51 Pendekatan yang diartikulasikan sebagai Integrated Supply Chain Management (ISCM) ini, melengkapi entitas bisnis den- gan kemampuan mengelola tantangan dan mengeksploitasi peluang dalam lingkup internasional dengan metode yang siste- matis dan strategis. ISCM bukan sekadar memfasilitasi kelangsungan operasional dalam menghadapi volatilitas lingkungan; lebih dari itu, ia memungkinkan pencapa- ian prestasi operasional yang eksplisit. Aplikasi ISCM dalam sektor konstruksi meredefinisi efisiensi operasional dengan mempercepat kapasitas adaptasi terhadap transisi situasional serta mendukung inisiatif menginstruksikan entitas untuk mengharmonisasikan teknologi mutakhir, analisis strategis ekonomi, dan inisiatif keberlanjutan dengan tata kelola internal yang kuat, untuk membangun operasional yang keberlanjutan. Pendekatan ini tangguh. Dengan demikian, ISCM adalah elemen kunci yang menunjang kapasitas entitas tidak hanya untuk bertahan dalam arena kompetitif yang intens, tetapi juga untuk berkembang menjadi pelopor pasar. IgSrCaMsi ymanegmdpiesrelnihgaatjkaaannbtaarhawpaeinngtel-olaan sumber daya, inovasi teknologi, dan responsivitas terhadap variabel eksternal—seperti dinamika kebijakan perdagangan dan kondisi geopolitik—memanifestasikan reduksi biaya yang substansial, peningkatan kecepatan, dan pengadaan yang berkelanjutan. Teori ini menekankan pada fondasi yang solid untuk entitas mengembangkan sistem impor yang tidak hanya melayani standar industri tetapi juga mengambil peran aktif dalam membentuk standar tersebut, menempatkan entitas pada posisi pionir dalam evolusi SCM di era global. Tabel 4 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
52 FAKTOR EKSTERNAL Adaptasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Organisasi harus tidak hanya mengadopsi tapi juga beradaptasi dengan teknologi baru seperti IoT dan sistem ERP untuk memastikan kelancaran komunikasi lintas fungsi. Integrasi ini memungkinkan penerapan dashboard operasional yang memberikan wawasan real-time untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Analitik Data Analitik harus dipraktikkan dengan menggunakan algoritma prediktif dan pemodelan data yang akurat untuk meramalkan tren pasar, mempermudah pengambilan keputusan stok, dan mengoptimalkan rute distribusi, dengan mengadopsi tools analitik terbaru. Manfaat Geopolitik dan Fasilitas Pembebasan Perusahaan harus aktif mengeksplorasi dan memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional serta FTZ untuk mengurangi beban pajak dan meningkatkan margin keuntungan. Inisiatif Keberlanjutan Pengembangan kebijakan SCM yang ramah lingkungan dengan mendokumentasikan rantai pasok yang berkelanjutan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip ekonomi sirkular untuk memperkuat kebijakan CSR. Kepatuhan Regulasi Memastikan kepatuhan dengan regulasi yang berlaku dengan memperkuat tim legal dan compliance, serta membangun hubungan yang baik dengan pihak berwenang untuk memastikan proses impor yang lancar. Pembaharuan SOP dan WI Membangun budaya organisasi yang dinamis di mana SOP dan WI terus diperbaharui dan disesuaikan dengan perubahan pasar, menggunakan sistem manajemen mutu seperti ISO untuk standardisasi. Pendekatan SCM Terpusat SCM yang terpusat memerlukan pengembangan sistem yang terintegrasi di bawah naungan manajemen keuangan, memungkinkan pengawasan anggaran yang lebih ketat dan pengelolaan biaya yang lebih efisien. Platform E-Procurement Mengadopsi platform e-procurement untuk mempercepat proses pembelian, meningkatkan transparansi melalui audit elektronik dan memanfaatkan AI untuk analisis penyedia. Blockchain Mengimplementasikan teknologi blockchain untuk meningkatkan keamanan data dan mengintegrasikan smart contracts guna mempermudah verifikasi dan kepatuhan kontrak. Integrasi BIM dan ERP Mengembangkan integrasi BIM dan ERP untuk mencapai kolaborasi yang lebih baik antar tim, mengurangi redundansi kerja, dan meningkatkan efisiensi proyek FAKTOR INTERNAL Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
Optimalisasi Interaksi Manusia-Teknologi Mengadakan pelatihan yang terus-menerus dan pengembangan SDM untuk mengelola teknologi terkini, serta mempromosikan budaya inovasi di tempat kerja. Penerapan ISCM dalam sektor konstruksi menunjukkan bagaimana organisasi dapat meningkatkan efisiensi operasional mereka dengan memanfaatkan berbagai faktor eksternal dan internal. Dengan menggabungkan elemen-elemen seperti adaptasi teknologi informasi dan komunikasi, analitik data, manfaat geopolitik, inisiatif keberlanjutan, dan kepatuhan regulasi, organisasi dapat menavigasi pasar global dengan lebih efektif. meSneglaaidnopsiitu, dengan pendekatan SCM terpusat, platform e-procurement, teknologi blockchain, integrasi BIM dan ERP, serta optimalisasi interaksi manusia-teknologi, organisasi dapat menciptakan lingkungan operasional yang lebih efisien dan inovatif. ISCM berperan penting dalam membantu organisasi merespons perubahan pasar dan lingkungan dengan lebih cepat, serta memastikan bahwa mereka dapat memanfaatkan peluang yang ada secara maksimal. Dengan demikian, penerapan ISCM tidak hanya membantu dalam mencapai efisiensi operasional yang lebih tinggi, tetapi juga memungkinkan organisasi untuk menjadi pemimpin dalam industri konstruksi yang kompetitif dan terus berkembang. PENERAPAN ISCM 53 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
PROYEK TOD STASIUN PONDOK CINA 54 IMPLEMENTASI ISCM A. PROYEK TOD STASIUN PONDOK CINA Proyek Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Pondok Cina, Depok, yang diinisiasi pada 18 Mei 2017 melalui kerjasama antara Perum Perumnas dan PT. PP (Persero), dikembangkan sebuah pendekatan integratif dalam urbanisasi melalui konsep TOD. Proyek ini dirancang untuk memaksimalkan sinergi antara pembangunan perumahan dan aksesibilitas transportasi massal, dengan tujuan utama menyediakan solusi perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Desain proyek ini mencakup pem- bangunan dua tower hunian vertikal se- banyak 28 lantai dan stasiun dua lantai, mengusung konstruksi komposit dengan kombinasi beton bertulang dan baja tipe honey-comb, merepresentasikan inovasi dalam teknik konstruksi. Dalam proses implementasi, proyek menghadapi tantangan signifikan terkait optimisasi material. Solusi ditemukan melalui pemilihan baja Pre-Engineered Building (PEB), yang menawarkan keuntungan seperti pengurangan beban struktur, efisiensi biaya hingga 25%, dan kualitas konstruksi yang lebih tinggi. Pemilihan baja PEB merupakan hasil Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
ISICmMplementasi pada Proyek TOD Stasiun Pondok Cina menunjukkan keberhasilan dalam adaptasi teknologi dan analisis data, yang meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan. Penggunaan ERP dan IoT untuk monitor real-time serta analitik data untuk optimasi logistik 55 dari proses review desain yang mendalam, dimana baja profil konvensional digantikan dengan PEB untuk mencapai efisiensi material dan finansial. Pros- es pengadaan barang ini mengadopsi metodologi pengadaan berbasis kriteria Biaya, Mutu, dan Waktu (BMW), dengan vendor terpilih dari Vietnam, Kirby Building System, menunjukkan pentingnya seleksi vendor dalam manajemen proyek konstruksi. Kegiatan impor baja PEB menandai fase kritis dalam proyek ini, dimulai dengan penandatanganan Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) antara PT. PP dan Kirby Southeast Asia Co., Ltd. pada 23 Agustus 2019, senilai USD 695.000. Proses ini mengungkapkan kompleksitas logistik dan kebutuhan koordinasi yang teliti antara berbagai pihak, termasuk bank, vendor, dan agen pengiriman, untuk memastikan alur impor yang lancar. Namun, proyek ini mengalami hambatan signifikan terkait prosedur custom clearance, dimana ketidakselarasan antara kedatangan barang impor dan proses akseptasi pembayaran Letter of Credit (L/C) menghasilkan penundaan yang merugikan, termasuk klaim biaya tambahan dari forwarder akibat penahanan kontainer di pelabuhan. Insiden ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya sinkronisasi antara logistik impor dan mekanisme pembayaran dalam proyek konstruksi. Strategi preventif, seperti penyesuaian ketentuan L/C untuk memfasilitasi penerimaan dokumen asli secara lebih cepat dan negosiasi dengan bank untuk pembebasan dokumen penting sebelum akseptasi L/C, diajukan sebagai solusi untuk menghindari penundaan serupa di masa mendatang. Pengalaman ini menegaskan pentingn- ya manajemen risiko dan perencanaan logistik yang proaktif dalam memini- malisir potensi hambatan dalam impor material konstruksi, memperkuat kapa- sitas adaptasi proyek terhadap dinami- ka operasional dan finansial yang tidak terduga. Dalam konteks Proyek TOD Stasiun Pondok Cina, aplikasi teori Integrasi Supply Chain Management dalam Importasi (ISCM) mengungkapkan dinamika kompleks antara faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi proses importasi dan manajemen proyek secara keseluruhan. Berikut adalah analisis ilmiah mengenai implementasi dan tanBab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
