jumlah penduduk 271.349.889 orang. Sedangkan di NTT angka stunting per Agustus 2020 mencapai 27.5%
atau 1.465 juta orang dari total penduduk 5.325.566 jiwa. Data ini menunjukkan bahwa angka stunting baik
nasional maupun NTT masi di atas ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu dibawah 20%. Tentu ini
menjadi hal penting untuk diperhatin ketika berbicara tentang kesetaraan keluarga dalam rangka pencegahan
stunting. Dan pada saat yang sama kita juga dihadapkan pada fakta bahwa kemiskinan dan ketidakadilan
gender menjadi momok yang berkontriubusi langsung terhadap peningkatan stunting. Asupan gizi pada saat
kehamilan 0 bulan hingga 1000 hari tidak pernah akan terwujud jika kemiskinan dan ketidakadilan gender
secara khusus bagi perempuan tetap berlangsung. Itu sebabnya budaya setara dalam keluarga menjadi penting
dalam upaya pencegahan stunting yang dimulai dengan memberi perhatian pada Ibu hamil dan bayi. Ini bukan
hanya tanggung jawab perempuan semata tetapi tanggung jawab bersama perempuan dan laki-laki.
Bertolak dari konteks di atas maka bab ini penting diangkat dalam modul pembelajaran bagi kelompok-
kelompok perempuan, tetapi juga dapat digunakan dalam kelas-kelas persiapan Pra Nikah. Modul ini
membahas tentang berbagai hal yang berkaitan dengan relasi setara gender dalam keluarga. Tentu ini dalam
konteks pendekatan atau strategi pencegahan stunting. Karenanya prisip modul ini adalah proses penyadaran
kritis yang membahas berbagai hal seputar: Seks dan Gender, Kesetaraan dan Ketidakadilan Gender, Bentuk-
bentuk dan Faktor Penyebab dan Pelanggengan Ketidakadilan Gender, dan Membagun Budaya Setara untuk
Pencegahan stunting.
A. MEMBANGUN PROSES BELAJAR BERSAMA
Pokok Bahasan Perkenalan dan Kontrak Belajar
Suasana belajar yang kondusif dan nyaman penting dikondisikan ketika mengawali
proses pertemuan atau belajar di kelompok-kelompok masyarakat. Karenanya
perkenalan, kontrak belajar, penggalian harapan dan kekuatiran peserta menjadi penting
dibangun. Penting karena ini adalah proses belajar bersama yang harus menumbuhkan
rasa solidaritas dan soliditas antar peserta. Oleh sebab itu proses ini dilakukan secara
partisipatoris, yang merupakan salah satu prisip dalam pembelajaran.
Tentu perkenalan dilakukan untuk mencairkan suasana kaku antar peserta. Itu sebabnya
proses saling mengenal antara peserta, mapun dengan peserta, fasilitator, dan semua yang
terlibat di dalam pembelajaran, termasuk panitia penting dilakukan senyaman dan
seefektif mungkin. Semua harus memperkenalkan diri, sehingga peserta dan semua yang
terlibat dapat mengenal satu sama lain. Karenanya perkenalan dalam setiap proses belajar
selalu menjadi cara untuk membangun suasana pelatihan yang santai, menyenangkan,
dan ada rasa saling percaya. Rasa saling percaya inilah yang memungkinkan semua
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 44
Tujuan peserta aktif menyampaikan pendapat tetapi juga aktif mendengar ketika orang lain
Metode menyampaikan pendapat.
Setelah perkenalan fasilitator dapat segera menggali apa yang menjadi harapan dan
kekuatiran peserta terhadap proses belajar. Semua harapan dan kekuatiran ini
disampaikan peserta secara terbuka melalui arahan fasilitator. Dengan cara ini tentu
fasilitator dapat mengetahui harapan-harapan yang ingin dicapai selama proses belajar,
sekaligus mengantisipasi kekawatiran yang disampaikan peserta sehingga dapat
diantisipasi dan diatasi dengan baik. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan kontrak belajar.
Kontrak belajar bertujuan untuk menyepakati bersama hal-hal teknis yang mendukung
kelancaran dan efektivitas proses belajar.
Seluruh proses mulai dari perkenalan hingga kontrak belajar dilakukan secara partisipatif.
Tujuannya agar semua peserta terlibat aktif sejak awal proses belajar sehingga
menumbuhkan rasa memiliki peserta terhadap proses belajar yang dijalani. Dengan
begitu
Tujuan sesi ini adalah:
1. Menciptakan keakrapan dan rasa saling percaya diantara peserta, fasilitator, co-
fasilitator dan panitia
2. Menciptakan suasana persahabatan yang kondusif dan nyaman agar ada
suasana keterbukaan, kebersamaan, dan solidaritas selama proses pembelajaran
3. Menumbuhkan rasa percaya diri peserta untuk berpatisipasi aktif dalam
merencanakan alur, aturan main, serta jadwal pertemuan rutin di sepanjang
proses belajar
4. Peserta dapat mengenal beberapa istilah baik dari perkenalan, maupun kontrak
belajar untuk menambah pengetahuan peserta
Beberapa metode dapat digunakan pada sesi ini. Salah satunya adalah metode perkenalan
dengan pemaknaan huruf pada nama kecil, metode wawancara, dll. Metode perkenalan
dengan pemaknaan huruf pada nama dimulai dengan meminta peserta menuliskan makna
huruf-huruf pada nama kecil peserta kemudian dipresentasikan. Jika peserta mengalami
kesulitan, fasilitator bisa mencari metode yang lebih sederhana. Misalnya peserta diminta
berpasang-pasangan, kemudian saling melakukan wawancara. Hasil wawancara
dituliskan pada metaplan agar tidak lupa. Setelah itu masing-masing pasangan diminta
saling memperkenalkan di depan sambil berdiri dalam lingkaran. Ini bisa juga dilakukan
dengan sambil bernyanyi dan faslitator dapat memilih pasangan mana yang
memperkenalkan diri, dan saat itu nyanyin dihentikan sementara untuk mendengan proses
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 45
Waktu perkenalannya. Setelah selesai, fasilitator dapat melanjutkan dengan kontrak belajar.
Alat dan Bahan Pada sesi ini dapat menggunakan metode curah pendapat atau diskusi pada kelompok-
kelompok kecil yang dibentuk. Metode curah pendapat, peserta menyampaikan
Proses dan Langkah- pendapatnya secara langsung beserta argument atau alasannya. Semua yang disampaikan
Langkah dituliskan pada whiteboard atau kertas plano kemudian didiskusikan kembali secara
besama dan diputuskan mana yang tepat untuk dipakai. Jika menggunankan metode
diskusi kelompok, maka peserta dibagi dalam kelompok kecil dengan cara berhitung 1-5
atau 1-6 bergantung pada jumlah pesertanya, kemudian dikelompokan sesuai nomornya.
Setelah itu masing-masing kelompok mendiskusikannya dan dituliskan pada metaplan
kemudian ditempelkan pada kertas plano. Setelah semua selesai, didiskusikan kembali
dan difasilitasi fasilitator kemudian menyepakati hal-hal yang dipakai untuk
memperlancar proses belajar. Setelah itu dapat dlanjutkan lagi dengan penyampaian
harapan dan kekuatiran peserta. Ini juga memakai metode curah pendapat dimana
masing-masing orang diminta menuliskan harapan dan kekuatirannya kemudian
dipresentasikan dan ditempelkan pada kertas plano yang disediakan dan ditempel panitia
diseputaran tembok atau dinding ruangan yang digunakan untuk proses belajar.
Sesi ini membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam. Apabila pesertanya banyak
dan waktu tidak cukup maka perlu disepakati untuk penambahan waktu. Sesi ini menjadi
sesi pembuka yang dapat diterapkan pada awal semua sesi pelatihan atau proses belajar
intensif.
Beberapa alat dan bahan yang digunakan pada sesi ini adalah:
1. Alat tulis berwarba seperti Crayon, Spidol, atau Pencil Warna
2. Meta Plan warna warni
3. Kertas Kertas plano
4. Isolatif Kertas
5. Kertas HVS
6. Bola yang dibentuk dari kertas
Alat dan bahan yang digunakan ini dapat diganti dengan alat atau bahan lain yang
tersedia di komunitas
Fasilitator membuka kegiatan dengan mengucapkan selamat datang dan mengungkapkan
apresiasi terhadap kehadiran peserta. Selanjutnya fasilitator memperkenalkan diri secara
singkat dan dilanjutkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 46
A. Perkenalan
1. Buatlah suasana pertemuan seinformal mungkin. Fasilitator meminta
peserta duduk dalam posisi melingkar sehingga semua peserta dapat mudah
berinteraksi satu sama lainnya
2. Jelaskan tujuan pertemuan secara ringkas dengan menggunakan bahasa
yang sederhana yang mudah dipahami peserta. Penjelasan ini tentang gambaran
sesi secara keseluruhan. Setelah itu berikan kesempatan kepeda peserta untuk
menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami.
3. Bagikan ke peserta masing-masing 1 (satu) lembar kertas A4 dan alat tulis
berwarna seperti cryon, spidol berwarna atau pencil. Mintalah setiap orang
untuk menuliskan makna huruf-huruf pada nama kecilnya. Misalnya RITA, R:
Respek, I: Inklusif, T: Tolong, dan A: Aktif.
4. Setelah menulis peserta diminta mempresentasikannya dan memberi
pemaknaan pada kata-kata dari huruf tersebut. Proses presentasi dilakukan
dengan metode bola bergulir. Caranya, peserta menyanyikan sebuah lagu
sambil bola dioper dari satu peserta ke peserta lainnya. Dan ketika fasilitator
memberi aba-aba STOP, maka peserta yang terakhir memegang bola tersebut
harus mempresentasikan tulisanya. Begitu seterusnya sampai semua peserta
mendapat giliran presentasi.
5. Catatlah seluruh kelemahan dan kekuatan peserta yang terungkap dari
proses perkenalan ini.
6. Rangkumlah seluruh hasil presentasi dengan menekankan bahwa:
Secara umum peserta sangat beragam baik dari segi kemampuan,
umur, latar belakang, dan kepribadian. Ini tergambar dari hasil presentasi
mereka.
Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki peserta diharapkan dapat
membantu mempermudah proses belajar.
Keterbukaan peserta menceritakan kekuatan dan kelemahannya
diharapkan dapat membangun rasa saling percaya antara peserta untuk
saling mendukung sehingga proses belajar dapat berlangsung baik.
7. Akhiri pertemuan sambil mengingatkan kembali jadwal pertemuan
berikutnya.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 47
Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Batasi wajtu presentasi dan meminta peserta untuk tidak berbicara terlalu Panjang.
2. Kreatiflah untuk selalu mendorong peserta mengungkapkan jati dirinya, terutama peserta
yang pasif
3. Jika ada peserta yang terlihat malu-malu dan tidak mau maka motivasi dia untuk berani dan
terbuka untuk perkenalan dalam proses ini.
B. Kesepakatan Kontrak Belajar
Kontrak Belajar pengting dalam mendukung kelancaran proses pertemuan. Langkah-
langkahnya sebagai berikut:
1. Mintalah masing-masing kelompok mendiskusikan harapan mereka
terhadap materi, kekuatiran dan apa yang bisa mereka lakukan agar proses
belajar dapat berjalan baik.
2. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
menggunakan cara-cara kreatif. Misalnya dengan metode Halte Bus. Caranya,
kelompok menuliskan hasil diskusinya di kertas plano dan ditempelkan
ditempat yang mereka inginkan. Setiap tempelan kertas plano menjadi Halte
Bus. Peserta diminta berdiri dalam barisan seolah sebagai Bus, kemudian
berjalan dan berhenti di setiap Halte. Ketika berhenti di Halte, maka kelompok
yang menepelkan tulisannya di Halte tersebut dipersilahkan untuk
mempresentasikan hasil diskusinya. Proses seperti ini berlanjut terus hingga
selesai.
3. Diakhir presentasi, berikanlah kesempatan ke peserta lain untuk meminta
penjelasan ke kelompok terhadap hal-hal yang dianggap kurang jelas. Sedapat
mungkin presentasi di masing-masing Halte dibatasi hanya 5 (lima) menit.
4. Gabungkanlah seluruh hasil presentasi kelompok dan klasifikasikan
berdasarkan kesamaan ide dan dilanjutkan dengan membuat alur materi
berdasarkan harapan yang mereka sampaikan.
5. Setelah itu, mintalah salah satu peserta memfasilitasi proses penyepakatan
aturan main, seperti jadwal, tata tertib serta, dan pemilihan ketua kelas.
Umumnya penyepakatan aturan main berlangsung alot, khususnya dalam
menyepakati waktu belajar. Karenanya penting memberi waktu yang cukup
pada sesi ini.
6. Hasil kesepakatan mengenai alur materi, jadwal da aturan main sebaiknya
ditulis di kertas plano dan ditempelkan pada bagian kelas yang mudah dilihat
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 48
Tips Untuk oleh peserta.
Fasilitator 7. Simpulkanlah keseluruhan proses dan hasil pertemuan ini dan meminta
komitmen bersama.
Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
Catatan Fasilitator:
1. Umumnya komunitas-komunitas di masyarakat terlebih di perdesaan tidak terbiasa dengan metode
partisipatif. Mereka terbiasa mendengar satu arah serta menjadi objek penyempaian. Karenanya perlu
pengkondisian agar mereka tidak pasif dan malu dalam proses belajar, tetapi aktif dan berani
menyampaikan pendapat. Pengkondisian ini dapat dilakukan dengan pendekatan personal terhadap
peserta yang terlihat pasif dan malu-malu. Ini dilakukan secara informal sehingga mereka tidak merasa
sedang ditekan atau diperhatikan.
