentingnya adaptasi karyawan terhadap sistem digital baru yang tidak hanya memperluas kapasitas mereka tapi juga meningkatkan efisiensi operasional. Ini menandai pergeseran ke arah praktek bisnis yang tidak hanya efisien tapi juga berkelanjutan, dengan memperhatikan standar etis dan lingkun- gan. Keberhasilan dalam SCM, terutama dalam konteks impor konstruksi, bergan- tung pada keseimbangan antara inovasi teknologi dan keterampilan manusia, me- navigasi tantangan bersama dalam eko- sistem global yang terus berkembang. Pengenalan dan definisi teknologi seperti e-procurement, yang memfasilitasi pembelian secara elektronik, atau blockchain, yang menyediakan keamanStrategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


47an data melalui distribusi database, serta aplikasi BIM dan ERP, menyoroti peran mereka dalam memodernisasi industri konstruksi. Melalui implementasi teknologi ini, industri dapat mengatasi berbagai tantangan operasional dan logistik, memperkuat kerangka kerja untuk pengelolaan proyek yang lebih trans- paran dan akuntabel. Adopsi praktek ini memerlukan pemahaman mendalam tentang teknologi dan strategi yang dit- erapkan, serta kesiapan untuk mengh- adapi tantangan adaptasi dan integrasi. Dalam konteks ini, fokus pada pelatihan dan pengembangan sumber daya ma- nusia menjadi sama pentingnya dengan investasi dalam teknologi baru, memasti- kan bahwa karyawan dapat memanfaat- kan sepenuhnya potensi alat digital untuk mencapai tujuan orgManeinsgaasi.kui implikasi sosial dan lingkungan dari keputusan SCM dan inovasi teknologi juga penting. Dalam era globalisa- si ini, perusahaan konstruksi dihadapkan pada tanggung jawab untuk tidak hanya mencapai efisiensi ounpteurak siboenraol ptaeprais jui gsaecara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pendekatan ho- listik yang mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan impor dan penggunaan teknologi menunjukkan komitmen perusahaan terhadap prin- sip keberlanjutan, memperkuat reputasi mereka di mata pemangku kepentingan dan konsumen. Oleh karena itu, perpaduan antara teknologi canggih dan praktek manajemen yang etis membuka jalan bagi industri konstruksi untuk tidak hanya berkembang dalam ekonomi global yang kompetitif tapi juga untuk berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan. Bab 3. Faktor Internal SCM Impor Konstruksi


48 BAB 4 Integrated Supply Chain Management (ISCM) “IF YOU’RE TRYING TO CREATE A COMPANY, IT’S LIKE BAKING A CAKE. YOU HAVE TO HAVE ALL THE INGREDIENTS IN THE RIGHT PROPORTION” (ELON MUSK)


49INTEGRATED SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (ISCM) Integrated Supply Chain Management (ISCM) adalah pendekatan strategis yang menggabungkan seluruh aktivitas dalam rantai pasok, mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi produk akhir, dengan tujuan menciptakan efisiensi operasional yang maksimal dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Terminologi ISCM mencakup integrasi berbagai teknologi mutakhir seperti Internet of Things (IoT), Enterprise Resource Planning (ERP), dan Building Information Modelling (BIM), serta penerapan analitik data untuk meramalkan tren pasar dan mengoptimalkan proses distribusi. Selain itu, ISCM juga melibatkan pemanfaatan platform e-procurement untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam proses pengadaan, serta teknologi blockchain untuk keamanan data dan kepatuhan kontrak. Dengan mengharmonisasikan faktor-faktor eksternal dan internal, ISCM memungkinkan organisasi untuk menghadapi tantangan global dengan lebih baik, mengurangi biaya operasional, mempercepat pengambilan keputusan, dan memastikan keberlanjutan operasional melalui praktek-praktek yang Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)


50 ramah lingkungan dan sesuai regulasi. Integrasi ini menghasilkan sistem rantai pasok yang responsif, adaptif, dan mampu menghadapi dinamika pasar yang terus berubah, menjadikan organisasi lebih siap dalam mencapai tujuan strategis jangka panjang. Pada Bab II, yang bertajuk “Faktor Eksternal SCM Impor Konstruksi,” penyelidikan ilmiah telah mengungkap bagaimana faktor-faktor eksternal—berasal dari lingkungan makroekonomi, teknologi, dan politik—menentukan keberhasilan operasi SCM. Kajian ini memberikan wawasan yang krusial untuk menavigasi variabilitas pasar global dan merancang strategi impor yang tangkas, memastikan aksesibilitas dan ekonomi bahan konstruksi yang bersumber dari pasar internasional. Faktor-faktor ini mengintegrasikan dimensi-dimensi seperti kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), analitik data yang maju, kerja Sintesis wawasan faktor eksternal dan in- ternal dalam satu struktur teoretis menye- diakan kerangka kerja bagi organisasi untuk menavigasi dengan presisi dan efisiensi melalui kompleksitas interaksi pasar global. sama geopolitik, keberlanjutan lingkungan, serta kepatuhan terhadap regulasi yang ketat. Dalam Bab III, “Faktor Internal SCM Impor Konstruksi,” diperkenalkan faktor internal yang secara intrinsik menentukan efisiensi dan efektivitas SCM. Analisis ini membuka cakrawala terhadap pentingnya aliansi strategis internal dan eksekusi manajemen operasional yang cermat. Unsur-unsur seperti SCM terpusat, e-procurement, penerapan blockchain, integrasi Building Information Modelling (BIM) dan Enterprise Resource Planning (ERP), serta sinergi antara manusia dan teknologi, dikenali sebagai katalis untuk transformasi yang mendalam dalam proses manajemen rantai pasok. Supply Chain Management (SCM) di industri konstruksi mendesak adopsi metodologi integratif. Pendekatan ini esensial untuk mempertahankan operasional yang berkelanjutan dan membangun keunggulan kompetitif yang tangguh. Dalam kerangka kerja teori yang diusulkan, dinamika interaksi antara faktor eksternal dan internal diberi penekanan untuk mengkonseptualisasikan strategi SCM yang holistik dan adaptif. ANALISIS DATA DALAM SCM IMPOR KONSTRUKSI INTEGRATED SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (ISCM) ISCM bahwa pengelolaan sumber daya, inovasi teknologi, dan responsivitas terhadap variabel eksternal memanifestasikan reduksi biaya yang memperlihatkan integrasi antara spuebnsintagnkasitaaln, kecepatan, dan pengadaan yang berkelanjutan Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports


Click to View FlipBook Version