56 tangan dalam konteks tersebut. ANALISIS ISCM: TOD STASIUN PONDOK CINA Proyek TOD Stasiun Pondok faktor mempengaruhi terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terwujud melalui penggunaan Cina eksternal keberhasilannya. menghadapi berbagai yang Adaptasi sistem integrasi ERP yang memungkinkan bisnis secara real-time, seperti pemantauan pengiriman dan penerimaan material baja PEB dari Vietnam. Selain itu, analitik data mendalam digunakan dalam pemilihan material konstruksi, data dan proses dengan membantu algoritma prediktif yang kebutuhan material dan mengoptimalkan jadwal pengiriman. Pemanfaatan geopolitik, fasilitas pembebasan, dan perjanjian meramalkan perdagangan internasional masih memerlukan strategi yang lebih baik untuk meningkatkan efisiensi biaya. Inisiatif keberlanjutan dalam proyek idneingajunga perlu diperkuat penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pengurangan limbah. Tantangan kepatuhan regulasi impor baja PEB menjadi perhatian penting, memerlukan koordinasi yang lebih baik dengan pihak berwenang. Pembentukan tim legal dan compliance yang kuat sangat esensial untuk memastikan kelancaran proses dan menghindari keterlambatan. Selain itu, kebutuhan untuk adaptasi dan pembaruan SOP dan Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
57Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
WI menjadi jelas dalam menghadapi tantangan serta dalam mengelola proses impor yang kompleks. Pendekatan adaptif ini termasuk penyesuaian metodologi kerja untuk mengatasi tantangan desain komposit dan optimasi dimensi material untuk menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Secara desain dan konstruksi, internal, manajemen proyek mengadopsi pendekatan SCM terpusat, yang memungkinkan kontrol yang lebih ketat atas anggaran dan biaya melalui penggunaan sistem ERP terintegrasi. Selain itu, adopsi platform e-procurement bisa meningkatkan pengadaan transparansi baik. Penggunaan teknologi blockchain dalam konteks proyek ini dapat memberikan efisiensi material dalam proses dengan dan auditabilitas yang lebih peningkatan signifikan dalam transparansi, keamanan, dan efisiensi dalam transaksi dan dokumentasi. Implementasi khususnya, smart contracts, mempermudah dan pemenuhan kontrak secara real-time, dapat proses verifikasi kepatuhan mengurangi kemungkinan sengketa dan mempercepat proses administrasi. Integrasi antara BIM (Building ERP proyek desain simultan, meningkatkan koordinasi antar tim, mengurangi redundansi kerja, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Pemanfaatan BIM untuk simulasi desain dan konstruksi dalam kombinasi dengan ERP untuk pengelolaan sumber daya dan logistik akan membawa Information memungkinkan Modeling) dan manajemen untuk dan mengakses data operasional secara Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports 58
INSIGHT IMPORTASI TOD STASIUN PONDOK CINA Tanggal 23 Agustus 2019 antara PT PP dengan Kirby Southest Asia Co.,Ltd yang berbasis di Vietnam menyatakan telah efisiensi proyek ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, investasi dalam pengembangan SDM adalah kunci untuk memaksimalkan Melalui pelatihan berkelanjutan dan pengembangan keterampilan, tenaga kerja proyek TOD Stasiun Pondok Cina dapat meningkatkan kompetensinya dalam menggunakan sistem ERP, analitik data, dan teknologi baru lainnya. potensi teknologi. Kesimpulannya, implementasi ISCM pada Proyek TOD Stasiun Pondok Cina menunjukkan adaptasi teknologi dan analisis data, yang meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan. Penggunaan ERP dan IoT untuk monitor real-time serta analitik data untuk optimasi logistik merupakan praktik yang baik. Namun, proyek ini masih memerlukan keberhasilan dalam pmeenminagnkfaataatnkandalam manfaat geopolitik seperti FTZ, integrasi prinsip keberlanjutan secara eksplisit dalam pengadaan, dan navigasi regulasi impor yang lebih efektif. Secara internal, meskipun adopsi teknologi seperti e-procurement dan potensi blockchain menjanjikan, perlu ada penekanan lebih lanjut pada pengembangan SDM untuk mengoptimalkan interaksi manusiateknologi dan mendorong inovasi. Pembayaran dan prosedur penagihan yang disepakati tidak ada uang muka, setuju dan mengikat diri dalam suatu perjanjian untuk pelaksanaan Pengadaan dan Pengiriman baja PEB pada proyek TOD Pondok Cina, yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) Material Non-OA Nomor 003/ SPJB/SCM/PP/G2/517010/ IX/2019. Nilai perjanjian ini yang disepakati sebesar USD 695.000 (Enam Ratus Sembi- lan Puluh Lima Ribu Dolar Amerika) dan bersifat Lump Sum Fixed Price. KirLbiyngkup pekerjaan vendor Southest Asia Co.,Ltd dalam perjanjian ini terdiri dari : Deasa) in, fabrikasi, pengadaan, pengiriman dan supervise pemasangan baja PEB sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Purchase Order (PO) b) Custom Clearance (exclude Bea masuk dan pajak impor) Penc)getesan akan dilakukan di pabrik Kirby. Dan Kirby akan melapirkan hasil tes kepada PT.PP d) Kirby wajib menyerahkan dokumen asli sebagai berikut : ✔ Certificate of Origin (COO) Design Warranty Mill Certificate Design Calculation ✔ inspection and Testing Report ✔ ✔ ✔ Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM) 59
Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports 60 dasar penagihan adalah dokumen Goods Receipt (GR) dari PT.PP. Dokumen yang harus diserahkan untuk pembayaran sebelum pengiriman adalah Invoice dan sertifkat dari PM PT.PP. Dokumen yang harus diserahkan untuk pembayaran berdasarkan LC terhadap kiriman: Invoice, Bill of Landing (B/L), Sertifikat asal, Daftar kemasan. Metode pembayaran yaitu LC usance 30 hari. Dalam penerbitan LC harus mengikuti : 10% penyerahan gambar, 10% sebelum kirim angkur, 80% dibayarkan berdasarkan setiap pengiriman. Kronologi alur proses umum kegiatan impor barang PP Proyek stasiun pocin sebagai berikut : 1) Pekerjaan pengadaan barang dan jasa sesuai prosedur no PP/DIV/PC&SCM/P/001, meliputi kegiatan pemilihan vendor, tender, negosiasi, procurement, pembuatan kontrak kerja, dan terakhir menghasilkan kontrak/SPJB antara PP (Indonesia) dengan vendor Kirby (Vietnam). PP2d)atang ke Bank HSBC (Indonesia) untuk pengajuan pembukaan L/C serta prosedur perbankan untuk meyakinkan kepada bank kemampuan finansialnya. Ban3)k HSBC (Indonesia) menerbitkan pemberitahuan L/C ke bank di Vietnam 4) Bank (Vietnam) menerbitkan pemberitahuan L/C ke Kirby di Vietnam. 5) Kirby menyiapkan barang + dokumen pengiriman, lalu dikirim ke Maersk / PT. Pelayaran Bintang Putih selaku carrier/ forwarder Set6e)lah barang dimuat ke kapal (sea freight) dan dipastikan berangkat, Carrier menerbitkan dokumen dan diserahkan ke Kirby meliputi dokumen: B/L, BoQ, COO (Certificate of Origin) + Form D. 7) Dokumen-dokumen yang diterima oleh Kirby dari carrier, ditambah Com-
Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM) 61 mecial Invoice Kirby, kemudian dikirimkan Kirby ke Bank (Vietnam). Ban8)k (Vietnam) mengirimkan dokumen lengkap meliputi: Invoice, B/L, COO asli ke Bank HSBC (Indonesia), bersamaan dengan itu Kirby mengirimkan dokumen langsung ke proyek PP (stasiun pocin) berupa dokumen: B/L & BoQ. Sebenarnya dokumen yang diterima PP ini sudah bisa digunakan untuk pengajuan PIB ke sistem SKP Bea Cukai (ceisa impor) oleh PPJK, namun masih kurang 1 dokumen yaitu COO asli/original, yang dimana COO asli ini ikut di dokumen yang diserahkan ke Bank HSBC. 9) Bank HSBC (Indonesia) mengajukan invoice kepada PP 10) PP melakukan pembayaran ke Bank HSBC (Indonesia) berupa akseptasi LC SKBDN. Proses akseptasi skbdn yang berjalan di proses bisnis PP, biasanya membutuhkan waktu 3-4 minggu. 11) Bank HSBC (Indonesia) melakukan pembayaran ke Bank (Vietnam) dan menyerahkan dokumen lengkap ke PP (Invoice, B/L, COO asli) 12) Dengan diterima dokumen COO asli dari Bank HSBC ke PP Proyek, Tim proyek sudah bisa melengkapi seluruh prasyarat PIB ke dalam sistem Bea Cukai sehingga proses custom clearance bisa mulai diproses. Alur proses impor barang Proyek TOD pondok cina
