8
KOREKSI TERHADAP BAB VlII-
TENTANG ASPEK TEOLOGI
Bab ke VIII dari Buku Dr. Harun Nasution ten tang Islam
ditinjau dati. berbagai aspeknya, diberi judul aspek teologi
seperti pernah diuraikan dalam bab II, teologi berarti ilmu ke.
Tuharian. Teologi adalah istilah Kristen, karena yang terpenting
dalam agama Kristen adalah kepercayaan bahwa Isa al Masih
(dalam bahasa Yunaninya Yesus Christus) adalah putra Tuhan.
Dalam Islam, orang memakai istilah ilmu. tauhid atau ilmu
keesaan Tuhan sebab yang paling penting di dalamnya adalah
pembahasan bahwa Ttihan itu. maha Esa, satu, tidak beranak
d~lll tidak dianakkan dan tak ada yang menyamaiNya Syekh
.Muhammad Abduh mengarang : Risalah Tauhid yang .sudah di-
terjemahkan oleh muridnya Syekh Mustafa Abdur Raziq, ke-
bahasa Perancis.
Ilrrfu tauhid juga disebut Ilmu a0!lid artinya kepercayaan~
sebab yang banyak. qibicarakan adalah tentang kepercayaan-
kepercayaan Islam.
Ilmu tau hid juga disebut ilmul kalam, mungkin kare~a yang
terpenting sebagai asasnya adalahAl Qur-an dan Al Qur-an itu
kata-kata, hlam .dari Tuhan~ kemungkinan lain adaIah bahwa
dalam ilmu aqaid atau tau hid orang banyak berdebat-, memper-
gunakan kata-kata atau kalam.
Sebelum itu ada pula yang menamakan fiq h agam~.a.1.~
yakni rremahami agama, seperti kitab al Fiqih al akbar yang
dikarang oleh Abu Hanifah.
102
Orang-orang ahli ilmul kalam adalah orang-orang ulama
Islam. Mereka hidup dalam periode mempertahankan· aqidah
Islam at au mencari kemungkinan-kemungkinan tafsiran yang
menyeluruh, systematis dan logis, Karena dalam pemec;ilian
beberapa persoalan tidak dapat diambil kata sepakat .maka I
timbullah firqah (golongan) kata majemuknya Firaq. Golongan-
golongan itu adalah Kha~ariJ, Murji'ah,}.1u'tazilah, dan Asy'ariyah.
Golongan Khawarij adalah orang-orang yang menentang
arbitrage antara Ali dan Muawiyah, ol~h karena tahkim atau
arb~trage itu telah menceraiberaikan umat Islam, sehingga para
penyebab perpecahan itu dianggap kafir.
Kaum Murji'ah menentang faham Khawarij tersebut dan
mengatakan, bahwa· mengatakan bahwa seseorang adalah kafir
itu bukan hak manusia tetapi harus ditunda dan diserahkan
kepada Allah di kemudian hari. Murji'ah artinya: menunda,
Golongan ketiga ialah Mu'tazilah artinya kelompok yang
mengasingkan diri, Adapun sebabnya dinamakan Mu'tazilah kare-
na asal mulanya, pemimpin mereka yaitu Wasil bin 'Ata menjauhi '
kelompok gurunya yaitu Hasan al Basri. Bahkan adapula pendapat
yang mengatakan bahwa, sebab mereka dinamakan Mu'tazilah
adalah oleh karena mereka mengasingkan diri, bukan secara
physik, tetapi dalam arti tidak setuju dengan ajaran kelom-
pok-kelompok yang sebelumnya, yang sudah disebutkan tentang
ajaran mereka adalah 5, Yaitu al tawhid ( ~,;:JI ), al'adl
. ( J.uJ\ ), alwa'd wa al waid (¥j\,.As.~\ ), al manzilah bain
~.;ij;l\),al manzilatain ( ~yJ..\
dan amI' ma'ruf nahi munkar
~\~~,,~~~ ••i». Golongan Murji'ah terse but ~ atas mengatakan
bahwa orang yang melakukan dosa besar itu masih tergolong
orang mu'min. Khawarij khususnya Azariqah mengatakan bahwa
mereka itu kafir, Hasan al Basri mengatakan bahwa mereka itu
munafik, maka kelompok Mu'tazilah mengatakan bahwa mereka
itu adalah dalam suatu kedudukan di antara kedudukan mu'min
dan kedudukan orang kafir.
Begitulah gambaran ringkas tentang timbulnya golongan-
golongan dalam Islam', Sebagai dapat kitamasing-masing meli-
103
hatnya sendiri, 'soalnya adal ••h soal pemikiran ten tang hal-hal
yang "tidak be~ifat en'i)~ris; soal-soal tersebut banyak mirip
dengan soal-soal hukum, yang tiap kelompok mempunyai pen-
diriannya sendiri sena argumentasinya sendiri.
Soal-soal yang pernah diperbincangkan pada, zaman dua
belas abad yang lalu itu ada yang masih relevant sekarang tetapi
ada pula yang sudah tidak relevant. J
Pada waktu sekarang, yang masih dirasakan oleh umat
Islam pada umumnya adalahadanya kaum Syi'ah. yang sebagai
kita semua mengetahui, asali1.ya merupakan kelompok yang sim-
pasi kepada Ali dan keluarga Ali yang dianiaya oleh golongan Mu-
'awiyah. Pokoknya mereka menentang Khawarij. Kemudian aliran
SYl'ah ini mendapat tempat yang subur di Iran, olen karena
bangs!! Iran yang pernah mempunyai kerajaan yang besar dan
merupakan salah satu dari dua ra,ksasa dunia ; r~ksasa lainnya
adalah Kerajaan Romawi. Bangsa Iran yang sudah memeluk
agama Islam itu ingin pula merupakan' bangsa yang menonjol
di antara bangsa~bangsa yang beragama Islam, maka perkawinan
seorang keturunan Ali' dengan seora!).g putri bangsaw.an Iran
dijadikan titik tolak untuk menyiarkan suatu aliran yaitu aliran
'Syi'ah, artinya kelompok simpatisan terhadap All dan keluarga-
nya.
Selaii1. daripada Syi'ah dan kebanyakan Syi'ah dua belas,
seperti ;rang telah dibicarakan dalam Bab IV : Aspek Sejarah,
maka aliran-aliran' lainnya sudah tidak ada, lagi dan hanya
merupakan kenang-keqangan sejarah.
Maka saya merasa heran bahwa Dr. Harun Nasution meng-
ungkapkan kembali halaman-halaman yang tidak menyenangkan
itu untuk dijadikan bahan bacaan bagi orang-orang yang memulai
mempelajari Islam.
Memang aspek Islam dalam ilmul kalam ini selalu kita
jumpai di buku-buku kaum orientalist, tetapi titik tolak mereka,
seperti dalam aspek-aspek lain adalah lebih menonjolkan per-
pecahan dan perbedaan faham daripada menguraikan permasalah-
annya'
104
Marilah ki,ta tela'ah isi Bab VIII, at au A~pe~ "teologi ini.
Pada halaman31' Dr. Harun Nasution menulis:
"Penyelesaian sengketa dengan arbitrage bukanlah penye-
lesaian menurut apa yang diturunkan 1'uhan" dan oleh karena
itu pihak-pihak yang menyetujui arbitrage terse but telah menjadi
kafir dalam pendapat kaum Khawarij. Dengan demikian, Ali,
Mu'awiyah, Abu Musa AI Asy'aIi dan 'Arm bin AI. 'Aas, menu-
rut mereka, telah menjadi kafir. Kafir dalam arti keluar dari
Islam, yaitu murtad, dan orang- murtad waj"ib dibunuh. Mereka
pun memutuskan untuk membunuh ke empat pemuka itu.
Penentuan sese orang kafir atau tidak kartr bukanlah lagi soal
politik, tetapi soal teologi.
Semua yang dikatakan oleh Dr. Harun Nasution seperti
tersebut di atas adalah fakta dalam sejarah. Akan tetapi bahwa
soal Khawarij membunuh empat orang pemimpin tersebut adalah
semata-mata soal ilmul kalam" adalah pendirian orientalis. Bagi
orang Islam, ia dapat memahami suasana p.olitik yang sangat
panas pada waktu itu.
'Pada halaman 32 Dr. Harun Nasution menulis ,
"Dalam perkembangan selanjutnya kaum Khawarij "berpe-
eah ke dalam beberapa golongan. Konsep kafir turut pula menga-
lami perkembangan lebih lanjut."
"Golongan pertama ialah Muhakkimat" dan mereka me-
masukkan ke dalam lingkungan kafir orang "Islam yang mengerja-
kan dosa besar.
Pada halaman 33. Dr. Harun Nasution menulis :
"Golongan Azariqah lebih jauh lagi. Term kafir mereka
robah dengan term musyrik (politeis), mereka tidak segan-segan
membuntih orang-orang demikian.
Golongan-golongan yang disebutkan oleh Dr. Harun Na-
sution sudah tidakada lagi: Dan ketika mereka masih ada, mere-
ka hanya merupakan golongan keeil yang extrim, mengapa di-
ungkap lagisebagai pengantar untuk mempelajari Islam?
105
Dr. Rarun Nasution sendiri menulis pacta halaman 34:
"KaumKhawarij, katena faham dan sikap yang .radikal
1m telah hilang dari sejarah, kecuali golongan Ibadhyah." Me-
ngenai golongan Ibadhyah ini Dr. Rarun Nasution tak menerang-
kan apakah perbedaan mereka daripada Umat Islam yang lain
dan berapa jumlah mereka di an tara ratusan jut a Umat Islam
se dunia. Saya telah melihat sendiri tempat-tempat mereka
di Aljazair pada bulan Februari 1977 serta menyaksikan ke-
hidupan mereka. Perbedaan antara mereka dan Umat Islam
lainnya adalah pokoknya perbedaan lingkungan
i1\1 u r j 'a h
Pada halaman 34 dan 35 Dr. Harun Nasution menulis:
"Kaum Murji'ah terpecah menjadi beberapa golongan seperti
Jahmiyah, Salehiyah, Yunusiyah, Kasani~a!1, Mereka dapat dibagi
dalam dua golongan besar, golongan moderat dan golongan ex-
trim." dan seterusnya ..
Akan tetapi setelah memberikan gambaran perpecahan-
perpecahan itu, Dr. Rarun Nasution mengatakan pada akhirnya:
"Sebagai halnya del1gan kaum Khawarij, kaum Murii'ahjuga sudah
tidak mempunyai wujud lagi."
Dengan begitu, maka bentuk pembahasan ini secara for-
milnya adalah bentuk ilmiyah, tetapi dal~m essensinya - adalah
untuk rnenonjolkan bahwa I~lam itu dari dahulu selalu mengan-
dung perpecahan.
Mu'tazilah
Dalam halaman 36-40, dengan panjang lebar Dr.. Rarun
Nasution meperangkan tentang golongan Mu'tazilah. Tetapi se-
telah menghabiskan lima halaman, akhirnya Dr. Rarun Nasution
mengatakan: "Kaum Mu'tazilah juga sudah tidakada lagi".
Dengan begitu pada lahirnya Dr. Rarun Nasution tetap
pada garis ilmiyah akan tetapi sesudah menunjukkan kepada
106
generasi mud a perpecahan-perpecahan yang pernah terjadi. Akan
tetapi di belakang itu semua ada maksud tertentu, yang nanti
para pembaca akan melihat sendiri. Maksud itu ialah: menghi-
dupkan kembali golongan Mu'tazilah' sebagai nama bagi orang-
orang terpelajar yang menghayatilslain. Tentu saja fikiran
semacam itu sangat berbahaya kepada Umat Islam Indonesia.
Pada halaman 41 Dr. Harun Nasution menulis:
"Berbeda dengan ciliran-aliran teologi lainnya, aliran Asy'a-
riyah dan aliran Maturidiah masih ada dan inilah pada umumnya
yang dianut oleh Umat Islam sekarang. Aliran Maturidiah banY<lk
dianut oleh pengi"kut-pengikut mazhab Abu Hanifah. Kedua alitan
inilah yang disebut Ahlussunnah. Tetapi dalam pada itu faham'
r~s~onil yang dibawa oleh kaum Mu'tazilah mulai timbul keril-
bali di ab\ ad ke 20 ini terutama - di kalangan kaum terpelajar'
Islam. Tetapi bagaimanapun, pengikutAsy'ariyah jauh lebih ba-
nyak daripada pengikut aliran-aliran lainnya."
Saya merasa perlu menerangkan sekali lagi 'keadaan yang
ada sekarang. Dunia Islam menurut istilah sekarang terbagi dua:,
yaitu golongan Ahlussunnah wal jama'ah dan golongan Syi'ah.
Yang pertama merupakan 90% atau lebih dari Umat Islani,yang
kedua merupakan 10% at au kurang. Golangan. Syi'ah ini keba-
nyakan terdapat di ,Iran, sedikit sekali di Lebanon, India dim
Pakistan. Kata sifat daripada golongan pertama adalahS'unny
sedang untuk golcngan kedua adalah Syi'iy. Pokok perbedaarr
adalah theoritis. Syi'ah bermental feodalistis dan menganggap
bahwa kepala negara harus dari keturunan Nabi Muhammad,
yakni keturunan Ali. Sedang golongan Sunny mengatakan bahwa
jabatan kepalq negara harus dengan pilihan.
Pada permulaan memang Umat Islam berpecah-pecah men-
jadi 'Syi'ah, Khawarij, Mu'fazilah, Murji'ah dan lain-lain, akan
tetapi soal-soal kepercayaan ataumetaphysica tidak rnungkin
dibicarakan dengan akal karena tak ada orang yang dapat
I'1embuktikan dengan meyakinkan mengenai apa yang dianggap-
nya benar. Karena kaum Mu'tazilah mempunyai prinsip me-
107
makai kekerasan, makil' terjadilah kekacauan. Khalifah Abbasi-
-_yah bernama AI Mutawakkil (847-861 AD) menganjurkan
supaya Umat Islam kembali kepada sunnah Rasul dan men un- .
jukkan persatuan. Semenjak itu maka Umat Islam yang bukan
Syi'ah, semuanya dinamakan Ahlussunnah wal jama'ah.
