Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)
Penulis: Shinta Kurniawati
ISBN 978‐623‐248‐191‐6
Editor: Istiqomah
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2019
viii, 46 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Desember 2019
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka Media Guru
Anggota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Kata Pengantar
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DKI Jakarta
Bismillahirrahmanirrahiim,
Pertama‐tama, atas nama Kepala Lembaga Penjaminan
Mutu Pendidikan DKI Jakarta menyampaikan apresiasi dan
menyambut gembira atas terbitnya buku ini. Di tengah
kesibukan menjalankan tugas, Bapak/Ibu masih meluangkan
waktu untuk menuliskan berbagai pengalaman yang dapat
menginspirasi kreativitas bagi sesama guru, siswa, dan
masyarakat lainnya dalam melakukan improvisasi dan inovasi
di dunia pendidikan.
Sebagaimana kita rasakan bersama, perubahan dan
dinamika sekolah merupakan suatu proses yang terjadi setiap
saat dan memerlukan penanganan yang tepat. Namun,
keterbatasan sumber‐sumber inovasi sering menjadi kendala
sehingga respon terhadap perubahan berjalan lambat.
Akibatnya, berbagai persoalan pendidikan yang sebenarnya
bisa diselesaikan di lingkup terkecil menjadi permasalahan
yang besar dan sulit diatasi.
Di sisi lain, banyak guru dan kepala sekolah yang telah
melaksanakan praktik terbaik berupa pendekatan, metode,
maupun teknik yang inovatif secara berkesinambungan dan
memberikan kontribusi luar biasa terhadap pengembangan
proses dan kualitas sekolah. Akan tetapi, keberhasilan
tersebut belum semuanya dihimpun, ditulis, dan
disebarluaskan untuk kemudian ditiru dan menjadi next
practices, bahkan menjadi inovasi di sekolah lain.
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | iii
Salah satu upaya untuk mengatasi keterbatasan sumber
inovasi adalah dengan pengimbasan praktik‐praktik baik yang
sudah dilakukan oleh guru, Karena itulah, pada tahun ini
LPMP DKI Jakarta bekerja sama dengan MediaGuru
melaksanakan Workhop Menulis Satu Guru Satu Buku
(Sagusabu) Penjaminan Mutu Pendidikan. Melalui penulisan
praktik baik diharapkan akan ada penghimpunan,
penyusunan, dan penyebarluasan praktik tersebut, untuk
kemudian ditiru dan dijadikan next practices dan inovasi
peningkatan kualitas sekolah sesuai dengan kondisi
lingkungannya.
Penulisan karya buku tahun ini menampakkan feature
pengalaman terbaik guru, kepala sekolah, dan praktisi
pendidikan. Buku yang ditulis ringan namun syarat dengan
hikmah dan ketulusan untuk melakukan perubahan guna
peningkatan kualitas sekolah.
Harapan kami, buku‐buku karya peserta ini dapat
memperkaya referensi dalam pelaksanaan pembelajaran yang
berkontribusi untuk peningkatan mutu pendidikan. Juga
sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Literasi Nasional
(GLN) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
aktif dalam penerbitan seluruh karya peserta dalam kegiatan
tersebut.
Jakarta, Oktober 2019
Kepala LPMP DKI Jakarta,
Moch. Salim Somad, S.Kom., M.Pd.
NIP. 197410062003121001
iv | Shinta Kurniawati
Sekapur Sirih
P agi yang cerah tahun 2019 seperti pagi‐pagi yang telah
dilaluinya menjadi seorang guru tanpa
mengesampingkan tugas sebagai seorang ibu di
rumah. Hari itu sedikit beda, ia akan mengikuti suatu
pelatihan dari LPMP dan SaguSabu yang melatih, mengajak,
dan mendorong penulis juga seluruh peserta pelatihan untuk
bisa membuat satu karya berupa buku. Tangannya seperti
anak yang ditawari permen dan serasa ada yang
mendorongnya untuk mengikuti tantangan menulis buku
dalam waktu satu bulan.
