da Tuhan dan hari kemudian menjadi landasan bagi perbuatan
manusia.
Menonjolkanperbedaan pendapat antara Asy'ariyah dan
Mu'tazilah dalam buku Pengantar Ilmu Agama Islam akan mele-
Il)ahkan Iman para mahasiswa~ memang tidak ada agama yang
mengagungkan akal seperti agama Islam, tetapi dengan meng-
gambarkan bahwa akal dapat mengetahui baik dan buruk sedang
wahyu hanya membuat nilai yang dihasilkan fikiran manusia itu
bersifat absolute u.piversal, berarti menganggap sepiayat-ayat
Qur-an seperti: Wallahu ya'lamu wa antum laa ;ta'lamun; artinya.
,Dan Allahlah yang Maha Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui
(Surat Al Baqarah avat 232) ..
Pada zaman sekarang di Barat sendiri sudah dirasakan bahwa
akal itu tidak mampu mengetahui baik dan buruk. Existentialism
religiou~ adalah suatu aliran baru yang timbul sebagai reaksi
terhadap rationalisme.
52
4
KOREKSI TERHIADA- P BAB IV TENTANG ASPEK
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN
Buku Dr. _Harun Nasution menunjukkan kurang adanya
keseimbangan antara panjang pendeknya Bab, karena ada yang
panjang seperti bab .IV ini, sedangkan lainnya ada yang jauh leb~h
pendek dati Bab IV ini. Tetapi di samping ketidakseimbangan _
panjang ~ndeknya bab,. ada lagi ketidak seimbangan isi. FasallV
ini mengandung sejarah -Islam dati Permulaan (permulaan abad 7M)
sampai ak:hir abad 18 M .dan mengenai seluruh Dunia, dati Arabia
sampai Afrika utara dan Spanyol, sam,pai Persia dan Turki, dan
sampai Philipina dan Indonesia. Di sam ping itu Bab IV ini memuat
sejarah kebudayaan dati bahasa dan sastra sampai ilmu kedokte-
ran dan filsafat. Padahal kita dapatkan dalam jilid itu juga Gilid I)
bab V yang membicarakan aspek politik di Bab VI tentang aspek
lembaga-Iembaga kemasyarakatan, kemudian dalam jilid II kita
dapatkan bab VII tentang aspek hukum, bab VIII ten tang aspek
theologi, bab IX tentang aspek filsafat bab X tentang misticisme
yang kesemuanya itu telah dibicarakan secara singkat pada Bab V
atau aspek Sejarah dan Kebudayaan. -
. ~alam penilaian saya, Bab IV tentang Sejarah dan Kebudaya-
an Inl merupakan Bab yang terbaik, karena Bab ini dapat membeti
gambaran yan,g menyeluruh tentang sejarah Islam.
Walaupun begitu, kami harus hati-hati membaca bab ini
mengenai beberapa hal :
Per~ma:
Perkataan' expansi, pada halaman 36. Perkataan expansi
dalam bahasa latin expandere mengandung arti : berkembang
dan membesar. Akan tetapi dalam bahasa Indonesia perka-
53
taan expansi selalu ada hubungannya dengan peluasan daerah
dengan merebut daerah lain, atau menambah pengikut
agama dengan merongrong pengikut' agama lain.
Yang teljadi dalam perkembangan Islam adalah penambahan
pengikut dan pada waktu tertentu pembelaan diri dengan
akibat kemenangandan perluasan. daerah.
Uraian Dr. Harun dalam Bab IV ini selalu memakai perka-
taan expansi tanpa keterangan, sehJ.ngga memberi kesan
kepada orang yang belum mengetaJlUi iljaran Islam secara
mendalam bahwa tujuan Islam adalah expansi, menaklukkan ,
negara-negara lain.
- Kedua:
Perkataan Jizyah pada halaman 60, Dr.. Harun menulis pada
akhir halaman tersebut : "Mereka tetap dalam agama mereka
masing,-nlasing, tetapi diharuskan memba.yar semacam pajak
yang disebut Jizyah".
Kata-kata .tersebut di atas tidak diterangkan lebih jauh,
sehingga berakibat bahwa pembaca yang baru in gin mempelajari
Islam mendapat kesan bahwa Pemerintah Islam itu tidak adil,
menga'nggap warga negara yang tidak beragama Islam sebagai
warganer /1 kelas II atau setengah asing, Katanya tidak ada pak-
saan dalam 'agama, akan tetapi nyatanya orang yang tidak meme-
Iuk agama Islam harus membayar Jizyah.
Untuk menghilangkan kesan semacam tersebut, perlu dite-
rangkan bahwa Jizyah adalah pengganti kewajiban pertahanan.
Orang-orang y,ang tidak beragama Islam tidak diwajibkan ikut
berperang melawan musuh; dan karena bebas tugas pertahanan
itulah mereka harus membayar Jizyah. Saya rasa penjelasan
seperli tersebut di' atas sangat perlu untukIrendudukkan persoa-
Ian kenrerdekaan agama dalam negara Islam.
Ketiga :
, Ibnu Sina (Avicenna)(tahun 980-1037) disebutkan dalam
halaman 73 sebagai seorang yang memberi syarah tentang Filsa-
fat Aristoteles. Ibnu Sina dalam filsafatnya, sebagai filosuf-filo-
54
II f' Islam lainnya di Timur, yakni sebelum Ibnu Rusyd di Barat
f 1126-1198), mengikuti aliran Neb Platonisme yang timbul di
k-x<:ildria sekitar abad ketiga Masehi . Perbedaan antara Axisto-
II ks dengan Plato dan Neo Platonisme sangat besar dan meru-
pilkan pertentangan.
l'cmpat:
Dalam halaman 76, disebutkan kata "Hasysyasyin" (Assassin)
sebagai Ianjutan dari Karamitah. Saya rasa perIu ada penje-
lasan bahwa yang disebut oleh orang Barat assasin.-, dan
yang nama sesungguhnya dalam bahasa arab "Hasysyasyin"
adalah berasal dari kata ' Hasysyasy artinya penggemar
Hasyisy, , yaitu semacam ganja. Mereka dinamakan Hasysya..,
syin oleh karena mereka mempergunakan ganja untuk orang
yang ditugaskan melakukan pembunuhan, sehingga orang
tersebut yang jika dalam keadaan sadar ragu-ragu akan me-
lakukan pekerjaan itu, mereka akan merasa berbahagia
dan berani melakukannya karena effek ganja yang telah
diisapnya.
55
5
KOREKSI TERHADAP BAB V TENTANG
ASPEK POLITIK
Jika dalam menilai bab IV ten tang sejarah saya mengatakan
bahwa bab IV itu saya ap.ggapyang terbaik karena dapat memberi.,
. kan tinjauan sejarah selama lebih dari seribu tahun dalam beberapa
halaman, walaupun ada beberapa kata-kata yang akan menjadikan
Islam sebagai tiljuan serangan darlpada mereka yang. memben-
cinya, makaaspek -politik atau bab V ini sangat .mengecewakan
dan salah setta sama sekali tidak mengenai sasaral'l.nya.
Sebab kesalahan bab V ini terdapat dari permulaan, dati
bab'I, di, mana Dr. Harun Nasution menggambarkan Islam sebagai
salah satu species dari genus agama yang tujuannya ialah men-
dekatkan diri manusia kepada Tuhan.
Agama Islam tidak sekedar mensucikan roh, mendekatkan
diri kepa08 Ifuhan yang semuanya itu bersifat individuil (pero-
rangan). AgM'~ la I.slam menuju kepadapengaturan' masyarakat
(habluIll minannas) di samping mengatur hubungan manusia de-
ngan Tuhan (hablun inin Allah).
Isi daripada bab V atau aspek politik bukannya ajaran-aja-
ran Islam yang mengenai ketata negaraan yang tersebar di beber~-
pa bagian dari AI Qur-an dan beberapa tempat dari kitab-kitab
Hadis, serta kata-kata mutiara dari para sahabat Nabi Muhammad
s.a.w. Yang kami dapatkan dalam bab V atau aspek politik adalah
halaman 6ejarah yang hitam dan merah' karena tercampur dengan
darah dan sarna sekali bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam
tiap-tiap bangsa atau umat terdapat orang-orang yang jahat yang
mementingkan oirl sendiri dan berkhianat, tetapi kepada mereka
tidak diberikan tempat dalam membicarakan prinsip suatu
56
negara. Mereka dianggap sebagai kekecualian, sebagai penyakit
dalam tubuh yang-normal.
Metode Dr. Harun Nasution persis seperti met ode yang di-
pakai oleh kaum orientalist Barat yang anti Islam, artinya, me-
nonjolkan soal-soal jelek yang pemah. teIjadi dalam Islam dan
dilakukan olehorang-orang Islam akan tetapi tidak menunjukkan
ajaran-ajaran Islam yang baik yang dilanggar oleh orang-orang
tersebut.
Apa yang diuraikan oleh Dr. Harun Nasution dalam bab
V bukan aspek politik tetapi termasuk aspek sejarah yang juga
telah disebutkannya dalam aspek sejarah secara ringkas.
Pada halaman 96 Dr. Harun Nasution .menulis : "Dalam
pada itu perIu ditegaskan bahwa menurut pendapat timum
yang ada di zaman itu, seorang Khalifah (kepada Negara) harus-
lah berasal dari suku Quraisy. Pendapat ini didasarkan atas Hadis
yang membuat Quraisy mempunyai kedudukan lebih tinggt dari
suku-suku Arab lainnya dan terutama Hadis-Hadis Al Airmnatu
min Quraisyin. Imam-imam (kepala negara) harus berasal dari
suku Quraisy .... Pendapat ini kemudian meniadi teorl ketata-
negaraan yang dianut oleh Ahlussunnah".
Kalau sese orang mempelajari Islam secara mendalam, ia
tentu akan merasa bahwa kata-kata "Kepala negara harus berasal
dari suku Quraisy," itu bertentangan 'dengan jiwa Islam. Banyak
ajaran Islam baik' dalam Qur-an atau "Hadis yang mengatakan
bahwa manusia itu ~ma derajatnya, tilk ada perbedaan antara
suku-suku dan bangsa-bangsa. Tetapi Dr. Harun Nasution menye-
butkan Hadis tersebutsebagai Hadis yang benar walaupuri tidak
memberikan sanad atau rangkaian nama-nama orang-orang yang
\
meriwayatkan; pada hal pada halaman 29 dari bukunya sendiri
ia mengatakan bahwa hanya Y2% daripada Hadis-Hadis Nabi yang
dapat dianggap benar.
Pada halaman 97, Dr. Harun Nasution'menulis : "Sementara
itu seorang pemu'ka Khawarij, Najdah Ibn 'Amr Al Hanafi mem-
punyai faharn bahwa kepala negara diperlukan hanya jika masla-
57
hat umat menghendaki yang demikian ..Pada hakekatnya, demikian
Najdah, umat tidak berhajat pada adanya Khalifah atau Imam
untuk memimpin mereka. Dalam hal ini ia sebenarnya dekat
dengan faham Komunis yang mengatakan bahwa negara akan
hHang dengan sendirinya dalam masyarakat Komunis".
Adalah kebiasaan kaum orientalis anti Islam untuk me-
nonjolkan hal-hal yang keeil untuk menunjukkan seakan-akan
tak ada kesepakatan diantara umat Islam. Pada saat ini berapa
rihukah diantara ratusan juta umat Islam, yang dapat dikatakan
Khawarij, yang sadar apakah prinsip Khawarij itu. Dan diantara
Khawarij yang sadar itu berapa orangkah yang mengikuti pendapat
Najdah yang dekat dengan faham Komunis itu ? Sungguh orang
menjadi heran apakah latar belakang tulisan yang semaeam ini
Kemudian dari halaman 97 (paragraph terakhir) sampai
akhir halaman 100, Dr. Harun Nasutian membiearakan teori
politik Syi'ah tentang kepala negara. Sebagai saya katakan di atas,
teori politik Syi'ah bukan teori politik Islam, karena bertentangan
deI).gan jiwa Islam yang demokratis, sedang teori Syi'ah tentang
kepala negara bersifat feodalistis.
Dr. Harun menyebutkan : Syi'ah Itsna'asyriyah atau Syi'ah
Duabelas yakni yang berpendapat bahwa kepala negara yang
mustahak dalam sejarah adalah duabelas yaitu sebagai tereantum'
dalam halaman 99 :
r 1. Ali IbnI Abi TaUb T
2. AI-Hasan
I3. AI-Husen
4. AUIZain AI-Abidin
ZJid
IS. Muhammad AI-Baqir
7. Isrtail --------7-. 6. Ja'frr Al-Sadiq
I-M-us~Aa l.Kazim
I8. AU AI-Rida
I9. Muhammad AI-Jawwad
I10. All AI-Hadi
I11. AI-Husan AJ-Askari
12. Muhammad AI-Muntazar.
58
Di samping itu ada Syi'ah Sab'iyah atau Syi'ah tujuh yaitu yang
Ill" pcndapat bahwa kepala negara yang mustahak dalam sejarah
hllilya tujuh. Golongan ini juga dinamakan golongan Isma'iliyah
,rllll Khoja. Rupanya golongan inilah yang dahulu datang di In·
ollllJcsia sehingga di Jakarta umpamanya sampai sekarang masih
It'rdapat kampung Pekojan. Di India dan Pakistan mereka adalah
III'/Igikut Karim Khan, yang menjadi Ketua mereka, mengganti
IIIIlcknya Almarhum Agha Khan.