62 Klaim forwarder ke PP Kontrak pengadaan material baja PEB adalah antara PT PP Proyek TOD Pondok Cina dengan Kirby (Vietnam) dengan skup pengadaan Kirby adalah meliputi: Desain, Supply , Delivery, dan supervisi, dan skup PT PP adalah meliputi: biaya 13) PT. Damco selaku PPJK memproses PIB ke Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) sesuai aturan yang berlaku. Setelah proses selesai akan rilis dokumen SPPB (Surat Pemberitahuan Pengeluaran Barang) 14) Dokumen SPPB dan delivery order (DO) dari agent carrier dapat digunakan untuk mengeluarkan barang impor / container yang ada di Pelabuhan. Dan terakhir inland trucking, barang dikirim forwarder ke site project PP proyek TOD pondok cina. TANTANGAN YANG DIHADAPI pajak impor, Import licence, Unloading dan Install di site. Adapun PT Damco Indonesia adalah Carrier yang ditugaskan oleh Kirby untuk melakukan pengiriman material dari Vietnam ke Indonesia sampai on site, yang melingkupi shipping , custom clearance, dan inland trucking. Dari kronologi alur proses importasi diatas diketahui bahwa waktu tempuh perjalanan laut (sea freight) dari port Vietnam ke port Indonesia (Tj Priok, Jakarta) selama 7 hari, sedangkan proses pengajuan custom clearance ke Bea Cukai tidak bisa mengikuti dengan waktu tersebut. Hal ini karena dalam pengajuan dokumen PIB (alur 12B), masih kurang 1 dokumen yaitu COO original/asli, dimana dokumen tersebut masih berada di Bank HSBC (Indonesia). Untuk dapat mengeluarkan COO original yang dipegang Bank Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
63 HSBC, PP perlu menyelesaikan akseptasi LC SKBDN nya. Namun proses akseptasi SKBDN di PP membutuhkan waktu hingga 3 minggu lamanya. Akibatnya setelah kontainer dari Vietnam tiba di Tj Priok Ja- karta, PP belum bisa mengeluarkan dari daerah pabean Tj Priok karena belum menyelesaikan proses custom clearance. 30 kontainer yang berisi material baja PEB, tertahan di daerah pabean Tj Priok hingga beberapa hari. Tertahannya container itu mengakibatkan adanya klaim additional cost dari forwarder sebesar Rp 269.964.218,-. Klaim ini timbul karena munculnya biaya seperti Dest D&D, overnight surcharge, extra movement, LOLO at WH Airin, Port Movement. Dari kejadian importasi di Proyek TOD pondok cina ini, kita bisa mengambil pelajaran untuk perlu memperhatikan antara waktu pengiriman barang dari negara asal ke Indonesia dengan waktu proses akseptasi pembayaran L/C di PT.PP. Upaya preventif dari tim proyek bisa dilakukan sebagai berikut : 1) Saat proses draft pengajuan pembukaan L/C antara PP dengan pihak Bank, dari awal redaksi swift mencantumkan dokumen yang dikirimkan ke Bank adalah dokumen copy, adapun dokumen asli (Certificate of Origin, Bill of Landing 1/3 Asli, Packing List) dikirim ke site project agar ketika container sudah sandar di Pelabuhan Bill of Lading Commercial Invoice Kirby Certificate of Origin (COO) + Form D Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
64 Tj. Priok dapat langsung dilakukan proses custom clearance tanpa harus penunggu proses akseptasi Direksi PP 2) Negosiasi dengan Bank (Indonesia) agar dokumen asli Certificate of origin (COO) dapat diserahkan kepada tim site project sebelum akseptasi oleh Direksi PP 3) Selalu monitor proses akseptasi dokumen tagihan Vendor Supplier ke Keuangan PP. 4) Identifikasi pekerjaan impor sejak dari awal procurement proyek sangat penting. Material PEB di proyek ini tidak terma- suk kategori barang lartas, sehingga tidak perlu melalui prosedur ketentuan barang lartas bea cukai. 5) Importasi dari Vietnam ini memiliki fasilitas Form-D, artinya apabila dari awal sudah diindentifikasi perihal ini, PP memiliki potensi keuntungan terkait fasilitas penghapusan/pengurangan bea cukai barang yang diimport. Namun untuk proyek TOD ini fasilitas tersebut menjadi keuntungan Kirby, karena tidak dalam pembahasan negosiasi di awal. Lingkup pekerjaan vendor Kirby Rekapitulasi klaim additional cost Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
65 Dokumen L/C Detail HS code material baja PEB proyek TOD pondok cina Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
66 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
67 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
B. PROYEK MANDALIKA INTERNATIONAL CIRCUIT Dalam konteks pengembangan infrastruktur Sirkuit Mandalika, PT PP (Persero) Tbk telah memainkan peranan krusial melalui implementasi manajemen rantai pasok yang efisien dan inovatif. PT PP berhasil menyelesaikan berbagai komponen proyek dengan standar kualitas yang tinggi, menunjukkan kemampuan adaptasi dan koordinasi yang luar biasa dengan berbagai pihak, termasuk Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Federasi Balap Motor Internasional (FIM). Komitmen PT PP dalam memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh FIM, khususnya dalam pembangunan lintasan Sirkuit Mandalika yang mencakup aspek seperti pengaspal- an menggunakan campuran aspal Stone Mastic Asphalt (SMA) yang berkualitas, menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya dan material dengan stan- dar internasional. Inovasi teknologi menjadi salah satu kunci keberhasilan PT PP dalam proyek ini. Penerapan teknologi Building Information Modeling (BIM) dalam proses pengaspalan mencerminkan upaya perusahaan dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi konstruksi. Melalui inovasi ini, PT PP tidak hanya memenuhi tetapi juga melebihi standar FIM, sekaligus memastikan durabilitas dan keamanan lintasan untuk kecepatan tinggi yang dituntut dalam balapan MotoGP. Inisiatif ini sejalan dengan tujuan jangka pan68 PROYEK MANDALIKA INTERNATIONAL CIRCUIT Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
69 jang untuk mempromosikan Mandalika sebagai destinasi wisata kelas dunia, melalui penyelenggaraan event balap internasional yang dapat menarik kunjungan wisatawan secara signifikan. Implementasi manajemen rantai pasok oleh PT PP juga mencakup koordinasi logistik yang kompleks, mulai dari pengadaan material berkualitas hingga pengelolaan tenaga kerja yang efektif. Hal ini menunjukkan kapabilitas PT PP dalam mengatur aliran barang dan jasa secara terpadu, dari titik asal hingga pengiriman akhir di lokasi proyek. Dengan memastikan setiap aspek proyek berjalan sesuai jadwal dan standar yang ditentukan, PT PP berhasil menunjukkan perannya tidak hanya sebagai kontraktor tetapi juga sebagai pengelola proyek yang handal. Di samping itu, PT PP juga menekankan pada penerapan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahapan proyek, dari pemilihan material yang ramah lingkungan hingga implementasi metode konstruksi yang minim dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Inisiatif ini mencerminkan komitmen PT infrastruktur PP terhadap pengembangan hanya bertujuan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan pariwisata tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan. Melalui pendekatan ini, PT PP menegaskan posisinya sebagai entitas bisnis yang bertanggung jawab, yang tidak yoapnegrasiostnraaltneygai sdelaanras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks pengembangan infrastruktur yang maju dan dinamis, PT PP telah menunjukkan kemampuan adaptif dan inovatif melalui integrasi dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunika- si, analitik data, dan prinsip-prinsip keberlanjutan, di samping pe- matuhan regulasi yang ketat dan pembaharuan SOP dan WI yang berkelanjutan Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
