A.2 Dampak Stunting
Dampak stunting yang ditemukan dari berbagai penelitian bergantung pada masing-masing
periode usia. Jika stunting terjadi pada anak di usia yang lebih dini maka akan memberikan dampak
yang lebih panjang terhadap kualitas kesehatan di masa mendatang dan dampak ini cenderung
menetap. Jika stunting terjadi pada usia yang lebih tua, maka dampaknya akan semakin singkat dan
bersifat korektif. Dengan kata lain:
Pada Gambar 2 menunjukkan bahwa janin yang mengalami kurang gizi kronis, dan dapat menjadi
Semakin dini stunting, semakin panjang dampaknya
stunting akan memprogram dirinya beradaptasi. Hal ini terjadi pada organ ginjal, hati, pankreas dan
otak, setelah masuk pada masa remaja dan dewasa, janin dengan stunting tadi akan berisiko menderita
diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung pembuluh darah, atau risiko terhadap rendahnya kemampuan
kognitif
Stunting yang terjadi pada usia 0-2 tahun dapat merupakan akibat berkelanjutan dari kekurangan gizi
kronis selama dalam kandungan. Bila terkoreksi dengan gizi seimbang dan cukup maka bayi masih
dapat mengejar pertumbuhan optimalnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak stunting
pada 0-2 tahun adalah risiko tinggi terjadinya obesitas pada usia sekolah.
Gambar 5. Dampak akibat kekurangan gizi kronis. Salah satu dampaknya adalah stunting
Keterangan singkatan pada Gambar 5: PTM=penyakit tidak menular, CVD= cardiovascular diseases,
DMT2= diabetes melitus tipe 2)
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 94
B. 1000 Hari Pertama
Siklus kehidupan manusia dimulai dengan kehamilan yang akan berlangsung terus ke generasi berikutnya.
Awal kehidupan ini disebut dengan 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK), yang terdiri atas tiga
tahapan, yaitu:
(1) Mulai dari terbentuknya janin sampai kehamilan cukup bulan menjelang persalinan (0-9 bulan dalam kandungan) =
270 hari
(2) Lahir sampai dengan usia 11 bulan (0-11 bulan) = 365 hari
Awal kehidupan dari siklus ini menentu(3k)anBkaduuatlait(a1s2-k2e4sbeuhlanta) n=3d6i5mhaarsi a mendatang.
Calon ibu harus dipersiapkan diri sebelum masuk ke periode kehamilan agar dapat melahirkan bayi dengan
berat lahir normal. Untuk itu, dibutuhkan nutrisi yang sehat untuk mendukung kesiapan calon ibu.
Kesiapan Nutrisi Calon Ibu
Seorang calon ibu dinyatakan siap untuk memulai kehamilan sehat apabila tinggi badannya 145 cm
atau lebih dan berat badannya 45 kg atau lebih, sehingga menghasilkan indeks massa tubuh antara 18,5
– 22,9 kg/m2. Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi
badan (m2).
Cara Memperoleh Status Nutrisi Sehat
Status nutrisi yang sehat dapat diperoleh dengan mempertahankan asupan energi dan zat gizi
lengkap dari makanan dan minuman dalam sehari sesuai dengan anjuran Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013, tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan
bagi bangsa Indonesia. Berikut adalah AKG energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, air, vitamin dan
mineral bagi calon ibu usia 19-29 tahun, sebagai usia yang sehat untuk memulai kehamilan.
Diharapkan seorang calon ibu yang sehat dengan tinggi badan 168 cm akan memiliki berat badan
sekitar 60 kg atau indeks massa tubuh sekitar 21,25 kg/m2. Untuk mempertahankan status gizi baik,
maka dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat menyumbang energi sebesar 2250 kkal
(kalori), yang mengandung karbohidrat 375 gram atau 1500 kalori atau 55% dari kebutuhan asupan
energi total, protein 62 gram atau 248 kalori atau minimal 9% dari kebutuhan asupan energi total, dan
lemak 91 gram atau 819 kalori atau maksimal 30% dari kebutuhan asupan energi total, serta serat 38
gram dan air 2500 mL atau 10 gelas.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 95
LATIHAN UNTUK CALON PASUTRI:
CALON PASANGAN PRIA MENANYAKAN BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN PASANGANNYA DAN MENGHITUNG INDEKS
MASSA TUBUH. TERGOLONG APAKAH BERAT BADAN PASANGAN ANDA DAN BERAPA KEBUTUHAN ENERGI PASANGAN BILA
AJKikTIaVIkTeAcSuFkISuIKpaSEnHeAnReI-rHgAiRdIaKnATbEeGrObRaIgSaEiDzAaNtGg.izi makro terpenuhi,maka diharapkan calon ibu akan terhindar dari
masalah kurang energi dan protein yang terdeteksi sebagai indeks massa tubuh kurang dari 18,5 kg/m2, dan
berbagai tanda-gejalanya seperti kelemahan umum dan kurus.
Diharapkan calon ibu hamil melakukan minimal kegiatan fisik tingkat sedang agar dapat mempertahankan
berat badan sehat. Selain itu, tingkat aktivitas fisik tersebut dapat pula dimanfaatkan untuk menghitung
kebutuhan asupan energi harian dengan patokan pada Tabel 1 berikut ini.
Berat Tabel. 1. Kebutuhan Asupan Energi Harian bagi calon ibu
badan IMT Tingkat Aktivitas Fisik
Kurang kg/m2 Ringan Sedang Berat
Normal <18,5 35 kkal/kg 40 kkal/kg 40-45 kkal/kg
Lebih 18,5-22,9 30 kkal/kg 35 kkal/kg
≥23,0 20-25 kkal/kg 30 kkal/kg 40 kkal/kg
35 kkal/kg
Sebagai contoh bila seorang calon ibu hamil memiliki berat badan 56 kg dan tinggi badan 160 cm, sehingga
IMT nya adalah 21,87 , maka perhitungan kebutuhan asupan energinya hariannya adalah:
50 x 30 kkal = 1500 kkal bila beraktivitas fisik ringan
50 x 35 kkal = 1650 kkal bila beraktivitas fisik sedang
50 x 40 kkal = 2000 kkal bila beraktivitas fisik berat
Kebutuhan vitamin dianjurkan untuk mencukupkan asupan vitamin larut lemak (vitamin A, vitamin D,
vitamin E, dan vitamin K) dan mencukupkan asupan vitamin larut air (vitamin B1 , vitamin B2 , vitamin
B3 , vitamin B5 , vitamin B6 , asam folat , vitamin B12 , biotin, kolin dan vitamin C). Calon ibu akan
terhindar dari masalah kekurangan vitamin yang terdeteksi dari berbagai tanda-gejalanya seperti gangguan
pada kesehatan kulit dan selaput lendir serta tulang, serta siap menerima janin dalam kandungannya.
Kebutuhan mineral dicukupkan dengan mengonsumsi bahan makanan sumber seperti serela, biji-bijian,
kacang-kacangan, sayur dan buahan. Mineral yang dibutuhkan antara lain adalah: yaitu kalsium, fosfor,
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 96
magnesium, natrium, dan kalium, mangan, tembaga, kromium, besi, iodium, seng, selenium dan fluor.
Asupan mineral yang cukup akan terhindar dari masalah kekurangan mineral yang terdeteksi dari berbagai
gejalanya seperti gangguan pada kesehatan tulang, anemia, gangguan fungsi kelenjar tiroid dan lainnya.
Cara Mengatur Pola Makan Sehat Lengkap Gizi
Asupan zat gizi seimbang dan cukup sesuai dengan Tumpeng Gizi Sehat (TGS) dan anjuran Piring
Makanku: sajian sekali makan.
Gambar 6. Tumpeng Gizi Seimbang, Panduan Konsumsi Sehari-hari
Gambar Tumpeng Gizi Seimbang terdapat empat lapisan yang mewakili setiap kelompok pangan.
Lapisan tersebut semakin ke atas ukurannya semakin kecil, yang menunjukkan bahwa kelompok pangan
yang paling bawah (kelompok pangan sumber karbohidrat) sebagai makanan pokok dapat dikonsumsi
dengan jumlah terbesar, di atasnya adalah kelompok pangan (sumber vitamin dan mineral serta serat)
sebagai hidangan pelengkap makanan pokok, selanjutnya adalah kelompok pangan (sumber protein dan
lemak) sebagai hidangan lauk-pauk pendamping makanan pokok, dan sebagai puncaknya adalah
kelompok pangan tambahan untuk memberi rasa manis, asin dan gurih dari makanan yang dianjurkan
dikonsumsi dalam jumlah minimal, sebagai panduan makan-minum dalam sehari (Gambar 6).
