Teori Dasar
Ilmu Komunikasi
AnuAgnruagrhahPPaaddaanng gZaZkaarikaaria
i
Teori Dasar
Ilmu Komunikasi
Anugrah Padang Zakaria
E021201066
Universitas Hassanuddi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang sebesar-besarnya, saya panjatkan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberkati dan memberikan kekuatan
kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan e-book Teori
Dasar Ilmu Komunikasi ini dengan baik.
E-book Teori Dasar Ilmu Komunikasi ini saya susun dengan tujuan
untuk memenuhi tugas ujian pertengahan semester untuk mata kuliah teori
dasar ilmu komunikasi, yang diampu oleh Drs. Syamsuddin Aziz, M.Phil.
Terlepas dari itu, saya menyadari bahwa e-book ini masih memiliki
banyak kekurangan, baik dari segi isi, susunan kalimat maupun tata
bahasanya. oleh karena saya dengan terbuka menerima segala saran,
komentar maupun kritik dari pembaca, agar saya dapat memperbaiki
tulisan saya kedepannya.
Akhir kata saya berharap dengan adanya e-book ini, para pembaca
yang menggunakan buku ini dapat mengerti dan memahami mengenai
tradisi-tradisi dan teori-teori yang terdapat dalam ilmu komunikasi. Dan
semoga kedepannya e-book ini dapat memberikan manfaat kepada yang
membacanya.
Toraja, 9 Oktober 2021
Penulis
i
Review
Oleh Nabila Luthfiah Darwadi - E021201098
Apakah sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi kalian telah
memahami teori-teori dasar dari ilmu komunikasi? Memahami teori
komunikasi merupakan sebuah kewajiban untuk kita para mahasiswa ilmu
komunikasi. Maka dari itu saya merekomendasikan buku teori dasar ilmu
komunikasi karya Anugrah Padang Zakaria. Berdasarkan pengamatan saya
terhadap buku ini saya dapat memahami Konseptual komunikasi yang
melabeli sebuah elemen-elemen paling penting dari sebuah teori
komunikasi.
Buku teori dasar ilmu komunikasi ini tentunya dapat membantu
sesama mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Buku setebal 49 halaman ini
mengulas dengan singkat dan jelas mengenai teori-teori ilmu komunikasi.
Dapat dilihat dari cara penulis mengelompokkan teori komunikasi dengan
singkat dan jelas.
Satu hal yang menarik perhatian saya, bagaimana penulis
merancang cover buku tersebut dengan ikon yang mencerminkan isi dari
buku tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa cover buku juga menjadi salah
satu faktor yang menarik perhatian pembaca untuk membaca buku
tersebut. Melihat bagaimana cover buku tersebut menyajikan judul buku,
identitas penulis dan ilustrasi mengenai isi buku yang mewarnai cover
tersebut.
Berdasarkan daftar isi dapat dilihat bahwa penulis menyajikan 3 bab
materi mengenai teori dasar ilmu komunikasi Kemudian ada lembaran yang
ii
berisi hasil review yang tentunya menghadirkan tulisan ini sebagai salah
satu ulasan dan pendapat mengenai buku ini. Ditutup oleh lembaran
terakhir buku yaitu daftar pustaka yang berisi rujukan penulisan buku.
Sebagai pembaca, saya terkagum-kagum kepada penulis melihat
kesempurnaan dari buku ini. Saya tentunya sangat merekomendasikan
kalian untuk membaca buku ini.
iii
Oleh Loisasita Jecklyn - E021201054
E-book yang ditulis oleh Anugrah Padang Zakaria merupakan buku
yang menarik. E-book ini berisi mengenai penjelasan teori dasar ilmu
komunikasi. Namun isi dari E-book ini tidak monoton. Isinya mencakup
Definisi dari komunikasi dan teori, macam-macam pengelompokan teori,
serta 27 teori dasar dalam ilmu komunikasi. E-book ini hampir mencakup
semua materi dari awal semester mata kuliah teori dasar ilmu komunikasi.
Bila dilihat dari keestetikaan, cara penulisan dan penyusunan E-book
ini sangat rapi dan berurutan. Hal ini membuat E-book ini enak untuk
dibaca. Dilihat dari sampul, E-book ini terkesan simpel. Namun setiap sub
bab diberi tanda dengan jelas, sehingga sangat mudah untuk menemukan
judul-judul yang ingin diperdalam dari E-book ini.
Hal yang paling menarik adalah ke-27 teori dijelaskan dengan cukup
rinci. Mulai dari ahli yang meneliti teori, penjelasan tiap teori sampai ke
pengelompokan teori-teori ke dalam tradisi komunikasi serta alasan
mengapa teori tersebut tergolong ke dalam tradisi komunikasi. Bahasa
yang digunakan merupakan bahasa ilmiah namun mudah untuk dimengerti.
Dan E-book ini ditulis berdasarkan dari banyak referensi, sehingga saya
buku ini mencakup banyak hal-hal penting mengenai Teori Dasar Ilmu
Komunikasi.
Secara keseluruhan, E-book ini merupakan buku yang menarik untuk
dibaca, karena unggul dalam kejelasan tiap pokok materi yang dijelaskan.
Sehingga membuat pembaca lebih mengerti lagi mengenai teori dasar ilmu
komunikasi
iv
Daftar Isi
Kata Pengantari..............................................................................i
Review ...........................................................................................ii
Daftar Isi ........................................................................................v
BAB 1 Teori Komunikasi..................................................................1
Definisi Komunikasi .....................................................................1
Definisi Teori................................................................................2
BAB 2 Pengelompokan Teori Komunikasi ........................................3
Paradigma Penelitian...................................................................5
Dirkursus Komunikasi ..................................................................10
Tingkatan Dalam komunikasi ......................................................13
Tradisi Teori Komunikasi .............................................................14
BAB 3 Teori-Teori Dasar Dalam Ilmu Komunikasi.............................17
Teori Interaksi Simbolik ...............................................................17
Teori Managemen Koordinasi Makna .........................................19
Teori Disonansi Kognitif...............................................................20
Teori Pelanggaran Harapan .........................................................21
Teori Pengurangan Ketidakpastian .............................................22
Teori Pertukaran Sosial................................................................24
Teori Penetrasi Sosial ..................................................................25
Teori Dialektika Relasional ..........................................................26
Teori Managemen Privasi Komunikasi ........................................27
Teori Pemrosesan Informasi Sosial .............................................28
Teori Pemikiran Kelompok ..........................................................29
Teori Strukturasi ..........................................................................30
Teori Budaya Organisasi ..............................................................31
Teori Informasi Organisasi...........................................................32
Teori Retorika ..............................................................................33
Teori Dramatisme........................................................................34
Teori Paradigma Naratif ..............................................................35
Teori Pengaturan Agenda............................................................36
Teori Spiral Keheningan...............................................................38
Teori Kegunaan dan Grafikasi......................................................39
Teori Kultivasi.………………………………………………………………………….40
v
Teori Kajian Budaya .....................................................................41
Teori Ekologi Media.....................................................................42
Teori Negosiasi Wajah .................................................................43
Teori Akomodasi Komunikasi ......................................................44
Teori Kelompok Bungkam ...........................................................45
Teori Sudut Pandang Feminisme.................................................47
Daftar Pustaka................................................................................49
vi
BAB 1 TEORI KOMUNIKASI
Dalam kehidupan sehari-hari kita, kita tidak dapat terlepas dari
proses komunikasi, karena pada dasarnya manusia merupakan mahluk
sosial yang hidup dan berkembang melalui interaksi yang dilakukannya
dengan orang lain. Dalam hal itu, interaksi yang dimaksudkan adalah proses
komunikasi, baik itu yang terjadi secara langsung melalui penggunaan
bahasa hingga yang tercadi secara tidak langsung menggunakan tanda atau
simbol. Selain itu seiring dengan berkembangnya zaman proses komunikasi
tersebut juga ikut berkembang mulai dari komunikasi face to face, hingga
komunikasi yang diperantarai oleh media. Dalam hal ini segala bentuk dan
jenis komunikasi yang kita lakukan tersebut dapat dipahami melalui teori
komunikasi, karena teori komunikasi menyediakan penjelasan mengenai
fenomena-fenomena komunikasi yang terdapat dalam studi komunikasi.
Dalam bab ini, saya akan memaparkan mengenai apa definisi dari
komunikasi beserta unsur-unsur yang membangun komunikasi tersebut,
serta pengertian dari teori dan dimensi-dimensi dalam sebuah teori untuk
memberikan sedikit pemahaman mengenai teori komunikasi.
Definisi Komunikasi
Perlu diketahui bahwa dalam mengkonseptualisasikan mengenai definisi
komunikasi ini tidaklah muda dan tidak dapat disimpulkan begitu saja,
karena definisi dari komunikasi ini sendiri terus mengalami perkembangan
seiring dengan berkembangnya komunikasi. Selain itu dengan adanya
begitu banyak ide dan gagasan mengenai definisi komunikasi, membuat
definisi dari komunikasi ini menjadi semakin kompleks dan dalam.