70 Kesimpulannya, PT PP telah berhasil manajemen rantai pasok yang komprehensif dan efektif dalam proyek Sirkuit Mandalika, menunjukkan keunggulan dalam inovasi, koordinasi, dan keberlanjutan. Melalui keberhasilan ini, PT PP tidak hanya mengimplementasikan berkontribusi infrastruktur olahraga dan pariwisata di Indonesia tetapi juga menetapkan standar baru dalam manajemen proyek dan rantai pasok konstruksi. pada pengembangan ANALISIS ISCM: PROYEK MANDALIKA INTERNATIONAL CIRCUIT Proyek pembangunan Sirkuit Mandalika oleh PT PP dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal penting. Pertama, adaptasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat menonjol, terutama dengan penggunaan Building Information Modeling (BIM). Implementasi BIM memungkinkan PT PP untuk meningkatkan efisiensi dalam desain dan konstruksi serta memfasilitasi komunikasi data yang seamless antara berbagai pemangku kpeepnegnatminbgilaann, sehingga keputusan dapat dilakukan berdasarkan data yang akurat. Kedua, penggunaan analitik data merupakan aspek kritis dalam merencanakan dan mengelola sumber daya proyek. Analitik data membantu PT PP meramalkan permintaan material, mengidentifikasi risiko proyek lebih awal, dan mengoptimalkan jalur distribusi, sehingga keputusan strategis dapat didukung oleh analisis data yang mendalam dan prediktif. Komitmen PT PP terhadap keberlanjutan terlihat dari pemilihan material dan metodologi konstruksi yang ramah lingkungan, mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular, dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Kepatuhan terhadap regulasi yang ketat juga dijaga untuk memastikan proyek dilaksanakan sesuai dengan standar industri dan ekspektasi pemangku kepentingan. Selain itu, PT PP secara rutin memperbarui Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Work Instruction (WI) sesuai dengan perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan bisnis, yang mencerminkan adaptasi PT PP terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi. Secara internal, PT PP menerapkan pendekatan manajemen rantai pasok Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
71 (SCM) yang terpusat, memungkinkan integrasi komprehensif antara berbagai divisi dan fungsi dalam organisasi. Sistem ini memfasilitasi koordinasi yang lebih baik dan pengawasan anggaran yang lebih ketat, menghasilkan pengelolaan biaya yang efisien. Selain itu, adopsi platform e-procurement oleh PT PP mempercepat proses pembelian dan meningkatkan transparansi melalui audit elektronik. Ini memungkinkan perusahaan melaku- kan negosiasi kontrak yang lebih efektif, meminimalkan risiko dalam pemilihan vendor, dan memastikan pengadaan material berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif. Implementasi teknologi blockchain, meskipun belum secara eksplisit diterapkan, memiliki potensi untuk meningkatkan keamanan data dan memfasilitasi penggunaan smart contracts dalam operasional PT PP. Integrasi antara BIM dan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang sudah diterapkan meningkatkan kemampuan PT PP dalam mengelola sumber daya, memonitor kemajuan proyek, dan melakukan analisis biaya secara real-time. Selain itu, PT PP menginvestasikan pada pengembangan sum- ber daya manusia melalui pelatihan dan program pembelajaran berkelanjutan, mempersiapkan tim untuk mengelola dan memanfaatkan teknologi terkini. Pendekatan ini menciptakan lingkungan kerja yang inovatif dan memastikan bahwa staf memiliki kompetensi yang relevan untuk mendukung operasi yang semakin kompleks dan berteknologi tinggi. Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
72 Kesimpulannya, PT PP telah menunjukkan kemampuan adaptif dan inovatif dalam pembangunan Sirkuit Mandalika melalui integrasi teknologi informasi dan komunikasi, analitik data, dan prinsip keberlanjutan. Pendekatan ini didukung oleh manajemen rantai pasok yang terpu- sat, adopsi platform eprocurement, dan potensi integrasi teknologi blockchain, yang semuanya memperkuat efisiensi operasional dan keamanan data. Selain itu, komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia dan integrasi sistematis antara BIM dan ERP mencerminkan dedikasi PT PP terhadap peningkatan kualitas, keberlanjutan, dan keunggulan operasional dalam menghadapi tantangan global dan kebutuhan pasar yang ter- us berubah. Insight Proyek Mandalika Di paket proyek Mandalika International Street Circuit kita mendapati beStrategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
73 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM) berapa kendala dan mampu menyelesaikannya kendala terkait kesalahan dokumen im- por yang diurus oleh vendor. Pada saat awal negosiasi dengan vendor material Hauraton GMBH dan CO.KG dari Jer- man, terdapat kesepakatan bahwa ma- terial berupa Drainage Channels for Race Track, Drainage Channels Race Track + Pit Lane, dan Air For Pit Lane akan diimpor langsung ke pelabuhan Lembar, Lombok. lengkap dengan semua dokumen terkait. dengan baik. Salah satu Namun meskipun kesepakatan awal menetapkan pelabuhan Lembar sebagai tujuan, ternyata kapal tidak dapat langsung menuju pelabuhan tersebut. Hal ini me- nimbulkan hambatan dalam proses pen- giriman. Karena semua dokumen impor ditujukan ke Port of Discharge di Suraba- ya (Pelabuhan Tanjung Perak), sehingga kapal tidak bisa langsung ke pelabuhan Lembar, Lombok. Akibatnya Semua pros- es custom clearance dilakukan di pelabu- han Tanjung Perak, Surabaya.
74 Proses custom clearance tetap dilakukan di Surabaya, namun untuk melanjutkan perjalanan hingga proyek, diperlukan pemindahan barang setelah proses custom clearance di Surabaya selesai, barang-barang dipindahkan ke kapal lain untuk kemudian dikirim ke Lombok. Pemindahan barang dari Surabaya menuju Lombok ini menjadi tanggung jawab vendor. Implikasinya karena semua dokumen destinasi impor ditujukan ke pelabuhan Surabaya, pembebasan bea masuk untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika tidak dapat diajukan. Ini berarti ada biaya tambahan yang mungkin tidak diantisipasi awalnya karena barang tidak langsung tiba di Lombok sesuai dengan rencana awal. Dari case tersebut diatas, rekomendasi untuk pekerjaan impor selanjutnya kita perlu memperkuat koordinasi lebih teliti dengan pihak Pelabuhan dan otoritas terkait untuk memastikan kemungkinan rute langsung ke Lombok atau mpeemminindimahaalnka. n proses Yang kedua, Mencari kesepakatan baru dengan vendor terkait tanggung jawab biaya tambahan akibat pemindahan barang dan bea masuk yang tidak terduga. Ketiga, Menyusun perencanaan kontingensi untuk pengiriman logistik Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
75masa depan agar fleksibel terhadap perubahan kondisi pelabuhan dan rute pengiriman. Dan ke-empat, Mengevaluasi rute alternatif atau pelabuhan yang lebih mendekati lokasi tujuan yang dapat menangani langsung kapal besar untuk mengurangi hambatan logistik. Sedangkan di paket proyek Pembangunan Grand Stand dan VIP Village Mandalika (2022) ditemukan case importasi yang berbeda lagi. Proyek yang berdurasi 4 bulan saja ini memiliki item pekerjaan impor barang. Material impornya berupa kursi grand stand yaitu kursi untuk tribun penonton motoGP Mandalika International Street Circuit. Dari spesifikasi yang disyaratkan oleh Dorna Sport, kursi grand stand ini memang belum ada di Indonesia, sehingga kita perlu melakukan procurement hingga ke luar negeri. Setelah melalui proses procurement, didapatkanlah barang tersebut di 2 negara. Untuk grandstand VIP dari vendor di Vietnam dan grandstand regular dari vendor China. Permasalahan semakin rumit karena waktu itu masih dilanda pandemi covid-19 di seluruh dunia, sehingga proses pengiriman barang juga terpengaruh. Setelah melalui proses pbraoracunrgemteernste,budtiddaipa2tkannelgaahra. Untuk grandstand VIP dari vendor di Vietnam dan grandBab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