Golongan Syi'ah ketiga C\dalah Syiah Zaidiyah yang berada
oll Yaman. Nama Zaidiyah dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Zainal
hidin bin Husein bin Ali, jadi keturunan Ali ke empat. Golongan
/,:ddiyah ini hampir tidak berbeda dengan -ahlussunnah kecmili
d,lIi segi sejarah dan hubungannya dengan Zaid putra Ali Zamal
hillin.
Inilah tiga golongan Syi'ah yang besar; bahkan yang terasa
d,dam phenomena empiris adalah go]ongan Dua belas dan Tujuh.
Dr. Harun mcnulis dalam halaman 100 : "Di sam ping ketiga
"lliongan besar ini, masih ada golongankecil seperti Syi'ah sab'i-
.Ih, Ghurabiyah, Kasaniyah dan Rafidah".
Syi'ah merupakan ± 1/1 0 dari jumlah, umat Islam seluruh
ollillia, yang terbesar adalah Itsna asyriyah, kebanyakan di Iran.
1\l'lompok Isma'iliyah sangat sedikit, apalagi setelah pemimpin-
lIya dipegang oleh Karim Khan yang ibunya seorang wanita
Iliggris lama tak kedengaran aktifitasnya; seperti say a katakan
dlnlas, golongan Zaidiyah hampir tak berbeda dengan Ahlussunnah.
Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa justru perpecahan
Illnat Islam ini yang ditonjolkan sebagai aspek politik, sampai
dlscbutkan bahwa Sab'iyah mengatakan Ali itu Tuhan dan tidak
,"ati terbunuh, dan Ghurabiyah mengatakan bahwa wahyu itu
l1/1tuk Ali tetapi Jibril salah alamat dan disampaikan kepada
Na,bi Muhammad?
1'.ldahal Dr. Harun Nasution sendiri menulis pada halaman 103:
(:oJongan extrim serupa ini tidak diakui oleh go long an Syi'ah
1.111l11ya.
59
Saya merasa bahwa penyajian semacam ini yang mestinya
bagi mereka yang ingin memperdalam sejarah, sangat merugikan
kepada keimanan generasi muda kita yang belum mengetahui
ajaran-ajaran Islam secara cukup mendalam.
Kemudian Dr. Harun Nasution meloncat kepada Al Mawardi
(wafat tahun 1058) pengarang buku AI Ahkam AlSultaniyah
(hukum-hukum tentang kekuasaan politik).
Al Mawardi adalah seorang pengarang yang seperti pengarang-
pen~arang lainnya, banyak terpengaruh dengan keadaan di mana
ia hidup. Ia mempertahankan kesukuan Quraisy bagi seorang
Khalifah; tetapi di samping itu iamemajukan syarat-syarat lain
yang lebih berarti seperti sifat adil, berilmu, sehat mental dan
phisik, berani dan tegas. Ia. juga menyebutkan sifat-sifat pemilih,
~ehingga dengan begitu dapat ~ikatakan bahwa pemilihan Khalifah
·oukannya pemilihan langsung dari rakyat. Al Mawardi mencerita-
kan- kontrak dengan umat,' sehingga kalau Khalifah menyeleweng-
kan kekuasaan, hal ini berarti ia tellih melanggar kontraknya
dan rakyat dapat memberhentikannya.
Kemudian, secara tidak KIonologis, Dr. Hamn menye-
butkan pendapat AI Gazali dan Ibn Jama'ah yang mengatakan
bahwa Qrang tidak boleh menjatuhkan Khalifah yang dhalim
karena Khalifah yang dhalim itu tentu kuat dan akan membunuh
sebanyak mungkin orang-orang yang menentangnya.
Kemudian menyebutkan pendapat Al Farabi (260-339 H)
yang mengikuti pendapat Plato, filosuf Yunani (429-347 SM).
Akhirnya Ibnll Sina (980-1037) juga disebut-sebut sebagai seo-
rang yang mengutamakan fllosuf sebagai kepala negara akan te-
tapi harus mengetahui Syari'at.
Sumber-surriber yang menjadi pedoman uraian Dr. Harun
Nasution adalan dua buku karangan orang Barat, yaitu The I<ha-
liphate karangan Arnold T.W. dan Political Thought in Medie-
val Islam (fikiran politik Islam pada abad pertengahan) karangan
Rosenthal,E.I.J., di samping al Ahkamal Sultaniya}i' karangan
60
Al MawardiCwafat tahun 1058),al Mazahibal Islamiyah karangan
Abu Zahrah danTheori Politik Islam karangan EI Rayes M.D.
(Cairo).
Diantara sumber-sumber tersebut, Khaliphate karangan Ar-
nold h~mya membicarakan systim Khilafah dan sejarah,
sedang buku Rosenthal secara terang-terangan meinbicarakan
fikiran politik Islam pada abad pertengahan dan karangan Abu
Zahrah membicarakan- golongan Islam, jadi bukan theori politik.
Untuk mengetahui Islam dan ajaran-ajarannya, sesungguhnya
dengan mudah orang menyelidiki dalam Al Qur-an dan Hadis,
kedua-duanya mengandung ajaran-ajaran yang kadang-kadang
belum dapat difaham pada zaman dahulu karena keadaan belum
membuka mata manusia. Cara tersebut di atas adalah cara seorang
[slam untuk menggali ajaran Islam.
Seorang orientalist apalagi yang mempunyai dasar benci
kepada Islam, ia tidak suka menyelidiki ajaran Qur~an dan Hadis
akan tetapi mencurahkan perhatiannya kepada sejarah umat
[slam yang sering menyeleweng dari ajaran Qur-an dan Hadis.
Dengan cara terse but di atas, mereka dapat memberi gambaran
yang jelek tentang Islam, seakan-akan keadaan yang jelek itu
adalah hasH daripada ajaran Islam.
Rupanya Dr. Harun Nasution memilih jalan kedua ini,
cntah sadar entah tidak, sehingga akibatnya Bab V atau aspek
politik ini menggambarkan Islam secara sangat Jelek.
Sebagai kesan bahwa ajaran Islam ten tang politik sangat jelek,
kecuali timbul karena yang diterangkan itu bukan ajaran Islam
akan tetapi sejarah penyelewengan umat Islam dari ajaJan Islam,
juga timbul karena hal-hal jelek itu merupakan keadaan pada abad
Purba dan abad pertengahan sedang kita sekarang hidup dalam
abad modern, penghabisan abad ke 20. Secara halus, dan tidak
terasa uraian Dr. Rarun membandingkan keadaan umat Islam
pada abad pertengahan dengan keadaan orang-oraQg Barat atau
yang tidak memeluk agama Islam pada zaman modern.
61
Sebagai perbandingan, marilah kita mempelajari apa yang
ditulis oleh almarhum Sayid Rasyid Ridha, pengarang majalah
dan tafsir al Manar, dalam bukunya : Wahyu Muhammad.
Dalam b:.tku Rasyid Ridlia kita dapatkan : Maksud keempat
daripada Al Qur-an. Diantara maksud-maksud itu kita dapatkan:
a. kesatuan umat sebagai terse but dalam surat 23 ayat 52:
~f-"///./ ~ /. 'p'-4 - /. ./~ -.9-;;' ./
:Ju,0,., • eJY.•'"
\ ' U/.~~-.1"~..:I:":'l-;' '" 1',-1 ~0/ 1.>/-~\/ 0. .. "'--"'\/0 ~.;,\o)1•/.A.1:.>"\ /JCo
~
."
"Dan sesungguhnya hai para Rasul, manusia itu umat yang satu, dan
Aku ini TuhanMu, maka takutilah Aku."
Artinya :
"Hai man usia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari laki-laki
dan wanita dan aleu jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-.suku
agar kamu berkenal mengenal, sesungguhnya yang paling utama di
an tara kamu di hadapan Tuhan adalah ya-ng paling bertaqwa."
c. persamaan dalam hukum masyarakat antara· orang yang
berpangkat tinggi dan orang yang tidak berpangkat, antara orang
kaya dan orang miskin, antara orang muslim dan O1~angyang
menganut agama lain, kecuali dalam hukum keluarga.
Kemudian kita baca : Maksud keenam daripada Al Qur-an
Prinsip pertama dalam ketatanegaraan :
Kedaulatan adalah di tangan umat. Dan bentuk Pem~rintahan
adalah syura (musyawarat). Kepala Pemerintah adalah Imam atau
Khalifah, yaitu pelaksana Syari'at. Dan Urnatlah yang-.berhak me-
ngangkatnya atau memberhentikannya. Tersebut dalam Al Qur-an
surat 42 ayat 38
62
Artinya~
"Dan urusan mereka dilakukan dengan cara perundingan diantara mereka."
Tersebut dalam Al Qur-an surat 3 ayat 159 :
.-/ /' /
. yj'ilL:--f. ~~~,
Artinya~
y /~ Y
''Dan ajaklah mereka itu (umat itu) bermusyawarat dalam persoa/an-
persoalan umum.U
Rasuiullah selalu bermusyawarat dengan sahabat-sahabatnya
dalam soal-soal masyarakat dan negara baik dari segi politik
atau segi miIiter atau segi keuangan.
Adapun cara bennusyawarat itu tergantung kepada pemikiran
seluruh umat oleh karena masyarakat itu berbeda menurut tempat
dan waktu, sehingga jika cara (syura) ~ini ditetapkan niscaya akan
menjadikannya beku, seperti Ibadat yang tidak dapat dirobah.
Bukti bahwa hal-hal yang mengenai hukum dan poIitik adalah
di tangan umat bahwa Al Qur-an mengalamatkan perintah-pe-
rintah Tuhan kepada Vmat, kelompok umat yang percaya sebagai
contoh Surat Bara'ah Ayat I berbunyi:
·~t· /'h.,~, \ :-.1 -:'0_/~",1~~\-J\~''';".a......7·..~...:.).,/ \/-Q/ '"4/ .lJ..)\
.~-~:' • <:;(:{I ~/'~"~\ ~U-..II J/ '" ~. r, y,/
Artinya : ••, '/ ~O.,/ ~...) ..,r..
MIni adalah suatu pemutusan hubungan dan Tuhan dan utusanNya
kepada orang-orang musyrik yang kamu sekalian telah adakan per- .
janjian perdamaian."
Dan lain-lain Ayat di surat Anfal, Al Baqarah dan Aal Imran
yang mengenai peperangan dan perdamaian.
Contoh kedua adalah Surat 49 ayat 9 :
63
Arfinya :
"Jika ada dua kelompok orang yang beriman berperaflg, maka damai-
kanlah antara mereka. Jika salah satu dari mereka melewati batas
terhadap yang lainnya, maka perangilah yang melewati batas itu sehing-
ga mereka kembali kepada. perintah Allah ... Maka bilamana mereka
sudah kembali damaikanlah an tara keduanya dengan adil don berla-
kulah adil, karena Allah suka kepada orang-orang yang berlaku adUn
Begitu juga soal-soal yang mengenai jarahan (harta musuh) dan
pembagiahnya, dan soal-soal keluarga.
'Rasyid Ridha berhta : Ulama-ulama Besar tentang Hukum
Islam mengatakan bahwa, kedaulatan dalam Islam adalah di tangan
umat, akaf\ tetapi diselenggarakan oleh ahlul halli wal aqdl (fie-
mimpin-pemimpin yang mustahak) yang mengangkat Imam-
imam atau Khalifah. atau memberhentikan mereka jika terpaksa
oleh keadaan (karena mereka menyeleweng).
Prinsip pokok tentang negara Islam ini adalah suatu reform
polltik yang terbesar bagi manusia. Prinsip te!"8ebut diprokla-
mirkan pada waktu bangsa-bangsa di .dunia ini diperintah oleh
Pemcrintah-pemerintah yang zalim dan yang menindasnya baik
dalam segi agamanya maupun dalam segi keduniaannya. Dan
Muhammad Rasulullah adalah orang yang mengetrapkan refotm
tersebut untuk pertama kalinya; beliau tidak mengambil kepu-
tusan politik atau administratif kecuali sesudah bermusyawarah
dengan pemimpin-pemimpin umat.
Setelah nabi Muhammad wafat, para Khalifah mengikuti
jejaknya. Abu Bakar al .Sidik berkhotbah setelah'selesai dibai'at :
64
.- "..'::~
Pidato Abu Bakar
"Saudara-saudara, aku ini telah terpilih menjadi kepala negara
dan aku ini bukannya yang terbaik diantara kamu, oleh karena
itu jika aku melakukan kebenaran maka bantulah aku, dan jika
aku melakukan kesalahan maka betulkanlah aku.
Mengatakan yang benar adalah suatu amanat, dan membo-
hongi rakyat adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah
daripada rakyat mempunyai kedudukan kuat di hadapanku
sehirtggaaku mengembalikan haknya kepadanya, Insya Allah.