Walaupun ide dan gagasan mengenai definisi dari komunikasi itu sangat
1
beragam namun, setiap ide dan gagasan tersebut tidak dapat dikatakan
salah karena setiap ide dan gagasan memiliki poin dan sudut pandang
mereka masing-masing dalam konteks komunikasi.
Dari penjelasan tersebut komunikasi secara harfiah dapat diartikan
sebagai suatu proses sosial yang berupa penyampaian pesan yang dilakukan
oleh satu orang kepada lingkungan sekitarnya. Dari pengertian tersebut
terdapat tiga hal yang ingin ditekankan yaitu Pertama. Komunikasi
merupakan sebuah proses sosial, Kedua. Dalam komunikasi terdapat makna
yang dipertukarkan melalui simbol, dan Ketiga. Lingkungan merupakan
sebuah konteks atau situasi, yang menyatakan dimana komunikasi itu
terjadi.
Definisi Teori
Teori dapat diartikan sebagai sebuah pendapat, cara, aturan atau
prinsip yang dapat digunakan untuk menggambarkan aspek-aspek dari
fenomena-fenomena yang terdapat dalam kehidupan manusia dan
lingkungan sekelilingnya. Dalam pengembangannya sendiri, teori
dirumuskan dengan tujuan untuk membantu menjelaskan dan memahami
fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dalam
perkembangannya, teori juga memiliki berbagai peran dalam
pengembangan ilmu pengetahuan mulai dari menyediakan kerangka kerja
atau landasan konseptual dalam penelitian, menyediakan sarana untuk
mengevaluasi data dari penelitian yang baru hingga mengidentifikasi
masalah dan pertanyaan yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
2
Adapun karakteristik dari sebuah teori yaitu, Pertama. Teori
umumnya berupa abstraksi atau potongan-potongan kecil yang dapat
digunakan untuk menggambarkan pengalaman-pengalaman dari suatu
peristiwa atau hasil observasi para peneliti. Kedua. Teori merupakan hasil
konstriuksi yang dilakukan oleh para peneliti untuk mengkategorikan hasil
observasi mereka kedalam bentuk pilihan atau kesimpulan. Ketiga. Teori
selalu berkaitan langsung dengan tindakan manusia, karena pada dasarnya
teori diciptakan untuk membantu manusia memahami dan menghadapi
fenomena-fenomena disekeliling mereka.
Dalam pengembangan teori sendiri, teori umumnya akan terbentuk melalui
empat dimensi yaitu:
1. Asumsi filosofis
Dalam dimensi yang pertama ini atau asumsi filosofis ini sering juga
disebut sebagai titik awal dari setiap teori, karena asumsi filsafat ini
merupakan sebuah keyakinan yang mendasari pembentukan sebuah teori.
Dalam hal ini asumsi yang dimiliki oleh seorang ahli teori menentukan
bagaimana teori tersebut akan terbentuk. Dan dengan mengetahui asumsi
di balik sebuah teori, maka mereka akan lebih mudah untuk memahami dan
membangun teori tersebut. Asumsi filosofi ini sendiri sering dibagi ke dalam
tiga bagian yaitu, Pertama. Epistemologi yang berbicara mengenai ilmu-ilmu
yang terdapat dalam teori tersebut, Kedua. Ontologi yang berbicara
mengenai eksistensi atau keber”ada”an teori, dan Ketiga. Aksiologiyang
berbicara mengenai penerapan nilai-nilai dalam teori tersebut.
3
2. Konsep
Konsep merupakan hal yang terutama dalam pembentukan teori,
karena konsep merupakan hal yang nantinya digunakan sebagai dasar
dalam membentuk sebuah teori. Dalam hal ini konsep yang muncul dalam
sebuag teori, biasanya bermacam-macam dan unik tergantung dari sudut
pandang dan pola yang digunakan.
3. Penjelasan
Merupakan bagian yang menjelaskan mengenai hubungan yang antara
teori tersebut dengan fenomena-fenomena yang terdapat dalam kehidupan
manusia. Selain itu bagian ini juga berfungsi menjelaskan bagaimana suatu
teori dapat terbentuk. dalam hal ini terdapat dua cara yang dapat
digunakan sebuah teori untuk menjelaskan proses tersebut yaitu,
penjelasan kausal dan penjelasn praktikal.
4. Prinsip
Prinsip merupakan sebuah proposisi, ajaran, atau pedoman yang
memungkinkan seseorang untuk menafsirkan dan mengevaluasi suatu
peristiwa untuk kemudian membantunya memutuskan tindakan yang akan
dilakukan.
Jadi dengan menyimpulkan dan menggabungkan definisi dari
komunikasi dan teori tersebut kita dapat memahami bahwa pengertian dari
teori komunikasi, yaitu teori komunikasi dapat diartikan sebagai semua
pemikiran kolektif (seluruh teori yang berkaitan dengan komunikasi) yang
berasal dari berbagai sudut pandang yang berbeda mengenai fenomena-
fenomena yang berada dalam ruang lingkup komunikasi.
4
BAB 2 Pengelompokan Teori Komunikasi
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pengelompokan teori yang
biasanya digunakan oleh para ahli dan sarjana komunikasi dalam
mengelompokkan dan memahami teori-teori yang terdapat dalam bidang
komunikasi. Dalam hal ini terdapat empat pengelompokan yang dapat
digunakan untuk mengorganisasikan dan mengatur teori-teori tersebut.
Dalam hal ini, pengorganisasian tersebut teori diubah kedalam bagian-
bagian yang lebih besar untuk memahami disiplin komunikasi sebagai area
yang ingin diselidiki.
Keempat pengelompokan tersebut sendiri yaitu Paradigma penelitian
Gibson Burrel dan Gareth Morgan (Gibson Burrel and Gareth Morgan’s
Paradigms), dirkursus komunikasi Stanley Deetz( Stanley Deetz’s
Discourses), Tingkatan dalam komunikasi John Powers (John Powers’s tiers),
dan Tradisi teori komunikasi Robert Craig (Robert Craig’s Traditions). Setiap
pengelompoka masing-masing berfokus pada aspek teori, disiplin, serta
pertanyaan umum yang sifatnya berbeda. Perlu diketahui bahwa terdapat
banyak cara untuk melakukan sebuah pengelompokan teori. keempat
pengelompokan tersebut bukanlah cara yang paling “benar” untuk
mengelompokkan dan mengatur teori menjadi suatu kategori, tetapi setiap
pengelompokan tersebut memiliki pengaruh dan kesesuaiannya tersendiri
dengan bidang komunikasi.
Paradigma Penelitian Gibson Burrell dan Gareth Morgan
Paradigma Burrell dan Morgan pertama kali disampaikan pada tahun
1979, pada awalnya paradigm tersebut dipahami sebagai proyek untuk
5
menghubungkan antara teori organisasi dan ilmu-ilmu sosial, namun
kemudian Burrell dan Morgan menyadari bahwa sebenarnya paradigma
mereka merupakan sebuah dirkursus mengenai hubungan antara sifat ilmu
sosial dan sifat masyarakat secara umum, yang kemudian menjadi popular
diluar studi tentang organisasi terkhusus komunikasi karena paradigma ini
dapat menjelaskan dengan baik perbedaan antara asumsi dan pendekatan
dalam ilmu pengetahuan dan memberikan legitimasi pada beragam
pendekatan metodologis yang muncul dalam penelitian sosial.
Dalam pengembangan paradigma mereka, Burrell dan Morgan
kemudian mengembangkan teori-teori yang terdapat dalam ilmu-ilmu sosial
menjadi empat perdebatan utama yang berkaitan dengan penelitian sosial.
perdebatan yang pertama menyangkut sifat realitas atau ontology. Dalam
hal ini Burrell dan Morgan mempertanyakan apakah realitas itu terbentuk
dengan sendirinya? atau apakah realitas terbentuk berdasarkan keinginan
manusia? Dari pertanyaan tersebut Burrell dan Morgan kemudian
menempatkan doktrin realisme dan nominalisme dalam rangkaian tersebut.
Hal ini dikarenakan doktrin realisme berpendapat bahwa realitas
merupakan hal yang nyata dan telah ada bahkan sebelum manusia
dilahirkan sedangkan doktrin nominalisme berpendapat bahwa realitas
tidak lebih dari nama yang digunakan manusia untuk menggambarkan
dunia ini.
Perdebatan yang kedua menyangkut sifat pengetahuan atau
epistemology. Dalam hal ini mereka mempertanyakan apakah realitas
merupakan hal yang bersifat objektif dan dapat digeneralisasikan secara
umum ataukah realitas merupakan hal yang bersifat subjektif dan personal.
Dari pertanyaan tersebut Burrell dan morgan menggunakan sudut pandang
6
positivism dan anti-positivisme dalam rangkaian tersebut. Hal ini
dikarenakan sudut pandang positivism berpendapat bahwa realitas
merupakan hal yang dapat dipelajari dan diprediksi melalui penelitian dan
sudut pandang tertentu karena sifatnya yang berkelanjutan. Sedangkan
sudut pandang anti-positivisme menentang hal tersebut dan berpendapat
bahwa setiap orang memiliki sudut pandang mereka sendiri mengenai
realitas karena realitas itu bersifat relative.