Anjuran daripada Khalifah Mutawakkil itu .sangat berguna
bagi kesatuan Umat Islam sampaj hari ini. Tentu saja di antara
sekian ratus juta Umat Islam di dunia selalu ada aliran-aliran
sebagai akibat daripada perbed~an sejarah dan perbedaan ling-
kungan, akan tetapi kesatuan umum itu tetap terpelihara adalah
sangat 'tidak bijaksana untuk mengorek sejarah yang hitam
yang pernah terjadi di kal~ngan Umat Islam, walaupun hal
itu tentu harus diketahui, tetapi nanti sesudah para mahasiswa
mempelajari segi-segi prinsip yang positif.
Perbedaan antara Asy'ariyah dan Mil'tazilah
Pada halaman 42 D, r. Harun, Nasution menulis sebagai berikut:
"Perbedaan dasar an tara Asy'ariyah dan Mu'tazilah ter-
letak pada pendapat tentang kekuatan aka!. Karena Mu'tazilah
amat menghargai akal dan berpendapat bahwa akal manusia da-
pat sampai kepada ajaran dasar dalam agama yaitu adanya Tu-
han dan masalah kebaikan dan kejahatan. Setelah sampai kepada
'adanya Tuhan dan' apa yang disebut baik serta apa yang di-
sebut jahat akal manusia dapat pula mengetahui kewajibannya
terhadap Tuhan dan kewajibannya untuk berbuat baik dan
kewajiban untuk menjauhi perbuatan jahat. Wahyu dalam ke-
empat hal ini datang untuk memperkuat pendapat akal dan
untu:k memberi perincian tentang apa yang telah diketahuinya
itu ".
"Kaum Asy'ariyah, sebaliknya, berpendapat bahwa akal
tidak 'begitu berdaya kekuatannya. Di antara ke empat masalah
di atas, akal dapat sampai hanya kepadanya adanya Tuhan.
Soal kewajiban manusia terhadap Tuhan, soal baik dan buruk
(j:iliat)dan kewajiban berbuat baik serta kewajiban menjauhi
108
~
kejahatan itu tidak dapat diketahui akal, man usia. Itu diketahui
manusia hanya melalui wahyu yang dikirimkan· Tuhan melalui
para Nabi dan Rasul".
"Kalau kaum Mu'tazilah bariyak percaya pada kekuatan
akal manusia kaum Asy'ariyah ban yak bergantuqg kapada wahyu.
Sikap yang dipakai kaum Mu'tazilah ialah mempeqwnakan akal
dan kemudian memberi interpretasi pada teks atau ·nas w;:lhyu
sesuaidengan pendapat akal.· Kaum Asy'ariyah sebaliknya per- .
gi terlebih dahulu kepada teks wahyu dan kemudian membawa
argumen-argumen .rasionil untuk teks wahyu itu. Kalaukaum
Mu'tazilah banyak memakai ta'wil atau mterpretasi dalam me-
mahami teks wahyu,' kaum Asy'ariyah banyak berpegang pada
arti lafzi at au letterlek dari teks wahyu. Dengan lain kata kalau
kaum Mu'tazilah. membaca yang tersirat dalam teks, kaum
Asy'ariyah membaca yang tersurat.
Selain dari itu, faham al kasb yang dibawa kaum Asy'ariyah
lebih dekat kepada faham labariah atau Iatalisme kepada faham
qadariah atau kebebasan manusia. Dan karena kuat memper-
tahankan fahamkekuasaan mutlak Tuhan, faham hukum alam
atau sunnatullah akhirnya tidak mendapat tempat dalam aliran
Asy'ariyah" .
Saya sengaja mengutip uraian Dr. Harun Nasution yang pan-
jang mengenai perbeda~n-perbedaan antata Asy'ariyah dan Mu'-
tazilah.
Maksud saya dengan l<utipan tersebut adalah untuk meng-
gabungkannya dengan fikiran Dr. Harun Nasution selanjutnya
yang tertera dalam halaman 43 sebagai berikut :
"Hal-hal inilah an tara lain yang membuat aliran Asy'ariyah
kurang sesuai dengan jiwa kaum terpelajar yang. banyak men
dapat pendidikan Banit. Dalam suasana serupa inilah orang mulai
kembali ke faham-faham rasionil yang dibawa kaum Mu'tazilah.
Teologi atau falsafat hidup Asy'ariyah yang mempunyai corak
traditionil itu kurang sesuai dengan' pandangan hidup mereka,
yang tebih dapat mereka terima ialah teologi atau falsafat hidup
109
Mu'tazilah yang lebih banyak mempunyai corak libera1."
Kata-kata tersebut di atas menggambarkan seolah-olah Mu'-
tazilah merupakan satu-satuiiya kelompok orang-orang yang ber-
fikir secara rationil sedang lainnya tidak rationil. Memang Mu'-
tazilah berfikir secara rationil tetapi hal ini tidak berarti bahwa
selain Mu'tazilah lainnya tidak rationil.
Prof. Ahmad Amin yang menjunjung Mu'tazilah juga me-
ngatakan bahwa rationalisme Mu'tazilah telah menjadikan aga-
ma itu sebagai fikiran-fikiran yang passif'~ Agama dengan ra-
tionalisme yang melampaui batas akan kehilangan kekuatan iman,_
dan agama tidak dengan kekuatan iman tidak ada lagi faedah-
nya.
Dengan anjuran Khalifah Abbasi al Mutawakkil, umat
telahkembali menjadi satu tidak terpecah belah, sehingga se-
karang ini yang .ada hanya Ahlussunnah dan Syi'ah. Keduannya
adalah pemeluk agama Islam dan agama Islam menganjurkan
kita berfikir.
-Betulkah Mu'taz.ilah timbul kembali ?
Pada halaman 43,' Dr. Hamn Nasution menulis:
"Pemikiran-pemikiran Mu'tazilah mulai ditimbulkan kem-
bali oleh pemikiran-pemikiran pembaharuan dalam Islam abad
19 seperti lamaludin al Afgani, Muhammad Abduh dan Ahmad
. Khan di India."
Kata-kata terse but di atas berbau·. pandangan orientalist.
lamaludin al Afgani, Muhammao Abduh dan, Ahmad Khan ad a-
lah.orang-oran,g yang hid up pada abad 19' dan menyaksikan pe-
robahan~perobahanmasyarakat di Barat yang mencapai kemajuan
berhu~ung karena, ilmu teknik dan pemakaian fikiran merdeka
yang lepas dati kungkungan gerej a.
lamal.u.diil AI Afgani' at au Muhammad Abduh.tak pernah
mengatakan bahwa mere~a itu kaum Mu'tazilah yang bam mun-
cuI kem1;>ali. Mereka adalah orang-orang yang ingin. membang"
kitkan Vmat Islam dari keterlambatannya dan kebodohannya,
110
agar mereka dapat mempertahankan diri dari im~erialisme .Barat
yang pada waktu itu merajalela dimana-mana.
Adapun Ahmad Khan (nama lengkapnya: Sir· Sayid Ahmad
. Khan) lain lagi halnya. Ia. adalah se(}r~ng pega'waf Pemerintah
Inggeris yang sangat kagum kepada ilmu-ilmu empiris yang di-
capai oleh bangsa Inggeris, dan ingin menimbulkan kemajuan
ilmu pengetahuan empiris Barat di India. Ia adalah seorang
yang setia kepada Pemerintah Inggeris dan menafsirkan ayat-ayat
Qur-an menurut faham ilmu pengetahuan empiris yang ada pada
waktu itu.
Baik Jamaluddin al Afgani atau Muhammad Abduh atau
Ahmad Khan termasuk Ahlussunnah wal jama'ah karena· bu-
kan Syi'ah.
Penilaian bab VIII
Dalam membaca bab VIII (aspek teologi ini) ada pan-
dangan yang sangat penting tetapi. berbahaya, yaitu kepercayaan
yang berlebih-lebihan terhadap akal.
, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal atau fi-
kiran, sehingga perkataan aka! dan fikiran yang tersebut ± 50
kali dalam Al Qur-an. Hal ini tak terdapat dalam kitab suci
lainnya yang manapun. Asy'ariyah juga pakai akal, Mu'tazilah
juga pakai akal.Perbedaaimya adalah titik berat dalam beberapa-
masalah, sehingga tak dapat dikatakan bahwa Mu'tazilah lebih
rationil . dari Asy'ariyah dan lebih menarik kepada kaum ter-
pelajar.
Jika Mu'tazilah dan ASy'ariyah hidup padaabad lOAD
(4 AH), pada waktu ltu pengaruh filsafat Junani terlalu besat
Mustinya Umat Islam ingat kepada ayat Al Qur-an yang men un-
jukkan keterbatasan aqal: Surat Isra' ayat 85 :
,#" / ~ .• • / .J..' -" J '1/ /
. "~, r:.. ~ /\ V..t'-.J/ \ .i.}A,. .~,-' \ \,.4 -'
Artinya :
''Dan kamu tidak diberipen$etahuan kecuali sedikit."
III
..
"
at au ayat 216 Sui-at Ai Baqarah:
/~/10;'~}. ~I-,'<I' : #~\ .'
Artinya: :f..(7~t~/./ .J~'\._!~_ /~,\.)\-,/
\
':Allah mengetahui dan kamu tigak mengetahui'~
Bahwa akal itu terbatas baru diketahui oleh filsafat Baraf
pada abad 18.
Emmanuel Kant (1724-1804) yang ~isebut sebagai bapa
dati filsmat critic telah menulis bukunya: Critique of pure
reason. Dalam buku itu ia menganalisa akal dan fungsinya serta
menunjukkan keterbatasannya. Yang diketahui akal.adalah phe-
nomena, hal-hal ~ahiriyah. Di belakang phenomena, ada noumena
at au hakikat sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal.
Dengan bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam menj;ldi
merdeka, maka terbukalah kesempatan bagi mereka untuk mem-
peroleh kemajuan dalam segala bidang dan tetap beragama Islam;
malahan mereka dapat membuktikan, secara langsung atau tidak
langsung bahwa Islam adalah petunjuk yang terakhir yang di-
berikan oleh Tuhan kepada Umat manusia.
112
9
KOREKSI TERHADAP BAB IX TENTANG
ASPEK FILSAF AT
Sebelum membicarakan bab IX tentang aspek· filsafat, saya
merasa perJu untuk menjelaskan sebagai berikut :
Bab VIII atau aspek teologi, membicarakan tentang ilmul
kalarn, atau ilmul aqaid atau ilmu tauhjd sebagai yang kita bica-.
rakan dalam membahas arti "teologi'~.
Maksud daripada ilmu tersebut adalahuntuk menerangkan
aqidah Islarn dengan memakai hal-hal yang sudah diketahui orang
pada waktu itu daripada filsafat Yunani at au daripada pemikiran
semat'a-mata. Sebelum adanya ilmul kalam kebanyakan orang
merasa takut menafsirkan ayat-ayat Qur-an yang kadan.g-kadang
me:mberi kesan seakan-akan ada sifat-sifat Tuhan yang sarna de-
ngan sifat manusia.
Jadi ilmul kalam dan mutakallimin (ularna ilmul kalarn)
adalah orang yang' berdasarkan iman dan keyakinan yang penuh
dan ingin mempertahankan atau menyajikan keimanannya itu
dengan cara yang sesuai pada waktu itu. Da:Iarn prakteknya,
meI?-getrapkan metode tersebut tidak sarna, ada yang terlalu
rationil seperti Mu'tazilah dan ada yang lebih conservatif
eperti Asy'ariyah.
Dab IX ini membicarakan aspek filsafat. Aspek ini menghen-
daki mukaddimah juga. Kebanyakan kita ~erasakan kebanggaan
bahwa kita memplinyai apa yang disebut "filsafat Islam". Jika
dalam kuliyah : ada yang disebut filsafat Yunani, maka kita mem-
unyai "filsafat Islam", dan orang sekarang mempunyai filsafat
arat atau filsafat modern.
113
Gambarai1'yang semacam itil tidak benar. Yang biasa dina-
makan filsafat Islam adalah filsafat Yunani, khususnya filsafat
Plato (429 - 347 SM). Aristoteles (384 - 322 SM) dan Ploti-
nus (204 - 270 M) yang juga dinamakan N.eo Platonisme. Idee-
idee dari tiga aliran itu masuk dalam Dunia Islam berhubung
karena Vmat Islam suka mencari pengetahuan-pengetahuan dari
segala tempat yang ada. Akibatnya, banyak persoalan-persoalan
filsafat Yunani itu diberi gambaran 'Islam.
Prof. Ahmad Amin menulis dalam Duhal Islam jilid I hala-
man 30. "Hal-hal tersebut di atas mendorong kita untuk menga-
takan bahwa ilmul kalam' itu adalah ilmu, Islam meskipun di
dalamnya terdapat unsur-llnsur filsafat Yqnani, sedang kita tak,
dapat memberi nama "Islam" kepada filsafat yang ditulis olt(h
Al Kindy, Al Faraby dan Ibnu Sina, kecuali secara : "Sekedar
llntuk mempermudah".
Pendapat-pendapat Al'Farabi
Pad a halaman 49, Dr. Harun Nasution menulis : "~engenai
Filsafat ia berkeyakinan bal1wa filsafat Aristoteles dan Plato dapat
disatukan dan untuk il).i ia inenulis risalah "Tentang Persamaan
antara Plato dan Aristoteles".
Kata-kata tersebut di atas perlu dijel·askan sebagai berikut :
"Filsafat Plato sesungguhnya tak dapat disatukan dengan filsafat
Aristoteles. Bahwa Al Faraby menulis risalah : Al Jam'll baina
Ra'yai al Hakimaini"~ mempersatukan pendapat kedua failasuf
hanya menunjukkan bahwa pada waktu itu Al Faraby tidak mem-
punyai bahan-bahan yang cukup yang berwlljud karangan-kara-
ngan Plato dankarangan-karangan - Aristoteles. Filsafat Plato
mengatakan bahwa yang mempunyai wujud sendiri dan hakiki
adalah idee atau misal. Sedang wujlld kita ini hanya lDayangan
dari misaL tersebut. Aristoteles sebaliknya berpangkal tolak
dari wujud kita di dllnia ini yang menurut dia adalah wujud
hakiki. Dalan1 istilah filsafat, filsafat Plato adalah idealis sedang
filsafat Aristoteles adalah realis.,
114
, ..