Hari demi hari dilewati sambil menanti batas waktu,
selalu mencoba menulis sekumpulan kata dalam setiap
kejadian yang dialami dan dilihat. Sebelumnya penulis hanya
bisa menuangkan sebuah puisi dalam sosial media, tapi
sekarang menjadi suatu kebiasaan menulis kalimat indah yang
senang atau sedih tentang semua yang dialami dalam
keseharian. Setiap selesai satu judul makin ingin dan ingin
untuk terus menulis.
Dengan membuat puisi setiap hari seperti ada
kesempatan menceritakan apa yang ada di hati tanpa harus
menuliskannya pada status media sosial yang bisa membuat
orang salah mengerti isi puisi yang ditulis. Sebenarnya sudah
banyak puisi tertulis, tetapi puisi yang terhimpun dalam
antologi ini boleh dikatakan sudah mengalami pemilihan yang
sesuai dengan tujuan penulisan antologi puisi ini.
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | v
Ada harapan? Itu pasti. Mudah‐mudahan puisi yang
sebelumnya hanya bisa dituliskan dalam sosial media,
sekarang bisa dinikmati pembaca melalui sebuah buku.
Khusus untuk penerbitan ini, rasa syukur penulis sampaikan
kepada Allah SWT berkat rida‐Nya penulis bisa menyelesaikan
tulisan ini dalam waktu yang telah ditentukan. Terimakasih
untuk Media Guru, LPMP DKI Jakarta atas motivasinya
menerbitkan buku kumpulan puisi ini melalui penerbit Media
Guru. Tidak lupa terima kasih kepada suami penulis, Garmak
Soleh Handoyo, lelaki hebat yang setia dan sabar menemani
menyelesaikan tulisan ini, juga Mama yang mengajarkan
bagaimana menjadi seorang ibu dengan waktu yang tidak
sepenuhnya di rumah. Teruntuk anak‐anak tercinta Panglima
Altafsyah Mahardika Handoyo, Panglima Tsabit Aqdamana
Panatagama Handoyo, Hanum Hanania Handoyoputri, dan
semua murid‐murid yang selalu mengisi hari‐hari penulis
dalam menjalankan tugas dan kewajiban.
Selamat membaca dan menikmati setiap kata bermakna
yang tersaji dalam setiap kalimat melalui sebuah puisi.
Semoga antologi puisi ini bisa menjadi motivasi setiap ibu di
Indonesia yang mengabdi menjadi seorang guru untuk
menjalani profesinya dengan penuh cinta.
Jakarta, 5 Oktober 2019
Shinta Kurniawati, S.S., S.Pd
vi | Shinta Kurniawati
Daftar Isi
Kata Pengantar ............................................................................. iii
Sekapur Sirih .................................................................................. v
Daftar Isi ........................................................................................ vii
Senja di Ujung Kelas ............................................................ 1
Jangan Bedakan Dia ............................................................ 2
Bukan Suatu Pekerjaan ....................................................... 3
Wajah Lugu di Depanku ...................................................... 4
Goresan Warna .................................................................... 5
Jangan Panggil Aku ABK ..................................................... 6
Senyum Tanpa Untaian Kata .............................................. 7
Merah Bergetar ................................................................... 8
Putihnya Aku ........................................................................ 9
Kardus Bermakna .............................................................. 10
Kursi Hijau ............................................................................ 11
Tubuh Mungil ...................................................................... 12
Mahkota Darinya ............................................................... 13
Menjadi Pintar Itu Lelah.................................................... 14
Menangkap Angin ............................................................. 15
Aku, Kamu, Berbeda tapi Sama ....................................... 16
Jendela Kotak ..................................................................... 17
Cerita Angin ........................................................................ 18
Mata Pena .......................................................................... 19
Asaku Asamu ...................................................................... 20
Sepatu Bootku .................................................................... 21
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | vii
Tetes Embun di Pucuk Daun ............................................ 22
Perangnya Seorang Panglima .......................................... 23
Sedikit Kenikmatan yang Tercabut ................................. 24
Peluk Aku Mama ................................................................ 25
Cinta Tanpa Syarat ............................................................ 26
Halaman Ilmu ..................................................................... 27
Cukup Satu Jam Bersamamu ........................................... 28
Cinta yang Mengantarkanku ............................................ 29
Buatlah Kumenangis ......................................................... 30
Mimpi Tanpa Lelah ............................................................ 31
Gadis Kecilku Cerminku .................................................... 32
Ibu Guru Jangan Pergi ....................................................... 33
Kemarau di Tahun 2019 ..................................................... 34
Aku Ingin Seperti Kamu .................................................... 35
Kenapa ................................................................................ 36
Tangisan Untukmu ............................................................ 37
Senandung Buah Hatiku ................................................... 38
Bawa Mereka ..................................................................... 39
Jalan Tanpa Batas ............................................................. 40
Oksigen di Rumahku ......................................................... 41
Kuraih Bulan Bersama Bu Guru ........................................ 42
Penantian Penuh Harapan ................................................ 43
Bukan Hati yang Plastik ................................................... 44
8 Menit Kemudian ............................................................. 45
Profil Penulis ................................................................................ 46
viii | Shinta Kurniawati
Senja di Ujung Kelas
langkahku seperti jam yang berdentang
melewati setiap kelas yang sudah kosong tanpa
penghuni
lambat...