Dan orang yang kuat daripada rakyat, kedudukannya lemah di-
hadapanku sehingga aku mengambil hak orang lain (yang diper-
olehnya) daripadanya, Insya Allah. Tak ada kelompok manusia
yang meninggalkan jihad dalam jalan Allah, kecuali Allah telah
menimpakan hina kepada mereka, dan tak ada kejahatan moril
yang tersiar diantara suatu umat, kecuali umat itu mendapat
kesulitan dari Tuhan. Ikutilah perintahku selama aku mengikuti
perintah Allah dan RasulNya dan jika aku tidak mengikuti pe-
rintah Allah dan RasulNya, maka aku tak berhak akan kepatuhan-
mu kepadaku. Marilah kita sembahyang, semoga Tuhan memberi
rahmat atas kamu sekaliannya".
Khalif-ah kedua, Vmar bin Khattab'iuga memberikan pidato
waktu sesudah dibai'at, ia berkata : "Barang siapa mendapatkan
penyelewengan dari tlhakku maka hendaklah ia..membetulkannya.
Mendengar khotbah itu seorang rakyat jelata berkata dengan te-
nar: jika karni rnendapatkan penyelewengan dari padarnu, niscaya
akan karni betulkan dengan pedang karni. Khalifah Vrnar rnen-
jawab :" Alharndulillah yang telah menciptakan di an tara Vmat
Islam orang yang bersedia rnernbetulkan penyelewengan Vrnar
dengan pedangnya."
Keadilan dan persarnaan
Rasyid Ridha kernudian rnenyebutkan keadilan dan persama-
an. Al Qur-an 'rnenyebutkan pada Surat 16 : Ayat 90: .
65
Artinya:
''Tuhar(. memerintahkan keadilan dan kebaikan."
Pada Surat 4 Ayat 57 disebutkan :
Artinya:
"Tuhan memerintahkan kamu agar menyampaikan amanat yang dise-
rahkan kepada kamu, kepada orang-orang yang mempimyainya; dan
Tuhan memerintahkan jika kamu memerintahkan, melakukan hukum,
agar kamu memerintah atau menghukum dengan adil."
Larangan bagi pejabat untuk komersialisasi jabatan
Tersebut dalam kitab Al Bukhari dan Muslim hadis seperti berikut:
66
Artinya:
J~bu Hamid al Sa 'eli berkata : Rasulullah memberi tugas kepada Ibn
Lutbiya untuk mengumpulkan zakat (pajak) suku Bani Salim. Setelah
selesai t'dgasnya, ia datang kepada Nabi dan diminta pertanggungan
jawab, ia berkata : Ini adalah untuk kamu (untuk negara) .dan ini
adalah hadiyah yang diberikan kepadaku. Maka Rasulullah berkata :
Kenapa engkau tidak tinggal saja di rumah ibumu sampai hadiyah
itu datang kepadamu, jika memang kamu berkata benar ? Kemudian
NaN Muhammad berdiri dan berpidato, membaca Alhamdulillah dan'
berkata Amma ba'du, aku' telah memberi tugas kepada beberapa orang
mengenai keuangan negara, ada seorang diantara mu yang berkata
Ini untuk kamu (negara) dan ini hadiyah yang diberikan orang kepada-
ku. Mengapa ia tidak tinggal saja di rumah ibunya sehingga hadiyah~
nya datang kepadanya, kalau betul ia tidak bohong. Demi Allah, se-
orangpun yang mengambi( harta dengan tanpa hak, ia akan menghadap
T,uhan pada hari Kiamat membawa harta itu. Maka aku akan melihat
orang yang menghadap Allah dengan membawa unta atau sapi atau
kambing yang masing-masing berblmyi, kemudian Nabi mengangkat
tar1gannya ke atas dan berkata . Ya Allah, aku telah menyampaikan
amanatMu."
67
Yang tersebu t di atas adalah sebagian ke~il dari gambar
aspek politik ajaran Islam. Dan ajaran-ajaran yang tersebut d~la
Al Qur-an dan Al Hadis adalah ajaran yang up t.o date samp
hari ini. Demokrasi yang dilakukan oleh negara kota (city state
di negeri Yunani merupakan dcmokrasinya orang kaya; pari
hamba yang tak ada prospek untuk menjadi merdeka, tetap be
kedudukan rendall.
Ketatanegaraan pada Kerajaan Romawi didasarkan atas k
unggulan darah Romawi; bangsa-bangsa lain dianggap bangsa Ba
bar yang rendah. Di negara-negara yang disebut Oriental empir,
kerajaan-kerajaan besar di Timur, Raja adalah seperti Tuh
yang tidak dapat keliru, dan semua tindakannya dianggap at
harus dianggap baik. Kekayaan materiil dati kenikmatan mate'
adalah satu-satunya tujuan hidup yang baik pada zam~n Kerajaa
Romawi atau Kerajaan Persia, dan setelah Kerajaan Roma
menganut agama Kristen, agama itu tetap tidak meresap kepad
jiwa rakyat karena terlalu abstrak serta dilingkungi oleh hierarc
gereja yang ketat.
Hal yang semacam di citaslah yang mustinya dijadikan i
dari aspek politik ajaran Islam; Ajaran-ajaran tersebut tiap oran,
dapat· membacanya dalam Al Qur-an dan kitab-kitab Hadis;
Adapun· si A membunuh si B, si C memerangi si D itu semu
bukan aspek politik Islam. Itu ,adalah aspek politik manusia yan
tidak mempraktekkan petunjuk Allah s.w. 1. yang telah diberik
kepada manusia.
Pad a zaman modern, kita membaca Montesquieu (1689
1755) dengan l'esprit des Lois Uiwa Hukum) di mana ia mengan
jurkan pembagian tug as antara, kekuasaan legislatif, judicati
dan executif. Hal ini pada dasarnya suatu cara untuk mewujudk
keadilan, tetapi sampai saat ini sering dilanggar oleh Penguas
yang tidak beIjiwa Islam.
Jean Jacque Rousseau (1712-1778) memajukan theo
tentang contrak sosial yang dalam garis besarnya sesuai denga
Islam.
68
Kemudian kita dapatkan. Karl Marx (1818-1883) yang
IIvgambarkan •peIjoangan permanent antara ~aum buruh dan
1111-1kapitalist. Gambaran semacam itu timbul dari salah faham
lat ;lng plus-value, yang melukiskan segala kekayaan itu dari
!!oIga physik.
Faham ini sampai hari ini bertentangan dengan kapitalisme,
1.11Ipertentangan ini sampai saat ini menjadi seeab ketidak
III"Han dun~a, menini.bulkan Blok Barat dan Blok Timur yang
lulu menjadi sebab ketegangan Dunia.
Aspek politik dalam Islam tidak hanya mengenai aspek
t utanegaraan at au aspek dalam negeri. Islam adalah agama Uni-
l~il,oleh karena itu aspek politiknya juga mengandung aspek
"krnasional, perang dan damai.
Di bawah ini kami cantumkan contoh beberapa pnnSlp:
I Islam melarang agressi akan tetapi juga melarang menyerah.
\lillum AI Qur-an,._ Surat 2 Ayat 190kita dapatkan:
.tmya:
"Dan perangilah dalam jalan Allah mereka yang memerangi kamu
dan jangan melakukan agressi, sesungguhnya Allah tidak suka kepada
orang-otang yang melakukan agressi. "
II. Tujuan daripada perang,setelah mengelakkan agressi, adalah
IIlcndirikan masyarakat yang penuh perdamaian, masyarakat
III mana Tuhan disembah dan dimuliakan dan karena itu masya-
lukat itu masyakarat yang adil, makmur dan penuh toleransi
IItln budi pekerti luhur.
Hal tersebut dapat dimengerti dari AI Qur-an - Surat 22,
Iyat 40 yang bunyinya :
69
"Dan sekiranya Allah tidak melindungi manusia, sebagian dari mereka
dengan sebagian yang lain, niscaya dihancurkanlah pertapaan, gereja
Kristen dan tempat sembahyang orang Yahudi dan masjid di mana
banyak disebut nama Allah. Sungguh Allah akan menolong orang
yang menolong (agama)Nya. Allah itu maha K uat dan Tinggi ')'aitu
mereka yang jika memegang kekuasaan, mereka menegakkan sem" i
bahyang, mefrlberi zakat dan melakukan amar ma'ruf (menyuruh
berbuat kebaikan) dan nahi mungkar (melarang perbuatan mungkar).
Dan kepunyaan Allah-lah aqibat segala urusan."
,III. Mementingkan perdamaian daripada peperangan. Al Qur-an
Surat 8 ayat 61 berbunyi :
.'~i &PI;~;~\~j~;Q&~~\~~~;
'\1 : J1,A:.1l1
Artinya:
"Jika mereka menuju perdamaian, maka engkau harus juga menuju
perdamaian, dan tawakkal lah kepada Tuhan. Sesungguhnya fa Maha
Pendengar dan Maha Mengetahui."
IV. Harns selalu siap untuk berperang supaya jangan diserang.
Prinsip mi nyata sekali dalam AI Qur-an Surat 8 Ayat 60 yang
bunyinya :
70
\
,~/~-\.k\:~./'.~~-/'#;:~~:~ ?-~~/~ '\~~~"'~'j\'V.i.''.".
~r/..", ~./L,,/,~"~,rtinya :
"1. : Jwj) \. "'/.1..>/ ~\'" Y0 ~ / .y.,
-' -' ./ ~
\:'-'
"Dan sediakan bagi mereka (musuh-musuhmu) apa ya,Ylg dapat kamu
sediakan = kekuatan orang, senjata dan kuda; untuk menakut-nakuti
musuh Tuhan dan musuhmu."
Harus menepati perjanjian dan tidak mengkhianatinya :
Insebut dalam Al Qur-an, Surat 16 Ayat 91 :
Ji:l' ,I~{+~?//".;'~,L,',")/U:"(: ''.'.J'.'''~'.J>/':; 1.~/'-\,!"-,·J."A,~(\~/~1\~~''~/ -'i.--! ~' '\ /
C\\
Itinya :
"Dan penuhilah janji (atas nama Allah) yang kamu buat, dan janganlah
menyalahi sumpah setelah diucapkan".
Begitulah sekelumit dari· pokok-pokok fikiran yang muncul
"ka seseorang membaca suatu Bab yang beIjudul aspek politik;
1J.lran-ajaran ,pOlitik Islam adalah ajaran: politik yang luhur,
Illg di tanah air kita Indonesia ini disalah fahamkan. Orarig
Il\l'ngidentifikasikan ajaran pcilitik Islam dengan terror, dengan
".I\latisme dan dengan Arabisme; semua itu dalam beberapa hal
II'ielimuti dengan purba sangka dan fitnahan.
Dengan uraian Dr. harun Nasution tentang aspek politik
lug isinya adalah sejarah hitam d~ri pe:nyelewengan . ajaran
1,lum, maka sadar atau tidak sadar Dr. Harun Nasution telah
1Ill'llambah kt;salah fahainan konsepsi politik dalam Islam.
Saya harap dengan penjelasan di atas sledikitnya keterangan-
derangan Dr. Harun Nasution yang did:asarkan atas metode
IIl1entalisme yang anti Islam itu dapat dihila.ngkan effeknya yang
11l~l!:atift,erutama bagi generasi muda Islam.
71
I!
6
KOREKSI TERHADAP BAB VI TENTANG
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
Dalam menilai bab VI tentang lembaga-Iembaga Kemasya-
rakatan, saya merasa perlu mengulangi apa yang saya tulis dalam
penilaian bab-bab yang sebelumnya yaitu pertama Dr. Harun
Nasution tipak mempunyai kepribadian sendiri dalam menulis
bukunya. Ia hanya meniru orientalist-orientalist yang tidak suka
kepada Islah1, kedua: sebagai akibat dari kek,eliruan pertama maka
ia ~menganggap bahwa' apa yang terJadi. dalam sejarah Islam df
abad pertengilhan a:dalah merupakan ajaran Islam. Ketiga: ~?-
lupa bahwa sumber Islam pukan sejarah Umat Islam tetapi Al
Qur-an yang merup~kan wahyu Ilahi serta Hadis Nabi. Ia lupa
p~a bahwa susunan' pemerintalian dan administrasi negara-negara
Islam itu adalah susunan y~mg umum yang terdapat dalam negara-
negara Timur atau Barat dalam abad Pei:tengahan.
Dengan kat a-kat a tersebut di atas marilah kita nilai karya
Dr. Harun Nasution.
I. Dalarn' halaman 107, paragraph pertama, Dr. Harun Nasution
menulis :
"Islam dalam sejarah, seperti telah dilihat, mengarribil bentuk
negara. Sebagai negara Islam sudah barang tentu harus mem-
punyai l'einbaga-Iembaga kemasyarakatan, seperti pemerintahan,
hukum, pengadilan, poIIlisi, pertahanan dan pendidikan."
Kata-kata tersebut di atas menunjukkan dengan jelas banwa
Dr. Narun Nasution. belum faham konsepsi Islam. Kata-kata:
"Islam dalam sejarah mengambil bentuk negara". Kata tersebut
menunjukkan bahwa negara Islam itu adalah tidak disengaja
72
IIIIIbulnya. Dalam sejarah terjadi perkembat:lgatl yang memung-
lUkan bahwa Islam berbentuk negara.
