AHLI KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (AK3) MUDA LINGKUNGAN KERJA/ HIGIENE INDUSTRI MUDA Moch syaiful khabi
DASAR HUKUM • UU No.3 tahun 1969 tentang persetujuan Konvensi ILO nomor 120 mengenai Higiene dalam perniagaan dan kantor-kantor • UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja • UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan • Peraturan Pemerintah No.50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja • Peraturan Presiden No.21 tahun 2010 tentang Pengawasan Ketenagakerjaan • PERMENAKER No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
PERSYARATAN K3 LINGKUNGAN KERJA • Pengendalian factor fisika dan factor kimia • Pengendalian factor biologi, factor ergonomic & factor psikososial • Penyediaan fasilitas kebersihan dan sarana hihiene di tempat kerja • Penyediaan personil K3 yang kompeten & memiliki kewenangan dibdang K3 Lingkungan Kerja
PERSYARATAN PERSONIL YANG BERWENANG Ahli K3 Muda Lingkungan Kerja Ahli K3 Madya Lingkungan Kerja Ahli K3 Utama Lingkungan Kerja - Pendidikan D3 - berpengalaman paling sedikit 1 (satu) tahun - memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidangnya - berbadan sehat - Pendidikan D3 - berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun sebagai Ahli K3 Muda Lingkungan Kerja - memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidangnya - berbadan sehat - Pendidikan D3 - berpengalaman paling sedikit 5 (lima) tahun sebagai Ahli K3 Madya Lingkungan Kerja; - memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidangnya - berbadan sehat
Pemeriksaan Dan Pengujian ¨ Setiap Tempat Kerja yang memiliki potensi bahaya Lingkungan Kerja wajib dilakukan Pemeriksaan dan/atau Pengujian. ¨ Pemeriksaan merupakan kegiatan mengamati, menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi kondisi Lingkungan Kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan ¨ Pengujian merupakan kegiatan pengetesan dan pengukuran kondisi Lingkungan Kerja yang bersumber dari alat, bahan, dan proses kerja untuk mengetahui tingkat konsentrasi dan pajanan terhadap Tenaga Kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan
Dilakukan secara: ¨ internal untuk mengukur besaran pajanan sesuai dengan risiko Lingkungan Kerja dan tidak menggugurkan kewajiban Tempat Kerja untuk melakukan pengukuran dengan pihak eksternal dilakukan oleh personil K3 bidang Lingkungan Kerja. eksternal : 1. Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Ketenagakerjaan (Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Lingkungan Kerja) 2. Direktorat Bina Keselamatan dan Kesehatan Kerja beserta Unit Pelaksana Teknis Bidang K3 (Penguji K3) 3. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang membidangi pelayanan Pengujian K3 (Penguji K3) 4. lembaga lain yang terakreditasi dan ditunjuk oleh Menteri (Ahli K3 Lingkungan Kerja)
Pelaksana Riksa Uji: Pengawas Ketenagakerjaan Sp K3 LK pada UPT Wasnaker; Laporan Riksa Uji Perusahaan yang meminta Mekanisme SURKET memenuhi Syarat K3: Penguji K3 pada Direktorat Bina K3 beserta UPT K3 dan UPTD Bidang K3; Riksa Uji Ulang dan/atau STIKER SURKET TIDAK Memenuhi Syarat K3: Riksa Uji Berkala UPT Wasnaker ≤ NAB atau memenuhi standar AK3 Lingkungan Kerja pada PJK3 Riksa Uji LK TIDAK YA L1, u/ Perusahaan; L2, u/ UPT Wasnaker; L3, u/ Ditjen PPK dan K3
Formulir Riksa Uji
Kebisingan
GETARAN
GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK STATIS
GELOMBANG RADIO DAN MIKRO
PENCAHAYAAN
UV
LAJU ALIR UDARA
Suhu Kelembaban dan Ventilasi
INDEX PAJANAN BIOLOGIS (IPB)
MIKROBIOLOGI
PSIKOLOGI
Penilaian Lingkungan kerja (Risk Assesment) HAL YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM PENILAIAN LINGKUNGAN KERJA ALAT DAN METODE YANG PALING COCOK UNTUK DIPILIH LOKASI PENGUKURAN DAN PENGAMBILAN SAMPEL WAKTU PENGUKURAN METODE DAN ALAT YANG DIGUNAKAN SENSITIVITAS ALAT YANG DIGUNAKAN JUMLAH PENGKURAN DAN PENGAMBILAN SAMPEL
PENENTUAN TITIK PENGUKURAN Sumber Area Bekerja Area lalu lalang Pekerja. Personal
JUMLAH TITIK PENGUKURAN SNI 7230:2009 1. Lingkungan Kerja Untuk unit kerja besar berbentuk segi empat, dengan panjang dan lebar lebih dari 6 m. 1. Bagilah unit kerja dengan garis-garis vertikal dan horizontal menjadi beberapa bagian, dengan ukuran panjang dan lebar antara 3 m sampai dengan 6 m. 2. Titik-titik pengukuran adalah pertemuan antara garis vertikal dan garis horizontal 3. Titik-titik pengukuran yang berhimpit dengan mesin dapat diabaikan, kecualii mesin tersebut merupakan sumber kontaminan udara 4. Tempat orang bekerja yang tidak termasuk dalam titik pengambilan sampel, ditetapkan sebagai titik pengambilan sampel tambahan. 5. Unit Kerja yang sangat Luas, Jumlah titik pengukuran Maksimal 40 titik. 6. Tempat Kerja yang mengeluarkan Uap dan Gas bahan Kimia yang berbahaya, dianggap sebagai satu titik pengukuran.