lemah...
lunglai...
ketika kulihat di ujung sana
warna indah...
warna cerah...
tanpa suara...
tanpa dentuman...
kucoba menyambutnya
kucoba meraihnya
tapi tak juga sanggup kusambut
tak juga sanggup kuraih
ku coba bertanya siapa gerangan di sana?
angin berdesir seakan ingin memberitahuku
kalau itu adalah senja yang telah tiba
senja di ujung kelas
pertanda waktuku kembali kepada mereka
(September, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 1
Jangan Bedakan Dia
dia memasuki kelas dengan santainya
memberi salam dengan semangatnya
duduk di kursi dengan tegapnya
mengeluarkan buku dengan sigapnya
dia selalu ingin seperti mereka
dia selalu ingin diperlakukan seperti mereka
dia selalu ingin ...ingin....dan ingin
hanya keinginan sederhana
keinginannya hanya...
jangan bedakan dia
(September, 2019)
2 | Shinta Kurniawati
Bukan Suatu Pekerjaan
ibu kerja di mana?
maaf saya tidak bekerja
saya hanya pelayan masyarakat
Oh...apa ibu senang menjadi pelayan masyarakat?
senang atau tidaknya, tanyakan hatimu
pasti kamu temukan jawaban
apa yang harus aku tanyakan pada sebuah hati?
tanyakan apakah bibirmu melebar saat
melayani bocah mungil
mungil hati dan mungil fisik?
(September, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 3
Wajah Lugu di Depanku
ada sosok mungil duduk di pojok kelas
malu‐malu memandangku
seakan akan ada yang ingin disampaikan
tapi tidak juga satu katapun keluar dari mulut
mungilnya
hanya wajah lugu di depanku yang bisa kudekati
karena pojok menjadi tempat ternyamannya
wajah tanpa kata
wajah tanpa suara
bukan karena dia bisu
bukan karena dia tuli
tapi karena dia ingin menghemat kata‐kata
dan mengurangi dosa dalam perkataan
(September, 2019)
4 | Shinta Kurniawati
Goresan Warna
izinkan ibu guru memberi goresan warna pada
hatimu
izinkan ibu guru memberi goresan warna di setiap
kegiatanmu
izinkan ibu guru memberi goresan warna pada
cerita hidupmu
izinkan ibu guru memberi goresan warna pada
pelangi dimatamu
izinkan ibu guru
izinkan ibu guru
izinkan ibu guru
bersamamu memberi goresan warna dalam
rangkaian mimpimu
(September, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 5
Jangan Panggil Aku ABK
ABK itu menyulitkan
ABK itu membuat materi tidak tercapai
ABK itu membuat indikator pencapaian sulit terlampaui
ABK itu tidak diharapkan ada dalam kelas
ABK itu bla bla bla
begitu banyak kata ditujukan pada mereka
mereka memiliki nama
mereka memiliki hati
mereka memiliki jiwa
mereka memiliki rasa
apa bapak ibu guru tidak membayangkan bila itu ada pada
putra putri Bapak Ibu Guru?
bagaimana perasaan Bapak Ibu Guru?
apa yang membedakannya dengan mereka?
mereka hanya beda kemampuan berpikir dengan anak‐anak
yang lainnya
bukan berarti mereka harus mengganti nama panggilan
mereka
dengan sebutan yang bisa membuatnya kehilangan identitas
diri
kalau Bapak Ibu Guru bisa membelah dadanya
Bapak Ibu Guru akan menemukan tulisan yang terbentuk
dengan rapi
sebuah kalimat permohonan, “Jangan panggil aku ABK!”