Perdebatan ketiga menyangkut sifat manusia. Mereka mempertanyakan
apakah perilaku manusia ditentukan oleh lingkungannya ataukah manusia
yang menentukan lingkungan mereka sendiri. Dar pertanyaan tersebut
Burrell dan Morgan menetapkan paham determinisme dan volunterisme
sebagai bagian dari rangkaian tersebut. Paham determinisme berpendapat
bahwa setiap sikap dan perilaku seseorang pasti disebabkan oleh situasi dan
kondisi lingkungan sekelilingnya. Sedangkan paham volunterisme
berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam setiap sikap dan
perilaku mereka terlepas dari setiap situasi dan kondisi disekelilingnya.
Perdebatan yang terakhir mereka merupakan bagaimana cara mereka
akan meneliti dan menganalisis data-data dari ketiga perdebatan
sebelumnya karena ketiga pertanyaan sebelumnya tersebut memiliki
konsekuensi dan cara tertentu dalam menentukan kebenarannya. Dari
perdebatan tersebut Burrell dan Morgan memutuskan untuk menggunakan
pendekatan Nomotetik dan Ideografik untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Pendekatan nomotetik merupakan penelitian yang berfokus pada
pengetesan hipotesis berdasarkan protocol yang ketat dan data-data yang
telah terverifikasi. Sedangkat pendekatan ideografik lebih mengutamakan
7
mengenai pemahaman para peneliti mengenai subjek penelitian, pada saat
penelitian sedang berlangsung.
Pada akhirnya Burrell dan Morgan menggabungkan hasil penelitian
mereka berdasarkan keempat perdebatan tersebut kedalam sebuah
rangkaian objektif dan subjektif ilmu-ilmu sosial. Dimensi objektis tersebut
didasarkan pada penerapan model dan metode penelitian dalam realitas
sosial manusia untuk memahami realitas masyarakat secara umum.
Sedangkan dimensi subjektif berpendapat bahwa realitas sosial manusia
bukan merupakan sesuatu yang dapat dipahami melalui model ataupun
metode penelitian tertentu, sehingga pada akhirnya dimensi ini lebih
mencerminkan mengenai cara pandang seseorang terhadap dunia.
Setelah mereka mengkategorikan teori-teori ilmu sosial tersebut, Burrell
dan Morgan kemudian beralih pada karakteristik sifat masyarakat. Mereka
menggunakan prinsip regulasi dan perubahan radikal untuk melihat sifat
masyarakat yang bersinggungan dengan ilmu-ilmu sosial. Setelah
mendapatkan hasil dari sifat ilmu sosial dan sifat masyarakat tersebut
Burrel dan Morgan kemudian menyusun bagan yang bertujuan untuk
mengintegrasikan pandangan mereka mengenai ilmu-ilmu sosial dan sifat
masyarakat. Mereka membuat sumbu subjektif-objektif menjadi horizontal
dan regulasi-perubahan radikal menjadi vertical. Sehingga dengan bagan
tersebut mereka dapat membentuk matrik yang memungkinkan identifikasi
dan analisis teori sosial yang sistematis dan komprehensif.
8
Perubahan Radikal
Radikal Radikal
humanis Strukturalis
Subjektif Objektif
Interpretatif Fungsionalis
Regulasi
Dari bagan yang mereka ciptakan sendiri terciptalah empat paradigma
Barrell dan Morgan yaitu :
Fungsionalis, kuadran ini merupakan paradigma utama Burrel dan
morgan dari penelitian awal mereka mengenai organisasi dalam
sosiologi, yang menjelaskan mengenai pengelompokan mereka.
Kuadran ini menggunakan pendekatan dari sudut pandang objektif
dan berakar pada mode regulasi. Dengan demikian teori yang
terletak pada kuadran ini memiliki pandangan tentang masyarakat
yang relatif stabil dan konkret. Objek dan hubungan yang terbentuk
juga dapat dipelajari dengan mudah menggunakan ilmu
pengetahuan alam, sama seperti dunia secara alami telah teratur,
begitu juga masyarakat yang diatur dan diregulasikan dengan
tatanan yang sama. Tugas dari para sarjana yang menggunakan
paradigma fungsionalis ini adalah untuk memahami sifat dari
tatanan tersebut.
9
Interpretatif, sama seperti paradigma fungsional, paradigma
interpretative juga menggunakan prinsip regulasi tetapi memiliki
sudut pandang subjekif. Paradigma ini menjelaskan tentang sifat
dasar masyarakat sebagai dasar fundamental yang teratur dan
kohesif. Para sarjana yang menggunakan paradiga ini tertarik
tentang bagaimana masyarakat itu muncul, dibangun, dan
berkembang berdasarkan pandangan setiap orang.
Strukturalis Radikal, merupakan paradigma menggunakan
pedekatan dengan sudut pandang objektif dan memiliki tujuan yaitu
perubahan. Para ahli teori dan sarjana yang menggunakan
paradigma ini untuk mencari perubahan dalam struktur dan
hubungan dalam masyarakat, melalui kapasitas untuk melakukan
perubahan yang dibangun secara langsung ke dalam sifat dan
sruktur dalam masyarakat itu sendiri.
Humanis Radikal, teori-teori yang berada dalam paradigma ini
memiliki sudut pandang yang subjektif dan berorientasi pada
perubahan. Para ahli teori dan sarjana dalam paradigma ini memiliki
tujuan untuk membebaskan pemikiran manusia dari struktur dan
aturan-aturan sosial yang membatasi kebebasan manusia dalam
berkembang. Dalam hal ini perubahan yang diinginkan bukanlah
perubahan pada struktur dan aturan-aturan sosial yang terdapat
dalam masyarakat melainkan kesadaran masyarakat itu sendiri.
Diskursus komunikasi Stanley Deetz
Diskursus komunikasi Stanley Deetz merupakan hasil dari
pengembangan yang dilakukan oleh Stanley Deetz mengenai paradigma
10
Barrell dan Morgan, dimana pada saat paradigma Barrell dan Morgan
menekankan pada pertanyaan apakah kecocokan antara setiap kategori,
Deetz lebih menekankan pada pertanyaan apakah pembeda tersebut yang
membuat perbedaan.
Dalam membentuk pengelompokannya, Deetz kemudian merombak
ulang klasifikasi milik Burrell dan Morgan. Deetz kemudian menempatkan
dua sumbu yang berbeda untuk membentuk empat kuadran penelitian
sosial. Sumbu pertama yang yaitu sumbu yang berkontras antara konsep
local/kemunculan dengan konsep elite/apriori. Sumbu ini mengkontraskan
konsep munculnya penelitian, masalah dan pertanyaan dan konsep
penelitian, masalah dan pertanyaan yang telah ada sebelumnya. Dan di
sumbuh lainnya Deetz mengkontraskan antara konsesus dan disensus yang
mengkontraskan antara konsep pertentangan dan perdamaian atau
persetujuan, sumbuh ini sendiri bertujuan untuk mengetahui kemana arah
tatanan sosial dalam penelitiannya yang ada akan mengarah.
Disensus Elite/Apriori
Studi Kritis
Studi Studi
Sialogis Normatif
Studi Interpretatif Konsensus
Local/Kemunculan
11
Setelah menempatkan kedua sumbuh tersebut, Deetz akhirnya
mengidentifikasikan jenis dan karakteristik pada setiap kuadran dari kedua
sumbuh tersebut, keempat kuadran dari bagan deetz yaitu :
Diskursus Studi Normatif, diskursus ini memiliki tujuan untuk
menemukan proses fundamental yang dapat digunakan untuk
berkontribusi dalam pembentukan perubahan demi kemajuan
dalam masyarakat. Selain itu hasil dari dirkursus ini memiliki
cenderung untuk dianggap sebagai fakta karena informasi di
dalamnya yang cukup stabil dan sudah disepakati.
Discursus Studi Interpretatif, sama seperti diskursus normatif,
diskursus ini juga bertujuan untuk melakukan perubahan dalam
masyarakat kearah yang lebih baik dengan memahami aspek-aspek
tertentu dalam kebudayaan tersebut. selain untuk perubahas
diskursus ini juga berusaha untuk melestarikan sifat alami dari
masyarakat dan budaya-budaya masyarakat dalam waktu yang
sama.
Diskursus studi Kritis, diskursus ini merupakan diskursus yang
berfokus pada dominasi, yang membuat diskursus ini bertujuan
untuk mengidentifikasi dan mengkritik bentuk dominasi dan
penindasan yang muncul dalam berbagai konstruksi sosial yang
mendukung kepentingan tertentu dan mengaburkan yang lainnya,
sehingga menghasilkan kesadaran palsu dan komunikasi yang
menyimpang.