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 97
Gambar 7. Piring Makanku: Sajian Sekali Makan
Gambar Piring Makanku memberi panduan untuk sajian makanan dan minuman pada setiap kali makan,
semisal untuk sarapan, makan siang dan makan malam). Terlihat bahwa separuh dari piring (50%)
merupakan sajian sayur dan buah dengan porsi sayur lebih banyak dari porsi buah, dan sisa separuhnya
(50%) merupakan makanan pokok dan lauk-pauknya dengan porsi makanan pokok lebih banyak dari
porsi lauk-pauk (Gambar 7).
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 98
LEMBAR EVALUASI
Pertanyaan ini diberikan kepada peserta kursus, untuk mengevaluasi tingkat penerimaan peserta
tentang topik kursus
No Pernyataan Benar Salah
1 Garam beriodium dibutuhkan calon ibu pada setiap kali
makan
2 Calon ibu dengan status gizi kurang tidak menjadi masalah
untuk kesehatan bayinya nanti
3 Calon ibu membutuhkan zat besi untuk mencegah anemia
4 Calon ibu yang siap hamil sebaiknya memiliki indeks massa
tubuh 18,5-22,9 kg/m2.
5 Karbohidrat dibutuhkan ibu hamil sebagai sumber energi
6 Karbohidrat hanya dibutuhkan sedikit oleh ibu hamil
(kurang dari 800 kkal/hari)
7 Stunting merupakan akibat dari kekurangan gizi kronis
8 Stunting pada balita bukan masalah besar, sepanjang
berkembang sesuai usianya
9 Dampak jangka panjang dari stunting adalah risiko tinggi
terhadap diabetes melitus tipe 2
10 Asupan kalsium dibutuhkan untuk mencegah gangguan
tulang
Kunci jawaban: 1. Benar, 2. Salah, 3. Benar, 4. Benar, 5. Benar, 6. Salah, 7. Benar, 8. Salah, 9. Benar, 10.
Benar
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 99
Masa dalam kandungan 0-9 bulan (270 hari pertama kehidupan).
Masa kehamilan merupakan awal pertumbuhan dan perkembangan bayi didalam kandungan selama 40
minggu atau 9 bulan. Periode kehamilan merupakan masa dimana ibu hamil harus memenuhi kebutuhan
nutrisi untuk ibu dan janinnya. Kebutuhan nutrisi saat hamil terjadi peningkatan yaitu jumlah asupan energi
yang terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein serta vitamin, mineral, termasuk kebutuhan cairan.
Kebutuhan Nutrisi Pada Masa Kehamilan
Nutrisi pada periode kehamilan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, menyediakan
cadangan nutrisi saat ibu hamil dan masa menyusui setelah janin dilahirkan. Terjadi peningkatan berat
badan ibu hamil setiap bulan hingga bulan ke 9, total normal sebanyak 6 – 16 kg yang terdiri dari
komponen:
Darah ibu (9,6%)
Jaringan payudara (3,2%)
Rahim ibu (7,2%)
Plasenta (5,6%)
Janin (26,4%)
Cairan tubuh ibu (9,6%)
Lemak tubuh ibu (32%)
Gambar 8. Komponen pertambahan berat badan ibu hamil
Kontribusi terbesar dari pertambahan berat badan ibu adalah masa lemak tubuh ibu, hal ini menunjukkan
bahwa cadangan energi dalam bentuk lemak dipersiapkan tubuh untuk menjalani masa kehamilan 9 bulan, dan
janin mendapat cukup energi untuk pertumbuhannya dalam kandungan. Jika asupan dan cadangan energi ibu
cukup, maka berat badan janin akan memberikan bertambah optimal sesuai usia kandungan.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 100
Trimester 1 Trimester 2 Trimester 3
(minggu 1 – 12) (minggu 13 – 24) (minggu 25 – 40)
Dimulai dari proses pembuahan Proses pertumbuhan dan Pertumbuhan bayi akan semakin
telur oleh sperma, periode perkembangan disertai pesat, tubuhnya akan semakin besar
embrio (3-8 minggu) merupakan pematangan fungsi seluruh dan berisi, gerakannya semakin kuat,
proses terbentuknya sistem saraf jaringan dan organ tubuh janin dan terjadi pematangan fungsi paru-
pusat, dilanjutkan periode fetus lebih sempurna seperti mata, paru. Selain itu, pada tahap ini posisi
(9-12 minggu) dimana semua telinga, dan lainnya. janin mulai turun ke jalan lahir dan
organ-organ penting mulai Perkembangan janin semakin menunggu saat yang tepat untuk lahir
tumbuh dan saling berhubungan sempurna, dengan bobot terus
bertambah dan terasa gerak
halusnya
Tabel 2.Tahap perkembangan bayi pertrimester
Gangguan yang sering timbulpada ibu hamil sehingga menyebabkan kekurangan zat gizi, antara lain
adalah:
o Mual-muntah (‘morning sickness’)
o Kurang ketersediaan bahan makanan
o Kurang asupan energi dan zat gizi karena masalah pemilihan bahan makanan
o Menjalankan diet khusus karena penyakit kronis
o Anemia
o Konsumsi zat berbahaya (rokok, alkohol, narkoba dll)
Masalah gizi yang umum dijumpai pada ibu hamil adalah kurang energi protein, anemia karena
defisiensi zat besi, kekurangan vitamin A dan yodium.
Kurang energi protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi
energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi
(AKG).Dampak KEP pada ibu hamil antara lain adalah rentan infeksi, anemia, penyembuhan pasca
melahirkan lambat/infeksi, ASI kurang, produktivitas kurang/lemah. Pada perempuan usia subur dapat
berdampak sulit hamil. Sedangkan dampak KEP pada ibu hamil terhadap bayinya antara lain adalah
berat badan lahir rendah (BBLR), prematur, malnutrisi, wasting, stunting, IQ kurang.
Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin (Hb) darah, penurunan jumlah eritrosit dan hematokrit di
bawah nilai normal. Anemia dapat disebabkan oleh kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, seperti
zat besi, asam folat dan vitamin B12. Yang paling sering terjadi adalah kekurangan zat besi. Anemia
defisiensi besi dapat terjadi karena kurangnya zat besi dan protein dari makanan, gangguan absorpsi di
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 101
usus, perdarahan akut atau kronis, serta meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil,
masa pertumbuhan dan masa penyembuhan dari penyakit.Pada ibu hamil terjadi anemia fisiologis karena
peningkatan volume plasma pada trimester kedua kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke-9.
Ambang batas nilai Hb untuk anemia pada kehamilan dapat dilihat pada tabel berikut.
Pola Hidup Sehat Masa Hamil
Pola hidup sehat selama masa hamil meliputi kecukupan nutrisi sesuai gizi seimbang dan aktivitas fisik
atau olah raga teratur yang menunjang selama kehamilan serta menjaga kebersihan diri selama
kehamilan. Kebutuhan nutrisi terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein serta vitamin, mineral, termasuk
kebutuhan cairan.
Aktivitas Fisik Ibu Hamil
Agar ibu hamil tetap bugar dan dapat mempertahankan berat badan ideal sesuai kondisi
kehamilannya, selain pola makan ibu hamil yang sesuai gizi seimbang, perlu adanya aktivitas fisik atau
olah raga. Jenis aktivitas fisik yang dianjurkan bagi ibu hamil adalah senam hamil (konsultasikan
terlebih dulu dengan dokter ibu). Senam hamil merupakan latihan gerak tubuh untuk mempersiapkan
ibu hamil, secara fisik ataupun mental dalam menghadapi persalinan yang cepat, aman dan spontan
serta menjaga kebugaran tubuh ibu hamil. Senam hamil biasanya di lakukan saat kehamilan memasuki
trimester ketiga, yaitu sekitar usia 28-30 minggu kehamilan
Kebutuhan gizi pada trimester 1 lebih tinggi sedikit (180 kkal) karena pertumbuhan dan perkembangan
janin belum sebesar dibandingkan dengan kebutuhan pada trimester 2 dan 3 (300 kkal).
C. Air Susu Ibu (ASI) Anugrah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
Masa ibu menyusui merupakan masa yang sangat penting dalam siklus kehidupan manusia,
tidak hanya terhadap kesehatan ibu dan bayi sesaat tetapi hingga kemasa depan. Kesehatan masa
menyusui sama dengan kesehatan bangsa di kemudian hari. Ibu menyusui harus sehat agar dapat
memberikan ASI yang terbaik dan tetap menjaga kesehatannya. Untuk itu, dibutuhkan nutrisi yang
sehat untuk mendukung kesehatan ibu.