2. Sebelum memulai sesi ini, fasilitator harus memastikan semua kebutuhan alat-alat yang digunakan
untuk sesi ini telah tersedia. Tujuannya agar memperlancar proses. Fasilitator dapat menambahkan alat-
alat lain yang dibutuhkan dan dianggap relevan.
3. Pastikan pembagian tugas antara fasilitator atau co-fasilitator serta panitia sudah fix dan siap untuk
dijalankan.
4. Setiap proses yang telah dilewati penting untuk selalu menempelkan hasil-hasilnya pada kertas plano
dan ditempelkan di dinding yang tersedia dalam ruang pertemuan.
B. KESETARAAN GENDER
Populasi penduduk di Indonesia berdasarkan data kependudukan Juni 2020 itu, sebanyak
271.349.889 jiwa. Dari jumlah tersebut perempuan sebanyak 134.229.988 jiwa dan Laki-laki
137.119.901 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) hasil Sensus Penduduk
2020 mencapai 5.325.566 juta jiwa. Rinciannya penduduk perempuan sebanyak 2.661.795 jiwa atau
49,98 % dan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2.663.771 jiwa atau 50.02 %. Ini menunjukkan
bahwa hampir sebagian besar penduduk baik di nasional maupun daerah adalah perempuan. Ini potensi
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 49
sumberdaya yang besar, yang seharusnya dengan potensi ini pembanguan dan juga kesetaraan gender
diberbagai aspek memberi ruang yang sama kepada perempuan. Perempuan harusnya ikut menikmati
dampak pembangunan, termasuk akses sumber daya sebagaimana yang diberikan pada laki-laki. Akan
tetapi faktanya hingga saat ini perempuan masih dipinggirkan di berbagai lini pembangunan.
Bertolak dari hal di atas, maka untuk membuat agar hasil pembangunan ini dapat dinikmati
perempuan maka sejak perencanaan hingga hasil yang dicapai harus menyentuh kebutuhan spesifik
perempuan dan bukan sekedar hal-hal yang bersifat umum. Ini penting karena perempuan memiliki
kebutuhan-kebutuah khusus yang berbeda dengan laki-laki. Misalnya bicara soal Ibu hamil dan
kesejahteraan anak, maka perhatian harus pada asupan gizi, perkembangan kehamilan dan Kesehatan
bayi, mentalitas dan kesiapan menjelang dan pasca melahirkan, penanangan bayi, dan sebagainya.
inilah contoh kebutuhan khusus perempuan saat hamil yang muncul dari peran-peran seksual mereka.
Dalam prakteknya kebutuhan-kebutuhan ini sering tercampur dengan istilah „isu gender‟ yang
bersumber pada pembagian kerja yang ketat antara perempuan dan laki-laki. Padahal pembagian kerja
berdasarkan seks tidak ada hubungannya dengan perberdaan biologis. Pembagian peran ini bervariatif
antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Ini sekaligus membuktikan bahwa peran-peran ini
tidak ditentukan secara biologis. Dalam konteks inilah dibutuhkan penyadaran kritis perempuan, yang
dikenal dengan istilah pemberdayaan perempuan.
Pemberdayaan perempuan adalah proses membangun kesadaran kritis perempuan agar mampu
melihat bahwa peran-peran gender yang selama ini dilekatkan padanya adalah tidak adil. Itu sebabnya
jika pembangunan yang dilakukan tidak dalam kerangka kesetaraan gender maka hasilnya pun
menimbulkan dan melanggengkan ketimpangan gender. Beban kerja perempuan lebih besar, tetapi
pada saat yang sama laki-laki justru mendapat keuntungan besar dari hasil pembangunan tersebut.
Ketimpangan gender ini terpelihara baik dan „dilestarikan‟ dalam masyarakat melalui sistim-sitim yang
diskriminatif dan mengakar hingga pada praktek-praktek budaya dan sistim sosial yang dibangun. Itu
sebabnya penting untuk memahami perbedaan antara persoalan perempuan dan persoalan gender.
Persoalan gender mempengaruhi pembangunan di setiap tahapannya karena pola relasi kuasa antara
perempuan dan laki-laki yang tidak adil akan mempengaruhi interaksi sosial. Misalnya penyediaan
nutrisi bagi Ibu hamil sebagai pemenuhan kebutuhan khusus perempuan. Ini mengalami kesulitan
dilakukan karena praktek-praktek yang ada dalam masyarakat perempuan selalu mendapatkan bagian
kecil dari makanan yang disediakan di rumah, dan pada saat yang sama kontrol perempuan sangat
lemah terhadap pengeluaran domenstik, termasuk membeli makanan. Sedangkan persoalan perempuan
lebih pada masalah-masalah keseharian perempuan mislanya tidak memiliki akses pendidikan dll. Itu
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 50
sebabnya maka penting dilakukan pemberdayaan perempuan sehingga mampu memposisikan peran-
peran perempuan secara baik dalam kesehariannya, maupun dalam pembangunan. Pemberdayaan
perempuan membuatnya tidak ditempatkan sebagai objek penerima bantuan, tetapi menjadi subjek
dalam pembangunan. Untuk itu pemberdayaan perempuan harus mampu meningkatan kapasitas dan
daya kritis perempuan dalam bingkai kesetaraan gender. Sehingga kehadiran dan kontribusi
perempuan terlihat dalam keseluruhan aspek kehidupan dan pembangunan. Itu sebabnya pemberdayaan
perempuan menjadi salah satu pintu masuk dalam membangun kesetaraan gender di seluruh aspek
kehidupan. Ada lima tingkatan kesetaraan yang harus terbangun dalam proses pemberdayaan
perempuan, antara lain:
1. Kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimakasud bersifat material seperti keadaan gizi, ketersediaan
makanan, dan tingkat pendapatan. Itu sebabnya kesenjangan gender dapat diidentifikasi melalui
kesejahteraan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dengan memakai indikator keadaan
gizi, angka kematian, dan lain sebagainya. Kesejahteraan tidak dapat terjadi begitu saja. Butuh
perencanaan dan tindakan memperbaikinya, dan itu membutuhkan apa yang disebut „akses‟
perempuan atas sumber daya. Itu berarti berbicara tentang kesejahteraan perempuan maka
perempuan harus memiliki akses.
2. Akses. Kesenjangan gender pada tingkat kesejahteraan muncul akibat ketidaksetaraan akses atas
sumber daya. Produktivitas perempuan rendah karena pembatasan akses atas sumber daya
produksi seperti tanah, kredit, lapangan kerja, dan pelayanan. Juga terbatas dalam hal akses
pendidikan, gaji, pelayanan dan pelatihan ketrampilan sehingga tidak memungkinkan perempuan
bekerja produktif. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa perempuan terbatas dalam akses untuk
memanfaatkan kesempatan dan sumber daya yang ada. Beban kerja domestik dan tanggung jawab
keluarga yang dilekatkan, membuat perempuan tidak mempunyai waktu cukup untuk
meningkatkan kapasitas. Mengatasi kesenjangan ini maka harus ditingkatkan akses perempuan di
berbagai lini kehidupan, sehingga bisa setara dengan laki-laki. Untuk itu pemberdayaan
perempuan harus mampu menyadarkan perempuan akan ketidakadilan dan diskriminasi, kemudian
mendorongnya untuk berjuang mendapatkan haknya atas akses yang setara dan adil terhadap
sumber daya, baik dalam rumah tangga, komunitas maupun masyarakat. Untuk maka berbicara
tentang akses maka dibutuhkan kesadaran kritis perempuan untuk mampu mengidentifikasi
ketidakadilan dan diskriminasi yang dialami perempuan.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 51
3. Kesadaran Kritis. Kesenjangan gender juga mewujudnya dalam pemahaman bahwa posisi
perempuan lebih rendah secara ekonomi dan sosial dibandingkan laki-laki. Itu sebabnya
pembagian kerja yang sudah terbangun secara tradisional diangga susuatu yang datang Tuhan. Ini
dilanggengkan melalui institusi-institusi yang ada di masyarakat, media massa dan juga
pendidikan. Untuk itu pemberdayaan perempuan harus mampu membangun kepekaan perempuan
terhadap paraktek-praktek diskriminatif dan menolaknya. Misalnya kepekaan untuk mengenali
bahwa perlakuan sub ordinasi perempuan bukanlah kodrat, tetapi produk dari sistim-sistim yang
diskriminatif yang dibentuk secara sosial dan karena itu dapat diubah. Kesadaran kritis ini akan
membantu perempuan menganalisis masyarakatnya dan mengidentifikasi berbagai bentuk
ketidakadilan terhadap perempuan, kemudian berupaya merubahnya. Itu sebabnya kesadaran kritis
menjadi elemen ideologis dalam proses pemberdayaan perempuan untuk menyediakan basis
konseptual penggalangan kekuatan menuju keadilan dan kesetaraan gender. Dalam konteks
penggalangan kekuatan perepuan inilah maka dibutuhkan apa uyang disebut pertisipasi.
4. Partisipasi. Kesenjangan gender dalam partisipasi merupakan fenomena yang paling terlihat jelas.
Fakta bahwa perempuan mendapatkan peluang kecil untuk terlibat dalam berbagai organisasi dan
proses pengambilan keputusan di rumah tangga, komunitas dan masyarakat. Partisipasi di sini
diartikan bahwa perempuan setara dengan laki-laki untuk terlibat secara aktif dalam berbagai
aktivitas sehari-hari maupun dalam pembangunan, termasuk dalam pengambilan keputusan. Ini
berarti perempuan harus hadir dalam proses penilaian kebutuhan, identifikasi masalah,
perencanaan program, manajemen, penerapan dan evaluasi. Kesetaraan dalam partisipasi tidaklah
mudah diperoleh. Dibutuhkan mobilisasi untuk meningkatkan jumlah perempuan yang duduk di
institusi-institusi pengambil keputusan. Itu sebabnya peningkatan partisipasi perempuan harus
beriringan dengan kebutuhan akan kontrol perempuan baik terhadap keputusan mapun terhadap
sumber daya.
5. Kontrol. Pada tingkat kontrol, kesejangan gender terlihat pada ketidaksetaraan relasi kuasa antara
perempuan dan laki-laki. Misalnya dalam rumah tangga. Kuatnya kontrol laki-laki atas pekerjaan
dan pendapatan perempuan menyebabkan perempuan tidak bisa menikamati hasil
produktivitasnya. Semua harus berdasarkan pada keputusan dan kontrol laki-laki. Itu sebabnya
peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan haruslah berdampak pada akses
dan distribusi kemanfaatan yang adil bagi peremuan. Kesetaraan dalam hal kontrol berarti
perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam proses-proses pengambilan keputusan.
Ini berarti perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk menentukan masa depan
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 52
mereka dan komunitas. Memiliki kontrol akan berdampak pada peningkatkan akses perempuan
terhadap sumber daya yang pada akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan perempuan dan
anak-anak
Pokok Bahasan Persoalan Perempuan
Tujuan Persoalan ketidakadilan gender yang dialami perempuan merupakan akibat dari
Metode konsep gender yang lebih berpihak atau mengutamakan laki-laki yang dikenal
dengan Budaya Patriarkhi. Ketidakadilan ini ternyata tidak dialami perempuan
di NTT saja tetapi di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Itu sebabnya
ketidakadilan gender menjadi masalah sosial dan masalah bersama yang harus
diselesaikan secara bersama. Sayangnya hal ini tidak pernah dibicarakan
terbuka karena dianggap tidak penting dan tidak perlu dipersoalakan lagi
karena merupakan kodrat perempuan. Ketidakadilan gender, khususnya pada
perempuan telah mewujud dalam berbagai bentuk seperti beban kerja,
perkosaan, kekerasan, rendahanya akses terhadap sumberdaya, pendidikan, dan
juga rendahnya partisipasi politik perempuan
Tujuan Sesi ini adalah:
1. Mengenali ketidakadilan terhadap perempuan yang selama ini dianggap hal
biasa dan tidak perlu dipermasalahkan.
2. Menyadari bahwa selama ini perempuan selalu dipinggirkan dan dilupakan
3. Menyadari bahwa ketidakadilan terhadap perempuan bukan konsep semata
tetapi hal nyata yang dialaminya beserta keluarga. Bahkan kebanyakan pelaku
ketidakadilan adalah orang-orang terdekatnya.
4. Mencari dan menganalisis tentang apa, bagaimana, dan mengapa ketidakadilan
gender dapat dan tetap terjadi
Berbagai metode bisa digunakan di sesi ini. Salah satunya adalah metode silsilah
keluarga dari garis keturunan perempuan. Metode ini sangat baik untuk memetakan
persoalan perempuan yang berkaitan dengan diri sendiri, saudara sekandungnya, orang
tuanya, dan mungkin anggota keluarga lainnya seperti nenek, sepupu atau tantenya.
