The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Mudhhari Ahmad, 2020-08-10 12:14:18

NAHWU- TATABAHASA BAHASA ARAB

BUKU TATA BAHASA ABAHASA ARAB

Keywords: TATABAHASA,TATA BAHASA,NAHWU,SINTAKS,MADRASAH

Jumlah fi’liyah mengunakan fi’il mudlari’ ‫زيدايَ ْك ُت ُباا َّل ْر َ اس ا‬
Perhatikan perubahan kata kerjanya!

‫َفا ِط َم ُةاتَ ْك ُت ُباا َّل ْر َسا‬

Fatimah sedang menulis َّ Zaid sedang menulis pelajarannya

pelajarannya

‫فَا ِط َم َتا ِناتَ ْك ُت َبا ِناا َّل ْر َ اس‬ ‫زي َدا ِنايَ ْك ُت َبا ِناا َّل ْر َ اس‬

Dua Fatimah sedang menulis Dua Zaid sedang menulis

pelajarannya pelajarannya

‫فَا ِط َما ُتايَ ْك ُت ْ َباا َّل ْر َسا‬ ‫زي ُد ْو َنايَ ْك ُت ُب ْو َناا َّل ْر َسا‬

Banyak Fatimah sedang Banyak Zaid sedang menulis
menulis pelajarannya pelajarannya

Awamil Nawashib

Pendahuluan
Fi’il mudlari’ selamanya dibaca dlammah (rafa’) selama tidak
dimasuki amil nashib, maka dibaca nashab; dan dibaca jazem, bila
dimasuki amil jazim.

Perhatikan !

Tanda Perubahannya Lafadnya Nama No
nasabya 1
‫َأ ْناََ ْيلِ َسا‬ ‫ََيْلِ ُسا‬ Fi’l mudlari’
‫ا‬Fathah shahih akhir 51

Fathah ‫َأ ْناََ ْي َشا‬ ‫ََ ْي َشا‬ (akhirnya 2
muaqaddarah ‫َأ ْنا َي ْغ ُز َوا‬ tidak berupa
‫َأ ْنايَ ْر ِ َما‬ huruf illat)
(dikira- ‫َأ ْناََيْلِ َسا‬ Fi’il mudlari’
kirakan) mu’tal alif
Fathah ‫َأ ْناََ ْتلِ َسا‬
muaqaddarah ‫َي ْغ ُز ْوا‬ Fi’il mudlari’ 3
‫َأ ْناََ ْتلِ ُس ْوا‬ ‫يَ ْر ِ ْما‬ mu’tal wawu
‫(ا‬nampak)
‫َأ ْناََيْلِ ُس ْوا‬ Fi’il mudlari’ 4
Fathah mu’tal ya’
muaqaddarah
‫ا‬Af‫’ِنا‬a‫ا‬l‫س‬uَ lِ‫ل‬kْ‫ي‬hََomsadFhii’silismipui dalliafri’ 5
‫(ا‬nampak) 6
‫ََتْلِ َسا ِنا‬ tatsniyyah 7
Membuang 8
(‫) َـا ِان‬
‫ا‬nun
Fi’il mudlari’
Membuang disisipi alif

‫ا‬nun tatsniyyah

Membuang ‫ََ ْتلِ ُس ْو َنا‬ (‫) َـا ِنا‬

‫ا‬nun Fi’il mudlari’
disisipi
Membuang
w(‫ َنا‬a‫و‬wْ ‫ ُـ‬u) jamak
‫ا‬nun
‫ََ ْيلِ ُس ْو َنا‬ Fi’il mudlari’
disisipi

52

Membuang ‫َأ ْناََ ْتلِ ِ ْسا‬ ‫ََ ْتلِ ِس ْ َيا‬ w(‫ َان‬a‫و‬wْ ‫ ُـ‬u) jamak 9

‫ا‬nun Fi’il mudlari’
disisipi ya’
muannas

m(‫ َاي‬uْ kِ‫ـ‬h)atabah

Contoh-contoh awanil nawashib Amil No
Contoh nashib

‫َأ َو ُّداَ َأ ْنا ُاي َقا َماا ْل َع ْد ُلا ا‬ ّ‫ أَ َْن‬1

Saya senang k‫دا‬eَّ a‫ َج‬di‫ا‬l‫ن‬aْ n‫ َم‬d‫با‬iَte‫س‬gُ ‫ر‬aْ kَ‫اي‬k‫ن‬aْ nَ‫ل‬

‫ا‬ ‫ لَ َّْن‬2

Tidak akan gagal orang yang sungguh- Tidak akan

‫ر َم َكا ا‬sِ u‫ ْك‬n‫ُأ‬g‫نا‬gْ u‫ َذ‬hِ‫إ‬ ‫ إِ َذ َّْن‬3

Kalau begitu/ jadi saya m‫ما‬eِ ‫ُأ‬n‫ا‬g‫ ُي‬hْ o‫ َع‬rm‫ َّرا‬a‫ َق‬t‫َت‬im‫ ْكا‬uََ jadi

‫ا‬ ّ‫ َك َْي‬4

Su‫ا‬pa‫ اس‬yَ a‫ ْر‬i‫ل‬bَّ u‫ا‬k‫َما‬u‫ َه‬t‫ْف‬e‫َأ‬n‫ْكا‬aَnَgِ‫ل‬ supaya

Agar supaya s‫عا‬aَ yِ‫ف‬a‫نَّا‬p‫ال‬a‫ا‬h‫ َم‬aْ‫ل‬m‫ل ِع‬p‫اا‬e‫ب‬lَ ajُ‫ل‬a‫ط‬rْ aَ‫أ‬n‫ِل‬ ّ‫ لِ َك َْي‬5

‫ا‬ Agar supaya

Untuk menuntut ilmu yang bermanfaat َّ ِ‫ ل‬6

untuk

53

‫َح َّ اتا َأ ْع ِر َفاال َّط ِر ْي َقاإِى ال َّسلَ َم ِاة ا‬ ‫ َحتى‬7

Sehingga saya mengetahui jalan Hingga

‫ر ِسا َف َت ْفلَ َاح ا‬kُّ e‫ َد‬sَّ‫ل‬el‫ا‬a‫فا‬mِa‫َّدا‬ta‫ ِج‬n َّ َ‫ ف‬8

Bersungguh-sungguhlah dalam belajar, maka menjadi
sebab …
‫لَّ َع َبا ا‬m‫ا‬a‫ا‬k‫ َك‬a‫ ُت‬kَْ a‫و َت‬mَ ‫ا‬u‫ ًما‬b‫ ْل‬e‫ ِع‬ru‫ما‬nْ ‫ُر‬tuَ‫ات‬nَ‫ا‬g‫ل‬
‫ ََّو‬9

Kamu tidak akan mendapat ilmu, sembari Sambari/ disertai

َّ tidak mau capek

Mabninya fi’il mudlari’
1. Mabni / tetap dalam harakat sukun, apabila disisipi akhiran
nun yang menunjukkan makna perempuan banyak/ nun jamak

niswah. (ّ‫) َن‬. Contoh:

‫الطاِلا ُتايَ ْد ُر ْس َنا ا‬

Murid-murid perempuan itu sedang belajar

2. mabni fathah, apabila disisipi akhiran nun taukid khafifah (‫) َّن‬

atau nun taukid tsakilah (ّ‫) َْن‬. Contoh:
‫لَيُ ْس َج ََ َّنا َوََ َل ُكونًاا ِم َناال َّصا ِغ ِري َناا ا‬

niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan
orang-orang yang hina".(Qs. Yusuf:32)

54

Awamil jawazim

Amil yang masuk fi’il mudlari’ dan menjadikannya dibaca jazem.
Tanda jazm: 1) sukun, 2) membuang nun, 3) membuang huruf illat

(‫اي‬،‫ا‬،‫)و‬

Perhatikan !