Bayi baru lahir sampai dengan usia 6 bulan akan mendapat makanan bergizi lengkap dan cukup
sesuai kebuthannya melalui air susu ibu yang sudah dipersiapkan tubuh ibu sejak kehamilan. Secara
nornal dan fisiologis, produksi ASI cukup sesuai kebutuhan bayi, bahkan bayi kembar sekalipun.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 102
Secara hormonal, tubuh akan mengatur jumlah produksi ASI dan juga komposisi zat gizi akan disesuai
dengan tahapan perkembangan bayi.
Air susu ibu merupakan sumber makanan satu-satunya ketika usia bayi 0-6 bulan dan sumber
makanan yang paling cocok untuk bayi. ASI sesuai dengan keadaan bayi dan sesuai dengan kebutuhan
gizi bayi. Bila konsumsinya adekuat, makan bayi akan bertumbuh dan berkembang dengan sangat baik.
ASI sangat bermanfaat, dan berikut ini adalah manfaat ASI yang didapatkan bayi antara lainnya tertera
pada Gambar 9.
Gambar 9. Manfaat nutrisi ASI untuk bayi
Pemberian ASI sedini mungkin dan tepat, membuat anak terhindar dari kurang gizi, gizi buruk bahkan
stunting.
Selain manfaat nutrisi ASI, bayi yang mendapat ASI tidur lebih tenang, secara psikologis
memperkuat ikatan antara bayi dan ibu. Ditinjau dari sisi ibu, maka manfaat yang diperoleh ibu antara
lain adalah; mencegah terjadinya mastitis (peradangan payudara), praktis dan mudah menyediakan
kebutuhan nutrisi bayi, selalu tersedia setiap bayi membutuhkan.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 103
Kandungan gizi susu formula yang tersedia di pasaran, tidak ada yang sesempurna
kandungan gizi dan bioaktif pada air susu ibu,
Teknologi tercanggih saat ini belum dapat mengidentifikasi semua zat gizi dan
bioaktif di dalam ASI
Produk susu formula selalu mencontoh dan menambahkan dalam produknya, zat
gizi dan bioaktif temuan terbarupada ASI
Ciptaan Tuhan selalu sempurna dan terbaik untuk menyediakan kebutuhan
manusia, termasuk bayi baru lahir
Agar kualitas ASI optimal, maka status gizi ibu dan asupanan makanan ibu menyusui juga harus
memperhatikan kebutuhan ibu.
Nutrisi Bagi Ibu Menyusui
Makan yang sehat penting saat menyusui. Tubuh membutuhkan zat gizi yang lebih besar dari
biasanya. Untuk memenuhi kebutuhan, seorang ibu menyusui harus menkonsumsi makanan bergizi
yang bervariasi.
Air susu ibu memiliki komposisi yang unik yang terdiri atas komponen-komponen zat gizi dan
komponen-komponen fungsional.Kadar Vitamin A, B1, B2, B12, D, iodine dan omega 3 (DHA) pada
ASI tergantung dari asupan ibu untuk zat-zat tersebut. Lemak merupakan bagian terbesar dari zat gizi
yang tergantung dalam ASI, dan asupan lemak ibu mempengaruhi kualitas lemak yang terkandung.
Selama menyusui, asupan ibu harusmeningkat untuk menutupi kebutuhan energi selama masa
menyusui; sekitar 10% jika wanita tidak aktif secara fisik dan 20% atau lebih jika aktif atau sangat
aktif. Diet yang buruk baik dalam kuantitas atau kualitasdapat mempengaruhikemampuan untuk
menyusui. Dalam prakteknya, seorang ibumenyusuimenggunakan sekitar 500 kilokalori (kira-kira
setara dengan satumakanan tambahan) setiap hari untuk membuat 750 ml ASIuntuk bayi. Beberapa
nutrisiberasal dari cadangan tubuh semasa kehamilan. Ibu menyusui membutuhkan makanan yang
bervariasidan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Saat menyusui, dibutuhkanair lebih banyak
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 104
untuk menggantikan air yang keluar saat menyusui (~700 mL/hari). Adalah baik untuk minum segelas
air setiap kali bayi menyusui
Ibu menyusui harus mengonsumsi zat gizi yang cukup berdasarkan prinsip gizi seimbang agar siap untuk
memproduksi ASI dan siap menyusui. Manfaat zat gizi tersebut antara lain:
1. Calcium
Calcium penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Sepanjang masa laktasi, calcium terkandung
dalam jumlah yang cukup besar dalam asi. Bahan makan sumber calcium terdiri dari yang berbasis
susu dan tidak. Yang berbasis susu antara lain susu dan keju, sedangkan yang tidak berbasis susu
antara lain ikan, sayuran hijau dan kacang-kacangan.
2. Vitamin D
Vitamin D penting dalam ikut mengatur menjaga kadar calcium dan Fosfor, vitamin D bisa didapat dari
makanan dan dapat dibentuk oleh kulit dengan paparan sinar matahari
3. Folat
Folat adalah vitamin yang penting dalam membentuk jaringan-jaringan dalam tubuh, termasuk sistim
persyarafan. Bahan makanan sumber folat antara lain sayur-sayuran hijau, hati, dan polong-polongan
4. Vitamin B12
Vitamin B12 dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah dan fungsi sistim persyarafan. Pada
masa laktasi, kandungan vitamin B12 dalam ASI menggambarkan asupan vitamin B12 ibu. vitamin
B12 terutama ditemukan pada daging, telur dan ikan.
5. Zat besi
Zat besi penting dalam pembentukan jaringan-jaringan dalam tubuh dan metabolism tubuh. Bahan
makanan sumber utama dari daging, ayam dan ikan. Juga ditemukan pada sayur-sayuran hijau.
6. Iodine
Kecukupan iodine sangat penting saat masa menyusui untuk pertumbuhan dan perkembangan otak bayi.
Makanan kaya iodine antara lain makanan berasal dari laut, Garam beryodium, Telur
Produksi ASI
Bayimenyusui dengan frekuensi dan volume berbeda-beda, produksi ASI pun bervariasi antar ibu dan
sepanjang masa menyusui (antara 440-1220ml; rata-ratasekitar800mlper harisepanjang6bulan pertama).
Bayiyang mendapat ASI “on demand” alias sekehendak, akan tumbuh dengan optimal.
Produksi ASI dipengaruhi oleh: 105
1. Makanan Ibu
- Gizi ibu.
- Cadangan zat gizi di tubuh ibu.
- Ibu harus mendapat nutrisi cukup dan lengkap
- Pengelolaan stres ibu
2. Frekuensi Menyusui ; semakin sering menyusui , semakin banyak produksi asi
- memberikan ASI sesering mungkin, sesuai keinginan bayi
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera
Banyak sedikitnya produksi ASI dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain tingkat stres ibu, asupan zat
gizi dan cairan , kondisi payudara, serta stimulasi puting susu dan teknik menghisap bayi. Bila produksi
ASI tidak lancar ibu dapat melakukan hal dibawah ini :
- Memompa ASI dan pijat payudara, untuk menstimulasi payudara agar memproduksi ASI lebih banyak
- Makan bergizi dan minum air minimal 8 gelas sehari
- Cukup istiraha
Ketrampilan Menyusui
1. Posisi Menyusui
Ketrampilan seorang ibu dapat dilihat dari caranya memposisikan bayi saat menyusui karena menentukan
kuantitas dari ASI yang dapat diterima oleh bayi. Berikut posisi menyusui bayi yang benar
Gambar 10. Posisi menyusui bayi
2. Perlekatan mulut bayi pada payudara.
Perlekatan mulut bayi dengan payudara yang baik menjadikan bayi dapat menyusui dengan efektif.
Empat penandanya adalah:
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 106
a. Areolaterlihatlebih jelas di atasbibir bagian atasbayidaripada dibawahbibir bagian bawah
b. Mulut bayiterbuka lebar
c. Dagu bayiadalahmenyentuhatau hampirmenyentuhpayudara
d. Bibir bawahbayimelengkungke arah luar
Gambar 11. Posisi Menyusui yang benar
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 107
Gambar 12. Cara perah ASI dan penyimpanannya
Penyimpanan ASI
- Pastikan tangan telah dicuci bersih sebelum menyusui ataupun memompa ASI
- Apabila ASI akan disimpan, tampunglah dalam wadah yang steril dan diberi label tanggal
- Jangan menambahkan ASI kedalam botol yang berisi ASI yang telah beku
- Jangan simpan sisa ASI yang tersisa di botol
ASI yang telah diperah, dapat disimpan dalam berbagai metode. Tabel 3 menunjukkan daya tahan ASI
pada bebagai metode penyimpanan. Botol tempat penyimpanan terbuat dari kaca yang sudah bersih dan
steril.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 108
Lokasi Suhu Lama Keterangan
penyimpanan
Di atas meja Suhu ruang 6 – 8 jam Tempat menyimpan harus tertutup, dan
(+/- 250C) diusahakan dalam kondisi sejuk
Tas pendingin 24 jam (dapat diselimuti dengan handuk
berinsulasi (-15) – (4 ) dingin)
0C 5 hari
Lemari pendingin 2 minggu Jaga agar ice packs menempel dengan
Bagian 4 0C botol penyimpan ASI
pembekuan (- 15) 0C
pada lemari 3 – 6 bulan Simpanlah pada bagian belakang
pendingin (- 18) 0C lemari
Bagian
pembekuan (- 20) 0C 6 – 12 bulan
dari lemari
pendingin
dengan pintu
berbeda
Lemari
pembekuan
Tabel 3. Penyimpanan ASI dan Jangka Waktu Penyimpanan
Catatan: Simpan ASI perah sebanyak 15-60 ml per wadah untuk menghindari ASI perah terbuang karena
tidak habis diminum oleh bayi.