Gambaran terse but di atas adalah garnbaran sarjana-sarjana
listen kuno yang terpengaruh oleh agama mereka yang ber-
I'l'ndapat bahwa agama dan negara hams dipisahkan. Menumt
Ihcori Gereja Katolik: Paus mempunyai dua pedang, yang satu
Ilpegang sendiri dan yang s~ltu lagi dipinjamkan kepada raja-raja
III Eropa, yakni bahwa Paus itu memegang sendiri akan kekuasaan
rllkhani sedang kekuasaan materiil dipegang oleh para raja-raja.
Pada waktu sekarang telah banyak al111 teologi Kristen
haik dari fihak Katolik at au dari Protestant yang berpendapat
huhwa agama tak dapat dipisahkan dengan negara atau dengan
IIlUsyarakat materiil.
Dalam sistem Islam,· agama tak dapat dipisahkan dengan
Ill'gara. Ini bukan theocratie. Theocratie berarti, bahwa yang
Illcmegang pemerintahan adalah suatu kelompok khusus dari
lhli agama, suatu hierarchi yang diketuai oleh Paus. Sistem
1••lum dapat dinamakan :nomocracy artinya negara Hukum. Hu-
IIm-hukum itu yang pokok dan fundamentil adalah dari Tuhan,
lcrsebut dalam Qur-an dan Hadis dan jumlahnya tidak banyak.
Dun selain itu adalah bikinan manusia sendiri dengan jalan ijtihad,
dldasarkan atas ayat AI Qur-an dan Hadis.Dengan begitu maka
hunyak sekali peraturan-peraturan yang. barn yang harus sesuai
dl'ngan keadaan masyarakat yang serba berobah.
Hal-hal yang disebutkan oleh Dr. Hamn Nasution dalam
hab ini bukan lembaga-Iembaga Islam, tetapi Lembaga Kemasya-
rukatan yang ada pada abad Pertengahan.
II. Dalam paragraph 2, Dr. Harun Nasution menu lis :
"Masyarakat Islam pada mulanya tersusun atas orang-orang Arab
aja, tetapi dengan tersiarnya Islam ke luar Arab, orang-orang
hukan Arab masuk Islam dengan menggabungkan~diri dengan
alah satu suku bangsa Arab, disebut Mawali. Katena Mawali
dalam prakteknya mempunyai kedudukan lebih rendah dari orang
7
Arab. Orang-orang Alab, sebagai bangsa yang berkuasa di wak-
tu itu dianggap oleh masyarakat lebih tinggi. Karena mempunyai
kedudukan lebih tinggi, agama dan kebudayaan Arab Islam di-
. pandang lebih Tinggi pula. Tidak mengherankan kalau bangsa-
b~ngsa yang berada di bawah kekuasaan Islam di waktu itu ba-
nyak berusaha untuk meniru orang Arab dalam bahasa, pakaian
dan adat istiadat. Bahkan banyak pula yang meninggalkan agama
aslinya dan masuk Islam."
Membaca paragraph terse but terbayang kepada saya seorang
orientalist Barat y.ang tidak menghayati Ajaran Islam. Segala
yang ditulis oleh Dr. Harun Nasution adalah jauh dari kebenaran.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Dalam peperangan agama dahulu, pihak yang kalah menjadi
budak. Budak itu dijual belikan. Praktek ini telah disetujui oleh
orang-orang Yunani, Romawi, Persia dan agama Yahudi serta
Kristen. Agama Islam juga membolehkan akan tetapi selalu
membuka jalan. untuk emansipasi, agar budak-budak itu dapat
tnerdeka, baik dengan niatan sebagai bayaran denda (diyat) atau
atas dasar penebusan harga oleh si budak itu seridiri atau oleh
karena niat baik at as pembebasan dari yang punya.
Maula, kata majemuknya mawali, bera1;'ti budak. la, karena·
dimiliki. tuannya, juga dianggap salah satu anggauta dari suku
tuannya itu. Kalau ia sudah dimerdekakan, ia ·tetap menamakan
diri sebagai beraff1liasi kepada suku bekas tuannya. J adi: Maula
bukan orang yang menggabungkan diri dengan salah satu sukt~
bangsa .Arab. la adalah budak yang telah dibebaskan, akan teta;}
pi tetap beraff1liasi kepada suku bekas tuannya.
Dr. Harun menonjolkan sggi-segi negatif"Kaum Mawali
dalam prakteknya mempunyai k~dudukan iebih reridah dari orang
Arab. Karena kedudukan lebih tinggi, agama dan kebudayaan Arab
Islam dipandang lebih tinggi pula. Tidak mengherankan kalau
bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaan Islam di waktu itu
ban yak berusaha meniru orang Arab dalam bahasa, pakaian dan
ad at istiadat. Bahkan banyak pula yang meldnggalkan agama
74
· ~:
.Islinya dan masuk Islam." )
Segi-segi negatif ini tentu terjadi dalam pertemuan b~ngsa-
11angsa. Secara latent selalu ada bahaya kekacauan racial di mana-
Illana termasuk di negara kita Indonesia sekarang ini. Bukan saja
Lekacauan racial tetapi sering teIjadi rasa tidak puas terhadap
kclompok yang sedang berkuasa meletus dan teIjadi kekacauan.
Inilah yang ditonjolkan oleh kaum orientalist yang dianut oleh
I)r. Harun Nasution, akibatnya ia menulis: "Bahkan banyak pula
yang meninggalkan agama aslinya dan masuk Islam;; seakan-akan
kekuasaan Islam di daetah-daerah peluasannya itu sarna dengan
"x pansi kolonial pada abad 20. Bukankah i.lI.iak sedikit bangsa,
Indonesia yang mengagumi segala sesuatu yang dibawa Belanda
dahulu, termasuk agama mereka?
,'-:ungguh sangat mengherankan membaca keterangan semacam
11'I'Sebut dari seorang sarjana seperti Dr. Harun Nasution.
Pada paragraph ketiga Dr. Harun Nasution menulis: "Ke-
d lldukan Mawali yang lebih rendah itu di Persia pada akhirnya
IIlcmbawa kepada gerakan Syuubiyah, suatu gerakan yang dekat
Ilwnyerupai gerakan nasionalisme dalam arti mod.ern."
Dengan tulisan tersebut, kita faham bahwa, orang Arab tidak
.Idil dan menindas dan oleh karena itu timbullah Nasionalisme
Persia yang dinamakan Syuu~iyah. Gambaran semacam itu adalah
I'ambaran kaum ori~ntalist.
Marilah kita fikirkan dengan lebih tenang. Saya rasa tak
Illia negara modern di dunia ini yang adil seperti Kerajaan Inggris.
Walaupun begitu terjadi gerakan Irlandia merdeka, Di Canada,
plOpinsi Quebec sarna kedudukannya dengan propinsi-propinsi
('anada lainnya, malah P.M. Canada sekarang P.M. Trudeau
tdalah berasal dari Quebec. Walaupun begitu ada gerakan Na-
lonaIisme Quebec. Di Spanyol, ada pula gerakan Nasionalisme
Basque, yaitu kelompok suku~suku yang tinggal di pegunungan
I'yreenee sebelah utara~ Di Irak, ada gerakan nasionalisme Kurdi
Y:lng juga terdapat di Turki dan Persia. Dan di Indonesia sendiri
kalau kita tidak waspada, akan ada saja gerakan sukuisme,
.•..
75
......,'-.::.-------------------------
mengingat banyaknya suku-suku d( Indonesia. Memang benar,
Syuubiyah Iran akhirnya keIjasama dengan keluarga Abbasiyah
untuk menggulingkan kekuasaan Dinasti Amawiyah di Damas-
kus.
Yang terang bahwa mtfsuh-musuh kerajaan Amawiyah, yaitu
kelompok Abbasiyah beke!ja sarna dengan golongan nasionalis
Persia dan akhirnya berhasil menghancurkan kerajaan Amawi-
yah.
Fakta yang terang itu dihiasi oleh Dr. Harun Nasution
dengan gambaran bahwa orang Arab menindas orang yang bukan
Arab~ bahwa Mawali itu masuk Islam sekedar karena Islam adalan
agama kelompok yang berkuasa, sekan-akan tidak ada unsur
Iman dari pihak Mawali tersebut, dan tidak ada jiwa Islam yang
dihayati oleh masyarakat I~lam yang sudah meluas ke daerah-
daerah di luar Jazirah Arab.
Dalam halaman 108: Dr. Harun Nasution menulis:
"Di samping orang-orang Islam, baik Arab maupun bu~an Arab,
terdapat orang-orang bukan Islam yang memeluk agama-agama
lain, terutama agama Kristen dan Yahudi. Orang-orang ini disebut
ahluzziimah., Mereka adalah pemeluk agama lain yang memilih
tetap tinggal di bawah naungan Islam dengan membayar Jizyah
yang dapat diartikan pajak naungan".
Paragraph ini lebih baik dari paragraph yang terdapat da-
lam bab IV tentang aspek sejarah dan kebudayaan, (silahkan baca
koreksi tentang bab tersebut).
Te~api baiklah kita tambah dari kutipan buku Sayid Rasyid
yang berjudul : Wahyu Muhammad sebagai berikut :
Jizyah dalam Islam tidak seperti pajak-pajak yang dipaksa-
kan olehpihak yang menang kepada pihak yang kahlh serta
menyebabkan penderitaan-penderitaan mereka. Jizyah adalah pu-
ngutan sedikit sebagai imbalan terhadap jasa Pemerintah Islam
dan tentaranya yang mempertahankan keselamatan mereka. Ini
semua dapat -dibaca dalam sejarah Rasulullah.
76
Sebagai contoh perjanjian Jizyah adalah perjanjian yang·
ditulis oleh Khalid bin Walid kepada Saluba bin Nastuna, kepala
kelompok Kristen ketika Khalid menguasai daerah AI Furat (lrak).
Perjanjian itu berbunyi: Ini adalah surat dari Khalid bin Walid
kepada Saluba bin Nastuna. dan pengikutnya; aku berjanji akan
menerima Jizyah dan melakukan pertahanan, hak kamu adalah
zimmah. (tanggung jawab dan kesanggupan karoi). serta keamanan
selama kami dapat mengamankan kamu, kami berhak menerima
Jizyah. Jika kami tak sanggup lagimengamankan, kami tak berhak
lagi menerima Jizyah. Ditulis pada tanggal 12 bulan Safar.
(Pada zaman Khalifah Vmar memperluas daerah Islam di Persia).
77
-- -
~~· .... "..
7
KOREKSI TERfIADAP BAB VII TENTANG
ASPEKHUKUM
Aspek hukum dalam Islam sangat penting. Kalau segi keper-
cayaan sudah banyak diterima oleh l)1anusia Indonesia, segi
hukum sampai saat ini masih menjadi suatu penghalang bagi kaum
terpelajar di Indonesia untuk menerima Islam dan menghayati-
nya.
Bagi kaum terpelajar hukum yang terbaik adalah hukum
buatan manusia, yang dapat sesuai dengan tempat dan zaman.
Montesquieu (1689-1755) sarjana Perancis menulis karangan-
nya l'ESPRIT des 10is pada tahun 1748. Dalam -:-karangan
itu ia memberi definisi hukum sebagai berikut : "Les lois sont
des rapports necessaires qui deriveilt de 1a nature des choses"
yakni Hukum ada1ah h~bungan yang 1azim yang timbu1 dari
watak benda atau manusia. Dengan perkataan lain, sumber hukum
itu ialah manusia.
Dan oleh karena sumber hukum adalah manusia maka Mon-
tesquieu mencetuskan idee tentang tiga macam kekuasaan legis-
latif yakni yang membentuk hukum, executif yakni yang menget-
rapkan hukum dan judicatif yaitu kekuasaan kehakiman.
Idee-idee Montesquieu tersebut pad a waktu ini menjadi dasar
dari Pemenntahan atau struktur po1itik modern, meskipun banyak
negara yang mengatakan dirinya modern tidak me1akukan prin-
sip terse but. Kekuasaan executiflah yang sering menguasai
badan legislatif dan badan-badan peradilan, walaupun badan le-
gislatif dan peradilan itu terdapat dalam bentuknya yang 1ahiri-
yah.
78'
.,.