Diskursus Studi Dialogis, sama seperti diskursus kritis diskursus ini
juga berfokus pada dominasi, tetapi diskursus ini tidak melihat
12
dominasi sebagai kondisi yang telah ada melainkan hasil dari
pengalaman individu.
Dalam skema yang dibagun oleh Deetz ini alih-alih menekankan pada
apa yang cocok dengan setiap kuadran yang dibuatnya, Deetz lebih memilih
menempatkan diskursus-diskursus tersebut agar orang lain tidak terlalu
cepat mengabil suatu asumsi dan nilai-nilai yang ada.
Tingkatan komunikasi John Power
Tingkatan John Power merupakan pengelompokan teori yang berbeda
dengan paradigma Barrell dan morgan serta dirkursus Deetz, dimana
Tingkatan John ini lebih berfokus kepada bagaimana orang luar dapat
mengerti mengenai studi komunikasi.
Powers sendiri membangun model disiplin yang terdiri dari empat
tingkatan, dimana disetiap tingkatan tersebut menjelaskan tentang aspek
yang berbeda, dan masing-masing dibangun di atas tingkatan yang ada
sebelumnya. Hasil akhirnya adalah pemahaman yang komprehensif dari
disiplin intelektual komunikasi serta penekanan dan konteks utamanya
Tingat Pertama : Sifat Pesan
Tingkat Kedua : Sifat Komunikator
Tingkat Ketiga : Level Komunikasi
Tingkat Keempat : Konteks Dalam Komunikasi
13
Tingkat pertama, membahas mengenai pesan yang merupakan poin
utama dalam komunikasi, dimana Powers menekankan pada
penganalisian pesan baik itu pesan yang bersifat verbal maupun
pesan yang bersifat non-verbal, pesan yang terkecil dan simple
hingga pesan yang bear dan kompleks.
Tingkat kedua, berpusat pada komunikator atau penyampai pesan,
dan secara terkhusus pada hubungan antara komunikator dan
pesan. Powers menawarkan tiga perhatian utama tentang
komunikator yang telah memenuhi kepentingan orang-orang dalam
disiplin komunikasi: (1) komunikator sebagai individu; (2) sifat
hubungan yang diciptakan, dipelihara, diganggu, dan dihancurkan
melalui komunikasi; dan (3) peran komunikasi dalam menciptakan
komunitas budaya
Tingkat ketiga berpusat pada level komunikasi, dimana dalam hal ini
seseorang harus mengetahui tingkatan komunikasi yang
dilakukannya dengan orang lain atau dirinya sendiri karena dalam
setiap level atau tingkatan komunikasi terdapat struktur dan pola
yang tersendiri untuk menghadapinya.
Tingkat keempat, berpusat pada konteks atau situasi yang sedang
berlangsung pada saat komunikasi berlangsung.
Tradisi Teori Komunikasi Robert T. Craig
Pengelompokan teori menurut Craig merupakan skema terbaru
mengenai pengelompokan teori, dimana dalam pengelompokan ini Craig
membagi dunia komunikasi menjadi tujuh tradisi yaitu :
14
Tradisi Semiotika, yang merupakan studi tentang tanda, dimana
dalam tradisi semiotika tanda dan simbol merupakan kajian
utamanya karena tantda dan simbol tersebut dapat memiliki banyak
makna termasuk makna yang bersifat pribadi. Dalam tradisi
semiotika sendiri dibagi menjadi tiga bagian studi yaitu semiotika,
atau studi tentang tanda dan simbol sebagai elemen dasar;
pragmatik, atau studi tentang hubungan di antara tanda-tanda; dan
sintaksis, atau cara tanda-tanda digabungkan ke dalam sistem tanda
yang kompleks.
Tradisi Fenomologis, yang merupakan studi yang berfokus pada
pengalaman atau bagaimana pemahaman manusia terhadap
sekelilngnya berdasarkan apa yang dilihatnya. Dimana dalam tradisi
ini pengalaman yang dirasakan oleh manusia tersebut dilihat secara
subjektiv bukan objektif.
Tradisi Sibernetika, yang merupakan tradisi sistem kompleks di mana
elemen-elemen yang berinteraksi saling mempengaruhi, dimana
tradisi sibernatika ini menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis,
sosial, dan perilaku bekerja. Inti pemikiran sibernetika adalah
gagasan tentang suatu sistem.
Tradisi Sosiopsikologis merupakan studi tentang individu sebagai
makhluk sosial adalah dorongan dari tradisi sosiopsikologis. Berasal
dari bidang psikologi sosial, teori tradisi ini berfokus pada variabel
psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat, persepsi, dan kognisi.
Tradisi Sosiokultural merupakan pendekatan sosiokultural terhadap
teori komunikasi membahas cara pemahaman, makna, norma,
peran, dan aturan kita bekerja secara interaktif dalam komunikas.
15
Tradisi Kritis merupakan studi yang berfokus pada menyelidiki
bagaimana kekuasaan, penindasan, dan hak istimewa adalah produk
dari bentuk-bentuk komunikasi tertentu di seluruh masyarakat,
dimana tradis kritis ini mencakup semua tradisi yang ada sehingga
Tradisi ini lebih kompleks dari tradisi-tradisi lainnya.
Tradisi Retorika merupakan tradisi yang paling tua dari ketujuh
tradisi yang ada, dimana tradisi retorika ini memiliki lima Inti yaitu
penemuan, pengaturan, gaya, penyampaian, dan ingatan
Menurut Craig setiap tradisi dianggap menawarkan perspektif yang
berbeda tentang komunikasi, karena setiap tradisi tersebut saling
berlawanan dan tumpang tindih, sehingga dari hal tersebut orang-orang
dapat memahami persamaan dan perbedaan dari setiap esensi tradisi-
tradisi komunikasi tersebut. Selain itu ketujuh tradisi ini ditempatkan ke
dalam sebuah peta yang menempatkan setiap tradisi kedalam wilayah
objektif dan interpretatif.
Sibernetika Semiotika Fenomenologi
Retorika kritis
Sosio-kultural
Sosio-
psikologi Daerah
Interpretatif
Daerah
Objektif
16
BAB 3 Teori-Teori Dasar Dalam Ilmu Komunikasi
Pada bab ini akan dipaparkan mengenai teori-teori yang berkaitan
dengan bidang komunikasi. Dalam hal ini terdapat 27 teori yang akan
dipaparkan. Setiap teori tersebut memiliki unsur dan poin tersendiri dalam
bidang komunikasi. Oleh sebab itu, pada bab ini setiap teori akan
dikelompokkan menggunakan pengelompokan tradisi teori komunikasi
berdasarkan asumsi yang terdapat di dalam setiap teori untuk melihat
perspektif setiap teori dalam proses komunikasi.
Teori Interaksi Simbolik ( Symbolic Interaction Theory) oleh George
Herbert Mead
Perkembangan awal dari teori ini sebenarnya didasarkan pada salah
satu aliran filsafat yaitu aliran pragmatis yang mempercayai bahwa realitas
itu bergerak secara dinamis. Selain itu kaum pragmatis juga
mengembangkan gagasan tentang munculnya struktur sosial dalam
masyarakat dan meyakini bahwa makna tercipta dari hasil interaksi yang
dilakukan.
Dalam perkembangan teori ini terdapat dua aliran yang terbentuk yaitu
aliran Iowa yang diprakarsai oleh Manford Khun. Pada aliran pertama inilah
gagasan pertama mengenai teori ini muncul, namun karena pendekatan
dan cara pandang yang digunakan itu tidak sesuai dengan pendekatan dan
cara pandang yang umum digunakan maka gagasan utama dari teori ini
kemudian dikembangkan dan disempurnakan pada aliran yang kedua yaitu
aliran Chicago yang diprakarsai oleh George Herbert Mead dan rekan-
rekannya yang merupakan ahli psikologi dan ilmu sosial.
17
Dari hasil pelitian yang dilakukan oleh Mead, dia dapat menyimpulkan
bahwa manusia termotivasi untuk untuk bertindak berdasarkan pemaknaan
yang mereka sampaikan kepada orang lain. Dalam hal ini makna yang
tercipta tersebut tercipta dari bahasa yang digunakan ketika berkomunikasi
dengan orang lain dalam konteks komunikasi interpersonaldan komunikasi
intrapersonal. Karena teori ini didasarkan tentang penelitian mengenai diri
dan hubungan kita dengan masyarakat, maka banyak ahli dan pakar-pakar
teori yang kemudian menetapkan poin-poin tertentu untuk membatasi
asumsi dasar dari teori ini.
Adapun ketiga asumsi dasar dari teori interaksi simbolik, yaitu (West &
Turner, 2008):
Setiap individu dapat membangun makna dari proses komunikasi
yang dilakukan.
Konsep diri mempengaruhi perilaku seseorang saat berkomunikasi.