Pada hal,aman 49 juga Dr. Harun Nasution' menulis·:?Fa1sa~
fatnya (al Farabi) yang terkenal adalah falsafat emanasi. Dalam
falsafat emanasi ini ia menerangkan bahwa segal a yang- ada
memancar dari Zat Tuhan melalui akai~akal yang berjumlah sepu-
Iulr, a\\lam materi dikontrol oleh akal yang sepuluh itu".
.
Tufis~p. tersebut di at as seyogya.\1ya juga segera diberi penje-.
Iasan sebagai .berikut : Filsafat emanasi atau Nazariyatul Faidh
adalah suatu theori yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Theori
-emanasi adalah ajaran dari Plotinus (204 -- 270 M) yang semua
• "t.-.,.,.., •• ~ ..
fikirannya telah'di~umpulkan oleh muridnya, Porphyry' dalam ki-
tab ••Enllead'j's ,yang•• artinya kumpulan-kumpulan Uumlahnya enam)
dari rangkaian sembilan pelajaran~ menurut Plotinus, ada dua
gcrak~n: Cosmic mov~ment tentang kejadian alam, yang meman~ar
secara au tonHttis dari PrinsipPertatha (first' print:iple)' dan spi-
ritual movement, yakni usaha manusia ineh~arahke atas untuk
bersatu dengim :Prinsip Pertama. Perlu dijelasbn bahwa filsafat
Neo Platonisme ini)uga'tidak senafas dengan Islam;
t •••.
Pada halani.an 51, Dr. Hamn Nasution menulis : "Dalam
falsafat ia (lbnu Sina) juga mempunyai fahq.memanasi, dan akal
bagiriya adalahMalai'kat. ..., ,i '
Dengan sendirinya keterangan .t:ersebut perIu diberi penje-
Iasan bahwa dengan begitu maka filsafat Ibnu Sina juga tidak
senafas dengan Islam.
Karena filsafat ,AI Farabi.,dan Ibnu Sin a merupakan filsafat
Neo Platonisme dan tidak senafas dengan Isl,a~"m. maka AI Gazali I
(1056 - 1111) menulis·bukunya yangmashur· yaitu Tahafut
Al Falasifah atau kekacauan fikiran para failasuf.
Dalam buku "Tahafut Al Fqlasifah'; al Gazali menguraikan
20 masalah filsafat sebagai berikut :
1. Pendapat bahwa alam itu azali (tak berpermulaan).
2. Pendapat bahwa alam itu abadi (tak berakhir).
3. Para filosuf berpura-pura mengatakan bahwa Allah
adalah pencipta alam dan alam adalah ciptaan Allah.
115
·~...
71.4.
2I1968I51S0I32.7.680..4... Pembuktian bahwa para filosuf. tidak dapat membukti-
19. kan adanya zat pencipta.
Pembuktian bahwa para filosuf tidak dapat metnbukti-
kan bahwa Mustahil-Iah ada dua Tuhan.
Pendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.
Pendapat bahwa zat Tuhan tidak terbagi kepada Genus
dan differentia.
Pendapat bahwa' Tuhan itu sederhana dan tak ber-
mahiyah ..
Para filosuf tidak dapat.membuktikan bahwa Tuhan itu
bukan jisim. _
Pendapat para filosuf bahwa mereka tak dapat membuk-
tikan bahwa alam ini ada penciptanya.
Para filosuf tak dapat membuktikan bahwa Tuhan
itu mengetahui makhlukNya.
Para filosuf tak dapat membuktikan bahwa Tuhan itu
mengetahui diriNya.
Para filosuf berkata Tuhan tak tahu juziyat (perinci).
Para filosuf berkata planet itu binatang yang bergerak
dan berkemauan.
Pendapat para filosuf ten tang maksud yang menggerak-
.kan planet.
Pendapat para filosuf bahwa jiwa planet mengetahui
perinci-perinci yang terjadi di alam ini.
Pendapat para filosuf bahwa tak mungkin terjadi hal
yang luar biasa.
Para filosuf tak dapat membuktikan bahwa jiwa man usia
itu jauhar (substansi) yang berdiri sendiri, bukan jisim
dan bukan 'arad (accident).
Pendapat para filosuC bahwa jiwa manusia itu tak dapat
musnah.
Para filosuf ingkar akan kebangkitan jasad serta nik-
mat surga dan penderitaan neraka.
Kemudian Al Gazali mengatakan bahwa para filosuf itu
sudah menjadi kafir dalam tiga hal :
116
1. bahwa ~lam itu tak berpermulaan.
2. bahwa Tuhan itu tak mengetahui perinci~perinci.
3. bahwa tak ada hidup sesudah mati.
Karena tiga ha1 tersebut bertentangan dengan ajarari Islam.
, Averroism
Pada halaman 56 Dr. Harun Nasution menulis :
"Kemudian terdapat di Europa suatu aliran yang disebut
Averroism. Menurut aliran ini falsafat mengandung kebenaran
sedang agama dan wahyu membawa hal-hal yang tidak benar"
Jelas bahwa pendapat demikian tidak mungkin bersumber pada
falsafat Ibnu Rusyd, karena ia sebagai filosof-filosof Islam lain
berkey akin an bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan. Kedua-
nya sama-sama membawa kebenaran. Kekeliruan ini kelihatannya
timbul dari kesalah fahaman penulis-penulis Barat abad 13 tentang
tafsiran Ibnu Rusyd terhadap falsafat Aristoteles.
Tidak mengherankan kalau kaum gereja mencap Ibnu Rusyd
sebagai ateis. Fa1safatnya dianggap bertentangan dengan agama
dan buku-bukunya dilarang".
Tulisan di atas perlu mendapat menjelasan sebagai berikut :
Ibnu Rusyd adalah seorang filosuf besar dan mengikuti
aliran Aristote1es. Ia hidup di Dunia 0 Is~am bagian Bani!, yaitu
Spanyol, di kota Cordova (Qu~tllbah) yang sekarang masih berdiri
masjidnya yang sanga.t megah. Cordova betjauhan dari Madrid,
kurang lebih satu jam perjalanan dengan kapal terbang. Ibnu Ru-
sydlah yang membuka mata Europa kepada filsafat Aristoteles.
Tetapi, jika Ibnu Rusyd menjadi kebanggaan Umat Islam karena
namanya sangat terkenal di Europa p-ada abad" 13"masehi, tidak
seluruh pendapat filsafatnya senafas dengan Islam. Ini yang harus
diketahui oleh generasi mud a kita.
Di Universitas Paris ada Fakultas Teologi. Diantara guru-
gurunya yang besar adalah Albert Ie Grand, Thomas Aquinas
dan Bonoventure yang ketiga-tiganya kemudian diangkat sebagai
orang suci (santa) oleh gereja Katolik. Mereka itu ahli teologi clan
117
--0" ,
mementingkan inempelajari metapinsica daripada Aristoteles untuk
dipakai sebagai"alat mempertahankan atau mem"perkuat teologi
Katolik. Tetapi mulai pertengahan abad 13, beberapa guru besar
dan lektor dari Fakultas Sastra di Universitas Paris memperluas
penyelidikan mereka terhadap filsafat Aristoteles, bukan saja
terbata's dalam logika tetapi sampai dalam metaphisic, kosmologi'
dan etika. Perhatian mereka itu terdorbng karena ~ntuk bersaing
dengan Fakultas Teologi. '
Tetapi ada perbedaan besar antara sikap metode kedua belah
fihak:. AWi teologi tidak mengambil daripada filsaf~t Aristoteles
seluruhnya tanpa menyaringnya dari unsur-unsur yang bertenta-
ngan dengan agama. Seballknya guru-guru Fakultas Sastra me-
ngambil seluruh filsafat Aristoteles, dan tidak membedakan
antara filsafat yang sesuai dengan agama daTI yang tidak sesuai,
khususnya theori Ibnu Rusyd tentang "kesatuan akal" atau
unity. of the intellect bagiseluruh manusia. Oleh karena sikap
inilah mereka din am ak an : Averroists, artinya pengikut-pengikut
Ibnu Rusyd, pada hal lebih tepat kalau mereka dinamakan pe-
ngikut A~istoteles.
Kita umat Islam yang belum banyak menyelidiki filsafat
merasa bangga ada kelompokAverrotist di Paris yang menunjukkan
kebesaran Ibuu Rusyd di Dunia Barilt. Tetapi kalau kita menerima
anggapan tersebut, kita akan rugi besar dalam soal-soal aqidah
Islam. Dalam hal ''kesatuan akal" untuk seluruhl manusia Ibn
Rusyd, tergelincir, sangat terpengaruh oleh Aristoteles, dan tidak
berpendapat bahwa wahyu Al Qur-an, lebih kuat dari filsafat
Aristoteles.
Dua hal yang menjauhkan Ibnu Rusyd dari aqidah Islam :
Pertama, . bahwa alam itu tak ada permulaan dan tak ada
akhirnya. Ini juga dianut oleh Ibnu 81lla..
~""-Kedua, theori bahwa nyawa seluruh manusia itu satu
(human monopsychism) yang berarti bahwa individu itu tidak
mempunyai kelangsungan hidup.
118
Soal-soal yang semac'am ini dalam buku-bukunya Ibnu Rusyd
ditulis dengan jelas, sehingga tak perlu kita mempertahallkan
Ibnu Rusyd dengan met;Ugikan Islam.
Kita dapat menger& bagaimana kekuatan berfikir Ibnu Rusyd
yang kuat, sehingga ia in gin menyesuaikan Islam dengan pendapat
Aristoteies yang pada waktu itu sangat dijunjung tinggi oleh
umum. Tetapi pada tahun 1977 ini, dengan kemajuan yang dica-
pai olehilmu astrophysic dan cosmology, orang sudah yakin bahwa
yang 'benar adalah theori At Qur-an, bukan theor:i Aristoteles
yang diterjemahkan oleli Ibnu Rusyd dan kemudian sampai ke
Paris dari Spanyol yang waktu itu dikuasai' oleh orang Islam.
Soal Ibnu Rusyd ini soal yang pelik dan bukan diajarkan untuk
memberi gambaran aspek Islam. Filsafat Ibnu Rusyd diberikan
kepada mereka yang sudah mahir dalam bahasa Arab dan menge-
tahui filsafat Yunani serta perkembangan pengetahuan alam di
Barat pada akhir abad ke 20 ini.
Kesulitan konsep ftlsafat Islam
Filsafat Islam sebagaimana juga Filsafat Kristen setelah fil-
safat dipelajati orang-orang Masehi, adalah suatu usaha unt,uk
mempertahankan aqidah. denian mengambil bahan dati .filsafat
Yunanil yang tidak bertentangan dengan Islam. Sebelum filsafat
Islam timbul, Al Mutakallimun (ahli ilmu al Kalam) telah banyak
mempergunakan bahan-bahan filsafat Yunani. Dalam dasarny~,
Al . Mutakallimun adalah orang-orang yang mempertahaiikan'
Islam. Adaimn filosui"-filosufIslam, adalah orang-orang yang sangat
tertarik kepada -filsafat sehingga kalau perlu mendahulukan ajaran
ftlsafat kepada ajaran agama. Theori Al Farabi dan Ibnu Sina
tenta~g emanasi (pancaran, faidh) bertentangan dengan Islam
yang mengatakan bahwa Tuhan itu menciptakan alam dengan
kemauanNya, tidak secara pancaran.
Ibnu Rusyd juga. mendahulukan filsafat kepada ajaran
Al Qur-an. Ia adalah seorang tabib dan seorang ahli hukum yang
ulung. Tetapi filsafatnya . ditinjau dati akhir abad 20 ini - sudah
119
.·.. ,
usang, tak dapat dipertahankan. Niat I.bnu Rusyd adalah baik,
mengatakil'n bahwa Islam tak bertentangan dengan' akal. Pada
zaman Ibnu Rusyd. (1126 - 1198 M) akal adalah akal Yunani
yang mengatakan alam ini kekal, dan bahwa manusia sebagai
kesatuan itu kekal, adapun individu akan lenyap.
Kelihatan sekali bahwa Dr. Hamn Nasution tidak mengikuti
perkembangan ilmu cosmology astrophysic, sehingga ia memper-
tahankan pendapat Ibnu Rusyd yang sudah usang itu.
Pada halaman 66 Dr. Harun Nasution menulis : "Ibnu Rusyd
menjelaskan bahwa pendapat kaum teolog tentang dijadikannya
alam dari tak ada tidak berdasar kepada argumen syari'at yang
kuat. Tidak ada Ayat-Ayat yang mengatakan bahwa Tuhan pada
mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari
wujudNya dan kemudian biuulah alam dijadikan. Pendapat bahwa
parl;a mulanya hanya wujud Tuhan yang ada, kata Ibnu Rusyd,
hanyalah merupakan interpretasi kaum teofog, Ayat Al Qur-an
tnengatakan, demikian Ibnu Rusyd, bahwa alam dijadikan bukan-
lah dari tiada, tetapi dari sesuatu yang telah ada sebelum alam
mempunyai wujud, umpamanya Ayat 7 dad Surat Hud :
I -'~0-?~/'· /~~--/>.':)ti/~'7..Y(l_'~-:,\~, ~.
~"-f-~j.~/,(~ ~/}.\~(..~1/
-Artinya: V ~ .J.fb • ~,"?u"..\ ~,/./
"Dan lfllah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan
tahtaNya (pada waktu itu) berada di atas air".
Ayat ini menurut Ibnu Rusyd mengandung arti bahwa se-
belum adanya langit dan bumi telah ada wujud yang lain, yaitu
air yang di atasnya terdapat tahta kekuasaan Tuhan. Tegasnya,
sebelum langit da,n bumi diciptakan Tuhan telah ada air dan tah-
ta".