Tanda Perubahannya Lafadnya Nama No
jazmnya 1
‫لَ ْماََيْلِ ْسا‬ ‫ََ ْيلِ ُسا‬ Fi’l mudlari’
‫ا‬Sukun shahih akhir 2
‫لَ ْماََ ْي َشا‬ 3
Membuang ‫لَ ْما َي ْغ ُزا‬ (akhirnya 4
huruf ilat ‫لَ ْمايَ ْر ِما‬ 5
‫لَ ْماََيْلِ َسا‬ tidak berupa
Membuang 6
huruf ilat ‫لَ ْماََتْلِ َسا‬ ‫ََ ْي َشا‬ huruf illat)
‫َي ْغ ُز ْوا‬ Fi’il mudlari’
Membuang mu’tal alif
huruf ilat ‫يَ ْر ِ ْما‬
Fi’il mudlari’
Membuang mu’tal wawu
huruf nun
Fi’il mudlari’
Membuang mu’tal ya’
huruf nun
‫ا‬Af‫’ِنا‬a‫ا‬l‫س‬uَ lِ‫ل‬k‫ ْي‬hََomsaFdhii’silismipui dalliafri’

‫ََ ْتلِ َسا ِنا‬ tatsniyyah

(‫) َـا ِان‬

Fi’il mudlari’
disisipi alif

tatsniyyah

(‫) َـا ِان‬

55

Membuang ‫لَ ْماََتْلِ ُس ْوا‬ ‫ََ ْتلِ ُس ْو َنا‬ Fi’il mudlari’ 7
huruf nun ‫ََ ْيلِ ُس ْو َنا‬ disisipi 8
‫ََتْلِ ِس ْ َيا‬ 9
Membuang ‫لَ ْماََ ْيلِ ُس ْوا‬ w(‫ َنا‬a‫و‬wْ ‫ ُـ‬u) jamak
huruf nun
Fi’il mudlari’
Membuang ‫لَ ْماََتْلِ ِ ْسا‬ disisipi
huruf nun
(w‫ َان‬a‫و‬wْ ‫ ُـ‬u) jamak

Fi’il mudlari’
disisipi ya’
muannas

(m‫ َيا‬uْ kِ‫ـ‬h)atabah

Contoh-contoh awanil Jawazim ‫لَ ْمايُ ْو َ ْلا‬ Lafadz No
Contoh
‫ لَ َّْم‬1
‫ِفاال َف ْص ِال‬T‫ا‬i‫د‬d‫ي‬a‫ز‬k‫ا‬d‫ ْض‬ilُْah‫ ْي‬iََr‫ا‬k‫ا‬a‫ َّم‬nَ‫ل‬
Zaid belum‫ َع اة‬h‫َس‬ad‫ْوا‬ir‫ ُذ‬d‫قا‬iْk‫ِف‬e‫ْن‬la‫لُا‬sَِ Tidak …

Hendaklah orang luas rezeki bersedekah َّ‫ لَما‬2

‫لاَا َت ْق َر ُب ْوااال ِزنَاا‬ Belum …

Janganlah kalian mendekati zina َِّ‫ ل‬3

Hendaklah


ََّ‫ ل‬4

Jangan …

56

Fi’il jawab Fi’il syarat Lafadz No
1
َّ ‫إِ َّْن َّإنَّترحمْواَّمنَّفيَّ ترح ْمك ْمَّم ْنَّفيَّالسماء‬
2
(maka) yang di langit َّ ‫ الأرض‬Jika 3
menyayangi kalian 4
Jika kalian 5

menyayangi yang di 6
7
َّ buki
57
َّ ‫يَ ْحص َْدَّّ َشْوًكا‬ َّ ‫َم َّْن َم َّْن يْزَر ْعَّ َشْوًكا‬

(maka) ia memanen Barangsiapa Jika
duri
َّ menanam duri
َّ ّ‫تَنَا ْلََّّ َجَزا َءَه‬ َّ ّ‫َما َماَّتَ ْفَع ْلَِّم ْنَّ َخْي ٍَر‬

(maka) kamu mendapat Apasaja kebaikan Jika
balasannya َّ yang kamu lakukan
َّ َّ‫َم ْه َما مهماَّت ْب ِط ْن‬
َّ ‫تظِْهْرهَّالأَياَّم‬

(maka) hari-hari akan Apapun juga yang Jika

mengungkapnya َّ kamu sembunyikan
َّ ّ‫أَ ٌَّي أَيَّاْم ِر ٍئَّي ْخِل ْصَِّفيَّ يبَا ِركَّلَهَّاللَه‬
َّ ّ‫ َع ِملَِِه‬Jika
(maka) Allah
membarakahinya

Mana-mana orang

yang ikhlas dalam

َّ amalnya

َّ َّ‫َمتَى َمتَىََّتَّ َّْذ ََهّ َْبَّّإلىَّالَبَِِّّر َّ تََّْنّ َشّ َّْط‬

(maka) kamu Kapan saja kamu Kapan
bersemangat َّ menuju kebaikan saja
َّ ‫أَيا َّن أَيا َّنَّتَ ْقَرأَّكِتَا َبَّاللهََِّّ َّ َتَّ ْشعْرَّبِالرا َحَِّة‬

(maka) kamu merasa Kapansaja kamuَّ Kapan saja
nyaman َّ membaca al-Qur’an

َّ ‫يك ْنََّّاللهََّمَعك َّْم‬ َّ َّ‫أَيْ ََنّ أينماَّتَكونوا‬ 8

(maka) Allah bersama Dimana saja kamu Dimana 9
mu
َّ beradaَّ saja
َّ ً‫تستفدَّثََقافََّة‬ َّ ّ‫َحْيث َما َحْيث َماَّت َساِف َْر‬

(maka) kamu Dimana pun kamu Dimana
mengambil manfaat
َّ berpergianَّ pun

dari budayanya

َّ َّ‫ي َولَّ َعلَْيك ْم‬ َّ َّ‫ َكْي َف َما َكْي َف َماَّتَكْون ْوا‬10

(maka) kalian diberikan Bagaimana pun Bagaimana

kekuasaan َّ keadaan kalianَّ pun

َّ ‫ت ِص ْبَّ َخْي ًرا‬ َّ ّ‫أَنى أَنىَّتَ ْر َح َْل‬ 11

(maka) kamu Kemana saja kamu Kemana
mendapatkan kebaikan
َّ pergi saja

َّ

Huruf syarat yang tidak menjazemkan

Keterangan Contoh Lafadz No

Jawabnya biasanya َّ ّ‫لَْوَّذَا َكْر َتَّلَنَ َج ْح ََت‬ َّ ‫ لََّْو‬1

diawali dengan huruf َ‫ل‬ Seandainya kamu andaikan

atau jawanya negative. belajar, niscaya kamu 58

sukses

َّ\‫لَْو َّذَا َكْر َت ََّماَر َسْب ََّت‬

َّ ّ‫لَ ْمََّر َسْب ََت‬

Seandainya kamu َّ‫لَْو َل‬ 2
belajar, kamu tidak
gagal Andaikata
tidak karena
َّ ‫لَْولََّاللهََّماَّا ْهتَ َديْنَا‬

Seandainya tidak
karena Allah, niscaya
kita tidak dapat
petunjuk

Jawab syarat dengan fa’ jawab
Jawab syarat dengan fa’ , apabila jawabnya berupa:

1. Jawabnya berupa jumlah ismiyyah. contoh:

Barangsiapa menginginkan taubat, maka pintu Allah terbuka
2. fi’il amar (perintah). Contoh:

Jika kamu cinta Allah, maka ta’atlah kepada-Nya
3. Fi’il nahi (larangan). Contoh:

Jika kamu takut Allah, maka jangan menyalahi-Nya
4. Jawabnya berupa lafadz yang tidak bias ditashrif (tidak punya

turunan kata)

Barangsiapa meminum khamer, maka bukan mukmin (yang
sempurna)

59

5. Jawabnya berupa lafdz “ّ‫( ”نِْع ََم‬sebaik-baik), atau “ّ‫( ”بِْئ ََس‬seburuk-

buruk) contoh:

Jika kamu menghormati kedua orang tua mu, maka alangkah amat
baik perbuatanmu

6. Jawabnya berupa lafadz “‫”قَ َّْد‬. (benar-benar). Contoh:

Jika kamu membantu tetanggamu, maka benar-benar kamu telah
melakukan kewajibanmu (terhadap tetangga).

7. Jawabnya berupa lafdz “‫( ” َس ْو َّف‬kelak ..). contohnya:

Barangsiapa memenuhi janjinya kepada Allah, maka Allah akan
memberinya pahala yang agung.
8. Jawabnya berupa huruf “” (tidak akan). Contohnya:

َّ َّ‫َوَماَّيَْفَعلواَِّم ْنَّ َخْي ٍرَّفَلَنَّي ْكَفروه‬

Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali
mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya;

9. Jawabnya berupa nafi (negative). Contohnya:

َّ َّ‫فَِإنَّتََولْيت ْمَّفََماَّ َسأَلْتكمَِّّم ْنَّأَ ْج ٍر‬

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta
upah sedikitpun dari padamu.

Jazem jawab fi’il thalab (fi’il amr atau fi’il nahi)
Fi’il amar atau fi’il nah terkadang membutuhkan jawab. Contohnya:

60

ّ‫ َّاَِّت َِقَّّاَلّْ ََمّ ََّحاَِّرََّمََّتَّ َكّ َّْنََّأَّ َْعَّبَّ َّدَّالنا َِس‬

Jagalah diri dari keharaman, (maka) kamu menjadi manusia

yang paling berbakti

َّّ‫ َلَّتََّتَّبِّ َّْعََّأََّّْهََّوا ََّكََّّتََّأََْمّ َّْنَّالََّعََّواَقِّ ََب‬

Jangan ikuti hawa nafsumu, (maka) kamu selamat dari penyesalan
kemudian.

Jumlah Ismiyyah

(Mubtada’ + Khabar)

Mubtada’ (subyek)
Kata yang bisa dijadikan mubtada’ adalah:

1. Isim (kata benda). Contohnya:
Adil adalah dasar kekuasaan

2. Kalimat yang diberlakukan seakan-akan isim. Contoh:

Kalimat” Laa ilaaha Illa Allah” adalah syiarnya orang islam

3. Fi’il diawali dengan An (ّ‫)أَ َْن‬/ Mashdar Mu’awwal. Contoh:

Termasuk adab yang baik, kamu diam terhadap orang yang
berbicara kepadamu.