Indvidu dan masyarakat memiliki hubungan yang spesial
Menurut West & Turner (2008) teori interaksi simbolik termasuk ke
dalam tradisi semiotik dan fenomenologi (hal. 80). Karena dari sudut
pandang tradisi semiotika, teori ini membahas mengenai bagaimana suatu
simbol atau tanda yang digunakan dalam proses komunikasi dapat
memberikan makna sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
Sedangkan dari susut pandang tradisi fenomenologi, teori ini menegaskan
bahwa makna dari suatu simbol atau tanda yang digunakan tersebut hanya
muncul dalam dan melalui hasil interaksi yang telah dilakukan sebelumnya
(Littlejohn & Foss, 2009; West & Turner, 2008).
18
Teori Manajemen Kordinasi Makna (Coordinated Management of
Meaning) oleh W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Pearce dan Cronen pada
tahun 1980, melalui penelitian mereka yang mencoba untuk
menggambarkan tentang pengalaman hidup seseorang. Mereka
mempercayai bahwa dunia ini hanyalah sebuah panggung dan setiap orang
yang berada di dalamnya merupakan aktor yang berdiri dalam panggung
yang sama. Dalam hal ini komunikasi merupakan hal utama yang harus
dilakukan seseorang untuk menjalankan peran mereka dan setiap orang
akan menjalankan perannya berdasarkan makna yang didapatkan dari
pengalamannya berkomunikasi sebelumnya.
Berdasarkan hal tersebut teori ini menjelaskan bahwa dua orang
yang berinteraksi secara sosial akan membentuk makna dalam percakapan
yang mereka lakukan dan setiap orang juga terdiri dari sebuah sistem
interpersonal yang membantu menjelaskan aksi dan reaksi mereka satu
sama lain.
Adapun asumsi dari teori manajemen koordinasi makna, yaitu (West &
Turner, 2008):
Manusia hidup dengan berkomunikasi.
Manusia menciptakan realitas sosialnya.
Pertukaran informasi yang terjadi, tergantung pada pemaknaan
pribadi dan interpersonal.
Menurut West & Turner (2009) teori manajemen koordinasi makna
termasuk ke dalam tradisi sosiokultural dan fenomenologi (hal. 100). Karena
19
dari sudut pandang tradisi sosiokultural, teori ini menyatakan bahwa orang-
orang memiliki kecenderung untuk membangun realitas sosial mereka
sendiri berdasarkan makna yang telah dikomunikasikan, kemudian
menetapkan berbagai aturan dari berbagai aspek dari makna tersebut
untuk mengatur interaksi dan struktur sosial di dalamnya. Sedangkan dari
sudut pandang tradisi fenomenologi proses pembentukan realitas sosial itu
terjadi karena makna yang dikomunikasikan dalam proses pembentukan
realitas sosial tersebut didapatkan melalui pengalaman yang sebelumnya
telah terjadi (Littlejohn & Foss, 2009; Littlejohn, Foss, & Oetzel, 2012).
Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Disonance Theory) oleh Leon Festinger
Teori ini merupakan teori yang berkembang dari hasil penelitian Leon
Festinger yang berkaitan dengan psikolgi sosial seseorang. Dalam
penelitiannya tersebut Festinger mengkonsepsikan perasaan yang kita
rasakan pada saat kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa
yang kita pikirkan sebagai disonansi kognitif.
Dari hasil penelitian Festinger tersebut kemudian banyak ahli-ahli yang
kemudian menggunakan hasil penelitiannya tersebut sebagai dasar acuan
dalam penelitian mereka pada bidang kognitif dan aliran kognitif. Dalam
bidang ilmu komunikasi juga hasil penelitian Festinger tersebut juga
memberikan dampak yang besar pada proses kognitif komunikasi terutama
pada proses penyampaian pesan dan perilaku seseorang dalam
berkomunikasi.
Adapun asumsi yang didapatkan teo berdasarkan penelitian tersebut dalam
teori disonansi kognitif, yaitu (West & Turner, 2008):
20
Manusia cenderung ingin untuk memiliki sikap, pemikiran dan
perilaku yang konsisten.
Ketidaknyamanan tercipta karena ketidakkonsistenan psikologi
seseorang.
Ketidaknyamanan merupakan situasi yang berlawanan atau
perasaan tidak suka yang mendorong seseorang untuk bertindak.
Ketidaknyamanan memotivasi usaha seseorang untuk mengurangi
ketidaknyamanan yang ada dan mencapai suatu harmoni.
Menurut West & Turner (2008) teori disonansi kognitif termasuk ke
dalam tradisi sosiopsikologi (hal. 115). karena dari sudut pandang tradisi
sosiopsikologi, teori ini menerangkan mengenai bagaimana perasaan tidak
nyaman/ketidaknyamanan yang disebabkan oleh adanya dua persespi atau
keyakinan yang tidak konsisten, yang dapat mempengaruhi dan
menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku seseorang. Adapun
tujuan dari perubahan tersebut yaitu untuk mengurangi ketidaknyamanan
yang ada (Ambar, 2017; Littlejohn & Foss, 2009; Littlejohn, Foss, & Oetzel,
2012; West & Turner, 2008).
Teori Pelanggaran Harapan (Expectancy Violations Theory) oleh Judee
Burgoon
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Judee Burgoon dan rekan-
rekannya pada tahun 1970an. Dalam penelitiannya tersebut Burgoon ingin
mengetahui mengenai pengaruh komunikasi nonverbal dan perilaku orang
lain terhadap komunikasi intreppersonal yang dilakukan. Dari hasil
penelitiannya tersebut, Burgoon dengan teorinya ini menjelaskan mengenai
pengaruh pelanggaran batas-batas ruang pribadi seseorang, terhadap
21
proses komunikasi yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa dampak dari
pelanggaran yang terjadi tersebut tidak selalu bersifat negatif karena
dampak dari pelanggaran yang terjadi dikembalikan lagi kepada setiap
individu dalam menanggapi pelanggaran tersebut.
Asumsi dalam teori pelanggaran Harapan, yaitu (West & Turner, 2008):
Harapan/eskpektasi mendorong interaksi manusia.
Harapan bagi perilaku manusia dapat dipelajari.
Orang membuat prediksi tentang perilaku nonverbal.
Menurut West & Turner (2008) teori pelanggaran harapan termasuk ke
dalam tradisi sosiopsikologi (hal. 130). Karena dari sudut pandang tradisi
sosiopsikologi, teori ini menjelaskan mengenai bagaimana perilaku orang
lain terhadap ekspektasi yang kita miliki mempengaruhi perilaku dan sikap
kita terhadap orang tersebut pada saat kita berkomunikasi dengan mereka
(DeVito, 2016; West & Turner, 2008).
Teori Pengurangan Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory) oleh
Charles Berger dan Richard Calabrese
Teori ini pertama kali dikembangkan Pada tahun 1975 oleh Charles
Berger dan Richard Calabrese untuk menjelaskan bagaimana komunikasi
digunakan untuk mengurangi ketidakpastian antara dua orang asing yang
terlibat dalam percakapan untuk pertama kalinya. Dalam hal ini Berger dan
Calabrese berfokus pada proses komunikasi yang dilakukan oleh kedua
indivisu tersebut untuk membangun kedekatan antara satu sama lain.
22
Sama halnya seperti teori disonansi kognitif, teori ini juga bertujuan untuk
mengurangi ketidaknyamanan yang terjadi antara kedua orang asing
tersebut. sehingga dari hal tersebut dapaat diasumsi beberapa poin
mengenai teori pengurangan ketidakpastian, yaitu (West & Turner, 2008)::
Seeorang cenderung mengalami ketidakpastian dan merasa tertekan
dalam konteks komunikasi interpersonal
Ketika dua orang asing saling bertemu, mereka cenderung akan
mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan prediktabilitas
mereka.
Komunikasi interpersonal adalah proses perkembangan yang terjadi
melalui tahapanptahapan, dan itu bertujuan untuk pengurangan
ketidakpastian yang ada.
Jumlah dan sifat informasi yang dibagikan kepada orang lain akan
berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Hal ini dimungkinkan untuk memprediksi perilaku orang lain
kedalam model hukum.
Menurut West & Turner (2008) teori pengurangan ketidakpastian
termasuk ke dalam tradisi sosiopsikologi (hal. 151). karena dari sudut
pandang sosiopsikologi, teori ini menjelaskan tentang bagaimana seseorang
berusaha untuk menyesuaikan diri/merubah sikapnya terhadap orang lain,
agar dia dapat memahami orang tersebut dengan baik, sehingga proses
komunikasi yang lakukan dengan orang tersebut dapat berjalan dengan baik
dan dapat berkembang dari waktu-ke waktu (DeVito, 2016; West & Turner,
2008).
23
Teori pertukaran sosial (Social Exchange Theory) oleh John Tibaut dan
Harold Kelley
Teori ini pertama kali dikembangkan dari teori yang dijelaskan oleh
George Homans yang berbicara mengenai perilaku manusia dari sudut
pandang pertukaran sosial dan menitik beratkan pada perilaku manusia saat
melakukan proses interaksi. Sementara itu Harold Kelley dan John Thibaut
pada tahun 1959 menganggap bahwa proses pertukaran yang terjadi antara
manusia lebih rumit dari itu. Mereka mengatakan bahwa seseorang
memikiki kecenderungan untuk menetap dalam sebuah hubungan hanya
jika hubungan tersebut dapat memberikannya kepuasan dan keuntngan
dalam aspek reward and cost.