"
.1{
Islam adalah agama yang mengatur segi jasm~l!1i danrohani
mahusia, maka dari semenjak Nabi Muhammad s.aJ,w. berda'wah
untuk Islam, Qur-an diturunkan Allah kepadanya sedikit demi
sedikit sesuai dengan haj~t perkembangan da'wah. \Oleh karena
jtu maka kita dapatkail bahwa Ayat yang diwahyuka,n di Mekah
meri'sajakkepad8 tauhid, percaya bahwa Tuhan itu satu, dengan
memusatkan perh,,'ltian kepada keindahan alam, kesera~,ian dalam
Lukum alam serta t1agaimana manfaatnya kepada manus] a, sehing-
ga sampailah man~5ia kepada keyakinan akan adan)la Allah
yang maha tunggal Yh1!1g akan meminta pertanggungan ja,wab pe-
!vrjaan manusia di hart' kemudian .. )I
Setelah -keyakinan ten tang adanya Tuhan yang maha 'tunggal
tu tertanam baik, maka mulailah pendidlkan manusia m,eliwati
;lukum. Jadi lembaga hu&um itu timbul dalam Islam ,bukan
karena Islam sudah merup~1kan negara seperti yang dikatakan
Qleh Dr. Harun Nasution paola halaman 7, akan tetapi turunnya
ayat hukum itu ditetapkan \,sIesudah mendalamnya keyakillan
akan adanya Tuhan. \
\
Mungkin sepintas lalu ket~~rangan di atas kelihatan tidak
banyak berbeda. Tetapi sesungg~lhnya perbedaannya besar ..Kon-
sep Dr. Harun adalah bahwa ~\gama Islam itu seperti agama-
agama lainnya, dan kebetulan NaIbi Muhammadmenjadi kepala
negara, oleh karena itu, ia memerlukan Ayat-Ayat hukum. Kon-
sepsi saya adalah bahwa agama Islan\1 itu untuk dunia dan akhirat
dan hams mendirikan negara, Ayat-Ayat .ketatanegaraan itu bam
diturunkan pada waktu yang tepa~, waktu ('>rang memerlukan
\
untuk mengatur negara.
\
Hadis-Hadis bua~an
Pada halaman 11, Dr. Hamn Nasuti\OI n menulis :
"Untuk mencari penyelesaian bagi soal-soal bam itu para
sahabat kembalike AI Qur-an dan Sunnah yang ditinggalkan Nabi.
Soal kembali ke Al Qur-an mudall karena Al Qur-an dihafal oleh
sahabat-sahabat dan telah pula dibukukan di zaman Abu Bakar.
79
Tetapi ber1ainan halnya dengan Hadis. Hadis tidak dihafal dan
belum dibukukan pada waktu ltU. Di sini timbullah keadaan
terpaksa mencari Hadis dan ha1 ini nanti membawa kepada
timbu1nya Hadis-Hadis yang diragukan berasal dari Nabi, tetapi
adalah seben<trnya Hadis-Hadis buatan".
Keterangan di atas mengandung unsur orientalisme. Hadis
tidak dihafal. Ini sepintas 1a1u benar. Tetapi sebenarnya bany~
orang-orang yang mengetahui Hadis, dan Hadis itu .tidak se1alu
perlu dihafal, karena kebanyakan mengenai suatu kejadian. Jika
ada suatu kasus hukum, maka Abu Bakar dan Umar dan sahabat
lainnya menanyakan apakah ada orang yang meugetahui bahwa
Rasulullah pernah mengambil keputusan da1am kas,us semacam
itu. Jib pernah ada, maka sahabat yang mengetahuinya mem-
beritahu dengan membawa saksi. Jika tidak, maka para sahabat
mengadakan sidang untuk merundingkan soal tersebut. Dan kepu-
tusan yang mereka ambil dinamakan Ijma' (konsensus sa.habat)
Mencari Hadis pada zaman sahabat tak perlu dihubungkan
dengan timbulnya Hadis-Hadis buatan, yang teIjadi dua abad
kemudian. Penonjo1an a:danya H,. adis buatan pada permu1aan perio-
de tasyri' Oegislasi) Islam adalah kebi~saan pa,ia orientalis khu-
susnya Goldziher.
Istihsan dan· al Masalih a1 Mursalah
Pada halaman 17 Dr.. Harun menulis "Istihsan yang dibawa
oleh Abu Hanifah dan al Masalih al Mursalah yang ditimbu1kan
Malik ditolak oleh Al Syafii sebagai sumber hukum".
Kata-kata tersebut di atas sangat singkat dan memberi kesan
bahwa Imam Syafii sangat berbeda dengan Imam Abu Hanifah
atau Imam Malik; dan dengan begitu maka dasar hukum Islam
itu goyah, tidak kuat.
Oleh karena itu perlu ditambah dengan dua kutipan, pertama
mengenai Istihsan dan kedua mengenai alMasaJih a1 Mursalah.
Da1am kitab Usu1 Fiqh karangan Syekh Muhammad Khudari,
80
Guru hesar s'yari'at Islam di Universitas Cairo, halaman 334,
sf"b:1zaiberikut :
"Sering perkataan Istihsan dipakai oleh ahli fiqih mazhab
Hamlli sooagai kebalikan dariQiyas. Mereka mengatakan umpa-
manya : menurut Qiyas hukumnya sesuatu terlarang, tetapi al-
Istihsan mcmbolehkan; dengan begitu maka Istihsan dijadikan
satu sumber hukum ;atau argumentasiyang menentang sumber
hukum (argumentasi) lainnya dan mengalahka:nnya. Maka ada.
orang-orang yang tidak setuju pemakaian kata lstihsan, karena
mereka menganggapnya sebagai legislasi dengan ta:k pakai kaidah"
Atas dasar ini pula Imam Syafii berkata:. Barang siapa melakukan
Istihsan ia telah membentuk syari'at sendiri; banyak pula ahli
usul· fiqih yang mengikuti Imam. Syafii dan mengatakan bahwa
lstihsan adalah dalil (sumber hukum) yang keliru dan tidak boleh
diandalkan untuk menetapkan hukum.
Akan tetapi ahli-ahli usul fiqih ternama dari mazhab Hanafi
telah menerangkan arti Istihsan itu. Dan setelah kita faham
arti Istihsan yang sebenarnya ternyata hahwa perbedaan faham
antara kedua belah fihak (Syafii dan Hanafi) hanya perbedaan
kata-kata .. Mereka' menerangkan : Istihsan adalah Qiyas yang
ilIatnya (sebab hukumnya) tidak terang jika dibandingkan kepada
suatu Qiyas lain yang lebih nyata. Jika Istihsan terjadi jika dalam
sua.1. u kasus ada .suatu illat (sebab) yang mei'ljadikannya diberi
hukum yang mirip dengan sesuatukasus, tetapi di samping itu
ia mempunyai illat (sebab, sifat) lain yang menjadikannya mirip.
derlgan suatu kasus yang lain."
al Masalih al Mursalah
Untuk menghiIangkan kesan bahwa dasar-dasar atau sumber-
sumber hukum Islam itu kabur kare'na -lman Syafii tidak menye-
tujui al Masalih al MursaJah yang dikatakan oleh Imam Malik
di bawah ini saya muatkan kutipan dari kitab: Filsafat Tasyri'
dalam Islam karangan Dr. Subhi Al Mahmasani.
Para Imam-imam mazhab bersepakat bahwa dalam ibadat
81
menurut syari'at Islam yang pokok ialah "Ta'abbud" yakni
lakukan apa yang diperintahkan oleh agama dengan tak usah
tanya mengapa demikian. Hukum-hukum ibadat telah diketahui
menurut daliI-daliI syara' (Qur-an, Hadis).
Para Imam-imam mazhab itu juga bersepakat bahwa bagian
mu'amalat atau hukum yang mengenai hubungan masyarakat,
.mempunyai arti yang dapat difahami manusia dan hukum-hukum
itu didasarkan kepada maslahat dan manfa'at bagi manusia.
Maslahat atim manfa'at jika telah -ada keterangan dalam Nas
(Qur-an dan Hadis) atau Ijma' atau Qiyas ten tang boleh atau tidak-
nya, maka orang liarus.mengikuti hukum itu. Tetapi kalau sumber
hukum, (Qur-an, Sunnah, Ijma dan Qiyas) tidak menerangkan
faedah suatu perbuatan, maka kita berhak untuk menyelidikinya.
Imam Malik mengatakan hal tersebut, yakni berarti bahwa faedah
. (manfa'at) itu dianggap sumber hukum, dan hal tersebut ia nama-
kan aI Masalih aI Mursalah, yakni maslahat yang tak ada diterang-
kan daIam sumber-sumber hukum lainnya ..
Ada tiga syarat untuk menjadikan maslahat itu sumber
hukum-hukUJ;n. Pertama: maslahat itu harus mengenai mu'amalat
yakni bukan ibadat. Kedua: maslahat itu harus sesuai dengan jiw-a
syari'at .Islam, yakni tidak bertentangan dengan salah satu sum-
ber hukum. Ketiga: maslahat tersebut haros termasuk hal-haI
yang dinamakan dharuriyat (necessities) yaitu yang bermaksud
menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda, atau ter-
masuk dalam hal yang dinamakan hajiyat (keperluan-kepeluan)
artinya hal-hal yang diperlukan untuk kepentingan masyarakat,
di sampirig keIima hal yang dinamakan dharuriyat."
Pintu Ijtihad ditutup
Pada haIaman 20, Dr. Harun Nasution menulis sebagai be-
rikut :
"Sehabis periode ijtihad dan perkembangan hukum ter-
sebut di atas, datanglah periode' takIid dan penutupan pintu
ijtihad, di abad ke 4 '. Hijri (abad 11 Masehi) bersamaan dengan
82
mul.ainya I?asa kemunduran dalam sejarah kebudayaan Islam,
berhentiIah perkembangan hukum Islam; Mazhab yang empat
di waktu itu sudah mempunyai kedudukan stabil dalam. masya- .
rakat dan perhatian bukan lagi ditujukan kepada Al Qur-an, Sun"
nah dan sumbeNumber hukum lainnya, tetapi kepaaa buku-buku
fiqih. Ulama-ulama" 'mazhab mempertahankan mazhab imamnya
masing-masing dan menganggapmazhab iinamnyalah yang ter-
benar dan yang lainnya kurang benar. Dengan demikian perha-
tian dipusatkan pada usaha mempertahankan kebenaran mazhab
11)asing-masing.. Ulama-ulama kaliber besar yang sederajat dengan
Abu Ranifah, Malik, Syafi( dan Ibnu Hanbal sudah tidak terdapat
lagi dan ,ijtihad yang dijalankan oleh ulama-ulama yang belum.
mencapai derajat mujtahid membawa kekacauan dalam bidang
hukum dan dalam masyarakat. Dikatakan bahwa kasus yang sarna
di kota yang sarna menperoleh penyelesaian hukuIJl yang berten-
tangan. Dalam suasana demikian para ulama melihat perlunya
pintu ijtihad ditutup dan pengadilan perkara tidak boleh lagi di-
dasarkan kecuali atas pendapat ulama-ulama besar sebelumnya.
Orang tidak boleh lagi pergi langsung kepada Al Qur-an dan
/ Sunnah untuk menentukan hukum atau untuk memberi fatwa.
Di sini timbullah faham dan sikap taqlid yaitu mengikut pendapat
ulama-ulama sebelumnya. Ral yang demikian membawa keadaan
statis 'dalam bidang hukum Islam yang pengaruhnyamasih terasa
sampai dewasa ini" ..
Dengan membaca parag(apn terse but di atas, kna Hlendapat
gambaran bahwa ada' suatu larangan untuk mengambil hukum
dari Al Qur-an atau Radis, dan adanya suatu penntah untuk
mengikuti sesuatu larangan ten tang fiqih. 'Para ulama merasa
perlu pintu ijtihad ditutup dan pengadilan agama tidak boleh
lagi didasarkan kepada Al Qur-an dan Radis.
Gambaran semacam tersebut adalah tidak benar. Ini timbul
dari kata-kata hasan.
"Pintu ijtihad sud~h ditutu'p", seakan-akan ada pintu dan
ada penjaga Yang membawa kUtlcinya.
83
Gambaran tersebut eli atas aelalah gambaran keadaan yang
abstrak. Dalam keaelaan yang kita bicarakan, suasana lesu, dan
apatls meraja da. Ini ada1ah akibat elaripaela keburukan struk-
tur politik. Hulagu Khan, cucu dari Genkiz Khan pada tahun
1258 M telah menyerang B:lgelael dan membunuh Khalifah Aba-
siyah yang terakhir, dan merusak kota tersebut. Mesir pada waktu
itu suelah berganti pemerintahan. Setelah 'Kerajaan Ayubiyah
runtuh, dig-anti c1engan MamaJik, dan raja yang keempat yaitu
Baybars telah menclatangkan dari Bagdad seorang keturunan
Khalifah dan diangkat menjadi Khalifah formil di Mesir, sedang
segala : ~kuasaari clipegang oleh Raja Baybars tersebut.
Hukum' hanya dapat berkembang dalam suasana stabil di
mana kckuasaan tidak menccngkeram rakyat dan masyala}~at.
Yang .teIjadi sesungguhnya, bukan para ulama menutup
pintu ijlihael, me13rang orang mencari hukum dalam Al Qur-an
dan l-l~ldis. Y~lllg kIj'ldi aelolah kelesuan dan sikap apatis umum.