76 stand regular dari vendor China. Permasalahan semakin rumit karena waktu itu masih dilanda pandemi covid-19 di seluruh dunia, sehingga proses pengiriman barang juga terpengaruh. Selain itu kendalanya karena material impor berupa kursi tribun yang termasuk Barang Modal Tidak Baru (BMTB), yang mengharuskan adanya izin Perijinan Impor (PI) dan Laporan Surveyor (LS). Karena material ini tidak baru, proses impor menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan barang baru. Proyek Grand Stand Mandalika berada di dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang memberikan beberapa keuntungan terkait pembebasan bea masuk dan pajak. Kawasan KEK Mandalika dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara, yaitu Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Hal ini memberikan kemudahan dalam proses administratif dan pengurusan dokumen. Karena proyek berada di kawasan KEK, dapat diajukan rekomendasi untuk pembebasan semua bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) dari Sekretaris Dewan Nasional (Sekdenas) KEK melalui ITDC. Ini merupakan keuntungan signifikan yang dapat mengurangi biaya impor secara keseluruhan. Izin PI dan LS untuk barang BMTB dapat diurus ke Sekdenas KEK, memastikan proses berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dokumen LS dapat diajukan baik di negara asal barang maupun di negara tujuan. Jika LS dilakukan di Indonesia, diperlukan izin dari Sekdenas KEK. Jika memilih untuk melakukan LS di Indonesia, maka izin dari Sekdenas KEK harus diperoleh agar proses bisa dilakukan secara legal dan sesuai aturan. Barang yang diimpor akan menjadi milik pengelola Kawasan KEK, yaitu ITDC. Ini memastikan bahwa barang tetap dalam pengawasan dan pengelolaan pihak yang berwenang di kawasan KEK. Rekomendasi untuk proyek grandstand Mandalika sebagai berikut: 1. Koordinasi dengan ITDC: Melakukan koordinasi yang erat dengan ITDC untuk memastikan semua dokumen dan izin yang diperlukan dapat diurus dengan cepat dan efisien. 2. Persiapan Dokumen: Menyiapkan semua dokumen yang diperlukan sejak awal, termasuk izin PI dan LS, agar proses impor tidak mengalami hambatan. 3. Evaluasi Lokasi LS: Mempertimbangkan apakah LS lebih efektif dilakukan di negara asal atau di Indonesia, dengan mempertimbangkan biaya, waktu, dan kemudahan proses. 4. Mengoptimalkan Keuntungan KEK: Memanfaatkan semua fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan oleh status KEK untuk meminimalkan biaya dan mempercepat proses impor. Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
77 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
C. PROYEK JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (MMP) Proyek Jetty Smelter Nickel MMP, yang diprakarsai oleh PT. Mitra Murni Perkasa (MMP) pada 16 November 2023 dan dikerjakan bersama PT. PP (Persero), merupakan inisiatif pembangunan infrastruktur kritikal di Kawasan Industri Kariangau, Balikpapan Barat, Kalimantan Timur. Proyek ini dirancang untuk mendukung upaya hilirisasi dan pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia, melalui pembangunan fasilitas jetty untuk kegiatan smelter Nickel Matte. Dengan target produksi Nikel Matte sebesar 27.000 ton per tahun yang mengandung 78% nikel, proyek ini berambisi untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai penyedia bahan baku nikel penting di panggung global. Implementasi proyek mengadopsi metode rancang bangun atau Engineering Procurement & Construction (EPC), di mana PT. PP (Persero) bertindak tidak hanya sebagai kontraktor utama tetapi juga perencana, menjamin efisiensi waktu, biaya, dan kualitas konstruksi. Dalam konteks konstruksi, proyek ini menekankan pada pembangunan infrastruktur kritis yang mencakup jalan akses (trestle) dan jetty utama, disertai dengan fasilitas operasional serta sistem mekanikal dan elektrikal. Kegiatan kon78 PROYEK JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (MMP) Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
struksi ini diperumit oleh tantangan logistik, mengingat lokasi proyek yang terisolasi dan hanya dapat diakses melalui jalur air. Sebagai solusi, optimasi desain dan pemilihan material strategis, seperti pengadaan dua unit Portal Crane (Luffing Crane) dan Hopper, menjadi fokus utama. Keberhasilan implementasi fasilitas ini kritikal, tidak hanya untuk mendukung operasional jetty dalam kegiatan bongkar muat bahan baku nikel matte tetapi juga untuk mematuhi jadwal konstruksi yang ketat, yang menuntut efisiensi tinggi dalam segala aspek pengadaan dan pemasangan perangkat utama. Proses importasi untuk perangkat tersebut melibatkan kerjasama dengan Dinson Industries Corporation, China, dalam suatu kontrak senilai USD 6.756.000 yang ditandatangani pada 27 Juli 2023. Proyek ini menavigasi kompleksitas prosedur impor dengan strategi yang teliti, mengacu pada prosedur pengadaan barang dan jasa yang ketat serta penekanan pada kepatuhan terhadap kriteria biaya, mutu, dan waktu. Pemilihan vendor dilakukan melalui evaluasi komprehensif, mempertimbangkan kemampuan vendor dalam memenuhi spesifikasi teknis, pengalaman dalam pekerjaan sejenis, serta kemampuan logistik untuk pengiriman dan impor barang ke Indonesia. Penerapan fasilitas Form-E untuk mendapatkan keringanan bea masuk menunjukkan pendekatan strategis dalam mengoptimalkan biaya impor, menegaskan pentingnya sinergi antara tim proyek dengan peraturan perdagangan internasional. Insight dari proses impor dalam Proyek Jetty Smelter Nickel MMP memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya persiapan, koordinasi, dan eksekusi yang matang dalam proyek konstruksi berskala besar. Dari perencanaan dokumen impor yang akurat hingga koordinasi yang efektif antar divisi dan dengan pihak eksternal, setiap langkah ditujukan untuk memastikan kelancaran dan kepatuhan proses impor. Kesuksesan impor ini bukan hanya mencerminkan kapasitas teknis dan manajerial tim proyek dalam mengatasi tantangan logistik dan regulasi, tetapi juga kontribusi strategis mereka dalam memajukan industri konstruksi dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan di Indonesia. Pengalaman ini menegaskan nilai kerjasama tim, perencanaan strategis, dan adaptabilitas dalam menghadapi kompleksitas impor dan konstruksi. Analisis Proyek Jetty Smelter Nickel PT. Mitra Murni Perkasa (MMP) melalui prinsip Integrated Supply Chain Management dalam Importasi (ISCM) memperlihatkan pengaplikasian konsep ini secara sistematis dan metodologis dalam konteks pengadaan internasional untuk proyek infrastruktur skala besar. Dalam kerjasama antara PT. MMP dengan PT. PP (Persero) Tbk. dan Dinson Industries Corporation, praktek impor mengadopsi 79 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
pendekatan yang holistik dan strategis, mengintegrasikan aspek teknologi, analitik data, geopolitik, dan kepatuhan regulasi, sekaligus memperhatikan dinamika internal organisasi dalam pengelolaan dan koordinasi proyek. Proyek Jetty Smelter Nickel PT. Mitra Murni Perkasa (MMP) menghadapi sejumlah faktor eksternal yang signifikan dalam pelaksanaannya. Pertama, adaptasi teknologi informasi dan komunika- si (TIK) menjadi kunci utama, terutama melalui penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP). ERP tidak hanya memfasilitasi integrasi data antara berbagai pemangku kepentingan tetapi juga memperkuat kapasitas untuk pengelolaan proyek secara real-time, mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat. Selain itu, penggunaan analitik data dalam pemilihan vendor dan optimisasi logistik memungkinkan proyek untuk mengidentifikasi vendor yang tepat dan memastikan material yang diimpor sesuai dengan standar dan jadwal proyek. Selain itu, strategi pemanfaatan fasilitas Form-E dalam kerangka ASEAN Free Trade Area (AFTA) untuk mengurangi beban pajak impor menunjukkan kecerdikan proyek dalam memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional untuk keuntungan ekonomi. Di sisi lain, komitmen terhadap keberlanjutan meskipun tidak selalu dijelaskan secara eksplisit, mencerminkan potensi besar dalam penerapan kebijakan SCM yang ramah lingkungan dan mendukung hilirisasi industri. Kepatuhan terhadap regulasi impor dan bea cukai melalui koordinasi dengan pihak berwenang serta penggunaan izin timbun yang efektif memastikan kelancaran proses impor dan memperkuat hubungan dengan regulator. Faktor internal dalam proyek ini juga sangat penting. Pendekatan SCM terpusat menjadi tulang punggung dalam koordinasi dan pengelolaan proyek, memastikan aliran informasi yang seamless antara berbagai stakeholder. Sistem ERP memfasilitasi integrasi data yang akurat dari semua segmen proyek, memungkinkan pengambilan keputusan berdasarkan analisis biaya terperinci dan proyekANALISIS ISCM: JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (MMP) 80 Dalam proyek Jetty Smelter Nickel PT. Mitra Murni Perkasa, penerapan teknologi canggih seperti ERP, e-procurement, dan blockchain secara efektif meningkatkan koordinasi, transparansi, dan efisiensi pengambilan keputusan, yang merupakan keunggulan utama. Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