CONTOH PENENTUAN TITIK PENGUKURAN
CONTOH PENENTUAN TITIK PENGUKURAN
1. TITIK-TITIK PENGUKURAN BERADA PADA MEDIAN GARIS DIAGONAL DAN TITIK PUSAT PERPOTONGAN DIAGONAL. JUMLAH TITIK-TITIK PENGUKURAN MINIMAL 5 TITIK. 2. UNTUK UNIT KERJA YANG TIDAK BERBENTUK SEGI EMPAT TITIK PENGUKURAN DITENTUKAN SECARA PROPORSIONAL, SEHINGGA TEMPAT KERJA TERSEBUT TERWAKILI DENGAN JUMLAH TITIK PENGUKURAN MINIMAL 5 TITIK. 3. PADA UNIT KERJA YANG SANGAT SEMPIT DIMANA PENYEBARAN KONTAMINAN HOMOGEN, MAKA PENGUKURAN DILAKUKAN PADA 1 TITIK DAN DIULANGI 5 KALI SELAMA 8 JAM KERJA ATAU SETIAP SATU SHIFT KERJA. 4. TEMPAT ORANG BEKERJA YANG TIDAK TERMASUK DALAM TITIK PENGAMBILAN SAMPEL, DITETAPKAN SEBAGAI TITIK PENGAMBILAN SAMPEL TAMBAHAN. Pada unit kerja kecil, panjang dan lebar 6 meter atau kurang:
PENENTUAN TITIK PENGUKURAN PADA <6 M
JUMLAH TITIK PENGUKURAN 2. Personal SNI 7324:2009 Jumlah tenaga kerja Dalam satu Kelompok Pemaparan Jumlah Sampel parsial 8 7 9 8 10 9 11-12 10 13-14 11 15-17 12 18-20 13 21-24 14 25-29 15 30-37 16 38-49 17 50 18 Tabel Ini Mempunyai Tingkat Kepercayaan 90% 1. Pengambilan Sampel Tidak Boleh Kurang 6 Jam 2. Lamanya Pengambilan Sampel TergantungTujuan Pengukuran dan Metode Analisis : a. Waktu Penuh, Jumlah Sampel 1 b. Waktu Berturutan waktu penuh, 2-3 sampel c. Waktu parsial, 2-3 Sampel 3. Sampel Harus Representatif untuk waktu kerja 8 jam atau satu shift Kerja. Sampling Dilakukan : 1. Pada Jam Kerja. 2. Pengukuran Rutin. 3. Bila ada Gangguan Kesehatan
BAGAIMANA SAMPLING DILAKUKAN BERDASARKAN INTRUMEN YANG DIGUNAKAN UNTUK SAMPLING DAPAT DILAKUKAN DENGAN DUA CARA : 1. DIRECT MEASUREMENT • PENGUKURAN KONTAMINAN UDARA DENGAN MENGGUNAKAN DIRECT READING INTRUMENT SEHINGGA TIDAK MEMERLUKAN ANALISA LABORATORIUM 2. INDIRECT MEASUREMENT • PENGUKURAN KONTAMINAN UDARA YANG MEMERLUKAN ANALISA LABORATORIUM, TEMPAT DILAKUKAN SAMPLING UNTUK MENGAMBIL CONTOH SAMPEL UDARA YANG KEMUDIAN DIUKUR DILABORATORIUM
PENGGUNAAN INSTRUMEN PEMBACAAN LANGSUNG MELAKUKAN SURVEY AWAL MENEMUKAN SUMBER EMISI BAHAN KIMIA BERBAHAYA LANGSUNG PADA LOKASI UNTUK MEMBERI GAMBARAN APAKAH NAB TELAH MELEBIHI UNTUK MENGEVALUASI EFEKTIFITAS METODE PENGENDALIAN SEBAGAI MONITORING BERKELANJUTAN PADA SUATU LOKASI TERTENTU
KEUNTUNGAN MUDAH DAN SIMPEL MEMBERI INFORMASI LANGSUNG PADA LOKASI PEMBACAAN LANGSUNG PADA LOKASI YANG SEBENARNYA TIDAK MEMERLUKAN ANALISIS LABORATORIUM DAPAT MEMBERI DATA UNTUK PEMAJANAN PENDEK MENGURANGI BIAYA
KELEMAHAN BIAYA AWAL MAHAL DARI INTRUMEN MEMERLUKAN KALIBRASI YANG SERING TERBATASNYA FASILITAS KALIBRASI ADANYA KEMUNGKINAN INTERVENSI ATAU PENGGANGGU TERHADAP BAHAN KIMIA ATAU FISIK TIDAK SPESIFIK TIDAK BERSIFAT PORTABEL MASIH SANGAT TERBATAS PERALATAN
MEASUREMENT OF WORKER EXPOSURE 0 A A B A B A B C A B A B 1 A B C 2 3 4 5 6 7 8 Full period Full period Single Sample Partial Period Consecutive samples • • • • • A B C D E A B C D (Random) Grab Samples
BERDASARKAN PERSONAL SAMPLING