Dr. Harun Nasution menjelaskan filsafat Ibnu Rusydsecara
panjang lebar dalam halaman 66, 67, 68. Dan ia sering menyelip-
kan kata-kata : Demikian Ibnu Rusyd, , kata Ibnu Rusyd, menurut
120
"
Ibnu Rusyid; agaknya untuk memberi kesan bahwa -ia belum
tentu setuju dengan pendapat Ibnu Rusyd. Tetapi jiwa keselu-
ruhan dati bab IX ini· menunjukkan bahwa Dr, Rarun Nasution
cenderung untuk mengikuti Ibn Rusyd. Bahkan di luar buku-
Islam ditinjau dati berbagai aspeknya ini, Dr. Rarun tidak segan-
segan mengatakan terus terang bahwa alam ini adalah qadim, tak
ada permulaan.
Bahkan setelah selesai menguraikan filsafat Ibnu .Rusyd
yang tidak senafas dengan Islam, Dr, Rarun membicarakan filsafat
Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria al Razi (864 - 925 M) yakni
seorang yang hidup sebelum zaman Al Gazali (wafat tahun 1111)
sehingga fils afatny a sudah termasuk dikritik oleh Al Gazali.
Diantara pendapat Al Razi, Dr. Ramn Nasution menyebut-
kan pada halaman 69~ ".\1 Razi iadalah seorang rasionalist, yang
hanya percaya pada akal, dan tidak percaya kepada wahyu. Me-
nurut keyakinannya, akal manusia cukup kuat unt'uk mengetah~i
adanya Tuhail, apa yang baik dan apa yang buruk dan untuk
mengatur hidup manusia di· dunia ini. Oleh karena itu Nabi
dan Ras).ll tidak perIu, bahkan ajaran-ajaran yang mereka b~wa
menimbulkan kekacauan dalam masyarakat manusia. Semua
agama ia kritik. Al Qur-an baik dalam bahasa maupun isi~ya bu-
kanlah mu 'jizat".
Begitulah cara'Dr. Harun Nasution memberikan pengantar
ilmu agama Islam yang disebutkannya : Islam ilitinjau dari ber"
bagai aspeknya.
Aspek filsafat ini, lebih dari aspek-aspek lain yang pad a umum-
nya bersifat negatif, merupakan aspek yang sangat negatif,
khususnya bagi mahasiswa LA.LN. tingkat pertamayang sepan-
jang pendengaran saya, buku itu dijadikan bacaan wajib bagi
mereka.
121
10
KOREKSI TERHADAP BAB X TENTANG
ASPEK MISTlCISME
Dalam meneliti buku Dr. Harun Nasution tentang : Islam
ditinjau dari berbagai aspeknya, khususnya mengenai bab pertama:
agama dan pengertian agama dalam be rbagai bentuknya", dan
kedua : "Islam dalam pengerti~m yang sebenarnya" kami telah
menunjukkan bahwa Dr. Harun Nasution menganggap agama se-
bagai genus sedang Islam adalah satu species (nau'), salah satu
daripada agama-agama di dunia. Pandangan seperti tersebut
mengandungkelemahan besar yang merupakan kekeliruan yang
sekarang ini sedang dialami oleh bangsa Indonesia yaitu mem-
persamakan an tara "toleransi" atau sikap menghormati agama lam
dengan "an~gapan bahwa semua agama itz.,lsarna".
Dalam bab kedua yang betjudul : Islam dalam pengertian
yang sebenamya. Dr. Harun N asution menganggap bahwa : "Sa-
lah satu ajaran pokok dalam Islam itu adalahmanusia yang
tersusun dari badan dan roh itu berasal dari Tuhan dan akan
kembali ke Tuhan. Tuhan adalah sud dan roh yang datang dari
Tuhanjuga sud dan akan dapat kembali ke tempat asalnya di sist
Tuhan, kalau ia tetap sud. Kalau ia menjadi kotor dengan masuk-
nya ia ke dalam tubuh manusia yang bersifat materi itu ia tak
akan dapat kembali ke tempat asalnya".
Paragraph terse but yang merupakan bagian dalam bab II
betjudul "Islam dalam pengertian yang sebenamya "merupakan
satu pengertian yang tidak benar. Pengertian yang diterangkan
oleh Dr. Har,m Nasution bukan pengertian Islam, akan tetapi
pengertian Neo PlatQnism~lyarig banyak hubungannya dengan teori
emanasi atau iaidh (pancaran) dan gnosticism. Hal ini juga diakui
122
-- -
oleh Dr. Harun pada halaman 72. Manusia bukan berasal dari Tu-
han, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Dan kalau roh itu suci dan ma
ti .ia bukan kembali ke temp at asalnya, akan tetapi menghadap
Tuhan untuk mempertanggung-jawabkan pekeIjaannya di dunia,
kalau jahat ia akan disiksa dan kaIa4, baik ak~n mendapat pahala
di sorga, di hadirat Tuhan, bukan di sisi Tuhan. Dr. Harun Nasuti-
on serihg memakai istilah Kristen. Ia memakai istilah teologi, dan
kali ini ia memakai kata~kata di sisi Tuhan. Kata-kata tersebut
. ada dalam Injil tetapi tak ada dalam AI Qur-an.
·Dengan keterangan tersebut di atas, saya bermaksud menun-
jukkan kepada para pembaca bahwa Dr. Harun Nasution belum
mendapat pengertian yang sebenarnya tentang Islam, sebagai ter-
lihat dalam beberapa bab dalam bukunya sehingga sering me-
nitik beratkan hal-hal yang kurang penting. Aspek politik yang
diberikan sebag(\i judul bab V, tidak mengandung ajaran poli-
tik .samasekali. Aspek Lembaga kemasyarakatan membicarakari
administrasi suatu negara abad menengah sehingga memberi image
yang na'if tentang masyarakat Islam. t .'
Dalam bab X ini Dr. Harun Nasution membicarakan misti-
cisme sebagai aspek daripada Islam, yang tujuanny• a untuk mem-
peroleh hubungalliangsung dengan Tuhan.
Gejala yang disebutkan sebagai aspek Islam itu, oleh Dr.
Harun Nasution sendiri dikatakan dalam paragraph III halaman
71 sebagai berikut : Tujuan dari misticism baik yang di dalam
maupun yang di luar Islam ialah memperoleh hubungan hingsung
dan disadari dengan Tuhan".
Dengan begitu maka misticism, bukan semata-mata aspek
Islam. Bahkan paQa dasarnya, Islam tidak menganjurk~m misticis-
me, karena Islam adalah ajaran Tuhan untuk mengatur masyarakat
yakni hubungan manusia dengan manusia, serta mengatur hu-
bungan manusia dengan Tuhan dengan tun tun an ibadat-ibada.t.
Yang menarik perhatian adalah bahwa dalam membicarakan
123
misticism,: Dr. Harun Nasution banyak menyebutkan Hadis-hadis
y~ng ia sendiri tidak meneTangkansumbernya. Padahal dalam
nBab tentang arti Islam yang sebenarnya Dr. Harun Nasution
sudah mengatakan bahwa Hadis yang dapat dipercaya itu sangat
sedikit sekali.
Dengan mukaddimall di atas, dapatlah kita .memahami isi
Bab X tentang misticism. Misticism menghendaki orang menjadi
zahid.
Tersebut dalam Hadis Bukhari : Anas bin Malik b'erkata :
Adq tiga orang yang pergi menemui isteri Nabi Muhammad dan
menanyakan mereka tentang ibadah Nabi. Mereka telah diberi
keterangan seperlunya, tetapi mereka merasa bahwa apa yang di-
keljakan oleh Nabi Muhammad itu terlalu sedikit.Mereka berkata :
Kedudukan kita jauh lebih rcndah dari kedudukan Rasulullah.
Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dahulu mau-
pun yang kemudian. Salah s,atu qiantara mereka berkata : Kalau
aku,Aku akan terus sembahyang malam. Yang kedua berkata :
Aku akan berpuasa selama lamanya. Yang k~tiga berkata I: Aku
akan menjauhkan diri dari sex dan tak akan kawin selamaLlama-
nya. Akhirny'a Nabi Muhammad dapat juga mendengar itu semua.
Beliau kemudian berpidato dengan membaca syukur kepada
Tuhan dan kemudian berkata : Aku mendengar orang-orang ber-
kata begini dan begini, (yakni mengulangi kata-kata ketiga sahabat
terse but). Ketahuilah bahwa aku ini yang paling takut kepada
Allah dan paling bertaqwa; tetapi aku puasa dan aku berbuka,
aku sembahyang tetapi aku juga tidur dan aku melakukan sex
dengan isteriku. Barang siapa menyimpang dari tradisiku, ia
bukan pengikutku.
Ketiga sahabat tersebut ialah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin
Amr danUthman bin Madh'un.
Begitulah gambaran ajaran Rasulullah, tak meninggalkan
dunia tetapi tak mencintainya $epenuhnya, danselalu memen-
tingkan akhirat dan tidak me!1inggall$:annya.
Dalam bab X mengenai aspek misticisme Dr. Harun Nasution
124
se~gaja menyebut hal-hal yang negatif. Ibrahim Ibn Adham
disebutkan berkata : Kemiskinan (al faqr) adalah harta yang di-
simpan Tuhan di Surga dan yang- tidak dianugerahkan kecuali
kepada orang yang dicintainya. Abu Nasr Bisyr .al Hafi (767 -
841) dikatakan tidak bersepatu (al Hafi) padahal negeri Khurasan
adalah ne~eri dingin. Menurut pendapatnya memberi sedekah
kepada fakir miskin lebih mulia daripada pergi haji. ..
Ketika ia sakit, ia memberikan baju yang terlekat di badan-
nya kepada orang miskin yang juga sakit, sehingga ia sendiri me-
ninggal tanpa baju.
lni bukan salah satu aspek Islam. 1ni adalah aspek kesintingan
yang menvalahi aiaran Islam. Bukankah Al Qur-an berkata :
'0-*i \)]\ ~/&\-,:~] I~ ~l.'>,"\.>-':::Y' -'
.....•1-,. /' /' "'" ", ", -1/ ,/ //,/ t",/ ";i ,..,~ /: ....,. -:1.,. /" /
Artinya: :8t\A...\I \
- "Dan berharaplah daTi anugerah yang Tuhan telah memberikan kepaaa-
-mu untuk mencapai akhirat, dan jangan lupa nasibmu (bagianmu)
di dunia."(Surat 28 ayat 77)
Maqamat bukan Station
Pada halaman '78 paragraph terakhir Dr. Harun Nasution
menulis:
"Tujuan sebenarnya dari sufi, sebagai telah disebutkan di
atas, ialah berada sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ter-
capai persatuan. J alan untuk mencapai tujuan itlJ panjafig dan
b-erisi stasi on yang disebut dalam bahasa Arab : almaqamat':.
Sebagai saya kat~an di bagian lain, tujuan bersatu dengan
Tuhan itu bukan ajaran Islam. Tuhan itu Tuhan dan manusia itu
hamba Tuhan. Tetapi ad~ suatu _Hadis yang mengatakan : Jika
orang melakukan ibadah yang wajib dan sunnat sebaik-baiknya,
maka segala tindakannya akan diarahkan oleh Tuhan kepada
hal yang baik; maka seakan-akan Tuhan itu menjadikan kuping~
nya untuk mendengar dan menjadikan matanya untuk melihat.
Keaclaan' yang seIi1acam itu bukan persatuan antara manusia
dengan Tuhan,
Memang jalan yang bleh orang mistik dikatakan jalan kepada
125
persatuan dengan Tuhan digambarkan dengan maqamat yang
berbed~-beda jumlahnya dan berbeda-beda namanya,' karena
semua itu sekedar gambaran atau konkritisasi saja.
Yang dahulu banyak tersiar di Indonesia adalah martabat,
sehingga ada ilmu martabat tujuh: Ahadivah, wahdah, wahidiyah,
alam misal, alam ajsad. Martabat Tajalli dan Insan Kamil.
Yang banyak tersiar dalam IhyaUlumuddin karangan Al Ga-
zali (wafat tahun 1111) adalah Bab : seperti Bab Taubat, Bab
Zuhud, Rab ~abar dan lain-lain.
Oleh karena segala dasar Misticism.e ini adalah neo Plato-
nisme yang menggambarkan kejadian alam sebagai pancaran dari
Tuhan, emanasi atim dialectic descendant, dan menggambarkan
usaha manusia untuk bersatu dengan Tuhan sebagai dialectic
ascendantJadal shaid), maka Ai Maqamat lebih baik diteIjemahkan
dengan tahap, karena tahap menuju ke atas, sedangkan stasion
adalah sekedar tempat berhenti dan untuk lalu lintas dua jurusan.
Aspek misticisme telah ditulis aIel) Dr. Harun Nasution
dalam 20 halaman, secara terperinci, khususnya yang mengenai
1. al itthihad (persatuan dengan Tuhan), 2. a1 fan a' (hancurnya
individu dalam Tuhan) dan 3. syathahat (theopathical stamme-
rings), yakni kalimat yang diucapkan dalam keadaan mabuk mistik
seperti kata Al Hallaj, aku ini alKhaliq, atau aku Allah.
Dr. Harun juga menulis pada halaman 86, paragraph terakhir
dan halaman 87 :
"Menurut falsafatnya (AI Hallaj) Tuhan mempunyai sifat
sifat Ketuhanan,
ke~anusiaan dan manusia sendiri mempunyai
!,l.Nasuf'(c,~~l d~nLahut. (u~
Dasar filsafa.t 1ni ialah Hadis:
/!J' ////~ //"'/
Artinya :~J~~f~\~'
"Tuhan menciptakan Adam menurut bentuknya .••
Dengan demikian dalam Adam terdapat bentuk Tuhan dan
selanj1:ltnya dalam Tuhan terdapat pula bentuk Adam. Atas dasar
126
ini persatuan antara manusia dan Tuhan dapat teIjadi. Filsafat
persatuan yang dibawa Al Hallaj di sebut A.i Hullll"'.
Dalam membaca tlllisan Dr. Harun Nasution di atas, bertam-
bah kesan saya bahwa segi-segi negatif sangat ia perhatikan.
Walallpun dengan tegas ia telah mengatakanHadis yang benar
it~ sedikit sekali dan tak ada criteria llntllk memilih mana yang
benar dan mana yang salah, dalam paragraph tersebut di at as
ia memakai Hadis yang berbunyi Tuhan menciptakim Adam menu-
rut bentllknya. Yang slldah terang, kata-kata semacam itu tersebut
dalam Injil, kitab kejadian. Tetapi bagi orang Islall} yang dinatl).a-
kan Hadis .tersebut sangat bertentangan dengan Al Qur-an yang
~~#~
pada Sllrat 42 Ayat 12 mengatakan :
Artinya : .