Waktu Pembahasan sesi ini membutuhkan dua kali pertemuan. Setiap pertemuan waktunya satu
setengah jam. Akan tetapi jika waktunya kurang fasilitator dapat menyepakti dengan
peserta untuk penambahan waktu sehingga semua informasi dapat tergali dengan baik.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 53
Alat dan Bahan Usahakan untuk menggunakan alat dan bahan lokal yang ada. Tetapi jika tidak ada
fasilitator dapat sediakan:
1. Metaplan warana wani
2. Plano
3. Papan tulis
4. Spidol warna warni
5. Isolatip kertas
6. Paku warna warni
Proses dan Langkah- Langkah-langkah dalam sesi ini sebagai berikut:
langkah Bagian 1:
Memetakan Persoalan Perempuan
1. Ajaklah peserta duduk melingkar dan mulailah sesi dengan menceritakan
peristiwa lucu atau menyanyikan lagu yang dapat mencairkan suasana
2. Jelaskan secara ringkas tujuan dan metode yang digunakan dalam sesi ini agar
peserta mudah memahami. Mulailah menjelaskan silsilah keluarga khususnya
silsilah perempuan. Bisa dimulai dari fasilitator untuk memicu semangat dan
keterbukaan peserta. Bisa bercerita tentang satu persoalan yang dialami saudara
perempuan. Misalnya dia dipoligami atau mengalami KDRT. Untuk
mempermudah peserta membuat silsilah berikanlah alat bantu berupa formulir
berisikan sisilah keluarga. Motivasi peserta agar tidak malu-malu menceritakan
persoalan keluarganya. Tentu ini menjadi catatan karena kuatnya pandangan
masyarakat bahwa menceritakan masalah keluarga sama halnya membuka aib
keluarga.
3. Berikan waktu 30 menit kepada peserta untuk membuat silsilah keluarganya,
khususnya dari garis perempuan dan mengidentifikasi persoalan yang dialami
oleh satu atau dua perempuan dalam silsilah tersebut.
4. Mintalah peserta bergantian mempresentasikan sisilah keluarganya. Batasilah
presentasi masing-masing peserta lima menit agar semua mendapat kesempatan.
Saat presentasi fasilitator atau co fasilitator dapat menuliskan masalah-masalah
yang diceritakan di papan tulis atau kertas plano.
5. Diskusikan persoalan-persoalan perempuan yang dituliskan tersebut dengan
memberikan pertanyaan arahan, apakah masalah itu terjadi di komunitas
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 54
mereka? Mengapa hal itu bisa terjadi? Berikan waktu yang cukup untuk
mendiskusikan hal ini.
6. Simpulkanlah hasil diskusi tersebut tentang hal-hal penting yang bisa diambil
untuk disimpulkan, antara lain:
Identitas perempuan selalu dikaitkan dengan bapaknya, suaminya, atau anak
laki-lakinya. Ketiadaan identitas ini mengakibatkan perempuan hilang dalam
lintasan sejarah keluarga, komunitas dan masyarakat
Masalah-masalah perempuan adalah masalah yang dekat dan di sekeliling
kita. Bukan sesuatu yang berada di jauh.
Masalah perempuan merupakan masalah sosial tetapi dianggap tidak
penting karena dilihat sebagai kodrat dan hal wajar bagi perempuan.
Parahnya lagi perempuan yang korban tidak pernah menganggap
ketidakadilan yang dialami sebagai masalah. Sebab itu penting membangun
kesadaran kristis perempuan terhadap permasalahannya. Ini mendorongnya
mengembangkan potensi dan rasa percaya dirinya melakukan perubahan
sosial, khususnya berkaitan dengan ketidakadilan yang dialami.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 55
Tips Untuk Bagian 2:
Fasilitator Memperdalam Pemahaman Tentang Persoalan perempuan
1. Mulailah sesi ini dengan mengajak peserta menyanyikan lagu yang dikenal dan
diketahui bersama. Pililah lagu yang menggambarkan persoalan perempuan.
Misalnya lagu hati yang luka yang dinyanyikan Betharia Sonata yang bercerita
tentang perempuan yang mengalami KDRT dan poligami. Setelah menyanyi
ingatkan peserta tentang situasi dan kondisi umum perempuan yang sudah
teridentifikasi pada pertemuan pertama.
2. Kaitkanlah permasalahan perempuan yang diketahui dan dialami peserta
dengan kondisi dan situasi umum perempuan di NTT, seperti tingginya angka
kekerasan dalam rumah tangga, tingginya angka buta huruf perempuan,
tingginya kematian ibu melahirkan, rendahnya upah pekerja perempuan,
rendahnya partisipasi politik perempuan, dan lain-lain. Bisa ditambahkan
contoh-contoh permasalahan perempuan sesuai dengan konteks lokal peserta.
Jelaskan bahwa permasalahan perempuan di tingkat lokal juga dialami
perempuan lain di NTT, maupun perempuan di Indonesia dan seluruh dunia.
3. Diakhir pertemuan simpulkan bersama point-point penting yang muncul selama
diskusi. Tekankan pemahaman bahwa persoalan yang dialami perempuan
sangat beragam dan dapat terjadi di mana saja. Baik itu di rumah, lingkungan
dan masyarakat. Bahwa persoalan perempuan tidak bersifat individual tetapi
merupakan masalah banyak perempuan.
Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
6. anak-anak.
Tingkatan kesetaraan ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan harus mampu
memperkuat kapasitas dan daya kritis perempuan sehingga keberhasilan pada satu tingkatan akan
berdampak pada pada tingkatan lainnya. Perempuan diberdayakan dari persoalan akses akan
mendorong terbagunnya kesadaran kritis. Ketika kesadaran kritis terbangun maka ada peningkatan
partisipasi dalam pengambilan keputusan. Selanjutnya ketika partisipasi dalam pengambilan keputusan
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 56
meningkat maka kontrol perempuan juga akan meningkat, dan ketika kontrol meningkat terbangunlah
komitmen untuk memperbaiki kesejahteraan.
B.1: PEMETAAN MASALAH PEREMPUAN
Pemetaan ini merupakan pembelajaran yang bertolak dari pengalaman perempuan sebagai
sumber pengetahuan. Untuk itu penggalian pengalaman perempuan dalam dirinya maupun perempuan
lainnya merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk melihat situasi perempuan dan memetakan
persoalannya secara umum. Persoalan yang dialami perempuan bukanlah hal yang asing tetapi
merupakan hal dekat dan melekat dalam kesehariannya. Sayangnya persoalan-persoalan ini sering tidak
dianggap penting, bahkan oleh perempuan. Untuk itu harus dibangun kesadaran kritis perempuan agar
menyadari bahwa ia tertindas oleh budaya patriarkhi yang melakt kuat di masyarakat. Itu sebabnya sesi
pemetaan persoalan perempuan ini penting dilakukan. Sesi ini adalah awal untuk menumbuhkan
kesadaran kritis perempuan bahwa dirinya sedang mengalami ketidakadilan akibat konsep gender di
masyarakat. Ini menjadi modal penting agar perempuan dapat bertindak memerdekakan diri dari
situasi ketidakadilan dan ketertindasannya.
Catatan Fasilitator
1. Usahakan terbangun suasana kondusif sehingga peserta bersedia menceritakan masalah keluarganya
tanpa merasa malu
2. Berikanlah perhatian penuh saat peserta bercerita. Ini akan mendorong peserta lebih terbuka dan
berani mengungkapkan persoalan yang pernah atau sedang mereka alami
B.2. PENGERTIAN SEKS DAN GENDER
Setelah peserta menyadari bahwa banyak masalah ketidakadilan terhadap perempuan yang
terjadi dalam keluarga bahkan mungkin dialami peserta, maka penting menjelaskan mengapa
permasalahan-permasalahan tersebut dapat terjadi. Penjelasan ini bisa dimulai dengan memperkenalkan
pengertian seks atau jenis kelamin biologis dan pengertian gender atau jenis kelamin siosial. Sesi ini
akan memberikan pengetahuan dasar kepada peserta tentang dasar menganalisis masalah-masalah
ketidakadilan gender dimana konstruksi budaya tentang peran gender sangat mempengaruhinya.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 57
Pokok Bahasan Perbedaan Seks dan Gender
Seks adalah perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan yang sudah ada sejak
lahir, dan tidak bisa diubah kecuali dioperasi. Ciri-ciri biologis ini antara lain:
Laki-laki memiliki:
Penis
Sperma
Testis
Perempuan memiliki:
Vagina
Rahim
Sel telur
Payudara
Tujuan Gender adalah pembedaan antara perempuan dan laki-laki berdasarkan sifat, peran,
posisi, tanggung jawab, akses, fungsi, dan kontrol yang dibentuk secara sosial dan
Metode dipengaruhi berbagai factor seperti budaya, agama, sosial, politik, pendidikan dan
Waktu lainnya, yang bisa berubah sesuai konteksnya. Misalanya peran perempuan mengelola
rumah tangga, lemah lembut, dan memasak. Sedangkan laki-laki mencari nafkah,
tegas, dan rasional.
Tujuan dari sesi ini adalah:
1. Memahami pengertian sex atau jenis kelamin biologis dan gender atau jenis kelamin
sosial
2. Memahami bahwa konsep gender dapat berubah sesuai konteks waktu, tempat,
budaya dan sistim nilai yang ada di masyarakat
3. Memahami konsep gender yang berkembang dalam masyarakat di NTT
Beberapa metode dapat digunakan dalam sesi ini. Antara lain metode berbagi
pengalaman, debat, dan bermain peran. Metode yang variatif bertujuan agar
memudahkan peserta memahami pengertian seks dan gender.
Memahami konsep seks dan gender bukanlah hal mudah. Untuk itu sesi ini
membutuhkan minimal tiga kali pertermuan. Tiap pertemuan waktunya satu setengah
hingga dua jam. Tentu ini akan bervariasi tergantung pada keterbukaan dan tingkat
pemahaman peserta.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 58
Alat dan Bahan Pada sesi ini penting bagi fasilitator melihat kemungkinan mendapatkan alat dan bahan yang
ada di komunitas. Jika tidak ada maka alat dan bahan yang harus disediakan adalah:
1. Kertas Plano
2. Metaplan warna warni ukuran 20x20 cm
3. Sipidol
4. Papan tulis
5. Selotip kertas
Proses dan Bagian 1:
Langkah- Penggalian Pemahaman Tentang Seks dan Gender
langkah 1. Mintalah peserta duduk melingkar dan pastikan terbangun suasana komunikatif dan
akrab antar peserta. Ajaklah peserta bermain atau bernyanyi untuk mencairkan
suasana
2. Mulailah menggali pemahaman peserta tentang konsep sek dan gender. Mintalah
peserta menggambar perempuan dan laki-laki dan kemudian menjelaskan
perbedaannya sesuai dengan seks atau jenis kelamin biologis. Mintalah seorang
peserta mempresentasikannya dan didiskusikan bersama.
3. Jika dirasa menggambar terlalu sulit, maka bagilah peserta dalam kelompok kecil lalu
mintalah mereka mendiskusikan dan menuliskan pemahaman mereka tentang seks
dan gender. Untuk perempuan ditulis pada metaplan warna merah dan untuk laki-laki
di metaplan warna putih.
4. Selanjutnya masing-masing kelompok menempelkan kartu-kartu tersebut di kertas
plano dalam kolom perempuan dan laki-laki. Contohnya:
Perempuan Laki-laki
Memiliki Payudara Memiliki Penis
Lembut Gagah
Cantik Berkumis
Pemalu Pandai Bicara
5. Ajak peserta mendiskusikannya dengan pertanyaan apakah perbedaan tersebut
sifatnya mutlak. Sifat lembut misalnya apakah hanya dimiliki perempuan? Sifat
lembut menunjuk pad aseks atau gender?
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 59
6. Mintalah peserta menjawab berdasarkan realita atau pengalaman sehari-hari, sambil
ingatkan apakah mereka pernah melihat perempuan yang gagah atau laki-laki lembut?
Umumnya peserta akan mengungkapkan hal-hal tersebut sebagai hal yang tidak
normal. Misalnya laki-laki yang lembut disebut banci dan perempuan yang gagah
disebut tomboi.
7. Selanjutnya ditanya pendapat mereka tentang perempuan yang harus mencari nafkah
karena penghasilan keluarga yang tidak memadai. Apakah ini dianggap hal yang tidak
lasim dan di luar kebiasaan? Umumnya peserta adalah pencari nafkah keluarga, akan
mulai menyadari gambaran ideal tentang laki-laki dan perempuan dan ternyata sulit
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
8. Akhirilah pertemuan dengan meingingatkan peserta tetap mebaca hal-hal yang sudah
diidentifikasi dan ditemui. Ini akan dipercakapkan dan diperdalam pada sesi
selanjutnya.
Bagian 2:
Perumusan Konsep Seks dan Gender
1. Mulailah pertemuan dengan mereview hasil pertemuan sebelumnya, dan
menyimpulkan gambaran ideal tentang laki-laki dan perempuan yang ternyata tidak
sepenuhnya berlaku dalam keseharian. Apa artinya?
2. Menjawab ini, ajaklah peserta melihat perbedaan secara biologis dan sosial dengan
menggunakan table perempuan dan laki-laki yang sudah dihasilkan pada pertemuan
sebelumnya. Dari table tersebut kelompokkan hal-hal yang membedakan perempuan
dan laki-laki secara biologis dan sosial berdasarkan peran, fungsi, sifat dan posisi
yang diharpakan masyarakat
3. Berdasarkan pengelompokkan tersebut mintalah peserta merumuskan konsep seks
dan gender. Rumusan ini sebaiknya diarahkan pada pengertian:
Konsep seks atau jenis kelamin biologis yang dianggap kodrat karena merupakan
pemberikan Tuhan bagi perempuan dan laki-laki sejak lahir, dan tidak bisa
berubah kecuali melalui operasi.
Konsep gender atau jenis kelamin sosial adalah pembedaan perempuan dan laki-
laki dalam hal sifat, peran, posidsi dan fungsi yang dipengaruhi budaya,
penafsiran agama, sistim pendidikan, sistim politik dan lain-lain. Gender dapat
berubah karena bergantung pada konteks di mana ia tumbuh. Misalnya peran
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 60
perempuan di Bali berbeda dengan peran perempuan di Rote, dan sebagainya.