(September, 2019)
6 | Shinta Kurniawati
Senyum Tanpa Untaian Kata
dari dia ada yang kudapat
lewat dia kubelajar
mendapat apa yang kudapat
belajar yang belum kupahami
senyumnya tanpa untaian kata
tapi penuh makna
makna tentang kehidupan
makna tentang harapan
makna tentang impian tanpa batas
walau dengan keterbatasan yang dimilikinya
(Oktober, 2017)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 7
Merah Bergetar
merah bergetar meluncur ke langit
langit merah menyambut dengan marah
merah bergetar meluncur ke bumi
bumi merah menyambut dengan marah
lalu kemana lagi tak kutemui merah bergetar?
meluncurlah ke alam keikhlasan
muluncurlah ke alam kebajikan
yakinlah
takkan lagi ada merah bergetar
(September, 2019)
8 | Shinta Kurniawati
Putihnya Aku
warnamu biasa
bentukmu biasa
daunmu biasa
batangmu biasa
rantingmu biasa
sebiasa hatimu
sebiasa rasamu
sebiasa harimu
sebiasa katamu
putihnya kamu
membuat luar biasa
(Oktober, 2017)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 9
Kardus Bermakna
kardus itu tidak istimewa
hanya sebuah benda berwarna coklat
yang bila kuperhatikan
ada rangkaian kata tertulis tanpa rencana
“Jangan bosan ajari aku untuk mengerti
jangan lelah bimbing aku untuk memahami
jangan kau biarkan aku berjalan tanpa arti tanpa lelah!”
kusebut kardus itu “kardus bermakna”
(Oktober, 2017)
10 | Shinta Kurniawati
Kursi Hijau
memang kuakui aku suka warna ini
sesuka aku pada pohon pohon hijau
memang aku sadari aku cinta warna ini
tapi bukan pada kursi yang berada di situ
kursi hijau kantin rumah sakit
hijau tidak selalu sejuk
hijau bukan berarti nyaman
hijau tidak selamanya indah
hijau hanya sebuah warna
(Oktober, 2017)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 11
Tubuh Mungil
tangisan di pojok kantin menghentikan langkahku
isaknya makin keras
kudekati tubuh mungil berpita biru si pemilik tangisan
“Kenapa menangis, Nak?”
dia tidak menjawab
hanya tangisan yang menjawab pertanyaanku
matanya memandang mataku
dan melihat beberapa temannya yang sedang
memandangnya
aku hanya berusaha membaca pikirannya
“Kamu ingin bermain dengan mereka?”
mata yang dipenuhi genangan air mata itupun tetap
memandangku
sambil kepalanya bergerak atas bawah
oh ... tubuh mungil itu ingin ikut bermain
(September, 2019)
12 | Shinta Kurniawati
Mahkota Darinya
aku tidak mengharap apapun darinya
aku tidak menuntut apapun darinya
aku tidak meminta apapun darinya
aku hanya ingin dicinta
aku hanya ingin disayang
aku hanya ingin dikasihi
hingga suatu saat satu kalimat terlontar dari bibirnya
doakan aku mama aku ingin menghadiahkan mama sebuah
mahkota
saat itu kuhanya bisa terdiam dan bersyukur
tanpa kuminta dalam suara
hanya kuminta dalam doa
mahkota dari mereka
bukan di dunia
tapi di alam abadi
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 13
Menjadi Pintar Itu Lelah
Bu Guru kenapa harus belajar?
belajar itu capek Bu Guru
Bu Guru kenapa ada matematika?
matematika itu memusingkan Bu Guru
Bu Guru kenapa ada IPA?