si keuangan. Selain itu, adopsi platform e-procurement meningkatkan transparansi dan efisiensi proses pembelian, memungkinkan seleksi vendor yang lebih informatif dan mengurangi risiko terkait keterlambatan atau masalah kualitas. Implementasi teknologi blockchain juga berpotensi meningkatkan integritas data dan memfasilitasi penggunaan smart contracts untuk automasi verifikasi kepatuhan kontrak, mengurangi waktu dan biaya proses verifikasi manual. Integrasi Building Information Modeling (BIM) dengan ERP mendukung kolaborasi tim yang lebih efektif, memastikan alokasi sumber daya yang optimal dan mengurangi kesalahan konstruksi. Selain itu, investasi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan memastikan karyawan memiliki keterampilan yang relevan untuk mengelola teknologi terkini, memperkuat budaya inovasi dan kemampuan proyek untuk merespons dinamika pasar. Kesimpulannya, dalam proyek Jetty Smelter Nickel PT. Mitra Murni Perkasa, penerapan teknologi canggih seperti ERP, e-procurement, dan blockchain secara efektif meningkatkan koordinasi, transparansi, dan efisiensi pengambilan keputusan. Integrasi BIM dengan ERP dan strategi keberlanjutan mengoptimalkan manajemen sumber daya dan mempromosikan adaptasi terhadap perubahan pasar dengan mengurangi biaya operasional. Namun, tantangan tetap ada dalam memastikan kepatuhan regulasi secara konsisten dan mengelola risiko geopolitik, yang memerlukan adaptasi strategis berkelanjutan untuk meminimalkan potensi hambatan dalam supply chain dan impor. 81 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
INSIGHT IMPORTASI JETTY SMELTER NICKEL PT. MITRA MURNI PERKASA (MMP) Tanggal 27 Juli 2023 antara PT PP dengan Dinson Industries Corporation yang berbasis di Tiongkok China menyatakan telah setuju dan mengikat diri dalam suatu perjanjian untuk pelaksanaan pengadaan dan pengiriman Portal Crane & Hopper dermaga pada proyek Jetty smelter nickel MMP, yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) Material Non-OA Nomor 0745/SPJB/ SCM/PP/I2/322005/VII/2023. Nilai perjanjian ini yang disepakati sebesar USD 6.756.000 (Enam Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Enam Ribu Dolar Amerika Serikat) dengan ketentuan pengiriman CIF Project Site Incoterms 2020 dengan tanpa termasuk biaya pajak-pajak, bea cukai atau bea masuk. Adapun pajak, bea masuk atau cukai (jika ada) akan dibayarkan oleh PTPP. Lingkup pekerjaan vendor Dinson Industries Corporation di proyek ini meliputi penyediaan spesifikasi teknis yang disetujui, desain teknis, manufaktur dan suplai material dan komponen untuk alat, perakitan, dan tes di pabrik, pengiriman dan instalasi di lokasi proyek, tes commissioning dan pelatihan serta shopdrawing serta as built drawing. Selain itu juga mobilisasi dan demobilisasi sumber daya (termasuk kapal pengiriman dari negara Tiongkok 82 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
China ke lokasi proyek), peralatan penun- jang dan peralatan sesuai perjanjian. Dan tidak termasuk pengurusan bea masuk cukai dan pajakpajak impor. Metode pembayaran menggunakan metode Letter of Credit (L/C) SKBDN dengan milestone payment. Yaitu: • Pembayaran ke-1 sebesar 20% dari kontrak, setelah detail engineering desain sudah disetujui oleh pemilik proyek • Pembayaran ke-2 sebesar 15% dari kontrak, setelah material baja struktur (raw material) telah siap di lokasi produksi Dinson Pem• bayaran ke-3 sebesar 15% dari kontrak, setelah selesai melakukan pekerjaan pengelasan struktur baja Pem• bayaran ke-4 sebesar 26% dari kontrak, setelah dokumen Factory Acceptance Test (FAT) sudah disetujui oleh pemilik proyek Pem• bayaran ke-5 sebesar 4% dari kontrak, setelah Dinson merilis dokumen: Bill of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO Form-E Pem• bayaran ke-6 sebesar 20% dari kontrak, setelah Final Commissioning telah diterima oleh pemilik proyek dan PTPP Kronologi alur proses umum kegiatan impor barang PP proyek jetty smelter nickel MMP sebagai berikut : 1) Pekerjaan pengadaan barang dan jasa sesuai prosedur no PP/DIV/ PC&SCM/P/001, meliputi kegiatan pemilihan vendor, tender, negosiasi, procurement, pembuatan kontrak kerja, dan terakhir menghasilkan kontrak/SPJB antara PT.PP (Indonesia) dengan Dinson Industries Corporation (China). 2) PP datang ke Bank BRI (Indonesia) untuk pengajuan pembukaan L/C serta prosedur perbankan untuk meyakinkan kepada bank kemampuan bayar / finansialnya. 3) Bank BRI (Indonesia) menerbitkan pemberitahuan L/C ke Bank of China di Tiongkok. 4) Bank of China menerbitkan pemberitahuan L/C ke Dinson di Tiongkok China. Set5e)lah melalui tahapan FAT (Fabrication Acceptance Test) yang telah disetujui Owner proyek, Dinson menyiapkan Portal Crane dan Hopper yang sudah jadi di pabrik China termasuk dokumen-dokumen pengiriman (Commercial Invoice & Packing List) hingga barang dimuat ke dalam kapal mother vessel. 6) Setelah barang dimuat ke kapal mother vessel (sea freight) dan dipastikan berangkat, Carrier menerbitkan dokumen pengiriman dan diserahkan ke Dinson meliputi dokumen: B/L dan Certificate of Origin / COO Form E. 7) Dokumen-dokumen yang diterima oleh Dinson dari carrier, ditambah Commecial Invoice dan Packing List, kemudian dikirimkan Dinson ke Bank of China. 8) Bank of China mengirimkan dokumen lengkap meliputi: 83 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
84 Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
✔ Commercial Invoice (C/I) original Bill of Lading (B/L) original Packing List (P/L) original COO copy ✔ ✔ ✔ Semua dokumen tersebut dikirim ke Bank BRI (Indonesia), bersamaan dengan itu secara parallel Dinson juga mengirimkan dokumen hardfile langsung ke proyek PP (Jetty smelter nickel MMP) berupa dokumen: ● ● ● ● Bill of Lading original Packing List original Commercial Invoice original COO original. Semua dokumen ini digunakan PTPP untuk pengurusan custom clearance ke Dirjen Bea Cukai di Indonesia. 9) (9A) PTPP setelah menerima dokumen hardfile original dari Dinson, PTPP langsung mengajukan proses PIB (Pemberitahuan Impor Barang) ke sistem kom- puter pelayanan bea cukai melalui PPJK yang telah PTPP tunjuk. Dokumen penga- juan PIB meliputi: B/L original, P/L original, C/I original, COO – Form E original. Metode pengiriman barang impor portal crane Dinson ini, dengan cara crane dibawa kapal mother vessel dari negara china dengan tujuan langsung site project (Jetty MMP) tanpa melalui Pelabuhan yang lain atau tanpa masuk ke TPS kawasan kepabeanan. Untuk itu PTPP melalui PPJK juga perlu mengajukan surat ijin timbun dan surat ijin bongkar kepada KPP Bea Cukai Balikpapan. Surat-surat yang perlu disiapkan meliputi: Suraa)t Permohonan ijin timbun di luar Kawasan pabean yang disamakan dengan TPS. Yang ditandatangani Project Manager PTPP. b) Surat Pernyataan ijin timbun. 85 Alur proses impor barang Proyek Jetty Smelter Nickel MMP Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
86 Yang ditandatangani Project Manager PTPP. c) Surat Kuasa Pengurusan Ijin Timbun (Project Manager PTPP ke PPJK) d) Surat Kuasa Pengajuan Pemberitahuan Pabean (Project Manager PTPP ke PPJK) e) Surat Keterangan Bongkar/Timbun kegiatan impor. Yang ditandatangani pimpinan pemilik proyek (9B) Bank BRI (Indonesia) mengajukan invoice kepada PTPP dengan dilampiri dokumen dari Bank of China. 10) Sementara proses custom clearance berjalan di Dirjen Bea Cukai, parallel PTPP melakukan pembayaran ke Bank BRI (Indonesia) berupa akseptasi LC SKBDN. 11) (11A) Setelah proses bongkar muat barang (unloading) dari kapal mother vessel ke site project (jetty smelter nickel MMP), Dirjen Bea Cukai akan merilis E-Billing / Pembayaran Cukai Secara Elektronik kepada PTPP. Bila tim proyek PTPP telah menerima E-Billing dari PPJK, maka PTPP wajib segera melunasi biaya E-Billing Bea Cukai tersebut berlaku hingga 5 hari kedepan dari tanggal terbit E-Billing. Bila lewat tanggal berlaku maka Nominal E-Billing akan menyesuaikan kurs dollar yang berubah tiap pekan sekali. Tim proyek PTPP dalam hal ini SEM dan SAM wajib mengawal jauh-jauh hari dengan cermat dana dropping untuk keperluan biaya E-Billing ini ke Divisi operasi dan Divisi FinAcc PTPP, karena biaya E-Billing ini tidaklah nominal yang sedikit, sehingga perlu perhatian dan persetujuan dari Divisi Operasi dan Divisi FinAcc. Tim Proyek Alur proses impor barang Proyek Jetty Smelter Nickel MMP Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