4. Dalam proses perumusan ini bisa muncul pertanyaan apakah hamil, melahirkan, dan
menyusui termasuk seks atau gender? Jelaskan bahwa secara biologis perempuan
memiliki rahim dan kelenjar susu sehingga memiliki potensi untuk hamil, melahirkan
dan menyusui. Tetapi bukan berarti memiliki rahim dan kelenjar susu maka
perempuan harus hamil, melahirkan dan menyusui sebagaimana dituntut masyarakat.
5. Akhiri pertemuan dengan menyimpulkan bahwa perbedaan perempuan dengan laki-
laki dapat dibedakan secara biologis dan social, dan dampak dari kedua konsep ini
akan didiskusikan pada pertemuan ke tiga.
Bagian 3:
Internalisasi Konsep Seks dan Gender
1. Mulailah pertemuan dengan meminta salah satu peserta membacakan definisi konsep
seks dan gender yang sudah dirumuskan pada pertemuan sebelumnya
2. Tanyalah ke beberapa peserta untuk memastikan bahwa mereka benar-benar telah
memahami konsep seks dan gender serta dapat memberdakannya
3. Ajaklah peserta bermain. Mintalah peserta berbaris dalam dua bersap dan jelaskan
tujuan dan aturan mainnya. Sebelah kiri adalah mereka yang setuju kalimat yang akan
dibaca, dan sebelah kanan yang tidak setuju. Mulailah permainan dengan
menanyakan, misalnya perempuan lebut adalah gender? Mintalah mereka menjawab
setuju atau tidak serta argumennya. Seterusnya hingga metaplan habis.
4. Jika terjadi perdebatan, mintalah kelompok mendiskusikan kembali. Jika dibutuhkan
fasilitator dapat menjelaskan kembali konsep seks dan gender dengan perlahan hingga
peserta mengerti.
5. Akhiri pertemuan dengan mengungkapkan beberapa point penting antara lain:
Gender adalah pembedaan perempuan dan laki-laki yang dibentuk secara sosial.
Gender bisa berubah sesuai konteks, waktu, tempat dan budaya
Pembedaan jenis kelamin secara sosial telah melekat kuat di masyarakat sehingga
dianggap sebagai hal yang wajar, alamiah dan tidak bisa berubah. Itu sebabnya
jika ada yang mengubahnya maka dicap melawan adat istiadat, berdosa dan akan
dikutuk
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 61
Tips Untuk Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
CATATAN UNTUK FASILIATOR
1. Panduan bagi fasilitator berkaitan dengan konsep Seks dan gender. Ini menjadi panduan untuk menjelaskan
yang terjadi dimasyarakat.
Seks atau Jenis Kelamin Biologis
Perempuan secara Laki-laki secara biologis memiliki
biologis memiliki
1. Rahim 1. Penis
2. Vagina 2. Testis ( Buah Zakar )
3. Kelenjar susu 3. Sperma
4. Sel telur (ovum) 4. Hormone Testosteron
5. Haid 5. Kelenjar prostate
6. Hormon estrogen Dua organ yang disebut pertama biasanya disebut jenis kelamin primer pada
Empat Organ yang disebut laki-laki, dan tiga organ yang kedua adalah jenis kelamin sekunder.
pertama adalah jenis
kelamin primer dan dua
yang terakhir disebut jenis
kelamin sekunder
Gender atau Jenis Kelamin Sosial yang ada di masyarakat
Perempuan Laki-laki
Sifat Lembut Gagah
Pemalu Pemberani
Sabar Kasar
Emosional Bijaksana
Pendiam Bertanggung jawab
Keibuan Pintar
Agresif
Peran/ Fungsi Mengurus rumah tangga Pencari Nafkah utama
Pencari nafkah tambahan Pelindung
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 62
Posisi Melahirkan Menjadi panutan
Menyusui
Hamil Kepala keluarga
Ibu rumah tangga Pemimpin
Yang dipimpin
Sex Gender
Gender bersifat sosial budaya dan merupakan
Sex adalah alami buatan manusia
Gender bersifat sosial budaya dan ini
Sex bersifat biologis, ini mengacu pada perbedaan mengacu pada kualitas feminin dan
yang kelihatan dalam alat kelamin dan perbedaan maskulinitas, pola perilaku,peran, tanggung
dalam hubungan fungsi prokreasi jawab, dll
Gender dapat berubah.
Sex bersifat tetap
2. Penting fasilitator untuk mengetahui istilah-istilah umum dan ilmiah organ reproduksi perempuan dan laki-
laki. Ini lebih diterima jika dibandingkan bahasa lokal yang umumnya tabu diucapkan. Karena itu perlu
juga dijelaskan istilah ilmiahnya baru dilihat sinonimnya pada istilah lokal.
3. Fasilitator penting mempelajari materi kesehatan reproduksi baik perempuan dan laki-laki sehingga siap
untuk menjawan pertanyaan-pertanyaan peserta
B.3. DAMPAK KONSEP GENDER
Sesi ini merupakan jawaban terhadap pentanyaan apa masalahnya konsep seks dan gender
sehingga dipersoalkan. Sesi ini kan menjelaskan bahwa konsep gender telah melahirkan berbagai
ketidakadilan, terutama kepada perempuan. Ini sering tidak disadari oleh masyarakat bahkan oleh kaum
perempuan sebagai korban.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 63
Sub Pokok Bahasan Dampak Konsep Gender
Pembagian peran, posisi, dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki telah
menyebabkan ketidakadilan terhadap perempuan dan laki-laki. Misalnya laki-
laki yang diposisikan kepala keluarga oleh masyarakat, mendapatkan berbagai
akses dibandingkan perempuan. Tetapi jika ia tidak bekerja atau menganggur
akan dilecehkan masyarakat. Sedangkan untuk perempuan karena diposisikan
sebagai ibu rumah tangga maka dibebankan tanggung jawab mengurus rumah
tangga dan mengasuh anak yang tentu hal ini membutuhkan waktu, energi, dan
materi yang tidak sedikit. Akibatnya banyak hal sosial yang tidak ia ketahui,
tetapi tidak dipersoalkan masyarakat karena dianggap kodrat perempuan di
dalam rumah.
Dampak ketidakadilan gender di masyarakat NTT yang patriarkis tentu lebih
dirasakan perempuan dibandingkan laki-laki. Ini dapat dilihat dari data di
bawah ini:
Angka kematian Ibu melahirkan tahun 2019 sebanyak 98 kasus mengalami
penurunan 44 kasus dari tahun.
Angka buta huruf perempuan di NTT mencapai 3.1% atau 82.515 orang dari
109.133 angka buta huruf penduduk NTT 2020.
Tahun 2018 sebanyak 20.5% atau 547 anak perempuan yang menikah di bawah
umur
677 kasus KDRT terhadap perempuan terjadi sepanjang 2020
Gizi Ibu hamil tidak diperhatikan sehingga ada 27.5% bayi yang mengalamai
stunting
Dalam konteks inilah sangat penting dibicarakan konsep adil dalam rangka
menciptakan kesejahteraan baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki.
Tujuan Tujuan sesi ini adalah peserta dapat:
1. Mengidentifikasi alasan-alasan mendasar mengapa konsep gender harus
dipermasalahkan
2. Mengetahui dampak dari penerapan konsep gender bagi laki-laki dan
perempuan
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 64
3. Menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya adalah korban dari bentuk-bentuk
ketidakadilan gender tersebut .
Metode Ada tiga metode yang digunakan dalam sesi. Metode analisa film, metode
analisis gambar, serta metode diskusi kelompok, pemberian input. Metode
analisis film membantu peserta merefleksikan situasi mereka sendiri khususnya
peserta yang mengalami seperti yang diceritakan dalam film. Film yang
disarankan adalah yang menggambarkan dampak penerapan konsep gender
terhadap perempuan dan laki-laki. Metode ini biasanya disenangi peserta,
karena lebih santai. Jika metode analisis film tidak dapat dilakukan karena
tidak ada listrik atau VCD player, maka dapat diganti dengan metode analisis
gambar. Gambar yang dianalisis sedapat mungkin menggambarkan situasi riil
perempuan marginal dan miskin di NTT. Tujuannya agar peserta mudah
merefleksikan situasi diri mereka. Ketiga adalah metode diskusi kelompok dan
pemberian input. Metode ini digunakan setelah metode analisis film atau
analisis gambar
Waktu Sesi ini dilakukan dalam dua kali pertemuan. Masing-masing pertemuan
Alat dan Bahan waktunya dua jam. Jika waktu tidak cukup, fasilitator dapat menyepakati
dengan peserta untuk penambahan waktu. Prinsipnya untuk waktu dapat
didiskusikan kembali jika memang dibutuhkan.
Alat dan bahan yang diperlukan dalam sesi ini sebagai berikut:
Kertas Plano
Metaplan ukuran 10 x 25 cm
Spidol marker atau kapur warna –warni
White board atau papan tulis
Televisi
VCD Player
Film berjudul Impossible Dream atau film tentang KDRT
Gambar-gambar bentuk-bentuk ketidakadilan gender
Data kondisi perempuan di Indonesia
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 65
Proses dan Langkah- 1. Ajak peserta duduk melingkar dan jelaskan tujuan dan metode sesi ini.
langkah 2. Untuk menghangatkan suasana, mintalah salah satu peserta menceritakan
pengalaman lucu yang pernah dialaminya.
3. Jelaskan metode analisis film yang akan digunakan. Sebelum memutar film,
jelaskan secara ringkas isi dari film “ Impossible Dream. Jika metode ini tidak
dapat diterapkan, maka gunakanlah metode analisis ganbar. Fasilitator sudah
menyiapakan gambar-gambar tentang ketidakadilan yang dialami perempuan
yang akan dianalisis peserta.
4. Bagikan peserta menjadi lima kelompok, dan tugaskan setiap kelompok selama
menonton film mencatat ketidakadilan yang dialami perempuan dan laki-laki.
Jika menggunakan analisis gambar, tugaskan kelompok mencatat ketidakadilan
yang dialami perempuan dan laki-laki yang ada dalam gambar-gambar tersebut.
5. Putarkan film atau pajanglah gambar-gambar yang telah disiapkan.
6. Setelah menonton film atau melihat gambar berikanlah kesempatan tiga puluh
menit kepada setiap kelompok mempersiapkan presentasinya. Selanjutnya
mintalah masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
7. Diskusikanlah bersama-sama hasil presentasi kelompok. Tekankan bahwa peran
dan posisi laki-laki sebagai kepala keluarga dan perempuan sebagai Ibu rumah
tangga telah berdampak pada ketidakadilan bagi perempuan. Sedangkan karena
posisi tersebut laki-laki mendapatkan akses dan kesempatan seperti :
Mengikuti pertemuan karena laki-laki dianggap pemimpin dan kuat
menjaga diri.
Mendapatkan akses pendidikan yang lebih tinggi karena bakal menjadi
kepala keluarga.
Mengembangkan kariernya karena dianggap lebih pintar dan tidak dibebani
pekerjaan domestik
Mendapatkan relasi lebih luas karena lebih banyak kesempatan
bersosialisasi dengan lingkungan
Sedangkan perempuan yang diposisikan sebagai ibu rumah tangga akan mendapat situasi:
Terbatas akses dan kesempatan mengikuti kegiatan diluar rumah karena
diwajibkan melakukan pekerajaan rumah
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 66
Tidak mendapatkan pendidikan karena dianggap perempuan tidak
memerlukan pendidikan karena hanya akan tinggal di rumah
Tidak memiliki relasi karena tidak dibiasakan dan tidak diberi kesempatan
untuk keluar rumah
Mendapat beban kerja berlebihan. Ini adalah bentuk kekerasan,
peminggiran, dan diskriminasi. Karena itu penting membahas konsep
gender yang selama ini ada dalam masyarakat dan mengubahnya menjadi
lebih adil.
8. Berikan kesempatan bagi peserta mengajukan pertanyaan jika ada hal-hal yang
belum dipahami.
9. Simpulkanlah secara bersama hasil diskusi dan proses yang telah dijalani.
Tips Untuk Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
CATATAN FASILITATOR
Fasilitator harus memperhatikan suasana kelas senyaman mungkin sehingga proses belajar dan diskusi
berjalan baik
C. PENGERTIAN DAN BENTUK-BENTUK KETIDAKADILAN GENDER
Setelah peserta memahami bahwa penerapan konsep gender di masyarakat mengakibatkan ketidakadilan
bagi perempuan karena di posisikan lebih rendah dari laki-laki. Untuk itu sesi ini akan membahas secara
lebih mendalam bentuk-bentuk ketidakadilan gender.
Sub Pokok Bahasan Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender
Marginalisasi
Marginalisasi adalah proses pemiskinan perempuan yang mengakibatkan kemiskinan
perempuan secara sosial maupun ekonomi. Misalnya penggunaan mesin-mesin
dalam sektor pertanian telah mengakibatkan perempuan di pedesaan kehilangan
pekerjaan mereka.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 67
Diskriminasi
Pembedaan perlakuan terhadap seseorang atau sekelompok orang dikarenakan jenis
kelamin, ras, agama, status sosial, atau suku. Misalnya salah satu bentuk
diskriminasi berbasis gender adalah memberikan keistimewaan kepada anak laki-
laki untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi dibandingkan anak perempuan.
Atau pembedaan upah buruh perempuan dan buruh laki-laki untuk jenis pekerjaan
yang sama.