4. ISsaimyadolroamngirA(kraabta=ga‫ ياب‬nِ ‫ر‬tَ i‫ َ)ع‬,‫ا‬c‫ا‬oَ‫َأن‬ntoh:

5. Isim Isyarah, (kata tunjuk), contoh:

61

Ini termasuk kemurahan Tuhan ku = ‫ّه َذاا ِم ْنا َف ْض ِلا َر ِ ْاب‬

6. Isim maushul. Contoh:

‫اَّليافَا َزابِال َجائِ َزةاِا ََلُاإِ ْن َتاجا َرائِعا‬

Orang yang mendapat hadiah mempunyai hasil (belajar)

mengagumkan

7. Isim syarat, contoh: ‫َم ْانايَ ْز َر ْعااََيْ ُص ْدا‬

Barangsiapa menanam, maka memanen

Huruf mengawali mubtada’

1. LAM Ibtida’ (sungguh). Contoh: ‫لَ َز ْيدا َأ ْف َض ُلا ِم ْنا َع ْمرو‬

‫ا‬

Sungguh Zaid lebih utama daripada Amar

2. Maa Nafi (‫) َما‬, contoh:
‫َما َنا ْاي ُالاالاْ َام َطاالاِ ِبااباِا الَّ َما ِِ ان ا‬

Meraih cita-cita tidak dengan angan-angan

3. AIspimakIashtifkhaammu(bkearthaaTsailn=y‫حا‬a)‫ِج‬, c‫ا‬oَ‫ن‬n‫تا‬tَ oْ‫ن‬h‫ َأ‬:‫َه ْلا‬

Mubrtada’ boleh nakirah, apabila :

1. Disifati. Conothnya: ‫َر ُجلا َك ِر ْيما ِع ْن َدنَا‬
Laki-laki mulia di sisi kita =

62

2. Dimudlafkan kepada nakirah. Contohnya:

‫َطالِ ُبا َر ُجلا َوافِقا ِِفاالْ َم ْس ِج ِدا‬

3. Didahului maa nafi (‫) َما‬. Contoh:
Yang dholim tidaklah sukses = ‫َماا َظال ِمانَا ِج اح‬

4. Didahului Istifham (kata tanya). Conto‫ا‬h‫ ْم‬:‫َه ْلا َر ُجلافِ ْي ُك‬

Apakah seorang laki-laki di tengah-tengah kalian

Wajibnya mengakhirkan Mubtada’ atas Khabar
1. Apabila khabarnya berupa syibhul jumlah dan mubtada’nya

nakirah tidak dissifaaytai dpaunnytiadadkinpaur l(audanimguedmlaafsk)a‫ا‬n=.‫را‬C‫ا‬o‫ َن‬n‫ ْي‬t‫ ِد‬o‫ا‬h‫ي‬: ‫ِع ْن ِد‬

2. Apabila khabarnya berupa lafaz yang biasa diawalkan, misalnya
kata tanya. Contoh :

Kapan ujian? = ‫َم َتاال ِا ْمتِ َحا ُناا؟‬

3. Apabila mubtada’ mengandung dlamir yang kembali kepada

khabar. Contoh: ِ‫لل ُم َجا ِه ِد ْي َناثَ َوا ُب ُه ْما ِِفاالآ ِخ َراة‬

Bagi para pejuang pahala mereka di akhirat

Khabar (predikat)
Kata-kata yang dijadikan khabar antara lain:

63

1. Isim. Contohnya:
Agama adalah nasehat

2. Kalimat yang diberlakukan seakan-akan isim. Contohnya:

Syiarnya orang islam adalah kalimah “Laa ilaaha Illa Allah”

3. Fi’il yang diawali diawali dengan An (‫)أَ َّْن‬. Contoh:

Termasuk adab yang baik, kamu diam terhadap orang yang
berbicara kepadamu.
4. Jumlah Ismiyyah. Contohnya:

Islam dakwahnya langgeng
5. Jumlah fi’liyyah. Contohnya:

Puasa mensucikan jiwa
6. Jer majrur. Contohnya:

Keselamatan bagi kalian

7. Dhara (kata keterangan waktu/ tempat). Contohnya:

Guru tersebut di dalam kelas َّ ‫َََََّّّّّالأ ْستَاذَّفِيَّالَْف ْص َِّل‬

Susunan mubtada’ dengan khabar isim fail

Mu’annas Mudzakkar No

‫فَا ِط َمةََّكاتِبََّة‬ َّ ‫ زيدََّكاتِ َّب‬1

64

‫فَا ِط َمتَا ِنََّكاتِبَتَا َِّن‬ َّ ّ‫زي َدا ِنََّكاتِبَا َِن‬ 2
ّ‫زيدْو َنََّكاتِب ْو َّن َ\َّّكتا َبّ َ\ََّّكّتَبََّة َ\َّّكت َّب َّ فَا ِط َما َتََّّكاتِبَا َّت\ َكَّواتِ َب‬ 3
‫السياَراتََّوا ِسَعَّة‬ َّ ‫الفصْولََّوا ِسَعَّة‬ 4

Madrasah-madrasah itu Kelas-kelas tersebut luas

َّ luas

Keterangan:

Bila mubtada’ berupa jamak taksir dari isim mudzakkar,

bermakna benda mati maka khabarnya adalah mufrad

muannas, sebagaimana juga bila mubtada’nya berupa jamak

muannas salim yang bermakna benda mati. Sebagaimana

contoh no. 4.

Susunan mubtada’ dengan khabar isim maf’ul

Mu’annas Mudzakkar

‫َََّزيّْ َدََّّم ْحمْوَدّ َّ فَا ِط َمةََّم ْحمْوَدَّة‬
‫َََّزيّْ َدا ِنََّم ْحمْوَدا َِّن َّ فَا ِط َمتَا ِنََّم ْحمْوَدتَا َِّن‬
ّ‫َََّزّيْدْو َنََّم ْحمْودْو َّن َّ فَا ِط َماتََّم ْحمْوَدا َتَّّ\ََّم ََّحاِم َد‬

Susunan mubtada’ dengan khabar fai’il madli

Mu’annas Mudzakkar

‫فَا ِط َمةَّ َجلَ ََسّ َّْت‬ َّ ّ‫َزيْدَّ َجلَ ََس‬
‫فَا ِط َمتَا ِنَّ َجلَ َستَا‬ َّ ‫زي َدا ِنَّ َجلَ َسا‬
‫فَا ِط َماتَّ َجلَ ْس ََّن‬ َّ ‫زيدْو َنَّ َجلَسْوا‬

65

Susunan mubtada’ dengan khabar fai’il Mudlari’

Mu’an‫ اس‬nُ aِ‫ل‬s‫فَا ِط َم ُةاََ ْت‬ Mud‫سا‬zُ aِ‫ل‬k‫ْي‬kََa‫ا‬r‫َز ْيد‬
‫فَا ِط َم َتا ِناََتْلِ َسا ِان‬ ‫زي َدا ِناََيْلِ َسا ِنا‬
‫فَا ِط َما ُتاََ ْيلِ ْس َان‬ ‫زي ُد ْو َناََ ْيلِ ُس ْو َنا‬

Susunan mubtada’berupa benda mati dengan khabar isim fa’il

Mu’‫ةا‬a‫َع‬n‫س‬nِ a‫وا‬sَ ‫ال َس ُّب ْو َرةُا‬ Mudzakkar ‫ال ِعلْ ُمانَافِعا‬
‫ال َس ُّب ْو َرتَا ِنا َوا ِس َع َتا ِان‬ ‫ال ِع ْل َما ِنانَافِ َعا ِنا‬
‫ال ُعلُ ْو ُمانَافِ َعةا‬
‫ال َس ُّب ْو َرا ُتا َوا ِس َعةا‬

Bentuk-bentuk mubtada’-khabar
1. mufrad + mufrad
a. nakirah + nakirah. Contohnya:

Musuh yang berakal lebih baik daripada teman yang bodoh
Keterangan: mubtada’ itu harus makrifat. Boleh nakirah
apabila disifati sebagaimana contoh diatas.
b. makrifat + makrifat. Contohnya:

Yang memberi rizki tuhan kita

c. makrifat + nakirah. Contohnya:
Temanmu itu baik

66

2. mufrad + jumlah
a. jumlah khabariah
1) mubtada’ khabar. Contohnya:

Islam dakwahnya kekal

2) fi’il fa’il. Contohnya:
Puasa mensucikan jiwa

b. jumlah thalabiyyah (perintah dan larangan)
1) perintah. Contoh:
Ayahmu mulyakanlah
2) larangan. Contoh:

Mudamu jangan kau sia-siakan َّ َّ‫ََََّّّّ َشبَاب َكَّلَت َضِيّ ْعه‬

c. jumlah syartiyyah. Contohnya:

Kamu jika mengerkan keburukan. Maka akan dibalas
karenanya.