Orang tielak mau lagi mempcrclalam perigetahuan termasuk di
daJamnya pengetal1uan hukum. Jika dalam zaman sebelumnya,
peminat kepada ilmu harus mempelajari Qur-an dan SunnaJl
(Hadis) maKa pada zaman ke1esuan ini.orang hanya mempel:-jari
karangan S03corang don mcngikuti earn berfikir"ya. Kdlau ia ter-
masuk orang yang iSiimewa, ia dapat meIigarang buku yang
merupakan ringkasan buku-buku yang tcrclahulu atau mengum-
pul~ari bahan d~ri sana sini, akan tetapi tidak be rani menunjuk-
kan Sl<ltu sikap :1[ibadi tentang sesuatu masalah. Syekh Al Khu-
darj menceritakan bahwa seorang a~li hukum yang bernama
Abul Hasan Ubaiclullah aI Karkhi, bermazhab Hanafi berkata :
"tia') Ayat Mau Hadis yang bertentangan dengan pendapat kita
harus Jihcri ta'wil (interpretasi) atau dianggap mansukh".
Sebab yang pokok ialah tidak mencntunya kea~.C\an politik.
:retapi di samping itu Syekh Muhammad Khudari menyebutkan
tiga sebab lain:
1, Muricl-murid yang pandai yang mengikuti suatu Imam. Murid-
murid terse but "nenyiarkan pendapat aliran imammereka
84
dengan cara yang menarik schingga kalau aJa seorang
mujtahid baru, orang tersebut akan tak dapat ruang gerak.
2. L~'ltan hakim, kebanyal<an raja-raja atau Kh; lifah mengang-
kat haklmnya daripada orang-orang yang mempunyai penge-
tahuan yang luas dalam syari'at. Tetapi jika kemudian ter-
dapat hakim-hakim yang memberi keputusan 'yang dapat
dibantah oleh orang yang lebih pandai, akibatnya orang
tidal< lagi suka kepada Hakim negeri. dan hanya mencukup-
kan diri dengan membaca buku seorang ahli hukum ternama.
Sebaliknya' jika murid-murid pandai yang tersebut dalam
hal no. I itu banyak yang diangkat sebagai Hakim, maka
pengaruh mereka akan 'membendung pengaruh orang barn
yang mempunyai idee-idee baru.
3. Karangan-karangan orang-orang temama juga telah mcn-
jadikan ilmu pengetahuannya tersiar, dan mempengaruhi
masyarakat yang menganggap baltwa tak perlu lagi mencari
idee baru.
Dengan penjelasan di at as teranglal~ bahwa teL_ ada orang
menutup pintu ijtihad., Yang ada adalah kelesuan berfikir l~ada
suatu mas:!. Tidak usah jauh-jauh. Di tanah air kita sendiri terdapat
aliran orang hams bermazhab dan aliran yang mengatakan yang
pokok adalah Qur-an dan Hadis. Tetapi karena kedua aliran ter-
sebut kekuranga:n pengetahuan yang mengenai syari'ah maupun
mengel1ai pengetahuan-pengetahuan modem, maka perbedaan
pendirian itu tidak banyak membawa perbedaan hasH berfikir.
Da1am halaman 21 Dr. Harun menulis: "Pendapat yang
banyak dianut da1am kalangan Ahlussunnah bahwa pintu ij'tihad
teitutup mulai mendapat tantangan oleh pemikir-pemikir pemba-
haruan da1am Islam di akhir abad 19 yang lalu seperti al Tahtawi,
lamaluddin al Afgani dan Muhammad Abduh".
l}raian tersebut perlu diletakkan dalam proporsi yang sebe-
narnya. Yang menjadi' persoalan bukan masalah membuka lagi
pintu ijtihad yang telah ditutup. Yang menjadi masalah ia1ah
bahwa umat Islam dalam keadaan kelesuan fikir selama 3 abad,
85
sehingga banyak sekali hal-hal yang terjadi di Barat yang tidak
diketahui oleh ahli-ahli hukum Islam. Pokoknya ialah soal
pendidikan ilmu-ilmu baru yang sama sekali' tak diajarkan di
madrasah-madrasah sepe.rti berhitung, ilmu bumi' .ilm.u alam,
ilmu hayat dan sebagaii1ya. Syekh Muhammad Abduh dan teman-
temannya, mengajak supaya kitamengetalmi ilmu-ilmu baru
tersebut, I dan jika kita sudah mengetahu' inya tentu cara berfikir
kit a jug~ berobah. Tetapi bukan soal kembali dibukanya pintu
ijtihad yang sudah ditutup.
Ijtihad hams secara kolektif?
Pada halaman 22 Dr.' .Barun menulis : "retapi dala1!l pada
itu timbul persoalan apakah masih dapat diadakan ijtihad per-
seorangan sebagai yang dilakukan oleh imam-imam besar di zaman
yang lampau ? Di zaman mereka seribu tahi.m yang lalu, problema-
problema masyarakat belum begitu banyal,<. dan belum begitu
ruwet persoalallnya sebagai yang terdapat di zaman modern se-
karang. Oleh karena itu, ijtihad sekarang. rasanya tidak dapat
dilakukan lagi secara indi'viduil. Tetapi harus secara kolektif yang
di dalamnya terdapat berbagai ahli dalam bid~ngnya masing-
masing. Problema harus ditinjau umpamanya dati segi ekonomi,
sosial, ilmu kependudukan, ilmu kesehatan, teknologi" psykho-
logi dan sebagainya dan bukan hanya dati segi agama atau hukum
saja. Setelah mendapat berbagai macain pendapat ahli-ahli itulah,
baru hukum ditentukan".
Setelah Dr. Harun Nasution mengatakan bahwa "Pintu ijti-
had sudah ditutup", kemudian ia mengatakan bahwa ada oiang-
orang yang ingin membukanya kembali seperti Syekh Muhammad
Abduh, akhirnya ia menggambarkan kesulitan-kesulitan yang
dihadapi oleh ijtihad. Masyarakat terlalu banyak dan ruwet,
jadi perlu ada ijtihad secara ko1ektif.
Kata-kata tersebut perlu menda'pat penjelasan. Memang betul
masyarakat abad ke 20 terlalu ruwet, akan tetapi dalam satu hal,
sedikitnya, kita sangat beruntung. Komunikasi sangat mudah.
86
Scorang alim dapat menu1is suatu buku dan dalam beberapa hari
telah dibaca oleh beribu-ribu orang, bukan saja di negerinya sen-
diri, tetapi juga di negeri lain.
Di bermacam-macain negara sekarang ada majalah-majalah
khusus : Majalah hukum; majalah filsafat, majala- h ekonomi ,
.
majalah kedokteran dan seba.g.ainya.. Orang-orang yang berminat
dapat membaca dalam majalah-majalab yang ternama hasil dari-
pada buah fikiran ahli-ahli yang terbesar di dunia.
Jadi soalnya 'Jukan· mengumpulkan ahli-ahli tersehl1t dan
mempertemukan dengan ahli agama; soalnya adalah agar ahli-
ahli agama, di. sam ping mengetahui agama, juga mengetahui
pengetahuan umum atau memperdalam dalam suatu bi~ang
pengetahuan umum. Dengan begitu maka ia dapat merasC'.kan
hubungan antara segi agama dan segi kehidupan abad ke 20 ini~
Kalau kita hanya mempertemukan seorang ulama tradisi-
onil dengan seorang dokter atau seorang ahli ekonomi yang ke-
duanya tak ta,hu agama, niscaya pertemuari mereka akan bertele-
tele, mer.eka berlainan fildran dan berlainan bahasa.
Padahakekatnya ijtihad pada zaman modern ini berjala"n
dcngan komunikasi para ahli-ahli pengetahuan.
Yang kita merasa kekurang;m adalah terwujudnya ahli aga-
ma yang mengetahui ekonomi atau ilmu lain dan ahli ekonomi
tau ilmu lain yang mengerti agama - Perpaduan dala~ bidang
ama dan bidang pengetahuan lain inilah yang sangat diperlukan.
Ayat-Ayat Dubious, Dhanny
Pada halaman22 paragraph 3" Dr;Harun Nasution menulis :
l<'ungguhpun teks itu betul-betul wahyu dari Tuhan, itu tidak
encegah timbulnya perbedaan pendapat tentang ketentuanhu-
urn yang diambil dari Ayat-Ayat ahkam tertentu. Hal itu timbul ka-
na arti yang dikandung teks ayat tidak sc1amanya b.ersifat qat'i
tau positif. Ada ayat-ayat yang artinya bersifat dhanny, tidak
sitif dan oleh karena itu boleh'1TIengandu~'1g1ebih dan satu
87
arti".
Dr. Harun memberi contoh sebagai Ayat dubious, Pertama
surat Al Baqarah ayat 228 ..
~l /"M'~\-. ~.\ ,s::-:'"Y:--~T~~~/~~/-y/.~w/ ~••\J• ./.~/ '/l y/V:/-L'--.:.-•.....L..../U;/;/}/7\.W .•. \ !)
"Perempuan yang lelah dicerai meni:tnggu tiga masa."
}>erkataan quru' diartikan oleh Malik dan Syafi'l sebagai masa
suei, dan Abu Hanifah mengartikan masa tidak suci(masa haidh,
m.enstruasi).
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, jallganlah kamu hampir kepada sembah-'
yang padahal kamu sudah mabuk hingga kamu tahu apa yang kamu
katakan dan jangan kamu hampiri kepada tempat sembah.yang padahal
kamu junub kecuali orang-orang yang melalui, hingga kamu mandi,
dan jika lW.mll sakit atau dalam perjalanan, atau seorang daripada kamu
datang dari tempat buangan ~tau kamu s,entuh perempuan-perempuan
sedang kamu tak dapat air, maka hendaklah kamu cari debu yang
bersih lamas hendaklah kamu sapu muka-muka kamu dan tangan-
tangan kamu, karena sesungguhnya adalah Allah itu Pemudah Pengam-
pun."
Kata-kata menyentuh pert';T1puan diartikan persetubuhan
oleh Malik, sehingga jika ora'1f' ,-'~rjabatan tangan saja tida', batal
88
wudunya. Oleh Syafii menyentuh perempuan diartikan menyen-
tuh secara harfiyah sehingga bagi Syafii. barang siap'l menyentuh
perempuan sesudah wudu maka wudunya bat'll.
Mengenili disebutkanriya Ayat dubious atau. dhanni, ·saya
kira tiap-tiap orang ahli hukum mengetahui bagaiinana para
;hli hukum selalu teliti dalam mengartikan hukum-hukum dan
tidak jarang penafsiranm0reka berbeda-beda.
Orang mempunyai kesan bahwa Dr. Harun berusaha
memberi image ten tang hukum Islam persis seperti image yang
diberikan oleh kaum orientalis yang tidak suka kepada Islam.
Tindakan Nabi merupakan sumber hukum,
Pada halaman 24, paragraph ter$lk]1jr Dr. Haron Nasution
l11enulis sebagai berikut :
"Mengenai sumber hukum kedua, hadis menjelaskan ucapan-
ucap~n dan perbuatan-perbuatan Nabi, ucapan-ucapan dan per-
buatan -perbuatan itu 'Ida yang beliau lakukan ,dalam sifat beliau
selaku Rasulullah dan 'Ida pula yangdilakukan dalam sifal beliau
sebagai manusia blasa (cara tidur, makan, berpakaian dan sebagai-
nya). Yang diterima menjadi sumber hukum ialah ucapan-ucapan
dan perbuatan-perbuatan Nabi dalam bentuk pe~tama". s
Kata-kata tersebut tidak benar. Orang Islam' diwajibkan
mengikuti Allah dan RasulNya. Perbuatan Rasulullah yang bet-
bentuk ibadah, seperti salat, puas'). dan lain-lainnya wajib ditiru.
Yang' lain-lainnya sunat ditiru, artinya jika ditiru mendapat pa-
hala, jika tidak ditiru tidak berdosa. Dengan begitu maka segal a
tindakan Rasul itu merupakan sumber hukum.
Hadis Nabi
Pada halaman 25 Dr. Haron Nasution menulis :
Karena Hadis tidak pernah dihafal atau ditulis. oleh sahabat,
89
/"
maka acap kali tidak dapat diketahui dengan pasti apakah suatu
Hadis betul-betul berasal dari Nabi. Sudah disebut bahwa dalarn
sejarah niemang terjadi ada. orang dan golongan tertentu yang
mencari-cari Hadis untuk memperkuat pendapat atau kedudukan-
nya, maka diada-adakanlah Hadis. Oleh karena itu timbullah
pengertian Hadis sahih yang betul-betul berasal dari Nabi dan
Hadis tidak sahih atau maudu', yaitu Hadis yang sebenarnya tidak
berasal dari Nabi, tetapi Hadis yang dikarang-k&rang orang. Sudah
barang tentu Hadis golongan terakhir ini tidak dapat dipakai
menjadi sumber hukum".
"Kemudian Hadis sahih dibagi lagi menurut sanad atau rawi
yaitu periwayatnya, ke dalam Hadis mutawati~, masyhur daJl
ahad. Hadis mutawatir ialah Hadis, yang jumlah rawinya pada tiap
rentetan demikian banyaknya sehingga tidak dapat dir;1gukan
lagi bahwa Hadis itu henar-benar berasal dari Nabi. J adi sahabat
yang meriwayatkan Hadis itu dari N abi jumlahnya besar sekali,
begitu pula tabfin yang meriwayatkal1 dari sahabat besar j'um-
lahnya dan demikian seterusnya dari generasi ke generasi selan
jutnya.