"Tak ada sesuatupun yang serupa dengan Tuhan."
Monisme : Pantheisme
Pada halaman 88, Dr. Harun menlllis tentang Ibnu Arabi
sebagai berikut :
Dalam falsafat Wahdatul wujud, Nasut al Hallaj dirobah
menjadi : al Khalq (makhluk).
Ringkasnya dalam tasawuf Ibnu Arabi yang bersatu dengan
Tuhan bukan hanya manusia tetapi semua makhluk. Semllanya
mempunyai wujud satu dengan Tuhan. Oleh karena itu ada orang
yang menyebut falsafah Ibnu Arabi ini pantheisme.Sungguhpun
nama itu tidak sesuai dengan faham Wahdah al wujud".
Setelah membicarakan filsafat Al Hallaj yaitu filsafat Al Hulul
(inkarnasi) Dr. Harun Nasution tidak lupa membicarakan filsafat
Ibnu Arabi, yang disebut Wahdatul wujud atau pantheisme, yakni
dalam tiap makhluk terdapat aspek ketuhanan, jadi bukan hanya
dalam manusia sebagaidisebut al Hallaj".
Bagaimanakah hubungan-nya dengan ajaran Islam yang
127
sebenamya ? Dr.· Harun N asution sebagai dalam soal-soallainnya
tak memberijawaban.
Hakekat Muhammadyah + Nur Muhammad
Pada halaman 89 Dr. Harun menulis:
"Ibn Al-Farid dari Cairo (1181-1235 MJ menimbulkan fallam
al-haqiqah AI-Muhammadiah (konsep Muhammad). Menurut fa-
hamnya al-haqiqah Al-Muhammadiah diciptakan Tuhan semenjak
azal sesuai dengan bentukNya sendiri. Oleh karena itu orang yang
ingin tahu Tuhan, harus berusaha mencapai persatuan dengan al-
haqiqah Ai Muhammadiah itu. Abd AI-Karim AI-Jill (w. 1428 M.)
membawa falsafat al-insan ai-kamil (manusia sempuma). Manusia
sempurna adalah kopi dari Tuhan dan terdapat dalam diri Nabi
Muhammad. Al-insan al-kamil sarna dengan ai-nur Ai-Muhammadi-
ah (cahaya Muhan1mad)atau ai-haqiqalt Al Muhammadiah tersebut
di atas dan merupakan cermin bagi Tuhan."
Bahwa faham Ha~ekat Muhammadiyah at au Nur Muhammad
yang begitu. penting hanya disebutkan dalam beberapa baris,
akan membeii peluang untuk kesalahan ~aham yang bukan-bu-
kan.
Hakekat Muhammad atau Nur Muhammad adalah suatu hasil
dari meresapnya faham neo Platonisme. Menurut faham Neo Plato-
nisme, ada tiga hal: pertama The One at au The Good atau The
First Principle kedua The Divine mind, dan yang ketiga adalah
The Soul.
Daripada The· One, memancarlah The Divine mind, yang
merupakan The World of forms (alam misal), dan dari alam
misal memancarlah alam materi ini. Hubungan antara alam ma-
.teri dan The Divi!1e mind dinamakan Soul.
Pancaran artinya bahwa kejadian alam ini sebagai pancaran
dari l:'uhan tanpa acta kehendak daripada Tuhan, jadi secara auto-
matis.
Gambaran yang semacam itu adalah garnbaran yang ber-
tentangan dehgan ajaran Islam, karena menurut ajaran Islam,
Tuhan menciptakan alam daripada tidak ada, dengim kemauan
dan keputusanNya.
The Divine mind atau Logos yang merupakan The World
128
. ~~',,,, .. ..
of forms atau alam misal inilah yang oleh kaum Masehi.dilekatkan'
kepada Nabi Isa, sehingga nabi Isa AI Masih atau Yesus Christus
itu adalah asal segala yang ada.
Begitujuga kaum sufi, memakai kata Hakikat Muhammadyah
atau Nur Muhammad untuk mengatakan hahwa Nabi Muhammad
itu adalah mak:hluk pertam'a yang inenjadi sebab adanya dunia
dan penghuninya
Tentu saja gambaral! yang demikian bertentangan dengan
aj~an Islam, karena ajaran Islam mengatakan bahwa Muhammad
adalah bamba Allah dan utusanNya.
Hal tersebut tidak dijelaskan oleh Dr. Harun NaJKitwn, pada
hal sangat perIu bagi mahasiswa I.A.I.N. Ketika saya menulis
ini saya iI).J@tpernah membaca suatu- artikel di Panji Masyarakat
no. 215 tanggal 15-1-1977 tentang Nur Muhammad dalam ahran
kebatinan,. ditulis oleh sdr. Samudio Tulisan sdr. Samudi cukup
ilmiyah walaupun nampaknya bacaannya terbatas seperti.sebagian
besar saIjana zaman sekarang. Tulisan yang baik itu dibantah
oleh sdr. M. Harith bin Abd. Shafa .dati Fakultas Adab l.A.I.N.
Alaudin Ujungpandang dalam Panji Masyarakat no, 220 tanggal
1 April
KesiI)lpulan yang saya pet:o~eh dari bacaan Bab X tentang
aspek mistlcisme bahwa Dr. Harun NasutioD telah menganggap
penting sekali segi mistik dalam Islam dan :menerangkan bahwa
tujuan misticisme adalah untuk bersatu atau mendekat dari Tu-
han. Garnbaran bersatu dengan Tuhan pada sa'at ini ~dalah sarna
dengan tujuan agama Kristen yaItu agar tiap penganut agama Kris-
ten itu bersatu dengan Yesus.
Dengan 'Sacrament. Eucharisti, yaitu makan roti yang diberi-
kan oleh Pastur dengan berkata . Inilah jasadku, dan meminum
seteguk anggut yang diberikan oleh Pastur dengan berkata :
Jnilah darahku, maka dalam missa·itu seorang pengikut agama
Masehi'telah bersatu dengan Yesus. Gambaran tersebut juga sarna
dengan tujuan kebatinart = menekung dan manunggaling kawula
gusti. .
'Dengan tjd¥ diterangkan mana aliran yang Deliar dan mana
aliran ·Y'ang salah, maka bab- X tentang aspek •misticisme ini,
seperti .'h'alnYa dengan bll:b-bab yang lain, hanya menarnbab ke-
kaburan gambaran Islam bagi pada generasi muda. ·129
11'
KOREKSI TERHADAP BAB XI TENTANG
ASPEK PEMBAHARUAN DALAM ISLAM
Bab XItentang aspek pembaharuan dalam Islam merupakan
aspek yang penting. Kita bangsa Indonesia yang 95% memeluk aga-
ma Islam banyak yang tertarik dengan perkataan pembaharuan
atau moderllism atau Tajdid.
Perkataan lain adalah reform, dan dalam bahasa Arabnya
Islah. Dalam buku-puku sejarah, timbulnya, agama Protest an
adalah karena gerakan reform dati Martin Luther (1483-1546).
Orang Barat sering memakai reform dan modernism sebagai
synonim, !iehingga gerakan'Muhammad Abduh kadang-kadang
dinamakan r~form dan kadang-kadang dinamakan modernisasi.
Agama Kriste,n sebagai suatu agama yang banyak dia~~t
orang di Barat telah ,mengalami bermaeam-maeam reform seperti
gerakah Protestan, gerakan :lWingli (th. 1484-153.1) dan Calv:in
( 1509-1564).
Sesungguhnya reform atau modernism adalah gejala umum,
oleh karena masyarakat berobah, maka tata earapun berobah
pu~a. Dahulu sebelum banyak auto da-n kota-kota besar, orang
tidak memerlukan lampu merah hijau dan kuning di tiap-tiap
persimpangan jalan. Sekarang hampir di seluruh kota besar ki.,:
ta d'apatkan lampu-lampu semaeam itu.
Dahulu orang bikin rumah-rnmah yang sang at berdekatan
satu dem~an lainnya dengan lorong-Iorong yang sempit; waktu itu
keadaan semaeam itu perlu untuk menjaga keamanan. Sekarang
rumah yang disukai orang adalah rumall yang luas pekarangannya,
yang didirikan di jalan, yang Iebar sehingga auto dapat, keluar
masuk dengan mudah, apalagi keamanan. pada umumnya sudah
130
terjamin.
Perobahan masyarakat di Barat timbulnya karena kemaju-
an pengetahuan. Hilangnya feodalism dan digantikannya dengan
kerajaan membawa pengaruh besar. Raja-raja walaupun kebanyak-
an berkekuasaan mutlak,' banyak membantu research untuk
kemegahan dynastinya. Saudagar-saudagar besar juga berlomba
membantu kemajuan pengetahuan. Francis Bacon ( 1561-1626 )
.dari Inggris dalam karangannya Novum organum mengajak orang
memakai methode inductive. Rene Descartes (1596-1650) dari
Prancis, dalam karangannya Discours de la methode untuk me-
makai ratio semata-mata. Instrument-instrument barn didapat-
kan orang. Barometer diciptakan oleh Torricelli dan Pascal
(1623-1662) jam pendulum diciptakan oleh Huygens (1629-
1695) dan pompa angin diciptakan oleh Van Guerecke.
Perhimpunan-perhimpunan Pengetahuan timbul di mana-mana
seperti Academy of Experiments di Florence (Itali),Royal society
di negeri Inggris dan French Academy of Sciences di Prancis.
Pelayaran jauh juga dilakukan untuk mengenal daerah-daerah yang
belum pernah diketahui orang. Di samping itu Copernicus (1473-
] 543) mengemukakan heliocentric theory untuk mengganti geo-
centric theory yang dianut oleh Cladius Ptolemy seorang Yunani
dari abad II masehi, Copernicus mengatakan bahwa bumilah yang
memutari matahari dan bukan matahari yang memutari bumi.
Copernicus dikuatkan oleh ahli-ahli ilmu bin tang seperti Tycho-
Brahe (1546-160 1), John Kepler (1571-1630) dan Galileo-
Galilei (1564-1642). Tetapi theori Copernicus ditentang oleh
Gereja Katolik dan bukunya Galileo termasuk buku yang terlarang
pada tho 1757, sedang sebelum itu Geordano Bruno telah dihukum
mati bakar oleh gereja Katolik juga.
Ahli pengetahuan besar sesudah mereka itu adalah Sir IsaaC-
Newton (1642,-1724). Dialah yang menemukan formula: "Every \
particle of matter in the Universe attracts every other partiCle
with a force varying inversely as the square of the distance between
..them and diredly proportional to the product of their masses".
Tiap-tiap bagian kecil dari materi dalam alam ini menarik bagian
131
kecil lainnya dengan kekuatan yang berbeda secara terbalik
menurut segi empat jarak antara mereka dan secara langsungber-
sifat proporsionil kepada hasil jumlah bagian-bagian kedl' itu.
(lni adalah aturan daya tarik yang ditemukan -oleh Newton dan
mungkin sukar difahami bagi yang tidak berkecimpung dalam il-
mu alam).
Kemajuan ilmu pe,ngetahuan bertambah lagi'dengan pengeta-
huan seorang Irlandia yang bernama Robert Boyle (1627-1691)
yang banyak penemuannya di bidang chemistry. Yoseph Preestly
(1733-1804) menemukan metode untuk menggunakarl gas di
rumah. Di negeri Prancis, Antoine Lavoisier (1743-1794) menja-
dikan chemistry sebagai ilmu experimental la mengarang "Elemen-
tary Treat1se on chemistry".
Listrik mula-mula ditemukan oleh William Gilbert (1540-
1603), Benyamin Franklin (1706-1790) dan Ale~ander Volta
(1745-1827) yang namanyadipakai sekarang untuk meminjuk-
kan kekuatan listrik (voltage).
Semen tara itu pengetahuan ten tang .geology, biology, botany,
zoology, ilmu kedokteran juga bertambah dengan cepat.
Di lain fihak, oleh karena negeri Inggris terhindar dari pep,e-
rangan-peperangan seperti yang terjadi di benua Eropa maka
industri di sana berkembang biak. Dengan memiliki arang batll: dan
baja, maka industri textil bulu dan katun, serta industri berat
(mesin-mesin) maju pesat pula. Pada tho 1825 kereta api mulai
dipakai, kapal api dipakai mulai tho 1838.
Industri membawa effek sampingan. Para kaum buruh banyak
menderita. Orang-orang yan~ mempunyai capital menblak campur
tangan Pemerintah dalam soal ekonomi, dan menganjurkan slogan-
slogan laissez faire laissez passer, (biar langsung, jangan diganggu)~
Hal ini menimbulkan reaksi yang memuncak dengan mnnculnya
Karl Marx(1818-1883) yang berpendapat bahwa kaum buruh-
lah yang berhak memerintah .
.Dalam pada itu imperialism, untuk tujuan-tujuan keuntungan
ekonomi terus berjalan, dan rakyat yang terbuka matanva menun-
132
..;.
tut hak-haknya daripada raja yang berkuasa mutlak.
Perobahan-perobahan besar di Europa Barat ini sangat me-
ria'jubkan. Banyak para penginjil yang mengatakan bahwa kemaju-
an itu adalah buah daripada agama Kristen, mereka mengatakan
bahwa peradaban Barat sekarang adalah peradaban Kristen. Kata-
kata terse but memang sering kita den gar di Indonesia; tetapi itu
tidak benar. Kalau kita ingat bahwa Giardo Bruno (1550-1600)
dihukum mati bakar oleh gereja karena mengatakan bahwa bumi
berputar, maka jelaslah bahwa agama Kristen tidak mendorong
kemajuan-kemajuan tersebut. Kita hanya dapat mengatakan bahwa
dalam sejarah, kemajuan teknik sangat pesat di abad 18-19 di
Barat;- kit a tak dapat mengatakan sebabnya; kita juga.hanya dapat
men~atakan bahwa filsafat subur di Yunani pad a abad 4 sebelum
maseru, kemudian negeri Ynnani tak berbeda dengan negeri lain-
nya.