87 jetty smelter nickel MMP cukup kompeten dalam mengawalnya sehingga E-Billing impor crane dinson ini dapat dilunasi kurang dari 5 hari kerja. Karena importasi portal crane Dinson ini menggunakan opsi Ijin Timbun, maka sesuai prosedur kepabeanan, KPP Bea Cukai Balikpapan melakukan pekerjaan pemeriksaan & pelekatan tanda pengaman (segel) di barang yang sudah turun di lokasi ijin timbun. Tanda pengaman (segel) ini wajib untuk setiap barang yang menggunakan Ijin Timbun, karena pemeriksaan diluar area kawasan kepabeanan. Apabila PTPP sudah melunasi tagihan E-Billing, sistem komputer kepabeanan bea cukai akan merilis Bukti Penerimaan Negara (BPN) dan merilis Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM). Berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan Pasal 3 ayat (2), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki we- wenang dalam melakukan pemeriksaan ba- rang impor. Tujuan dilakukannya pemerik- saan guna mengetahui data impor, menguji kepatuhan importir, hingga melakukan pe- nilaian atas dokumen maupun fisik barang. Proses pemeriksaan dengan menetapkan penjaluran seperti jalur merah, jalur kuning, jalur hijau, dan jalur Mita merBill of Lading Commercial Invoice Dinson Certificate of Origin (COO) Form E Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
88 upakan proses pemeriksaan terhadap semua barang impor berdasarkan kriterianya hingga sebagai pemberdayaan bagi importir maupun pegawai bea dan cukai (fiscus). Penetapan jalur ini merupakan upaya Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) dalam menciptakan arus barang yang lancar, aman, tertib, dan menghindari dari penyeludupan barang. Untuk impor portal crane Dinson ini, PTPP dikenakan jalur merah. Dengan penjaluran merah ini dilakukan pemeriksaan fisik terhadap barang di lokasi ijin timbun. Alasan kenapa impor Dinson ini kena jalur merah karena sebelumnya PTPP kena blokir 12 bulan tidak ada aktifitas importasi, sehingga secara otomatis jadi jalur merah. Setelah pemeriksaan fisik jalur merah oleh tim KPP Bea Cukai dan tidak menemukan adanya pelanggaran, KPP Bea Cukai merilis Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) serta melakukan pembukaan tanda pengaman (segel) ijin timbun. (11B) Bank BRI (Indonesia) melakukan pembayaran ke Bank of China. 12) Bank of China melakukan pembayaran L/C kepada Dinson Proyek jetty smelter nickel MMP (2023-2024) merupakan proyek PTPP yang melakukan kegiatan importasi dimana PTPP selaku importir/consignee, yang berjalan cukup lancar dari awal hingga akhir. Setiap tahapan dilakukan dengan perencanaan yang matang dan tim proyek belajar dari insight importasi proyek-proyek sebelumnya. Beberapa hal yang menjadi langkah strategis tim proyek Jetty smelter nickel MMP sebagai E-Billing DJBC Dinson Jetty MMP Nickel Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
89 Pelekatan Tanda Pengaman (segel) Ijin Timbun Surat Penjaluran Jalur Merah berikut: 1) Hardfile dokumen penting impor dari Dinson (china) seperti : ✔ B/L original Packing List original Commercial Invoice original COO Form-E original ✔ ✔ ✔ semua dikirim langsung dari Dinson (China) ke PTPP (tim proyek). Tidak ada satu pun dokumen asli yang tidak dikirim langsung ke PTPP. Ini tujuannya agar proses pengajuan PIB (Pemberitahuan Impor Barang) custom clearance tidak terpengaruh oleh proses L/C banking. Setelah tim proyek PTPP menerima semua dokumen aslinya, langsung bisa memproses ke sistem Dirjen Bea Cukai (CEISA) melalui PPJK hingga proses custom berjalan dengan lancar. 2) Jauh-jauh hari tim proyek PTPP sudah berkoordinasi dan menginformasikan ke Divisi Operasi dan Divisi FinAcc PTPP Pusat perihal kebutuhan dana dropping untuk pem- bayaran E-Billing sesuai yang direncanakan. Sehingga apabila E-Billing sudah rilis bisa langsung dilunasi kurang dari 1minggu (tidak perlu merubah kurs dollar) 3) Tim proyek PTPP memiliki komunikasi yang baik dengan Departemen SCM, hingga tiap tahapan bila ada kendala bisa langsung diantisipasi sebelumnya. Seperti case saat Tim proyek dan PPJK menemukan kondisi bahwa akun importasi PTPP sudah terblokir oleh Dirjen Bea Cukai Pusat karena PTPP tidak ada aktifitas importasi selama 12 bulan terakhir. Sehingga oleh Departemen SCM bisa langsung di-follow up untuk pengurusan pembukaan blokir bea cukai PTPP. Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
90 Pemeriksaan Jalur Merah Dinson, Proyek Jetty smelter nickel MMP oleh Tim KPP Bea Cukai Balikpapan Pemeriksaan Jalur Merah Dinson, Proyek Jetty smelter nickel MMP oleh Tim KPP Bea Cukai Balikpapan Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
91 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM) Surat Permohonan buka blokir aktifitas Importasi PTPP ke Dirjen Bea Cukai Pusat
92
93 Bab 4. Integrated Supply Chain Management (ISCM)
94 BAB 5 Shortcut Handbook ISCM “IF YOU DON’T UNDERSTAND THE DETAILS OF YOUR BUSINESS YOU ARE GOING TO FAIL” (JEFF BEZOS)
95 SHORTCUT HANDBOOK ISCM Dalam penerapan Integrated Supply Chain Management dalam Importasi (ISCM) di PT. PP (Persero) Tbk, pendekatan holistik terhadap manajemen rantai pasok memainkan peran krusial dalam mengoptimalkan operasi dan meningkatkan efisiensi proyek konstruksi. Melalui analisis komprehensif terhadap kasus PT. PP, terlihat bagaimana sinergi antara faktor eksternal dan internal dapat mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan dalam konteks global yang kompetitif. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi tulang punggung dalam strategi SCM PT. PP, dengan implementasi sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang memfasilitasi integrasi fungsi lintas departemen. ERP di PT. PP memungkinkan pengelolaan sumber daya secara real-time, memastikan alokasi sumber daya yang efisien, dan mempercepat proses pengambilan keputusan. Ini mencerminkan komitmen PT. PP dalam memanfaatkan
96 kemajuan teknologi untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi operasional. Dalam konteks keberlanjutan, PT. PP telah menerapkan strategi SCM yang tidak hanya bertujuan untuk efisiensi dan reduksi biaya tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Inisiatif seperti penggunaan material bangunan yang berkelanjutan dan optimasi penggunaan energi mencerminkan pendekatan perusahaan yang bertanggung jawab terhadap pembangunan berkelanjutan. Praktik ini tidak hanya mendukung tujuan lingkungan tetapi juga meningkatkan citra PT. PP sebagai perusahaan yang berkomitmen terhadap prinsip keberlanjutan. Kepatuhan terhadap regulasi impor merupakan aspek kritis dalam strategi SCM di PT. PP, mengingat kompleksitas dan dinamika peraturan perdagangan global. Perusahaan ini mengadopsi pendekatan proaktif dalam memastikan kepatuhan terhadap standar dan regulasi, baik secara lokal maupun internasional, melalui pemantauan yang ketat dan komunikasi efektif dengan pihak berwenang. Ini menegaskan komitmen PT. PP terhadap tata kelola yang baik dan transparansi operasional. Analisis data mendalam terkait permintaan pasar dan tren material telah memungkinkan PT. PP untuk mengoptimalkan pengadaan dan logistik. Dengan memanfaatkan data historis dan proyeksi pasar, perusahaan dapat membuat keputusan pembelian yang lebih tepat, mengurangi risiko keterlambatan pengiriman, dan memastikan ketersediaan material yang tepat waktu untuk proyek. Strategi komunikasi efektif antara PT. PP dengan pemasok dan mitra bisnis telah menjadi kunci dalam menciptakan SCM yang tangguh. Melalui pembangunan hubungan yang berbasis kepercayaan dan kerja sama, perusahaan ini berhasil mengatasi tantangan operasional dan mencapai sinergi dalam rantai pasok, memperkuat jaringan pasokan globalnya. PT. PP mengadopsi pendekatan terpusat dalam manajemen SCM, yang memungkinkan kontrol dan koordinasi yang lebih baik atas seluruh aktivitas impor. Pendekatan ini mendukung standarisasi proses dan memastikan pengelolaan sumber daya yang efektif, memperkuat kemampuan perusahaan dalam merespons dinamika pasar dengan cepat. Pendekatan proaktif PT. PP dalam memanfaatkan geopolitik dan fasilitas pembebasan menunjukkan pemahaman strategis tentang kebijakan perdagangan internasional. Melalui negosiasi dan kesepakatan strategis, perusahaan berhasil mengurangi hambatan tarif dan meningkatkan akses pasar, mendukung efisiensi biaya dalam proyek impor. Investasi dalam pengembangan sumber daya manusia merupakan pilar penting dalam strategi SCM PT. PP. Melalui program pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan, perusahaan memastikan bahwa timnya memiliki kompetensi Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