Keterangan: syarat untuk khabar jumlah ini harus ada rabith
(dlamir yang kembali kepada mubtada’nya).

3. mufrad + syibhul jumlah (dlaraf dan jer majrur)
1) dharaf. Contoh:

Penamu di bawah meja َّ‫قَلَم َكَّتَ ْح َتَّالْ َم ْكتَ ِب‬

2) Jer majrur. Contoh:

67

Segala puji bagi Allah ‫ال َح ْمدَّللَِّه‬

Kanaa wa akhwatuha

َّ )‫( َكا َنَّوأَ ْخَوات َها‬

َّ‫ َكا َنَّوأَ ْخَوات َها‬masuk pada susunan mubtada’ khabar, yang

menasabkan mubtada’ sebagai isimnya dan merafa’kan khabar
sebagai khabanya.

‫ َزيْدَّ َعالِ َّم‬bila dimasuki ّ‫ َكا َن‬maka menjadi َّ‫َكا َنَّ َزيْدَّ َعالًِما‬

Saudara-saudara ‫ َكا َّن‬antara lain :

contoh Lafadz No
1
‫َّكا َنَّ َخالِدَّم َسافًرا‬ ‫َكا َّن‬ 2

Adalah khalid musafir Telah 3

‫َأَّ َّْصَبَّ ََّحَّالََعََّّربََّمَّتّ َِحّ َِدَّيّْ ََّن‬ ّ‫َّأَ َْصَّبَّ ََح‬ 4

Orang arab menjadi bersatu Menjadi, memasuki 68
waktu pagi
‫َّأَ َْضّ ََحّىَّالَّر َجّلََّّنَاَئًِّما‬
‫َّأَ َّْض ََحّى‬
Laki-laki itu masuk waktu pagi tidur
Menjadi, memasuki
‫َّأََّْم ََّسىَّاَلّْ َمّ َّدَِّرسََّمَّّْتَِّعبًا‬ waktu dluha

Guru itu memasuki waktu sore ‫َأََّْمّ ََّسى‬
capek
Menjadi, memasuki
waktu sore

‫َّظَ َّلَََّّو َْجّ َهّهََّمّ َْسََّّوَّدا‬ ‫َظَّ َّل‬ 5
6
senantiasa wajahnya menjadi hitam menjadi, senantiasa 7
8
‫َبَّا ََتَّّال َّجَّْن َِدّ َيََّّيَّحَّرسَََّمَّّْوَقََِّعّه‬ ّ‫َبَّا ََت‬ 9

Tentara itu semalaman menjaga Menjadi, semalaman 10
posisinya
‫ََّصا ََّر‬ 11
‫ََصّاََّرَّال ََمّاءَّ َشّايًا‬
Menjadi 12
Air itu menjadi teh
‫َلََّّْي ََّس‬
ّ‫لَْي َسَّالَتَّّفَّوقَّ ََّس َّْهلًَا‬
Tidaklah, bukanlah
Tidaklah kecakapa itu mudah
ّ‫ََّماَََّّزا ََل‬
‫ََمّاَََّّزا ََّلَّالَََّوّلَدَّ ََصَِّغَّْيًّرا‬
Selalu, tak henti-
Anak ini senantiasa/ masihsaja kecil hentinya, senantiasa,

‫ََمّاََّبَِّر َحَّالََعّ َْدّلََّأَّ ََسّا َّسَّال َّمَّلْ َِّك‬ masih saja

Keadilan senantiasa sebagai asas ّ‫ََمّاََّّبََِّر ََح‬
kekuasaan
Selalu, tak
‫ََّماَّاَنَّّْف َّك َْتَّّالَفَّتَّاَةََّّّت ََجَِّّه َّزََّنََّّْف ََسّ ََّها‬ henti-hentinya,

Tidak henti-hentinya pemudi senantiasa
mempersiapkan dirinya
‫ََمّاَّاَنَّّْف َّك‬
‫ََّماََّفََّّتِ ََئَّّال ََمََّّر َّضََّيََّّْنَِّز َّل‬
Selalu, tak
Tidak henti-hentinya penyakit itu henti-hentinya,
menular
senantiasa

ّ‫َماَّفَتِ ََئ‬

Selalu, tak
henti-hentinya,

senantiasa

69

‫َّلَََّأَّ َِّسَْيّ َّرََِّّفيَّال َّطََِّريَِّْقَََّّّماَّ ََّداََّمََّّمَّْزََدّ َِحّ ًما‬ ‫ََّماَّ ََّداََّم‬ 13

Aku tidak akan berjalan di jalan Selama, selagi

selama padat

Turunan dari kata “ّ‫ ” َكا َن‬dan saudaranya bisa juga beramal

sebagaimana ‫ َكا َّن‬. Contohnya:
‫ زيداقَاسالَََعا َأ ْب َنائِ ِها‬dimasuki “‫لاَايَ ُك ْو ُنازيدا َقا ِس ًياا = ”يَ ُك ْو ُنا‬
‫لَََعا َأ ْب َنائِ ِها‬

Inna wa akhwatuha

(‫)إِنََّوَّأَ َخَوات َها‬

Pengamalannya ‫ إِنََّوَّأَ َخَوات َها‬adalah menashabkan mubtada’ sebagai

isimnya dan merofa’kan khabar sebagai khabarnya.

Berikut ini ‫ إِنََّوَّأَ َخَوات َها‬yaitu:

Contoh Lafadz No
1
َّ ّ‫إِ َّن إِنَّاللهََّغَفْوَر‬ 2
َّ Sesungguhnya Allah Mahapengampun
70
َّ ّ‫أَ َنّ فَا ْعلَمَواَّأَنَّاللهََّ َعلَىَّك ِّلَّ َشْي ٍئَّقَ ِديْ َر‬

Maka ketahuilah bahwa Allah Mahakuasa atas

segala sesuatu

َّ ‫لَ ِك َنّ لَ ِكنَّالم ْسِل ِمْي َنَّ َذاكِرْو َنَّاللَهَََّّكثِْي ًرا‬ 3
4
Tetapi orang-orang muslim adalah yang 5
6
banyak mengingat Allah

َّ ‫لََع َلّ لََع َّلََّر ْح َمةََّاللِهَّتَأْتِ ْيَّ َعلَ َّي‬

Mudah-mudahan rahmat Allah dating

kepadaku

َّ ‫لَْي ََّت لَْي َتَّالشبَا َبَّيَعْودَّيَْوًما‬

Andaikan masa muda kembali pada suatu hari

َّ ‫َكأَ َنّ َكأَنَّالَق َمَرَّنَا ِزلَةَِّفيَّالسْوَِّق‬

Seakan-akan bulan purnama turun di pasar

tersebut

Hamzahnya “‫ ”إِ َّن‬dibaca kasrah:

1. jika jatuh dipermulaan kalam/kalimah. Contoh:

‫إِنَّاللهََّغَف ْوَّر‬

2. Jika jatuh setelah kata turunan dari lafadz masdar .

contoh:َّ‫ق ْلَّإِنَّال َحقََّوا ِضح‬

Katakana sesungguhnya kebenaran itu jelas

3. Jika jatuh pada awal jumlah shilahnya isim maushul. Contoh:

َّ‫زْرتَّال ِذ ْيَّإِنّ ْيَّأَم ِّجده‬

Aku mengunjungi orang yang sesungguhnya aku
memulyakannya.

71

4. Sesudah ala istifta’iyyah (َ‫ )أ َّل‬yang dibuat permualaan kalimat.

Contoh:

َّ‫ألََّإنَّأَْولِيَاءََّاللِهَّلََّ َخْوفَّ َعلَْيِه ْمََّولََّه ْمَّيَ ْحَزن ْو َن‬

Hamzahnya “‫ ”أَ َّن‬dibaca Fathah:

1. Bila sebagai fa’il. Contoh:

Menyenangkanku sesungguhnya kamu َّ َّ‫َسرنِيَّأَن َكَّنَا ِجح‬
2. sNukas’iebsul fa’il. Contoh:

َّ ‫قِْي َلَّأَنَّالَ ْم َدَر َسةََّالْيَ ْوَمَّعطْلََّة‬

Dikatakan baha madrasah hari ini libur

3. Maf’ul bih. Contoh:ََّّ‫َعَرفْتَّأَن َكَّم ْخلِص‬

Saya tahu bahwa kamu orang yang ikhlas

4. Disisipi jer majrur. Contoh:

َّ .‫أَْرغَبَّفِيَّأَن َكَّ ِص ِّديْق‬

Saya senang bahwa kamu jujur

“ّ‫ ”إِ َن‬dan Saudaranya tidak berfungsi/ ber’amal

Apabila disisipi ‫ َما‬zaidah (tambahan), sehingga mubtada’ dan

khabarnya tetap dalam keadaan rafa’. Contoh:

ّ‫ اعلمواَّأن َماَّالحياةَّالدنياَّلَِع َب‬

Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia permainan

‫ البضائعَّكثيرةَّلكنّ َماَّالأَ ْسَعارَّغَالِيََّة‬

Barangdagangan banyak tetapi harganya mahal

72

Kalau sudah disisipi ‫ َما‬, maka boleh memasuki jumlah ismiyyah.