IPA itu banyak hapalan gambar Bu Guru
Bu Guru kenapa harus ada IPS?
IPS itu banyak hapalan tokoh pahlawan Bu Guru
akan banyak kenapa, kenapa, dan kenapa
jalani Nak dengan hati
seperti bu guru menemanimu dengan hati.
(Oktober, 2019)
14 | Shinta Kurniawati
Menangkap Angin
meski langkah ini tersisa di pasir pantai sore itu
meski matahari dengan malu‐malu ingin berpamitan kepada
ombak
meski desiran angin ingin mendorong ombak
aku tetap ada di sampingmu
menemanimu melawan ombak
menemanimu menangkap angin
(April, 2018)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 15
Aku, Kamu, Berbeda tapi Sama
saat berjalan di pegunungan
kulihat tak ada lembah dan bukit yang sama
semua berbeda
ketika berjalan menyusuri pantai
kulihat pecahan karang yang tak sama
namun semua memperindah nuansa alam
seperti aku dan kamu yang juga berbeda
namun kita tetap bisa bersama
meraih cita‐cita
mewarnai dunia
(Oktober, 2019)
16 | Shinta Kurniawati
Jendela Kotak
jendela kotak itu menemani setiap hariku
memberitahuku kapan langit membiru
mengabariku kapan rintik hujan turun
jendela kotak itu juga yang menceritakan padaku
bagaimana dia ingin diterima
memberitahukan bagaimana caranya bisa bersama yang
lainnya
akupun bisa menjawabnya lewat jendela kotak itu
kalau kamu tetap menjadi diri kamu
tanpa harus seperti mereka
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 17
Cerita Angin
kusentuh hatimu dengan angin
angin yang membawa semua rasa
rasa yang menembus asa
asa yang tertutup dinding waktu
waktu yang tak memikirkan jiwa
jiwa yang mendambakan cinta
cinta yang tulus dari seorang guru
guru yang membawa cerita angin
(Oktober, 2019)
18 | Shinta Kurniawati
Mata Pena
mata bukan pena
pena bukan mata
aku bukan kamu
kamu bukan aku
kumarah kamu tidak
kamu marah aku ikut
bagaimana kamu marah
melawan tulisanku saja kamu tidak pernah
bagaimana bisa kamu marah
kamu hanya diam
saat kucorat coret bagianmu
itulah kamu
benda tanpa suara
mata pena
teman tanpa suara
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 19
Asaku Asamu
Nak, lihat ini
kuperlihatkan gambar
sebuah foto seorang ilmuwan
iya Nak, beliau Bapak Thomas Edison
Nak,kamu bisa seperti beliau
Nak, tidak ada yang tahu masa depan
Nak, kamu jangan takut menghadapi hidup
Nak, selagi asa masih ada
Asaku, asamu
satu tujuan
asa kita hanya ingin
bisa melakkukan semua sebagai ibadah
(Oktober, 2019)
20 | Shinta Kurniawati
Sepatu Bootku
dia
menemaniku kala hujan
menemaniku kala terik
menemaniku kala senang
menemaniku kala sedih
melindungi sebagian tubuhku dari
hujan
melindungi sebagian tubuhku dari
panas
dia
membuatku tampak kokoh
membuatku terlihat sangar
membuatku terlihat tegas
membuatku tampak gagah
dia
sepatu ku
satu‐satunya
kuberi nama
sebut ia ‘si sepatu bootku’
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 21
Tetes Embun di Pucuk Daun
pagi yang cerah menggugahku untuk berjalan
melewati dinginnya pagi
hanya untuk melihat tetes embun di pucuk daun
tetesan indah di lambaian angin
angin pagi menandakan semangatku
menemani mereka
(Oktober, 2019)
22 | Shinta Kurniawati
Perangnya Seorang Panglima
membayangkan pukulan tangan itu mendarat di pipinya
membayangkan bagaimana rasa sakit itu
membayangkan ada perang di sisi jiwanya
membayangkan rasa itu berkata
“Aku diam ...atau aku balas pukulan itu?”
ternyata sisi kanan yang buat aku terdiam
hanya ada dalam bayanganku
“Aku tidak mau membuat mama sedih.”