Kekerasan
Kekerasan terhadap perempuan adalah serangan terhadap fisik psikis, dan seksual
perempuan. Tindak kekerasan terhadap perempuan yang berakibat pada penderitaan
fisik, seksual, psikis, dan penelantaraan rumah tangga, termasuk ancaman
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan perempuan. Bentuk-bentuk
kekerasan antara lain:
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit berupa luka berat.
Contohnya pemukulan.
Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, kehilangan rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dll. Contohnya
memaki istrinya dengan kata-kata yang membuat sakit hati dan merasa rendah diri
Kekerasan seksual adalah perbuatan berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan
hubungan seksual dengan cara tidak wajar, pemaksaan hubungan seksual dengan orang
lain untuk tujuan komersial.
Stereotype
Stereotype adalah pelabelan negative terhadap jenis kelamin tertentu, dalam hal ini
perempuan. Karena konsep gender yang menempatkan perempuan lebih rendah
dari laki-laki maka label yang biasanya dilekatkan pada perempuan adalah
perempuan lemah, perempuan bodoh dan perempuan lebih emosional. Pelabelan ini
membuat perempuan sulit memiliki kepercayaan diri.
Multi beban
Multi beban adalah beban perempuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan reproduksi
dalam rumah tangganya, sekaligus melakukan pekerjaan-pekerjaan produktif untuk
mendapat penghasilan, serta melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial seperti gotong
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 68
Tujuan royong di komunitasnya. Walaupun perempuan bekerja hampir 24 jam setiap
harinya, pekerjaan-pekerjaan reproduksi dan sosial yang mereka lakukan tidak
Metode mempunyai nilai. Sementara kerja produksi yang mereka lakukan dikatakan sifatnya
Waktu hanya membantu. Dengan kata lain perempuan hanya mendapatkan beban kerja
yang besar tetapi ia tidak mendapatkan keuntungan dari pekerjaan-pekerjaan
tersebut.
Sub-Ordinasi
Sub-ordinasi adalah menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki atau perempuan
sebagai warga kelas dua. Sub-ordinasi ini bersumber pada anggapan bahwa
perempuan adalah mahkluk yang irasional dan emosional sehingga tidak mampu
memimpin dan harus di bawah kaum laki-laki
Tujuan sesi ini adalah peserta dapat:
1. Memahami bentuk-bentuk ketidakadilan gender seperti peminggiran (marginalisasi),
penomorduaan (sub-ordinasi), diskriminasi, kekerasan, pelabelan negative (stereotype),
dan multi beban atau beban berlebihan.
2. Menumbuhkan komitmen untuk melihat bentuk-bentuk ketidakadilan gender sebagai
permasalahan yang dapat diatasi bersama.
Metode yang digunakan dalam sesi ini adalah metode diskusi kelompok. Metode ini
digunakan karena fokusnya memberikan makna pada bentuk-bentuk ketidakadilan
gender yang sudah diidentifikasi.
Sesi ini membutuhkan waktu dua jam. Jika dirasa waktunya kurang, fasilitator dapat
menyepakati bersama peserta untuk penambahan waktu.
Alat dan Bahan Alat dan bahan yang diperlukan adalah:
1. Kertas plano
2. Metaplan ukuran 10 x 25 cm
3. Spidol marker atau kapur warna warni
4. White board atau papan tulis
5. Selotip kertas
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 69
Proses dan Langkah- Langkah-langkahnya sebagai berikut:
langkah 1. Awali pertemuan dengan mengingatkan peserta tentang bentuk-bentuk ketidakadilan
gender yang telah didentifikasi
2. Diskusikanlah lebih mendalam bentuk-bentuk ketidakadilan gender tersebut. Melalui
diskusi ini diharapkan peserta menyadari bahwa ketidakadilan gender merupakan
masalah serius yang harus dicarikan jalan keluarnya. Untuk itu rangsanglah peserta
dengan diskusi terbuka tentang pandangan mereka yang masih menganggap
ketidakadilan gender sebagai hal yang wajar.
3. Setelah itu, berikanlah penjelasan tentang konsep-konsep yang biasanya digunakan
untuk memahami bentuk-bentuk ketidakadilan gender. Seperti penomorduaan,
diskriminasi, kekerasan, multi beban, pelabelan negatif, dan marginalisasi. Usahakan
ketika memberikan penjelasan, setiap rumusan dari konsep yang dijelaskan dituliskan
dengan jelas di kertas plano atau papan tulis
4. Rumuskan kesimpulan bersama di akhir proses
Tips Untuk Fasilitator Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
CATATAN FASILITATOR
1. Walaupun bentuk-bentuk ketidakadilan gender lebih banyak dialami perempuan tetapi sebaiknya
fasilitator dapat juga memberi contoh konkrit bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh laki-
laki. Biasanya hal ini ditanyakan oleh peserta
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 70
2. Karena bentuk-bentuk ketidakadilan gender menggunakan juga istilah-istilah asing tak terhindarkan maka
usahakan untuk menggunakan terjemahan bahasa Indonesia dandijelaskan secara perlahan-lahan agar
peserta dapat mengikuti dengan baik
C.1 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DAN PELANGGENGAN KETIDAKADILAN GENDER
Sesi ini akan membantu peserta mengenali dan menganalisis akar permasalahan ketidakadilan gender
yang dialami perempuan. Diantaranya budaya patriarki, sistim ekonomi kapitalis, penafsiran agama dan
kepercayaan yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkhi.
Sub Pokok A. Akar masalah penindasan terhadap perempuan
Bahasan Menurut analisis feminis akar masalah ketertindasan perempuan adalah budaya patriarki.
Budaya patriarki adalah budaya yang menomorsatukan laki-laki di segala bidang yang
mengakibatkan perempuan tersubordinasi dan mengalami penindasan. Budaya patriarkhi
bekerja dan terimplementasi melalui beberapa cara dalam kehidupan sehari-hari baik itu
pada tingkat pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara. Budaya ini telah
mempengaruhi dengan sangat kuat relasi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat dan
telah mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan ketidakadilan bagi sebagian besar
perempuan. Contoh kuatnya pengaruh budaya patrarkhi dalam kehidupan sehari-hari
adalah:
Penafsiran agama dan kepercayaan sangat dipengaruhi budaya patriarki sehingga
memberikan kekuasaan dan hak istimewa kepada laki-laki. Sebaaliknya banyak
penafsiran agama dan kepercayaan yang sangat merugikan perempuan dan
melanggengkan pembagian peran yang membebani perempuan. Penafsiran
semacam ini menyebabkan adanya pembatasan-pembatasan bagi perempuan seperti
cara bicara, cara berpakaian, dll. Selain itu dapat mendorong terjadinya kekerasan
terhadap perempuan. Misalnya suami memukul istri dengan alasan mendidik, laki-
laki boleh poligami, perempuan yang meninggal saat melahirkan dianggap mati
sahid, perempuan dikucilkan karena hamil sebelum menikah, perempuan harus
menjaga kesucian, dan lain-lain. Sebab itu dibutuhkan penafsiran kembali ajaran-
ajaran agama dan kepercayaan dengan perspektif gender.
Adat-adat lokal yang memberikan kekuasaan kepada laki-laki untuk memiliki
perempuan sehingga sejak kecil perempuan dianggap milik bapaknya yang berhak
menentukan masa depannya, setelah menikah ia menjadi milik suaminya, dan
ketika tua menjadi milik anak laki-lakinya.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 71
Sistim pendidikan juga berkontribusi melanggengkan ketidakadilan gender. Banyak
kurikulum yang bias gender. Misalnya buku bahasa Indonesia yang menuliskan
kalimat Ibu dan Wati pergi ke pasar, sedangkan Budi dan Bapak bermain bola.
Bapa pergi ke kantor dan Ibu memasak di dapur. Kalimat seperti ini
mengkonstruksi bahwa peran-peran perempuan berada di ranah domestik dan laki-
laki di ranah publik.
Sistim hukum yang bias gender memperkuat pembagian peran gender yang
merugikan perempuan. Misalnya UU Nomor 1 tahun 1974 menyebutkan bahwa
suami adalah kepala keluarga dan istri adalah Ibu rumah tangga. Ini selain
mendomestifikasi perempuan juga menghilangkan hak-hak perempuan untuk
bantuan-bantuan yang hanya terfokus pada kepala keluarga laki-laki.
Sistim politik formal yang masih belum ramah terhadap perempuan untuk
berpartisipasi maksimal di dalamnya. Walaupun tidak ada larangan perempuan
berpolitik, dan juga telah diterbitkan kebijakan yang mewajibkan keterwakilan 30%
perempuan, tetapi dalam prakteknya perempun sering hanya menjadi jaminanan
atau persyaratan administratif.
Sistim ekonomi yang tidak adil terhadap perempuan yang menempatkannya sebagai
objek. Misalnya sistim ekonomi kapitalis yang mengutamakan modal besar. Ini
secara otomatis meminggirkan kelompok-kelompok miskin terutama perempuan
yang memilki modal terbatas dan tidak mampu bersaing di pasar bebas. Bahkan
perempuan sering dijadikan alat dan komoditi sebagai buruh atau pekerja untuk
mendapatkan keuntungan besar, tetapi upah perempuan rendah, tidak ada cuti dan
juga tidak ada jaminan kesehatan.
B.Institusi-institusi yang melanggengkan ketidakadilan gender
Institusi-institusi tersebut antara lain:
Keluarga. Keluarga merupakan institusi pertama yang menerapkan dan
menyebarkan nilai dan paham patriarkhi. Ini terlihat dengan adanya perlakuan yang
berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan. Misalnya anak laki-laki boleh
bermain dengan bebas sementara anak perempuan harus membantu Ibu di rumah.
Media masa. Media masa menjadi salah satu yang masif menyebarkan konsep
patriarki. Banyak film dan sinetron mempertontonkan kekerasan terhadap
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 72
perempuan sebagai hal yang wajar karen perempuan tidak tunduk pada suami,
perempuan yang baik harus menjalankan peran domestik dan melayani suami, dan
sebagainya. Ini semakin memperkuat diskriminasi dan ketidakadilan bagi
perempuan
Lembaga adat. Lembaga ini menjadi pusat internalisasi budaya patriarki dalam
kehidupan masyarakat. Ini terlihat dari kontruksi strukturnya hingga proses
pengambilan keputusan. Dominasi ini telah menetapkan keputusan untuk aturan-
aturan keseharian dan juga upacara-upacara ada untuk perkawinan, kematian hingga
panen. Akibatnya perempuan diposisikan sebagai pelengkap dari laki-laki. Ini
melekat kuat dalam masyarakat dan melanggengkan ketidadilan terhadap
perempuan.
Tujuan Tujuan sesi ini adalah peserta dapat:
1. Mengidentifikasi institusi-institusi yang menyebarkan dan melanggengkan
ketidakadilan gender dan budaya patriarki di masyarakat, seperti keluarga, sekolah,
agama, media masa, negara, dan lembaga adat.
2. Mengetahui dan memahami faktor-faktor penyebab yang melanggengkan
ketidakadilan gender
3. Mengetahui factor-faktor penyebab dan mengikritisi agar keadilan bagi perempuan
dan laki-laki dapat terwujud
Metode Ada tiga metode yang digunakan dalam sesi ini yaitu metode permainan, metode diskusi dan
pemberian input fasilitator. Adapun metode permainan untuk sesi ini adalah jaring laba-laba.
Sebuah permainan yang menggunakan tali rafia yang hasilnya nanti akan menyerupai jating
laba-laba.
Waktu Sesi ini membutuhkan minimal dua kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung sekitar dua
jam. Lamanya waktu pertemuan sangat bergantung pada situasi dan kondisi peserta. Jika
dirasa waktunya kurang, fasilitator dapat menyepakatinya bersama peserta untuk penambahan
waktu
Alat dan BahanPenting untuk selalu diupayakan memakai alat dan bahan yang ada di lokal. Tetapi fasilitator
dapat mempersiapakn jika tidak ada di lokal. Alat dan bahan tersebut sebagai berikut:
1. Kertas plano
2. Metaplan warna-warni
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 73
3. Sipidol merah, hitam dan biru
4. Papan tulis
5. Selotip kertas
6. Tali rafia
Prosesdan Langkah- Bagian 1: Mengidentifikasi Faktor-faktor Penyebab dan Pelestarian Ketidakadilan
langkah Gender
1. Ajaklah peserta saling menyapa dan menanyakan kabar serta hal merik yang
dialami setelah pertemuan pertama. Buatlah suasana senyaman mungkin agar
semua peserta santai bercerita.
2. Berikanlah penjelasan tentang sesi ini, tujuannya dan metodenya. Selanjutnya
fasilitator dapat mengingatkan peserta dengan kesimpulan dari sesi-sesi
sebelumnya, dan mengkaitkannya dengan pembahasan sesi ini. Tekankan bahwa
ketidakadilan gender bersumber pada faktor-faktor yang sistimatis, terstruktur dan
masif, seperti budaya patriarki. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor ini mintalah
peserta memainkan permainan jaring laba-laba. Langkah-langkahnya sebagai
berikut:
Mintalah peserta duduk dalam lingkaran
Permainan ini diawali dengan cerita mengapa Dorkas mati?
Seorang peserta diminta berperan sebagai Dorkas dan duduk di tengah lingkaran
Fasilitator memulai permainan dengan mengajukan pertanyaan dan peserta
harus menjawab. Kemudian fasilitaor memberikan tali kepada peserta yang
menjawab dan dililitkan ke tubuh Dorkas. Begitu seterusnya hingga pertanyaan
selesai.