Contohnya: َّ ‫ لََّأَ ْسَعىَّلِْل َما ِلََّولكنماَّأَ ْسَعىَّلِْل َخْي َِّر‬

Saya tidak berusaha untuk harta, tetapi saya berusaha untuk kebaikan

‫ إِن َماَّي ْحتَ َرمَّاِْلنْ َسانَّلِِعْل ِمِهََّوخلِقَِّه‬

Sesungguhnya manusia (hanya) dimulyakan karena ilmu dan akhlaknya

Penyempuna/ Pelengkap kalimah

Maf’ul bih (‫)َمْفعْو َّل بَِِّه‬/ Obyek. Merupakan isim yang dibaca nashab.

Macamnya:

1. Isim dhohir. Contoh:

َّ ‫اللهَّي ْؤتِيَّالْ ِح ْك َمةَََّم ْنَّيَ َشاَّء‬
Kata “ّ‫ ”الْ ِح ْك َمََة‬adalah maf’ul bik (obyek) dibaca nashab

ditandai fathah.

Bentuk lafadznya ketika nashob Nama kata No

sebagai obyek (maf’ul bih isim Isim mufrad 1
Isim tasniyyah 2
dhohir )

‫طَالِبًاَّ\َّالطالِ ََّب‬
ّ‫طَالِبَْي ِنَّ\َّالطالِبَْي َِن‬

73

ّ‫طَالِبِْي َنَّ\َّالطالِبِْي ََن‬ Jamak 3
mudzakkar
ّ‫طَالِبَا َِّتَّ\َّالطالِبَا َِت‬ salam 4
‫طلابَّ\َّالطلا َّب‬ Jamak muanas 5
salim 6
َّ‫أَبَا َك‬ Jamak taksir

Asma’ul
khamsah

2. Isim dlamir
a) Muttashi (sambung/nempel pada fi’ilnya). Contohnya:

Zaid memulyakanku (ّ‫)أَ ْكَرَمنِ ْيَّ َزيْ َد‬

b) Munfashil (terpisah pada fi’ilnya). Contoh:

Hanya kepadamu kami menyembah (‫)إيّا ََّكَّنَ ْعب َّد‬

Berikut bentuk maf’ul bih isim dlamir :

N Arti Dhamir Dhamir
o
Muttashil Munfashil
1 Saya
Obyek
2 Kami
ّ‫إِيا ََّي نِ َْي‬
3 Kamu (lk) ‫إِيانَا نَا‬

ّ‫إِيا ََّك ََك‬

4 Kalian ‫ك َما‬ ‫إِياك َما‬
(berdua/lk) ‫ك َّْم‬ ‫إِياك َّْم‬

5 Kalian (lk)

74

6 Kamu (pr) ‫َِّك‬ ّ‫إِيا َِك‬

7 Kalian ‫ك َما‬ ‫إِياك َما‬
(berdua/pr) ّ‫ك َن‬ ‫إِياك َّن‬

8 Kalian (pr) ‫َّه‬ ‫إِياَّه‬

9 Dia (lk) ‫ه َما‬ ‫إِياه َما‬
‫ه َّْم‬ ‫إِياه َّْم‬
10 Mereka ‫َها‬ ‫إِيا َها‬
(berdua/lk) ‫ه َما‬ ‫إِيانَا‬
‫ه َّن‬ ‫إِيانَا‬
11 Mereka (lk)

12 Dia (pr)

13 Mereka
(berdua/pr)

14 Mereka (pr)

Keterangan: fi’il ada yang tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih)
yang disebut dengan fi’il lazim; da nada fi’il yang membutuhkan
maf’ul bih (obyek) yang disebut dengan fi’il muta’addi.

1. Fi’il yang membutuhkan satu maf’ul, misalkan lafadz:َّّ،َ ‫أَ َخ َذ‬
‫َّ َضَر ََّب‬،‫ َكتَ َب‬. Contohnya:

75

َّ )Zaid telah menulis pelajar(َّ‫َكتَ َبَّ َزيْدَّالد ْر َس‬
2. Fi’il yang membutuhkan dua maf’ul. Misalkan kata: َّ،‫أَ ْعطَى‬

‫َّأَلْبَ ََّس‬،‫ََّك َسا‬،‫ََّمنَ َح‬،‫ َسأَ َل‬Contohnya:
َّ‫أَ ْعطَْيتَّالسائِ َلَّطََعاًما‬

Saya memberi makanan kepada orang yang meminta

Kata ‫ ال َسّائِ ََّل‬maf’ul bih ke 1 dan kata ‫ طََعاًما‬maf’ul bih ke 2.

Maf’ul bih boleh diletakkan mendahului fa’ilnya bahkan mendahuli
fi’ilnya, asalkan tidak menimbulkan kerancuan makna. Contohnya:

Maf’ul bih mendahului Fa’il ّ‫بَنَىَّالبَْي َتَّم َحم َد‬
َّ Muhammad membangun rumah

Maf’ul bih mendahului Fa’il dan ّ‫إِيا َكَّنَ ْعب َد‬
fi’ilnya

Hanya kepadamu saya

menyembah

Wajib mendahulukan fa’il, ‫َسأََلَّمْو َسىَّ ِعْي َسى‬
karena bila diakhirkan

menimbulkan kerancuan makna Musa bertanya (kepada)Isa

yang dimaksud

Maf’ul Muthlaq (‫)َمْفعْولَّمطْلَ َّق‬/ keterangan penguat ( … dengan

sesungguhnya) (jawa: kelawan..)

Adalah masdar yang disebut setelah fi’ilnya yang berfungsi
menguatkan menguatkan, menjelaskan kualitasnya, dan jumlahnya.

76

Ada tiga:
1. Menguatkan amilnya. Contoh:

Dan Allah berbicara …
2. Menjelaskan kualitas amilnya (fi’ilnya). Contohnya:

Bersabarlah dengan sabar yang indah

3. Menjelaskan bila‫ ٗة‬n‫ َد‬g‫ ِح‬aَٰ‫و‬nَ .‫ٗة‬C‫ َّك‬o‫َد‬nt‫ا‬o‫َّك َت‬h‫د‬:‫َوُم ِحلَ ِت ٱ أۡ َلۡر مض َوٱۡ أ ِل َبا مل َف م‬

14. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan
keduanya sekali bentur.

Lafadz yang menganti masdar sebagai maf’ul muthlaq.

1. Lafadz ّ‫ ك ٌَل‬dan ‫ بَ ْع َّض‬, keduanya dimudlafkan kepada masdar.

Contoh:

janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai),

4. Isim yang menunjukkan bilangan yang menjelaskan masdar.

Contoh: ‫َفٱ أجِِ ملو مه أم ثَ َمَٰنِي َن َج أِ َل ٗة‬

maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali
dera, (Qs. An-Nur:4)
5. Lafadz yang sebagai sifat dari masdar, yang telah dibuang.
Contoh:

77

l

Membuang ‘amilnya maf’ul muthlaq
1. Yang boleh di buang boleh tidak. Contohnya:

َّ ً‫ََّوَذنْبًاََّمغْفْو َرّا‬،‫َحجاََّمْبرْوًرا‬

Semoga hajimu menjadi haji mabrur, dan dosamu dosa yang
diampuni
2. Wajib dibuang, contohnya:

)ً‫ََّس َْمًَّعّاَََّّو َطَّا ََّعَّةًَّ(أيَّأَ ْس َمعَّ َس ْمًعاََّوأَ ِطْيعَّطَا َعة‬

Saya mendengar dengan mendengar sungguh-sungguh, dan saya
ta’at dengan ketaatan yang sungguh-sungguh.

****

Maf’ul Fiih (‫)َمْفعْولَّ ِفْيه‬/ keterangan waktu/tempat. (jawa: ingdalem)

Ingat!

 Isim yang zaman terjadinya perbuatan atau tempatnya,
biasanya mengandung makna “‫ ( ”فِي‬ddalam/pada)

Dharaf zaman
1. Dlaraf zaman mubhan (samar). Contohnya:

َّ ‫أَ ْذ َهبَّإِلَىَّ َع َمِل ْيَّ َصبَا ًحا‬

Saya pergi ke pekerjaanku pada pagi hari.
2. Dlaraf zaman mukhtash (waktu khusus/ tertentu). Contoh:

َّ ‫ص ْمتَّيَْوَمَّال َخ ِمْي َِّس‬

78

Saya berpuasa (pada) hari kamis

Dharaf makan

 isim-isim yang menunjukkan makna arah enam, misal saja

kata: ‫ تَ ْح ََّت‬،‫فَ ْو َق‬

Contoh :

َّ ‫َوفَ ْو ََّقَّّك ِّلَّ َِّذ َّْيَّ َِّعَْلّ ٍَمَّّ ََعَّّلَِّْي َّم‬

Di atas setiap orang yang punya ilmu ada yang lebih punya ilmu

 Isim-isim yang menunjukkan makna serupa arah, misal saja

kata: ‫َّعن َّد‬،‫ بي َن‬،‫َحيث‬

Contoh :

ً‫َم َكثْنَاَّ ِعْن َدَّالَْوِزيِْرَّ َسا َعَّة‬

Kami tinggal/ menetap di Bapak menteri selama satu jam

 Isim- isim ukuran jarak. Contoh :
َّ ً‫ِسْرنَاَِّفيَّالص ْخَراِءَّأَْميَا َّل‬

Kami berjalan di padang pasir bermil-mil

 Isim- isim yang dikeluarkan dari fi’il (isim zaman/ isim makan).