Panglima, itulah perangnya kamu, Nak
perangnya seorang panglima
bukan perang kekuatan fisk
melainkan perang melawan kekuatan nafsu
(September, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 23
Sedikit Kenikmatan yang Tercabut
sakitpun itu jangan kau rasa
jangan juga kamu ingat
itu hanya sedikit kenikmatan yang tercabut
masih banyak kenikmatan lain
yang kita rasakan
jangan kamu kecewa
dengan rasa sabar itu
justru dengan sabar itu
membuatmu bisa lebih merasakan
apa itu nikmat sehat
(September, 2019)
24 | Shinta Kurniawati
Peluk Aku Mama
“Mah ….
Mamah jangan nangis, ya
aku gak kenapa‐kenapa kok
Mama kalau ada waktu ke sini, ya Mah
aku mau peluk Mama
maafin aku, ya Mah
Mamah kalau ada waktu ke sini, ya Mah.”
hanya air mata yang saat itu menemaniku
menemani kesedihanku
juga keharuanku
membaca pesan dari seorang anak remaja
yang tidak pernah ingin dipeluk saat di dekatku
(September, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 25
Cinta Tanpa Syarat
ibu tidak pernah benci padamu, Nak
sekalipun kamu tidak bisa mengikuti perintah
ibu
ibu tidak pernah marah padamu, Nak
walaupun kamu mencoret tulisan ibu
ibu tidak pernah kecewa padamu, Nak
meskipun kamu mendapatkan hasil buruk
hanya yang ibu mau dari kamu
kamu belajar dengan cinta
cinta yang tanpa syarat
(Oktober, 2019)
26 | Shinta Kurniawati
Halaman Ilmu
putih
hijau
biru
ungu
kuning
setiap kuangkat tangan kananku
membuat perpindahan pada tulisan kecil di
pojok bawah
setiap rangkaian kalimat di setiap lembaran
berisi ilmu
yang pernah aku tahu
atau yang belum aku tahu
halaman ilmu ini ingin kulahapnya
tapi bukan makanan
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 27
Cukup Satu Jam Bersamamu
tidak perlu 5 jam bersamamu
juga 4 jam
atau 3 jam
tidak juga 2 jam
cukup satu jam bersamamu
mengenal secuil tentang dunia
duniamu yang juga duniaku
(September, 2019)
28 | Shinta Kurniawati
Cinta yang Mengantarkanku
kaki ini serasa berat untuk diangkat
tapi hati ini seperti memaksa
entah darimana datangnya
akupun tak tahu
aku berlari bertanya pada pohon mangga
di depan gerbang sekolah
mengapa kuberat meninggalkan semua ini
pohon mangga hanya menggerakkan
rantingnya
tanpa kata hanya suara cinta
yang mengantarkanku
untuk segera menunaikan tugas
menemani mereka menggapai cita
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 29
Buatlah Kumenangis
aku terkenal kuat
orang mengenalku sosok kekar
sekitarku melihatku aku wanita tangguh
memang tidak sekuat superwoman
tidak sekekar spiderwoman
tidak setangguh Srikandi
aku hanya seorang ibu buat anak kandungku
hanya seorang ibu untuk anak didikku
aku yang bisanya hanya berharap
sebuah tetesan airmata
dari kabar kebahagian tentang mereka
buatlah kumenangis anak‐anak ibu....
(2019)
30 | Shinta Kurniawati
Mimpi Tanpa Lelah
aku pernah bermimpi
mimpi indah menjadi sekretaris
di kantor yang memakai lift bila ke ruangan
pimpinan
aku perrnah bermimpi
bekerja memakai sepatu tinggi
dan rok span yang menurut aku
membuatku cantik
ternyata kehidupan nyataku
melebihi indahnya mimpiku
aku menikmati lift sehat
yang membuat seluruh tubuh berkeringat
aku memakai sepatu indah
yang bisa kubawa lari
saat bermain kasti
aku memakai rok span warna biru dongker
di hari Senin dan Selasa
semua itu benar‐benar sebuah mimpi
mimpi tanpa lelah
(2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 31
Gadis Kecilku, Cerminku
pakaianku dipakainya
sepatuku dipakainya
tasku dipakainya
kerudungku dipakainya
kebesaran pakaiannya? IYA
kelonggaran sepatunya? IYA
kegedean tasnya? IYA
tapi semua rasa dibuat nyaman
nyaman karena dia ingin sepertiku
gadisku kecilku, cerminku
(2019)
32 | Shinta Kurniawati
Ibu Guru Jangan Pergi
Lepas kutinggalkan wajah itu
mata itu tak rela dilepaskan
seraya berkata
“Ibu Guru jangan pergi
ibu tidak meninggalkan kelas
ini masih ada di sini
menemanimu dan teman‐temanmu
“Iya Ibu, aku mau belajar sama Ibu.”