Asumsi teori pertukaran sosial (West & Turner, 2008):
Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari “keuntungan” dan
menghindari “kerugian”.
Manusia adalah makhluk yang berpikir secara rasional.
Standar yang digunakan manusia untuk mengevaluasi
biaya/pengeluaran dan “keuntungan” bervariasi dan terus berubah
dari waktu ke waktu dan untuk setiap orang.
Menurut West & Turner (2008) teori pertukaran sosial dapat
dimasukkan ke dalam tradisi sosiopsikologi (hal. 166). Karena teori ini
mengklaim bahwa seseorang memiliki kecenderungan untuk mengubah
perilakunya terhadap orang lain ketika memulai sebuah hubungan. Hal
tersebut terjadi jika hubungan tersebut dianggap dapat memberikan
“keuntungan”. Dan jika hubungan yang dijalankan tersebut tidak
24
memberikan “keuntungan” yang seseuai dengan harapan maka terdapat
kemungkinan jika seseorang tersebut akan meninggalkan hubungan
tersebut dan mencari hubungan yang bisa memberikannya “keuntungan”
yang lebih dari hubungan sebelumnya (DeVito, 2016; West & Turner, 2008).
Teori penetrasi sosial (Social Penetration Theory)oleh Irwin Altman dan
Dalmas Taylor
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas
Taylor yang mencoba merumuskan mengenai proses perkenalan dan
kedekatan yang terjadi dalam suatu hubungan, yang berkembang dari
waktu ke waktu dan dengan adanya usaha. Dalam perkembangannya teori
ini juga sering disebut teori bawang (Onion Theory) karena proses
perkenalan yang terjalin di dalamnya bagikan sebuah bawang yang memiliki
sejumlah lapisan yang dapat dikupas untuk mencapai intinya.
Asumsi teori penetrasi sosial (West & Turner, 2008):
Hubungan berkembang dari non-intim ke intim.
Perkembangan hubungan/ relational development umumnya
terjadi secara sistematis dan dapat diprediksi.
Depenetrasi (Hubungan yang memburuk) dan pemutusan hubungan
merupakan bagian dari perkembangan hubungan/relational
development.
Pengungkapan diri adalah inti dari pengembangan hubungan.
Menurut West & Turner (2008) teori penetrasi sosial termasuk ke dalam
tradisi sosiopsikologi (hal. 184). Karena dari sudut pandang tradisi
sosiopsikologi, teori ini lebih menekankan tentang bagaimana perubahan
25
perilaku dan sikap seseorang saat berkomunikasi terhadap orang lain seiring
dengan terbentuknya sebuah hubungan yang semakin dalam dari waktu ke
waktu, atau dapat juga menjadi sebaliknya jika hubungan yang terbentuk
justru semakin merenggang dari waktu ke waktu karena tidak adanya
komunikasi (DeVito, 2016; West & Turner, 2008).
Teori dialektika relasional (Relational Dialectics Theory) oleh Leslie Baxter dan
Barbara Montgomery
Teori ini merupakan teori yang dikembangkan oleh Leslie Baxter dan
Barbara Montgomery yang menyatakan bahwa orang-orang yang mencoba
membangun sebuah hubungan cenderung akan mengalami konflik atau
ketegangan karena adanya pemikiran yang berbeda. Oleh sebab itu mereka
akan melakukan komunikasi interpersonal untuk membicarakan hal
tersebut sehingga terdapat solusi untuk mengatasi perbedaan tersebut.
Asumsi teori dialektika relasional (West & Turner, 2008):
Hubungan tidak selalu mengarah ke satu titik yang sama/tidak
linear.
Kehidupan dalam berhubungan ditandai dengan adanya perubahan.
Kontradiksi adalah fakta yang mendasar kehidupan dalam
berhubungan.
Komunikasi adalah pusat untuk mengatur dan menegosiasikan
kontradiksi dalam berhubungan.
Menurut West & Turner (2008) teori dialektika relasional termasuk kedalam
tradisi sosiokultural (Hal. 200). Karena dari sudut pandang sosiokultural,
teori ini menekankan tentang bagaimana komunikasi digunakan sebagai
26
solisi dan penyelesaian dalam menghadapi perbedaan dan kontradiksi
dalam sebuah hubungan (West & Turner, 2008).
Teori Manajemen Privasi Komunikasi (Communication Privacy
Management Theory) oleh Sandra Petronio
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Sandra Petronio yang
menggunakan batas metafora untuk menjelaskan privasi dalam proses
manajemen komunikasi untuk menentukan batas-batas informasi pribadi
dan informasi publik. Dalam hasil pengembangannya tersebut Petronio
menggambarkan mengenai bagaimana seseorang bergantung pada aturan-
aturan tertentu untuk menentukan batasan dalam pengungkapan diri yang
mereka lakukan kepada orang lain.
Asumsi teori manajemen privasi komunikasi (West & Turner, 2008):
Manusia adalah pembuat pilihan.
Manusia adalah pembuat aturan dan pengikut aturan.
Pilihan dan aturan manusia didasarkan pada pertimbangan orang
lain serta diri sendiri.
Menurut West & Turner (2008) teori manajemen privasi komunikasi
termasuk ke dalam tradisi sosiokultural (Hal. 215). Karena dari sudut
pandang sosiokultural, teori ini dijelaskan bahwa manusia memiliki kendali
penuh dalam setiap langkah dan pilihan yang diambil untuk
menyembunyikan atau mengungkapkan informasi pribadinya dalam proses
komunikasi yang dilakukannya. Dalam hal ini pilihan dan langkah tersebut
didasarkan pada peraturan dan pertimbangan mengenai apa yang
dianggapnya baik (Littlejohn & Foss, 2009; West & Turner, 2008)
27
Teori Pemrosesan Informasi Sosial (Social Information Processing Theory)
oleh Joseph Walther
Teori ini merupakan teori komunikasi interpersonal dan teori studi
media yang pertama kali dikembangkan olej Joseph Walther pada tahun
1992. Teori ini menjelaskan mengenai komunikasi interpersonal yang
terjalin melalui media tanpa adanya tanda-tanda nonverbal dan bagaimana
hubungan yang terjalin melalui komunikasi tersebut dapat berkembang
dalam lingkup media tersebut. Selain itu Welther juga menekankan bahwa
hubungan yang terjalin melalui media tersebut dapat memiliki tingkatan
hubungan yang sama bahkan lebih dalam dari hubunga yang terjalin secara
langsung karena adanya banyak kemungkinan dan fasilitas yang dapat
diperoleh melalui media walaupun proses tersebut akan memakan waktu
yang lebih lama dari hubungan yang berlagsung secara langsung.
Asumsi teori pemrosesan informasi sosial (West & Turner, 2008):
Komunikasi yang dimediasikan oleh komputer dapat memberikan
peluang yang unik untuk menghubungkan orang-orang.
Komunikator online termotivasi untuk membentuk kesan diri (yang
menguntungkan) mereka terhadap orang lain.
Hubungan interpersonal yang terjalin secara online membutuhkan
waktu dan pesan yang lebih banyaki untuk mengembangkan tingkat
kedekatan yang setara dengan hubungan FtF interpersonal.
Menurut West & Turner (2008) teori pemrosesan informasi termasuk ke
dalam tradisi sosiopsikologi (hal. 231). Karena dari sudut pandang tradisi
sosiopsikologi, teori ini menjelaskan bagaimana seseorang yang
28
berkomunikasi secara online atau melalui media secara psikologi cenderung
memilih untuk memberikan kesan yang tidak sesuai dan berlebihan untuk
menguntungkan diri sendiri. (West & Turner, 2008).
Teori Pemikiran Kelompok (Groupthink) oleh Irving Janis
William H. Whyte Jr. merupakan orang yang pertama memperkenalkan
konsep tentang pemikiran kelompok, namun dalam perkembangan teorinya
Irving Janis merupakan orang yang mempelopori penelitian mengenai teori
pemikiran kelompok tersebut. Dalam pengembangan yang dilakukannya,
Janis tidak mengutip istilah dari Whyte tetapi menciptakan istilahnya sendiri
dalam pengembangan teori ini. Selain itu Janis juga menyimpulkan bahwa
dalam kelompok setiap keputusan dan pemecahan masalah di dasarkan dari
hasil pemikiran kelompok untuk mencegah timbulnya keputusan atau cara
yang kontradiktif.
Asumsi teori pemikiran kelompok (West & Turner, 2008):
Kondisi dalam kelompok mendorong kekompakan yang tinggi.
Pemecahan masalah kelompok merupakan proses utama
pembentuk kekompakan.