Di samping bidang materiil seperti 'chemistry, llstrik, me sin-
mesin ringan dan berat, Europa barat juga memperoleh kemajuan
dalam bidang ekonomi, sosiologi, filsafat dan theori-theor' poll
ij~ '
Setelah kita membicarakan kemaJuan di Barat, manlah kita
bicarakan bagaimana kemajuan di Barat itu berhadapan muka de~
ngan Dunia Islam.
Dalam bidang politik dan militer, konfrontasi sudah lama
terasa antara negara-negara Barat. Prancis dengan Inggris, Austria
dengan Kerajaan Turki. Peperangan antara Turki dan Kerajaan
Austria mengakibatkan Turki kehilangan daerah Balkan (Europa
Timur).
Yang lebih penting daripada itu adalah pertemuandalam
bidang ilmu pengetahuan teknik dan filsafat. Di sinilah letak per-
soafan modernism.
Napoleon Bonaparte yang sedang jaya di Europa ingin
menguasai Mesir sebagai pintu gerbang ke India. Ia mendarat di
Alexandria tgl. 2 Jull 1798 dalam suatu €xpedisl yang ternama
dalam sejarah sebagai expedisi Prancis, suatu expedisi yang tidak
hanya dilengkapidengan senjata modern1 tetapi juga dengan suatu
133
."
iembaga IImiyah yang tersusun dan beberapa bagian seperti IImu
fisika, ekonorni, politik dan sastra.
Memang Mesir adalah suatu negara di mana peradaban Barat
dan peradaban Islam bertemu, sebagai saya katakan dalam Bab VII
atau aspek Hukum, untuk pertama kali Hukum Barat dipertemu-
kan dengan Hukum (Syari'at Islam). Di Turki kode perdata Islam
mulai dibentuk pada tho 1869 M. dan selesai pada tho 1876.
Di Mesir yang telah banyak terpengatuh oleh kebudayaan
Prancis dan dalam keadaan politik yang lemah menghadapi Inggris
dan Prancis, mula-mula diadakan al Mahkamah al Mukhtalatah
(tribunal mixte) pada tho t 875, dan pada tho 1883 diadakan
peradilan-peradilan negeri yang kode Hukumnya hampir sarna de-
ngan kode Hukum di Tribunal mixte.
Waktu diadakan 'fribunal Mixte, naskah hukum-hukum yang
akan berlaku itu dikirim ke Universitas al Azhar untuk dibahas
oleh ulama-ulama. Hasil daripada penyelidikan para alim ulama
mengatakan bahwa: Hukum-hukum itu dengan artikel-artikelnya,
sebagian bersamaan dengan salah satu daripada pendapat yang ada
dalam empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali) dan sebagi-
an lagi tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat mazhab
tersebut, dan sebagian lagi termasuk dalam al masalih al muraalah
yang merupakan hasH Ijtihad untukmengatur kepentingan masya-
rakat. Laporan terse but merupakan laporan tertulis tidak tercetak,
aslinya ada di Perpustakaan Pemerintah Mesir; ini disebutkan oleh
Ali Ali Mansur, ahli hukum besar yang merancang kodifikasi-
Hukum Islam di LYbia.
Modernism mendapat rintangan bukan oleh sebab agama
Islam, tetapi karena ada pihak-pihak yang takut kehilangan vested
interest mereka, di sam ping tiap-tiap keadaan bam yang didesakkan
dari atas menimbulkan rasa curiga. Kita ma'lum bahw.a pada abad
18 M. dahuiu alat-alat komunikasi massa belum ada sehing'~
ga pengaruh desas-desus sangat kuat.
Dr. Harun menulis dalam halaman -94, paragraph terakhir:
"Pembaharuan-dalam bidang-bidang lain juga disambilkan. Tetapi
134
usaha pembaharuan itu mendapat tantangan terutama dari
golongan militer yang tal\ut kehilangan kedudukan dalam perobah-
an-perobahan yang akan terjadi." Kata-kata itu adalah sebab yang
pokok; vested interest sang'at mempengaruhi sikap sesuatu golong-
an.
Tetapi Dr. Harun Nasution menambah: "Juga dari pihak ka-
urn ulama datang tantangan, karena di zaman itu perteritangan
antara Kristen dan Islam masih keras. Orang masih memandang
curiga terhadap apa yang berasal dari Dunia yang dianggap kafir."
Kata-kata tersebut di atas sangat menusuk perasaan dan
menandakan bahwa Dr. Harun Nasution sudah menelan apa sa-
ja yang ditulis oleh kaum Orientalis yang anti Islam tanpa meng-
gunakan daya kritik fikirannya sebagai seorang sarjana. Jika dalam
hukum, para ulama Azhar sudah mengatakan bahwa hukum barat
itu, kecuali beberapa hal" tertentu, pada umumnya senafas dengan
salah satu mazhab em pat yang ada atau mertipakan maslahah
mursalah yang berarti salah satu" sumbe·r hukum yang dilakukan
dengan Ijtihad untuk memelihara masyarakat manusia, maka
opposisi terhadap pembaharuan itu adalah datang dari rakyat
jelata yang mengasosiasikan modernism dengan pihak penjajah
yang beragama Kristen tetapi karena penjajahannya, bukan karena
agamanya.
Dr. Harun Nasution berkata: "Karena pada waktu itu perten-
tangan antara Kristen dan Islam masih keras." Kata-kata tersebul
adalah kata-kata seorang orentalis yang anti Islam. Umat Islam ti-
dak benci kepada orang Kristen, tetapi benci kepada penjajahan
Dan kalau Dr. Harun Nasution mengatakan bahwa "Pada waktu itu
pertentangan antara Kristen dan Islam masih keras," maka saya
mengatakan bahwa pada sa'at ini dan pada waktu yang akan da·
tang, pertentangan itu juga tetap keras. Tetapi bukan ~ntara
Islam dan Kristen sebagai agama; sebabnya ialah karena meraja
lelanya Kristenisasi yang dilakukan di dalam tubuh Umat Islam,
hal ini Jah yang tidak dirasakan oleh Dr. Harun Nasution.
Atas dasar perasaan bahwa Islam terbelakang dan Kristen
135
maju, yang sudah meresap dalam hati Dr. Harun Nasution, maka
ia mengatak·an pada halaman 95, bahwa Ibrahim Mutafariku yang
ingin mengadakan percetakan di Istambul pada tho 1727 M terpak-
Sloml eminta filtwa dari Mufti Besar Kerajaan Islam untuk mengatasi
tantangan kaum "agama".Kasus tersebut adalah kasus yang
dibesar-besarkan; ini adalah kebiasaan kaum orientalis yang anti
Islam seperti yang sering saya katakan. Soalnya, karena banyak
tukang bikin naskah tangan yang akan kehilangan sumber kehidup-
an, maka adalah bijaksana untuk mendapat fatwa dari Mufti,
sehingga para tukang tulis itu dapat menerima hal baru yang meru-
gikan diri mereka dalam segi ekonomi tetapi akan menguntungkan
umat dalam segi pengetahuan.
Gerakan Jamaludin AI 'Afgani, Muhammad Abduh dan
Rasyid Ridha (1838-1897).
Jamaludin Al Afgani adalah seorang besar, seorang politikus
yang berkaliber internasional. WalaupJ.ln ia pandai dalam agama
dan filsafat tetapi ia mencurahkan segala tenaganya untuk menya-
lakan api semangat kemerdekaan umat Islam Dia selalu berhubung-
an dengan kepala-kepala negara di Afganistan, Iran, Turki, Mesir
dan India. Karena kepandaiannya ia sering mendapat fitnah.
la terpaksa meninggalkan Istambul dan hidup di Mesir. Ketika
Mesir diduduki Ingg'ris, ia dibuang ke India. Setelah Inggris merasa
aman di Mesir, Jamaludin dibolehkan kembali ke Mesir, dari'
Mesir, ia dan muridnya Muhamad Abduh hijrah ke Paris dan me-
nerbitkan majalah Al Urwatul Wutsqa (tali yang kuat). Di Paris
ia sempat berpolemik dengan Earnest Renan yang memberi
gambaran salah ten tang Islam di Universitas Sorbonne dengan
ceramahnya tentang Islam dan Ilmu Pengetahuan, Al Urwatul
Wutsqa yang hanya terbit 18 kali, pada tho 1884 telah berjasa
membuka mata umat Islam ten tang penjajahan barat khususnya
Inggris di India: dan Mesir. la pernah pergi ke London, dan Moskow
serta Amerika. Akhirnya i.a diundang oleh Sultan Abdul Hamid ke
Istambul; tetapi ia hidup di sana sebagai tawanan sampai ia
meninggal pada tgl. 9 Maret 1897.
136
. ~~. - .':"!"'-'~~~'-----""';:""",",,"';;';------
Dengan begitu, J amaludin adalah seorang politikus ya;1g
menggugah umat Islam supaya melepaskan diri dari penguasa
yang mutlak seperti di Persia dan Turki, atau dari penjajahan Ing-
gris di India dan Mesir.
Muhammad Abduh (1849-1-905).
Muhamad Abduh disebutkan dalam Encyclopedia of Islam
sebagai pendiri aliran modernism di Mesir. Ia tamat belajar agama
di al Azhar dan pada tho 1879 sebagai guru di Darul ulum, kemu-
dian sebagai editor dalam surat kabar resmi Pemerintah (al Waqai~
al Mesriyah) atau kejadian-kejadian di Mesir. Waktu acta pemberon-
takan di Mesir terhadap Khedire Taufik ia dibuang ke Beirut pada
akhir tho 1882. Dari Beirut ia pergi ke Paris dan bekerjasama de-
ngan Jamaludin al~f~ani menerbitkan majalah All.!rwatul Wutsqa,
Terdapat perbedaan besar an tara Jamaludin al Afgani dan Muha-
mad Abduh. Jamaludin al Afgani adalah pilitikus revolusioner
yang menghendaki pembangunan umat Islam dengan pemberon-'
takan, sedang Muhamad Abduh menginginkan perbaikan keadaan-
keadaan dengan bertahap melalui sistem pendidikan. Muhamad
Abduh mengikuti ajaran Ibn Taimiyah dan Ibn Qoyyim al
. Jauziyah serta Al Gazali. Muhamad Abduh berpendapat bahwa
ilmu pengetahuan qaru (Science) harus dibimbing oleh agama.Ia
juga menjawab serangan Gabriel Hanoteau dengan menulis buku-
nya; Islam dan Kristen dengan ilmu dan peradaban.
Karangan Muhamad Abduh adalah Risalah Tauhid, Risalah
al waridat, syarh aqaid,syarh logika; sedang tafsirnya dikumpul-.
kan oleh muridnya, Rasjid Ridha.
Rasyid Ridha (1865 - 1935),
Berasaldari Syria, Rasyid Ridha hidup di Cairo,dan men-
jadi murid setia kepada Muhamad Abduh. Ia adalah pelaksana
idee-idee Muhamad Abduh untuk memperbaiki sistem pelajaran
di al Azhar. la' menerbitkanmajalah al Manar dan meI)1buat
tafsir Muhamad Abduh yang ia catat setiap ia menghadiri
pengajian Muhamad Abduh. Karangan Rasyid Ridha banyak, di
137
antaranya Al Khilafah, dan yang p~ling memuaskan dirinya adalah
kitab al Wahyul Muhammady.
Ali Abdul Razik
Pada halaman 101, Dr. Harun Nasution menulis:"Juga".
Syekh Ali Abdul Razik yang berpendapat bahwa sistem Khalifah
-tidak ada dalam Qur-an".
Kata-kata terse but ditulis dalam rangka memberi contoh ten-
tang murid Syekh Muhamad Abduh:
Saya sendiri kenaI baik dengan almarhum, karena saya selalu
berjumpa dengan kakak beliau, almarhum Mustafa Abdul Razik
yang menjadi Guru Besar Filsafat Islam di tJniversitas Cairo, dan
saya termasuk salah seorang dari muridnya yang tak banyak jum-
lahnya pada waktu tho 1937.
Ali Abti~l Razik adalah sangat berbeda dengan kakaknya
Mustafa Abdul Razik. Ali Abdul Razik orangnya ambisius,. op-
portunist, ia masih kedl ketikaMuhamad Abduhmemimpin gerak-
annya. Ketika Mustafa Kemal Attaturk mensekulerkani negara
Turk!, banyak orang yang ingin memberikan gelar Khalifah
kepada . Raja Abdul Aziz bin Saud yang merdeka dan tidak
ada ikatan politik dengan negara Jmperialis Barat. Tetapi waktu
itu tahun 1926 Sultan Fuad ingiri menjadi Khalifah pada hal. ne-
gerinya diduduki ~entara Inggeris, maka Ali Abdul ~azik menulis
bukunya Al Islam Wa Usul VI Hukm. (Islam dan prinsip-prin·
.sip Ketatanegaraan), yang maksudnya menganggap bahwa Islam
itu agama yang me.ngatur hubungan antara manusia dan Tuhan
dan tidak mengatur keduniaan .. Buku tersebut sangat jauh dari
logika, susunan argumentasinya buat-buatan; untung bahwa Raja
Abdul Aziz al Saud sendiri tidak mau diangkat jadi KhaIifah,
3ehingga soalnya tidak berlarut-Iarut.
Buku Ali Abdul Razik . adalah buku seorang opportunist,
dan bukan ilmiyah., Kita masih in gat pada waktu orde lama
ada orang yang menulis buku-buku Demokrasi terpimpin dengan
.ayat Qur-an dan Hadis.
138
c·
.-
. Kar.ena buku Ali Abdul Razik itu melemahkan Ishim maka
,ia menjadi sangatpopuler pada kaum orientalis politisi.
Untuk .memasukkan idee Ali Abdul Razik dalam rangkaian
idee Pembaharuan Islam adalah sangat keliru. Pada waktu ini,
buku tersebut telah dikupas kembali dari segi faktor-faktor politik
dalam negeri Mesir pada tahun 1926, dan pada waktu terbitnya
buku terse but telah dikoreksi oleh ulama-ulama besar seperti Ra-
syid Ridha dan Khadr Husein yang pernah menjadi Syekh al Azhar.