Cara mencairkan susu yang beku:
- Pindahkan botol penyimpan susu dari bagian pembekuan ke bagian pendingin, atau rendam dalam air
hangat
- Hindari penggunaan oven microwave
- Jangan simpan kembali ke lemari pendingin/pembekuan bila ASI telah dicairkan.
Masalah Gizi Yang Dapat Muncul Pada Ibu Menyusui
a. Gizi kurang
Kekurangan gizi yang terjadi pada ibu menyusui merupakan akibat lanjut dari kekurangan gizi pada
masa kehamilan. Sering juga ibu menyusui kekurangan energi sehingga menjadi kurus. Hal ini
disebabkan kebutuhan energi ibu menyusui meningkat, tanpa diimbangi dengan pola makan sesuai
prinsip gizi seimbang. Ibu dengan gizi kurang masih bisa menyusui dengan jumlah produksi ASI yang
sama dengan ibu gizi normal, namun kualitas ASI menurun.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 109
b. Kurang Vitamin
Ibu menyusui membutuhkan lebih banyak vitamin. vitamin yang berperan penting dalam masa
menyusui yaitu vitamin A dan vitamin B (B1, B6, B2, B12).
c. Anemia Gizi Besi
Kekurangan vitamin dan mineral pada ibu menyusui dapat mempengaruhi konsentrasi dalam ASI.
Salah satu mineral tersebut yaitu zat besi.
d. Kurang Iodine
Sama halnya dengan vitamin, kekurangan zat gizi Iodine pada ibu menyusui juga turut mempengaruhi
konsentrasi pada ASI.
e. Gizi Lebih
Gizi lebih hingga obesitas dapat mengakibatkan munculnya penyakit hipertensi maupun diabetes bagi
ibu. Namun, dalam hal ini ibu tidak dianjurkan menurunkan berat badan secara drastis karena
pengurangan konsumsi zat gizi yang terlalu cepat akan mempengaruhi asupan zat gizi bayinya.
Upaya Menurunkan Berat Badan Saat Menyusui
Menyusui dapat membantu mengembalikan berat badan ke berat semula sebelum hamil. Angka
tertinggi penurunan berat badan terjadi pada masa tiga bulan pertama menyusui. Timbunan lemak saat
hamil sebagian digunakan untuk energi pembentukan ASI.
Tidak disarankan untuk diet ketat, karena zat gizi dibutukan untuk pembentukan ASI berkulitas.
Ikuti pola perencanaan -Jangan melewati satu -Batasi makanan tinggi
makan waktu makan lemak dan karbohidrat
sederhana
-Mengolah masakan -Buang lemak pada
dengan sehat daging dan hindari kulit -Rencanakan menu
ayam makanan, termasuk
makanan selingan
-Tetap lakukan olah
raga sesuai kondisi
masa nifas
Gambar 13. Tips menurunkan berat badan pada saat menyusui tanpa mengganggu produksi ASI dan
kualitasnya
Aktivitas fisik dan olah raga ibu menyusui:
- Aktivitas seperti sebelum hamil dapat dijalani bertahap pasca melahirkan, biasanya setelah 4 – 6
minggu pasca melahirkan
- Secara bertahap berolahragalah 30 menit/hari
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 110
- Cegah kelelahan yang berlebihan dan jaga kecukupan cairan
Kebutuhan Gizi Bayi 0-24 bulan (730 HPK)
Pertumbuhan dan perkembangan bayi yang dimulai sejak dalam kandungan tidak berhenti saat
bayi dilahirkan. Masa 0–24 bulan merupakan masa emas pertumbuhan dan perkembangan setelah bayi
lahir, terutama untuk pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, maturasi sistem imun dan
pencernaan, yang kesemuanya membutuhkan zat gizi. Untuk itu, dibutuhkan nutrisi yang sehat untuk
mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak, terutama usia 0–24 bulan.
Kebutuhan Nutrisi untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Baduta
Gizi seimbang penting karena sangat berpengaruh pada tumbuh kembang yang pesat bagi bayi
dan anak sampai umur 2 tahun. Pertumbuhan adalah penambahan massa jaringan tubuh sehingga
terjadi pertambahan berat badan dan tinggi/panjang badan. Anak mengalami pertumbuhan paling cepat
pada tahun pertama kehidupan. Pada usia 1 tahun, berat badan anak akan bertambah hingga tiga kali
lipat dari berat lahir dan panjang badan bertambah hingga 1,5–2 kali lipat dari panjang badan lahir.
Untuk menghindari dan mendeteksi dini kekurangan gizi pada anak usia 0-24 bulan, wajib dilakukan
penimbangan berat badan secara rutin. Penimbangan berat badan dapat dilakukan di posyandu, bidan,
praktek dokter atau fasilitas kesehatan lainnya.
Penentuan status gizi, dibutuhkan kurva pertumbuhan. Kurva pertumbuhan dibedakan untuk
anak laki-laki dan perempuan.Kurva pertumbuhan anak usia 0–24 bulan untuk penentuan status gizi
berdasarkan pengukuran berat dan panjang badan adalah yang tertera pada Gambar 14a dan b.
Berdasarkan kurva pertumbuhan tersebut ditentukan berat badan dan tinggi badan anak terhadap umur
berada pada angka z-skor berapa. Interpretasi indikator berdasarkan z-skor untuk kurva pertumbuhan
dapat dilihat pada Tabel 4.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 111
Gambar 14a. Kurva Pertumbuhan anak laki-laki 0-2 tahun
Gambar 14b. Kurva Pertumbuhan anak perempuan 0-2 tahun
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 112
Tabel 5. Interpretasi arti titik temu pada kurva pertumbuhan WHO
Catatan:
1. Anak dalam kelompok ini berperawakan tubuh tinggi. Hal ini tidak masih normal. Singkirkan kelainan
hormonal sebagai penyebab perawakan tinggi.
2. Anak dalam kelompok ini mungkin memiliki masalah pertumbuhan tapi lebih baik jika diukur
menggunakan perbandingan beratbadan terhadap panjang / tinggi atau IMT terhadap umur.
3. Titik plot yang berada di atas angka 1 menunjukan berisiko gizi lebih. Jika makin mengarah ke garis Z-
skor 2 resiko gizi lebih makin meningkat.
4. Mungkin untuk anak dengan perawakan pendek atau sangat pendek memiliki gizi lebih.
5. Hal ini merujuk pada gizi sangat kurang dalam modul pelatihan IMCI (Integrated Management of
Childhood Illness in-service training. WHO, Geneva, 1997).
Perkembangan adalah peningkatan fungsi jaringan dan organ, terdiri dari perkembangan
psikomotor, mental/kognitif dan sosial. Perkembangan motorik pada tahun pertama sangat nyata dimana
saat lahir hanya ada sedikit sekali gerakan motorik terkontrol, sedangkan pada usia 12 bulan sudah bisa
berdiri sendiri dan mengambil benda kecil. Perkembangan potensi kecerdasan seperti fungsi pendengaran,
penglihatan, pengenalan angka, bentuk, bahasa, kebiasaan merespon sesuatu, kontrol emosi, dan
kemampuan hubungan sosial terbentuk hampir sempurna pada usia 2 tahun. Pada usia 12 bulan anak
sudah dapat mengucapkan 2 kata.
Pada saat bayi lahir, fungsi sistem pencernaannya belum sempurna. Kapasitas pencernaan dan
penyerapan zat gizi masih berkembang pada tahun-tahun awal kehidupan. Demikian juga dengan maturasi
sistem imunitas tubuh yang berkembang dalam saluran pencernaan anak dalam dua tahun pertama
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 113
kehidupannya. Kecukupan pemenuhan zat gizi dan cara bayi dilahirkan mempengaruhi kolonisasi
mikrobiota usus bayi yang berperan penting dalam perkembangan maturasi sistem imunitas tubuh anak.