Kelompok dan pengambilan keputusan kelompok merupakan hal
yang kompleks
Menurut West & Turner (2008) teori pemikiran kelompok termasuk ke
dalam tradisi sosiokultural dan sosiopsikologi (hal. 252). Karena dari sudut
pandang tradisi sosiospikologi, teori ini menerangkan mengenai bagaimana
seseorang harus menyesuaikan perilaku dan cara berkomunikasinya agar
dapat sesuai dengan kelompoknya. Sedangkan dari sudut pandang
29
sosiokultural, teori ini menerangkan mengenai bagaimana komunikasi
digunakan sebagai media untuk membangun kekompakan dalam kelompok
(West & Turner, 2008).
Teori Strukturasi (Structuration Theory ) oleh Anthony Giddens, M. Scott
Poole, David R. Seibold, and Robert D. McPhee
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh sosiolog Anthony Giddens
yang mengadopsi kerangka post-empiris untuk teori ini, karena dia ingin
fokus memperhatikan karakteristik abstrak dari hubungan sosial dalam
masyarakat. Giddens mengamati bahwa dari hasil analisis sosial tersebut,
istilah struktur secara umum merujuk pada "aturan dan sumber daya" dan
lebih khusus lagi pada sifat-sifat penataan yang memungkinkan untuk
mengatur ruang-waktu dalam sistem sosial untuk mengatur tatanan sosial
yang ada.
Dalam bidang komunikasi sendiri Marshall Scott Poole (1990) dan rekan-
rekannya David Seibold dan Robert McPhee yang merupakan orang-orang
yang mengembangkan teori dari Giddens tersebut ke dalam studi
komunikasi, sehingga pendekatan teoretis mereka adalah disebut sebagai
Teori Strukturasi Adaptif yang menjelaskan tentang bagaimana tugas dalam
kelompok digunakan secara strategis untuk mengadaptasi teknologi
informasi, aturan, dan sumber daya untuk mencapai organisasi tujuan grup
Asumsi teori struktur (West & Turner, 2008):
Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui
tindakan dan Perilaku.
30
Aturan komunikasi berfungsi sebagai media untuk berinteraksi dan
hasil dari Interaksi.
Struktur kekuasaan hadir dalam organisasi untuk memandu
pengambilan keputusan proses.
Menurut West & Turner (2008) teori struktur termasuk ke dalam tradisi
sibernatik dan sosiokultural (Hal. 268). Karena dari sudut pandang tradisi
sibernetik, teori ini menjelaskan bahwa komunikasi merupakan bagian
penting dalam menyatukan semua pilihan/pendapat dalam pengambilan
keputusan suatu kelompok/organisasi. Sedangkan dari sudut pandang
sosiokultural, teori ini membahas mengenai bagaimana pengambilan
keputusan melalui komunikasi kelompok tersebut didasarkan atas pola
komunikasi kelompok, aturan dalam pengambilan keputusan dan [engaruh
dari keputusan tersebut (Littlejohn & Foss, 2009; West & Turner, 2008).
Teori Budaya Organisasi (Organizational Culture Theory) oleh Clifford
Geertz, Michael Pacanowsky, and Nick O’Donnell-Trujillo
Dalam perkembangan teori ini, ide pertama dari teori ini diusulkan oleh
seorang antropologi bernama Clifford Geertz yang didasarkan dari
penelitian pertama mengenai teori ini oleh Michael Pacanowsky, and Nick
O’Donnell-Trujillo. Mereka berpendapat bahwa organisasi dapat dipahami
dengan baik menggunakan sudut pandang budaya, karena mereka
mengatakan bahwa “budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh organisasi
tetapi budaya adalah sesuatu yang dapat dikatakan sebagai sebuah
organisasi”.
Asumsi teori budayaorganisasi (West & Turner, 2008):
31
Anggota organisasi membuat dan mempertahankan rasa kebersama
organisasi yang ada, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih
baik tentang nilai-nilai organisasi.
Penggunaan dan interpretasi simbol sangat penting dalam budaya
organisasi.
Organisasi memiliki budaya yang berbeda, dan interpretasi dari
sebuah tindakan dalam budaya tersebut juga beragam.
Menurut West & Turner (2008) teori budaya organisasi termasuk ke
dalam tradisi sosiokultural (Hal. 284). Karena dari sudut pandang tradisi
sosiokultural, teori ini membahas mengenai bagaimana perbedaan struktur
dan peraturan yang diberlakukan oleh pemimpin, digunakan untuk
menciptakan dan mempertahankan pemahaman yang sama mengenai nilai-
nilai, tanda, simbol dan makna yang terdapat dalam budaya organisasi yang
kemudian mendorong budaya organisasi tersebut untuk berubah atau
berkembang (Littlejohn, Foss, & Oetzel, 2012; West & Turner, 2008)
Teori Informasi Organisasi (Organizational Information Theory) oleh Karl
Weick
Teori ini merupakan teori yang oleh Karl Weick. Dalam gagasan utama
teori ini digambarkan mengenai fenomena kelompok yang kohesif dan
terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait. Ketika salah satu bagian dari
sistem diubah atau terpengaruh, hal itu akan mempengaruhi semua sistem
secara keseluruhan. Dalam teori ini Weick menawarkan wawasan sistemik
ke dalam pemrosesan dan pertukaran informasi di dalam organisasi dan di
antara para anggotanya, yang berfokus pada proses pengorganisasian
dalam lingkungan yang dinamis dan kaya informasi. Hal ini Weick lakukan
32
mengingat bahwa, kegiatan utama dari organisasi adalah untuk mengelola
informasi dan anggota dalam organisasi tersebut berperan penting untuk
mengurangi ketidakjelasan dan mencapai pemahaman yang jelas melalui
penetapan, pemilihan, dan penyimpanan informasi.
Asumsi teori organisasi informasi (West & Turner, 2008):
Organisasi manusia ada dalam lingkungan informasi.
Informasi yang diterima organisasi berbeda dalam hal
ketijakjelasan(informasi yang diterima bersifat ambigu).
Organisasi manusia terlibat dalam pengolahan informasi untuk
mengurangi ketidakjelasan informasi.
Menurut West & Turner (2008) teori informasi organisasi termasuk ke
dalam tradisi sibernatik (302). Karena dari sudut pandang tradisi sibernatik,
teori ini menjelaskan bagaimana pentingnya informasi dalam pembentukan
dan berjalannya sebuah organisasi. dalam hal ini organisasi perlu untuk
mengumpulkan, mengelolah dan menggunakan informasi yang didapatkan
untuk mencapai tujuannya dan membangun organisasi (Wikipedia, 2021;
West & Turner, 2008).
Teori Retorika (The Rhetoric) oleh Aristotle
Teori ini merupakan teori yang didasarkan pada tulisan-tulisan karya
Aristoteles yang membahas mengenai cara berbicara didepat umum atau
pidato atau yang lebih dikenal dengan retorika. Pengembangan teori ini
sendiri engacu kepada tiga buku Aristoteles yang fokus membahas teori ini
yaitu buku pertama yang membahas tentang pembicara, yang kedua
33
membahas tentang pendengar dan yang ketiga membahas tentang pidato
itu sendiri.
Asumsi teori retorika (West & Turner, 2008):
Pembicara publik yang baik harus mampu mempertimbangkan
audiens mereka.
Pembicra publik yang baik harus bisa memberikan sejumlah bukti
dalam presentasi mereka.
Menurut West & Turner (2008) tradisi retorika termasuk ke dalam
tradisi retorika (Hal. 320). Karena teori ini menekankan mengenai
bagaimana seseorang dapat berbicara di depan umum dan menyampaikan
informasi-informasi yang ingin disampaikannya dengan jelas dan baik
kepada para pendengarnya (West & Turner, 2008).
Teori Dramatisme (Dramatism) oleh Kenneth Burke
Teori ini merupakan teori yang dikembangkan oleh Kenneth Burke
berdasarkan hasil penelitiannya. Dalam pengembangannya sendiri, teori ini
dikembangkan oleh Burke sebagai alat untuk menganalisis hubungan
manusia menggunakan bahasa. Burke melihat teori ini dari sudut pandang
logologi, yang mempelajari tentang bagaimana cara orang berbicara
mempengaruhi pembentuk sikap mereka terhadap dunia. Selain itu Burke
juga mengatakan bahwa dunia hanyalah panggung yang menempatkan
semua orang sebagai aktornya. Dalam hal ini setiap orang termotivasi untuk
berperilaku dalam menanggapi situasi tertentu, sama seperti aktor dalam
sebuah drama yang termotivasi untuk berperilaku sesuai perannya.
Asumsi teori dramatisme (West & Turner, 2008):
34
Manusia adalah hewan yang menggunakan simbol.
Bahasa dan simbol membentuk sistem yang sangat penting bagi
manusia.
Manusia adalah pembuat pilihan.