Contoh :

َّ ّ‫َجلَ َسَّال َّطلَّا َبَََّّّم ََجّاَلِّ ََسَّّال َّم َْسَّّتَ َِّمَِّعَْيّ ََن‬

Murid-murid laki-laki duduk di tempat-tempat duduk para
pendengan laki-laki

79

Maf’ul Lah (‫)َمْفعْولَّلَه‬/ keterangan maksud.(jawa: kerono)

Ingat!

 Maf’ul lah/ maf’ul liajlih/ maf’ul min ajlih: adalah masdar yang

dibaca nashab, yang menerangkan maksud terjadinya suatu
pekerjaan dari makna fi’il yang jatuh sebelumnya . Contoh:

َّ ّ‫َصلْيتَّش ْكًراَّللَِه‬

Saya shalat untuk syukur kepada Allah
****

Maf’ul Ma’ah (‫)َمْفعْولََّم َعه‬/ keterangan maksud.(jawa: sertane)
 Maf’ul ma’ah adalah isim yang dibaca nashab yang jatuh
setelah “‫ ” ََّو‬yang bermakna “‫( ”َم ََّع‬beserta), dan tidak patut

isim tersebut bila diathafkan kepada lafaz sebelumnya.
Contoh:

َّ ‫ََّوغَا َد ْرتهََّوطلْو َعَّالش ْم َِّس‬،‫ِسْرتَّإِل َىَّال َم ْس ِج ِدََّوأَ َذا َنَّالَف ْج ِر‬

Saya berjalan ke masjid, bersamaan adzan masjid, kemudian
saya meninggalkan masjid bersamaan terbitnya matahari

****

Hal (‫) َحال‬/ keterangan keadaan. (jawa:hale)

80

Adalah sifat yang tanpa AL (nakirah), yang menjelaskan keadaan
shahibul hal (yang punya keadaan), yang dibaca nashab,
meyesuaikan shahibul halnya. Contoh:

orang mukmin shalat secara khusyuk’.َّ=َّ‫َصلىَّالمْؤِمنَّ َخا ِش ًعا‬

‫َخا ِشًعا‬ ‫المْؤِم َّن‬ ‫َصلى‬

Lafadz yang menjelaskan shahibul hal Shahibul hal (yang Fi’il
(difathatain, dan tanpa AL) dijelaskan
keadaanya) ‫َصلى‬
ّ‫َخا ِشَِّعْي ََن‬
‫المْؤِمَنّو َّن‬ Fi’il
Lafadz hal dibaca nashab, tanpa AL,
dan ikut bentuk jamak mudzakkar Shahibul hal jamak
sebagaimana shahibul halnya mudzakkar

Shahibul hal, bisa berupa:

1. Fa’il. Contohnya:

Zaid keluar dalam keadaan takutَّ=َّ‫َخَر َجَّ َزيْدَّ َخائًِفا‬

2. Na’ibul Fail. Contoh:

َّ َّ‫خِل َقَّاِْلنْ َسانَّ َضِعْي ًفا‬

Manusia diciptakan dalam keadaan lemah

3. Maf’ul bih. Contoh :

‫قَ َرأْتَّالنصََّم ْكت ْوبًا‬

Aku telah membaca teks (dalam keadaan) ditulis

4. Mubtada’. Contohnya :

81

َّ

Orang yang shalat ketika lagi sujud dia lebih dekat kepada Allah

daripada ketika lagi ruku’

5. Khabar. Contoh:

َّ َّ‫تِْل َكََّم ْدَر َسةََّزيْ ٍدَّ َخا ِويَةًَّبِ َسبَ ِبَّالْمظَا َهَرِة‬

Itu madrasahnya Zaid sepi disebabkan demo

6. Mudlaf Ilaih. Contoh:

َّ ‫إِلَْيِهََّمْرِجعك ْمَّ َج ِمْي ًعا‬

Hanya kepada_nya tempat kembali kalian semuanya

Pembagian Hal :

1. Hal mufrad. Contohnya:

2. Hal Jumlah (Ismiyyah dan Fi’liyyah). Contohnya:

Kami kembali dari kerja, sedangkan jalan-jalan padat

Seorang laki-laki keluar mencari rizkinya
3. Hal syibhul jumlah (dharaf dan jer majrur). Contoh:

82

Panglima maju secara berani bersama tentaranya

Saya menyaksikan saudara diantara orang-orang yang tertimpa
musibah
Pembagian hal dan shahibul hal dari segi jumlahnya:
1. Hal mufrad/ satu kata dan shahibul halnya juga mufrad.

Contoh:
Saya berhenti di depan laut sambil merenung
2. Hal lebih dari satu, shahibul hal mufrad. Contoh:

Maka nabi Musa kembali ke kaumnya dalam keadaan marah
serta menyayangkan (tindakan kaumnya)
3. Hal nya satu kata, sedang shahibul hal lebih dari satu kata.
Contoh:

Fungsi hal :
1. Menjelaskan shahibul hal. Contoh:

Tentara kembali dalam keadaan ditolong (menang)
2. Menegaskan/ menguatka shahibul hal. Contohnya:

Kemudian ia tersenyum sambil tertawa

83

Keterangan seputar hal :

1. Pada dasarnya hal adalah nakirah, sedangkan shahibul hal
adalah makrifat.

2. Fungsi hal adalah menjelskan keadaan shahibul hal ketika
melakukan pekerjaan dari makna fi’ilnya.

3. Kata yang sebagai hal, adalah yang layak jika benar untuk

dijadikan jawaban dari kata “‫( ” َكْي َّف‬bagaimana).

4. Jika hal berupa jumlah, maka harus ada dlamir yang kembali
kepada shahibul hal atau dlamir yang menjadi penghubung
antara hal dan dhahibul hal.

Hal makrifah
Kadang-kadang hal boleh berupa isim makrifat. Contohnya:

Hal Isim jamid (isim yang tidak bias diqiyas/ tidak punya turunan).
Contohnya:

Kaidah penting terkait hal
Jumlah setelah isim makrifat adalah hal, sedang setelah isim nakirah
adalah na’at. Perhatikan contoh berikut:

Penyair itu berdiri sambil melagukan suatu kasidah
Seorang penyair yang melagukan suatu kasidah berdiri

84

Membuag ‘amilnya hal
Terkadang ‘amilnya dibuang sebagaimana contoh:

Apakah (kamu) dalam keadaan tidak puasa, padahal manusia bepuasa?

Selamat … (semiga) dalam bimbingan (Tuhan) … (diucapkan pada
yang ingin menikah)

***

Tamyiz (‫)تَ ْميِْيز‬/ keterangan rincian/ berupa .. (jawa:rupane)

Adalah isim nakirah yang dibaca nashab, yang merinci ketidakjelasan

lafadz sebelumnya. Tamyiz ini menyimpan makna “ّ‫( ”ِم َْن‬berupa).

Tamyiz mufrad/ tamyiz dzat
1. Merinci (menjelaskan) takaran. Contoh:

Saya membeli satu liter (berupa) susu/ puan
2. Menjelaskan timbangan. Contoh:

Saya membeli satu kilo anggur
3. Menjelaskan jarak. Contoh:

Saya membeli satu meter sutra

85

4. Merinci lafadz yang menyerupai takaran atau timbangan.

Contohnya:

َّ‫فََمنَّيَ ْع َم ْلَِّمثْ َقا َلَّ َذرةٍَّ َخْي ًراَّيََره‬

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,

niscaya dia akan melihat (balasan)nya(Qs. Az-Zalzalah:7).

5. Merinci kata bilangan (‘adad). Contoh:

َّ‫إِ ْذَّقَا َلَّيوسفَِّلأَبِيِهَّيَاأَبَ ِتَّإِِنّيََّرأَيْتَّأَ َح َدَّ َع َشَرََّكْوَكبًاََّوالش ْم َسَََّّوالَْق َمَر‬
َّ ََّّ‫َرأَيْته ْمَّلِيَّ َسا ِج ِدي َن‬

4. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai
ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang,
matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku" (Qs.
Yusuf:4).

Tamyiz jumlah/ tamyiz nisbah
1. Tamyiz yang merupakan pindahan dari fa’il (secara makna).
Contoh:

َّ‫قَا َلََّر ِّبَّإِِنّيََّوَه َنَّالَْعظْمَِّمِنّيََّوا ْشتَ َع َلَّالرأْسَّ َشيْبًاََّولَ ْمَّأَكنَّبِد َعاَئِّ َكََّر ِّب‬
َّ ََّّ‫َشِقيا‬

Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan
kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa
dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku (Qs. Al-
Muzzammil:17).