Dalam masa 0–24 bulan, dibutuhkan energi dan zat gizi yang lengkap agar anak mencapai potensi
optimalnya untuk pertumbuhan dan perkembangannya sebagai anak yang sehat dan cerdas. Anak dengan
maturasi sistem pencernaan dan imun yang optimal akan memiliki daya tahan tubuh yang baik. Sedangkan
pemenuhan kebutuhan zat gizinya masih bergantung pada orang lain, dan belum sempurnanya fungsi
organ pencernaan membatasi jenis bahan makanan yang dapat diberikan.
Dengan memperhatikan ukuran tubuh yang kecil, percepatan pertumbuhan dan fisiologi tubuh
yang belum sempurna, maka prinsip pemenuhan kebutuhan gizi anak 0–24 bulan adalah frekuensi asupan
yang lebih sering, pilihan makanan yang mengandung tinggi energi dan lengkap kandungan zat gizi,
dengan konsistensi cair dan kandungan air tinggi.
Agar dapat diketahui apakah asupan zat gizi bayi dan anak 0–24 bulan sudah memenuhi kebutuhannya,
dapat dilakukan dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Jenis makanan dan minuman apa saja yang telah dikonsumsi anak sepanjang hari kemaren sejak
bangun pagi sampai dengan malam hari sebelum tidur (termasuk ASI)?
2. Berapa kali anak makan dan minum dalam sehari kemaren (termasuk ASI)?
3. Berapa besar porsi masing-masing makanan yang dikonsumsi anak kemaren (untuk ASI: berapa lama
kegiatan menyusui)?
4. Kapan saja waktu kegiatan makan anak dalam sehari kemaren?
5. Suplemen apa saja yang dikonsumsi anak kemaren?
Cara Memperoleh Status Nutrisi Sehat
Status nutrisi yang sehat untuk anak baduta dapat diperoleh dengan mempertahankan asupan
energi dan zat gizi lengkap dari makanan dan minuman dalam sehari sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013, tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang
dianjurkan bagi bangsa Indonesia.
Agar anak baduta dapat mencapai dan mempertahankan status nutrisi sehatnya maka ibu dianjurkan untuk:
1. Inisiasi menyusu dini (dalam jam pertama kelahiran)
2. Memberikan ASI eksklusif untuk bayi 0–6 bulan
3. Terus memberikan ASI minimal hingga anak berumur 2 tahun dan mulai memberikan makanan
pendamping ASI secara bertahap saat bayi berusia 6 bulan yang sesuai frekuensi, jumlah, konsistensi,
tekstur, variasi, lengkap kandungan zat gizi, dan aman sesuai usia bayi
4. Imunisasi dan suplementasi vitamin A sesuai jadwal
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 114
Cara Mengatur Pola Makan Sehat Lengkap Gizi untuk Anak Baduta
ASI dapat memenuhi semua kebutuhan zat gizi bayi hingga usia 6 bulan. Pada usia 6–12 bulan
ASI hanya dapat memenuhi 60–70% kebutuhan sehingga mulai diperlukan makanan pendamping ASI (MP-
ASI) yang adekuat. Selanjutnya untuk usia >12 bulan, ASI hanya dapat memenuhi 30% kebutuhan, tetapi
tetap diberikan untuk memperoleh manfaat lainnya dari ASI.
Dalam pemberian MP-ASI perlu diperhatikan frekuensi, jumlah porsi, konsistensi, dan variasi jenis
makanan yang diberikan bertahap sesuai usia bayi dan menyesuaikan dengan kesiapan sistem pencernaan
bayi dalam menerima makanan. Porsi makan diberikan mulai dari satu sendok kemudian berangsur
bertambah sesuai porsi bayi. Perkenalan jenis makanan biasanya dimulai dengan serealia yang difortifikasi
besi, diikuti dengan sayur dan buah, kemudian sumber zat besi dan seng (daging, ikan, unggas) dan terakhir
telur. Sebaiknya dimulai dari satu jenis makanan. Umumnya bayi lebih menyukai makanan yang rasanya
manis seperti buah-buahan. Perlu diutamakan pemberian sayur untuk diperkenalkan karena jika bayi terus
diperkenalkan pada rasa manis, dikhawatirkan nantinya tidak akan menyukai sayuran. Perkenalan jenis
makanan diberikan bergantian secara bertahap juga, untuk mengetahui adanya reaksi penolakan atau alergi,
serta penyesuaian rasa dan tekstur tiap jenis makanan.Tahapan pemberian MP-ASI dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 6. Konsistensi, Porsi dan Frekuensi MP-ASI
Usia Konsistensi Porsi Frekuensi/hari
6–8 Mulai dengan bubur kental Mulai dengan 2-3 sendok 2 – 3 kali makan selain ASI,
bulan – makanan dilumatkan makan per-kali makan, dan dan makanan selingan 1 - 2
sempurna tingkatkan sampai ½ kali
mangkok 250 mL
9 – 11 Makanan dicincang atau ½ mangkok 250 mL per-kali 3 – 4 kali makan selain ASI,
bulan dilumatkan dan potongan makan dan makanan selingan 1 – 2
kecil kali
12 – 23 Makanan keluarga, bila ¾ mangkok 250 mL per-kali 3 – 4 kali makan selain ASI,
bulan perlu dicincang atau makan dan makanan selingan 1 – 2
dilumatkan kali
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 115
Menu MP-ASI dapat dibuat sendiri oleh ibu di rumah atau dengan produk MP-ASI pabrikan. ASI terus
diberikan sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.
Dalam menyiapkan menu MP-ASI agar mempraktekkan pola makan gizi seimbang sesuai Tumpeng
Gizi Seimbang (TGS) dan anjuran Piring Makanku: sajian sekali makan dengan jadwal pemberian
seperti pada Tabel 7 berikut.
Tabel 7. Jadwal Pemberian Makan Sehat Bergizi dalam Sehari untuk bayi dan anak 0–24 bulan
Jam 0-6 bulan 6-8 bulan 8-10 bulan 10-12 bulan >
1
2
b
u
l
a
n
06:00 ASI sesuka ASI ASI ASI A
bayi S
I
08:00 Bubur susu Bubur susu Nasi tim N
a
s
i
10:00 Buah Buah Buah-Biskuit/bubur B
susu u
a
h
-
B
i
s
k
u
i
t
12:00 ASI Nasi tim kasar Nasi tim N
a
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera s
116
Jam 0-6 bulan 6-8 bulan 8-10 bulan 10-12 bulan >
1
14:00 ASI ASI ASI 2
16:00 Buah Biskuit
Buah-biskuit/bubur b
susu u
l
18:00 Nasi tim saring Nasi tim kasar Nasi tim a
20:00 ASI n
ASI ASI
i
A
S
I
B
u
a
h
-
b
i
s
k
u
i
t
N
a
s
i
A
S
I
Pada usia 12–24 bulan anak sudah bisa ikut makan menu makanan keluarga sesuai anjuran pola makan
gizi seimbang dengan jumlah ½ porsi orang dewasa, tetapi masih perlu dihindari makanan yang
berbumbu tajam, asam dan pedas. Nafsu makan akan menurun secara fisiologis karena laju
pertumbuhan yang tidak lagi secepat masa bayi. Pada masa tersebut anak sudah bisa belajar memilih
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 117
dan menolak makanan yang diberikan, namun belum bisa menyatakan keinginannya secara penuh.
Pada masa ini anak mulai belajar makan sendiri, sehingga harus dilatih sesuai perkembangan
kemampuan motoriknya. Biasanya diperkenalkan dengan makanan yang bisa dipegang untuk melatih
ketrampilan memegang dan merangsang pertumbuhan gigi, seperti potongan buah, sayur rebus, biskuit,
cookies dan nugget. Hati-hati agar jangan memberikan makanan yang berbentuk bulat kecil karena
dapat menyebabkan tersedak.
Anak usia 12–24 bulan sudah teradaptasi dengan jadwal makan 3 kali sehari ditambah 2 kali selingan
sejak mulai mengonsumsi MP-ASI. Kebiasaan makan sejak usia 12–24 bulan akan dipertahankan
sampai dewasa, karena itu pada usia ini orang tua diharapkan agar jangan terlalu memaksakan
kehendak. Bila anak menolak suatu jenis makanan, sebaiknya ditawarkan jenis makanan yang lain.
Anak punya hak memilih kapan mau makan dan seberapa banyak yang akan dikonsumsi olehnya.
Variasikan hidangan setiap kali makan, baik dari pilihan bahan makanan maupun penyajiannya.
Demikian juga dengan peralatan makan. Manfaatkan bentuk, gambar, dan warna-warni menarik yang
disukai anak untuk penyajian makanan dengan tampilan yang lucu dan menarik.