97 untuk mengelola teknologi dan proses terkini, memperkuat inovasi dan adaptabilitas organisasi dalam menghad api perubahan pasar. Dengan demikian, PT. PP tidak hanya meningkatkan kapabilitas internal tetapi juga memperkuat daya saing di arena global. Integrasi antara teknologi Building Information Modeling (BIM) dan sistem ERP menandai kemajuan signifikan dalam metodologi kerja PT. PP. Integrasi ini memungkinkan visualisasi yang lebih baik dari proyek konstruksi dan manajemen sumber daya yang lebih efisien. Melalui penerapan BIM, PT. PP dapat merencanakan, mendesain, dan mengkonstruksi dengan lebih akurat, mengurangi pemborosan material dan waktu. Dengan koneksi ke sistem ERP, data terkait proyek langsung terintegrasi ke dalam perencanaan keuangan dan logistik, memastikan bahwa keputusan bisnis didukung oleh informasi terkini dan releva n . Pengadopsian platform e-procurement di PT. PP telah memperkuat proses pengadaan, membawa transparansi dan efisiensi yang lebih besar. Melalui sistem ini, PT. PP dapat melakukan pemilihan vendor, negosiasi harga, dan pembelian material secara elektronik, mengurangi waktu dan biaya yang terkait dengan proses pengadaan tradisional. Ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan pilihan pemasok berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, memastikan bahwa hanya vendor yang memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan PT. PP yang terlibat. Teknologi blockchain berpotensi mengubah cara PT. PP mengelola kontrak dan transaksi dalam rantai pasok. Dengan memanfaatkan blockchain, PT. PP dapat memastikan keamanan, transparansi, dan tidak dapat diubahnya data transaksi. Ini bukan hanya mengurangi risiko penipuan dan kesalahan tetapi juga mempercepat proses pembayaran dan pengiriman, mengingat semua pihak memiliki akses ke informasi yang sama dan terpercaya. Pengembangan infrastruktur digital dan fisik yang kuat menjadi dasar bagi PT. PP dalam mendukung operasi SCM yang efektif. Dengan infrastruktur yang terintegrasi, dari sistem TI hingga fasilitas logistik, PT. PP dapat memastikan bahwa material dan informasi mengalir dengan Melalui implementasi ISCM PT. PP tidak hanya berhasil dalam mengoptimalkan operasi impornya tetapi juga dalam memperkuat posisi strategisnya di pasar global. Penemuan ini memberikan wawasan berharga bagi perusahaan lain dalam industri konstruksi dan sektor terkait tentang bagaimana memanfaatkan potensi penuh dari manajemen rantai pasok yang terintegrasi Bab 5. Shortcut Handbook ISCMI
98 lancar di seluruh rantai pasok, dari pemasok hingga ke lokasi proyek. Komunikasi dan kolaborasi antardepartemen di PT. PP memainkan peran penting dalam meningkatkan efektivitas SCM. Dengan memastikan bahwa semua bagian organisasi bekerja secara harmonis, PT. PP dapat merespons dengan lebih cepat terhadap permintaan pasar dan tantangan operasional, mempertahankan fleksibilitas dalam strategi bisnisnya. Pengakuan terhadap pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam setiap aspek SCM menunjukkan komitmen PT. PP terhadap pembangunan yang bertanggung jawab. Dari pemilihan material hingga metode konstruksi, PT. PP berupaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasinya, mendukung inisiatif global untuk pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan reputasi perusahaan sebagai pemimpin industri yang peduli lingkungan. Kesimpulannya, PT. PP (Persero) Tbk telah menunjukkan pendekatan yang inovatif dan komprehensif dalam mengelola SCM, dengan mengintegrasikan faktor eksternal dan internal untuk mencapai efisiensi operasional dan keberlanjutan. Melalui penggunaan teknologi canggih, komitmen sumber daya manusia, dan fokus pada keberlanjutan, PT. PP menetapkan standar baru dalam manajemen rantai pasok di industri konstruksi. Dengan adaptasi yang berkelanjutan terhadap perubahan pasar dan inovasi dalam proses dan teknologi, PT. PP memperkuat posisinya terhadap pengembangan sebagai perusahaan konstruksi terdepan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan saat ini tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang berkelanjutan. Kesimpulan Kesimpulan dari pembahasan yang mendalam tentang Integrated Supply Chain Management dalam Importasi (ISCM) di PT. PP (Persero) Tbk menegaskan pentingnya pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi dalam menghadapi kompleksitas dan tantangan dalam industri konstruksi global. Penemuan utama menunjukkan bahwa sinergi antara pemanfaatan teknologi canggih, strategi keberlanjutan, kepatuhan regulasi, dan pengembangan sumber daya manusia membentuk fondasi yang kuat untuk menciptakan sebuah sistem SCM yang efisien, responsif, dan adaptif. PT. PP berhasil menavigasi dinamika pasar dan regulasi global dengan mengadopsi praktek terbaik yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial korporat. Pendekatan holistik ini memberikan PT. PP keunggulan kompetitif yang signifikan, memposisikan perusahaan sebagai pemimpin industri yang dapat merespons dengan dinamis terhadap tantangan global sambil mempertahankan komitmen terhadap keberlanjutan dan inovasi. Inti dari buku ini dan penemuan yang dihasilkan mencerminkan bagaimana integrasi dan adaptasi strategis dalam SCM Strategic Handbook: Blueprint for Construction Imports
99 dapat membawa transformasi signifikan pada operasional dan strategi bisnis di PT. PP (Persero) Tbk. Melalui implementasi ISCM PT. PP tidak hanya berhasil dalam mengoptimalkan operasi impornya tetapi juga dalam memperkuat posisi strategisnya di pasar global. Penemuan ini memberikan wawasan berharga bagi perusahaan lain dalam industri konstruksi dan sektor terkait tentang bagaimana memanfaatkan potensi penuh dari manajemen rantai pasok yang terintegrasi. Hal ini membuktikan bahwa dengan menggabungkan inovasi teknologi, pendekatan berkelanjutan, dan manajemen sumber daya manusia yang efektif, perusahaan dapat mengatasi tantangan global, meningkatkan kinerja, dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan. Bab 5. Shortcut Handbook ISCMI
100 Daftar Pustaka Amade, B. A. (2017). Delineating Supply Chain Management (SCM) Features in Construction Project Delivery: The Nigerian Case. https://doi. org/10.14424/IJCSCM701017-01-19 Basuki, M., & Mahendra, O. H. (2021, October 27). Operational risk assessment ship construction causes material import using house of risk (HOR) and critical chain project management: Case study in Gresik Shipyard industry. Naval Engineering, Faculty of Mineral and Marine Technology, ITATS, II(1), 18- 22. Retrieved from https://journal.its.ac.id/index.php/jmest/article/download/81/411 D. N. V. S. L. S. Indira, M. H. (2022). Indian Agriculture Supply Chain Management using Blockchain Technology and CNN. International Conference on Automation, Computing and Renewable Systems (ICACRS), 802-808. https://doi. org/10.1109/ICACRS55517.2022.10029298 Du, C. (2019). Review of the Research on the Fiscal Risk of PPP Model of Municipal Infrastructure. In Proceedings of the 2019 International Conference on Economic Management and Cultural Industry (ICEMCI 2019). Atlantis Press. https:// doi.org /10.2991/aebmr.k.191217.118 Huang, S. (2015). Design of Online Bidding Management System. In 3rd International Conference on Management, Education, Information and Control (MEICI 2015) (pp. 233-246). Jiangxi Nanchang: Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/ MEICI-15.2015.45 Imamoglu, M. Y., & Rehan, M. (2011). Evaluation of Turkish Public E-Procurement Systems: An Analysis of Critical Success Factors. Semantic Scholar. https://doi.org/10.4018/978-1-60960-489-9.CH009 Kim, C., Zhang, X., & Park, S. (2020). A empirical study on the effect of green SCM construction capacity on corporate performance of Chinese export-import manufacturers. Journal of Trade Information, 22(1), 287-309. Retrieved from https:// scholar.kyobobook.co.kr/article/detail/4010027820934 Khoza, S., Mafini, C., & Oko, W. L. (2022, October 28). Lean practices and supply- chain competitiveness in the steel industry in Gauteng, South Africa. South African Journal of Economic and Management Sciences, 25(01). https://doi. org /10.4102/sajems.v25i1.4617 Klein da Luz, L., & Co-author. (2022). Demand chain management & supply chain management: uma estrutura conceitual para alcançar a excelência