2. Tamyiz yang merupakan pindahan dari maf’ul bih (secara
makna). Contoh:

86

َّ ََّّ‫َوفَجْرنَاَّاْلأَْر َضَّعيونًاَّفَالْتَ َقىَّالْ َماءَّ َعلَ ٰىَّأَْم ٍرَّقَ ْدَّق ِدَر‬

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka
bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah
ditetapkan (Qs. Qamar:12).

3. Tamyiz yang merupakan pindahan dari mubtada’ (secara
makna). Contoh:

Umur dan ilmu mu lebih besar daripada saya
4. Tamyiz setelah shighat ta’ajjub (baik yang qiyasi maupun yang

sama’i). Contohnya:

Alangkah agung akhlak Ali

betapa (mengherankan) kisahnya
***

Mustatsna (‫)م ْستَثْنَى‬/ keterangan pengecualian.(kejobo/ anggin)
Istisna’ dengan lafadz “‫”إِ َّل‬.

1. Dibaca nashab apabila memasuki setelah kalimat sempurna

dan positif (‫)كلامَّتامَّموجب‬. Contoh:

Pohon-pohon berbuah kecuali satu

87

2. Dibaca nashab atau menyesuaikan kebutuhan i’rabnya apabila

memasuki kalimat sempurna, tetapi negatif (‫)كلامَّتامَّمنفي‬.

Contoh:

Jangan kemu mengatakan sesuatu kecuali yang benar

Tidak menetap seorangpun di rumah kecuali pembantu
3. Apabila bertempat pada kalimat yang tidak sempurna, maka

diirobi sesuai kedudukannya dalam kalimat. Contohnya:

Dan tidaklah Muhammad kecuali seorang rasuk

Saya tidak menyukai kecuali kejujuran

Istitsna’ dengan lafadz “ّ‫ ”غَْي َر‬dan “‫” ِسَوى‬
1. Apabila memasuki ‫كلامَّتامَّموجب‬,maka mustasnanya dibaca
jer sebagai idlafah, dan lafadz “ّ‫ ”غَْي َر‬dan “‫ ” ِسَوى‬dibaca

nasab. Contoh:

Saya memahami setiap kasidah kecuali satu kasidah

88

2. Apabila memasuki ‫ كلامَّتامَّمنفي‬, maka mustatsnannya
dibaca jer sebagai idlafah, sedangkan lafadz “ّ‫ ”غَْي َر‬dan
“‫ ” ِسَوى‬,boleh dibaca nasah atau di’irabi menurut I’rabnya

lafadz sebelumnya. Contoh:

Tidak mengunjungiku kecuali Khalid

3. Apabila memasuki َّ‫(كلامَّناقص‬kalimat belum sempurna

subyek predikatnya), maka mustatsnannya dibaca jer sebagai

idlafah, sedangkan lafadz “ّ‫ ”غَْي َر‬dan “‫ ” ِسَوى‬dii’rabi sesuai

kebutuhan statusnya dalam kalimat. Contoh:

Saya tidak mengatakan selain yang benar

Istitsna’ dengan “‫ا َحا َشا‬،‫ا َع َدا‬,‫” َخ َل‬

1. Mustatsnanya dibaca nashab jer, namun bila diawali dengan

‫ َما‬,maka dibaca nasnab. Contoh:

Saya telah hafal semua juz, kecuali dua juz.

Saya telah membaca semua kitabku selain dua kitab
Keterangan Penting

89

 Mustatsna minhu adalah isim yang jatuh sebelum adat

istitsna’

 Adat istitsna’ yaitu:

 Mustatsna adalah isim yang jatuh setelah adat istitsna’.

Na’at / Sifat

Na’at adalah kata yang menjadi sifat dari kata yang jatuh sebelumnya
yang disifati.
Na’at ada dua: 1) na’at hakiki dan 2) na’at sababi
A. Na’at hakiki ikut pada ma’utnya dalam :

1. I’rabnya (raf a’, nashab, atau jer)
2. Makrifat / nakirahnya
3. Mudzakkar / muannatsnya
4. Mufrad, tatsniyyah atau jamaknya
Contoh :

َّ )‫المْؤِمنَّالَْق ِويَّ َخْيرَِّم َنَّاَّلْ َمَّّْؤَِّم َِّنَّال َّضَِعَّْيّ َِّفَّ(الحديث‬

Orang mukmin yang kuat lebih baik daripada orang mukmin yang
lemah.

Keterangan: kata ّ‫ الَْق ِو َي‬adalah sifat/ na’at, dengan yang disifati atau
mau’utnya adalah ‫ المْؤِم َّن‬. karena kata ‫ المْؤِم َّن‬makrifat, mudzakkar,
mufrad, dan rafa’ (dlammah), maka kata ‫ الَْق ِو َّي‬mengikutinya.

Identifikasilah mana na’at dan man’ut dalam contoh berikut!

90

‫ََّوالْمْؤِمنَاتَّالَْقانِتَاتَّلَهنَّالْ ََجّنَّة‬،‫المْؤِمن ْو َنَّالصابِرْو َنَّلَه ْمَّأَ ْجرَّ َع ِظْيم‬

Orang-orang mukmin yang sabar bagi mereka pahala yang besar,
sedang orang-orang mukmin perempuan yang taat bagi mereka
Surga.

B. Na’at sababi

Yaitu na’at yang menerangkan kata sesudahnya yang memiliki

hubungan dengan man’ut.

Na’at sababi mengikuti man’utnya dalam :

1. Makrifat / nakirahnya

2. I’rabnya (rafa’, nashab, jernya)

Contoh :

َّ ‫َه َذا ِنَّ َشابانَّ َصالِحَّأَب ْوه َما‬

Ini dua pemuda yang ayahnya mereka orang yang shalih.

Katerangan : kata ‫ َشابان‬adalah ma’utnya sedang na’at adalah kata

ّ‫ َصالِ َح‬, yang ikut pada man’ut pada segi I’rabnya yakni rafa’, dan

nakirahnya.
Jenis-jenis na’at :

1) Na’at Mufrad
a. Isim Fa’il contoh:

َّ ‫الغَنِيَّالشاكِرَّ َخْيرَّ ِعْن َدَّاللِهَِّم َنَّالَفِقْي ِرَّالصابِر‬
(orang kaya yang syukur lebih baik disisi Allah melebihi orang
fakir yang sabar)

b. Isim Maf’ul, contoh:

َّ ّ‫َسِعْيدََّرجلََّمْوث ْوقَّبَِِه‬

91

Said adalah laki-laki yang terpercaya)
c. Isim syifat Musyabbihah. Contoh:

َّ ‫لَيَ ْستَ ِويَّالرجلَّالش َجاعَّوالرجلَّال َجبَا َّن‬

(tidak sama antara lelaki yang pemberani dan lelaki yang
penakut )
d. Shighat mubalaghah (bentuk kata superlative). Contoh:

َّ‫قَا ِسمََّرجلَّ َصبارَّعلىَّالش َدائِ ِد‬

(Qashim laki-laki yang sangat sabar terhadap ujian)
e. Isim Tafdlil. Contoh:

َّ ‫سْب َحا َنََّرِبّنَاَّالأَ ْعلَىََّوبِ َح ْم ِدَِّه‬

(Mahasuci Tuhan kita yang Mahatinggi dan pujian
kepadaNya)
f. Mashdar. Contoh:

)Ali laki-laki yang adil( ّ‫َعلِ ٌّيَّ َرجلَّ َع ْد َل‬

g. Isim Maushul. Contoh:

َّ )ِ‫أ ِحبَّالرج َلَّال ِّذ ْيَّيَِف ْيَّبَِو ْع ِدِهَّ(الَوافِيَّبَِو ْع ِده‬

(saya senang lelaki yang menepati janjinya)
h. Isim Isyarah. Contoh :

َّ‫َش ِربْتَِّم َنَّالَق ْهَوةَِّ َه ِذه‬

(saya minum kopi yang ini)

i. Isim yang mempunyai arti seperti kata ‫ َصا ِح َّب‬yaitu :

َّ َّ‫َّأْولَت‬،َّ‫َّأْولْو‬،َّ‫َّ َذات‬،َّ‫ذْو‬

Contoh :

َّ ‫َّوالطالبةَّذا َتَّالخل ِقَّالم ْستَِقْيم‬،‫أَقْ ِدرَّالطالِبَّذَاَّالخلقَّالسليم‬

92

(saya menghargai siswa yang mempunyai akhlak yang baik,
dan siswi yang memiliki akhlak yang lurus)
j. Isim yang dimasuki ya’ nisbah. Contoh:

َّ .‫ي َعِلّمنَاَّالأ ْستَاذَّالسْوَدانِ َّّي‬

(Guru berkebangsaan Sudan mengajari kami)
k. Isim Adad (isim bilangan). Contoh:

َّ ّ‫قَََّرأْتَّفصْولًَّ َخ ْم َسةًَِّم َنَّال ِكتَا َِب‬

(saya membaca lima fasal dari buku)
2) Na’at Jumlah

a. Jumlah Fi’liyyah. Contoh:

b. Jumlah Ismiyyah. Contoh :

Syarat jumlah na’at adalah:

 Man’utnya adalah nakirah. Apabila makrifat, maka jumlah

tersebut sebagai hal.