Orang tua perlu menerapkan jadwal makan yang jelas dan menyediakan waktu untuk makan yang
cukup memadai, serta memasak dan menyajikan makanan dengan menarik. Orang tua juga dapat
mengajak anak membuat makanan bersama atau menghias makanan yang tidak ia sukai seperti sayur
menjadi lebih menarik. Jangan lupa untuk menyediakan tempat untuk makan (kursi dan meja) yang
nyaman. Dongeng atau cerita dapat membantu anak untuk mencoba suatu jenis makanan yang awalnya
tidak disukai. Tetapi jangan mengalihkan fokus anak dengan menyetelkan tayangan televisi karena
malah akan mengganggu jalinan emosional antara anak dan orang tua dalam menumbuhkan
ketertarikannya pada makanan tersebut. Orang tua perlu memberi contoh yang baik pada anak,
kesukaan atau ketidaksukaan anggota keluarga lain tentang makanan tertentu juga akan mempengaruhi
pilihan makan anak.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 118
D. Pencegahan Stunting Fokus 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
Pencegahan stunting dengan menitikberatkan pada 1000 HPK harus dilakukan sedini mungkin,
bahkan sejak calon ibu mempersipakan diri untuk hamil.
Gambar 15. Mekanisme terjadi stunting ditinjau dari perjalanan waktu
Gambar 15 menunjukkan bahwa stunting adalah gambaran status gizi yang timbul sebagai akibat dari
ketidak keseimbangan asupan zat gizi makro (terutama) dan mikro dengan kebutuhan. Dilihat dari
perjalanan waktu, maka untuk menjadi stunting memerlukan waktu yang cukup lama. Pencegahan
dimulai dengan menjaga status gizi balita agar tidak anak gizi kurang atau gizi buruk.
Pencegahan stunting secara langsung pada anak terdiri atas dua, yaitu: (1) beri asupan zat gizi dan
makanan yang cukup dan seimbang (2) cegah infeksi atau kecacingan pada anak. Meminimalkan faktor
penyebab seperti pada Gambar 3, berikan ASI sedari lahir (ASI eksklusif 0-6 bulan dan ASI sampai usia
2 tahun), MP ASI yang tepat dan benar, cegah infeksi dan rajin timbang berat badan anak dan ukur
tinggi badannya, berikan imunisasi tepat waktu dan lengkap.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 119
Gambar 16. Pencegahan stunting pada anak dan keluarga
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 120
Lembar Evaluasi
No Pernyataan Betul Salah
1 ASI hanya diberikan bila payudara ibu sudah siap
2 Perkembangan kecerdasan anak mencapai puncaknya pada usia sekolah
3 Kebutuhan energi dan zat gizi bayi usia 0–6 bulan dapat tercukupi hanya
dengan ASI
4 Pemberian makanan pendamping ASI dapat diberikan sejak bayi berusia
4 bulan secara bertahap
5 Karena pesatnya pertumbuhan dan perkembangan bayi, nutrisi yang sehat
hanya dibutuhkan selama masa bayi saja
6 Status gizi anak 0–24 bulan dapat diketahui dengan menghitung indeks
massa tubuh (IMT)
7 Anak berperawakan pendek bukan merupakan masalah bila orang tuanya
juga pendek
8 ASI diteruskan paling lama sampai anak berusia 24 bulan
9 ASI tidak boleh disimpan
10 Untuk menciptakan suasana makan yang nyaman, orang tua dapat
menyetelkan televisi untuk anak
Untuk mengetahui apakah peserta sudah memahami materi sesi ini, maka kerjakan soal berikut ini:
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 121
Daftar Pustaka
1. Modul Pelatihan Early Life Nutrition, 20018, Bardosono S, Sunardi D, Bela SE, Chandra DN.
Indonesian Nutrition Association, Jakarta.
2. Buku Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2020. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
3. Academy of Breastfeeding Medicine. Human Milk Storage Information. New Jersey 2014
4. Lada CO. Comparing The Anthropometric Measurements of Intra-Extra Uterine Period between Stunting
and Non-stunting Children Aged 6-24 Months Old in Bogor Tengah Subdistrict, Bogor City, West Java.
World Nutr J. 2019;3(1):1. doi:10.25220/wnj.v03.i1.0002
5. Kiani A, Nielsen MO. Metabolic programming: Origin of non-communicable diseases in early life
nutrition. Int J Endocrinol Metab. 2011;9(3):409-415. doi:10.5812/Kowsar.1726913X.3366
6. Danaei G, Andrews KG, Sudfeld CR, et al. Risk Factors for Childhood Stunting in 137 Developing
Countries: A Comparative Risk Assessment Analysis at Global, Regional, and Country Levels. PLoS
Med. 2016;13(11):1-18. doi:10.1371/journal.pmed.1002164
7. Jones W. The Relationship between Breastfeeding and Perinatal Mental Health Pain of breastfeeding and
depression • Breastfeeding experience rather than breastfeeding duration is.
8. The benefits of Human Milk Oligosaccharides on immunity. https://www.nestlenutrition-
institute.org/resources/infographics/details/human-milk-oligosaccharides.
9. Academy A, Pediatrics OF, Milk H. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics.
2005;115(2):496-506. doi:10.1542/peds.2004-2491
10. Martin CR, Ling PR, Blackburn GL. Review of infant feeding: Key features of breast milk and infant
formula. Nutrients. 2016;8(5):1-11. doi:10.3390/nu8050279
11. Von Stumm S, Plomin R. Breastfeeding and IQ growth from toddlerhood through adolescence. PLoS
One. 2015;10(9):1-10. doi:10.1371/journal.pone.0138676
12. The benefits of Human Milk Oligosaccharides on immunity. https://www.nestlenutrition-
institute.org/resources/infographics/details/human-milk-oligosaccharides.
13. Ahonen J, Rankinen K, Holmberg M, Syri S, Forsius M. Application of the SMART2 model to a
forested catchment in Finland: Comparison to the SMART model and effects of emission reduction
scenarios. Boreal Environ Res. 1998;3(3):221-233. doi:10.1016/j.pcl.2012.10.002.Human
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 122
14. Santacruz-Salas E, Aranda-Reneo I, Segura-Fragoso A, Cobo-Cuenca AI, Laredo-Aguilera JA,
Carmona-Torres JM. Mothers‟ expectations and factors influencing exclusive breastfeeding during the
first 6 months. Int J Environ Res Public Health. 2020;17(1):3-5. doi:10.3390/ijerph17010077
15. Mosca F, Giannì ML. Human milk: composition and health benefits. Pediatr Med Chir. 2017;39(2):155.
doi:10.4081/pmc.2017.155
16. Oddy WH, Li J, Whitehouse AJO, Zubrick SR, Malacova E. Breastfeeding duration and academic
achievement at 10 years. Pediatrics. 2011;127(1). doi:10.1542/peds.2009-3489
17. Del Bono E, Rabe B. Breastfeeding and child cognitive outcomes: Evidence from a hospital-based
breastfeeding support policy. Inst Soc Econ Res Work Pap. 2012.
https://www.iser.essex.ac.uk/publications/working-papers/iser/2012-29.pdf.
18. Fall CHD. Fetal malnutrition and long-term outcomes. Nestle Nutr Inst Workshop Ser [Internet]
2013;74:11–25. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23887100
19. Bardosono S. 50 tanya jawab seputar kehamilan Ed. Setiawan C. Gramedia 2010
20. CDC growth chart 0-24 months. Diunduh dari http://www.cdc.gov/growthcharts/who_charts.htm pada 5
Maret 2015
21. Cunningham, et al., (2010). Williams Textbook of Obstetrics, chapter 8
22. Handbook of Nutrition in Pregnancy and Lactacting.
23. Healthy eating for breastfeeding mothers diunduh dari http://www.health.qld.gov.au. Pada 5 Maret 2015
24. IDAI. Kurva pertumbuhan WHO. Dikutip dari http://idai.or.id/professional-resources/growth-
chart/kurva-pertumbuhan-who.html pada 5 Maret 2015
25. Infant and young child feeding, World Health organization 2009
26. Marliyati SA, Effendi YH, Dewi M, Prasetya G. Modul Pelatihan Gizi Tutor PAUD, ed. Hardinsyah,
Marliyati SA. Bogor 2014
27. Permenkes RI no 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang
28. Permenkes RI no 75 tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi Bangsa Indonesia
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 123
BAB V
MODUL PERAN LAKI-LAKI DALAM PEMENUHAN 100 PERSEN ASI EKSKLUSIF UNTUK
PENCEGAHAN STUNTING
A. TUJUAN SESI
1. Mengidentifikasi hambatan sosial terkait dengan keterlibatan Ayah dalam mendukung menyusui dan
pengasuhan
2. Merumuskan rencana tindaklanjut dalam menanggulangi hambatan dalam pemberian dukungan proses
menyusui dan keterlibatan di dalam pengasuhan.