Pembaharuan di Turki. ,(
Pada halaman 102 - 105 Dr. Harun.NasutioJ1 membicarakan
modernisasi di Turki, orang yang membaca uraian yang panjang
itu akan mendapat kesan bahwa ia membaca sejarah pergolakan
politik di dalamNegeri Turki. Unttik menyelamatkan negara perlu
ada tentara yang kuat, perlu ada kebebasan berfikir, perlu '.ada
demokrasi.
Dengan begitu maka sesungguhnya judul Bab XI ini perlu
dirobah, bukan aspek pembaharuan dalam Islam tetapi aspek pem
. -baharuan di negara-negara- Islam.' AspekpembahalUan yang di-
bawakan oleh Mustafa Kamal Attaturk tentu saja bertentangan
dengan Islam. Bahwa orang tak boleh melakukan azan dalam
bah,asa Arab, bahwa Hukum Keluarga tidak didasarkan syariat
sudah jelas bertentangan dengan Islam.
Setelah 40 tahun Turki membuang etiket Islam dari segala
aspek kehidupan pada waktu ini kembalilah ciri-ciri Islam di
Turki. Banyak sekolah-sekolah Islam dan bahasa Arab pun kem-
bali dipelajari orang dengan gairah.
Pembaharuan Vmat Islam India,
!Pad a halaman 00: 109 Dr. Harun Nasution membicarakan
pembaharuan dalam umat Islam di India. Ia menyeb1.ltkan sejarah
Syah Wahyullah (1703 .~ 1762) Sayid Ahmad Syahid (1752-
139
1831) dan gerakan Mu}ahidinnya, kemudian ia menyebut -
kan Sir Sayid Ahmad Khan (1817 - 1898) dan berdirinya MAOC
(Muslim Anglo Oriental College) dan akhirnya ia menyeblitkan
Iqbal (1873 - 1938 M) dan Ali Jinnah (1876 .. 1948 m) serta
berdirinya negara Pakistan.
Membaca uraian yang panjang itu, orang dapat menyim-
pulk<,\n bahwa dasar-dasar Islam selalu dapat menjadi landasan
perjuangan untuk kemerdekaan dan perbaikan masyarakat.
Gel'akan Muhamad Abdul Wahab (Wahabiyah 1703 - 1787
Gera kan ini adalah gerakan salaf yang ingin memurnikan
Islam dari unsur-unsur yang datangnya dari luar.
Yang memasukkan Gerakan Muhamad Abdul Wahab dalam
modernisme adalah kauni orientalis.
Sesungguhnya tak ada hubungan antara Muhamad Abdul Wa-
hab dengan modernism atau pembaharuan-pembaharuan cli
negara-negara Islam. Akan tetapi Dr. Harun Nasution yang sudah
kena terlalu jauh pengaruh cara berfikir dan cara menilai
menurut adat kcbiasaan Orientalis, memasukkal1 gerakan Mu-
hamad Abdul Wahab sebagai gerakan modernism. Kemudia11,
hati kecilnya mengatakan pada akhir halaman 95. "Oleh karena
itu gerakan yang dipelopori oleh Muhamad Abdul Wahab kurang;
tepat kalau disebut gerakan pembaharuan' .
Menurut logika: Kalau kurang tepat, jangan dimasukkan. ,
Tetapi dasar pengaruh oriental is terlalu mendalam.
Pembaharuan di Indonesia
Pembaharuan di Indonesia dibicarakan oleh Dr. Harun Na-
sutionpada halaman 110 dan 111, uraian terse but kurang tcr-
atur, Gerakan Padri bukan gerakan pembaharuan.Jam'yatul Khair
bukan gerakan 'pembaharuan sebab gerakan tersebut hanyu me-
rupakan inisiatif orang-orang tertentu yang pengaruhnya tidak
mencakup Indonesia.
140
-, '.
Al Irsyad adalah gerakan pembaharuan pemimpinnya Al
Marhum Ahmad Surkati. bukan ulama dan Azhar akan tetapi,
seorang ulama dari .Mekkah, danberasal dari Sudan.
Gerakan yang besar dalam sejarah pembaharuan umatlslam
Indonesia adalah' Sarikat Islam yang dipimpin oleh Vmar Said
(bukan Said Vmar) Cokroaminoto. Gerakan itu te'lah menggugah
jiwa bangsa Indonesia dan menyadarkan inereka bahwa mereka
itu adalah budak-budak Kolonialisme Belanda.
Haji Agus Salim adalah figur, yang menonjol dalam Sarikat
Islam, tetapi walaupun Sarikat Islam sudah menjadi kecil karena
bermacam perpecahan di dalamnya, Haji Agus Salim tetap
menjadi b~ntang umat Islam berhubung dengan pengetahuannya
yang luas yang' menimbulkan rasa hormat kepada siapa y~ng
berjumpa dengannya.
Dr. Harun Nasution tidak menyebutkan Majlis Islam A'la
Indonesia, (M.LA.I.) yang didirikan di Surabaya pada tahun 1936
dan merupakar. federasi' :iari seluruh gerakan-gerakan Islam, se-
hingga yang tidak didasarkan atas idee pembaharuan pun ter-
cakup di' dalamnya.
Dr. Harun Nasution juga tidak menyebutkan bahwa sebab
yang langsung mendorong KH. Ahmad'Dahlan mendirikan Mu-
hamadiyah adalah tersiarnya kristenisasi dan k.atolisas( dikalangan
suku Jawa, serta belum meresapnya aj~ran Islamdikalangan
suku Jawa, khususnya lapisan aristokrasiny,a.
Yang paling akl1ir yang perlu disebut, jalah Dr. Harun Na-
sution tidak menyebutkan' Masyumi yang didirikan di Yogyakarta
November tahun 1945 sebagai penjelmaan M.I.A.!, yang pada
zaman pendudukan Jepang diganti dengan Masyumi sebagai alat
propaganda Pemerihtah Militer Jepang.
Masyumi yang didirikan pada akhir tahun 1945 adalah satu-
satunya partai politik Islam di Indonesia, semasa perjuangan
physik menentang kembalinya jajahan Belanda ..
141
.'
12
PENUTUP
Dr. Harun Nasution mengakhiri bukunya, jilid II dengan
fasal "Penutup" karena pentingnya maka saya cantumkan ".Penu-
tup" itu seluruhnya.
Setelah meninjau Islam dari berbagai aspeknya dapatlah
kiranya dirasakan ruanglingkup Islam tidaklah sempit malahan
luas sekali. Dan dapat pulalah kiranya difahami bahwa ka·
lau disebut Islam, yang dimaksud dengan Islam bukanlah hanya
ibadat, fikih, tauhid, tafsir, Hadis dan akhlak. Pengertian Islam
lebih luas dari itu, termasuk di dalamnya sejarah, peradaban,
falsafat, misticisme, teologi, hukum, lembaga-lembaga dan poIitik.
Dalam garis besarnya apa yang terkandung dalam pengertian
Islam dapat dibagi ke dalam dua kelompok, kelompok ajaran dan
kelompok n'on-ajaran. Dalam kelompok yang disebut terakhir
dapat dimasukkan sejarah, kebudayaan dan lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang datang ke dalam Islam sebagai hasil dari
perkem bangan Islam dalam sejarah.
Kelompok ajaran selanjutnya dapat pula dibagi ke dalam
ajaran dasar sebagai terdapat dalam AI Qur-an dan Hadis dan ajaran
bukan dasar yang timbul sebagai penafsiran dan interpretasi ulama-
ulama dan ahli-ahli Islam terhadap ajaran-ajaran dasar itu. Dengan
eara demikianlah pemikiran lahir dalam bidang hukum dan bidang
teologi yang menimbulkan berbagai mazhab dan aliran. Dengan
demikian pulalah timbul pemikiran dalam bidang falsafat, mis-
ticisme dan politik.
Pemikiran-pemikiran itu adalah hasil akal manusia, manusia
yang tidak bersifat ma'sum (infallible, tak dapat berbuat salah).
Dengan lain kata' penafsiran atau iriterpretasi ulama-ulama, tegas~
142
nya ajaran-ajaran yang bukan dasar itu, tidak mempunyai sifat
mutlak. Atas dasar inilah maka imam-imam besar tidak mau
menyalahkan pendapat at au penafsiran rekannya, dan maka
mazhab-mazhab dan aliran-aliran yang ada dalam Islam semuanya
dipandang masih dalam kebenaran selama ia tidak bertentangan
dengan ajaran dasar Islam sebagai tersebut dalam Al Qur-an dan
Hadis. Dan at<,,:: dasar ini pulalah maka Ibn Rusyd mengatakan
bahwa AI-Ghazali tidak dapat mengkafirkan kaum filosof. Alasan
pengkafiran hanyalah penafsiran kaum teolog terhadap Ayat-Ayat
Al Qur-an. Demikian juga penolakan kaum Syari'ah terhadap ajar-
an kaum sufi didasarkan atas penafsiran. Oleh karena iiu kaum
sufi meriganggap diri mereka tidak melanggar ajaran dasar Islam;
yang mereka langgar hanyalah penafsiran kalllTI Syari'ah.
Selanjutnya penafsiran-penafsiran itu lahir sesuai· dengan
suasana masyarakat yang ada di tempat dan zaman ia muncuL
Zaman terus menerus membawa perobahan pada suasana masyara-
kat. Oleh karena itu ajaran bukan dasar yang timbul sebagai pemi-
kiran di zaman tertentu belum tentu sesuai untuk zaman lain.
Yang membuat umat Islam banyak bersifat statis ialah
karena merasa terikat pada ajaran-ajaran bukan c1asar yangd:hasil-
kan zaman-zaman yang silam, yaitu ajaran-ajaran bukan dasar yang
tidak sesuai lagi dengan kondisi zaman modern. Hakekat inilah
yang disadari kaum pembaharu Islam, clan untuk pembaharuan,
mereka melihat bahwa penafsiran atau ajaran-ajaran bukan das:at
yang tidak sesuai dengan zaman lagi harus ditinggalkan. Sebagai
penggantinya perlu diadakan ajaran bukan dasar baru ~lengan me-
nimbulkan penafsiran baru dari ajaran dasar yang terdapat dalam
Al Qur-an dan Hadis. Yang mereka maksud dengan meninggalkan
taqlid ialah meninggalkan ajaran-ajaran bukan dasar itu, dan dengan
kembali kepada Al Qur-an dan Hadis, ialah kembali kepada ajaran
dasar dan menyesuaikan penafsirannya dengan tuntutan zaman.
Sebagai dilihat dalam aspek hukum, ajaran dasar itu jumlah-
nya sedikit sekali. Setenlsnya ajaran dasar itu ticlak pula semua
tersifat qat'i at au positif, tetapi banyak yang bersifat zanni, tidak
positif, .-'canoleh karena itu boleh diberi arti selain dari arti lafzi-
143
nya, Dengan lain kat a ajaran dasar yang bersifat absolut dan dog-
matis dalam Islam sedikit jumlahnya. Dengan demikian ruang ge-
rak'dalam Islam tidak sempit malahan luas. Bahwa ruang gerak
itu luas telah dibuktikan oleh sejarah di masa yang silam.
Oleh.karena itu tidaklah berdasar anggapan bahwa umat Islam
mundur, karena agama Islam merupakan penghambat bagi kema-
juan. Umat Islam lambat dalam geraknya mencapai perobahan dan
kemajuan, bukan karena agama Islam, tetapi karena umat Islam
masih terikat pada tradisi nenek moyang. Dalam tiap masyarakat,
- tradisi memang merupakan penghambat besar bagi tiap us aha-
usaha modernisasi, apalagi kalau tradisi itu dianggap mempunyai
sifat sakral".
Pada halaman 113 Dr. Harun Nasution menulis ':yang di-
maksud bukanlah dengan Islam hanya ibadat, fiqih, tafsir, tauhid,
Hadis dan akhlak. Pengertian Islam lebih luas dari itu, termasuk
di dalamnya sejarah, peradaba.n, falsafat, rpisticism,. teologi,
hukum, lembaga dan politik."·
Hal tersebut adalah tidak benar, fikih adalah hukum, tauhid,
adalah yang ia naynakan teologi, akhlak rriengandung politik,
tafsir dan Hadis adalah Qur-an dan Sunnah yang menjadi sumber
hukum dan pegangan bagi tiap orang muslim.
Adapun sejarah, peradaban, filsafat atau politik, ada yang
pertum1:lUh~nnya sesuai dengan Islam dan ada pula 'yang tidak
sesuai. PQlitik mengatakan bahwa kepala negara harus dari suku
Quraisy, terang menyalahi ajaran Islam yang mengatakan bahwa
yang paling mulia adalah yang paling taqwa kepada Allah.
Filsafat yang mengatakan bahwa alam ini rriemancar dari
Tuhan (theori emanasi) terang bertentangan dengan Islam, yang
mengatakan Tuhan menciptakan alam dari tiada (creatio ex nihilo).
Dalam halam<j.n 113 juga Dr. Harun Nasu'tion menulis "Maz-
hab-mazhab dan aliran-aliran dalam Islam semuanya dipandang
masih dalam kebenaran selama tidak bertentangan dengan ajaran
Islam sebagai tersebut dalam Al Quran dan Hadis,. atas dasar ini
pulalah Ibnu Rusyd ~engatakan bahwa Al Gazali tidak dapat
144
mengkafirkan kaum filosof, alas an pengkafiran hanyalah penafsiran
kaum teologi."
Kata-kata tersebut berarti bahwa tak ada fihak yang .salah.
Sebagai saya terangka-n di atas, theori emanasi jelas bertentangan
deng:w Islam. Tuhan dalam Islam adalah zat yang berkehendak,
sedang emal}asi berarti pancaran yang automatis.
Dengan kata-kata tersebut yang merupakan bagian dari pe-
nutup, Dr. Harun Nasution hanya menimbulkan kekacauan da-
lam fikiran generasi muda.
Soalnya _bukan soal kafir atau muslim. Hanya Tuhan yang
berhak menentukan siapa yang kafir itu. Tetapi Islam merupakan
ajaran-ajaran yang tertentu yang menjadi critel1a benar atau'salah:
Yang sesuai dengan ajaran Islam adalah benar, yang tidak senafa;
dengan ajaran Islam tak dapatlah "kita menganggapnya sebagai
ajaran Islam ..