Saat peserta menjawab pertanyaan co-fasilitator dapat menuliskan jawaban-
jawaban pada metaplan
3. Setelah penjelasan cara permainan ini dipahami, mintalah seorang peserta untuk
menjadi Dorkas dan duduk di tengah-tengah lingkaran. Ikatkan salah satu ujung tali
ke tubuh Dorkas. Kemudian mulailah bertanya mengapa Dorkas mati? Pertanyaan
selanjutnya digali dari jawaban peserta dan tetapi mengaitkannya dengan faktor-
faktor pelanggengan ketidakadilan gender. Misalnya budaya patriarki, sistim
ekonomi yang tidak adil, penefsiran agama atau kepercayaan, sistim hukum, sistim
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 74
politik, media masa, sisitim Pendidikan, dan sebagainya. Pertanyaan yang diajukan
misalnya:
Mengapa Dorkas dipaksa kawin usia muda?
Mengapa Dorkas hamil
Mengapa keluarga Dorkas miskin
Mengapa orang miskin tidak mendapat pelayanan, kesehatan
Mengapa pemerintah tidak memberikan layanan kesehatan yang murah
Mengapa kesehatan Dorkas tidak dianggap penting
Mengapa suaminya selalu menyalahkan Dorkas
4. Setiap jawaban peserta maka yang menjawab melilitkan tali rafia ke tubuh Dorkas.
Begitu seterusnya. Mintalah co- falitotor menuliskan kata kunci dari jawaban-
jawaban tersebut dengan huruf kapital. Misalnya:
Buadaya yang mengutamahan laki-laki
Pemerintah yang korup
Pendidikan rendah
Adat istiadat
Kepercayaan
Penafsiran agama
Korupsi
Hukum yang tidak adil
Rumahsakit mahal
Kawin paksa
Kawin muda karena perempuan, dll.
5. Selanjutnya tanyakan perasaan peserta yang berperan sebagai Dorkas. Apa yang ia
rasakan sebagai perempuan dengan banyak persoalan yang melilitnya? Setelah
mengetahui perasaannya, tanyakan ke peserta lain apa yang dapat dilakukan untuk
menolong Dorkas dari persoalan yang melilitnya. Setiap solusi dapat diikuti dengan
membuka talinya. Biarkan peserta bekerjasama membuka lilitan tali. Tanyakan ke
peserta apa kesan mereka ketika mencoba melepaskan Dorkas dari penderitaannya?
Berbagai pandangan seperti pentingnya perempuan membangun kerjasama,
pentingnya solidaritas dan strategi biasanya muncul dari jawana-jawaban peserta.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 75
6. Simpulkanlah hasil pertemuan dengan poin utamanya:
Ketidakadilan gender disebabkan oleh budaya patriarkhi dan dilestarikan oleh
berbagai factor. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan meliputi sistim ekonomi
yang tidak adil, panafsiran agama dan kepercayaan, sistim hukum, institusi
politik, media masa, sistim pendidikan dan lain-lain.
Faktor-faktor tersebut dapat ditemukan secara jelas perwujudannya dalam
kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan keluarga komunitas maupun
masyarakat dan negara.
Bagian 2: Faktor-faktor penyebab dan pelestarian
ketidakadilan gender
1. Mulailah pertemuan dengan menceritakan hal-hal lucu atau menyanyikan lagu-lagu
yang diketahui peserta
2. Selanjutnya sebarkan ke lantai metaplan yang berisi jawaban peserta yang
dihasilkan dari pertemuan sebelumnya. Mintalah peserta mengelompokkan
metaplan tersebut berdasarkan kesamaan dan mintalah mereka untuk memberikan
nama pada setiap kategorinya. Kemungkinan kategori-ketegori yang dibuat peserta
adalah kebijakan yang tidak adil, budaya yang meminggirkan perempuan,
penafsiran agama yang tidak berorientasi pada kepentingan perempuan,
kemiskinan, sistim ekonomi kapaitalis, dan pemerintahan yang korup dan tidak
bersih. Mintalah peserta melihat hubungan antar kategori-kategori tersebut yang
menyebabkan Dorkas mati. Ini dilakukan dalam diskusi kelompok. Mintalah setiap
kelompok menyimpulkan hasil diskusi yang memperkuat faktor-faktor penyebab
kematian Dorkas. Baik itu sistim ekonomi yang tidak adil, penafsiran agama dan
kepercayaan, budaya patrarki, hukum, sistim politik dan sistim pendidikan yang
bias gender.
3. Kesulitan yang mungkin terjadi adalah masih kuatnya pandangan beberapa peserta
bahwa tidak ada keterkaitan antara penafsiran agama atau kepercayaann dengan
ketidakadilan gender yang dialami Dorkas. Untuk menanggapinya, buatlah diskusi
untuk menganalisis bagaimana sistim ekonomi yang tidak adil, penafsiran agama
dan kepercayaan, budaya patrarki, hukum, sistim politik dan sistim pendidikan yang
bias gender telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari perempuan.
4. Berikanlah penjelasan mengenai pengertian-pengertian dari faktor-faktor penyebab
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 76
Tips Untuk dan pelestarian ketidakladilan gender. Catatlah setiap pengertian yang dibahas di
Fasilitator papan tulis atau kertas plano untuk membantu peserta mencatat hasil diskusi
tersebut.
Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
Catatan untuk Fasilitator
1. Dalam sesi ini salah satu factor pelanggengan ketidakadilan gender yang kemungkinan muncul adalah
penafsiran agama atau kepercayaan. Pembahasan factor ini akan menjadi sensitive jika tidak
diantisipasi. Untuk itu jika dibutuhkan fasilitator dapat menghadirkan narasumber.
2. Sesi ini membutuhkan waktu yang cukup panjang, jadi bernegosiasilah dengan peserta kemungkinan
untuk memperpanjang waktu sehingga proses dapat berjalan baik dan menjadi kesepakatan Bersama.
D. PENGERTIAN KEADILAN GENDER
Setelah peserta memahami faktor-faktor penyebab dan pelanggengan ketidakadilan gender,
maka sesi ini akan membahas Keadilan Gender. Ini sangat penting karena masih kuat anggapan
masyarakat bahwa memperjuangkan hak-hak perempuan sama halnya menantang kodrat perempuan.
Di sisi lain perjuangan ini juga dilihat sebagai proses balas dendam perempuan terhadap laki-laki. Cara
pandang yang salah ini haruslah diluruskan, karena memperjuangkan keadilan gender, khususnya bagi
perempuan justru bertujuan menciptakan masyarakat yang demokratis, berkeadilan sosial, berkeadilan
gender, serta pluralis.
Sub Pokok Pengertian Keadilan Gender
Bahasan Keadilan gender adalah suatu keadaan yang adil yang dirasakan oleh perempuan
maupun laki-laki. Ini terjadi karena tidak adanya pembagian peran, posisi, dan
fungsi antara laki-laki dan perempuan. Prinsip-prinsip dalam memperjuangkan
keadilan gender adalah :
Pribadiku adalah politikku “Personal is political”
Kesetaraan
Demokrasi
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 77
Anti kekerasan
Pluralisme yaitu menghargai dan terbuka terhadap perbedaan agama, suku, ras,
ideologi, orientasi seks, jenis kelamin, kelas sosial, dan suku bangsa
Affirmative action yaitu perlakuan khusus sementara kepada perempuan untuk
mengejar ketertinggalan dengan laki-laki
Solidaritas
Tujuan Tujuan sesi ini adalah peserta dapat:
Metode a. Memahami konsep keadilan gender
Waktu b. Merumuskan prinsip-prinsip dalam memperjuangkan keadilan gender
Ada beberapa metode yang dapat digunakan yaitu metode studi kasus, metode
perdebatan pro dan kontra, serta pemberian input oleh fasilitator. Penggunaan
metode ini sangat bergantung pada kebutuhan. Misalnya jika pemahaman
peserta relatif sama maka tidak diperlukan metode debat. Sebaliknya metode ini
disarankan untuk dilakukan jika pendapat peserta terkotakan dalam dua
pandangan berbeda.
Sesi ini dilakukan dalam dua kali pertemuan, dan masing-masing pertemuan
waktunya kurang lebih dua jam.
Alat dan Bahan Penting diupayakan memakai alat dan bahan yang ada di lokal. Tetapi fasilitator
dapat mempersiapkan jika tidak ada di lokal. Alat dan bahan tersebut sebagai
berikut:
1. Kertas Plano
2. Metaplan warna-warni
3. Spidol marker merah, biru, dan hitam ukuran sedang dan besar
4. Papan tulis
5. Selotip kertas
Proses dan Proses dan Langkah-langkah sebaghai berikut:
Langkah- 1. Ajaklah peserta duduk melingkar agar suasana menjadi akrab, terbuka dan rileks
langkah 2. Ajukanlah pertanyaan apa yang peserta pahami tentang keadilan gender? Jika
peserta merasa kesulitan menjawab, bantulah mereka dengan mengingatkan materi-
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 78
materi pada sesi sebelumnya tentang konsep gender, bentuk-bentuk ketidakadilan
gender dan faktor-faktor penyebab serta pelanggengan ketidakadilan gender.
Setelah itu galilah pendapat peserta mengenai ketidakadilan gender. Tuliskan
jawaban-jawaban mereka di papan tulis atau metaplan. Jawaban yang mungkin
muncul biasa seputar kekerasan, upah murah atau rendah, pekerjaan di rumah tidak
dihargai, suami selingkuh, dan seterusnya. Selanjutnya galilah hal-hal yang menurut
peserta adalah hal-hal yang berkaitan dengan keadilan. Tulis semua jawaban di
kertas plano atau papan tulis dan bahaslah serta rumuskan bersama ap aitu keadilan
gender. Umumnya keadilan gender diartikan suatu keadaan yang adil yang
dirasakan perempuan maupun laki-laki karena tidak ada pembagian peran, posisi,
dan fungsi yang lebih umumnya lebih mengutamakan laki-laki.
3. Berikanlah masukan kepada peserta bahwa untuk memperjuangkan keadilan gender
dibutuhkan prinsip dan nilai dasanya. Galilah prinsip-prinsip tersebut dalam diskusi
kelompok.
4. Bagilah peserta dalam empat kelompok dan mintalah setiap kelompok membahas
satu kasus KDRT yang terjadi di komunitas mereka yang bertujuan:
Mengidentifikasi bentuk-bentuk ketidakadilan yang ada dalam kasus tersebut
Mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya
Merumuskan cara-cara untuk menyelesaikannya
Merumuskan prinsip-prinsip yang harus ada dalam penyelesaian
5. Berikan waktu sekitar 30 menit untuk kelompok berdiskusi
6. Mintalah masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.
7. Sementara presentasi, co-fasilitator dapat membantu mencatat prinsip-prinsip yang
tergali dari setiap presentasi.
8. Bahaslah prinsip-prinsip yang tergali tersebut dengan mengklasifikasinya
berdasarkan kesamaan, menamainya, serta mendefenisikan secara bersama prinsip-
prinsip dalam memperjuangkan keadilan gender. Fasilitaor dapat memberikan
input untuk prinsip-prinsip tersebut
9. Jika terjadi perdebatan antar peserta, maka bagilah peserta dalam dua kelompok
yaitu kelompok yang setuju dan kelompok yang tidak setuju. Dan jika ada peserta
yang ragu-ragu jadikanlah mereka dalam kelompok ragu-ragu. Mintalah kelompok
menyusun argumennya dan memilih seorang sebagai juru bicara. Mulailah
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 79
perdebatan. Catatlah pokok-pokok perdebatannya yang nantinya akan dibahas
untuk mendapatkan rumusan bersama.
10. Simpulkan seluruh proses dan materi dengan menekankan prinsip-prinsip yang
telah dihasilkan tadi, yaitu :
Pribadiku adalah politikku atau the personal is political. Artinya bahwa
masalah-masalah personal adalah masalah politik untuk itu penyelesaiananya
dapat melibatkan publik.
Adil adalah perlakuan yang memberikan keadilan khususnya kepada kelompok-
kelompok yang lemah dan terpinggirkan
Kesetaraan yaitu hak dan kedudukan yang sama yang melekat pada setiap
individu
Demokarasi yaitu situasi dan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang
menjunjung hak dan kebebasan setiap individu secara bebas dan setara tanpa
adanya diskriminasi.
Anti kekerasan yaitu melawan atau menolah segala bentuk pemaksaan secara
fisik, psikis maupun seksual
Pluralisme yaitu menghargai dan terbuka terhadap perbedaan agama, suku, ras,
ideology, orientasi seks, jenis kelamin, kelas sosial dan suku bangsa
Affirmasi action atau diskriminasi positif yaitu tindakan mengizinkan negara
memperlakukan secara lebih kepada kelompok tertentu yang tidak
terwakili.Affirmasi Action membuka peluang bagi kelompok yang terpinggirkan
termasuk perempuan untuk mengejar ketertinggalannya yang diakibatkan oleh
budaya patriarkhi. Affirmasi Action dalam prakteknya berpihak pada korban, dan
dalam konteks ini adalah „perempuan‟
Solidaritas yaitu membangun rasa empati yang diwujudkan melalui aksi atgau
tindakan kongkrit untuk membebaskan kelompok yang dipinggirkan, termasuk
perempuan
Tips Untuk Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 80
CATATAN FASILITATOR
1. Konsep keadilan gender harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum merumuskan prinsip-prinsip
keadilan gender
2. Dalam menerapkan metode debat, sangat mungkin terjadi suasana yang panas karena perbedaan
pendapat. Karena itu fasilitator harus mampu mengantisipasi perdebatan perdebatan tersebut sejak
awal dan mempersiapkan cara mengatasinya.