"Hadis masyhuradalah Hadis yang diriwayatkan oleh satu,
dua atau beberapa sahabat dari Nabi. kemudian 'oleh 'tabi'in
yang berjum~ besar dari sahabat, .dan selanjutnya _rawi yang
berjumlah besar dari tabi'in dan demikianlah seterusnya dari ge-
nerasi ke generasi selaii]utnya. Kalau sahabat yang meriwayatkan
sesuatu J-iadis dari Nabi sedikit jumlahnya, dan rawi dari sahabat
sedikitpula dan demikian seterusnya dari, generasi kegenerasi
selanjutnya makaHadis itu disebutHadis ahad.
"Yang disepakati semua golongan umat_ Islam untuk dapat
dipakai sebagai sumber hukum adalah' Hadis mutawatir. Hadis
masyhur dan ahad ada :yang mau menerimanya dan ada pula
yang tidak mau menerimanya, golongan .Mu'tazilah umpamanya.
"Mengenai teks Hadis terdapat pula di dalamnya faham
qat'i dan dhanni s~perti yang dijelaskan dalainhal teks al Qur-an".
Saya persilahkan para pembaca meneliti koreksi saya terha~
90
dap bab 11 dalam jilid Satu. Dalam bab II jilid Pertama terdapat
perkataan yang hampir sarna, yaitu "Kalau Hadis tidak dihafal
dan tidak dicatat dari semula, tidaklah dapat diketahui dengan
pasti m~na Hadis yang betul-~etul berasal dari Nabi dan mana
yang buat-buatan".
Kelicikan dari kaum orientalis yang di-anut oleh Dr. Harun
Nasution, entah dengan sadar atau tidak, ialah bahwa mereka
membicarakan Hadis secara keseluruhan. Dalam Hadis secara
keseluruhan, diantaranya djkatakan oleh Dr. Harun Nasution
yang didengar oleh Bukhari enam ratus ribu Hadis; memang
banyak Hadis -Hadis' yang dibuat-buat orang. Akan tetapi dari
permulaan para sahabat Nabi berhati-hati sekali menerima Hadis.
Pada zaman kegiatan ilmiyah, Hadis mendapat perhatian dari para
peminat, dan diantara para peminat itu terdaoat enam orang
yaituBukhari wafat tahun 256, Muslim w-afat -tah'un'"261, Ibnu
Majah tahun 273, Abu Daud (tahun 275), Turmuzi (tahun 279)
dan Nasai (tahun 303)., Buku-buku mereka biasanya disebut
Al Kutubal Sittah yakni -enam buku. Akan tetapi para ulm:na
scpakat menganggap kumpulan Bukhari dan Muslimlah yal!g
paling baik.
Al Bukhari (bcrasal dari Bukhara di Turkistan) dilahirkan·
tahun 194. Ia men~njukkan kegiatan yang luar biasa dalam
mengumpulkan Hadis yaitu dengan melakukan perjalanan yang,
jauh di seluruh daerah Islam di mana ia me rasa ada orang yang
mengetahui Hadis. Ia melakukan perjalanan mengumpulkan Ha-
dis selamal6 tahun. Al Bukhari membentuk criteria sendiri un-
uk menyaring Hadis-Hadis yang didengarnya. Criteria ini biasanya
isebut syuruth a1 Bukhari, seperti: Sanad atau rangkaian orang
yang meriwayatkan harus tidak terputus, dan tiap-tiap rawi
dalah orang muslim yang jujur dan berHkiran jernih, berbudi
ekerti baik, baik ingatannya dan sebagainya.
Muslim dianggap oleh para ahli Hadis sebagai nomor dua
sudah Al Bukhari, karena syarat-syaratnya atau criterianya
bih lunak dari syarat-syarat al Bukhari.
91
Jumlah Hadis Bukhari yang sahih adalah 7397 Hadis, te-
tapi banyak yang terulang oleh karena yang meriwayatkan banyak;
jadi jika dihitung:Hadis al Bukhari yang sahih, yang tidak terulang,
jumIahnya adalah 2762 Hadis sahih.
Adapun Hadis Muslim seluruhnya beIjumlah 7275, dan yang
tidak te,rulang berjumlah kira-kira ampat ribu Hadis.
Dengan keterangan di atas, saya kira image pembilca tentang
Hadis sudah berobah tidak seperti yang digambarkan oleh Dr.
Harlin Nasution yang mengatakan: "Karena Hadis tidak dihafal
dan tidak dicatat dari semula, tidaklah dapat diketahui dengan
pasti mana Hadis yang betul berasal dari Nabi dan mana yang
buat-buatan".
Namun begitu kita tidak mengatakan ballWa segal a Ha-
dis Bukhari dan Muslim itu benar, Di antara 2762 Hadis sahih
Bukhari, tentunya ada saja beberapa Hadis yang tidak benar,
karena Hadis Bukhari dikumpulkan oleh AI Bu}<:haridan ia adalah
se,orang manusia biasa.
Tetapi dalam garis besarnya kitab-kitab Hadis yang enam
merpuat Hadis-Hadis yang sahih atau dekat kepa~a sahih, karena
criteria yang dipakai oleh pengumpuI~ya adalah criteria yang
ketat. .
Sikap orang Islam adalah bahwa Hadis-Hadis itu pada llmum-
nya benar, ada sedikit 'sekali yang salah. Sikap kaum orientaIis
adal¥1 : semua Hadis itu buat-buatan, kecuali beberapa Hadis
yang betul sahih dari Nabi Mul111mmad.
Hadis juga dubious
Pada akhir keteraneanny:J. ten tang Hadis Dr. Harun Nasution
mengatakan :
"Mengenai teks Hadis terdapat pula di dalamnya fahanl
qat"! oan o11anni seperti yang dijelaskan dalam hal teks AI Qur-an".
Mengenai keterangan tersebut saya mengulang keterangan
saya ten tang tek'> Al Qur-an. Tiap allIi hukum tentu akan dapat
92
mengerti bahw~ bahasa itu ada yang dapat difahamkan menurut
sesuatu pengertian dan ada pula yang dapat difihami menurut
pengertian lain; maka pada Ayat-Ayat hukum selalu ada penaf-
"iran untuk menjauhkan faham yang bermacarn-macam.
Ijma' ada atau tidak
Pada halaman 26, Dr. Harun Nasution menulis :
"Sumber hukum· ketiga, Ijma' ialah konsensus atau kata
sepakat para ulama mujtahid tentang sesuatu ketentuan hukum.
Dengan· kata lain hasil ijtihad mereka sarna dan tidak berbeda.
Di sini timbul pula pertikaian faham, tentang bisa atau ti-
dak bisanya terwujud Ijma' .ulama,. terutama sesudah zaman sa- .
habat, Golongan yang tidak menerimc Ijma' sebagai sumher
hukum memajukan masaIah-masalah berikut :
a. Ulama-ul31na sesudah meluasnya daerah Islam berjauhan
tempat tinggal Jan komunikasi antara mereka di masa lam-
pau sulit dapat diwu]udkan.
i). Tidak semua ulama bersedia menyatakan hasil ijtihadnya.
c. Tidak ada norma yang bulat disepakati tentang siapa sebe-
n~rnya yang disebut mujtahid.
Oleh karena itu -golongan ini berpendapat bahwa tidak ada
ebenarnya apa yang disebut ljma'. Yang ada hailyaIaIl kesepaka-
tan kata dari sebagian besar ulama dan bukan dari seluruh ulama.
Diantara golongan yang menolak ljma' terdapat Syi'ah, Khawa-
rij dan sebagian Mu'tazilah" ..
Setelah membaca keterangan di ata~, seorang pembaca
yang beluin memperdalami masalah ini akan berkesimpulan bah-
wa ljma' itu tidak ada. Dengan begitu hilanglah sumber hukum
Islam yang ketiga, sedang sumber Hukum Islam yang pertama
aitu Al Qur-:an banyak Ayatnya yang dubious,dan sumter hukum
kedua yaitu Sunnah, tak ada criteria yang menetapkan benar
idaknya sesuatu Hadis, di samping adanya Hadis yang dubious
rtinya sebagaimana halnya Ayat-Ayat Al Qur-an.
93
Untuk menghilangkan kesimpulan yang salah, di bawah ini
saya kutipkan keterangan Dr. Subhi Al Mahmasani dalam buku-
nya: The Philosophy of Jurisprudence in Islam.
Subhi Al Mahmasani menulis : Sesudah Al Qur-an dan
Hadis, bagi mayoritas ahli hukum Ijma' adalah sumber hukum
Islam yang ketiga. Ijma' adalah persetujuan para mujtahidin
dalam suatu periode, mengenai hukum agama.
Para ahli fiqih dalam menentukan Ijma' sebagai sumber
ketiga, bersandar kepada Al Qur-an, Hadis dan argumentasi.
Dalil dari Al Qur-an :
1. Sur at 4 ayat 115 :
~J~:i' ~~'/' /1~t://?',(S \~~,"~\"1/J-;~;~;~/~/'/1
/.~/ .•u../:~0<-/A/ ~
\~' ./6~LY/~/ / ~./ 'd~..,/;~~~p/~,--<"' ~.·'";fl~~_./
~~l/
~.
"Bar.angsiapa menentang Rasulullah sesudah terang petunjuk baginya,
serta mengikuti jalan selain jalannya orang mu'min, maka Kami akan
palingkan dia ke mana ia berpaling dan Kami masukkan ke neraka
jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat."
Di sini Ijma' adalah jalannya orang mukmin yang harus
diikuti. .
2. ~~rat 4 ayat 59 : I ~ __
yl '~-"3'./'.(r ,F"y....!.,../-',·/l"}::;.\,\l\t~/}_./\I\/.l
f-' / /J<~9Vh'\~\\-~, _1,_//./;.l~\~\ .-:'''
,/,
,! .--:~~:!((J <~~1 /.' ~ \ /\ / .j••~-{ .--:<..
. /rv\-'~s01\ ~. \.......:J \ ~~O-,;l"'y~~ ~~j \ 0/ f'-/
''Hai orang yang beriman, ikutilah Allah dan ikutilah RasulNya serta
penguasa-penguasa daripada mu. Dan jika kamu berselisih dalam. sesu-
atu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul-
Nya".
J adi Ijma' adalah maq bul.
3. Surat 3 ayat 103 :
94
\·f ~ ~-''.I§. (;~T~-/-?:~)r~/'~~.\.././ ~/\.~~.)\'~ ~ '(
"Dan berpeganglah semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai
berai."
4 I-Iadis :
"Tuhan beserta orang banyak (Riwayat Turmizi.)"
5. Kata Abdullah bin Mas'ud (S~habat Nabi) :
1,/'J /~.«(,./~,~0/~/'1j1;-":'.."if'l":.;o'.n) .../·.
\ ./
~..w~.#''.>' // /'
/
~4\b;~w5·fj(;' ;.- //'.../' '-""?/~t'(o\I./~~../
NHal-hal yang dianggap baik oleh umat Islam, acj.alah baik di hadapan
Allah.
Hal-hal yang dianggap jelek oleh umat Islam, adalah jf!lek di hadapan
Allah."
Adapun argumentasi tentang I)ma' mengatakan bahwa menurut
aqal, jika para ulama sepakat menetapkan sesuatu hal biasanya
tidak mungkin seluruh mujtahidin itu keliru semua,' dan tak se-
orangpun yang merasaka.n-lcekeliruan mereka.
Setengah orang seperti Ahmad bin I-Ianbal dan Dawud
Al Dhahiri mengat~an bahwa Ijma' itu terjadi pada zaman saha-
bat, tetapi mayoritas mengatakan Ijma' itu dapat saja terjadi
sesudah zaman sahabat.
Dan Ijma' itu dapat terjadi secara explisit, tetapi dapat pula
terjadi secara inplisit, artinya dengan diam dan fidak menentang
.- . 1ill semua pendapat Ahlussunnah, adapun Syi'ah, mereka
menjelaskan Ijma'. itu hanya. dapat terjadi diantara keturunan
Nabi .. (Tentu saja ini tak bisa ditprima, karena sangat bersifat
feodalistis dan menyalahi jiwa Al Qur-an.)
Akhirnya J?r. Subhi AI Mahmasani menulis: "Ijma' telah
banyak faedahnya dalam. sejarah hukum Islam dari segi bahwa
hukum Islam itu selalu berkembang menurut perobahan
zaman dan perbedaan adat istiadat serta terpengaruh oleh
95
para mujtahidin <till am hal-hal yang tak ada nas (teks) dalam Al
Qur-an dan Hadis, atau acla teks akan tetapi yang menga!1dung
lebih dari satu arti.
Saya harap dengan membandingkan uraian Dr. Barnn Nasu-
tion dengan uraian Dr. Subhi Al Mahmasani, kita dapat meng-
hilangkan rasa kekacau balauan yang disebabkan oleh 'uraian
Dr. Harnn Nasution.
Qiyas
Pada halaman 27 Dr. Harun NasutlOn menulis tentang Qiyas.