(2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 33
Kemarau di Tahun 2019
karena ada kamu
dalam setiap kamu ada suara gembira
menembus debu memecah angin sepoi‐sepoi
mengalahkan heningnya pasar
mematahkan ribuan duri
hilangnya daun‐daun hijau
yang berteriak menanti hujan
hujan di bulan Oktober
tak kunjung datang
kemarau tetap bertahan
bertahan dengan sombongnya
kemarau di tahun 2019
(2019)
34 | Shinta Kurniawati
Aku Ingin Seperti Kamu
mendadak kau menangis
hanya air mata yang berbicara
dia di sampingmu melongo tanpa bicara
tanpa dia tanya kau bicara
“Aku tidak bisa, ini susah.”
kau lanjutkan tangisanmu
”Tapi aku ingin seperti kamu.”
hingga ada air yang keluar dari hidungnya
“Tapi kenapa tanganku susah?”
air mata tetap tanpa henti mengeluarkan
butiran bening
“Kenapa Tuhan tidak buat aku pintar?”
sekarang giliran mata itu yang melemah
(2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 35
Kenapa
kenapa kertas ini beda
kenapa tulisanku lebih besar
kenapa jumlah kertasku tidak banyak
kenapa aku dibedakan dari mereka
banyak kenapa yang kamu tuangkan lewat hati
dan bibir
Nak...di mata bu guru kamu tidak ada bedanya
kamu sama dengan mereka di mata dan hati bu
guru
(September, 2018)
36 | Shinta Kurniawati
Tangisan Untukmu
air mata mama buat kamu Nak
saat senang
saat sedih
saat gembira
saat marah
saat malu
saat benci
saat takut
saat cemburu
saat emosi
saat kecewa
saat cemas
saat tidak percaya diri
air mata mama buat kamu Nak
waktu pagi
waktu siang
waktu sore
waktu malam
air mata mama buat kamu Nak
saat dalam kandungan
saat melahirkan kamu
saat balita kamu
saat kanak‐kanak kamu
saat remaja kamu
saat dewasa kamu
hingga kamu baca tulisan ini
tangisan mama untukmu Nak
(Oktober, 2019)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 37
Senandung Buah Hatiku
ninang ningnung
ninang ningnung
anakku sayang
lekas besar
lekas pandai
anakku sayang
mama menanti
tangan kekarmu
mendampingi mama
membawa mama
menjelajah dunia
bersama tugasmu
(Oktober, 2004)
38 | Shinta Kurniawati
Bawa Mereka
jangan tolak mereka saat mereka ingin ikut kita
bawa....
ajak mereka pergi selagi mereka ingin menemani
kita
bawa....
sebelum kita merasakan ada sesuatu yang hilang
di kala mereka sudah menjalani rutinitas mereka
sebagai tanggung jawab atas tugas mereka
bawa....
sebelum kita mendengar penolakan mereka
untuk pergi bersama kita
(Instagram pribadi, 2017)
Jangan Panggil Aku ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) | 39
Jalan Tanpa Batas
hitam
bukan arang
coklat
bukan tanah
putih
bukan kapur
kamu di sini
aku di sini
mereka di sini
kita satu kelas
kelas yang menyatukan kita
ruang yang mendekatkan kita
tanpa perbedaan agama
tanpa perbedaan suku
tanpa perbedaan kemampuan
kita bersama
meniti ilmu
bagai jalan tanpa batas
(Oktober, 2019)
40 | Shinta Kurniawati