E. RELASI SETARA GENDER DALAM KELUARGA“PENDEKATAN UNTUK PENCEGAHAN
STUNTING‟‟
Setelah peserta memahami tentang konsep seks dan gender serta dampaknya bagi perempuan,
juga tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang melanggengkannya, maka pada sesi ini akan
mempelajari relasi setara perempuan dan laki-laki dalam keluarga untuk pencegahan stunting. Sesi ini
selain untuk kelas TOT Fasilitaor Desa, penting menjadi modul persaiapan “pra nikah”, yang
diselenggarakan oleh Lembaga-lembaga agama. Tentu tujuannya agar ini menjadi gerakan bersama
menumbuhkan budaya setara antara perempuan dan laki-laki, dan juga upaya-upaya pencegahan
stunting.
Sub Pokok Relasi Setara Gender Dalam Keluarga
Bahasan Relasi setara antara perempuan dan laki-laki merupakan tujuan dari uapaya-
upaya pemberdayaan perempuan. Tentu dengan adanya relasi setara dalam
keluarga maka hambatan-hambatan yang selama ini menyebabkan berbagai
bentuk ketidakadilan bagi perempuan dapat dihapus. Walau begitu penting
diingat bahwa prinsip dari kesetaraan gender adalah mendukung perempuan
dan laki-laki mendapat kesempatan yang sama diberbagai lini kehidupan
dan juga pembangunan. Pemahaman Ini penting untuk mendobrak
konstruksi sosial yang selama ini mengistimewakan laki-laki sebagai
„pemimpin, dan pengambil keputusan mulai dari keluarga, masyarakat dan
negara. Inilah yang diperjuangkan gerakan hingga saat ini. Tetapi gerekan
ini bukan untuk menjadikan laki-laki jadi bawahan perempuan atau untuk
balas dendam, tetapi lebih pada mewujudkan kehidupan adil bagi
perempuan di mana hak-haknya dipenuhi sebagai individu yang setara
dengan laki-laki.
Dengan pemahaman ini maka berbicara relasi setara gender sebagai upaya
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 81
pencegahan stunting menjadi tepat dan penting. Relasi setara dalam
keluarga antara perempuan dan laki-laki dengan sendirinya memperkuat
ketahanan keluarga karena hak-hak perempuan dan laki-laki dipenuhi dan
dihormati. Termasuk kebutuhan-kebutuhan spesifik perempuan hamil.
Berkaitan dengan itu ada dua hal penting yang harus diperhatikan ketika
berbicara tentang relasi setara dalam keluarga untuk pencegahan stunting:
Perempuan atau Ibu Hamil. Perempuan hamil harus tau untuk memastikan
bahwa pemerikasaan kehamilan mulai dari mengetahui pertumbuhan bayi, asupan
gizi, berat bayi, usia dan situasi kehamilannya harus dipenuhi. Keputusan untuk
melakukan semua ini harus ada ada ditangan perempuan bukan laki-laki.
Mengapa? Karena perempuan paling tau apa yang dibutuhkannya dan paling
merasakan dampaknya jika tidak dipenuhi. Dalam konteks ini laki-laki atau suami
tidak berhak untuk menghalang-halangi apa yang menjadi keputuskan perempuan
atau istri. Laki-laki justru harus mendukung keputusan perempuan. Dukungan ini
bisa dalam bentuk turut memastikan semua tahapan pemeriksaan berjalan baik,
memastikan asupan gizinya ibu dan bayinya terpenuhi, dan memastikan akses
terhadap layanan kesehatan untuk pemeriksaan terpenuhi. Ini menunjukkan bahwa
kebutuhan spesifik perempuan hamil bukan lagi menjadi tanggung jawab
perempuan semata melainkan tanggung jawab bersama perempuan dan laki-laki.
Menghormati dan peduli terhadap keputusan perempuan atas kehamilan, asupan
gisi dan kesehatannya adalah hal prinsip yang harus dibangun dalam upaya
pencegahan stunting. Dalam situasi inilah relasi setara dalam keluarga terwujud
sehingga memperkuat ketahanan keluarga, tetapi pada saat yang sama juga
bermanfaat dalam pencegahan stunting. Walau begitu diakui bahwa di masyarakat
patriarkal, seperti di NTT ini sulit terjadi karena:
a. Pengambil keputusan. Pengambilan keputusan untuk pemeriksaan
kehamilan ada di tangan suami. Bahkan ke mana harus memeriksakan apakah
ke fasilitas kesehatan atau dukun beranak juga ditentukan oleh suami.
Akibatnya sering keputusan-keputusan yang diambil dilakukan terlambat.
b. Kontrol atas tubuh perempuan. Kontrol ini faktanya „dipegang‟ oleh laki-
laki. Ini terlihat dalam hal pengambilan keputusan untuk pemeriksaan
kehamilan hingga melahirkan. Keputusan-keputusan ini ditentukan oleh laki-
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 82
laki. Seringgkali jika tidak direspon terhadap keinginan perempuan
memeriksakan kehamilannya maka tidak dilakukan pemeriksaan. Kalaupun
memeriksa pilihan sering pada dukun beranak dan bukan ke fasilitas
Kesehatan. Termasuk saat melahirkanpun dilakukan di rumah. Akibatnya
perempuan tidak mengetahui perkembangan bayi yang dikandungnya
termasuk asupan gizinya, bahkan seringkali menyebabkan kematian akibat
penanganan terlambat dan tidak sesuai standart kesehatan.
c. Pola makan. Masyarakat yang kuat budaya patriarkinya tetap saja
mementingkan laki-laki dalam hal makan. Itu sebabnya perempuan dalam
kondisi hamil tetap saja pola makannya sama seperti biasa, bahkan beban
kerja mengurus rumah pun tetap dilakukan. Dengan situasi ini, tidak
memungkinkan bagi perempuan memikirkan asupan gizinya dan bayi yang
dikandungnya.
Tiga point ini menunjukan perempuan tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri,
termasuk untuk kehamilannya. Di masyarakat patriarkal situasi-situasi inilah
yang terjadi. Inilah yang berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kematian
Ibu dan anak serta peningkatan jumlah anak yang mengalami stunting.
Perkawinan Anak. Kesetaraan pada prinsipnya mengormati hak dan
keputusan perempuan atas diri dan masa depannya. Ini penting diketahui dan
dipahami dalam konteks pencegahan stunting. Fakta dalam masyarakat patriarkal
pengambilan keputusan dan kontrol atas kehidupan perempuan atau anak
perempuan dilekatkan pada laki-laki. Itu sebabnya anak perempuan tidak berdaya
jika bapaknya mengambil keputusan untuk menikahkan. Atas nama kepala
keluarga hak-haknya anak perempuan dirampas, dan dipaksakan menikah
termasuk di usia anak. Padahal fakta menunjukkan bahwa pernikahan anak
menjadi salah satu yang berkontribusi pada peningkatan angka stunting, karena:
a. Pernikahan anak tidak serta merta mebuat anak perempuan secara psikis
mapun fisik siap berumah tangga. Akibat jangka Panjang tidak saja berdampak
pada KDRT dan Perceraian tetapi berkontribusi pada stunting
b. Anak perempuan yang hamil di usia anak belum memahami merawat
kehamilan, termasuk dalam hal memastikan asupan gisi baginya dan bayi yang
dikandung. Itu sebabnya pernikahan anak memiliki kontribusi terhadap
kenaikan angka stunting karena asupan gizi bayi sejak dalam dikandung (nol
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 83
Tujuan bulan) tidak terpenuhi.
Tujuan sesi ini adalah peserta dapat:
a. Memahami konsep relasi setra dalam keluarga
b. Memahami wujud relasi setara dalam keluarga
c. Hal-hal yang menghambat relasi setara dalam keluarga
d. Relasi setara untuk pencegahan stunting
Metode Metode yang digunakan dalam sesi ini adalah diskusi kelompok. Metode ini
digunakan agar terjadi sharing dalam kelompok tentang apa yang dipahami
tentang relasi setara gender dalam keluarga, apa yang menjadi
penghambatnya dan apa dampaknya.
Waktu Mengingat pentingnya sesi ini maka dibutuhkan maksimal dua kali pertemuan.
Masing-masing pertemuan membutuhkan waktu satu setengah jam.
Tujuanya agar peserta memiliki waktu yang lebih terbuka untuk
memahami materi.
Alat dan Bahan Penting diupayakan memakai alat dan bahan yang ada di lokal. Tetapi
fasilitator dapat mempersiapkan jika tidak ada di lokal. Alat dan bahan
Proses dan tersebut sebagai berikut:
Langkah-
langkah 1. Metaplan warna-warni
2. Spidol marker merah, biru, dan hitam ukuran sedang dan besar
3. Papan tulis
4. Selotip kertas
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Awali pertemuan dengan menyanyi bersama atau mendengar cerita-cerita lucu
yang dapat mencairkan suasana belajar.
2. Fasilitator melanjutkan dengan menjelaskan secara singkat konsep relasi setara
gender dalam keluarga, dan apa kaitannya dengan pencegahan stunting dalam
keluarga.
3. Mintalah peserta membentuk kelompok-kelompok kecil, lima hingga enam
orang. Diskusikanlah dalam kelompok apa yang dimaksud dengan relasi setara
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 84
gender, apa bentuk-bentuknya, dan apa dampaknya bagi upaya pencegahan
stunting. Arahkan peserta dalam kelompok untuk mengambil pengalaman-
pengalaman yang mereka lihat di keluarganya dan mendiskusikannya.
4. Berilah kesempatan masing-masing peserta untuk mempresentasikanya hasil
diskusi kelompok dengan waktu lima menit. Fasilitator atau co fasilitator dapat
menulis di meta plan hal-hal penting yang disampaikan kelompok.
5. Selesai kelompok presentasi, fasilitator dapat mendiskusikan kembali hal-hal
penting yang telah ditulis di meta plan untuk mengambil kesimpulan bersama.
6. Tutuplah sesi ini dengan menyanyi bersama.
Tips Untuk Fasilitator memastikan semua peserta aktif
Fasilitator Fasilitator memastikan semua informasi yang dibutuhkan sudah lengkap
CATATAN FASILITATOR
Fasilitator memastikan bahwa semua peserta memahami dengan baik relasi setara gender dalam konteks
pencegahan stunting. Ini penting karena sesi ini menjadi inti dari seluruh proses pembelajaran dalam
bab ini.
LAMPIRAN CERITA**
ANALISIS ISU PEREMPUAN
MENGAPA DORKAS MATI?
Dorkas adalah seorang perempuan muda berusia 15 tahun. Ia bersama kadua orang tua dan
adiknya tinggal di sebuah desa yang jaraknya sekitar empat sampai lima jam dari ibu kota kabupaten
jika ditempuh dengan naik motor. Di desa Dorkas tinggal air bersih sulit didapatkan sehingga untuk
mendapatkannya para perempuan desa harus berjalan kaki paling sedikit setengah jam dari desanya
menuju mata air.
Dorkas sehari-hari bekerja membantu orang tuanya di kebun dan menjadi mengangkat air untuk
salah satu keluarga terpandang dikampungnya yaitu Pak Anis. Setiap kali Dorkas mengisi air di rumah
pak Anis, Robert putra pak Anis selalu memperhatikan dan menggodanya. Singkat kata mereka
kemudian pacaran tanpa sepengetahuan orang tua Robert. Suatu hari ketika Dorkas sedang mengisi air
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 85
tiba-tiba Robert memanggilnya dengan suara berbisik dan mengajak gadis itu ke kebun belakang
rumahnya. Robert kemudian merayu dan mengajak Dorkas berhubungan intim dengan janji akan
dinikahi. Ia juga mengatahkan bahwa hubungan mereka telah di setujui oleh orang tuanya. Jika Dorkas
menolak maka Robert akan mengatakan hal-hal yang buruk agar orang tuanya tidak memakai tenga
Dorkas lagi. Dorkas merasa tidak berdaya menghadapi rayuan sekaligus ancaman dari kekasih yang
dicintainya itu. Akhirnya Dorkas setuju untuk melakukan hubungan intim.
Tiga bulan setelah kejadian itu orang tua Dorkas mulai curiga dengan kondisi anaknya yang
sering muntah-muntah dan perutnya makin membuncit. Dengan perasaan malu bercampur takut orang
tua Dorkas kemudian meminta pertanggungjawaban dari keluarga Pak Anis atas perbuatan Robert.
Tentu saja keluarga Pak Anis menolak dan mengatakan Dorkas memfitnah supaya dapat dinikahkan
dengan Robert dan menjadi menantu seorang terpandang di desanya. Di tengah kebingungan
yang melanda keluarga Dorkas, datanglah Emus seorang preman dari kampung sebrang yang sudah
berkali-kali menikah. Emus kemudian menawarkan diri untuk menikahi Dorkas. Merasa tidak ada
pilihan lain orang tua Dorkas menyetujuinya.
Setelah menikah, Dorkas tinggal di rumah orang tua Emus. Di rumah Emus, Dorkas sering
mendapat makian sebagai perempuan kotor karena hamil sebelum menikah. Ia juga harus mengerjakan
seluruh pekerjaan rumah tangga termaksuk mengangkat air di tengan kondisinya yang sedang hamil.