Tulisannya singkat tetapi saya pandang cukup baik. Hanya pada
paragraph kedua, Dr. Harnn Nasution menulis : sebagai halny~
dengan Ijma', Qiyas juga diterima oleh sebagian besar ulama
Golongan yang tak menerimanya sebagai sumberhukum mema-
jukan argumen berikut:Qiyas didasarkan 3tas dhan,yaitu anggapan,
dalam arti bahwa illat hanY<imerupakan pikiran saja. Daud Dhahiri
dan Syi'ah Duabelas tidak menerima Qiyas sebagai sumber hu-
kum".
Karena Dr. Barun menyebutkan argume,n orang-orang yan~
tidak menerima Qiyas, alangkah baiknya kalau ia juga menyebut-
kan argumen or~ng-orang yang menerirnaQiyas.
Di bawah ini akan kami sebutkan argumen-argumen untuk
Qiyas dari Al Qur-ari Surat 29 Ayat 4;3:
;;~ (."1 .-u(/·/·:l.\.;5N/~.Ir/!I·~:,-/,c~j-/f 6J./t~<~-: ::/j~"II:J/l-;' /
Artinya:
"Dan itulah contoh-contoh yang aku berikan kepada manusia, dan yang
memahaminya hanya orang pandai"
Dan Surat 59 Ayat 2 /
~ :J-~-\ \ • ...,./)I~./A'~r\' <./"..:\$/~ll\-\v''•:\•/.o\/~;.~,//'\:)::"\~
Artinya:
"Maka berpikir-pikirlah hai orang-orang yang berakal."
96
Dari Hadis.I yaitu hadis Mu'adz: yang diriwayatkan oleh Ahmad,
Abu Dawud dan Turmuzi, yang maksudny~ : Ketika Nabi
Muhammad mengangkat Mu'adz menjadi hakim di Yaman. beliau'
bertaflya: Dengan apa engkau akan memberi hukum, Muadz
menjawab : dengan Qur-an. M(lKa Rasulullah berkata : Jika engkau
tak mendapatkan hukum dalam Qur-an? Maka Mu'adz menja-
wab: Dengan Sunnah Rasulullah. Nabi Muhammad bertanya lagi:
Kalaupun dalam sunnah kau tak mendapatkan hukum, maka ja-
wab Mu'adz: Aku akan berijtihad de~gan fikiranku. Maka Nabi
Muhammadpun menyetujuinya dan berkata: Alhamdulillah yang
telah memberikan taufikNya kepada utusanNya Rasulullah untuk
menjalankan yang disukai Allah dan RasulNya.
11. Hadis Bukhari bahwa ada seorang wanita dari suku Juhainah,
datang kepada Nabi Muhammad dan berkata:" Ibu saya pernah
mengucapkari nadhar untuk melakukan ibadah haji, 'tetapi ia
menin~al sebelum berhaji. Apakah aku dapat mewakilinya ?
Nabi Muhammad menjawab: Ya, lakukanlah ibadah haji urituknya.
Bukankah jika ibumu mempunyai hutang engkau hams memba-
yarnya ?"Maka bayarlah hutang ibumu kepada Allah, karena hu-
tang kepada Tuhan lebih' berhak untuk dilunasi". Dari .Hadis
tersebut difahamkan bahwa kewajiban haji hams dilunasi sebagai-
mana hutangjuga hams dibayar.
HI. Sahabat-sahabat Nabi sepakat untuk melakukan "Qiyas.
Khalifah Umar bin Khattab memberi instruksi kepada Abu Musa
Al Asyari: Ketahuilah hal-hal yang ada persainaan dan qiyaskan-
lahdiantara hal-hal tersebut.
Istihsan
Pada halaman 26 Dr. Hamn Nasution menulis : "Istihsan
banyak dipakai dalam mazhab Hanafi. Ulama-ulama lain berpen-
dapat bahwa ini jauh dari qiyas yang sebenarnya. Syafii menolak·
"Istihsan" sebagai sumber hukum".
97
Dr. Harun' Nasution telah menulis pada halaman 17 dari
bukunya, .jilid II mengenai lstihsan cian Maslahah Mursalah, yang
ditolak oleh Syafii. Seakan-akan keterangan dalam halaman 17
tersebut belum cuk_up sehingga perlu diulangi pada halaman 26.
Oleh karena sudah kami jelas~an sehubungari. dengan kata-
kata Dr. Harun Nasution pada halaman 17, maka saya persilahkan
pembaca untuk meneliti sekali lagi koreksi saya tersebut; apa lagi .
mengingat masih banyak lagi hal-hal yang perlu dikoreksi .
Hukum agama sebelum Islam
Pada halaman 29, Dr. Harun Nasution menulis : "Yang
dimaksudkan dengan hukum agama sebelumnya ialah hukum-
hukum yang disebutkan dalam Al Qur-an untuk umat Yahudi
dan urn at Kristen, dengan syarat hukum itu tidak bertentangan
, dengan hukum Jslam. Sumber ini dipakai terutama oleh golongan
Hanafi".
Kata-kata di atas memberi kesan kepada pembaca yang belum
memperdalam ilmu hukum Islam seakan-akan banyak hukum
agama Yahudi dan agama Kristen ,yang diwariskanl kepada Islam.
Setidak-tidaknya kata-kata tersebut memberi kesan bahwa Islam
berhutang kepada agama yang sebelumnya. Yang benar adalah
sebaliknya, Islam datang untuk mengoreksi yang salah dan me-
nyempurnakan yang ada dalam agama yang sebelumnya.
Karena' alasan tersebut di atas, maka di bawah ini saya ku-
tlpkan dari kitab usul Fiqh karangan Syekh Muhammad Al Khu-
dari. Beliau menulis :
"Ketahuilah bahwa syari'at-syari'at para Nabi dahulu, ada yang
sudah dirobah oleh syari'at kita, dan ini sudah terang kita tidak
disuruh mengikutinya.
Diantara 8yari'at dahulu, ada yang tidak kita dapatkan ke-
terangaI1~keterangan bahwa syari'at itu telah dihapus. Dan bagian
kedua ini ada dua macam. Pertama : hal-hal yang telah ditetapkan
oleh syari'at kita, dan ini kita wajfb mengikutinya, justru karena
98
irii sudah menjadi syari'at kita. Kedua, hal-hal yang tidak ditetapkan
oleh syari'at kita. Dari bagian kedua ini ada hal-hal yang diriwa-
yatkan sebagai telah dikatakan oleh nabi mereka dengan tidak
dikatakan bahwa kita wajib mengikutinya, dan ada pula yang
tak tersebut dalarn Qur-an sarna sekali. Adapun yang tidak ter-
sebut dalam Al Qur-an, sarna sekali kita tidak wajib mengikuti-
nya. Dengan begitu maka permasalahannya tiriggal satu, yaitu
hal-hal yangJersebut dalarn Al Qur-an.
Orang yang tidak mengakui bahwa hukum-hukum itu juga
berlaku bagi kita umat Islarn berkata : kalau hukum-hukum
itu berlaku bagi kita niscaya Mu'adz menyebutkannya waktu dita-
nya oleh ~abi, dan niscaya Nabi mengoreksijawaban Mu'adz yang
tidak menyebutkan agama-agama sebelum Islam sebagai sumber
hukum. Terhadap argumentasi semacarn itu kit a menjawab :
Mu'adz tidak menyebutkan dan Rasulullah tidak mengoreksi
Mu'adz oleh karena hukum-hukum itu ada dalam Al Qur-ail.
Kalau ada yang berkata, jika Ra~ulul1ah diwajibkan melaku-
kan syari'at Nabi-nabi sebelumnya, tentu Nabi hams mempe-
lajarinya dan orang-orang ahli ijtihad hams mencarinya. Jawab
karni terhadap soal tersebut adalah sehagai berikut: Argum~ntasi
di atas menunjukkan bahwa mereka membicarakan hal-hal yang
tidak tersebut dal;un Al Qur-an. Tcntang hal itu tak ada persoa-
Ian. Kita tidak wajih mengikutinya. Konklusinya: syari'at Nabi
sebelum Nabi Muhammad yang dikatakan sumber hukum itu se-
sungguhnya sudah termasuk dalarn Al Qur-an dan Sunnah."-
Kesimpulan
Pada halarnan 29 Dr. Hamn Nasution menulis :
"Dari uraian di at as dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tidak
ada kesepakatan kata antara ulama-ulama hukum tentang sumber-
sumber tersebut; apa yang diterima oleh satu golongan ditolak.
oleh golongan lain selanjutnya Ayat-Ayat atau Hadis-Hadis dhanny
juga menimbulkanperbedaan pendapat. Hal ini yang menitnbul-
kan peroedaan mazhab dalam Islam".
99
Kata-kata .te~s~but di atas merupakan Karikatur. Ibaratnya
seperti seoning yang menggambarkan seorang yang sedikit pendek
sebagai seorang cebol dan seorang yang agak tinggi sebagai seorang
jangkung, proporsinya dibesar.: besarkan ..
Kalau pembaca mengingat koreksi-koreksi tentang bab VII
~i1id II ini, tentunya 1~embaca telah dapat merasakan itu. Is-
timan, Qiyas, Masalili Mursalah, Ijma' semuanya digambarkan se-
bagai hal-hal yang tak ada kesepakatan di dalamnya. Akibatnya
seorang pembaca yang belum mendalami hukum Islam akan me-
rasa' terombang-ambing, dan kabur.
Walaupun Dr. Harun Nasution pada akhir bab tersebut me-
ngatakan : "Atas dasar ini, serrma hukum yang dihasilkan oleh
ulama-ulama yang berlainan pendapat itu tidak keluar dari Islam:'
dan seterusnya, namun kata-kata itu diberikan sesudah memberi
penekanan .bahwa tak ada kesepakatan tentang sumber hukum
Islam. Al Qur-an dan Hadispun ada yang positif dan ada yang
dubious.
Metode semacain ini adalah metode orientalis yang secara
halus berakibat mer~gukan umat Islam, khususnya generasi muda
terhadap Islam dan hukum Islam. -
Padahal kalau kita menglkuti inetode yang mengatakan bah-
wa sumber hukum Islam itrt tiga, yaitu yang diuraikan dalam
hadis Mu'adz,:;oalnya menjadi terang - mula-mula kita mencari
dalam A1 Qur-an kalau tak ada, kita mencari dalam Hadis dan
kalau tak ada kita baru memakai ijtihad !a'yu atau fikiran.
Memakai fikiran ini caranya bermacam-macani : dengan
Qiyas, dengan Ijma', dengan Istihsan, dan dengan Masalih Mursa-
lali;
Dalam ilmu hukum, susunan kcita-kata sangat penting sehing-
g~ Fidak semestinya kalilu Dr. Barun Nasution mengatakan ayat
positif dan ayat dubious, atau Hadis 'positif dan Hadis dubi-
ous; kemudian dasar fikiran orang juga bermacam-macam dan
kondisi serta tempat hidup manusia juga memberi pengaruh
kepada fikiran hukum.
100
Kodifikasi Hukum
Dengan menggambarkan sumber hukum Islam yang kabur
yang tidak disepakati oleh para ahli hukum Islam, sudah jelas
image hukum Islam kehilangan kemegahannya.
Mengapa Dr. Harun Nasutiontidak menYinggun& sedikitpun
mengenai Kodifikasi Hukum Islam, karena tabi'at dan watak ilmu
hukum itu mengandung adanya perbedaan pendapat" maka dalam
Dunia· Islam telah teIjadi Gerak Kodifikasi Hukum Isfam,
sehingga dengan Kodifikasi ini berkurang sekali perbedaan pen-
dapat.
Kodifikasiyang pertama.adalah code Majal~h yang merupakan
Code Hukum Perclata Islam dan acara perdata yang diselenggara-
kan oleh Pemerintah· Turki dan diumumkan pada tahun 1876.
Code Majalah terdiri dari 1851 artikel : artikel pertama mengenai
definisi Fiqih nan pembagian-pembagiannya, artikel 2 - 100
mengenaf kaidah-kaidah hukum seperti: Darurat itu menjadikan
yang terlarang tidak lagi terlarang (al dhanirat tubihu al Mahdhu-
rat), mencegah kerugian/kejahatan, l~bih diutamakan daripada
mencari kemanfaatan.
Setelah Kodifikasi Majalah, menyusullah Kodifikasi-koJifikasi
lain khususnya di Mesir yang seperti negara-negara Islam lainnya,
'Tlenjadikan syari'at Islam sebagai sumber hukum.
Perlu diingat pula Lahwa dalam sejarah hukum modern,
Kodifikasi pertarna adalan Cooe NapOleon yang diumumkan
pada tahun 1804, dan terdiri dari 2281 artikel. Coae Napoleon
dlllah dasar daripada hukum-hukum bermacam-macarn di Europa.
Dengan menggambarkan hubungan antara hukum Islam de-
gan· hukum modern Barat akan terdapatlah suatu kesan bahwa
anyak prinsip hukum Islam yang telah berumur ± seribu tahun
tu telah di.ambil alih oleh hukum Barat sekarang ini. Prinsip Hu-
uman mati dan prinsip dibolehkannya cerai dalam, perkawinan
ang lama dihapuskan atau diingkari oleh hukum Barat pada ~:t'at
ni telah diakui kembali walaupun tentunya dalam prinsipnya
'dak sarna dengan syari'at Islam.
101