 Jumlah na’at tersebut harus berupa kalimat berita (bukan

perintah atau larangan)

 Harus ada dlamir yang kembali kepada man’utnya.

3) Na’at Syibhul Jumlah (dlaraf atau jer majrur)
Contoh na’at dlaraf

Contoh na’at jer majrur

Syarat na’at syibhul jumlah adalah: Man’utnya harus nakirah, dan
syibhul jumlah tersebut memberikan kesempurnaan makna.

93

Bolehlah ma’ut itu memiliki lebih dari satu na’at. Contohnya:

TAUKID (Menguatkan kalimat yang disampaikan)

Taukid ada dua : lafdzi dan maknawi.
Taukid lafdlzi dibuat dengan cara mengulang lafaz (baik isim, fiil,
huruf, atau jumlah baik ismiyyah atau fi’liyyah. Contoh:

Taukid jumlah bisa juga menggunakan huruf athaf, sebagai contoh:
Taukid maknawi adalah menggunakan lafaz :

Taukid maknawi ini dibagi menjadi empat:

94

 Lafaz ‫نَْفسَّ\َّ َعْي َّن‬

Keduanya memiliki mkana sama yakni “sendiri”. Untuk

jamaknya menggikuti wazan ‫ أَفْعل‬yang digunakan untuk

tatsniyyah dan jamak, dan mengandung dlamir yang kembali

kepada muakkadnya. Contoh:

َّ ّ‫رأيتَّالأ ْستَاذََّنَْف َسهَّفيَّالم ْس ِج َِد‬

Saya melihat guru itu sendiri di masjid

‫َكتَ َبَّ َه َذا ِنَّالص َحِفيا ِنَّأَنْف َسه َماَّ َه ِذِهَّالأَنْبَاَِّء‬

Dua wartawan ini dengan dirimereka sendiri menulis berita-

berita ini

َّ ِ‫اشتَ َرَكَّالأَ َساتَِذةَّأَنْفسه ْمَّفيَّهذهَّالن ْدَوَّة‬

Guru-guru itu mereka sendiri bergabung dalam seminar

 Lafaz ‫كِلاََّ َ\َّّكِْلتَا‬

ََّ‫كِلا‬Untuk mutsannaa/ tatsniyyah mudzakkar, sedangkan ‫كِْلتَا‬

untuk tatsniyyah muannas. Keduan dii’robi sama dengan isim

tasniyyah karena serupa dengan isim tatsniyyah. Contoh:

 Lafadz ‫ك ٌلَّّ\َّ َج ِمْيعَّ\َّ َعامة‬

95

Ketiga lafadz tersebut untuk mentaukidi jamak, atau murad tetapi
yang memiliki bagian-bagian.Dan lafadz taukit tersebut harus
dimudlafkan kepada dlamir yang kembali / sesuai dengan
muakkadnya baik itu muakkadnya mufrad atau jamak. Contoh:

 Lafadz
Digunakan untuk mufrad dan jamak, serta tanpa harus
mengandung dlamir yang kembali kepada lafaz yang
ditaukidi. Contoh:

Namun yang lebih sering lafadz-lafaz tersebut dalam mentaukidi

tersebut digunakan setelah lafadz ّ‫ ك ٌَل‬contoh:

96

ATHAF

Huruf athaf ada 10 yaitu:

Contoh Makna Hnuyraufَّ ‫نمرة‬
Dan َّ ‫ ََّو‬1
َّ َ‫َدَر َسَّمحمدَّوزيدَّاللغةَّالعربيَّة‬
Lalu َّ َ‫ ف‬2
Muhammad dan Zid belajar bahasa Kemudian ّ‫ ث َم‬3
Arab
Atau ّ‫ أََْو‬4
َّ َ‫َش ِربْتَّال َماءََّفَالَْق ْهَوَّة‬

Saya minum air lalu kopi

َّّ‫َح َضْرتَّإِل َىَّال َم ْدَر َسِةَّ َصبَا ًحاَّثمََّر َجْع َت‬
َّ ‫إِل َىَّالبَْي ِتََّم َسا ًءا‬

Saya hadir di madrasah pagi dan

َّ pulang ke rumah sore
َّ ّ‫َجاءَََّزيْدَّأَْوَّ َع ْم َر‬

Zaid dating atau Umar

97

َّ‫ َجلَ ْستََّم َعَّأَبِ ْيَّأَْم ِسَّإِماَّ َسا َعتَْي َنََّوإِما‬Adakalanya ‫ إِما‬5

َّ ‫ثَلاَثًا‬

Saya duduk bersama ayahmu kemarin Sehingga َّ ‫َحتى‬ 6
adakalanya dua jam dan adakalanya Ataukah َّ ‫أََّْم‬ 7

َّ tiga jam
َّ ّ‫يَمْوتَّالناسَّ َحتىَّالأَنْبِيَاَِء‬
َّ Manusia pun mati bahkan para Nabi
َّ ‫أَ َخالِدَّأَخْوَكَّأَْمَّ َص ِديْق َكَّ؟‬

Apakah kholid saudaramu atau Bahkan ّ‫ بَ َْل‬8

َّ temanmu?
َّ ‫العْلمَّن ْورَّبَِلَّالِعلمَّ َحيَاَّة‬

Ilmu itu cahaya, bahkan ilmu itu Tetapi ‫ لَ ِك َّْن‬9

kehidupan

َّ ‫َماَّأَ َكْلتَّخْب ًزاَّلَ ِك ْنَّرزا‬

Saya tidak makan roti tetapi nasi Tidak َّ‫ َل‬11

َّ ًّ‫َسأَزْورَّنَ َهاًراَّلََّلْيلَا‬

Saya akan mengunjungimu siang tidak
malam

Perbandinga penggunaan huruf athaf: ّ‫لَ ِك َْن‬, َّ‫ َل‬, ‫ بَ َّْل‬:
 ّ‫ لَ ِك َْن‬biasanya digunakan setelah nafi (kalimat negatif) atau

nahi (larangan).

 َّ‫ َل‬biasanya digunakan setalah kalimat positif dan perintah

98

 ‫ بَ َّْل‬digunakan sama dengan ‫ لَ ِك َّْن‬tetapi, bisa juga dalam

kalimat positif yang memiliki faedah idhrab (bahkan/
kebalikan)

Athaf dengan dlamir
1. Apabila ma’thufnya berupa dlamir menfasil marfu’, maka
boleh mengathafkannya secara langsung. Contoh:

2. Apabila ma’thufnya berupa dlamir marfu’ muttasil atau
mustatir, maka boleh dengan cara menguatkannya dengan
dlamir munfasilnya. Contoh:

3. Apabila ma’thufnya berupa dlamir marfu’ muttasil atau
mustatir, maka juga boleh ada fasil (pemisah) antara
keduanya. Contoh:

4. Apabila ma’thuf alaihnya berupa dlamir manshub (dibaca
nashab) maka boleh mengathafkan kepadanya secara
langsung, baik itu berupa dlamir muttasil atau munfashil.
Contoh:

5. Apabila ma’thufnya berupa isim dlamir majrur (dibaca jer),
maka kebanyakan dengan cara mengulang lafaz yang
99

mengejerkan kemudian diikuti ma’thufnya, baik lafaz yang
mengejerkan berupa huruf jer atau mudlaf. Contoh:

Namun, boleh juga tanpa mengulang huruf jer, contohnya:

Khalid dan saudaranya dipuji-puji

Athaf fi’il kepada fi’il, Jumlah kepada Jum’lah
1. Boleh mengathafkan fi’il kepada fi’il dengan ada sesuaian
zaman antara keduanya (madli atau mudlari’).
Zaman madli
Zaman mudlari’
2. Boleh juga menathafkan jumlah kepada jum’ah. Contohnya:

Mengathafkan fi’il kepada isim
1. Boleh mengathafkan fi’il kepada isim yang menyerupai fi’il

‫َع( مف لَ مه أم‬isَٰ‫ض‬imَ ‫يم‬fa‫ا‬i‫ٗن‬l,‫ َس‬is‫َح‬im‫ا‬m‫ ًض‬a‫أر‬f’َ‫ق‬ul‫َل‬,‫َّل‬sَّy‫ٱ‬ifْ‫ا‬a‫و‬t‫مض‬m‫َر‬u‫ أق‬sَ‫أ‬y‫ َو‬ab‫ ِت‬biَٰ‫ق‬hَ a‫ ِد‬t‫َّ)ص‬. C‫ مم‬o‫ٱلأ‬n‫ َو‬to‫ َن‬h‫ي‬nِ‫ق‬y‫ ِد‬a‫ص‬:َّ ‫إِ َّن ٱلأ مم‬
‫م‬ٞ ‫ر َكرِي‬ٞ ‫َولَ مه أم أَ أج‬

100


Click to View FlipBook Version