Emus tidak pernah memperhatikan Dorkas. Dia hanya memikirkan bagaimana cara ia memuaskan
nafsu seksnya dengan istri barunya tersebut. Tidak tahan dengan perlakuan Emus dan keluarga Dorkas
memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Di tengah perjalanan ketika ia menuruni bukit
menuju rumahnya Dorkas terpeleset dan jatuh. Untungnya ada tetangganya yang melihatnya terjatuh
dan segera membawa Dorkas ke rumah orang tuanya. Ketika ia terjatuh tadi dari selangkangannya
terlihat rembesan dara mengalir cukup deras. Orang tuanya menduga Dorkas akan segera melahirkan.
Kemudian di panggilah Bu Tres, dukun beranak di desanya. Selang beberapa saat setelah mencoba
menolong Dorkas, Bu Tres kemudian memutuskan membawa Dorkas ke rumah sakit karena tidak
sanggup mengeluarkan janin dari rahim Dorkas. Dengan meminjam uang tetangga orang tua Dorkas
kemudian membawa anak sulungnya tersebut dengan gerobak yang di tarik motor. Namun karena jarak
rumah sakit cukup jauh, di tengah perjalanan Dorkas menghembuskan nafas terakhirnya.
** Cerita ini disadur dari Modul PAG Institut KAPAL Perempuan, tetapi nama di dalam cerita disesuaikan
dengan konteks NTT. Cerita ini sangat bagus untuk memicu peserta menganalisis isu-isu perempuan.
*** Disusun Oleh Delmyser Maka Ndolu
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 86
BAB IV
MODUL PEMENUHAN GIZI 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (HPK) UNTUK
PENCEGAHAN STUNTING
Modul Pemenuhan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk pencegahan stunting terdiri dari enam (6)
topik pembelajaran, yaitu:
1. Pengertian Stunting
2. Faktor Penyebab Stunting
3. Dampak Stunting
4. 1000 Hari Pertama Kehidupan
5. Air Susu Ibu (ASI) anugrah 1000 Hari Pertama Kehidupan
6. Pencegahan Stunting Fokus 1000 Hari Pertama Kehidupan
Tujuan Pembelajaran
Modul ini disusun untuk membantu tokoh agama/ pengajar agama agar dapat membekali calon
pasangan suami istri pengetahuan dan keterampilan pemenuhan gizi pada 1000 HPK. Adapaun tujuan dari
modul gizi ini adalah agar peserta dapat:
1. Menjelaskan dan memahami dan pengertian dari stunting pada anak balita
2. Menjelaskan dan memberikan contoh aplikatif tentang faktor penyebab stunting
3. Menjelaskan dan mengidentifikasi faktor penyebab stunting
4. Menjelaskan dan memahami tentang masa emas 1000 HPK, intervensi gizi dan tumbuh kembang anak
5. Menjelaskan manfaat ASI, kandungan zat gizi dan perannya pada tumbuh kembang anak
6. Menjabarkan pencegahan stunting yang difokuskan pada 1000 HPK
Media dan Alat Bantu Pembelajaran 87
1. Modul
2. Buku panduan belajar
3. Alat peraga edukatif (video you tube, lembar balik, food model atau gambar)
MetodePembelajaran
1. Ceramah.
2. Diskusi
3. Partisipasiaktifdalamkelas dengan simulasi kasus
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera
A. Pengrtian Stunting
Anak dikatakan stunting adalah bila dari hasil pengukuran tinggi (atau panjang) badan dan
perhitungan indeks tinggi badan terhadap umur adalah kurang dari minus dua standart deviasi dari
median WHO Child Growth Standard.
Stunting merupakan salah satu gambaran status gizi yang menggunakan indikator indeks tinggi badan
terhadap umur. Indikator status gizi pada anak yang lain adalah indeks berat badan terhadap umur,
indeks berat badan terhadap tinggi/panjang badan.
Status gizi adalah kondisi kesehatan tubuh yang dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang
dikonsumsi. Status gizi yang baik dapat dicapai bila zat gizi yang diperoleh dari makanan dan minuman
sudah mencukupi kebutuhan tubuh. Status gizi yang buruk terjadi bila makanan yang dikonsumsi tidak
memenuhi kebutuhan tubuhnya.
Stunting merupakan suatu gambaran ukuran tubuh yang dapat diamati dan diukur sebagai akibat
dari kekurangan zat gizi kronis, sehingga pertumbuhan tulang dan otot menjadi terhambat. Stunting
dapat terjadi pada anak di segala tahapan usia pertumbuhan, tidak hanya pada masa balita saja.
Masalah stunting pada balita menjadi masalah nasional oleh karena pada balita ini (termasuk masa
1000 HPK) adalah peroide emas bagi cetak biru kesehatan dalam siklus hidup manusia. Pada masa ini
intervensi adekuat dan sedini mungkin sangat penting dan menjadi jendela kesempatan bagi kualitas
kesehatan manusia.
Stunting dapat diketahui jika tinggi atau panjang badan anak telah diukur dengan cara yang
benar dan alat yang tepat.Ukuran panjang badan didapatkan bila anak yang diukur dalam keadaan
berbaring terlentang, dan dilakukan pada yang berusia di bawah dua tahun. Sedangkan ukuran tinggi
badan didapatkan pada anak yang diukur dengan posisi berdiri.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 88
Gambar 1. Cara mengukur tinggi badan anak (Sumber: www.cdc.gov)
Setelah didapatkan ukuran panjang atau tinggi badan anak, kemudian dimasukan dalam indeks
pengukuran yang membandingkan hasil pengukuran dengan panjang atau tinggi badan anak dalam
populasi seusia anak tersebut dan jenis kelaminnya sama. Bila perbandingan tersebut menunjukkan hasil
kurang dari minus dua standart deviasi dari median WHO Child Growth Standard, maka balita tersebut
dikatakan stunting.
Menetapkan anak stunting hanya dengan
membandingkan tinggi postur anak balita
dengan teman sebayanya tidak tepat
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 89
A.1 FAKTOR PENYEBAB STUNTING
Stunting dapat terjadi pada setiap tahap pertumbuhan, dan dapat dimulai sejak masa dalam
kandungan. Untuk itu pada topik ini faktor penyebab stunting akan dibahas lebih lanjut, sesuai dengan
tahapan pertumbuhan balita, yaitu masa dalam kandungan dan masa setelah lahir sampai dengan usia 2
tahun dan masa di atas dua tahun sampai dengan lima tahun.
1. Masa dalam kandungan
Sejak janin terbentuk dalam kandungan ibu, janin memerlukan zat gizi yang lengkap dan cukup
untuk pertumbuhannya di dalam kandungan ibu. Zat gizi dari tubuh ibu disalurkna ke janin melalui
plasenta (ari-ari) dan tali pusat. Mekanisme tubuh melalui kerja hormone dan sinyal-sinyal saraf
mengirimkan pesan kepada tubuh ibu bahwa janin memerlukan zat gizi yang lengkap. Sehingga
jaringan dan organ ibu akan bekerja sama untuk menyediakan zat gizi termasuk mengupayakan
penggunaan zat gizi dari berbagai cadangan tubuh pada ibu untuk memenuhi kebutuhan zat gizi janin
yang tinggi dan bersifat wajib, serta diperlukan setiap saat, setiap hari dalam masa pertumbuhan di
dalam kandungan ibu.
Apabila konsumsi zat gizi ibu hamil kurang sehingga suplai zat gizi ke janin juga kurang makan
kebutuhan janin akan dipenuhi dengan mengambil cadangan nutrisi yang ada di jaringan atau organ
tubuh ibu. Seperti di lemak, otot, hati, tulang besar dan lainya. Bila hal ini berlangsung terus selama
kehamilan dan cadangan nutrisi dari tubuh ibu sudah digunakan semuanya, maka kebutuhan zat gizi
janin tidak dapat terpenuhi. Kekurangan suplai zat gizi pada janin ini akan menyebabkan janin
menyesuaikan diri dengan cara mengorbankan pertumbuhannya. Termasuk pertumbuhan liniernya.
Ketika lahir, janin yang mengalami kekurangan nutrisi kronis ini akan lahir dengan berat badan kurang
dan atau panjang badan kurang, namun tidak sedikit juga janin lahir dengan berat badan normal, namun
ukuran organ tubuh termasuk fungsi dan jaringannya telah mengalami adaptasi terhadap kekurangan
gizi.
Pada Gambar 2 dijelaskan mekanisme penyebab stunting pada masa intrauterin dan akibatnya
pada janin. Pada beberapa literatur disebutkan hal ini sebagai fetal programing, yang berarti pada masa
janin, tubuh akan merancang program adaptasi sebagai reaksi adaptasi terhadap kecukupan zat gizi
selama dalam kandungan.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 90
Gambar 2. Mekanisme penyebab kekurangan gizi kronis termasuk stunting dan dampaknya terhadap
kualitas kesehatan sebagai cetak biru kualitas kesehatan di masa dewasa (Sumber: Fall CHD, 2013)
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 91
2. Masa setelah lahir sampai dengan usia dua tahun
Faktor penyebab stunting pada anak usia di bawah dua tahun sangat bervariasi seperti pada Gambar 3. Pada
sebagaian besar anak stunting, dapat ditemukan kombinasi lebih dari satu faktor penyebab.
Kurangnya asupan Kurangnya ketersediaan Kurang asupan energi
makanan sehari-hari pangan di rumah tangga secara menahun
Kurang asupan protein Kurang asupan zat gizi Menderita anemia
mikro (vitamin dan (kurang sel darah
mineral) merah)
Sering menderita infeksi Sering terinfeksi Kurang memperhatikan
parasite (cacing, amuba, keadaan kesehatan
malaria)
Gambar 3. Faktor penyebab anak stunting pada anak usia di bawah dua tahun
Periode usia setelah lahir sampai dengan dua tahun, tergolong dalam 1000 hari pertama
kehidupan (HPK). Masa ini membutuhkan perhatian yang besar bagi tumbuh kembang anak usia
bawah dua tahun (baduta). Hal ini disebabkan oleh karena pertumbuhan otak, tulang dan otot serta
perkembangan organ-organ tubuh termasuk fungsi luhurnya berlangsung sangat cepat. Dengan
demikian keseimbangan antara suplai dan kebutuhan akan zat gizi dan faktor lainnya harus adekuat.
Gambar 4. Mekanisme kebutuhan tumbuh kembang anak dan aspek yang memengaruhinya
Keterangan singkatan pada Gambar4: Unsur 3J = Jenis, jumlah dan jadwal makan; PHBS= perilaku
hidup bersih dan sehat,CTPS=cuci tangan pakai sabun
Keunikan aspek gizi pada masa ini adalah kebutuhan zat gizi anak baduta yang sangat tinggi
namun tidak dapat dipenuhi anak secara mandiri, melainkan ia bergantung penuh pada ibu atau
pengasuhnya. Pada masa menyusui 0-6 bulan, sang bayi bergantung penuh pada ibunya melalui
pemberian air susu ibu (ASI). Bila ibunya kurang gizi, maka berdampak pada kualitas ASI, dan bayi
akan mendapatkan ASI yang kandungan zat gizinya tidak optimal.
Selanjutnya pada peralihan/ penyapihan, bayi akan diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI).
Kualitas dan kuantitas MP-ASI sangat bergantung pada kemampuan ibu atau pengasuh menyediakan
MP-ASI tersebut
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 92
(Gambar 4). Bila pengetahuan gizi pengasuh minim,
maka kualitas dan kuantitas MP-ASI yang diberikan akan kurang atau bahkan berlebih. Hal ini
akan berlangsung terus jika tidak ada intervensi tepat, cepat dan terintegrasi. Akibatnya anak akan
menderita kekurangan gizi kronis dan menjadi pendek/ stunting.
Daya tahun tubuh anak baduta belum terbentuk sempurna, sehingga pada masa ini mudah
terkena infeksi dan dapat berulang terinfeksi. Kemampuan anak untuk merawat diri, menjaga
kebersihan diri dan menghindar dari sumber infeksi, sangat bergantung kepada pengasuhnya
(Gambar4) . Jika pengasuhnya tidak memahami pola hidup bersih dan sehat, maka anak baduta akan
lebih mudah terpapar sumber infeksi, yang menyebabkan baduta mudah jatuh sakit. Anak sakit nafsu
makannya akan berkurang, dan cadangan zat gizinya akan digunakan tubuh untuk melawan
penyakitnya, akibatnya kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan linier akan dikorbankan.
3. Masa usia diatas dua tahun sampai lima tahun
Pada usia ini anak sudah lebih mandiri dalam beberapa hal. Dalam kaitannya dengan asupan zat
gizi, anak sudah mulai belajar makan sendiri, ia juga dapat memilih menu makanan yang disukai.
Kemampuannya berkomunikasi membantu anak menyampaikan keinginannya untuk makan atau
minum susu kepada pengasuh. Ia juga mulai mengenal dan menyukai makanan selingan yang dimasak
ibunya atau makanan dalam kemasan.Keinginannya untuk eksplorasi hal-hal baru dapat menjadi faktor
pendorong bagi anak untuk belajar mengenal menu makanan yang bervariasi. Namun hal ini akan
menjadi masalah jika pengasuh kerap mengenalkan makanan selingan bercita rasa manis dan renyah
(tinggi kadar gula, garam dan lemak).
Kemandirian anak menentukan menu makanan dapat menjadi masalah, yaitu: anak bisa menjadi
pemilih makanan (picky eater). Menu makanan yang disukai akan sering dikonsumsi, sehingga variasi
jenis menu dan bahan makanan menjadi sempit. Hal ini berpotensi terjadinya kekurangan gizi.
Stunting pada masa ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pada Gambar 3, namun faktor
predisposisinya dapat berbeda. Untuk itu cara mengatasi masalah kekurangan gizi dan stunting pada
masa ini juga menjadi sedikit berbeda.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 93