3. Memahami definisi menyusui dan ASI Eksklusif
4. Memahami pihak-pihak yang berperan dalam menyukseskan aktivitas menyusui dan 1000 Hari Pertama
Kehidupan
5. Memahami pentingnya aktivitas menyusui dalam Pencegahan Stunting
6. Memahami bahaya susu formula
KEUNTUNGAN MENYUSUI
Menyusui
bukan
sekadar
memberikan ASI
Atiqah Hasiholan menyusui anaknya
Foto: Instagram/@atiqahhasiholan
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 124
DISKUSI KELOMPOK
• Kenapa Ayah enggan membantu mengurus anak atau mengurus rumah?
• Apa yang harus dilakukan agar Ayah bisa membantu mengurus anak?
• Apa itu menyusui dan ASI Eksklusif?
• Siapa yang bertanggung jawab/berperan penting dalam proses keberhasilan menyusui untuk mencegah
stunting?
• Kapan sebenarnya menyusui dapat dilakukan?
• Apa keuntungan menyusui dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan dari aspek Ibu, Ayah, dan Bayi?
NGURUSNYA JUGA BERDUA
• Keluarga disatu sisi merupakan faktor pendukung keberhasilan menyusui namun disisi lain juga bisa
menjadi faktor utama kegagalan menyusui.
• Orang tua dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti ayah ibu kandung, jadi mengurus anak tentu bukan
saja tugas ibu, tapi juga menjadi tugasnya Ayah.
• “Dukungan suami bisa meningkatkan keberhasilan menyusui hingga 98,1%, sementara keberhasilan
menyusui hanya 26,9% jika suami tidak peduli dengan pilihan menyusui”
MENYUSUI DAN ASI
• Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan ASI dari payudara ibu. Bayi
menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu.
• ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa
menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 125
B. KEUNTUNGAN MENYUSUI
Keuntungan Keuntungan Menyusui Bagi Bayi Keuntungan Menyusui Bagi
Menyusui Bagi Keluarga/Ayah
Ibu
Melindungi Memberikan nutrisi unggul untuk Ibu dan Anak memiliki derajat kesehatan
kesehatan ibu pertumbuhan optimal dan nutrisi yang lebih baik
Membantu Menyediakan cairan yang cukup untuk Manfaat ekonomi
mengurangi risiko menjaga tingkat hidrasi anak Biaya menyusui lebih rendah dari
perdarahan rahim Melindungi dari infeksi dan alergi pemberian makanan buatan
dan membantu Biaya kesehatan lebih rendah
rahim untuk dengan menyusui
kembali ke ukuran
sebelumnya
Mengurangi risiko Meningkatkan ikatan batin dan tumbuh
kanker payudara kembang
dan ovarium
Membantu
menunda
kehamilan baru
Membantu ibu
langsing kembali
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 126
C. RISIKO PEMBERIAN FORMULA
” Menganggung “bonding
Meningkatkan risiko diare Risiko alergi lebih tinggi
Malnutrisi kekurangan Vit A
Meningkatkan risiko penyakit
kronis
Kelebihan berat badan
Ibu bisa lagi Lebih cepat hamil Meningkatkan risiko anemia,
kanker ovarium dan kanker
payudara
Adapted from: Breastfeeding counselling: A training course. Geneva, World Health
Organization, 1993 (WHO/CDR/93.6).
D. LEMBAR BACAAN 4A:
BREASTFEEDING FATHER; APA MAKSUDNYA?
Breastfeeding-father. Secara sederhana adalah paduan pola pikir dan tindakan seorang ayah yang mendukung
proses menyusui dari istri (ibu) ke anaknya. Bukan label, julukan, apalagi pangkat yang bisa dicapai dengan
requirement-set tertentu, karena penerapannya bisa sangat relatif, bahkan sulit dirumuskan.
Pakar holistik, Reza Gunawan, pernah menyampaikan kepada kami suatu ilustrasi yang menarik, dan bisa
dikaitkan dengan hal ini. Ia menyatakan, “Siklus kehidupan di mulai dari bersatunya energi feminin dan
maskulin, dalam bentuk hubungan seks. Proses itu berlanjut pada kehamilan, lalu persalinan, menyusui, dan
menjadi orangtua. Satu bagian dari proses tersebut tidak bisa terputus, karena menentukan kualitas mata rantai
berikutnya.”
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 127
Penjelasan Reza itu menjadi modal pertama untuk menetapkan pola pikir kita sebagai ayah yang sudah
berkomitmen menjalani kehidupan berkeluarga. Artinya, kita siap menghadapi setiap prosesnya dengan sadar.
Saat menjalani hubungan seks, kita belajar untuk beraksi secara maksimal; terus meningkatkan kualitas relasi
seksual dengan istri.
Ketika istri memasuki masa kehamilan, kita pun relatif paham untuk menjadi suami siaga. Kita mengisi kepala
dengan pengetahuan, dan curiosity saat berhadapan dengan dokter kandungan, demi kelancaran dan
kesempurnaan bayi yang berada di dalam kandungan istri.
Masa persalinan, kebanyakan dari kita sudah tangkas menghadapi situasi menegangkan ini. Begadang
mendampingi istri di salah satu momen terpenting ini seperti perkara mudah, karena kita sudah terlatih untuk
bertoleransi dengan kemampuan fisik, melalui pekerjaan, hingga pertandingan sepakbola.
Berikutnya, menyusui pun, sebetulnya tak sulit buat seorang ayah terlibat penuh dalam prosesnya. Bahkan,
seorang laki-laki tidak perlu dilatih untuk menjadi ayah yang pro ASI. Ia hanya perlu sadar, bahwa ini adalah
konsekuensi logis yang terbaik untuk istri dan anaknya, seperti saat menjalani tahapan-tahapan sebelumnya.
Saat hal ini terjadi, seorang ayah akan mendorong seluruh kualitas kelaki-lakiannya untuk beradaptasi,
menaklukkan situasi, dan (otomatis) memberikan kontribusi.
Pada tahap berkontribusi, ia akan dengan sadar memberi dukungan kepada istri, mendengarkan keluhannya
dan menghiburnya, menjadi partner yang bersedia mengurangi beban berat seorang ibu yang menyusui,
dengan berpartisipasi pada kegiatan yang bisa dilakukannya. Entah menggendong si anak, menyerdawakan
setelah menyusui, memandikan anak, membuat makanan pendamping ASI, dan lainnya.
Keterlibatan suami, adanya pasangan di samping istri, yang membantunya mengatasi kelelahan fisik,
cenderung membuat istri senang. Apalagi jika suami jadi lebih sering melakukan hal-hal yang membuat istri
senang, dengan cara hubungan mereka; karena koneksi setiap pasangan itu khas. Rasa senang istri, akan
berdampak sangat positif pada kelancaran proses menyusui. Dan pada titik ini, kesiapan sepasang suami-istri
diuji untuk menjadi orang tua.
Ketika seorang laki-laki melewati setiap bagian di atas, ia sudah bertindak. Mungkin ada yang
menyadari sejak awal, tapi banyak juga menjalaninya saja tanpa memikirkan how-to-nya. Ada yang
menjalaninya dengan baik dari pertama, tak sedikit pula yang catch-up di tengah prosesnya. Both way, jika
seorang ayah meyakini di alam pikirannya bahwa menyusui adalah proses yang tidak bisa di-skip dan ASI
adalah yang terbaik untuk keluarganya; dan dia memberikan kontribusi nyata dengan caranya. There no
possible way, that he is not a breastfeeding-father.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 128
Syarief Hidayatullah
Co-Founder AyahASI Indonesia
Artikel ini ditulis atas kerjasama @ID_AyahASI dengan MommiesDaily dalam rangka World Breastfeeding
Week dan Pekan ASI Nasional tahun 2012. Artikel asli dapat ditemukan di
http://mommiesdaily.com/2012/08/06/id_ayahasi-breastfeeding-father-apa-maksudnya/
E. LEMBAR BACAAN 4B:
MENYUSUI ALA AYAH ASI
Tidak ada rumus baku untuk sukses menjadi Ayah ASI. Setiap ayah punya gaya masing-masing dan setiap
pasangan memiliki „bahasa‟ yang khas. Para Ayah ASI, berbagi kepada pembaca Ayahbunda bagaimana cara
mereka menyukseskan pemberian ASI untuk buah hati tercinta.
Menjadi „cheerleader‟ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun
menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk produksi ASI
akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil ataupun
sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri.
Menjadi juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi „benteng‟ pertahanan bunda dari
„serangan‟ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan
kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasannya agar istri diberikan
waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang
menyusui.
Menjadi manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur persediaan ASI
perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk
menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer.
Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah
adalah manajer logistik ASIP.
Menjadi orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau pencari
nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari mengurusi anak hingga
belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih 15 menit di posisi yang
sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut
intervensi urusan rumah.
Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika Ayah juga
bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 129
kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri
jawaban-jawaban itu.
Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi. Dan tugas suami
tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya
ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga
dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM berjalan.
Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari dan beri
pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll. Tempelkan kertas-
kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung mereka juga bisa membacanya.
Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat agar mereka bisa ikut membacanya.
Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu ingin berhenti
menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami kesulitan istri, ajak istirahat
sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah
hati. Bisikan kata-kata lembut seperti “Baby, don‟t give up. I‟m with you” sambil tersenyum.
Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi
istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada
anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.
Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya. Sharing
membuat Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal dengan dimensi
dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan Anda mengambil langkah
yang tepat.
Rahmat Hidayat
Co-Founder AyahASI Indonesia
Artikel ini ditulis untuk Majalah Ayahbunda. Artikel asli dapat ditemukan di
https://www.ayahbunda.co.id/bayi-tips/menyusui-ala-ayah-asi-
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 130
F. LEMBAR BACAAN 4C:
PENTINGNYA PEMBERIAN ASI BAYI BAYI/ANAK, IBU, KELUARGA, MASYARAKAT/BANGSA
DAN RISIKO PEMBERIAN PASI
Pentingnya Pemberian ASI bagi Bayi/Anak
Menyelamatkan jiwa bayi.
Secara sempurna memenuhi kebutuhan bayi.
Merupakan keseluruhan makanan bagi bayi, dan memenuhi seluruh kebutuhan bayi untuk 6 (enam) bulan
pertama.
Membantu pertumbuhan dan perkembangan yang memadai, dengan demikian mencegah anak pendek atau
Stunting.
Senantiasa bersih.
Berisi antibodi yang melindungi bayi dari penyakit, terutama dari penyakit diare dan infeksi saluran
pernafasan.
Selalu siap dan dalam suhu yang tepat
Mudah ditelan. Zat gizinya bisa diserap dengan baik.
Berisi cukup air untuk kebutuhan bayi.
Membantu perkembangan rahang dan gigi; menghisap dapat mengembangkan struktur muka dan rahang.
Seringnya terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi menyebabkan timbulnya ikatan, psikomotor yang lebih
baik, perkembangan afektif dan sosial bayi
Bayi memperoleh manfaat dari kolostrum, yang dapat melindunginya dari penyakit (Kolostrum adalah
ASI pertama berwarna kuning atau keemasan yang diterima bayi di beberapa hari pertama kehidupannya.
ASI ini memiliki konsentrasi gizi yang tinggi dan dapat melindungi diri dari penyakit. Kolostrum
jumlahnya sedikit. Kolostrum bertindak sebagai laksatif, yang membersihkan perut bayi).
Manfaat jangka panjang–mengurangi risiko kegemukan dan diabetes.
Pentingnya Pemberian ASI bagi Ibu
Pemberian ASI 98% lebih efektif sebagai metode kontrasepsi selama 6 bulan pertama jika ibu
memberikan ASI eksklusif, siang dan malam, jika masa menstruasinya belum kembali.
Mendekatkan bayi ke payudara segera setelah lahir akan memudahkan pelepasan plasenta karena isapan
bayi itu akan mendorong kontraksi uterine.
Pemberian ASI mengurangi risiko pendarahan setelah melahirkan.
Bila bayi segera disusukan setelah lahir, itu akan merangsang produksi air susu.
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera 131
Menyusui dengan segera dan sering dilakukan akan mencegah pembengkakan payudara (engorgement).
Pemberian ASI mengurangi beban kerja ibu (ibu tidak perlu menghabiskan waktu pergi membeli susu
formula, merebus air, mengumpulkan bahan bakar, menyiapkan susu).
ASI tersedia setiap saat, selalu bersih, bergizi dan dengan suhu yang tepat.
Pemberian ASI itu irit/ekonomis: susu formula mahal, dan anak yang tidak disusui atau mendapatkan susu
campuran akan mudah sakit, yang menyebabkan biaya untuk pengobatan.
Pemberian ASI menciptakan ikatan antara ibu dan bayi.
Pemberian ASI mengurangi risiko kanker payudara dan kanker rahim.
Pentingnya Pemberian ASI bagi Keluarga
Ibu dan anak-anaknya lebih sehat.
Tidak ada biaya untuk berobat karena penyakit yang disebabkan oleh pemberian susu lain.
Tidak ada biaya untuk membeli susu formula, kayu bakar atau bahan bakar lain untuk merebus air, susu
formula dan peralatan.
Kelahiran bisa dijarangkan bila ibu memberikan ASI eksklusif dalam enam bulan pertama, siang dan
malam, dan jika masa menstruasinya belum kembali.
Hemat waktu karena tidak perlu ada waktu untuk membeli dan menyiapkan susu lain, mengambil air dan
kayu bakar, dan tidak perlu melakukan perjalanan untuk mendapatkan pengobatan medis.
Pentingnya Pemberian ASI bagi Masyarakat/Bangsa
Bayi yang sehat akan menjadikan bangsa yang sehat.
Ada penghematan dalam pemberian pelayanan kesehatan karena jumlah anak yang sakit berkurang,
sehingga pengeluaran pun menurun.
Meningkatkan harapan hidup anak karena pemberian ASI mengurangi angka kematian bayi.
Melindungi lingkungan (pohon-pohon tidak digunakan sebagai kayu bakar untuk merebus air, susu dan
peralatan, dan tidak ada limbah dari kaleng dan kardus susu formula). Air susu ibu adalah sumber daya
alam yang terbarukan.
Tidak perlu mengimpor susu dan peralatan untuk menyiapkan susu tersebut sehingga menghemat uang
yang bisa digunakan untuk hal lain.
Risiko Pemberian Makanan Pengganti ASI (PASI)
Catatan: semakin muda usia bayi, semakin besar risikonya.
Risiko kematian yang lebih besar (bayi yang tidak mendapatkan ASI berisiko kematian 14 kali lebih besar
dari bayi yang diberi ASI eksklusif selama 6 bulan). 132
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera
Susu formula tidak memiliki antibodi yang dapat melindungi bayi dari penyakit; tubuh ibu membuat air
susu dengan antibodi yang melindungi dari penyakit tertentu dalam lingkungan ibu/anak.
Tidak mendapatkan zat antibodi pertama dari kolostrum.
Kesulitan untuk mencerna susu formula (susu formula sulit dicerna oleh bayi): ini sama sekali bukanlah
makanan yang sempurna bagi bayi.
Sering mengalami diare, lebih sering sakit dan lebih parah penyakitnya (anak usia kurang dari enam bulan
yang diberi makanan campuran- mendapatkan makanan, susu formula dan air terkontaminasi, berisiko
lebih tinggi terkena diare).
Sering mengalami infeksi saluran pernafasan.
Berisiko lebih besar untuk mengalami kurang gizi, terutama bagi bayi.
Besar kemungkinan akan mengalami kurang gizi: keluarga mungkin tidak mampu membeli susu formula.
Kurang berkembang: pertumbuhan terganggu, berat badan kurang, menjadi pendek (Stunting), buang air
karena penyakit menular seperti diare dan pneumonia.
Ikatan yang kurang baik antara ibu dan anak, dan bayi kurang memiliki rasa percaya diri
Nilai rendah untuk tes intelegensi dan mengalami kesulitan lebih banyak di sekolah.
Kemungkinan akan menjadi kelebihan berat badan
Berisiko lebih besar terkena penyakit pada hati/liver, diabetes, kanker, asma, dan kerusakan gigi di
kemudian hari.
Risiko Pemberian Makanan Campuran
(bayi yang diberi ASI dan makanan lain selain ASI dalam enam bulan pertama)
Memiliki risiko kematian lebih tinggi.
Menjadi lebih sering sakit dan sakitnya seringkali cukup serius, terutama diare: karena susu dan air yang
terkontaminasi
Kemungkinan besar akan mengalami kurang gizi/gizi buruk: bubur tidak memiliki cukup gizi, susu
formula sering encer, dan keduanya tidak bisa menggantikan ASI yang bergizi
Tidak mendapatkan banyak ASI karena tidak sering disusui dan dengan demikian produksi susu ibu pun
menjadi berkurang
Kemungkinan akan mudah terinfeksi virus HIV dibandingkan anak yang diberi ASI eksklusif, karena usus
mereka sudah dirusak oleh cairan dan makanan lain dan dengan demikian memungkinkan virus HIV
mudah menyerang tubuhnya.
Sumber: Modul Pelatihan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak 133
Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Keluarga Berkualitas, NTT Sejahtera