Menurut West & Turner (2008) teori dramatisme termasuk ke dalam
tradisi retorika, semiotika dan kritis (Hal. 333). Karena dari sudut pandang
semiotika, teori ini berfokus mengenai bagaimana manusia menciptakan,
memberikan, dan memahami setiap simbol-simbol dalam kehidupan sosial
mereka selain itu teori ini hanya melihat bahasa sebagai sebuah cara
simbolik untuk menyampaikan tindakan bukan sebagai kumpulan
pengetahuan. Dari sudut pandang tradisi retorika, teori ini menganggap
bahwa setiap manusia memiliki panggung mereka sendiri, dan setiap
manusia memiliki peran untuk mempengaruhi orang disekelilingnya baik itu
berupa individu, kelompok atau organisasi. Sedangkan dari sudut pandang
Kritis, teori ini hanya melihat manusia sebagai sebuah hewan yang dapat
menggunakan simbol selain itu bahwa dunia manusia hanyalah dunia secara
simbolis hanya sekumpulan drama yang menggunakan bahasa sebagai cara
tertentu untuk merespon situasi tersentu. (Ambar, 2018; Littlejohn & Foss,
2009; West & Turner, 2008)
Teori Paradigma Naratif (The Narrative Paradigm) oleh Walter Fisher
Teori ini merupakan teori komunikasi yang dikonsepsikan dan
dikembangkan oleh Walter Fisher. Dalam teori ini fisher mengklaim bahwa
semua komunikasi yang dilakukan oleh manusia memiliki makna karena
terjadi melalui penceritaan dan manusia berperan sebagai pendongeng dan
pengamat dalam setiap cerita, karena cerita dianggap lebih persuasif
35
dibandingkan dengan argumen. Pada dasarnya teori ini ingin menjelaskan
mengenai bagaimana manusia mampu memahami sebuah informasi yang
kompleks melalui naratif atau cerita yang disampaikan.
Asumsi teori paradigma naratif (West & Turner, 2008):
Manusia secara alami adalah pendongeng.
Keputusan tentang nilai sebuah cerita didasarkan pada "alasan yang
baik."
Alasan yang baik ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan
karakter.
Rasionalitas didasarkan pada penilaian orang tentang konsistensi
dan kebenaran cerita.
Kita mengetahui bahwa dunia merupakan sekumpulan cerita yang
akan kita pilih dan jalankan.
Menurut West & Turner (2008) teori paradihma naratif termasuk ke
dalam tradisi retorika (Hal. 349). Karena dari sudut pandang tradisi retorika,
teori ini menjelaskan mengenai bagaimana seseorang dapat mempengaruhi
dan meyakinkan pendengarnya mengenai apa yang dikatakannya melalui
cerita yang disampaikannya (West & Turner, 2008).
Teori Pengaturan Agenda (Agenda Setting Theory) oleh Maxwell
McCombs dan Donald Shaw
Teori ini merupakan teori yang dikembangkan oleh Maxwell McCombs
dan Donald Shaw dalam sebuah penelitian tentang pemilihan presiden
Amerika pada tahun 1968. Teori juga merupakan teori ilmu sosial yang
berusaha untuk memprediksi isu-isu sosial yang ada. Selain itu teori ini juga
36
menunjukkan bahwa media memiliki pengaruh yang besar kepada audiens
mereka, dengan menampilkan apa yang diinginkan media, bukan apa yang
diinginkan audiens mereka. Artinya, jika suatu isu sering diangkat dan
ditonjol, audiens akan menganggap isu tersebut lebih penting dari isu
lainnya.
Asumsi teori pengaturan agenda (West & Turner, 2008):
Media membentuk sebuah agenda dan dengan demikian
melakukannya tidak hanya mencerminkan kenyataan, tetapi juga
membentuk dan menyaring realitas untuk publik.
Konsentrasi media pada isu-isu yang terdiri dari agenda mereka yang
mempengaruhi agenda publik, dan hal itu bersama-sama
mempengaruhi agenda pembuat kebijakan.
Masyarakat dan pembuat kebijakan memiliki kemungkinan untuk
mempengaruhi agenda media juga.
Menurut West & Turner (2008) teori pengaturan agenda termasuk ke
dalam tradisi sosiopsikologi(Hal. 366). Karena pada teori ini dijelaskan
bagaimana media dapat membentuk dan mempengaruhi perhatian dan
kesadaran publik mengenai isu-isu sosial yang berada disekitar mereka
berdasarkan keinginan media tersebut (West & Turner, 2008).
Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory) oleh Elisabeth Noelle-
Neumann
37
Teori Spiral keheningan ini merupakan teori yang berpusat pada bidang
studi ilmu politik dan studi komunikasi massa yang dikembangkan oleh
Elisabeth Noelle-Neumann. Teori ini menyatakan bahwa masyarakat
memiliki kemungkinan yang besar untuk mengisolasi atau mengucilkan
individu yang memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat publik
sehingga masyarakat yang memiliki pendapat yang berbeda tersebut
cenderung akan diam dan tidak bersuara.
Asumsi teori spiral keheningan (West & Turner, 2008)
Masyarakat cenderung mengancam individu yang menyimpang
dengan isolasi; Ketakutan terhadap isolasi akan semakin menyebar.
Ketakutan akan isolasi ini menyebabkan individu untuk mencoba
menilai iklim dari pendapat setiap saat.
Perilaku publik dipengaruhi oleh penilaian opini publik.
Menurut West & Turner (2008) teori spiral keheningan ini termasuk ke
dalam tradisi sibernatika dan sosiopsikologi (Hal. 384). Karena dari sudut
pandang sibernetika, teori ini dijelaskan bagaimana pembentukan opini
atau pendapat yang dilakukan oleh seseorang dapat dipengaruhi oleh
persepsi publik, sehingga jika opini yang diciptakan tidak diterima oleh
publik, maka opini tersebut harus disesuaikan kembali atau menunggu
hingga opini tersebut diterima publik. Sedangkan dari sudut pandang
sosiopsikologi, teori ini menjelaskan mengenai bagaimana pola seseorang
cenderung akan diam dan tidak berani untuk menyampaikan pendapatka
dikarenakan adanya banyak opini yang menentang atau berlawanan dengan
opininya (Littlejohn & Foss, 2009; West & Turner, 2008)
38
Teori Kegunaan dan Gratifikasi (Uses and Gratifications Theory) oleh Elihu
Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch
Teori ini dalam perkembangannya muncul karena dalam perkembangan
awal media massa teori-teori yang tersedia tidak terlalu menunjukkan
kredibilitas dari para pengguna media tersebut. dari kondisi tersebut ahli
teori Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch (1974) hadir dan
menyajikan artikulasi yang sistematis dan komprehensif tentang peran
masyarakat dalam proses komunikasi massa yang nantinya berkembang
menjadi teori kegunaan dan grafikasi. Dalam teori ini masyarakat dilihat
sebagai bagian yang aktif karena mereka yang menentukan media apa yang
akan digunakan untuk mencapai tujuan dalam komunikasi.
Asumsi teori kegunaan dan grafikasi (West & Turner, 2008)
Khalayak dianggap aktif dan penggunaan media diasumsikan
memiliki sebuah tujuan.
Inisiatif merupakan penghubung yang dibutuhkan untuk
memberikan pilihan medium penyampai pesan terhadap anggota
khalayak..
Media bersaing dengan sumber lain untuk memuaskan kebutuhan.
Orang memiliki kesadaran diri yang cukup tentang penggunaan
media, kepentingan, dan motif mereka, untuk dapat memberikan
gambaran yang akurat tentang penggunaan tersebut keada para
pengamat.
Penilaian tentang nilai konten pada suatu media hanya dapat dinilai
oleh khalayak.
39
Menurut West & Turner (2008) teori keegunaan dan grafikasi ini
termasuk ke dalam tradisi sosiokultural (Hal. 400). Karena dari sudut
pandang tradisi sosiokultural, teori ini menjelaskan mengenai bagaimana
kebutuhan publik dapat mempengaruhi popularitas suatu media dan
mempengaruhi pembentukan media baru demi memenuhi kebutuhan
tersebut (West & Turner, 2008).
Teori Kultivasi (Cultivation Theory)oleh George Gerbner
Teori ini merupakan teori yang pertamakali dikembangkan oleh George
Gerbner untuk mengetahui dampak dari media komunikasi khususnya
televise terhadap para penontonnya, terutama bagaimana paparan
kekerasan dalam televisi mempengaruhi manusia. Dalam hal ini, teori ini
berfokus tentang bagaimana hubungan antara waktu yang dihabiskan
seseorang dengan televisi, mempengaruhi pemikiran dan kepercayaan
mereka terhadap realitas sosial di sekeliling mereka berdasarkan apa yang
mereka lihat melalui televisi.
Asumsi Teori Kultivasi (West & Turner, 2008):
Televisi pada dasarnya dan secara fundamental berbeda dari bentuk
massa lainnya media.
Televisi membentuk cara berpikir dan berhubungan masyarakat kita.
Televise memiliki pengaruh yang terbatas.
Menurut West & Turner teori kultvasi termasuk ke dalam tradisi
sosiokultural dan kritis (Hal. 416). Karena dari sudut pandang sosiokultural,
teori ini membahas mengenai bagaimana media massa dapat
mempengaruhi pandangan dan kepercayaan seseorang terhadap
40