Dalam halaman 113 juga Dr. Harun Nasution menulis "De-
mikian juga penolakan kaumSy"ari'ah terhadap sufi didasarkan
atas penafsiran. Oleh karena itu kaum sufi menganggap bah-
wa diri mereka tidak mela~ggar ajaran ~asar Islam yang .D.ereka
langgar hanyalah penafsiran kaum Syari'ah."
Dengan kata-kata terse but kaum sufi yang mengatakan bahwa
wujud itu satu, tak ada Tuhan dan tak ada makhluk, atau yang
mengatakan bahwa Tuhan itu dapat juga beihulul (incarnasi), ke-
dalamdiri seseorang sufi, orang yang semacam itu tidak menya-
lahi ajaran Islam.
Kalau soalnya begitu, maka saya dengan sangat menyesal
terpkasa mengatakan bahwa penulis buku tersebut belum me-
mahami ajaran-ajaran Islam.
Pada pokoknya pasal ,;Penutup" ini menunjukkan jiwa dan
fikiran Dr. Harun Nasution "dengan jelas : Islam itu luas sekali,
semua ahli hukumnya benar, semua ahli filsafatnya benar, semua
ahli misticnya' benar; semua itu karena ajaran dasar Islam.
jumlahno/a sedikit sekali. Kecuali .sedikit sekali,jumlal1l1ya, ajaran
145
dasar itu tidak pula semua bersifat positif (qat'i) tetapi banyak
yang bersifat dhanny ~,-~Jakpositif) dan oleh karena itu boleh
diberi arti selain' arti lafzinya.
Kata-kata tersebut di atas _akan menjefllmuskan umat -Islam
kcpada penafsiran yang bukan-bukan seperti yalig dikatakan oleh
ahli sufi. Dan dengan begitu pula maka syari'at dapat ditafsirkan
secara simbolis seperti yang dilakukan oleh kaum kebatinan ~yang
menafsirkan wujud taqwa dan sebagainya dengan cara yang sangat
jauh dari ajaran Islam.
Paragraph terakhir
"Oleh karena itu tidaklah berdasar anggaiDan bahwa umat Islam
mundur, karena agama Islam merupakan penghambat bagi kemaju-
an. Umat Islam lambat dalam geraknya mencapai perobahan dan
kemajuan, bukan karena agama Islam, tetap! karena urn at Islam
masih terikat pa·la tradisi nenek moyang. Dalam tiap masyarakat .
tradisi memang merupakan penghambat besar bagi tiap usaha-usaha
modernisasi, apafagi kalau tradisi itu dianggap mempunyai sifat
sacral. "
Paragraph terakhir ini bagi orang yang tidak memperhatiRan
benar kelihatan sangat baik. Tetap-i kalau diperhatikan dengan jelas,
paragraph tersebut mengajak kitakepada nama Islam, tetapi menga-
nut idee-idee baru yang melanggar Islam; dengan memberi tafsiran-
tafsiran baru kepada ajaran Islam, karena ajaran itu banyak yang
tidak posifif, lagipula sedikitjumlahnya.
Titik tolak pendapat tersebut adalah bahwa Islam itu ada,
suatu fakta yang nyata dalam dunia ini. Kalau kit a menafsirkannya
menurut kebutuhan kita sekarang, kita akan dapat'mencapai kema-
. juan. Tetapi kalau kita terikat dengan faham dahulu yang kita
anggap sacral,. kita akan tetap terbelakang.
Seharusnya bagi seorang yang menjabat Rektor LA.LN.
Syarif Hidayatullah Jakarta, ia harus berfikir bahwa Tuhan mem-
beri petunjuk kepada manusia berupa Islam, yaitu agama Samawi
yang terakhir sesudah' agama Yahudi dan Kristen. Um ..•t Islam
146
hanyadapat maju dan kuat jika melakukan ajaran-ajaran yang
terdapat dalam AI Qur-an dan Hadis. Al Qur-an menyuruh kita
untuk bertikir, maka llrnU pengetahuan harus dipelajari oleh' umat
Islam.
Islam adalah pegangan bagi umat manusia. Kita umat Islam
sedunia bukan berkewajiban memberi tafsiran baru, tetapi me-
mahami Islam dalam konteks keadaan sekarang. Ada perbedaan
besar antara memberi tafsiran baru dan memahami dalam konteks
keadaan sekarang. Kalau memberi tafsiran baru berarti bahwa kita
harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru dan mencari dasar
penyesuaian itu dalam AI Qur-an dan Hadis. Kalau kit a memahami
Al Qur-an dalam conteks keadaan sekarang ini berartibahwa tidak
semua yang terjadi dalam kemajuan kehidupan dunia lni sesuai
dengan Islam." Adat istiadat secara Islam yang diberik~m oleh-
Rasulullah memang ada sifat sacralnya, tetapi justru di situlah
terletak kekuatan Islam.
Dr. Harun Nasution selalu menggambarkan rasa kagumnya
. kepada Kebudayaan Barat seakan-akan segala yang ada di Barat itu
bersifat mutlak. Fikiran manusiapun dianggap mutlak.Bagi seorang
muslim, oahkan bagi pemikir-pemikir .dari Barat sendiri seperti
Raymond Aron mereka mengatakan bahwa sekarang ini terdapiH
gejala-gejala kehancuran (decadel1si) dalam kehidupan di Barat
baik kehidupan ke1uai'ga, hubungan antara orang tua dan anak,
kehidupal1 sex dan bin-lain. (Raymond Aron dalam karangannY<l
"Pledoyer pour l'Europe decadente").
Orang .Bara t sedang' bingung mencari pegangan baru. Kita
harapkan pada suatu ketika mereka akan menemukan petunjuk .
yang mereka cari itudalam AI Qur-an.
147
KESIMPULAN
Telah agak hima say a menerima pengaduan daripada maha-
siswa dan dosen-qosen tentang kuliyah-kuliyah Dr: Harun Na-
sution. Ketika saya membaca bukunya yang berjudul: Islam di-
tinjau dari berbagai aspeknya, saya menjadi yakin akan kebe-
naran keluhan-keluhan yang saya dengar.
Karangan Dr. Hamn Nasution yang diwajibkan untuk dipe-
lajari mahasiswa I.A.I.N. adalah buku yang penuh dengan fikiran
kaum oritntalis yang beragama Kristen.
I. Pernyataari bahwa Tuhan tidak perlu ditakuti tetapi dicintai,
adalah kata Kristen.
II. Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Pro-
testan dan Katolik) dan Hindu adalah fikiriln comparative
religion' yang ditimbulkan oleh orang-orang yang menga-
ku berdasar ilmiyah dengan tidak beriman sedikitpun.
III. Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke
sisi. Yang Maha Suci, adalah expressi Kristen, pengaruh dari
Neo Platonisme dan Gnosticisme.
IV. Injil adalah teksnya bukan wahyu, yang wahyu adalah isi
atilU arti yang terkandung dalam text itu.
Pernyataan terse but adalah pernyataan yang lebih Kristen
daripada teolog-teolog Kristen. Orang Kristen mengatakan
bahwa wahyu adalah yang mendorong penulis-pe'nulis Injil
untuk menulis Injil masing-masing, adapun isinya banyak
yang salah, karena manusia tidak luput dari kekhilafan.
V. Tidak dapat diketahui dengan pasti mana Hadis yang betui
berasal dari Nabi" dan mana yang dibuat-buat. lr.l adalah
148
.f;
pendapat Goldziher, seorang Yahudi dari Hongaria.
VI. Istillsan yang dibawa oleh Abu Hanifah, At Masalih AI
Mursalah' yang dicetuskan oleh Malik bin Anas ditolak oleh'
al Syafi'i, Qiyas yang dicetliskan oleh al Syafi'i ditolak oleh
Ibn Hazm al Zahiri. Pintu Ijtihad ditutup .•
Semua itu merupakan: gambaran suram -tentang hukum
Islam ditulis oleh seorang sarjana Islam. Sedangkan· ahli
hukum di Perancis mengeluarkan pemyataan dalam kon-
ferensi hukum Islam di Paris sebagai berikut :
Para peserta Kongres merasa tertarik oleh problema-
pr~blvma y:;tng dilon tarkan dalam Minggu Hukum Islam dan
oleh _diskusi mengenai problema tersebut, serta mendapat
kesimpulan yang terang bahwa prinsip Hukum Islam. mem-
punyai nilai yang -tak dapat dibantah, dan bahwa variasi
aliran-aliran dalam hukum Islam mengandung kekayaan-
kekayaan ilmu hukurr. yang istimewa yang memungkinkan
hukum in! untuk melayani hajat penyesuaian dengan ke-
hidupan modern. (dikutip dari "Hukum Islam dan pelaksana-
annya dalam Sejarah, terbitan ,Bulan Bintang 197~.)
VII. "Sementara itu Islam dalam syjarah mengambil bentlj.k
ketatanegaraan." Ini adalah konsep Kristen, karena dalam
Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa tak mengandungkon-
-sepsi tentang negara Kristen.
VIII. Pemikiran pembahasan modernisasi mengandung arti fikiran,
"aliran, gerakan dan usaha untuk merobah faham-faham,
adat istiadat, institusi-institusi lama agar. disesuaikan dengan .
pendapat-pendapat dan ,keadaan-keadaan baru yang ditim-
bulkan ilmu pengetahuan mod€rn. Pembaruan dalam Islam
mempunyai tujuan yang sama. Pembaharuan dapat dilaku-
kan mengenai interpretasi atau penafsiran dalam a~pek
teologi, . hukum . dari seterusnya dan mengenai lembaga-
lembaga."
Ini semua berarti bahwa yang ada di Barat itu semua
149
benar dan sempurna. Dan oleh karena Vmat Islam tak dapat
meninggalkan Al Qur-an dan Hadis, maka diperlukan interpreta-
si bam' tep:tang Ayat-Ayat, apalagi Ayat-Ayat itu banyak yang
dubious ..
Dengan begitu maka yang -mutlak adalah yang terjadi di
Barat yang beragama Kristen. Kita yang beragama Islam hanya
dapat memberi interpretasi bam kepada ayat-ayat Al Qur~an.
Hal tersebut adalah fikiran orang yang belum yakin akan
keunggulan isi Al Qur-an .dan belum sa~ar akan kelemahan dan
bibit-bibit kehancuran yang sekarang tumbuh di Barat.
Akhir kata
Semula kita, Vmat Islam Indonesia menginginkan generasi
mud a yang mahir Qalam ilmu ke Islaman, bahasa Arab, Al Qur-an
Syari'ah,Tauhid dan lain-lain. Di saJi1ping itu Il)ereka hams menge-
tahui ilmu-ilmu baru: Sosiologi, Hukum, ~an Filsafat dan lain-lain.
Buku Dr. Hamn Nasution menunjukkan bahwa sekarang
ada di aritara kita yang terpengaruh oleh metode orieiltalis
barat sehingga menganggap Islam sebagai suatu gejala masyarakat
yang perlu menyesuaikan diri dengan peradaban Barat.
Dengan begitu akan hilanglah identitas' Islam kita, dan'
akan hifanglah kekuatan jiwa yang kita peroleh dari Al Qur-an.
Buku Dr. Hawn Nasution telah membantu terciptanya
masyarakat se1)1acam itu, masyarakat modern yang segala-galanya
di dalamnya benar, dan agama' Islam harus dirobah penafsiran-
nya sehingga sesuai dengan peradaban barat itu ..
Aku berdo'a kepada Allah s.w.t., mudah-mudahan tulisan
ini dapat menghindarkan bahaya yang besar Hu ..
t'.~~ /''':'J~~I.=.u~~~:'~'/ 1Q''''~,• ./."/'l":.'.:...a...~./: l~./w'" '/I:•"•./j;·"! ~ Y~.;(,,,X.I-:,t../)·.J~>
~\i~'iA I tJ'.,t Si . ~ ~ 3'\ ~\"/
-
»Ya Allah, janganlah Engkau menyesatkan hati kami setelah Engkau
memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari padaMu,
sungguh Engkau maha Pemberi."
150
DAFTAR NAMA-NAMA DAN ISTILAH
A apatis, 84
'aqidah, 118
Abbasiyah, 30, ,76 Arabisme, 7 J
'arad, 116
Abdullah bin Mas'ud, 95 arbitrage, 105
argumen tasi, 81
absolut, 51, 144 Aristoteles, 54, 114
abstrak, 44, 68, 84 Arnold, T.W., 60
Abu' Bakar al Sidik, 64, 79 artikel, 129
ascetisme, 50
Abu Hamid al Sa'di, 67 aspek hukum, 37, 53
Abu la'far al Mansur, 30 aspe~ ibadah, 39
aspek politik, 37
Abul Hasan Ubaidullah al Karkhi, 84 aspek sejarah, 39" 53
Abu Hanifah" Imam, 80
aspek teologi, 53
Abu Musa al Asy'ari, 97,105
Assassin, 55
1 iAbu Zahrah, 61 astrophysic, 119
accident, 6 Asy'ariyah, 103, ,108
atti tude, 18
al 'adl, 103 autorita'tif, 18
Aveqoism, 117
Afrika, 53 Avicenna, 54
Ayubiya.h; 84
Agha Khan, 59
Azariqah, 103
agresi, 69 Al Azhar, 26, 134
Agus Salim, 141
B
ahad, 90
bai'at, 64, 65
al Ahkam al Sultaniyah, .60 Barbar, 68
Basque, 75
ahlu] haHi wal 'aqdi, 64 Baybars, 84
Ahlussunnah, 57,,85 Belanda, 141
Benyamin Franklin, 132
ahluzimmah, 76 Bonoventure, 117
Ahmad Amin, Prof., 110, 114 al Bukhari, 31, 66, 91
Ahmad Khaft, 110
Alan Richardson, 29
Albert Ie Grand, 117
Alexandria, 55
Alli Abdul Razik, 138
Ali Ibn Abi Talib, 32, 124
Ali Jinnah, 140
Aljazair, 106
Amawiyah, 30, 76
Ambisius, 138
Amr bin al 'Aas, 105
Anas bin Malik, 124
anim!s~e, 43
151
.•..